Kamis, 16 Juli 2026

teori gereja 7

 


norma yang telah Allah tulis dalam hati manusia (Roma 2:14-16). Oleh sebab  itu,

akibat dari dosa yaitu  pemisahan dari Allah.

e. Dosa mencakup kesalahan dan pencemaran. Kesalahan Adam telah mencemari

seluruh manusia. Hal itu tidak dapat disingkirkan lagi sebab  tindakan ini 

terkait  dengan status Adam sebagai orang yang berdosa. Oleh sebab  itu,  semua

umat manusia yang dilahirkan dari Adam sudah membawa natur yang telah

tercemar/rusak. Selain itu, pencemaran dosa juga melekat pada dosa perbuatan.

Perbuatan dosa sering menghasilkan kebiasaan dosa, kebiasaan dosa selanjutnya

memicu  bentuk kehidupan yang penuh dosa.

f. Dosa menempati kedudukan dalam hati.  Dosa mengendap di hati manusia, sebab 

hati yaitu  sumber/pusat dari segala sesuatu yang terjadi dalam hidup manusia. Oleh

sebab  itu, dari hati dosa menyebar ke seluruh pikiran, kehendak, perasaan dan ke

seluruh tubuh manusia. Beberapa ayat Alkitab yang menunjukkan hati sebagai pusat

yaitu : Amsal 4:23 ; Yeremia 17:9 ; Matius 15:19 ; Lukas 6:45b.

g. Dosa tidak hanya mencakup tindakan namun  juga pikiran Dalam hal ini dosa berawal

dari pikiran, lalu menimbulkan keinginan (hati), selanjutnya dinyatakan lewat

tindakan. Hukum Allah sendiri mengatakan bahwa dosa bisa mencakup pikiran

sebagaimana juga ucapan atau perbuatan, sebagaimana tercantum dalam Hukum

Taurat yang ke sepuluh (Keluaran 20:17). Lalu pernyataan ini  diulangi Yesus

dalam Perjanjian Baru (Matius 5:28), juga Paulus dalam Galatia 5:16,17; 24, yang

disebut sebagai "keinginan daging".

h. Dosa berakar dari kesombongan Akar dosa yaitu  kesombongan. Berawal dari

kejatuhan malaikat yang kemudian menjadi setan, setan pun menggoda Hawa

supaya memiliki kesombongan yang sama dengannya (Kejadian 3:5). Kesombongan

merupakan dosa yang mendasari semua dosa lain sebab  pada dasarnya dosa berarti

keinginan untuk mandiri dan menolak untuk mengakui ketergantungan total kepada

Allah.

i. Dosa  biasanya  berkedok  Manusia  yaitu   makhluk  yang rasional  sehingga dalam

hidupnya,  manusia  selalu mencoba merasionalkan  segala  tindakan yang berdosa,

agar dapat dilanggar dengan tanpa perasaan bersalah.

   Dosa selalu dilakukan untuk suatu alasan yang "baik".

   Kesulitan manusia untuk mengenali  dosa sendiri,  sebab manusia lebih mudah

melihat dosa orang lain daripada dosanya sendiri (Matius 7:3).

12

   Cenderung ditutup-tutupi.

3. Sifat Universalitas Dosa

Baik orang Kristen maupun bukan Kristen menyadari bahwa dosa memiliki sifat yang

universal. Sebab, setiap orang baik secara sadar atau tidak sadar mengakui kenyataan

bahwa manusia selalu bergumul dengan kejahatan moral di dalam dirinya. Bagi orang

Kristen, sifat universalitas dosa ini sangat jelas sebab  Alkitab menyatakan hal itu

berkali-kali. Ada empat relasi universalitas dosa yang  dapat dijelaskan, yaitu relasi

dengan diri sendiri, orang lain, setan, dan dengan Allah.

a. Relasi dengan diri sendiri.

Dosa sebagai kuasa yang membelenggu. Sejak jatuh dalam dosa, di dalam diri

manusia ada kuasa yang mengikat (Bondage of the will) yang mendorong manusia

untuk melawan Allah. Disebut sebagai kuasa sebab  sering kali manusia tidak

memiliki kekuatan untuk melawannya sehingga kebebasan manusia menjadi

terganggu.

b. Relasi dengan orang lain.

Dosa  yaitu   kelakuan  yang  merugikan.  Dosa yang  dilakukan  di  dalam tindakan

menjadi perbuatan yang merugikan orang lain, baik secara sadar atau tidak sadar.

c. Relasi dengan setan.

Dosa sebagai alat pemersatu dengan setan. Selain dimengerti sebagai suatu kuasa

dan kelakuan, dosa juga sebagai alat yang dipakai untuk mempersatukan manusia

dengan setan.

d. Relasi dengan Allah.

Dosa sebagai sikap melawan Allah. sebab  dosa, relasi manusia dengan Allah

menjadi  rusak.  Bahkan  lebih  dari  sekadar  rusak,  sebab   manusia  menjadi  berani

melawan Allah. Namun, justru terhadap setan manusia menjadi begitu lemah.

4. Macam-macam Dosa

"Tujuh dosa maut" menurut Billy Graham berdasar  klasifikasi kuno.

a. Kesombongan

b. Ketamakan

c. Nafsu yang terlarang dan tak terkendali

d. Iri hati

e. Kerakusan

f. Kemarahan

g. Kemalasan

Dosa dalam Perjanjian Baru

a. Menajiskan tempat Kudus (Markus 11:15-18).

b. Kemunafikan (Matius 23:1-36).

c. Ketamakan (Lukas 12:15).

d. Menghujat (Matius 12:22-37).

e. Melanggar Hukum (Matius 15:3-6).

f. Kesombongan (Matius 20:20-28; Lukas 7:14).

g. Menjadi batu sandungan (Matius 18:6).

h. Ketidaksetiaan (Matius 8:19-22).

i. Ketidaksopanan dan pelanggaran susila (Matius 5:27-32).

j. Tidak berbuah (Yohanes 15:16).

k. Amarah (Matius 5:22).

l. Ucapan yang berdosa (Matius 5:33; 12:36).

m. Pamer diri (Matius 6:1-18).

n. Kurang beriman (Matius 6:25; Roma 13).

12

o. Sikap tidak bertanggung jawab dalam pelayanan (Matius 25:14-30; Lukas 19:11-

27).

p. Kurang berdoa (Lukas 18:1-8).

q. Bebal (Amsal 24:9).

r. Kecongkakan (Amsal 21:4).

s. Tidak benar dan tidak adil (1 Yohanes 5:17).

t. Tahu yang baik namun  tidak menjalankan (Yakobus 4:17).

u. Melanggar atau melampaui tuntutan Taurat (1 Yohanes 

3:4). Dosa menurut pembedaannnya.

a. Pembedaan antara dosa-dosa roh dan dosa-dosa daging.

b. Pembedaan dosa berdasar  derajat pengetahuan yang berbeda.

c. Pembedaan dosa yang disengaja dan tidak disengaja.

d. Pembedaan dosa berdasar  sejauh mana seseorang menyerah kepada dosa.

e. Pembedaan antara dosa yang dapat diampuni dan yang tidak dapat diampuni.

f. Pembedaan antara dosa yang membawa maut dan yang tidak membawa maut.

g. Pembedaan antara dosa kecil dan dosa besar/lebih besar.

F. Akibat Dosa

Dosa Adam dan Hawa bukanlah peristiwa yang berdiri  sendiri  tanpa kaitan.  Akibat-

akibatnya terhadap mereka, terhadap keturunannya dan terhadap dunia segera kelihatan.

1. Sikap manusia terhadap Allah

Perubahan sikap Adam dan Hawa terhadap Allah menunjukkan pemberontakan yang

terjadi dalam hati mereka. 'Bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN

Allah di antara pohon-pohonan dalam taman' (Kej 3:8), dan 'ditutupilah dirinya dengan

cawat' (Kej 3:7). Padahal manusia diciptakan untuk hidup di hadapan Allah dan dalam

persekutuan dengan Dia. Tapi sekarang -- setelah mereka jatuh ke dalam dosa -- mereka

gentar berjumpa dengan Allah (bnd Yoh 3:20). Rasa malu dan ketakutan yang sekarang

merajai hati mereka (bnd Kej 2:25; 3:7,10) menunjukkan bahwa perpecahan sudah

terjadi.

2. Sikap Allah terhadap manusia

Perubahan tidak hanya terjadi pada sikap manusia terhadap Allah, tapi juga pada sikap

Allah terhadap manusia. Hajaran, hukuman, kutukan dan pengusiran dari Taman Eden,

semuanya  ini  menandakan  perubahan itu.  Dosa  timbul  pada  satu  pihak,  tapi  akibat-

akibatnya melibatkan kedua pihak. Dosa menimbulkan amarah dan kegusaran Allah,

dan memang harus  demikian  sebab dosa  bertentangan  mutlak  dengan hakikat  Allah.

