Tampilkan postingan dengan label teologi sistematik 3. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label teologi sistematik 3. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Juli 2026

teologi sistematik 3

 


Tidak ada Allah yang 

kepadanya mereka bertanggung jawab. Mereka merupakan ateis 

praktis sejauh itu berkaitan dengan perhatian dan minat religius 

mereka.

Ateisme dogmatis secara terang-terangan mengakui berpandang­

an ateis. Kebanyakan orang tidak secara terang-terangan 

memamerkan ateisme mereka di hadapan orang lain karena sikap 

seperti itu dicela; namun ada juga beberapa orang yang tidak 

sungkan-sungkan menyatakan bahwa mereka itu ateis. Dalam tahun- 

tahun belakangan ini bentuk ateisme semacam ini telah dihidupkan 

kembali. Komunisme secara terbuka menyatakan pandangannya 

yang ateistis dan menyatakan bahwa agama yaitu  racun 

masyarakat.

Ateisme mumi merupakan bentuk ateisme yang menganut prin­

sip-prinsip yang tidak sesuai dengan kepercayaan akan Allah atau 

yang mendefinisikan Allah dengan memakai  istilah-istilah yang 

melanggar pemakaian bahasa pada umumnya. Kebanyakan penga­

nut paham naturalisme termasuk golongan ateis mumi yang per­

tama. Mereka yang mendefinisikan Allah dengan memakai  ga­

gasan-gagasan yang abstrak, misalnya, sebagai "prinsip aktif yang 

bekerja dalam alam," atau "kesadaran sosial," atau "yang tidak dapat 

dikenal," atau "personifikasi kenyataan," atau "energi" merupakan 

ateis mumi jenis kedua. Pandangan ini sebenarnya melanggar 

makna istilah "Allah" yang sudah diterima. Teisme memiliki istilah- 

istilah yang sudah tetap, sehingga tidak dapat dipakai dengan se­

Beberapa Pandangan Dunia Non-Kristen 51

enaknya sendiri.

Pandangan ateistis sangat tidak memuaskan, tidak tetap, dan ang­

kuh. Pandangan ini tidak memuaskan karena semua ateis tidak 

memiliki kepastian bahwa dosa-dosa mereka sudah diampuni; kehi­

dupan mereka dingin dan hampa; dan mereka tidak tahu apa-apa 

tentang damai dan persekutuan dengan Allah. Pandangan ateistis 

tidak tetap karena bertolak belakang dengan keyakinan-keyakinan 

terdalam manusia. Baik Alkitab maupun sejarah menunjukkan bah­

wa manusia secara universal perlu mengakui adanya Tuhan. Se­

orang ateis mumi sebenarnya mengakui kenyataan ini juga yaitu 

dengan menerima gagasan yang abstrak untuk menjelaskan dunia 

ini dan kehidupan ini. Pandangan ini dikatakan angkuh karena 

menganggap dirinya mahatahu. Pengetahuan yang terbatas dapat 

menduga adanya Allah, namun  dengan sombongnya pandangan 

ateistis mengatakan bahwa pengetahuan yang lengkap tentang se­

gala sesuatu, semua pengetahuan, serta segenap kurun waktu diper­

lukan untuk menyatakan secara dogmatis bahwa Allah tidak ada. 

Seorang ateis dogmatis dapat dikatakan tidak normal. Sebagaimana 

halnya sebuah bandulan jam kuno dapat dipindahkan dari pusatnya 

oleh kekuatan di dalam atau di luar jam ini , demikianlah pe­

mikiran manusia dapat digeserkan dari kedudukannya yang normal 

oleh sebuah filsafat palsu. Pada saat kekuatan yang memindahkan 

ini  ditiadakan, baik bandulan maupun pikiran manusia akan 

kembali kepada kedudukannya yang normal.

II. PANDANGAN AGNOSTIS

Istilah "agnostis" kadang-kadang dipakai untuk menamakan setiap 

ajaran yang menegaskan bahwa pengetahuan yang benar tidak 

mungkin diperoleh dan bahwa semua pengetahuan yang ada bersifat 

relatif sehingga dengan demikian tidak pasti. Dalam arti ini golong­

an Sofis dan Skeptis Yunani maupun semua penganut empirisme 

sejak Aristoteles sampai ke Hume yaitu  agnostis. Namun dalam 

teologi, istilah ini terbatas pada pandangan yang menegaskan bahwa 

baik adanya Allah maupun sifat asli Allah maupun sifat asli alam 

semesta tidak diketahui dan tidak dapat diketahui.

Positivisme dalam ilmu pengetahuan dan pragmatisme dalam fil­

safat dan teologi merupakan bentuk-bentuk agnostisisme yang ter­

52 Teisme

kenal. Auguste Comte (1798-1859), pendiri mazhab positivisme, 

memutuskan untuk tidak menerima sesuatu sebagai benar di luar 

detail-detail dari fakta-fakta yang dapat diamati; dan karena 

gagasan akan adanya Allah tidak dapat diperiksa seperti itu, maka 

Comte mengabaikan gagasan ini  serta sepenuhnya meneliti 

gejala-gejala yang nampak. Akan namun , teori relativitas Einstein 

telah menunjukkan bahwa kita harus memperhatikan juga faktor- 

faktor yang tidak langsung nyata dalam pengamatan, misalnya wak­

tu dan ruang, saat  meneliti dunia lahiriah sekalipun. Teori 

Einstein telah merobohkan positivisme dengan telak.

Pragmatisme dalam filsafat dan teologi, seperti halnya positivis­

me dalam ilmu pengetahuan, menolak penyataan khusus serta ke­

mampuan akal manusia dalam meneliti realitas terakhir. Pragma­

tisme malah beranggapan bahwa karena penangguhan keputusan 

akhir tidak saja menyakitkan, namun  sering kali merugikan dan bah­

kan mustahil, maka kita hams menganut pandangan yang mem­

berikan hasil terbanyak. Seiring dengan itu, Albrecht Ritschl dan 

William James menerima Allah yang mereka setujui bersama me­

lalui perumusan sebuah dalil pragmatis dari adanya Allah untuk 

memperoleh hasil-hasil yang diinginkan. John Dewey cukup puas 

dengan merumuskan beberapa gagasan abstrak yang tidak jelas.

Pandangan agnostis juga sangat tidak memuaskan dan sangat 

tidak tetap, dan sering kali menunjukkan kerendahan hati yang 

palsu. Pandangan agnostis tidak memuaskan karena menderita ke­

miskinan rohani yang sama dengan pandangan ateistis, dan pan­

dangan ini juga tidak memuaskan dari sudut intelektual. Agnos- 

tisisme menunjukkan kenyataan ini saat  menerima berbagai pan­

dangan yang bersifat sementara sebagai hipotesis yang memadai. 

Pandangan agnostis tidak tetap karena mengakui sendiri tidak per­

nah mencapai kepastian sepenuhnya. Ritschl dan James menyatakan 

bahwa mereka sudah agak mantap dalam kepercayaan mereka, na­

mun Dewey beranggapan bahwa kepercayaannya bersifat sangat se­

mentara. Dan agnostisisme menunjukkan kerendahan hati yang 

palsu karena menyatakan bahwa pengetahuannya begitu sedikit. Be­

berapa agnostik menuduh bahwa orang lain dengan sombong dan 

angkuh mengakui memiliki pengetahuan yang lebih tinggi, namun  

kami para agnostik secara jujur mengakui keterbatasan pengetahuan 

manusia. Dari sudut pandangan Kristen, sikap ini merupakan kese­

Beberapa Pandangan Dunia Non-Kristen 53

derhanaan yang palsu, karena orang Kristen menganggap bahwa 

bukti-bukti adanya Allah yang berkepribadian, adikodrati, maha­

kuasa, dan kudus itu cukup banyak untuk mencapai kepastian.

III. PANDANGAN PANTEISTIS

Panteisme ialah teori yang mengatakan bahwa segala hal yang ter­

batas merupakan sekadar aspek, modifikasi, atau bagian dari satu 

pribadi yang kekal dan yang ada dengan sendirinya. Panteisme me­

nyamakan Allah dengan alam semesta. Allah itu segalanya; dan 

segalanya itu Allah. Dewasa ini panteisme memiliki berbagai ben­

tuk, beberapa di antaranya memiliki unsur-unsur ateisme, politeis­

me, dan teisme. Para penganut panteisme umumnya memandang 

kepercayaan mereka sebagai agama sehingga mereka tunduk dan 

menghormati ajarannya. Oleh karena itu, kekurangan-kekurangan 

yang ada  dalam panteisme perlu dipahami dengan lebih jelas. 

