Tampilkan postingan dengan label teologi sistematik 5. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label teologi sistematik 5. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Juli 2026

teologi sistematik 5

 


2; 

Ezra 3:2; Nehemia 8:2; Daniel 9:2, 11, 13; Zakharia 7:12; Maleakhi 

4:4; Kisah 1:16; 28:25; I Petrus 1:10-11). (5) Petrus menempatkan 

surat-surat Rasul Paulus setaraf dengan "tulisan-tulisan yang lain" 

(II Petrus 3:16). Dan (6) Paulus menyatakan bahwa seluruh Perjan­

jian Lama diilhamkan oleh Tuhan (II Timotius 3:16). Petrus me­

nulis, "Yang terutama harus kamu ketahui ialah bahwa nubuat- 

nubuat dalam Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak 

sendiri, sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak ma­

nusia, namun  oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas 

nama Allah" (II Petrus 1:20-21).

Perhatikan juga pandangan Tuhan Yesus Kristus tentang 

pengilhaman. Yesus Kristus mengatakan, "Kitab Suci tidak dapat 

dibatalkan" (Yohanes 10:35). Di dalam ketiga bagian Perjanjian 

Lama, "kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur," 

Yesus Kristus menemukan ajaran-ajaran tentang diri-Nya sendiri 

(Lukas 24:44, bandingkan dengan ayat 27). Ia juga mengatakan 

bahwa Ia datang bukan untuk meniadakan Taurat namun  untuk 

menggenapinya (Matius 5:17); dan Ia mengemukakan pengertian- 

Nya tentang pengilhaman saat  mengatakan, "Sesungguhnya 

selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik 

pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya 

terjadi" (Matius 5:18; Lukas 16:17). Maksudnya, Yesus Kristus 

percaya bahwa hukum Taurat telah diilhamkan secara verbal. 

"Hukum Taurat" dalam konteks ini jelas berarti seluruh Perjanjian 

Lama.

Selanjutnya, Yesus membuat beberapa pernyataan penting ten­

tang pemeliharaan serta penafsiran fakta-fakta yang berkaitan de­

Pengilhaman Alkitab 105

ngan diri dan misi-Nya. Sebelum Ia pergi meninggalkan murid- 

murid-Nya, Ia mengatakan bahwa Roh Kudus akan menjadikan me­

reka guru-guru yang cakap dalam mengajarkan kebenaran. Menurut 

Yesus, Roh Kudus akan melakukan hal ini saat  Ia datang kepada 

mereka, mengajarkan kepada mereka segala hal, mengingatkan 

mereka segala sesuatu yang telah diajarkan Yesus kepada mereka 

sebelumnya, menuntun mereka ke dalam seluruh kebenaran, dan 

menunjukkan kepada mereka hal-hal yang akan datang (Yohanes 

14:26; 16:13). Janji-janji ini meliputi fakta-fakta kehidupan Kristus 

di atas muka bumi, pengalaman para murid yang mula-mula, dok­

trin-doktrin yang diuraikan dalam Surat-Surat Kiriman, serta nu­

buat-nubuat dalam kitab Wahyu. Para Rasul menyatakan bahwa 

mereka telah menerima Roh ini (Kisah 2:4; 9:17; I Korintus 2:10- 

12; 7:40; Yakobus 4:5; I Yohanes 3:24; Yudas 19) dan bahwa me­

reka berbicara karena dipengaruhi oleh Roh serta atas nama Roh 

itu (Kisah 2:4; 4:8, 31; 13:9; I Korintus 2:13; 14:37; Galatia 1:1, 

12; I Tesalonika 2:13; 4:2, 8; I Petrus 1:12; I Yohanes 5:10-11; 

Wahyu 21:5; 22:6, 18-19). Jadi dapat dikatakan bahwa Tuhan Ye­

sus sendiri menjamin pengilhaman Perjanjian Baru.

III. KEBERATAN-KEBERATAN TERHADAP 

PENDAPAT PENGILHAMAN INI

Berdasarkan keterangan-keterangan di atas maka seharusnya orang 

percaya akan pengilhaman verbal Alkitab; namun ada  persoal­

an-persoalan yang perlu mendapatkan perhatian kita.

A. KUTIPAN-KUTIPAN YANG MENYANGKUT KETIDAK­

TAHUAN ATAU KESALAHAN

Paulus mengatakan di hadapan Ananias, "Hai Saudara-saudara, aku 

tidak tahu bahwa ia yaitu  Imam Besar" (Kisah 23:5). Di sini 

Paulus mengakui ketidaktahuannya semata dan tidak ada hubungan­

nya dengan soal pengilhaman. Rekaman pernyataan ini terilhamkan 

secara penuh. Percakapan sahabat-sahabat Ayub juga berisi kesa­

lahan. Pengilhaman menjamin pencatatan yang teliti dari per­

cakapan mereka, bukan betul atau tidaknya isi percakapan itu. Ter­

dapat perbedaan antara hal yang dikutip dengan hal yang ditegas-

106 Bibliologi

kan, antara kenyataan bahwa sesuatu telah dikatakan dengan benar 

atau tidaknya hal yang dikatakan itu. Apa pun yang oleh Alkitab 

"ditegaskan sebagai benar dan bebas dari kesalahan haruslah 

diterima demikian juga."34

Namun apa artinya ayat berikut ini, "Kepada orang-orang lain 

aku, bukan Tuhan, katakan ..." (I Korintus 7:12)? Tuhan telah mem­

berikan ketetapan tentang perceraian (Matius 5:31, 32; 19:3-9); dan 

kini Paulus berbicara dengan kewibawaan ilahi yang telah diberikan 

kepadanya. Paulus tidak sedang menentukan batas antara ketetapan 

Kristus dengan ketetapannya sendiri. Lebih tepat kalau dikatakan 

bahwa dalam kesempatan ini Paulus menuntut pengilhaman dan 

wibawa untuk menyampaikan ajaran dan kelakuan (lihat I Korintus 

7:12, 25). Paulus juga memiliki "Roh Allah" (I Korintus 7:40).

B, DALAM ILMU PENGETAHUAN DAN SEJARAH

Alkitab bukan sebuah buku teks bidang ilmu pengetahuan tertentu 

maupun sejarah; namun bila Alkitab memang terilhamkan secara 

verbal, maka dapat diharapkan bahwa Alkitab akan mengatakan 

yang benar bilamana membahas pokok-pokok di bidang-bidang ter­

sebut di atas. Namun sebagaimana para ilmuwan pun masih ber­

bicara soal terbit dan terbenamnya matahari, keempat penjuru dunia, 

dan sebagainya, demikian pula Alkitab sering kali memakai  

bahasa penampilan. Yang nampak sebagai ketidaksempurnaan, 

kesalahan, dan pertentangan biasanya akan menghilang bila kita 

mempertimbangkan gaya bukan ilmiah yang mereka pakai, sifat 

fragmentaris dari banyak kisah, sifat saling menambah dari banyak 

hal yang dicatat oleh berbagai penulis, situasi sejarah yang men­

ghasilkan suatu bentuk perilaku tertentu, serta kekeliruan yang dapat 

diperbuat oleh para ahli kitab.

Penemuan-penemuan hasil penggalian arkeologis telah banyak 

berjasa untuk menguatkan ketepatan Perjanjian Lama di bidang 

sejarah khususnya. Hamurabi, Sargon II, suku Het, serta Belsyazar 

tidak lagi menjadi masalah bagi seorang sejarawan. Hal ini juga 

berlaku bagi Perjanjian Baru. Kirenius (Lukas 2:2), Lisanias (Lukas 

3:1), Sergius Paulus (Kisah 13:7), dan Galio (Kisah 18:12) semua 

telah ditemukan dalam penggalian arkeologis, sehingga terbuktilah 

bahwa kisah-kisah ini  benar-benar telah terjadi.

34 Pinnock, Biblical Revelation, hal. 79.

Pengilhaman Alkitab 107

Perbedaan jumlah orang mati karena tulah di Lembah Sitim 

(Bilangan 25:9; I Korintus 10:8) menjadi tidak ada bila kedua ayat 

itu dipelajari secara teliti. 'Tempat yang datar" (Lukas 6:17) nam­

paknya sebuah tempat datar yang di gunung (Matius 5:1). Pada 

waktu itu ada kota Yerikho yang lama dan kota Yerikho yang baru, 

sedangkan kedua orang buta itu disembuhkan di antara kedua Ye­

rikho ini  (Matius 20:29; Markus 10:46; Lukas 18:35). Markus 

dan Lukas nampaknya bermaksud mencatat yang menonjol saja, 

sebagaimana halnya penyembuhan di Dekapolis (Matius 8:28; 

Markus 5:2; Lukas 8:27).

