Kamis, 16 Juli 2026

kisah para rasul 5



Masuk dan tinggal di dalamnya. Gereja yaitu 

prajurit-prajurit Allah (2Tim 2:1-4), dan Iblis berusaha memasukkan sebanyak mungkin

penghianat  ke  dalamnya.  Gereja  tidak  akan  ada  dalam  bahaya  selama  Iblis  hanya

menyerang dari luar; sebaliknya jika Iblis menyerang dari dalam, gereja berada dalam

bahaya. Ananias mati dan dikuburkan, dan Safira bahkan tidak mengetahui hal itu! Iblis

selalu  membiarkan  para  pengikutnya  berada  dalam  kegelapan,  sedang   Allah

memimpin  hamba-hamba-Nya  di  dalam  terang  (Yoh  15:15)  Petrus  menuduh  Safira

mencobai Roh Tuhan, yaitu dengan sengaja tidak menaati Allah untuk melihat sampai

berapa jauh Allah membiarkan dia. Sebenarnya mereka mencobai Allah dan menantang

Dia untuk bertindak – dan Dia benar-benar bertindak dengan cepat dan tuntas. Tentu ini

sangat  bertentangan  dengan  Firman  Allah  dalam  Matius  4:7,  “Janganlah  engkau

mencobai Tuhan Allahmu.” Akibat peristiwa ini, takut akan Tuhan melanda gereja dan

semua orang yang mendengar kabar itu (Kisah Para Rasul 5:11). Menjadi renungan bagi

kita, mari kita memeriksa kehidupan kita sendiri untuk melihat apakah yang kita katakan

sesuai dengan yang kita lakukan. Apakah yang kita doakan di depan umum sungguh-

sungguh tulus? Apakah kita menyanyikan lagu-lagu rohani atau pujian kepada Tuhan

dengan tulus, atau sekedar kebiasaan. Kita telah bergerak dari “kuasa yang besar” dan

“kasih karunia yang berlimpah-limpah” (Kisah Para Rasul 4:33) ke “ketakutan yang luar

biasa”; dan semuanya ini harus ada dalam gereja. “marilah kita mengucap syukur dan

beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan

takut. Sebab “Allah kita yaitu  api yang menghanguskan” (Ibrani 12:28-29). 

Ayat  12  ada   kata  tanda  (σημει)  dan  mukjizat  (τερατα).  Kedua  kata  ini

sebenarnya  yaitu   mengacu  kepada suatu  keajaiban.  Pada waktu  gereja  mula-mula

Allah melakukan keajaiban-keajaiban agar orang-orang percaya pada Injil  (Ibrani  2:4).

Kebenaran  bahwa  Yesus  yaitu   Mesias  terbukti  melalui  keajaiban-keajaiban  yang

dinyatakan oleh rasul-rasul.

Ayat 13 memberi  penjelasan kepada kita, dimana orang-orang yang belum

percaya, sangat sulit  untuk masuk kedalam persekutuan orang percaya. Sebab orang

yang  belum bertobat  yaitu   orang  yang  belum berdamai  dengan  Allah  atau  disebut

sebagai seteru Allah dan oleh sebab itulah mereka tidak akan bergabung dengan orang-

orang yang sudah bertobat, kecuali sesudah  mereka bertobat sungguh-sungguh. Apalagi

saat  itu baru saja mereka melihat ada pasangan suami isteri  yang merupakan seteru

Allah  dihukum atau  dibunuh  oleh  Allah  sebab   dosa-dosanya.  namun   dalam ayat  ini

meskipun orang-orang tidak berani menggabungkan diri dengan mereka namun  mereka

sangat  dihormati  oleh  orang  banyak,  sekalipun  mereka  bukan  orang-orang  yang

terpelajar namun  mereka dihormati. Pada ayat 13 peristiwa Ananias dan Safira membuat

orang  banyak  (yang  tidak  percaya)  takut  menggabungkan  diri  dengan  orang-orang

percaya. 

namun  pada ayat 14, dijelaskan bahwa hukuman yang sangat dahsyat terhadap

Ananias dan Safira itu membawa banyak orang berbalik kepada Tuhan. Banyak orang

yang akhirnya menjadi percaya sesudah  melihat kuasa Allah yang nyata dan dahsyat itu.

Selanjutnya  kita  melihat  pada  ayat  15,  dimana  orang-orang  percaya  banyak  datang

membawa  orang  sakit  supaya  apabila  Petrus  lewat,  setidak-tidaknya  bayangannya

mengenai salah seorang diantaranya dan dengan demikian dia disembuhkan oleh Tuhan.

Yang harus kita ingat dimana mukjizat terjadi bukan sebab  Petrus atau rasul-rasul lain,

orang-orang yang sembuh dari penyakitnya itu bukan sebab  para rasul, namun  sebab 

mereka beriman kepada Tuhan. Pada waktu Yesus berada di dunia ini, seorang ibu yang

sakit pendarahan hanya memegang jumbai jubah-Nya menjadi sembuh. namun  orang itu

sembuh  bukan  sebab   jumbai  jubah  Yesus  punya  jimat,  namun   hanya  sebab   yang

memegang jumbai jubah-Nya itu percaya kepada-Nya, oleh sebab  itu dia disembuhkan.

Hal yang sama juga terjadi di Kisah Para Rasul 5: 15 ini. Selanjutnya ayat 16,

juga  merupakan  lanjutan  yang  memberitahukan  bahwa  banyak  orang  dari  sekitar

Yerusalem datang  dan  berduyun-duyun serta  membawa orang-orang  sakit  dan  yang

diganggu roh jahat dan semua mereka disembuhkan. Kata mereka semua disembuhkan,

menunjuk bahwa tidak ada yang tidak dapat disembuhkan oleh Tuhan lewat perantaraan

rasul-rasulnya.  Hal ini  membuktikan bahwa Allah senantiasa menyertai mereka dalam

pemberitaan Injil.

d. Perlawanan Kedua dari para pemimpin Yahudi (5:17-42)

Mulai Kisah Para Rasul 5:17 kita akan kembali melihat, dimana Imam Besar dan

para pengikutnya dan juga Mazhab Saduki menentang Gereja dan Para Rasul.  Imam

besar ingin mempertahankan kuasanya yang semakin merosot; ia menjadi iri  hati  dan

mulai menganyiaya rasul-rasul. Mazhab Saduki juga ikut, sebab  telinga mereka sudah

panas mendengarkan pengajaran rasul-rasul tentang kebangkitan orang mati, pada hal

mazhab saduki sangat menentang doktrin itu. Jadi dengan demikian Mazhab Saduki ikut

iri hati kepada rasul-rasul itu. Jadi jika kita melihat ayat ini, maka kita mengetahui bahwa

penentang-penentang itu menentang rasul-rasul yaitu  digerakkan oleh iri  hati,  bukan

sebab  mereka melihat bahwa apa yang diajarkan para rasul itu yaitu  pengajaran yang

salah.  Kadangkala orang mudah saja menyalahkan yang benar hanya sebab  iri  hati.

Dalam Amsal 14:30 dikatakan bahwa iri hati membusukkan tulang. Selanjutnya pada ayat

18 di  jelaskan bahwa mereka menangkap rasul-rasul  itu,  lalu  di  masukkan ke dalam

penjara. Hal itu mereka lakukan hanya sebab  mereka iri  hati,  lagi  pula mereka tidak

menemukan kesalahan pada rasul-rasul itu.

Selanjutnya pada ayat 19-20 diberitahukan bahwa pada waktu malam, Malaikat

Tuhan  membuka  pintu-pintu  penjara  dan  membawa  mereka  keluar,  lalu  menyuruh

mereka (rasul-rasul)  pergi  ke Bait  Allah untuk berkotbah tentang Injil  (Firman Hidup).

Malaikat Tuhan dalam ayat ini berbeda dengan Malaikat ALLAH (Kristus dalam Perjanjian

Lama) malaikat yang dimaksud disini yaitu  malaikat biasa, yaitu yang disuruh Tuhan

untuk menolong para rasul. Dalam Kisah Para Rasul ini, kita akan menemukan beberapa

peristiwa dimana malaikat melayani sebagai pernyataan pemeliharaan Allah atas umat-

Nya  (8:26;  10:3,7;  12:7-11,23;  27:23).  Selanjutnya  yaitu   kata  Firman  Hidup,  yang

disebut dalam ayat ini yaitu  berarti Firman kebenaran yang membawa kepada hidup

yang kekal (Injil/ kabar baik). 

Kemudian selanjutnya pada ayat 21, disebutkan bahwa para rasul itu menaati

pesan itu (berkotbah di Bait Allah). Mereka sangat mengasihi Kristus dan Injil dan dengan

senang  hati  mereka  namun   memberitakan  Injil,  walaupun  itu  akan  membawa  mereka

kembali ke penjara. Sementara para rasul itu sudah berkotbah di Bait Allah, Imam besar

dan pengikut-pengikutnya menyuruh mahkamah agama berkumpul dan menyuruh orang-

orangnya mengambil rasul-rasul itu dari penjara untuk disidangkan. Mereka tidak tahu

bahwa rasul-rasul itu sudah berkotbah di Bait Allah. 

