an, dan dosa-dosa karena kesom
bongan. Besarnya kekuatan kehendak yang terlibat pada saat
seseorang berbuat dosa menentukan tingkatan kesalahannya.
Pemazmur berdoa agar ia terhindar dari dosa-dosa kesombongan
(Mazmur 19:14), dan Yesaya berbicara mengenai "mereka yang me
mancing kesalahan dengan tali kedustaan dan dosa seperti dengan
tali gerobak" (5:18). Orang-orang inilah yang dengan tetap hati dan
dengan sadar berbuat dosa. Pada lain pihak, saat menyangkal
Kristus, Petrus menunjukkan apa yang dimaksud dengan dosa
karena kelemahan. Petrus gagal sekalipun ia telah membulatkan
tekadnya untuk tetap bertahan (Lukas 22:31-34; 54:62). Sungguh
menarik untuk memperhatikan bahwa dalam Alkitab tidak tersedia
kurban bagi dosa yang dilakukan dengan sengaja (Bilangan 15:30;
bandingkan dengan Ibrani 10:26).
4. Dosa-dosa karena kekerasan hati yang tidak menyeluruh dan
yang menyeluruh. Tingkatan kekerasan hati serta tingkatan ketidak
pekaan terhadap kasih karunia yang berkali-kali ditawarkan oleh
Allah akan menentukan tingkatan kesalahan dalam hal ini. Seseo
rang bisa saja berpaling dari kasih kepada kebenaran serta menjadi
samasekali tidak peka terhadap bisikan Roh Kudus (I Timotius 4:2;
Ibrani 6:4-6; 10:26; II Petrus 2:20-22; I Yohanes 2:19; 5:16, 17).
III. HUKUMAN
Sekalipun benar bahwa sampai taraf tertentu akibat-akibat yang tim
bul dari dosa merupakan bagian dari hukuman terhadap dosa, kita
harus ingat bahwa hukuman yang sepenuhnya berbeda sifatnya.
Kebejatan dan kesalahan sebagai akibat dosa, dialami manusia
sekarang ini, namun hukuman sepenuhnya akan dijatuhkan pada
masa yang akan datang.
A. ARTI HUKUMAN
Hukuman yaitu kesakitan atau kerugian yang secara langsung
dijatuhi oleh seorang pemberi hukum untuk mempertahankan
298 Antropologi
keadilannya, yang telah dihina oleh pelanggaran terhadap hukum.
Hal ini menunjukkan dan meliputi akibat-akibat yang secara wajar
timbul dari dosa, namun akibat-akibat ini belum meliputi
segenap hukuman itu. Dalam semua hukuman ada unsur
pribadi, yakni, kemurkaan kudus sang pemberi hukum, dan hal ini
hanya terungkap sebagian oleh berbagai hal yang diakibatkan oleh
dosa. Mengingat kenyataan ini, mudahlah untuk dimengerti bahwa
hukuman tidak terutama dimaksudkan untuk memperbaiki pihak
yang telah melanggar hukum. Ada perbedaan antara disiplin dan
hukuman. Disiplin bersumber pada kasih dan dimaksudkan untuk
memperbaiki (Yeremia 10:24; II Korintus 2:6-8; I Timotius 1:20;
Ibrani 12:6), namun hukuman bersumber pada keadilan sehingga
dengan demikian tidak ada maksud untuk memperbaiki pihak yang
melanggar hukum (Yehezkiel 28:22; 36:21, 22; Wahyu 16:5; 19:2).
Hukuman juga tidak terutama dimaksudkan sebagai penangkis dan
pencegah, sekalipun hal ini kadang-kadang tercapai juga, karena
tidak dapat dibenarkan bahwa seseorang dihukum sekadar demi ke
baikan masyarakat umum. Hukuman juga tidak akan menghasilkan
apa-apa yang baik kecuali si terhukum memang patut dihukum.
Hukuman yang merupakan sanksi pelanggaran hukum bukanlah di
siplin atau tindakan yang memperbaiki, namun tindakan balasan yang
adil. Hukuman bukanlah sarananya, melainkan tujuan. Seorang
pembunuh tidak diperbaiki perilakunya dengan cara ia dihukum
mati; ia hanya menerima tindakan balasan yang adil atas perbuatan
nya. Hukuman mati merupakan mandat ilahi (Kejadian 9:5, 6).
B. SIFAT HUKUMAN
Hanya dibutuhkan satu kata saja oleh Alkitab untuk menunjukkan
hukuman atas dosa: kematian. Ada tiga macam kematian; yang
fisik, yang rohani, dan yang kekal.
7. Kematian fisik. Kematian fisik merupakan pemisahan jiwa dari
tubuh. Dalam Alkitab peristiwa ini dianggap sebagai sebagian
hukuman atas dosa. Itu merupakan makna yang paling masuk akal
bagi Kejadian 2:17; 3:19; Bilangan 16:29; 27:3. Doa Musa (Mazmur
90:7-11) dan doa Raja Hizkia (Yesaya 38:17, 18) mengakui unsur
hukuman dalam kematian fisik. Hal yang sama juga berlaku dalam
Perjanjian Baru (Yohanes 8:44; Roma 4:24, 25; 5:12-17; 6:9, 10;
8:3, 10, 11; Galatia 3:13; I Petrus 4:6). Akan namun , bagi orang
Kejatuhan Manusia: Sifat Serta Akibat-Akibat Dosa 299
Kristen kematian tidak lagi merupakan hukuman karena Kristus
telah mengalami kematian sebagai hukuman atas dosa kita (Mazmur
17:15; II Korintus 5:8; Filipi 1:21-23; I Tesalonika 4:13, 14). Bagi
orang Kristen tubuh itu tidur, sambil menantikan kemuliaan
kebangkitan, dan jiwanya, setelah terpisah dari tubuh, secara sadar
memasuki kehadiran Tuhan Yesus.
2. Kematian rohani. Kematian rohani merupakan terpisahnya
jiwa dari Allah. Hukuman yang dinyatakan di Taman Eden dan
telah menimpa umat manusia, terutama berarti kematian rohani
(Kejadian 2:17; Roma 5:21; Efesus 2:1, 5). Dengan kematian rohani
manusia tidak lagi menikmati kehadiran dan kebaikan hati Allah
dan juga tidak lagi mengenal dan merindukan Allah. Karena itu,
manusia perlu dibangkitkan dari kematian (Lukas 15:32; Yohanes
5:24; 8:51; Efesus 2:5).
3. Kematian kekal. Kematian kekal yaitu puncak dan kegenapan
kematian rohani. Kematian kekal yaitu terpisahnya jiwa dari Allah
secara kekal, bersamaan dengan penyesalan yang dalam dan
hukuman lahiriah lainnya (Matius 10:28; 25:41; II Tesalonika 1:9;
Ibrani 10:31; Wahyu 14:11). Soal ini dibahas secara lebih lengkap
dalam penelaahan tentang hal-hal yang akan datang.
BAGIAN VI
SOTERIOLOGI
(AJARAN TENTANG KESELAMATAN MANUSIA)
Soteriologi yaitu doktrin tentang keselamatan. saat membahas
antropologi kita telah melihat bahwa setiap orang mempunyai pem
bawaan yang bejat samasekali, bersalah di hadapan Allah, dan hidup
di bawah hukuman mati. Soteriologi membahas penganugerahan
keselamatan melalui Kristus serta penerapan keselamatan itu
melalui Roh Kudus. Ajaran ini akan diuraikan berdasarkan dua
kategori yang umum ini. Enam pasal yang pertama (XXI-XXVI)
akan membahas penganugerahan keselamatan, meliputi pokok-
pokok bahasan seperti rencana Allah serta pribadi dan karya Yesus
Kristus. Delapan pasal berikut (XXVII-XXXIV) akan membahas
penerapan keselamatan itu. Dalam bagian ini karya Roh Kudus;
doktrin-doktrin besar tentang keselamatan, misalnya pemilihan, per
tobatan, pembenaran, pembaharuan, dan pengangkatan anak; serta
doktrin-doktrin lainnya yang berkaitan dengan kehidupan Kristen,
misalnya pengudusan, ketekunan, serta sarana-sarana kasih karunia
akan dibahas.
301
XXI
Tujuan, Rencana, dan Cara yang
Dipakai Allah
Karena keselamatan merupakan karya rohani Allah yang sangat
besar demi umat manusia, yaitu sangat beralasan untuk percaya
bahwa Ia memiliki suatu tujuan, rencana, dan program yang pasti.
