Tampilkan postingan dengan label teologi sistematik 12. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label teologi sistematik 12. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Juli 2026

teologi sistematik 12


 an, dan dosa-dosa karena kesom­

bongan. Besarnya kekuatan kehendak yang terlibat pada saat 

seseorang berbuat dosa menentukan tingkatan kesalahannya. 

Pemazmur berdoa agar ia terhindar dari dosa-dosa kesombongan 

(Mazmur 19:14), dan Yesaya berbicara mengenai "mereka yang me­

mancing kesalahan dengan tali kedustaan dan dosa seperti dengan 

tali gerobak" (5:18). Orang-orang inilah yang dengan tetap hati dan 

dengan sadar berbuat dosa. Pada lain pihak, saat  menyangkal 

Kristus, Petrus menunjukkan apa yang dimaksud dengan dosa 

karena kelemahan. Petrus gagal sekalipun ia telah membulatkan 

tekadnya untuk tetap bertahan (Lukas 22:31-34; 54:62). Sungguh 

menarik untuk memperhatikan bahwa dalam Alkitab tidak tersedia 

kurban bagi dosa yang dilakukan dengan sengaja (Bilangan 15:30; 

bandingkan dengan Ibrani 10:26).

4. Dosa-dosa karena kekerasan hati yang tidak menyeluruh dan 

yang menyeluruh. Tingkatan kekerasan hati serta tingkatan ketidak­

pekaan terhadap kasih karunia yang berkali-kali ditawarkan oleh 

Allah akan menentukan tingkatan kesalahan dalam hal ini. Seseo­

rang bisa saja berpaling dari kasih kepada kebenaran serta menjadi 

samasekali tidak peka terhadap bisikan Roh Kudus (I Timotius 4:2; 

Ibrani 6:4-6; 10:26; II Petrus 2:20-22; I Yohanes 2:19; 5:16, 17).

III. HUKUMAN

Sekalipun benar bahwa sampai taraf tertentu akibat-akibat yang tim­

bul dari dosa merupakan bagian dari hukuman terhadap dosa, kita 

harus ingat bahwa hukuman yang sepenuhnya berbeda sifatnya. 

Kebejatan dan kesalahan sebagai akibat dosa, dialami manusia 

sekarang ini, namun  hukuman sepenuhnya akan dijatuhkan pada 

masa yang akan datang.

A. ARTI HUKUMAN

Hukuman yaitu  kesakitan atau kerugian yang secara langsung 

dijatuhi oleh seorang pemberi hukum untuk mempertahankan

298 Antropologi

keadilannya, yang telah dihina oleh pelanggaran terhadap hukum. 

Hal ini menunjukkan dan meliputi akibat-akibat yang secara wajar 

timbul dari dosa, namun akibat-akibat ini  belum meliputi 

segenap hukuman itu. Dalam semua hukuman ada  unsur 

pribadi, yakni, kemurkaan kudus sang pemberi hukum, dan hal ini 

hanya terungkap sebagian oleh berbagai hal yang diakibatkan oleh 

dosa. Mengingat kenyataan ini, mudahlah untuk dimengerti bahwa 

hukuman tidak terutama dimaksudkan untuk memperbaiki pihak 

yang telah melanggar hukum. Ada perbedaan antara disiplin dan 

hukuman. Disiplin bersumber pada kasih dan dimaksudkan untuk 

memperbaiki (Yeremia 10:24; II Korintus 2:6-8; I Timotius 1:20; 

Ibrani 12:6), namun  hukuman bersumber pada keadilan sehingga 

dengan demikian tidak ada maksud untuk memperbaiki pihak yang 

melanggar hukum (Yehezkiel 28:22; 36:21, 22; Wahyu 16:5; 19:2). 

Hukuman juga tidak terutama dimaksudkan sebagai penangkis dan 

pencegah, sekalipun hal ini kadang-kadang tercapai juga, karena 

tidak dapat dibenarkan bahwa seseorang dihukum sekadar demi ke­

baikan masyarakat umum. Hukuman juga tidak akan menghasilkan 

apa-apa yang baik kecuali si terhukum memang patut dihukum. 

Hukuman yang merupakan sanksi pelanggaran hukum bukanlah di­

siplin atau tindakan yang memperbaiki, namun  tindakan balasan yang 

adil. Hukuman bukanlah sarananya, melainkan tujuan. Seorang 

pembunuh tidak diperbaiki perilakunya dengan cara ia dihukum 

mati; ia hanya menerima tindakan balasan yang adil atas perbuatan­

nya. Hukuman mati merupakan mandat ilahi (Kejadian 9:5, 6).

B. SIFAT HUKUMAN

Hanya dibutuhkan satu kata saja oleh Alkitab untuk menunjukkan 

hukuman atas dosa: kematian. Ada tiga macam kematian; yang 

fisik, yang rohani, dan yang kekal.

7. Kematian fisik. Kematian fisik merupakan pemisahan jiwa dari 

tubuh. Dalam Alkitab peristiwa ini dianggap sebagai sebagian 

hukuman atas dosa. Itu merupakan makna yang paling masuk akal 

bagi Kejadian 2:17; 3:19; Bilangan 16:29; 27:3. Doa Musa (Mazmur 

90:7-11) dan doa Raja Hizkia (Yesaya 38:17, 18) mengakui unsur 

hukuman dalam kematian fisik. Hal yang sama juga berlaku dalam 

Perjanjian Baru (Yohanes 8:44; Roma 4:24, 25; 5:12-17; 6:9, 10; 

8:3, 10, 11; Galatia 3:13; I Petrus 4:6). Akan namun , bagi orang 

Kejatuhan Manusia: Sifat Serta Akibat-Akibat Dosa 299

Kristen kematian tidak lagi merupakan hukuman karena Kristus 

telah mengalami kematian sebagai hukuman atas dosa kita (Mazmur 

17:15; II Korintus 5:8; Filipi 1:21-23; I Tesalonika 4:13, 14). Bagi 

orang Kristen tubuh itu tidur, sambil menantikan kemuliaan 

kebangkitan, dan jiwanya, setelah terpisah dari tubuh, secara sadar 

memasuki kehadiran Tuhan Yesus.

2. Kematian rohani. Kematian rohani merupakan terpisahnya 

jiwa dari Allah. Hukuman yang dinyatakan di Taman Eden dan 

telah menimpa umat manusia, terutama berarti kematian rohani 

(Kejadian 2:17; Roma 5:21; Efesus 2:1, 5). Dengan kematian rohani 

manusia tidak lagi menikmati kehadiran dan kebaikan hati Allah 

dan juga tidak lagi mengenal dan merindukan Allah. Karena itu, 

manusia perlu dibangkitkan dari kematian (Lukas 15:32; Yohanes 

5:24; 8:51; Efesus 2:5).

3. Kematian kekal. Kematian kekal yaitu  puncak dan kegenapan 

kematian rohani. Kematian kekal yaitu  terpisahnya jiwa dari Allah 

secara kekal, bersamaan dengan penyesalan yang dalam dan 

hukuman lahiriah lainnya (Matius 10:28; 25:41; II Tesalonika 1:9; 

Ibrani 10:31; Wahyu 14:11). Soal ini dibahas secara lebih lengkap 

dalam penelaahan tentang hal-hal yang akan datang.


BAGIAN VI 

SOTERIOLOGI

(AJARAN TENTANG KESELAMATAN MANUSIA)

Soteriologi yaitu  doktrin tentang keselamatan. saat  membahas 

antropologi kita telah melihat bahwa setiap orang mempunyai pem­

bawaan yang bejat samasekali, bersalah di hadapan Allah, dan hidup 

di bawah hukuman mati. Soteriologi membahas penganugerahan 

keselamatan melalui Kristus serta penerapan keselamatan itu 

melalui Roh Kudus. Ajaran ini akan diuraikan berdasarkan dua 

kategori yang umum ini. Enam pasal yang pertama (XXI-XXVI) 

akan membahas penganugerahan keselamatan, meliputi pokok- 

pokok bahasan seperti rencana Allah serta pribadi dan karya Yesus 

Kristus. Delapan pasal berikut (XXVII-XXXIV) akan membahas 

penerapan keselamatan itu. Dalam bagian ini karya Roh Kudus; 

doktrin-doktrin besar tentang keselamatan, misalnya pemilihan, per­

tobatan, pembenaran, pembaharuan, dan pengangkatan anak; serta 

doktrin-doktrin lainnya yang berkaitan dengan kehidupan Kristen, 

misalnya pengudusan, ketekunan, serta sarana-sarana kasih karunia 

akan dibahas.

