Tampilkan postingan dengan label kisah para rasul 4. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah para rasul 4. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Juli 2026

kisah para rasul 4

 


ah. Alasan mengapa para rasul di sebut

ada dalam pimpinan Allah, dimana mereka sudah mengerti kebenaran dan Roh Kudus

menggerakkan Petrus mengutip  Mazmur  69:26 dan Mazmur 109:8,  jadi  pemilihan itu

dilakukan bukan tidak berdasar,  namun   sebab  pimpinan Roh Kudus.  Lagi pula hal  itu

dapat dibuktikan dengan ayat yang lain, dimana Matias juga diberi kuasa oleh Roh Kudus

sama dengan kuasa yang diberikan kepada rasul-rasul yang diplih langsung oleh Yesus.

(Kisah  Para  Rasul  2:1-4,14).  Biasanya  orang  yang  berpikiran  bahwa  Matias  yaitu 

pilihan  yang  salah  sebab   menganggap  bahwa  Pauluslah  yang  dipilih  Allah  untuk

menggantikan jabatan kerasulan Yudas. Pada hal Paulus sendiri  mengakui bahwa dia

tidak  termasuk  dalam golonganke  12  Rasul  (Galatia  1:15-24;1Kor  15:8-9).  Lagi  pula

tugas kedua belas rasul  itu yang palng utama yaitu  untuk melayani 12 suku Israel,

sedang  Paulus diutus kepada orang-orang non Yahudi (Galatia 2:1-10). Hal yang lain

yang perlu di ingat bahwa kedua belas rasul itu (termasuk Matias) dipersiapkan untuk

duduk di 12 tahkta untuk menghakimi kedua belas suku Israel (Lukas 22:28-30).

Masih  ada  satu  pertayaan  lain  yang  sering  juga  menjadi  perdebatkan  yaitu

mengapa Yudas harus digantikan, padahal sesudah  Yakobus mati dan rasul-rasul yang

lain mati tidak diganti. Alasannya yaitu  sebab  tugas paling uama dari kedua belas rasul

itu  untuk  menjadi  saksi  terutama  kepada  orang  Yahudi.  Jadi  sejak  berita  itu  sudah

ersebar  kepada  orang-orang  non  Yahudi  maka penekanan kepada orang  Yahudipun

mulai menurun. Jadi sesudah  Rasul Yakobus mati syahid ( Kisah 12) tidak diganti lagi

sebab  secara resmi kesaksian kepada bangsa Israel sudah selesai dan berita itu (Injil)

sudah tersebar kepada orang Yahudi  dan juga non Yahudi.  Kemudian tentang Kisah

Para  Rasul  1:18,  seakan-akan  bertentangan  dengan  Matius  27:3-10.  dimana  dalam

Kisah  Para  Rasul  1:18  disebut  bahwa  Yudas  telah  membeli  tanah  dengan  upah

kejahatannya,  sedang   dalam  Matius  27:3-10  disebut  bahwa  Yudas  melemparkan

uangnya ke dalam Bait Suci, dan kemudian para imam mengumpulkannya dan membeli

sebidang tanah dan tanah itu akhirnya disebut Hakal Dama. Wiersbe menjelaskan bahwa

kedua nats ini yaitu  saling melengkapi, Yudas tidak membeli tanah itu sendiri, namun 

uangnya  dipaki  untuk  membeli  tanah  itu  atas  dasar  itulah  dia  dianggap  sebagai

pembelinya. Dalam bahasa Aram Hakal Dama mempunyai arti  mengenai Yudas yang

menyerahkan Yesus, membuktikan bahwa pencurahan darah Yesus yaitu  benar-benar

terjadi dalam sejarah. Jadi tanah itu disebut Tanah Darah bukan sebab  darah Yudas.

namun   sebab  ketiga  puluh  keeping  uang perak  itu  dipandang sebagai  “uang darah,”

maka tanah itu disebut tanah darah.

Sebagai pembahasan penutup dari fasal satu ini, kita akhiri dengan membahas

cara pemilihan Matias, yaitu dengan membuang undi. Ini yaitu  peristiwa terakhir dalam

Alkitab  yang  berkenaan  dengan  membuang  undi.  Cara  ini  dilakukan  pada  masa  itu

sebab   sulitnya  untuk  mengetahui  kehendak  Allah,  berhubung  Firman  Allah  belum

seluruhnya di wahyukan dengan jelas, namun  kini Firman Allah telah komplit. Jadi jika kita

mau mencari kehendak Allah lebih baik kita bertanya kepada Alkitab.

c. Kedatangan Roh Kudus (2:1-41)

Kisah  Para  Rasul  2:1  yaitu   berbicara  tentang  dimana  gereja  menantikan

pencurahan Roh Kudus. Hal itu terlihat jelas dari isi ayat yang pertama ini, “saat  tiba

hari pentakosta, semua orang percaya berkumpul disuatu tempat.” Pentakosta berarti “ke

lima puluh”  sebab  dilakukan lima puluh hari  sesudah  perayaan buah sulung  (Imamat

23:15-22). Hari-hari raya Yahudi yang tercatat dalam Imamat 23 merupakan garis besar

pekerjaan Tuhan Yesus Kristus. Paskah menggambarkan kematian-Nya sebagai Anak

Domba Allah (1 Korintus 5:7; Yohanes 1:29), dan hari raya buah sulung menggambarkan

kebangkitan-Nya dari antara orang mati (1 Korintus 15:20-23) kemudian lima puluh hari

sesudah   hari  raya  buah  sulung  yaitu   hari  raya  Pentakosta,  yang  merupakan  awal

perluasan gereja Bangsa Yahudi memperingati diberikannya Hukum Taurat, namun  orang

Kristen merayakannya sebab  diberikannya Roh Kudus kepada Gereja.

Para teolog mengatakan bahwa hari raya buah sulung selalu dirayakan sehari

sesudah  sabat  sesudah  paskah,  berarti  pada  hari  minggu  (hari  sabat  yaitu   hari

ketujuh). Yesus bangkit pada hari pertama, yaitu satu hari sesudah  sabat (hari minggu),

Yesus bangkit  sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal (1Korintus

15:20). Jadi dengan demikian hari pentakosta (lima puluh hari sesudah  perayaan buah

sulung) tepat pada hari minggu, dengan alasan bahwa lima puluh hari sesudah  perayaan

buah sulung itu sama dengan 7 minggu (hari yang ketujuh yaitu  sabat, tambah satu

hari). Kebenaran ini telah diungkapkan oleh Wiersbe dan lebih lanjut beliau mengatakan

bahwa orang Kristen bersekutu dan berbakti pada hari minggu, hari pertama sebab  pada

hari  itu  Tuhan  Yesus  bangkit  dari  kematian,  dan  itu  juga  hari  Roh  Kudus  diberikan

kepada Gereja.

Ayat 2 ini menunjukkan bahwa hari Pencurahan Roh Kudus yaitu  merupakan

peristiwa yang terjadi diluar dugaan para murid. Memang sesudah  Tuhan Yesus naik ke

Sorga murid-murid menantikan dengan bertekun menantikan pencurahan Roh Kudus,

namun  tentang hari apa, jam berapa dan bagaimana carannya mereka tidak tahu. Hal itu

terlihat dimana ayat 2 ini dimulai dengan kata “Tiba-tiba turunlah dari langit..”  dengan

jelas ayat dua ini juga memberitahukan bahwa ada tiga tanda yang menakjubkan yang

menyertai  kedatangan Roh Kudus,  yaitu  suatu  tiupan angin  keras,  lidah-lidah  seperti

nyala api, dan orang-orang percaya yang memuji Tuhan dalam berbagai macam bahasa.

Yune Sun Park mengomentari ayat ini dengan mengatakan bahwa bunyi seperti tiupan

angin keras melambangkan kelahiran baru oleh kuasa Roh Kudus, sebagai penggenapan

janji  Tuhan  Yesus  (Yoh  3:3,8).  Api  melambangkan  kuasa  yang  menebarkan  dan

menaklukkan.  Dua hal  ini  terjadi  secara  bersamaan,  hal  itu  berarti  orang  yang telah

mengalami kelahiran baru harus memberitakan atau menyaksikan Injil. 

Kemudian ayat 3 yaitu  merupakan tanda pencurahan Roh Kudus, seperti yang

telah dijelaskan diatas.Dalam ayat 4, ada kalimat yang mengatakan “… penuhlah mereka

dengan Roh Kudus…” pemenuhan Roh itu berkaitan dengan kuasa untuk bersaksi dan

melayani (Kisah Para rasul 1:8). Di dalam Efesus 5:18 kita dihimbau untuk tetap penuh

dalam Roh,  sebab   memang  kita  membutuhkannya  dalam melayani  Tuhan.  Wiersbe

memberi  komentar bahwa pada hari Pentakosta orang-orang Kristen dipenuhi dengan

Roh Kudus dan mengalami baptisan Roh Kudus; namun  sesudah itu mereka berkali-kali

dipenuhi (Kisah Para Rasul 4:8,31;9:17;13:9), namun  tidak menerima baptisan Roh lagi. 

