Tampilkan postingan dengan label Arianisme. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Arianisme. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Juli 2026

Arianisme

 


ARIANISME

Arianisme yaitu  sebuah pandangan kristologis yang dianut oleh para pengikut 

Arius, seorang presbiter Kristen yang hidup dan mengajar di Alexandria, Mesir, 

pada awal abad ke-4. Arius mengajarkan bahwa berbeda dengan Allah Bapa, 

Allah Anak tidak sama-sama kekal dengan Sang Bapa. Ia mengajarkan bahwa 

Yesus sebelum menjelma yaitu  makhluk ilahi, namun ia diciptakan oleh Sang 

Bapa pada suatu saat tertentu --  dan oleh sebab nya statusnya lebih rendah 

daripada Sang Bapa. Sebelum penciptaan-Nya itu, Sang Putra tidak ada. Dalam 

bahasa  yang  lebih  sederhana,  kadang-kadang  dikatakan  bahwa  kaum  Arian 

percaya bahwa Yesus, dalam konteks ini, yaitu  suatu "makhluk". Kata yang 

digunakan dalam pengertian aslinya yaitu  "makhluk ciptaan."

Konflik antara Arianisme dan keyakinan Trinitarian yaitu  konfrontasi doktriner 

besar pertama dalam Gereja sesudah  agama Kristen dilegalisasikan oleh Kaisar 

Konstantin I.  Kontroversi tentang Arianisme ini meluas hingga sebagian besar 

dari abad ke-4 dan melibatkan sebagian terbesar anggota gereja, orang-orang 

percaya  yang  sederhana  dan  para  biarawan,  serta  para  uskup  dan  kaisar. 

Sementara  Arianisme  memang selama beberapa  dasawarsa  mendominasi  di 

kalangan keluarga Kaisar,  kaum bangsawan Kekaisaran dan para  rohaniwan 

yang lebih tinggi kedudukannya, pada akhirnya Trinitarianismelah yang menang 

secara teologis dan politik pada akhir abad ke-4. dan sejak saat itu telah menjadi 

doktrin yang praktis tidak tertandingi di semua cabang utama Gereja Timur dan 

Barat. Arianisme, yang diajarkan oleh misionaris Arian Ulfilas kepada suku-suku 

Jermanik,  memang bertahan selama beberapa abad di  antara sejumlah suku 

Jermanik di Eropa barat, khususnya suku-suku Goth dan Longobard tetapi sejak 

itu tidak memainkan peranan teologis yang penting lagi.

sebab  kebanyakan bahan tertulis tentang Arianisme pada masa itu ditulis oleh 

lawan-lawannya, terdapat kesulitan untuk menetapkan sifat ajaran-ajaran Arius 

dengan persis sekarang. Surat Auxentius[1], seorang uskup Milano Arianis pada 

abad ke-4, mengenai misionaris Ulfilas, memberikan gambaran yang paling jelas 

tentang  keyakinan  Arianis  tentang  sifat  Tritunggal:  Allah  Bapa  ("yang  tidak 

dilahirkan"),  selamanya  ada,  terpisah  dari  Yesus  Kristus  yang  lebih  rendah 

("anak tunggal"), yang dilahirkan untuk memberitakan kuasa Bapa. Sang Bapa, 

yang  bekerja  melalui  Sang  Anak.  Bapa  dianggap  sebagai  "Allah  sejati  satu-

satunya." 1 Korintus 8:5-6 dikutip sebagai ayat buktinya:

"Sebab sungguhpun ada apa yang disebut "allah", baik di sorga, maupun di bumi 

— dan memang benar ada banyak "allah" dan banyak "tuhan" yang demikian — 

namun bagi kita hanya ada satu Allah (theos) saja, yaitu Bapa, yang dari pada-

Nya berasal  segala sesuatu  dan yang untuk  Dia kita  hidup,  dan satu  Tuhan 

(kurios) saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan 

dan yang sebab  Dia kita hidup." (TB)

