2;
Ezra 3:2; Nehemia 8:2; Daniel 9:2, 11, 13; Zakharia 7:12; Maleakhi
4:4; Kisah 1:16; 28:25; I Petrus 1:10-11). (5) Petrus menempatkan
surat-surat Rasul Paulus setaraf dengan "tulisan-tulisan yang lain"
(II Petrus 3:16). Dan (6) Paulus menyatakan bahwa seluruh Perjan
jian Lama diilhamkan oleh Tuhan (II Timotius 3:16). Petrus me
nulis, "Yang terutama harus kamu ketahui ialah bahwa nubuat-
nubuat dalam Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak
sendiri, sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak ma
nusia, namun oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas
nama Allah" (II Petrus 1:20-21).
Perhatikan juga pandangan Tuhan Yesus Kristus tentang
pengilhaman. Yesus Kristus mengatakan, "Kitab Suci tidak dapat
dibatalkan" (Yohanes 10:35). Di dalam ketiga bagian Perjanjian
Lama, "kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur,"
Yesus Kristus menemukan ajaran-ajaran tentang diri-Nya sendiri
(Lukas 24:44, bandingkan dengan ayat 27). Ia juga mengatakan
bahwa Ia datang bukan untuk meniadakan Taurat namun untuk
menggenapinya (Matius 5:17); dan Ia mengemukakan pengertian-
Nya tentang pengilhaman saat mengatakan, "Sesungguhnya
selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik
pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya
terjadi" (Matius 5:18; Lukas 16:17). Maksudnya, Yesus Kristus
percaya bahwa hukum Taurat telah diilhamkan secara verbal.
"Hukum Taurat" dalam konteks ini jelas berarti seluruh Perjanjian
Lama.
Selanjutnya, Yesus membuat beberapa pernyataan penting ten
tang pemeliharaan serta penafsiran fakta-fakta yang berkaitan de
Pengilhaman Alkitab 105
ngan diri dan misi-Nya. Sebelum Ia pergi meninggalkan murid-
murid-Nya, Ia mengatakan bahwa Roh Kudus akan menjadikan me
reka guru-guru yang cakap dalam mengajarkan kebenaran. Menurut
Yesus, Roh Kudus akan melakukan hal ini saat Ia datang kepada
mereka, mengajarkan kepada mereka segala hal, mengingatkan
mereka segala sesuatu yang telah diajarkan Yesus kepada mereka
sebelumnya, menuntun mereka ke dalam seluruh kebenaran, dan
menunjukkan kepada mereka hal-hal yang akan datang (Yohanes
14:26; 16:13). Janji-janji ini meliputi fakta-fakta kehidupan Kristus
di atas muka bumi, pengalaman para murid yang mula-mula, dok
trin-doktrin yang diuraikan dalam Surat-Surat Kiriman, serta nu
buat-nubuat dalam kitab Wahyu. Para Rasul menyatakan bahwa
mereka telah menerima Roh ini (Kisah 2:4; 9:17; I Korintus 2:10-
12; 7:40; Yakobus 4:5; I Yohanes 3:24; Yudas 19) dan bahwa me
reka berbicara karena dipengaruhi oleh Roh serta atas nama Roh
itu (Kisah 2:4; 4:8, 31; 13:9; I Korintus 2:13; 14:37; Galatia 1:1,
12; I Tesalonika 2:13; 4:2, 8; I Petrus 1:12; I Yohanes 5:10-11;
Wahyu 21:5; 22:6, 18-19). Jadi dapat dikatakan bahwa Tuhan Ye
sus sendiri menjamin pengilhaman Perjanjian Baru.
III. KEBERATAN-KEBERATAN TERHADAP
PENDAPAT PENGILHAMAN INI
Berdasarkan keterangan-keterangan di atas maka seharusnya orang
percaya akan pengilhaman verbal Alkitab; namun ada persoal
an-persoalan yang perlu mendapatkan perhatian kita.
A. KUTIPAN-KUTIPAN YANG MENYANGKUT KETIDAK
TAHUAN ATAU KESALAHAN
Paulus mengatakan di hadapan Ananias, "Hai Saudara-saudara, aku
tidak tahu bahwa ia yaitu Imam Besar" (Kisah 23:5). Di sini
Paulus mengakui ketidaktahuannya semata dan tidak ada hubungan
nya dengan soal pengilhaman. Rekaman pernyataan ini terilhamkan
secara penuh. Percakapan sahabat-sahabat Ayub juga berisi kesa
lahan. Pengilhaman menjamin pencatatan yang teliti dari per
cakapan mereka, bukan betul atau tidaknya isi percakapan itu. Ter
dapat perbedaan antara hal yang dikutip dengan hal yang ditegas-
106 Bibliologi
kan, antara kenyataan bahwa sesuatu telah dikatakan dengan benar
atau tidaknya hal yang dikatakan itu. Apa pun yang oleh Alkitab
"ditegaskan sebagai benar dan bebas dari kesalahan haruslah
diterima demikian juga."34
Namun apa artinya ayat berikut ini, "Kepada orang-orang lain
aku, bukan Tuhan, katakan ..." (I Korintus 7:12)? Tuhan telah mem
berikan ketetapan tentang perceraian (Matius 5:31, 32; 19:3-9); dan
kini Paulus berbicara dengan kewibawaan ilahi yang telah diberikan
kepadanya. Paulus tidak sedang menentukan batas antara ketetapan
Kristus dengan ketetapannya sendiri. Lebih tepat kalau dikatakan
bahwa dalam kesempatan ini Paulus menuntut pengilhaman dan
wibawa untuk menyampaikan ajaran dan kelakuan (lihat I Korintus
7:12, 25). Paulus juga memiliki "Roh Allah" (I Korintus 7:40).
B, DALAM ILMU PENGETAHUAN DAN SEJARAH
Alkitab bukan sebuah buku teks bidang ilmu pengetahuan tertentu
maupun sejarah; namun bila Alkitab memang terilhamkan secara
verbal, maka dapat diharapkan bahwa Alkitab akan mengatakan
yang benar bilamana membahas pokok-pokok di bidang-bidang ter
sebut di atas. Namun sebagaimana para ilmuwan pun masih ber
bicara soal terbit dan terbenamnya matahari, keempat penjuru dunia,
dan sebagainya, demikian pula Alkitab sering kali memakai
bahasa penampilan. Yang nampak sebagai ketidaksempurnaan,
kesalahan, dan pertentangan biasanya akan menghilang bila kita
mempertimbangkan gaya bukan ilmiah yang mereka pakai, sifat
fragmentaris dari banyak kisah, sifat saling menambah dari banyak
hal yang dicatat oleh berbagai penulis, situasi sejarah yang men
ghasilkan suatu bentuk perilaku tertentu, serta kekeliruan yang dapat
diperbuat oleh para ahli kitab.
Penemuan-penemuan hasil penggalian arkeologis telah banyak
berjasa untuk menguatkan ketepatan Perjanjian Lama di bidang
sejarah khususnya. Hamurabi, Sargon II, suku Het, serta Belsyazar
tidak lagi menjadi masalah bagi seorang sejarawan. Hal ini juga
berlaku bagi Perjanjian Baru. Kirenius (Lukas 2:2), Lisanias (Lukas
3:1), Sergius Paulus (Kisah 13:7), dan Galio (Kisah 18:12) semua
telah ditemukan dalam penggalian arkeologis, sehingga terbuktilah
bahwa kisah-kisah ini benar-benar telah terjadi.
34 Pinnock, Biblical Revelation, hal. 79.
Pengilhaman Alkitab 107
Perbedaan jumlah orang mati karena tulah di Lembah Sitim
(Bilangan 25:9; I Korintus 10:8) menjadi tidak ada bila kedua ayat
itu dipelajari secara teliti. 'Tempat yang datar" (Lukas 6:17) nam
paknya sebuah tempat datar yang di gunung (Matius 5:1). Pada
waktu itu ada kota Yerikho yang lama dan kota Yerikho yang baru,
sedangkan kedua orang buta itu disembuhkan di antara kedua Ye
rikho ini (Matius 20:29; Markus 10:46; Lukas 18:35). Markus
dan Lukas nampaknya bermaksud mencatat yang menonjol saja,
sebagaimana halnya penyembuhan di Dekapolis (Matius 8:28;
Markus 5:2; Lukas 8:27).
