Masalah-Masalahnya 269
kehendak Dia yang mengutus Aku" (Yohanes 5:30). Paulus meng
anggap kasih sebagai "kegenapan hukum Taurat" (Roma 13:10).
Paulus mengatakan bahwa Kristus "telah mati untuk semua orang,
supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri,
namun untuk Dia yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk me
reka" (II Korintus 5:15). Ia juga mengatakan bahwa pada hari-hari
terakhir orang-orang akan "mencintai dirinya sendiri" (II Timotius
3:2). Ayat-ayat ini dan ayat-ayat Alkitab lainnya menunjukkan
bahwa sifat mementingkan diri yaitu hakikat dosa dan merupakan
prinsip tempat asalnya semua hal lain.
II. MASALAH-MASALAH YANG BERHUBUNGAN
DENGAN KEJATUHAN MANUSIA
Tidak dapat disangkal bahwa ada beberapa kesulitan yang ber
hubungan dengan kejatuhan manusia. Kita akan membahas tiga
masalah yang utama.
A. BAGAIMANA MUNGKIN MAKHLUK YANG KUDUS JATUH
DALAM DOSA?
Sekalipun jawaban untuk pertanyaan ini mungkin melampaui
pengertian manusia dan tidak akan pernah dapat dijawab oleh ma
nusia, ada beberapa hal yang dapat dipertimbangkan. (1) Adam dan
Hawa diciptakan sebagai makhluk-makhluk yang bebas secara mo
ral, serta tanpa dosa, dengan kemampuan untuk berbuat dosa atau
tidak berbuat dosa. (2) Pencobaan yang dialami pasangan pertama
ini berbeda dari pencobaan yang dialami Iblis, karena pencobaan
manusia datang dari luar diri mereka; Iblis yang menggoda mereka
untuk berbuat dosa. (3) Sekalipun godaan itu datang dari luar diri
nya, Adam sendiri telah mengambil keputusan untuk tidak menaati
Allah dan ia dianggap bertanggung jawab atas dosanya (I Timotius
2:14). (4) Bagaimana suatu dorongan yang berdosa dapat terbit di
dalam jiwa makhluk kudus yang tak berdosa merupakan masalah
yang melampaui pengertian kita. Satu-satunya penjelasan yang
memuaskan ialah bahwa manusia jatuh karena atas kemauannya
sendiri ia memutuskan untuk memberontak terhadap Allah. Iblis
Antropologi270
mempengaruhi keinginan yang diberikan oleh Allah kepada
manusia, yaitu keinginan akan keindahan, pengetahuan, dan
makanan (Kejadian 3:6). Keinginan-keinginan itu sendiri baik dan
tidak jahat bila diarahkan secara benar (I Timotius 4:4, 5; lihat juga
I Yohanes 2:16). Iblis menantang manusia untuk menyalahgunakan
keinginan-keinginan itu dengan cara tidak menaati larangan Allah
untuk makan buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang
jahat. Manusia, atas kemauannya sendiri, memilih untuk tidak
menaati Allah serta menaati tipuan si jahat. Keinginan yang
diberikan Allah akan keindahan, pengetahuan, dan makanan itu kini
menjadi alat yang digunakan Iblis untuk menyebabkan manusia
memberontak kepada Allah. Yang mendasari tindakan manusia ini
yaitu keinginannya untuk memperluas kedaulatannya yang nisbi
untuk menjadi setara dengan Allah serta tidak tunduk kepada
kedaulatan mutlak yang dimiliki Allah.
B. BAGAIMANA MUNGKIN ALLAH YANG ADIL DAPAT BER
TINDAK SECARA ADIL saat MEMBIARKAN MANUSIA
DICOBAI?
Jawaban kami terhadap persoalan ini ialah bahwa kasus mengizin
kan manusia dicobai itu bukanlah merupakan suatu tindakan yang
menyangkut keadilan, melainkan yang menyangkut kemurahan hati.
Hal ini kami lakukan berdasarkan beberapa alasan.
7. Perlunya suatu masa percobaan. Allah telah memberikan
kepada manusia kemampuan untuk memilih yang memungkinkan
manusia mengadakan pilihan yang bertolak belakang dengan kehen
dak Allah yang sudah diketahuinya. Kemampuan untuk memilih
inilah yang nampaknya merupakan syarat yang dibutuhkan untuk
masa percobaan dan perkembangan moral. Manusia tidak diciptakan
sebagai sebuah mesin yang akan hidup untuk memuliakan Allah
tanpa ada kebebasan untuk memilih apakah ia mau berbuat
demikian atau tidak. Memang, manusia diciptakan dengan
kecenderungan untuk tunduk kepada Allah. Namun, karena ia
memiliki kemampuan untuk memilih yang sebaliknya, maka
kecenderungannya ini akan diperkuat jika ia dengan tegas
memilih untuk patuh kepada Aliah, sedangkan ia mempunyai
kesempatan untuk memilih yang sebaliknya. "Sebuah periode per-
Kejatuhan Manusia: Latar Belakang dan Masalah-Masalahnya 271
cobaan perlu sekali agar dapat menguji kesetiaan mereka kepada
Allah melalui ketaatan atau ketidaktaatan kepada perintah-Nya."96
Masa percobaan itu perlu, sekalipun Allah telah mengetahui
sebelumnya bahwa manusia akan jatuh. Masa percobaan itu juga
menyingkap kemurahan-Nya saat Allah langsung menjanjikan
penebusan setelah terjadi kejatuhan itu.
96 Bancroft, Systematic Theology, hal. 149.
2. Perlu adanya seorang penggoda. Iblis jatuh tanpa ada godaan
dari luar. Iblis berbuat dosa dengan sengaja, didorong oleh ambisi
yang tidak sehat, dan sebagai akibatnya ia menjadi Iblis. Seandainya
manusia jatuh dalam dosa tanpa ada yang menggodanya, maka itu
berarti manusia menciptakan dosanya sendiri, sehingga manusia
menjadi Iblis. Peristiwa ini menyingkap kemurahan Allah
karena Ia tetap memungkinkan penebusan manusia.
3. Kemungkinan menolak godaan. Di dalam pencobaan itu sen
diri samasekali tidak ada kekuatan yang dapat memaksa manusia
berbuat dosa. Kemampuan manusia untuk memilih taat kepada
Allah yaitu sebesar kemampuannya untuk memilih agar tidak taat.
Adanya kemungkinan untuk berbuat dosa saja tidak pernah mem
buat orang menjadi berdosa. Pastilah, penolakan yang tegas akan
membuat Iblis pergi pada waktu itu seperti halnya sekarang ini
(Yakobus 4:7). Kemungkinan inilah yang menunjukkan kemurahan
Allah. Dengan melawan godaan, sifat kudus manusia akan diperkuat
menjadi watak yang kudus; penolakan terhadap godaan akan meng
hasilkan manusia yang penuh kebajikan.
C. BAGAIMANA MUNGKIN HUKUMAN YANG BEGITU BERAT
DIJATUHKAN ATAS KETIDAKTAATAN KEPADA PERINTAH
YANG BEGITU SEPELE?
Beberapa hal dapat dikatakan. Tidaklah diperlukan suatu tindakan
yang hebat untuk membuktikan atau menyangkal kesetiaan seseo
rang. Suatu perintah yang ringan yang meliputi perbuatan yang kecil
dan tidak berarti merupakan ujian yang terbaik untuk mengetahui
adanya ketaatan atau tidak. Bila seorang anak telah menaati ibunya
dalam banyak hal, namun kemudian terus tidak menaati dalam satu
272 Antropologi
hal lain, besar atau kecil, anak itu sekadar menunjukkan sikapnya
yang sesungguhnya melalui ketidaktaatan itu. Lagi pula, perintah
lahiriah itu bukanlah tidak penting. Perintah ini menunjukkan
hak Allah sebagai penguasa yang tertinggi. Dengan memakai pohon
yang terlarang itu, Allah mengajar Adam bahwa Ia berhak menuntut
sesuatu dari dirinya serta mengharapkan akan ditaati. Ketaatan
manusia diuji dalam hal hak milik, yang merupakan tanda yang
nampak dan masuk akal dari sikap hati yang benar terhadap Allah.
