ikitpun bagi generasi berikutnya. Alam ini
bukanlah milik kita, tapi titipan anak-cucu kita di masa yang akan datang.
Selayaknya dijaga dan dipelihara kelestariannya.
Sebuah hadits Nabi Muhammad Saw yang sangat populer dan sering
kita temukan yaitu : “Kebersihan yaitu bagian dari iman.”
Memang, oleh sebagian ulama, hadits ini dinilai dhaif (lemah). Tapi
bagi kita yang tidak menger ti seluk-beluk ilmu hadits, yang penting
matan (isi) hadits itu sangat baik dijadikan sikap hidup. sebab kalau
kita selalu menjaga kebersihan –badan, hati, dan lingkungan— itu sudah
cukup bagi kita, meskipun dia bukan bagian dari keimanan. Kendati
begitu, kalau kita membuka kitab-kitab fikih klasik, maka bahasan
pertama yang akan kita dapati yaitu “bab thaharah”, pasal tentang
kebersihan, dari mulai masalah air, wudhu, mandi, dan sebagainya.
Begitu pentingnya menjaga kebersihan lingkungan ini, sampai-
sampai Nabi Muhammad Saw melarang pasukannya mencemari air
(sungai atau sumur) dengan racun sebagai bagian dari strategi perang.
Nabi Muhammad Saw tidak ingin air itu tidak bisa diambil manfaatnya
oleh orang lain, meskipun yang disebut “orang lain” itu yaitu musuh
umat Islam yang akan mereka hadapi dalam perang. Beliau juga
melarang kita buang hajat sembarangan, sebab khawatir mencemari
lingkungan tempat di mana makhluk-makhluk Allah yang lain tinggal.
Sampah yang menumpuk di sungai,
cermin minimnya kesadaran akan budaya bersih
Dua sabda Nabi Muhammad Saw berikut ini menejaskan betapa
Islam sangat memperhatikan soal keber sihan lingkungan.
“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla itu baik, Dia senang pada (semua)
yang baik. Dia Bersih, dan mencintai kebersihan…. Maka bersihkanlah
pekarangan rumahmu….” (HR. Tirmidzi). “Hindarilah kutukan dalam
tiga hal, yaitu 1) buang air besar (kotoran, sampah) di sumber air, 2)
membuang kotoran dan sampah di jalan, dan 3) membuang kotoran di
tempat orang beristirahat.” (HR. Abu Daud).
Sekali lagi, Islam memandang sehat itu secara holistik dan
menyeluruh. Sehat lahir dan batin, jasmani dan ruhani. Itu artinya sehat
akal, hati, jiwa, dan ruhani. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) akhirnya
pada tahun 1984 menambahkan satu poin, yakni spiritual atau agama,
untuk definisi sehat. Sehingga sekarang yang dimaksud sehat yaitu
aspek-aspek yang melingkupi fisik, psikologik, sosial, dan spiritual.
Kisah Hikmah dari Pengalaman Pribadi
Sudah lebih dari dua puluh tahun saya menjalani profesi sebagai dokter,
dengan spesialisasi bedah tulang. Sulit menghitung berapa jumlah pasien
yang sudah saya tangani. Alhamdulillah, semua berjalan lancar dengan
hasil yang memuaskan. Dan itu semakin mengangkat reputasi saya
sebagai profesional. Rasa tinggi hati kadang menyelinap tanpa saya
sadari. Sangat wajar dan manusiawi, sebab manusia memang tempat
khilaf dan salah. Dan untuk itu Allah memberi teguran langsung kepada
saya dengan hal-hal mengherankan.
Contohnya saat saya menghadapi seorang pasien, yang menurut
analisis saya kasusnya tidak begitu rumit, bahkan saya kerap kali
menangani hal serupa tanpa masalah. Tapi, tiba-tiba saja operasi
menjadi sangat rumit dan melelahkan. Saya seakan mengalami jalan
buntu. Saya segera istighfar. Lalu pamit meninggalkan ruang operasi
sebentar. Saya ambil wudhu dan shalat dua rakaat, mohon ampun atas
semua yang telah saya lakukan tanpa sadar, seraya memohon petunjuk
pada Allah. Saya sempat merenung sejenak, melakukan muhasabah
(instrospeksi diri), jangan-jangan ada tingkah laku saya melampaui batas
kebanggaan sehingga berubah menjadi ujub (bangga diri).
Selesai shalat dan berdoa hati saya menjadi tenang. Pikiran saya
juga fokus. Segera saya kembali ke ruang operasi untuk melanjutkan
pekerjaan yang ter tunda. Ajaib! Sesuatu yang luar biasa terjadi. Saya
melakukan pekerjaan dengan lancar dan sukses, seakan-akan tidak
pernah ada masalah apa-apa. Alhamdulillah….
Peristiwa itu menghentak kesadaran saya. Betapa kecil dan tiada
artinya kita, manusia, di hadapan Kekuasaan Tuhan. Seabrek ilmu dan
segudang talenta tidak berarti sama sekali jika Allah tidak berkenan
memberikan manfaat ilmu itu pada kita. Pengalaman yang panjang,
keahlian yang mendapatkan legitimasi di masyarakat juga tidak ada
pengaruhnya kalau Allah tidak memberi ijin kesembuhan. Allah-lah Sang
Maha Penyembuh. Sedangkan saya hanya berusaha membantu
penyembuhan. Saya hanyalah alat semata.
Makanan dan Minuman
Allah Azza wa Jalla berfirman dalam Al-Qur’an: “Maka makanlah yang
halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu, dan
syukurilah nikmat Allah jika kamu hanya kepada-Nya menyembah.” (QS.
An-Nahl {16}: 114). Lalu dalam firman-Nya yang lain, Allah memerintah
kita, “Makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya
Allah tidak menyukai terhadap orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-
A’raaf {7}: 31).
Allah memerintahkan agar kita hanya mengkonsumsi makanan
dan minuman yang halal dan baik saja. Makanan halal yaitu makanan
yang tidak masuk kategori yang diharamkan agama, misalnya daging
babi, daging anjing atau bangkai selain ikan. Juga zat-zatnya tidak
mengandung apa saja yang dilarang syariat, misalnya tidak mengandung
formalin, borax, melamin, alkohol, dan sebagainya. Di samping itu,
makanan halal juga berkaitan dengan cara mendapatkannya.
Makanan halal juga bukan makanan “sisa” yang dipersembahkan
untuk yang selain Allah. Kalau dia berupa daging, binatang yang disembih
harus dengan nama Allah, bukan untuk “penunggu gunung” atau
“penguasa laut”, misalnya. Jelasnya bukan makanan sisa sesajian. Dan
makanan halal bukanlah makanan hasil mencuri atau dibeli dengan
uang curian, uang korupsi, dan sebagainya. Meskipun zat atau jenis
makanannya halal, tapi kalau cara memperolehnya tidak halal, maka
makanan itu tetap haram dikonsumsi. Sampai demikian Islam mengatur
pola kehidupan manusia, utamanya para pemeluknya.
Sedang makanan yang baik berkenaan dengan kebutuhan tubuh
akan zat-zat yang terkandung dalam makanan atau minuman yang
masuk ke dalam perut kita. Seseorang yang menderita penyakit gula
(diabetes mellitus) tidak dianjurkan makan manisan, minum teh manis,
dan sebagainya. sebab bisa jadi sesudah makanan atau minuman itu
masuk ke perutnya, kadar gula yang ada di dalam tubuhnya akan
meningkat. Seorang penderita darah tinggi (hiper tensi) dilarang
memakan makanan yang bisa membuat tensi darahnya melonjak tajam,
meskipun makanan itu halal baginya. Insya Allah, nanti saya akan bahas
sedikit mengenai makanan dan minuman haram ini.
Makanan yang baik juga berarti makanan yang mengandung gizi,
yang cukup karbohidrat, protein, mineral, vitamin dan sebagainya,
sehingga bisa menopang kerja organ tubuh. Makanan yang baik juga
bukan makanan yang kadaluwarsa, tidak layak dikonsumsi sebab masa
“edarnya” sudah habis dan seharusnya dibuang.
Makan dan minum bagi umat Islam bukan sekadar mengisi perut
yang lapar atau tenggorokan yang merasakan dahaga. Kegiatan makan-
minum yaitu bagian ibadah kepada Allah, makanya kita selalu diminta
berdoa sebelum makan atau minum. Makan-minum juga merupakan
bentuk rasa syukur kita yang paling nyata sebab Allah telah
menganugerahkan rezeki kepada kita.
