pula, orang percaya sedang diubah untuk menjadi serupa dengan
gambar Tuhan kita dengan cara "mencerminkan kemuliaan Tuhan"
(II Korintus 3:18).
G. UNTUK MEMPERSIAPKAN KEDATANGANNYA YANG
KEDUA
Alkitab mengatakan, "Demikian pula Kristus hanya satu kali saja
mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang.
Sesudah itu Ia akan menyatakan diri-Nya sekali lagi tanpa
menanggung dosa untuk menganugerahkan keselamatan kepada
mereka yang menantikan Dia" (Ibrani 9:28). Keselamatan terdiri
atas dua bagian, yaitu penyediaannya dan penerapannya; dan
penyediaan keselamatan itu harus terjadi dahulu sebelum
penerapannya.
Kini secara nyata sebagian besar dari keselamatan yang telah
disediakan Kristus sedang diterapkan. Orang-orang percaya disela
matkan dari hukuman dan kesalahan dosa pada saat mereka meneri
ma Kristus; mereka diselamatkan dari kuasa dosa oleh karena Kris
tus mendoakan mereka dan karena mereka menyerahkan diri sepe
nuhnya kepada Dia; namun orang percaya belum selamat dari keha
diran dosa sampai mereka tinggal bersama-sama dengan Kristus.
Selanjutnya, masih ada penebusan tubuh. saat Kristus mati di
salib, Ia mati untuk manusia seutuhnya. Namun kesembuhan tubuh
belum dapat dinikmati semua orang sekarang ini, dan kekekalan
tubuh baru akan kita terima pada masa yang akan datang. Demikian
pulalah halnya dengan penebusan seluruh alam. Di salib, Kristus
memperoleh seluruh alam semesta, namun Ia masih menunda pembe
basan alam semesta yang sesungguhnya sampai tiba saatnya anak-
anak Allah dinyatakan (Roma 8:18-25). Sebagai "Anak Domba
yang telah disembelih" (Wahyu 5:6), Kristus akan membuka
meterai-meterai gulungan kitab, yang merupakan surat bukti hak
milik atas semua milik yang telah diperoleh-Nya. Kedatangan-Nya
yang pertama diperlukan sebagai persiapan untuk kedatangan-Nya
yang kedua.
328 Soteriologi
II. SIFAT PENJELMAAN KRISTUS
Ada beberapa ayat yang baik sekali mengenai pokok ini. Dalam
Filipi 2:6 dijelaskan bahwa perendahan diri Kristus dimulai dalam
sikap pikiran-Nya; Ia menganggap bahwa kesetaraan-Nya dengan
Allah bukanlah sesuatu yang harus dipegang erat-erat atau diper
tahankan secara paksa. Menjadi manusia tidaklah merupakan an
caman bagi diri-Nya. Ini merupakan sikap rendah hati, karena orang
yang angkuh bukan saja ingin mempertahankan segala sesuatu yang
mereka miliki, namun mereka juga ingin mendapatkan segala sesuatu
yang belum mereka miliki. Dua hal utama tercakup dalam penjel
maan Kristus: Kristus mengosongkan diri-Nya dan Ia dijadikan
sama dengan manusia.
A. KRISTUS MENGOSONGKAN DIRINYA
Pertama-tama dikatakan bahwa Kristus "mengosongkan diri-Nya"
(Filipi 2:7). Kata Yunaninya yaitu kenosis yang terbit dari akar
kata kenoo. Patut disayangkan bahwa banyak orang telah menyalah-
tafsirkan tindakan mengosongkan diri itu. Mereka mengatakan bah
wa Kristus mengosongkan diri-Nya dari sifat-sifat yang relatif—ke-
mahatahuan-Nya, kemahakuasaan-Nya, dan kemahahadiran-Nya—
sekalipun tetap mempertahankan sifat-sifat yang imanen—kekudus-
an-Nya, kasih-Nya, dan kebenaran-Nya. Diajarkan bahwa Kristus
memiliki pengetahuan yang dalam, namun bukan pengetahuan yang
sempurna; bahwa Ia berkuasa namun tidak mahakuasa.
Pandangan ini tidak dapat dibenarkan. Kristus berkali-kali
menyatakan pengetahuan ilahi-Nya. Kita membaca dalam Alkitab
bahwa "Ia mengenal mereka semua," bahwa Ia "tahu apa yang ada
di dalam hati manusia" (Yohanes 2:24-25), dan bahwa Ia mengeta
hui "semua yang akan menimpa diri-Nya" (Yohanes 18:4). Menge
nai kuasa yang dimiliki-Nya, kita tidak hanya membaca dalam
Alkitab bahwa Ia meredakan badai, secara ajaib memberi makan
orang yang lapar, menyembuhkan orang sakit, mengusir setan, dan
membangkitkan orang mati, namun bahwa Ia sering kali menghim
bau orang-orang untuk percaya kepada-Nya karena perbuatan-per-
buatan-Nya, bila mereka tidak mau percaya apa yang dikatakan-Nya
(Yohanes 6:36; 10:25, 37-38; 14:11; 15:24). Yohanes mencatat
Pribadi Kristus: Kristus Merendahkan Diri-Nya 329
beberapa mukjizat yang terpilih dari pelayanan Kristus supaya para
pembacanya boleh "percaya bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah,
dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-
Nya" (Yohanes 20:31). Sesungguhnya, mukjizat-mukjizat yang
dilakukan oleh Elia dan Elisa tidak menunjukkan bahwa mereka
yaitu Allah yang menjelma, karena mukjizat-mukjizat mereka
dilakukan melalui kuasa Roh Kudus yang menguasai mereka;
namun kita diminta untuk percaya bahwa Kristus yaitu Allah
karena hal-hal luar biasa yang dilakukan-Nya. Hal ini hanya dapat
terjadi bila hal-hal luar biasa ini dilakukan-Nya dengan kuasa
ilahi-Nya sendiri. Kristus mengadakan mukjizat dengan kuasa-Nya
sendiri (Matius 9:28), sedangkan para rasul melakukan mukjizat-
mukjizat dalam nama Kristus. Kadang-kadang Kristus melakukan
mukjizat dengan kuasa Roh Kudus, bukan dengan kuasa-Nya sen
diri (Matius 12:28).
Beberapa hal terjadi saat Kristus merendahkan diri. Dalam satu
atau lain cara kemuliaan ilahi-Nya terselubung, namun tidak dilepas
kan (Yohanes 1:14; 2:11; 17:5). Dengan rela Kristus meninggalkan
segenap kekayaan sorgawi untuk menerima kemelaratan manusia
(II Korintus 8:9). Ia mengambil daging manusia yang tidak mulia
karena penuh kelemahan, kesakitan, pencobaan, dan keterbatasan.
Kristus dengan rela memutuskan untuk tidak memakai hak-hak isti
mewa yang ilahi, seperti kemahakuasaan-Nya, kemahahadiran-Nya,
dan kemahatahuan-Nya untuk menjadikan hidup-Nya lebih ringan
di bumi. Ia tahu merasa letih, Ia berjalan dari satu tempat ke tempat
yang lain, Ia bertambah dalam kebijaksanaan dan pengetahuan-Nya.
Jadi, sekalipun Ia tidak melepaskan sifat-sifat ilahi-Nya, dengan rela
Ia tidak memakai beberapa sifat ilahi-Nya agar dapat menjadi
sama dengan manusia. Sebagaimana ditulis oleh Walvoord, "Tin
dakan kenosis . . . dapat . . . dengan tepat diartikan bahwa Kristus
tidak melepaskan satu pun sifat ilahi-Nya, namun bahwa Ia dengan
rela membatasi penggunaan bebas sifat ilahi ini sesuai dengan
tujuan-Nya untuk hidup di antara manusia dengan segenap keter
batasan mereka."110
110 Walvoord, Jesus Christ Our Lord, hal. 144.
Jelaslah, secara keseluruhan Alkitab mengajarkan bahwa Kristus
hanya melepaskan penggunaan bebas beberapa sifat khas ilahi-Nya
yang relatif. Ia samasekali tidak melepaskan sifat-sifat khas ilahi
330 Soteriologi
yang mutlak; Ia senantiasa benar-benar kudus, adil, murah hati,
jujur, dan setia. Ia selalu mengasihi dengan segenap jiwa raga-Nya.
Akan namun , Ia mengosongkan diri-Nya dengan melepaskan
penggunaan bebas sifat-sifat ilahi-Nya yang relatif. Jadi, Ia tetap
mahatahu, mahakuasa, dan mahahadir sejauh hal itu diizinkan oleh
Bapa-Nya di sorga. Ini berarti bahwa Ia menyerahkan kemuliaan
yang Ia miliki bersama Bapa sebelum dunia dijadikan (Yohanes
17:5), lalu mengambil rupa seorang hamba (Filipi 2:6). Jelaslah
bahwa pandangan ini benar karena Yesus berbicara tentang hal-hal
yang ditunjukkan (Yohanes 5:20; 8:38), diajarkan (Yohanes 8:28),
dan ditugaskan (Yohanes 5:36) kepada-Nya oleh Bapa di sorga.
