Kamis, 16 Juli 2026

kisah para rasul 9

 


aanya  membuat  tenda  bukan  hanya

menyokong  hidupnya  sendiri  namun   juga  untuk  menyokong  kehidupan  orng-orang  yang

bersama dengannya.  Tujuan  utama dari  kebiasaan memberi  di  dalam gereja  mula-mula

yaitu  untuk membantu saudara seiman yang kekurangan dan bukan untuk mendukung

pemberitaan Injil seperti sekarang ini.

Ayat 36-38 menunjukkan bahwa sebelum Paulus berpisah dari para penilik jemaat itu,

mereka berlutut dan berdoa bersama-sama. Mereka sangat berdukacita mengingat bahwa

mereka mengetahui bahwa Paulus akan mengalami kesulitan besar dan bahkan mungkin

kematian sedang menanti Paulus.

12. Perluasan Gereja ke Roma (21:18-28:31)

Lukas  telah  mengisahkan  perluasan  gereja  dari  Yerusalem hingga  Yudea  dan  Samaria

sampai berdirinya sebuah gereja orang bukan Yahudi yang semi mandiri di Antiokia. Dari

Antiokia Injil oleh Paulus disebarkan oleh tiga buah perjalanan pemberitaan Injil ke seluruh

Asia dan Eropa. Pemberitaan Injil di wilayah yang lain psti jug dilaksanakan oleh para rasul

yng lain. Sebagai contoh kita tidak tahu apa-apa tentang pemberitaan Injil di Mesir, dengan

pusatnya yang besar  yaitu  Aleksndria.  Lukas hanya tertarik  untuk menelusuri  garis-garis

utama dari penyebaran yang ia anggap penting – yaitu ke Roma. Sekarang dia hanya tinggal

mengisahkan  misi  Paulus  yang  membawa  Injil  ke  Roma.Jelas  Lukas  tidak  mempunyai

maksud untuk  menceritakan  awal  pemberitaan  Injil  di  Roma atau  awal  pendirian  gereja

disana,  sebab dia  menceritakan bagaimana saudara-saudara seiman disana menyambut

Paulus  saat   sang  Rasul  tiba  di  kota  itu  (28:15).  Kita  mengetahui  bahwa  Paulus  telah

menulis  sebuah  surat  kepada  jemaat  di  Roma  (Rom  1:7),  namun   Lukas  tidak  menulis

bagaimana Injil tiba di kerajaan ini . sebab  Lukas tidak bermaksud melukiskan awal

penginjilan  di  Roma,  mungkin  Lukas  bermaksud  untuk  menunjukkan  bahwa  sekalipun

Paulus  pertama-tama  memberitakan  tentang  kerajaan  Allah  kepada  orang  Yahudi,  dia

berbalik memberitakannya kepada orang-orang bukan Yahudi saat  orang Yahudi menolak

pemberitaannya (28:24-31). Perluasan gereja secara geografis bukan merupakan perhatian

utama Lukas; yang lebih diutamakannya ialah gerakan sejarah penebusan dari orang Yahudi

ke orang bukan Yahudi. Sesuai dengan maksud ini, Lukas memakai cukup banyak tempat

untuk  menceritakan  kisah  kunjungan Paulus  yang  terakhir  ke  Yerusalem,  bukan sebab 

kunjungan itu penting, namun  sebab  kunjungan itu menunjukkan penolakan terakhir terhadap

Injil oleh Yerusalem.

a. Injil di tolak oleh orang-orang Yerusalem (21:18-26:32)

Ayat 18 dan 19 menjelaskan bahwa sesudah  Paulus dan rombonganya disambut baik oleh

jemaat  di  Yerusalem,  maka  keesokan  harinya  mereka  menjumpai  Yakobus  dan  semua

penatua yang sudah berkumpul disitu. Rupanya di Yerusalem pada waktu itu tidak ada rasul.

Paulus  disambut  hangat  oleh  para  pemimpin  gereja  di  sana.  Paulus  menceritakan  hasil

pelayanannya kepada mereka. Dimana banyak orang menjadi percaya tanpa harus mentaati

hukum Yahudi. Para pemimpin gereja di Yerusalem sangat menyetujui prosedur itu.

Ayat 20-21 memberitahukan bahwa sekalipun para pemimpin gereja di Yerusalem

senang dengan berita  yang  disampaikan  oleh  rasul  Paulus,  mereka  juga  menyampaikan

peringatan kepadannya. Mereka mengatakan bahwa ada ribuan orang percaya Yahudi yang

sebagai orang Kristen namun  tetap rajin memelihara hukum Taurat,  dan bahwa mereka itu

telah mendengar mengenai Paulus yang bukan hanya memberitakan kasih karunia kepada

orang  Yahudi  dengan  sama  sekali  terlepas  dari  hukum Taurat,  namun   juga  mengajarkan

kepada orang Yahudi di perantauan untuk melepaskan hukum Musa dan supaya mereka

jangan  menyunatkan  anak-anak  mereka  serta  tidak  usah  menjalankan  adat-istiadat

Perjanjian  Lama  lainya.  Ini  berarti  bahwa  Paulus  mengajak  orang-orang  Yahudi  untuk

meninggalkan Yudaisme dan tidak menjadi orang Yahudi lagi.

Ayat 22-24 memperlihatkan kepada kita bahwa Yakobus dan para penatua gereja di

Yerusalem menyadari bahwa laporan ini tidak benar dan bahwa Paulus tetap mengijinkan

orang-orang percaya Yahudi untuk tetap mentaati  hukum Taurat.  Namun mereka merasa

bahwa sesuatu harus dilakukan untuk memperlihatkan kepada orang-orang Kristen Yahudi

bahwa  laporan  ini   tidak  benar.  Mereka  mengusulkan  agar  Paulus  menunjukkan

ketaatannya kepada Taurat untuk membuktikan bahwa dia tidak menganjurkan orang-orang

Kristen Yahudi untuk meninggalkan tradisi mereka. saat  itu ada  empat orang Yahudi

yang  bernazar.  Nazar  itu  biasanya  berlaku  selama  tiga  puluh  hari,  namun   mereka  telah

menajiskan  diri  sehingga menurut  peraturan agama mereka  tidak  tahir  selama tujuh  hari

( ayat 27). Pada akhir periode ini, mereka akan mencukur rambut dan mempersembahkan

beberapa  kurban  pentahiran  kepada  Allah.  Para  penatua  mengusulkan  agar  Paulus

bergabung dengan empat orang ini dan melaksanakan adat Yahudi dengan membayar biaya

untuk persembahan kurban.  Tindakan ini  akan membuktikan kepada jemaat  Yahudi

bahwa Paulus sendiri menerima adat-istiadat Yahudi.

Selanjutnya ayat 25 berbicara, dimana Yakobus memastikan kepada Paulus bahwa

usul ini bukan merupakan perubahan dari keputusan yang telah ditetapkan dalam sidang di

Yerusalem bahwa orang-orang bukan Yahudi bebas dari hukum Taurat, namun  hanya harus

menjauhkan diri dari hal-hal tertentu yang dapat menjadi batu sandungan bagi orang-orang

Kristen Yahudi. Ayat 26 menjelaskan bahwa Paulus menerima nasihat para penatua ini 

dan selama beberapa hari (kata kerjanya dalam bentuk waktu imperfect) pergi kedalam Bait

Allah bersama dengan empat orang Yahudi itu untuk mempersembahkan kurban pentahiran.

Tidak ada perbedaan yang mendasar di dalam kesediaan Paulus selalu orang Yahudi untuk

tetap taat kepada Hukum Taurat dengan sikapnya yang tegas bahwa orang percaya yang

bukan Yahudi tidak perlu tunduk kepada hukum Taurat, sebab mereka tunduk dibawah kasih

karunia. Selaku ciptaan baru di dalam Kristus, bagi Paulus disunat atau tidak disunat bukan

sesuatu hal yang menentukan (Galatia 6:15). Bagi penginjil ini kebiasaan religius semacam

itu bukan merupakan sesuatu yang penting, sebab dunia telah disalibkan bagi dirinya dan

dirinya  telah  disalibkan  bagi  dunia  (Galatia  6:14).  Dia  sendiri  mengatakan  bahwa  jika

seseorang bertobat selaku orang Yahudi, hendaknya ia tetap Yahudi (1Korintus 7:18), sebab

penyunatan itu sendiri tidak mempunyai arti apa-apa. Orang Kristen Yahudi boleh saja terus

menaati hukum Taurat selaku orang Yahudi, bukan selaku orang Kristen. Akan namun  apabila

kemudian  hukum Taurat  dipaksakan  kepada  orang  Kristen  bukan  Yahudi  sebagai  dasar

keselamatan, Paulus berkeberatan dan bersikukuh dengan pendirianya tentang kebebasan

mutlak  dari  hukum Taurat.  Tidak  diragukan  lagi  seandainya  orang  percaya  Yahudi  ingin

menghentikan  ketaatan  mereka  kepada  Hukum  Taurat,  Paulus  tidak  akan  keberatan.

Pendirian Paulus yang membiarkan kebijaksanaan menentukan prinsip pada bidang-bidang


tertentu  merupakan  masalah  yang  begitu  sulit  sehingga  banyak  orang  yang  belum

memahaminya menuduh Paulus sebagai orang yang tidak konsisten.

Ayat  27-29  memberi   gambaran  bahwa  tampaknya  tindakan  Paulus  itu

memuaskan  hati  orang-orang  Yahudi,  namun   memunculkan  permusuhan  dari  sekelompok

orang Yahudi…dari Asia yang tidak percaya yang datang ke Yerusalem untuk ikut merayakan

hari Pentakosta. Orang-orang ini sudah mengenal Paulus di Asia, dan mereka telah melihat

Paulus di  Yerusalem bersama dengan Trofimus, yaitu seorang bukan Yahudi dari  Efesus

yang telah bertobat.  Kini  mereka melihat  sang Rasul ada di  pelataran untuk orang-orang

Israel  dimana  orang  bukan  Yahudi  tidak  boleh  masuk,  sehingga  mereka  berkesimpulan

bahwa  Paulus  telah  membawa  Trofimus  ikut  masuk  kedalam  pelataran  itu.  Memang  di

wilayah Bait Allah ada tempat yang disediakan untuk orang bukan Yahudi. Diantara tempat

ini  dengan pelataran untuk orang Israel ada  sebuah pemisah yang mencantumkan

peringatan agar orang bukan Yahudi jangan melewati batas dengan ancaman hukuman mati.

Dua buah peringatan semacam ini telah ditemukan. Dengan demikian orang-orang Yahudi

dari Asia ini beranggapan bahwa Paulus telah menajiskan tempat suci ini .

Kemudian pada ayat 30 menjelaskan selanjutnya apa yang terjadi, dimana tiba-tiba

ada unjuk rasa yang secara cepat menyebar di kalangan orang banyak itu, dan Paulus di

seret  keluar  dari  pelataran  untuk  orang  Israel  ke  pelataran  untuk  orang  bukan  Yahudi.