Konsili Nicea dan sesudahnya

Pada  321  Arius  ditolak  oleh  sebuah  sinode  di  Alexandria  dengan  tuduhan 

mengajarkan  sebuah  pandangan  yang  heterodoks  tentang  hubungan  antara 

Yesus  dengan  Allah  Bapa.  sebab   Arius  dan  para  pengikutna  mempunyai 

pengaruh  yang  besar  di  kalangan  sekolah-sekolah  di  Alexandria  —  yang 

sebanding  dengan  universitas-universitas  atau  seminari-seminari  modern  — 

pandangan-pandangan  teologis  mereka  pun  berkembang  luas,  khususnya  di 

daerah  Mediterania  bagian  timur.  Pada  325  pertikaian  ini  telah  berkembang 

menjadi cukup penting sehingga Kaisar Konstantin mengumpulkan para uskup 

dalam apa yang kemudian dikenal sebagai Konsili Nicea Pertama di Nicea (kini 

Iznik,  Turki),  yang mengutuk doktrin Arius dan merumuskan Pengakuan Iman 

Nicea, yang hingga kini masih diucapkan dalam kebaktian-kebaktian di Gereja-

gereja  Katolik,  Ortodoks,  dan  sebagian  Protestan.  Tema  sentral  Pengakuan 

Iman  Nicea,  yang  digunakan  untuk  menggambarkan  hubungan  antara  Allah 

Bapa  dan  Allah  Anak,  yaitu   homoousios,  yang  berarti"sehakikat"  atau 

"mempunyai  zat  yang  sama".  (  Pengakuan  Iman  Athanasius  lebih  jarang 

digunakan  namun  lebih  jelas  merupakan  pernyataan  anti-Arianis  tentang 

Tritunggal.)

Konstantin  mengasingkan mereka yang menolak untuk  menerima Pengakuan 

Iman Nicea — Arius sendiri, diaken Euzoios, dan para uskup Libya Theonas dari 

Ptolemais  dan  Secundus  dari  Mamarica  —  dan  juga  para  uskup  yang 

menandatangani pengakuan iman itu namun menolak untuk bergabung dalam 

pengutukan terhadap Arius, Eusebius dari Nikomedia dan Theognis dari Nicea. 

Kaisar juga memerintahkan semua salinan dari Thalia, buku yang ditulis Arius 

untuk  menguraikan  ajaran-ajarannya  dibakar.  Hal  ini  mengakhiri  perdebatan 

teologis  terbuka  selama  beberapa  tahun,  meskipun  di  bawah  permukaan 

perlawanan terhadap Pengakuan Iman Nicea tetap berlanjut.

Keyakinan-keyakinan agama berikut yang telah dibandingkan atau pernah dicap 

-- sebagian mungkin keliru -- sebagai Arianisme, termasuk:

Unitarian,  yang  percaya  bahwa  Allah  itu  satu  dalam  pengertian  berlawanan 

dengan Tritunggal, dan banyak dari mereka yang percaya akan otoritas moral 

Yesus, namun bukan keilahiannya.

Saksi Yehuwa, yang percaya bahwa Yesus memiliki  pra-eksistensi manusiawi 

sebagai Logos.

Christadelphia, yang percaya bahwa keberadaan Yesus sebelum kelahirannya 

harus  dipahami  dalam  pengertian  konseptual,  sebagai  "Logos",  dan  bukan 

secara harafiah.

Gereja  Yesus Kristus  dari  Orang-orang Suci  Zaman Akhir  dan kelompoknya, 

yang percaya akan "keesaan maksud" atau "kehendak" Ilahi tetapi Yesus yaitu  

suatu makhluk ilahi yang terpisah dan lebih rendah kedudukannya daripada Allah 

Bapa.

Islam, yang percaya bahwa Yesus (Isa), yaitu  seorang nabi dari Allah yang 

tunggal, namun tidak bersifat ilahi.

Isaac  Newton,  seorang  Arianis  tersembunyi;  hal  ini  ironis  sebab   ia  yaitu  

seorang fellow dari Trinity College di Cambridge, Inggris.


GNOSTIK

Gnostik  (Yunani.  gnosis,  harfiah  :  pengetahuan).  Secara  tradisional 

mengacu pada ajaran sesat yang aktif bergerak pada abad 2 sM, yang tegas 

ditolak oleh gereja. Tapi sejak abad 20 ini istilah Gnostik digunakan secara luas 

terhadap  bentuk-bentuk  kepercayaan agama apa saja,  dimana  dualisme dan 

penguasaan pengetahuan yaitu  penting; sebab itu agama Soroaster,  ajaran 

Mandae,  sastra  Hermes,  Gulungan  Laut  Mati  dan  PB  pun  dicap  sebagai 

‘gnostis’. 

