a lagi
kaum Frank yang tersisa di muka bumi ini".r3r Perang ini yaitu
penaklukan yang digambarkan sebagai "biri-biri yang hilang yang
kembali ke kawanan Islam".r32 Baybars digambarkan sebagai se-
orang jenderal muslim puritan dan tak kenal kompromi. Teks-
teks ini menyebutkan bahwa dia menerapkan disiplin yang
sangat keras pada pasukannya. Menurut Ibn al-FurXt, "pasukan
tidak boleh membawa anggur dalam rombongannya maupun
melakukan tindakan-tindakan cabul: yang ada hanya wanita-wanita
alim yang membawakan air minum kepada para prajurit di
tengah-tengah pertempuran".r33 Pada pengepungan Safad pada 664
H.11265-1266 M., Baybars lebih jauh lagi menyatakan bahwa
setiap prajurit yang membawa anggur dan mabuk akan digant,rrrg.'"
Lewat tulisan puji-pujian dari para penulis sejarah saat itu
dan karya-karya sejarawan Abad Pertengahan berikutnya, Baybars
muncul sebagai tokoh yang sangat hebat, sangar benci terhadap
orang-orang yang berani menyerang \Tilayah Islam, sangat tidak
kompromi terhadap kejahatan, menghancurkan monumen-monumen
hingga rata dengan tanah dengan semangat y^ng hampir tidak
pernah kendur dan kemarahan sejenis yang jarang ditunjukkan
oleh Saladin (kecuali pada perlakuan Reynold dari Chatillon yang
diterimanya). Seperti dikatakan oleh Thorau, Baybars yaitu
seorang panglima militer yang sangat hebat yang berusaha me-
nanamkan "rasa kehadirannya di mana-mana" kepada para anak
buahnya.r35 Prajurit Baybars jelas-jelas dikendalikan oleh kekuasaan
teror dan disiplin besi yang mengingatkan pada keterikatan kuat
pasukan Mongol di bawah pimpinan Jengis Khan. Baybars sesekali
akan mengelilingi wilayahnya dengan menyamar untuk mencari
informasi tentang kelakuan-kelakuan para pejabatnya.t36 Dalam
diri Baybars, dunia muslim betul-betul telah menemukan seorang
pemimpin yang layak untuk melindungi dari semua pendatang.
SIKAP KATANGAN MILITER DAN KELOMPOK-KELOMPOK AGAMA
TERHADAP _______________A\TAL MAMLUK
Sikap umum terhadap jihad yang ditunjukkan sultan-sultan Mamluk
juga tercermin dalam antusiasme berjihad yang ditunjukkan para
panglima militer Mamluk yang berperang atas nama sultan-sultan
itu. Baybars al-Mansh0ri (w. 725 H.11325 M.), penulis sejarah
termasyhur yang mengabdi pada Gubenur Kerak dalam waktu
singkat dan aktif turut serta dalam berbagai operasi militer,
menyatakan: "Jiwa saya punya keinginan yang kuat untuk berjihad,
satu keinginan yang bagaikan bumi yang haus akan air hu.ian".
Al-ManshCrri mengirim surat kepada Sultan untuk meminta izin
turut serta dalam pengepungan Acre pada 690 H.l129l M., dan
saat ia diizinkan, dia menjelaskan: "Saya seperti orang yang
bahagia melihat harapan yang terkabul; seakan malam telah
berakhir sebelum fapr ti6i'.137
Hubungan antara kelompok-kelompok agama dengan elite
penguasa Mamluk, tak seperti biasanya, tampak erat. Sivan,
kemudian melanjutkan pernyataannya bahwa tanpa bantuan ke-
lompok-kelompok agama, sultan-sultan Mamluk tidak akan mampu
mempertahankan kekuasaan mereka untuk waktu yang lama.r38
Anggota-anggota golongan sufi dan ulama disebutkan ikut ber-
kampanye bersama sultan-sultan ini . Pada penaklukan Beaufort
(Syaqif Arnun) pada 666 H.11268 M., misalnya, Ibn al-Furit
menyebutkan bahwa para syeikh yang saleh dan ulama turut hadir:
"Masing masing berjuang sekuat tenaga di jalan Allah, sepanjang
keadaannya memungkinkan. D I 3e
Dua karya tentang Kemuliaan Kota Yerusalem berasal dari
periode awal Mamluk yang ditulis oleh al-Miknasi dan al-Kanji,
yang dengan demikian menjadi saksi bahwa kepentingan agama
masih terus berkait dengan Kota Suci.ta0 Sultan-sultan Mamluk
menyeponsori program pembangunan gedung-gedung keagamaan
di seluruh wilayah kekuasaan mereka, menggalakkan wakaf dan
memberikan bantuan untuk berhaji. Sebaliknya, kelompok-ke-
lompok agama menyokong prakarsa-prakarsa aktivitas militer
Mamluk dengan tulisan-tulisan mereka tenrang jihad dan dengan
ikut hadir dalam operasi militer.rar
JIHAD DAN KEJAIUHAN ACRE, 690 H.n29L M.
Sarjana modern yang mengkaji tentang Mamluk, Donald Little,
belum lama ini membuat analisis yang cukup lengkap tentang
operasi militer sultan Mamluk, al-Asyrafl pada 690 H.l129l M.,
yang mencapai puncaknya dengan berhasil direbutnya Acre. Tam-
pak jelas bahwa konteks agama dalam operasi militer ini sangat
penting bagi mereka yang berpartisipasi di dalamnya. Sekitar satu
minggu sebelum menggelar operasi militer pada Safar 690 H.l
Februari l29l M., al-Asyraf mengumpulkan para pembaca Alquran,
ulama, kadi, dan tokoh-tokoh lainnya di ruang pusara ayahnya,
Qaliw0n, di Kairo.ra2 Di sana, mereka mengkhatamkan Alquran.
Ini kemudian dilanjutkan dengan pemberian sumbangan oleh
sultan kepada fakir miskin dan orang-orang yang tinggal di
lembagalembaga agama. ta3 Keterlibatan kelompok-kelompok agama
berlanjut selama operasi militer yang berlangsung sebulan lama-
nya-pembacaan Sahih al-Bukhiri secara terbuka dengan dihadiri
pemuka-pemuka agama Damaskus dihadiri oleh kerumunan massa
yang besar dan membantu membakar antusiasme penduduk.laa
Penting untuk dicatat bahwa salinan manuskip Damaskus
yang memuat kumpulan ceramah-ceramah Ibn NubAta berasal
dari masa ini,ras sekaligus menunjukkan bahwa dokumen ini
.iuga mungkin ikut berperan dalam membangkitkan emosi pen-
duduk pada rencana penyerangan Acre.ra6 Menurut Ibn tghribirdi,
para relawan yang berkumpul dalam operasi militer ini jumlahnya
lebih banyak dari pasukan reguler. Jelas ini menunjukkan bahwa
pelaksanaan kegiatan keagamaan itu efektif untuk meningkatkan
kesadaran penduduk.taT
Mengenai kedatangan Sultan yang menang ke dalam kota
Damaskus di Jumadilakhir 690 H.funi l29l M. sesudah Acre
direbut, ini merupakan peristiwa luar biasa yang berhasil me-
larutkan semua orang di dalamnya:
Seluruh kota telah dihias, dan lembaran-lembaran satin telah
digelar di sepanjahg jalan kemenangannya melalui kota yang menuju
ke istana raja muda. Sultan yang agung hadir dengan didahului
oleh sekitar 280 tahanan yang dibelenggu. Seorang tahanan me-
manggul bendera kaum Frank yang terbalik. Tahanan lainnya
membawa sebuah bendera dan tombak yang digantungi rambut
panglima yang terbunuh. Al-fuyraf disambut oleh seluruh penduduk
Damaskus dan daerah-daerah sekirarnya y^ng berbaris di sepanjang
jalan: para ulama, para pengurus masjid, syeikh-syeikh sufi, umar
Kristen, dan kaum Yahudi, semuanya memegang lilin, sekalipun
parade itu berlangsung sebelum tengah hari.ra8
Al-Asyraf mengakhiri operasi militernya itu di tempat operasi
itu bermula-dengan menyampaikan rasa syukur di makam ayah-
nya di Kairo. Di mata para sejarawan muslim, kemudian,rae yaitu
jelas bahwa operasi militer ini merupakan operasi militer yang
dirancang dengan sangat baik dan berhasil, yang mencapai puncak-
nya dengan pengusiran kaum Frank dari wilayah kaum muslim.
