Tampilkan postingan dengan label teologi sistematik 14. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label teologi sistematik 14. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Juli 2026

teologi sistematik 14

 


Ditentukan oleh Taurat, namun Allah dengan murah hati 

telah berkenan untuk menerima apa yang diderita Kristus sebagai 

356 Soteriologi

pengganti hukuman kita. Sesungguhnya, kematian Kristus diterima 

sebagai pembayaran sebagian bukan pembayaran penuh. Kenyataan 

bahwa Kristus menanggung penderitaan sebagai pengganti kita be­

gitu menguasai hati manusia sehingga mereka berbalik dan bertobat, 

dan karena pertobatan yaitu  satu-satunya syarat untuk menerima 

pengampunan, maka Allah menjamin keselamatan orang berdosa 

melalui kematian Yesus. Teori ini yaitu  khas pandangan Armi­

nianisme terhadap pendamaian. Para teolog yang menerima pan­

dangan ini tidak tahu harus berbuat apa dengan konsep pengganti 

secara hukum. Taylor menulis bahwa Paulus "tidak melihat 

kematian Kristus sebagai kematian seorang pengganti. Unsur 

pengganti yang diduga ada dalam pikiran Paulus dapat dilihat dalam 

ajarannya tentang aspek representatif dari kematian Kristus."119 

Tidak lama kemudian Taylor menyatakan, "Karya Kristus yaitu  

suatu pelayanan yang dilaksanakan demi kepentingan kita, namun  

bukan ganti kita."120 121 Sekalipun ragu-ragu untuk memakai konsep 

pengganti berdasarkan pengertian hukum, Purkiser menulis:

119 Taylor, The Atonement in New Testament Teaching, hal. 59.

120 Taylor, The Atonement in New Testament Teaching, hal. 184.

121 Purkiser, God, Man, and Salvation, hal. 403.

Jika dari segi hukum ada dimensi penggantian dalam pengorbanan Kristus, 

maka dimensi ini  terletak dalam kenyataan bahwa Kristus mengalami 

hukuman sebagaimana hanya dapat dialami oleh Allah sendiri. Hal ini 

mungkin karena Ia mengetahui kasih yang kudus dan Ia mengerti sepenuh­

nya sifat dosa dan hukuman yang adil bagi orang-orang berdosa. Di salib, 

Ia menderita karena Ia mengetahui bahwa kita hidup jauh dari Allah Bapa. 

Dengan demikian penderitaan-Nya merupakan pengganti untuk hukuman 

yang seharusnya kita terima. Sampai ke taraf itu kita dapat berbicara soal 

hukuman berhubungan dengan kematian Kristus sebagai suatu tindakan 

• 121pengganti.

Beberapa hal dapat dikatakan mengenai teori ini. (1) Rasa hormat 

yang tepat terhadap hukum hanya dapat dipertahankan selama 

hukuman yang dijatuhkan sesuai dengan pelanggaran yang 

dilakukan. Kristus tidak menanggung hukuman yang serupa, namun  

Ia menanggung hukuman yang setimpal yang seharusnya diterima 

oleh orang berdosa. Allah yang kekal dapat melenyapkan kutukan 

kekal yang menimpa orang berdosa, sesuatu yang tidak mungkin 

dilakukan oleh orang yang terbatas kekuatannya. (2) Teori ini tidak 

Karya Kristus: Kematian-Nya 357

menjelaskan mengapa teladan itu haruslah seseorang yang tidak ber­

dosa, juga tidak menjelaskan kehebatan penderitaan itu (Matius 

27:46; Markus 15:23; Lukas 22:44). (3) Teori ini kurang memper­

hatikan ayat-ayat yang secara jelas mengatakan bahwa kematian 

Kristus yaitu  kematian yang bersifat menggantikan (I Petrus 1:18, 

19). Dan akhirnya, (4) teori ini lebih mengandalkan kebaikan 

masyarakat daripada keadilan Allah. Allah harus menghukum dosa, 

dan bukan sekadar memamerkan keadilan. Kristus memikul semua 

dosa karena kita.

E. TEORI KOMERSIAL

Teori ini, yang dianut oleh banyak golongan konservatif, 

beranggapan bahwa dosa menghina kehormatan Allah, dan karena 

dosa itu diperbuat melawan Allah yang kekal, maka hukumannya 

pun harus kekal. Teori ini selanjurnya juga beranggapan bahwa 

kehormatan Allah mengharuskan Dia menghukum dosa, sekalipun 

kasih Allah ingin menyelamatkannya, dan konflik antara kedua sifat 

ilahi inilah yang diselesaikan oleh pengorbanan Kristus yang 

dilakukan secara sukarela. Dengan demikian, semua tuntutan ilahi 

dipenuhi dan Allah kini bebas untuk mengampuni orang yang ber­

dosa. Teori ini mengajarkan bahwa Kristus menderita sepadan de­

ngan penderitaan yang seharusnya diterima oleh orang-orang yang 

terpilih. Anselmus, tokoh yang menghasilkan pandangan ini, telah 

menyebarkan teorinya sehingga berhasil mengakhiri teori bahwa 

Kristus telah membayar harga tebusan itu kepada Iblis, satu teori 

yang dianut oleh Yustinus Martir dan Origenes. Pandangan ini de­

ngan tepat kembali kepada Allah dan kehormatan-Nya, dan bukan 

memusatkan karya pendamaian pada kesadaran akan keadilan yang 

ada  dalam diri manusia atau pada tuntutan-tuntutan Iblis yang 

palsu. Smeaton telah menulis tentang Anselmus dan pandangannya 

sebagai berikut, "Anselmus tidak mengenal pengadilan lain di luar 

pengadilan Allah sendiri, serta keselarasan sifat-sifat-Nya. Dalam 

transaksi besar ini tidak ada  sidang pendengar malaikat atau 

manusia yang di hadapannya Allah memamerkan keperkasaan 

hukum-Nya: sidang pendengar ini  yaitu  diri-Nya sendiri, atau1 kesempumaan-Nya sendiri, yang tidak dapat diganggu gugat."

122 Smeaton, The Apostles’ Doctrine of the Atonement, hal. 514.

358 Soteriologi

Sekalipun pandangan ini mengandung banyak hal yang baik, 

namun ada  beberapa kelemahan. (1) Pandangan ini menyiratkan 

adanya pertentangan di antara sifat-sifat Allah. (2) Kehormatan 

Allah dianggap lebih tinggi daripada kekudusan Allah. (3) Ketaatan 

aktif yang ditunjukkan oleh Kristus dan kehidupan-Nya yang kudus 

kurang diutamakan. (4) Karya pendamaian itu hanya untuk orang- 

orang yang terpilih. Dan akhirnya, (5) kematian Kristus sebagai 

pengganti kita hanya dibicarakan dari segi kuantitatif dan bukan 

dari segi kualitatif. Anak Allah yang Kudus dan Mahakuasa telah 

menyerahkan hidup-Nya dan mati ganti manusia sehingga semua 

yang menanggapinya dengan iman tidak akan mati melainkan akan 

memiliki hidup yang berkelimpahan (Yohanes 10:10).

Dalam teori-teori yang telah kita bahas tadi ada  sedikit 

kebenaran namun  itu tidak menerangkan seluruh kebenaran seperti 

yang ada  dalam Alkitab. Memang benar, Kristus mati sebagai 

akibat kesetiaan-Nya kepada keyakinan-Nya; kematian Kristus 

merupakan ungkapan kasih Allah dan kematian Kristus melenyap­

kan pencemaran kehormatan Allah. Bagaimanapun juga, semua ini 

hanya merupakan penjelasan sebagian dari kematian Kristus dan 

tidak sepenting gagasan utama kematian-Nya. Kalau begitu, apakah 

makna sesungguhnya dan jangkauan kematian Kristus?

III. MAKNA SESUNGGUHNYA DARI KEMATIAN 

KRISTUS

Nabi Yesaya mengungkapkan inti kebenaran tentang makna 

kematian Kristus saat  ia menyatakan, "namun  Tuhan berkehendak 

meremukkan dia dengan kesakitan. jika  ia menyerahkan dirinya 

sebagai korban penebus salah" (Yesaya 53:10). saat  menguraikan 

pendamaian, beberapa hal patut diperhatikan.