Maka selanjutnya pada ayat 22-23 memberitahukan bahwa para pejabat-pejabat

yang diutus ke penjara untuk mengambil para rasul itu terheran-heran sebab rasul-rasul

itu tidak ada disana, pada hal para penjaga tetap ada di  depan pintu untuk menjaga

penjara  itu.  Dengan  membaca  ayat  ini  jelas  sekali  terbukti  bahwa  rasul-rasul  itu

dikeluarkan  secara  ajaib.  Orang-orang  yang  dimasukkan  kedalam  penjara  itu  tidak

ditemui padahal pintu penjara terkunci dengan sangat rapih. Pikiran manusia sangat sulit

memahami yang seperti ini, akan namun  bagi Allah tidak ada yang mustahil. Kita percaya

kepada Allah yang Maha Kuasa. Teolog-teolog liberal tidak mempercayai hal-hal yang

ajaib yang seperti ini, mereka ingin menghancurkan Iman Kristen yang benar.

Ayat 24 menjelaskan bahwa petugas yang pergi  ke penjara untuk mengambil

para rasul itu melaporkan kepada kepala pengawal Bait Allah dan Imam-imam kepala,

dan sesudah  mereka mendengar laporan itu mereka menjadi cemas dan bertanya-tanya

tentang apa yang telah terjadi pada rasul-rasul itu. Kata cemas (διηπορουν) seharusnya

di terjemahkan “tidak tahu berbuat apa-apa sebab  bingung.” Kuasa Allah sangat besar

melindungi rasul-rasul itu, sehingga mereka bingung dan tidak dapat berbuat apa-apa.

Sebenarnya  mereka  harus  bertobat  sesudah   melihat  keajaiban-keajaiban  itu,  namun 

mereka keras hati dan tetap menentang Injil. Oleh sebab  itu mereka untuk selamanya

akan  tetap  bingung,  kecuali  mereka  bertobat  dan  tidak  lagi  menentang  Injil.

Pada ayat 25 memberitahukan bahwa ada orang yang melaporkan kepada tua-tua dan

mahkamah agama itu, bahwa rasul-rasul yang dipenjarakan itu sedang mengajar Firman

Tuhan di Bait Allah. Hal ini menunjukkan bahwa bagi para Rasul itu tidak ada lain yang

ingin  mereka  lakukan  selain  menuruti  perintah  Allah.  Allah  memerintahkan  kepada

mereka untuk berkotbah di Bait Allah dan mereka menaatinya. 

Selanjutnya pada ayat 26 kepala pengawal Bait Allah mengambil kedua rasul itu.

Mereka  menangkap  kedua  rasul  itu  dengan  cara  tidak  sah,  namun   kedua  rasul  itu

mengikuti kepala pengawal Bait  Allah beserta anak buahnya dengan tak gentar.  Para

rasul yaitu  pemberita Firman Hidup, bukan pelanggar hokum oleh sebab  itu mereka

tidak takut sedikitpun, sebab  mereka bukan pelanggar hukum. Sebaliknya dalam ayat ini

dikatakan  bahwa  yang  menangkap  merekalah  yang  takut  dilempari  orang  banyak,

lagipula kalau hal itu sempat terjadi maka mereka akan kehilangan jabatannya, sebab

jabatan itu boleh tetap pada mereka jika ada dukungan orang banyak.

Kisah  Para  Rasul  5:27-28,  menjelaskan  bahwa  Petrus  dan  Yohanes

diperhadapkan kepada mahkamah agama, dan Imam Besar menanyai  mereka,  namun 

kelihatannya dalam ayat ini Imam besar tidak mempunyai pertayaan yang tidak dapat

dijawab oleh para Rasul itu, oleh sebab itu Imam Besar akhirnya hanya melarang mereka

untuk  berbicara  dalam  nama  Yesus.  Imam  Besar  itu  berkata  “dengan  keras  kami

melarang kamu mengajar dalam nama itu”. Penggalan ayat ini memberi gambaran bagi

kita bahwa Imam besar tidak menyukai nama Yesus, sehingga ia tidak menyebut nama

Yesus namun   hanya  memakai  kata  nama itu.  Mereka  menegor  dengan kalimat  kamu

hendak menanggungkan darah orang itu kepada kami. Hal ini menunjukkan kemunafikan

Imam  Besar  itu,  dia  sendiri  telah  berjuang  untuk  keras  sebagai  pemimpin  untuk

membunuh Yesus, namun  sekarang ia berlaku seperti sama sekali ia tidak ada kaitanya

dengan kematian Yesus. Mereka juga tidak tahu bahwa tujuan utama pemberitaan Injil

yang  dilakukan Petrus  dan Yohanes itu  bukanlah  untuk  mempersalahkan orang  lain,

namun  untuk membimbing orang berdosa kepada keselamatan. 

Pada ayat 29 Petrus menjawab mereka dengan penuh hikmat, jawaban ini juga

merupakan penghakiman kepada peserta sidang itu. Petrus berkata: “Kita harus lebih

taat  kepada  Allah  dibandingkan   kepada  manusia.”  Allah  telah  mencurahkan  Roh  Kudus

kepada Rasul-rasul dan memberi tugas kepada mereka untuk memberitakan Injil. Oleh

sebab   itu  mereka  tidak  menghiraukan  larangan  manusia  untuk  melaksanakan tugas

yang dipercayakan Allah. Jadi larangan manusia tidak akan mengubah pendirian mereka.

Kemudian pada ayat  30-32 kita  melihat  bahwa rasul-rasul  itu  juga tidak mau

mengubah  berita  mereka.  Petrus  malah  mendakwa  para  pemimpin  agama  dengan

tuduhan pembunuhan terhadap Yesus (lihat kembali Kisah Para Rasul 3:13-14; 4:10),

dan sekali lagi mengatakan bahwa Yesus Kristus telah bangkit dari antara orang mati.

Orang-orang Saduki pasti akan semakin marah mendengar hal itu. Petrus dengan tegas

berkata  bahwa  mereka  yaitu   saksi  dari  kebangkitan  itu.  Kata  saksi  yaitu   istilah

hukum. Seorang saksi yang menghadapi pengadilan harus bersaksi menurut kebenaran

yang telah disaksikannya.

Ayat  33,  memberitahukan  bagaimana  reaksi  oleh  peserta  sidang  itu  tentang

jawaban  Petrus.  Hati  mereka  tertusuk  dan  bermaksud  untuk  membunuh  para  rasul.

Dalam fasal 2:37 orang-orang yang mendengar perkataan Petrus terharu dan akhirnya

banyak  orang  yang  bertobat,  namun   pada  bagian  ini  Mahkamah  agama  sebaliknya

bermaksud membunuh Petrus dan Yohanes. Mahkamah Agama itu sudah tinggi hati dan

sangat sulit untuk bertobat, sebaliknya mereka hanya ingin mempertahankan kedudukan

mereka. 

Selanjutnya  ayat  34-39,  menjelaskan  tentang  pendapat  dari  seorang  yang

bernama Gamaliel guru dari Paulus. Dia yaitu  tokoh yang sangat dihormati oleh orang

banyak.  Seakan-akan dia  (Gamaliel)  membela rasul-rasul,  namun   cara yang dilakukan

sangat tidak tepat. Nasihat Gamaliel sebenarnya tidak bijaksana dan berbahaya, namun 

Allah memakai nya untuk menyelamatkan para rasul dari kematian. Gamaliel yaitu 

orang  Farisi,  namun   orang-orang  Saduki  menerima pendapatnya,  hal  itu  membuktikan

bahwa  dia  yaitu   orang  yang  terhormat.  Terlepas  dari  kenyataan  bahwa  Gamaliel

memakai kepala dingin dan bukan emosi yang memanas, namun pendekatannya masih

tetap salah. Pertama-tama, dia menggolongkan Yesus dan para Rasul sama dengan dua

orang pemberontak yang bernama Teudas dan Yudas, jadi bagi Gamaliel Yesus yaitu 

seorang fanatik yang berusaha memerdekakan bangsanya dari penjajahan Romawi. Dia

lupa bahwa Teudas dan Yudas tidak pernah bangkit dari antara orang mati, dia juga lupa

bahwa Teudas dan Yudas tidak pernah melakukan mukjizat yang seperti Yesus lakukan.