Sebelum makan kita dianjurkan berdoa: “Ya Allah, berkahilah kami
dalam rezeki yang telah Engkau limpahkan kepada kami, dan peliharalah
kami dari siksa api neraka. Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih
lagi Maha Penyayang.” (HR. Ibnu As-Sani).
Dalam urusan makan saja kaum Muslimin tetap diminta untuk
memohon perlindungan kepada Allah dari siksa api neraka. Bukankah
makanan yang sudah jelas keharamannya kalau kita makan juga akan
mengantarkan kita ke dalam neraka?
Meskipun kita diperintahkan makan dan minum, tapi Allah tetap
ingin kita sehat sesudah makan dan minum. Makanya Allah
memerintahkan agar dalam makan dan minum itu, kita tidak berlebih-
lebihan. Tidak “gelap mata”, main sikat saja. Tidak peduli makanan itu
tidak baik bagi kesehatan kita, yang penting nafsu makan kita terpuaskan.
Mulut merasakan lezatnya, perut merasakan kenyangnya. Soal kemudian
kita sakit sesudah makan, itu urusan belakang.
Agar kita tidak gelap mata saat menghadapi makanan, sebelum
makan kita dianjurkan berdoa. Begitu juga sesudah nya, dan doanya
yaitu : “Segala puji bagi Allah yang telah memberi kami makan dan
minum, serta menjadikan kami Muslimin.” (HR. Abu Daud).
Kita memuji Allah atas anugerah-Nya yang telah memberi kita
makan dan minum. Allah anugerahkan kita tubuh sehat sehingga bisa
mencari penghidupan, mencari rezeki untuk diri sendiri atau keluarga.
Allah beri kita kesehatan sehingga kita bisa merasakan nikmatnya makan
dan minum tanpa alat bantu. Berapa banyak orang yang tidak bisa
makan dan minum kecuali harus dibantu dengan alat, misalnya lewat
selang infus.
Dan kita juga memuji Allah sebab telah memasukkan kita ke dalam
golongan kaum Muslimin. Yakni orang-orang yang selamat sebab
memasrahkan diri kepada-Nya dengan cara mengikuti aturan yang telah
ditetapkan-Nya. Kita bersyukur sebab Allah telah mengatur sedemikian
rupa persoalan makanan dan minuman yang harus kita konsumsi,
sehingga kita selamat dari kemungkinan terserang suatu penyakit.
Makan dan minum yaitu kebutuhan hidup manusia. Dengan begitu
manusia memenuhi sunnatullah sebagai makhluk yang tunduk pada
hukum-hukum kemakhlukan. Kalau makhluk lapar, dia harus makan.
Kalau dia haus, maka dia harus minum, dan seterusnya. Kendati
demikian, Islam tetap mengatur dan membuat koridor agar kaum
Muslimin memperhatikan soal makanan dan minuman ini.
Makanan dan Minuman Yang Dianjurkan
Allah Azza wa Jalla menganjurkan kita memakan apa saja (tumbuhan,
binatang, dan sebagainya), sepanjang tidak ada larangan yang tegas.
Begitu banyak jenis makanan yang boleh dikonsumsi oleh kaum Muslimin.
Baik yang berasal dari hewan, tumbuhan atau hasil olahan. Makanya
agak mengherankan juga kalau masih ada umat Islam yang
mengkonsumsi makanan-makanan dari jenis yang diharamkan.
Adapun makanan dan minuman yang dianjurkan antara lain:
a. Daging hewan
Islam sangat menganjurkan para pemeluknya memakan makanan yang
memiliki nilai gizi (nutrient) yang tinggi untuk menunjang kegiatan
harian mereka, misalnya daging. Rasulullah Saw sendiri juga menyukai
makanan sehat yang berasal dari hewan ternak, domba, kambing, unta,
kerbau atau sapi. Bahkan beliau dikabarkan pernah memakan daging
kelinci dan sup ayam. Sedang Amirul Mukminin, Ali bin Abi Thalib ra.
pernah berkata: “Makanlah daging, sebab dia memperindah corak tubuh
dan membersihkan raut wajah.” Allah berfirman dalam Al-Qur’an: “Allah-
lah yang menjadikan hewan ternak untuk kamu, sebagiannya untuk
kamu kendarai dan sebagiannya untuk kamu makan.” (QS. Al-Mu’min
{40}: 79).
Daging hewan yaitu sumber protein, dan protein sangat
dibutuhkan oleh tubuh sebab untuk pertumbuhan jaringan otak, sistem
hormonal, dan sebagainya. Sebuah penelitian yang baru-baru ini
dilakukan oleh Paul Avan dari Universitas Auvergne, Prancis, menemukan
protein yang berada di bagian dalam telinga yang dinamakan stereocilin
yang bertugas menjaga sel-sel sensor tetap utuh dan memungkinkan
bagian dalam telinga (cochlea) mendistorsi bunyi. Jadi, protein juga
berfungsi sebagai pembeda bunyi! Subhanallah….
Semua daging hewan, termasuk unggas (ayam, bebek, burung
dara, dan sebagainya) juga boleh dimakan, kecuali yang dengan tegas
diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya, seper ti babi, anjing, binatang
buas bergigi taring atau unggas yang berkuku melengkung. Begitu juga
binatang hasil buruan, boleh dikonsumsi. Daging yang disenangi oleh
Rasulullah Saw yaitu daging domba atau kambing.
b. Hasil tangkapan laut
Seper ti kita ketahui bersama, dua per tiga bumi kita terdiri dari air.
Luas perairan lebih besar daripada daratan. Itu artinya, hasil kekayaan
laut juga bisa lebih besar daripada hasil yang ada di daratan. Oleh
sebab itu, alangkah baiknya kalau kita memanfaatkan hasil kekayaan
laut sebagai alternatif makanan kita. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:
“Dan Dia-lah (Allah) yang telah menundukkan lautan (untukmu) agar
kamu dapat memakan darinya daging yang segar (ikan)….” (QS. An-
Nahl {16}: 14).
(Sekadar informasi tambahan, ayat Al-Qur’an yang bermakna “laut”
saja terulang 32 kali. Dan kata “darat” berjumlah 13 ayat. 32 + 13 =
45. Bila dipresentasikan jumlah ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang
laut 32/45 x 100% = 71,11%, dan yang bicara soal daratan 13/45 x
100% = 28,88%. Pada abad 20, para ahli geologi mengukur luas
lautan dan daratan dengan memakai satelit, hasilnya didapat luas
laut 71,11% dan luas daratan 28,88%! Subhanallah…. Maha Suci Allah
dengan segala Firman-Nya).
Masyarakat kita sebaiknya menoleh ke laut, dan mulai menjadikan
ikan sebagai sumber protein hewani yang utama. sebab negara kita
yaitu negara maritim, dikeliling oleh lautan, tentulah ikan melimpah
ruah di lautan kita, itu bisa menjadi sumber protein yang luar biasa
bagi kita. Ikan pada umumnya mengandung asam lemak Omega-3 yang
berkhasiat untuk melindungi kita dari ketidakteraturan detak jantung,
mencegah serangan jantung, melancarkan sirkulasi darah dan baik
bagi perkembangan otak ter utama pada anak-anak di masa
per tumbuhan.
Tapi sayangnya sebagian besar masyarakat kita tidak terbiasa
mengkonsumsi ikan, sehingga kebutuhan ikan manusia Indonesia per
tahun masih jauh dari yang seharusnya. Bila dirata-rata, konsumsi
ikan orang Indonesia per tahun hanya 20 kg/orang (pada 2002).
Bandingkan dengan orang Jepang, misalnya, negara yang dianggap
sebagai pengkonsumsi ikan terbesar di dunia. Rata-rata orang Jepang
mengkonsumsi ikan pertahun 100 kg/orang. Padahal menurut catatan
Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi LIPI, potensi sumber
daya perikanan kita diperkirakan mencapai 6,2 juta ton per tahun. Lebih
dari cukup untuk memenuhi konsumsi ikan dalam negeri.
c. Bij i-bi j ian dan umbi-umbian
Mayoritas masyarakat Indonesia menjadikan beras (nasi) sebagai
makanan pokoknya. Beras mengandung karbohidrat yang dibutuhkan
oleh tubuh sebagai sumber energi untuk menopang aktivitas. Di samping
beras, sebenarnya kita bisa juga menjadikan jagung, kentang, singkong,
ubi, talas, sagu ser ta gandum sebagai makanan pokok. Hanya saja
lidah kita sudah terbiasa dengan beras. Indonesia, di era kepemimpinan
Pak Har to, pernah berswasembada beras, pada tahun 1985, dan
mendapat penghargaan dari Badan Pangan Dunia, FAO. Yang amat
disayangkan, lahan produktif untuk pertanian sekarang berubah menjadi
pabrik-pabrik, padahal negara kita bisa menjadi negara agraris terbesar
di dunia kalau kita mau memaksimalkan potensi per tanian kita.
