Masuk dan tinggal di dalamnya. Gereja yaitu
prajurit-prajurit Allah (2Tim 2:1-4), dan Iblis berusaha memasukkan sebanyak mungkin
penghianat ke dalamnya. Gereja tidak akan ada dalam bahaya selama Iblis hanya
menyerang dari luar; sebaliknya jika Iblis menyerang dari dalam, gereja berada dalam
bahaya. Ananias mati dan dikuburkan, dan Safira bahkan tidak mengetahui hal itu! Iblis
selalu membiarkan para pengikutnya berada dalam kegelapan, sedang Allah
memimpin hamba-hamba-Nya di dalam terang (Yoh 15:15) Petrus menuduh Safira
mencobai Roh Tuhan, yaitu dengan sengaja tidak menaati Allah untuk melihat sampai
berapa jauh Allah membiarkan dia. Sebenarnya mereka mencobai Allah dan menantang
Dia untuk bertindak – dan Dia benar-benar bertindak dengan cepat dan tuntas. Tentu ini
sangat bertentangan dengan Firman Allah dalam Matius 4:7, “Janganlah engkau
mencobai Tuhan Allahmu.” Akibat peristiwa ini, takut akan Tuhan melanda gereja dan
semua orang yang mendengar kabar itu (Kisah Para Rasul 5:11). Menjadi renungan bagi
kita, mari kita memeriksa kehidupan kita sendiri untuk melihat apakah yang kita katakan
sesuai dengan yang kita lakukan. Apakah yang kita doakan di depan umum sungguh-
sungguh tulus? Apakah kita menyanyikan lagu-lagu rohani atau pujian kepada Tuhan
dengan tulus, atau sekedar kebiasaan. Kita telah bergerak dari “kuasa yang besar” dan
“kasih karunia yang berlimpah-limpah” (Kisah Para Rasul 4:33) ke “ketakutan yang luar
biasa”; dan semuanya ini harus ada dalam gereja. “marilah kita mengucap syukur dan
beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan
takut. Sebab “Allah kita yaitu api yang menghanguskan” (Ibrani 12:28-29).
Ayat 12 ada kata tanda (σημει) dan mukjizat (τερατα). Kedua kata ini
sebenarnya yaitu mengacu kepada suatu keajaiban. Pada waktu gereja mula-mula
Allah melakukan keajaiban-keajaiban agar orang-orang percaya pada Injil (Ibrani 2:4).
Kebenaran bahwa Yesus yaitu Mesias terbukti melalui keajaiban-keajaiban yang
dinyatakan oleh rasul-rasul.
Ayat 13 memberi penjelasan kepada kita, dimana orang-orang yang belum
percaya, sangat sulit untuk masuk kedalam persekutuan orang percaya. Sebab orang
yang belum bertobat yaitu orang yang belum berdamai dengan Allah atau disebut
sebagai seteru Allah dan oleh sebab itulah mereka tidak akan bergabung dengan orang-
orang yang sudah bertobat, kecuali sesudah mereka bertobat sungguh-sungguh. Apalagi
saat itu baru saja mereka melihat ada pasangan suami isteri yang merupakan seteru
Allah dihukum atau dibunuh oleh Allah sebab dosa-dosanya. namun dalam ayat ini
meskipun orang-orang tidak berani menggabungkan diri dengan mereka namun mereka
sangat dihormati oleh orang banyak, sekalipun mereka bukan orang-orang yang
terpelajar namun mereka dihormati. Pada ayat 13 peristiwa Ananias dan Safira membuat
orang banyak (yang tidak percaya) takut menggabungkan diri dengan orang-orang
percaya.
namun pada ayat 14, dijelaskan bahwa hukuman yang sangat dahsyat terhadap
Ananias dan Safira itu membawa banyak orang berbalik kepada Tuhan. Banyak orang
yang akhirnya menjadi percaya sesudah melihat kuasa Allah yang nyata dan dahsyat itu.
Selanjutnya kita melihat pada ayat 15, dimana orang-orang percaya banyak datang
membawa orang sakit supaya apabila Petrus lewat, setidak-tidaknya bayangannya
mengenai salah seorang diantaranya dan dengan demikian dia disembuhkan oleh Tuhan.
Yang harus kita ingat dimana mukjizat terjadi bukan sebab Petrus atau rasul-rasul lain,
orang-orang yang sembuh dari penyakitnya itu bukan sebab para rasul, namun sebab
mereka beriman kepada Tuhan. Pada waktu Yesus berada di dunia ini, seorang ibu yang
sakit pendarahan hanya memegang jumbai jubah-Nya menjadi sembuh. namun orang itu
sembuh bukan sebab jumbai jubah Yesus punya jimat, namun hanya sebab yang
memegang jumbai jubah-Nya itu percaya kepada-Nya, oleh sebab itu dia disembuhkan.
Hal yang sama juga terjadi di Kisah Para Rasul 5: 15 ini. Selanjutnya ayat 16,
juga merupakan lanjutan yang memberitahukan bahwa banyak orang dari sekitar
Yerusalem datang dan berduyun-duyun serta membawa orang-orang sakit dan yang
diganggu roh jahat dan semua mereka disembuhkan. Kata mereka semua disembuhkan,
menunjuk bahwa tidak ada yang tidak dapat disembuhkan oleh Tuhan lewat perantaraan
rasul-rasulnya. Hal ini membuktikan bahwa Allah senantiasa menyertai mereka dalam
pemberitaan Injil.
d. Perlawanan Kedua dari para pemimpin Yahudi (5:17-42)
Mulai Kisah Para Rasul 5:17 kita akan kembali melihat, dimana Imam Besar dan
para pengikutnya dan juga Mazhab Saduki menentang Gereja dan Para Rasul. Imam
besar ingin mempertahankan kuasanya yang semakin merosot; ia menjadi iri hati dan
mulai menganyiaya rasul-rasul. Mazhab Saduki juga ikut, sebab telinga mereka sudah
panas mendengarkan pengajaran rasul-rasul tentang kebangkitan orang mati, pada hal
mazhab saduki sangat menentang doktrin itu. Jadi dengan demikian Mazhab Saduki ikut
iri hati kepada rasul-rasul itu. Jadi jika kita melihat ayat ini, maka kita mengetahui bahwa
penentang-penentang itu menentang rasul-rasul yaitu digerakkan oleh iri hati, bukan
sebab mereka melihat bahwa apa yang diajarkan para rasul itu yaitu pengajaran yang
salah. Kadangkala orang mudah saja menyalahkan yang benar hanya sebab iri hati.
Dalam Amsal 14:30 dikatakan bahwa iri hati membusukkan tulang. Selanjutnya pada ayat
18 di jelaskan bahwa mereka menangkap rasul-rasul itu, lalu di masukkan ke dalam
penjara. Hal itu mereka lakukan hanya sebab mereka iri hati, lagi pula mereka tidak
menemukan kesalahan pada rasul-rasul itu.
Selanjutnya pada ayat 19-20 diberitahukan bahwa pada waktu malam, Malaikat
Tuhan membuka pintu-pintu penjara dan membawa mereka keluar, lalu menyuruh
mereka (rasul-rasul) pergi ke Bait Allah untuk berkotbah tentang Injil (Firman Hidup).
Malaikat Tuhan dalam ayat ini berbeda dengan Malaikat ALLAH (Kristus dalam Perjanjian
Lama) malaikat yang dimaksud disini yaitu malaikat biasa, yaitu yang disuruh Tuhan
untuk menolong para rasul. Dalam Kisah Para Rasul ini, kita akan menemukan beberapa
peristiwa dimana malaikat melayani sebagai pernyataan pemeliharaan Allah atas umat-
Nya (8:26; 10:3,7; 12:7-11,23; 27:23). Selanjutnya yaitu kata Firman Hidup, yang
disebut dalam ayat ini yaitu berarti Firman kebenaran yang membawa kepada hidup
yang kekal (Injil/ kabar baik).
Kemudian selanjutnya pada ayat 21, disebutkan bahwa para rasul itu menaati
pesan itu (berkotbah di Bait Allah). Mereka sangat mengasihi Kristus dan Injil dan dengan
senang hati mereka namun memberitakan Injil, walaupun itu akan membawa mereka
kembali ke penjara. Sementara para rasul itu sudah berkotbah di Bait Allah, Imam besar
dan pengikut-pengikutnya menyuruh mahkamah agama berkumpul dan menyuruh orang-
orangnya mengambil rasul-rasul itu dari penjara untuk disidangkan. Mereka tidak tahu
bahwa rasul-rasul itu sudah berkotbah di Bait Allah.