Penggunaan istilah itu sedemikian rupa menyebabkab cakupannya terlalu 

luas  dan  terlalu  berubah-ubah  sehingga  sukar  dinalar.  Tetapi  sebab   istilah 

gnostik – oleh persetujuan bersama – dapat digunakan bagi bidat-bidat Kristen 

tertentu,  penggunaannya itu dapat dijadikan patokan dalam menentukan segi-

seginya yang khas.  Meskipun terdapat  perbedaan-perbedaan besar  dalam isi 

intelektual dan moral, dan dalam hal dekatnya dengan pusat Kekristenan, yaitu  

mungkin menemukan di dalam ajaran bidat ini beberapa gagasan yang umum. 

Bapa-bapa gereja,  lawan-lawan Gnostik  itu,  dengan leluasa mengutip  tulisan-

tulisan Gnostik, dan penemuan-penemuan yang baru misalnya di Chenoboskion 

memberi kesan bahwa bapa-bapa Gereja itu, disamping tajam terhadap ajaran-

ajaran Gnostik, mereka juga memahami ajaran tentang Gnostik itu. 

I. SIFAT-SIFATNYA 

Dasar pikiran Gnostik yaitu  pengetahuan; yaitu memiliki rahasia-rahasia yang 

akhirnya  dapat  menjamin  kesatuan  jiwa  dengan  Tuhan.  Jadi,  tujuan 

pengetahuan yaitu  keselamatan, meliputi penyucian dan kekekalan, dan dibuat 

dalam kerangka yang bertalian dengan konsepsi filsafat, mitologi, atau astrologi 

yang kontemporer; Unsur-unsur yang berbeda itu berlaku dalam sistem-sistem 

yang berbeda. Dalam hal ini pemisahal Allah mutlak dari zat (menurut dogma 

Yunani,  zat  mempunyai  pembawaan  anasir  jahat)  diterima,  dan  drama 

penyelamatan diperankan oleh banyak makhluk perantara. 

Jiwa dari manusia yang dapat diselamatkan yaitu  suatu percikan dari keilahian 

yang  terkurung  dalam  tubuh;  penyelamatan  berarti  kelepasan  jiwa  dari 

kecemaran badaniah, dan penyerapannya ke dalam Sumbernya. 

Hampir  setiap  doktrin  utama  Kristen  menentang  pemikiran  seperti  itu. 

Pandangan mitologis tentang penyelamatan tidak mempunyai kaitan hubungan 

dengan PL (yang ditolak atau diabaikan), dan mengurangi pengertian dari fakta-

fakta  historis  tentang  jabatan  pelayanan,  kematian  dan  kebangkitan  Tuhan 

Yesus  Kristus.  Dan  pandangan  tentang  Allah  dan  manusia  yang  dinyatakan 

Gnostik sering menuntun pada penyangkalan terhadap kenyataan penderitaan 

kristus, dan kadang-kadang juga terhadap inkarnasi. Penciptaan yaitu  sesuatu 

yang  kebetulan,  suatu  kesalahan,  bahkan  suatu  tindakan  kedengkian  dari 

sesuatu yang anti-allah. 

Kebangkitan dan pengadilan diartikan kembali untuk memperhalus 'kekasaran' 

mereka.  Dosa  menjadi  suatu  pencemaran  yang  dapat  ditanggalkan;  Gereja 

diganti  dengan  suatu  perkumpulan  orang-orang  yang  memiliki  kelimpahan 

intelektual dan spiritual  khusus (illuminati)  yang memiliki  rahasia-rahasia yang 

tersembunyi dari orang-orang yang belum 'diterangi' yang menyatakan mengakui 

Penyelamat yang sama. Etika dipusatkan pada ihwal mempertahankan kesucian 

atau kemurnian; hal itu sering berarti penolakan nafsu seksual dan keinginan-

keinginan badaniah lainnya, tetapi sering juga berarti (atas alasan yang sama) 

kegemaran yang tidak terkendalikan. 

