. “Bukankah kita bisa minum di sungai?” Tanya
si penulis.
“Tidak bisa, nanti kita bisa mati kehausan kalau tidak ber temu
sungai.” Jawab sufi kita. “Kalau begitu, kita beli saja nanti di pasar.”
Saran si penulis. “Tidak, saya harus kembali! Apa ar tinya perjalanan
tanpa tempat air…. Itu barang berharga satu-satunya yang saya miliki.”
Kata sufi kita. “Baiklah kalau begitu…. Tuan, saya tinggalkan semua
kemewahan, kekayaan, dan keluarga saya tanpa rasa khawatir sedikitpun,
sebab saya hanya mengharap ridha dan pertolongan Allah. Saya tidak
pernah memberi tempat sedikitpun di hati saya bagi dunia. Apa yang
saya miliki sesungguhnya hanya titipan Allah yang harus saya jaga dan
saya kembangkan. Dan saya tampakkan rasa syukur saya dengan apa
yang Tuan lihat ada pada diri saya. Saya tidak pernah merasa
kehilangan, sebab saya memang tidak pernah merasa memiliki….
Semuanya bukan milik saya. Apakah pantas saya mengaku sebagai
pemilik sedangkan saya hanya dititipkan? Tapi anda, Tuan…, anda
begitu gelisah hanya gara-gara sebuah tempat air! Padahal Tuan hidup
miskin. Kezuhudan macam apakah yang Tuan praktikan? Kalau begitu,
kita berpisah sampai di sini saja…..”
Si penulis meninggalkan sufi kita yang melongo, tak bisa berpikir
dan tak percaya dengan apa yang baru didengarnya. Dia sungguh-
sungguh menyesal telah berprasangka buruk pada seseorang yang
baru dikenalnya. Dia hanya menilai orang dari penampilan luarnya saja.
Dia sudah merasa paling zuhud di dunia, padahal sesungguhnya dia
orang miskin. Ternyata, orang miskin itu bukanlah pelaku kezuhudan,
sebab dia memang tidak memiliki apa-apa! Allah berfirman: Dan
kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (QS.
Al-Hadiid {57}: 20).
Kebiasaan Rasulullah Saw
Dari literatur kita bisa membaca dan mengetahui bahwa Rasulullah Saw
yaitu seorang yang sangat menjaga kesehatan tubuhnya. Aktivitas
beliau yang luar biasa padat, tidak membuat beliau lalai menjaga
kebugaran dan kesehatan. Bisa dibayangkan kalau beliau tidak peduli
dengan kesehatan tubuhnya, pastilah beliau sering menderita sakit.
Kendati begitu, bukan berarti beliau tidak pernah sakit. Sebagai manusia,
beliau juga pernah mengalami sakit, setidaknya beberapa kali yang
mengharuskan beliau berobat. Dan satu kali yang membuat beliau
istirahat di rumah sampai akhirnya beliau meninggal dunia.
Sakitnya Rasulullah Saw membenarkan pernyataan Al-Qur’an, bahwa
beliau memang hanya manusia biasa, sama seperti kita. Manusia yang
membutuhkan makan-minum, istirahat dan tidur, merasa senang dan
kadang sedih, sehat dan beberapa kali sakit. Dari sakitnya beliau, kita
jadi mengetahui bagaimana seharusnya seorang Muslim saat sakit
dan bagaimana menyikapi penyakit.
Berikut yaitu kebiasaan-kebiasaan Rasulullah Saw yang saya
kumpulkan, saya ringkas kemudian saya coba beri komentar semampu
saya. Meskipun komentar saya tidak membuat sosok beliau lebih agung,
sebab beliau memang manusia agung. Keagungan beliau tidak bisa
dilukiskan bahkan dengan kata-kata pujian. Prilaku beliau bila kita
praktikkan dalam kehidupan sekarang ini, pastilah kita akan sehat secara
menyeluruh, jasmani, jiwa, akal, dan ruhani.
1. Baik sangka kepada Allah
dan kepada manusia
Di atas saya katakan bahwa Islam memandang persoalan kesehatan
ini tidak secara parsial, melainkan menyeluruh (komprehensif). Dan
aspek pertama yang membuat Rasulullah Saw sehat yaitu beliau selalu
berprasangka baik kepada Allah, juga kepada manusia. Kalau psikologi
modern mengenal istilah positive thinking, Rasulullah Saw telah
mempraktikkannya jauh sebelum adanya ilmu kejiwaan. Baik sangka
kepada Allah bukan sekedar berpikir positif. Tetapi di dalamnya
terkandung sebuah pengakuan yang mistis dan transenden, bahwa
kehidupan kita sepenuhnya diawasi oleh Allah. sebab Dia sesungguhnya
Pemilik kehidupan ini. Positive thinking tidak akan menyentuh spiritualitas
seseorang. Tapi husnuzhan atau baik sangka kepada Allah memiliki
nilai yang lebih sakral, sehingga jiwa merasa tenang.
Orang yang selalu baik sangka kepada Allah yaitu orang yang
terbebas dari rasa cemas dan takut, terbebas dari belenggu keinginan
memuaskan hawa nafsu. Di hatinya hanya ada Allah, ini yang membuat
dia merasa kaya. Itu juga yang membuat dia kuat, tangguh menghadapi
kesulitan hidup, tidak lupa diri dan selalu bersyukur saat mendapat
kesenangan. Hidupnya menjadi manfaat dan kebanggaan bagi orang
lain, matinya menjadi kesedihan dan buah tutur kebaikan banyak orang.
Keberadaannya menjadi berkah dan rahmat bagi l ingkungan
sekelilingnya, dan ketiadaannya menjadi duka cita.
Dalam sebuah hadits Qudsi, Allah berfirman: “Aku mengikuti
prasangka hamba-Ku.”
Prasangka apakah yang lebih baik kepada Allah selain prasangka
baik? Kalau kita berprasangka baik kepada Allah, maka kita akan
mendapati bahwa Allah memang benar-benar baik, bahkan Dia Maha
Baik. Begitu juga kepada manusia, Rasulullah Saw tidak pernah buruk
sangka (su’uzhan). sebab saat kita berburuk sangka pada seseorang,
maka sesungguhnya --secara tak sadar-- kita sedang mengarahkan
orang itu ke dalam kondisi yang sedang kita sangkakan.
2. Selalu mengawali
dan mengakhiri aktivitas dengan doa
Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah Saw, bahwa doa
yaitu otaknya ibadah, maka menjadi sangat relevan kalau kita, sebagai
makhluk yang berakal dan berpikir, senantiasa menjadikan doa sebagai
pengawal aktivitas. Mari kita buka kembali buku sejarah tentang manusia
agung ini, Muhammad Saw. Ternyata kita mendapati, seluruh aktivitas
beliau dimulai dan diakhiri dengan doa. Coba kita runut aktivitas harian
beliau. Kita mulai dari menjelang subuh, menyambut datangnya pagi,
bangun tidur, membuka pakaian, ke kamar mandi, keluar dari kamar
mandi, berpakaian, bercermin, menyisir rambut, makan-minum, sesudah
makan-minum, keluar rumah, sebelum naik kendaraan, saat di atas
kendaraan, saat kendaraan bergerak, saat sampai di tujuan dan
seterusnya…. Semua ada doanya!
Bukan itu saja, saat beliau menghadapi kejadian-kejadian khusus
juga tidak lupa beliau berdoa. Misalnya saat terkejut bangun dari tidur,
saat bermimpi baik atau buruk, saat menjenguk orang sakit, membimbing
orang yang hampir meninggal, saat turun hujan, di hadapan pengantin
baru, saat melihat bayi yang baru dilahirkan, dan sebagainya. Bahkan
--maaf-- sampai saat hendak berhubungan suami-istri juga beliau
berdoa. Memulai aktivitas dengan doa berar ti mohon perlindungan,
kekuatan, kelancaran, kesuksesan, dan ketabahan kepada Allah. Sedang
menutup dengan doa sesudah semua urusan selesai yaitu ungkapan
rasa syukur. Adakah life style dan pola hidup yang lebih indah dari yang
dipraktikkan Rasulullah Saw? Gaya hidup seper ti itu memang baik
dijadikan model, sebab telah terbukti pelakunya sehat jasmani, jiwa,
akal, dan ruhaninya.