C. DALAM MUKJIZAT DAN NUBUAT
Bukti adanya mukjizat dan nubuat sudah disajikan sebelumnya, na
mun dapat kita tambahkan bahwa catatan mukjizat-mukjizat Kristus
terjalin sedemikian rupa dengan catatan aspek-aspek kehidupan-
Nya yang lain sehingga mustahil mengeluarkan catatan mukjizat
tanpa merusak yang lain. Bila seseorang mempercayai kebangkitan
tubuh Kristus, maka tidak ada lagi halangan yang berarti dalam
menerima mukjizat lainnya dalam Alkitab. Atau sebagaimana di
katakan Saucy, "Bila kenyataan adanya Allah sudah diterima . . .
tidak ada lagi halangan yang sah untuk menolak kemungkinan cam
pur tangan-Nya yang adikodrati pada saat dan saat yang dikehen-
daki-Nya."35
35 Saucy, The Bible: Breathed from God, hal. 89.
Mengingat penggenapan nubuat-nubuat antara lain tentang
Babilonia, Media-Persia, Yunani, dan Romawi, mengenai Israel,
mengenai Kristus, dan mengenai keadaan masa kini, maka seharus
nya tidak lagi kita merasa sangsi untuk menerima kemungkinan
terjadinya nubuat tentang masa depan. Yang sering kali dianggap
sebagai kesalahan dalam nubuat biasanya terbukti merupakan
kesalahan penafsiran. Bagian-bagian dari Daniel 2, 7, 9, 11, 12,
bagian-bagian dari kitab Zakharia 12-14, dan sebagian besar kitab
Wahyu masih menantikan penggenapannya.
108 Bibliologi
D. DALAM MENGUTIP DAN MENAFSIRKAN PERJANJIAN
LAMA
Sebagian besar kesulitan kita dalam hal ini akan hilang bila kita
memperhatikan beberapa hal. (1) Kadang-kadang para penulis Per
janjian Baru sekadar mengungkap gagasan mereka dengan kata-kata
yang mereka pinjam dari sebuah nas Perjanjian Lama, tanpa ber
usaha untuk menafsirkannya (Roma 10:6-8; lihat Ulangan 30:12-
14). (2) Kadang-kadang mereka menunjuk kepada suatu unsur lam
bang dalam satu bagian Alkitab yang pada umumnya tidak dipan
dang sebagai lambang (Matius 2:15; lihat juga Hosea 11:1). (3)
Kadang-kadang mereka mengakui sebuah nubuat yang ditulis lebih
awal padahal sebenarnya mereka mengutip nubuat yang ditulis
kemudian (Matius 27:9; lihat juga Zakharia 11:13). (4) Kadang-
kadang mereka mengutip suatu terjemahan yang rupanya salah
dalam Septuaginta dengan alasan bahwa sekalipun terjemahannya
salah namun tetap dapat mengantarkan minimal satu makna dari
naskah Ibrani (Efesus 4:26; lihat Mazmur 4:4 dalam Septuaginta).
Dan (5) kadang-kadang mereka menggabungkan dua kutipan men
jadi satu dan mengakui hanya penulis kitab Perjanjian Lama yang
lebih menonjol (Matius 1:2-3; lihat Yesaya 40:3; Maleakhi 3:1).
Selanjutnya, bila kita percaya akan kemungkinan karya adi
kodrati dari Roh Kudus di dalam hati manusia, maka seharusnya
kita tidak perlu berkeberatan untuk percaya akan kemungkinan
suatu campur tangan adikodrati Roh Kudus dalam menghasilkan
Alkitab. Dan bila kita mengakui Roh Kudus sebagai penulis yang
sebenarnya dari Alkitab, maka kita tidak dapat menolak hak-Nya
untuk memakai Perjanjian Lama dalam salah satu cara yang telah
disebut di atas.
E. DALAM MORAL DAN AGAMA
Secara praktis semua yang dinamakan kesalahan di bidang moral
dan agama ada dalam Perjanjian Lama. Namun, semua ke
sukaran dalam hal ini akan hilang bila kita mempertimbangkan
fakta-fakta berikut. (1) Tindakan-tindakan berdosa manusia
mungkin saja dicantumkan, namun tindakan itu samasekali tidak di
setujui; misalnya, kemabukan Nuh (Kejadian 9:20-27), perzinahan
Lot dengan kedua putrinya (Kejadian 19:30-38), kebohongan Yakub
Pengilhaman Alkitab 109
(Kejadian 27:18-24), perzinahan Daud (II Samuel 11:1-4), poligami
Salomo (I Raja-Raja 11:1-3), ketegaran Ester (Ester 9:12-14), dan
penyangkalan Petrus (Matius 26:69-75). (2) Beberapa tindakan jahat
kelihatannya disetujui, namun sebenarnya yang diakui ialah maksud
baik di balik tindakan ini dan bukan tindakan itu sendiri;
misalnya, yang diakui ialah iman Rahab dan bukan ketidakjujuran
nya (Yosua 2:1-21; Ibrani 11:31; Yakobus 2:25), patriotisme Yoel,
bukan pengkhianatannya (Hakim-Hakim 4:17-22, bandingkan 5:24),
dan iman Simson, bukan cara hidupnya yang bergelandangan
(Hakim-Hakim 14-16, bandingkan Ibrani 11:32). (3) Beberapa hal
diizinkan Tuhan sebagai benar secara relatif, tidak mutlak; misalnya
perceraian (Ulangan 24:1, bandingkan Matius 5:31-32; 19:7-9) dan
pembalasan (Keluaran 21:23-25, bandingkan Matius 5:38,39; Roma
12:19-21). (4) Beberapa doa dan perintah ilahi mengungkapkan
maksud Allah yang berdaulat yang sering kali memakai manusia
untuk melakukan kehendak-Nya; misalnya beberapa Mazmur
pengutukan (35, 69, 109, 137) dan perintah untuk menghancurkan
orang-orang Kanaan (Ulangan 7:1-5, 16; 20:16-18).
Beberapa pihak telah mengajukan keberatan bahwa ada beberapa
kitab tidak layak dimaksudkan dalam kanon kudus. Kitab Ester,
Ayub, Kidung Agung, Pengkhotbah, Yunus, Yakobus, dan Wahyu
yaitu kitab-kitab yang dimaksudkan. Sebagai tanggapan, kami
mengatakan bahwa pendapat semacam ini berlandaskan suatu salah
pengertian tentang maksud serta metode penulisannya dan juga
mengabaikan kesaksian banyak orang tentang manfaat kitab-kitab
itu. Bila tujuan sebenarnya dari kitab-kitab ini telah diketahui, maka
kitab-kitab ini akan ternyata bukan saja sangat berguna, namun
bahkan sangat diperlukan dalam suatu sistem doktrin yang utuh.
BAGIAN III
TEOLOGI
(AJARAN TENTANG ALLAH)
Setelah mempercayai bahwa di dalam Alkitab kita memiliki satu-
satunya sumber utama yang tidak dapat salah perihal teologi, kini
kita akan melanjutkan penyelidikan kita berdasarkan Alkitab. Ke
tika sangat memuji Alkitab seperti ini, tidaklah berarti bahwa kami
melupakan pentingnya peranan akal, naluri, pengakuan iman gereja,
dan seterusnya; namun, sebagaimana sudah kami katakan, akal dan
sebagainya itu bukan merupakan sumber utama teologi, namun
hanyalah sekadar alat-alat pembantu dalam memahami penyataan
Allah, khususnya yang tercantum dalam Alkitab. Dalam mengem
bangkan sebuah sistem teologi yang alkitabiah, kita akan terlebih
dahulu membahas pribadi dan karya Allah. Untuk kemudahannya
pokok bahasan ini akan dibagi menjadi empat bagian: sifat Allah,
keesaan dan ketritunggalan Allah, ketetapan-ketetapan Allah, serta
karya-karya Allah.
111
VIII
Sifat-Dasar Allah: Hakikat dan
Sifat
Banyak ciri khas Allah sudah terungkap dalam penyelidikan se
belumnya tentang penyataan Allah serta bukti-bukti adanya Dia.
Namun, ciri-ciri ini dibahas secara tidak langsung dan secara-
tidak teratur, sedangkan beberapa fakta tertentu hampir tidak di
singgung samasekali. Pokok ini kini akan dibahas secara lebih
lengkap serta materinya akan dikelola menjadi sebuah sistem yang
teratur. Pasal ini berkaitan dengan sifat-dasar Allah, dengan rujukan
khusus kepada hakikat serta sifat-sifat-Nya.
I. HAKIKAT ALLAH
Istilah-istilah "hakikat" dan "zat" praktis sinonim bila dipakai untuk
Allah. Keduanya dapat didefinisikan sebagai yang melandasi semua
perwujudan keluar; kenyataan itu sendiri baik yang bendawi
maupun yang tidak bendawi; dasar dari segala sesuatu; di dalamnya
semua sifat berada. Kedua istilah ini menunjuk kepada aspek dasar
dari sifat-dasar Allah; bila tidak ada hakikat dan zat maka tidak
mungkin ada sifat-sifat. saat berbicara mengenai Tuhan, berarti
kita berbicara tentang suatu hakikat, suatu zat, dan bukan sekadar
suatu gagasan atau personifikasi gagasan tertentu.