Sesudah itu pintu gerbang yang memisahkan kedua tempat ini  di tutup untuk mencegah

hal-hal yang tidak diiginkan selanjutnya. Kemudian ayat 31 memberitahukan bahwa sewaktu

orang banyak itu merencanakan untuk membunuh Paulus segera berita itu terdengar oleh

kepala pasukan yang ada di Yerusalem. Pada saat itu di sebelah barat laut wilayah bait Allah

ada   menara  Antonia  yang  merupakan  Markas  dari  pasukan  Romawi.  Menara  itu

berhubungan dengan pelataran  Bait  Allah.  Disana  ada  sebuah pasukan yang terdiri  dari

seribu orang. Pada saat Paulus hendak di bunuh secara beramai-ramai oleh orang-orang

Yahudi ditempat itu, kepala pasukan mendapat berita bahwa sebuah pemberontakan telah

terjadi. Ayat 32 membeitahukan bahwa kepala pasukan membawa sekitar 200 orang prajurit

bersama dengan perwira-perwira mereka dan tiba di tempat itu tepat pada waktunya dan

menyelematkan  Paulus.  Ayat  33  memberitahukan  apa  yang  terjadi  selanjutnya,  dimana

kepala pasukan menangkap Paulus untuk diamankan dan memerintahkan agar dia di rantai

pada  dua  orang  prajurit.  Kemudian  (34)  saat   pasukan  itu  berusaha  untuk  mengetahui

penyebab  dari  kerusuhan  ini ,  teriakan  jawaban  masyarakat  begitu  simpang  siur,

sehingga ia tidak dapat memperoleh jawaban yang diperlukan. sebab  itu dia memerintahkan

agar Paulus di bawa ke markas. Ayat 35, namun  saat  mereka sampai di tangga yang menuju

ke menara Antonia, orang-orang Yahudi itu semakin beringas sehingga para prajurit terpaksa

menggotong  Paulus.  Kemudian  ayat  37  memberitahukan  bahwa  saat   mereka  sampai

diujung tangga, Paulus mengejutkan kepala pasukan dengan menyapanya memakai bahasa

Yunani.  Lalu sesudah  itu (38)  kepala pasukan itu mengetahui  bahwa Paulus bukan orang

mesir  yang  sudah  mengacau  dan  mengadakan  pemberotakan  terhadap  pemerintaham

Roma. Sejarah mencatat bahwa sekitar tiga tahun sebelum itu, seorang Yahudi dari Mesir

telah  menimbulkan  pemberontakan  dengan  memimpin  empat  ribu  orang  ke  bukit  zaitun,

dengan menjanjikan bahwa tembok kota akan diratakan didepan mereka dan mereka berjanji

akan mengalahkan seluruh pasuka Romawi. Para pendukung pemberontakan ini dianggap

pengacau bersenjata sebab masing-masing mereka membawa pisau yang disembunyikan di

balik jubah yang mereka pakai untuk membunuh lawan politik mereka. Pemberontakan ini

berhasil  dipadamkan oleh Felix,  namun   orang Yahudi dari  Mesir  itu berhasil  lolos.  sebab 

alasan tertentu kepala pasukan menyamakan tawanannya dengan orang Yahudi ini .

Ayat  39-40  menceritakan  bahwa  Paulus  menyakinkan  kepala  pasukan  itu  bahwa  dirinya

bukanlah orang Yahudi  yang dari  Mesir  seorang pemberontak itu.  Kata-kata  Paulus juga

menyakinkan kepala pasukan itu bahwa dirinya selaku orang Yahudi memiliki hak memasuki

pelataran  bagi  orang  Yahudi  di  Bait  Allah dan bahwa dirinya  yaitu   warga  kota  penting

Tarsus, kepala pasukan kemudian mengijinkan Paulus untuk berusaha menenangkan orang-

orang itu.  Rasul Paulus berdiri  di  puncak tangga yang mengarah kepada pelataran untuk

orang bukan Yahudi, sedang  prajurit-prajurit berdiri di bawahnya. sesudah  Paulus berhasil

menarik  perhatian  orang-orang itu,  dia  mulai  berbicara kepada mereka  dengan memakai

dialek aram, yang merupakan bahasa umum dipakai oleh orang-orang yahudi di Palestina

dan Asia Barat.

Pasal  22.  Paulus memaparkan pembelaannya kepada orang-orang Yahudi dan di

dalam pembelaan ini Paulus memaparkan juga riwayat hidupnya.



22:1, ayat ini yaitu  permulaan Paulus memberi  pembelaaannya. Dia memulai

dengan  memberi   rasa  hormatnya  kepada  orang-orang  yang  akan  mendengar

pembelaannya itu. Sehingga dengan demikian dia berkata “ Hai Saudara-saudara dan bapa-

bapa” dalam hal ini kita dapat melihat bagaimana karakter Paulus, dimana dia masih sanggup

memberi  rasa hormatnya kepada orang-orang yang mau menganyiayanya.

22:2  memebritahukan  bahwa  saat   orang-orang  Yahudi  mendengar  pembelaan

Paulus dalam bahasa Ibrani membuat situasi makin tenang. Barangkali orang-orang Yahudi

menyangka  bahwa  Paulus  akan  membela  diri  dengan  memakai  bahasa  Yunani,  namun 

ternyata Paulus memakai bahasa Ibrani. Jadi akhirnya nanti pembelaannya sebenarnya lebih

cocok disebut sebagai kesaksian dari seorang Yahudi yang sangat giat untuk Taurat yang

akhirnya bertobat.

22:3 ayat ini memberitahukan tentang identitasnya, bahwa dia yaitu  orang Yahudi

yang lahir di Tarsus suatu daerah kafir, namun demikian pada ayat ini dikatakan bahwa ia di

besarkan di  Yerusalem di  bawah pimpinan Rabi  Gamaliel  yang sangat  berpengaruh dari

golongan Farisi. Paulus mengatakan bahwa oleh sebab  pendidikan yang dia terima maka dia

dulunya  yaitu   orang  yang  giat  bekerja  bagi  Allah.  Giat  bekerja  bagi  Allah  yang  dia

maksudkan bukan hanya giat  beribadah dalam hal membaca kitab suci  dan menerapkan

Taurat. namun  juga termasuk giat dalam hal menganyiaya orang yang dianggap kafir oleh

oleh Yudaisme, termasuk apa yang dilakukan Paulus sebelum ia bertemu dengan Yesus,

yaitu dia sebagai penganyiaya orang-orang percaya dan hal yang sama seperti itulah yang

dilakukan  oleh  orang-orang  Yahudi  itu  kepadannya.  Dimana  mereka  mau  menganyiaya

Paulus  sang  rasul  sebab   dia  mengajarkan  ajaran  yang  berbeda  dengan  Taurat  yang

dipahami oleh orang-orang Yahudi ini .

Dalam ayat 4, Paulus melanjutkan penjelasannya tentang identitas dan apa yang ia

kerjakan sebelum ia bertobat. Kalau di ayat sebelumnya dia telah berkata bahwa ia sama

seperti  orang-orang Yahudi yang mau menganyiaya dia  maka pada ayat  ini  dia semakin

memnunjukkan kesamaannya dahulu sewaktu ia belum diselamatkan dengan orang-orang

Yahudi yang mau menganyiaya dia. Kesamaan itu yaitu  bahwa dahulu Paulus sangat giat

untuk menangkap dan memenjarakan orang yang percaya dan hal yang sama juga seang

dilakukan oleh orang-orang Yahudi yang tidak percaya itu.

Kemudian  pada  ayat  5  Paulus  dengan  berani  mengatakan  bahwa  Imam  besar

maupun  majelis  tua-tua  (Imam  besar,  Majelis  dan  tua-tua  yaitu   mengacu  kepada

Sanhedrin, dewan tertinggi agama Yahudi) dapat menjadi saksi tentang apa yang dulu ia

kerjakan, sebab mereka memberi  surat resmi seperti surat tugas padanya, yang akan di

bawa ke Damsyik untuk dipakai sebagai ijin untuk menangkapi dan mengayiaya orang-orang

Yahudi yang sudah percaya yang melarikan diri ke sana.

Kemudian  ayat  6-16  Rasul  Paulus  menceritakan  kepada  orang-orang  Yahudi  itu

tentang bagaimana ia  bertobat  dan yang  akhirnya mengubah semangatnya yang  tadinya

pengayiya orang percaya dan sekarang menjadi pemberita Injil yang dahulu sangat ia benci.

Jika kita bandingkan dengan penjelasannya yang ada dalam fasal 9, sepertinya Kisah Para

rasul 22:9 dan 9:7 sepertinya berkontradiksi. Dimana dalam Kisah Para Rasul 9:7 dikatakan

bahwa orang-orang  yang bersama Paulus  mendengar  suara  itu,  namun   pada  Kisah  Para

Rasul 22:9 dikatakan bahwa orang-orang yang bersama Paulus tidak mendengar suara itu.

namun  sebenarnya kedua ayat ini bukanlah saling berkontradiksi namun  penerjemahan dalam

Alkitab kitalah yang kurang tepat. Di dalam Bahasa aslinya Kisah Para Rasul 22: 9 ini di

tuliskan        ,  kata  ini  dapat  diterjemahkan bahwa mereka  tidak

mengerti suara itu. sedang  bahasa asli Kisah Para Rasul 9:7    , kata

ini dapat diterjemahkan bahwa mereka mendengar suara itu. Jadi kedua ayat ini bukanlah

dua  ayat  yang  bertentangan,  namun   menjelaskan  satu  hal  yang  sama.  Jadi  teman

seperjalanan Paulus pada saat ini mendengar sebuah suara namun  mereka tidak mengerti

suara itu. Selanjutnya yang perlu kita cermati dalam penjelasan Paulus yang cukup panjang

ini  yaitu  dimana dia sangat menekankan bahwa Kristus yang telah bangkit  dan naik ke

surga telah datang kepadanya melalui seorang Yahudi yang saleh menurut Hukum Taurat

dan terkenal baik diantara semua orang Yahudi di Damsyik. Ananiaslah yang mengatakan

kepada Paulus bahwa Allah nenek moyang kita, yaitu Allah Israel, telah menetapkan Paulus

untuk mengetahui kehendak-Nya dan melihat Yang Benar (yang menunjuk kepada Yesus)

dan  untuk  menyaksikan  kepada  semua  orang  apa  yang  telah  dialaminya  itu.  Ananias

kemudian menasehati Paulus agar membiarkan dirinya dibaptis sebagai tanda pembersihan

dari dosa, sambil berseru kepada nama Tuhan. Kemudian mulai 17 hingga ayat 21 Paulus

menceritakan  tentang  penegasan  terhadap  panggilan  ini  yang  ia  terima  melalui  sebuah


penglihatan  saat   kembali  ke  Yerusalem  (9:26).  sebab   Paulus  pada  waktu  itu  tidak

bermaksud  memberitakan  cerita  lengkap  tentang  pengalaman  hidupnya,  maka  ia  tidak

menceritakan  tentang  masa  tiga  tahun  yang  ia  habiskan  di  Arab  (Galatia  1:7).  Dia

mengisahkan aspek lain dari pengalamannya di Yerusalem yang tidak di kisahkan oleh Lukas

sebelumnya. Kisah Para Rasul 9 mengatakan bahwa Paulus di suruh pergi dari Yerusalem

oleh  saudara-saudara  seiman  agar  dapat  lolos  dari  suatu  komplotan  yang  hendak

membunuhnya  (9:28-30).  Disini  paulus  menceritakan  bahwa  pada  waktu  itu,  dia

meninggalkan Yerusalem sebagai jawaban terhadap sabda Allah kepadanya. saat  ia selaku

orang Yahudi yang saleh sedang berdoa di Bait  Allah, Allah telah memperingatkan dia di

dalam keadaan diliputi rasa kuasa ilahi bahwa Yerusalem tidak akan menerima kesaksiannya

sehingga ia harus segera meninggalkan Yerusalem. Paulus mengatakan bahwa pengetahuan

orang Yahudi sebelumnya tentang semangat dan kesungguhan dirinya untuk menganyiaya

orang Kristen akan mampu menyakinkan mereka tentang kesungguhan dari pertobatannya.