C. DALAM MUKJIZAT DAN NUBUAT

Bukti adanya mukjizat dan nubuat sudah disajikan sebelumnya, na­

mun dapat kita tambahkan bahwa catatan mukjizat-mukjizat Kristus 

terjalin sedemikian rupa dengan catatan aspek-aspek kehidupan- 

Nya yang lain sehingga mustahil mengeluarkan catatan mukjizat 

tanpa merusak yang lain. Bila seseorang mempercayai kebangkitan 

tubuh Kristus, maka tidak ada lagi halangan yang berarti dalam 

menerima mukjizat lainnya dalam Alkitab. Atau sebagaimana di­

katakan Saucy, "Bila kenyataan adanya Allah sudah diterima . . . 

tidak ada lagi halangan yang sah untuk menolak kemungkinan cam­

pur tangan-Nya yang adikodrati pada saat dan saat  yang dikehen- 

daki-Nya."35

35 Saucy, The Bible: Breathed from God, hal. 89.

Mengingat penggenapan nubuat-nubuat antara lain tentang 

Babilonia, Media-Persia, Yunani, dan Romawi, mengenai Israel, 

mengenai Kristus, dan mengenai keadaan masa kini, maka seharus­

nya tidak lagi kita merasa sangsi untuk menerima kemungkinan 

terjadinya nubuat tentang masa depan. Yang sering kali dianggap 

sebagai kesalahan dalam nubuat biasanya terbukti merupakan 

kesalahan penafsiran. Bagian-bagian dari Daniel 2, 7, 9, 11, 12, 

bagian-bagian dari kitab Zakharia 12-14, dan sebagian besar kitab 

Wahyu masih menantikan penggenapannya.

108 Bibliologi

D. DALAM MENGUTIP DAN MENAFSIRKAN PERJANJIAN 

LAMA

Sebagian besar kesulitan kita dalam hal ini akan hilang bila kita 

memperhatikan beberapa hal. (1) Kadang-kadang para penulis Per­

janjian Baru sekadar mengungkap gagasan mereka dengan kata-kata 

yang mereka pinjam dari sebuah nas Perjanjian Lama, tanpa ber­

usaha untuk menafsirkannya (Roma 10:6-8; lihat Ulangan 30:12- 

14). (2) Kadang-kadang mereka menunjuk kepada suatu unsur lam­

bang dalam satu bagian Alkitab yang pada umumnya tidak dipan­

dang sebagai lambang (Matius 2:15; lihat juga Hosea 11:1). (3) 

Kadang-kadang mereka mengakui sebuah nubuat yang ditulis lebih 

awal padahal sebenarnya mereka mengutip nubuat yang ditulis 

kemudian (Matius 27:9; lihat juga Zakharia 11:13). (4) Kadang- 

kadang mereka mengutip suatu terjemahan yang rupanya salah 

dalam Septuaginta dengan alasan bahwa sekalipun terjemahannya 

salah namun tetap dapat mengantarkan minimal satu makna dari 

naskah Ibrani (Efesus 4:26; lihat Mazmur 4:4 dalam Septuaginta). 

Dan (5) kadang-kadang mereka menggabungkan dua kutipan men­

jadi satu dan mengakui hanya penulis kitab Perjanjian Lama yang 

lebih menonjol (Matius 1:2-3; lihat Yesaya 40:3; Maleakhi 3:1).

Selanjutnya, bila kita percaya akan kemungkinan karya adi­

kodrati dari Roh Kudus di dalam hati manusia, maka seharusnya 

kita tidak perlu berkeberatan untuk percaya akan kemungkinan 

suatu campur tangan adikodrati Roh Kudus dalam menghasilkan 

Alkitab. Dan bila kita mengakui Roh Kudus sebagai penulis yang 

sebenarnya dari Alkitab, maka kita tidak dapat menolak hak-Nya 

untuk memakai Perjanjian Lama dalam salah satu cara yang telah 

disebut di atas.

E. DALAM MORAL DAN AGAMA

Secara praktis semua yang dinamakan kesalahan di bidang moral 

dan agama ada  dalam Perjanjian Lama. Namun, semua ke­

sukaran dalam hal ini akan hilang bila kita mempertimbangkan 

fakta-fakta berikut. (1) Tindakan-tindakan berdosa manusia 

mungkin saja dicantumkan, namun  tindakan itu samasekali tidak di­

setujui; misalnya, kemabukan Nuh (Kejadian 9:20-27), perzinahan 

Lot dengan kedua putrinya (Kejadian 19:30-38), kebohongan Yakub 

Pengilhaman Alkitab 109

(Kejadian 27:18-24), perzinahan Daud (II Samuel 11:1-4), poligami 

Salomo (I Raja-Raja 11:1-3), ketegaran Ester (Ester 9:12-14), dan 

penyangkalan Petrus (Matius 26:69-75). (2) Beberapa tindakan jahat 

kelihatannya disetujui, namun sebenarnya yang diakui ialah maksud 

baik di balik tindakan ini  dan bukan tindakan itu sendiri; 

misalnya, yang diakui ialah iman Rahab dan bukan ketidakjujuran­

nya (Yosua 2:1-21; Ibrani 11:31; Yakobus 2:25), patriotisme Yoel, 

bukan pengkhianatannya (Hakim-Hakim 4:17-22, bandingkan 5:24), 

dan iman Simson, bukan cara hidupnya yang bergelandangan 

(Hakim-Hakim 14-16, bandingkan Ibrani 11:32). (3) Beberapa hal 

diizinkan Tuhan sebagai benar secara relatif, tidak mutlak; misalnya 

perceraian (Ulangan 24:1, bandingkan Matius 5:31-32; 19:7-9) dan 

pembalasan (Keluaran 21:23-25, bandingkan Matius 5:38,39; Roma 

12:19-21). (4) Beberapa doa dan perintah ilahi mengungkapkan 

maksud Allah yang berdaulat yang sering kali memakai manusia 

untuk melakukan kehendak-Nya; misalnya beberapa Mazmur 

pengutukan (35, 69, 109, 137) dan perintah untuk menghancurkan 

orang-orang Kanaan (Ulangan 7:1-5, 16; 20:16-18).

Beberapa pihak telah mengajukan keberatan bahwa ada beberapa 

kitab tidak layak dimaksudkan dalam kanon kudus. Kitab Ester, 

Ayub, Kidung Agung, Pengkhotbah, Yunus, Yakobus, dan Wahyu 

yaitu  kitab-kitab yang dimaksudkan. Sebagai tanggapan, kami 

mengatakan bahwa pendapat semacam ini berlandaskan suatu salah 

pengertian tentang maksud serta metode penulisannya dan juga 

mengabaikan kesaksian banyak orang tentang manfaat kitab-kitab 

itu. Bila tujuan sebenarnya dari kitab-kitab ini telah diketahui, maka 

kitab-kitab ini  akan ternyata bukan saja sangat berguna, namun  

bahkan sangat diperlukan dalam suatu sistem doktrin yang utuh.


BAGIAN III 

TEOLOGI

(AJARAN TENTANG ALLAH)

Setelah mempercayai bahwa di dalam Alkitab kita memiliki satu- 

satunya sumber utama yang tidak dapat salah perihal teologi, kini 

kita akan melanjutkan penyelidikan kita berdasarkan Alkitab. Ke­

tika sangat memuji Alkitab seperti ini, tidaklah berarti bahwa kami 

melupakan pentingnya peranan akal, naluri, pengakuan iman gereja, 

dan seterusnya; namun, sebagaimana sudah kami katakan, akal dan 

sebagainya itu bukan merupakan sumber utama teologi, namun  

hanyalah sekadar alat-alat pembantu dalam memahami penyataan 

Allah, khususnya yang tercantum dalam Alkitab. Dalam mengem­

bangkan sebuah sistem teologi yang alkitabiah, kita akan terlebih 

dahulu membahas pribadi dan karya Allah. Untuk kemudahannya 

pokok bahasan ini akan dibagi menjadi empat bagian: sifat Allah, 

keesaan dan ketritunggalan Allah, ketetapan-ketetapan Allah, serta 

karya-karya Allah.

111


VIII

Sifat-Dasar Allah: Hakikat dan 

Sifat

Banyak ciri khas Allah sudah terungkap dalam penyelidikan se­

belumnya tentang penyataan Allah serta bukti-bukti adanya Dia. 

Namun, ciri-ciri ini  dibahas secara tidak langsung dan secara- 

tidak teratur, sedangkan beberapa fakta tertentu hampir tidak di­

singgung samasekali. Pokok ini  kini akan dibahas secara lebih 

lengkap serta materinya akan dikelola menjadi sebuah sistem yang 

teratur. Pasal ini berkaitan dengan sifat-dasar Allah, dengan rujukan 

khusus kepada hakikat serta sifat-sifat-Nya.

I. HAKIKAT ALLAH

Istilah-istilah "hakikat" dan "zat" praktis sinonim bila dipakai untuk 

Allah. Keduanya dapat didefinisikan sebagai yang melandasi semua 

perwujudan keluar; kenyataan itu sendiri baik yang bendawi 

maupun yang tidak bendawi; dasar dari segala sesuatu; di dalamnya 

semua sifat berada. Kedua istilah ini menunjuk kepada aspek dasar 

dari sifat-dasar Allah; bila tidak ada hakikat dan zat maka tidak 

mungkin ada sifat-sifat. saat  berbicara mengenai Tuhan, berarti 

kita berbicara tentang suatu hakikat, suatu zat, dan bukan sekadar 

suatu gagasan atau personifikasi gagasan tertentu.

