Tampilkan postingan dengan label teologi sistematik 4. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label teologi sistematik 4. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Juli 2026

teologi sistematik 4

 


an Yahwis, Elohis, 

Deuteronomis, dan Keimaman, dengan banyak penulis.17 Dalam ke­

sempatan ini, kita hanya dapat menunjukkan bukti-bukti kepenu- 

lisan Musa secara singkat. Pertama, diketahui secara umum bahwa 

sejumlah besar orang yang hidup pada zaman Hamurabi dapat mem­

baca dan menulis; bahwa silsilah sudah dikenal di Babilonia bebe­

rapa abad sebelum masa hidup Abraham; bahwa Abraham mungkin 

saja membawa lembaran-lembaran tulisan kuno yang berisi silsilah 

semacam itu saat  pindah dari Haran ke Kanaan; dan bahwa de­

ngan cara demikian dapat saja Musa memiliki suatu silsilah tertentu. 

Apakah Musa memang mempunyai silsilah semacam itu atau tidak, 

ataukah karena Musa hanya memiliki tradisi lisan saja, ataukah 

Musa hanya memperoleh penyataan langsung dari Allah, atau kom­

binasi dari semua faktor ini , sarjana-sarjana teologi yang kon­

servatif senantiasa berkeyakinan bahwa Musalah yang menulis kitab 

Kejadian.

17 Untuk pernyataan rangkuman, evaluasi, serta penolakan pendapat ini, lihat Allis, 

The Five Books of Moses; Archer, A Survey of Old Testament Introduction, hal. 

73-154; dan Harrison, Introduction to the Old Testament, hal. 495-541.

Selanjutnya, dalam keempat kitab Pentateukh yang lain, Musa 

berkali-kali disebut sebagai penulis isi kitab-kitab itu. Ia ditugaskan 

untuk menulis (Keluaran 17:14; 34:27), dan tercatat bahwa Musa 

memang menuliskannya (Keluaran 24:4; 34:28; Bilangan 33:2; 

Ulangan 31:9, 24). Apa yang ditulis Musa dianggap sebagai "per­

kataan hukum Taurat yang tertulis dalam kitab ini" (Ulangan 28:58), 

Keaslian, Kredibilitas, dan Kanonitas 79

"kitab Taurat ini" (Ulangan 28:61; 30.T0; 31:26), "kitab ini" (Ulang­

an 29:20, 27), "kitab hukum Taurat ini" (Ulangan 29:21), dan "per­

kataan hukum Taurat" (Ulangan 31:24). Tambahan pula, tiga belas 

kali di dalam kitab-kitab lainnya di Perjanjian Lama Musa disebut 

sebagai penulis sebuah kitab. Kitab itu disebut "kitab hukum Musa" 

atau "kitab Taurat Musa" (Yosua 8:31; 23:6; II Raja-Raja 14:6), 

"hukum Musa" atau 'Taurat Musa" (I Raja-Raja 2:3; II Tawarikh 

23:18; Daniel 9:11), dan "kitab Musa" (Nehemia 13:1).

Dalam Perjanjian baru Tuhan Yesus Kristus sering kali berbicara 

tentang "Musa" sebagai sebuah kitab (Lukas 16:29; 24:27, banding­

kan dengan Yohanes 7:19). Tuhan Yesus juga menyebutkan ber­

bagai ajaran dalam Pentateukh sebagai berasal dari Musa (Matius 

8:4; 19:7-8; Markus 7:10; 12:26; Yohanes 7:22, 23). Pernah Yesus 

berbicara tentang tulisan-tulisan Musa (Yohanes 5:47). Berbagai 

penulis Perjanjian Baru berbicara juga tentang Musa sebagai sebuah 

kitab (Kisah 15:21; II Korintus 3:15) dan sebagai "hukum Musa" 

(Kisah 13:39; I Korintus 9:9; Ibrani 10:28; bandingkan dengan 

Yohanes 1:45). Para penulis Perjanjian Baru juga mengatakan bah­

wa beberapa ajaran ini  dalam Pentateukh berasal dari Musa 

(Kisah 3:22; Roma 9:15; Ibrani 8:5; 9:19).

Beberapa bukti internal lainnya tentang kepenulisan Musa dapat 

juga dikemukakan dalam kesempatan ini. Penulis Pentateukh jelas 

merupakan seorang saksi mata peristiwa keluarnya bani Israel dari 

Mesir; ia menunjukkan bahwa ia mengenal negeri Mesir, geografi­

nya, flora dan faunanya; ia juga memakai beberapa istilah Mesir; 

dan ia menyebutkan kebiasaan-kebiasaan yang dapat dirunut 

ke tahun 2000 Sebelum Masehi. Harrison menyimpulkan:

Pentateukh merupakan komposisi homogen yang terdiri atas lima jilid, dan 

bukan kumpulan acak-acakan dari berbagai karya yang terpisah dan 

mungkin bahkan hanya sedikit sekali hubungannya. Pentateukh dengan ber­

latarkan sejarah yang jelas, memerikan cara yang dipakai Allah untuk 

menyatakan diri-Nya sendiri kepada manusia dan memilih bangsa Israel 

untuk suatu pelayanan dan kesaksian yang khusus dalam dunia dan dalam 

arus sejarah umat manusia. Peranan Musa sangat menonjol dalam muncul­

nya karya akbar ini, dan bukan tanpa alasan yang kuat Musa memperoleh 

tempat penghormatan yang tinggi dalam perkembangan sejarah bangsa 

Israel, dan dijunjung tinggi oleh orang-orang Yahudi maupun orang-orang 

Kristen sebagai perantara hukum yang lama.18

18 Harrison, Introduction to the Old Testament, hal. 541.

80 Bibliologi

2. Keaslian kitab-kitab para nabi. Orang Ibrani mengenal nabi- 

nabi yang terdahulu dan nabi-nabi yang kemudian. Dalam golongan 

yang pertama ada  kitab Yosua, Hakim-Hakim, I dan II Samuel, 

I dan II Raja-Raja; sedangkan yang termasuk kitab-kitab para nabi 

yang kemudian ialah Yesaya, Yeremia, Yehezkiel, dan Nabi-nabi 

Kecil. Pertama, bila kita melihat golongan kitab nabi-nabi yang ter­

dahulu, maka tidak ada alasan untuk menolak pandangan 

tradisional bahwa Yosua menulis kitab yang berjudul Yosua, dan 

Samuel menulis kitab Hakim-Hakim. Jelas bahwa kitab Hakim- 

Hakim ditulis setelah kerajaan Israel berdiri (19:1; 21:25) dan sebe­

lum Daud naik takhta (1:21, bandingkan II Samuel 5:6-8). Dalam 

I Tawarikh 29:29 membaca tentang hal-hal yang "tertulis dalam 

riwayat Samuel, pelihat itu, dan dalam riwayat Nabi Natan, dan 

dalam riwayat Gad, pelihat itu." Oleh karena itu, tradisi merasa sah 

beranggapan bahwa I Samuel 1-24 ditulis oleh Samuel dan 

I Samuel 25—II Samuel 24 ditulis oleh Natan dan Gad. Umumnya 

Yeremia dianggap sebagai penulis kitab I dan II Raja-Raja; setidak- 

tidaknya penulis kedua kitab ini merupakan orang yang hidup 

sezaman dengan Yeremia. Kitab Raja-Raja berbicara soal kitab 

riwayat Salomo (I Raja-Raja 11:41), kitab sejarah raja-raja Israel (I 

Raja-Raja 14:19), dan kitab sejarah raja-raja Yehuda (I Raja-Raja 

14:29); dan sering kali ada  sisipan laporan saksi mata dalam 

bagian-bagian yang menulis tentang Elia, Elisa, dan Mikha, di mana 

materi yang lebih tua telah dipakai.

Kedua, kitab nabi-nabi yang kemudian juga asli.19 Perbuatan 

dan tindakan Raja Hizkia dikatakan "tertulis dalam penglihatan 

Nabi Yesaya bin Amos" (II Tawarikh 32:32). Yesaya juga dikatakan 

telah menulis "riwayat Uzia dari awal sampai akhir" (II Ta­

warikh 26:22). Kitab nubuat Yesaya dihubungkan dengan dia (1:1). 

Yesus dan para rasul-Nya berbicara tentang tulisan-tulisan Yesaya, 

dan bahkan menyebutkan dia sebagai penulis bagian-bagian yang 

dewasa ini masih merupakan persoalan yang hangat (Matius 8:17, 

bandingkan dengan Yesaya 53:4; Lukas 4:17-18, bandingkan de­

ngan Yesaya 61:1; Yohanes 12:38-41, bandingkan dengan Yesaya 

53:1 dan 6:10). Yeremia mendapatkan perintah, 'Tuliskanlah segala 

perkataan yang telah Kufirmankan kepadamu dalam suatu kitab" 

(Yeremia 30:2), dan kita diberi tahu bahwa Yeremia, "menuliskan 

19 Untuk pengantar yang bagus kepada kitab para nabi Perjanjian Lama, lihat 

Freeman, An Introduction to the Old Testament Prophets.