301


XXI 

Tujuan, Rencana, dan Cara yang 

Dipakai Allah

Karena keselamatan merupakan karya rohani Allah yang sangat 

besar demi umat manusia, yaitu  sangat beralasan untuk percaya 

bahwa Ia memiliki suatu tujuan, rencana, dan program yang pasti. 

Ketiga hal inilah yang akan kita bahas dalam bab ini.

I. TUJUAN ALLAH

Dengan kemampuan-Nya untuk mengetahui lebih dahulu hal-hal 

yang akan terjadi, maka sebelum Allah menciptakan manusia, Ia 

menyadari sepenuhnya bahwa manusia akan jatuh ke dalam dosa 

serta akan hancur samasekali. Sekalipun demikian, Allah tetap men­

ciptakan manusia untuk kemuliaan dan tujuan-Nya sendiri serta 

merencanakan suatu jalan penebusan saat  "di dalam Dia [Kristus] 

Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus 

dan tak bercacat di hadapan-Nya" (Efesus 1:4). Tujuan ini  

dinyatakan dalam sifat manusia dan dalam Alkitab.

A. DALAM SIFAT MANUSIA

Kejatuhan dalam dosa telah mengakibatkan manusia kehilangan 

kekudusan dan keadaan tidak bersalah yang dimilikinya sebelum­

nya, namun  tidak merampas seluruh pengetahuan rohaninya.

1. Pengetahuan akan Allah. Pengetahuan naluriah akan adanya 

Allah atau dewa-dewa diakui secara umum. Semua orang mem-

303

304 Soteriologi

punyai sedikit gambaran tentang Allah, sekalipun gambaran itu 

mungkin sangat berbeda-beda wujudnya. Belumlah tentu bahwa 

orang-orang yang mengaku dirinya ateis akan tetap memper­

tahankan pandangan yang mereka nyatakan itu dalam setiap situasi 

yang mereka hadapi. Alkitab mengatakan bahwa manusia memiliki 

pengetahuan akan Allah ini berdasarkan kesaksian suara alam cip­

taan-Nya (Roma 1:20; Kisah 14:15-17; 17:22-23). Dengan 

demikian, tujuan Allah untuk menyediakan keselamatan bagi umat 

manusia ditunjukkan melalui sisa-sisa pengetahuan akan Allah yang 

Ia biarkan tetap dimiliki oleh manusia.

2. Pengetahuan akan dosa. Pengetahuan ini pun sama universal­

nya dengan pengetahuan akan Allah (Roma 1:32). Sesungguhnya, 

kita mungkin menjumpai orang-orang yang mengaku dirinya agnos­

tik namun dengan rela mengakui bahwa dosa itu ada. Kehadiran 

kejahatan di sekeliling mereka merupakan bukti yang terlalu kuat 

untuk diabaikan begitu saja. Bahkan, orang-orang yang mengakui 

bahwa dirinya itu "cukup baik" sehingga tidak memerlukan juru- 

selamat, tidak akan mengatakan bahwa mereka tidak pernah berbuat 

dosa. Para penyembah berhala mungkin mempunyai gambaran ten­

tang dosa yang tidak selaras dengan Alkitab, namun mereka percaya 

bahwa hal-hal tertentu tidak menyenangkan dewa sembahan 

mereka. "Lagi pula, semua orang memiliki kesadaran moral, bahkan 

manusia modem pun yang tidak percaya pada moralitas. Sekalipun 

norma pertimbangan moral yang mereka anut itu jauh lebih rendah 

daripada norma-norma moral yang dikemukakan di Alkitab, mereka 

masih terus-menerus mengambil keputusan-keputusan moral."105

105 Schaeffer, Death in the City, hal. 112.

B. DALAM ALKITAB

Karena Perjanjian Baru merupakan penggenapan dan penjelasan 

Perjanjian Lama, maka kita terutama akan membuka Perjanjian 

Lama untuk melihat apa yang disingkapkan di sana tentang tujuan 

Allah. Perjanjian Lama dimulai dengan "Injil pertama" (Kejadian 

3:15) dan dilanjutkan sampai seluruh program itu selesai diuraikan. 

Pernyataan ini dapat dilihat dari sudut kitab Taurat dan kitab para 

nabi.

Tujuan, Rencana, dan Cara yang Dipakai Allah 305

1. Kitab Taurat. Yang dimaksudkan dengan kitab Taurat di sini 

ialah hukum-hukum Musa yang dapat ditemukan dalam Pentateukh. 

Pertama, semua teofani atau penampakan-diri Allah kepada Musa, 

dan bahkan kadang-kadang kepada seluruh umat Israel, membantu 

untuk menetapkan dan mengembangkan iman kepada Allah yang 

berkepribadian. Demikian pula halnya dengan berbagai mukjizat 

yang dialami bangsa Israel saat  di Mesir dan selama pengem­

baraan di padang gurun dalam perjalanan mereka ke Kanaan. 

Kedua, perincian tuntutan-tuntutan ilahi bersamaan dengan 

hukumannya kalau mereka tidak menaatinya, membantu untuk 

membangkitkan keinsafan akan kesalahan serta ketakutan akan 

akibat-akibat dosa. "Oleh hukum Taurat orang mengenal dosa" 

(Roma 3:20). Hukum Taurat ini dinamakan "penuntun bagi kita 

sampai Kristus datang" (Galatia 3:24). Ketiga, penetapan sebuah 

sistem korban dan keimaman untuk menyelenggarakannya, menun­

jukkan perlunya suatu cara untuk menghilangkan kesalahan manusia 

dan juga pemberian cara itu oleh Allah. Pengertian yang memadai 

tentang kitab Imamat diperlukan agar dapat memahami kitab Ibrani.

2. Kitab Para Nabi. Allah menyatakan tujuan-Nya juga melalui 

suara nubuat. Kedatangan Kristus telah dinubuatkan dengan jelas. 

Banyak nubuat membicarakan kerajaan Kristus di atas muka bumi 

ini, karena hal itu juga merupakan bagian dari rencana keselamatan 

yang ditetapkan Allah. Akan namun , sekarang ini kita hanya ingin 

membicarakan nubuat-nubuat yang menyebut bagaimana Kristus 

merendahkan diri-Nya supaya dapat menyelamatkan kita dari dosa. 

Setelah menyaring nubuat-nubuat ini dari banyak nubuat lain, ter­

nyatalah nubuat-nubuat ini memberi tahu hal yang berikut: Kristus 

(a) akan "meremukkan" kepala ular (Kejadian 3:15); (b) 

menyingkirkan segala kefasikan dari Yakub (Roma 11:26, 27; band. 

Yesaya 59:20), (c) memikul dosa banyak orang (Yesaya 53:12); 

dan agar dapat melakukan hal ini , (d) mempersembahkan 

nyawa-Nya sebagai korban penghapus dosa; (e) menyerahkan 

nyawa-Nya ke dalam maut; dan (f) terhitung di antara pemberon­

tak-pemberontak (Yesaya 53:10, 12). Pengalaman salib digambar­

kan secara hidup dalam Mazmur pasal 22.

Penyataan Allah juga nampak dalam berbagai lambang yang ter­

dapat dalam Perjanjian Lama, di dalam diri tokoh-tokoh seperti 

Adam (Roma 5:12-21; I Korintus 15:45), Melkisedek (Ibrani 7:1-3), 

306 Soteriologi

dan Yosua (Ulangan 18:18; Kisah 3:22, 23); dalam peristiwa-peris­

tiwa tertentu seperti ular tembaga (Yohanes 3:14-16) dan pengem­

baraan di padang gurun (I Korintus 10:6, 11); atau jabatan-jabatan 

seperti nabi (Kisah 3:22), imam (Ibrani 3:1), dan raja (Zakharia 

9:9); atau lembaga-lembaga seperti Paskah (I Korintus 5:7); dan 

hal-hal semacam kemenyan (Wahyu 8:3) serta tirai (Ibrani 10:20).

Paulus mengatakan bahwa Allah telah "menyatakan rahasia 

kehendak-Nya kepada kita, sesuai dengan rencana kerelaan-Nya, 

yaitu rencana kerelaan yang dari semula telah ditetapkan-Nya di 

dalam Kristus sebagai persiapan kegenapan waktu untuk memper­

satukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang 

di sorga maupun yang di bumi" (Efesus 1:9, 10). Paulus juga ber­

bicara tentang "maksud abadi, yang telah dilaksanakan-Nya dalam 

Kristus Yesus, Tuhan kita" (Efesus 3:11). Kita tidak perlu sangsi 

lagi bahwa Allah memiliki tujuan yang jelas.