Memang  harus  diakui  bahwa  Gamaliel  mempunyai  logika  yang  baik,  yang  membuat

orang lain mengikuti pola pikirnya. Menurut pola pikirnya bahwa perusuh selalu akan ada

namun  segera sesudah  itu akan lenyap, dengan demikian dia berpikir bahwa Yeus dan para

Rasul yaitu  perusuh. Kesalahan yang kedua yaitu  dimana dia mempunyai pandangan

bahwa yang tidak berasal dari Allah akan gagal, hal ini memang benar, namun  jangan lupa

bahwa  keberhasilan  bukanlah  selalu  tanda  dari  kebenaran.  Iblis  sudah  berhasil

menguasai  manusia  yang berdosa,  namun   itu  bukan bukti  kebenaran  Iblis.  Kita  dapat

melihat bahwa kadangkala aliran sesat lebih cepat berkembang dibandingkan  gereja yang

memberitakan kebenaran. Kelemahan ketiga dari nasehat Gamaliel itu yaitu , dimana

dia ingin mendorong mahkamah agama itu untuk bersikap netral. 

Ayat 40 menjelaskan bahwa mahkamah agama itu akhirnya menerima nasehat

Gamaliel sehingga mereka tidak membunuh rasul-rasul. namun  walaupun demikian rasul-

rasul itu tidak dilepaskan begitu saja. mahkamah agama itu akhirnya menyesah mereka.

Mungkin tiga puluh sembilan pukulan (II Korintus 11:24), sebab  tidak menaati perintah

Sanhedrin sebelumnya. 

Ayat  41  dan  42  menjelaskan  bahwa para  rasul  sama sekali  tidak  berkurang

semangatnya,  sebab  mereka  menganggap  penderitaan  sebab   nama  Yesus  yaitu 

suatu kehormatan. Mereka melanjutkan terus pengajaran mereka dan memberitakan Injil

tentang Yesus yang yaitu  Mesias, baik secara umum di pelataran dan untuk bangsa

Yahudi di Bait Allah dan di dalam perkumpulan-perkumpulan Kristen yang diadakan di

rumah-rumah milik perseorangan.

3. Perluasan Gereja di Palestina melalui perserakan (6:1-12:25)

a. Pemilihan tujuh diaken (6:1-7)

Gereja sedang mengalami kesulitan dalam tahun-tahun permulaan dan hal ini

mempersulit  para rasul  untuk melayani  setiap orang.  Orang Yahudi  yang berbahasa

Yunani  datang ke Palestina dari  Negara lain,  sehingga mereka mungkin  tidak dapat

berbahasa Aram. sedang  orang Ibrani yaitu  penduduk Yahudi dari daerah itu dapat

berbicara dalam bahasa Aram maupun Yunani. Kenyataan bahwa orang-orang luar itu

telah terabaikan, telah menimbulkan situasi yang dapat memecah belah gereja. Namun

demikian  para  rasul  telah  menyelesaikan  masalah  itu  dengan sangat  bijaksana dan

sama sekali  tidak memberi  tempat  berpijak bagi Iblis  dalam persekutuan itu.  sebab 

adanya sungut-sungut dalam tubuh gereja itu, maka para rasul mempelajari situasinya

kemudian  menyimpulkan  bahwa merekalah  yang  salah,  dimana mereka  sangat  sulit

membagi  waktu antara pelayanan Firman,  doa dan juga pelayanan meja (pelayanan

kasih).  Kita  harus  mengingat  bahwa tugas  mulia  yang  diberikan  kepada para  Rasul

yaitu  untuk memberitakan Firman Allah atau Injil  (Matius 28:19-20). namun   ternyata

pemberitaan mereka terhambat sebab  sibuk juga mengurusi meja (pelayanan kasih).

Para rasul berkata “kami tidak merasa puas, sebab  kami melalaikan Firman Allah untuk

melayani  meja.”  Perkataan  rasul-rasul  ini  sebenarnya  bukan  sebab   mengabaikan

pelayanan  kasih,  namun   menegaskan  bahwa  perlu  membagi  tugas  untuk  pelayanan

ini . 

Selanjutnya pada ayat  3 para rasul  menyuruh jemaat itu untuk memilih tujuh

orang  yang  akan  melanyani  meja.  Hal  ini  membuktikan  bahwa  cara  kepemimpinan

Gereja mula-mula bukanlah sistim otoriter. Dalam hal ini kita melihat bahwa keputusan

diambil dari hasil kesepakatan jemaat bukan keputusan dari para rasul saja. ada dua

kwalifikasi dari orang yang akan dipilih ini  antara lain: penuh Roh dan Hikmat, dan

terkenal  baik.  Hal  ini  menjadi  pelajaran  bagi  gereja  Tuhan masa kini,  dimana untuk

memilih  pelayan,  seharusnya  dipilih  langsung  oleh  Jemaat,  dan  pemimpin  jemaat

seharusnya  akan  memilih  dengan kriteria  yang  seperti  ini.  Pelayan tidak  dipilih  oleh

pemimpin  dan  pelayan  juga  tidak  dipilih  berdasar   kriteria  kaya  atau  miskinnya

seseorang. 

Ayat  4  yaitu   merupakan alasan  dari  para  rasul  itu  supaya  jemaat  memilih

pelayanan meja. Kisah Para Rasul 6:5 menjelaskan bahwa jemaat menerima usul dari

para  rasul  itu,  sehingga  mereka  memilih  εξελεξαντο  dalam  bahasa  Yunani  cara

pemilihan yang seperti  ini tidak ditentukan dari atas. Sekali  lagi yang perlu kita ingat

bahwa cara pemilihan seperti  ini  bukanlah berdasar  kediktatoran pemimpin namun 

dari sifat demokratis dari gereja. 

Pada ayat 5 ini juga di daftarkan nama-nama yang terpilih sebagai pelayan meja

ini ,  antara  lain:  Stefanus,  Filipus,  Prokhorus,  Nikanor,  Timon,  Parmenas  dan

Nikolaus. Selanjutnya ayat 6 menjelaskan bahwa ketujuh orang yang telah dipilih oleh

jemaat itu ditahbiskan lewat penumpangan tangan para rasul. Hal seperti ini sudah biasa

di  praktekkan  dalam Perjanjian  lama  (Kejadian  48:13;  Imamat  1:4;  Bilangan  27:23).

Ketujuh  orang  yang  terpilih  diatas  akhirnya  di  dalam  tradisi  gereja  mereka  disebut

sebagai diaken. namun  dalam ayat ini tidak disebut demikian. Ayat 7 menjelaskan bahwa

pemilihan ketujuh orang ini  menambah keefektifitasan pelayanan rasul-rasul. Oleh

sebab itu semakin banyak orang yang menjadi percaya, bahkan sejumlah besar imam

menjadi percaya.

4. Peristiwa perserakan: Pelayanan dan kematian Stefanus sebagai Martir (6:8-8:3)

Kisah Para Rasul 6:8-15 berbicara tentang Stefanus. Dia yaitu  seorang yang penuh

Roh Kudus, dia sebenarnya dipilih untuk melayani meja. namun  Tuhan memakai dia bukan

hanya melayani meja saja. dia juga memenangkan jiwa yang terhilang dan bahkan dipakai

Tuhan  untuk  menunjukkan  mukjizat.  Kesaksian  Stefanus  menjadi  klimaks  dari  kesaksian

gereja kepada orang Yahudi. Sesudah itu berita Injil tersebar kepada orang-orang Samaria

dan kemudian kepada orang-orang non Yahudi. Orang Yahudi dari berbagai bangsa tinggal

di Yerusalem di daerahnya masing-masing dan beberapa dari kelompok etnis ini mempunyai

sinagoga sendiri.  orang-orang yang dimerdekakan ini  (Libertini)  yaitu  keturunan bangsa

Yahudi yang pernah di tawan namun  memperoleh kebebasan dari Romawi. sebab  Paulus

berasal dari Tarsus di Kilikia (Kisah Para Rasul 21:39), maka mungkin saja ia sudah pernah

mendengarkan kesaksian Stefanus di Sinagoga, dan mungkin saja sudah pernah berdebat

dengannya. Namun demikian tidak seorangpun dapat menandingi atau menolak hikmat dan

kuasa Stefanus (Lihat Lukas 21:15). Satu-satunya pilihan mereka hanyalah membunuh dia.

Perlakuan mereka tehadap Stefanus sama seperti perlakuan para pemimpin Yahudi terhadap

Yesus. Pertama mereka memajukan para saksi-saksi palsu. Kemudian mereka menghasut

orang-orang untuk mengatakan bahwa Stefanus telah menghujat Hukum Taurat Musa dan

Bait  Allah.  Akhirnya  sesudah   mendengarkan  kesaksian  Stefanus,  mereka  menjatuhkan

hukuman mati bagi dia (lihat Matius 26:59-62 dan Yohanes 2:19-22). Orang-orang Yahudi

sangat bangga dengan hukum taurat mereka dan mereka tidak dapat mengerti bahwa Kristus

telah datang untuk menggenapi hukum taurat dan membawa zaman baru. Mereka sangat

bangga Bait Allah mereka dan mereka tidak mau percaya bahwa Allah akan mengizinkan Bait

Allah itu di hancurkan. Stefanus dalam pelayanannya menghadapi kebutaan rohani seperti

yang dihadapi oleh nabi Yeremia dalam pelayananya (lihat Yeremia7). Gereja menghadapi

tantangan dari tradisi Yahudi bertahun-tahun sesudah itu, dan para pemimpin mereka sendiri

(Kisah  Para  Rasul  15)  dan  dari  guru-guru  palsu  yang  datang  dari  luar  (Galatia  2:4).