Dimensi religiusnya ditegaskan pada setiap tahap yang dilalui
dalam proses kemenangan ini .
Sebuah tulisan pujian kemenangan bagi al-fuyraf menyanjung
kemenangannya atas kaum Frank. Namun, lebih jauh dari itu,
tulisan itu merayakan pengusiran orang-orang kafir dari wilayah
Islam dan kemenangan Islam atas Kristen:
sebab mulah tidak satu pun kota rersisa yang bisa diperbaiki
orang-orang kafir, tidak ada harapan bagi agama Kristen! Lewat
al-Asyraf Sultan yang Agung, kami dikirim dari Trinitas, dan
Persatuan bangkit dalam perjuangan ini !
Terpujilah Allah, bangsa Salib telah runtuh. Lewat bangsa
Tirrki, agama pilihan bangsa Arab mencapai kemenanganlr'o
Para penyair lainnya membicarakan kelompok musuh dengan
ungkapan:
Oh kalian umat Kristen Pengecut (Banu Ashfar),r5r balasan
Allah telah menimPamu! Oh "patung-Patung" yang menghiasi
gereja-gerqa ... telah sangat lama para kepala suku yang angkuh
terlihat menghinakan diri mereka sendiri di hadapanmu'r52
Pastinya, bukanlah suatu kebetulan bila salah satu gelar
(ehormatan yang disandang al-Asyraf yaitu Shalihuddin (Saladin).r53
ietelah Acre direbut, Ibn al-Furit menulis: "Dengan Penuh ke-
narahan, kamu telah membalaskan dendam Saladin, syukur atas
ahasia yang telah disembunyikan Allah dalam gelar ini"'r5a Secara
rarfiah, gelar ini berarti "Ketulusan aB mi', namun tak
liragukan lagi bahwa yang tengah dimaksudkan di sini yaitu
rahwa al-Asyraf Khalil, sultan Mamluk tak berpengalaman yang
>aru saja naik tahta, bisa memperoleh beberapa berkah dan gelar-
ielar agama sePerti pendahulunya y^ng karismatik, Saladin
Shalihuddin), dengan memakai gelar ini.
Tirlisan-tulisan pujian dari para sejarawan yang menulis lama
;etelah peristiwa ini diperkuat dengan bukti-bukti dari masa
tu yang dengan kuat berasal dari zaman kejatuhan Acre itu
rendiri. Dua buah koin yang berukir nama al-Asyraf Khalil
r-renghubungkannya dengan Saladin. Yang pertama yaitu koin
:mas tak bertanggal yang menyebutnya Shakh al-Dunyh wa'l-Dtn
penyelamat dunia dan agama)-gelar yang juga digunakan untuk
ialadin dalam inskripsi yang bertanda tahun 557 H'11191 M' di
(ubah yusuf.r5t Yang kedua yaitu koin perak tak bertanggal
/ang memberinya gelar Shalihuddin (Saladin), penolong umat
Muha-m"d, yang membangkitkan kembal i "negata Abbasiyah". t 56
Dua inskripsi yang masih bertahan meniuluki al-Asyraf Khalil
dengan gelar seperti itu pada 690 IH'11291 M' Inskripsi pertama
menyebutnya Shalihuddin.r5TYang kedua, yang tercatat di Benteng
Baalbek di Suriah, bertanggal syakban 690 H./Agustus 1291 M.
(dua bulan sesudah Acre direbut), menyatakan dengan penuh
kemenangan bahwa beliau yaitu penyelamat dunia dan agama
... dan penakluk para Penyembah salib, penakluk barisan pesisir'
yang membangkitkan kembali "negara Abbasiyah"'158
Dengan demikian, kita melihat bahwa direbutnya Acre me-
miliki nilai penting historis yang lebih luas, dan cita-cita peng-
usiran kaurn Frank akhirnya dapat dicapai oleh kaum muslim'
Namun, kejadian ini dengan jelas bukan dipandang sebagai akhir
kisah ini -bagaimana mungkin bisa, sebab jihad melawan
'lTilayah Perang terus berlanjut? Segera sesudah penaklukan Acre,
al-Asyraf menyatakan Kerajaan Armenia dari Sisilia dan Mongol
sebagai target berikutnya. Perjuangan masih harus berlanjut.
IBN TAYMIYYAH DAN JIHAD
Meskipun Ibn Taymiyyah (w. 728 H.ll328 M.) hidup dan
menulis jauh sesudah kejatuhan Acre pada tahun 690 H.llz9l
M., beliau merupakan figur yang sangat berpengaruh di ling-
kungan agama dan kehidupan warga umum dalam periode
Mamluk sehingga pandangannya disertakan di sini. Penelitian
tentang pengaruhnya yang belakangan dilakukan oleh Morabia
menyebut Ibn Taymiyyah "sebagai teoretikus-besar-jihad-Abad-
Pertengahan yang terakhir".r5e
Pada periode sepanjang hidup Ibn Taymiyyah telah terjadi
bukan hanya pengusiran para Tentara Salib namun juga ancaman
bangsa Mongol yang tak putus-Putusnya di perbatasan-perbatasan
Islam. Seperti telah kita lihat sebelumnya, kehadiran bangsa
Mongol yang menakutkan, dengan bantuan nyata dari kaum Syiah
dan kaum IGisten di Iran, memperkuat keputusan dinasti Mamluk
untuk menampilkan diri sebagai pembela sejati Islam Sunni yang
ortodoks dan penentang keras kaum bidah dan kafir. Kita juga
telah melihat bagaimana di bawah pimpinan Mamluk kelompok-
kelompok agama dan militer menjalin aliansi yang kuat. Mazhab
Hanbali, yang dianut Ibn Thymiyyah, dengan pendekatan-pen-
dekatan tradisional dan penekanannya pada kemurnian Islam yang
tak terkontaminasi oleh perubahan-perubahan, secara khusus sangat
cocok untuk mempromosikan perasaan agama yang sangat kuat
di antara sultan-sultan Mamluk yang menghadapi ancaman Para
Tentara Salib dan Mongol.r6o
Ibn Taymiyyah juga cukup didengar oleh orang-orang di luar
lingkungan kelompoknya sendiri dan khususnya oleh ulama-ulama
terkemuka di Damaskus. Ibn Taymiyyah yaitu figur yang sangat
karismatik, sehingga beberapa pemimpin Mamluk mengaku sebagai
"muridnya". Ibn Thymiyyah |uga menyerukan dukungan yang
sengat terkenal, terutama saat beliau berceramah menentang
umat Kristen. Pandangan-pandangannya telah mengeras sejak
kedatangan para Tentara Salib. Ibn Taymiyyah sering kali sangat
bermanfaat bagi rezim Mamluk saat beliau dan elite penguasa
ini memiliki kesamaan tujuan-seperti, misalnya mengu-
mandangkan jihad melawan kaum Kristen, kaum bidah, dan
bangsa Mongol. Pada kesempatan lain, beliau dipandang sulit
dan tidak kooperatif; dan sebab itu beliau banyak menghabiskan
hidupnya di dalam penjara. Satu hal yang pasti: Ibn Taymiyyah
tidak pernah bisa diabaikan dan pandangan-pandangannya yang
tak mengenal kompromi membuatnya dihormati oleh para pen-
dukungnya maupun musuh-musuhnya. Ibn Thymiyyah meng-
anjurkan pendekatan yang "fundamental" dalam agama, sikap
"kembali ke dasar" untuk membersihkan Islam dari semua per-
ubahan-perubahan yang mengotorinya dan sangat menitikberatkan
pada nilai-nilai murni Alquran dan Sunnah.
Apakah perbedaan antara jihad yang dikumandangkan oleh
Ibn Taymiyyah dan kampanye propaganda yang dijalankan dengan
sangat efektif oleh Nirruddin dan Saladin? Yang pasti banyak
kesamaannya. Aliansi-aliansi lazim dibentuk
^ntara
"kalangan orang
yang berpedang" dan kalangan agamawan, yang masing-masing
saling mendukung. Hal yang sama juga ditemui pada literatur
jihad, dengan pembaharuan pada gagasan-gagasan lama dari teori
jihad klasik. Ceramah-ceramah rentang jihad banyak ditulis dan
para sultan ditemani oleh rombongan ulama, sufi, pembaca
Alquran, dan pendakwah saat berkampanye. Sebaliknya, para sulran
mendukung program pembangunan besar-besaran monumen-mo-
numen agama yang di dalamnya diajarkan Islam Sunni yang
disetujui secara resmi. Monumen-monumen ini sering kali memuat
gelar-gelar dengan bumbu jihad yang nyata.
