harus
diharmoniskan.
{Band. Kej 5:1,3; 9:6; 1Kor 11:7; Kol 3:10; Yak 3:9}
Dari arti diatas hal ini menjelaskan bahwa manusia diciptakan berdasar , menurut
‖gambar‖ atau ―rupa‖ yang sudah ada yaitu Allah. ‖Pengertiannya yaitu bahwa melalui
penciptaan apa yang semula merupakan bentuk awal yang ada pada Allah kemudian
‖dicetakkan‖ pada manusia. Allah yaitu yang aslinya dan manusia yaitu salinannya.
b. Arti Teologis
Manusia pertama diciptakan menurut gambar dan rupa Allah berarti adanya aspek-aspek
10
tertentu yang Allah ciptakan di dalam diri manusia yang memicu manusia itu
10
seperti Allah untuk tujuan agar manusia dapat menjadi wakil Allah. sebab nya manusia
menjadi makhuk yang paling mulia melebihi ciptaan Allah yang lain. Namun demikian,
perlu diingat bahwa terdapat perbedaan kualitas antara ciptaan dan Penciptanya.
Manusia yaitu seperti Allah, tapi manusia bukan Allah.
Jika demikian apa makna dan pengertian-pengertian yang terkandung dalam kata
‖gambar dan rupa Allah‖ sebelum manusia jatuh dalam dosa
1) Gambar dan rupa Allah, terkandung didalamnya bahwa manusia memiliki apa yang
disebut dengan ‖kebenaran asali‖. Hal ini mencakup hal pengetahuan yang benar,
kebenaran dan kesucian. Manusia memiliki pengetahuan akan yang benar,
kebenaran dan kesucian didalam dirinya.
2) Gambar dan rupa Allah mengacu pada elemen-elemen yang menjadi natur
konstitusional manusia seperti kekuatan intelektual, perasaan natural dan kebebasan
moral.
3) Gambar dan rupa Allah mengacu pada kerohanian manusia. Manusia bukan saja
terdiri dari tubuh jasmani akan namun juga memiliki kerohanian yang memungkinkan
manusia berhubungan dengan Allah.
4) Gambar dan rupa Allah memberi arti bahwa manusia memiliki nilai kekal dalam
kehidupannya. Kekekalan ini tidak berada didalam dirinya sendiri sebab manusia itu
diciptakan. Nilai kekal itu merupakan pemberian Allah dalam penciptaan manusia.
Berkhof membedakan kekekalan Allah dan kekekalan manusia ini sebagai berikut :
―…hanya Allah sajalah yang memiliki kekekalan sebagai kualitas esensial,
yang memilikinya di dalam dan hanya dari diri-Nya sendiri, sedangkan kekekalan
manusia yaitu pemberian yang diperoleh dari Allah. (Berkhof : 52). Demikian juga
Stephen Tong yang membedakan arti kata ―eternal‖ dan kata ―immortal‖ :
„Kata eternal ―eternal‖ itu berarti kekal, sedangkan kata ―immortal‖ lebih
berarti tidak rusak. Hanya Allah-lah satu-satunya ―Ada‖ yang tak akan
mengalami kerusakan. Ketidakrusakan Allah ini diberikan kepada manusia dalam
bentuk sifat kekal‟.(Majalah ―MOMENTUM‖ No. 8 Bulan Juni, 1990: 5)
Sebagai akibat manusia diciptakan segambar dan serupa dengan dan oleh Allah
maka ada beberapa implikasinya, antara lain:
a. Allah yaitu Tuan. Manusia dicipta oleh Tuhan Allah ini berarti bahwa manusia
milik Tuhan, Tuhan yang empunya manusia. Oleh sebab itu maka hidup
manusia hanya diperuntukkan kepada Tuhan saja, tidak kepada yang lain.
Hanya kepada Tuhan saja menusia mengabdi dan menyembah. Manusia tunduk
hanya kepada Tuhan Allah.
b. Manusia merupakan gambar dan rupa Allah, ini berarti bahwa manusia dalam
hidupnya harus mencerminkan, menggambarkan Allah dalam kehidupannya.
Perkataan dan perbuatan manusia harus mencerminkan kemuliaan peciptanya
yaitu Allah.
c. Manusia diciptakan oleh Allah dalam gambar dan rupanNya, ini berarti bahwa
kemauan, kehendak dan hidup manusia harus bersesuaian dengan tujuan Allah
menciptakan manusia. Bahwa Allah menjadikan manusia untuk kemuliaan-Nya
(Yesaya 43:7).
Aspek-Aspek Manusia yang memiliki gambar dan rupa Allah
Aspek-aspek berikut ini yaitu aspek-aspek yang menunjukkan bahwa manusia
memiliki keserupaan dan kesegambaran dengan Allah, dan yang membedakannya
dengan mahluk ciptaan lain:
a. Aspek Moral. Secara moral manusia bertanggung jawab kepada Allah, sebab
Allah telah memberikan hati nurani di dalam hati manusia untuk mengetahui
10
apa yang benar dan salah. Atas dasar kemampuan membedakan yang baik dan
yang jahat inilah manusia selalu diperhadapkan dengan pilihan moral antara
yang baik dan yang jahat. Sifat moral ini yaitu refleksi dari kesucian Allah.
Atau dengan kata lain sifat kesucian Allah ini ditransferkan dalam diri manusia
berupa atau sebagai sifat moral. saat manusia menjalankan hidup sesuai
dengan standard moral Allah maka manusia mencerminkan keserupaannya
dengan Allah.
b. Aspek Rohani. Selain tubuh jasmani, manusia juga diberikan tubuh rohani oleh
Allah yang bersifat kekal. Dengan tubuh rohani inilah manusia dimungkinkan
untuk berhubungan dengan Allah. saat manusia jatuh dalam dosa dan tidak
taat kepada Allah maka hubungan terpisah dan putus dari Allah. Sifat rohani
dalam diri manusia ini nampak dari adanya jiwa atau roh yang sebenarnya
yaitu refleksi dari keberadaan Allah yang yaitu Roh. Aspek rohani ini hanya
ada pada manusia saja, sebab hanya manusia sajalah yang diciptakan menurut
―gambar‖ - ―rupa‖ Allah. Berkhof berkata : ―Allah yaitu Roh, maka wajar
jika kita beranggapan bahwa elemen kerohanian ada juga di dalam diri manusia
sebagai gambar dan rupa Allah‖. (Berkhof : 51).
c. Aspek Mental. Allah yaitu kebenaran. Kebenaran Allah ini terefleksi dalam diri
manusia berupa aspek mental. Sifat inilah yang membuat manusia memiliki
kemampuan mental untuk berpikir, berlogika, berkreasi dan berbahasa yang
terus berkembang sejauh manusia memiliki kehidupan. Melalui kemampuan
mental ini manusia sanggup memikirkan masa depan dan kehidupan setelah
kematian. Kemampuan manusia untuk menelusuri emosinya yang sangat
kompleks merupakan cermin akan kesegambarannya dengan Allah.
d. Aspek Relasi/Hubungan. Setelah menciptakan Adam maka Allah melihat
bahwa―tidak baik kalau manusia itu seorang diri‖ itulah sebabnya
Ia menciptakan Hawa sebagai sahabat manusia itu (Adam) sehingga Adam dapat
berhubungan, berkomunikasi, berbicara dan berinteraksi dengan Hawa,
demikian pula sebaliknya. Manusia tidak dibiarkan sendiri dan kesepian. Jadi
manusia diciptakan sebagai suatu makhluk sosial. Manusia diciptakan untuk
hidup bersama. Manusia yang diciptakan dengan keinginan untuk melakukan
hubungan antar pribadi yang sedemikian unik (dan juga dengan mahluk lain)
merupakan cermin akan natur Allah Tritunggal, dimana ada hubungan yang
saling mengasihi dan mempedulikan. Allah bukanlah Allah yang ―seorang
diri‖ atau sendirian dan kesepian. Kenyataan ketritunggalan Allah mengajarkan
kepada kita bahwa pribadi-pribadi itu (Bapa, Anak dan Roh Kudus) saling
berhubungan, berkomunikasi, berbicara satu sama lain-Nya pada masa pra
created (sebelum penciptaan). Allah kita yaitu Allah sosial. Sifat sosial Allah
inilah yang ditularkan kepada manusia. Itulah ―gambar dan ―rupa‖ Allah
dalam diri manusia. Selain 6 hal di atas, masih juga ada sifat yang lain di
antaranya sifat relasi, sifat persekutuan, sifat kesempurnaan, sifat pengharapan,
dll. (Baca lengkap sifat-sifat ini dalam buku Stephen Tong; Peta dan Teladan
Allah; 1990: 55-57).