Musuh-musuh itu menyergap Stefanus dan menyeretnya pada saat dia sedang melayani; dan

mereka membawa dia ke hadapan mahkamah agama, yaitu mahkamah agama yang sama

yang telah menghakimi  Yesus dan para rasul.  Bahkan Stefanus tidak perlu  bicara untuk

memberi kesaksian, sebab  dari cahaya wajah Stefanus, semua orang mengetahui bahwa dia

yaitu  hamba Allah. Tentu saja para anggota Sanhedrin itu ingat kisah tentang wajah Musa

yang bercahaya (Keluaran 34:29-30). Seolah-olah Allah berkata, “Orang ini tidak menentang

Musa – ia yaitu  hambaku yang setia!”

Selanjutnya dalam pasal 7 ayat 1 Imam besar bertanya Stefanus, apakah tuduhan

yang dituduhkan kepadanya benar, atau apakah ia telah menghujat Musa, dan apakah ia

berkata bahwa Yesus akan merubuhkan Bait Allah dan juga akan mengacaukan adat istiadat

bangsa itu. 

Kemudian di  ayat  2  Stefanus memberi  jawaban yang panjang lebar,  dia  tidak

hanya  sekedar  berusaha  menunjukkan  bahwa  tuduhan-tuduhan  yang  dilancarkan

kepadanya itu yaitu  salah. namun  dia juga mengemukakan keyakinannya bahwa Bait Allah

dan  negeri  Palestina  tidak  dibutuhkan  untuk  menyembah  Allah  dengan  benar.  Dia

menyajikan tentang sketsa singkat tentang sejarah Israel  untuk menunjukkan: (a) Bahwa

Allah telah memberkati  nenek moyang mereka sekalipun para leluhur itu  tidak tinggal  di

Palestina; (b) Bahwa sepanjang sebagian besar sejarah Israel tidak menyembah Allah di

Bait Allah; (c) Kepemilikan Bait Allah tidak mencegah Israel utuk tidak menjadi pemberontak

dan tidak taat kepada Allah. Tujuan dari ucapan ini ialah untuk menunjukkan dari sejarah

Israel  bahwa  memiliki  Bait  Allah  bukan  sesuatu  jaminan  untuk  bisa  menyembah  Allah

dengan benar. Dan hal itu berguna untuk mendukung pokok utama yang dikemukakan oleh

Stefanus, bahwa sebab  Mesias sekarang telah datang, maka ibadah orang Yahudi di Bait

Allah di Yerusalem itu telah merupakan hal yang usang. Disini kita dapat melihat sebuah

fakta  bahwa:  Panggilan  Allah  kepada  Abraham tidak  terjadi  di  Tanah Perjanjian.  namun 

saat  Abraham berada jauh dari situ, yaitu di Mesopotamia. Stefanus menceritakan tentang

kunjungan  Tuhan  saat   Abraham masih  berada  di  Mesopotamia,  yang  hasilnya  yaitu 

mula-mula  Abraham  pergi  ke  Haran.  Disana  ia  tinggal  beberapa  saat,  lalu  belakangan

pindah dari Haran ke Palestina. 

Ayat  5  menjelaskan  bahwa  Allah  menjanjikan  tanah  kepada  Abraham  dan

keturunanya.  Ayat  6  dan  7  menjelaskan  bahwa  keturunan  Abraham  tidak  serta  merta

mendapat tanah itu, namun  baru sesudah  empat ratus tahun di tawan atau mendapat tahanan

di  Palestina.  (angka empat  ratus tahun merupakan angka pembulatan.  Di  dalam Galatia

3:17, dikatakan 430 tahun). 

Kemudian ayat 8 menjelaskan bahwa Allah mengikat perjanjian dengan Abraham dan

keturunannya, dan menetapkan sunat sebagai tanda pemeteraian perjanjian itu. Stefanus

menunjukkan bahwa berkat dari perjanjian tidak bergantung pada keberadaan Bait  Allah.

namun  pada janji-janji dan kesetiaan Allah. 

Ayat  9,  10 sebenarnya menjelaskan tentang Yusuf,  yang sebab  iri  hati  dari  para

leluhur mereka akhirnya Yusuf dijual dan dibawa ke Mesir. namun  Allah tidak meninggalkan

Yusuf  walaupun  Yusuf  berada  di  luar  negeri  itu.  Sebaliknya  Allah  menuntunya  kepada

pembebasan yang indah, dengan menjadikan dia kuasa atas tanah Mesir dan atas seluruh

istananya.

Ayat 11-15 menjelaskan bahwa saat  bencana kelaparan besar melanda Mesir dan

Palestina, ternyata di Mesir ada persediaan Gandum yang di kelola oleh Yusuf sendiri dan

itulah sarana Allah untuk memelihara para bapa leluhur mereka. Yakub dan keluarganya

kemudian pindah ke Mesir, dimana mereka dipelihara oleh Yusuf. Angka tujuh puluh lima

mengikuti  kisah  yang  diambil  dari  Septuaginta  atau  terjemahan  Perjanjian  Lama  yang

berbahasa Yunani; dalam kejadian 46:27 dan Keluaran 1:5 yaitu  angka dalam teks Ibrani,

dimana dalam versi Septuaginta Kejadian 46:26-27, disebutkan bahwa semua orang yang

tiba  di  Mesir  bersama-sama dengan Yakub,  yakni  anak-anak kandungnya,  dengan tidak

terhitung isteri anak-anaknya, seluruhnya berjumlah enam puluh jiwa. namun  anak-anaknya

yang berada di Mesir bersama Yusuf yaitu  sembilan jiwa. Jadi keluarga Yakub yang tiba di

Mesir bersama Yusuf yaitu  tujuh puluh lima jiwa. Jadi Sanak saudara yang di maksudkan

ayat ini yaitu  seluruh anggota keluarga Yakub (bukan hanya anak-anaknya).

Kemudian ayat 16 menunjukkan bahwa sekalipun mereka meninggal di Mesir, mayat-

mayat mereka di bawa kembali ke Palestina dan dimakamkan di negeri yang telah dijanjikan

Allah  kepada Abraham dan keturunannya.  Ayat  17-43  Stefanus  memberi   penjelasan

tentang Musa. Kita tidak boleh lupa bahwa dibagian atas dia telah di tuduh menghujat Musa.

Maka pada bagian ayat  17-43 ini,  Stefanus menunjukkan bahwa memiliki  Hukum Taurat

tidak  mencegah bangsa  Israel  dari  memberontak  kepada  Allah.  Pada  ayat  17  Stefanus

menceritakan  bahwa  saat   penggenapan  janji  Allah  semakin  dekat  maka  semakin

bertambah banyaklah keturunan bangsa itu di Mesir, mereka tidak memiliki keinginan untuk

meninggalkan Mesir, ini diakibatkan bahwa mereka disana sangat kaya raya. 

Kemudian ayat 18 dan 19 Stefanus menceritakan bahwa akhirnya bangkit seorang

raja yang tidak mengenal Yusuf dan raja itu bertindak kejam kepada nenek moyang mereka,

dan  menyuruh  supaya  mereka  membuang  bayi  mereka  dengan  tujuan  supaya  bangsa

mereka (Israel) tidak berkembang di Mesir. 

Pada ayat 20, Stefanus menjelaskan bahwa pada saat itulah Musa dilahirkan, dia

yaitu   alat  yang  dilipilih  Allah  untuk  membebaskan  umatnya.  Musa  di  asuh  di  rumah

ayahnya selama tiga bulan. 

Ayat  21  menjelaskan  bahwa  sekalipun  Musa  di  buang  namun   Allah  tetap

memeliharanya, sebab dia yaitu  orang yang kelak dipakai Allah untuk memimpin bangsa

itu keluar dari tanah Mesir. 

Ayat 22 menjelaskan bahwa dia (Musa) menikmati pendidikan yang terbaik yag ada

di Mesir, dan dia menjadi pemuda yang fasih berbicara dan juga giat bekerja. 

Pada ayat  23  Stefanus menjelaskan  bahwa:  sesudah   dewasa  Musa  berniat  Musa

berniat meninggalkan Istana Firaun dan mengunjungi saudara-saudara sebangsanya.