Keaslian, Kredibilitas, dan Kanonitas 81

dalam sebuah kitab segenap malapetaka yang akan menimpa Babel" 

(Yeremia 51:60). Sudah pasti, Barukh menjadi jurutulis Yeremia 

dalam penulisan sebagian besar kitab Nabi Yeremia (Yeremia 36, 

bandingkan 45:1). Yehezkiel juga diperintahkan untuk menulis 

(24:2; 43:11), seperti juga halnya Habakuk (2:2). Pada umumnya 

para sarjana Alkitab konservatif menganggap bahwa nama yang ter­

cantum pada awal setiap kitab nubuat dimaksudkan sebagai nama 

dari penulis kitab ini . Bahkan Maleakhi nampaknya dimaksud­

kan untuk menunjukkan nama pengarang maupun nama kitab itu 

sendiri, dan bukan merupakan rujukan dari pasal 3:1.

3. Keaslian Kethubhim atau kitab-kitab puisi. Kitab-kitab yang 

masih tersisa dibagi lagi menjadi tiga kelompok, yaitu: kelompok 

kitab-kitab puisi yang terdiri atas Mazmur, Amsal, dan Ayub; 

Megiloth yang terdiri atas Kidung Agung, Rut, Ratapan, Pengkhot­

bah, dan Ester; dan kitab-kitab sejarah yang tidak mengandung 

nubuat, misalnya Daniel, Ezra, Nehemia, dan kitab-kitab Tawarikh. 

Beberapa hal dapat dicamkan dalam rangka pembahasan kita saat 

ini. Mengenai kitab Mazmur dan karya-karya Salomo, kita mem­

baca dalam Alkitab tentang adanya tulisan Daud dan tulisan 

Salomo, anaknya (II Tawarikh 35:4). Sekalipun catatan-catatan 

yang mengawali mazmur-mazmur tidak termasuk naskah asli, na­

mun catatan-catatan ini  biasanya dianggap benar. Dari seratus 

lima puluh mazmur, seratus di antaranya memiliki penulis yang 

jelas: 73 ditulis oleh Daud, 11 oleh bani Korah, 12 oleh Asaf, 2 

oleh Salomo, 1 oleh Etan, dan 1 oleh Musa. Lima puluh mazmur 

lainnya tidak diketahui siapa penulisnya. Menurut pembukaan kitab 

Amsal, Salomo menulis pasal 1-24. Salomo juga menulis pasal 25- 

29 walaupun di dalam kenyataan pasal-pasal ini disalin dari tulisan­

nya oleh orang-orang pada zaman Raja Hizkia. Pasal 30 menurut 

catatan ditulis oleh Agur bin Yake dan pasal 31 ditulis oleh Raja 

Lemuel. Kitab Ayub tidak memberi tahu nama penulisnya, namun 

tidaklah mustahil bahwa Ayub sendirilah yang menulis kitab itu. 

Kita menganggap bahwa kitab itu secara benar dan saksama men­

catat pengalaman Ayub yang hidup pada zaman leluhur Israel, dan 

bahwa kitab Ayub bukan sekadar karya sastera yang akbar saja. 

Siapa lagi selain Ayub sendiri yang dapat mengisahkan dengan tepat 

dan terinci pengalaman-pengalaman serta percakapan-percakapan- 

nya dan juga ucapan Elifas, Bildad, Zofar, Elihu, dan Allah?

82 Bibliologi

Kitab Kidung Agung tercatat juga ditulis oleh Salomo (1:1), dan 

tidak ada alasan untuk meragukan kebenaran ayat ini . Archer 

menulis, "Merupakan tradisi gereja Kristen untuk beranggapan de­

ngan teguh sampai masa modem saat ini bahwa Kidung Agung 

merupakan karya asli Salomo."20 Kitab Rut sering kali dikaitkan 

dengan kitab Hakim-Hakim dan mungkin ditulis oleh orang yang 

sama, yaitu mungkin Samuel. Sekalipun diakui oleh Davis, 

"Kenyataan ini tidak dapat dibuktikan."21 Kenyataan bahwa nama 

Daud disebut di dalam kitab ini (Rut 4:22) dan bukan nama Salomo 

mendukung pendapat bahwa kitab ini ditulis tidak lebih kemudian 

daripada zaman Daud.

20 Archer, A Survey of Old Testament Introduction, hal. 472, 473.

21 Davis, Conquest and Crisis, hal. 156.

22 Whitcomb, "Esther," The Wycliffe Bible Commentary, hal. 447.

Kitab Ratapan dipertalikan dengan Yeremia oleh Alkitab kita, 

dan tradisi gereja selama ini beranggapan bahwa Yeremialah penulis 

kitab ini . Cara pengungkapan dan garis pembahasan yang di­

telusuri memiliki banyak persamaan dengan kitab Yeremia sehingga 

kita dengan cukup meyakinkan dapat mengatakan bahwa Yeremia 

yaitu  penulis kitab ini. Dikatakan bahwa kitab Pengkhotbah yaitu  

"perkataan Pengkhotbah, anak Daud, raja di Yerusalem" (1:1), dan 

ungkapan ini umumnya ditafsirkan sebagai menunjuk kepada 

Salomo. Hikmat penulis yang tidak ada bandingannya disebut (1:16) 

dan karya-karya akbar yang dihasilkannya (2:4-11). Sampai zaman 

Reformasi, kitab ini dianggap ditulis oleh Salomo baik oleh kaum 

cendekiawan Yahudi dan Kristen, dan sebagian besar sarjana 

Alkitab konservatif masih berpendapat demikian, meskipun ter­

dapat sedikit bukti linguistik bahwa kitab ini boleh jadi ditulis oleh 

orang lain.

Kitab Ester kemungkinan besar ditulis oleh si Yahudi Mordekhai, 

yang sangat paham akan peristiwa yang tercatat dalam kitab ini, 

namun pasal 10:2-3 nampaknya tidak mendukung pendapat ini. 

Whitcomb berkesimpulan, 'Penulis kitab ini pastilah seorang Ya­

hudi yang hidup di Persia pada saat peristiwa-peristiwa ini terjadi 

dan yang bisa mendapatkan masukan dari naskah-naskah kerajaan 

Media dan Persia (2:23; 9:20; 10:2)."22 Para kritikus umumnya se­

tuju bahwa kitab ini ditulis oleh seorang Yahudi Persia karena tidak 

ada tanda-tanda kitab ini ditulis di Palestina. Diakui bahwa gaya 

Keaslian, Kredibilitas, dan Kanonitas 83

penulisannya dari masa sesudah masa Ester, yaitu kira-kira ber­

samaan dengan kitab Ezra, Nehemia, dan Tawarikh.

Kitab Daniel sudah pasti ditulis oleh negarawan yang menyan­

dang nama ini . Penulis kitab ini memperkenalkan dirinya 

sebagai Daniel dan menulis dengan memakai kata ganti orang per­

tama (7:2; 8:1, 15; 9:2; 10:2). Selanjutnya, Daniel memperoleh tu­

gas untuk memelihara kitab ini  (12:4). Jelas sekali ada kesa­

tuan dalam gaya penulisan kitab ini, dengan berkali-kali disebut­

kannya nama Daniel. Yesus menyatakan bahwa kitab ini ditulis oleh 

Daniel (Matius 24:15). Para sarjana konservatif menetapkan tanggal 

penulisan kitab ini sekitar abad ke-6 SM. Akan namun , karena 

menolak kemungkinan terjadinya nubuat yang menubuatkan masa 

depan, para kritikus modem pada umumnya beranggapan bahwa 

kitab ini ditulis pada masa Makabe yaitu sekitar 168-165 SM.

Kitab Ezra pastilah ditulis oleh Ezra sang ahli Taurat. Karena 

sebagian kitab ini memakai kata ganti orang pertama tunggal dan 

ditulis oleh seorang yang disebutkan sebagai Ezra (7:28, bandingkan 

7:1), dan karena kitab ini  menunjukkan kesatuan gaya penu­

lisan, "nampaknya tidaklah berlebihan untuk mengatakan bahwa 

bagian sisa kitab ini juga ditulis oleh Ezra."23

23 Young, An Introduction to the Old Testament, hal. 370.

Kitab Nehemia pasti juga ditulis oleh Nehemia, juruminuman 

raja Persia. Kenyataan ini jelas dari kata-kata pembukaan kitab ini, 

"Riwayat Nehemia bin Hakhalya" (1:1), serta kenyataan bahwa ber­

kali-kali penulis memakai kata ganti orang pertama. Kitab ini ditulis 

pada zaman Nabi Maleakhi, sekitar 424-395 SM. Para kritikus me­

nempatkan kitab-kitab Tawarikh pada tingkatan yang jauh lebih ren­

dah daripada kedua kitab Raja-Raja. Alasan sikap ini  nam­

paknya karena kitab Raja-Raja membahas aspek-aspek nubuat dari 

sejarah, sedangkan kitab Tawarikh lebih mengutamakan aspek- 

aspek keimaman. Tradisi mengatakan bahwa kitab Tawarikh ditulis 

oleh Ezra. Kedudukan kedua kitab Tawarikh ini dalam kanon Alki­

tab, yaitu berakhirnya sejarahnya dengan peristiwa yang sama yang 

memulai kitab Ezra, serta kesamaan gaya penulisan menjadikan 

anggapan tradisional ini sebagai sangat berkemungkinan. Nampak­

nya kedua kitab Tawarikh ini ditulis sekitar 450-425 SM sebelum 

kitab Ezra.