II. PERKEMBANGANNYA 

Sinkretisme  dan  penyesuaian  diri  yaitu   ini  Gnostik.  Utang  –  sangat  tidak 

langsung – kepada filsafat  Yunani  yaitu  nyata,  namun Gnostik yaitu  lebih 

daripada  ’pen-yunani-an  (helenisasi)  penuh  dari  Kekristenan’.  Sebelum 

kedatangan Kristus, kebatinan dari Timur, asketisme, dan astrologi telah masuk 

ke dalam dunia Yunani-Romawi yang dirasuki oleh ketakutan terhadap kematian. 

Dan pada waktu itu terjadilah 'Kegagalan Semangat' ('The failure of nerve', Reff : 

Gilbert Murray, Five Stages of Greek Raligion, c. 4) . 

Rasionalisme yang begitu berani menyerah pada usaha mencari keselamatan. 

Bentuk-bentuk pemikiran yang memberi ciri kepada banyak bidat Kristen dapat 

dilihat dalam beberapa agama Yunani (helenistik) sebelum Kristen. 

Dikemukakanbahwa pemikiran keagamaan Gnostik timbul dan dipengaruhi oleh 

unsur-unsur  Yunani  dan  Timur,  sebagai  perangsang  atau  pemancar,  dari 

diaspora (penyebaran Yudaisme). Dukungan terhadap gagasan ini telah diambil 

dari  dokumen-dokumen  Chenoboskion.  Walaupun  hal  ini  tidak  pasti,  namun 

perlu diperhatikan bahwa bagian terbesar ajaran-ajaran berbentuk Gnostik yang 

disebut dalam PB (lihat dibawah ini) mempunyai unsur-unsur Yudaisme, bahwa 

jemaat-jemaat Kristen purba seringkali yaitu  orang-orang yang mewarisi rumah 

ibadah (sinagoge) Penyebaran, dan bahwa para Bapa Gereja melihat bidat-bidat 

itu hampir sebagai turunan dari Simon Magus. 

Ada pula ahli yang memandang Kekristenan sebagai sudah menafsirkan kembali 

suatu bualan Penyelamatan Gnostik  (misalnya R Bultmann,  dalam bukunya : 

Primitive  Christianity  in  its  Contemporary  Setting,  p  167  ),  tapi  belum 

diperlihatkan  bualan  sedemikian  itu  yaitu   bagian  yang  integral  dari 

pemandangan Gnostik sebelum Kristus; juga dokumen Mandean (anggota sekte 

Gnostik purba) atau sekte-sekte ’babtis’ Palestina yang primitif, sebab  mereka 

telah memperoleh pengaruh-pengaruh kemudian yang lebih kuat. 

III. GNOSTIK DALAM PERJANJIAN BARU (PB) 

"Bidat  Kolose"  menggabungkan  spekulasi-spekulasi  filosofis,  kuasa 

perbintangan,  ketakutan  pada  malaikat-malaikat  perantara,  tabu  terhadap 

makanan, dan praktik-praktik bertapa, dengan unsur-unsur yang dipinjam dari 

Yudaisme  (Kolose  2:8-23).  Surat-surat  penggembalaan  mencela  pengajaran 

yang dicampurkan dengan mitologi dan silsilah ,1 Timotius 4:3 dab ; ’Dongeng-

dongeng Yahudi’ Titus 1:14; Spiritualisasi dari kebangkitan, 2 Timotius 2:18; dan 

disertai  dengan  moral  yang  rusak,  2  Timotius  3:5-;  7.Semuanya  apa  yang 

disebut pengetahuan (Gnosis) dalam 1 Timotius 6:20. 

Bidat yang berbahaya yang ditentang dalam surat-surat Yohanes ( 1 Yohanes 

4:3; 2 Yohanes 1:7), mengenai guru-guru palsu di Asia, ungkapan yang berbunyi 

Gnostik 'seluk beluk Iblis' digunakan dalam Wahyu 2:24. 

Beberapa diantara ciri kehidupan gereja di Korintus yang kurang memuaskan, 

memantulkan istilah-istilah dan gagasan yang lain mempersoalkan pernikahan (1 

Korintus 6:13 dst sampai pasal 7) dan menyangkal kenyataan kebangkitan ( 1 

Korintus 15:12). 

