K aum
Frank dalam peta politik Timur Dekat. Mereka merupakan salah
satu dari banyak kelompok yang jelas-jelas memperebutkan ke-
kuasaan di kawasan ini dan diperlakukan sedemikian rupa
oleh negara-negara Islam tetangga mereka. Kaum Frank mungkin
masih bergantung pada Eropa untuk mendapatkan pasukan dan
peralatan, namun secara politis mereka merupakan bagian dari
permainan politik Timur Dekat. Kaum Frank di periode Ayf.-
biyah, yang terhimpit sebab mereka berada di antara operasi
intensif di masa-masa terakhir kekuasaan Saladin dan upaya-upaya
tanpa kompromi untuk menghancurkan merek^ yang datang dari
Dinasti Mamluk di paruh kedua abad ketiga belas, menikmati
masa jeda singkat kedka dalam beberapa hal mereka dipandang
hanya sebagai faksi lain yang tengah bertikai dalam peta politik
Timur Tengah.
Mamluk: Pengusiran haum Frank
dari l{awasan Mediterania Timur
Dengan tergulingnya Dinasti Ayyubiyah dan naiknya dinasti baru,
yaitu Dinasti Mamluk yang militan dari Mesir, pada 1250,
perlawanan Perang Salib dikobarkan kembali dan langkahJangkah
yang diperlukan untuk mengusir para Tentara Salib selama-lamanya
dari Timur Dekat dapat dilaksanakan secara bersamaan. Sultan-
sultan Mamluk senang tampil dengan atribut keagamaan di muka
umum. Mereka bahkan bersedia mengenakan mantel seperti para
pemimpin di kalangan Sunni. Serangan-serangan dari musuh baru,
yaitu bangsa Mongol, dan kedatangan kaum Frank yang tanpa
henti telah menjadi fokus utama untuk menyalurkan kekuatan
dinasti baru ini . Meskipun pasukan Mongol yang dipimpin
Hi.ileg0 berangkat dengan tujuan-tujuan yang jelas, yaitu meng-
habisi Khalifah hbbasiyah, menghancurkan kaum Hasyasyin
Alam0t dan menuju ke Mesir, tujuan terakhir mereka tidak pernah
tercapai. Sekalipun ada perasaan cemas terhadap ancaman bangsa
Mongol, sultan-sultan Mamluk lebih mengutamakan untuk me-
ngusir para Tentara Salib, apalagi sesudah mereka meraih ke-
menangan besar atas bangsa Mongol yang sebelumnya tak ter-
kalahkan dalam pertempuran Sumur Daud (Ayn Jil0$ pada 1260.
Sultan Mamluk Baybars (w. 1277), raja yang sangat tegas
dan keras, merupakan tokoh utama yang memulai proses pe-
ngusiran kaum Frank (foto 1.6) sesudah ia berhasil menyatukan
Suriah dan Palestin^, para Tentara Salib hanya bisa memberikan
perlawanan kecil-kecilan. Baybars melancarkan tiga operasi militer
besar-besaran. Sepanjang tahun 1265-1271, Baybars menaklukkan
banyak wilayah-wilayah yang dikuasai kaum Frank, termasuk
Antiokhia pada 1258 dan Krak des Chevaliers pada 1271. Ke-
berhasilan-keberhasilan ini dilanjutkan oleh sultan-sultan Mamluk
berikutnya. Sultan QaliwCrn (w. 1290) merebut Marqab dan
Maraclea pada 1285 dan Tiipoli pada 1289. Sultan al-Asyraf (w.
1293) menaklukkan atau menghancurkan wilayah-wilayah ke-
kuasaan Tentara Salib yang tersisa dan operasi militer yang di-
lancarkannya mencapai puncaknya dengan jatuhnya Acre pada
18 Mei 1291, suatu peristiwa yang dianggap menandakan berakhir-
Ketiha kaunt Franh-semoga Allab mengbancurban 7ns76fr4-memperluas
hehuasaan mereka atas wikyah-wilayah kkm yang telah mereba takluhban,
dan mereha dengan jelas melihat bahwa para pasuhan dan raja-mja Islam
telah tahluh lebih dahulu ahibat ?eperangdn sesama mereka sendiri, pada
saat itu umat Islam saling bersilang pendapat, hehendah mereha terpecalt,
dan harta mereha habis sia*ia.t (lbn al-Atsir)
Bab ini membahas kondisi umat Islam di Timur Dekat pada
tahun 1090-an menjelang berlangsungnya Perang Salib Pertama
(foto warna 11). Selanjutnya bab ini akan menelaah bagaimana
sumber-sumber Islam menanggapi rangkaian peristiwa penting yang
akhirnya membawa para Tentara Salib ke wilayah kota Yerusalem
dan dilanjutkan dengan berdirinya negara-negara Tentara Salib di
kawasan Mediterania timur. Bagian berikutnya dari bab ini akan
menganalisis efek-efek politik akibat Perang Salib Pertama dan
pengaruh emosional atas invasi pasukan kaum Frank. Pengaruhnya
sangat besar, sebab Perang Salib Pertama memukul dunia Islam
bagaikan petir dari langit. Terlebih lagi, waktu berlangsungnya
serangan yang menghancurkan ini, yang berasal dari tempat yang
sama sekali tidak diduga, memberikan suatu keuntungan tersendiri
bagi kaum Eropa.
Sebagai catatan, sumber-sumber Islam menyebut kaum lGisten
Eropa dengan istilah kaum Frank (al-rfan). Istilah bahasa Arab
yang sepadan untuk para Tentara Salib (al-shalibiyytrn, orang yang
mengangkat senjata demi Salib) baru digunakan kemudian pada
abad kesembilan belas dan kedua puluh. Yang cukup menarik,
etimologi kedua istilah ini , Crusader (dari bahasa Latin crux
yang berarti kayu salib) dan shalibiyyttn (dari bahasa Arab shalib
yang berarti kayu salib) menegaskan pusat simbolisme Crass (kayu
salib) yang mendasari operasi-operasi militer kaum Erope yang
kemudian dikenal dengan Crusade, yang berarti Perang Salib
(dalam bahasa Arab modern disebut al-burfrb al-shaltbiyyah).
Demikian juga bagi kaum Kristen Eropa barat, suatu perang
salib diyakini sebagai "usaha Yesus sendiri, yang dilegitimasi oleh
mandatnya sendiri".2 Di dalam buku ini, istilah-istilah "kaum
Frank" dan "Tentara Salib" akan digunakan secara bergantian.
SUMBER-SUMBER ISIAM TENTANG PEMNG SALIB PERTAMA
Mendengarkan suara autentik dalam berbagai laporan tentang
peristiwa-peristiwa penting dari para saksi di saat itu akan selalu
bermanfaat. Memang benar bila dikatakan bahwa karya-karya
sejarah yang berasal dari periode-periode berikutnya telah mem-
bentuk kembali sejarah dan menggambarkan perubahan lingkungan
dan situasi sejarah yang berbeda, yang bisa dipahami bila peristiwa
sejarah itu dilihat ke belakang. Tapi sering kali sumber-sumber
semacam itulah yang bisa bertahan.
Salah satu kesulitan utama dalam mempelajari periode awal
Perang Salib justru terjadi sebab kurangnya sumber-sumber yang
menceritakan kejadian pada saat peristiwa itu berlangsung. Catatan
sejarah paling tua yang ada yaitu karya penulis-penulis Suriah,
yaitu Ibn al-Qalinisi dan al-Azhimi,3 keduanya menulis sekitar
tahun 1160. Sangat disayangkan, sebuah karya dengan judul sangat
memikat History of the Franhs who Inuaded the Islamic Lands
(Sejarah Kaum Frank yang Menyerbu Vilayah Islam) kini tidak
ada lagi. Penulisnya, Hamdin ibn Abd al-Rahim, sebenarnya
bekerja untuk pasukan kaum Frank tidak lama sesudah mereka
mendarat untuk pertama kalinya di Suriah.a
Karya-karya yang memang sesungguhnya berasal dari periode
Perang Salib Pertama atau tak lama sesudahnya jarung yang bisa
bertahan. Ada beberapa puisi yang dikutip dalam tulisan-tulisan
sejarah di masa berikutnyas dan dalam antologi prtisi (diuttn)
seperti karya al-Abiwardi, Ibn al-Khayyith, dan yang lain.6 Selain
itu, kesaksian yang luar biasa dan sangat berharga diberikan dalam
sebuah karya yang berjudul Kithb al-Jibnl (Buku tentang Jihad).