Dalam Al-Qur’an Allah berfirman: “… lalu Kami tumbuhkan biji-
bijian di bumi itu, dan buah-buahan ser ta rumput-rumputan untuk
kesenangan kamu dan untuk (makanan) binatang ternakmu.” (QS. Abasa
{80}: 24-32).
Negeri Nusantara ini sudah terkenal sejak jaman dahulu sebagai
penghasil rempah-rempah. Komoditas ini juga yang mengundang
bangsa-bangsa lain datang ke negeri kita dan kemudian menjajahnya.
Kepulauan Maluku dikenal sebagai produsen biji pala dan lada terbesar.
Belum lagi ketumbar, jinten, kemiri, cengkeh, kayu manis, dan sebagainya,
yang sekarang digunakan sebagai bumbu penyedap rasa dan jamu-
jamuan.
Terkadang saya berfikir agak sempit. Semua ayat Al-Qur’an yang
berbicara tentang alam dan semua kekayaan serta potensinya, seolah-
olah ditujukan hanya untuk bangsa Indonesia. sebab Negara kita sangat
kaya dengan hasil alam, baik dari darat maupun dari lautnya.
d. Buah-buahan
Buah-buahan yaitu sumber vitamin yang sangat dibutuhkan oleh tubuh
untuk proses pertumbuhan, metabolisme, pembentukan sel dan tulang,
melepaskan energi makanan, dan sebagainya. Vitamin tidak bisa
diproduksi oleh tubuh, kecuali vitamin D yang bisa diproduksi di dalam
tubuh. Al-Qur’an mengisyaratkan agar manusia menjadikan buah-buahan
sebagai makanan. “Dan Dia-lah yang menjadikan kebun-kebun yang
berjunjung dan yang tak berjunjung, pohon kurma, tanam-tanaman
yang bermacam-macam buahnya, zaitun, dan delima yang serupa
bentuk dan warnanya) dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya
(yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya
di hari memetik hasilnya (dengan mengeluarkan zakatnya), dan
janganlah kamu berlebih-lebihan….” (QS. Al-An’aam {6}: 141).
Di antara buah-buahan yang disukai Rasulullah Saw yaitu kurma,
melon dan anggur. Bahkan kurma Nabi, ajwa, dikenal sebagai kurma
yang paling lezat rasanya dan mahal harganya. Belakangan ini orang
mulai memikirkan makanan sehat yang tanpa bahan pengawet, atau
makanan untuk diet. Mereka menciptakan food combining, biasanya
kombinasi antara buah-buah dan sayur-sayuran yang dibuat juice, dan
menjadikannya sebagai menu harian yang menyehatkan dan
menyegarkan.
e. Sayur-sayuran
Hasil perkebunan kita juga sangat luar biasa. Struktur tanah kita sangat
khas dan unik, sehingga hampir semua varietas tanaman bisa hidup
dan dikembangkan di tanah air kita. Dan, tentu saja, itu sumber makanan
yang bisa kita olah menjadi berbagai jenis masakan. Wor tel, tomat,
kubis, bit, labu, sawi, bayam, kangkung, terong, kacang panjang, buncis,
dan sebagainya, yaitu sebagian kecil dari sayur-sayuran yang bisa
kita temui setiap hari. Boleh dibilang kita tidak akan pernah kehabisan
stok sayuran. Dan satu-satunya makanan yang jenis dan zatnya hampir
tidak ada yang diharamkan yaitu sayuran.
Tentu saja ada tanaman yang haram juga dikonsumsi, misalnya
tanaman ganja. Atau sayuran yang membahayakan sebab prosesnya
bercampur dengan bahan-bahan yang jelas keharamannya. Tapi secara
umum, sayuran yaitu makanan yang paling aman dikonsumsi.
f. Hasil olahan
Makanan hasil olahan yaitu makanan yang tidak dimasak dengan
sederhana, melainkan melalui proses teknologi modern ditambah
dengan memasukkan bahan-bahan pengawet agar tahan lebih lama
atau bisa disimpan lebih lama. Sekarang ini banyak kita jumpai makanan
dan minuman hasil olahan yang kita kenal sebagai makanan-minuman
instan. Kita memang dimudahkan oleh teknologi, sehingga bisa segera
mendapatkan makanan atau minuman dalam waktu yang cepat. Padahal
dulu harus dimasak dan memakan waktu yang lama. Apalagi kalau dalam
keadaan mendesak dan “dikejar” waktu, makanan instan sangat
menolong. Untuk mendapatkan bubur, misalnya, kita tidak perlu repot-
repot merebus beras berjam-jam. Sekarang ada bubur instan. Begitu
juga bila kita ingin minum juice buah. Tersedia juice aneka rasa dalam
botol yang siap minum.
Hanya saja kandungan makanan hasil olahan tidak selalu
menyehatkan. Terutama makanan-minuman olahan yang memakai
bahan-bahan kimia untuk cita rasa maupun untuk pewarnaan. Biar
bagaimanapun, zat-zat kimia untuk penggunaan dalam jangka waktu
yang panjang bisa membahayakan kesehatan. Belum lagi akhir-akhir
ini sering dijumpai pedagang nakal yang memakai zat-zat kimia secara
tidak bertanggung jawab dengan takaran seenaknya. Misalnya ikan kakap
putih diberi pewarna pakaian sehingga menyerupai kakap merah yang
harga jualnya lebih tinggi. Beras diberi pewarna putih, duren buangan
disuntik pemanis dan pewarna buatan sehingga bisa dijual lagi. Beredar
pula telur palsu, tahu dan mie berformalin, dan sebagainya. Bahkan
sayur-sayuran juga ada yang diduga memakai pestisida. Sudah
sepantasnya kalau kita berhati-hati terhadap makanan dan minuman
yang akan masuk ke dalam tubuh kita.
g. Madu
Madu terbuat dari konsentrasi tinggi campuran gula, vitamin, mineral,
enzim, air, serbuk sari, dan berbagai senyawa lain. Madu berasal dari
perut lebah dan bisa menjadi sumber makanan yang menyehatkan. Al-
Qur’an menjelaskan keistimewaan dan khasiat madu yang kemudian
terbukti sangat luar biasa. “Dari perut lebah itu keluar minuman (madu)
yang bermacam-macam warnanya. Di dalamnya ada obat yang
menyembuhkan bagi manusia.” (QS. An-Nahl {16}: 69).
Itulah sebabnya Rasulullah Saw senang mengkonsumsi madu,
sebab memang madu kaya akan zat-zat yang bisa menyehatkan tubuh
dan menyembuhkan penyakit. Madu yaitu cairan ajaib sempurna yang
Allah berikan kepada manusia. Ibnu Sina pernah berpesan: “Jika anda
ingin tetap sehat, minumlah madu setiap hari!”
Di belakang ada bahasan tersendiri soal lebah dan madu, juga
segala hal yang terkait dengannya, insya Allah.
h. Susu dan air bening
Selain madu, Rasulullah Saw juga menyukai susu. Banyak riwayat yang
mengabarkan kepada kita tentang kegemaran beliau meminum susu
domba atau susu unta. Kadang-kadang beliau mencampurkan susu itu
dengan air putih (bening). Ternyata susu mengandung semua unsur
yang dibutuhkan oleh tubuh, terutama anak-anak di masa pertumbuhan.
Allah menginformasikan tentang cairan putih yang ajaib ini di dalam Al-
Qur’an. Saya mengutip terjemahan Ali Audah dalam Qur’an : Terjemahan
dan Tafsirnya, karya Abdullah Yusuf Ali, terbitan Pustaka Firdaus: “Dan
sungguh, dalam binatang ternak (juga) ada suatu tanda. Dari sela-
sela tubuhnya, antara kotoran dan darah, Kami keluarkan untuk
minumanmu, susu murni dan mudah dicerna bagi mereka yang
meminumnya.”(QS. An-Nahl {16}: 66).
