Tampilkan postingan dengan label Perang salib 12. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perang salib 12. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Juli 2026

Perang salib 12

 


asan Mediterania rimur relatif sedikit-me-

nunjukkan kemungkinan bahwa telah terjadi perkawinan antara

Tentara salib dan kaum muslim, rerurama di kalangan warga 

kelas bawah.

saat  wanita-wanitakaya kaum Frank jatuh ke tangan kaum

muslim sebagai rawanan perang, mereka bisa terhindar dari per-

budakan bila mereka masih muda dan canrik. Badrin ibn Milik,

keturunan dari 'Uqaylid, sebuah dinasti fuab Badui yang me-

nguasai Qal,at Jdbar selama beberapa generasi, yaitu  hasil per-

kawinan campuran antara ayahnya dengan seorang gadis kaum

Frank yang canrik yang dijadikan rawanan pada saat berziarah ke

Afamiyyah dan oleh ayah Usimah dikirimkan kepada Malik

sebagai hadiah.ea

usamah menceritakan kisah tentang seorang wanita muslim

dari Nablus yang menikah dengan seorang Tentara Salib. 'wanita

itu membunuh suaminya dan membunuh para peziarah kaum

Frank yang tengah dalam perjalanan.e5 Sayangnya tidak ada ke-

terangan yang lebih lengkap tentang wanita ini dan juga tidak

ada penjelasan mengenai alasan wanita itu kawin dengan seorang

dari kaum Frank, alasan dia membunuhnya dan alasan dia men-

jalani kehidupan sebagai seorang wanita perampok'

Ibn Jubayr, y^ng kesannya tentang Tentara Salib di Tirus

jauh lebih positif dibandingkan Tentara salib di Acre, memberikan

sebuah laporan lengkap tentang prosesi pernikahan seorang Tentara

salib di dekat kota ini  yang disaksikannya sendiri. Dia

menggambarkan peristiwa itu sebagai "pertunjukan yang sangat

.rr.narik dan patut untuk dicatat".e6 Mempelai wanita didandani

dengan sangat mewah,

dalam sebuah gaun yang cantik dan dilengkapi dengan rang-

kaian sutera emas panjang, yang menjadi model tradisional mereka.

Di kepalanya, dia mengenakan mahkota emas dilapisi dengan

sebuah jaring bersulam emas, dan hiasan serupa juga ada  di

dadanya.

Daya tariknya yang "memikat" menggerakkan Ibn Jubayr

untuk menulis: "Dengan penuh kebanggaan atas hiasan-hiasan

dan gaunnya, dia berjalan dengan langkah-langkah kecil setengah

jengkal, seperti seekor merpati, atau seperti gumpalan awan."e7

Ibn Jubayr, seperti biasanya, kemudian berusaha melindungi

dirinya sendiri dari bahaya memuji kaum Frank, dengan hati-hati

dan ringkas menambahkan: "Allah melindungi kami dari bujukan

pandangan."es Prosesi itu diikuti oleh banyak orang kaya kota itu

dan disaksikan oleh kaum muslim maupun umat Kristen.ee

PENDIDIKAN

Kaum muslim merasa jauh lebih maju dibanding Tentara Salib

dalam bidang pendidikan. Usimah berteman dengan seorang

ksatria Salib, yang menawarkan untuk membawa putra Usimah

ke Eropa untuk belajar seni politik dan militer. Ksatria Salib

ini  menambahkan bahwa saat  kembali nanti putra Usimah

akan menjadi seorang yang terpelajar. Usimah menjawab dengan

pedas: "seorang pria yang sungguh-sungguh terpelajar tidak akan

pernah menjadi bersalah bila tak menerirrla usulan sePerti itu.

Putra saya mungkin juga akan dijadikan tahanan begitu mendarat

di tanah kaum Frank."roo

KEDOKTERAN

Keahlian dokter-dokter fuab banyak disebutkan di dalam ke-

terangan UsAmah. Mereka ahli dalam mendiagnosis dan menyem-

buhkan penyakit, dalam susunan tulang,ror dalam menjahit luka,ro2

membalut luka,ro3 makanan, transfusi darah,roa dan teknik pem-

bakaran luka dengan besi panas untuk mencegah infeksi. UsAmah

secara pribadi sangat berminat pada bidang kedokteran. Dalam

satu bagian yang layak diperhatikan, saat (Jsamah menulis tentang

pengobatan, dia menyebutkan tentang penyembuhan untuk hernia,

pembengkakan, sakit perut, dan flu biasa.ro5


Usimah membahas dengan penuh nada kemenangan tentang

tingkat pengetahuan kedokteran Tentara Salib yang sangat jauh

tertinggal dari tradisi pengobatan Arab Abad Pertengahan yang

maju. Dia menceritakan tentang cara seorang dokter Kristen Timur

memeriksa seorang Ksatria Salib yang sakit bisul di kakinya dan

wanita yang mengidap penyakit tuberkulosis.ro6 Kisah itu patut

diceritakan secara lengkap:

Mereka membawa ke hadapan saya seorang ksatria yang di

kakinya telah tumbuh bisul yang sangat besar; dan seorang wanita

idiot. Kepada ksatria itu saya berikan sedikit tapal sampai bisul

itu terbuka dan sembuh, dan wanita itu saya sarankan meng-

konsumsi makanan tertentu dan membuatnya ingat kembali' Lalu

seorang dokter kaum Frank datang menemui mereka dan berkata,

"Orang ini tidak tahu apa-apa tentang bagaimana merawat kalian'"

Dia kemudian berkata kepada ksatria ini , "Mana yang Kau

inginkan, hidup dengan satu kaki atau mati dengan dua kaki'"

Ksatria itu menjawab, "Hidup dengan satu kaki." Dokter itu

berkata, "Suruh seorang prajurit yang kuat datang kemari dengan

kapak yang tajam." Seorang prajurit lalu muncul sambil membawa

sebilah kapak. Dan saya menunggu. Lalu dokter itu meletakkan

kaki sang pasien di atas sebatang k"yu dan meminta si prajurit

memukul kaki ksatria itu dengan kapaknya dan memotongnya

dengan sekali ayunan. Maka dia mengayunkan kapaknya ke kaki

ini -sementara saya menyaksikan--dengan sekali ayunan. Namun

kaki si lsatria itu tidak putus. Dia mengayunkan sekali lagi,

sehingga membuat sumsum kaki si ksatria itu mengalir. Dan pasien

itu tewas di tempat. Lalu dia memeriksa si wanita dan berkata,

"Di kepala wanita ini ada setan yang menguasainya' Cukur habis

rambutnya." Maka mereka mencukur habis rambumya dan wanita

itu sekali lagi mulai mengkonsumsi makanan yang biasa mereka

6a[an-!31vxng putih dan lada. Perilakunya yang idiot semakin

memburuk. Dokter itu lalu berkata, "Setan telah masuk melalui

kepalanya." Dia kemudian mengambil sebilah pisau cukur, Ialu

membuat irisan dalam berbentuk salib di kepalanya, mengupas

kulitnya di tengah-tengah irisan itu sampai tulang tengkoraknya

terlihat, dan ia menaburinya dengan garam. Wanita itu mati juga

sesaat . Lalu saya bertanya apakah bantuan saya masih diperlukan'

dan saat  mereka menjawab tidak, saya pulang sesudah  mempelajari

cara pengobatan mereka yang tidak saya ketahui sebelumnya't07

Sebaliknya, Usimah juga memuji kemajuan bidang kedokteran

kaum Frank. Pemimpin Tentara Salib, Fulk, memiliki seorang

bendaharawan, seorang ksatria yang bernama Bernard, yang kena

tendang seekor kuda. Kakinya yang terinfeksi diobati oleh seorang

dokter kaum Frank dengan asam cuka yang sangat pekat. "Dia

sembuh dan berdiri (kembali) bagaikan setan."ro8 Dalam kisah

lain, yang menggambarkan tentang pengobatan merek^ yang

menarik, Usimah mengisahkan tentang pengobatan terhadap se-

orang anak laki-laki muslim yang menderita pembengkakan dan

peradangan kelenjar limfa di lehernya. Seorang tak dikenal dari

kaum Frank (tidak disebutkan sebagai dokter) memberikan sebuah

"resep" kepada ayah anak itu untuk mengobatinya. Resep itu

terdiri dari, pertama, memberikan daun glassutort (tumbuhan yang

batangnya mirip daging dan berdaun kecil yang biasa tumbuh di

rewe-rawa-?cnerj.) yang dibakar, minyak zaitun, cuka pekat, dan

kemudian bakaran timbal yang dicelupkan di dalarn mentega


murni. Anak laki-laki itu sembuh.roe usxmah sendiri berhasil

menyembuhkan orang lain yang menderita Penyakit ini 

dengan memakai  car^ Pengobatan yang sama.

