Tampilkan postingan dengan label Allah sang tabib 6. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Allah sang tabib 6. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Juli 2026

Allah sang tabib 6

 


. “Bukankah kita bisa minum di sungai?” Tanya

si penulis.

“Tidak bisa, nanti kita bisa mati kehausan kalau tidak ber temu

sungai.” Jawab sufi kita. “Kalau begitu, kita beli saja nanti di pasar.”

Saran si penulis. “Tidak, saya harus kembali! Apa ar tinya perjalanan

tanpa tempat air…. Itu barang berharga satu-satunya yang saya miliki.”

Kata sufi kita.  “Baiklah kalau begitu…. Tuan, saya tinggalkan semua

kemewahan, kekayaan, dan keluarga saya tanpa rasa khawatir sedikitpun,

sebab  saya hanya mengharap ridha dan pertolongan Allah. Saya tidak

pernah memberi tempat sedikitpun di hati saya bagi dunia. Apa yang

saya miliki sesungguhnya hanya titipan Allah yang harus saya jaga dan

saya kembangkan. Dan saya tampakkan rasa syukur saya dengan apa

yang Tuan lihat ada pada diri saya.  Saya tidak pernah merasa

kehilangan, sebab  saya memang tidak pernah merasa memiliki….

Semuanya bukan milik saya. Apakah pantas saya mengaku sebagai

pemilik sedangkan saya hanya dititipkan?  Tapi anda, Tuan…, anda

begitu gelisah hanya gara-gara sebuah tempat air! Padahal Tuan hidup

miskin. Kezuhudan macam apakah yang Tuan praktikan? Kalau begitu,

kita berpisah sampai di sini saja…..”



Si penulis meninggalkan sufi kita yang melongo, tak bisa berpikir

dan tak percaya dengan apa yang baru didengarnya. Dia sungguh-

sungguh menyesal telah berprasangka buruk pada seseorang yang

baru dikenalnya. Dia hanya menilai orang dari penampilan luarnya saja.

Dia sudah merasa paling zuhud di dunia, padahal sesungguhnya dia

orang miskin. Ternyata, orang miskin itu bukanlah pelaku kezuhudan,

sebab  dia memang tidak memiliki  apa-apa! Allah berfirman: Dan

kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (QS.

Al-Hadiid {57}: 20).



Kebiasaan Rasulullah Saw

Dari literatur kita bisa membaca dan mengetahui bahwa Rasulullah Saw

yaitu  seorang yang sangat menjaga kesehatan tubuhnya. Aktivitas

beliau yang luar biasa padat, tidak membuat beliau lalai menjaga

kebugaran dan kesehatan. Bisa dibayangkan kalau beliau tidak peduli

dengan kesehatan tubuhnya, pastilah beliau sering menderita sakit.

Kendati begitu, bukan berarti beliau tidak pernah sakit. Sebagai manusia,

beliau juga pernah mengalami sakit, setidaknya beberapa kali yang

mengharuskan beliau berobat. Dan satu kali yang membuat beliau

istirahat di rumah sampai akhirnya beliau meninggal dunia.

Sakitnya Rasulullah Saw membenarkan pernyataan Al-Qur’an, bahwa

beliau memang hanya manusia biasa, sama seperti kita. Manusia yang

membutuhkan makan-minum, istirahat dan tidur, merasa senang dan

kadang sedih, sehat dan beberapa kali sakit. Dari sakitnya beliau, kita

jadi mengetahui bagaimana seharusnya seorang Muslim saat  sakit

dan bagaimana menyikapi penyakit.

Berikut yaitu  kebiasaan-kebiasaan Rasulullah Saw yang saya

kumpulkan, saya ringkas kemudian saya coba beri komentar semampu

saya. Meskipun komentar saya tidak membuat sosok beliau lebih agung,

sebab  beliau memang manusia agung. Keagungan beliau tidak bisa

dilukiskan bahkan dengan kata-kata pujian. Prilaku beliau bila kita

praktikkan dalam kehidupan sekarang ini, pastilah kita akan sehat secara

menyeluruh, jasmani, jiwa, akal, dan ruhani.

1. Baik sangka kepada Allah

dan kepada manusia

Di atas saya katakan bahwa Islam memandang persoalan kesehatan

ini tidak secara parsial, melainkan menyeluruh (komprehensif).  Dan

aspek pertama yang membuat Rasulullah Saw sehat yaitu  beliau selalu

berprasangka baik kepada Allah, juga kepada manusia. Kalau psikologi

modern mengenal istilah positive thinking, Rasulullah Saw telah



mempraktikkannya jauh sebelum adanya ilmu kejiwaan. Baik sangka

kepada Allah bukan sekedar berpikir positif. Tetapi di dalamnya

terkandung sebuah pengakuan yang mistis dan transenden, bahwa

kehidupan kita sepenuhnya diawasi oleh Allah. sebab  Dia sesungguhnya

Pemilik kehidupan ini. Positive thinking tidak akan menyentuh spiritualitas

seseorang. Tapi husnuzhan atau baik sangka kepada Allah memiliki 

nilai yang lebih sakral, sehingga jiwa merasa tenang.

Orang yang selalu baik  sangka kepada Allah yaitu  orang yang

terbebas dari rasa cemas dan takut, terbebas dari belenggu keinginan

memuaskan hawa nafsu. Di hatinya hanya ada Allah, ini yang membuat

dia merasa kaya. Itu juga yang membuat  dia kuat, tangguh menghadapi

kesulitan hidup, tidak lupa diri dan selalu bersyukur saat  mendapat

kesenangan. Hidupnya menjadi manfaat dan kebanggaan bagi orang

lain, matinya menjadi kesedihan dan buah tutur kebaikan banyak orang.

Keberadaannya menjadi berkah dan rahmat bagi l ingkungan

sekelilingnya, dan ketiadaannya menjadi duka cita.

Dalam sebuah hadits Qudsi, Allah berfirman: “Aku mengikuti

prasangka hamba-Ku.”

Prasangka apakah yang lebih baik kepada Allah selain prasangka

baik? Kalau kita berprasangka baik kepada Allah, maka kita akan

mendapati bahwa Allah memang benar-benar baik, bahkan Dia Maha

Baik. Begitu juga kepada manusia, Rasulullah Saw tidak pernah buruk

sangka (su’uzhan). sebab  saat  kita berburuk sangka pada seseorang,

maka sesungguhnya --secara tak sadar-- kita sedang mengarahkan

orang itu ke dalam kondisi yang sedang kita sangkakan.

2. Selalu mengawali

dan mengakhiri aktivitas dengan doa

Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah Saw, bahwa doa

yaitu  otaknya ibadah, maka menjadi sangat relevan kalau kita, sebagai

makhluk yang berakal dan berpikir, senantiasa menjadikan doa sebagai

pengawal aktivitas. Mari kita buka kembali buku sejarah tentang manusia

agung ini, Muhammad Saw. Ternyata kita mendapati, seluruh aktivitas



beliau dimulai dan diakhiri dengan doa. Coba kita runut aktivitas harian

beliau. Kita mulai dari menjelang subuh, menyambut datangnya pagi,

bangun tidur, membuka pakaian, ke kamar mandi, keluar dari kamar

mandi, berpakaian, bercermin, menyisir rambut, makan-minum, sesudah 

makan-minum, keluar rumah, sebelum naik kendaraan, saat  di atas

kendaraan, saat  kendaraan bergerak, saat  sampai di tujuan dan

seterusnya…. Semua ada doanya!

Bukan itu saja, saat  beliau menghadapi kejadian-kejadian khusus

juga tidak lupa beliau berdoa. Misalnya saat terkejut bangun dari tidur,

saat bermimpi baik atau buruk, saat menjenguk orang sakit, membimbing

orang yang hampir meninggal, saat  turun hujan, di hadapan pengantin

baru, saat  melihat bayi yang baru dilahirkan, dan sebagainya. Bahkan

--maaf-- sampai saat  hendak berhubungan suami-istri juga beliau

berdoa. Memulai aktivitas dengan doa berar ti mohon perlindungan,

kekuatan, kelancaran, kesuksesan, dan ketabahan kepada Allah. Sedang

menutup dengan doa sesudah  semua urusan selesai yaitu  ungkapan

rasa syukur. Adakah life style dan pola hidup yang lebih indah dari yang

dipraktikkan Rasulullah Saw? Gaya hidup seper ti itu memang baik

dijadikan model, sebab  telah terbukti pelakunya sehat jasmani, jiwa,

akal, dan ruhaninya.

