ah. Alasan mengapa para rasul di sebut
ada dalam pimpinan Allah, dimana mereka sudah mengerti kebenaran dan Roh Kudus
menggerakkan Petrus mengutip Mazmur 69:26 dan Mazmur 109:8, jadi pemilihan itu
dilakukan bukan tidak berdasar, namun sebab pimpinan Roh Kudus. Lagi pula hal itu
dapat dibuktikan dengan ayat yang lain, dimana Matias juga diberi kuasa oleh Roh Kudus
sama dengan kuasa yang diberikan kepada rasul-rasul yang diplih langsung oleh Yesus.
(Kisah Para Rasul 2:1-4,14). Biasanya orang yang berpikiran bahwa Matias yaitu
pilihan yang salah sebab menganggap bahwa Pauluslah yang dipilih Allah untuk
menggantikan jabatan kerasulan Yudas. Pada hal Paulus sendiri mengakui bahwa dia
tidak termasuk dalam golonganke 12 Rasul (Galatia 1:15-24;1Kor 15:8-9). Lagi pula
tugas kedua belas rasul itu yang palng utama yaitu untuk melayani 12 suku Israel,
sedang Paulus diutus kepada orang-orang non Yahudi (Galatia 2:1-10). Hal yang lain
yang perlu di ingat bahwa kedua belas rasul itu (termasuk Matias) dipersiapkan untuk
duduk di 12 tahkta untuk menghakimi kedua belas suku Israel (Lukas 22:28-30).
Masih ada satu pertayaan lain yang sering juga menjadi perdebatkan yaitu
mengapa Yudas harus digantikan, padahal sesudah Yakobus mati dan rasul-rasul yang
lain mati tidak diganti. Alasannya yaitu sebab tugas paling uama dari kedua belas rasul
itu untuk menjadi saksi terutama kepada orang Yahudi. Jadi sejak berita itu sudah
ersebar kepada orang-orang non Yahudi maka penekanan kepada orang Yahudipun
mulai menurun. Jadi sesudah Rasul Yakobus mati syahid ( Kisah 12) tidak diganti lagi
sebab secara resmi kesaksian kepada bangsa Israel sudah selesai dan berita itu (Injil)
sudah tersebar kepada orang Yahudi dan juga non Yahudi. Kemudian tentang Kisah
Para Rasul 1:18, seakan-akan bertentangan dengan Matius 27:3-10. dimana dalam
Kisah Para Rasul 1:18 disebut bahwa Yudas telah membeli tanah dengan upah
kejahatannya, sedang dalam Matius 27:3-10 disebut bahwa Yudas melemparkan
uangnya ke dalam Bait Suci, dan kemudian para imam mengumpulkannya dan membeli
sebidang tanah dan tanah itu akhirnya disebut Hakal Dama. Wiersbe menjelaskan bahwa
kedua nats ini yaitu saling melengkapi, Yudas tidak membeli tanah itu sendiri, namun
uangnya dipaki untuk membeli tanah itu atas dasar itulah dia dianggap sebagai
pembelinya. Dalam bahasa Aram Hakal Dama mempunyai arti mengenai Yudas yang
menyerahkan Yesus, membuktikan bahwa pencurahan darah Yesus yaitu benar-benar
terjadi dalam sejarah. Jadi tanah itu disebut Tanah Darah bukan sebab darah Yudas.
namun sebab ketiga puluh keeping uang perak itu dipandang sebagai “uang darah,”
maka tanah itu disebut tanah darah.
Sebagai pembahasan penutup dari fasal satu ini, kita akhiri dengan membahas
cara pemilihan Matias, yaitu dengan membuang undi. Ini yaitu peristiwa terakhir dalam
Alkitab yang berkenaan dengan membuang undi. Cara ini dilakukan pada masa itu
sebab sulitnya untuk mengetahui kehendak Allah, berhubung Firman Allah belum
seluruhnya di wahyukan dengan jelas, namun kini Firman Allah telah komplit. Jadi jika kita
mau mencari kehendak Allah lebih baik kita bertanya kepada Alkitab.
c. Kedatangan Roh Kudus (2:1-41)
Kisah Para Rasul 2:1 yaitu berbicara tentang dimana gereja menantikan
pencurahan Roh Kudus. Hal itu terlihat jelas dari isi ayat yang pertama ini, “saat tiba
hari pentakosta, semua orang percaya berkumpul disuatu tempat.” Pentakosta berarti “ke
lima puluh” sebab dilakukan lima puluh hari sesudah perayaan buah sulung (Imamat
23:15-22). Hari-hari raya Yahudi yang tercatat dalam Imamat 23 merupakan garis besar
pekerjaan Tuhan Yesus Kristus. Paskah menggambarkan kematian-Nya sebagai Anak
Domba Allah (1 Korintus 5:7; Yohanes 1:29), dan hari raya buah sulung menggambarkan
kebangkitan-Nya dari antara orang mati (1 Korintus 15:20-23) kemudian lima puluh hari
sesudah hari raya buah sulung yaitu hari raya Pentakosta, yang merupakan awal
perluasan gereja Bangsa Yahudi memperingati diberikannya Hukum Taurat, namun orang
Kristen merayakannya sebab diberikannya Roh Kudus kepada Gereja.
Para teolog mengatakan bahwa hari raya buah sulung selalu dirayakan sehari
sesudah sabat sesudah paskah, berarti pada hari minggu (hari sabat yaitu hari
ketujuh). Yesus bangkit pada hari pertama, yaitu satu hari sesudah sabat (hari minggu),
Yesus bangkit sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal (1Korintus
15:20). Jadi dengan demikian hari pentakosta (lima puluh hari sesudah perayaan buah
sulung) tepat pada hari minggu, dengan alasan bahwa lima puluh hari sesudah perayaan
buah sulung itu sama dengan 7 minggu (hari yang ketujuh yaitu sabat, tambah satu
hari). Kebenaran ini telah diungkapkan oleh Wiersbe dan lebih lanjut beliau mengatakan
bahwa orang Kristen bersekutu dan berbakti pada hari minggu, hari pertama sebab pada
hari itu Tuhan Yesus bangkit dari kematian, dan itu juga hari Roh Kudus diberikan
kepada Gereja.
Ayat 2 ini menunjukkan bahwa hari Pencurahan Roh Kudus yaitu merupakan
peristiwa yang terjadi diluar dugaan para murid. Memang sesudah Tuhan Yesus naik ke
Sorga murid-murid menantikan dengan bertekun menantikan pencurahan Roh Kudus,
namun tentang hari apa, jam berapa dan bagaimana carannya mereka tidak tahu. Hal itu
terlihat dimana ayat 2 ini dimulai dengan kata “Tiba-tiba turunlah dari langit..” dengan
jelas ayat dua ini juga memberitahukan bahwa ada tiga tanda yang menakjubkan yang
menyertai kedatangan Roh Kudus, yaitu suatu tiupan angin keras, lidah-lidah seperti
nyala api, dan orang-orang percaya yang memuji Tuhan dalam berbagai macam bahasa.
Yune Sun Park mengomentari ayat ini dengan mengatakan bahwa bunyi seperti tiupan
angin keras melambangkan kelahiran baru oleh kuasa Roh Kudus, sebagai penggenapan
janji Tuhan Yesus (Yoh 3:3,8). Api melambangkan kuasa yang menebarkan dan
menaklukkan. Dua hal ini terjadi secara bersamaan, hal itu berarti orang yang telah
mengalami kelahiran baru harus memberitakan atau menyaksikan Injil.
Kemudian ayat 3 yaitu merupakan tanda pencurahan Roh Kudus, seperti yang
telah dijelaskan diatas.Dalam ayat 4, ada kalimat yang mengatakan “… penuhlah mereka
dengan Roh Kudus…” pemenuhan Roh itu berkaitan dengan kuasa untuk bersaksi dan
melayani (Kisah Para rasul 1:8). Di dalam Efesus 5:18 kita dihimbau untuk tetap penuh
dalam Roh, sebab memang kita membutuhkannya dalam melayani Tuhan. Wiersbe
memberi komentar bahwa pada hari Pentakosta orang-orang Kristen dipenuhi dengan
Roh Kudus dan mengalami baptisan Roh Kudus; namun sesudah itu mereka berkali-kali
dipenuhi (Kisah Para Rasul 4:8,31;9:17;13:9), namun tidak menerima baptisan Roh lagi.