Kaum Frank sendiri mengakui keahlian dokter-dokter Arab'

Dalam kamus biografi Para dokter, Ibn Abi Ushaybi'ah (w' 1270)

menyebutkan Ab0 Sulaymin Diwfrd.r t0

Abfr Sulaymin DiwCrd, yang terlahir dari orangtua Kristen

di Yerusalem di bawah pendudukan kaum Frank, menjadi pelayan

khalifah Fatimiyah Syiah di Mesir. saat  pemimpin Tentara Salib,

Amalric, datang ke Mesir, dia sangat kagum pada pengetahuan

pengobatan Abfr Sulaymin dan mengajaknya (beserta kelima

anaknya) kembali ke Yerusalem' Di sana AbCr SulaymAn menyiap-

kan pengobatan bagi putra Amalric yang mengidap lepra. Putra-

putra Abir sulaymin juga terlibat dalam pengobatan putra Amalric

itu-salah satunya yaitu  al-Muhadzdzab AbO Sa'id yang meng-

ambil alih tugas ayahnya sebagai dokter Amalric. Putranya yang

lain, Abo'l-Khayr, diserahi merawat putra Amalric yang menderita

lepra dan mengajarinya berkuda. sesudah  Saladin merebut Yerusalem,

keluarga berbakat ini mengabdi kepada Saladin dan penerusnya'rrl

Kisah-kisah sePerti ini menggambarkan bagaimana dalam

kehidupan sehari-hari perbedaan agama dapat terlampaui dan

menjadi lebih lentur (dan manusia terus membutuhkan dokter-

dokter yang ahli, tanPa memandang jenis agama dan asal suku)'

APAKAH GAYA HIDUP KAUM FMNK DIPENGARUHI

OLEH KAUM MUSLIM?

UsXmah dengan jelas menyatakan bahwa beberapa kaum Frank

telah mengadopsi gaya hidup kaum muslim: "Di antara kaum

Frank, ada  satu kelompok yang telah menyatu dan telah

berhubungan dengan kaum muslim.Drr2 Namun hal ini, katanya,

merupakan perkecualian.

Usimah menggambarkan gaya hidup seorang kaum Frank

Timur yang rumahnya dikunjungi oleh seorang "rekan" Usimah.

Rekan Usimah itu lalu bercerita:

Saya pergi bersamanya dan kami datang ke rumah salah

seorang prajurit tua yang ikut dalam ekspedisi pertama kaum Frank

[yaitu Perang Salib Pertama]. Dia telah dikeluarkan dari kesatuannya

dan lepas dari tugas [militer] dan memiliki harta benda di Antiokhia

yang menjadi sandaran hidupnya. Dia mengeluarkan sebuah meja

bagus dan sangat bersih dan makanan yang mewah. Dia melihat

kami menahan diri untuk tidak makan dan berkata: "Makanlah,

tenangkan pikiranmu, kerena saya tidak makan makanan kaum Frank.

Saya punya wanita-wanita tukang masak asal Mesir. Saya hanya

makan masakan mereka dan tidak ada babi yang masuk rumah

saya." Jadi saya makan, meski dengan hati-hati, dan kami pergi.rr3

NILAI-NILAI KESOPANAN BERSAMA ANTAM KAUM MUSLIM

DAN KSAIRI.A KAUM FRANK

Informasi tentang tujuan agama yang bersifat umum dan sifat

keberanian kaum Frank sesekali muncul dalam karya-karya penulis

muslim. Penyair al-'Unayn menulis tentang kaum Frank pada

618 H.l122l-1222 M.: "Sekumpulan kaum Kristen yang tak

terhitung banyaknya... telah berkumpul, dengan satu gagasan,

agama, semangat, dan tekad."lla

Kita telah melihat bahwa sumber-sumber Islam dengan enggan

mengungkapkan kekaguman terhadap keahlian militer para Pe-

mimpin kaum Frank, yang beberapa di antaranya dipandang

sebagai musuh yang penting. Kalaupun ada ungkapan kekaguman,

itu cukup terbatas. Para penulis sejarah muslim jarang, misalnya,

memuji keluhuran budi para pemimpin kaum Frank dalam menyi-

kapi tawanan perang. Kecuali pada Baldwin si Lepra, yang oleh

Ibn al-Atsir secara khusus disebutkan sebab  telah memperlakukan


160 kaum muslim yang ditahannya dengan baik di pinggiran

kota Aleppo. Baldwin membebaskan mereka dan memberikan

mereka pakaian sebelum mengirim mereka pulang.tr5 Perlakuan

Saladin yang soPan terhadap wanita-wanita Tentara Salib di

Yerusalem pada 1187 dipuji setinggi langit.rr6 Namun, jika ber-

kaitan dengan kaum Frank, tak ada satu pun ungkapan pujian

yang sebanding dengannya.

Usimah memanggil seorang Ksatria Kuil, temannya,rrT dan

menyebutkan beberapa contoh kontak antara dirinya dan masya-

rakat kaum Frank yang berasal dari kalangan atas. UsXmah

berterung terang mengenai persahabatannya dengan seorang ksatria

tertentu:

Di antara tentara Raja Fulk putra Fulk, ada  seorang ksatria

sopan yang datang dari negeri mereka untuk melakukan ziarah

dan kemudian pulang kembali ke kampung halamannya' Dia

menjalin persahabatan dengan saya, terus menjadi teman saya, dan

memanggil saya "saudaraku". Di antara kami ada  cinta dan

persahabatan.rr 8

Kisah ini benar-benar sangat sulit diterima sebab  ksatria

ini  jelas hanya berkunjung Tanah Suci dalam waktu singkat.

Padahal dalam karyanya yang lain Usimah menyatakan bahwa

dia tidak mengerti sama sekali bahasa kaum Frank. Jadi bagaimana

bisa mereka menjalin Pertemanan? Tentu saja Usimah harus

mengklaim telah men.ialin persahabatan secara langsung dengan

beberapa  Frank untuk "mengetahui" cara-cara mereka dan menyin-

dir mereka. Bahkan, meski keterangan-keterangannya dimulai

dengan komentar-komentar yang menyenangkan tentang kaum

Frank, itu semata-mata menjadi latar bagi kisah yang disusun

dengan cerdas untuk kemudian menunjukkan kejelekan mereka.

Mengenai ksatria yang ada  di dalam pasukan Fulk itu,

misalnya, Usimah melanjutkan dengan keterangan yang mengejek

berkaitan dengan tingkat pendidikan kaum Frank di Eropa.

Usimah yakin bahwa kaum Frank yaitu  pemberani dan

mereka sangat menghargai ksatria-ksatria mereka dan menempat-

kannya dalam jalaran penasihat raja-raja:

Kaum Frank (semoga Allah menjadikan mereka tidak berdaya!)

tidak memiliki nilai apa pun sebagai manusia kecuali keberanian

mereka, tidak bisa menilai apa yang lebih penting atau kelompok

yang tinggi kecuali golongan ksatria ini , dan tidak ada seorang

pun yang dipandang kecuali ksatria-ksatria itu. Mereka ini yaitu 

orang-orang yang mereka andalkan untuk memberi nasihat, dan

orang-orang yang membuat keputusan-keputusan dan penilaian-

penilaian hukum.rre

Usimah mengadu kepada Fulk V pangeran Anjau, bahwa

penguasa kaum Frank, Banjas, telah mencuri domba-dombanya

selama periode perdamaian dan, saat  domba itu melahirkan,

anak-anaknya mati dan sisanya kemudian dikembalikan kepadanya.

Fulk membawa kasus ini  kepada enam atau tujuh ksatrianya

yang dipanggil untuk membuat keputusan. Mereka kemudian

kembali, dan menyatakan bahwa penguasa Banjas harus membayar

denda atas kerugian yang diderita Usimah. Usimah kemudian

menerima beberapa  400 dinar. Dia kemudian menyatakan: "Ke-

putusan semacam itu baru diberikan sesudah  dinyatakan oleh para

ksatria-dan bahkan raja ataupun kepala-kepala suku kaum Frank

tidak bisa mengubah atau membatalkannya. Dengan demikian,

ksatria memiliki  kedudukan yang tinggi."r2o

Usemah terkesan oleh keberanian ksatria kaum Frank bernama

Badrhawa yang mengalahkan empat prajurit muslim. Namun

Usimah tidak membiarkan ksatria itu menjadi seorang pahlawan

dalam keterangan yang ditulisnya. Sementara dia dengan hati-

hati menegaskan bahwa keempat prajurit muslim ini  telah

berdndak bodoh dan "kini telah dikarunia keberanian", nasib


Badrhawa berakhir dengan mengenaskan' Dalam perjalanannya

ke Antiokhia, arau demikian kisah usimah berlanjut: "seekor singa

menerkamnya dari hutan di al-Ruj, menariknya hingga jatuh dari

keledainya dan menyeretnya masuk ke dalam hutan untuk ke-

mudian melahapnya di sana-semoga Allah tidak memberkahi

arwahnya."l2l

Harga diri dalam segi keunggulan budaya dan agama tidak

memungkinkan si ksatria kaum Frank itu untuk mendapatkan

nasib yang terbaik di akhir kisah yang panjang ini' Prajurit-

prajurit muslim belajar dari pengalaman mereka, dan si ksatria

kaum Frank itu, meskipun pemberani, kalah total dan menemui

alalnya yang telah ditentukan dengan balasan yang menggelikan'

Barangkali bukan suatu kebetulan bila pahlawan Tentara Salib

itu, Badrhawa, mengendarai seekor keledai, bukan binatang yang

menjadi ciri seorang ksatria, yaitu kuda.