A. KEMATIAN ITU DIJALANINYA UNTUK ORANG LAIN

Jelaslah bahwa Kristus tidak mati untuk dosa-Nya sendiri (Yohanes 

8:46; Ibrani 4:15; I Petrus 2:22). Di seluruh Alkitab dikatakan 

bahwa Ia mati untuk dosa-dosa orang lain. "Penderitaan yang 

dialami oleh Kristus bukan merupakan penderitaan seorang sahabat 

Karya Kristus: Kematian-Nya 359

yang menaruh rasa simpati, melainkan penderitaan yang bersifat 

menggantikan dari Anak Domba Allah karena dosa seisi dunia."123 

Yesaya menulis, 'namun  dia tertikam oleh karena pemberontakan 

kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang men­

datangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh 

bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.... namun  Tuhan telah menim­

pakan kepadanya kejahatan kita sekalian" (Yesaya 53:5, 6). Per­

hatikan beberapa ayat lain, "Akan namun  Allah menunjukkan kasih- 

Nya kepada kita oleh karena Kristus telah mati untuk kita, saat  

kita masih berdosa" (Roma 5:8); "Kristus telah mati karena dosa- 

dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci" (I Korintus 15:3); "Dia yang 

tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, 

supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah" (II Korintus 5:21); 

"Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu 

salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebe­

naran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh" (I Petrus 2:24); 

dan "Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, 

Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia mem­

bawa kita kepada Allah" (I Petrus 3:18). Yesus sendiri mengatakan, 

"Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, namun  untuk 

melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi 

banyak orang" (Markus 10:45) dan "Akulah gembala yang baik. 

Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya" 

(Yohanes 10:11). Ia mati ganti kita sebagai anak domba Paskah 

yang sejati (Keluaran 12; I Korintus 5:7) dan merupakan korban 

penghapus dosa yang sejati (Yesaya 53:10), yang telah dilam­

bangkan oleh berbagai kurban persembahan dalam Perjanjian Lama 

(Imamat 6:24-30; Ibrani 10:1-4; bandingkan juga dengan kambing 

jantan pengangkut segala kesalahan Israel di Imamat 16:20-22).

123 Berkhof, Systematic Theology, hal. 376.

Berbagai keberatan dikemukakan terhadap penafsiran ini menge­

nai kematian Kristus, keberatan yang pertama berkaitan dengan tata 

bahasa sedangkan keberatan yang kedua dan yang ketiga bersifat 

moral. Ada yang mengatakan bahwa kata depan Yunani anti bisa 

berarti "sebagai pengganti", namun  kata depan huper, yang hampir 

selalu dipakai saat  membicarakan penderitaan dan kematian Kris­

tus, berarti "untuk kepentingan", atau "dengan harapan akan meng­

untungkan", dan tidak pernah berarti "sebagai pengganti". Bahwa

360 Soteriologi

anti berarti "sebagai pengganti" sudah jelas dari pemakaiannya di 

Matius 5:38 dan 20:28, Markus 10:45, Lukas 11:11, Roma 12:17, 

I Tesalonika 5:15, Ibrani 12:16, dan I Petrus 3:9. Istilah huper sering 

kali dipakai dalam frase-frase yang berhubungan dengan pendamai­

an. Misalnya, "Cawan ini yaitu  perjanjian baru oleh darah-Ku yang 

ditumpahkan bagi kamu" (Lukas 22:20); 'Tidak ada kasih yang 

lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya 

untuk sahabat-sahabatnya" (Yohanes 15:13); "Kristus telah mati 

untuk kita saat  kita masih berdosa" (Roma 5:8); "Ia, yang tidak 

menyayangkan Anak-Nya sendiri, namun  yang menyerahkan-Nya 

bagi kita semua" (Roma 8:32); "Dia yang tidak mengenal dosa telah 

dibuat-Nya menjadi dosa karena kita" (II Korintus 5:21); Kristus 

"mengalami maut bagi semua manusia" (Ibrani 2:9); dan "Sebab 

juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, Ia yang benar 

untuk orang-orang yang tidak benar" (I Petrus 3:18; bandingkan 

Yohanes 6:51; II Korintus 5:14; Galatia 3:13; Efesus 5:2, 25).

Apa arti kata depan huper? Sekalipun kata depan ini sering kali 

berarti "demi kepentingan" atau "untuk keuntungan", namun kata 

ini juga dapat berarti "sebagai pengganti". Hal ini terjadi dalam 

I Korintus 15:3, II Korintus 5:14, dan Galatia 1:4 yang dengan jelas 

sekali mengemukakan gagasan penggantian. Teranglah bahwa Kris­

tus mati baik untuk kepentingan orang berdosa maupun sebagai 

penggantinya. Kedua gagasan ini terkandung dalam kata depan 

huper, sedangkan kata depan anti hanya mengandung unsur 

pengganti.

Selanjutnya, ada keberatan bahwa tak bermoral bagi Allah untuk 

menghukum orang yang tidak bersalah, sehingga berdasarkan alasan 

ini saja kematian Kristus tidak mungkin bersifat mengganti. Akan 

namun , kesalahan pandangan ini terletak dalam anggapan bahwa 

Allah dan Kristus yaitu  dua pribadi yang berbeda seperti halnya 

dua individu. Bila hal ini memang benar, maka keberatan ini ada 

benarnya juga. Akan namun , karena Kristus yaitu  Allah yang men­

jelma menjadi manusia, maka pengganti itu yaitu  Allah sendiri. 

Bisa disahkan oleh hukum jika hakimnya sendiri memutuskan untuk 

menjalani hukuman. Tambahan pula, Yesus bersukarela menjadi 

pengganti. Ia menyatakan, "Aku memberikan nyawa-Ku bagi 

domba-domba-Ku .... Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku 

memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali. Tidak seorang

Karya Kristus: Kematian-Nya 361

pun mengambilnya daripada-Ku, melainkan Aku memberikannya 

menurut kehendak-Ku sendiri" (Yohanes 10:15, 17, 18).

Keberatan yang ketiga berhubungan dekat dengan keberatan yang 

kedua ini. Dikatakan bahwa pemenuhan tuntutan dan pengampunan 

yaitu  dua hal yang tidak berhubungan samasekali. Dianggap 

bahwa bila seorang pengganti membayar utang kita, maka Allah 

tidak dapat menagih utang itu dari kita juga, namun  secara moral 

harus membiarkan kita bebas; maksudnya, berdasarkan teori ini, 

Allah tidak bermurah hati saat  mengampuni kita, namun  Ia hanya 

melakukan kewajiban-Nya. Namun, keberatan ini juga dapat 

dikesampingkan oleh kenyataan bahwa pihak yang melunasi utang 

itu bukanlah pihak ketiga, namun  sang hakim sendiri. Dengan 

demikian, pengampunan tetap menjadi haknya dan dapat ditawarkan 

sesuai dengan syarat-syarat yang telah disetujuinya sendiri. Syarat- 

syarat yang telah ditetapkan Allah ialah pertobatan dan iman. Jadi, 

ketaatan Kristus tidak berarti bahwa kita tidak perlu taat lagi, namun  

tetap menuntut agar kita memenuhi syarat-syarat yang telah ditetap­

kan sebelum kita menikmati berkat-berkat yang ditawarkan oleh 

kematian Kristus yang mendamaikan.

B. KEMATIAN KRISTUS MEMENUHI SEMUA TUNTUTAN

Karena kekudusan merupakan sifat pokok Allah maka sangat 

beralasan bahwa tuntutan-Nya harus dipenuhi sebelum pelanggaran 

dosa dapat disingkirkan. Kematian Kristus memenuhi tuntutan itu.

1. Kematian Kristus memenuhi tuntutan keadilan Allah. Manusia 

telah berdosa terhadap Allah dan telah mendatangkan kemarahan 

dan penghakiman Allah atas dirinya. Sudah sepantasnya Allah 

menuntut hukuman atas pelanggaran hukum yang telah ditetapkan 

oleh-Nya. Ia tidak dapat membebaskan orang berdosa sebelum tun­

tutan-tuntutan keadilan dipenuhi. Allah hams menjatuhkan hukum­

an atas dosa. Allah tidak akan membebaskan pihak yang bersalah 

kecuali ada pengganti yang menjalani hukuman itu (Keluaran 34:7; 