Kata ”baptize” dalam bahasa Yunani mempunyai dua arti, yaitu arti harafiah dan

arti kiasan. Secara harafiah, kata itu berarti “menenggelamkan,” namun  secara kiasan kata

itu berarti “di identifikasikan dengan.” Baptisan Roh yaitu  tindakan Allah, yang dengan-

Nya Dia mengidentifikasikan orang-orang percaya dengan Yesus Kristus, kepala gereja

yang ditinggikan itu, dan membentuk tubuh rohani Kristus di dunia (1Korintus 12:12-14).

Dalam sejarah, hal ini terjadi pada hari Pentakosta; namun  sekarang hal itu terjadi pada

kapan  saja  setiap  ada  orang  berdosa  yang  percaya  kepada  Kristus  dan  dilahirkan

kembali. Baptisan Roh itu terjadi dalam dua tahap: orang-orang Yahudi yang percaya di

baptis pada hari pentakosta dan orang-orang non- Yahudi di baptis dan ditambahkan ke

dalam Tubuh Kristus di rumah Kornelius. Kemudian dalam ayat 4, hal yang lain yang

perlu kita pahami yaitu  tentang perkataan: “…Lalu mereka mulai berkata-kata dalam

bahasa-bahasa yang lain…” untuk mempelajari hal ini kita harus melihat kelanjutan ayat

ini, yaitu mulai ayat 5-13, dimana Lukas mendaftarkan adanya orang-orang yang datang

dari lima belas lokasi geografis dan dengan jelas menegaskan bahwa penduduk masing-

masing tempat itu mendengar Petrus dan kawan-kawannya menyatakan perbuatan besar

yang dilakukan oleh Tuhan dalam bahasa yang mereka mengerti. Jadi yang dimaksud

dengan bahasa yang lain bukan berarti bahasa yang tidak dapat dimengerti. Lebih lanjut

jika kita melihat dalam ayat 6 dan 8, kata “bahasa” yang dipakai disana yaitu  διαλεκτω

dalam bahasa Inggris dialect . Dalam bahasa Indonesia kata ini mengacu kepada suatu

bahasa daerah atau dialek dari beberapa Negara atau daerah (21:40; 22:2; 26:14). 

Dalam Kisah Para Rasul dan juga 1Korintus disebutkan mengenai berkata-kata

dalam bahasa Roh itu yaitu  menunjuk kepada pengalaman yang sama, yaitu memuji

Allah di dalam Roh dalam bahasa yang dapat di mengerti, kecuali ada keterangan lain.

Berbicara tentang bahasa yang sering diperdebatkan dalam nats ini,  para komentator

Alkitab  mengatakan  bahwa  peristiwa  Pentakosta  merupakan  kebalikan  dari  kacau

balaunya  bahasa  pada  masa  pembangunan  menara  Babel  (Kej  11:1-9),  dimana


hukuman Allah di Babel mencerai beraikan manusia, sedang  berkat Allah pada hari

pentakosta mempersatukan orang-orang percaya di dalam Roh yang memakai bahasa

manusia.  Di  Babel  bahasa  seorang  dengan  yang  lainnya  berbeda  dan  tidak  saling

mengerti,  sementara  pada  Pentakosta  orang-orang  memuji  Allah  dan  sebagian  yang

mendengar mengerti kata-kata pujian itu. Pembangunan menara Babel sebenarnya ingin

meninggikan  manusia,  namun   di  Pentakosta  orang-orang  meninggikan  nama  Tuhan.

Pembangunan menara Babel yaitu  bentuk pemberontakan kepada Allah sedang 

Pentakosta  yaitu   orang-orang  yang  percaya  tunduk  dan  merendahkan  hati  kepada

Allah. Sebelum mengakhiri  ayat 4 ini, kita juga melihat ada satu hal yang indah yang

sering terlupakan dari pesan ayat 4 ini, dimana Ayat ini juga memberitahukan bahwa Injil

bukan hanya pada satu suku bangsa dan bahasa. namun  untuk seluruh dunia. Allah ingin

berbicara kepada setiap orang di dalam bahasa masing-masing dan memberi  berita

keselamatan dalam Yesus Kristus, “Sampai keujung bumi” (Kisah Para Rasul 1:8).

Ayat  5,  memberitahukan bahwa pada saat  itu  orang-orang  Israel  datang dari

berbagai daerah dimana mereka tinggal dan berkumpul di Yerusalem untuk merayakan

hari Pentakosta. 

Dalam ayat 6 dikatakan bahwa mereka bingung dan tercengang-cengang sebab 

mereka  mendengar  rasul-rasul  berkata-kata  dalam  bahasa  Negara  (daerah)  dimana

mereka tinggal.

Ayat 7 ini juga sudah dijelaskan dalam ayat yang ke lima dan keenam. Mungkin

yang agak penting kita pahami disini bahwa yang dimaksud dengan orang Galilea, disini

bisa saja menunjuk kedua belas rasul namun  juga bisa menunjuk kepada 120 orang itu,

sebab  sebagian besar diantara mereka mengikuti Yesus dari Galilea sampai Yerusalem.

Ayat 8, kembali memberitahukan bahwa bahasa yang dipakai oleh para rasul itu

yaitu  bahasa yang dapat dimengerti  oleh berbagai daerah atau Negara. Selanjutnya

ayat 9 -11 menguraikan asal daerah dan Negara orang-orang Yahudi yang datang itu.

Menurut uraian ayat ini orang-orang kafir dan orang-orang Yahudi datang dari 16 daerah,

berkumpul  di  Yerusalem  untuk  mendengar  Injil.  Dengan  kenyataan  ini  kita  dapat

menyimpulkan bahwa pencurahan Roh Kudus yaitu  permulaan pemberitaan Injil  ke

seluruh dunia. Kemudian ayat 12 dan 13 yaitu  merupakan respons dari orang banyak

tentang hal apa yang terjadi itu, sebagian ada yang tercengang dan berkata apa yang

terjadi  ini,  namun   sebagian  malah  menghujat  dengan berkata  bahwa  “Mereka  sedang

mabuk oleh  anggur  manis”.  Anggur  manis  (γλευκουζ)  yaitu   sari  buah  anggur  yang

beragi dan mengandung unsur yang memabukkan.

Ayat 14 – 40, yaitu  berisi tentang kotbah Petrus yang sangat luar biasa sekali.

Pada saat Petrus berkotbah dia tidak memakai  bahasa yang tidak dapat dimengerti

oleh para pendengarnya.  Dia memakai  bahasa Aram yaitu bahasa yang mereka

pergunakan  sehari-hari.  Kotbah  Petrus  itu  paling  tidak  berisi  tiga  penjelasan:  Ia

Menjelaskan apa yang sedang terjadi: Roh Kudus sudah datang (ay. 14-21). Ayat 14 ini

memperlihatkan kepemimpinan Petrus yang disertai dengan wibawa yang dari Allah Roh

Kudus. Selanjutnya pada ayat yang 15 Petrus menjelaskan bahwa orang-orang percaya

itu bukan sedang mabuk anggur manis sebab waktu itu masih jam sembilan pagi. Petrus

menjelaskan demikian sebab sebelum jam sembilan pagi pada hari Sabat atau hari raya

lainya orang-orang Yahudi Ortodoks tidak akan makan atau minum dan biasanya mereka

tidak akan minum anggur kecuali kalau sedang makan. Secara umum orang Yahudi tidak

akan minum anggur di pagi hari lihat Pengkotbah 10:16. selanjutnya pada ayat 16 Petrus

engatakan bahwa apa yang sedang terjadi itu sudah dinubuatkan dalam Perjanjian Lama,

sebagaimana  kita  ketahui  bahwa  orang-orang  Yahudi  sangat  menjung-jung  tinggi

Perjanjian Lama. Kemudian yang Petrus maksud tentang hari-hari terakhir dalam ayat 17

yaitu  εν ται εσχαταιζ yaitu  menunjuk pada zaman baru yang dinantikan oleh para nabi

di Perjanjian Lama. Hari-hari terakhir yang dimaksud yaitu  awal zaman baru dimana

Allah menggenapi rencana keselamatan-Nya bagi umat manusia. Kelanjutan dari ayat 17

ini  ada  kalimat  Aku  akan  mencurahkan  Roh-Ku  keatas  semua  manusia,  hal  ini

menekankan bahwa orang-orang yang akan mendapat berkat itu tanpa dibatasi oleh ras,

suku dan bahasa, bukan hanya kepada orang-orang Yahudi saja namun  tanpa terkecuali

(semua manusia). Kemudian dalam ayat ini diikuti kata Nubuat, penglihatan, mimpi yang

merupakan cara Allah untuk menyatakan Firman-Nya dalam zaman Perjanjian Lama.