Sesungguhnya Rasulullah Saw yaitu  Guru Besar Kepribadian yang

paling agung. Saya tutup uraian singkat ini dengan sabda Rasulullah

Saw: “Mintalah kalian kepada Allah dari anugerah-Nya, sesungguhnya

Allah senang (saat ) diminta.” (HR. Tirmidzi dan Abu Nu’aim).

3. Selalu mengendalikan emosi

Sebagai pemimpin politik dan agama, tentulah banyak hal yang harus

diurus dan diselesaikan oleh Rasulullah Saw. Belum lagi masalah-masalah

sepele yang kadang datang begitu saja. Tapi semua dihadapi oleh

Rasulullah Saw dengan lapang dada. Tidak pernah beliau marah, kecuali

dalam hal yang menyangkut hak Allah atau urusan agama. Ini

menunjukkan betapa emosi beliau sangat stabil, terkendali dan selalu



berada di jalur yang benar. Dan kita kemudian tahu bahwa kecerdasan

intelektual (IQ) ternyata bukan menjadi penentu keberhasilan seseorang.

Justru kecerdasan emosilah (EQ) yang lebih besar peranannya dalam

menentukan sukses dan gagalnya seseorang. Begitu menurut Daniel

Goleman.

Rasulullah Saw tahu benar, di mana dan dalam kondisi bagaimana

harus marah. Kalau tidak ada yang perlu dimarahi, beliau easy going

saja. Ada sebuah kisah menarik yang menunjukkan kematangan dan

kestabilan emosi Rasulullah Saw. Yakni saat  terjadi desas-desus dan

gosip yang menyinggung kesucian  Ummul Mukminin, Aisyah ra, istri

beliau. Beredar kabar kalau Aisyah ra. “ada main” dengan seorang

bekas budak bernama Shafwan bin Mu’aththal As-Silmiy. Gosip itu

disebarkan oleh gembong munafik Abdullah bin Ubay. Sebabnya sebab 

Aisyah ra. tertinggal seorang diri dari rombongan Rasulullah Saw yang

pulang menuju Madinah sesudah  berperang melawan Bani Mushthaliq

dan, atas perkenan Allah, Aisyah ra ditemukan oleh Shafwan, yang juga

ketinggalan rombongan.

Sebagai Suami, Rasulullah Saw sempat “shock” juga mendengar

gosip tak sedap yang kian santer itu. Tapi beliau terus menahan diri,

seraya memohon pertolongan kepada  Allah. Hubungan beliau dengan

Aisyah ra jadi agak kaku dan dingin, sehingga membuat Aisyah ra.

bingung dan akhirnya jatuh sakit. Tapi Allah tidak membiarkan hamba-

hamba-Nya yang suci merana dalam kebimbangan dan dil iputi

kecurigaan. Allah menurunkan ayat dalam surat An-Nuur (24) ayat 11-

20 yang menegaskan kesucian Aisyah ra. Penegasan Allah ini membuat

Rasulullah Saw gembira.

Sangat manusiawi sekali sebagai suami, Rasulullah Saw merasa

masygul mendengar isteri beliau digosipkan berbuat tidak terpuji. Tapi

emosi beliau tetap terkendali. Beliau tetap tenang dan tidak

melampiaskan kemarahan secara membabi buta, walaupun para

Sahabat ra melihat kedukaan dan kesedihan di wajah beliau. Kita bisa

mencontoh Rasulullah Saw, walaupun dalam keadaan sangat tertekan,

beliau tetap bisa mengendalikan emosi.



Sedang kejadian “sepele” yang saya maksudkan yaitu  seperti ini

: Suatu hari seorang Badui dusun  mendekati Rasulullah Saw dan tiba-

tiba dia menarik rida’ (kain penutup punggung) beliau dengan keras,

sehingga meninggalkan bekas di punggung beliau. Si Badui dusun itu

meminta sesuatu, Rasulullah Saw menanggapi dengan senang hati dan

memberikan apa yang mintanya. Beliau sama sekali tidak marah atau

tersinggung.

4. Tidak ir i dengan keberuntungan orang lain

Kita yakin bahwa setiap Allah ciptakan makhluk, pastilah Dia tetapkan

juga rezekinya. Kalau kita menyadari hal itu, maka kita bisa hidup dengan

tenang. Tidak perlu iri hati atas rezeki badan orang lain. Tidak perlu

cemas dengan keberhasilan duniawi orang lain.  Tinggal bagaimana

kita berusaha saja. Kalau usaha kita keras, dan kemauan kita untuk

berhasil juga sangat kuat, maka insya Allah keberhasilan akan kita

dapatkan. Ada ungkapan yang mengatakan: “Siapa yang sungguh-

sungguh berusaha, dia akan mendapatkan hasil”.  “Dan tidak ada suatu

binatang melatapun di bumi, melainkan Allah-lah yang memberinya

rezeki.” (QS. Huud {11}: 6).

Allah telah memberi garansi, bahwa Dia tidak akan membiarkan

makhluk-Nya hidup tanpa kucuran rezeki dari-Nya. Jaminan Allah ini

bersifat pasti dan mutlak benar.  Oleh sebab  itu Rasulullah Saw tidak

pernah merasa iri dengan keberhasilan dunia seseorang. Beliau malah

ikut senang bila melihat para Sahabat berhasil, hidup makmur dan

berkecukupan.

5. Tidak dipusingkan oleh urusan dunia

Banyak ayat Al-Qur’an dan sabda Rasulullah Saw yang menganjurkan

agar kita bekerja dan mencari penghidupan, mencari rezeki dan fadhilah

Allah yang disebar di muka bumi. Dan Rasulullah Saw telah

mempraktikkan hal itu. Di sela-sela kesibukan berdakwah, membina



umat, memimpin negara, beliau tidak melupakan “urusan dapur”. Beliau

tetap bekerja dan mencari nafkah untuk keluarga. Padahal kalau beliau

mau, harta rampasan perang yang melimpah ruah ada di tangan beliau

dan tidak akan habis dimakan setahun. Tapi seluruh har ta itu selalu

beliau kembalikan kepada umat. Tidak ada yang beliau sisakan untuk

dirinya dan keluarganya. Beliau tetap bersikap qana’ah, sederhana dan

apa adanya. Beliau tidak pernah dipusingkan atau disibukkan oleh urusan

dunia. Itulah yang membuat beliau tampak selalu riang dan optimis.

Kendati begitu beliau tetap mencari nafkah sebagai bentuk

tanggungjawab seorang suami dan kepala rumah tangga.  Ingat saja

Nabi Daud as. yang dianugerahi nikmat luar biasa oleh Allah, tapi Allah

tetap memerintahkannya: “Bekerjalah wahai keluarga Daud sebagai

tanda syukur!” (QS. Saba’ {34}: 13).

Bisa dimengerti kalau Rasulullah Saw hidup dalam keadaan miskin,

sementara kekuasaan politis sepenuhnya berada di tangan beliau. Beliau

tidak mengambil peluang menumpuk kekayaan untuk diri beliau dan

keluarga beliau (Ini sangat berbeda dengan pemimpin politik masa kita

sekarang). Bagaimanakah nanti sejarah mengabarkan bahwa

Muhammad, Rasul Allah yang terakhir, hidup kaya raya dalam serba

kemewahan, sedangkan umatnya yang datang kemudian yaitu  orang-

orang miskin papa? Tapi kenyataan ini tidak membuat kewajiban bekerja

keras umat Islam menjadi gugur. Umat Islam harus tetap bekerja keras,

sebab  ada banyak perintah agama yang semuanya mengisyaratkan

keharusan memiliki kekayaan. Misalnya perintah berjihad dengan harta,

juga menunaikan ibadah haji. “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-

Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu….” (QS.

At-Taubah {9}: 105).

6. Selalu optimis

Rasulullah Saw yaitu  orang yang senantiasa optimis memandang masa

depan. Beliau hampir tidak pernah terlihat suntuk atau kesal, kecuali

dalam satu-dua kasus. Selebihnya beliau selalu tampil segar dan ceria,


penuh senyum. Wajah beliau yang bersih dan suci dilukiskan bagai cahaya

bulan purnama di kegelapan malam. Beliau selalu optimis dan yakin

dengan masa depan yang baik, yang akan beliau terima dan juga akan

diterima oleh umat beliau. “Masa depan” bukan hanya berar ti masa

depan di dunia ini saja, tapi juga masa depan di akhirat nanti.  “Dan

sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu daripada permulaan. Dan

kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati)

kamu menjadi puas.” (QS. Adh-Dhuhaa {93}: 4-5).