Bilangan 14:18). Hanya melalui kematian Kristus sajalah Allah da­

pat tetap adil saat  membenarkan orang yang berdosa (Roma 3:25, 

26). Apa pun yang dilakukan oleh Allah, keadilan-Nya hams tetap 

dipertahankan; kematian Kristus secara sempurna telah memenuhi 

tuntutan-tuntutan Allah yang adil. Sebagaimana dalam hal para 

362 Soteriologi

narapidana, jika  narapidana itu telah menjalani hukuman yang 

dituntut oleh undang-undang, maka ia tidak dapat dikenakan hu­

kuman lagi. "Tidaklah mungkin untuk secara adil menjatuhkan hu­

kuman lagi untuk pelanggaran yang sama. Inilah yang dimaksudkan 

saat  mengatakan bahwa kematian Kristus, dari segi nilainya yang 

hakiki, secara sempurna memenuhi semua tuntutan keadilan."124 

124 Hodge, Systematic Theology, II, hal. 482.

125 Berkhof, Systematic Theology, hal. 370.

2. Kematian Kristus memenuhi tuntutan hukum Allah. Namun 

kematian Kristus tidaklah sekadar memenuhi tuntutan keadilan 

Allah, namun  juga memenuhi tuntutan hukum Allah. Hukum Allah 

didasarkan pada sifat Allah sendiri, dan pelanggaran terhadapnya 

akan mendatangkan hukuman. "Hukum Allah tidak dapat diganggu 

gugat karena hukum itu didasarkan pada sifat Allah sendiri dan 

bukan ... merupakan hasil kehendak bebas-Nya."  Orang berdosa 

tidak dapat memenuhi tuntutan hukum ilahi, namun Kristus, sebagai 

wakil dan pengganti kita, sanggup memenuhinya. Demikianlah, oleh 

ketaatan Kristus yang aktif dan pasif, Allah menyediakan pemenuh­

an tuntutan bagi orang-orang berdosa (Roma 8:3, 4). Oleh ketaatan 

dan penderitaan serta kehidupan-Nya yang samasekali benar, Yesus 

memenuhi seluruh tuntutan hukum Allah. saat  berbicara perihal 

Israel, Paulus mengatakan, "Sebab, oleh karena mereka tidak me­

ngenal kebenaran Allah dan oleh karena mereka berusaha untuk 

mendirikan kebenaran mereka sendiri, maka mereka tidak takluk 

kepada kebenaran Allah. Sebab Kristus yaitu  kegenapan hukum 

Taurat, sehingga kebenaran diperoleh setiap orang percaya" (Roma 

10:3, 4).

125

3. Pendamaian membutuhkan adanya pemenuhan tuntutan. 

Beberapa istilah lain yang sering kali ditemukan dalam Alkitab ada 

sangkut-pautnya dengan gagasan "pemenuhan tuntutan". Oleh 

karena itu, kematian Kristus merupakan karya pendamaian dan 

peredaan murka Allah. Imamat 6:2-7 berbicara tentang pendamaian 

pribadi untuk dosa pribadi, "jika  seseorang berbuat dosa dan 

berubah setia terhadap Tuhan, . . . haruslah ia mempersembahkan 

kepada Tuhan . . . korban penebus salah, dengan menyerahkannya 

kepada imam. Imam hams mengadakan pendamaian bagi orang itu 

Karya Kristus: Kematian-Nya 363

di hadapan Tuhan sehingga ia menerima pengampunan atas perkara 

apa pun yang diperbuatnya sehingga ia bersalah." Imamat 4:13-20 

berbicara tentang pendamaian nasional bagi pelanggaran nasional, 

"Jikalau yang berbuat dosa ... itu segenap umat Israel, . . . dan 

mereka bersalah .... Lalu para tua-tua umat itu harus meletakkan 

tangan mereka di atas kepala lembu jantan itu di hadapan Tuhan, 

dan lembu itu harus disembelih di hadapan Tuhan .... Dengan 

demikian imam itu mengadakan pendamaian bagi mereka sehingga 

mereka menerima pengampunan." Dari ayat-ayat ini jelaslah bahwa 

domba jantan atau lembu jantan itu harus mati, dan bahwa pengam­

punan dimungkinkan hanya oleh kematian si pengganti. Istilah 

Ibrani untuk "pendamaian" dalam ayat-ayat di atas dan ayat-ayat 

lainnya ialah kaphar, yang sering kali diterjemahkan sebagai 

"mengadakan pendamaian". Secara harfiah istilah ini artinya "me­

nutupi" sehingga tidak kelihatan. Hoeksema menulis tentang sifat 

menebus dari korban-korban dalam Perjanjian Lama, "Korban-kor­

ban ini  dinamakan korban penghapus dosa atau korban pene­

bus salah, dan dianggap sebagai memikul dosa-dosa si pelanggar 

hukum, menjadi tebusan atas dosa, dapat meredakan murka Allah, 

dan menutupi dosa-dosa umat itu di hadapan Allah. Dan buah 

semuanya itu ialah pengampunan dosa."126 Gagasan menutupi dosa 

dari hadapan mata Allah ada  dalam ayat-ayat seperti, "Sembu- 

nyikanlah wajah-Mu terhadap dosaku, hapuskanlah segala kesalah­

anku" (Mazmur 51:11); "Sebab Engkau telah melemparkan segala 

dosaku jauh dari hadapan-Mu" (Yesaya 38:17); dan "Ia . . . melem­

parkan segala dosa kita ke dalam tubir-tubir laut" (Mikha 7:19). 

4. Peredaan murka Allah membutuhkan adanya pemenuhan tun­

tutan. Dalam kitab Septuaginta, kata Ibrani kaphar ini diterjemah­

kan dengan sebuah kata Yunani yang agak berbeda penekanannya.

Dalam Septuaginta, kaphar diterjemahkan sebagai exilaskomai yang

artinya "mendamaikan, meredakan amarah". Jelas yang dimaksud­

kan di sini ialah bahwa bila dosa telah ditutupi atau disingkirkan,

maka murka Allah terhadap dosa itu telah diredakan atau tuntutan-

Nya dipenuhi. Akibat kebenaran ini, para penerjemah Septuaginta

dapat dibenarkan saat  menerjemahkan kaphar sebagai exilas­

komai.

126 Hoeksema, Reformed Dogmatics, hal. 389.

364 Soteriologi

Istilah exilaskomai itu sendiri tidak ada  dalam Perjanjian 

Baru, namun bentuk kata kerjanya hilaskomai muncul dua kali 

(Lukas 18:13; Ibrani 2:17), bentuk kata benda hilasmos muncul dua 

kali (I Yohanes 2:2; 4:10), sedangkan kata sifatnya hilasterion juga 

muncul dua kali (Roma 3:25; Ibrani 9:5). Perjanjian Baru banyak 

sekali berbicara tentang murka Allah (Yohanes 3:36; Roma 1:18; 

5:9; Efesus 5:6; I Tesalonika 1:10; Ibrani 3:11; Wahyu 19:15). Se­

suai dengan pikiran ini, Perjanjian Baru menggambarkan kematian 

Kristus sebagai meredakan murka Allah. Paulus mengatakan bahwa 

Yesus telah ditentukan Allah "menjadi jalan pendamaian" (Roma 

3:25), dan surat Ibrani memakai  istilah ini untuk tutup pen­

damaian di dalam kemah perhimpunan (Ibrani 9:5). Yohanes me­

ngatakan bahwa Kristus yaitu  "pendamaian untuk segala dosa kita, 

dan bukan untuk dosa kita saja, namun  juga untuk dosa seluruh 

dunia" (I Yohanes 2:2; bandingkan dengan 4:10); dan surat Ibrani 

menyatakan bahwa Kristus menjadi Imam Besar yang menaruh 

belas kasihan dan yang setia "untuk mendamaikan dosa seluruh 

bangsa" (2:17). Secara harfiah doa si pemungut cukai berbunyi, "Ya 

Allah, adakanlah pendamaian bagi aku orang berdosa ini" (Lukas 

18:13). Oleh kematian-Nya, Kristus telah meredakan murka Allah 

yang kudus terhadap dosa.

5. Penghentian perseteruan membutuhkan adanya pemenuhan 

tuntutan. Berkaitan erat dengan gagasan peredaan amarah ialah 

gagasan perdamaian atau penghentian perseteruan. Kedua gagasan 

ini  nampaknya saling berkaitan seperti sebab dan akibat; 

kematian Kristus "meredakan murka" Allah, dan sebagai hasilnya 

Allah "diperdamaikan" (Roma 5:10; II Korintus 5:18, 19; Efesus 

2:16). Kata kerja katalasso muncul enam kali dalam Perjanjian Baru 

(Roma 5:10; I Korintus 7:11; II Korintus 5:18-20), sedangkan kata 

benda katallage muncul empat kali (Roma 5:11; 11:15; II Korintus 

5:18, 19). Diallassomai muncul sekali (Matius 5:24). Dalam semua 

ayat ini yang dipikirkan yaitu  penghentian permusuhan atau per­

damaian. Berkouwer mengatakan bahwa Paulus memakai istilah ini 

untuk menunjuk kepada "hubungan damai yang dihasilkan oleh 

kematian Kristus, kepada kerukunan yang bertentangan dengan per­

musuhan sebelumnya, kepada perdamaian setelah semua peng­

halang ditiadakan, dan kepada kesempatan dapat menghampiri

Karya Kristus: Kematian-Nya 365

127Bapa." Dalam Alkitab istilah perdamaian atau penghentian per­

musuhan ini dipakai untuk Allah dan untuk manusia (Roma 5:10; 

II Korintus 5:18-20).

Pengertiannya kurang lebih sebagai berikut. Pada mulanya Allah 

dan manusia itu berdiri saling berhadapan dalam suatu hubungan 

harmonis yang sempurna. saat  ia berdosa, Adam berpaling dan 

membelakangi Allah. Saat itu Allah juga membelakangi Adam. 