Seluruh  kalimat  ini  mengandung makna bahwa dalam Perjanjian  Baru,  semua orang

percaya akan memperoleh anugerah Roh Kudus. Jadi bukan hanya orang-orang khusus

yang dapat meneria Firman seperti imam dan nabi-nabi dalam PL. dalam PB tidak ada

imam atau nabi seperti pada zaman PL. Tuhan Yesuslah imam besar dan orang-orang

percaya  yaitu   imam-imam  yang  dapat  berdiri  dihadapan  Allah  (1Petrus  2:9).  Ia

Memberitahukan tentang apa yang akan terjadi pada zaman akhir PB (ay 19-21) ayat ini

menjelaskan tentang apa yang akan terjadi pada zaman akhir PB, Dimana akan terjadi

perang (darah, api, gumpalan asap) dan berbagai bencana seperti perubahan matahari

dan bulan sebagai  tanda murka Allah.  Petrus mengungkapkan hal  ini  yaitu  supaya

pendengarnya ketakutan dan menyadari bahwa mereka butuh pertolongan, sebab tanda-

tanda ini yaitu  merupakan ancaman kebinasaan yang sangat menakutkan bagi setiap

orang. namun  barang siapa berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan.

Ia menjelaskan bagaimana Roh Kudus datang yaitu  sebab  Yesus Hidup (ay

22-35). Kita mengetahui bahwa berita tentang penangkapan, pengadilan dan penyaliban

Yesus dari Nazaret sudah tersebar luas, dan orang-orang juga telah mendengar berita

bohong bahwa para pengikut  Yesus telah  mencuri  mayat-Nya untuk membuat  orang

berpikir bahwa Ia telah menggenapi janji-Nya dan telah bangkit dari anatara orang mati.

namun   Petrus  pada  ayat  22  menjelaskan  kebenaran  kepada  mereka:  bahwa  Yesus

benar-benar  telah  bangkit  dari  antara  orang  mati,  dan  kebangkitan  itu  membuktikan

bahwa Ia yaitu  Mesias. Selanjutnya Petrus memberi  beberapa bukti Yesus sudah

bangkit  ,  dan  kemudian  mengundang  mereka  agar  percaya  kepada  Kristus  dan

diselamatkan. 

Bukti  yang  pertama yaitu   Pribadi  Yesus  Kristus  sendiri.  (ay  22-24)  para

pendengar Petrus mengetahui bahwa Yesus yaitu  pribadi yang nyata dari Nazaret, dan

bahwa Ia telah melakukan banyak tanda dan mukjizat.  Sebagian dari  mereka pernah

mendengar Dia berbicara dan memperhatikan kehidupan-Nya, bahkan mereka melihat

Dia  membangkitkan orang mati,  namun mereka tidak menemukan kesalahan apapun

pada-Nya – dan hal-hal ini tidak terjadi di tempat yang terpencil (Kisah Para Rasul 26:26).

Kembali  pada  ayat  23  Petrus  menunjukkan  kesalahan  dan  dosa-dosa  para

pendengarnya, dimana mereka telah ikut menyerahkan Yesus dan bahkan membunuh-

Nya dan bangsa itu disebut sebagai bangsa durhaka. Selanjutnya kata sengsara pada

ayat 24 diterjemahkan sama dengan sakit melahirkan, dan itu berarti bahwa kubur yaitu 

rahim yang melahirkan Yesus didalam kemuliaan kebangkitan. 

Bukti Perus yang kedua yaitu  nubuat Daud (ayat 25-31). Dia mengutip Mazmur

16:8-11, yaitu ayat yang jelas-jelas tidak dapat diterapkan kepada Daud sendiri sebab  ia

telah  mati  dan  dikuburkan.  Daud sebagai  nabi  Allah menulis  tentang  Mesias,  bahwa

Nyawa-Nya tidak akan tetap berada dalam dunia orang mati (Hades), atau bahwa tubuh-

Nya tidak akan tetap ada dan membusuk di kuburan. 

Bukti yang ketiga yaitu  kesaksian dari orang-orang percaya (ayat 33) sesudah

kebangkitan-Nya,  Yesus  tidak  menampakkan  diri  pada  dunia  pada  umumnya,  namun 

hanya kepada pengikut-pengikutNya, yang telah diberi amanat supaya mereka bersaksi

kepada yang lain bahwa Dia hidup (Kisah Para Rasul 1:3,22). Sekarang jika kita melihat

ketidak beranian para murid sebelum Dia bangkit dan dibandingkan dengan keberanian

mereka sesudah  Yesus bangkit yaitu  sangat menakjubkan sekali. Apalagi pada masa itu

berita  mereka  sangat  dikecam oleh  banyak orang  dan  kerap  kali  membawa mereka

kepada  penghakiman,  namun   sebab   Yesus  benar-benar  bangkit  mereka  tetap

memberitakan hal ini  tanpa ada rasa takut sedikitpun. 

Bukti Petrus yang  keempat  ialah Kehadiran Roh Kudus (ayat 33-36). Jika Roh

Kudus ada di dunia ini, maka Allahlah yang mengutus. Yoel mengumumkan bahwa pada

suatu saat nanti Roh Kudus akan datang, dan Yesus sendiri berjanji untuk mengutus Roh

Kudus kepada umat-Nya (Lukas 24:49; Yoh 14:26; Kisah Para Rasul 1:4).  namun  bila

Yesus tetap mati dan tidak bangkit, maka tidak akan dapat mengutus Roh Kudus yang

dijanjikan-Nya; jadi Dia pasti hidup dan lebih dibandingkan  itu Dia tidak akan dapat mengutus

Roh Kudus kalau Dia  tidak kembali  ke Surga.  Untuk menunjang pernyaan ini  Petrus

mengutip Mazmur 110:1, satu ayat yang tidak dapat diterapkan kepada Daud sendiri.

Petrus dari keempat bukti kebangkitan Kristus ini  sekaligus juga menunjukkan dosa

orang-orang Yahudi, dimana: Yesus yaitu  Mesias namun  mereka telah menyalibkan Dia

(Kisah Para Rasul 2:23). Petrus menunjukkan bahwa Israel telah mebunuh Mesiasnya

sendiri! itu yaitu  dosa dan kejahatan yang terbesar sepanjang sejara! Kotbah Petrus in

membuat para pendengarnya sangat ketakutan dan seolah-olah tidak ada harapan lagi

bagi  mereka  untuk  diselamatkan.  Ia  menjelaskan  mengapa  hal  itu  terjadi:  untuk

menyelamatkan orang-orang berdosa (ayat 37-41).

Sebelum bagian penutup kotbah Petrus, para pendengarnya telah ketakutan dan

akhirnya mengajukan pertayaan: “Apakah yang harus kami perbuat saudara-saudara?”

pertayaan  lahir  atas  ketakutan  yang  sangat  mendalam  sesudah   mengetahui  bahwa

mereka yaitu  orang yang sangat berdosa dan tidak terampunkan. Kemudian Petrus

memberitahukan kepada mereka bagaimana agar diselamatkan: mereka harus bertobat

dari dosa-dosa mereka dan percaya kepada Yesus Kristus. Kemudian mereka mereka

juga dihimbau untuk membuktikan ketulsan pertobatan dan iman mereka dengan cara di

baptis dalam nama Yesus Kristus. Terjemahan bahasa Indonesia Kisah Para rasul 2:38

menyiratkan bahwa orang harus di baptis agar diselamatkan. Pada hal dalam bahasa

aslinya:  untuk  pengampunan  dosamu,  kata  untuk  disini  memakai  kata  eis  yang

mempunyai arti atas dasar (sebab ). Jadi seharusnya ayat 38 diterjemahkan demikian:

“…Bertobatlah  dan  hendaklah  kamu  masing-masing  memberi  dirimu  di  baptis  dalam

nama  Yesus  Kristus  atas  dasar  (sebab )  pengapunan  dosamu,  maka  kamu  akan

menerima  karunia  Roh  Kudus.”  Memang  jika  kita  mempelajari  Kisah  Para  Rasul  ini

secara  keseluruhan  maka  kita  akan  melihat  bahwa  yang  merupakan keinginan  yang

pertama dari orang yang sudah diselamatkan yaitu  meminta diri di baptis. Hampir tidak

ditemukan dalam Kisah Para Rasul bahwa ada orang yag bertobat namun  tidak dibaptis. 

d. Kehidupan Gereja Mula-Mula (2:42-47)

Orang-orang  percaya  masih  terus  memakai   Bait  Allah  sebagai  tempat

mereka berjemaat dan melayani; disamping itu mereka juga bersekutu di rumah-rumah.

Ke- 3000 orang yang baru bertobat itu memerlukan bimbingan di dalam Firman Allah dan

persekutuan  dengan umat  Allah  supaya mereka dapat  bertumbuh dan  menjadi  saksi

yang efektf. Satu hal yang perlu diteladani oleh gereja masa kini dari gereja mula-mula,

dimana gereja mula-mula bukan hanya menjemaatkan orang-orang yang sudah bertobat,

tetap juga memuridkannya agar menjadi saksi bagi Kristus yang efektif.