Sesungguhnya Rasulullah Saw yaitu Guru Besar Kepribadian yang
paling agung. Saya tutup uraian singkat ini dengan sabda Rasulullah
Saw: “Mintalah kalian kepada Allah dari anugerah-Nya, sesungguhnya
Allah senang (saat ) diminta.” (HR. Tirmidzi dan Abu Nu’aim).
3. Selalu mengendalikan emosi
Sebagai pemimpin politik dan agama, tentulah banyak hal yang harus
diurus dan diselesaikan oleh Rasulullah Saw. Belum lagi masalah-masalah
sepele yang kadang datang begitu saja. Tapi semua dihadapi oleh
Rasulullah Saw dengan lapang dada. Tidak pernah beliau marah, kecuali
dalam hal yang menyangkut hak Allah atau urusan agama. Ini
menunjukkan betapa emosi beliau sangat stabil, terkendali dan selalu
berada di jalur yang benar. Dan kita kemudian tahu bahwa kecerdasan
intelektual (IQ) ternyata bukan menjadi penentu keberhasilan seseorang.
Justru kecerdasan emosilah (EQ) yang lebih besar peranannya dalam
menentukan sukses dan gagalnya seseorang. Begitu menurut Daniel
Goleman.
Rasulullah Saw tahu benar, di mana dan dalam kondisi bagaimana
harus marah. Kalau tidak ada yang perlu dimarahi, beliau easy going
saja. Ada sebuah kisah menarik yang menunjukkan kematangan dan
kestabilan emosi Rasulullah Saw. Yakni saat terjadi desas-desus dan
gosip yang menyinggung kesucian Ummul Mukminin, Aisyah ra, istri
beliau. Beredar kabar kalau Aisyah ra. “ada main” dengan seorang
bekas budak bernama Shafwan bin Mu’aththal As-Silmiy. Gosip itu
disebarkan oleh gembong munafik Abdullah bin Ubay. Sebabnya sebab
Aisyah ra. tertinggal seorang diri dari rombongan Rasulullah Saw yang
pulang menuju Madinah sesudah berperang melawan Bani Mushthaliq
dan, atas perkenan Allah, Aisyah ra ditemukan oleh Shafwan, yang juga
ketinggalan rombongan.
Sebagai Suami, Rasulullah Saw sempat “shock” juga mendengar
gosip tak sedap yang kian santer itu. Tapi beliau terus menahan diri,
seraya memohon pertolongan kepada Allah. Hubungan beliau dengan
Aisyah ra jadi agak kaku dan dingin, sehingga membuat Aisyah ra.
bingung dan akhirnya jatuh sakit. Tapi Allah tidak membiarkan hamba-
hamba-Nya yang suci merana dalam kebimbangan dan dil iputi
kecurigaan. Allah menurunkan ayat dalam surat An-Nuur (24) ayat 11-
20 yang menegaskan kesucian Aisyah ra. Penegasan Allah ini membuat
Rasulullah Saw gembira.
Sangat manusiawi sekali sebagai suami, Rasulullah Saw merasa
masygul mendengar isteri beliau digosipkan berbuat tidak terpuji. Tapi
emosi beliau tetap terkendali. Beliau tetap tenang dan tidak
melampiaskan kemarahan secara membabi buta, walaupun para
Sahabat ra melihat kedukaan dan kesedihan di wajah beliau. Kita bisa
mencontoh Rasulullah Saw, walaupun dalam keadaan sangat tertekan,
beliau tetap bisa mengendalikan emosi.
Sedang kejadian “sepele” yang saya maksudkan yaitu seperti ini
: Suatu hari seorang Badui dusun mendekati Rasulullah Saw dan tiba-
tiba dia menarik rida’ (kain penutup punggung) beliau dengan keras,
sehingga meninggalkan bekas di punggung beliau. Si Badui dusun itu
meminta sesuatu, Rasulullah Saw menanggapi dengan senang hati dan
memberikan apa yang mintanya. Beliau sama sekali tidak marah atau
tersinggung.
4. Tidak ir i dengan keberuntungan orang lain
Kita yakin bahwa setiap Allah ciptakan makhluk, pastilah Dia tetapkan
juga rezekinya. Kalau kita menyadari hal itu, maka kita bisa hidup dengan
tenang. Tidak perlu iri hati atas rezeki badan orang lain. Tidak perlu
cemas dengan keberhasilan duniawi orang lain. Tinggal bagaimana
kita berusaha saja. Kalau usaha kita keras, dan kemauan kita untuk
berhasil juga sangat kuat, maka insya Allah keberhasilan akan kita
dapatkan. Ada ungkapan yang mengatakan: “Siapa yang sungguh-
sungguh berusaha, dia akan mendapatkan hasil”. “Dan tidak ada suatu
binatang melatapun di bumi, melainkan Allah-lah yang memberinya
rezeki.” (QS. Huud {11}: 6).
Allah telah memberi garansi, bahwa Dia tidak akan membiarkan
makhluk-Nya hidup tanpa kucuran rezeki dari-Nya. Jaminan Allah ini
bersifat pasti dan mutlak benar. Oleh sebab itu Rasulullah Saw tidak
pernah merasa iri dengan keberhasilan dunia seseorang. Beliau malah
ikut senang bila melihat para Sahabat berhasil, hidup makmur dan
berkecukupan.
5. Tidak dipusingkan oleh urusan dunia
Banyak ayat Al-Qur’an dan sabda Rasulullah Saw yang menganjurkan
agar kita bekerja dan mencari penghidupan, mencari rezeki dan fadhilah
Allah yang disebar di muka bumi. Dan Rasulullah Saw telah
mempraktikkan hal itu. Di sela-sela kesibukan berdakwah, membina
umat, memimpin negara, beliau tidak melupakan “urusan dapur”. Beliau
tetap bekerja dan mencari nafkah untuk keluarga. Padahal kalau beliau
mau, harta rampasan perang yang melimpah ruah ada di tangan beliau
dan tidak akan habis dimakan setahun. Tapi seluruh har ta itu selalu
beliau kembalikan kepada umat. Tidak ada yang beliau sisakan untuk
dirinya dan keluarganya. Beliau tetap bersikap qana’ah, sederhana dan
apa adanya. Beliau tidak pernah dipusingkan atau disibukkan oleh urusan
dunia. Itulah yang membuat beliau tampak selalu riang dan optimis.
Kendati begitu beliau tetap mencari nafkah sebagai bentuk
tanggungjawab seorang suami dan kepala rumah tangga. Ingat saja
Nabi Daud as. yang dianugerahi nikmat luar biasa oleh Allah, tapi Allah
tetap memerintahkannya: “Bekerjalah wahai keluarga Daud sebagai
tanda syukur!” (QS. Saba’ {34}: 13).
Bisa dimengerti kalau Rasulullah Saw hidup dalam keadaan miskin,
sementara kekuasaan politis sepenuhnya berada di tangan beliau. Beliau
tidak mengambil peluang menumpuk kekayaan untuk diri beliau dan
keluarga beliau (Ini sangat berbeda dengan pemimpin politik masa kita
sekarang). Bagaimanakah nanti sejarah mengabarkan bahwa
Muhammad, Rasul Allah yang terakhir, hidup kaya raya dalam serba
kemewahan, sedangkan umatnya yang datang kemudian yaitu orang-
orang miskin papa? Tapi kenyataan ini tidak membuat kewajiban bekerja
keras umat Islam menjadi gugur. Umat Islam harus tetap bekerja keras,
sebab ada banyak perintah agama yang semuanya mengisyaratkan
keharusan memiliki kekayaan. Misalnya perintah berjihad dengan harta,
juga menunaikan ibadah haji. “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-
Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu….” (QS.
At-Taubah {9}: 105).
6. Selalu optimis
Rasulullah Saw yaitu orang yang senantiasa optimis memandang masa
depan. Beliau hampir tidak pernah terlihat suntuk atau kesal, kecuali
dalam satu-dua kasus. Selebihnya beliau selalu tampil segar dan ceria,
penuh senyum. Wajah beliau yang bersih dan suci dilukiskan bagai cahaya
bulan purnama di kegelapan malam. Beliau selalu optimis dan yakin
dengan masa depan yang baik, yang akan beliau terima dan juga akan
diterima oleh umat beliau. “Masa depan” bukan hanya berar ti masa
depan di dunia ini saja, tapi juga masa depan di akhirat nanti. “Dan
sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu daripada permulaan. Dan
kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati)
kamu menjadi puas.” (QS. Adh-Dhuhaa {93}: 4-5).