Selain itu, Allah Bapa memberikan kekuasaan tertentu kepada-Nya
(Yohanes 10:18), "mengurapi Dia dengan Roh Kudus dan kuat
kuasa" (Kisah 10:38), dan beberapa kali Ia mengusir setan oleh
kuasa Roh Kudus (Matius 12:28), oleh Roh Kudus Ia memberi
perintah kepada para rasul (Kisah 1:2), dan Ia mempersembahkan
diri-Nya kepada Allah oleh Roh yang kekal (Ibrani 9:14).
Sebagaimana yang dikatakan oleh Muller:
Dengan mengambil rupa seorang hamba, Kristus mengosongkan diri-Nya.
Tidak disebutkan samasekali bahwa Ia meninggalkan atau membuang sifat-
sifat khas ilahi, kodrat ilahi atau rupa Allah, namun yang dikatakan di sini
hanyalah suatu paradoks ilahi: Ia mengosongkan diri-Nya dengan mengam
bil sesuatu untuk diri-Nya, yaitu suatu cara keberadaan yang baru, sifat atau
rupa seorang hamba atau budak. Pada saat penjelmaan-Nya, Ia tetap ’dalam
rupa Allah’ dan dengan demikian Ia tetap Tuhan dan Penguasa alam semes
ta, namun Ia juga menerima sifat seorang hamba seperti sebagian dari
kemanusiaan-Nya.111
111 Muller, The Epistles of Paul to the Philippians and to Philemon, hal. 82.
B. IA MENJADI SAMA DENGAN MANUSIA
Sekalipun Ia tetap dalam rupa Allah, Ia kini menjadi sama dengan
manusia (Filipi 2:7). Ia yang yaitu Allah, menjadi manusia.
Yohanes mengatakan bahwa "Firman itu telah menjadi manusia"
(Yohanes 1:14; lihat juga I Yohanes 4:2, 3; II Yohanes 7). Kepada
Kristus diberikan tubuh manusiawi (Ibrani 10:5) sehingga Allah
dapat tinggal di antara kita (Yohanes 1:14). Di dalam Kristus "ber
diam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan" (Kolose 2:9).
Bahwa Kristus mengambil tubuh jasmaniah tidak berarti bahwa Ia
Pribadi Kristus: Kristus Merendahkan Diri-Nya 331
memiliki keadaan tubuh yang berdosa. Paulus menandaskan bahwa
Allah mengutus "Anak-Nya sendiri dalam daging, yang serupa de
ngan daging yang dikuasai dosa" (Roma 8:3).
Murray menjelaskan perkataan "daging yang dikuasai dosa" se
bagai berikut. 'Paulus memakai kata ’serupa’ bukan dengan tujuan
mengatakan bahwa keadaan daging yang ada pada Kristus itu bukan
yang sungguh-sungguh daging. Pengertian semacam itu berlawanan
dengan penjelasan Paulus di bagian lain dari surat Roma dan surat-
suratnya yang lain. Paulus terpaksa memakai kata ini karena ia me
makai istilah ’daging yang dikuasai dosa’ dan ia tidak dapat menga
takan bahwa Kristus diutus dalam ’daging yang dikuasai dosa’. Per
nyataan yang demikian akan menyangkal sifat tidak berdosa yang
dimiliki Yesus yang diajarkan di seluruh Perjanjian Baru."112
112 Murray, The Epistle to the Romans, I, hal. 280.
113 Hendriksen, Exposition of Philippians, hal. 109.
Ayat-ayat lain yang membahas penjelmaan Kristus ialah Roma
1:3; Galatia 4:4; I Timotius 3:16, dan Ibrani 2:14. Bukan saja Kris
tus telah menjadi manusia, namun sekalipun Ia tetap Allah, Ia telah
mengambil rupa seorang hamba (Filipi 2:7). Hendriksen
menerangkan, "Ayat ini tidak mungkin berarti bahwa ’Kristus
menukarkan rupa Allah dengan rupa seorang hamba’, sebagaimana
yang begitu sering dikatakan. Kristus mengambil rupa seorang
hamba walaupun Ia tetap mempertahankan rupa Allah! Justru itulah
yang memungkinkan dan menghasilkan keselamatan kita."113
XXIV
Pribadi Kristus: Dua Sifat dan
Watak Kristus
Pembahasan tentang tujuan dan sifat penjelmaan Kristus dengan
mudah menuntun kita untuk menguraikan dua sifat yang dimiliki
Kristus: sifat manusia dan sifat Allah. Orang yang bagaimanakah
Yesus Kristus dari Nazaret itu?
I. KEMANUSIAAN KRISTUS
Kemanusiaan Kristus jarang dipersoalkan. Memang ada ajaran-
ajaran sesat, misalnya, Gnostisisme yang menyangkal realitas tubuh
Kristus, dan ajaran Eutikhes yang menjadikan tubuh Kristus itu
tubuh yang ilahi. Akan namun , bagian terbesar dari gereja mula-mula
menerima ajaran bahwa Kristus yaitu manusia dan Allah. Penyim
pangan dari doktrin Alkitab lebih banyak terjadi karena menolak
sifat ilahi Kristus dan bukan menolak sifat manusia-Nya. Karena
Kristus harus menjadi manusia sesungguhnya jika Ia hendak
menebus manusia dari dosa, maka soal kemanusiaan Kristus bukan
hanya merupakan soal yang akademis, namun soal yang sangat prak
tis. Apa saja yang menjadi bukti bahwa Yesus yaitu manusia
sesungguhnya?
A. YESUS LAHIR SEPERTI MANUSIA LAINNYA
Yesus lahir dari seorang wanita (Galatia 4:4). Kenyataan ini dikuat
kan oleh kisah-kisah kelahiran-Nya dari seorang anak dara (Matius
333
334 Soteriologi
1:18-2:11; Lukas 1:30-38; 2:1-20). Karena hal ini, Yesus disebut
"anak Daud, anak Abraham" (Matius 1:1) dan dikatakan bahwa Ia
"menurut daging diperanakkan dari keturunan Daud" (Roma 1:3).
Karena alasan yang sama, Lukas merunut asal usul Yesus sampai
kepada Adam (Lukas 3:23-38). Peristiwa ini merupakan
penggenapan janji kepada Hawa (Kejadian 3:15) dan kepada Ahas
(Yesaya 7:14). Pada beberapa kesempatan Yesus disebutkan sebagai
anak Yusuf, namun kita akan melihat bahwa setiap kali hal ini ter
jadi, orang yang melakukannya itu bukanlah sahabat Yesus atau
mereka kurang mengenal Dia (Lukas 4:22; Yohanes 1:45; 6:42;
bandingkan dengan Matius 13:55). Bila ada bahaya bahwa pembaca
kitab Injil akan menganggap penulis Injil ini bermaksud untuk
menyatakan bahwa Yesus betul-betul anak Yusuf, maka penulis
menambahkan sedikit penjelasan untuk menunjukkan bahwa
anggapan semacam itu tidak benar. Oleh karena itu dalam Lukas
23:23 kita membaca bahwa Yesus yaitu anak Yusuf "menurut
anggapan orang" dan di dalam Roma 9:5 dinyatakan bahwa Kristus
berasal dari Israel dalam "keadaan-Nya sebagai manusia."
Dalam kaitan ini telah diajukan satu pertanyaan penting: Bila
Kristus itu lahir dari seorang perawan, apakah Ia juga mewarisi
sifat yang berdosa dari ibu-Nya? Alkitab dengan jelas menunjukkan
bahwa Yesus tidak berhubungan dengan dosa. Alkitab menandaskan
bahwa Yesus "tidak mengenal dosa" (II Korintus 5:21); dan bahwa
Ia yaitu "yang saleh, tanpa salah, tanpa noda, yang terpisah dari
orang-orang berdosa" (Ibrani 7:26); dan bahwa "di dalam Dia tidak
ada dosa" (I Yohanes 3:5). Pada saat memberitahukan bahwa Maria
akan melahirkan Anak Allah, Gabriel menyebutkan Yesus sebagai
"kudus" (Lukas 1:35). Iblis tidak berkuasa apa-apa atas diri Yesus
(Yohanes 14:30); ia tak ada hak apa pun atas Anak Allah yang
tidak berdosa itu. "Dosalah yang membuat Iblis berkuasa atas
manusia, namun di dalam Yesus tidak ada dosa."114 Melalui naungan
ajaib Roh Kudus, Yesus lahir sebagai manusia yang tidak berdosa.