Maka selanjutnya pada ayat 22-23 memberitahukan bahwa para pejabat-pejabat
yang diutus ke penjara untuk mengambil para rasul itu terheran-heran sebab rasul-rasul
itu tidak ada disana, pada hal para penjaga tetap ada di depan pintu untuk menjaga
penjara itu. Dengan membaca ayat ini jelas sekali terbukti bahwa rasul-rasul itu
dikeluarkan secara ajaib. Orang-orang yang dimasukkan kedalam penjara itu tidak
ditemui padahal pintu penjara terkunci dengan sangat rapih. Pikiran manusia sangat sulit
memahami yang seperti ini, akan namun bagi Allah tidak ada yang mustahil. Kita percaya
kepada Allah yang Maha Kuasa. Teolog-teolog liberal tidak mempercayai hal-hal yang
ajaib yang seperti ini, mereka ingin menghancurkan Iman Kristen yang benar.
Ayat 24 menjelaskan bahwa petugas yang pergi ke penjara untuk mengambil
para rasul itu melaporkan kepada kepala pengawal Bait Allah dan Imam-imam kepala,
dan sesudah mereka mendengar laporan itu mereka menjadi cemas dan bertanya-tanya
tentang apa yang telah terjadi pada rasul-rasul itu. Kata cemas (διηπορουν) seharusnya
di terjemahkan “tidak tahu berbuat apa-apa sebab bingung.” Kuasa Allah sangat besar
melindungi rasul-rasul itu, sehingga mereka bingung dan tidak dapat berbuat apa-apa.
Sebenarnya mereka harus bertobat sesudah melihat keajaiban-keajaiban itu, namun
mereka keras hati dan tetap menentang Injil. Oleh sebab itu mereka untuk selamanya
akan tetap bingung, kecuali mereka bertobat dan tidak lagi menentang Injil.
Pada ayat 25 memberitahukan bahwa ada orang yang melaporkan kepada tua-tua dan
mahkamah agama itu, bahwa rasul-rasul yang dipenjarakan itu sedang mengajar Firman
Tuhan di Bait Allah. Hal ini menunjukkan bahwa bagi para Rasul itu tidak ada lain yang
ingin mereka lakukan selain menuruti perintah Allah. Allah memerintahkan kepada
mereka untuk berkotbah di Bait Allah dan mereka menaatinya.
Selanjutnya pada ayat 26 kepala pengawal Bait Allah mengambil kedua rasul itu.
Mereka menangkap kedua rasul itu dengan cara tidak sah, namun kedua rasul itu
mengikuti kepala pengawal Bait Allah beserta anak buahnya dengan tak gentar. Para
rasul yaitu pemberita Firman Hidup, bukan pelanggar hokum oleh sebab itu mereka
tidak takut sedikitpun, sebab mereka bukan pelanggar hukum. Sebaliknya dalam ayat ini
dikatakan bahwa yang menangkap merekalah yang takut dilempari orang banyak,
lagipula kalau hal itu sempat terjadi maka mereka akan kehilangan jabatannya, sebab
jabatan itu boleh tetap pada mereka jika ada dukungan orang banyak.
Kisah Para Rasul 5:27-28, menjelaskan bahwa Petrus dan Yohanes
diperhadapkan kepada mahkamah agama, dan Imam Besar menanyai mereka, namun
kelihatannya dalam ayat ini Imam besar tidak mempunyai pertayaan yang tidak dapat
dijawab oleh para Rasul itu, oleh sebab itu Imam Besar akhirnya hanya melarang mereka
untuk berbicara dalam nama Yesus. Imam Besar itu berkata “dengan keras kami
melarang kamu mengajar dalam nama itu”. Penggalan ayat ini memberi gambaran bagi
kita bahwa Imam besar tidak menyukai nama Yesus, sehingga ia tidak menyebut nama
Yesus namun hanya memakai kata nama itu. Mereka menegor dengan kalimat kamu
hendak menanggungkan darah orang itu kepada kami. Hal ini menunjukkan kemunafikan
Imam Besar itu, dia sendiri telah berjuang untuk keras sebagai pemimpin untuk
membunuh Yesus, namun sekarang ia berlaku seperti sama sekali ia tidak ada kaitanya
dengan kematian Yesus. Mereka juga tidak tahu bahwa tujuan utama pemberitaan Injil
yang dilakukan Petrus dan Yohanes itu bukanlah untuk mempersalahkan orang lain,
namun untuk membimbing orang berdosa kepada keselamatan.
Pada ayat 29 Petrus menjawab mereka dengan penuh hikmat, jawaban ini juga
merupakan penghakiman kepada peserta sidang itu. Petrus berkata: “Kita harus lebih
taat kepada Allah dibandingkan kepada manusia.” Allah telah mencurahkan Roh Kudus
kepada Rasul-rasul dan memberi tugas kepada mereka untuk memberitakan Injil. Oleh
sebab itu mereka tidak menghiraukan larangan manusia untuk melaksanakan tugas
yang dipercayakan Allah. Jadi larangan manusia tidak akan mengubah pendirian mereka.
Kemudian pada ayat 30-32 kita melihat bahwa rasul-rasul itu juga tidak mau
mengubah berita mereka. Petrus malah mendakwa para pemimpin agama dengan
tuduhan pembunuhan terhadap Yesus (lihat kembali Kisah Para Rasul 3:13-14; 4:10),
dan sekali lagi mengatakan bahwa Yesus Kristus telah bangkit dari antara orang mati.
Orang-orang Saduki pasti akan semakin marah mendengar hal itu. Petrus dengan tegas
berkata bahwa mereka yaitu saksi dari kebangkitan itu. Kata saksi yaitu istilah
hukum. Seorang saksi yang menghadapi pengadilan harus bersaksi menurut kebenaran
yang telah disaksikannya.
Ayat 33, memberitahukan bagaimana reaksi oleh peserta sidang itu tentang
jawaban Petrus. Hati mereka tertusuk dan bermaksud untuk membunuh para rasul.
Dalam fasal 2:37 orang-orang yang mendengar perkataan Petrus terharu dan akhirnya
banyak orang yang bertobat, namun pada bagian ini Mahkamah agama sebaliknya
bermaksud membunuh Petrus dan Yohanes. Mahkamah Agama itu sudah tinggi hati dan
sangat sulit untuk bertobat, sebaliknya mereka hanya ingin mempertahankan kedudukan
mereka.
Selanjutnya ayat 34-39, menjelaskan tentang pendapat dari seorang yang
bernama Gamaliel guru dari Paulus. Dia yaitu tokoh yang sangat dihormati oleh orang
banyak. Seakan-akan dia (Gamaliel) membela rasul-rasul, namun cara yang dilakukan
sangat tidak tepat. Nasihat Gamaliel sebenarnya tidak bijaksana dan berbahaya, namun
Allah memakai nya untuk menyelamatkan para rasul dari kematian. Gamaliel yaitu
orang Farisi, namun orang-orang Saduki menerima pendapatnya, hal itu membuktikan
bahwa dia yaitu orang yang terhormat. Terlepas dari kenyataan bahwa Gamaliel
memakai kepala dingin dan bukan emosi yang memanas, namun pendekatannya masih
tetap salah. Pertama-tama, dia menggolongkan Yesus dan para Rasul sama dengan dua
orang pemberontak yang bernama Teudas dan Yudas, jadi bagi Gamaliel Yesus yaitu
seorang fanatik yang berusaha memerdekakan bangsanya dari penjajahan Romawi. Dia
lupa bahwa Teudas dan Yudas tidak pernah bangkit dari antara orang mati, dia juga lupa
bahwa Teudas dan Yudas tidak pernah melakukan mukjizat yang seperti Yesus lakukan.