Tuhan menjawab bahwa dia harus meninggalkan Yerusalem sebab dia akan diutus jauh dari

Yerusalem kepada bangsa-bangsa lain.

Pada ayat 22 dan 23 memberi  gambaran bahwa sebelumnya mereka atau orang-

orang  Yahudi  itu  mendengarkan  Paulus  dengan  baik.  namun   barangkali  sesudah   mereka

mendengarkan  bahwa  Paulus  mengatakan  bahwa  Tuhan  menyuruhnya  pergi  kepada

bangsa-bangsa  lain  maka  orang-orang  Yahudi  itu  menjadi  beringas,  mereka  berteriak

menuntut  kematian  tawanan  itu  (Paulus).  Mereka  melemparkan  jubah  mereka  dan

menghamburkan debu ke udara sebagai tanda kemarahan. Di dalam ayat 24 di beritahukan

bahwa, oleh sebab  situasi yang begitu buruk itu, maka kepala pasukan itu memberi perintah

untuk membawa Paulus ke markas untuk di periksa, dan biasanya untuk para budak akan

dilakukan penyiksaan untuk mendapatkan pengkuan dari orang-orang yang sedang diselidiki.

namun  untuk orang bebas hal itu tidak dapat dilakukan.

Selanjutnya ayat 25 disebut bahwa Paulus ditelentangkan untuk disesah, namun  dia

menolak untuk di  sesah dengan alasan bahwa dia yaitu  warga negara Roma. Seorang

warga negara Roma tidak di perbolehkan di sesah sebelum diadili secara wajar. Kemudian

ayat 26-28 memberi  penjelasan bahwa seorang perwira yang mendengar tuntutan Paulus

itu melaporkannya kepada kepala pasukan dan kemudian kepala pasukan itu datang kepada

Paulus untuk menanyakan bahwa apakah benar dia yaitu  warga negara Roma. Dan kepala

pasukan  itu  ingin  membeli  kewarganegaraan  Paulus  itu.  Cara  membeli  yang  dimaksud

yaitu   bahwa  kepala  pasukan  itu  dapat  mengayiaya  Paulus  dengan  sebebas-bebasnya

kemudian dia mengembalikan uang Paulus jika ia telah membeli kewarganegaraan Roma.

Jadi kepala pasukan itu mengatakan bahwa ia hendak membeli kewarganegaraan Paulus itu

dengan mahal,  hal  ini  barangkali  dia  katakan sebagai  suatu sindiran bagi Paulus.  namun 

Paulus menjawab bahwa dia tidak membeli kewarga negaraan, dia memilikinya sebab  dia

lahir dari orangtua yang sudah warga negara Romawi. Jadi dengan demikian kepala pasukan

itu tidak dapat menyesah Paulus sekalipun dia punya uang. Jadi di ayat 29 dijelaskan bahwa

orang-orang yang mau menyesah Paulus itu akhirnya mundur. Kepala pasukan itupun takut

sebab  telah memperlakukan seorang warga negara Romawi dengan cara yang tidak sah.

Kemudian di ayat 30 diberitahukan bahwa kepala pasukan itu ingin mengetahui apa yang

menjadi  tuntutan  orang-orang  Yahudi  itu  kepada  Paulus,  sehingga  kepala  pasukan  itu

menyuruh mengambil Paulus dari penjara dan menyerahkannya kepada Sanhedrin Yahudi

untuk disidangkan dan memberi  hukuman yang tepat kepadanya.

Pasal 23:1 Paulus mengawali pembelaanya di hadapan Sanhedrin dengan mengaku

bahwa dirinya telah bertindak dengan hati nurani yang murni dihadapan Allah, bukan hanya

di  dalam  melakukan  hal-hal  yang  dituduhkan  kepadanya  namun   juga  sepanjang  seluruh

hidupnya. Selanjutnya ayat 2 memberitahukan bahwa Imam besar pada saat itu bernama

Ananias (sekitar tahun 47-58 M) beberapa literature mengatakan bahwa Ananias ini yaitu 

seorang  yang  serakah  dan  besar  mulut  dan  suka  memaksakan  kehendaknya.  Atas

pembelaan Paulus itu membuat Ananias menjadi marah dan memerintahkan seseorang yang

dekat dengan Paulus untuk menampar mulut Paulus. Selanjutnya ayat 3 Paulus berbicara

dengan berani dan dia juga mempersoalkan tindakan yang tidak wajar yang dilakukan oleh

anggota  Sanhedrin  itu,  dengan  menuduh  mereka  yang  melaksanakan  hukum Taurat  itu

sebenarnya  justru  melanggar  hukum  Taurat.  Tembok  yang  di  kapur  putih-putih  yaitu 

tembok yang luarnya diwarnai putih namun  dalamnya diisi dengan tanah, artinya bermuka dua.

Ananias disebut tembok yang dikapur putih-putih sebab  (1).Meskipun ia yaitu  orang yang

tidak benar dan jahat, namun  memakai kemuliaan kedudukan imam besar yang kudus. (2).Ia

menduduki tempat dimana seharusnya ia menyatakan keadilan menurut hukum Taurat, namun 


ia  memerintahkan  agar  menampar  Paulus  yang  tidak  bersalah  itu.

Paulus menegor Ananias, Imam Besar yang berkuasa dan jahat itu untuk menyenangkan

Allah, bukan sekedar pembelaan diri. Tegoran bagi penguasa yang jahat tidak bisa lahir dari

motivasi  pementingan  diri  sendiri.  Pada  umumnya  pemimpin  menegor  orang-orang  yang

lemah  dan  tidak  berkuasa  dan  berkedudukan  tinggi.  Orang  Kristen  tidak  boleh  bersikap

demikian. Yesus sendiri menyebut Raja Herode si Serigala (Lukas 13:32) dan kepada orang-

orang Farisi yang jahat dan berkuasa ‘celakalah kamu hai ahli-ahli taurat dan ahli-ahli Farisi,

hai  orang-orang  munafik’  (Matius  23:13,15,16,23,25,27,29).  Yohanes  pembaptis  berkata

kepada  orang-orang  Farisi  dan  Saduki,  ‘hai  kamu  keturunan  ular  beludak’  (Matius  3:7).

Selanjutnya pada ayat 4 peserta sidang itu berkata bahwa Paulus mengejek Imam besar.

sesudah  peserta sidang itu menegor Paulus dan disebut bahwa ia sudah menghina Imam

Besar,  maka Paulus menjawab dalam ayat 5,  dengan mengatakan bahwa dia tidak tahu

bahwa Ananias yaitu  Imam Besar. Dalam hal ini bisa saja Paulus menyindir kembali bahwa

Ananias tidak layak sebagai Imam Besar, sebab seorang Imam Besar seharusnya memiliki

hikmat, tidak sembarangan saja untuk memberi  perintah menampar orang lain. namun 

sebagian  penafsir  berpendapat  bahwa  dalam hal  ini  Paulus  sedang  minta  maaf  dengan

alasan bahwa dia tidak tahu bahwa Ananias yaitu  Imam Besar.

Kemudian  di  ayat  6  dikatakan  bahwa sebab   Paulus  mengetahui  bahwa diantara

yang  hadir  itu  (anggota  Sanhedrin)  ada  dari  golongan  Saduki  dan  Farisi,  maka  ia

mempergunakan pertentangan doktrin kedua golongan itu khususnya masalah kebangkitan

orang mati. Hal ini dilakukan oleh Paulus bukan semata-mata sebab  ia ingin di bebaskan jadi

ia membuat alasan yang tidak benar. Sesungguhnya alasan Paulus atau pembelaan Paulus

ini yaitu  pembelaan yang benar, kerena memang ia mempercayai doktrin kebangkitan baik

waktu  sebelum  ia  bertobat  (waktu  masih  dalam  golongan  Farisi)  lebih-lebih  sesudah 

pertobatannya ia sangat mempercayai doktrin kebangkitan. Dia percaya bahwa Yesus telah

bangkit dari antara orang mati dan oleh sebab  itulah dia melayani Tuhan dan oleh sebab 

doktrin kebangkitan itu jugalah dia diadili.

sesudah  Paulus menjelaskan hal itu, ayat 7-10, maka terjadilah perpecahan diantara

kedua  golongan  itu  (Saduki  dan  Farisi)  sebab  orang  Saduki  tidak  mempercayai  adanya

kebangkitan, mereka juga tidak mempercayai adanya malaikat atau roh, sedang  golongan

Farisi mempercayai keduanya. Kemudian golongan Farisi akhirnya membela Paulus dengan

berkata, “Kami sama sekali tidak menemukan sesuatu yang salah pada orang ini! barangkali

ada  roh  atau  malaikat  yang  telah  berbicara  kepadannya.”  sesudah   Paulus  mendapat

pembelaan dari  golongan Farisi  maka sidang itu semakin kacau dan sebab  keributan itu

kepala pasukan Romawi takut para oposisi atau penentang Paulus akan menyerang Paulus,

sehingga  kepala  pasukan  itu  memerintahkan  prajuritnya  untuk  mengambil  Paulus  dan

membawanya  kembali  ke  menara  Antonia. Selanjutnya  ayat  11  memberitahukan  bahwa

menghiburnya dan menguatkan hatinya dan bahkan memberitahukan kepadanya bahwa apa

yang ia inginkan, yaitu ingin pergi ke Roma untuk bersaksi tentang Kristus akan terwujud.

Kemudian ayat  12-15 memberitahukan bahwa orang-orang yang menentang Paulus yang

sangat  keras itu  berusaha untuk menyingkirkan  Paulus dengan cara  yang agak berbeda

dengan yang sebelumnya. mereka mengadakan komplotan atau gerombolan yang menyiksa

diri dalam bentuk mogok makan dan minum sampai Paulus berhasil mereka bunuh. Mereka

merencanakan mengambil Paulus dari perlindungan markas dengan memakai kuasa imam-

imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi dan diperjalanan mereka akan mencegat Paulus

dan para prajurit yang membawanya, lalu sesudah  itu mereka akan membunuhnya sebelum

sampai kepada imam-imam dan tua-tua itu.

Ayat  16-22  memberitahukan  bahwa  tipu  muslihat  orang-orang  Yahudi  yang

merencanakan  membunuh  Paulus,  di  dengar  oleh  kepala  pasukan  melalui  kemenakan

Paulus yang mengetahui hal itu secara natural dan sederhana. Allah tidak selalu memakai

cara yang mengherankan untuk melepaskan umat-Nya dari  persoalan atau kemelut  yang

besar. Sebagai orang percaya atau bukan hanya sebagai saudara kemenakan Paulus telah

melakukan tugasnya dengan baik, sebab  dalam hal ini dia tidak mau melihat bahwa pelayan

Tuhan menjadi korban sebab  suatu tipu muslihat dan oleh sebab  kuasa Allah maka kepala

pasukan itu mempercayai kemenakan Paulus dan akhirnya dia melindungi Paulus dengan

baik.

Ayat  23-30  menjelaskan  tentang  usaha  dari  kepala  pasukan  (Klaudius  Lisius)

menyelamatkan Paulus dari rencana pembunuhan orang-orang yang menentangnya. Allah

bekerja di dalam hati kepala pasukan itu, sehingga ia menyuruh 470 orang prajurit  untuk

mengantarkan Paulus ke Kaisarea menghadap Gubernur Feliks. 



