Tampilkan postingan dengan label Perang salib 8. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perang salib 8. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Juli 2026

Perang salib 8


 a lagi

kaum Frank yang tersisa di muka bumi ini".r3r Perang ini yaitu 

penaklukan yang digambarkan sebagai "biri-biri yang hilang yang

kembali ke kawanan Islam".r32 Baybars digambarkan sebagai se-

orang jenderal muslim puritan dan tak kenal kompromi. Teks-

teks ini  menyebutkan bahwa dia menerapkan disiplin yang

sangat keras pada pasukannya. Menurut Ibn al-FurXt, "pasukan

tidak boleh membawa anggur dalam rombongannya maupun

melakukan tindakan-tindakan cabul: yang ada hanya wanita-wanita

alim yang membawakan air minum kepada para prajurit di

tengah-tengah pertempuran".r33 Pada pengepungan Safad pada 664

H.11265-1266 M., Baybars lebih jauh lagi menyatakan bahwa

setiap prajurit yang membawa anggur dan mabuk akan digant,rrrg.'"

Lewat tulisan puji-pujian dari para penulis sejarah saat itu

dan karya-karya sejarawan Abad Pertengahan berikutnya, Baybars

muncul sebagai tokoh yang sangat hebat, sangar benci terhadap

orang-orang yang berani menyerang \Tilayah Islam, sangat tidak

kompromi terhadap kejahatan, menghancurkan monumen-monumen

hingga rata dengan tanah dengan semangat y^ng hampir tidak

pernah kendur dan kemarahan sejenis yang jarang ditunjukkan

oleh Saladin (kecuali pada perlakuan Reynold dari Chatillon yang

diterimanya). Seperti dikatakan oleh Thorau, Baybars yaitu 

seorang panglima militer yang sangat hebat yang berusaha me-

nanamkan "rasa kehadirannya di mana-mana" kepada para anak

buahnya.r35 Prajurit Baybars jelas-jelas dikendalikan oleh kekuasaan

teror dan disiplin besi yang mengingatkan pada keterikatan kuat

pasukan Mongol di bawah pimpinan Jengis Khan. Baybars sesekali

akan mengelilingi wilayahnya dengan menyamar untuk mencari

informasi tentang kelakuan-kelakuan para pejabatnya.t36 Dalam

diri Baybars, dunia muslim betul-betul telah menemukan seorang

pemimpin yang layak untuk melindungi dari semua pendatang.

SIKAP KATANGAN MILITER DAN KELOMPOK-KELOMPOK AGAMA

TERHADAP _______________A\TAL MAMLUK

Sikap umum terhadap jihad yang ditunjukkan sultan-sultan Mamluk

juga tercermin dalam antusiasme berjihad yang ditunjukkan para

panglima militer Mamluk yang berperang atas nama sultan-sultan

itu. Baybars al-Mansh0ri (w. 725 H.11325 M.), penulis sejarah

termasyhur yang mengabdi pada Gubenur Kerak dalam waktu

singkat dan aktif turut serta dalam berbagai operasi militer,

menyatakan: "Jiwa saya punya keinginan yang kuat untuk berjihad,

satu keinginan yang bagaikan bumi yang haus akan air hu.ian".

Al-ManshCrri mengirim surat kepada Sultan untuk meminta izin

turut serta dalam pengepungan Acre pada 690 H.l129l M., dan

saat  ia diizinkan, dia menjelaskan: "Saya seperti orang yang


bahagia melihat harapan yang terkabul; seakan malam telah

berakhir sebelum fapr ti6i'.137

Hubungan antara kelompok-kelompok agama dengan elite

penguasa Mamluk, tak seperti biasanya, tampak erat. Sivan,

kemudian melanjutkan pernyataannya bahwa tanpa bantuan ke-

lompok-kelompok agama, sultan-sultan Mamluk tidak akan mampu

mempertahankan kekuasaan mereka untuk waktu yang lama.r38

Anggota-anggota golongan sufi dan ulama disebutkan ikut ber-

kampanye bersama sultan-sultan ini . Pada penaklukan Beaufort

(Syaqif Arnun) pada 666 H.11268 M., misalnya, Ibn al-Furit

menyebutkan bahwa para syeikh yang saleh dan ulama turut hadir:

"Masing masing berjuang sekuat tenaga di jalan Allah, sepanjang

keadaannya memungkinkan. D I 3e

Dua karya tentang Kemuliaan Kota Yerusalem berasal dari

periode awal Mamluk yang ditulis oleh al-Miknasi dan al-Kanji,

yang dengan demikian menjadi saksi bahwa kepentingan agama

masih terus berkait dengan Kota Suci.ta0 Sultan-sultan Mamluk

menyeponsori program pembangunan gedung-gedung keagamaan

di seluruh wilayah kekuasaan mereka, menggalakkan wakaf dan

memberikan bantuan untuk berhaji. Sebaliknya, kelompok-ke-

lompok agama menyokong prakarsa-prakarsa aktivitas militer

Mamluk dengan tulisan-tulisan mereka tenrang jihad dan dengan

ikut hadir dalam operasi militer.rar

JIHAD DAN KEJAIUHAN ACRE, 690 H.n29L M.

Sarjana modern yang mengkaji tentang Mamluk, Donald Little,

belum lama ini membuat analisis yang cukup lengkap tentang

operasi militer sultan Mamluk, al-Asyrafl pada 690 H.l129l M.,

yang mencapai puncaknya dengan berhasil direbutnya Acre. Tam-

pak jelas bahwa konteks agama dalam operasi militer ini sangat

penting bagi mereka yang berpartisipasi di dalamnya. Sekitar satu

minggu sebelum menggelar operasi militer pada Safar 690 H.l

Februari l29l M., al-Asyraf mengumpulkan para pembaca Alquran,

ulama, kadi, dan tokoh-tokoh lainnya di ruang pusara ayahnya,

Qaliw0n, di Kairo.ra2 Di sana, mereka mengkhatamkan Alquran.

Ini kemudian dilanjutkan dengan pemberian sumbangan oleh

sultan kepada fakir miskin dan orang-orang yang tinggal di

lembagalembaga agama. ta3 Keterlibatan kelompok-kelompok agama

berlanjut selama operasi militer yang berlangsung sebulan lama-

nya-pembacaan Sahih al-Bukhiri secara terbuka dengan dihadiri

pemuka-pemuka agama Damaskus dihadiri oleh kerumunan massa

yang besar dan membantu membakar antusiasme penduduk.laa

Penting untuk dicatat bahwa salinan manuskip Damaskus

yang memuat kumpulan ceramah-ceramah Ibn NubAta berasal

dari masa ini,ras sekaligus menunjukkan bahwa dokumen ini 

.iuga mungkin ikut berperan dalam membangkitkan emosi pen-

duduk pada rencana penyerangan Acre.ra6 Menurut Ibn tghribirdi,

para relawan yang berkumpul dalam operasi militer ini jumlahnya

lebih banyak dari pasukan reguler. Jelas ini menunjukkan bahwa

pelaksanaan kegiatan keagamaan itu efektif untuk meningkatkan

kesadaran penduduk.taT

Mengenai kedatangan Sultan yang menang ke dalam kota

Damaskus di Jumadilakhir 690 H.funi l29l M. sesudah  Acre

direbut, ini merupakan peristiwa luar biasa yang berhasil me-

larutkan semua orang di dalamnya:

Seluruh kota telah dihias, dan lembaran-lembaran satin telah

digelar di sepanjahg jalan kemenangannya melalui kota yang menuju

ke istana raja muda. Sultan yang agung hadir dengan didahului

oleh sekitar 280 tahanan yang dibelenggu. Seorang tahanan me-

manggul bendera kaum Frank yang terbalik. Tahanan lainnya

membawa sebuah bendera dan tombak yang digantungi rambut

panglima yang terbunuh. Al-fuyraf disambut oleh seluruh penduduk

Damaskus dan daerah-daerah sekirarnya y^ng berbaris di sepanjang

jalan: para ulama, para pengurus masjid, syeikh-syeikh sufi, umar

Kristen, dan kaum Yahudi, semuanya memegang lilin, sekalipun

parade itu berlangsung sebelum tengah hari.ra8

Al-Asyraf mengakhiri operasi militernya itu di tempat operasi

itu bermula-dengan menyampaikan rasa syukur di makam ayah-

nya di Kairo. Di mata para sejarawan muslim, kemudian,rae yaitu 

jelas bahwa operasi militer ini merupakan operasi militer yang

dirancang dengan sangat baik dan berhasil, yang mencapai puncak-

nya dengan pengusiran kaum Frank dari wilayah kaum muslim.