Memang harus diakui bahwa Gamaliel mempunyai logika yang baik, yang membuat
orang lain mengikuti pola pikirnya. Menurut pola pikirnya bahwa perusuh selalu akan ada
namun segera sesudah itu akan lenyap, dengan demikian dia berpikir bahwa Yeus dan para
Rasul yaitu perusuh. Kesalahan yang kedua yaitu dimana dia mempunyai pandangan
bahwa yang tidak berasal dari Allah akan gagal, hal ini memang benar, namun jangan lupa
bahwa keberhasilan bukanlah selalu tanda dari kebenaran. Iblis sudah berhasil
menguasai manusia yang berdosa, namun itu bukan bukti kebenaran Iblis. Kita dapat
melihat bahwa kadangkala aliran sesat lebih cepat berkembang dibandingkan gereja yang
memberitakan kebenaran. Kelemahan ketiga dari nasehat Gamaliel itu yaitu , dimana
dia ingin mendorong mahkamah agama itu untuk bersikap netral.
Ayat 40 menjelaskan bahwa mahkamah agama itu akhirnya menerima nasehat
Gamaliel sehingga mereka tidak membunuh rasul-rasul. namun walaupun demikian rasul-
rasul itu tidak dilepaskan begitu saja. mahkamah agama itu akhirnya menyesah mereka.
Mungkin tiga puluh sembilan pukulan (II Korintus 11:24), sebab tidak menaati perintah
Sanhedrin sebelumnya.
Ayat 41 dan 42 menjelaskan bahwa para rasul sama sekali tidak berkurang
semangatnya, sebab mereka menganggap penderitaan sebab nama Yesus yaitu
suatu kehormatan. Mereka melanjutkan terus pengajaran mereka dan memberitakan Injil
tentang Yesus yang yaitu Mesias, baik secara umum di pelataran dan untuk bangsa
Yahudi di Bait Allah dan di dalam perkumpulan-perkumpulan Kristen yang diadakan di
rumah-rumah milik perseorangan.
3. Perluasan Gereja di Palestina melalui perserakan (6:1-12:25)
a. Pemilihan tujuh diaken (6:1-7)
Gereja sedang mengalami kesulitan dalam tahun-tahun permulaan dan hal ini
mempersulit para rasul untuk melayani setiap orang. Orang Yahudi yang berbahasa
Yunani datang ke Palestina dari Negara lain, sehingga mereka mungkin tidak dapat
berbahasa Aram. sedang orang Ibrani yaitu penduduk Yahudi dari daerah itu dapat
berbicara dalam bahasa Aram maupun Yunani. Kenyataan bahwa orang-orang luar itu
telah terabaikan, telah menimbulkan situasi yang dapat memecah belah gereja. Namun
demikian para rasul telah menyelesaikan masalah itu dengan sangat bijaksana dan
sama sekali tidak memberi tempat berpijak bagi Iblis dalam persekutuan itu. sebab
adanya sungut-sungut dalam tubuh gereja itu, maka para rasul mempelajari situasinya
kemudian menyimpulkan bahwa merekalah yang salah, dimana mereka sangat sulit
membagi waktu antara pelayanan Firman, doa dan juga pelayanan meja (pelayanan
kasih). Kita harus mengingat bahwa tugas mulia yang diberikan kepada para Rasul
yaitu untuk memberitakan Firman Allah atau Injil (Matius 28:19-20). namun ternyata
pemberitaan mereka terhambat sebab sibuk juga mengurusi meja (pelayanan kasih).
Para rasul berkata “kami tidak merasa puas, sebab kami melalaikan Firman Allah untuk
melayani meja.” Perkataan rasul-rasul ini sebenarnya bukan sebab mengabaikan
pelayanan kasih, namun menegaskan bahwa perlu membagi tugas untuk pelayanan
ini .
Selanjutnya pada ayat 3 para rasul menyuruh jemaat itu untuk memilih tujuh
orang yang akan melanyani meja. Hal ini membuktikan bahwa cara kepemimpinan
Gereja mula-mula bukanlah sistim otoriter. Dalam hal ini kita melihat bahwa keputusan
diambil dari hasil kesepakatan jemaat bukan keputusan dari para rasul saja. ada dua
kwalifikasi dari orang yang akan dipilih ini antara lain: penuh Roh dan Hikmat, dan
terkenal baik. Hal ini menjadi pelajaran bagi gereja Tuhan masa kini, dimana untuk
memilih pelayan, seharusnya dipilih langsung oleh Jemaat, dan pemimpin jemaat
seharusnya akan memilih dengan kriteria yang seperti ini. Pelayan tidak dipilih oleh
pemimpin dan pelayan juga tidak dipilih berdasar kriteria kaya atau miskinnya
seseorang.
Ayat 4 yaitu merupakan alasan dari para rasul itu supaya jemaat memilih
pelayanan meja. Kisah Para Rasul 6:5 menjelaskan bahwa jemaat menerima usul dari
para rasul itu, sehingga mereka memilih εξελεξαντο dalam bahasa Yunani cara
pemilihan yang seperti ini tidak ditentukan dari atas. Sekali lagi yang perlu kita ingat
bahwa cara pemilihan seperti ini bukanlah berdasar kediktatoran pemimpin namun
dari sifat demokratis dari gereja.
Pada ayat 5 ini juga di daftarkan nama-nama yang terpilih sebagai pelayan meja
ini , antara lain: Stefanus, Filipus, Prokhorus, Nikanor, Timon, Parmenas dan
Nikolaus. Selanjutnya ayat 6 menjelaskan bahwa ketujuh orang yang telah dipilih oleh
jemaat itu ditahbiskan lewat penumpangan tangan para rasul. Hal seperti ini sudah biasa
di praktekkan dalam Perjanjian lama (Kejadian 48:13; Imamat 1:4; Bilangan 27:23).
Ketujuh orang yang terpilih diatas akhirnya di dalam tradisi gereja mereka disebut
sebagai diaken. namun dalam ayat ini tidak disebut demikian. Ayat 7 menjelaskan bahwa
pemilihan ketujuh orang ini menambah keefektifitasan pelayanan rasul-rasul. Oleh
sebab itu semakin banyak orang yang menjadi percaya, bahkan sejumlah besar imam
menjadi percaya.
4. Peristiwa perserakan: Pelayanan dan kematian Stefanus sebagai Martir (6:8-8:3)
Kisah Para Rasul 6:8-15 berbicara tentang Stefanus. Dia yaitu seorang yang penuh
Roh Kudus, dia sebenarnya dipilih untuk melayani meja. namun Tuhan memakai dia bukan
hanya melayani meja saja. dia juga memenangkan jiwa yang terhilang dan bahkan dipakai
Tuhan untuk menunjukkan mukjizat. Kesaksian Stefanus menjadi klimaks dari kesaksian
gereja kepada orang Yahudi. Sesudah itu berita Injil tersebar kepada orang-orang Samaria
dan kemudian kepada orang-orang non Yahudi. Orang Yahudi dari berbagai bangsa tinggal
di Yerusalem di daerahnya masing-masing dan beberapa dari kelompok etnis ini mempunyai
sinagoga sendiri. orang-orang yang dimerdekakan ini (Libertini) yaitu keturunan bangsa
Yahudi yang pernah di tawan namun memperoleh kebebasan dari Romawi. sebab Paulus
berasal dari Tarsus di Kilikia (Kisah Para Rasul 21:39), maka mungkin saja ia sudah pernah
mendengarkan kesaksian Stefanus di Sinagoga, dan mungkin saja sudah pernah berdebat
dengannya. Namun demikian tidak seorangpun dapat menandingi atau menolak hikmat dan
kuasa Stefanus (Lihat Lukas 21:15). Satu-satunya pilihan mereka hanyalah membunuh dia.
Perlakuan mereka tehadap Stefanus sama seperti perlakuan para pemimpin Yahudi terhadap
Yesus. Pertama mereka memajukan para saksi-saksi palsu. Kemudian mereka menghasut
orang-orang untuk mengatakan bahwa Stefanus telah menghujat Hukum Taurat Musa dan
Bait Allah. Akhirnya sesudah mendengarkan kesaksian Stefanus, mereka menjatuhkan
hukuman mati bagi dia (lihat Matius 26:59-62 dan Yohanes 2:19-22). Orang-orang Yahudi
sangat bangga dengan hukum taurat mereka dan mereka tidak dapat mengerti bahwa Kristus
telah datang untuk menggenapi hukum taurat dan membawa zaman baru. Mereka sangat
bangga Bait Allah mereka dan mereka tidak mau percaya bahwa Allah akan mengizinkan Bait
Allah itu di hancurkan. Stefanus dalam pelayanannya menghadapi kebutaan rohani seperti
yang dihadapi oleh nabi Yeremia dalam pelayananya (lihat Yeremia7). Gereja menghadapi
tantangan dari tradisi Yahudi bertahun-tahun sesudah itu, dan para pemimpin mereka sendiri
(Kisah Para Rasul 15) dan dari guru-guru palsu yang datang dari luar (Galatia 2:4).