Kalau begitu, apa_ y^ng baru pada masa Mamluk dan peranan
Ibn Thymiyyah? Beberapa peristiwa penting dalam karier Ibn
Thymiyyah yang bergolak tampak menoniol di sini. Catatan Ibn
tymiyyah pertama kali muncul di depan publik sesudah Acre
jatuh ke tangan umat Islam. Bagaimanapun iuga, Ibn Taymiyyah
tidak pernah melupakan momok Tentara Salib dan perpecahan
kaum muslim yang di awal abad kedua belas telah memungkinkan
para pendatang ini menguasai wilayah kaum muslim. Ibn Thymiyyah
diundang pada 692 H.ll293 M. untuk memberikan fatwa tentang
kasus seorang Kristen yang dituduh telah menghina Rasulullah.
Ibn Thymiyyah memutuskan hukuman mati untuknya. Pada 696
H.tl297 M. sultan Mamluk Lijin meminta Ibn tymiyyah untuk
membangkitkan semangat jihad rakyatnya melawan kaum Kristen
Armenia dari Sisilia. Pada 699 H./1300 M. Ibn Taymiyyah secara
pribadi ikut serta dalam suatu oPerasi militer yang digelar oleh
sultan Mamluk di pegunungan Lebanon melawan kaum Syiah
yang dituduh telah berkolaborasi dengan umat lGisten dan bangsa
Mongol. Pada 702 H./1303 M., Ibn Taymiyyah kembali hadir
secara pribadi dalam operasi militer dengan pasukan Mamluk.
Pada kesempatan ini beliau mengeluarkan sebuah fatwa yang
memperbolehkan para prajurit tidak berpuasa Ramadan agar
mampu memerangi bangsa Mongol dengan efektif. Ibn tymiyyah
berdalih bahwa "puasa telah melemahkan para pejuang dan meng-
ancarn keberhasilan iihad demi kemenangan 'Ag*" yang Benar'."151
Pada masa Mamluk ini, muncul fanatisme yang lebih dalam,
suatu pengakuan yang mendalam bahwa dunia Islam Sunni harus
bebas total dari "kotoran kafir". Ibn Thymiyyah-lah yang paling
baik dalam menyampaikan perubahan cara pandang ini. Ibn
Taymiyyah yaitu figur yang sangat terhormat. Kata-katanya sering
didengar dan tidak pernah diabaikan. Tidak ada seorang Pun
ulama di abad kedua belas yang sebanding dengannya, yang
pandangan-pandangannya sejalan dengan propaganda jihad. Pada
masa Ibn Thymiyyah, kaum muslim sangat terpaku pada usaha
untuk merebut kembali Kota suci Yerusalem. Jihad kini bergerak
semakin dalam dan memiliki implikasi-implikasi yang jauh lebih
luas. Baginya jihad yaitu pertahanan-untuk membersihkan dunia
Sunni dari kehadiran orang kafir maupun kaum muslim yang
menganut bidah. Kedua aspek ini penting bagi pandangannya
rentang jihad. Keimanan anti-rasional dan pendekatan tradisionalnya
sangat cocok bagi cita-citanya. Ibn Taymiyyah bukan seorang
penganjur agresi militer ke "'W'ilayah Perang' (Dtr al-Harb),
namun beliau berpendapat bahwa kaum muslim harus berjuang
keras untuk mendudukkan wilayah mereka sendiri di tempat
pertama. Dengan demikian, Ibn Taymiyyah mendukung Pemer-
senjataan kembali moral kaum muslim di dalam wilayah-wilayah
mereka sendiri dan perlawanan keras terhadap semua intervensi
dari luar. Kecaman kerasnya terhadap semua jenis inovasi dalam
Islam-terhadap praktik-praktik mistik, filsafat, teologi, dan pe-
mujaan makam-makam-semuanya didorong oleh keinginannya
bahwa Agama yang Benar sedikit pun tidak boleh menyerupai
praktik-praktik yang dilakukan oleh kaum nonmuslim.
Baginya, jihad, baik spiritual maupun fisik, yaitu suatu
kekuatan dalam Islam yang bisa menciptakan suatu warga
yang taat beribadah kepada Allah. Bersama Ibn Thymiyyah, jihad
terhadap Yerusalem digantikan dengan pergerakan internal di
dalam Dlr al-Isllm ("\Wilayah Islam") itu sendiri, baik spiritual
maupun fisik. Dengan demikian, Ibn Thymiyyah sangat menitik-
beratkan pada jihad yang lebih besar, yaitu dimensi-dimensi
spiritual yang digambarkan lewat farwa-fatwanya tentang jihad.
Pada saat yang sama, dengan menegaskan arti penrin g agama
ideal dari karier Rasulullah bagi mereka yang ingin melakukan
jihad, Ibn Taymiyyah benar-benar orang di zamannya yang me-
nyejajarkan antara masa Muhammad dan peristiwa-peristiwa masa
itu. Ibn Taymiyyah melihat dunia Islam diserang oleh musuh-
musuh eksternal dari semua jenis,r62 dan satu-satunya pemecah-
annya yaitu berjihad sehingga "seluruh agama menjadi milik
Allah".r63
Thk mengherankan bila gagasan-gagasan Ibn tymiyyah disam-
but hangat oleh gerakan-gerakan reformasi Islam modern. Namun,
yang jarang diketahui yaitu pengaruh-pengaruh formatif yang
membentuk sikap yang tak mengenal kompromi. Momok kaum
Frank di wilayah kaum muslim menambah kebenciannya yang
mendalam terhadap orang-orang kafir dan kaum bidah dan ke-
inginannya yang kuat untuk memurnikan Islam dan wilayah Islam
dari semua gangguan dan perubahan dari luar. Dan saat pasukan
kaum Frank telah benar-benar kepayahan pada akhir abad ketiga
belas, bangsa Mongol muncul sebagai musuh yang nyata-musuh
paling mengerikan yang pernah ditemui dunia Islam, pasukan
asing yang telah merebut sebagian besar dunia Islam timur dan
tampaknya akan memperluas penaklukannya ke kawasan Mediterania
timur. Tidak mengherankan bila Ibn Taymiyyah menganggap
dirinya bertanggung jawab untuk menggembleng pasukan Islam
menghadapi ancaman-ancaman seperti itu.
MAMLUK DAN JIHAD : SEBUAH TINJAUAN
yaitu jelas bahwa jihad sebagai senjata propaganda dan seruan
penggerak yang mempersatukan kaum muslim dibangkitkan kem-
294 \ _______________
bali oleh sultan-sultan Mamluk. lGatria-ksatria tangguh ini, yang
relatif merupakan pendatang baru di Timur Dekat dan Islam,
sangat ideal untuk mempromosikan kepercayaan Sunni yang tak
kenal kompromi dan tegas dan untuk menghantam orang-orang
yang menentang merekx-ms1ska bisa orang-orang kafir dari luar
(bangsa Mongol, Armenia, atau kaum Frank), atau kaum "bidah"
seperti penganut Ismailiyah. Sebagaimana diungkapkan oleh Sivan,
Mamluk membangkitkan kembali tradisi jihad dengan gaya dramatis
yang berkembang di babak akhir abad kedua belas.'64 Memang
sultan-sultan Mamluk melihat diri mereka sendiri sebagai pewaris
kegemilangan Saladin. Manfaat propaganda dengan cara mem-
perbandingkan diri mereka sendiri dengan sikap dinasti Ayyubiyah
yang membiarkan tak mengintervensi warga juga bukan hal
yang sepele untuk dipertimbangkan.
Peristiwa-peristiwa sejarah menambah kebencian dinasti Mamluk
terhadap orang asing dan rasa permusuhan terhadap orang-orang
yang menganut kepercayaan lain. Secara khusus, ancaman bangsa
Mongol yang menakutkan tampak pada awal periode Mamluk
dan memperbesar desakan atas kebutuhan untuk mempertahankan
negara melawan musuh yang menakutkan ini. Kemenangan atas
pasukan Mongol di Ayn Jiltrt pada 658 H.ll260 M. menaikkan
prestise Mamluk dan mereka benar-benar siap untuk mengenakan
jubah pelindung "'Wilayah Islam'. Yang jelas, upaya-uPaya jihad
Mamluk terutama ditujukan terhadap bangsa Mongol (bandingkan
gambar 4.24 dan 4.31). Namun, pada saat berhenti di front
Mongol, mereka mengalihkan perhatian pada kaum Frank. Sultan-
sultan Mamluk semuanya sangat menyadari kemungkinan Perang
Salib berikunya yang datang dari Eropa ke pantai Suriah' Maka,
mereka bertekad untuk menghancurkan pelabuhan-pelabuhan dan
benteng-benteng hingga rata dengan tanah.165
Meskipun sultan-sultan Mamluk, terutama Baybars dan
QaliwCrn, sangat berhati-hati mendukung pembangunan mo-
numen-monumen agama di Yerusalem, Kota Suci yang kini berada
di tangan kaum muslim itu tentu saja tidak lagi menjadi fokus
kampanye jihad anti-kaum Frank seperti yang telah dilakukan
dengan hasil yang sangat luar biasa oleh NCrruddin dan Saladin.