Dimensi religiusnya ditegaskan pada setiap tahap yang dilalui

dalam proses kemenangan ini .

Sebuah tulisan pujian kemenangan bagi al-fuyraf menyanjung

kemenangannya atas kaum Frank. Namun, lebih jauh dari itu,

tulisan itu merayakan pengusiran orang-orang kafir dari wilayah

Islam dan kemenangan Islam atas Kristen:

sebab mulah tidak satu pun kota rersisa yang bisa diperbaiki

orang-orang kafir, tidak ada harapan bagi agama Kristen! Lewat

al-Asyraf Sultan yang Agung, kami dikirim dari Trinitas, dan

Persatuan bangkit dalam perjuangan ini !

Terpujilah Allah, bangsa Salib telah runtuh. Lewat bangsa

Tirrki, agama pilihan bangsa Arab mencapai kemenanganlr'o

Para penyair lainnya membicarakan kelompok musuh dengan

ungkapan:

Oh kalian umat Kristen Pengecut (Banu Ashfar),r5r balasan

Allah telah menimPamu! Oh "patung-Patung" yang menghiasi

gereja-gerqa ... telah sangat lama para kepala suku yang angkuh

terlihat menghinakan diri mereka sendiri di hadapanmu'r52

Pastinya, bukanlah suatu kebetulan bila salah satu gelar

(ehormatan yang disandang al-Asyraf yaitu  Shalihuddin (Saladin).r53

ietelah Acre direbut, Ibn al-Furit menulis: "Dengan Penuh ke-

narahan, kamu telah membalaskan dendam Saladin, syukur atas

ahasia yang telah disembunyikan Allah dalam gelar ini"'r5a Secara

rarfiah, gelar ini  berarti "Ketulusan aB mi', namun tak

liragukan lagi bahwa yang tengah dimaksudkan di sini yaitu 

rahwa al-Asyraf Khalil, sultan Mamluk tak berpengalaman yang

>aru saja naik tahta, bisa memperoleh beberapa  berkah dan gelar-

ielar agama sePerti pendahulunya y^ng karismatik, Saladin

Shalihuddin), dengan memakai gelar ini.

Tirlisan-tulisan pujian dari para sejarawan yang menulis lama

;etelah peristiwa ini  diperkuat dengan bukti-bukti dari masa

tu yang dengan kuat berasal dari zaman kejatuhan Acre itu

rendiri. Dua buah koin yang berukir nama al-Asyraf Khalil

r-renghubungkannya dengan Saladin. Yang pertama yaitu  koin

:mas tak bertanggal yang menyebutnya Shakh al-Dunyh wa'l-Dtn

penyelamat dunia dan agama)-gelar yang juga digunakan untuk

ialadin dalam inskripsi yang bertanda tahun 557 H'11191 M' di

(ubah yusuf.r5t Yang kedua yaitu  koin perak tak bertanggal

/ang memberinya gelar Shalihuddin (Saladin), penolong umat

Muha-m"d, yang membangkitkan kembal i "negata Abbasiyah". t 56

Dua inskripsi yang masih bertahan meniuluki al-Asyraf Khalil

dengan gelar seperti itu pada 690 IH'11291 M' Inskripsi pertama

menyebutnya Shalihuddin.r5TYang kedua, yang tercatat di Benteng

Baalbek di Suriah, bertanggal syakban 690 H./Agustus 1291 M.

(dua bulan sesudah  Acre direbut), menyatakan dengan penuh

kemenangan bahwa beliau yaitu  penyelamat dunia dan agama

... dan penakluk para Penyembah salib, penakluk barisan pesisir'

yang membangkitkan kembali "negara Abbasiyah"'158

Dengan demikian, kita melihat bahwa direbutnya Acre me-

miliki nilai penting historis yang lebih luas, dan cita-cita peng-

usiran kaurn Frank akhirnya dapat dicapai oleh kaum muslim'

Namun, kejadian ini dengan jelas bukan dipandang sebagai akhir

kisah ini -bagaimana mungkin bisa, sebab  jihad melawan

'lTilayah Perang terus berlanjut? Segera sesudah  penaklukan Acre,

al-Asyraf menyatakan Kerajaan Armenia dari Sisilia dan Mongol

sebagai target berikutnya. Perjuangan masih harus berlanjut.

IBN TAYMIYYAH DAN JIHAD

Meskipun Ibn Taymiyyah (w. 728 H.ll328 M.) hidup dan

menulis jauh sesudah  kejatuhan Acre pada tahun 690 H.llz9l

M., beliau merupakan figur yang sangat berpengaruh di ling-

kungan agama dan kehidupan warga  umum dalam periode

Mamluk sehingga pandangannya disertakan di sini. Penelitian

tentang pengaruhnya yang belakangan dilakukan oleh Morabia

menyebut Ibn Taymiyyah "sebagai teoretikus-besar-jihad-Abad-

Pertengahan yang terakhir".r5e

Pada periode sepanjang hidup Ibn Taymiyyah telah terjadi

bukan hanya pengusiran para Tentara Salib namun  juga ancaman

bangsa Mongol yang tak putus-Putusnya di perbatasan-perbatasan

Islam. Seperti telah kita lihat sebelumnya, kehadiran bangsa

Mongol yang menakutkan, dengan bantuan nyata dari kaum Syiah

dan kaum IGisten di Iran, memperkuat keputusan dinasti Mamluk

untuk menampilkan diri sebagai pembela sejati Islam Sunni yang

ortodoks dan penentang keras kaum bidah dan kafir. Kita juga

telah melihat bagaimana di bawah pimpinan Mamluk kelompok-

kelompok agama dan militer menjalin aliansi yang kuat. Mazhab

Hanbali, yang dianut Ibn Thymiyyah, dengan pendekatan-pen-

dekatan tradisional dan penekanannya pada kemurnian Islam yang

tak terkontaminasi oleh perubahan-perubahan, secara khusus sangat

cocok untuk mempromosikan perasaan agama yang sangat kuat

di antara sultan-sultan Mamluk yang menghadapi ancaman Para

Tentara Salib dan Mongol.r6o

Ibn Taymiyyah juga cukup didengar oleh orang-orang di luar

lingkungan kelompoknya sendiri dan khususnya oleh ulama-ulama

terkemuka di Damaskus. Ibn Taymiyyah yaitu  figur yang sangat

karismatik, sehingga beberapa  pemimpin Mamluk mengaku sebagai

"muridnya". Ibn Thymiyyah |uga menyerukan dukungan yang

sengat terkenal, terutama saat  beliau berceramah menentang

umat Kristen. Pandangan-pandangannya telah mengeras sejak

kedatangan para Tentara Salib. Ibn Taymiyyah sering kali sangat


bermanfaat bagi rezim Mamluk saat  beliau dan elite penguasa

ini  memiliki kesamaan tujuan-seperti, misalnya mengu-

mandangkan jihad melawan kaum Kristen, kaum bidah, dan

bangsa Mongol. Pada kesempatan lain, beliau dipandang sulit

dan tidak kooperatif; dan sebab  itu beliau banyak menghabiskan

hidupnya di dalam penjara. Satu hal yang pasti: Ibn Taymiyyah

tidak pernah bisa diabaikan dan pandangan-pandangannya yang

tak mengenal kompromi membuatnya dihormati oleh para pen-

dukungnya maupun musuh-musuhnya. Ibn Thymiyyah meng-

anjurkan pendekatan yang "fundamental" dalam agama, sikap

"kembali ke dasar" untuk membersihkan Islam dari semua per-

ubahan-perubahan yang mengotorinya dan sangat menitikberatkan

pada nilai-nilai murni Alquran dan Sunnah.

Apakah perbedaan antara jihad yang dikumandangkan oleh

Ibn Taymiyyah dan kampanye propaganda yang dijalankan dengan

sangat efektif oleh Nirruddin dan Saladin? Yang pasti banyak

kesamaannya. Aliansi-aliansi lazim dibentuk 

^ntara 

"kalangan orang

yang berpedang" dan kalangan agamawan, yang masing-masing

saling mendukung. Hal yang sama juga ditemui pada literatur

jihad, dengan pembaharuan pada gagasan-gagasan lama dari teori

jihad klasik. Ceramah-ceramah rentang jihad banyak ditulis dan

para sultan ditemani oleh rombongan ulama, sufi, pembaca

Alquran, dan pendakwah saat berkampanye. Sebaliknya, para sulran

mendukung program pembangunan besar-besaran monumen-mo-

numen agama yang di dalamnya diajarkan Islam Sunni yang

disetujui secara resmi. Monumen-monumen ini sering kali memuat

gelar-gelar dengan bumbu jihad yang nyata.

