B ertumbuh menjadi makin dewasa (Yohanes 1:12,
13; I Yohanes 3:1). Paulus lebih menekankan kedudukan orang per
caya; kita yaitu anak-anak Allah, dan kita telah diangkat menjadi
anak dalam keluarga Allah.
142 Evans, The Great Doctrines of the Bible, hal. 161.
Nampaknya bahwa Paulus menganggap orang percaya zaman
Perjanjian Lama sebagai "anak-anak", namun sebagai "anak yang
belum dewasa"; sebaliknya, orang-orang percaya Perjanjian Baru
dianggapnya sebagai "anak-anak" dan juga sebagai "anak yang su
dah dewasa". Keuntungan utama seorang anak, menurut Paulus,
ialah pembebasan dari hukum Taurat (Galatia 4:3-5) serta dapat
memiliki Roh Kudus, Roh yang menjadikan anak (Galatia 4:6;
band. Roma 8:15-16). Kita boleh merangkumnya seperti berikut:
dalam pembaharuan atau kelahiran kembali kita menerima hidup
baru; dalam pembenaran kita menerima status baru; sedangkan da
lam pengangkatan sebagai anak kita menerima kedudukan yang
baru.
B. SAAT KITA DIANGKAT MENJADI ANAK
Pengangkatan sebagai anak meliputi tiga hubungan waktu. (1)
Persatuan Dengan Kristus dan Pengangkatan Anak 439
Dalam ketetapan Allah, pengangkatan anak merupakan tindakan
dalam kekekalan yang silam (Efesus 1:5). Sebelum Allah memulai
rencana penebusan dengan bangsa Ibrani, bahkan sebelum pencip
taan, Allah telah menetapkan bahwa kita akan menjadi anak-anak-
Nya. (2) Dalam pengalaman pribadi, orang percaya menjadikan
anak Allah pada saat ia menerima Yesus Kristus. Alkitab
menyatakan, "Kamu semua yaitu anak-anak Allah karena iman di
dalam Yesus Kristus" (Galatia 3:26), dan "Karena kamu yaitu
anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati
kita" (Galatia 4:6). Sebelum diselamatkan, orang bukan Yahudi
yaitu budak dan orang Yahudi yaitu anak yang belum akil balig;
melalui pengangkatan sebagai anak, keduanya secara sah yaitu
anak-anak Allah (Galatia 4:1-7). (3) Akan namun , penyataan se
penuhnya dari hak kita sebagai anak Tuhan masih menanti keda
tangan Kristus yang kedua kalinya. Pada saat itulah pengangkatan
sebagai anak Allah akan menjadi nyata secara sempurna (Roma
8:23). saat itu tubuh kita akan dibebaskan dari segala pencemaran
dan kefanaan serta dijadikan tubuh kebangkitan yang mulia seperti
tubuh kebangkitan Kristus (Filipi 3:20, 21).
C. HASIL-HASIL PENGANGKATAN SEBAGAI ANAK
Nampaknya tidak salah untuk mengatakan bahwa hasil pertama dari
pengangkatan sebagai anak ialah pembebasan dari hukum Taurat
(Roma 8:15; Galatia 4:4, 5). Orang percaya kini tidak lagi di bawah
pengawasan wali dan pengurus, namun sudah bebas dari perbudakan
semacam itu. Hasil berikut ialah jaminan warisan, yaitu Roh Kudus
sendiri (Galatia 4:6, 7; band. Efesus 1:11-14). Bapa di surga mem
bantu anak-anak-Nya untuk mulai hidup bagi Dia dengan mem
berikan Roh Kudus kepada mereka. Kehadiran Roh Kudus itu
merupakan angsuran pertama dari warisan sepenuhnya yang akan
diterimanya waktu Kristus datang kali kedua. Di samping itu ter
dapat kesaksian Roh Kudus yang meyakinkan kita akan kese
lamatan dan pengangkatan kita (Roma 8:15, 16; Galatia 4:6). Apa
bila orang percaya menghargai karunia-karunia yang indah ini,
secara spontan dia akan bersekutu dengan Allah Bapa (Roma 8:15;
Galatia 4:6). Kenyataan ini dengan sendirinya akan diikuti dengan
kehidupan yang dipimpin oleh Roh, karena orang percaya akan
440 Soteriologi
dipimpin oleh Roh (Roma 8:14; band. Galatia 5:18). Akibatnya
ialah bahwa orang percaya makin lama makin serupa dengan gam
baran Anak Allah (Roma 8:29). Dan pada masa yang akan datang,
orang percaya mempunyai harapan akan dinyatakan sebagai anak
Allah (Roma 8:19). Semuanya ini yaitu hasil-hasil yang mulia dari
keselamatan.
XXXII
Pengudusan
Pentingnya doktrin pengudusan nampak dari ayat Alkitab yang ber
bunyi, "Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah
kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat
Tuhan" (Ibrani 12:14). Ayat Alkitab ini lebih banyak menekankan
usaha untuk mencapai kekudusan dalam kehidupan ini daripada
menekankan realisasi kekudusan penuh dalam kehidupan. Petrus
menulis, "Hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidup
mu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil
kamu" (I Petrus 1:15). Perbedaan-perbedaan yang ada dalam
ajaran Kristen dewasa ini menuntut kita untuk mengkaji dengan
teliti apa yang sebenarnya diajarkan oleh Alkitab tentang doktrin
ini. Marilah kita membahas bersama definisi, saat, serta sarana
pengudusan.
I. DEFINISI PENGUDUSAN
Kata pengudusan muncul beberapa kali dalam Perjanjian Baru
(Roma 6:19, 22; I Tesalonika 4:3, 4, 7; I Timotius 2:15; Ibrani
12:14; I Petrus 1:2). Ada beberapa kata lain yang berkaitan erat
dengan kata ini : kekudusan (Roma 1:4; II Korintus 7:1), kudus
(Kisah 7:33; I Korintus 3:17; II Korintus 13:12; I Tesalonika 3:13),
orang kudus (I Korintus 16:1; Efesus 1:1; Filipi 4:21), tempat kudus
(Ibrani 8:2), dan menguduskan atau dikuduskan (Matius 6:9;
Yohanes 17:17; II Tesalonika 2:13; Ibrani 13:12). Kata kerja "me
nguduskan" paling tidak memiliki tiga arti: membuat atau mengakui
patut dimuliakan, menganggap suci (Lukas 11:2; I Petrus 3:15);
memisahkan dari hal-hal yang duniawi dan mempersembahkan
441
442 Soteriologi
kepada Tuhan, menahbiskan (Matius 23:17; Yohanes 10:36; 17:19;
II Timotius 2:21); serta menyucikan (Efesus 5:26; I Tesalonika
5:23; Ibrani 9:13). Kata sifat "kudus" dipakai untuk mengungkap
kan sifat benda atau hal tertentu (gunung, II Petrus 1:18; ciuman,
I Korintus 16:20), Roh (Roma 5:5), Bapa (Yohanes 17:11; I Petrus
1:15), hukum Taurat (Roma 7:12; II Petrus 2:21), malaikat (Markus
8:38), orang-orang percaya (Efesus 1:1; Ibrani 3:1), nabi-nabi Per
janjian Lama (II Petrus 3:2), dan seterusnya. Sering kali kata sifat
ini diganti menjadi kata benda sehingga diterjemahkan menjadi
"orang-orang kudus". Dengan cara ini kata "orang kudus" dipakai
untuk menyebut malaikat (Yudas 14), orang-orang percaya (Yudas
3; Wahyu 8:3), atau keduanya (I Tesalonika 3:13). Sekarang apa
yang dimaksudkan dengan orang kudus atau orang yang telah di
kuduskan?
Pada umumnya, kita dapat mendefinisikan pengudusan sebagai
memisahkan diri untuk Allah, memperhitungkan Kristus sebagai ke
kudusan kita, dibersihkan dari kejahatan moral, serta menjadi serupa
dengan gambaran Kristus.
A. DIPISAHKAN UNTUK ALLAH
Dipisahkan untuk Allah mensyaratkan adanya pemisahan diri dari
kecemaran. Hal ini berlaku untuk benda-benda yang mati.