Kata ”baptize” dalam bahasa Yunani mempunyai dua arti, yaitu arti harafiah dan
arti kiasan. Secara harafiah, kata itu berarti “menenggelamkan,” namun secara kiasan kata
itu berarti “di identifikasikan dengan.” Baptisan Roh yaitu tindakan Allah, yang dengan-
Nya Dia mengidentifikasikan orang-orang percaya dengan Yesus Kristus, kepala gereja
yang ditinggikan itu, dan membentuk tubuh rohani Kristus di dunia (1Korintus 12:12-14).
Dalam sejarah, hal ini terjadi pada hari Pentakosta; namun sekarang hal itu terjadi pada
kapan saja setiap ada orang berdosa yang percaya kepada Kristus dan dilahirkan
kembali. Baptisan Roh itu terjadi dalam dua tahap: orang-orang Yahudi yang percaya di
baptis pada hari pentakosta dan orang-orang non- Yahudi di baptis dan ditambahkan ke
dalam Tubuh Kristus di rumah Kornelius. Kemudian dalam ayat 4, hal yang lain yang
perlu kita pahami yaitu tentang perkataan: “…Lalu mereka mulai berkata-kata dalam
bahasa-bahasa yang lain…” untuk mempelajari hal ini kita harus melihat kelanjutan ayat
ini, yaitu mulai ayat 5-13, dimana Lukas mendaftarkan adanya orang-orang yang datang
dari lima belas lokasi geografis dan dengan jelas menegaskan bahwa penduduk masing-
masing tempat itu mendengar Petrus dan kawan-kawannya menyatakan perbuatan besar
yang dilakukan oleh Tuhan dalam bahasa yang mereka mengerti. Jadi yang dimaksud
dengan bahasa yang lain bukan berarti bahasa yang tidak dapat dimengerti. Lebih lanjut
jika kita melihat dalam ayat 6 dan 8, kata “bahasa” yang dipakai disana yaitu διαλεκτω
dalam bahasa Inggris dialect . Dalam bahasa Indonesia kata ini mengacu kepada suatu
bahasa daerah atau dialek dari beberapa Negara atau daerah (21:40; 22:2; 26:14).
Dalam Kisah Para Rasul dan juga 1Korintus disebutkan mengenai berkata-kata
dalam bahasa Roh itu yaitu menunjuk kepada pengalaman yang sama, yaitu memuji
Allah di dalam Roh dalam bahasa yang dapat di mengerti, kecuali ada keterangan lain.
Berbicara tentang bahasa yang sering diperdebatkan dalam nats ini, para komentator
Alkitab mengatakan bahwa peristiwa Pentakosta merupakan kebalikan dari kacau
balaunya bahasa pada masa pembangunan menara Babel (Kej 11:1-9), dimana
hukuman Allah di Babel mencerai beraikan manusia, sedang berkat Allah pada hari
pentakosta mempersatukan orang-orang percaya di dalam Roh yang memakai bahasa
manusia. Di Babel bahasa seorang dengan yang lainnya berbeda dan tidak saling
mengerti, sementara pada Pentakosta orang-orang memuji Allah dan sebagian yang
mendengar mengerti kata-kata pujian itu. Pembangunan menara Babel sebenarnya ingin
meninggikan manusia, namun di Pentakosta orang-orang meninggikan nama Tuhan.
Pembangunan menara Babel yaitu bentuk pemberontakan kepada Allah sedang
Pentakosta yaitu orang-orang yang percaya tunduk dan merendahkan hati kepada
Allah. Sebelum mengakhiri ayat 4 ini, kita juga melihat ada satu hal yang indah yang
sering terlupakan dari pesan ayat 4 ini, dimana Ayat ini juga memberitahukan bahwa Injil
bukan hanya pada satu suku bangsa dan bahasa. namun untuk seluruh dunia. Allah ingin
berbicara kepada setiap orang di dalam bahasa masing-masing dan memberi berita
keselamatan dalam Yesus Kristus, “Sampai keujung bumi” (Kisah Para Rasul 1:8).
Ayat 5, memberitahukan bahwa pada saat itu orang-orang Israel datang dari
berbagai daerah dimana mereka tinggal dan berkumpul di Yerusalem untuk merayakan
hari Pentakosta.
Dalam ayat 6 dikatakan bahwa mereka bingung dan tercengang-cengang sebab
mereka mendengar rasul-rasul berkata-kata dalam bahasa Negara (daerah) dimana
mereka tinggal.
Ayat 7 ini juga sudah dijelaskan dalam ayat yang ke lima dan keenam. Mungkin
yang agak penting kita pahami disini bahwa yang dimaksud dengan orang Galilea, disini
bisa saja menunjuk kedua belas rasul namun juga bisa menunjuk kepada 120 orang itu,
sebab sebagian besar diantara mereka mengikuti Yesus dari Galilea sampai Yerusalem.
Ayat 8, kembali memberitahukan bahwa bahasa yang dipakai oleh para rasul itu
yaitu bahasa yang dapat dimengerti oleh berbagai daerah atau Negara. Selanjutnya
ayat 9 -11 menguraikan asal daerah dan Negara orang-orang Yahudi yang datang itu.
Menurut uraian ayat ini orang-orang kafir dan orang-orang Yahudi datang dari 16 daerah,
berkumpul di Yerusalem untuk mendengar Injil. Dengan kenyataan ini kita dapat
menyimpulkan bahwa pencurahan Roh Kudus yaitu permulaan pemberitaan Injil ke
seluruh dunia. Kemudian ayat 12 dan 13 yaitu merupakan respons dari orang banyak
tentang hal apa yang terjadi itu, sebagian ada yang tercengang dan berkata apa yang
terjadi ini, namun sebagian malah menghujat dengan berkata bahwa “Mereka sedang
mabuk oleh anggur manis”. Anggur manis (γλευκουζ) yaitu sari buah anggur yang
beragi dan mengandung unsur yang memabukkan.
Ayat 14 – 40, yaitu berisi tentang kotbah Petrus yang sangat luar biasa sekali.
Pada saat Petrus berkotbah dia tidak memakai bahasa yang tidak dapat dimengerti
oleh para pendengarnya. Dia memakai bahasa Aram yaitu bahasa yang mereka
pergunakan sehari-hari. Kotbah Petrus itu paling tidak berisi tiga penjelasan: Ia
Menjelaskan apa yang sedang terjadi: Roh Kudus sudah datang (ay. 14-21). Ayat 14 ini
memperlihatkan kepemimpinan Petrus yang disertai dengan wibawa yang dari Allah Roh
Kudus. Selanjutnya pada ayat yang 15 Petrus menjelaskan bahwa orang-orang percaya
itu bukan sedang mabuk anggur manis sebab waktu itu masih jam sembilan pagi. Petrus
menjelaskan demikian sebab sebelum jam sembilan pagi pada hari Sabat atau hari raya
lainya orang-orang Yahudi Ortodoks tidak akan makan atau minum dan biasanya mereka
tidak akan minum anggur kecuali kalau sedang makan. Secara umum orang Yahudi tidak
akan minum anggur di pagi hari lihat Pengkotbah 10:16. selanjutnya pada ayat 16 Petrus
engatakan bahwa apa yang sedang terjadi itu sudah dinubuatkan dalam Perjanjian Lama,
sebagaimana kita ketahui bahwa orang-orang Yahudi sangat menjung-jung tinggi
Perjanjian Lama. Kemudian yang Petrus maksud tentang hari-hari terakhir dalam ayat 17
yaitu εν ται εσχαταιζ yaitu menunjuk pada zaman baru yang dinantikan oleh para nabi
di Perjanjian Lama. Hari-hari terakhir yang dimaksud yaitu awal zaman baru dimana
Allah menggenapi rencana keselamatan-Nya bagi umat manusia. Kelanjutan dari ayat 17
ini ada kalimat Aku akan mencurahkan Roh-Ku keatas semua manusia, hal ini
menekankan bahwa orang-orang yang akan mendapat berkat itu tanpa dibatasi oleh ras,
suku dan bahasa, bukan hanya kepada orang-orang Yahudi saja namun tanpa terkecuali
(semua manusia). Kemudian dalam ayat ini diikuti kata Nubuat, penglihatan, mimpi yang
merupakan cara Allah untuk menyatakan Firman-Nya dalam zaman Perjanjian Lama.
