Ditentukan oleh Taurat, namun Allah dengan murah hati
telah berkenan untuk menerima apa yang diderita Kristus sebagai
356 Soteriologi
pengganti hukuman kita. Sesungguhnya, kematian Kristus diterima
sebagai pembayaran sebagian bukan pembayaran penuh. Kenyataan
bahwa Kristus menanggung penderitaan sebagai pengganti kita be
gitu menguasai hati manusia sehingga mereka berbalik dan bertobat,
dan karena pertobatan yaitu satu-satunya syarat untuk menerima
pengampunan, maka Allah menjamin keselamatan orang berdosa
melalui kematian Yesus. Teori ini yaitu khas pandangan Armi
nianisme terhadap pendamaian. Para teolog yang menerima pan
dangan ini tidak tahu harus berbuat apa dengan konsep pengganti
secara hukum. Taylor menulis bahwa Paulus "tidak melihat
kematian Kristus sebagai kematian seorang pengganti. Unsur
pengganti yang diduga ada dalam pikiran Paulus dapat dilihat dalam
ajarannya tentang aspek representatif dari kematian Kristus."119
Tidak lama kemudian Taylor menyatakan, "Karya Kristus yaitu
suatu pelayanan yang dilaksanakan demi kepentingan kita, namun
bukan ganti kita."120 121 Sekalipun ragu-ragu untuk memakai konsep
pengganti berdasarkan pengertian hukum, Purkiser menulis:
119 Taylor, The Atonement in New Testament Teaching, hal. 59.
120 Taylor, The Atonement in New Testament Teaching, hal. 184.
121 Purkiser, God, Man, and Salvation, hal. 403.
Jika dari segi hukum ada dimensi penggantian dalam pengorbanan Kristus,
maka dimensi ini terletak dalam kenyataan bahwa Kristus mengalami
hukuman sebagaimana hanya dapat dialami oleh Allah sendiri. Hal ini
mungkin karena Ia mengetahui kasih yang kudus dan Ia mengerti sepenuh
nya sifat dosa dan hukuman yang adil bagi orang-orang berdosa. Di salib,
Ia menderita karena Ia mengetahui bahwa kita hidup jauh dari Allah Bapa.
Dengan demikian penderitaan-Nya merupakan pengganti untuk hukuman
yang seharusnya kita terima. Sampai ke taraf itu kita dapat berbicara soal
hukuman berhubungan dengan kematian Kristus sebagai suatu tindakan
• 121pengganti.
Beberapa hal dapat dikatakan mengenai teori ini. (1) Rasa hormat
yang tepat terhadap hukum hanya dapat dipertahankan selama
hukuman yang dijatuhkan sesuai dengan pelanggaran yang
dilakukan. Kristus tidak menanggung hukuman yang serupa, namun
Ia menanggung hukuman yang setimpal yang seharusnya diterima
oleh orang berdosa. Allah yang kekal dapat melenyapkan kutukan
kekal yang menimpa orang berdosa, sesuatu yang tidak mungkin
dilakukan oleh orang yang terbatas kekuatannya. (2) Teori ini tidak
Karya Kristus: Kematian-Nya 357
menjelaskan mengapa teladan itu haruslah seseorang yang tidak ber
dosa, juga tidak menjelaskan kehebatan penderitaan itu (Matius
27:46; Markus 15:23; Lukas 22:44). (3) Teori ini kurang memper
hatikan ayat-ayat yang secara jelas mengatakan bahwa kematian
Kristus yaitu kematian yang bersifat menggantikan (I Petrus 1:18,
19). Dan akhirnya, (4) teori ini lebih mengandalkan kebaikan
masyarakat daripada keadilan Allah. Allah harus menghukum dosa,
dan bukan sekadar memamerkan keadilan. Kristus memikul semua
dosa karena kita.
E. TEORI KOMERSIAL
Teori ini, yang dianut oleh banyak golongan konservatif,
beranggapan bahwa dosa menghina kehormatan Allah, dan karena
dosa itu diperbuat melawan Allah yang kekal, maka hukumannya
pun harus kekal. Teori ini selanjurnya juga beranggapan bahwa
kehormatan Allah mengharuskan Dia menghukum dosa, sekalipun
kasih Allah ingin menyelamatkannya, dan konflik antara kedua sifat
ilahi inilah yang diselesaikan oleh pengorbanan Kristus yang
dilakukan secara sukarela. Dengan demikian, semua tuntutan ilahi
dipenuhi dan Allah kini bebas untuk mengampuni orang yang ber
dosa. Teori ini mengajarkan bahwa Kristus menderita sepadan de
ngan penderitaan yang seharusnya diterima oleh orang-orang yang
terpilih. Anselmus, tokoh yang menghasilkan pandangan ini, telah
menyebarkan teorinya sehingga berhasil mengakhiri teori bahwa
Kristus telah membayar harga tebusan itu kepada Iblis, satu teori
yang dianut oleh Yustinus Martir dan Origenes. Pandangan ini de
ngan tepat kembali kepada Allah dan kehormatan-Nya, dan bukan
memusatkan karya pendamaian pada kesadaran akan keadilan yang
ada dalam diri manusia atau pada tuntutan-tuntutan Iblis yang
palsu. Smeaton telah menulis tentang Anselmus dan pandangannya
sebagai berikut, "Anselmus tidak mengenal pengadilan lain di luar
pengadilan Allah sendiri, serta keselarasan sifat-sifat-Nya. Dalam
transaksi besar ini tidak ada sidang pendengar malaikat atau
manusia yang di hadapannya Allah memamerkan keperkasaan
hukum-Nya: sidang pendengar ini yaitu diri-Nya sendiri, atau1 kesempumaan-Nya sendiri, yang tidak dapat diganggu gugat."
122 Smeaton, The Apostles’ Doctrine of the Atonement, hal. 514.
358 Soteriologi
Sekalipun pandangan ini mengandung banyak hal yang baik,
namun ada beberapa kelemahan. (1) Pandangan ini menyiratkan
adanya pertentangan di antara sifat-sifat Allah. (2) Kehormatan
Allah dianggap lebih tinggi daripada kekudusan Allah. (3) Ketaatan
aktif yang ditunjukkan oleh Kristus dan kehidupan-Nya yang kudus
kurang diutamakan. (4) Karya pendamaian itu hanya untuk orang-
orang yang terpilih. Dan akhirnya, (5) kematian Kristus sebagai
pengganti kita hanya dibicarakan dari segi kuantitatif dan bukan
dari segi kualitatif. Anak Allah yang Kudus dan Mahakuasa telah
menyerahkan hidup-Nya dan mati ganti manusia sehingga semua
yang menanggapinya dengan iman tidak akan mati melainkan akan
memiliki hidup yang berkelimpahan (Yohanes 10:10).
Dalam teori-teori yang telah kita bahas tadi ada sedikit
kebenaran namun itu tidak menerangkan seluruh kebenaran seperti
yang ada dalam Alkitab. Memang benar, Kristus mati sebagai
akibat kesetiaan-Nya kepada keyakinan-Nya; kematian Kristus
merupakan ungkapan kasih Allah dan kematian Kristus melenyap
kan pencemaran kehormatan Allah. Bagaimanapun juga, semua ini
hanya merupakan penjelasan sebagian dari kematian Kristus dan
tidak sepenting gagasan utama kematian-Nya. Kalau begitu, apakah
makna sesungguhnya dan jangkauan kematian Kristus?
III. MAKNA SESUNGGUHNYA DARI KEMATIAN
KRISTUS
Nabi Yesaya mengungkapkan inti kebenaran tentang makna
kematian Kristus saat ia menyatakan, "namun Tuhan berkehendak
meremukkan dia dengan kesakitan. jika ia menyerahkan dirinya
sebagai korban penebus salah" (Yesaya 53:10). saat menguraikan
pendamaian, beberapa hal patut diperhatikan.
