aanya membuat tenda bukan hanya
menyokong hidupnya sendiri namun juga untuk menyokong kehidupan orng-orang yang
bersama dengannya. Tujuan utama dari kebiasaan memberi di dalam gereja mula-mula
yaitu untuk membantu saudara seiman yang kekurangan dan bukan untuk mendukung
pemberitaan Injil seperti sekarang ini.
Ayat 36-38 menunjukkan bahwa sebelum Paulus berpisah dari para penilik jemaat itu,
mereka berlutut dan berdoa bersama-sama. Mereka sangat berdukacita mengingat bahwa
mereka mengetahui bahwa Paulus akan mengalami kesulitan besar dan bahkan mungkin
kematian sedang menanti Paulus.
12. Perluasan Gereja ke Roma (21:18-28:31)
Lukas telah mengisahkan perluasan gereja dari Yerusalem hingga Yudea dan Samaria
sampai berdirinya sebuah gereja orang bukan Yahudi yang semi mandiri di Antiokia. Dari
Antiokia Injil oleh Paulus disebarkan oleh tiga buah perjalanan pemberitaan Injil ke seluruh
Asia dan Eropa. Pemberitaan Injil di wilayah yang lain psti jug dilaksanakan oleh para rasul
yng lain. Sebagai contoh kita tidak tahu apa-apa tentang pemberitaan Injil di Mesir, dengan
pusatnya yang besar yaitu Aleksndria. Lukas hanya tertarik untuk menelusuri garis-garis
utama dari penyebaran yang ia anggap penting – yaitu ke Roma. Sekarang dia hanya tinggal
mengisahkan misi Paulus yang membawa Injil ke Roma.Jelas Lukas tidak mempunyai
maksud untuk menceritakan awal pemberitaan Injil di Roma atau awal pendirian gereja
disana, sebab dia menceritakan bagaimana saudara-saudara seiman disana menyambut
Paulus saat sang Rasul tiba di kota itu (28:15). Kita mengetahui bahwa Paulus telah
menulis sebuah surat kepada jemaat di Roma (Rom 1:7), namun Lukas tidak menulis
bagaimana Injil tiba di kerajaan ini . sebab Lukas tidak bermaksud melukiskan awal
penginjilan di Roma, mungkin Lukas bermaksud untuk menunjukkan bahwa sekalipun
Paulus pertama-tama memberitakan tentang kerajaan Allah kepada orang Yahudi, dia
berbalik memberitakannya kepada orang-orang bukan Yahudi saat orang Yahudi menolak
pemberitaannya (28:24-31). Perluasan gereja secara geografis bukan merupakan perhatian
utama Lukas; yang lebih diutamakannya ialah gerakan sejarah penebusan dari orang Yahudi
ke orang bukan Yahudi. Sesuai dengan maksud ini, Lukas memakai cukup banyak tempat
untuk menceritakan kisah kunjungan Paulus yang terakhir ke Yerusalem, bukan sebab
kunjungan itu penting, namun sebab kunjungan itu menunjukkan penolakan terakhir terhadap
Injil oleh Yerusalem.
a. Injil di tolak oleh orang-orang Yerusalem (21:18-26:32)
Ayat 18 dan 19 menjelaskan bahwa sesudah Paulus dan rombonganya disambut baik oleh
jemaat di Yerusalem, maka keesokan harinya mereka menjumpai Yakobus dan semua
penatua yang sudah berkumpul disitu. Rupanya di Yerusalem pada waktu itu tidak ada rasul.
Paulus disambut hangat oleh para pemimpin gereja di sana. Paulus menceritakan hasil
pelayanannya kepada mereka. Dimana banyak orang menjadi percaya tanpa harus mentaati
hukum Yahudi. Para pemimpin gereja di Yerusalem sangat menyetujui prosedur itu.
Ayat 20-21 memberitahukan bahwa sekalipun para pemimpin gereja di Yerusalem
senang dengan berita yang disampaikan oleh rasul Paulus, mereka juga menyampaikan
peringatan kepadannya. Mereka mengatakan bahwa ada ribuan orang percaya Yahudi yang
sebagai orang Kristen namun tetap rajin memelihara hukum Taurat, dan bahwa mereka itu
telah mendengar mengenai Paulus yang bukan hanya memberitakan kasih karunia kepada
orang Yahudi dengan sama sekali terlepas dari hukum Taurat, namun juga mengajarkan
kepada orang Yahudi di perantauan untuk melepaskan hukum Musa dan supaya mereka
jangan menyunatkan anak-anak mereka serta tidak usah menjalankan adat-istiadat
Perjanjian Lama lainya. Ini berarti bahwa Paulus mengajak orang-orang Yahudi untuk
meninggalkan Yudaisme dan tidak menjadi orang Yahudi lagi.
Ayat 22-24 memperlihatkan kepada kita bahwa Yakobus dan para penatua gereja di
Yerusalem menyadari bahwa laporan ini tidak benar dan bahwa Paulus tetap mengijinkan
orang-orang percaya Yahudi untuk tetap mentaati hukum Taurat. Namun mereka merasa
bahwa sesuatu harus dilakukan untuk memperlihatkan kepada orang-orang Kristen Yahudi
bahwa laporan ini tidak benar. Mereka mengusulkan agar Paulus menunjukkan
ketaatannya kepada Taurat untuk membuktikan bahwa dia tidak menganjurkan orang-orang
Kristen Yahudi untuk meninggalkan tradisi mereka. saat itu ada empat orang Yahudi
yang bernazar. Nazar itu biasanya berlaku selama tiga puluh hari, namun mereka telah
menajiskan diri sehingga menurut peraturan agama mereka tidak tahir selama tujuh hari
( ayat 27). Pada akhir periode ini, mereka akan mencukur rambut dan mempersembahkan
beberapa kurban pentahiran kepada Allah. Para penatua mengusulkan agar Paulus
bergabung dengan empat orang ini dan melaksanakan adat Yahudi dengan membayar biaya
untuk persembahan kurban. Tindakan ini akan membuktikan kepada jemaat Yahudi
bahwa Paulus sendiri menerima adat-istiadat Yahudi.
Selanjutnya ayat 25 berbicara, dimana Yakobus memastikan kepada Paulus bahwa
usul ini bukan merupakan perubahan dari keputusan yang telah ditetapkan dalam sidang di
Yerusalem bahwa orang-orang bukan Yahudi bebas dari hukum Taurat, namun hanya harus
menjauhkan diri dari hal-hal tertentu yang dapat menjadi batu sandungan bagi orang-orang
Kristen Yahudi. Ayat 26 menjelaskan bahwa Paulus menerima nasihat para penatua ini
dan selama beberapa hari (kata kerjanya dalam bentuk waktu imperfect) pergi kedalam Bait
Allah bersama dengan empat orang Yahudi itu untuk mempersembahkan kurban pentahiran.
Tidak ada perbedaan yang mendasar di dalam kesediaan Paulus selalu orang Yahudi untuk
tetap taat kepada Hukum Taurat dengan sikapnya yang tegas bahwa orang percaya yang
bukan Yahudi tidak perlu tunduk kepada hukum Taurat, sebab mereka tunduk dibawah kasih
karunia. Selaku ciptaan baru di dalam Kristus, bagi Paulus disunat atau tidak disunat bukan
sesuatu hal yang menentukan (Galatia 6:15). Bagi penginjil ini kebiasaan religius semacam
itu bukan merupakan sesuatu yang penting, sebab dunia telah disalibkan bagi dirinya dan
dirinya telah disalibkan bagi dunia (Galatia 6:14). Dia sendiri mengatakan bahwa jika
seseorang bertobat selaku orang Yahudi, hendaknya ia tetap Yahudi (1Korintus 7:18), sebab
penyunatan itu sendiri tidak mempunyai arti apa-apa. Orang Kristen Yahudi boleh saja terus
menaati hukum Taurat selaku orang Yahudi, bukan selaku orang Kristen. Akan namun apabila
kemudian hukum Taurat dipaksakan kepada orang Kristen bukan Yahudi sebagai dasar
keselamatan, Paulus berkeberatan dan bersikukuh dengan pendirianya tentang kebebasan
mutlak dari hukum Taurat. Tidak diragukan lagi seandainya orang percaya Yahudi ingin
menghentikan ketaatan mereka kepada Hukum Taurat, Paulus tidak akan keberatan.
Pendirian Paulus yang membiarkan kebijaksanaan menentukan prinsip pada bidang-bidang
tertentu merupakan masalah yang begitu sulit sehingga banyak orang yang belum
memahaminya menuduh Paulus sebagai orang yang tidak konsisten.
Ayat 27-29 memberi gambaran bahwa tampaknya tindakan Paulus itu
memuaskan hati orang-orang Yahudi, namun memunculkan permusuhan dari sekelompok
orang Yahudi…dari Asia yang tidak percaya yang datang ke Yerusalem untuk ikut merayakan
hari Pentakosta. Orang-orang ini sudah mengenal Paulus di Asia, dan mereka telah melihat
Paulus di Yerusalem bersama dengan Trofimus, yaitu seorang bukan Yahudi dari Efesus
yang telah bertobat. Kini mereka melihat sang Rasul ada di pelataran untuk orang-orang
Israel dimana orang bukan Yahudi tidak boleh masuk, sehingga mereka berkesimpulan
bahwa Paulus telah membawa Trofimus ikut masuk kedalam pelataran itu. Memang di
wilayah Bait Allah ada tempat yang disediakan untuk orang bukan Yahudi. Diantara tempat
ini dengan pelataran untuk orang Israel ada sebuah pemisah yang mencantumkan
peringatan agar orang bukan Yahudi jangan melewati batas dengan ancaman hukuman mati.
Dua buah peringatan semacam ini telah ditemukan. Dengan demikian orang-orang Yahudi
dari Asia ini beranggapan bahwa Paulus telah menajiskan tempat suci ini .
Kemudian pada ayat 30 menjelaskan selanjutnya apa yang terjadi, dimana tiba-tiba
ada unjuk rasa yang secara cepat menyebar di kalangan orang banyak itu, dan Paulus di
seret keluar dari pelataran untuk orang Israel ke pelataran untuk orang bukan Yahudi.