Kalau begitu, apa_ y^ng baru pada masa Mamluk dan peranan

Ibn Thymiyyah? Beberapa peristiwa penting dalam karier Ibn

Thymiyyah yang bergolak tampak menoniol di sini. Catatan Ibn

tymiyyah pertama kali muncul di depan publik sesudah  Acre

jatuh ke tangan umat Islam. Bagaimanapun iuga, Ibn Taymiyyah

tidak pernah melupakan momok Tentara Salib dan perpecahan

kaum muslim yang di awal abad kedua belas telah memungkinkan

para pendatang ini menguasai wilayah kaum muslim. Ibn Thymiyyah

diundang pada 692 H.ll293 M. untuk memberikan fatwa tentang

kasus seorang Kristen yang dituduh telah menghina Rasulullah.

Ibn Thymiyyah memutuskan hukuman mati untuknya. Pada 696


H.tl297 M. sultan Mamluk Lijin meminta Ibn tymiyyah untuk

membangkitkan semangat jihad rakyatnya melawan kaum Kristen

Armenia dari Sisilia. Pada 699 H./1300 M. Ibn Taymiyyah secara

pribadi ikut serta dalam suatu oPerasi militer yang digelar oleh

sultan Mamluk di pegunungan Lebanon melawan kaum Syiah

yang dituduh telah berkolaborasi dengan umat lGisten dan bangsa

Mongol. Pada 702 H./1303 M., Ibn Taymiyyah kembali hadir

secara pribadi dalam operasi militer dengan pasukan Mamluk.

Pada kesempatan ini beliau mengeluarkan sebuah fatwa yang

memperbolehkan para prajurit tidak berpuasa Ramadan agar

mampu memerangi bangsa Mongol dengan efektif. Ibn tymiyyah

berdalih bahwa "puasa telah melemahkan para pejuang dan meng-

ancarn keberhasilan iihad demi kemenangan 'Ag*" yang Benar'."151

Pada masa Mamluk ini, muncul fanatisme yang lebih dalam,

suatu pengakuan yang mendalam bahwa dunia Islam Sunni harus

bebas total dari "kotoran kafir". Ibn Thymiyyah-lah yang paling

baik dalam menyampaikan perubahan cara pandang ini. Ibn

Taymiyyah yaitu  figur yang sangat terhormat. Kata-katanya sering

didengar dan tidak pernah diabaikan. Tidak ada seorang Pun

ulama di abad kedua belas yang sebanding dengannya, yang

pandangan-pandangannya sejalan dengan propaganda jihad. Pada

masa Ibn Thymiyyah, kaum muslim sangat terpaku pada usaha

untuk merebut kembali Kota suci Yerusalem. Jihad kini bergerak

semakin dalam dan memiliki implikasi-implikasi yang jauh lebih

luas. Baginya jihad yaitu  pertahanan-untuk membersihkan dunia

Sunni dari kehadiran orang kafir maupun kaum muslim yang

menganut bidah. Kedua aspek ini penting bagi pandangannya

rentang jihad. Keimanan anti-rasional dan pendekatan tradisionalnya

sangat cocok bagi cita-citanya. Ibn Taymiyyah bukan seorang

penganjur agresi militer ke "'W'ilayah Perang' (Dtr al-Harb),

namun beliau berpendapat bahwa kaum muslim harus berjuang

keras untuk mendudukkan wilayah mereka sendiri di tempat

pertama. Dengan demikian, Ibn Taymiyyah mendukung Pemer-

senjataan kembali moral kaum muslim di dalam wilayah-wilayah

mereka sendiri dan perlawanan keras terhadap semua intervensi

dari luar. Kecaman kerasnya terhadap semua jenis inovasi dalam

Islam-terhadap praktik-praktik mistik, filsafat, teologi, dan pe-

mujaan makam-makam-semuanya didorong oleh keinginannya

bahwa Agama yang Benar sedikit pun tidak boleh menyerupai

praktik-praktik yang dilakukan oleh kaum nonmuslim.

Baginya, jihad, baik spiritual maupun fisik, yaitu  suatu

kekuatan dalam Islam yang bisa menciptakan suatu warga 

yang taat beribadah kepada Allah. Bersama Ibn Thymiyyah, jihad

terhadap Yerusalem digantikan dengan pergerakan internal di

dalam Dlr al-Isllm ("\Wilayah Islam") itu sendiri, baik spiritual

maupun fisik. Dengan demikian, Ibn Thymiyyah sangat menitik-

beratkan pada jihad yang lebih besar, yaitu dimensi-dimensi

spiritual yang digambarkan lewat farwa-fatwanya tentang jihad.

Pada saat yang sama, dengan menegaskan arti penrin g agama

ideal dari karier Rasulullah bagi mereka yang ingin melakukan

jihad, Ibn Taymiyyah benar-benar orang di zamannya yang me-

nyejajarkan antara masa Muhammad dan peristiwa-peristiwa masa

itu. Ibn Taymiyyah melihat dunia Islam diserang oleh musuh-

musuh eksternal dari semua jenis,r62 dan satu-satunya pemecah-

annya yaitu  berjihad sehingga "seluruh agama menjadi milik

Allah".r63

Thk mengherankan bila gagasan-gagasan Ibn tymiyyah disam-

but hangat oleh gerakan-gerakan reformasi Islam modern. Namun,

yang jarang diketahui yaitu  pengaruh-pengaruh formatif yang

membentuk sikap yang tak mengenal kompromi. Momok kaum

Frank di wilayah kaum muslim menambah kebenciannya yang

mendalam terhadap orang-orang kafir dan kaum bidah dan ke-

inginannya yang kuat untuk memurnikan Islam dan wilayah Islam

dari semua gangguan dan perubahan dari luar. Dan saat  pasukan

kaum Frank telah benar-benar kepayahan pada akhir abad ketiga

belas, bangsa Mongol muncul sebagai musuh yang nyata-musuh

paling mengerikan yang pernah ditemui dunia Islam, pasukan

asing yang telah merebut sebagian besar dunia Islam timur dan

tampaknya akan memperluas penaklukannya ke kawasan Mediterania

timur. Tidak mengherankan bila Ibn Taymiyyah menganggap

dirinya bertanggung jawab untuk menggembleng pasukan Islam

menghadapi ancaman-ancaman seperti itu.

MAMLUK DAN JIHAD : SEBUAH TINJAUAN

yaitu  jelas bahwa jihad sebagai senjata propaganda dan seruan

penggerak yang mempersatukan kaum muslim dibangkitkan kem-

294 \ _______________

bali oleh sultan-sultan Mamluk. lGatria-ksatria tangguh ini, yang

relatif merupakan pendatang baru di Timur Dekat dan Islam,

sangat ideal untuk mempromosikan kepercayaan Sunni yang tak

kenal kompromi dan tegas dan untuk menghantam orang-orang

yang menentang merekx-ms1ska bisa orang-orang kafir dari luar

(bangsa Mongol, Armenia, atau kaum Frank), atau kaum "bidah"

seperti penganut Ismailiyah. Sebagaimana diungkapkan oleh Sivan,

Mamluk membangkitkan kembali tradisi jihad dengan gaya dramatis

yang berkembang di babak akhir abad kedua belas.'64 Memang

sultan-sultan Mamluk melihat diri mereka sendiri sebagai pewaris

kegemilangan Saladin. Manfaat propaganda dengan cara mem-

perbandingkan diri mereka sendiri dengan sikap dinasti Ayyubiyah

yang membiarkan tak mengintervensi warga  juga bukan hal

yang sepele untuk dipertimbangkan.

Peristiwa-peristiwa sejarah menambah kebencian dinasti Mamluk

terhadap orang asing dan rasa permusuhan terhadap orang-orang

yang menganut kepercayaan lain. Secara khusus, ancaman bangsa

Mongol yang menakutkan tampak pada awal periode Mamluk

dan memperbesar desakan atas kebutuhan untuk mempertahankan

negara melawan musuh yang menakutkan ini. Kemenangan atas

pasukan Mongol di Ayn Jiltrt pada 658 H.ll260 M. menaikkan

prestise Mamluk dan mereka benar-benar siap untuk mengenakan

jubah pelindung "'Wilayah Islam'. Yang jelas, upaya-uPaya jihad

Mamluk terutama ditujukan terhadap bangsa Mongol (bandingkan

gambar 4.24 dan 4.31). Namun, pada saat berhenti di front

Mongol, mereka mengalihkan perhatian pada kaum Frank. Sultan-

sultan Mamluk semuanya sangat menyadari kemungkinan Perang

Salib berikunya yang datang dari Eropa ke pantai Suriah' Maka,


mereka bertekad untuk menghancurkan pelabuhan-pelabuhan dan

benteng-benteng hingga rata dengan tanah.165

Meskipun sultan-sultan Mamluk, terutama Baybars dan

QaliwCrn, sangat berhati-hati mendukung pembangunan mo-

numen-monumen agama di Yerusalem, Kota Suci yang kini berada

di tangan kaum muslim itu tentu saja tidak lagi menjadi fokus

kampanye jihad anti-kaum Frank seperti yang telah dilakukan

dengan hasil yang sangat luar biasa oleh NCrruddin dan Saladin.