Kemudian ayat 31-35 memberitahukan bahwa prajurit-prajurit  itu membawa Paulus

ke Antipatris  yaitu  sebuah kota  dimana ada   peristirahatan yang di  beri  nama sesuai

dengan  nama  ayah  Raja  Herodes.  Kota  itu  terletak  di  tengah  perjalanan  Yerusalem  ke

Kaisarea. Jauhnya kota itu dari Yerusalem kira-kira 35 mil dan dari kota itu ke Kaisarea kira-

kira  27  mil.  Selanjutnya  sesudah   mereka  beristirahat  maka keesokan  harinya  Paulus  dan

Pasukan berkuda itu melanjutkan perjalanan sedang  yang lainya pulang ke Yerusalem,

sebab   Paulus  sudah  bebas  dari  bahaya  para  pembunuh  atau  orang-orang  yang

menginginkan nyawanya. Kemudian sesudah  tiba di Kaisarea, maka pasukan berkuda yang

membawa Paulus itu menyerahkan surat dari Klaudius Lisius itu kepada gubernur Feliks.

sesudah  itu Feliks membaca surat  itu dan bertanya kepada Paulus dari  propinsi  manakah

asalaya dan Paulus menjawab bahwa dia berasal dari  propinsi  Kilikia.  Mendengar hal  itu

Feliks  berkata  bahwa ia  akan  memeriksa  perkara Paulus  jika  para  pendaknya  telah  tiba

disana. sesudah  itu Paulus di tahan di istana Herodes.

Pasal 24, ayat 1 memberitahukan bahwa lima hari sesudah  Paulus tiba di hadapan

Feliks maka Imam Besar Ananias bersama-sama dengan beberapa orang tua-tua dan satu

orang pengacaranya yang bernama Tertulus (sebuah nama yang umum di kerajaan Roma

pada waktu itu). Maka Tertulus sebagai kuasa hukum dari klienya (Imam Besar) langsung

menyampaikan dakwaanya terhadap Paulus untuk dipertimbangkan. Kemudian ayat 2-4 Dr.

Lukas  mencatat  bahwa  pengacara  (Tertulus)  itu  sebelum  membacakan  dakwaanya  dia

memuji dan menjilat Feliks yang jahat itu sebagai negarawan yang baik. Tertulus mengatakan

bahwa  bangsa  Yahudi  menikmati  kesejahteraan  dimana  dalam  pemerintahannya  dia

menangkap  banyak  penjahat  dan  perampok  dan  kemudian  disalibkan.  namun   itu  yaitu 

kebaikan yang segelintir dibandingkan dengan kejahatannya. Yosephus seorang sejarawan

Yahudi  berkata  bahwa selama pemerintahannya  dia  (Feliks)  selalu  berbuat  jahat  kepada

bangsa  Yahudi,  sehingga  pemberontakan-pemberontakan  bangsa  Yahudi  terus  menerus

terjadi selama ia memerintah.

Selanjutnya  ayat  5-6  memberitahukan  bahwa  Tertulus  menuduh  Paulus  dengan

empat dakwaan, antara lain:

a. Dia di analogikan sebagai penyakit sampar () yang berarti orang yang 

menyebar luaskan penyakit.

b. Dia  yaitu   orang  yang  menimbulkan  kekacauan.  Hal  ini  bukan  hanya  terjadi  bagi

Paulus. Para Nabi dalam Perjanjian Lama juga sering dituntut oleh orang yang tidak mau

berbalik dari dosa-dosanya sebagai orang yang menimbulkan kekacauan. (1 Raja-Raja

18:17)

c. Seorang tokoh dari sekte nasrani. Tertulus mengatakan bahwa Paulus yaitu  tokoh dari

bidat  atau  ajaran sesat,  padahal  Paulus  memberitakan yang benar.  Justru  dianggap

sebagai bidat.

d. Seorang yang mencoba melanggar kekudusan Bait Allah. namun  dakwaan ini juga tidak

sesuai dengan kebenarannya, sebab  ia yaitu  seoran yang beribadah dengan segenap

hatinya.

Ayat  7-9  memberitahukan  bahwa  Tertulus  juga  mempersoalkan  tindakan  Klaudius  Lisius

kepala  pasukan  Romawi  di  Yerusalem.  Dia  memutarbalikkan  fakta  dengan  mengatakan

bahwa Paulus diambil  dari mereka dengan kekerasan dan selanjutnya sepertinya mereka

menyuruh seorang saksi untuk mengatakan bahwa situasinya benar terjadi demikian. Ayat

10-21  yaitu   merupakan  kata-kata  pembelaan  dari  Paulus.  Sebelum  dia  memulai

pembelaanya dia tidak melakukan seperti yang dilakukan oleh Tertulus san pengacara yang

menentangnya. Paulus tidak mencoba untuk menjilat atau membujuk Feliks, namun  dia hanya

memberitahukan tentang hal yang terjadi sebenarnya.

Paulus  menjelaskan  dengan  tulus  bahwa ia  tidak  bersalah  dalam dakwaan yang

pertama  dan  yang  kedua,  yaitu  tentang  kekacauan.  (1).Wali  negeri  Feliks  mengetahui

kebudayaan Yahudi,  sebab  ia telah memerintah bangsa Yahudi selama 6 tahun (ay 10),

sebab  itu ia tahu bahwa perbuatan Paulus tidak mengandung unsure Politik. (2).Kemudian

Paulus mengatakan bahwa dirinya baru 12 hari yang lalu datang ke Yerusalem dari daerah

jadi  tidak  mungkin  bisa  dalam  waktu  yang  singkat  itu  dia  menimbulkan  kekacauan  di

Yerusalem (ay 11-12). (3).Oleh sebab  itu pendakwa-pendakwa itu tidak mempunyai bukti

yang kuat untuk mendakwanya. Paulus membela dirinya bahwa ia sama sekali tidak berbuat

apa-apa  untuk  didakwa  sehubungan  dengan  undang-undang  negara  yang  tidak  terkait

dengan urusan Injil. Pembelaan ini harus disampaikan sebagai pemberita Injil. Pembelaan ini

yaitu  untuk memuliakan Allah.



Kemudian Paulus menjelaskan tentang dakwaan Tertulus yang ketiga, dimana dia

didakwa  sebagai  seorang  tokoh  sekte  atau  bidat.  Paulus  menjelaskan  bahwa  apa  yang

dituduhkan kepadanya yaitu  salah, sebab  sebenarnya dia memberitakan apa yang juga

diyakini oleh nenek moyang mereka. Paulus memberitakan kebangkitan orang mati yang juga

di yakini oleh nenek moyang mereka dan juga kedatangan Mesias yang akan datang. Paulus

sangat menekankan pembelaannya ini, sehingga dia mengatakannya kepada Feliks dengan

berkata,  “Aku  mengakui  kepadamu.”  Dalam ayat  14-15,  Paulus  menyimpulkan  Iman dan

pelayananya yang isinya yaitu  (1) Ia bukan tokoh sekte, namun  berbakti kepada Allah nenek

moyang mereka (Allah yang benar yang dikenal oleh janji-janji yang diberikan kepada nenk

moyang mereka), (2) Ia percaya kepada segala sesuatu yang tertulis dalam Hukum Taurat

dan kitab Nabi-Nabi, (3) Ia percaya bahwa akan ada kebangkitan semua orang yang benar

ataupun orang-orang yang tidak benar.

Selanjutnya ayat  6  Paulus mengatakan bahwa sebab  Imannya itu,  dia  senantisa

berusaha hidup dengan hati nurani yang murni (  ) berarti dia

selalu berubah untuk lebih baik sesuai dengan kehendak Allah dan tidak menyembunyikan

kesalahan  setiap  kali  ia  melakukannya.  Hati  nurani  yang  murni  yaitu   kesadaran  moral

manusia bukan suara Allah, naum itu yaitu  suatu organ yang menyampaikan suara Allah.

Biasanya saat manusia berbuat dosa, organ ini juga menjadi suram dan sulit mendengarkan

atau menyampaikan suara Allah; akan namun  hati nurani yang percaya kepada Firman Allah

tidak memiliki keraguan, sebab  taat (atau berubah) sebab  Firman itu.

Kemudian ayat 17-20, Paulus membela dirinya bahwa ia tidak berbuat salah dalam

dakwaan yang keempat (Melanggar kekudusan Bait Allah, ay 6). Paulus memberi penjelasan

dengan mengatakan bahwa (1) Orang-orang Yahudi yang menggugat (21:27) tidak datang

kehadapan  Feliks  sebab   mereka  tidak  mempunyai  bukti  bahwa  Paulus  bersalah.  (2)

Andaikata  mereka  dapat  menemukan  kesalahan  Paulus  yang  baru  saja  dihadapkan  ke

Mahkamah  Agama  (23:11),  biarlah  mereka  menunjukkan  buktinya  kepada  Feliks.  Ia

menantang dengan berani sebab  ia yakin bahwa dirinya tidak bersalah.

Kemudian ayat 21 Paulus mengatakan bahwa ia diadili, seperti bola yang dilempar

kesana  kemari  hanya  sebab   ia  bersaksi  tentang  kebangkitan  orang-orang  mati,  bukan

sebab  perbuatan dosa atau kesalahan. Ia mengabdikan dirinya untuk memberitakan tentang

kebangkitan  orang  mati  dan  hanya  topik  itu  yang  disampaikan  dalam  pengadilan.

Kebangkitan orang-orang mati yang dia maksudkan mempunyai arti bahwa setiap orang yang

sudah percaya  kepada Yesus Kristus  yang  telah  bangkit,  akan  memperoleh  kebangkitan

yang kekal. Kebangkitan yang berbahagia ini tidak tersedia bagi orang yang tidak percaya

kepada Yesus Kristus. Selanjutnya ayat 22-24 menyampaikan tentang bagaimana sifat Feliks

yang sebenarnya  seperti:  (1).Walaupun dia  tahu  bahwa Paulus  seharusnya  sudah dapat

dibebaskan namun ia menunda waktu sampai Lisias datang. (2).Ia atau Feliks memang agak

simpati kepada Paulus. (3).Ia mencari waktu untuk mendengarkan kebenaran Iman kepada

Yesus Kristus. (4).Ia mengharapkan uang suap dari  Paulus. (5).Ia tetap menahan Paulus

untuk merebut hati orang-orang Yahudi. Sikapnya ini menunjukkan bahwa ia yaitu  pegawai

yang lemah yang tidak berpegang pada kebenaran yang teguh.

Lalu pada ayat 25 dikatakan bahwa Paulus memberitakan Injil kepada Feliks (ay 24)

dan berbicara tentang moralitas yang harus dimiliki  oleh orang-orang percaya (kebenaran

dan  penguasaan  diri).  Kata  ‘Penguasaan  diri’  yaitu   kehidupan  yang  menahan  nafsu.

Menurut  Tacitus seorang sejarawan di  Roma, Feliks  yaitu  seorang berjiwa budak yang

melaksanakan kekuasaannya seperti raja, sesuai dengan sikapnya yang kejam dan cabul.

Jika kita melihat ayat 25 ini, dimana dia pada saat itu masih dalam status hukuman naumun

ia  tetap  memberitakan  Injil.  Itu  terjadi  sebab   memang  dia  tidak  tahan  untuk  tidak

membicarakan atau memberitan Injil. Ia juga berbicara tentang penghakiman dan Firman itu

membuat hati Feliks yang sangat jahat dan kejam itu menjadi takut. Ayat 26 memberitahukan

bahwa  sebenarnya  Feliks  sangat  mengharapkan  Paulus  untuk  memberi   dia  uang

sogokan,  namun   Paulus  tidak  melakukannya.  Ayat  27  memberitahukan  dimana  sampai

akhirnya  Feliks  digantikan  oleh  Perkius  Festus,  namun  demikian  Feliks  tidak  juga

membebaskan  Paulus  yang  tidak  bersalah  itu  hanyanuntuk  mengambil  hati  orang-orang

Yahudi.