Sesudah itu pintu gerbang yang memisahkan kedua tempat ini di tutup untuk mencegah
hal-hal yang tidak diiginkan selanjutnya. Kemudian ayat 31 memberitahukan bahwa sewaktu
orang banyak itu merencanakan untuk membunuh Paulus segera berita itu terdengar oleh
kepala pasukan yang ada di Yerusalem. Pada saat itu di sebelah barat laut wilayah bait Allah
ada menara Antonia yang merupakan Markas dari pasukan Romawi. Menara itu
berhubungan dengan pelataran Bait Allah. Disana ada sebuah pasukan yang terdiri dari
seribu orang. Pada saat Paulus hendak di bunuh secara beramai-ramai oleh orang-orang
Yahudi ditempat itu, kepala pasukan mendapat berita bahwa sebuah pemberontakan telah
terjadi. Ayat 32 membeitahukan bahwa kepala pasukan membawa sekitar 200 orang prajurit
bersama dengan perwira-perwira mereka dan tiba di tempat itu tepat pada waktunya dan
menyelematkan Paulus. Ayat 33 memberitahukan apa yang terjadi selanjutnya, dimana
kepala pasukan menangkap Paulus untuk diamankan dan memerintahkan agar dia di rantai
pada dua orang prajurit. Kemudian (34) saat pasukan itu berusaha untuk mengetahui
penyebab dari kerusuhan ini , teriakan jawaban masyarakat begitu simpang siur,
sehingga ia tidak dapat memperoleh jawaban yang diperlukan. sebab itu dia memerintahkan
agar Paulus di bawa ke markas. Ayat 35, namun saat mereka sampai di tangga yang menuju
ke menara Antonia, orang-orang Yahudi itu semakin beringas sehingga para prajurit terpaksa
menggotong Paulus. Kemudian ayat 37 memberitahukan bahwa saat mereka sampai
diujung tangga, Paulus mengejutkan kepala pasukan dengan menyapanya memakai bahasa
Yunani. Lalu sesudah itu (38) kepala pasukan itu mengetahui bahwa Paulus bukan orang
mesir yang sudah mengacau dan mengadakan pemberotakan terhadap pemerintaham
Roma. Sejarah mencatat bahwa sekitar tiga tahun sebelum itu, seorang Yahudi dari Mesir
telah menimbulkan pemberontakan dengan memimpin empat ribu orang ke bukit zaitun,
dengan menjanjikan bahwa tembok kota akan diratakan didepan mereka dan mereka berjanji
akan mengalahkan seluruh pasuka Romawi. Para pendukung pemberontakan ini dianggap
pengacau bersenjata sebab masing-masing mereka membawa pisau yang disembunyikan di
balik jubah yang mereka pakai untuk membunuh lawan politik mereka. Pemberontakan ini
berhasil dipadamkan oleh Felix, namun orang Yahudi dari Mesir itu berhasil lolos. sebab
alasan tertentu kepala pasukan menyamakan tawanannya dengan orang Yahudi ini .
Ayat 39-40 menceritakan bahwa Paulus menyakinkan kepala pasukan itu bahwa dirinya
bukanlah orang Yahudi yang dari Mesir seorang pemberontak itu. Kata-kata Paulus juga
menyakinkan kepala pasukan itu bahwa dirinya selaku orang Yahudi memiliki hak memasuki
pelataran bagi orang Yahudi di Bait Allah dan bahwa dirinya yaitu warga kota penting
Tarsus, kepala pasukan kemudian mengijinkan Paulus untuk berusaha menenangkan orang-
orang itu. Rasul Paulus berdiri di puncak tangga yang mengarah kepada pelataran untuk
orang bukan Yahudi, sedang prajurit-prajurit berdiri di bawahnya. sesudah Paulus berhasil
menarik perhatian orang-orang itu, dia mulai berbicara kepada mereka dengan memakai
dialek aram, yang merupakan bahasa umum dipakai oleh orang-orang yahudi di Palestina
dan Asia Barat.
Pasal 22. Paulus memaparkan pembelaannya kepada orang-orang Yahudi dan di
dalam pembelaan ini Paulus memaparkan juga riwayat hidupnya.
22:1, ayat ini yaitu permulaan Paulus memberi pembelaaannya. Dia memulai
dengan memberi rasa hormatnya kepada orang-orang yang akan mendengar
pembelaannya itu. Sehingga dengan demikian dia berkata “ Hai Saudara-saudara dan bapa-
bapa” dalam hal ini kita dapat melihat bagaimana karakter Paulus, dimana dia masih sanggup
memberi rasa hormatnya kepada orang-orang yang mau menganyiayanya.
22:2 memebritahukan bahwa saat orang-orang Yahudi mendengar pembelaan
Paulus dalam bahasa Ibrani membuat situasi makin tenang. Barangkali orang-orang Yahudi
menyangka bahwa Paulus akan membela diri dengan memakai bahasa Yunani, namun
ternyata Paulus memakai bahasa Ibrani. Jadi akhirnya nanti pembelaannya sebenarnya lebih
cocok disebut sebagai kesaksian dari seorang Yahudi yang sangat giat untuk Taurat yang
akhirnya bertobat.
22:3 ayat ini memberitahukan tentang identitasnya, bahwa dia yaitu orang Yahudi
yang lahir di Tarsus suatu daerah kafir, namun demikian pada ayat ini dikatakan bahwa ia di
besarkan di Yerusalem di bawah pimpinan Rabi Gamaliel yang sangat berpengaruh dari
golongan Farisi. Paulus mengatakan bahwa oleh sebab pendidikan yang dia terima maka dia
dulunya yaitu orang yang giat bekerja bagi Allah. Giat bekerja bagi Allah yang dia
maksudkan bukan hanya giat beribadah dalam hal membaca kitab suci dan menerapkan
Taurat. namun juga termasuk giat dalam hal menganyiaya orang yang dianggap kafir oleh
oleh Yudaisme, termasuk apa yang dilakukan Paulus sebelum ia bertemu dengan Yesus,
yaitu dia sebagai penganyiaya orang-orang percaya dan hal yang sama seperti itulah yang
dilakukan oleh orang-orang Yahudi itu kepadannya. Dimana mereka mau menganyiaya
Paulus sang rasul sebab dia mengajarkan ajaran yang berbeda dengan Taurat yang
dipahami oleh orang-orang Yahudi ini .
Dalam ayat 4, Paulus melanjutkan penjelasannya tentang identitas dan apa yang ia
kerjakan sebelum ia bertobat. Kalau di ayat sebelumnya dia telah berkata bahwa ia sama
seperti orang-orang Yahudi yang mau menganyiaya dia maka pada ayat ini dia semakin
memnunjukkan kesamaannya dahulu sewaktu ia belum diselamatkan dengan orang-orang
Yahudi yang mau menganyiaya dia. Kesamaan itu yaitu bahwa dahulu Paulus sangat giat
untuk menangkap dan memenjarakan orang yang percaya dan hal yang sama juga seang
dilakukan oleh orang-orang Yahudi yang tidak percaya itu.
Kemudian pada ayat 5 Paulus dengan berani mengatakan bahwa Imam besar
maupun majelis tua-tua (Imam besar, Majelis dan tua-tua yaitu mengacu kepada
Sanhedrin, dewan tertinggi agama Yahudi) dapat menjadi saksi tentang apa yang dulu ia
kerjakan, sebab mereka memberi surat resmi seperti surat tugas padanya, yang akan di
bawa ke Damsyik untuk dipakai sebagai ijin untuk menangkapi dan mengayiaya orang-orang
Yahudi yang sudah percaya yang melarikan diri ke sana.
Kemudian ayat 6-16 Rasul Paulus menceritakan kepada orang-orang Yahudi itu
tentang bagaimana ia bertobat dan yang akhirnya mengubah semangatnya yang tadinya
pengayiya orang percaya dan sekarang menjadi pemberita Injil yang dahulu sangat ia benci.
Jika kita bandingkan dengan penjelasannya yang ada dalam fasal 9, sepertinya Kisah Para
rasul 22:9 dan 9:7 sepertinya berkontradiksi. Dimana dalam Kisah Para Rasul 9:7 dikatakan
bahwa orang-orang yang bersama Paulus mendengar suara itu, namun pada Kisah Para
Rasul 22:9 dikatakan bahwa orang-orang yang bersama Paulus tidak mendengar suara itu.
namun sebenarnya kedua ayat ini bukanlah saling berkontradiksi namun penerjemahan dalam
Alkitab kitalah yang kurang tepat. Di dalam Bahasa aslinya Kisah Para Rasul 22: 9 ini di
tuliskan , kata ini dapat diterjemahkan bahwa mereka tidak
mengerti suara itu. sedang bahasa asli Kisah Para Rasul 9:7 , kata
ini dapat diterjemahkan bahwa mereka mendengar suara itu. Jadi kedua ayat ini bukanlah
dua ayat yang bertentangan, namun menjelaskan satu hal yang sama. Jadi teman
seperjalanan Paulus pada saat ini mendengar sebuah suara namun mereka tidak mengerti
suara itu. Selanjutnya yang perlu kita cermati dalam penjelasan Paulus yang cukup panjang
ini yaitu dimana dia sangat menekankan bahwa Kristus yang telah bangkit dan naik ke
surga telah datang kepadanya melalui seorang Yahudi yang saleh menurut Hukum Taurat
dan terkenal baik diantara semua orang Yahudi di Damsyik. Ananiaslah yang mengatakan
kepada Paulus bahwa Allah nenek moyang kita, yaitu Allah Israel, telah menetapkan Paulus
untuk mengetahui kehendak-Nya dan melihat Yang Benar (yang menunjuk kepada Yesus)
dan untuk menyaksikan kepada semua orang apa yang telah dialaminya itu. Ananias
kemudian menasehati Paulus agar membiarkan dirinya dibaptis sebagai tanda pembersihan
dari dosa, sambil berseru kepada nama Tuhan. Kemudian mulai 17 hingga ayat 21 Paulus
menceritakan tentang penegasan terhadap panggilan ini yang ia terima melalui sebuah
penglihatan saat kembali ke Yerusalem (9:26). sebab Paulus pada waktu itu tidak
bermaksud memberitakan cerita lengkap tentang pengalaman hidupnya, maka ia tidak
menceritakan tentang masa tiga tahun yang ia habiskan di Arab (Galatia 1:7). Dia
mengisahkan aspek lain dari pengalamannya di Yerusalem yang tidak di kisahkan oleh Lukas
sebelumnya. Kisah Para Rasul 9 mengatakan bahwa Paulus di suruh pergi dari Yerusalem
oleh saudara-saudara seiman agar dapat lolos dari suatu komplotan yang hendak
membunuhnya (9:28-30). Disini paulus menceritakan bahwa pada waktu itu, dia
meninggalkan Yerusalem sebagai jawaban terhadap sabda Allah kepadanya. saat ia selaku
orang Yahudi yang saleh sedang berdoa di Bait Allah, Allah telah memperingatkan dia di
dalam keadaan diliputi rasa kuasa ilahi bahwa Yerusalem tidak akan menerima kesaksiannya
sehingga ia harus segera meninggalkan Yerusalem. Paulus mengatakan bahwa pengetahuan
orang Yahudi sebelumnya tentang semangat dan kesungguhan dirinya untuk menganyiaya
orang Kristen akan mampu menyakinkan mereka tentang kesungguhan dari pertobatannya.