II. RENCANA ALLAH

Tuhan yang berkarya secara teratur di alam semesta tidak mem­

biarkan penyelamatan manusia dilaksanakan menurut cara yang 

semrawut dan tak menentu. Alkitab menunjukkan bahwa Allah 

mempunyai rencana keselamatan yang pasti bagi manusia. Rencana 

ini meliputi sarana yang dipakai untuk menyediakan keselamatan, 

sasaran-sasaran yang akan diwujudkan, orang-orang yang akan 

menerima keselamatan ini , syarat-syarat untuk memperoleh 

keselamatan, serta perantara dan sarana bagi penerapan keselamatan 

itu. Dapat ditambahkan bahwa Allah hanya memiliki satu rencana 

keselamatan saja dan bahwa bila orang akan diselamatkan maka 

mereka harus diselamatkan dalam cara yang sama, apakah mereka 

itu orang-orang yang bermoral atau tidak, berpendidikan atau tidak, 

Yahudi atau bukan Yahudi, dan apakah ia hidup pada zaman Per­

janjian Lama ataukah pada zaman sekarang.

A. PENYATAAN RENCANA ALLAH

Kita harus mempelajari seluruh Alkitab bila kita benar-benar hendak 

mengetahui rencana Allah. Misalnya, seseorang mungkin memper­

Tujuan, Rencana, dan Cara yang Dipakai Allah 307

hatikan apa yang dikatakan Yesus kepada orang muda yang kaya 

itu, 'namun  jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah 

segala perintah Allah" (Matius 19:17), lalu ia berusaha untuk 

menyelamatkan dirinya sendiri dengan berbuat baik. Penafsiran 

semacam ini samasekali tidak sesuai dengan makna yang sebenar­

nya dalam ayat itu. Sebagaimana alam semesta yaitu  ladang 

penelitian bagi seorang ilmuwan, demikianlah Alkitab bagi seorang 

teolog, yaitu sekumpulan fakta yang tak teratur atau baru sebagian 

saja teratur. Dari fakta-fakta inilah ia merumuskan gagasan- 

gagasannya yang umum. Sebagaimana sangat tidak bertanggung 

jawab bagi seorang ilmuwan untuk menarik kesimpulan sebelum 

mengadakan penelitian yang cermat, demikian pulalah tidak ber­

tanggung jawab bagi seorang teolog untuk merumuskan ajaran- 

ajaran Alkitab tanpa penelitian yang cermat. Prinsip ini amat sangat 

penting dalam penelaahan doktrin keselamatan, karena di bidang 

ini ada  amat banyak perselisihan pendapat dan kesimpulan- 

kesimpulannya berdampak amat luas.

B. GARIS BESAR RENCANA ALLAH

Beberapa hal termasuk di dalam rencana Allah. Alkitab mengajar­

kan bahwa Allah telah menyediakan keselamatan melalui pribadi 

dan karya Putra-Nya. Sang Putra telah diutus untuk menjadi ma­

nusia, mati ganti kita, bangkit kembali dari antara orang mati, naik 

kepada Allah Bapa, menerima kedudukan yang berkuasa di sebelah 

kanan Allah, dan menghadap Allah atas nama orang percaya. Ia 

akan datang kembali untuk menyempurnakan penebusan. Karya 

Putra Allah ini bertujuan menyelamatkan kita dari kesalahan, 

hukuman, kuasa, dan akhirnya kehadiran dosa. Rencana ini juga 

meliputi penebusan alam, yang ikut takluk kepada kesia-siaan akibat 

dosa manusia. Keselamatan disiapkan bagi dunia dalam arti yang 

umum, namun secara khusus bagi orang-orang yang terpilih, yaitu 

mereka yang mau percaya kepada Kristus serta taat kepada-Nya. 

Pertobatan mutlak diperlukan untuk keselamatan, namun hanya 

sebagai persiapan hati kita dan bukan sebagai harga yang harus 

dibayar untuk memperoleh hidup yang telah dikaruniakan oleh 

Tuhan. Iman yaitu  satu-satunya syarat untuk memperoleh 

keselamatan, dan iman itu juga merupakan karunia Allah. Roh 

Kudus yaitu  perantara dalam penerapan keselamatan pada jiwa 

308 Soteriologi

seseorang. Roh Kudus memakai Firman Allah untuk menginsafkan, 

menunjuk jalan kepada Kristus, dan untuk memperbaharui jiwa. 

Roh Kudus melanjutkan pekerjaan pengudusan dalam kehidupan 

orang percaya. Keselamatan belumlah sempurna sebelum orang per­

caya dibangkitkan dan dipersembahkan kudus dan tak bercacat 

kepada Kristus oleh Roh Kudus.

III. CARA-CARA YANG DIPAKAI OLEH ALLAH

Sekalipun Allah hanya memiliki satu rencana keselamatan, Ia mem­

punyai berbagai cara untuk menangani manusia berhubungan de­

ngan rencana keselamatan ini , dan hal itu terjadi dalam jangka 

waktu yang panjang. Alkitab menunjukkan bahwa masa persiapan 

yang amat panjang ini sangat perlu. Alkitab mengatakan, 'namun  

setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang 

lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat" 

(Galatia 4:4).

Masa persiapan yang begitu lama ini mempunyai tiga tujuan: 

untuk memperlihatkan kepada manusia sifat-dosa yang sesungguh­

nya dan betapa dalamnya kebejatan yang ke dalamnya manusia te­

lah terperosok, menyatakan kepadanya bahwa ia tidak berdaya un­

tuk memelihara atau memperoleh kembali pengenalan yang mema­

dai akan Allah, juga tidak berdaya untuk membebaskan dirinya dari 

dosa dengan memakai bantuan filsafat dan kesenian, serta mengajar­

kan kepadanya bahwa pengampunan serta pemulihan hubungan 

dengan Allah hanya dapat terjadi berdasarkan pengorbanan seorang 

pengganti. Sejarah menunjukkan betapa tidak sempurnanya pema­

haman dunia akan kebenaran-kebenaran ini; sekalipun demikian 

pemahaman yang tidak sempurna pun sudah cukup bagi Allah untuk 

memperkenalkan Sang Juruselamat kepada umat manusia. Sarana- 

sarana yang dipakai oleh Allah untuk mencapai tujuan ini banyak 

sekali. Sekalipun Allah tidak berubah, namun sering kali cara-cara 

yang dipakai-Nya itu berubah. Ia telah memakai suatu lingkungan 

yang sempurna, hati nurani, pemerintahan manusiawi, janji-janji 

yang membangkitkan iman, serta hukum Musa. Saat ini Allah 

memakai penyataan yang lebih lengkap dari Perjanjian Baru, dan 

di kemudian hari Allah sendiri akan memerintah dengan tongkat

Tujuan, Rencana, dan Cara yang Dipakai Allah 309

besi. Cara-cara yang disebut di atas hanya mengakibatkan kegagalan 

dan berakhir dengan hukuman. Inilah yang akan terjadi juga pada 

zaman sekarang dan pada zaman yang akan datang. Hal ini nampak 

jelas kalau kita melihat dengan lebih teliti bagaimana Alkitab mem­

bagi waktu dalam berbagai periode.

A. DALAM ZAMAN PERJANJIAN LAMA

Pada mulanya Allah menempatkan orang tua pertama kita di taman 

Eden, suatu lingkungan yang amat sempurna. Allah telah mencipta­

kan mereka berdua tanpa sifat daging atau duniawi dan menye­

diakan segala sesuatu yang perlu bagi kebahagiaan dan kekudusan 

mereka. Allah mengharuskan mereka menempuh ujian yang seder­

hana sambil mengingatkan mereka terhadap akibat-akibat ketidak­

taatan. Allah mempunyai hubungan pribadi dengan mereka. Namun, 

saat  Iblis datang dengan menyamar sebagai ular, Hawa mende­

ngarkan apa yang dikatakannya, memakan buah yang terlarang, 

memberikan juga kepada suaminya dan suaminya pun memakan­

nya. Sebagai akibatnya, mereka kini bersalah di hadapan Allah; sifat 

mereka kini tercemar; mereka mati secara rohani; dan mereka 

mewariskan dampak-dampak dosa mereka kepada seluruh 

keturunannya. Mereka kini tidak lagi memiliki pengenalan yang 

benar akan Allah, namun  pikiran mereka menjadi sia-sia, dan hati 

mereka yang bodoh menjadi gelap. Allah mengusir mereka dari 

taman itu setelah mengutuk ular dan tanah.