Hal  hal ini  hanyalah berupa gejala-gejala;  tidak merupakan suatu sistem; tapi 

memperlihatkan  sarata  tempat  sistem-sistem  Gnostik  bertumbuh  subur.  Dan 

Paulus dalam menjawab mereka memakai perbendaharaan kata yang digunakan 

dalam Gnostik  dan  'membersihkan'-nya  (  1  Korintus  2:6  dst);  Demikian  juga 

Paulus merombak gagasan Gnostik tentang suatu pleroma (penuh/kepenuhan) 

makhluk-makhluk perantara dengan menyatakan bahwa seluruh pleroma yaitu  

dalam Kristus (Kolose 1:19). 

Hal memakai istilah-istilah keagamaan saman itu, yanga dalah khas dalam PB, 

terkait dengan mereka yang mengertinya tanpa menyerahkan sesuatu apapun 

kepada pemikiran yang non-alkitabiah. Kerangka pemikiran PB nbaik tentang hal 

pemilihan, atau pengetahuan tentang Allah, atau tentang Firman, atau tentang 

penyelamat – diberikan oleh pernyataan PL, darimana istilah-istilah itu berasal. 

Gnostik  dengan  unsur-unsur  Yunani,  unsur-unsur  Timur,  dan  unsur-unsur 

Yahudi, apakah itu dilihat sebagai agama dunia ataupun hanya kecenderungan 

terhadapnya, yaitu  tetap agama kafir.  Ia melekat  bagaikan parasit  terhadap 

kekristenan, dan mengambil bentuk-bentuk tertentu dengan menyedot makanan 

daripadanya. Ia ingin mencapai sasaran Kristen dengan cara kafir.  Dan pada 

akhirnya Kekristenan harus memilih  antara  Injil  atau  terpengaruh Gnosis  dan 

menjadi Gnostik. 


Montanisme

Montanisme  yaitu   sebuah  gerakan  sektarian  Kristen  perdana  pada 

pertengahan  abad  ke-2  Masehi,  yang  dinamai  seturut  pendirinya  Montanus. 

Gerakan  ini  berkembang  umumnya  di  daerah  Frigia  dan  sekitarnya;  di  sini 

sebelumnya pengikutnya disebut Katafrigia. Namun gerakan ini merebak cepat 

ke wilayah-wilayah lain di Kekaisaran Romawi, dan pada suatu masa sebelum 

agama Kristen ditolerir atau dianggap legal. Meskipun Gereja Kristen arus utama 

menang atas Montanisme dalam beberapa generasi,  dan mencapnya sebagai 

sebuah ajaran sesat, sekte ini bertahan di beberapa tempat terisolir hingga abad 

ke-8. Sebagian orang membuat paralel antara Montanisme dan Pentakostalisme 

(yang disebut sebagian orang Neo-Montanisme). Montanis yang paling terkenal 

jelas yaitu  Tertulianus, yang merupakan penulis gereja Latin paling terkemuka 

sebelum  ia  beralih  ke  Montanisme.  Penganut  paham  Montanisme  disebut 

dengan Montanis.

1 Sejarah

2 Perbedaan antara Montanisme dan Kekristenan ortodoks

3 Lihat pula

4 Pranala luar

5 Sumber

6 Rujukan

7 Bacaan lebih lanjut

Sejarah

Montanus mengunjungi pemukiman-pemukiman pedesaan di Asia Kecil sesudah  

pertobatannya,  dan mengajar  serta  memberikan kesaksian  tentang apa yang 

dikatakannya sebagai  Firman Allah.  Namun, ajaran-ajarannya dianggap sesat 

oleh Gereja yang ortodoks sebab  sejumlah alasan. Ia mengklaim bukan saja 

telah menerima serangkaian wahyu langsung dari Roh Kudus, tetapi juga secara 

pribadi merupakan penjelmaan dari roh penghibur yang disebutkan dalam Injil 

Yohanes 14:16. Montanus disertai oleh dua orang perempuan, Priska, kadang-

kadang  disebut  Priskila,  dan  Maksimila,  yang  juga  mengklaim  sebagai 

penjelmaan dari  Roh Kudus yang menggerakkan dan mengilhami mereka. Ke 

manapun mereka pergi, "Ketiganya" demikian mereka disebut, berbicara dengan 

penglihatan ekstatis dan mendesak pengikut-pengikut mereka untuk berpuasa 

dan berdoa, sehingga mereka pun akan dapat memperoleh wahyu pribadi ini. 

