iinterogasi
(Yoh. 18:36).
3) Kematian Kristus tidak ada hubungannya dengan pembayaran hutang dosa,
pada hal Alkitab menyatakan yang sebaliknya (Yes. 53:3-7). Dalam perikop
ini Yesaya menubuatkan bahwa kematian Tuhan Yesus ialah untuk
menggantikan manusia yang harus mati sebab dosa mereka.
Pendapat-pendapat di atas perlu mendapat pemahaman yang cermat agar tidak
menjadi terpengaruh dengan jawaban-jawaban ini . Kelihatannya jawaban-
jawaban itu secara rasional dapat diterima. Namun kalau dibandingkan dengan
apa yang dikatakan oleh Alkitab jawaban-jawaban ini sangat
mengelirukan. Yang jelas ialah bahwa Kristus telah mati untuk menggantikan
manusia yang harus mati sebab dosa-dosa mereka. Alkitab mengatakan bahwa
Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuatNya menjadi dosa sebab kita, supaya
di dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah (2 Kor. 5: 21).
3. Kesimpulan
Sebagai kesimpulan dari penjelasan di atas dan yang sekaligus menjadi keyakinan
iman bagi setiap orang percaya ialah:
a. Orang percaya tidak turut dihukum lagi sebab mereka sudah berpindah dari
dalam maut ke dalam hidup (Yoh. 5:24).
b. Orang percaya tidak dihukum lagi sebab Kristus sudah mati untuk
menggantikannya (Yes. 53:3-7).
c. Untuk keselamatan dari hukuman maut tidak perlu ada juruselamat yang lain
16
atau usaha apapun sebab keselamatan dan hidup kekal itu sudah menjadi milik
16
orang percaya saat ia menerima Yesus menjadi Juruselamatnya. Ia sudah
memiliki hidup kekal (1 Yoh. 5:11-12).
G. Penebusan
1. Pengertian Istilah
Istilah ―penebusan‖ (kb) berasal dari kata ―tebus‖. Dari beberapa pengertian
yang diberikan oleh Drs. Yandianto ada dua pengertian yang erat hubungannya
dengan pembahasan dalam buku ini. Pengertian ini yaitu :
a. Membayar dengan uang untuk mengambil barang yang tergadai.
b. Membayar dengan uang dan sebagainya untuk membebaskan sandera, tawanan,
budak dan sebagainya. The Holt Intermediate Dictionary of American English
mengatakan ―redemption‖ (kb) berasal dari kata kerja ―redeem‖ yang
artinya: to buy back; regain possession of something by payment in money or
in action.
―Redemption‖ artinya ―act of redeeming or buying back‖. Arti yang kedua
ialah
―deliverance from sin; salvation of mankind by Jesus Christ‖. L.L.
Morris memberikan pengertian yang dipertautkan dengan konsep Alkitab. Ia
mengatakan bahwa ―redemption‖ (penebusan) artinya ―deliverance from
some evil by payment of a price‖.
Jadi menurut kamus ini ada tiga elemen yang penting dalam istilah
―penebusan‖ yaitu: Penebus, yang ditebus dan uang tebusan. Penebus harus
mengeluarkan sejumlah bayaran (ransom) untuk dapat membebaskan orang yang
ditebus. Jadi pada awalnya istilah tebusan dipertautkan dengan istilah perdagangan.
Pada zaman dahulu praktek ini terjadi kalau seseorang mengadakan pembelian di
pasar, khususnya di pasar perbudakan. Seorang budak yang dibeli oleh seorang tuan
akan menjadi miliknya seumur hidup kecuali ada seseorang yang lebih tinggi
kedudukannya dari pemilik ini yang rela membeli budak itu, lalu budak
ini akan berpindah kepemilikan menjadi milik tuan yang menebusnya. Satu
contoh dalam Alkitab ialah hubungan Filemon dengan budaknya Onesimus yang
dikirim kembali oleh Paulus kepadanya setelah diinjili. Hal ini merupakan contoh
yang paling relevan.
2. Konsep Penebusan Secara Teologis
Konsep ini kemudian menjadi konsep teologi alkitabiah yang besar. Allah
menebus manusia dari perbudakan dosa dan setan. Allah di dalam Yesus yang
memiliki kedudukan yang tinggi memiliki wewenang untuk menebus manusia
yang yaitu budak dosa.
a. Dalam Perjanjian Baru ada tiga istilah yang dipakai untuk membangun doktrin
ini, yaitu ―agorazo, eksagorazo dan lutroo‖.
1) Pertama, ―agorazo‖ artinya ―membayar‖, menyerahkan sesuatu
sebagai harga pembayaran bagi sesuatu benda yang dibeli. Mat. 13:44
berbicara tentang pembelian harta yang tersembunyi, yaitu mutiara yang
murni . Kemudian pedagang itu menjual semua hartanya untuk dapat
membeli mutiara ini . Pemakaian khusus istilah ini berhubungan dengan
keselamatan manusia. Istilah ini berarti pemberian suatu harga yang
setimpal dengan dosa manusia agar manusia bisa ditebus. Penebusan itu
dilakukan dengan membayar harga, yaitu darah Tuhan Yesus Kristus (Wah.
5:7). Yesus yang menebus dan manusia dibeli bagi Allah. Dalam 2 Petrus
2:1 dijelaskan bahwa penebusan itu berlaku bagi guru-guru palsu yang
16
belum diselamatkan bila mereka bertobat. Dalm 1 Kor. 6:19-20; 7:23; Wah.
16
5:4; 14:3-4 dinyatakan bahwa hasil yang diharapkan dari penebusan ini
ialah agar manusia yang ditebus mempermuliakan Allah dengan tubuhnya.
2) Kedua, ―eksagorazo‖ yang memiliki akar kata yang sama dengan
istilah pertama dan yang ditambah dengan prefix ―eks‖. Tujuannya
ialah untuk mempertegas atau memberi tekanan kepada arti akar katanya
dan artinya ialah ―dari‖ atau ―keluar dari‖. Dengan demikian
―eksagorazo‖ berarti
―dibeli keluar dari pasar dosa atau dipindahkan dari perbudakan
dosa‖. Galatia 3:13 dan 4:5 menyatakan bahwa sebab karya Kristus
manusia ditebus dari kutuk hukum Taurat. Dengan demikian manusia yang
menyambut karya Kristus di dalam hidupnya dipindahkan dari kutuk hukum
Taurat ini sehingga ia bebas dari kutuk ini . Dengan kata lain
Kristus menebus manusia dari maut sebab kutuk dosa yang terjadi sebab
mereka tidak mampu melakukan tuntutan Taurat. Darah yang dicurahkan
pada kematian Tuhan Yesus Kristus yaitu alat menebus atau bayaran dan
sekaligus memicu terjadinya perpindahan orang percaya yang ditebus
dari perbudakan dosa/ pasar dosa dan diberi jaminan penuh sebagai hamba
Kristus yang bangkit. Yoh. 10:28 mengatakan bahwa hasil penebusan itu
ialah keselamatan yang selama-lamanya. Hal ini berarti bahwa keselamatan
itu hanya satu kali dan berlaku untuk selama-lamanya. Keselamatan itu tidak
dapat lagi lepas dari seorang yang sudah ditebus Kristus. Hal ini ditandai
dengan meterai, yaitu Roh Kudus (Ef. 1:12-13) dan warisan sebagai anak
(Gal. 4:5)
3) Ketiga, ―lutroo‖ (kata kerja) yang artinya ―membebaskan‖,
―memerdekakan‖, ―melepaskan‖. Dalam konteks Alkitab orang
percaya dibebaskan dari belenggu dosa dan dilepaskan sebagai orang
merdeka. Yesus sendiri memakai kata ―lutroo‖ yang diterjemahkan
dengan ―menebus‖ dalam Mat. 20:28; Mark. 10:45. Dalam nyanyian syukur
Zakaria (Luk. 1:68- 69) yang kemungkinan sekali diucapkan dengan
pertolongan Roh Kudus pada waktu penyunatan Yohanes Pembaptis
(menurut Alford Greek New Testament) menyatakan bahwa kelepasan atau
keselamatan bukan sebab sunat namun dengan ―terbitnya tanduk dari
keturunan Daud‖, yaitu Yesus Kristus yang berkuasa. (Note: ―Tanduk‖:
istilah yang dipakai dalam Alkitab menggambarkan ―kuasa‖: 2 Sam.