Karena ada perbedaan antara hakikat dan sifat-sifat Allah,
maka kita diperhadapkan dengan soal bagaimana membedakan
keduanya. Kami mengakui bahwa mungkin saja beberapa sifat ter
tentu sebenarnya bukan sifat samasekali namun aspek-aspek yang
berbeda dari zat ilahi. Kerohanian, ada dengan sendirinya, kebe
saran yang tak terhingga, dan kekekalan merupakan pokok-pokok
yang dimaksudkan.
113
114 Teologi
A. KEROHANIAN
Allah merupakan zat. Akan namun , Allah bukanlah zat bendawi, me
lainkan zat rohani. Yesus mengatakan "Allah itu Roh" (Yohanes
4:24). Pernyataan ini menetapkan sifat-dasar Allah sebagai rohani.
1. Allah tidak berbadan dan tidak berwujud. Yesus mengatakan,
"... roh [hantu] tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu
lihat ada pada-Ku" (Lukas 24:39). Jika Allah yaitu roh, maka de
ngan sendirinya Ia tidak berbadan dan tidak berwujud. Perintah
kedua dari Sepuluh Perintah Allah yang melarang pembuatan segala
jenis patung atau gambaran (Keluaran 20:4), dilandaskan pada ke
adaan Allah yang tidak berbadan. Demikian pula segala peraturan
yang melarang penyembahan berhala (Imamat 26:1; Ulangan
16:22).
Akan namun , bagaimana dengan ungkapan-ungkapan yang meng
gambarkan Allah sebagai memiliki alat-alat tubuh: tangan (Yesaya
65:2; Ibrani 1:10), kaki (Kejadian 3:8), mata (I Raja-Raja 8:29;
II Tawarikh 16:9), telinga (Nehemia 1:6; Mazmur 34:16)? Semua
ini merupakan bentuk-bentuk pengungkapan yang bersifat antropo-
morfik dan gambaran-gambaran yang simbolis yang dipakai untuk
membuat Allah itu nyata dan juga untuk mengungkapkan berbagai
minat, kuasa, dan kegiatan-Nya.
Manusia berbeda karena memiliki roh yang terbatas, yaitu roh
yang dapat tinggal di dalam badan yang jasmaniah (I Korintus 2:11;
I Tesalonika 5:23). Allah yaitu roh yang tidak terbatas dan oleh
karena itu tidak berwujud (Kisah 7:48, 49).
2. la tidak dapat dilihat. Orang-orang Israel "tidak melihat se
suatu rupa" saat Allah menampakkan diri kepada mereka di Gu
nung Horeb, karena itu mereka dilarang membuat patung Allah
(Ulangan 4:15-19). Allah mengatakan kepada Musa bahwa tidak
ada manusia yang dapat melihat-Nya dan tetap hidup (Keluaran
33:20). Yohanes mengatakan 'Tidak seorang pun yang pernah me
lihat Allah" (Yohanes 1:18). Paulus menyebut Tuhan sebagai "Allah
yang tidak kelihatan" (Kolose 1:15, bandingkan Roma 1:20; I Timo
tius 1:17) serta menyatakan bahwa tidak ada orang yang telah me
lihat Allah atau dapat melihat Allah (I Timotius 6:16). Namun
beberapa bagian Alkitab mengatakan bahwa pada suatu hari orang-
Sifat-Dasar Allah: Hakikat dan Sifat 115
orang yang tertebus akan melihat Dia (Mazmur 17:15; Matius 5:8;
Ibrani 12:14; Wahyu 22:4).
Namun bagaimana menerangkan ayat-ayat Alkitab yang menye
but tentang orang-orang yang melihat Allah seperti Kejadian 32:30;
Keluaran 3:6; 24:9-10; Bilangan 12:6-8; Ulangan 34:10; dan Yesaya
6:1-8? Bila seseorang melihat wajahnya di cermin maka dalam arti
kata tertentu ia melihat wajahnya sendiri; namun dalam arti kata
lain ia tidak betul-betul melihat dirinya sendiri. Berdasarkan ke
nyataan ini orang-orang itu telah melihat pantulan kemuliaan Allah,
namun mereka tidak melihat hakikat-Nya (Ibrani 1:3). Kemudian,
roh juga dapat menunjukkan diri dalam bentuk yang kelihatan (Yo
hanes 1:32; Ibrani 1:7).
saat Musa melihat "belakang" Allah (Keluaran 33:23), hal itu
terjadi sebagai tanggapan Allah terhadap permintaan Musa untuk
melihat kemuliaan Tuhan (ayat 18). Lebih tepat bila dikatakan
bahwa Musa melihat akibat yang kemudian atau apa yang disebut
kan oleh Driver "sisa pantulan" kemuliaan Allah,36 daripada menaf
sirkan ayat ini sebagai berarti bahwa Musa betul-betul melihat Allah
karena konteks menunjukkan bahwa hal itu tidak mungkin (ayat
20).
36 Driver, The Book of Exodus, hal. 363.
Teofani merupakan penampakan ilahi yang dapat dilihat oleh
mata jasmaniah. Yakub berkata setelah bergumul dengan sese
orang, "Aku telah melihat Allah berhadapan muka" (Kejadian
32:30). "Malaikat Tuhan" merupakan penampakan ilahi yang dapat
dilihat oleh mata jasmaniah (Kejadian 16:7-14; 18:13-33; 22:11-18;
Keluaran 3:2-5; Hakim-Hakim 6:11-23; I Raja-Raja 19:5-7; II Raja-
Raja 19:35). Perlu diperhatikan bahwa dalam beberapa ayat di atas
"malaikat Allah" diidentifikasikan sebagai "Tuhan" (misalnya Keja
dian 16:11 dengan ayat 13; Keluaran 3:2 dengan ayat 4; Hakim-
Hakim 6:12 dengan ayat 16).
3. Allah itu hidup. Pengertian tentang roh meniadakan bukan
saja kesan adanya zat bendawi, namun juga meniadakan pengertian
mengenai adanya zat yang tidak hidup. Ini berarti bahwa Allah hi
dup. Dengan demikian Allah disebut sebagai "Allah yang hidup"
(Yosua 3:10; I Samuel 17:26; Mazmur 84:3; Matius 16:16; I Timo
tius 3:15; Wahyu 7:2). Hidup menandakan adanya perasaan, kuasa,
116 Teologi
dan kegiatan. Allah memiliki semua ini (Mazmur 115:3). Allah juga
merupakan sumber dan pemelihara segenap kehidupan yang ada:
tanaman, hewan, manusia, rohani, dan kekal (Mazmur 36:10; Yo
hanes 5:26). Allah yang hidup sering dibandingkan dengan berhala-
berhala yang mati (Mazmur 115:3-9; Kisah 14:15; I Tesalonika 1:9).
Allah kita hidup; Ia melihat, mendengar, dan mengasihi. Berhala
ciptaan orang kafir itu mati, tidak mampu melihat, mendengar, dan
mengasihi.
4. Allah itu berkepribadian. Hegel serta para filsuf idealistis
lainnya salah saat mengajarkan bahwa Allah itu roh yang tak ber
kepribadian, karena pengertian roh itu sendiri mengandung juga
pengertian akan adanya kepribadian. Terlepas dari Alkitab maka
satu-satunya cara untuk menetapkan seperti apa roh itu ialah melalui
analogi dengan roh manusia. Karena roh manusia itu berkepriba
dian, maka pastilah Roh ilahi juga berkepribadian sebab kalau tidak
Roh ilahi lebih rendah tingkatannya dari roh manusia. Di dalam
manusia, kepribadian dan kejasmanian bersatu dalam satu orang se
lama ia hidup di dunia ini, namun setelah orang itu mati maka
hubungan ini putus; tubuh jasmani menjadi rusak, sedangkan
kepribadian tetap ada. Pada saat kebangkitan kepribadian ini
akan memperoleh tubuh jasmani yang baru lagi sehingga keadaan
fisik manusia yang normal dipulihkan. Akan namun , di dalam Tuhan
ada kepribadian tanpa tubuh jasmaniah. Kalau begitu apakah hakikat
kepribadian Allah? Kesadaran diri dan kemampuan membuat ke-
putusan sendiri.
Kesadaran diri itu lebih dari kesadaran biasa. Sebagai makhluk
yang sadar, manusia kadang-kadang memiliki perasaan dan keingin
an yang tidak dikaitkan dengan dirinya sendiri. Manusia berpikir
secara spontan, namun tidak memikirkan apa yang dipikirkannya.
Binatang mungkin saja mempunyai taraf kesadaran yang rendah.