Dalam ayat 42 ini kita juga menjumpai kata “memecahkan roti” ini lebih mengacu

kepada makan bersama. Dan sesudah  itu mereka sejenak mengingat Tuhan dengan apa

yang kita sebut “Perjamuan Tuhan.” Roti dan anggur yaitu  hal-hal yang biasa ada di

meja  makan  orang  Yahudi.  Kata  persekutuan  mempunyai  arti  lebih  dari  sekedar

“berkumpul.” Hal itu berarti memiliki kebersamaan dan mungkin mengacu kepada saling

berbagi harta namun  harus diingat bahwa apa yang dilakukan dalam persekutuan gereja

mula-mula ini  tidaklah sama dengan komunisme modern,  sebab  program itu  mereka

lakukan secara sukarela, bersifat sementara dan digerakkan oleh kasih. Bukan sebab 

paksaan, dan bukan sebab  dorongan politik.

Di bawah ini ada beberapa karakteristik Gereja mula-mula, yaitu: bersatu (2:44),

disukai oleh banyak orang (ay, 47a), berkembang (ay, 47b), Mempunyai kesaksian yang

kuat diantara orang-orang Yahudi yang belum diselamatkan, Mereka bersekutu setiap

hari (Kisah Para Rasul 2:46), melayani setiap hari (Kisah Para Rasul 6:1), memenangkan

jiwa setiap hari (2:47), dan menyelidiki Kitab Suci setiap hari (Kisah Para Rasul 17:11).

Kemudian sebelum kita melanjutkan pebahasan kita kepada fasal tiga, kita mengingat

kembali  bahwa janji  Tuhan masih  tetap berlaku:  “Barang siapa yang berseru kepada

nama Tuhan akan diselamatkan” (Kisah Para Rasul 2:21; Roma 10:13). Sudahkah anda

berseru? Sudahkah anda percaya kepada Yesus Kristus untuk keselamatan diri anda? 

2. Gereja Di Yerusalem (3:1 – 5:42)

a. Mukjizat dan khotbah Petrus (3:1-26)

Saat itu orang-orang percaya masih terikat  pada Bait  Allah,  dan pada waktu-

waktu doa tradisional (Mazmur 55:18; Daniel 6:10; Kisah Para Rasul 10:30). Selanjutnya

jika  kita  melihat  Kisah  Para  Rasul  1-10  yaitu   menggambarkan  satu  perubahan

pemberitaan Injil yang berangsur-angsur dari Israel ke non Israel, dan dari kekristenan

Yahudi (Kisah Para Rasul 21:20) kepada “satu tubuh” yang terdiri dari orang Yahudi dan

non Yahudi. Perlu waktu yang cukup supaya orang-orang Yahudi yang percaya dapat

benar-benar  memahami  tempat  orang-orang  non  Yahudi  dalam  program  Allah  dan

pemahaman ini terjadi melalui banyak pertentangan.

Kisah  Para  Rasul  3:1-26,  sangat  penting  kita  pahami  terutama  dalam  hal

penyampaian dan isi kotbah dari para Rasul kepada orang-orang Yahudi yang sangat

berhasil dan akhirnya mengakibatkan permusuhan pertama dari para pemimpin Yahudi.

Pada ayat 1 terlihat nama Petrus dan Yohanes, dimana kedua orang ini sering

disebut sebagai rasul yang utama dalam gereja mula-mula. Kedua tokoh ini sering terlihat

secara  bersama-sama  dalam  kitab  suci,  mereka  yaitu   rekan  seprofesi.  Sebelum

menjadi murid Yesus, yaitu sebagai penangkap ikan (Lukas 5:10); mereka sama-sama

mempersiapkan jamuan paskah terakhir bagi Tuhan Yesus (Lukas 22:8); mereka sama-

sama  berlari  ke  pekuburan  pada  hari  kebangkitan  Yesus  (Yoh  20:3-4)  dan  mereka

melayani orang-orang Samaria yang percaya kepada Yesus Kristus (Kisah Para Rasul

8:14),  sekarang  sesudah   mereka  penuh dengan Roh Kudus.  Rasul-rasul  ini  tidak  lagi

bersaing untuk menjadi yang terbesar, melainkan bekerja bersama-sama dengan setia

untuk membangun gereja.  Pada pasal  3:1  kedua rasul  ini  terlihat  masih  melanjutkan

kebiasaan menyembah Allah secara Yahudi di Bait Allah. Pukul tiga petang merupakan

saat berdoa dan mempersembahkan kurban malam hari.

Kemudian dalam ayat 2, kita menemui kata “Orang lumpuh sejak lahirnya”. Kata

ini  menekankan  bahwa  penyakit  kelumpuhan  itu  bukan  penyakit  yang  mudah

disembuhkan, atau barangkali lebih tepatnya disebut bahwa penyakit itu tidak akan bisa

disembuh oleh medis. Orang lumpuh itu diusung dan diletakkan di pintu gerbang indah

untuk mengharapkan pemberian sedekah, bukan yang bersifat rohani namun  lebih bersifat

materi. Hal ini juga banyak terjadi pada masa kini, banyak orang pergi ke gereja bukan

untuk mendapatkan hal-hal rohani namun  ingin mendapatkan berkat materi saja, namun

yang berbeda disini yaitu  bahwa Petrus hamba Tuhan itu memberitakan kepadanya

bahwa yang paling berharga baginya yaitu  Kristus dan dia menyuruh orang lumpuh itu

untuk bangkit,  dia percaya dan dia  menuruti  Petrus untuk berdiri,  walaupun memang

dengan  bantuan  tangan  Petrus.  sedang   dalam  gereja  masa  kini,  banyak  orang

datang  gereja  dengan  motivasi  ingin  mendapatkan  berkat  materi  dan  ternyata

pengkotbahnya juga mengkotbahkan hal-hal yang materi, sekarang ada banyak pendeta

hanya berkotbah bagaimana supaya sukses dalam dunia usaha. Tentu hal-hal seperti ini

berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Rasul Petrus. Rasul Petrus tahu bahwa ada

orang yang ingin mendapatkan kesembuhan badani,  namun   dia membimbingnya untuk

menerima kesembuhan rohani, yaitu sembuh dari penyakit dosa melalui percaya kepada

Kristus dan sesudah  itu kesembuhan badani mengikutinnya.

Ayat 3-4 menceritakan bahwa orang lumpuh itu melihat Petrus dan Yohanes mau

berjalan melewati tempat dimana si orang lumpuh itu diletakkan, kemudian orang lumpuh

itu berkata “lihatlah kepada kami” melalui perkataan itu terjadilah kontak mata, antara

Petrus dengan dia. Kontak mata selalu penting, dimana biasanya kontak kepribadian bisa

timbul sebab  dimulai dengan kontak mata. Petrus dan Yohanes perlu menatap orang

lumpuh itu, demikian juga dengan orang lumpuh itu perlu juga menatap kedua rasul itu.

namun  kita jangan sampai mengatakan bahwa kuasa Tuhan terjadi sebab  tatapan mata

Petrus. Kita lebih setuju mengatakan bahwa pelayanan yang berhasil yaitu  pelayanan

dimana pelayan dan yang dilayani ada dalam perhatian yang penuh.

Pada ayat 5-6 ini terlihat bahwa orang lumpuh itu mendapatkan yang jauh lebih

besar dibandingkan  apa yang dia harapkan. Perkataan Petrus “Emas dan perak tidak ada

padaku,  namun   apa yang kupunyai  ku berikan  kepadamu”  perkataan  ini  menunjukkan

kematangan  rohani  Petrus,  dia  kaya  dalam  hal  rohani.  Perkataan  itu  juga

menggambarkan bahwa betapa Petrus menempatkan Yesus yang paling berharga dalam

hidupnya.  Kita  sering  berkata  bahwa  kita  lebih  menghargai  Kristus  lebih  dari  segala

sesuatunya, namun  kadang kala kita lupa dan kadang kita sudah lebih menghargai emas

dan perak atau hal-hal duniawi lainnya. Petrus juga mengalami kepuasan hidup di dalam

Kristus sehingga dia selalu memberitakan nama Kristus itu. Dalam ayat ini juga Petrus

berkata  “Demi  nama  Yesus  Kristus  orang  Nazareth  itu  berjalanlah”  perintah  ini

menunjukkan  keyakinan  dari  Petrus  pada  kuasa  Kristus.  Petrus  memakai  kata  yang

pendek namun  memiliki kuasa yang luar biasa.

Ayat 7 menjelaskan bahwa Allah menyembuhkan orang lumpuh itu, dan pada

ayat ini juga terlihat bahwa Petrus memiliki keyakinan yang kuat, dia yakin bahwa orang

lumpuh itu akan sembuh. Lebih lanjut kita akan terpesona membaca ayat 8, dimana yang

lumpuh sejak lahirnya itu melonjak dan memuji-muji Tuhan. 