Boleh jadi kita tidak bahagia di hidup di dunia, tapi setidaknya kita

masih memiliki  harapan bahagia di akhirat. Di mana hamba-hamba

yang dirahmati memperoleh karunia yang tiada taranya dari Allah.

Adanya akhirat itu bisa menjadi motivasi yang kuat bagi seorang Muslim

untuk meraih kebahagian di dunia dan akhirat sebagaimana doa yang

setiap saat dia panjatkan: “Ya Tuhan kami, berikanlah kami kebahagiaan

di dunia dan kebahagiaan di akhirat, dan jauhkanlah kami dari siksa api

neraka.” (QS. Al-Baqarah {2}: 201 ).

Perasaan optimis yaitu  separuh dari kebahagiaan, dan selangkah

menuju keberhasilan. Sebaliknya, rasa pesimis merupakan bibit

kegagalan dan bayangan ketidakbahagiaan. Oleh sebab  itu Rasulullah

Saw selalu yakin akan meraih masa depan yang bahagia.

7. Selalu ber sabar dan bersyukur

Di halaman sebelumnya saya telah menyinggung soal pujian Rasulullah

Saw kepada kaum Muslimin. saat  tertimpa musibah, mereka bersabar.

Dan saat  mendapatkan nikmat, mereka bersyukur. Kombinasi antara

sabar dan syukur ini membuat seorang mukmin menjadi manusia yang

tangguh. Dalam kondisi bagaimanapun, dia selalu bisa mengambil

pelajaran berharga. Sehingga tidak ada peristiwa atau kejadian yang

dia alami yang berlalu begitu saja. Tidak ada pengalaman, bahkan yang

paling pahit sekalipun yang berlalu sia-sia. Rasulullah Saw selalu berdoa:

“Ya Allah, jadikanlah aku orang yang pandai bersyukur (kepada-Mu),

jadikanlah aku orang yang pandai bersabar (menghadapi cobaan-Mu),


jadikanlah aku kecil dalam pandangan mataku, tapi seseorang yang

besar dalam pandangan orang lain.”

Kalangan sufi biasa mengatakan, “Apabila kami mendapatkan nikmat

atau kebaikan, kami bersabar. Dan apabila kami mendapat musibah

atau keburukan, kami bersyukur.”

Mengapa mereka berkata begitu? sebab  saat  mendapatkan

nikmat, mereka khawatir tidak bisa menahan diri. Mereka jadi gelap

mata dan memburu kenikmatan duniawi, sehingga melupakan Allah.

Dan saat  mereka mendapat musibah, mereka bersabar sebab 

mungkin saja keburukan yang menimpa mereka yaitu  pertanda kasih

sayang Allah. Mereka bersyukur sebab  ternyata Allah masih sayang

pada mereka. Atau mereka bersyukur sebab  mungkin saja ada manusia

lain yang diberi ujian lebih besar dan lebih berat dari mereka. Wallahu

a’lam.

8. Hanya bicara yang baik-baik saja

Belum pernah ada dalam sejarah manusia, seseorang yang seluruh

kehidupannya terdokumentasikan dengan sangat baik dan rapi seperti

halnya Rasullullah Saw. Para nabi sebelum beliau dan para pemimpin

dunia saat ini, tidak semua gerak-gerik dan kata-katanya di catat. Tapi

Rasulullah Saw, bahkan “musuh” beliau pun ikut menjadi saksi atas

semua tingkah laku beliau. Hasilnya sangat luar biasa. Dalam kurun

waktu kurang-lebih 23 tahun menjadi rasul, kata-kata yang keluar dari

mulut beliau sangat sedikit. Sehingga saat  dibukukan oleh imam-imam

ahli hadits hanya menjadi beberapa buku saja. Kendati demikian, apa

yang beliau katakan sangat efektif  dan terukur sehingga bisa menjadi

rujukan dalam pengambilan dalil hukum maupun dalam bertingkah laku

para pengikut beliau di manapun berada dan kapanpun.

Rasullullah Saw bersabda: “Ber tutur kata yang baik yaitu 

sedekah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Rasullullah Saw juga mengingatkan umat beliau agar berkata yang

baik-baik saja atau diam. Diam sama sekali. sebab  diam yaitu  emas.


Sedang banyak bicara, apalagi bicara ngalor-ngidul yang tidak

mencerdaskan,  bisa mematikan (potensi) hati. Tapi diam yang beliau

maksud sangat pada tempatnya. Beliau diam tepat pada waktu beliau

memang harus diam. Dan saat  harus bicara, beliau bicara. Bukan

diam saat  seharusnya bicara, dan berbicara saat  seharusnya diam,

seperti kecenderungan pemimpin kita saat ini.

9. Tidak suka dihormati secara ber lebihan

Suatu hari Rasullullah Saw menghadiri sebuah majelis. Para Sahabat

ra. yang datang lebih dahulu kontan berdiri, menyambut kedatangan

beliau. Rasullullah Saw bukannya senang mendapat penghormatan

semacam itu, tapi justru menegur para Sahabat ra.: “Apakah kalian

ingin menjadikan aku seperti kaisar-kaisar Romawi?”

Meskipun bergelar “Rasull Allah”, tapi Muhammad Saw sebagai

pribadi, tidak ingin dihormati secara berlebihan oleh para Sahabat ra.

Beliau sudah merasa cukup dan bangga mendapat gelar Rasul dari

Allah. Adakah gelar yang lebih mulia daripada gelar yang diberikan

oleh Allah kepada hamba-Nya? Apatah lagi gelar Kaisar atau Kisra,

yang hanya gelar sebab  memiliki wilayah kekuasaan politik?

Dalam riwayat yang lain, saat  Rasulullah Saw sedang berbincang

dengan dengan tamu-tamu penting, datanglah seorang wanita tua dan

miskin. Wanita itu mengadukan sesuatu pada Rasullullah Saw. Beliau

mendengarkan setiap kalimat wanita itu dengan penuh perhatian, sama

seperti beliau menanggapi pembicaraan tamu-tamunya. Ini tentu saja

membuat para tamu terpesona. Sungguh indah akhlak Rasullullah Saw.

Sekilas kisah-kisah ini seper ti tidak ada hubungannya dengan

kesehatan. Tapi kalau kita mau berpikir jernih, prilaku Rasullullah Saw

yang santun itu sesungguhnya menunjukkan sehatnya jiwa dan ruhani

beliau. Betatapun tingginya kedudukan beliau di mata Allah dan di mata

manusia, tapi beliau tetap tawadhu’, rendah hati. Sering kita jumpai di

tengah masyarakat, seorang mantan pejabat yang menderita post power

syndrome. saat  purna tugas, dia sakit-sakitan sebab  seluruh



penghormatan yang selama ini melekat pada dirinya tiba-tiba dicabut

secara paksa (setidaknya dipaksa oleh usia tua). Selama berperan

sebagai pejabat dia sangat diistimewakan dan dinomorsatukan. Tapi

sesudah  pensiun, dia tidak lebih hanya seorang kakek yang mantan

pegawai juga!

10. Bangun tidur menjelang subuh

Rasulullah Saw biasanya tidur sesudah  shalat Isya. Beliau tidak suka

makan atau bercakap-cakap sesudah  shalat  Isya.  Ini membuat waktu

istirahat beliau jadi sangat efektif. Menjelang subuh beliau bangun untuk

menegakkan qiyamul lail, shalat malam. Menjelang subuh yaitu  waktu

yang paling baik, sebab  oksigen di udara sedang melimpah ruah.

Sehingga orang yang bangun saat itu mendapat asupan udara segar

pertama, yang bisa meningkatkan vitalitas. Semangat dan gairah hidup

menjadi membuncah. Ini yaitu  modal awal sebuah keberhasilan.

Bangun pagi sangat menyehatkan. Bukan hanya fisik, tapi juga jiwa

dan ruhani. Rasulullah Saw sesudah  mandi, shalat Subuh dan berzikir,

beliau sarapan pagi dengan menu yang sangat sederhana, segelas air

jernih yang dicampur sesendok makan madu murni. Menu ini sangat

luar biasa, sebab  madu mengandung hampir semua zat yang

dibutuhkan oleh tubuh, seperti glukosa, fruktosa, protein, asam amino,

mineral, dan lain-lain.  Dan satu sendok makan madu murni ternyata

mengandung 64 kalori, di samping bisa juga menjadi antibiotik.