A. KEMATIAN ITU DIJALANINYA UNTUK ORANG LAIN
Jelaslah bahwa Kristus tidak mati untuk dosa-Nya sendiri (Yohanes
8:46; Ibrani 4:15; I Petrus 2:22). Di seluruh Alkitab dikatakan
bahwa Ia mati untuk dosa-dosa orang lain. "Penderitaan yang
dialami oleh Kristus bukan merupakan penderitaan seorang sahabat
Karya Kristus: Kematian-Nya 359
yang menaruh rasa simpati, melainkan penderitaan yang bersifat
menggantikan dari Anak Domba Allah karena dosa seisi dunia."123
Yesaya menulis, 'namun dia tertikam oleh karena pemberontakan
kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang men
datangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh
bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.... namun Tuhan telah menim
pakan kepadanya kejahatan kita sekalian" (Yesaya 53:5, 6). Per
hatikan beberapa ayat lain, "Akan namun Allah menunjukkan kasih-
Nya kepada kita oleh karena Kristus telah mati untuk kita, saat
kita masih berdosa" (Roma 5:8); "Kristus telah mati karena dosa-
dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci" (I Korintus 15:3); "Dia yang
tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita,
supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah" (II Korintus 5:21);
"Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu
salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebe
naran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh" (I Petrus 2:24);
dan "Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita,
Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia mem
bawa kita kepada Allah" (I Petrus 3:18). Yesus sendiri mengatakan,
"Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, namun untuk
melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi
banyak orang" (Markus 10:45) dan "Akulah gembala yang baik.
Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya"
(Yohanes 10:11). Ia mati ganti kita sebagai anak domba Paskah
yang sejati (Keluaran 12; I Korintus 5:7) dan merupakan korban
penghapus dosa yang sejati (Yesaya 53:10), yang telah dilam
bangkan oleh berbagai kurban persembahan dalam Perjanjian Lama
(Imamat 6:24-30; Ibrani 10:1-4; bandingkan juga dengan kambing
jantan pengangkut segala kesalahan Israel di Imamat 16:20-22).
123 Berkhof, Systematic Theology, hal. 376.
Berbagai keberatan dikemukakan terhadap penafsiran ini menge
nai kematian Kristus, keberatan yang pertama berkaitan dengan tata
bahasa sedangkan keberatan yang kedua dan yang ketiga bersifat
moral. Ada yang mengatakan bahwa kata depan Yunani anti bisa
berarti "sebagai pengganti", namun kata depan huper, yang hampir
selalu dipakai saat membicarakan penderitaan dan kematian Kris
tus, berarti "untuk kepentingan", atau "dengan harapan akan meng
untungkan", dan tidak pernah berarti "sebagai pengganti". Bahwa
360 Soteriologi
anti berarti "sebagai pengganti" sudah jelas dari pemakaiannya di
Matius 5:38 dan 20:28, Markus 10:45, Lukas 11:11, Roma 12:17,
I Tesalonika 5:15, Ibrani 12:16, dan I Petrus 3:9. Istilah huper sering
kali dipakai dalam frase-frase yang berhubungan dengan pendamai
an. Misalnya, "Cawan ini yaitu perjanjian baru oleh darah-Ku yang
ditumpahkan bagi kamu" (Lukas 22:20); 'Tidak ada kasih yang
lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya
untuk sahabat-sahabatnya" (Yohanes 15:13); "Kristus telah mati
untuk kita saat kita masih berdosa" (Roma 5:8); "Ia, yang tidak
menyayangkan Anak-Nya sendiri, namun yang menyerahkan-Nya
bagi kita semua" (Roma 8:32); "Dia yang tidak mengenal dosa telah
dibuat-Nya menjadi dosa karena kita" (II Korintus 5:21); Kristus
"mengalami maut bagi semua manusia" (Ibrani 2:9); dan "Sebab
juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, Ia yang benar
untuk orang-orang yang tidak benar" (I Petrus 3:18; bandingkan
Yohanes 6:51; II Korintus 5:14; Galatia 3:13; Efesus 5:2, 25).
Apa arti kata depan huper? Sekalipun kata depan ini sering kali
berarti "demi kepentingan" atau "untuk keuntungan", namun kata
ini juga dapat berarti "sebagai pengganti". Hal ini terjadi dalam
I Korintus 15:3, II Korintus 5:14, dan Galatia 1:4 yang dengan jelas
sekali mengemukakan gagasan penggantian. Teranglah bahwa Kris
tus mati baik untuk kepentingan orang berdosa maupun sebagai
penggantinya. Kedua gagasan ini terkandung dalam kata depan
huper, sedangkan kata depan anti hanya mengandung unsur
pengganti.
Selanjutnya, ada keberatan bahwa tak bermoral bagi Allah untuk
menghukum orang yang tidak bersalah, sehingga berdasarkan alasan
ini saja kematian Kristus tidak mungkin bersifat mengganti. Akan
namun , kesalahan pandangan ini terletak dalam anggapan bahwa
Allah dan Kristus yaitu dua pribadi yang berbeda seperti halnya
dua individu. Bila hal ini memang benar, maka keberatan ini ada
benarnya juga. Akan namun , karena Kristus yaitu Allah yang men
jelma menjadi manusia, maka pengganti itu yaitu Allah sendiri.
Bisa disahkan oleh hukum jika hakimnya sendiri memutuskan untuk
menjalani hukuman. Tambahan pula, Yesus bersukarela menjadi
pengganti. Ia menyatakan, "Aku memberikan nyawa-Ku bagi
domba-domba-Ku .... Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku
memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali. Tidak seorang
Karya Kristus: Kematian-Nya 361
pun mengambilnya daripada-Ku, melainkan Aku memberikannya
menurut kehendak-Ku sendiri" (Yohanes 10:15, 17, 18).
Keberatan yang ketiga berhubungan dekat dengan keberatan yang
kedua ini. Dikatakan bahwa pemenuhan tuntutan dan pengampunan
yaitu dua hal yang tidak berhubungan samasekali. Dianggap
bahwa bila seorang pengganti membayar utang kita, maka Allah
tidak dapat menagih utang itu dari kita juga, namun secara moral
harus membiarkan kita bebas; maksudnya, berdasarkan teori ini,
Allah tidak bermurah hati saat mengampuni kita, namun Ia hanya
melakukan kewajiban-Nya. Namun, keberatan ini juga dapat
dikesampingkan oleh kenyataan bahwa pihak yang melunasi utang
itu bukanlah pihak ketiga, namun sang hakim sendiri. Dengan
demikian, pengampunan tetap menjadi haknya dan dapat ditawarkan
sesuai dengan syarat-syarat yang telah disetujuinya sendiri. Syarat-
syarat yang telah ditetapkan Allah ialah pertobatan dan iman. Jadi,
ketaatan Kristus tidak berarti bahwa kita tidak perlu taat lagi, namun
tetap menuntut agar kita memenuhi syarat-syarat yang telah ditetap
kan sebelum kita menikmati berkat-berkat yang ditawarkan oleh
kematian Kristus yang mendamaikan.
B. KEMATIAN KRISTUS MEMENUHI SEMUA TUNTUTAN
Karena kekudusan merupakan sifat pokok Allah maka sangat
beralasan bahwa tuntutan-Nya harus dipenuhi sebelum pelanggaran
dosa dapat disingkirkan. Kematian Kristus memenuhi tuntutan itu.
1. Kematian Kristus memenuhi tuntutan keadilan Allah. Manusia
telah berdosa terhadap Allah dan telah mendatangkan kemarahan
dan penghakiman Allah atas dirinya. Sudah sepantasnya Allah
menuntut hukuman atas pelanggaran hukum yang telah ditetapkan
oleh-Nya. Ia tidak dapat membebaskan orang berdosa sebelum tun
tutan-tuntutan keadilan dipenuhi. Allah hams menjatuhkan hukum
an atas dosa. Allah tidak akan membebaskan pihak yang bersalah
kecuali ada pengganti yang menjalani hukuman itu (Keluaran 34:7;
Bilangan 14:18). Hanya melalui kematian Kristus sajalah Allah da
pat tetap adil saat membenarkan orang yang berdosa (Roma 3:25,
26). Apa pun yang dilakukan oleh Allah, keadilan-Nya hams tetap
dipertahankan; kematian Kristus secara sempurna telah memenuhi
tuntutan-tuntutan Allah yang adil. Sebagaimana dalam hal para
362 Soteriologi
narapidana, jika narapidana itu telah menjalani hukuman yang
dituntut oleh undang-undang, maka ia tidak dapat dikenakan hu
kuman lagi. "Tidaklah mungkin untuk secara adil menjatuhkan hu
kuman lagi untuk pelanggaran yang sama. Inilah yang dimaksudkan
saat mengatakan bahwa kematian Kristus, dari segi nilainya yang
hakiki, secara sempurna memenuhi semua tuntutan keadilan."124
124 Hodge, Systematic Theology, II, hal. 482.
125 Berkhof, Systematic Theology, hal. 370.
2. Kematian Kristus memenuhi tuntutan hukum Allah. Namun
kematian Kristus tidaklah sekadar memenuhi tuntutan keadilan
Allah, namun juga memenuhi tuntutan hukum Allah. Hukum Allah
didasarkan pada sifat Allah sendiri, dan pelanggaran terhadapnya
akan mendatangkan hukuman. "Hukum Allah tidak dapat diganggu
gugat karena hukum itu didasarkan pada sifat Allah sendiri dan
bukan ... merupakan hasil kehendak bebas-Nya." Orang berdosa
tidak dapat memenuhi tuntutan hukum ilahi, namun Kristus, sebagai
wakil dan pengganti kita, sanggup memenuhinya. Demikianlah, oleh
ketaatan Kristus yang aktif dan pasif, Allah menyediakan pemenuh
an tuntutan bagi orang-orang berdosa (Roma 8:3, 4). Oleh ketaatan
dan penderitaan serta kehidupan-Nya yang samasekali benar, Yesus
memenuhi seluruh tuntutan hukum Allah. saat berbicara perihal
Israel, Paulus mengatakan, "Sebab, oleh karena mereka tidak me
ngenal kebenaran Allah dan oleh karena mereka berusaha untuk
mendirikan kebenaran mereka sendiri, maka mereka tidak takluk
kepada kebenaran Allah. Sebab Kristus yaitu kegenapan hukum
Taurat, sehingga kebenaran diperoleh setiap orang percaya" (Roma
10:3, 4).