Kami akan menyajikan pembahasan yang sesingkat mungkin ten­

tang bentuk-bentuk utama panteisme dan kemudian mengemukakan 

mengapa kepercayaan Kristen menolaknya.

A. BENTUK-BENTUK UTAMA PANTEISME

Berikut ini diketengahkan bentuk-bentuk utama panteisme.

1. Panteisme materialistis. Bentuk panteisme ini beranggapan 

bahwa zat merupakan penyebab pikiran dan segala sesuatu yang 

hidup. David Strauss percaya bahwa zat yaitu  kekal serta hidup 

diturunkan secara spontan. Strauss beranggapan bahwa alam se­

mesta, yaitu keseluruhan keberadaan yang kita sebut dengan alam, 

merupakan satu-satunya Allah yang dapat disetujui untuk dipuja 

dan dipuji oleh manusia modem yang telah mengalami pencerahan 

ilmu pengetahuan modem. Bagaimanapun juga, kepercayaan akan 

kekekalan zat merupakan sebuah pengandaian yang tidak masuk 

akal, dan ajaran bahwa hidup diturunkan secara spontan juga telah 

ditolak mentah-mentah oleh para ilmuwan yang ternama.

2. Hilozoisme dan Panpsikisme. Kedua nama ini merupakan 

nama dari satu teori yang sama. Sekalipun demikian teori ini  

memiliki dua bentuk. Yang pertama beranggapan bahwa setiap par- 

54 Teisme

tikel zat memiliki suatu prinsip hidup di samping sifat-sifat fisiknya. 

Bentuk awal teori ini menekankan sifat-sifat fisiknya sehingga dapat 

dikatakan merupakan semacam materialisme. Bentuk modem dapat 

ditelusuri sampai kepada G. W. Leibniz yang menekankan sifat-sifat 

psikisnya juga. Leibniz beranggapan bahwa kesatuan-kesatuan po­

kok bukanlah atom, namun  monad-monad, jiwa-jiwa kecil, yang 

mampu memahami dan menginginkan. Teori jenis kedua berang­

gapan bahwa akal dan zat itu berbeda, namun  terpadu secara erat 

sekali dan tidak terpisahkan. Menurut teori kedua ini, Allah yaitu  

jiwa dunia ini. Kaum Stoa menganut hilozoisme jenis ini.

3. Netralisme. Netralisme merupakan semacam monisme yang 

beranggapan bahwa realitas terakhir bukanlah akal dan bukan pula 

zat, namun  suatu bahan netral. Akal dan zat hanya merupakan wujud 

atau aspek dari bahan netral itu. Baruch Spinoza merupakan peng­

anut yang dapat dijadikan contoh dari pandangan ini. Spinoza ber­

anggapan bahwa yang ada hanya satu substansi dengan dua sifat, 

pikiran dan ekstensi, atau akal dan zat, keseluruhannya dinamakan 

Tuhan.

4. Idealisme. Bentuk panteisme ini beranggapan bahwa realitas 

terakhir yaitu  akal dan bahwa dunia ini merupakan hasil akal, baik 

hasil akal individual maupun hasil akal yang tak terbatas. George 

Berkeley beranggapan bahwa objek-objek yang dilihat seseorang 

merupakan cerapan orang itu saja dan bukan objek itu sendiri. Mak­

sudnya, segala sesuatu yang ada hanya ada  di dalam pikiran. 

Kita menjawab bahwa bila segala sesuatu hanya ada di dalam 

pikiran maka Tuhan dan sesama manusia pun hanya ada di dalam 

pikiran. Jadi, secara logis orang yang menganut idealisme harus 

menyimpulkan bahwa hanya dirinya sendiri yang memang ada, dan 

dengan demikian teori idealisme ini menjadi sesuatu yang tak masuk 

akal. Idealisme subjektif mengatakan bahwa dunia yaitu  gagasan 

saya; idealisme objektif mengatakan dunia yaitu  gagasan.

ada  dua bentuk utama idealisme mutlak atau idealisme ob­

jektif. Absolutisme impersonal beranggapan bahwa realitas terakhir 

merupakan satu akal tunggal atau satu sistem tunggal yang terpadu; 

anggapan ini menolak bahwa akal atau sistem tunggal ini berke­

pribadian. Absolutisme personal beranggapan bahwa yang mutlak 

itu berkepribadian. Dan yang berkepribadian itu meliputi di dalam 

Beberapa Pandangan Dunia Non-Kristen 55

dirinya segenap kesatuan-aku yang terbatas serta ikut mem­

bagi pengalaman kesatuan-aku yang terbatas itu karena secara jum­

lah semua kesatuan-aku itu merupakan bagian darinya, walaupun 

pada saat yang sama yang berkepribadian ini juga memiliki pikiran 

yang lain daripada pikiran semua kesatuan-aku itu.

5. Mistisisme Filosofis. Mistisisme filosofis merupakan bentuk 

monisme yang paling mutlak yang diketahui. Seorang idealis masih 

tetap membuat garis pemisah antara dirinya sendiri dengan dunia 

di luar dirinya, antara kesatuan-aku yang agung dan semua kesatu­

an-aku yang terbatas; namun  bagi seorang mistik filosofis, kesadaran 

akan yang lain samasekali tiada lagi dan si pengenal kemudian men­

jadi sadar bahwa dirinya identik dengan batin subjeknya. Realitas 

terakhir merupakan suatu kesatuan utuh yang tidak dapat dijelaskan; 

diri manusia bukanlah sekadar mirip realitas terakhir itu, namun  iden­

tik dengannya; dan persekutuan dengan yang absolut ini terjadi me­

lalui usaha moral dan bukan melalui gagasan abstrak yang teoretis.

Dalam menutup survei tentang pandangan-pandangan panteistis 

ini, kami mengulangi kembali pernyataan di depan bahwa beberapa 

panteis juga memiliki unsur-unsur ateistis, politeistis, atau teistis 

dalam teori mereka. Kelima bentuk di atas ini dibahas sebagai pan­

dangan panteistis karena demikianlah sifat utamanya atau sifat se­

sungguhnya. Sekarang, kekeliruan dan sifatnya yang merusak perlu 

dijelaskan.

B. PENOLAKAN TEORI-TEORI PANTEISTIS

Pikiran manusia sangat tertarik kepada pandangan-dunia yang mo- 

nistis. Pikiran manusia sangat senang untuk berpikir bahwa segala 

sesuatu yang ada memiliki prinsip atau penyebab awal yang sama. 

Para filsuf beranggapan bahwa penyebab atau prinsip ini sepenuh­

nya ada  di dalam dunia. Orang Kristen juga percaya akan 

adanya satu penyebab awal yang sama, namun  mereka beranggapan 

bahwa penyebab ini  berada di luar dunia ini maupun di dalam­

nya. Pandangan pertama tadi dikenal sebagai monisme, pandangan 

yang kemudian dikenal sebagai monoteisme. Karena ada dampak 

religius yang sangat luas dan serius berkaitan dengan pandangan 

panteistis ini, kami merasa perlu untuk mengetengahkan suatu pe-

56 Teisme

nolakan yang terinci terhadap pandangan ini. Teori-teori panteistis 

harus ditolak karena alasan-alasan berikut ini:

1. Teori-teori ini  bertolak dari sistem filsafat yang menya­

takan bahwa kehendak bebas itu khayalan. Segala kebebasan dari 

penyebab-penyebab kedua ditolak; segala sesuatu bertindak dan ber­

ada karena memang mutlak perlu. Panteisme materialistis berpikir 

dari segi kebutuhan yang dinamis, sedang idealisme absolut berpikir 

dari segi kebutuhan yang logis. Terhadap semua pendapat ini kami 

mengatakan dengan tegas bahwa kita memiliki kesadaran bahwa 

kita ini yaitu  pelaku-pelaku yang bebas dan bahwa kita bertang­

gung jawab atas kelakuan kita. Karena keyakinan inilah kita men­

dirikan pemerintahan serta menghukum para penjahat berdasarkan 

kejahatan-kejahatan yang mereka lakukan.