Musuh-musuh itu menyergap Stefanus dan menyeretnya pada saat dia sedang melayani; dan
mereka membawa dia ke hadapan mahkamah agama, yaitu mahkamah agama yang sama
yang telah menghakimi Yesus dan para rasul. Bahkan Stefanus tidak perlu bicara untuk
memberi kesaksian, sebab dari cahaya wajah Stefanus, semua orang mengetahui bahwa dia
yaitu hamba Allah. Tentu saja para anggota Sanhedrin itu ingat kisah tentang wajah Musa
yang bercahaya (Keluaran 34:29-30). Seolah-olah Allah berkata, “Orang ini tidak menentang
Musa – ia yaitu hambaku yang setia!”
Selanjutnya dalam pasal 7 ayat 1 Imam besar bertanya Stefanus, apakah tuduhan
yang dituduhkan kepadanya benar, atau apakah ia telah menghujat Musa, dan apakah ia
berkata bahwa Yesus akan merubuhkan Bait Allah dan juga akan mengacaukan adat istiadat
bangsa itu.
Kemudian di ayat 2 Stefanus memberi jawaban yang panjang lebar, dia tidak
hanya sekedar berusaha menunjukkan bahwa tuduhan-tuduhan yang dilancarkan
kepadanya itu yaitu salah. namun dia juga mengemukakan keyakinannya bahwa Bait Allah
dan negeri Palestina tidak dibutuhkan untuk menyembah Allah dengan benar. Dia
menyajikan tentang sketsa singkat tentang sejarah Israel untuk menunjukkan: (a) Bahwa
Allah telah memberkati nenek moyang mereka sekalipun para leluhur itu tidak tinggal di
Palestina; (b) Bahwa sepanjang sebagian besar sejarah Israel tidak menyembah Allah di
Bait Allah; (c) Kepemilikan Bait Allah tidak mencegah Israel utuk tidak menjadi pemberontak
dan tidak taat kepada Allah. Tujuan dari ucapan ini ialah untuk menunjukkan dari sejarah
Israel bahwa memiliki Bait Allah bukan sesuatu jaminan untuk bisa menyembah Allah
dengan benar. Dan hal itu berguna untuk mendukung pokok utama yang dikemukakan oleh
Stefanus, bahwa sebab Mesias sekarang telah datang, maka ibadah orang Yahudi di Bait
Allah di Yerusalem itu telah merupakan hal yang usang. Disini kita dapat melihat sebuah
fakta bahwa: Panggilan Allah kepada Abraham tidak terjadi di Tanah Perjanjian. namun
saat Abraham berada jauh dari situ, yaitu di Mesopotamia. Stefanus menceritakan tentang
kunjungan Tuhan saat Abraham masih berada di Mesopotamia, yang hasilnya yaitu
mula-mula Abraham pergi ke Haran. Disana ia tinggal beberapa saat, lalu belakangan
pindah dari Haran ke Palestina.
Ayat 5 menjelaskan bahwa Allah menjanjikan tanah kepada Abraham dan
keturunanya. Ayat 6 dan 7 menjelaskan bahwa keturunan Abraham tidak serta merta
mendapat tanah itu, namun baru sesudah empat ratus tahun di tawan atau mendapat tahanan
di Palestina. (angka empat ratus tahun merupakan angka pembulatan. Di dalam Galatia
3:17, dikatakan 430 tahun).
Kemudian ayat 8 menjelaskan bahwa Allah mengikat perjanjian dengan Abraham dan
keturunannya, dan menetapkan sunat sebagai tanda pemeteraian perjanjian itu. Stefanus
menunjukkan bahwa berkat dari perjanjian tidak bergantung pada keberadaan Bait Allah.
namun pada janji-janji dan kesetiaan Allah.
Ayat 9, 10 sebenarnya menjelaskan tentang Yusuf, yang sebab iri hati dari para
leluhur mereka akhirnya Yusuf dijual dan dibawa ke Mesir. namun Allah tidak meninggalkan
Yusuf walaupun Yusuf berada di luar negeri itu. Sebaliknya Allah menuntunya kepada
pembebasan yang indah, dengan menjadikan dia kuasa atas tanah Mesir dan atas seluruh
istananya.
Ayat 11-15 menjelaskan bahwa saat bencana kelaparan besar melanda Mesir dan
Palestina, ternyata di Mesir ada persediaan Gandum yang di kelola oleh Yusuf sendiri dan
itulah sarana Allah untuk memelihara para bapa leluhur mereka. Yakub dan keluarganya
kemudian pindah ke Mesir, dimana mereka dipelihara oleh Yusuf. Angka tujuh puluh lima
mengikuti kisah yang diambil dari Septuaginta atau terjemahan Perjanjian Lama yang
berbahasa Yunani; dalam kejadian 46:27 dan Keluaran 1:5 yaitu angka dalam teks Ibrani,
dimana dalam versi Septuaginta Kejadian 46:26-27, disebutkan bahwa semua orang yang
tiba di Mesir bersama-sama dengan Yakub, yakni anak-anak kandungnya, dengan tidak
terhitung isteri anak-anaknya, seluruhnya berjumlah enam puluh jiwa. namun anak-anaknya
yang berada di Mesir bersama Yusuf yaitu sembilan jiwa. Jadi keluarga Yakub yang tiba di
Mesir bersama Yusuf yaitu tujuh puluh lima jiwa. Jadi Sanak saudara yang di maksudkan
ayat ini yaitu seluruh anggota keluarga Yakub (bukan hanya anak-anaknya).
Kemudian ayat 16 menunjukkan bahwa sekalipun mereka meninggal di Mesir, mayat-
mayat mereka di bawa kembali ke Palestina dan dimakamkan di negeri yang telah dijanjikan
Allah kepada Abraham dan keturunannya. Ayat 17-43 Stefanus memberi penjelasan
tentang Musa. Kita tidak boleh lupa bahwa dibagian atas dia telah di tuduh menghujat Musa.
Maka pada bagian ayat 17-43 ini, Stefanus menunjukkan bahwa memiliki Hukum Taurat
tidak mencegah bangsa Israel dari memberontak kepada Allah. Pada ayat 17 Stefanus
menceritakan bahwa saat penggenapan janji Allah semakin dekat maka semakin
bertambah banyaklah keturunan bangsa itu di Mesir, mereka tidak memiliki keinginan untuk
meninggalkan Mesir, ini diakibatkan bahwa mereka disana sangat kaya raya.
Kemudian ayat 18 dan 19 Stefanus menceritakan bahwa akhirnya bangkit seorang
raja yang tidak mengenal Yusuf dan raja itu bertindak kejam kepada nenek moyang mereka,
dan menyuruh supaya mereka membuang bayi mereka dengan tujuan supaya bangsa
mereka (Israel) tidak berkembang di Mesir.
Pada ayat 20, Stefanus menjelaskan bahwa pada saat itulah Musa dilahirkan, dia
yaitu alat yang dilipilih Allah untuk membebaskan umatnya. Musa di asuh di rumah
ayahnya selama tiga bulan.
Ayat 21 menjelaskan bahwa sekalipun Musa di buang namun Allah tetap
memeliharanya, sebab dia yaitu orang yang kelak dipakai Allah untuk memimpin bangsa
itu keluar dari tanah Mesir.
Ayat 22 menjelaskan bahwa dia (Musa) menikmati pendidikan yang terbaik yag ada
di Mesir, dan dia menjadi pemuda yang fasih berbicara dan juga giat bekerja.
Pada ayat 23 Stefanus menjelaskan bahwa: sesudah dewasa Musa berniat Musa
berniat meninggalkan Istana Firaun dan mengunjungi saudara-saudara sebangsanya.
Kemudian pada ayat 24 dan 25 saat dia melihat salah seorang saudaranya bangsa
Israel disiksa, ia bertindak membela orang itu, dan memukul si orang Mesir dan
membunuhnya. Musa mengira saudara sebangsanya akan mengenal dia sebagai salah
seorang dari bangsa mereka yang diutus Allah untuk melepaskan mereka, namun mereka
tidak mengenal hal itu.