Seluruh kalimat ini mengandung makna bahwa dalam Perjanjian Baru, semua orang
percaya akan memperoleh anugerah Roh Kudus. Jadi bukan hanya orang-orang khusus
yang dapat meneria Firman seperti imam dan nabi-nabi dalam PL. dalam PB tidak ada
imam atau nabi seperti pada zaman PL. Tuhan Yesuslah imam besar dan orang-orang
percaya yaitu imam-imam yang dapat berdiri dihadapan Allah (1Petrus 2:9). Ia
Memberitahukan tentang apa yang akan terjadi pada zaman akhir PB (ay 19-21) ayat ini
menjelaskan tentang apa yang akan terjadi pada zaman akhir PB, Dimana akan terjadi
perang (darah, api, gumpalan asap) dan berbagai bencana seperti perubahan matahari
dan bulan sebagai tanda murka Allah. Petrus mengungkapkan hal ini yaitu supaya
pendengarnya ketakutan dan menyadari bahwa mereka butuh pertolongan, sebab tanda-
tanda ini yaitu merupakan ancaman kebinasaan yang sangat menakutkan bagi setiap
orang. namun barang siapa berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan.
Ia menjelaskan bagaimana Roh Kudus datang yaitu sebab Yesus Hidup (ay
22-35). Kita mengetahui bahwa berita tentang penangkapan, pengadilan dan penyaliban
Yesus dari Nazaret sudah tersebar luas, dan orang-orang juga telah mendengar berita
bohong bahwa para pengikut Yesus telah mencuri mayat-Nya untuk membuat orang
berpikir bahwa Ia telah menggenapi janji-Nya dan telah bangkit dari anatara orang mati.
namun Petrus pada ayat 22 menjelaskan kebenaran kepada mereka: bahwa Yesus
benar-benar telah bangkit dari antara orang mati, dan kebangkitan itu membuktikan
bahwa Ia yaitu Mesias. Selanjutnya Petrus memberi beberapa bukti Yesus sudah
bangkit , dan kemudian mengundang mereka agar percaya kepada Kristus dan
diselamatkan.
Bukti yang pertama yaitu Pribadi Yesus Kristus sendiri. (ay 22-24) para
pendengar Petrus mengetahui bahwa Yesus yaitu pribadi yang nyata dari Nazaret, dan
bahwa Ia telah melakukan banyak tanda dan mukjizat. Sebagian dari mereka pernah
mendengar Dia berbicara dan memperhatikan kehidupan-Nya, bahkan mereka melihat
Dia membangkitkan orang mati, namun mereka tidak menemukan kesalahan apapun
pada-Nya – dan hal-hal ini tidak terjadi di tempat yang terpencil (Kisah Para Rasul 26:26).
Kembali pada ayat 23 Petrus menunjukkan kesalahan dan dosa-dosa para
pendengarnya, dimana mereka telah ikut menyerahkan Yesus dan bahkan membunuh-
Nya dan bangsa itu disebut sebagai bangsa durhaka. Selanjutnya kata sengsara pada
ayat 24 diterjemahkan sama dengan sakit melahirkan, dan itu berarti bahwa kubur yaitu
rahim yang melahirkan Yesus didalam kemuliaan kebangkitan.
Bukti Perus yang kedua yaitu nubuat Daud (ayat 25-31). Dia mengutip Mazmur
16:8-11, yaitu ayat yang jelas-jelas tidak dapat diterapkan kepada Daud sendiri sebab ia
telah mati dan dikuburkan. Daud sebagai nabi Allah menulis tentang Mesias, bahwa
Nyawa-Nya tidak akan tetap berada dalam dunia orang mati (Hades), atau bahwa tubuh-
Nya tidak akan tetap ada dan membusuk di kuburan.
Bukti yang ketiga yaitu kesaksian dari orang-orang percaya (ayat 33) sesudah
kebangkitan-Nya, Yesus tidak menampakkan diri pada dunia pada umumnya, namun
hanya kepada pengikut-pengikutNya, yang telah diberi amanat supaya mereka bersaksi
kepada yang lain bahwa Dia hidup (Kisah Para Rasul 1:3,22). Sekarang jika kita melihat
ketidak beranian para murid sebelum Dia bangkit dan dibandingkan dengan keberanian
mereka sesudah Yesus bangkit yaitu sangat menakjubkan sekali. Apalagi pada masa itu
berita mereka sangat dikecam oleh banyak orang dan kerap kali membawa mereka
kepada penghakiman, namun sebab Yesus benar-benar bangkit mereka tetap
memberitakan hal ini tanpa ada rasa takut sedikitpun.
Bukti Petrus yang keempat ialah Kehadiran Roh Kudus (ayat 33-36). Jika Roh
Kudus ada di dunia ini, maka Allahlah yang mengutus. Yoel mengumumkan bahwa pada
suatu saat nanti Roh Kudus akan datang, dan Yesus sendiri berjanji untuk mengutus Roh
Kudus kepada umat-Nya (Lukas 24:49; Yoh 14:26; Kisah Para Rasul 1:4). namun bila
Yesus tetap mati dan tidak bangkit, maka tidak akan dapat mengutus Roh Kudus yang
dijanjikan-Nya; jadi Dia pasti hidup dan lebih dibandingkan itu Dia tidak akan dapat mengutus
Roh Kudus kalau Dia tidak kembali ke Surga. Untuk menunjang pernyaan ini Petrus
mengutip Mazmur 110:1, satu ayat yang tidak dapat diterapkan kepada Daud sendiri.
Petrus dari keempat bukti kebangkitan Kristus ini sekaligus juga menunjukkan dosa
orang-orang Yahudi, dimana: Yesus yaitu Mesias namun mereka telah menyalibkan Dia
(Kisah Para Rasul 2:23). Petrus menunjukkan bahwa Israel telah mebunuh Mesiasnya
sendiri! itu yaitu dosa dan kejahatan yang terbesar sepanjang sejara! Kotbah Petrus in
membuat para pendengarnya sangat ketakutan dan seolah-olah tidak ada harapan lagi
bagi mereka untuk diselamatkan. Ia menjelaskan mengapa hal itu terjadi: untuk
menyelamatkan orang-orang berdosa (ayat 37-41).
Sebelum bagian penutup kotbah Petrus, para pendengarnya telah ketakutan dan
akhirnya mengajukan pertayaan: “Apakah yang harus kami perbuat saudara-saudara?”
pertayaan lahir atas ketakutan yang sangat mendalam sesudah mengetahui bahwa
mereka yaitu orang yang sangat berdosa dan tidak terampunkan. Kemudian Petrus
memberitahukan kepada mereka bagaimana agar diselamatkan: mereka harus bertobat
dari dosa-dosa mereka dan percaya kepada Yesus Kristus. Kemudian mereka mereka
juga dihimbau untuk membuktikan ketulsan pertobatan dan iman mereka dengan cara di
baptis dalam nama Yesus Kristus. Terjemahan bahasa Indonesia Kisah Para rasul 2:38
menyiratkan bahwa orang harus di baptis agar diselamatkan. Pada hal dalam bahasa
aslinya: untuk pengampunan dosamu, kata untuk disini memakai kata eis yang
mempunyai arti atas dasar (sebab ). Jadi seharusnya ayat 38 diterjemahkan demikian:
“…Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu di baptis dalam
nama Yesus Kristus atas dasar (sebab ) pengapunan dosamu, maka kamu akan
menerima karunia Roh Kudus.” Memang jika kita mempelajari Kisah Para Rasul ini
secara keseluruhan maka kita akan melihat bahwa yang merupakan keinginan yang
pertama dari orang yang sudah diselamatkan yaitu meminta diri di baptis. Hampir tidak
ditemukan dalam Kisah Para Rasul bahwa ada orang yag bertobat namun tidak dibaptis.
d. Kehidupan Gereja Mula-Mula (2:42-47)
Orang-orang percaya masih terus memakai Bait Allah sebagai tempat
mereka berjemaat dan melayani; disamping itu mereka juga bersekutu di rumah-rumah.
Ke- 3000 orang yang baru bertobat itu memerlukan bimbingan di dalam Firman Allah dan
persekutuan dengan umat Allah supaya mereka dapat bertumbuh dan menjadi saksi
yang efektf. Satu hal yang perlu diteladani oleh gereja masa kini dari gereja mula-mula,
dimana gereja mula-mula bukan hanya menjemaatkan orang-orang yang sudah bertobat,
tetap juga memuridkannya agar menjadi saksi bagi Kristus yang efektif.