Ketiga hal inilah yang akan kita bahas dalam bab ini.
I. TUJUAN ALLAH
Dengan kemampuan-Nya untuk mengetahui lebih dahulu hal-hal
yang akan terjadi, maka sebelum Allah menciptakan manusia, Ia
menyadari sepenuhnya bahwa manusia akan jatuh ke dalam dosa
serta akan hancur samasekali. Sekalipun demikian, Allah tetap men
ciptakan manusia untuk kemuliaan dan tujuan-Nya sendiri serta
merencanakan suatu jalan penebusan saat "di dalam Dia [Kristus]
Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus
dan tak bercacat di hadapan-Nya" (Efesus 1:4). Tujuan ini
dinyatakan dalam sifat manusia dan dalam Alkitab.
A. DALAM SIFAT MANUSIA
Kejatuhan dalam dosa telah mengakibatkan manusia kehilangan
kekudusan dan keadaan tidak bersalah yang dimilikinya sebelum
nya, namun tidak merampas seluruh pengetahuan rohaninya.
1. Pengetahuan akan Allah. Pengetahuan naluriah akan adanya
Allah atau dewa-dewa diakui secara umum. Semua orang mem-
303
304 Soteriologi
punyai sedikit gambaran tentang Allah, sekalipun gambaran itu
mungkin sangat berbeda-beda wujudnya. Belumlah tentu bahwa
orang-orang yang mengaku dirinya ateis akan tetap memper
tahankan pandangan yang mereka nyatakan itu dalam setiap situasi
yang mereka hadapi. Alkitab mengatakan bahwa manusia memiliki
pengetahuan akan Allah ini berdasarkan kesaksian suara alam cip
taan-Nya (Roma 1:20; Kisah 14:15-17; 17:22-23). Dengan
demikian, tujuan Allah untuk menyediakan keselamatan bagi umat
manusia ditunjukkan melalui sisa-sisa pengetahuan akan Allah yang
Ia biarkan tetap dimiliki oleh manusia.
2. Pengetahuan akan dosa. Pengetahuan ini pun sama universal
nya dengan pengetahuan akan Allah (Roma 1:32). Sesungguhnya,
kita mungkin menjumpai orang-orang yang mengaku dirinya agnos
tik namun dengan rela mengakui bahwa dosa itu ada. Kehadiran
kejahatan di sekeliling mereka merupakan bukti yang terlalu kuat
untuk diabaikan begitu saja. Bahkan, orang-orang yang mengakui
bahwa dirinya itu "cukup baik" sehingga tidak memerlukan juru-
selamat, tidak akan mengatakan bahwa mereka tidak pernah berbuat
dosa. Para penyembah berhala mungkin mempunyai gambaran ten
tang dosa yang tidak selaras dengan Alkitab, namun mereka percaya
bahwa hal-hal tertentu tidak menyenangkan dewa sembahan
mereka. "Lagi pula, semua orang memiliki kesadaran moral, bahkan
manusia modem pun yang tidak percaya pada moralitas. Sekalipun
norma pertimbangan moral yang mereka anut itu jauh lebih rendah
daripada norma-norma moral yang dikemukakan di Alkitab, mereka
masih terus-menerus mengambil keputusan-keputusan moral."105
105 Schaeffer, Death in the City, hal. 112.
B. DALAM ALKITAB
Karena Perjanjian Baru merupakan penggenapan dan penjelasan
Perjanjian Lama, maka kita terutama akan membuka Perjanjian
Lama untuk melihat apa yang disingkapkan di sana tentang tujuan
Allah. Perjanjian Lama dimulai dengan "Injil pertama" (Kejadian
3:15) dan dilanjutkan sampai seluruh program itu selesai diuraikan.
Pernyataan ini dapat dilihat dari sudut kitab Taurat dan kitab para
nabi.
Tujuan, Rencana, dan Cara yang Dipakai Allah 305
1. Kitab Taurat. Yang dimaksudkan dengan kitab Taurat di sini
ialah hukum-hukum Musa yang dapat ditemukan dalam Pentateukh.
Pertama, semua teofani atau penampakan-diri Allah kepada Musa,
dan bahkan kadang-kadang kepada seluruh umat Israel, membantu
untuk menetapkan dan mengembangkan iman kepada Allah yang
berkepribadian. Demikian pula halnya dengan berbagai mukjizat
yang dialami bangsa Israel saat di Mesir dan selama pengem
baraan di padang gurun dalam perjalanan mereka ke Kanaan.
Kedua, perincian tuntutan-tuntutan ilahi bersamaan dengan
hukumannya kalau mereka tidak menaatinya, membantu untuk
membangkitkan keinsafan akan kesalahan serta ketakutan akan
akibat-akibat dosa. "Oleh hukum Taurat orang mengenal dosa"
(Roma 3:20). Hukum Taurat ini dinamakan "penuntun bagi kita
sampai Kristus datang" (Galatia 3:24). Ketiga, penetapan sebuah
sistem korban dan keimaman untuk menyelenggarakannya, menun
jukkan perlunya suatu cara untuk menghilangkan kesalahan manusia
dan juga pemberian cara itu oleh Allah. Pengertian yang memadai
tentang kitab Imamat diperlukan agar dapat memahami kitab Ibrani.
2. Kitab Para Nabi. Allah menyatakan tujuan-Nya juga melalui
suara nubuat. Kedatangan Kristus telah dinubuatkan dengan jelas.
Banyak nubuat membicarakan kerajaan Kristus di atas muka bumi
ini, karena hal itu juga merupakan bagian dari rencana keselamatan
yang ditetapkan Allah. Akan namun , sekarang ini kita hanya ingin
membicarakan nubuat-nubuat yang menyebut bagaimana Kristus
merendahkan diri-Nya supaya dapat menyelamatkan kita dari dosa.
Setelah menyaring nubuat-nubuat ini dari banyak nubuat lain, ter
nyatalah nubuat-nubuat ini memberi tahu hal yang berikut: Kristus
(a) akan "meremukkan" kepala ular (Kejadian 3:15); (b)
menyingkirkan segala kefasikan dari Yakub (Roma 11:26, 27; band.
Yesaya 59:20), (c) memikul dosa banyak orang (Yesaya 53:12);
dan agar dapat melakukan hal ini , (d) mempersembahkan
nyawa-Nya sebagai korban penghapus dosa; (e) menyerahkan
nyawa-Nya ke dalam maut; dan (f) terhitung di antara pemberon
tak-pemberontak (Yesaya 53:10, 12). Pengalaman salib digambar
kan secara hidup dalam Mazmur pasal 22.
Penyataan Allah juga nampak dalam berbagai lambang yang ter
dapat dalam Perjanjian Lama, di dalam diri tokoh-tokoh seperti
Adam (Roma 5:12-21; I Korintus 15:45), Melkisedek (Ibrani 7:1-3),
306 Soteriologi
dan Yosua (Ulangan 18:18; Kisah 3:22, 23); dalam peristiwa-peris
tiwa tertentu seperti ular tembaga (Yohanes 3:14-16) dan pengem
baraan di padang gurun (I Korintus 10:6, 11); atau jabatan-jabatan
seperti nabi (Kisah 3:22), imam (Ibrani 3:1), dan raja (Zakharia
9:9); atau lembaga-lembaga seperti Paskah (I Korintus 5:7); dan
hal-hal semacam kemenyan (Wahyu 8:3) serta tirai (Ibrani 10:20).
Paulus mengatakan bahwa Allah telah "menyatakan rahasia
kehendak-Nya kepada kita, sesuai dengan rencana kerelaan-Nya,
yaitu rencana kerelaan yang dari semula telah ditetapkan-Nya di
dalam Kristus sebagai persiapan kegenapan waktu untuk memper
satukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang
di sorga maupun yang di bumi" (Efesus 1:9, 10). Paulus juga ber
bicara tentang "maksud abadi, yang telah dilaksanakan-Nya dalam
Kristus Yesus, Tuhan kita" (Efesus 3:11). Kita tidak perlu sangsi
lagi bahwa Allah memiliki tujuan yang jelas.