Pada ayat 26 ini Stefanus memberi penjelasan lanjutan, dimana keesokan
harinya, saat Musa menjumpai dua orang saudara sebangsanya sedang berkelahi, dia
berusaha mendamaikan mereka dengan menujukkan bahwa mereka yaitu saudara
sehingga tidak pantas jika mereka berkelahi.
Kemudian pada ayat 27 dan 28 Stefanus menjelaskan bahwa orang yang berbuat
salah kepada temanya itu menolak usaha Musa untuk mendamaikan mereka. Orang itu
menuduh Musa mencampuri urusan mereka dan ia menganggap Musa ingin menambah
pembunuhan yang ia lakukan terhadap orang Mesir sehari sebelumnya.
Ayat 29 Stefanus memberi penjelasan lebih lanjut, dimana saat Musa menyadari
bahwa dirinya sudah dikenal sebagai pembunuh orang Mesir untuk membela orang Israel,
dia melarikan diri dari Mesir dan hidup sebagai pendatang di Midian di bagian barat laut
Arab. Disana ia menikah dan mendapat dua anak laki-laki.
Kemudian di ayat 30 Stefanus menjelaskan bahwa di Gunung Sinai, yaitu tempat
yang jauh dari Tanah Perjanjian dan tanpa adanya Bait Suci untuk tempat untuk beribadah,
namun disini Allah menyatakan Diri-Nya kepada Musa.
Pada ayat 31 dan 32, Stefanus menjelaskan bahwa pada mulanya Musa heran, dia
tidak mengerti arti tentang semak yang menyala itu. Kemudian Allah berbicara kepada Musa,
Allah menyatakan diri-Nya sebagai Allah para leluhur (Abraham Isak dan Yakub). Suara
Tuhan membuat Musa gemetar dan akhirnya dia tidak berani memandang semak yang
menyala itu.
Selanjutnya pada ayat 33 Stefanus lebih lanjut menjelaskan bahwa tempat itu disebut
Allah tempat kudus, ini memberi gambaran bahwa bukanlah hanya bait Allah di
Yerusalem yang dianggap tempat yang kudus.
Kemudian pada ayat 34 Stefanus menjelaskan dimana Allah menyakinkan Musa
bahwa Dia tidak melupakan umat-Nya sekalipun mereka berada di Mesir, dan bahwa Dia
akan segera memenuhi janji-Nya serta akan melepaskan mereka.
Selanjutnya pada ayat 35 Stefanus menjelaskan bahwa Musa yang telah diejek dan
yang telah ditolak itu diplih Allah untuk menjadi pemimpin bangsa itu.
Ayat 36 menjelaskan bahwa pembebasan itu dilakukan melalui pertunjukan kuasa
yang perkasa di Mesir dan dalam penyeberangan Laut Merah, serta dalam pengembaraan
selama empat puluh tahun dari Mesir menuju Tanah Perjanjian.
Pada ayat 37-38 Stefanus dengan hikmat yang luar biasa mengambil kutipan dari
Ulangan 18:15 “seorang nabi seperti aku ini” ayat kutipan ini menunjuk kepada Yesus
Kristus. Jadi apa yang dilakukan Musa, dimana dia yaitu pengantara antara jemaah yang
ada di padang gurun dengan malaikat yang berfirman kepadanya yang ada di gunung Sinai
yaitu gambaran dari apa yang akan dilakukan nabi yang akan datang itu (Mesias) yang
akan menjadi pengantara dengan Allah sendiri. dalam hal ini Stefanus mengambil nubuatan
Musa untuk mewakili keseluruhan nubuatan tentang Mesias. Jadi bagi siapa yang menolak
Mesias itu berarti menolak semua nubuatan tentang Mesias dan salah satunya menolak
Musa juga sebagai nabi. Dalam ayat 39, Stefanus menjelaskan bahwa ada penyakit rohani
yang sudah berakar dalam kehidupan mereka (orang Yahudi secara turun temurun), dimana
nenek moyang mereka menolak Musa. Nenek moyang mereka ingin kembali ke Mesir. Hal
itu sama halnya dengan banyak orang Yahudi yang menolak Kristus dan kasih karunia.
Selanjutnya dalam ayat 40 Stefanus menjelaskan bahwa saat Musa ada diatas gunug Sinai
bangsa itu menuntut agar Harun membuat patung bagi mereka untuk mereka sembah,
mereka bukanya menyembah Allah pencipta mereka. Mereka menyembah anak lembu emas
yang telah mereka buat sendiri. kemudian pada ayat 41 menjelaskan kembali apa yang
dilakukan oleh para leluhur mereka, dimana mereka tidak mentaati Tuhan dan malah
menyembah berhala.
Selanjutnya dalam ayat 42-43 Stefanus mengutip dari Amos 5:25-27, untuk
mengilustrasikan ketidak taatan bangsa Israel. Dalam ayat ini juga Stefanus ingin
menunjukkan bahwa banyak kurban yang diberikan oleh bangsa Isrrael hanya bersifat
lahiriah saja yang tidak datang dari hati yang taat kepada Allah. Malah mereka menyembah
dewa Molok dan Refan (kedua dewa ini dikaitkan dengan bintang) yang akhirnya Allah
mendatangkan hukuman atas mereka yang berupa pembuangan di seberang sana (Babel).
Kemudian pada ayat 44 dan 45 Stefanus menjelaskan bahwa Israel tetap saja
memberontak kepada Allah sekalipun Allah telah memberi saksi yang jelas kepada
mereka. Dipadang gurun Allah telah memerintahkan Musa untuk mendirikan kemah
kesaksian atau tabernakel, yang akan merupakan saksi atas keadiran Allah di tengah-tengah
mereka (Kel 25:9, 40; 26:30; 27:8). Para leluhur membawa Tabernakel ini ke Tanah
Perjanjian di bawah pimpinan Yosua.
Pada ayat 46, 47 Stefanus memberitahukan fakta bahwa selama bertahun-tahun
sesudah mereka memasuki negeri itu, orang Israel tidak memiliki Bait Allah di Kemah Daud,
seorang yang mendapat kasih karunia dihadapan Allah ingin menyediakan tempat tinggal
bagi Allah; namun kehormatan ini ditangguhkan hingga zaman Salomo.
Pada ayat 48-50 Stefanus secara tegas menjelaskan bahwa Yang Mahatinggi tidak
dapat dibatasi dengan bangunan-bangunan yang dibuat oleh manusia, sebab tidak ada
rumah yang dapat menampung Dia.
Selanjutnya ayat 51, 52 ni menjelaskan bahwa apabila Bait Allah tidak menjadi hal
yang utama dalam menyembah Allah, maka Bait Allah bukan jaminan yang membuat orang
akan menyembah Allah dengan benar. Malah Stefanus menuduh bahwa orang-orang yang
beribadah di Bait Allah sebagai orang yang tegar tengkuk dan tidak bersunat hati dan
telinga, yang menolak Roh Kudus dan yang menghiati Orang Benar itu, dengan demikian
Stefanus secara implisit menjelaskan bahwa orang-orang yang menentang Injil itu yaitu
orang-orang yang mengikuti teladan hidup nenek moyang mereka yang suka memberontak.
Stefanus dituduh menghujat hukum Musa, namun dia menjelaskan bahwa bukan dirinya yang
menentang Hukum Musa namun justru orang-orang Yahudi sejak zaman Musalah yang
melanggar Firman Tuhan. Stefanus dituduh menghujat Allah sebab mengesampingkan Bait
Allah. Jawaban Stefanus yaitu bahwa sejarah Israel sendiri membuktikan bahwa Bait Allah
hanya merupakan bangunan sementara dan tidak menjadi jaminan untuk menyembah Allah
yang benar. Jadi kesimpulan Stefanus yaitu bahwa sebenarnya bahwa merekalah
(anggota sidang itu dan sejumlah orang Yahudi) yang menentang Allah, mereka menerima
Hukum Taurat namun tidak menurutinya.