84 Bibliologi

B. KEASLIAN KITAB-KITAB PERJANJIAN BARU

Mengenai pokok bahasan ini sidang pembaca kembali kami saran­

kan untuk membaca karya-karya tentang Pengantar Perjanjian Baru, 

khususnya karya-karya dalam bahasa Inggris,24 namun dalam ke­

sempatan ini ada beberapa hal yang dapat diperhatikan secara ring­

kas. Kritisisme modern makin lama makin mendekati pandangan 

tradisional tentang tanggal dan penulis beberapa kitab Perjanjian 

Baru. Ada alasan yang cukup kuat bahwa Injil-Injil Sinoptis ditulis 

menurut urutan Matius-Lukas-Markus. Origenes sering kali me­

ngutip kitab-kitab Injil ini berdasarkan urutan itu, sedangkan Kle- 

mens dari Aleksandria yang hidup sebelum Origenes mendahu­

lukan Injil-Injil yang berisi silsilah sebelum Injil yang tidak ada 

silsilah karena Klemens mengikuti tradisi para penatua sebelum 

dia.25 Pandangan ini didukung oleh pertimbangan bahwa Injil-Injil 

ditulis karena situasi dan kondisi masa itu. Tradisi menyatakan bah­

wa Matius berkhotbah di daerah Palestina selama lima belas tahun 

dan bahwa setelah itu ia memberitakan Injil kepada bangsa-bangsa 

lain. Berdasarkan pernyataan Papias yang terkenal bahwa "Matius 

menyusun Logia (Injil) dalam bahasa Ibrani atau Aram," maka kita 

harus berkesimpulan bahwa sangat masuk akal sekali Matius me­

ninggalkan kitab ini  saat  meninggalkan Palestina sekitar ta­

hun 45 Masehi, dan bahwa tidak lama kemudian ia menulis Injil 

dalam bahasa Yunani yang sampai kepada kita, bagi para pendengar 

barunya yaitu sekitar tahun 50 Masehi. Juga ada  persetujuan 

umum bahwa Injil yang kedua ditulis oleh Yohanes Markus. Ber­

dasarkan keterangan mengenai situasi saat itu dan beberapa bukti 

internal dari naskah itu sendiri dapat diduga bahwa Injil Markus 

ditulis sekitar tahun 67 atau 68 Masehi. Juga ada  kesepakatan 

umum bahwa Lukas menulis Injil yang ketiga. Nampaknya kitab 

ini ditulis sekitar tahun 58 Masehi.

24 Lihat Hiebert, An Introduction to the New Testament, 3 jilid; dan Guthrie, New 

Testament Introduction.

25 Eusebius, Ecclesiastical History, VI:xiv.

Injil Yohanes ditolak oleh beberapa pihak karena Injil ini me­

nekankan keilahian Kristus. Dikatakan bahwa Injil-Injil Sinoptis ti­

dak pernah menganut pandangan semacam itu tentang Kristus se­

lama abad yang pertama. Namun anggapan ini tidak benar karena 

dalam Injil-Injil Sinoptis keilahian Kristus juga cukup ditonjolkan. 

Keaslian, Kredibilitas, dan Kanonitas 85

Penemuan Papirus 52, yang berisi 5 ayat dari Yohanes pasal 18 

dan bertanggalkan belahan pertama abad kedua telah banyak 

berjasa dalam menetapkan tanggal penulisan Injil Yohanes. Metzger 

menulis, "Seandainya fragmen kecil ini sudah diketahui orang pada 

pertengahan pertama abad yang lampau, maka kelompok kri­

tik Perjanjian Baru yang dijiwai oleh mahaguru yang kenamaan dari 

Tubingen, Ferdinand Christian Baur, tidak akan dapat mengemuka­

kan bahwa Injil keempat baru ditulis pada tahun 160 Masehi."26

26 Metzger, The Text of the New Testament, hal. 39.

Kitab Kisah Para Rasul dewasa ini umumnya dianggap telah di­

tulis oleh Lukas, tokoh yang sama yang menulis Injil yang ketiga. 

Sepuluh surat kiriman yang dikenal dengan sebutan Surat-surat 

Paulus dewasa ini diakui sebagai berasal dari Rasul Paulus sendiri. 

Berdasarkan gaya penulisan yang berlainan masih ada keragu-ragu­

an apakah Surat-surat Penggembalaan itu ditulis oleh Rasul Paulus. 

Namun perubahan gaya penulisan dapat juga disebabkan oleh per­

gantian pokok bahasan dan usia penulisnya.

Surat Ibrani tidak memberi tahu nama penulisnya dan tidak ada 

yang mengetahui siapa yang telah menulis surat ini . Sudah 

pasti, surat ini ditulis oleh seorang Kristen yang berpengetahuan 

tinggi sekitar tahun 67 dan 69 Masehi. Surat Yakobus dan Yudas 

pasti ditulis oleh dua orang saudara sekandung Yesus Kristus. Per­

tama dan Kedua Petrus ditulis oleh Rasul Petrus. Beberapa orang 

meragukan bahwa Surat Petrus yang Kedua ditulis oleh Petrus ka­

rena ada perbedaan gaya penulisan dengan surat yang pertama. Na­

mun tidaklah mustahil bahwa dalam menulis surat yang pertama 

Petrus didampingi oleh Silwanus sebagai sekretarisnya (I Petrus 

5:12) sehingga gaya penulisan Silwanus sedikit banyak juga mem­

pengaruhi bentuk surat ini , sedangkan pada waktu menulis 

surat yang kedua Petrus tidak dibantu oleh Silwanus.

Ketiga Surat Yohanes beserta kitab Wahyu ditulis oleh Rasul 

Yohanes. Perbedaan gaya penulisan dalam kitab Wahyu dengan 

gaya penulisan ketiga surat itu dapat dijelaskan dengan cara yang 

sama sebagaimana kita menjelaskan perbedaan gaya penulisan surat 

I dan II Petrus. Maksudnya, Yohanes mungkin memperoleh bantuan 

saat  menulis surat-suratnya sedangkan kitab Wahyu ditulisnya 

sendiri. Lagi pula, pokok yang dibahas dalam kitab Wahyu itu de­

ngan sendirinya menyebabkan perubahan dalam gaya penulisan.

86 Bibliologi

Pandangan semacam ini samasekali tidak mempengaruhi masalah 

pengilhaman karena kami menganut pengilhaman hasil penulisan 

dan bukan pengilhaman penulisnya.

II. KREDIBILITAS KITAB-KITAB DALAM 

ALKITAB

Sebuah kitab dinyatakan dapat dipercaya bila mengulas masalah 

yang dibahasnya dengan benar, sesuai kenyataan. Sebuah kitab di­

katakan tidak dapat dipercaya bila naskah yang ada sekarang ini 

tidak sama dengan naskah aslinya. Dengan demikian kredibilitas 

meliputi baik kebenaran apa yang dicatat maupun kemurnian nas­

kah. Berikut secara singkat akan dibahas masalah kredibilitas Per­

janjian Lama dan Perjanjian Baru.

A. KREDIBILITAS KITAB-KITAB PERJANJIAN LAMA

Kredibilitas kitab-kitab Perjanjian Lama ditetapkan oleh kedua ke­

nyataan yang besar:

1. Bukti berdasarkan pengakuan Kristus terhadap Perjanjian 

Lama. Kristus menerima Perjanjian Lama sebagai naskah yang se­

cara benar mencatat peristiwa-peristiwa dan ajaran-ajaran yang ter­

cantum di dalamnya (Matius 5:17-18; Lukas 24:27, 44-45; Yohanes 

10:34-36). Dengan tegas sekali Yesus menerima berbagai ajaran 

Perjanjian Lama sebagai benar, misalnya, penciptaan alam semesta 

oleh Allah (Markus 13:19), penciptaan manusia secara langsung 

(Matius 19:4-5), kepribadian Iblis serta perangainya yang sangat 

jahat (Yohanes 8:44), pembinasaan dunia dengan air bah pada 

zaman Nuh (Lukas 17:26-27), penghancuran Sodom dan Gomora 

serta pelepasan keluarga Lot (Lukas 17:28-30), penyataan Allah 

kepada Musa (Markus 12:26), Musa sebagai penulis Pentateukh 

(Lukas 24:27), pemberian manna di padang gurun (Yohanes 6:32), 

adanya Kemah Suci (Lukas 6:3-4), pengalaman Yunus di dalam 

perut ikan (Matius 12:39-40), kesatuan amanat kitab Yesaya 

(Matius 8:17; Lukas 4:17-18). Jika Yesus itu Allah yang dinyatakan 

dalam keadaan manusia, maka pastilah Ia mengetahui semua fakta 

dalam sejarah Perjanjian Lama, dan karena Ia mengetahuinya, Ia 

tidak akan menyesuaikan diri dengan pandangan-pandangan salah 

Keaslian, Kredibilitas, dan Kanonitas 87

pada zaman itu apalagi dalam hal pokok-pokok ajaran yang sepen­

ting itu. Dengan demikian, kesaksian-Nya harus diterima sebagai 

benar atau kita tidak menerima Dia sebagai guru bila kita tidak 

menerima kesaksian-Nya sebagai benar.