Demikianlah Raja Hizkia memerintahkan orang-orang Lewi untuk
menyucikan rumah Yehova dengan mengeluarkan semua kotoran
dari tempat kudus itu (II Tawarikh 29:5, 15-19). Pada umumnya,
dipisahkan untuk Allah mengandung gagasan positif dipersembah
kan atau dikhususkan untuk Allah. Dengan pengertian semacam ini,
kemah sembahyang dan bait suci dikuduskan dengan semua
perabotan yang ada di dalamnya (Keluaran 40:10,11; Bilangan 7:1;
II Tawarikh 7:16). Seseorang dapat menyucikan rumahnya atau
sebagian dari ladangnya (Imamat 27:14-16). Allah menguduskan
semua anak sulung bangsa Israel untuk diri-Nya sendiri (Keluaran
13:2; Bilangan 3:13). Bapa menguduskan Anak (Yohanes 10:36),
dan Anak menguduskan diri-Nya sendiri (Yohanes 17:19). Orang-
orang Kristen dikuduskan saat mereka bertobat (I Korintus 1:2;
I Petrus 1:2; Ibrani 10:14). Yeremia dikuduskan sebelum ia lahir
(Yeremia 1:5), dan Paulus berbicara soal dirinya yang sudah di
Pengudusan 443
pisahkan untuk Allah saat masih dalam kandungan ibunya
(Galatia 1:15).
B. KRISTUS DIPERHITUNGKAN SEBAGAI KEKUDUSAN KITA
Penghitungan Kristus sebagai kekudusan kita berjalan bersamaan
dengan penghitungan Kristus sebagai kebenaran kita. Ia dijadikan
baik kebenaran maupun kekudusan bagi kita (I Korintus 1:30).
Paulus mengatakan bahwa orang-orang percaya "telah dikuduskan
dalam Kristus Yesus" (I Korintus 1:2). Kekudusan ini diperoleh
karena iman kepada Kristus (Kisah 26:18). Peristiwa "memandikan
dengan air dan Firman" mendahului pengudusan ini (Efesus 5:26).
Dengan demikian orang percaya dianggap kudus dan benar, karena
ia kini telah mengenakan kekudusan Kristus. Dalam pengertian ini,
semua orang percaya disebut "orang-orang kudus", terlepas dari apa
yang telah mereka capai secara rohani (Roma 1:7; I Korintus 1:2;
Efesus 1:1; Filipi 1:1; Kolose 1:2). Dalam hal orang-orang Korintus,
watak mereka yang tidak kudus sangat kentara (I Korintus 3:1-4;
5:1, 2; 6:1; 11:17-22). Orang-orang percaya yang disebut dalam
surat Ibrani yaitu orang kudus sekalipun mereka belum dewasa
imannya (Ibrani 2:11; 3:1; 5:11-14).
C. PENYUCIAN DARI KEJAHATAN MORAL
Penyucian dari kejahatan moral sebenarnya merupakan bentuk lain
dari hal dipisahkan untuk Allah. Para imam zaman dahulu diminta
untuk menyucikan diri mereka sebelum menghampiri kehadiran
Allah (Keluaran 19:22), dan orang percaya masa kini dihimbau agar
memisahkan dirinya dari orang-orang fasik pada umumnya (II Ko
rintus 6:17, 18), dari para guru palsu dan ajaran sesat (II Timotius
2:21; II Yohanes 9, 10), dan dari sifatnya sendiri yang jahat (Roma
6:11, 12; Efesus 4:25-32; Kolose 3:5-9; I Tesalonika 4:3-7). Paulus
menulis, "Saudara-saudaraku yang kekasih, karena kita sekarang
memiliki janji-janji itu, marilah kita menyucikan diri kita dari semua
pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempur
nakan kita dalam takut akan Allah" (II Korintus 7:1). Patut dicam
kan bahwa dalam ayat-ayat tertentu penyucian dianggap sebagai
satu tindakan saja dan dalam ayat-ayat yang lain sebagai suatu
proses yang berkesinambungan; dalam beberapa ayat penyucian ini
444 Soteriologi
lebih bersifat jasmaniah, sedangkan dalam ayat-ayat' lainnya pada
dasarnya bersifat batiniah. Dalam semua ayat ini penyucian dipan
dang sebagai tindakan manusia dan bukan tindakan Allah. Allah
telah memisahkan bagi diri-Nya sendiri setiap orang yang percaya
kepada Kristus; kini orang percaya itu sendiri yang harus memisah
kan dirinya bagi Allah agar ia dipakai oleh Allah.
D. MENJADI SERUPA DENGAN KRISTUS
Menjadi serupa dengan Kristus merupakan aspek positif dari pengu
dusan, sedangkan penyucian merupakan aspek negatifnya, dan pe
misahan serta penghitungan kekudusan Kristus merupakan aspek
kedudukan. Beberapa ayat Alkitab membahas aspek positif dari
pengudusan ini. Paulus menulis, "Sebab semua orang yang dipilih-
Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk
menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya
itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara" (Roma 8:29);
"Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya
dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi
serupa dengan Dia dalam kematian-Nya" (Filipi 3:10); "Dan kita
semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak
terselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang
yaitu Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya
dalam kemuliaan yang semakin besar" (II Korintus 3:18; lihat juga
Galatia 5:22, 23; Filipi 1:6). Dan Yohanes mengatakan, "Saudara-
saudaraku yang kekasih, sekarang kita yaitu anak-anak Allah,
namun belum nyata apa keadaan kita kelak; akan namun kita tahu
bahwa jika Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi
sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya
yang sebenarnya" (I Yohanes 3:2). Jelas sekali, pengudusan me
rupakan suatu proses yang berlangsung sepanjang hidup dan baru
terwujud secara penuh saat kita melihat Tuhan.
II. SAAT PENGUDUSAN
Pengudusan merupakan baik tindakan maupun proses. Dalam hal
ini pengudusan berbeda dengan pembenaran, karena pembenaran
merupakan satu tindakan yang terjadi sekali saja dan bukan suatu
Pengudusan 445
proses. Marilah kita sekarang meneliti tiga unsur waktu dalam
pengudusan.
A. TINDAKAN PENGUDUSAN YANG MULA-MULA
Pengudusan ini berhubungan dengan kedudukan. Alkitab mengajar
kan bahwa saat seseorang percaya kepada Kristus, pada saat itu
pula ia sudah dikuduskan. Hal ini jelas dari kenyataan bahwa di
Perjanjian Baru orang-orang percaya disebut orang-orang kudus
tanpa mempertimbangkan taraf kedewasaan rohaninya (I Korintus
1:2; Efesus 1:1; Kolose 1:2; Ibrani 10:10; Yudas 3). Tentang orang-
orang Korintus, Rasul Paulus dengan tegas dan jelas mengatakan
bahwa mereka "telah dikuduskan" (I Korintus 6:11), sekalipun ia
juga mengatakan bahwa mereka masih "manusia duniawi" (I Korin
tus 3:3). Dalam surat II Korintus Paulus menghimbau mereka untuk
"menyempurnakan kekudusan dalam takut akan Allah" (7:1). Dalam
surat kepada jemaat di Efesus Paulus berbicara soal "memperleng
kapi orang-orang kudus" (4:12) dan mendorong para pembaca surat
nya untuk hidup "sebagaimana sepatutnya bagi orang-orang kudus"
(5:3). Di surat Tesalonika Paulus menekankan kembali kepada
jemaat yang membaca suratnya bahwa mereka telah dikudus
kan (II Tesalonika 2:13), sekalipun ia juga berdoa agar mereka
dikuduskan (I Tesalonika 5:23, 24).
Ibrani 10:10 menyatakan bahwa pengudusan dan persembahan
tubuh Kristus sebagai kurban berdiri atau jatuh bersama-sama. Pen
deritaan Kristus dialami-Nya di luar pintu gerbang "untuk mengu
duskan umat-Nya dengan darah-Nya sendiri" (Ibrani 13:12). Jadi,
kematian Kristus diperlukan bagi pengudusan umat-Nya. saat
seseorang menerima Kristus, maka ia berada di dalam Kristus; ia
tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah (Kolose 3:3).