e. Aspek Fisik. Walaupun Allah yaitu Roh, sebab nya aspek keserupaan Allah
dengan manusia tidak dapat dilihat secara jasmani, namun demikian
kemampuan yang dimiliki oleh tubuh manusia untuk melihat, mendengar,
merasakan, mencium dan bertindak merupakan cermin akan kemampuan
kualitas yang dilakukan oleh Allah. Allah memberikan tubuh kepada manusia
10
agar manusia dapat melakukan apa yang juga Allah lakukan sekalipun Allah
melakukannya tanpa memerlukan tubuh jasmani.
f. Aspek Kreatif. Sifat kreatif (daya cipta) ini diperoleh dari Allah yang yaitu
Sang Pencipta (Creator). Sewaktu Sang Pencipta mencipta manusia, ia
memasukkan ke dalam diri manusia itu sifat yang sama yang ada pada diri-Nya
dalam kualitas yang lebih rendah sehingga manusia itu memiliki daya cipta
dan akhirnya menjadi ―pencipta-pencipta‖ kecil yang yaitu gambaran
Sang Pencipta sendiri. Allah yaitu pencipta awal (dari ketiadaan menjadi ada)
atau pemicu awal (Causa Prima). Manusia yaitu ciptaan yang memiliki
kemampuan untuk ―mencipta‖ (sebab diberi daya cipta). Jadi dapat
dikatakan bahwa manusia yaitu pemicu kedua (Causa Sekundar). Sang
Pencipta menciptakan kita sebagai ciptaan dengan daya cipta sehingga kita juga
dapat menjadi ―pencipta‖ dari apa yang kita ―ciptakan‖.
Tanggung Jawab manusia sebagai penyandang gambar-rupa Allah
1) Wakil Allah di dalam dunia ciptaan
2) Wakil Allah untuk menyatakan kemuliaan Allah di dalam dunia ciptaan
3) Wakil Allah di dalam menjalankan pemerintahan Allah di dalam dunia ciptaan
4) Bersekutu dengan Allah
Tugas yang berat itu tidak akan mungkin dilakukan tanpa sesuatu dari Allah.
Itulah sebabnya manusia diciptakan menurut ―gambar‖ dan ―rupa‖
Allah.
―Gambar‖ dan ―rupa‖ Allah inilah yang merupakan potensi, kekuatan dan
modal bagi manusia untuk melaksanakan tugasnya itu. Charles Hodge berkata
:―Manusia yaitu gambar Allah, sehingga membawa dan mencerminkan kesamaan
ilahi di antara penghuni-penghuni lain di bumi, sebab manusia itu roh, unsur yang
cerdas dan berkehendak bebas; dan oleh sebab itu sudah sepantasnya manusia
ditetapkan untuk menguasai bumi‟. (Systematic Theology : 99).
Dampak Kejatuhan Terhadap gambar dan Rupa Allah dalam diri manusia.
Dosa tidak memicu manusia kehilangan gambar-rupa Allah, namun
mempengaruhi semua aspek gambar-rupa Allah. Segala pengetahuan, kekudusan,
kebenaran mengalami kerusakan atau menyimpang (distorsi) sehingga kadang
kemuliaan Allah tak nampak/terpencar dari kehidupan manusia, malah sebaliknya
manusia melawan dan menentang Allah. Karunia-karunia, anugerah dan kapasitas
yang ada pada manusia mulai dipakai oleh manusia dengan cara bertentangan
dengan kehendak Allah. Dengan kata lain apa yang berubah bukanlah struktur
manusia, melainkan caranya berfungsi dan arah yang ditujunya, yang dahulu
melakukan kehendak Allah sekarang memuaskan hasrat kedagingannya. Rasio
yang sebelumnya dipakai untuk memuji Allah sekarang dipakai untuk memuji
dirinya atau prestasi-prestasi manusia. Pengertian moralnya juga turut
menyimpang, yang salah dikatakn benar, dan yang benar dinyakatakn salah.
Manusia tidak taat lagi terhadap Allah malah melakukan pemberontakan
menentang Allah.
Dalam relasinya juga dengan sesama manusia, yang seharusnya dapat bersekutu
bersama namun sekarang memanipulasi sesamanya sebagai alat untuk mencapai
tujuan yang egois dan menghancurkan sesamanya. Juga dengan relasinya terhadap
alam, manusia memakai bumi dan sumber daya alamnya juga untuk memenuhi
nafsu dan tujuannya yang egois padahal seharusnya memerintah bumi dalam
ketaatan kepada Allah.
10
Dapat dikatakan bahwa gambar Allah dalam diri manusia telah diselewengkan
setelah kejatuhan. Gambar Allah sekarang mengalami malfungsi, namun tetap ada.
Hilangnya gambar Allah dalam pengertian fungsional mempresaposisikan
bertahannya gambar Allah dalam pengertian struktural. Untuk bisa menjadi orang
berdosa, sesorang harus menyandang gambar Allah. Kedasyatan dosa manusia
justru merupakan fakta bahwa ia masih merupakan penyandang gambar Allah.
Yang membuat dosa begitu jahat yaitu bahwa manusia melacurkan karunia-
karunia yang begitu menakjubkan ini. Corruptio optimi pessima: perusakan
terhadap yang terbaik merupakan hal yang terburuk. (Hoekema: 2003 : 109).
Namun sekalipun demikian, kita patut bersyukur sebab ―gambar‖ dan
―rupa‖ Allah dalam diri manusia itu telah diperbaharui di dalam manusia Yesus
Kristus. Ia yaitu manusia pertama pasca kejatuhan yang memiliki ―gambar‖
dan ―rupa‖ Allah yang sempurna (tidak distortif) dalam diri-Nya, dan melalui
hidup-Nya selama di dunia kemuliaan Allah dinyatakan dan terpencar dengan
sempurna. Itulah sebabnya Ia dapat berkata ―Barangsiapa telah melihat Aku,
ia telah melihat Bapa-Ku‖.
H. Natur Manusia
Pada umumnya dikenal tiga teori pembagian natur manusia dalam teologia, yaitu
Trikotomi, Dikotomi dan Monisme.
1. Trikotomi
Trikotomi yaitu pandangan yang percaya bahwa natur manusia terdiri dari tiga bagian,
yaitu tubuh, jiwa dan roh. Menurut teori ini saat Allah menciptakan manusia, Allah
memberikan tiga unsur utama di dalam diri manusia yaitu tubuh, jiwa dan roh. Tubuh
yaitu unsur lahiriah manusia yang dapat dilihat yang melaluinya manusia dapat
melihat, mendengar, menyentuh dan sebagainya. Jiwa yaitu unsur batiniah manusia
yang tidak dapat dilihat. Jiwa manusia terdiri dari tiga unsur utama yaitu pikiran, emosi
(perasaaan) dan kehendak. Dengan pikirannya, manusia dapat berpikir, dengan
perasaannya manusia dapat mengasihi dan dengan kehendaknya, manusia dapat
bertindak. Roh yaitu unsur yang paling dalam dari manusia yang memungkinkannya
untuk bersekutu dengan Tuhan. Kebanyakan para penganut teori ini mendasarkan
pandangannya pada 1 Tes.5:23 dan Ibr.4:12, yang secara jelas menyebutkan tiga unsur
ini :
"Semoga Allah dami sejahtera menguduskan kamu seluruhnya, dan semoga roh, jiwa
dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus,
Tuhan kita.". 1 Tes.5:23
"Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam daripada pedang bermata dua
manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan
sumsum,; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.." Ibr.4:12
2. Dikotomi
Dikotomi yaitu pandangan yang percaya bahwa natur manusia hanya terdiri dari tubuh
dan roh (jiwa termasuk di dalamnya); dua unsur yang berbeda (dualitas) namun bukan
dua bagian yang dipisahkan (dualisme). Kebanyakan para penganut teori ini
mendasarkan pandangannya pada argumentasi berikut ini:
a. saat Allah menciptakan manusia, Allah menghembuskan nafas-Nya ke dalam
tubuh manusia, sehingga hanya ada dua bagian saja, yaitu tubuh dan jiwa/ napas
yang hidup. Kej 2:7
b. Para penganut dikotomi memandang istilah jiwa dan roh di dalam Alkitab bukan
sebagai dua substansi yang berbeda, namun merupakan istilah yang sering dipakai
11
secara bergantian/bisa dipertukarkan oleh penulis Alkitab, misalnya dalam Mat 6:25;
10:28 (Manusia disebut dengan istilah tubuh dan jiwa) dan Pengk 12:7; 1Kor 5:3,5
(manusia disebut dengan istilah tubuh dan roh). Contoh lainnya yaitu Kej 41:8;
Maz 42:6; Mat 20:28; 27:50; Yoh 12:27; Ibr 12:23; Wah 6:9.