Namun ksatria kaum Frank yang diceritakan sebelumnya telah

menjamu Usimah itu, kemudian saat  ter.iadi suatu peristiwa

ledakan di pasar bisa menyelamatkan jiwa Usimah: "sebab  kami

makan bersama, jiwa saya selamat, hingga saya ddak terbunuh'"l22

Menurut Usimah, kaum Frank pada gilirannya bisa mengakui

keberanian kaum muslim, musuh mereka' Thncred, yang meng-

gantikan Bohemond sebagai Penguasa Antiokhia pada 1104'

membuat perjanjian damai dengan Paman UsAmah' Atas perminta-

an Tancred, Usimah kemudian mengirimkan seekor kuda yang

bagus padanya, yang ditunggangi oleh seorang prajurit muda Kurdi

yang bernama HasanCrn. Kaum Frank mengakuinya sebagai seorang

p.rlirrit berkuda yang pemberani dan Tancred memberinya jubah

kehormatan.r23 namun  setahun kemudian, saat  perjanjian itu

habis, Hasanfin ditahan dan disiksa oleh mereka dan mata kanan-

nya dicongkel.r24 Hal seperti itu, menurut catatan UsAmah' memang

merupakan bagian dari dinamika keadaan damai dan perang yang

trk d"p"t diduga, selain juga menunjukkan bahwa kaum Frank

itu memang tidak bisa diPercaYa.

SISI MENGGELIKAN KEBERANI.AN KAUM FMNK

UsAmah mengisahkan cerita paniang berikut ini tentang seekor

macan tutul. Setiap hari, saat  tengah hari, seekor macan tutul

akan muncul dan melompat naik ke jendela gereja Hunak (yang

tingginya 40 cubit-atau sebanding dengan sekitar 100 meter,

peny.), dan tidur sepanjang hari di tempat itu. lGatria kaum

Frank, Sir Adam, yang memiliki benteng Hunak ini , men-

dengar cerita tentang macan tutul itu dan

mengenakan baju besinya, menaiki kudanya, mengambil perisai

dan tombaknya, dan datang ke gereja ini ... Begitu melihatnya,

macan tutul itu langsung melompat dari jendela dan menerkam

Sir Adam pada saat dia masih di atas kudanya, merobek punggung-

nya, dan membunuhnya. Macan tutul itu kemudian pergi. Para

petani Hunak biasa menyebut macan tutul itu sebagai "macan

tutul yang ikut serta dalam perang suci (al-namtr al-mujlhid)".rzs

Kisah Usimah ini membuat si lsatria kaum Frank itu tampak

agak lucu, sebab  semua usahanya yang penuh keberanian itu

tidak berguna melawan kecepatan dan kekuatan macan tutul

ini . Yang juga penting dicatat yaitu  bahwa tepat sebelum

menuturkan kisah ini, Usimah telah menceritakan bagaimana dia

dan beberapa rekannya telah berusaha membunuh seekor macan

tutul.r26 Tiadanya rasa simpati semacam itu juga ditunjukkan

saat  raja yang kuat, Frederick I Barbarossa, tenggelam pada

586 H.ll190 M. Oleh 'Imiduddin, dia ditampilkan dalam dua

versi cerita yang berbeda, sebagai orang bodoh yang sembrono

yang nekad masuk ke Sungai Calycadnus.l2T

NASIB KAUM MUSLIM DI BA\TAH KEKUASMN TENTAM SALIB

Masa kekuasaan kaum Frank di kawasan Mediterania timur yang

dihuni oleh penduduk muslim jauh lebih singkat daripada masa

kekuasaan kaum muslim atas umat lGisten di Spanyol. Di Spanyol,

proses akulturasi yang lambat kemungkinan terjadi selama beberapa

abad, dan di kawasan Granada jauh lebih lama lagi. Beberapa

negara kaum Frank yang terbentuk bertahan sangat singkat

(Yerusalem selama periode 1099-1187 dan 1229-1244). \Tilayah-

wilayah lain yang berpenduduk muslim dikuasai kaum Frank agak

lebih lama (Antiokhia, misalnya, dari 1098-1268 dan Tirus 1124-

129r).

Pencarian informasi mengenai perspektif 'kaum muslim ter-

hadap pemerintahan kaum Frank, akan terbentur pada masalah,

yaitu bahwa semua penulis sejarah muslim, kecuali seorang, tinggal

di luar negara kaum Frank itu sendiri' Satu-satunyakarya Penulis

muslim yang tinggal di bawah kekuasaan kaum Frank ditulis

olehHamdaniunAbdal-Rabimal.Atsiribi,sepertitelahdisebut-

kan sebelumnya. Sayangnya, karyanya itu sudah tidak ditemukan

lagi. sebab  itu, secara umum sulit untuk membuat Pernyataan

yang tegas' tentang bagaimana nasib- kaum muslim di bawah

kekuasaan Tentara Salib Lrena bukti-buktinya jarang, bukan berasal

dari tempat ini , dan berasal dari periode waktu yang berbeda'

Gerahan Pengungsian

Dari masa paling awal pendudukan kaum Frank t pata pengungsi

dari kota-kota pesisir St"i"h dan Palestina melarikan diri ke

Damaskus dan Aleppo serta Mesir dan Irak' Damaskus merupakan

tujuan khusus k"r*" jaraknya yang dekat' Para pengungsi itu

,.rirrg kali ingin kemfdi sebab  keterikatan yang mendalam

d..,glr, leluhur di wilayah mereka' Pengungsian paling besar terjadi

p"dl t"h.r.,-tahun permma-dari 492 H'/1099 M' sampai pe-

naklukan Tirus p"da 518 H./1124 M. Sekalipun begitu' Pe-

ngungsian itu terus berlanjut paling tidak sampai pertengahan

abad kedua belas. Sumber-sumber ini -yang sePerti biasa

hanya menceritakan Para Penguasa dan elite agama-tidak mem-

berikan penjelasan -ttgtt"i lt'-l"h pengungsi itu' namun  tidak

salah untuk mereka-reka bahwa ralcyat biasa tidak mungkin untuk

mengungsi. Hanya orang-oranB yang cukup kaya yang mamPu

*.litrklrr.t ya.128 Para ptigt"'g'i ini  di antaranya yaitu  para

gubernur, bangsawan, d"t' p*y"ir' Beberapa pengungsi ini '

misalnya dari Tirus, *tl"kti*t perjalanan tanPa membawa bekal

^p^-^i^, 

tanpa hewan pembawa beban' dan hanya membawa apa

yang ada di punggung mertka'"e Gubernur Syiah dari Acre dan

Thipoli mengungsi ke tempat yang sepaham dengan mereka di

Mesir.r3' Para penyai, y"'l ikut mengungsi seperti Ibn Munir

dan lbn 

"l-Q"yr"ri,'i, 

rnt"t'li' elegi yang meratapi rumah-rumah

yang mereka tinggalkan'r3r

Namun, berdasarkan sumber-sumber ini , terlihat bahwa

kekacauan demografis semacam itu terjadi pada daerah tertentu

saja, dan bukan sesuatu yang umum. Kebanyakan kaum muslim

yang tingg"l di wilayah-wilayah yang ditaklukkan oleh kaum Frank

tetap tinggal di tempat mereka. Harus diingat pula bahwa se-

panjang paruh kedua abad kesebelas, Suriah dan wilayah-wilayah

di sekitarnya sering kali mengalami pergantian pemerintahan dan

konflik militer yang menimbulkan kerusakan dan kehancuran pada

desa-desa dan kota-kota. Para petani, orang-orang tua dan orang

yang sakit diperkirakan yaitu  orang-orang yang tetap tinggal,

sementara penduduk desa dan kota yang berasal dari golongan

lebih mapan punya kesempatan lebih besar untuk pergi. Menurut

Ibn al-Qalinisi, kaum muslim yang bertahan di Tirus sesudah 

penaklukan kota itu pada 1124 yaitu  mereka yang sangat lemah

untuk melakukan perjalanan.r32'Imdduddin menyatakan bahwa

kaum muslim yang hidup di Sidon, Beirut, dan Jubayl sangat

miskin.r33

Kedar dengan tepat menyatakan bahwa mungkin saja para

penulis muslim ingin menyatakan bahwa jumlah penduduk muslim

yang memilih tetap tinggal di bawah kekuasaan Frank tidaklah

begitu banyak. Dengan mempertimbangkan hal ini , penduduk

muslim biasa di Suriah dan Palestina tampaknya bertahan di

bawah kekuasaan asing-kali ini, seperti yang terjadi, dari Eropa

$x121-d6pgan sikap tidak peduli, seperti biasanya. saat  tentara-

tentara muslim sesekali datang dari Timur untuk memerangi kaum

Frank pada dekade-dekade awal abad kedua belas, penduduk

muslim setempat mungkin telah membantu rekan-rekan seagama

mereka, seperti misalnya saat serangan yang digelar Mawd0d pada

506 H.llll3 M. Ibn al-Qalanisi melaporkan bahwa reaksi kaum

muslim sangat luar biasa saat kedatangan Mawd0d:

Tidak satu pun kaum muslim yang tertinggal di wilayah kaum

Frank yang tidak mengirimkan permohonan kepada atabeh lyaiar

Mawd0d] agar dia menjamin keamanan di sana, dan menegaskan

padanya bahwa harta benda mereka akan diserahkan padanya, dan

sebagian kekayaan Nablus dibawa padanya.r3a.

Namun, secara umum, kaum muslim yang tinggal di bawah

kekuasaan Tentara Salib pasti telah sepakat, dengan pengakuan

yang realistis, bahwa bersikap tunduk yaitu  lebih bijaksana

dibandingkan dengan sikap menentang. namun  banyak ketegangan

yang muncul di dalam. Kelihatannya, bagi kebanyakan penduduk

muslim, penaklukan kaum Frank mungkin tidak menimbulkan

perubahan yang berarti. Nasib mereka tetap sama, siapapun yang

menjadi penguasa.rs5

Sebuah sumber muslim yang bernilai penting meskipun ringkas,

yang menyinggung masalah ini, telah muncul baru-baru ini.

Penulis sejarah abad keenam belas dari Damaskus, Ibn Thulffn,

menceritakan tentang eksodus beberapa  keluarga Hanbali dari desa-

desa menuju barat daya Nablus pada 551 H.ll156-1157 M.136

Sumber penulis yaitu  DhiyA'uddin al-Muqaddasi (w. 1245), y".g

termasuk generasi kedua para pengungsi ini  yang telah

menetap sesudah  mereka beremigrasi ke sebuah tempat baru di

Damaskus, al-Shalihiyyah. Dhiyi'uddin menceritakan bahwa pe-

merintahan kaum Frank secara umum yaitu  pemerintahan yang

lalim:

Umat Islam berada dalam kekuasaan kaum Frank di wilayah-

wilayah Yerusalem dan sekitarnya, dan mereka biasa mengerjakan

tanah mereka. Mereka [kaum Frank] sering mengganggu kaum

muslim ini  dan memenjarakannya dan menarik sesuatu dari

mereka, seperti pungutan pajak perorangan ljizyah).|37

Namun kelaliman seorang penguasa Tentara Salib dipilih

secara khusus untuk dikutuk, yaitu Ibn Barzan (Baldwin dari

Ibelin, penguasa Mirabel) yang menguasai beberapa desa hingga

barat daya Nablus:

Bila biasanya orang-orang kafir itu menarik satu dinar dari

semua orang yang tinggal di bawah kekuasaannya, dia [Baldwin]

(semoga Allah melaknatnya!) menarik empat dinar dari setiap orang

dan dia biasa memotong kaki mereka. Di antara kaum Frank,

tidak seorang pun yang lebih arogan atau sombong dibanding dia

(semoga Allah mengutuknya!).t38

Kemarahan Baldwin khususnya ditujukan kepada seorang ahli

fikih Hanbali, Ahmad ibn Muhammad Ibn Qudimah, yang

berasal dari Desa Jamma'il dan merupakan kakek penutur kisah

ini , Dhiyi'uddin al-Muqaddasi. Ibn Qudimah biasa mem-

bacakan Alquran kepada para penduduk desa dan berkhotbah

pada mereka setiaP hari Jumat, dan orang-orang dari desa-desa

,.kit", berdatangan untuk mendengarkannya' Baldwin' yang men-

dapat lapor"r, L"h*, aktivitas Ibn Qudimah ini telah "meng-

alihkan p"r" p.,"rri dari pekerjaannyd" memerintahkan untuk

*.-b,rrr.rh nyi."' Kemudiai Ahmad memutuskan untuk kabur

ke Damaskus "sebab  mengkhawatirkan keselamatan dirinya dan

tidak bisa menyampaikan pesan-pesan agama di depan umum"'r4o

Kedatangan Ibn Qudimah yang diam-diam diikuti oleh anggota

k.l.rrrg"ly" sendiri dan keluarga-keluarga yang Punya hubungan

d.tgri.ry". Mereka ,,t."gt"tg'i ke Damaskus dalam kelompok-

k.lo"rnpok kecil. Eksodus mereka ini mendorong Para penduduk'

sedikitnya dari delapan desa di kawasan ini ' untuk pergi

dan menetap di pinggiran Damaskus' al-Shalihiyyah' Di tempat

itu juga Ibn Qudimah dan para pengikutnya menetaP'

SJkdip,rn laporan ini cukup menyedihkan' kelihatannya ke-

banyakan kaum muslim di Latin timur tidak meninggalkan rumah-

rumah mereka dan beremigrasi ke wilayah Islam di sekitarnya'

Keterikatan pada tanah d* h"tt" benda mereka dan tiadanya

bekal persediaan yang dibutuhkan untuk melakukan perjalanan

mengalahkan kesulitan agama, politik, atau keuangan yang mung-

kin akan mereka hadapi. \Tilayah Nablus tampaknya masih

menjadi ajang ekspresi kebencian terhadap para Tentara Salib'

Pada 583 H.ll1B7-1188 M., para petani muslim menyerang

pasukan kaum Frank, sehingga mereka terpaksa berlindung di

dalam benteng-benteng mereka, bahkan sebelum pasukan Saladin

tiba. Seperti ditulis 'Imlduddin:

saat  mereka [kaum Frank] belajar dari kekalahan mereka,

dan mereka tidak punya harapan untuk memperbaiki situasi ter-

sebut, mereka takut hidup berdekatan dengan kaum muslim dan

mereka pergi. Ralsyat wilayah ini  menyerang mereka di dalam

rumah-rumah dan tempat-tempat tinggal mereka. Dan mereka

menjarah semua barang-barang dan persediaan yang mereka te-

mukan, dan menyerang kaum Frank yang lemah dan memblokir

benteng-benteng untuk menghancurkan benteng-benteng yang kuat.r4r

Tbrlantarnya Makam-Maham l(aum Muslim

Kelihatannya demoralisasi atau larangan-larangan dari penguasa-

atau barangkali sebab  kemajuan zaman dan status sosial yang

rendah dari kau5n muslim yang tetap menetap di kerajaan

Yerusalem-telah menghalangi mereka untuk memelihara makam-

makam dan kuburan. 'Ali al-Harawi, yang mengunjungi kawasan

ini  pada awal 1180-an dan menulis buku panduan ke tempat-

tempat ziarah di sana, menyatakan bahwa makam-makam dan

kuburan telah mulai diabaikan.ra2 Beliau menulis, banyak pe-

makaman orang-orang suci di Ascalon maupun di Gaza, Acre,

Tirus, Sidon, dan seluruh kawasan pesisir yang identitasnya tidak

diketahui lagi. Kritik yang sama juga dilontarkan terhadap pe-

meliharaan makam-makam yang ada di sekitar benteng-benteng

Yerusalem.la3

Kaum Muslim di bautah Penguasa Kaum Frank:

Lebih Baih Tinggal atau Pergi?

