Tampilkan postingan dengan label teori gereja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label teori gereja. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Juli 2026

teori gereja 9

 


iinterogasi

(Yoh. 18:36).

3) Kematian Kristus tidak ada hubungannya dengan pembayaran hutang dosa,

pada hal Alkitab menyatakan yang sebaliknya (Yes. 53:3-7). Dalam perikop

ini Yesaya menubuatkan bahwa kematian Tuhan Yesus ialah untuk

menggantikan manusia yang harus mati sebab  dosa mereka.

Pendapat-pendapat di atas perlu mendapat pemahaman yang cermat agar tidak

menjadi terpengaruh dengan jawaban-jawaban ini . Kelihatannya jawaban-

jawaban itu secara rasional dapat diterima. Namun kalau dibandingkan dengan

apa yang dikatakan oleh Alkitab jawaban-jawaban ini  sangat

mengelirukan. Yang jelas ialah bahwa Kristus telah mati  untuk menggantikan

manusia yang harus mati sebab  dosa-dosa mereka. Alkitab mengatakan bahwa

Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuatNya menjadi dosa sebab  kita, supaya

di dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah (2 Kor. 5: 21).

3. Kesimpulan

Sebagai kesimpulan dari penjelasan di atas dan yang sekaligus menjadi keyakinan

iman bagi setiap orang percaya ialah:

a. Orang percaya tidak turut dihukum lagi sebab  mereka sudah berpindah dari

dalam maut ke dalam hidup (Yoh. 5:24).

b. Orang percaya tidak dihukum lagi sebab  Kristus sudah mati untuk 

menggantikannya (Yes. 53:3-7).

c. Untuk keselamatan dari hukuman maut tidak perlu ada juruselamat yang lain 

16

atau usaha apapun sebab  keselamatan dan hidup kekal itu sudah menjadi milik

16

orang percaya saat  ia menerima Yesus menjadi Juruselamatnya. Ia sudah

memiliki hidup kekal (1 Yoh. 5:11-12).

G. Penebusan

1. Pengertian Istilah

Istilah  ―penebusan‖  (kb)  berasal  dari  kata  ―tebus‖.  Dari  beberapa  pengertian

yang  diberikan  oleh  Drs.  Yandianto  ada  dua  pengertian  yang  erat  hubungannya

dengan pembahasan dalam buku ini. Pengertian ini  yaitu :

a. Membayar dengan uang untuk mengambil barang yang tergadai.

b. Membayar dengan uang dan sebagainya untuk membebaskan sandera, tawanan,

budak dan sebagainya. The Holt Intermediate Dictionary of American English

mengatakan   ―redemption‖  (kb)   berasal dari kata   kerja   ―redeem‖  yang

artinya: to buy back; regain possession of something by payment in money or

in action.

―Redemption‖  artinya   ―act   of   redeeming or   buying back‖.   Arti yang kedua

ialah

―deliverance   from   sin;   salvation   of   mankind  by  Jesus  Christ‖.   L.L.

Morris  memberikan pengertian yang dipertautkan dengan konsep Alkitab. Ia

mengatakan   bahwa   ―redemption‖  (penebusan)   artinya   ―deliverance   from

some evil by payment of a price‖.

Jadi   menurut   kamus  ini   ada   tiga   elemen   yang   penting   dalam  istilah

―penebusan‖  yaitu: Penebus, yang ditebus dan uang tebusan. Penebus harus

mengeluarkan sejumlah bayaran (ransom) untuk dapat membebaskan orang yang

ditebus. Jadi pada awalnya istilah tebusan dipertautkan dengan istilah perdagangan.

Pada zaman dahulu praktek ini terjadi kalau seseorang mengadakan pembelian di

pasar, khususnya di pasar perbudakan. Seorang budak yang dibeli oleh seorang tuan

akan menjadi miliknya seumur hidup kecuali ada seseorang yang lebih tinggi

kedudukannya dari pemilik ini  yang rela membeli budak itu, lalu budak

ini   akan berpindah kepemilikan  menjadi  milik  tuan yang menebusnya. Satu

contoh dalam Alkitab ialah hubungan Filemon dengan budaknya Onesimus yang

dikirim kembali oleh Paulus kepadanya setelah diinjili. Hal ini merupakan contoh

yang paling relevan.

2. Konsep Penebusan Secara Teologis

Konsep ini  kemudian  menjadi  konsep  teologi  alkitabiah yang  besar. Allah

menebus manusia  dari perbudakan dosa  dan  setan.  Allah  di  dalam  Yesus yang

memiliki  kedudukan yang tinggi  memiliki   wewenang untuk menebus manusia

yang yaitu  budak dosa.

a. Dalam Perjanjian Baru ada tiga istilah yang dipakai untuk membangun doktrin

ini,  yaitu ―agorazo,  eksagorazo dan lutroo‖.

1) Pertama,   ―agorazo‖   artinya   ―membayar‖,    menyerahkan   sesuatu

sebagai  harga pembayaran  bagi sesuatu  benda yang  dibeli.  Mat.  13:44

berbicara tentang pembelian harta yang tersembunyi, yaitu mutiara yang

murni . Kemudian pedagang itu menjual semua hartanya untuk dapat

membeli mutiara ini . Pemakaian khusus istilah ini berhubungan dengan

keselamatan manusia. Istilah ini berarti pemberian suatu harga yang

setimpal  dengan  dosa manusia  agar manusia bisa  ditebus.  Penebusan itu

dilakukan dengan membayar harga, yaitu darah Tuhan Yesus Kristus (Wah.

5:7). Yesus yang menebus dan manusia dibeli bagi Allah. Dalam 2 Petrus

2:1 dijelaskan bahwa penebusan itu berlaku bagi guru-guru palsu yang

16

belum diselamatkan bila mereka bertobat. Dalm 1 Kor. 6:19-20; 7:23; Wah.

16

5:4; 14:3-4 dinyatakan bahwa hasil yang diharapkan dari penebusan ini 

ialah agar manusia yang ditebus mempermuliakan Allah dengan tubuhnya.

2) Kedua,  ―eksagorazo‖  yang  memiliki    akar   kata   yang  sama  dengan

istilah pertama   dan  yang  ditambah  dengan  prefix  ―eks‖.   Tujuannya

ialah   untuk mempertegas atau memberi tekanan kepada arti akar katanya

dan artinya ialah   ―dari‖   atau   ―keluar   dari‖.   Dengan   demikian

―eksagorazo‖   berarti

―dibeli   keluar   dari   pasar   dosa   atau   dipindahkan  dari   perbudakan

dosa‖.  Galatia 3:13 dan 4:5 menyatakan bahwa sebab  karya Kristus

manusia ditebus dari kutuk hukum Taurat. Dengan demikian manusia yang

menyambut karya Kristus di dalam hidupnya dipindahkan dari kutuk hukum

Taurat ini  sehingga ia bebas dari kutuk ini . Dengan kata lain

Kristus menebus manusia dari maut sebab  kutuk dosa yang terjadi sebab 

mereka  tidak  mampu melakukan  tuntutan  Taurat.  Darah  yang dicurahkan

pada kematian Tuhan Yesus Kristus yaitu  alat menebus atau bayaran dan

sekaligus memicu  terjadinya perpindahan orang percaya yang ditebus

dari perbudakan dosa/ pasar dosa dan diberi jaminan penuh sebagai hamba

Kristus  yang bangkit.  Yoh. 10:28 mengatakan bahwa hasil  penebusan itu

ialah keselamatan yang selama-lamanya. Hal ini berarti bahwa keselamatan

itu hanya satu kali dan berlaku untuk selama-lamanya. Keselamatan itu tidak

dapat lagi lepas dari seorang yang sudah ditebus Kristus. Hal ini  ditandai

dengan meterai,  yaitu Roh Kudus (Ef. 1:12-13) dan warisan sebagai anak

(Gal. 4:5)

3) Ketiga,      ―lutroo‖      (kata      kerja)      yang      artinya      ―membebaskan‖,

―memerdekakan‖,    ―melepaskan‖.    Dalam   konteks   Alkitab   orang

percaya  dibebaskan dari belenggu dosa dan dilepaskan sebagai orang

merdeka. Yesus  sendiri memakai kata   ―lutroo‖  yang diterjemahkan

dengan ―menebus‖ dalam Mat. 20:28; Mark. 10:45. Dalam nyanyian syukur

Zakaria  (Luk.  1:68- 69)  yang  kemungkinan  sekali  diucapkan  dengan

pertolongan  Roh  Kudus pada  waktu  penyunatan  Yohanes  Pembaptis

(menurut Alford Greek New Testament) menyatakan bahwa kelepasan atau

keselamatan bukan sebab  sunat   namun    dengan   ―terbitnya   tanduk   dari

keturunan  Daud‖,  yaitu  Yesus Kristus  yang  berkuasa.  (Note:  ―Tanduk‖:

istilah yang dipakai dalam Alkitab  menggambarkan   ―kuasa‖:   2   Sam.