Mustahil  Allah  masa  bodoh terhadap  dosa,  sebab   mustahil  pula  Allah  menyangkali

diriNya sendiri.

3. Akibat-akibatnya terhadap umat manusia

Sejarah umat manusia berikutnya melengkapi daftar kejahatan (Kej 4:8, 19, 23, 24; 6:2,

3, 5). Dan timbunan kejahatan yang merajalela itu mencapai kesudahannya dalam

pemusnahan umat manusia, kecuali 8 orang (Kej 6:7,13; 7:21-24). Kejatuhan ke dalam

dosa berakibat tetap dan menyeluruh, tidak hanya menimpa Adam dan Hawa, tapi juga

menimpa segenap keturunan mereka; dalam ihwal dosa dan kejahatan terkandung

solidaritas  insani, yakni  sama-sama langsung  terhisab  dalam perbuatan  dosa  itu  dan

menanggung segala akibatnya.

4. Akibat-akibatnya terhadap alam semesta

Akibat-akibat dari kejatuhan ke dalam dosa meluas sampai ke alam semesta.

'Terkutuklah tanah ini sebab  engkau' (Kej 3:17; bnd Rm 8:20). Manusia yaitu 

mahkota seluruh ciptaan, dijadikan menurut gambar Allah, dan sebab  itu merupakan

12

wakil Allah (Kej 1:26). Bencana kejatuhan manusia ke dalam dosa mendatangkan

bencana laknat atas alam semesta, yang tadinya atasnya manusia telah dikaruniai kuasa.

Dosa yaitu  peristiwa dalam kawasan rohani manusia, tapi akibatnya menimpa seluruh

alam semesta.

5. Munculnya maut

Maut yaitu  rangkuman dari hukuman atas dosa. Inilah peringatan yang bertalian

dengan larangan di Taman Eden (Kej 2:17), dan merupakan pengejawantahan langsung

kutuk ilahi atas orang berdosa (Kej 3:19). Maut sebagai gejala alamiah, ialah

porandanya  unsur-unsur  kedirian  manusia yang pada  asalinya  yaitu   utuh  dan padu

sejalin. Keporandaan ini melukiskan hakikat maut, yaitu keterpisahan, dan hal ini

terungkap sejelas-jelasnya dalam terpisahnya manusia dari Allah, yang nyata pada

pengusiran manusia dari Taman Eden. Oleh sebab  dosa, manusia gentar menghadapi

kematian (Luk 12:5; Ibr 2:15).

6. Ketidakmampuan

Ketidakmampuan manusia melakukan yang baik yaitu  akibat ketiadaan kapasitasnya,

yang menjadi tiada sebab kodrat hatinya yang busuk. sebab  kebusukan hati itu

menyeluruh, maka menyeluruh pula ketidakmampuan manusia untuk melakukan yang

baik dan membuat hati Allah senang.

Kita tidak akan mampu mengubah watak kita atau berperilaku lain dari itu. Dalam hal

pengertian, manusia duniawi tak akan dapat memahami hal-hal yang berasal dari Roh

Allah, sebab hal-hal itu hanya dapat dilihat dengan mata rohani (1 Kor 2:14). Mengenai

ketaatan kepada hukum Taurat Allah, manusia duniawi bukan hanya tidak tunduk

kepada hukum Taurat Allah, tapi bahkan tidak bisa (Rm 8:7). Mereka yang hidup

menurut daging tak dapat menyenangkan hati Allah. Pohon yang tidak baik tak mungkin

menghasilkan buah yang baik (Mat 7:18). Ketidakmungkinan pada kedua kasus itu tak

dapat disangkal. Tuhan Yesus sendiri mengatakan, bahwa iman kepada-Nya sekalipun

yaitu  tak mungkin tanpa karunia dan tarikan Allah Bapak (Yoh 6:44, 45, 65).

Kesaksian ini sama maknanya dengan ucapan-Nya yang tegas, bahwa seorang pun tak

akan dapat  mengerti  Kerajaan  Allah atau masuk ke dalamnya,  sebelum ia  dilahirkan

kembali dari air dan Roh (Yoh 3:3, 5-6, 8; bnd Yoh 1:13; 1 Yoh 2:29; 3:9; 4:7; 5:1, 4,

18).

Mutlaknya dan pentingnya perubahan radikal seperti penciptaan baru itu, membuktikan

betapa  gawatnya  kedosaan  manusia  yang  tanpa asa.  Seluruh kesaksian  Alkitab  yang

bertalian tentang manusia diperbudak dosa, menyimpulkan bahwa manusia duniawi --

baik secara psikologis, susila maupun rohani -- mustahil menerima hal-hal yang berasal

dari Roh Allah, mustahil mengasihi Allah dan melakukan sesuatu yang menyenangkan

Allah,  dan mustahil  percaya  kepada Kristus demi keselamatan  jiwanya.  Perbudakan

dosa inilah yang menjadi pradalil Injil, dan kemuliaan Injil yaitu  justru menyediakan

kelepasan dari belenggu perhambaan dosa. Injil ialah Kabar Baik tentang kasih karunia

dan kuasa bagi segenap umat manusia yang pada dirinya tidak berdaya sama sekali.

G. Sifat Universalitas Dosa

Baik orang Kristen maupun bukan Kristen menyadari  bahwa dosa memiliki  sifat

yang universal, sebab  setiap orang sadar atau tidak sadar mengakui kenyataan bahwa

manusia selalu bergumul dengan kejahatan moral di dalam dirinya. Bagi orang Kristen sifat

universalitas dosa ini sangat jelas sebab  Alkitab menyatakan hal itu berkali-kali.  Ada 4

relasi  universalitas  dosa yang dapat  dijelaskan,  yaitu  relasi  dengan diri  sendiri,  dengan

orang lain, dengan setan dan dengan Allah:

12

1. Dosa  sebagai  kuasa yang  membelenggu.  Sejak kejatuhan  dalam dosa, di  dalam diri

manusia  ada kuasa yang mengikat  (‟bondage of the will)‟ yang mendorong manusia

untuk melawan Allah. Disebut sebagai „kuasa‟ sebab  seringkali manusia tidak

memiliki kekuatan untuk melawannya sehingga kebebasan manusia menjadi terganggu.

2. Dosa sebagai kelakuan yang merugikan. Dosa yang dilakukan didalam tindakan menjadi

perbuatan yang merugikan orang lain, baik sadar atau tidak sadar.

3. Dosa sebagai alat pemersatu dengan setan. Selain dimengerti sebagai suatu kuasa dan

kelakuan, dosa juga sebagai alat yang dipakai untuk mempersatukan manusia dengan

setan.

4. Dosa sebagai sikap melawan Allah. sebab  dosa relasi manusia dengan Allah menjadi

rusak.  Bahkan lebih dari  pada hanya rusak sebab  manusia  menjadi  berani  melawan

Allah, sebaliknya terhadap setan manusia menjadi begitu lemah.

H. Dosa Imputasi

1. Dosa imputasi yaitu  dosa yang 

menyifatkan Tiga Azas Imputasi

a. Imputasi dosa Adam kepada keturunannya/ umat manusia (Roma 5:12-21)

b. Imputasi dosa umat manusia kepada Kristus (2 Kor.5:19; 1 Ptr. 2:24)

c. Imputasi kebenaran Kristus kepada orang-orang beriman (2 Kor. 5:21)

2. Transmisi Dosa Imputasi : Dosa imputasi dipindahkan secara langsung dari Adam

kepada setiap orang dalam setiap generasi. Sedangkan dosa warisan melalui

perantara dalam setiap generasi (dosa warisan datang kepada saya melalui orang tua

saya)

3. Pinalti Terhadap Dosa Imputasi : Kematian secara fisik merupakan penalty terhadap

dosa Imputasi (Roma 5:13-14), sedangkan pinalti terhadap dosa warisan yaitu 

kematian secara rohani.

4. Penyelesaian Dosa Imputasi  :  Obatnya yaitu   imputasi  kebenaran Kristus kepada

manusia. Pada saat seseorang menaruh imannya kepada Kristus, pada saat itu

kebenaran  Kristus  diimputasikan  kepada  orang  tsb.  Sama  seperti   ―semua  di

dalam Adam‖,  demikian  juga  ―semua  orang  beriman  di  dalam  Kristus‖.  Berada

di  dalam Kristus memiliki  arti bahwa kebenaranNya yaitu  kebenaran kita.