2. Teori-teori ini  menghancurkan semua landasan moral. 

Bila segala sesuatu terjadi karena sangat diperlukan, maka kesalah­

an dan dosa juga ada karena sangat diperlukan. Akan namun , bila 

kita menerima pendapat ini, maka tiga hal akan menyusul pendapat 

ini: (1) Dosa bukanlah sesuatu yang samasekali tidak boleh ada, 

sesuatu yang perlu dihukum. Akibatnya, panteisme berbicara me­

ngenai dosa sebagai kelemahan yang tak dapat dielakkan, sebuah 

tahap dalam perkembangan kita. Namun kita berkeyakinan bahwa 

kita semua berada di bawah penghukuman dan murka Allah yang 

kudus. (2) Kita tidak memiliki tolok ukur untuk membedakan mana 

yang betul dan mana yang salah. Jika kita melakukan segala sesuatu 

karena mutlak perlu, bagaimana kita dapat mengetahui apakah per­

buatan kita betul atau salah? Para panteis menganggap kemanfaatan 

sebagai patokan moral. Dan (3) Allah sendiri akhirnya berdosa, ka­

rena jika segala sesuatu diharuskan oleh-Nya, maka sesungguhnya 

Allah itu atau kurang pengetahuan atau jahat. Bila Allah itu kurang 

pengetahuan, lalu bagaimana Ia bisa merupakan terang yang sem­

purna dan menjadi sumber segala kebenaran? Bila Tuhan itu jahat, 

bagaimana pula kiranya Ia dapat menghukum dosa? Di dalam ke­

hidupan masyarakat kafir, khususnya yang telah menjadikan pan­

dangan panteisme ini semacam ajaran religius, gagasan ini telah 

membuat para penganutnya mendewakan kejahatan serta menghor­

mati dan memuja dewa-dewa yang mewakili segala jenis kejahatan. 

Jadi jelaslah, panteisme menghancurkan semua landasan moral.

Beberapa Pandangan Dunia Non-Kristen 57

3. Teori-teori ini menjadikan semua agama rasional mustahil. 

Beberapa pihak mungkin tidak menganggap alasan ini sebagai 

penolakan terhadap panteisme, namun  dari sudut filsafat agama hal 

ini sangat penting. Dalam menekankan kesatuan metafisis antara 

yang manusiawi dengan yang ilahi, pandangan-pandangan panteistis 

cenderung menghancurkan kepribadian manusia. Hal ini terjadi 

khususnya dalam idealisme absolut dan mistisisme. namun  agama 

yang benar hanya mungkin ada kalau setiap pribadi yang terlibat 

dapat memelihara terus ciri-ciri khas masing-masing, karena agama 

yang benar yaitu  pelayanan dan penyembahan manusia kepada 

yang ilahi. Pada saat garis pemisah antara yang manusia dengan 

yang ilahi hilang maka agama yang sejati tidak dimungkinkan lagi. 

Yang masih disebut agama oleh sementara orang hanya merupakan 

pemujaan diri sendiri.

4. Teori-teori ini menolak imortalitas pribadi dan yang sadar. 

Jika manusia hanya merupakan sebagian dari Allah yang tak ter­

batas maka pastilah ia merupakan hanya sekejap dalam kehidupan 

Allah, sebuah riak pada permukaan laut; pada saat tubuh ini mati, 

kepribadiannya berakhir dan permukaan laut tadi kembali tenang. 

Jadi, tidak ada lagi hidup secara sadar bagi manusia setelah ke- 

matian. Satu-satunya imortalitas yang diharapkan oleh kaum pan- 

teis ialah bahwa mereka akan tetap dikenang orang lain serta diserap 

ke dalam realitas terakhir yang mahabesar. Akan namun , kita sadar 

bahwa kita berdiri sebagai pribadi yang bertanggung jawab kepada 

Tuhan dan bahwa kita akan dimintai pertanggungjawaban atas tin­

dakan-tindakan yang kita lakukan dalam hidup ini, baik ataupun 

jahat (II Korintus 5:10). Kita tahu bahwa setelah kematian, seba­

gaimana halnya dalam kehidupan kita saat ini, akan ada garis pe­

misah antara yang baik dan yang jahat dan bahwa identitas dan 

kepribadian kita tetap terpelihara.

5. Teori-teori ini menyetarakan manusia dengan Tuhan saat  

menjadikannya bagian dari Tuhan. Panteisme menyanjung manusia 

serta mendorong timbulnya kesombongan manusiawi. Bila segala 

sesuatu yang ada ini merupakan suatu manifestasi dari Allah, dan 

bila Allah tidak pernah memasuki kesadaran kecuali di dalam diri 

manusia, maka manusia merupakan wujud Allah yang tertinggi di 

atas muka bumi ini. Sesungguhnya, kita dapat mengetahui kebe- 

58 Teisme

saran rohani seseorang dengan melihat sampai sejauh mana dia me­

nyadari persamaannya dengan Tuhan. Para panteis menyatakan bah­

wa Yesus Kristus yaitu  orang pertama yang secara sempurna me­

nyadari bahwa manusia merupakan wujud Allah yang tertinggi di 

atas muka bumi ini saat  mengatakan, "Aku dan Bapa yaitu  satu" 

(Yohanes 10:30). Orang Hindu pun berpikir demikian bila ia ber­

kata, "Aku manunggal dengan Brahma." namun  kita tidak dapat 

mengatakan apa yang dikatakan oleh Yesus Kristus, karena kita 

yaitu  sekadar makhluk ciptaan yang penuh dengan dosa sedangkan 

Yesus Kristus yaitu  Anak Allah yang kekal. Kekristenan mem­

berikan tempat yang sangat tinggi kepada manusia, namun  kekris­

tenan tidak pernah menjadikan manusia bagian dari Allah.

6. Teori-teori ini tidak dapat menjelaskan realitas yang kongkret. 

Panteisme materialistis mengelak realitas kongkret dengan menga­

takan bahwa zat yang bergerak selalu sudah ada, namun  itu me­

rupakan pernyataan dan bukan bukti. Alam semesta ini tidak dapat 

memelihara diri sendiri; dan bila alam semesta tidak dapat 

memelihara diri sendiri maka pastilah alam semesta memiliki awal. 

Panteisme materialistis juga tidak bisa menerangkan pikiran, karena 

zat yang mati tidak mungkin dapat menghasilkan hidup ataupun 

pikiran. Dan panteisme idealistis lupa bahwa pikiran tanpa pemikir 

merupakan suatu abstraksi belaka. Realitas itu senantiasa bersifat 

substantif, realitas yaitu  pelaku. Tanpa pelaku tidak ada kegiatan, 

baik itu kegiatan mental maupun kegiatan jasmaniah. Demikian pula 

wujud yang individual mustahil dihasilkan oleh konsep universal 

yang abstrak. Jadi, jelas panteisme tidak dapat menjelaskan realitas 

kongkret.

IV. PANDANGAN POLITEISTIS

Kami dengan tegas mengatakan bahwa monoteisme merupakan 

agama semula umat manusia. Nampaknya pergerakan meninggal­

kan monoteisme yang pertama yaitu  pergerakan menuju pemujaan 

alam. Matahari, bulan, dan bintang-bintang sebagai wakil alam di 

angkasa serta api, air, dan udara sebagai wakil bumi, menjadi objek- 

objek pemujaan yang tersebar luas. Pada mulanya benda-benda ini 

sekadar dipersonifikasikan; kemudian manusia menjadi percaya 

Beberapa Pandangan Dunia Non-Kristen 59

bahwa makhluk-makhluk yang berkepribadian tinggal di dalam 

benda-benda ini . Politeisme memiliki daya tarik yang kuat bagi 

umat manusia yang telah jatuh di dalam dosa. Manusia yang ber­

dosa senang untuk bersekutu dengan berhala-berhala (Hosea 4:17) 

dan sangat sukar baginya untuk melepaskan diri dari berhala-ber­

hala ini . Pemujaan berhala bukan saja membiarkan hati tetap 

hampa, namun  juga merendahkan derajat pikiran. Paulus menyatakan 

bagaimana manusia "berbuat seolah-olah . . . penuh hikmat, namun  

telah menjadi bodoh. Mereka menggantikan kemuliaan Allah yang 

tidak fana dengan gambaran yang mirip dengan manusia yang fana, 

burung-burung, binatang-binatang yang berkaki empat atau bina­

tang-binatang yang menjalar" (Roma 1:22-23). Anggota-anggota 

jemaat di Tesalonika digambarkan sebagai "berbalik dari berhala- 

berhala kepada Allah untuk melayani Allah yang hidup dan yang 

benar" (I Tesalonika 1:9). Yohanes menasihatkan, "Waspyaitu  ter­

hadap segala berhala" (I Yohanes 5:21).

Dalam Alkitab berhala-berhala bangsa kafir kadang-kadang di­

nyatakan sebagai tidak berarti dan sia-sia (Yesaya 41:24; 44:9-20), 

dan kadang-kadang sebagai wakil atau perwujudan setan-setan 

(I Korintus 10:20). Nampaknya pemujaan berhala berarti pemujaan 

setan.