Pasal 25. Festus datang ke Yerusalem sebagai pengganti Feliks (25:1), Rancangan

orang-orang Yahudi untuk membunuh Paulus (25:2-3), kemudian tentang bagaimana Festus

menolak permintaan orang-orang Yahudi yang meminta agar Paulus dikirim ke Yerusalem

(25:4-5),  selanjutnya tentang berita pengadilan yang dipimpin oleh Festus (25:6-12),  lebih

lanjut  lagi  Festus memaparkan perkara Paulus kepada Raja Agripa (25:13-22).  Kemudian


Raja  Agripa  mengikuti  persidangan  Paulus  (25:23-27).  Ayat  1-3  menjelaskan  tentang

kedatangan  Festus  ke  Yerusalem sebagai  pengganti  Feliks  dan  orang-orang  terkemuka

beserta para Imam-Imam kepala datang menghadap dia untuk meminta supaya Paulus di

kembalikan ke Yerusalem. Mereka meminta kepada Festus supaya Paulus di kembalikan ke

Yerusalem yaitu  sebab  mereka ingin membunuhnya di tengah jalan.  Rancangan orang

Yahudi ini  kepada Paulus menunjukkan bahwa mereka telah lama meninggalkan Allah.

Mereka ingin membunuh orang yang tidak bersalah dengan cara gelap atau tanpa melalui

prosedur hokum yang jelas. Imam besar pada waktu itu yaitu  Ismael yang diangkat oleh

Agripa.  Orang-orang  yahudi  yang  terkemuka,  yaitu   penatua-penatua.  Anugerah  yang

dimaksud dalam ayat ini yaitu  Kebajikan atau pemberian Festus. Orang-orang Yahudi tidak

dapat  menangkap  Paulus  secara  hukum  sehingga  mereka  ingin  menangkapnya  dengan

kebajikan yang tidak adil dan jahat. ‘Orang-orang Yahudi yang terkemuka’ di mobilisasi, hal

itu  menunjukkan  bahwa  cara  mereka  yang  ingin  membujuk  Festus  sungguh-sungguh

mengandalkan  kekuasaan  manusia  dibandingkan   hukum  yang  adil.  Kemudian  ayat  4-5

memberitahukan bahwa Festus tidak memenuhi  permintaan orang-orang Yahudi,  namun   ia

menganjurkan  agar  mereka  datang  ke  Kaisarea  dan  mengajukan  Dakwaanya.  Meskipun

Festus tidak mengenal Allah namun  ia melindungi Paulus, hal itu terjadi oleh sebab  campur

tangan Allah yang baik. Allah mengatur semuanya ini agar Paulus pergi sampai ke Roma.

Kata  namun   ()  menunjukkan  bahwa  keputusan  Festus  bertentangan  dengan

permintaan orang-orang Yahudi.  Ia menjadi  contoh seorang pegawai  yang melaksanakan

segala sesuatu sesuai hukum dan keadilan dengan kokoh, seakan-akan ia mencela orang-

orang Yahudi tanpa perkataan. Jika orang-orang yang disebut percaya kepada Allah menjadi

busuk, mereka menjadi pengecut yang dipermalukan oleh orang-orang dunia.

Ayat 6-7 menjelaskan bahwa orang-orang Yahudi yang mendakwa Paulus itu tidak

dapat memberi  bukti-bukti bahwa Paulus punya kesalahan yang oleh sebab  itu dia layak

dihukum. Orang yang jahat selalu berusaha untuk menjatuhkan orang yang benar dengan

berbagai  macam cara.  Pada  ayat  ini  juga  diberitahukan  bagaimana Festus  mengadakan

sidang pengadilan yang membuktikan kesetiaannya kepada tugasnya. Tindakan Festus ini

berbeda  dengan  Feliks  yang  malas  dalam  melaksanakan  tugasnya.  Feliks  menunda

tugasnya yang harus dilakukannya (24:22-27) namun  oleh sebab  campur tangan Allah, Festus

mengganti Feliks. Ayat 8 Menunjukkan bahwa Paulus membantah bahwa dia telah bersalah

terhadap hukum Taurat, Bait Allah dan bahkan juga kepada Kaisar. Ayat 9 memberitahukan

bahwa Festus ingin mengambil hati orang-orang Yahudi sehingga ia meminta Paulus supaya

ia  di  adili  di  Yerusalem.  Festus  yaitu   wali  negri  yang  baru,  oleh  sebab   itu  dia  belum

berpengalaman dengan masalah yang seperti  ini  dan disamping itu  dia  juga masih  ingin

mencari popularitas dan dukungan dari orang-orang Yahudi. Dengan demikian maka Festus

meminta kepada Paulus supaya perkaranya disidangkan di Yerusalem.

Kemudian  pada ayat  10-12  Paulus  memberi   reaksinya  bahwa ia  sangat  tidak

setuju dengan permintaan Festus itu. Rencana persidangan di Yerusalem sangat tidak masuk

di akal bagi Paulus. Di Yerusalem Paulus harus diselamatkan dari rencana pembunuhan atas

dirinya, dan rasanya sangat bodoh untuk kembali kesana lagi. Sekalipun Paulus tidak dapat

dibuktikan  bersalah.  Festus  nampaknya  bersedia  berunding  dengan  orang-orang  Yahudi

dengan  mengorbankan  Paulus,  dan  Paulus  tentu  saja  mengkwatirkan  akibat  dari  sikap

semacam itu.  Tinggal satu tindakan untuk mengelak bahaya ini  yang masih terbuka bagi

Paulus sebagai warga negara Roma yaitu meminta pertimbangan Kaisar. Dia yakin bahwa di

Roma ia akan diadili  dengan baik.  Selanjutnya jika kita melihat  ayat  11 maka akan jelas

bahwa ayat itu akan menunjukkan bahaya kematian di tangan orang Yahudi sesungguhnya

menantikan Paulus di Yerusalem. Rasul itu mengemukakan bahwa ia akan rela menjalani

hukuman mati apabila memang terbukti bahwa dirinya bersalah. namun  hukuman mati harus

dijatuhkan oleh pemerintah Roma, dan bukan oleh orang Yahudi.  sebab  itu Paulus naik

banding  kepada Kaisar.  Kemudian  ayat  12  memberitahukan bahwa peserta  sidang  yang

dipimpin oleh Festus (bukan Sanhedrin) mengijinkan Paulus naik banding kepada Kaisar.

Ayat 13 menunjukkan bahwa saat  Paulus menunggu saat yang baik bagi Feliks

untuk memberangkatkannya kepada Kaisar, datanglah tamu Agung yang berkunjung ke kota

itu. Tamu Agung itu yaitu  Raja Agripa II. Dia yaitu  cucu dari Herodes Agung dan anak dari

Herodes  Agripa  I  yang  telah  membunuh  Yakobus  (anak  Zebedeus)  dan  tamu  yang  lain

yaitu  Bernike, yaitu adik dari Agripa II sendiri. Menurut Morgan (seorang penafsir Alkitab)

bahwa Agripa II pada saat itu hidup secara asusila bersama adiknya sendiri (Bernike). Pada

waktu itu Bernike hidup dengan kakaknya sendiri sebagai suami isteri dan selain itu juga ia



juga sering hidup secara asusila. Morgan juga mengatakan bahwa pada waktu Bernike masih

kecil ia pernah menikah dengan pangeran Galkis pamanya sendiri. 

Selanjutnya  pada  ayat  15-23  Festus  berkata  kepada  Agripa  dan  Bernike  yang

sepertinya  membela  Paulus,  namum  sebenarnya  perkataannya  itu  berdasar   sistem

hukum Romawi. Dalam ayat ini kita melihat bahwa apa yang dikatakan oleh Festus ini yaitu 

bahwa ia menunjukkan kelemahan orang-orang Yahudi yang ingin mendapatkan hadiah atau

mendapatkan  Paulus  dengan  tanpa  melalui  persidangan  yang  benar.  

Dalam gambaran yang diberikan Festus kepada Agripa dan Bernike memang ia (Festus)

tidak memutarbalikkan kebenaran.  Dari  segala-galanya memang jelas bahwa orang-orang

Yahudi tidak saja ingin memeriksa Paulus, namun  mereka ingin membunuhnya. Pada zaman

itu  Hukum Romawi  tidak  membenarkan  suatu  penghukuman  tanpa  adanya  pemeriksaan

yang baik. Oleh sebab  Festus juga meminta pertimbangan dari Agripa maka Agripa meminta

supaya dia sendiri (Agripa) langsung mendengar sendiri persoalannya dari Paulus.

Pada ayat  24-27 menunjukkan bahwa Festus mengucapkan kata-kata pembukaan

yang  singkat  untuk  memperkenalkan  Paulus  kepada  para  hadirin.  Bangsa  Yahudi  telah

menuntut  hukuman  bagi  Paulus.  namun   apa  yang  belum  dikatakan  dahulu  oleh  Festus,

dikatakannya sekarang yaitu bahwa orang ini tidak patut menerima hukuman mati. Sekarang

orang  ini  (Paulus)  naik  banding  kepada  Kaisar.  Dalam  hal  ini  Festus  berada  dalam

kesukaran,  yaitu  dengan  cara  bagaimana  ia  menulis  surat  pengantarnya  kepada  Kaisar.

Yang sangat menarik perhatian kita disini yaitu  bahwa semenjak perkara Paulus berjalan

senantiasa  dikatakan  bahwa  tidak  ditemukan  kesalahan  apapun  padanya  (21:34;  23:30;

24:22; 25:7,18,27; 26:31,32). Dengan terus terang Festus mengatakan keinginannya bahwa

pemeriksaan sekarang ini  akan memberi  bahan-bahan bagi laporannya.  Terlebih-lebih

sebab  Agripa pasti dapat dianggap sebagai seorang ahli di bidang ini, maka Festus telah

mencurahkan segala pengharapannya kepadannya.

Selanjutnya  kita  masuk  fasal  26,  fasal  ini  masih  dalam  konteks  dimana  Paulus

dihadapkan kepada Agripa.  Pada ayat  1 dikatakan bahwa sang Raja Agripa memberi 

kesempatan kepada Paulus untuk membela diri. Maka sang rasul memberi isyarat dengan

tangannya sebagai tanda menghormati raja itu. Lalu sesudah  itu dia mulai berbicara untuk

mengutarakan pembelaanya. Kemudian dalam ayat 2-5 Paulus mengungkapkan rasa terima

kasihnya  sebab   diberi  kesempatan  menyajikan  pembelaanya  di  hadapan  Raja  Agripa,

sebab  Raj Agripa sangat mengenal kebiasaan dan masalah orang-orang Yahudi. Memang

Agripa menerima takhtanya dari Roma namun   ia juga memahami orang-orang Yahudi dan

tergolong sebagai Raja yang sering membantu setiap persoalan orang-orang Yahudi. Oleh

sebab  itu Paulus percaya bahwa ia (Agripa) dapat memahami atau mengetahui tentang apa

yang terjadi padanya sesudah  ia menjelaskan hal ini  kepadanya (Agripa). Selanjutnya

Paulus  menyampaikan  pembelaanya,  dimana  ia  berusaha  menyakinkan  Agripa  bahwa

pemberitaannya  hanyalah  merupakan  penggenapan  Iman  Yahudi  yang  telah  diwariskan

kepadanya. Sang Rasul mengisahkan pendidikanya, pertama-tama ditengah bangsanya, di

Tarsus Kilikia dan baru kemudian di Yerusalem. Lalu sesudah  itu Paulus mengatakan bahwa

semua orang Yahudi mengenal bahwa ia yaitu  seorang dari Mazhab Farisi  yang sering

dianggap sebagai mazhab garis keras dalam agama Yahudi.