Karena ada  perbedaan antara hakikat dan sifat-sifat Allah, 

maka kita diperhadapkan dengan soal bagaimana membedakan 

keduanya. Kami mengakui bahwa mungkin saja beberapa sifat ter­

tentu sebenarnya bukan sifat samasekali namun  aspek-aspek yang 

berbeda dari zat ilahi. Kerohanian, ada dengan sendirinya, kebe­

saran yang tak terhingga, dan kekekalan merupakan pokok-pokok 

yang dimaksudkan.

113

114 Teologi

A. KEROHANIAN

Allah merupakan zat. Akan namun , Allah bukanlah zat bendawi, me­

lainkan zat rohani. Yesus mengatakan "Allah itu Roh" (Yohanes 

4:24). Pernyataan ini menetapkan sifat-dasar Allah sebagai rohani.

1. Allah tidak berbadan dan tidak berwujud. Yesus mengatakan, 

"... roh [hantu] tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu 

lihat ada pada-Ku" (Lukas 24:39). Jika Allah yaitu  roh, maka de­

ngan sendirinya Ia tidak berbadan dan tidak berwujud. Perintah 

kedua dari Sepuluh Perintah Allah yang melarang pembuatan segala 

jenis patung atau gambaran (Keluaran 20:4), dilandaskan pada ke­

adaan Allah yang tidak berbadan. Demikian pula segala peraturan 

yang melarang penyembahan berhala (Imamat 26:1; Ulangan 

16:22).

Akan namun , bagaimana dengan ungkapan-ungkapan yang meng­

gambarkan Allah sebagai memiliki alat-alat tubuh: tangan (Yesaya 

65:2; Ibrani 1:10), kaki (Kejadian 3:8), mata (I Raja-Raja 8:29; 

II Tawarikh 16:9), telinga (Nehemia 1:6; Mazmur 34:16)? Semua 

ini merupakan bentuk-bentuk pengungkapan yang bersifat antropo- 

morfik dan gambaran-gambaran yang simbolis yang dipakai untuk 

membuat Allah itu nyata dan juga untuk mengungkapkan berbagai 

minat, kuasa, dan kegiatan-Nya.

Manusia berbeda karena memiliki roh yang terbatas, yaitu roh 

yang dapat tinggal di dalam badan yang jasmaniah (I Korintus 2:11; 

I Tesalonika 5:23). Allah yaitu  roh yang tidak terbatas dan oleh 

karena itu tidak berwujud (Kisah 7:48, 49).

2. la tidak dapat dilihat. Orang-orang Israel "tidak melihat se­

suatu rupa" saat  Allah menampakkan diri kepada mereka di Gu­

nung Horeb, karena itu mereka dilarang membuat patung Allah 

(Ulangan 4:15-19). Allah mengatakan kepada Musa bahwa tidak 

ada manusia yang dapat melihat-Nya dan tetap hidup (Keluaran 

33:20). Yohanes mengatakan 'Tidak seorang pun yang pernah me­

lihat Allah" (Yohanes 1:18). Paulus menyebut Tuhan sebagai "Allah 

yang tidak kelihatan" (Kolose 1:15, bandingkan Roma 1:20; I Timo­

tius 1:17) serta menyatakan bahwa tidak ada orang yang telah me­

lihat Allah atau dapat melihat Allah (I Timotius 6:16). Namun 

beberapa bagian Alkitab mengatakan bahwa pada suatu hari orang- 

Sifat-Dasar Allah: Hakikat dan Sifat 115

orang yang tertebus akan melihat Dia (Mazmur 17:15; Matius 5:8; 

Ibrani 12:14; Wahyu 22:4).

Namun bagaimana menerangkan ayat-ayat Alkitab yang menye­

but tentang orang-orang yang melihat Allah seperti Kejadian 32:30; 

Keluaran 3:6; 24:9-10; Bilangan 12:6-8; Ulangan 34:10; dan Yesaya 

6:1-8? Bila seseorang melihat wajahnya di cermin maka dalam arti 

kata tertentu ia melihat wajahnya sendiri; namun dalam arti kata 

lain ia tidak betul-betul melihat dirinya sendiri. Berdasarkan ke­

nyataan ini orang-orang itu telah melihat pantulan kemuliaan Allah, 

namun mereka tidak melihat hakikat-Nya (Ibrani 1:3). Kemudian, 

roh juga dapat menunjukkan diri dalam bentuk yang kelihatan (Yo­

hanes 1:32; Ibrani 1:7).

saat  Musa melihat "belakang" Allah (Keluaran 33:23), hal itu 

terjadi sebagai tanggapan Allah terhadap permintaan Musa untuk 

melihat kemuliaan Tuhan (ayat 18). Lebih tepat bila dikatakan 

bahwa Musa melihat akibat yang kemudian atau apa yang disebut­

kan oleh Driver "sisa pantulan" kemuliaan Allah,36 daripada menaf­

sirkan ayat ini sebagai berarti bahwa Musa betul-betul melihat Allah 

karena konteks menunjukkan bahwa hal itu tidak mungkin (ayat 

20).

36 Driver, The Book of Exodus, hal. 363.

Teofani merupakan penampakan ilahi yang dapat dilihat oleh 

mata jasmaniah. Yakub berkata setelah bergumul dengan sese­

orang, "Aku telah melihat Allah berhadapan muka" (Kejadian 

32:30). "Malaikat Tuhan" merupakan penampakan ilahi yang dapat 

dilihat oleh mata jasmaniah (Kejadian 16:7-14; 18:13-33; 22:11-18; 

Keluaran 3:2-5; Hakim-Hakim 6:11-23; I Raja-Raja 19:5-7; II Raja- 

Raja 19:35). Perlu diperhatikan bahwa dalam beberapa ayat di atas 

"malaikat Allah" diidentifikasikan sebagai "Tuhan" (misalnya Keja­

dian 16:11 dengan ayat 13; Keluaran 3:2 dengan ayat 4; Hakim- 

Hakim 6:12 dengan ayat 16).

3. Allah itu hidup. Pengertian tentang roh meniadakan bukan 

saja kesan adanya zat bendawi, namun  juga meniadakan pengertian 

mengenai adanya zat yang tidak hidup. Ini berarti bahwa Allah hi­

dup. Dengan demikian Allah disebut sebagai "Allah yang hidup" 

(Yosua 3:10; I Samuel 17:26; Mazmur 84:3; Matius 16:16; I Timo­

tius 3:15; Wahyu 7:2). Hidup menandakan adanya perasaan, kuasa, 

116 Teologi

dan kegiatan. Allah memiliki semua ini (Mazmur 115:3). Allah juga 

merupakan sumber dan pemelihara segenap kehidupan yang ada: 

tanaman, hewan, manusia, rohani, dan kekal (Mazmur 36:10; Yo­

hanes 5:26). Allah yang hidup sering dibandingkan dengan berhala- 

berhala yang mati (Mazmur 115:3-9; Kisah 14:15; I Tesalonika 1:9). 

Allah kita hidup; Ia melihat, mendengar, dan mengasihi. Berhala 

ciptaan orang kafir itu mati, tidak mampu melihat, mendengar, dan 

mengasihi.

4. Allah itu berkepribadian. Hegel serta para filsuf idealistis 

lainnya salah saat  mengajarkan bahwa Allah itu roh yang tak ber­

kepribadian, karena pengertian roh itu sendiri mengandung juga 

pengertian akan adanya kepribadian. Terlepas dari Alkitab maka 

satu-satunya cara untuk menetapkan seperti apa roh itu ialah melalui 

analogi dengan roh manusia. Karena roh manusia itu berkepriba­

dian, maka pastilah Roh ilahi juga berkepribadian sebab kalau tidak 

Roh ilahi lebih rendah tingkatannya dari roh manusia. Di dalam 

manusia, kepribadian dan kejasmanian bersatu dalam satu orang se­

lama ia hidup di dunia ini, namun setelah orang itu mati maka 

hubungan ini  putus; tubuh jasmani menjadi rusak, sedangkan 

kepribadian tetap ada. Pada saat kebangkitan kepribadian ini  

akan memperoleh tubuh jasmani yang baru lagi sehingga keadaan 

fisik manusia yang normal dipulihkan. Akan namun , di dalam Tuhan 

ada kepribadian tanpa tubuh jasmaniah. Kalau begitu apakah hakikat 

kepribadian Allah? Kesadaran diri dan kemampuan membuat ke- 

putusan sendiri.

Kesadaran diri itu lebih dari kesadaran biasa. Sebagai makhluk 

yang sadar, manusia kadang-kadang memiliki perasaan dan keingin­

an yang tidak dikaitkan dengan dirinya sendiri. Manusia berpikir 

secara spontan, namun tidak memikirkan apa yang dipikirkannya. 

Binatang mungkin saja mempunyai taraf kesadaran yang rendah. 

