Tampilkan postingan dengan label Perang salib 10. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perang salib 10. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Juli 2026

Perang salib 10

 


a!

Palang (shalib) telah dipasang di mihrab.

Darah babi patut untuknya.

Alquran dibakar dengan kedok pedupaan.Te

Ada pandangan yang jelas dalam baris-baris yang mengisahkan

tentang kesadaran ruang kaum muslim ini. Thmpak jelas bahwa

ruang suci itu telah diserang dan dikotori. Serangan ini terjadi

baik pada level fisik maupun psikologis. Tentara Salib digambarkan

372 \ Cerole Hillenbrand

sebagai pencemar, penyerbu, dan pelahap daging kotor, dan

penyair ini  menekankan pada permainan kata antara salib

('barang rampasan') dan shalib ('kayu salib').

Penyair Ibn al-Khayyith menceritakan dengan sangat ielas

tentang teror terhadap kaum muslimah-padahal biasanya mereka

dilindungi dengan dinding-dinding harim:

Betapa banyak gadis-gadis muda yang mulai bunuh diri sebab 

takut pada mereka [kaum Frank]?

Betapa banyak anak dara yang tidak mengenal panasnya [siang

hari] ataupun merasakan dinginnya malam [hingga kini]?

Mereka hampir merana sebab  takut dan sekarat sebab  derita dan

gejolak.so

Perumpamaan perkosaan ini digunakan saat Perang Salib

Pertama: Tentara Salib membahayakan tiang warga  Islam yang

paling suci, dan kesucian kaum wanita.

PEMBERSIHAN RUANG ISIAM

Dengan penekanan yang sangat besar pada kekotoran kaum Frank,

tidaklah terlalu mengejutkan bila kemenangan kaum muslim

digambarkan dengan simbol perlawanan dari sisi kebersihan. saat 

menceritakan tentang takluknya Damietta kepada kaum muslim

pada 648 H.ll25O M., Ibn \Tishil menyatakan: "Allah mem-

bersihkan Mesir dari mereka [kaum Frank]".8r Penaklukan Acre

pada 690 H.llz9l M. diceritakan oleh Abul Fida dengan menS-

gunakan keterangan serupa: "Maka, seluruh Suriah dan wilayah

pesisir dibersihkan dari kaum Frank."82

Namun, tekanan utama mengenai kebersihan dalam sumber-

sumber Islam diberikan-tidak mengejutkan-bagi Kota Suci itu

sendiri, Yerusalem, dan dua simbol kembarnya, yaitu Masjid AqshA

dan Kubah Batu. Pencemaran terhadap kedua monumen ini

memberikan kesempatan yang sangat ideal untuk menggambarkan

kesejajaran penting antara Islam dan lGisten, untuk menumpahkan

kemarahan yang lama terpendam dan untuk mengklaim kembali

secara terbuka dan bersama-sama temPat-tempat suci yang menjadi

milik Islam ini.

Kesaksian 'Imiduddin alJshfahinit lang hadir saat penaklukan

Yerusalem, sangat penting, dan dia memuji Peran sentral yang

dimainkan penguasanya, Saladin, dalam re-Islamisasi kota itu.

sesudah  kota itu berhasil direbut, tugas paling penting yaitu 

mengembalikan Masjid Aqshi dan Kubah Batu ke keadaan yang

sesuai untuk digunakan dalam praktik ibadah Islam. Tindakan-

tindakan yang dilakukan Saladin dan para pengikutnya bukan

semata-semata perayaan penyesuaian kembali bangunan-bangunan

keagamaan kaum muslim: pusat kesucian Islam ini harus di-

bersihkan dan disucikan dari kotoran kaum Frank. Kejadian

ini  dicatat di Kubah Batu itu sendiri. saat  Frederick II

dari Sisilia memasuki Yerusalem dan mengunjungi Kubah Batu,

dia melihat sebuah inskripsi telah terukir di Kubah Baru ini .

Inskripsi itu berbunyi: "saladin telah membersihkan rumah suci

ini dari orang-orang muqrrik."


Sepupu Saladin, Thqiyuddin '(Jmar, diserahi tanggung jawab

atas proses pembersihan ini . Air mawar disiramkan ke dinding

dan lantai kedua bangunan ini , disusul dengan pemberian

pedupaan agar wangi. Sebelum ibadah Islam yang sah bisa di-

lakukan, Kubah Batu harus dibersihkan dari semua hiasan-hiasan

Kristen yang dipasang di sana selama dikuasai oleh para Tentara

Salib.

Ibn al-Atsir dengan bijaksana menyatakan sesudah  Yerusalem

direbut dan orang-orang Kafir telah diusir, Saladin "memerintahkan

agar dilakukan pembersihan (tathhtr) Masjid [fusha] dan [Kubah]

Batu dari kotoran-kotoran (aqdzl.r) dan najis-najis (anja) dan itu

semua telah dilakukan".sa

'Imlduddin memberikan komentar yang lebih berlebihan.

sesudah  re-Islamisasi bangunan ini , Kubah Batu menjelma

seperti "seorang mempelai wanita muda".85 Kiasan ini sering kali

diberikan pada Kakbah dalam puisi Islam Abad Pertengahan, dan

kiasan itu tidak akan hilang dalam ingatan para pembacanya.

Penyamaan Kubah Batu dengan Kakbah itu sendiri -menjadi


ukuran kesucian bagi monumen Yerusalem ini . Keterangan

'Imnduddin menunjukkan dengan tepat bentuk-bentuk yang men-

jijikkan dalam monumen suci ini, dalam tanah haram mereka

ini: gambar-gambar, patung-patung, pendeta-pendeta-ini semua

membentuk simbol keunggulan }Gisten dalam imajinasi kebanyak-

an kaum muslim.

Perubahan-perubahan serupa dibutuhkan di dalam Masjid

Aqshi (foto 5.5-5.6). Relung masjid (mihrab) harus dibuka lagi

sebab  telah ditutup dengan sebuah dinding yang dibangun oleh

para lGatria Kuil, yang telah mengubah bangunan itu menjadi

sebuah gudang, atau, menurut 'ImAduddin, menjadi kakus. Dia

menceritakan keadaan Masjid Aqshi yang kotor:

Masjid AqshA, khususnya mihrabnya, dipenuhi dengan babi

dan bahasa kotor, penuh dengan kotoran-kotoran yang telah mereka

jatuhkan di dalam gedung ini ,s6 didiami oleh orang-orang

yang rerang-terangan mengaku tak beriman, salah dan rersesar,

berbuat tidak benar dan melakukan pelanggaran-pelanggaran, ber-

limpah dengan najis. Menunda-nunda dalam membersihkannya

yaitu  terlarang bagi kami.

Sekali lagi, orang bisa merasakan bagaimana pena 'Imiduddin

mulai tak dapat dikendalikan oleh nalar jernihnya, dan sekali

lagi akan sulit dipercaya bahwa "Masjid AqshA, terurama mihrab-

nya, penuh dengan babi ... dan kotorari'. Namun, tuduhan ini,

yang merupakan sejenis seni pertunjukan, berhasil mencapai

tujuannya, yaitu memelihara semangat kebencian akibat pen-

cemaran spiritual kaum }ftisten.

'Imiduddin menceritakan rentang "pengusiran (iqshfl orang-

orang yang diusir Allah (aqshA) dengan kutukan-Nya dari AqshA".Ss

Lonceng-lonceng gereja telah dibungkam dengan panggilan salat

dan agama telah dibersihkan dari "kotoran (anja) ras-ras tersebur

(ajnas) dan kotoran-kotoran orang-orang terendah (adnas adnl

al-nl,)".et

'Imiduddin memakai  keterampilan dan pengetahuan

verbal yang luar biasa untuk mengungkapkan kemurkaan yang

telah lama terpendam atas pendudukan monumen-monumen

Islam, Kubah Batu dan Masjid AqshX, oleh pasukan kafir kaum

Frank. Kekristenan kaum Frank dikenali dengan lonceng-lonceng

376 \ Crrol e Hillenbrand

di menara-menara gereia yang dibenci dan semakin dalam dikutuk

sesudah  mereka menyerang ruang suci Islam yang telah tercemar

oleh najis dan kotoran mereka. Penaklukan Yerusalem dianggap

sebagai kemenangan Islam atas lGisten.