22:3).  Jadi  tanduk  keselamatan  berarti

―Juruselamat   yang  penuh  kuasa‖.   Hana   juga   dalam  nyanyian   pujian

(Nune Dimittis) yang disampaikannya memberi penyataan yang serupa (Luk.

2:38) dimana   ia   mengulangi pujian   Simeon   tentang   ―penantian   akan

pembebasan‖.  Ia  termasuk  sisa-sisa  (remnant)  yang  tetap  setia  beriman

kepada  Allah  dan terus menanti akan datangnya Juruselamat. Penulis

kepada jemaat Ibrani (Ibr.     9:12)     memakai    kata    ―lutroo‖    dalam

kaitannya    dengan    arti

―kemerdekaan  kekal‖.   Untuk  itu  sarana   yang  dipakai  untuk  menebus

(to redeem) ialah diri Kristus (He is the Great Redeemer) yang mati sebagai

pengganti  (substitution,  1  Tim.  2:6)  dengan mencurahkan darahNya yang

tidak bercacat (Kol. 1:14;1 Petr. 1:18-19).

b. Dalam    Perjanjian    Lama    pengertian    ―penebusan‖    ini    dipakai

berhubungan dengan:

1) Kegiatan Allah membebaskan umatNya dari perbudakan di Mesir. (Kel.6:6;

16

15:13), dari pembuangan di Babilonia (Yer. 31:11; 50:33-34). Allah

membebaskan dari dosa yang memicu  penawanan itu (Yes. 40:2).

16

2) Kegiatan Allah membebaskan pengikutNya secara pribadi dari

kesengsaraan (Ayub 19:25; bandingkan Ams. 23:10-11. Bagi seorang

percaya penebusan Allah disediakan untuk membebaskan diriNya dari

sengsara di dunia dan di akhirat.

3) Kegiatan Allah (Yahweh) untuk membebaskan umatNya dari dosa-dosanya

(Yes. 59:20 bnd. Dengan Yes. 42:22). Mazmur 49:7-8 menegaskan bahwa

tak seorangpun mampu menebus dirinya sendiri. Paulus menegaskan aspek

penenebusan ini dalam Roma 11:26.

Hasil dari penebusan ini  yaitu :

1) Penebusan terjadi sebab  pembenaran yang dari Yesus (Rom. 3:24).

2) Ditebus dari kuasa dosa dan menyucikan suatu umat bagi perbuatan yang

baik (Tit. 2:14).

3) Ditebus dari kehadiran dosa yang terus menerus, dosa tak berhak hadir 

(Rom. 8:23).

4) Jaminannya ialah kehadiran Roh Kudus (Ef. 1:13-14) yang

memeteraikannya resmi menjadi anak dan milik Allah.

5) Hak istimewa untuk menghambakan diri kepada Kristus.

6) Tujuannya ialah untuk memuji kemuliaan Allah (Ef. 1:6,12).

3. Kesimpulan

Penjelasan di atas dapat disimpulkan:

a. Penebusan bagi orang berdosa ada sebab  hal itu berasal dari Allah (Yes. 44:21-

23; 43:1 dan Luk. 1:68).

b. Setiap orang percaya yaitu  orang yang sudah ditebus Allah dari dosa dan

perbudakan  setan  dan penebusan  itu  diberikan  melalui  Tuhan  Yesus  Kristus

(Mat. 20:28; Gal. 3:13).

c. Bayaran untuk penebusan itu ialah darah Tuhan Yesus (Kis. 20:28; Ibr. 9:12; 1

Petr. 1:19; Wah. 5:9).

d. Penebusan dilaksanakan  untuk  membebaskan  orang percaya  dari  perhambaan

hukum Taurat (Gal. 4: 5); kutuk hukum Taurat (Gal. 3:13); kuasa dosa (Rom.

6:18, 22) dan kuasa maut dan neraka (Maz. 49:16; Hos. 13:14).

e. Jadi, orang percaya yaitu  orang merdeka sebab  Yesus berkata:  Jadi jika 

Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka. (Yoh. 8:3).

H. Pemuasan

1. Pengertian Istilah

Holt   memberi  arti  untuk   istilah   ―propitiate‖yaitu   ―to   win  over  someone

who  is angry‖.     Untuk    kata     benda     ―propitiation‖,    The     New    Bible

Dictionary81 mengartikannya  sebagai  ―the  removal  of  wrath  by  the  offering  of

a   gift‖.  Istilah  Perjanjian   Baru   yang   dipakai   untuk   ―pemuasan‖   ialah

―hilasmos‖   yang  berarti

―memuaskan‖,    mendamaikan    dengan   diri   sendiri‖.    Dalam   LXX   istilah

yang  digunakan     ialah     ―kapher‖     yang     berarti     ―menutupi    atau

memeteraikan‖.  Pemakaiannya lebih berhubungan dengan kenajisan dan bukan

kelaliman orang berdosa.

Sebagian orang Kristen kurang menyetujui pemakaian istilah ini dengan alasan

bahwa seakan-akan Allah Alkitab yaitu  Allah pemurka. sebab  itu mereka

menggantikan  istilah  ini   dengan  kata   ―expiation‖.   Namun  masalahnya  ialah

bahwa istilah ini harus diikuti oleh obyek, misalnya dosa. namun  tidak mungkin

dikatakan

―we  expiate  sin‖,  ―kita  memuaskan  dosa‖.  Sementara  itu  istilah  propitiation

16

selalu  dipertautkan   dengan   orang.   Misalnya,   ―We   propitiate   a   person‖

artinya,   ―Kita

16

memuaskan  satu  pribadi‖.  Makna  dari  kalimat  ini  ialah  bahwa kemarahan orang

ini  menjadi surut oleh sebab  diberikan sesuatu kepadanya.

Komentar   dari   sebagian   orang   tentang   kurang   sesuainya   pemakaian istilah

―propitiation‖    sebenarnya    kurang   beralasan   kalau   ditinjau   dari   sudut

Alkitab.  Walaupun  Allah  itu  kasih  adanya  (1  Yoh.  4:8)  dan  walaupun  Musa

mengatakan : Tuhan itu berpanjang sabar dan kasih setianya berlimpah-limpah, Ia

mengampuni kesalahan dan pelanggaran. (Bil. 14: 18a) namun  ayat itu dilanjutkan

dengan : .......

namun  sekali-kali tidak membebaskan orang yang bersalah dari hukuman, bahkan Ia

membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya,  kepada keturunan ketiga dan

keempat. (Bil. 14: 18b)

Perjanjian Lama berulangkali mengatakan bahwa Allah murka kepada orang-orang

berdosa yang tidak mengindahkan Dia. Jadi walaupun Allah itu penuh dengan belas

kasihan dan lambat murka (Neh. 9:17) namun Ia memberikan reaksi keras terhadap

semua bentuk dosa. Murka Allah yaitu  merupakan perwujudan kekudusanNya

sebab  Ia tidak mau bahwa umat yang telah dikuduskanNya bercampur-baur dengan

dosa. Bahkan dalam Perjanjian Baru, Paulus mengatakan bahwa:

Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita

kudus dan tak bercacat di hadapanNya. (Ef. 1: 4)

2. Pengertian Istilah ―Pemuasan‖ Secara Teologis

Arti  teologia   ―pemuasan‖   ialah  ―bahwa  kematian  Yesus  Kristus  memuaskan

hati Allah‖. Hal ini berarti bahwa murka Allah atas manusia yang disebabkan oleh

dosa telah  terselesaikan  (Mark.  3:29;  Rom.  1:18).  Kematian  Yesus  Kristus

memuaskan hati Allah yang memicu  Dia menerima kita ke dalam keluargaNya.

Orang percaya mempercayakan diri kepada Dia yang memuaskan hati Allah itu.

Lingkupnya ialah seluruh dunia (Yoh. 2:2). Firman Allah banyak memberikan

pernyataan tentang murka Allah. Contoh dalam Perjanjian Baru: Yoh. 3:36; Rom.

1:18, 2:5, 5:9; Ef. 5:6; 1 Tes. 1:10; Ibr. 3:11; Wah. 19:15. Sejalan dengan pikiran ini

Perjanjian Baru menyatakan bahwa kematian Kristus yaitu  merupakan

persembahan  yang  memuaskan  hati  Allah  sehingga murka  Allah  ditiadakan  (Ro.

3:25). Beberapa ayat yang penting yang sehubungan dengan pemuasan ialah 1 Yoh.