Kristus telah dijadikan pengudusan bagi orang Kristen (I Korintus
1:30). Yang dimaksudkan bukanlah Kristus ditambah pengudusan,
melainkan Kristus ialah pengudusan orang percaya. Orang percaya
kini disempurnakan di dalam Dia (Kolose 2:10, Terj. Lama). Ia
yaitu ahli waris dari kebenaran dan kekudusan Kristus, karena
kebenaran dan kekudusan itu diperhitungkan kepadanya sebagai
akibat dari hubungannya dengan Kristus, dan bukan sebagai akibat
dari suatu perbuatan yang dilakukannya atau suatu kebaikan di
446 Soteriologi
dalam dirinya. Orang percaya ini berdiri di hadapan Allah,
serupa dengan Kristus (Roma 8:29; I Korintus 1:30). Dalam pengu
dusan yang berhubungan dengan kedudukan tidak ada karya anu
gerah kedua, tidak ada perkembangan, dan tidak ada pertumbuhan.
Karena hubungan ini dengan Kristus, orang percaya diwajibkan un
tuk hidup "sebagaimana sepatutnya bagi orang-orang kudus"
(Efesus 5:3).
B. PROSES PENGUDUSAN
Sebagai suatu proses, pengudusan berlangsung sepanjang hidup.
Berlandaskan apa yang telah dilakukan orang percaya saat ber
tobat, ia dianjurkan untuk melakukannya terus dalam pengalaman
hidupnya setelah itu. Karena ia telah "menanggalkan" dan "me
ngenakan", kini ia harus "menanggalkan" dan "mengenakan" juga
(Kolose 3:8-13). jika penyerahan yang mula-mula tidak diikuti
dengan setia, maka terlebih dahulu perlulah hidup ini dipersembah
kan dengan pasti kepada Allah sebelum kesucian praktis
dimungkinkan (Roma 6:13; 12:1, 2); namun jika orang percaya
itu telah menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah maka perkem
bangan pengudusan sudahlah pasti. Roh Kudus akan mematikan
perbuatan-perbuatan daging (Roma 8:13), mengerjakan di dalam
diri orang percaya ini ketaatan kepada Firman Allah (I Petrus
1:22), menghasilkan buah Roh (Galatia 5:22,23), serta memakainya
dalam pelayanan kepada Allah. Lalu orang percaya ini akan "ber
tumbuh dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan
Juruselamat kita, Yesus Kristus" (II Petrus 3:18), "bertambah-tam
bah dan berkelimpahan dalam kasih seorang terhadap yang lain dan
terhadap semua orang" (I Tesalonika 3:12), menyucikan dirinya
"dari semua pencemaran jasmani dan rohani" (II Korintus 7:1), serta
diubah menjadi serupa dengan gambar Kristus (II Korintus 3:18;
Efesus 4:11-16). Paulus menyatakan, "Aku mengejarnya, kalau-
kalau aku dapat juga menangkapnya, karena aku pun telah ditang
kap oleh Kristus Yesus" (Filipi 3:12).
Semuanya ini tidak berarti adanya sejenis kesempurnaan tanpa
dosa. Kata sempurna atau tidak bercela dipakai untuk menjelaskan
keadaan beberapa orang dalam Alkitab; namun kata itu tidak pernah
berarti tanpa dosa. Kata ini dipakai untuk Nuh (Kejadian 6:9);
Pengudusan 447
namun jelaslah bahwa Nuh tidaklah sempurna tanpa dosa karena ia
pernah mabuk secara memalukan (Kejadian 9:20-27). Demikian
pula Ayub disebut "saleh" (1:1), namun dalam banyak hal ia tidak
sempurna. saat ia lebih mengenal Allah, ia menyesali dirinya
sendiri dan bertobat dalam abu dan debu (Ayub 42:6). Allah me
nyuruh Abraham hidup tanpa cela di hadapan-Nya (Kejadian 17:1).
Yesus memerintahkan kita, "Karena itu haruslah kamu sempurna,
sama seperti Bapamu di sorga yaitu sempurna" (Matius 5:48). Bila
ayat-ayat ini menunjuk kepada keadaan tanpa dosa semata-mata dan
menjadi serupa dengan Allah dalam segala hal, maka tidak ada
orang Kristen yang telah mencapai tingkatan ini . Jelas dari
konteks bahwa Yesus menyuruh para pengikut-Nya untuk menjadi
seperti Bapa-Nya di sorga dalam hal menunjukkan kasih kepada
orang jahat dan orang baik. Paulus menandaskan bahwa dirinya
belum sempurna namun pada saat yang sama mengakui dirinya
telah sempurna (Filipi 3:12, 15). Jelas bahwa yang dimaksudkan
yaitu dua jenis kesempurnaan, yang satu berhubungan dengan ke
dudukan dan yang lain berhubungan dengan pengalaman hidupnya.
Dari segi kedudukan, Paulus sudah sempurna sejak saat ia percaya
kepada Kristus sedangkan dari segi pengalaman hidup, Paulus
hanya sempurna dalam arti kata yang terbatas. Kata Yunani yang
sama dipakai dalam kedua ayat ini yaitu sama, dengan per
kecualian dalam ayat 12 kata itu berbentuk kata kerja dan dalam
ayat 15 kata itu berbentuk kata sifat. Kolose 1:28; 4:12; dan Ibrani
12:23 menyebutkan kesempurnaan sebagai sasaran yang harus di
capai pada akhirnya, namun bukan selama kehidupan di dunia. Jelas
sekali dari ayat ini dan ayat-ayat lainnya dalam Alkitab bahwa ke
sempurnaan penuh tidak dapat diharapkan dalam hidup sekarang
ini.
Kita dapat sampai pada kesimpulan yang sama dengan memakai
alur argumentasi yang berbeda. Beberapa pihak memakai I Yohanes
3:8,9 untuk mendukung pandangan kesempurnaan tanpa dosa. Ayat
ini berbunyi sebagai berikut, "Barangsiapa yang tetap berbuat
dosa, berasal dari Iblis, sebab Iblis berbuat dosa dari
mulanya. .. . Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa
lagi; sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat
berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah." Bila kita memperhatikan
bentuk kata kerja dalam bahasa Yunani jelaslah bahwa yang dimak
448 Soteriologi
sudkan bukan kesempurnaan tanpa dosa, karena semua kata kerja
itu memakai bentuk masa kini. Jadi, yang dimaksudkan ialah bahwa
orang yang sudah biasa berbuat dosa itu berasal dari Iblis,
sedangkan orang yang dari Allah tidaklah berulang-ulang berbuat
dosa. Bila bukan ini yang dimaksudkan Yohanes, maka ia mem
bantah perkataannya sendiri dalam suratnya ini sebab ia menasihat
kan apa yang harus dilakukan oleh orang percaya jika ia berbuat
dosa, "Anak-anakku, hal-hal ini kutuliskan kepada kamu, supaya
kamu jangan berbuat dosa, namun jika seorang berbuat dosa, kita
mempunyai seorang pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus
yang adil. Dan Ia yaitu pendamaian untuk segala dosa kita, dan
bukan untuk dosa kita saja, namun juga untuk dosa seluruh dunia"
(I Yohanes 2:1, 2). Orang percaya diperintahkan agar tidak berbuat
dosa, namun jika ia berdosa ia memiliki jalan keluar. Yohanes juga
mengatakan bahwa bila kita hidup di dalam terang maka "darah
Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita daripada segala dosa" (I
Yohanes 1:7). Dan selanjutnya ia juga mengatakan, "Jika kita
berkata bahwa kita tidak berdosa maka kita menipu diri kita sendiri
dan kebenaran tidak ada dalam kita" (I Yohanes 1:8). Jadi jelas
sekali, kita harus menarik kesimpulan bahwa Yohanes tidak meng
ajarkan kesempurnaan tanpa dosa.
Hal yang sama dapat dikatakan tentang ajaran bahwa kita telah
mati terhadap dosa (Roma 6:1-10). Jelaslah bahwa ayat-ayat ini
mengajarkan suatu pengalaman objektif di mana orang percaya di
samakan dengan Kristus. jika ayat-ayat ini menjelaskan kema
tian terhadap dosa yang sudah dialami maka buat apa lagi Paulus
mengatakan dalam ayat 11 bahwa kita harus "memandang" diri kita
telah mati bagi dosa dan hidup bagi Allah? Orang yang betul-betul
sudah mati tidak perlu memandang dirinya seakan-akan mati.