Sasaran-sasaran baru harus dicari. Dengan demikian, jihad me-

lawan kaum Frank telah menjadi bagian dari pertahanan 'S7'ilayah

Islam melawan berbagai macam orang kafir dari luar-kaum

Frank, Armenia, bangsa Mongol-dan semua jenis bidah dan

pembaharuan dari dalam. Interprestasi jihad yang dikemukakan

oleh Ibn tymiyyah-beliau sendiri berhasil selamat dari serangan

bangsa Mongol-menegaskan pentingnya membersihkan'S7'ilayah

Islam dari semua elemen asing dan kembali ke agama yang

dianggap murni seperti yang dipraktikkan kaum muslim terdahulu.

Sebagaimanayang akan kita lihat pada bab lima dan enam, tulisan

polemis anti-lGisten dan tindakan-tindakan politik anti-Kristen

menjadi karakter periode awal dinasti Mamluk. Nfrruddin dan

Saladin, dan para penerus dinasti Ayyubiyah, hidup di lingkungan

yang memiliki beragam kepercayaan di Timur Dekat' Secara

umum, keduanya tidak menghukum kaum Kristen Timur yang

berada di dalam wilayah mereka. Situasi pada masa Mamluk

sama sekali berbeda. Dengan masuknya Mamluk ke dalam agama

Islam, keterpencilan mereka dari penduduk asli dan fokus pen-

didikan militer mereka yang sempit membuat mereka cenderung

memakai  pendekaun yang lebih keras terhadap kalangan

nonmuslim. IGisis besar-besaran yang menimpa dunia Islam akibat

kedatangan bangsa Mongol, dan penghancuran Baghdad dan

kekhalifahan pada 1258, hanya semakin memperkuat sikap keras

Mamluk ini.

Namun, interpretasi jihad yang benar mestinya berhubungan

erat dengan penghormatan terhadap perjanjian (dzimmah) dengan

kaum Ahlulkitab di dalam wilayah mereka. Prinsip yang telah

lama dipegang ini tampaknya mulai terancam pada periode Mamluk

ini, sekalipun prinsip itu ditetapkan dalam hukum Islam. Apakah

kaum Frank telah memberikan sumbangan atas kebangkitan rasa

permusuhan terhadap kaum lGisten Timur (dan kaum Yahudi)

di dalam kekaisaran Mamluk akan dibahas di bab enam.

REFLEKSI UMUM

Kita telah melihat betapa suksesnya kampanye propaganda jihad

yang dilekatkan pada kepemimpinan karismatik yang mencapai

dua klimaks dalam periode Perang Salib: yang pertama pada ll}7,

saat  Saladin merebur kembali Yerusalem, dan kedua pada gerak-

an yang mencapai puncaknya saat  Mamluk mengusir kaum

Frank dari kawasan Mediterania timur pada 1291.

Dari bukti-bukti yang dihadirkan di sini tampak jelas bahwa

eksploitasi habis-habisan aras mesin propaganda jihad yang beragam

dan sangat efektif merupakan faktor utama untuk membangkitkan

dan menyatukan kembali wilayah-wilayah kaum muslim yang

letaknya berdekatan dengan negara-negara Salib dan untuk merebut

kembali wilayah-wilayah kaum muslim yang telah direbut oleh

Tentara Salib. Propaganda rersebur mendapat tambahan dimensi

emosional, yang tidak ada  di dalam manifestasi gerakan-

gerakan jihad sebelumnya, seperti perjuangan Hamdaniyah di

perbatasan Bizantium, dengan memperbesar fokus pada Yerusalem

sebagai tujuan utama yang dihubungkan dengan tujuan umum

jihad. Propaganda jihad selanjutnya dilakukan ranpa simbol

Yerusalem. Di masa Ibn Thymiyyah, jihad tidak lagi sangat terpaku

pada penaklukan kembali Kota Suci Yerusalem. Jihad menjadi

bersifat defensif-untuk membersihkan dunia Sunni dari orang-

orang kafir dan kaum muslim pengikut bidah.

Juga akan terlihat bahwa tidak satu pun contoh jihad yang

dilakukan oleh Nirruddin dan Saladin ataupun propaganda jihad

Mamluk dan Ibn Thymiyyah dipertanyakan apakah jihad yang

tengah dilakukan itu dimaksudkan untuk "memerangi" dan juga

untuk mengiskmhan or^ng kafir. Jihad dilakukan sebagai sebuah

reaksi atas agresi dari luar. Semua ini merupakan seruan yang

berbeda dari gambaran klise Islam sebagai sebuah agama pedang.

Mengingat pembahasan sebelumnya, yaitu  menarik untuk

memberikan perhatian khusus pada motivasi agama dan per-

timbangan ideologi. Pada akhirnya, aksi-aksi pejuang besar Islam

yang memerangi kaum Frank, seperti N0ruddin, Saladin, dan

Baybars, di dalam sumber-sumber ini  digambarkan sebagai


ekspresi jihad. Semangat ideologis secara jelas menjadi meningkat

saat  Saladin merebut Yerusalem dan dalam menggambarkan

aktivitas Baybars sesudah  kedatangan bangsa Mongol yang me-

nakutkan. Seperti telah disebutkan, oleh para penulis biografinya,

Saladin ditampilkan berusaha membenarkan setiap tindakannya

dalam perjalanannya menuju Yerusalem itu dengan menyatakan

bahwa itu dilakukan "di jalan Allah' @ sabil Alkh). Begitu juga

para penulis biografi Baybars. Mereka menggambarkan Baybars

melakukan jihad melawan kaum Frank dan bangsa Mongol.


Mereka memperbesar retorika ideologisnya secara berlebihan dengan

cara yeng sangat mengingatkan kita pada tulisan-tulisan yang

memuji Saladin.

Secara umum, periode kehadiran kaum Frank di Timur Dekat,

yaitu dari 1099 hingga 1291, dicirikan dengan dua kebangkitan

semangat jihad yang utama. Yang pertama muncul dalam per-

tempuran Hattin dan yang kedua terjadi sesudah  Baybars naik

tahta dan dunia Islam mengalami pukulan hebat sebagai akibat

dari invasi bangsa Mongol yang bengis. Peristiwa ini tak pelak

lagi membuat kaum muslim bertekad bulat untuk membersihkan

wilayah-wilayah mereka dari kehadiran orang-orang kafir agresif

yang tak diinginkan dari timur dan barat, dan pada akhirnya

berujung pada pengusiran kaum Frank dari wilayah kaum muslim

secara total.

Namun, unsur jihad tidak boleh dipandang secara berlebihan.

Pada lima tahun pertama pendudukan kaum Frank tampak jelas

bahwa kaum muslim dengan cepat belajar untuk hidup ber-

dampingan dengan tetangga mereka yang tak terduga dari Eropa.

Mereka berdagang dengan bangsa pendatang ini , menanda-

tangani perjanjian perdamaian dan membentuk aliansi-aliansi

militer dengan mereka. Suasana pergaulan dengan mengurangi

rasa permusuhan dan tindakan politik picik yang sama juga

tampak jelas pada periode antara sesudah  Saladin wafat dan

pembentukan kesultanan Mamluk pada 1260. Para penerus Saladin,

dinasti Ayyubiyah, terlalu jauh tenggelam dalam permusuhan

internal dan persaingan antara mereka sendiri daripada berjihad

secara bersama-sama untuk melanjutkan prestasi pencapaian Saladin

dan mengusir kaum Frank. Mereka terlalu lemah untuk melakukan

perang seperti itu. Timur Dekat pada periode Aynrbiyah sungguh

merupakan potongan-potongan dari kesatuan wilayah-wilayah kecil'

Kadang mereka saling berperang dan pada saat yang lain mereka

berdamai. Mereka sangat sering mengganti aliansi. Kaum Frank

hidup di antara mereka dengan begitu maPan dan mengenal

keadaan ini sehingga mereka terlibat sepenuhnya dalam pertikaian

internal setempat dan hampir menjadi kelompok "pribumi" lainnya

di kawasan itu, bersama dengan tokoh-tokoh Ayyubiyah, Ismailiyah,

dan lain-lain.