Kemudian pada ayat 24 dan 25 saat  dia melihat salah seorang saudaranya bangsa

Israel  disiksa,  ia  bertindak  membela  orang  itu,  dan  memukul  si  orang  Mesir  dan

membunuhnya.  Musa  mengira  saudara  sebangsanya  akan  mengenal  dia  sebagai  salah

seorang dari bangsa mereka yang diutus Allah untuk melepaskan mereka, namun  mereka

tidak mengenal hal itu. 

Pada  ayat  26  ini  Stefanus  memberi   penjelasan  lanjutan,  dimana  keesokan

harinya,  saat  Musa menjumpai  dua orang saudara sebangsanya sedang berkelahi,  dia

berusaha  mendamaikan  mereka  dengan  menujukkan  bahwa  mereka  yaitu   saudara

sehingga tidak pantas jika mereka berkelahi. 

Kemudian pada ayat 27 dan 28 Stefanus menjelaskan bahwa orang yang berbuat

salah kepada temanya itu  menolak usaha Musa untuk mendamaikan mereka.  Orang itu

menuduh Musa mencampuri  urusan mereka dan ia menganggap Musa ingin menambah

pembunuhan yang ia lakukan terhadap orang Mesir sehari sebelumnya. 

Ayat 29 Stefanus memberi  penjelasan lebih lanjut, dimana saat  Musa menyadari

bahwa dirinya sudah dikenal sebagai pembunuh orang Mesir untuk membela orang Israel,

dia melarikan diri  dari Mesir dan hidup sebagai pendatang di Midian di bagian barat laut

Arab. Disana ia menikah dan mendapat dua anak laki-laki.

Kemudian di  ayat  30 Stefanus menjelaskan bahwa di  Gunung Sinai,  yaitu tempat

yang jauh dari Tanah Perjanjian dan tanpa adanya Bait Suci untuk tempat untuk beribadah,

namun disini Allah menyatakan Diri-Nya kepada Musa. 

Pada ayat 31 dan 32, Stefanus menjelaskan bahwa pada mulanya Musa heran, dia

tidak mengerti arti tentang semak yang menyala itu. Kemudian Allah berbicara kepada Musa,

Allah menyatakan diri-Nya sebagai  Allah para leluhur (Abraham Isak dan Yakub).  Suara

Tuhan membuat  Musa gemetar  dan akhirnya  dia  tidak  berani  memandang semak yang

menyala itu. 

Selanjutnya pada ayat 33 Stefanus lebih lanjut menjelaskan bahwa tempat itu disebut

Allah  tempat  kudus,  ini  memberi   gambaran  bahwa  bukanlah  hanya  bait  Allah  di

Yerusalem yang dianggap tempat yang kudus. 

Kemudian  pada  ayat  34  Stefanus  menjelaskan  dimana  Allah  menyakinkan  Musa

bahwa Dia tidak melupakan umat-Nya sekalipun mereka berada di Mesir, dan bahwa Dia

akan segera memenuhi janji-Nya serta akan melepaskan mereka. 

Selanjutnya pada ayat 35 Stefanus menjelaskan bahwa Musa yang telah diejek dan

yang telah ditolak itu diplih Allah untuk menjadi pemimpin bangsa itu. 

Ayat  36 menjelaskan bahwa pembebasan itu dilakukan melalui pertunjukan kuasa

yang perkasa di Mesir dan dalam penyeberangan Laut Merah, serta dalam pengembaraan

selama empat puluh tahun dari Mesir menuju Tanah Perjanjian. 

Pada ayat 37-38 Stefanus dengan hikmat yang luar biasa mengambil kutipan dari

Ulangan  18:15  “seorang  nabi  seperti  aku  ini”  ayat  kutipan  ini  menunjuk  kepada  Yesus

Kristus. Jadi apa yang dilakukan Musa, dimana dia yaitu  pengantara antara jemaah yang

ada di padang gurun dengan malaikat yang berfirman kepadanya yang ada di gunung Sinai



yaitu  gambaran dari apa yang akan dilakukan nabi yang akan datang itu (Mesias) yang

akan menjadi pengantara dengan Allah sendiri. dalam hal ini Stefanus mengambil nubuatan

Musa untuk mewakili keseluruhan nubuatan tentang Mesias. Jadi bagi siapa yang menolak

Mesias itu berarti  menolak semua nubuatan tentang Mesias dan salah satunya menolak

Musa juga sebagai nabi. Dalam ayat 39, Stefanus menjelaskan bahwa ada penyakit rohani

yang sudah berakar dalam kehidupan mereka (orang Yahudi secara turun temurun), dimana

nenek moyang mereka menolak Musa. Nenek moyang mereka ingin kembali ke Mesir. Hal

itu  sama halnya dengan banyak orang Yahudi  yang menolak Kristus dan kasih  karunia.

Selanjutnya dalam ayat 40 Stefanus menjelaskan bahwa saat  Musa ada diatas gunug Sinai

bangsa  itu  menuntut  agar  Harun  membuat  patung  bagi  mereka  untuk  mereka  sembah,

mereka bukanya menyembah Allah pencipta mereka. Mereka menyembah anak lembu emas

yang telah mereka buat  sendiri.  kemudian pada ayat  41 menjelaskan kembali  apa yang

dilakukan  oleh  para  leluhur  mereka,  dimana  mereka  tidak  mentaati  Tuhan  dan  malah

menyembah berhala. 

Selanjutnya  dalam  ayat  42-43  Stefanus  mengutip  dari  Amos  5:25-27,  untuk

mengilustrasikan  ketidak  taatan  bangsa  Israel.  Dalam  ayat  ini  juga  Stefanus  ingin

menunjukkan  bahwa  banyak  kurban  yang  diberikan  oleh  bangsa  Isrrael  hanya  bersifat

lahiriah saja yang tidak datang dari hati yang taat kepada Allah. Malah mereka menyembah

dewa Molok  dan Refan  (kedua dewa ini  dikaitkan  dengan bintang)  yang  akhirnya  Allah

mendatangkan hukuman atas mereka yang berupa pembuangan di seberang sana (Babel). 

Kemudian  pada  ayat  44  dan  45  Stefanus  menjelaskan  bahwa  Israel  tetap  saja

memberontak  kepada  Allah  sekalipun  Allah  telah  memberi   saksi  yang  jelas  kepada

mereka.  Dipadang  gurun  Allah  telah  memerintahkan  Musa  untuk  mendirikan  kemah

kesaksian atau tabernakel, yang akan merupakan saksi atas keadiran Allah di tengah-tengah

mereka  (Kel  25:9,  40;  26:30;  27:8).  Para  leluhur  membawa  Tabernakel  ini  ke  Tanah

Perjanjian di bawah pimpinan Yosua. 

Pada ayat  46,  47  Stefanus  memberitahukan  fakta  bahwa selama  bertahun-tahun

sesudah mereka memasuki negeri itu, orang Israel tidak memiliki Bait Allah di Kemah Daud,

seorang yang mendapat kasih karunia dihadapan Allah ingin menyediakan tempat tinggal

bagi Allah; namun  kehormatan ini ditangguhkan hingga zaman Salomo.

Pada ayat 48-50 Stefanus secara tegas menjelaskan bahwa Yang Mahatinggi tidak

dapat  dibatasi  dengan bangunan-bangunan yang dibuat  oleh  manusia,  sebab  tidak  ada

rumah yang dapat menampung Dia. 

Selanjutnya ayat 51, 52 ni menjelaskan bahwa apabila Bait Allah tidak menjadi hal

yang utama dalam menyembah Allah, maka Bait Allah bukan jaminan yang membuat orang

akan menyembah Allah dengan benar. Malah Stefanus menuduh bahwa orang-orang yang

beribadah  di  Bait  Allah  sebagai  orang  yang  tegar  tengkuk  dan  tidak  bersunat  hati  dan

telinga, yang menolak Roh Kudus dan yang menghiati Orang Benar itu, dengan demikian

Stefanus secara implisit  menjelaskan bahwa orang-orang yang menentang Injil itu yaitu 

orang-orang yang mengikuti teladan hidup nenek moyang mereka yang suka memberontak.

Stefanus dituduh menghujat hukum Musa, namun  dia menjelaskan bahwa bukan dirinya yang

menentang  Hukum  Musa  namun   justru  orang-orang  Yahudi  sejak  zaman  Musalah  yang

melanggar Firman Tuhan. Stefanus dituduh menghujat Allah sebab  mengesampingkan Bait

Allah. Jawaban Stefanus yaitu  bahwa sejarah Israel sendiri membuktikan bahwa Bait Allah

hanya merupakan bangunan sementara dan tidak menjadi jaminan untuk menyembah Allah

yang  benar.  Jadi  kesimpulan  Stefanus  yaitu   bahwa  sebenarnya  bahwa  merekalah

(anggota sidang itu dan sejumlah orang Yahudi) yang menentang Allah, mereka menerima

Hukum Taurat namun  tidak menurutinya.