Hati nurani kini menjadi aktif, dan manusia diberi kesempatan 

untuk menunjukkan bahwa hukum Allah yang tertulis dalam sifat 

manusia sudah cukup untuk menuntun manusia kembali kepada 

Allah. Akan namun , Kain sendiri menjadi pembunuh; dan sekalipun 

untuk sementara garis keturunan Set menunjukkan kesalehan, tidak 

lama kemudian kesalehan itu pun lenyap. Kehidupan semua 

manusia menjadi rusak dan segala kecenderungan hatinya jahat 

semata-mata. Tidak ada seorang pun yang mencari Allah. Suara 

hati nurani ternyata tidak cukup kuat untuk mendorong manusia 

mencari kehadiran Allah serta jalan keselamatannya. Allah terpaksa 

menjatuhkan hukuman ke atas bumi. Hanya Nuh dan keluarganya 

yang selamat; yang lain musnah oleh air bah yang luar biasa yang 

dikirim oleh Allah sebagai hukuman kepada manusia karena 

dosanya.

310 Soteriologi

Setelah air bah Allah memberikan penerangan kepada Nuh ten­

tang cara-cara manusia harus menyelenggarakan pemerintahan. Para 

pembunuh harus dihukum mati menurut hukum. Itulah fungsi ter­

tinggi pemerintah, dan secara tak langsung menyatakan fungsi- 

fungsi lain yang lebih rendah. Manusia harus memerintah atas nama 

Allah, dan manusia akan diarahkan oleh Allah sendiri melalui 

hukum-hukum yang adil dan kudus. Akan namun , manusia mengada­

kan federasi yang besar serta mendirikan sebuah menara untuk 

menyembah berhala. Kemuliaan dan kesombongan manusia nam­

paknya telah merupakan tujuan utama dalam membangun menara 

Babel. Manusia telah berhenti memerintah atas nama Allah dan 

telah mulai memerintah atas namanya sendiri. Oleh karena itu, Allah 

turun kembali untuk menghukum bangsa manusia yang tidak taat 

serta mengacaukan bahasa mereka. Kemudian orang-orang itu 

dicerai-beraikan ke seluruh permukaan bumi sehingga timbullah 

bangsa-bangsa yang berbeda-beda. Berbagai pemerintahan yang 

timbul kini tidak lagi memikirkan Allah, dan manusia merosot ke 

tingkat pemujaan berhala.

Kemudian Allah memanggil Abraham untuk meninggalkan 

negerinya serta mengikuti Dia ke sebuah negeri yang baru. Abraham 

taat kepada Allah, dan Allah membuat perjanjian dengan dia. Allah 

berjanji akan memberikan Abraham keturunan yang amat banyak, 

memberikan kepada keturunannya tanah yang telah didiaminya 

sebagai orang asing, dan menjadikan dia berkat bagi semua bangsa. 

Janji yang terakhir itu memandang ke depan kepada kedatangan 

Mesias, namun tidak terbatas pada peristiwa ini . Abraham dan 

keturunannya harus menjadi berkat rohani bagi bangsa-bangsa 

sepanjang masa. Janji ini  diulang kepada Ishak dan Yakub. 

Yakub dan keluarganya pindah ke Mesir. Sebagai akibatnya mereka 

dianiaya oleh orang Mesir dan Allah sendiri harus membebaskan 

mereka dari tempat perbudakan itu.

Di Gunung Sinai Allah menawarkan perjanjian kerja dan umat 

Israel telah menyatakan bersedia menerima tawaran perjanjian kerja 

ini . Mereka berjanji bahwa "segala yang difirmankan Tuhan 

akan kami lakukan" (Keluaran 19:8). Akan namun , jelaslah bahwa 

bangsa itu tidak mempertimbangkan kebejatan hati manusia ataupun 

kuasa Iblis. Sebelum Musa dapat memberikan dua loh batu berisi 

Sepuluh Perintah Allah, Israel telah membuat sebuah berhala dan 

mulai menyembahnya. Kisah kegagalan Israel di Kadesy-Barnea, 

Tujuan, Rencana, dan Cara yang Dipakai Allah 311

di bawah pimpinan para hakim, dan selama pemerintahan para raja 

mereka telah terkenal. Di bawah pemerintahan para hakim, 

beberapa kali Allah mengizinkan mereka ditaklukkan oleh bangsa- 

bangsa yang menjajah, dan setelah suatu jangka waktu yang pendek 

kerajaan utara dibawa tertawan ke Asyur. Sekitar 135 tahun 

kemudian kerajaan selatan dibawa tertawan ke Babilonia. Sekitar 

lima puluh atau enam puluh ribu jiwa kembali dari Babilonia, 

namun kelakuan mereka tidaklah lebih baik.

saat  Yesus Mesias mereka datang, mereka menolak Dia dan 

menuntut agar Ia disalibkan oleh orang-orang Romawi. Akhirnya, 

Allah mengutus orang-orang Roma yang sama ini untuk menghan­

curkan kota dan bait suci mereka serta mencerai-beraikan mereka 

ke seluruh muka bumi. Mereka menghormati hukum Taurat dengan 

bibirnya, namun hati mereka jauh dari Allah. Telah terbukti bahwa 

ketentuan-ketentuan hukum tidak dapat membuat manusia mencari 

Allah, demikian pula pengorbanan hewan tidak dapat mengubah 

hati manusia.

B. PADA ZAMAN SEKARANG

Suatu perubahan besar telah terjadi dalam cara yang digunakan 

untuk masa kini. Masa sekarang ini yaitu  zaman gereja. Setelah 

semua cara yang sebelumnya dipakai, akhirnya Sang Juruselamat 

sendiri yang datang. Dengan kematian-Nya, Tuhan Yesus mengada­

kan pendamaian untuk dosa orang-orang percaya dari zaman Per­

janjian Lama dan dari zaman Perjanjian Baru (Roma 3:21-26). 

Sekarang Allah menawarkan kepada setiap orang keselamatan 

melalui Yesus Kristus. Sebelum zaman ini, rencana keselamatan 

hanya dipahami secara samar-samar; kini seluruh rencana itu telah 

terpampang sehingga siapa saja dapat mengetahuinya. Yang diminta 

dari setiap orang hanyalah kesediaan untuk menerima apa yang 

telah dipersiapkan Allah di dalam Kristus. Bila seseorang dengan 

iman menerima tawaran hidup itu, orang itu akan dilahirkan kembali 

oleh Roh Kudus. Roh Kudus kemudian melanjutkan karya yang 

dimulai dalam pembaharuan serta menyempurnakan kekudusan di 

dalam diri orang percaya. Walaupun rencana ini sederhana dan 

jelas, baik Alkitab maupun pengamatan kita memberi tahu bahwa 

manusia tidak dengan cepat menanggapi ajakan Injil. Sesungguh­

nya, Alkitab mengatakan bahwa menjelang akhir zaman banyak 

312 Soteriologi

orang akan meninggalkan iman mereka dan kefasikan akan 

merajalela. Allah akan membawa gereja-Nya pulang untuk tinggal 

bersama Dia, dan menyerahkan sisa penduduk bumi kepada 

kesengsaraan dahsyat yang akan datang. Bahkan dalam zaman 

gereja pun ketidakpercayaan merajalela dan orang-orang percaya 

hanya sedikit jumlahnya.

C. PADA MASA DEPAN

Perubahan yang lebih besar lagi dijanjikan untuk masa Kerajaan 

Seribu Tahun. Kristus hams memerintah setiap bidang yang telah 

dikuasai oleh dosa. Dahulu Ia telah datang dan menawarkan untuk 

menjadi raja dan juruselamat Israel, namun sebagian besar bangsa 

itu tidak memperhatikan tawaran-Nya samasekali. Ia akan kembali 

dengan kemuliaan dan akan memerintah dunia ini dengan 

kekuasaan-Nya. Sebagai Putra Daud, Kristus akan mendirikan 

sebuah kerajaan di bumi ini. Israel akan menjadi pusat kerajaan itu 

dan Yerusalem menjadi ibukotanya. Semua bangsa akan berziarah 

ke Gunung Sion. Periode ini akan diawali dengan pertobatan dunia, 

karena Kristus akan menghukum semua bala tentara yang melawan 

Dia di Harmagedon, menghukum bangsa-bangsa yang mengirim 

angkatan perang mereka, dan akhirnya Iblis akan diikat. Hanya 

orang-orang yang sudah diselamatkan di bumi yang akan memasuki 

kerajaan Allah. Akan namun , banyak orang akan lahir selama ber­

langsungnya Kerajaan Seribu Tahun itu dan mereka tidak akan per­

caya Tuhan dengan sungguh-sungguh. Ada yang berpura-pura taat 

kepada Tuhan. Dosa akan diberantas dengan tongkat besi, namun  

banyak orang akan patuh secara lahiriah saja. Kemunafikan banyak 

orang akan tampak pada akhir masa Kerajaan Seribu Tahun, karena 

saat  Iblis dilepaskan untuk sedikit waktu lamanya, orang-orang 

yang tidak sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan dengan segera 

akan mengikut Iblis. Hukuman akan menimpa pemberontakan yang 

baru ini, dan Iblis dilemparkan ke dalam lautan api. Juga Kerajaan 

Seribu Tahun tidak berhasil menjadikan dunia ini benar. Hanya 

kasih karunia Allah yang bekerja dalam hati seseorang pada tiap 

zaman dapat mengubah kehidupannya secara permanen; dan karena 

tidak semua orang pada tiap zaman akan menerima kasih karunia 

itu, maka tidak semua orang yang akan diselamatkan.