Sedangkan menjelang siang, kira-kira pukul 09.00-10.00, Rasulullah Saw

biasanya makan 7 (tujuh) butir kurma ajwa’.  Beliau bersabda: “Barang

siapa makan tujuh butir kurma, maka akan terlindung dari racun.”

Sekali lagi, bangun menjelang subuh berarti memberi kesempatan

kepada tubuh kita untuk mendapatkan udara bersih. Apalagi bagi kita

yang tinggal di kota besar, yang tingkat polusinya sangat luar biasa

sebab  banyaknya kendaraan bermotor. Udara bersih dan segar yang

kita hirup akan berimbas pada gairah untuk menyongsong hari dengan

upaya dan ikhtiar yang lebih baik.



11. Hanya makan makanan yang halal dan baik saja

Buku-buku Sirah Nabawiyah (Sejarah Kenabian Muhammad Saw)

menginformasikan kepada kita, bahwa Rasulullah Saw tidak makan

kecuali hanya yang halal dan baik-baik saja. Beliau sangat pemilih dalam

hal makanan, sehingga tidak boleh ada sebutir kurmapun, yang didapat

dari jalan tidak halal, yang masuk ke perut beliau. Ini sesuai benar

dengan instruksi Allah Azza wa Jalla: “Hai sekalian manusia, makanlah

yang halal lagi baik dari apa yang ada  di bumi, dan jangan kamu

mengikuti langkah-langkah setan.” (QS. Al-Baqarah {2}: 168).

Makan bagi Rasulullah Saw bukan sekadar memasukkan makanan

ke dalam mulut dan kemudian menelannya. Tapi lebih dari itu, makan

yaitu  sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah atas begitu banyak

anugerah yang telah Dia berikan. Sikap seperti  ini membuat aktivitas

makan juga menjadi bagian dari ibadah yang bernilai pahala. saat 

makan Rasulullah Saw tidak berlebihan, baik dalam menu maupun dalam

porsi, sehingga “jatah” makan beliau tidak pernah tersisa. Beliau juga

tidak pernah mengkonsumsi makanan atau minuman yang memabukkan

atau beraroma keras seperti bawang merah dan bawang putih (kalau

di sini mungkin jengkol atau petai). Kecuali makanan dan minuman

yang diharamkan, beliau tidak pernah mencela atau melarang memakan

makanan yang beraroma keras asal saja sesudah  itu segera

membersihkan mulut.

Makanan halal yaitu  makanan yang diberkahi Allah, sedang

makanan yang baik yaitu  yang memenuhi standar gizi, protein,

mineral, dan sebagainya. Kombinasi makanan yang halal dan baik bukan

saja menyehatkan badan, tapi juga menyehatkan jiwa dan ruhani.

Berlebihan yaitu  salah satu ciri-ciri setan. Makanya kita dilarang

berlaku berlebihan, termasuk dalam hal makan. Di kota-kota besar

sering kita jumpai restoran yang mempersilahkan pengunjung makan

sepuasnya hanya dengan sekali bayar. “Tawaran” ini membuat orang

tergiur untuk memuaskan nafsu makannya dengan makan apa saja

yang ada di sana meskipun di perutnya sudah tidak ada ruang untuk



menampung, meskipun makanan itu tidak baik bagi kesehatan. Itulah

fenomena kemubaziran yang kemudian disulap menjadi gaya hidup.

12. Tidak mengkonsumsi makanan

dan minuman yang membahayakan organ tubuh

Sebelum diangkat Allah menjadi rasul, Muhammad sudah dikenal

memiliki  akhlak yang baik dan terpuji. Beliau tidak pernah melakukan

perbuatan yang membuat beliau jadi omongan buruk masyarakat. Beliau

juga tidak pernah sekalipun mencicipi minuman keras (khamr), yang

saat itu menjadi tren di kalangan kaum bangsawan dan para pemuda

Quraisy. Mereka terbiasa clubbing dan dugem sambil minum khamr

dan menyaksikan tarian perut, kadang mereka ikut menari sambil mabuk.

Pemuda Muhammad juga tidak memakan daging babi hutan hasil

buruan, misalnya. Apalagi sesudah  menjadi rasul, akhlak beliau semakin

indah. Sehingga Allah memuji beliau:  “Sesungguhnya engkau benar-

benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al-Qalam {68}: 4).

Mengkonsumsi makanan dan minuman yang membahayakan atau

bisa merusak organ tubuh kita yaitu  sebuah kebodohan. Misalnya

mengkonsumsi minuman beralkohol, bir, wiski dan sebagainya, yang

kita sudah tahu keburukannya. Atau memakai jenis-jenis narkoba yang

lain: ganja, heroin, kokain, putaw, sabu-sabu, dan sebagainya.  Barang-

barang itu hanya menjanjikan kenikmatan sesaat, selebihnya yaitu 

jebakan yang tidak berkesudahan. Allah memperingatkan dengan keras:

“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.”

(QS. Al-Baqarah {2}: 195).

Dalam wilayah agama, khamr atau minuman keras dikenal sebagai

“nenek moyang kejahatan”. sebab  dari seteguk khamr, bisa melahirkan

kejahatan yang lebih besar. Khamr berpotensi merusak otak dan sistem

syaraf, mengakibatkan impotensi, mengganggu ker ja jantung, dan

meracuni hati. Khamr juga bisa melemahkan gairah hidup, membuat

emosi labil dan sering tak terkendali. Jiwa menjadi rapuh.  Al-Qur’an

menyebut khamr sebagai kotoran (najis) yang harus dijauhi. “Hai orang-



orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, ber judi,

(berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, yaitu 

perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-

perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al-Maaidah

{5}: 90).

Orang yang menjauhi dan meninggalkan perbuatan keji, yaitu 

orang yang beruntung. Keuntungan pertama, dia tidak dimurkai Allah,

bahkan kemungkinan dia mendapat pahala sebab  menuruti perintah

Allah. Keuntungan kedua, kalau dia sudah bisa meninggalkan perbuatan

yang  diharamkan agama, tentu dia juga tidak merasa keberatan

meninggalkan perbuatan yang “makruh”, seper ti mengisap rokok.

Keuntungan ketiga, dia dianggap sebagai hamba yang baik dalam hal

memegang amanah, sebab  tubuhnya hanyalah titipan Allah yang harus

dijaga, bukan miliknya sendiri. Keuntungan keempat, dia tidak termasuk

orang bodoh sebab  menjauhi semua barang  haram itu. Dan

keuntungan kelima dia akan sehat, atau setidaknya tidak sakit sebab 

narkoba atau sebab  berbuat keji.

Kita tahu, negara kita sekarang bukan lagi tempat transit peredaran

narkoba, melainkan sudah menjadi tujuan penjualan. Indonesia yaitu 

pasar potensial, surga bagi para bandar narkoba. Lemahnya sistem

hukum kita, dan mudahnya aparat penegak hukum diajak kongkalikong

menjadi alasan mengapa Indonesia menjadi tempat yang aman bagi

para penjahat narkoba.  Setiap hari milyaran rupiah mengalir untuk

transaksi narkoba. Dan setiap hari puluhan nyawa melayang sia-sia

akibat narkoba. Setiap hari pula para pelaku, baik pengguna maupun

pengedar ditangkap aparat keamanan, tapi peredaran narkoba semakin

meluas bahkan sampai ke desa-desa terpencil. Ini sangat

memprihatinkan.

Rasulullah Saw juga tidak makan makanan yang haram, misalnya

daging babi. Babi banyak membawa mikro organisme yang sangat

membahayakan tubuh manusia. Babi juga terbukti terkena penyakit

epidemis yang jumlahnya mencapai 450 jenis dan menjadi sarana

penularan lebih dari 75 penyakit.



13. Selalu menutup makanan dan minuman

Rasulullah Saw memang sangat luar biasa, itu dari hampir semua

persoalan manusia sudah disiapkan jawabannya, sampai ke soal

makanan. Beliau melarang wadah makanan dan minuman dibiarkan

terbuka. Tentu saja kita bisa dengan mudah mengerti maksudnya. Kalau

makanan atau minuman dibiarkan terbuka, dikhawatirkan kemasukan

debu, dimakan tikus, terkena bakteri, mikroorganisma, jasad renik atau

dihinggapi lalat, yang semuanya bisa menimbulkan penyakit. Dengan

tegas beliau bersabda: “Tutuplah wadah-wadah makananmu dan ikatlah

leher-leher kantung airmu. sebab  sesungguhnya ada satu malam dalam

satu tahun di mana wabah datang dan tidak datang ke wadah-wadah

yang tak ter tutup kecuali dia (wabah itu)  jatuh ke dalamnya.” (HR.