c. Penyebutan jiwa dan roh secara bersamaan seperti dalam 1Te 5:23 dan Ibr 4:12,
tidak harus ditafsirkan sebagai adanya dua substansi yang berbeda. Sebab jika
ditafsirkan demikian, maka manusia tidak hanya dibagi dalam tiga substansi saja,
melainkan lebih, misalnya dalam Mat 22:37 menyebutkan secara bersamaan hati,
jiwa dan akal budi (pikiran).
d. Pada umumnya kesadaran manusia hanya menunjukkan adanya dua bagian dalam
diri manusia, yaitu unsur yang badaniah yang dapat dilihat dan unsur rohaniah yang
tidak dapat dilihat. Pada waktu manusia mati, maka badan/tubuhnya kembali ke
tanah sedangkan jiwa/rohnya kembali kepada Allah.
Penting dipahami juga apa yang diajarkan oleh Plato, sebab Plato juga menganut
paham dualisme natur manusia namun sesungguhnya memiliki perbedaan dengan
pengajaran Alkitab. Menurut Plato ada dua hal yang utama dalam diri manusia yaitu
jiwa dan tubuh, keduanya merupakan kenyataan yang harus dibedakan dan dipisahkan.
Jiwa berada sendiri. Jiwa yaitu sesuatu yang adikodrati, yang berasal dari dunia ide
dan oleh sebab nya bersifat kekal, tidak dapat mati (Hadiwijono: 2005. 43).
Plato juga mengajarkan teori Praeksistensialisme dan transmigrasi jiwa. Teori
praeksistensi beranggapan bahwa ―jiwa-jiwa manusia ada dalam keadaan yang
sudah lebih dahulu terbentuk dan keadaan jiwa-jiwa itu dalam keadaan ini
mempengaruhi keadaan jiwa ini pada saat yang kemudian.‖ (Berkhof: 2006, 35).
Hinduisme juga mengajarkan tentang hal ini dimana reinkarnasi merupakan sarana
proses membuang dosa sehingga hukuman berlaku.
Dari ajarannya, dapat dilihat bahwa sebenarnya Plato menganut dikotomis dalam
pandangannya tentang elemen natur manusia. Pandangan ini pada dasarnya sama
dengan pandangan Alkitab. Akan namun , kesalahan teori Plato yaitu caranya melihat
dikotomis ini . Plato melihat tubuh dan jiwa secara dualistik, jiwa dan tubuh berupa
kenyataan yang terpisahkan. Jiwa dipenjarakan di dalam tubuh. Oleh sebab itu, jiwa
perlu dilepaskan dengan mendapatkan pengetahuan tentang ide. Sedangkan, Alkitab
menjelaskan manusia memiliki dua elemen dalam dirinya namun tetap menekankan
kesatuan organis di dalam diri manusia. Dari kisah penciptaan jelas bahwa manusia
memang memiliki dua elemen yang bersatu. Dalam Kejadian 2:7 dikatakan
―saat itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan
menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi
makhluk yang hidup.‖ Ayat ini menunjukkan bahwa saat Allah membentuk tubuh oleh
Rohnya, pada saat itu juga manusia menjadi makhluk yang hidup. Kalimat dalam ayat
ini tidak menunjukkan urutan penciptaan tubuh dahulu baru jiwa. Akan namun , baik
tubuh maupun jiwa dimiliki oleh manusia secara bersamaan saat penciptaan.
berdasar pandangan Alkitab di atas, berarti bahwa tubuh dan jiwa merupakan elemen
dari manusia yang menyusun keseluruhan diri manusia.
Oleh sebab itu, segala tindakan manusia harus dilihat sebagai tindakan dari
keseluruhan diri manusia. ―Yang berdosa yaitu manusianya, bukan jiwanya; yang
mati yaitu manusianya, bukan tubuhnya dan juga bukan hanya jiwa saja namun manusia
itu baik tubuh maupun jiwanya yang ditebus di dalam Kristus.‖ (Berkhof: 2006, 35)
Teori Plato tentang praeksistensialisme jiwa juga tidak sesuai dengan pandangan
Alkitab. Alasan terpentingnya yaitu sebab teori ini berdasar pada dualisme, dimana
jiwa yang tadinya tidak memiliki tubuh, kini secara kebetulan dipenjarakan di dalam
11
tubuh. Dari sudut kesadaran, teori ini juga tidak dapat diterima sebab kita sebagai
manusia tidak memiliki kesadaran tentang keadaan jiwa kita saat masih belum lahir ke
dunia. Teori Plato tentang transmigrasi jiwa jelaslah salah. Dalam Alkitab tidak pernah
dikatakan bahwa jiwa manusia yang telah meninggal akan diturunkan ke dalam tubuh
lain lagi. akan namun , Alkitab menjelaskan bahwa saat seorang individu meninggal, ia
akan dibangkitkan pada hari penghakiman dengan tubuh yang tidak dapat binasa dan
tidak dapat mati. Disaat itulah firman Tuhan digenapkan bahwa maut telah ditelan
dalam kemenangan dan manusia akan memasuki hidup kekal bersama dengan Tuhan
pada kekekalan. (Penjelasan tentang teori asal usul jiwa akan dijelaskan dalam bagian
selanjutnya).
3. Monoisme
Monoisme/Monisme atau kadang disebut monokotomi yaitu pandangan yang percaya
bahwa manusia merupakan pribadi yang utuh yang tidak dipisah-pisahkan. Manusia
tidak akan bisa ada/hidup tanpa tubuh atau jiwa/rohnya. Tubuh tidak akan bisa hidup
tanpa jiwa/roh, demikian juga sebaliknya. Menurut teori ini, istilah Alkitab "jiwa,"
"roh," „tubuh‟, „hati‟, „akal budi‟ dan sebagainya merupakan cara yang berbeda-beda
untuk melihat pribadi seseorang. Keberadaan manusia dalam satu kesatuan yang utuh
yaitu keadaan manusia yang ideal. Itu sebabnya sesudah kematian Alkitab mengatakan
bahwa untuk sementara manusia akan berpisah dengan tubuh, namun pada kedatangan
Tuhan Yesus yang kedua, manusia yang diselamatkan akan menerima kebangkitan
tubuh; tubuh yang mulia. (Fil 3:21)
Istilah roh dan jiwa
Ada beberapa kata yang perlu diperhatikan dalam bahasa Ibrani dan Yunani:
a. roh (Ibr.: ruakh, Yun.: pneuma)
b. jiwa (Ibr.: nefesy, Yun.: psukhe)
c. tubuh (Yun.: soma)
d. daging (Ibr. Basar, Yun.: sarx)
e. hati (Ibr.: lev, Yun.: kardia)
I. Tubuh dan Jiwa
1. Tubuh
Kata yang biasa dipakai dalam bahasa Ibrani untuk tubuh manusia yaitu בשר -
basar (harfiah, daging), kata Yunani juga memakai makna yang sama yaitu
ζαπξ - sarx (harfiah, daging). Sering juga bahasa Yunani memakai kata ζωμα -
sôma, tubuh. Dalam Kej 2:7 Tuhan lebih dahulu membentuk tubuh , setelah itu
memberi jiwa. Tubuh bukanlah sekedar tambahan atau embel-embel yang tidak
penting! Tubuh bukanlah penjara dari jiwa seperti apa yang dipikirkan Plato. Tubuh
yaitu sesuatu yang baik! Tubuh bukanlah sumber dosa. Memang tubuh bisa
diperalat oleh dosa, namun asal usul dosa sebetulnya justru terletak pada jiwa (Kej 3 -
pada pikiran dari Hawa). sebab itu hati-hati dalam menafsirkan kata „daging‟
dalam Kitab Suci, sebab kata „daging‟ itu sering digunakan bukan untuk menunjuk
kepada „tubuh‟ namun kepada „manusia lama‟ misalnya dalam Gal 5:16-21. Tubuh
juga tidak bertentangan dengan jiwa! Secara alamiah, tubuh yaitu immortal (tidak
bisa binasa). Bahwa tubuh itu harus kembali kepada debu (mati), itu bukan
disebabkan sebab tubuh berasal dari debu, namun sebab adanya dosa (Kej 3:17-19).