Kematian Kristus telah memenuhi tuntutan-tuntutan Allah dan kini 

Allah berkenan untuk berpaling lagi kepada manusia. Kini tinggal 

manusia yang harus berpaling kepada Allah. Karena Allah telah 

diperdamaikan oleh kematian Anak-Nya, sekarang manusia dimo­

hon dengan sangat untuk berdamai dengan Allah. Dalam arti kata 

yang paling luas, Allah sudah berdamai bukan saja dengan manusia 

namun  juga dengan segala sesuatu di langit dan di bumi (Kolose 

1:20). Karena penghentian permusuhan ini, Allah mencurahkan ber­

kat-berkat yang bersifat sementara kepada orang-orang yang belum 

diselamatkan (Matius 5:45; Roma 2:4), memperluas kesempatan ke­

pada manusia untuk bertobat (II Petrus 3:9), dan akan membebaskan 

langit dan bumi dari semua akibat kejatuhan (Roma 8:19-21).

C. KEMATIAN KRISTUS MERUPAKAN PENEBUSAN

Kematian Kristus digambarkan sebagai pembayaran uang tebusan. 

Gagasan penebusan berarti pembayaran harga kepada pihak tertentu 

agar dapat membebaskan orang yang berada dalam perbudakan. 

Karena itu Yesus mengatakan bahwa Ia datang untuk memberikan 

nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang (Matius 20:28; 

Markus 10:45), sedangkan karya Kristus disebut dalam Alkitab Ter­

jemahan Lama sebagai suatu penebusan (Lukas 1:68; 2:38; Ibrani 

9:12). Dalam ayat-ayat ini  istilah yang dipakai ialah lutrosis. 

Kata kerja lutroomai ada  dalam Lukas 24:21, Titus 2:14, dan 

I Petrus 1:18. Kata majemuk apolutrosis muncul sepuluh kali 

(Lukas 21:28; Roma 3:24; 8:23; I Korintus 1:30; Efesus 1:7, 14; 

4:30; Kolose 1:14; Ibrani 9:15; 11:35). Deissmann mengatakan,

Kalau orang mendengar istilah Yunani lutron, "tebusan" pada abad pertama, 

maka wajar baginya untuk berpikir tentang uang pembelian untuk mem­

bebaskan seorang budak. Tiga dokumen dari Oxyrhynchus membahas ten­

127 Berkouwer, The Work of Christ, hal. 255.

366 Soteriologi

tang pembebasan budak pada tahun 86, 100, dan 91 atau 107 M serta 

memakai istilah ini.128

128 Deissmann, Light from the Ancient East, hal. 327-328.

129 Shedd, Dogmatic Theology, II, hal. 398.

Harga tebusan ini  tidak dibayarkan kepada Iblis, namun  

kepada Allah. Utang yang perlu dilunasi ialah utang kepada sifat 

Allah yang adil; Iblis tidak memiliki hak hukum apa pun atas diri 

seorang berdosa, karena itu tidak perlu dibayar supaya orang ber­

dosa dapat dibebaskan. Sebagaimana hal itu dikatakan dengan tepat 

oleh Shedd, "Kemurahan Allah menebus manusia dari keadilan 

Allah."129

Alkitab mengajarkan bahwa kita telah ditebus oleh kematian 

Kristus. Penebusan ini ialah penebusan (1) dari hukum Taurat, atau 

seperti yang dikatakan oleh Rasul Paulus dalam Galatia 3:13, dari 

"kutuk hukum Taurat", dengan cara Kristus yang menjadi kutuk 

karena kita; (2) dari hukum itu sendiri, dengan cara kita dimatikan 

terhadap hukum Taurat oleh kematian tubuh Kristus (Roma 7:4), 

sehingga kita tidak dikuasai lagi oleh hukum itu namun  oleh kasih 

karunia (Roma 6:14); (3) dari dosa sebagai suatu kekuatan, dengan 

matinya Kristus terhadap dosa dan matinya kita terhadap dosa di 

dalam Dia (Roma 6:2, 6; Titus 2:14; I Petrus 1:18, 19), sehingga 

kita tidak perlu lagi tunduk pada kuasa dosa (Roma 6:12-14);

(4) dari Iblis, yang memperbudak umat manusia (II Timotius 2:26), 

juga oleh kematian Kristus di kayu salib (Ibrani 2:14, 15); dan

(5) dari segala kejahatan, baik kejahatan fisik maupun kejahatan 

moral, termasuk tubuh fana kita saat ini (Roma 8:23 dan Efesus 

1:14), yang akan kita nikmati sepenuhnya saat  Kristus datang 

yang kedua kalinya (Lukas 21:28). Istilah "penebusan" kadang- 

kadang menunjuk pada pelunasan utang dan kadang-kadang kepada 

pembebasan orang tahanan. Korban Kristus menyediakan 

penebusan untuk kedua-duanya.

IV. JANGKAUAN KEMATIAN KRISTUS

Ada banyak perselisihan pendapat mengenai pokok ini. Apakah 

Kristus mati untuk seluruh dunia, ataukah Ia mati hanya untuk 

orang-orang yang terpilih? Bila Ia mati untuk seluruh dunia, menga­

pa tidak semua manusia diselamatkan? Kalau Ia mati untuk seluruh

Karya Kristus: Kematian-Nya 367

dunia, dalam arti apakah Ia mati? Bila Ia mati hanya untuk orang- 

orang pilihan, bagaimana dengan keadilan Allah? Jawaban terhadap 

soal-soal ini terjalin dengan pengertian seseorang tentang susunan 

ketetapan-ketetapan Allah. Orang-orang yang menganut pandangan 

supralapsarian (kepercayaan bahwa Allah menetapkan manusia ma­

na akan diselamatkan dan mana akan dibinasakan, sebelum kejatuh­

an manusia) tentu saja mengatakan bahwa Kristus hanya mati untuk 

orang-orang yang terpilih; sedangkan mereka yang menerima pan­

dangan sublapsarian (kepercayaan bahwa Allah menetapkan 

manusia mana akan diselamatkan dan mana akan dibinasakan, 

sesudah kejatuhan manusia) beranggapan bahwa Kristus mati, 

paling tidak dalam batas tertentu, untuk seluruh dunia juga.

A. KRISTUS MATI HANYA UNTUK ORANG-ORANG YANG TER­

PILIH

Alkitab mengajarkan bahwa Kristus terutama mati bagi orang-orang 

yang terpilih. Paulus menulis bahwa Allah yaitu  "Juruselamat 

semua manusia, terutama mereka yang percaya" (I Timotius 4:10); 

dan Yesus berkata, "Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, 

namun untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi 

tebusan bagi banyak orang" (Matius 20:28) dan "Aku berdoa untuk 

mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, namun  untuk mereka, yang 

telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab mereka yaitu  milik-Mu" 

(Yohanes 17:9). Alkitab selanjutnya menyatakan, "Kristus telah 

mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya" (Efesus 

5:25) dan, "Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita 

dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melain­

kan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri, yang telah 

dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan 

zaman" (II Timotius 1:9; bandingkan dengan Wahyu 13:8). Ia mati 

untuk orang yang terpilih, bukan saja dalam arti memungkinkan 

mereka memperoleh keselamatan, namun  juga dalam arti menyedia­

kan keselamatan itu bagi mereka saat  mereka percaya.

B. KRISTUS MATI BAGI SELURUH DUNIA

Kenyataan ini jelas dari beberapa ayat, "Lihatlah Anak Domba

Allah yang menghapus dosa dunia" (Yohanes 1:29); "Yang telah

368 Soteriologi

menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua manusia" (I Ti­

motius 2:6); "Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan 

semua manusia sudah nyata" (Titus 2:11); "Ia mengalami maut bagi 

semua manusia" (Ibrani 2:9); "Tuhan . . . menghendaki supaya ja­

ngan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan 

bertobat" (II Petrus 3:9); dan "dan Ia yaitu  pendamaian untuk sega­

la dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, namun  juga untuk dosa 

seluruh dunia" (I Yohanes 2:2). Ada urutan tertentu dalam penyela­

matan manusia; terlebih dahulu ia harus percaya bahwa Kristus 

telah mati untuknya sebelum ia dapat memiliki segala berkat yang 

tersedia oleh kematian Kristus. Sekalipun Kristus telah mati bagi 

semua orang dalam arti memperdamaikan Allah dengan dunia, tidak 

semua orang selamat, karena selamat atau tidaknya seseorang diten­

tukan oleh hal dirinya mau didamaikan dengan Allah (II Korintus 

5:18-20).