Tuhan menjawab bahwa dia harus meninggalkan Yerusalem sebab dia akan diutus jauh dari
Yerusalem kepada bangsa-bangsa lain.
Pada ayat 22 dan 23 memberi gambaran bahwa sebelumnya mereka atau orang-
orang Yahudi itu mendengarkan Paulus dengan baik. namun barangkali sesudah mereka
mendengarkan bahwa Paulus mengatakan bahwa Tuhan menyuruhnya pergi kepada
bangsa-bangsa lain maka orang-orang Yahudi itu menjadi beringas, mereka berteriak
menuntut kematian tawanan itu (Paulus). Mereka melemparkan jubah mereka dan
menghamburkan debu ke udara sebagai tanda kemarahan. Di dalam ayat 24 di beritahukan
bahwa, oleh sebab situasi yang begitu buruk itu, maka kepala pasukan itu memberi perintah
untuk membawa Paulus ke markas untuk di periksa, dan biasanya untuk para budak akan
dilakukan penyiksaan untuk mendapatkan pengkuan dari orang-orang yang sedang diselidiki.
namun untuk orang bebas hal itu tidak dapat dilakukan.
Selanjutnya ayat 25 disebut bahwa Paulus ditelentangkan untuk disesah, namun dia
menolak untuk di sesah dengan alasan bahwa dia yaitu warga negara Roma. Seorang
warga negara Roma tidak di perbolehkan di sesah sebelum diadili secara wajar. Kemudian
ayat 26-28 memberi penjelasan bahwa seorang perwira yang mendengar tuntutan Paulus
itu melaporkannya kepada kepala pasukan dan kemudian kepala pasukan itu datang kepada
Paulus untuk menanyakan bahwa apakah benar dia yaitu warga negara Roma. Dan kepala
pasukan itu ingin membeli kewarganegaraan Paulus itu. Cara membeli yang dimaksud
yaitu bahwa kepala pasukan itu dapat mengayiaya Paulus dengan sebebas-bebasnya
kemudian dia mengembalikan uang Paulus jika ia telah membeli kewarganegaraan Roma.
Jadi kepala pasukan itu mengatakan bahwa ia hendak membeli kewarganegaraan Paulus itu
dengan mahal, hal ini barangkali dia katakan sebagai suatu sindiran bagi Paulus. namun
Paulus menjawab bahwa dia tidak membeli kewarga negaraan, dia memilikinya sebab dia
lahir dari orangtua yang sudah warga negara Romawi. Jadi dengan demikian kepala pasukan
itu tidak dapat menyesah Paulus sekalipun dia punya uang. Jadi di ayat 29 dijelaskan bahwa
orang-orang yang mau menyesah Paulus itu akhirnya mundur. Kepala pasukan itupun takut
sebab telah memperlakukan seorang warga negara Romawi dengan cara yang tidak sah.
Kemudian di ayat 30 diberitahukan bahwa kepala pasukan itu ingin mengetahui apa yang
menjadi tuntutan orang-orang Yahudi itu kepada Paulus, sehingga kepala pasukan itu
menyuruh mengambil Paulus dari penjara dan menyerahkannya kepada Sanhedrin Yahudi
untuk disidangkan dan memberi hukuman yang tepat kepadanya.
Pasal 23:1 Paulus mengawali pembelaanya di hadapan Sanhedrin dengan mengaku
bahwa dirinya telah bertindak dengan hati nurani yang murni dihadapan Allah, bukan hanya
di dalam melakukan hal-hal yang dituduhkan kepadanya namun juga sepanjang seluruh
hidupnya. Selanjutnya ayat 2 memberitahukan bahwa Imam besar pada saat itu bernama
Ananias (sekitar tahun 47-58 M) beberapa literature mengatakan bahwa Ananias ini yaitu
seorang yang serakah dan besar mulut dan suka memaksakan kehendaknya. Atas
pembelaan Paulus itu membuat Ananias menjadi marah dan memerintahkan seseorang yang
dekat dengan Paulus untuk menampar mulut Paulus. Selanjutnya ayat 3 Paulus berbicara
dengan berani dan dia juga mempersoalkan tindakan yang tidak wajar yang dilakukan oleh
anggota Sanhedrin itu, dengan menuduh mereka yang melaksanakan hukum Taurat itu
sebenarnya justru melanggar hukum Taurat. Tembok yang di kapur putih-putih yaitu
tembok yang luarnya diwarnai putih namun dalamnya diisi dengan tanah, artinya bermuka dua.
Ananias disebut tembok yang dikapur putih-putih sebab (1).Meskipun ia yaitu orang yang
tidak benar dan jahat, namun memakai kemuliaan kedudukan imam besar yang kudus. (2).Ia
menduduki tempat dimana seharusnya ia menyatakan keadilan menurut hukum Taurat, namun
ia memerintahkan agar menampar Paulus yang tidak bersalah itu.
Paulus menegor Ananias, Imam Besar yang berkuasa dan jahat itu untuk menyenangkan
Allah, bukan sekedar pembelaan diri. Tegoran bagi penguasa yang jahat tidak bisa lahir dari
motivasi pementingan diri sendiri. Pada umumnya pemimpin menegor orang-orang yang
lemah dan tidak berkuasa dan berkedudukan tinggi. Orang Kristen tidak boleh bersikap
demikian. Yesus sendiri menyebut Raja Herode si Serigala (Lukas 13:32) dan kepada orang-
orang Farisi yang jahat dan berkuasa ‘celakalah kamu hai ahli-ahli taurat dan ahli-ahli Farisi,
hai orang-orang munafik’ (Matius 23:13,15,16,23,25,27,29). Yohanes pembaptis berkata
kepada orang-orang Farisi dan Saduki, ‘hai kamu keturunan ular beludak’ (Matius 3:7).
Selanjutnya pada ayat 4 peserta sidang itu berkata bahwa Paulus mengejek Imam besar.
sesudah peserta sidang itu menegor Paulus dan disebut bahwa ia sudah menghina Imam
Besar, maka Paulus menjawab dalam ayat 5, dengan mengatakan bahwa dia tidak tahu
bahwa Ananias yaitu Imam Besar. Dalam hal ini bisa saja Paulus menyindir kembali bahwa
Ananias tidak layak sebagai Imam Besar, sebab seorang Imam Besar seharusnya memiliki
hikmat, tidak sembarangan saja untuk memberi perintah menampar orang lain. namun
sebagian penafsir berpendapat bahwa dalam hal ini Paulus sedang minta maaf dengan
alasan bahwa dia tidak tahu bahwa Ananias yaitu Imam Besar.
Kemudian di ayat 6 dikatakan bahwa sebab Paulus mengetahui bahwa diantara
yang hadir itu (anggota Sanhedrin) ada dari golongan Saduki dan Farisi, maka ia
mempergunakan pertentangan doktrin kedua golongan itu khususnya masalah kebangkitan
orang mati. Hal ini dilakukan oleh Paulus bukan semata-mata sebab ia ingin di bebaskan jadi
ia membuat alasan yang tidak benar. Sesungguhnya alasan Paulus atau pembelaan Paulus
ini yaitu pembelaan yang benar, kerena memang ia mempercayai doktrin kebangkitan baik
waktu sebelum ia bertobat (waktu masih dalam golongan Farisi) lebih-lebih sesudah
pertobatannya ia sangat mempercayai doktrin kebangkitan. Dia percaya bahwa Yesus telah
bangkit dari antara orang mati dan oleh sebab itulah dia melayani Tuhan dan oleh sebab
doktrin kebangkitan itu jugalah dia diadili.
sesudah Paulus menjelaskan hal itu, ayat 7-10, maka terjadilah perpecahan diantara
kedua golongan itu (Saduki dan Farisi) sebab orang Saduki tidak mempercayai adanya
kebangkitan, mereka juga tidak mempercayai adanya malaikat atau roh, sedang golongan
Farisi mempercayai keduanya. Kemudian golongan Farisi akhirnya membela Paulus dengan
berkata, “Kami sama sekali tidak menemukan sesuatu yang salah pada orang ini! barangkali
ada roh atau malaikat yang telah berbicara kepadannya.” sesudah Paulus mendapat
pembelaan dari golongan Farisi maka sidang itu semakin kacau dan sebab keributan itu
kepala pasukan Romawi takut para oposisi atau penentang Paulus akan menyerang Paulus,
sehingga kepala pasukan itu memerintahkan prajuritnya untuk mengambil Paulus dan
membawanya kembali ke menara Antonia. Selanjutnya ayat 11 memberitahukan bahwa
menghiburnya dan menguatkan hatinya dan bahkan memberitahukan kepadanya bahwa apa
yang ia inginkan, yaitu ingin pergi ke Roma untuk bersaksi tentang Kristus akan terwujud.
Kemudian ayat 12-15 memberitahukan bahwa orang-orang yang menentang Paulus yang
sangat keras itu berusaha untuk menyingkirkan Paulus dengan cara yang agak berbeda
dengan yang sebelumnya. mereka mengadakan komplotan atau gerombolan yang menyiksa
diri dalam bentuk mogok makan dan minum sampai Paulus berhasil mereka bunuh. Mereka
merencanakan mengambil Paulus dari perlindungan markas dengan memakai kuasa imam-
imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi dan diperjalanan mereka akan mencegat Paulus
dan para prajurit yang membawanya, lalu sesudah itu mereka akan membunuhnya sebelum
sampai kepada imam-imam dan tua-tua itu.
Ayat 16-22 memberitahukan bahwa tipu muslihat orang-orang Yahudi yang
merencanakan membunuh Paulus, di dengar oleh kepala pasukan melalui kemenakan
Paulus yang mengetahui hal itu secara natural dan sederhana. Allah tidak selalu memakai
cara yang mengherankan untuk melepaskan umat-Nya dari persoalan atau kemelut yang
besar. Sebagai orang percaya atau bukan hanya sebagai saudara kemenakan Paulus telah
melakukan tugasnya dengan baik, sebab dalam hal ini dia tidak mau melihat bahwa pelayan
Tuhan menjadi korban sebab suatu tipu muslihat dan oleh sebab kuasa Allah maka kepala
pasukan itu mempercayai kemenakan Paulus dan akhirnya dia melindungi Paulus dengan
baik.
Ayat 23-30 menjelaskan tentang usaha dari kepala pasukan (Klaudius Lisius)
menyelamatkan Paulus dari rencana pembunuhan orang-orang yang menentangnya. Allah
bekerja di dalam hati kepala pasukan itu, sehingga ia menyuruh 470 orang prajurit untuk
mengantarkan Paulus ke Kaisarea menghadap Gubernur Feliks.