Pada ayat 9-10 dijelaskan bahwa semua rakyat melihat dia takjub dan heran.

Pada kesempatan seperti itu, Petrus belum puas sebab apa yang paling di inginkannya

bukanlah supaya orang lain mengetahui bahwa Yesus yaitu  penyembuh, namun  Petrus

mau menjelaskan bahwa Yesuslah satu-satunya juruselamat. Peristiwa yang terjadi pada

45


ayat  9-10  itu,  membuat  orang-orang  ramai  mengerumuni  Petrus.  Keadaan seperti  ini

yaitu  kesempatan yang sangat baik bagi Petrus untuk berkotbah tentang Injil.

Pada ayat 12, Petrus menjelaskan bahwa apa yang terjadi kepada orang lumpuh

itu bukan sebab  kehebatan dan kuasa Petrus namun  murni hanya sebab  kuasa Allah.

Hal ini  menjadi  pelajaran bagi para pengkotbah dan pelayan Tuhan, dimana mukjizat

yang benar seharusnya hanya meninggikan nama Tuhan, bukan pengkotbahnya.

Kemudian pada ayat 13 Petrus menegaskan bahwa Allah Israel, yaitu Allah yang

dipercaya  oleh  nenek  moyang  merekalah  yang  menyembuhkan  orang  lumpuh  itu.

Maksudnya bahwa mukjizat itu yaitu  pekerjaan Allah yang dikenal oleh orang Israel

sejak dahulu, yaitu Abraham Ishak dan Yakub yang seharusnya sudah mereka percayai

oleh sebab  janji-janjin-Nya kepada mereka (12-13). Ayat ini juga menjelaskan bahwa

mukjizat itu terjadi oleh sebab  Kristus yaitu  penggenapan nubuatan nabi-nabi sejak

dahulu (21-24). Oleh sebab  itu kedatangan Krstus sebenarnya bukanlah sesuatu yang

aneh untuk mereka percayai,  sebab kedatangan-Nya yaitu  penggenapan janji  Allah.

Petrus menjelaskan bahwa orang Israel  harus percaya kepada Allah dan hamba-Nya

yaitu Yesus yang telah menyembuhkan orang lumpuh itu. Kata hamba-Nya dikutip dari

Yesaya 52:13-53, yaitu nama Mesias. Petrus menyebut Yesus sebagai hamba sebab 

penderitaan-Nya  yang  tertulis  dalam  ayat  13-15,  dimana  Dia  merendahkan  diri-Nya

dengan mengambil rupa seorang hamba seperti yang dijelaskan dalam Filipi 2:7 khotbah

Petrus ini  bukan hanya menjelaskan fakta tentang Kristus, namun   juga menegor dosa-

dosa mereka, yaitu tentang apa yang telah mereka lakukan kepada Yesus. Mereka bukan

hanya menyerahkan Yesus kepada Filatus untuk di hakimi, namun  mereka juga menolak

anjuran Filatus dan mencegah Filatus untuk melepaskan Yesus. Dosa mereka yaitu 

merupakan dosa yang sangat keji yang selama ini tidak mereka perhatikan. Selama ini

mereka  berpikir  bahwa  mereka  telah  melakukan  tindakan  yang  benar  dengan

menyalibkan Yesus, ternyata itu yaitu  dosa yang sangat besar. Kemudian di ayat 14

menjelaskan lebih dalam lagi dimana tindakan mereka yaitu  merupakan penghianatan

yang  keji  terhadap  kebenaran,  yaitu  mereka  membunuh  Yesus  yang  benar  dan

membebaskan si pembunuh. Dalam PL Mesias sering disebut sebagai yang Kudus dan

yang Benar (Yesaya 53:11; Yeremia 33:15). Bandingkan dengan Yohanes 6:69; Kisah

Para Rasul 7:52; 22:14; 1 Yohanes 2:1). 

Selanjutnya pasal 3:15, merupakan bagan isi kotbah Petrus yang sangat penting,

disini  Petrus  sedang  memperlihatkan  dosa-dosa  para  pendengarnya  kembali  dengan

lebih tegas, dimana mereka telah membunuh Yesus yaitu Dia yang Petrus sebut sebagai

yang  meminpin  kepada  hidup,  “Demikianlah  Ia,  Pemimpin  kepada  hidup  telah  kamu

bunuh…” ini  menunjukkan betapa besarnya dosa mereka. Mereka telah menolak dan

membunuh Tuhan yang memberi kehidupan kepada manusia. Selanjutnya ayat ini juga

berkata “…namun  Allah telah membangkitkan-Nya dari antara orang mati. Berita ini juga

sebenarnya  bernuansa  penghakiman  Allah  terhadap  ketidakbenaran  orang  Yahudi.

Kebangkitan Yesus yaitu  kebenaran yang terbukti sendiri. Kemudian dalam ayat 15 ini

juga  Petrus  berkata  “Tentang  hal  itu  kami  yaitu   saksi,”  perlu  kita  ingat  bahwa

persyaratan  sebagai  rasul  Kristus  yaitu   orang  yang  melihat  dan  menyaksikan

kebangkitan Yesus dengan mata sendiri. Kata bersaksi dalam bahasaYunani μαρτυρια itu

selalu ada hubungannya dengan martir, artinya bahwa setiap oeang yang menjadi saksi

bagi Kristus harus siap menjadi martir.

Pada  ayat  16,  menjelaskan  bahwa  kepercayaan  dalam  nama  Yesus  telah

memberi kesembuhan kepada orang lumpuh itu. Petrus beriman kepada Yesus, namun 

orang lumpuh itu  sepertinya tidak memiliki  iman yang sama dengan Petrus,  namun   ia

mentaati Petrus yang beriman, itu berarti bahwa akhirnya orang lumpuh itu juga percaya

pada apa yang dipercaya Petrus (dia juga beriman). 

Kemudian  dilanjutkan  dengan  ayat  17,  dimana  Petrus  seolah  memberi 

penghiburan  kepada  para  pendengarnya  dia  berkata  “Kamu  telah  berbuat  demikian

sebab   ketidaktahuan,”  ini  merupakan  kalimat  yang  menghibur  dan  memberi

pengharapan kepada orang-orang berdosa yang membunuh Yesus Kristus Anak Allah,

mereka mempunyai kesempatan untuk bertobat dengan kata-kata yang menghiburkan.

“Kamu telah berbuat demikin sebab  ketidaktahuan,” perkataan ini bukan berarti bahwa

mereka dianggap tidak berdosa. Tindakan mereka tetap dosa meskipun dilakukan sebab 

ketidaktahuan. Hanya disini Petrus menegor mereka dengan lembut. 

Pada  ayat  18,  Petrus  menjelaskan  bahwa  penderitaan  Mesias  yaitu 

penggenapan  nubuatan,  bahwa  Mesias  yang  diutus-Nya  harus  menderita.  Memang



dalam Perjanjian Lama hal itu tidak di jelaskan secara gamblang. Namun dalam bagian

ini Petrus menjelaskannya dengan menunjukkan bahwa Hamba yang menderita (Yesaya

53) yaitu  mengacu kepada penderitaan-Nya. 

Selanjutnya  pada  ayat  19-21  Petrus  menantang  orang-orang  Yahudi  agar

bertobat dari dosa-dosa mereka dan berbalik kepada Allah. Ini akan berarti mengubah

pandangan mereka tentang Yesus dan mengakui Dia sebagai Mesias Allah.  Hasilnya

akan berupa kenyataan bahwa dosa mereka dihapuskan dan mereka dapat menikmati

waktu kelegaan yang dijanjikan oleh nabi-nabi Perjanjian Lama, yang mengacu kepada

kedatangan  Tuhan  yang  kedua  kali.  Lebih  lanjut  kata  Pemulihan  segala  sesuatu

(αποκαταστασεωζ)  yaitu   juga  menunjuk  kepada  kemuliaan  yang  akan  terjadi  pada

waktu Yesus datang kedua kali, pada waktu itu semua mahluk akan menjadi baru, itulah

kemuliaan (3:21).

Ayat 22, merupakan lanjutan dari ayat 21, dimana pada ayat 21 telah dikatakan

tentang  waktu  Yesus tinggal  di  sorga  sampai  pemulihan  segala  sesuatunnya.  Waktu

yang dimaksud disini  mengacu  pada masa Perjanjian  Baru,  yaitu  waktu  bagi  jemaat

untuk  percaya  kepada-Nya.  Musa telah  membicarakan  tentang  masa itu  (PB)  dalam

Ulangan  18:15  dikatakan  “Seorang  nabi  dari  tengah-tengahmu,  dari  antara  saudara-

saudaramu, sama seperti aku akan dibangkitkan bagimu oleh TUHAN, Allahmu; Dialah

yang harus kamu dengarkan” ayat ini telah digenapi dalam Kristus. Nabi (yang dimaksud

oleh ayat ini  yaitu  Yesus) yaitu  pengantara manusia dengan Allah (1Tim 2:5).

