Tampilkan postingan dengan label Konflik Palestina-Israel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Konflik Palestina-Israel. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Juli 2026

Konflik Palestina-Israel

 


Konflik Israel dan Palestina

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Artikel ini membutuhkan lebih banyak catatan 

kaki untuk pemastian.

Silakan bantu memperbaiki artikel ini dengan menambahkan catatan kaki 

dari sumber yang terpercaya.

Konflik Israel dan Palestina

Bagian dari Konflik Arab-Israel

Pusat Israel sebelah Tepi Barat dan Jalur Gaza, 2007

Tanggal Awal abad 20 - hari ini

Lokasi Israel, wilayah Palestina

Hasil terus

Pihak yang terlibat

Palestinians Israelis

Proses Perdamaian

Perjanjian Perdamaian Camp David · Madrid

Konferensi

Persetujuan Oslo / Oslo II · Hebron Protokol

Wye Sungai / Sharm el-Sheikh Memorandum

2000 Camp David kemuncak · Taba kemuncak

Road Map · Konferensi Annapolis

Konflik Israel-Palestina, bagian dari konflik Arab-Israel yang lebih luas, 

adalah konflik yang berlanjut antara bangsa Israel dan bangsa Palestina.

Konflik Israel-Palestina ini bukanlah sebuah konflik dua sisi yang sederhana, seolah-

olah seluruh bangsa Israel (atau bahkan seluruh orang Yahudi yang berkebangsaan 

Israel) memiliki satu pandangan yang sama, sementara seluruh bangsa Palestina 

memiliki pandangan yang sebaliknya. Di kedua komunitas terdapat orang-orang dan 

kelompok-kelompok yang menganjurkan penyingkiran teritorial total dari komunitas 

yang lainnya, sebagian menganjurkan solusi dua negara, dan sebagian lagi 

menganjurkan solusi dua bangsa dengan satu negara sekular yang mencakup wilayah 

Israel masa kini, Jalur Gaza, Tepi Barat, dan Yerusalem Timur.

Daftar isi

  [sembunyikan] 

 1    Sejarah  

o 1.1    Akhir abad ke-19 - 1920: Asal konflik  

o 1.2    1920-1948: Mandat Britania atas Palestina  

o 1.3    1948-1967  

o 1.4    1967-1993  

o 1.5    1993-2000: Proses perdamaian Oslo  

o 1.6    2000-sekarang: Intifada al-Aqsa  

 2    Situasi saat ini  

 3    Korban  

 4    Lihat pula  

o 4.1    Etnisitas  

o 4.2    Agama  

o 4.3    Geografi  

o 4.4    Tempat-tempat penting  

o 4.5    Ideologi dan gagasan  

o 4.6    Laporan media  

o 4.7    Organisasi dan angkatan bersenjata  

o 4.8    Tokoh  

o 4.9    Konflik-konflik terkait  

 5    Referensi  

 6    Bacaan lebih lanjut  

 7    Pranala luar  

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Akhir abad ke-19 - 1920: Asal konflik[sunting | sunting sumber]

 Tahun 1897, Kongres Zionis Pertama diselenggarakan.

 Deklarasi Balfour 1917  

2 November 1917. Inggris mencanangkan Deklarasi Balfour, yang dipandang pihak 

Yahudi dan Arab sebagai janji untuk mendirikan ”tanah air” bagi kaum Yahudi di 

Palestina.

1920-1948: Mandat Britania atas Palestina[sunting | sunting sumber]

 Teks 1922: Mandat Palestina Liga Bangsa-bangsa  

 Mandat Britania atas Palestina  

 Revolusi Arab   1936-1939.

Revolusi Arab dipimpin Amin Al-Husseini. Tak kurang dari 5.000 warga Arab terbunuh. 

Sebagian besar oleh Inggris. Ratusan orang Yahudi juga tewas. Husseini terbang ke 

Irak, kemudian ke wilayah Jerman, yang ketika itu dalam pemerintahan Nazi.

 Rencana Pembagian Wilayah oleh PBB 1947  

 Deklarasi Pembentukan Negara Israel, 14 Mei 1948  .

Secara sepihak Israel mengumumkan diri sebagai negara Yahudi. Inggris hengkang 

dari Palestina. Mesir, Suriah, Irak, Libanon, Yordania, dan Arab Saudi menabuh 

genderang perang melawan Israel.

1948-1967[sunting | sunting sumber]

 Perang Arab-Israel 1948  

 Persetujuan Gencatan Senjata 1949  

3 April 1949. Israel dan Arab bersepakat melakukan gencatan senjata. Israel mendapat 

kelebihan wilayah 50 persen lebih banyak dari yang diputuskan dalam Rencana 

Pemisahan PBB.

 Exodus bangsa Palestina  

 Perang Suez 1956  

 Organisasi Pembebasan Palestina   (PLO) resmi berdiri 

pada Mei 1964.

 Perang Enam Hari 1967  

 Resolusi Khartoum  

 Pendudukan Jalur Gaza oleh Mesir  

 Pendudukan Tepi Barat dan Yerusalem Timur oleh Yordan  

1967-1993[sunting | sunting sumber]

 Perjanjian Nasional Palestina   dibuat pada 1968, Palestina 

secara resmi menuntut pembekuan Israel.

 1970 War of Attrition  

 Perang Yom Kippur 1973  

 Kesepakatan Damai Mesir-Israel di Camp David 1978  

 Perang Lebanon 1982  

 Intifada pertama   (1987 - 1991)

 Perang Teluk 1990/1  

1993-2000: Proses perdamaian Oslo[sunting | sunting sumber]

Yitzhak Rabin dan Yasser Arafatberjabat tangan ,dipantau oleh Bill Clinton, pada 

penandatangananPersetujuan Oslo pada 13 September 1993

 Kesepakatan Damai Oslo antara Palestina dan Israel 1993  

13 September 1993. Israel dan PLO bersepakat untuk saling mengakui kedaulatan 

masing-masing. Pada Agustus 1993, Arafat duduk semeja dengan Perdana Menteri 

Israel Yitzhak Rabin. Hasilnya adalah Kesepakatan Oslo. Rabin bersedia menarik 

pasukannya dari Tepi Barat dan Jalur Gaza serta memberi Arafat kesempatan 

menjalankan sebuah lembaga semiotonom yang bisa "memerintah" di kedua wilayah 

itu. Arafat "mengakui hak Negara Israel untuk eksis secara aman dan damai".

28 September 1995. Implementasi Perjanjian Oslo. Otoritas Palestina segera berdiri.

 Kerusuhan terowongan Al-Aqsa  

September 1996. Kerusuhan terowongan Al-Aqsa. Israel sengaja membuka 

terowongan menuju Masjidil Aqsa untuk memikat para turis, yang justru 

membahayakan fondasi masjid bersejarah itu. Pertempuran berlangsung beberapa hari 

dan menelan korban jiwa.

 18 Januari 1997 Israel bersedia menarik pasukannya dari 

Hebron, Tepi Barat.

 Perjanjian Wye River   Oktober 1998 berisi penarikan Israel 

dan dilepaskannya tahanan politik dan kesediaan Palestina

untuk menerapkan butir-butir perjanjian Oslo, termasuk 

soal penjualan senjata ilegal.