Kemudian ayat 31-35 memberitahukan bahwa prajurit-prajurit itu membawa Paulus
ke Antipatris yaitu sebuah kota dimana ada peristirahatan yang di beri nama sesuai
dengan nama ayah Raja Herodes. Kota itu terletak di tengah perjalanan Yerusalem ke
Kaisarea. Jauhnya kota itu dari Yerusalem kira-kira 35 mil dan dari kota itu ke Kaisarea kira-
kira 27 mil. Selanjutnya sesudah mereka beristirahat maka keesokan harinya Paulus dan
Pasukan berkuda itu melanjutkan perjalanan sedang yang lainya pulang ke Yerusalem,
sebab Paulus sudah bebas dari bahaya para pembunuh atau orang-orang yang
menginginkan nyawanya. Kemudian sesudah tiba di Kaisarea, maka pasukan berkuda yang
membawa Paulus itu menyerahkan surat dari Klaudius Lisius itu kepada gubernur Feliks.
sesudah itu Feliks membaca surat itu dan bertanya kepada Paulus dari propinsi manakah
asalaya dan Paulus menjawab bahwa dia berasal dari propinsi Kilikia. Mendengar hal itu
Feliks berkata bahwa ia akan memeriksa perkara Paulus jika para pendaknya telah tiba
disana. sesudah itu Paulus di tahan di istana Herodes.
Pasal 24, ayat 1 memberitahukan bahwa lima hari sesudah Paulus tiba di hadapan
Feliks maka Imam Besar Ananias bersama-sama dengan beberapa orang tua-tua dan satu
orang pengacaranya yang bernama Tertulus (sebuah nama yang umum di kerajaan Roma
pada waktu itu). Maka Tertulus sebagai kuasa hukum dari klienya (Imam Besar) langsung
menyampaikan dakwaanya terhadap Paulus untuk dipertimbangkan. Kemudian ayat 2-4 Dr.
Lukas mencatat bahwa pengacara (Tertulus) itu sebelum membacakan dakwaanya dia
memuji dan menjilat Feliks yang jahat itu sebagai negarawan yang baik. Tertulus mengatakan
bahwa bangsa Yahudi menikmati kesejahteraan dimana dalam pemerintahannya dia
menangkap banyak penjahat dan perampok dan kemudian disalibkan. namun itu yaitu
kebaikan yang segelintir dibandingkan dengan kejahatannya. Yosephus seorang sejarawan
Yahudi berkata bahwa selama pemerintahannya dia (Feliks) selalu berbuat jahat kepada
bangsa Yahudi, sehingga pemberontakan-pemberontakan bangsa Yahudi terus menerus
terjadi selama ia memerintah.
Selanjutnya ayat 5-6 memberitahukan bahwa Tertulus menuduh Paulus dengan
empat dakwaan, antara lain:
a. Dia di analogikan sebagai penyakit sampar () yang berarti orang yang
menyebar luaskan penyakit.
b. Dia yaitu orang yang menimbulkan kekacauan. Hal ini bukan hanya terjadi bagi
Paulus. Para Nabi dalam Perjanjian Lama juga sering dituntut oleh orang yang tidak mau
berbalik dari dosa-dosanya sebagai orang yang menimbulkan kekacauan. (1 Raja-Raja
18:17)
c. Seorang tokoh dari sekte nasrani. Tertulus mengatakan bahwa Paulus yaitu tokoh dari
bidat atau ajaran sesat, padahal Paulus memberitakan yang benar. Justru dianggap
sebagai bidat.
d. Seorang yang mencoba melanggar kekudusan Bait Allah. namun dakwaan ini juga tidak
sesuai dengan kebenarannya, sebab ia yaitu seoran yang beribadah dengan segenap
hatinya.
Ayat 7-9 memberitahukan bahwa Tertulus juga mempersoalkan tindakan Klaudius Lisius
kepala pasukan Romawi di Yerusalem. Dia memutarbalikkan fakta dengan mengatakan
bahwa Paulus diambil dari mereka dengan kekerasan dan selanjutnya sepertinya mereka
menyuruh seorang saksi untuk mengatakan bahwa situasinya benar terjadi demikian. Ayat
10-21 yaitu merupakan kata-kata pembelaan dari Paulus. Sebelum dia memulai
pembelaanya dia tidak melakukan seperti yang dilakukan oleh Tertulus san pengacara yang
menentangnya. Paulus tidak mencoba untuk menjilat atau membujuk Feliks, namun dia hanya
memberitahukan tentang hal yang terjadi sebenarnya.
Paulus menjelaskan dengan tulus bahwa ia tidak bersalah dalam dakwaan yang
pertama dan yang kedua, yaitu tentang kekacauan. (1).Wali negeri Feliks mengetahui
kebudayaan Yahudi, sebab ia telah memerintah bangsa Yahudi selama 6 tahun (ay 10),
sebab itu ia tahu bahwa perbuatan Paulus tidak mengandung unsure Politik. (2).Kemudian
Paulus mengatakan bahwa dirinya baru 12 hari yang lalu datang ke Yerusalem dari daerah
jadi tidak mungkin bisa dalam waktu yang singkat itu dia menimbulkan kekacauan di
Yerusalem (ay 11-12). (3).Oleh sebab itu pendakwa-pendakwa itu tidak mempunyai bukti
yang kuat untuk mendakwanya. Paulus membela dirinya bahwa ia sama sekali tidak berbuat
apa-apa untuk didakwa sehubungan dengan undang-undang negara yang tidak terkait
dengan urusan Injil. Pembelaan ini harus disampaikan sebagai pemberita Injil. Pembelaan ini
yaitu untuk memuliakan Allah.
Kemudian Paulus menjelaskan tentang dakwaan Tertulus yang ketiga, dimana dia
didakwa sebagai seorang tokoh sekte atau bidat. Paulus menjelaskan bahwa apa yang
dituduhkan kepadanya yaitu salah, sebab sebenarnya dia memberitakan apa yang juga
diyakini oleh nenek moyang mereka. Paulus memberitakan kebangkitan orang mati yang juga
di yakini oleh nenek moyang mereka dan juga kedatangan Mesias yang akan datang. Paulus
sangat menekankan pembelaannya ini, sehingga dia mengatakannya kepada Feliks dengan
berkata, “Aku mengakui kepadamu.” Dalam ayat 14-15, Paulus menyimpulkan Iman dan
pelayananya yang isinya yaitu (1) Ia bukan tokoh sekte, namun berbakti kepada Allah nenek
moyang mereka (Allah yang benar yang dikenal oleh janji-janji yang diberikan kepada nenk
moyang mereka), (2) Ia percaya kepada segala sesuatu yang tertulis dalam Hukum Taurat
dan kitab Nabi-Nabi, (3) Ia percaya bahwa akan ada kebangkitan semua orang yang benar
ataupun orang-orang yang tidak benar.
Selanjutnya ayat 6 Paulus mengatakan bahwa sebab Imannya itu, dia senantisa
berusaha hidup dengan hati nurani yang murni ( ) berarti dia
selalu berubah untuk lebih baik sesuai dengan kehendak Allah dan tidak menyembunyikan
kesalahan setiap kali ia melakukannya. Hati nurani yang murni yaitu kesadaran moral
manusia bukan suara Allah, naum itu yaitu suatu organ yang menyampaikan suara Allah.
Biasanya saat manusia berbuat dosa, organ ini juga menjadi suram dan sulit mendengarkan
atau menyampaikan suara Allah; akan namun hati nurani yang percaya kepada Firman Allah
tidak memiliki keraguan, sebab taat (atau berubah) sebab Firman itu.
Kemudian ayat 17-20, Paulus membela dirinya bahwa ia tidak berbuat salah dalam
dakwaan yang keempat (Melanggar kekudusan Bait Allah, ay 6). Paulus memberi penjelasan
dengan mengatakan bahwa (1) Orang-orang Yahudi yang menggugat (21:27) tidak datang
kehadapan Feliks sebab mereka tidak mempunyai bukti bahwa Paulus bersalah. (2)
Andaikata mereka dapat menemukan kesalahan Paulus yang baru saja dihadapkan ke
Mahkamah Agama (23:11), biarlah mereka menunjukkan buktinya kepada Feliks. Ia
menantang dengan berani sebab ia yakin bahwa dirinya tidak bersalah.
Kemudian ayat 21 Paulus mengatakan bahwa ia diadili, seperti bola yang dilempar
kesana kemari hanya sebab ia bersaksi tentang kebangkitan orang-orang mati, bukan
sebab perbuatan dosa atau kesalahan. Ia mengabdikan dirinya untuk memberitakan tentang
kebangkitan orang mati dan hanya topik itu yang disampaikan dalam pengadilan.
Kebangkitan orang-orang mati yang dia maksudkan mempunyai arti bahwa setiap orang yang
sudah percaya kepada Yesus Kristus yang telah bangkit, akan memperoleh kebangkitan
yang kekal. Kebangkitan yang berbahagia ini tidak tersedia bagi orang yang tidak percaya
kepada Yesus Kristus. Selanjutnya ayat 22-24 menyampaikan tentang bagaimana sifat Feliks
yang sebenarnya seperti: (1).Walaupun dia tahu bahwa Paulus seharusnya sudah dapat
dibebaskan namun ia menunda waktu sampai Lisias datang. (2).Ia atau Feliks memang agak
simpati kepada Paulus. (3).Ia mencari waktu untuk mendengarkan kebenaran Iman kepada
Yesus Kristus. (4).Ia mengharapkan uang suap dari Paulus. (5).Ia tetap menahan Paulus
untuk merebut hati orang-orang Yahudi. Sikapnya ini menunjukkan bahwa ia yaitu pegawai
yang lemah yang tidak berpegang pada kebenaran yang teguh.
Lalu pada ayat 25 dikatakan bahwa Paulus memberitakan Injil kepada Feliks (ay 24)
dan berbicara tentang moralitas yang harus dimiliki oleh orang-orang percaya (kebenaran
dan penguasaan diri). Kata ‘Penguasaan diri’ yaitu kehidupan yang menahan nafsu.
Menurut Tacitus seorang sejarawan di Roma, Feliks yaitu seorang berjiwa budak yang
melaksanakan kekuasaannya seperti raja, sesuai dengan sikapnya yang kejam dan cabul.
Jika kita melihat ayat 25 ini, dimana dia pada saat itu masih dalam status hukuman naumun
ia tetap memberitakan Injil. Itu terjadi sebab memang dia tidak tahan untuk tidak
membicarakan atau memberitan Injil. Ia juga berbicara tentang penghakiman dan Firman itu
membuat hati Feliks yang sangat jahat dan kejam itu menjadi takut. Ayat 26 memberitahukan
bahwa sebenarnya Feliks sangat mengharapkan Paulus untuk memberi dia uang
sogokan, namun Paulus tidak melakukannya. Ayat 27 memberitahukan dimana sampai
akhirnya Feliks digantikan oleh Perkius Festus, namun demikian Feliks tidak juga
membebaskan Paulus yang tidak bersalah itu hanyanuntuk mengambil hati orang-orang
Yahudi.