II. RENCANA ALLAH
Tuhan yang berkarya secara teratur di alam semesta tidak mem
biarkan penyelamatan manusia dilaksanakan menurut cara yang
semrawut dan tak menentu. Alkitab menunjukkan bahwa Allah
mempunyai rencana keselamatan yang pasti bagi manusia. Rencana
ini meliputi sarana yang dipakai untuk menyediakan keselamatan,
sasaran-sasaran yang akan diwujudkan, orang-orang yang akan
menerima keselamatan ini , syarat-syarat untuk memperoleh
keselamatan, serta perantara dan sarana bagi penerapan keselamatan
itu. Dapat ditambahkan bahwa Allah hanya memiliki satu rencana
keselamatan saja dan bahwa bila orang akan diselamatkan maka
mereka harus diselamatkan dalam cara yang sama, apakah mereka
itu orang-orang yang bermoral atau tidak, berpendidikan atau tidak,
Yahudi atau bukan Yahudi, dan apakah ia hidup pada zaman Per
janjian Lama ataukah pada zaman sekarang.
A. PENYATAAN RENCANA ALLAH
Kita harus mempelajari seluruh Alkitab bila kita benar-benar hendak
mengetahui rencana Allah. Misalnya, seseorang mungkin memper
Tujuan, Rencana, dan Cara yang Dipakai Allah 307
hatikan apa yang dikatakan Yesus kepada orang muda yang kaya
itu, 'namun jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah
segala perintah Allah" (Matius 19:17), lalu ia berusaha untuk
menyelamatkan dirinya sendiri dengan berbuat baik. Penafsiran
semacam ini samasekali tidak sesuai dengan makna yang sebenar
nya dalam ayat itu. Sebagaimana alam semesta yaitu ladang
penelitian bagi seorang ilmuwan, demikianlah Alkitab bagi seorang
teolog, yaitu sekumpulan fakta yang tak teratur atau baru sebagian
saja teratur. Dari fakta-fakta inilah ia merumuskan gagasan-
gagasannya yang umum. Sebagaimana sangat tidak bertanggung
jawab bagi seorang ilmuwan untuk menarik kesimpulan sebelum
mengadakan penelitian yang cermat, demikian pulalah tidak ber
tanggung jawab bagi seorang teolog untuk merumuskan ajaran-
ajaran Alkitab tanpa penelitian yang cermat. Prinsip ini amat sangat
penting dalam penelaahan doktrin keselamatan, karena di bidang
ini ada amat banyak perselisihan pendapat dan kesimpulan-
kesimpulannya berdampak amat luas.
B. GARIS BESAR RENCANA ALLAH
Beberapa hal termasuk di dalam rencana Allah. Alkitab mengajar
kan bahwa Allah telah menyediakan keselamatan melalui pribadi
dan karya Putra-Nya. Sang Putra telah diutus untuk menjadi ma
nusia, mati ganti kita, bangkit kembali dari antara orang mati, naik
kepada Allah Bapa, menerima kedudukan yang berkuasa di sebelah
kanan Allah, dan menghadap Allah atas nama orang percaya. Ia
akan datang kembali untuk menyempurnakan penebusan. Karya
Putra Allah ini bertujuan menyelamatkan kita dari kesalahan,
hukuman, kuasa, dan akhirnya kehadiran dosa. Rencana ini juga
meliputi penebusan alam, yang ikut takluk kepada kesia-siaan akibat
dosa manusia. Keselamatan disiapkan bagi dunia dalam arti yang
umum, namun secara khusus bagi orang-orang yang terpilih, yaitu
mereka yang mau percaya kepada Kristus serta taat kepada-Nya.
Pertobatan mutlak diperlukan untuk keselamatan, namun hanya
sebagai persiapan hati kita dan bukan sebagai harga yang harus
dibayar untuk memperoleh hidup yang telah dikaruniakan oleh
Tuhan. Iman yaitu satu-satunya syarat untuk memperoleh
keselamatan, dan iman itu juga merupakan karunia Allah. Roh
Kudus yaitu perantara dalam penerapan keselamatan pada jiwa
308 Soteriologi
seseorang. Roh Kudus memakai Firman Allah untuk menginsafkan,
menunjuk jalan kepada Kristus, dan untuk memperbaharui jiwa.
Roh Kudus melanjutkan pekerjaan pengudusan dalam kehidupan
orang percaya. Keselamatan belumlah sempurna sebelum orang per
caya dibangkitkan dan dipersembahkan kudus dan tak bercacat
kepada Kristus oleh Roh Kudus.
III. CARA-CARA YANG DIPAKAI OLEH ALLAH
Sekalipun Allah hanya memiliki satu rencana keselamatan, Ia mem
punyai berbagai cara untuk menangani manusia berhubungan de
ngan rencana keselamatan ini , dan hal itu terjadi dalam jangka
waktu yang panjang. Alkitab menunjukkan bahwa masa persiapan
yang amat panjang ini sangat perlu. Alkitab mengatakan, 'namun
setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang
lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat"
(Galatia 4:4).
Masa persiapan yang begitu lama ini mempunyai tiga tujuan:
untuk memperlihatkan kepada manusia sifat-dosa yang sesungguh
nya dan betapa dalamnya kebejatan yang ke dalamnya manusia te
lah terperosok, menyatakan kepadanya bahwa ia tidak berdaya un
tuk memelihara atau memperoleh kembali pengenalan yang mema
dai akan Allah, juga tidak berdaya untuk membebaskan dirinya dari
dosa dengan memakai bantuan filsafat dan kesenian, serta mengajar
kan kepadanya bahwa pengampunan serta pemulihan hubungan
dengan Allah hanya dapat terjadi berdasarkan pengorbanan seorang
pengganti. Sejarah menunjukkan betapa tidak sempurnanya pema
haman dunia akan kebenaran-kebenaran ini; sekalipun demikian
pemahaman yang tidak sempurna pun sudah cukup bagi Allah untuk
memperkenalkan Sang Juruselamat kepada umat manusia. Sarana-
sarana yang dipakai oleh Allah untuk mencapai tujuan ini banyak
sekali. Sekalipun Allah tidak berubah, namun sering kali cara-cara
yang dipakai-Nya itu berubah. Ia telah memakai suatu lingkungan
yang sempurna, hati nurani, pemerintahan manusiawi, janji-janji
yang membangkitkan iman, serta hukum Musa. Saat ini Allah
memakai penyataan yang lebih lengkap dari Perjanjian Baru, dan
di kemudian hari Allah sendiri akan memerintah dengan tongkat
Tujuan, Rencana, dan Cara yang Dipakai Allah 309
besi. Cara-cara yang disebut di atas hanya mengakibatkan kegagalan
dan berakhir dengan hukuman. Inilah yang akan terjadi juga pada
zaman sekarang dan pada zaman yang akan datang. Hal ini nampak
jelas kalau kita melihat dengan lebih teliti bagaimana Alkitab mem
bagi waktu dalam berbagai periode.
A. DALAM ZAMAN PERJANJIAN LAMA
Pada mulanya Allah menempatkan orang tua pertama kita di taman
Eden, suatu lingkungan yang amat sempurna. Allah telah mencipta
kan mereka berdua tanpa sifat daging atau duniawi dan menye
diakan segala sesuatu yang perlu bagi kebahagiaan dan kekudusan
mereka. Allah mengharuskan mereka menempuh ujian yang seder
hana sambil mengingatkan mereka terhadap akibat-akibat ketidak
taatan. Allah mempunyai hubungan pribadi dengan mereka. Namun,
saat Iblis datang dengan menyamar sebagai ular, Hawa mende
ngarkan apa yang dikatakannya, memakan buah yang terlarang,
memberikan juga kepada suaminya dan suaminya pun memakan
nya. Sebagai akibatnya, mereka kini bersalah di hadapan Allah; sifat
mereka kini tercemar; mereka mati secara rohani; dan mereka
mewariskan dampak-dampak dosa mereka kepada seluruh
keturunannya. Mereka kini tidak lagi memiliki pengenalan yang
benar akan Allah, namun pikiran mereka menjadi sia-sia, dan hati
mereka yang bodoh menjadi gelap. Allah mengusir mereka dari
taman itu setelah mengutuk ular dan tanah.