3:2; 1 Yoh. 4:10 dan Rom. 3:25. Sehubungan dengan 1 Yoh. 2:2, Canon Wescott

memberikan komentar sebagai  berikut:  Konsep Alkitab  sehubungan  dengan kata

kerja ini yaitu  bahwa tidak seorangpun yang terhindar dari kemarahan atau murka

Allah, yang dinyatakan dengan adanya senantiasa perasaan yang melawan dalam diri

pribadi si pelanggar, namun  karakter yang asing menghalangi adanya persekutuan.‖ Ia

sendiri, yaitu Kristus yaitu  suatu pemuasan. Dalam hal ini ada penekanan tentang

konsep iman yang terdapat dalam Perjanjian Lama. Lingkupnya ialah semua orang,

bersifat transparansi dan perlu pembasuhan.

Leon Morris memberikan komentar terhadap 1 Yohanes 4:10 sebagai berikut:

Artikel  tertentu yang dinyatakan sebelum kasih dunia,  bukanlah jenis kasih namun 

dalam hal ini secara khusus hal itu berhubungan dengan sifat Allah, yaitu sifat

ketuhananNya.   Kata-kata   kerja   ―mengasihi‖  dan   ―menyuruh‖  dalam  bentuk

aorist  menunjukkan bahwa kasih Allah yang pasti  dan berlaku juga dengan pasti

dalam sejarah  manusia.  Ia  menyuruh  AnakNya  yang  tunggal  menjadi  korban

pemuasan sebab  segala dosa manusia. Lingkup jangkauannya ialah segala dosa kita.

Dalam Roma  3:25  terdapat  istilah  ―hilasterion‖.  Istilah  ini   artinya  ―tempat

pemuasan‖. Jadi kematian Tuhan Yesus di sini bukan saja memuaskan hati Allah

namun   juga sekaligus juga tempat manusia berkepuasan akan Allah. Lingkup

17

cakupannya meliputi dosa manusia di masa lampau juga.

17

Beberapa  ayat   lain  yang  menyatakan  arti   ―kursi   pengadilan‖  (the  throne  of

grace)  salah  satu  contohnya  ialah  Ibrani  9:5.  Hilasterion  disini  digunakan  untuk

melukiskan keadaan di kemah sembahyang dimana pembungkus dari Taurat (dua loh

batu) disebut   ―hilasterion‖.   Lihat   juga   tentang   hal   itu   di   dalam   kitab

Keluaran  25:20. Pembungkus ini  berkilat bercahaya, suatu perlambang tentang

kesucian dan kemuliaan Allah, pembungkus tahta anugerah. Sedangkan darah yang

dicurahkan sekali  setahun  berfungsi  menutup  dosa  manusia.  Jadi  latar  belakang

hilasterion itu sendiri menunjukkan tempat pertemuan yang suci (Allah) dan yang

berdosa (manusia). Bandingkan dengan Keluaran 25:22.

Jadi Tuhan Yesus  Kristus  sendirilan ―the  throne  of  grace‖, tempat  pertemuan

orang berdosa dengan Allah yang suci yang telah dipuaskan oleh hidupNya yang

tanpa dosa  dan  oleh  darah  pengorbananNya. Shedd menyimpulkan:  Oleh

persembahan pengganti untuk penebusan orang-orang berdosa, murka Allah terhadap

dosa  telah didamaikan dan orang yang telah didamaikan itu dibebaskan dari

penghukuman sebab  dosa.

Kristus sudah taat sampai mati, Allah sudah puas. Jadi tidak perlu ada korban lagi

atau berbuat apapun untuk memuaskan Allah. Tak ada dan tak perlu perbuatan lain

apapun untuk memuaskan hati Allah yang memang sudah puas. Sebelum kematian

Kristus tidak ada kepastian bagi manusia tentang bagaimana memuaskan hati Allah

(Luk. 18:13). Ternyata kini Allah telah menyatakannya. Apakah yang dituntut Allah

kemudian? Yang dituntut Allah ialah agar manusia merasa puas dengan

pengorbanan Kristus dan menerimaNya (Yoh. 1:12) dan berjuang untuk tidak

kembali ke bawah perhambaan dosa lagi sebab  Allah sudah puas.

3. Kesimpulan

Hal-hal berikut dinyatakan sebagai kesimpulan bagian ini:

a. Orang yang sudah di dalam Kristus tidak turut dihukum lagi sebab  Kristus telah

mati untuk mereka.

b. Kematian Tuhan Yesus Kristus dan darahNya yang dicurahkan untuk

pengampunan  dosa manusia  telah  memuaskan  hati  Allah.  Murka  Allah  telah

dipikul Tuhan Yesus sehingga orang yang beriman kepada Yesus diterima

menjadi anggota keluarga Allah

I. Perpalingan

1. Pengertian Istilah

―Perpalingan‖   diterjemahkan  ke   dalam  bahasa   Inggris   dengan  ―conversion‖.

Holt memberikan  arti,  ―a  change  from  one  religion  or  belief  to another‖.Drs.

Yandianto memberi   arti   ―meninggalkan   agama,   murtad.   Pengertian   yang

diberikan   kamus bahasa Inggris maupun Indonesia tidak begitu sempurna walaupun

menyinggung perkara   ―berbalik‖   dari  satu  kepercayaan  kepada   kepercayaan

lain.   Tapi  dalam pengertian   kerohanian   yang  berlandaskan  Alkitab  pengertian

istilan  ―perpalingan‖ ialah pembalikan pikiran seorang berdosa secara sukarela dari

dosa (negatif) kepada Kristus   (positif).   Tindakan  pembalikan  dari  segi  negatif

disebut   ―pertobatan‖  dan  dari    segi    positif    disebut    ―iman‖.    Dengan

demikian     bagan     berikut     dapat  menggambarkan: DOSA ----------

PERTOBATAN-----------------------------------------------------IMAN

Louis   Berkhof   mengatakan   bahwa   ―perpalingan‖   atau   ―conversion‖   artinya:

a  change that is rooted in the work of regeneration, and that is affected in the

conscious life of a sinner by the Spirit of God; a change of thoughts and opinions, of

desires and volitions, which involves a conviction that the former direction of life

17

was unwise and wrong and alters the entire course of life. Definisi yang diberikan

17

oleh Berkhof sangat lengkap sekali. Ia mengatakan bahwa perpalingan itu diinisiasi

oleh Roh Allah dan bukan semata-mata bersumber dari dorongan hati manusia.

Perubahan yang dihasilkan mencakup konsep berpikir dan berpendapat, mencakup

keinginan dan tujuan hidup. Hal ini terjadi dalam sikap sadar sebab  adanya satu

keyakinan yang menyatakan bahwa tujuan hidup yang sebelumnya tidak benar.

a. Di dalam Perjanjian  Lama ada 2 istilah  yang dipakai  untuk kata ―perpalingan‖:

1) Nacham, yang berarti pertobatan yang disertai dengan kesadaran dan

kesedihan yang dalam akan dosa yang memicu  adanya perubahan

dalam rencana dan tindakan (contoh: 1 Sam. 15:12-25).

2) Shubh, artinya berbalik (to turn) atau kembali (to return): satu perpalingan

kepada Tuhan dari manusia yang telah terpisah dari Tuhan sebab  dosa.

b. Dalam  Perjanjian  Baru  istilah  yang  dipakai ialah  ―metanoia‖  istilah  yang

dipakai  untuk menyatakan perpalingan sejati kepada Allah, yaitu perpalingan

yang terjadi  sebab   perubahan  pikiran,  melihat  kekurangan-kekurangan  masa

lalu  dan penyesalan akan kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan. Istilah

kedua ialah

―epistrophe‖   yang   diterjemahkan   dengan   pertobatan   (KPR   15:3)   dan

dipakai  hanya   satu   kali   dalam  Perjanjian   Baru.   Istilah   ketiga   ialah

―metameleia‖  dan dipakai 5 kali dalam Perjanjian Baru, yaitu Mat. 21:29, 33;

27:3; 2 Kor. 7:10 dan  Ibr.   7:21.   Artinya  ialah   ―to become  a   care to one

afterword‖. Hal ini bukan berarti      perpalingan   sejati.   Kata   ini   berarti

―menyesal‖   namun    tidak   benar berbalik dari kesalahan itu. Contoh, Yudas

Iskariot (Mat. 27:3).

2. Pengertian Istilah ―Perpalingan‖  Secara Teologis

Conversion atau perpalingan yaitu  titik  perubahan rohani  yang fundamental  jika

ditinjau dari segi manusia.  Jika ditinjau dari segi perbuatan Allah maka aspek ini

dikenal   sebagai   ―kelahiran   baru‖  (regenaration).   Berkhof   mengatakan  bahwa

ada  2 jenis perpalingan atau conversion:

a. Active conversion: the act of God whereby He causes the regenerate sinner, in

His conscious life, to turn to Him in repentance and faith.

b. Passive Conversion : the resulting conscious act of the regenerated sinner

whereby he, through the grace of God, turns to God in repentance and faith.