Pasal 25. Festus datang ke Yerusalem sebagai pengganti Feliks (25:1), Rancangan
orang-orang Yahudi untuk membunuh Paulus (25:2-3), kemudian tentang bagaimana Festus
menolak permintaan orang-orang Yahudi yang meminta agar Paulus dikirim ke Yerusalem
(25:4-5), selanjutnya tentang berita pengadilan yang dipimpin oleh Festus (25:6-12), lebih
lanjut lagi Festus memaparkan perkara Paulus kepada Raja Agripa (25:13-22). Kemudian
Raja Agripa mengikuti persidangan Paulus (25:23-27). Ayat 1-3 menjelaskan tentang
kedatangan Festus ke Yerusalem sebagai pengganti Feliks dan orang-orang terkemuka
beserta para Imam-Imam kepala datang menghadap dia untuk meminta supaya Paulus di
kembalikan ke Yerusalem. Mereka meminta kepada Festus supaya Paulus di kembalikan ke
Yerusalem yaitu sebab mereka ingin membunuhnya di tengah jalan. Rancangan orang
Yahudi ini kepada Paulus menunjukkan bahwa mereka telah lama meninggalkan Allah.
Mereka ingin membunuh orang yang tidak bersalah dengan cara gelap atau tanpa melalui
prosedur hokum yang jelas. Imam besar pada waktu itu yaitu Ismael yang diangkat oleh
Agripa. Orang-orang yahudi yang terkemuka, yaitu penatua-penatua. Anugerah yang
dimaksud dalam ayat ini yaitu Kebajikan atau pemberian Festus. Orang-orang Yahudi tidak
dapat menangkap Paulus secara hukum sehingga mereka ingin menangkapnya dengan
kebajikan yang tidak adil dan jahat. ‘Orang-orang Yahudi yang terkemuka’ di mobilisasi, hal
itu menunjukkan bahwa cara mereka yang ingin membujuk Festus sungguh-sungguh
mengandalkan kekuasaan manusia dibandingkan hukum yang adil. Kemudian ayat 4-5
memberitahukan bahwa Festus tidak memenuhi permintaan orang-orang Yahudi, namun ia
menganjurkan agar mereka datang ke Kaisarea dan mengajukan Dakwaanya. Meskipun
Festus tidak mengenal Allah namun ia melindungi Paulus, hal itu terjadi oleh sebab campur
tangan Allah yang baik. Allah mengatur semuanya ini agar Paulus pergi sampai ke Roma.
Kata namun () menunjukkan bahwa keputusan Festus bertentangan dengan
permintaan orang-orang Yahudi. Ia menjadi contoh seorang pegawai yang melaksanakan
segala sesuatu sesuai hukum dan keadilan dengan kokoh, seakan-akan ia mencela orang-
orang Yahudi tanpa perkataan. Jika orang-orang yang disebut percaya kepada Allah menjadi
busuk, mereka menjadi pengecut yang dipermalukan oleh orang-orang dunia.
Ayat 6-7 menjelaskan bahwa orang-orang Yahudi yang mendakwa Paulus itu tidak
dapat memberi bukti-bukti bahwa Paulus punya kesalahan yang oleh sebab itu dia layak
dihukum. Orang yang jahat selalu berusaha untuk menjatuhkan orang yang benar dengan
berbagai macam cara. Pada ayat ini juga diberitahukan bagaimana Festus mengadakan
sidang pengadilan yang membuktikan kesetiaannya kepada tugasnya. Tindakan Festus ini
berbeda dengan Feliks yang malas dalam melaksanakan tugasnya. Feliks menunda
tugasnya yang harus dilakukannya (24:22-27) namun oleh sebab campur tangan Allah, Festus
mengganti Feliks. Ayat 8 Menunjukkan bahwa Paulus membantah bahwa dia telah bersalah
terhadap hukum Taurat, Bait Allah dan bahkan juga kepada Kaisar. Ayat 9 memberitahukan
bahwa Festus ingin mengambil hati orang-orang Yahudi sehingga ia meminta Paulus supaya
ia di adili di Yerusalem. Festus yaitu wali negri yang baru, oleh sebab itu dia belum
berpengalaman dengan masalah yang seperti ini dan disamping itu dia juga masih ingin
mencari popularitas dan dukungan dari orang-orang Yahudi. Dengan demikian maka Festus
meminta kepada Paulus supaya perkaranya disidangkan di Yerusalem.
Kemudian pada ayat 10-12 Paulus memberi reaksinya bahwa ia sangat tidak
setuju dengan permintaan Festus itu. Rencana persidangan di Yerusalem sangat tidak masuk
di akal bagi Paulus. Di Yerusalem Paulus harus diselamatkan dari rencana pembunuhan atas
dirinya, dan rasanya sangat bodoh untuk kembali kesana lagi. Sekalipun Paulus tidak dapat
dibuktikan bersalah. Festus nampaknya bersedia berunding dengan orang-orang Yahudi
dengan mengorbankan Paulus, dan Paulus tentu saja mengkwatirkan akibat dari sikap
semacam itu. Tinggal satu tindakan untuk mengelak bahaya ini yang masih terbuka bagi
Paulus sebagai warga negara Roma yaitu meminta pertimbangan Kaisar. Dia yakin bahwa di
Roma ia akan diadili dengan baik. Selanjutnya jika kita melihat ayat 11 maka akan jelas
bahwa ayat itu akan menunjukkan bahaya kematian di tangan orang Yahudi sesungguhnya
menantikan Paulus di Yerusalem. Rasul itu mengemukakan bahwa ia akan rela menjalani
hukuman mati apabila memang terbukti bahwa dirinya bersalah. namun hukuman mati harus
dijatuhkan oleh pemerintah Roma, dan bukan oleh orang Yahudi. sebab itu Paulus naik
banding kepada Kaisar. Kemudian ayat 12 memberitahukan bahwa peserta sidang yang
dipimpin oleh Festus (bukan Sanhedrin) mengijinkan Paulus naik banding kepada Kaisar.
Ayat 13 menunjukkan bahwa saat Paulus menunggu saat yang baik bagi Feliks
untuk memberangkatkannya kepada Kaisar, datanglah tamu Agung yang berkunjung ke kota
itu. Tamu Agung itu yaitu Raja Agripa II. Dia yaitu cucu dari Herodes Agung dan anak dari
Herodes Agripa I yang telah membunuh Yakobus (anak Zebedeus) dan tamu yang lain
yaitu Bernike, yaitu adik dari Agripa II sendiri. Menurut Morgan (seorang penafsir Alkitab)
bahwa Agripa II pada saat itu hidup secara asusila bersama adiknya sendiri (Bernike). Pada
waktu itu Bernike hidup dengan kakaknya sendiri sebagai suami isteri dan selain itu juga ia
juga sering hidup secara asusila. Morgan juga mengatakan bahwa pada waktu Bernike masih
kecil ia pernah menikah dengan pangeran Galkis pamanya sendiri.
Selanjutnya pada ayat 15-23 Festus berkata kepada Agripa dan Bernike yang
sepertinya membela Paulus, namum sebenarnya perkataannya itu berdasar sistem
hukum Romawi. Dalam ayat ini kita melihat bahwa apa yang dikatakan oleh Festus ini yaitu
bahwa ia menunjukkan kelemahan orang-orang Yahudi yang ingin mendapatkan hadiah atau
mendapatkan Paulus dengan tanpa melalui persidangan yang benar.
Dalam gambaran yang diberikan Festus kepada Agripa dan Bernike memang ia (Festus)
tidak memutarbalikkan kebenaran. Dari segala-galanya memang jelas bahwa orang-orang
Yahudi tidak saja ingin memeriksa Paulus, namun mereka ingin membunuhnya. Pada zaman
itu Hukum Romawi tidak membenarkan suatu penghukuman tanpa adanya pemeriksaan
yang baik. Oleh sebab Festus juga meminta pertimbangan dari Agripa maka Agripa meminta
supaya dia sendiri (Agripa) langsung mendengar sendiri persoalannya dari Paulus.
Pada ayat 24-27 menunjukkan bahwa Festus mengucapkan kata-kata pembukaan
yang singkat untuk memperkenalkan Paulus kepada para hadirin. Bangsa Yahudi telah
menuntut hukuman bagi Paulus. namun apa yang belum dikatakan dahulu oleh Festus,
dikatakannya sekarang yaitu bahwa orang ini tidak patut menerima hukuman mati. Sekarang
orang ini (Paulus) naik banding kepada Kaisar. Dalam hal ini Festus berada dalam
kesukaran, yaitu dengan cara bagaimana ia menulis surat pengantarnya kepada Kaisar.
Yang sangat menarik perhatian kita disini yaitu bahwa semenjak perkara Paulus berjalan
senantiasa dikatakan bahwa tidak ditemukan kesalahan apapun padanya (21:34; 23:30;
24:22; 25:7,18,27; 26:31,32). Dengan terus terang Festus mengatakan keinginannya bahwa
pemeriksaan sekarang ini akan memberi bahan-bahan bagi laporannya. Terlebih-lebih
sebab Agripa pasti dapat dianggap sebagai seorang ahli di bidang ini, maka Festus telah
mencurahkan segala pengharapannya kepadannya.
Selanjutnya kita masuk fasal 26, fasal ini masih dalam konteks dimana Paulus
dihadapkan kepada Agripa. Pada ayat 1 dikatakan bahwa sang Raja Agripa memberi
kesempatan kepada Paulus untuk membela diri. Maka sang rasul memberi isyarat dengan
tangannya sebagai tanda menghormati raja itu. Lalu sesudah itu dia mulai berbicara untuk
mengutarakan pembelaanya. Kemudian dalam ayat 2-5 Paulus mengungkapkan rasa terima
kasihnya sebab diberi kesempatan menyajikan pembelaanya di hadapan Raja Agripa,
sebab Raj Agripa sangat mengenal kebiasaan dan masalah orang-orang Yahudi. Memang
Agripa menerima takhtanya dari Roma namun ia juga memahami orang-orang Yahudi dan
tergolong sebagai Raja yang sering membantu setiap persoalan orang-orang Yahudi. Oleh
sebab itu Paulus percaya bahwa ia (Agripa) dapat memahami atau mengetahui tentang apa
yang terjadi padanya sesudah ia menjelaskan hal ini kepadanya (Agripa). Selanjutnya
Paulus menyampaikan pembelaanya, dimana ia berusaha menyakinkan Agripa bahwa
pemberitaannya hanyalah merupakan penggenapan Iman Yahudi yang telah diwariskan
kepadanya. Sang Rasul mengisahkan pendidikanya, pertama-tama ditengah bangsanya, di
Tarsus Kilikia dan baru kemudian di Yerusalem. Lalu sesudah itu Paulus mengatakan bahwa
semua orang Yahudi mengenal bahwa ia yaitu seorang dari Mazhab Farisi yang sering
dianggap sebagai mazhab garis keras dalam agama Yahudi.