2. Bukti berdasarkan sejarah dan arkeologi. Sejarah memberikan 

banyak bukti bahwa gambaran Alkitab tentang kehidupan di Mesir, 

Asyur, Babilonia, Media-Persia, dan lain-lain itu sesuai dengan 

kenyataan. Beberapa raja dari berbagai bangsa ini disebutkan dalam 

Alkitab, dan tak seorang pun yang ditampilkan secara tidak sesuai 

dengan fakta sejarah yang diketahui tentang raja ini . Kabarnya, 

Salmaneser IV telah mengepung kota Samaria, namun dikatakan 

bahwa raja Asyur, yang saat ini dikenal sebagai Raja Sargon II, 

telah membawa penduduk Samaria ke Asyur (II Raja-Raja 17:3-6). 

Sejarah menunjukkan bahwa Sargon II memerintah dari 722-705 

SM. Nama Sargon II disebut hanya sekali dalam Alkitab (Yesaya 

20:1). Belsyazar (Daniel 5:1-30) maupun Darius orang Media 

(Daniel 5:30-6:28) sekarang tidak lagi dianggap sebagai tokoh- 

tokoh isapan jempol belaka.

Arkeologi juga menyajikan banyak bukti yang menguatkan 

catatan Alkitab. "Epik Penciptaan" dari Babilonia, sekalipun tidak 

secara langsung menguatkan kisah penciptaan alam semesta me­

nurut kitab Kejadian, namun sanggup menunjukkan bahwa gagasan 

penciptaan khusus bukanlah gagasan yang asing pada waktu itu. 

Hal yang sama dapat dikatakan mengenai legenda-legenda 

Babilonia tentang peristiwa kejatuhan dalam dosa. Yang lebih pen­

ting ialah lembaran tanah liat yang ditemukan di Babilonia dan 

berisi kisah air bah yang mengandung banyak sekali kemiripan de­

ngan kisah Alkitab. Pertempuran para raja (Kejadian 14) kini tidak 

lagi dipandang dengan rasa curiga karena tulisan yang ditemukan 

di Lembah Efrat menunjukkan bahwa keempat raja yang menurut 

Alkitab ikut dalam ekspedisi itu disebutkan sebagai tokoh-tokoh 

yang memang betul-betul ada. Lembaran-lembaran Nuzi menjelas­

kan tindakan Sara dan Rakhel memberikan hamba perempuan 

mereka kepada suami masing-masing. Tulisan dan abjad Mesir kuno 

menunjukkan bahwa orang sudah bisa menulis lebih dari seribu 

tahun sebelum masa hidup Abraham. Arkeologi juga menguatkan 

bahwa bani Israel tinggal di Mesir, bahwa mereka diperbudak di 

sana, dan bahwa akhirnya mereka meninggalkan Mesir. Bangsa Het, 

88 Bibliologi

yang dahulu diragukan, terbukti merupakan bangsa yang sangat ber­

pengaruh di kawasan Asia Kecil dan Palestina pada waktu yang 

disebut dalam Alkitab. Lembaran-lembaran Tel el-Amama mem­

buktikan bahwa kitab Hakim-Hakim dapat dipercayai. Dan seiring 

dengan bertambah majunya arkeologi, tidak dapat disangkal lagi 

bahwa makin banyak informasi akan diketahui yang akan mendu­

kung kecermatan hal-hal yang tersurat dalam Alkitab.

B. KREDIBILITAS KITAB-KITAB PERJANJIAN BARU

Kredibilitas kitab-kitab Perjanjian Baru dapat ditetapkan oleh empat 

fakta yang besar.

1. Para penulis kitab-kitab Perjanjian Baru yaitu  orang-orang 

yang mengetahui betul apa yang ditulisnya. Mereka berkualifikasi 

untuk memberi kesaksian serta mengajarkan kebenaran ilahi. 

Matius, Yohanes, dan Petrus merupakan murid-murid Kristus dan 

saksi mata atas setiap perbuatan dan ajaran-Nya (II Petrus 1:18; 

I Yohanes 1:1-3). Markus, menurut catatan Papias, yaitu  penafsir 

Petrus dan ia telah menulis secara teliti apa yang diingatnya dari 

ajaran Petrus. Lukas merupakan rekan seperjalanan Paulus dan, 

menurut catatan Ireneus, ia mencatat dalam sebuah kitab Injil yang 

diberitakan oleh Paulus. Paulus jelas sekali telah dipanggil dan 

ditugaskan oleh Kristus dan ia sendiri mengakui bahwa ia menerima 

Injil dari Kristus sendiri (Galatia 1:11-17). Yakobus dan Yudas 

yaitu  saudara sekandung Yesus Kristus, dan amanat mereka sam­

pai kepada kita dengan berlatarbelakangkan kenyataan ini. Mereka 

semua telah diurapi Roh Kudus sehingga dengan demikian mereka 

menulis bukan sekadar berdasarkan ingatan mereka sendiri, hal-hal 

yang disampaikan secara lisan maupun tertulis, serta pemahaman 

rohani tertentu, namun  sebagai orang-orang yang diberi kemampuan 

khusus oleh Roh Kudus untuk tugas itu.

2. Para penulis kitab-kitab Perjanjian Baru yaitu  orang-orang 

yang jujur. Nada moral dalam tulisan mereka, sikap yang jelas men­

junjung tinggi kebenaran, serta sifat teliti dan terinci dari kisah- 

kisah yang mereka tulis menunjukkan bahwa mereka bukanlah 

penipu, melainkan orang yang jujur. Kejujuran mereka juga nampak 

dari kenyataan bahwa kesaksian mereka sebenarnya membahayakan 

status sosial, harta kekayaan, dan bahkan nyawa mereka sendiri. 

Keaslian, Kredibilitas, dan Kanonitas 89

Apa gunanya mengarang sebuah cerita yang mengutuk segala ke­

munafikan dan yang bahkan bertentangan dengan kepercayaan 

tradisional mereka, apalagi dengan risiko kehilangan nyawa?

3. Tulisan-tulisan mereka saling melengkapi. Injil-Injil Sinoptis 

tidak memberikan kesaksian yang saling berlawanan namun justru 

saling melengkapi. Injil Yohanes dapat juga dianggap sebagai 

melengkapi kesaksian Injil-Injil Sinoptis. Kisah Para Rasul menye­

diakan latar belakang historis untuk sepuluh Surat Kiriman Rasul 

Paulus. Surat-Surat Penggembalaan tidak perlu disesuaikan dengan 

sejarah Kisah Para Rasul, karena dalam surat-surat ini tidak 

diisyaratkan bahwa mereka termasuk dalam masa yang diliput oleh 

kitab Kisah Para Rasul. Surat Ibrani, surat-surat umum lainnya mau­

pun kitab Wahyu dapat dengan mudah dimasukkan dalam periode 

abad pertama Masehi. Dari segi doktrin, kitab-kitab Perjanjian Baru 

ini juga saling melengkapi. Keilahian Kristus disebut dalam Injil- 

Injil Sinoptis maupun Injil Yohanes. Paulus dan Yakobus tidak sa­

ling bertentangan, namun  mereka berdua menyajikan masalah iman 

dan perbuatan baik dari sudut pandang yang berbeda. Hal yang 

mereka tekankan berbeda, namun  pemikiran pokok mereka tidak. 

ada  perkembangan dalam penyajian doktrin-doktrin dari Injil- 

Injil sampai kepada Surat-Surat Kiriman, namun  perkembangan itu 

tidaklah merupakan kontradiksi. Kedua puluh tujuh kitab Perjanjian 

Baru menyajikan suatu gambaran yang sangat harmonis tentang diri 

dan karya Yesus Kristus. Kenyataan ini ikut mendukung kredibilitas 

kitab-kitab ini .