Dalam pada itu kita harus hati-hati untuk tidak beranggapan bah
wa kehidupan yang tidak sempurna dan penuh kelemahan itu yaitu
kehidupan yang normal. Bila ajaran kesempurnaan tanpa dosa itu
tidak alkitabiah, maka ajaran ketidaksempurnaan penuh dosa juga
merupakan ajaran yang tidak alkitabiah. Alkitab samasekali tidak
menoleransi dosa dalam kehidupan orang percaya, melainkan secara
tegas melarangnya dan bahkan menuntut agar kita hidup dengan
penuh kemenangan atas dosa. Pertanyaan Paulus, "Bolehkah kita
bertekun dalam dosa?" (Roma 6:1) dijawab dengan sangat tegas,
Pengudusan 449
"Sekali-sekali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagai
manakah kita masih dapat hidup di dalamnya?" (Roma 6:2). Rasul
Paulus mengingatkan jemaat di Korintus bahwa orang yang terus
hidup di dalam dosa "tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan
Allah" (I Korintus 6:10).
C. PENGUDUSAN YANG AKHIR DAN LENGKAP
Pengudusan yang akhir dan lengkap baru dapat terjadi pada saat
kita melihat Kristus. Bagaimanapun gigihnya kita berusaha dan
bagaimanapun jauhnya kita telah maju dalam hidup suci, persesuai
an sepenuhnya dengan Kristus baru dapat terwujud saat "yang
sempurna tiba" dan "yang tidak sempurna itu lenyap" (I Korintus
13:10). Kita telah diselamatkan dari kesalahan dan hukuman dosa,
kita sedang diselamatkan dari kuasa dosa, dan pada akhirnya kita
akan diselamatkan dari kehadiran dosa. Keselamatan kita dari ke
hadiran dosa baru akan terjadi pada saat kita melihat Tuhan, saat
kita mati (Ibrani 12:23), atau saat Tuhan datang untuk kedua kali
nya (I Tesalonika 3:13; Ibrani 9:28; I Yohanes 3:2; Yudas 21).
Tidak mungkin berbuat dosa lagi setelah Tuhan datang kedua kali
nya (Wahyu 22:11). Pada saat itu tubuh orang percaya akan diper-
muliakan (Roma 8:23; Filipi 3:20, 21) dan akan taat sepenuhnya
kepada Allah. Harapan akan menjadi serupa secara sempurna de
ngan Kristus seharusnya mendorong kita untuk mulai sekarang ini
membuang segala kecemaran dari kehidupan kita (I Yohanes 3:2,
3).
III. SARANA PENGUDUSAN
Hal ini akan dibahas secara lebih luas kemudian, namun di sini kita
hanya akan membahasnya sekilas saja. Ada dua pihak yang terlibat
dalam pengudusan manusia: Allah dan manusia. Namun, yang ter
libat bukan Allah Bapa saja, namun ketiga oknum Tritunggal Allah.
Allah Bapa menguduskan orang percaya dengan cara memper
hitungkan kekudusan Kristus kepada orang percaya itu (I Korintus
1:30), mengerjakan di dalam dirinya segala sesuatu yang berkenan
kepada-Nya (Ibrani 13:21), serta mendisiplinkan orang percaya itu
450 Soteriologi
(Ibrani 12:9, 10; I Petrus 4:17, 18; 5:10). Kristus menguduskan
orang percaya dengan cara menyerahkan nyawa-Nya baginya
(Ibrani 10:10; 13:12), dan dengan menghasilkan kesucian di dalam
diri orang percaya melalui Roh Kudus (Roma 8:13; Ibrani 2:11).
Roh Kudus menguduskan orang percaya dengan cara membebas
kannya dari sifat kedagingan (Roma 8:2), berjuang melawan per
wujudan sifat itu (Galatia 5:17), mematikan perangai lama saat
orang percaya menyerahkannya kepada-Nya untuk disalibkan
(Roma 8:13), serta menghasilkan buah Roh (Galatia 5:22, 23). Jadi,
masing-masing oknum Trinitas ilahi itu memiliki tugas tertentu da
lam pengudusan kita.
Manusia sendiri tidak mungkin melakukan sesuatu untuk men
capai pengudusan. Bahkan dalam hal ini, Allah yang harus mem
prakarsainya. Paulus mengatakan, "Allahlah yang mengerjakan di
dalam kita baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya"
(Filipi 2:13). Namun ada sarana-sarana tertentu yang dapat dipakai
oleh orang percaya dalam proses pengudusannya. Dalam hal ini
pula, iman kepada Kristus merupakan langkah pertama yang harus
diambilnya (Kisah 26:18). Orang yang percaya kepada Kristus
langsung dikuduskan dalam kedudukannya di hadapan Allah karena
pada saat itu Kristus telah menjadi pengudusannya (I Korintus
1:30). Setelah itu orang percaya harus mengejar kekudusan. Orang
yang tidak mengejar kekudusan tidak akan melihat Allah (II Korin
tus 7:1; Ibrani 12:14). Kesadaran ini pastilah mengakibatkan dia
mempelajari Alkitab, karena dari Alkitab orang percaya mengetahui
keadaan hatinya sendiri serta bagaimana ia dapat menghindari ke
gagalan (Yohanes 17:17, 19; Efesus 5:26; I Timotius 4:5; Yakobus
1:25). Pelayanan kependetaan yang ditahbiskan oleh Allah juga ber
peranan dalam menunjukkan pentingnya kekudusan serta men
dorong orang mengejar kekudusan itu (Efesus 4:11-13; I Tesalonika
3:10). Penyerahan hidup kepada Allah yang dilakukan secara tegas
merupakan syarat utama untuk pengalaman pengudusan yang prak
tis (Roma 6:13, 19-21; 12:1, 2; II Timotius 2:21). Karena Allah
yang harus menjadikan manusia suci, bila manusia akan menjadi
kudus, maka manusia harus berserah sepenuhnya kepada Allah se
hingga Allah dapat mengerjakan pengudusan itu di dalam diri orang
percaya.
XXXIII
Ketekunan
Bila dipahami dengan benar, maka doktrin ini amat menguatkan,
namun doktrin ini tidak boleh disalahartikan atau disalahgunakan.
Alkitab mengajarkan bahwa semua orang yang oleh iman telah
dipersatukan dengan Kristus, yang telah dibenarkan oleh kasih
karunia Allah dan dilahirkan kembali oleh Roh Kudus, takkan per
nah berbalik samasekali dari lingkup kasih karunia, melainkan pasti
akan bertahan terus sampai pada kesudahannya. Ini tidak berarti
bahwa semua orang yang mengaku percaya dan diselamatkan itu
akan selamat untuk selama-lamanya. Hal ini juga tidak berarti
bahwa setiap orang yang menyatakan karunia-karunia tertentu
dalam pelayanan Kristen pasti diselamatkan untuk selama-lamanya.
Doktrin yang mengajarkan konsep sekali selamat tetap selamat
(eternal security) hanya dapat diterapkan kepada orang-orang per
caya yang telah memiliki pengalaman keselamatan yang hidup.
Dengan mempertimbangkan keadaan ini di atas ini, doktrin
sekali selamat tetap selamat ini menguatkan bahwa orang-orang ter
sebut takkan pernah berbalik samasekali dari lingkup kasih karunia.
Mengatakan hal ini tidaklah sama dengan mengatakan bahwa
mereka takkan pernah mundur dari imannya, takkan pernah jatuh
ke dalam dosa, tidak pernah gagal untuk memberitakan perbuatan-
perbuatan besar dari Dia yang telah memanggilnya keluar dari
kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib. Doktrin ini hanyalah ber
arti bahwa mereka tidak akan pernah berbalik samasekali dari
lingkup kasih karunia yang telah mereka terima, dan jikalau mereka
mundur dari iman maka mereka pada akhirnya pasti kembali kepada
Tuhan.
451
452 Soteriologi
I. BUKTI DOKTRIN INI
Kebenaran ini bukanlah menyangkut spekulasi, namun menyangkut
penyataan. Pendapat manusia hampir tidak memiliki bobot apa pun
dalam menentukan benar atau salahnya doktrin ini, kecuali bila pen
dapat ini dipenuhi dengan pernyataan dan prinsip Alkitab.