22:3). Jadi tanduk keselamatan berarti
―Juruselamat yang penuh kuasa‖. Hana juga dalam nyanyian pujian
(Nune Dimittis) yang disampaikannya memberi penyataan yang serupa (Luk.
2:38) dimana ia mengulangi pujian Simeon tentang ―penantian akan
pembebasan‖. Ia termasuk sisa-sisa (remnant) yang tetap setia beriman
kepada Allah dan terus menanti akan datangnya Juruselamat. Penulis
kepada jemaat Ibrani (Ibr. 9:12) memakai kata ―lutroo‖ dalam
kaitannya dengan arti
―kemerdekaan kekal‖. Untuk itu sarana yang dipakai untuk menebus
(to redeem) ialah diri Kristus (He is the Great Redeemer) yang mati sebagai
pengganti (substitution, 1 Tim. 2:6) dengan mencurahkan darahNya yang
tidak bercacat (Kol. 1:14;1 Petr. 1:18-19).
b. Dalam Perjanjian Lama pengertian ―penebusan‖ ini dipakai
berhubungan dengan:
1) Kegiatan Allah membebaskan umatNya dari perbudakan di Mesir. (Kel.6:6;
16
15:13), dari pembuangan di Babilonia (Yer. 31:11; 50:33-34). Allah
membebaskan dari dosa yang memicu penawanan itu (Yes. 40:2).
16
2) Kegiatan Allah membebaskan pengikutNya secara pribadi dari
kesengsaraan (Ayub 19:25; bandingkan Ams. 23:10-11. Bagi seorang
percaya penebusan Allah disediakan untuk membebaskan diriNya dari
sengsara di dunia dan di akhirat.
3) Kegiatan Allah (Yahweh) untuk membebaskan umatNya dari dosa-dosanya
(Yes. 59:20 bnd. Dengan Yes. 42:22). Mazmur 49:7-8 menegaskan bahwa
tak seorangpun mampu menebus dirinya sendiri. Paulus menegaskan aspek
penenebusan ini dalam Roma 11:26.
Hasil dari penebusan ini yaitu :
1) Penebusan terjadi sebab pembenaran yang dari Yesus (Rom. 3:24).
2) Ditebus dari kuasa dosa dan menyucikan suatu umat bagi perbuatan yang
baik (Tit. 2:14).
3) Ditebus dari kehadiran dosa yang terus menerus, dosa tak berhak hadir
(Rom. 8:23).
4) Jaminannya ialah kehadiran Roh Kudus (Ef. 1:13-14) yang
memeteraikannya resmi menjadi anak dan milik Allah.
5) Hak istimewa untuk menghambakan diri kepada Kristus.
6) Tujuannya ialah untuk memuji kemuliaan Allah (Ef. 1:6,12).
3. Kesimpulan
Penjelasan di atas dapat disimpulkan:
a. Penebusan bagi orang berdosa ada sebab hal itu berasal dari Allah (Yes. 44:21-
23; 43:1 dan Luk. 1:68).
b. Setiap orang percaya yaitu orang yang sudah ditebus Allah dari dosa dan
perbudakan setan dan penebusan itu diberikan melalui Tuhan Yesus Kristus
(Mat. 20:28; Gal. 3:13).
c. Bayaran untuk penebusan itu ialah darah Tuhan Yesus (Kis. 20:28; Ibr. 9:12; 1
Petr. 1:19; Wah. 5:9).
d. Penebusan dilaksanakan untuk membebaskan orang percaya dari perhambaan
hukum Taurat (Gal. 4: 5); kutuk hukum Taurat (Gal. 3:13); kuasa dosa (Rom.
6:18, 22) dan kuasa maut dan neraka (Maz. 49:16; Hos. 13:14).
e. Jadi, orang percaya yaitu orang merdeka sebab Yesus berkata: Jadi jika
Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka. (Yoh. 8:3).
H. Pemuasan
1. Pengertian Istilah
Holt memberi arti untuk istilah ―propitiate‖yaitu ―to win over someone
who is angry‖. Untuk kata benda ―propitiation‖, The New Bible
Dictionary81 mengartikannya sebagai ―the removal of wrath by the offering of
a gift‖. Istilah Perjanjian Baru yang dipakai untuk ―pemuasan‖ ialah
―hilasmos‖ yang berarti
―memuaskan‖, mendamaikan dengan diri sendiri‖. Dalam LXX istilah
yang digunakan ialah ―kapher‖ yang berarti ―menutupi atau
memeteraikan‖. Pemakaiannya lebih berhubungan dengan kenajisan dan bukan
kelaliman orang berdosa.
Sebagian orang Kristen kurang menyetujui pemakaian istilah ini dengan alasan
bahwa seakan-akan Allah Alkitab yaitu Allah pemurka. sebab itu mereka
menggantikan istilah ini dengan kata ―expiation‖. Namun masalahnya ialah
bahwa istilah ini harus diikuti oleh obyek, misalnya dosa. namun tidak mungkin
dikatakan
―we expiate sin‖, ―kita memuaskan dosa‖. Sementara itu istilah propitiation
16
selalu dipertautkan dengan orang. Misalnya, ―We propitiate a person‖
artinya, ―Kita
16
memuaskan satu pribadi‖. Makna dari kalimat ini ialah bahwa kemarahan orang
ini menjadi surut oleh sebab diberikan sesuatu kepadanya.
Komentar dari sebagian orang tentang kurang sesuainya pemakaian istilah
―propitiation‖ sebenarnya kurang beralasan kalau ditinjau dari sudut
Alkitab. Walaupun Allah itu kasih adanya (1 Yoh. 4:8) dan walaupun Musa
mengatakan : Tuhan itu berpanjang sabar dan kasih setianya berlimpah-limpah, Ia
mengampuni kesalahan dan pelanggaran. (Bil. 14: 18a) namun ayat itu dilanjutkan
dengan : .......
namun sekali-kali tidak membebaskan orang yang bersalah dari hukuman, bahkan Ia
membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan ketiga dan
keempat. (Bil. 14: 18b)
Perjanjian Lama berulangkali mengatakan bahwa Allah murka kepada orang-orang
berdosa yang tidak mengindahkan Dia. Jadi walaupun Allah itu penuh dengan belas
kasihan dan lambat murka (Neh. 9:17) namun Ia memberikan reaksi keras terhadap
semua bentuk dosa. Murka Allah yaitu merupakan perwujudan kekudusanNya
sebab Ia tidak mau bahwa umat yang telah dikuduskanNya bercampur-baur dengan
dosa. Bahkan dalam Perjanjian Baru, Paulus mengatakan bahwa:
Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita
kudus dan tak bercacat di hadapanNya. (Ef. 1: 4)
2. Pengertian Istilah ―Pemuasan‖ Secara Teologis
Arti teologia ―pemuasan‖ ialah ―bahwa kematian Yesus Kristus memuaskan
hati Allah‖. Hal ini berarti bahwa murka Allah atas manusia yang disebabkan oleh
dosa telah terselesaikan (Mark. 3:29; Rom. 1:18). Kematian Yesus Kristus
memuaskan hati Allah yang memicu Dia menerima kita ke dalam keluargaNya.
Orang percaya mempercayakan diri kepada Dia yang memuaskan hati Allah itu.
Lingkupnya ialah seluruh dunia (Yoh. 2:2). Firman Allah banyak memberikan
pernyataan tentang murka Allah. Contoh dalam Perjanjian Baru: Yoh. 3:36; Rom.
1:18, 2:5, 5:9; Ef. 5:6; 1 Tes. 1:10; Ibr. 3:11; Wah. 19:15. Sejalan dengan pikiran ini
Perjanjian Baru menyatakan bahwa kematian Kristus yaitu merupakan
persembahan yang memuaskan hati Allah sehingga murka Allah ditiadakan (Ro.
3:25). Beberapa ayat yang penting yang sehubungan dengan pemuasan ialah 1 Yoh.