V. PANDANGAN DUALISTIS

Teori ini beranggapan bahwa realitas terdiri atas dua substansi atau 

dua prinsip yang berbeda dan tak bisa diuraikan lagi. Dalam epis­

temologi dua prinsip ini yaitu  gagasan dan objek; dalam metafisika 

disebut pikiran dan zat; dalam etika, disebut baik dan jahat; dalam 

agama dikenal sebagai yang baik atau Tuhan, dan yang jahat atau 

Iblis. Namun, orang Kristen tidak dapat menerima bahwa Iblis itu 

sama-kekal dengan Tuhan. Iblis bagi orang Kristen hanyalah ciptaan 

Allah yang harus tunduk kepada-Nya.

Kant, Sidgwick, para filsuf personalisme modem, orang-orang 

Kristen, serta semua orang lain menganut dualisme epistemologis. 

Bagi mereka, pikiran dan benda merupakan dua wujud yang ber­

beda. Para filsuf awal Yunani, seperti Thales, Empedocles, Anaxa­

goras, dan Pythagoras, umumnya disebut sebagai golongan monis, 

namun  mereka dalam kenyataannya merupakan penganut dualisme 

60 Teisme

metafisis. Mereka membedakan antara dua prinsip yaitu pikiran dan 

benda. Plato sekalipun, dalam membuat pembedaan yang tajam an­

tara ide dengan dunia inderawi, akhirnya juga merupakan seorang 

dualis. Semua moralis Inggris dan Kant yang beranggapan bahwa 

kehidupan dibagi atas hal yang mutlak benar dan hal yang mutlak 

salah merupakan penganut dualisme etis. Jadi, mereka menegakkan 

tolok ukur kebenaran yang absolut. Yang jauh lebih penting dari 

sudut pandangan Kristen ialah dualisme religius.

Bermula umumnya dengan Zoroastrianisme Persia, Gnostisisme 

dan Manikheisme timbul untuk mengganggu gereja yang mula- 

mula. Kaum Gnostik nampaknya tumbuh di bagian terakhir abad 

pertama. Mereka berusaha menyelesaikan masalah kejahatan de­

ngan menciptakan dua dewa, yaitu Allah yang mahatinggi dan 

demiurg. Allah Perjanjian Lama bukanlah Allah yang mahatinggi, 

karena Allah yang mahatinggi yaitu  baik sepenuhnya; Allah Per­

janjian Lama yaitu  sang demiurg yang menciptakan alam semesta 

ini. ada  pertikaian yang terus-menerus antara dua allah ini, 

suatu pertikaian antara yang baik dengan yang jahat. Manes, yang 

rupanya dibesarkan dalam suatu sekte Babilonia kuno, merupakan 

pendiri dari gerakan Manikheisme. saat  menjumpai kekristenan, 

Manes memperoleh gagasan untuk membaurkan dualisme Timur 

dengan kekristenan menjadi satu kesatuan harmonis. Manes meng­

anggap dirinya sendiri sebagai rasul Kristus dan Parakletos yang 

dijanjikan. Ia berusaha keras meniadakan semua unsur Yahudi dari 

kekristenan dan menggantikannya dengan Zoroastrianisme.

Pada abad yang lalu, persoalan asal-usul serta kehadiran keja­

hatan di atas muka bumi ini kembali telah menduduki tempat ter­

atas. Keadaan ini telah membuat beberapa pihak mundur kembali 

kepada bentuk dualisme yang kuno. Allah dan zat, atau seperti di­

katakan beberapa orang Allah dan Iblis, keduanya kekal. Allah ter­

batas kuasa-Nya dan mungkin juga pengetahuan-Nya, namun  bukan 

sifat-Nya, Allah sedang berusaha sekuat-kuatnya untuk memper­

baiki dunia yang keras kepala dan akhirnya Ia akan memperoleh 

kemenangan sepenuhnya di atas dunia. Manusia seharusnya mem­

bantu Allah dalam perjuangan ini sehingga dengan demikian mem­

percepat kalahnya kejahatan. Allah dianggap sebagai sedang ber­

kembang dan terbatas.

Adanya kejahatan memang merupakan masalah yang teramat su- 

Beberapa Pandangan Dunia Non-Kristen 61

lit bagi setiap pemikir, namun  dualisme bukanlah jawaban yang 

memuaskan. Allah yang terbatas seperti di atas tidak dapat me­

muaskan hati manusia, karena Allah yang seperti tak dapat men­

jamin bahwa yang baik akhirnya akan menang. Sesuatu yang tidak 

diduga mungkin saja terjadi untuk menggagalkan semua maksud 

baik Allah; bagaimana kira-kira orang percaya dapat berdoa dengan 

penuh iman kepada Allah yang mungkin saja kalah oleh kuasa ke­

jahatan Iblis? Selanjutnya, keterbatasan Allah juga tidak membebas­

kan Allah dari tanggung jawab atas adanya kejahatan seperti pan­

dangan tradisional. Sebagian besar penganut teori ini mengajarkan 

bahwa Allah entah bagaimana menciptakan sesuatu yang tidak sem­

purna, sehingga proses penyempurnaan itu berlangsung terus sam­

pai kekal. Karena mereka percaya bahwa menciptakan alam semes­

ta memerlukan adanya kejahatan, maka menurut pandangan mereka 

dunia yang dikuasai kejahatan ini yaitu  ciptaan Tuhan. Tambahan 

pula, ajaran ini meliputi kepercayaan akan Allah yang bertumbuh 

dan berkembang terus; yaitu Allah yang makin hari makin berhasil 

dan mungkin bahkan makin hari makin baik. namun  jelaslah pan­

dangan ini samasekali mengabaikan petunjuk-petunjuk Alkitab yang 

mengatakan bahwa Allah itu sempurna dan tak berubah dalam hik­

mat, kuasa, keadilan, kebaikan, dan kebenaran-Nya sehingga tidak 

cocok dengan pikiran kita tentang Allah. Akhirnya, pandangan ini 

menolak adanya Iblis, musuh bebuyutan Allah, yang dalam Alkitab 

digambarkan sebagai penyebab semua kejahatan yang ada.

VI. PANDANGAN DEISTIS

Bila pandangan panteis memegang imanensi Allah sampai meniada­

kan transendensi-Nya, maka deisme memegang transendensi Allah 

sampai meniadakan imanensi-Nya. Bagi deisme, Allah hanya hadir 

dengan kuasa-Nya saat  menciptakan alam semesta. Allah telah 

membekali ciptaan-Nya dengan hukum-hukum yang tidak mungkin 

berubah atas mana Allah melakukan pengawasan ala kadarnya; Ia 

telah memberikan makhluk ciptaan-Nya kemampuan-kemampuan 

tertentu, menempatkan mereka di bawah hukum-hukum-Nya yang 

tak mungkin berubah, lalu membiarkan mereka berusaha untuk me­

nentukan nasibnya sendiri. Deisme tidak percaya akan adanya pe­

nyataan khusus, mukjizat, dan pemeliharaan ilahi. Deisme menan- 

Teisme62

daskan bahwa semua kebenaran tentang Allah dapat 

ditemukan oleh akal dan bahwa Alkitab hanyalah kitab yang berisi 

prinsip-prinsip agama alami yang dapat diketahui dari alam.

Orang Kristen menolak deisme karena ia percaya bahwa kita me­

miliki penyataan khusus tentang Allah di dalam Alkitab; bahwa 

Allah hadir di alam semesta ini dalam pribadi maupun kuasa-Nya; 

bahwa Allah secara terus-menerus mengatur pemeliharaan seluruh 

hasil karya ciptaan-Nya; bahwa Allah menjawab doa; dan bahwa 

kaum deis memperoleh sebagian besar dogma religius mereka dari 

Alkitab dan bukan dari alam dan akal semata. Orang Kristen ber­

anggapan bahwa Allah deistis yang absen tidaklah lebih baik dari­

pada tidak ada Allah samasekali.

BAGIAN II 

BIBLIOLOGI

(AJARAN TENTANG ALKITAB)

Setelah menunjukkan bahwa Tuhan telah menyatakan diri-Nya dan 

setelah membuktikan bahwa Dia itu memang ada berdasarkan 

banyak bukti yang telah diajukan, maka kita kini ingin mengetahui 

bagaimana dan di mana kita bisa mendapatkan lebih banyak kete­

rangan tentang Dia. Dengan kata lain, kita ingin mengetahui sum­

ber-sumber teologi, informasi yang akurat dan tidak-mungkin-salah 

tentang Dia serta hubungan-Nya dengan alam semesta ini. Ada 

empat arah yang telah dipakai manusia dalam rangka mencari sum­

ber-sumber teologi ini : akal, wawasan mistis, Alkitab, dan 

gereja. Dalam pasal-pasal terdahulu telah kami tunjukkan tempat 

yang sah beserta segenap keterbatasan dari akal dan 

wawasan mistis. Kini kita tinggal melihat apakah Tuhan telah mem­

berikan wewenang kepada gereja atau kepada Alkitab sebagai sum­

ber teologi yang benar.