Selain itu, bahkan pada saat semangat jihad yang tinggi masih

bertahan, ada  jurang pemisah antara sikap-sikap tertulis dari

para penulis yang mencari pembenaran dan memuji penguasa-

penguasa mereka, dan realitas polirik dan militer. NCrruddin,

Saladin, dan Baybars harus bergerak secara perlahan untuk men-

capai cita-cita mereka, dan hal ini sering kali membuat tokoh-

tokoh besar ini, yang digambarkan oleh sumber-sumber itu sebagai

para mujahid, terlibat dalam gencatan senjata semenrara dan sikap-

sikap pragmatis serupa, seperti berdagang dengan kaum Frank

dan saling bertukar misi diplomatik dengan mereka. Saladin

dengan jelas kehilangan motivasi utamanya sesudah  Yerusalem

berhasil direbut. Sultan-sultan Mamluk, yang sering digambarkan

sebagai para pejuang besar jihad yang mengusir kaum Frank keluar

dari kawasan Mediterania timur, jrg" sebenarnya bisa dilihat

bertindak dengan hati-hati dan secara bertahap untuk mencapai

cita-cita mereka.

TEORI STVAN DAN KdHLER

Apakah pertempuran dalam Perang Salib merupakan perjuangan

ideologis? Sivan membenarkannya, dan dia memberikan bukti-

bukti kuat untuk mendukung argumennya. Dia juga bahkan

menegaskan dalam kesimpulannya untuk berhati-hati agar jangan

terlalu tegas atau eksklusif dalam menyampaikan elemen jihad,

sebagai sesuatu yang menjadi pertimbangan dalam perang-perang

kaum muslim melawan Tentara Salib. Elemen jihad selalu berjalan

paralel dengan banyak faktor lainnya-ekspansionisme, kepen-

tingan-kepentingan politik-militer, xenofobia, faktor-faktor eko nomi,

dan rasa takut terhadap serangan dari Eropa.r66

Kcihler pun melanjutkan lebih jauh.t67 Dia memang me-

nentang seluruh alur buku Sivan-pengerasan sikap yang nyata

terhadap jihad, perubahan-perubahan psikologis dalam motivasi

pasukan kaum muslim, dan klimaks akhir kampanye jihad, yaitu

penaklukkan kembali Yerusalem. Banyak bukti dari sumber-sumber

ini  untuk mendukung gagasan-gagasan Kohler-terutama

sekali, gambaran jelas tentang jaringan yang jauh lebih rumit

mengenai hubungan, perjanjian-perjanjian damai antara kaum

muslim dan kaum Frank, "jihad" melawan sesama kaum muslim,

dan penggunaan propaganda jihad secara sinis untuk melegitimasi


kekuatan keluarga dan pribadi yang terampas di pihak Zengi,

Nfiruddin, dan Saladin.

Banyak cara untuk melihat kronologi peristiwa Perang Salib.

Untuk mudahnya, kronologi itu bisa dibagi menjadi bagian-bagian

kelemahan, kekuatan, demoralisasi, kebangkitan, tahap-tahap pertama,

dan klimaks. Pada tahap tertentu, proses demarkasi seperti itu

berubah-berubah dan diterapkan masing-masing oleh para ahli

yang ingin menetapkan urutan dan melihat pola historis. Tidak

mengejutkan bila Sivan, yang sangat gigih dan persuasif men-

dukung gagasan tentang kebangkitan jihad di antara kaum muslim

di kawasan Mediterania timur pada abad kedua belas, menetapkan

penaklukan kembali Yerusalem oleh Saladin pada 1187 sebagai

puncak kegemilangan, titik puncak program jihad yang dirancang

dengan hati-hati yang difokuskan pada Kota Suci ini . Jika

dilihat sepintas pandangan ini wajar, dan argumen ini  me-

miliki pola yang memuaskan bagi pandangan ini .

Namun, titik pencapaian terbaik yang diraih itu jelas tidak

mengubah realitas sosial dan politik dalam 5srnxlxrn-5eandainya

memang demikian. Yang disayangkan dari kaum muslim, ke-

menangan di Hattin dan Yerusalem tidak berujung pada peng-

usiran kaum Frank. Sayangnya, demi kebersihan teori Sivan,

ada  apa yang dinamakan "relaksasi" dalam suasana jihad yang

bersemangat pada periode sesudah  Saladin wafat. Para penerus

Saladin membicarakan tentang .iihad, namun sebenarnya mereka

menghentikan permusuhan. Dua dinasti Ayyubiyah sebenarnya

telah siap untuk menyerahkan kembali Yerusalem kepada kaum

Frank sesudah  bernegosiasi dengan mereka. Bisa dikatakan bahwa

manfaat politik dari penggunaan jihad telah terkubur untuk

sementara demi kolaborasi, hidup berdampingan, dan kerjasama

dengan kaum Frank, dan bisa dikatakan bahwa renreran keadaan

di sekitar menjelang penaklukan Yerusalem oleh Saladin yaitu 

aneh, bahkan unik. Namun, situasi ini  jauh lebih sulit:

memang, dua sikap tersebur, yang satu kerjasama pragmatis atau

setidaknya gencatan senjata dengan kaum Frank dan sikap lainnya

berupa konfrontasi militer dengan mereka, hampir sepanjang waktu

terjadi berbarengan. Yang pasti, tahun 1187 bisa dilihat sebagai

titik puncak bagi eksploitasi retorika politik-keagamaan. Apalagi,

kampanye-kampanye terakhir sultan-sultan Mamluk dimulai dari

keadaan ketakutan amat sangat pada orang asing dengan tambahan

ancarnan yang jauh lebih besar dari bangsa Mongol, dan kampanye-

kampanye itu mencapai puncaknya dengan pengusiran Frank dari

Timur Dekat. Namun, dengan ditambah "momen-momen" khusus

ini, saat  semangat jihad khususnya menguar, ada  masa yang

panjang yang memuat perjanjian, gencatan senjata, hubungan

dagang, dan aliansi-aliansi militer. sebab  itu, peranan agama

tidak boleh dilebihJebihkan.

Meski banyak yang harus dikomentari berkaitan dengan

argumen-argumen K<thler-dan bab enam buku ini membahas

dengan cukup panjang hubungan sosial antara kaum muslim dan

Tentara Salib-pada akhirnya hal yang patut dicermati yaitu 

saling pengaruh antara jihad dan sikap yang lebih lunak. Segi ini

akan tetap menjadi perdebatan ilmiah berkaitan dengan beragam

interpretasi sumber-sumber utama, baik yang berasal dari kalangan

kaum muslim maupun Tentara Salib. Pada titik inilah terlihat

bahwa kajian tentang sejarah Perang Salib menjadi menarik dan

senantiasa bermakna penting.

JIHAD DI MASA-MASA SEI.ANJUTNYA

Sepanjang sejarah Islam, sering kali terjadi gerakan reformasi,

aktivitis misionaris, dan perebutan perbatasan yang dilakukan di

bawah bendera jihad-Dinasti Muwahhidun di Spanyol, serta

Dinasti Ghaznawi dan Dinasti Guri di India, sekadar menyebutkan

dua contoh. Namun, kita mungkin baru melihat ekspresi jihad

yang paling penting dalam reaksi kaum muslim terhadap Perang

Salib pada abad kedua belas dan ketiga belas. Reaksi kaum muslim

ini merupakan reaksi atas serangan Tentara Salib dari Eropa barat

ke jantung Islam Timur Dekat dan penaklukan wilayah-wilayah


muslim dan, khususnya Yerusalem, oleh mereka. Program jihad

yang berkembang di Suriah dan Thnah Suci sebagai reaksi atas

agresi tak terduga dari Eropa barat ini telah menjadi model bagi

manisfestasi semangat jihad di masa-masa berikutnya.r6s

Teori hukum jihad, sebagaimana ditetapkan di dalam hukum

Islam, telah menjadi pendorong utama bagi gerakan penaklukan,

penyebaran agama, dan pertahanan yang penting di sepanjang

sejarah Islam. Penegasan khusus yang diberikan di dalam bab ini

tentang _______________perang Salib bukan tidak memiliki

relevansi dengan kesadaran fuab modern dan muslim modern.