Boleh jadi kita tidak bahagia di hidup di dunia, tapi setidaknya kita
masih memiliki harapan bahagia di akhirat. Di mana hamba-hamba
yang dirahmati memperoleh karunia yang tiada taranya dari Allah.
Adanya akhirat itu bisa menjadi motivasi yang kuat bagi seorang Muslim
untuk meraih kebahagian di dunia dan akhirat sebagaimana doa yang
setiap saat dia panjatkan: “Ya Tuhan kami, berikanlah kami kebahagiaan
di dunia dan kebahagiaan di akhirat, dan jauhkanlah kami dari siksa api
neraka.” (QS. Al-Baqarah {2}: 201 ).
Perasaan optimis yaitu separuh dari kebahagiaan, dan selangkah
menuju keberhasilan. Sebaliknya, rasa pesimis merupakan bibit
kegagalan dan bayangan ketidakbahagiaan. Oleh sebab itu Rasulullah
Saw selalu yakin akan meraih masa depan yang bahagia.
7. Selalu ber sabar dan bersyukur
Di halaman sebelumnya saya telah menyinggung soal pujian Rasulullah
Saw kepada kaum Muslimin. saat tertimpa musibah, mereka bersabar.
Dan saat mendapatkan nikmat, mereka bersyukur. Kombinasi antara
sabar dan syukur ini membuat seorang mukmin menjadi manusia yang
tangguh. Dalam kondisi bagaimanapun, dia selalu bisa mengambil
pelajaran berharga. Sehingga tidak ada peristiwa atau kejadian yang
dia alami yang berlalu begitu saja. Tidak ada pengalaman, bahkan yang
paling pahit sekalipun yang berlalu sia-sia. Rasulullah Saw selalu berdoa:
“Ya Allah, jadikanlah aku orang yang pandai bersyukur (kepada-Mu),
jadikanlah aku orang yang pandai bersabar (menghadapi cobaan-Mu),
jadikanlah aku kecil dalam pandangan mataku, tapi seseorang yang
besar dalam pandangan orang lain.”
Kalangan sufi biasa mengatakan, “Apabila kami mendapatkan nikmat
atau kebaikan, kami bersabar. Dan apabila kami mendapat musibah
atau keburukan, kami bersyukur.”
Mengapa mereka berkata begitu? sebab saat mendapatkan
nikmat, mereka khawatir tidak bisa menahan diri. Mereka jadi gelap
mata dan memburu kenikmatan duniawi, sehingga melupakan Allah.
Dan saat mereka mendapat musibah, mereka bersabar sebab
mungkin saja keburukan yang menimpa mereka yaitu pertanda kasih
sayang Allah. Mereka bersyukur sebab ternyata Allah masih sayang
pada mereka. Atau mereka bersyukur sebab mungkin saja ada manusia
lain yang diberi ujian lebih besar dan lebih berat dari mereka. Wallahu
a’lam.
8. Hanya bicara yang baik-baik saja
Belum pernah ada dalam sejarah manusia, seseorang yang seluruh
kehidupannya terdokumentasikan dengan sangat baik dan rapi seperti
halnya Rasullullah Saw. Para nabi sebelum beliau dan para pemimpin
dunia saat ini, tidak semua gerak-gerik dan kata-katanya di catat. Tapi
Rasulullah Saw, bahkan “musuh” beliau pun ikut menjadi saksi atas
semua tingkah laku beliau. Hasilnya sangat luar biasa. Dalam kurun
waktu kurang-lebih 23 tahun menjadi rasul, kata-kata yang keluar dari
mulut beliau sangat sedikit. Sehingga saat dibukukan oleh imam-imam
ahli hadits hanya menjadi beberapa buku saja. Kendati demikian, apa
yang beliau katakan sangat efektif dan terukur sehingga bisa menjadi
rujukan dalam pengambilan dalil hukum maupun dalam bertingkah laku
para pengikut beliau di manapun berada dan kapanpun.
Rasullullah Saw bersabda: “Ber tutur kata yang baik yaitu
sedekah.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Rasullullah Saw juga mengingatkan umat beliau agar berkata yang
baik-baik saja atau diam. Diam sama sekali. sebab diam yaitu emas.
Sedang banyak bicara, apalagi bicara ngalor-ngidul yang tidak
mencerdaskan, bisa mematikan (potensi) hati. Tapi diam yang beliau
maksud sangat pada tempatnya. Beliau diam tepat pada waktu beliau
memang harus diam. Dan saat harus bicara, beliau bicara. Bukan
diam saat seharusnya bicara, dan berbicara saat seharusnya diam,
seperti kecenderungan pemimpin kita saat ini.
9. Tidak suka dihormati secara ber lebihan
Suatu hari Rasullullah Saw menghadiri sebuah majelis. Para Sahabat
ra. yang datang lebih dahulu kontan berdiri, menyambut kedatangan
beliau. Rasullullah Saw bukannya senang mendapat penghormatan
semacam itu, tapi justru menegur para Sahabat ra.: “Apakah kalian
ingin menjadikan aku seperti kaisar-kaisar Romawi?”
Meskipun bergelar “Rasull Allah”, tapi Muhammad Saw sebagai
pribadi, tidak ingin dihormati secara berlebihan oleh para Sahabat ra.
Beliau sudah merasa cukup dan bangga mendapat gelar Rasul dari
Allah. Adakah gelar yang lebih mulia daripada gelar yang diberikan
oleh Allah kepada hamba-Nya? Apatah lagi gelar Kaisar atau Kisra,
yang hanya gelar sebab memiliki wilayah kekuasaan politik?
Dalam riwayat yang lain, saat Rasulullah Saw sedang berbincang
dengan dengan tamu-tamu penting, datanglah seorang wanita tua dan
miskin. Wanita itu mengadukan sesuatu pada Rasullullah Saw. Beliau
mendengarkan setiap kalimat wanita itu dengan penuh perhatian, sama
seperti beliau menanggapi pembicaraan tamu-tamunya. Ini tentu saja
membuat para tamu terpesona. Sungguh indah akhlak Rasullullah Saw.
Sekilas kisah-kisah ini seper ti tidak ada hubungannya dengan
kesehatan. Tapi kalau kita mau berpikir jernih, prilaku Rasullullah Saw
yang santun itu sesungguhnya menunjukkan sehatnya jiwa dan ruhani
beliau. Betatapun tingginya kedudukan beliau di mata Allah dan di mata
manusia, tapi beliau tetap tawadhu’, rendah hati. Sering kita jumpai di
tengah masyarakat, seorang mantan pejabat yang menderita post power
syndrome. saat purna tugas, dia sakit-sakitan sebab seluruh
penghormatan yang selama ini melekat pada dirinya tiba-tiba dicabut
secara paksa (setidaknya dipaksa oleh usia tua). Selama berperan
sebagai pejabat dia sangat diistimewakan dan dinomorsatukan. Tapi
sesudah pensiun, dia tidak lebih hanya seorang kakek yang mantan
pegawai juga!
10. Bangun tidur menjelang subuh
Rasulullah Saw biasanya tidur sesudah shalat Isya. Beliau tidak suka
makan atau bercakap-cakap sesudah shalat Isya. Ini membuat waktu
istirahat beliau jadi sangat efektif. Menjelang subuh beliau bangun untuk
menegakkan qiyamul lail, shalat malam. Menjelang subuh yaitu waktu
yang paling baik, sebab oksigen di udara sedang melimpah ruah.
Sehingga orang yang bangun saat itu mendapat asupan udara segar
pertama, yang bisa meningkatkan vitalitas. Semangat dan gairah hidup
menjadi membuncah. Ini yaitu modal awal sebuah keberhasilan.
Bangun pagi sangat menyehatkan. Bukan hanya fisik, tapi juga jiwa
dan ruhani. Rasulullah Saw sesudah mandi, shalat Subuh dan berzikir,
beliau sarapan pagi dengan menu yang sangat sederhana, segelas air
jernih yang dicampur sesendok makan madu murni. Menu ini sangat
luar biasa, sebab madu mengandung hampir semua zat yang
dibutuhkan oleh tubuh, seperti glukosa, fruktosa, protein, asam amino,
mineral, dan lain-lain. Dan satu sendok makan madu murni ternyata
mengandung 64 kalori, di samping bisa juga menjadi antibiotik.
Sedangkan menjelang siang, kira-kira pukul 09.00-10.00, Rasulullah Saw
biasanya makan 7 (tujuh) butir kurma ajwa’. Beliau bersabda: “Barang
siapa makan tujuh butir kurma, maka akan terlindung dari racun.”