Muslim).

Memang lebih aman kalau kita menutup tempat makanan dan

minuman kita. Ini sebagai upaya pencegahan. Bukankah mencegah lebih

baik daripada mengobati?

14. Tidak tidur pada waktu yang dilarang

Ada waktu-waktu yang umat Islam dilarang tidur, walaupun larangan ini

tidak sampai berar ti haram. Yakni sesudah  shalat Subuh dan sesudah 

shalat Ashar. Para ulama berusaha mencari sebab yang pasti dan ilmiah,

mengapa di kedua waktu itu umat Islam dilarang tidur oleh Rasulullah

Saw. sebab  tidak mungkin Rasulullah Saw melarang umat beliau

melakukan sesuatu kalau tanpa sebab yang jelas. Memang ada sebuah

hadits yang menyatakan, bahwa tidur di waktu pagi menghalangi rezeki.

Tidur sesudah  fajar memang bukan sebuah kebaikan, juga saat 

menjelang senja. sebab  di kedua waktu itu, konon, sedang terjadi

pergantian udara yang ekstrem, dari gelap ke terang dan dari terang

ke gelap. Kalau kita melalui kedua waktu itu dengan aktivitas yang bersifat

fisik atau pikir, itu lebih baik daripada tubuh dalam keadaan diam (tidur).



Ummul Mukminin, Aisyah ra. berkata: “Barangsiapa tidur di senja hari,

maka dia akan gila.” (HR. Abu Daud).

Kalaupun kita tidak tahu alasannya, mengapa di kedua waktu itu

Rasulullah Saw melarang kita tidur, maka mengikuti anjuran beliau

dipandang lebih baik daripada berpayah-payah mencari sebab ilmiahnya.

15. Istirahat yang cukup

Betapapun sibuknya Rasulullah Saw, tapi beliau tetap memberikan hak

kepada tubuh atau fisik beliau untuk beristirahat. Beliau biasa tidur

sesudah  shalat Isya, dan bangun menjelang subuh. Beliau mandi dan

melaksanakan shalat Tahajjud dan Witir. sesudah  itu beliau melantunkan

ayat-ayat Al-Qur’an beberapa ‘ain. Kadang-kadang beliau merebahkan

tubuh sebentar, sekadar menghilangkan keletihan sesudah  qiyamul lail.

sesudah  itu beliau ke masjid dan terus beraktivitas sampai masuk waktu

zhuhur. Sesekali sesudah  shalat Zhuhur beliau istirahat, tidur beberapa

menit. “Sesungguhnya badanmu memiliki  hak atas dirimu.”

Begitu sabda Rasulullah Saw.  Salah satu hak badan kita yaitu 

memberinya kesempatan beristirahat, berhenti sejenak dari aktivitas.

Jadi, yang menjadi ukuran bukanlah berapa lama seseorang tidur, tapi

seberapa baik kualitas tidurnya. Rasulullah Saw yaitu  manusia yang

sehat jiwa dan ruhaninya, oleh sebab itu kualitas tidur beliau sangat

baik meskipun hanya beberapa saat saja. sesudah  bangun tidur, tubuh

beliau sudah tampak fresh kembali. Beliau bahkan mencela para Sahabat

ra. yang berlebihan dalam beribadah sehingga melupakan hak-hak

badan mereka dan lebih parah lagi mengabaikan tanggung jawab

menafkahi keluarga dan memberikan hak ruhani istri-istri mereka.

Rasulullah Saw biasa memulai posisi tidur dengan miring ke kanan,

menghadap ke Mekah. sesudah  itu boleh berganti posisi. Kadang tangan

kanan beliau dijadikan sebagai alas kepala (bantal). Para pakar

kesehatan menganjurkan agar waktu tidur kita 8 jam sehari. Ini untuk

memberikan kesempatan pada tubuh agar memperbaiki jaringan yang

rusak dan sebagainya. Anjuran ini baik-baik saja dilaksanakan. Tapi



bagi seorang Muslim, ittiba’ (mengikuti prilaku) Rasulullah Saw dipandang

lebih baik.

16. Menikah

Nikah yaitu  ketentuan Allah dan menjadi sunnah semua rasul Allah,

kecuali Nabi Yahya as. yang syahid sebelum sempat menikah, juga Nabi

Isa as yang diselamatkan Allah ke langit sebelum dizalimi kaum Yahudi.

Dengan nikah hubungan kelamin antara seorang pria dan seorang wanita

menjadi halal. Pada dasarnya, fitrah kita memang mencari pasangan.

Sebab Allah menciptakan segala sesuatu berpasangan-pasangan. “Maha

Suci Dia, yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik

dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi, dan dari diri mereka maupun

dari apa yang tidak mereka ketahui.” (QS. Yaasiin {36}: 36).

Rasulullah Saw melarang umat Islam membujang, kecuali sebab 

ada alasan-alasan medis dan dibenarkan oleh syariat. Dalam sebuah

hadits, beliau bersabda: “Barangsiapa si antaramu dirisaukan oleh

dorongan seksualnya, hendaklah dia menikah. Sebab pernikahan dapat

merendahkan pandangan dan menjaga organ seks.” (HR. Bukhari).

Jalaluddin Abdurrahman As-Suyuthi (1445-1505 M), seorang pakar

ilmu-ilmu keislaman, mengatakan bahwa berpantang dan menahan diri

dari berhubungan seksual telah (bisa) mengakibatkan timbul lebih dari

satu penyakit. Maka solusi yang tepat yaitu  menikah, sebab  menikah

bisa menyehatkan jiwa. Memang belakang ini banyak orang yang merasa

pernikahan yaitu  sebuah “penjara” bagi jasmani dan jiwa seseorang.

Yang lain bertanya: “Kalau ‘kenikmatan badani’ yang kita dapatkan di

dalam pernikahan bisa juga diperoleh di luar pernikahan, mengapa

harus menikah?“

Begitu kalau pernikahan dipandang hanya sebagai sarana untuk

melepaskan dorongan seksual. Bukan sebagai sarana untuk menuju

capaian yang lebih tinggi dan mulia. Dalam Islam pernikahan memiliki 

tujuan yang sangat agung. Salah satunya membentuk generasi Rabbani,

yang nantinya akan menjadi mujahid-mujahid dakwah, yang



menyebarkan Islam ke seantero dunia dengan kasih sayang dan akhlak

mulia. Juga mener tibkan nasab (keturunan, silsilah).

17. Berhubungan seksual sesuai syariat

Berhubungan seksual yaitu  fitrah insaniyah. Seorang laki-laki berhasrat

pada seorang wanita itu sangat wajar dan normal. Tidak ada yang salah

dalam hal ini. Menjadi persoalan saat  dorongan atau hasrat ingin

berhubungan seksual itu muncul, kemudian disalurkan dengan cara

yang tidak benar, yang diharamkan oleh agama. Islam mengatur masalah

ini dengan sangat lengkap dan indah. Seorang laki-laki hanya boleh

melakukan hubungan seksual dengan wanita yang telah dinikahinya.

Atau sebaliknya, seorang wanita hanya boleh berhubungan seksual

dengan laki-laki yang telah menikahinya. Itulah aturan agama yang haqq,

yang berasal dari Yang memiliki  Hak Mengatur, Allah Azza wa Jalla.

Agama juga mengatur, seorang laki-laki hanya boleh menggauli

isterinya di organ yang sudah ditetapkan, yakni vagina. Tidak boleh di

dubur, atau di bagian anal. Sedang mengenai oral seks, sebagian besar

ulama mengharamkan, tapi sebagian lainnya membolehkan dengan

syarat diketahui dan dijaga kebersihannya. Tapi anal seks jelas-jelas

terlarang. Begitu pula perilaku seks menyimpang, Islam tidak memberi

toleransi dan dengan tegas mengharamkan. Apa yang telah diharamkan

Allah dan Rasul-Nya tidak perlu lagi kita cari-cari dalih untuk menolaknya.

Tidak perlu mengajukan berbagai alasan dengan memainkan logika

dan kata-kata, termasuk alasan HAM dalam memilih orientasi seksual.

Tidak cukupkah peringatan yang Allah berikan lewat banyaknya penyakit

kelamin, HIV, AIDS, dan sebagainya?

Apakah harus menunggu Allah menghancurkan negeri kita dahulu

seperti Dia menghancurkan umat Nabi Luth as., baru kita mau sadar?