Dengan demikian beberapa bukti utama yang ada dalam
Alkitab tentang kebenaran doktrin ini dapat disebutkan di sini.
A. TUJUAN ALLAH
Yesaya mengatakan, 'Tuhan semesta alam telah bersumpah, firman-
Nya, ’Sesungguhnya seperti yang Kumaksud, demikianlah akan ter
jadi, dan seperti yang Kurancang, demikianlah akan terlaksana’"
(Yesaya 14:24; lihat juga Ayub 23:13). Alkitab mengajarkan bahwa
Allah telah bermaksud untuk menyelamatkan orang-orang yang
telah dibenarkan-Nya. saat menjawab pertanyaan, "Siapakah
yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus?" Paulus mengata
kan, "Aku yakin bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-
malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang,
maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas,
maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan
dapat memisahkan kita dari kasih Allah yang ada dalam Kristus
Yesus, Tuhan kita" (Roma 8:35, 38, 39). Sebelumnya Paulus telah
mengungkapkan maksud Allah bagi orang-orang yang diselamat
kan, yaitu "Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, me
reka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan
gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung
di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari
semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipang
gil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang di
benarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya" (Roma 8:29, 30).
Maksudnya, dalam ketetapan Allah ada suatu urutan yang tidak
mungkin gagal dalam kaitannya dengan orang-orang yang telah
dipilih-Nya dari semula. Penyataan fakta ini telah menyebabkan
rasul itu mengungkapkan pandangannya dengan penuh keyakinan,
sebagaimana telah kami katakan tadi. Paulus selanjutnya menya
takan, "Sebab Allah tidak menyesali kasih karunia dan panggilan
Ketekunan 453
Nya" (Roma 11:29). Yesus pernah mengutarakan hal yang sama,
saat Ia berkata, "Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan
Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku mem
berikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak
akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan
merebut mereka dari tangan-Ku. Bapa-Ku, yang memberikan me
reka kepada-Ku, lebih besar daripada siapa pun, dan seorang pun
tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa. Aku dan Bapa yaitu
satu" (Yohanes 10:27-30). Morris memberi komentar, "Salah satu
hal yang sangat indah dari iman Kristen ialah bahwa kelangsungan
kita dalam hidup kekal itu tidak bergantung pada pegangan kita
yang lemah pada Kristus, namun pada genggaman-Nya yang kuat
pada kita."143
B. PERANTARAAN KRISTUS
Perantaraan Kristus itu berkesinambungan dan efektif. Ada ke
mungkinan bahwa Allah memang bertujuan untuk memelihara sese
orang sampai selama-lamanya, namun bisa saja syarat-syarat jaminan
keselamatannya itu gagal. Kita diselamatkan oleh darah Kristus
dan kebangkitan Tuhan kita membuktikan bahwa pengorbanan-Nya
diterima oleh Bapa di sorga (Roma 1:4; 4:25). Akan namun , adakah
karya-Nya ini senantiasa berlaku? Paulus mengatakan, "Akan
namun , Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kris
tus telah mati untuk kita, saat kita masih berdosa. Lebih-
lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita
pasti akan diselamatkan dari murka Allah. Sebab jikalau kita, saat
masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-
Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan
diselamatkan oleh hidup-Nya!" (Roma 5:8-10). Pelayanan Kristus
sekarang ini membantu agar kita tetap selamat, sebagaimana pela
yanan-Nya dahulu membantu agar kita diselamatkan. Penulis surat
Ibrani mengatakan, "Karena itu Ia sanggup juga menyelamatkan
dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah.
Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka"
(Ibrani 7:25). Dalam Yohanes 17 Yesus berdoa, antara lain, agar
Bapa senantiasa menjaga mereka yang telah percaya dan supaya
143 Morris, The Gospel According to John, hal. 521.
454 Soteriologi
mereka dapat menikmati berkat-berkat persekutuan kekal dengan
diri-Nya. Pastilah doa Kristus dikabulkan oleh Bapa. Saat ini Kristus
ada di sebelah kanan Allah Bapa sambil berdoa bagi kita (Roma
8:34).
C. KEMAMPUAN ALLAH UNTUK MEMELIHARA
Keinginan untuk memelihara sesuatu yaitu berbeda dengan
kemampuan untuk melakukannya. Dikatakan bahwa Allah sanggup
melakukan kedua hal ini . Paulus menegaskan, "Akan hal ini
aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik
di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada
hari Kristus Yesus" (Filipi 1:6; lihat juga II Timotius 1:12). Alkitab
selanjutnya berbicara tentang orang-orang percaya yang "dipelihara
dalam kekuatan Allah karena imanmu sementara kamu menantikan
keselamatan yang telah tersedia untuk dinyatakan pada zaman
akhir" (I Petrus 1:5; lihat juga Roma 16:25; Yudas 24). Jadi, dalam
Alkitab, kehendak Allah serta kemampuan-Nya untuk memelihara
kita yang telah diselamatkan-Nya ditegaskan dengan pasti.
D. SIFAT PERUBAHAN DALAM DIRI ORANG PERCAYA
Alkitab memberi tahu bahwa orang yang percaya telah dilahirkan
kembali, dan bahwa pada saat kelahiran kembali itu ia menjadi cip
taan baru dan menerima hidup baru. Paulus mengatakan, "Jadi siapa
yang ada di dalam Kristus, ia yaitu ciptaan baru; yang lama sudah
berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang" (II Korintus 5:17).
Setelah percaya pada Tuhan Yesus Kristus, Allah memandang kita
seakan-akan kita telah disalibkan bersama-sama dengan Tuhan
Yesus (Roma 6:6), dan juga seakan-akan kita telah bangkit dari
antara orang mati bersama Dia kepada hidup baru. Orang percaya
bukan saja telah menerima hidup yang baru, melainkan hidup yang
kekal. Yesus berkata, "Aku memberikan hidup yang kekal kepada
mereka" (Yohanes 10:28). Ia juga mengatakan, "Dan sama seperti
Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak
Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya
kepada-Nya beroleh hidup yang kekal" (Yohanes 3:14, 15; ban
dingkan dengan ayat 16), dan selanjutnya, "Barangsiapa percaya
kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, namun barangsiapa tidak
Ketekunan 455
taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka
Allah tetap ada di atasnya" (Yohanes 3:36). Boettner mengatakan:
Sifat dari perubahan yang terjadi pada saat kelahiran kembali merupakan
jaminan yang memadai bahwa hidup yang diberikan pada saat itu bersifat
kekal. Kelahiran kembali atau pembaharuan itu merupakan perubahan yang
radikal dan adikodrati dalam batin, dan melaluinya jiwa dihidupkan secara
rohani, dan hidup baru yang diterima bersifat abadi. Dan karena perubahan
itu terjadi dalam batin, perubahan ini terjadi dalam kawasan yang ber
ada di luar pengawasan manusia. Tidak ada makhluk yang dengan leluasa
dapat mengubah prinsip-prinsip asasi dari sifat dasarnya, karena hal itu me
rupakan hak istimewa Allah sebagai Pencipta. Jadi, hanyalah suatu tindakan
adikodrati lain dari Allah yang dapat membalikkan perubahan ini serta me
nyebabkan hidup baru itu hilang. Orang Kristen yang telah dilahirkan kem
bali tidak mungkin kehilangan statusnya sebagai anak Allah sama seperti
seorang anak manusia tidak mungkin kehilangan statusnya sebagai anak
ayahnya.144
II. BERBAGAI KEBERATAN TERHADAP
DOKTRIN INI
Ada beberapa keberatan terhadap doktrin ini yang perlu kita per
hatikan.
A. DOKTRIN INI MENYEBABKAN KELALAIAN DAN
KEMALASAN
Dikatakan bahwa doktrin sekali selamat tetap selamat ini menyebab
kan kelalaian dalam perilaku dan kemalasan dalam pelayanan.