Penulisnya, Ali ibn Thnhir al-Sulami (w. 500 H./1106 M.), yaitu
seorang ahli hukum yang hidup religius dari Damaskus, seorang
ahli yang mengajar filologi di Masjid Agrtg.' Dari dua manuskrip
karyanya, yang seluruhnya ada di Damaskus-kedua karya itu
sulit diakses dan tidak tersedia dalam edisi cetak-hanya beberapa
bagian yang bisa bertahan. Manuskrip-manuskrip ini tam-
paknya telah dicatat sekitar tahun 1105, dan dengan demikian
dibuat pada periode paling awal dari ekspansi pasukan kaum
Frank di Suriah dan Palestina.
Sebaliknya, mengenai pandangan umat Islam terhadap peris-
tiwa-peristiwa Perang Salib Pertama dan akibatnya, kami mengan-
dalkan bukti-bukti dari para penulis di periode belakangan, sePerti
Ibn al-Atsir (w. 630 H.ll233 M.) dengan karyanya al-Khmil f
al-Thrikh\ dan Ibn al-Adim (w. 660 H.ll262 M.) dalam tulisan
sejarahnya tentang Aleppo.e Informasi tambahan bisa dimasukkan
dari sumber-sumber kaum muslim lainnya, berupa catatan sejarah,
kamus biografi, dan karya-karya geografis. Karya-karya ini akan
banyak digunakan dalam bab ini serta di buku ini'
Namun, sebagai permulaan, penting ditekankan bahwa sum-
ber-sumber Islam Abad Pertengahan sangatlah terbatas. Akan sia-
sia bila mencari catatan yang lengkap tentang Perang Salib Pertama
ataupun pemahaman yang mendalam tentang sebab-musabab
kedatangan pasukan kaum Frank. Keterbatasan ini bukan sebab
umat Islam ingin melupakan kekalahan-kekalahan mereka yang
memalukan dari para Tentara Salib. Namun, ini terjadi lebih
sebab karakteristik umum tulisan sejarah Islam Abad Pertengahan
yang cenderung menekankan pada tema-tema proPaganda, dengan
secara kabur melewatkan detail-detail hal yang berkaitan dengan
sisi militer. Harus diingat bahwa sebagian besar pencatat sejarah
Islam yaitu para administratur dan ulama yang tengah belajar'
dan bukan ahli-ahli militer. Mereka membahas bagian yang
42 \ _______________
menarik perhatian mereka dan melihat sejarah lewat kaca mata
kepercayaan mereka. Bagi mereka, sejarah merupakan bentangan
kehendak Tirhan bagi dunia dan kemenangan Islam yang mudak.
KONDISI UMUM DUNIA ISLAM MENJEI.ANG PEMNG SALIB PERTAMA
Dalam paparan sejarah tentang Perang Salib, sudah umum diyakini
bahwa para Tentara Salib Pertama meraih kemenangan mereka
sebab kaum muslim tengah mengalami perpecahan dan ke-
munduran. Kalau saja para Tentara Salib itu tiba sepuluh tahun
lebih awal, mereka akan mendapat perlawanan keras sebab
bersatunya berbagai kelompok di negara yang diperintah oleh
Maliksyah, sultan terakhir dari tiga Sultan Besar Tirrki Saljuk.
\Wilayah kekuasaannya di wilayah Barat meliputi Irak, Suriah,
dan Palestina. Namun, pembahasan ilmiah sebelumnya tentang
keadaan kaum muslim pada umumnya pada 488 H./1095 M.
tidak terlalu jauh beranjak dari penekanan bahwa dunia Islam
mengalami perpecahan dan kemunduran akibat kehilangan pe-
mimpin yang benar-benar kuat dan sebab terjadinya pertikaian
agama.
PERISTI\TA.PERISTMA YANG MENGHANCURKAN UMAT ISIAM
SEPANJANG 485-457 H.lto92-r094 M.
Dalam kurun waktu kurang dari dua tahun, yang dimulai sejak
485 H.llO92 M., terjadi rentetan pembersihan semua pemimpin
politik terkemuka dunia Islam dari Mesir hingga ke timur. Pada
485 H.l1O92 M., tokoh terbesar dalam sejarah Saljuk, menteri
(wazir) Nizhim al-Mulk, penguasa de facto kekaisaran Saljuk
selama lebih dari tiga puluh tahun, dibunuh. Sebulan kemudian,
Maliksyah, sultan ketiga Saljuk, wafat secara mencurigakan, sesudah
selama dua puluh tahun berkuasa dengan gemilang. Thk lama
berselang, permaisurinya menyusul diikuti oleh cucunya dan
pemimpin-pemimpin politik berpengaruh lainnya. Sumber-sumber
Islam bahkan memandang tahun 487 H.ll094 M. sebagai tahun
penuh bencana, sebab di tahun ini era lainnya turut berakhir,
yaitu dengan wafatnya Khalifah Fatimiyah di Mesir, al-Mustanshir,
musuh besar Saljuk, yang telah memerintah selama 58 tahun.
2.3, 2.4-2.6), kemudian menyusul. Pada 487 H.l1O94 M.,
Khalifah Abbasiyah al-Muqtadhi yang berpaham Sunni juga wafat.
Seperti diuraikan oleh sejarawan Mamluk, Ibn Thghribirdi: "Thhun
ini disebut tahun kematian para khalifah dan pemimpin."ro
Musibah kematian beruntun yang terjadi di dua pusat ke-
kuasaan utama dunia Islam ini, yaitu kekaisaran Saljuk dan
Fatimiyah, yang terjadi secara bersamaan, sama akibarnya seperti
perpecahan Tirai Besi sejak 1989 dan seterusnya: partai-partai
politik terkenal memberi jalan bagi munculnya disorientasi dan
anarki. 'Waktu kedatangan Perang Salib Pertama sungguh cukup
menguntungkan. Apakah kaum Eropa telah diberitaht bahwa saat
itu merupakan saat yang paling tepat untuk menyerang? Sayang-
nya, hanya ada sedikit bukti mengenai hal ini di dalam sumber-
sumber Islam. Thpi tentu para Tentara Salib itu tidak akan dapat
berhasil dengan hanya mengandalkan situasi kebetulan saja.
KEMUNDURAN AKIBAT PERPECAHAN AGAMA
Perpecahan lagama menyerang kehidupan umat Islam di semua
lapisan warga . Sebagai "penguasa Islam Sunni yang baik",
bangsa Saljuk telah melanjutkan kebijakan luar negeri yang penuh
semangat pada periode 1063-1092. Sasaran utama serangan me-
reka bukanlah kerajaan-ker$aan Bizantium ataupun lkisten Kaukasus,
meskipun mereka juga menyerang kerajaan-kerajaan ini , namun
sesama kerajaan kaum muslim, yaitu Khalifah Syiah Fatimiyah
penganut bidah di Kairo. Peperangan berkepanjangan dilancarkan
di Suriah dan Palestina. Permusuhan ideologi dan politik antara
Dinasti Fatimiyah yang menganut paham Syiah Ismailiyah dan
Saljuk yang berhaluan Sunni sudah sangat tajam dan praktis
hampir tak terbayangkan bagi mereka untuk membentuk front
Islam bersatu dalam melawan musuh dari luar, yaitu para Tentara
Salib.
(Creswell Photogrophic Atchive, Ashmoleon Museum, Oxford, neg. C. 163).
SEMANGAI MASA ITU
Perginya para pemimpin yang berpengaruh sefta kebencian dan
permusuhan sektarian yang semakin meruncing di kalangan umat
Islam telah memicu keresahan dan hilangnya orientasi kaum
muslim. Umat Islam mengalami masa-masa yang sangat kacau.
Abad Islam yang baru-abad keenam-akan segera datang (di-
mulai pada 2 September 1106) dan banyak umat Islam yang
menantikan abad itu dengan ketakutan. Apalagi sesudah pada tahun
492 H.ll099 M. mereka menyaksikan kejatuhan Yerusalem.
Banyak di antara mereka yang mungkin percaya bahwa saat itu
hari kiamat sudah dekat. Sementara umat Islam lainnya berharap
bahwa pada abad baru ini , seperti pada abad-abad sebelum-
nya, akan datang seorang pembaharu (mujaddid) bagi dunia Islam.