Dengan demikian, arti Yesus Kristus yaitu  Juruselamat dunia 

dapat disingkat dan disimpulkan sebagai berikut: Kematian-Nya 

menghasilkan penundaan pelaksanaan hukuman atas dosa bagi 

semua orang, memberi kesempatan untuk bertobat, serta 

memperoleh kembali berkat-berkat umum dalam hidup sehari-hari 

yang telah hilang akibat pelanggaran Adam. Kematian Kristus juga 

telah menghapus dari pikiran Allah semua halangan untuk mengam­

puni yang bertobat dan memulihkan hubungan dengan orang ber­

dosa, halangan yang masih tersisa hanyalah penolakan yang sengaja 

terhadap Allah dari pihak manusia. Kematian Kristus juga 

menyediakan bagi seseorang yang tidak percaya dorongan-dorongan 

yang kuat untuk bertobat yang disajikan dalam salib Kristus oleh 

khotbah para hamba Tuhan dan oleh karya Roh Kudus; kematian 

itu menyediakan keselamatan bagi mereka yang tidak berdosa 

secara sengaja atau secara pribadi (yaitu yang mati saat  masih 

bayi atau yang secara mental tidak pernah bertanggung jawab). 

Kematian Kristus memungkinkan pemulihan segala sesuatu yang 

diciptakan Allah. Kita menyimpulkan bahwa karya pendamaian 

Kristus tidak terbatas dalam arti bahwa itu tersedia bagi semua 

orang; karya itu terbatas karena hanya berlaku bagi orang-orang 

yang percaya. Pendamaian itu tersedia bagi semua, namun  hanya ber­

daya guna untuk orang-orang yang terpilih.

XXVI

Karya Kristus: Kebangkitan, 

Kenaikan, dan Pemuliaan-Nya

Segi objektif dari keselamatan kita meliputi lebih banyak daripada 

kematian Kristus saja; itu juga meliputi kebangkitan, kenaikan, dan 

pemuliaan Kristus. Setiap peristiwa ini memberi sumbangan yang 

sangat penting terhadap rencana penebusan.

I. KEBANGKITAN KRISTUS

Sekarang kita akan menilik pentingnya, sifat, kredibilitas, dan hasil- 

hasil kebangkitan Kristus.

A. PENTINGNYA KEBANGKITAN KRISTUS

Kebangkitan Kristus sangat penting karena berbagai alasan.

1. Kebangkitan Kristus merupakan doktrin pokok dalam kekris­

tenan. Banyak orang mengakui pentingnya kematian Kristus, namun  

menyangkal pentingnya kebangkitan Kristus secara jasmani. Akan 

namun , bahwa kebangkitan tubuh Kristus sangat penting sudah jelas 

dari hubungan pokok doktrin ini dengan kekristenan. Dalam I Ko­

rintus 15.T2-19 Paulus menunjukkan bahwa iman kita berdiri atau 

jatuh bersama dengan kebangkitan tubuh Kristus. Bila Kristus tidak 

dibangkitkan, semua pemberitaan Injil itu percuma (ayat 14), iman 

jemaat Korintus sia-sia (ayat 14), para rasul menjadi saksi palsu 

(ayat 15), orang percaya di Korintus masih hidup dalam dosa (ayat 

369

370 Soteriologi

17), orang yang mati di dalam Yesus sudah binasa (ayat 18), dan 

orang-orang Kristen yaitu  orang-orang yang paling perlu 

dikasihani (ayat 19). Sepanjang kitab Kisah Para Rasul para rasul 

senantiasa mengutamakan kebangkitan Kristus dalam pemberitaan 

mereka (2:24, 32; 3:15, 26; 4:10; 10:40; 13:30-37; 17:31). Hal ini 

nampak juga dalam Surat-Surat Kiriman Rasul Paulus (Roma 4:24, 

25; 6:4, 9; 7:4; 8:11; 10:9; I Korintus 6:14; 15:4; II Korintus 4:14; 

Galatia 1:1; Efesus 1:20; Kolose 2:12; I Tesalonika 1:10; I Timotius 

2:8) dan dalam kitab-kitab lainnya yang ada  dalam Perjanjian 

Baru (I Petrus 1:21; 3:21; Wahyu 1:5; 2:8). Jelaslah kebangkitan 

Kristus merupakan bagian yang hakiki dari Injil.

2. Kebangkitan Kristus merupakan bagian penting dalam 

penerapan keselamatan. Allah membangkitkan Kristus dan 

memuliakan Dia dengan mendudukkan Kristus di sebelah kanan- 

Nya agar bagi gereja Kristus menjadi kepala atas segala sesuatu 

(Efesus 1:20-22). Penting bagi-Nya untuk bangkit dari antara orang 

mati sebelum Ia dapat membaptiskan orang yang percaya dengan 

Roh Kudus (Yohanes 1:33; Kisah 1:5; 2:32, 33; 11:15-17; I Korin­

tus 12:13; bandingkan dengan Yohanes 14:16-19; 15:26; 16:7). 

Kematian, kebangkitan, dan kenaikan Kristus ke sorga merupakan 

peristiwa-peristiwa yang mempersiapkan Kristus untuk memberikan 

karunia-karunia kepada manusia (Efesus 4:7-13). Ia harus bangkit 

untuk menjadi Penguasa dan Juruselamat, untuk memberikan per­

tobatan serta pengampunan dosa kepada umat Israel (Kisah 5:31). 

Paulus merangkum semuanya itu saat  ia mengatakan bahwa 

kematian Kristus telah mendamaikan kita dengan Allah, namun  

hidup-Nya yang sekarang menyempurnakan keselamatan kita 

(Roma 5:8-10). Kebangkitan Kristus perlu sekali bagi penerapan 

keselamatan yang telah dipersiapkan oleh kematian Kristus.

3. Kematian Kristus penting karena mempertunjukkan kuasa 

ilahi. Ukuran kuasa ilahi yang sering kali diungkapkan dalam Per­

janjian Lama ialah kuasa yang ditunjukkan Tuhan saat  mengeluar­

kan bangsa Israel dari negeri Mesir. Perayaan Paskah setiap tahun 

merupakan peringatan akan kekuasaan tangan Allah (Keluaran 12). 

Dalam Perjanjian Baru ukuran bagi kuasa Allah yaitu  kuasa yang 

dinyatakan dalam kebangkitan Kristus. Tidak mungkin Kristus 

dikuasai oleh kematian untuk selamanya (Kisah 2:24). Kuasa yang

Karya Kristus: Kebangkitan, Kenaikan, dan Pemuliaan-Nya 371 

sama yang telah membangkitkan Kristus dari antara orang mati kini 

tersedia bagi orang-orang Kristen. Paulus berdoa agar orang-orang 

percaya dapat mengenal "betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang 

percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya, yang dikerjakan-Nya 

di dalam Kristus dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati 

dan mendudukkan Dia di sebelah kanan-Nya di sorga" (Efesus 

1:19, 20).

B. SIFAT KEBANGKITAN KRISTUS

Dalam bab ini telah berulang-ulang diterima bahwa kebangkitan 

Kristus yaitu  kebangkitan secara jasmani, namun sekarang kita 

perlu memberikan bukti-bukti untuk menguatkan anggapan ini .

1. Kebangkitan Kristus yaitu  peristiwa yang aktual. Teori yang 

mengatakan bahwa Yesus tidak sungguh-sungguh mati, namun  hanya 

pingsan dan kemudian menjadi siuman karena kesejukan hawa ku­

buran serta kuatnya bau rempah-rempah, merupakan pemutarbalik­

an yang mencolok dari kata-kata Alkitab yang sangat jelas artinya. 

Bahwa Kristus benar-benar mati sudah jelas dari kenyataan bahwa 

Ia telah dinyatakan mati oleh kepala pasukan dan prajurit-prajurit 

Romawi yang mengawali pelaksanaan hukuman mati saat  itu 

(Markus 15:45; Yohanes 19:33); dari perempuan-perempuan yang 

datang membawa rempah-rempah untuk meminyaki tubuh Yesus 

(Markus 16:1); dari darah dan air yang keluar dari luka Yesus 

(Yohanes 19:34); dari keyakinan para murid bahwa Ia telah mati 

sehingga mereka terkejut sekali mendengar tentang kebangkitan- 

Nya (Matius 28:17; Lukas 24:37; Yohanes 20:3-9); dari kenyataan 

bahwa pada hari ketiga itu Ia tidak nampak kepada murid-murid- 

Nya dalam keadaan jasmaniah yang lemah, namun  sebagai Pemenang 

yang perkasa yang telah mengalahkan kematian; dan dari per­

nyataan Kristus sendiri bahwa Ia telah mati, namun kini telah hidup 

untuk selama-lamanya (Wahyu 1:18).