125
3. Pendamaian membutuhkan adanya pemenuhan tuntutan.
Beberapa istilah lain yang sering kali ditemukan dalam Alkitab ada
sangkut-pautnya dengan gagasan "pemenuhan tuntutan". Oleh
karena itu, kematian Kristus merupakan karya pendamaian dan
peredaan murka Allah. Imamat 6:2-7 berbicara tentang pendamaian
pribadi untuk dosa pribadi, "jika seseorang berbuat dosa dan
berubah setia terhadap Tuhan, . . . haruslah ia mempersembahkan
kepada Tuhan . . . korban penebus salah, dengan menyerahkannya
kepada imam. Imam hams mengadakan pendamaian bagi orang itu
Karya Kristus: Kematian-Nya 363
di hadapan Tuhan sehingga ia menerima pengampunan atas perkara
apa pun yang diperbuatnya sehingga ia bersalah." Imamat 4:13-20
berbicara tentang pendamaian nasional bagi pelanggaran nasional,
"Jikalau yang berbuat dosa ... itu segenap umat Israel, . . . dan
mereka bersalah .... Lalu para tua-tua umat itu harus meletakkan
tangan mereka di atas kepala lembu jantan itu di hadapan Tuhan,
dan lembu itu harus disembelih di hadapan Tuhan .... Dengan
demikian imam itu mengadakan pendamaian bagi mereka sehingga
mereka menerima pengampunan." Dari ayat-ayat ini jelaslah bahwa
domba jantan atau lembu jantan itu harus mati, dan bahwa pengam
punan dimungkinkan hanya oleh kematian si pengganti. Istilah
Ibrani untuk "pendamaian" dalam ayat-ayat di atas dan ayat-ayat
lainnya ialah kaphar, yang sering kali diterjemahkan sebagai
"mengadakan pendamaian". Secara harfiah istilah ini artinya "me
nutupi" sehingga tidak kelihatan. Hoeksema menulis tentang sifat
menebus dari korban-korban dalam Perjanjian Lama, "Korban-kor
ban ini dinamakan korban penghapus dosa atau korban pene
bus salah, dan dianggap sebagai memikul dosa-dosa si pelanggar
hukum, menjadi tebusan atas dosa, dapat meredakan murka Allah,
dan menutupi dosa-dosa umat itu di hadapan Allah. Dan buah
semuanya itu ialah pengampunan dosa."126 Gagasan menutupi dosa
dari hadapan mata Allah ada dalam ayat-ayat seperti, "Sembu-
nyikanlah wajah-Mu terhadap dosaku, hapuskanlah segala kesalah
anku" (Mazmur 51:11); "Sebab Engkau telah melemparkan segala
dosaku jauh dari hadapan-Mu" (Yesaya 38:17); dan "Ia . . . melem
parkan segala dosa kita ke dalam tubir-tubir laut" (Mikha 7:19).
4. Peredaan murka Allah membutuhkan adanya pemenuhan tun
tutan. Dalam kitab Septuaginta, kata Ibrani kaphar ini diterjemah
kan dengan sebuah kata Yunani yang agak berbeda penekanannya.
Dalam Septuaginta, kaphar diterjemahkan sebagai exilaskomai yang
artinya "mendamaikan, meredakan amarah". Jelas yang dimaksud
kan di sini ialah bahwa bila dosa telah ditutupi atau disingkirkan,
maka murka Allah terhadap dosa itu telah diredakan atau tuntutan-
Nya dipenuhi. Akibat kebenaran ini, para penerjemah Septuaginta
dapat dibenarkan saat menerjemahkan kaphar sebagai exilas
komai.
126 Hoeksema, Reformed Dogmatics, hal. 389.
364 Soteriologi
Istilah exilaskomai itu sendiri tidak ada dalam Perjanjian
Baru, namun bentuk kata kerjanya hilaskomai muncul dua kali
(Lukas 18:13; Ibrani 2:17), bentuk kata benda hilasmos muncul dua
kali (I Yohanes 2:2; 4:10), sedangkan kata sifatnya hilasterion juga
muncul dua kali (Roma 3:25; Ibrani 9:5). Perjanjian Baru banyak
sekali berbicara tentang murka Allah (Yohanes 3:36; Roma 1:18;
5:9; Efesus 5:6; I Tesalonika 1:10; Ibrani 3:11; Wahyu 19:15). Se
suai dengan pikiran ini, Perjanjian Baru menggambarkan kematian
Kristus sebagai meredakan murka Allah. Paulus mengatakan bahwa
Yesus telah ditentukan Allah "menjadi jalan pendamaian" (Roma
3:25), dan surat Ibrani memakai istilah ini untuk tutup pen
damaian di dalam kemah perhimpunan (Ibrani 9:5). Yohanes me
ngatakan bahwa Kristus yaitu "pendamaian untuk segala dosa kita,
dan bukan untuk dosa kita saja, namun juga untuk dosa seluruh
dunia" (I Yohanes 2:2; bandingkan dengan 4:10); dan surat Ibrani
menyatakan bahwa Kristus menjadi Imam Besar yang menaruh
belas kasihan dan yang setia "untuk mendamaikan dosa seluruh
bangsa" (2:17). Secara harfiah doa si pemungut cukai berbunyi, "Ya
Allah, adakanlah pendamaian bagi aku orang berdosa ini" (Lukas
18:13). Oleh kematian-Nya, Kristus telah meredakan murka Allah
yang kudus terhadap dosa.
5. Penghentian perseteruan membutuhkan adanya pemenuhan
tuntutan. Berkaitan erat dengan gagasan peredaan amarah ialah
gagasan perdamaian atau penghentian perseteruan. Kedua gagasan
ini nampaknya saling berkaitan seperti sebab dan akibat;
kematian Kristus "meredakan murka" Allah, dan sebagai hasilnya
Allah "diperdamaikan" (Roma 5:10; II Korintus 5:18, 19; Efesus
2:16). Kata kerja katalasso muncul enam kali dalam Perjanjian Baru
(Roma 5:10; I Korintus 7:11; II Korintus 5:18-20), sedangkan kata
benda katallage muncul empat kali (Roma 5:11; 11:15; II Korintus
5:18, 19). Diallassomai muncul sekali (Matius 5:24). Dalam semua
ayat ini yang dipikirkan yaitu penghentian permusuhan atau per
damaian. Berkouwer mengatakan bahwa Paulus memakai istilah ini
untuk menunjuk kepada "hubungan damai yang dihasilkan oleh
kematian Kristus, kepada kerukunan yang bertentangan dengan per
musuhan sebelumnya, kepada perdamaian setelah semua peng
halang ditiadakan, dan kepada kesempatan dapat menghampiri
Karya Kristus: Kematian-Nya 365
127Bapa." Dalam Alkitab istilah perdamaian atau penghentian per
musuhan ini dipakai untuk Allah dan untuk manusia (Roma 5:10;
II Korintus 5:18-20).
Pengertiannya kurang lebih sebagai berikut. Pada mulanya Allah
dan manusia itu berdiri saling berhadapan dalam suatu hubungan
harmonis yang sempurna. saat ia berdosa, Adam berpaling dan
membelakangi Allah. Saat itu Allah juga membelakangi Adam.