Sasaran-sasaran baru harus dicari. Dengan demikian, jihad me-
lawan kaum Frank telah menjadi bagian dari pertahanan 'S7'ilayah
Islam melawan berbagai macam orang kafir dari luar-kaum
Frank, Armenia, bangsa Mongol-dan semua jenis bidah dan
pembaharuan dari dalam. Interprestasi jihad yang dikemukakan
oleh Ibn tymiyyah-beliau sendiri berhasil selamat dari serangan
bangsa Mongol-menegaskan pentingnya membersihkan'S7'ilayah
Islam dari semua elemen asing dan kembali ke agama yang
dianggap murni seperti yang dipraktikkan kaum muslim terdahulu.
Sebagaimanayang akan kita lihat pada bab lima dan enam, tulisan
polemis anti-lGisten dan tindakan-tindakan politik anti-Kristen
menjadi karakter periode awal dinasti Mamluk. Nfrruddin dan
Saladin, dan para penerus dinasti Ayyubiyah, hidup di lingkungan
yang memiliki beragam kepercayaan di Timur Dekat' Secara
umum, keduanya tidak menghukum kaum Kristen Timur yang
berada di dalam wilayah mereka. Situasi pada masa Mamluk
sama sekali berbeda. Dengan masuknya Mamluk ke dalam agama
Islam, keterpencilan mereka dari penduduk asli dan fokus pen-
didikan militer mereka yang sempit membuat mereka cenderung
memakai pendekaun yang lebih keras terhadap kalangan
nonmuslim. IGisis besar-besaran yang menimpa dunia Islam akibat
kedatangan bangsa Mongol, dan penghancuran Baghdad dan
kekhalifahan pada 1258, hanya semakin memperkuat sikap keras
Mamluk ini.
Namun, interpretasi jihad yang benar mestinya berhubungan
erat dengan penghormatan terhadap perjanjian (dzimmah) dengan
kaum Ahlulkitab di dalam wilayah mereka. Prinsip yang telah
lama dipegang ini tampaknya mulai terancam pada periode Mamluk
ini, sekalipun prinsip itu ditetapkan dalam hukum Islam. Apakah
kaum Frank telah memberikan sumbangan atas kebangkitan rasa
permusuhan terhadap kaum lGisten Timur (dan kaum Yahudi)
di dalam kekaisaran Mamluk akan dibahas di bab enam.
REFLEKSI UMUM
Kita telah melihat betapa suksesnya kampanye propaganda jihad
yang dilekatkan pada kepemimpinan karismatik yang mencapai
dua klimaks dalam periode Perang Salib: yang pertama pada ll}7,
saat Saladin merebur kembali Yerusalem, dan kedua pada gerak-
an yang mencapai puncaknya saat Mamluk mengusir kaum
Frank dari kawasan Mediterania timur pada 1291.
Dari bukti-bukti yang dihadirkan di sini tampak jelas bahwa
eksploitasi habis-habisan aras mesin propaganda jihad yang beragam
dan sangat efektif merupakan faktor utama untuk membangkitkan
dan menyatukan kembali wilayah-wilayah kaum muslim yang
letaknya berdekatan dengan negara-negara Salib dan untuk merebut
kembali wilayah-wilayah kaum muslim yang telah direbut oleh
Tentara Salib. Propaganda rersebur mendapat tambahan dimensi
emosional, yang tidak ada di dalam manifestasi gerakan-
gerakan jihad sebelumnya, seperti perjuangan Hamdaniyah di
perbatasan Bizantium, dengan memperbesar fokus pada Yerusalem
sebagai tujuan utama yang dihubungkan dengan tujuan umum
jihad. Propaganda jihad selanjutnya dilakukan ranpa simbol
Yerusalem. Di masa Ibn Thymiyyah, jihad tidak lagi sangat terpaku
pada penaklukan kembali Kota Suci Yerusalem. Jihad menjadi
bersifat defensif-untuk membersihkan dunia Sunni dari orang-
orang kafir dan kaum muslim pengikut bidah.
Juga akan terlihat bahwa tidak satu pun contoh jihad yang
dilakukan oleh Nirruddin dan Saladin ataupun propaganda jihad
Mamluk dan Ibn Thymiyyah dipertanyakan apakah jihad yang
tengah dilakukan itu dimaksudkan untuk "memerangi" dan juga
untuk mengiskmhan or^ng kafir. Jihad dilakukan sebagai sebuah
reaksi atas agresi dari luar. Semua ini merupakan seruan yang
berbeda dari gambaran klise Islam sebagai sebuah agama pedang.
Mengingat pembahasan sebelumnya, yaitu menarik untuk
memberikan perhatian khusus pada motivasi agama dan per-
timbangan ideologi. Pada akhirnya, aksi-aksi pejuang besar Islam
yang memerangi kaum Frank, seperti N0ruddin, Saladin, dan
Baybars, di dalam sumber-sumber ini digambarkan sebagai
ekspresi jihad. Semangat ideologis secara jelas menjadi meningkat
saat Saladin merebut Yerusalem dan dalam menggambarkan
aktivitas Baybars sesudah kedatangan bangsa Mongol yang me-
nakutkan. Seperti telah disebutkan, oleh para penulis biografinya,
Saladin ditampilkan berusaha membenarkan setiap tindakannya
dalam perjalanannya menuju Yerusalem itu dengan menyatakan
bahwa itu dilakukan "di jalan Allah' @ sabil Alkh). Begitu juga
para penulis biografi Baybars. Mereka menggambarkan Baybars
melakukan jihad melawan kaum Frank dan bangsa Mongol.
Mereka memperbesar retorika ideologisnya secara berlebihan dengan
cara yeng sangat mengingatkan kita pada tulisan-tulisan yang
memuji Saladin.
Secara umum, periode kehadiran kaum Frank di Timur Dekat,
yaitu dari 1099 hingga 1291, dicirikan dengan dua kebangkitan
semangat jihad yang utama. Yang pertama muncul dalam per-
tempuran Hattin dan yang kedua terjadi sesudah Baybars naik
tahta dan dunia Islam mengalami pukulan hebat sebagai akibat
dari invasi bangsa Mongol yang bengis. Peristiwa ini tak pelak
lagi membuat kaum muslim bertekad bulat untuk membersihkan
wilayah-wilayah mereka dari kehadiran orang-orang kafir agresif
yang tak diinginkan dari timur dan barat, dan pada akhirnya
berujung pada pengusiran kaum Frank dari wilayah kaum muslim
secara total.
Namun, unsur jihad tidak boleh dipandang secara berlebihan.
Pada lima tahun pertama pendudukan kaum Frank tampak jelas
bahwa kaum muslim dengan cepat belajar untuk hidup ber-
dampingan dengan tetangga mereka yang tak terduga dari Eropa.
Mereka berdagang dengan bangsa pendatang ini , menanda-
tangani perjanjian perdamaian dan membentuk aliansi-aliansi
militer dengan mereka. Suasana pergaulan dengan mengurangi
rasa permusuhan dan tindakan politik picik yang sama juga
tampak jelas pada periode antara sesudah Saladin wafat dan
pembentukan kesultanan Mamluk pada 1260. Para penerus Saladin,
dinasti Ayyubiyah, terlalu jauh tenggelam dalam permusuhan
internal dan persaingan antara mereka sendiri daripada berjihad
secara bersama-sama untuk melanjutkan prestasi pencapaian Saladin
dan mengusir kaum Frank. Mereka terlalu lemah untuk melakukan
perang seperti itu. Timur Dekat pada periode Aynrbiyah sungguh
merupakan potongan-potongan dari kesatuan wilayah-wilayah kecil'
Kadang mereka saling berperang dan pada saat yang lain mereka
berdamai. Mereka sangat sering mengganti aliansi. Kaum Frank
hidup di antara mereka dengan begitu maPan dan mengenal
keadaan ini sehingga mereka terlibat sepenuhnya dalam pertikaian
internal setempat dan hampir menjadi kelompok "pribumi" lainnya
di kawasan itu, bersama dengan tokoh-tokoh Ayyubiyah, Ismailiyah,
dan lain-lain.