3:2; 1 Yoh. 4:10 dan Rom. 3:25. Sehubungan dengan 1 Yoh. 2:2, Canon Wescott
memberikan komentar sebagai berikut: Konsep Alkitab sehubungan dengan kata
kerja ini yaitu bahwa tidak seorangpun yang terhindar dari kemarahan atau murka
Allah, yang dinyatakan dengan adanya senantiasa perasaan yang melawan dalam diri
pribadi si pelanggar, namun karakter yang asing menghalangi adanya persekutuan.‖ Ia
sendiri, yaitu Kristus yaitu suatu pemuasan. Dalam hal ini ada penekanan tentang
konsep iman yang terdapat dalam Perjanjian Lama. Lingkupnya ialah semua orang,
bersifat transparansi dan perlu pembasuhan.
Leon Morris memberikan komentar terhadap 1 Yohanes 4:10 sebagai berikut:
Artikel tertentu yang dinyatakan sebelum kasih dunia, bukanlah jenis kasih namun
dalam hal ini secara khusus hal itu berhubungan dengan sifat Allah, yaitu sifat
ketuhananNya. Kata-kata kerja ―mengasihi‖ dan ―menyuruh‖ dalam bentuk
aorist menunjukkan bahwa kasih Allah yang pasti dan berlaku juga dengan pasti
dalam sejarah manusia. Ia menyuruh AnakNya yang tunggal menjadi korban
pemuasan sebab segala dosa manusia. Lingkup jangkauannya ialah segala dosa kita.
Dalam Roma 3:25 terdapat istilah ―hilasterion‖. Istilah ini artinya ―tempat
pemuasan‖. Jadi kematian Tuhan Yesus di sini bukan saja memuaskan hati Allah
namun juga sekaligus juga tempat manusia berkepuasan akan Allah. Lingkup
17
cakupannya meliputi dosa manusia di masa lampau juga.
17
Beberapa ayat lain yang menyatakan arti ―kursi pengadilan‖ (the throne of
grace) salah satu contohnya ialah Ibrani 9:5. Hilasterion disini digunakan untuk
melukiskan keadaan di kemah sembahyang dimana pembungkus dari Taurat (dua loh
batu) disebut ―hilasterion‖. Lihat juga tentang hal itu di dalam kitab
Keluaran 25:20. Pembungkus ini berkilat bercahaya, suatu perlambang tentang
kesucian dan kemuliaan Allah, pembungkus tahta anugerah. Sedangkan darah yang
dicurahkan sekali setahun berfungsi menutup dosa manusia. Jadi latar belakang
hilasterion itu sendiri menunjukkan tempat pertemuan yang suci (Allah) dan yang
berdosa (manusia). Bandingkan dengan Keluaran 25:22.
Jadi Tuhan Yesus Kristus sendirilan ―the throne of grace‖, tempat pertemuan
orang berdosa dengan Allah yang suci yang telah dipuaskan oleh hidupNya yang
tanpa dosa dan oleh darah pengorbananNya. Shedd menyimpulkan: Oleh
persembahan pengganti untuk penebusan orang-orang berdosa, murka Allah terhadap
dosa telah didamaikan dan orang yang telah didamaikan itu dibebaskan dari
penghukuman sebab dosa.
Kristus sudah taat sampai mati, Allah sudah puas. Jadi tidak perlu ada korban lagi
atau berbuat apapun untuk memuaskan Allah. Tak ada dan tak perlu perbuatan lain
apapun untuk memuaskan hati Allah yang memang sudah puas. Sebelum kematian
Kristus tidak ada kepastian bagi manusia tentang bagaimana memuaskan hati Allah
(Luk. 18:13). Ternyata kini Allah telah menyatakannya. Apakah yang dituntut Allah
kemudian? Yang dituntut Allah ialah agar manusia merasa puas dengan
pengorbanan Kristus dan menerimaNya (Yoh. 1:12) dan berjuang untuk tidak
kembali ke bawah perhambaan dosa lagi sebab Allah sudah puas.
3. Kesimpulan
Hal-hal berikut dinyatakan sebagai kesimpulan bagian ini:
a. Orang yang sudah di dalam Kristus tidak turut dihukum lagi sebab Kristus telah
mati untuk mereka.
b. Kematian Tuhan Yesus Kristus dan darahNya yang dicurahkan untuk
pengampunan dosa manusia telah memuaskan hati Allah. Murka Allah telah
dipikul Tuhan Yesus sehingga orang yang beriman kepada Yesus diterima
menjadi anggota keluarga Allah
I. Perpalingan
1. Pengertian Istilah
―Perpalingan‖ diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan ―conversion‖.
Holt memberikan arti, ―a change from one religion or belief to another‖.Drs.
Yandianto memberi arti ―meninggalkan agama, murtad. Pengertian yang
diberikan kamus bahasa Inggris maupun Indonesia tidak begitu sempurna walaupun
menyinggung perkara ―berbalik‖ dari satu kepercayaan kepada kepercayaan
lain. Tapi dalam pengertian kerohanian yang berlandaskan Alkitab pengertian
istilan ―perpalingan‖ ialah pembalikan pikiran seorang berdosa secara sukarela dari
dosa (negatif) kepada Kristus (positif). Tindakan pembalikan dari segi negatif
disebut ―pertobatan‖ dan dari segi positif disebut ―iman‖. Dengan
demikian bagan berikut dapat menggambarkan: DOSA ----------
PERTOBATAN-----------------------------------------------------IMAN
Louis Berkhof mengatakan bahwa ―perpalingan‖ atau ―conversion‖ artinya:
a change that is rooted in the work of regeneration, and that is affected in the
conscious life of a sinner by the Spirit of God; a change of thoughts and opinions, of
desires and volitions, which involves a conviction that the former direction of life
17
was unwise and wrong and alters the entire course of life. Definisi yang diberikan
17
oleh Berkhof sangat lengkap sekali. Ia mengatakan bahwa perpalingan itu diinisiasi
oleh Roh Allah dan bukan semata-mata bersumber dari dorongan hati manusia.
Perubahan yang dihasilkan mencakup konsep berpikir dan berpendapat, mencakup
keinginan dan tujuan hidup. Hal ini terjadi dalam sikap sadar sebab adanya satu
keyakinan yang menyatakan bahwa tujuan hidup yang sebelumnya tidak benar.
a. Di dalam Perjanjian Lama ada 2 istilah yang dipakai untuk kata ―perpalingan‖:
1) Nacham, yang berarti pertobatan yang disertai dengan kesadaran dan
kesedihan yang dalam akan dosa yang memicu adanya perubahan
dalam rencana dan tindakan (contoh: 1 Sam. 15:12-25).
2) Shubh, artinya berbalik (to turn) atau kembali (to return): satu perpalingan
kepada Tuhan dari manusia yang telah terpisah dari Tuhan sebab dosa.
b. Dalam Perjanjian Baru istilah yang dipakai ialah ―metanoia‖ istilah yang
dipakai untuk menyatakan perpalingan sejati kepada Allah, yaitu perpalingan
yang terjadi sebab perubahan pikiran, melihat kekurangan-kekurangan masa
lalu dan penyesalan akan kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan. Istilah
kedua ialah
―epistrophe‖ yang diterjemahkan dengan pertobatan (KPR 15:3) dan
dipakai hanya satu kali dalam Perjanjian Baru. Istilah ketiga ialah
―metameleia‖ dan dipakai 5 kali dalam Perjanjian Baru, yaitu Mat. 21:29, 33;
27:3; 2 Kor. 7:10 dan Ibr. 7:21. Artinya ialah ―to become a care to one
afterword‖. Hal ini bukan berarti perpalingan sejati. Kata ini berarti
―menyesal‖ namun tidak benar berbalik dari kesalahan itu. Contoh, Yudas
Iskariot (Mat. 27:3).
2. Pengertian Istilah ―Perpalingan‖ Secara Teologis
Conversion atau perpalingan yaitu titik perubahan rohani yang fundamental jika
ditinjau dari segi manusia. Jika ditinjau dari segi perbuatan Allah maka aspek ini
dikenal sebagai ―kelahiran baru‖ (regenaration). Berkhof mengatakan bahwa
ada 2 jenis perpalingan atau conversion:
a. Active conversion: the act of God whereby He causes the regenerate sinner, in
His conscious life, to turn to Him in repentance and faith.
b. Passive Conversion : the resulting conscious act of the regenerated sinner
whereby he, through the grace of God, turns to God in repentance and faith.
Keduanya berbeda dalam penekanan. Dalam pengertian yang pertama dikatakan
bahwa Allahlah yang aktif untuk menyadarkan manusia agar berbalik kepada dia
dalam pertobatan dan iman. Sedang dalam pengertian yang kedua, manusialah yang
aktif yang dengan sadar berbalik kepada Allah dalam pertobatan dan iman.