Namun sebagai makhluk yang sadar-diri, manusia mengaitkan pera
saan, keinginan, dan pikirannya dengan dirinya sendiri. Demikian
pula, kemampuan membuat keputusan sendiri lebih dari sekadar
membuat keputusan. Hewan bisa membuat keputusan, namun hal
itu terjadi berdasarkan naluri. Manusia memiliki perasaan kebebasan
dan menentukan pilihannya di dalam dirinya sendiri, dengan mem
pertimbangkan motif dan tujuan. Alkitab mengaitkan kesadaran diri
Sifat-Dasar Allah: Hakikat dan Sifat 117
(Keluaran 3:14; Yesaya 45:5; I Korintus 2:10) dan kemampuan
membuat keputusan sendiri (Ayub 23:13; Roma 9:11; Efesus 1:9,
11; Ibrani 6:17) dengan Allah. Allah dapat berkata "Aku" (Keluaran
20:2-3) dan dapat menanggapi saat disapa sebagai "Engkau"
(Mazmur 90).
Alkitab juga mengatakan bahwa Allah memiliki ciri-ciri psiko
logis dari kepribadian: Intelek (Kejadian 18:19; Keluaran 3:7; Kisah
15:18), perasaan (Kejadian 6:6; Mazmur 103:8-14; Yohanes 3:16),
dan kemauan (Kejadian 3:15; Mazmur 115:3; Yohanes 6:38). Se
lanjutnya, Alkitab menyebutkan bahwa Allah memiliki aspek-aspek
kepribadian lainnya. Allah ditampilkan sebagai berbicara (Kejadian
1:3), melihat (Kejadian 11:5), mendengar (Mazmur 94:9), berduka
(Kejadian 6:6), menyesal (Kejadian 6:6), marah (Ulangan 1:37),
cemburu (Keluaran 20:5), dan iba (Mazmur 111:4). Allah disebut
sebagai pencipta (Kisah 14:15), penopang alam semesta (Nehemia
9:6), penguasa (Mazmur 75:8; Daniel 4:32), dan pemelihara (Maz
mur 104:27-30; Matius 6:26-30) segala sesuatu.
Bagaimanapun juga, kita harus membedakan antara kepribadian
hakikat itu dengan kepribadian berbagai bagian yang menjadi ha
kikat itu. Jelas sekali, hakikat itu tidak mungkin pada saat yang
sama merupakan tiga oknum dan juga satu oknum bila istilah "ok
num" itu digunakan dengan makna yang sama dalam kedua pe
makaian di atas; namun hakikat itu dapat, dan memangnya demi
kian, merupakan tiga oknum dan sekaligus satu oknum. Adanya
tiga oknum yang berbeda dalam ke-Allahan menghasilkan kesadar
an diri dan kemampuan membuat keputusan sendiri dari Allah yang
esa; namun masing-masing dari ketiga oknum itu juga memiliki
kesadaran diri dan kemampuan membuat keputusan sendiri.
B. ADA DENGAN SENDIRINYA
Walaupun sumber keberadaan manusia berada di luar dirinya sen
diri, keberadaan Allah tidak bergantung pada apa pun di luar diri-
Nya. Sebagaimana dikatakan oleh Thomas dari Aquino, "Ia yaitu
penyebab pertama; Dia sendiri tidak ada penyebabnya." Bahwa Dia
ada dengan sendirinya tersirat dari kesaksian-Nya, "Aku yaitu
Aku" (Keluaran 3:14; lihat juga "Aku ada" dari ajaran Kristus ten
tang diri-Nya sendiri, Yohanes 8:58; Yesaya 41:4; Wahyu 1:8), dan
118 Teologi
sebagaimana umumnya dikenal dengan nama "Tuhan" atau
"Yehova" (Keluaran 6:3). Sekalipun demikian perihal ada dengan
sendirinya Allah itu tidak berasal dari kehendak-Nya, namun me
rupakan sifat-dasar-Nya. Ia ada karena sifat-dasar-Nya demikian se
bagai yang tidak memiliki penyebab. Tidaklah tepat untuk menga
takan bahwa Tuhan yaitu penyebab diri-Nya sendiri karena bila
demikian Ia akan memiliki kemampuan untuk menghancurkan diri-
Nya sendiri.
C. KEBESARAN YANG TAK TERHINGGA
Allah tidak terbatas dalam ukuran tempat. Ia tidak dibatasi atau
disekat oleh tempat; sebaliknya, segala tempat yang bersifat terbatas
bergantung pada-Nya. Sesungguhnya, Allah melebihi tempat. De
ngan jelas Alkitab mengajarkan kebesaran Allah yang tak terhingga
ini (I Raja-Raja 8:27; II Tawarikh 2:6; Mazmur 113:4-6; 139:7-8;
Yesaya 66:1; Yeremia 23:24; Kisah 17:24-28). Karena sifat-dasar-
Nya yang rohani serta ketidakmampuan kita untuk berpikir menge
nai keadaan yang tak dibatasi oleh tempat maka ajaran ini sulit
dipahami. Namun, hal ini jelas sekali: Allah itu transenden dan
imanen, Ia ada di mana-mana dalam hakikat maupun dalam penge
tahuan dan kuasa-Nya. Kapan pun dan di mana pun zat rohani itu
ada, maka seperti jiwa, pastilah ia utuh adanya.
D. KEKEKALAN
Allah juga tidak terbatas dalam ukuran waktu. Allah tidak memiliki
awal atau akhir, Ia bebas dari keterbatasan kurun waktu, Ialah pen-
cipta waktu. Kesimpulan bahwa Ia tanpa awal dan tanpa akhir dapat
ditarik dari doktrin bahwa Ia ada dengan sendirinya; Ia yang ada
karena sifat-dasar-Nya dan bukan karena kehendak-Nya pastilah se
nantiasa sudah ada dan senantiasa akan ada. Bahwa Allah kekal
diajarkan secara jelas sekali dalam Alkitab. Allah disebut sebagai
"Allah yang kekal" (Kejadian 21:33). Pemazmur mengatakan, "...
dari selama-lamanya sampai selama-lamanya Engkaulah Allah"
(Mazmur 90:2) dan "... namun Engkau tetap sama, dan tahun-tahun-
Mu tidak berkesudahan" (Mazmur 102:28). Yesaya menggambar
kan Allah sebagai ". . . Yang Mahatinggi dan Yang Mahamulia,
Sifat-Dasar Allah: Hakikat dan Sifat 119
yang bersemayam untuk selamanya" (Yesaya 57:15). Paulus menga
takan bahwa Allah ialah "satu-satunya yang tidak takluk kepada
maut" (I Timotius 6:16, bandingkan dengan Habakuk 1:12).
Waktu ialah keberadaan sepanjang kurun waktu tertentu, namun
Allah itu bebas dari segenap batasan kurun waktu mana pun. Allah,
tulis Shedd, "memiliki keberadaan yang total secara serentak . . . .
Keseluruhan pengetahuan dan pengalaman ilahi senantiasa ada di
hadapan-Nya, tidak ada penggalan pengetahuan-pengalaman
yang diikuti oleh penggalan pengetahuan-pengalaman berikut
nya."37 Kekekalan bagi Allah merupakan satu masa kini, yaitu masa
kini yang abadi. "Ia memiliki seluruh keberadaan-Nya dalam satu
masa kini yang tidak dapat dipenggal."38 Dalam Alkitab kenyataan
ini disebut "sekarang dan sampai selama-lamanya" (II Petrus 3:18)
dan "hari ini" (Mazmur 2:7, bandingkan II Petrus 3:8). Namun kita
tidak boleh berpikir bahwa waktu tidak memiliki realitas objektif
bagi Allah; lebih tepatlah kalau dikatakan bahwa Ia melihat masa
lalu dan masa yang akan datang sama jelas dan terangnya sebagai
mana Ia melihat masa kini. Seseorang bisa melihat sebuah pawai
dari atas sebuah gedung tinggi. Dari tempat itu ia bisa melihat selu
ruh barisan pawai ini dengan sekali pandang. Atau orang itu
bisa juga melihat pawai ini dari simpang jalan, di mana ia
hanya akan bisa melihat sebagian barisan pawai saja setiap kali
melihat. Allah melihat keseluruhannya sebagai satu kesatuan, se
kalipun Ia mengetahui adanya urutan sepanjang kurun-kurun waktu.