Memang, banyak yang menganggap al-GhazAli sebagai figur ter-
sebut. Sepanjang tahun-tahun menjelang kedatangan abad baru
ini , dunia Islam yang terpecah, yang dicabik-cabik oleh
kebencian, perang dan invasi bangsa nomaden, pasti telah merasa
kiamat. Meskipun demikian, hal terakhir yang telah diperkirakan
umat Islam yaitu invasi dari kaum Eropa barat. sesudah terpukul
oleh pembantaian pertama, umat Islam barangkali mengira akan
datang peristiwa yang jauh lebih mengerikan. Umat Islam Abad
Pertengahan telah mengenal fenomena astrologis-komet, meteor,
pergerakan bintang-bintang-dan telah biasa menafsirkan per-
tanda-pertanda dan meramalkan kejadian di masa mendatang dari
fenomena astrologis itu. Penulis sejarah Suriah al-'Azhimi, yang
hanya menggabungkan cuplikan-cuplikan ringkas informasi historis
di dalam karyanya, berusaha memberikan paparan tentang peris-
tiwa di tahun 489 H.ll096 M., bahwa saat pasukan kaum
Frank pertama kali muncul "saturnus berada di Virgo".ll Para
pembacanya akan bisa menafsirkan bahwa paParan ini meng-
gambarkan sebuah peristiwa yang sangat tidak menguntungkan
dan mencemaskan. Sebagaimana diungkapkan oleh penulis ensi-
klopedi Islam, al-Qazwini: "para astrolog menyebut Saturnus
sebagai lambang bintang malapetaka paling besar ... dan bintang
itu membawa kehancuran, keruntuhan, kesusahan, dan kesedihan'.
490 H./1097 M. dan 493H.l1099-1100 M., semakin menambah
suram masa-masa ini .r3 Bencana ini sendiri ikut berperan
dalam menghalangi Dinasti Fatimiyah untuk terlibat lebih jauh
dalam Perang Salib Pertama dan mempertahankan kendali mereka
atas Yerusalem dan Palestina yang baru mereka rebut.
PERSPEKTIF TIMUR_PERPECAHAN DINASTI SALJUK,
485492 H./1092-1099 M.
sesudah Nizhim al-Mulk dan Maliksyah wafat pada 485 H.11092
M., Dinasti Saljuk, dan terutama dua putra Maliksyah, Barkyiruq
dan M'rhammad, terlibat dalam konflik militer berkepanjangan
yang berakhir dengan kematian Barlcyiruq pada 498 H./1105 M.
Akibat perang ini, hampir seluruh sumber daya militer yang
tersedia habis. Peperangan berlangsung di Iran barat, namun
akibatnya terasa hingga ke Irak, wilayah tradisional khalifah Sunni,
di Iran timur dan Asia Tengah, dan, dengan sendirinya, juga
terjadi di Suriah dan Palestina yang jauh, yang merupakan pusat
semula gerakan Dinasti Saljuk. Para pangeran Saljuk di Timur
tidak punya waktu dan motivasi untuk melibatkan diri mereka di
kawasan Mediterania timur dan menyerahkan Yerusalem begitu saja.
ANATOLI-A DI AKHIR ABAD KESEBELAS
Perpecahan yang sama juga terjadi di wilayah-wilayah dunia Islam
lainnya. Kaum Tirrki nomaden Anatolia merupakan musuh per-
tama dari dunia Islam yang harus dihadapi para Tentara Salib
sesudah mereka meninggalkan Konstantinopel. Seperti telah di-
jelaskan sebelumnya, pertempuran Manzikert pada 463 H.lll7l
M. biasanya dijadikan saat yang tepat untuk melambangkan proses
penyerbuan berbagai kelompok Tirrki Nomaden ke kerajaan Bizan-
tium yang berlangsung secara bertahap namun terus menerus,
melanjutkan gaya hidup mengembara dan kegemaran berperang
yang telah lama lekat pada mereka. Kita tidak mengetahui dengan
pasti jumlah kelompok-kelompok ini: sebagian diberi izin oleh
sultan-sultan Saljuk untuk menyerang, sementara yang lainnya
melaju tanpa diketahui demi kesetiaan mereka kepada otoritas
kesukuan-meski jumlah mereka ini sedikit. Penguasa Saljuk di
Asia Kecil barat, Qilij fuslin (memerintah pada 485-500 H.l
1092-1107 M.), yang disebut sultan di setiap sumber-sumber
ini , berasal dari kelompok pemberontak keluarga besar Saljuk,
dan meskipun ia jauh dari Iran, secara emosional ia masih terikat
dengan warisan kesukuannya di timur. Saat terjadi ketidakstabilan
politik sesudah 485 H.ll092 M., setiap ada kesempatan Qilij
Arslin ikut campur dalam urusan-urusan sultan Saljuk di timur,
untuk memanfaatkan kelemahannya dan untuk mendapatkan
wilayah bagi dirinya sendiri. Ini jauh lebih menyenangkan baginya
daripada harus melakukan operasi militer melintasi bukit-bukit
menuiu ke Suriah dan Palestina untuk memerangi Tentara Salib.
Bahkan di Anatolia sendiri tidak ada kemenyatuan politik yang
menyeluruh di antara kelompok-kelompok Tirrki nomaden yang
berlainan yang saling memperebutkan wilayah di sana sesudah
pertempuran Manzikert.ra Orang-orang Skandinavia yang meme-
gang kekuasaan di Anatolia tengah antara Sivas dan Malarya,
sungguh, bahkan, membentuk aliansi sementara dengan sultan-
sultan Saljuk di Anatolia barat untuk menghadapi pertempuran
Dorylaeum (Juli 1097). Akan namun , aliansi-aliansi semacam itu
selalu tidak bertahan lama. Tak dapat dibayangkan bangsa Turki
dengan cermat dan bersama-sama mengambil inisiatif untuk ke
Palestina atau Suriah.rs
Bangsa Tirrki di Anatolia, meskipun merupakan prajurit-
prajurit yang cakap dan tangguh, jumlahnya sangar sedikit. Mereka
tidak bisa bertahan dalam perrempuran yang berlangsung lama,
sementara mereka berhadapan dengan pasukan yang jumlahnya
jauh lebih banyak dan bertekad untuk menang. Namun, mereka
mampu menyerang musuh-musuh mereka dengan melepaskan
anak-anak panah mereka sambil berkuda dan sungguh dapat
menyulitkan para Tentara Salib yang datang. Meski begitu, mereka
tidak mampu menghentikan laju pasukan kaum Frank yang
jumlahnya sangat besar yang menyeberangi Asia Kecil. Sayangnya,
sebab mereka itu bangsa nomaden, mereka tidak meninggalkan
catatan apa pun tentang hasil yang telah mereka capal Terutama
sekali, tidak ada laporan tentang Perang Salib Pertama dari sudur
pandang bangsa nomaden Anatolia ini.
PERSPEKTIF MESIR 487-492 H./I094_I099 M.
Penguasa-penguasa Fatimiyah di Mesir digambarkan dengan sangat
buruk oleh para sejarawan besar Islam Sunni Abad Pertengahan,
sebab mereka menganut sekte Syiah Ismailiyah yang rertutup,
sulit dipahami, dan ekstrem, dan pada paruh kedua abad kesebelas,
mereka menjadi musuh utama bangsa Saljuk yang menyatakan
diri mereka sebagai pembela Islam Sunni. Menjelang terjadinya
Perang Salib Pertama, Dinasti Fatimiyah tengah mengalami ke-
sulitan. Kepercayaan agama mereka yang menyimpang dari ke-
biasaan telah memutuskan seluruh aliansi mereka dengan kerajaan-
kerajaan Islam Sunni tetangga mereka di Suriah dan Palestina.
Penguasa de facto mereka, wazir Badr al-JamAli (w. 4BB H.ll095
M.) yang diteruskan oleh putranya, al-Afdhal (w. 515 H.lll2l
M.) memilih untuk memerintah lewat khalifah-khalifah muda
yang dijadikan sebagai boneka politik. Penulis biografi Islam Abad
Pertengahan yang terkemuka, Ibn KhallikAn (w. 68l H.l12B2
M.), yakin bahwa kemunduran Fatimiyah telah berlangsung sejak
awal 466 H.ll074 M.: "penguasa al-Mustanshir mengalami ke-
munduran besar-besaran dan berbagai urusan dinasti ini
menjadi kacau-balau".16
Berbagai kejadian di kekaisaran Dinasti Fatimiyah dan usaha-
usaha yang dilancarkan para pemimpin mereka ke Palestina dan
Suriah sangat berperan atas pecahnya Perang Salib Pertama. Perlu
pula ditegaskan bahwa berbagai aktivitas Fatimiyah pada periode
ini secara menyedihkan telah sangat sering diabaikan.
Perpecahan Nizari
Pada 487 H.11094 M., kematian Khalifah Fatimiyah al-Mustanshir
memicu munculnya kemelut pergantian kekuasaan: putra tertuanya,
NizAr, dilangkahi oleh putranya yang lain, al-Musta'li. Nizir
melarikan diri ke Aleksandria. Di sana, ia tewas dibunuh dan al-
Musta'li kemudian naik tahta. Peristiwa yang disebut sebagai
perpecahan Niziri ini kembali memecah Ismailiyah. Kasih sayang
lenyap dari ideologi Fatimiyah di Kairo. Pada sekitar masa itu,
pada 483 H./1090 M., kaum Ismailiyah Persia yang berada di
bawah pemimpin karismatik Hasan-i Shabbih menjadikan Benteng
Alamirt yang terpencil di barat laut Iran sebagai markas mereka,
mendukung tuntutan Nizir dan memisahkan diri dari Kairo.