Rasulullah Saw memberikan tuntunan yang indah dalam persoalan

hubungan suami-istri ini. Misalnya:

- Menyiapkan fisik dan mental.

- Membersihkan badan dan memakai wewangian.



- Berwudhu (kalau sempat shalat 2 rakaat, lebih baik).

- Berdoa sebelum beribadah seksual dengan doa: “Bismillahi

Allahumma jannibnasy-syaithaana, wa jannibisy-syaithaana maa

razaqtanaa”, ar tinya: “Dengan nama Allah, ya Allah, jauhkanlah

kami dari gangguan setan, dan jauhkanlah setan dari rezeki (anak)

yang akan Engkau anugerahkan pada kami.” (HR. Bukhari)

- Melakukan pemanasan (fore play), tidak langsung “tembak.”

- Menutup badan dengan selimut.

- Tidak tergesa-gesa, sehingga bisa mencapai orgasme bersama

- Berwudhu bila ingin mengulanginya.

- Mandi besar bila telah selesai.

Mandi sesudah  berhubungan seksual terbukti bisa mengembalikan

energi yang hilang dan mengendurkan syaraf-syaraf  yang tegang akibat

aktivitas yang melelahkan itu. Begitulah Rasulullah Saw memberi tuntunan

kepada umatnya, bahkan tuntunan dalam hal berhubungan seksual,

yang dianggap oleh sebagian besar manusia sebagai “aktivitas” yang

tidak perlu diajarkan dan paling pribadi.

18. Tidak menahan-nahan buang hajat

Rasulullah Saw melarang kita melaksanakan shalat sementara kita

menahan-nahan buang hajat, baik buang air besar, buang air kecil,

atau buang gas. Menahan-nahan buang hajat pada saat sedang shalat

bukan saja menghilangkan kenikmatan beribadah, tapi juga membuat

shalat tidak khusyuk. Kita jadi tidak bisa konsentrasi kecuali ingin segera

menyelesaikan shalat. Shalat jadi terburu-buru dan tubuh tidak nyaman.

Menahan-nahan buang hajat juga bisa berpengaruh buruk bagi

tubuh. Kotoran berupa zat padat, cairan atau gas yang seharusnya

dibuang, tapi terhambat oleh sebab kita tahan, akan membuat otot-

otot sekitar kemaluan berkontraksi hebat. Apalagi kalau menahan buang

hajat menjadi kebiasaan, itu bisa berakibat fatal. Menahan buang air

kecil misalnya, bisa mengakibatkan kencing batu. Larangan menahan

buang hajat tidak hanya berlaku pada saat shalat saja, tapi berlaku



umum. Di mana saja dan kapan saja. Begitu ingin buang air besar atau

buang air kecil, segeralah tunaikan. Begitu juga kalau hendak buang

gas, tidak perlu ragu… keluarkan saja. Tapi untuk kasus yang terakhir

ini biasanya memang kita melihat tempat dan situasinya. Kalau di depan

orang banyak memang tidak etis kita buang angin, sebaiknya menyingkir

dulu ke tempat yang “aman”. Dikhawatirkan bunyi “ledakan” dan

“aromanya” mengganggu orang lain.

Tapi sesungguhnya agak aneh juga masyarakat kita. Kita sering

mengatakan tidak etis kepada orang yang buang angin sembarangan,

sementara kita sangat bisa menerima orang yang merokok

sembarangan. Padahal dalam kasus buang angin, baik orang yang

“melepaskan” maupun yang mencium aromanya tidaklah terganggu

kesehatannya. Berbeda dengan rokok. Orang yang merokok dan orang

yang menghirup asap rokok secara tidak sengaja sama-sama rugi.

Keduanya sama-sama menghirup racun sisa pembakaran zat-zat

berbahaya.

19. Olah raga

Pernah saat  kaum Muslimin sedang menggali parit (khandaq) di luar

kota Madinah untuk menahan serangan kaum kafir, tiba-tiba palu

seorang Sahabat menyentuh batu besar yang tertimbun di dalam tanah.

Posisi batu itu sangat mengganggu, oleh sebab  itu harus disingkirkan.

Caranya dengan memecahkan batu itu ter lebih dahulu agar bisa

diangkat.  Tapi sekian banyak Sahabat memukul batu besar itu berkali-

kali dan berganti-ganti, batu itu tidak kunjung terbelah. Kabar ini sampai

kepada Rasulullah Saw  yang juga sedang menggali parit di bagian

yang lain. Lalu beliau menuju lokasi batu besar itu. sesudah  sampai di

sana, beliau meminjam palu seorang Sahabat, dan dengan sekuat tenaga

beliau pukul batu besar itu. Hanya dengan sekali pukul, batu itu terbelah

menjadi beberapa bagian sehingga mudah diangkat. Dari kejadian itu,

nyatalah bagi kita bahwa Rasulullah Saw memiliki  kekuatan fisik yang

luar biasa. Ini sebab  beliau gemar berolah raga.



Rasulullah Saw yaitu  penungang kuda yang ulung, beliau juga

pandai memanah. Bahkan beliau pernah mengalahkan seorang pegulat

tangguh, Rukanah bin ‘Abdi Yazid, saat  masih tinggal di Mekah. Beliau

senang berjalan kaki, sehingga sampai beliau wafat tubuh beliau tetap

atletis dan tidak gendut atau gombyor.

Rasulullah Saw pernah mengadakan perlombaan lari bagi anak-

anak dan memberikan hadiah kepada para pemenangnya. Bahkan beliau

juga pernah mengajak Ummul Mukminin, Aisyah ra., balap lari. Dalam

sebuah hadits, Rasulullah Saw bersabda:  “Kewajiban orangtua terhadap

anaknya yaitu  mengajarkan menulis, berenang dan memanah/

melempar lembing dan tidak memberi rezeki (makan-minum) kecuali

yang baik-baik.” (HR. Baihaqi dari Umar bin Khathab ra.).

Jadi, kewajiban orangtua itu bukan hanya memberikan pendidikan

untuk perkembangan otak anak-anaknya,  tapi juga menyehatkan tubuh

anak-anak melalui olah raga dan memberi bekal keterampilan, seperti

keterampilan memanah. Dr. Kisou Kubuta, peneliti dari Nihon Fukushi

University, Handa, Jepang, mengatakan bahwa olah raga lari memberikan

pengaruh yang baik bagi tubuh dan otak. Olah raga sangat bermanfaat

bagi tubuh sebab  bisa mengeluarkan kotoran dari tubuh melalui

keringat, menguatkan otot, melancarkan peredaran darah, memperbaiki

jaringan syaraf, dan sebagainya. Olah raga juga bisa menumbuhkan

spor tivitas. Dan kalau dilakukan dalam sebuah tim, bisa membentuk

sikap saling menghargai, membangun hubungan sosial dan bekerjasama

ser ta memahami taktik dan strategi. Sesungguhnya seorang Muslim

yang kuat lebih disukai Allah daripada Muslim yang lemah.

20. Segera berobat saat  sakit

saat  sakit, umat Islam dianjurkan segera berobat. Rasulullah Saw yang

mulia mencontohkan, bagaimana beliau minta dibekam oleh Ibnu Abbas

ra. saat  sakit. Mengapa Rasulullah Saw  yang gaya dan pola hidupnya

demikian teratur dan indah masih juga bisa jatuh sakit? Jawabnya, sebab 

beliau Rasul yang harus menjadi contoh seluruh manusia sepanjang



jaman. yaitu  pada tempatnya kalau manusia mencontoh manusia,

bukan mencontoh malaikat atau binatang. Kalau beliau tidak pernah

sakit, kita tidak akan mendapatkan pelajaran dari peristiwa sakit. Di

luar semua itu, beliau juga manusia biasa.

Saad bin Abi Waqas ra. bercerita: “Aku pernah sakit, dan Rasulullah

Saw datang menjengukku. Beliau menaruh tangannya di dadaku, sehingga

jantungku merasa sejuk.  Kemudian beliau bersabda: ‘Anda terserang

penyakit jantung, berobatlah kepada Harits bin Kaldah, saudara Tsaqif.

Dia bisa mengobati penyakit anda.’” (Diriwayatkan oleh Abu Daud).