Ajaran Katolik Roma sudah lama beranggapan bahwa Tuhan te­

lah memberikan kepada gereja wewenang untuk mengajarkan kebe­

naran yang mutlak dan tidak-mungkin-salah. Dikatakan bahwa 

Tuhan telah menyampaikan semua penyataan-Nya kepada gereja 

ini , penyataan dalam bentuk yang tertulis maupun yang tidak 

tertulis, dan bahwa kehadiran serta bimbingan Roh Kudus senan­

tiasa menaungi gereja ini sehingga melindunginya dari kesalahan 

dalam pengarahan dan pembinaan iman. Sifat tidak-mungkin-salah 

ini menjangkau sampai ke masalah-masalah iman dan moral serta 

segala hal yang oleh gereja dinyatakan sebagai bagian dari penyata­

an Tuhan. Menurut pandangan ini, gereja Katolik Roma merupakan 

satu-satunya gereja yang benar. saat  para uskup bersidang, maka 

secara kolektif mereka itu tidak-mungkin-salah; dan pada saat Sri

63

64 Bibliologi

Paus yang merupakan uskup Roma, berbicara ex cathedra (dalam 

fungsinya sebagai wakil Petrus), maka Paus merupakan alat Roh 

Kudus dan beliau menyatakan keputusan gereja yang tidak- 

mungkin-salah.

Akan namun , Tuhan tidak pernah memberikan wewenang yang 

begitu besar kepada organisasi lahiriah mana pun juga. Memang 

ada manfaatnya bila dalam memutuskan suatu masalah doktrin yang 

pelik kita berkonsultasi dengan umat Allah yang benar, karena ge­

reja merupakan "tiang penopang dan dasar kebenaran" (I Timotius 

3:15); namun  ayat ini menunjuk kepada tubuh Kristus yang tidak 

kelihatan, bukan kepada organisasi gereja yang lahiriah. Tuhan tidak 

hadir dalam suatu organisasi lahiriah, namun  di dalam hati setiap 

orang percaya yang sejati. Bimbingan secara bertahap ke dalam ke­

benaran yang dijanjikan dalam Yohanes 16:12 dan seterusnya ha­

nyalah berlaku bagi orang-orang yang kepadanya bimbingan itu di­

janjikan, kecuali untuk memungkinkan orang-orang percaya 

mengerti hal-hal yang telah dikaruniakan Tuhan kepada 

mereka (I Korintus 2:12), maksudnya, hal-hal yang tercatat dalam 

Alkitab. Setiap anak Tuhan sejati memiliki berkat pelayanan pen­

cerahan Roh Kudus yang memungkinkan dia memahami Alkitab; 

dan karunia ini tidak diberikan kepada organisasi lahiriah mana pun 

juga.

Alkitab hendaknya diterima sebagai sumber teologi yang paling 

menentukan. Gereja yang benar sepanjang sejarahnya senantiasa 

memandang Alkitab sebagai wujud penyataan ilahi dan bahwa pen­

catatan penyataan yang ada  di dalamnya itu asli, dapat diper­

caya, berkenaan dengan kanon, diilhami secara adikodrati. Biblio­

logi memeriksa Alkitab untuk melihat apakah kepercayaan ini  

benar atau tidak.

Alkitab: Perwujudan Penyataan 

Ilahi

Kemungkinan dikerjakannya sebuah teologi bertolak dari kenyataan 

bahwa Allah telah menyatakan diri-Nya serta kemampuan alamiah 

yang dimiliki oleh manusia. Unsur yang kedua untuk sementara ini 

telah dibahas secara cukup meluas dan mendalam, namun  unsur yang 

pertama perlu diuraikan dengan lebih lengkap. Pendapat orang Kris­

ten senantiasa mempertahankan keyakinan bahwa penyataan Allah 

memiliki wujud yang tertulis, dan Alkitab merupakan wujud tertulis 

penyataan Allah ini . Dengan demikian Alkitab merupakan 

sumber terpenting teologi Kristen. Apa bukti-bukti nyata bagi ke­

percayaan ini?

I. ALASAN APRIORI

Sesungguhnya, alasan ini yaitu  alasan yang bergerak dari sesuatu 

yang ada lebih dahulu menuju kepada sesuatu yang ada kemudian. 

Bila dikaitkan dengan pembahasan kita saat ini, maka alasan apriori 

ini dapat diungkapkan sebagai berikut: manusia sebagaimana ada­

nya dan Tuhan sebagaimana adanya memungkinkan kita mengha­

rapkan sebuah penyataan dari Allah serta wujud tertulis dari bagian- 

bagian penyataan ini  yang cukup memadai untuk dijadikan 

sumber kebenaran teologi yang dapat dipercaya dan tidak-mungkin- 

salah. Bagian-bagian dari alasan ini akan kita selidiki secara lebih 

terinci. Manusia bukan saja telah berbuat dosa dan telah dijatuhi 

hukuman kematian abadi, namun  manusia juga mempunyai kecen­

derungan untuk menjauh dari Allah, mengabaikan maksud-maksud 

serta cara-cara penyelamatan Tuhan, dan tidak mampu kembali

65

66 Bibliologi

kepada Allah dengan kekuatannya sendiri. Manusia, dengan kata 

lain, berada dalam keadaan yang sangat parah yang tidak terlalu 

disadarinya. Manusia juga tidak tahu apakah ia dapat diselamatkan 

dari keadaan ini , dan bila ia dapat diselamatkan manusia juga 

tidak tahu bagaimana caranya ia dapat diselamatkan. Penyataan- 

penyataan Allah yang umum maupun khusus yang tidak tertulis 

tidaklah menjawab persoalan ini. Dengan demikian jelaslah, manu­

sia memerlukan petunjuk-petunjuk yang tidak-mungkin-salah me­

ngenai masalah yang paling penting dalam hidup ini, yaitu kesejah­

teraan kekal.

Sebagai perbandingan atas kebutuhan manusia yang demikian be­

sar, kita mengenal sifat-sifat dan perangai Allah yang memungkin­

kan kebutuhan itu dipenuhi. Allah orang Kristen itu mahatahu, ku­

dus, penuh kasih dan kemurahan, serta mahakuasa. Karena Allah 

orang Kristen itu mahatahu, maka Allah mengetahui segala sesuatu 

tentang kebutuhan manusia; karena Ia kudus, maka Ia tidak dapat 

memaafkan dosa manusia secara sembarangan saja serta bersekutu 

dengan manusia yang berdosa; karena Ia itu pengasih dan pemurah, 

maka Ia dapat saja tergerak hati-Nya untuk mencari serta member­

lakukan sebuah rencana keselamatan. Karena Allah orang Kristen 

itu mahakuasa, maka Ia bukan saja mampu menyatakan diri-Nya, 

namun  Ia pasti juga mampu menyuruh ditulisnya semua penyataan 

diri-Nya yang diperlukan untuk mengalami keselamatan.

Kami mengakui bahwa alasan ini tidak dapat memberikan ke­

yakinan yang lebih mendalam selain daripada keyakinan bahwa 

mungkin sekali Alkitab merupakan wujud penyataan ilahi. Karena 

sekalipun Allah yaitu  kasih dan kasih ini  digunakan dalam 

ke-Allahan, terlepas dari suatu penyataan yang jelas dengan tujuan 

itu kita tidak bisa mengetahui apakah Allah yang kasih itu juga 

mengasihi orang berdosa. Kita tidak boleh menjadikan kasih Allah 

itu sebagai sikap yang tak dapat tidak hams diambil Allah terhadap 

orang berdosa, sebab bila demikian maka kasih bukan lagi kasih, 

kemurahan bukan lagi kemurahan, dan kasih karunia bukan lagi 

kasih karunia. Unsur kesukarelaan hams tetap terpelihara di dalam 

ketiganya itu, karena manusia sudah kehilangan semua hak untuk 

memperoleh kasih, kemurahan, serta kasih karunia Allah. Namun 

alasan ini masih berharga karena dapat membangkitkan harapan 

Alkitab: Perwujudan Penyataan Ilahi 67

bahwa Allah berkenan memenuhi kebutuhan manusia yang paling 

mendesak dan penting,

II. ALASAN BERDASARKAN ANALOGI

Alasan ini terbit dari persesuaian yang ada antara perbandingan atau 

hubungan antara berbagai hal. Alasan ini menguatkan alasan yang 

pertama karena lebih menegaskan kemungkinan bahwa Alkitab me­

rupakan wujud penyataan Allah yang tertulis. Alasan ini dapat di­

ungkapkan dalam dua bagian. Pertama, begitu kita memasuki dunia 

di mana komunikasi dibutuhkan antara pribadi-pribadi yang me­

miliki inteligensi tertentu, kita pasti menjumpai adanya ungkapan 

langsung, semacam "penyataan". Bahkan hewan menunjukkan (me­

nyingkapkan) perasaan mereka lewat suara mereka. Dan di setiap 

bagian masyarakat ada  semacam percakapan. ada  komu­

nikasi langsung antara pribadi yang satu dengan pribadi yang lain, 

ungkapan isi hati dan perasaan yang ada senantiasa, disajikan se­

demikian rupa sehingga dapat dipahami dengan jelas. Karena itu, 

tidak mungkin dilancarkan keberatan yang kuat terhadap mungkin­

nya sebuah penyataan yang jelas dan benar, yang semata-mata ber­

tolak dari analogi alam saja. Sekalipun alasan ini tidak dapat mem­

buktikan bahwa penyataan Allah itu akan mewujudkan diri dalam 

bentuk sebuah kitab, namun alasan ini dapat dipakai sebagai pe­

nyumbang bukti ke arah keyakinan semacam itu.