Namun sebagai makhluk yang sadar-diri, manusia mengaitkan pera­

saan, keinginan, dan pikirannya dengan dirinya sendiri. Demikian 

pula, kemampuan membuat keputusan sendiri lebih dari sekadar 

membuat keputusan. Hewan bisa membuat keputusan, namun hal 

itu terjadi berdasarkan naluri. Manusia memiliki perasaan kebebasan 

dan menentukan pilihannya di dalam dirinya sendiri, dengan mem­

pertimbangkan motif dan tujuan. Alkitab mengaitkan kesadaran diri 

Sifat-Dasar Allah: Hakikat dan Sifat 117

(Keluaran 3:14; Yesaya 45:5; I Korintus 2:10) dan kemampuan 

membuat keputusan sendiri (Ayub 23:13; Roma 9:11; Efesus 1:9, 

11; Ibrani 6:17) dengan Allah. Allah dapat berkata "Aku" (Keluaran 

20:2-3) dan dapat menanggapi saat  disapa sebagai "Engkau" 

(Mazmur 90).

Alkitab juga mengatakan bahwa Allah memiliki ciri-ciri psiko­

logis dari kepribadian: Intelek (Kejadian 18:19; Keluaran 3:7; Kisah 

15:18), perasaan (Kejadian 6:6; Mazmur 103:8-14; Yohanes 3:16), 

dan kemauan (Kejadian 3:15; Mazmur 115:3; Yohanes 6:38). Se­

lanjutnya, Alkitab menyebutkan bahwa Allah memiliki aspek-aspek 

kepribadian lainnya. Allah ditampilkan sebagai berbicara (Kejadian 

1:3), melihat (Kejadian 11:5), mendengar (Mazmur 94:9), berduka 

(Kejadian 6:6), menyesal (Kejadian 6:6), marah (Ulangan 1:37), 

cemburu (Keluaran 20:5), dan iba (Mazmur 111:4). Allah disebut 

sebagai pencipta (Kisah 14:15), penopang alam semesta (Nehemia 

9:6), penguasa (Mazmur 75:8; Daniel 4:32), dan pemelihara (Maz­

mur 104:27-30; Matius 6:26-30) segala sesuatu.

Bagaimanapun juga, kita harus membedakan antara kepribadian 

hakikat itu dengan kepribadian berbagai bagian yang menjadi ha­

kikat itu. Jelas sekali, hakikat itu tidak mungkin pada saat yang 

sama merupakan tiga oknum dan juga satu oknum bila istilah "ok­

num" itu digunakan dengan makna yang sama dalam kedua pe­

makaian di atas; namun hakikat itu dapat, dan memangnya demi­

kian, merupakan tiga oknum dan sekaligus satu oknum. Adanya 

tiga oknum yang berbeda dalam ke-Allahan menghasilkan kesadar­

an diri dan kemampuan membuat keputusan sendiri dari Allah yang 

esa; namun masing-masing dari ketiga oknum itu juga memiliki 

kesadaran diri dan kemampuan membuat keputusan sendiri.

B. ADA DENGAN SENDIRINYA

Walaupun sumber keberadaan manusia berada di luar dirinya sen­

diri, keberadaan Allah tidak bergantung pada apa pun di luar diri- 

Nya. Sebagaimana dikatakan oleh Thomas dari Aquino, "Ia yaitu  

penyebab pertama; Dia sendiri tidak ada penyebabnya." Bahwa Dia 

ada dengan sendirinya tersirat dari kesaksian-Nya, "Aku yaitu  

Aku" (Keluaran 3:14; lihat juga "Aku ada" dari ajaran Kristus ten­

tang diri-Nya sendiri, Yohanes 8:58; Yesaya 41:4; Wahyu 1:8), dan 

118 Teologi

sebagaimana umumnya dikenal dengan nama "Tuhan" atau 

"Yehova" (Keluaran 6:3). Sekalipun demikian perihal ada dengan 

sendirinya Allah itu tidak berasal dari kehendak-Nya, namun  me­

rupakan sifat-dasar-Nya. Ia ada karena sifat-dasar-Nya demikian se­

bagai yang tidak memiliki penyebab. Tidaklah tepat untuk menga­

takan bahwa Tuhan yaitu  penyebab diri-Nya sendiri karena bila 

demikian Ia akan memiliki kemampuan untuk menghancurkan diri- 

Nya sendiri.

C. KEBESARAN YANG TAK TERHINGGA

Allah tidak terbatas dalam ukuran tempat. Ia tidak dibatasi atau 

disekat oleh tempat; sebaliknya, segala tempat yang bersifat terbatas 

bergantung pada-Nya. Sesungguhnya, Allah melebihi tempat. De­

ngan jelas Alkitab mengajarkan kebesaran Allah yang tak terhingga 

ini (I Raja-Raja 8:27; II Tawarikh 2:6; Mazmur 113:4-6; 139:7-8; 

Yesaya 66:1; Yeremia 23:24; Kisah 17:24-28). Karena sifat-dasar- 

Nya yang rohani serta ketidakmampuan kita untuk berpikir menge­

nai keadaan yang tak dibatasi oleh tempat maka ajaran ini sulit 

dipahami. Namun, hal ini jelas sekali: Allah itu transenden dan 

imanen, Ia ada di mana-mana dalam hakikat maupun dalam penge­

tahuan dan kuasa-Nya. Kapan pun dan di mana pun zat rohani itu 

ada, maka seperti jiwa, pastilah ia utuh adanya.

D. KEKEKALAN

Allah juga tidak terbatas dalam ukuran waktu. Allah tidak memiliki 

awal atau akhir, Ia bebas dari keterbatasan kurun waktu, Ialah pen- 

cipta waktu. Kesimpulan bahwa Ia tanpa awal dan tanpa akhir dapat 

ditarik dari doktrin bahwa Ia ada dengan sendirinya; Ia yang ada 

karena sifat-dasar-Nya dan bukan karena kehendak-Nya pastilah se­

nantiasa sudah ada dan senantiasa akan ada. Bahwa Allah kekal 

diajarkan secara jelas sekali dalam Alkitab. Allah disebut sebagai 

"Allah yang kekal" (Kejadian 21:33). Pemazmur mengatakan, "... 

dari selama-lamanya sampai selama-lamanya Engkaulah Allah" 

(Mazmur 90:2) dan "... namun  Engkau tetap sama, dan tahun-tahun- 

Mu tidak berkesudahan" (Mazmur 102:28). Yesaya menggambar­

kan Allah sebagai ". . . Yang Mahatinggi dan Yang Mahamulia,

Sifat-Dasar Allah: Hakikat dan Sifat 119

yang bersemayam untuk selamanya" (Yesaya 57:15). Paulus menga­

takan bahwa Allah ialah "satu-satunya yang tidak takluk kepada 

maut" (I Timotius 6:16, bandingkan dengan Habakuk 1:12).

Waktu ialah keberadaan sepanjang kurun waktu tertentu, namun 

Allah itu bebas dari segenap batasan kurun waktu mana pun. Allah, 

tulis Shedd, "memiliki keberadaan yang total secara serentak . . . . 

Keseluruhan pengetahuan dan pengalaman ilahi senantiasa ada di 

hadapan-Nya, tidak ada penggalan pengetahuan-pengalaman 

yang diikuti oleh penggalan pengetahuan-pengalaman berikut­

nya."37 Kekekalan bagi Allah merupakan satu masa kini, yaitu masa 

kini yang abadi. "Ia memiliki seluruh keberadaan-Nya dalam satu 

masa kini yang tidak dapat dipenggal."38 Dalam Alkitab kenyataan 

ini disebut "sekarang dan sampai selama-lamanya" (II Petrus 3:18) 

dan "hari ini" (Mazmur 2:7, bandingkan II Petrus 3:8). Namun kita 

tidak boleh berpikir bahwa waktu tidak memiliki realitas objektif 

bagi Allah; lebih tepatlah kalau dikatakan bahwa Ia melihat masa 

lalu dan masa yang akan datang sama jelas dan terangnya sebagai­

mana Ia melihat masa kini. Seseorang bisa melihat sebuah pawai 

dari atas sebuah gedung tinggi. Dari tempat itu ia bisa melihat selu­

ruh barisan pawai ini  dengan sekali pandang. Atau orang itu 

bisa juga melihat pawai ini  dari simpang jalan, di mana ia 

hanya akan bisa melihat sebagian barisan pawai saja setiap kali 

melihat. Allah melihat keseluruhannya sebagai satu kesatuan, se­

kalipun Ia mengetahui adanya urutan sepanjang kurun-kurun waktu.