37 Shedd, Dogmatic Theology. I , hal. 343.
38 Berkhof, Systematic Theology, hal. 60.
39 Young, The Book of Isaiah, 1, hal. 338.
40 Strong, Systematic Theology, hal. 275.
Allah juga merupakan pencipta waktu (Ibrani 1:2; 11:3). Dalam
Yesaya 9:5 Allah dapat disebut sebagai "Bapa Kekekalan." 39 Waktu
dan tempat termasuk dalam "segala yang telah dijadikan" oleh Dia
(Yohanes 1:3). Strong mengatakan,
Namun, waktu dan tempat tidak merupakan zat, demikian pula tidak
merupakan sifat zat; waktu dan tempat merupakan hubungan-hubungan dari
keberadaan yang terbatas .... Waktu dan tempat itu menjadi ada saat
keberadaan yang terbatas muncul; waktu dan tempat tidak merupakan kon
sep-konsep pengatur hasil penalaran pikiran manusia; waktu dan tempat itu
ada secara objektif, artinya mereka tetap ada entah kita menyadarinya entah
120 Teologi
Waktu sekali kelak akan berbaur dengan kekekalan (I Korintus
15:28). Akan namun , Shedd berpendapat bahwa bagi makhluk cip
taan Allah kekekalan tidak merupakan keberadaan tanpa terbatas
kurun waktu, karena "setiap pikiran terbatas harus senantiasa ber
pikir, merasa, dan bertindak dalam batas kurun waktu."41
II. SIFAT-SIFAT ALLAH
Sifat-sifat Allah, berbeda dengan zat atau hakikat Allah, merupakan
sifat-sifat yang ada di dalam zat dan merupakan perian yang
analitis dan lebih terinci dari zat Allah ini . Semua sifat Allah
itu harus dipandang sebagai nyata secara objektif, dan bukan
sebagai sekadar hasil pemikiran subjektif manusia tentang Allah.
Sifat-sifat Allah itu juga harus dipandang sebagai perian berbagai
cara khusus dari adanya dan bekerjanya hakikat ilahi, bukan sebagai
penunjuk kepada bagian-bagian yang berbeda dari Allah. Sifat-sifat
Allah telah dibagi menurut berbagai klasifikasi. Salah satu yang
paling dikenal ialah pembagian dalam sifat-sifat alamiah, yaitu sifat-
sifat Allah yang ada kaitan atau yang kontras dengan alam, dan
sifat-sifat moral, yaitu sifat-sifat Allah sebagai pengawas kesusilaan.
Pembagian yang sangat dikenal lainnya ialah pembagian dalam
sifat-sifat imanen, yaitu sifat-sifat Allah yang ada di dalam diri-Nya
sendiri, serta sifat-sifat transitif, yaitu sifat-sifat Allah yang nampak
keluar dari diri-Nya dalam hubungan dengan ciptaan-Nya. Pembagi
an yang ketiga ialah pembagian dalam sifat-sifat positif yang me
nunjukkan berbagai kesempurnaan, dan sifat-sifat negatif yang me
nunjukkan penolakan terhadap beberapa keterbatasan tertentu. Pem
bagian yang keempat terambil dari susunan tabiat manusiawi kita.
Sebagaimana di dalam manusia ada zat jiwa, intelek, dan ke-
mauan, maka demikian pula sifat-sifat Allah dapat dibagi dalam
tiga bagian: yang berkaitan dengan hakikat-Nya, yang berkaitan de
ngan intelek Allah, dan yang berkaitan dengan kehendak Allah. Di
sini sifat-sifat Allah akan dibahas berdasarkan pembagian atas dua:
sifat-sifat nonmoral dan sifat-sifat moral.
41 Shedd, Dogmatic Theology, I, hal. 349.
Sifat-Dasar Allah: Hakikat dan Sifat 121
A. SIFAT-SIFAT NONMORAL
Sifat-sifat nonmoral merupakan sifat-sifat Allah yang tidak melibat
kan hal-hal moral. Sifat-sifat ini ialah mahahadir, mahatahu,
mahakuasa, dan tidak berubah.
1. Mahahadir. Ketiga sifat Allah yang pertama merupakan kata
majemuk dengan awalan bahasa Latin omni, yang artinya "segala-
galanya". Jadi, mahahadir (omnipresent) berarti "ada di mana-mana
pada saat yang bersamaan". Tuhan hadir di seluruh alam semesta
ciptaan-Nya, namun Allah tidak dibatasi oleh alam semesta ciptaan-
Nya itu. Sedangkan kebesaran-Nya yang tak terhingga menekan
kan transendensi Allah dalam arti bahwa Ia melebihi segala ruang
dan tidak terbatas oleh ruang mana pun juga, maka kemahahadiran
Allah secara khusus berkaitan dengan kehadiran-Nya di dalam alam
semesta ini. (I Raja-Raja 8:27; Mazmur 139:7-10; Yesaya 66:1;
Yeremia 23:23-24; Kisah 7:48-49; 17:24-25; Roma 10:6-8). Harus
diingat selalu bahwa kemahahadiran Tuhan bukanlah suatu bagian
yang harus ada di dalam kepribadian Allah, namun merupakan suatu
tindakan yang bebas menurut kehendak Allah sendiri. Jika Allah
berkehendak untuk menghancurkan alam semesta ini, maka kema-
hahadiran-Nya akan berakhir, namun Allah sendiri tetap ada. Pan
teisme mengikat Allah kepada alam semesta, namun harus diingat
bahwa Allah melebihi alam semesta dan tidak tunduk kepadanya.
Ajaran tentang kemahahadiran Allah ini merupakan suatu ajaran
yang menyegarkan sekaligus menundukkan kita. Ajaran ini merupa
kan suatu sumber penghiburan bagi orang percaya karena Allah,
yang senantiasa hadir, selalu siap untuk menolong kita (Ulangan
4:7; Mazmur 46:2; 145:18; Matius 28:20). Ajaran ini merupakan
sumber peringatan dan pengendalian bagi setiap orang percaya.
Bagaimanapun orang berdosa berusaha, ia tidak bisa meloloskan
diri dari Allah. Jarak ataupun kegelapan tidak dapat menyembu
nyikan dia dari pengawasan Allah (Mazmur 139:7-10). "Dan tidak
ada suatu makhluk pun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab
segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepa
da-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab" (Ibrani 4:13).
Kesadaran akan kenyataan ini sering kali mencegah seorang berdosa
untuk berbuat jahat dan akhirnya menuntun dia untuk mencari
Allah. "Dia yang ... melihat" (Kejadian 16:13) merupakan peringat
an maupun penghiburan bagi anak Tuhan (Mazmur 139:17-18).
122 Teologi
2. Mahatahu. Pengetahuan Allah tidak mengenal batas. Ia me
ngenal diri-Nya sendiri serta segala ciptaan-Nya secara sempurna
sejak segenap kekekalan, apakah itu bersifat aktual atau hanya
merupakan kemungkinan, apakah itu sesuatu yang sudah lampau,
masih ada, maupun akan ada. Ia mengetahui segala sesuatu secara
langsung, serempak, secara mendalam dan sungguh-sungguh.
Bukti adanya pola tertentu di alam semesta ini dan adanya akal
di dalam diri manusia merupakan bukti kemahatahuan Allah. Bukti-
bukti ini ada di dalam dunia yang tidak hidup, dunia yang
hidup, serta di dalam hubungan di antara keduanya. Manifestasi
yang tertinggi dari semuanya itu ada di dalam akal manusia.
Kemahahadiran Tuhan juga turut membuktikan kemahatahuan-Nya
(Mazmur 139:1-10; Amsal 15:3; Yeremia 23:23-25). Alkitab me
nyatakan bahwa pemahaman Tuhan itu tidak ada batasnya (Yesaya
46:10), bahwa tidak ada yang tersembunyi di hadapan Tuhan (Maz
mur 147:5; Ibrani 4:13), dan bahwa rambut di kepala kita pun di
hitung oleh Tuhan (Matius 10:30).
Lingkup pengetahuan Allah tidak terhingga.
a. Ia mengenal diri-Nya sendiri secara sempurna. Tidak ada
makhluk ciptaan yang mengenal dirinya sendiri secara menyeluruh
dan secara sempurna seperti itu.
b. Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus saling mengenal secara
sempurna. Hanya merekalah yang memiliki pengetahuan semacam
itu mengenai satu sama lain. Yesus mengatakan, "... tidak seorang
pun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal
Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan
menyatakannya" (Matius 11:27). Paulus menulis, " . . . tidak ada
orang yang tahu apa yang ada di dalam diri Allah selain Roh
Allah" (I Korintus 2:11; dan lihat juga Roma 8:27).
c. Allah mengetahui hal-hal yang benar-benar ada. Termasuk di
sini ciptaan yang tidak hidup (Mazmur 147:4), ciptaan binatang
(Matius 10:29), manusia dan segala perbuatannya (Mazmur 33:13-
15; Amsal 5:21), pikiran dan hati manusia (Mazmur 139:1-4; Amsal
15:3), serta beban dan kebutuhan manusia (Keluaran 3:7; Matius
6:8, 32).