Kematian Kristus telah memenuhi tuntutan-tuntutan Allah dan kini
Allah berkenan untuk berpaling lagi kepada manusia. Kini tinggal
manusia yang harus berpaling kepada Allah. Karena Allah telah
diperdamaikan oleh kematian Anak-Nya, sekarang manusia dimo
hon dengan sangat untuk berdamai dengan Allah. Dalam arti kata
yang paling luas, Allah sudah berdamai bukan saja dengan manusia
namun juga dengan segala sesuatu di langit dan di bumi (Kolose
1:20). Karena penghentian permusuhan ini, Allah mencurahkan ber
kat-berkat yang bersifat sementara kepada orang-orang yang belum
diselamatkan (Matius 5:45; Roma 2:4), memperluas kesempatan ke
pada manusia untuk bertobat (II Petrus 3:9), dan akan membebaskan
langit dan bumi dari semua akibat kejatuhan (Roma 8:19-21).
C. KEMATIAN KRISTUS MERUPAKAN PENEBUSAN
Kematian Kristus digambarkan sebagai pembayaran uang tebusan.
Gagasan penebusan berarti pembayaran harga kepada pihak tertentu
agar dapat membebaskan orang yang berada dalam perbudakan.
Karena itu Yesus mengatakan bahwa Ia datang untuk memberikan
nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang (Matius 20:28;
Markus 10:45), sedangkan karya Kristus disebut dalam Alkitab Ter
jemahan Lama sebagai suatu penebusan (Lukas 1:68; 2:38; Ibrani
9:12). Dalam ayat-ayat ini istilah yang dipakai ialah lutrosis.
Kata kerja lutroomai ada dalam Lukas 24:21, Titus 2:14, dan
I Petrus 1:18. Kata majemuk apolutrosis muncul sepuluh kali
(Lukas 21:28; Roma 3:24; 8:23; I Korintus 1:30; Efesus 1:7, 14;
4:30; Kolose 1:14; Ibrani 9:15; 11:35). Deissmann mengatakan,
Kalau orang mendengar istilah Yunani lutron, "tebusan" pada abad pertama,
maka wajar baginya untuk berpikir tentang uang pembelian untuk mem
bebaskan seorang budak. Tiga dokumen dari Oxyrhynchus membahas ten
127 Berkouwer, The Work of Christ, hal. 255.
366 Soteriologi
tang pembebasan budak pada tahun 86, 100, dan 91 atau 107 M serta
memakai istilah ini.128
128 Deissmann, Light from the Ancient East, hal. 327-328.
129 Shedd, Dogmatic Theology, II, hal. 398.
Harga tebusan ini tidak dibayarkan kepada Iblis, namun
kepada Allah. Utang yang perlu dilunasi ialah utang kepada sifat
Allah yang adil; Iblis tidak memiliki hak hukum apa pun atas diri
seorang berdosa, karena itu tidak perlu dibayar supaya orang ber
dosa dapat dibebaskan. Sebagaimana hal itu dikatakan dengan tepat
oleh Shedd, "Kemurahan Allah menebus manusia dari keadilan
Allah."129
Alkitab mengajarkan bahwa kita telah ditebus oleh kematian
Kristus. Penebusan ini ialah penebusan (1) dari hukum Taurat, atau
seperti yang dikatakan oleh Rasul Paulus dalam Galatia 3:13, dari
"kutuk hukum Taurat", dengan cara Kristus yang menjadi kutuk
karena kita; (2) dari hukum itu sendiri, dengan cara kita dimatikan
terhadap hukum Taurat oleh kematian tubuh Kristus (Roma 7:4),
sehingga kita tidak dikuasai lagi oleh hukum itu namun oleh kasih
karunia (Roma 6:14); (3) dari dosa sebagai suatu kekuatan, dengan
matinya Kristus terhadap dosa dan matinya kita terhadap dosa di
dalam Dia (Roma 6:2, 6; Titus 2:14; I Petrus 1:18, 19), sehingga
kita tidak perlu lagi tunduk pada kuasa dosa (Roma 6:12-14);
(4) dari Iblis, yang memperbudak umat manusia (II Timotius 2:26),
juga oleh kematian Kristus di kayu salib (Ibrani 2:14, 15); dan
(5) dari segala kejahatan, baik kejahatan fisik maupun kejahatan
moral, termasuk tubuh fana kita saat ini (Roma 8:23 dan Efesus
1:14), yang akan kita nikmati sepenuhnya saat Kristus datang
yang kedua kalinya (Lukas 21:28). Istilah "penebusan" kadang-
kadang menunjuk pada pelunasan utang dan kadang-kadang kepada
pembebasan orang tahanan. Korban Kristus menyediakan
penebusan untuk kedua-duanya.
IV. JANGKAUAN KEMATIAN KRISTUS
Ada banyak perselisihan pendapat mengenai pokok ini. Apakah
Kristus mati untuk seluruh dunia, ataukah Ia mati hanya untuk
orang-orang yang terpilih? Bila Ia mati untuk seluruh dunia, menga
pa tidak semua manusia diselamatkan? Kalau Ia mati untuk seluruh
Karya Kristus: Kematian-Nya 367
dunia, dalam arti apakah Ia mati? Bila Ia mati hanya untuk orang-
orang pilihan, bagaimana dengan keadilan Allah? Jawaban terhadap
soal-soal ini terjalin dengan pengertian seseorang tentang susunan
ketetapan-ketetapan Allah. Orang-orang yang menganut pandangan
supralapsarian (kepercayaan bahwa Allah menetapkan manusia ma
na akan diselamatkan dan mana akan dibinasakan, sebelum kejatuh
an manusia) tentu saja mengatakan bahwa Kristus hanya mati untuk
orang-orang yang terpilih; sedangkan mereka yang menerima pan
dangan sublapsarian (kepercayaan bahwa Allah menetapkan
manusia mana akan diselamatkan dan mana akan dibinasakan,
sesudah kejatuhan manusia) beranggapan bahwa Kristus mati,
paling tidak dalam batas tertentu, untuk seluruh dunia juga.
A. KRISTUS MATI HANYA UNTUK ORANG-ORANG YANG TER
PILIH
Alkitab mengajarkan bahwa Kristus terutama mati bagi orang-orang
yang terpilih. Paulus menulis bahwa Allah yaitu "Juruselamat
semua manusia, terutama mereka yang percaya" (I Timotius 4:10);
dan Yesus berkata, "Anak Manusia datang bukan untuk dilayani,
namun untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi
tebusan bagi banyak orang" (Matius 20:28) dan "Aku berdoa untuk
mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, namun untuk mereka, yang
telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab mereka yaitu milik-Mu"
(Yohanes 17:9). Alkitab selanjutnya menyatakan, "Kristus telah
mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya" (Efesus
5:25) dan, "Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita
dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melain
kan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri, yang telah
dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan
zaman" (II Timotius 1:9; bandingkan dengan Wahyu 13:8). Ia mati
untuk orang yang terpilih, bukan saja dalam arti memungkinkan
mereka memperoleh keselamatan, namun juga dalam arti menyedia
kan keselamatan itu bagi mereka saat mereka percaya.
B. KRISTUS MATI BAGI SELURUH DUNIA
Kenyataan ini jelas dari beberapa ayat, "Lihatlah Anak Domba
Allah yang menghapus dosa dunia" (Yohanes 1:29); "Yang telah
368 Soteriologi
menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua manusia" (I Ti
motius 2:6); "Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan
semua manusia sudah nyata" (Titus 2:11); "Ia mengalami maut bagi
semua manusia" (Ibrani 2:9); "Tuhan . . . menghendaki supaya ja
ngan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan
bertobat" (II Petrus 3:9); dan "dan Ia yaitu pendamaian untuk sega
la dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, namun juga untuk dosa
seluruh dunia" (I Yohanes 2:2). Ada urutan tertentu dalam penyela
matan manusia; terlebih dahulu ia harus percaya bahwa Kristus
telah mati untuknya sebelum ia dapat memiliki segala berkat yang
tersedia oleh kematian Kristus. Sekalipun Kristus telah mati bagi
semua orang dalam arti memperdamaikan Allah dengan dunia, tidak
semua orang selamat, karena selamat atau tidaknya seseorang diten
tukan oleh hal dirinya mau didamaikan dengan Allah (II Korintus
5:18-20).