Sekali lagi, bangun menjelang subuh berarti memberi kesempatan
kepada tubuh kita untuk mendapatkan udara bersih. Apalagi bagi kita
yang tinggal di kota besar, yang tingkat polusinya sangat luar biasa
sebab banyaknya kendaraan bermotor. Udara bersih dan segar yang
kita hirup akan berimbas pada gairah untuk menyongsong hari dengan
upaya dan ikhtiar yang lebih baik.
11. Hanya makan makanan yang halal dan baik saja
Buku-buku Sirah Nabawiyah (Sejarah Kenabian Muhammad Saw)
menginformasikan kepada kita, bahwa Rasulullah Saw tidak makan
kecuali hanya yang halal dan baik-baik saja. Beliau sangat pemilih dalam
hal makanan, sehingga tidak boleh ada sebutir kurmapun, yang didapat
dari jalan tidak halal, yang masuk ke perut beliau. Ini sesuai benar
dengan instruksi Allah Azza wa Jalla: “Hai sekalian manusia, makanlah
yang halal lagi baik dari apa yang ada di bumi, dan jangan kamu
mengikuti langkah-langkah setan.” (QS. Al-Baqarah {2}: 168).
Makan bagi Rasulullah Saw bukan sekadar memasukkan makanan
ke dalam mulut dan kemudian menelannya. Tapi lebih dari itu, makan
yaitu sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah atas begitu banyak
anugerah yang telah Dia berikan. Sikap seperti ini membuat aktivitas
makan juga menjadi bagian dari ibadah yang bernilai pahala. saat
makan Rasulullah Saw tidak berlebihan, baik dalam menu maupun dalam
porsi, sehingga “jatah” makan beliau tidak pernah tersisa. Beliau juga
tidak pernah mengkonsumsi makanan atau minuman yang memabukkan
atau beraroma keras seperti bawang merah dan bawang putih (kalau
di sini mungkin jengkol atau petai). Kecuali makanan dan minuman
yang diharamkan, beliau tidak pernah mencela atau melarang memakan
makanan yang beraroma keras asal saja sesudah itu segera
membersihkan mulut.
Makanan halal yaitu makanan yang diberkahi Allah, sedang
makanan yang baik yaitu yang memenuhi standar gizi, protein,
mineral, dan sebagainya. Kombinasi makanan yang halal dan baik bukan
saja menyehatkan badan, tapi juga menyehatkan jiwa dan ruhani.
Berlebihan yaitu salah satu ciri-ciri setan. Makanya kita dilarang
berlaku berlebihan, termasuk dalam hal makan. Di kota-kota besar
sering kita jumpai restoran yang mempersilahkan pengunjung makan
sepuasnya hanya dengan sekali bayar. “Tawaran” ini membuat orang
tergiur untuk memuaskan nafsu makannya dengan makan apa saja
yang ada di sana meskipun di perutnya sudah tidak ada ruang untuk
menampung, meskipun makanan itu tidak baik bagi kesehatan. Itulah
fenomena kemubaziran yang kemudian disulap menjadi gaya hidup.
12. Tidak mengkonsumsi makanan
dan minuman yang membahayakan organ tubuh
Sebelum diangkat Allah menjadi rasul, Muhammad sudah dikenal
memiliki akhlak yang baik dan terpuji. Beliau tidak pernah melakukan
perbuatan yang membuat beliau jadi omongan buruk masyarakat. Beliau
juga tidak pernah sekalipun mencicipi minuman keras (khamr), yang
saat itu menjadi tren di kalangan kaum bangsawan dan para pemuda
Quraisy. Mereka terbiasa clubbing dan dugem sambil minum khamr
dan menyaksikan tarian perut, kadang mereka ikut menari sambil mabuk.
Pemuda Muhammad juga tidak memakan daging babi hutan hasil
buruan, misalnya. Apalagi sesudah menjadi rasul, akhlak beliau semakin
indah. Sehingga Allah memuji beliau: “Sesungguhnya engkau benar-
benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al-Qalam {68}: 4).
Mengkonsumsi makanan dan minuman yang membahayakan atau
bisa merusak organ tubuh kita yaitu sebuah kebodohan. Misalnya
mengkonsumsi minuman beralkohol, bir, wiski dan sebagainya, yang
kita sudah tahu keburukannya. Atau memakai jenis-jenis narkoba yang
lain: ganja, heroin, kokain, putaw, sabu-sabu, dan sebagainya. Barang-
barang itu hanya menjanjikan kenikmatan sesaat, selebihnya yaitu
jebakan yang tidak berkesudahan. Allah memperingatkan dengan keras:
“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.”
(QS. Al-Baqarah {2}: 195).
Dalam wilayah agama, khamr atau minuman keras dikenal sebagai
“nenek moyang kejahatan”. sebab dari seteguk khamr, bisa melahirkan
kejahatan yang lebih besar. Khamr berpotensi merusak otak dan sistem
syaraf, mengakibatkan impotensi, mengganggu ker ja jantung, dan
meracuni hati. Khamr juga bisa melemahkan gairah hidup, membuat
emosi labil dan sering tak terkendali. Jiwa menjadi rapuh. Al-Qur’an
menyebut khamr sebagai kotoran (najis) yang harus dijauhi. “Hai orang-
orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, ber judi,
(berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, yaitu
perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-
perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al-Maaidah
{5}: 90).
Orang yang menjauhi dan meninggalkan perbuatan keji, yaitu
orang yang beruntung. Keuntungan pertama, dia tidak dimurkai Allah,
bahkan kemungkinan dia mendapat pahala sebab menuruti perintah
Allah. Keuntungan kedua, kalau dia sudah bisa meninggalkan perbuatan
yang diharamkan agama, tentu dia juga tidak merasa keberatan
meninggalkan perbuatan yang “makruh”, seper ti mengisap rokok.
Keuntungan ketiga, dia dianggap sebagai hamba yang baik dalam hal
memegang amanah, sebab tubuhnya hanyalah titipan Allah yang harus
dijaga, bukan miliknya sendiri. Keuntungan keempat, dia tidak termasuk
orang bodoh sebab menjauhi semua barang haram itu. Dan
keuntungan kelima dia akan sehat, atau setidaknya tidak sakit sebab
narkoba atau sebab berbuat keji.
Kita tahu, negara kita sekarang bukan lagi tempat transit peredaran
narkoba, melainkan sudah menjadi tujuan penjualan. Indonesia yaitu
pasar potensial, surga bagi para bandar narkoba. Lemahnya sistem
hukum kita, dan mudahnya aparat penegak hukum diajak kongkalikong
menjadi alasan mengapa Indonesia menjadi tempat yang aman bagi
para penjahat narkoba. Setiap hari milyaran rupiah mengalir untuk
transaksi narkoba. Dan setiap hari puluhan nyawa melayang sia-sia
akibat narkoba. Setiap hari pula para pelaku, baik pengguna maupun
pengedar ditangkap aparat keamanan, tapi peredaran narkoba semakin
meluas bahkan sampai ke desa-desa terpencil. Ini sangat
memprihatinkan.
Rasulullah Saw juga tidak makan makanan yang haram, misalnya
daging babi. Babi banyak membawa mikro organisme yang sangat
membahayakan tubuh manusia. Babi juga terbukti terkena penyakit
epidemis yang jumlahnya mencapai 450 jenis dan menjadi sarana
penularan lebih dari 75 penyakit.
13. Selalu menutup makanan dan minuman
Rasulullah Saw memang sangat luar biasa, itu dari hampir semua
persoalan manusia sudah disiapkan jawabannya, sampai ke soal
makanan. Beliau melarang wadah makanan dan minuman dibiarkan
terbuka. Tentu saja kita bisa dengan mudah mengerti maksudnya. Kalau
makanan atau minuman dibiarkan terbuka, dikhawatirkan kemasukan
debu, dimakan tikus, terkena bakteri, mikroorganisma, jasad renik atau
dihinggapi lalat, yang semuanya bisa menimbulkan penyakit. Dengan
tegas beliau bersabda: “Tutuplah wadah-wadah makananmu dan ikatlah
leher-leher kantung airmu. sebab sesungguhnya ada satu malam dalam
satu tahun di mana wabah datang dan tidak datang ke wadah-wadah
yang tak ter tutup kecuali dia (wabah itu) jatuh ke dalamnya.” (HR.
Muslim).