Kalau Rasulullah Saw mau, tentu saja beliau tinggal angkat tangan

saja, memohon kesembuhan untuk Saad bin Abi Waqas ra. Tapi ternyata

beliau malah memerintahkan Saad berobat kepada Harits yang

berprofesi sebagai tabib. Beliau juga biasa menyuruh keluarga beliau

berobat kalau sakit. Ini menunjukkan bahwa ilmu pengobatan (ketabiban

atau kedokteran) yaitu  masalah duniawi. Ar tinya setiap orang bisa

mempelajari, baik dia Muslim maupun non Muslim. Dan seorang Muslim

boleh berobat kepada dokter non Muslim. Begitupun sebaliknya, dokter

Muslim boleh menolong orang-orang non Muslim. Riwayat di atas juga

berarti bahwa berobat hendaklah kepada ahlinya atau orang yang paling

menger ti dan berpengalaman.

21. Mencukur bulu kemaluan dan bulu ketiak

Mencukur bulu di sekitar kemaluan dan ketiak merupakan sunnah.

Kemaluan yaitu  organ vital, yang berfungsi juga sebagai alat reproduksi.

Sehingga mesti selalu dijaga kebersihannya. Bulu di sekitar kemaluan

kalau dibiarkan berpotensi menjadi sarang bibit penyakit. Begitu juga

bulu-bulu ketiak. Kedua tempat itu sangat lembab dan mudah kotor,

meskipun terlindung. Rasulullah Saw biasanya mencukur bulu di sekitar

kemaluan dan ketiak sebelum menunaikan shalat Jumat, artinya sepekan

sekali. “Ada lima hal yang termasuk kesucian : khitan, mencukur bulu

kemaluan, mencabut bulu ketiak, memotong kuku, dan mencukur

kumis.”(HR. Bukhari dan Muslim).


Mengikuti apa yang Rasulullah Saw lakukan (ittiba’) dalam masalah

ini lebih mendekati takwa. Ketimbang kita memelihara kuku dan

menghiasinya dengan hiasan warna-warni. Atau membiarkan bulu-bulu

di kedua “wilayah” tadi bagaikan hutan belantara.

22. Khitan

Khitan yaitu  usaha mencegah datangnya penyakit sejak dini di bagian

kelamin, di samping  meru-pakan sunnah Rasulullah Saw yang berasal

dari Nabi Allah, Ibrahim as. Khitan oleh sebagian besar ulama diwajibkan

hukum-nya. Kecuali khitan untuk wanita, para ulama berselisih paham

dan masih diperdebatkan. Tapi bagi anak laki-laki, khitan yaitu  jalan

yang paling baik dan memiliki  hikmah yang luar biasa. Rasulullah

Saw bersabda “Sesungguhnya aqluf  (kulup) dalam Islam tidak boleh

ketinggalan untuk dipotong, melainkan harus dikhitan, walaupun

umurnya sudah 80 tahun.” (HR. Al-Baihaqi).

Saya tidak ingin membicarakan hukum khitan, tapi lebih ingin

menjelaskan manfaatnya bagi kesehatan saja. sebab  menjelaskan

hukum khitan bukan wilayah saya. Saya ingin mengatakan, khitan itu


sangat bermanfaat bagi kesehatan, utamanya bagi laki-laki. Sisa-sisa

bekas kencing tidak akan bisa dibersihkan dengan tuntas kalau kulit

ujung penis (kulup) seseorang tidak dikhitan. sebab  selalu dalam

keadaan tertutup dan basah atau lembab. Khitan (atau di sini kita biasa

menyebutnya “sunat”), membuat ujung penis terbuka sehingga dengan

mudah bisa selalu dibersihkan. Ini mencegah bersarangnya kuman/

bakteri yang bisa mengakibatkan penyakit kelamin (bukan sebab 

hubungan seksual).

Sedangkan hikmah yang ter kandung dalam khitan yaitu 

mengajarkan pada seorang anak untuk membiasakan hidup bersih,

berani berkorban dan senang mengikuti sunnah Rasulullah Saw sejak

mereka masih kecil, bahkan sebelum dia akil baligh. Tentu  masih banyak

hikmah khitan, tapi saya cukup menyebutkan tiga saja.

23. Menjaga kebersihan gigi dan mulut

Setiap akan melaksanakan shalat Rasulullah Saw selalu membersihkan

gigi dan mulut dengan siwak, sejenis kayu dari akar tetumbuhan. Beliau

juga bersiwak saat  wudhu, saat  akan membaca Al-Qur’an dan bangun

dari tidur. Kalau selesai makan biasanya beliau berkumur-kumur. Bahkan

Rasulullah Saw pernah mengatakan bahwa seandainya tidak

memberatkan umat, beliau menganjurkan kaum Muslimin

membersihkan gigi dan mulut sebelum shalat.  Memang hasil penelitian

menunjukkan kayu siwak, yang ujungnya dihaluskan (seperti bulu sikat

gigi), sangat efektif  membersihkan gigi dan mulut. Kayu siwak

mengandung zat-zat yang bisa menyehatkan gusi, menguatkan akar

gigi, membuat mulut tidak berbau. Sekarang ekstrak kayu siwak juga

sudah dijadikan bahan untuk pasta gigi. “Siwak itu membersihkan mulut

dan mendatangkan ridha Allah.” (HR. Ahmad).

Begitu sabda Nabi Saw, dan Ummul Mukminin, Aisyah ra.,

mengabarkan kepada kita: “Nabi Saw tetap bersiwak selama masa-

masa akhir kehidupannya.” (HR. Bukhari).


Konon saat  Rasulullah Saw wafat, tidak ada karang atau flake

pada gigi beliau. Ar tinya gigi beliau tetap putih, bersih, dan sehat.

Memang Rasulullah Saw sangat memperhatikan persoalan kesehatan

ini. Meskipun beliau juga pernah mengalami sakit, tapi tidak pernah

menderita sakit gigi. Gigi yang kotor akan mengundang bakteri membuat

koloni di sana. Bakteri itu akan merusak gigi, yang akibatnya gigi akan

berlubang sehingga mulut akan mengeluarkan nafas tak sedap. Mulut

dan gigi yang bersih akan membuat seseorang lebih percaya diri.

24. Memotong kuku

Dalam sebuah hadits, Rasulullah Saw bersabda, yang isinya menyuruh

kita memotong kuku, sebab  “setan” biasanya senang bersemayam di

kuku-kuku itu, “Potonglah kuku-kuku kamu, sesungguhnya setan

bersembunyi pada kuku-kuku yang panjang.”

Tentu saja sekarang kita bisa menger ti bahwa yang dimaksud

“setan” itu yaitu  kuman atau bakteri. sebab  setan bisa bermakna

apa saja yang merugikan, merusak atau membahayakan.  Kuku yang

panjang, kotor dan hitam menjadi tempat paling nyaman bagi bakteri,

dan itu sangat membahayakan manusia.  Apalagi kalau dia terbiasa

makan tidak memakai  sendok. Kuku yang kotor, meskipun pendek,

tetap tidak enak dipandang. Oleh sebab  itu, memotongnya lebih baik

daripada membiarkannya tidak terawat.

25. Selalu dalam keadaan berwudhu

Rasulullah Saw yaitu  orang yang selalu menjaga wudhu. Artinya kalau

beliau batal, maka beliau segera berwudhu kembali, meskipun saat itu

beliau tidak akan melaksanakan shalat. Walhasil kapanpun beliau selalu

dalam kondisi berwudhu.  Berwudhu bukanlah sekedar menghilang

hadats kecil. Tapi lebih jauh, itu bisa menghindari tubuh dari penyakit.

Bagaimana tidak? Mulai dari telapak tangan, seluruh anggota wajah

sampai kaki dibersihkan.


Lalu nilai filosofisnya,  orang yang selalu dalam keadaan berwudhu

yaitu  orang yang ingin selalu dekat dengan Allah, Tuhan Yang Maha

Suci. Dia juga senantiasa siap berbuat kebajikan. Wudhu menjadi tameng

baginya dari berbuat yang dilarang agama. Sia-sia dia membasuh

telapak tangan kalau akhirnya dengan tangannya itu dia mencuri. Rugilah

dia membasuh wajah kalau wajahnya tidak sedap dipandang sebab 

selalu cemberut, tampak marah atau penuh kecurigaan. Tidak ada

gunanya dia bersihkan kedua telinganya kalau kemudian telinganya itu

digunakan untuk mendengarkan hal-hal yang tidak baik. Dan

seterusnya…..  “Barangsiapa berwudhu dan menyempurnakannya,

maka keluarlah semua dosa dari jasadnya hingga dari bawah kuku-

kukunya.” (HR. Muslim).