d. la mengetahui hal-hal yang mungkin terjadi. Ia tahu sebelum
nya bahwa Kehila akan melaporkan tempat tinggal Daud kepada
Sifat-Dasar Allah: Hakikat dan Sifat 123
Saul bila Daud tetap saja mendekam di kawasan ini (I Samuel
23:11-12). Yesus mengetahui bahwa Tirus dan Sidon pastilah akan
bertobat bila mereka menyaksikan mukjizat-mukjizat yang terjadi
di Betsaida dan Khorazim (Matius 11:21). Ia juga tahu bahwa So
dom dan Gomora tidak akan sampai dihancurkan seandainya me
reka melihat apa yang terjadi di Kapernaum (Matius 11:23-24;
Yesaya 48:18). Beberapa orang yang berhaluan idealis menolak
adanya perbedaan antara pengetahuan dengan kuasa. Mereka ber
anggapan bahwa pikiran dan pengetahuan selalu merupakan bukti
tentang penggunaan kuasa yang kreatif. Menurut mereka, Allah
menciptakan dengan jalan berpikir dan mengetahui. Bagaimanapun
juga, memiliki kemampuan tertentu serta memakai kemampuan
ini yaitu dua hal yang berbeda. Jadi, Tuhan mengetahui
segala sesuatu yang mungkin terjadi maupun segala sesuatu yang
betul-betul terjadi. Kemahatahuan jangan dibaurkan dengan
penyebab yang mendatangkan akibat. Mengetahui sebelumnya dan
menetapkan sebelumnya tidaklah harus sama.
e. Allah mengetahui masa depan. Dipandang dari sudut manusia
maka pengetahuan Tuhan tentang masa depan disebut pengetahuan
sebelum terjadi, namun dari sudut Allah pengetahuan-Nya tentang
masa depan tidak dapat disebut pengetahuan sebelum terjadi, karena
Allah mengetahui segala sesuatu secara serentak. Ia sudah menge
tahui masa depan secara umum sebelum itu terjadi (Yesaya 46:9-10;
Daniel 2 dan 7; Matius 24, 25; Kisah 15:18), tentang kejahatan
yang akan dilakukan oleh Israel (Ulangan 31:20-21), bangkitnya
Raja Koresy (Yesaya 44:26-45:7), kedatangan Kristus (Mikha 5:1),
bahwa Kristus akan disalibkan oleh orang-orang yang jahat (Kisah
2:23; 3:18). Dua hal harus diperhatikan dalam kesempatan ini: (1)
Pengetahuan Allah tentang masa depan itu sendiri tidak menyebab
kan itu terjadi. Tindakan-tindakan bebas tidak terjadi karena sudah
diketahui sebelumnya, namun tindakan-tindakan ini telah dike
tahui sebelumnya karena tindakan-tindakan itu akan terjadi. (2)
Suatu kejahatan moral yang telah dinubuatkan terlebih dahulu
tidaklah meniadakan tanggung jawab si pelaku kejahatan ini
(Matius 18:7; Yohanes 13:27; Kisah 2:23, bandingkan dengan
pengerasan hati Firaun dalam Keluaran 4:21).
Hikmat merupakan kecerdasan Allah yang diperlihatkan dalam
penetapan tujuan-tujuan terluhur serta sarana-sarana yang paling
124 Teologi
cocok dalam mencapai tujuannya ini . Sekalipun Allah secara
tulus ikhlas berusaha meningkatkan kebahagiaan makhluk-makhluk
ciptaan-Nya serta menyempurnakan para saleh dalam kekudusan
mereka, bukan ini yang merupakan tujuan yang paling luhur. Tujuan
yang paling luhur ialah kemuliaan-Nya sendiri. Segenap hasil karya
ciptaan-Nya (Mazmur 19:2-7; Amsal 3:19), pemeliharaan-Nya ter
hadap hasil karya-Nya ini (Nehemia 9:6; Wahyu 4:11), penye
lenggaraan (Mazmur 33:10-11; Daniel 4:35; Efesus 1:11), serta ren
cana dan pelaksanaan penebusan (I Korintus 2:7; Efesus 3:10-11)
bertujuan untuk memuliakan Allah.
3. Mahakuasa. Tuhan itu mahakuasa adanya dan sanggup me
lakukan apa saja yang mau dilakukan-Nya. Karena kehendak-Nya
itu dibatasi oleh watak-Nya maka Tuhan dapat melakukan segala
sesuatu yang sesuai dengan kesempurnaan-kesempurnaan-Nya. Ada
hal-hal yang tidak dapat dilakukan oleh Allah karena bertentangan
dengan watak-Nya. Allah tidak mungkin menyenangi kejahatan
(Habakuk 1:13), menyangkal diri-Nya (II Timotius 2:13), berdusta
(Titus 1:2; Ibrani 6:18), atau mencobai orang atau dicobai untuk
berbuat dosa (Yakobus 1:13). Selanjutnya, Allah tidak bisa melaku
kan hal-hal yang tak masuk akal atau yang bertentangan dengan
hakikat diri-Nya. Seperti menciptakan roh yang berwujud, batu
yang berperasaan halus, bundaran yang persegi, atau menganggap
perbuatan yang salah sebagai perbuatan yang betul. Semua ini
tidak dapat dianggap sebagai pembatasan terhadap kemaha
kuasaan Allah.
Memiliki kemahakuasaan tidak menuntut penggunaan seluruh ke-
kuasaan-Nya. Allah dapat melakukan apa yang Ia ingin lakukan,
namun hal ini tidak berarti bahwa Allah harus selalu ingin melakukan
sesuatu. Maksudnya, Allah berkuasa atas kuasa-Nya; kalau tidak
demikian maka Allah akan bertindak sesuai dengan kebutuhan yang
ada dan dengan demikian Allah kehilangan kebebasan-Nya. Kuasa
untuk membatasi diri tercakup dalam kemahakuasaan Allah. Allah
telah membatasi diri-Nya sampai taraf tertentu dengan memberikan
kehendak yang bebas kepada makhluk-makhluk ciptaan-Nya yang
rasional. Itulah sebabnya, Allah tidak membatasi masuknya dosa ke
dalam alam semesta dengan suatu pameran kekuatan dan inilah pula
sebabnya Allah tidak menyelamatkan manusia dengan paksa.
Sifat-Dasar Allah: Hakikat dan Sifat 125
Alkitab dengan jelas sekali mengajarkan tentang kemahakuasaan
Allah ini. Allah, yang disebut sebagai "Yang Mahakuasa" (Kejadian
17:1; Wahyu 4:8), disebutkan juga dalam Alkitab sebagai mampu
melakukan segala sesuatu yang telah direncanakan-Nya (Ayub
42:2), karena bagi Dia tidak ada yang mustahil (Matius 19:26) dan
tidak ada yang terlalu sukar (Yeremia 32:17). Allah betul-betul ber
kuasa penuh (Wahyu 19:6).
Kita dapat membedakan antara kuasa Allah yang absolut dengan
kuasa Allah yang tidak absolut. Kuasa yang absolut artinya Allah
dapat bekerja langsung tanpa bantuan sarana apa pun juga. Pen
ciptaan, mukjizat, penyataan langsung, pengilhaman, dan pembaha
ruan yaitu manifestasi kuasa Allah yang absolut. Penyelenggaraan
alam semesta ini merupakan contoh kuasa Allah yang tidak absolut
karena Allah memakai sarana-sarana tertentu. Dalam kedua hal ini,
Allah menjalankan efisiensi ilahi-Nya.
Berkali-kali orang percaya dianjurkan untuk bersandar kepada
Tuhan dalam lapangan pekerjaan apa pun juga atas dasar kuasa
Allah yang kreatif, melindungi, serta memelihara (Yesaya 45:11-13;
46:4; Yeremia 32:16-44; Kisah 4:24-31). Bagi orang Kristen ke
mahakuasaan Allah merupakan sumber penghiburan dan pengharap
an yang besar, namun bagi orang yang tidak percaya kemahakuasaan
Allah ini senantiasa merupakan peringatan dan sumber keta
kutan (I Petrus 4:17; II Petrus 3:10-11; Wahyu 19:15). Setan-setan
pun takut pada Tuhan dengan gemetar (Yakobus 2:19), karena me
reka mengetahui bahwa Allah berkuasa atas diri mereka (Matius
8:29). Pada suatu hari kelak orang-orang yang terkuat dan terbesar
pun akan berusaha bersembunyi dari hadapan-Nya (Wahyu 6:15-17;
lihat juga Yesaya 2:10-21), dan semua orang akan berlutut dalam
nama Yesus (Filipi 2:10).
4. Tidak berubah. Hakikat, sifat-sifat, kesadaran, dan kehendak
Allah tidak akan berubah. Semua perubahan merupakan perubahan
kepada keadaan yang lebih baik atau yang lebih buruk. Akan namun ,
Allah tidak mungkin berubah menjadi makin baik karena Ia betul-
betul sempurna; demikian pula Allah tidak mungkin berubah men
jadi makin buruk karena alasan yang sama. Allah berada di atas
segala sebab yang ada dan Ia bahkan juga berada di atas kemung
kinan perubahan. Allah tidak mungkin menjadi lebih bijaksana,
126 Teologi
lebih kudus, lebih adil, lebih murah, lebih setia, dan Allah juga
tidak mungkin menjadi kurang bijaksana dan seterusnya. Juga ren
cana dan segala tujuan-Nya tidak pernah berubah.