Pemberitaan Montanus menyebar dari tempat kelahirannya Frigia (dan di sini ia 

menyatakan bahwa desa Pepuza yaitu  tempat untuk Yerusalem Baru) hingga 

ke dunia Kristen saat itu, ke Afrika dan Gaul.

Pada  umumnya  disepakati  bahwa  gerakan  ini  diilhami  oleh  pembacaan  Injil 

Yohanes oleh Montanus— "Aku akan mengutus kepadamu seorang advocate 

parakletos, roh kebenaran" (Heine 1987, 1989; Groh 1985). Tanggapan terhadap 

wahyu  yang  berlanjut  ini  memecah  komunitas-komunitas  Kristen,  dan  para 

rohaniwan yang lebih ortodoks umumnya berjuang untuk menekannya. Uskup 

Apolinarius  menemukan  gereja  di  Ancyra  terpecah  menjadi  dua,  dan  ia 

menentang "nubuat palsu" (dikutip oleh Eusebius 5.16.5).  Tetapi  ada keragu-

raguan yang sungguh-sungguh di Roma, dan Paus Eleuterus bahkan menulis 

surat-surat untuk mendukung Montanisme, meskipun ia belakangan menariknya 

kembali (Tertulianus, "Adversus Praxean" c.1, Trevett 58-59).

Priska  mengaku  bahwa  Kristus  menampakkan  diri  kepadanya  dalam  rupa 

seorang perempuan. Ketika ia dikucilkan, ia berseru, "Aku diusir seperti serigala 

dari antara domba-domba. Aku bukan serigala: Aku yaitu  firman dan roh dan 

kuasa."

Pembela kaum Montanis yang paling terkenal jelas yaitu  Tertulianus, seorang 

bekas pembela keyakinan ortodoks, yang percaya bahwa nubuat yang baru itu 

memang tulen dan mulai  meninggalkan apa yang disebutnya sebagai  “gereja 

dengan banyak uskup" (On Modesty).

Meskipun  gereja  Kristen  yang  ortodoks  menang  atas  Montanisme  dalam 

beberapa  generasi  saja,  prasasti-prasasti  di  lembah  Tembris  di  Frigiia  utara, 

yang  bertanggal  antara  249  dan  279,  secara  terbuka  menyatakan  kesetiaan 

mereka kepada Montanisme.

Sepucuk  surat  dari  Hieronimus  kepada  Marsela,  yang  ditulis  pada  385, 

menyangkal klaim kaum Montanis yang telah mengganggunya (surat 41) [1].

Sebuah kelompok "Tertulianis" terus hadir di Kartago. Pengarang Praedestinatus 

yang anonim mencatat bahwa seorang pengkhotbah datang ke Roma pada 388 

ketika  ia  menghasilkan  banyak  pengikut  dan  memperoleh  izin  penggunaan 

sebuah  gereja  bagi  jemaatnya  dengan  alasan  bahwa  para  martir  yang 

kepadanya gereja itu dipersembahkan yaitu  Montanis.[1] Ia terpaksa melarikan 

diri  sesudah   kemenangan  Teodosius  I.  Augustinus  mencatat  bahwa kelompok 

Tertullianis  melorot  hingga  hampir  tidak  tersisa  pada  masanya  sendiri,  dan 

akhirnya didamaikan dengan gereja dan menyerahkan basilika mereka.[2] Tidak 

jelas apakah para Tertulianis itu Montanis atau bukan.

Pada  abad  ke-6,  atas  perintah  Kaisar  Yustinianus,  Yohanes  dari  Efesus 

memimpin  ekspedisi  ke  Pepuza  untuk  menghancurkan  tempat-temapt  suci 

Montanis  di  sana,  yang  berbasis  di  sekitar  makam  Montanus,  Priskila  dan 

Maksimilia.

Sekte ini bertahan hingga abad ke-8. Columbia Encyclopedia mengklaim bahwa 

“di  tempat-tempat  terpencil  dari  Frigiia,  di  mana [Montanisme] terus  bertahan 

hingga abad ke-7.”