Keduanya berbeda  dalam penekanan.  Dalam pengertian  yang  pertama dikatakan

bahwa Allahlah yang aktif untuk menyadarkan manusia agar berbalik kepada dia

dalam pertobatan dan iman. Sedang dalam pengertian yang kedua, manusialah yang

aktif yang dengan sadar berbalik kepada Allah dalam pertobatan dan iman.

Alkitab mengakui bahwa pembalikan dari dosa kepada Kristus yaitu  disebabkan

oleh gerakan illahi (Yer. 31:18). Geraakan illahi itu terjadi sebab  pemberitaan

firman  Tuhan. Roh Kudus memakai firman  itu untuk menyadarkan orang  akan

kebenaran, dosa dan penghakiman (Yoh. 16:8). Alkitab mengakui juga bahwa

aktivitas ini harus disertai dengan tindakan manusia secara sukarela untuk berbalik

haluan meninggalkan dosa dan memandang kepada Kristus saja (Yehez. 14:6; KPR

3:19).  Manusia  harus  atas  kemauannya sendiri  berbalik  arah dan berharap untuk

diselamatkan. Konsep ini yaitu  merupakan perpaduan dari dua jenis perpalingan

yang sudah disebut di atas. Hanya yang memicu  perbedaan ialah sudut

pandang dari  sudut  mana  perpalingan  itu  dilihat.  Kalau  dilihat  dari  karya Allah

perpalingan    itu    disebut    ―lahir    baru‖.    Tapi   kalau   dilihat   dari   segi

manusia perpalingan  itu disebut  ―pertobatan‖.

Pertobatan disebut sebagai elemen negatif sebab  berkaitan dengan dosa. Pertobatan

17

yaitu   suatu  hal  yang sangat  penting  terutama jika  masalah  ini  dilihat  dari  segi

penekanan yang diberi dalam Perjanjian Baru. Pertobatan banyak ditekankan oleh

17

Yohanes Pembaptis dalam khotbahnya, demikian juga dengan pengajaran Tuhan

Yesus Kristus dan Para Rasul (Mat. 3:2; 4:17; Mark. 6:12; KPR 2:38; 20:21;

26:20).

Alkitab menjelaskan bahwa ada beberapa jenis perpalingan.

a. Perpalingan nasional,  yaitu perpalingan seluruh masyarakat  dari satu kerajaan.

Dalam zaman Musa, Yoshua dan para Halim, bangsa Israel berulang kali

berpaling kepada Allah, terutama saat  mereka terancam dengan

permasalaahan yang sifatnya mencakup semua penduduk. Yunus dipakai Tuhan

juga untuk mempertobatkan Niniveh (Yunus 3). Perpalingan seperti ini

bukanlah perpalingan yang sejati. Perpalingan ini sifatnya hanya sampai kepada

taraf  etika  atau  kesadaran yang  sifatnya  sikologis  sebab   mereka  mendengar

firman Tuhan diberitakan  yang akan mengancam mereka  kalau mereka  tidak

berbalik  kepada Allah.  Kemungkinan sekali  ada pribadi-pribadi  tertentu  yang

secara rohani sadar dan dengan sukarela berbalik kepada Allah. namun  secara

umum anggota masyarakat tidak mengalami yang demikian.

b. Pepalingan sementara atau temporer. Perpalingan seperti ini bukanlah

merupakan perpalingan sejati. sebab  tidak mencakup hati dan kesadaran

rohani.  Dalam Mat.  13:20-21 Tuhan Yesus  mengatakan  dalam Perumpamaan

Penabur bahwa ada orang yang setelah mendengar firman Tuhan mereka

menyambut dengan sukacita. Tapi setelah masalah hidup datang mereka dengan

segera meninggalkan Tuhan sebab  firman itu tidak berakar dalam hidup

mereka. Paulus juga menyinggung hal yang sama dengan menyebut nama

Himeneus  dan  Aleksander  (1  Tim.  1:20),  Demas  yang  meninggalkan  Paulus

sebab  lebih mencintai dunia ini (2 Tim. 4:10). Kesadaran akan dosa dan

kerelaan untuk bertobat merupakan elemen-elemen dari perpalingan atau

conversion yang sejati.  Pertobatan mendapat tempat di dalam Perintah Agung

Tuhan Yesus Kristus. Ia menekankan bahwa pertobatan dan pengampunan dosa

harus dikhotbahkan oleh para murid di antara bangsa-bangsa mulai dari

Yerusalem (Luk. 24:47). Pertobatan semua insan yaitu  kehendak utama Tuhan.

Keinginan Tuhan agar semua manusia bertobat namun  dalam kenyataannya tidak

semua mereka bertobat. Akibatnya ialah bahwa hanya sebagian yang

diselamatkan (2 Petr. 3:9).

Pertobatan diperintahkan oleh Allah sendiri. KasihNya dan kematianNya

menghindarkan manusia dari kehancuran. sebab  itu Allah memerintahkan agar

manusia  bertobat  dari  dosa-dosanya (KPR. 17:30).  Pertobatan yaitu  langkah

utama yang tidak dapat  dilewati  manusia  jika   manusia  hendak bebas dari

kesesatan dan kehancuran total yang sedang menanti mereka. Hukum itu pasti

(Luk. 13:3,5).

3. Tiga  unsur  utama yang  harus terlibat  dalam pertobatan yaitu:  unsur  intelektual,

emosi dan kemauan:

a. Unsur intelektual melibatkan pengertian untuk mengenal dosa diri sendiri.

Pengakuan rasa bersalah  (personal  guilt),  rasa tercela  dan rasa tidak  berdaya

(Maz. 51:3,7,11). Tuntutan dalam hal ini ialah pertobatan sejati, bukan seperti

perasaan yang berubah sebab  takut kena hukuman namun  tidak sungguh

menyesali diri (Mat. 27:4).

b. Unsur   emosi   ialah   ―perubahan   perasaan‖.   Ada   rasa   sedih   yang   dalam

sebab  dosa-dosa sebab  perkara itu dibenci oleh Allah dan bertentangan dengan

karakterNya.  Berbahagialah orang yang berdukacita  (Mat.  5:4) dan hati  yang

pecah hancur (Maz. 51:18-19) bukan sebab  rasa malu namun  sebab  penyesalan.

17

c. Unsur  kemauan haruslah muncul  setelah unsur  intelektual  dan emosi  muncul.

Kemauan yang dimaksud di sini ialah kemauan untuk berbalik dari dosa-dosa

dan kemauan untuk hidup dengan Allah. Pertobatan haruslah merupakan

kenyataan  pengalaman dan bukan pernyataan  dogma belaka.  Ada manifestasi

yang kemudian dapat dilihat dari perubahan itu. Manifestasi itu ialah:

1) Adanya kepedihan yang dalam sebab  dosa, rasa rendah diri yang

memicu  adanya rasa jijik dan benci terhadap dosa itu (Yoel 2:2,13;

Ayub 42:5-6).

2) Adanya pengakuan akan dosa dan yang menuntun ke arah permohonan

akan rahmat dan belas kasihan Allah (Hos. 14:1-3; Luk. 13:13-14).

3) Adanya kenyataan iman, pelayanan dan perbuatan-perbuatan sebagai buah

pertobatan sejati. sebab  pertobatan sejati bukannya saja sikap negatif

terhadap  dosa,  namun   lebih  dari  itu.  Ada sikap  positif  terhadap  kebaikan

(KPR 26:20).

4) Adanya fakta turut berpartisipasi dalam perintah Tuhan seperti halnya

dalam pembaptisan (KPR 2:38).

Pertimbangan-pertimbangan  lainnya yang perlu dilakukan  dalam membahas

pertobatan ialah:

a. Pertobatan ialah perubahan batiniah dan bukan sekedar pengendalian 

karakter (Mat. 3:7)

b. Pertobatan belum cukup sebagai syarat keselamatan sebab  barulah 

merupakan aspek negatif (satu sisi mata uang) dari konsep ini.

c. Pertobatan yang sejati ialah kalau dikaitkan dengan iman. Di mana ada 

iman sejati tentu akan ada pertobatan sejati.

4. Kesimpulan

Conversion atau perpalingan kepada Allah harus menjadi pengalaman setiap orang

kalau ia akan diselamatkan. Orang yang berpaling kepada Yesus akan meninggalkan

hidup lama dan dengan sikap sadar  rohani  mengerti  bahwa ia  binasa kalau terus

mengikuti arah hidup yang dulu. Berpaling kepada Yesus dalam kesadaran dan iman

yaitu  titik awal dari satu kehidupan baru. Hidup barus itu akan terus mengalami

pertumbuhan  sebab   sama seperti  seorang  anak  yang baru  lahir  akan  bertumbuh

semakin  besar  sebab   ia  berada  dalam pemeliharaan  orang tua  yang tepat.  Allah

sebagai Bapa akan memelihara anakNya dan mereka pasti akan selamat sebab  ia

berada dalam pemeliharaan tangan yang Maha Kuasa.