Pentingnya perintah itu dari segi pandangan Allah telah nampak
dari hebatnya hukuman atas ketidaktaatan kepada perintah itu. Tak
mungkin Adam memberikan penjelasan lain untuk pernyataan Allah
bahwa ia pasti mati kalau makan buah terlarang itu. Dan akhirnya,
Adam telah diberi tahu mengenai pentingnya hal itu. saat mem
beri tahu hukuman itu, Allah menjelaskan bahwa ketaatan merupa
kan soal hidup atau mati. Ketidaktaatan akan senantiasa dianggap
sebagai dosa yang mematikan. Manusia harus memilih antara hidup
dan mati, atau antara Allah dan dirinya.
XVIII
Kejatuhan Manusia: Kenyataan
Serta Dampak-Dampak Langsung
Sekalipun akal manusia mau tidak mau harus mengakui adanya
dosa, akal manusia samasekali tidak mampu menjelaskan asal usul
serta kehadirannya di dalam diri manusia. Alkitab menyatakan
bahwa manusia jatuh ke dalam dosa melalui pelanggaran Adam.
Maka kita bertanya, bagaimana hal itu terjadi dan apa yang
merupakan akibat-akibat langsung dari kejatuhan ini bagi
nenek moyang pertama kita?
I. ASAL USUL DOSA DALAM TINDAKAN PRIBADI
ADAM
Dosa merupakan suatu fakta; namun bagaimana dosa itu mula-mula
terjadi di antara manusia? ada berbagai jawaban. Berbagai
pandangan yang tidak benar haruslah dievaluasi, barulah keadaan
yang sebenarnya dapat disajikan.
A. DOSA TIDAKLAH KEKAL
Dualisme kosmis beranggapan bahwa ada dua prinsip yang ada de
ngan sendirinya dan bersifat kekal, yaitu baik dan buruk. Spekulasi
para cendekiawan Persia memandang kedua prinsip ini sebagai
terang dan gelap. Benda dianggap mengandung kejahatan. Kaum
Gnostik dan golongan Manikheisme menerima ajaran ini. Menurut
pandangan ini, dosa itu selamanya sudah ada. Kebaikan dan
kejahatan telah bertentangan sejak dahulu kala, dan akan terus ber-
273
274 Antropologi
tentangan. Keduanya saling membatasi dan tidak akan ada yang
betul-betul menang. Pandangan ini telah timbul dari kesulitan untuk
menjelaskan asal usul kejahatan dan pada saat yang sama tetap
memelihara kepercayaan akan Allah yang mahakuasa dan kudus.
Namun, pandangan ini menjadikan Allah suatu oknum yang ter
batas dan bergantung. Tidak mungkin ada dua oknum yang tak ter
batas yang termasuk satu kategori. Tidak mungkin Allah itu ber
daulat lalu dibatasi oleh sesuatu yang tidak diciptakan-Nya dan tidak
dapat dicegah oleh-Nya. Pandangan ini juga menghancurkan gam
baran tentang dosa sebagai suatu kejahatan moral. Bila dosa
merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari diri kita, dosa
bukanlah kejahatan moral. Pandangan ini kemudian menghancurkan
tanggung jawab manusia. Bila dosa itu diperlukan secara mutlak
oleh manusia karena ia diciptakan demikian, maka manusia tidak
dapat dituntut untuk bertanggung jawab atas keadaannya yang ber
dosa. Sesungguhnya, justru dengan menganggap dosa sebagai suatu
substansi, pandangan ini menghancurkan sifatnya sebagai dosa. Kita
tidak dapat mempertahankan ajaran tanggung jawab moral manusia
kecuali kita dapat menunjukkan bahwa dosa manusia menimbulkan
rasa bersalah.
B. DOSA TIDAK BERSUMBER PADA KETERBATASAN
MANUSIA
Leibniz dan Spinoza beranggapan bahwa dosa bersumber pada
keterbatasan manusia. Dosa hanya merupakan akibat yang dengan
sendirinya timbul karena manusia itu terbatas. Allah sebagai hakikat
yang mutlak itu semata-mata baik; namun bila hams ada hal-hal lain
di samping Allah, maka dengan sendirinya hams ada suatu kadar
minimum kejahatan di dalam hal-hal lain itu, bila mereka bersifat
terbatas. Maksudnya Allah sendiri, Allah yang panteistis itu, tidak
dapat menciptakan sesuatu yang tanpa batas. Hal ini terlihat dalam
keterbatasan jasmaniah manusia; dan kita dapat juga mengharapkan
bahwa sifat moralnya akan terbatas. Beberapa pengarang
beranggapan bahwa kejahatan moral itu merupakan latar belakang
syarat yang perlu untuk kebaikan moral. Kita tidak bisa mengetahui
mana yang baik secara moral bila tidak ada yang jahat secara moral.
Kejahatan moral merupakan unsur dalam pendidikan umat manusia
serta suatu sarana untuk mendapatkan kemajuan.
Kejatuhan Manusia: Kenyataan Serta Dampak... 275
Akan namun , teori ini jelas mengabaikan adanya perbedaan antara
yang jasmani dengan yang moral. Walaupun manusia diciptakan
dengan berbagai kelemahan dan keterbatasan jasmani serta dalam
keadaan jasmani tidak bisa keluar dari hal-hal yang membeleng
gunya, namun hal itu tidak perlu berarti bahwa manusia diciptakan
dengan kelemahan dan keterbatasan moral juga. Jikalau ia mau,
manusia mampu untuk menaati Allah secara sempurna. Manusia
secara fisik hanya bertanggung jawab sebatas kemampuannya;
namun dalam bidang moral manusia tidak terbatas dan oleh karena
itu mampu menaati Allah dengan sempurna. Dengan kata lain, dosa
manusia tidak bersumber pada sifat moral yang tidak sempurna.
Lagi pula, pandangan ini menerima pandangan panteistis tentang
alam semesta. Dengan beranggapan bahwa Allah merupakan satu-
satunya hakikat yang ada, maka kejahatan menjadi bagian dari Allah
seperti halnya juga kebaikan. Namun, keyakinan batin kita serta
ajaran Alkitab menegaskan bahwa Allah yang berkepribadian itu
ada dan bahwa manusialah yang merupakan pencipta dosanya.
Kemudian, kejahatan moral tidak diperlukan untuk adanya kebaikan
moral. Strong mengatakan, "Apa yang perlu untuk kebaikan bukan
lah kenyataan kejahatan, namun hanya kemungkinan kejahatan."97
C. DOSA TIDAK BERSUMBER PADA PANCAINDERA
Schleiermacher beranggapan bahwa dosa bersumber pada sifat yang
berhubungan dengan pancaindera kita, sehingga dengan demikian
berarti bahwa pancaindera itu sendiri jahat. Beberapa pengarang
yang mutakhir merunut kejahatan moral manusia sampai kepada
sisa-sisa sifat hewani yang manusia warisi dalam proses evolusi;
sedangkan para teolog yang terdahulu melihat dosa sebagai akibat
hubungan antara jiwa dengan organisme jasmaniah.
Akan namun , pancaindera itu sendiri tidak merupakan sumber
dosa, sekalipun sering kali diperalat oleh perangai duniawi untuk
berbuat dosa. Lagi pula, ajaran semacam ini menuntun orang kepada
berbagai tindakan yang tak masuk akal, misalnya askese, yaitu
kegiatan yang hendak melemahkan kemampuan indera manusia.
Teori ini bukannya menerangkan asal mula dosa, melainkan
sebenarnya menyangkal adanya dosa; karena jika dosa bersum
97 Strong, Systematic Theology, hal. 565.
276 Antropologi
ber pada susunan sifat manusia yang asli, kita dapat menganggapnya
sebagai suatu kemalangan, namun kita tidak dapat menganggapnya
sebagai kesalahan. Dan akhirnya, Alkitab mengajarkan bahwa dosa
tidak ada dalam keadaan mula-mula manusia, namun dosa timbul
karena pilihan yang tegas dan tak dipaksa yang ditentukan oleh
manusia sendiri.