Selain itu, bahkan pada saat semangat jihad yang tinggi masih
bertahan, ada jurang pemisah antara sikap-sikap tertulis dari
para penulis yang mencari pembenaran dan memuji penguasa-
penguasa mereka, dan realitas polirik dan militer. NCrruddin,
Saladin, dan Baybars harus bergerak secara perlahan untuk men-
capai cita-cita mereka, dan hal ini sering kali membuat tokoh-
tokoh besar ini, yang digambarkan oleh sumber-sumber itu sebagai
para mujahid, terlibat dalam gencatan senjata semenrara dan sikap-
sikap pragmatis serupa, seperti berdagang dengan kaum Frank
dan saling bertukar misi diplomatik dengan mereka. Saladin
dengan jelas kehilangan motivasi utamanya sesudah Yerusalem
berhasil direbut. Sultan-sultan Mamluk, yang sering digambarkan
sebagai para pejuang besar jihad yang mengusir kaum Frank keluar
dari kawasan Mediterania timur, jrg" sebenarnya bisa dilihat
bertindak dengan hati-hati dan secara bertahap untuk mencapai
cita-cita mereka.
TEORI STVAN DAN KdHLER
Apakah pertempuran dalam Perang Salib merupakan perjuangan
ideologis? Sivan membenarkannya, dan dia memberikan bukti-
bukti kuat untuk mendukung argumennya. Dia juga bahkan
menegaskan dalam kesimpulannya untuk berhati-hati agar jangan
terlalu tegas atau eksklusif dalam menyampaikan elemen jihad,
sebagai sesuatu yang menjadi pertimbangan dalam perang-perang
kaum muslim melawan Tentara Salib. Elemen jihad selalu berjalan
paralel dengan banyak faktor lainnya-ekspansionisme, kepen-
tingan-kepentingan politik-militer, xenofobia, faktor-faktor eko nomi,
dan rasa takut terhadap serangan dari Eropa.r66
Kcihler pun melanjutkan lebih jauh.t67 Dia memang me-
nentang seluruh alur buku Sivan-pengerasan sikap yang nyata
terhadap jihad, perubahan-perubahan psikologis dalam motivasi
pasukan kaum muslim, dan klimaks akhir kampanye jihad, yaitu
penaklukkan kembali Yerusalem. Banyak bukti dari sumber-sumber
ini untuk mendukung gagasan-gagasan Kohler-terutama
sekali, gambaran jelas tentang jaringan yang jauh lebih rumit
mengenai hubungan, perjanjian-perjanjian damai antara kaum
muslim dan kaum Frank, "jihad" melawan sesama kaum muslim,
dan penggunaan propaganda jihad secara sinis untuk melegitimasi
kekuatan keluarga dan pribadi yang terampas di pihak Zengi,
Nfiruddin, dan Saladin.
Banyak cara untuk melihat kronologi peristiwa Perang Salib.
Untuk mudahnya, kronologi itu bisa dibagi menjadi bagian-bagian
kelemahan, kekuatan, demoralisasi, kebangkitan, tahap-tahap pertama,
dan klimaks. Pada tahap tertentu, proses demarkasi seperti itu
berubah-berubah dan diterapkan masing-masing oleh para ahli
yang ingin menetapkan urutan dan melihat pola historis. Tidak
mengejutkan bila Sivan, yang sangat gigih dan persuasif men-
dukung gagasan tentang kebangkitan jihad di antara kaum muslim
di kawasan Mediterania timur pada abad kedua belas, menetapkan
penaklukan kembali Yerusalem oleh Saladin pada 1187 sebagai
puncak kegemilangan, titik puncak program jihad yang dirancang
dengan hati-hati yang difokuskan pada Kota Suci ini . Jika
dilihat sepintas pandangan ini wajar, dan argumen ini me-
miliki pola yang memuaskan bagi pandangan ini .
Namun, titik pencapaian terbaik yang diraih itu jelas tidak
mengubah realitas sosial dan politik dalam 5srnxlxrn-5eandainya
memang demikian. Yang disayangkan dari kaum muslim, ke-
menangan di Hattin dan Yerusalem tidak berujung pada peng-
usiran kaum Frank. Sayangnya, demi kebersihan teori Sivan,
ada apa yang dinamakan "relaksasi" dalam suasana jihad yang
bersemangat pada periode sesudah Saladin wafat. Para penerus
Saladin membicarakan tentang .iihad, namun sebenarnya mereka
menghentikan permusuhan. Dua dinasti Ayyubiyah sebenarnya
telah siap untuk menyerahkan kembali Yerusalem kepada kaum
Frank sesudah bernegosiasi dengan mereka. Bisa dikatakan bahwa
manfaat politik dari penggunaan jihad telah terkubur untuk
sementara demi kolaborasi, hidup berdampingan, dan kerjasama
dengan kaum Frank, dan bisa dikatakan bahwa renreran keadaan
di sekitar menjelang penaklukan Yerusalem oleh Saladin yaitu
aneh, bahkan unik. Namun, situasi ini jauh lebih sulit:
memang, dua sikap tersebur, yang satu kerjasama pragmatis atau
setidaknya gencatan senjata dengan kaum Frank dan sikap lainnya
berupa konfrontasi militer dengan mereka, hampir sepanjang waktu
terjadi berbarengan. Yang pasti, tahun 1187 bisa dilihat sebagai
titik puncak bagi eksploitasi retorika politik-keagamaan. Apalagi,
kampanye-kampanye terakhir sultan-sultan Mamluk dimulai dari
keadaan ketakutan amat sangat pada orang asing dengan tambahan
ancarnan yang jauh lebih besar dari bangsa Mongol, dan kampanye-
kampanye itu mencapai puncaknya dengan pengusiran Frank dari
Timur Dekat. Namun, dengan ditambah "momen-momen" khusus
ini, saat semangat jihad khususnya menguar, ada masa yang
panjang yang memuat perjanjian, gencatan senjata, hubungan
dagang, dan aliansi-aliansi militer. sebab itu, peranan agama
tidak boleh dilebihJebihkan.
Meski banyak yang harus dikomentari berkaitan dengan
argumen-argumen K<thler-dan bab enam buku ini membahas
dengan cukup panjang hubungan sosial antara kaum muslim dan
Tentara Salib-pada akhirnya hal yang patut dicermati yaitu
saling pengaruh antara jihad dan sikap yang lebih lunak. Segi ini
akan tetap menjadi perdebatan ilmiah berkaitan dengan beragam
interpretasi sumber-sumber utama, baik yang berasal dari kalangan
kaum muslim maupun Tentara Salib. Pada titik inilah terlihat
bahwa kajian tentang sejarah Perang Salib menjadi menarik dan
senantiasa bermakna penting.
JIHAD DI MASA-MASA SEI.ANJUTNYA
Sepanjang sejarah Islam, sering kali terjadi gerakan reformasi,
aktivitis misionaris, dan perebutan perbatasan yang dilakukan di
bawah bendera jihad-Dinasti Muwahhidun di Spanyol, serta
Dinasti Ghaznawi dan Dinasti Guri di India, sekadar menyebutkan
dua contoh. Namun, kita mungkin baru melihat ekspresi jihad
yang paling penting dalam reaksi kaum muslim terhadap Perang
Salib pada abad kedua belas dan ketiga belas. Reaksi kaum muslim
ini merupakan reaksi atas serangan Tentara Salib dari Eropa barat
ke jantung Islam Timur Dekat dan penaklukan wilayah-wilayah
muslim dan, khususnya Yerusalem, oleh mereka. Program jihad
yang berkembang di Suriah dan Thnah Suci sebagai reaksi atas
agresi tak terduga dari Eropa barat ini telah menjadi model bagi
manisfestasi semangat jihad di masa-masa berikutnya.r6s
Teori hukum jihad, sebagaimana ditetapkan di dalam hukum
Islam, telah menjadi pendorong utama bagi gerakan penaklukan,
penyebaran agama, dan pertahanan yang penting di sepanjang
sejarah Islam. Penegasan khusus yang diberikan di dalam bab ini
tentang _______________perang Salib bukan tidak memiliki
relevansi dengan kesadaran fuab modern dan muslim modern.