Dalam khotbah yang disampaikan usai penaklukan kembali

Yerusalem, Ibn Zaki menegaskan tema kesucian secara terus

menerus: "Saya memuji-Nya ... yang telah membersihkan Rumah

Suci-Nya dari najis orang-orang musyrik dan kotoran-kotoran-

nya."'o Dia juga membicarakan tentang "wewangian penyucian

dan puji-pujian' di dalam masjid ini  dan menyerukan orang-

orang beriman untuk "membersihkan seluruh tanah itu dari najis

yang telah membangkitkan murka Allah dan Rasul-Nyd'.er

Dalam sepucuk suratnya kepada khalifah, 'ImAduddin meng-

gunakan perangkat kesusastraan dengan menggantikan air mawar

dengan air mata orang-orang beriman: "Batu itu telah dibersihkan

dari kotoran-kotoran orang kafir dengan air mata orang-orang

saleh".e2

TANAH SUCI

Sumber-sumber muslim biasanya menyebut Yerusalem sebagai "al-

Quds", "Baytul Muqaddas", atau "Baytul Maqdis". Semua nama

ini menegaskan kesucian (q-d-s dalam bahasa Arab berarti 'suci')

kota ini . Mereka juga menyebu al'ardh al-muqaddasah

(Thnah suci), untuk menunjuk wilayah yang lebih luas di sekeliling

Yerusalem yang dipenuhi dengan temPat-temPat suci dan ke-

nangan-kenangan tentang para nabi dan orang-orang suci. Dengan

penaklukan Yerusalem oleh Saladin, sumber-sumber muslim mem-

perluas gambaran-gambaran kesucian dengan menyertakan Thnah

Suci itu sendiri dan mereka memakai  persamaan antara nama-

nama al-Quds dan al-muqaddas.

Tema ini disoroti oleh Ibn Jubayr yang menulis syair ke-

menangan dalam nada berikut untuk Saladin:

Anda telah menaklukkan bagian suci (al-muqadda) bumi-Nya'

Tanah itu telah suci (ththir) kembali.e3

Bukan hanya Yerusalem, namun 

nabi dan orang-orang mulia, juga

Alquran menyatakan:

wilayah sucinya, rumah Para

telah menjadi suci kembali.


Mereka bertanya padamu tentang haid. Katakanlah, "Haid itu

yaitu  kotoran." Oleh sebab itu, hendaklah kamu menjauhkan

diri dari wanita di waktu haid; dan janganlah kamu mendekati

mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, campurilah

mereka itu.ea

Larangan yang telah berurat akar itu dikutip dalam bahasa

yang sangat berpengaruh oleh penulis Saladin, al-Qadhi al-Fadhil,

dalam surat pujian kemenangan yang dikirimkan kepada khalifah

di Baghdad yang mengumumkan telah ditaklukkannya Yerusalem

oleh Saladin: "Yerusalem telah menjadi ranah yang bersih dan

suci, saat suatu kedka kora itu pernah menjadi kora yang kotor

(thamitsa)." Bukan hanya Yerusalem, namun  juga Thnah Suci iru

sendiri disertakan di sini.e5

GAMBARAN "YANG I,AIN,': APA ARTI SEBUAH NAMA?

Kebudayaan menuniukkan tidk perbedaannya dengan kebudayaan

yang lain melalui berbagai kriteria yang saling berhubungan.

Terminologi yang mereka gunakan untuk membedakan kelompok

atau individu juga bermacam-macam.

saat  tiba di Timur Dekat, Tentara Salib telah mulai disebut

Ifanj atau Firanj oleh kaum muslim Abad Pertengahan. Pada

mulanya, istilah ini mungkin memiliki arti para penduduk ke-

kaisaran Charlemagne, namun arti istilah itu kemudian meluas

mencakup orang-orang dari Eropa barat secara umum. Negeri

kaum Frank, yaitu wilayah-wilayah lftisten Eropa yang terletak

melampaui Pyrenees, dikenal sebagai lfn"jo oleh bangsa Arab

dan Firanjistan oleh bangsa Persia dan Tirrki.e6 Secara kebetulan,

dalam bahasa Arab modern kata tafarnaja, yang kata dasarnya

Ifnoj, berarti "menjadi ter-Eropanisasi", sementara istilah al-ifanji

telah digunakan sebagai salah satu kata yang merujuk pada

penyakit sifilis. Seperti juga istilah-istilah ini, Tentara Salib dikenal

dengan berbagai julukan khas yang kasar dan merendahkan: setan,

anjing, babi, dan hewan buas lainnya.

Perbedaan agama mendapat sorotan khusus dalam beberapa

sebutan yang ditujukan kepada kaum Frank. Para penulis muslim

sejak lama telah terbiasa mencap orang-orang kafir dengan julukan

"terkutuk" (k'in). Kelompok Ismailiyah, khususnya, dulunya diberi

julukan semacam itu,e7 dan tidak sulit untuk memberikan julukan

untuk kaum Frank.e8 Sulit ditunjukkan sejak kapan tepatnya para

penulis sejarah muslim mulai memakai  julukan seperti itu

saat  menulis tentang kaum Frank. Ini sebab , khususnya, seperti

yang disebutkan sebelumnya, sumber-sumber paling awal yang

masih ada hanyalah yang berasal dari pertengahan abad kedua

belas. Barangkali sebab  mengalami langsung serangan kaum Frank

di kampung halamannya di Damaskus dan suasana jihad yang

memuncak selama Nirruddin berkuasa di Suriah, Ibn al-Qalinisi

untuk pertama kalinya menambahkan sebutan "Semoga Allah

mengucilkan mereka" untuk menunjuk pada kaum Frank dalam

laporannya pada 553 H./1158-1159 M.ee Selanjutnya, kebiasaan

itu menjadi standar para penulis sejarah.

Menurut Lewis, istilah "inf.del" &Afii yaitu  istilah puncak

pengusiran dari komunitas Islam, yang menentukan perbedaan

antara kaum muslim dan dunia lainnya. Yang pasti, istilah hlfr

(dengan bentuk jamak h"ffir) sering digunakan untuk merujuk

pada kaum Frank. Dalam sumber-sumber itu, istilah ini 

disertai dengan ungkapan makian standar yang dialamatkan kepada

suatu kelompok atau individu, seperti "semoga Allah mengutuk

mereka", "Semoga Allah menjebloskan mereka ke neraka". Sulit

untuk dijelaskan apakah kutukan-kutukan semacam itu dimaksud-

kan benar-benar atau asal saja. Namun, pada momen-momen

penting, saat terjadi intensitas semangat keagamaan dan perayaan

politik, kutukan semacam itu benar-benar berarti. Seperti pada

kelompok-kelompok Kristen lainnya, kaum Frank disebut, "orang-

orang musyrik" (musyrihttn) dan "musuh-musuh Allah'. Sibth ibn

al-Jawzi menjuluki mereka sebagai "orang-orang keras kepala",

sementara Ibn al-Diwadiri mengejek mereka sebagai "para pe-

nyembah salib".rm Mereka juga disebut sebagai "pemeluk tinitas"

(ah l al-tats lit), r0r "pelayan-pelayan Al-Masiti', 102 dan "anjing-anjing

musyrik".t03

SIMBOL SATIB KRISTEN

Tidak diragukan lagi bahwa bagi kaum muslim simbol salib

melambangkan agama lGisten. Dalam pandangan kaum muslim

secara umum, lSisten jelas identik dengan salib. Seorang ra1a

FGisten di dalam salah satu cerita ralryat diberi nama panggilan

Abd al-Shalib (budak salib),ro4 sebuah nama dengan mengambil

model nama-nama orang Islam yang banyak melibatkan peng-

gunaan nama 'Abd yang digabungkan dengan salah satu dari 99

nama indah Allah (seperti Abd al-\Tahhab). Namun, dalam

konteks Kristen, nama ini  memiliki arti yang merendahkan.

Sementara kaum muslim telah lama terbiasa dengan ke-

beradaan kaum Kristen Timur di Timur Dekat, kedatangan kaum

Frank memberikan pengalaman baru, sebab  salib memainkan

peranan yang jauh lebih penting dibandingkan sebelumnya. Yang

jelas, ada perbedaan yang tegas antara salib sebagai simbol agama

Kristen Timur asli yang merupakan minoritas yang tak terganggu

di bawah kekuasaan mayoritas Islam dan salib sebagai simbol

penaklukan dan pendudukan penyerbu bangsa asing, kaum Frank.