Perang Salib dipandang oleh banyak kaum musl:m sebagai upaya

pertama Barat untuk menjajah "'ST.ilayah Islam". Lebih jauh lagi,

Perang Salib merupakan model penggunaan elemen jihad yang

berhasil untuk mengusir bangsa asing, yakni para Tentara Salib,

dari wilayah muslim. Ada beberapa pelajaran di sini untuk masa

kita sekarang. Banyak kaum muslim pada era 1990-an yang

memandang Israel sebagai negara Tentara Salib yang baru dan

harus dilawan dengan jihad. Kelangsungan nilai konsep jihad

dengan demikian digambarkan dengan hidup. Banyak kaum muslim

yang kini tidak memahami seluk beluk jihad. Mereka memandang

jihad hanya sebagai sebuah istilah retoris, seruan penggerak dan

pemersatu yang menarik emosi, namun mereka tidak jelas dalam

hal bagaimana jihad itu diwujudkan. Pertanyaan-pertanyaan hukum

yang sulit tidak diajukan dalam kondisi seperti itu. Istilah jihad

sering dijadikan buah mulut oleh kepala-kepala negara modern

yang tidak memiliki sistem pendukung dari ahli-ahli hukum,

penulis-penulis risalah, dan pendakwah-pendakrvah, seperti yang

telah dapat menegaskan klaim-klaim Nfiruddin dan Saladin untuk

menggelar Perang Suci, dan yang dengan hati-hati menetapkan

implikasi-implikasi dan target-target jihad. Namun, pada akhir

abad kedua puluh, keadaan di Yerusalem sangat mirip dengan

keadaan Yerusalem pada masa Perang Salib.U


Pandangan Kaum Muslim

tentang Kaum Frank:

Stereotip Etnik dan Agama

Kebersihan adakh sebagian dari iman.t (Hadis Nabi Muhammad saw.)

PENDAHULUAN

Bab ini akan meninjau dimensi budaya dan agama yang luas

dari konflik antara kaum muslim dan kaum Frank. Secara khusus,

pembahasan akan dititikberatkan pada persepsi negatif yang telah

lama tertanam dan tak berubah terhadap orang-orang Eropa barat

yang bisa ditemukan setidaknya mulai abad kesepuluh di dalam

literatur Islam. Bab ini juga akan membahas secara luas gagasan

dasar yang berhubungan dengan pencemaran ritual sebagai akibat

dari pendudukan tempar-rempat religius Islam oleh kaum Frank.

Pandangan-pandangan kaum muslim pada masalah-masalah seperti

Salib, gambar-gambar dan bangunan-bangunan religius Kristen,

doktrin Kristen dan Keuskupan juga akan dibahas dalam bab ini.

Kita telah melihat bahwa respons psikologis kaum muslim

terhadap kedatangan para Tentara Salib ini  pada mulanya

berupa kemarahan bercampur dengan ketakutan, setidaknya pada

orang-orang yang mengalarni langsung aksi pembantaian dan

penghancuran bangsa penyerbu ini , atau orang-orang yang

tempat tinggalnya cukup dekat untuk merasakan penderitaan

akibat kehadiran mereka. Dunia muslim yang lainnya menunggu

dan terlalu asyik dengan aktivitas mereka sendiri untuk dapat

bereaksi dengan suatu cara tertentu.


Selama lebih dari dua ratus tahun pendudukan para Tentara

Salib di Suriah dan Palestina, pasti telah ada reaksi yang lebih

berdasar atas pandangan yang cermat dan berlangsung cukup lama

dari kaum muslim terhadap kaum Frank. Demikian pula, pan-

dangan yang lebih jelas tentang kaum Frank sebagai suatu fenomena

terpisah pasti telah muncul di dalam warga  muslim. Dengan

demikian, tidak diragukan lagi bahwa kaum muslim tertarik

dengan para pendatang baru ini  dan bahwa mereka menyusun

berbagai cara pandang tentang bangsa pendatang ini  yang

mereka catat untuk keturunan mereka. Bernard Lewis benar-benar

sangat negatif dalam pernyataannya bahwa "selama dua abad umat

Islam Timur Tengah tahu bahwa kontak permusuhan dengan

kelompok-kelompok kaum Frank telah terbentuk di antara mereka-

namun mereka tampaknya sedikit pun tidak pernah mengem-

bangkan rasa ketertarikan terhadap mereka'.2 Tentu saja, seperti

kemudian dikatakan oleh Lewis, memang benar bahwa sejarawan-

sejarawan muslim Abad Pertengahan tidak memandang Perang

Salib sebagai fenomena terpisah dan mereka tidak menunjukkan

ketertarikan pada negara-negara kaum Frank di Timur Dekat

ataupun Eropa.3 Sekalipun demikian, seperti akan dicoba dijelaskan

di dalam bab ini dan bab berikutnya, kehadiran pasukan kaum

Frank memiliki dampak mendalam, bukan hanya pada kaum

muslim yanB menemukan diri mereka diatur oleh kaum Frank,

namun juga para pemimpin kaum muslim, kelompok militea

dan kalangan agamawan-serta para prajurit dari wilayah-wilayah

yang berdekatan dengan negara-negara Tentara Salib yang ddak

bisa menghindar untuk sering melakukan kontak dengan mereka.

SUMBER-SUMBER

Tirlisan-tulisan sejarah kaum muslim Abad Pertengahan dan "Sejarah

Dunia", tentu saja, biasanya merupakan sumber keterangan-ke-

terangan yang jelas tentang pandangan kaum muslim terhadap

kaum Frank. Namun keterangan-keterangan ini  sering kali,

meski tidak selalu, mengecewakan atau ringkas dalam memberikan

komentar. Mereka membuat daftar pertempuran-pertempuran dan

perebutan benteng-benteng dan kota-kota. Mereka mencatat ke-

matian-kematian para pemimpin Tentara Salib terkemuka dan

membicarakan tentang Perang Salib secara umum dalam istilah-

istilah makian yang klise. Meski demikian, sumber-sumber tradisi-

onal ini bisa dilengkapi dengan tulisan-tulisan dalam genre lain

yang, bila digunakan secara bijaksana, benar-benar bisa meningkat-

kan pengetahuan kita tentang pandangan kaum muslim terhadap

kaum Frank.

Sangat sedikit tulisan-tulisan dari kaum muslim yang secara

khusus membahas tentang interaksi sosial antara umat Islam dan

Tentara Salib yang masih bertahan. Sangat disayangkan karya

Hamdin ibn Abd al-Rahim (w. sesudah  554 H.ll159 M.) yang

berjudul Strat al-Afanj al-Khnrijin ilt Bihd al-Syhm fi Hildzihi

Sini (Sejarah Kaum Frank yang Keluar ke Negeri Suriah pada

Tahuin-Tahun ini ) tidak ditemukan lagi, bahkan tidak juga

dalam bentuk ringkasan yang dikudp dalam tulisan-tulisan sejarah

sejarawan muslim berikutnya.a Tampaknya, karya itu yaitu  karya

yang sangat langka jenisnya-sejarah tentang kaum Frank yang

ditulis dalam bahasa Arab yang berasal dari sebuah negara yang

diperintah oleh kaum Frank.

Judul buku itu juga bisa menjadi petunjuk kepada kita bahwa

pengarangnya memiliki pandangan yang luas secara intelektual

dan menaruh ketergarikan terhadap para pendatang baru dari

Eropa ini . HamdAn ibn 'Abd al-Rahim berhasil dalam karier-

nya melayani para Tentara Salib. Beliau berhasil menyembuhkan

AIan, panglima Tentara Salib pertama dari AtsArib di Kerajaan

Antiokhia, dan diberi hadiah Desa Mar Buniya oleh Alan. Dengan

demikian, Hamdin menjadi salah satu dari sedikit tuan tanah

kaum muslim di negara Tentara Salib di kawasan Mediterania

timur. HamdXn kemudian diberi tanggung jawab memerintah

Ma'arrat al-Nu'min atas nama kaum Frank sebelum kemudian ia

mengabdi pada Zengi di Aleppo pada 1128.5 yaitu  sangat

menarik untuk mereka-reka motivasi Hamdin sehingga di periode

paling awal pendudukan kaum Frank ia telah menyusun karya

sejarah bagi orang-orang asing ini . Juga menarik untuk

mempertanyakan sikap pengarang terhadap kaum Frank itu. Fakta

bahwa HamdAn bekerja untuk kedua pihak menunjukkan bahwa

sikap berlawanan yang oleh sumber-sumber ini  sering kali

digambarkan sebagai karakter interaksi kaum muslim dan kaum

Frank sama sekali bukan gambaran keseluruhan. Kemungkinannya

yaitu  bahwa penyesuaian-penyesuaian diri sePerti yang telah

ditunjukkan dalam kehidupan Hamdin merupakan ciri umum

dalam kehidupan di kawasan Mediterania timur pada abad kedua

belas.