37 Shedd, Dogmatic Theology. I , hal. 343.

38 Berkhof, Systematic Theology, hal. 60.

39 Young, The Book of Isaiah, 1, hal. 338.

40 Strong, Systematic Theology, hal. 275.

Allah juga merupakan pencipta waktu (Ibrani 1:2; 11:3). Dalam 

Yesaya 9:5 Allah dapat disebut sebagai "Bapa Kekekalan." 39 Waktu 

dan tempat termasuk dalam "segala yang telah dijadikan" oleh Dia 

(Yohanes 1:3). Strong mengatakan,

Namun, waktu dan tempat tidak merupakan zat, demikian pula tidak 

merupakan sifat zat; waktu dan tempat merupakan hubungan-hubungan dari 

keberadaan yang terbatas .... Waktu dan tempat itu menjadi ada saat  

keberadaan yang terbatas muncul; waktu dan tempat tidak merupakan kon­

sep-konsep pengatur hasil penalaran pikiran manusia; waktu dan tempat itu 

ada secara objektif, artinya mereka tetap ada entah kita menyadarinya entah

120 Teologi

Waktu sekali kelak akan berbaur dengan kekekalan (I Korintus 

15:28). Akan namun , Shedd berpendapat bahwa bagi makhluk cip­

taan Allah kekekalan tidak merupakan keberadaan tanpa terbatas 

kurun waktu, karena "setiap pikiran terbatas harus senantiasa ber­

pikir, merasa, dan bertindak dalam batas kurun waktu."41

II. SIFAT-SIFAT ALLAH

Sifat-sifat Allah, berbeda dengan zat atau hakikat Allah, merupakan 

sifat-sifat yang ada  di dalam zat dan merupakan perian yang 

analitis dan lebih terinci dari zat Allah ini . Semua sifat Allah 

itu harus dipandang sebagai nyata secara objektif, dan bukan 

sebagai sekadar hasil pemikiran subjektif manusia tentang Allah. 

Sifat-sifat Allah itu juga harus dipandang sebagai perian berbagai 

cara khusus dari adanya dan bekerjanya hakikat ilahi, bukan sebagai 

penunjuk kepada bagian-bagian yang berbeda dari Allah. Sifat-sifat 

Allah telah dibagi menurut berbagai klasifikasi. Salah satu yang 

paling dikenal ialah pembagian dalam sifat-sifat alamiah, yaitu sifat- 

sifat Allah yang ada kaitan atau yang kontras dengan alam, dan 

sifat-sifat moral, yaitu sifat-sifat Allah sebagai pengawas kesusilaan. 

Pembagian yang sangat dikenal lainnya ialah pembagian dalam 

sifat-sifat imanen, yaitu sifat-sifat Allah yang ada di dalam diri-Nya 

sendiri, serta sifat-sifat transitif, yaitu sifat-sifat Allah yang nampak 

keluar dari diri-Nya dalam hubungan dengan ciptaan-Nya. Pembagi­

an yang ketiga ialah pembagian dalam sifat-sifat positif yang me­

nunjukkan berbagai kesempurnaan, dan sifat-sifat negatif yang me­

nunjukkan penolakan terhadap beberapa keterbatasan tertentu. Pem­

bagian yang keempat terambil dari susunan tabiat manusiawi kita. 

Sebagaimana di dalam manusia ada  zat jiwa, intelek, dan ke- 

mauan, maka demikian pula sifat-sifat Allah dapat dibagi dalam 

tiga bagian: yang berkaitan dengan hakikat-Nya, yang berkaitan de­

ngan intelek Allah, dan yang berkaitan dengan kehendak Allah. Di 

sini sifat-sifat Allah akan dibahas berdasarkan pembagian atas dua: 

sifat-sifat nonmoral dan sifat-sifat moral.

41 Shedd, Dogmatic Theology, I, hal. 349.

Sifat-Dasar Allah: Hakikat dan Sifat 121

A. SIFAT-SIFAT NONMORAL

Sifat-sifat nonmoral merupakan sifat-sifat Allah yang tidak melibat­

kan hal-hal moral. Sifat-sifat ini  ialah mahahadir, mahatahu, 

mahakuasa, dan tidak berubah.

1. Mahahadir. Ketiga sifat Allah yang pertama merupakan kata 

majemuk dengan awalan bahasa Latin omni, yang artinya "segala- 

galanya". Jadi, mahahadir (omnipresent) berarti "ada di mana-mana 

pada saat yang bersamaan". Tuhan hadir di seluruh alam semesta 

ciptaan-Nya, namun Allah tidak dibatasi oleh alam semesta ciptaan- 

Nya itu. Sedangkan kebesaran-Nya yang tak terhingga menekan­

kan transendensi Allah dalam arti bahwa Ia melebihi segala ruang 

dan tidak terbatas oleh ruang mana pun juga, maka kemahahadiran 

Allah secara khusus berkaitan dengan kehadiran-Nya di dalam alam 

semesta ini. (I Raja-Raja 8:27; Mazmur 139:7-10; Yesaya 66:1; 

Yeremia 23:23-24; Kisah 7:48-49; 17:24-25; Roma 10:6-8). Harus 

diingat selalu bahwa kemahahadiran Tuhan bukanlah suatu bagian 

yang harus ada di dalam kepribadian Allah, namun  merupakan suatu 

tindakan yang bebas menurut kehendak Allah sendiri. Jika Allah 

berkehendak untuk menghancurkan alam semesta ini, maka kema- 

hahadiran-Nya akan berakhir, namun  Allah sendiri tetap ada. Pan­

teisme mengikat Allah kepada alam semesta, namun  harus diingat 

bahwa Allah melebihi alam semesta dan tidak tunduk kepadanya. 

Ajaran tentang kemahahadiran Allah ini merupakan suatu ajaran 

yang menyegarkan sekaligus menundukkan kita. Ajaran ini merupa­

kan suatu sumber penghiburan bagi orang percaya karena Allah, 

yang senantiasa hadir, selalu siap untuk menolong kita (Ulangan 

4:7; Mazmur 46:2; 145:18; Matius 28:20). Ajaran ini merupakan 

sumber peringatan dan pengendalian bagi setiap orang percaya. 

Bagaimanapun orang berdosa berusaha, ia tidak bisa meloloskan 

diri dari Allah. Jarak ataupun kegelapan tidak dapat menyembu­

nyikan dia dari pengawasan Allah (Mazmur 139:7-10). "Dan tidak 

ada suatu makhluk pun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab 

segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepa­

da-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab" (Ibrani 4:13). 

Kesadaran akan kenyataan ini sering kali mencegah seorang berdosa 

untuk berbuat jahat dan akhirnya menuntun dia untuk mencari 

Allah. "Dia yang ... melihat" (Kejadian 16:13) merupakan peringat­

an maupun penghiburan bagi anak Tuhan (Mazmur 139:17-18).

122 Teologi

2. Mahatahu. Pengetahuan Allah tidak mengenal batas. Ia me­

ngenal diri-Nya sendiri serta segala ciptaan-Nya secara sempurna 

sejak segenap kekekalan, apakah itu bersifat aktual atau hanya 

merupakan kemungkinan, apakah itu sesuatu yang sudah lampau, 

masih ada, maupun akan ada. Ia mengetahui segala sesuatu secara 

langsung, serempak, secara mendalam dan sungguh-sungguh.

Bukti adanya pola tertentu di alam semesta ini dan adanya akal 

di dalam diri manusia merupakan bukti kemahatahuan Allah. Bukti- 

bukti ini ada  di dalam dunia yang tidak hidup, dunia yang 

hidup, serta di dalam hubungan di antara keduanya. Manifestasi 

yang tertinggi dari semuanya itu ada  di dalam akal manusia. 

Kemahahadiran Tuhan juga turut membuktikan kemahatahuan-Nya 

(Mazmur 139:1-10; Amsal 15:3; Yeremia 23:23-25). Alkitab me­

nyatakan bahwa pemahaman Tuhan itu tidak ada batasnya (Yesaya 

46:10), bahwa tidak ada yang tersembunyi di hadapan Tuhan (Maz­

mur 147:5; Ibrani 4:13), dan bahwa rambut di kepala kita pun di­

hitung oleh Tuhan (Matius 10:30).

Lingkup pengetahuan Allah tidak terhingga.

a. Ia mengenal diri-Nya sendiri secara sempurna. Tidak ada 

makhluk ciptaan yang mengenal dirinya sendiri secara menyeluruh 

dan secara sempurna seperti itu.

b. Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus saling mengenal secara 

sempurna. Hanya merekalah yang memiliki pengetahuan semacam 

itu mengenai satu sama lain. Yesus mengatakan, "... tidak seorang 

pun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal 

Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan 

menyatakannya" (Matius 11:27). Paulus menulis, " . . . tidak ada 

orang yang tahu apa yang ada  di dalam diri Allah selain Roh 

Allah" (I Korintus 2:11; dan lihat juga Roma 8:27).

c. Allah mengetahui hal-hal yang benar-benar ada. Termasuk di 

sini ciptaan yang tidak hidup (Mazmur 147:4), ciptaan binatang 

(Matius 10:29), manusia dan segala perbuatannya (Mazmur 33:13- 

15; Amsal 5:21), pikiran dan hati manusia (Mazmur 139:1-4; Amsal 

15:3), serta beban dan kebutuhan manusia (Keluaran 3:7; Matius 

6:8, 32).