Kedua, di alam ini ada  tanda-tanda kebaikan yang menyem­

buhkan, dan dalam kehidupan setiap pribadi serta bangsa ada  

bukti adanya kesabaran dalam urusan-urusan pemeliharaan sehingga 

merupakan landasan bagi timbulnya pengharapan. Kita melihat pe­

nyembuhan anggota badan, pengobatan penyakit, serta penundaan 

penghukuman untuk sementara waktu. Semua ini menyediakan lan­

dasan kuat untuk berpikir bahwa Allah alam ini yaitu  Allah yang 

panjang sabar dan penuh kemurahan (Kisah Para Rasul 14:15-17).

Alasan ini telah membawa kita sedikit lebih jauh daripada alasan 

apriori. Alasan yang pertama tadi telah membuat kita sekadar ber­

harap bahwa Allah mungkin berkenan menolong manusia yang 

telah jatuh di dalam dosa; alasan yang kedua membuktikan bahwa 

Allah benar-benar membantu makhluk ciptaan-Nya yang memer­

lukan pertolongan. Hal ini dilakukan dengan menunjukkan bahwa 

68 Bibliologi

Allah telah menyediakan berbagai sarana untuk menyembuhkan ba­

nyak penyakit yang diderita oleh hewan dan tanaman, serta menun­

jukkan bahwa Allah pada umumnya bersikap ramah dan panjang 

sabar terhadap umat manusia pada umumnya. namun  sekali lagi, 

hanya secara sangat umum saja kita dapat menarik kesimpulan dari 

alasan ini bahwa Ia berkenan mewujudkan rencana serta janji-janji- 

Nya secara tertulis.

III. ALASAN BERDASARKAN KENYATAAN 

BAHWA ALKITAB

TIDAK BISA DIMUSNAHKAN

Bila kita ingat bahwa hanya sedikit sekali buku yang bertahan lebih 

lama dari seperempat abad, bahwa jumlah yang lebih sedikit lagi 

bisa bertahan selama satu abad, dan bahwa hanya jumlah yang amat 

sangat sedikit bisa bertahan selama seribu tahun, maka kita langsung 

sadar bahwa Alkitab merupakan sebuah kitab yang sangat unik. Di 

samping itu, bila kita mengingat situasi-situasi di bawah mana 

Alkitab telah bertahan selama ini maka kenyataan akan uniknya 

Alkitab pastilah sangat mengejutkan. Selanjutnya, "Bukan saja Alki­

tab lebih dimuliakan dan dicintai daripada buku lain mana pun juga, 

namun  Alkitab juga merupakan kitab yang paling banyak menjadi 

sasaran penganiayaan dan perlawanan."

Dalam kesempatan ini kita hanya dapat menyebutkan beberapa 

usaha yang telah diupayakan untuk menumpas dan membinasakan 

Alkitab atau bila usaha ini  tidak berhasil, mencomot wibawa 

ilahi yang dimiliki Alkitab. Para raja Romawi segera sadar bahwa 

orang-orang Kristen melandaskan kepercayaan mereka pada 

Alkitab. Oleh karenanya, mereka berusaha untuk menumpas atau 

memusnahkan Alkitab. Melalui sebuah dekrit pada tahun 303 TM, 

Kaisar Diocletianus menuntut agar setiap jilid Alkitab dibakar. Ia 

membunuh begitu banyak orang Kristen dan menghancurkan begitu 

banyak Alkitab sehingga ia merasa telah berhasil memusnahkan 

Alkitab secara tuntas saat  orang-orang Kristen bersembunyi dan 

tidak memperlihatkan kegiatan selama beberapa waktu. Diocletia­

nus menyuruh membuat sebuah medali yang bertuliskan, "Agama

15 Bancroft, Christian Theology, hal. 360.

Alkitab: Perwujudan Penyataan Ilahi 69

Kristen telah musnah dan penyembahan para dewa telah dipulih­

kan." Akan namun , hanya beberapa tahun kemudian Constantinus 

naik takhta dan mengumumkan agama Kristen sebagai agama 

negara.

Sepanjang Abad Pertengahan, para cendekiawan menempatkan 

pengakuan iman di atas Alkitab. Sekalipun sebagian besar di antara 

mereka saat  itu masih berusaha menopang pengakuan itu dengan 

ayat-ayat Alkitab, secara bertahap tradisi menjadi makin kuat. 

Gereja-negara mengambil alih kuasa untuk menafsirkan Alkitab, se­

hingga penelaahan Alkitab oleh kaum awam dibatasi dan dicurigai, 

dan bahkan tidak jarang dilarang pula.

Pada masa Reformasi, yaitu saat  Alkitab diterjemahkan ke da­

lam bahasa yang dapat dipahami umum, gereja yang resmi mem­

batasi secara ketat pembacaan Alkitab dengan alasan bahwa kaum 

awam tidak mampu mengartikan isi Alkitab. Orang awam tidak 

diizinkan membaca dan menafsirkan isi Alkitab itu sendiri. Banyak 

orang yang harus berkorban jiwa karena mereka merupakan peng­

ikut Kristus yang percaya pada Alkitab. Bahkan pada masa itu di­

buat hukum-hukum tertentu yang melarang penerbitan Alkitab.

Menarik untuk dicamkan bahwa dalam hubungan dengan ini Vol­

taire, kafir Perancis yang tersohor itu, meramalkan bahwa dalam 

kurun waktu seratus tahun lagi sejak zamannya tidak akan ada ke­

kristenan lagi di atas muka bumi ini.

Baik keputusan negara Romawi maupun peraturan-peraturan 

kegerejaan tidak pernah berhasil memusnahkan Alkitab. Makin 

keras usaha memusnahkan Alkitab makin luas pula Alkitab itu ter­

sebar. Usaha terakhir untuk menghilangkan wibawa Alkitab ialah 

usaha untuk menurunkan wibawa Alkitab menjadi sejajar dengan 

kitab-kitab keagamaan kuno lainnya. Bila Alkitab tetap akan di­

sebarkan, maka wibawa adikodratinya harus ditiadakan lebih dulu. 

Namun Alkitab tetap saja menunjukkan wibawa adikodratinya, dan 

dewasa ini dibaca oleh berjuta-juta orang Kristen di seluruh dunia 

serta diterjemahkan ke dalam beratus-ratus bahasa. Kenyataan bah­

wa Alkitab tidak dapat dimusnahkan menandaskan bahwa Alkitab 

merupakan wujud suatu penyataan ilahi.

70 Bibliologi

IV. ALASAN BERDASARKAN SIFAT ALKITAB

Pada saat kita merenungkan sifat Alkitab, maka mau tidak mau kita 

mengakui adanya satu kesimpulan saja: Alkitab merupakan wujud 

penyataan ilahi. Pertama-tama, perhatikanlah isi Alkitab. Alkitab 

mengakui kepribadian, kesatuan, dan ketritunggalan Allah; Alkitab 

mengagungkan kekudusan dan kasih Allah; Alkitab mengisahkan 

bahwa manusia yaitu  ciptaan Allah, yang diciptakan menurut gam- 

bar-Nya. Alkitab menggambarkan kejatuhan manusia sebagai suatu 

pemberontakan yang sadar terhadap kehendak Allah yang sudah 

dinyatakan kepadanya. Dosa digambarkannya sebagai sesuatu yang 

tidak dapat diampuni dan telah dijatuhi hukuman kekal. Alkitab 

mengajarkan pemerintahan Allah yang berdaulat penuh atas alam 

semesta ini serta menunjukkan secara sangat terinci bagaimana 

Allah telah menyediakan keselamatan serta memberi tahu syarat- 

syarat untuk memperoleh keselamatan itu. Alkitab menunjukkan 

rencana Allah bagi Israel dan gereja; juga menubuatkan masa depan 

dunia secara sosial, ekonomi, politik, dan religius. Alkitab meng­

gambarkan puncak segala sesuatu dalam kedatangan Kristus yang 

kedua kalinya, peristiwa-peristiwa kebangkitan, penghakiman, kera- 

jaan seribu tahun, dan masa kekekalan. Pastilah kitab semacam ini 

hanya bisa berasal dari Allah yang mahakuasa.