Dengan demikian, arti Yesus Kristus yaitu Juruselamat dunia
dapat disingkat dan disimpulkan sebagai berikut: Kematian-Nya
menghasilkan penundaan pelaksanaan hukuman atas dosa bagi
semua orang, memberi kesempatan untuk bertobat, serta
memperoleh kembali berkat-berkat umum dalam hidup sehari-hari
yang telah hilang akibat pelanggaran Adam. Kematian Kristus juga
telah menghapus dari pikiran Allah semua halangan untuk mengam
puni yang bertobat dan memulihkan hubungan dengan orang ber
dosa, halangan yang masih tersisa hanyalah penolakan yang sengaja
terhadap Allah dari pihak manusia. Kematian Kristus juga
menyediakan bagi seseorang yang tidak percaya dorongan-dorongan
yang kuat untuk bertobat yang disajikan dalam salib Kristus oleh
khotbah para hamba Tuhan dan oleh karya Roh Kudus; kematian
itu menyediakan keselamatan bagi mereka yang tidak berdosa
secara sengaja atau secara pribadi (yaitu yang mati saat masih
bayi atau yang secara mental tidak pernah bertanggung jawab).
Kematian Kristus memungkinkan pemulihan segala sesuatu yang
diciptakan Allah. Kita menyimpulkan bahwa karya pendamaian
Kristus tidak terbatas dalam arti bahwa itu tersedia bagi semua
orang; karya itu terbatas karena hanya berlaku bagi orang-orang
yang percaya. Pendamaian itu tersedia bagi semua, namun hanya ber
daya guna untuk orang-orang yang terpilih.
XXVI
Karya Kristus: Kebangkitan,
Kenaikan, dan Pemuliaan-Nya
Segi objektif dari keselamatan kita meliputi lebih banyak daripada
kematian Kristus saja; itu juga meliputi kebangkitan, kenaikan, dan
pemuliaan Kristus. Setiap peristiwa ini memberi sumbangan yang
sangat penting terhadap rencana penebusan.
I. KEBANGKITAN KRISTUS
Sekarang kita akan menilik pentingnya, sifat, kredibilitas, dan hasil-
hasil kebangkitan Kristus.
A. PENTINGNYA KEBANGKITAN KRISTUS
Kebangkitan Kristus sangat penting karena berbagai alasan.
1. Kebangkitan Kristus merupakan doktrin pokok dalam kekris
tenan. Banyak orang mengakui pentingnya kematian Kristus, namun
menyangkal pentingnya kebangkitan Kristus secara jasmani. Akan
namun , bahwa kebangkitan tubuh Kristus sangat penting sudah jelas
dari hubungan pokok doktrin ini dengan kekristenan. Dalam I Ko
rintus 15.T2-19 Paulus menunjukkan bahwa iman kita berdiri atau
jatuh bersama dengan kebangkitan tubuh Kristus. Bila Kristus tidak
dibangkitkan, semua pemberitaan Injil itu percuma (ayat 14), iman
jemaat Korintus sia-sia (ayat 14), para rasul menjadi saksi palsu
(ayat 15), orang percaya di Korintus masih hidup dalam dosa (ayat
369
370 Soteriologi
17), orang yang mati di dalam Yesus sudah binasa (ayat 18), dan
orang-orang Kristen yaitu orang-orang yang paling perlu
dikasihani (ayat 19). Sepanjang kitab Kisah Para Rasul para rasul
senantiasa mengutamakan kebangkitan Kristus dalam pemberitaan
mereka (2:24, 32; 3:15, 26; 4:10; 10:40; 13:30-37; 17:31). Hal ini
nampak juga dalam Surat-Surat Kiriman Rasul Paulus (Roma 4:24,
25; 6:4, 9; 7:4; 8:11; 10:9; I Korintus 6:14; 15:4; II Korintus 4:14;
Galatia 1:1; Efesus 1:20; Kolose 2:12; I Tesalonika 1:10; I Timotius
2:8) dan dalam kitab-kitab lainnya yang ada dalam Perjanjian
Baru (I Petrus 1:21; 3:21; Wahyu 1:5; 2:8). Jelaslah kebangkitan
Kristus merupakan bagian yang hakiki dari Injil.
2. Kebangkitan Kristus merupakan bagian penting dalam
penerapan keselamatan. Allah membangkitkan Kristus dan
memuliakan Dia dengan mendudukkan Kristus di sebelah kanan-
Nya agar bagi gereja Kristus menjadi kepala atas segala sesuatu
(Efesus 1:20-22). Penting bagi-Nya untuk bangkit dari antara orang
mati sebelum Ia dapat membaptiskan orang yang percaya dengan
Roh Kudus (Yohanes 1:33; Kisah 1:5; 2:32, 33; 11:15-17; I Korin
tus 12:13; bandingkan dengan Yohanes 14:16-19; 15:26; 16:7).
Kematian, kebangkitan, dan kenaikan Kristus ke sorga merupakan
peristiwa-peristiwa yang mempersiapkan Kristus untuk memberikan
karunia-karunia kepada manusia (Efesus 4:7-13). Ia harus bangkit
untuk menjadi Penguasa dan Juruselamat, untuk memberikan per
tobatan serta pengampunan dosa kepada umat Israel (Kisah 5:31).
Paulus merangkum semuanya itu saat ia mengatakan bahwa
kematian Kristus telah mendamaikan kita dengan Allah, namun
hidup-Nya yang sekarang menyempurnakan keselamatan kita
(Roma 5:8-10). Kebangkitan Kristus perlu sekali bagi penerapan
keselamatan yang telah dipersiapkan oleh kematian Kristus.
3. Kematian Kristus penting karena mempertunjukkan kuasa
ilahi. Ukuran kuasa ilahi yang sering kali diungkapkan dalam Per
janjian Lama ialah kuasa yang ditunjukkan Tuhan saat mengeluar
kan bangsa Israel dari negeri Mesir. Perayaan Paskah setiap tahun
merupakan peringatan akan kekuasaan tangan Allah (Keluaran 12).
Dalam Perjanjian Baru ukuran bagi kuasa Allah yaitu kuasa yang
dinyatakan dalam kebangkitan Kristus. Tidak mungkin Kristus
dikuasai oleh kematian untuk selamanya (Kisah 2:24). Kuasa yang
Karya Kristus: Kebangkitan, Kenaikan, dan Pemuliaan-Nya 371
sama yang telah membangkitkan Kristus dari antara orang mati kini
tersedia bagi orang-orang Kristen. Paulus berdoa agar orang-orang
percaya dapat mengenal "betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang
percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya, yang dikerjakan-Nya
di dalam Kristus dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati
dan mendudukkan Dia di sebelah kanan-Nya di sorga" (Efesus
1:19, 20).
B. SIFAT KEBANGKITAN KRISTUS
Dalam bab ini telah berulang-ulang diterima bahwa kebangkitan
Kristus yaitu kebangkitan secara jasmani, namun sekarang kita
perlu memberikan bukti-bukti untuk menguatkan anggapan ini .
1. Kebangkitan Kristus yaitu peristiwa yang aktual. Teori yang
mengatakan bahwa Yesus tidak sungguh-sungguh mati, namun hanya
pingsan dan kemudian menjadi siuman karena kesejukan hawa ku
buran serta kuatnya bau rempah-rempah, merupakan pemutarbalik
an yang mencolok dari kata-kata Alkitab yang sangat jelas artinya.
Bahwa Kristus benar-benar mati sudah jelas dari kenyataan bahwa
Ia telah dinyatakan mati oleh kepala pasukan dan prajurit-prajurit
Romawi yang mengawali pelaksanaan hukuman mati saat itu
(Markus 15:45; Yohanes 19:33); dari perempuan-perempuan yang
datang membawa rempah-rempah untuk meminyaki tubuh Yesus
(Markus 16:1); dari darah dan air yang keluar dari luka Yesus
(Yohanes 19:34); dari keyakinan para murid bahwa Ia telah mati
sehingga mereka terkejut sekali mendengar tentang kebangkitan-
Nya (Matius 28:17; Lukas 24:37; Yohanes 20:3-9); dari kenyataan
bahwa pada hari ketiga itu Ia tidak nampak kepada murid-murid-
Nya dalam keadaan jasmaniah yang lemah, namun sebagai Pemenang
yang perkasa yang telah mengalahkan kematian; dan dari per
nyataan Kristus sendiri bahwa Ia telah mati, namun kini telah hidup
untuk selama-lamanya (Wahyu 1:18).