 19 Mei 1999, Pemimpin partai Buruh Ehud Barak terpilih 

sebagai perdana menteri. Ia berjanji mempercepat proses 

perdamaian.

2000-sekarang: Intifada al-Aqsa[sunting | sunting sumber]

Peta wilayah Tembok Pemisah Israel.

 Intifada al-Aqsa   (2000-sekarang)

Maret 2000, Kunjungan pemimpin oposisi Israel Ariel Sharon ke Masjidil Aqsa memicu 

kerusuhan. Masjidil Aqsa dianggap sebagai salah satu tempat suci umat Islam. 

Intifadah gelombang kedua pun dimulai.

 KTT Camp David 2000 antara Palestina dan Israel  

 Maret-April 2002 Israel membangun Tembok Pertahanan di

Tepi Barat dan diiringi rangkaian serangan bunuh diri 

Palestina.

 Juli 2004 Mahkamah Internasional menetapkan 

pembangunan batas pertahanan menyalahi hukum 

internasional dan Israel harus merobohkannya.

 9 Januari 2005 Mahmud Abbas, dari Fatah, terpilih sebagai

Presiden Otoritas Palestina. Ia menggantikan Yasser 

Arafat yang wafat pada 11 November 2004

 Peta menuju perdamaian  

 Juni 2005 Mahmud Abbas dan Ariel Sharon bertemu di 

Yerusalem. Abbas mengulur jadwal pemilu karena khawatir

Hamas akan menang.

 Agustus 2005 Israel hengkang dari permukiman Gaza dan 

empat wilayah permukiman di Tepi Barat.

 Januari 2006 Hamas memenangkan kursi Dewan 

Legislatif, menyudahi dominasi Fatah selama 40 tahun.

 Januari-Juli 2008 Ketegangan meningkat di Gaza. Israel 

memutus suplai listrik dan gas. Dunia menuding Hamas tak

berhasil mengendalikan tindak kekerasan. PM Palestina 

Ismail Haniyeh berkeras pihaknya tak akan tunduk.

 November 2008 Hamas batal ikut serta dalam pertemuan 

unifikasi Palestina yang diadakan di Kairo, Mesir. Serangan

roket kecil berjatuhan di wilayah Israel.

 Serangan Israel ke Gaza   dimulai 26 Desember 2008. Israel

melancarkan Operasi Oferet Yetsuka, yang dilanjutkan 

dengan serangan udara ke pusat-pusat operasi Hamas. 

Korban dari warga sipil berjatuhan. [1]

 Mei 2010 Israel mem-blokede seluruh jalur bantuan menuju

palestina

 30 Mei 2010 Tentara Israel Menembaki kapal 

bantuan Mavi Marmara yang membawa 

ratusan Relawan dan belasan ton bantuan untuk palestina

Klip video dari sebuah serangan roket di Israel Selatan, March 

2009.

 

Sebuah roket Qassam ditembakkan dari sebuah daerah sipil di 

Gaza ke Israel selatan, Januari 2009.

 

Ledakan disebabkan oleh airstrike Israel di Gaza selama 2008-2009

Konflik Israel-Gaza, Januari 2009.

Situasi saat ini[sunting | sunting sumber]

Artikel atau bagian dari artikel ini diterjemahkan dari Konflik Israel dan 

Palestina di en.wikipedia.org. Isinya mungkin memiliki ketidakakuratan.

Selain itu beberapa bagian yang diterjemahkan kemungkinan masih 

memerlukan penyempurnaan. Pengguna yang mahir dengan bahasa yang

bersangkutan dipersilakan untuk menelusuri referensinya dan 

menyempurnakan terjemahan ini.

(Pesan ini dapat dihapus jika terjemahan dirasa sudah cukup tepat)

Sejak Persetujuan Oslo, Pemerintah Israel dan Otoritas Nasional Palestina secara 

resmi telah bertekad untuk akhirnya tiba pada solusi dua negara. Masalah-masalah 

utama yang tidak terpecahkan di antara kedua pemerintah ini adalah:

 Status dan masa depan Tepi Barat, Jalur Gaza, 

dan Yerusalem Timur yang mencakup wilayah-wilayah 

dari Negara Palestina yang diusulkan.

 Keamanan Israel.

 Keamanan Palestina.

 Hakikat masa depan negara Palestina.

 Nasib para pengungsi Palestina.

 Kebijakan-kebijakan pemukiman pemerintah Israel, dan 

nasib para penduduk pemukiman itu.

 Kedaulatan terhadap tempat-tempat suci di Yerusalem, 

termasuk Bukit Bait Suci dan kompleks Tembok (Ratapan) 

Barat.

Masalah pengungsi muncul sebagai akibat dari perang Arab-Israel 1948. Masalah Tepi 

Barat, Jalur Gaza, dan Yerusalem Timur muncul sebagai akibat dari Perang Enam 

Hari pada 1967.

Selama ini telah terjadi konflik yang penuh kekerasan, dengan berbagai tingkat 

intensitasnya dan konflik gagasan, tujuan, dan prinsip-prinsip yang berada di balik 

semuanya. Pada kedua belah pihak, pada berbagai kesempatan, telah muncul 

kelompok-kelompok yang berbeda pendapat dalam berbagai tingkatannya tentang 

penganjuran atau penggunaan taktik-taktik kekerasan, anti kekerasan yang aktif, dll. 

Ada pula orang-orang yang bersimpati dengan tujuan-tujuan dari pihak yang satu atau 

yang lainnya, walaupun itu tidak berarti mereka merangkul taktik-taktik yang telah 

digunakan demi tujuan-tujuan itu. Lebih jauh, ada pula orang-orang yang merangkul 

sekurang-kurangnya sebagian dari tujuan-tujuan dari kedua belah pihak. Dan 

menyebutkan "kedua belah" pihak itu sendiri adalah suatu penyederhanaan: Al-

Fatah dan Hamas saling berbeda pendapat tentang tujuan-tujuan bagi bangsa 

Palestina. Hal yang sama dapat digunakan tentang berbagai partai politik Israel, 

meskipun misalnya pembicaraannya dibatasi pada partai-partai Yahudi Israel.

Mengingat pembatasan-pembatasan di atas, setiap gambaran ringkas mengenai sifat 

konflik ini pasti akan sangat sepihak. Itu berarti, mereka yang menganjurkan 

perlawanan Palestina dengan kekerasan biasanya membenarkannya sebagai 

perlawanan yang sah terhadap pendudukan militer oleh bangsa Israel yang tidak sah 

atas Palestina, yang didukung oleh bantuan militer dan diplomatik oleh A.S. Banyak 

yang cenderung memandang perlawanan bersenjata Palestina di lingkungan Tepi Barat

dan Jalur Gaza sebagai hak yang diberikan oleh persetujuan Jenewa dan Piagam PBB.

Sebagian memperluas pandangan ini untuk membenarkan serangan-serangan, yang 

seringkali dilakukan terhadap warga sipil, di wilayah Israel itu sendiri.