Selanjutnya, semangat dakwah dan dinamisme revolusioner kaum
Ismailiyah menjadi ciri kelompok pemberontak ini. Ini begitu
populer dikenal, di antara julukan-julukan lain yang bernada
menghina, seperti sebutan Para Pembunuh (Hasyisyiyyah). Pada
abad kedua belas, mereka berperan penting atas berbagai per-
sekongkolan dan kehidupan politik para Tentara Salib dan kawasan
Mediterania timur.
Keterlibatan Fatimiyah di Suriah dan Palestina
Sepanjang tahun 491 H.11097-1098 M., di masa-masa awal
Perang Salib, pasukan Fatimiyah di bawah pimpinan al-Afdhal,
wazir dan penguasa dr facto kekaisaran ini , melakukan se-
rangan ke Palestina dan merebut Yerusalem. Kedua kota itu jatuh
ke tangan dua budak Saljuk, pimpinan kaum Turki dari keluarga
Artuqid: Sukman dan saudaranya, Il-Ghizi.17 Setahun kemudian,
Tentara Salib merebut Yerusalem dan mengalahkan pasukan yang
dipimpin al-Afdhal di fucalon.18 Serangan tiba-tiba yang dilakukan
al-Afdhal ke Yerusalem, dengan waktu yang sangat tepat, memer-
lukan penjelasan yang belum diberikan oleh para sarjana Islam.
Mengapa al-Afdhal melakukan serangan ini? Apakah sebab ia
telah mengetahui lebih dahulu tentang rencana para Tentara Salib?
Bila demikian, apakah ia merebut Yerusalem untuh hepentingan
para Tentara Salib, yang sebelumnya relah menjalin aliansi dengan-
nya, ataukah ia melakukan hal itu untuk menghentihan Tentara
Salib merebut Yerusalem? Ini semua merupakan pertanyaan-per-
tanyaan historis yang bernilai penting, yang mungkin diharapkan
bisa ditemukan jawabannya di dalam sumber-sumber Islam. Bukti-
bukti itu memang sangat tidak mencukupi namun layak dikaji
di sini,re sebab , seperti yang diamati oleh sarjana Jerman, Kohler,
pembahasan ilmiah tentang pertanyaan ini cenderung meng-
abaikan bukti-bukti yang berasal dari Islam.
Apakah yang dikatakan oleh para penulis sejarah dari kalang-
an Islam mengenai ini semua? Penulis sejarah dari Aleppo, al-
'Azhimi, menjelaskan tentang peristiwa di tahun 489 H.llO95-
1096 M., bahwa kekaisaran Bizantium "mengirim surat kepada
kaum muslim untuk memberitahukan mereka tentang kehadiran
pasukan kaum Frank ini ".2o Ini merupakan saat paling awal
bagi kaum muslim untuk mengetahui rencana kaum Frank ter-
sebut. Tidak jelas kaum muslim yanB mana yang dimaksud di
sini, tapi kemungkinan yaitu Fatimiyah. Dan informasi ini ,
yang dari sisi lain dapat ditafsirkan memberikan citra buruk bagi
kaisar Bizantium, mungkin telah mendorong al-Afdhal membuat
keputusan untuk merebut Yerusalem. Kalau tidak, petikan-petikan
informasi ini mungkin saja sengaja dimasukkan untuk memberi
kesan bahwa kekaisaran Bizantium telah membuat perjanjian baik
dengan para Tentara Salib dan "kaum muslim", dan kaisar Bizan-
tium hanya memberitahu kaum muslim ini saat para
Tentara Salib itu akan datang. Atau, kaisar Bizantium mungkin
tengah mengancam kaum muslim. Tidak adanya sumber lain
yang menyinggung tentang surat ini bisa berarti bahwa surat itu
tidak benar atau para penulis sejarah dari kalangan muslim lainnya
menghilangkan keterangan ini sebab bisa merusak citra rekan-
rekan seiman mereka (siapapun mereka).
Semua interpretasi ini menunjukkan bahwa satu kelompok
kaum muslim mengetahui tentang kedatangan Perang Salib de-
ngan tepat namun mungkin mereka punya alasan tersendiri untuk
tidak menyebarkan informasi ini dan mencoba memper-
tahankan wilayah Islam dengan lebih efektif.
Bukti kedua dari penulis sejarah lain akan dipaparkan berikut
ini. Tirlisan sejarah lbn Zhifir (w. 613 H.ltll6 M.) merupakan
laporan paling awal yang masih bertahan renrang masa-masa
terakhir pemerintahan Fatimiyah. saat membicarakan pengambil-
alihan Yerusalem oleh kaum Frank dari tangan Fatimiyah, Ibn
ZhA,fir menulis: "tidak seorang pun di sana memiliki kekuatan
untuk melawan kaum Frank. Akan lebih baik bagi umat Islam
seandainya kota itu [Yerusalem] diberikan kepada penguasa Artuqid
lyaitu Sukman dan Il-Ghizi]." Mengenai al-Afdhal, Ibn Zhifir
melanjutkan keterangannya, yaitu lebih baik kaum Frank men-
duduki pelabuhan-pelabuhan Suriah, "sehingga mereka bisa men-
cegah penyebaran pengaruh bangsa Turki ke wilayah-wilayah
Mesir".2l
Ini sangat jelas menunjukkan bahwa setidaknya al-Afdhal pada
mulanya menerapkan kebijakan mendukung kelompok Tentara
Salib dan bukan Tirrki Saljuk, yang mereka anggap sebagai musuh
besar, dan al-Afclhal berharap para Tentara Salib akan mendirikan
sebuah wilayah penyangga antara Mesir dan Turki yang saat iru
sedang bertikai. Invasi orang-orang Tirrki ke Suriah pada 1070-an
di bawah pimpinan Atsiz masih menyisakan trauma bagi Fati-
miyah.22
Mengapa kemudian kita membaca bahwa pasukan kaum
Frank mengalahkan al-Afdhal dan pasukan Fatimiyah yang me-
nyerang kaum Frank saat mereka tengah mengepung Yerusalem?
yaitu sangat mungkin bila al-Afdhal menganggap kaum Frank
akan membiarkannya menguasai Yerusalem sebagai bagian dari
kesepakatan yang diatur sebelumnya, dan ia selanjutnya sangat
terlambat mengetahui bahwa pasukan kaum Frank sebenarnya
bermaksud menguasai kota itu sendiri. Jadi ia kemudian meng-
akhiri kesepakatan yang dibuat dengan para Tentara Salib itu.
Yang pasti, pengepungan Yerusalem oleh kaum Frank tampaknya
telah mendorong al-Afdhal untuk bergerak menyerang kaum Frank,
seperti diungkapkan oleh Ibn Muyassar: "Pada Rajab [492] kaum
Frank mengepung Yerusalem ... al-Afdhal menemui mereka ber-
sama dengan pasukannya. saat kaum Frank mendengar ke-
datangan al-Afdhal [dari Kairo] mereka retap mengepung Yeru-
salem sampai kota itu berhasil dikuasai pada Jumat, 22 Syakban."23
sesudah kota itu berhasil direbut, menurut Ibn Muyassar: "Al-
Afdhal datang ke Ascalon pada 14 Ramadan. Ia mengirimkan
utusan kepada kaum Frank untuk menyatakan kutukan kepada
mereka atas tindakan yanB telah mereka perbuat."24
Kaum Frank balik mengancam dengan menimbang bahwa
jumlah pasukan mereka sangat besar. Mereka kemudian menyerang
pasukan al-Afdhal. Al-Afdhal kemudian melarikan diri ke Ascalon,
dan di sana al-Afdhal kemudian dikepung oleh kaum Frank.
Mereka berangkat, dan al-Afdhal bertolak ke Kairo melalui jalur
laut. 25
Alasan waktu yang dipilih al-Afdhal untuk menyerang Yeru-
salem barangkali juga ditunjukkan oleh penulis sejarah Damaskus,
Ibn al-Q_alanisi. Tidak lama sesudah ia membuat laporan tentang
kejatuhan Antiokhia ke tangan para Tentara Salib pada Jumadil-
awal 491 H. yang bertepatan dengan Juni 1098, Ibn al-Q4linisi
tiba-tiba mulai menuturkan kisah tentang penaklukan Yerusalem
oleh al-Afdhal di bulan berikutnya.'6 Dengan memerhatikan pe-
milihan waktu ini , kita mungkin bisa menyimpulkan bahwa
bagi al-Afdhal kejatuhan Antiokhia ini barangkali merupakan
titik balik, dan ia tidak percaya bahwa kaum Frank tidak akan
bergerak ke selatan. Bila memang pernah ada perjanjian antara
kaum Frank dan Fatimiyah untuk membagi kawasan Mediterania
timur, per,ianjian itu pastinya telah batal sesudah kejatuhan Antiokhia.