I. Transmisi Dan Hukuman Dosa

Penyebaran Dosa

Dengan cara bagaimanakah keberdosaan dan kesalahan Adam diturunkan

kepada kita? Dosa Adam tidak diturunkan kepada keturunannya sebab  proses peniruan.

Adam yaitu  kepala umat manusia sekaligus menjadi wakil manusia. saat  ia berdosa,

maka semua manusia tercakup di dalam kesalahan akibat dosa dan di dalam

penghukuman akibat dosa (imputasi). Oleh sebab  itu semua orang yang lahir kemudian

yaitu  dalam keadaan rusak. Kerusakan itu diturunkan kepada manusia melalui

orangtuanya.  Namun demikian  Alkitab  tidak  memberikan  penjelasan  yang gamblang

tentang bagaimana hal itu terjadi, tapi satu hal kita tahu bahwa dosa Adam yaitu  dosa

kita.

Dosa yang berasal dari Adam ini membuka kesempatan bagi iblis untuk bekerja

secara leluasa sebab  keadaan natur manusia yang sudah rusak/tercemar.  Kecemaran

dalam diri manusia bagaikan pancaran mata air yang kotor bagi seluruh dosa perbuatan

yang dilakukan manusia.  Dosa perbuatan ini  yaitu  dosa-dosa pribadi,  yang bersifat

jamak, yang dilakukan manusia baik yang berupa tindakan maupun yang ada dalam

pemikiran manusia, sedangkan dosa asal yaitu  bersifat tunggal. Dosa asal memberi

12

kekuatan yang fatal yang memicu  manusia secara terus menerus melakukan

tindakan/ perbuatan yang memberontak kepada Allah, yang membawa pada

penghukuman.

J. Orang Kristen dan Dosa

Menjadi seorang Kristen tidak berarti  langsung bebas dari  berbuat dosa maupun dari

ketaatan terhadap ajaran Kristus. Sering terdapat  kesalahpahaman mengenai  relasi  orang

Kristen dengan dosa. Yaitu, pertama soal kesempurnaan yang palsu dan kedua soal

keadaan tidak berhukum (antinomianisme). Ada sementara pihak yang mengajarkan bahwa

orang percaya tidak lagi mungkin berbuat dosa. Pandangan seperti ini disebut

kesempurnaan (perfeksionisme) yang tidak berdasar  Alkitab. Orang percaya dianggap

telah tercabut dari akar dosa. Padahal tidak ada seorang Kristen pun yang dapat mengalami

kesempurnaan yang sama sekali bebas dari pengaruh dosa di masa hidup ini sebelum tiba

masa  kebangkitan.  Ada pula ajaran  yang sedikit  dimodifikasi  yang menyatakan  bahwa

hidup sempurna tanpa dosa hanyalah dalam arti  bahwa orang Kristen dapat hidup tanpa

melakukan dosa selama jangka waktu tertentu. namun  tidak melakukan dosa juga berarti

hidup menjadi serupa dengan kehendak Allah. Kesempurnaan tanpa dosa berarti lebih

daripada  soal  ketiadaan  dosa.  Kenyataannya,  pengajaran  Alkitab  tentang  kesempurnaan

berarti kematangan, kedewasaan, kepenuhan dan kelengkapan. Kesempurnaan menurut

Alkitab tidak bertentangan terhadap keadaan berdosa melainkan terhadap ketidakdewasaan

dan merupakan sesuatu yang diharapkan dari orang-orang percaya di dunia ini

(Pembahasan yang bagus mengenai dia ini ditulis oleh W.H. Griffith Thomas, "The

Biblical Teaching Concerning Perfection," The Sunday School Times, July 22, 1944, hal.

515-516).

Antinomianisme mengajarkan bahwa orang Kristen tidak lagi terikat oleh hukum

Taurat. Pandangan antinomianisme mengenai kemerdekaan dari hukum seringkali menuju

kepada kebebasan. Antinomianisme kadang-kadang diartikan sama dengan kebebasan

Kristen dan sudah tentu penyamaan ini keliru. Lawan dari kebebasan yaitu  perhambaan

dan orang percaya telah dibawa dari perhambaan terhadap dosa menuju suatu kedudukan

yang merdeka dari perhambaan itu di dalam Kristus. Lawan dari antinomianisme yaitu 

ketaatan  kepada  hukum.  Pertanyaannya yaitu   hukum yang mana.  Sebab ada  beberapa

hukum di sepanjang sejarah menurut  Alkitab.  Bagi orang percaya sekarang tentu ya ng

dimaksudkan yaitu  hukum Kristus (Gal. 6:2).

Apakah standar yang Alkitabiah bagi orang Kristen? Yang jelas bukanlah

kesempurnaan  tanpa  dosa  ataupun antinomianisme.  Standar itu  yaitu  hidup  di  dalam

terang (1 Yoh. 1:7). Allah itu terang atau kudus. Standar absolut ini selalu ada di hadapan

orang percaya. Namun tidak ada orang percaya yang hidup tanpa dosa seperti Allah, dalam

kehidupan ini.  Apakah Allah  lalu merendahkan kita?  Sama sekali  tidak.  Sebaliknya,  Ia

menyesuaikan persyaratan-Nya untuk kita masing-masing agar kita dapat mengalami

pertumbuhan rohani. Caranya yaitu  dengan hidup di dalam terang kekudusan-Nya. Jika

kita  berkata  bahwa kita  tidak  memiliki  prinsip dosa (seperti  yang ditekankan oleh para

penganut kesempurnaan) kita berdusta (ayat 8). Begitu juga, jika kita berkata bahwa kita

tidak berbuat dosa di sepanjang waktu tertentu (seperti yang diajarkan oleh penganut

kesempurnaan yang dimodifikasi) kita menjadikan Allah sebagai pendusta (ayat 10). Jika

kita  hidup  di  dalam terang,  kita  tidak  akan  terperosok  ke  dalam kesalahan  dari  ajaran

antinomianisme, sebab  kita melakukan perintah-perintah-Nya (1 Yoh. 2:4,6; 3:24).

Setiap orang percaya dapat  memenuhi  persyaratan  untuk hidup di  dalam terang.

Banyaknya terang yang dimiliki setiap orang itu berbeda-beda, namun respon yang harus

diberikan oleh semua orang percaya terhadap hal itu sama. Sementara kita bertumbuh,

12

lingkaran terang itu akan bertambah luas. Semakin kita memberikan respon terhadap terang

itu, semakin kita menerima terang yang lebih besar dan begitu seterusnya. namun  untuk tiap

tingkat pertumbuhan tuntutannya yaitu  sama, yaitu hidup di dalam terang.

Ringkasnya, standar kehidupan Kristen yaitu  kesucian Allah. Tuntutan yang harus

kita penuhi yaitu  hidup di dalam terang. Pengalaman kita haruslah senantiasa bertumbuh

menjadi dewasa. Inilah kesempurnaan yang sesungguhnya menurut Alkitab.

   Pergumulan orang Kristen dan dosa (1 Yoh. 2:16) terdapat dalam tiga bidang berikut

ini:

a. dunia (Yun. kosmos) – yaitu keinginan mata, keinginan daging, dan keangkuhan

hidup; dunia ini di bawah penguasaan Setan (1 Yoh. 5:19), penuh dengan

kebodohan (1 Kor. 3:19), tidak bermoral (1 Kor. 5:10), dan bersifat menentang

Allah (Yak. 4:4). Setiap orang Kristen harus tersalib bagi dunia (Gal. 6:14).

b. daging (Yun; sarx) – yaitu sarana kehendak dosa (Roma 7:17-20), penuh dengan

hawa nafsu dan mengendalikan pikiran (Efs. 2:3); harus dilawan dengan kuasa

Roh Kudus (Roma 8:2  dst.),  dan pembaharuan  akal  budi  (Roma 12:1)  yang

memicu  daging itu tersalib (Roma 6:6).

c. Iblis – yaitu musuh setiap manusia sejak mulanya. Ia harus dilawan dengan iman

yang teguh (1 Pet. 5:8; Yak. 4:7); setiap orang percaya harus mengenakan

selengkap senjata Allah agar dapat mematahkan setiap serangan Iblis (Efs. 6:10-

17).

   Penyediaan

Dalam bergumul melawan dosa, Allah  menyertai  dan  memberikan  pertolongan

kepada  setiap orang  percaya,  agar selalu  mengalami  kemenangan. Inilah yang

Allah sediakan:

a. Firman  Allah  –  memiliki  manfaat yang  sangat besar  (2  Tim.  3:16-17),  yang

mampu mencegah kita berbuat dosa (Mzm. 119:9-16); Firman Allah

membersihkan (Efs. 5:26), dan menyucikan (Yoh. 17:17), serta jaminan

jawaban doa (Yoh. 15:7).

b. Pengantaraan atau Syafaat Kristus – yang siap mengampuni kita jika kita

mengaku dosa kita (1 Yoh. 2:1); Ia terus berdoa agar semua orang percaya aman

(Yoh.  17:11),  tetap  bersukacita  (Yoh.  17:13),  perlindungan  dari  Setan  (Yoh.