Jika  kita  mengadakan  penelitian  antara  Musa  dan  Yesus  Kristus,  memang  memiliki

banyak  persamaan  dimana:  Musa  memimpin  umat  Tuhan  dengan  Firman  dan  Roh

Kudus, bukan dengan pedang. Hidup matinya Umat Allah bergantung pada Firman Allah

yang disampaikan Musa. Demikian pula Mesias memimpin jemaat dengan Firman dan

Roh Kudus, hidup atau matinya jemaat bergantung pada Firman Mesias. 

Selanjutnya ayat 23 menjelaskan bahwa orang yang tidak mendengar Nabi itu

akan binasa sampai kekal. Ayat 24, mengatakan bahwa semua nabi termasuk Musa telah

menubuatkan kedatangan Mesias dan hal itu telah digenapi. Nubuatan tentang Mesias

bukan hanya bersifat lisan, namun  semua acara, peraturan dan bahan-bahan untuk korban

dalam Perjanjian Lama yaitu  melambangkan zaman Mesias, yang merupakan nubuat

Mesianis.  GZ.  Berkouwer  mengatakan,  “Nubuat  tentang  Mesias  dalam  PL,  bukan

sekedar  nubuat  yang  berulang  kali,  melainkan  seluruh  karya  penggenapan  Allah

mengandung karya Mesianis, sehingga jika kita tidak menggabungkan PL dengan PB kita

tidak dapat memahami Firman Allah

Dalam ayat 25, kata kamu sangat ditekankan oleh Petrus, dengan maksud agar

mereka mempercayai Tuhan Yesus Kristus. Selanjutnya Petrus mengungkapkan tentang

Janji Allah kepada Abraham, yang ada  dalam Kejadian 12:3; 22:18; 26:4; 28:14. di

dalam Kejadian 12:3 tertulis “…dan olehmu semua kaum dimuka bumi akan mendapat

berkat,” ini menunjukkan tentang keselamatan yang bersifat universal. Kejadian 22:18 “…

Oleh keturunanmulah semua bangsa dimuka bumi akan mendapat berkat.” Jadi dalam

ayat 25 ini Petrus menjelaskan tentang penggenapan janji Allah di dalam Yesus Kristus

dan  mengundang  mereka  untuk  bertobat.

Pada ayat 26 ini Petrus menjelaskan betapa Allah sangat mengasihi bangsa itu, dimana

Allah  membangkitkan  Yesus  dan  mengutus-Nya  kepada  mereka,  supaya  mereka

mendapat  berkat  dan  supaya  mereka  masing-masing  kembali  dari  segala  kejahatan

mereka. Istilah Hamba-Nya dalam ayat ini yaitu  menunjukkan ketaatan Mesias untuk

menggenapi kehendak Allah.

b. Perlawanan pertama dari para pemimpin Yahudi (4:1-37).

Salah  satu  tujuan  utama  dari  penulisan  kitab  Kisah  Para  Rasul  yaitu 

menunjukkan bahwa orang-orang Yahudi yang telah menolak dan menyalibkan Yesus

melanjutkan pemberontakan mereka terhadap Allah dengan menolak Injil tentang Yesus

yang telah bangkit dan naik ke sorga, sebagaimana telah diberitakan oleh para rasul.

Fasal 4:1-37 ini membahas awal penenatangan dari para pemimpin Yahudi. 

Ayat  1dan 2,  memberitahukan dimana Imam-imam dan kepala  pengawal  Bait

Allah, serta orang-orang Saduki, sangat marah sebab  rasul-rasul itu mengajar bahwa

dalam nama Yesus ada kebangkitan dari antara orang mati. Imam-imam yang dimaksud

disini lebih tepatnya ditafsirkan sebagai anggota golongan Imam dari golongan Saduki.

Golongan ini yaitu  yang tidak sepakat dengan golongan Farisi mengenai penafsiran

hukum  Taurat  dan  juga  menolak  doktrin  tentang  kebangkitan,  dan  menolak  doktrin


tentang adanya malaikat dan setan. namun  dalam ayat ini Orang-orang Saduki lebih jelas

dianggap sebagai orang-orang yang sepaham dengan Imam-Imam dari golongan Saduki.

Sementara kepala pengawal Bait Allah yaitu  seorang pejabat tinggi yang kekuasaan-

Nya berada langsung di bawah imam besar dan bertanggung jawab atas pemeliharaan

ketenangan dan keteraturan Bait Allah. Dalam ayat ini, kita juga menemukan kata sangat

marah διαπονουμενοι  diterjemahkan being distressed,  dalam bahasa Indonesia  dapat

diterjemahkan sebagai suatu perasaan yang tidak suka, atau sangat sakit hati.  Imam-

imam  merasa  sakit  hati  sebab   kuasa  rasul-rasul  yang  mengajar  orang  banyak  itu

bertentangan dengan kuasa yang mereka miliki. Orang-orang saduki sangat marah atas

pemberitaan rasul-rasul tentang kebangkitan Yesus, sebab  mereka tidak mempercayai

adanya kebangkitan. 

Ayat 3 terlihatlah reaksi imam-imam dan orang-orang saduki itu, dimana Petrus

dan  Yohanes  ditangkap  dan  dimasukkan  kedalam  penjara.  Peraturan  Rabi  Yahudi

melarang adanya pemeriksaan di malam hari, oleh sebab  itu rasul-rasul di tahan pada

malam itu di penjara. 

Ayat  4  menjelaskan  tentang  akibat  dari  khotbah  dan  berita  penahanan  itu,

dimana  jumlah  orang  percaya  semakin  meningkat.  Hal  ini  jelas  sekali  menunjukkan

bahwa pelayanan rasul-rasul itu berhasil bukan sebab  apa yang mereka katakan namun 

juga dipengaruhi oleh kesaksian hidup mereka yang kokoh di dalam apa yang mereka

ajarkan. Mereka rela di penjara demi Injil.  Sidang yang dimaksud dalam ayat 5 dan 6

yaitu   merupakan sidang tertinggi  bagi  orang Yahudi.  Sidang yang sama,  beberapa

bulan  sebelumnya  sudah  menjatuhkan  hukuman  mati  kepada  Yesus,  (bandingkan

dengan ayat 15). Sidang ini terdiri dari pemimpin-pemimpin Yahudi atau para imam, tua-

tua dan ahli-ahli  Taurat.  Yang merupakan guru professional tentang Perjanjian Lama.

Murid-murid mereka dinamakan orang-orang Farisi. saat  itu Imam besar yang bertugas

yaitu  Kayafas dan ia juga pimpinan Sanhedrin. Ayah mertuanya Hanas, yaitu  mantan

Imam besar dan kini merupakan semacam pejabat senior. Menurut Wiersbe Mahkamah

Agama yang berkumpul pada waktu itu (ayat 5-7), pada dasarnya terdiri dari keluarga

Imam besar, sebab  pada waktu itu sistem agama Yahudi sudah begitu bobrok, sehingga

jabatan-jabatan  agama  dialihkan  dari  anggota  keluarga  yang  satu  kepada  anggota

keluarga yang lain tanpa menghormati Firman Allah. saat  Hanas berhenti dari jabatan

ke imaman maka Kayafas menantunya dipilih untuk menempati jabatan itu. 

Kemudian ayat 7, Petrus dan Yohanes diperhadapkan kepada sidang Sanhedrin

dan dituntut untuk mengatakan dengan kuasa siapa mereka bertindak seperti itu, mereka

yaitu  orang awam, namun  mengapa mereka berani mengajar dan berkotbah. Kemudian

diayat 8, dikatakan bahwa Petrus penuh dengan Roh Kudus, oleh sebab itu dia berbicara

dengan begitu berani dan penuh dengan hikmat. Di ayat 9 Petrus dengan hikmat Ilahi

seakan  menanyakan  kembali  mengapa  mereka  diadili  sebab   melakukan  kebajikan,

bukankah yang diadili seharusnya yaitu  tindakan kejahatan. Cara Petrus ini sangat baik

sekali  di  terapkan  dalam situasi  dimana  jika  kita  dalam keadaan  dipojokkan  sebab 

kebenaran.  Dia  tidak  marah,  namun   dia  menunjukkan kesalahan dari  si  penuntut,  lalu

kemudian dia menjelaskan lebih rinci dalam ayat yang selanjutnya.

Pada  ayat  10  Petrus  menjelaskan  mengenai  bagaimana  mukjizat  itu  terjadi.