Bagi umat Islam, tak ada lagi informasi yang lain yang dapat
diketahui selain bukti-bukti yang telah disebutkan terdahulu. Akan
namun , itu cukup untuk menyimpulkan bahwa pihak Fatimiyah
dan Tentara Salib telah mulai menjalin kerja sama, yang berakhir
dengan kekecewaan Fatimiyah. Sulit untuk menilai seberapa jauh
sebenarnya keterangan ini dapat dipandang sebagai propaganda
anti-Fatimiyah yang ditiupkan oleh sejarawan Sunni, namun
sebagai pertimbangan-dan terurama mengingat kesaksian al-
'Azhimi-bukti-bukti itu sangat berpengaruh.2T
Penulis sejarah Ibn al-Atsir (w. 630 H.ll233 M.), yang
membahas permulaan Perang Salib Pertama, menyertakan laporan
yang secara terus terang menyalahkan Fatimiyah:
Dikatakan bahwa penguasa Alid dari Mesir, saat menyaksi-
kan kekuasaan negara Saljuk, kekuatan mereka, penaklukan mereka
atas wilayah Suriah hingga Gaza, dan menyadari bahwa di antara
mereka dan Mesir tidak ada provinsi untuk menahan mereka, dan
lsaat mereka juga melihat] Atsiz lpanglima Saljuk] memasuki
Mesir dan memblokadenya, mereka ketakutan dan mengirimkan
pesan kepada kaum Frank dan meminta mereka datang ke Suriah
dan menaklukkannya sehingga mereka [kaum Frank] akan berada
di antara mereka [pihak Fatimiyah] dan negara-negara Islam.28
Thnpa disengaja, prasangka penulis terhadap pihak Fatimiyah
menjadi jelas di sini, saat penulis membicarakan dua kelompok
berbeda ini , yakni Fatimiyah dan negara-negara Islam.
Dari laporan di atas, kita bisa melihat bahwa berbeda dengan
sumber-sumber Islam Abad Pertengahan lainnya yang mengabaikan
aktivitas-aktivitas Fatimiyah pada periode tidak lama sebelum dan
sesudah kedatangan kaum Frank, ada beberapa petunjuk di sini
bahwa Fatimiyah lebih tertarik mempertahankan wilayah-wilayah
mereka dari musuh lama mereka, yaitu bangsa Tirrki, dibandingkan
menghindari ancaman dari kaum Eropa barat. Keakraban yang
telah terjalin lama dengan kekaisaran Bizantium lGisten bahkan
mungkin telah mendorong terjadinya kesepakatan dengan Bizan-
tium untuk bekerja sama dengan Tentara Salib saat mereka
datang. Kemungkinan juga, al-Afdhal menganggap Tentara Salib
bekerja untuk Bizantium, yang menjalin persahabatan dengannya.
Terlepas dari keterangan mana yang paling benar,2e Fatimiyah
jelas-jelas meremehkan tujuan kaum Frank dan sangat terlambat
mengetahuinya. Di sini kita juga melihat kemungkinan yang cukup
besar bahwa bahkan sebelum Yerusalem jatuh dan negara-negara
Tentara Salib dibenruk di kawasan Mediterania timur, politisi-
politisi muslim siap bekerja sama dengan "musuh" baru untuk
melawan musuh lama mereka, meskipun musuh lama itu sama-
sama muslim. Kecenderungan seperri ini semakin meningkat di
dekade-dekade awal abad kedua belas dan bertahan sebagai sebuah
bentuk hubungan anrara kaum muslim dan Tentara Salib, hingga
para Tentara Salib itu tidak lagi berada di Timur Dekat.
RINGKASAN KONDISI MIAYAH.MIAYAH ISIAM MENJEIANG
PERANG SALIB PERTAMA
Sudah sering dikatakan bahwa keberhasilan awal para Tentara
Salib yaitu sebab mereka begitu bersaru sedang kaum muslim
terpecah-belah. Perpecahan ini telah dianalisis dan ditegaskan
kembali. Dunia Islam-bisa dikatakan dengan ringkas-kehilangan
pemimpin-pemimpin utama di semua daerah, tak lama menjelang
invasi kaum Frank. Kaum muslim juga tidak memiliki suatu
sistem kepemimpinan yang kuat di negara-negara sekitarnya.
Penelitian sebelumnya tenrang dunia muslim juga tidak begitu
memberi perhatian pada soal perpecahan agama yang akibatnya
cukup melumpuhkan itu. Pada abad kesepuluh, Khalifah Fatimiyah
Syiah Ismailiyah yang bidah memosisikan diri mereka sebagai
oposisi langsung Khalifah Sunni hbbasiyah yang berpusat di
Baghdad. Pada abad kesebelas, pertentangan itu berujung dengan
pecahnya konfrontasi militer antara Fatimiyah dan Saljuk. Me-
mang, bangsa Saljuk, yang terkenal sebab kemenangan mereka
pada 463 H.ll}7l M. di bawah pimpinan Alp ArslAn atas
pasukan Bizantium di bawah pimpinan Kaisar Romanus Diogenes
IV dalam pertempuran Manzikert, sebenarnya jauh lebih fanatik
dalam menyerukan jihad melawan Dinasti Fatimiyah yang bidah
dibandingkan melanjutkan keberhasilan mereka di Asia Kecil.
Dalam menentukan pilihan prioritas ini, bangsa Saljuk hanya
memilih untuk mementingkan diri mereka sendiri. Ini merupakan
pola yang telah berakar dan menjadi karakteristik sebagian besar
dunia Islam pada Abad Pertengahan. Tercurahnya perhatian utama
pada konflik-konflik di dalam \Vilayah Islam (Dhr al-Islim)
menyebabkan dunia Islam sama-sama mengabaikan ancaman dari
pihak luar. Cerita yang sama juga terjadi dalam perlawanan awal
terhadap invasi bangsa Mongol beberapa abad kemudian.
Para pangeran dan panglima militer Saljuk yang menguasai
beberapa negara kota yang dipusatkan di tempat-tempat seperti
Aleppo, Damaskus, dan Mosul pada peralihan abad kesebelas
mungkin saling bermusuhan dan hampir selalu terlibat dalam
peperangan satu sama lain. Namun, peperangan ini bisa disebut
sebagai pertikaian keluarga. Sebagian besar para pemimpin ini
mewarisi keengganan yang telah berurat akar untuk membentuk
aliansi dengan Dinasti Fatimiyah Mesir, negara adidaya Syiah
yang menjadi musuh besar mereka. Pada titik inilah ada
kehancuran mereka. sebab sebenarnya aliansi kaum muslim yang
melibatkan berbagai kelompok yang berbeda-yang mempersatu-
kan Fatimiyah, yang masih memiliki akses ke laut di sepanjang
pantai Mesir, dengan pasukan Tirrki dari kota-kota muslim Suriah
dan Palestina-dapat menahan dan bahkan melenyapkan ancaman
para Tentara Salib, sebelum sangat terlambat dan sebelum kaum
Frank merebut dan membenrengi pelabuhan-pelabuhan Suriah,
dan berlanjut dengan membentuk empat negara Salib di wilayah
1s1ss[u1-{6rusalem, Edessa, Antiokhia, Tiipoli.
SURIAH DAN PALESTINA MENJETANG PEMNG SALIB PERTAMA
Identitas keagamaan umat Islam di Suriah dan Palestina, wilayah
yang paling awal merasakan akibat Perang Salib Pertama, tidaklah
seragam. '!7.ilayah-wilayah ini mungkin sebagian besar yaitu
Sunni, tapi ada juga beberapa kecil komunitas Syiah, seperti di
Thipoli dan kota-kota lain seperti di Aleppo dan Damaskus. Di
wilayah itu juga telah lama ada komunitas-komuniras Kristen
dan Yahudi. Umat Iftisten memiliki afiliasi yang sangat beragam-
Maronit, Armenia, Yakobit, kaum Nestor, dan Malkit, semua
punya perwakilan-sementara di Mesir kaum Kristen Koptik
merupakan kelompok minoritas yang berpengaruh, terutama di
bidang pemerintahan.
beberapa bukti tentang sikap umat Islam terhadap kaum
IGisten pada abad kesebelas bisa ditemukan di dalam karya penulis
muslim, al-'S7'ishiti, dai bermazhab Syaf i di Masjid Aqshi di
Yerusalem. Al-VAshiti menulis tentang Kemuliaan-Kemuliaan
Yerusalem (Fadhh'il al-Qudl tidak lebih dari 410 H./1019-1020
M. Dan penting untuk dicatat bahwa di dalam karya itu ada
nada permusuhan yang amat sangat terhadap kaum Kristen.