Dalam ayat 42 ini kita juga menjumpai kata “memecahkan roti” ini lebih mengacu
kepada makan bersama. Dan sesudah itu mereka sejenak mengingat Tuhan dengan apa
yang kita sebut “Perjamuan Tuhan.” Roti dan anggur yaitu hal-hal yang biasa ada di
meja makan orang Yahudi. Kata persekutuan mempunyai arti lebih dari sekedar
“berkumpul.” Hal itu berarti memiliki kebersamaan dan mungkin mengacu kepada saling
berbagi harta namun harus diingat bahwa apa yang dilakukan dalam persekutuan gereja
mula-mula ini tidaklah sama dengan komunisme modern, sebab program itu mereka
lakukan secara sukarela, bersifat sementara dan digerakkan oleh kasih. Bukan sebab
paksaan, dan bukan sebab dorongan politik.
Di bawah ini ada beberapa karakteristik Gereja mula-mula, yaitu: bersatu (2:44),
disukai oleh banyak orang (ay, 47a), berkembang (ay, 47b), Mempunyai kesaksian yang
kuat diantara orang-orang Yahudi yang belum diselamatkan, Mereka bersekutu setiap
hari (Kisah Para Rasul 2:46), melayani setiap hari (Kisah Para Rasul 6:1), memenangkan
jiwa setiap hari (2:47), dan menyelidiki Kitab Suci setiap hari (Kisah Para Rasul 17:11).
Kemudian sebelum kita melanjutkan pebahasan kita kepada fasal tiga, kita mengingat
kembali bahwa janji Tuhan masih tetap berlaku: “Barang siapa yang berseru kepada
nama Tuhan akan diselamatkan” (Kisah Para Rasul 2:21; Roma 10:13). Sudahkah anda
berseru? Sudahkah anda percaya kepada Yesus Kristus untuk keselamatan diri anda?
2. Gereja Di Yerusalem (3:1 – 5:42)
a. Mukjizat dan khotbah Petrus (3:1-26)
Saat itu orang-orang percaya masih terikat pada Bait Allah, dan pada waktu-
waktu doa tradisional (Mazmur 55:18; Daniel 6:10; Kisah Para Rasul 10:30). Selanjutnya
jika kita melihat Kisah Para Rasul 1-10 yaitu menggambarkan satu perubahan
pemberitaan Injil yang berangsur-angsur dari Israel ke non Israel, dan dari kekristenan
Yahudi (Kisah Para Rasul 21:20) kepada “satu tubuh” yang terdiri dari orang Yahudi dan
non Yahudi. Perlu waktu yang cukup supaya orang-orang Yahudi yang percaya dapat
benar-benar memahami tempat orang-orang non Yahudi dalam program Allah dan
pemahaman ini terjadi melalui banyak pertentangan.
Kisah Para Rasul 3:1-26, sangat penting kita pahami terutama dalam hal
penyampaian dan isi kotbah dari para Rasul kepada orang-orang Yahudi yang sangat
berhasil dan akhirnya mengakibatkan permusuhan pertama dari para pemimpin Yahudi.
Pada ayat 1 terlihat nama Petrus dan Yohanes, dimana kedua orang ini sering
disebut sebagai rasul yang utama dalam gereja mula-mula. Kedua tokoh ini sering terlihat
secara bersama-sama dalam kitab suci, mereka yaitu rekan seprofesi. Sebelum
menjadi murid Yesus, yaitu sebagai penangkap ikan (Lukas 5:10); mereka sama-sama
mempersiapkan jamuan paskah terakhir bagi Tuhan Yesus (Lukas 22:8); mereka sama-
sama berlari ke pekuburan pada hari kebangkitan Yesus (Yoh 20:3-4) dan mereka
melayani orang-orang Samaria yang percaya kepada Yesus Kristus (Kisah Para Rasul
8:14), sekarang sesudah mereka penuh dengan Roh Kudus. Rasul-rasul ini tidak lagi
bersaing untuk menjadi yang terbesar, melainkan bekerja bersama-sama dengan setia
untuk membangun gereja. Pada pasal 3:1 kedua rasul ini terlihat masih melanjutkan
kebiasaan menyembah Allah secara Yahudi di Bait Allah. Pukul tiga petang merupakan
saat berdoa dan mempersembahkan kurban malam hari.
Kemudian dalam ayat 2, kita menemui kata “Orang lumpuh sejak lahirnya”. Kata
ini menekankan bahwa penyakit kelumpuhan itu bukan penyakit yang mudah
disembuhkan, atau barangkali lebih tepatnya disebut bahwa penyakit itu tidak akan bisa
disembuh oleh medis. Orang lumpuh itu diusung dan diletakkan di pintu gerbang indah
untuk mengharapkan pemberian sedekah, bukan yang bersifat rohani namun lebih bersifat
materi. Hal ini juga banyak terjadi pada masa kini, banyak orang pergi ke gereja bukan
untuk mendapatkan hal-hal rohani namun ingin mendapatkan berkat materi saja, namun
yang berbeda disini yaitu bahwa Petrus hamba Tuhan itu memberitakan kepadanya
bahwa yang paling berharga baginya yaitu Kristus dan dia menyuruh orang lumpuh itu
untuk bangkit, dia percaya dan dia menuruti Petrus untuk berdiri, walaupun memang
dengan bantuan tangan Petrus. sedang dalam gereja masa kini, banyak orang
datang gereja dengan motivasi ingin mendapatkan berkat materi dan ternyata
pengkotbahnya juga mengkotbahkan hal-hal yang materi, sekarang ada banyak pendeta
hanya berkotbah bagaimana supaya sukses dalam dunia usaha. Tentu hal-hal seperti ini
berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Rasul Petrus. Rasul Petrus tahu bahwa ada
orang yang ingin mendapatkan kesembuhan badani, namun dia membimbingnya untuk
menerima kesembuhan rohani, yaitu sembuh dari penyakit dosa melalui percaya kepada
Kristus dan sesudah itu kesembuhan badani mengikutinnya.
Ayat 3-4 menceritakan bahwa orang lumpuh itu melihat Petrus dan Yohanes mau
berjalan melewati tempat dimana si orang lumpuh itu diletakkan, kemudian orang lumpuh
itu berkata “lihatlah kepada kami” melalui perkataan itu terjadilah kontak mata, antara
Petrus dengan dia. Kontak mata selalu penting, dimana biasanya kontak kepribadian bisa
timbul sebab dimulai dengan kontak mata. Petrus dan Yohanes perlu menatap orang
lumpuh itu, demikian juga dengan orang lumpuh itu perlu juga menatap kedua rasul itu.
namun kita jangan sampai mengatakan bahwa kuasa Tuhan terjadi sebab tatapan mata
Petrus. Kita lebih setuju mengatakan bahwa pelayanan yang berhasil yaitu pelayanan
dimana pelayan dan yang dilayani ada dalam perhatian yang penuh.
Pada ayat 5-6 ini terlihat bahwa orang lumpuh itu mendapatkan yang jauh lebih
besar dibandingkan apa yang dia harapkan. Perkataan Petrus “Emas dan perak tidak ada
padaku, namun apa yang kupunyai ku berikan kepadamu” perkataan ini menunjukkan
kematangan rohani Petrus, dia kaya dalam hal rohani. Perkataan itu juga
menggambarkan bahwa betapa Petrus menempatkan Yesus yang paling berharga dalam
hidupnya. Kita sering berkata bahwa kita lebih menghargai Kristus lebih dari segala
sesuatunya, namun kadang kala kita lupa dan kadang kita sudah lebih menghargai emas
dan perak atau hal-hal duniawi lainnya. Petrus juga mengalami kepuasan hidup di dalam
Kristus sehingga dia selalu memberitakan nama Kristus itu. Dalam ayat ini juga Petrus
berkata “Demi nama Yesus Kristus orang Nazareth itu berjalanlah” perintah ini
menunjukkan keyakinan dari Petrus pada kuasa Kristus. Petrus memakai kata yang
pendek namun memiliki kuasa yang luar biasa.