Sekalipun tubuh berasal dari debu tanah namun tubuh bukanlah sesuatu yang
merendahkan manusia! Ingat bahwa Tuhanlah yang membentuk tubuh itu!
11
2. Jiwa
Jiwa (Ibr:nefesh, Yun:psyche) dapat diterjemahkan sebagai nafas atau hidup. Jiwa
yaitu suatu indivisible essence / substance (= zat yang tidak bisa dibagi-bagi). Jadi:
Jiwa yaitu suatu zat, bukan sekedar suatu khayalan atau sesuatu yang abstrak.
Dalam perspektif Ibrani, -nefesy (Jiwa) yaitu totalitas, kesatuan dari unsur - × ×¤×©
unsur yang saling memiliki ketergantungan ('dependensi' dan 'interdependensi').
Berbeda dengan tubuh, jiwa tidak bisa dibagi-bagi.
nefesy atau kadang ditrasliterasikan dengan nefesh , menurut pola pikir Ibrani - × ×¤×©
terdiri atas בשר - basar (daging, tubuh), × ×©×ž×” - nesyamah (nafas), רוח - ruakh (roh),
.lev (hati, akal budi) - לב
saat Anda melihat seseorang berkata, Anda mendengar perkataan itu namun Anda
tidak melihat perkataannya melainkan melihat sosok pribadi orang yang berkata itu.
Demikian pula halnya dengan × ×¤×© - nefesy.
Anda melihat "nefesy", seseorang secara keseluruhan padahal yang Anda lihat
yaitu tubuhnya („basar‟), Anda tidak melihat nafasnya („nesyamah‟), Anda tidak
melihat pikiran, perasaannya. Tidak dapat dikatakan bahwa Anda tidak melihat
„nefesy‟ sebab „nefesy‟ (jiwa) merupakan kesatuan yang kompleks, „nefesy‟
berada antara konkrit dan abstrak, antara yang dilihat dengan yang tidak dilihat. Ini
yaitu pola pikir Ibrani, bukan pola pikir orang Eropa yang memilah-milah sesosok
manusia menjadi terbagi atas tubuh, jiwa, roh, dan seterusnya, bahwa tubuh itu
kelihatan sedangkan jiwa tidak kelihatan. (http://www.sarapanpagi. org /tubuh-jiwa-
dan-roh-vt794.html)
3. Hubungan Tubuh dan jiwa
Hubungan tubuh dan jiwa ini merupakan sesuatu yang misterius dan tidak bisa
dimengerti sepenuhnya. Jiwa dapat mempengaruhi tubuh. sebab itu ebanyakan
gerakan tubuh tergantung kepada jiwa, seperti berjalan, berolah raga, dsb. namun ada
juga gerakan tubuh yang tidak tergantung kepada jiwa, seperti denyut jantung,
pencernaan yang dilakukan oleh usus, keluarnya keringat. Kalau jiwa kacau (stress,
depresi), maka tubuh bisa sakit. Kalau melihat orang yang malu, mukanya jadi
merah dan orang yang merasa sukacita, matanya bisa „berbinar‟.
Sebaliknya, tubuh juga mempengaruhi jiwa. Perhatikanlah orang yang otaknya
rusak, maka pikirannya/jiwanya juga terganggu. Orang yang sudah tua (otaknya
tua), maka menjadi pikun. Walaupun tidak selalu dapat juga dilihat dalam tubuh
sehat, maka jiwanya ikut sehat. Dalam hidup ini jiwa beroperasi melalui tubuh
sebagai instrumen, misalnya: berpikir melalui otak. namun setelah mati, jiwa bisa
beroperasi tanpa tubuh. Dalam Luk 16:19-31 orang kaya itu tetap bisa merasa,
berbicara, melihat, berpikir, dsb.
4. Kesatuan tubuh dan jiwa
Sekalipun Kitab Suci mengajarkan bahwa manusia terdiri dari dua elemen yang
berbeda, yaitu tubuh dan jiwa, namun Kitab Suci juga menekankan kesatuan yang ada
antara tubuh dan jiwa / kesatuan dari seluruh manusia! Jadi, manusia dipandang
sebagai suatu kesatuan!
Jadi pada saat seseorang makan, kita tidak berkata: „tubuhnya makan‟, namun „orang
itu makan‟. Pada saat kita melihat seseorang berpikir, kita tidak berkata „jiwanya
berpikir‟, namun „orang itu berpikir‟.
Konsekwensinya, pada waktu berbuat dosa, maka yang berbuat dosa bukan hanya
jiwa atau tubuh, namun seluruh orangnya. Yang ditebus oleh Kristus, juga bukan
hanya jiwanya atau hanya tubuhnya, namun seluruh orangnya!
5. Teori Asal Usul Jiwa Manusia
11
Yang dibicarakan disini bukanlah asal usul dari jiwanya adam sebagai manusia
pertama, namun asal usul jiwa manusia secara umum. Pada saat seorang bayi ada
dalam kandungan, tubuhnya jelas dari orang tuanya, namun dari mana jiwanya?
Paling tidak ada tiga pandangan tentang ini yakni:
a. Pandangan Pra-ada (pre-eksistensialisme): menurut padangan ini jiwa manusia
sudah ada sebelum ia mulai ada dalam kandungan,namun sebab ada dosa yang
dilakukan oleh jiwa itu, yang lalu memicu jiwa harus berada dalam sebuah
tubuh dan tinggal di dunia (sebagai hukuman) reinkarnasi merupakan sarana
proses membuang dosa sehingga hukuman berlalu, Hinduisme mengajarkan
paham ini. (Pandangan Plato mengenai hal ini sudah dijelaskan sebelumnya).
Pandangan ini tidak memiliki dasar Alkitab sehingga harus ditolak. Plato sendiri
masih membagi jiwa manusia menjadi tiga bagian: rasio (penalaran), emosi, dan
nafsu. Rasio yaitu kemampuan berpikir manusia yang mampu memilih cara
terbaik untuk menghasilkan hal yang terbaik, namun harus tetap disertai dengan
cinta akan kebenaran.
b. Pandangan Traduksianisme: jiwa dilangsungkan bersama badan melalui proses
keturunan (baik tubuh maupun jiwa seorang anak diturunkan oleh/dari orang
tuanya.) tiga argumen yang mendukung pendapat ini yaitu , pertama, Kej. 2:1-3
menyatakan Allah beristirahat pada hari ketujuh sebab pekerjaanNya telah
selesai. Jadi tidak ada indikasi penciptaan jiwa baru setelah Adam. Kedua, Allah
menciptkan jiwa secara sempurna (allah tidak menciptakan seseorang yg
berdosa) lalu masing-masing mengalami kejatuhan pada saat dilahirkan. (dalam
hal ini Kristus merupakan kekecualian). Ketiga, dari sudut jasmani manusia
selalu dipandang sebagai satu kesatuan tubuh dan jiwa.
c. Pandangan Creationisme: menurut pandangan creationisme (penciptaan) Allah
menciptakan jiwa pada saat konsepsi (pembuahan) atau kelahiran. Jiwa dengan
segera bersatu dengan tubuh. Jiwa baru berdosa pada saat sentuhan dosa warisan
melalui tubuh. Dukungan pandangan ini yaitu : Jiwa datang dari Tuhan (Bil.
16:22 dan Ibr. 12:9). Jiwa bersifat kekal, maka jiwa tak diteruskan lewat
keturunan. Ketidakberdosaan Kristus hanya terjadi bila jiwaNya diciptakan
(tentunya jiwa ini tidak disatukan dengan tubuh yang berdosa-jadi
manusiaNya tak berdosa).