1. Kelalaian Dalam Perilaku. Ada orang yang menandaskan, bila
setiap orang percaya yakin bahwa ia sekali selamat tetap selamat,
mengapa ia perlu memiliki kelakuan yang kudus; mengapa tidak
menikmati saja sepuas-puasnya segala kesenangan dunia? Akan
namun , mereka yang mengajukan keberatan ini menunjukkan bahwa
mereka tidak mengerti sifat sesungguhnya dari pembaharuan serta
arti yang tepat dari doktrin ketekunan ini. Pembaharuan atau kela
hiran kembali merupakan suatu perubahan dalam batin, dan hidup
144 Boettner, The Reformed Doctrine of Predestination, hal. 184.
456 Soteriologi
baru itu yaitu hidup yang kekal. Inilah pandangan yang benar me
ngenai pembaharuan. Selanjutnya, doktrin sekali selamat tetap
selamat tidak berarti bahwa manusia bisa berbuat kesalahan tanpa
dihukum. Akan namun , doktrin ini menandaskan bahwa orang yang
telah dilahirkan kembali akan berusaha untuk menjalani hidup baru.
Yohanes menulis, "Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat
dosa lagi; sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak
dapat berbuat dosa karena ia lahir dari Allah" (I Yohanes 3:9). Hal
ini berarti bahwa orang itu tidak biasa berbuat dosa; dan pastilah
pengalaman lahir baru itu digambarkan di sini sebagai menghasilkan
hidup yang berkemenangan atas dosa. jika seseorang biasa ber
buat dosa, kita menarik kesimpulan bahwa ia belum pernah di
selamatkan (bandingkan Roma 6:1, 2; II Timotius 2:19; II Petrus
1:10, 11; I Yohanes 2:3, 4, 29; 3:14; 5:4).
2. Kemalasan Dalam Pelayanan. Kepastian akan hubungan yang
beres dengan Allah akan menghasilkan sukacita dan pujian yang
berusaha mengungkapkan diri di dalam pelayanan yang memuliakan
Allah. Jiwa yang tidak pernah pasti tentang keselamatannya itu ber
sikap malu-malu dan ragu-ragu, sedangkan orang percaya yang
yakin bahwa ia selama-lamanya aman dalam pemeliharaan Allah
senantiasa merasa terdorong untuk melakukan sesuatu bagi orang
lain. Dalam pelayanan maupun dalam moralitas, "Domba-domba-
Ku mendengar suara-Ku, dan Aku mengenal mereka, dan mereka
mengikut Aku" (Yohanes 10:27). Ayat ini bukan merupakan suatu
nasihat, melainkan pernyataan suatu fakta. Semua kata kerja ini
ditulis dalam bentuk waktu sekarang; domba-domba-Nya sudah
biasa mendengar suara-Nya, Ia terus-menerus kenal mereka, dan
mereka sudah biasa ikut Dia. Bukan dari pekerjaan atau pengakuan
seseorang kita mengenal orang itu, namun dari buah-buah hidupnya
(Matius 7:16).
B. DOKTRIN INI MERAMPAS KEBEBASAN MANUSIA
Dikatakan bahwa ajaran sekali selamat tetap selamat ini menjadikan
manusia makhluk yang bergerak secara otomatis, bahwa ia tidak
lagi dianggap sebagai mempunyai kemampuan untuk memilih.
Namun pandangan semacam itu menunjukkan konsepsi yang keliru
Ketekunan 457
tentang kebebasan. Kebebasan tidaklah harus selalu dipahami
sebagai kemampuan untuk memilih antara yang baik dengan yang
jahat, namun kebebasan sebenarnya dapat diartikan sebagai kemam
puan untuk memilih yang baik. Allah itu bebas secara sempurna,
dan Ia tidak dapat memilih atau melakukan yang salah. Hidup baru
di dalam diri orang percaya mendorongnya untuk memilih yang
benar serta menolak yang salah. Paulus menghimbau jemaat di
Filipi untuk mengerjakan keselamatan mereka dengan takut dan
gentar, namun ia melandaskan himbauannya itu pada kenyataan
bahwa "Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan
maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya" (Filipi 2:13). Doktrin
ketekunan atau berusaha sampai akhir tidak merampas kebebasan
seseorang; doktrin ini malah mengakui bahwa orang sudah disela
matkan memiliki kebebasan untuk melakukan apa yang harus
dilakukannya. Kebebasan itu tidak dimiliki oleh orang yang belum
diselamatkan.
C. ALKITAB MENGAJARKAN YANG SEBALIKNYA
Dikatakan bahwa Alkitab menunjukkan bahwa orang-orang tertentu
telah diselamatkan, namun mereka itu binasa pada akhirnya. Saul
dalam Perjanjian Lama dan Yudas Iskariot dalam Perjanjian Baru
merupakan contoh-contoh yang amat disenangi untuk mendukung
keberatan ini. Akan namun , hal ini hanya menegaskan bahwa kita
harus berhati-hati saat menilai seseorang dari keadaan yang
lahiriah. Benih di tanah yang berbatu dalam perumpamaan penabur
dengan cepat bertumbuh, namun tumbuhan itu hanya bertahan
beberapa waktu saja. saat datang penganiayaan dan penindasan,
tumbuhan itu langsung mati (Markus 4:16, 17). Hal yang sama ter
jadi pada benih yang jatuh di antara semak duri; nampaknya
sungguh-sungguh ada hidup, namun saat terjadi berbagai
kekuatiran hidup, tipu daya kekayaan, dan keinginan akan hal-hal
lain mulai masuk, benih firman itu terhimpit lalu mati (ayat 18, 19).
Yesus menyatakan bahwa tidak semua orang yang berseru kepada-
Nya 'Tuhan, Tuhan" akan masuk dalam Kerajaan Sorga, bahkan
sekalipun orang itu membanggakan diri telah bernubuat dalam
nama-Nya, dan mengusir setan dalam nama-Nya, atau mengadakan
banyak mukjizat dalam nama-Nya. Demikianlah orang-orang yang
458 Soteriologi
nampaknya hanya memiliki karunia Allah (Lukas 8:18). Hanya
mereka yang memiliki hubungan pribadi dengan Kristus yang akan
memasuki Kerajaan Sorga (Matius 7:21-23). Yohanes memakai
alasan ketekunan dengan umat Allah sebagai bukti pembaharuan,
dan kegagalan untuk terus bertahan sebagai umat Allah sebagai
bukti bahwa mereka yang memisahkan diri ini tidak pernah
dibaharui. "Memang mereka berasal dari antara kita, namun mereka
tidak sungguh-sungguh termasuk pada kita; sebab jika mereka
sungguh-sungguh termasuk pada kita, niscaya mereka tetap ber
sama-sama dengan kita. namun hal itu terjadi, supaya menjadi nyata,
bahwa tidak semua mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita"
(I Yohanes 2:19; lihat juga Yohanes 6:66, 67; II Petrus 2:20-22).
Sesungguhnya, Yudas Iskariot tidak pernah selamat. Yesus pernah
berkata saat sedang mencuci kaki murid-murid-Nya, "’Barang
siapa telah mandi, ia tidak usah membasuh diri lagi selain mem
basuh kakinya, karena ia sudah bersih seluruhnya. Juga kamu sudah
bersih, hanya tidak semua.’ Sebab Ia tahu, siapa yang akan me
nyerahkan Dia. Karena itu Ia berkata, ’Tidak semua kamu bersih’"
(Yohanes 13:10, 11). Murid-murid yang telah mandi sudah bersih;
mereka semuanya sudah bersih kecuali Yudas; jadi jelas, Yudas
belum mandi. Yudas tidak pernah dilahirkan kembali. Kita tidak
mungkin mengetahui mengapa Kristus memilih dan membiarkan
Yudas yang belum diselamatkan berada dalam kelompok-Nya.
Dalam kasus Raja Saul tidak ada keterangan yang memadai dalam
Alkitab untuk menetapkan hubungannya dengan Tuhan, sehingga
mengatakan bahwa ia kehilangan keselamatan yaitu melampaui
apa yang dikatakan Alkitab kepada kita.