d. la mengetahui hal-hal yang mungkin terjadi. Ia tahu sebelum­

nya bahwa Kehila akan melaporkan tempat tinggal Daud kepada 

Sifat-Dasar Allah: Hakikat dan Sifat 123

Saul bila Daud tetap saja mendekam di kawasan ini  (I Samuel 

23:11-12). Yesus mengetahui bahwa Tirus dan Sidon pastilah akan 

bertobat bila mereka menyaksikan mukjizat-mukjizat yang terjadi 

di Betsaida dan Khorazim (Matius 11:21). Ia juga tahu bahwa So­

dom dan Gomora tidak akan sampai dihancurkan seandainya me­

reka melihat apa yang terjadi di Kapernaum (Matius 11:23-24; 

Yesaya 48:18). Beberapa orang yang berhaluan idealis menolak 

adanya perbedaan antara pengetahuan dengan kuasa. Mereka ber­

anggapan bahwa pikiran dan pengetahuan selalu merupakan bukti 

tentang penggunaan kuasa yang kreatif. Menurut mereka, Allah 

menciptakan dengan jalan berpikir dan mengetahui. Bagaimanapun 

juga, memiliki kemampuan tertentu serta memakai  kemampuan 

ini  yaitu  dua hal yang berbeda. Jadi, Tuhan mengetahui 

segala sesuatu yang mungkin terjadi maupun segala sesuatu yang 

betul-betul terjadi. Kemahatahuan jangan dibaurkan dengan 

penyebab yang mendatangkan akibat. Mengetahui sebelumnya dan 

menetapkan sebelumnya tidaklah harus sama.

e. Allah mengetahui masa depan. Dipandang dari sudut manusia 

maka pengetahuan Tuhan tentang masa depan disebut pengetahuan 

sebelum terjadi, namun dari sudut Allah pengetahuan-Nya tentang 

masa depan tidak dapat disebut pengetahuan sebelum terjadi, karena 

Allah mengetahui segala sesuatu secara serentak. Ia sudah menge­

tahui masa depan secara umum sebelum itu terjadi (Yesaya 46:9-10; 

Daniel 2 dan 7; Matius 24, 25; Kisah 15:18), tentang kejahatan 

yang akan dilakukan oleh Israel (Ulangan 31:20-21), bangkitnya 

Raja Koresy (Yesaya 44:26-45:7), kedatangan Kristus (Mikha 5:1), 

bahwa Kristus akan disalibkan oleh orang-orang yang jahat (Kisah 

2:23; 3:18). Dua hal harus diperhatikan dalam kesempatan ini: (1) 

Pengetahuan Allah tentang masa depan itu sendiri tidak menyebab­

kan itu terjadi. Tindakan-tindakan bebas tidak terjadi karena sudah 

diketahui sebelumnya, namun  tindakan-tindakan ini  telah dike­

tahui sebelumnya karena tindakan-tindakan itu akan terjadi. (2) 

Suatu kejahatan moral yang telah dinubuatkan terlebih dahulu 

tidaklah meniadakan tanggung jawab si pelaku kejahatan ini  

(Matius 18:7; Yohanes 13:27; Kisah 2:23, bandingkan dengan 

pengerasan hati Firaun dalam Keluaran 4:21).

Hikmat merupakan kecerdasan Allah yang diperlihatkan dalam 

penetapan tujuan-tujuan terluhur serta sarana-sarana yang paling 

124 Teologi

cocok dalam mencapai tujuannya ini . Sekalipun Allah secara 

tulus ikhlas berusaha meningkatkan kebahagiaan makhluk-makhluk 

ciptaan-Nya serta menyempurnakan para saleh dalam kekudusan 

mereka, bukan ini yang merupakan tujuan yang paling luhur. Tujuan 

yang paling luhur ialah kemuliaan-Nya sendiri. Segenap hasil karya 

ciptaan-Nya (Mazmur 19:2-7; Amsal 3:19), pemeliharaan-Nya ter­

hadap hasil karya-Nya ini  (Nehemia 9:6; Wahyu 4:11), penye­

lenggaraan (Mazmur 33:10-11; Daniel 4:35; Efesus 1:11), serta ren­

cana dan pelaksanaan penebusan (I Korintus 2:7; Efesus 3:10-11) 

bertujuan untuk memuliakan Allah.

3. Mahakuasa. Tuhan itu mahakuasa adanya dan sanggup me­

lakukan apa saja yang mau dilakukan-Nya. Karena kehendak-Nya 

itu dibatasi oleh watak-Nya maka Tuhan dapat melakukan segala 

sesuatu yang sesuai dengan kesempurnaan-kesempurnaan-Nya. Ada 

hal-hal yang tidak dapat dilakukan oleh Allah karena bertentangan 

dengan watak-Nya. Allah tidak mungkin menyenangi kejahatan 

(Habakuk 1:13), menyangkal diri-Nya (II Timotius 2:13), berdusta 

(Titus 1:2; Ibrani 6:18), atau mencobai orang atau dicobai untuk 

berbuat dosa (Yakobus 1:13). Selanjutnya, Allah tidak bisa melaku­

kan hal-hal yang tak masuk akal atau yang bertentangan dengan 

hakikat diri-Nya. Seperti menciptakan roh yang berwujud, batu 

yang berperasaan halus, bundaran yang persegi, atau menganggap 

perbuatan yang salah sebagai perbuatan yang betul. Semua ini 

tidak dapat dianggap sebagai pembatasan terhadap kemaha­

kuasaan Allah.

Memiliki kemahakuasaan tidak menuntut penggunaan seluruh ke- 

kuasaan-Nya. Allah dapat melakukan apa yang Ia ingin lakukan, 

namun  hal ini tidak berarti bahwa Allah harus selalu ingin melakukan 

sesuatu. Maksudnya, Allah berkuasa atas kuasa-Nya; kalau tidak 

demikian maka Allah akan bertindak sesuai dengan kebutuhan yang 

ada dan dengan demikian Allah kehilangan kebebasan-Nya. Kuasa 

untuk membatasi diri tercakup dalam kemahakuasaan Allah. Allah 

telah membatasi diri-Nya sampai taraf tertentu dengan memberikan 

kehendak yang bebas kepada makhluk-makhluk ciptaan-Nya yang 

rasional. Itulah sebabnya, Allah tidak membatasi masuknya dosa ke 

dalam alam semesta dengan suatu pameran kekuatan dan inilah pula 

sebabnya Allah tidak menyelamatkan manusia dengan paksa.

Sifat-Dasar Allah: Hakikat dan Sifat 125

Alkitab dengan jelas sekali mengajarkan tentang kemahakuasaan 

Allah ini. Allah, yang disebut sebagai "Yang Mahakuasa" (Kejadian 

17:1; Wahyu 4:8), disebutkan juga dalam Alkitab sebagai mampu 

melakukan segala sesuatu yang telah direncanakan-Nya (Ayub 

42:2), karena bagi Dia tidak ada yang mustahil (Matius 19:26) dan 

tidak ada yang terlalu sukar (Yeremia 32:17). Allah betul-betul ber­

kuasa penuh (Wahyu 19:6).

Kita dapat membedakan antara kuasa Allah yang absolut dengan 

kuasa Allah yang tidak absolut. Kuasa yang absolut artinya Allah 

dapat bekerja langsung tanpa bantuan sarana apa pun juga. Pen­

ciptaan, mukjizat, penyataan langsung, pengilhaman, dan pembaha­

ruan yaitu  manifestasi kuasa Allah yang absolut. Penyelenggaraan 

alam semesta ini merupakan contoh kuasa Allah yang tidak absolut 

karena Allah memakai sarana-sarana tertentu. Dalam kedua hal ini, 

Allah menjalankan efisiensi ilahi-Nya.

Berkali-kali orang percaya dianjurkan untuk bersandar kepada 

Tuhan dalam lapangan pekerjaan apa pun juga atas dasar kuasa 

Allah yang kreatif, melindungi, serta memelihara (Yesaya 45:11-13; 

46:4; Yeremia 32:16-44; Kisah 4:24-31). Bagi orang Kristen ke­

mahakuasaan Allah merupakan sumber penghiburan dan pengharap­

an yang besar, namun  bagi orang yang tidak percaya kemahakuasaan 

Allah ini senantiasa merupakan peringatan dan sumber keta­

kutan (I Petrus 4:17; II Petrus 3:10-11; Wahyu 19:15). Setan-setan 

pun takut pada Tuhan dengan gemetar (Yakobus 2:19), karena me­

reka mengetahui bahwa Allah berkuasa atas diri mereka (Matius 

8:29). Pada suatu hari kelak orang-orang yang terkuat dan terbesar 

pun akan berusaha bersembunyi dari hadapan-Nya (Wahyu 6:15-17; 

lihat juga Yesaya 2:10-21), dan semua orang akan berlutut dalam 

nama Yesus (Filipi 2:10).

4. Tidak berubah. Hakikat, sifat-sifat, kesadaran, dan kehendak 

Allah tidak akan berubah. Semua perubahan merupakan perubahan 

kepada keadaan yang lebih baik atau yang lebih buruk. Akan namun , 

Allah tidak mungkin berubah menjadi makin baik karena Ia betul- 

betul sempurna; demikian pula Allah tidak mungkin berubah men­

jadi makin buruk karena alasan yang sama. Allah berada di atas 

segala sebab yang ada dan Ia bahkan juga berada di atas kemung­

kinan perubahan. Allah tidak mungkin menjadi lebih bijaksana, 

126 Teologi

lebih kudus, lebih adil, lebih murah, lebih setia, dan Allah juga 

tidak mungkin menjadi kurang bijaksana dan seterusnya. Juga ren­

cana dan segala tujuan-Nya tidak pernah berubah.