J. Kehendak Bebas Manusia
Masalah tentang kehendak bebas manusia merupakan problem yang cukup banyak
didiskusikan. Kadang diskusi ini memanas sebab ambiguitas dari berbagai istilah yang
dipakai. Istilah-istilah seperti bebas (free), kebebasan (freedom), kemerdekaan (liberty),
kerelaan (volition), dan kehendak (will) bisa dipakai dengan makna yang begitu beragam
sehingga pihak-pihak yang berdiskusi mungkin berselisih pandang sementara
memakai kata-kata yang sama. (Hoekema : 2003, 293). Free will / kehendak bebas dan
kejatuhan ke dalam dosa: Sebelum jatuh ke dalam dosa, manusia bisa memilih antara taat
kepada Tuhan atau tidak. namun setelah kejatuhan dalam dosa, manusia hanya bisa berbuat
dosa saja. namun ini tidak berarti bahwa manusia kehilangan free will / kehendak bebas.
Mengapa? 1) sebab pada waktu manusia berbuat dosa, itu tetap dilakukan sebab
kehendaknya sendiri. 2) Andaikatapun kita memiliki keinginan untuk berbuat baik,
namun kita tidak mampu melaksanakan, itu tidak berarti kita tidak bebas. Tadi telah
dijelaskan bahwa free will / kehendak bebas harus dipisahkan dari kemampuan untuk
melakukan apa yang dikehendaki. 3) Sekalipun hanya bisa berbuat dosa, kita tetap bisa
memilih antara dosa kecil dan dosa besar. Jadi tetap ada free will / kehendak bebas!
11
(http://www. golgothaministry.org/anthropology/anthropology _06.htm)
K. Kejatuhan Manusia dalam Dosa
Seperti yang tertulis dalam Kejadian 3:1-24, bahwa dosa masuk kepada manusia lewat
pelanggaran yang dilakukan oleh Adam dan Hawa. Sebab, perintah yang Allah berikan
kepada Adam untuk jangan makan "buah pengetahuan yang baik dan yang jahat" telah
dilanggar oleh Adam dan Hawa. Tidak ada pendapat yang seragam tentang mengapa pohon
itu disebut sebagai "pengetahuan yang baik dan yang jahat." namun , secara umum dapat
dikatakan pohon ini "ada" untuk menguji ketaatan manusia (Adam). Dengan iman,
manusia mau dan rela untuk taat, dan bukan sebab paksaan. Kejatuhan manusia dalam
dosa merupakan keberhasilan usaha Setan dalam menaburkan benih ketidaktaatan dalam
hati manusia melalui perantara ular dan Hawa. (Yoh 8:44; Rom 16:20; 2Kor 11:3; Wah
12:9) Ada alasan kuat mengapa Setan memakai Hawa: pertama, sebab Hawa bukan kepala
perjanjian. Kedua, sebab Hawa tidak menerima perintah langsung dari Tuhan. Ketiga,
Hawa menjadi alat efektif untuk mencapai hati Adam. Kisah kejatuhan manusia dalam
dosa yang diceritakan dalam Kej 3 tidak selalu diterima sebagai kebenaran historis dan
harafiah. Beberapa pendapat lain tentang Kisah Kej 3:
a. Dianggap sebagai kisah legenda/mitos yang tidak ada kebenaran historisnya.
b. Dikatakan sebagai kisah figuratif/alegoris tentang bagaimana manusia mengalami
kerusakan dan perubahan secara perlahan-lahan.
Namun seluruh kebenaran Alkitab dengan jelas memaparkan bahwa kisah Kejadian
bukanlah cerita figuratif. (Yes 43:27; Rom 5:12,18,19; 1Kor 15:21 1Tim 2:14, dll.)
11
XI. Hamartiologi: Pengajaran Tentang Dosa
A. Pengertian Dosa
Dosa yaitu suatu konsep religius, bukan konsep moral belaka. Suatu dosa yaitu
tindakan – pikiran, keinginan, emosi, perkataan, atau perbuatan apapun – atau kelalaian
untuk melakukan tindakan, yang tidak berkenan kepada Allah dan layak dipersalahkan.
sebab itu, kita akan memakai kata dosa untuk merujuk pada tindakan maupun
kecondongan berdosa. Defenisi yang diberikan bersifat kriteriologis dan bukannya
ontologis. Defenisi ini memberitahu kita bagaimana mengetahui bahwa suatu hal yaitu
dosa, dan bukannya memberi tahu tentang apakah arti dosa itu sendiri. Dengan kata lain
defenisi ini berbicara tentang apa itu berdosa, bukan apa itu dosa. Hal ini juga berlaku jika
kita harus merumuskan sebagai pelanggaran hukum Allah. Dosa merupakan celaan dan
penghinaan secara pribadi kepada pribadi Allah. (Platinga: 2004, : 12-13).
Dosa dapat digambarkan sebagai sebuah anak panah yang dilepaskan dari busurnya dan
meleset dari target yang ditentukan. Tentu saja bukan berarti tidak kena target ini
merupakan hal yang berkaitan dengan hukum moral. namun , definisi sederhana dari dosa di
Alkitab yaitu "meleset dari sasaran". Di dalam istilah Alkitab, sasaran yang tidak dikenai
itu bukan merupakan sasaran yang penuh dengan lalang; sasaran itu merupakan tanda atau
"norma" dari Hukum Allah. Hukum Allah menyatakan kebenaran-Nya dan merupakan
standar tertinggi bagi perilaku kita. Pada waktu kita tidak mencapai standar yang telah
ditentukan ini, maka kita berdosa.
Alkitab menjelaskan bahwa manusia telah jatuh ke dalam dosa. Kehendak bebas yang
diberikan Allah, justru menjadi jerat bagi manusia untuk melanggar perintah Tuhan, yaitu
tidak boleh mengambil buah dari pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat yang ada di
tengah-tengah taman. Manusia telah gagal dalam memakai kehendak bebasnya
sehingga merusak gambar dan rupa Allah yang diberikan bagi manusia. Akibatnya,
kegagalan ini melahirkan sesuatu yang buruk dalam kehidupan manusia, yaitu dosa.
Secara etimologis dosa berasal dari bahasa Yunani yaitu dari kata "hamartia" yang
artinya yaitu "tidak mencapai target atau sasaran". saat Allah menciptakan manusia dan
menempatkan mereka di dalam taman Eden, Allah memberikan satu perintah kepada
manusia untuk tidak memakan buah dari pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat,
sebab pada hari manusia memakannya, pastilah mereka akan mati. Dituliskan dalam
Kejadian 3, manusia gagal dan tidak menuruti perintah Allah itu. Manusia tergoda dengan
bujuk rayu iblis sehingga mengambil buah dari pohon itu. Kegagalan manusia inilah yang
dinamakan dosa.
Istilah "dosa" muncul sangat banyak dalam Alkitab, baik dalam Perjanjian Lama
maupun dalam Perjanjian Baru. Berikut ini pemakaian istilah-istilah dosa dalam Perjanjian
Lama dan Perjanjian Baru:
1. Dalam Perjanjian Lama
a. Hatta
Dosa dalam bahasa Ibrani yaitu "hatta", berarti "tidak kena atau tidak sampai."
Pengertian ini dapat dihubungkan dengan anak panah yang "tidak kena"
sasarannya. Dosa menurut istilah ini berarti tidak kena, tidak sampai, atau menyimpang
dari tujuan dan maksud Allah. Dosa menurut istilah ini bukan hanya mencakup
perbuatan dosa, namun juga keadaan hati dan maksud hati yang berdosa (Kejadian 4:7;
Keluaran 9:27; Bilangan 6:11; Mazmur 51:4,6; Amsal 8:36).
"Hatta" berarti jauh dan mengurangi standard dari Tuhan yang Mahasuci. Allah telah
menetapkan suatu standard, namun manusia justru jatuh dan turun dari standard yang
telah ditetapkan oleh Allah. Itulah yang disebut dengan "hatta". Alkitab memakai istilah
ini sebanyak 580 kali dalam Perjanjian Lama. Istilah "hatta" menjadi sesuatu yang
11
sangat menyedihkan hati Tuhan, sebab manusia gagal untuk hidup sesuai dengan
standard atau patokan yang telah ditetapkan oleh Tuhan.
b. Avon
Dalam bahasa Ibrani, kata yang dipakai yaitu "avon" yang berarti "bengkok atau
diputar". Dalam hal ini berarti hati yang bengkok, yang diputar dari yang benar. Kata
ini tidak terlalu menjurus kepada perbuatan jahat, melainkan berkenaan dengan
hati dan tabiat yang jahat (Kejadian 15:16; Mazmur 32:5; Yesaya 5:18), yang
memicu manusia pantas untuk dihukum.