Sementara sumber-sumber muslim tidak menyebutkan bahwa

prajurit-prajurit kaum Frank mengenakan salib sebagai bagian dari

380 \ _______________

Gambar 5.30

Gombor yong dipohot di

Perisai untuk menondokon

satuan posukan dori

Yerusalem (sebuoh tonda

silong yong songot kuot di

ontoro empot tondo silong)

pado baskom kuningon yang

dibuot oleh seorong

Pemahat Arab untuk Hugh

de Lusignon, Rajo Yerusolem

don Siprus ( I 324-1 359):

kemungkinon Mesir otou

Surioh.

pakaian militer mereka, dari berbagai referensi tampak jelas bahwa

simbol salib menjadi lebih terlihat sesudah  kedatangan Tentara

Salib. Bila sebuah kota telah direbut oleh kaum Frank, kota itu

sering kali mengalami Kristenisasi dengan diubahnya bangunan-

bangunan muslim menjadi bangunan Kristen dan dengan pem-

bangunan gereja-gerqa baru. Ibn al-Qalinisi mengatakan bahwa

sesudah  kaum Frank menaklukkan Ma'arrat al-Nu'min pada 492

H./1099 M. "mereka memancangkan salib-salib di seluruh kota

' tu". l 05

Kaum muslim merayakan kemenangan mereka dengan meng-

ambil alih pusat emosi musuh mereka. Contoh khusus mengenai

ini terjadi sesudah  kemenangan Mawd0d dan Tirghtein atas kaum

Frank pada 506 H.ll113 M. di dekat jembatan al-Sannabra,

saat  kaum muslim secara gemilang berhasil merebut gereja tenda

kaum Frank.r06 Kedua kubu merasakan desakan yang sangat besar

untuk menghancurkan simbol-simbol agama lawannya.r0T Meng-

hancurkan salib merupakan aksi simbolis untuk menunjukkan

kekalahan lGisten dan kemenangan Islam. Saladin dipuji oleh

Ibn Jubayr dalam ode kemenangan dalam karyanya sebab  telah

menghancurkan "salib mereka dengan kekuatan militernya" di

Hattin.ros Ibn Abi Thayyi' menceritakan tentang salib yang direbut

di Hattin: "saladin membawa pulang sebuah salib sebagai rampas-

an perang, yang berupa sepotong kayu berlapis emas dan dihiasi

dengan batu-batu berharga, yang menurut mereka telah menjadi

tempat penyaliban Tirhan mereka."roe Salib berlapis emas yang

ada di Kubah Batu tidak diturunkan dengan perlahan. Ibn SyaddXd

menjelaskan bahwa salib itu dilemparkan ke tanah meski ukuran-

nya sangat besar.llo

sesudah  merebut Yerusalem, Saladin mengirimkan lambang-

lambang kemenangan besarnya kepada khalifah di Baghdad. Lam-

bang kemenangannya yang paling berharga yaitu  salib yang

dipasang di puncak Kubah Batu di Yerusalem: "Salib yang terbuat

dari tembaga dan dilapis dengan emas itu dikubur di bawah

gerbang Nubian [di Baghdad] dan selanjutnya diinjak-injak."rrr

SIMBOL-SIMBOL PERTENTANGAN SALIB DAN ALQURAN

Ibn al-Jawzi (w. 597 H.1L2OO M.) dan cucunya memanfaatkan

suasana yang sangat emosional dalam pengepungan Damaskus

oleh kaum Frank pada 543 H.lll48 M. sebagai peluang untuk

memasukkan nilai-nilai propaganda. Di sini Salib dan Alquran

digunakan sebagai simbol nyara agama yang saling bertentangan.

Kedua sumber ini menyoroti bagaimana simbol agama Islam

yang paling berpengaruh, Alquran, bisa mempertahankan moral

dan membangun keimanan dalam situasi sulit. Ini pasti berhasil.

Pada saat mengepung Damaskus, Alquran 'lJtsmani Suriah-objek

paling penting, dan peninggalan yang sangar sangar berharga-

digunakan sebagai kekuatan penggerak di Masjid Agung. Sebagai-

mana ditulis oleh Ibn al-Jawzi: "Orang-orang berkumpul di dalam

masjid ini , pria, wanita dan pemuda-pemuda, dan mereka

membuka Alquran 'lJtsmani.rr2 Mereka menaburkan abu di kepala

mereka dan meraung dan merendahkan diri mereka sendiri. Allah

menjawab mereka."l13

[Secara kebetulan, Ibn al-DAwad6,ri menceritakan bahwa saat 

kaum Frank merebut Ma'arrat al-Nu'mdn pada 492 H./1098 M.,

Kaum muslim membawa Alquran 'lJtsmani sebagai pelindung ke

Damaskusl. Kedua penulis sejarah itu juga menyisipkan kisah

berikut ini segera sesudah nya:

Bersama kaum Frank, ikut serta seorang pendeta jangkung

dengan janggur panjang yang memandu mereka ... Pendeta itu

menunggang keledainya dan menggantungkan sebuah salib di

lehernya dan memegang dua salib di kedua tangannya. Dia juga

menggantungkan sebuah salib di leher keledainya. Di depannya,

dia memasang Injil dan salib-salib Uagil [dan Kitab Suci].

Pendeta itu kemudian berkata [kepada prajurit ini ] "Al-

Masih telah berjanji kepada saya, bahwa saya akan menang hari

ini."

Bisa diperkirakan, tokoh ini, benar-benar kerepotan dengan

salib, dan keledainya (yang |uga mengenakan salib) sangat ke-

sulitan. Ibn al-Jawzi menulis: "saat  kaum muslim melihatnya,

mereka mempertontonkan semangat keislaman dan mereka semua

menyerang pendeta itu dan membunuhnya beserta dengan keledai-

nya. Mereka mengambil salib-salib itu dan membakarnfa."rt4

Pesan dalam kisah ini  cukup jelas dan kedua anekdot

ini digunakan dengan cukup hati-hati.

Pada kesempatan lain, digunakan pertentangan antara Salib

dan menara. Penyair Ayyubiyah, Ibn al-Nabih, menulis tentang

al-'Adil sebagai berikut: "Lewat perantara dia Allah telah meng-

hancurkan Salib dan para pengikumya. Lewat perantara dia menara

komunitas Islam telah diangkat."r15

SATIB SEBAGAI SIMBOL KEMALANGAN BAGI KAUM MUSLIM

Sebagai simbol yang jelas dan utama bagi umat Kristen, salib

bagi kaum muslim justru membawa kemalangan. Kaum muslim

yang berperang di bawah salib dipastikan akan menemui ke-

kalahan. Para penulis sejarah menyusun cerita hebat tentang hal

ini dalam pertempuran Gaza pede 642 H.ll244 M., saat 

pasukan muslim dari Damaskus dan Hims bertempur di bawah

bendera kaum Frank melawan kaum Khawirazmi dan pasukan

Mesir. Seluruh peristiwa ini dengan memilukan dicatat oleh Sibth

ibn al-Jawzi:

Salib-salib berada di atas kepala dan para pendeta di batalion

itu membuat tanda salib pada kaum muslim dan memberikan

sakramen kepada mereka. Di tangan mereka ada  piala dan

bejana-bejana minum yang mereka gunakan untuk memberi minum

prajurit muslim itu... Sementara itu, Penguasa Hims ... dia mulai

menangis, sambil berkata "Saya tahu, saat  kami berangkat dengan

menjunjung salib-salib kaum Frank, bahwa kami ddak akan ber-

hasil'.

Pada periode Mamluk, serangan laut yang dilakukan Baybars

ke Siprus pada 670 H.ll27l M., yang berakhir dengan kekalahan

Baybars, dilihat oleh para penulis sejarah sebagai hukuman Tirhan

bagi kaum muslim yang memilih memasang salib di bendera

kapal-kapal mereka.rrT

PEMN SENTML SALIB

Lewat penggambaran rentang Raja Yerusalem, al-Qidhi al-Fidhil

menuniukkan peranan salib yang sangat penting, baik bagi Raja

ini  maupun para pengikutnya:

Raja mereka ditahan. Di tangannya, ia membawa sebuah benda

yang menjadi simbol kepercayaan, benda yang memberinya ikatan

sangat kuat dengan agamanya, yaitu, palang Penyaliban, yang

digunakan untuk memimpin orang-orang keras kepala untuk ber-

tempur.L8

Al-Qadhi al-Fidhil melanjutkan: "Mereka tidak pernah maju

menerjang bahaya tanpa membawa salib di tengah-tengah mereka.

Mereka akan mengitarinya seperti laron-laron yang mengelilingi

cahaya".ll9

Namun, patut dicatat bahwa di dalam retorika kaum muslim

ini, yang dijadikan pesaing salib IGisten yaitu  Alquran atau

menara. Bukan bulan sabit, seperti yang terjadi kemudian. Meski-

pun pada awal abad kesebelas, saat  katedral Armenia Ani di

timur Anatolia diubah menjadi sebuah masjid, salib di puncak

kubahnya diturunkan dan diganti dengan bulan sabit perak.r20

PENGGUNMN GAMBAR.GAMBAR DAIAM KRISTEN

Sumber-sumber Islam sering kali menyebutkan gambar-gambar

dan patung-patung IGisten yang digunakan dalam ibadah mereka.

Para penulis muslim umumnya memusuhi gambar-gambar ter-

sebut. Mereka menggambarkan perbedaan antara bagian-bagian

dasar masjid dengan 

^pa 

y^ng ditemukan di dalam gereja.