USAMAH DAN IBN JUBAYP,-DUA SUMBER DARI MASA ITU

Sekalipun begitu, masih ada dua karya kaum muslim dari masa

itu yang memberikan penjelasan penting tentang pokok bahasan

bab ini. Yang pertama yaitu  sebuah karya berjudul Memoirs

yang disusun oleh Usimah. Karya ini merupakan sumber yang

banyak dikutip dan berharga bagi pengetahuan kita tenrang

pandangan kaum muslim terhadap Tentara Salib. Usimah ibn

Munqidz, bangsawan fuab dengan hubungan kekerabaran yang

membanggakan, dilahirkan pada 488 H./1095 M., yaitu di tahun

saat  Paus Urbanus II menyeru umat lSisten untuk mengangkat

Salib dan menuju Thnah Suci untuk menyelamarkannya dari orang

kafir. UsAmah wafat pada 584 H.il188 M., tak lama sesudah 

Saladin merebut kembali Yerusalem untuk umat Islam.6 Usimah

mengenal kaum Frank sejak masa kecil di rumahnya di puri

Syayzar yang terletak di Sungai Oronres di utara Suriah. Ia mulai

memerangi kaum Frank saat  remaja dan kemudian mengenal

mereka secara lebih dekat sepanjang sisa masa hidupnya yang

penting, dalam masa damai dan perang. sebab  kedudukan sosial

dan pendidikannya yang tinggi, pada masa-masa gencatan senjata

Usimah termasuk golongan terpandang di dalam warga  kaum

Frank. UsAmah berkawan dengan kalangan ksatria kaum Frank

dan dikirimkan dalam misi diplomatik ke kerajaan Tentara Salib

Yerusalem. Di sana, ia berteman dengan raja dan pembantu-

pembantunya. Penjelasan-penjelasan yang lebih lengkap tentang

kehidupan Usimah bisa dilihat dalam obituarinya yang ditulis

oleh Ibn KhallikAn (w. 681 H.ll282 M.) yang dimuat dalam

kamus biografinya yang terkenal. Ibn KhallikXn menggambarkan

Usimah sebagai "salah seorang anggota keluarga Munqidz, pe-

nguasa puri Syayzar, yang paling berkuasa, terpelajar, dan berani".7

Usimah menyaksikan sendiri banyak pertempuran dan peris-

tiwa-peristiwa penting. Memang, dia sendiri pada satu kesempatan

terlibat dalam beberapa  intrik politik yang agak buram di istana

Fatimiyah di Kairo. Usimah kemudian bergabung dengan istana

Saladin pada 570 H.ll174 M. Namun, di tempat baru itu dia

juga terpaksa pergi sesudah  hubungan dirinya dengan Saladin

memburuk, dan ia melewatkan sisa hidupnya dengan meng-

asingkan diri.8 Yang terpenting, Usimah mendapat anugerah untuk

bertahan hidup dan di akhir hayatnya mampu melihat dengan

cermat pada saat-saat yang buruk dan saat antusiasme sedang

memuncak sehingga ia dapat memberikan pandangan-pandangan

tentang periode yang menarik yang pernah dilalui dalam hidupnya.

Dalam tulisannya saat ia berusia 90 tahun, UsAmah me-

renung: "Kelemahan telah membungkukkan saya ke tanah, dan

usia lanjut telah membuat satu bagian tubuh saya saling melipat,

begitu banyak sehingga saya hampir tidak bisa mengenali diri saya

sendiri."e Namun, sekalipun ada Pernyataan semacarn ini, usia lanjut

membuat UsAmah dapat memberikan renungan-renungan pelajaran

yang berharga dari kehidupannya, seperti yang ditulisnya:

Saya selalu menjadi penghasut pertempuran: setiap kali pertempuran

mereda.

Saya menyalakannya kembali dengan percikan api yang menyala

dengan mengayunkan pedang ke kepala-kepala musuh .'.

Namun, kini saya bagaikan pelayan tak berguna yang berbaring

di atas bantal-berisi di balik rabir-tabir dan tirai-tirai.

Saya juga telah membusuk akibat berbaring begitu lama.r0

'hutobiografi" Usimah ibn Munqi dz ini, Kithb al-I'tibir

(Buku tentang Makna Perumpamaan), selama bertahun-tahun telah

menarik perhatian para ahli.rr Karya rersebut, seperti ditunjukkan

oleh judulnya, mencoba memberi pelajaran lewar contoh-pesan

utamanya yaitu  bahwa Allah mengatur nasib manusia lewat

kehendak-Nya yang absolut dan tak seorang pun bisa menen-

tangnya. Allah telah menetapkan waktu bagi kehidupan setiap

manusia dan tidak ada satu pun yang bisa mengubah keputusan-

Nya. Usimah menggambarkan kebenaran abadi ini dengan meng-

gunakan beragam contoh, yang banyak di antaranya diambil dari

kehidupannya sendiri yang panjang dan bergolak. Pandangannya

bukan menurut selera tertentu, namun dimaksudkan untuk men-

jadi teladan yang bisa dipelajari oleh seluruh warga .

Dari buku Usimah yang luar biasa, serta ungkapan-ungkapan

makiannya yang klise terhadap kaum Frank, yang dianggapnya

sebagai makhluk asing dan orang-orang kafir yang hadir di dunia

muslim, tampak jelas bahwa ia juga tertarik pada keistimewaan-

keistimewaan, adat-istiadat, dan sikap-sikap mereka. Namun, akan

sangat menyesatkan bila mengambil bukti-bukti di dalam bukunya

begitu saja. Karya itu sama sekali bukan autobiografi dengan

selera Barat, atau tidak juga selalu menjadi sebuah laporan bagi

peristiwa-peristiwa autentik yang terjadi baik pada Usimah mau-

pun pada rekan-rekannya. Karya itu merupakan sebuah genre

sastra berbahasa Arab yang dikenal dengan istilah adab yang

tujuannya yaitu  untuk menyenangkan, menghibur, dan me-

rangsang pembacanya serta untuk mengarahkan mereka. Karya-

karya sastra seperti itu tidak terikat dengan ketentuan-ketentuan

untuk menceritakan "kebenaran", namun lebih berusaha untuk

menceritakan sebuah kisah yang bagus, bahkan meskipun akhirnya

segi kebenaran yang dituturkan di dalamnya hanya sedikit, atau

lebih. sebab  iil, barangkali akan lebih tepat jika kita memandang

kisah-kisah UsAmah tentang kaum Frank ini  sebagai refleksi

klise, yang mengungkapkan perilaku yang berlebihan atau sering

kali menyenangkan dari para pendatang baru yang dengan terpaksa

kaum muslim harus hidup berdekatan dengan mereka meski tidak


diinginkan dan diduga, dan rentang mereka kaum muslim mem-

buat kisah-kisah panjang dan cerira-cerira lelucon. pada akhirnya,

mengungkap kepalsuan-kepalsuan para penyerang lewat ungkapan-

ungkapan bernada menghina rentang perilaku mereka yang buruk

dan tidak berbudaya dan beradab menjadi respons yang cukup

umum terhadap pendudukan militer yang rak diinginkan di setiap

masa. Inilah keadaan yang teriadi pada bangsa Persia sesudah  bangsa

Arab menaklukkan wilayah leluhur mereka pada abad ketujuh.

Namun demikian, meskipun ada  beberapa cataran se-

macam ini, karya Usimah, bila diinterpretasikan dengan hati-

hati, kaya dengan sumber-sumber yang menuturkan kehidupan

sosial-budaya abad kedua belas di Suriah dan Thnah Suci. Thpi

para ilmuwan terlalu mengeksploitasi karya itu, sering kali agak

terlalu menyederhanakannya, seakan-akan boleh menerimanya begitu

saja dan seakan-akan tidak ada bukti lain yang tersedia di dalam

sumber-sumber kaum muslim.