Susu kaya akan nutrisi dan zat-zat yang sangat baik bagi tubuh
manusia, apalagi anak-anak di masa per tumbuhan. Sedangkan air
bening sangat bermanfaatkan untuk menetralisasi kembali suhu tubuh,
membersihkan kotoran sisa dalam tubuh melalui urine, melancarkan
sirkulasi air dalam tubuh, di samping untuk menghilangkan dahaga. Air
putih juga diyakini dapat mengurangi risiko terkena kanker kandung
kemih, kanker payudara, colon, dan sebagainya.
Madu yaitu makanannya makanan, minumannya
minuman dan obatnya obat.
(Jalaluddin Abdurrahman As-Suyuthi).
Kisah Hikmah dari Pengalaman Pribadi
Ada sebuah kejadian luar biasa yang tidak mungkin saya lupakan
sepanjang hidup saya sebagai dokter. Saat itu ada pasien saya, seorang
gadis mungil usia sekolah dasar. Gadis kecil yang manis itu mengalami
musibah yang membuat dia harus dioperasi. Atas ijin Allah, sayalah
yang harus mengoperasinya. Operasi berjalan lancar, sebab memang
operasi seperti yang saya lakukan bagi si gadis mungil itu biasa saya
lakukan. Masalah justru muncul pascaoperasi.
Si gadis kecil tidak kunjung sadar dari pengaruh bius. Saya dan tim
operasi kembali memeriksanya. Tidak ada masalah, semuanya baik-
baik saja. Ar tinya operasi ber jalan sesuai prosedur standar. Dan
seharusnya anak itu sudah siuman beberapa jam sesudah operasi. Tapi,
aneh sekali…. Anak itu tetap dalam pengaruh obat bius. Kami semua
kebingungan.
saat itu ber tepatan dengan hari Jumat, sayyidul ayyam,
penghulunya hari. Sebagai Muslim, saya menunaikan kewajiban
menjalankan shalat Jumat ke masjid. Seusai shalat saya berdoa, mohon
pada Allah agar diberi keputusan terbaik bagi anak gadis yang baru
saya operasi itu. Kalau dia harus hidup, maka saya mohon Allah
bangkitkan dia dari kondisi tidak sadarnya. Tapi kalau Allah menghendaki
dia mati, sesungguhnya Dia lebih mengetahui rahasianya daripada saya.
Saya serahkan semua urusan kepada-Nya. Saya berdoa dengan khusyuk,
lebih panjang dari Jumat-Jumat sebelumnya. Mengharap Allah menjawab
permohonan saya.
Sepulang dari masjid, saya menuju ruangan dokter, melewati kamar
pasien kecil itu. Saya terkejut dan bertanya pada Mamanya, ke mana
gadis kecil itu. Ternyata gadis kecil itu sudah duduk dan saya tidak
mengenalinya, sebab mata saya langsung tertuju ke tempat tidur. Dia
tampak ceria, seakan tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya. Peristiwa
itu membuat saya tidak habis pikir dan tidak henti-henti bersyukur kepada
Allah. Saya hampir tidak percaya dengan apa yang saya lihat. Seorang
gadis mungil yang manis, yang sebelum saya pergi shalat Jumat masih
tergolek kaku dan tak berdaya, sekarang duduk dengan wajah sumringah!
Subhanallah, Maha Suci Allah dan Maha Besar. Ternyata Dia menjawab
dan mengabulkan doa saya.
Kejadian itu hanya sebagian dari keajaiban Shalat dan doa yang
saya rasakan langsung. Banyak masalah dalam kehidupan sehari-hari
yang muncul, dan shalat menjadi solusi yang paling jitu. Memberi andil
penyelesaian, baik langsung maupun tidak langsung. Setidaknya shalat
membuat hati dan jiwa saya lebih tenteram dan jasmani semakin sehat.
Namun tentunya kita sadari, bahwa bukan hal-hal semacam itu semata
yang membuat kita mencintai shalat, sebab shalat yaitu sebuah
kewajiban, kebutuhan dan juga manifestasi kecintaan seorang hamba
pada Sang Khaliq.
Kebiasaan (Adab) Makan
dan Minum ala Rasulul lah Saw
Sebagai sebuah tatanan kehidupan, Islam tidak menyisakan satupun
spektrum kehidupan tanpa dia “ikut campur” di dalamnya. Termasuk
juga dalam persoalan tata cara makan dan minum. Meskipun tidak
secara tegas digariskan, tapi kita bisa merujuk tata cara atau etika
teladan utama kita, Rasulullah Saw, saat menghadapi makanan. Berikut
yaitu kebiasaan Rasulullah Saw saat makan:
a. Mencuci tangan sebelum dan sesudah makan
Rasulullah Saw memerintahkan umatnya agar membersihkan atau
mencuci tangan sebelum makan. Ini kalau kita makan tidak
memakai sendok-garpu. sebab kalau kita tidak mencuci tangan,
dikhawatirkan ada kuman-kuman yang melekat di tangan kita selama
kita beraktivitas sebelum makan. Rasulullah Saw bersabda: “Barangsiapa
ingin diperbanyak kebaikan di rumahnya oleh Allah, maka hendaklah
dia berwudhu saat makanan telah dihidangkan dan pada saat diangkat.”
Ternyata Rasulullah Saw tidak hanya mencuci tangan saat hendak
makan atau sesudah makan, tapi beliau juga berwudhu. Betapa mulianya
akhlak beliau, sehingga untuk makan saja beliau menyempatkan diri
mengambil wudhu sehingga bukan hanya tangan yang bersih, tapi
seluruh anggota tubuh yang tampak sampai ke kaki. Inilah bentuk syukur
beliau atas nikmat makanan yang dianugerahkan Allah. Dan bersyukur
memang lebih afdhal (sempurna, utama) kalau dalam keadaan suci
dari hadats kecil.
b. Berdoa sebelum dan sesudah makan
Makanan dan minuman yaitu nikmat Allah yang wajib disyukuri. Oleh
sebab nya, kaum Muslimin dianjurkan berdoa sebelum menyantap
hidangan, juga sesudah nya. sebab makan dan minum bagi kita bukanlah
sekedar memasukkan makanan atau minuman ke dalam mulut untuk
mengenyangkan perut atau melepaskan dahaga. Makan dan minum
yaitu bagian ibadah kepada Allah dan bersyukur kepada-Nya.
Rasulullah Saw bersabda: “Doa itu yaitu otaknya ibadah.”
Sebenarnya seluruh aspek kehidupan kita yaitu ibadah, dan
otaknya ibadah yaitu doa. Itulah sebabnya kita dianjurkan berdoa
dan selalu menyebut nama Allah sebelum dan sesudah memulai aktivitas.
Dengan berdoa sebelum dan sesudah makan, kita diingatkan bahwa
apa yang kita makan yaitu anugerah Allah yang harus kita syukuri.
Doa sebelum makan yang lazim dibaca Rasulullah Saw: “Ya Allah,
berkahilah kami dalam rezeki yang telah Engkau limpahkan kepada
kami, dan peliharalah kami dari siksa api neraka. Dengan nama Allah
Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” (HR. Ibnu As-Sani).
Dan sesudah makan beliau berdoa: “Segala puji bagi Allah yang telah
memberi kami makan dan minum, ser ta menjadikan kami (golongan
kaum) Muslimin.” (HR. Abu Daud).
c. Menghormati makanan
Prilaku Rasulullah Saw dalam segala hal yaitu yang paling baik, juga
saat menghadapi makanan. Beliau melarang kita mencela makanan
yang kita tidak sukai. Kita diminta untuk bersabar dan tidak menggerutu
menghadapi makanan yang bukan favorit kita. Abu Hurairah ra.
memberikan kesaksian: “Rasulullah Saw tidak pernah mencela makanan
(yang dihidangkan kepada beliau). Kalau beliau suka, beliau makan.
Dan kalau beliau tidak suka, beliau tidak memakannya.” (HR. Bukhari
dan Muslim).
Orang yang tidak mencela makanan akan mendapatkan dua
kebaikan. Kebaikan pertama, sebab dia menghormati orang yang telah
memasak dan menghidangkan makanan itu. Kebaikan kedua, sebab
biar bagaimanapun makanan yaitu nikmat Allah yang wajib disyukuri,
meskipun tidak harus kita makan.