114 Morris, The Gospel According to John, hal. 660.
B. YESUS TUMBUH DAN BERKEMBANG SEPERTI MANUSIA
NORMAL
Yesus berkembang secara normal sebagaimana halnya manusia.
Oleh karena itu dikatakan dalam Alkitab bahwa Ia "bertambah besar
Pribadi Kristus: Dua Sifat dan Watak Kristus 335
dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-
Nya" (Lukas 2:40), dan bahwa Ia "makin bertambah besar dan ber
tambah hikmat-Nya dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia"
(Lukas 2:52). Perkembangan fisik dan mental Kristus ini tidak dise
babkan karena sifat ilahi yang dimiliki-Nya, namun diakibatkan oleh
hukum-hukum pertumbuhan manusia yang normal. Bagaimanapun
juga, kenyataan bahwa Kristus tidak mempunyai tabiat duniawi dan
bahwa Ia menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang berdosa,
sudah pasti turut mempengaruhi perkembangan mental dan fisik-
Nya. Perkembangan mental Yesus bukanlah semata-mata hasil
pelajaran di sekolah-sekolah pada zaman itu (Yohanes 7:15), namun
harus dianggap sebagai hasil pendidikan-Nya dalam keluarga yang
saleh, kebiasaan-Nya untuk selalu hadir dalam rumah ibadah (Lukas
4:16), kunjungan-Nya ke Bait Allah (Lukas 2:41, 46), penelaahan
Alkitab yang dilakukan-Nya (Lukas 4:17), dan juga karena Ia
memakai ayat-ayat Alkitab saat menghadapi pencobaan, dan
karena persekutuan-Nya dengan Allah Bapa (Markus 1:35; Yohanes
4:32-34).
C. IA MEMILIKI UNSUR-UNSUR HAKIKI SIFAT MANUSIA
Bahwa Kristus memiliki tubuh jasmaniah jelas dari ayat-ayat yang
berbunyi, "mencurahkan minyak itu ke tubuh-Ku" (Matius 26:12);
"yang dimaksudkan-Nya dengan Bait Allah yaitu tubuh-Nya sen
diri" (Yohanes 2:21); "Ia juga menjadi sama dengan mereka dan
mendapatkan bagian dalam keadaan mereka [darah dan daging]"
(Ibrani 2:14); "namun Engkau telah menyediakan tubuh bagi-Ku"-
(Ibrani 10:5); "kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya
oleh persembahan tubuh Yesus Kristus" (Ibrani 10:10). Bahkan
setelah Ia dibangkitkan Ia mengatakan, "Rabalah Aku dan lihatlah,
karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu
lihat ada pada-Ku" (Lukas 24:39).
Bukan saja Kristus memiliki tubuh manusiawi yang fisik, Ia juga
memiliki unsur-unsur sifat manusiawi lainnya, seperti kecerdasan
dan sifat sukarela. Ia mampu berpikir dengan logis. Alkitab ber
bicara tentang Dia sebagai memiliki jiwa dan/atau roh (Matius
26:38; bandingkan dengan Markus 8:12; Yohanes 12:27; 13:21;
Markus 2:8; Lukas 23:46; dalam Alkitab bahasa Indonesia sering
diterjemahkan sebagai hati dan nyawa). saat mengatakan bahwa
336 Soteriologi
Ia mengambil sifat seperti kita, kita selalu harus membedakan antara
sifat manusiawi dan sifat yang berdosa; Yesus memiliki sifat
manusiawi, namun Ia tidak memiliki sifat yang berdosa.
D. IA MEMPUNYAI NAMA-NAMA MANUSIA
Ia memiliki banyak nama manusia. Nama "Yesus", yang berarti
"Juruselamat" (Matius 1:21), yaitu kata Yunani untuk nama
"Yosua" di Perjanjian Lama (bandingkan Kisah 7:45; Ibrani 4:8).
Ia disebut "anak Abraham" (Matius 1:1) dan "anak Daud". Nama
"anak Daud" sering kali muncul dalam Injil Matius (1:1; 9:27;
12:23; 15:22; 20:30, 31; 21:9, 15). Nama "Anak Manusia" ada
lebih dari 80 kali dalam Perjanjian Baru. Nama ini berkali-kali
dipakai untuk Nabi Yehezkiel (2:1; 3:1; 4:1, dan seterusnya), dan
sekali untuk Daniel (8:17). Nama ini dipakai saat bernubuat ten
tang Kristus dalam Daniel 7:13 (bandingkan Matius 16:28). Nama
ini dianggap oleh orang-orang Yahudi sebagai mengacu kepada
Mesias. Hal ini jelas dari kenyataan bahwa imam besar merobek
jubahnya saat Kristus menerapkan nubuat Daniel ini kepada diri-
Nya sendiri (Lukas 26:64, 65). Orang-orang Yahudi memahami
bahwa istilah ini menunjuk kepada Mesias (Yohanes 12:34), dan
menyebut Kristus itu Anak Manusia yaitu sama dengan menyebut
Dia Anak Allah (Lukas 22:69,70). Ungkapan ini bukan saja menun
jukkan bahwa Ia yaitu benar-benar manusia, namun bahwa Ia juga
yaitu wakil seluruh umat manusia (bandingkan Ibrani 2:6-9).
E. IA MEMILIKI BERBAGAI KELEMAHAN YANG TAK BER
DOSA DARI SIFAT MANUSIAWI
Oleh karena itu, Yesus pernah lelah (Yohanes 4:6), lapar (Matius
4:2; 21:18), haus (Yohanes 19:28); Ia pernah tidur (Matius 8:24;
bandingkan Mazmur 121:4); Ia dicobai (Ibrani 2:18; 4:15; banding
kan Yakobus 1:13); Ia mengharapkan kekuatan dari Bapa-Nya yang
di sorga (Markus 1:35; Yohanes 6:15; Ibrani 5:7); Ia mengadakan
mukjizat (Matius 12:28), mengajar (Kisah 1:2), dan mempersem
bahkan diri-Nya kepada Allah oleh Roh Kudus (Kisah 10:38; Ibrani
9:14). "Orang-orang Kristen memiliki seorang imam besar di sorga
dengan kemampuan yang tiada terhingga untuk merasa belas
kasihan terhadap mereka dalam semua bahaya, dukacita, dan pen-
Pribadi Kristus: Dua Sifat dan Watak Kristus 337
cobaan yang mereka alami dalam kehidupan, karena Ia sendiri
mengalami semuanya itu, karena Ia menjadi sama dengan
manusia."115 Kembali harus ditekankan bahwa menyebutkan
kelemahan-kelemahan dalam sifat Kristus tidaklah berarti
kelemahan-kelemahan yang berdosa.
115 Bruce, The Epistle to the Hebrews, hal. 85.
F. BERKALI-KALI IA DISEBUT SEBAGAI MANUSIA
Yesus menganggap diri-Nya sendiri manusia (Yohanes 8:40).
Yohanes Pembaptis (Yohanes 1:30), Petrus (Kisah 2:22), dan
Paulus (I Korintus 15:21, 47; Filipi 2:8; bandingkan Kisah 13:38)
menyebut-Nya manusia. Kristus benar-benar diakui sebagai
manusia (Yohanes 7:27; 9:29; 10:33), sehingga Ia dikenal sebagai
orang Yahudi (Yohanes 4:9); Ia dikira lebih tua dari usia sebenarnya
(Yohanes 8:57); dan Ia dituduh telah menghujat Allah karena berani
menyatakan bahwa diri-Nya lebih tinggi daripada manusia
(Yohanes 10:33). Bahkan setelah bangkit, Kristus nampak sebagai
manusia (Yohanes 20:15; 21:4,5). Lagi pula, sekarang ini Ia berada
di sorga sebagai manusia (I Timotius 2:5), akan datang kembali
(Matius 16:27, 28; 25:31; 26:64, 65), serta menghakimi dunia ini
dengan adil sebagai manusia (Kisah 17:31).
II. KEILAHIAN KRISTUS
Ayat-ayat Alkitab dan alasan-alasan yang telah kami kemukakan
saat membicarakan perihal Trinitas untuk membuktikan kesamaan
antara Kristus dengan Bapa, juga membuktikan kenyataan sifat
keilahian yang dimiliki Kristus setelah Ia menjelma menjadi
manusia.
Kristus memiliki sifat-sifat khas Allah; berbagai jabatan dan hak
istimewa ilahi dimiliki-Nya; hal-hal yang dikatakan dalam Perjan
jian Lama tentang Yehova telah dikatakan dalam Perjanjian Baru
mengenai Kristus; nama-nama ilahi diberikan kepada-Nya; Kristus
memelihara hubungan-hubungan tertentu dengan Allah yang mem
buktikan keilahian-Nya; Ia disembah sebagai Allah dan Ia tidak
338 Soteriologi
menolak pemujaan itu selama Ia hidup di muka bumi ini; Kristus
menyadari bahwa Ia yaitu Allah yang telah menjelma. Semuanya
ini merupakan rangkuman dari apa yang telah kita bahas dan
pelajari sebelumnya saat membicarakan Tritunggal.