Sumber kaum muslim lainnya yang berasal dari masa iru,

yaitu laporan perjalanan Ibn Jubayr, berisi pandangan-pandangan

berharga tentang kehidupan di kawasan Mediterania timur pada

masa Perang Salib, sekalipun mesri ditegaskan bahwa pengarangnya

hanya seorang yang rengah membicarakan kesan pribadinya di

wilayah-wilayah tertentu di kawasan Mediterania timur pada saru

masa tertentu. Ibn Jubayr yaitu  orang Spanyol, yang terbiasa

menjalin kontak dengan kaum }Gisten di wilayah muslim Andalusia

dan barangkali mampu melihat pendudukan kaum Frank atas

Suriah dan Palestina dengan jauh lebih objektif dibandingkan

dengan mereka yang mengalaminya secara langsung. Dalam konteks

demikian, Ibn Jubayr membawa serta pandangan seorang muslim

dari wilayah dunia Islam yang berbeda, suaru wilayah yang

bagaimanapun juga tengah mengalami agresi yang sama dari kaum

Kristen Eropa di perbatasannya bagian utara. Seperti halnya

Usimah, Ibn Jubayr bermaksud mengarahkan dan menginformasi-

kan pembacanya, dan bukti-buktinya juga harus dibaca dengan

hati-hati. Barangkali oleh orang-orang sezamannya yang lebih

kosmopolitan pandangan Ibn Jubayr mungkin telah dianggap

sangat picik. Seperti yang umum terjadi, pelaksanaan ziarah (haji)

ke Mekah memberi kesempatan bagi orang-orang yang datang

dari dunia Islam yang sangat jauh untuk melihat wilayah-wilayah

yang berbeda dan mencatat pengalaman-pengalaman mereka. Ibn

Jubayr menyimpan diarinya dan pengalaman langsungnya, yang

berasal dari tahun 1180-an, dan itu menjadi sesuatu yang sangat

menarik. Namun, perlu diingatkan di sini bahwa literatur per-

jalanan semacam itu sangat rentan dengan kesalahan. Literatur

itu mungkin bersumber dari kesaksian tidak akurat dan bias dari

para pemandu lokal, dan berisi catatan-catatan yang dibuat tentang

perjalanan dan sering kali ditulis belakangan, sehingga sangat

mungkin terjadi kesalahan yang bersumber dari keterbatasan

ingatan manusia, saat musafir ini  telah pulang. Tentu saja,

tidak ada bukti-bukti fotografi yang bisa digunakan untuk me-

meriksa ulang kejujuran informasi ini . Laporan Ibn Jubayr

sangat rentan dengan kesalahan-kesalahan seperti ini.

Bukti-bukti yang diajukan Usimah, juga, sepanjang me-

rupakan autobiografi, dapat digolongkan sebagai literatur Islam

Abad Pertengahan yang sangat rentan untuk dikritik sebagai karya

yang tidak dapat diandalkan dan tidak akurat. Autobiografi sebagai

sebuah genre sastra disukai di dunia Islam sebab  tidak terikat

dengan proses verifikasi yang menjadi lambang keunggulan karya-

karya yang ditulis dalam berbagai bidang ilmu keagamaan. Pada

periode Islam klasik, pada masa kejayaan dinasti Abbasiyah (abad

kedelapan sampai kesembilan), buku-buku tentang hukum, hadis,

dan bahkan sejarah, telah lama tunduk pada sistem yang rumit

dalam menentukan keaslian informasi yang dikandungnya. Setiap

bagian diperiksa dengan teliti sebelum dimasukkan ke dalam suatu

gugus pengetahuan tertentu. Memoar seseorang akan dipandang

sebagai jenis literatur yang tak memiliki daya ikat pada sistem

pengetahuan yang ada dan bersifat individualis. sebab  itu, karya

memoar semacam ini akan dipandang dengan sangat ganjil.

Bagaimana kejujuran informasi dalam karya semacam itu bisa

diperiksa? Namun, sekalipun ada  keberatan-keberatan ini,

karya-karya Usimah dan Ibn Jubayr harus digunakan oleh para

ilmuwan yang mendalami Perang Salib, sebab  karya-karya ini

menyediakan dua suara autentik dari pihak kaum muslim dari

periode paling awal pendudukan Tentara Salib. Dengan demikian,

karya-karya mereka tidak bisa diabaikan.

______________. I 313

NILAI LITEMTUR MKYAI POPULER

Di bagian akhir karya pentingnya tentang jihad yang diterbitkan

pada 1968, Sivan secara bijaksana menunjuk pentingnya me-

lakukan penelitian lanjutan terhadap apa yang disebutnya sebagai

literatur epik Islam yang rampaknya populer pada masa Perang

Salib (gambar 5.5)." Seperti bidang-bidang sejarah Abad Per-

tengahan lainnya, kesenjangan utama pengetahuan kita tentang

aspek-aspek sosial Perang Salib yaitu  pada perspektif orang

kebanyakan. Tentu saja, kehidupan mereka jarang mendapat per-

hatian para penulis sejarah, yang hampir seluruhnya menaruh

perhatian pada kelas warga  berkuasa yang diretapkan secara

sempit-istana, militer, dan kalangan agamawan. Memang benar,

dari masa ke masa para penulis buku-buku sejarah menyebutkan

peristiwa-peristiwa ganjil pada akhir setiap tahun-kelaparan,

gempa bumi, kelahiran yang aneh-aneh, Sungai Nil yang meluap-

namun keterangan-keterangan seperri itu jarang dijelaskan, dan

yang menyedihkan latar peristiwa-peristiwa ini  tidak diberi

uraian yang cukup bagi pembaca. sebab  itu, perlu dilakukan

penyelidikan pada lingkungan-lingkungan budaya Islam lainnya

dalam rangka mencari informasi tambahan mengenai pandangan

dan perasaan orang kebanyakan tenrang Perang Salib. Tirgas

"arkeologi literatur" semacam ini memang sulit dan masih bersifat

coba-coba, namun tugas itu telah menunjukkan beberapa hasil

yang menarik.

Hingga tahun 1970-an, karya-karya besar literatur berbahasa

Arab populer-yang secara tradisional sama seperti opera sabun

di masa kini-belum mendapat perhatian ilmiah yang layak dan

dipandang rendah oleh para intelektual fuab. Namun, karya-karya

semacam itu berperan penting dalam kehidupan Arab tradisional,

dan salah satunya, Alf Laylah wa Laylah (Seribu Satu Malam),

mungkin merupakan karya sastra fuab yang paling dikenal di

Barat.r3 Dengan pengolahan kembali yang penuh warna pada tema-

tema dan motif yang telah dikenal, karya-karya ini menunjukkan

selera warga  Arab tradisional. Kadang-kadang mereka juga

bisa menawarkan "pandangan sekilas mengenai keinginan-keinginan

rahasia, tabu, dan ketakutan yang disembunyikan oleh kelompok

warga  semacam itu".la

Karya-karya ini tidak memenuhi standar kesusastraan dan

linguistik elite sastra berbahasa Arab. Bagian dari bahan narasi

ini terdiri dari beberapa seri kepahlawanan panjang yang terfokus

pada seorang pahlawan sentral, yang biasanya seorang tokoh

bersejarah yang telah melegenda dan telah diubah menjadi rokoh

fiksi. Satu seri epik semacarn itu yaitu  mengenai Sultan Baybars.r5

Di tangan ilmuwan-ilmuwan terampil seperti Lyons, Irwin, Kruk,

dan lain-lainnya, wilayah penelitian yang subur ini mulai tumbuh.

Banyak kisah kepahlawanan rakyat populer semacam itu yang

memiliki dasar-dasar dalam sejarah Islam, namun, tentu saja, kisah-

kisah itu tidak begitu saja bersandar pada analisis sejarah. Dengan

tema-tema umum, unsur-unsur standar dan basis tradisi lisan yang

telah lama terbentuk namun mengalir, kisah-kisah iru tersusun

menjadi bahan cerita yang bagus. Namun, kisah-kisah itu tidak

memiliki segi urutan kronologi yang repat dan aspek historis

yang akurat. Meskipun demikian, ada manfaatnya bila kita mem-

fokuskan pada bahan-bahan yang dapat disebut pseudo-historis

itu dan mencoba mengidentifikasi untaian dan rema-tema yang

secara khusus menjelaskan tentang periode Perang Salib, atau,

dengan memakai  gambaran arkeologis Lyon, untuk me-

nemukan bukti-bukti tentang "lapisan sosial warga  yang

terlibat dalam Perang Salib". Kisah-kisah legendaris Saladin dan

Baybars dapat menjadi contoh yang jelas dalam persoalan ini.

Para sejarawan yang ingin memakai  bahan ini guna mem-

perkaya informasi di dalam tulisan-tulisan sejarah xkxn ksss\Mx-

sebab  nama-nama karismatik para sultan ksatria ini hanyalah

cantelan untuk melekatkan kisah petualangan yang berjenis potong-

an-komik semata. Penggunaan nama-nama ini dengan jelas mem-

buktikan, te