2. Kebangkitan Kristus yaitu  kebangkitan tubuh. Beberapa 

pihak yang mengatakan bahwa mereka percaya akan kebangkitan 

Kristus tidak bersedia untuk percaya bahwa tubuh-Nya telah 

dibangkitkan. Mereka menjelaskan kematian dan kebangkitan Kris­

tus sebagai sekadar dua sisi dari satu pengalaman; dalam kematian-

372 Soteriologi

Nya Ia meninggalkan kehidupan jasmani, dan dalam kebangkitan- 

Nya Ia memasuki kehidupan rohani. Dengan demikian kematian 

dan kebangkitan Kristus dianggap sebagai dua peristiwa yang terjadi 

secara serempak. Penampakan-penampakan Kristus setelah kebang­

kitan ditafsirkan sebagai penampakan roh-Nya saja atau sekadar 

halusinasi subjektif para murid.

Beberapa hal yang terjadi membuktikan bahwa Kristus bangkit 

secara jasmani. Yesus sendiri mengatakan setelah bangkit bahwa Ia 

memiliki daging dan tulang (Lukas 24:39). Matius mencatat bahwa 

perempuan-perempuan yang bertemu dengan Yesus pada pagi hari 

kebangkitan itu memeluk kaki Yesus (Matius 28:9). Daud bernubuat 

oleh dorongan Roh bahwa tubuh Kristus tidak akan mengalami ke­

binasaan (Mazmur 16:10; Kisah 2:31). Kubur itu kosong dan se­

dangkan kain kapan-Nya ada semua saat  murid-murid memeriksa 

kubur ini  (Markus 16:6; Yohanes 20:5-7). Kristus ikut makan 

di hadapan para murid-Nya setelah Ia bangkit (Lukas 24:41-43). 

Yesus dikenal oleh para pengikut-Nya setelah Ia bangkit, bahkan 

sampai pada bekas-bekas luka paku yang ada pada-Nya (Lukas 

24:34-39; Yohanes 20:25-28). Yesus sendiri bernubuat bahwa Ia 

akan bangkit secara jasmani (Matius 12:40; Yohanes 2:19-21). 

Malaikat-malaikat dalam kubur itu menyatakan bahwa Ia telah 

bangkit sebagaimana yang dikatakan oleh-Nya (Lukas 24:6-8). Dan 

akhirnya, banyak ayat Alkitab tidak akan bisa dimengerti kalau kita 

memakai teori bahwa Yesus bangkit secara rohani (Yohanes 5:28, 

29; I Korintus 15:20; Efesus 1:19, 20).

3. Kebangkitan Kristus yaitu  kebangkitan yang unik. Putra 

janda dari Sarfat (I Raja-Raja 17:17-24), putra perempuan Sunem 

(II Raja-Raja 4:18-37), putri Yairus (Markus 5:22-43), pemuda dari 

Nain (Lukas 7:11-17), Lazarus (Yohanes 11:1-44), Tabita (Kisah 

9:36-43), dan Eutikhus (Kisah 20:7-12), semuanya pernah bangkit 

namun  pasti kemudian mereka mati lagi. Jelaslah, mereka tidak me­

nerima tubuh kebangkitan seperti yang telah diterima oleh Kristus. 

Beberapa hal perlu dikatakan mengenai tubuh kebangkitan Kristus. 

(1) Tubuh kebangkitan Kristus yaitu  tubuh yang nyata. Tubuh itu 

dapat dan memang telah diraba (Matius 28:9); tubuh itu berdaging 

dan bertulang (Lukas 24:39). (2) Tubuh kebangkitan itu dikenali 

sebagai tubuh yang sama. Kristus sendiri menunjukkan lambung- 

Nya yang terluka (Yohanes 20:27). Agaknya tanda-tanda

Karya Kristus: Kebangkitan, Kenaikan, dan Pemuliaan-Nya 373

penderitaan-Nya masih akan kelihatan saat  Ia datang untuk kedua 

kalinya (Zakharia 12:10; Wahyu 1:7). Pada saat-saat yang berbeda 

Alkitab memberitahukan bahwa para pengikut-Nya mengenal Dia 

setelah kebangkitan-Nya (Lukas 24:41-43; Yohanes 20:16, 20; 

21:7). (3) Sekalipun demikian, dalam beberapa hal tubuh 

kebangkitan-Nya berbeda juga dari tubuh sebelum kebangkitan- 

Nya. Ia dapat menembus pintu-pintu yang tertutup (Yohanes 20:19), 

dan sudah pasti Ia tidak perlu makan atau beristirahat setelah 

kebangkitan-Nya. (4) Sekarang Ia hidup selama-lamanya (Roma 

6:9, 10; II Timotius 1:10; Wahyu 1:18).

C. KREDIBILITAS KEBANGKITAN KRISTUS

Kebangkitan Kristus yaitu  suatu mukjizat dan bukti-bukti yang 

diperlukan untuk membuktikan kenyataan ini yaitu  sama dengan 

bukti-bukti yang diperlukan untuk membuktikan mukjizat lain. 

Karena semua mukjizat merupakan penyimpangan dari hukum- 

hukum alam yang berlaku, maka mukjizat tidak dapat dibuktikan 

dengan merujuk kepada hukum ini . Ada bukti yang memadai 

tentang terjadinya mukjizat-mukjizat itu, namun  itu bukanlah bukti 

seperti yang dianggap perlu oleh seorang penganut paham 

naturalisme. Apa sajakah bukti-bukti kebangkitan Kristus?

1. Pembuktian dari kesaksian. Dalam uraian yang baru kami 

berikan di atas tersirat penyataan-penyataan luar biasa dari kuasa 

Allah tidak boleh ditafsirkan dari segi penyataan-penyataan yang 

biasa. Penyataan-penyataan luar biasa itu harus ditetapkan ber­

dasarkan alasan-alasan yang lain, dan salah satu di antaranya yaitu  

pembuktian dari kesaksian. Tiga hal diperlukan untuk membuat 

sebuah kesaksian bisa dipercayai: para saksi haruslah merupakan 

saksi mata yang memenuhi syarat, jumlah saksi harus memadai, 

dan mereka harus mempunyai nama baik.

Para rasul memenuhi semua syarat di atas. Berkali-kali mereka 

mengatakan bahwa mereka yaitu  saksi mata (Lukas 24:33-36; 

Yohanes 20:19, 26; 21:24; Kisah 1:3, 21-22). Maksudnya, ajaran 

para rasul tidak didasarkan pada kesaksian orang lain. Sekali lagi, 

Alkitab menyatakan ada lima ratus orang yang telah melihat Tuhan 

yang bangkit (I Korintus 15:3-8). Perjanjian Lama hanya menuntut 

dua atau tiga saksi untuk membuktikan suatu kasus (Ulangan 17:6; 

Ulangan 19:15; Matius 18:16) dan hal ini berlaku juga bagi gereja 

374 Soteriologi

(II Korintus 13:1; I Timotius 5:19). Mengenai watak saksi-saksi ini, 

yakni para rasul, cukuplah kiranya untuk mengatakan bahwa baik 

Alkitab maupun lawan lain yang terhormat tidak pernah mencela 

mereka dalam soal-soal etis. Para rasul tidak mempunyai maksud 

tersembunyi dalam memberitakan fakta yang begitu menakjubkan. 

Mereka memberitahukan kebangkitan Kristus dengan mempertaruh­

kan nyawa mereka. Murid-murid yang kurang percaya itu menjadi 

percaya saat  melihat Kristus yang bangkit lalu menjadi pewarta 

kebangkitan Kristus yang tidak kenal lelah. Peristiwa-peristiwa yang 

terjadi pada pagi kebangkitan dan selama empat puluh hari setelah 

kebangkitan agaknya terjadi menurut urutan sebagai berikut: pagi- 

pagi sekali tiga orang perempuan pergi ke kubur dan melihat 

malaikat (Matius 28:1-8; Markus 16:1-7; Lukas 24:1-8); mereka 

kemudian berpisah karena Maria Magdalena pergi untuk memberi 

tahu peristiwa itu kepada Yohanes dan Petrus (Yohanes 20:1, 2), 

sedangkan kedua perempuan yang lain pergi untuk memberi tahu 

murid-murid yang lain, yang mungkin berada di Betania (Lukas 

24:9-11). Kemudian Petrus dan Yohanes berlari ke kubur menda­

hului Maria, lalu pulang tanpa melihat Tuhan (Yohanes 20:3-10).

Setelah itu, kita memiliki catatan bahwa dua belas kali Kristus 

menampakkan diri-Nya; kemungkinan dalam urutan yang berikut: 

kepada Maria yang datang ke kubur tidak lama sesudah Petrus dan 

Yohanes meninggalkan tempat itu (Markus 16:9; Yohanes 20:11- 

18), kepada beberapa perempuan lain di jalan (Matius 28:9, 10), 

kepada dua orang yang sedang menuju Emaus (Markus 16:12, 13; 

Lukas 24:13-33), kepada Simon Petrus (Lukas 24:34; I Korintus 

15:5), kepada sepuluh murid (Yohanes 20:19-24), kepada sebelas 

murid (Yohanes 20:26-29), kepada rasul-rasul di pantai Danau 

Tiberias (Yohanes 21:1-14), kepada rasul-rasul di bukit di Galilea 

(Matius 28:16-20), kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus 

(I Korintus 15:6), kepada Yakobus (I Korintus 15:7), kepada para 

murid di atas gunung saat  Dia terangkat ke sorga (Markus 16:19; 

Lukas 24:50, 51; Kisah 1:9), dan kepada Paulus (I Korintus 15:8).