Alkitab mengakui bahwa pembalikan dari dosa kepada Kristus yaitu disebabkan
oleh gerakan illahi (Yer. 31:18). Geraakan illahi itu terjadi sebab pemberitaan
firman Tuhan. Roh Kudus memakai firman itu untuk menyadarkan orang akan
kebenaran, dosa dan penghakiman (Yoh. 16:8). Alkitab mengakui juga bahwa
aktivitas ini harus disertai dengan tindakan manusia secara sukarela untuk berbalik
haluan meninggalkan dosa dan memandang kepada Kristus saja (Yehez. 14:6; KPR
3:19). Manusia harus atas kemauannya sendiri berbalik arah dan berharap untuk
diselamatkan. Konsep ini yaitu merupakan perpaduan dari dua jenis perpalingan
yang sudah disebut di atas. Hanya yang memicu perbedaan ialah sudut
pandang dari sudut mana perpalingan itu dilihat. Kalau dilihat dari karya Allah
perpalingan itu disebut ―lahir baru‖. Tapi kalau dilihat dari segi
manusia perpalingan itu disebut ―pertobatan‖.
Pertobatan disebut sebagai elemen negatif sebab berkaitan dengan dosa. Pertobatan
17
yaitu suatu hal yang sangat penting terutama jika masalah ini dilihat dari segi
penekanan yang diberi dalam Perjanjian Baru. Pertobatan banyak ditekankan oleh
17
Yohanes Pembaptis dalam khotbahnya, demikian juga dengan pengajaran Tuhan
Yesus Kristus dan Para Rasul (Mat. 3:2; 4:17; Mark. 6:12; KPR 2:38; 20:21;
26:20).
Alkitab menjelaskan bahwa ada beberapa jenis perpalingan.
a. Perpalingan nasional, yaitu perpalingan seluruh masyarakat dari satu kerajaan.
Dalam zaman Musa, Yoshua dan para Halim, bangsa Israel berulang kali
berpaling kepada Allah, terutama saat mereka terancam dengan
permasalaahan yang sifatnya mencakup semua penduduk. Yunus dipakai Tuhan
juga untuk mempertobatkan Niniveh (Yunus 3). Perpalingan seperti ini
bukanlah perpalingan yang sejati. Perpalingan ini sifatnya hanya sampai kepada
taraf etika atau kesadaran yang sifatnya sikologis sebab mereka mendengar
firman Tuhan diberitakan yang akan mengancam mereka kalau mereka tidak
berbalik kepada Allah. Kemungkinan sekali ada pribadi-pribadi tertentu yang
secara rohani sadar dan dengan sukarela berbalik kepada Allah. namun secara
umum anggota masyarakat tidak mengalami yang demikian.
b. Pepalingan sementara atau temporer. Perpalingan seperti ini bukanlah
merupakan perpalingan sejati. sebab tidak mencakup hati dan kesadaran
rohani. Dalam Mat. 13:20-21 Tuhan Yesus mengatakan dalam Perumpamaan
Penabur bahwa ada orang yang setelah mendengar firman Tuhan mereka
menyambut dengan sukacita. Tapi setelah masalah hidup datang mereka dengan
segera meninggalkan Tuhan sebab firman itu tidak berakar dalam hidup
mereka. Paulus juga menyinggung hal yang sama dengan menyebut nama
Himeneus dan Aleksander (1 Tim. 1:20), Demas yang meninggalkan Paulus
sebab lebih mencintai dunia ini (2 Tim. 4:10). Kesadaran akan dosa dan
kerelaan untuk bertobat merupakan elemen-elemen dari perpalingan atau
conversion yang sejati. Pertobatan mendapat tempat di dalam Perintah Agung
Tuhan Yesus Kristus. Ia menekankan bahwa pertobatan dan pengampunan dosa
harus dikhotbahkan oleh para murid di antara bangsa-bangsa mulai dari
Yerusalem (Luk. 24:47). Pertobatan semua insan yaitu kehendak utama Tuhan.
Keinginan Tuhan agar semua manusia bertobat namun dalam kenyataannya tidak
semua mereka bertobat. Akibatnya ialah bahwa hanya sebagian yang
diselamatkan (2 Petr. 3:9).
Pertobatan diperintahkan oleh Allah sendiri. KasihNya dan kematianNya
menghindarkan manusia dari kehancuran. sebab itu Allah memerintahkan agar
manusia bertobat dari dosa-dosanya (KPR. 17:30). Pertobatan yaitu langkah
utama yang tidak dapat dilewati manusia jika manusia hendak bebas dari
kesesatan dan kehancuran total yang sedang menanti mereka. Hukum itu pasti
(Luk. 13:3,5).
3. Tiga unsur utama yang harus terlibat dalam pertobatan yaitu: unsur intelektual,
emosi dan kemauan:
a. Unsur intelektual melibatkan pengertian untuk mengenal dosa diri sendiri.
Pengakuan rasa bersalah (personal guilt), rasa tercela dan rasa tidak berdaya
(Maz. 51:3,7,11). Tuntutan dalam hal ini ialah pertobatan sejati, bukan seperti
perasaan yang berubah sebab takut kena hukuman namun tidak sungguh
menyesali diri (Mat. 27:4).
b. Unsur emosi ialah ―perubahan perasaan‖. Ada rasa sedih yang dalam
sebab dosa-dosa sebab perkara itu dibenci oleh Allah dan bertentangan dengan
karakterNya. Berbahagialah orang yang berdukacita (Mat. 5:4) dan hati yang
pecah hancur (Maz. 51:18-19) bukan sebab rasa malu namun sebab penyesalan.
17
c. Unsur kemauan haruslah muncul setelah unsur intelektual dan emosi muncul.
Kemauan yang dimaksud di sini ialah kemauan untuk berbalik dari dosa-dosa
dan kemauan untuk hidup dengan Allah. Pertobatan haruslah merupakan
kenyataan pengalaman dan bukan pernyataan dogma belaka. Ada manifestasi
yang kemudian dapat dilihat dari perubahan itu. Manifestasi itu ialah:
1) Adanya kepedihan yang dalam sebab dosa, rasa rendah diri yang
memicu adanya rasa jijik dan benci terhadap dosa itu (Yoel 2:2,13;
Ayub 42:5-6).
2) Adanya pengakuan akan dosa dan yang menuntun ke arah permohonan
akan rahmat dan belas kasihan Allah (Hos. 14:1-3; Luk. 13:13-14).
3) Adanya kenyataan iman, pelayanan dan perbuatan-perbuatan sebagai buah
pertobatan sejati. sebab pertobatan sejati bukannya saja sikap negatif
terhadap dosa, namun lebih dari itu. Ada sikap positif terhadap kebaikan
(KPR 26:20).
4) Adanya fakta turut berpartisipasi dalam perintah Tuhan seperti halnya
dalam pembaptisan (KPR 2:38).
Pertimbangan-pertimbangan lainnya yang perlu dilakukan dalam membahas
pertobatan ialah:
a. Pertobatan ialah perubahan batiniah dan bukan sekedar pengendalian
karakter (Mat. 3:7)
b. Pertobatan belum cukup sebagai syarat keselamatan sebab barulah
merupakan aspek negatif (satu sisi mata uang) dari konsep ini.
c. Pertobatan yang sejati ialah kalau dikaitkan dengan iman. Di mana ada
iman sejati tentu akan ada pertobatan sejati.
4. Kesimpulan
Conversion atau perpalingan kepada Allah harus menjadi pengalaman setiap orang
kalau ia akan diselamatkan. Orang yang berpaling kepada Yesus akan meninggalkan
hidup lama dan dengan sikap sadar rohani mengerti bahwa ia binasa kalau terus
mengikuti arah hidup yang dulu. Berpaling kepada Yesus dalam kesadaran dan iman
yaitu titik awal dari satu kehidupan baru. Hidup barus itu akan terus mengalami
pertumbuhan sebab sama seperti seorang anak yang baru lahir akan bertumbuh
semakin besar sebab ia berada dalam pemeliharaan orang tua yang tepat. Allah
sebagai Bapa akan memelihara anakNya dan mereka pasti akan selamat sebab ia
berada dalam pemeliharaan tangan yang Maha Kuasa.