III. KEDUA SIFAT KRISTUS
Pokok ini merupakan rahasia yang sangat dalam. Bagaimana mung
kin ada dua sifat di dalam satu orang? Sekalipun sulit untuk mema
hami konsep ini, Alkitab menganjurkan agar kita merenungkan
rahasia Allah ini, yaitu Kristus (Kolose 2:2, 3). Yesus sendiri
menyatakan bahwa pengenalan yang benar akan Dia hanya akan
diperoleh melalui penyataan ilahi (Matius 11:27). Mempelajari
pribadi Kristus sangatlah sulit karena kepribadian-Nya sangat unik;
tidak ada oknum lain yang sama dengan Dia sehingga kita tidak
dapat berargumentasi dari hal-hal yang sudah kita ketahui kepada
hal-hal yang belum kita ketahui.
A. BUKTI PERPADUAN KEDUA SIFAT ITU
Pertama-tama, kita harus menjelaskan beberapa salah paham. Per
paduan sifat ilahi dengan sifat manusiawi di dalam Kristus itu tidak
dapat dibandingkan dengan hubungan pernikahan, karena kedua
belah pihak dalam pernikahan tetap merupakan dua pribadi yang
berbeda walaupun sudah menikah. Demikian pula perpaduan kedua
sifat itu tidak sama seperti perhubungan orang-orang percaya de
ngan Kristus. Juga tidaklah tepat untuk beranggapan bahwa sifat
ilahi itu tinggal di dalam Kristus sebagaimana Kristus tinggal di
dalam orang percaya, karena itu berarti bahwa Yesus hanyalah
seorang manusia yang didiami oleh Allah dan Ia sendiri bukan
Allah. Gagasan yang mengatakan bahwa Kristus mempunyai
kepribadian rangkap tidaklah alkitabiah. Tidak disebutkan dalam
Alkitab bahwa Logos mengambil tempat pikiran dan roh manusiawi
di dalam Kristus, karena dalam hal demikian Kristus bersatu dengan
kemanusiaan yang tidak sempurna. Demikian pula kedua sifat itu
tidak bersatu untuk membentuk sifat yang ketiga, sebab dalam hal
itu Kristus bukanlah manusia sejati. Juga tidak dapat dikatakan
Pribadi Kristus: Dua Sifat dan Watak Kristus 339
bahwa Kristus secara berangsur-angsur menerima sifat ilahi, karena
dalam hal demikian keilahian-Nya bukanlah suatu kenyataan hakiki
sebab harus diterima secara sadar oleh kemanusiaan Kristus. Gereja
pada umumnya dengan tegas menyalahkan pandangan-pandangan
ini sebagai tidak alkitabiah dan karena itu tidak bisa diterima.
Bila pengertian-pengertian di atas itu salah semua, bagaimanakah
kita dapat menerangkan perpaduan kedua sifat ini di dalam
Kristus sehingga menghasilkan satu pribadi, namun dengan dua
kesadaran dan dua kehendak? Sekalipun ada dua sifat, namun ada
satu pribadi saja. Dan sekalipun ciri-ciri khas dari sifat yang satu
tidak dapat dikatakan merupakan ciri khas dari sifat lainnya, namun
kedua sifat itu berada dalam satu Oknum, yaitu Kristus. Tidaklah
tepat untuk mengatakan bahwa Kristus yaitu Yang Ilahi yang
memiliki sifat manusiawi, atau bahwa Ia yaitu manusia yang
didiami oleh Yang Ilahi. Dalam hal yang pertama, maka sifat
manusiawi tidak akan memperoleh tempat dan peranan yang semes
tinya, dan dalam hal yang kedua sifat ilahi itulah yang tak akan
memperoleh tempat dan peranan yang semestinya. Oknum kedua
dari Tritunggal Allah menerima keadaan manusia dengan semua
ciri khasnya. Dengan demikian kepribadian Kristus berdiam di
dalam sifat ilahi-Nya, karena Allah Anak tidak bersatu dengan
seorang manusia namun dengan sifat manusia. Terpisah dari penjel
maan sifat manusiawi Kristus tak bersifat pribadi; akan namun hal
ini tidak benar tentang sifat ilahi-Nya. Begitu sempurnanya
penyatuan menjadi satu pribadi ini sehingga, sebagaimana dikatakan
oleh Walvoord, "Kristus pada saat yang sama memiliki sifat-sifat
yang nampaknya bertolak belakang. Ia bisa lemah dan mahakuasa,
bertambah dalam pengetahuan namun mahatahu, terbatas dan tidak
terbatas,"116 dan kita dapat menambahkan, Ia bisa berada di satu
tempat namun Ia mahahadir.
116 Walvoord, Jesus Christ Our Lord, hal. 116.
Yesus berbicara tentang diri-Nya sebagai satu pribadi yang utuh
dan tunggal; Ia samasekali tidak menunjukkan adanya gejala-gejala
keterbelahan kepribadian. Selanjutnya, orang-orang yang berhu
bungan dengan Dia menganggap Dia sebagai seorang dengan
kepribadian yang tunggal dan tidak terbelah. Bagaimana dengan
kesadaran diri-Nya? Jelaslah bahwa dalam kesadaran diri yang ilahi
Yesus senantiasa sadar akan keilahian-Nya. Kesadaran diri yang
340 Soteriologi
ilahi itu senantiasa beroperasi penuh, bahkan pada masa kanak-
kanak. "Namun ada bukti bahwa dengan berkembangnya sifat
manusiawi maka kesadaran diri yang manusiawi itu mulai aktif."117
Kadang-kadang Ia akan bertindak dari kesadaran diri yang
manusiawi, dan pada saat-saat lain Ia bertindak dari kesadaran diri
yang ilahi, namun keduanya itu tidak pernah bertentangan.
117 Walvoord, Jesus Christ Our Lord, hal. 118.
Hal yang sama dapat dikatakan mengenai kehendak-Nya. Pasti
lah, kehendak manusiawi ingin menjauhi salib (Matius 26:39), dan
kehendak yang ilahi ingin menjauhkan diri dari hal dijadikan dosa
(II Korintus 5:21). Dalam kehidupan-Nya, Yesus berkehendak un
tuk melakukan kehendak Bapa-Nya yang di sorga (Ibrani 10:7, 9).
Hal ini dilaksanakan-Nya sepenuhnya.
B. SIFAT PERPADUAN KEDUA SIFAT ITU
Maka jika kedua sifat Kristus itu terbaur secara sempurna di dalam
satu pribadi, lalu bagaimanakah sifat pembauran itu? Sebagian besar
jawaban untuk pertanyaan ini telah disinggung dalam uraian
sebelumnya. Tidak mungkin kami memberikan analisis kejiwaan
yang tepat tentang kepribadian unik Kristus sekalipun Alkitab mem
berikan sedikit petunjuk.
1. Perpaduan itu tidak bersifat teantropik. Diri Kristus yaitu
teantropik (artinya mempunyai sifat ilahi dan sifat manusiawi),
namun sifat-Nya tidak. Maksudnya, seseorang dapat berbicara ten
tang Allah-manusia bila ingin mengacu kepada diri Kristus; akan
namun , kita tidak dapat berbicara tentang sifat ilahi-manusiawi,
melainkan kita harus berbicara tentang adanya sifat ilahi dan sifat
manusiawi di dalam Kristus. Hal ini jelas dari kenyataan bahwa
Kristus memiliki pengertian dan kehendak yang tak terbatas dan
juga memiliki pengertian dan kehendak yang terbatas; Ia memiliki
kesadaran ilahi dan kesadaran manusiawi. Kecerdasan ilahi-Nya
tidak terbatas; kecerdasan manusiawi-Nya makin bertambah.
Kehendak ilahi-Nya yaitu mahakuasa; kehendak manusiawi-Nya
hanya terbatas pada kemampuan manusia yang belum jatuh dalam
dosa. Dalam kesadaran ilahi-Nya Ia dapat berkata, "Aku dan Bapa
yaitu satu" (Yohanes 10:30); dalam kesadaran manusiawi-Nya Ia
Pribadi Kristus: Dua Sifat dan Watak Kristus 341
dapat berkata, "Aku haus" (Yohanes 19:28). Namun harus ditekan
kan bahwa Kristus tetap Allah-manusia.
2. Perpaduan itu bersifat pribadi. Perpaduan kedua sifat di dalam
Kristus disebut perpaduan hipostatis. Maksudnya, kedua sifat atau
hakikat itu merupakan satu cara berada yang pribadi. Karena Kristus
tidak bersatu dengan diri manusia, namun dengan sifat manusia,
maka kepribadian Kristus bertempat dalam sifat ilahi-Nya.