17:15), dan tetap tinggal di dalam Kristus (Yoh. 17:25).

c. Roh Kudus yang tinggal  di  dalam kita  –  Ia  diam di  dalam kita  (Roma 8:9),

mengurapi (1 Yoh. 2:20; 4:4), memeteraikan (Efs. 1:13; 4:30), memberi kuasa

(Kisah  1:8),  memenuhi  (Efs. 5:18),  dan  memampukan  orang percaya untuk

tetap hidup oleh Roh (Gal. 5:16).

K. Penanggulangan Dosa

Pada dasarnya dosa merupakan pelanggaran terhadap ALLAH. Oleh sebab  itu hanya

ALLAH yang dapat menyelesaikan dan membuang pelanggaran itu. Oleh diri sendiri, kita

tidak memiliki  kekuatan untuk mengubah atau membuat sesuatu menjadi benar dalam

hubungan dengan ALLAH. Alkitab  berkata,  manusia  tidak  ada  kekuatan.  Semua usaha

manusia akan sia-sia, walaupun apa yang terbaik di lakukan, tidaklah cukup, kebenaran

manusia sangat kotor dan menjijikan. (Yes.64:6). Dan sebab  semua manusia telah berdosa

dan  kehilangan  kemuliaan  Allah  (Roma 3:23),  maka  manusia  tidak  akan  pernah  dapat

menyelamatkan dirinya sendiri.  Manusia membutuhkan seorang Juruselamat.  Allah yang

menciptakan manusia dan memandangnya begitu berharga dan mulia, telah menyediakan

jalan keselamatan bagi manusia dari dosa-dosa mereka, baik dosa yang diwarisi dari Adam

maupun hasil dosanya sendiri.

12

Tidak  ada  jalan  lain  selain  Allah  menolong orang yang jatuh dalam dosa. ―sebab 

waktu kita masih lemah, Kristus telah mati  untuk kita orang-orang durhaka pada waktu

yang ditentukan Allah. Akan namun  Allah menunujukan kasihNya kepada kita, oleh sebab 

Kristus telah mati untuk kita; saat  kita masih berdosa‖ (Rom.5:6, 8). Allah telah

mengutus Anak-Nya yang Tunggal, yaitu Yesus Kristus, menjadi Juruselamat bagi seluruh

umat manusia. Bagi mereka yang percaya akan memperoleh kehidupan kekal, namun 

mereka yang  tidak  percaya akan  binasa  (Yoh.  3:16-18).  Inilah  jalan  keluar  Allah  bagi

manusia berdosa.

L. Dosa Yang Tidak Dapat Diampuni

Penjelasan Alkitab berkenaan dengan adanya suatu dosa yang tidak dapat diampuni

telah  menimbulkan keresahan didalam hati  orang-orang yang berpikir  mereka  mungkin

telah  melakukan  dosa  itu.  Meskipun  injil  menawarkan  pengampunan yang  berdasar 

kasih karunia bagi  mereka  yang bertobat  dari  dosa-dosanya,  namun   rupanya ada batasan

untuk kejahatan yang satu ini.

Dosa yang tidak dapat diampuni, yang diperingatkan oleh Tuhan Yesus berkenaan

dengan penghujatan  terhadap Roh Kudus.  Yesus menyatakan bahwa dosa semacam ini

tidak dapat diampuni baik pada masa ini, maupun pada masa yang akan datang:

Matius 12:31-32 "Sebab itu Aku berkata kepadamu: Segala dosa dan hujat  manusia

akan diampuni,  namun   hujat  terhadap Roh Kudus tidak akan diampuni.  jika   seorang

mengucapkan sesuatu menentang Anak Manusia, ia akan diampuni, namun  jika ia

menentang Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, di dunia ini tidak, dan di dunia yang akan

datangpun tidak."

Berbagai macam usaha telah dilakukan untuk mengidentifikasi kejahatan khusus yang

bagaimanakah, yang  tidak  dapat  diampuni  ini.  Ada  yang mengatakan  bahwa dosa itu

yaitu  dosa pebunuhan atau perzinahan. Namun meskipun dosa-dosa itu yaitu  dosa yang

sangat keji  pada pandangan Allah,  Firman Tuhan tetap menyatakan secara jelas,  bahwa

dosa-dosa itu dapat diampuni jika  pertobatan yang tulus dilakukan.

Daud dapat diambil sebagai contoh, dia bersalah atas kedua macam dosa di atas, dan dia

telah dipulihkan kembali berdasar  anugerah. Seringkali dosa yang tidak dapat diampuni

dikaitkan dengan ketidak percayaan seseorang pada Kristus secara terus menerus sampai

pada akhirnya. Kematian merupakan batas kesempatan bagi manusia untuk bertobat dari

dosa dan menerima Kristus, oleh sebab  itu, jika  seseorang tetap tidak bertobat dan

tidak menerima Kristus sampai kepada akhir hidupnya, maka pengharapan untuk

pengampunannya  telah  berakhir.  Penjelasan  diatas  tetap  tidak  cukup untuk menjelaskan

penjelasan  Tuhan  Yesus berkenaan  dengan  peringatan-Nya  untuk  tidak  menghujat  Roh

Kudus.

Penghujatan dapat dilakukan oleh seseorang baik secara lisan maupun tulisan. Dengan

kata lain,  penghujatan selalu melibatkan kata-kata.  Meskipun segala bentuk penghujatan

merupakan serangan yang serius terhadap karakter Allah, namun  biasanya dapat diampuni.

Pada waktu Yesus memperingatakan tentang dosa yang tidak dapat diampuni, konteksnya

yaitu  orang yang menuduh Dia bekerjasama dengan Setan.

Peringatan-Nya merupakan peringatan yang serius dena sangat menakutkan. namun  pada

kenyataanya Yesus diatas kayu salib berdoa mohon pengampunan untuk orang-orang yang

telah menghujat-Nya atas dasar ketidaktuhuan mereka:"Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab

mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." (Lukas 23:34).

Pada saat seseorang telah diterangi oleh Roh Kudus sampai tahap dia dapat mengetahui

Yesus sebagai benar-benar Kristus, dan kemudian orang itu menuduh Kristus berasal dari

Setan, maka orang itu telah melakukan dosa yang tidak dapat diampuni. jika  orang

13

Kristen  mengandalkan  kekuatannya  sendiri,  maka ia  dapat  melakukan  dosa yang tidak

dapat diampuni ini, namun  kita yakin bahwa Allah dengan pemeliharaan yang berdasar 

kasih karunia-Nya tetap akan menjaga orang-orang kudus untuk tidak jatuh pada dosa yang

semacam itu.

Orang Kristen yang tulus dan merasa takut telah melakukan dosa yang semacam itu,

menunjukkan bahwa dia sebenarnya tidak melakukan dosa itu. Orang yang telah

melakukan  dosa yang  semacam itu,  hatinya  sangat  keras  dan  tetap  tinggal  dalam dosa

mereka dan tidak merasa bersalah pada waktu melakukannya.

Sebenarnya, di dalam kebudayaan dimana orang-orang tidak mau mengakui kedaulatan

Allah di dalam hidup, orang-orang tetap enggan untuk terlalu jauh atau keterlaluan pada

waktu mereka menghujat Allah dan Kristus. Meskipun Nama Kristus telah dipakai

seenaknya dan injil  dilecehkan dengan humor-humor dan komentar-komentar yang tidak

pantas, orang-orang tetap tidak berani untuk mengaitkan Yesus dengan Setan.

Meskipun okultisme dan setanisme memberikan kemungkinan yang berbahaya bagi

seseorang untuk melakukan  dosa yang tidak  dapat  diampuni  itu,  pada  kasus  seseorang

menghujat  Roh Kudus oleh sebab  ketidaktahuannya dan dia  belum diterangi  oleh Roh

Kudus, maka dosa itu masih dapat diampuni. (R.C. Sproul, Kebenaran-Kebenaran Dasar

Iman Kristen 1999: 203-205).

13

XII. SOTERIOLOGI : Pengajaran Tentang Keselamatan

A. Berbagai Teori Tentang Keselamatan

Untuk  memperjelas  konsep  di  atas  berikut ini  diberikan  beberapa pertanyaan yang

sering timbul dalam benak manusia saat  berpikir mengenai keselamatan dan hidup kekal.

Dengan demikian saudara yang terlibat dengan salah satu pertanyaan berikut bisa melihat

dengan lebih jelas tentang keunikan dan kekhususan pengajaran Alkitab yang sangat

berbeda dengan pengajaran agama-agama lain.