Direbutnya kembali wilayah-wilayah Sisilia, Spanyol, dan kawasan

Mediterania timur oleh umat BGisten pada abad kesebelas, telah

menimbulkan masalah baru bagi para ahli hukum muslim yang

sistemnya berdasarkan prinsip bahwa Islam merupakan agama yang

dominan di warga . Sebaliknya, secara pelan-pelan di Sisilia

dan Spanyol dan secara tiba-tiba di kawasan Mediterania timur,

kaum muslim yang telah lama tinggal di sana diperintah di bawah

penguasa Kristen. Ini merupakan pengalaman yang tidak me-

nyenangkan.taa Apakah mereka harus pindah ke wilayah-wilayah

muslim atau tetap di tempat mereka, dan bila memang demikian,

apa alasannya?ra5

Kadang-kadang kaum Frank berupaya membujuk kaum muslim

agar kembali ke rumah-rumah mereka. Menurut Ibn al-Adim, di

AtsXrib di Suriah lJtara, segera sesudah  penaklukan Sidon, tncred

berusaha membujuk kaum muslim agar tetap tinggal dan mengatur

kepulangan istri-istri mereka yang telah melarikan diri ke Aleppo.'46

Seperti biasa, Ibn Jubayr memberikan komentar. Namun,

seperti dikatakan oleh Kedar, bukti-buktinya itu tidak valid sebab 

dia hanya tinggal 32 hari di Kerajaan Yerusalem, dan 13 hari di

antaranya dihabiskan di atas kapal di pelabuhan Acre, untuk

menunggu angin baik.la7

Pada saat terjadi penaklukan, melarikan diri sering kali men-

jadi pilihan yang menguntungkan bagi kaum muslim. Namun,

pengaruh dan daya tarik kampung halaman cukuplah kuat, seperti

dijelaskan oleh Ibn Jubayr: "Namun, ada beberapa orang yang

terdorong untuk kembali sebab  kecintaan mereka terhadap kam-

pung halaman, dengan syarat jaminan keamanan yang tertulis

untuk mereka, untuk tinggal bersama orang-orang kafir."ra8 Ibn

Jubayr, musafir dari Spanyol yang jauh, menilai jelek sikap kaum

muslim di kawasan Mediterania timur yang seperti itu: "Mungkin

tidak ada alasan di mata Allah bagi kaum muslim yang tetap

tinggal di suatu negeri kafir, kecuali mereka meninggalkannya

sebab  jalan terbentang jelas di wilayah-wilayah muslim."r4e

Pandangan Kaum Muslim tentang Pemerintahan Kaum Frank

Penilaian Ibn Jubayr tentang Tentara Salib Tirus cukup me-

nyenangkan:

Jalan-jalannya lebih bersih dibandingkan jalan-jalan di Acre.

Perilaku ralryatnya lebih lunak dalam kekafiran mereka, dan sifat

dan kebiasaan mereka lebih ramah kepada kaum muslim pendatang.

Perilaku mereka, dengan kata lain, lebih lemah lembut. Tempat

tinggal mereka lebih besar dan luas. Keadaan kaum muslim di

dalam kota ini lebih mudah dan damai.r5o

Pertanian di lembah yang terletak di bawah benteng Banyas

yaitu  contoh menarik tentang kerja sama kau'm muslim dengan

kaum Frank. Menurut Ibn Jubayr, yang melewati wilayah itu

pada 580 H./1184 M.,

Pertanian di lembah ini  dipecah antara kaum Frank dan

kaum muslim, dan di dalamnya ada  suatu perbatasan yang

disebut "Batas Pemisah". Mereka membagi hasil panen secara

merata, dan hewan-hewan mereka bercampur bersama' Meski begitu'

tidak terjadi perselisihan di antara mereka'r'r

Satu bagian terkenal dalam laporan Ibn Jubayr menceritakan

tentang hubing"n baik yang terjalin antara kaum Frank dan kaum

m.rslim di wilayah antara Tibnin dan Acre yang berada di bawah

kekuasaan kaum Frank. Bagian ini  patut dikutip dengan

cukup lengkap:

Jalan kami melewati tanah pertanian yang luas dan per-

kampungan yang teratur, yang penduduknya semuanya muslim'

y".,j friJup damai dengan kaum Frank' Allah melindungi kami dari

godaan semacam itu. Mereka menyerahkan sebagian hasil panen

t...k" kepada kaum Frank pada musim Panen' dan juga membayar

pajak perorangan sebesar satu dinar dan lima qirat' Selain itu' mereka

.ij"k aigr.,ggu kecuali dengan pajak ringan untuk buah-buahan'

Rumah-rumah mereka dan semua harta benda mereka menjadi milik

mereka sepenuhnya. Seluruh kota pesisir yang diduduki oleh kaum

Frank diatur dalam model ini, distrik-distrik pedesaan mereka, desa.

desa dan pertanian, menjadi milik kaum muslim'l52

Selanjutnya Ibn Jubayr menyatakan bahwa yang sangat di-

sayangkan, kaum muslim yang berada di bawah kekuasan Frank

irri ,i.t..ima perlakuan yang lebih baik dibandingkan kaum

muslim yang berada di bawah Penguasa-penguasa yang seagama

dengan mereka:

Mereka melihat saudara-saudara mereka yang tinggal di wilayah-

wilayah muslim dan di bawah gubernur-gubernur mereka (yang

-,rrii-1 tidak hidup dalam kemudahan dan kenyamanan seperti

yang mereka alami. Itu yaitu  salah satu nasib buruk yang menimpa

kaum muslim. warga  muslim meratapi ketidakadilan Penguasa

yang seagama dengan mereka, dan memuji perilaku Penentang

dan musuhny", p.t'gt'"'a kaum Frank' dan terbiasa mendapat

perlakuan adil dari mereka'r53

Menurut Ibn Jubayr, di wilayah yang sama di dekat Acre'

kaum Frank menunjuk seorang mandor muslim untuk mengawasi

para pekerja muslim.rsa

454 \ Cetole Hillenbrand

Kutipan lain, kali ini disampaikan oleh'Imiduddin al-Ishfahini,

memperkuat pandangan Ibn Jubayr ini , yang mungkin di-

kritik sebagai pandangan seorang turis yang dangkal:

Mengenai Nablus, para penduduk desanya dan sebagian besar

rakyatnya yaitu  kaum muslim. Mereka dimasukkan dalam go-

longan kaum Frank (yaitu, diperlakukan seperti warga kaum Frank)

yang sedap tahun mengumpulkan pajak dari mereka dan tidak

mengubah satu pun hukum atau ibadah mereka.r5t

Kutipan ini menunjukkan bahwa kaum Frank menarik pajak

yang mirip dengan pajak perorangan dalam Islam $izyah) dari

para warga negara mereka yang termasuk kaum muslim.

Keadilan Kaum Franh

Usimah menampilkan dua cerita dalam masalah ini. Yang pertama

yaitu  tentang pertarungan di Nablus antara dua orang kaum

Frank, seorang pandai besi muda yang masih sehat dan seorang

pria tua yang berkemauan keras. Pertarungan itu berlangsung

sengit dan lama, dengan disaksikan oleh penguasa kota itu dan

banyak orang lainnya yang membentuk lingkaran. Pada akhirnya,

si pria tua itu tewas, diseret, dan digantung. Usimah berkomentar

miring: "Kisah ini menggambarkan peraturan dan keputusan hukum

yang dimiliki kaum Frank-semoga Allah mengutuk mereka!"rt6

Kisah kedua mengenai pengadilan yang dilakukan oleh seorang

kaum Frank dengan memakai  air. Korbannya yaitu  seorang

pria muslim yang bersama ibunya dituduh telah membunuh para

peziarah kaum Frank:

Mereka menyiapkan sebuah tong besar dan mengisinya dengan

air. Di samping tong itu mereka menyusun setumpuk kayu. Mereka

kemudian mengikat lengan pria yang dituduh melakukan tindakan

ini , mengikat sekeliling bahunya dengan tali, dan menjatuh-

kannya ke dalam tong ini . Menurut mereka, bila dia tidak

bersalah, dia akan tenggelam di dalam air dan mereka kemudian

akan mengangkatnya dengan tali ini , sehingga dia tidak akan

mati di dalam air; bila dia bersalah, dia tidak akan tenggelam ke

dalam air. Pria ini berusaha keras agar tengplam saat  mereka

menjatuhkannya ke dalam air. Namun dia tidak berhasil. sebab 

itu, dia harus menyerah pada hukuman yang akan diberikan


ms16kx-5srnoga Allah melaknat mereka! Mereka mencongkel kedua

bola mata pria itu dengan Penusuk dari besi Panas.r57

PERJAIANAN

Perjalanan pada Abad Pertengahan sangatlah sulit ditempuh,

berbahaya, dan lambat. Sekalipun begitu, banyak perjalanan yang

dilakukan, demi kepentingan pemerintahan, Perang, Perniagaan,

agama, dan untuk mencari ilmu. Menurut analisis Goitein me-

ngenai dokumen-dokumen Geniza, suatu koleksi dokumen Abad

Pertengahan yang ditemukan di Fustat (Kairo Lama), orang-orang

lebih memilih melakukan perjalanan lewat jalur air ketimbang

lewat daratan, sekalipun untuk jarak-jarak yang pendek.r58 Sumber-

sumber Islam tidak mengungkapkan fakta bahwa para musafir

Kristen dari Eropa sering tewas di tangan kaum muslim. Kapal-

kapal kaum Frank yang membawa Para peziarah mauPun para

peziarah Kristen @"jjaj al-afan) yang melalui jalur darat tidak

selalu berhasil tiba pada tujuan mereka. Ibn Muyassar men-

ceritakan tentang pembunuhan terhadap seluruh anggota suatu

kelompok peziarah di atau dekat Tfipoli pada 546lll51.r5e Pada

551 H./1157 M., kapal-kapal yang membawa para peziarah

Kristen dihancurkan di pelabuhan Aleksandria. Para Penumpang-

nya ditangkap dan dikirim ke Kairo.r60 Dengan alasan keamanan,

perjalanan darat biasanya dilakukan dalam kelompok-kelompok

karavan, yang khususnya menjadi pilihan utama pada bulan-bulan

musim dingin, saat  perjalanan lewat lautan tidak mungkin

dilakukan. Perjalanan darat khususnya berlangsung lambat, mahal,

dan berbahaya. Dan kendaraan beroda sangat jarang ada.r6r

Perjalanan darat ini dipermudah dengan adanya tempat-tempat

perhentian yang sangat luas untuk karavan pada waktu malam

yang biasa disebut hhiln. Di dalam hhiln ini para musafir, pedagang,

atau peziarah bisa tinggal dalam satu atap bersama dengan hewan-

hewan pembawa beban dan barang bawaan mereka. Laporan Ibn

Jubayr banyak menceritakan tentang hhln yang ditempatinya

selama perjalanan. Pada saat berada di tempat terpencil, hhin

sangat sering kali mendapat serangan sehingga harus dibentengi

dengan baik. Salah satu contohnya yaitu  khtn milik kaum Tirrki

nomaden di Baqidin, Suriah, selatan Aleppo. Seperti dikatakan

oleh Ibn Jubayr: "hhfin yang ada  di sepanjang jalan ini

bagaikan benteng-benteng sebab  tidak bisa diserang dan sebab 

memiliki kubu-kubu pertahanan. Khhn-hhhn itu memiliki pintu

dari besi, dan sangat kuat."r62 KhLn-hhtn ini  bukan saja

dibentengi dengan baik. Ibn Jubayr menggambarkan hhln millk

Sultan yang ada  di jalan dari Him menuju Damaskus. Khhn

itu memiliki "aliran air yang mengalir melalui saluran bawah

tanah menu.iu ke pancuran yang ada  di tengah-tengahnya".r63

Namun, banyak bahaya yang mengintai. Diserang para bandit

yaitu  hal biasa.te Ibu Usimah menceritakan tentang perjuangan-

nya melindungi uang yang dipercayakan padanya. saat  karavan

berhenti, dia meletakkan kantong-kantong uang di tengah-tengah

sehelai kain, mengikat ujung-ujung kain menutupi kantong-

kantong uang ini , menggelar kain lain di atasnya dan tidur

di atas kantong-kantong ini .

Bahaya lainnya berasal dari pejabat-pejabat yang korup'

terutama di Mesir Atas, menurut Ibn Jubayr' yang menceritakan

dengan sangat sedih tentang penghin a^n yang dialami oleh para

peziarah ke Mekah, seperti yang dialaminya:

Pencegatan terhadap kapal-kapal musafir disertai dengan peng-

geledahan dan pemeriksaan' Tangan-tangan mereka merogoh ke

dalam pakaian Para pedagang untuk mencari dirham dan dinar

y".g -*ngkir, -",.k* sembunyikan di bawah ketiak mereka atau

di dada mereka. Sungguh sangat men.iijikkan untuk didengar'

Menceritakannya hanya menimbulkan kebencian"' di antara para

penerima pajak ini, para peziarah berdiri dengan Perasaan sangat

malu dan terhina.. ' Tidak ada buntelan atauPun kantung yang

tidak menarik orang-orang terkutuk itu"'166

Pada abad kedua belas, orang-orang dari negara-negara Islam

biasa mengadakan perjalanan dtt'g"" menumPang kapal-kapal

Eropa lainnya' sePerti dinyatakan

dalam dokumen Geniza.'67 Namun tidak jelas apakah kaum

muslim tetap bisa mendapatkan akomodasi terpisah dari kaum

Kristen saat  melakukan perjalanan lewat laut' Yang pasti' peng-

aturan sePerti itu tidak di"butk"" saat  Ibn Jubayr berangkat

dari Spaiyol menuju ke timur pada 578 H'/1183 M' Namun'

saat  dalam perjalanan pulang, Ibn Jubayr mengatakan secara

khusus: "Kaum muslim dij"-i" mendapat temPat yang terpisah

dari kaum Frank."r68

Perjalanan dengan laut sangat mengandalkan angin' Bila angin

tidak bertiup, k"pj bi'a terunda cukup lama' seperti yang dialami

oleh kapal y"rrg ditumpangi lbn Jubayr di Acre' Pada Rajab 580

H./Oktober 1184 M., ibt'Jt'b"yt terpaksa harus menunggu selama

12 hari sampai ada angin baik untuk berlayar ke barat' Seperti

dikatakanny" d..,g"" ipat' "Para penjelajah ke Maghribi' ke

Sisilia, atau ke tarrah-tanah Romawi' menunggu angin timur di

dua musim ini seperti mereka menunggu (ditepatinya) ianii yang

jujur."r6e Kemudian, sebab  terlalu lama mengalami goncangan

ii 1"r.r,, Ibn Jubayr menggambarkan: "Semua (bentuk) perjalanan

punya musim (yr.,g b;r) sendiri' dan perialanan lewat laut

harus dilakukan pada waktu yang rcPat dan periode yang dikenal'"r7o

Angin dari barat bisa menggagalkan perjalanan ke barat'

Sungguh beruntung Ibn Jubayr itut kapal yang dinakhodai oleh

para pelaut dari Genoa yang begitu terampil, sebab  meskipun

kapal yang ditumpanginya kehilangan setengah tiangnya dan layar

tambahannya, keadaan ini  bisa diatasi.rTr fek lama kemudian,

kapal tenang kembali, saat  lautan telah menjadi bagaikan "se-

buah istana yang dibuat licin dengan kaci'.t72

Berdasarkan pengalaman Ibn Jubayr, kapal-kapal itu mem-

bawa bermacam-macam produk makanan untuk dijual kepada

para penumpang kapal. Dia menyebutkan ada buah delima, quince

(seperti buah apel), semangka, keju, dan ikan.r73 Ditambah lagi

dengan produk-produk segar seperti roti, daging dan minyak,

yang akan dijual oleh penduduk setempat ke kapal saat kapal itu

melewati suatu pulau atau daratan.rT4 Namun, sesudah  lama berada

di laut, persediaan makanan ini  pasti akan habis. Kebanyakan

musafir membawa perbekalan yang cukup untuk lima belas atau

dua puluh hari.r75

PEIAKSANAAN IBADAH AGAMA:

PENCAPLOKAN MONUMEN-MONUMEN AGAMA "PIHAK IAIN"

Semeniak kaum muslim melakukan penaklukan wilayah pada abad

ketujuh, mereka sesekali mengambil alih tempat-tempat ibadah

umat Icisten yang ada atau membangun di tempat-tempat yang

disucikan oleh agama lain. Selama Perang Salib, baik kaum Frank

maupun kaum muslim umumnya cenderung mempertahankan

fungsi bangunan-bangunan agama saat  mereka mengambil alih-

nya dari musuh dan menghormati kesucian bangunan-bangunan

ini , sekalipun mereka menyesuaikannya dengan ritual-ritual

agama mereka sendiri.