Kemudian pada ayat 6-8 Paulus menjelaskan bahwa ia menghadap pengadilan
sebab mengharapkan kegenapan janji. Dan bagi orang Farisi salah satu janji yang sangat
penting yaitu terkait dalam harapan akan adanya kebangkitan. Sekarang Paulus dibawa
kepada pengadilan justru sebab mengaharapkan kegenapan janji yang sudah diyakini oleh
nenek moyang mereka secara turun temurun itu. Menurut Paulus bagi setiap orang yang
memahami janji Allah yang telah dianugerahkan kepada para nenek moyang, maka
seharusnya akan mempercayai bahwa Allah sanggup membangkitkan orang mati.
Selanjutnya ayat 9-11 Paulus menjelaskan bahwa dahulu ia sebagai orang Yahudi ia
termasuk golongan yang menolak Yesus sebagai Mesias. namun ia memiliki pandangan yang
demikian bukan sebab hanya sekedar ikut-ikutan namun sudah dia pikirkan dengan baik.
Keputusan itu yaitu keyakinannya sendiri. Untuk menjelaskan hal itu Paulus menceritakan
sikap hidupnya sebagai orang Farisi. Bersamaan dengan itu Paulus mengakui dosa-dosanya,
sebab tindakan-tindakannya itu melawan anak-anak Allah. Dalam kerja sama yang erat
dengan Sanhedrin, ia menghambat orang-orang yang menghambat nama Yesus sebagai
Mesias. Pada waktu itu rupanya Sanhedrin sangat memperhitungkan pribadi Paulus.
Kepadanya dipercayakan perintah-perintah, suaranya juga yaitu suara-suara yang
menentukan. Juga dalam rumah-rumah ibadah dia sangat menyulitkan orang yang percaya
kepada Kristus Yesus. juga keluar Palestina Paulus pergi dan mengunjungi rumah-rumah
ibadah dengan maksud untuk membinasakan orang-orang ayng percaya kepada Yesus
Kristus.
Ayat 12-15 ini yaitu satu-satunya dari tiga kisah pertobatan Paulus yang berisi kata-
kata sukar bagimu menendang ke galah ransang. Kata sukar disini artinya ‘menyakitkan’
sedang galah ransang yaitu sebuah tongkat yang bias any dibuat sebagai pelecut atau
pemukul hewan-hewan penarik beban. Kalimat ini merupakan sebuah kiasan yang dijumpai
di dalam bahasa Yunani dan bahasa Latin, namun saat itu tidak dikenal di dalam bahasa
Ibrani atau Aram. Mungkin ungkapan ini menunjukkan bahwa nurani Paulus tidak
sepenuhnya sejahtera saat menganyiaya orang-orang Kristen. Kita jangan berpikir bahwa
pada saat itu Paulus sudah menyadari dosanya. Sebab di bagian yang lain dia menceritakan
bahwa dia menganyiaya gereja tanpa pengetahuan (1Timotius 1:13). Sekalipun demikian
jauh di dalam pikiranya ada semacam keyakinan bahwa mungkin saja Stefanus dan
orang Kristen lainya itulah yang benar; dan sekarang Tuhan menunjukkan kapadanya bahwa
tekanan ini mereupakan tekanan yang datang dari Tuhan.
Ayat 16-18 Paulus mengatakan kepada Agripa bahwa dirinya telah dipanggil oleh
Tuhan. Pengalaman itu menyakinkan dirinya bahwa Yesus yang di anyiayanya selama ini,
hidup, dan telah mengutus dia kepada bangsa ini yaitu bangsa Israel dan juga bangsa-
bangsa lain. Paulus membuka persoalan inti kepada Raja Agripa. Pemberitaanya bukan
hanya kepada orang Israel namun juga kepada orang yang bukan Israel; semuanya harus
dicerahkan, yaitu berbalik dari kegelapan kepada terang dan dari kuasa Iblis kepada Allah.
Dengan demikian mereka akan memperoleh engampunan dosa dan mendapat bagian dalam
apa yang ditentukan untuk orang-orang yang dikuduskan oleh iman kepada Kristus. Ayat
yang merupakan rangkuman dari pemberitaan Paulus.
Kemudian ayat 19-21 merupakan rangkuman sederhana tentang semua pengalaman
pemberitaan Injil rasul Paulus. Paulus pertama-tama memberitakan tentang pertobatan di
Damsyik, kemudian di Yerusalem lalu diseluruh wilayah Yudea dan juga kepada bangsa-
bangsa bukan Yahudi, sebagaimana ditugaskan kepadanya. Selanjutnya Paulus mengatakan
bahwa sebab ketaatan untuk tugas itulah orang-orang Yahudi menangkapnya di Bait Allah
dan mencoba membunuhnya. Mungkin Festus tidak mengerti akan hal ini namun jika benar
bahwa Agripa yaitu orang yang memahami Yudaisme maka dia akan mengetahui mengapa
orang-orang Yahudi itu mau membunuh Paulus, yaitu sebab mereka tidak mau orang yang
bukan Yahudi sejajar dengan mereka sebagai orang yang mendapat keselamatan (umat
pilihan). Kemudian ayat 22-23, Paulus mengakhiri pembelaannya dengan menandaskan
bahwa pemberitaan yang disampaikannya tidak lebih dibandingkan apa yang telah dinubuatkan
oleh Musa dan para Nabi, yaitu bahwa Mesias harus menderita sengsara dan bahwa Ia
yaitu yang pertama yang bangkit dari antara orang mati dan bahwa Ia memberi terang
kepada orang Yahudi dan non Yahudi. inilah alas an yang membuat Paulus sebelumnya
demikian menekankan kebangkitan. Harapan orang Yahudi sejak dahulu tentang kebangkitan
sekarang telah memperoleh makna yang baru sebab kebangkitan Kristus. Kebangkitan
Mesias bukanlah kebangkitan yang berdiri sendiri, namun merupakan awal dari kebangkitan itu
sendiri. Kristus yaitu “Yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal” (1Korintus
15:20). “Yang pertama bangkit dari antara orang mati” (Kolose 1:18). Selanjutnya pada ayat
24 Festus berkata dengan suara keras dengan nada yang amat kesal bahwa Paulus sudah
gila sebab gagasan-gasan atau ilmunya yang sangat tidak masuk akal bagi seorang Romawi
seperti Festus. Jadi sebab gagasan-gagasan Paulus ini tidak masuk diakal Festus
maka dia menganggap bahwa Paulus bukanlah orang yang waras lagi. namun selanjutnya
pada ayat 25-27, Paulus menjawab bahwa dirinya tidak gila dan dia mengatakan kebenaran
dengan pikiran yang sehat. Paulus kemudian mengajak Agripa untuk membela
kewarasannya dan kebenaran yang baru saja dikemukakan olehnya. Dia mengingatkan
Agripa bahwa kebangkitan Kristus bukan merupakan peristiwa yang belum didengarnya
sebab tidak terjadi di tempat ang terpencil dimana tidak ada orang yang dapat melihatnya.
Setiap orang membandingkan amanat ini dengan amanat para nabi, pasti
berkesimpulan bahwa pandangan Paulus ini yaitu benar; sebab itu Paulus langsung
mengajukan pertayaan ini kepada raja, “Percayakah engkau …kepada para nabi?”
namun kemudian Paulus memberi jawaban sendiri dengan mengatakan bahwa Paulus
tahu bahwa Agripa percaya kepada mereka. Pertanyaaan ini menempatkan Agripa pada
posisi yang sulit. Selaku wakil pemerintah Roma dan rekan sejawat Festus, ia tidak ingin
dianggap gila sebab menyetujui pendapat Paulus. Sehingga tidaklah menguntungkan bagi
dia untuk mempercayai apa yang dikatakan Paulus dan mengakui bahwa dirinya percaya
kepada para nabi. Disisi lain jika ia berkata bahwa ia tidak percaya kepada para nabi maka itu
akan merusak hubungannya dengan orang-orang Yahudi. sebab itu Agripa berusaha
mengelak dengan berkata, “hampir saja kau yakinkan aku menjadi orang Kristen.” Kemudian
ayat 29 Paulus menanggapi apa yang dikatakan oleh Aripa itu dengan sangat serius dia
berkata bahwa dia berdoa supaya Agripa dan bahkan semua yang mendengarnya pada saat
itu menjadi sama seperti dirinya yang percaya kepada Kristus Yesus, kecuali hukuman yang
dia tanggung.
Ayat 30-32 memberitahukan bahwa saat Paulus mengakhiri pembelaanya, Festus,
Agripa dan Bernike mengundurkan diri bersama dengan para penasihat mereka untuk
merundingkan masalah ini lebih lanjut. Jelas bahwa Paulus tidak melanggar peraturan sama
sekali, sehingga tidak dapat dijatuhi hukuman mati ataupun hukuman penjara baginya. Agripa
berkata bahwa seharusnya dia sudah bisa bebas namun sebab ia meminta naik banding
maka ia harus menuruti jalur hukum dengan baik.
b. Injil di terima di Roma (27:1-28:31)
Pada bagian ini Lukas menceritakan Perjalanan Paulus dari Palestina ke Italia dan
penerimaan dirinya di Roma. Lukas menceritakan kisah perjalanan itu sangat rinci
menunjukkan bahwa peristiwa ini sangat penting bagi tujuan penulisannya. Motif dari
perjalanan ini menurut susunan penulisan Lukas bukanlah untuk menceritakan tentang
permulaan dari pemberitaan Injil di Roma, namun lebih menunjukkan penolakan Injil oleh
orang Yahudi di Roma dan penerimaannya oleh orang non Yahudi. kenyataan ini membawa
salah satu motif pokok dari keseluruhan kitab ini kepada puncaknya – yakni penolakan atas
Israel dan munculnya gereja bukan Yahudi.
Kisah Para Rasul 27:1-5 memberithukan bahwa perjalanan Paulus ini diawali dengan
kata Kami, itu berarti bahwa Lukas dan Aristarkus mendampingi Paulus untuk menuju ke
Roma dan dalam bagian lain Alkitab seperti dalam Kolose 4:10; Filipi 1:24 mengatakan
bahwa Lukas melayani Paulus selama di penjara Roma. Pasukan Kaisar yang dimaksud
dalam ayat ini yaitu perwira polisi yang ditugaskan untuk membawa tahanan-tahanan ke
Roma. ‘Adramitium’ yaitu nama pelabuhan di Asia kecil yang menjadi nama kapal. Perwira
Yulius juga ramah kepada Paulus sejak permulaan perjalanan hingga sampai pada akhir
perjalananya. Pada ayat 6 dikatakan bahwa di Mira mereka berganti kapal, mereka
meninggalkan kapal yang sebelumnya mereka tumpangi dan menaiki kapal pengangkut
gandum yang berlayar dari Aleksandria menuju Italia. Pada saat itu Mesir merupakan sumber
utama persediaan gandum bagi Roma, dan pengankutan gandum di antara Aleksandria dan
Roma merupakan bisnis penting yang langsung ditangani oleh negara.