4. Isi kitab-kitab Perjanjian Baru cocok dengan sejarah dan 

pengalaman. Dalam Perjanjian Baru ada  banyak sekali catatan 

tentang sejarah pada zaman itu, misalnya sensus penduduk yang 

diselenggarakan sewaktu Kirenius menjadi gubernur di Siria (Lukas 

2:2), perbuatan Herodes Agung (Matius 2:16-18), tindakan Herodes 

Antipas (Matius 14:1-12), tindakan Herodes Agripa II (Kisah 25:13- 

26:32), dan seterusnya, dan sampai sejauh ini tak seorang pun 

sanggup menunjukkan bahwa apa yang dikatakan oleh Alkitab ber­

tolak belakang dengan kenyataan sejarah yang diperoleh dari nas­

kah-naskah lain yang dapat dipercaya. Mengenai pengalaman, su­

dah kami katakan bahwa bila kita mempercayai adanya Allah yang 

berkepribadian, mahakuasa, dan penuh kasih, maka mukjizat men- 

90 Bibliologi

jadi sangat tidak mustahil. Sekarang mukjizat-mukjizat jasmaniah 

tidak muncul sesering dahulu karena memang tidak diperlukan 

sebagaimana mereka diperlukan saat  itu. Mukjizat-mukjizat ter­

sebut dimaksudkan untuk memperkuat penyataan Allah saat  itu 

disampaikan untuk pertama kalinya, namun karena sekarang ke­

kristenan sudah diterima, maka mukjizat-mukjizat itu tidak lagi 

diperlukan. Akan namun , mukjizat-mukjizat rohaniah masih bermun­

culan dengan berkelimpahan. Dengan demikian kita dapat menga­

takan bahwa tidak ada sesuatu pun dalam sejarah atau pengalaman 

yang bertolak belakang dengan apa yang ada  dalam Perjanjian 

Baru.

III. KANONITAS KITAB-KITAB DALAM ALKITAB

Kembali pembahasan kita harus bersifat sangat umum. Istilah 

"kanon" berasal dari kata Yunani kanon. Artinya, pertama-tama, 

sebuah tongkat; kemudian menjadi berarti tongkat pengukur; dan 

akhirnya menjadi tolok ukur atau patokan. Kedua, kanon juga ber­

arti keputusan berwibawa dari sebuah dewan gereja; dan ketiga, 

bila dikaitkan dengan Alkitab, kanon berarti kitab-kitab yang telah 

diselidiki, dan dinyatakan memenuhi syarat, serta diakui sebagai 

diilhamkan oleh Allah sendiri.

A. KANONITAS KITAB-KITAB PERJANJIAN LAMA

Kembali perlu ditekankan bahwa pembahasan kitab per kitab harus 

diserahkan kepada buku Pengantar Alkitab, namun beberapa hal 

yang umum kiranya perlu dijelaskan di sini. Pembagian kitab-kitab 

Perjanjian Lama menjadi tiga kelompok, Taurat, Nabi-Nabi, dan 

Ketubim, bukan berarti bahwa Perjanjian Lama mengalami tiga 

tahap kanonisasi. Kitab-kitab Pentateukh dikumpulkan di bagian 

permulaan Alkitab karena diyakini bahwa kitab-kitab ini  ditulis 

oleh Musa. Dalam kelompok kitab para nabi diterima hanya kitab- 

kitab yang diyakini telah ditulis oleh orang yang bertugas penuh 

sebagai nabi. Daniel, meskipun memiliki karunia untuk bernubuat 

namun karena tidak bertugas penuh sebagai nabi, maka kitabnya 

dimasukkan dalam kelompok yang ketiga, yaitu Ketubim. Kelom­

pok Ketubim ini dibagi kembali menurut isi masing-masing kitab 

Keaslian, Kredibilitas, dan Kanonitas 91

atau tujuan penggunaannya. Mazmur, Amsal, dan Ayub dianggap 

sebagai Kitab-Kitab Puisi karena memang bersifat sastera. Kidung 

Agung, Rut, Ratapan, Pengkhotbah, dan Ester disebut Megilot 

karena dibacakan pada saat perayaan-perayaan Yahudi seperti Pas­

kah dan Pentakosta, saat  puasa pada tanggal sembilan bulan Ab, 

dan pada saat Hari Raya Pondok Daun dan Hari Raya Purim. Kitab 

Daniel, Ezra, Nehemia, dan Tawarikh digolongkan sebagai Kitab- 

Kitab Sejarah yang bukan nubuat karena tidak ditulis oleh orang- 

orang yang bertugas penuh sebagai nabi. Amos mulanya bukan 

seorang nabi, namun Tuhan memanggilnya dari tugasnya sebagai 

peternak serta mengutusnya untuk bernubuat kepada bangsanya 

(Amos 7:14, 15): maksudnya, Amos bertugas penuh sebagai nabi 

sehingga dengan tepat sekali kitabnya digolongkan bersama nabi- 

nabi yang kemudian.

Karena kanonitas kitab Pengkhotbah dan Kidung Agung baru 

ditetapkan pada Konsili di Yamnia (tahun 90 Masehi)27, maka 

beberapa pihak beranggapan bahwa kanon Perjanjian Lama baru 

ditutup pada waktu itu, atau karena diskusi mengenainya masih di­

teruskan sesudah tahun 90 maka dianggap bahwa kanon Perjanjian 

Lama baru selesai sekitar tahun 200 Masehi. Akan namun , bila sifat 

serta jumlah kitab yang seharusnya termasuk dalam Alkitab 

dianggap belum beres sampai semua pihak setuju, maka kita takkan 

pernah memiliki kanon yang absah. Keadaan seperti itu memang 

diinginkan pihak-pihak tertentu, karena senantiasa ada saja yang 

ingin menambah atau mengurangi kitab-kitab dalam Alkitab. Dalam 

kaitan dengan kanon Perjanjian Lama seperti yang ada sekarang 

ini, kita dapat menerima pendapat David Kimchi (1160-1232) dan 

Elias Levita (1465-1549), dua orang sarjana Yahudi, yang ber­

anggapan bahwa pengumpulan terakhir untuk kanon Perjanjian 

Lama sudah dilengkapi oleh Ezra serta anggota-anggota Sinagoge 

Agung pada abad kelima sebelum Tarikh Masehi. Beberapa hal 

dapat diungkapkan sebagai pendukung pendapat ini. Yosefus, seja­

rawan Yahudi kenamaan yang menulis sekitar akhir abad pertama 

Masehi, mencantumkan tiga bagian yang sama ini seperti halnya 

kanon Masoretik.28 Yosefus selanjutnya menunjukkan bahwa kanon 

27 Archer, A Survey of Old Testament Introduction, hal. 65.

28 Yosefus berbicara soal dua puluh dua kitab dalam kanon, karena I dan II Samuel 

dianggap satu, demikian pula halnya I dan II Raja-Raja, Ezra dan Nehemia, Rut 

dan Hakim-Hakim, Yeremia dan Ratapan, serta dua belas kitab Nabi-Nabi Kecil.

92 Bibliologi

sudah selesai pada zaman pemerintahan Artahsasta, yang memerin­

tah kira-kira pada zaman Ezra.29 Mungkin sekali Ezralah merupa­

kan tokoh yang akhirnya mengumpulkan kitab-kitab kudus yang 

menjadi Perjanjian Lama karena ia disebut sebagai "ahli kitab itu" 

(Nehemia 8:1; 12:36), "seorang ahli kitab, mahir dalam Taurat 

Musa" (Ezra 7:6), dan "ahli kitab itu, yang ahli dalam perkataan 

segala perintah dan ketetapan Tuhan bagi orang Israel" (Ezra 7:11). 

Selanjutnya, tidak ada lagi tulisan-tulisan kanonik yang ditulis sejak 

zaman Artahsasta tadi sampai zaman Perjanjian Baru. Kitab-kitab 

Apokrifa, walaupun dimasukkan dalam Septuaginta, Alkitab Per­

janjian Lama berbahasa Yunani, tidak pernah diterima dalam kanon 

Ibrani.

29 Yosefus, Against Apion, 1:8.

B. KANONITAS KITAB-KITAB PERJANJIAN BARU

Pembentukan kanon Perjanjian Baru tidak terjadi sebagai hal sebuah 

usaha yang terarah, namun lebih tepat kalau dikatakan bahwa kanon 

Perjanjian Baru terbentuk sendiri sebagai akibat sifat mumi kitab- 

kitab itu. Beberapa prinsip yang bersifat luas dipakai dalam menen­

tukan kitab-kitab mana yang diterima. Hal yang dianggap paling 

penting ialah kesesuaian dengan ajaran para rasul (apostolicity). 

Penulis kitab haruslah seorang rasul Kristus atau harus memiliki 

hubungan sedemikian rupa dengan seorang rasul sehingga kitabnya 

dapat dianggap setingkat dengan buah pena seorang rasul. Faktor 

lainnya dalam menentukan pilihan ialah kecocokan untuk dibaca di 

depan umum. Dan faktor yang ketiga ialah keuniversalannya. Ada­

kah kitab-kitab ini  diterima secara umum oleh masyarakat 

Kristen? Lagi pula, isi kitab itu haruslah memiliki sifat rohaniah 

sedemikian yang membuatnya dapat diterima dalam kanon. Akhir­

nya, kitab itu harus menunjukkan tanda-tanda telah diilhami oleh 

Roh Kudus.