Perang Salib dipandang oleh banyak kaum musl:m sebagai upaya
pertama Barat untuk menjajah "'ST.ilayah Islam". Lebih jauh lagi,
Perang Salib merupakan model penggunaan elemen jihad yang
berhasil untuk mengusir bangsa asing, yakni para Tentara Salib,
dari wilayah muslim. Ada beberapa pelajaran di sini untuk masa
kita sekarang. Banyak kaum muslim pada era 1990-an yang
memandang Israel sebagai negara Tentara Salib yang baru dan
harus dilawan dengan jihad. Kelangsungan nilai konsep jihad
dengan demikian digambarkan dengan hidup. Banyak kaum muslim
yang kini tidak memahami seluk beluk jihad. Mereka memandang
jihad hanya sebagai sebuah istilah retoris, seruan penggerak dan
pemersatu yang menarik emosi, namun mereka tidak jelas dalam
hal bagaimana jihad itu diwujudkan. Pertanyaan-pertanyaan hukum
yang sulit tidak diajukan dalam kondisi seperti itu. Istilah jihad
sering dijadikan buah mulut oleh kepala-kepala negara modern
yang tidak memiliki sistem pendukung dari ahli-ahli hukum,
penulis-penulis risalah, dan pendakwah-pendakrvah, seperti yang
telah dapat menegaskan klaim-klaim Nfiruddin dan Saladin untuk
menggelar Perang Suci, dan yang dengan hati-hati menetapkan
implikasi-implikasi dan target-target jihad. Namun, pada akhir
abad kedua puluh, keadaan di Yerusalem sangat mirip dengan
keadaan Yerusalem pada masa Perang Salib.U
Pandangan Kaum Muslim
tentang Kaum Frank:
Stereotip Etnik dan Agama
Kebersihan adakh sebagian dari iman.t (Hadis Nabi Muhammad saw.)
PENDAHULUAN
Bab ini akan meninjau dimensi budaya dan agama yang luas
dari konflik antara kaum muslim dan kaum Frank. Secara khusus,
pembahasan akan dititikberatkan pada persepsi negatif yang telah
lama tertanam dan tak berubah terhadap orang-orang Eropa barat
yang bisa ditemukan setidaknya mulai abad kesepuluh di dalam
literatur Islam. Bab ini juga akan membahas secara luas gagasan
dasar yang berhubungan dengan pencemaran ritual sebagai akibat
dari pendudukan tempar-rempat religius Islam oleh kaum Frank.
Pandangan-pandangan kaum muslim pada masalah-masalah seperti
Salib, gambar-gambar dan bangunan-bangunan religius Kristen,
doktrin Kristen dan Keuskupan juga akan dibahas dalam bab ini.
Kita telah melihat bahwa respons psikologis kaum muslim
terhadap kedatangan para Tentara Salib ini pada mulanya
berupa kemarahan bercampur dengan ketakutan, setidaknya pada
orang-orang yang mengalarni langsung aksi pembantaian dan
penghancuran bangsa penyerbu ini , atau orang-orang yang
tempat tinggalnya cukup dekat untuk merasakan penderitaan
akibat kehadiran mereka. Dunia muslim yang lainnya menunggu
dan terlalu asyik dengan aktivitas mereka sendiri untuk dapat
bereaksi dengan suatu cara tertentu.
Selama lebih dari dua ratus tahun pendudukan para Tentara
Salib di Suriah dan Palestina, pasti telah ada reaksi yang lebih
berdasar atas pandangan yang cermat dan berlangsung cukup lama
dari kaum muslim terhadap kaum Frank. Demikian pula, pan-
dangan yang lebih jelas tentang kaum Frank sebagai suatu fenomena
terpisah pasti telah muncul di dalam warga muslim. Dengan
demikian, tidak diragukan lagi bahwa kaum muslim tertarik
dengan para pendatang baru ini dan bahwa mereka menyusun
berbagai cara pandang tentang bangsa pendatang ini yang
mereka catat untuk keturunan mereka. Bernard Lewis benar-benar
sangat negatif dalam pernyataannya bahwa "selama dua abad umat
Islam Timur Tengah tahu bahwa kontak permusuhan dengan
kelompok-kelompok kaum Frank telah terbentuk di antara mereka-
namun mereka tampaknya sedikit pun tidak pernah mengem-
bangkan rasa ketertarikan terhadap mereka'.2 Tentu saja, seperti
kemudian dikatakan oleh Lewis, memang benar bahwa sejarawan-
sejarawan muslim Abad Pertengahan tidak memandang Perang
Salib sebagai fenomena terpisah dan mereka tidak menunjukkan
ketertarikan pada negara-negara kaum Frank di Timur Dekat
ataupun Eropa.3 Sekalipun demikian, seperti akan dicoba dijelaskan
di dalam bab ini dan bab berikutnya, kehadiran pasukan kaum
Frank memiliki dampak mendalam, bukan hanya pada kaum
muslim yanB menemukan diri mereka diatur oleh kaum Frank,
namun juga para pemimpin kaum muslim, kelompok militea
dan kalangan agamawan-serta para prajurit dari wilayah-wilayah
yang berdekatan dengan negara-negara Tentara Salib yang ddak
bisa menghindar untuk sering melakukan kontak dengan mereka.
SUMBER-SUMBER
Tirlisan-tulisan sejarah kaum muslim Abad Pertengahan dan "Sejarah
Dunia", tentu saja, biasanya merupakan sumber keterangan-ke-
terangan yang jelas tentang pandangan kaum muslim terhadap
kaum Frank. Namun keterangan-keterangan ini sering kali,
meski tidak selalu, mengecewakan atau ringkas dalam memberikan
komentar. Mereka membuat daftar pertempuran-pertempuran dan
perebutan benteng-benteng dan kota-kota. Mereka mencatat ke-
matian-kematian para pemimpin Tentara Salib terkemuka dan
membicarakan tentang Perang Salib secara umum dalam istilah-
istilah makian yang klise. Meski demikian, sumber-sumber tradisi-
onal ini bisa dilengkapi dengan tulisan-tulisan dalam genre lain
yang, bila digunakan secara bijaksana, benar-benar bisa meningkat-
kan pengetahuan kita tentang pandangan kaum muslim terhadap
kaum Frank.
Sangat sedikit tulisan-tulisan dari kaum muslim yang secara
khusus membahas tentang interaksi sosial antara umat Islam dan
Tentara Salib yang masih bertahan. Sangat disayangkan karya
Hamdin ibn Abd al-Rahim (w. sesudah 554 H.ll159 M.) yang
berjudul Strat al-Afanj al-Khnrijin ilt Bihd al-Syhm fi Hildzihi
Sini (Sejarah Kaum Frank yang Keluar ke Negeri Suriah pada
Tahuin-Tahun ini ) tidak ditemukan lagi, bahkan tidak juga
dalam bentuk ringkasan yang dikudp dalam tulisan-tulisan sejarah
sejarawan muslim berikutnya.a Tampaknya, karya itu yaitu karya
yang sangat langka jenisnya-sejarah tentang kaum Frank yang
ditulis dalam bahasa Arab yang berasal dari sebuah negara yang
diperintah oleh kaum Frank.
Judul buku itu juga bisa menjadi petunjuk kepada kita bahwa
pengarangnya memiliki pandangan yang luas secara intelektual
dan menaruh ketergarikan terhadap para pendatang baru dari
Eropa ini . HamdAn ibn 'Abd al-Rahim berhasil dalam karier-
nya melayani para Tentara Salib. Beliau berhasil menyembuhkan
AIan, panglima Tentara Salib pertama dari AtsArib di Kerajaan
Antiokhia, dan diberi hadiah Desa Mar Buniya oleh Alan. Dengan
demikian, Hamdin menjadi salah satu dari sedikit tuan tanah
kaum muslim di negara Tentara Salib di kawasan Mediterania
timur. HamdXn kemudian diberi tanggung jawab memerintah
Ma'arrat al-Nu'min atas nama kaum Frank sebelum kemudian ia
mengabdi pada Zengi di Aleppo pada 1128.5 yaitu sangat
menarik untuk mereka-reka motivasi Hamdin sehingga di periode
paling awal pendudukan kaum Frank ia telah menyusun karya
sejarah bagi orang-orang asing ini . Juga menarik untuk
mempertanyakan sikap pengarang terhadap kaum Frank itu. Fakta
bahwa HamdAn bekerja untuk kedua pihak menunjukkan bahwa
sikap berlawanan yang oleh sumber-sumber ini sering kali
digambarkan sebagai karakter interaksi kaum muslim dan kaum
Frank sama sekali bukan gambaran keseluruhan. Kemungkinannya
yaitu bahwa penyesuaian-penyesuaian diri sePerti yang telah
ditunjukkan dalam kehidupan Hamdin merupakan ciri umum
dalam kehidupan di kawasan Mediterania timur pada abad kedua
belas.