D. ADA BANYAK PERINGATAN
Ada yang menandaskan bahwa Alkitab berisi banyak peringatan
dan nasihat kepada orang-orang percaya. Masakan orang-orang
yang sudah pasti selamat untuk selama-lamanya harus diperingatkan
lagi? Apakah pengaruh peringatan-peringatan ini? Yang paling
menonjol dari ayat-ayat peringatan ini yaitu Ibrani 6:4-6 dan
10:26-31. Nampaknya orang-orang yang disebutkan dalam ayat-ayat
ini sedang dibujuk untuk kembali ke agama Yahudi. Mereka
kehilangan iman dan keyakinan akan janji-janji Injil dan sedang
Ketekunan 459
menoleh kembali kepada apa yang sudah mereka tinggalkan. Ber
bahaya sekali bagi seseorang untuk secara aktif melibatkan diri
dalam hal-hal kekristenan dan bersekutu dengan orang-orang Kris
ten tanpa benar-benar berbalik dari kegelapan dan kerajaan Iblis
kepada terang dan Kerajaan Kristus. jika orang yang belum
dilahirkan kembali seperti itu akan berpaling dari Tuhan, maka
kesempatannya untuk kembali kepada Tuhan lagi sangat kecil (lihat
II Petrus 2:20-22). Ayat lain yang dikemukakan dalam hubungannya
dengan hal ini ialah Matius 24:13 yang berbunyi, "namun orang
yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat." Terhadap
hal ini kita mengatakan bahwa semua itu tidak ada hubungannya
dengan masalah utama. Bila seseorang telah diselamatkan, ia akan
berusaha mengikut Tuhan sampai pada akhirnya; jika ia belum
selamat, maka ia juga tidak akan berusaha untuk bertekun sampai
ke akhir. Bila seseorang bertahan sampai pada kesudahannya, maka
pada akhirnya ia akan diselamatkan. Dengan kata lain, Matius
24:13, menunjuk kepada pahala ketekunan, ayat ini samasekali tidak
membahas apakah orang yang betul-betul sudah diselamatkan akan
bertahan sampai kesudahannya atau tidak.
Ayat lain yang dianggap menunjukkan kemungkinan orang yang
diselamatkan mundur dari iman ialah Yehezkiel 18:24, "Jikalau
orang benar berbalik dari kebenarannya dan melakukan kecurangan
seperti segala kekejian yang dilakukan oleh orang fasik—apakah ia
akan hidup?" Jelaslah dari seluruh konteks dalam pasal ini bahwa
Nabi Yehezkiel sedang berbicara mengenai kebenaran dari segi hu
kum Taurat dan ketaatan lahiriah dalam melaksanakan kewajiban
(bandingkan dengan Yehezkiel 33:12-20). jika pernyataan ini
diartikan secara harfiah, maka itu berarti keselamatan diperoleh
sebagai hasil perbuatan baik dan bukan oleh kasih karunia Allah.
Dari semuanya ini jelas bahwa kehidupan yang sedang dibicarakan
di sini bukanlah hidup yang kekal, melainkan hidup di atas muka
bumi, yang diperpanjang atau diperpendek sebagai akibat ketaatan
atau ketidaktaatan. Ayat terakhir yang perlu disebut ialah Yohanes
15:1-6, khususnya ayat 6, yang menyatakan bahwa semua cabang
atau ranting yang tidak berbuah akan dicampakkan ke dalam api.
Dapatkah hal ini terjadi pada orang percaya yang sejati? Jawaban
nya yaitu bahwa dalam ayat-ayat ini Tuhan ingin mengajarkan
satu ajaran utama saja, dan kita tidak boleh mendesakkan kias-kias
460 Soteriologi
lain dari perumpamaan ini. Yesus hanya mengajarkan bahwa setiap
ranting yang sejati menghasilkan buah; jika ada ranting yang
tidak menghasilkan buah, jelaslah tidak ada hubungan hidup antara
ranting itu dengan pokok anggur. Maksudnya, orang yang digam
barkan dengan ranting yang tidak berbuah ini tidak diselamatkan.
Tentu saja ranting semacam itu dibuang. Orang ini dipersatu
kan dengan Kristus, namun persatuan itu tidak menjadikan persatu
an yang hidup; oleh karena itu ia akan dipisahkan dan pada akhirnya
akan dihukum.
XXXIV
Sarana-Sarana Kasih Karunia
Allah memakai banyak cara dan sarana untuk mengantarkan orang-
orang kepada diri-Nya untuk persekutuan dan keselamatan, dan se
mua ini dapat dianggap dalam arti kata yang lebih luas sebagai
sarana-sarana kasih karunia. Namun kita setuju dengan Berkhof
yang telah menulis:
Manusia yang telah jatuh di dalam dosa menerima segala berkat keselamatan
dari sumber kasih karunia Allah yang abadi, karena jasa-jasa Yesus Kristus
dan melalui pekerjaan Roh Kudus. Sekalipun Roh Kudus dapat dan dalam
beberapa hal langsung bekerja di dalam jiwa orang berdosa, Ia telah memilih
untuk membatasi diri dengan memakai sarana-sarana tertentu dalam hal me
nyampaikan kasih karunia ilahi. Istilah "sarana-sarana kasih karunia" me
mang tidak ada dalam Alkitab, namun istilah ini merupakan nama yang
tepat untuk sarana-sarana yang disebut di dalam Alkitab.145
145 Berkhof, Systematic Theology, hal. 604.
146 Hoeksema, Reformed Dogmatics, hal. 631-726.
Teologi aliran Calvinis telah mempersempit istilah "sarana-sarana
kasih karunia" sehingga mencakup dua sarana saja yaitu Firman
Allah dan sakramen-sakramen.146 Dalam teologi Calvinis sakra-
men-sakramen ini ialah baptisan air dan Perjamuan Kudus.
Sekalipun dalam arti kata tertentu hal-hal yang termasuk dalam peri
ngatan kematian Kristus pada Perjamuan Kudus memang merupa
kan sumber berkat rohani, namun Perjamuan Kudus harus dianggap
lebih sebagai suatu peraturan gereja daripada sebagai sakramen. Hal
yang sama dapat dikatakan tentang baptisan. Dalam pembicaraan
kita ini kita akan membatasi istilah "sarana-sarana kasih karunia"
kepada Firman Allah dan doa saja.
461
462 Soteriologi
I. FIRMAN ALLAH
Yang kami maksudkan dengan Firman Allah yaitu Alkitab, yang
terdiri atas kitab-kitab kanonik dalam Perjanjian Lama dan Perjan
jian Baru. Kitab-kitab yang diilhamkan Allah ini "bermanfaat untuk
mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki
kelakuan, dan untuk mendidik orang dalam kebenaran" (II Timotius
3:16). Dalam berbagai cara dan berbagai lambang Firman Allah
menjadi suatu sarana kasih karunia bagi kita. Alkitab yaitu "palu
yang menghancurkan bukit batu" (Yeremia 23:29), hakim yang
sanggup menilai "pertimbangan dan pikiran hati kita" (Ibrani 4:12),
cermin yang menyatakan keadaan sebenarnya dari seseorang
(Yakobus 1:25), bejana tempat orang-orang yang cemar membasuh
dirinya (Yohanes 15:3; Efesus 5:26), benih (Lukas 8:11; I Petrus
1:23), makanan untuk yang lapar (Ayub 23:12), pelita bagi pejalan
kaki (Mazmur 119:105), dan pedang bagi tentara (Efesus 6:17;
Ibrani 4:12).
A. ALKITAB yaitu SARANA KESELAMATAN
Bagaimana Alkitab menjadi sarana keselamatan? Paulus mengata
kan bahwa Injil yaitu "kekuatan Allah yang menyelamatkan"
(Roma 1:16) dan bahwa Allah telah berkenan untuk "menyelamat
kan mereka yang percaya oleh kebodohan pemberitaan Injil" (I Ko
rintus 1:21). Paulus menjelaskan bahwa yang harus diberitakan ialah
"Kristus yang disalibkan" (ayat 23). Paulus berkata kepada Timo
tius, "Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab
Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau
kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus" (II Timotius
3:15). Petrus pernah mengatakan bahwa orang percaya telah di
lahirkan kembali "bukan dari benih yang fana, namun dari benih
yang tidak fana, oleh Firman Allah, yang hidup dan yang
kekal" (I Petrus 1:23). Pemazmur mengatakan, 'Taurat Tuhan itu
sempurna, menyegarkan jiwa" (Mazmur 19:8).