Di samping itu, Rasulullah Saw juga tidak pernah membiarkan
makanan yang jatuh “merana” begitu saja. Beliau selalu memungutnya
dan memakannya kembali sesudah dibersihkan terlebih dahulu. Dalam
hal ini Rasulullah Saw bersabda: “Jika suapan salah seorang di antara
kalian jatuh, maka ambillah (kembali) dan buang bagian yang kotor,
sesudah itu makan kembali. Jangan biarkan makanan untuk setan. Jangan
membersihkan tangan dengan alat pembersih sebelum menjilat jari-
jemari tangan. Sebab tidak ada yang tahu pada makanan yang mana
ada berkah (Allah).” (HR. Muslim).
“Berkah” bagi sebagian umat Islam memang masih sangat absurd,
dan dianggap tidak memiliki parameter yang jelas sehingga sering
diabaikan. Dan soal menjilati jari-jemari sesudah makan dan sebelum
mencuci tangan, kita juga tidak mengetahui secara pasti apa hikmah di
baliknya. Tapi kita harus yakin bahwa di dalam sunnah Rasulullah Saw
ada kejayaan. Saya tutup masalah ini dengan sebuah hadits Nabi Saw:
“Menghabiskan makanan hingga bersih berarti memohon pengampunan
kepada Allah.”
d. Tidak memaksa diri makan sebelum lapar
Makan yang paling nikmat yaitu saat perut benar-benar dalam kondisi
lapar, dan berhenti sebelum kenyang. Tapi sebagian dari kita sering
memaksa perut untuk menampung makanan yang sebenarnya sudah
tidak kuat lagi ditampungnya. Itu terjadi sebab kita terlalu menuruti
nafsu --selera-- makan, yang sebenarnya hanya enak dirasakan lidah
saja.
Ada ungkapan “Tidak makan kecuali sedang lapar, dan berhenti
makan sebelum kenyang”. Ungkapan ini dinisbatkan kepada Nabi
Muhammad Saw, tapi menurut beberapa pakar hadits, kalimat ini bukan
berasal dari Rasulullah Saw. Menurut hemat kita, ungkapan ini sangat
baik bila diterapkan. Kita memang selayaknya tidak makan kecuali saat
lapar. Dan sebaiknya kenikmatan makan itu dihentikan sebelum kita
benar-benar kenyang. Untuk memberikan kesempatan kepada organ-
organ di dalam tubuh kita mencerna makanan yang masuk dan tidak
terlalu banyak. sebab sesungguhnya makan, bagi kaum Muslimin,
bukanlah untuk memuaskan selera apalagi sebagai gaya hidup, tapi
agar tubuh tetap sehat dan bugar sehingga bisa menunjang aktivitas
ibadah kepada Allah.
Rasulullah Saw bersabda: “…. Cukuplah jika seseorang itu makan
beberapa suap saja untuk menguatkan tulang punggungnya. Jika
mungkin, sepertiga perut untuk makanan, sepertiga lagi untuk minuman
dan yang sepertiga lagi untuk napasnya.” (HR. Ibnu Majah, At-Tirmidzi,
dll.).
Kita memang diminta untuk menahan diri dari makan yang terlalu
banyak, sebagaimana yang telah Allah firmankan. Bahkan “Bapak Ilmu
Kedokteran”, Hippocrates, pernah mengatakan, bahwa memelihara
kesehatan yang baik bergantung pada ker ja secara wajar dan
menghindari makan dan minum terlalu banyak. Sedang Rasulullah Saw
menambahkan, bahwa sumber segala penyakit yaitu di perut.
Perut kita bukanlah keranjang sampah, yang bisa dimasuki apa
saja. Perut kita yaitu bagian dari tubuh dan diri kita. Dia juga perlu
dijaga dan dirawat agar terhindar dari sakit dan tidak menjadi sarang
penyakit.
e. Tenang dan tidak tergesa-gesa
Menghadapi makanan hendaknya kita tidak terlalu tergesa-gesa. Tenang
dan berusaha menikmatinya. Jangan biarkan makanan berlalu begitu
saja di dalam mulut kita. Ar tinya kita hanya mengunyah sebentar lalu
menelannya sebelum makanan itu halus. Makanan yang belum
sempurna dikunyah akan memberatkan kerja otot-otot perut dan organ-
organ pencernaan. Rasulullah Saw, teladan utama kita itu, konon
mengunyah makanannya sampai lebih dari 30 kali. Ar tinya, makanan
itu telah halus saat masuk ke dalam perut beliau. Sehingga organ-
organ pencernaan mudah melaksanakan tugasnya.
f. memakai tangan kanan
Rasulullah Saw selalu mendahulukan dan memuliakan tangan kanan.
Beliau memakai tangan kanan untuk melakukan aktivitas yang
bersih, sedang saat melakukan aktivitas yang berhubungan dengan
yang kotor-kotor beliau memakai tangan kiri, misalnya istinja
(membersihkan dua kemaluan). Untuk makan beliau memakai
tangan kanan, dan beliau menganjurkan agar umatnya juga mencontoh
beliau. Untuk orang-orang yang kidal, juga tetap dianjurkan makan
dengan tangan kanannya. Walaupun tidak ada penjelasan soal ini dari
Rasulullah Saw.
g. memakai tiga jari
Kita tidak tahu dengan pasti mengapa Rasulullah Saw makan dengan
tiga jari, sebab para Sahabat ra tidak pernah menanyakan hal itu. Tapi
dari sejarah yang tercatat kita mengetahui bahwa Rasulullah Saw sering
makan bareng dengan para Sahabat ra., duduk mengelilingi satu
nampan. Dari situ kita bisa sedikit mengerti, mungkin saja beliau ingin
para Sahabat ra. makan lebih banyak daripada beliau. sebab seperti
yang kita ketahui, Rasulullah Saw yaitu orang yang santun dan selalu
mendahulukan kepentingan orang lain daripada kepentingan beliau
sendiri. Beliau selalu ingin menyenangkan orang lain dan senang kalau
melihat orang lain senang. Di samping itu, suapan dengan tiga jari
lebih sedikit daripada dengan lima jari, sehingga mulut tidak penuh
oleh makanan dan enzim yang ada di dalam mulut, juga rongga mulut
bisa berfungsi dengan baik. Udara yang masuk ke kerongkongan juga
tetap bisa lancar sebab tidak terdesak oleh makanan.
Apa yang dilakukan oleh Rasulullah Saw, yakni makan dengan tiga
jari, pastilah ada rahasia dan hikmahnya. Hanya saja sampai sekarang
kita belum mengetahuinya. Mungkin saja nanti manusia akhirnya
mengetahui hikmahnya.
h. Tidak ekspansif & tidak ber lebihan
Islam, sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw, yaitu agama
yang komprehensif. Bahkan saat menghadapi makanan pun, umat
Islam diminta untuk mengikuti adab yang telah dipraktikkan Rasulullah
Saw. Beliau tidak pernah “memanjangkan tangan”, ekspansi ke sana-
ke mari saat sedang makan, apalagi kalau makan bersama para
sahabat. Beliau cenderung menunggu sisa, meskipun para sahabat lebih
senang kalau Rasulullah Saw yang mengambil makanan lebih dulu.
Biasanya Rasulullah Saw mengambil makanan yang paling dekat dengan
beliau, tidak peduli makanan itu termasuk bukan menu yang difavoritkan.
Beliau juga tidak berlebihan dalam makan dan minum.
Salah seorang sahabat mulia, Umar bin Abi Salamah ra., bercerita:
“saat masih kecil aku diasuh Rasulullah Saw. Aku terbiasa makan
dengan menjulurkan tangan ke tempat makanan, maka Rasulullah Saw
menegur, ‘Wahai Anakku, sebutlah nama Allah (membaca basmalah),
makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah (makanan) yang
dekat denganmu!’….” (HR. Bukhari & Muslim).
Makan dengan sikap tenang dan tidak mengambil makanan ke
sana-ke mari menunjukkan kematangan emosi dan kesantunan prilaku.
Tidak berlebihan dalam makan dan minum per tanda kesederhanaan
dan kesadaran untuk tidak mengikuti “ajaran” setan yang senang
berlebih-lebihan.
i. Minum 3 kali tegukan tanpa membuang napas
Rasulullah Saw selalu berpesan kepada para Sahabat ra., juga kepada
kita, umat beliau: “Janganlah kalian minum seper ti minumnya hewan.