2. Pembuktian dari sebab dan akibat. Setiap akibat ada sebabnya. 

Ada sejumlah akibat dalam sejarah Kristen yang dapat dirunut ke 

kebangkitan Kristus secara jasmani untuk menemukan sebabnya. 

(1) Ada bukti kubur yang kosong. Alkitab dengan jelas mengatakan 

bahwa kubur Kristus telah kosong. Bila hal ini tidak benar, pastilah 

sudah ada pihak yang membuktikan bahwa para rasul itu penipu,

Karya Kristus: Kebangkitan, Kenaikan, dan Pemuliaan-Nya 375

dan bahwa kubur itu tidak kosong. Dusta yang diciptakan oleh para 

imam kepala dan tua-tua pada waktu itu, bahwa murid-murid datang 

dan mencuri tubuh Kristus selagi para pengawal tidur, telah diterima 

oleh beberapa kalangan modem sebagai kebenaran. Akan namun , 

bukti akan kebangkitan Kristus ditetapkan oleh kenyataan bahwa 

kain kapan Tuhan ditemukan terletak di tanah; hanya kain yang 

mengikat kepala-Nya agak terpisah (Yohanes 20:5-7). Tentu saja, 

kain kapan itu tidak mungkin ada di situ jika murid-murid telah 

datang dan mencuri tubuh Kristus.

(2) Hari Tuhan merupakan akibat lain dari kebangkitan Kristus. 

Sungguh luar biasa bahwa para rasul yang yaitu  orang-orang 

Yahudi tidak lagi menaati peraturan hari Sabat yang tradisional, 

yang telah diberikan di taman Eden dan dijadikan tanda hubungan 

perjanjian mereka dengan Allah (Keluaran 31:13; Yehezkiel 20:12, 

20), namun  mengadakan ibadat pada hari Minggu. Asal usul Hari 

Tuhan ini dapat diterangkan dengan mengatakan bahwa para rasul 

mengubah peraturan hari Sabat untuk menghormati kebangkitan 

Kristus yang jasmaniah dan dengan persetujuan Tuhan. (3) Gereja 

Kristen merupakan akibat lainnya yang disebabkan oleh peristiwa 

kebangkitan Kristus. Murid-murid Tuhan sangat terkesan oleh 

kehidupan Kristus saat  Ia berada di antara mereka, namun semua 

harapan mereka sirna saat  Kristus mati di salib. Tidak ada satu 

alasan pun yang dapat mendorong para murid yang putus asa ini 

untuk berkumpul bersama-sama untuk bermeditasi dan beribadat 

kepada Guru yang telah tiada. Pasti tidak ada alasan apa pun juga 

yang dapat mendorong mereka untuk memberitakan nama Yesus 

kepada orang-orang Yahudi lainnya dengan risiko akan dianiaya, 

kecuali mereka betul-betul yakin bahwa Kristus telah bangkit dari 

antara orang mati. Perkumpulan-perkumpulan mereka itu merupa­

kan awal berdirinya gereja Kristen. Jadi, adanya gereja Kristen 

merupakan bukti tersendiri akan kebangkitan Tuhan kita.

(4) Dan akhirnya, kitab Perjanjian Baru itu sendiri merupakan 

akibat kebangkitan. Bagaimana mungkin kitab ini ditulis bila tidak 

terjadi kebangkitan? Evans mengatakan, "Bila Yesus tetap berada 

dalam kubur, kisah kehidupan dan kematian-Nya pastilah akan tetap 

terkubur bersama dengan Dia."130 Perjanjian Baru jelas merupakan 

akibat kebangkitan Kristus.

130 Evans, The Great Doctrines of the Bible, hal. 91.

376 Soteriologi

D. HASIL-HASIL KEBANGKITAN KRISTUS

Apa saja hasil kebangkitan Kristus?

1. Peristiwa kebangkitan membuktikan keilahian Kristus. Paulus 

mengajar bahwa Kristus "menurut Roh kekudusan dinyatakan oleh 

kebangkitan-Nya dari antara orang mati, bahwa Ia yaitu  Anak 

Allah yang berkuasa" (Roma 1:4). Kristus telah menunjuk kepada 

kebangkitan-Nya sebagai suatu tanda yang akan diberikan kepada 

umat Israel (Matius 12:38-40; Yohanes 2:18-22), dan Paulus 

menyatakan bahwa peristiwa ini  merupakan bukti keilahian 

Kristus.

2. Peristiwa kebangkitan itu menjamin bahwa pengorbanan Kris­

tus diterima. Paulus mengatakan bahwa Kristus "telah diserahkan 

karena pelanggaran kita dan dibangkitkan karena pembenaran kita" 

(Roma 4:25). Kita bisa yakin bahwa Allah telah menerima pengor­

banan Kristus karena Ia telah bangkit dari antara orang mati.

3. Peristiwa kebangkitan menjadikan Kristus Imam Besar kita. 

Oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati, Kristus menjadi pe­

rantara, pembimbing, dan pelindung umat-Nya (Roma 5:9, 10; 8:34; 

Efesus 1:20-22; I Timotius 2:5, 6). Ia bukan hanya membebaskan 

kita dari perbudakan kepada dosa, namun  Ia juga menjadi perantara 

bagi umat-Nya pada saat-saat mereka memerlukan pertolongan.

4. Kebangkitan Kristus menyediakan banyak berkat tambahan. 

Oleh kebangkitan Kristus telah tersedia realisasi keselamatan 

pribadi yang disediakan-Nya dengan membuka kesempatan agar 

orang dapat bertobat, serta menerima pengampunan, pembaharuan, 

dan Roh Kudus (Yohanes 16:7; Kisah 2:3; 3:26; 5:31; I Petrus 1:3). 

Lagi, kebangkitan-Nya dijadikan dasar keyakinan orang-orang per­

caya bahwa segala kuasa yang dibutuhkan untuk hidup dan mela­

yani Tuhan tersedia baginya (Efesus 1:18-20). Jikalau Allah dapat 

membangkitkan Kristus dari antara orang mati, pastilah Ia mampu 

memberikan segala sesuatu yang diperlukan oleh orang percaya 

(Filipi 3:10). Kebangkitan Kristus merupakan jaminan bahwa suatu 

hari kelak tubuh kita pun akan dibangkitkan dari antara orang mati 

(Yohanes 5:28, 29; 6:40; Kisah 4:2; Roma 8:11; I Korintus 15:20- 

23; II Korintus 4:14; I Tesalonika 4:14). Dan lagi, kebangkitan Kris­

Karya Kristus: Kebangkitan, Kenaikan, dan Pemuliaan-Nya 377

tus merupakan bukti konkret bahwa akan ada penghakiman bagi 

orang saleh dan orang fasik (Kisah 10:42; 17:31; bandingkan de­

ngan Yohanes 5:22). Hari penghakiman telah ditetapkan, demikian 

pula hakimnya. Berdasarkan fakta-fakta ini, Allah telah memberi 

kepastian kepada semua orang dengan cara membangkitkan Kristus 

dari antara orang mati. Akhirnya, kebangkitan Kristus membuka 

jalan bagi Dia untuk duduk di takhta Daud dalam kerajaan yang 

akan datang (Kisah 2:32-36; 3:19-25).

II. KENAIKAN KRISTUS

Kenaikan dan pemuliaan Kristus harus dipisahkan satu dari yang 

lain. Kenaikan Kristus yaitu  kembalinya Kristus ke sorga dengan 

tubuh kebangkitan-Nya, sedangkan pemuliaan Kristus ialah tindak­

an Allah Bapa yang memberikan kepada Kristus yang telah bangkit 

dan naik ke sorga itu kedudukan yang berkuasa dan terhormat di 

sebelah kanan-Nya.