Sebenarnya  kemungkinan  besar  para  anggota  Sanhedrin  sudah  berkali-kali  melihat

pengemis  lumpuh itu.  Sebab itu  ada  pertayaan  yang  besar  bagi  mereka  bagaimana

orang itu disembuhkan? Petrus menjawab “Dalam Nama Yesus Kristus, Orang Nazaret”

perkataan  Petrus  ini  pasti  sangat  melukai  hati  para  anggota  Mahkamah  Agama  itu,

mereka berpikir bahwa sesudah  Yesus mati dan dikuburkan maka semuanya langsung

beres.  namun   ternyata murid-murid-Nya memproklamirkan bahwa Dia hidup. Kita tahu

bahwa orang-orang Saduki tidak percaya adanya kebangkitan orang mati, namun  Petrus

tetap memberitahukan kebenaran, dia tidak takut sedikitpun meskipun mereka sedang

dalam ancaman penjara dan hukuman mati. Sikap ini yaitu  sikap dari hamba Tuhan

yang sangat mengasihi Tuhan, dimana dia tidak mau berkompromi demi mencari aman.

Ayat 11 yaitu  penjelasan Petrus yang lebih dalam, dia mengutip dari Mazmur

118:22. Petrus berkata bahwa Yesus yaitu  Batu Penjuru yang dibuang oleh tukang-

tukang bangunan, sementara tukang bangunan yang dimaksud yaitu  orang-orang yang

duduk di  depan Petrus itu sendiri,  yaitu para anggota sidang Sanhedrin.  Hal  ini  juga

menunjukkan keberanian Petrus  yang  mengemukakan secara langsung tentang dosa

mereka, yaitu membunuh Yesus. Dalam ayat ini Petrus melambangkan Yesus sebagai

batu penjuru. Batu bukanlah hal yang baru bagi orang-orang yang ahli dalam Kitab Suci

48


Perjanjian Lama. Mereka tahu bahwa batu karang yaitu  lambang dari Allah (Ulangan

32:4,15,18,31;  2  Samuel  22:2;  Mazmur  18:3;  Yesaya  28:16),  Nabi  Daniel  juga  telah

memakai   istilah  batu  karang  untuk  menggambarkan  Mesias  dan  kedatangan

Kerajaan-Nya di  dunia  (Daniel  2:31-45).  Orang Yahudi  tersandung pada batu ini  dan

menolak Dia seperti yang dinubuatkan dalam Mazmur 118:22. Namun bagi mereka yang

percaya kepada-Nya, Yesus Kristus yaitu  batu penjuru yang berharga. Batu penjuru

yaitu  batu yang menyambungkan dua tembok Bait Allah. Batu ini  merupakan batu

fondasi.

Kemudian dalam ayat 12,  Petrus menjelaskan bahwa batu penjuru itu yaitu 

Juru selamat. Petrus juga memandang penyembuhan si  pengemis sebagai gambaran

kesembuhan  rohani  yang  membawa  kepada  keselamatan.  Menurut  Wiersbe  kata

disembuhkan dalam ayat 9 yang sudah kita bahas sebelumnya yaitu  memakai kata

Yunani  yang  sama  diterjemahkan  sebagai  keselamatan  dalam  ayat  12,  sebab 

keselamatan  berarti  kesembuhan  dari  penyakit  rohani.  Yesus  Kristus  yaitu   Dokter

Agung,  yaitu  satu-satunya dokter  yang dapat  menyembuhkan penyakit  manusia  yang

terbesar,  yaitu  penyakit  dosa.  (Markus  2:14-17).  Pada  waktu  Petrus  berbicara  dia

mengingat semua umat Israel (Kisah Para Rasul 4:10), sebab berita itu masih khusus

ditujukan kepada orang Yahudi. Bahkan Mazmur 118 yang dikutip oleh Petrus yaitu 

berbicara tentang keselamatan bagi umat Israel pada masa yang akan datang.

Pada ayat 13-14, kita melihat bahwa ada tiga hal yang memicu  anggota

sidang itu  tutup mulut,  dan tidak dapat  berbuat  apa-apa untuk membantah apa yang

dikatakan  Petrus,  antara  lain:  (1)  Rasul-rasul  yang  bukan  orang  terpelajar  itu  dapat

berkata-kata  dengan  berani  dan  terus  terang,  ini  bisa  kita  lihat  dalam ayat  13a.  (2)

sebab  rasul-rasul itu yaitu  murid Yesus Kristus, ini dapat kita lihat dalam ayat 13b

mereka dapat berkata-kata dengan berani sebab  di pimpin oleh Yesus. (3) orang yang

lumpuh yang sembuh itu telah menjadi saksi yang nyata di depan mata mereka, dimana

dia berdiri disamping rasul-rasul itu, ini terlihat dalam ayat 14.

Ayat 15 menceritakan bahwa sesudah  mereka menyuruh rasul-rasul itu disuruh

sementara untuk meninggalkan ruang sidang mereka masih mengadakan rapat tertutup.

Ini memperlihatkan perbedaan yang sangat menyolok, dimana rasul-rasul itu berbicara

secara terus terang dihadapan banyak orang secara umum, namun  sebaliknya anggota

sidang itu mengadakan pertemuan rahasia. Ini dapat digambarkan sebagai perbedaan

antara terang dan gelap. Kebenaran selalu terang dan adil, namun  ketidak benaran selalu

keji  dan licik.  Selanjutnya dalam sidang tertutup itu  ada indikasi  bahwa mereka mau

menyangkali  mukjizat  yang  telah  terjadi  itu,  namun   mereka  tidak  dapat  sebab   telah

tersebar  kepada seluruh  penduduk  Yerusalem.  Jika  kejadian  itu  tersebar  sedemikian

mereka tentu akan menutupinya meskipun hal itu benar dan nyata.

Selanjutnya  ayat  17-18  yaitu   memberitahukan  bahwa  sidang  Sanhedrin  itu

akhirnya memutuskan untuk mengancam rasul-rasul supaya tidak berbicara lagi dengan

siapapun dalam nama itu (dalam nama Yesus). 

Selanjutnya pada ayat 19 dan 20 para rasul itu memberi jawaban yang tajam dan

benar. Petrus berkata “Silahkan kamu putuskan sendiri manakah yang benar di hadapan

Allah: taat kepada kamu atau taat kepada Allah, sebab tidak mungkin bagi kami untuk

tidak berkata-kata tentang apa yang kami lihat dan yang telah kami dengar.” Para rasul

itu lebih memilih taat kepada Allah dibandingkan  kepada manusia.

Selanjutnya ayat  21-22 disebutkan bahwa sidang itu  tidak mempunyai  alasan

untuk  menghukum  rasul  Petrus  dan  Yohanes,  akhirnya  mereka  semakin  keras

mengancam rasul-rasul  itu  supaya  tidak  berbicara  lagi  dalam Nama Yesus.  Anggota

sidang itu bertindak demikian sebab  mereka takut akan semakin banyak lagi orang yang

memuliakan nama Tuhan sebab  apa yang telah terjadi itu, dimana orang yang lumpuh

sejak lahirnya itu sudah berumur lebih dari empat puluh tahun, dengan demikian penyakit

ini yaitu  penyakit yang tidak mungkin bisa di sembuhkan oleh manusia.

Ayat  23-24,  menceritakan  dimana sesudah   Petrus dan Yohanes meninggalkan

ruang  sidang  itu,  mereka  menemui  teman-teman  mereka  (rasul-rasul  lain).  Hal  ini

membuktikan dimana sesama pelayan dan umat Tuhan membutuhkan persatuan dan

butuh  untuk saling menguatkan.  Di  dalam doa,  mereka  menyebut  Allah dengan kata

Δεσποτα di terjemahkan tuan. Dalam penggunaanya kata ini biasanya digunakan untuk

panggilan  seorang  budak  kepada  tuannya  atau  panggilan  seorang  budak  kepada

majikannya.  Jadi  dengan  demikian  para  rasul  berseru  kepada  nama  Tuhan  dengan

menganggap diri mereka sebagai hamba atau budak dan telah memutuskan untuk selalu

menaati  tuannya  yaitu  Yesus Kristus.  Mereka  juga  menyebut  Allah  sebagai  pencipta

langit dan bumi, laut dan segala isinya. Dengan demikian kita mengetahui iman mereka,

dimana mereka percaya bahwa Allahlah yang menciptakan langit dan bumi dan segala

isinya dan oleh sebab  itu juga mereka percaya bahwa Allah berkuasa untuk menjawab

doa mereka.

Ayat  25-26 sebagian merupakan kutipan dari  Mazmur 2:1,  melalui  kutipan ini

Rasul-rasul  berseru  kepada  nama  Tuhan  sesuai  dengan  yang  dinubuatkan  dalam

Perjanjian Lama. Jika di ayat 23-24 di gambarkan bahwa Allah berfirman melalui ciptaan-

Nya dan ayat ini (25-26) menjelaskan bahwa Allah berfirman melalui firman-Nya yang

tertulis yaitu Alkitab. Ayat-ayat selanjutnya menjelaskan bahwa kutipan dari Mazmur ini

telah di genapi melalui penderitaan Yesus. Kita mengetahui bahwa bangsa-bangsa lain

(banyak orang) terus menerus menentang Kristus bahkan sampai sekarang, mulai dari

bangsa Romawi dan Yahudi yang menyalibkan Yesus, namun  tindakan mereka sia-sia.