XXII 

Pribadi Kristus:

Berbagai Pandangan dari Sejarah 

dan Keadaan Prapenjelmaan

Cara yang dipakai Allah untuk menebus umat manusia ialah melalui 

keturunan perempuan (Kejadian 3:15). Sang Penebus akan 

dilahirkan oleh seorang perempuan, dilahirkan di bawah hukum 

Taurat (Galatia 4:4). Ia harus yang manusiawi namun juga yang 

ilahi sehingga dapat menjadi perantara di antara manusia dengan 

Allah serta mendamaikan kedua pihak. Perdamaian hanya dapat 

tercapai melalui penjelmaan, yaitu Allah yang menjadi manusia. 

Pasal ini akan membahas aneka pandangan yang telah timbul sepan­

jang sejarah gereja tentang pribadi Kristus, di samping memberikan 

pembahasan ringkas tentang keadaan-Nya sebelum menjelma men­

jadi manusia.

I. BERBAGAI PANDANGAN YANG TIMBUL DALAM 

KURUN SEJARAH GEREJA

Sebuah survai mengenai berbagai pandangan yang telah 

dikemukakan tentang pribadi Kristus menunjukkan bahwa aneka 

ragam pandangan yang telah dikemukakan; dalam kesempatan ini 

kami hanya menyebut pandangan-pandangan yang paling menonjol.

A. GOLONGAN EBIONIT

Golongan ini merupakan sisa sekte Kristen Yahudi yang fanatik 

menekankan pemeliharaan hukum Taurat. Mereka mengajarkan

313

314 Soteriologi

bahwa Yesus, putra Maria dan Yusuf, telah menggenapi hukum 

Taurat secara demikian sehingga Allah memilih dia untuk menjadi 

Mesias. Kesadaran bahwa Allah telah memilih dia untuk menjadi 

Mesias itu datang saat  dia dibaptis, yaitu saat  menerima Roh 

Kudus. Mereka menolak keilahian Yesus dan kelahiran-Nya dari 

seorang perawan. Penolakan itu disebabkan karena kepercayaan 

akan keilahian Kristus nampaknya bertentangan dengan 

monoteisme. Kesesatan pandangan ini sudah jelas.

B. GOLONGAN GNOSTIK

Kalau kaum Ebionit menunjukkan pemutarbalikan kebenaran yang 

berbau Yahudi, maka pemutarbalikan kebenaran yang dilakukan 

golongan Gnostik itu berbau kafir. Sistem gnostik ini dipengaruhi 

oleh paham dualisme yang mendasar: yang tinggi dan yang rendah, 

roh dan daging, yang baik dan yang jahat. Karena daging dianggap 

jahat, maka pastilah Allah tidak mungkin menjelma menjadi 

manusia yang berdarah-daging, paling sedikit tidak menurut tafsiran 

yang ortodoks mengenai penjelmaan. Jadi, pribadi Yesus Kristus 

diterangkan menurut salah satu dari dua cara ini. Golongan Gnostik 

Cerintian mengajarkan bahwa Kristus yang ilahi mendatangi Yesus 

yang manusiawi saat  ia dibaptis dan meninggalkannya lagi 

beberapa saat menjelang kematian Yesus. Golongan Gnostik 

Dosetisme beranggapan bahwa Yesus sebenarnya semacam hantu, 

dan hanya kelihatannya saja memiliki tubuh jasmaniah. Ajaran 

Gnostik yang baru mulai disinggung dalam surat Kolose, I dan II 

Tesalonika, I Yohanes, Yudas, dan Wahyu. Kesalahan doktrin yang 

berkaitan dengan pribadi Kristus dengan tegas ditolak dalam Kolose 

1:15-18; 2:9; Ibrani 2:14; I Yohanes 2:22, 23; 4:2-6, 15; 5:1-6; dan 

II Yohanes 7.106

106 Untuk pembahasan yang lebih lengkap mengenai kaum Ebionit dan para penganut 

ajaran Gnostik, lihat Berkhof, The History of Christian Doctrines, hal. 44-50.

C. GOLONGAN ARIUS

Pada awal abad keempat Masehi, Arius dari Alexandria memper­

juangkan pendapat bahwa sekalipun Kristus dapat disebut Allah, ia 

sebenarnya bukanlah Allah dan samasekali tidak ada kesamaan 

hakikat ataupun kekekalan. Sebelum waktu ada, Kristus telah dicip-

Pribadi Kristus: Berbagai Pandangan dari Sejarah ... 315 

takan. Ia, Logos Allah itu, yaitu  yang pertama-tama diciptakan, 

dan ia kemudian menjadi pelaksana dalam penciptaan dunia. saat  

menjelma, Logos memasuki tubuh manusia serta menggantikan roh 

manusia. Jadi, Kristus tidaklah sepenuhnya Allah dan juga tidak 

sepenuhnya manusia. Ayat-ayat seperti Markus 13:32; Yohanes 

5:19; 14:28; dan I Korintus 15:28 dipakai untuk mendukung 

gagasan itu. Konsili di Nicea tahun 325, menolak Arianisme sebagai 

ajaran sesat dan menyatakan bahwa Yesus Kristus diperanakkan, 

bukan dibuat, dan bahwa Ia itu sehakikat dengan Sang Bapa.

D. GOLONGAN APOLINARIS

Konsili di Nicea tidak mengakhiri semua perdebatan itu, karena 

hubungan antara tabiat ilahi dan tabiat insani Kristus tidak dijelas­

kan secara memadai. Ada risiko terbitnya dua pandangan yang 

ekstrem: pada satu pihak, ada pandangan bahwa tabiat ilahi begitu 

menyerap tabiat insani sehingga yang insani itu akan kehilangan 

identitasnya, atau pada pihak lain, identitas kedua tabiat begitu ber­

beda sehingga dapat dikatakan bahwa Kristus memiliki dua kepriba­

dian. Apolinaris, yang menerima pandangan yang pertama, berang­

gapan bahwa Yesus memiliki tubuh yang sejati dan jiwa hewani, 

namun  tidak mempunyai roh atau pikiran yang rasional. Logos 

mengisi tempat inteligensi manusia. Pandangan ini menghormati 

keilahian Kristus, namun akibatnya ialah merusak kemanusiaan-Nya 

yang sejati. Konsili Konstantinopel ke-1 tahun 381 mengutuk ajaran 

ini sebagai ajaran yang sesat.

E. GOLONGAN NESTORIUS

Nestorius tidak menerima adanya perpaduan antara dua tabiat Kris­

tus dalam satu pribadi sehingga Nestorius menganjurkan adanya 

dua kepribadian. Logos tinggal di dalam si manusia Yesus, sehingga 

perpaduan antara kedua tabiat ini  dapat disamakan dengan 

tinggalnya Roh Kudus di dalam orang yang telah diselamatkan. Pan­

dangan ini membahayakan keilahian sejati Kristus. Kristus berbeda 

dengan orang lain karena di dalam diri-Nya tinggallah kepenuhan 

kehadiran Allah dan tabiat ilahi di dalam Kristus itu secara sem­

purna mengendalikan tabiat insani-Nya. Sidang Sinode di Efesus, 

tahun 431, menyalahkan ajaran ini sebagai ajaran sesat.

316 Soteriologi

F. GOLONGAN EUTIKHES

Golongan Eutikhes menganut pandangan yang bertolak belakang 

dengan pandangan golongan Nestorius. Golongan Eutikhes berang­

gapan bahwa Kristus tidak memiliki dua tabiat, namun  satu tabiat 

saja. Seluruh diri Kristus bersifat ilahi, termasuk tubuh-Nya. Yang 

ilahi dan yang manusiawi di dalam Kristus disatukan, sehingga 

menghasilkan tabiat yang ketiga. Golongan Eutikhes ini sering kali 

disebut sebagai golongan Monofisit karena mereka sebenarnya 

membuat kedua tabiat Kristus itu menjadi satu tabiat saja. Konsili 

Khalsedon, tahun 451, menolak ajaran ini. Golongan Monofisit ke­

mudian mengambil haluan yang baru. Beberapa penganutnya meng­

ajarkan bahwa Kristus hanya memiliki satu kehendak. Akan namun , 

Konsili Konstantinopel yang ke-3, tahun 681, menolak ajaran 

Monotelit ini, dengan menyatakan bahwa di dalam Kristus ada dua 

tabiat, yaitu yang ilahi dan yang manusiawi, sehingga dengan demi­

kian ada dua inteligensi dan dua kehendak di dalam diri Kristus.