USAMAH DAN IBN JUBAYP,-DUA SUMBER DARI MASA ITU
Sekalipun begitu, masih ada dua karya kaum muslim dari masa
itu yang memberikan penjelasan penting tentang pokok bahasan
bab ini. Yang pertama yaitu sebuah karya berjudul Memoirs
yang disusun oleh Usimah. Karya ini merupakan sumber yang
banyak dikutip dan berharga bagi pengetahuan kita tenrang
pandangan kaum muslim terhadap Tentara Salib. Usimah ibn
Munqidz, bangsawan fuab dengan hubungan kekerabaran yang
membanggakan, dilahirkan pada 488 H./1095 M., yaitu di tahun
saat Paus Urbanus II menyeru umat lSisten untuk mengangkat
Salib dan menuju Thnah Suci untuk menyelamarkannya dari orang
kafir. UsAmah wafat pada 584 H.il188 M., tak lama sesudah
Saladin merebut kembali Yerusalem untuk umat Islam.6 Usimah
mengenal kaum Frank sejak masa kecil di rumahnya di puri
Syayzar yang terletak di Sungai Oronres di utara Suriah. Ia mulai
memerangi kaum Frank saat remaja dan kemudian mengenal
mereka secara lebih dekat sepanjang sisa masa hidupnya yang
penting, dalam masa damai dan perang. sebab kedudukan sosial
dan pendidikannya yang tinggi, pada masa-masa gencatan senjata
Usimah termasuk golongan terpandang di dalam warga kaum
Frank. UsAmah berkawan dengan kalangan ksatria kaum Frank
dan dikirimkan dalam misi diplomatik ke kerajaan Tentara Salib
Yerusalem. Di sana, ia berteman dengan raja dan pembantu-
pembantunya. Penjelasan-penjelasan yang lebih lengkap tentang
kehidupan Usimah bisa dilihat dalam obituarinya yang ditulis
oleh Ibn KhallikAn (w. 681 H.ll282 M.) yang dimuat dalam
kamus biografinya yang terkenal. Ibn KhallikXn menggambarkan
Usimah sebagai "salah seorang anggota keluarga Munqidz, pe-
nguasa puri Syayzar, yang paling berkuasa, terpelajar, dan berani".7
Usimah menyaksikan sendiri banyak pertempuran dan peris-
tiwa-peristiwa penting. Memang, dia sendiri pada satu kesempatan
terlibat dalam beberapa intrik politik yang agak buram di istana
Fatimiyah di Kairo. Usimah kemudian bergabung dengan istana
Saladin pada 570 H.ll174 M. Namun, di tempat baru itu dia
juga terpaksa pergi sesudah hubungan dirinya dengan Saladin
memburuk, dan ia melewatkan sisa hidupnya dengan meng-
asingkan diri.8 Yang terpenting, Usimah mendapat anugerah untuk
bertahan hidup dan di akhir hayatnya mampu melihat dengan
cermat pada saat-saat yang buruk dan saat antusiasme sedang
memuncak sehingga ia dapat memberikan pandangan-pandangan
tentang periode yang menarik yang pernah dilalui dalam hidupnya.
Dalam tulisannya saat ia berusia 90 tahun, UsAmah me-
renung: "Kelemahan telah membungkukkan saya ke tanah, dan
usia lanjut telah membuat satu bagian tubuh saya saling melipat,
begitu banyak sehingga saya hampir tidak bisa mengenali diri saya
sendiri."e Namun, sekalipun ada Pernyataan semacarn ini, usia lanjut
membuat UsAmah dapat memberikan renungan-renungan pelajaran
yang berharga dari kehidupannya, seperti yang ditulisnya:
Saya selalu menjadi penghasut pertempuran: setiap kali pertempuran
mereda.
Saya menyalakannya kembali dengan percikan api yang menyala
dengan mengayunkan pedang ke kepala-kepala musuh .'.
Namun, kini saya bagaikan pelayan tak berguna yang berbaring
di atas bantal-berisi di balik rabir-tabir dan tirai-tirai.
Saya juga telah membusuk akibat berbaring begitu lama.r0
'hutobiografi" Usimah ibn Munqi dz ini, Kithb al-I'tibir
(Buku tentang Makna Perumpamaan), selama bertahun-tahun telah
menarik perhatian para ahli.rr Karya rersebut, seperti ditunjukkan
oleh judulnya, mencoba memberi pelajaran lewar contoh-pesan
utamanya yaitu bahwa Allah mengatur nasib manusia lewat
kehendak-Nya yang absolut dan tak seorang pun bisa menen-
tangnya. Allah telah menetapkan waktu bagi kehidupan setiap
manusia dan tidak ada satu pun yang bisa mengubah keputusan-
Nya. Usimah menggambarkan kebenaran abadi ini dengan meng-
gunakan beragam contoh, yang banyak di antaranya diambil dari
kehidupannya sendiri yang panjang dan bergolak. Pandangannya
bukan menurut selera tertentu, namun dimaksudkan untuk men-
jadi teladan yang bisa dipelajari oleh seluruh warga .
Dari buku Usimah yang luar biasa, serta ungkapan-ungkapan
makiannya yang klise terhadap kaum Frank, yang dianggapnya
sebagai makhluk asing dan orang-orang kafir yang hadir di dunia
muslim, tampak jelas bahwa ia juga tertarik pada keistimewaan-
keistimewaan, adat-istiadat, dan sikap-sikap mereka. Namun, akan
sangat menyesatkan bila mengambil bukti-bukti di dalam bukunya
begitu saja. Karya itu sama sekali bukan autobiografi dengan
selera Barat, atau tidak juga selalu menjadi sebuah laporan bagi
peristiwa-peristiwa autentik yang terjadi baik pada Usimah mau-
pun pada rekan-rekannya. Karya itu merupakan sebuah genre
sastra berbahasa Arab yang dikenal dengan istilah adab yang
tujuannya yaitu untuk menyenangkan, menghibur, dan me-
rangsang pembacanya serta untuk mengarahkan mereka. Karya-
karya sastra seperti itu tidak terikat dengan ketentuan-ketentuan
untuk menceritakan "kebenaran", namun lebih berusaha untuk
menceritakan sebuah kisah yang bagus, bahkan meskipun akhirnya
segi kebenaran yang dituturkan di dalamnya hanya sedikit, atau
lebih. sebab iil, barangkali akan lebih tepat jika kita memandang
kisah-kisah UsAmah tentang kaum Frank ini sebagai refleksi
klise, yang mengungkapkan perilaku yang berlebihan atau sering
kali menyenangkan dari para pendatang baru yang dengan terpaksa
kaum muslim harus hidup berdekatan dengan mereka meski tidak
diinginkan dan diduga, dan rentang mereka kaum muslim mem-
buat kisah-kisah panjang dan cerira-cerira lelucon. pada akhirnya,
mengungkap kepalsuan-kepalsuan para penyerang lewat ungkapan-
ungkapan bernada menghina rentang perilaku mereka yang buruk
dan tidak berbudaya dan beradab menjadi respons yang cukup
umum terhadap pendudukan militer yang rak diinginkan di setiap
masa. Inilah keadaan yang teriadi pada bangsa Persia sesudah bangsa
Arab menaklukkan wilayah leluhur mereka pada abad ketujuh.
Namun demikian, meskipun ada beberapa cataran se-
macam ini, karya Usimah, bila diinterpretasikan dengan hati-
hati, kaya dengan sumber-sumber yang menuturkan kehidupan
sosial-budaya abad kedua belas di Suriah dan Thnah Suci. Thpi
para ilmuwan terlalu mengeksploitasi karya itu, sering kali agak
terlalu menyederhanakannya, seakan-akan boleh menerimanya begitu
saja dan seakan-akan tidak ada bukti lain yang tersedia di dalam
sumber-sumber kaum muslim.