Memang, al-'$Tishiti memperingatkan umat Islam yang berziarah
ke Yerusalem untuk tidak memasuki gereja di sana.3o Barangkali
ini merupakan cerminan dari keadaan yang dengan jelas muncul
sesudah terjadi penganiayaan yang dilakukan al-Hikim. Berbagai
tindakan penganiayaan ini tentu saja mencapai puncaknya
saat pada 4 Safar 400 H. yang bertepatan dengan 28 September
1009 M. Gereja Makam Suci dihancurkan.3r
Bagaimanapun juga, setidaknya di mata beberapa pengamat,
situasi ini membaik pada pertengahan abad ini . Misal-
nya, pengembara Ismailiyah dari Persia, Nishir-i Khusraw, yang
mengunjungi Thnah Suci dan Yerusalem pada 438 H.llO46 M.
menyampaikan penuturan yang lebih netral. Ia menceritakan
bahwa Yerusalem menjadi pusat ziarah bagi mereka yang ddak
mampu melanjutkan perjalanan ke Mekah. Dalam beberapa tahun,
lebih dari 20.000 orang berkumpul di sana.32Ia juga menyebutkan
kehadiran umat Icisten dan Yahudi: "LJmat Kristen dan Yahudi
juga datang ke sana dalam rombongan besar dari provinsi-provinsi
kekaisaran Bizantium dan negara-negara lain untuk mengunjungi
Gereja dan Kuil."33
Seperti juga penjelasannya yang sangat lengkap tentang Yeru-
salem dan monumen-monumen Islamnya, Nishir-i Khusraw mem-
buat gambaran tentang Gereja Makam Suci: "Di Yerusalem, umat
lGisten memiliki sebuah gereja besar yang diberi nama Gereja
Sampah (Biat al-Qumlmah) dan mereka sangar memujanya. Setiap
tahun sangat banyak orang yang berdatangan dari wilayah-wilayah
Bizantium untuk berirarah."la Permainan kata-kata yang menghina,
yang sangat terkenal di masa Perang Salib, tentang nama Gereja
Makam Suci, yang bagi kaum lkisten timur dikenal sebagai Bi'at
(atau l{anis at) a l- Qiy nmah-G ereja Kebangkitan-digunakan de-
ngan jelas pada tahun 1040-an.
NXshir-i Khusraw sangat mengagumi gereja ini , yang
digambarkannya mampu menampung hingga 8.000 orang. Pen-
jelasannya sangat lengkap, jelas, dan bebas dari retorika keagamaan,
dan, tidak seperti para penulis muslim sesudahnya, ia tidak
memberikan penilaian terhadap gambar-gambar yang dilihatnya
dipasang di tempat ibadah umat lftisten ini: "Di beberapa tempat
di sana, orang akan melihat gambar-gambar yang menunjukkan
bagaimana Yesus disalib di atas sebuah dang, orang juga melihat
gambar Nabi Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub dan putra-putranya."35
Gambar-gambar ini dipernis dan mengkilap serta dibersihkan
setiap hari. Ia mengakhirinya dengan kata-kata bernada kagum:
"Orang tidak akan dapat melihat gereja lain yang bisa menyamai
gereja ini di tempat mana pun di dunia."36
Bagaimana kehidupan di Thnah Suci itu sendiri dan terutama
di kota suci Yerusalem, pada 1090-an? Hanya ada satu sumber
yang berasal dari kaum muslim yang tersisa dari periode tidak
lama sebelum Perang Salib Pertama, dan sumber ini menerangkan
aspek-aspek kehidupan tertentu di Thnah Suci pada dekade terakhir
abad kesebelas. Sumber ini yaitu laporan perjalanan dari
Spanyol ke wilayah timur yang ditulis oleh seorang ahli hadis,
Ibn al-Arabi (bukan tokoh sufi yang terkenal). Ia memulai
perjalanannya itu bersama dengan ayahnya pada Rabiulawal 485
H., bertepatan dengan April 1092 M.37 Tirjuan perjalanan ini
kemungkinan yaitu untuk menghindari penyiksaan politik. Namun,
seperti halnya para sarjana muslim di Andalusia sebelum dan
sesudahnya, Ibn al-'fuabi mengatakan bahwa maksud perjalanannya
itu yaitu untuk menimba ilmu: "Saya sangat ingin mencari
ilmu di pelosok paling jauh [di timur]."re Ayah dan anak itu
selamat dari kecelakaan di pantai Afrika lJtara, saat kapal yang
mereka tumpangi hancur berkeping-keping di dekat Barqa.
Sementara ayahnya terus melanjutkan perjalanan ke Mekah
untuk menunaikan ibadah haji, Ibn al-'fuabi memilih tinggal di
Thnah Suci dan memperdalam pengetahuan agama yang dilihatnya
ada di sekelilingnya. Laporannya tentang lingkungan kehidupan
keagamaan di Palestina menunjukkan bahwa kehidupan di kota
itu dipenuhi para ulama,3e baik penduduk wilayah itu sendiri
maupun mereka yang datang dari seluruh penjuru dunia Islam.
Melihat kesempatan seperti itu, Ibn al-'fuabi terpaksa menunda
niatnya untuk menunaikan ibadah haji.ao Di Yerusalem, Ibn al-
'fuabi menemukan madrasah-madrasah Syaf iyah dan Hanafiyah
yang terkenal, dan ia membuat daftar nama-nama ulama terkenal
yang akan ditemuinya untuk belajar dan berdiskusi tentang masalah-
masalah keilmuan di sana.ar Tokoh paling masyhur yang ditemui
Ibn al-'Arabi di Yerusalem kemungkinan yaitu al-trtusyi, yang
juga berasal dari Spanyol dan menetap di satu bagian Masiid
Aqshl. Di masjid ini juga tinggal ulama-ulama dari Khurasan,
Iran timur.a2 Ibn al-'Arabi sangat antusias dengan apa yang dilihat-
nya di sana: "Kami memasuki Thnah suci dan tiba di Masjid
Aqshi. Purnama ilmu menyinari saya dan saya tercerahkan olehnya
selama lebih dari tiga tahun."a3
Secara kebetulan, di masa-masa akhir keberadaan Ibn al-'Arabi
di Yerusalem, ulama Islam paling terkemuka pada Abad Per-
tengahan, al-Ghazilt, mengalami krisis spiritual di Baghdad pada
488 H./1095 M. Al-GhazAli untuk sementara berdiam di Yeru-
salem dan setiap hari beritikaf di Kubah Batu.aa Ibn al-'Arabi
menegaskan bahwa saat itu Yerusalam menjadi tempat perremuan
para ahli agama dari tiga kepercayaan-Islam, IGisten, dan Yahudi.at
Ibn al-'fuabi tidak menceritakan bahwa umat trGisten setempat
mengalami tekanan dari penguasa muslim mereka. Begitu juga
dengan kaum Yahudi. Mengenai Yerusalem secara keseluruhan, ia
menyatakan bahwa umat lGistiani menanami lahan-lahan mereka
dan merawat gereja-gere.ia mereka.a6 saat pindah ke Ascalon,
Ibn al-'Arabi juga menemui atmosfer keilmuwan yang meriah di
tempat itu sehingga ia menjulukinya sebagai "lautan budayi'.47
Tentu saja akan berbahaya bila kita membuat generalisasi
dengan hanya bersumber pada laporan seorang pengembara, Ibn
al-'Arabi, yang berkunjung ke Thnah Suci, menetap tidak lama di
sana, dan menuliskan pengalamannya puluhan tahun kemudian
saat ia tiba kembali di Spanyol. Meskipun begitu, kesaksian
Ibn al-'Arabi, yang dibuat hanya beberapa saat menjelang Perang
Salib Pertama, benar-benar telah memberikan informasi tentang
kehidupan agama Islam di Yerusalem dan Tanah Suci tidak lama
sebelum pasukan kaum Frank tiba. Setidaknya menurut Ibn al-
'Arabi, Yerusalem merupakan pusat kegiatan para penganut tiga
agama monoteistik, yakni kaum muslim, umat FGisten, dan umat
Yahudi. Tidak ada petunjuk di sini bahwa para peziarah Kristen,
baik dari Bizantium ataupun kaum Eropa barat, dihalang-halangi
untuk mengunjungi Thnah Suci Yerusalem.
Namun, gambaran bagus yang disampaikan oleh Ibn al-'Arabi
harus dibandingkan dengan ulasan menarik yang dibuat oleh al-
'Azhimi pada 4BG H./1093-1094 M.: "Orang-orang di pelabuhan-
pelabuhan Suriah (al-Sawahil) menghalang-halangi para peziaruh
dari Bizantium dan kaum Frank untuk menyeberang ke Yerusalem.