3. Perpaduan itu meliputi berbagai sifat dan perbuatan manu
siawi dan ilahi. Baik sifat dan perbuatan yang manusiawi maupun
yang ilahi dapat dilakukan oleh Sang Allah-manusia tanpa kecuali.
Demikianlah berbagai sifat dan ciri khas manusia dihubungkan de
ngan Kristus di bawah gelar-gelar yang ilahi, "Ia akan menjadi besar
dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi" (Lukas 1:32); "me
reka tidak akan menyalibkan Tuhan yang mulia" (I Korintus 2:8);
"jemaat Allah yang diperoleh-Nya dengan darah Anak-Nya sendiri"
(Kisah 20:28). Dari ayat-ayat ini kita melihat bahwa Allah
telah lahir dan Allah telah mati. Ada juga ayat-ayat yang menyebut
berbagai ciri khas dan sifat ilahi serta menghubungkannya dengan
Kristus di bawah nama-nama manusiawi-Nya, "Dia yang telah turun
dari sorga, yaitu Anak Manusia" (Yohanes 3:13); "dan bagaimana
kah, jikalau kamu melihat Anak Manusia naik ke tempat di mana
Ia sebelumnya berada?" (Yohanes 6:62); "Mesias dalam keadaan-
Nya sebagai manusia, yang ada di atas segala sesuatu. Ia yaitu
Allah yang harus dipuji sampai selama-lamanya" (Roma 9:5); Kris
tus yang mati itu yaitu Kristus yang "memenuhi semua dan segala
sesuatu" (Efesus 1:23; bandingkan Matius 28:20); Dialah yang telah
ditentukan oleh Allah untuk menghakimi dunia (Kisah 17:31; ban
dingkan Matius 25:31, 32).
4. Perpaduan ini menjamin kehadiran yang tetap dari
keilahian dan kemanusiaan Kristus. Kemanusiaan Kristus hadir ber
sama dengan keilahian-Nya di setiap tempat. Kenyataan ini menam
bah keindahan kenyataan bahwa Kristus ada di dalam umat-Nya.
Ia hadir dalam keilahian-Nya, dan melalui perpaduan kemanusiaan-
Nya dengan keilahian-Nya, maka Ia juga hadir dalam kemanusiaan-
Nya.
342 Soteriologi
IV. WATAK KRISTUS
Sebagaimana telah dikatakan sebelumnya, salah satu tujuan penjel
maan ialah agar Kristus menjadi teladan bagi kita (Matius 11:29;
I Petrus 2:21; I Yohanes 2:6). Oleh karena itu sangat penting untuk
mempelajari watak Kristus agar dapat mengetahui patokan idaman
dari kehidupan Kristen. Memandang kepada Oknum yang luar biasa
ini akan membuat kita berkata seperti Yesaya, "Celakalah aku! Aku
binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di
tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat
Sang Raja, yakni Tuhan semesta alam" (Yesaya 6:5). Yohanes me
ngatakan, "Hal ini dikatakan oleh Yesaya, karena ia telah melihat
kemuliaan-Nya dan telah berkata-kata tentang Dia" (Yohanes
12:41). Petrus memberikan tanggapan yang mirip dengan Yesaya
saat ia mengatakan, 'Tuhan, pergilah daripadaku, karena aku ini
seorang berdosa" (Lukas 5:8). Apakah yang begitu unik pada Kris
tus sehingga membuat Yesaya dan Petrus bereaksi seperti itu?
A. IA MAHAKUDUS
Kristus yaitu "anak yang . . . disebut kudus" (Lukas 1:35), "Yang
Kudus dan Benar" (Kisah 3:14), "Hamba-Mu yang Kudus" (Kisah
4:27). Sifat-Nya kudus, oleh karena itu penguasa dunia tidak ber
kuasa sedikit pun atas diri-Nya (Yohanes 14:30), dan Ia "tidak ber
buat dosa" (Ibrani 4:15). Perilaku-Nya kudus juga karena Ia terpisah
dari orang-orang berdosa (Ibrani 7:26). Ia selalu melakukan hal-hal
yang menyenangkan Bapa-Nya yang di sorga (Yohanes 8:29). Ia
"tidak berbuat dosa dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya. saat Ia
dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; saat Ia
menderita, Ia tidak mengancam, namun Ia menyerahkannya kepada
Dia yang menghakimi dengan adil" (I Petrus 2:22, 23). Tidak ada
seorang pun yang menjawab tantangan-Nya saat Ia mengatakan,
"Siapakah di antaramu yang membuktikan bahwa Aku berbuat
dosa?" (Yohanes 8:46). Namun "sama dengan kita, Ia telah dicobai"
(Ibrani 4:15).
Kita harus menjadi kudus karena Dia kudus adanya (I Petrus
1:16). Walaupun kita telah jatuh dan hidup kita samasekali tidak
serupa dengan Kristus, tak ada alasan bagi kita untuk memiliki ideal
yang lebih rendah daripada yang telah ditetapkan oleh Alkitab. Bila
kita dengan wajah yang tidak berselubung memandang "kemuliaan
Pribadi Kristus: Dua Sifat dan Watak Kristus 343
Tuhan . . . maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya,
dalam kemuliaan yang semakin besar" (II Korintus 3:18; banding
kan Mazmur 34:6). Kristus merupakan teladan kesempurnaan yang
tak berdosa bagi kita, dan kesempurnaan yang dimiliki Kristus itu
sempurna. Ia telah menunjukkan kepada kita bagaimana hidup
kudus.
B. KASIHNYA TULUS
Paulus mengatakan bahwa "kasih Kristus . . . melampaui segala
pengetahuan" (Efesus 3:19). Pertama-tama, kasih Kristus ditujukan
kepada Bapa-Nya di sorga (Yohanes 14:31). Kasih Kristus juga
ditujukan kepada Alkitab, dalam hal ini Perjanjian Lama. Kristus
menerima Perjanjian Lama sebagai catatan yang benar dan jujur
mengenai berbagai peristiwa dan doktrin yang dibahas di dalamnya
(Matius 5:17, 18). Ia memakai Alkitab saat Ia dicobai (Matius
4:4, 7, 10); Ia menjelaskan beberapa nubuat yang ada dalam
Perjanjian Lama sebagai nubuat yang menunjuk kepada diri-Nya
(Lukas 4:16-21; 24:44,45); dan Ia menyatakan bahwa Alkitab tidak
dapat dibatalkan (Yohanes 10:35).
Kasih Kristus juga ditujukan kepada manusia, manusia pada
umumnya. saat Yesus melihat pemimpin muda yang kaya itu,
Yesus mengasihinya (Markus 10:21). Kristus juga dituduh sebagai
"sahabat pemungut cukai dan orang berdosa" (Matius 11:19). Ia
begitu mengasihi orang-orang yang tersesat sehingga Ia bersedia
mati karena mereka (Yohanes 10:11; 15:13; Roma 5:8). Secara
lebih khusus lagi, Kristus mengasihi umat-Nya sendiri. Yohanes
pernah berkata, "Dia yang mengasihi kita dan yang telah melepas
kan kita dari dosa kita oleh darah-Nya" (Wahyu 1:5). Ia mengasihi
murid-murid-Nya sampai pada kesudahannya (Yohanes 13:1); Ia
sangat mengasihi mereka seperti Allah Bapa sangat mengasihi Dia
(Yohanes 15:9); Ia mengasihi umat-Nya sedemikian rupa sehingga
Ia rela mengorbankan nyawa-Nya untuk mereka (Efesus 5:2, 25);
dan Ia begitu mengasihi mereka sehingga tidak ada sesuatu pun
yang dapat memisahkan mereka dari kasih-Nya (Roma 8:37-39).
C. IA SUNGGUH-SUNGGUH RENDAH HATI
Hal ini secara khusus dilihat saat Ia sendiri merendahkan diri.