Tetapi minumlah kalian dengan dua atau tiga kali (tegukan). Dan jika
kalian minum, sebutlah nama Allah (membaca basmalah), dan kemudian
pujilah Dia (membaca hamdalah) sesudah kalian mengangkatnya (selesai
minum).” (HR. At-Tirmidzi).
Rasulullah Saw juga tidak pernah membuang napas ke dalam
bejana (gelas, mangkuk dan sebagainya), bahkan beliau melarang kita
melakukannya. Kita akhirnya mengetahui, saat kita meniupkan atau
menghembuskan napas ke bejana berar ti kita sengaja memasukkan
gas asam arang ke dalam minuman atau makanan kita. Sedangkan
gas asam arang yaitu gas buangan yang tidak boleh masuk lagi ke
dalam tubuh kita. Dan soal minum dengan dua atau tiga kali tegukan
memiliki hikmah tersendiri. Minum dengan dua atau tiga kali tegukan
lebih terasa nikmat dan memuaskan rasa dahaga. Air yang mengalir di
kerongkongan kita terasa nikmat dan lezat. Bandingkan bila kita minum
sekali teguk. Tidak akan terasa nikmat, meskipun kita sedang haus.
j. Tidak makan makanan yang ter lalu panas atau ter lalu dingin
Rasulullah Saw memang teladan sempurna. Semua aspek kehidupan
kita dibimbing tanpa kecuali. Sampai ke soal makan-minum. Beliau
menganjurkan kita tidak makan makanan atau minuman yang terlalu
panas, atau terlalu dingin. Sekarang terbukti, makanan yang telalu panas
bisa merusak email gigi dan menumpulkan syaraf di lidah kita.
Sedangkan makanan yang terlalu dingin bisa mempercepat pembekuan
lemak sehingga menumpuk di bawah kulit.
k. Duduk (tidak sambil berdiri atau berbaring)
Ada sebuah keburukan, yang sebab sangat sering terjadi, sehingga
dianggap biasa dan bahkan menjadi semacam mode. Yaitu makan sambil
berdiri, utamanya di pesta-pesta pernikahan di gedung atau di hotel.
Para tamu “memburu” makanan dan minuman, lalu mereka makan-
minum sambil berdiri dan bercakap-cakap. Mungkin saja para tamu
terpaksa makan sambil berdiri, sebab shahibul hajat biasanya memang
tidak menyediakan kursi terlalu banyak.
Sebuah riwayat dari Qatadah dari Anas ra. dari Rasulullah Saw
menjelaskan bahwa sesungguhnya Nabi Saw melarang orang minum
sambil berdiri. Lalu Qatadah ber tanya kepada Anas: “Kalau makan
(sambil berdiri) bagaimana?” Yang dijawab oleh Anas ra: “Hal itu lebih
busuk dan jahat!” (HR. Muslim, At-Tirmidzi, Abu daud, dan Ahmad).
Makan sambil berdiri dalam sebuah resepsi kadang terpaksa dilakukan para
undangan sebab terbatasnya kursi
Tradisi ini mungkin sangat lazim di negara-negara Barat, tapi tidak
cocok bagi kaum Muslimin. Kita memiliki table manners sendiri yang
diajarkan oleh pakar keindahan tingkah laku, yaitu Rasulullah Saw
Meskipun demikian, Rasulullah Saw juga pernah minum sambil berdiri,
terutama saat minum air zamzam.
Dan Rasulullah Saw juga pernah mengatakan, bahwa sesungguhnya
aku tidak pernah makan sambil berbaring (HR. Bukhari).
Kecuali bagi mereka yang sedang sakit, diperbolehkan makan
sambil berbaring.
l . Membersihkan mulut sesudah makan
sesudah makan, biasanya Rasulullah Saw membersihkan mulut beliau,
kemudian baru mencuci tangan. Membersihkan mulut dan gigi yaitu
kegemaran Rasulullah Saw. Sebagaimana yang dianjurkan para dokter
gigi, membersihkan sisa makanan yang ada di sela-sela gigi dan di
lidah sebaiknya dilakukan sesudah makan dan sebelum tidur. Rasulullah
Saw bahkan bersiwak, gosok gigi dan membersihkan mulut, setiap kali
hendak menunaikan shalat. Sehingga para Sahabat ra. menggambarkan
gigi beliau sangat putih dan bersih, napas yang keluar dari mulut beliau
harum dan wangi.
Demikianlah kebiasaan-kebiasaan Rasulullah Saw yang berhasil
saya kumpulkan. Mungkin masih banyak lagi kebiasaan beliau yang baik
yang bisa menjadi rujukan prilaku kita, hanya saja luput dari pengamatan
saya. Tapi setidaknya, kita semakin mengetahui, betapa Rasulullah Saw
yaitu orang yang sangat tertib dan sangat menikmati hidupnya.
Jangan engkau makan sampai makanan
yang engkau makan sebelumnya
telah tercerna dengan sempurna.
(Ibnu Sina).
Kisah Hikmah
Pak Hardin terpaku di kursinya. Kepalanya ter tunduk, di wajahnya
membayang kedukaan yang sangat dalam. Dia menghela napas berat,
lalu perlahan-lahan mengangkat kepalanya. Di depannya duduk dokter
yang dalam 5 tahun ini menangangi penyakitnya. Dia minta dokter
mengucapkan sekali lagi “prediksi” usianya. sebab dia kurang yakin
dengan pendengarannya tadi. “Usia Pak Hardin tidak kurang dari 3
bulan dari sekarang….” Kata dokter. Dada Pak Hardin bergemuruh.
Jantungnya berdetak lebih cepat dari yang seharusnya. Tiba-tiba
terbayang semua wajah anggota keluarganya. Isterinya, yang telah
menemaninya hampir 40 tahun. Anak-anaknya, cucu-cucunya,
tetangganya dan semua orang mengenal dirinya. Pasti mereka akan
merasa sangat kehilangan, begitu pikirnya.
Pak Hardin pulang dengan gontai. Rahasia “umurnya” dia simpan
rapat-rapat. Tidak boleh ada yang tahu satupun. Penyakit kanker hati
yang dideritanya telah membuat dokter menjatuhkan vonis, jatah
hidupnya di dunia hanya tinggal 3 bulan lagi. Sepanjang jalan Pak
Hardin berpikir, apa yang akan dia lakukan sebelum ajal benar-benar
menjemputnya. Banyak hal yang mungkin dia lakukan, tapi hanya satu
saja yang akhirnya dia pilih. Dia akan mendekatkan diri kepada Allah,
tidak pada yang lain.
“Hanya Allah yang Maha Tahu segala rahasia kehidupan.”
Begitu kata hatinya. Sesampainya di rumah, dia sudah menjelma
menjadi Pak Hardin yang lain. Bukan Pak Hardin yang barusan tak
berdaya duduk di hadapan dokter. Dalam sesaat , hanya sejarak ruang
praktek dokter dan rumah, Pak Hardin telah menjadi laki-laki yang ceria.
Dia temui istri, anak dan cucunya dengan keceriaan. Dan hari-hari
sesudahnya dilalui dengan ibadah. Malam, di saat seisi rumah terlelap,
dia bangun dan mengadu pada Allah. Dia juga rajin berpuasa sunnah
dan bersedekah, bersilatur rahim dan berolah raga ringan, yaitu
memperbanyak jalan kaki. Semua perubahan itu ber jalan alamiah,
sehingga tidak ada satupun anggota keluarganya yang menyadari,
termasuk istrinya.
Pak Hardin sudah tak mempedulikan kalender. Hidup harus tetap
berjalan, tidak peduli umur hanya tinggal 3 bulan lagi. Tapi Pak Hardin
menjalani semua perubahan pola hidupnya itu dengan senang hati,
tidak ada beban. Apa yang dilakukannya bukanlah pengalihan dari
masalah yang sedang dihadapinya. Sementara itu, dia juga mulai
mencatat hutang-piutang dan segala hal yang nanti bisa dijadikan
petunjuk oleh keluarganya.
Dua bulan berlalu. Semua berjalan tetap dengan penuh keceriaan.
Tiga bulan…, empat bulan…, lima bulan. Tanpa terasa Pak Hardin
telah melewati “masa kritis”. Tubuhnya makin sehat dan segar. Maka
suatu sore, dia mengunjungi dokternya. Dia ingin membagi kabar
gembira bahwa dia masih hidup dan bahkan semakin sehat. saat
sampai di rumah dokternya, yang juga tempat praktik si dokter, Pak
Hardin justru terkejut. Pembantu di rumah dokter itu menginformasikan
bahwa dokter telah meninggal dunia kurang lebih sebulan yang lalu….