D. DOSA BERSUMBER PADA TINDAKAN ADAM YANG
SUKARELA
Bila dosa tidak bersifat kekal, tidak pula disebabkan oleh keter
batasan manusia atau hal-hal yang berhubungan dengan pancaindera
manusia, bagaimanakah dosa itu mulai timbul? Kenyataan bahwa
dosa ada pada setiap manusia di mana-mana menuntut kita untuk
mencari penjelasannya kepada manusia yang pertama. Alkitab
mengajarkan bahwa karena satu perbuatan dosa dari satu orang,
dosa telah memasuki dunia, dan bersamaan dengan itu semua akibat
dosa yang terasa di mana-mana (Roma 5:12-19; I Korintus 15:21,
22). Satu orang ini ialah Adam dan satu dosa ini ialah
memakan buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang
jahat (Kejadian 3:1-7; I Timotius 2:13, 14).
Bahwa kisah kejatuhan manusia dalam Kejadian 3:1-7 yaitu
suatu peristiwa sejarah jelas dari kenyataan bahwa peristiwa itu di
sampaikan sebagai sejarah, berada dalam konteks fakta-fakta
sejarah, dan oleh penulis-penulis lainnya di Alkitab dianggap
sebagai peristiwa sejarah. Dalam tulisan-tulisan alegoris tokoh-
tokoh cerita tidak mempunyai nama atau nama mereka bersifat sim
bolik. Adam dan Hawa merupakan nama orang dan bukan simbolik.
Kisah penciptaan itu jelas dan sederhana. Taman, sungai-sungai,
pohon-pohon, dan hewan yang disebut dalam kisah itu dengan nyata
merupakan fakta-fakta sejarah yang benar-benar ada; bagaimana
mungkin kisah yang berada di tengah-tengah konteks seperti itu
dapat dianggap sebagai kisah yang alegoris? Kristus dan para rasul
menganggap kisah ini bersifat historis (Yohanes 8:44; II
Korintus 11:3; Wahyu 12:9). Selanjutnya, ular bukanlah nama sim
bolik untuk Iblis, itu juga bukan Iblis dalam bentuk ular. Ular yang
betul itu yaitu perantara dalam tangan Iblis. Hal ini jelas dari pen
jelasan tentang binatang melata ini dalam Kejadian 3:1 dan kutuk
yang dijatuhkan padanya dalam Kejadian 3:14.
Kejatuhan Manusia: Kenyataan Serta Dampak... 277
Ujian itu terdiri atas dilarangnya Adam dan Hawa makan buah
pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Nampaknya, seakan-
akan ada unsur yang memelihara hidup di dalam buah pohon
kehidupan, karena saat Allah mengusir Adam dan Hawa keluar
dari taman Eden, Allah melakukannya supaya "jangan sampai ia
mengulurkan tangannya dan mengambil pula dari buah pohon
kehidupan itu dan memakannya, sehingga ia hidup untuk selama-
lamanya" (Kejadian 3:22). Mungkin, pohon pengetahuan tentang
yang baik dan yang jahat memiliki sifat misterius yang akan meng
hasilkan pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat seperti yang
disebut namanya.98 Akan namun , nampaknya lebih masuk akal
bahwa pohon ini diciptakan hanya untuk menguji manusia, karena
setelah memakannya Adam tetap tidak mampu mengetahui mana
yang baik dan mana yang jahat. Adam tetap harus mencari keterang
an dari Firman Allah untuk mengetahui jawabannya. Adam me
ngetahui bahwa tidak taat itu salah dan bahwa taat itu betul, namun
ia tidak mengetahui hal ini melalui pengalamannya. Ketiadaan pe
ngetahuan tentang yang baik dan yang jahat disebut sebagai ketidak-
dewasaan (Yesaya 7:15, 16), dan pengetahuan yang baik dan yang
jahat merupakan kedewasaan moral (II Samuel 14:17-20). Pohon
pengetahuan itu sendiri sebenarnya baik, dan buahnya itu pun baik,
karena Tuhan yang menjadikannya; bukan pohonnya namun ketidak
taatan itulah yang mengandung kematian. Dengan kata lain, Allah
menghadapkan kepada manusia dua hal yang baik: pohon kehi
dupan dan pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat;
Ia tidak memberikan satu pohon yang baik dan satu pohon yang
jelek. Ia melarang manusia memakan buah dari pohon pengetahuan
bukan karena pohon itu jelek, melainkan karena Ia ingin menguji
ketaatan manusia kepada kehendak-Nya.
98 Untuk pembahasan yang lebih lengkap dari seorang yang menyetujui pandangan
ini, lihat Custance, The Nature of the Forbidden Fruit.
Tidak ada apa-apa dalam larangan ini yang menunjukkan bahwa
Allah merencanakan kehancuran manusia. Larangan ini
merupakan tuntutan yang wajar dan sederhana dari sang Pencipta.
Bahkan, ada banyak hal yang menunjukkan bahwa Allah telah
membuat ketaatan sesuatu yang mudah untuk dilaksanakan. Ia men
ciptakan manusia tanpa ada sifat dosa, menempatkannya dalam
lingkungan yang sempurna, menyediakan segala sesuatu yang diper
278 Antropologi
lukan manusia, melengkapinya dengan berbagai kemampuan mental
yang hebat, menyuruh manusia bekerja agar memakai tangan
dan akalnya, menyediakan seorang teman hidup baginya, meng
ingatkan dia akan akibat-akibat ketidaktaatan, serta mengadakan
hubungan pribadi dengannya. Jelaslah, Allah tidak dapat disalahkan
atas kejatuhan manusia.
Dapat diringkaskan bahwa godaan Iblis sangat menawan hati
manusia secara berikut: godaan itu membuat manusia ingin
memperoleh sesuatu yang dilarang oleh Allah, mengetahui sesuatu
yang tidak dinyatakan oleh Allah, dan menjadi sesuatu yang tidak
direncanakan oleh Allah baginya. Iblis mula-mula berusaha untuk
membuat Hawa meragukan kebaikan Allah. Iblis berkata, 'Tentulah
Allah berfirman: semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan
buahnya, bukan?" (Kejadian 3:1). saat Hawa menjawab bahwa
Allah mengizinkan mereka memakan semua buah dalam taman itu
kecuali buah pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, Iblis
menolak kebenaran pernyataan Allah bahwa ketidaktaatan akan
menghasilkan kematian. "Sekali-kali kamu tidak akan mati, namun
Allah mengetahui bahwa pada waktu kamu memakannya matamu
akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang
yang baik dan yang jahat" (ayat 4, 5). Rupanya Hawa mulai percaya
apa yang dikatakan oleh Iblis, sehingga dengan cepat mengambil
langkah-langkah yang masih diperlukan untuk melakukan perbuatan
dosa yang nyata. Kita membaca bahwa saat "perempuan itu
melihat bahwa pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatan
nya, lagi pula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian.
Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya
juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suami
nya pun memakannya" (ayat 6). Maksudnya, melalui "keinginan
daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup" (I Yohanes
2:16), Hawa jatuh. Untuk meringkaskannya, wanita jatuh karena
penipuan; laki-laki jatuh karena kasih sayang (Kejadian 3:13, 17;
I Timotius 2:14). Harus diperhatikan bahwa Alkitab menganggap
dosa itu masuk melalui Adam dan bukan melalui Hawa (Roma 5:12,
14; I Korintus 15:22). Kristus, yaitu Adam yang kedua, menghadapi
pencobaan-pencobaan yang sama, namun Ia berhasil keluar sebagai
pemenang (Matius 4:1-11; Lukas 4:1-13).
Perkembangan yang akhirnya membawa kepada dosa yang per
tama nampaknya yaitu sebagai berikut: Hawa meragukan kebaikan
Kejatuhan Manusia: Kenyataan Serta Dampak... 279
Allah; ia percaya dusta Iblis; ia menyerah pada keinginan daging;
ia menyerah pada keinginan yang berlebihan akan keindahan; dan
ia mendambakan kebijaksanaan yang tidak dimaksudkan baginya.
Nampaknya, Adam berbuat dosa karena kasihnya kepada Hawa dan
itu dilakukannya dengan menyadari sepenuhnya akan peringatan
Allah. Namun semua ini belum merunut dosa sampai ke akar-akar
nya. Dosa yang pertama yaitu keinginan dalam hati, tindakan me
milih kepentingan pribadi di atas kepentingan Allah, mengutamakan
diri sendiri dan bukan Allah, menjadikan diri tujuan yang utama
dan bukan Allah. Tindakan mengambil buah terlarang sekadar
mengungkap dosa yang telah diperbuat di dalam hati (Matius 5:21,
22, 27, 28).