Sumber kaum muslim lainnya yang berasal dari masa iru,
yaitu laporan perjalanan Ibn Jubayr, berisi pandangan-pandangan
berharga tentang kehidupan di kawasan Mediterania timur pada
masa Perang Salib, sekalipun mesri ditegaskan bahwa pengarangnya
hanya seorang yang rengah membicarakan kesan pribadinya di
wilayah-wilayah tertentu di kawasan Mediterania timur pada saru
masa tertentu. Ibn Jubayr yaitu orang Spanyol, yang terbiasa
menjalin kontak dengan kaum }Gisten di wilayah muslim Andalusia
dan barangkali mampu melihat pendudukan kaum Frank atas
Suriah dan Palestina dengan jauh lebih objektif dibandingkan
dengan mereka yang mengalaminya secara langsung. Dalam konteks
demikian, Ibn Jubayr membawa serta pandangan seorang muslim
dari wilayah dunia Islam yang berbeda, suaru wilayah yang
bagaimanapun juga tengah mengalami agresi yang sama dari kaum
Kristen Eropa di perbatasannya bagian utara. Seperti halnya
Usimah, Ibn Jubayr bermaksud mengarahkan dan menginformasi-
kan pembacanya, dan bukti-buktinya juga harus dibaca dengan
hati-hati. Barangkali oleh orang-orang sezamannya yang lebih
kosmopolitan pandangan Ibn Jubayr mungkin telah dianggap
sangat picik. Seperti yang umum terjadi, pelaksanaan ziarah (haji)
ke Mekah memberi kesempatan bagi orang-orang yang datang
dari dunia Islam yang sangat jauh untuk melihat wilayah-wilayah
yang berbeda dan mencatat pengalaman-pengalaman mereka. Ibn
Jubayr menyimpan diarinya dan pengalaman langsungnya, yang
berasal dari tahun 1180-an, dan itu menjadi sesuatu yang sangat
menarik. Namun, perlu diingatkan di sini bahwa literatur per-
jalanan semacam itu sangat rentan dengan kesalahan. Literatur
itu mungkin bersumber dari kesaksian tidak akurat dan bias dari
para pemandu lokal, dan berisi catatan-catatan yang dibuat tentang
perjalanan dan sering kali ditulis belakangan, sehingga sangat
mungkin terjadi kesalahan yang bersumber dari keterbatasan
ingatan manusia, saat musafir ini telah pulang. Tentu saja,
tidak ada bukti-bukti fotografi yang bisa digunakan untuk me-
meriksa ulang kejujuran informasi ini . Laporan Ibn Jubayr
sangat rentan dengan kesalahan-kesalahan seperti ini.
Bukti-bukti yang diajukan Usimah, juga, sepanjang me-
rupakan autobiografi, dapat digolongkan sebagai literatur Islam
Abad Pertengahan yang sangat rentan untuk dikritik sebagai karya
yang tidak dapat diandalkan dan tidak akurat. Autobiografi sebagai
sebuah genre sastra disukai di dunia Islam sebab tidak terikat
dengan proses verifikasi yang menjadi lambang keunggulan karya-
karya yang ditulis dalam berbagai bidang ilmu keagamaan. Pada
periode Islam klasik, pada masa kejayaan dinasti Abbasiyah (abad
kedelapan sampai kesembilan), buku-buku tentang hukum, hadis,
dan bahkan sejarah, telah lama tunduk pada sistem yang rumit
dalam menentukan keaslian informasi yang dikandungnya. Setiap
bagian diperiksa dengan teliti sebelum dimasukkan ke dalam suatu
gugus pengetahuan tertentu. Memoar seseorang akan dipandang
sebagai jenis literatur yang tak memiliki daya ikat pada sistem
pengetahuan yang ada dan bersifat individualis. sebab itu, karya
memoar semacam ini akan dipandang dengan sangat ganjil.
Bagaimana kejujuran informasi dalam karya semacam itu bisa
diperiksa? Namun, sekalipun ada keberatan-keberatan ini,
karya-karya Usimah dan Ibn Jubayr harus digunakan oleh para
ilmuwan yang mendalami Perang Salib, sebab karya-karya ini
menyediakan dua suara autentik dari pihak kaum muslim dari
periode paling awal pendudukan Tentara Salib. Dengan demikian,
karya-karya mereka tidak bisa diabaikan.
______________. I 313
NILAI LITEMTUR MKYAI POPULER
Di bagian akhir karya pentingnya tentang jihad yang diterbitkan
pada 1968, Sivan secara bijaksana menunjuk pentingnya me-
lakukan penelitian lanjutan terhadap apa yang disebutnya sebagai
literatur epik Islam yang rampaknya populer pada masa Perang
Salib (gambar 5.5)." Seperti bidang-bidang sejarah Abad Per-
tengahan lainnya, kesenjangan utama pengetahuan kita tentang
aspek-aspek sosial Perang Salib yaitu pada perspektif orang
kebanyakan. Tentu saja, kehidupan mereka jarang mendapat per-
hatian para penulis sejarah, yang hampir seluruhnya menaruh
perhatian pada kelas warga berkuasa yang diretapkan secara
sempit-istana, militer, dan kalangan agamawan. Memang benar,
dari masa ke masa para penulis buku-buku sejarah menyebutkan
peristiwa-peristiwa ganjil pada akhir setiap tahun-kelaparan,
gempa bumi, kelahiran yang aneh-aneh, Sungai Nil yang meluap-
namun keterangan-keterangan seperri itu jarang dijelaskan, dan
yang menyedihkan latar peristiwa-peristiwa ini tidak diberi
uraian yang cukup bagi pembaca. sebab itu, perlu dilakukan
penyelidikan pada lingkungan-lingkungan budaya Islam lainnya
dalam rangka mencari informasi tambahan mengenai pandangan
dan perasaan orang kebanyakan tenrang Perang Salib. Tirgas
"arkeologi literatur" semacam ini memang sulit dan masih bersifat
coba-coba, namun tugas itu telah menunjukkan beberapa hasil
yang menarik.
Hingga tahun 1970-an, karya-karya besar literatur berbahasa
Arab populer-yang secara tradisional sama seperti opera sabun
di masa kini-belum mendapat perhatian ilmiah yang layak dan
dipandang rendah oleh para intelektual fuab. Namun, karya-karya
semacam itu berperan penting dalam kehidupan Arab tradisional,
dan salah satunya, Alf Laylah wa Laylah (Seribu Satu Malam),
mungkin merupakan karya sastra fuab yang paling dikenal di
Barat.r3 Dengan pengolahan kembali yang penuh warna pada tema-
tema dan motif yang telah dikenal, karya-karya ini menunjukkan
selera warga Arab tradisional. Kadang-kadang mereka juga
bisa menawarkan "pandangan sekilas mengenai keinginan-keinginan
rahasia, tabu, dan ketakutan yang disembunyikan oleh kelompok
warga semacam itu".la
Karya-karya ini tidak memenuhi standar kesusastraan dan
linguistik elite sastra berbahasa Arab. Bagian dari bahan narasi
ini terdiri dari beberapa seri kepahlawanan panjang yang terfokus
pada seorang pahlawan sentral, yang biasanya seorang tokoh
bersejarah yang telah melegenda dan telah diubah menjadi rokoh
fiksi. Satu seri epik semacarn itu yaitu mengenai Sultan Baybars.r5
Di tangan ilmuwan-ilmuwan terampil seperti Lyons, Irwin, Kruk,
dan lain-lainnya, wilayah penelitian yang subur ini mulai tumbuh.
Banyak kisah kepahlawanan rakyat populer semacam itu yang
memiliki dasar-dasar dalam sejarah Islam, namun, tentu saja, kisah-
kisah itu tidak begitu saja bersandar pada analisis sejarah. Dengan
tema-tema umum, unsur-unsur standar dan basis tradisi lisan yang
telah lama terbentuk namun mengalir, kisah-kisah iru tersusun
menjadi bahan cerita yang bagus. Namun, kisah-kisah itu tidak
memiliki segi urutan kronologi yang repat dan aspek historis
yang akurat. Meskipun demikian, ada manfaatnya bila kita mem-
fokuskan pada bahan-bahan yang dapat disebut pseudo-historis
itu dan mencoba mengidentifikasi untaian dan rema-tema yang
secara khusus menjelaskan tentang periode Perang Salib, atau,
dengan memakai gambaran arkeologis Lyon, untuk me-
nemukan bukti-bukti tentang "lapisan sosial warga yang
terlibat dalam Perang Salib". Kisah-kisah legendaris Saladin dan
Baybars dapat menjadi contoh yang jelas dalam persoalan ini.
Para sejarawan yang ingin memakai bahan ini guna mem-
perkaya informasi di dalam tulisan-tulisan sejarah xkxn ksss\Mx-
sebab nama-nama karismatik para sultan ksatria ini hanyalah
cantelan untuk melekatkan kisah petualangan yang berjenis potong-
an-komik semata. Penggunaan nama-nama ini dengan jelas mem-
buktikan, te