Siapakah yang menentukan hidup dan mati? Tidak lain yaitu Allah
Yang Maha Kuasa.
“Keajaiban” Salah Satu
Hadits Nabi Muhammad Saw
Sebuah hadits Nabi Muhammad Saw berbicara tentang “Menjaga lima
kondisi sebelum datang lima kondisi yang lainnya”. Hadits itu yaitu
(dengan sedikit perubahan redaksional) sebagai berikut: “Jagalah lima
hal sebelum datang lima hal yang lain, yaitu 1) jaga masa sehat sebelum
datang waktu sakit, 2) jaga masa muda sebelum datang masa tua, 3)
jaga masa kaya sebelum datangnya waktu miskin, 4) jaga waktu lapang
sebelum datang waktu sempit, dan 5) jaga masa hidup sebelum
datangnya sang maut.”
Hadits ini pernah sangat popular saat dibuat syair dan nyanyikan
oleh kelompok nasyid asal Malaysia, Raihan. Anak-anak kecil
mendendangkan lagu itu, orang dewasa merenungkan kedalaman
maknanya saat mendengarkannya. Pesan yang terkandung dalam
hadits di atas sangat universal dan ditujukan bukan hanya untuk umat
Islam saja, tapi untuk seluruh manusia. Nabi Muhammad Saw meminta
kita untuk memanfaatkan waktu sehat, muda, kaya, luang dan saat kita
masih hidup, sebaik-baiknya. Sebelum semua yang kita miliki itu berubah
180 derajat menjadi kebalikannya.
Hadits ini saya sebut “ajaib” sebab memang makna yang
terkandung di dalamnya sangat luar biasa. Saya coba mengupas sedikit
untuk menambah khazanah kita bersama.
a. Manfaatkan waktu sehat sebelum tergolek sakit
Kita akan merasakan betapa berharganya sehat saat sedang terbaring
tak berdaya di tempat tidur sebab sakit. Kalau kita dirawat di rumah
sakit, kita makin merasakan betapa mahalnya kondisi sehat. Melihat
pasien, yang untuk bernafas saja harus dibantu dengan tabung oksigen,
hati kita miris. Betapa Allah telah memberikan oksigen kepada kita
dengan cuma-cuma, tapi tidak pernah kita sadari, sehingga kita selalu
lupa mensyukurinya.
Memang, sesuatu yang kita miliki baru terasa sangat berharga
saat sudah hilang atau tidak lagi kita miliki. Begitu juga kesehatan.
saat dia hilang dari diri kita, dunia bagaikan hanya seluas ruang di
mana kita terbaring atau dirawat. Oleh sebab itu Nabi Muhammad Saw
mengingatkan, agar kita memanfaatkan saat-saat sehat untuk melakukan
aktivitas yang positif dan produktif. Sebab saat kita sedang sehat,
banyak hal yang bisa kita lakukan. Berbeda kalau sedang sakit, kita
akan disibukkan oleh upaya menyembuhkan penyakit. Walau ada juga
orang-orang yang dalam keadaan sakit sekalipun, tapi masih tetap bisa
melakukan hal-hal yang positif dan produktif. Tipe orang seper ti ini
memang sangat jarang, sebab mereka yaitu tipe pejuang sejati. Tapi
yang jelas, dalam masalah kesehatan, Islam sangat preventif. Prinsipnya
“lebih baik mencegah daripada mengobati”.
Dalam salah satu hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra.,
Nabi Muhammad Saw pernah bersabda: “Per tanyaan per tama yang
diajukan kepada seorang hamba pada hari Kiamat kelak mengenai
kenikmatan dunia yaitu , ‘Bukankah Aku telah memberimu badan yang
sehat?’….” (HR. At-Tirmidzi).
Ternyata berbadan sehat itu juga harus dipertanggungjawabankan
di hadapan Allah di Yaumil Mahsyar kelak. Maka alangkah ruginya bila
keadaan sehat itu disia-siakan. Apalagi kalau badan yang sehat itu
“sengaja” dibuat sakit dengan cara mengkonsumsi makanan dan
minuman yang haram, atau dirusak dengan narkoba.
b. Gunakan masa muda sebelum tua
Masa muda yaitu masa di mana energi seseorang sedang melimpah
ruah. Dia laksana magma yang siap meledakkan gunung yang tinggi
lagi kukuh. Potensinya untuk melakukan sesuatu yang besar sangat
mungkin terjadi di masa ini. Ini bukan berarti di masa tua seseorang
tidak bisa melakukan sesuatu yang hebat. Tidak begitu. Saya ingin
katakan, seseorang yang pandai memanfaatkan usia mudanya, dia tidak
akan kehilangan ide-ide segar dan kreatif saat usia tua
menghampirinya. Dia tetap bisa berkarya maksimal.
Ingat saja Rasulullah Saw, mengemban risalah kenabian justru di
usia matang, 40 tahun. Dan sesudah itu, beliau mengukir prestasi yang
luar biasa hebat, sangat monumental dan fenomenal. Yaitu membangun
masyarakat Rabbani yang egaliter di mana keadilan ditegakkan tanpa
pandang bulu dan kesejahteraan disebarluaskan. Di masa kita, ada
petinju kelas berat legendaris, George Foreman, yang menjadi juara
dunia kelas berat di usianya yang cukup gaek, 50 tahun. Sedang saat
itu, petinju seangkatan dengannya seperti Muhammad Ali, Ken Norton,
Joe Frezer, Joe Bugner dan lain-lain sudah lama meninggalkan ring
tinju.
Rasulullah Saw sangat mengetahui potensi besar ter jadinya
perubahan, kemenangan dan kejayaan berada pada kaum muda.
Makanya saat beliau hijrah ke Yatsrib (yang kemudian berganti nama
menjadi Madinah), orang-orang yang memuluskan per jalanan hijrah
beliau dan Abu Bakar ra. yaitu para pemuda. Mereka yaitu Ali bin
Abi Thalib ra., Abdullah bin Abu Bakar ra., Asma binti Abu Bakar ra., dan
Amir bin Fuhairah (mantan budak Abu Bakar ra.) yang semuanya belum
berusia 30 tahun. Bahkan menjelang akhir hayatnya, beliau masih
sempat mengangkat Usamah bin Zaid ra. sebagai Panglima Perang,
padahal saat itu Usamah masih berusia 18 tahun!
Masa muda yaitu masa-masa produktif dan alangkah baiknya
kalau digunakan untuk melakukan aktivitas yang positif. Oleh sebab
itulah, Rasulullah Saw mewanti-wanti agar kita memanfaatkan dengan
sebaik-baiknya. Jangan sampai saat uban sudah memenuhi kepala,
gigi sudah tanggal satu demi satu, mata sudah mulai rabun, berdiri
sudah tak bisa tegak lagi, barulah kita sadar pada kenyataan kalau kita
sudah tua. Masa muda yaitu masa yang paling baik untuk berinvestasi
kesehatan dengan membiasakan diri berolah raga. Agar kebiasaan ini
bisa terus berkelanjutan di usia tua.
c. Manfaatkan saat sedang banyak har ta sebelum miskin papa
Hidup bagaikan roda pedati, kadang di atas kadang di bawah. Roda
pedati akan terus berputar. Begitu kata pepatah. Ya, kita memang tidak
tahu apa yang akan terjadi pada kita besok atau lusa. Semua rahasia
kehidupan sepenuhnya berada dalam Kekuasaan Allah Azza wa Jalla.
Kita hanya diminta menjalani sebaik-baiknya. Termasuk saat kita diberi
kelimpahan harta dan keluasan rezeki.
saat kita sedang berada dalam kelapangan rezeki, maka
manfaatkanlah untuk kebaikan. Tunaikan hak orang-orang miskin yang
ada dalam har ta kita. sebab sesungguhnya di dalam kekayaan kita
ada hak kaum dhuafa. Masa-masa banyak harta yaitu saat yang paling
baik untuk berbagi kepada saudara-saudara kita yang tidak beruntung
secara ekonomi. Allah memberikan kesempatan yang begitu luas kepada
kita untuk beramal saleh dengan harta benda saat kita sedang kaya
raya.