Hati nurani kini menjadi aktif, dan manusia diberi kesempatan
untuk menunjukkan bahwa hukum Allah yang tertulis dalam sifat
manusia sudah cukup untuk menuntun manusia kembali kepada
Allah. Akan namun , Kain sendiri menjadi pembunuh; dan sekalipun
untuk sementara garis keturunan Set menunjukkan kesalehan, tidak
lama kemudian kesalehan itu pun lenyap. Kehidupan semua
manusia menjadi rusak dan segala kecenderungan hatinya jahat
semata-mata. Tidak ada seorang pun yang mencari Allah. Suara
hati nurani ternyata tidak cukup kuat untuk mendorong manusia
mencari kehadiran Allah serta jalan keselamatannya. Allah terpaksa
menjatuhkan hukuman ke atas bumi. Hanya Nuh dan keluarganya
yang selamat; yang lain musnah oleh air bah yang luar biasa yang
dikirim oleh Allah sebagai hukuman kepada manusia karena
dosanya.
310 Soteriologi
Setelah air bah Allah memberikan penerangan kepada Nuh ten
tang cara-cara manusia harus menyelenggarakan pemerintahan. Para
pembunuh harus dihukum mati menurut hukum. Itulah fungsi ter
tinggi pemerintah, dan secara tak langsung menyatakan fungsi-
fungsi lain yang lebih rendah. Manusia harus memerintah atas nama
Allah, dan manusia akan diarahkan oleh Allah sendiri melalui
hukum-hukum yang adil dan kudus. Akan namun , manusia mengada
kan federasi yang besar serta mendirikan sebuah menara untuk
menyembah berhala. Kemuliaan dan kesombongan manusia nam
paknya telah merupakan tujuan utama dalam membangun menara
Babel. Manusia telah berhenti memerintah atas nama Allah dan
telah mulai memerintah atas namanya sendiri. Oleh karena itu, Allah
turun kembali untuk menghukum bangsa manusia yang tidak taat
serta mengacaukan bahasa mereka. Kemudian orang-orang itu
dicerai-beraikan ke seluruh permukaan bumi sehingga timbullah
bangsa-bangsa yang berbeda-beda. Berbagai pemerintahan yang
timbul kini tidak lagi memikirkan Allah, dan manusia merosot ke
tingkat pemujaan berhala.
Kemudian Allah memanggil Abraham untuk meninggalkan
negerinya serta mengikuti Dia ke sebuah negeri yang baru. Abraham
taat kepada Allah, dan Allah membuat perjanjian dengan dia. Allah
berjanji akan memberikan Abraham keturunan yang amat banyak,
memberikan kepada keturunannya tanah yang telah didiaminya
sebagai orang asing, dan menjadikan dia berkat bagi semua bangsa.
Janji yang terakhir itu memandang ke depan kepada kedatangan
Mesias, namun tidak terbatas pada peristiwa ini . Abraham dan
keturunannya harus menjadi berkat rohani bagi bangsa-bangsa
sepanjang masa. Janji ini diulang kepada Ishak dan Yakub.
Yakub dan keluarganya pindah ke Mesir. Sebagai akibatnya mereka
dianiaya oleh orang Mesir dan Allah sendiri harus membebaskan
mereka dari tempat perbudakan itu.
Di Gunung Sinai Allah menawarkan perjanjian kerja dan umat
Israel telah menyatakan bersedia menerima tawaran perjanjian kerja
ini . Mereka berjanji bahwa "segala yang difirmankan Tuhan
akan kami lakukan" (Keluaran 19:8). Akan namun , jelaslah bahwa
bangsa itu tidak mempertimbangkan kebejatan hati manusia ataupun
kuasa Iblis. Sebelum Musa dapat memberikan dua loh batu berisi
Sepuluh Perintah Allah, Israel telah membuat sebuah berhala dan
mulai menyembahnya. Kisah kegagalan Israel di Kadesy-Barnea,
Tujuan, Rencana, dan Cara yang Dipakai Allah 311
di bawah pimpinan para hakim, dan selama pemerintahan para raja
mereka telah terkenal. Di bawah pemerintahan para hakim,
beberapa kali Allah mengizinkan mereka ditaklukkan oleh bangsa-
bangsa yang menjajah, dan setelah suatu jangka waktu yang pendek
kerajaan utara dibawa tertawan ke Asyur. Sekitar 135 tahun
kemudian kerajaan selatan dibawa tertawan ke Babilonia. Sekitar
lima puluh atau enam puluh ribu jiwa kembali dari Babilonia,
namun kelakuan mereka tidaklah lebih baik.
saat Yesus Mesias mereka datang, mereka menolak Dia dan
menuntut agar Ia disalibkan oleh orang-orang Romawi. Akhirnya,
Allah mengutus orang-orang Roma yang sama ini untuk menghan
curkan kota dan bait suci mereka serta mencerai-beraikan mereka
ke seluruh muka bumi. Mereka menghormati hukum Taurat dengan
bibirnya, namun hati mereka jauh dari Allah. Telah terbukti bahwa
ketentuan-ketentuan hukum tidak dapat membuat manusia mencari
Allah, demikian pula pengorbanan hewan tidak dapat mengubah
hati manusia.
B. PADA ZAMAN SEKARANG
Suatu perubahan besar telah terjadi dalam cara yang digunakan
untuk masa kini. Masa sekarang ini yaitu zaman gereja. Setelah
semua cara yang sebelumnya dipakai, akhirnya Sang Juruselamat
sendiri yang datang. Dengan kematian-Nya, Tuhan Yesus mengada
kan pendamaian untuk dosa orang-orang percaya dari zaman Per
janjian Lama dan dari zaman Perjanjian Baru (Roma 3:21-26).
Sekarang Allah menawarkan kepada setiap orang keselamatan
melalui Yesus Kristus. Sebelum zaman ini, rencana keselamatan
hanya dipahami secara samar-samar; kini seluruh rencana itu telah
terpampang sehingga siapa saja dapat mengetahuinya. Yang diminta
dari setiap orang hanyalah kesediaan untuk menerima apa yang
telah dipersiapkan Allah di dalam Kristus. Bila seseorang dengan
iman menerima tawaran hidup itu, orang itu akan dilahirkan kembali
oleh Roh Kudus. Roh Kudus kemudian melanjutkan karya yang
dimulai dalam pembaharuan serta menyempurnakan kekudusan di
dalam diri orang percaya. Walaupun rencana ini sederhana dan
jelas, baik Alkitab maupun pengamatan kita memberi tahu bahwa
manusia tidak dengan cepat menanggapi ajakan Injil. Sesungguh
nya, Alkitab mengatakan bahwa menjelang akhir zaman banyak
312 Soteriologi
orang akan meninggalkan iman mereka dan kefasikan akan
merajalela. Allah akan membawa gereja-Nya pulang untuk tinggal
bersama Dia, dan menyerahkan sisa penduduk bumi kepada
kesengsaraan dahsyat yang akan datang. Bahkan dalam zaman
gereja pun ketidakpercayaan merajalela dan orang-orang percaya
hanya sedikit jumlahnya.
C. PADA MASA DEPAN
Perubahan yang lebih besar lagi dijanjikan untuk masa Kerajaan
Seribu Tahun. Kristus hams memerintah setiap bidang yang telah
dikuasai oleh dosa. Dahulu Ia telah datang dan menawarkan untuk
menjadi raja dan juruselamat Israel, namun sebagian besar bangsa
itu tidak memperhatikan tawaran-Nya samasekali. Ia akan kembali
dengan kemuliaan dan akan memerintah dunia ini dengan
kekuasaan-Nya. Sebagai Putra Daud, Kristus akan mendirikan
sebuah kerajaan di bumi ini. Israel akan menjadi pusat kerajaan itu
dan Yerusalem menjadi ibukotanya. Semua bangsa akan berziarah
ke Gunung Sion. Periode ini akan diawali dengan pertobatan dunia,
karena Kristus akan menghukum semua bala tentara yang melawan
Dia di Harmagedon, menghukum bangsa-bangsa yang mengirim
angkatan perang mereka, dan akhirnya Iblis akan diikat. Hanya
orang-orang yang sudah diselamatkan di bumi yang akan memasuki
kerajaan Allah. Akan namun , banyak orang akan lahir selama ber
langsungnya Kerajaan Seribu Tahun itu dan mereka tidak akan per
caya Tuhan dengan sungguh-sungguh. Ada yang berpura-pura taat
kepada Tuhan. Dosa akan diberantas dengan tongkat besi, namun
banyak orang akan patuh secara lahiriah saja. Kemunafikan banyak
orang akan tampak pada akhir masa Kerajaan Seribu Tahun, karena
saat Iblis dilepaskan untuk sedikit waktu lamanya, orang-orang
yang tidak sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan dengan segera
akan mengikut Iblis. Hukuman akan menimpa pemberontakan yang
baru ini, dan Iblis dilemparkan ke dalam lautan api. Juga Kerajaan
Seribu Tahun tidak berhasil menjadikan dunia ini benar. Hanya
kasih karunia Allah yang bekerja dalam hati seseorang pada tiap
zaman dapat mengubah kehidupannya secara permanen; dan karena
tidak semua orang pada tiap zaman akan menerima kasih karunia
itu, maka tidak semua orang yang akan diselamatkan.