Ayat 7 mengisahkan selanjutnya perjalanan dari Mira ke wilayah yang tekanan
anginnya keras dan yang membuat perjalanan agak sulit. Dengan usaha yang keras mereka
melewati kesulitan itu hingga mereka sampai di Kinidus, yaitu sebuah tanjung yang terletak di
daerah barat daya Asia kecil. Dari sana mereka harus memilih diantara menunggu angin
yang lebih baik dan baru berlayar ke Barat atau Keselatan langsung menju Kreta. sebab
angin sepertinya tiak bersahabat maka mereka memilih alternatif yang kedua dan berlayar ke
selatan melalui Salmone yang terletak pada ujung timur Kreta dan kemudian berlayar
sepanjang pantai menuju ke Barat. Ayat 8 memberitahukan bahwa sesudah mereka berlayar
sepanjang pantai dengan susah payah, maka mereka tiba di sebuah pelabuhan yang
dinamakan pelabuhan Indah ditengah-tengah pulau itu.
Ayat 9 menjelaskan bahwa tantangan untuk melanjutkan perjalanan akan lebih besar,
sebab mulai pertengahan bulan sepetember sampai November yaitu masa berbahaya
untuk pelayaran di laut tengah. Waktu puasa ada dalam masa ini (Imamat 23:26-32). Maka
oleh sebab itu Paulus memperingatkan mereka seperti pada ayat 10-13, untuk tidak
berlayar, namun perwira itu tidak mau mendengarkannya, sehingga mereka terus melanjutkan
pelayaran.
Ternyata tidak seberapa lama lagi angin berubah menjadi angin yang sangat
kencang, seperti yang dikatakan dalam ayat 14 bahwa angin tiba-tiba berubah menjadi angin
badai yang bertiup dari Timur Laut. Ayat 15 saat itu mereka sudah tidak jauh lagi dari
Feniks tujuan pelayaran mereka. namun sebab kapal itu tidak tahan kepada angin haluan,
mereka akhirnya menyerah saja dan membiarkan kapal terobang ambing. Kemudian ayat 16,
dimana sesudah mereka tiba di pulau kecil Kauda mereka merasa perlu untuk mengangkat
skoci yang terikap pada kapal itu. saat itu skoci ini sudah demikian penuh berisi air
sehingga hanya dapat dinaikkan ke atas kapal dengan susah payah. Selanjutnya ayat 17
mereka mengusahakan untuk meliliti kapal itu dengan tali. Mungkin supaya kapal itu tidak
pecah jika dipakai kembali. Kapal itu kini terapung-apung dibawa arus ke barat daya menuju
Kirene. Dilepas di Afrika Utara ada sebuah daerah beting berbahaya yang bernama
Sirtis, sebab takut terseret kesana maka para pelaut itu menurunkan layar. Dan sekarang
mereka berlayar dengan memkai dorongan angin. Pada keesokan harinya (ayat 18) badai
belum mereda sehingga mereka perlu membuang muatan kapal. Sampai pada keesokan
harinya juga (ayat 19) badai juga belum reda maka peralatan kapal juga sebagian harus
dibuang untuk mengurangi beban. Selanjutnya ayat 20, sebab para pelaut hanya bergantung
pada matahari dan bintang untuk navigasi, akhirnya harapan untuk tertolong sudah tidak ada
lagi. Sebab mereka tidak tahu dimana mereka berada dan sedang kemana mereka diseret
oleh badai itu.
Kemudian pada ayat 21-22 Lukas menuliskan bahwa sesudah beberapa hari lamanya
mereka dalam keadaan yang sangat sulit itu maka mereka tidak dapat lagi berpikir dengan
jernih, sehingga mereka tidak mau makan. namun dalam keadaan seperti itulah maka Paulus
berdiri untuk menasehati mereka, supaya mereka bertabah hati. Paulus juga menghiburkan
hati semua orang yang ada dalam kapal itu dengan berkata bahwa tak satupun diantara
mereka yang akan mati ditelan oleh ombak atau badai itu. namun kalau kapal yang mereka
tumpangi Paulus berkata bahwa itu akan hancur. Ayat 23-24 yaitu berisi tentang apa yang
menjadi alas an Paulus mengatakan bahwa mereka tidak akan binasa oleh badai itu. Paulus
berkata bahwa Malaikat Allah telah datang menguatkan hatinya dan mengatakan bahwa
mereka tidak akan ada yang binasa. Ayat ini juga menunjukkan bahwa Allah berkehendak
agar Paulus menghadap Kaisar, oleh sebab itu nyawa Paulus di jamin oleh Allah ditengah-
badai apapun Tuhan akan menolongnya. Kemudian Paulus kembali menegaskan (ayat 25-
26) supaya mereka tabah sebab dia percaya pada apa yang dikatakan oleh Allah, namun
mereka harus mendamparkan kapal itu di suatu pulau.
Pada ayat 27-29 dijelaskan bahwa pada malam yang keempat belas mereka masih
terombang ambing di Laut Adria. namun anak-anak kapal merasa bahwa mereka sudah dekat
dengan daratan sehingga mereka membuang empt sauh di buritan sebab takut kapal itu aan
terkandas di salah satu batu karang. Laut Adria yang dimaksud disini yaitu Laut yang
terletak antara Pulau Malta dan Italia dan diantara Yunani dan Kreta. Kemudian ayat 30-32
menjelaskan bahwa sejumlah anak-anak kapal berusaha untuk melarikan diri, mereka
seolah-olah hendak membuang sauh di haluan kapal itu. Pada hakekatnya mereka ingin
berkayuh terus hingga ke daratan. dengan sebuah sekoci tentulah batu karang itu tidak
seberapa membahayakan. Kemudian Paulus berbicara demikian positif tentang akibat-akibat
dari usaha menyelamatkan diri sendiri. Hal ini Paulus ketahui bukanlah sebab dia suah
menglihat suatu penglihatan dari Tuhan, namun murni sebab keyakinannya akan janji Tuhan
bahwa Tuhan akan menyelamatkan mereka dari bahaya itu dan oleh sebab itu Paulus
hendak mengingatkan orang-orang disitu supaya mereka tidak egoistis dan membuat jalan
sendiri yang tidak mengikuti kemauan Tuhan. Dan akhirnya Paulus berbicara kepada kepala
pasukan dan sehingga mereka memotong tali-tali sekoci supaya tidak ada yang dapat
melarikan diri. Ayat 33-36 menjelaskan bahwa sesudah malam berlalu dan menjelang siang
Paulus kembali berbicara kepada anak-anak kapal, dimana mereka masih harus
mengorbankan banyak tenaga. Sudah berhari-hari lamanya mereka tidak makan, oleh sebab
itu Paulus menasehati mereka agar makan sebab mereka masih harus mengeluarkan
segenap kekuatan mereka. Pada saat ini Paulus sekali lagi mengingatkan mereka bahwa tak
satupun diantara mereka yang akan binasa. Kemudian tampaknya mereka mengikuti apa
yang dikatakan oleh Paulus dan Paulus memimpin doa syukur dan kemudian mereka makan.
Kemudian ayat 37 Lukas memberitahukan berapa jumlah orang yang ada di dalam
kapal itu, yaitu dua ratus tujuh puluh enam jiwa banyaknya. Ayat 38 menjelaskan bahwa
sesudah mereka kenyang mereka membuang gandum ke laut untuk meringankan kepal itu.
Sebab jika kapal itu semakin ringan maka kemungkinan untuk selamat semakin besar. Pada
Ayat 39 Lukas memberitahukan bahwa saat hari mulai siang, mereka melihat suatu teluk
yang rata pantainya. Sekarang teluk itu bernama teluk St. Paulus. Namun pada waktu itu
mereka tidak tahu nama teluk itu, dan sesudah mereka berunding mereka memutuskan untuk
mendamparkan kapal itu disana.
Kemudian pada ayat 40 kita melihat ada tiga tindakan yang mereka lakukan untuk
berusaha mencapai daratan itu. Yang pertama, mereka memotong tali sauh, yang kedua
mereka mengulurkan tali-tali kemudi sehingga mereka dapat mengemudikan kapal itu, dan
yang ketiga mereka menikkan layar kecil di tiang depan; dengan demikian kapal itu mendapat
angin yang cukup untu bisa memasuki teluk itu. Lalu pada ayat 41 ternyata rencana yang
bagus itu gagal sebab kapal itu melanggar busung pasir sehingga haluanya sekaligus
terpancang dan tidak dapat bergerak lagi. Dan datanglah badai yang menerpa buritan kapal
sehingga membuat buritan kapal itu menjadi hancur dan tidak tertolong lagi.
Selanjutnya pada ayat 42-44 Lukas menuliskan tentang kepanikan orang-orang yang
ada dalam kapal yang sudah hancur itu. Para Prajurit mengetahui bahwa mereka harus
menjamin para tahanan itu dengan nyawa mereka sendiri. namun pada saat yang demikian ini
para tahanan itu sangat mudah untuk melarikan diri, oleh sebab itu tampa berpikir panjang
maka para prajurit itu hendak membunuh semua para tahanan itu. namun kepala pasukan itu
atau Yulius menggagalkan maksud para Prajurit itu demi kepentingan Paulus. Yulius
menyuruh semua orang yang pintar berenang untuk lebih dahulu berenang menuju
kedaratan. Kemudian yang lainya menyusul dengan memakai pecahan-pecahan kapal
dan papan-papan sampai akhirnya semuanya mereka sampai kedaratan.