Sifat tidak berubah yang ada pada Allah disebabkan oleh keseder­

hanaan hakikat-Nya. Manusia memiliki jiwa dan tubuh, dua hakikat, 

yaitu yang rohani dan yang jasmani. Allah itu esa; Ia tidak berubah. 

Sifat tidak berubah ini juga disebabkan karena Ia itu wajib ada dan 

Ia itu ada dengan sendirinya. Apa yang ada tanpa penyebab, sebagai 

akibat sifat-dasar-Nya sendiri, haruslah ada sebagaimana Ia ada. 

Sifat tidak mungkin berubah ini juga disebabkan oleh kesempur- 

naan-Nya yang mutlak. Tidak mungkin terjadi perbaikan atau ke­

merosotan. Setiap perubahan dalam sifat-sifat-Nya akan menjadi­

kan Dia sedikit kurang daripada Allah; setiap perubahan rencana 

dan tujuan-Nya akan menjadikan Dia Allah yang tidak begitu bijak­

sana, tidak begitu baik, dan tidak begitu kudus.

Alkitab menyatakan bahwa di dalam Tuhan tidak ada perubahan 

atau pertukaran (Yakobus 1:17). Watak-Nya tidak berubah (Maz­

mur 102:27-28; Maleakhi 3:6; Ibrani 1:12), kuasa-Nya tidak ber­

ubah (Roma 4:20-21), rencana dan tujuan-tujuan-Nya tidak berubah 

(Mazmur 33:11; Yesaya 46:10), demikian pula tidak berubah janji- 

janji-Nya (I Raja-Raja 8:56; 11 Korintus 1:20), dan tidak berubah 

kasih dan kemurahan-Nya (Mazmur 103:17), atau keadilan-Nya 

(Kejadian 18:25; Yesaya 28:17).

Sifat tidak berubah ini jangan dikacaukan dengan sifat tidak ber­

gerak. Allah itu aktif dan Ia terlibat dalam hubungan dengan manu­

sia yang berubah-ubah. Dalam hubungan-Nya dengan manusia ini 

ada kalanya perlu bagi Allah yang tidak berubah untuk mengubah 

tindakan-Nya terhadap manusia yang berubah-ubah agar watak dan 

tujuan-Nya tetap tidak berubah. Perlakuan Allah saat  mengha­

dapi orang yang belum diselamatkan itu berbeda dengan perlakuan- 

Nya terhadap orang yang sudah diselamatkan (Amsal 11:20; 

12:12;4 Petrus 3:12). Allah yang tidak mungkin menyesal (Bilangan 

23:19), dikatakan menyesal pada saat manusia berubah dari jahat 

menjadi baik, maupun dari baik menjadi jahat (Kejadian 6:6; Ke­

luaran 32:14; Yeremia 18:7-11; Yoel 2:13; Yunus 3:10).

Sifat tidak berubah pada Allah ini nampak dalam hal Dia selalu 

melakukan yang benar dan Ia senantiasa menangani secara adil 

makhluk-makhluk ciptaan-Nya sesuai dengan watak dan kelakuan 

Sifat-Dasar Allah: Hakikat dan Sifat 127

mereka. Ancaman-ancaman-Nya sering kali merupakan ancaman 

bersyarat, misalnya saat  Ia mengancam akan menghancurkan Is­

rael (Keluaran 32:9-14) dan Niniwe (Yunus 1:2; 3:4, 10).

B. SIFAT-SIFAT MORAL

Sifat-sifat moral Allah merupakan sifat-sifat yang mengandung un­

sur-unsur moral dalam hakikat ilahi.

1. Kekudusan. Allah itu samasekali berbeda dan lebih agung dari­

pada segala makhluk ciptaan-Nya, dan la juga terpisah dari semua 

dosa dan kejahatan moral. Dalam arti yang pertama tadi, kekudusan 

Allah sebenarnya bukan suatu sifat yang sederajat dengan sifat-sifat 

lainnya, namun lebih tepat kalau dikatakan bahwa sifat Allah ini 

sejajar atau sejalan dengan sifat-sifat lainnya. Kekudusan Allah me­

nunjuk kepada kesempurnaan segala sesuatu di dalam diri Allah. 

Dalam arti yang kedua, kekudusan itu dipandang sebagai keselaras­

an kekal dari diri Allah dengan kehendak-Nya. Di dalam diri Allah 

kemurnian diri sudah ada sebelum kemurnian kehendak maupun 

tindakan. Allah tidak menghendaki yang baik karena itu baik, juga 

tidak dapat dikatakan bahwa sesuatu itu baik karena itu 

dikehendaki oleh Tuhan; jika halnya memang demikian maka itu 

berarti ada sesuatu yang baik yang lebih tinggi dari Allah atau yang 

baik itu sifatnya sewenang-wenang dan bisa berubah-ubah. Lebih 

tepat kalau dikatakan bahwa kehendak Allah merupakan wujud 

sifat-dasar Allah yang kudus itu.

Kekudusan merupakan sifat yang terutama di antara semua sifat 

Allah. Dalam zaman Perjanjian Lama Allah teristimewa ingin agar 

diri-Nya dikenal sebagai Allah yang kudus (Imamat 11:44-45; 

Yosua 24:19; I Samuel 6:20; Mazmur 22:4; Yesaya 40:25; Yehezkiel

 39:7; Habakuk 1:12). Kekudusan Allah ditekankan oleh batas- 

batas yang dipasang keliling Gunung Sinai saat  Allah berkenan 

turun di gunung itu (Keluaran 19:12-25), oleh pembagian kemah 

suci dan bait suci ke dalam tempat kudus dan tempat yang maha- 

kudus (Keluaran 26:33; I Raja-Raja 6:16, 19), juga oleh penentuan 

korban-korban yang harus dipersembahkan seorang Israel bila akan 

menghampiri hadirat-Nya (Imamat 1-7). Kekudusan ini  juga 

memperoleh tekanan khusus dalam keimaman yang ditetapkan-Nya 

128 Teologi

sebagai perantara di antara Allah dan bangsa Israel (Imamat 8-10), 

serta hukum-hukum tentang kenajisan (Imamat 11-15), pesta-pesta 

atau hari-hari raya Israel (Imamat 23), serta juga kedudukan khusus 

Israel di Palestina (Bilangan 23:9; Ulangan 33:28-29). Allah disebut 

sebagai "Yang Kudus" sekitar tiga puluh kali dalam kitab Yesaya 

saja (lihat juga istilah "kudus" dalam kaitan dengan Allah Anak 

dalam Kisah 3:14, dan Roh dalam Efesus 4:30).

Dalam Perjanjian Baru, kekudusan Allah tidak disebutkan sese­

ring di Perjanjian Lama, namun sifat ini juga dinyatakan (Yohanes 

17:11; Ibrani 12:10; I Petrus 1:15-16). Yohanes menyatakan, "Allah 

yaitu  terang, dan di dalam Dia samasekali tidak ada kegelapan" 

(I Yohanes 1:5). Para serafim mengelilingi takhta Allah sambil ber­

seru secara antifonal, "Kudus, kudus, kuduslah" (Yesaya 6:3; 

Wahyu 4:8). Begitu mendasarnya sifat ini sehingga kekudusan 

Allah, dan bukan kasih, kuasa, atau kehendak-Nya yang harus men­

duduki tempat utama. Kekudusan Allah yang mengatur tiga sifat 

yang lain itu, karena takhta-Nya didirikan berlandaskan kekudusan- 

Nya.

Tiga hal penting harus kita pelajari dari kenyataan kekudusan 

Allah ini.

a. Di antara Allah dengan orang berdosa ada  suatu jurang 

pemisah (Yesaya 59:1-2; Habakuk 1:13). Bukan saja orang berdosa 

terpisah dari Allah, melainkan Allah juga terpisah dari orang ber­

dosa. Sebelum ada dosa, manusia dengan Allah bersekutu satu de­

ngan yang lain; kini persekutuan ini  telah putus dan mustahil 

berlangsung lagi.

b. jika  manusia ingin menghampiri Allah, ia harus melaku­

kannya melalui seorang penengah. Manusia tidak memiliki dan ti­

dak mungkin memperoleh kesucian tak bercacat yang diperlukan 

untuk menghampiri Allah. Namun, Kristus telah membuka jalan 

bagi manusia untuk menghampiri Allah kembali (Roma 5:2; Efesus 

2:18; Ibrani 10:19-20). Di dalam kekudusan Allah ada  alasan 

pendamaian; apa yang dituntut oleh kekudusan Allah telah disedia­

kan oleh kasih Allah (Roma 5:6-8; Efesus 2:1-9; I Petrus 3:18).

c. Kita harus menghampiri Allah "dengan hormat dan takut" 

(Ibrani 12:28). Suatu pemahaman yang benar tentang kekudusan 

Allah menghasilkan pemahaman yang memadai tentang kenajisan 

Sifat-Dasar Allah: Hakikat dan Sifat 129

diri kita (Mazmur 66:18; I Yohanes 1:5-7). Ayub (39:36-38), 

Yesaya (6:5-7), dan Petrus (Lukas 5:8) merupakan contoh-contoh 

yang menonjol dari kebenaran ini. Perendahan diri, kesedihan yang 

mendalam karena berbuat dosa, serta pengakuan dosa merupakan 

tanggapan yang dengan sendirinya timbul setelah memahami pan­

dangan Alkitab tentang kekudusan Allah.