Pada akhir abad kedua, semua kitab kecuali tujuh yaitu: Ibrani, 

II dan III Yohanes, II Petrus, Yudas, Yakobus, dan Wahyu, sudah 

diterima dalam kanon Perjanjian Baru, dan pada akhir abad keem­

pat, kedua puluh tujuh kitab Perjanjian Baru telah diterima semua­

nya, khususnya oleh Gereja-gereja Barat. Setelah konsili Damasin 

Keaslian, Kredibilitas, dan Kanonitas 93

di Roma (382) serta Konsili Kartago ketiga (397), Gereja Barat 

sudah menyelesaikan masalah kanon. Di tahun 500, seluruh gereja 

yang berbahasa Yunani nampaknya telah menerima semua kitab 

Perjanjian Baru juga. Sejak saat itu juga di Timur masalah kanon 

dapat dikatakan sudah selesai. Akan namun , sebagaimana kami kata­

kan tadi, nampaknya tidak pernah ada saat semua pihak menerima 

keputusan gereja ini. Senantiasa ada orang-orang atau pihak-pihak 

tertentu yang mencoba mempertanyakan hak kitab-kitab terten­

tu untuk ditempatkan dalam kanon Alkitab.

VII 

Pengilhaman Alkitab

Dalam usaha kita mencari kepastian, kita telah diyakinkan bahwa 

Alkitab memang merupakan wujud singkapan ilahi. Catatan yang 

berisikan singkapan telah terbukti asli, dapat dipercaya, dan sangat 

sah sebagai wujud singkapan itu. Namun bila kita berhenti sampai 

di situ, maka kita masih saja baru memiliki sebuah karya religius 

yang sangat kuno sekalipun dapat dipercaya. Apa yang dapat kita 

ketahui lagi dari Alkitab? Adakah naskah-naskah itu juga terilham- 

kan secara verbal dan tidak salah di dalam segala hal yang dikata­

kannya? Kami percaya bahwa naskah-naskah ini  diilhami se­

cara verbal dan bahwa naskah-naskah ini  tidak salah, sehingga 

oleh karena itu saat ini kami mengajak Anda membahas masalah 

pengilhaman.

L DEFINISI ILHAM

Untuk menyajikan suatu definisi yang memadai dan jitu tentang 

ilham, kita harus mempertimbangkan beberapa konsep teologis, 

yang berkaitan dan menolak teori-teori yang salah.

A. ISTILAH-ISTILAH TEOLOGIS YANG BERKAITAN

Istilah-istilah teologis yang berkaitan ialah penyataan, ilham, 

wibawa, sifat tidak mungkin bersalah, serta pencerahan.

1. Penyataan. Telah kita bahas di depan bahwa Allah telah me­

nyatakan diri-Nya melalui alam, sejarah, dan hati nurani manusia, 

la juga telah menyatakan diri di dalam Anak-Nya yang Tunggal

95

96 Bibliologi

dan di dalam Firman-Nya. Dalam kesempatan ini kita akan lebih 

memusatkan perhatian pada penyataan langsung bukannya 

penyataan tidak langsung, maupun penyataan yang sesaat  bukan­

nya penyataan yang tidak sesaat . Penyataan itu berkaitan dengan 

pengumuman suatu kebenaran yang tak dapat ditemukan dengan 

cara lain; ilham berkaitan dengan pencatatan kebenaran yang sudah 

dinyatakan. Kita bisa mempunyai penyataan tanpa pengilhaman, 

sebagaimana yang terjadi dalam kehidupan banyak orang saleh di 

masa lampau. Hal ini jelas, saat  Yohanes mendengar suara yang 

diperdengarkan oleh ketujuh guruh, namun tidak diizinkan untuk 

menulis apa yang mereka katakan (Wahyu 10:3-4). Kita juga bisa 

memiliki pengilhaman tanpa penyataan langsung, sebagaimana hal­

nya saat  para penulis mencatat apa yang mereka lihat sendiri atau 

mereka temukan lewat penyelidikan (Lukas 1:1-4; I Yohanes 1:1-4). 

Sebagai seorang sejarawan, Lukas mencari catatan-catatan yang ter­

tulis serta menguji tradisi lisan yang ada saat  ia menulis Injilnya. 

Lukas merupakan saksi mata pada banyak kejadian yang tercantum 

dalam Kisah Para Rasul; Yohanes, sebaliknya, menerima sebagian 

terbesar dari bahan yang tertulis dalam kitab Wahyu langsung dari 

Tuhan sendiri. Kedua penulis ini diilhami saat  menulis kitab me­

reka, namun bahan untuk ditulis diterima dengan cara yang berbeda. 

Tentu saja, dalam arti yang lebih luas kita berbicara tentang seluruh 

Alkitab sebagai penyataan diri Allah; namun sebagian penyataan 

itu tiba kepada penulisnya secara langsung, sedangkan sebagian da­

tang secara tidak langsung melalui tindakan penyelamatan manusia 

dalam sejarah oleh Allah sendiri.

2. Ilham. Pengilhaman berkaitan dengan pencatatan kebenaran. 

Roh Allah menguasai serta mendorong orang-orang untuk menulis 

keenam puluh enam kitab dalam Alkitab (Kisah 1:16; Ibrani 10:15- 

17; II Petrus 1:21). Alkitab diilhami secara penuh dan secara verbal; 

Alkitab mengandung napas Allah (II Timotius 3:16). Definisi yang 

lebih luas tentang pengilhaman akan disajikan di bagian lain dari 

pasal ini.

3. Wibawa. Alkitab membawa besertanya kewibawaan ilahi 

Allah. Amanat Alkitab mengikat manusia-mengikat pikirannya, 

hati nuraninya, kehendaknya, serta hatinya. Manusia, pengakuan 

Pengilhaman Alkitab 97

iman, serta gereja semuanya tunduk kepada wibawa Alkitab. Allah 

telah bersabda; kita harus menaatinya. "Demikianlah Firman Tuhan" 

hendaknya senantiasa merupakan motto kehidupan kita.

4. Sifat tidak mungkin bersalah. Bukan saja Alkitab itu diilhami 

dan berwibawa, namun  juga tidak mungkin bersalah. Dengan ini 

kami maksudkan bahwa naskah asli Alkitab samasekali tidak ada 

salahnya. Alkitab samasekali tidak mungkin salah dalam segala hal 

yang tercantum di dalamnya, apakah itu sejarah, ilmu pengetahuan, 

masalah kesusilaan, dan masalah doktrinal. Sifat tidak mungkin ber­

salah ini berlaku untuk seluruh Alkitab dan bukan hanya untuk 

beberapa ajaran tertentu.

5. Pencerahan. Ia yang mengilhami orang-orang tertentu saat  

menulis Alkitab, juga mencerahkan pikiran orang-orang yang mem­

baca apa yang telah diilhamkannya. Karena dosa dan pengertian 

yang telah digelapkan akibat dosa, tidak ada yang mampu 

memahami Alkitab dengan benar (Roma 1:21; Efesus 4:18). Namun 

Roh Kudus dapat mencerahkan pikiran seseorang yang percaya 

sehingga ia dapat mengerti Alkitab. Inilah pokok yang dibicarakan 

dalam I Korintus 2:6-16 (bandingkan Efesus 1:18); Yohanes juga 

membahas hal yang sama dalam I Yohanes 2:20, 27.

B. BERBAGAI TEORI-PENGILHAMAN YANG TIDAK MEMADAI

Sepanjang sejarah telah dikemukakan berbagai teori tentang peng­

ilhaman yang sering mengandung sedikit kebenaran, namun  tidak 

pernah memadai.

7. Pengilhaman alamiah atau teori naluri. Teori ini berpendapat 

bahwa pengilhaman merupakan sekadar pengertian yang ulung hasil 

menungan manusia alamiah. Ilham merupakan sekadar peningkatan 

dan peninggian derajat persepsi-persepsi religius seorang penulis. 

Pandangan ini menjadikan beberapa lagu gereja yang terkenal se­

tingkat dengan Alkitab. Dalam kenyataannya, pandangan ini me­

ngaburkan tindakan pencerahan Roh Kudus dengan karya-Nya yang 

khusus dalam pengilhaman. Pencerahan tidak menyangkut pemberi­

an kebenaran, namun  menyangkut pemahaman kebenaran yang sudah 

dinyatakan.