G. PANDANGAN ORTODOKS

Konsili di Khalsedon, tahun 451, telah menetapkan pandangan 

gereja yang resmi. Yesus Kristus yaitu  satu, namun  Ia memiliki 

dua sifat, yaitu yang ilahi dan yang manusiawi. Dia yaitu  Allah 

sejati dan manusia sejati, terdiri atas tubuh dan jiwa yang rasional. 

Ia sehakikat dengan Bapa dalam ke-Allahan-Nya dan sehakikat de­

ngan manusia dalam kemanusiaan-Nya, kecuali dosa. Dalam ke- 

Allahan-Nya Ia sudah ada bersama Bapa sebelum dunia dijadikan, 

dan dalam kemanusiaan-Nya Ia lahir dari perawan Maria. Perbedaan 

antara dua tabiat ini  tidak berkurang saat  dipersatukan, 

namun keistimewaan masing-masing tabiat itu tetap terpelihara 

sekalipun disatukan di dalam diri Yesus Kristus. Yesus tidak terbagi 

menjadi dua pribadi; Ia yaitu  satu pribadi, yaitu Anak Allah.

II. KRISTUS SEBELUM PENJELMAAN

Kita akan membahas pribadi Kristus secara historis namun dengan 

pengertian yang berbeda. Pertama-tama kita akan memperhatikan

Pribadi Kristus: Berbagai Pandangan dari Sejarah ... 317 

beberapa hal yang menunjukkan wujud-Nya yang sejati dalam kea- 

daan-Nya sebelum penjelmaan. Beberapa hal telah disebut saat  

kita membahas Trinitas, namun  hal-hal itu perlu disebut kembali 

dalam kesempatan ini sedangkan ada beberapa hal lain yang perlu 

ditambahkan. Di masa lampau yang kekal, Kristus "bersama-sama 

dengan Allah", dan sesungguhnya Ia "yaitu  Allah" (Yohanes 1:1). 

Ini berlangsung "sebelum dunia ada" (Yohanes 17:5). Ia dinamakan 

"Firman" (Yohanes 1:1,14; Wahyu 19:13). Firman atau kata yaitu  

sarana pengungkapan, suatu sarana untuk berkomunikasi, dan suatu 

cara untuk menyatakan sesuatu. Selaras dengan penafsiran ini, kita 

membaca dalam Ibrani 1:2 bahwa "pada zaman akhir ini Ia [Allah] 

telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya." Bahwa 

Yohanes memandang Logos sebagai berkepribadian jelas nampak 

dari susunan kalimatnya. Yohanes mengatakan theos en ho logos, 

yang artinya bahwa Logos yaitu  Allah, namun  tidak berarti bahwa 

Logos seluruhnya dari Allah. Bila Yohanes mengatakan, ho theos 

en ho logos, maka ia menjadikan istilah Allah dan Logos dapat 

dipertukartempatkan satu sama lain, sehingga dengan demikian ia 

mengajar Sabellianisme. Paulus menyebutkan Kristus sebagai "yang 

sulung . . . dari segala yang diciptakan" (Kolose 1:15; lihat juga 

pemakaiannya berhubungan dengan Mesias di Mazmur 89:27). Ge­

lar ini tidak berarti bahwa Kristus yaitu  yang pertama-tama dicip­

takan; "yang dimaksudkan dengan gelar ini ialah bahwa Kristus, 

yang sudah ada sebelum alam semesta ini diciptakan, memiliki hak 

istimewa sebagai anak yang sulung atas segala penciptaan, ’yang 

berhak menerima segala yang ada’ (Ibrani 1:2). Kristus hadir saat  

alam semesta diciptakan, dan seluruh karya penciptaan ini dilakukan 

baik bagi Dia maupun oleh Dia."107 Sedikit sekali yang kita ketahui 

tentang pekerjaan Kristus sebelum dunia diciptakan. Kita hanya 

mengetahui bahwa Allah Bapa menciptakan alam semesta oleh 

Kristus (Ibrani 1:2) dan bahwa Ia telah memilih orang-orang per­

caya di dalam Kristus sebelum dunia dijadikan (Efesus 1:4).

107 Simpson dan Bruce, Commentary on the Epistles to the Ephesians and the 

Colossians, hal. 194.

Alkitab berkali-kali menyatakan bahwa Kristus ikut serta dalam 

penciptaan. Yohanes menulis bahwa "segala sesuatu dijadikan oleh 

Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala 

yang telah dijadikan" (Yohanes 1:3; bandingkan dengan ayat 10). 

318 Soteriologi

Paulus mengatakan bahwa segala sesuatu telah dijadikan oleh Dia 

dan karena Dia kita hidup (I Korintus 8:6), dan bahwa di dalam 

Dia "telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang 

ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik 

singgasana maupun kerajaan, baik pemerintah maupun penguasa; 

segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Ia ada terlebih 

dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia" 

(Kolose 1:16, 17). Ayat-ayat ini menunjukkan Kristus sebagai pen­

cipta, pemelihara, serta sasaran penciptaan. Perhatian khusus dapat 

diberikan kepada kenyataan bahwa sebelum manusia diciptakan 

Allah telah terjadi perundingan di antara ke-Allahan. Allah berfir­

man, "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa 

Kita" (Kejadian 1:26). Amsal 8:30 berbunyi, "Aku ada serta-Nya 

sebagai anak kesayangan."

Sekalipun Oknum kedua Trinitas sering kali tampak dalam Per­

janjian Lama, tidak pernah Ia disebut Kristus. Sebagai gantinya, 

kita mengenal nama-nama seperti Anak, Yehova, dan Malaikat Tu­

han. Dalam Mazmur 2:7 Yehova menyebut-Nya "Anak-Ku." Lebih 

sering lagi Ia dinamakan Yehova. Perhatikan pemakaian istilah ini 

dalam Kejadian 19:24, "Kemudian Tuhan [Yehova] menurunkan 

hujan belerang dan api atas Sodom dan Gomora, berasal dari Tuhan 

[Yehova], dari langit." Sudah pasti bahwa Dialah sama dengan yang 

disebut Tuhan (Yehova) dalam Kejadian 18:13, 14, 17-20, 33. Allah 

berfirman, "namun  Aku akan menyayangi kaum Yehuda dan 

menyelamatkan mereka demi Tuhan [Yehova], Allah mereka" 

(Hosea 1:7). Dalam Mazmur 45:6 Yehova menamakan-Nya Allah. 

Paling sering Ia tampil sebagai Malaikat Tuhan (Yehova).

Penampilan-penampilan-Nya dalam Perjanjian Lama sebagai 

Malaikat Tuhan sangat penting. Sebagai Malaikat Tuhan, Ia menam­

pakkan diri kepada Hagar dan menyuruh dia untuk kembali dan 

tunduk kepada Sara, serta menambahkan bahwa Ia akan memper­

banyak keturunan Hagar (Kejadian 16:7-14). Sebagai Malaikat 

Tuhan, Ia menampakkan diri kepada Abraham dan menahan tangan 

Abraham saat  akan menyembelih Ishak, anaknya (Kejadian 

22:11-18). Sebagai Malaikat Tuhan, Ia memberi tahu Yakub bahwa 

Ia akan membuat Yakub makmur sekalipun Laban bertindak curang 

kepadanya (Kejadian 31:11-13). Kepada Musa Malaikat Tuhan 

menampakkan diri dalam nyala api yang keluar dari semak duri

Pribadi Kristus: Berbagai Pandangan dari Sejarah ... 319 

serta meminta agar Musa tidak mendekat, karena tanah tempat ia 

berdiri itu kudus (Keluaran 3:2-5). Perhatikan bahwa Ia disebut 

Allah dalam ayat 4. Kemudian dikisahkan bahwa Malaikat Allah 

berjalan di depan bangsa Israel saat  mereka meninggalkan Mesir 

(Keluaran 14:19; bandingkan dengan 23:20; 32:34). Paulus me­

ngatakan bahwa batu karang yang mengikuti mereka saat  itu ialah 

Kristus (I Korintus 10:4). saat  Bileam datang hendak mengutuk 

Israel, Malaikat Tuhan mencegat dia serta menyuruh dia untuk 

mengucapkan apa yang dikatakan-Nya saja (Bilangan 22:22-55). 