J. Iman

1. Pengertian Istilah

Dalam   bahasa   Inggris  istilah   yang   dipakai   ialah   ―faith‖  dan Holt88

memberi arti: trust, confidence, belief in God, system of religious belief, promise

of loyalty.

L.L. Morris (The New Bible Dictionary, hal. 411) memberi definisi: -- is the attitude

whereby a man abandons all reliance in his own efforts to obtain salvation, be the

deeds of piety, of ethical goodness, or anything else. It is the attitude of complete

trust in Christ, of relience on Him alone for all the salvation means.

Dalam bentuk definisi  apa  yang diberikan  oleh  L.L.  Morris  sudah sangat

lengkap  dan  alkitabiah.  Definisi  ini  menekankan  bahwa  ―iman‖  yaitu   elemen

atau unsur positif kepada Kristus. Orang yang beriman kepada Tuhan Yesus tidak

akan memiliki sesuatu atau seorang yang lain kepada siapa ia akan bersandar. Yesus

sendiri, dan tidak ada yang lain yang dipercayai terutama untuk keselamatan. Berarti

17

semua perubahan pikiran, perasaan dan tujuan hidup mutlak terjadi barulah iman

17

kepada  Kristus  benar-benar  bermanfaat.  Definisi  ―iman‖  dalam Alkitab  yang paling

dekat ialah yang dinyatakan oleh Ibrani 11:1:

a. Dasar segala sesuatu yang diharapkan.

b. Bukti dari segala sesuatu yang tidak dilihat

Jadi   dapat   dikatakan   bahwa   arti   ―iman‖   ialah   suatu   tunjungan   atau

tumpuan, khususnya pada suatu pribadi  (Yesus  Kristus) yang padanya pihak lain

tanpa ragu bisa mengandalkan/mempercayakan dirinya untuk segala sesuatu.

Arti lexicon-nya ialah: letting a full weight down; to lean upon; believe, faith, trust,

to trust.90

2. Pengertian Istilah ―Iman‖ Secara Teologis

Dalam Perjanjian Lama tidak ada kata benda yang dipakai untuk iman. Kata

―emunah‖  yaitu   kata  sifat  yang  sering  diterjemahkan  dengan  ―faithfulness‖  atau

―kesetiaan‖ (Ul. 32:4;  Maz. 36:5;  37:3 dan 40:11).

Penampilan dalam Perjanjian Lama dapat dilihat dalam pengalaman Ibrahim

(Kej. 15:6) yang sebab  pentingnya 3 kali diulangi lagi dalam Perjanjian Baru yaitu

dalam Roma 4:3, Gal. 3:6 dan Yak. 2:23. Salah satu contoh praktis ialah mengenai

ibu janda yang terdapat pada 2 Raja 4:1-7. Pernyataan lain tentang iman yaitu dalam

Habakuk 2:4 yang diulangi juga 3 kali dalam Perjanjian Baru yaitu dalam Roma

1:17, Gal. 3:11 dan Ibr. 10:38.

Dalam   Perjanjian   Baru   istilah   yang   dipakai   ialah   ―pistis‖.   Bahasa

Inggris klasik istilah ini memiliki  2 arti:

a. Keyakinan yang didasari satu kepercayaan kepada seseorang dan kesaksiannya.

b. Keyakinan itu sendiri yang sekaligus menjadi dasar kepercayaan. Keyakinan ini

bukan sebab  pengetahuan intelektual semata yang menjadi sandaran orang

ini , namun  sebab  hubungan secara pribadi dengan obyek atau pribadi yang

dipercayai kepada siapa ia menyerahkan diri .

Penampilan dalam Perjanjian Baru dilukiskan dalam hidup Paulus (KPR

27:25). Ada unsur ketergantungan mutlak kepada janji Allah yang setiawan itu

sehingga tidak ada kegoncangan meskipun dilanda penganiayaan (Ibr. 11:35).

Perjanjian   Baru   melukiskan   istilah   ―percaya‖  dengan   arti   khusus  yaitu

pengandalian  diri  mutlak  kepada  pekerjaan  penyelamatan  Yesus  Kristus  yang

sempurna dan sudah selesai (Yoh. 3:18; 20:31; KPR 8:13; Rom. 1:16; 3:22; Gal.

3:20).  Istilah  ini  dipakai 49  kali  oleh  Yohanes.  Ada  unsur-unsur  (elemen)  yang

terlibat dalam iman. Unsur- unsur ini  ialah ―intelek‖,  ―emosi‖, dan ―sukarela‖

(kehendak)

a. Unsur  intelek  (noticia)  yaitu   unsur  pengenalan  /  pengertian  akan kebenaran

wahyu Allah yaitu yang menyatakan keselamatan dalam Kristus. Ini  meliputi

percaya akan kenyataan sejarahNya, dan pengajaranNya tentang dosa manusia

dan ketergantungan mutlak kepada diriNya sebagai  Juruselamat  (Rom.10:17).

Istilah Perjanjian  Baru untuk pengertian ini ialah  ―epiginosko‖.

b. Unsur emosi (assensus) yaitu  unsur kepekaan/kesadaran akan kuasa Allah dan

perasaan yang dalam akan anugerahNya di dalam Yesus Kristus sebagai satu-

satunya hal yang memenuhi kebutuhan yang digerakkan oleh pertobatan sejati

(1 Tes. 2:13). Ada rasa butuh akan anugerah Allah.

c. Unsur  sukarela  (kemauan)  atau  ―fiducia‖  yaitu  berdasar  kemauan sendiri

ada penyerahan diri tanpa syarat kepada kekuasaan Tuhan Yesus (Mat. 11:28),

dan pengakuan akan Yesus  bahwa Ialah yang layak sebagai  Penebus (Rom.

10:9- 10), dan penerimaan akan kehadiranNya dalam hidup pribadi (Yoh. 1:12).

Jelas bahwa iman dapat dikategorikan sebagai tindakan manusia.

17

Pertimbangan-pertimbangan lain dalam pembahasan iman yaitu :

18

a. Ketiga elemen kepribadian terlihat di dalam pengalaman iman ini: pikiran, 

perasaan dan kemauan.

b. Obyek iman ialah pribadi dan perbuatan Yesus Kristus seperti yang diajarkan

oleh Alkitab (KPR 4:12).

c. Dasarnya ialah janji-janji Allah yang berdasar  pada integritasNya

(propositional; proximate; personal; sifat-sifat Allah; sabda Allah dan Roh 

Allah).

d. Ini bukan buah Roh Kudus yaitu keselamatan, melainkan gerakan batiniah untuk

menerima dengan pasrah jalan Tuhan dalam Kristus Yesus.

e. Hasilnya, buah Roh Kudus yaitu perbuatan-perbuatan baik.

f. Sifatnya mengembang. Semua unsur itu memiliki potensi berkembang,

sebagaimana halnya tubuh materi yang telah memiliki daya hidup.

Tiga kemungkinan bisa terjadi bagi mereka yang baru beriman yaitu:

a. Kemungkinan  bertumbuh  subur.  Hal  ini  bergantung  pada  kesungguhan  orang

yang bersangkutan membaca firman Tuhan dan memberikan diri dikoreksi Roh

Kudus  dalam kesalahannya,  diberi  dorongan oleh  Roh Kudus  untuk menaati

perintah Tuhan.

b. Kemungkinan bertumbuh lamban.  Sama seperti  seorang anak yang mengidap

penyakit, orang beriman bertumbuh lamban kalau ia memiliki penyakit rohani.

Kemungkinan sekali kalau seseorang masih bersandar kepada pikiran dan

kekuatannya sendiri ia akan bertumbuh lambat.

c. Kemungkinan tenggelam dalam dosa. Orang seperti ini sebenarnya belum

beriman  kepada  Tuhan  Yesus.  Kemungkinan  sekali  pertobatan  yang  dimiliki

ialah pertobatan temporer, bukan satu keyakinan yang membuat dia melepaskan

ketergantungan kepada segala sesuatu yang dimiliki untuk kemudian

mempercayakan diri kepada Yesus.