XXII
Pribadi Kristus:
Berbagai Pandangan dari Sejarah
dan Keadaan Prapenjelmaan
Cara yang dipakai Allah untuk menebus umat manusia ialah melalui
keturunan perempuan (Kejadian 3:15). Sang Penebus akan
dilahirkan oleh seorang perempuan, dilahirkan di bawah hukum
Taurat (Galatia 4:4). Ia harus yang manusiawi namun juga yang
ilahi sehingga dapat menjadi perantara di antara manusia dengan
Allah serta mendamaikan kedua pihak. Perdamaian hanya dapat
tercapai melalui penjelmaan, yaitu Allah yang menjadi manusia.
Pasal ini akan membahas aneka pandangan yang telah timbul sepan
jang sejarah gereja tentang pribadi Kristus, di samping memberikan
pembahasan ringkas tentang keadaan-Nya sebelum menjelma men
jadi manusia.
I. BERBAGAI PANDANGAN YANG TIMBUL DALAM
KURUN SEJARAH GEREJA
Sebuah survai mengenai berbagai pandangan yang telah
dikemukakan tentang pribadi Kristus menunjukkan bahwa aneka
ragam pandangan yang telah dikemukakan; dalam kesempatan ini
kami hanya menyebut pandangan-pandangan yang paling menonjol.
A. GOLONGAN EBIONIT
Golongan ini merupakan sisa sekte Kristen Yahudi yang fanatik
menekankan pemeliharaan hukum Taurat. Mereka mengajarkan
313
314 Soteriologi
bahwa Yesus, putra Maria dan Yusuf, telah menggenapi hukum
Taurat secara demikian sehingga Allah memilih dia untuk menjadi
Mesias. Kesadaran bahwa Allah telah memilih dia untuk menjadi
Mesias itu datang saat dia dibaptis, yaitu saat menerima Roh
Kudus. Mereka menolak keilahian Yesus dan kelahiran-Nya dari
seorang perawan. Penolakan itu disebabkan karena kepercayaan
akan keilahian Kristus nampaknya bertentangan dengan
monoteisme. Kesesatan pandangan ini sudah jelas.
B. GOLONGAN GNOSTIK
Kalau kaum Ebionit menunjukkan pemutarbalikan kebenaran yang
berbau Yahudi, maka pemutarbalikan kebenaran yang dilakukan
golongan Gnostik itu berbau kafir. Sistem gnostik ini dipengaruhi
oleh paham dualisme yang mendasar: yang tinggi dan yang rendah,
roh dan daging, yang baik dan yang jahat. Karena daging dianggap
jahat, maka pastilah Allah tidak mungkin menjelma menjadi
manusia yang berdarah-daging, paling sedikit tidak menurut tafsiran
yang ortodoks mengenai penjelmaan. Jadi, pribadi Yesus Kristus
diterangkan menurut salah satu dari dua cara ini. Golongan Gnostik
Cerintian mengajarkan bahwa Kristus yang ilahi mendatangi Yesus
yang manusiawi saat ia dibaptis dan meninggalkannya lagi
beberapa saat menjelang kematian Yesus. Golongan Gnostik
Dosetisme beranggapan bahwa Yesus sebenarnya semacam hantu,
dan hanya kelihatannya saja memiliki tubuh jasmaniah. Ajaran
Gnostik yang baru mulai disinggung dalam surat Kolose, I dan II
Tesalonika, I Yohanes, Yudas, dan Wahyu. Kesalahan doktrin yang
berkaitan dengan pribadi Kristus dengan tegas ditolak dalam Kolose
1:15-18; 2:9; Ibrani 2:14; I Yohanes 2:22, 23; 4:2-6, 15; 5:1-6; dan
II Yohanes 7.106
106 Untuk pembahasan yang lebih lengkap mengenai kaum Ebionit dan para penganut
ajaran Gnostik, lihat Berkhof, The History of Christian Doctrines, hal. 44-50.
C. GOLONGAN ARIUS
Pada awal abad keempat Masehi, Arius dari Alexandria memper
juangkan pendapat bahwa sekalipun Kristus dapat disebut Allah, ia
sebenarnya bukanlah Allah dan samasekali tidak ada kesamaan
hakikat ataupun kekekalan. Sebelum waktu ada, Kristus telah dicip-
Pribadi Kristus: Berbagai Pandangan dari Sejarah ... 315
takan. Ia, Logos Allah itu, yaitu yang pertama-tama diciptakan,
dan ia kemudian menjadi pelaksana dalam penciptaan dunia. saat
menjelma, Logos memasuki tubuh manusia serta menggantikan roh
manusia. Jadi, Kristus tidaklah sepenuhnya Allah dan juga tidak
sepenuhnya manusia. Ayat-ayat seperti Markus 13:32; Yohanes
5:19; 14:28; dan I Korintus 15:28 dipakai untuk mendukung
gagasan itu. Konsili di Nicea tahun 325, menolak Arianisme sebagai
ajaran sesat dan menyatakan bahwa Yesus Kristus diperanakkan,
bukan dibuat, dan bahwa Ia itu sehakikat dengan Sang Bapa.
D. GOLONGAN APOLINARIS
Konsili di Nicea tidak mengakhiri semua perdebatan itu, karena
hubungan antara tabiat ilahi dan tabiat insani Kristus tidak dijelas
kan secara memadai. Ada risiko terbitnya dua pandangan yang
ekstrem: pada satu pihak, ada pandangan bahwa tabiat ilahi begitu
menyerap tabiat insani sehingga yang insani itu akan kehilangan
identitasnya, atau pada pihak lain, identitas kedua tabiat begitu ber
beda sehingga dapat dikatakan bahwa Kristus memiliki dua kepriba
dian. Apolinaris, yang menerima pandangan yang pertama, berang
gapan bahwa Yesus memiliki tubuh yang sejati dan jiwa hewani,
namun tidak mempunyai roh atau pikiran yang rasional. Logos
mengisi tempat inteligensi manusia. Pandangan ini menghormati
keilahian Kristus, namun akibatnya ialah merusak kemanusiaan-Nya
yang sejati. Konsili Konstantinopel ke-1 tahun 381 mengutuk ajaran
ini sebagai ajaran yang sesat.
E. GOLONGAN NESTORIUS
Nestorius tidak menerima adanya perpaduan antara dua tabiat Kris
tus dalam satu pribadi sehingga Nestorius menganjurkan adanya
dua kepribadian. Logos tinggal di dalam si manusia Yesus, sehingga
perpaduan antara kedua tabiat ini dapat disamakan dengan
tinggalnya Roh Kudus di dalam orang yang telah diselamatkan. Pan
dangan ini membahayakan keilahian sejati Kristus. Kristus berbeda
dengan orang lain karena di dalam diri-Nya tinggallah kepenuhan
kehadiran Allah dan tabiat ilahi di dalam Kristus itu secara sem
purna mengendalikan tabiat insani-Nya. Sidang Sinode di Efesus,
tahun 431, menyalahkan ajaran ini sebagai ajaran sesat.
316 Soteriologi
F. GOLONGAN EUTIKHES
Golongan Eutikhes menganut pandangan yang bertolak belakang
dengan pandangan golongan Nestorius. Golongan Eutikhes berang
gapan bahwa Kristus tidak memiliki dua tabiat, namun satu tabiat
saja. Seluruh diri Kristus bersifat ilahi, termasuk tubuh-Nya. Yang
ilahi dan yang manusiawi di dalam Kristus disatukan, sehingga
menghasilkan tabiat yang ketiga. Golongan Eutikhes ini sering kali
disebut sebagai golongan Monofisit karena mereka sebenarnya
membuat kedua tabiat Kristus itu menjadi satu tabiat saja. Konsili
Khalsedon, tahun 451, menolak ajaran ini. Golongan Monofisit ke
mudian mengambil haluan yang baru. Beberapa penganutnya meng
ajarkan bahwa Kristus hanya memiliki satu kehendak. Akan namun ,
Konsili Konstantinopel yang ke-3, tahun 681, menolak ajaran
Monotelit ini, dengan menyatakan bahwa di dalam Kristus ada dua
tabiat, yaitu yang ilahi dan yang manusiawi, sehingga dengan demi
kian ada dua inteligensi dan dua kehendak di dalam diri Kristus.