Kemudian sesudah Stefanus memberi penjelasan yang sangat baik itu, maka pada
ayat 55, 56 di katakan bahwa anggota mahkamah agama itu sangat marah. namun Stefanus
tidak terpengaruh, sebab pada saat itu Allah memberi penglihatan kepadanya, dimana
dia melihat Anak Manusia yang berdiri di sebelah kanan Allah. Lalu Stefanus berkata:
Sungguh aku melihat langit terbuka dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah.” Kata
Anak Manusia yang dimaksud oleh Stefanus yaitu menunjuk kepada Mesias.
Selanjutnya ayat 57-60 yaitu menceritakan bagaimana Stefanus di seret ke luar
kota dan akhirnya dia dilempari dengan batu, dan sementara dia dilempari batu dia berdoa
kepada Tuhan supaya Tuhan menerima rohnya dan dia juga memuliakan Allah dan bahkan
berdoa buat orang-orang yang membunuhnya supaya Tuhan mengampuni mereka. Saulus
yang kemudian menjadi Rasul (Rasul Paulus) ikut menyaksikan pelaksanakan hukuman itu
dan berdiri dekat jubah-jubah para algojo. Sekarang kita masuk kepada Kisah Para Rasul
8:1-3. tiga ayat ini membicarakan tentang Saulus sebelum dia bertobat. Dalam ayat pertama
dikatakan bahwa Saulus juga setuju bahwa Stefanus mati di bunuh. Kitab Kisah Para rasul
dan surat-surat rasuli memberi cukup data untuk menggambarkan kehidupan Saulus
pada masa mudanya. Ia dilahirkan di Tarsus di Kilikia (Kisah Para Rasul 22:3), dia juga
disebut sebagai orang Ibrani yang paling Ibrani atau yang paling murni (2 Korintus 11:22;
Filipi 3:5), “keturunan orang Farisi” (Kisah Para Rasul 23:6), dan warga negara Roma (Kisah
Para Rasul 16:37; 22:25-28). Ia di didik di Yerusalem oleh Gamaliel (Kisah Para Rasul 22:3)
dan menjadi orang Farisi yang taat (Kisah Para Rasul 26:4-5; Filipi 3:5). Ia seorang pemuda
Farisi yang paling berpotensi di Yerusalem. Kenyataan-kenyataan diatas ini menunjukkan
bahwa bisa saja dia yaitu salah satu anggota Sanhedrin. namun hal itu tidak dijelaskan
dalam Alkitab. Semangat Saulus untuk hukum Taurat dengan jelas ditunjukkan dalam
penganyiayaan terhadap gereja. (Galatia1:13-14; Filipi 3:6). Ia mengira bahwa menganyiaya
orang-orang percaya yaitu salah satu cara untuk melayani Allah. Saulus menganyiaya
orang percaya dimana ia Berusaha membinasakan jemaat; kata kerja membinasakan
menggambarkan dimana si pembinasa itu seperti seekor binatang buas yang sedang
mengoyak-ngoyak mangsanya. saat Kristus berbicara kepada Saulus di jalan ke Damsyik,
Yesus menggambarkan Saulus seperti itu (Kisah Para Rasul 9:5). Perajaman Stefanus yang
disetujui oleh Saulus merupakan suatu kesaksian dari seorang penganyiaya jemaat yang
akhirnya di panggil Tuhan menjadi rasul-Nya. Pada ayat 3 dijelaskan, dimana Saulus yaitu
salah satu tokoh yang menggerakkan penganyiayaan orang-orang percaya. (lihat Galatia
1:13, 23; 1 Korintus 15:9; Filipi 3:6). Saulus yakin bahwa gerakan baru yang menyatakan
seorang penghujat Allah yang disalibkan itu sebagai Mesias tidak mungkin berasal dari
Allah. sebab Pejanjian Lama menyebut sebagai terkutuk setiap orang yang digantung pada
salib. Ini merupakan bukti Alkitabiah menurut Saulus, bahwa Yesus yaitu seorang penipu
dan gerakan baru ini bersifat menghujat.
5. Injil Di Samaria (8:4-25)
Pada bagian ini Lukas pertama-tama mencatat penyebaran Injil ke Samaria. Orang-
orang Samaria merupakan keturunan campuran dari golongan sisa Israel dengan bangsa-
bangsa asing yang ditempatkan di Samaria oleh bangsa Asyur yang menaklukkan mereka
sementara kalangan kelas atas sudah di buang (II Raja-raja 17). Orang-orang Samaria telah
mendirikan Bait Suci di Gunung Sikhem (lihat Yohanes 4:20). sebab orang-orang Yahudi
menganggap orang Samaria sebagai suku campuran baik secara keturunan maupun secara
agama, berbagai prasangka kesukuan yang bersifat kekerasan harus diatasi sebelum gereja
dapat menjadi umat yang sungguh-sungguh universal.
Kisah Para Rasul 8: 4-5 menjelaskan bahwa penganyiayaan kepada jemaat dan
kepada para rasul telah mengakibatkan tersebarnya Injil ke berbagai daerah. Kata tersebar
dalam ayat ini diterjemahkan dari kata Yunani diaspeiro yang dalam artian menyebarkan
benih. Orang percaya di Yerusalem itu yaitu benih-benih Allah, dan penganyiayaan itu
digunakan oleh Allah untuk menanam benih-benih itu ke tanah yang baru, sehingga mereka
dapat menghasilkan buah (Matius 13:37-38). Beberapa diantara mereka pergi ke seluruh
Yudea dan Samaria (ingat kembali Kisah Para Rasul 1:8) dan sebagian lagi pergi ke tempat
yang lebih jauh (Kisah Para Rasul 11:19). Sebagian penafsir berkata bahwa Allah
mengizinkan penganyiayaan itu terjadi sebab orang-orang percaya tidak tanggap dan harus
di paksa untuk pergi memberitakan Injil keluar dari Yerusalem. Pernyataan ini tidak dapat kita
setujui, sebab kenyataan bahwa Saulus juga menganyiaya orang-orang percaya bahkan
sampai ke kota-kota asing. Artinya bahwa penganyiayaan bukan hanya terjadi di Yerusalem
(Kisah Para Rasul 26:11) dan jika Saulus menganyiaya hingga ke kota-kota asing itu berarti
bahwa kesaksian orang-orang percaya sudah merambah ke luar kota Yerusalem. Filipus
memberitakan Injil di Samaria, dimana pada waktu itu rasul-rasul masih tinggal di Yerusalem.
Lukas menulis tentang apa yang dikerjakan Filipus di Samaria, yaitu memberitakan Mesias
kepada orang-orang disitu (memberitakan Injil) mungkin sebab Lukas (penulis KIsah Para
Rasul) mengingat nubuatan Tuhan Yesus tentang Penginjilan di daerah Samaria itu. “namun
kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi
saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi” (Kisah
Para Rasul 1:8)
Kemudian ayat 6 dan 7 menjelaskan bahwa Allah memakai Filipus untuk
memberitakan Injil yang juga diserti denan tanda-tanda heran. Penekanan dalam mengenai
kata mendengar dan kata diberitakan tentang Injil yaitu menegaskan tentang pentingnya
mendengar Injil yang diberitakan itu untuk keselamatan. Ayat 8 menceritakan, dimana kota
Samaria di penuhi dengan sukacita yang luar biasa. Sukacita itu yaitu sukacita dari
berbagai hal yang menjadi satu yaitu: sukacita keselamatan, sukacita penyembuhan, sukacita
dari iman, sebab jika manusia tidak memiliki iman yang kokoh dia pasti dikuasai oleh
keraguan, keluh kesah dan kesedihan, sukacita dari kasih. Injil menyadarkan manusia dari
dosa sehingga mendatangkan kegelisahan dalam hatinya, kemudian bertobat dan akan
mempunyai sukacita yang diberikan Roh Kudus. Dosa yang telah diperbuat akan dihapuskan
oleh darah Kristus, sehingga damai sejahtera memenuhi hati mereka; tidak hanya demikian
mereka akan dipenuhi sukacita sebab Tuhan terus menyertainya.