Memang lebih aman kalau kita menutup tempat makanan dan
minuman kita. Ini sebagai upaya pencegahan. Bukankah mencegah lebih
baik daripada mengobati?
14. Tidak tidur pada waktu yang dilarang
Ada waktu-waktu yang umat Islam dilarang tidur, walaupun larangan ini
tidak sampai berar ti haram. Yakni sesudah shalat Subuh dan sesudah
shalat Ashar. Para ulama berusaha mencari sebab yang pasti dan ilmiah,
mengapa di kedua waktu itu umat Islam dilarang tidur oleh Rasulullah
Saw. sebab tidak mungkin Rasulullah Saw melarang umat beliau
melakukan sesuatu kalau tanpa sebab yang jelas. Memang ada sebuah
hadits yang menyatakan, bahwa tidur di waktu pagi menghalangi rezeki.
Tidur sesudah fajar memang bukan sebuah kebaikan, juga saat
menjelang senja. sebab di kedua waktu itu, konon, sedang terjadi
pergantian udara yang ekstrem, dari gelap ke terang dan dari terang
ke gelap. Kalau kita melalui kedua waktu itu dengan aktivitas yang bersifat
fisik atau pikir, itu lebih baik daripada tubuh dalam keadaan diam (tidur).
Ummul Mukminin, Aisyah ra. berkata: “Barangsiapa tidur di senja hari,
maka dia akan gila.” (HR. Abu Daud).
Kalaupun kita tidak tahu alasannya, mengapa di kedua waktu itu
Rasulullah Saw melarang kita tidur, maka mengikuti anjuran beliau
dipandang lebih baik daripada berpayah-payah mencari sebab ilmiahnya.
15. Istirahat yang cukup
Betapapun sibuknya Rasulullah Saw, tapi beliau tetap memberikan hak
kepada tubuh atau fisik beliau untuk beristirahat. Beliau biasa tidur
sesudah shalat Isya, dan bangun menjelang subuh. Beliau mandi dan
melaksanakan shalat Tahajjud dan Witir. sesudah itu beliau melantunkan
ayat-ayat Al-Qur’an beberapa ‘ain. Kadang-kadang beliau merebahkan
tubuh sebentar, sekadar menghilangkan keletihan sesudah qiyamul lail.
sesudah itu beliau ke masjid dan terus beraktivitas sampai masuk waktu
zhuhur. Sesekali sesudah shalat Zhuhur beliau istirahat, tidur beberapa
menit. “Sesungguhnya badanmu memiliki hak atas dirimu.”
Begitu sabda Rasulullah Saw. Salah satu hak badan kita yaitu
memberinya kesempatan beristirahat, berhenti sejenak dari aktivitas.
Jadi, yang menjadi ukuran bukanlah berapa lama seseorang tidur, tapi
seberapa baik kualitas tidurnya. Rasulullah Saw yaitu manusia yang
sehat jiwa dan ruhaninya, oleh sebab itu kualitas tidur beliau sangat
baik meskipun hanya beberapa saat saja. sesudah bangun tidur, tubuh
beliau sudah tampak fresh kembali. Beliau bahkan mencela para Sahabat
ra. yang berlebihan dalam beribadah sehingga melupakan hak-hak
badan mereka dan lebih parah lagi mengabaikan tanggung jawab
menafkahi keluarga dan memberikan hak ruhani istri-istri mereka.
Rasulullah Saw biasa memulai posisi tidur dengan miring ke kanan,
menghadap ke Mekah. sesudah itu boleh berganti posisi. Kadang tangan
kanan beliau dijadikan sebagai alas kepala (bantal). Para pakar
kesehatan menganjurkan agar waktu tidur kita 8 jam sehari. Ini untuk
memberikan kesempatan pada tubuh agar memperbaiki jaringan yang
rusak dan sebagainya. Anjuran ini baik-baik saja dilaksanakan. Tapi
bagi seorang Muslim, ittiba’ (mengikuti prilaku) Rasulullah Saw dipandang
lebih baik.
16. Menikah
Nikah yaitu ketentuan Allah dan menjadi sunnah semua rasul Allah,
kecuali Nabi Yahya as. yang syahid sebelum sempat menikah, juga Nabi
Isa as yang diselamatkan Allah ke langit sebelum dizalimi kaum Yahudi.
Dengan nikah hubungan kelamin antara seorang pria dan seorang wanita
menjadi halal. Pada dasarnya, fitrah kita memang mencari pasangan.
Sebab Allah menciptakan segala sesuatu berpasangan-pasangan. “Maha
Suci Dia, yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik
dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi, dan dari diri mereka maupun
dari apa yang tidak mereka ketahui.” (QS. Yaasiin {36}: 36).
Rasulullah Saw melarang umat Islam membujang, kecuali sebab
ada alasan-alasan medis dan dibenarkan oleh syariat. Dalam sebuah
hadits, beliau bersabda: “Barangsiapa si antaramu dirisaukan oleh
dorongan seksualnya, hendaklah dia menikah. Sebab pernikahan dapat
merendahkan pandangan dan menjaga organ seks.” (HR. Bukhari).
Jalaluddin Abdurrahman As-Suyuthi (1445-1505 M), seorang pakar
ilmu-ilmu keislaman, mengatakan bahwa berpantang dan menahan diri
dari berhubungan seksual telah (bisa) mengakibatkan timbul lebih dari
satu penyakit. Maka solusi yang tepat yaitu menikah, sebab menikah
bisa menyehatkan jiwa. Memang belakang ini banyak orang yang merasa
pernikahan yaitu sebuah “penjara” bagi jasmani dan jiwa seseorang.
Yang lain bertanya: “Kalau ‘kenikmatan badani’ yang kita dapatkan di
dalam pernikahan bisa juga diperoleh di luar pernikahan, mengapa
harus menikah?“
Begitu kalau pernikahan dipandang hanya sebagai sarana untuk
melepaskan dorongan seksual. Bukan sebagai sarana untuk menuju
capaian yang lebih tinggi dan mulia. Dalam Islam pernikahan memiliki
tujuan yang sangat agung. Salah satunya membentuk generasi Rabbani,
yang nantinya akan menjadi mujahid-mujahid dakwah, yang
menyebarkan Islam ke seantero dunia dengan kasih sayang dan akhlak
mulia. Juga mener tibkan nasab (keturunan, silsilah).
17. Berhubungan seksual sesuai syariat
Berhubungan seksual yaitu fitrah insaniyah. Seorang laki-laki berhasrat
pada seorang wanita itu sangat wajar dan normal. Tidak ada yang salah
dalam hal ini. Menjadi persoalan saat dorongan atau hasrat ingin
berhubungan seksual itu muncul, kemudian disalurkan dengan cara
yang tidak benar, yang diharamkan oleh agama. Islam mengatur masalah
ini dengan sangat lengkap dan indah. Seorang laki-laki hanya boleh
melakukan hubungan seksual dengan wanita yang telah dinikahinya.
Atau sebaliknya, seorang wanita hanya boleh berhubungan seksual
dengan laki-laki yang telah menikahinya. Itulah aturan agama yang haqq,
yang berasal dari Yang memiliki Hak Mengatur, Allah Azza wa Jalla.
Agama juga mengatur, seorang laki-laki hanya boleh menggauli
isterinya di organ yang sudah ditetapkan, yakni vagina. Tidak boleh di
dubur, atau di bagian anal. Sedang mengenai oral seks, sebagian besar
ulama mengharamkan, tapi sebagian lainnya membolehkan dengan
syarat diketahui dan dijaga kebersihannya. Tapi anal seks jelas-jelas
terlarang. Begitu pula perilaku seks menyimpang, Islam tidak memberi
toleransi dan dengan tegas mengharamkan. Apa yang telah diharamkan
Allah dan Rasul-Nya tidak perlu lagi kita cari-cari dalih untuk menolaknya.
Tidak perlu mengajukan berbagai alasan dengan memainkan logika
dan kata-kata, termasuk alasan HAM dalam memilih orientasi seksual.
Tidak cukupkah peringatan yang Allah berikan lewat banyaknya penyakit
kelamin, HIV, AIDS, dan sebagainya?
Apakah harus menunggu Allah menghancurkan negeri kita dahulu
seperti Dia menghancurkan umat Nabi Luth as., baru kita mau sadar?
Rasulullah Saw memberikan tuntunan yang indah dalam persoalan
hubungan suami-istri ini. Misalnya:
- Menyiapkan fisik dan mental.