Dalam Islam, kekayaan juga merupakan ujian di samping juga
amanah. Banyak orang berhasil lulus dari ujian kemiskinan dan
kesusahan hidup, tapi gagal saat Allah uji mereka dengan kekayaan.
Mereka jadi lupa diri, bakhil, kemaruk dan sombong. Mereka tidak sadar,
bahwa apa yang mereka capai sekarang juga ujian dari Allah. Oleh
sebab itulah Nabi Muhammad Saw mengingatkan agar kita berhati-
hati dengan kekayaan yang sedang melingkupi kita. Jangan sampai kita
dininabobokan oleh harta benda sampai lupa beramal shaleh dengan
harta itu.
Masa kaya yaitu masa “menanam” kebaikan dan kebajikan
sebanyak-banyaknya. Juga melakukan langkah-langkah strategis untuk
masa depan yang tak bisa kita prediksi, misalnya dengan mengambil
asuransi dana pensiun, dana kesehatan atau dana pendidikan. Agar
saat , Allah takdirkan kita berada “di bagian bawah roda pedati”, kita
tidak merasakan terlalu jatuh. Kalau kita sudah jatuh miskin, barulah
timbul kesadaran “seandainya”. “Seandainya saya jadi orang kaya lagi,
saya mau membangun masjid”. Atau, “Seandainya saya jadi orang kaya,
saya ingin membangun rumah sakit khusus untuk orang miskin, gratis!”.
Sayang, saat itu mereka sedang jatuh miskin.
d. Manfaatkan waktu luang sebelum kesibukan mengepung
Bagi orang-orang yang aktivitas hariannya seabreg, mencari waktu luang
sangat sulit. Untuk makan sendiri saja, kita sering lupa sebab terlalu
disibukan oleh pekerjaan. Bahkan untuk sekadar makan satu meja di
rumah dengan keluarga juga harus diagendakan jauh-jauh hari. Rumah
bagi mereka bisa jadi hanya sebagai tempat transit saja. Komunikasi
dengan keluarga barangkali kebanyakan hanya melalui telepon genggam
atau SMS (short message service). Jarang sekali bertatap muka.
Nabi Muhammad Saw yaitu manusia yang super sibuk. Beliau
memimpin Negara Kota Madinah, berdakwah, mengajar, menerima tamu
dan utusan negara lain, terkadang memimpin pasukan menghadapi
musuh dan lain sebagainya. Kendati demikian, beliau tetap memiliki
waktu untuk keluarga. Untuk bercengkrama dan bercanda dengan istri-
istri, anak dan cucu beliau. Tidak ada sesaatpun waktu luang yang
dibiarkan berlalu begitu saja oleh beliau tanpa aktivitas yang berarti.
Kita memang harus pandai-pandai mengatur kegiatan, terutama
saat kita sedang diberi keluangan waktu oleh Allah. Bisa kita manfaatkan
untuk bersilaturrahim dengan saudara atau teman, membaca buku,
menghadiri seminar, berolah raga secara rutin, sosialisasi dengan
tetangga di rumah dan sebagainya. Siapa tahu suatu saat nanti tiba-
tiba kita dikepung oleh kesibukan yang luar biasa, yang membuat kita
tidak bisa melakukan aktivitas lain kecuali pekerjaan kita sendiri.
e. Manfaatkan hidup sebelum sang maut datang
Hidup dan mati yaitu ujian dari Allah. Ini seperti yang Allah firmankan
dalam Alqur’an: “(Allah) Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia
menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalannya….”
(QS. Al-Mulk {67}: 2).
Kalau Allah menguji kita, bukan berar ti Dia “tidak tahu” siapa di
antara kita yang baik amalannya. Kata-kata itu ditujukan buat kita,
manusia. Bukan buat Allah. Sebab Allah Maha Mengetahui atas segala
sesuatu. Tanpa mengujipun Allah sudah tahu siapa kita, A sampai Z.
Bahkan lebih tahu daripada kita sendiri. Entah mengapa Allah
menyebutkan “mati” lebih dahulu daripada “hidup”. Padahal sebelum
mati, kita berhadapan dengan kehidupan. Tapi yang jelas, Allah
mengingatkan kita kalau mati yaitu ujian, begitu juga hidup. Biarlah
maksud sebenarnya Allah sendiri saja yang tahu, dan tafsirnya kita
serahkan kepada para ahli tafsir yang lebih memiliki kapasitas ilmu
untuk itu daripada saya. sebab kalau saya kutip pendapat para mufasir
dalam buku ini, akan terlalu jauh dari yang sebenarnya ingin saya
sampaikan.
Orang yang sangat menjaga kesehatan yaitu orang yang pandai
memakai kesempatan di waktu hidup. sebab badan atau tubuh
yaitu amanah dari Allah yang harus dijaga agar jangan sampai rusak
sebab penyakit. Mereka tidak mau jatuh sakit, meskipun kegiatan mereka
demikian padat dan sangat menyita waktu. Mereka senantiasa menjaga
pola makan, tidak mengkonsumi alkohol, tidak merokok dan menjauhkan
kegiatan yang bisa menjerumuskan mereka pada penyakit.
Sewajarnya kalau kita gunakan masa hidup di dunia ini sebaik
mungkin, agar tidak timbul penyesalan saat nanti kita dibangkitkan
dari kematian. Bahwa ternyata, kita telah menyia-nyiakan hidup yang
sangat berharga ini. Sayangnya, saat kematian menjemput, habis sudah
harapan untuk melakukan sesuatu yang ingin kita lakukan semasa
hidup di dunia. Tidak ada lagi kesempatan untuk berbuat baik atau
menebarkan kebajikan
Apakah yang bisa
dilakukan bila kita sudah berkalang tanah?
Insya Allah, di halaman-halaman berikut saya akan mencoba
menguraikan hidup sehat ala Nabi Muhammad Saw. Mudah-mudahan
bisa menjadi rujukan dan motivasi bagi kita.
Kisah Hikmah
Seorang sufi pengelana, suatu hari mendapat sebuah buku dari
temannya. Buku itu bicara tentang zuhud, hidup menjauhi dunia dan
hanya semata-mata mengejar ridha dan rahmat Allah. Sufi itu terpesona
dan tertarik membaca isi buku, dan itu mendorongnya ingin menjumpai
penulisnya. Maka, dengan bekal seadanya, dia pergi menemui si penulis
buku itu.
sesudah menempuh perjalan berhari-hari, sampailah dia di kota
penulis buku zuhud itu. Dia ber tanya kepada seseorang, di mana
gerangan rumah si penulis buku. Rupanya semua orang di kota itu
kenal dengan si penulis yang dicari sufi kita. Maka dengan mudah, sufi
kita ini mendapatkan alamatnya…. Sayang, saat sampai di depan
rumah si penulis buku, sufi kita kecewa sekali. Di berdiri di depan sebuah
rumah yang besar, mewah dan megah. “Ternyata, hanya tulisannya
saja yang bagus….” Gumam sufi kita dalam hati.
Penjaga di depan pintu rumah itu mempersilahkannya masuk
dengan ramah. Tadinya sufi kita mau langsung pulang, tapi akhirnya
dia mau juga masuk menemui si penulis. Dia disambut dengan penuh
penghormatan oleh si penulis, dimuliakan dan dijamu dengan segala
kemewahan. Sufi kita makin kurang sreg. Dia memutuskan akan pulang
saja, tapi si penulis menahannya. Meminta dia menginap barang
semalam. Akhirnya dengan terpaksa sufi kita menginap di kamar yang
luas dan mewah.
Keesokan harinya, sesudah sarapan, sufi kita mohon diri akan
melanjutkan perjalanan lagi.
“Kalau begitu, saya ikut dengan Tuan.” Kata si penulis.
Sufi kita terkejut. Dia berusaha menolak, tapi si penulis memaksa
ikut dengannya.
“Tapi saya jalan kaki, sebab saya tidak punya kendaraan.” Kata
sufi kita.
“Baik, tidak apa-apa…. Jalan kaki kan menyehatkan.” Kata si
penulis. Akhirnya, jadilah mereka berangkat dengan berjalan kaki. Kira-
kira sudah menempuh perjalanan setengah hari, di suatu tempat sufi
kita berhenti dan berkata, “Tampaknya saya harus kembali ke rumah
anda.” “Lho, kenapa?” Tanya si penulis. “Tempat air saya ketinggalan
di kamar.” Jawab sufi kita