II. BERBAGAI DAMPAK LANGSUNG DARI DOSA
ADAM
Berbagai dampak dosa yang pertama bersifat langsung, luas jang
kauannya, dan menakutkan. Sulit untuk menahan keinginan untuk
mengetahui apa yang kira-kira akan terjadi seandainya Adam dan
Hawa tidak berdosa, namun Alkitab membisu tentang hal ini, dan
kita tidak boleh menerka-nerka tentang sesuatu yang Allah tidak
mau ungkapkan. Bagaimanapun juga, kita dapat menduga bahwa
ketaatan akan mengakibatkan kebaikan sebagaimana ketidaktaatan
mengakibatkan kehancuran. Kita tidak dibenarkan menafsirkan
lebih jauh lagi. Namun, kita dapat melihat apa yang terjadi pada
Adam dan Hawa serta lingkungan mereka sebagai akibat dari dosa
yang mereka lakukan. Dosa yang pertama mempengaruhi hubungan
nenek moyang pertama kita dengan Allah, mempengaruhi sifat
mereka, mempengaruhi tubuh mereka dan alam di sekitar mereka.
A. DAMPAK ATAS HUBUNGAN MEREKA DENGAN TUHAN
Sebelum kejatuhan, Allah dan Adam bersekutu satu sama lain;
setelah kejatuhan, persekutuan itu putus. Nenek moyang kita yang
pertama mulai menyadari ketidaksenangan Allah terhadap mereka;
mereka telah melanggar perintah Allah yang tegas untuk tidak
makan buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat,
dan oleh karena itu mereka bersalah. Mereka sadar bahwa mereka
280 Antropologi
telah kehilangan kedudukan mereka di hadapan Allah dan bahwa
kini mereka berada di bawah penghukuman-Nya. Jadi, mereka
bukannya mencari persekutuan dengan Dia, namun malah berusaha
lari menjauhi Allah. Hati nurani yang merasa tertuduh membuat
mereka tidak dapat merasa tenang, sehingga mereka mulai berusaha
mengalihkan tanggung jawab. Adam mengatakan bahwa Hawa,
perempuan yang diberikan Allah kepadanya, yang menyebabkan dia
berbuat dosa (Kejadian 3:12); saat gilirannya tiba, Hawa
menyalahkan ular (ayat 13). Baik Adam maupun Hawa bersalah,
namun keduanya berusaha untuk mengalihkan tanggung jawab atas
dosa mereka itu kepada yang lain.
B. DAMPAK ATAS SIFAT MEREKA
saat Adam dan Hawa baru saja diciptakan, mereka bukan saja
tidak bersalah, namun mereka juga kudus. Mereka tidak memiliki
sifat yang berdosa. Kini mereka merasa malu, hina, dan tercemar.
Ada sesuatu yang harus mereka sembunyikan. Mereka telanjang dan
tidak dapat tampil di hadapan Allah dalam keadaan yang telah keji.
Kesadaran akan ketidaklayakan mereka itulah yang menyebabkan
mereka membuat pakaian dari daun ara (Kejadian 3:7). Mereka
tidak hanya malu tampil di hadapan Allah dalam keadaan yang baru
itu, namun mereka juga malu untuk berhadapan satu sama lain.
Secara moral mereka telah hancur. Allah telah berfirman kepada
Adam mengenai pohon yang terlarang itu, "Pada hari engkau
memakannya, pastilah engkau mati" (Kejadian 2:17). Kematian ini
pertama-tama merupakan kematian rohani, yaitu terpisahnya jiwa
manusia dari Allah. Kematian rohani ini tidak hanya berarti bahwa
kita tidak mampu menyenangkan hati Allah, namun juga bahwa sifat
mereka tercemar. Demikianlah, "dosa telah masuk ke dalam dunia
oleh satu orang" (Roma 5:12).
Kenyataan bahwa dosa masuk ke dalam dunia melalui Adam
berarti bahwa dosa mulai hadir di dalam umat manusia dan manusia
mulai berbuat dosa, perangai manusia menjadi rusak dan manusia
mulai bersalah. Manusia menjadi orang berdosa (Roma 5:19).
Pelanggaran yang sesungguhnya bersumber pada sifat manusia yang
berdosa."
99 Untuk mendapatkan pembahasan yang baik tentang makna Roma 5:12, lihat
Hodge, Commentary on the Epistle to the Romans, hal. 144-155.
Kejatuhan Manusia: Kenyataan Serta Dampak... 281
C. DAMPAK ATAS TUBUH MEREKA
saat mengatakan bahwa sebagai akibat ketidaktaatan manusia
"pasti akan mati" (Kejadian 2:17), Allah memaksudkan tubuh
mereka juga. Allah berfirman kepada Adam, "Sebab engkau debu
dan engkau akan kembali menjadi debu" (Kejadian 3:19). Kata-kata
Paulus, "Sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan
Adam" (I Korintus 15:22), terutama menunjuk kepada kematian jas
maniah. saat menulis bahwa "... dosa telah masuk ke dalam dunia
oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut" (Roma 5:12), Paulus
mencantumkan konsepsi kematian yang menyeluruh: fisik, rohani,
dan abadi. Selanjutnya, karena kebangkitan tubuh merupakan
bagian dari penebusan (Roma 8:23), kita dapat menyimpulkan
bahwa kematian jasmaniah merupakan akibat dari dosa Adam.
Akan namun , orang-orang yang menolak ajaran dosa asal
beranggapan bahwa kematian merupakan keburukan yang alami,
bersumber pada keadaan jasmani manusia yang asli, sehingga bagi
mereka kematian tidaklah merupakan bukti bahwa semua manusia
berdosa sama seperti kematian binatang tidak membuktikan bahwa
semua binatang berdosa. Cukup kiranya bila mengatakan manusia
bukanlah binatang, dan bahwa Alkitab mengajarkan bahwa
kematian jasmaniah merupakan bagian dari hukuman dosa
(Kejadian 3:19; Ayub 5:18, 19; 14:1-4; Roma 5:12; 6:23; I Korintus
15:21, 22, 56; II Korintus 5:1, 2, 4; II Timotius 1:10).
Bagaimana jika manusia dahulu tidak berbuat dosa? Sudah pasti,
manusia akan tetap hidup kudus dan bahkan akan diteguhkan dalam
kekudusan; sifat kudus akan diperkuat menjadi watak yang kudus.
Namun bagaimana dengan tubuh? Alkitab tidak mengatakan apa-
apa mengenai hal ini, namun nampaknya bahwa tubuh alami
(jiwani) akan diubah menjadi tubuh rohani yang mirip dengan
tubuh-tubuh yang diubah pada saat Kristus kembali untuk kedua
kalinya (bandingkan Kejadian 2:7 dengan I Korintus 15:44-49).
Penyakit jasmaniah juga merupakan akibat dosa. Pada saat
manusia mulai makan dari pohon yang terlarang itu, ia menjadi
makhluk yang akan mati. Pencemaran yang mematikan mulai beker
ja sesaat itu juga. Kesakitan yang akan diderita oleh baik laki-laki
maupun wanita timbul dari pelanggaran mereka. Kenyataan bahwa
manusia tidak mati sesaat itu juga disebabkan oleh rencana Allah
yang rahmani untuk menebus manusia. Dan oleh karena ada ikatan
282 Antropologi
yang erat antara pikiran dengan tubuh, kita dapat menyimpulkan
bahwa kemampuan mental dan fisik mereka mulai menjadi lemah
dan rusak. Ini tidak berarti bahwa setiap penyakit merupakan akibat
langsung perbuatan dosa seseorang (Ayub 1, 2; Yohanes 9:3;
II Korintus 12:7), namun yang dimaksud ialah bahwa pada hakikat
nya, penyakit fisik dan mental merupakan akibat dosa Adam. Unsur
hukuman atas dosa saja merobohkan argumen teori evolusi.
Manusia tidak mengembangkan kekuatan jasmaniah dan mental
yang lebih hebat, namun telah merosot dari keadaan semula yang
sempurna kepada keadaan yang lemah dan tidak sempurna saat ini.