Ibn al-Nabih menceritakan tentang pangeran Aynrbiyah, al-

Asyraf:

Anda telah membersihkan mihrab dan mimbar yang agung [di

Damietta] dari kotoran mereka sesudah  kal<r lminbar) itu bergetar.

Dan Anda telah mulai menghancurkan patung al-Masih di atasnya

sekalipun orang-orang menciuminya seakan-akan paung itu yaitu 

seorang dewa.l2l

Dalam sebuah kisah populer, Sirdt alAmirah Dzit al-Himmah,

seorang pahlawan muslim memasuki sebuah gereja yang di dalam-

nya ada  sebuah gambar yang meneteskan air mata ke Kitab

Injil.t22

Al-'Umari menceritakan bahwa kekuatan gambar-gambar lGisten

itu yaitu  untuk menggerakkan dan memengaruhi. Dia menyebut-

kan bahwa pada 585 H./1189 M. kaum Frank di Tirus telah

meminta tambahan kekuatan ke Eropa: "Mereka telah membuat

sebuah lukisan al-Masih dan seorang Arab yang tengah memukuli

al-Masih hingga membuatnya berdarah. Mereka mengatakan: 'Ini

Nabi orang-orang Arab yang tengah memukuli al-Masih'."r23

Al-'Umari tidak menyebutkan apakah gambar ini dikirimkan

sebagai bagian dari pesan ke Eropa untuk mengumpulkan dukung-

an atau apakah gambar itu untuk konsumsi warga  setempat.

Mungkin sama meragukannya dengan kisah ini, gambar itu

menunjukkan pandangan kaum muslim terhadap kekuatan jahat

gambar-gambar visual dan kebodohan umat lftisten yang me-

mercayai kekuatannya.

Pada 665 H.11266-1267 M, Baybars datang ke benteng Safad

untuk salat di sebuah menara. Seperti dikisahkan Ibn al-Furit, di

sana Baybars melihat sebuah boneka besar yang menurut kaum

Frank dapat melindungi benteng ini . Mereka menyebutnya

Abu Jurj (ayah George): "Dia memerintahkan agar patung itu

dihancurkan dan tempat itu dibersihkan darinya, dan tempatnya

diubah menjadi sebuah mihrab."r2a

YANG DIKETAHUI KAUM MUSLIM TENTANG KRISTEN

Sekalipun meyakini bahwa agama mereka merupakan 

^gama 

yan1

benar, kaum muslim pada masa Perang Salib cukup mengenal

ajaran Kristen dan gereja. Ibn al-Atsir menyebutkan pusat-pusat

agama yang berbeda dalam pandangan kaum Kristen Timur.

saat  menceritakan tentang penaklukan Edessa, dia menulis:

Edessa ini yaitu  salah satu kota yang paling mulia dan

dikagumi oleh umat Kristen. Kota ini yaitu  salah satu kota pusat

pendeta bagi mereka: sebab  yang paling mulia bagi mereka yaitu 

Yerusalem, lalu Antiokhia, Roma, Konstantinopel, dan Edessa.r25

Al-IIarawi tahu bahwa Bethlehem yaitu  tempat kelahiran

Yesus.r26 Ibn \Tishil dalam laporannya tentang kunjungannya

sebagai utusan Baybars untuk Manfred dari Sisilia pada Ramadan

659 H.ll26l M. menunjukkan rasa ketertarikan yang besar dalam

soal Kepausan dan mencoba menjelaskannya kepada pembaca

muslim:

Paus di Roma bagi mereka [kaum Frank] merupakan wakil

dari Kristus, menempad kedudukan Kristus. Dia berhak menyatakan

tentang sesuatu hal yang dilarang dan yang diperbolehkan, men-

cabut dan memisahkan [yaitu kekuasaan untuk mengucilkan se-

seorang]. Dialah yang memasangkan mahkota di kepala seorang

raja, dan dia juga yang menunjuk para raja itu. Hukum-hukum

ditetapkan hanya dengan keputusan Paus. Dia menjalani hidup

selibat dan saat  dia meninggal, seseorang akan menggantikan

kedudukanny^ yat:rg nandnya juga akan menjalani hidup selibat.'27

Dalam karyanya yang kurang dikenal, Kithb al-Asht (Buku

tentang Tongkat), yang oleh Irwin digambarkan sebagai sebuah

"antologi rhabdophilisl',r28 Usamah memuji kesalehan para pendeta

lftisten dalam bab tentang St. Yohanes; Usimah melihatnya berdoa

di gereja dekat makam Yohanes Pembaptis di Sebastea di Provinsi

Nablus:

sesudah  membaca doa, saya keluar ke alun-alun yang salah

satu sisinya dikelilingi oleh 'lTilayah Suci. Saya menemukan sebuah

gerbang yang setengah tertutup. Saya membukanya dan kemudian

masuk ke sebuah gerEa. Di dalam ada sekitar sepuluh lelaki tua.

Kepala mereka yang gundul seputih katun yang sudah dibersihkan.

Mereka menghadap ke timur dan di bagian dada mereka me-

ngenakan helaian papan yang diikat dengan ban besi yang ujungnya

ada kayu salib bergulung seperti bagian belakang pelana. Mereka

mengambil sumpah dengan tanda salib ini, dan bersikap ramah

kepada orang yang membutuhkannya. Kesalehan mereka menyentuh

hati saya. Tapi pada saat yang sama, saya meniadi kecewa dan

sedih, sebab  saya belum pernah melihat semangat dan rasa peng-

abdian seperti itu di kalangan kaum muslim.r2e

Seperti biasa, komentar Usimah tentang "pihak lain' tak

pernah memberikan ungkapan pujian. Dia kemudian melanjutkan

dengan cerita tentang para sufi yang tingkat pengabdiannya jauh

melebihi para pendeta Kristen itu:

Saat itu saya berpikir bahwa tak ada orang di sana. Kemudian

saya melihat sekitar seratus orang sufi di atas sajadahnya masing-

masing. \7ajah mereka kelihatan tenang dan damai, dan badan

mereka tunduk dalam rasa pengabdian' Ini yaitu  pemandangan

yang menenteramkan hati, dan saya bersyukur ke hadirat Tuhan

Yang Mahakuasa sebab  ternyata di kalangan umat Islam ada 

orang-orang yang semangat pengabdiannya melebihi para pendeta

Kristen. Sebelum peristiwa ini saya belum pernah menyaksikan

orang-orang sufi di tempat ibadah mereka, dan saya juga tidak

tahu tentang cara hidup mereka.r30

Sekali lagi, UsAmah tidak bisa melawan godaan untuk me-

nyajikan sebuah perbandingan cerita yang menyudutkan yang

semakin menegaskan keunggulan Islam.

Sedikit diragukan bahwa, setidaknya pada masa Saladin, kaum

muslim mengetahui bahwa kaum Frank sedang melangsungkan

perang keagamaan sebagaimana juga mereka. Seperti ditulis oleh

Ibn Syaddid: "Masing-masing pihak mempersembahkan hidupnya

untuk kebahagiaan di Hari Akhirat, lebih menyukai kehidupan

kekal daripada kehidupan fana di dunia ini.'r3r

Al-Qalqasyandi, dengan mengutiP sepucuk surat yang bertanda

1190, berbicara tentang kaum Frank: "setiap orang menyerukan

tjihad] kepada diri mereka sendiri sebelum mereka diseru."r32

Saat kaum Frank pertama kali tiba di Timur Dekat, sangadah

jelas bahwa kaum muslim tidak cukup tahu mengapa kaum Frank

itu datang. Sebagaimana telah kita ketahui, beberapa elemen visual

yang dapat dengan jelas dikenali yang diasosiasikan dengan kaum

Frank sering kali disebutkan dalam berbagai sumber, seperti salib,

Injil, dan pendeta. Perlahan, pengetahuan kaum muslim tentang

pandangan kaum Frank itu bertambah dan semakin didasarkan

pada informasi yang mendalam. Pada saat Saladin merebut kembali

kota Yerusalem, persepsi kaum Frank tentang konflik itu oleh

para penulis muslim digunakan sebagai panduan dalam ProPa-

ganda mereka pada dekade 1180-an.r33 Sebuah teks yang disebut

sebagai surar dari Richard si Hati Singa untuk saladin dicatat

oleh Ibn Syaddid:

Satu-satunya pokok pembicaraan di sini yaitu  tentang

Yerusalem, Salib, dan Tanah Suci. Berkaitan dengan Yerusalem,

kami percaya bahwa kami tidak akan pernah menyerah hingga

titik darah penghabisan.r3a Tentang Tanah Suci, nanti akan di-

kembalikan kepada kami, dari sini hingga ke Yordania. Menyangkut

Salib, menurut Anda itu hanya sePotong kayu tak bernilai' Bagi

kami, itu bermakna penting. sebab  itu, biarkan Sultan dengan

elegan mengembalikannya kepada kami dan kami akan merasa tenang

dan akan beristirahat dari kerja keras kami yang tiada henti ini''35

Kaum muslim yang melakukan propaganda menyatakan bah-

wa kaum Frank memiliki semangat keagamaan yang sejati. Pada

585 H.l1189-1190 M., 'Imiduddin mengutip sepucuk surat yang

ditulis untuk membangkitkan semangat jihad kaum muslim. Di

situ ia menulis bahwa semangat keagamaan kaum Frank patut

dicontoh untuk menghidupkan kembali semangat moral umat

Islam. Dia memuji mereka sebab  dapat menyadari tujuan-tujuan

mereka, memperlihatkan keberanian yang luar biasa, dan mengor-

bankan harta mereka demi ag ma:

Di negeri dan tanah-tanah mereka masih belum ad,a rqa,

penguasa atau orang mulia. Tapi kerja keras dan upaya mereka

belum bisa dilampaui oleh kelompok-kelompok warga  di

sekitar mereka. Mereka tidak memperhitungkan pengorbanan yang

mereka lakukan, baik darah atau hidup mereka, demi melindungi

agama mereka .... Mereka berbuat apa yang mereka perbuat,

mengorbankan apa yang bisa mereka korbankan, benar-benar semata

demi membela sosok yang mereka sembah dan untuk menghormati

kepercayaan mereka.l36

saat  kaum muslim berhasil merampas "Salib Sejati" pada

583 H.lll87 M., mereka bisa memahami peran penting salib itu

bagi kaum Frank-setidaknya oleh orang-orang tertentu seperti

al-Qidhi al-FXdhil dan 'Imiduddin. Dengan menyebutnya Salib

Penyaliban jhalib al-shalbut), 'Imlduddin berkata: "Mereka ber-

tempur di bawah Salib itu dengan lebih gigih dan penuh loyalitas

dan mereka melihatnya sebagai sebuah perjanjian yang mereka

pegang teguh dengan penuh keyakinan."r3T

KARYA-KARYA POLEMIS DAN PROPAGANDA KAUM MUSLIM

TENTANG KAUM KRISTEN FMNK

Jauh sebelum kedatangan kaum Frank, telah terbentuk sebuah

tradisi yang kokoh berkaitan dengan debat publik lintas-iman

dan tulisan-tulisan kaum muslim tentang agama Kristen. Tiadisi

semacam ini bahkan dimulai dari masa Dinasti Umayyah. Inslripsi

di Kubah Batu yang bertanda tahun 72 H.l69l M. menyerang

alaran Thinitas dan Inkarnasi dalam agama Kristen. Para penulis

muslim, dengan memakai  

^yat-ayat 

Alquran, menjadikan tema

segi ketuhanan Yesus dan doktrin tinitas sebagai basis dari karya-

karya polemis mereka.

Sikap para penulis muslim pada periode Perang Salib telah

dibentuk oleh tradisi ini. Namun, penring kiranya untuk diteliti

sampai sejauh mana pandangan-pandangan yang telah ada ini

dan yang dibentuk berdasarkan hubungan yang lama dengan

agama Kristen Timur mengalami perubahan akibat interaksi kaum

muslim dengan Tentara Salib, pendatang baru yang kemudian

terjalin lama.

Sekalipun begitu, tulisan-tulisan polemis Islam terhadap Kristen

tidak boleh dipandang secara terpisah, seakan-akan sebagai inisiatif

propaganda yang terpisah. Pada periode Mamluk, khususnya,

banyak bermunculan risalah yang mengecam pembaharuan-pem-

baharuan dalam keimanan dan praktik-praktik Islam.r3e Ada ke-

prihatinan yang mendalam untuk menegaskan identitas Islam

menjelang invasi bangsa Tirrki dan bangsa Mongol dan kemuncul-

an penguasa Mamluk di Mesir dan Suriah. Risalah-risalah itu

disusun dengan mengecrm praktik agama pada umumnya, sufisme,

filsafat, bidah dan pembaharuan. Ibn Taymiyyth, figur sentral

dalam pembahasan ini, seperti biasanya menyerang ini semua

dengan keras. Terutama sekali, ia yakin bahwa "agama yang benar"

yaitu  penting bagi kesejahteraan spiritual dan stabilitas sosial

komunitas Islam. Serangan-serangan terhadap Kristen merupakan

sebagian dari perdebatan berkepanjangan mengenai bentuk Islam

yang benar dan pertahanannya dari semua pendatang. Periode

Mamluk telah menyebabkan terjadinya proses perpindahan a1ema

secara besar-besaran, dari pemeluk Koptik menjadi Islam. Ber-

samaan dengan itu, mereka membawa serta praktik-praktik dan

mode-mode pemikiran lGisten ke dalam kehidupan agama baru

mereka sebagai kaum muslim. Kaum muslim memandang ke-

cenderungan semacam ini sebagai sesuatu yang harus benar-benar

dihindari.'ao

Ibn Thymiyyah menyusun sebuah risalah yang sangat lengkap

tentang Kristen yang berjudul al-Jawdb al-Sabih li-man Baddal

Din al-Masih (Jawaban Yang Benar untuk Orang yang Mengubah

Agama al-Masih). Karya ini bisa dianggap sebagai karya paling

komprehensif dari jenisnya.rar Kerya itu memuat pembelaan yang

lengkap tentang Agama yang Benar. Sepanjang hidupnya, Ibn

Taymiyyah mengalami dua bencana, yaitu Perang Salib dan pem-

bantaian dunia Islam oleh bangsa Mongol. Serangan-serangan Ibn

tymiyyah terhadap alaran maupun praktik agama Kristen sangat

keras. Saat menulis tentang agama Kristen, ia menyatakan:

Mereka terpecah menjadi sekte-sekte dalam membicarakan

persoalan Tiinitas dan penyatuan [ketuhanan dan kemanusiaan

Kristus]; mereka terpecah dalam hal-hal yang memang tak bisa

diterima oleh akal [manusia] dan tidak ada dalam tradisi.ra2

Ibn tymiyyah mengutuk para pendeta dan biarawan, ter-

masuk para patriark, penduduk kota dan uskup, atas kemunafikan

mereka terhadap raja-rtja.ta3 Serangan khususnya diberikan kepada

para biarawan yang dianggap sok tahu dan suka menipu.'aa Suatu

tipuan yang diduga dipraktikkan umat lGisten yaitu  dengan

,menaruh kohl (semacam bahan penghitam pelupuk mata) di mata

Maria sehingga mengeluarkan air mata: "Mereka menaruh kohl

di air yang mengalir dengan sangat perlahan. Air itu kemudian

mengalir perlahanJahan sehingga air itu mengalir turun ke gambar

Maria dan selanjutnya keluar dari matanya. Orang-orang mengira

,

Bukti-bukti menarik juga ditemukan dalam sebuah karya yang

berjudul An answer to the Dhimmis and to Those utho Follow

Them (Jawaban untuk Kaum Dzimmi dan Orang yang Mengikuti

Mereka) yang disusun oleh penulis akhir abad ketiga belas atau

awal abad keempat belas, GhAzi ibn al-'!7ishiti.ra6 Dalam dunia

Islam Abad Pertengahan, risalah-risalah polemis sangat banyak

ditemukan. Dalam karya semacam itu, para ilmuwan muslim

atau lkisten Abad Pertengahan saling menyalahkan agama lawan-

nya. Namun, karya al-\flishiti ini bermakna sangat penting sebab 

ditulis tidak lama sesudah  pengusiran Tentara Salib. Bisa di-

perkirakan bahwa karya itu disusun untuk menunjukkan ke-

unggulan Islam, dan ini dilakukan terutama lewat kisah-kisah

penjelas yang berasal dari periode-periode awal sejarah Islam namun 

juga dengan latar zaman pengarang itu sendiri. Karya itu sangat

memusuhi kalangan Gereja Koptik.

Di halaman pertama risalah ini, sang pengarang menyatakan

hubungan yang jelas antara kaum Kristen Timur dan Tentara

Salib. Pengarang ini  menyatakan bahwa dia ingin menjelaskan

tentang gangguan yang dilakukan umat Kristen terhadap Islam:

"keinginan untuk membersihkan hari-hari sultan [Mamluk] yang

mulia dari kotoran-kotoran mereka [kaum I(risten], seperti halnya

penghancuran kerajaan mereka yang kuat dan dengan pertahanan

yang baik, serta pertahanan-pertahanan mereka yang tinggi dan

menjulang".laT

Ghizi, yang berkomentar tajam tentang penyebaran Gereja

Koptik ke mana-mana yang bisa dilihat "di dengungan setiaP

lalat",l48 menuduh umat Kristen "menjadi mata-mata bangsa Thrtar

yang tak beralis" (yaitu bangsa Mongol) dan yang membayar

uang tebusan untuk para Tentara Salib yang ditawan-para Pangeran

kerajaan, wanita-wanita kaya dan bangsawan--dari Tiipoli.tae Karya

ini seluruhnya berupa makian kasar dan bernada sangat anti-

lkisten. Berbagai kisah ini  menunjukkan kemunafikan dan

kedurhakaan kalangan Gereja Koptik, yang mencapai puncaknya

dengan makian pedas: "Pada kaum musyrik lyaitu umat Kristen]

ada  empat ciri: tidak beragama, sering berkhianat, menipu

kaum muslim, dan menjauhkan orang dari keimanan (yang be-

nar)."r50 Namun, polemik anti-Kristen tidak sekadar muncul dalam

karya-karya pembelaan yang ditulis oleh para ahli fikih. Dalam

genre sastra lainnya ada  bukti-bukti yang iuga bernilai Penting.