Ayat 7 menjelaskan bahwa Allah menyembuhkan orang lumpuh itu, dan pada
ayat ini juga terlihat bahwa Petrus memiliki keyakinan yang kuat, dia yakin bahwa orang
lumpuh itu akan sembuh. Lebih lanjut kita akan terpesona membaca ayat 8, dimana yang
lumpuh sejak lahirnya itu melonjak dan memuji-muji Tuhan.
Pada ayat 9-10 dijelaskan bahwa semua rakyat melihat dia takjub dan heran.
Pada kesempatan seperti itu, Petrus belum puas sebab apa yang paling di inginkannya
bukanlah supaya orang lain mengetahui bahwa Yesus yaitu penyembuh, namun Petrus
mau menjelaskan bahwa Yesuslah satu-satunya juruselamat. Peristiwa yang terjadi pada
45
ayat 9-10 itu, membuat orang-orang ramai mengerumuni Petrus. Keadaan seperti ini
yaitu kesempatan yang sangat baik bagi Petrus untuk berkotbah tentang Injil.
Pada ayat 12, Petrus menjelaskan bahwa apa yang terjadi kepada orang lumpuh
itu bukan sebab kehebatan dan kuasa Petrus namun murni hanya sebab kuasa Allah.
Hal ini menjadi pelajaran bagi para pengkotbah dan pelayan Tuhan, dimana mukjizat
yang benar seharusnya hanya meninggikan nama Tuhan, bukan pengkotbahnya.
Kemudian pada ayat 13 Petrus menegaskan bahwa Allah Israel, yaitu Allah yang
dipercaya oleh nenek moyang merekalah yang menyembuhkan orang lumpuh itu.
Maksudnya bahwa mukjizat itu yaitu pekerjaan Allah yang dikenal oleh orang Israel
sejak dahulu, yaitu Abraham Ishak dan Yakub yang seharusnya sudah mereka percayai
oleh sebab janji-janjin-Nya kepada mereka (12-13). Ayat ini juga menjelaskan bahwa
mukjizat itu terjadi oleh sebab Kristus yaitu penggenapan nubuatan nabi-nabi sejak
dahulu (21-24). Oleh sebab itu kedatangan Krstus sebenarnya bukanlah sesuatu yang
aneh untuk mereka percayai, sebab kedatangan-Nya yaitu penggenapan janji Allah.
Petrus menjelaskan bahwa orang Israel harus percaya kepada Allah dan hamba-Nya
yaitu Yesus yang telah menyembuhkan orang lumpuh itu. Kata hamba-Nya dikutip dari
Yesaya 52:13-53, yaitu nama Mesias. Petrus menyebut Yesus sebagai hamba sebab
penderitaan-Nya yang tertulis dalam ayat 13-15, dimana Dia merendahkan diri-Nya
dengan mengambil rupa seorang hamba seperti yang dijelaskan dalam Filipi 2:7 khotbah
Petrus ini bukan hanya menjelaskan fakta tentang Kristus, namun juga menegor dosa-
dosa mereka, yaitu tentang apa yang telah mereka lakukan kepada Yesus. Mereka bukan
hanya menyerahkan Yesus kepada Filatus untuk di hakimi, namun mereka juga menolak
anjuran Filatus dan mencegah Filatus untuk melepaskan Yesus. Dosa mereka yaitu
merupakan dosa yang sangat keji yang selama ini tidak mereka perhatikan. Selama ini
mereka berpikir bahwa mereka telah melakukan tindakan yang benar dengan
menyalibkan Yesus, ternyata itu yaitu dosa yang sangat besar. Kemudian di ayat 14
menjelaskan lebih dalam lagi dimana tindakan mereka yaitu merupakan penghianatan
yang keji terhadap kebenaran, yaitu mereka membunuh Yesus yang benar dan
membebaskan si pembunuh. Dalam PL Mesias sering disebut sebagai yang Kudus dan
yang Benar (Yesaya 53:11; Yeremia 33:15). Bandingkan dengan Yohanes 6:69; Kisah
Para Rasul 7:52; 22:14; 1 Yohanes 2:1).
Selanjutnya pasal 3:15, merupakan bagan isi kotbah Petrus yang sangat penting,
disini Petrus sedang memperlihatkan dosa-dosa para pendengarnya kembali dengan
lebih tegas, dimana mereka telah membunuh Yesus yaitu Dia yang Petrus sebut sebagai
yang meminpin kepada hidup, “Demikianlah Ia, Pemimpin kepada hidup telah kamu
bunuh…” ini menunjukkan betapa besarnya dosa mereka. Mereka telah menolak dan
membunuh Tuhan yang memberi kehidupan kepada manusia. Selanjutnya ayat ini juga
berkata “…namun Allah telah membangkitkan-Nya dari antara orang mati. Berita ini juga
sebenarnya bernuansa penghakiman Allah terhadap ketidakbenaran orang Yahudi.
Kebangkitan Yesus yaitu kebenaran yang terbukti sendiri. Kemudian dalam ayat 15 ini
juga Petrus berkata “Tentang hal itu kami yaitu saksi,” perlu kita ingat bahwa
persyaratan sebagai rasul Kristus yaitu orang yang melihat dan menyaksikan
kebangkitan Yesus dengan mata sendiri. Kata bersaksi dalam bahasaYunani μαρτυρια itu
selalu ada hubungannya dengan martir, artinya bahwa setiap oeang yang menjadi saksi
bagi Kristus harus siap menjadi martir.
Pada ayat 16, menjelaskan bahwa kepercayaan dalam nama Yesus telah
memberi kesembuhan kepada orang lumpuh itu. Petrus beriman kepada Yesus, namun
orang lumpuh itu sepertinya tidak memiliki iman yang sama dengan Petrus, namun ia
mentaati Petrus yang beriman, itu berarti bahwa akhirnya orang lumpuh itu juga percaya
pada apa yang dipercaya Petrus (dia juga beriman).
Kemudian dilanjutkan dengan ayat 17, dimana Petrus seolah memberi
penghiburan kepada para pendengarnya dia berkata “Kamu telah berbuat demikian
sebab ketidaktahuan,” ini merupakan kalimat yang menghibur dan memberi
pengharapan kepada orang-orang berdosa yang membunuh Yesus Kristus Anak Allah,
mereka mempunyai kesempatan untuk bertobat dengan kata-kata yang menghiburkan.
“Kamu telah berbuat demikin sebab ketidaktahuan,” perkataan ini bukan berarti bahwa
mereka dianggap tidak berdosa. Tindakan mereka tetap dosa meskipun dilakukan sebab
ketidaktahuan. Hanya disini Petrus menegor mereka dengan lembut.
Pada ayat 18, Petrus menjelaskan bahwa penderitaan Mesias yaitu
penggenapan nubuatan, bahwa Mesias yang diutus-Nya harus menderita. Memang
dalam Perjanjian Lama hal itu tidak di jelaskan secara gamblang. Namun dalam bagian
ini Petrus menjelaskannya dengan menunjukkan bahwa Hamba yang menderita (Yesaya
53) yaitu mengacu kepada penderitaan-Nya.
Selanjutnya pada ayat 19-21 Petrus menantang orang-orang Yahudi agar
bertobat dari dosa-dosa mereka dan berbalik kepada Allah. Ini akan berarti mengubah
pandangan mereka tentang Yesus dan mengakui Dia sebagai Mesias Allah. Hasilnya
akan berupa kenyataan bahwa dosa mereka dihapuskan dan mereka dapat menikmati
waktu kelegaan yang dijanjikan oleh nabi-nabi Perjanjian Lama, yang mengacu kepada
kedatangan Tuhan yang kedua kali. Lebih lanjut kata Pemulihan segala sesuatu
(αποκαταστασεωζ) yaitu juga menunjuk kepada kemuliaan yang akan terjadi pada
waktu Yesus datang kedua kali, pada waktu itu semua mahluk akan menjadi baru, itulah
kemuliaan (3:21).
Ayat 22, merupakan lanjutan dari ayat 21, dimana pada ayat 21 telah dikatakan
tentang waktu Yesus tinggal di sorga sampai pemulihan segala sesuatunnya. Waktu
yang dimaksud disini mengacu pada masa Perjanjian Baru, yaitu waktu bagi jemaat
untuk percaya kepada-Nya. Musa telah membicarakan tentang masa itu (PB) dalam
Ulangan 18:15 dikatakan “Seorang nabi dari tengah-tengahmu, dari antara saudara-
saudaramu, sama seperti aku akan dibangkitkan bagimu oleh TUHAN, Allahmu; Dialah
yang harus kamu dengarkan” ayat ini telah digenapi dalam Kristus. Nabi (yang dimaksud
oleh ayat ini yaitu Yesus) yaitu pengantara manusia dengan Allah (1Tim 2:5).