Kemudian  pada  ayat  6-8  Paulus  menjelaskan  bahwa  ia  menghadap  pengadilan

sebab  mengharapkan kegenapan janji. Dan bagi orang Farisi salah satu janji yang sangat

penting yaitu  terkait  dalam harapan akan adanya kebangkitan. Sekarang Paulus dibawa

kepada pengadilan justru sebab  mengaharapkan kegenapan janji yang sudah diyakini oleh

nenek moyang mereka secara turun temurun itu.  Menurut Paulus bagi setiap orang yang

memahami  janji  Allah  yang  telah  dianugerahkan  kepada  para  nenek  moyang,  maka

seharusnya akan mempercayai bahwa Allah sanggup membangkitkan orang mati.

Selanjutnya ayat 9-11 Paulus menjelaskan bahwa dahulu ia sebagai orang Yahudi ia

termasuk golongan yang menolak Yesus sebagai Mesias. namun  ia memiliki pandangan yang

demikian bukan sebab  hanya sekedar ikut-ikutan namun   sudah dia  pikirkan dengan baik.

Keputusan itu yaitu  keyakinannya sendiri. Untuk menjelaskan hal itu Paulus menceritakan

sikap hidupnya sebagai orang Farisi. Bersamaan dengan itu Paulus mengakui dosa-dosanya,

sebab  tindakan-tindakannya  itu  melawan  anak-anak  Allah.  Dalam  kerja  sama  yang  erat

dengan Sanhedrin,  ia  menghambat  orang-orang yang menghambat  nama Yesus sebagai

Mesias.  Pada  waktu  itu  rupanya  Sanhedrin  sangat  memperhitungkan  pribadi  Paulus.

Kepadanya  dipercayakan  perintah-perintah,  suaranya  juga  yaitu   suara-suara  yang

menentukan. Juga dalam rumah-rumah ibadah dia sangat menyulitkan orang yang percaya

kepada Kristus Yesus. juga keluar Palestina Paulus pergi  dan mengunjungi rumah-rumah


ibadah  dengan  maksud  untuk  membinasakan  orang-orang  ayng  percaya  kepada  Yesus

Kristus.

Ayat 12-15 ini yaitu  satu-satunya dari tiga kisah pertobatan Paulus yang berisi kata-

kata  sukar bagimu menendang ke galah ransang.  Kata sukar disini  artinya ‘menyakitkan’

sedang  galah ransang yaitu  sebuah tongkat yang bias any dibuat sebagai pelecut atau

pemukul hewan-hewan penarik beban. Kalimat ini merupakan sebuah kiasan yang dijumpai

di dalam bahasa Yunani dan bahasa Latin, namun  saat  itu tidak dikenal di dalam bahasa

Ibrani  atau  Aram.  Mungkin  ungkapan  ini  menunjukkan  bahwa  nurani  Paulus  tidak

sepenuhnya sejahtera saat  menganyiaya orang-orang Kristen. Kita jangan berpikir bahwa

pada saat itu Paulus sudah menyadari dosanya. Sebab di bagian yang lain dia menceritakan

bahwa dia  menganyiaya  gereja  tanpa pengetahuan (1Timotius 1:13).  Sekalipun demikian

jauh di  dalam pikiranya ada   semacam keyakinan bahwa mungkin  saja  Stefanus dan

orang Kristen lainya itulah yang benar; dan sekarang Tuhan menunjukkan kapadanya bahwa

tekanan ini  mereupakan tekanan yang datang dari Tuhan. 

Ayat 16-18 Paulus mengatakan kepada Agripa bahwa dirinya telah dipanggil  oleh

Tuhan. Pengalaman itu menyakinkan dirinya bahwa Yesus yang di anyiayanya selama ini,

hidup,  dan telah mengutus dia  kepada bangsa ini  yaitu  bangsa Israel  dan juga bangsa-

bangsa  lain.  Paulus  membuka  persoalan  inti  kepada Raja  Agripa.  Pemberitaanya  bukan

hanya kepada orang Israel namun   juga kepada orang yang bukan Israel;  semuanya harus

dicerahkan, yaitu berbalik dari kegelapan kepada terang dan dari kuasa Iblis kepada Allah.

Dengan demikian mereka akan memperoleh engampunan dosa dan mendapat bagian dalam

apa yang ditentukan untuk orang-orang yang dikuduskan oleh iman kepada Kristus.  Ayat

yang merupakan rangkuman dari pemberitaan Paulus. 

Kemudian ayat 19-21 merupakan rangkuman sederhana tentang semua pengalaman

pemberitaan Injil  rasul  Paulus.  Paulus pertama-tama memberitakan tentang pertobatan di

Damsyik,  kemudian di  Yerusalem lalu diseluruh wilayah Yudea dan juga kepada bangsa-

bangsa bukan Yahudi, sebagaimana ditugaskan kepadanya. Selanjutnya Paulus mengatakan

bahwa sebab  ketaatan untuk tugas itulah orang-orang Yahudi menangkapnya di Bait Allah

dan mencoba membunuhnya. Mungkin Festus tidak mengerti akan hal ini namun  jika benar

bahwa Agripa yaitu  orang yang memahami Yudaisme maka dia akan mengetahui mengapa

orang-orang Yahudi itu mau membunuh Paulus, yaitu sebab  mereka tidak mau orang yang

bukan Yahudi  sejajar  dengan mereka  sebagai  orang  yang mendapat  keselamatan  (umat

pilihan).  Kemudian  ayat  22-23,  Paulus  mengakhiri  pembelaannya  dengan  menandaskan

bahwa pemberitaan yang disampaikannya tidak lebih dibandingkan  apa yang telah dinubuatkan

oleh Musa dan para Nabi,  yaitu  bahwa Mesias harus menderita  sengsara dan bahwa Ia

yaitu  yang pertama yang bangkit dari antara orang mati dan bahwa Ia memberi  terang

kepada orang Yahudi  dan non Yahudi.  inilah alas an yang membuat Paulus sebelumnya

demikian menekankan kebangkitan. Harapan orang Yahudi sejak dahulu tentang kebangkitan

sekarang  telah  memperoleh  makna  yang  baru  sebab   kebangkitan  Kristus.  Kebangkitan

Mesias bukanlah kebangkitan yang berdiri sendiri, namun  merupakan awal dari kebangkitan itu

sendiri.  Kristus  yaitu   “Yang  sulung  dari  orang-orang  yang  telah  meninggal”  (1Korintus

15:20). “Yang pertama bangkit dari antara orang mati” (Kolose 1:18). Selanjutnya pada ayat

24 Festus berkata dengan suara keras dengan nada yang amat kesal bahwa Paulus sudah

gila sebab  gagasan-gasan atau ilmunya yang sangat tidak masuk akal bagi seorang Romawi

seperti  Festus.  Jadi  sebab  gagasan-gagasan Paulus ini   tidak masuk diakal  Festus

maka dia menganggap bahwa Paulus bukanlah orang yang waras lagi. namun  selanjutnya

pada ayat 25-27, Paulus menjawab bahwa dirinya tidak gila dan dia mengatakan kebenaran

dengan  pikiran  yang  sehat.  Paulus  kemudian  mengajak  Agripa  untuk  membela

kewarasannya  dan  kebenaran  yang  baru  saja  dikemukakan  olehnya.  Dia  mengingatkan

Agripa  bahwa  kebangkitan  Kristus  bukan  merupakan  peristiwa  yang  belum  didengarnya

sebab tidak terjadi di tempat ang terpencil dimana tidak ada orang yang dapat melihatnya.

Setiap  orang  membandingkan  amanat  ini   dengan  amanat  para  nabi,  pasti

berkesimpulan bahwa pandangan Paulus ini  yaitu  benar; sebab  itu Paulus langsung

mengajukan  pertayaan  ini   kepada  raja,  “Percayakah  engkau  …kepada  para  nabi?”

namun   kemudian  Paulus  memberi   jawaban sendiri  dengan mengatakan  bahwa Paulus

tahu  bahwa Agripa  percaya  kepada mereka.  Pertanyaaan ini  menempatkan  Agripa  pada

posisi  yang sulit.  Selaku wakil  pemerintah Roma dan rekan sejawat Festus, ia tidak ingin

dianggap gila sebab  menyetujui pendapat Paulus. Sehingga tidaklah menguntungkan bagi

dia untuk mempercayai apa yang dikatakan Paulus dan mengakui bahwa dirinya percaya

kepada para nabi. Disisi lain jika ia berkata bahwa ia tidak percaya kepada para nabi maka itu


akan  merusak  hubungannya  dengan  orang-orang  Yahudi.  sebab   itu  Agripa  berusaha

mengelak dengan berkata, “hampir saja kau yakinkan aku menjadi orang Kristen.” Kemudian

ayat 29 Paulus menanggapi  apa yang dikatakan oleh Aripa itu dengan sangat serius dia

berkata bahwa dia berdoa supaya Agripa dan bahkan semua yang mendengarnya pada saat

itu menjadi sama seperti dirinya yang percaya kepada Kristus Yesus, kecuali hukuman yang

dia tanggung. 

Ayat 30-32 memberitahukan bahwa saat  Paulus mengakhiri pembelaanya, Festus,

Agripa  dan  Bernike  mengundurkan  diri  bersama  dengan  para  penasihat  mereka  untuk

merundingkan masalah ini lebih lanjut. Jelas bahwa Paulus tidak melanggar peraturan sama

sekali, sehingga tidak dapat dijatuhi hukuman mati ataupun hukuman penjara baginya. Agripa

berkata bahwa seharusnya dia  sudah bisa bebas namun   sebab  ia meminta naik  banding

maka ia harus menuruti jalur hukum dengan baik.

b. Injil di terima di Roma (27:1-28:31)

Pada  bagian  ini  Lukas  menceritakan  Perjalanan  Paulus  dari  Palestina  ke  Italia  dan

penerimaan  dirinya  di  Roma.  Lukas  menceritakan  kisah  perjalanan  itu  sangat  rinci

menunjukkan  bahwa  peristiwa  ini  sangat  penting  bagi  tujuan  penulisannya.  Motif  dari

perjalanan  ini  menurut  susunan  penulisan  Lukas  bukanlah  untuk  menceritakan  tentang

permulaan  dari  pemberitaan  Injil  di  Roma,  namun   lebih  menunjukkan  penolakan  Injil  oleh

orang Yahudi di Roma dan penerimaannya oleh orang non Yahudi. kenyataan ini membawa

salah satu motif pokok dari keseluruhan kitab ini kepada puncaknya – yakni penolakan atas

Israel dan munculnya gereja bukan Yahudi.

Kisah Para Rasul 27:1-5 memberithukan bahwa perjalanan Paulus ini diawali dengan

kata Kami,  itu berarti  bahwa Lukas dan Aristarkus mendampingi Paulus untuk menuju ke

Roma dan  dalam bagian  lain  Alkitab  seperti  dalam Kolose  4:10;  Filipi  1:24  mengatakan

bahwa Lukas melayani  Paulus selama di  penjara Roma. Pasukan Kaisar  yang dimaksud

dalam ayat ini yaitu  perwira polisi yang ditugaskan untuk membawa tahanan-tahanan ke

Roma. ‘Adramitium’ yaitu  nama pelabuhan di Asia kecil yang menjadi nama kapal. Perwira

Yulius juga ramah kepada Paulus sejak permulaan perjalanan hingga sampai  pada akhir

perjalananya.  Pada  ayat  6  dikatakan  bahwa  di  Mira  mereka  berganti  kapal,  mereka

meninggalkan  kapal  yang  sebelumnya  mereka  tumpangi  dan  menaiki  kapal  pengangkut

gandum yang berlayar dari Aleksandria menuju Italia. Pada saat itu Mesir merupakan sumber

utama persediaan gandum bagi Roma, dan pengankutan gandum di antara Aleksandria dan

Roma merupakan bisnis penting yang langsung ditangani oleh negara.