Demikian pula, mereka yang 

bersimpati dengan aksi militer Israel 

dan langkah-langkah Israel lainnya 

dalam menghadapi bangsa Palestina 

PLO Al-Fatah Hamas JIP

Lambang-lambang dari organisasi-organisasi utama Palestina 

termasuk peta wilayah Israel sekarang, Tepi Barat dan Jalur 

Gaza. (Sejumlah besar penduduk Palestina maupun Israel 

sama-sama mengklaim hak atas seluruh wilayah ini).

cenderung memandang tindakan-tindakan ini sebagai pembelaan diri yang sah oleh 

bangsa Israsel dalam melawan kampanye terorisme yang dilakukan oleh kelompok-

kelompok Palestina sepertiHamas, Jihad Islami, Al Fatah dan lain-lainnya, dan 

didukung oleh negara-negara lain di wilayah itu dan oleh kebanyakan bangsa Palestina,

sekurang-kurangnya oleh warga Palestina yang bukan merupakan warga negara Israel.

Banyak yang cenderung percaya bahwa Israel perlu menguasai sebagian atau seluruh 

wilayah ini demi keamanannya sendiri. Pandangan-pandangan yang sangat berbeda 

mengenai keabsahan dari tindakan-tindakan dari masing-masing pihak di dalam konflik 

ini telah menjadi penghalang utama bagi pemecahannya.

Sebuah poster gerakan perdamaian: Bendera Israel danbendera Palestina dan kata-

kataSalaam dalam bahasa Arab danShalom dalam bahasa Ibrani. Gambar-gambar serupa telah 

digunakan oleh sejumlah kelompok yang menganjurkan solusi dua negara dalam konflik ini.

Sebuah usul perdamaian saat ini adalah peta menuju perdamaian yang diajukan oleh 

Empat Serangkai Uni Eropa, Rusia, PBB dan Amerika Serikatpada 17 September 2002.

Israel juga telah menerima peta itu namun dengan 14 "reservasi". Pada saat ini Israel 

sedang menerapkan sebuah rencana pemisahan diri yang kontroversial yang diajukan 

oleh Perdana Menteri Ariel Sharon. Menurut rencana yang diajukan kepada AS, Israel 

menyatakan bahwa ia akan menyingkirkan seluruh "kehadiran sipil dan militer... yang 

permanen" di Jalur Gaza (yaitu 21 pemukiman Yahudi di sana, dan 4 pemumikan di 

Tepi Barat), namun akan "mengawasi dan mengawal kantong-kantong eksternal di 

darat, akan mempertahankan kontrol eksklusif di wilayah udara Gaza, dan akan terus 

melakukan kegiatan militer di wilayah laut dari Jalur Gaza." Pemerintah Israel 

berpendapat bahwa "akibatnya, tidak akan ada dasar untuk mengklaim bahwa Jalur 

Gaza adalah wilayah pendudukan," sementara yang lainnya berpendapat bahwa, 

apabila pemisahan diri itu terjadi, akibat satu-satunya ialah bahwa Israel "akan diizinkan

untuk menyelesaikan tembok [artinya, Penghalang Tepi Barat Israel] dan 

mempertahankan situasi di Tepi Barat seperti adanya sekarang ini" [1] [2].

Dengan rencana pemisahan diri sepihak, pemerintah Israel menyatakan bahwa 

rencananya adalah mengizinkan bangsa Palestina untuk membangun sebuah tanah air 

dengan campur tangan Israel yang minimal, sementara menarik Israel dari situasi yang 

diyakininya terlalu mahal dan secara strategis tidak layak dipertahankan dalam jangka 

panjang. Banyak orang Israel, termasuk sejumlah besar anggota partai Likud -- hingga 

beberapa minggu sebelum 2005 berakhir merupakan partai Sharon -- kuatir bahwa 

kurangnya kehadiran militer di Jalur Gaza akan mengakibatkan meningkatnya kegiatan 

penembakan roket ke kota-kota Israel di sekitar Gaza. Secara khusus muncul 

keprihatinan terhadap kelompok-kelompok militan Palestina seperti Hamas, Jihad Islami

atau Front Rakyat Pembebasan Palestina akan muncul dari kevakuman kekuasaan 

apabila Israel memisahkan diri dari Gaza.

Korban[sunting | sunting sumber]

Korban sipil yang tewas akibat konflik Israel-Palestina, data berasal dari B'tselem dan Kementerian Luar Negeri Israel antara tahun 1987

hingga 2011[2][3][4][5]

(angka dalam tanda kurung merupakan korban yang berusia di bawah 18 tahun)

Tahun

Kematian

Palestina Israel

2011 118 (13) 11 (5)

2010 81 (9) 8 (0)

2009 1034 (314) 9 (1)

2008 887 (128) 35 (4)

2007 385 (52) 13 (0)

2006 665 (140) 23 (1)

2005 190 (49) 51 (6)

2004 832 (181) 108 (8)

2003 588 (119) 185 (21)

2002 1032 (160) 419 (47)

2001 469 (80) 192 (36)

2000 282 (86) 41 (0)

1999 9 (0) 4 (0)

1998 28 (3) 12 (0)

1997 21 (5) 29 (3)

1996 74 (11) 75 (8)

1995 45 (5) 46 (0)

1994 152 (24) 74 (2)

1993 180 (41) 61 (0)

1992 138 (23) 34 (1)

1991 104 (27) 19 (0)

1990 145 (25) 22 (0)

1989 305 (83) 31 (1)

1988 310 (50) 12 (3)

1987 22 (5) 0 (0)

Total 7978 (1620) 1503 (142)

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Israel, Tepi Barat, dan Jalur Gaza berada di pusat konflik Israel-Palestina.

Etnisitas[sunting | sunting sumber]

 Arab   -- Yahudi -- Palestina

Agama[sunting | sunting sumber]

 Islam   -- Yudaisme -- Kristen

Geografi[sunting | sunting sumber]

 Palestina   (Tanah Israel)

 Geografi Israel  

 Tepi Barat   (Yudea dan Samaria)

 Jalur Gaza  

Tempat-tempat penting[sunting | sunting sumber]

 Yerusalem   -- Ma'alot -- Hebron -- Betlehem -- Gereja 

Kelahiran -- Kota Gaza -- Jenin -- Yerikho

Ideologi dan gagasan[sunting | sunting sumber]

 Zionisme  

 Pan-Arabisme  

 Negara Yahudi  

 Usul-usul pembentukan negara Palestina  

Laporan media[sunting | sunting sumber]

 New Historians  

 Promises  , sebuah film dokumenter yang dinominasi untuk 

Oscar

 Laporan media tentang konflik Israel-Palestina  

 Charles Enderlin  

 Muhammed al-Dura  

Organisasi dan angkatan bersenjata[sunting | sunting sumber]

 Angkatan Pertahanan Israel  

 Gerakan anti Israel  

 Al-Fatah  

 Hamas  

 Hizbullah  

 Front Rakyat Pembebasan Palestina   (FRPP)

 Yayasan Bantuan dan Pembangunan Tanah Suci  

 Otoritas Palestina  

 Organisasi Pembebasan Palestina   (PLO)

 Jihad Islami Palestina  

Tokoh[sunting | sunting sumber]

Israel

 David Ben-Gurion   -- Menachem Begin -- Shimon 

Peres -- Yitzhak Rabin -- Ariel Sharon -- Chaim Weizmann

Palestina

 Mahmud Abbas   -- Hanan Ashrawi -- Yasser 

Arafat -- Marwan Barghouti -- Haj Amin Al-Husseini -- Dalal

Mughrabi -- Nabil Shaath -- Ahmed Shukairy -- Syekh 

Ahmed Yassin -- Ahmed Qurei

Lainnya

 Raja Hussein   -- Anwar Sadat -- Colin Powell -- Anthony 

Zinni -- Raja Abdullah

Konflik-konflik terkait[sunting | sunting sumber]

 Konflik Arab-Israel  

 Konflik Timur Tengah  

 Perang Lebanon 2006  

Referensi[sunting | sunting sumber]

1.  ̂  Tahun-tahun Bersimbah Darah, Tempo

2.  ̂  Data tabulated from "B'Tselem – Statistics – Fatalities in 

the first Intifada." B'Tselem.