Sekalipun setara dengan Allah, dengan rela Ia mengosongkan diri
344 Soteriologi
Nya, mengambil rupa seorang hamba, menjadi sama dengan ma
nusia, dan terus merendahkan diri-Nya sampai mati secara hina di
kayu salib (Filipi 2:5-8). Kerendahan hati-Nya juga nampak dalam
perilaku-Nya saat hidup di bumi. Ia yang kaya, demi kita rela
menjadi miskin (II Korintus 8:9). Ia lahir dalam sebuah kandang,
karena tidak ada tempat bagi-Nya di rumah penginapan (Lukas 2:7);
Ia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya saat Ia
berkeliling untuk mengajar dan menyembuhkan orang (Lukas 9:58),
sehingga beberapa wanita yang telah disembuhkan-Nya dari
kelemahan mereka dan dari kerasukan setan, membantu Dia dengan
kekayaan mereka (Lukas 8:2, 3); Ia menyuruh Petrus menangkap
ikan untuk mendapatkan uang yang diperlukan oleh-Nya dan Petrus
untuk membayar pajak Bait Allah (Matius 17:27); Ia dikubur di
kuburan pinjaman (Matius 27:59, 60). Lagi pula, Ia bergaul dengan
orang-orang yang rendah. Ia disebut sahabat pemungut cukai dan
orang berdosa (Matius 11:19; bandingkan Lukas 15:2). Ia dengan
senang hati membiarkan diri-Nya diminyaki oleh seorang perem
puan yang berdosa (Lukas 7:37, 38) dan bahkan mengampuni dosa-
dosanya (ayat 47, 48). Sesungguhnya, murid-murid-Nya yang per
tama semuanya berasal dari golongan rendah namun kepada
merekalah Ia menyatakan rahasia-rahasia kerajaan Allah (Matius
13:11, 16, 17). Di samping itu, Ia melakukan pekerjaan yang paling
kasar. Ia "datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani
dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak
orang" (Matius 20:28). Ia mencuci kaki para murid (Yohanes
13:14). Sekalipun Ia yaitu pemimpin murid-murid-Nya (Matius
23:10; Yohanes 13:14), Ia sungguh-sungguh ingin dikenal sebagai
sahabat mereka (Yohanes 15:13-15).
D. IA LEMAH LEMBUT
Ia sendiri mengatakan, "Aku lemah lembut dan rendah hati" (Matius
11:29). Paulus menasihatkan jemaat di Korintus "demi Kristus yang
lemah lembut dan ramah" (II Korintus 10:1). Kelemahlembutan-
Nya nampak saat Ia tidak memutuskan buluh yang patah terkulai
dan tidak memadamkan sumbu yang pudar nyalanya (Matius 12:20;
lihat juga Yesaya 42:3). Contoh-contoh kelemahlembutan-Nya
dapat dilihat saat Ia dengan lemah lembut menghadapi orang ber
dosa yang bertobat (Lukas 7:37-39; 48-50), menyesuaikan diri de
Pribadi Kristus: Dua Sifat dan Watak Kristus 345
ngan Tomas yang ragu-ragu (Yohanes 20:29), dan sikap-Nya yang
lemah lembut terhadap Petrus yang telah menyangkal-Nya tiga kali
(Lukas 22:61; Yohanes 21:15-23). Mungkin kelemahlembutan Kris
tus terlihat dengan lebih jelas lagi saat Ia menghadapi Yudas Is
kariot, pengkhianat itu (Matius 26:50; Yohanes 13:21), dan meng
hadapi orang-orang yang menyalibkan Dia (Lukas 23:34). Ia tidak
bertengkar, tidak berteriak, dan juga tidak memperdengarkan suara-
Nya di jalan (Matius 12:19; lihat Yesaya 42:2). Demikian pula,
seorang hamba Tuhan "tidak boleh bertengkar, namun harus ramah
terhadap semua orang. Ia harus cakap mengajar, sabar dan dengan
lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan" (II
Timotius 2:24, 25).
E. IA TENANG DALAM SEGALA KEADAAN
Kristus tenang tanpa menjadi pemurung, penuh sukacita namun
bukan periang yang berlebihan. Ia menghadapi kehidupan secara
serius. Yesaya berkata tentang hidup-Nya sebagai berikut, "Ia dihina
dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang
biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup
mukanya terhadap dia, dan bagi kita pun dia tidak masuk hitungan.
namun sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya dan
kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena
tulah, dipukul dan ditindas Allah" (Yesaya 53:3, 4; lihat juga Maz
mur 69:10; Roma 15:3; Ibrani 2:10). Di samping keadaan yang
penuh sengsara itu, Yesus penuh sukacita. "Semuanya itu
Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan
sukacitamu menjadi penuh" (Yohanes 15:11), dan Aku mengatakan
semuanya ini sementara Aku masih ada di dalam dunia, supaya
penuhlah sukacita-Ku di dalam diri mereka" (Yohanes 17:13). Kita
memang tidak pernah membaca bahwa Yesus tertawa, walaupun
saat mengajar sesekali Ia menyelipkan juga hal-hal yang lucu dan
menggelikan (Matius 19:24; 23:24; Lukas 7:31-35). Jelaslah Yesus
menangis (Lukas 19:41; Yohanes 11:35). Ia merasa sedih karena
orang-orang yang menolak keselamatan yang diberikan-Nya dengan
cuma-cuma (Matius 23:37; Yohanes 5:40). Ia menanggung segala
kesusahan dan penderitaan kita sehingga nampak lebih tua daripada
umur sesungguh-Nya secara jasmaniah (Yohanes 8:57). Sukacita
yang dimiliki-Nya lebih banyak merupakan sukacita karena peng-
346 Soteriologi
harapan (Ibrani 12:2; bandingkan dengan Yesaya 53:11), yaitu
sukacita melihat banyak jiwa diselamatkan dan tinggal bersama-
sama dengan Dia dalam kemuliaan.
F. IA SELALU BERDOA
Yesus sering kali berdoa. Lukas menyebutkan sebelas peristiwa
saat Yesus berdoa. Ia sering kali berdoa di hadapan murid-murid-
Nya, namun tidak pernah dikatakan bahwa Ia berdoa bersama
mereka. Ia berdoa berlama-lama, kadang-kadang sepanjang malam
(Matius 14:23; Lukas 6:12). Kali lain ia bangun pagi-pagi sekali
dan mencari tempat yang sunyi untuk berdoa (Markus 1:35). Ia
berdoa sebelum melaksanakan tugas-tugas yang besar: sebelum
mengadakan perjalanan pelayanan di Galilea (Markus 1:35-38), la
berdoa sebelum memilih dua belas murid (Lukas 6:12, 13), dan Ia
berdoa sebelum pergi ke Golgota (Matius 26:38-46). Ia juga berdoa
setelah mencapai keberhasilan yang besar (Yohanes 6:15). Mes
kipun Ia berdoa untuk diri-Nya sendiri, Ia tidak pernah lupa berdoa
juga untuk orang-orang yang dikasihi-Nya (Lukas 22:32; Yohanes
17). Ia berdoa dengan sungguh-sungguh (Lukas 22:44; Ibrani 5:7),
dengan sangat tekun (Matius 26:44), dengan iman (Yohanes 11:41,
42), serta dengan sikap patuh (Matius 26:39). Penulis surat Ibrani
mengatakan, "Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah memper
sembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan
kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan
karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan" (Ibrani 5:7). Bila Anak
Allah perlu berdoa, betapa lebih lagi kita perlu menghampiri hadirat
Allah dalam doa!
G. IA BEKERJA TAK HENTI-HENTINYA
Yesus mengatakan, "Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku
pun bekerja juga" (Yohanes 5:17), dan "kita harus mengerjakan
pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang
malam, di mana tidak ada seorang pun yang dapat bekerja"
(Yohanes 9:4). Ia mulai pagi-pagi sekali (Markus 1:35; Yohanes
8:2) dan bekerja terus sampai jauh malam (Matius 8:16; Lukas 6:12;
Yohanes 3:2). Sangat menarik untuk mengikuti Dia sepanjang hari
yang biasanya penuh dengan berbagai kesibukan (Matius 12:22-
Pribadi Kristus: Dua Sifat dan Watak Kristus 347
13:53; Markus 3:20-4:41). Ia sampai lupa makan (Yohanes 4:31-
34), lupa beristirahat (Markus 6:31) dan bahkan lupa penderitaan-
Nya sendiri bila ada kesempatan untuk menolong jiwa yang memer
lukan pertolongan (Lukas 23:41-43). Pekerjaan-Nya terdiri atas
mengajar, (Matius 5-7), berkhotbah (Markus 1:38, 39), mengusir
setan (Markus 5:12, 13), menyembuhkan orang sakit (Matius 8, 9),
menyelamatkan yang hilang (Lukas 7:48; 19:9), membangkitkan
orang mati (Matius 9:25; Lukas 7:14; Yohanes 11:43), memanggil
serta melatih pekerja-pekerja (Matius 10; Lukas 10). Sebagai peker
ja, Ia terkenal karena keberanian-Nya (Yohanes 2:14-17; 3:3; 19:10,
11), ketelitian-Nya (Matius 14:36; Yohanes 7:23), sifat tidak pilih
kasih-Nya (Matius 11:19), serta kebijaksanaan-Nya (Markus 12:34;
Yohanes 4:7-30).