J. Iman
1. Pengertian Istilah
Dalam bahasa Inggris istilah yang dipakai ialah ―faith‖ dan Holt88
memberi arti: trust, confidence, belief in God, system of religious belief, promise
of loyalty.
L.L. Morris (The New Bible Dictionary, hal. 411) memberi definisi: -- is the attitude
whereby a man abandons all reliance in his own efforts to obtain salvation, be the
deeds of piety, of ethical goodness, or anything else. It is the attitude of complete
trust in Christ, of relience on Him alone for all the salvation means.
Dalam bentuk definisi apa yang diberikan oleh L.L. Morris sudah sangat
lengkap dan alkitabiah. Definisi ini menekankan bahwa ―iman‖ yaitu elemen
atau unsur positif kepada Kristus. Orang yang beriman kepada Tuhan Yesus tidak
akan memiliki sesuatu atau seorang yang lain kepada siapa ia akan bersandar. Yesus
sendiri, dan tidak ada yang lain yang dipercayai terutama untuk keselamatan. Berarti
17
semua perubahan pikiran, perasaan dan tujuan hidup mutlak terjadi barulah iman
17
kepada Kristus benar-benar bermanfaat. Definisi ―iman‖ dalam Alkitab yang paling
dekat ialah yang dinyatakan oleh Ibrani 11:1:
a. Dasar segala sesuatu yang diharapkan.
b. Bukti dari segala sesuatu yang tidak dilihat
Jadi dapat dikatakan bahwa arti ―iman‖ ialah suatu tunjungan atau
tumpuan, khususnya pada suatu pribadi (Yesus Kristus) yang padanya pihak lain
tanpa ragu bisa mengandalkan/mempercayakan dirinya untuk segala sesuatu.
Arti lexicon-nya ialah: letting a full weight down; to lean upon; believe, faith, trust,
to trust.90
2. Pengertian Istilah ―Iman‖ Secara Teologis
Dalam Perjanjian Lama tidak ada kata benda yang dipakai untuk iman. Kata
―emunah‖ yaitu kata sifat yang sering diterjemahkan dengan ―faithfulness‖ atau
―kesetiaan‖ (Ul. 32:4; Maz. 36:5; 37:3 dan 40:11).
Penampilan dalam Perjanjian Lama dapat dilihat dalam pengalaman Ibrahim
(Kej. 15:6) yang sebab pentingnya 3 kali diulangi lagi dalam Perjanjian Baru yaitu
dalam Roma 4:3, Gal. 3:6 dan Yak. 2:23. Salah satu contoh praktis ialah mengenai
ibu janda yang terdapat pada 2 Raja 4:1-7. Pernyataan lain tentang iman yaitu dalam
Habakuk 2:4 yang diulangi juga 3 kali dalam Perjanjian Baru yaitu dalam Roma
1:17, Gal. 3:11 dan Ibr. 10:38.
Dalam Perjanjian Baru istilah yang dipakai ialah ―pistis‖. Bahasa
Inggris klasik istilah ini memiliki 2 arti:
a. Keyakinan yang didasari satu kepercayaan kepada seseorang dan kesaksiannya.
b. Keyakinan itu sendiri yang sekaligus menjadi dasar kepercayaan. Keyakinan ini
bukan sebab pengetahuan intelektual semata yang menjadi sandaran orang
ini , namun sebab hubungan secara pribadi dengan obyek atau pribadi yang
dipercayai kepada siapa ia menyerahkan diri .
Penampilan dalam Perjanjian Baru dilukiskan dalam hidup Paulus (KPR
27:25). Ada unsur ketergantungan mutlak kepada janji Allah yang setiawan itu
sehingga tidak ada kegoncangan meskipun dilanda penganiayaan (Ibr. 11:35).
Perjanjian Baru melukiskan istilah ―percaya‖ dengan arti khusus yaitu
pengandalian diri mutlak kepada pekerjaan penyelamatan Yesus Kristus yang
sempurna dan sudah selesai (Yoh. 3:18; 20:31; KPR 8:13; Rom. 1:16; 3:22; Gal.
3:20). Istilah ini dipakai 49 kali oleh Yohanes. Ada unsur-unsur (elemen) yang
terlibat dalam iman. Unsur- unsur ini ialah ―intelek‖, ―emosi‖, dan ―sukarela‖
(kehendak)
a. Unsur intelek (noticia) yaitu unsur pengenalan / pengertian akan kebenaran
wahyu Allah yaitu yang menyatakan keselamatan dalam Kristus. Ini meliputi
percaya akan kenyataan sejarahNya, dan pengajaranNya tentang dosa manusia
dan ketergantungan mutlak kepada diriNya sebagai Juruselamat (Rom.10:17).
Istilah Perjanjian Baru untuk pengertian ini ialah ―epiginosko‖.
b. Unsur emosi (assensus) yaitu unsur kepekaan/kesadaran akan kuasa Allah dan
perasaan yang dalam akan anugerahNya di dalam Yesus Kristus sebagai satu-
satunya hal yang memenuhi kebutuhan yang digerakkan oleh pertobatan sejati
(1 Tes. 2:13). Ada rasa butuh akan anugerah Allah.
c. Unsur sukarela (kemauan) atau ―fiducia‖ yaitu berdasar kemauan sendiri
ada penyerahan diri tanpa syarat kepada kekuasaan Tuhan Yesus (Mat. 11:28),
dan pengakuan akan Yesus bahwa Ialah yang layak sebagai Penebus (Rom.
10:9- 10), dan penerimaan akan kehadiranNya dalam hidup pribadi (Yoh. 1:12).
Jelas bahwa iman dapat dikategorikan sebagai tindakan manusia.
17
Pertimbangan-pertimbangan lain dalam pembahasan iman yaitu :
18
a. Ketiga elemen kepribadian terlihat di dalam pengalaman iman ini: pikiran,
perasaan dan kemauan.
b. Obyek iman ialah pribadi dan perbuatan Yesus Kristus seperti yang diajarkan
oleh Alkitab (KPR 4:12).
c. Dasarnya ialah janji-janji Allah yang berdasar pada integritasNya
(propositional; proximate; personal; sifat-sifat Allah; sabda Allah dan Roh
Allah).
d. Ini bukan buah Roh Kudus yaitu keselamatan, melainkan gerakan batiniah untuk
menerima dengan pasrah jalan Tuhan dalam Kristus Yesus.
e. Hasilnya, buah Roh Kudus yaitu perbuatan-perbuatan baik.
f. Sifatnya mengembang. Semua unsur itu memiliki potensi berkembang,
sebagaimana halnya tubuh materi yang telah memiliki daya hidup.
Tiga kemungkinan bisa terjadi bagi mereka yang baru beriman yaitu:
a. Kemungkinan bertumbuh subur. Hal ini bergantung pada kesungguhan orang
yang bersangkutan membaca firman Tuhan dan memberikan diri dikoreksi Roh
Kudus dalam kesalahannya, diberi dorongan oleh Roh Kudus untuk menaati
perintah Tuhan.
b. Kemungkinan bertumbuh lamban. Sama seperti seorang anak yang mengidap
penyakit, orang beriman bertumbuh lamban kalau ia memiliki penyakit rohani.
Kemungkinan sekali kalau seseorang masih bersandar kepada pikiran dan
kekuatannya sendiri ia akan bertumbuh lambat.
c. Kemungkinan tenggelam dalam dosa. Orang seperti ini sebenarnya belum
beriman kepada Tuhan Yesus. Kemungkinan sekali pertobatan yang dimiliki
ialah pertobatan temporer, bukan satu keyakinan yang membuat dia melepaskan
ketergantungan kepada segala sesuatu yang dimiliki untuk kemudian
mempercayakan diri kepada Yesus.
Berikut ini yaitu bagan perbandingan pertobatan, perpalingan dan
iman: FAITH CONVERSION----REPENTANCE
Keterangan bagan ini yaitu sebagai berikut:
a. Pengenalan diri sebagai orang berdosa. Pengenalan Kristus sebagai Juruselamat.
b. Kesadaran akan penghukuman yang menonjol dalam hati nurani. Kesadaran
bahwa di dalam Dia sejarah keselamatan diperoleh.
c. Kesadaran akan penghakiman yang menonjol dalam hati nurani. Kesadaran akan
kerinduan akan keselamatan memenuhi jiwa.
d. Daya tarik dosa dilemahkan dan kerinduan berbalik memenuhi hati. Daya tarik
Roh Kudus mendorong untuk makin merindukan Kristus.
e. Cinta kepada dosa mulai mati. Kristus menjadi sasaran kasih dan keyakinan diri.
f. Kebencian kepada dosa menempati hati. Secara sadar merangkul Kristus dan
mengklaimnya sebagai Juruselamat.
g. Tindakan tegas dan pengunduran diri dan penyangkalan dosa sebagai akibat
akhir.