2. Kebangkitan Kristus yaitu kebangkitan tubuh. Beberapa
pihak yang mengatakan bahwa mereka percaya akan kebangkitan
Kristus tidak bersedia untuk percaya bahwa tubuh-Nya telah
dibangkitkan. Mereka menjelaskan kematian dan kebangkitan Kris
tus sebagai sekadar dua sisi dari satu pengalaman; dalam kematian-
372 Soteriologi
Nya Ia meninggalkan kehidupan jasmani, dan dalam kebangkitan-
Nya Ia memasuki kehidupan rohani. Dengan demikian kematian
dan kebangkitan Kristus dianggap sebagai dua peristiwa yang terjadi
secara serempak. Penampakan-penampakan Kristus setelah kebang
kitan ditafsirkan sebagai penampakan roh-Nya saja atau sekadar
halusinasi subjektif para murid.
Beberapa hal yang terjadi membuktikan bahwa Kristus bangkit
secara jasmani. Yesus sendiri mengatakan setelah bangkit bahwa Ia
memiliki daging dan tulang (Lukas 24:39). Matius mencatat bahwa
perempuan-perempuan yang bertemu dengan Yesus pada pagi hari
kebangkitan itu memeluk kaki Yesus (Matius 28:9). Daud bernubuat
oleh dorongan Roh bahwa tubuh Kristus tidak akan mengalami ke
binasaan (Mazmur 16:10; Kisah 2:31). Kubur itu kosong dan se
dangkan kain kapan-Nya ada semua saat murid-murid memeriksa
kubur ini (Markus 16:6; Yohanes 20:5-7). Kristus ikut makan
di hadapan para murid-Nya setelah Ia bangkit (Lukas 24:41-43).
Yesus dikenal oleh para pengikut-Nya setelah Ia bangkit, bahkan
sampai pada bekas-bekas luka paku yang ada pada-Nya (Lukas
24:34-39; Yohanes 20:25-28). Yesus sendiri bernubuat bahwa Ia
akan bangkit secara jasmani (Matius 12:40; Yohanes 2:19-21).
Malaikat-malaikat dalam kubur itu menyatakan bahwa Ia telah
bangkit sebagaimana yang dikatakan oleh-Nya (Lukas 24:6-8). Dan
akhirnya, banyak ayat Alkitab tidak akan bisa dimengerti kalau kita
memakai teori bahwa Yesus bangkit secara rohani (Yohanes 5:28,
29; I Korintus 15:20; Efesus 1:19, 20).
3. Kebangkitan Kristus yaitu kebangkitan yang unik. Putra
janda dari Sarfat (I Raja-Raja 17:17-24), putra perempuan Sunem
(II Raja-Raja 4:18-37), putri Yairus (Markus 5:22-43), pemuda dari
Nain (Lukas 7:11-17), Lazarus (Yohanes 11:1-44), Tabita (Kisah
9:36-43), dan Eutikhus (Kisah 20:7-12), semuanya pernah bangkit
namun pasti kemudian mereka mati lagi. Jelaslah, mereka tidak me
nerima tubuh kebangkitan seperti yang telah diterima oleh Kristus.
Beberapa hal perlu dikatakan mengenai tubuh kebangkitan Kristus.
(1) Tubuh kebangkitan Kristus yaitu tubuh yang nyata. Tubuh itu
dapat dan memang telah diraba (Matius 28:9); tubuh itu berdaging
dan bertulang (Lukas 24:39). (2) Tubuh kebangkitan itu dikenali
sebagai tubuh yang sama. Kristus sendiri menunjukkan lambung-
Nya yang terluka (Yohanes 20:27). Agaknya tanda-tanda
Karya Kristus: Kebangkitan, Kenaikan, dan Pemuliaan-Nya 373
penderitaan-Nya masih akan kelihatan saat Ia datang untuk kedua
kalinya (Zakharia 12:10; Wahyu 1:7). Pada saat-saat yang berbeda
Alkitab memberitahukan bahwa para pengikut-Nya mengenal Dia
setelah kebangkitan-Nya (Lukas 24:41-43; Yohanes 20:16, 20;
21:7). (3) Sekalipun demikian, dalam beberapa hal tubuh
kebangkitan-Nya berbeda juga dari tubuh sebelum kebangkitan-
Nya. Ia dapat menembus pintu-pintu yang tertutup (Yohanes 20:19),
dan sudah pasti Ia tidak perlu makan atau beristirahat setelah
kebangkitan-Nya. (4) Sekarang Ia hidup selama-lamanya (Roma
6:9, 10; II Timotius 1:10; Wahyu 1:18).
C. KREDIBILITAS KEBANGKITAN KRISTUS
Kebangkitan Kristus yaitu suatu mukjizat dan bukti-bukti yang
diperlukan untuk membuktikan kenyataan ini yaitu sama dengan
bukti-bukti yang diperlukan untuk membuktikan mukjizat lain.
Karena semua mukjizat merupakan penyimpangan dari hukum-
hukum alam yang berlaku, maka mukjizat tidak dapat dibuktikan
dengan merujuk kepada hukum ini . Ada bukti yang memadai
tentang terjadinya mukjizat-mukjizat itu, namun itu bukanlah bukti
seperti yang dianggap perlu oleh seorang penganut paham
naturalisme. Apa sajakah bukti-bukti kebangkitan Kristus?
1. Pembuktian dari kesaksian. Dalam uraian yang baru kami
berikan di atas tersirat penyataan-penyataan luar biasa dari kuasa
Allah tidak boleh ditafsirkan dari segi penyataan-penyataan yang
biasa. Penyataan-penyataan luar biasa itu harus ditetapkan ber
dasarkan alasan-alasan yang lain, dan salah satu di antaranya yaitu
pembuktian dari kesaksian. Tiga hal diperlukan untuk membuat
sebuah kesaksian bisa dipercayai: para saksi haruslah merupakan
saksi mata yang memenuhi syarat, jumlah saksi harus memadai,
dan mereka harus mempunyai nama baik.
Para rasul memenuhi semua syarat di atas. Berkali-kali mereka
mengatakan bahwa mereka yaitu saksi mata (Lukas 24:33-36;
Yohanes 20:19, 26; 21:24; Kisah 1:3, 21-22). Maksudnya, ajaran
para rasul tidak didasarkan pada kesaksian orang lain. Sekali lagi,
Alkitab menyatakan ada lima ratus orang yang telah melihat Tuhan
yang bangkit (I Korintus 15:3-8). Perjanjian Lama hanya menuntut
dua atau tiga saksi untuk membuktikan suatu kasus (Ulangan 17:6;
Ulangan 19:15; Matius 18:16) dan hal ini berlaku juga bagi gereja
374 Soteriologi
(II Korintus 13:1; I Timotius 5:19). Mengenai watak saksi-saksi ini,
yakni para rasul, cukuplah kiranya untuk mengatakan bahwa baik
Alkitab maupun lawan lain yang terhormat tidak pernah mencela
mereka dalam soal-soal etis. Para rasul tidak mempunyai maksud
tersembunyi dalam memberitakan fakta yang begitu menakjubkan.
Mereka memberitahukan kebangkitan Kristus dengan mempertaruh
kan nyawa mereka. Murid-murid yang kurang percaya itu menjadi
percaya saat melihat Kristus yang bangkit lalu menjadi pewarta
kebangkitan Kristus yang tidak kenal lelah. Peristiwa-peristiwa yang
terjadi pada pagi kebangkitan dan selama empat puluh hari setelah
kebangkitan agaknya terjadi menurut urutan sebagai berikut: pagi-
pagi sekali tiga orang perempuan pergi ke kubur dan melihat
malaikat (Matius 28:1-8; Markus 16:1-7; Lukas 24:1-8); mereka
kemudian berpisah karena Maria Magdalena pergi untuk memberi
tahu peristiwa itu kepada Yohanes dan Petrus (Yohanes 20:1, 2),
sedangkan kedua perempuan yang lain pergi untuk memberi tahu
murid-murid yang lain, yang mungkin berada di Betania (Lukas
24:9-11). Kemudian Petrus dan Yohanes berlari ke kubur menda
hului Maria, lalu pulang tanpa melihat Tuhan (Yohanes 20:3-10).
Setelah itu, kita memiliki catatan bahwa dua belas kali Kristus
menampakkan diri-Nya; kemungkinan dalam urutan yang berikut:
kepada Maria yang datang ke kubur tidak lama sesudah Petrus dan
Yohanes meninggalkan tempat itu (Markus 16:9; Yohanes 20:11-
18), kepada beberapa perempuan lain di jalan (Matius 28:9, 10),
kepada dua orang yang sedang menuju Emaus (Markus 16:12, 13;
Lukas 24:13-33), kepada Simon Petrus (Lukas 24:34; I Korintus
15:5), kepada sepuluh murid (Yohanes 20:19-24), kepada sebelas
murid (Yohanes 20:26-29), kepada rasul-rasul di pantai Danau
Tiberias (Yohanes 21:1-14), kepada rasul-rasul di bukit di Galilea
(Matius 28:16-20), kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus
(I Korintus 15:6), kepada Yakobus (I Korintus 15:7), kepada para
murid di atas gunung saat Dia terangkat ke sorga (Markus 16:19;
Lukas 24:50, 51; Kisah 1:9), dan kepada Paulus (I Korintus 15:8).