Kemudian sesudah  Stefanus memberi  penjelasan yang sangat baik itu, maka pada

ayat 55, 56 di katakan bahwa anggota mahkamah agama itu sangat marah. namun  Stefanus

tidak terpengaruh, sebab  pada saat itu Allah memberi  penglihatan kepadanya, dimana

dia  melihat  Anak  Manusia  yang  berdiri  di  sebelah  kanan  Allah.  Lalu  Stefanus  berkata:

Sungguh aku melihat langit terbuka dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah.” Kata

Anak Manusia yang dimaksud oleh Stefanus yaitu  menunjuk kepada Mesias.

Selanjutnya ayat 57-60 yaitu  menceritakan bagaimana Stefanus di  seret ke luar

kota dan akhirnya dia dilempari dengan batu, dan sementara dia dilempari batu dia berdoa

kepada Tuhan supaya Tuhan menerima rohnya dan dia juga memuliakan Allah dan bahkan

berdoa buat orang-orang yang membunuhnya supaya Tuhan mengampuni mereka. Saulus

yang kemudian menjadi Rasul (Rasul Paulus) ikut menyaksikan pelaksanakan hukuman itu

dan berdiri dekat jubah-jubah para algojo. Sekarang kita masuk kepada Kisah Para Rasul


8:1-3. tiga ayat ini membicarakan tentang Saulus sebelum dia bertobat. Dalam ayat pertama

dikatakan bahwa Saulus juga setuju bahwa Stefanus mati di bunuh. Kitab Kisah Para rasul

dan  surat-surat  rasuli  memberi  cukup data untuk  menggambarkan kehidupan Saulus

pada masa mudanya. Ia dilahirkan di Tarsus di Kilikia (Kisah Para Rasul 22:3), dia juga

disebut sebagai orang Ibrani yang paling Ibrani atau yang paling murni (2 Korintus 11:22;

Filipi 3:5), “keturunan orang Farisi” (Kisah Para Rasul 23:6), dan warga negara Roma (Kisah

Para Rasul 16:37; 22:25-28). Ia di didik di Yerusalem oleh Gamaliel (Kisah Para Rasul 22:3)

dan menjadi orang Farisi yang taat (Kisah Para Rasul 26:4-5; Filipi 3:5). Ia seorang pemuda

Farisi yang paling berpotensi di Yerusalem. Kenyataan-kenyataan diatas ini menunjukkan

bahwa bisa saja dia yaitu  salah satu anggota Sanhedrin.  namun  hal itu tidak dijelaskan

dalam  Alkitab.  Semangat  Saulus  untuk  hukum  Taurat  dengan  jelas  ditunjukkan  dalam

penganyiayaan terhadap gereja. (Galatia1:13-14; Filipi 3:6). Ia mengira bahwa menganyiaya

orang-orang percaya yaitu  salah satu  cara untuk melayani  Allah.  Saulus menganyiaya

orang  percaya  dimana  ia  Berusaha  membinasakan  jemaat;  kata  kerja  membinasakan

menggambarkan  dimana  si  pembinasa  itu  seperti  seekor  binatang  buas  yang  sedang

mengoyak-ngoyak mangsanya. saat  Kristus berbicara kepada Saulus di jalan ke Damsyik,

Yesus menggambarkan Saulus seperti itu (Kisah Para Rasul 9:5). Perajaman Stefanus yang

disetujui oleh Saulus merupakan suatu kesaksian dari seorang penganyiaya jemaat yang

akhirnya di panggil Tuhan menjadi rasul-Nya. Pada ayat 3 dijelaskan, dimana Saulus yaitu 

salah satu tokoh yang menggerakkan penganyiayaan orang-orang percaya. (lihat  Galatia

1:13, 23; 1 Korintus 15:9; Filipi 3:6). Saulus yakin bahwa gerakan baru yang menyatakan

seorang  penghujat  Allah  yang  disalibkan  itu  sebagai  Mesias  tidak  mungkin  berasal  dari

Allah. sebab  Pejanjian Lama menyebut sebagai terkutuk setiap orang yang digantung pada

salib. Ini merupakan bukti Alkitabiah menurut Saulus, bahwa Yesus yaitu  seorang penipu

dan gerakan baru ini bersifat menghujat.

5. Injil Di Samaria (8:4-25)

Pada bagian ini Lukas pertama-tama mencatat penyebaran Injil ke Samaria. Orang-

orang Samaria merupakan keturunan campuran dari golongan sisa Israel dengan bangsa-

bangsa asing yang ditempatkan di Samaria oleh bangsa Asyur yang menaklukkan mereka

sementara kalangan kelas atas sudah di buang (II Raja-raja 17). Orang-orang Samaria telah

mendirikan Bait Suci di Gunung Sikhem (lihat Yohanes 4:20). sebab  orang-orang Yahudi

menganggap orang Samaria sebagai suku campuran baik secara keturunan maupun secara

agama, berbagai prasangka kesukuan yang bersifat kekerasan harus diatasi sebelum gereja

dapat menjadi umat yang sungguh-sungguh universal.

Kisah  Para  Rasul  8:  4-5  menjelaskan  bahwa penganyiayaan kepada jemaat  dan

kepada para rasul telah mengakibatkan tersebarnya Injil ke berbagai daerah. Kata tersebar

dalam ayat ini  diterjemahkan dari  kata Yunani  diaspeiro  yang dalam artian menyebarkan

benih.  Orang  percaya di  Yerusalem itu  yaitu   benih-benih  Allah,  dan penganyiayaan itu

digunakan oleh Allah untuk menanam benih-benih itu ke tanah yang baru, sehingga mereka

dapat  menghasilkan buah (Matius 13:37-38).  Beberapa diantara mereka pergi  ke seluruh

Yudea dan Samaria (ingat kembali Kisah Para Rasul 1:8) dan sebagian lagi pergi ke tempat

yang  lebih  jauh  (Kisah  Para  Rasul  11:19).  Sebagian  penafsir  berkata  bahwa  Allah

mengizinkan penganyiayaan itu terjadi sebab  orang-orang percaya tidak tanggap dan harus

di paksa untuk pergi memberitakan Injil keluar dari Yerusalem. Pernyataan ini tidak dapat kita

setujui,  sebab  kenyataan  bahwa  Saulus  juga  menganyiaya  orang-orang  percaya  bahkan

sampai ke kota-kota asing. Artinya bahwa penganyiayaan bukan hanya terjadi di Yerusalem

(Kisah Para Rasul 26:11) dan jika Saulus menganyiaya hingga ke kota-kota asing itu berarti

bahwa kesaksian orang-orang percaya sudah merambah ke luar kota Yerusalem.  Filipus

memberitakan Injil di Samaria, dimana pada waktu itu rasul-rasul masih tinggal di Yerusalem.

Lukas menulis tentang apa yang dikerjakan Filipus di Samaria, yaitu memberitakan Mesias

kepada orang-orang disitu (memberitakan Injil) mungkin sebab  Lukas (penulis KIsah Para

Rasul) mengingat nubuatan Tuhan Yesus tentang Penginjilan di daerah Samaria itu. “namun 

kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi

saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi” (Kisah

Para Rasul 1:8)

Kemudian  ayat  6  dan  7  menjelaskan  bahwa  Allah  memakai  Filipus  untuk

memberitakan Injil yang juga diserti denan tanda-tanda heran. Penekanan dalam mengenai

kata mendengar dan kata diberitakan tentang Injil yaitu  menegaskan tentang pentingnya

mendengar Injil yang diberitakan itu untuk keselamatan. Ayat 8 menceritakan, dimana kota


Samaria  di  penuhi  dengan  sukacita  yang  luar  biasa.  Sukacita  itu  yaitu   sukacita  dari

berbagai hal yang menjadi satu yaitu: sukacita keselamatan, sukacita penyembuhan, sukacita

dari  iman,  sebab  jika  manusia  tidak  memiliki  iman  yang  kokoh  dia  pasti  dikuasai  oleh

keraguan, keluh kesah dan kesedihan, sukacita dari kasih. Injil menyadarkan manusia dari

dosa  sehingga  mendatangkan  kegelisahan  dalam  hatinya,  kemudian  bertobat  dan  akan

mempunyai sukacita yang diberikan Roh Kudus. Dosa yang telah diperbuat akan dihapuskan

oleh darah Kristus, sehingga damai sejahtera memenuhi hati mereka; tidak hanya demikian

mereka akan dipenuhi sukacita sebab  Tuhan terus menyertainya.