D. DAMPAKNYA TERHADAP LINGKUNGAN
Kita membaca dalam Alkitab bahwa ular itu terkutuk "di antara
segala ternak dan di antara segala binatang di hutan" (Kejadian
3:14). Jelaslah bahwa semua hewan ikut menderita akibat dosa
Adam. Di kemudian hari, kutuk ini akan diangkat, dan binatang
buas yang rakus akan berbaring berdampingan dengan hewan
piaraan yang jinak (Yesaya 11:6-9; 65:25; Hosea 2:17). Allah ber
firman, "... Terkutuklah tanah karena engkau; dan dengan ber-
susah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur
hidupmu: semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya
bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makanan
mu; dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai
engkau kembali lagi menjadi tanah" (Kejadian 3:17-19). Bahkan
alam yang mati pun harus menderita karena kutuk yang dijatuhkan
atas dosa manusia. Tentang hal ini Alkitab mengatakan di tempat
lain bahwa akan tiba saatnya saat "makhluk itu sendiri juga akan
dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam
kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah. Sebab kita tahu bahwa
sampai sekarang segala makhluk sama-sama merasa sakit bersalin"
(Roma 8:21, 22). Yesaya 35 berbicara soal pemulihan alam semesta
kepada keadaan dan keindahannya yang asli. Adam dan Hawa diusir
dari taman itu dan dipaksa berusaha sendiri di dalam dunia yang
terkutuk. Pada mulanya mereka berada dalam lingkungan yang
paling indah dan sempurna; kini mereka terpaksa hams tinggal di
dalam lingkungan yang tidak sempurna dan ganas. Lingkungan
mereka jelas berubah karena dosa.
XIX
Kejatuhan Manusia: Penghitungan
dan Dampak-Dampak Rasial
Dosa yaitu tindakan dan prinsip, kesalahan dan pencemaran. Kalau
kita melihat di sekeliling kita, kita melihat bahwa dosa merupakan
persoalan yang universal. Sejarah memperlihatkan hal ini dalam
bentuk kisah-kisah tentang keimaman dan persembahan korban di
antara aneka kebudayaan di dunia ini. Dan setiap orang tahu bahwa
ia tidak memenuhi kesempurnaan moral namun bahwa setiap orang
lain juga mempunyai kekurangan yang sama. Kata-kata mutiara
yang terkenal seperti 'Tiada gading yang tak retak" menunjukkan
keyakinan umat manusia bahwa dosa meliputi semua manusia.
Pengalaman Kristen secara serempak mengungkap kehadiran dosa
dalam hati manusia, dan tidak adanya kesadaran akan dosa dalam
hati orang yang belum diselamatkan berarti bahwa hati orang ter
sebut telah mengeras.
I. KEUNIVERSALAN DOSA
Alkitab dengan jelas mengajarkan keuniversalan dosa. 'Tidak ada
manusia yang tidak berdosa" (I Raja-Raja 8:46); "Di antara yang
hidup tidak seorang pun yang benar di hadapan-Mu" (Mazmur
143:2); "Siapakah dapat berkata, ’Aku telah membersihkan hatiku,
aku tahir daripada dosaku?’" (Amsal 20:9); "Sesungguhnya, di bumi
tidak ada orang yang saleh; yang berbuat baik dan tak pernah ber
buat dosa" (Pengkhotbah 7:20); "Jika kamu yang jahat" (Lukas
11:13); 'Tidak ada yang benar, seorang pun tidak . . . tidak ada
yang berbuat baik, seorang pun tidak" (Roma 3:10, 12); "Supaya
283
284 Antropologi
tersumbat setiap mulut dan seluruh dunia jatuh ke bawah hukuman
Allah" (Roma 3:19); "Karena semua orang telah berbuat dosa dan
telah kehilangan kemuliaan Allah" (Roma 3:23); "Kitab Suci telah
mengurung segala sesuatu di bawah kekuasaan dosa" (Galatia 3:22);
"Sebab kita semua bersalah dalam banyak hal" (Yakobus 3:2); "Jika
kita berkata bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita
sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita" (I Yohanes 1:8).
Keuniversalan dosa juga terlihat dari kenyataan bahwa semua orang
yang belum menerima Kristus berada di bawah hukuman (Yohanes
3:18, 36; I Yohanes 5:12, 19), dan bahwa pendamaian, kelahiran
baru, serta pertobatan merupakan kebutuhan-kebutuhan universal
(Yohanes 3:3, 5, 16; 6:50; 12:47; Kisah 4:12; 17:30). saat Alkitab
berbicara soal manusia sebagai baik, maka yang dimaksudkan ialah
kebaikan yang berpura-pura saja (Matius 9:12, 13), atau kebaikan
dengan pamrih (Roma 2:14; Filipi 3:15).
Keadaan penuh dosa yang universal ini tidak terbatas pada tin
dakan-tindakan yang berdosa, namun meliputi juga pemilikan sifat
yang berdosa. Alkitab menunjuk bahwa tindakan dan kecenderung
an untuk berbuat dosa bersumber kepada perangai yang rusak. "Ka
rena tidak ada pohon yang baik yang menghasilkan buah yang tidak
baik . . . orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari
perbendaharaannya yang jahat" (Lukas 6:43-45). "Bagaimanakah
kamu dapat mengucapkan hal-hal yang baik, sedangkan kamu sen
diri jahat?" (Matius 12:34). Semua orang pada dasarnya disebut
"orang yang harus dimurkai" (Efesus 2:3); dan kematian, hukuman
atas dosa itu, bahkan menimpa orang-orang yang tidak berbuat dosa
(Roma 5:12-14). Disimpulkan bahwa memiliki sifat duniawi yaitu
sifat khas manusia di seluruh dunia.
II. PENGHITUNGAN DOSA
Bila semua orang itu berdosa, bagaimana sampai hal itu terjadi?
Akibat yang begitu universal pastilah memiliki penyebab yang
universal pula. Alkitab mengajarkan bahwa dosa Adam dan Hawa
telah menyebabkan seluruh keturunan mereka berdosa (Roma 5:19).
Dosa Adam telah dibilang dihitung, dianggap, atau dituduhkan
kepada setiap anggota umat manusia. Roma 5:19 berbunyi, "Oleh
ketidaktaatan satu orang semua telah menjadi orang berdosa." Oleh
Kejatuhan Manusia: Penghitungan dan Dampak... 285
karena dosa Adam itulah kita lahir ke dalam dunia dengan perangai
yang rusak serta berada di bawah hukuman Allah (Roma 5:12;
Efesus 2:13). Bagaimana kita bisa bertanggung jawab atas perangai
yang rusak yang tidak berasal dari diri kita sendiri dan bagaimana
Allah dapat secara adil menuduh kita ikut melakukan dosa Adam?
Ada berbagai teori tentang dosa Adam yang dibilang atau dihitung
kepada keturunannya.
A. TEORI PELAGIANISME
Pelagius yaitu seorang biarawan Inggris yang lahir sekitar 370
TM. Ia mengemukakan ajaran-ajarannya di Roma sekitar tahun 409,
namun semuanya disalahkan oleh Konsili di Kartago pada tahun
418. Golongan antitrinitarisme (Sosianisme) dan Unitarianisme
umumnya menerima ajaran Pelagius. Teori ini menyatakan bahwa
dosa Adam hanya mempengaruhi diri Adam sendiri; bahwa setiap
jiwa diciptakan secara langsung oleh Allah saat lahir, diciptakan
dalam keadaan tidak bersalah, bebas dari berbagai kecenderungan
yang salah, dan mampu taat kepada Allah sebagaimana Adam mula-
mula; bahwa Allah hanya menuntut tanggung jawab dari manusia
atas kesalahan-kesalahan yang dilakukannya sendiri; dan bahwa
satu-satunya akibat dosa Adam kepada keturunannya ialah bahwa
perbuatan Adam itu merupakan teladan yang buruk. Manusia dapat
diselamatkan baik oleh hukum Taurat maupun oleh Injil. Kematian
jasmaniah hanya merupakan pelaksanaan hukum yang asli. Ayat
yang berbunyi, "Maut itu telah menjalar kepada semua orang,
karena semua orang telah berbuat dosa" (Roma 5:12), ditafsirkan
sebagai berarti bahwa semua orang mendatangkan kematian kekal
atas dirinya karena semua berbuat dosa menurut teladan Adam.
Menurut teori ini, manusia itu tidak bercacat cela sampai pada
saat ia sendiri berbuat dosa, maka pada saat itulah ia menjadi
orang berdosa.