3.  ̂  "Fatal Terrorist Attacks in Israel Since the Declaration of 

Principles." Jewish Virtual Library. 31 August 2010.

4.  ̂  "Fatal Terrorist Attacks in Israel Since the DOP (Sept 

1993)." Israel Ministry of Foreign Affairs. 24 September 

2000.

5.  ̂  "The Intrafada: Palestinians Killed by Palestinians." Jewish

Virtual Library.

Bacaan lebih lanjut[sunting | sunting sumber]

 Bard, Mitchell. The Complete Idiot's Guide to Middle East 

Conflict, ISBN 0-02-864410-7

 Bickerton, Ian J. and Carla L. Klausner. A Concise History 

of the Arab–Israeli Conflict. 4th ed. (Prentice Hall, 

2001), ISBN 0-13-090303-5

 Chomsky, Noam  . The Fateful Triangle: The United States, 

Israel and the Palestinians. Rev. ed. (South End Press, 

1999), ISBN 0-89608-187-7.

 David, Ron. Arabs & Israel for Beginners (Writers and 

Readers Publishing, Inc. 1996), ISBN 0-86316-161-8

 Dershowitz, Alan  . The Case for Israel, ISBN 0-471-67952-6

 Enderlin, Charles. Shattered Dreams: The Failure of the 

Peace Process in the Middle East, 1995-2002. (Other 

Press, 2003), ISBN 1-59051-060-7

 Finkelstein, Norman  . Image and Reality of the Israel-

Palestine Conflict. 2nd ed. (Verso, 2003), ISBN 1-85984-

442-1 2nd ed. introduction

 Fraser, T. G. The Arab–Israeli Conflict. 2nd ed. (Palgrave 

Macmillan, 2004), ISBN 1-4039-1338-2

 Harms, Gregory with Todd M. Ferry. The Palestine-Israel 

Conflict: A Basic Introduction (Pluto Press, 2005), ISBN 0-

7453-2378-2

 Hirst, David. The Gun and the Olive Branch. 3rd ed. 

(Nation Books, 2003), ISBN 1-56025-483-1

 Khouri, Fred J. The Arab–Israeli Dilemma. 3rd ed. 

(Syracuse University Press, 1985), ISBN 0-8156-2340-2

 Morris, Benny  . Righteous Victims: A History of the Zionist–

Arab Conflict, 1881–2001 (Vintage Books, 2001), ISBN 0-

679-74475-4

 Pearlman, Wendy. Occupied Voices: Stories of Everyday 

Life from the Second Intifada, ISBN 1-56025-530-7.

 Reinhart, Tanya. Israel/Palestine: How to End the War of 

1948 (Seven Stories Press, 2002), ISBN 1-58322-538-2

 Safran, Nadav  . The United States and Israel, ISBN 0-674-

92490-8.

 Ross, Dennis  . "The Missing Peace: The Inside Story of the 

fight for Middle East Peace", ISBN 0-374-19973-6

 Smith, Charles D. Palestine and the Arab–Israeli Conflict. 

5th ed. (Bedford/St. Martin’s, 2004), ISBN 0-312-40408-5

 Swisher, Clayton E. The Truth About Camp David (Nation 

Books, 2004), ISBN 1-56025-623-0

 Sykes, Christopher. Crossroads to Israel (Cleveland: The 

World Publishing Company, 1965), [out of print]

 Tessler, Mark. A History of the Israeli–Palestinian 

Conflict (Indiana University Press, 1994), ISBN 0-253-

20873-4

 Thomas, Baylis. How Israel Was Won (Lexington Books, 

1999), ISBN 0-7391-0064-5

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

 (Inggris) Sejarah Israel, Palestina dan konflik Arab-Israel

 (Inggris) Garis waktu sejarah dan konflik Israel-Palestina

 (Inggris) Sejarah Zionisme dan pembentukan Israel

 (Inggris) Reuters: Chronology of events in Israeli-

Palestinian conflict

 (Inggris) The Washington Institute for Near East Policy

 (Inggris) Status hukum Tepi Barat, Gaza dan Yerusalem 

Timur

 (Inggris) Middle East Policy Council - Conflict Statistics

 (Inggris) HonestReporting - Site that seeks to point out 

perceived anti-Israeli bias

 (Inggris) Sharm El-Sheikh Fact-Finding Committee Final 

Report (Mitchell Report)

 (Inggris) Government of Israel

 (Inggris) Palestinian Maps Omitting Israel dan Maps of 

"Palestine" as a means to instill fundamentally negative 

messages

 (Inggris) IndyMedia (Israel)

 (Inggris) Palestine Independent Media Center

 (Inggris) Electronic Intifada

 (Inggris) Palestinian Negotiation Team

 (Inggris) "Barak's Generous offer" from Gush Shalom

 (Inggris) Israeli settlements in the West Bank and Gaza

 (Inggris) Russia as a Bridgehead of HAMAS

 (Inggris) Myths and facts online: a guide to the Arab-Israeli 

Conflict A pro-Israeli view

 (Inggris) meta:Solution of the Israeli-Palestinian conflict

 (Inggris) Current breakdown of fatalities in conflict

 (Inggris) The Origin of the Palestine - Israel Conflict, 

Published by Jews for Justice in the Middle East

 (Inggris) Two Peoples, One State The PLO's Michael 

Tarazi outlines a proposed solution to the conflict (New 

York Times, 4 Oktober 2004)

 (Inggris) The Jerusalem Post

 (Inggris) Haaretz - edisi bahasa Inggris

 (Inggris) "There must be peace between symbols" - 

analisis Berpikir timur (terbuka untuk dikomentari)

 (Inggris) "Monsters in the shadows of a Palestinian 

plebiscite" - Analisis Berpikir timur lagi (terbuka untuk 

dikomentari)

 (Inggris) Neve Shalom/Wahat al-Salam nama 

lainnya Oasis Perdamaian, sebuah desa koperasi 

eksperimen Palestina-Israel dekat Yerusalem.