Berikut ini yaitu  bagan perbandingan pertobatan, perpalingan dan

iman: FAITH CONVERSION----REPENTANCE

Keterangan bagan ini  yaitu  sebagai berikut:

a. Pengenalan diri sebagai orang berdosa. Pengenalan Kristus sebagai Juruselamat.

b. Kesadaran akan penghukuman yang menonjol dalam hati nurani. Kesadaran

bahwa di dalam Dia sejarah keselamatan diperoleh.

c. Kesadaran akan penghakiman yang menonjol dalam hati nurani. Kesadaran akan

kerinduan akan keselamatan memenuhi jiwa.

d. Daya tarik dosa dilemahkan dan kerinduan berbalik memenuhi hati. Daya tarik

Roh Kudus mendorong untuk makin merindukan Kristus.

e. Cinta kepada dosa mulai mati. Kristus menjadi sasaran kasih dan keyakinan diri.

f. Kebencian kepada dosa menempati hati. Secara sadar merangkul Kristus dan

mengklaimnya sebagai Juruselamat.

g. Tindakan tegas dan pengunduran diri dan penyangkalan dosa sebagai akibat

akhir.

Keputusan tegas  untuk  secara  mutlak  menerima  Kristus  ke  dalam hidup  dan

disertai penyerahan total ke dalam hidup sebagai akibatnya. Rasa aman, sukacita,

pengharapan serta arti dan tujuan hidup memenuhi hati dan hidup. Memasuki suatu

jalan reorientasi dan pengarahan. Perpalingan yaitu  suatu pengalaman yang

memicu  pengajaran secara dinamis akan orientasi kehidupan Kristus.

3. Kesimpulan

Di dalam respons manusia terhadap karya Allah, iman kepada Dia dan kepada

karyaNya yaitu  sesuatu yang mutlak. Artinya, iman yang dimiliki manusia yaitu 

18

merupakan bukti dari reaksi positif yang ditunjukkan oleh manusia. Iman

mempengaruhi seantero hidup seseorang. Iman menjadikan seseorang menerima apa

yang dikatakan Allah tanpa mempertanyakannya. Iman menjadikan seseorang

memiliki  ketaatan  kepada Allah  sebab   pola  pikir,  perasaan dan kehendak  sudah

dikuasai oleh Roh Kudus dan firman Allah. Iman menjadikan seseorang merindukan

untuk semakin terlibat dalam pekerjaan Allah. Iman itu menjadi sumber kekuatan

yang menjadikan  seseorang sabar  menantikan  pimpinan Tuhan.  Iman menjadikan

seseorang rela bersandar kepada Allah dalam segala hal dan bukan kepada pikiran

dan  kekuatan sendiri  atau  kekuatan  dunia. Iman  menjadikan  seseorang  memiliki

keuletan menghadapi segala sesuatu dengan tidak banyak mengeluh. Iman

menjadikan seseorang memandang kepada yang tidak kelihatan dan bukan kepada

yang kelihatan. Iman menjadikan seseorang memandang jauh kepada kekekalan dan

melihatnya seperti sesuatu yang nyata berada di depan. Iman menjadikan seseorang

bersukacita dalam penderitaan sebab  pengharapannya tertumpu kepada satu sumber

kekuatan yang penuh kuasa yang memampukan dia melewatinya dengan keyakinan

kemenangan. Yesus berkata:‖Have faith in God.‖ (Mark. 11:22). Berdoalah kepada

Yesus dan katakan: ―Tuhan,  tambahilah  iman kami.‖ (Luk. 17:5)

K. Dilahirkan Kembali

1. Pengertian Istilah

Dalam    bahasa    Inggris    istilah    yang    dipakai    untuk    ―kelahiran    baru‖    ialah

―regeneration‖.  Louis  Berkhof memberi definisi  sebagai berikut:

Act of God by which the principle  of the new life is implanted in man, and the

governing disposition of the soul is made holy. (Tindakan Allah yang menanamkan

satu hidup baru di dalam diri seseorang dan menyucikan kuasa yang memerintah di

dalamnya) Jadi kelahiran baru  atau regenerasi bukanlah  tindakan manusia namun 

tindakan Allah yang memberi satu prinsip hidup baru. Sama seorang anak, ia lahir

sebab  orang tuanya yang melahirkan dia.

Satu  masalah  besar  yang  dihadapi  oleh  manusia  ialah  ―kematian‖.  Hal  ini

terjadi sebab  pada hakekatnya menurut pandangan illahi manusia pada umumnya

sudah mati dalam dosa dan kesalahan mereka (Ef. 2:1; 1 Kor. 15:22). Kalau manusia

harus mengalami hidup, hidup itu harus dianugerahkan kepada mereka oleh sumber

anugerah  itu,  yaitu  Allah.  Berarti  hidup baru  itu  datangnya  hanya dari  atas,  dari

sumber hidup itu. Manusia di dunia yaitu  merupakan obyek kepada siapa hidup

baru itu diberikan.

Pada dasarnya semua agama mengajarkan bahwa manusia membutuhkan hidup baru

ini . Kebanyakan agama mengajarkan bahwa hidup baru itu yaitu  hasil

perbuatan baik yang dilakukan manusia. namun  sebanyak apa perbuatan baik itu agar

tangga perbuatan baik itu dapat dinaiki untuk mencapai hidup kekal, tidak ada satu

agama yang dapat  memberi  jawaban.  Keunikan kepercayaan Kristen ialah  bahwa

hidup baru itu yaitu  anugerah Allah yang diberi  kepada orang yang menyambut

anugerah itu dalam hidupnya dengan iman. Anugerah itu ialah pribadi Yesus Kristus

dengan karyaNya (Yoh. 3:16; 1 Yoh. 5:11-12).

Dalam   bahasa   Yunani   istilah   yang   dipakai   untuk   kelahiran   baru   ialah

―genethe  anothen‖   atau   dilahirkan   kembali   (Yoh.   3:3,5).   Kata   ―anothen‖

berarti  ―kembali‖ atau  ―dari  atas‖.  Istilah  lain  ialah  ―palinggenesia‖,  dipakai  2

kali  dalam  Perjanjian Baru, artinya:

a. the rebirth of a redeemed person (Tit. 3:5):  ―dia  loutrou  palinggenesia‖.

b. the renewing of man in the time of Messiah (Mat. 19: 28).

18

Dalam   bahasa   Inggris  istilah yang dipakai ialah   ―regeneration‖  (n)   dari

―regenerate‖

(v)   yang   berarti   ―to   impart   life‖.   Arti  teologianya   ialah   ―aktivitas   Allah

yang  memberikan  kodrat  baru  kepada  orang  berdosa  yang  dengan  iman  datang

kepada Yesus Kristus dan menerimaNya sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi‖.

Berkhof selanjutnya  mengatakan bahwa ―regeneratin‖:

a. consists in the implanting of the new spiritual of life, in a radical change of the

governing disposition of the soul, which, under the influence of the Holy Spirit,

gives birth to a life that moves in the Godward direction‖

b. It is an instantaneous change of man‖s nature, affecting at once the whole man,

intellectually,   emotionally   and   morally.   Jadi   ―regeneration‖   sifatnya

terjadi dalam sesaat ; bukan hasil pengalaman manusia atau berdasar  usaha

manusia. Jiwa manusia dalam hal ini sifatnya pasif. Perubahan itu terjadi pada

seantero hidup manusia itu, baik dalam bidang intelektual, perasaan dan

perilaku atau moral.  Akibatnya orang percaya memiliki   natur baru (2 Petr.

1:4), menerima diri yang baru (new self) (2 Kor. 5:17; Ef. 4:24) dan menerima

hidup baru (Rom. 5:5; 6:13).

Istilah lain yang dipakai dalam hubungannya dengan kelahiran baru (regeneration)

ialah  ―pertobatan‖  yang  di  dalam  bahasa  Inggris  diterjemahkan  dengan  dua

istilah,

―conversion‖    dan    ―repentance‖.    Conversion    sudah    dibicarakan    dalam

bab sebelumnya   yang   pada   intinya   berarti  ―berbalik  arah‖,  dari  jalan  hidup

berdosa  berbalik  kepada  Kristus.  Dalam  hal  ini  hati  dan  hidup  manusia  yang

dimaksud. Sementara  ―repentance‖  berbicara  tentang tindakan praktis, misalnya,

yang mencuri tidak mencuri lagi (Mat. 3:2; Luk. 3:10-13).

2. Pengertian istilah  ―Kelahiran  Baru‖ Secara Teologis

Dalam   istilah   ―conversion‖  dan   ―repentance‖  diri   manusia   yang aktif   untuk

berbalik kepada Allah dan memperbaiki praktek hidup. Namun kedua hal ini yaitu 

karya Roh Kudus yang telah menganugerahkan hidup baru kepada orang ini .

Jadi kesadaran  yang  dimiliki  seseorang  untuk  berbalik  arah  (conversion)  dan

kemampuan untuk memperoleh praktek hidup yang berobah (repentance) yaitu 

merupakan karya Roh Kudus yang telah membuat  seseorang lahir  baru atau lahir

kedua kali. Dengan  kata  lain  ―conversion‖  dan  ―repentance‖  yaitu   buah  dari

lahir  baru.  Hal inilah yang memicu  bahwa mengikut Tuhan Yesus bukanlah

sesuatu tuntutan moral,   ―agar   seseorang berbuat   baik‖. Jadi kekristenan tidak

sama dengan moralisme namun   moral  yang baik  yaitu   bukti  kelahiran  baru  dan

perpalingan arah kepada Tuhan Yesus dan hal ini yaitu  anugerah Allah.