Ayat  7  mengisahkan  selanjutnya  perjalanan  dari  Mira  ke  wilayah  yang  tekanan

anginnya keras dan yang membuat perjalanan agak sulit. Dengan usaha yang keras mereka

melewati kesulitan itu hingga mereka sampai di Kinidus, yaitu sebuah tanjung yang terletak di

daerah barat daya Asia kecil.  Dari  sana mereka harus memilih diantara menunggu angin

yang lebih baik dan baru berlayar ke Barat atau Keselatan langsung menju Kreta. sebab 

angin sepertinya tiak bersahabat maka mereka memilih alternatif yang kedua dan berlayar ke

selatan  melalui  Salmone  yang  terletak  pada  ujung  timur  Kreta  dan  kemudian  berlayar

sepanjang pantai menuju ke Barat. Ayat 8 memberitahukan bahwa sesudah  mereka berlayar

sepanjang  pantai  dengan  susah  payah,  maka  mereka  tiba  di  sebuah  pelabuhan  yang

dinamakan pelabuhan Indah ditengah-tengah pulau itu.

Ayat 9 menjelaskan bahwa tantangan untuk melanjutkan perjalanan akan lebih besar,

sebab   mulai  pertengahan bulan  sepetember  sampai  November  yaitu   masa berbahaya

untuk pelayaran di laut tengah. Waktu puasa ada dalam masa ini (Imamat 23:26-32). Maka

oleh  sebab   itu  Paulus  memperingatkan  mereka  seperti  pada  ayat  10-13,  untuk  tidak

berlayar, namun  perwira itu tidak mau mendengarkannya, sehingga mereka terus melanjutkan

pelayaran. 

Ternyata  tidak  seberapa  lama  lagi  angin  berubah  menjadi  angin  yang  sangat

kencang, seperti yang dikatakan dalam ayat 14 bahwa angin tiba-tiba berubah menjadi angin

badai yang bertiup dari  Timur Laut.  Ayat  15 saat  itu mereka sudah tidak jauh lagi  dari

Feniks tujuan pelayaran mereka. namun  sebab  kapal itu tidak tahan kepada angin haluan,

mereka akhirnya menyerah saja dan membiarkan kapal terobang ambing. Kemudian ayat 16,

dimana sesudah  mereka tiba di pulau kecil Kauda mereka merasa perlu untuk mengangkat

skoci yang terikap pada kapal itu. saat  itu skoci ini  sudah demikian penuh berisi air

sehingga hanya dapat dinaikkan ke atas kapal dengan susah payah. Selanjutnya ayat 17

mereka mengusahakan untuk meliliti  kapal itu dengan tali. Mungkin supaya kapal itu tidak

pecah jika dipakai kembali. Kapal itu kini terapung-apung dibawa arus ke barat daya menuju



Kirene.  Dilepas  di  Afrika  Utara  ada   sebuah daerah beting berbahaya yang bernama

Sirtis, sebab  takut terseret kesana maka para pelaut itu menurunkan layar. Dan sekarang

mereka berlayar dengan memkai dorongan angin. Pada keesokan harinya (ayat 18) badai

belum mereda sehingga mereka perlu  membuang muatan kapal.  Sampai  pada keesokan

harinya juga (ayat 19) badai juga belum reda maka peralatan kapal juga sebagian harus

dibuang untuk mengurangi beban. Selanjutnya ayat 20, sebab  para pelaut hanya bergantung

pada matahari dan bintang untuk navigasi, akhirnya harapan untuk tertolong sudah tidak ada

lagi. Sebab mereka tidak tahu dimana mereka berada dan sedang kemana mereka diseret

oleh badai itu.

Kemudian pada ayat 21-22 Lukas menuliskan bahwa sesudah  beberapa hari lamanya

mereka dalam keadaan yang sangat sulit itu maka mereka tidak dapat lagi berpikir dengan

jernih, sehingga mereka tidak mau makan. namun  dalam keadaan seperti itulah maka Paulus

berdiri untuk menasehati mereka, supaya mereka bertabah hati. Paulus juga menghiburkan

hati  semua orang yang ada dalam kapal  itu dengan berkata bahwa tak satupun diantara

mereka yang akan mati ditelan oleh ombak atau badai itu. namun  kalau kapal yang mereka

tumpangi Paulus berkata bahwa itu akan hancur. Ayat 23-24 yaitu  berisi tentang apa yang

menjadi alas an Paulus mengatakan bahwa mereka tidak akan binasa oleh badai itu. Paulus

berkata  bahwa Malaikat  Allah  telah  datang  menguatkan  hatinya  dan  mengatakan  bahwa

mereka tidak akan ada yang binasa. Ayat ini juga menunjukkan bahwa Allah berkehendak

agar Paulus menghadap Kaisar, oleh sebab  itu nyawa Paulus di jamin oleh Allah ditengah-

badai apapun Tuhan akan menolongnya. Kemudian Paulus kembali menegaskan (ayat 25-

26) supaya mereka tabah sebab  dia percaya pada apa yang dikatakan oleh Allah, namun 

mereka harus mendamparkan kapal itu di suatu pulau.

Pada ayat 27-29 dijelaskan bahwa pada malam yang keempat belas mereka masih

terombang ambing di Laut Adria. namun  anak-anak kapal merasa bahwa mereka sudah dekat

dengan daratan sehingga mereka membuang empt sauh di buritan sebab  takut kapal itu aan

terkandas di  salah satu  batu  karang.  Laut  Adria  yang dimaksud disini  yaitu   Laut  yang

terletak antara Pulau Malta dan Italia dan diantara Yunani dan Kreta. Kemudian ayat 30-32

menjelaskan  bahwa  sejumlah  anak-anak  kapal  berusaha  untuk  melarikan  diri,  mereka

seolah-olah hendak membuang sauh di  haluan kapal  itu.  Pada hakekatnya mereka ingin

berkayuh terus  hingga  ke  daratan.  dengan sebuah sekoci  tentulah  batu  karang  itu  tidak

seberapa membahayakan. Kemudian Paulus berbicara demikian positif tentang akibat-akibat

dari  usaha menyelamatkan diri  sendiri.  Hal  ini  Paulus ketahui  bukanlah sebab  dia  suah

menglihat suatu penglihatan dari Tuhan, namun  murni sebab  keyakinannya akan janji Tuhan

bahwa  Tuhan  akan  menyelamatkan  mereka  dari  bahaya  itu  dan  oleh  sebab   itu  Paulus

hendak mengingatkan orang-orang disitu supaya mereka tidak egoistis dan membuat jalan

sendiri yang tidak mengikuti kemauan Tuhan. Dan akhirnya Paulus berbicara kepada kepala

pasukan  dan  sehingga  mereka  memotong  tali-tali  sekoci  supaya  tidak  ada  yang  dapat

melarikan diri. Ayat 33-36 menjelaskan bahwa sesudah  malam berlalu dan menjelang siang

Paulus  kembali  berbicara  kepada  anak-anak  kapal,  dimana  mereka  masih  harus

mengorbankan banyak tenaga. Sudah berhari-hari lamanya mereka tidak makan, oleh sebab 

itu  Paulus  menasehati  mereka  agar  makan  sebab  mereka  masih  harus  mengeluarkan

segenap kekuatan mereka. Pada saat ini Paulus sekali lagi mengingatkan mereka bahwa tak

satupun diantara mereka yang akan binasa. Kemudian tampaknya mereka mengikuti  apa

yang dikatakan oleh Paulus dan Paulus memimpin doa syukur dan kemudian mereka makan.

Kemudian ayat 37 Lukas memberitahukan berapa jumlah orang yang ada di dalam

kapal itu, yaitu dua ratus tujuh puluh enam jiwa banyaknya. Ayat 38 menjelaskan bahwa

sesudah  mereka kenyang mereka membuang gandum ke laut untuk meringankan kepal itu.

Sebab jika kapal itu semakin ringan maka kemungkinan untuk selamat semakin besar. Pada

Ayat 39 Lukas memberitahukan bahwa saat  hari mulai siang, mereka melihat suatu teluk

yang rata pantainya. Sekarang teluk itu bernama teluk St. Paulus. Namun pada waktu itu

mereka tidak tahu nama teluk itu, dan sesudah  mereka berunding mereka memutuskan untuk

mendamparkan kapal itu disana.

Kemudian pada ayat 40 kita melihat ada tiga tindakan yang mereka lakukan untuk

berusaha mencapai daratan itu.  Yang pertama, mereka memotong tali  sauh, yang kedua

mereka mengulurkan tali-tali kemudi sehingga mereka dapat mengemudikan kapal itu, dan

yang ketiga mereka menikkan layar kecil di tiang depan; dengan demikian kapal itu mendapat

angin yang cukup untu bisa memasuki teluk itu. Lalu pada ayat 41 ternyata rencana yang

bagus  itu  gagal  sebab   kapal  itu  melanggar  busung  pasir  sehingga  haluanya  sekaligus


terpancang dan tidak dapat bergerak lagi. Dan datanglah badai yang menerpa buritan kapal

sehingga membuat buritan kapal itu menjadi hancur dan tidak tertolong lagi.

Selanjutnya pada ayat 42-44 Lukas menuliskan tentang kepanikan orang-orang yang

ada dalam kapal  yang sudah hancur  itu.  Para  Prajurit  mengetahui  bahwa mereka harus

menjamin para tahanan itu dengan nyawa mereka sendiri. namun  pada saat yang demikian ini

para tahanan itu sangat mudah untuk melarikan diri, oleh sebab  itu tampa berpikir panjang

maka para prajurit itu hendak membunuh semua para tahanan itu. namun  kepala pasukan itu

atau  Yulius  menggagalkan  maksud  para  Prajurit  itu  demi  kepentingan  Paulus.  Yulius

menyuruh  semua  orang  yang  pintar  berenang  untuk  lebih  dahulu  berenang  menuju

kedaratan. Kemudian yang lainya menyusul dengan memakai  pecahan-pecahan kapal

dan papan-papan sampai akhirnya semuanya mereka sampai kedaratan.