Jawaban kita ialah, teori ini tidak pernah diakui sebagai
alkitabiah oleh denominasi apa pun, juga tidak pernah tercantum
dalam pengakuan iman mana pun. Akan namun , Alkitab meng
ajarkan bahwa semua manusia telah mewarisi sifat berdosa (Ayub
14:4; 15:14; Mazmur 51:7; Roma 5:12; Efesus 2:3); bahwa manusia
pada umumnya menjadi bersalah karena melakukan tindakan-tin
dakan yang berdosa selekasnya mereka mulai sadar secara moral
286 Antropologi
(Mazmur 58:4; Yesaya 48:8); bahwa tidak ada orang yang dapat
diselamatkan dengan berbuat baik (Mazmur 143:2; Kisah 13:29;
Roma 3:20; Galatia 2:16); dan bahwa Alkitab menggambarkan
keadaan manusia yang telah jatuh sebagai akibat langsung dosa
Adam (Roma 5:15-19). Di samping itu, Pelagianisme secara keliru
menganggap bahwa kehendak itu hanya merupakan suatu kemam
puan dari kemauan, padahal kehendak itulah yang terutama memilih
dan menentukan sendiri tujuan hidup manusia; bahwa hukum hanya
terdiri atas ketaatan yang positif; dan bahwa setiap jiwa diciptakan
secara langsung oleh Allah dan tidak ada hubungan dengan hukum
moral kecuali hukum yang bersifat pribadi.
B. TEORI ARMINIANISME
Arminius (1560-1609) yaitu seorang gurubesar di negeri Belanda.
Pandangannya disebut Semi-Pelagianisme. Pandangannya dianut
oleh Gereja Yunani, gereja-gereja Metodis, serta gereja-gereja lain
nya yang beraliran Arminianisme. Menurut teori ini, manusia itu
sakit. Sebagai akibat dari pelanggaran Adam, manusia pada dasar
nya tidak mempunyai kebenaran yang semula dan, tanpa bimbingan
ilahi, manusia samasekali tidak mampu mencapainya. Karena keti
dakmampuan ini sifatnya fisik dan intelektual, bukannya sukarela,
maka saat seseorang mulai sadar, Allah, sebagai tindakan yang
adil, memberikan kepadanya pengaruh Roh Kudus yang khusus.
Pengaruh ini cukup kuat untuk menangkal dampak kerusakan
akhlak yang mereka warisi sehingga memungkinkan ketaatan bila
mereka mau bekerja sama dengan Roh Kudus. Mereka akan mampu
melakukan itu. Kecenderungan buruk di dalam diri manusia dapat
disebut dosa, namun tidak menyangkut kesalahan atau hukuman.
Sesungguhnya, manusia tidak dibilang bersalah karena dosa Adam.
Hanya bila manusia secara sadar dan sukarela menyerah kepada
kecenderungan-kecenderungan buruk inilah Allah memper
hitungkannya kepada mereka sebagai dosa. Pernyataan, "Maut itu
telah menjalar kepada semua orang karena semua orang telah ber
buat dosa" (Roma 5:12), ditafsirkan sebagai berarti bahwa semua
orang menderita akibat dosa Adam dan bahwa semua orang secara
pribadi menyetujui keadaan berdosa di dalam diri mereka itu dengan
cara melakukan pelanggaran.
Kejatuhan Manusia: Penghitungan dan Dampak... 287
Jawaban kami ialah bahwa menurut Alkitab, manusia berbuat
dosa di dalam Adam dan oleh karena itu, manusia sudah dinyatakan
bersalah sebelum ia sendiri berbuat dosa; bahwa sifat berdosa di
dalam manusia itu disebabkan oleh dosanya di dalam Adam; bahwa
Allah tidak berkewajiban memberikan pengaruh khusus dari Roh
Kudus untuk membantu manusia bekerja sama dalam memperoleh
keselamatan; bahwa manusia tidak secara sadar menyerah kepada
kecenderungan untuk berbuat dosa pada waktu ia mulai sadar;
bahwa kemampuan bukan ukuran bagi kewajiban dan bahwa
kematian jasmaniah bukanlah soal keputusan yang sewenang-
wenang, namun merupakan hukuman yang adil atas dosa. Teori yang
dikenal dengan nama teori New School, yang telah meninggalkan
pandangan Puritan yang lama, sangat mirip dengan ajaran Ar-
minianisme. Pandangan New School ini juga beranggapan bahwa
manusia hanya bertanggung jawab atas apa yang mereka sendiri
lakukan; bahwa sekalipun semua orang mewarisi kecenderungan
untuk berbuat dosa, dan semua orang memang berbuat dosa secepat
mereka mulai menjadi sadar secara moral. Namun ketidakmampuan
ini sendiri jelas bukan dosa. Karena pandangan ini begitu mirip
dengan pandangan Arminianisme, maka argumen kami yang
menentangnya sama juga.
C. TEORI PENGHITUNGAN TIDAK LANGSUNG
Teori ini mengakui bahwa semua orang secara fisik dan moral
sudah bejat sejak lahir, dan bahwa kebejatan bawaan ini merupakan
sumber semua perbuatan dosa, serta kebejatan ini sendiri dosa ada
nya. Kebejatan fisik telah turun lewat kelahiran alami dari Adam,
sedangkan jiwa secara langsung diciptakan oleh Allah, namun jiwa
yang baru diciptakan ini langsung tercemar saat bersatu de
ngan tubuh. Kebejatan bawaan ini yaitu satu-satunya hal yang
diperhitungkan Allah kepada manusia, namun hanya sebagai akibat
pelanggaran Adam, dan bukan sebagai hukuman. Dengan kata lain,
dosa Adam diperhitungkan secara tidak langsung dan bukan secara
langsung. Teori ini menjadikan kebejatan sebagai penyebab peng
hitungan, dan bukan penghitungan sebagai penyebab kebejatan.
Maksud Roma 5:12 ialah bahwa semua orang berbuat dosa karena
memiliki sifat yang berdosa.
288 Antropologi
Beberapa hal perlu dikatakan tentang pandangan ini. Alkitab
mengajarkan bahwa alasan kebejatan kita yaitu karena kita ikut
mengambil bagian di dalam dosa Adam. Kebejatan itu kesalahan
kita, bukan nasib buruk. Kebejatan merupakan akibat penghukuman
dari dosa. Selanjutnya, pandangan ini merusak pararelisme antara
Adam dengan Kristus. Dosa Adam diperhitungkan kepada kita,
sebagaimana halnya kebenaran Kristus. Pandangan penghitungan
tidak langsung ini menjadikan keselamatan itu suatu pembenaran
subjektif dan bukan kebenaran Kristus yang diperhitungkan pada
kita. Pandangan ini juga meniadakan gagasan perwakilan yaitu
bahwa seseorang dapat dihukum secara adil untuk kesalahan orang
lain.
D. TEORI REALISTIS
Menurut pandangan ini umat manusia secara alami dan secara
hakiki berada di dalam Adam saat Adam berbuat dosa. Di dalam
dosa yang pertama ini, manusia menjadi cemar dan bersalah, dan
keadaan ini diturunkan kepada keturunan Adam. Semua keturunan
Adam telah mengambil bagian secara tidak bersifat pribadi dan
tidak sadar saat Adam pertama kali berbuat dosa. Jadi, karena
manusia dapat dikatakan tunggal, maka sifat manusia yang umum
dan belum disebar menjadi individu-individu itulah yang melakukan
dosa pertama itu. Dengan demikian semua orang yaitu rekan
Adam dalam berbuat dosa itu. Dengan demikian secara adil dosa
dapat diperhitungkan dan manusia dihukum karena ia dahulu ikut
serta dalam berbuat dosa.
Sekalipun pandangan ini lebih dekat pada ajaran Alkitab menge
nai penghitungan dosa daripada teori-teori sebelumnya, masih saja
ada beberapa persoalan yang sulit dijawab. Dapatkah manusia dika
takan bersalah untuk dosa yang tidak dilakukannya dengan sengaja?
Dan dapatkah manusia bertindak sebelum ia itu ada? Selanjutnya,
bila manusia bersalah karena keikutsertaannya dalam dosa pertama
Adam itu, apakah ia juga ikut bersalah dalam dosa-dosa Adam
sesudah itu? Adakah Kristus, karena memiliki sifat manusia, juga
mengambil bagian dalam dosa Adam ini? Selain dari itu, adakah
pandangan ini mengemukakan pararelisme yang diperlukan antara
Adam dengan Kristus?