1. Perbuatan Baik

Banyak orang termasuk orang Kristen berpikir bahwa keselamatan yaitu  hasil

perbuatan  baik.  Jika  seorang berbuat  baik  maka  ia  memiliki  modal  untuk  memperoleh

keselamatan. Namun jika mereka ditanya: ‖Apakah yang dimaksud dengan perbuatan yang

baik dan benar?‖ Banyak orang tidak dapat menjawab. Sebagian memberi jawaban yang

berorientasi kepada etika umum, misalnya tidak mencuri, tidak membunuh, tidak berzinah,

dll.  Menurut  mereka  semua kepercayaan melarang hal-hal  ini .  Namun jika  diteliti

lebih dalam, jawaban ini juga tidak benar. Ada kepercayaan yang mengizinkan terjadinya

pembunuhan demi mempertahankan agama. Itu sebabnya ada agama yang menghalalkan

hukuman mati bagi orang yang melakukan kesalahan yang dianggap bertentangan dengan

kebenaran agama mereka.

Sebagian  lagi  memberi  jawaban yang  berorientasi kepada adat kebiasaan.  Tapi  jika

diperhatikan dengan baik, kebenaran yang demikian hanya berlaku untuk kelompok-

kelompok tertentu. Misalnya, hal yang baik menurut adat dan budaya Batak belum tentu

dapat diterima oleh suku-suku lain sebagai sesuatu yang baik. Demikian juga dengan

sebaliknya.

Ada juga yang disebut dengan etika pribadi. Yang baik dan benar bagi satu orang belum

tentu dapat diterima oleh orang lain. Perbedaan inilah yang sering memicu  adanya

friksi atau pergesekan antar pribadi. Misalnya perbedaan pendapat di antara suami isteri

mengenai cara mendidik anak.

Dalam Alkitab pertanyaan tentang perbuatan baik inilah yang menjadi akar

permasalahan  yang membuat  seorang kaya yang datang kepada Yesus  menjadi  kecewa

saat  ia mendengar jawaban Yesus. Ia bertanya:

‖Guru yang baik, apakah yang akan saya per-buat supaya saya memperoleh hidup

kekal?‖ (Mark. 10:17)

Ia datang kepada Yesus sebab  diketahuinya bahwa Yesus telah melakukan begitu

banyak kebaikan dalam hidupNya dan berpikir bahwa dengan perbuatan baiklah seseorang

masuk ke dalam kerajaan surga atau hidup kekal.  namun   dalam pembicaraan berikutnya

orang kaya ini,  yang sejak masa kecil  sudah berusaha melakukan semua hukum Taurat,

pulang meninggalkan Yesus dengan kecewa setelah Yesus memberi jawaban yang

bertentangan dengan konsepnya.  Paulus juga mengutip  beberapa  sumber dari  Perjanjian

Lama dalam surat kirimannya kepada jemaat di Roma untuk menyatakan bahwa tidak ada

seorang manusiapun yang benar sebab  perbuatan baik (Rom. 3:10-18). Kemudian ia

menyimpulkan dengan mengatakan: sebab  semua orang  telah berbuat dosa  dan telah

kehilangan kemuliaan Allah, (Rom. 3:23)

Yang dimaksud oleh Paulus dengan perkataan ‖semua orang‖ yaitu  semua keturunan

Adam atau semua manusia yang  dilahirkan dengan benih laki-laki. Jadi yang  menjadi

pertanyaan yaitu : ‖Bagaimana mungkin hal yang baik dan benar keluar dari sumber yang

tidak baik dan benar?‖ Tidak mungkin seseorang memberikan sesuatu yang tidak dimiliki-

nya.

Pertanyaan berikut yang perlu direnungkan yaitu : ‖Berapa banyak perbuatan baik yang

harus dilakukan sese-orang agar dia sampai kepada kehidupan kekal?‖ Sama seperti

13

seorang yang membangun jembatan untuk meng-hubungkan dua sisi samudera. Dapatkah

seseorang menge-tahui di seberang mana hidup kekal ini  berada untuk dapat

mengarahkan  jembatan  perbuatan  baik  itu?  Tuhan Yesus  mengatakan:  Tidak ada  yang

sudah naik ke surga selain dari Dia yang telah turun dari surga, yaitu Anak Manusia. (Yoh.

3:13)

Melalui  perkataan ini,  Yesus sebenarnya sudah dengan gamblang mengatakan bahwa

hanya Dialah satu-satunya yang mengetahui jalan ke surga sebab  Ia sendiri berasal dari

sana. Itulah sebabnya Ia mengatakan bahwa hanya Dialah jalan. Di pihak lain saat  murid-

muridnya datang kepadaNya dan bertanya: ‖Apakah yang harus kami perbuat supaya kami

mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?‖ (Yoh. 6:28) Dan Yesus menjawab:

‖Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang

telah di utus oleh Allah.‖ (Yoh. 6: 29)

Jadi kesimpulannya yaitu : seorang akan memperoleh hidup kekal bukan sebab  

perbuatannya, melainkan sebab  ia percaya kepada Yesus Kristus yang telah diutus oleh 

Allah.

2. Jawaban Yang Tidak Pasti

Jika survey  dilakukan kepada orang Kristen yang  seharusnya  sudah dapat memberi

jawaban yang benar maka salah satu jawaban berikut kemungkinan sekali menjadi pilihan

mereka:

a. ―Tidak tahu.‖

b. ―Mudah-mudahan.‖

c. ―Hanya Yesus yang tahu.‖

d. ―Hanya belas kasihan Yesus.‖

e. ―Nanti  kalau  saya  sempat  perjamuan  kudus  sebelum  mati  atau  kuseru  nama  

Yesus sebelum menghembuskan nafas terakhir maka saya diterima.‖

Jika jawaban-jawaban seperti ini yang diberikan oleh banyak orang Kristen, bagaimana

kira-kira jawaban yang akan diberi oleh mereka yang bukan Kristen? Jika jawaban mereka

yaitu   ―tidak  tahu‖  bukankah  Alkitab  mengatakan  dengan  gamblang:  sebab   begitu

besar  kasih  Allah  akan  dunia  ini  sehingga  Ia  mengaruniakan  AnakNya  yang  Tunggal,

supaya barang siapa yang percaya kepadaNya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang

kekal. (Yoh. 3:16) atau Sesungguhnya barang siapa mendengar per-kataanKu dan percaya

kepada Dia yang me-ngutus Aku, ia memiliki  hidup yang kekal dan tidak turut dihukum

sebab ia telah pindah dari dalam maut ke dalam hidup. (Yoh. 5:24) dan lagi Dan inilah

kesaksian itu: Allah telah menga-runiakan hidup yang kekal kepada kita dan hidup itu ada

di  dalam AnakNya. Barangsiapa memiliki Anak, ia memiliki hidup; barangsiapa tidak

memiliki Anak,   ia   tidak   memiliki   hidup.   (1   Yoh.   5:1-12)   Jikalau   jawabannya

ialah   ―mudah- mudahan‖, bukankah Alkitab selalu memberikan jawaban yang pasti? Tidak

ada jawaban yang meragukan. 2 Kor. 1:19-20 mengatakan: ......, namun  sebaliknya di dalam

Dia  hanya ada   ‖ya‖.   Sebab   Kristus  yaitu  ‖ya‖― bagi semua janji Allah.   Itulah

sebabnya oleh Dia kita mengatakan ‖Amin‖ untuk memuliakan Allah.

Jika orang Kristen mengatakan bahwa hanya Yesus yang mengetahui siapa yang masuk

ke dalam kehidupan kekal, jawaban itu merupakan jawaban yang fatal! sebab  Tuhan 

Yesus sudah memberitahukan berulang-ulang tentang hidup kekal agar orang percaya 

kepadaNya. Ia memang menga-takan bahwa hanya Dialah ‖Jalan‖ dan hanya melalui Dia

seseorang dapat masuk ke dalam hidup kekal. Ia berkata: Akulah jalan dan kebenaran dan

hidup. Tidak seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. (Yoh. 14:6) 

namun  sebelumnya Yesus juga sudah mengatakan bahwa Ia mendahului orang percaya 

untuk pergi ke rumah Bapa untuk menyediakan tempat agar dimana Dia ada maka orang

percaya juga akan ada di sana. Ia mengatakan: Di rumah BapaKu banyak tempat tinggal.

13

Jika tidak demikian tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk

menyediakan tempat bagimu. (Yoh. 14:2) Jika dikatakan bahwa jika  nama Yesus diseru

saat  mau menghembuskan nafas terakhir maka hal itu akan menghantarkannya ke surga,

apakah ia tahu kapan ia akan menghembuskan nafas yang terakhir? Bagaimana jika nama

itu disebut tanpa iman oleh orang yang bersangkutan?