Jika kita mengadakan penelitian antara Musa dan Yesus Kristus, memang memiliki
banyak persamaan dimana: Musa memimpin umat Tuhan dengan Firman dan Roh
Kudus, bukan dengan pedang. Hidup matinya Umat Allah bergantung pada Firman Allah
yang disampaikan Musa. Demikian pula Mesias memimpin jemaat dengan Firman dan
Roh Kudus, hidup atau matinya jemaat bergantung pada Firman Mesias.
Selanjutnya ayat 23 menjelaskan bahwa orang yang tidak mendengar Nabi itu
akan binasa sampai kekal. Ayat 24, mengatakan bahwa semua nabi termasuk Musa telah
menubuatkan kedatangan Mesias dan hal itu telah digenapi. Nubuatan tentang Mesias
bukan hanya bersifat lisan, namun semua acara, peraturan dan bahan-bahan untuk korban
dalam Perjanjian Lama yaitu melambangkan zaman Mesias, yang merupakan nubuat
Mesianis. GZ. Berkouwer mengatakan, “Nubuat tentang Mesias dalam PL, bukan
sekedar nubuat yang berulang kali, melainkan seluruh karya penggenapan Allah
mengandung karya Mesianis, sehingga jika kita tidak menggabungkan PL dengan PB kita
tidak dapat memahami Firman Allah
Dalam ayat 25, kata kamu sangat ditekankan oleh Petrus, dengan maksud agar
mereka mempercayai Tuhan Yesus Kristus. Selanjutnya Petrus mengungkapkan tentang
Janji Allah kepada Abraham, yang ada dalam Kejadian 12:3; 22:18; 26:4; 28:14. di
dalam Kejadian 12:3 tertulis “…dan olehmu semua kaum dimuka bumi akan mendapat
berkat,” ini menunjukkan tentang keselamatan yang bersifat universal. Kejadian 22:18 “…
Oleh keturunanmulah semua bangsa dimuka bumi akan mendapat berkat.” Jadi dalam
ayat 25 ini Petrus menjelaskan tentang penggenapan janji Allah di dalam Yesus Kristus
dan mengundang mereka untuk bertobat.
Pada ayat 26 ini Petrus menjelaskan betapa Allah sangat mengasihi bangsa itu, dimana
Allah membangkitkan Yesus dan mengutus-Nya kepada mereka, supaya mereka
mendapat berkat dan supaya mereka masing-masing kembali dari segala kejahatan
mereka. Istilah Hamba-Nya dalam ayat ini yaitu menunjukkan ketaatan Mesias untuk
menggenapi kehendak Allah.
b. Perlawanan pertama dari para pemimpin Yahudi (4:1-37).
Salah satu tujuan utama dari penulisan kitab Kisah Para Rasul yaitu
menunjukkan bahwa orang-orang Yahudi yang telah menolak dan menyalibkan Yesus
melanjutkan pemberontakan mereka terhadap Allah dengan menolak Injil tentang Yesus
yang telah bangkit dan naik ke sorga, sebagaimana telah diberitakan oleh para rasul.
Fasal 4:1-37 ini membahas awal penenatangan dari para pemimpin Yahudi.
Ayat 1dan 2, memberitahukan dimana Imam-imam dan kepala pengawal Bait
Allah, serta orang-orang Saduki, sangat marah sebab rasul-rasul itu mengajar bahwa
dalam nama Yesus ada kebangkitan dari antara orang mati. Imam-imam yang dimaksud
disini lebih tepatnya ditafsirkan sebagai anggota golongan Imam dari golongan Saduki.
Golongan ini yaitu yang tidak sepakat dengan golongan Farisi mengenai penafsiran
hukum Taurat dan juga menolak doktrin tentang kebangkitan, dan menolak doktrin
tentang adanya malaikat dan setan. namun dalam ayat ini Orang-orang Saduki lebih jelas
dianggap sebagai orang-orang yang sepaham dengan Imam-Imam dari golongan Saduki.
Sementara kepala pengawal Bait Allah yaitu seorang pejabat tinggi yang kekuasaan-
Nya berada langsung di bawah imam besar dan bertanggung jawab atas pemeliharaan
ketenangan dan keteraturan Bait Allah. Dalam ayat ini, kita juga menemukan kata sangat
marah διαπονουμενοι diterjemahkan being distressed, dalam bahasa Indonesia dapat
diterjemahkan sebagai suatu perasaan yang tidak suka, atau sangat sakit hati. Imam-
imam merasa sakit hati sebab kuasa rasul-rasul yang mengajar orang banyak itu
bertentangan dengan kuasa yang mereka miliki. Orang-orang saduki sangat marah atas
pemberitaan rasul-rasul tentang kebangkitan Yesus, sebab mereka tidak mempercayai
adanya kebangkitan.
Ayat 3 terlihatlah reaksi imam-imam dan orang-orang saduki itu, dimana Petrus
dan Yohanes ditangkap dan dimasukkan kedalam penjara. Peraturan Rabi Yahudi
melarang adanya pemeriksaan di malam hari, oleh sebab itu rasul-rasul di tahan pada
malam itu di penjara.
Ayat 4 menjelaskan tentang akibat dari khotbah dan berita penahanan itu,
dimana jumlah orang percaya semakin meningkat. Hal ini jelas sekali menunjukkan
bahwa pelayanan rasul-rasul itu berhasil bukan sebab apa yang mereka katakan namun
juga dipengaruhi oleh kesaksian hidup mereka yang kokoh di dalam apa yang mereka
ajarkan. Mereka rela di penjara demi Injil. Sidang yang dimaksud dalam ayat 5 dan 6
yaitu merupakan sidang tertinggi bagi orang Yahudi. Sidang yang sama, beberapa
bulan sebelumnya sudah menjatuhkan hukuman mati kepada Yesus, (bandingkan
dengan ayat 15). Sidang ini terdiri dari pemimpin-pemimpin Yahudi atau para imam, tua-
tua dan ahli-ahli Taurat. Yang merupakan guru professional tentang Perjanjian Lama.
Murid-murid mereka dinamakan orang-orang Farisi. saat itu Imam besar yang bertugas
yaitu Kayafas dan ia juga pimpinan Sanhedrin. Ayah mertuanya Hanas, yaitu mantan
Imam besar dan kini merupakan semacam pejabat senior. Menurut Wiersbe Mahkamah
Agama yang berkumpul pada waktu itu (ayat 5-7), pada dasarnya terdiri dari keluarga
Imam besar, sebab pada waktu itu sistem agama Yahudi sudah begitu bobrok, sehingga
jabatan-jabatan agama dialihkan dari anggota keluarga yang satu kepada anggota
keluarga yang lain tanpa menghormati Firman Allah. saat Hanas berhenti dari jabatan
ke imaman maka Kayafas menantunya dipilih untuk menempati jabatan itu.
Kemudian ayat 7, Petrus dan Yohanes diperhadapkan kepada sidang Sanhedrin
dan dituntut untuk mengatakan dengan kuasa siapa mereka bertindak seperti itu, mereka
yaitu orang awam, namun mengapa mereka berani mengajar dan berkotbah. Kemudian
diayat 8, dikatakan bahwa Petrus penuh dengan Roh Kudus, oleh sebab itu dia berbicara
dengan begitu berani dan penuh dengan hikmat. Di ayat 9 Petrus dengan hikmat Ilahi
seakan menanyakan kembali mengapa mereka diadili sebab melakukan kebajikan,
bukankah yang diadili seharusnya yaitu tindakan kejahatan. Cara Petrus ini sangat baik
sekali di terapkan dalam situasi dimana jika kita dalam keadaan dipojokkan sebab
kebenaran. Dia tidak marah, namun dia menunjukkan kesalahan dari si penuntut, lalu
kemudian dia menjelaskan lebih rinci dalam ayat yang selanjutnya.
Pada ayat 10 Petrus menjelaskan mengenai bagaimana mukjizat itu terjadi.