2. Pembuktian dari sebab dan akibat. Setiap akibat ada sebabnya.
Ada sejumlah akibat dalam sejarah Kristen yang dapat dirunut ke
kebangkitan Kristus secara jasmani untuk menemukan sebabnya.
(1) Ada bukti kubur yang kosong. Alkitab dengan jelas mengatakan
bahwa kubur Kristus telah kosong. Bila hal ini tidak benar, pastilah
sudah ada pihak yang membuktikan bahwa para rasul itu penipu,
Karya Kristus: Kebangkitan, Kenaikan, dan Pemuliaan-Nya 375
dan bahwa kubur itu tidak kosong. Dusta yang diciptakan oleh para
imam kepala dan tua-tua pada waktu itu, bahwa murid-murid datang
dan mencuri tubuh Kristus selagi para pengawal tidur, telah diterima
oleh beberapa kalangan modem sebagai kebenaran. Akan namun ,
bukti akan kebangkitan Kristus ditetapkan oleh kenyataan bahwa
kain kapan Tuhan ditemukan terletak di tanah; hanya kain yang
mengikat kepala-Nya agak terpisah (Yohanes 20:5-7). Tentu saja,
kain kapan itu tidak mungkin ada di situ jika murid-murid telah
datang dan mencuri tubuh Kristus.
(2) Hari Tuhan merupakan akibat lain dari kebangkitan Kristus.
Sungguh luar biasa bahwa para rasul yang yaitu orang-orang
Yahudi tidak lagi menaati peraturan hari Sabat yang tradisional,
yang telah diberikan di taman Eden dan dijadikan tanda hubungan
perjanjian mereka dengan Allah (Keluaran 31:13; Yehezkiel 20:12,
20), namun mengadakan ibadat pada hari Minggu. Asal usul Hari
Tuhan ini dapat diterangkan dengan mengatakan bahwa para rasul
mengubah peraturan hari Sabat untuk menghormati kebangkitan
Kristus yang jasmaniah dan dengan persetujuan Tuhan. (3) Gereja
Kristen merupakan akibat lainnya yang disebabkan oleh peristiwa
kebangkitan Kristus. Murid-murid Tuhan sangat terkesan oleh
kehidupan Kristus saat Ia berada di antara mereka, namun semua
harapan mereka sirna saat Kristus mati di salib. Tidak ada satu
alasan pun yang dapat mendorong para murid yang putus asa ini
untuk berkumpul bersama-sama untuk bermeditasi dan beribadat
kepada Guru yang telah tiada. Pasti tidak ada alasan apa pun juga
yang dapat mendorong mereka untuk memberitakan nama Yesus
kepada orang-orang Yahudi lainnya dengan risiko akan dianiaya,
kecuali mereka betul-betul yakin bahwa Kristus telah bangkit dari
antara orang mati. Perkumpulan-perkumpulan mereka itu merupa
kan awal berdirinya gereja Kristen. Jadi, adanya gereja Kristen
merupakan bukti tersendiri akan kebangkitan Tuhan kita.
(4) Dan akhirnya, kitab Perjanjian Baru itu sendiri merupakan
akibat kebangkitan. Bagaimana mungkin kitab ini ditulis bila tidak
terjadi kebangkitan? Evans mengatakan, "Bila Yesus tetap berada
dalam kubur, kisah kehidupan dan kematian-Nya pastilah akan tetap
terkubur bersama dengan Dia."130 Perjanjian Baru jelas merupakan
akibat kebangkitan Kristus.
130 Evans, The Great Doctrines of the Bible, hal. 91.
376 Soteriologi
D. HASIL-HASIL KEBANGKITAN KRISTUS
Apa saja hasil kebangkitan Kristus?
1. Peristiwa kebangkitan membuktikan keilahian Kristus. Paulus
mengajar bahwa Kristus "menurut Roh kekudusan dinyatakan oleh
kebangkitan-Nya dari antara orang mati, bahwa Ia yaitu Anak
Allah yang berkuasa" (Roma 1:4). Kristus telah menunjuk kepada
kebangkitan-Nya sebagai suatu tanda yang akan diberikan kepada
umat Israel (Matius 12:38-40; Yohanes 2:18-22), dan Paulus
menyatakan bahwa peristiwa ini merupakan bukti keilahian
Kristus.
2. Peristiwa kebangkitan itu menjamin bahwa pengorbanan Kris
tus diterima. Paulus mengatakan bahwa Kristus "telah diserahkan
karena pelanggaran kita dan dibangkitkan karena pembenaran kita"
(Roma 4:25). Kita bisa yakin bahwa Allah telah menerima pengor
banan Kristus karena Ia telah bangkit dari antara orang mati.
3. Peristiwa kebangkitan menjadikan Kristus Imam Besar kita.
Oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati, Kristus menjadi pe
rantara, pembimbing, dan pelindung umat-Nya (Roma 5:9, 10; 8:34;
Efesus 1:20-22; I Timotius 2:5, 6). Ia bukan hanya membebaskan
kita dari perbudakan kepada dosa, namun Ia juga menjadi perantara
bagi umat-Nya pada saat-saat mereka memerlukan pertolongan.
4. Kebangkitan Kristus menyediakan banyak berkat tambahan.
Oleh kebangkitan Kristus telah tersedia realisasi keselamatan
pribadi yang disediakan-Nya dengan membuka kesempatan agar
orang dapat bertobat, serta menerima pengampunan, pembaharuan,
dan Roh Kudus (Yohanes 16:7; Kisah 2:3; 3:26; 5:31; I Petrus 1:3).
Lagi, kebangkitan-Nya dijadikan dasar keyakinan orang-orang per
caya bahwa segala kuasa yang dibutuhkan untuk hidup dan mela
yani Tuhan tersedia baginya (Efesus 1:18-20). Jikalau Allah dapat
membangkitkan Kristus dari antara orang mati, pastilah Ia mampu
memberikan segala sesuatu yang diperlukan oleh orang percaya
(Filipi 3:10). Kebangkitan Kristus merupakan jaminan bahwa suatu
hari kelak tubuh kita pun akan dibangkitkan dari antara orang mati
(Yohanes 5:28, 29; 6:40; Kisah 4:2; Roma 8:11; I Korintus 15:20-
23; II Korintus 4:14; I Tesalonika 4:14). Dan lagi, kebangkitan Kris
Karya Kristus: Kebangkitan, Kenaikan, dan Pemuliaan-Nya 377
tus merupakan bukti konkret bahwa akan ada penghakiman bagi
orang saleh dan orang fasik (Kisah 10:42; 17:31; bandingkan de
ngan Yohanes 5:22). Hari penghakiman telah ditetapkan, demikian
pula hakimnya. Berdasarkan fakta-fakta ini, Allah telah memberi
kepastian kepada semua orang dengan cara membangkitkan Kristus
dari antara orang mati. Akhirnya, kebangkitan Kristus membuka
jalan bagi Dia untuk duduk di takhta Daud dalam kerajaan yang
akan datang (Kisah 2:32-36; 3:19-25).
II. KENAIKAN KRISTUS
Kenaikan dan pemuliaan Kristus harus dipisahkan satu dari yang
lain. Kenaikan Kristus yaitu kembalinya Kristus ke sorga dengan
tubuh kebangkitan-Nya, sedangkan pemuliaan Kristus ialah tindak
an Allah Bapa yang memberikan kepada Kristus yang telah bangkit
dan naik ke sorga itu kedudukan yang berkuasa dan terhormat di
sebelah kanan-Nya.