 (Inggris) Open Directory Project -    Israel-Palestine Conflict  

 (Indonesia) Perjuangan Kliping Perjuangan Rakyat 

Palestina Menghadapi Zionis Israel, i-library.org

Kategori: 

 Perang gerilya  

 Konflik Israel-Palestina  

 Palestina  

 Israel  

 Perang melibatkan Israel  

 Perang melibatkan Palestina  

Menu navigasi

 Buat akun baru  

 Masuk log  

 Halaman  

 Pembicaraan  

 Baca  

 Sunting  

 Sunting sumber  

 Versi terdahulu  

Tuju ke

 Halaman Utama  

 Perubahan terbaru  

 Peristiwa terkini  

 Halaman baru  

 Halaman sembarang  

Komunitas

 Warung Kopi  

 Portal komunitas  

 Bantuan  

Wikipedia

 Tentang Wikipedia  

 Pancapilar  

 Kebijakan  

 Menyumbang  

 Bak pasir  

Bagikan

 Facebook  

 Google+  

 Twitter  

Cetak/ekspor

 Buat buku  

 Unduh versi PDF  

 Versi cetak  

Peralatan

 Pranala balik  

 Perubahan terkait  

 Halaman istimewa  

 Pranala permanen  

 Informasi halaman  

 Item di Wikidata  

 Kutip halaman ini  

Bahasa lain

   العربية

 ববববব  

 Čeština  

 Cymraeg  

 Dansk  

 Deutsch  

 English  

 Español  

 Euskara  

 Suomi  

 Français  

   עברית

 বববববব  

 ববব  

 Latviešu  

 Malti  

 Norsk bokmål  

 Português  

 Română  

 සසසසස  

 Simple English  

 Slovenčina  

 Svenska  

 ববব  

 Tagalog  

 বব  

 粵粵  

Sunting interwiki

 Halaman ini terakhir diubah pada 13.55, 13 Juli 2014.



Israel-Palestina merupakan dua negara yang sampai saat ini terlibat konflik 

peperangan yang belum berakhir. Negara Israel berdiri pada 1948 setelah PBB 

menyetujui pendiriannya di tanah Palestina yang awalnya di bawah mandat 

Inggris. Sehari setelah pendirian Negara Israel negara-negara Arab yang terdiri 

dari Lebanon, Suriah, Yordania, Mesir, dan Irak langsung menyerang Israel. Sejak 

saat itu peperangan demi peperangan terus terjadi. Palestina yang mayoritas 

penganut agama Islam, mendapat dukungan dari negara-negara Arab dan Muslim 

lainnya, sementara Israel didukung negara-negara Barat. Banyak dinamika yang 

terjadi dalam konflik yang telah berlangsung selama lebih dari enam dekade ini.  

Penelitian ini fokus pada kajian mengenai konflik yang disebabkan klaim 

Tanah Suci antara Israel-Palestina. Penelitian ini bertujuan untuk melihat faktor 

lain selain klaim teologis dalam sebuah konflik yang terjadi dalam rentan waktu 

yang cukup lama. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu  

pendekatan ilmu sosiologi. Sementara teori yang digunakan yaitu  teori konflik 

sosial oleh Oberschall. Dia berpendapat bahwa konflik sosial meliputi spektrum 

yang lebar dengan melibatkan berbagai hal seperti konflik antar kelas (social class 

conflict) seperti bangsa Yahudi yang menganggap lebih tinggi kedudukannya 

dibanding bangsa Arab, konflik ras (ethnics and racial conflicts) bangsa Yahudi 

dan Arab, konflik antar pemeluk agama (religions conflict) Islam dan Yahudi, 

konflik antar komunitas (communal conflict) Zionis dan Hamas, dan lain 

sebagainya. Dalam penelitian ini sumber yang digunakan yaitu  sumber tertulis, 

baik buku, jurnal, majalah, skripsi, tesis, maupun artikel dari internet. 

Kesimpulan dari penelitian ini yaitu dalam konflik perebutan tanah antara 

Israel dengan Palestina permasalahannya tidak hanya memperebutkan tanah untuk 

ditempati sebagai sebuah negara, namun banyak faktor lain yang membuat konflik 

ini belum juga menemukan titik akhir. Salah satu faktor yang mendasari 

terjadinya konflik yaitu  faktor teologis, yaitu agama Yahudi dan agama Islam 

sama-sama menganggap wilayah yang diperebutkan sebagai Tanah Suci bagi 

masing-masing agama. Faktor lainnya yaitu  politik. Negara Barat yang menjadi 

pendukung Israel memiliki  banyak alasan dibalik dukungannya. Israel yang 

berada di Timur Tengah dijadikan sebagai alat konstelasi bagi negara Barat 

khususnya AS. Ekonomi menjadi faktor penting juga dalam konflik ini, sebab  

negara-negara Timur Tengah sangat kaya akan sumber energi, khususnya minyak 

dan gas. 

  

Problematika antara Israel-Palestina yaitu  sebuah konflik antara orang 

Israel dan orang Palestina dalam memperebutkan otoritas tanah yang mana kedua 

belah pihak mengklaim memiliki  hak yang sama atas tanah ini . Dalam 

penelitian ini tanah yang diperebutkan itu disebut Tanah Suci. Konflik perebutan 

Tanah Suci ini dimulai pada 1967 saat  Israel menyerang Mesir, Yordania, dan 

Suriah serta berhasil merebut Sinai, Jalur Gaza, dataran tinggi Golan (Suriah), dan 

Yerussalem

 

Konflik ini kemudian meluas tidak hanya antara Israel dan Palestina, tetapi 

juga antara Israel dan bangsa Arab bahkan lebih luas lagi merambah persoalan 

agama antara Islam dan Yahudi. Dari kedua kubu ini tidak semua orang Yahudi 

menginginkan hal yang sama atas pendirian negara Yahudi dan tidak pula semua 

orang Palestina menolaknya. Sulit menemukan solusi yang tepat menghadapi 

konflik antara kedua negara ini . Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) menjadi 

“mandul” dan negara-negara yang mencoba menyelesaikan konflik, seperti 

Amerika Serikat dan Rusia juga tidak mampu menjembatani perdamaian. 

Salah satu yang menjadi latar belakang konflik yaitu  pemahaman atas 

agama yang dianut keduanya, yaitu Islam dan Yahudi. Sebagaimana telah 

disebutkan di atas bahwa umat Islam dan umat Yahudi sama-sama menganggap 

tanah Palestina yaitu  hak masing-masing mereka. Bangsa Palestina mengklaim 

tanah itu hak mereka, sebab  mereka sudah menetap di sana selama beberapa 

abad. Sementara bangsa Yahudi sebagai pendatang pada abad kontemporer 

menganggap tanah itu telah dijanjikan oleh Tuhan mereka dan mereka pernah 

menetap di sana.2

Tanah yang diperebutkan ini disebut Tanah Suci, sebab  di atas tanah itu 

berdiri Masjid al-Aqsa yang menjadi kiblat pertama umat Islam. Tepat di bawah 

masjid itu terdapat Tembok Ratapan yang juga disakralkan oleh umat Yahudi. 

Oleh sebab  itu, tanah ini  mengandung nilai historis dan nilai keagamaan 

yang tinggi bagi Agama Islam dan Yahudi.