Kejatuhan Manusia: Penghitungan dan Dampak... 289
Murray mengatakan tentang pandangan ini, "Bila kita dihukum
dan menderita kematian karena kita ini bejat dan berpembawaan
penuh dosa, maka satu-satunya analogi atau persamaan terhadap
pandangan ini ialah bahwa kita dibenarkan karena kudus sudah
menjadi pembawaan kita."100 Akan namun , kita dibenarkan oleh
kebenaran Yesus Kristus.
100 Murray, The Epistle to the Romans, I, hal. 185.
101 Shedd, Dogmatic Theology, II, hal. 60.
E. TEORI FEDERAL
Teori federal atau teologi perjanjian beranggapan bahwa Adam
yaitu kepala alami dan federal atas umat manusia. Kepemimpinan
federal atau kepemimpinan representatif yaitu dasar khusus bagi
penghitungan dosa Adam kepada keturunannya. saat Adam ber
buat dosa, ia bertindak sebagai wakil umat manusia. Allah memper
hitungkan kesalahan dosa pertama itu kepada semua orang yang
diwakili oleh Adam saat itu, yaitu seluruh umat manusia.
Sebagaimana dosa diperhitungkan kepada kita karena ketidaktaatan
Adam, demikianlah kebenaran dapat diperhitungkan kepada kita
karena ketaatan Kristus (Roma 5:19). Mereka yang menerima pan
dangan ini menganjurkan bahwa Adam mengadakan perjanjian
kerja dengan Allah dan bahwa saat itu Adam berbicara dan ber
tindak sebagai wakil seluruh umat manusia. Akan namun , dalam
kitab Kejadian tidak disebutkan perjanjian semacam itu. Menurut
pandangan federalisme, Adam merupakan kepala perjanjian
sehingga dosanya diperhitungkan dan dikaitkan pada keturunannya;
dalam realisme, seluruh umat manusia benar-benar turut berbuat
dosa di dalam Adam.
Beberapa keberatan telah dikemukakan terhadap pandangan ini.
Dapatkah manusia dianggap bertanggung jawab atas pelanggaran
suatu perjanjian yang tidak ikut disahkannya? Kita memang bisa
ikut menderita akibat dosa orang lain, namun dapatkah seseorang
dianggap bersalah karena dosa orang lain? Selanjutnya, analogi di
antara Adam dengan Kristus tidak paralel secara menyeluruh,
karena "satu orang bisa saja taat sebagai pengganti orang lain agar
dapat menyelamatkan mereka; namun tidak mungkin seseorang ber
tindak tidak taat sebagai pengganti orang lain agar dapat menghan
curkan mereka."101 Dengan kata lain, menderita hukuman untuk
290 Antropologi
orang lain memang dapat dilakukan, namun berbuat dosa untuk orang
lain tidak dapat.
Baik teori realistis maupun teori federal tentang penghitungan
dosa nampaknya menghadapi masalah-masalah yang mustahil
dipecahkan; namun harus diakui bahwa kedua pandangan ini juga
menyelesaikan beberapa persoalan. Mungkin ada posisi menengah
yang mencantumkan baik konsepsi perwakilan maupun hubungan
alami dengan Adam.
F. TEORI PERSONALITAS BERSAMA
Pandangan ini menekankan hubungan yang erat dari seorang in
dividu dengan kelompok mana ia menjadi anggota. Setiap individu
dapat bertindak sebagai wakil kelompok itu. Dalam Perjanjian Lama
ada contoh-contoh nyata tentang asosiasi dan perwakilan semacam
ini. Seantero keluarga dapat dibunuh karena dosa salah satu ang
gotanya (bandingkan Akhan, Yosua 7:24-26). Nama keluarga amat
penting; seorang anak dapat menghormati atau mencemarkan nama
orang tua, sehingga nama itu bisa dihapuskan (I Samuel 24:22).
Bahkan unit keagamaan atau moralitas terutama menyangkut
seluruh umat manusia, bukan hanya orang seorang. Berlandaskan
konsepsi personalitas bersama, teori ini mengemukakan bahwa dosa
diperhitungkan. Dodd mengatakan bahwa "unit moral yaitu
masyarakat ..., dan bukan orang Seorang."102
102 Dodd, The Epistle of Paul to the Romans, hal. 79.
103 Berkouwer, Sin, hal. 517.
Dalam Roma 5, Paulus tidak berusaha untuk menyelesaikan soal-
soal filosofis yang timbul dalam teori realistis atau teori federal. Ia
malah memakai konsepsi Ibrani yang mendukung solidaritas
umat manusia. Sebagaimana ditulis oleh Berkouwer, 'Paulus ber
pikir tentang suatu hubungan yang tidak dapat disangkal serta
solidaritas dalam kematian dan kesalahan. Pada saat yang sama, ia
tidak pernah berusaha menerangkan solidaritas ini secara
teoretis."103 Memang ada beberapa persoalan dengan pandangan ini.
Teori ini menghadapi persoalan penghitungan secara sembarangan
sebagaimana halnya teori federal dan teori realistis, juga keikutser
taan dalam dosa yang terjadi secara tidak sengaja seperti yang
diketengahkan oleh teori realistis. Sekalipun demikian, teori ini
Kejatuhan Manusia: Penghitungan dan Dampak... 291
mengandung sedikit unsur realistis, dan bersamaan dengan itu unsur
perwakilan juga. Untuk mengutip Berkouwer kembali, "Paulus
memiliki konsep ’kebersamaan’ saat memandang Adam dan Kris
tus; pada saat yang sama, justru kebersamaan ini tidak pernah
akan memiliki sifat penjelasan."104
Argumen-argumen nampaknya terus terjadi antara teori realistis
dan teori perwakilan atau suatu teori menengah. Beberapa sarjana
telah menganjurkan bahwa kesamaan di antara penghitungan dosa
serta penghitungan kebenaran jangan dianggap serupa. namun
mereka harus menganggap bahwa penghitungan kebenaran itu ber
hubungan dengan ketentuan hukum dan peradilan, sedangkan
ketidaktaatan Adam itu bersifat perorangan dan hakiki. Kenyataan
bahwa akibat ketidaktaatan Adam kita semua merupakan orang ber
dosa tetap ada, dan bahwa melalui ketaatan Kristus orang percaya
dijadikan benar. Alkitab tidak menerangkan secara terinci
bagaimana hal ini terjadi, namun Alkitab menyatakan demikian.
104 Berkouwer, Sin, hal. 516.
XX
Kejatuhan Manusia: Sifat Serta
Akibat-Akibat Dosa
Akibat-Akibat dosa pertama Adam dapat dibahas berdasarkan tiga
pokok utama: kebejatan, kesalahan, dan hukuman.
I. KEBEJATAN
A. ARTI KEBEJATAN
Kebejatan ialah tidak adanya kebenaran yang semula dan kasih
sayang yang kudus terhadap Allah, termasuk pencemaran sifat
moral manusia dan kecenderungan untuk melakukan kejahatan.
Baik Alkitab maupun pengalaman manusia menegaskan kebejatan
ini. Ajaran Alkitab bahwa semua orang harus dilahirkan kembali
menunjukkan bahwa kebejatan ini ada pada semua orang.
B. LUASNYA KEBEJATAN
Alkitab mengajarkan bahwa sifat manusia telah rusak samasekali.
Sekalipun demikian, ajaran "kebejatan menyeluruh" mudah sekali
menimbulkan salah paham dan salah tafsir. Pentinglah untuk me
ngetahui apa yang tidak dimaksudkan sebagai kebejatan menyeluruh
dalam Alkitab dan apa yang dimaksudkannya.
Dari sudut negatif, kebejatan menyeluruh tidak berarti bahwa
setiap orang berdosa samasekali tidak memiliki sifat-sifat yang
menyenangkan hati manusia; bahwa orang berdosa melakukan, atau
293
294 Antropologi
cenderung melakukan bermacam-macam dosa; atau bahwa orang
berdosa sangat membenci Allah. Yesus mengenali adanya beberapa
sifat yang menyenangkan dalam diri beberapa orang (Markus
10:21); Yesus juga mengatakan bahwa orang Farisi dan ahli Taurat
melakukan beberapa hal yang diminta oleh Allah (Matius 23:23);
Paulus menyatakan bahwa beberapa orang bukan Yahudi menaati
hukum Taurat secara naluriah (Roma 2:14). Allah mengatakan ke
pada Abraham bahwa kejahatan orang Amori akan menjadi semakin
hebat (Kejadian 15:16); dan Paulus mengatakan bahwa "orang jahat
dan penipu akan bertambah jahat" (II Timotius 3:13).