Sifat tidak berubah yang ada pada Allah disebabkan oleh keseder
hanaan hakikat-Nya. Manusia memiliki jiwa dan tubuh, dua hakikat,
yaitu yang rohani dan yang jasmani. Allah itu esa; Ia tidak berubah.
Sifat tidak berubah ini juga disebabkan karena Ia itu wajib ada dan
Ia itu ada dengan sendirinya. Apa yang ada tanpa penyebab, sebagai
akibat sifat-dasar-Nya sendiri, haruslah ada sebagaimana Ia ada.
Sifat tidak mungkin berubah ini juga disebabkan oleh kesempur-
naan-Nya yang mutlak. Tidak mungkin terjadi perbaikan atau ke
merosotan. Setiap perubahan dalam sifat-sifat-Nya akan menjadi
kan Dia sedikit kurang daripada Allah; setiap perubahan rencana
dan tujuan-Nya akan menjadikan Dia Allah yang tidak begitu bijak
sana, tidak begitu baik, dan tidak begitu kudus.
Alkitab menyatakan bahwa di dalam Tuhan tidak ada perubahan
atau pertukaran (Yakobus 1:17). Watak-Nya tidak berubah (Maz
mur 102:27-28; Maleakhi 3:6; Ibrani 1:12), kuasa-Nya tidak ber
ubah (Roma 4:20-21), rencana dan tujuan-tujuan-Nya tidak berubah
(Mazmur 33:11; Yesaya 46:10), demikian pula tidak berubah janji-
janji-Nya (I Raja-Raja 8:56; 11 Korintus 1:20), dan tidak berubah
kasih dan kemurahan-Nya (Mazmur 103:17), atau keadilan-Nya
(Kejadian 18:25; Yesaya 28:17).
Sifat tidak berubah ini jangan dikacaukan dengan sifat tidak ber
gerak. Allah itu aktif dan Ia terlibat dalam hubungan dengan manu
sia yang berubah-ubah. Dalam hubungan-Nya dengan manusia ini
ada kalanya perlu bagi Allah yang tidak berubah untuk mengubah
tindakan-Nya terhadap manusia yang berubah-ubah agar watak dan
tujuan-Nya tetap tidak berubah. Perlakuan Allah saat mengha
dapi orang yang belum diselamatkan itu berbeda dengan perlakuan-
Nya terhadap orang yang sudah diselamatkan (Amsal 11:20;
12:12;4 Petrus 3:12). Allah yang tidak mungkin menyesal (Bilangan
23:19), dikatakan menyesal pada saat manusia berubah dari jahat
menjadi baik, maupun dari baik menjadi jahat (Kejadian 6:6; Ke
luaran 32:14; Yeremia 18:7-11; Yoel 2:13; Yunus 3:10).
Sifat tidak berubah pada Allah ini nampak dalam hal Dia selalu
melakukan yang benar dan Ia senantiasa menangani secara adil
makhluk-makhluk ciptaan-Nya sesuai dengan watak dan kelakuan
Sifat-Dasar Allah: Hakikat dan Sifat 127
mereka. Ancaman-ancaman-Nya sering kali merupakan ancaman
bersyarat, misalnya saat Ia mengancam akan menghancurkan Is
rael (Keluaran 32:9-14) dan Niniwe (Yunus 1:2; 3:4, 10).
B. SIFAT-SIFAT MORAL
Sifat-sifat moral Allah merupakan sifat-sifat yang mengandung un
sur-unsur moral dalam hakikat ilahi.
1. Kekudusan. Allah itu samasekali berbeda dan lebih agung dari
pada segala makhluk ciptaan-Nya, dan la juga terpisah dari semua
dosa dan kejahatan moral. Dalam arti yang pertama tadi, kekudusan
Allah sebenarnya bukan suatu sifat yang sederajat dengan sifat-sifat
lainnya, namun lebih tepat kalau dikatakan bahwa sifat Allah ini
sejajar atau sejalan dengan sifat-sifat lainnya. Kekudusan Allah me
nunjuk kepada kesempurnaan segala sesuatu di dalam diri Allah.
Dalam arti yang kedua, kekudusan itu dipandang sebagai keselaras
an kekal dari diri Allah dengan kehendak-Nya. Di dalam diri Allah
kemurnian diri sudah ada sebelum kemurnian kehendak maupun
tindakan. Allah tidak menghendaki yang baik karena itu baik, juga
tidak dapat dikatakan bahwa sesuatu itu baik karena itu
dikehendaki oleh Tuhan; jika halnya memang demikian maka itu
berarti ada sesuatu yang baik yang lebih tinggi dari Allah atau yang
baik itu sifatnya sewenang-wenang dan bisa berubah-ubah. Lebih
tepat kalau dikatakan bahwa kehendak Allah merupakan wujud
sifat-dasar Allah yang kudus itu.
Kekudusan merupakan sifat yang terutama di antara semua sifat
Allah. Dalam zaman Perjanjian Lama Allah teristimewa ingin agar
diri-Nya dikenal sebagai Allah yang kudus (Imamat 11:44-45;
Yosua 24:19; I Samuel 6:20; Mazmur 22:4; Yesaya 40:25; Yehezkiel
39:7; Habakuk 1:12). Kekudusan Allah ditekankan oleh batas-
batas yang dipasang keliling Gunung Sinai saat Allah berkenan
turun di gunung itu (Keluaran 19:12-25), oleh pembagian kemah
suci dan bait suci ke dalam tempat kudus dan tempat yang maha-
kudus (Keluaran 26:33; I Raja-Raja 6:16, 19), juga oleh penentuan
korban-korban yang harus dipersembahkan seorang Israel bila akan
menghampiri hadirat-Nya (Imamat 1-7). Kekudusan ini juga
memperoleh tekanan khusus dalam keimaman yang ditetapkan-Nya
128 Teologi
sebagai perantara di antara Allah dan bangsa Israel (Imamat 8-10),
serta hukum-hukum tentang kenajisan (Imamat 11-15), pesta-pesta
atau hari-hari raya Israel (Imamat 23), serta juga kedudukan khusus
Israel di Palestina (Bilangan 23:9; Ulangan 33:28-29). Allah disebut
sebagai "Yang Kudus" sekitar tiga puluh kali dalam kitab Yesaya
saja (lihat juga istilah "kudus" dalam kaitan dengan Allah Anak
dalam Kisah 3:14, dan Roh dalam Efesus 4:30).
Dalam Perjanjian Baru, kekudusan Allah tidak disebutkan sese
ring di Perjanjian Lama, namun sifat ini juga dinyatakan (Yohanes
17:11; Ibrani 12:10; I Petrus 1:15-16). Yohanes menyatakan, "Allah
yaitu terang, dan di dalam Dia samasekali tidak ada kegelapan"
(I Yohanes 1:5). Para serafim mengelilingi takhta Allah sambil ber
seru secara antifonal, "Kudus, kudus, kuduslah" (Yesaya 6:3;
Wahyu 4:8). Begitu mendasarnya sifat ini sehingga kekudusan
Allah, dan bukan kasih, kuasa, atau kehendak-Nya yang harus men
duduki tempat utama. Kekudusan Allah yang mengatur tiga sifat
yang lain itu, karena takhta-Nya didirikan berlandaskan kekudusan-
Nya.
Tiga hal penting harus kita pelajari dari kenyataan kekudusan
Allah ini.
a. Di antara Allah dengan orang berdosa ada suatu jurang
pemisah (Yesaya 59:1-2; Habakuk 1:13). Bukan saja orang berdosa
terpisah dari Allah, melainkan Allah juga terpisah dari orang ber
dosa. Sebelum ada dosa, manusia dengan Allah bersekutu satu de
ngan yang lain; kini persekutuan ini telah putus dan mustahil
berlangsung lagi.
b. jika manusia ingin menghampiri Allah, ia harus melaku
kannya melalui seorang penengah. Manusia tidak memiliki dan ti
dak mungkin memperoleh kesucian tak bercacat yang diperlukan
untuk menghampiri Allah. Namun, Kristus telah membuka jalan
bagi manusia untuk menghampiri Allah kembali (Roma 5:2; Efesus
2:18; Ibrani 10:19-20). Di dalam kekudusan Allah ada alasan
pendamaian; apa yang dituntut oleh kekudusan Allah telah disedia
kan oleh kasih Allah (Roma 5:6-8; Efesus 2:1-9; I Petrus 3:18).
c. Kita harus menghampiri Allah "dengan hormat dan takut"
(Ibrani 12:28). Suatu pemahaman yang benar tentang kekudusan
Allah menghasilkan pemahaman yang memadai tentang kenajisan
Sifat-Dasar Allah: Hakikat dan Sifat 129
diri kita (Mazmur 66:18; I Yohanes 1:5-7). Ayub (39:36-38),
Yesaya (6:5-7), dan Petrus (Lukas 5:8) merupakan contoh-contoh
yang menonjol dari kebenaran ini. Perendahan diri, kesedihan yang
mendalam karena berbuat dosa, serta pengakuan dosa merupakan
tanggapan yang dengan sendirinya timbul setelah memahami pan
dangan Alkitab tentang kekudusan Allah.