                                                             

2 “Israel Palestine Conflict” dalam 

 memproklamirkan berdirinya 

negara Israel. Sehari setelah Zionis memproklamirkan pendirian negara Israel, 

negara-negara Arab seperti Suriah, Lebanon, Mesir, Irak, dan Palestina menyerbu 

Israel. Inilah perang pertama dalam konflik Israel-Palestina. Perang ini 

dimenangkan oleh Israel, sehingga para penduduknya menyebut “Perang 

Kemerdekaan” atau “Perang Kebebasan”. Di sisi lain bagi Bangsa Palestina 

perang ini yaitu  bencana. Kekalahan perang mengakibatkan banyaknya warga 

yang tewas. Kemenangan Israel dalam perang ini otomatis memperluas wilayah 

kekuasaannya di tanah Palestina, sehingga banyak warga Palestina yang harus 

mengungsi sebab  tanah tempat tinggalnya diambil paksa oleh bangsa Israel. 

Berbagai upaya perdamaian telah dilakukan oleh kedua belah pihak. Salah 

satu upaya ini  yaitu  dipertemukannya kedua pemimpin dari kedua negara 

ini . Kesepakatan ini secara resmi ditandatangani pada tanggal 13 September 

1993 di Washington di bawah pengawasana Presiden Clinton yang dihadiri oleh 

Yaser Arafat dan   Yitzhak Rabin. Di pihak Palestina ditandatangani oleh 

Mahmud Abbas dan di pihak Israel ditanda tangani oleh Shimon Peres, 

sebagaimana ini juga ditanda tangani oleh kedua menteri luar negeri AS dan Rusia 

selaku saksi.5

Persoalan Israel-Palestina ini bukan lagi permasalahan lokal kedua negara, 

namun telah menjadi pusat perhatian dunia. Sebagaimana penulis uraikan di atas 

bahwa konflik ini tidak lagi antara Palestina dan Israel, namun juga Arab-Barat 

dan Islam-Yahudi. Oleh sebab  itu, kajian mengenai konflik Israel-Palestina ini 

menarik dan penting untuk diteliti. Dengan adanya penelitian ini diharapkan bisa 

melihat dengan bijak akar persoalan konflik mengapa bisa sedemikian pelik. 

Apakah konflik ini dilandasi oleh faktor agama yang mana baik Islam maupun 

 

Yahudi sama-sama menganggap kesucian tanah ini  atau faktor ras antar 

bangsa Yahudi dan Arab Palestina. 

 

B. Batasan dan Rumusan Masalah 

Dalam melakukan sebuah penelitian, batasan dan rumusan masalah 

merupakan hal yang penting. Hal ini erat kaitannya dengan proses pendeskripsian 

peristiwa agar lebih terarah. Dalam penelitian ini batasan waktunya yaitu tahun 

1920-1993. Pada tahun 1920 mandat dari Inggris diserahkan kepada Palestina, 

inilah awal konflik antara Israel dan Palestina itu terjadi. Tahun 1993 dipilih, 

sebab  pada tahun itu Israel dan Palestina bersepakat untuk saling mengakui 

kedaulatan masing-masing yang diwujudkan dalam suatu perjanjian dikenal 

dengan Perjanjian Oslo. 

Penelitian ini akan menitikberatkan terhadap kasus perebutan tanah dan 

pemahaman dari sudut pandang Palestina-Israel terhadap tanah itu. Apakah 

sebatas bahwa tanah itu yaitu  tempat tinggal mereka selama beberapa abad atau 

ada alasan lain sehingga konflik tidak kunjung selesai. Oleh sebab  itu, penjabaran 

permasalahan ini  akan dipandu melalui pertanyaan-pertanyaan berikut: 

1. Bagaimana sejarah konflik Israel-Palestina? 

2. Apa pandangan Yahudi dan Palestina terhadap Tanah Suci? 

3. Bagaimana dinamika konflik Israel-Palestina, dari aktor dan 

pendukungnya? 

 


Muslim Palestina menganggap Israel yaitu  kafir harbi (kafir musuh yang 

bisa diperangi) yang mana Yahudi Israel dianggap merampas tanah hak milik 

bangsa Palestina. Oleh sebab  itu, dianggap jihad jika mereka mengorbankan 

nyawa dan harta untuk membela tanah Palestina. Tidak mengherankan jika 

mereka mulai dari anak-anak, remaja hingga orang tua berusaha melawan 

penjajahan Israel di atas tanah Palestina. 

Bagi kaum Yahudi tanah Palestina memiliki  nilai historis yang sangat 

penting. Selain memang awalnya mereka pernah menetap di sana hingga adanya 

eksodus oleh tentara Romawi, bangsa Yahudi juga memiliki  doktrin bahwa 

tanah Palestina yaitu  tanah yang dijanjikan bagi mereka. Yahudi menganggap 

bahwa dirinya yaitu  umat Allah atau umat yang terpilih dibandingkan dengan 

yang lain. Salah satu kelompok yang memiliki  paham ini yaitu  kelompok 

Haredim. Kelompok ini awalnya hanya berada di wilayah tradisional Jerusalem, 

seperti Mea Shearim. Akan tetapi, saat ini kelompok ini  telah tersebar di 

seluruh Israel dan mereka berpengaruh kuat pada politik Israel

 

Teori yang digunakan dalam penulisan ini yaitu  teori konflik sosial oleh 

Oberschall. Dia berpendapat bahwa

F. Metode Penelitian 

 konflik sosial meliputi spektrum yang lebar 

dengan melibatkan berbagai konflik yang membingkainya, seperti konflik antar 

kelas (social class conflict), konflik ras (ethnics and racial conflicts) bangsa 

Yahudi dan Arab, konflik antar pemeluk agama (religions conflict) Islam dan 

Yahudi, konflik antar komunitas (communal conflict) Zionis dan Hamas, dan lain 

sebagainya. 

 

Penelitian ini terfokus pada kajian pustaka. Penulis menemukan data 

tentang konflik perebutan tanah yang terjadi di Palestina. Pengumpulan data atau 

sumber sebagai langkah pertama kali dilangsungkan dengan metode penggunaan 

bahan dokumen. Metode ini dapat berlangsung sebab  ditemukan sumber tertulis, 

baik informasi di seputar objek maupun informasi langsung mengenai konflik 

Israel-Palestina. 

Penelitian ini bersifat kualitatif  yang sepenuhnya bertumpu pada sumber 

pustaka, baik berupa buku-buku, skripsi, ensiklopedia, maupun dari situs internet, 

koran, dan majalah. Sumber-sumber ini  merupakan sumber sekunder yang 

penulis dapatkan dari perpustakaan dan koleksi pribadi. Oleh sebab  penelitian ini 

merupakan penelitian sejarah, maka metode yang digunakan yaitu  metode 

sejarah, yaitu proses menguji dan menganalisis secara kritis rekaman dan 

peninggalan masa lampau berdasarkan data yang diperoleh.7 Metode sejarah ini 

bertumpu pada empat langkah kegiatan yaitu, pengumpualan data (heuristik), 

kritik sumber (verifikasi), penafsiran (interpretasi), dan penulisan (historiografi).8

1. Pengumpulan Data (Heuristik) 

 

Adapun keempat langkah ini  yang digunakan oleh peneliti untuk 

menyelesaikan penelitian dijelaskan sebagai berikut: 

 Pada langkah ini peneliti mengumpulkan sumber sejarah yang 

berhubungan dengan masalah tanah Israel-Palestina9

2. Kritik Sumber (Verifikasi) 

. Sumber yang digunakan 

berupa buku-buku, ensiklopedia, tulisan-tulisan hasil penelitian, dokumen, 

majalah, artikel, koran, dan internet. Mengingat rentang tempat yang cukup jauh, 

penulis mengalami kesulitan dalam mendapatkan sumber primer. Oleh sebab  itu, 

dalam tulisan ini peneliti menggunakan sumber sekunder. Sumber ini  didapat 

dari perpustakaan-perpustakaan, baik perpustakaan Fakultas Adab, perpustakaan 

pusat UIN Sunan Kalijaga, perpustakaan Kolese St. Ignatius, perpustakaan kota, 

artikel, maupun internet. 