Pasal 28:1 berbicara dimana sesudah rombongan Paulus tiba di darat mereka
menemukan bahwa pulau itu yaitu pulau Malta yang terletak sekitar seratus mil di sebelah
selatan Sisilia. Malta yaitu Istilah Kanaan yang berarti tempat perlindungan, yang ditinggali
oleh masyarakat keturunan Fenesia. Dalam ayat 2 Lukas mengatakan bahwa penduduk
pulau itu (). Kata barbaroi tidak berkonotasi bahwa Lukas merendahkan mereka,
namun menjelaskan bahwa bahasa mereka sulit dimengerti. Keramahan mereka membuktikan
bahwa mereka yaitu suku yang tergolong baik. Selanjutnya pada ayat 3 Lukas menulis
tantang tangan Paulus yang digigit oleh ular beludak. Ada beberapa teolog yang meragukan
ayat ini sebab sekarang di pulau Malta tidak ada ular beludak; namun pada tahun 1835
seorang ilmuan yang bernama Lewing menyaksikan bahwa ia melihat ada ular beludak di
pulau itu. Waktu orang-orang disana melihat bahwa Paulus digigit ular beracun maka mereka
segera bereaksi, sehingga pada ayat 4-6 mereka menduga bahwa Paulus yaitu seorang
pembunuh yang harus mati. Mereka berpikir bahwa karam kapal yaitu hukuman baginya
dan itupun tidak cukup sehingga dewi keadilan seperti yang mereka yakini akhirnya ingin
membunuh Paulus. Akan namun sesudah Paulus mengibaskan ular itu kedalam api dan Paulus
sama sekali tidak sakit, sementara orang-orang disitu menanti-nanti apa yang akan terjadi
kepada Paulus, dan sampai lama akhirnya mereka melihat bahwa Paulus tidak apa-apa,
sehingga mereka menyangka bahwa Paulus yaitu dewa, sebab dia tidak tersentuh oleh
nasib manusia biasa. sebab jika dia yaitu manusia biasa maka dia akan mati sebab ular itu
yaitu ular yang sangat beracun. Kemudian ayat 7-10 Lukas menjelaskan bahwa sesudah itu
Paulus menginap di rumah Gubernur Publius yang menyambutnya dengan sukarela dan ia
menyembuhkan orang-orang sakit menurut Firman Tuhan (Lukas 10:8-9). “saat itu ayah
Publius terbaring sebab sakit demam dan disentri. Biasanya dimanapun Paulus tinggal dia
akan selalu memberitakan Injil, maka sangat mungkin bahwa adanya jemaat Kristen di Malta
yaitu hasil pelayanan Paulus sewaktu mereka singgah disana, yang dalam nats ini tidak
terlalu dijelaskan oleh Lukas, sebab Lukas sepertinya menitik beratkan penulisannya tentang
bagaimana Tuhan menolong dan mencukupkan apa yang mereka butuhkan untuk sampai ke
Roma.
Selanjutnya ayat 11-16 Lukas menuliskan bahwa sesudah tiga bulan lamanya mereka
tinggal di Malta maka mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka. Dalam penulisannya,
Lukas sangat teliti sekali, sehingga sampai lambang kapal yang mereka tumpangi juga
disebutkan disini. Lambang kapal ini yaitu Dioskuri, lambang ini melukiskan Kastor
dan Poluk yaitu saudara kembar yang menurut Mythologi Yunani lahir dari Zeus dan Leda
dan sesudah keduanya mati diangkat ke langit sebagai bintang dan kemudian dipuja oleh
para pelaut sebagai dewa pelindung kapal mereka. sesudah mereka sampai di Putioli Lukas
mencatat bahwa mereka bertemu dengan orang-orang yang sudah percaya disana dan
mereka tinggal disana selama tujuh hari. Paulus mengucap syukur atas pertemuan itu dan
Lukas mengatakan bahwa hati Paulus terhibur dan hatinya semakin dikuatkan. Akhirnya
sesudah tujuh hari mereka meninggalkan tempat itu dan kembali melanjutkan perjalanan
mereka menuju ke Roma dan sesampainya disana Paulus tidak ditahan seperti narapidana
lainnya. Paulus tinggal di sebuah rumah yang disewanya sendiri. Hal itu mungkin terjadi
sebab pertolongan Yulius kepala perwira yang membawanya ke situ.
Kemudian ayat 17-20 Lukas mencatat bahwa sesudah tiga hari mereka sampai di
Roma, Paulus memanggil orang-orang Yahudi yang terkemuka di kota itu dan dia
menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya kepada mereka. Dia mengatakan bahwa dia
tidak menolak satupun dari hukum Yahudi dan sebagai orang yang tidak bersalah, ia
diserahkan selaku tahanan kepada pemerintah Roma. Sekalipun sebenarnya orang-orang
Romawi ingin membebaskanya, namun orang-orang Yahudi mengajukan keberatan terhadap
keputusan itu, sehingga Paulus beranggapan bahwa satu-satunya cara untuk lolos yaitu
dengan meminta naik banding kepada Kaisar. Sekalipun demikian Paulus tidak membuat
tuduhan apapun kepada orang-orang Yahudi, sehubungan perlakuan mereka terhadapnya.
Dia menjadi tahanan hanya sebab pengharapan Israel, dengan itu Paulus hendak
mengatakan bahwa iman Kristen yang dianutnya merupakan penggenapan sejati dari
pengharapan umat Allah.
Ayat 21-22 menjelaskan bahwa Pemimpin-peminpin Yahudi di Roma mengatakan
bahwa mereka tidak menerima surat atau utusan dari Yerusalem dengan tuduhan apapun
terhadap Paulus. Selanjutnya secara tidak langsung mereka mengatakan bahwa mereka
tidak tahu apa-apa tentang sekte yang dianut oleh Paulus selain mendengar bahwa sekte itu
dimana-mana mendapat kecaman yang keras. Secara logis bahwa para pemimpin Yahudi
tidak mengemukakan seluruh kebenaran. Mustahil bahwa mereka tidak mendengar apa-apa
tentang gereja Kristen di Roma, padahal di surat Paulus kepada Jemaat di Roma
menunjukkan bahwa di Roma sudah ada gereja Kristen yang sangat bersemangat. Kemudian
mustahil juga jika mereka mengatakan tidak mendengar apa-apa tentang Paulus dari
Yerusalem sebab hubungan antara orang Yahudi di Yerusalem dan di Roma tetap terjalin
dan berkesinambungan. Sekalipun demikian, jelas tidak ada tuduhan sah yang dapat
diarahkan kepada Paulus, sehingga orang-orang Yahudi menganggap bahwa lebih bijaksana
untuk tidak melibatkan diri dalam kasus Paulus agar tidak menimbulkan amarah pemerintah
Roma. Ayat 23 menjelaskan bahwa pada hari yang telah ditentukan berkumpullah orang-
orang (para pemimpin Yahudi) di rumah yang ditempati Paulus. Pada kesempatan ini Paulus
memberitakan tentang kerajaan Allah dengan berusaha menyakinkan mereka tentang Yesus.
kedua hal ini jelas merupakan konsep yang sinonim. Paulus berusaha menunjukkan bahwa
hal-hal tentang Yesus dan kerajaan Allah merupakan penggenapan yang sempurna dari
hukum Musa dan nubuat para nabi dan bahwa iman nenek moyang Israel memperoleh
penggenapannya di dalam iman Kristen.
Kemudian pada ayat 24-27 Lukas menulis bagaimana tanggapan para pemimpin
Yahudi di Roma terhadap pemberitaan Paulus. Dari antara mereka ada yang menjadi
percaya, namun sebagian besar menolaknya. Melihat hal ini Paulus mengutip Yesaya 6:9, 10
yang melukiskan kebebalan dan kekerasan rohani dari umat Allah. Keadaan mereka tidak
tertolong lagi sebab mereka tidak mampu berbalik kepada Allah untuk disembuhkan. Ayat 28
merupakan puncak dari Kisah Para Rasul, dalam ayat ini Lukas menuliskan perkataan
Paulus, “Keselamatan yang dari pada Allah ini (sekarang: mulai sekarang) disampaikan
kepada bangsa-bangsa lain dan mereka akan mendengarnya.” Sampai disini kita melihat
pergerakan pemberitaan Injil, disamping itu kita juga melihat bahwa banyak pemimpin Yahudi
yang ada di Roma menolak Injil sama seperti pemimpin Yahudi yang ada di Yerusalem yang
menolak Yesus sebagai Mesias dan bahkan menyalibkan-Nya. Jadi sifat para pemimpin
Yahudi dan sebagian besar orang Yahudi lainya menunjukkan sifat penolakan mereka
terhadap Injil dan juga pemberitanya yang dalam waktu itu kemanapun Paulus pergi
memberitakan Injil orang-orang Yahudi banyak menolaknya dan malah orang-orang yang non
Yahudi menerima dia dan Injil yang dia beritakan. Jadi ayat 28 ini merupakan klimaksnya,
dimana oleh sebab pemberontakan Israel sudah sempurna maka sekarang Injil memperoleh
tempat di kalangan bangsa bukan Yahudi.
Selanjutnya ayat 29 kita melihat bahwa sesudah selesai Paulus berbicara maka orang
yang mendengarnya bubar dengan berbagai perbedaan pendapat. Kemudian ayat 30-31
yaitu merupakan ayat penutup dari Kisah Para Rasul yang bisa dikatakan sebagai akhir
yang tiba-tiba. Disini Lukas tidak menjelaskan tentang bagaimana akhir pemenjaraan Paulus.
namun walaupun demikian Lukas tetap memberitahukan tentang aktifitas Paulus di Roma
selama dua tahun, dimana ia tinggal dirumah yang dia sewa sendiri dan dia menerima orang-
orang yang datang kepadanya dan bahkan ia memberitakan Injil kepada siapapun yang
datang kepadanya. Namun sampai akhir kitab ini kita tidak tahu tentang hasil dari
persidangan dimana dia telah naik banding kepada Kaisar, apakah dia dinyatakan tidak
bersalah dan dibebaskan atau sebaliknya dia dinyatakan bersalah dan dihukum mati? Atau
ada opsi yang ketiga, barangkali kasus itu diabaikan saja. Sampai pada akhir Kisah Para
Rasul ini kita tidak menemui penjelasan dari Lukas mengenai hal itu. namun jika kita
memperhatikan ayat 30 ini maka kita akan lebih condong setuju dengan beberapa penafsir
Kisah Para Rasul yang mengatakan bahwa kemungkinan Paulus dibebaskan sesudah dua
tahun penahananya dan sesudah itu ia melibatkan diri dalam pelayanan selanjutnya dan
akhirnya ditahan kembali di Roma. Tradisi mengatakan bahwa Paulus dihukum mati di Roma
sekitar atau sesudah tahun 64 Masehi, itu berarti ada dua atau tiga tahun antara penulisan
Kisah Para Rasul dengan kematian Rasul Paulus. Hal ini menguatkan dugaan bahwa hasil
naik bandingnya Paulus tidak membawa dia kepada hukuman mati, sebab jika itu terjadi
pastilah Lukas akan menuliskanya. Lagi pula Philo seorang sejarawan Yahudi berkata bahwa
penahanan selama dua tahun yaitu penahan yang paling lama dalam hukum Roma, dan
sesudah itu dia bisa dilepaskan. Pada akhirnya kita melihat bahwa Injil Kristus tidak dapat di
bendung atau ditahan, dengan penuh kuasa Injil tersebar sampai kemana-mana. Sudahkah
anda pergi memberitakan Injil? Apakah anda sendiri yaitu orang yang berusaha
membendung Injil? Jika anda bukan seorang yang membendung atau menahan Injil maka
anda harus pergi memberitakannya.