26. Menjaga kebersihan l ingkungan

Rasulullah Saw sangat peduli dengan kebersihan, termasuk kebersihan

lingkungannya. Beliau tidak senang melihat lingkungan yang kotor,

sampah yang berserakan atau air yang tergenang yang berpotensi

menjadi sarang bibit penyakit. Beliau bahkan mengecam orang yang

mencemari lingkungan: “Takutlah kalian pada tempat-tempat yang

dilaknat dan orang-orang yang dilaknat, yaitu orang-orang yang buang

air kecil dan buang air besar di jalan dan di tempat orang-orang

berteduh!” (HR. Muslim, Ahmad dan Abu Daud).

Kita tahu bahwa dalam satu gram kotoran manusia, bersemayam

lebih dari 100 milyar bakteri. Beliau juga memerintahkan para Sahabat

ra agar senantiasa membersihkan teras-teras  rumah mereka. Tentu

saja kita juga termasuk yang beliau perintah. Dan redaksi perintah beliau

itu bersifat khusus, yakni hanya menyuruh membersihkan teras rumah

saja. Tapi sesungguhnya yang beliau maksud yaitu  membersihkan

sekitar lingkungan rumah kita.


27. Menjaga shalat

Shalat yaitu  perintah agama yang diterima oleh Rasulullah Saw

langsung dari Allah Azza wa Jalla, tanpa perantaraan Jibril as. Perintah

itu diterima Rasulullah Saw dalam peristiwa isra’ mir’raj di Sidratul Muntaha

(hanya Allah Yang Maha Mengetahui “lokasinya”). Oleh sebab  itu ibadah

shalat menjadi sangat istimewa, dia dianggap sebagai tiang agama.

Sabda Rasulullah Saw: “Shalat yaitu  mi’raj-nya kaum Mukmin.” Shalat,

meskipun dikerjakan secara berjamaah, tetap merupakan hubungan

paling personal antara manusia dengan Tuhan Semesta Alam.  Tidak

heran kalau Rasulullah Saw sangat menjaga shalat, baik shalat wajib

maupun shalat sunnah.

Rasulullah Saw memberikan gambaran bahwa orang yang

melaksanakan shalat itu laksana orang yang mandi di sungai jernih

lima kali sehari. Pasti orang itu akan bersih dan sehat. Saya tutup uraian

ini dengan firman Allah: “… dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat

itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan

sesungguhnya mengingat Allah (shalat) yaitu  lebih besar

(keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui

apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Ankabuut {29}: 45).

28. Tadarus Al-Qur’an

Al-Qur’an yaitu  mukjizat Rasulullah Saw yang paling besar dan lestari.

Coba anda perhatikan, sudah hampir 1500 tahun berlalu, mukjizat beliau

masih bisa kita saksikan dan akan terus bisa disaksikan. Umur mukjizat

beliau lebih panjang dari umur manusia manapun. Bandingkan dengan

mukjizat nabi-nabi yang lain, yang hanya bersifat temporal dan lokal.

Mukjizat nabi-nabi sebelum Rasulullah Saw tidak bisa lagi disaksikan

dan dikaji, tapi mukjizat beliau masih terus bisa dikaji dan dijadikan

pedoman hidup. Tapi ini tidak berar ti kita mengecilkan ar ti mukjizat

nabi-nabi yang lain.


Al-Qur’an yaitu  Kitab Suci yang paling banyak dibaca oleh manusia.

Bukan hanya oleh kaum Muslimin sebagai pemilik kitab itu, tapi juga

oleh orang-orang non Muslim, dengan berbagai tujuan dan motivasi.

Meskipun Al-Qur’an bukan buku teks sains, tapi dia banyak memuat

informasi tentang fenomena alam yang, sesudah  diteliti, terbukti

kebenarannnya. “Al-Qur’an itu yaitu  petunjuk dan penawar bagi orang-

orang yang beriman. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga

mereka ada sumbatan, sedang Al-Qur’an itu suatu kegelapan bagi

mereka.” (QS. Al-Fushshilat {41}: 44).

Al-Qur’an bukan hanya petunjuk hidup bagi manusia, tapi juga

penawar (obat) bagi penyakit-penyakit kejiwaan atau penyakit hati.

Rasulullah Saw selalu tadarus Al-Qur’an, mengingat kembali ayat-ayat

yang telah Allah turunkan kepada beliau. Sehingga Al-Qur’an menjadi

bagian yang integral dalam diri beliau, membentuk watak, sikap, dan

kepribadian beliau. Tidak heran kalau Ummul Mukminin, Aisyah ra.

mengatakan, bahwa akhlak Rasulullah Saw yaitu  Al-Qur’an.

29. Senang menger jakan puasa sunnah

Telah terbukti bahwa puasa bisa menyehatkan badan. Puasa memberikan

kesempatan pada tubuh untuk beristirahat, memulihkan kerusakan

jaringan, dan sebagainya. Dalam keadaan tidak berpuasa, organ-organ

perut kita “dipaksa” terus bekerja, tanpa istirahat. sebab  proses

penghancuran makanan sampai halus dan bersifat molekuler memakan

waktu tidak sebentar, kurang lebih 10 jam. Yakni 6 jam  proses

penghancuran di dalam lambung, dan 4 jam di dalam usus halus.

Pola makan Rasulullah Saw yang sangat sederhana memudahkan

kerja organ-organ pencernaan. Ditambah lagi dengan seringnya beliau

berpuasa sunnah, misalnya puasa Senin-Kamis, puasa per tengahan

bulan hijriyah (13, 14 dan 15), puasa 6 hari di bulan Syawal, puasa

Muharam dan sebagainya, memberikan kesempatan yang cukup banyak

bagi organ-organ pencernaan beristirahat. Betapapun mesin yang dari

besi juga tidak bisa dipaksa beroperasi terus-menerus selama bertahun-


tahun. Pantaslah kalau Rasulullah Saw mengatakan, bahwa sumber

segala penyakit ada di perut, maksudnya tentu saja sebab  perut terus

diisi dan tidak diberikan kesempatan istirahat.

Dari kenyataan di atas, kita menjadi tahu kalau sebenarnya rasa

lapar dan dahaga itu bisa diatur dan diadaptasikan, sebab  dia bukan

semata-mata per tanda tubuh membutuhkan makan atau minum. Toh

kita sering mendengar ada orang yang bisa bertahan hidup beberapa

hari walaupun tidak makan dan minum.

30. Senang berbagi (Berinfak dan ber sedekah)

Pernah suatu malam Rasulullah Saw tampak gelisah. Ini agak

mengherankan Istri beliau. sesudah  ditanya, ternyata beliau masih

menyimpan uang 3 dirham yang belum beliau sedekahkan. Lalu beliau

minta ijin pada Istrinya untuk keluar sebentar. Tak lama berselang beliau

pulang dengan wajah berseri-seri. Beliau mengatakan, bahwa uang itu

sudah beliau sedekahkan!

Tentu saja cara berpikir kita terbalik dengan cara berpikir Rasulullah

Saw. Kalau kita bisa tidur nyenyak sebab  banyaknya simpanan di bank,

dan gelisah kalau tidak memiliki  uang. Tapi beliau, justru gelisah

saat  masih menyimpan uang, meskipun hanya 3 dirham. Kita gelisah

saat  tidak memiliki  uang sebab  menganggap uang yaitu  sumber

ketenangan, walaupun ini tidak bisa disalahkan. Bukankah kalau orang

banyak uang dia bisa melakukan apa saja, termasuk berinfak dan

besedekah? Rasulullah Saw tenang dalam kemiskinan sebab  beliau

hanya bersandar kepada Allah. Allah yaitu  segalanya bagi beliau.

Kisah di atas bukan dimaksudkan untuk memotivasikan anda agar

selalu dalam kondisi tidak punya. Bukan begitu. Saya ingin katakan,

bahwa walaupun dalam kondisi kekurangan sebaiknya kita tetap berbagi

dengan sesama. Kalau kita terbiasa berinfak dan bersedekah saat 

sedang miskin, tentu tangan kita mudah terulur saat  kita kaya, atas

ijin Allah.


Rasullullah Saw bersabda: “Takutlah kalian pada api neraka,

walaupun hanya dengan menyedekahkan separuh biji kurma. Apabila

tidak mendapatkannya, cukup dengan berkata yang baik.” (HR. Bukhari

dan Muslim).

Psikologi modern mengakui, berbagi dengan sesama - melalui

infak, sedekah, dan sebagainya - yaitu  salah satu sarana untuk

menghilangkan stres dan depresi. Kalaupun tidak hilang, setidaknya

tekanan kejiwaan berkurang. Melalui kisah di atas, Rasulullah Saw

mengajarkan bahwa ketenangan bisa diperoleh