3. Hakekat dari Kelahiran Baru:

a. Berpindah dari dalam maut ke dalam hidup: 1 Yoh. 3:14. Hal ini sifatnya

instanteneous,  artinya  pada  saat  orang ini   dilahirkan  baru pada  moment

itulah ia telah berpindah dari dalam maut ke dalam hirup. Yoh. 5:24:

mengatakan bahwa  ia  tidak turut  dihukum lagi sebab   ―telah  pindah‖  dari

dalam  maut  ke  dalam  hidup. Jadi  perpindahan  itu  bukanlah  nanti  pada

kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali sebagaimana yang dimengerti banyak

orang.

b. Memiliki hidup kekal: Yoh. 3:16; 1 Yoh. 5:11-12. Hidup kekal itu sudah

menjadi milik orang percaya saat  ia dilahirkan baru, bukan setelah hari

kebangkitan. Hal itulah yang  memicu  bahwa orang  percaya yang  mati

dikatakan   ―tidur‖   atau   beristirahat  dari   pekerjaannya   di   bumi  sampai

18

Tuhan  Yesus datang nati untuk membangunkan mereka dari tidur mereka.

(Yoh. 11:11).   Dalam bahasa  Inggris  dipakai kata  ―sleeps‖  (simple  present

tense)  yang

18

berarti  dia terus dalam keadaan tidur. Dia akan bangun nati pada kedatangan

Tuhan Yesus.

c. Maut ditiadakan dan orang percaya hidup bersama dengan Kristus. (Ef. 2:1,4,5).

Dalam ayat-ayat ini Paulus membandingakan hidup orang Kristen sebelum

menerima Kristus dengan mengatakan ―were dead intrespasses and sins‖ (ay.

1),

―walked   according   to  the   course   of   the   world‖  (ay.   2),   ―we   also

conducted ourselves in the lust of our flesh. (ay. 3) dengan hidup di dalam

Kristus (ay. 5)

―made   us   alive   together  with  Christ‖,  ―and  raised  us  up  together‖  (ay.

6).  Ucapan  Paulus  ini  berarti  bahwa  maut  itu  ditiadakan  dari  hidup  orang

percaya saat  ia dilahirkan baru menjadi anak Tuhan.

d. Dimeteraikan resmi menjadi milik Kristus (Ef. 1:12-13). Hal ini berarti

bahwa orang percaya sudah resmi menjadi milik Kristus dan tidak ada lagi

yang dapat merampas  dan  memisahkan  mereka  dari  tangan  Allah  dalam

Kristu s Yesus (Rom.   8:35-39).   Yesus   memakai   kata   ―pasti   tidak

binasa‖   (Yoh.   10:28;  terjemahan   dalam   bah.   Indonesia;   ―shall   never

parish‖  (inggris:   The   Gideons  International)  untuk menunjukkan kepastian

keselamatan orang percaya dengan alasan bahwa Tuhan Yesus dan Bapa lebih

besar dari dunia ini. Ayat 28b mengatakan:‖neither  shall anyone  snatch  them

out of My hand‖ dan ay. 29 ―My  Father is greater than all‖ (terjemahan The

Gideons International).

e. Memiliki Roh Kudus tinggal di dalam dia: (Ef. 1:12). Roh Kudus bukan hanya

memeteraikan orang percaya resmi menjadi anggota keluarga Allah namun  juga

merupakan pemberian pertama kepada orang percaya untuk memimpin dia

berjalan  dalam hidup yang baru.  Jadi Roh Kudus tinggal  dalam hidup orang

percaya dan menjadikannya menjadi bait Allah (1 Kor. 6:19; Yoh. 14:26; 16:7-

11). Jadi Roh Kudus tidak keluar masuk dari dalam diri orang percaya. Kalau

kita tidak menuruti Dia dan kemudian melakukan dosa maka Roh Kudus

berduka cita namun  tidak meninggalkan orang ini  (Ef. 4:30).

f. Ada pembaharuan budi (Rom. 12:12). Orang percaya tidak hidup lagi menuruti

pola dunia sebab  sudah berbalik kepada Kristus. Pertobatan demi pertobatan

terlihat dalam keseharian orang percaya dan hal ini merupakan bukti bahwa ia

sudah dalam tuntunan Roh Kudus. Kepada orang Kristen di Korintus, Paulus

mengatakan  dalam 2 Kor.  5:17:  ‖Barang siapa yang ada  di  dalam Kristus  ia

yaitu   ciptaan  baru.  Yang lama sudah berlalu  dan  sesungguhnya yang  baru

sudah datang.‖

g. Mengambil bagian dalam kodrat illahi: (2 Petr. 1:4). Kodrat illahi

memungkinkan orang percaya untuk hidup semakin serupa dengan Tuhan

Yesus. Mereka hidup di dalam kasih, kesalehan dan segi buah Roh Kudus

sebagaimana dinyatakan Paulus  dalam Gal.  5:22-23.  Roh Kudus yang ada di

dalam hidup orang beriman membimbing mereka untuk memiliki  hidup yang

berbeda dengan pola dan standar dunia sehingga mereka dikenal sebagai

anggota keluarga Tuhan. Mereka hidup berbeda dari mereka yang belum

percaya.

h. Menjadi anak dan anggota keluarga Allah (Yoh. 1:12; 1 Petr. 1:23). Sebagai

anak orang beriman memanggil Allah sebagai Bapa. Hanya di dalam

kepercayaan   orang   Kristen   ada   sebutan   ―Bapa‖  kepada   Allah.   Orang

beriman  menjadi  satu  keluarga  dengan  Tuhan  Yesus  yang  memiliki  Allah

18

sebagai Bapa. Hal ini juga mengandung implikasi bahwa orang beriman yaitu 

ahli waris kerajaan Allah dan Allah sebagai Bapa bertanggung jawab untuk

segala kebutuhan anak-anakNya. Kepada jemaat Filipi Paulus mengatakan:

‖Allahku

18

akan memenuhi segala keperluanmu berdasar  kekayaanNya di dalam Kristus

Yesus‖ (Fil.  4: 19). Dengan demikian orang percaya diyakinkan bahwa Allah

memberi jaminan bahwa orang percaya memiliki hidup kekal di surga dan juga

memberi jaminan untuk segala kebutuhan di bumi ini. Dengan demikian tidak

ada alasan bagi orang beriman untuk kuatir akan hidup (Mat. 6:31-34).

i. Tidak terpisahkan lagi  dari  kasih Allah dalam Kristus Yesus (Rom. 8:27-28).

Kebenaran ini memberi keyakinan bagi orang beriman untuk tidak pernah takut

menghadapi apapun dalam hidup ini. Tuhan Yesus sendiri mengatakan bahwa

Bapa lebih besar dari segala jenis kuasa dan kekuasaan di bumi ini (Yoh. 1:28-

29).  sebab   Allah  lebih  berkuasa  dari  segala  kuasa  dan bahwa segala  kuasa

tunduk kepada Dia. sebab  itu rasa takut yaitu  bukti dari kurang beriman dan

kurang mengasihi Allah (1 Yoh. 4:18). Ketidak terpisahan antara orang percaya

dari Allah bukan hanya berlaku di bumi ini. Kematian sendiripun tidak dapat

memisahkan anak-Tuhan dari Bapa sebab  kematian itu sudah dikalahkanNya

melalui kebangkitan AnakNya Tuhan Yesus Kristus.

j. Dilayakkan menjadi hamba/pelayan Tuhan dan diberi karunia Roh Kudus untuk

pelayanan (Ef. 4:11-12; 1 Kor. 12 – 14). Semua pelayan di dalam Alkitab dipilih

dan ditetapkan Allah sebab  mereka yaitu  orang-orang beriman. Dalam

Perjanjian  Baru  Tuhan  Yesus  berkata:  ―Bukan  kamu  yang  memilih Aku,

namun   Aku memilih kamu dan menetapkan kamu supaya kamu pergi untuk

menghasilkan  buah dan agar  buahmu itu  tetap  adanya  (Yoh.  15:16).  Hal  ini

dikatakan Tuhan Yesus kepada para Rasul. Seorang yang aktif dalam pelayanan

tanpa  keyakinan bahwa ia  sudah lahir  baru,  ia  bukan melayani  Tuhan namun 

melayani dirinya atau organisasi dimana ia bekerja. sebab  orang percaya

memiliki Roh Kudus maka Roh itu memberi karunia agar setiap orang percaya

terlibat dalam pelayanan dengan memakai  karunia ini .  Dengan demikian

tidak ada orang percaya yang tidak terlibat aktif dalam pelayanan.