XXV
Karya Kristus: Kematian-Nya
Karya Kristus secara khusus merujuk kepada kematian, kebangkit
an, kenaikan, dan pemuliaan Kristus. Keempat peristiwa ini akan
kami bahas berdasarkan urutan kejadiannya. Pertama, kita akan
membicarakan kematian Tuhan kita. Kematian Kristus dianggap
sebagai "karya" yang dilakukan-Nya karena kematian itu tidaklah
menimpa diri-Nya secara tak terelakkan atau tanpa disadari,
melainkan merupakan akibat suatu keputusan yang tegas, suatu
pilihan yang diambil-Nya saat Ia dapat menolaknya. Kematian
Kristus juga merupakan suatu "karya" karena apa yang dicapai-Nya
bagi orang-orang yang mendapat keuntungan dari kematian terse
but. Pemakaian istilah "karya" jelas dapat dibenarkan oleh penger
tian alkitabiah tentang tujuan dan makna kematian Kristus.
I. PENTINGNYA KEMATIAN KRISTUS
Berbeda dengan kenyataan yang dialami manusia biasa, maka justru
kematian Kristus dan bukan kehidupan-Nya yang sangat penting.
Hal ini jelas berdasarkan banyak pertimbangan.
A. KEMATIAN KRISTUS SUDAH DINUBUATKAN DALAM PER
JANJIAN LAMA
Kematian Kristus merupakan pokok banyak lambang dan nubuat
dalam Perjanjian Lama. Kita dapat merunut benang merah sepan
jang seluruh Alkitab: persembahan Habel (Kejadian 4:4), domba
349
350 Soteriologi
jantan di Gunung Moria (Kejadian 22:13), kurban yang dipersem
bahkan oleh para leluhur Israel pada umumnya (Kejadian 8:20;
12:8; 26:25; 33:20; 35:7), domba Paskah di Mesir (Keluaran
12:1-28), kurban-kurban dalam sistem Keimaman Lewi (Imamat
1-7), persembahan Manoah (Hakim-Hakim 13:16-19), persembahan
tahunan Elkana (I Samuel 1:21), persembahan kurban Samuel
(I Samuel 7:9, 10; 16:2-5), persembahan kurban Daud (II Samuel
6:18), persembahan Elia (I Raja-Raja 18:38), persembahan Hizkia
(II Tawarikh 29:21-24), persembahan-persembahan pada zaman
Yosua dan Zerubabel (Ezra 3:3-6), dan Nehemia (10:32, 33). Semua
persembahan ini menunjuk kepada satu persembahan akbar yang
dipersembahkan oleh Kristus.
Selanjutnya, ada nubuat-nubuat yang menunjuk ke depan
kepada kematian Kristus. Kitab Mazmur bernubuat tentang
pengkhianatan terhadap Kristus (Mazmur 41:10; bandingkan dengan
Yohanes 13:18; Kisah 1:16) penyaliban dan peristiwa-peristiwa
yang berkaitan dengannya (Mazmur 22:2, 8, 9; bandingkan dengan
Matius 27:39-40, 46; Markus 15:34; Yohanes 19:23, 24), serta
kebangkitan (Mazmur 16:8-11; bandingkan dengan Kisah 2:25-28).
Yesaya menulis, 'namun dia tertikam oleh karena pemberontakan
kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita" (53:5). Daniel
menunjukkan bahwa setelah enam puluh dua minggu Mesias akan
disingkirkan dan tidak memiliki apa-apa (9:26). Zakharia menubuat
kan penjualan Kristus seharga tiga puluh uang perak serta investasi
uang untuk tanah tukang periuk (11:12, 13; bandingkan Matius
26:15; 27:9, 10). Zakharia juga menubuatkan pembunuhan gembala
(13:7) serta terbukanya sumber bagi pembasuhan dosa dan
kecemaran (13:1). Jadi, jelaslah bahwa kematian Kristus merupakan
bagian yang penting dari ajaran Perjanjian Lama.
B. KEMATIAN KRISTUS MERUPAKAN AJARAN YANG MENON
JOL DALAM PERJANJIAN BARU
Masa minggu terakhir sebelum kematian Tuhan kita mengisi seper
lima bagian dari kisah yang diceritakan dalam keempat Injil.
Demikian pula Surat-Surat Kiriman penuh dengan peristiwa yang
bersejarah ini. Jelas sekali, kematian dan kebangkitan Tuhan kita
dianggap paling penting oleh Roh Kudus, pengarang Alkitab.
Karya Kristus: Kematian-Nya 351
C. KEMATIAN KRISTUS MERUPAKAN TUJUAN UTAMA PEN
JELMAAN
Sebagaimana telah dikatakan sebelumnya, Kristus tidak datang
untuk menjadi teladan bagi kita atau untuk mengajar doktrin kepada
kita, namun untuk mati bagi kita (Markus 10:45; Ibrani 2:9; 9:26;
I Yohanes 3:5). Kematian Kristus bukanlah suatu kecelakaan atau
suatu pikiran yang timbul kemudian, namun merupakan pelaksanaan
suatu tujuan tertentu yang berhubungan dengan penjelmaan. Pen
jelmaan bukanlah merupakan tujuan; penjelmaan merupakan suatu
sarana untuk mencapai tujuan tertentu, dan tujuan ini ialah
penebusan orang yang hilang lewat kematian Tuhan di kayu salib.
D. KEMATIAN KRISTUS MERUPAKAN TEMA POKOK INJIL
Istilah "injil" berarti "kabar baik". Seiring dengan itu, istilah ini
dipakai dalam berbagai cara. Keempat kisah kehidupan Kristus dise
but Injil: Semua penyataan Allah kepada makhluk-makhluk ciptaan
Allah disebut Injil; dan secara lebih sempit lagi istilah "injil" dipakai
untuk "kabar baik" keselamatan yang tersedia. Paulus mengatakan
bahwa Injil ialah kematian Kristus karena semua dosa kita, pengu-
buran-Nya, dan kebangkitan-Nya (I Korintus 15:1-5). Kematian
Kristus karena dosa umat manusia yaitu kabar yang baik; secara
tidak langsung hal ini mengatakan bahwa manusia tidak perlu mati
karena dosanya. Hukum Taurat Musa, Khotbah di Bukit, ajaran dan
teladan Kristus, semuanya menunjukkan kepada dosa kita dan
menyatakan bahwa kita membutuhkan seorang juruselamat, namun
semuanya tidak dapat menghapus dosa manusia. Penghapus dosa
itu hanya ditemukan dalam kematian Kristus.
E. KEMATIAN KRISTUS PERLU SEKALI BAGI KEKRISTENAN
Agama-agama lain melandaskan keberadaan mereka sebagai agama
pada ajaran-ajaran pendiri mereka: Kekristenan berbeda dari
semuanya itu karena melandaskan keberadaannya pada kematian
Pendirinya. Meniadakan kematian Kristus sebagaimana itu ditafsir
kan oleh Alkitab, berarti merendahkan kekristenan ke tingkat
agama-agama etnis. Sekalipun kita tetap memiliki sistem etika yang
lebih tinggi, tanpa kematian Kristus di dalam kekristenan juga tidak
ada keselamatan sebagaimana halnya agama-agama yang lain.
352 Soteriologi
Singkirkan Salib Kristus, maka hilanglah inti Kekristenan. Pokok
utama khotbah para rasul ialah Kristus, yaitu Dia yang disalibkan
(I Korintus 1:18, 23; 2:2; Galatia 6:14).
F. KEMATIAN KRISTUS PERLU SEKALI UNTUK KESELAMAT
AN KITA
Anak Manusia harus ditinggikan jika manusia hendak diselamat
kan (Yohanes 3:14, 15); butir gandum itu harus jatuh ke tanah dan
mati dahulu sebelum dapat menghasilkan buah yang banyak (Yo
hanes 12:24). Allah tidak mungkin mengampuni dosa hanya ber
dasarkan pertobatan manusia. Tindakan semacam itu tidak mungkin
dilakukan oleh Allah yang benar. Allah hanya dapat mengampuni
kalau hukumannya telah dijalani. Agar Tuhan dapat mengampuni
manusia yang berdosa dan pada saat yang sama tetap benar, maka
Kristus menjalani hukuman orang berdosa (Roma 3:25, 26). Kristus
berkali-kali mengatakan bahwa Ia harus menanggung banyak pen
deritaan, dibunuh, dan dibangkitkan kembali pada hari yang ketiga
(Matius 16:21; Markus 8:31; Lukas 9:22; 17:25; Yohanes 12:32-
34). Dua orang muda yang berada di dalam kubur Yesus setelah Ia
bangkit mengingatkan para perempuan yang datang untuk tubuh
Yesus bahwa Yesus harus disalibkan dan dibangkitkan
kembali (Lukas 24:7). Paulus berusaha membuktikan kepada jemaat
di Tesalonika betapa pentingnya kematian Kristus (Kisah 17:3).
Dari sudut pandangan Allah, kematian Kristus merupakan suatu
keperluan mutlak jika manusia hendak diselamatkan.