- Membersihkan badan dan memakai wewangian.
- Berwudhu (kalau sempat shalat 2 rakaat, lebih baik).
- Berdoa sebelum beribadah seksual dengan doa: “Bismillahi
Allahumma jannibnasy-syaithaana, wa jannibisy-syaithaana maa
razaqtanaa”, ar tinya: “Dengan nama Allah, ya Allah, jauhkanlah
kami dari gangguan setan, dan jauhkanlah setan dari rezeki (anak)
yang akan Engkau anugerahkan pada kami.” (HR. Bukhari)
- Melakukan pemanasan (fore play), tidak langsung “tembak.”
- Menutup badan dengan selimut.
- Tidak tergesa-gesa, sehingga bisa mencapai orgasme bersama
- Berwudhu bila ingin mengulanginya.
- Mandi besar bila telah selesai.
Mandi sesudah berhubungan seksual terbukti bisa mengembalikan
energi yang hilang dan mengendurkan syaraf-syaraf yang tegang akibat
aktivitas yang melelahkan itu. Begitulah Rasulullah Saw memberi tuntunan
kepada umatnya, bahkan tuntunan dalam hal berhubungan seksual,
yang dianggap oleh sebagian besar manusia sebagai “aktivitas” yang
tidak perlu diajarkan dan paling pribadi.
18. Tidak menahan-nahan buang hajat
Rasulullah Saw melarang kita melaksanakan shalat sementara kita
menahan-nahan buang hajat, baik buang air besar, buang air kecil,
atau buang gas. Menahan-nahan buang hajat pada saat sedang shalat
bukan saja menghilangkan kenikmatan beribadah, tapi juga membuat
shalat tidak khusyuk. Kita jadi tidak bisa konsentrasi kecuali ingin segera
menyelesaikan shalat. Shalat jadi terburu-buru dan tubuh tidak nyaman.
Menahan-nahan buang hajat juga bisa berpengaruh buruk bagi
tubuh. Kotoran berupa zat padat, cairan atau gas yang seharusnya
dibuang, tapi terhambat oleh sebab kita tahan, akan membuat otot-
otot sekitar kemaluan berkontraksi hebat. Apalagi kalau menahan buang
hajat menjadi kebiasaan, itu bisa berakibat fatal. Menahan buang air
kecil misalnya, bisa mengakibatkan kencing batu. Larangan menahan
buang hajat tidak hanya berlaku pada saat shalat saja, tapi berlaku
umum. Di mana saja dan kapan saja. Begitu ingin buang air besar atau
buang air kecil, segeralah tunaikan. Begitu juga kalau hendak buang
gas, tidak perlu ragu… keluarkan saja. Tapi untuk kasus yang terakhir
ini biasanya memang kita melihat tempat dan situasinya. Kalau di depan
orang banyak memang tidak etis kita buang angin, sebaiknya menyingkir
dulu ke tempat yang “aman”. Dikhawatirkan bunyi “ledakan” dan
“aromanya” mengganggu orang lain.
Tapi sesungguhnya agak aneh juga masyarakat kita. Kita sering
mengatakan tidak etis kepada orang yang buang angin sembarangan,
sementara kita sangat bisa menerima orang yang merokok
sembarangan. Padahal dalam kasus buang angin, baik orang yang
“melepaskan” maupun yang mencium aromanya tidaklah terganggu
kesehatannya. Berbeda dengan rokok. Orang yang merokok dan orang
yang menghirup asap rokok secara tidak sengaja sama-sama rugi.
Keduanya sama-sama menghirup racun sisa pembakaran zat-zat
berbahaya.
19. Olah raga
Pernah saat kaum Muslimin sedang menggali parit (khandaq) di luar
kota Madinah untuk menahan serangan kaum kafir, tiba-tiba palu
seorang Sahabat menyentuh batu besar yang tertimbun di dalam tanah.
Posisi batu itu sangat mengganggu, oleh sebab itu harus disingkirkan.
Caranya dengan memecahkan batu itu ter lebih dahulu agar bisa
diangkat. Tapi sekian banyak Sahabat memukul batu besar itu berkali-
kali dan berganti-ganti, batu itu tidak kunjung terbelah. Kabar ini sampai
kepada Rasulullah Saw yang juga sedang menggali parit di bagian
yang lain. Lalu beliau menuju lokasi batu besar itu. sesudah sampai di
sana, beliau meminjam palu seorang Sahabat, dan dengan sekuat tenaga
beliau pukul batu besar itu. Hanya dengan sekali pukul, batu itu terbelah
menjadi beberapa bagian sehingga mudah diangkat. Dari kejadian itu,
nyatalah bagi kita bahwa Rasulullah Saw memiliki kekuatan fisik yang
luar biasa. Ini sebab beliau gemar berolah raga.
Rasulullah Saw yaitu penungang kuda yang ulung, beliau juga
pandai memanah. Bahkan beliau pernah mengalahkan seorang pegulat
tangguh, Rukanah bin ‘Abdi Yazid, saat masih tinggal di Mekah. Beliau
senang berjalan kaki, sehingga sampai beliau wafat tubuh beliau tetap
atletis dan tidak gendut atau gombyor.
Rasulullah Saw pernah mengadakan perlombaan lari bagi anak-
anak dan memberikan hadiah kepada para pemenangnya. Bahkan beliau
juga pernah mengajak Ummul Mukminin, Aisyah ra., balap lari. Dalam
sebuah hadits, Rasulullah Saw bersabda: “Kewajiban orangtua terhadap
anaknya yaitu mengajarkan menulis, berenang dan memanah/
melempar lembing dan tidak memberi rezeki (makan-minum) kecuali
yang baik-baik.” (HR. Baihaqi dari Umar bin Khathab ra.).
Jadi, kewajiban orangtua itu bukan hanya memberikan pendidikan
untuk perkembangan otak anak-anaknya, tapi juga menyehatkan tubuh
anak-anak melalui olah raga dan memberi bekal keterampilan, seperti
keterampilan memanah. Dr. Kisou Kubuta, peneliti dari Nihon Fukushi
University, Handa, Jepang, mengatakan bahwa olah raga lari memberikan
pengaruh yang baik bagi tubuh dan otak. Olah raga sangat bermanfaat
bagi tubuh sebab bisa mengeluarkan kotoran dari tubuh melalui
keringat, menguatkan otot, melancarkan peredaran darah, memperbaiki
jaringan syaraf, dan sebagainya. Olah raga juga bisa menumbuhkan
spor tivitas. Dan kalau dilakukan dalam sebuah tim, bisa membentuk
sikap saling menghargai, membangun hubungan sosial dan bekerjasama
ser ta memahami taktik dan strategi. Sesungguhnya seorang Muslim
yang kuat lebih disukai Allah daripada Muslim yang lemah.
20. Segera berobat saat sakit
saat sakit, umat Islam dianjurkan segera berobat. Rasulullah Saw yang
mulia mencontohkan, bagaimana beliau minta dibekam oleh Ibnu Abbas
ra. saat sakit. Mengapa Rasulullah Saw yang gaya dan pola hidupnya
demikian teratur dan indah masih juga bisa jatuh sakit? Jawabnya, sebab
beliau Rasul yang harus menjadi contoh seluruh manusia sepanjang
jaman. yaitu pada tempatnya kalau manusia mencontoh manusia,
bukan mencontoh malaikat atau binatang. Kalau beliau tidak pernah
sakit, kita tidak akan mendapatkan pelajaran dari peristiwa sakit. Di
luar semua itu, beliau juga manusia biasa.
Saad bin Abi Waqas ra. bercerita: “Aku pernah sakit, dan Rasulullah
Saw datang menjengukku. Beliau menaruh tangannya di dadaku, sehingga
jantungku merasa sejuk. Kemudian beliau bersabda: ‘Anda terserang
penyakit jantung, berobatlah kepada Harits bin Kaldah, saudara Tsaqif.
Dia bisa mengobati penyakit anda.’” (Diriwayatkan oleh Abu Daud).
Kalau Rasulullah Saw mau, tentu saja beliau tinggal angkat tangan
saja, memohon kesembuhan untuk Saad bin Abi Waqas ra. Tapi ternyata
beliau malah memerintahkan Saad berobat kepada Harits yang
berprofesi sebagai tabib. Beliau juga biasa menyuruh keluarga beliau
berobat kalau sakit. Ini menunjukkan bahwa ilmu pengobatan (ketabiban
atau kedokteran) yaitu masalah duniawi. Ar tinya setiap orang bisa
mempelajari, baik dia Muslim maupun non Muslim. Dan seorang Muslim
boleh berobat kepada dokter non Muslim. Begitupun sebaliknya, dokter
Muslim boleh menolong orang-orang non Muslim. Riwayat di atas juga
berarti bahwa berobat hendaklah kepada ahlinya atau orang yang paling
menger ti dan berpengalaman.