Kata "avon" sangat sulit untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, namun
pada akhirnya istilah ini diterjemahkan sebagai suatu perasaan dalam diri manusia yang
menganggap dirinya cacat atau perasaan di dalam jiwa yang membuat diri merasa
kurang benar, sehingga perlu untuk menegur diri sendiri.
c. Pesha
Dalam bahasa Ibrani, kata yang dipakai yaitu "pesha" yang berarti "melawan yang
berhak, melawan perintah Allah, dan melakukan bidat," (Mazmur 51:3; Amsal 28:2).
"Pesha" juga berarti pelanggaran atas suatu batas yang sudah ditetapkan namun manusia
justru melewati batas itu.
Oleh sebab itu, manusia sudah gagal sebab telah berjalan melampaui batas yang
sudah ditetapkan oleh Allah. Penyelewengan dari jalan yang telah Tuhan tetapkan ini
disebut dosa.
Masih ada beberapa istilah lain untuk dosa, seperti: Pendurhakaan, kejahatan,
pelanggaran sebab ketidaktahuan, penyimpangan, kebencian, kenakalan, dll. (Kejadian
41:9; Imamat 4:13; Yehezkiel 34:6; Mazmur 119:21; Imamat 19:17; Mazmur 94:20).
2. Perjanjian Baru
a. Hamartia
Kata "Hamartia" merupakan istilah dosa yang sering muncul dalam Perjanjian Baru,
kata ini dituliskan sebanyak 174 kali dalam Perjanjian Baru, dan 71 kali dalam tulisan-
tulisan Paulus. Kata ini tidak hanya mengenai perbuatan dosa, melainkan juga keadaan
hati dan pikiran yang jahat. Arti dari kata ini yaitu "manusia ada dalam keadaan
ditipu" (Roma 3:23).
b. Adikia
Kata "Adikia" memiliki arti "kejahatan". Seperti halnya dalam I Yohanes 1:9, kata
ini diterjemahkan "kejahatan". Kata ini muncul dalam I Yohanes 5:17 yang juga
diterjemahkan "kejahatan". Istilah ini menunjuk kepada suatu keadaan hati dan pikiran
yang jahat. Oleh sebab itu Yohanes berkata bahwa dosa-dosa kita diampuni dan kita
disucikan dari kejahatan.
c. Parabasis
Parabasis mengandung arti "menyimpang dari yang seharusnya." Kata ini selalu
dipakai dalam hal yang berhubungan dengan pelanggaran terhadap hukum yang pasti
(Roma 4:15). Hukum-hukum Allah menuntut supaya manusia menaatinya, dan
bilamana manusia tidak mau menaatinya, berarti ia yaitu pelanggar hukum dan
berdosa. Dan tentu saja murka Allah akan jatuh ke atasnya (Roma 4:15).
d. Anomia
Kata "Anomia" sebenarnya tidak mengandung pengertian "melanggar hukum dalam
suatu perbuatan yang pasti", namun kata ini lebih menjurus kepada pengertian "tidak
menurut atau tidak memedulikan hukum." Kata ini menjelaskan tentang keadaan
hati.
11
e. Asebeia
Kata ini mengandung arti "keadaan fasik", yaitu tidak ber-Tuhan. Lebih jauh
lagi, kata ini mengandung arti bahwa tabiatnya yang berlawanan dengan tabiat
Allah (Roma 1:8; Yudas 14:15).
f. Paraptoma
Arti dari kata ini yaitu "tidak berdiri teguh pada saat harus teguh", atau "tidak
sampai pada yang seharusnya" (Matius 6:14,15).
Dalam Perjanjian Baru, masih banyak istilah lain yang dipakai untuk menjelaskan
perbuatan dosa, misalnya: Kefasikan, kelaliman, keinginan jahat, kecemaran, dendam,
kedengkian, pembunuh, perkelahian, tipu daya, khianat, penghasut, pengumpat,
kebencian, kemabukan, takabur, hawa nafsu, zinah, cemburu, menyembah berhala dan
lain-lain.
B. Hakekat Dosa
Didalam menjawab pertanyaan "hakekat dosa", maka pembahasan kita tidak dapat
lepas dari "makna hakekat" dan juga studi tentang "hakekat". Studi mengenai hakekat
dikenal dengan ontologi, yaitu suatu bidang didalam filsafat.
Berikut yaitu simplifikasi pengertian hakekat:
T: "Mengapa manusia memiliki 2 kaki?"
J: "sebab 'sudah dari sananya' manusia memiliki 2 kaki"
Studi tentang hakekat pada dasarnya yaitu mempertanyakan permasalah yang
dihadapi secara terus-menerus (ontological question), sampai jawaban akhirnya yaitu
"sudah dari sananya". Kalimat "Sudah dari sananya" dianggap sebagai hakekat dari
permasalahan yang dihadapi. (Dalam arti yang lebih luas, ontological question tidak
akan berhenti sampai disini saja, segala 'akibat' pasti memiliki 'sebab' dan hal
ini lah yang dipahami sebagai hakekat, yakni: Suatu 'sebab' yang tidak memiliki
'pemicu ')
Kembali pada tujuan menjawab permasalahan "hakekat dosa", maka
pembahasan harus kembali kepada penciptaan manusia: Berfirmanlah Allah: "Baiklah
Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita,..." - Kejadian 1:26. Dari
kutipan diatas, kita dapat melihat bahwa manusia dicipta menurut gambar dan rupa
Allah. Pengertian disini bukanlah "benar-benar sama" namun "menurut...". Manusia
yaitu turunan (derivasi) dari Yang Sempurna, akan namun manusia sendiri tidak
sempurna.
saat itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan
menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi
makhluk yang hidup. - Kejadian 2:7. Dari Kejadian 2:7 diatas kita dapat melihat bahwa
manusia dibentuk dari debu tanah yang kemudian Dihembusi-Nya nafas hidup. Hal ini
menjawab mengapa manusia yang dicipta menurut gambar Yang Sempurna tidak
dengan serta-merta menjadi sempurna. Yaitu sebab manusia terdiri atas 2 substansi:
Debu tanah yang bersifat fana dan nafas hidup ilahi yang bersifat kekal. Akibatnya
manusia memiliki sifat keterbatasan & kesementaraan maupun sifat kemuliaan &
kekekalan (Manusia diciptakan dari material yang sudah ada, yaitu material yang
SUDAH diciptakan-Nya, yaitu debu tanah. Kata yang digunakan untuk 'membentuk'
yaitu yang berbeda dengan kata yang digunakan dalam Kej 1:1 {yâtsar, formed} יצר
untuk 'menciptakan' yaitu ר {bârâ', created}. Penciptaan langit & bumi tidak
memakai material yang telah ada sebelumnya, creatio ex nihilo. Manusia dicipta
dari 'yang ada' menjadi 'ada')
11
Kembali pada Pasal 1 dalam kitab Kejadian, kita dapat melihat bahwa setelah
Allah menyelesaikan seluruh ciptaan-Nya, bumi & seluruh isinya, Allah menyatakan
bahwa, "segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik": Maka Allah melihat segala
yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari
keenam. - Kejadian 1:31. Dari konfirmasi Allah ini kita dapat melihat bahwa
seluruh ciptaan Allah, termasuk manusia yaitu , "sungguh amat baik". (Allah yang
mengkonfirmasi ciptaan-Nya sebagai, "sungguh amat baik" dan tidak ada dosa yang
baik dihadapan Allah. Sehingga pemahaman yang paling baik didalam hal penciptaan
manusia ini yaitu bahwa manusia pertama, laki2 & perempuan, dicipta-Nya tanpa
dosa)
Sebelum kita melanjutkan pembahasan, ada suatu pemahaman yang harus kita
mengerti terlebih dahulu, dan akan menjadi dasar dari uraian diberikut: Walaupun
manusia yang dicipta-Nya memiliki keterbatasan, akan namun manusia yaitu makhluk
yang bersifat mulia dan tidak berdosa pada saat dicipta.