Tokoh sufi dan ahli fikih dari Aleppo pada masa Nfrruddin

itu-dan di kala itu kesadaran jihad semakin meningkat-me-

masukkan pengarang Sea of Precious Virtues (Samudera Kebajikan

yang Mulia) dari Persia, dan dia menyusun karya yang lengkap

yang memberikan pembuktian tentang kesalahan orang-orang

Bizantium dan kaum Frank. Pada bab Pertama dari karya itu,

yang berjudul "Tentang Kelicikan kaum Kristen", pengarang

anonim itu menulis:

Yang paling aneh di dunia yaitu  umat Kristen mengatakan

Yesus yaitu  memiliki sifat ketuhanan, bahwa Dia yaitu  Tuhan,

dan mereka kemudian menyatakan bahwa kaum Yahudi menangkap

dan menyalibnya. Bagaimana Tuhan yang tidak bisa melindungi

dirinya sendiri bisa melindungi yang lain?rtr

Argumentasi seperti ini bukan barang baru dalam polemik

Islam terhadap lGisten. Namun, dimasukkannya argumentasi itu

di dalam sebuah karya tuntunan spiritual untuk Penguasa, genre

"Literatur Istana", yaitu  tidak lazim dan kemungkinan besar

merupakan hasil dari konfrontasi langsung dengan kaum Frank,

yang secara khusus disebutkan dan dikelompokkan dengan orang-

orang Bizantium.

Penghancuran doktrin ketuhanan lfuistus bukan sesuatu yang

sarkastik "Tiap-tiap orang y^ng Percaya bahwa Tuhannya keluar

dari kemaluan seorang wanita yaitu  cukup gila. Dia seharusnya

tidak dibicarakan, dan dia tidak memiliki akal ataupun agama."

Juga kedengarannya seakan-akan sang Pengarang Pernah me-

ngunjungi sebuah gereia tertentu atau mendengar tentangnya: "Di

dalam sebuah gereja mereka melukis sebuah gambar Yesus tengah

menggantung dari sebuah salib, dan mereka memasang gambar

itu ke dinding penjara, dan mereka juga memasang gambar sejenis

lainnya di dalam gereia yang memiliki banyak gambar di dalam-

nfa."r52

Karya ini berisi tuduhan-tuduhan stereotiP terhadap kehidupan

bebas wanita-wanita lGisten, yang mengingatkan pembacanya pada

karya Usimah. Pengarang menuduh umat lGisten mengizinkan

seorang wanita yang tak bersuami untuk melakukan persetubuhan,

dengan menyatakan bahwa umat Kristen berkata: "seorang wanita

sangat mengetahui hubungan gelapnya sendiri; bagian pribadinya

yaitu  miliknya; bila ingin, dia bisa menjaganya, dan bila dia

ingin dia bisa memberikannya."r53

Hakim-hakim Kristen menetapkan biaya persetubuhan dan

berahi sebagai berikur: "empat fil (setara 1/1000 dinar atau l/

100 dirham) untuk setiap perbuatan senggama dan satu fil untuk

setiap ejakulasiD.r54 Pengarang itu juga menuduh wanita-wanita

Kristen bersetubuh dengan para pastor di malam hari dan tidak

menutupi wajah-wajah mereka. Bagian ini mengungkapkan ke-

bencian yang mendalam terhadap IGisten dan ejekan baik terhadap

doktrin mereka yang tidak jelas maupun cara-cara tidak bermoral

yang berasal dari wahyu palsu.

KAUM FMNKYANG MUDAH TERTIPU

Tirlisan-tulisan sejarah itu juga berisi banyak kisah penjelas. Bahkan

kemenangan kaum Frank bisa digunakan untuk meningkatkan

poin-poin propaganda dengan mengingatkan pada kemenyatuan

dan keberhasilan kaum muslim. Kisah terkenal tentang Tombak

Suci pada peristiwa pengepungan Antiokhia pada 491 H./1098

M. dimanfaatkan oleh beberapa sejarawan muslim yang meng-

gunakan legenda rersebur sebagai contoh bahwa betapa mudahnya

umat lftisten ditipu. Tombak, yang menurur sumber-sumber

Tentara Salib berfungsi sebagai fokus emosional yang sangar

berpengaruh bagi kaum Frank yang putus asa sehingga mereka

mencapai kemenangan di Antiokhia, dipertunjukkan oleh Ibn al-

Atsir (w. 630 H.ll233 M.) sebagai tipuan seorang pasror lGisten.

Pastor itu sebelumnya mengubur tombak rersebut di Gereja St.

Petrus di Antiokhia, menjanjikan kemenangan kepada kaum Frank

bila mereka menemukannya, dan selanjutnya membawa mereka

ke tempat tersebur sehingga mereka bisa menemukan tombak

itu.l55

Selanjutnya, Ibn Taghribirdi (w. 874 H.ll47O M.) juga

menuturkan kisah tentang kejadian iru, namun melibatkan pe-

mimpin kaum Frank, St. Gilles, dalam aksi penipuan rersebut:

St. Gilles, pemimpin kaum Frank, licik dan lihai, dan dia

mengatur dpu muslihat dengan seorang pastor, dengan mengatakan:

"Pergi dan kuburlah tombak ini di tempatmu. Lalu sesudah  itu

ceritakan: 'Saya telah bermimpi bertemu al-Masih. Dalam mimpi

itu dia berkata 'Di suatu tempat ada sebuah tombak terkubur.

Pergilah dan temukan tombak itu, sebab  bila kamu menemukan-

nya, kemenangan akan menjadi milikmu. Itu tombak saya'."'

Mereka kemudian berpuasa selama tiga hari, berdoa dan berderma.

Selanjutnya, dia [pastor itu] menuju ke tempat ini  dan kaum

Frank bersamanya. Lalu mereka mencari tombak ini . Tombak

itu ditemukan. Mereka berteriak, berpuasa, berderma, dan pergi

menyongsong umat Islam, dan mereka memeranginya sampai mereka

mengusir umar Islam keluar dari kota itu.rr6

Tidak seperti Ibn al-Atsir, yang tidak berkomentat apa-apa

tentang kemenangan gemilang kaum Frank yang tampaknya ber-

kaitan dengan penipuan rersebut, Ibn tghribirdi berkomentar

dengan lebih jujur:

Yang mengherankan yaitu  saat  kaum Frank bergerak me-

lawan kaum mtrslim, mereka sangat lemah akibat kelaparan dan

ddak punya makanan sampai mereka memakan bangkai, semenrara

pasukan Islam sangat kuat dan banyak; dan [tapi] mereka me-

ngalahkan kaum muslim.r5T

INTENSIFIKASI PROPAGANDA ANTI.KRISTEN PADA MASA SAI"{DIN

Pertanyaan-pertanyaan menyangkut segi doktrinal semakin tampak

mencolok pada masa Saladin: argumen-argumen seperri biasanya

difokuskan pada dua tema utama, yairu masalah ketuhanan Yesus

dan Tlinitas. Pada khotbah yang perrama kali disampaikan usai

penaklukan Yerusalem, lbn Zalci mengutip ayat-ayat Alquran

terpilih yang menekankan pada Keesaan Allahtss-"Segala puji

bagi Allah, Yang tidak memiliki  anak dan tidak memiliki 

sekutu dalam Kerajaan-Nya"r5e-dan Surat al-Ikhlish, yang me-

negaskan keesaan Allah itu sendiri dan menjadi inti ajaran Alquran:

Katakanlah, "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa!

Allah yaitu  tempat bergantung segala sesuatu!

Dia ddak beranak dan tiada pula diperanakkan.

Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan Dia."t60

Kutipan-kutipan ini sama persis dengan kutipan yang diguna-

kan oleh Khalifah Umayyah untuk menghiasi interior Kubah Batu


pada 72 H.l69l M. Sangat mungkin pidato lbn Zal<3 itu, yang

disampaikan di Masjid AqshA, di dekat Kubah Batu, dengan

sengaja ingin membangkitkan gema-gema ini dan beberapa pen-

dengarnya telah mencatat gema ini .