Keputusan tegas untuk secara mutlak menerima Kristus ke dalam hidup dan
disertai penyerahan total ke dalam hidup sebagai akibatnya. Rasa aman, sukacita,
pengharapan serta arti dan tujuan hidup memenuhi hati dan hidup. Memasuki suatu
jalan reorientasi dan pengarahan. Perpalingan yaitu suatu pengalaman yang
memicu pengajaran secara dinamis akan orientasi kehidupan Kristus.
3. Kesimpulan
Di dalam respons manusia terhadap karya Allah, iman kepada Dia dan kepada
karyaNya yaitu sesuatu yang mutlak. Artinya, iman yang dimiliki manusia yaitu
18
merupakan bukti dari reaksi positif yang ditunjukkan oleh manusia. Iman
mempengaruhi seantero hidup seseorang. Iman menjadikan seseorang menerima apa
yang dikatakan Allah tanpa mempertanyakannya. Iman menjadikan seseorang
memiliki ketaatan kepada Allah sebab pola pikir, perasaan dan kehendak sudah
dikuasai oleh Roh Kudus dan firman Allah. Iman menjadikan seseorang merindukan
untuk semakin terlibat dalam pekerjaan Allah. Iman itu menjadi sumber kekuatan
yang menjadikan seseorang sabar menantikan pimpinan Tuhan. Iman menjadikan
seseorang rela bersandar kepada Allah dalam segala hal dan bukan kepada pikiran
dan kekuatan sendiri atau kekuatan dunia. Iman menjadikan seseorang memiliki
keuletan menghadapi segala sesuatu dengan tidak banyak mengeluh. Iman
menjadikan seseorang memandang kepada yang tidak kelihatan dan bukan kepada
yang kelihatan. Iman menjadikan seseorang memandang jauh kepada kekekalan dan
melihatnya seperti sesuatu yang nyata berada di depan. Iman menjadikan seseorang
bersukacita dalam penderitaan sebab pengharapannya tertumpu kepada satu sumber
kekuatan yang penuh kuasa yang memampukan dia melewatinya dengan keyakinan
kemenangan. Yesus berkata:‖Have faith in God.‖ (Mark. 11:22). Berdoalah kepada
Yesus dan katakan: ―Tuhan, tambahilah iman kami.‖ (Luk. 17:5)
K. Dilahirkan Kembali
1. Pengertian Istilah
Dalam bahasa Inggris istilah yang dipakai untuk ―kelahiran baru‖ ialah
―regeneration‖. Louis Berkhof memberi definisi sebagai berikut:
Act of God by which the principle of the new life is implanted in man, and the
governing disposition of the soul is made holy. (Tindakan Allah yang menanamkan
satu hidup baru di dalam diri seseorang dan menyucikan kuasa yang memerintah di
dalamnya) Jadi kelahiran baru atau regenerasi bukanlah tindakan manusia namun
tindakan Allah yang memberi satu prinsip hidup baru. Sama seorang anak, ia lahir
sebab orang tuanya yang melahirkan dia.
Satu masalah besar yang dihadapi oleh manusia ialah ―kematian‖. Hal ini
terjadi sebab pada hakekatnya menurut pandangan illahi manusia pada umumnya
sudah mati dalam dosa dan kesalahan mereka (Ef. 2:1; 1 Kor. 15:22). Kalau manusia
harus mengalami hidup, hidup itu harus dianugerahkan kepada mereka oleh sumber
anugerah itu, yaitu Allah. Berarti hidup baru itu datangnya hanya dari atas, dari
sumber hidup itu. Manusia di dunia yaitu merupakan obyek kepada siapa hidup
baru itu diberikan.
Pada dasarnya semua agama mengajarkan bahwa manusia membutuhkan hidup baru
ini . Kebanyakan agama mengajarkan bahwa hidup baru itu yaitu hasil
perbuatan baik yang dilakukan manusia. namun sebanyak apa perbuatan baik itu agar
tangga perbuatan baik itu dapat dinaiki untuk mencapai hidup kekal, tidak ada satu
agama yang dapat memberi jawaban. Keunikan kepercayaan Kristen ialah bahwa
hidup baru itu yaitu anugerah Allah yang diberi kepada orang yang menyambut
anugerah itu dalam hidupnya dengan iman. Anugerah itu ialah pribadi Yesus Kristus
dengan karyaNya (Yoh. 3:16; 1 Yoh. 5:11-12).
Dalam bahasa Yunani istilah yang dipakai untuk kelahiran baru ialah
―genethe anothen‖ atau dilahirkan kembali (Yoh. 3:3,5). Kata ―anothen‖
berarti ―kembali‖ atau ―dari atas‖. Istilah lain ialah ―palinggenesia‖, dipakai 2
kali dalam Perjanjian Baru, artinya:
a. the rebirth of a redeemed person (Tit. 3:5): ―dia loutrou palinggenesia‖.
b. the renewing of man in the time of Messiah (Mat. 19: 28).
18
Dalam bahasa Inggris istilah yang dipakai ialah ―regeneration‖ (n) dari
―regenerate‖
(v) yang berarti ―to impart life‖. Arti teologianya ialah ―aktivitas Allah
yang memberikan kodrat baru kepada orang berdosa yang dengan iman datang
kepada Yesus Kristus dan menerimaNya sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi‖.
Berkhof selanjutnya mengatakan bahwa ―regeneratin‖:
a. consists in the implanting of the new spiritual of life, in a radical change of the
governing disposition of the soul, which, under the influence of the Holy Spirit,
gives birth to a life that moves in the Godward direction‖
b. It is an instantaneous change of man‖s nature, affecting at once the whole man,
intellectually, emotionally and morally. Jadi ―regeneration‖ sifatnya
terjadi dalam sesaat ; bukan hasil pengalaman manusia atau berdasar usaha
manusia. Jiwa manusia dalam hal ini sifatnya pasif. Perubahan itu terjadi pada
seantero hidup manusia itu, baik dalam bidang intelektual, perasaan dan
perilaku atau moral. Akibatnya orang percaya memiliki natur baru (2 Petr.
1:4), menerima diri yang baru (new self) (2 Kor. 5:17; Ef. 4:24) dan menerima
hidup baru (Rom. 5:5; 6:13).
Istilah lain yang dipakai dalam hubungannya dengan kelahiran baru (regeneration)
ialah ―pertobatan‖ yang di dalam bahasa Inggris diterjemahkan dengan dua
istilah,
―conversion‖ dan ―repentance‖. Conversion sudah dibicarakan dalam
bab sebelumnya yang pada intinya berarti ―berbalik arah‖, dari jalan hidup
berdosa berbalik kepada Kristus. Dalam hal ini hati dan hidup manusia yang
dimaksud. Sementara ―repentance‖ berbicara tentang tindakan praktis, misalnya,
yang mencuri tidak mencuri lagi (Mat. 3:2; Luk. 3:10-13).
2. Pengertian istilah ―Kelahiran Baru‖ Secara Teologis
Dalam istilah ―conversion‖ dan ―repentance‖ diri manusia yang aktif untuk
berbalik kepada Allah dan memperbaiki praktek hidup. Namun kedua hal ini yaitu
karya Roh Kudus yang telah menganugerahkan hidup baru kepada orang ini .
Jadi kesadaran yang dimiliki seseorang untuk berbalik arah (conversion) dan
kemampuan untuk memperoleh praktek hidup yang berobah (repentance) yaitu
merupakan karya Roh Kudus yang telah membuat seseorang lahir baru atau lahir
kedua kali. Dengan kata lain ―conversion‖ dan ―repentance‖ yaitu buah dari
lahir baru. Hal inilah yang memicu bahwa mengikut Tuhan Yesus bukanlah
sesuatu tuntutan moral, ―agar seseorang berbuat baik‖. Jadi kekristenan tidak
sama dengan moralisme namun moral yang baik yaitu bukti kelahiran baru dan
perpalingan arah kepada Tuhan Yesus dan hal ini yaitu anugerah Allah.