Perlakuan l{aum Frank terhadap Monumen-Monumen Islam

Sekalipun kaum Frank bertindak sangat kejam-sifat yang sangat

dikecam di dalam sumber-sumber Islam-dan pengakuan bahwa

Kubah Batu "telah tercemar", struktur bangunan Kubah Batu itu

tidak dihancurkan dan inskripsinya tidak dirusak. Pada periode

awal pendudukan Tentara Salib, proses yang sama kembali terjadi

di luar Yerusalem. Misalnya, di Ascalon, Masjid Agung diubah

menjadi Gereja Sancta Maria Viridis.rT6 Ibn Jubayr meratapi nasib

yang menimpa Acre dengan memilukan: "Masjid-masjid telah

menjadi gereia dan menara-menara telah menjadi tiang-tiang

lonceng."l77

Namun penting untuk dicatat bahwa sekalipun adanya rasa

kemarahan dan penghinaan di kalangan warga  Islam, se-

jumlah penulis muslim tertentu bisa menjelaskan fakta bahwa

kaum Frank kadangkala bertindak sangar terkendali terhadap

monumen-monumen agama Islam. Al-Harawi menceritakan, misal-

nya, bahwa di dalam Masjid Aqshi, mihrab Khalifah 'Umar tidak

disentuh oleh kaum Frank. Al-Harawi kemudian menceritakan

tentang inskripsi yang ada  di langitJangit masjid atas nama

khalifah Fatimiyah, al-Zhihir, yang bertanda tahun 426 H.llO35

M.: "Seluruh inkripsi ini, hiasan daun-daunan mosaik dari emas

serta ayat-ayat Alquran dan nama-nama khalifah di atas pintu-

pintu, dibiarkan utuh oleh kaum Frank."r78 Menurut, al-Harawi,

kaum Frank juga tidak menyentuh mihrab 'lJmar di Bethlehem.rTe

saat  prajurit-prajurit Saladin memasuki Kubah Batu pada

1 187, mereka menemukan bahwa sekalipun di atas batu ini 

telah diletakkan sebuah altar, batu ini  dilindungi dengan

kisi-kisi besi yang kuat. Meskipun begitu, pare peziarah IGisten

telah membuat beberapa  kerusakan. Mereka mengambil bong-

kahan-bongkahan batu kecil untuk dibawa pulang sebagai cedera

mata.r8o Dengan berdasarkan pada keterangan-keterangan ini,

untuk sementara bisa disimpulkan bahwa kaum Frank tampaknya

lebih tertarik menambahkan simbol-simbol dominasi Kristen yang

umum dan besar pada monumen-monumen utama kaum muslim-

Salib pada Kubah Batu, gambar-gambar Yesus, dan yang lainnya-

daripada mengubah struktur dasar bangunan-bangunan rersebur.

Kadang-kadang umat lftisten memperoleh pemasukan uang

dengan memanfaatkan monumen-monumen agama Islam.

'Imiduddin menceritakan pada 583 H.lll87-1188 M. bahwa

makam Zakariyya, ayah dari Yohanes Pembapds,rst di Sebasdyya

(Sivas) telah diubah menjadi sebuah gereja oleh para pendeta:

Itu merupakan tempat ibadah mereka yang paling mulia dan

suci. Mereka menutupinya dengan tirai dan menghiasinya dengan

perak dan emas. Mereka menetapkan waktu-waktu tertentu untuk

para pengunjung dan satu komunitas biarawan tinggal di dalamnya.

Hanya mereka yang menyerahkan hadiah berharga yang diizinkan

untuk datang berkunjung.t82

Perhhuan Kaum Muslim terhadap Bangunan-Bangunan

Agarna Kristen

Proses pengambilalihan ini  berlangsung melalui dua cara.

Yang jelas, kaum muslim tidak ragu-ragu untuk mengambil alih

bangunan-bangunan keagamaan yang dulunya milik para tntara

Salib itu dan memakai nya untuk kepentingan Islam. Contoh

pertama gereja-gereja yang diubah menjadi bangunan-bangunan

Islam dilaporkan terjadi di Aleppo pada 518 H.lll24-1125 M.

oleh penulis sejarah setempat, Ibn al-Adim.

Namun, sekalipun marah atas serangan kaum Frank ke ka-

wasan Aleppo, kaum muslim mempertahankan gereja-gereja ini

sebagai monumen-monumen agama, dengan mengubah beberapa

bangunan itu menjadi masjid, (gambar 6.42 dan 6.43) dan lain-

lain. Sebagian lainnya menjadi perguruan-perguruan keagamaan

(foto 6.1 daLn 6.2; bandingkan juga foto 6.3).

Contoh lainnya yaitu  Madrasah Shalahiyyah, perguruan yang

didirikan pada 588 H.11192 M. oleh Saladin-seperti ditunjukkan

oleh inskripsi yang ada  di atas pintu bangunan ini '

yang masih tetaP beftahan hingga kini-untuk mengajarkan hukum

Islam menurut mazhab syaf i. Ibn Syaddad ditunjuk sebagai

syeikh pertama di perguruan itu.r83 Pada masa Tentara Salib'

bangunan ini dulunya yaitu  Gereja St' Anne dengan arsitektur

E.opr, dan arsitektur bangunan itu dianggap perlu sedikit diubah

untuk menjadi sebuah madrasah.rsa Saladin juga memberikan

tempat para patriark kepada para sufi dan membentuk badan

,*"1 (*"krf) untuk pengelolaan bangunan itu.r85 Sebuah gereja

yang dulunya milik Ordo Hospitaler diubah menjadi sebuah

,"*"t, sakit.r86 Uang disediakan untuk rumah sakit itu dan obat-

obat yang langka dibawa ke sana.

R rr.".rg"., dan dekorasi gereja-gereja kaum Frank yang di-

bangun di kawasan Mediterania timur sangat bernuansa Barat.

Memang, gereia'gereia itu benar-benar kelihatan sePerti berada di

kr*"rr., Eropa."' Meski gereja'gereia itu tampak aneh dalam

lingkungan kru- *uslim, beberapa di antara geraia itu diubah

-.";"ai masjid. Misalnya gereia yang ada  di Ramla' Hebron'

dan Thrsus.rs8 Sisa-sisa katedral kaum Frank di Thipoli kini menjadi

bagian dari masjid utama di kota itu yang menonjolkan menara

berbentuk persegi panjang yang sangat besar dengan lengkungan-

l.ngkungrn kembar dan segitiga serta lubangJubang untuk cahaya

d"r, d".r1g"., tinggi emPat lantai, sebuah pemandangan yang tidak

464 \ Ca.role Hillenbrand

biasa di sebuah kota muslim. Masjid Agung di Beirut, contoh

yang sangat jelas tentang arsitektur Eropa, dulunya yaitu  Gereja

Katedral St. Yohanes Pembaptis.rse

Contoh menarik lainnya renrang pengambilalihan besar-besar-

an monumen Tentara Salib yang ada dan menjadikannya sebagai

bangunan Islam yaitu  bangunan luar Kapel Peristirahatan Yesus

yang menghadap tanah Haram. Bangunan ini diubah menjadi

makam bagi pemimpin Kurdi Aynrbiyah dan kemudian dikenal

sebagai makam (madfan) Syeikh Darbas al-Kurdi al-Hakkari, yang

meninggal pada sekitar permulaan abad ketiga belas.teo Nilai

kesucian yang istimewa yang dimiliki rempar ini bagi umat

l(1i51sn-lgmpar ini diberitakan merupakan rempat Yesus ber-

istirahat sesudah  ditangkap di Thman Gethsemane-tidak menjadi

penghalang bagi kaum muslim untuk kemudian menjadikannya

sebagai tempat pemakaman.

Patut dicatat bahwa nasib yang sama kemudian juga menimpa

beberapa gereja Tentara Salib yang berada di luar Yerusalem yang

diubah menjadi monumen-monumen Islam. Contohnya yaitu 


gereia Tentara Salib di Gaza yang kini telah men'iadi Masjid

Agung.ret

PERPINDAHAN AGAMA DI ANTAM KAUM MUSLIM

DAN KAUM FMNK

Kasus-kasus perpindahan agama di kalangan Tentara. Salib dan

kaum muslim kadang-k'd"""g dilaporkan di dalam sumber-sumber

Islam, meskipun periftiwa teisebut sering kali terjadi sebagai.akibat

dari keadaan darurat Perang dan untuk memPertahankan hidup'

Untuk waktu beberapa lama, kasus PerPindahan agama 

.yang

terjadi itu umumnya tia"t aiU"ttas di dalam sumber-sumber kaum

muslim. Ibn al-Atsir menceritakan tentang seorang muslil- murtad

y"r,g d.tl,rrya yaitu  walikota (ra'i) Sartl parda 502 H'/1108-

1109 M.:

Walikota Saruj dulunya yaitu  seorang muslim yang kemudian

murtad. R.k".r-re# J"il m.nd.ngar bahwa dia menjelek-jelekkan

Islam,danmerekamtmuk"linya'Gara-garaitu'kemudianterjadi

pertikaian ansra mereka dan kaum Frank' Lalu hal itu disampaikan


kepada Pangeran [Baldwin] dan dia berkata: "[Orang seperti] ini

tidak patut bagi kami maupun kaum muslim." Maka mereka

membunuhnya.re2

Ibn Jubayr mengutuk keras seorang bekas tahanan Maghribi

yang kemudian dipekerjakan oleh seorang pedagang Suriah:

Di salah satu karavan tuannya, dia datang ke Acre, tempat

dia bergaul dengan umat Kristen, dan meniru banyak sifat mereka.