Atau jika tidak ada yang membisikkan nama Yesus ke telinganya? Atau, jika  ada

orang yang membisikkan nama itu ke telinganya sementara ia sudah dalam keadaan

sekarat, mungkinkah ia dapat menyebut nama itu dengan sepenuh hati dan pikiran?

Kesimpulannya yaitu : bahwa jika orang Kristen tidak dapat memberi jawaban yang pasti,

hal itu pastilah disebabkan sebab  mereka memang tidak memiliki kepastian akan

keselamatan itu. Memang banyak orang yang dapat menghafal firman Tuhan seperti Yoh.

3:16 atau ayat-ayat yang relevan dengan itu. Namun jika hati mereka belum dicelikkan oleh

Roh Kudus dan iman yang sesungguhnya belum dimiliki, maka mereka tetap seperti orang

buta berjalan atau orang yang hampir buta berjalan terbata-bata.

Jawaban yang beraneka-ragam ini perlu mendapat penelitian yang cermat serta

dibandingkan  dengan apa  yang dikatakan  Alkitab.  Tujuannya  supaya  kita  yakin  betapa

kelirunya jawaban-jawaban ini .  Hal  ini  merupakan gambaran betapa  banyak orang

Kristen yang sesat dan perlu ditolong. Bagaimana mereka dapat menolong orang lain yang

belum percaya? Mereka sendiri belum memiliki keyakinan yang jelas akan keselamatan.

Bisakah orang buta menuntun orang buta?

3. Percaya Tanpa Landasan Doktrinal Yang Jelas

Di pihak lain ada yang mengatakan percaya kepada Tuhan Yesus dan meyakini bahwa

ia sudah diselamatkan. Namun ia tidak memiliki landasan doktrinal yang kokoh di atas apa

iman ini  berdiri. Keyakinan yang demikian tidak kuat. Orang seperti ini akan cepat

goyah saat  berhadapan dengan kondisi kehidupan yang penuh gelom-bang. Dalam situasi

demikian mereka memang berdoa kepada Yesus. namun  saat  tidak ada kelepasan atau

jalan keluar  itu  lambat datangnya maka mereka akan menjadi ragu atau kecewa. Atau

saat  suatu saat orang yang bersangkutan melakukan dosa yang fatal maka ia akan

mempertanyakan keselamatan itu. Alkitab memberi contoh tentang  Petrus. Ia memberi

jawaban yang gamblang kepada Yesus: ‖Engkau yaitu  Mesias, Anak Allah yang hidup!‖

Kata Yesus kepadanya:  ‖Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia

yang menyatakan itu kepadamu, melainkan BapaKu yang di surga. Dan Akupun berkata

kepadamu: Engkau yaitu  Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan

jemaatKu dan alam maut  tidak  akan  menguasainya. (Mat.  16:16-18) namun   kemudian

dalam  saat yang  sangat genting,  Simon  menyangkal Tuhan Yesus, walaupun  ia  sudah

diperingatkan Yesus sebelumnya. Yesus berkata:  ‖Aku berkata kepadamu,  sesungguhnya

malam ini, sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.‖ (Mat. 26:34)

Nubuatan  Tuhan Yesus  ini  digenapi  dan penggenapannya ditulis  oleh Matius  dalam

pasal 26:69-75. Dalam kasus lain orang yang seperti ini akan mudah goyah jika  ada

ajaran yang baru datang kepadanya. sebab  ia belum menjadi orang Kristen yang dewasa

secara rohani ia mudah terombang-ambing. Jika ia bertemu dengan orang yang mengatakan

dirinya  hamba  Tuhan  maka  dengan mudah ia terpengaruh  dan  kemudian  mengadopsi

ajaran sumbang yang diajarkan. Paulus dengan sedih hati menjumpai jenis iman yang sama

pada jemaat Galatia. Ia berkata: Aku heran, bahwa kamu begitu lekas berbalik dari pada

Dia, yang oleh kasih karunia Kristus telah memanggil kamu, dan mengikuti suatu injil lain,

yang sebenarnya bukan Injil. Hanya ada orang yang mengacaukan kamu dan yang

bermamsud untuk memutar  balikkan Injil Kristus. namun  sekalipun kami atau  seorang

malaikat dari surga yang memberitahukan kepada kamu suatu Injil yang berbeda dengan

Injil yang telah kami beritakan padamu, terkutuklah dia. (Gal. 1:6-8)

13

4. Pengalaman Pribadi Dengan Tuhan

Ada juga orang Kristen yang melandasi konsep keselamatan pada pengalaman pribadi

dengan Tuhan. Misalnya ia mengalami mukjizat kesembuhan, dll. Namun dalam Alkitab

dicantumkan tentang banyak orang yang telah mengalami mukjizat seperti ini, kemudian

meninggalkan Tuhan. Bahkan di antara mereka yang menyalibkan Tuhan Yesus banyak

terdapat orang yang tadinya sudah menikmati pertolongan Tuhan. Hal inilah yang

memicu   adanya pendapat yang  mengatakan  bahwa teologia  berkat  atau  teologia

kemak-muran bukanlah landasan yang benar bahwa seorang sudah pasti diselamatkan.

B. Pengertian Istilah Keselamatan

1. Pengertian Leksikon

Menurut   Drs.   Yandianto istilah ―keselamatan‖ berasal dari kata dasar ―selamat‖

(kb)  yang  artinya:  terhindar  dari  mara  bahaya,  aman  sentosa,  sejahtera,  tidak

kekurangan suatu apa, sehat, tidak mendapat gangguan kesukaran, beruntung,

tercapai maksudnya.    Jadi    ―keselamatan‖    (kb)    artinya    perihal    selamat,

kesejahteraan,  kebahagiaan, dsb.   Jadi menurut   Yandianto   ―keselamatan‖

mengandung  arti yang ada hubungannya dengan kesejahteraan, yaitu tidak adanya

masalah baik ekonomi maupun  mental,  rasa  nyaman  sebab   tidak  mengalami

kekurangan dalam bidang apapun

Dalam  bahasa  Inggris  istilah  ―keselamatan‖  diterjemahkan  dengan  ―salvation‖

(kb) artinya:1. a saving or rescue especially from evil, danger, or sin (ind. Satu usaha

penyelamatan atau pelepasan terutama dari yang jahat, bahaya dan dosa). 2.

something that saves or rescues (ind. sesuatu yang menyelamatkan atau melepaskan)

; 3. a soul‖s acceptance by God and the receiving of a soul into heaven (ind.

penerimaan Allah akan jiwa untuk masuk ke surga).

Bahasa Inggris lebih banyak memberikan pengertian dengan hal yang ada

hubungannya dengan jiwa. Bahkan pengertian no. 3 lebih dekat hubungannya

dengan   arti   ―keselamatan‖   yang  menjadi  tujuan  Penulisan  ini.   Di   dalam

bahasa  Yunani,   kata   ―keselamatan‖  berasal   dari   kata   kerja   ―sozo‖  artinya

―menjadi sehat‖,

―menyembuhkan‖,  ―mengawetkan‖   dan   dalam  kaitannya   dengan  manusia  artinya

―menyelamatkan   dari  kematian‖   atau  ―mempertahankan  hidup‖.   Dalam  PL  kata

―yasa‖  berarti   ―kemerdekaan   dari   larangan-larangan   dan   ikatan-ikatan,

melepaskan dari kehancuran moral dan memberi kemenangan‖. Kata ini dipakai 278

kali; Istilah lain   yaitu   ―syaloom‖  yang   berarti   ―  damai‖  dan   ―sehat   ―  dan

dipakai  sebanyak  68 kali  dan  ―salem‖  yang  berarti  persembahan  syukur  bagi

kebebasan  sesuai  dengan

―perjuangan‖

2. Pribadi Allah dan Penyelamatan Manusia

Pribadi Allah menuntut penyelamatan manusia. Titik awal penyelamatan dimulai

dari pribadi Allah. Dia yang maha suci, maha besar dan maha adil, tidak memiliki

ruang dalam hadiratNya bagi perkara-perkara yang hina, sia-sia dan terkutuk. Itulah

sebabnya semua insan yang hendak menghampiri hadiratNya harus disucikan

terlebih  dahulu. Itulah  sebabnya  dalam Perjanjian  Lama,  setiap  kali  orang  Israel

memberi persembahan kepada Allah, mereka harus memilih yang terbaik: hasil bumi

yang terbaik, lembu yang tidak memiliki  cacat (Im. 5:15). Harun dan anak-

anaknya harus dikuduskan sebelum pentahbisan mereka melayani Tuhan (Imm.