Selanjutnya, Malaikat Tuhan datang kepada Gideon saat  sedang 

mengirik gandum secara diam-diam agar tersembunyi dari orang- 

orang Midian yang sedang menjajah mereka. Malaikat Tuhan 

menyuruh Gideon pergi membebaskan Israel (Hakim-Hakim 6:11- 

24). Malaikat Tuhan menampakkan diri kepada Manoah dan men­

janjikan dia seorang putra, yang oleh istrinya dinamakan Simson 

(Hakim-Hakim 13:2-24). saat  Daud berdosa dengan menghitung 

rakyatnya, Allah mengutus Malaikat Tuhan untuk membawa 

penyakit sampar (I Tawarikh 21:1-27). saat  Elia lari dari hadapan 

Izebel, Malaikat Tuhan datang dan menyegarkan Elia di bawah 

pohon arar (I Raja-Raja 19:5-7). Pastilah, Malaikat Tuhan yang 

sama juga yang berbicara dengan Elia di Gunung Horeb (ayat 9-18). 

saat  Sanherib menyerbu Yehuda, Malaikat Tuhan datang 

menyelamatkan orang-orang Yahudi yang mengalami banyak 

kesukaran. Ia membunuh 185.000 orang Asyur dalam satu malam 

saja (II Raja-Raja 19:35). Dalam Zakharia 1:11 Malaikat Tuhan 

berdiri di antara pohon-pohon murad sambil menerima laporan dari 

berbagai utusan. Dalam Zakharia 3:1 diperlihatkan imam besar 

Yosua sedang berdiri di hadapan Malaikat yang sama. Dari semua 

ayat ini, kita mengetahui bahwa Kristus memiliki eksistensi yang 

tersendiri selama masa Perjanjian Lama dan bahwa Ia berulang- 

ulang berurusan dengan orang-orang Israel.


XXIII 

Pribadi Kristus: Kristus Merendah­

kan Diri-Nya

Ayat-ayat berikut mengajarkan bahwa Kristus yang sudah ada sebe­

lumnya menjadi manusia: "Firman itu telah menjadi manusia" (Yo­

hanes 1:14); "setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak- 

Nya yang lahir dari seorang perempuan" (Galatia 4:4; bandingkan 

dengan Roma 8:3); "yang walaupun dalam rupa Allah, . . . telah 

mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang ham­

ba, dan menjadi sama dengan manusia" (Filipi 2:6, 7); dan "karena 

anak-anak itu yaitu  anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga 

menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan 

mereka" (Ibrani 2:14).

Kisah-kisah kelahiran Kristus (Matius 1, 2; Lukas 1, 2) mem­

berikan laporan sejarah mengenai penjelmaan Yesus serta menga­

takan bahwa itulah karya mukjizat Roh Kudus. Kenyataan bahwa 

Yesus yang yaitu  tokoh sejarah itu sesungguhnya Anak Allah yang 

abadi yang kedatangan-Nya telah dinubuatkan dalam Perjanjian 

Lama merupakan tema khotbah para rasul (Kisah 17:3; 18:5, 28). 

Bahkan sejarah sekular mengakui bahwa Yesus Kristus pernah 

hidup di bumi. Sejarawan Roma yang bernama Tacitus (112 M) 

serta Yosefus, sejarawan Yahudi abad pertama, keduanya 

menyebutkan adanya seorang tokoh bernama Yesus.108 Akan namun , 

untuk mengetahui mengapa dan bagaimana penjelmaan itu terjadi 

kita harus kembali kepada Alkitab.

108 Geisler, A Popular Survey of the Old Testament, hal. 11.

321

322 Soteriologi

I. ALASAN TERJADINYA PENJELMAAN

Ada beberapa alasan mengapa Allah menjadi manusia.

A. UNTUK MENGUKUHKAN JANJI-JANJI ALLAH

Allah menjadi manusia untuk mengukuhkan janji-janji Allah yang 

telah diberikan pada para leluhur Israel serta untuk menunjukkan 

kemurahan kepada orang-orang bukan Yahudi (Roma 15:8-12). 

Bermula dari janji dalam Kejadian 3:15 dan berlanjut terus sepan­

jang Perjanjian Lama, Allah berkali-kali berjanji untuk mengutus 

Anak-Nya ke dunia. Oleh karena itu Yesaya mengatakan, "Sebab 

seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putra telah diberikan 

untuk kita" (9:5), dan "sesungguhnya seorang perempuan muda 

mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia 

akan menamakan Dia Imanuel" (7:14). Mikha mengatakan, 'namun  

engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum 

Yehuda, daripadamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan 

memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak 

dahulu kala" (5:1). Suatu penelitian yang cermat terhadap naskah 

Perjanjian Lama menunjukkan adanya dua garis nubuat mengenai 

kedatangan Kristus: Ia akan datang sebagai Juruselamat dari dosa, 

dan sebagai Raja untuk memerintah kerajaan-Nya.

Tujuan pertama kedatangan-Nya telah dilambangkan dalam kor­

ban-korban di Perjanjian Lama (I Korintus 5:7) dan diajarkan dalam 

banyak Mazmur (16:8-10; 22:2, 8-9, 19; 41:10-12) serta kitab para 

nabi (Yesaya 52:14; 53:4-6; Daniel 9:26; Zakharia 11:12, 13; 13:1, 

7). Tujuan yang kedua dinubuatkan dalam banyak ayat Alkitab 

(Kejadian 17:6, 16; 49:9,10; Ulangan 17:14-20; II Samuel 7:12-17; 

Mazmur 2; 8; 24; 45; 72; 89; 110; Yesaya 11:1-10; Yeremia 23:5; 

31:31-34; Yehezkiel 37:15-24; Zakharia 14:9). Oleh karena itu, 

saat  saatnya tiba Ia datang dengan peran ganda yaitu sebagai 

Juruselamat dan Raja; sebagaimana telah dikatakan oleh Matius, Ia 

yaitu  anak Daud namun Ia juga anak Abraham (Matius 1:1). 

Malaikat Gabriel telah memberitahukan kepada Maria bahwa Tuhan 

Allah "akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud" (Lukas 1:32), 

dan Yesus sendiri mengatakan, "Aku diutus hanya kepada domba- 

domba yang hilang dari umat Israel" (Matius 15:24). Sekalipun

Pribadi Kristus: Kristus Merendahkan Diri-Nya 323 

demikian, umat-Nya sendiri tidak menerima Dia (Yohanes 1:11); 

dan sekalipun masyarakat mengelu-elukan Dia sebagai anak Daud 

saat  Ia dengan menunggang keledai masuk Yerusalem (Matius 

21:9), namun beberapa hari kemudian masyarakat yang sama itu 

terbujuk oleh para pemimpin agama untuk menuntut penyaliban- 

Nya. Demikianlah Ia mati sebagai korban pengganti, dan menjadi 

Juruselamat dunia serta batu penjuru gereja (Matius 16:18, 21; 

Kisah 20:28; Efesus 2:20 dan 5:25).

B. UNTUK MENYATAKAN BAPA

Dalam Perjanjian Lama, Allah dinyatakan sebagai pencipta dan pe­

nguasa. Perjanjian Lama menunjukkan kesatuan, kekudusan, 

keperkasaan, serta kemurahan Allah. Kristus melengkapi penyataan 

ini  dengan menambahkan gagasan Allah sebagai Bapa (Matius 

6:9). Yohanes menulis, "Tidak seorang pun yang pernah melihat 

Allah; namun  Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, 

Dialah yang menyatakan-Nya" (Yohanes 1:18). Yesus mengajarkan 

kepada murid-murid-Nya bahwa melihat Dia berarti sama saja de­

ngan melihat Bapa (Yohanes 14:9), bahwa Bapa mengasihi kita 

semua (Yohanes 16:27), bahwa Bapa mengetahui apa yang kita per­

lukan sebelum kita minta kepada-Nya (Matius 6:8, 32), bahwa Bapa 

tidak akan menahan sesuatu yang akan menguntungkan makhluk- 

makhluk ciptaan-Nya (Matius 5:45; Yohanes 3:3, 5; I Yohanes 3:1, 

2). Hubungan antara seorang anak Allah dengan Bapa-Nya di sorga 

merupakan suatu konsep Perjanjian Baru yang sangat indah.