Kisah Para Rasul 8:9-25 menceritakan tentang Simon si Tukang sihir, dalam ayat
yang cukup panjang ini, kembali kita melihat dimana Iblis selalu ingin menghancurkan
kesaksian gereja dari dalam. Sudah merupakan prinsip dasar dalam Alkitab, bahwa dimana
Allah menaburkan benih gandum-Nya, disana Iblis juga menaburkan benih lalangnya (Matius
13:24-30, 36-43). Hal ini juga terjadi dalam pelayanan Yohanes Pembaptis (Matius 3:7),
pelayanan Yesus (Matius 23:15,33; Yohanes 8:44), dan dalam pelayanan Paulus (Kisah Para
Rasul 13:6; 2Korintus 11:1-4, 13-15). Musuh itu datang seperti singa yang akan menelan
mangsanya dan jika pendekatannya gagal, ia akan datang seperti ular untuk menipu. Dalam
kasus ini yang menjadi alat Iblis yaitu seorang tukang sihir yang bernama Simon.
Kata yang diterjemahkan dengan takjub dalam ayat 9 dan 11 berarti “membuat orang heran
dan kacau.” Dalam ayat 11 Simon juga merasa takjub. Orang banyak merasa terpesona
dengan apa yang dilakukan Simon sehingga mereka percaya kepada apa saja yang
dikatakannya. Mereka menganggapnya sebagai kuasa Allah yang terkenal sebagai kuasa
besar. namun yang sebenarnya Simon di beri kekuatan oleh Iblis, bukan oleh Allah. Namun
orang-orang yang belum disinari oleh Roh Kudus selalu memiliki penilaian yang salah
menurut hati yang dikuasai oleh kegelapan, sehingga kuasa Iblis yang fana itu dianggap
sebagai kuasa Allah. Ada perbedaan yang menyolok antara sihir Simon dengan Mukjizat
yang Filipus lakukan. Sihir Simon dia pergunakan untuk meninggikan dirinya sendiri,
sedang Mukjizat Filipus yaitu dari Allah dan untuk memuliakan Allah.
Pada ayat 12 di ceritakan, dimana pada waktu orang Samaria mendengar berita
Filipus banyak orang yang menjadi percaya dan meminta diri baptis. sebab semakin hari
semakin banyak orang yang percaya kepada Filipus maka otomatis pengaruh Simon si
tukang sihir itu semakin berkurang. Kemudian di ayat 13 dikatakan bahwa Simon menjadi
percaya, namun nanti di ayat 20 Petrus mengecam dia dengan keras “binasalah engkau…” ini
kadangkala menjadi pertanyaan, apa maksudnya percaya dalam ayat 13 ini. Kita dapat
menjajawab pertanyaan ini dengan mengajukan satu pertanyaan lagi. Apa yang menjadi
dasar “imanya”? Imanya tidak berdasar pada Firman Allah, namun pada mukjizat-mukjizat
yang dilakukan oleh Filipus; dan tidak ada petunjuk bahwa Simon telah bertobat dari dosa-
dosannya. Tentu ia tidak percaya dengan segenap hatinya (ay 37). Imanya sama seperti
iman orang-orang Yerusalem yang menyaksikan Tuhan Yesus membuat mukjizat (Yohanes
2:23-25) atau bahkan seperti setan-setan (Yakobus 2:19). Simon terus bersama-sama
dengan Filipus, namun bukan untuk mendengar Firman Allah dan belajar lebih dalam tentang
Yesus Kristus, melainkan untuk menyaksikan mukjizat-mukjizat dan kalau mungkin belajar
untuk melakukannya. Jika membaca ayat 14 kita mengingat bahwa orang-orang Samaria
tidak menerima karunia Roh Kudus saat mereka menjadi percaya. Oleh sebab itu
diperlukan dua orang rasul, Petrus dan Yohanes untuk datang dari Yerusalem
menumpangkan tangan ke atas orang-orang yang sudah bertobat itu, dan berdoa bagi
mereka agar menerima karunia Roh. Mengapa? sebab Allah ingin mempersatukan orang-
orang Samaria yang percaya dengan gereja Yahudi yang mula-mula di Yerusalem.
Sepuluh pasal pertama Kisah Para Rasul yaitu mencatat masa transisi, dari bangsa
Yahudi ke bangsa Samaria lalu kepada bangsa-bangsa lain. Pola Allah untuk masa kini
diberikan di Kisah Para Rasul 10: orang berdosa mendengarkan Injil menjadi percaya,
menerima karunia Roh dan kemudian di baptis. Sangatlah berbahaya jika mendasarkan
doktrin atau perbuatan hanya dari apa yang tercatat dalam Kisah Para Rasul 1-10, sebab
mungkin saja anda membangun pada dasar yang sementara dan bersifat transisi. Mereka
yang menyatakan bahwa kita harus dibaptis sebelum menerima karunia Roh (2:38), akan
mengalami kesulitan dalam menjelaskan apa yang terjadi pada orang-orang Samaria; dan
mereka yang mengatakan bahwa kita harus ditumpangi tangan untuk menerima karunia Roh
akan mengalami kesulitan dalam menjelaskan Kisah Para Rasul 10. jika anda menerima
Kisah Para Rasul 1-10 sebagai transisi dalam rencana Allah, dengan Kisah Para Rasul 10
sebagai klimaksnya, maka masalah itu teratasi.
Pada ayat 18 kejahatan Simon terbongkar, ternyata Simon bukan hanya ingin
membuat mukjizat, namun ia juga ingin kuasa untuk dapat menyalurkan karunia Roh Kudus,
kepada orag lain – dan ia mau membayar berapa saja untuk mendapatkan kuasa itu.
Kejahatan Simon itu yaitu bahwa dia menilai kuasa Allah sama dengan nilai mata uang, ia
ingin meninggikan dirinya sendiri dengan memakai berkat Allah, ia masih terikat dengan
pikiran sihir atau sulap sehingga dia berpikir bahwa penumpangan tangan itulah yang
membawa kepenuhan Roh Kudus.
Sehingga pada ayat 20 kata-kata Petrus kepada Simon menunjukkan bahwa Simon
tukang sihir itu belum bertobat. “binasalah kiranya uangmu itu bersama dengan engkau”
merupakan kata yang sangat keras seandainya digunakan kepada orang percaya.
Kemudian pada ayat 22 Petrus menegor Simon dengan tegas supaya ia bertobat dan
supaya Tuhan mengampuni niat hatinya. Kata niat hati disini berarti rencana atau rancangan
dalam arti yang buruk. Selanjutnya ayat 23 Petrus berkata bahwa hati Simon seperti empedu
yang pahit dan terjerat dalam kejahatan, hal ini menunjukkan bahwa ia tidak pernah benar-
benar dilahirkan kembali. Ayat 24 merupakan tanggapan Simon terhadap apa yang dikatakan
Petrus. Namun sama sekali dia tidak menunjukkan pertobatan. Ia lebih memikirkan
bagaimana menghindari hukuman dibandingkan bagaimana menjadi benar dihadapan Allah.
Tidak ada bukti bahwa ia bertobat dan mencari pengampunan. Orang berdosa yang hanya
ingin di doakan orang lain namun tidak mau berdoa sendiri, tidak akan masuk ke Kerajaan
Allah. Hal ini menjadi renungan bagi kita, dimana seseorang bisa begitu dekat dengan
keselamatan, namun tetap tidak bertobat. Simon mendengar Injil, menyaksikan Mukjizat,
memberi pengakuan iman kepada Kristus dan di baptis, namun meskipun demikian ia tidak
pernah dilahirkan kembali. Ayat 25 menjelaskan bahwa Petrus dan Yohanes kembali ke
Yerusalem, namun mereka tidak mau kehilangan kesempatan untuk membagikan kabar baik
kepada orang lain. Jadi sepanjang perjalanan pulang mereka memberitakan Injil.
6. Pertobatan Sida-Sida Etiopia (8:26-40)
Sida-sida ini yaitu orang yang ingin mencari kebenaran. Dia menempuh perjalanan
yang panjang (sekitar 300KM dari Nubia Kuno/ Mesir Selatan yang waktu itu disebut Etiopia
menuju ke Yerusalem). Orang Etiopia ini mewakili banyak orang pada masa kini yang
beragama, membaca kitab suci, dan mencari kebenaran, namun tidak mempunyai iman yang
menyelamatkan didalam Yesus Kristus. Mereka yaitu orang-orang yang tulus namun
terhilang. Mereka memerlukan seseorang untuk menunjukkan yang benar. Pada saat Filipus
mendekati kereta itu, dia mendengar orang itu membaca dari kitab Nabi Yesaya. Itu berarti
bahwa dia telah dipersiapkan oleh Allah untuk diselamatkan. Yesaya 53 yaitu fasal yang
dibacanya. Pasal ini berisi nubuat yang mengenai hamba Allah yang menderita.