2. Kebenaran dan keadilan. Kebenaran dan keadilan Allah me
rupakan unsur kekudusan Allah yang nampak di dalam cara Allah
menghadapi manusia ciptaan-Nya. Berkali-kali dalam Alkitab sifat-
sifat ini disebutkan sebagai milik Allah (II Tawarikh 12:6; Ezra
9:15; Nehemia 9:33; Yesaya 45:21; Daniel 9:14; Yohanes 17:25;
II Timotius 4:8; Wahyu 16:5). Abraham pernah merenungkan se
bagai berikut, "Masakan Hakim segenap bumi tidak menghukum
dengan adil?" (Kejadian 18:25). Pemazmur menandaskan, "Keadil
an dan hukum yaitu tumpuan takhta-Mu" (Mazmur 89:15; 97:2).
Allah telah menetapkan suatu pemerintahan moral di dalam dunia,
menetapkan hukum-hukum yang adil untuk ditaati makhluk-makh
luk ciptaan-Nya serta menetapkan juga sangsi-sangsinya. Karena
ada sangsi, Allah melaksanakan hukum-hukum-Nya dengan cara
memberi hadiah atau menjatuhkan hukuman. Pembagian hadiah ini
dikenal dengan istilah keadilan yang memberi pahala (Ulangan 7:9-
13; II Tawarikh 6:15; Mazmur 58:12; Matius 25:21; Roma 2:7;
Ibrani 11:26). Keadilan yang memberi pahala dilandaskan pada
kasih ilahi dan bukan semata-mata pada jasa. Pemberian hukuman
dikenal dengan istilah keadilan yang menghukum. Keadilan meng
hukum merupakan ungkapan murka ilahi (Kejadian 2:17; Keluaran
34:7; Yehezkiel 18:4; Roma 1:32; 2:8, 9; II Tesalonika 1:8). Allah
tidak mungkin menetapkan sebuah hukum lengkap dengan sang
sinya lalu membiarkan saja bila terjadi pelanggaran. Bila hukum
Allah dilanggar harus ada penghukuman baik secara pribadi ataupun
lewat pengganti. Dengan kata lain, keadilan menuntut penghukuman
orang berdosa, namun keadilan juga bisa menerima pengorbanan se
orang pengganti seperti dalam hal kematian Kristus (Yesaya 53:6;
Markus 10:45; Roma 5:8; I Petrus 2:24). Kebenaran Allah dinya
takan dalam penghukuman-Nya atas orang fasik (Wahyu 16:5-7),
pembebasan umat-Nya dari segenap penjahat (Mazmur 129), meng
ampuni orang yang bertobat (I Yohanes 1:9), menepati janji kepada
130 Teologi
anak-anak-Nya (Nehemia 9:7-9), serta memberi pahala kepada yang
setia (Ibrani 6:10).
Kalangan tertentu mungkin mengemukakan bahwa penghukuman
itu hanyalah untuk perbaikan, namun harus dilihat bahwa tujuan
akhir dari setiap penghukuman ialah dipertahankannya keadilan.
Bisa saja penghukuman juga mempunyai tujuan sampingan seperti
perbaikan atau pencegahan (I Timotius 5:20).
Kebenaran Allah membesarkan hati orang percaya karena ia tahu
bahwa Allah menghakimi dengan adil (Kisah 17:31), bahwa ia aman
di dalam kebenaran Kristus (Yohanes 17:24; I Korintus 1:30; II
Korintus 5:21), dan bahwa segala kebaikannya tidak akan dilupakan
Allah (Amsal 19:17; Ibrani 6:10; Wahyu 19:8).
3. Kebaikan. Dalam arti yang lebih luas dari istilah ini, kebaikan
Allah meliputi semua sifat-Nya yang sesuai dengan gambaran kita
tentang seseorang yang sempurna; maksudnya, kebaikan Allah me
liputi sifat-sifat seperti kekudusan-Nya, keadilan dan kebenaran-
Nya, dan demikian pula kasih-Nya, kemurahan-Nya, belas kasihan-
Nya, dan anugerah-Nya. Nampaknya pengertian yang luas inilah
yang dimaksudkan oleh Yesus Kristus saat berkata kepada
pemuda yang kaya itu, "Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak se
orang pun yang baik selain daripada Allah saja" (Markus 10:18).
Namun dalam pengertian yang lebih sempit, kebaikan Allah ber
kaitan dengan keempat sifat yang disebutkan paling akhir.
a. Kasih Allah. Kasih Allah merupakan kesempurnaan dari
tabiat Allah yang selalu mendorong Allah untuk menyatakan diri-
Nya. Kasih Allah bukan sekadar dorongan emosional yang sesaat,
melainkan merupakan kasih sayang yang rasional dan sukarela ka
rena berlandaskan kebenaran dan kekudusan serta bertindak secara
sukarela. Kami tidak bermaksud menyangkal keterlibatan perasaan
karena kasih yang sejati selalu melibatkan perasaan. Bila tidak ada
perasaan di dalam diri Tuhan, maka tidak ada kasih juga di dalam
diri-Nya. Kenyataan bahwa Tuhan sedih melihat dosa-dosa umat-
Nya berarti bahwa Ia mengasihi umat-Nya (Yesaya 63:9-10; Efesus
4:30). Kasih Allah pertama-tama dan terutama ditujukan kepada
oknum-oknum lain di dalam tritunggal. Jadi, untuk menyatakan
kasih-Nya, Allah sebenarnya tidak memerlukan alam semesta dan
manusia.
Sifat-Dasar Allah: Hakikat dan Sifat 131
Alkitab sering kali memberi kesaksian bahwa Allah itu kasih.
Alkitab berbicara tentang Allah sebagai "Allah sumber kasih"
(II Korintus 13:11) dan menyatakan bahwa Allah yaitu
"kasih" (I Yohanes 4:8, 16). yaitu watak Allah untuk senantiasa
mengasihi. Allah memprakarsai kasih (I Yohanes 4:10). Allah itu
berbeda dengan dewa-dewa kaum kafir yang selalu penuh keben
cian dan senantiasa murka. Allah juga berbeda dengan ilah ciptaan
para ahli filsafat yang dingin dan tidak berperasaan. Allah Bapa
mengasihi Allah Anak (Matius 3:17), dan Allah Anak mengasihi
Allah Bapa (Yohanes 14:31). Allah mengasihi dunia (Yohanes 3:16;
Efesus 2:4), umat-Nya Israel (Ulangan 7:6-8, 13; Yeremia 31:3),
serta anak-anak-Nya yang sejati (Yohanes 14:23). Allah mengasihi
keadilan (Mazmur 11:7) serta kebenaran (Yesaya 61:8). Keyakinan
akan kasih Allah merupakan sumber penghiburan bagi orang per
caya (Roma 8:35-39).
b. Kemurahan Allah. Akibat kebaikan-Nya, Allah memperlaku
kan semua makhluk-Nya dengan lemah lembut dan sayang serta
memberkati mereka dengan berlimpah-limpah. "Tuhan itu baik ter
hadap semua orang, dan penuh rahmat terhadap segala yang di-
jadikan-Nya.... Mata sekalian orang menantikan Engkau, dan Eng
kau pun memberi mereka makanan pada waktunya; Engkau yang
membuka tangan-Mu dan yang berkenan mengenyangkan segala
yang hidup" (Mazmur 145:9, 15-16). Ciptaan merupakan hasil karya
Allah yang semuanya dinyatakan sangat baik oleh Tuhan sendiri
(Kejadian 1:31). Tuhan tidak mungkin membenci apa yang telah
dibuat-Nya sendiri (Ayub 10:3; 14:15). Kemurahan Allah dinyata
kan dalam perhatian-Nya terhadap kesejahteraan makhluk-makhluk
ciptaan-Nya serta senantiasa menyediakan apa yang diperlukan oleh
mereka sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing
(Ayub 39:3; Mazmur 104:21; 145:15; Matius 6:26). Kemurahan
Allah tidak terbatas kepada orang percaya saja, karena "Bapamu
yang di sorga ... menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan
orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan
orang yang tid