G. KEMATIAN KRISTUS SANGAT PENTING DI SORGA
saat Musa dan Elia menampakkan diri di Gunung Pemuliaan,
mereka berbicara dengan Kristus "tentang tujuan kepergian-Nya
yang akan digenapi-Nya di Yerusalem" (Lukas 9:31). Keempat
makhluk dan kedua puluh empat tua-tua menyanyikan suatu nya
nyian mengenai penebusan yang dilaksanakan oleh kematian Kris
tus (Wahyu 5:8-10). Bahkan para malaikat di keliling takhta sorga,
sekalipun mereka sendiri tidak perlu ditebus, ikut menyanyikan
nyanyian tentang Anak Domba yang disembelih (Wahyu 5:11, 12).
Karena mereka yang matanya tidak lagi diselubungi keterbatasan
manusia dan telah memahami kebenaran-kebenaran yang lebih men-
Karya Kristus: Kematian-Nya 353
dalam tentang penebusan lewat darah Kristus, memuji kematian
Kristus di atas segala sesuatu, maka kita yang masih berada di
dalam daging hendaknya menyelidiki makna yang sesungguhnya
dari kematian Kristus.
II. BERBAGAI TAFSIRAN SALAH TENTANG
KEMATIAN KRISTUS
Agar dapat memperoleh pengertian yang lebih jelas mengenai
ajaran Alkitab tentang kematian Kristus, bermanfaat kiranya bila
kita meneliti dahulu berbagai pandangan salah yang telah
dikemukakan tentang kebenaran ini. Sering kali pokok ini telah
dipelajari dengan prasangka dan sikap filosofis tertentu sehingga
menghasilkan ajaran yang tidak alkitabiah tentang pendamaian.
A. TEORI KEBETULAN
Pandangan ini tidak melihat ada sesuatu yang istimewa dalam
kematian Kristus. Kristus dianggap seorang manusia, dan sebagai
manusia dengan sendirinya Ia harus mati. Prinsip-prinsip dan
metode yang diajarkan Yesus tidak menarik bagi orang-orang pada
zaman itu sehingga akhirnya mereka membunuh Dia. Memang patut
disayangkan bahwa orang yang sebaik Dia harus dibunuh, namun
bagaimanapun juga kematian-Nya tidak berarti apa-apa bagi orang
lain. Ini menerima pendekatan yang humanistik yang umum.
Akan namun , kematian Kristus bukan suatu peristiwa kebetulan.
Kematian Kristus dengan jelas telah dinubuatkan dalam Perjanjian
Lama (Mazmur 22; Yesaya 53; Zakharia 11). Kristus berkali-kali
mengatakan bahwa Ia akan mati karena kekerasan (Matius 16:21;
17:22, 23; 20:18, 19; Markus 9:31; Lukas 9:44; 22:21, 22; Yohanes
12:32, 33; 15:20). Kristus datang dengan tujuan yang nyata, yaitu
mati untuk kita, karena itu kematian-Nya bukanlah suatu peristiwa
kebetulan.
B. TEORI MATI SYAHID
Teori ini, yang juga dikenal sebagai Teori Teladan, beranggapan
bahwa kematian Kristus merupakan kematian seorang syahid. Ia
354 Soteriologi
telah dibunuh karena Ia setia kepada prinsip-prinsip hidup-Nya dan
kepada apa yang dianggap-Nya sebagai tugas yang harus dilak
sanakan. Ia dibunuh oleh orang-orang yang tidak sependapat dengan
Dia mengenai prinsip-prinsip itu. Dia yaitu teladan kesetiaan
kepada kebenaran dan kepada tugas. Teori ini menganggap bahwa
satu-satunya hal yang perlu untuk menyelamatkan manusia ialah
mengubah dan memperbaiki manusia itu sendiri. Teladan Kristus
yaitu untuk mengajarkan manusia agar bertobat dari dosanya dan
memperbaiki dirinya.
Namun, teori ini (1) mengabaikan gagasan pokok tentang pen
damaian yang harus dibuat dengan Allah (Keluaran 12:13, 23;
Roma 3:24, 25; Ibrani 2:17; 9:11-14; I Yohanes 2:2; 4:10); (2) men
jadikan teladan Kristus cukup untuk menyelamatkan manusia,
padahal Kristus hanya menjadi teladan bagi orang-orang yang per
caya kepada-Nya (Matius 11:29; I Petrus 2:21, 24; I Yohanes 2:6);
(3) secara logis pandangan ini membelokkan semua ajaran pokok
dalam Alkitab, seperti pengilhaman Alkitab, dosa, Ketuhanan Kris
tus, pembenaran, pembaharuan, dan hukuman kekal; dan (4) tidak
sanggup menerangkan secara memadai apa yang dialami Kristus di
taman Getsemani dan di salib, yang samasekali tidak sesuai dengan
sikap seorang syahid (Matius 26:37, 39; 27:46; Yohanes 12:27; ban
dingkan sikap Paulus saat menderita, Filipi 1:20-23, dan sikap
Stefanus, Kisah 7:55-60). Sekalipun anggapan bahwa kematian
Kristus menjadi teladan bagi kita sanggup membawa perbaikan-per
baikan moral dalam kehidupan manusia, namun kematian yang
dianggap teladan itu tidak dapat mengadakan pendamaian untuk
dosa-dosa yang telah diperbuat seseorang, dan juga tidak bisa
menyelamatkan seorang yang berdosa (Yohanes 6:53; Kisah 20:28;
I Korintus 11:25; I Petrus 1:19; Wahyu 7:14).
C. TEORI PENGARUH MORAL
Teori ini, yang juga dikenal dengan nama Teori Kasih Allah,
beranggapan bahwa kematian Kristus sedikit banyak merupakan
akibat yang wajar karena Ia telah mengambil rupa manusia, dan
bahwa Ia sekadar menderita di dalam dan bersama dengan dosa-
dosa makhluk ciptaan-Nya. Kasih Allah yang terungkap secara
paling nyata dalam penjelmaan, penderitaan, dan kematian Kristus
dimaksudkan untuk melunakkan hati manusia dan membuat mereka
Karya Kristus: Kematian-Nya 355
bertobat. Pendamaian bukanlah dimaksudkan untuk memuaskan
keadilan ilahi, namun dimaksudkan untuk menyatakan kasih ilahi.
Pandangan tentang pendamaian semacam ini salah samasekali,
karena memperlihatkan Kristus sebagai menderita bersama orang
berdosa dan bukan sebagai pengganti orang berdosa. Tanggapan
kami terhadap teori ini ialah: (1) sekalipun kematian Kristus meru
pakan ungkapan kasih Allah (Yohanes 3:16; Roma 5:6-8), manusia
mengetahui bahwa Allah mengasihi dia jauh sebelum Kristus datang
(Ulangan 7:7, 8; Yeremia 31:3; bandingkan Maleakhi 3:6); (2) seka
dar membuat hati merasa terharu tidak akan membawa orang ke
pada pertobatan; (3) teori ini menyangkal semua keterangan Alkitab
yang mengatakan bahwa Allah harus didamaikan dahulu sebelum
Ia dapat mengampuni (Roma 3:25, 26; Ibrani 2:17; 9:14; I Yohanes
2:2; 4:10); (4) teori ini mendasarkan kematian Kristus pada kasih
Allah dan bukan pada kekudusan Allah; dan (5) berlandaskan teori
ini sulit untuk menerangkan bagaimana orang percaya pada zaman
Perjanjian Lama dapat diselamatkan, karena mereka semua belum
melihat teladan kasih Allah. Pendamaian janganlah dijadikan sebuah
drama di mana pemerannya nampaknya tergerak oleh motivasi-
motivasi yang tulus, bila sebenarnya ia hanya menggelorakan
perasaan-perasaan orang yang mendengarnya. "Sekalipun manusia
sangat terpengaruh oleh penyataan kasih Allah di bukit Golgota,
manusia pun harus menyadari kemurkaan Allah terhadap dosa yang
telah dinyatakan di Salib."118
118 Purkiser, God, Man, and Salvation, hal. 407-408.
D. TEORI PEMERINTAHAN
Teori ini mirip dengan tiga teori sebelumnya karena juga tidak
menerima adanya suatu prinsip dalam sifat ilahi yang perlu
didamaikan dahulu. Sebaliknya, agar dapat menjaga wibawa hukum
yang telah dibuat-Nya, Allah menjadikan kematian Kristus sebagai
teladan untuk menunjukkan betapa bencinya Allah akan dosa.
Dalam kematian Kristus, Allah menunjukkan bahwa Ia samasekali
tidak menyenangi dosa dan bahwa dosa itu akan dihukum bila orang
tidak bertobat. Kristus tidak menderita hukuman yang sesungguh
nya yang dite