 Setelah sumber yang berhubungan dengan topik ini terkumpul, langkah 

peneliti selanjutnya melakukan kritik terhadap sumber ini . Kritik ini  

meliputi kritik ekstern dan intern. Kritik ekstern berguna bagi peneliti untuk 

                                                            

menguji keotentikan sumber, sedang  kritik intern berguna bagi peneliti untuk 

menguji kredibilitas sumber. Hal ini  diuji apakah bahan dan data yang 

disajikan sesuai atau tidak. Pengujian ini  dilakukan dengan cara 

membandingkan antara bahan-bahan yang telah dikumpulkan dan dilakukan kritik 

terhadap data ini . Khusus sumber yang berasal dari internet hanya digunakan 

apabila berasal dari artikel yang menggunakan referensi yang dapat dipertanggung 

jawabkan. 

3. Penafsiran (Interpretasi) 

 Dalam tahap ini peneliti memberikan penafsiran atas data yang tersusun 

menjadi fakta. Terdapat dua cara dalam menafsirkan data, yaitu dengan analisis 

dan sintesis. Analisis berarti menguraikan sumber-sumber yang telah didapat 

tentang konflik Israel-Palestina, sedang  sintesis menyatukan. Oleh sebab  itu, 

analisis sejarah bertujuan melakukan sintesis atas sejumlah fakta yang diperoleh 

dari sumber-sumber sejarah yang berhubungan dengan topik penelitian. 

4. Penulisan Sejarah (Historiografi) 

Langkah terakhir ini berisi tentang pemaparan hasil penelitian yang telah 

dilakukan. Peneliti memaparkan hasil penelitian yang telah dilakukan dengan 

menghubungkan peristiwa yang satu dengan peristiwa lainnya dalam bentuk bab-

bab dan sub bab-bab yang saling berkaitan. Akhirnya penelitian ini menghasilkan 

rangkaian tulisan sejarah perebutan tanah Israel-Palestina yang kronologis dan 

bermakna. 


G. Sistematika Pembahasan 

Penyajian sebuah penelitian dalam bentuk tulisan ini terbagi ke dalam tiga 

bagian, yaitu pengantar, hasil penelitian, dan kesimpulan. Untuk mempermudah 

menyajikannya, maka perlu adanya penyusunan secara sistematis. Sistematika 

pembahasan secara garis besar terbagi atas lima bab yang penulis susun. Bab 

pertama merupakan pendahuluan, yang di dalamnya diuraikan beberapa hal pokok 

mengenai latar belakang masalah, batasan dan rumusan masalah, tujuan dan 

kegunaan penelitian, tinjauan pustaka, landasan teori, metode penelitian, dan 

sistematika pembahasan. Melalui bab ini diharapkan dapat memberikan gambaran 

umum tentang seluruh rangkaian penulisan skripsi sebagai dasar pijakan bagi 

pembahasan berikutnya. 

Bab dua membahas tentang sejarah Israel dan Palestina. Pembahasan ini 

akan spesifik antara tahun 1920-1990, dari perpindahan orang Yahudi ke tanah 

Palestina hingga tahun 1990 saat  masa damai terjadi. Hal ini berguna untuk 

memberikan gambaran awal bagaimana sejarah Israel Palestina dan awal bangsa 

Yahudi bermigrasi ke Palestina. 

Bab tiga tentang pandangan antara Israel-Palestina terhadap Tanah Suci. 

Peneliti tidak hanya mengambil sudut pandang Palestina saja, namun juga dari 

sudut pandang bangsa Yahudi atau agama Yahudi. Mengapa tanah ini sangat 

penting bagi kedua bangsa ini. 


Bab empat akan membahas tentang dinamika yang terjadi antara  tahun 

1920 sampai tahun 1990. Dari konflik hingga siapa saja yang berperan dalam hal 

ini, misalnya Negara-negara Barat, PBB, OKI dan dan Liga Arab. 

Bab lima berisi penutup yang meliputi kesimpulan dan saran-saran. 

Kesimpulan ini merupakan jawaban singkat terhadap permasalahan yang telah 

dirumuskan sebelumnya. Adapun saran bertujuan untuk memberikan masukan 

atas penelitian ini. 

 

Dari seluruh penjabaran pada bab-bab sebelumnya tentang konflik Israel-

Palestina, dapat disimpulkan beberapa poin. Pertama, sejarah koflik yang terjadi 

antara Israel-Palestina telah berlangsung cukup lama. Konflik ini  membuat 

banyak perubahan dan menjatuhkan banyak korban baik di kubu Palestina 

maupun di pihak Israel. Perubahan pada peta tanah Palestina sangat terlihat 

(sebagaimana peta terlampir) dari tahun ke tahun sebab  diambil oleh Negara 

Israel. Korban yang berjatuhan dari tahun 1987-2011 mencapai angka 7978 untuk 

Palestina dan 1503 untuk korban di pihak Israel. 

Kedua, faktor yang paling menonjol dalam konflik Israel-Palestina yaitu  

faktor teologis (agama) dari kedua belah pihak. Yahudi menganggap mereka 

sebagai bangsa pilihan dibandingkan dengan bangsa yang lain. Anggapan ini 

kemudian berlanjut bahwa tanah Palestina yang sekarang diduduki Israel itu 

yaitu  Tanah Suci yang dijanjikan oleh Tuhan kepada bangsa mereka. Dalam 

agama Islampun demikian, tanah Palestina bagi mereka sangat suci. Meskipun 

mereka tidak mengklaim tanah ini  sebagai tanah yang dijanjikan Tuhan 

kepada mereka, namun bangsa Palestina memiliki  beberapa tempat suci di 

Palestina, salah satunya Masjid al-Aqsha, di Yerussalem. Kemudian muslim 

percaya bahwa banyak nabi berasal dari Palestina dan mengukir sejarah di tempat 

itu. 

Ketiga, faktor penting lain yang memicu  tidak selesainya konflik 

yang terjadi antara Israel-Palestina yaitu  politik dan ekonomi (hegemoni Barat). 

AS dan sekutunya selalu berada dalam barisan terdepan dalam konflik atau 

perdamaian. Hal ini disebab kan secara konstelasi politik, AS harus memiliki  

tempat strategis di kawasan Timur Tengah untuk lebih memudahkan pengaruh 

mereka di sana. Hal ini juga berujung pada penguasaan ekonomi di kawasan 

Timur Tengah yang kaya, khususnya minyak dan gas. Amerika sebagai negara 

maju membutuhkan banyak energi guna menjalankan ekonomis negaranya. 

Sementara Palestina sendiri mendapat dukungan dari negeri muslim Arab, seperti 

Mesir, Iran, Arab Saudi, dan Lebanon. Mereka mendukung Palestina selain 

sebagai sesama muslim juga sebab  sama-sama bangsa Arab. 