Keberadaan manusia pada saat penciptaan (creation) yaitu POSSE-PECARRE
(bisa - berdosa; sebab belum jatuh kedalam dosa), yaitu manusia dicipta dalam keadaan
NETRAL: Bisa memilih untuk berdosa vs tidak berdosa. Selanjutnya pembahasan ini
akan melihat kembali peristiwa kejatuhan manusia, dimulai dari perintah-Nya dan
kemudian dengan pelanggaran manusia: Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini
kepada manusia: "Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan
bebas, namun pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah
kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati." -
Kejadian 2:16;17.
Kita dapat melihat bahwa Allah memberi suatu perintah langsung kepada Adam,
didalam Kej 2:16-17 diatas. Dengan suatu konsekuensi yang harus ditanggung jika
dia melanggar perintah ini . Konsekuensi dari pelanggaran ini yaitu sesuatu
hal yang sangat serius yaitu kematian (Kematian memiliki 2 pengertian: Kematian
secara fisik & kematian secara spiritual. Adam & Hawa memang tidak mati secara fisik
pada saat mereka memakan buah pengetahuan ini , akan namun kematian secara
spiritual terjadi pada saat mereka memakannya. Mereka hidup terpisah dari Allah dalam
kutukan-Nya.) namun ular itu berkata kepada perempuan itu: "Sekali-kali kamu tidak
akan mati, namun Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu
akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang
jahat." Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap
kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati sebab memberi pengertian. Lalu ia
mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang
bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya. - Kejadian 3:4-6. Dari
kutipan diatas kita dapat melihat bujukan iblis, yang dapat dibagi sebagai berikut:
1. Tidak akan mati pada saat memakan buah tsb.
2. Akan menjadi sama seperti Allah, tahu yang baik & yang jahat
Dan kita juga dapat melihat respon dari perempuan itu (Hawa): "...menarik hati
sebab memberi pengertian (yang baik & yang jahat)" Seharusnya pada saat ini kita
telah dapat melihat hakekat dosa, berdasar kata-kata bujukan iblis & respon yang
diberikan Hawa (yang juga disetujui oleh Adam): Pertama, manusia melanggar perintah
langsung dari Allah & sekaligus 'mempertanyakan' konsekuensi serius yang harus
mereka hadapi pada saat melanggar perintah Allah yaitu kematian. Kedua, manusia
bertindak seperti hakim, sebagai penentu mana yang benar & salah, menjadi verifikator
dari pernyataan Allah. Allah menyatakan "pastilah engkau mati" vs pernyataan iblis
"sekali-kali kamu tidak akan mati". jika pemikiran perempuan ini dituliskan
11
mungkin yaitu sbb: "Masa sih mati? Kata ular tidak mati! Bahkan memberi
pengertian". Dan mereka pun memilih untuk melanggar perintah Allah, sambil
mempertanyakan pernyataan Allah, "pastilah engkau mati". Mereka pun mencurigai
motivasi Allah pada saat Dia memberikan larangan tsb, "Allah melarang sebab Dia
tidak mau 'disamai' oleh kita manusia ciptaan-Nya". Dari point pertama & kedua diatas,
kita dapat melihat bahwa manusia pertama menolak atau dengan kata lain menindas
kebenaran Allah, yaitu apa yang Allah sendiri nyatakan. Ketiga, manusia ingin menjadi
'seperti' Allah, dengan kata lain ingin melakukan kudeta dan kemudian mengambil alih
apa yang sebenarnya merupakan hak Allah (yaitu kualitas yang dimiliki Allah) dalam
hal ini, seturut bujukan iblis, yaitu memiliki pengetahuan yang baik & yang jahat.
(sebab manusia memberontak kepada Allah, INGIN menjadi sama dengan Allah,
sehingga pada saat yang bersamaan manusia HARUS menolak eksistensi Allah sebagai
Yang Berdaulat & Yang Berkehendak.)
Dalam Kejadian 3:14-19 kita dapat melihat kutukan Allah, baik kepada ular sang
Iblis, manusia laki-laki & perempuan, dan juga kepada bumi (lih. Ayat 17). Dan pada
saat itulah manusia terpisah dari hadapan Allah oleh sebab dosa yang mereka pilih
sendiri. Mereka menanggung konsekuensi terusir dari tempat dimana Allah
menempatkan mereka, yaitu Firdaus. (Perhatikan, manusia yang memilih - dengan
kebebasannya - untuk melawan Allah, yaitu berbuat dosa. Bukan Allah yang
menetapkan dosa ataupun menetapkan manusia untuk jatuh kedalam dosa. Akan namun ,
sekalilagi, MANUSIA YANG MEMILIH UNTUK BERDOSA )
Kejatuhan manusia itulah yang menjadi awal masuknya dosa kedalam dunia
(original sin, dosa asal), yaitu dosa yang diturunkan dari generasi ke generasi (bdk Rm
5:12-15). Setiap manusia memiliki kecendrungan untuk selalu berbuat dosa dengan
kebebasan kehendaknya.
Akibat kejatuhan manusia, keberadaan manusia yaitu NON POSSE - NON
PECARRE (tidak bisa - tidak berdosa = selalu berbuat dosa) yaitu hilangnya netralitas
kehendaknya (bandingkan dengan kondisi manusia pada saat penciptaan yang bersifat
netral). Manusia tidak lagi NETRAL: Memilih berdosa vs tidak berdosa, akan namun
memiliki kecendrungan untuk selalu berbuat dosa.1 (Setelah manusia jatuh kedalam
dosa, 'kebebasan kehendak' manusia menjadi hilang, dalam arti kehilangan netralitas
pilihannya. Saat seseorang hanya bisa memilih untuk tidak taat, hanya bisa melakukan
dosa, dirinya tidaklah bebas untuk berkehendak melakukan yang Benar dihadapan
Allah)
Kembali pada hakekat dosa, kita dapat melihat dosa esensial (dosa yang
mendasar) yang dilakukan oleh manusia: Menolak eksistensi Allah & menindas
kebenaran-Nya. jika terus dipertanyakan 'sebab' dari Adam berdosa, maka jawaban
akhirnya yaitu sebab dia ingin memiliki kualitas sebagaimana yang Allah miliki. Dan
satu-satunya cara yaitu dengan menolak keberadaan/eksistensi Allah sebagai yang
berdaulat dan menolak kebenaran-Nya yaitu apa yang Allah nyatakan sebagai yang '
mutlak benar' dan harus ' mutlak ditaati' pula.
C. Pembagian Dosa
Dewasa ini kita mengenal tentang pembagian dosa. Seperti yang diajarkan oleh
Alkitab, dosa dibagi menjadi dua bagian, yaitu dosa asal dan dosa perbuatan.
1. Dosa Asal
Alkitab mengajarkan bahwa dosa masuk ke dalam dunia melalui satu orang, yaitu
Adam. "sebab sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam,
demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan
12
Kristus." (I Korintus 15:22). Dosa Adam yang terjadi pada awal kehidupan manusia
telah membawa dosa masuk ke dalam dunia. Dan, sejak itu dosa juga masuk ke
dalam kehidupan semua orang. Dosa asal bersifat tunggal. Dosa asal memberi
kekuatan yang fatal sehingga memicu manusia tidak lagi dapat melakukan
perbuatan yang benar kepada Allah. Manusia terus menerus memberontak kepada
Allah sehingga membawa mereka pada penghukuman. Namun, dosa asal telah
ditebus oleh darah Kristus saat seseorang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus
sebagai Tuhan dan Juru Selamat.
2. Dosa Perbuatan
saat kita mencapai suatu tingkat pengetahuan di mana kita bisa mengetahui apa
yang benar dan apa yang salah, maka kita bertanggung jawab akan semua yang kita
lakukan. Melalui Adam, kita telah mewarisi dosa asal. Dosa dalam hidup kita
akhirnya juga menghasilkan perbuatan-perbuatan yang melanggar Allah. Perbuatan-
perbuatan yang kita lakukan, walaupun kita tahu sebelumnya bahwa perbuatan itu
salah dan tidak boleh dilakukan, namun tetap kita lakukan. Bukan hanya itu, dosa
perbuatan juga kita lakukan saat kita gagal melakukan sesuatu untuk Allah setelah
hati nurani kita menyuruh kita melakukannya. Dosa-dosa seperti itulah yang disebut
dengan dosa perbuatan. Dosa perbuatan bersifat jamak, baik yang berupa tindakan
secara langsung maupun yang berupa keinginan dan pikiran. Dosa perbuatan ini juga
diperhitungkan oleh Allah. namun untuk orang yang percaya kepada Kristus, dosa-
dosa perbuatan itu telah ditebus oleh Kristus dan tidak diperhitungkan lagi oleh
Allah sebab jasa kematian dan penderitaan Tuhan Kristus Yesus.