Setan membujuknya dengan kuat dan menghasutnya sampai dia


meninggalkan agama Islam, dan berubah menjadi kafic dan seorang

Kristen.re3

Namun, hal yang lebih buruk terjadi: "Kami berangkat menuju

Acre, namun mendengar kabar tentangnya. Dia telah dibaptis

dan menjadi kotor, dan mengenakan pakaian seorang pendeta,

yang sekaligus semakin mendekatkan dirinya dengan api nereka."re4

UsAmah menceritakan kisah seorang pria bernama Ali hbd

ibn Abi'l-Rayda yang jatuh ke tangan seorang kaum Frank

bernama Theophile, penguasa Kafartab. Di bawah tuan barunya,

'AIi memimpin kaum Frank melawan kaum muslim. Istrinya yang

ikut dengannya di Kafartab keberatan dengan perilakunya. Namun

Ali tidak menghiraukannya. Kemudian istrinya itu berencana

menyembunyikan salah seorang kerabatnya di dalam rumah, dan

pada malam hari mereka berdua membunuh suaminya. 'Wanita

itu kabur dengan membawa semua harta bendanya ke Syayzar.

Di sana dia berkata: "Saya marah atas nama kaum muslim

terhadap perbuatan yang telah dilakukan orang kafir ini pada

mereka."re5 Dari cerita tidak jelas apakah 'Ali pindah agama

menjadi Kristen, namun  kelihatannya memang seperti itu.

Seperti telah diceritakan sebelumnya, seorang tahanan wanita

muda kaum Frank menikah dengan Malik ibn Salim, penguasa

Qal'at Ja'bar. \Wanita itu melahirkan putra Malik yang bernama

Badrin, yang kemudian menggantikan ayahnya. Pada tahun itu,

ibunya kabur dari benteng ini  dengan memakai  seutas

tali dan menuju ke Saruj yang dikuasai kaum Frank. "Di sana

dia menikah dengan seorang kaum Frank pembuat sepatu, se-

mentara putranya menjadi penguasa di Qal'at Jibar."te6 Us6.mah

menjelaskan di awal kisah ini bahwa "kaum Frank (semoga Allah

mengutuk mereka) yaitu  ras terkutuk, yang anggota-anggotanya

tidak berbaur kecuali dengan orang-orangnya sendiri".reT

Usimah memberikan contoh lain tentang kegigihan iman

llristen. Dia mengisahkan tentang seorang tahanan muda kaum

Frank "yang masuk Islam, dan dia benar-benar pindah agama

yang terlihat dari cara dia melaksanakan salat dan puasa". Dia

belajar keahlian kerajinan marmer dari seorang pemotong batu

dan dinikahkan oleh ayah Usimah dengan se6rang wanita muda

muslim yang saleh-ayah UsAmah membiayai pernikahan itu.

Beberapa tahun kemudian, sesudah  dua putranya lahia pria ini 

membawa kedua putranya dan istrinya dan semua harta bendanya

untuk bergabung dengan kaum Frank di Afamiyyah: "Dia dan

putranya menjadi I(risten, sesudah  mempraktikkan Islam dengan

salat dan iman. sebab  itu, semoga Allah membersihkan dunia

dari orang-orang'seperti itu.'re8 Kemudian, sesudah  pertempuran

Hattin, deputi Saladin di Damaskus membunuh para lGatria Kuil

dan Ordo Hospitaler di sana, namun "hanya mereka yang telah

ditawari masuk Islam dan menolak menjadi muslim". 'Imiduddin

kemudian mengatakan: "Hanya sedikit yang benar-benar masuk

Islam dan benar-benar yakin dengan agama ini ."ree

Pada peristiwa pengepungan Safad oleh Baybars pada 664

H.ll266 M., sultan hanya menyisakan dua tawanan: "Salah

satunya addah juru runding yetg ingin tinggal dengan Sultan

dan telah memeluk Islam."200 Menurut Ibn al-Furit, dia yaitu 

seorang lGatria Kuil yang disebut "Saudara Leon".2or

Tirduhan berniat melakukan baptis digunakan Baybars sebagai

alasan untuk membunuh Edward I dari Inggris. Baybars meng-

gunakan pelayanan Ibn Syiwir, yang bertanggung jawab di al-

Ramla. Ibn Syiwir menghubungi Edward dengan mengklaim

bahwa dia ingin dibaptis, dan dia akan mengirimkan kaum

muslim lainnya untuk dibaptis juga. Edward mengambil salah

seorang utusan Ibn Syiwir, yang diduga masuk }Gisten, untuk

menjadi pelayannya. Upaya pria ini tidak berhasil membunuh

Edward.2o2

KEBEBASAN BERIBADAH

I{aum Muslim di bawah Penguasa l{aum Franh

Bukti-bukti dari sumber-sumber kaum muslim mengenai masalah

penting ini tidak lengkap.2o3 DhiyA'uddin melaporkan bahwa di

bawah penguasa kaum Frank, par^ penduduk muslim yang tinggal

di suatu desa yang bernama Jamma'il di kawasan Nablus me-

laksanakan salat Jum'at, sementara ceramah (khutbah) juga di-

berikan.2M

Tentang keadaan di kerajaan kaum Frank Yerusalem, bukti-

bukti yang disampaikan Usimah yaitu  Penting. Dalam suatu

peristiwa yang terkenal, Usimah mengunjungi Masjid Aqshi, yang

saat itu diduduki oleh para IGatria Kuil. Di dekat Masjid AqshA

ada  sebuah masjid kecil yang telah diubah menjadi sebuah

gereja oleh kaum Frank. Kisah Usimah berlanjut sebagai berikut:

"Kedka saya memasuki Masjid AqshA, yang di dalamnya ada 

para lGatria Kuil, yang yaitu  teman-teman saya, mereka biasa

mengosongkan masjid kecil itu sehingga saya bisa salat di dalam-

rrya."205 Namun bukti-bukti ini tidak menunjukkan bahwa semua

kaum muslim bisa salat di sekitar Masjid AqshA. Sebaliknya,

Usimah kelihatannya secara tidak langsung menunjukkan bahwa

dia mendapat hak istimewa dari para IGatria Kuil yang yaitu 

teman-temannya. Barangkali hak istimewa ini juga diberikan kepada

kaum muslim lainnya yang berasal dari anggota kelas ksatria.

Ibn Jubayr memuji perilaku umat IGisten yang berdiam di

sekitar Gunung Lebanon terhadap para sufi muslim, dengan

membawakan makanan dan memperlakukan mereka dengan ramah:

"Dan bila umat trfuisten memperlakukan musuh-musuh agamartya

dengan cara seperti ini, bagaimana menurut kamu perlakuan yang

diberikan kaum muslim kepada sesamanya?"206

Di Acre, yang dikuasai pasukan Saladin, Ibn Jubayr melapor-

kan bahwa sebagian masjid utama disediakan untuk ibadah oleh

kaum Frank:

Namun Allah menjaga satu bagian masjid utama tetap bersih,

yang tetap di tangan kaum muslim, sementara sebuah masjid kecil

menjadi tempat berkumpulnya orang-orang asing untuk melakukan

ibadah wajib mereka. Di dekat mihrabnya ada  makam Nabi

.Saleh-semoga Allah memberkahinya dan memeliharanya bersama

nabi-nabi yang lain. Allah melindungi bagian (masjid) ini dari

kotoran orang-orang kafir demi pengaruh baik makam suci ini.

Ibn Jubayr menceritakan bahwa saat berkunjung ke Tirus,

dia beristirahat "di salah satu masjid yang tetap dikuasai kaum

muslim".2o8 Keterangan ini menunjukkan bahwa kaum muslim

tidak selalu diizinkan untuk terus memiliki masjid-masjid mereka

atau beribadah di' dalamnya. Namun, beberapa masjid tetap

dibiarkan untuk digunakan kaum muslim beribadah. Kadang-

kadang sebuah monumen keagamaan bisa digunakan bersama

untuk ibadah para Tentara Salib mauPun kaum muslim. Ibn

Jubayr memberikan contoh Ayn al-Badar di timur Acre dan

memuji tindakan para Tentara Salib di sana:

Di atasnya (mata air) ada  sebuah masjid yang mihrabnya

saja dalam keadaan seperti semula. Kaum Frank sendiri telah

membangun sebuah mihrab mereka di bagian timur masjid. Kaum

muslim dan orang-orang kafir berkumpul di sana, yang masing-

masing menghadap tempat ibadahnya sendiri. Di tangan umat

Kristen, kemuliaannya tetap terjaga, dan Allah telah memelihara

di dalamnya sebuah tempat salat bagi kaum muslim.2oe

Kebebasan beribadah merupakan aspek yang sangat penting

dalam peristiwa penyerahan kembali Yerusalem kepada kaum Frank

yang terkenal pada 626 H.ll22S-1229 M. Akses ke monumen-

monumen suci Islam dan pelaksanaan ibadah di dalamnya dijamin

dalam perjanjian ini :

Haram, dan Kubah Batu dan Masjid Aqshi yang terletak di

dalamnya, juga tetap menjadi milik kaum muslim, dan tidak

seorang pun dari kaum Frank masuk dengan aman sebagai pe-

ngunjung, sementara penjaganya harus dari kaum muslim. Semua

praktik-praktik Islam, te