Sebenarnya kemungkinan besar para anggota Sanhedrin sudah berkali-kali melihat
pengemis lumpuh itu. Sebab itu ada pertayaan yang besar bagi mereka bagaimana
orang itu disembuhkan? Petrus menjawab “Dalam Nama Yesus Kristus, Orang Nazaret”
perkataan Petrus ini pasti sangat melukai hati para anggota Mahkamah Agama itu,
mereka berpikir bahwa sesudah Yesus mati dan dikuburkan maka semuanya langsung
beres. namun ternyata murid-murid-Nya memproklamirkan bahwa Dia hidup. Kita tahu
bahwa orang-orang Saduki tidak percaya adanya kebangkitan orang mati, namun Petrus
tetap memberitahukan kebenaran, dia tidak takut sedikitpun meskipun mereka sedang
dalam ancaman penjara dan hukuman mati. Sikap ini yaitu sikap dari hamba Tuhan
yang sangat mengasihi Tuhan, dimana dia tidak mau berkompromi demi mencari aman.
Ayat 11 yaitu penjelasan Petrus yang lebih dalam, dia mengutip dari Mazmur
118:22. Petrus berkata bahwa Yesus yaitu Batu Penjuru yang dibuang oleh tukang-
tukang bangunan, sementara tukang bangunan yang dimaksud yaitu orang-orang yang
duduk di depan Petrus itu sendiri, yaitu para anggota sidang Sanhedrin. Hal ini juga
menunjukkan keberanian Petrus yang mengemukakan secara langsung tentang dosa
mereka, yaitu membunuh Yesus. Dalam ayat ini Petrus melambangkan Yesus sebagai
batu penjuru. Batu bukanlah hal yang baru bagi orang-orang yang ahli dalam Kitab Suci
48
Perjanjian Lama. Mereka tahu bahwa batu karang yaitu lambang dari Allah (Ulangan
32:4,15,18,31; 2 Samuel 22:2; Mazmur 18:3; Yesaya 28:16), Nabi Daniel juga telah
memakai istilah batu karang untuk menggambarkan Mesias dan kedatangan
Kerajaan-Nya di dunia (Daniel 2:31-45). Orang Yahudi tersandung pada batu ini dan
menolak Dia seperti yang dinubuatkan dalam Mazmur 118:22. Namun bagi mereka yang
percaya kepada-Nya, Yesus Kristus yaitu batu penjuru yang berharga. Batu penjuru
yaitu batu yang menyambungkan dua tembok Bait Allah. Batu ini merupakan batu
fondasi.
Kemudian dalam ayat 12, Petrus menjelaskan bahwa batu penjuru itu yaitu
Juru selamat. Petrus juga memandang penyembuhan si pengemis sebagai gambaran
kesembuhan rohani yang membawa kepada keselamatan. Menurut Wiersbe kata
disembuhkan dalam ayat 9 yang sudah kita bahas sebelumnya yaitu memakai kata
Yunani yang sama diterjemahkan sebagai keselamatan dalam ayat 12, sebab
keselamatan berarti kesembuhan dari penyakit rohani. Yesus Kristus yaitu Dokter
Agung, yaitu satu-satunya dokter yang dapat menyembuhkan penyakit manusia yang
terbesar, yaitu penyakit dosa. (Markus 2:14-17). Pada waktu Petrus berbicara dia
mengingat semua umat Israel (Kisah Para Rasul 4:10), sebab berita itu masih khusus
ditujukan kepada orang Yahudi. Bahkan Mazmur 118 yang dikutip oleh Petrus yaitu
berbicara tentang keselamatan bagi umat Israel pada masa yang akan datang.
Pada ayat 13-14, kita melihat bahwa ada tiga hal yang memicu anggota
sidang itu tutup mulut, dan tidak dapat berbuat apa-apa untuk membantah apa yang
dikatakan Petrus, antara lain: (1) Rasul-rasul yang bukan orang terpelajar itu dapat
berkata-kata dengan berani dan terus terang, ini bisa kita lihat dalam ayat 13a. (2)
sebab rasul-rasul itu yaitu murid Yesus Kristus, ini dapat kita lihat dalam ayat 13b
mereka dapat berkata-kata dengan berani sebab di pimpin oleh Yesus. (3) orang yang
lumpuh yang sembuh itu telah menjadi saksi yang nyata di depan mata mereka, dimana
dia berdiri disamping rasul-rasul itu, ini terlihat dalam ayat 14.
Ayat 15 menceritakan bahwa sesudah mereka menyuruh rasul-rasul itu disuruh
sementara untuk meninggalkan ruang sidang mereka masih mengadakan rapat tertutup.
Ini memperlihatkan perbedaan yang sangat menyolok, dimana rasul-rasul itu berbicara
secara terus terang dihadapan banyak orang secara umum, namun sebaliknya anggota
sidang itu mengadakan pertemuan rahasia. Ini dapat digambarkan sebagai perbedaan
antara terang dan gelap. Kebenaran selalu terang dan adil, namun ketidak benaran selalu
keji dan licik. Selanjutnya dalam sidang tertutup itu ada indikasi bahwa mereka mau
menyangkali mukjizat yang telah terjadi itu, namun mereka tidak dapat sebab telah
tersebar kepada seluruh penduduk Yerusalem. Jika kejadian itu tersebar sedemikian
mereka tentu akan menutupinya meskipun hal itu benar dan nyata.
Selanjutnya ayat 17-18 yaitu memberitahukan bahwa sidang Sanhedrin itu
akhirnya memutuskan untuk mengancam rasul-rasul supaya tidak berbicara lagi dengan
siapapun dalam nama itu (dalam nama Yesus).
Selanjutnya pada ayat 19 dan 20 para rasul itu memberi jawaban yang tajam dan
benar. Petrus berkata “Silahkan kamu putuskan sendiri manakah yang benar di hadapan
Allah: taat kepada kamu atau taat kepada Allah, sebab tidak mungkin bagi kami untuk
tidak berkata-kata tentang apa yang kami lihat dan yang telah kami dengar.” Para rasul
itu lebih memilih taat kepada Allah dibandingkan kepada manusia.
Selanjutnya ayat 21-22 disebutkan bahwa sidang itu tidak mempunyai alasan
untuk menghukum rasul Petrus dan Yohanes, akhirnya mereka semakin keras
mengancam rasul-rasul itu supaya tidak berbicara lagi dalam Nama Yesus. Anggota
sidang itu bertindak demikian sebab mereka takut akan semakin banyak lagi orang yang
memuliakan nama Tuhan sebab apa yang telah terjadi itu, dimana orang yang lumpuh
sejak lahirnya itu sudah berumur lebih dari empat puluh tahun, dengan demikian penyakit
ini yaitu penyakit yang tidak mungkin bisa di sembuhkan oleh manusia.
Ayat 23-24, menceritakan dimana sesudah Petrus dan Yohanes meninggalkan
ruang sidang itu, mereka menemui teman-teman mereka (rasul-rasul lain). Hal ini
membuktikan dimana sesama pelayan dan umat Tuhan membutuhkan persatuan dan
butuh untuk saling menguatkan. Di dalam doa, mereka menyebut Allah dengan kata
Δεσποτα di terjemahkan tuan. Dalam penggunaanya kata ini biasanya digunakan untuk
panggilan seorang budak kepada tuannya atau panggilan seorang budak kepada
majikannya. Jadi dengan demikian para rasul berseru kepada nama Tuhan dengan
menganggap diri mereka sebagai hamba atau budak dan telah memutuskan untuk selalu
menaati tuannya yaitu Yesus Kristus. Mereka juga menyebut Allah sebagai pencipta
langit dan bumi, laut dan segala isinya. Dengan demikian kita mengetahui iman mereka,
dimana mereka percaya bahwa Allahlah yang menciptakan langit dan bumi dan segala
isinya dan oleh sebab itu juga mereka percaya bahwa Allah berkuasa untuk menjawab
doa mereka.
Ayat 25-26 sebagian merupakan kutipan dari Mazmur 2:1, melalui kutipan ini
Rasul-rasul berseru kepada nama Tuhan sesuai dengan yang dinubuatkan dalam
Perjanjian Lama. Jika di ayat 23-24 di gambarkan bahwa Allah berfirman melalui ciptaan-
Nya dan ayat ini (25-26) menjelaskan bahwa Allah berfirman melalui firman-Nya yang
tertulis yaitu Alkitab. Ayat-ayat selanjutnya menjelaskan bahwa kutipan dari Mazmur ini
telah di genapi melalui penderitaan Yesus. Kita mengetahui bahwa bangsa-bangsa lain
(banyak orang) terus menerus menentang Kristus bahkan sampai sekarang, mulai dari
bangsa Romawi dan Yahudi yang menyalibkan Yesus, namun tindakan mereka sia-sia.