k. Belajar untuk semakin mengasihi Allah dan manusia (1 Yoh. 3:14, 16-18; 4:7; 1

Yoh. 5:1). Kasih yaitu  karakter Allah yang sangat menonjol. Bahkan Yohanes

mengatakan bahwa Allah itu kasih adanya (1 Yoh.4:8). Kasih yaitu  hal

pertama yang diciptakan Roh Kudus dalam diri orang percaya sebagai segi

pertama dari buah Roh Kudus. Dengan kasih seorang beriman akan

menunjukkan hubungannya dengan Allah dan dengan manusia. Semakin

seseorang membuka hatinya kepada Roh Kudus semakin besar dan dewasalah

kemampuannya untuk mengasihi. Kasih akan memampukan dia untuk mengusir

rasa dendam dan amarah terhadap orang lain dan dengan demikian ia

membuktikan bahwa ia benar sudah menjadi manusia baru. Jadi kelahiran baru

melibatkan pengertian ciptaan baru, hidup baru, perpindahan, pembaharuan

terus menerus (progressive sanctification),  kodrat baru yaitu  kodrat illahi  dan

tujuan hidup baru. Semuanya ini yaitu  karunia Roh Kudus dan bukan gejolak

emosi. Fondasi kelahiran baru ialah darah Tuhan Yesus Kristus (1 Petr. 1:17-

23).

4. Proses kelahiran baru yaitu  sebagai berikut:

a. Firman Allah diberitakan (KPR 2:19-36). Firman Allah yang diberitakan ialah

firman yang berpusat kepada Tuhan Yesus dan karyaNya (Injil). Itulah

sebabnya Tuhan Yesus mengutus orang percaya untuk pergi memberitakan Injil

(Mat. 28:19-20). Salah satu contoh ialah yang dilakukan oleh Rasul Petrus pada

khotbahnya yang pertama (KPR 2:19-36).

18

b. Roh Kudus bekerja memakai firman itu untuk meyakinkan manusia akan dosa

dan kebenaran. Hal itulah yang dikatakan Tuhan Yesus bahwa kalau Roh Kudus

sudah diutus maka Ia akan menyadarkan dunia akan dosa, kebenaran dan

penghukuman (Yoh. 16:8-15; 3:6-12)). Roh Kudus akan menyadarkan

pendengar akan siapa dia sebagai orang berdosa dan kesadaran bahwa ia

membutuhkan keselamatan dan pengampunan yang dari Tuhan Yesus.

c. Karya Roh Kudus  itu  menciptakan  kesadaran  baru dan memicu   orang

berbalik  dan bertobat (Yoh.  3:5;  Ef.  6:17) dan mohon pengampunan (KPR

2:39).

d. Menerima Tuhan Yesus dalam hidup pribadi (Yoh. 1:12; 1 Yoh. 5:11-12) Roh

Kudus akan menolong dia untuk membuka pintu hatinya dan mengundang

Tuhan Yesus untuk tinggal di dalam hatinya sebagai Tuhan, Raja dan

Juruselamat pribadinya.

e. Belajar hidup dengan iman kepada Tuhan Yesus (Yoh. 3:14-16). Orang percaya

akan  senang mendengarkan  firman  Tuhan,  berdoa,  bersekutu  dengan  sesama

orang  percaya  dan menyaksikan  kebaikan  Tuhan  Yesus lewat  perkataan  dan

perbuatan. Dengan demikian akan kelihatan proses pertumbuhan ke arah

kedewasaan hidup beriman.

Kelahiran baru menjadi penting sebab  semua manusia sejak kejatuhan ke dalam

dosa telah memiliki  kodrat  yang najis  sebab  dosa dan mereka  juga lahir  dalam

keluarga yang najis. Manusia memiliki bapa yaitu Iblis dan melakukan kehendak

bapanya (Yoh.  8:44). Kondisi yang  dimiliki manusia secara universal membuat

semua manusia menjadi obyek penyelamatan Allah. Jauh di dalam hati nurani

manusia itu mereka sebenarnya merindukan kelepasan namunmereka tidak

mengetahui jalannya. Untuk itulah Injil perlu diberitakan agar mereka datang

kepada  Yesus  dengan iman  dan menerimaNYa menjadi  Tuhan  dan Juruselamat.

Kemudian mereka akan menjadi pewaris milik Allah (Rom. 8:17). Setelah kelahiran

baru perlu bagi seseorang untuk menyesuaikan diri dengan hakekat Allah, pola pikir

Allah. Demikianlah hidup mereka akan terus menerus disucikan dalam progressive

sanctification dan dengan demikian ia akan belajar untuk menyenangkan hati Bapa

di  surga.  Dengan demikian  orang yang lahir  baru  tidak  lagi  mengutamakan  dan

mengandalkan  dirinya  dan  apa yang  ada  padanya,  namun   ia  akan  mengandalkan

Tuhan Yesus.

Alasan lain untuk tidak bergantung kepada diri ialah sebab  manusia memiliki

kecenderungan  untuk dikuasai  oleh  keinginan  lama,  hawa nafsu  daging  (natural

Christian) yang sering bertentangan dengan kehendak Allah. Kepada jemaat Efesus,

Paulus menjelaskan hal ini dengan panjang lebar (Ef. 4:17-32) agar mereka belajar

hidup sebagai anak-anak terang (Ef. 5:1-21).

Menarik sekali bahwa Paulus tidak berbicara mengenai baptisan sebagai dasar

kelahiran baru dan bahkan dalam Galatia 2:15 ia mempertanyakan kelahiran baru

dengan upacara  keagamaan.  Memang orang yang sudah percaya  diminta  supaya

dibaptis sebagai bukti bahwa ia sudah membuat keputusan untuk percaya, untuk

mati bersama dengan Kristus yang sudah mati dan bangkit bersama Dia yang sudah

bangkit (Rom. 6:3-4). namun  tidak semua orang yang sudah dibaptis otomatis

dianggap sebagai orang yang sudah lahir baru.

5. Kesimpulan

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa:

a. Setiap orang yang benar percaya kepada Tuhan Yesus yaitu  orang yang sudah

dilahirkan kembali.

18

b. yaitu  kehendak Allah untuk menjadikan manusia menjadi manusia baru.

c. Orang beriman yaitu  orang yang dilahirkan baru menjadi anak Tuhan.

d. Sebagai  anak Tuhan ia  memiliki  Roh Kudus hidup di  dalam dia sebab   Roh

Kudus sudah dianugerahkan untuk memeteraikannya resmi menjadi anak

Tuhan.

e. Orang yang dilahirkan baru menunjukkan identitasnya lewat perubahan dalam

bidang intelektual, perasaan, tindakan, tujuan hidup dan keinginan hidup.

f. Anak Tuhan pasti memiliki hidup yang kekal sebab  sebagai anak ia yaitu  ahli

waris milik Allah.

g. Anak Tuhan diperlayakkan juga untuk menjadi hamba atau pelayan Tuhan.

h. Orang yang melayani Tuhan tanpa proses kelahiran baru menjadi anak Tuhan, ia

yaitu  pelayan upahan yang bukan melayani Tuhan namun  melayani diri sendiri.

L. Pendamaian

1. Pengertian Istilah

Dalam   kamus   bahasa    Indonesia    istilah   bukan   ―pendamaian‖   namun 

―perdamaian‖ yang  artinya   ―penghentian   permusuhan‖  Kata   ini   berasal   dari

kata  dasar  ―damai‖ artinya: tidak ada perang, tidak ada kerusuhan, tentram, tenang,

keadaan tidak bermusuhan,   rukun.   Kamus   bahasa   Inggris   memakai   istilah

―reconciliation‖   yang berasal   dari   kata   ―reconcile‖  artinya:   to   bring together

after  a  quarrel;  make  peace between.  Jadi  ―reconciliation‖  diartikan  sebagai:  a

coming or   bringing together   on a friendly basis after a quarrel; an adjustment of

differences of opinion. Dari kedua kamus  ini    dapat   dilihat   bahwa   dalam

istilah   ―pendamaian‖  ada   dua   golongan yang bermusuh atau berbeda pendapat

yang kemudian dipersatukan sehingga masalah di antara mereka jadi hilang

2. Pengertian Istilah ―Pendamaian‖  Secara Teologis

Konsep    ―Pendamaian‖   atau    ―reconciliation‖   (Ingg.)    bersumber    dari

pengajaran teologia Perjanjian Lama yang penggenapannya diwujudnyatakan dalam

kematian Tuhan Yesus Kristus di kayu salib di bukit Golgota, untuk

memperdamaikan manusia  dengan Allah. Terdapat  banyak