G. PANDANGAN ORTODOKS
Konsili di Khalsedon, tahun 451, telah menetapkan pandangan
gereja yang resmi. Yesus Kristus yaitu satu, namun Ia memiliki
dua sifat, yaitu yang ilahi dan yang manusiawi. Dia yaitu Allah
sejati dan manusia sejati, terdiri atas tubuh dan jiwa yang rasional.
Ia sehakikat dengan Bapa dalam ke-Allahan-Nya dan sehakikat de
ngan manusia dalam kemanusiaan-Nya, kecuali dosa. Dalam ke-
Allahan-Nya Ia sudah ada bersama Bapa sebelum dunia dijadikan,
dan dalam kemanusiaan-Nya Ia lahir dari perawan Maria. Perbedaan
antara dua tabiat ini tidak berkurang saat dipersatukan,
namun keistimewaan masing-masing tabiat itu tetap terpelihara
sekalipun disatukan di dalam diri Yesus Kristus. Yesus tidak terbagi
menjadi dua pribadi; Ia yaitu satu pribadi, yaitu Anak Allah.
II. KRISTUS SEBELUM PENJELMAAN
Kita akan membahas pribadi Kristus secara historis namun dengan
pengertian yang berbeda. Pertama-tama kita akan memperhatikan
Pribadi Kristus: Berbagai Pandangan dari Sejarah ... 317
beberapa hal yang menunjukkan wujud-Nya yang sejati dalam kea-
daan-Nya sebelum penjelmaan. Beberapa hal telah disebut saat
kita membahas Trinitas, namun hal-hal itu perlu disebut kembali
dalam kesempatan ini sedangkan ada beberapa hal lain yang perlu
ditambahkan. Di masa lampau yang kekal, Kristus "bersama-sama
dengan Allah", dan sesungguhnya Ia "yaitu Allah" (Yohanes 1:1).
Ini berlangsung "sebelum dunia ada" (Yohanes 17:5). Ia dinamakan
"Firman" (Yohanes 1:1,14; Wahyu 19:13). Firman atau kata yaitu
sarana pengungkapan, suatu sarana untuk berkomunikasi, dan suatu
cara untuk menyatakan sesuatu. Selaras dengan penafsiran ini, kita
membaca dalam Ibrani 1:2 bahwa "pada zaman akhir ini Ia [Allah]
telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya." Bahwa
Yohanes memandang Logos sebagai berkepribadian jelas nampak
dari susunan kalimatnya. Yohanes mengatakan theos en ho logos,
yang artinya bahwa Logos yaitu Allah, namun tidak berarti bahwa
Logos seluruhnya dari Allah. Bila Yohanes mengatakan, ho theos
en ho logos, maka ia menjadikan istilah Allah dan Logos dapat
dipertukartempatkan satu sama lain, sehingga dengan demikian ia
mengajar Sabellianisme. Paulus menyebutkan Kristus sebagai "yang
sulung . . . dari segala yang diciptakan" (Kolose 1:15; lihat juga
pemakaiannya berhubungan dengan Mesias di Mazmur 89:27). Ge
lar ini tidak berarti bahwa Kristus yaitu yang pertama-tama dicip
takan; "yang dimaksudkan dengan gelar ini ialah bahwa Kristus,
yang sudah ada sebelum alam semesta ini diciptakan, memiliki hak
istimewa sebagai anak yang sulung atas segala penciptaan, ’yang
berhak menerima segala yang ada’ (Ibrani 1:2). Kristus hadir saat
alam semesta diciptakan, dan seluruh karya penciptaan ini dilakukan
baik bagi Dia maupun oleh Dia."107 Sedikit sekali yang kita ketahui
tentang pekerjaan Kristus sebelum dunia diciptakan. Kita hanya
mengetahui bahwa Allah Bapa menciptakan alam semesta oleh
Kristus (Ibrani 1:2) dan bahwa Ia telah memilih orang-orang per
caya di dalam Kristus sebelum dunia dijadikan (Efesus 1:4).
107 Simpson dan Bruce, Commentary on the Epistles to the Ephesians and the
Colossians, hal. 194.
Alkitab berkali-kali menyatakan bahwa Kristus ikut serta dalam
penciptaan. Yohanes menulis bahwa "segala sesuatu dijadikan oleh
Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala
yang telah dijadikan" (Yohanes 1:3; bandingkan dengan ayat 10).
318 Soteriologi
Paulus mengatakan bahwa segala sesuatu telah dijadikan oleh Dia
dan karena Dia kita hidup (I Korintus 8:6), dan bahwa di dalam
Dia "telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang
ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik
singgasana maupun kerajaan, baik pemerintah maupun penguasa;
segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Ia ada terlebih
dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia"
(Kolose 1:16, 17). Ayat-ayat ini menunjukkan Kristus sebagai pen
cipta, pemelihara, serta sasaran penciptaan. Perhatian khusus dapat
diberikan kepada kenyataan bahwa sebelum manusia diciptakan
Allah telah terjadi perundingan di antara ke-Allahan. Allah berfir
man, "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa
Kita" (Kejadian 1:26). Amsal 8:30 berbunyi, "Aku ada serta-Nya
sebagai anak kesayangan."
Sekalipun Oknum kedua Trinitas sering kali tampak dalam Per
janjian Lama, tidak pernah Ia disebut Kristus. Sebagai gantinya,
kita mengenal nama-nama seperti Anak, Yehova, dan Malaikat Tu
han. Dalam Mazmur 2:7 Yehova menyebut-Nya "Anak-Ku." Lebih
sering lagi Ia dinamakan Yehova. Perhatikan pemakaian istilah ini
dalam Kejadian 19:24, "Kemudian Tuhan [Yehova] menurunkan
hujan belerang dan api atas Sodom dan Gomora, berasal dari Tuhan
[Yehova], dari langit." Sudah pasti bahwa Dialah sama dengan yang
disebut Tuhan (Yehova) dalam Kejadian 18:13, 14, 17-20, 33. Allah
berfirman, "namun Aku akan menyayangi kaum Yehuda dan
menyelamatkan mereka demi Tuhan [Yehova], Allah mereka"
(Hosea 1:7). Dalam Mazmur 45:6 Yehova menamakan-Nya Allah.
Paling sering Ia tampil sebagai Malaikat Tuhan (Yehova).
Penampilan-penampilan-Nya dalam Perjanjian Lama sebagai
Malaikat Tuhan sangat penting. Sebagai Malaikat Tuhan, Ia menam
pakkan diri kepada Hagar dan menyuruh dia untuk kembali dan
tunduk kepada Sara, serta menambahkan bahwa Ia akan memper
banyak keturunan Hagar (Kejadian 16:7-14). Sebagai Malaikat
Tuhan, Ia menampakkan diri kepada Abraham dan menahan tangan
Abraham saat akan menyembelih Ishak, anaknya (Kejadian
22:11-18). Sebagai Malaikat Tuhan, Ia memberi tahu Yakub bahwa
Ia akan membuat Yakub makmur sekalipun Laban bertindak curang
kepadanya (Kejadian 31:11-13). Kepada Musa Malaikat Tuhan
menampakkan diri dalam nyala api yang keluar dari semak duri
Pribadi Kristus: Berbagai Pandangan dari Sejarah ... 319
serta meminta agar Musa tidak mendekat, karena tanah tempat ia
berdiri itu kudus (Keluaran 3:2-5). Perhatikan bahwa Ia disebut
Allah dalam ayat 4. Kemudian dikisahkan bahwa Malaikat Allah
berjalan di depan bangsa Israel saat mereka meninggalkan Mesir
(Keluaran 14:19; bandingkan dengan 23:20; 32:34). Paulus me
ngatakan bahwa batu karang yang mengikuti mereka saat itu ialah
Kristus (I Korintus 10:4). saat Bileam datang hendak mengutuk
Israel, Malaikat Tuhan mencegat dia serta menyuruh dia untuk
mengucapkan apa yang dikatakan-Nya saja (Bilangan 22:22-55).