Pasal  28:1 berbicara  dimana  sesudah   rombongan  Paulus  tiba  di  darat  mereka

menemukan bahwa pulau itu yaitu  pulau Malta yang terletak sekitar seratus mil di sebelah

selatan Sisilia. Malta yaitu  Istilah Kanaan yang berarti tempat perlindungan, yang ditinggali

oleh masyarakat  keturunan Fenesia.   Dalam ayat 2 Lukas mengatakan bahwa penduduk

pulau itu (). Kata barbaroi tidak berkonotasi bahwa Lukas merendahkan mereka,

namun  menjelaskan bahwa bahasa mereka sulit dimengerti. Keramahan mereka membuktikan

bahwa mereka yaitu  suku yang tergolong baik. Selanjutnya pada ayat 3 Lukas menulis

tantang tangan Paulus yang digigit oleh ular beludak. Ada beberapa teolog yang meragukan

ayat  ini  sebab   sekarang di  pulau Malta  tidak  ada  ular  beludak;  namun   pada tahun 1835

seorang ilmuan yang bernama Lewing menyaksikan bahwa ia melihat ada ular beludak di

pulau itu. Waktu orang-orang disana melihat bahwa Paulus digigit ular beracun maka mereka

segera bereaksi, sehingga pada ayat 4-6 mereka menduga bahwa Paulus yaitu  seorang

pembunuh yang harus mati. Mereka berpikir bahwa karam kapal yaitu  hukuman baginya

dan itupun tidak cukup sehingga dewi keadilan seperti  yang mereka yakini  akhirnya ingin

membunuh Paulus. Akan namun  sesudah  Paulus mengibaskan ular itu kedalam api dan Paulus

sama sekali tidak sakit, sementara orang-orang disitu menanti-nanti apa yang akan terjadi

kepada Paulus,  dan sampai  lama akhirnya mereka melihat  bahwa Paulus tidak apa-apa,

sehingga mereka menyangka bahwa Paulus yaitu  dewa, sebab  dia tidak tersentuh oleh

nasib manusia biasa. sebab jika dia yaitu  manusia biasa maka dia akan mati sebab  ular itu

yaitu  ular yang sangat beracun. Kemudian ayat 7-10 Lukas menjelaskan bahwa sesudah  itu

Paulus menginap di rumah Gubernur Publius yang menyambutnya dengan sukarela dan ia

menyembuhkan orang-orang sakit  menurut Firman Tuhan (Lukas 10:8-9). “saat  itu ayah

Publius terbaring sebab  sakit demam dan disentri. Biasanya dimanapun Paulus tinggal dia

akan selalu memberitakan Injil, maka sangat mungkin bahwa adanya jemaat Kristen di Malta

yaitu  hasil pelayanan Paulus sewaktu mereka singgah disana, yang dalam nats ini tidak

terlalu dijelaskan oleh Lukas, sebab  Lukas sepertinya menitik beratkan penulisannya tentang

bagaimana Tuhan menolong dan mencukupkan apa yang mereka butuhkan untuk sampai ke

Roma.

Selanjutnya ayat 11-16 Lukas menuliskan bahwa sesudah  tiga bulan lamanya mereka

tinggal di Malta maka mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka. Dalam penulisannya,

Lukas  sangat  teliti  sekali,  sehingga  sampai  lambang  kapal  yang  mereka  tumpangi  juga

disebutkan disini. Lambang kapal ini  yaitu  Dioskuri, lambang ini melukiskan Kastor

dan Poluk yaitu saudara kembar yang menurut Mythologi Yunani lahir dari Zeus dan Leda

dan sesudah keduanya mati diangkat ke langit sebagai bintang dan kemudian dipuja oleh

para pelaut sebagai dewa pelindung kapal mereka. sesudah  mereka sampai di Putioli Lukas

mencatat  bahwa  mereka  bertemu  dengan  orang-orang  yang  sudah  percaya  disana  dan

mereka tinggal disana selama tujuh hari. Paulus mengucap syukur atas pertemuan itu dan

Lukas  mengatakan  bahwa  hati  Paulus  terhibur  dan  hatinya  semakin  dikuatkan.  Akhirnya

sesudah   tujuh  hari  mereka  meninggalkan  tempat  itu  dan  kembali  melanjutkan  perjalanan

mereka menuju ke Roma dan sesampainya disana Paulus tidak ditahan seperti narapidana

lainnya.  Paulus tinggal  di  sebuah rumah yang disewanya sendiri.  Hal  itu  mungkin  terjadi

sebab  pertolongan Yulius kepala perwira yang membawanya ke situ.

Kemudian ayat  17-20 Lukas mencatat  bahwa sesudah  tiga hari  mereka sampai  di

Roma,  Paulus  memanggil  orang-orang  Yahudi  yang  terkemuka  di  kota  itu  dan  dia

menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya kepada mereka. Dia mengatakan bahwa dia

tidak  menolak  satupun  dari  hukum  Yahudi  dan  sebagai  orang  yang  tidak  bersalah,  ia

diserahkan selaku tahanan kepada pemerintah Roma. Sekalipun sebenarnya orang-orang

Romawi ingin membebaskanya, namun orang-orang Yahudi mengajukan keberatan terhadap

keputusan itu, sehingga Paulus beranggapan bahwa satu-satunya cara untuk lolos yaitu 


dengan meminta naik banding kepada Kaisar.  Sekalipun demikian Paulus tidak membuat

tuduhan apapun kepada orang-orang Yahudi, sehubungan perlakuan mereka terhadapnya.

Dia  menjadi  tahanan  hanya  sebab   pengharapan  Israel,  dengan  itu  Paulus  hendak

mengatakan  bahwa  iman  Kristen  yang  dianutnya  merupakan  penggenapan  sejati  dari

pengharapan umat Allah.

Ayat  21-22 menjelaskan bahwa Pemimpin-peminpin  Yahudi  di  Roma mengatakan

bahwa mereka tidak menerima surat atau utusan dari Yerusalem dengan tuduhan apapun

terhadap Paulus.  Selanjutnya  secara  tidak  langsung mereka  mengatakan  bahwa mereka

tidak tahu apa-apa tentang sekte yang dianut oleh Paulus selain mendengar bahwa sekte itu

dimana-mana mendapat kecaman yang keras. Secara logis bahwa para pemimpin Yahudi

tidak mengemukakan seluruh kebenaran. Mustahil bahwa mereka tidak mendengar apa-apa

tentang  gereja  Kristen  di  Roma,  padahal  di  surat  Paulus  kepada  Jemaat  di  Roma

menunjukkan bahwa di Roma sudah ada gereja Kristen yang sangat bersemangat. Kemudian

mustahil  juga  jika  mereka  mengatakan  tidak  mendengar  apa-apa  tentang  Paulus  dari

Yerusalem sebab hubungan antara orang Yahudi di Yerusalem dan di Roma tetap terjalin

dan  berkesinambungan.  Sekalipun  demikian,  jelas  tidak  ada  tuduhan  sah  yang  dapat

diarahkan kepada Paulus, sehingga orang-orang Yahudi menganggap bahwa lebih bijaksana

untuk tidak melibatkan diri dalam kasus Paulus agar tidak menimbulkan amarah pemerintah

Roma. Ayat 23 menjelaskan bahwa pada hari  yang telah ditentukan berkumpullah orang-

orang (para pemimpin Yahudi) di rumah yang ditempati Paulus. Pada kesempatan ini Paulus

memberitakan tentang kerajaan Allah dengan berusaha menyakinkan mereka tentang Yesus.

kedua hal ini jelas merupakan konsep yang sinonim. Paulus berusaha menunjukkan bahwa

hal-hal  tentang  Yesus  dan  kerajaan  Allah  merupakan penggenapan  yang sempurna  dari

hukum Musa  dan  nubuat  para  nabi  dan  bahwa  iman  nenek  moyang Israel  memperoleh

penggenapannya di dalam iman Kristen.

Kemudian  pada ayat  24-27  Lukas  menulis  bagaimana tanggapan  para  pemimpin

Yahudi  di  Roma  terhadap  pemberitaan  Paulus.  Dari  antara  mereka  ada  yang  menjadi

percaya, namun  sebagian besar menolaknya. Melihat hal ini Paulus mengutip Yesaya 6:9, 10

yang melukiskan kebebalan dan kekerasan rohani dari umat Allah. Keadaan mereka tidak

tertolong lagi sebab mereka tidak mampu berbalik kepada Allah untuk disembuhkan. Ayat 28

merupakan  puncak  dari  Kisah  Para  Rasul,  dalam  ayat  ini  Lukas  menuliskan  perkataan

Paulus,  “Keselamatan  yang  dari  pada  Allah  ini  (sekarang:  mulai  sekarang)  disampaikan

kepada bangsa-bangsa lain dan mereka akan mendengarnya.”  Sampai  disini  kita  melihat

pergerakan pemberitaan Injil, disamping itu kita juga melihat bahwa banyak pemimpin Yahudi

yang ada di Roma menolak Injil sama seperti pemimpin Yahudi yang ada di Yerusalem yang

menolak  Yesus  sebagai  Mesias  dan  bahkan menyalibkan-Nya.  Jadi  sifat  para  pemimpin

Yahudi  dan  sebagian  besar  orang  Yahudi  lainya  menunjukkan  sifat  penolakan  mereka

terhadap  Injil  dan  juga  pemberitanya  yang  dalam  waktu  itu  kemanapun  Paulus  pergi

memberitakan Injil orang-orang Yahudi banyak menolaknya dan malah orang-orang yang non

Yahudi menerima dia dan Injil yang dia beritakan. Jadi ayat 28 ini merupakan klimaksnya,

dimana oleh sebab  pemberontakan Israel sudah sempurna maka sekarang Injil memperoleh

tempat di kalangan bangsa bukan Yahudi.

Selanjutnya ayat 29 kita melihat bahwa sesudah  selesai Paulus berbicara maka orang

yang mendengarnya  bubar  dengan berbagai  perbedaan pendapat.  Kemudian  ayat  30-31

yaitu  merupakan ayat penutup dari Kisah Para Rasul yang bisa dikatakan sebagai akhir

yang tiba-tiba. Disini Lukas tidak menjelaskan tentang bagaimana akhir pemenjaraan Paulus.

namun   walaupun demikian Lukas tetap memberitahukan tentang aktifitas Paulus di  Roma

selama dua tahun, dimana ia tinggal dirumah yang dia sewa sendiri dan dia menerima orang-

orang  yang datang  kepadanya  dan  bahkan ia  memberitakan  Injil  kepada siapapun yang

datang  kepadanya.  Namun  sampai  akhir  kitab  ini  kita  tidak  tahu  tentang  hasil  dari

persidangan dimana dia  telah  naik  banding  kepada  Kaisar,  apakah dia  dinyatakan  tidak

bersalah dan dibebaskan atau sebaliknya dia dinyatakan bersalah dan dihukum mati? Atau

ada opsi yang ketiga, barangkali  kasus itu diabaikan saja. Sampai pada akhir Kisah Para

Rasul  ini  kita  tidak  menemui  penjelasan  dari  Lukas  mengenai  hal  itu.  namun   jika  kita

memperhatikan ayat 30 ini maka kita akan lebih condong setuju dengan beberapa penafsir

Kisah Para Rasul yang mengatakan bahwa kemungkinan Paulus dibebaskan sesudah  dua

tahun penahananya dan sesudah itu  ia melibatkan diri  dalam pelayanan selanjutnya dan

akhirnya ditahan kembali di Roma. Tradisi mengatakan bahwa Paulus dihukum mati di Roma

sekitar atau sesudah tahun 64 Masehi, itu berarti ada dua atau tiga tahun antara penulisan

Kisah Para Rasul dengan kematian Rasul Paulus. Hal ini menguatkan dugaan bahwa hasil



naik bandingnya Paulus tidak membawa dia kepada hukuman mati,  sebab jika itu  terjadi

pastilah Lukas akan menuliskanya. Lagi pula Philo seorang sejarawan Yahudi berkata bahwa

penahanan selama dua tahun yaitu  penahan yang paling lama dalam hukum Roma, dan

sesudah  itu dia bisa dilepaskan. Pada akhirnya kita melihat bahwa Injil Kristus tidak dapat di

bendung atau ditahan, dengan penuh kuasa Injil tersebar sampai kemana-mana. Sudahkah

anda  pergi  memberitakan  Injil?  Apakah  anda  sendiri  yaitu   orang  yang  berusaha

membendung Injil? Jika anda bukan seorang yang membendung atau menahan Injil maka

anda harus pergi memberitakannya.