8:2,5), dll. Allah mengambil inisiatif untuk mengadakan jalan keselamatan itu

sebagaimana yang telah Ia janjikan dalam Kej. 3:15. Janji ini dikatakanNya setelah

manusia jatuh ke dalam dosa.

13

Juga di dalam hakekatNya sebagai Kasih (1 Yoh. 4:8+16; Yoh. 3:16) tidak

menghendaki kebinasaan manusia. Sebagai Terang (1 Yoh. 1:5) Ia menghendaki

agar manusia berjalan di dalam terangNya dan hidup benar di hadapanNya. Sebagai

Roh (1 Yoh. 4:24) Ia ingin memimpin dan menyertai manusia dalam segala sesuatu.

Sesuai dengan hakekat-hakekeat ini  Allah memiliki sifat kepribadian yang

mengembang, menyerap, mempengaruhi dan menghendaki persekutuan dengan

manusia yang diciptakanNya. Hal itu merupakan kehendakNya sebab  Ia

menginginkan agar manusia hidup dalam kebahagiaan.

Hakekat   Allah  yang  lain  dan  yang  sangat   menonjol   ialah  ―anugerah‖  dan

―kasih  karunia‖.  Hal  inilah  juga yang  menjadi  inti kepercayaan  Kristen  kalau

berbicara tentang penyelamatan (atonement). Konsep ini juga yang membuat

kepercayaan Kristen berbeda dengan ajaran agama-agama lain. Keselamatan yaitu 

anugerah Allah  dan  Yesus  Kristus  yaitu   perwujudan  tertinggi  dari  anugerah

ini  (Yoh. 1:17). Dengan anugerah ini orang Kristen yang sudah memilikinya

dimampukan untuk memulai kehidupan baru yang sinkron dengan kehendak Tuhan

dan firmanNya.  Dengan  anugerah  ini  manusia  dimampukan  untuk  mengalami

penebusan dari  perbudakan  dosa,  menikmati  pengampunan,  perdamaian  dengan

Allah, dosanya ditutupi dan tidak diperhitungkan Allah lagi, pengangkatan menjadi

anak,  pemuliaan sebagai  anak  Allah  dan  pewaris  kehidupan  kekal  dan  yang

dimampukan menjadi alat pilihan Tuhan untuk memberitakan Injil dan memuliakan

namaNya di dunia.

Alkitab memberi pengertian yang jauh lebih luas dan komprehensif tentang

pengertian  ―keselamatan‖.   Berikut  ini  yaitu   beberapa   kutipan  dari  Alkitab

yang diberikan untuk memberi pengertian ini :

a. Kelepasan dari dosa, sehingga dosa tidak memperhamba orang beriman lagi Ia

akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, sebab 

Dialah yang akan menyelamatkan umatNya dari dosa mereka. (Mat. 1:21) Dan

kamu tahu bahwa Ia telah menyatakan diriNya supaya Ia menghapus segala

dosa dan di dalam Dia tidak ada dosa. (1 Yoh. 3:5)

b. Dari kenajisan, dengan jalan memberi pengampunan atau penyician. Aku akan

melepaskan kamu dari segala dosa kenajisanmu dan Aku akan menumbuhkan

gandum serta memperbanyaknya, dan Aku tidak lagi mendatangkan kelaparan

atasmu. (Yehez. 36:29)

c. Dari Iblis, sebab  kuasa iblis telah dilucuti  dengan kuasa kebangkitanNya Ia

telah melucuti pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa dan menjadikan

mereka tontonan umum dalam kemenanganNya atas mereka. (Kol. 2:15) sebab 

anak-anak itu yaitu  anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi

sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh

kematianNya Ia  memusnahkan dia,  yaitu  Iblis,  yang berkuasa atas maut,  dan

supaya dengan jalan demikian Ia membebaskan mereka yang seumur hidupnya

berada dalam perhambaan oleh sebab  takutnya kepada maut. (Ibr. 2: 14-15)

d. Dari murka Allah, sebab  segala hutang dosa telah dibayar dengan darah Yesus.

Lebih-lebih  sebab  kita sekarang telah  dibenarkan oleh  darahNya,  kita pasti

akan diselamatkan dari murka Allah. (Rom. 5:9).........dan untuk menantikan

kedatangan AnakNya dari surga yang telah dibangkitkanNya dari antara orang

mati, yaitu Yesus Kristus, yang akan menyelamatkan kita dari murka yang akan

datang. (1 Tes. 1: 10)

e. Dari dunia jahat ini,  sehingga bagaimanapun dunia berusaha untuk merenggut

orang beriman namun ia tidak dapat dipisahkan dari Tuhan Yesus..............yang

13

telah menyerahkan diriNya sebab  dosa-dosa kita, untuk melepaskan kita dari

13

dunia jahat yang sekarang ini, menurut kehendak Allah dan Bapa kita. (Gal. 1: 

4)

f. Dari musuh-musuh, sebab  musuh sudah dikalahkan Yesus untuk 

melepaskan kita dari musush-musuh kita, dan dari tangan semua orang yang

membenci kita. .......supaya kita, terlepas dari tangan musuh‖, dapat beribadah

kepadaNYa tanpa takut. (Luk. 1: 71,74)

g. Dan dari kebinasaan kekal, sehingga orang beriman tidak usah takut lagi sebab 

kebinasaan dan kematian  kekal  tidak  lagi  menimpa dia.  sebab  begitu  besar

kasih  Allah  akan  dunia  ini  sehingga  Ia  telah  mengaruniakan  AnakNya yang

tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa melainkan

beroleh  hidup yang  kekal.  Sebab  Allah  mengutus  AnakNya  ke  dalam dunia

bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.

(Yoh. 3: 16-17)

Selanjutnya Alkitab mengatakan bahwa keselamatan itu:

a. Berasal dari Allah dan berdasar  maksud Allah: Dari Tuhan datang

pertolongan, berkatMu atas umatMu. (Maz. 3:9) Orang-orang benar

diselamatkan oleh Tuhan;  Ia  yaitu   tempat  perlindungan mereka  pada waktu

kesesakan. (Maz. 37:39) Sesungguhnya bukit-bukit pengorbanan yaitu  tipu

daya, yakni keramaian di atas bukit-bukit itu! Sesungguhnya hanya pada Allah,

Tuhan kita ada keselamatan Israel. (Yer. 3:23) Dialah yang telah

menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan

berdasar  perbuatan kita, melainkan berdasar  maksud dan kasih

karuniaNya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita di dalam Kristus Yesus

sebelum permulaan zaman. (2 Tim. 1:9).

b. yaitu  ketetapan Allah dan Ia berkehendak untuk memberinya: sebab  Allah

tidak menetapkan kita untuk ditimpa murka, namun  untuk beroleh keselamatan

oleh Yesus Kristus Tuhan kita. (1 Tes. 5: 9).........yang menghendaki supaya 

semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran. (1

Tim. 2: 4)

c. Diberi Allah hanya melalui Kristus saja: sebab  suami yaitu  kepala isteri sama

seperti Kristus yaitu  kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. (Ef. 5:

23) Baca juga Yes. 63:9; 45:21-22; 59:16; Kis. 4:12. Ef. 5:23.

d. Dinubuatkan untuk orang kafir dan orang Israel: Dengan jalan demikian seluruh

Israel akan diselamatkan seperti ada tertulis, Dari Sion akan datang Penebus, Ia

akan menyingkirkan segala kefasikan dari pada Yakub. (Rom. 11: 26) Baca juga

Yes. 35:4; 45:17,22; 49:6; 52:10; Zak. 9:16.

e. Dinyatakan dalam Injil: Di dalam Dia, kamu juga, sebab  kamu telah

mendengarkan  firman  kebenaran,  yaitu  Injil  keselamatanmu  – di  dalam Dia

kamu juga, saat  kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus yang

dijanjikanNya itu. (Ef. 1:13). dan yang sekarang dinyatakan oleh kedatangan

Juruselamat kita, yaitu Yesus Kristus, yang oleh Injil telah mematahkan kuasa

maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa. (2 Tim. 1:10)

f. Diterima melalui iman kepada Tuhan Yesus Kristus dan kelahiran baru: sebab 

dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku

dan diselamatkan. (Rom. 10:10) Yesus menjawab kataNya: ‖Aku berkata

kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat

melihat kerajaan Allah.‖ (Yoh. 3:3)

g. Sempurna dan selama-lamanya:.... dan setelah Ia mencapai kesempurnaanNya,

Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat

13

kepadaNya. (Ibr. 5:9).     yang tidak seperti imam-imam besar lain, yang setiap

hari  harus  mempersembahkan  korban untuk dosanya  sendiri  dan  sesudah itu

barulah untuk dosa umatnya, sebab hal itu telah dilakukanNya satu kali untuk

selama-lamanya,  saat  Ia mempersembahkan diriNya sendiri sebagai korban.