98 Bibliologi

2. Teori pengilhaman-sebagian atau teori dinamis. Teori ini ber­

pendapat bahwa Tuhan memberikan kemampuan sehingga para 

penulis Alkitab dapat menyampaikan kebenaran sesuai dengan yang 

dikehendaki oleh Tuhan, Pandangan ini menjadikan para penulis 

Alkitab memang tidak mungkin bersalah dalam soal iman dan per­

buatan, namun  tidak dalam hal-hal yang tidak secara langsung ber­

sifat religius. Dengan demikian penulis itu bisa saja salah saat  

menulis tentang sejarah atau ilmu pengetahuan. Masalah yang tim­

bul karena pandangan semacam ini sudah jelas. Bagaimana kita 

dapat menerima bagian tertentu dari Alkitab serta menolak bagian 

lainnya? Selanjutnya, bagaimana kita tahu mana yang benar dan 

mana yang salah? Bagaimana kita bisa mengetahui mana ayat-ayat 

yang penting untuk iman dan perilaku dan mana pula yang tidak 

penting? Alkitab samasekali tidak mengatakan bahwa hanya bagian- 

bagian yang berkaitan dengan iman dan perilaku yang diilhami. 

Menurut Alkitab dalam segala sesuatu yang tertulis di dalamnya 

telah dihembuskan napas Allah (II Timotius 3:16).

3. Teori bahwa pikiran saja yang diilhami. Teori ini mengajarkan 

bahwa Tuhan yang menganjurkan pikiran-pikiran yang diberikan 

melalui penyataan, namun  membiarkan sang penulis mengolah sen­

diri pikiran-pikiran ini  untuk kemudian diungkapkan dengan 

memakai perkataannya sendiri. Akan namun , Alkitab berkali-kali 

menyatakan bahwa kata-katanya juga diilhami. Paulus mencatat 

bahwa ia "berkata-kata ... dengan perkataan yang bukan diajarkan 

kepada kami oleh hikmat manusia, namun  oleh Roh" (I Korintus 

2:13). Selanjutnya, Paulus mengatakan bahwa seluruh Alkitab diil­

hamkan (II Timotius 3:16); ini berarti kata-kata yang digunakan. 

Selanjutnya, sulit sekali untuk berpikir tentang konsep tertentu ter­

lepas dari kata-kata. Sebagaimana dikatakan oleh Pache, "Gagasan 

hanya dapat dipahami dan disampaikan dengan memakai kata- 

kata."  Tidak dapat dibayangkan bagaimana caranya memisahkan 

gagasan dari kata-kata yang dipakai untuk menyampaikan gagasan 

ini . Saucy menyimpulkan, "Oleh karena itu, tak mungkin ter­

jadi pengilhaman pikiran yang pada saat yang sama tidak mengil­

hami kata-kata untuk mengungkap pikiran itu."  Jelas sekali, kata-

30

31

30 Pache, The Inspiration and Authority of Scripture, hal. 58.

31 Saucy, The Bible: Breathed from God, hal. 48.

Pengilhaman Alkitab 99

kata itu sendiri haruslah diilhamkan, dan bukan sekadar pikiran atau 

gagasan saja.

4. Teori bahwa Alkitab mengandung Firman Allah. Menurut 

teori ini Alkitab merupakan buku manusia yang dapat dipakai oleh 

Tuhan menjadi Firman-Nya pada saat terjadi perjumpamaan antara 

Allah dengan manusia. Para penulis Alkitab menulis tentang per­

jumpaan mereka dengan Tuhan dengan memakai pola-pola berpikir 

zaman mereka. Para penulis ini memakai berbagai mitos adikodrati 

dan cerita-cerita ajaib untuk menyampaikan kebenaran rohani. 

Maka tugas seorang penafsir ialah melucuti semua embel-embel 

mitologis yang ada dan berusaha menemukan kebenaran rohani 

yang Tuhan sediakan bagi kita. Jadi, kita harus menanggalkan se­

mua mitologi dari Alkitab. Alkitab menjadi Firman Allah bagi kita 

saat  pada suatu saat tertentu Allah menerobos memasuki keber­

adaan kita serta menyatakan diri-Nya dalam Firman-Nya. Kita da­

pat mengatakan beberapa hal untuk menentang pandangan ini. Per­

tama-tama, ini merupakan pendekatan yang terlalu subjektif untuk 

memahami Alkitab. Alkitab dapat mengatakan hal-hal yang berbeda 

samasekali kepada orang-orang yang berlainan. Pendapat ini 

meniadakan sifat objektif dalam menafsirkan Alkitab. Juga 

meniadakan samasekali kebenaran yang sudah pasti. Pache ber­

tanya, "Bila banyak sekali bagian dalam Alkitab tidak asli dan ber­

sifat mitologis, yang mana lagi yang bisa kita andalkan?"  Karena 

manusia sepanjang sejarah telah cukup menunjukkan bahwa ia 

dapat keliru dan kurang dapat dipercayai saat  menafsirkan 

sesuatu, tidakkah lebih baik kita menerima Alkitab sebagai wujud 

penyataan Allah kepada manusia, diilhamkan oleh Roh Allah sen­

diri, dan betul-betul dapat dipercaya serta tidak mungkin bersalah 

dalam tiap hal?

32

5. Teori pendiktean. Teori ini berpendapat bahwa para penulis 

Alkitab merupakan pena semata-mata, atau sekretaris yang menulis 

apa yang didiktekan, dan bukan orang-orang yang kepribadiannya 

tetap terpelihara dan bagaimanapun digunakan dalam tindak­

an pengilhaman. Menurut pandangan ini Alkitab ditulis dengan 

gaya penulisan Roh Kudus sendiri. Beberapa ahli bahkan menge-

32 Pache, The Inspiration and Authority of Scripture, hal. 45.

100 Bibliologi

mukakan bahwa tata bahasanya seharusnya sempurna di seluruh 

Alkitab karena Roh Kudus sendiri yang menulisnya. Namun, pan­

dangan ini tidak memperhatikan adanya perbedaan yang nyata 

dalam gaya penulisan Musa, Daud, Petrus, Yakobus, Yohanes, dan 

Paulus, misalnya. Beberapa ahli yang menerima pandangan ini telah 

berusaha untuk mengatasi keanekaragaman gaya penulisan itu de­

ngan cara beranggapan bahwa Roh Kudus memakai gaya si penulis. 

Akan namun , ada cara yang lebih baik lagi untuk menerangkan dan 

mempertahankan pengilhaman kata-kata atau pengilhaman verbal. 

Kita harus mengakui sifat rangkap dua Alkitab: di satu pihak Alki­

tab merupakan kitab yang ke dalamnya dihembuskan napas Allah, 

namun di pihak lain Alkitab merupakan hasil karya manusia. Allah 

memakai orang-orang yang hidup, dan bukan alat-alat mati. Allah 

tidak mengesampingkan kepribadian manusia, melainkan memakai 

kepribadian penulis itu saat  menulis penyataan yang disampaikan- 

Nya.

C. DOKTRIN ALKITAB TENTANG PENGILHAMAN

Roh Kudus menuntun dan mengawasi para penulis Alkitab sede­

mikian rupa, sambil memakai keunikan mereka pribadi lepas pri­

badi, sehingga mereka itu menulis semua yang Ia ingin mereka tulis, 

tanpa tambahan maupun kesalahan. Namun beberapa hal perlu 

diperhatikan. (1) Pengilhaman tidak dapat dijelaskan sepenuhnya. 

Pengilhaman merupakan karya Roh Kudus, namun kita tidak me­

ngetahui dengan tepat bagaimana kuasa Roh Kudus bekerja. (2) 

Pengilhaman, dalam arti yang terbatas ini, terbatas pada penulis- 

penulis kitab dalam Alkitab saja. Kitab-kitab lainnya tidak diilham­

kan dengan begitu. (3) Pengilhaman pada hakikatnya merupakan 

tuntunan. Maksudnya, Roh Kudus mengawasi pemilihan bahan 

yang dipakai serta kata-kata yang akan digunakan dalam menulis 

suatu kitab. (4) Roh Kudus melindungi para penulis dari berbuat 

kesalahan serta tidak mencantumkan apa yang harus dicantumkan. 

(5) Pengilhaman meliputi juga kata-kata yang dipakai, bukan 

sekadar pikiran dan konsepnya saja. Oleh karena itu, kita berbicara 

mengenai pengilhaman plenary (menyeluruh) dan pengilhaman ver­

bal (kata demi kata); plenary karena pengilhaman itu meliputi 

seluruhnya tanpa batas, maksudnya, meliputi keseluruhan Alkitab 

(II Timotius 3:16); verbal karena pengilhaman itu meliputi juga 

Pengilhaman Alkitab 101

kata-kata yang dipakai (I Korintus 2:13). Dan (6) pengilhaman itu 

hanya berlaku bagi naskah aslinya saja, tidak termasuk berbagai 

versi penerjemahannya, baik itu terjemahan kuno maupun ter­

jemahan modem, bukan pula naskah-naskah Ibrani dan Yunani yang 

ada, dan akhirnya bukan pula naskah-naskah yang bersifat 

mengritik. Semua naskah ini diketahui mengandung kesalahan atau 

setidak-tidaknya tidak bebas dari kesalahan. Dan sekalipun tidak 

ada lagi naskah asli Alkitab, namun kata-kata yang dianggap me­

ngandung kesalahan itu tidak banyak jumlahnya dan juga tidak 

mempengaruhi doktrin.