C. UNTUK MENJADI IMAM BESAR YANG SETIA

Tuhan datang agar memenuhi syarat untuk bertindak selaku imam 

besar yang setia. Kristus datang supaya dapat mengalami semua 

pengalaman manusia, terlepas dari dosa, sehingga Ia berhak menjadi 

imam besar. Imam besar Perjanjian Lama dipilih dari antara 

manusia agar mereka dengan setia dapat mewakili umat manusia 

(Ibrani 5:1, 2). Demikian pula Kristus telah dipilih dari antara 

manusia karena alasan-alasan yang sama (Ibrani 5:4, 5). "Sebab 

memang sesuai dengan keadaan Allah—yang bagi-Nya dan oleh- 

Nya segala sesuatu dijadikan-yaitu Allah yang membawa banyak 

orang kepada kemuliaan, juga menyempurnakan Yesus yang 

324 Soteriologi

memimpin mereka kepada keselamatan, dengan penderitaan" (Ibrani 

2:10). Jadi, ada  kesempurnaan yang diperoleh Kristus melalui 

berbagai pengalaman-Nya sebagai manusia. Perhatikan selanjutnya, 

"Itulah sebabnya, maka dalam segala hal Ia harus disamakan dengan 

saudara-saudara-Nya, supaya Ia menjadi Imam Besar yang menaruh 

belas kasihan dan yang setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa 

seluruh bangsa. Sebab oleh karena Ia sendiri telah menderita karena 

pencobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai" (Ibrani 

2:17, 18). "Sebab Imam Besar yang kita punya bukanlah imam 

besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, 

sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat 

dosa." Berdasarkan alasan inilah dikatakan selanjutnya, "Sebab itu 

marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih 

karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih 

karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya" (Ibrani 

4:15, 16). Kenyataan bahwa Ia merasa lapar, merasa tidak adanya 

simpati dari orang lain, bahwa Ia sering tidak bisa tidur, bahwa Ia 

lelah karena harus bekerja keras, bahwa Ia mengalami tiap pen­

cobaan yang menimpa manusia, bahwa Ia menderita karena salah 

pengertian, ditinggalkan, dianiaya, dan diserahkan untuk dihukum 

mati, itu semuanya merupakan persiapan bagi pelayanan-Nya yang 

sekarang sebagai imam.

D. UNTUK MENGHAPUS DOSA

Dengan mengorbankan diri-Nya sendiri Kristus telah menghapus 

dosa (Ibrani 9:26). Kebenaran ini sudah disebut saat  kita mem­

bahas tujuan pertama penjelmaan, namun pokok bahasan ini perlu 

dikemukakan secara lebih khusus sebagai tujuan yang terutama. 

Yesus mengatakan, "Anak Manusia juga datang bukan untuk 

dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa- 

Nya menjadi tebusan bagi banyak orang" (Markus 10:45). Ditun­

jukkan dengan jelas bahwa Yesus Kristus harus menjadi manusia 

agar Ia dapat mati karena dosa umat manusia. Dalam surat Ibrani 

dikatakan, "namun  Dia, yang untuk waktu yang singkat dibuat 

sedikit lebih rendah daripada malaikat-malaikat, yaitu Yesus, kita 

lihat, yang oleh karena penderitaan maut, dimahkotai dengan 

kemuliaan dan hormat, supaya oleh kasih karunia Allah Ia meng­

alami maut bagi semua manusia" (2:9); Yohanes mengungkapkan-

Pribadi Kristus: Kristus Merendahkan Diri-Nya 325

nya sebagai berikut, "Dan kamu tahu bahwa Ia telah menyatakan 

diri-Nya, supaya Ia menghapus segala dosa, dan di dalam Dia tidak 

ada dosa" (I Yohanes 3:5).

Beberapa hal perlu diperhatikan. Jika Kristus datang untuk 

menyerahkan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi banyak orang, maka 

kita tahu bahwa Ia datang untuk menebus orang-orang dari dosa 

mereka oleh kematian-Nya. Dengan demikian kita juga mengetahui 

bahwa kematian-Nya bersifat mengganti atau mewakili dan, selan­

jutnya, bahwa tidak semua orang, namun  banyak orang yang akan 

diselamatkan. Gagasan menghapus dosa nampaknya mengacu 

kepada kambing jantan yang memikul dosa umat Israel dalam Per­

janjian Lama. Pada Hari Raya Pendamaian yang diselenggarakan 

setiap tahun seekor kambing jantan dipersembahkan sebagai korban 

bakaran, dan yang seekor lagi diusir ke padang gurun setelah segala 

dosa umat Israel diakui di atas kepalanya (Imamat 16:20-22). Jadi 

Kristus yaitu  "Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia" 

(Yohanes 1:29; bandingkan dengan ayat 36). Sebagaimana 

dikatakan oleh Yesaya, "Kita sekalian sesat seperti domba, masing- 

masing kita mengambil jalannya sendiri, namun  Tuhan telah menim­

pakan kepadanya kejahatan kita sekalian" (53:6). Dan saat  

dikatakan bahwa Ia mengalami maut bagi semua orang, maka yang 

dimaksud ialah bahwa Ia mati sebagai pengganti semua orang. 

Mereka yang mempercayai kebenaran ini dibebaskan dari penga­

laman kematian itu sendiri. Paulus menyatakan bahwa Ia yang tidak 

mengenal dosa telah menjadi dosa karena kita semua, supaya di 

dalam Dia kita dibenarkan di hadapan Allah (II Korintus 5:21). 

Kristus datang untuk mengajar manusia, membantu mereka dalam 

hal materiel dan fisik, memberikan sebuah teladan kepada mereka, 

dan lain sebagainya, namun di atas semuanya itu, Ia datang untuk 

mati karena dosa manusia. Kematian-Nya merupakan tuntutan dasar 

bagi semua berkat lainnya yang kita nikmati.

E. UNTUK MEMBINASAKAN PEKERJAAN IBLIS

Segera setelah Yohanes menyatakan bahwa Kristus menyatakan 

diri-Nya untuk menghapus dosa (I Yohanes 3:5), ia menulis bahwa 

Kristus juga datang untuk membinasakan pekerjaan Iblis (ayat 8). 

Alkitab mengatakan, "Karena anak-anak itu yaitu  anak-anak dari 

darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan 

326 Soteriologi

mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematian-Nya 

Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut" (Ibrani 

2:14). Hal ini dilakukan-Nya supaya "Ia membebaskan mereka yang 

seumur hidupnya berada dalam perhambaan oleh karena takutnya 

kepada maut" (ayat 15).

Kedatangan Kristus, khususnya karya-Nya di salib, mengalahkan 

Iblis (Yohanes 12:31; 14:30). Iblis kini yaitu  seorang musuh yang 

telah dikalahkan. Ia telah kehilangan kuasanya atas orang-orang 

yang dahulu tunduk kepadanya; pada suatu hari ia akan dicampak­

kan ke dalam laut api yang menyala-nyala (Wahyu 20:10). Lalu 

segala sesuatu yang dikerjakannya dengan memasukkan dosa dalam 

dunia akan berakhir, kecuali hukuman kekal bagi orang-orang yang 

menjadi pengikutnya. Stott mengemukakan, "jika  kedatangan 

Kristus yang pertama semata-mata bertujuan untuk menghapus dosa 

dan membinasakan segala perbuatan Iblis, maka orang-orang Kris­

ten tidak boleh berkompromi dengan dosa ataupun Iblis, sebab kalau 

tidak demikian mereka akan berperang melawan Kristus."109

109 Stott, The Epistles of John, hal. 125.

F. UNTUK MEMBERIKAN TELADAN HIDUP YANG KUDUS

Sekalipun maksud tujuan ini tidak terungkap secara terus terang, 

namun kebenaran ini tersirat dalam banyak ayat. Sebagai contoh, 

"Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku 

lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenang­

an" (Matius 11:29); "sebab untuk itulah kamu dipanggil karena 

Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan 

teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya" (I Petrus 2:21); 

dan "barangsiapa mengatakan bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib 

hidup sama seperti Kristus telah hidup" (I Yohanes 2:6). Para 

penulis Alkitab merupakan guru-guru yang tidak mungkin salah, 

namun mereka bukanlah tokoh-tokoh yang tidak ada salahnya. Kris­

tuslah satu-satunya yang sempurna, baik ajaran-Nya maupun watak - 

Nya. Kita perlu mempunyai contoh mengenai sifat yang sebenarnya 

diinginkan Allah dari kita. Kristus yaitu  Juruselamat orang percaya 

dan Ia juga merupakan teladan orang percaya. Alkitab mengatakan 

kepada orang yang tidak percaya, percayalah dan terimalah hidup 

kekal; kepada yang sudah percaya, Alkitab mengatakan ikutilah 

Pribadi Kristus: Kristus Merendahkan Diri-Nya 327

jejak-Nya. Urutan ini tidak pernah diubah. Dorongan yang paling 

kuat untuk hidup kudus bukanlah peraturan, melainkan teladan, 

khususnya teladan seseorang yang sangat dekat dengan kita. saat  

Musa turun dari atas gunung tempat ia berbicara berhadapan muka 

bersama Allah, mukanya bercahaya (Keluaran 34:29). Demikian