21. Mencukur bulu kemaluan dan bulu ketiak
Mencukur bulu di sekitar kemaluan dan ketiak merupakan sunnah.
Kemaluan yaitu organ vital, yang berfungsi juga sebagai alat reproduksi.
Sehingga mesti selalu dijaga kebersihannya. Bulu di sekitar kemaluan
kalau dibiarkan berpotensi menjadi sarang bibit penyakit. Begitu juga
bulu-bulu ketiak. Kedua tempat itu sangat lembab dan mudah kotor,
meskipun terlindung. Rasulullah Saw biasanya mencukur bulu di sekitar
kemaluan dan ketiak sebelum menunaikan shalat Jumat, artinya sepekan
sekali. “Ada lima hal yang termasuk kesucian : khitan, mencukur bulu
kemaluan, mencabut bulu ketiak, memotong kuku, dan mencukur
kumis.”(HR. Bukhari dan Muslim).
Mengikuti apa yang Rasulullah Saw lakukan (ittiba’) dalam masalah
ini lebih mendekati takwa. Ketimbang kita memelihara kuku dan
menghiasinya dengan hiasan warna-warni. Atau membiarkan bulu-bulu
di kedua “wilayah” tadi bagaikan hutan belantara.
22. Khitan
Khitan yaitu usaha mencegah datangnya penyakit sejak dini di bagian
kelamin, di samping meru-pakan sunnah Rasulullah Saw yang berasal
dari Nabi Allah, Ibrahim as. Khitan oleh sebagian besar ulama diwajibkan
hukum-nya. Kecuali khitan untuk wanita, para ulama berselisih paham
dan masih diperdebatkan. Tapi bagi anak laki-laki, khitan yaitu jalan
yang paling baik dan memiliki hikmah yang luar biasa. Rasulullah
Saw bersabda “Sesungguhnya aqluf (kulup) dalam Islam tidak boleh
ketinggalan untuk dipotong, melainkan harus dikhitan, walaupun
umurnya sudah 80 tahun.” (HR. Al-Baihaqi).
Saya tidak ingin membicarakan hukum khitan, tapi lebih ingin
menjelaskan manfaatnya bagi kesehatan saja. sebab menjelaskan
hukum khitan bukan wilayah saya. Saya ingin mengatakan, khitan itu
sangat bermanfaat bagi kesehatan, utamanya bagi laki-laki. Sisa-sisa
bekas kencing tidak akan bisa dibersihkan dengan tuntas kalau kulit
ujung penis (kulup) seseorang tidak dikhitan. sebab selalu dalam
keadaan tertutup dan basah atau lembab. Khitan (atau di sini kita biasa
menyebutnya “sunat”), membuat ujung penis terbuka sehingga dengan
mudah bisa selalu dibersihkan. Ini mencegah bersarangnya kuman/
bakteri yang bisa mengakibatkan penyakit kelamin (bukan sebab
hubungan seksual).
Sedangkan hikmah yang ter kandung dalam khitan yaitu
mengajarkan pada seorang anak untuk membiasakan hidup bersih,
berani berkorban dan senang mengikuti sunnah Rasulullah Saw sejak
mereka masih kecil, bahkan sebelum dia akil baligh. Tentu masih banyak
hikmah khitan, tapi saya cukup menyebutkan tiga saja.
23. Menjaga kebersihan gigi dan mulut
Setiap akan melaksanakan shalat Rasulullah Saw selalu membersihkan
gigi dan mulut dengan siwak, sejenis kayu dari akar tetumbuhan. Beliau
juga bersiwak saat wudhu, saat akan membaca Al-Qur’an dan bangun
dari tidur. Kalau selesai makan biasanya beliau berkumur-kumur. Bahkan
Rasulullah Saw pernah mengatakan bahwa seandainya tidak
memberatkan umat, beliau menganjurkan kaum Muslimin
membersihkan gigi dan mulut sebelum shalat. Memang hasil penelitian
menunjukkan kayu siwak, yang ujungnya dihaluskan (seperti bulu sikat
gigi), sangat efektif membersihkan gigi dan mulut. Kayu siwak
mengandung zat-zat yang bisa menyehatkan gusi, menguatkan akar
gigi, membuat mulut tidak berbau. Sekarang ekstrak kayu siwak juga
sudah dijadikan bahan untuk pasta gigi. “Siwak itu membersihkan mulut
dan mendatangkan ridha Allah.” (HR. Ahmad).
Begitu sabda Nabi Saw, dan Ummul Mukminin, Aisyah ra.,
mengabarkan kepada kita: “Nabi Saw tetap bersiwak selama masa-
masa akhir kehidupannya.” (HR. Bukhari).
Konon saat Rasulullah Saw wafat, tidak ada karang atau flake
pada gigi beliau. Ar tinya gigi beliau tetap putih, bersih, dan sehat.
Memang Rasulullah Saw sangat memperhatikan persoalan kesehatan
ini. Meskipun beliau juga pernah mengalami sakit, tapi tidak pernah
menderita sakit gigi. Gigi yang kotor akan mengundang bakteri membuat
koloni di sana. Bakteri itu akan merusak gigi, yang akibatnya gigi akan
berlubang sehingga mulut akan mengeluarkan nafas tak sedap. Mulut
dan gigi yang bersih akan membuat seseorang lebih percaya diri.
24. Memotong kuku
Dalam sebuah hadits, Rasulullah Saw bersabda, yang isinya menyuruh
kita memotong kuku, sebab “setan” biasanya senang bersemayam di
kuku-kuku itu, “Potonglah kuku-kuku kamu, sesungguhnya setan
bersembunyi pada kuku-kuku yang panjang.”
Tentu saja sekarang kita bisa menger ti bahwa yang dimaksud
“setan” itu yaitu kuman atau bakteri. sebab setan bisa bermakna
apa saja yang merugikan, merusak atau membahayakan. Kuku yang
panjang, kotor dan hitam menjadi tempat paling nyaman bagi bakteri,
dan itu sangat membahayakan manusia. Apalagi kalau dia terbiasa
makan tidak memakai sendok. Kuku yang kotor, meskipun pendek,
tetap tidak enak dipandang. Oleh sebab itu, memotongnya lebih baik
daripada membiarkannya tidak terawat.
25. Selalu dalam keadaan berwudhu
Rasulullah Saw yaitu orang yang selalu menjaga wudhu. Artinya kalau
beliau batal, maka beliau segera berwudhu kembali, meskipun saat itu
beliau tidak akan melaksanakan shalat. Walhasil kapanpun beliau selalu
dalam kondisi berwudhu. Berwudhu bukanlah sekedar menghilang
hadats kecil. Tapi lebih jauh, itu bisa menghindari tubuh dari penyakit.
Bagaimana tidak? Mulai dari telapak tangan, seluruh anggota wajah
sampai kaki dibersihkan.
Lalu nilai filosofisnya, orang yang selalu dalam keadaan berwudhu
yaitu orang yang ingin selalu dekat dengan Allah, Tuhan Yang Maha
Suci. Dia juga senantiasa siap berbuat kebajikan. Wudhu menjadi tameng
baginya dari berbuat yang dilarang agama. Sia-sia dia membasuh
telapak tangan kalau akhirnya dengan tangannya itu dia mencuri. Rugilah
dia membasuh wajah kalau wajahnya tidak sedap dipandang sebab
selalu cemberut, tampak marah atau penuh kecurigaan. Tidak ada
gunanya dia bersihkan kedua telinganya kalau kemudian telinganya itu
digunakan untuk mendengarkan hal-hal yang tidak baik. Dan
seterusnya….. “Barangsiapa berwudhu dan menyempurnakannya,
maka keluarlah semua dosa dari jasadnya hingga dari bawah kuku-
kukunya.” (HR. Muslim).