3. Hakekat dari Kelahiran Baru:
a. Berpindah dari dalam maut ke dalam hidup: 1 Yoh. 3:14. Hal ini sifatnya
instanteneous, artinya pada saat orang ini dilahirkan baru pada moment
itulah ia telah berpindah dari dalam maut ke dalam hirup. Yoh. 5:24:
mengatakan bahwa ia tidak turut dihukum lagi sebab ―telah pindah‖ dari
dalam maut ke dalam hidup. Jadi perpindahan itu bukanlah nanti pada
kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali sebagaimana yang dimengerti banyak
orang.
b. Memiliki hidup kekal: Yoh. 3:16; 1 Yoh. 5:11-12. Hidup kekal itu sudah
menjadi milik orang percaya saat ia dilahirkan baru, bukan setelah hari
kebangkitan. Hal itulah yang memicu bahwa orang percaya yang mati
dikatakan ―tidur‖ atau beristirahat dari pekerjaannya di bumi sampai
18
Tuhan Yesus datang nati untuk membangunkan mereka dari tidur mereka.
(Yoh. 11:11). Dalam bahasa Inggris dipakai kata ―sleeps‖ (simple present
tense) yang
18
berarti dia terus dalam keadaan tidur. Dia akan bangun nati pada kedatangan
Tuhan Yesus.
c. Maut ditiadakan dan orang percaya hidup bersama dengan Kristus. (Ef. 2:1,4,5).
Dalam ayat-ayat ini Paulus membandingakan hidup orang Kristen sebelum
menerima Kristus dengan mengatakan ―were dead intrespasses and sins‖ (ay.
1),
―walked according to the course of the world‖ (ay. 2), ―we also
conducted ourselves in the lust of our flesh. (ay. 3) dengan hidup di dalam
Kristus (ay. 5)
―made us alive together with Christ‖, ―and raised us up together‖ (ay.
6). Ucapan Paulus ini berarti bahwa maut itu ditiadakan dari hidup orang
percaya saat ia dilahirkan baru menjadi anak Tuhan.
d. Dimeteraikan resmi menjadi milik Kristus (Ef. 1:12-13). Hal ini berarti
bahwa orang percaya sudah resmi menjadi milik Kristus dan tidak ada lagi
yang dapat merampas dan memisahkan mereka dari tangan Allah dalam
Kristu s Yesus (Rom. 8:35-39). Yesus memakai kata ―pasti tidak
binasa‖ (Yoh. 10:28; terjemahan dalam bah. Indonesia; ―shall never
parish‖ (inggris: The Gideons International) untuk menunjukkan kepastian
keselamatan orang percaya dengan alasan bahwa Tuhan Yesus dan Bapa lebih
besar dari dunia ini. Ayat 28b mengatakan:‖neither shall anyone snatch them
out of My hand‖ dan ay. 29 ―My Father is greater than all‖ (terjemahan The
Gideons International).
e. Memiliki Roh Kudus tinggal di dalam dia: (Ef. 1:12). Roh Kudus bukan hanya
memeteraikan orang percaya resmi menjadi anggota keluarga Allah namun juga
merupakan pemberian pertama kepada orang percaya untuk memimpin dia
berjalan dalam hidup yang baru. Jadi Roh Kudus tinggal dalam hidup orang
percaya dan menjadikannya menjadi bait Allah (1 Kor. 6:19; Yoh. 14:26; 16:7-
11). Jadi Roh Kudus tidak keluar masuk dari dalam diri orang percaya. Kalau
kita tidak menuruti Dia dan kemudian melakukan dosa maka Roh Kudus
berduka cita namun tidak meninggalkan orang ini (Ef. 4:30).
f. Ada pembaharuan budi (Rom. 12:12). Orang percaya tidak hidup lagi menuruti
pola dunia sebab sudah berbalik kepada Kristus. Pertobatan demi pertobatan
terlihat dalam keseharian orang percaya dan hal ini merupakan bukti bahwa ia
sudah dalam tuntunan Roh Kudus. Kepada orang Kristen di Korintus, Paulus
mengatakan dalam 2 Kor. 5:17: ‖Barang siapa yang ada di dalam Kristus ia
yaitu ciptaan baru. Yang lama sudah berlalu dan sesungguhnya yang baru
sudah datang.‖
g. Mengambil bagian dalam kodrat illahi: (2 Petr. 1:4). Kodrat illahi
memungkinkan orang percaya untuk hidup semakin serupa dengan Tuhan
Yesus. Mereka hidup di dalam kasih, kesalehan dan segi buah Roh Kudus
sebagaimana dinyatakan Paulus dalam Gal. 5:22-23. Roh Kudus yang ada di
dalam hidup orang beriman membimbing mereka untuk memiliki hidup yang
berbeda dengan pola dan standar dunia sehingga mereka dikenal sebagai
anggota keluarga Tuhan. Mereka hidup berbeda dari mereka yang belum
percaya.
h. Menjadi anak dan anggota keluarga Allah (Yoh. 1:12; 1 Petr. 1:23). Sebagai
anak orang beriman memanggil Allah sebagai Bapa. Hanya di dalam
kepercayaan orang Kristen ada sebutan ―Bapa‖ kepada Allah. Orang
beriman menjadi satu keluarga dengan Tuhan Yesus yang memiliki Allah
18
sebagai Bapa. Hal ini juga mengandung implikasi bahwa orang beriman yaitu
ahli waris kerajaan Allah dan Allah sebagai Bapa bertanggung jawab untuk
segala kebutuhan anak-anakNya. Kepada jemaat Filipi Paulus mengatakan:
‖Allahku
18
akan memenuhi segala keperluanmu berdasar kekayaanNya di dalam Kristus
Yesus‖ (Fil. 4: 19). Dengan demikian orang percaya diyakinkan bahwa Allah
memberi jaminan bahwa orang percaya memiliki hidup kekal di surga dan juga
memberi jaminan untuk segala kebutuhan di bumi ini. Dengan demikian tidak
ada alasan bagi orang beriman untuk kuatir akan hidup (Mat. 6:31-34).
i. Tidak terpisahkan lagi dari kasih Allah dalam Kristus Yesus (Rom. 8:27-28).
Kebenaran ini memberi keyakinan bagi orang beriman untuk tidak pernah takut
menghadapi apapun dalam hidup ini. Tuhan Yesus sendiri mengatakan bahwa
Bapa lebih besar dari segala jenis kuasa dan kekuasaan di bumi ini (Yoh. 1:28-
29). sebab Allah lebih berkuasa dari segala kuasa dan bahwa segala kuasa
tunduk kepada Dia. sebab itu rasa takut yaitu bukti dari kurang beriman dan
kurang mengasihi Allah (1 Yoh. 4:18). Ketidak terpisahan antara orang percaya
dari Allah bukan hanya berlaku di bumi ini. Kematian sendiripun tidak dapat
memisahkan anak-Tuhan dari Bapa sebab kematian itu sudah dikalahkanNya
melalui kebangkitan AnakNya Tuhan Yesus Kristus.
j. Dilayakkan menjadi hamba/pelayan Tuhan dan diberi karunia Roh Kudus untuk
pelayanan (Ef. 4:11-12; 1 Kor. 12 – 14). Semua pelayan di dalam Alkitab dipilih
dan ditetapkan Allah sebab mereka yaitu orang-orang beriman. Dalam
Perjanjian Baru Tuhan Yesus berkata: ―Bukan kamu yang memilih Aku,
namun Aku memilih kamu dan menetapkan kamu supaya kamu pergi untuk
menghasilkan buah dan agar buahmu itu tetap adanya (Yoh. 15:16). Hal ini
dikatakan Tuhan Yesus kepada para Rasul. Seorang yang aktif dalam pelayanan
tanpa keyakinan bahwa ia sudah lahir baru, ia bukan melayani Tuhan namun
melayani dirinya atau organisasi dimana ia bekerja. sebab orang percaya
memiliki Roh Kudus maka Roh itu memberi karunia agar setiap orang percaya
terlibat dalam pelayanan dengan memakai karunia ini . Dengan demikian
tidak ada orang percaya yang tidak terlibat aktif dalam pelayanan.