Dari sudut positif, kebejatan menyeluruh berarti bahwa setiap
orang berdosa samasekali tidak mampu mengasihi Allah sebagai
mana dituntut oleh hukum Taurat (Ulangan 6:4, 5; Matius 22:37);
bahwa orang berdosa sangat mengutamakan dirinya sendiri dan bu
kan Allah (II Timotius 3:2-4); bahwa orang berdosa menaruh rasa
tidak suka terhadap Allah yang kadang-kadang malah menyebabkan
dia memusuhi Allah (Roma 8:7). Kebejatan menyeluruh juga berarti
bahwa setiap kemampuan di dalam diri orang berdosa itu menjadi
kacau dan tercemar (Efesus 4:18); bahwa ia tidak memiliki pikiran,
perasaan, atau tindakan yang sepenuhnya berkenan kepada Allah
(Roma 7:18); dan bahwa ia kini menjadi semakin lama semakin
bejat dan ia tidak dapat berbalik samasekali dengan kekuatannya
sendiri (Roma 7:18). Kebejatan telah merasuki manusia secara
menyeluruh, yaitu pikiran, perasaan, dan kehendaknya.
Kebejatan telah menghasilkan ketidakmampuan rohani yang total
di dalam diri orang berdosa sehingga dengan kemauannya sendiri
ia tidak dapat mengubah perangai dan kehidupannya agar menjadi
kannya sesuai dengan hukum Allah. Ia pun tidak dapat mengubah
kecenderungannya untuk mengutamakan diri sendiri dan dosa lalu
sangat mengasihi Allah, namun ia tetap memiliki kebebasan yang
terbatas. Misalnya, ia dapat memilih untuk tidak berbuat dosa
kepada Roh Kudus, menentukan untuk melakukan dosa yang tidak
begitu parah dibandingkan dengan dosa yang lebih parah, menolak
samasekali bentuk-bentuk godaan tertentu, melakukan beberapa tin
dakan yang secara lahiriah dapat dinilai baik, dan bahkan mencari
Allah dengan alasan-alasan yang betul-betul mementingkan dirinya
sendiri. Kebebasan untuk memilih dalam batas-batas ini tidaklah
berlawanan dengan sepenuhnya memperhambakan kehendak dalam
hal-hal rohani. Ketidakmampuan ini tidaklah berarti kehilangan
Kejatuhan Manusia: Sifat Serta Akibat-Akibat Dosa 295
sesuatu kemampuan jiwa atau kehendak yang bebas, karena orang
berdosa itu masih menentukan tindakan-tindakannya sendiri, bukan
saja sebagai wujud keengganan terhadap apa yang baik, namun
karena kekurangan pemahaman rohani, dan karena itu kekurangan
kasih sayang yang tepat. Dengan kemauannya sendiri ia tidak dapat
memperbaharui dirinya, atau bertobat, atau memakai iman
yang menyelamatkan (Yohanes 1:12,13). Akan namun , kasih karunia
dan Roh Allah telah siap untuk memungkinkan orang berdosa itu
bertobat dan percaya sehingga memperoleh keselamatan.
II. KESALAHAN
Kenyataan bahwa kesalahan dibicarakan setelah kebejatan tidak
berarti bahwa kesalahan baru timbul kemudian. Kedua akibat dosa
ini timbul serempak di dalam diri manusia sebagai akibat kejatuhan.
Dalam membicarakan kesalahan manusia, kita perlu membahas arti
nya serta tingkatan-tingkatan kesalahan.
A. ARTI KESALAHAN
Kesalahan berarti ganjaran hukuman, atau kewajiban untuk
memuaskan hati Allah. Kekudusan Allah, sebagaimana ditunjukkan
oleh Alkitab, memberi reaksi terhadap dosa, dan reaksi ini
ialah "murka Allah" (Roma 1:18). Namun kesalahan itu timbul
hanya melalui perbuatan pelanggaran yang dipilih sendiri, baik pada
umat manusia yang diwakili oleh Adam maupun pada setiap pribadi
sendiri-sendiri. Kesalahan itu datang dari dosa yang melibatkan diri
kita. Dosa bila dipahami sebagai pencemaran berarti ketidak
sesuaian dengan sifat Allah, namun sebagai kesalahan dosa itu
merupakan permusuhan terhadap kehendak Allah. Kedua unsur ini
senantiasa ada di dalam hati nurani orang berdosa. Kesalahan
juga merupakan akibat yang objektif, karena setiap dosa, apa pun
sifatnya, merupakan serangan terhadap Allah sehingga layak ditim
pa murka Allah. Akibat dosa yang objektif ini jangan dicampur
aduk dengan kesadaran yang subjektif akan akibat dosa. Kesalahan
terutama merupakan hubungan dengan Allah, dan kedua, hubungan
dengan hati nurani. Dalam hati nurani itu, penghakiman Allah
dinyatakan sebagian saja dan sebagai nubuat (I Yohanes 3:20).
296 Antropologi
Ketekunan dan perkembangan dalam dosa ditandai dengan merosot
nya kepekaan perasaan dan persepsi moral.
B. TINGKATAN-TINGKATAN KESALAHAN
Alkitab mengakui adanya berbagai tingkatan kesalahan yang dise
babkan oleh berbagai jenis dosa. Prinsip ini diakui dalam Perjanjian
Lama dengan aneka ragam persembahan korban yang dituntut untuk
berbagai pelanggaran di bawah hukum Musa (Imamat 4:7). Ke
nyataan ini juga ditunjukkan dalam berbagai bentuk penghakiman
dalam Perjanjian Baru (Lukas 12:47, 48); Yohanes 19:11; Roma
2:6; Ibrani 2:2, 3; 10:28, 29). Akan namun , ada aliran tertentu yang
telah membangun suatu ajaran yang salah dengan mengadakan
pemisahan antara dosa yang mematikan dan dosa yang tidak
mematikan. Dosa yang tidak mematikan yaitu perbuatan dosa yang
dapat diampuni, sedangkan dosa yang mematikan yaitu perbuatan
dosa yang dilakukan dengan keras kepala dan dengan sengaja
sehingga mendatangkan kematian kepada jiwa. Terhadap pandangan
ini, kita dapat mencatat adanya perbedaan dalam kesalahan sebagai
akibat dari perbedaan dalam dosa yang telah diperbuat. ada
paling sedikit empat perangkat dosa yang berbeda-beda.
1. Dosa karena sifat yang berdosa, dan pelanggaran pribadi.
Manusia yaitu orang berdosa karena sifatnya penuh dosa, namun
manusia juga menjadi orang berdosa karena ia berbuat dosa. Ter
dapat kesalahan karena mempunyai pembawaan berdosa sejak lahir
dan ada kesalahan yang lebih besar lagi saat sifat yang berdosa
itu membuat manusia melakukan pelanggaran-pelanggaran pribadi.
Kata-kata Kristus, "orang-orang yang seperti itulah yang empunya
Kerajaan Sorga" (Matius 19:14), berbicara soal keadaan tidak ber
salah yang relatif pada masa kanak-kanak, sedangkan kata-kata-Nya
yang ditujukan kepada orang Farisi dan ahli Taurat, "penuhilah juga
takaran nenek moyangmu" (Matius 23:32), menunjuk kepada
pelanggaran pribadi yang mereka lakukan sebagai tambahan pada
kebejatan yang mereka warisi dari orang tua mereka.
2. Dosa-dosa yang diperbuat karena ketidaktahuan, dan dosa-
dosa yang diperbuat dengan pengetahuan. Dalam hal ini kesalahan
seseorang ditentukan menurut banyaknya pengetahuan yang
Kejatuhan Manusia: Sifat Serta Akibat-Akibat Dosa 297
dimilikinya. Makin banyak dan luas pengetahuannya, makin besar
pula kesalahannya (Matius 10:15; Lukas 12:47, 48; 23:34; Roma
1:32; 2:12; I Timotius 1:13-16).
3. Dosa-dosa karena kelemah