Kedua, perhatikanlah kesatuan amanat Alkitab. Sekalipun Alki­

tab ditulis oleh sekitar empat puluh penulis berbeda selama rentang 

waktu sekitar 1.600 tahun, amanatnya satu. Alkitab mempunyai satu 

sistem doktrinal, satu tolok ukur moral, satu rencana keselamatan, 

satu program untuk segala zaman. Kadang-kadang diketengahkan 

beberapa kisah tentang satu peristiwa atau ajaran tertentu, namun 

kisah-kisah itu tidak saling bertentangan, namun  justru saling me­

lengkapi. Misalnya, sudahlah pasti bahwa tulisan di atas salib Kris­

tus berbunyi sebagai berikut, "Inilah Yesus orang Nazaret Raja 

orang Yahudi." Matius menuliskannya sebagai berikut, "Inilah Ye­

sus Raja orang Yahudi" (27:37). Markus menulisnya, "Raja orang 

Yahudi" (15:26); Lukas, "Inilah raja orang Yahudi" (23:38); se­

dangkan Yohanes, "Yesus, orang Nazaret, Raja orang Yahudi" 

(19:19). Taurat dan kasih karunia ternyata saling melengkapi bila 

sifat dan maksudnya dipahami dengan benar. Kisah orang-orang 

dan bangsa-bangsa yang jahat samasekali tidak mengganggu dan 

Alkitab: Perwujudan Penyataan Ilahi 71

bahkan berguna jika kita mencamkan bahwa kisah itu dicatat untuk 

dikutuk. Ajaran tentang Roh Kudus disajikan secara bertahap ber- 

padan dengan penyingkapan kebenaran ini. Alkitab merupakan 

suatu kesatuan utuh yang mengagumkan.

Dengan mempertimbangkan isi dan kesatuan Alkitab kita mau 

tidak mau harus menyimpulkan bahwa Alkitab merupakan wujud 

penyataan ilahi. Siapakah yang sanggup menciptakan pandangan 

dunia dan pandangan hidup semacam itu? Penulis siapakah yang 

dapat menguraikan pandangan itu dengan demikian konsisten dan 

berkesinambungan sepanjang kurun waktu yang demikian lama? 

Pache mengatakan, "Hanya Tuhan yang dapat mengerti dalam se­

kejap tujuan dan akhir alam semesta karena bagi-Nya waktu tidak 

berarti. Dari kekal sampai kekal Dialah Allah (Mazmur 90:2). Boleh 

dikatakan bahwa dengan sesaat  Allah dapat melihat masa keke­

kalan sebelum kita dan masa kekekalan sesudah kita. Hanya Allah, 

yaitu Dia yang mengilhami seluruh Alkitab, dapat memberikan ke­

satuan pandangan yang dimiliki oleh Alkitab."16

V. ALASAN BERDASARKAN PENGARUH 

ALKITAB

Banyak sekali buku-buku terkenal yang telah sangat mempengaruhi 

kehidupan di atas muka bumi ini. Akan namun , pengaruh buku-buku 

ini  sangat berbeda dengan pengaruh yang dimiliki oleh Alkitab. 

Buku-buku itu telah menimbulkan pandangan yang rendah 

tentang Allah dan dosa, dan bahkan menyebabkan orang tidak 

mengakui adanya dosa. Hasilnya yaitu  sikap acuh tak acuh ter­

hadap kehidupan dan pandangan yang berkaitan dengan akhlak dan 

perilaku. Sebaliknya, Alkitab telah mempengaruhi terciptanya 

karya-karya yang sangat indah dalam bidang kesenian, arsitektur, 

kesusasteraan, dan musik. Pengaruhnya sangat besar dalam pem­

buatan undang-undang dasar berbagai negara dan dalam banyak 

pembaharuan sosial yang besar. Di mana ada kitab yang mempunyai 

pengaruh semacam itu? Jelas, hal ini merupakan bukti bahwa Al­

kitab merupakan penyataan Allah kepada umat manusia yang me­

merlukan pertolongan. Selain itu, pengaruh Alkitab telah meng­

ubah dan membaharui kehidupan berjuta-juta orang. 16

16 Pache, The Inspiration and Authority of Scripture, hal. 112.

72 Bibliologi

VI. ALASAN BERDASARKAN NUBUAT YANG 

DIGENAPI

Alasan ini nampaknya dapat dimasukkan dalam alasan yang keem­

pat tadi, namun  karena memiliki keunikan tersendiri maka alasan ini 

dibahas secara tersendiri. Kenyataan nubuat telah kita bahas dalam 

Pasal II. Dalam kesempatan kali ini kita menelitinya untuk mem­

buktikan bahwa Alkitab yaitu  wujud penyataan ilahi. Hanya Allah 

yang mampu menyingkapkan masa depan, sedangkan nubuat ten­

tang masa depan merupakan mukjizat pengetahuan. Nubuat yang 

digenapi menunjukkan bahwa para penulis nubuat-nubuat dalam 

Alkitab memiliki sejenis pengetahuan yang bersifat adikodrati. 

Rasul Petrus berbicara tentang kenyataan ini saat  menyatakan 

bahwa nabi-nabi Perjanjian Lama "oleh dorongan Roh Kudus ... 

berbicara atas nama Allah" (II Petrus 1:21). Bila kita bisa menun­

jukkan bahwa nubuat-nubuat Perjanjian Lama telah digenapi secara 

terinci, maka dengan sendirinya kita telah membuktikan peranan 

penyataan ilahi. Mari kita melihat beberapa nubuat.

Nubuat-nubuat tentang terseraknya Israel ke berbagai penjuru 

bumi telah digenapi seluruhnya (Ulangan 28:15-68; Yeremia 15:4; 

16:13; Hosea 3:4). saat  nubuat itu digenapi, Samaria akan di­

gulingkan, sedangkan Yehuda akan terpelihara (I Raja-Raja 14:15; 

Yesaya 7:6-8; Hosea 1:6-7); Yehuda dan Yerusalem, sekalipun di­

selamatkan dari bangsa A syur, kemudian akan jatuh ke tangan 

orang-orang Babilonia (Yesaya 39:6; Yeremia 25:9-12). Samaria 

akan dibinasakan sampai selama-lamanya (Mikha 1:6-9), sedangkan 

kehancuran Yerusalem akan diikuti oleh pemugaran (Yeremia 

29:10-14). Nama orang yang akan memugar Yehuda disebut dalam 

nubuat (Yesaya 44:28; 45:1); orang-orang Media dan Persia akan 

mengalahkan Babilonia (Yesaya 21:2; Daniel 5:28); Yerusalem be­

serta dengan bait sucinya akan dibangun kembali (Yesaya 44:28).

Demikian pula nubuat-nubuat tentang bangsa-bangsa kafir telah 

digenapi. Nubuat tentang Babilonia, Tirus, Mesir, Amon, Moab, 

Edom, dan Filistin telah digenapi semuanya (Yesaya 13-23; Yere­

mia 46-51). Secara khusus, nubuat-nubuat tentang empat kerajaan 

dunia yang besar dalam Daniel 2 dan Daniel 7 telah digenapi. Be­

berapa bagian dari nubuat mengenai kerajaan yang keempat jelas 

akan digenapi di masa yang akan datang dan membawa kita kepada 

Alkitab: Perwujudan Penyataan Ilahi 73

kedatangan Kristus yang kedua kalinya, namun semua bagian lain 

tentang keempat kerajaan besar ini telah digenapi. Demikian pula 

nubuat tentang perjuangan sengit antara Siria dengan Mesir, yang 

timbul setelah wafatnya Aleksander Agung, semuanya telah dige­

napi. Demikian terincinya persesuaian antara nubuat dalam Daniel 

11 dengan kenyataan sejarah yang diacunya sehingga golongan 

yang menentang hal-hal adikodrati dengan tegas mengatakan bahwa 

Daniel 11 merupakan sejarah dan bukan nubuat. Atas dasar asumsi 

ini mereka menetapkan tanggal penulisan kitab Daniel pada sekitar 

168-165 SM. Bagaimanapun juga, mereka yang percaya akan pe­

nyataan adikodrati dari Allah masih terus mempertahankan penda­

pat bahwa dalam Daniel 11 ini kita memiliki bukti yang sangat kuat 

bahwa Alkitab yaitu  wujud kemahatahuan ilahi dan bukan catatan 

tentang sejarah yang sudah lampau dan dicatat dengan tujuan peni­

puan yang bersifat religius.