k. Belajar untuk semakin mengasihi Allah dan manusia (1 Yoh. 3:14, 16-18; 4:7; 1
Yoh. 5:1). Kasih yaitu karakter Allah yang sangat menonjol. Bahkan Yohanes
mengatakan bahwa Allah itu kasih adanya (1 Yoh.4:8). Kasih yaitu hal
pertama yang diciptakan Roh Kudus dalam diri orang percaya sebagai segi
pertama dari buah Roh Kudus. Dengan kasih seorang beriman akan
menunjukkan hubungannya dengan Allah dan dengan manusia. Semakin
seseorang membuka hatinya kepada Roh Kudus semakin besar dan dewasalah
kemampuannya untuk mengasihi. Kasih akan memampukan dia untuk mengusir
rasa dendam dan amarah terhadap orang lain dan dengan demikian ia
membuktikan bahwa ia benar sudah menjadi manusia baru. Jadi kelahiran baru
melibatkan pengertian ciptaan baru, hidup baru, perpindahan, pembaharuan
terus menerus (progressive sanctification), kodrat baru yaitu kodrat illahi dan
tujuan hidup baru. Semuanya ini yaitu karunia Roh Kudus dan bukan gejolak
emosi. Fondasi kelahiran baru ialah darah Tuhan Yesus Kristus (1 Petr. 1:17-
23).
4. Proses kelahiran baru yaitu sebagai berikut:
a. Firman Allah diberitakan (KPR 2:19-36). Firman Allah yang diberitakan ialah
firman yang berpusat kepada Tuhan Yesus dan karyaNya (Injil). Itulah
sebabnya Tuhan Yesus mengutus orang percaya untuk pergi memberitakan Injil
(Mat. 28:19-20). Salah satu contoh ialah yang dilakukan oleh Rasul Petrus pada
khotbahnya yang pertama (KPR 2:19-36).
18
b. Roh Kudus bekerja memakai firman itu untuk meyakinkan manusia akan dosa
dan kebenaran. Hal itulah yang dikatakan Tuhan Yesus bahwa kalau Roh Kudus
sudah diutus maka Ia akan menyadarkan dunia akan dosa, kebenaran dan
penghukuman (Yoh. 16:8-15; 3:6-12)). Roh Kudus akan menyadarkan
pendengar akan siapa dia sebagai orang berdosa dan kesadaran bahwa ia
membutuhkan keselamatan dan pengampunan yang dari Tuhan Yesus.
c. Karya Roh Kudus itu menciptakan kesadaran baru dan memicu orang
berbalik dan bertobat (Yoh. 3:5; Ef. 6:17) dan mohon pengampunan (KPR
2:39).
d. Menerima Tuhan Yesus dalam hidup pribadi (Yoh. 1:12; 1 Yoh. 5:11-12) Roh
Kudus akan menolong dia untuk membuka pintu hatinya dan mengundang
Tuhan Yesus untuk tinggal di dalam hatinya sebagai Tuhan, Raja dan
Juruselamat pribadinya.
e. Belajar hidup dengan iman kepada Tuhan Yesus (Yoh. 3:14-16). Orang percaya
akan senang mendengarkan firman Tuhan, berdoa, bersekutu dengan sesama
orang percaya dan menyaksikan kebaikan Tuhan Yesus lewat perkataan dan
perbuatan. Dengan demikian akan kelihatan proses pertumbuhan ke arah
kedewasaan hidup beriman.
Kelahiran baru menjadi penting sebab semua manusia sejak kejatuhan ke dalam
dosa telah memiliki kodrat yang najis sebab dosa dan mereka juga lahir dalam
keluarga yang najis. Manusia memiliki bapa yaitu Iblis dan melakukan kehendak
bapanya (Yoh. 8:44). Kondisi yang dimiliki manusia secara universal membuat
semua manusia menjadi obyek penyelamatan Allah. Jauh di dalam hati nurani
manusia itu mereka sebenarnya merindukan kelepasan namunmereka tidak
mengetahui jalannya. Untuk itulah Injil perlu diberitakan agar mereka datang
kepada Yesus dengan iman dan menerimaNYa menjadi Tuhan dan Juruselamat.
Kemudian mereka akan menjadi pewaris milik Allah (Rom. 8:17). Setelah kelahiran
baru perlu bagi seseorang untuk menyesuaikan diri dengan hakekat Allah, pola pikir
Allah. Demikianlah hidup mereka akan terus menerus disucikan dalam progressive
sanctification dan dengan demikian ia akan belajar untuk menyenangkan hati Bapa
di surga. Dengan demikian orang yang lahir baru tidak lagi mengutamakan dan
mengandalkan dirinya dan apa yang ada padanya, namun ia akan mengandalkan
Tuhan Yesus.
Alasan lain untuk tidak bergantung kepada diri ialah sebab manusia memiliki
kecenderungan untuk dikuasai oleh keinginan lama, hawa nafsu daging (natural
Christian) yang sering bertentangan dengan kehendak Allah. Kepada jemaat Efesus,
Paulus menjelaskan hal ini dengan panjang lebar (Ef. 4:17-32) agar mereka belajar
hidup sebagai anak-anak terang (Ef. 5:1-21).
Menarik sekali bahwa Paulus tidak berbicara mengenai baptisan sebagai dasar
kelahiran baru dan bahkan dalam Galatia 2:15 ia mempertanyakan kelahiran baru
dengan upacara keagamaan. Memang orang yang sudah percaya diminta supaya
dibaptis sebagai bukti bahwa ia sudah membuat keputusan untuk percaya, untuk
mati bersama dengan Kristus yang sudah mati dan bangkit bersama Dia yang sudah
bangkit (Rom. 6:3-4). namun tidak semua orang yang sudah dibaptis otomatis
dianggap sebagai orang yang sudah lahir baru.
5. Kesimpulan
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa:
a. Setiap orang yang benar percaya kepada Tuhan Yesus yaitu orang yang sudah
dilahirkan kembali.
18
b. yaitu kehendak Allah untuk menjadikan manusia menjadi manusia baru.
c. Orang beriman yaitu orang yang dilahirkan baru menjadi anak Tuhan.
d. Sebagai anak Tuhan ia memiliki Roh Kudus hidup di dalam dia sebab Roh
Kudus sudah dianugerahkan untuk memeteraikannya resmi menjadi anak
Tuhan.
e. Orang yang dilahirkan baru menunjukkan identitasnya lewat perubahan dalam
bidang intelektual, perasaan, tindakan, tujuan hidup dan keinginan hidup.
f. Anak Tuhan pasti memiliki hidup yang kekal sebab sebagai anak ia yaitu ahli
waris milik Allah.
g. Anak Tuhan diperlayakkan juga untuk menjadi hamba atau pelayan Tuhan.
h. Orang yang melayani Tuhan tanpa proses kelahiran baru menjadi anak Tuhan, ia
yaitu pelayan upahan yang bukan melayani Tuhan namun melayani diri sendiri.
L. Pendamaian
1. Pengertian Istilah
Dalam kamus bahasa Indonesia istilah bukan ―pendamaian‖ namun
―perdamaian‖ yang artinya ―penghentian permusuhan‖ Kata ini berasal dari
kata dasar ―damai‖ artinya: tidak ada perang, tidak ada kerusuhan, tentram, tenang,
keadaan tidak bermusuhan, rukun. Kamus bahasa Inggris memakai istilah
―reconciliation‖ yang berasal dari kata ―reconcile‖ artinya: to bring together
after a quarrel; make peace between. Jadi ―reconciliation‖ diartikan sebagai: a
coming or bringing together on a friendly basis after a quarrel; an adjustment of
differences of opinion. Dari kedua kamus ini dapat dilihat bahwa dalam
istilah ―pendamaian‖ ada dua golongan yang bermusuh atau berbeda pendapat
yang kemudian dipersatukan sehingga masalah di antara mereka jadi hilang
2. Pengertian Istilah ―Pendamaian‖ Secara Teologis
Konsep ―Pendamaian‖ atau ―reconciliation‖ (Ingg.) bersumber dari
pengajaran teologia Perjanjian Lama yang penggenapannya diwujudnyatakan dalam
kematian Tuhan Yesus Kristus di kayu salib di bukit Golgota, untuk
memperdamaikan manusia dengan Allah. Terdapat banyak