Setelah menyelesaikan penelitian ini penulis dapat menyimpulkan bahwa 

dalam konflik ini ada ketidakseimbangan pada pihak Arab Palestina, artinya ada 

salah satu pihak yang dirugikan selama ini. Israel tidak hanya melancarkan 

agresinya dengan alasan melindungi diri akan tetapi dari tahun ke tahun pihak 

Israel juga melakukan pelebaran pemukiman hingga melebihi ketentuan yang 

telah ditetapkan oleh PBB. Negara-negara Barat yang menjadi pendukung utama 

atas berdirinya negeri Israel ini seakan tidak ada “taringnya” saat penduduk 

Palestina ditindas, sementara berbanding terbalik jika ada serangan roket dari 

kelompok Israel maka negara Barat seperti Amerika akan langsung mengecam 

Palestina.  

Setelah melakukan penelitian ini dan membaca dari berbagai sumber, 

banyak hal baru yang saya temukan yang kebanyakan tidak saya temukan hal 

ini  di bangku perkuliahan. Ada dua saran yang ingin saya sampaikan. 

Pertama, tambahkan koleksi buku yang berkenaan dengan sejarah Islam. Saya 

melihat di laboratorium SKI belum banyak ditemukan buku tentang sejarah Islam, 

selain itu laboratoriumnya belum sepenuhnya berjalan sesuai fungsinya. 

Kedua, mata kuliah harus difokuskan pada sejarah. Saya merasa banyak 

sekali mata kuliah yang tidak begitu dibutuhkan dalam sejarah Islam, namun 

diajarkan, misalnya bahasa sumber (bahasa Belanda) kurang relevan terhadap 

studi sejarah Islam. Bahasa sumber itu yaitu  untuk mengkaji sejarah nasional 

yang memang banyak dari bahasa Belanda, sebab  kita pernah dijajah oleh 

Belanda. Namun bagi sejarawan muslim, kenapa harus belajar bahasa Belanda? 

Bukankah yang lebh relevan yaitu  bahasa Arab? Jika kita mau berkaca pada 

pendidikan di negara maju seperti Amerika dan Eropa, maka dapat disimpulkan 

bahwa perbedaan kita yaitu : kita belajar sedikit hal dari banyak hal, namun 

negara maju belajar banyak hal dari sedikit hal. 


Kronologi dan Anatomi singkat Konflik Israel-Palestina: 

1917 Deklarasi Balfour. 2 November 1917 Inggris memenangkan Deklarasi Balfour yang 

dipandang pihak Yahudi dan Arab sebagai janji untuk mendirikan tanah air bagi kaum Yahudi di 

Palestina. 

1922  Mandat Palestina. 1936-1939  Revolusi Arab. Pimpinan Amin al Husein yang 

memicu  tidak kurang 5000 warga Arab terbunuh. 

1947 Rencana pembagian  wilayah oleh PBB 29 November 1947. Perserikatan Bangsa-

Bangsa  menyetujui untuk mengakhiri Mandat Britania untuk Palestina dari tanggal 1 Agustus 

1948 dengan pemecahan wilayah mandat 

1948  Deklarasi Negara Israel. Israel diproklamirkan pada tanggal 14 Mei 1948, sehari 

kemudian langsung diserang oleh tentara dari Libanon, Yordania, Mesir, Irak, dan negara Arab 

lainnya. Israel berhasil memenangkan peperangan dan merebut + 70% dari luas total wilayah 

mandat PBB Britania Raya.  

1949 Perseteujuan Gencatan Senjata. 3 April 1949, Israel dan Arab sepakat untuk melakukan  

gencatan senjata. Israel mendapat kelebihan 50 persen lebih banyak dari yang diputuskan 

rencana pemisahan PBB 

1956  Perang Suez. 29 Oktober 1965, Krisis Suez, sebuah serangan meliter terhadap Mesir 

dilakukan oleh Britania Raya, Perancis dan Israel. 

1964  Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) berdiri. Mei 1964, Organisasi Pembebasan 

Palestina (PLO) resmi berdiri, tujuannya untuk menghancurkan Israel. 

1967 Perang Enam Hari. Dikenal dengan perang Arab-Israel 1967, merupakan peperangan 

antara Israel menghadapi gabungan tiga negara Arab: Mesir, Yordania dan Suriah, yang 

mendapatkan bantuan aktif dari Irak, Kuwait, Arab Saudi, Sudan dan Aljazair. Perang ini  

berlangsung selama 132 jam 30 menit. 

Resolusi Khartoum. Sebuah pertemuan 8 pemimpin negara Arab pada tanggal 1 September 

1967 sebab  terjadinya perang enam hari. Resolusi ini berlanjut ke perang Yom Kippur tahun 

1973. 

1968 Palestina menuntut pembekuan Israel. Perjanjian Nasional Palestina dibuat, dan secara 

resmi Palestina menuntut pembekuan Israel. 

1970  War of Attrition. Setelah perang enam hari (5-10 Juni 1967), terjadi  insiden serius di 

Terusan Suez. Tembakan pertama  dilepaskan 1 Juli 1967, saat  pasukan Mesir menyerang 

patroli Israel, dan ini merupakan awal dari perang War of Attrition.  

1973  Perang Yom Kippur. Dikenal juga dengan Perang Ramadhan pada tanggal 6-26 Oktober 

1973 sebab  bertepatan dengan bulan ramadhan. Perang ini merupakan perang antara pasukan 

Israel melawan koalisi negara-negara Arab yang dipimpin oleh Mesir dan Suriah, terjadi pada 

hari raya Yom Kipur, hari raya yang paling besar dalam tradisi orang-orang Yahudi. 

1978  Kesepakatan Camp David. Ditandatangani pada tanggal 17 September 1978 di Gedung 

Putih yang diselenggarakan untuk perdamaian di Tmur Tengah. Jimmy Carter (Presiden Amerika  

Serikat) memimpin perundingan rahasia yang berlangsung selama 12 hari antara Presiden Mesir, 

Anwar Sadat, dan Perdana Menteri Israel, Menachem Begin.  

1982  Perang Libanon.  Perang antara Israel dan Libanon yang terjadi pada tanggal 6 Juni 1982 

saat  angkatan bersenjata Israel menyerang Libanon Selatan. 


1990-1991  Perang Teluk. 1993 Kesepakatan damai antara Palestina dan Israel 13 September 

1993, Israel dan PLO sepakat untuk saling mengakui kedaulatan masing-masing. Pertemuan 

Yaser Arafat dan Israel Yitzhak Rabin berhasil melahirkan kesepakatan OSLO. Rabin bersedia 

menarik pasukannya dari Tepi Barat dan Jalur Gaza serta memberi Arafat kesempatan 

menjalankan sebuah lembaga semiotonom yang bisa memerintah di kedua wilayah. Arafat 

mengakui hak negara Israel untuk eksis secara aman dan damai.1

Data berikut ini diambil dari forum kaskus.com. Menurut sumber ini  data berikut diambil 

dari B’tselem dan Kementerian Luar Negeri Israel antara tahun 1987 hingga 2011 (angka dalam 

tanda kurung merupakan korban yang berusia di bawah 18 tahun