Selanjutnya, Malaikat Tuhan datang kepada Gideon saat sedang
mengirik gandum secara diam-diam agar tersembunyi dari orang-
orang Midian yang sedang menjajah mereka. Malaikat Tuhan
menyuruh Gideon pergi membebaskan Israel (Hakim-Hakim 6:11-
24). Malaikat Tuhan menampakkan diri kepada Manoah dan men
janjikan dia seorang putra, yang oleh istrinya dinamakan Simson
(Hakim-Hakim 13:2-24). saat Daud berdosa dengan menghitung
rakyatnya, Allah mengutus Malaikat Tuhan untuk membawa
penyakit sampar (I Tawarikh 21:1-27). saat Elia lari dari hadapan
Izebel, Malaikat Tuhan datang dan menyegarkan Elia di bawah
pohon arar (I Raja-Raja 19:5-7). Pastilah, Malaikat Tuhan yang
sama juga yang berbicara dengan Elia di Gunung Horeb (ayat 9-18).
saat Sanherib menyerbu Yehuda, Malaikat Tuhan datang
menyelamatkan orang-orang Yahudi yang mengalami banyak
kesukaran. Ia membunuh 185.000 orang Asyur dalam satu malam
saja (II Raja-Raja 19:35). Dalam Zakharia 1:11 Malaikat Tuhan
berdiri di antara pohon-pohon murad sambil menerima laporan dari
berbagai utusan. Dalam Zakharia 3:1 diperlihatkan imam besar
Yosua sedang berdiri di hadapan Malaikat yang sama. Dari semua
ayat ini, kita mengetahui bahwa Kristus memiliki eksistensi yang
tersendiri selama masa Perjanjian Lama dan bahwa Ia berulang-
ulang berurusan dengan orang-orang Israel.
XXIII
Pribadi Kristus: Kristus Merendah
kan Diri-Nya
Ayat-ayat berikut mengajarkan bahwa Kristus yang sudah ada sebe
lumnya menjadi manusia: "Firman itu telah menjadi manusia" (Yo
hanes 1:14); "setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-
Nya yang lahir dari seorang perempuan" (Galatia 4:4; bandingkan
dengan Roma 8:3); "yang walaupun dalam rupa Allah, . . . telah
mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang ham
ba, dan menjadi sama dengan manusia" (Filipi 2:6, 7); dan "karena
anak-anak itu yaitu anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga
menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan
mereka" (Ibrani 2:14).
Kisah-kisah kelahiran Kristus (Matius 1, 2; Lukas 1, 2) mem
berikan laporan sejarah mengenai penjelmaan Yesus serta menga
takan bahwa itulah karya mukjizat Roh Kudus. Kenyataan bahwa
Yesus yang yaitu tokoh sejarah itu sesungguhnya Anak Allah yang
abadi yang kedatangan-Nya telah dinubuatkan dalam Perjanjian
Lama merupakan tema khotbah para rasul (Kisah 17:3; 18:5, 28).
Bahkan sejarah sekular mengakui bahwa Yesus Kristus pernah
hidup di bumi. Sejarawan Roma yang bernama Tacitus (112 M)
serta Yosefus, sejarawan Yahudi abad pertama, keduanya
menyebutkan adanya seorang tokoh bernama Yesus.108 Akan namun ,
untuk mengetahui mengapa dan bagaimana penjelmaan itu terjadi
kita harus kembali kepada Alkitab.
108 Geisler, A Popular Survey of the Old Testament, hal. 11.
321
322 Soteriologi
I. ALASAN TERJADINYA PENJELMAAN
Ada beberapa alasan mengapa Allah menjadi manusia.
A. UNTUK MENGUKUHKAN JANJI-JANJI ALLAH
Allah menjadi manusia untuk mengukuhkan janji-janji Allah yang
telah diberikan pada para leluhur Israel serta untuk menunjukkan
kemurahan kepada orang-orang bukan Yahudi (Roma 15:8-12).
Bermula dari janji dalam Kejadian 3:15 dan berlanjut terus sepan
jang Perjanjian Lama, Allah berkali-kali berjanji untuk mengutus
Anak-Nya ke dunia. Oleh karena itu Yesaya mengatakan, "Sebab
seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putra telah diberikan
untuk kita" (9:5), dan "sesungguhnya seorang perempuan muda
mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia
akan menamakan Dia Imanuel" (7:14). Mikha mengatakan, 'namun
engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum
Yehuda, daripadamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan
memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak
dahulu kala" (5:1). Suatu penelitian yang cermat terhadap naskah
Perjanjian Lama menunjukkan adanya dua garis nubuat mengenai
kedatangan Kristus: Ia akan datang sebagai Juruselamat dari dosa,
dan sebagai Raja untuk memerintah kerajaan-Nya.
Tujuan pertama kedatangan-Nya telah dilambangkan dalam kor
ban-korban di Perjanjian Lama (I Korintus 5:7) dan diajarkan dalam
banyak Mazmur (16:8-10; 22:2, 8-9, 19; 41:10-12) serta kitab para
nabi (Yesaya 52:14; 53:4-6; Daniel 9:26; Zakharia 11:12, 13; 13:1,
7). Tujuan yang kedua dinubuatkan dalam banyak ayat Alkitab
(Kejadian 17:6, 16; 49:9,10; Ulangan 17:14-20; II Samuel 7:12-17;
Mazmur 2; 8; 24; 45; 72; 89; 110; Yesaya 11:1-10; Yeremia 23:5;
31:31-34; Yehezkiel 37:15-24; Zakharia 14:9). Oleh karena itu,
saat saatnya tiba Ia datang dengan peran ganda yaitu sebagai
Juruselamat dan Raja; sebagaimana telah dikatakan oleh Matius, Ia
yaitu anak Daud namun Ia juga anak Abraham (Matius 1:1).
Malaikat Gabriel telah memberitahukan kepada Maria bahwa Tuhan
Allah "akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud" (Lukas 1:32),
dan Yesus sendiri mengatakan, "Aku diutus hanya kepada domba-
domba yang hilang dari umat Israel" (Matius 15:24). Sekalipun
Pribadi Kristus: Kristus Merendahkan Diri-Nya 323
demikian, umat-Nya sendiri tidak menerima Dia (Yohanes 1:11);
dan sekalipun masyarakat mengelu-elukan Dia sebagai anak Daud
saat Ia dengan menunggang keledai masuk Yerusalem (Matius
21:9), namun beberapa hari kemudian masyarakat yang sama itu
terbujuk oleh para pemimpin agama untuk menuntut penyaliban-
Nya. Demikianlah Ia mati sebagai korban pengganti, dan menjadi
Juruselamat dunia serta batu penjuru gereja (Matius 16:18, 21;
Kisah 20:28; Efesus 2:20 dan 5:25).
B. UNTUK MENYATAKAN BAPA
Dalam Perjanjian Lama, Allah dinyatakan sebagai pencipta dan pe
nguasa. Perjanjian Lama menunjukkan kesatuan, kekudusan,
keperkasaan, serta kemurahan Allah. Kristus melengkapi penyataan
ini dengan menambahkan gagasan Allah sebagai Bapa (Matius
6:9). Yohanes menulis, "Tidak seorang pun yang pernah melihat
Allah; namun Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa,
Dialah yang menyatakan-Nya" (Yohanes 1:18). Yesus mengajarkan
kepada murid-murid-Nya bahwa melihat Dia berarti sama saja de
ngan melihat Bapa (Yohanes 14:9), bahwa Bapa mengasihi kita
semua (Yohanes 16:27), bahwa Bapa mengetahui apa yang kita per
lukan sebelum kita minta kepada-Nya (Matius 6:8, 32), bahwa Bapa
tidak akan menahan sesuatu yang akan menguntungkan makhluk-
makhluk ciptaan-Nya (Matius 5:45; Yohanes 3:3, 5; I Yohanes 3:1,
2). Hubungan antara seorang anak Allah dengan Bapa-Nya di sorga
merupakan suatu konsep Perjanjian Baru yang sangat indah.