Menurut Alkitab, Injil yaitu kematian, penguburan, dan kebang
kitan Kristus (I Korintus 15:3, 4), sedangkan pemberitaan para rasul
dipenuhi ayat-ayat Alkitab (Kisah 2:16-21, 25-28, 34-35; 3:12-16;
13:16-41; 17:2, 3). Sesungguhnya, pengalaman membenarkan
Sarana-Sarana Kasih Karunia 463
bahwa Alkitab merupakan sarana untuk menarik orang datang
kepada Kristus. Allah menghormati Firman-Nya, dan lewat Firman
itu orang memperoleh pengetahuan tentang Kristus yang menye
lamatkan dirinya.
B. ALKITAB yaitu SARANA PENGUDUSAN
Firman Allah juga merupakan sarana pengudusan. Konsep ini di
uraikan dalam Alkitab dengan memakai lambang-lambang seperti
cermin, bejana tempat membasuh, lampu, dan pedang. Alkitab me
nyatakan keadaan hati kita dan bahwa hati itu perlu dibersihkan (II
Korintus 3:18; Yakobus 1:23-25); Alkitab yaitu air yang menyuci
kan (Mazmur 119:9, 11; Yohanes 15:3; Efesus 5:26); Alkitab me
rupakan pelita yang menuntun kaki yang mengembara kepada jalan
kebenaran (Mazmur 119:105; Amsal 6:23; II Petrus 1:19); Alkitab
merupakan pedang untuk mengalahkan musuh (Efesus 6:17; Ibrani
4:12). Yesus berdoa kepada Bapa di sorga, "Kuduskanlah mereka
dalam kebenaran; firman-Mu yaitu kebenaran" (Yohanes 17:17).
Ada hubungan yang langsung antara membaca dan mempelajari Fir
man Allah dengan pertumbuhan dalam kasih karunia. Suatu pene
litian yang cermat terhadap pengalaman hidup orang Kristen me
nunjukkan bahwa hamba-hamba Allah yang besar dengan rajin dan
setia membaca Alkitab. Kata-kata yang diucapkan Tuhan kepada
Yosua memiliki manfaat abadi, "Janganlah engkau lupa memper-
katakan kitab Taurat ini, namun renungkanlah itu siang dan malam,
supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis
di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil
dan engkau akan beruntung" (Yosua 1:8; lihat juga Ulangan 17:18-
20).
Dapat ditambahkan Sepatah dua kata untuk menjelaskan kuasa
Firman Allah. Sekalipun dikatakan bahwa Firman Allah itu "hidup
dan kuat" (Ibrani 4:12), serta merupakan hikmat dan kekuatan
Allah, dan mampu menginsafkan, menobatkan, dan menyucikan
jiwa, Firman itu hanya dapat menghasilkan hasil-hasil rohani bila
disertai oleh Roh Kudus. Petrus menyatakan bahwa para nabi "me
nyampaikan berita Injil. . . oleh Roh Kudus yang diutus dari sorga"
(I Petrus 1:12). Paulus berdoa agar "Allah Tuhan kita Yesus Kristus,
yaitu Bapa yang mulia itu, . . . memberikan kepadamu Roh hikmat
464 Soteriologi
dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar" (Efesus 1:17). Nam
paknya jelas bahwa sekalipun Firman Allah memiliki kemanjuran
yang diperlukan untuk melakukan pekerjaannya, namun jiwa ma
nusia tidak dapat menerima semua pengaruh Firman Allah itu tanpa
dikuasai oleh Roh Kudus (I Korintus 2:14-16).
II. DOA
Tak seorang pun yang dapat membaca Alkitab tanpa mendapat
kesan bahwa doa merupakan sesuatu yang sangat penting di dalam
nya. Bermula dari percakapan antara Allah dengan Adam, sepanjang
Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru Alkitab ada contoh-con
toh dari orang-orang yang berdoa. Namun, doa dalam Alkitab bu
kan sekadar dikemukakan sebagai suatu hak istimewa, namun juga
merupakan suatu perintah (Kejadian 18:22, 23; I Samuel
12:23; II Raja-Raja 19:15; Mazmur 5:3; 32:6; Yeremia 29:7; Matius
5:44; 26:41; Lukas 18:1; 21:36; Efesus 6:18; I Tesalonika
5:17, 25; I Timotius 2:8; Yakobus 5:13-16). Ezra menganggap doa
lebih penting dan berkuasa daripada sekelompok tentara dan orang-
orang berkuda (Ezra 8:21-23); Kristus menganggap doa lebih pent
ing daripada makanan dan istirahat (Markus 1:35; Lukas 6:12);
sedangkan para rasul mendahulukan doa dari khotbah (Kisah 6:4).
Marilah kita sekarang meneliti sifat, masalah-masalah, dan cara-cara
berdoa.
A. SIFAT DOA
Doa dapat dipahami sebagai komunikasi antara seseorang dengan
Allah. Komunikasi itu dapat terwujud dalam berbagai bentuk. Doa
yang benar berisikan pengakuan. Ada banyak contoh mengenai hal
ini dalam Perjanjian Lama (I Raja-Raja 8:47; Ezra 9:5-10:1;
Nehemia 1:2-11; 9:5-38; Daniel 9:3-19). Doa juga merupakan
penyembahan (Mazmur 45:2-9; Yesaya 6:1-4; Matius 14:33; 28:9;
Wahyu 4:11). Ini merupakan hal pertama dalam doa Bapa Kami
(Matius 6:9). Yang mirip dengan penyembahan ialah hubungan
yang erat. Doa Abraham untuk Sodom dan Gomora merupakan
suatu contoh (Kejadian 18:33). Allah berkenan untuk berbicara
dengan imam besar yang berasal dari suku Lewi dari atas tutup
Sarana-Sarana Kasih Karunia 465
pendamaian dari tabut perjanjian (Keluaran 25:22), dan Alkitab
menceritakan bahwa Musa bercakap-cakap dengan Allah di Gunung
Sinai (Keluaran 31:18). Bentuk doa yang lain ialah pengucapan syu
kur. Nyanyian Musa (Keluaran 15:1-18), nyanyian Debora (Hakim-
Hakim 5), dan nyanyian Daud (II Samuel 23:1-7) pada hakikatnya
merupakan nyanyian-nyanyian pengucapan syukur. Alkitab penuh
dengan nasihat untuk memanjatkan ucapan syukur kepada Allah
(Mazmur 95:2; 100:4; Efesus 5:20; Filipi 4:6; Kolose 4:2).
Setelah kita memuliakan Allah dalam doa barulah kita dapat me
mikirkan diri kita sendiri. Yang pertama-tama ialah permintaan,
yaitu memberitahukan permintaan kita. Baik melalui teladan orang
maupun melalui ajaran, kita didorong untuk meminta berbagai hal
kepada Allah (Daniel 2:17, 18; 9:16-19; Matius 7:7-11; Yohanes
14:13, 14; 15:16; 16:23, 24; Kisah 4:29, 30; dan Filipi 4:6). Per
mohonan ialah memohon dengan sangat akan sesuatu hal. Daniel
menaikkan permintaan dan permohonan kepada Allah (Daniel
6:11); roh permohonan akan dicurahkan ke atas Israel (Zakharia
12:10); wanita Kanaan terus mendesak agar permohonannya diper
hatikan dan akhirnya ia didengar (Matius 15:22-28); dan orang-
orang terpilih yang berseru kepada Tuhan siang dan malam akan
segera didengar (Lukas 18:1-8). Paulus menasihatkan kita bukan
hanya untuk berdoa, namun untuk bertekun di dalam doa (Efesus
6:18; I Timotius 2:1). Akhirnya doa yaitu syafaat. Allah mencari
orang-orang yang bersedia memanjatkan doa-doa syafaat (Yesaya
59:16); Samuel menganggapnya dosa bila ia berhenti mendoakan
Israel yang tidak taat (I Samuel 12:23); Ayub diminta untuk berdoa
bagi para "penghiburnya" (Ayub 42:8); Paulus menasihati supaya
doa syafaat dinaikkan bagi semua orang (I Timotius 2:1); dan gereja
yang mula-mula berkumpul untuk menaikkan doa syafaat (Kisah
12:5). Beberapa golongan orang secara khusus disebutkan dalam
Alkitab sebagai orang-orang yang memerlukan doa syafaat; para
penguasa (I Timotius 2:2), Israel (Mazmur 122:6), orang yang
belum diselama