A. AJARAN PERJANJIAN BARU
Banyak ayat Perjanjian Baru mengajarkan bahwa Kristus naik ke
sorga setelah kebangkitan-Nya. Matius dan Yohanes tidak mengi
sahkan fakta kenaikan Yesus Kristus ke sorga, dan Markus hanya
menyebutkannya dalam satu ayat, dan itu pun di dalam bagian
penutup yang masih diragukan keasliannya (Markus 16:19). Lukas,
dalam Injilnya (24:50, 51) dan dalam Kisah Para Rasul (1:9), mem
berikan laporan yang agak terinci tentang peristiwa ini. Sekalipun
kisah sejarahnya kurang lengkap, hal ini tidak berarti bahwa Alkitab
tidak mengajarkan apa-apa tentang kenaikan Kristus. Walaupun
Yohanes tidak mengisahkan kenyataan bahwa Kristus naik ke sorga
dengan tubuh kebangkitan-Nya, namun Yohanes mencatat bahwa
Kristus telah menubuatkan hal ini dengan jelas (6:62; 20:17;
bandingkan dengan 13:1; 15:26; 16:10, 16, 17, 28). Paulus mem
bicarakan hal ini (Efesus 4:8-10; Filipi 2:9; I Timotius 3:16), dan
demikian pula Petrus (I Petrus 3:22) dan penulis surat Ibrani (4:14).
Jadi jelaslah, Gereja yang Mula-Mula menganggap kenaikan Kristus
ke sorga sebagai suatu peristiwa sejarah.
378 Soteriologi
B. BERBAGAI KEBERATAN TERHADAP KENAIKAN KRISTUS
Kritik modem berkeberatan terhadap kenaikan Kristus ke sorga ber
dasarkan dua alasan. Pertama, mereka berpendapat bahwa pengeta
huan kita tentang alam semesta meniadakan kepercayaan bahwa
sorga merupakan suatu tempat tertentu di atas bintang-bintang di
langit. Akan namun , Alkitab tidak pernah menunjukkan di mana
sorga itu sebenarnya, sekalipun Alkitab menggambarkannya baik
sebagai tempat maupun sebagai keadaan. Sorga berada di mana
Allah berdiam, di mana para malaikat dan roh orang yang benar
berada, dan ke mana Kristus pergi dalam tubuh kebangkitan yang
sejati. Tubuh kebangkitan pasti membutuhkan tempat. Karena
bukan merupakan makhluk yang tidak terbatas, maka para malaikat
tidak bisa berada di mana-mana sekaligus; jadi, mereka harus berada
di suatu tempat tertentu. Kristus mengatakan, "Aku pergi. . . untuk
menyediakan tempat bagimu" (Yohanes 14:2). Kedua, kritik modem
mengemukakan bahwa tubuh jasmaniah seperti tubuh kita ini tidak
akan cocok untuk suatu tempat tinggal yang berada di luar bumi.
Akan namun , pandangan ini mengesampingkan fakta bahwa planet-
planet dan bintang-bintang berada di luar bumi, namun bersifat
kebendaan. Paulus mengatakan, "Ada tubuh sorgawi dan ada tubuh
duniawi" (I Korintus 15:40). Bila kita menerima kebangkitan jas
maniah Kristus, maka masalah naiknya tubuh Yesus Kristus dari
dunia ini tidaklah sulit. Sesungguhnya, kenaikan tubuh Kristus ke
sorga merupakan implikasi sejarah yang perlu sebelum kita dapat
percaya bahwa secara jasmaniah Ia akan kembali ke bumi, karena
Ia akan kembali ke bumi dengan cara yang sama seperti Ia naik ke
sorga. Kita juga perlu menerima hal ini sebelum kita dapat percaya
bahwa tubuh kita akan dibangkitkan, karena kita akan menjadi sama
seperti Dia.
III. PEMULIAAN KRISTUS
Alkitab juga berbicara tentang pemuliaan Kristus. Lukas menye
butkannya beberapa kali (Kisah 2:33; 5:31); Paulus mengajarkannya
(Roma 8:34; Efesus 1:20; Filipi 2:9; Kolose 3:1); penulis surat
Ibrani menyebutkan pemuliaan itu (10:12); dan Yesus sendiri mem
beritahukannya (Matius 22:41-45; Wahyu 3:21; bandingkan dengan
Mazmur 110:2).
Karya Kristus: Kebangkitan, Kenaikan, dan Pemuliaan-Nya 379
A. HAL-HAL YANG TERCAKUP DALAM PEMULIAAN KRISTUS
Sejumlah hal tercakup dalam pemuliaan Kristus. Kristus telah
"dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat" (Ibrani 2:9). Kemuliaan
ini nampak dalam "tubuh-Nya yang mulia" sekarang ini (Filipi
3:21). Yohanes melihat Tuhan dalam tubuh kebangkitan ini di Pulau
Patmos (Wahyu 1:12-18). Baik kemuliaan maupun kehormatan itu
terlihat dari kenyataan bahwa Dia telah menerima nama di atas
segala nama (Filipi 2:9). Tuhan pernah berbicara tentang nama-Nya
yang baru (Wahyu 3:12; 19:12, 13, 16). Nama baru ini juga menun
juk kepada peristiwa penobatan-Nya untuk duduk di takhta di
sebelah kanan Allah Bapa (Matius 28:18; Ibrani 10:12). Stefanus
melihat Dia berdiri di sebelah kanan Allah (Kisah 7:55, 56). Pada
suatu hari Kristus akan duduk di takhta-Nya sendiri (Matius 25:31).
Pastilah, dalam tindakan ini tercakup juga pengangkatan-Nya
sebagai kepala tubuh-Nya, yaitu gereja (Efesus 1:22). Sekarang Ia
mengatur semua urusan gereja-Nya. Ia melayani sebagai imam
besar (Ibrani 4:14; 5:5-10; 6:20; 7:21; 8:1-6; 9:24), serta memper
sembahkan darah-Nya sendiri (I Yohanes 2:1, 2), dan berdoa agar
umat-Nya terpelihara dan bersatu (Lukas 22:32; Yohanes 17).
Dewasa ini, para malaikat, kuasa, dan kekuatan telah ditaklukkan
kepada Dia (I Petrus 3:22). Sesungguhnya, segala sesuatu telah
diletakkan di bawah kaki-Nya (Efesus 1:22). Demikianlah, saat ini
Ia yaitu Raja dalam suatu Kerajaan (Kolose 1:13; Wahyu 1:9).
B. HASIL-HASIL KENAIKAN DAN PEMULIAAN KRISTUS
Hasil-hasil kenaikan dan pemuliaan-Nya dapat dibahas bersama.
(1) Sekarang Ia tidak hanya ada di sorga, namun secara rohani Ia
hadir di mana-mana. Ia memenuhi segala sesuatu (Efesus 4:10).
Dengan demikian, Dialah yang paling ideal untuk disembah oleh
seluruh umat manusia (I Korintus 1:2). (2) Kristus telah "membawa
tawanan-tawanan" (Efesus 4:8). Ini bisa berarti bahwa orang-orang
percaya dari zaman Perjanjian Lama tidak ada di Hades lagi, namun
telah dipindahkan ke sorga. Jelas, orang percaya dari zaman Per
janjian Baru langsung masuk dalam kehadiran Kristus pada saat ia
mati (II Korintus 5:6-8; Filipi 1:23). (3) Ia telah memulai pelayanan
sebagai imam di sorga (Ibrani 4:14; 5:5-10; 6:20; 7:21; 8:1-6; 9:24).
(4) Ia telah mengaruniakan karunia-karunia rohani kepada umat
380 Soteriologi
Nya (Efesus 4:8-11). Termasuk di sini karunia-karunia perseorang
an untuk masing-masing orang percaya (I Korintus 12:4-11) dan
karunia-karunia untuk gereja-Nya (Efesus 4:8-13). (5) Ia telah men
curahkan Roh-Nya kepada umat-Nya sendiri (Yohanes 14:16; 16:7;
Kisah 2:33), serta memberikan pertobatan dan iman kepada manusia
(Kisah 5:31; 11:18; Roma 12:3; II Timotius 2:25; II Petrus 1:1),
dan membaptis orang-orang percaya ke dalam gereja (Yohanes
1:33; I Korintus 12:13). Semuanya ini merupakan hasil-hasil
kenaikan dan pemuliaan Kristus. Jelaslah, jika kita hendak memiliki
penebusan yang sempurna, kita tidak bisa berhenti pada kematian
Kristus, meskipun hal ini amat penting. Kebangkitan jasmaniah,
kenaikan, dan pemuliaan Kristus juga merupakan peristiwa-peris
tiwa sejarah.
XXVII
Karya Roh Kudus
Sebagaimana karya Kristus itu penting dalam melaksanakan kesela
matan, demikian pula karya Roh Kudus. Keilahian dan kepribadian
Roh Kudus telah kita bicarakan dalam Bab yang menguraikan
perihal Tritunggal. Di situ telah dikatakan bahwa Roh Kudus itu
Allah adanya. Hal ini dibuktikan karena sifat-sifat khas Allah juga
dimiliki oleh Roh Kudus dan karya-karya Allah dil