Pertentangan  kepada  Injil  yaitu   pertentangan  terhadap  Allah  dan  Injil  akan  lebih

tersebar pada masa penganyiayaan.

Selanjutnya ayat 27-29 dijelaskan bahwa orang-orang percaya kembali menyebut

Yesus sebagai “Hamba-Mu yang Kudus, yang juga yaitu  diurapi.” Para orang percaya

yang berdoa itu mengidentifiksikan beberapa orang yang menjadi wakil dari banyak raja

di bumi dan dari banyak pembesar-pembesar di bumi ini yang melawan Kristus Yesus,

dimana Herodes Antipas yang yaitu  raja atas Yehuda dan Perea yaitu  mewakili raja-

raja  di  bumi,  Pontius  Pilatus  wali  negeri  Romawi  bagi  Yudea  yaitu   mewakili  para

pembesar.  Musuh-musuh lain di  dalam Mazmur itu di  identifikasikan sebagai bangsa-

bangsa dan suku-suku bangsa Israel yang bangkit melawan Yesus Kristus. namun  dibalik

semua  tindakan  manusia  yang  jahat  itu,  para  rasul  tahu  bahwa  semua  itu  yaitu 

penggenapan dari semua yang telah ditentukan Allah. Dalam ayat ini kita juga melihat

perkataan: “lihatlah bagaimana mereka mengancam kami” hal ini tidak berarti  mereka

meminta Allah untuk turut merasakan penderitaan mereka, melainkan memohon supaya

Tuhan  campur  tangan,  agar  ancaman  tindakan  itu  diubahkan  menjadi  penggenapan

kehendak Allah. Pada waktu itu rasul-rasul tidak menganggap penganyiayaan itu akan

mengganggu  penginjilan  mereka.  Mereka  percaya  bahwa  Allah  akan  menggenapi

kehendak-Nya  dengan  kuasa-Nya  yang  besar.  Rasul-rasul  itu  tidak  berdoa  supaya

musuh-musuh mereka tersingkir,  sebaliknya mereka berdoa supaya Allah menguatkan

mereka untuk memamfaatkan keadaan mereka sebaik-baiknya dan mencapai apa yang

telah ditetapkan oleh Allah. Mereka memohon kemampuan Ilahi, bukan melarikan diri dan

Allah mengaruniakan kekuatan yang mereka butuhkan. Kemudian Kisah Para Rasul 4:30

dimana  mereka  berdoa  supaya  Allah  melakukan  tanda-tanda  heran  dan  mukjizat-

mukjizat  dalam  pelayanan  mereka,  hal  itu  sangat  di  butuhkan  waktu  itu,  mengingat

bahwa  mereka  sering  di  fitnah  dan  ditekan  oleh  penguasa  dan  ahli-ahli  taurat.  Jadi

mukjizat dapat dipergunakan sebagai sarana untuk Penginjilan mereka. 

Selanjutnya pada ayat 31 ada suatu peristiwa yang hebat, dimana saat  mereka

sedang berdoa goyanglah tempat dimana mereka berkumpul, dan selanjutnya dikatakan

bahwa mereka penuh dengan Roh yang akhirnya membuat mereka menjadi lebih berani

lagi untuk mberitakan Injil. Peristiwa ini yaitu  merupakan jawaban doa mereka. Perlu

kita  ingat  bahwa peristiwa  itu  bukan  pentakosta  yang  kedua,  sebab   tidak  akan  ada

pentakosta  yang  kedua,  sama seperti  tidak  akan  ada  peristiwa Golgota  yang  kedua.

Peristiwa  itu  yaitu   pemenuhan  kembali  dengan  Roh,  guna  memperlengkapi  orang-

orang percaya untuk melayani.

Ayat 32-37 yaitu  merupakan satu rangkaian tentang sifat dan ciri persekutuan

gereja mula-mula. Ayat ini hampir sama dengan pasal 2:42-47. salah satu ciri khas yang

menonjol dari gereja yang dipenuhi Roh, dimana sangat terlihat adanya kesatuan, hal ini

dimanifestasikan  dalam  cara  hidup  mereka  yang  saling  membagi  kebutuhan  materi.

Untuk membantu jemaat yang lainnya maka orang yang memiliki harta menjual hartanya

untuk  dibagi-bagikan  kepada  yang  membutuhkannya.  Dan  para  Rasul  mengawasi

pelayanan kasih ini. Sebelum fasal ini diakhiri ada satu nama yang mendapat perhatian

khusus, yaitu orang yang menjadi salah satu contoh yang suka menjual hartanya untuk

membagi-bagikannya kepada jemaat yang membutuhkannya. Namanya yaitu  Yusuf,

oleh rasul-rasul dia di beri nama Barnabas. Nama keluarga Barnabas dapat berarti anak

penghiburan,  atau  anak  yang  memberi  dorongan  atau  semangat.  Nama  seperti  ini

biasanya disebut kepada orang yang memiliki watak yang sama dengan arti namanya.

c. Kematian Ananias dan Safira (5:1-16)

Kemunafikan yaitu  kebohongan yang disengaja, mencoba membuat orang lain

mengira bahwa kita lebih rohani dibandingkan  yang sebenarnya. Nama Ananias berarti Allah

itu pemurah, jadi nama Ananias itu yaitu  nama yang sangat baik, namun  pemilik nama

ini (Ananias dalam Kisah Para Rasul 5:1) barangkali tidak tahu atau mungkin sengaja

melupakan bahwa Allah itu bukan hanya pemurah, namun  juga Maha Kudus; dan Safira

artinya cantik,  namun   sudah kenyataan bahwa dia  buruk sekali  sebab  dosa.  Jadi  tak

heran kalau beberapa orang terkejut  saat  melihat  Allah membunuh kedua orang itu

hanya  sebab   berbohong  mengenai  transaksi  bisnis  dan  persembahan  mereka  ke

Gereja. namun  jika kita memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan dosa itu, maka kita

akan  sependapat  bahwa Allah  telah  melakukan  hal  yang  benar  dengan menghukum

mereka. Mengapa Ananias dan Safira di bunuh oleh Allah, yang tertera dalam Kisah Para

rasul 5:1-11, seperti berikut ini: Pada awalnya dosa Ananias dan Safira dikipasi oleh Iblis

(5:3);  dan ini  merupakan masalah serius.  Kalau Iblis  tidak dapat mengalahkan gereja

dengan  serangan  dari  luar,  maka  ia  akan  masuk  dan  bekerja  dari  dalam.  Ia  tahu

bagaimana  memperdayakan  pikiran  dan  hati  anggota-anggota  gereja,  bahkan  orang-

orang  Kristen  yang  sungguh-sungguh,  dan  memaksa  mereka  melakukan  perintah-

perintahnya.  Iblis  membuat  Ananias  dan  Safira  berdusta  yang  akhirnya  membawa

mereka kepada kematian. Tuhan ingin semua orang mengetahui bahwa Dia tidak akan

mentolerir dusta di dalam gereja-Nya. Dosa Ananias dan Safira yaitu  digerakkan oleh

kesombongan dan kesombongan yaitu  dosa yang secara khusus di benci Allah (Amsal

8:13). Tentu saat itu gereja sangat memuji Allah atas pemberian yang sangat besar dari

Barnabas saat  itu Iblis berbisik kepada pasangan suami-isteri ini,  “Kalian juga dapat

membuat orang lain berpikir bahwa kerohanian kalian setinggi Barnabas” dan suami isteri

itu  bukannya  menolak  pendekatan  Iblis,  mereka  malah  menyerah  dan  menyusun

rencana. Alasan lain bahwa mereka pantas dihukum mati, sebab  dosa mereka ditujukan

melawan gereja Tuhan, mereka mendustai Roh Kudus, mereka disebut mencobai Roh

Kudus.  Allah  sangat  mengasihi  gereja-Nya  dan  memeliharanya  dengan  sangat  baik,

sebab   gereja  itu  dibeli  dengan  darah  Anak  Allah  dan  ditempatkan  di  dunia  untuk

mempermuliakan  nama-Nya,  namun   Iblis  ingin  menghancurkannya  dengan  memakai

orang-orang yang ada dalam persekutuan gereja mula-mula itu. Seandainya Petrus tidak

waspada, tentu Ananias dan Safira akan menjadi orang yang berpengaruh di gereja dan

akhirnya mereka akan dipakai oleh Iblis lebih hebat lagi untuk menghancurkan gereja. 

Di  dalam 1Timotius  3:15 Gereja  di  sebut  sebagai  tiang  penopang dan dasar

kebenaran. Iblis menyerangnya dengan dusta. Gereja yaitu  Bait Allah – tempat tinggal

Allah (1 Korintus 3:16) dan Iblis juga ingin ma