Masih banyak lagi nubuat-nubuat lain dalam Alkitab yang dapat 

disebut sebagai bukti dari hal yang sama. Misalnya, nubuat tentang 

bertambahnya pengetahuan dan lalu lintas di kemudian hari (Daniel 

12:4), lanjutan perang dan berita-berita tentang perang (Matius 

24:6-7), meningkatnya kejahatan (II Timotius 3:1-13), dipeliharanya 

sisa kaum Israel (Roma 11:1-5, 25-32), dibangkitkannya kembali 

tulang-tulang kering ini dan pemulihan hidup nasional dan rohani 

(Yehezkiel 37:1-28). Siapa yang mampu meramalkan dan melihat 

hal-hal ini jauh sebelum semua peristiwa itu sendiri terjadi? Semua 

ini membuktikan lagi bahwa Alkitab yaitu  wujud penyataan ilahi.

VII. TUNTUTAN ALKITAB SENDIRI

Alkitab tidak hanya menegaskan bahwa dirinya merupakan penya­

taan dari Allah, namun  juga bahwa dirinya merupakan rekaman yang 

mutlak sempurna dari penyataan ilahi itu. Sifat tidak mungkin salah 

dari Alkitab ini akan kita bahas kemudian. Sekarang kita akan 

membahas apa yang dikatakan Alkitab sendiri tentang amanatnya 

sebagai penyataan Allah. Namun, pada awal pembahasan ini kita 

berhadapan dengan keberatan bahwa membuktikan Alkitab sebagai 

penyataan Allah tidak mungkin dilakukan dengan cara mengutip 

kesaksian dari Alkitab itu sendiri. Akan namun , bila kita dapat mem­

buktikan keaslian kitab-kitab dalam Alkitab serta kebenaran dari 

74 Bibliologi

apa yang dilaporkannya tentang pokok-pokok lain, maka kita di­

benarkan juga saat  menerima kesaksian Alkitab tentang dirinya 

sendiri. Jika kita telah memeriksa surat kepercayaan seorang duta 

besar dan telah yakin bahwa pemberian kekuasaannya itu absah 

maka kita dapat menerima juga pernyatannya mengenai sifat ke­

kuasaannya dan sumber informasinya.

Dalam Pentateukh kita sering menemukan kalimat yang berbu­

nyi, "Berfirmanlah Tuhan kepada Musa, demikian ..." (Keluaran 

14:1; Imamat 4:1; Bilangan 4:1; Ulangan 32:48). Tuhan telah 

menugaskan Musa untuk menulis apa yang difirmankan Tuhan 

kepadanya dalam sebuah kitab (Keluaran 17:14; 34:27), dan tugas 

itu pun dilaksanakannya (Keluaran 24:4; 34:28; Bilangan 33:2; 

Ulangan 31:9, 22, 24). Para nabi pun mengatakan, "Sebab Tuhan 

berfirman ..." (Yesaya 1:2); "Berfirmanlah Tuhan kepada Yesaya" 

(Yesaya 7:3); "Beginilah firman Tuhan" (Yesaya 43:1); "Firman 

yang datang kepada Yeremia dari Tuhan, bunyinya ..." (Yeremia 

11:1); "Datanglah firman Tuhan kepada Yehezkiel" (Yehezkiel 1:3); 

"Firman Tuhan yang datang kepada Hosea" (Hosea 1:1); "Firman 

Tuhan yang datang kepada Yoel" (Yoel 1:1). Telah ditegaskan 

bahwa di dalam Perjanjian Lama ada  lebih dari 3.800 kalimat 

semacam itu. Jadi, jelaslah Perjanjian Lama menegaskan bahwa 

dirinya yaitu  penyataan Allah.

Para penulis Perjanjian Baru juga menyatakan bahwa mereka 

mengumumkan amanat Tuhan. Paulus menegaskan bahwa apa yang 

ditulisnya itu merupakan perintah Tuhan sendiri (I Korintus 14:37); 

bahwa apa yang dikhotbahkannya itu hendaknya diterima sebagai 

Firman Allah sendiri (I Tesalonika 2:13); bahwa keselamatan ma­

nusia tergantung pada iman terhadap ajaran yang diajarkannya (Ga­

latia 1:8). Yohanes mengajarkan bahwa kesaksiannya yaitu  kesak­

sian Allah (I Yohanes 5:10). Peter menghendaki agar para pembaca 

suratnya "mengingat akan perkataan yang dahulu telah diucapkan 

oleh nabi-nabi kudus dan mengingat akan perintah Tuhan dan Juru­

selamat yang telah disampaikan oleh rasul-rasul kepadamu" (II Pe­

trus 3:2). Sedangkan penulis kitab Ibrani bernubuat bahwa suatu 

penghakiman yang lebih hebat akan dialami oleh mereka yang me­

nolak firman yang telah disampaikan kepadanya oleh mereka yang 

telah mendengar Kristus, lebih hebat daripada hukuman yang me­

nimpa mereka yang melanggar hukum Musa (Ibrani 2:1-4).

Alkitab: Perwujudan Penyataan Ilahi 75

Kekuatan bukti-bukti yang telah disajikan ini bersifat kumulatif. 

Bila semua alasan ini dilihat secara terpisah, maka mungkin saja 

alasan-alasan itu tidak meyakinkan; namun bila kita mengizinkan 

setiap alasan itu menyumbangkan sedikit kebenarannya maka pas­

tilah kita dipaksa untuk menarik kesimpulan bahwa Alkitab me­

rupakan wujud penyataan ilahi. Dan dengan menerima gagasan ini, 

kita telah memiliki latar belakang yang perlu untuk memahami po­

kok-pokok bahasan Bibliologi selanjutnya.

VI 

Keaslian, Kredibilitas, dan 

Kanonitas

Kitab-Kitab Dalam Alkitab

Bila kita telah menerima kenyataan bahwa Alkitab kita merupakan 

wujud penyataan ilahi, maka dengan segera kita menjadi tertarik 

untuk mengetahui sifat dokumen-dokumen yang berisi penyataan 

ini . Kita ingin mengetahui apakah berbagai kitab itu asli, dapat 

dipercaya, kanonik. Pokok itulah yang akan kita bahas sekarang ini.

L KEASLIAN KITAB-KITAB DALAM ALKITAB

Yang dimaksudkan dengan keaslian dalam hal ini ialah bahwa se­

buah kitab memang ditulis oleh penulis atau para penulis yang 

namanya dipakai untuk kitab ini . Bila kitab itu sendiri tidak 

mencantumkan nama penulisnya, ia ditulis oleh orang atau beberapa 

orang yang disebutkan dalam tradisi kuno, atau bila tidak demikian 

maka yang diutamakan ialah saat penulisan yang disebutkan oleh 

tradisi. Kitab itu dikatakan tidak asli lagi kalau tidak ditulis pada 

waktu yang disebutkan atau oleh penulis yang diakui oleh buku itu 

sendiri. Sebuah kitab disebut otentik bila mengisahkan fakta-fakta 

sesuai dengan apa yang terjadi. Kitab itu dikatakan tidak otentik 

lagi bila naskahnya telah mengalami perubahan dalam cara apa pun 

juga.

Bahwa kitab-kitab dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru 

itu otentik dan asli dapat ditunjukkan dengan cara berikut.

77

78 Bibliologi

A. KEASLIAN KITAB-KITAB PERJANJIAN LAMA

Untuk suatu penjelasan yang lengkap tentang bukti-bukti ke­

aslian kitab-kitab Perjanjian Lama pembaca kami persilakan 

mengacu sendiri pada buku-buku Pengantar Perjanjian Lama khu­

susnya buku-buku dalam bahasa Inggris yang sudah merupakan 

standar. Dalam kesempatan ini bukti-bukti ini  hanya dapat 

kami bahas secara umum saja. Kitab-kitab dalam Perjanjian Lama 

akan kami bahas menurut tiga kelompok besarnya, yaitu: Taurat, 

kitab para Nabi, dan Kethubhim.

1. Keaslian kitab-kitab Taurat. Menurut ilmu kritik sastera mo­

dem, penulis kelima kitab Taurat itu bukanlah Musa. Hipotesis ber­

bagai dokumen yang dianut banyak sarjana membagi naskah kitab- 

kitab Taurat menjadi hasil penulisan kalang