Dalam pidatonya itu juga lbn Zal<i kemudian menyerang

Kristen. Meski lbn Zalij menggambarkan Yesus sebagai Nabi yang

mulia, dia tegas-tegas menolak bahwa Yesus itu Tirhan: "Mereka

pasd orang-orang kafir yang menyatakan: Bahwasanya Tuhan

yaitu  Kristus, putra Maryam.

. Simbol-simbol Islam dan lGisten yang saling bertentangan

digunakan untuk memberi efek yang sangar kuat dalam surat al-

Qedhi al-Fadhil kepada khalifah. Mengenai Saladin, dia menulis:

Dari tempat-tempar ibadah mereka, dia melemparkan salib

ini  dan memulai seruan salat. Altar digantikan dengan mimbar,

dan gereja-gereja diubah menjadi masjid; pengikut-pengikut Alquran

unggul atas pengikut-pengikut salib.'62

NILAI PROPAGANDA KELUHURAN BUDI SAIADIN

Kaum muslim memiliki kenangan yang panjang. Peristiwa 1099

terus hidup dalam ingatan mereka delapan puluh delapan tahun

kemudian, saat  Saladin memasuki Yerusalem dengan keme-

nangan. Hasrat balas dendam, untuk melenyapkan ingatan ber-

sama-sama tentang horor dan penghinaan akibat penaklukan kaum

Frank, pasdlah sangat kuat. Kaum muslim dga atau empat generasi

berikutnya pasti akan mendengar renrang peristiwa ini, dan arti

pentingnya akan tertanam dalam-dalam di ingatan mereka, bukan

semata-semata sebagai fakta politik dan militer, namun sebagai

suatu penghinaan dan pelecehan terhadap dua tempat paling suci

bagi umat Islam.

Oleh Ibn al-Atsir, Saladin ditampilkan mulanya ingin mem-

balas dendam kepada kaum Frank:

Mereka [kaum Frank] sepakat meminta perjanjian perdamaian

dan menyerahkan Yerusalem kepada Saladin. Maka mereka mengi-

rimkan bangsawan dan pemimpin mereka untuk meminta per-

damaian. saat  mereka menyampaikan hal itu kepada Sultan,

beliau tidak segera menyetujuinya dan berkata: "Saya hanya akan

memperlakukan Anda dengan cara seperti Anda memperlakukan

para penduduknya saat  Anda menaklukkannya pada 492, yairl

dengan membunuh dan menahan dan pelanggaran-pelanggaran

sejenis lainnya".163

Namun, bagi Ibn al-Atsir dan para penulis sejarah muslim

lainnya yang menulis peristiwa ini, nilai propaganda penaklukan

Yerusalem oleh Saladin yang tanpa pertumpahan darah jauh lebih

berarti dibandingkan dengan dorongan, yang segera teratasi, untuk

melakukan pembalasan. Bagi mereka, penting kiranya menampil-

kan perilaku Saladin secara keseluruhan, bukan sekadar sebagai

sifat pribadinya, namun  juga menunjukkan keunggulan perilaku

kaum muslim atas perilaku kaum Iftisten, dan nilai-nilai Islam

atas nilai-nilai Kristen.

Dengan demikian, Saladin ditampilkan telah menghormati

perjanjian jaminan keselamatan untuk kaum Frank dan mem-

perlakukan wanita-wanita bangsawan Tentara salib dengan ter-

hormat. Saladin ditampilkan sebagai contoh orang Islam yang

terhormat dan sopan.rG

saat  Uskup Agung kaum Frank pergi dengan hanya Allah

yang tahu aPa yang dibawanya dari gereja-gereja, termasuk Batu

dan Aqshi dan sampah,r65 dan dia [secara peribadi] memiliki uang

yang sangat banyak, Saladin tidak menghalangi perjalanannya' Dia

lsaladin] diminta untuk mengambil barangbarang yang dimilikinya

[uskup ini ] untuk memperkuat kaum muslim dan Saladin

berkata: "Saya tidak akan berlaku jahat padanya"'

ARTI PENTING GEREJA MAKAM SUCI

permainan kata lama untuk nama gereja ini-disebut Gereja

Kebangkitan (hanhat al-qiytmah) dalam bahasa Arab (foto warna

7) ,r"*rrn diplesetkan oleh kaum muslim sejak abad ketujuh

sebagai Gereja Sampah (hantsat al-qumhmah)-dieksploitasi habis-

habisan untuk mengejek kaum Frank pada abad kedua belas dan

ketiga belas.r66

Al-Harawi mengunjungi Yerusalem pada 569 FIJll73 M'

dan menulis tentang gereja ini:

Mengenai temPat-temPat ziarah umat Kristen' yang paling

penting yaitu  Gereja Sampah "' Bagi umat Kristen' makam

ini  terletak di tempat yang mereka sebut makam Kebangkitan

(qiyhmab) sebab  mereka menetapkan temPat ini sebagai temPat

keL"rrgkit"r, al-Masih; pada kenyata nnya temPat ini  yaitu 

Sampah (qumlmah), temPat sampah, sebab  kotoran-kotoran wilayah

itu dib.r"rrg di sana; itu yaitu  suatu temPat di luar kota yang

menjadi temPat pemotongan tangan para penjahat dan temPat

para Pencuri disalib: itulah yang dikatakan oleh Kitab Injil' Dan

hanya Allah yang Maha Mengetahui'r67

penasihat Saladin, al-Qadhi al-Fidhil, mengetahui tujuan

religius kedatangan kaum Frank ke Yerusalem' Dalam suratnya


yang terkenal mengenai kemenangan Saladin yang dikirimkan

kepada khalifah, al-Qadhi al-Fadhil menyebutkan tenrang "raja-

raja pemanggul salib, kelompok-kelompok dari seberang lautan,

gerombolan berbagai macam orang kafir". Tirjuan mereka yaitu 

untuk "membebaskan Makam rersebut dan mengembalikan [Gereja]

Sampah (qumlmah)".t68

Saladin memutuskan untuk tidak menghancurkan Gereja

Makam Suci pada 583 H.lll87 M. meskipun beberapa  kaum

muslim yang lebih bersemangat menekannya untuk melakukan

penghancuran. Dalam prosa bersajaknya, yang seperti biasanya

dilebih-lebihkan,'Im6.duddin al-IshfahAni mencarat:

Dia [Saladin] berembuk dengan orang-orangnya mengenai hal

itu [Gereja Makam Suci]. Beberapa orang di antara mereka meng-

anjurkan agar bangunan gereja itu dihancurkan, bekas-bekasnya

dihilangkan, jalan menuju ke sana dihapuskan, parung-parungnya

dimusnahkan, kandil-kandilnya dipadamkan, Kitab Injil-nya di-

hancurkan, daya tariknya dihancurkan, dan ajaran-ajarannya harus

ditunjukkan sebagai kebohongan.r6e

Para penasihat ini lebih lanjut mengatakan bahwa dengan

memusnahkan bangunannya, maka tempat itu tidak lagi akan

menjadi pusat kuniungan dan ziarah umar IGisten: "Keinginan

kaum Frank untuk berziarah ke sana akan berhenti dan dengan

demikian kita akhirnya akan bisa hidup dengan damai."t7o

Namun, Saladin jelas-jelas terpengaruh oleh merek^ yang

meminta agar gereja ini  harus dibiarkan utuh. Mereka ber-

pendapat bahwa tidak mungkin menghentikan kaum Frank me-

ngunjungi Yerusalem "sebab  yang mereka puja yaitu  kesucian

Yerusalem dengan Gereja Sampah sebagai tempat yang paling

'Imiduddin sangat mengetahui arti penting gereja ini bagi

kaum Frank. Ia mengucapkan kata-kata berikut kepada kaum

Frank yang tengah memPertahankan Gereja Makam Suci: "Mereka

berkata: 'Kami akan mati di bawah makam Tirhan kami dan

kami akan mati tanpa rasa takut bahwa makam ini akan terlepas

dari kami. Kami akan mempertahankannya dan akan terus ber-

juang demi makam ini. Kami tidak punya pilihan lain, kecuali

berjuang'."r72 Selama PertemPuran berlangsung, kaum Frank me-

nunjukkan perasaan yang sama.r7l Gerela itu yaitu  simbol yang

sedang mereka perjuangkan:

Kami semua masing-masing berumur dua puluh "' Kami siap

mati untuk mempertahankan [Gereja] Kebangkitan (qiyLmah)'tla

'Imiduddin kemudian melan.iutkan lebih jauh. Pada bagian

khusus yang berjudul "Laporan tentang Gereja Sampah", dia

mengungkapkan pandangannya tentang kekristenan kaum Frank'