Sepatah kata perlu diutarakan mengenai masalah pengilhaman 

dan wibawa. Umumnya, kedua istilah ini dianggap identik, sehingga 

yang terilhamkan juga berwibawa untuk pengajaran dan kelakuan; 

namun kadang-kadang keduanya berbeda juga. Misalnya, pernya­

taan Iblis kepada Hawa ditulis akibat pengilhaman, namun pernya­

taan itu tidak berwibawa karena tidak mengandung kebenaran 

(Kejadian 3:4-5). Hal yang sama dapat dikatakan mengenai nasihat 

Petrus kepada Kristus (Matius 16:22) serta pernyataan Gamaliel 

kepada dewan (Kisah 5:38-39). Karena pernyataan-pernyataan ter­

sebut tidak mengungkapkan pikiran Tuhan, maka sifatnya tidak ber­

wibawa, sekalipun ada  dalam Alkitab. Hal yang sama dapat 

dikatakan tentang ayat-ayat yang dicabut keluar dari konteksnya 

serta diberi makna yang samasekali berbeda. Kata-katanya tetap saja 

terilhami, namun makna hasil tafsiran itu tidak terilhami. Kita harus 

menerima setiap pernyataan sebagai terilhami dan berwibawa ke­

cuali ada petunjuk dalam konteks bahwa pernyataan tertentu tidak 

bersifat demikian.

II. BUKTI-BUKTI PENGILHAMAN

Ada dua hal fundamental yang harus kita jadikan landasan teori 

pengilhaman yang verbal dan plenary, watak Allah serta sifat dan 

tuntutan Alkitab sendiri.

A. WATAK ALLAH

Adanya Allah terbukti dari kenyataan bahwa Ia telah menyatakan 

diri-Nya, juga lewat berbagai bukti tentang adanya Dia. saat  me- 

102 Bibliologi

nelaah penyataan serta bukti-bukti ini , kita sudah menemukan 

beberapa ciri khas watak Allah. Kita masih akan membahas be­

berapa sifat Allah, namun  kita sudah melihat bahwa Ia berkepribadi­

an, mahakuasa, kudus, serta penuh kasih.

Bila Allah memang sesuai dengan semuanya itu, maka kita dapat 

mengharapkan bahwa Ia menaruh perhatian yang penuh kasih ter­

hadap makhluk-makhluk ciptaan-Nya dan turun tangan menolong 

mereka. Bahwa Ia memang mempedulikan dan membantu mereka 

dapat terlihat dari persediaan yang Ia buat bagi semua kebutuhan 

manusia, baik yang pokok maupun yang sementara. Ia telah 

menyimpan dalam perut bumi ini bermacam-macam mineral dan 

bahan bakar; Ia telah membuatkan atmosfer yang memungkinkan 

manusia hidup di dalamnya; Ia telah membuat tanah yang subur, 

menyediakan sinar matahari, hujan, dan salju; dan Ia telah mem­

berikan kepada manusia pengertian dan kemampuan untuk meng­

gunakan semuanya ini agar dapat memenuhi kebutuhannya. Akan 

namun , manusia juga memiliki kebutuhan rohani dan abadi. Manusia 

memiliki masalah dosa. Tidak ada sesuatu pun di alam maupun hati 

nurani yang memberi tahu kepada manusia standar etis yang benar 

untuk hidup ini, juga tidak ada yang memberi tahu bagaimana ia 

bisa berbaik kembali dengan Tuhan. Manusia sadar bahwa dirinya 

itu tidak fana dan bertanya-tanya dalam hatinya apa yang dilakukan 

sebagai persiapan untuk hidup dalam kekekalan. Tidakkah Allah, 

yang telah membuat persediaan yang begitu melimpah bagi kebu­

tuhan-kebutuhan manusia yang "lebih rendah", juga dapat menye­

diakan bagi kebutuhannya yang lebih tinggi? Nampaknya jawaban­

nya yaitu  "ya" yang tegas. Allah yang demikian, serta manusia 

dengan kebutuhan seperti itu, pastilah dapat diharapkan bahwa 

Allah akan memberitahukan norma-norma dan rencana keselamat- 

an-Nya. Dan bila Ia memberitahukan semua itu, apakah Ia akan 

mengungkapkannya dalam cara yang tidak pasti dan dengan ke­

salahan? Memang benar bahwa Allah memakai orang-orang yang 

telah tertebus, namun bisa berbuat salah, untuk melaksanakan pela­

yanan pendamaian (II Korintus 5:18-20). Namun kita, yang telah 

diselamatkan sekalipun berdosa, membutuhkan Firman yang tanpa 

kesalahan untuk kita beritakan. Allah sumber segala kebenaran te­

lah memberikan kepada kita Firman yang berwibawa dan tidak 

mungkin salah untuk kita percayai dan beritakan. Shedd menulis:

Pengilhaman Alkitab 103

Tidaklah mungkin bahwa Tuhan akan menyatakan sebuah kenyataan atau 

ajaran bagi manusia, lalu samasekali tidak berusaha agar kenyataan atau 

ajaran ini  disampaikan dengan benar. Apalagi bila ajaran itu merupa­

kan salah satu rahasia agama. Kebenaran-kebenaran besar seperti tritunggal, 

penjelmaan, pendamaian yang dilakukan demi orang lain, dan lain-lain me­

nuntut pengawasan serta tuntunan Roh yang tidak mungkin salah sehingga 

hasil pencatatannya tidak menyesatkan. Jadi, jauh lebih dapat diterima untuk 

beranggapan bahwa seorang nabi atau rasul yang telah menerima secara 

langsung dari Tuhan suatu kebenaran yang luhur serta tidak mungkin 

ditemukan dengan kecerdasan manusia, tidak akan dibiarkan sendirian tanpa 

pengawasan dan tuntunan saat  ia menuliskan apa yang telah diterimanya. 

Khususnya sangatlah mustahil rasanya bahwa penyampaian amanat dari 

Allah akan diselubungi dengan khayalan yang berlebihan.33

B. SIFAT DAN TUNTUTAN ALKITAB SENDIRI

Alkitab memiliki keunggulan yang sulit dipersoalkan. Alkitab 

menetapkan norma-norma etika yang tertinggi, menuntut ketaatan 

sepenuhnya, mengutuk setiap bentuk dosa, namun pada saat yang 

sama menerangkan kepada orang berdosa bagaimana ia bisa berbaik 

kembali dengan Tuhan. Bagaimana mungkin kitab semacam itu 

ditulis oleh orang-orang yang tidak diilhami? Alkitab menunjukkan 

kesatuan yang luar biasa. Sekalipun ditulis oleh sekitar empat puluh 

orang sepanjang sekitar 1.600 tahun yang menghasilkan 66 kitab, 

Alkitab tetap merupakan satu kitab. Alkitab memiliki satu pandang­

an doktrinal, satu standar moral, satu rencana keselamatan, satu pro­

gram untuk sepanjang waktu, dan satu pandangan dunia. Kekhusus­

an sistem Manusia jelas nampak dalam kurun perkembangan per­

nyataan. Taurat dan kasih karunia serta doktrin tentang Roh Kudus 

terjalin dengan rencana dispensasional Allah. Pengaturan unsur- 

unsur politik dan agama yang bersatu secara erat dalam bentuk pe­

merintahan Yahudi hanya bersifat sementara dan tidak dimaksudkan 

untuk masa kini. Dalam kesemuanya ini nampak adanya satu ren­

cana dan satu program.

Alkitab menyatakan bahwa ialah Firman Allah. Bila seseorang 

atau sebuah kitab mengatakan yang benar tentang segala yang di­

bahasnya, maka kita sebaiknya membiarkannya berbicara untuk 

dirinya sendiri. Alkitab mengatakan yang benar tentang hal-hal 

lain, dan membuat beberapa tuntutan tentang dirinya. Tuntutan- 

33 Shedd, Dogmatic Theology, I, hal. 76.

104 Bibliologi

tuntutan ini muncul dengan berbagai cara. (1) Lebih dari 3.800 kali 

para penulis Perjanjian Lama memakai istilah "beginilah firman 

Tuhan," "datanglah firman Tuhan kepada" si anu, 'Tuhan telah ber­

firman," atau istilah lain yang sama dengan itu. (2) Para penulis 

Perjanjian Baru memakai ungkapan seperti "memberitakan seluruh 

maksud Allah kepadamu," "dengan kata-kata ... menurut ajaran 

Roh," dan sebagainya. (3) Berbagai penulis menuntut kesempurnaan 

serta wibawa mutlak bagi hukum Taurat serta kesaksian yang ada 

(Ulangan 27:26; II Raja-Raja 17:13; Mazmur 19:8; 33:4; 119:89; 

Yesaya 8:20; Galatia 3:10). (4) Satu kitab mengakui kitab lainnya 

sebagai berbicara dengan penuh kepastian (Yosua 1:7-8; 8:31-3