Mereka yang selamat menyebarkan berita itu ke negeri mereka,
.sehingga mereka menyiapkan diri untuk melakukan invasi militer
(ghazL1."+s
Ini merupakan pernyataan yang jelas-tapi hanya dari satu
5urn[s1-$xhwa umat Islam telah mengganggu para peziarah
lkisten dan tidak semua dari mereka selamat sehingga dapat
menyampaikan berita itu.ae
MENGAPA TERJADI PEMNG SALIB PERTAMA?-INTERPRETASI
UMAT ISTAM
Kini kita akan melihat secara kronologis tentang apa yang
dikatakan oleh beberapa penulis sejarah dari kalangan kaum
muslim itu sendiri ddak lama sesudah Perang Salib Pertama dan
sejauh mana mereka memahami invasi tak terduga ini ke \Tilayah
Islam. Sudah menjadi kebiasaan bahwa para penulis sejarah di
generasi berikutnya menyalin bahan-bahan penulisan sejarah dari
para pendahulu merekx-1xft ada kritik atas plagiarisme mereka
itu, yang dianggap tengah menjaga keberlanjutan tradisi lama.
Dengan demikian, ada banyak kesamaan antara berbagai laporan
umat Islam tentang Perang Salib Pertamayang berasal dari periode
berbeda. Banyak di antara mereka yang menulis laporan-laporan
ini tanpa komentar atau interpretasi. Kutipan-kutipan yang
ditampilkan di sini merupakan kutipan terpilih sebab menyampai-
kan sesuatu yang khusus sehingga membuatnya berbeda dari
pemaparan yang sudah biasa ditemukan. Para penulis sejarah Islam
tidak tampak menghubungkan kedatangan kaum Barat Eropa
dengan peristiwa penghancuran Gereja Makam Suci sebelumnya
oleh al-Hikim ataupun permohonan bantuan Bizantium kepada
Eropa untuk menghadapi ancaman bangsa Tirrki di perbatasan
sebelah timur. Sumber-sumber Islam juga tidak menyajikan analisis-
analisis yang cerdas tentang peristiwa-peristiwa sejarah-pandangan
mereka hanya terbatas tentang Islam-namun beberapa di antara
sumber-sumber itu setidaknya memberikan petunjuk-petunjuk
pembuka.
Sumber-sumber paling awal yang m25ih ss15l52-Ibn al-Qalinisi
dan al-'Azhimi-menulis tentang pecahnya Perang Salib Pertama,
namun Ibn al-Qalinisi tidak mengatakan penyebab kedatangan
kaum Frank ini . Ia, sebaliknya, langsung mulai menyampai-
kan kisah tentang Perang Salib Pertama.5o Selain itu, al-'Azhimi,l
seperti dijelaskan sebelumnya, yaitu satu-satunya penulis yang
menyebutkan bahwa hal yang memicu pecahnya Perang Salib
Pertama yaitu bahwa para peziarah Kristen dihalang-halangi
untuk mengunjungi Yerusalem pada 486 H./1093-1094 M. dan
ia menghubungkan peristiwa ini dengan kedatangan para Tentara
Salib ke kawasan Mediterania timur.
Tirlisan sejarah al-'Azhimi tersisa dalam bentuk catatan yang
terpisah. Karyanya sering kali mirip catatan-catatan kasar untuk
(atau dari) sejarah yang lebih panjang. Meskipun laporannya
ringkas, ia menunjukkan adanya pola gerakan Tentara Salib me-
nuju selatan yang terbentang dari Spanyol sampai Afrika utara
hingga ke kawasan Mediterania timur. Ia melihat adanya kaitan
antara kejatuhan Toledo ke tangan umat Kristen dari kaum
muslim Spanyol pada 461 H./1058 M.,5rpengambilalihan al-
Mahdiyya di Afrika Utara oleh bangsa Norman dari Sisilia pada
479 H.ll086 M.,5'dan kedatangan para Tentara Salib ke kawasan
Mediterania timur.
Petunjuk-petunjuk dasar dari al-'Azhimi ini-yang, meskipun
ringkas, menunjukkan pemahaman yang luar biasa tentang situasi
geopolitik-dilanjutkan oleh seorang sejarawan besar muslim ke-
mudian, Ibn al-Atsir (w. 630 H.ll233 M.) dalam karyanya, al-
Knmil fi al-Ttrihh. Mengenai tahun 491 H.l1097-1098 M., Ibn
al-Atsir menulis:
Awal mula kehadiran negara (dawkh) kaum Frank dan me-
ningkatnya aktivitas mereka dan kedatangan mereka ke wilayah-
wilayah Islam dan penaklukan mereka atas beberapa wilayah Islam
ini ter.iadi pada 478 H. (1085-1086 M.). Mereka merebut
kota Toledo dan wilayah-wilayah Andalusia [kaum muslim Spanyol]
lainnya, seperti yang telah disebutkan. Mereka lalu menyerang kota
Sisilia pada 484 dan menaklukkannya, dan hal ini juga telah saya
sebutkan, dan mereka beralih ke pantai-pantai Afrika Utara dan
menaklukkan wilayah ini ...t3
Selanjutnya, Ibn al-Atsir memulai laporannya tentang kaum
Frank di Suriah dan Palestina. Dengan demikian, kita melihat
Ibn al-Atsir juga memahami arti penting keseluruhan jalur penak-
lukan yang dilakukan umat lGisten ke arah selatan di kawasan
Mediterania yang lebih luas. Namun, ia sepertinya tidak melihat
adanya motivasi keagamaan di balik kedatangan para Tentara Salib
itu di Thnah Suci, atau tidak juga dalam penaklukan Spanyol,
Sisilia, atau Afrika lJtara.
Dalam laporannya pada 490 H.11097 M. tentang kores-
pondensi imajiner antara Baldwin dan Roger dari Sisilia, Ibn al-
Atsir menyatakan bahwa Roger sangat enggan untuk bergabung
dengan pasukan Baldwin untuk menaklukkan pantai Afrika (ia
saat itu telah memiliki perjanjian dan rencana sendiri untuk
menaklukkannya). Sementara, Roger mengubah serangan Eropa
itu ke arah timur, dengan memberitahu utusan Baldwin: "Bila
kalian telah memutuskan untuk berperang dengan umar Islam,
tindakan yang paling bagus yaitu menaklukkan Yerusalem dan
membebaskannya dari tangan umat Islam. Dan kemenangan akan
menjadi milik kalian."sa
Kita telah mencatat bahwa satu perspektif pemikiran dalam
sejarah Islam menyalahkan Dinasti Fatimiyah yang telah mengun-
dang Tentara Salib untuk datang dan menyerang Suriah dan
Palestina untuk melindungi Mesir dari bangsa Saljuk. Seperti biasa,
dengan keluasan pandangannya, Ibn al-Atsir memberikan kedua
interpretasi itu berkaitan dengan pecahnya Perang Salib Pertama,
yang diakhiri dengan pernyataan yang hati-hati, sebagaimana biasa,
yakni dengan ungkapan: "Allah lebih mengetahui" Qaa Allhhu
a'lam bi al-shautib).55 Ia tidak merasa bahwa ia harus menyatakan
mana yang lebih benar di antara berbagai versi sejarah yang
bertentangan ini.
Laporan berikutnya yang disusun oleh sejarawan Mamluk al-
Nuwayri (w.733 H.|1333 M.) juga menggambarkan aspek yang
lebih luas tentang pecahnya Perang Salib Pertama. Dengan judul
rYhat the Franks took of tlte coasts of Syria in 491 and afierwards,
(Pantai-Pantai Suriah yang Direbut oleh Kaum Frank pada 491
dan Sesudahnya), al-Nuwayri membahas cukup panjang, dan
dengan keluasan pandangannya yan1 luar biasa, tentang Spanyol:
Permulaan kemunculan, ekspansi, dan penetrasi mereka ke
wilayah-wilayah Islam terjadi pada 478. Peristiwa ini terjadi dengan
cara berikut. saat raja-raja wilayah Spanyol terpecah sesudah
Dinasti Umayyah dan masing-masing wilayah jatuh ke tangan
seorang raja dan masing-masing merasa direndahkan bila dipimpin
oleh raja yang lain dan patuh kepada yang lainnya, mereka seperti
Raja-raja Pesta di masa Persia.t6
Al-Nuwayri menulis bahwa perpecahan kaum muslim Spanyol
ini "telah menimbulkan gangguan kondisi dan penaklukan negara-
negara Islam oleh para musuh. Wilayah pertama yang ditaklukkan
oleh musuh yaitu kota Toledo di Andalusia, seperti yang telah
kami ceritakan, pada 478."57 Ia selanjutnya, seperti pendahulunya,
Ibn al-Atsir, menyebutkan penaklukan kota Sisilia oleh bangsa
Norman pada 484 H./1091 M. dan masuknya mereka ke wilayah-
wilayah pantai Afrika utara.58
JAIANNYA PERANG SALIB PERTAMA: IAPOMN UMAT ISLAM
Dokumentasi yang dibuat umat Islam tentang Perang Salib Per-
tama sangat buruk bila dibandingkan dengan dokumentasi sumber-
sumber para Tentara Salib yang relatif banyak. Meskipun begitu,
sumber-sumber dari kaum muslim ini , dengan sama buruk-
nya, memberikan beberapa pandangan menarik tentang operasi
perang ini .5e Para penulis sejarah dari kalangan kaum muslim
memiliki gagasan yang jelas tentang urutan peristiwa, pertempuran,
dan penaklukan pada Perang Salib Pertama, dan mereka menge-
tahui peristiwa-peristiwa utamanya. Mereka menyadari akan ba-
nyaknya para Tentara Salib yang terlebih dahulu berkumpul di
Konstantinopel dan kemudian bergerak melalui Anatolia menuju
Suriah. Aliansi antara para Tentara Salib dan kaisar Bizantium,
dan pertikaian berkepanjangan antara keduanya, sangat dipahami.