26. Menjaga kebersihan l ingkungan
Rasulullah Saw sangat peduli dengan kebersihan, termasuk kebersihan
lingkungannya. Beliau tidak senang melihat lingkungan yang kotor,
sampah yang berserakan atau air yang tergenang yang berpotensi
menjadi sarang bibit penyakit. Beliau bahkan mengecam orang yang
mencemari lingkungan: “Takutlah kalian pada tempat-tempat yang
dilaknat dan orang-orang yang dilaknat, yaitu orang-orang yang buang
air kecil dan buang air besar di jalan dan di tempat orang-orang
berteduh!” (HR. Muslim, Ahmad dan Abu Daud).
Kita tahu bahwa dalam satu gram kotoran manusia, bersemayam
lebih dari 100 milyar bakteri. Beliau juga memerintahkan para Sahabat
ra agar senantiasa membersihkan teras-teras rumah mereka. Tentu
saja kita juga termasuk yang beliau perintah. Dan redaksi perintah beliau
itu bersifat khusus, yakni hanya menyuruh membersihkan teras rumah
saja. Tapi sesungguhnya yang beliau maksud yaitu membersihkan
sekitar lingkungan rumah kita.
27. Menjaga shalat
Shalat yaitu perintah agama yang diterima oleh Rasulullah Saw
langsung dari Allah Azza wa Jalla, tanpa perantaraan Jibril as. Perintah
itu diterima Rasulullah Saw dalam peristiwa isra’ mir’raj di Sidratul Muntaha
(hanya Allah Yang Maha Mengetahui “lokasinya”). Oleh sebab itu ibadah
shalat menjadi sangat istimewa, dia dianggap sebagai tiang agama.
Sabda Rasulullah Saw: “Shalat yaitu mi’raj-nya kaum Mukmin.” Shalat,
meskipun dikerjakan secara berjamaah, tetap merupakan hubungan
paling personal antara manusia dengan Tuhan Semesta Alam. Tidak
heran kalau Rasulullah Saw sangat menjaga shalat, baik shalat wajib
maupun shalat sunnah.
Rasulullah Saw memberikan gambaran bahwa orang yang
melaksanakan shalat itu laksana orang yang mandi di sungai jernih
lima kali sehari. Pasti orang itu akan bersih dan sehat. Saya tutup uraian
ini dengan firman Allah: “… dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat
itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan
sesungguhnya mengingat Allah (shalat) yaitu lebih besar
(keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui
apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Ankabuut {29}: 45).
28. Tadarus Al-Qur’an
Al-Qur’an yaitu mukjizat Rasulullah Saw yang paling besar dan lestari.
Coba anda perhatikan, sudah hampir 1500 tahun berlalu, mukjizat beliau
masih bisa kita saksikan dan akan terus bisa disaksikan. Umur mukjizat
beliau lebih panjang dari umur manusia manapun. Bandingkan dengan
mukjizat nabi-nabi yang lain, yang hanya bersifat temporal dan lokal.
Mukjizat nabi-nabi sebelum Rasulullah Saw tidak bisa lagi disaksikan
dan dikaji, tapi mukjizat beliau masih terus bisa dikaji dan dijadikan
pedoman hidup. Tapi ini tidak berar ti kita mengecilkan ar ti mukjizat
nabi-nabi yang lain.
Al-Qur’an yaitu Kitab Suci yang paling banyak dibaca oleh manusia.
Bukan hanya oleh kaum Muslimin sebagai pemilik kitab itu, tapi juga
oleh orang-orang non Muslim, dengan berbagai tujuan dan motivasi.
Meskipun Al-Qur’an bukan buku teks sains, tapi dia banyak memuat
informasi tentang fenomena alam yang, sesudah diteliti, terbukti
kebenarannnya. “Al-Qur’an itu yaitu petunjuk dan penawar bagi orang-
orang yang beriman. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga
mereka ada sumbatan, sedang Al-Qur’an itu suatu kegelapan bagi
mereka.” (QS. Al-Fushshilat {41}: 44).
Al-Qur’an bukan hanya petunjuk hidup bagi manusia, tapi juga
penawar (obat) bagi penyakit-penyakit kejiwaan atau penyakit hati.
Rasulullah Saw selalu tadarus Al-Qur’an, mengingat kembali ayat-ayat
yang telah Allah turunkan kepada beliau. Sehingga Al-Qur’an menjadi
bagian yang integral dalam diri beliau, membentuk watak, sikap, dan
kepribadian beliau. Tidak heran kalau Ummul Mukminin, Aisyah ra.
mengatakan, bahwa akhlak Rasulullah Saw yaitu Al-Qur’an.
29. Senang menger jakan puasa sunnah
Telah terbukti bahwa puasa bisa menyehatkan badan. Puasa memberikan
kesempatan pada tubuh untuk beristirahat, memulihkan kerusakan
jaringan, dan sebagainya. Dalam keadaan tidak berpuasa, organ-organ
perut kita “dipaksa” terus bekerja, tanpa istirahat. sebab proses
penghancuran makanan sampai halus dan bersifat molekuler memakan
waktu tidak sebentar, kurang lebih 10 jam. Yakni 6 jam proses
penghancuran di dalam lambung, dan 4 jam di dalam usus halus.
Pola makan Rasulullah Saw yang sangat sederhana memudahkan
kerja organ-organ pencernaan. Ditambah lagi dengan seringnya beliau
berpuasa sunnah, misalnya puasa Senin-Kamis, puasa per tengahan
bulan hijriyah (13, 14 dan 15), puasa 6 hari di bulan Syawal, puasa
Muharam dan sebagainya, memberikan kesempatan yang cukup banyak
bagi organ-organ pencernaan beristirahat. Betapapun mesin yang dari
besi juga tidak bisa dipaksa beroperasi terus-menerus selama bertahun-
tahun. Pantaslah kalau Rasulullah Saw mengatakan, bahwa sumber
segala penyakit ada di perut, maksudnya tentu saja sebab perut terus
diisi dan tidak diberikan kesempatan istirahat.
Dari kenyataan di atas, kita menjadi tahu kalau sebenarnya rasa
lapar dan dahaga itu bisa diatur dan diadaptasikan, sebab dia bukan
semata-mata per tanda tubuh membutuhkan makan atau minum. Toh
kita sering mendengar ada orang yang bisa bertahan hidup beberapa
hari walaupun tidak makan dan minum.
30. Senang berbagi (Berinfak dan ber sedekah)
Pernah suatu malam Rasulullah Saw tampak gelisah. Ini agak
mengherankan Istri beliau. sesudah ditanya, ternyata beliau masih
menyimpan uang 3 dirham yang belum beliau sedekahkan. Lalu beliau
minta ijin pada Istrinya untuk keluar sebentar. Tak lama berselang beliau
pulang dengan wajah berseri-seri. Beliau mengatakan, bahwa uang itu
sudah beliau sedekahkan!
Tentu saja cara berpikir kita terbalik dengan cara berpikir Rasulullah
Saw. Kalau kita bisa tidur nyenyak sebab banyaknya simpanan di bank,
dan gelisah kalau tidak memiliki uang. Tapi beliau, justru gelisah
saat masih menyimpan uang, meskipun hanya 3 dirham. Kita gelisah
saat tidak memiliki uang sebab menganggap uang yaitu sumber
ketenangan, walaupun ini tidak bisa disalahkan. Bukankah kalau orang
banyak uang dia bisa melakukan apa saja, termasuk berinfak dan
besedekah? Rasulullah Saw tenang dalam kemiskinan sebab beliau
hanya bersandar kepada Allah. Allah yaitu segalanya bagi beliau.
Kisah di atas bukan dimaksudkan untuk memotivasikan anda agar
selalu dalam kondisi tidak punya. Bukan begitu. Saya ingin katakan,
bahwa walaupun dalam kondisi kekurangan sebaiknya kita tetap berbagi
dengan sesama. Kalau kita terbiasa berinfak dan bersedekah saat
sedang miskin, tentu tangan kita mudah terulur saat kita kaya, atas
ijin Allah.
Rasullullah Saw bersabda: “Takutlah kalian pada api neraka,
walaupun hanya dengan menyedekahkan separuh biji kurma. Apabila
tidak mendapatkannya, cukup dengan berkata yang baik.” (HR. Bukhari
dan Muslim).
Psikologi modern mengakui, berbagi dengan sesama - melalui
infak, sedekah, dan sebagainya - yaitu salah satu sarana untuk
menghilangkan stres dan depresi. Kalaupun tidak hilang, setidaknya
tekanan kejiwaan berkurang. Melalui kisah di atas, Rasulullah Saw
mengajarkan bahwa ketenangan bisa diperoleh