D. Asal Mula Dosa
Manusia pertama yang diciptakan Allah di dunia yaitu Adam. Allah menempatkan
manusia pertama ini di taman Eden. Allah menyediakan segala sesuatu yang diperlukan
manusia dalam taman ini . Selain itu, Allah juga memberikan kehendak bebas kepada
manusia untuk bertindak. Namun, pada kehendak bebas Allah berikan itu ternyata gagal
untuk dipertanggungjawabkan oleh manusia. Manusia tidak menaati peraturan yang
ditetapkan oleh Allah dan manusia lebih mendengarkan perkataan iblis dan mengabaikan
perintah Allah sehingga manusia jatuh ke dalam dosa.
Perdebatan mengenai asal mula kejahatan di dunia seringkali diperdebatkan baik dalam
ranah teologi maupun filsafat. Darimana kejahatan berasal, dan mengapa bisa terjadi,
menjadi suatu masalah yang paling tidak mudah dimengerti, sehingga manusia sangat
tertarik untuk menganalisanya.
Sering kali orang bertanya, "Dari manakah dosa berasal?" Mengenai asal dosa, Alkitab
memang tidak memberikan keterangan yang jelas. Namun, Alkitab cukup jelas
memberitahukan kepada kita bahwa dosa bukan dari Allah dan tidak diciptakan oleh Allah.
Sebab, dalam Alkitab dikatakan dengan jelas bahwa Allah yaitu suci dan segala sesuatu
yang Tuhan ciptakan yaitu baik dan sempurna adanya (Kejadian 1:31).
Jadi, dari manakah dosa berasal? Dosa berasal dari hati Lucifer. Lucifer yaitu seorang
malaikat Tuhan yang diciptakan oleh Tuhan. Namun, sebab berbagai kelebihan yang
dimilikinya, ia menjadi sombong dan mulai melawan Tuhan (Yehezkiel 28:15-17; Yesaya
14:13-14). Malaikat yang telah jatuh itulah yang dinamakan Iblis atau Lucifer. Melalui dia
segala jenis dosa dan kejahatan ada di dunia ini.
Iblis yaitu makhluk yang pertama kali memberontak terhadap Allah. Kemudian ia juga
mengajak manusia ciptaan Allah untuk ikut memberontak terhadap Allah. Sehingga seperti
yang kita ketahui saat ini, manusia yang memiliki pengetahuan dari Allah telah berdosa
sebab menentang Allah, sehingga membuat semua orang berdosa dan mereka harus
12
bertanggung jawab atas dosa mereka. Dalam Roma 5:6, 8, 10 dijelaskan tentang
keberadaan dosa dalam diri manusia dengan menunjukkan tiga fakta utama tentang
manusia, yaitu:
1. Ketidakmampuan manusia untuk tunduk dan menaati hukum Allah (Ayat 6)
2. Kesengajaan manusia untuk melanggar batas larangan yang ditentukan Tuhan (Ayat 8)
3. Keputusan moral manusia berdasar akal budinya untuk melakukan apa yang manusia
tahu tidak seharusnya ia lakukan (Ayat 10)
Alkitab memandang dosa sebagai sesuatu yang serius dan berat, dosa bukan hanya sekadar
kelemahan. Dosa sekecil dan sesedikit apa pun merupakan pelanggaran yang membuat
manusia menjadi seteru Allah. Pelanggaran terhadap satu hukum Allah merupakan
pelanggaran terhadap semua hukum. Alkitab juga menyebutkan adanya perbedaan kualitas
dosa dan kuantitas dosa.
E. Natur Dosa
Dosa yang diperbuat Adam telah memicu adanya perubahan status/kedudukan
manusia, dari yang "tidak berdosa" menjadi "berdosa". Sejak jatuh dalam dosa, status
manusia telah bergeser jauh dari yang ditetapkan oleh Allah. Pergeseran inilah yang
kemudian menjadi sumber dari segala macam dosa. Sejak saat itu, manusia tidak dapat lari
dari kenyataan tentang adanya dosa. Dosa telah masuk dalam seluruh kehidupan manusia
dan memberikan dampak yang buruk dalam keseluruhan aktivitas manusia.
1. Pandangan Umum tentang Dosa
a. Teori Dualistis. Ini yaitu teori Gnostisisme yang menganggap kebaikan dan dosa
yaitu dua eksistensi yang berjalan paralel yang bersifat kekal. Jadi, para penganut
teori ini pada dasarnya meyakini bahwa dunia ini diperintah oleh dua kekuatan, yaitu
roh dan materi; baik dan buruk; terang dan gelap, dan keduanya terus-menerus
saling berperang.
b. Teori yang mengatakan bahwa dosa yaitu kurangnya hal-hal penting dalam hidup.
Dosa yaitu eksistensi yang tidak dapat dihindari, sebab manusia pasti punya
keterbatasan, kelemahan dan ketidak-sempurnaan. Jadi dosa yaitu akibat dari
keterbatasan manusia.
c. Teori yang mengatakan bahwa dosa yaitu ilusi. Dosa yaitu ketidakcukupan
pengetahuan manusia, khususnya yang didapat manusia melalui panca indra. Oleh
sebab itu, panca indra menjadi alat dosa.
d. Teori bahwa dosa yaitu kesadaran kebutuhan akan Allah. Bahwa di dalam diri
manusia ada suatu tempat yang kosong dan hanya Allah yang bisa mengisinya. Jika
manusia tidak menyadari akan kebutuhannya ini , maka ia akan merasa bersalah
dan berdosa.
e. Teori bahwa dosa hanyalah mencakup tindakan saja. Pada umumnya manusia
melihat perbuatan salah sebagai apa yang dilakukan atau tidak dilakukan saja, namun
tidak sebagai apa yang dipikirkan seseorang.
f. Teori bahwa dosa yaitu ketamakan. Bahwa pada dasarnya semua dosa dipicu oleh
nafsu ketamakan atau keserakahan manusia untuk memiliki lebih dari apa yang ia
miliki.
g. Teori bahwa dosa yaitu kecenderungan natur manusia yang lebih rendah menuju
pada kesadaran moral yang lebih tinggi (pengaruh Teori Evolusi).
2. Pandangan Alkitab tentang Sifat-Sifat Dosa
a. Dosa tidak memiliki eksistensi yang independen. Dosa bukanlah suatu esensi atau
substansi diri manusia (tidak tercipta bersama penciptaan manusia), tapi suatu
"kejadian kecelakaan" yang memicu kecacatan dalam diri manusia yang
12
mulanya baik. Agustinus menyebutnya sebagai "Privatio Boni" (hilangnya
kebaikan). Dosa tidak mengubah esensi tapi mengubah arah hidup manusia. Struktur
gambar Allah (esensi yang Allah karuniakan kepada manusia) masih ada, namun
tidak lagi memberikan fungsi yang seharusnya, bahkan menyimpang dari fungsi
yang telah ditentukan Allah, sehingga berbalik dipakai untuk menentang Allah.
b. Dosa yaitu jenis kejahatan yang sangat spesifik. Dosa yaitu kejahatan moral yang
aktif sebab manusia yaitu makhluk berakal, sehingga dosa yang dilakukannya
merupakan pilihan manusia sendiri (sengaja). Oleh sebab itu, dosa menghasilkan
permusuhan aktif dengan Allah.
c. Dosa memiliki sifat mutlak. Tidak ada keadaan yang netral antara baik dan jahat.
Jika seseorang tidak dalam status yang benar, ia pasti ada di posisi yang salah,
sebab tidak ada pilihan lain di antaranya. Oleh sebab itu, Alkitab selalu mengajak
orang berdosa berbalik dari statusnya yang berdosa. Artinya, posisi manusia yang
berdosa harus diubah secara total.
d. Dosa selalu memiliki hubungan dengan pelanggaran akan kehendak Allah. Bahkan
untuk orang yang belum mengenal Allah, dosa merupakan pelanggaran akan norma