A. AJARAN PERJANJIAN BARU

Banyak ayat Perjanjian Baru mengajarkan bahwa Kristus naik ke 

sorga setelah kebangkitan-Nya. Matius dan Yohanes tidak mengi­

sahkan fakta kenaikan Yesus Kristus ke sorga, dan Markus hanya 

menyebutkannya dalam satu ayat, dan itu pun di dalam bagian 

penutup yang masih diragukan keasliannya (Markus 16:19). Lukas, 

dalam Injilnya (24:50, 51) dan dalam Kisah Para Rasul (1:9), mem­

berikan laporan yang agak terinci tentang peristiwa ini. Sekalipun 

kisah sejarahnya kurang lengkap, hal ini tidak berarti bahwa Alkitab 

tidak mengajarkan apa-apa tentang kenaikan Kristus. Walaupun 

Yohanes tidak mengisahkan kenyataan bahwa Kristus naik ke sorga 

dengan tubuh kebangkitan-Nya, namun Yohanes mencatat bahwa 

Kristus telah menubuatkan hal ini  dengan jelas (6:62; 20:17; 

bandingkan dengan 13:1; 15:26; 16:10, 16, 17, 28). Paulus mem­

bicarakan hal ini (Efesus 4:8-10; Filipi 2:9; I Timotius 3:16), dan 

demikian pula Petrus (I Petrus 3:22) dan penulis surat Ibrani (4:14). 

Jadi jelaslah, Gereja yang Mula-Mula menganggap kenaikan Kristus 

ke sorga sebagai suatu peristiwa sejarah.

378 Soteriologi

B. BERBAGAI KEBERATAN TERHADAP KENAIKAN KRISTUS

Kritik modem berkeberatan terhadap kenaikan Kristus ke sorga ber­

dasarkan dua alasan. Pertama, mereka berpendapat bahwa pengeta­

huan kita tentang alam semesta meniadakan kepercayaan bahwa 

sorga merupakan suatu tempat tertentu di atas bintang-bintang di 

langit. Akan namun , Alkitab tidak pernah menunjukkan di mana 

sorga itu sebenarnya, sekalipun Alkitab menggambarkannya baik 

sebagai tempat maupun sebagai keadaan. Sorga berada di mana 

Allah berdiam, di mana para malaikat dan roh orang yang benar 

berada, dan ke mana Kristus pergi dalam tubuh kebangkitan yang 

sejati. Tubuh kebangkitan pasti membutuhkan tempat. Karena 

bukan merupakan makhluk yang tidak terbatas, maka para malaikat 

tidak bisa berada di mana-mana sekaligus; jadi, mereka harus berada 

di suatu tempat tertentu. Kristus mengatakan, "Aku pergi. . . untuk 

menyediakan tempat bagimu" (Yohanes 14:2). Kedua, kritik modem 

mengemukakan bahwa tubuh jasmaniah seperti tubuh kita ini tidak 

akan cocok untuk suatu tempat tinggal yang berada di luar bumi. 

Akan namun , pandangan ini mengesampingkan fakta bahwa planet- 

planet dan bintang-bintang berada di luar bumi, namun bersifat 

kebendaan. Paulus mengatakan, "Ada tubuh sorgawi dan ada tubuh 

duniawi" (I Korintus 15:40). Bila kita menerima kebangkitan jas­

maniah Kristus, maka masalah naiknya tubuh Yesus Kristus dari 

dunia ini tidaklah sulit. Sesungguhnya, kenaikan tubuh Kristus ke 

sorga merupakan implikasi sejarah yang perlu sebelum kita dapat 

percaya bahwa secara jasmaniah Ia akan kembali ke bumi, karena 

Ia akan kembali ke bumi dengan cara yang sama seperti Ia naik ke 

sorga. Kita juga perlu menerima hal ini sebelum kita dapat percaya 

bahwa tubuh kita akan dibangkitkan, karena kita akan menjadi sama 

seperti Dia.

III. PEMULIAAN KRISTUS

Alkitab juga berbicara tentang pemuliaan Kristus. Lukas menye­

butkannya beberapa kali (Kisah 2:33; 5:31); Paulus mengajarkannya 

(Roma 8:34; Efesus 1:20; Filipi 2:9; Kolose 3:1); penulis surat 

Ibrani menyebutkan pemuliaan itu (10:12); dan Yesus sendiri mem­

beritahukannya (Matius 22:41-45; Wahyu 3:21; bandingkan dengan 

Mazmur 110:2).

Karya Kristus: Kebangkitan, Kenaikan, dan Pemuliaan-Nya 379

A. HAL-HAL YANG TERCAKUP DALAM PEMULIAAN KRISTUS

Sejumlah hal tercakup dalam pemuliaan Kristus. Kristus telah 

"dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat" (Ibrani 2:9). Kemuliaan 

ini nampak dalam "tubuh-Nya yang mulia" sekarang ini (Filipi 

3:21). Yohanes melihat Tuhan dalam tubuh kebangkitan ini di Pulau 

Patmos (Wahyu 1:12-18). Baik kemuliaan maupun kehormatan itu 

terlihat dari kenyataan bahwa Dia telah menerima nama di atas 

segala nama (Filipi 2:9). Tuhan pernah berbicara tentang nama-Nya 

yang baru (Wahyu 3:12; 19:12, 13, 16). Nama baru ini juga menun­

juk kepada peristiwa penobatan-Nya untuk duduk di takhta di 

sebelah kanan Allah Bapa (Matius 28:18; Ibrani 10:12). Stefanus 

melihat Dia berdiri di sebelah kanan Allah (Kisah 7:55, 56). Pada 

suatu hari Kristus akan duduk di takhta-Nya sendiri (Matius 25:31). 

Pastilah, dalam tindakan ini tercakup juga pengangkatan-Nya 

sebagai kepala tubuh-Nya, yaitu gereja (Efesus 1:22). Sekarang Ia 

mengatur semua urusan gereja-Nya. Ia melayani sebagai imam 

besar (Ibrani 4:14; 5:5-10; 6:20; 7:21; 8:1-6; 9:24), serta memper­

sembahkan darah-Nya sendiri (I Yohanes 2:1, 2), dan berdoa agar 

umat-Nya terpelihara dan bersatu (Lukas 22:32; Yohanes 17). 

Dewasa ini, para malaikat, kuasa, dan kekuatan telah ditaklukkan 

kepada Dia (I Petrus 3:22). Sesungguhnya, segala sesuatu telah 

diletakkan di bawah kaki-Nya (Efesus 1:22). Demikianlah, saat ini 

Ia yaitu  Raja dalam suatu Kerajaan (Kolose 1:13; Wahyu 1:9).

B. HASIL-HASIL KENAIKAN DAN PEMULIAAN KRISTUS

Hasil-hasil kenaikan dan pemuliaan-Nya dapat dibahas bersama. 

(1) Sekarang Ia tidak hanya ada di sorga, namun  secara rohani Ia 

hadir di mana-mana. Ia memenuhi segala sesuatu (Efesus 4:10). 

Dengan demikian, Dialah yang paling ideal untuk disembah oleh 

seluruh umat manusia (I Korintus 1:2). (2) Kristus telah "membawa 

tawanan-tawanan" (Efesus 4:8). Ini bisa berarti bahwa orang-orang 

percaya dari zaman Perjanjian Lama tidak ada di Hades lagi, namun  

telah dipindahkan ke sorga. Jelas, orang percaya dari zaman Per­

janjian Baru langsung masuk dalam kehadiran Kristus pada saat ia 

mati (II Korintus 5:6-8; Filipi 1:23). (3) Ia telah memulai pelayanan 

sebagai imam di sorga (Ibrani 4:14; 5:5-10; 6:20; 7:21; 8:1-6; 9:24). 

(4) Ia telah mengaruniakan karunia-karunia rohani kepada umat­

380 Soteriologi

Nya (Efesus 4:8-11). Termasuk di sini karunia-karunia perseorang­

an untuk masing-masing orang percaya (I Korintus 12:4-11) dan 

karunia-karunia untuk gereja-Nya (Efesus 4:8-13). (5) Ia telah men­

curahkan Roh-Nya kepada umat-Nya sendiri (Yohanes 14:16; 16:7; 

Kisah 2:33), serta memberikan pertobatan dan iman kepada manusia 

(Kisah 5:31; 11:18; Roma 12:3; II Timotius 2:25; II Petrus 1:1), 

dan membaptis orang-orang percaya ke dalam gereja (Yohanes 

1:33; I Korintus 12:13). Semuanya ini merupakan hasil-hasil 

kenaikan dan pemuliaan Kristus. Jelaslah, jika kita hendak memiliki 

penebusan yang sempurna, kita tidak bisa berhenti pada kematian 

Kristus, meskipun hal ini amat penting. Kebangkitan jasmaniah, 

kenaikan, dan pemuliaan Kristus juga merupakan peristiwa-peris­

tiwa sejarah.

XXVII 

Karya Roh Kudus

Sebagaimana karya Kristus itu penting dalam melaksanakan kesela­

matan, demikian pula karya Roh Kudus. Keilahian dan kepribadian 

Roh Kudus telah kita bicarakan dalam Bab yang menguraikan 

perihal Tritunggal. Di situ telah dikatakan bahwa Roh Kudus itu 

Allah adanya. Hal ini dibuktikan karena sifat-sifat khas Allah juga 

dimiliki oleh Roh Kudus dan karya-karya Allah dil