Kisah Para Rasul 8:9-25 menceritakan tentang Simon si Tukang sihir,  dalam ayat

yang  cukup  panjang  ini,  kembali  kita  melihat  dimana  Iblis  selalu  ingin  menghancurkan

kesaksian gereja dari dalam. Sudah merupakan prinsip dasar dalam Alkitab, bahwa dimana

Allah menaburkan benih gandum-Nya, disana Iblis juga menaburkan benih lalangnya (Matius

13:24-30,  36-43).  Hal  ini  juga  terjadi  dalam pelayanan Yohanes Pembaptis  (Matius  3:7),

pelayanan Yesus (Matius 23:15,33; Yohanes 8:44), dan dalam pelayanan Paulus (Kisah Para

Rasul 13:6; 2Korintus 11:1-4, 13-15). Musuh itu datang seperti  singa yang akan menelan

mangsanya dan jika pendekatannya gagal, ia akan datang seperti ular untuk menipu. Dalam

kasus  ini  yang  menjadi  alat  Iblis  yaitu   seorang  tukang  sihir  yang  bernama  Simon.

Kata yang diterjemahkan dengan takjub dalam ayat 9 dan 11 berarti “membuat orang heran

dan kacau.”  Dalam ayat 11 Simon juga merasa takjub.  Orang banyak merasa terpesona

dengan  apa  yang  dilakukan  Simon  sehingga  mereka  percaya  kepada  apa  saja  yang

dikatakannya. Mereka menganggapnya sebagai  kuasa Allah yang terkenal sebagai kuasa

besar. namun  yang sebenarnya Simon di beri kekuatan oleh Iblis, bukan oleh Allah. Namun

orang-orang  yang  belum  disinari  oleh  Roh  Kudus  selalu  memiliki  penilaian  yang  salah

menurut  hati  yang dikuasai  oleh kegelapan, sehingga kuasa Iblis  yang fana itu  dianggap

sebagai kuasa Allah.  Ada perbedaan yang menyolok antara sihir  Simon dengan Mukjizat

yang  Filipus  lakukan.  Sihir  Simon  dia  pergunakan  untuk  meninggikan  dirinya  sendiri,

sedang  Mukjizat Filipus yaitu  dari Allah dan untuk memuliakan Allah.

Pada ayat  12 di  ceritakan,  dimana pada waktu orang Samaria  mendengar  berita

Filipus banyak orang yang menjadi percaya dan meminta diri baptis. sebab  semakin hari

semakin  banyak  orang  yang  percaya  kepada  Filipus  maka  otomatis  pengaruh  Simon  si

tukang sihir itu semakin berkurang. Kemudian di ayat 13 dikatakan bahwa Simon menjadi

percaya, namun  nanti di ayat 20 Petrus mengecam dia dengan keras “binasalah engkau…” ini

kadangkala  menjadi  pertanyaan,  apa  maksudnya  percaya  dalam ayat  13  ini.  Kita  dapat

menjajawab pertanyaan ini  dengan mengajukan  satu  pertanyaan lagi.  Apa  yang menjadi

dasar  “imanya”? Imanya tidak  berdasar  pada Firman Allah,  namun   pada mukjizat-mukjizat

yang dilakukan oleh Filipus; dan tidak ada petunjuk bahwa Simon telah bertobat dari dosa-

dosannya. Tentu ia tidak percaya dengan segenap hatinya (ay 37). Imanya sama seperti

iman orang-orang Yerusalem yang menyaksikan Tuhan Yesus membuat mukjizat (Yohanes

2:23-25)  atau  bahkan  seperti  setan-setan  (Yakobus  2:19).  Simon  terus  bersama-sama

dengan Filipus, namun  bukan untuk mendengar Firman Allah dan belajar lebih dalam tentang

Yesus Kristus, melainkan untuk menyaksikan mukjizat-mukjizat dan kalau mungkin belajar

untuk melakukannya. Jika membaca ayat  14 kita mengingat bahwa orang-orang Samaria

tidak  menerima  karunia  Roh  Kudus  saat   mereka  menjadi  percaya.  Oleh  sebab  itu

diperlukan  dua  orang  rasul,  Petrus  dan  Yohanes  untuk  datang  dari  Yerusalem

menumpangkan  tangan  ke  atas  orang-orang  yang  sudah  bertobat  itu,  dan  berdoa  bagi

mereka agar menerima karunia Roh. Mengapa? sebab  Allah ingin mempersatukan orang-

orang Samaria yang percaya dengan gereja Yahudi yang mula-mula di Yerusalem.

Sepuluh pasal pertama Kisah Para Rasul yaitu  mencatat masa transisi, dari bangsa

Yahudi  ke  bangsa Samaria  lalu  kepada bangsa-bangsa lain.  Pola  Allah  untuk masa kini

diberikan  di  Kisah  Para  Rasul  10:  orang  berdosa  mendengarkan  Injil  menjadi  percaya,

menerima  karunia  Roh  dan  kemudian  di  baptis.  Sangatlah  berbahaya  jika  mendasarkan

doktrin atau perbuatan hanya dari apa yang tercatat dalam Kisah Para Rasul 1-10, sebab 

mungkin saja anda membangun pada dasar yang sementara dan bersifat transisi. Mereka

yang menyatakan bahwa kita harus dibaptis sebelum menerima karunia Roh (2:38), akan

mengalami kesulitan dalam menjelaskan apa yang terjadi pada orang-orang Samaria; dan

mereka yang mengatakan bahwa kita harus ditumpangi tangan untuk menerima karunia Roh

akan mengalami kesulitan dalam menjelaskan Kisah Para Rasul  10.  jika  anda menerima

Kisah Para Rasul 1-10 sebagai transisi dalam rencana Allah, dengan Kisah Para Rasul 10

sebagai klimaksnya, maka masalah itu teratasi.


Pada  ayat  18  kejahatan  Simon  terbongkar,  ternyata  Simon  bukan  hanya  ingin

membuat mukjizat, namun  ia juga ingin kuasa untuk dapat menyalurkan karunia Roh Kudus,

kepada  orag  lain  –  dan  ia  mau  membayar  berapa  saja  untuk  mendapatkan  kuasa  itu.

Kejahatan Simon itu yaitu  bahwa dia menilai kuasa Allah sama dengan nilai mata uang, ia

ingin  meninggikan dirinya sendiri  dengan memakai  berkat  Allah,  ia  masih  terikat  dengan

pikiran  sihir  atau  sulap  sehingga  dia  berpikir  bahwa  penumpangan  tangan  itulah  yang

membawa kepenuhan Roh Kudus. 

Sehingga pada ayat 20 kata-kata Petrus kepada Simon menunjukkan bahwa Simon

tukang sihir  itu  belum bertobat.  “binasalah  kiranya  uangmu itu  bersama dengan engkau”

merupakan kata yang sangat keras seandainya digunakan kepada orang percaya. 

Kemudian pada ayat 22 Petrus menegor Simon dengan tegas supaya ia bertobat dan

supaya Tuhan mengampuni niat hatinya. Kata niat hati disini berarti rencana atau rancangan

dalam arti yang buruk. Selanjutnya ayat 23 Petrus berkata bahwa hati Simon seperti empedu

yang pahit dan terjerat dalam kejahatan, hal ini menunjukkan bahwa ia tidak pernah benar-

benar dilahirkan kembali. Ayat 24 merupakan tanggapan Simon terhadap apa yang dikatakan

Petrus.  Namun  sama  sekali  dia  tidak  menunjukkan  pertobatan.  Ia  lebih  memikirkan

bagaimana  menghindari  hukuman  dibandingkan   bagaimana  menjadi  benar  dihadapan  Allah.

Tidak ada bukti bahwa ia bertobat dan mencari pengampunan. Orang berdosa yang hanya

ingin di doakan orang lain namun  tidak mau berdoa sendiri, tidak akan masuk ke Kerajaan

Allah.  Hal  ini  menjadi  renungan  bagi  kita,  dimana  seseorang  bisa  begitu  dekat  dengan

keselamatan,  namun tetap  tidak  bertobat.  Simon  mendengar  Injil,  menyaksikan  Mukjizat,

memberi pengakuan iman kepada Kristus dan di baptis, namun  meskipun demikian ia tidak

pernah  dilahirkan  kembali.  Ayat  25  menjelaskan  bahwa Petrus  dan  Yohanes kembali  ke

Yerusalem, namun  mereka tidak mau kehilangan kesempatan untuk membagikan kabar baik

kepada orang lain. Jadi sepanjang perjalanan pulang mereka memberitakan Injil.

6. Pertobatan Sida-Sida Etiopia (8:26-40)

Sida-sida ini yaitu  orang yang ingin mencari kebenaran. Dia menempuh perjalanan

yang panjang (sekitar 300KM dari Nubia Kuno/ Mesir Selatan yang waktu itu disebut Etiopia

menuju  ke  Yerusalem).  Orang  Etiopia  ini  mewakili  banyak  orang  pada  masa  kini  yang

beragama, membaca kitab suci, dan mencari kebenaran, namun tidak mempunyai iman yang

menyelamatkan  didalam  Yesus  Kristus.  Mereka  yaitu   orang-orang  yang  tulus  namun 

terhilang. Mereka memerlukan seseorang untuk menunjukkan yang benar. Pada saat Filipus

mendekati kereta itu, dia mendengar orang itu membaca dari kitab Nabi Yesaya. Itu berarti

bahwa dia telah dipersiapkan oleh Allah untuk diselamatkan. Yesaya 53 yaitu  fasal yang

dibacanya. Pasal ini berisi nubuat yang mengenai hamba Allah yang menderita. 