Beberapa penulis modern mengusulkan bahwa sebagian dari penekanan pada 

pengalaman pribadi yang langsung dan ekstatis dengan Roh Kudus mempunyai 

kemiripan dengan semua bentuk Pentakostalisme. “Ia [Montanisme] mengklaim 

dirinya sebagai agama Roh Kudus dan ditandai oleh ledakan-ledakan ekstatis 

yang  dianggapnya  sebagai  satu-satunya  bentuk  Kekristenan  yang  sejati.”  [3] 

Sementara  memang  ada  banyak  kesamaan  antara  Montanisme  dengan 

Pentakostalisme  modern,  tampaknya  tidak  ada  hubungan  histories  antara 

keduanya,  sebab   kebanyakan  kaum  Pentakostal  mengklaim  otoritasnya 

berdasarkan Kisah para Rasul (pasal 2).

[sunting]

Perbedaan antara Montanisme dan Kekristenan ortodoks

Keyakinan-keyakinan Montanisme berbeda dengan Kekristenan ortodoks dalam 

hal-hal berikut:

Keyakinan bahwa nubuat-nubuat kaum Montanis mengalahkan dan menggenapi 

doktrin-doktrin yang diberitakan oleh para Rasul.

Dorongan  untuk  bernubuat  secara  ekstatis,  membedakannya  dengan 

pendekatan  teologi  yang  dominan  yang  lebih  berdisiplin  dan  penuh 

pertimbangan  di  kalangan  Kekristenan  yang  ortodoks  pada  saat  itu  hingga 

sekarang.

Pandangan bahwa orang-orang Kristen  yang jatuh dari  anugerah tidak dapat 

ditebus,  juga  bertentangan  dengan  pandangan  Kristen  yang  ortodoks  bahwa 

penyesalan dapat mengembalikan orang berdosa ke dalam gereja.

Nabi-nabi  Montanisme  tidak  berbicara  sebagai  utusan-utusan  Allah: 

"Demikianlah firman Tuhan," melainkan lebih menggambarkan dirinya dikuasai 

oleh  Allah,  dan  berbicara  atas  namanya.  "Akulah  Bapa,  Firman,  dan  Sang 

Penghibur,"  kata Montanus (Didymus, De Trinitate,  III,  xli);  Kerasukan roh ini, 

yang berbicara sementara nabi itu tidak mampu menolaknya, digambarkan oleh 

roh  Montanus:  "Lihatlah  manusia  itu  bagaikan sebuah lyre,  dan aku melesat 

seperti plectrum. Orang itu tidur, dan aku terjaga" (Epifanius, "Panarion", xlviii, 4).

Penekanan yang lebih kuat untuk menghindari dosa dan disiplin gereja daripada 

di kalangan Kekristenan ortodoks. Mereka lebih menekankan upaya menghindari 

dosa  dan  disiplin  gereja  daripada  di  kalangan  Kekristenan  ortodoks.  Mereka 

menekankan kesucian seksual, termasuk melarang pernikahan kembali..

Sebagian Montanis juga "Quartodesiman" ("yang 14"), artinya mereka lebih suka 

merayakan Paskah pada tanggal 14 bulan Nisan menurut kalender Ibrani, tak 

peduli  hari  apapun  dalam  suatu  minggu  tanggal  itu  jatuh.  Ajaran  ortodok 

berpendapat bahwa Paskah harus dirayakan pada hari Minggu sesudah  tanggal 

14 Nisan. (Trevett 1996:202)

Hieronimus dan para pemimpin gereja lainnya mengklaim bahwa kaum Montanis 

di masa mereka menganut keyakinan bahwa Tritunggal terdiri atas satu pribadi 

saja, serupa dengan Sabelianisme, jadi berlawanan dengan pandangan ortodoks 

bahwa Tritunggal yaitu  satu Allah dengan tiga pribadi, yang juga dianut oleh 

Tertulianus.  Ada  beberapa  orang  yang  memang  yaitu   pemeluk  monarkian 

modalistik  (Sabelian)  dan  beberapa  lainnya  yang  lebih  dekat  dengan  doktrin 

Tritunggal.  Dilaporkan  bahwa  para  modalis  ini  membaptiskan  dengan 

meyebutkan  nama  Yesus  Kristus,  bukannya  menyebutkan  nama  Tritunggal. 

Kebanyakan dari kaum Montanis di kemudian hari berasal dari kubu modalistik.