Pertentangan kepada Injil yaitu pertentangan terhadap Allah dan Injil akan lebih
tersebar pada masa penganyiayaan.
Selanjutnya ayat 27-29 dijelaskan bahwa orang-orang percaya kembali menyebut
Yesus sebagai “Hamba-Mu yang Kudus, yang juga yaitu diurapi.” Para orang percaya
yang berdoa itu mengidentifiksikan beberapa orang yang menjadi wakil dari banyak raja
di bumi dan dari banyak pembesar-pembesar di bumi ini yang melawan Kristus Yesus,
dimana Herodes Antipas yang yaitu raja atas Yehuda dan Perea yaitu mewakili raja-
raja di bumi, Pontius Pilatus wali negeri Romawi bagi Yudea yaitu mewakili para
pembesar. Musuh-musuh lain di dalam Mazmur itu di identifikasikan sebagai bangsa-
bangsa dan suku-suku bangsa Israel yang bangkit melawan Yesus Kristus. namun dibalik
semua tindakan manusia yang jahat itu, para rasul tahu bahwa semua itu yaitu
penggenapan dari semua yang telah ditentukan Allah. Dalam ayat ini kita juga melihat
perkataan: “lihatlah bagaimana mereka mengancam kami” hal ini tidak berarti mereka
meminta Allah untuk turut merasakan penderitaan mereka, melainkan memohon supaya
Tuhan campur tangan, agar ancaman tindakan itu diubahkan menjadi penggenapan
kehendak Allah. Pada waktu itu rasul-rasul tidak menganggap penganyiayaan itu akan
mengganggu penginjilan mereka. Mereka percaya bahwa Allah akan menggenapi
kehendak-Nya dengan kuasa-Nya yang besar. Rasul-rasul itu tidak berdoa supaya
musuh-musuh mereka tersingkir, sebaliknya mereka berdoa supaya Allah menguatkan
mereka untuk memamfaatkan keadaan mereka sebaik-baiknya dan mencapai apa yang
telah ditetapkan oleh Allah. Mereka memohon kemampuan Ilahi, bukan melarikan diri dan
Allah mengaruniakan kekuatan yang mereka butuhkan. Kemudian Kisah Para Rasul 4:30
dimana mereka berdoa supaya Allah melakukan tanda-tanda heran dan mukjizat-
mukjizat dalam pelayanan mereka, hal itu sangat di butuhkan waktu itu, mengingat
bahwa mereka sering di fitnah dan ditekan oleh penguasa dan ahli-ahli taurat. Jadi
mukjizat dapat dipergunakan sebagai sarana untuk Penginjilan mereka.
Selanjutnya pada ayat 31 ada suatu peristiwa yang hebat, dimana saat mereka
sedang berdoa goyanglah tempat dimana mereka berkumpul, dan selanjutnya dikatakan
bahwa mereka penuh dengan Roh yang akhirnya membuat mereka menjadi lebih berani
lagi untuk mberitakan Injil. Peristiwa ini yaitu merupakan jawaban doa mereka. Perlu
kita ingat bahwa peristiwa itu bukan pentakosta yang kedua, sebab tidak akan ada
pentakosta yang kedua, sama seperti tidak akan ada peristiwa Golgota yang kedua.
Peristiwa itu yaitu pemenuhan kembali dengan Roh, guna memperlengkapi orang-
orang percaya untuk melayani.
Ayat 32-37 yaitu merupakan satu rangkaian tentang sifat dan ciri persekutuan
gereja mula-mula. Ayat ini hampir sama dengan pasal 2:42-47. salah satu ciri khas yang
menonjol dari gereja yang dipenuhi Roh, dimana sangat terlihat adanya kesatuan, hal ini
dimanifestasikan dalam cara hidup mereka yang saling membagi kebutuhan materi.
Untuk membantu jemaat yang lainnya maka orang yang memiliki harta menjual hartanya
untuk dibagi-bagikan kepada yang membutuhkannya. Dan para Rasul mengawasi
pelayanan kasih ini. Sebelum fasal ini diakhiri ada satu nama yang mendapat perhatian
khusus, yaitu orang yang menjadi salah satu contoh yang suka menjual hartanya untuk
membagi-bagikannya kepada jemaat yang membutuhkannya. Namanya yaitu Yusuf,
oleh rasul-rasul dia di beri nama Barnabas. Nama keluarga Barnabas dapat berarti anak
penghiburan, atau anak yang memberi dorongan atau semangat. Nama seperti ini
biasanya disebut kepada orang yang memiliki watak yang sama dengan arti namanya.
c. Kematian Ananias dan Safira (5:1-16)
Kemunafikan yaitu kebohongan yang disengaja, mencoba membuat orang lain
mengira bahwa kita lebih rohani dibandingkan yang sebenarnya. Nama Ananias berarti Allah
itu pemurah, jadi nama Ananias itu yaitu nama yang sangat baik, namun pemilik nama
ini (Ananias dalam Kisah Para Rasul 5:1) barangkali tidak tahu atau mungkin sengaja
melupakan bahwa Allah itu bukan hanya pemurah, namun juga Maha Kudus; dan Safira
artinya cantik, namun sudah kenyataan bahwa dia buruk sekali sebab dosa. Jadi tak
heran kalau beberapa orang terkejut saat melihat Allah membunuh kedua orang itu
hanya sebab berbohong mengenai transaksi bisnis dan persembahan mereka ke
Gereja. namun jika kita memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan dosa itu, maka kita
akan sependapat bahwa Allah telah melakukan hal yang benar dengan menghukum
mereka. Mengapa Ananias dan Safira di bunuh oleh Allah, yang tertera dalam Kisah Para
rasul 5:1-11, seperti berikut ini: Pada awalnya dosa Ananias dan Safira dikipasi oleh Iblis
(5:3); dan ini merupakan masalah serius. Kalau Iblis tidak dapat mengalahkan gereja
dengan serangan dari luar, maka ia akan masuk dan bekerja dari dalam. Ia tahu
bagaimana memperdayakan pikiran dan hati anggota-anggota gereja, bahkan orang-
orang Kristen yang sungguh-sungguh, dan memaksa mereka melakukan perintah-
perintahnya. Iblis membuat Ananias dan Safira berdusta yang akhirnya membawa
mereka kepada kematian. Tuhan ingin semua orang mengetahui bahwa Dia tidak akan
mentolerir dusta di dalam gereja-Nya. Dosa Ananias dan Safira yaitu digerakkan oleh
kesombongan dan kesombongan yaitu dosa yang secara khusus di benci Allah (Amsal
8:13). Tentu saat itu gereja sangat memuji Allah atas pemberian yang sangat besar dari
Barnabas saat itu Iblis berbisik kepada pasangan suami-isteri ini, “Kalian juga dapat
membuat orang lain berpikir bahwa kerohanian kalian setinggi Barnabas” dan suami isteri
itu bukannya menolak pendekatan Iblis, mereka malah menyerah dan menyusun
rencana. Alasan lain bahwa mereka pantas dihukum mati, sebab dosa mereka ditujukan
melawan gereja Tuhan, mereka mendustai Roh Kudus, mereka disebut mencobai Roh
Kudus. Allah sangat mengasihi gereja-Nya dan memeliharanya dengan sangat baik,
sebab gereja itu dibeli dengan darah Anak Allah dan ditempatkan di dunia untuk
mempermuliakan nama-Nya, namun Iblis ingin menghancurkannya dengan memakai
orang-orang yang ada dalam persekutuan gereja mula-mula itu. Seandainya Petrus tidak
waspada, tentu Ananias dan Safira akan menjadi orang yang berpengaruh di gereja dan
akhirnya mereka akan dipakai oleh Iblis lebih hebat lagi untuk menghancurkan gereja.
Di dalam 1Timotius 3:15 Gereja di sebut sebagai tiang penopang dan dasar
kebenaran. Iblis menyerangnya dengan dusta. Gereja yaitu Bait Allah – tempat tinggal
Allah (1 Korintus 3:16) dan Iblis juga ingin ma