Yesaya  53  :7-8,  merupakan  fokus  perhatian  dari  sida-sida  etopia  itu,  Ayat  itu

memberi  penjelasan tentang korban pengganti, dimana Yesus Kristuslah penggenapan

nubuat yang ada dalam Perjanjian Lama ini ,  dan sesudah  orang Etiopia  itu  percaya

maka dia meminta diri di baptiskan dan Filipus membaptiskannya diatas pengakuan imannya

sendiri. Hal itu terlihat dimana pada ayat-ayat ini kita melihat dimana saat  sida-sida Etiopia

itu bertanya, “...apakah halangannya jika aku di baptis,“ lalu Filipus memberitahukan syarat

baptisan itu sendiri, dia berkata Jika tuan percaya dengan segenp hati, boleh. Lalu sida-sida

Etiopia itu berkata aku percaya. Maka akhirnya Filipus membaptiskan sida-sida Etiopia itu

atas pengakuan imannya. Jadi jelas sekali bahwa syarat dari baptisan yaitu  bahwa orang

yang hendak dibaptiskan itu sudah percaya atau sudah diselamatkan.  Kemudian ayat 40

perlu kita bahas, ayat ini menceritakan tentang Filipus, sesudah  dia selesai memberitakan Injil

kepada Sida-sida Etiopia itu. Filipus dilarikan oleh Roh Kudus untuk melayani di tempat lain,

namun   sida-sida  itu  meneruskan  perjalananya  dengan  sukacita.  Allah  tidak  mengijizinkan

Filipus memuridkan orang yang baru percaya ini, namun  Allah sudah pasti mengatur soal itu.

Filipus sampai di  Asdod, kira-kira 30 km dari  Gaza; kemudian berjalan menuju Kaisarea,

perjalanan sejauh kira-kira 90 km. seperti halnya Petrus dan Yohanes, Filipus memberitakan

Injil dalam perjalanan itu (Kisah Para Rasul 8:25), yaitu menceritakan tentang Juruselamat

kepada orang lain. Kira-kira dua puluh tahun kemudian kita bertemu dengan Filipus yang

tinggal di Kaisarea dan masih terus melayani Allah sebagai seorang penginjil (Kisah Para

Rasul  21:8).

Pada saat kita mempelajari perkembangan Injil selama masa transisi ini (Kisah Para Rasul 2-

10), anda melihat bagaimana Roh Kudus menjangkau keseluruh dunia. Di dalam Kisah Para

Rasul 8, orang Etiopia yang baru bertobat itu yaitu  keturunan Ham (Kejadian 10:6, dimana

“Kusy”  mengacu  pada  Etiopia).  Di  dalam  Kisah  Para  Rasul9  Saulus  dari  Tarsus


diselamatkan;  sebab   ia  yaitu   orang  Yahudi  maka ia  yaitu   keturunan  Sem (Kejadian

10:21).  Di  dalam Kisah Para Rasul 10 orang-orang non Yahudi menemukan Kristus,  dan

mereka yaitu  keturunan Yafet (Kejadian10:1); seluruh dunia di huni oleh keturunan Sem,

Ham dan Yafet dan Allah ingin agar seluruh dunia – semua keturunan mereka – mendengar

berita Injil (Markus 16:15; Matius 28:18-20).

7. Pertobatan Saulus (9:1-31).

Kisah  pertobatan  Saulus  disisipkan  kedalam  narasi  tentang  perluasan  Injil  di

Palestina. Catatan pelayanan Petrus yang telah mengellni Samaria untuk memberitakan Injil

(8:25),  dilanjutkan  pada  9:32.  pada  saat  Injil  bergerak  keluar  menjangkau  orang  bukan

Yahudi, Allah mempersiapkan sebuah alat pilihan yang menjadi alat utama di dalam misi ini.

sebab  itu Lukas menghentikan narasinya untuk menceritakan pertobatan Saulus, dan juga

untuk menjelaskan akhir dari penganyiayaan terhadap gereja. Kisah pertobaan Saulus dari

Tarsus itu dibrikan tiga kali di dalam kitab Kisah Para Rasul, yaitu dalam fasal 9,22, dan 26.

sesuai  dengan  catatan  yang  sedang  kita  teliti.  Saulus  mengalami  empat  peristiwa  yang

secara keseluruhan mengubah kehidupannya; Pertama: ia bertemu dengan Yesus Kristus

(Kisah Para Rasul  9:1-9),Kedua:  ia  bertemu dengan Ananias (Kisah Para Rasul  9:10-19,

Ketiga: ia menghadapi perlawanan (Kisah Para Rasul 9:20-25), Keempat: ia bertemu dengan

orang-orang percaya di Yerusalem (Kisah Para Rasul 9:26-31).

Ayat 1-9 (Paulus bertemu dengan Yesus Kristus).  Jika kita melihat  Saulus dalam

perjalanan  itu  (ayat  1-2),  maka kita  akan melihat  orang  yang sangat  bersemangat,  yang

sungguh-sungguh merasa bahwa ia sedang melayani Allah dengan menganyianya gereja.

Meskipun ia mempunyai pengetahuan yang luar biasa (Kisah Para Rasul 26:24), Saulus buta

rohani (2 Korintus 3:12-18) dan tidak memahami apa yang sebenarnya diajarkan Perjanjian

Lama tentang Mesias.  Seperti  juga banyak orang sebangsanya, Saulus tersandung pada

salib  (1  Korintus1:23)  sebab   ia  bersandar  pada  kebenaranya  sendiri,  dan  bukan  pada

kebenaran Allah (Filipi 3:1-10; Roma 9:30-10:13). Pada masa kini banyak orang beragama

yang merasa benar sendiri tidak menyadari bahwa ia membutuhkan juruselamat dan akan

marah jika kita memberitahu bahwa mereka orang berdosa. Sikap Saulus seperti binatang

yang sedang marah dan sangat berbahaya, seperti halnya rabi-rabi lain, ia percaya bahwa

hokum Taurat harus di taati sebelum Mesias datang; namun yang dianggap mereka sebagai

para penganut bidat itu memberitakan hal-hal yang bertentang dengan Hukum Taurat, Bait

Allah,  dan tradisi  para leluhur (Kisah Para Rasul 6:11-13).  Saulus membinasakan gereja-

gereja di Yudea (Galatia 1:23) kemudian mendapat wewenang dari Imam besar untuk pergi

sampai  ke Damsyik  untuk  memburu  murid-murid  Yesus.  Ini  bukanlah hal  yang dianggap

sepele, sebab  ia memiliki wewenang dari dewan tertinggi Yahudi (Kisah Para Rasul 22:5).

Damsyik mempunyai sejumlah besar penduduk Yahudi, dan diperkirakan waktu itu ada tiga

puluh sampai empat puluh sinagoge di kota itu. Kenyataan bahwa di kota itu sudah ada orang

yang percaya menunjukkan betapa efektifnya gereja menyebarkan berita itu. Beberapa dari

orang  percaya  itu  mungkin  yaitu   mereka  yang  melarikan  diri  dari  penganyianyaan  di

Yerusalem. Ini menjelaskan mengapa Saulus meminta wewenang untuk menyeret mereka

kembali. Orang-orang percaya masih terus memiliki pertalian dengan sinagoge, sebab  baru

beberapa tahun kemudian mereka berpisah dengan Yudaisme. (Lihat Yakobus 2:2 dimana

kata “kumpulan” itu berarti “sinagoge” dalam bahasa Yunani). 

sesudah   kita  membaca  ayat  4,  kita  mendapat  penjelasan  bahwa  tiba-tiba  Paulus

mendapati dirinya terkapar di tanah. Itu bukan disebabkan oleh sengatan panas matahari

atau serangan penyakit  ayan, melainkan sebab  pertemuan pribadi dengan Yesus Krstus.

Pada waktu tengah hari (Kisah Para rasul 22:6), ia melihat cahaya yang sangat menyilaukan

dari langit dan mendengar suara memanggil namanya (Kisah Para Rasul 22:6-11). Orang-

orang yang bersama-sama dengan dia juga rebah ke tanah (Kisah Para Rasul 26:14) dan

mendengar  suara  (bisa  juga  bunyi)  itu,  namun   mereka  tidak  mengerti  perkataan  yang

diucapkan dari sorga itu. Mereka berdiri  terheran-heran (9:7) mendengar Saulus berbicara

dengan seseorang namun  tidak tahu apa yang sedang terjadi. Saulus dari Tarsus menemukan

beberapa hal  yang indah pada hari  itu.  Mula-mula,  dengan sangat  heran ia  menemukan

bahwa  Yesus  dari  Nazaret  itu  benar-benar