C. UNTUK MENJADI IMAM BESAR YANG SETIA
Tuhan datang agar memenuhi syarat untuk bertindak selaku imam
besar yang setia. Kristus datang supaya dapat mengalami semua
pengalaman manusia, terlepas dari dosa, sehingga Ia berhak menjadi
imam besar. Imam besar Perjanjian Lama dipilih dari antara
manusia agar mereka dengan setia dapat mewakili umat manusia
(Ibrani 5:1, 2). Demikian pula Kristus telah dipilih dari antara
manusia karena alasan-alasan yang sama (Ibrani 5:4, 5). "Sebab
memang sesuai dengan keadaan Allah—yang bagi-Nya dan oleh-
Nya segala sesuatu dijadikan-yaitu Allah yang membawa banyak
orang kepada kemuliaan, juga menyempurnakan Yesus yang
324 Soteriologi
memimpin mereka kepada keselamatan, dengan penderitaan" (Ibrani
2:10). Jadi, ada kesempurnaan yang diperoleh Kristus melalui
berbagai pengalaman-Nya sebagai manusia. Perhatikan selanjutnya,
"Itulah sebabnya, maka dalam segala hal Ia harus disamakan dengan
saudara-saudara-Nya, supaya Ia menjadi Imam Besar yang menaruh
belas kasihan dan yang setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa
seluruh bangsa. Sebab oleh karena Ia sendiri telah menderita karena
pencobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai" (Ibrani
2:17, 18). "Sebab Imam Besar yang kita punya bukanlah imam
besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita,
sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat
dosa." Berdasarkan alasan inilah dikatakan selanjutnya, "Sebab itu
marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih
karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih
karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya" (Ibrani
4:15, 16). Kenyataan bahwa Ia merasa lapar, merasa tidak adanya
simpati dari orang lain, bahwa Ia sering tidak bisa tidur, bahwa Ia
lelah karena harus bekerja keras, bahwa Ia mengalami tiap pen
cobaan yang menimpa manusia, bahwa Ia menderita karena salah
pengertian, ditinggalkan, dianiaya, dan diserahkan untuk dihukum
mati, itu semuanya merupakan persiapan bagi pelayanan-Nya yang
sekarang sebagai imam.
D. UNTUK MENGHAPUS DOSA
Dengan mengorbankan diri-Nya sendiri Kristus telah menghapus
dosa (Ibrani 9:26). Kebenaran ini sudah disebut saat kita mem
bahas tujuan pertama penjelmaan, namun pokok bahasan ini perlu
dikemukakan secara lebih khusus sebagai tujuan yang terutama.
Yesus mengatakan, "Anak Manusia juga datang bukan untuk
dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-
Nya menjadi tebusan bagi banyak orang" (Markus 10:45). Ditun
jukkan dengan jelas bahwa Yesus Kristus harus menjadi manusia
agar Ia dapat mati karena dosa umat manusia. Dalam surat Ibrani
dikatakan, "namun Dia, yang untuk waktu yang singkat dibuat
sedikit lebih rendah daripada malaikat-malaikat, yaitu Yesus, kita
lihat, yang oleh karena penderitaan maut, dimahkotai dengan
kemuliaan dan hormat, supaya oleh kasih karunia Allah Ia meng
alami maut bagi semua manusia" (2:9); Yohanes mengungkapkan-
Pribadi Kristus: Kristus Merendahkan Diri-Nya 325
nya sebagai berikut, "Dan kamu tahu bahwa Ia telah menyatakan
diri-Nya, supaya Ia menghapus segala dosa, dan di dalam Dia tidak
ada dosa" (I Yohanes 3:5).
Beberapa hal perlu diperhatikan. Jika Kristus datang untuk
menyerahkan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi banyak orang, maka
kita tahu bahwa Ia datang untuk menebus orang-orang dari dosa
mereka oleh kematian-Nya. Dengan demikian kita juga mengetahui
bahwa kematian-Nya bersifat mengganti atau mewakili dan, selan
jutnya, bahwa tidak semua orang, namun banyak orang yang akan
diselamatkan. Gagasan menghapus dosa nampaknya mengacu
kepada kambing jantan yang memikul dosa umat Israel dalam Per
janjian Lama. Pada Hari Raya Pendamaian yang diselenggarakan
setiap tahun seekor kambing jantan dipersembahkan sebagai korban
bakaran, dan yang seekor lagi diusir ke padang gurun setelah segala
dosa umat Israel diakui di atas kepalanya (Imamat 16:20-22). Jadi
Kristus yaitu "Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia"
(Yohanes 1:29; bandingkan dengan ayat 36). Sebagaimana
dikatakan oleh Yesaya, "Kita sekalian sesat seperti domba, masing-
masing kita mengambil jalannya sendiri, namun Tuhan telah menim
pakan kepadanya kejahatan kita sekalian" (53:6). Dan saat
dikatakan bahwa Ia mengalami maut bagi semua orang, maka yang
dimaksud ialah bahwa Ia mati sebagai pengganti semua orang.
Mereka yang mempercayai kebenaran ini dibebaskan dari penga
laman kematian itu sendiri. Paulus menyatakan bahwa Ia yang tidak
mengenal dosa telah menjadi dosa karena kita semua, supaya di
dalam Dia kita dibenarkan di hadapan Allah (II Korintus 5:21).
Kristus datang untuk mengajar manusia, membantu mereka dalam
hal materiel dan fisik, memberikan sebuah teladan kepada mereka,
dan lain sebagainya, namun di atas semuanya itu, Ia datang untuk
mati karena dosa manusia. Kematian-Nya merupakan tuntutan dasar
bagi semua berkat lainnya yang kita nikmati.
E. UNTUK MEMBINASAKAN PEKERJAAN IBLIS
Segera setelah Yohanes menyatakan bahwa Kristus menyatakan
diri-Nya untuk menghapus dosa (I Yohanes 3:5), ia menulis bahwa
Kristus juga datang untuk membinasakan pekerjaan Iblis (ayat 8).
Alkitab mengatakan, "Karena anak-anak itu yaitu anak-anak dari
darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan
326 Soteriologi
mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematian-Nya
Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut" (Ibrani
2:14). Hal ini dilakukan-Nya supaya "Ia membebaskan mereka yang
seumur hidupnya berada dalam perhambaan oleh karena takutnya
kepada maut" (ayat 15).
Kedatangan Kristus, khususnya karya-Nya di salib, mengalahkan
Iblis (Yohanes 12:31; 14:30). Iblis kini yaitu seorang musuh yang
telah dikalahkan. Ia telah kehilangan kuasanya atas orang-orang
yang dahulu tunduk kepadanya; pada suatu hari ia akan dicampak
kan ke dalam laut api yang menyala-nyala (Wahyu 20:10). Lalu
segala sesuatu yang dikerjakannya dengan memasukkan dosa dalam
dunia akan berakhir, kecuali hukuman kekal bagi orang-orang yang
menjadi pengikutnya. Stott mengemukakan, "jika kedatangan
Kristus yang pertama semata-mata bertujuan untuk menghapus dosa
dan membinasakan segala perbuatan Iblis, maka orang-orang Kris
ten tidak boleh berkompromi dengan dosa ataupun Iblis, sebab kalau
tidak demikian mereka akan berperang melawan Kristus."109
109 Stott, The Epistles of John, hal. 125.
F. UNTUK MEMBERIKAN TELADAN HIDUP YANG KUDUS
Sekalipun maksud tujuan ini tidak terungkap secara terus terang,
namun kebenaran ini tersirat dalam banyak ayat. Sebagai contoh,
"Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku
lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenang
an" (Matius 11:29); "sebab untuk itulah kamu dipanggil karena
Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan
teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya" (I Petrus 2:21);
dan "barangsiapa mengatakan bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib
hidup sama seperti Kristus telah hidup" (I Yohanes 2:6). Para
penulis Alkitab merupakan guru-guru yang tidak mungkin salah,
namun mereka bukanlah tokoh-tokoh yang tidak ada salahnya. Kris
tuslah satu-satunya yang sempurna, baik ajaran-Nya maupun watak -
Nya. Kita perlu mempunyai contoh mengenai sifat yang sebenarnya
diinginkan Allah dari kita. Kristus yaitu Juruselamat orang percaya
dan Ia juga merupakan teladan orang percaya. Alkitab mengatakan
kepada orang yang tidak percaya, percayalah dan terimalah hidup
kekal; kepada yang sudah percaya, Alkitab mengatakan ikutilah
Pribadi Kristus: Kristus Merendahkan Diri-Nya 327
jejak-Nya. Urutan ini tidak pernah diubah. Dorongan yang paling
kuat untuk hidup kudus bukanlah peraturan, melainkan teladan,
khususnya teladan seseorang yang sangat dekat dengan kita. saat
Musa turun dari atas gunung tempat ia berbicara berhadapan muka
bersama Allah, mukanya bercahaya (Keluaran 34:29). Demikian