2. Kebenaran dan keadilan. Kebenaran dan keadilan Allah me­

rupakan unsur kekudusan Allah yang nampak di dalam cara Allah 

menghadapi manusia ciptaan-Nya. Berkali-kali dalam Alkitab sifat- 

sifat ini disebutkan sebagai milik Allah (II Tawarikh 12:6; Ezra 

9:15; Nehemia 9:33; Yesaya 45:21; Daniel 9:14; Yohanes 17:25; 

II Timotius 4:8; Wahyu 16:5). Abraham pernah merenungkan se­

bagai berikut, "Masakan Hakim segenap bumi tidak menghukum 

dengan adil?" (Kejadian 18:25). Pemazmur menandaskan, "Keadil­

an dan hukum yaitu  tumpuan takhta-Mu" (Mazmur 89:15; 97:2). 

Allah telah menetapkan suatu pemerintahan moral di dalam dunia, 

menetapkan hukum-hukum yang adil untuk ditaati makhluk-makh­

luk ciptaan-Nya serta menetapkan juga sangsi-sangsinya. Karena 

ada sangsi, Allah melaksanakan hukum-hukum-Nya dengan cara 

memberi hadiah atau menjatuhkan hukuman. Pembagian hadiah ini 

dikenal dengan istilah keadilan yang memberi pahala (Ulangan 7:9- 

13; II Tawarikh 6:15; Mazmur 58:12; Matius 25:21; Roma 2:7; 

Ibrani 11:26). Keadilan yang memberi pahala dilandaskan pada 

kasih ilahi dan bukan semata-mata pada jasa. Pemberian hukuman 

dikenal dengan istilah keadilan yang menghukum. Keadilan meng­

hukum merupakan ungkapan murka ilahi (Kejadian 2:17; Keluaran 

34:7; Yehezkiel 18:4; Roma 1:32; 2:8, 9; II Tesalonika 1:8). Allah 

tidak mungkin menetapkan sebuah hukum lengkap dengan sang­

sinya lalu membiarkan saja bila terjadi pelanggaran. Bila hukum 

Allah dilanggar harus ada penghukuman baik secara pribadi ataupun 

lewat pengganti. Dengan kata lain, keadilan menuntut penghukuman 

orang berdosa, namun  keadilan juga bisa menerima pengorbanan se­

orang pengganti seperti dalam hal kematian Kristus (Yesaya 53:6; 

Markus 10:45; Roma 5:8; I Petrus 2:24). Kebenaran Allah dinya­

takan dalam penghukuman-Nya atas orang fasik (Wahyu 16:5-7), 

pembebasan umat-Nya dari segenap penjahat (Mazmur 129), meng­

ampuni orang yang bertobat (I Yohanes 1:9), menepati janji kepada

130 Teologi

anak-anak-Nya (Nehemia 9:7-9), serta memberi pahala kepada yang 

setia (Ibrani 6:10).

Kalangan tertentu mungkin mengemukakan bahwa penghukuman 

itu hanyalah untuk perbaikan, namun harus dilihat bahwa tujuan 

akhir dari setiap penghukuman ialah dipertahankannya keadilan. 

Bisa saja penghukuman juga mempunyai tujuan sampingan seperti 

perbaikan atau pencegahan (I Timotius 5:20).

Kebenaran Allah membesarkan hati orang percaya karena ia tahu 

bahwa Allah menghakimi dengan adil (Kisah 17:31), bahwa ia aman 

di dalam kebenaran Kristus (Yohanes 17:24; I Korintus 1:30; II 

Korintus 5:21), dan bahwa segala kebaikannya tidak akan dilupakan 

Allah (Amsal 19:17; Ibrani 6:10; Wahyu 19:8).

3. Kebaikan. Dalam arti yang lebih luas dari istilah ini, kebaikan 

Allah meliputi semua sifat-Nya yang sesuai dengan gambaran kita 

tentang seseorang yang sempurna; maksudnya, kebaikan Allah me­

liputi sifat-sifat seperti kekudusan-Nya, keadilan dan kebenaran- 

Nya, dan demikian pula kasih-Nya, kemurahan-Nya, belas kasihan- 

Nya, dan anugerah-Nya. Nampaknya pengertian yang luas inilah 

yang dimaksudkan oleh Yesus Kristus saat  berkata kepada 

pemuda yang kaya itu, "Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak se­

orang pun yang baik selain daripada Allah saja" (Markus 10:18). 

Namun dalam pengertian yang lebih sempit, kebaikan Allah ber­

kaitan dengan keempat sifat yang disebutkan paling akhir.

a. Kasih Allah. Kasih Allah merupakan kesempurnaan dari 

tabiat Allah yang selalu mendorong Allah untuk menyatakan diri- 

Nya. Kasih Allah bukan sekadar dorongan emosional yang sesaat, 

melainkan merupakan kasih sayang yang rasional dan sukarela ka­

rena berlandaskan kebenaran dan kekudusan serta bertindak secara 

sukarela. Kami tidak bermaksud menyangkal keterlibatan perasaan 

karena kasih yang sejati selalu melibatkan perasaan. Bila tidak ada 

perasaan di dalam diri Tuhan, maka tidak ada kasih juga di dalam 

diri-Nya. Kenyataan bahwa Tuhan sedih melihat dosa-dosa umat- 

Nya berarti bahwa Ia mengasihi umat-Nya (Yesaya 63:9-10; Efesus 

4:30). Kasih Allah pertama-tama dan terutama ditujukan kepada 

oknum-oknum lain di dalam tritunggal. Jadi, untuk menyatakan 

kasih-Nya, Allah sebenarnya tidak memerlukan alam semesta dan 

manusia.

Sifat-Dasar Allah: Hakikat dan Sifat 131

Alkitab sering kali memberi kesaksian bahwa Allah itu kasih. 

Alkitab berbicara tentang Allah sebagai "Allah sumber kasih" 

(II Korintus 13:11) dan menyatakan bahwa Allah yaitu  

"kasih" (I Yohanes 4:8, 16). yaitu  watak Allah untuk senantiasa 

mengasihi. Allah memprakarsai kasih (I Yohanes 4:10). Allah itu 

berbeda dengan dewa-dewa kaum kafir yang selalu penuh keben­

cian dan senantiasa murka. Allah juga berbeda dengan ilah ciptaan 

para ahli filsafat yang dingin dan tidak berperasaan. Allah Bapa 

mengasihi Allah Anak (Matius 3:17), dan Allah Anak mengasihi 

Allah Bapa (Yohanes 14:31). Allah mengasihi dunia (Yohanes 3:16; 

Efesus 2:4), umat-Nya Israel (Ulangan 7:6-8, 13; Yeremia 31:3), 

serta anak-anak-Nya yang sejati (Yohanes 14:23). Allah mengasihi 

keadilan (Mazmur 11:7) serta kebenaran (Yesaya 61:8). Keyakinan 

akan kasih Allah merupakan sumber penghiburan bagi orang per­

caya (Roma 8:35-39).

b. Kemurahan Allah. Akibat kebaikan-Nya, Allah memperlaku­

kan semua makhluk-Nya dengan lemah lembut dan sayang serta 

memberkati mereka dengan berlimpah-limpah. "Tuhan itu baik ter­

hadap semua orang, dan penuh rahmat terhadap segala yang di- 

jadikan-Nya.... Mata sekalian orang menantikan Engkau, dan Eng­

kau pun memberi mereka makanan pada waktunya; Engkau yang 

membuka tangan-Mu dan yang berkenan mengenyangkan segala 

yang hidup" (Mazmur 145:9, 15-16). Ciptaan merupakan hasil karya 

Allah yang semuanya dinyatakan sangat baik oleh Tuhan sendiri 

(Kejadian 1:31). Tuhan tidak mungkin membenci apa yang telah 

dibuat-Nya sendiri (Ayub 10:3; 14:15). Kemurahan Allah dinyata­

kan dalam perhatian-Nya terhadap kesejahteraan makhluk-makhluk 

ciptaan-Nya serta senantiasa menyediakan apa yang diperlukan oleh 

mereka sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing 

(Ayub 39:3; Mazmur 104:21; 145:15; Matius 6:26). Kemurahan 

Allah tidak terbatas kepada orang percaya saja, karena "Bapamu 

yang di sorga ... menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan 

orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan 

orang yang tid