(Ibr. 7:25) Baca juga Yes. 45:17; 51:6.

C. Anugerah

Istilah  kedua   yang  perlu  mendapat   penelaahan  akan  artinya  ialah  ―anugerah‖.

Istilah anugerah yaitu  kata yang memiliki  nuansa rohani. Untuk kata ini Drs. Yandianto

memberi   arti   ―pemberian   dari   pihak   yang   sangat   dihormati‖.61   Misalnya:   ―Ia

mendapat  anugerah   satya   lencana   dari Presiden   Republik   Indonesia‖, atau   ―Tuhan

menganugerahkan seorang anak laki-laki kepada keluarganya.‖ Dalam bahasa Inggris

Holt memberi kata

―grace‖  untuk kata  ―anugerah‖  yang  artinya  ―divine help or favor‖  (Ind. Pertolongan

Allah) Misalnya: Allah menganugerahkan keselamatan kepadanya.

1. Arti Anugerah dalam Perjanjian Lama

Perjanjian   Lama   memakai   beberapa   istilah   untuk   menjelaskan   konsep

―anugerah‖. Namun pengertian dari istilah-istilah ini  berkaitan satu dengan yang

lain dan juga sekaligus memberi latar belakang pengertian dalam Perjanjian Baru. New

Dictionary  of Theology   mengartikannya   dengan:   ―An   objective   relation   of

undeserved  favour   by   a superior to the inferior, which, in the case og divine grace

towards mankind, accompanies the ideas of covenant and election.‖ Dalam Alkitab

Perjanjian Lama beberapa istilah  dipakai  untuk kata ―anugerah‖.

a. ―Khen‖

Istilah   ini   memiliki    kata   kerja   ―khanan‖   yang   berarti   ―membongkok‖   dan

―merendahkan   diri‖.   Istilah   ini   juga   memiliki   pengertian   ―menurunkan

perhatian  atau  kasih‖.  Sama  seperti  yang  dikatakan  oleh  New  Dictionary  of

Theology. The New Bible Dictionary mengatakan bahwa: Secara implisit ada dua

oknum yang terlibat   dalam   pelaksanaan   ―anugerah‖  yaitu   seorang   yang

memiliki   kedudukan yang tinggi dan seorang yang memiliki  kedudukan yang

rendah.  Jadi  seorang yang memberi  anugerah  ialah  seorang  yang berada  dalam

posisi yang sangat tinggi dan harus merendahkan hati, membongkok untuk dapat

menurunkan  perhatian  atau kasih  kepada  seorang  yang  rendah  posisinya.

Pengertian ini sangat cocok dengan pengertian Alkitab. Allah merendahkan diriNya

untuk memberi anugerahNya kepada manusia (Bil. 14:8; Rom. 8:32). Akar katanya

juga dapat dilihat dalam nama orang seperti: Hannah, Hanan, Hanami, Hananiah.

Istilah ini muncull 225 kali dalam PL.

Istilah   ―khen‖   digunakan   dalam   beberapa    bagian   Alkitab   untuk

menggambarkan keagungan kasih setia Allah kepada manusia. Beberapa contoh,

misalnya:

1) Kel. 33:13: Musa memohon anugerah Illahi bagi bangsa Israel yang

memberontak kepada Allah setelah hukum Taurat diberikan.

2) Kel. 34:6-8: Allah memperpanjang anugerahNya dengan memberikan Taurat

untuk yang kedua kalinya. Hal ini merupakan pemberian tanpa pamrih dari

Dia yang Superior kepada yang inferior, yaitu manusia.

3) Yer. 31:2: Allah menunjukkan anugerahNya dengan cara mengingatkan

bangsa Israel akan banyaknya ujian hidup yang mereka alami dalam

perjalanan keluar dari Mesir menuju tanah perjanjian, Kanaan.

4) Zak. 12:10:  Nubuatan  tentang  pertobatan  dan pembaharuan Israel  sebagai

13

masa pencurahan anugerah Allah kepada mereka.

14

5) Ayub 33:24; Maz. 26:12b dan Kel. 33:19 yaitu  merupakan ayat-ayat penting

yang pengertiannya sangat erat dengan penebusan dari perbudakan dosa.

Banyak ayat-ayat lain dalam Alkitab yang menunjukkan indikasi yang sama.

Kata ―khen‖ mengandung  beberapa pengertian.

1) Pemberian cuma-cuma dari yang superior kepada yang inferior, yaitu sesuatu

yang tidak  disangka-sangka sebab  yang  inferior tidak  memiliki kelayakan

untuk menerimanya.

2) Membicarakan pembebasan dari kesulitan hidup sehari-hari. Dalam hal ini

pemakaian istilah  ―khen‖ berkenaan dengan kehidupan  jasmani.(Kel.  2:23-

25).

3) Penebusan dari dosa kepada hidup yang kekal. Dalam hal ini pemakaian kata

ini dipertautkan dengan hal-hal rohani.( Rom. 6:9).

b. ―Khesed‖

Istilah ini muncul kira-kira 250 kali dalam Perjanjian Lama dan merupakan istilah

yang   paling   erat   hubungannya   dengan kata   ―kharis‖  yang dipakai dalam

Perjanjian Baru  yang  artinya   ―anugerah‖.   Menurut  C.H.  Dodd  kata  ―khesed‖

memiliki   hubungan   erat   dengan pemakaian    kata   ―kharis‖  dalam bahasa

Yunani sehari-hari.  Ryrie  dalam bukunya  The  Grace  of  God (C.C.  Ryrie,  The

Grace of God, Chicago Moody Press, 1970, hal. 16) menyimpulkan bahwa dalam

pemakaian istilah ini:

1) Terlibat perasaan yang terdalam. Kasih illahi terlibat di dalamnya.

2) Melibatkan hubungan ynag intim antara Allah dan manusia dalam bentuk

perseorangan maupun kelompok sebab  adanya perjanjian unilateral.

Perjanjian Allah kepada Abraham dan keturunannya yaitu  perjanjian

unilateral sebab  menyangkut keselamatan semua orang percaya (Kej. 12:1-3;

Roma 11:1-36).

3) jika   kedua pengertian  di atas  digabung maka istilah  ini  akan bermakna

bahwa anugerah Allah itu kokoh, teguh dan tahan uji.66

Beberapa ajaran lain  yang melibatkan  istilah  ―khesed‖ ialah:

1) Dalam Perjanjian Lama persekutuan dengan Allah dimungkinkan sebab  kasih

setia Allah itu kekal dan tahan uji (Maz. 5:6-8, 36:8, 48:9-10).

   Dari segi manusia diharapkan agar manusia memelihara kesaksian-kesaksian, upacara-

upacara dan hukum-hukum Tuhan dengan kasih dan takut akan Tuhan (Maz. 103: 18;

Ul. 7: 12; Neh. 1: 5). Ibadah dipelihara sebab  kasih dan takut akan Tuhan bukan

sesuatu yang dilakukan secara rutinitas.

   Penarikan  kata  ―khesed‖  sebab   ketidak  taatan  manusia  akan  berarti  ―pengadilan

dan murka Allah dinyatakan‖. (Yer. 16: 5; Bil. 14: 20-38); masa diam (silent period)

selama

400 tahun yaitu  merupakan contoh signifikan dimana Allah tidak lagi

memperdengarkan suaraNya melalui para nabi di kalangan orang Israel.

2) Istilah   ―khesed‖    sangat   berhubungan   erat   dengan   Perjanjian   Daud

dan Perjanjian Musa. Mengenai Daud dan keturunannya Allah berkata: namun 

kasih setiaKu tidak akan hilang dari padanya, seperti yang Kuhilangkan dari

raja Saul yang telah Kujauhkan dari hadapanmu. (2 Sam. 7:15) Kepada Musa

Allah berfirman: namun  Aku akan menjukkan kasih setia kepada beribu-ribu

orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-

perintahKu. (Kel. 20:6)

3) Pembebasan    yang    diberikan   Allah   berakar    pada    kata    ―khesed‖,

yaitu  pembebasan  dari  musuh  (Maz.  62:6-9),  keresahan  sebab   penuduh-

14

penuduh (Maz.  54:3-5),  pengembaraan  (Maz.  57:2-6),  air  yang  dalam,  dan

bahkan dari Sheol. Semuanya sebab  kasih karunia Allah.

14

4) Kebangunan   rohani   umat   selalu   dikaitkan   dengan   ―khesed‖   (Maz.

85:7-9). Ayat 7 berbicara tentang kebangunan rohani secara nasional