Yesaya 53 :7-8, merupakan fokus perhatian dari sida-sida etopia itu, Ayat itu
memberi penjelasan tentang korban pengganti, dimana Yesus Kristuslah penggenapan
nubuat yang ada dalam Perjanjian Lama ini , dan sesudah orang Etiopia itu percaya
maka dia meminta diri di baptiskan dan Filipus membaptiskannya diatas pengakuan imannya
sendiri. Hal itu terlihat dimana pada ayat-ayat ini kita melihat dimana saat sida-sida Etiopia
itu bertanya, “...apakah halangannya jika aku di baptis,“ lalu Filipus memberitahukan syarat
baptisan itu sendiri, dia berkata Jika tuan percaya dengan segenp hati, boleh. Lalu sida-sida
Etiopia itu berkata aku percaya. Maka akhirnya Filipus membaptiskan sida-sida Etiopia itu
atas pengakuan imannya. Jadi jelas sekali bahwa syarat dari baptisan yaitu bahwa orang
yang hendak dibaptiskan itu sudah percaya atau sudah diselamatkan. Kemudian ayat 40
perlu kita bahas, ayat ini menceritakan tentang Filipus, sesudah dia selesai memberitakan Injil
kepada Sida-sida Etiopia itu. Filipus dilarikan oleh Roh Kudus untuk melayani di tempat lain,
namun sida-sida itu meneruskan perjalananya dengan sukacita. Allah tidak mengijizinkan
Filipus memuridkan orang yang baru percaya ini, namun Allah sudah pasti mengatur soal itu.
Filipus sampai di Asdod, kira-kira 30 km dari Gaza; kemudian berjalan menuju Kaisarea,
perjalanan sejauh kira-kira 90 km. seperti halnya Petrus dan Yohanes, Filipus memberitakan
Injil dalam perjalanan itu (Kisah Para Rasul 8:25), yaitu menceritakan tentang Juruselamat
kepada orang lain. Kira-kira dua puluh tahun kemudian kita bertemu dengan Filipus yang
tinggal di Kaisarea dan masih terus melayani Allah sebagai seorang penginjil (Kisah Para
Rasul 21:8).
Pada saat kita mempelajari perkembangan Injil selama masa transisi ini (Kisah Para Rasul 2-
10), anda melihat bagaimana Roh Kudus menjangkau keseluruh dunia. Di dalam Kisah Para
Rasul 8, orang Etiopia yang baru bertobat itu yaitu keturunan Ham (Kejadian 10:6, dimana
“Kusy” mengacu pada Etiopia). Di dalam Kisah Para Rasul9 Saulus dari Tarsus
diselamatkan; sebab ia yaitu orang Yahudi maka ia yaitu keturunan Sem (Kejadian
10:21). Di dalam Kisah Para Rasul 10 orang-orang non Yahudi menemukan Kristus, dan
mereka yaitu keturunan Yafet (Kejadian10:1); seluruh dunia di huni oleh keturunan Sem,
Ham dan Yafet dan Allah ingin agar seluruh dunia – semua keturunan mereka – mendengar
berita Injil (Markus 16:15; Matius 28:18-20).
7. Pertobatan Saulus (9:1-31).
Kisah pertobatan Saulus disisipkan kedalam narasi tentang perluasan Injil di
Palestina. Catatan pelayanan Petrus yang telah mengellni Samaria untuk memberitakan Injil
(8:25), dilanjutkan pada 9:32. pada saat Injil bergerak keluar menjangkau orang bukan
Yahudi, Allah mempersiapkan sebuah alat pilihan yang menjadi alat utama di dalam misi ini.
sebab itu Lukas menghentikan narasinya untuk menceritakan pertobatan Saulus, dan juga
untuk menjelaskan akhir dari penganyiayaan terhadap gereja. Kisah pertobaan Saulus dari
Tarsus itu dibrikan tiga kali di dalam kitab Kisah Para Rasul, yaitu dalam fasal 9,22, dan 26.
sesuai dengan catatan yang sedang kita teliti. Saulus mengalami empat peristiwa yang
secara keseluruhan mengubah kehidupannya; Pertama: ia bertemu dengan Yesus Kristus
(Kisah Para Rasul 9:1-9),Kedua: ia bertemu dengan Ananias (Kisah Para Rasul 9:10-19,
Ketiga: ia menghadapi perlawanan (Kisah Para Rasul 9:20-25), Keempat: ia bertemu dengan
orang-orang percaya di Yerusalem (Kisah Para Rasul 9:26-31).
Ayat 1-9 (Paulus bertemu dengan Yesus Kristus). Jika kita melihat Saulus dalam
perjalanan itu (ayat 1-2), maka kita akan melihat orang yang sangat bersemangat, yang
sungguh-sungguh merasa bahwa ia sedang melayani Allah dengan menganyianya gereja.
Meskipun ia mempunyai pengetahuan yang luar biasa (Kisah Para Rasul 26:24), Saulus buta
rohani (2 Korintus 3:12-18) dan tidak memahami apa yang sebenarnya diajarkan Perjanjian
Lama tentang Mesias. Seperti juga banyak orang sebangsanya, Saulus tersandung pada
salib (1 Korintus1:23) sebab ia bersandar pada kebenaranya sendiri, dan bukan pada
kebenaran Allah (Filipi 3:1-10; Roma 9:30-10:13). Pada masa kini banyak orang beragama
yang merasa benar sendiri tidak menyadari bahwa ia membutuhkan juruselamat dan akan
marah jika kita memberitahu bahwa mereka orang berdosa. Sikap Saulus seperti binatang
yang sedang marah dan sangat berbahaya, seperti halnya rabi-rabi lain, ia percaya bahwa
hokum Taurat harus di taati sebelum Mesias datang; namun yang dianggap mereka sebagai
para penganut bidat itu memberitakan hal-hal yang bertentang dengan Hukum Taurat, Bait
Allah, dan tradisi para leluhur (Kisah Para Rasul 6:11-13). Saulus membinasakan gereja-
gereja di Yudea (Galatia 1:23) kemudian mendapat wewenang dari Imam besar untuk pergi
sampai ke Damsyik untuk memburu murid-murid Yesus. Ini bukanlah hal yang dianggap
sepele, sebab ia memiliki wewenang dari dewan tertinggi Yahudi (Kisah Para Rasul 22:5).
Damsyik mempunyai sejumlah besar penduduk Yahudi, dan diperkirakan waktu itu ada tiga
puluh sampai empat puluh sinagoge di kota itu. Kenyataan bahwa di kota itu sudah ada orang
yang percaya menunjukkan betapa efektifnya gereja menyebarkan berita itu. Beberapa dari
orang percaya itu mungkin yaitu mereka yang melarikan diri dari penganyianyaan di
Yerusalem. Ini menjelaskan mengapa Saulus meminta wewenang untuk menyeret mereka
kembali. Orang-orang percaya masih terus memiliki pertalian dengan sinagoge, sebab baru
beberapa tahun kemudian mereka berpisah dengan Yudaisme. (Lihat Yakobus 2:2 dimana
kata “kumpulan” itu berarti “sinagoge” dalam bahasa Yunani).
sesudah kita membaca ayat 4, kita mendapat penjelasan bahwa tiba-tiba Paulus
mendapati dirinya terkapar di tanah. Itu bukan disebabkan oleh sengatan panas matahari
atau serangan penyakit ayan, melainkan sebab pertemuan pribadi dengan Yesus Krstus.
Pada waktu tengah hari (Kisah Para rasul 22:6), ia melihat cahaya yang sangat menyilaukan
dari langit dan mendengar suara memanggil namanya (Kisah Para Rasul 22:6-11). Orang-
orang yang bersama-sama dengan dia juga rebah ke tanah (Kisah Para Rasul 26:14) dan
mendengar suara (bisa juga bunyi) itu, namun mereka tidak mengerti perkataan yang
diucapkan dari sorga itu. Mereka berdiri terheran-heran (9:7) mendengar Saulus berbicara
dengan seseorang namun tidak tahu apa yang sedang terjadi. Saulus dari Tarsus menemukan
beberapa hal yang indah pada hari itu. Mula-mula, dengan sangat heran ia menemukan
bahwa Yesus dari Nazaret itu benar-benar