'Imiduddin sangat mengetahui bahwa kaum Frank juga siap dan

bersedia mengorbankan diri mereka untuk membela agama mereka

dan monumen suci mereka itu. Dengan demikian, kehormatan

kaum Frank dikaitkan dengan perlindungan terhadap Gereja

Makam Suci. Di dalam gereja itu, menurut 'Imiduddin, ada 

tempat Penyaliban. Di dalamnya pula banyak ada  gambar-

gambar dan patung-Patung:

Di dalamnya ada  gambar-gambar Juru Selamat tengah

berbicara, orang-orang suci tengah memberi kabar, para pastor di

dalam sel-sel mereka, para pendeta dengan jamaahnya, Orang-Orang

Majus dengan tali-talinya,r75 para pendeta dengan aiaran-ilatan

palsunya, gambar Maria dengan Yesus, Kuil dan Tempat Kelahiran'

Meja dan Ikan-ikan... Murid dan Guru, Ayunan dan Anak yang

berbicara, gambar keledai dan domba jantan, Surga dan Neraka'

IoncenSlonceng [gereja] dan undang-undang. Mereka berkata, di

kota itu [Yerusalem], al-Mcih disalib, korban sakramen disembelih,

sifat ketuhanan menitis dan sifat kemanusiaan dipuja''76

Bagi umat IGisten, penjelasan-penielasan tentang agama Kristen

ini akan dianggap sebagai campuran kebenaran, setengah ke-

benaran, dan kekeliruan. Namun sebenarnya penjelasan itu yaitu 

gambaran yang sangat bagus tentang kemungkinan pandangan

t",r- -,rrlim abad kedua belas terhadap agama musuh mereka.


Bagian ini menunjukkan agama Kristen dan umat Kristen lewat

kacamata keyakinan kaum muslim pada umumnya. Penjelasan-

pen.ielasan tentang agama Kristen yang diberikan dengan menarik

ini, sebagaimana dikatakan Gabrieli, tidak menunjukkan "bahwa

pengarang muslim itu tidak mengetahui informasi yang sebenar-

nyi'.rtt Penjelasan it0 lebih merupakan pandangan tentang agama

liristen yang bersumber pada Alquran (Yesus telah bisa berbicara

sejak bayi, Orang-Orang Majus dengan tali-tali mereka) yang

dibungkus dengan prasangka kaum muslim pada umumnya ter-

hadap praktik-praktik umat Kristen-yang ditunjukkan dengan

gambar-gambar di dalam gereja, biara, dan lonceng-lonceng gereja.

PANDANGAN KAUM MUSLIM TENTANG KEPAUSAN DAN

SUPERIORITAS KHALIFAH

Ibn \Tishil mencatat sebuah percakapan yang diduga berlangsung

antara Frederick II dan seorang bangsawan muslim yang bernama

Fakhruddin ibn al-Syaykh. Ini merupakan kesempatan yang sangat

baik bagi Ibn'Wishil untuk membuat perbandingan yang merugi-

kan antara Paus dan khalifah dan kemudian menyampaikannya

kepada penguasa kaum Frank. Frederick bertanya tentang khalifah

dan Fakhruddin menjawab:

Dia putra paman Rasul kami [selawat dan salam baginya]. Dia

[Khalifah] mewarisi kekhalifahan itu dari ayahnya, dan ayahnya

memperolehnya dari ayahnya, dan kekhalifahan berlanjut hingga

ke lingkaran silsilah Nabi (yaitu, keluarga Rasul), dengan tidak

meninggalkannya.rT8

Frederick memberikan jawaban yang menyerang tradisi Ke-

pausan dan memuji nilai-nilai dalam sistem kekhalifahan:

Kaisarituberkata:..Itulahtkhaliah]yangbaiklNamunorang.

orang picik itu-malaudnya, kaum plxnk-msnunjuk orang dungu

dan bodoh dari kumpulan kotoran-tidak ada hubungan atau

pertalian antara dirinya dengan al-Masih- [dan] mereka men-

jadik"nnya pemimpin bagi mereka, dengan mengambil alih ke-

dudukan al-Masih atas mereka, sementara khalifah Anda yaitu 

anak paman Rasul Anda. Dan dia yaitu  orang yang paling layak

di kedudukannya."rT'

Bagian ini tidak perlu ditafsirkan sebagai catatan kata-kata

Frederick II yang sebenarnya, dan memang sangat meragukan

bahwa dia akan berkata seperti ini. Ibn al-Furit, dengan meng-

gunakan bukti-bukti Ibn \flishil, iug^ tertarik untuk membahas

peranan Paus:

Ketahuilah bahwa bagi kaum Frank, Paus yaitu  wakil al-

Masih, yang menggantikan kedudukan al-Masih' Paus memiliki

kekuasaan untuk menetapkan sahnya suatu hal atau tidak "' Dialah

yang melantik dan menetapkan tala'ra1a, dan' menurut hukum

kaul F.ank, hanya lewat dialah raja'rqa bisa ditunjuk dengan

benar.l80

Nilai dari kutipan ini lebih terletak pada keterangan yang

diberikannya mengenai sikap kaum muslim terhadap Kepausan'

NII.AIPRoPAGANDADAI."AMSURAT.MENYURATDIANTAMPARA

PENGUASA MUSLIM

Kita telah melihat Peran Penting surat-surat resmi yang ditulis

aras nama Saladin dan dikirimkan kepada khalifah, raja-raja kaum

Frank, dan para Penguasa lainnya' Surat-surat seruPa yang sangat

menekankan pada keahlian diplomatik dari periode Mamluk

banyak yang masih bertahan. Baybars khusus membuat surat-

surat ejekan yang dikirimkan kepada lawan-lawannya' Pada 666

H.tir2el M., Baybars menulis surat kePada Bohemond VI untuk

mengutarakan niatnya untuk merebut Antiokhia' Bagian yang

meniperlihatkan ungkapan retoris yang keras yaitu  mengenai

hal-hal yang mendasar dalam 

^gam 

Kristen:

Bila Anda telah melihat gereja-gereja Anda dihancurkan' salib-

salib Anda dipatah-patahkan, halaman-halaman Injil palsu terbuka'

makam-makam para Uskup runtuh, bila Anda telah melihat musuh

Anda, kaum muslim, tengah menginjak-injak tempat suci, dengan

para pastor, pendeta, dan pelayan gereja dikorbankan di atas altar

... Gereja St. Paulus dan St. Petrus dirobohkan dan dihancurkan,

Anda pasti akan mengatakan "Alangkah baiknya sekiranya aku

dahulu yaitu  tanahr8r atau alangkah baiknya jika aku tak menerima

surat yang memberitahukan tentang bencana menyedihkan ini.Dr82

TINGKAT KUALITAS PERDEBATAN KAUM MUSLIM TENTANG AGAMA

KAUM KRISTEN FRANK

Sivan sangat memandang jelek atas tingkat kualitas polemik dalam

karya-karya yang dibuat dalam konteks Perang Salib. Dia meng-

kritik pemikir-pemikir muslim zaman itu yang dianggapnya telah

gagal untuk beranjak dari cara penyampaian slogan-slogan yeng

menyederhanakan persoalan dan gagal menunjukkan pertentangan

yang lebih mendasar di antara dua kepercayaan ini . Dalam

pandangannya, tidak ada argumen-argumen baru yang dimuncul-

kan dan tampaknya tidak ada pembahasan sungguh-sungguh yang

mampu memajukan kualitas debat ini .r8s Sebuah karya yang

ditulis untuk Saladin oleh Muhammad ibn Abd al-Rahmin al-

Kitib dari judulnya (al-Durr al-Tlamin fi Manhqib al-Muslimin

wa Matsllib al-Musyrihin, Permata Berharga tentang Keutamaan

Kaum Muslim dan Keburukan Kaum Musyrik) tampaknya me-

rupakan risalah yang memuat pembahasan yang cukup. Namun

karya ini sudah tidak ada lagi.tsa

Sivan menyimpulkan bahwa ketiadaan debat yang benar-benar

bermutu secara intelektual ini terjadi sebab  Islam pada saat itu

dalam keadaan "sangat stagnan".r85 Penilaian ini terlalu kasar dan

tidak realistis. Tidak ada jaminan bahwa tingkat pembahasan di

dalam karya yang hilang ini , yang disesalkan oleh Sivan,

akan melebihi level anti-Kristen seperti yang biasa ditunjukkan di

dalam sumber-sumber Islam. Ini berkaitan dengan peningkatan

kampanye-kampanye propaganda pada masa itu dan, sePerti mitra

Kristennya, pemikir-pemikir muslim seperti al-Sulami, al-QAdhi

al-FAdhil, 'ImAduddin dan Ibn Taymiyyah tidak memiliki waktu

atau kecenderungan untuk terlibat menyelidiki kebenaran per-

bedaan-perbedaan