Seperti dituliskan oleh al-'Azhimi mengenai peristiwa di tahun
490 H.11097 M. (seperti biasanya, dengan jumlah yang dilebih-
lebihkan):
Armada-armada kaum Frank muncul di pelabuhan Konstan-
dnopel dengan membawa 300.000 pasukan. Pemimpin mereka ada
enam. Mereka berjanji kepada raja Bizantium bahwa mereka akan
menyerahkan benteng pertama yang mereka taklukkan kepadanya,
namun mereka tidak menepati janji ini .60
Sumber-sumber dari kaum muslim menyebutkan bahwa para
Tentara Salib itu diganggu bangsa Tirrki saat mereka menyeberangi
Anatolia. Ibn al-QalXnisi menyebutkan percobaan-percobaan yang
dilakukan oleh Qilij fuslin I untuk menghadang laju para Tentara
Salib itu: "Ia maju menuju terowongan, jalur dan jalan yang
harus dilalui kaum Frank, dan sama sekali tidak menun.iukkan
rasa belas kasihan kepada mereka yang tertangkap di tangannya"'61
At-'Azhimi melaporkan bahwa pasukan Tirrki rnembakar ar-
mada-armada Tentara Salib dan menghadang jalur-jalur perairan,
dan ia menerangkan kejatuhan Nicaea (Iznik) secara ringkas.62
Pada Juli 1097, para Tentara Salib mengalahkan Sultan Saljuk
Qilij Arslan I dalam pertempuran Dorylaeum di pinggiran dataran
tinggi Anatolia. Dokumentasi sejarah awal kaum Tirrki nomaden
di Anatolia, seperti yang telah disebutkan di atas, sanBar buruk.
sebab itu, barangkali kita bisa memahami mengapa peristiwa
pertempuran ini diabaikan dalam sumber-sumber Islam. Ibn al-
Qalinisi memang menyebutkan pertempuran ini, yang terjadi pada
tanggal 20 Rajab 490 H. bertepatan dengan tanggal 4 Juli 1097
M. dan menyatakan dengan jelas bahwa pasukan Tirrki kalah
total.63 Ibn al-Atsir, yang biasanya tulisannya sangar komprehen-
sif hanya menyinggung pertempuran ini dalam satu ungkapan:
"mereka [kaum Frank] memeranginya [Qilij Arslin] dan mereka
mengalahkannya pada Rajab [4]90".64
Kejadian-kejadian di Anatolia yang jauh dan terpencil barang-
kali hanya pantas mendapat sedikit perhatian di mata para penulis
sejarah dari kalangan kaum muslim. Namun, saat ancaman
para Tentara Salib semakin mendekat ke Suriah dan Palestina,
dan selanjutnya ke wilayah-wilayah yang jauh lebih menarik
perhatian mereka, catatan-catatan sejarah menjadi lebih lengkap
dalam menuturkannya. Para penulis sejarah dari kalangan kaum
muslim tidak berusaha melaporkan malapetaka yang terjadi di
wilayah ini -dan terutama di Antiokhia, Ma'arrat al-Nu'mAn
dan, yang terakhir, di Yerusalem. Edessa (al-Ruha), negara Tentara
Salib pertama di Timur Dekat, yang dipimpin oleh penguasa
Armenia yang bernama Toros, jatuh ke tangan Baldwin dari
Boulogne pada Maret 1098. Peristiwa ini hampir sama sekali
diabaikan oleh para penulis sejarah dari kalangan kaum muslim
yang di tahun-tahun berikutnya hanya membahas "kaum Frank
dari Edessa" tanpa penjelasan lebih jauh.65 Ibn al-Atsir, seperti
biasanya, yaitu perkecualian. Ia tidak menempatkan kisah pe-
naklukan Edessa itu di dalam petak kronologinya yang tepat,
namun sebaliknya, pada 494 H./1100-1101 M., Ibn al-Atsir
menulis: "Kaum Frank telah merebut kota Edessa dengan me-
manfaatkan fakta bahwa mayoritas penduduknya yaitu bangsa
Armenia dan hanya ada sedikit kaum muslim di sana."66
Kurangnya perhatian terhadap Edessa-tidak diragukan lagi
sebab kota itu telah jatuh ke tangan kaum Kristen pada Perang
Salib Pertama-sangat berlainan dengan gencarnya tulisan sejarah
yang keras yang dengan jelas menyambut penaklukan kembali Edessa
ke dalam kekuasaan Islam oleh Zeng pada 539 H.lll44 M.
KEJATUHAN ANTIOKHI-A
Kejatuhan Antiokhia, sebaliknya, mendapat perhatian cukup besar
dari para penulis se;'arah dari kalangan muslim. Antiokhia me-
rupakan kota yang jauh lebih besar dan memiliki arti yang jauh
lebih strategis dibandingkan Edessa. Kota ini dikepung dalam
waktu yang cukup lama (dari Oktober 1097 hingga Juni 1098).
Gubernurnya, YaghisiyAn, terbunuh dalam pertempuran itu. Pasu-
kan pembebas yang berada di bawah komando penguasa Mosul,
Kirbogha, terlibat pertempuran dengan Tentara Salib, namun
mereka kalah. Benteng ini kemudian menyerah dan menjadi
pusat negara Salib kedua, Kerajaan Antiokhia, di bawah penguasa
Bohemond. Ibn al-QalXnisi membuat laporan yang lengkap tentang
peristiwa-peristiwa di Antiokhia. Ia menjelaskan bahwa saat tersiar
kabar bahwa kaum Frank semakin mendekat, Yaghisiyin mem-
bentengi kota itu dan mengusir penduduk Kristen. Ia juga me-
ngajukan permohonan bantuan militer kepada para penguasa
Suriah.67 Ibn al-Qalinisi hanya memberikan sedikit keterangan
tentang pengepungan ini , kecuali menyebutkan bahwa minyak,
garam, dan kebutuhan lainnya menjadi sulit ditemukan. Namun,
bahan-bahan kebutuhan ini kemudian banyak yang diselun-
dupkan ke dalam kota itu sehingga harganya kembali murah.68 Ia
juga menyebutkan bahwa kaum Frank menggali parit di antara
mereka dan kota itu sebab pasukan Antiokhia sering melancarkan
serangan terhadap mereka (laporan yang lain, lihat halaman 85-87).
Kejatuhan Antiokhia, menurut Ibn al-Qalenisi, dipercepat oleh
pengkhianatan kelompok pasukan baju baja yang menaruh dendam
terhadap Yaghisiyin. Mereka bersekongkol dengan kaum Frank
dan setuju menyerahkan kota itu kepada kaum Frank. Para
pengkhianat ini merampas salah satu benteng kota itu,
menjualnya kepada kaum Frank, dan membawa masuk mereka
ke dalam kota pada malam hari.6e Dalam penjelasan berikutnya,
Ibn al-Q_denisi hanya menyalahkan seoranB prajurit baju baja,
seorang Armenia yang bernama Firuz, sebab telah menyerahkan
kota itu kepada kaum Frank.7o Yaghisiyin rnelarikan diri. sesudah
jatuh berkali-kali dari kudanya, Yaghisiyin akhirnya tewas. Namun,
kepergian gubernur kota itu tidak mengakhiri pengePungan ter-
sebut. Meskipun banyak penduduk yang terbunuh atau dijadikan
tahanan, sekitar 3.000 penduduk membentengi diri mereka di
dalam Benteng Antiokhia dan menolak untuk pergi.Tt
Laporan Ibn al-Qalanisi mengenai pertempuran yang terjadi
di Antiokhia (26 Rajab 491 H.129 Juni 1098 M.), saat umat
Islam merebut kembali kota itu, dipand












