r takhta Allah
sebagaimana halnya para kerub dan Serafim.
64 Hoyt, An Exposition of the Book of Revelation, hal. 35.
5. Penghulu malaikat. Istilah "penghulu malaikat" muncul hanya
dua kali dalam Alkitab (I Tesalonika 4:16; Yudas 9), namun ada
beberapa rujukan lainnya kepada paling tidak satu penghulu
malaikat, Mikhael. Mikhael ini merupakan satu-satunya malaikat
yang disebut penghulu malaikat. Dikatakan bahwa Mikhael memi
liki malaikat-malaikatnya sendiri (Wahyu 12:7) dan bahwa dia
yaitu pemimpin terkemuka bangsa Israel (Daniel 10:13, 21; 12:1).
Kitab Apokrifa Henokh (pasal 20:1-7) menyebutkan adanya enam
malaikat yang berkedudukan tinggi; Uriel, Rafael, Raguel, Mikhael,
Zariel, dan Gabriel. Bacaan lain di pinggiran kitab itu menambahkan
satu nama lagi yaitu Remiel. Tobit 12:15 berbunyi, "Aku ini Rafael,
satu dari ketujuh malaikat yang melayani di hadapan Tuhan yang
mulia." Walaupun kitab-kitab ini di atas termasuk dalam Apo
krifa namun kitab-kitab itu menunjukkan apa yang dipercayai oleh
para leluhur mengenai hal itu. Nampaknya Gabriel memenuhi syarat
sebagai penghulu malaikat yang kedua (Daniel 8:16; 9:21; Lukas
1:19, 26).
Para penghulu malaikat nampaknya mempunyai tanggung jawab
khusus untuk menjaga dan menjadikan Israel makmur (Daniel
10:13, 21; 12:1), memberitakan kelahiran Sang Juruselamat (Lukas
1:26-38), mengalahkan Iblis dengan pasukan malaikatnya dalam
usaha membunuh perempuan itu dan Anak laki-lakinya (Wahyu
12:3-12), serta mengumumkan kedatangan Kristus untuk menjem
put umat-Nya (I Tesalonika 4:16-18).
6. Penjaga. Dalam Daniel 4:13 tercatat adanya seorang penjaga
yang kudus; sedangkan dalam ayat 17 dari pasal yang sama ada
istilah jamak "para penjaga". Para penjaga ini nampaknya yaitu
Asal Mula, Sifat, Kejatuhan dan Penggolongan Malaikat 213
malaikat-malaikat yang diutus Allah untuk mengamati. Istilah pen
jaga yang dipakai menunjukkan adanya kewaspadaan. Para penjaga
juga terlibat dalam membawa amanat Allah kepada manusia. Apa
kah mereka ini merupakan jenis malaikat yang khusus tidak dike
tahui.
7. Anak-anak Allah. Istilah lain yang dipakai untuk malaikat da
lam Alkitab ialah "anak-anak Allah." Istilah ini dipakai dalam Ayub
1:6; 2:1; dan 38:7 untuk menunjuk kepada malaikat-malaikat, ter
masuk Iblis. Mereka ini disebut anak-anak Allah karena mereka
diciptakan oleh Allah. Sesungguhnya, istilah "allah" (elohim) di
pakai untuk malaikat (Mazmur 8:6, bandingkan dengan Ibrani 2:7).
Beberapa kalangan berpendapat bahwa anak-anak Allah yang di
sebut dalam Kejadian 6:2 yaitu malaikat-malaikat yang kawin de
ngan wanita. Akan namun , bisa saja anak-anak Allah ini me
nunjuk kepada keturunan Set yang saleh.
ada petunjuk-petunjuk bahwa malaikat-malaikat itu teror
ganisasi. Dalam Kolose 1:16 Paulus berbicara tentang singgasana,
kerajaan, pemerintah, dan penguasa, serta menambahkan bahwa se
gala sesuatu itu "diciptakan oleh Dia dan untuk Dia." Hal ini nam
paknya menunjukkan bahwa Paulus sedang berbicara tentang malai
kat-malaikat yang baik. Dalam Efesus 1:21 Paulus rupa-rupanya
menunjuk kepada malaikat yang baik dan yang jahat. Di tempat
lain istilah ini dengan jelas menunjuk kepada para malaikat yang
jahat (Roma 8:38; Efesus 6:12; Kolose 2:15).
Namun, tidaklah mungkin bahwa dalam Kolose 1:16 Paulus hen
dak mengemukakan adanya suatu hierarki malaikat, dan pastilah
Paulus tidak memiliki suatu sistem aeon-aeon untuk dipakai dalam
teologi dan etika metafisik. Perjanjian Dua Belas Patriarkh, yaitu
sebuah kitab yang ditulis menjelang akhir abad pertama, mengajar
kan adanya tujuh sorga. Sorga yang pertama tidak ada penghuninya,
namun semua sorga lain di atasnya dihuni oleh berbagai jenis malai
kat atau roh. Akan namun , Paulus tidak mengajarkan adanya susunan
tingkat malaikat yang sistematis seperti itu. Kita hanya dapat me
ngatakan bahwa singgasana-singgasana itu mungkin menunjuk ke
pada malaikat-malaikat yang berkedudukan dekat sekali dengan ke
hadiran Allah. Malaikat-malaikat ini diberi kekuasaan untuk meme
rintah, yang dilaksanakan di bawah pengawasan Allah. Kerajaan
nampaknya berkedudukan setingkat di bawah singgasana. Pemerin-
214 Ajaran Tentang Malaikat
tah nampaknya menunjuk kepada malaikat-malaikat yang ditugas
kan untuk memerintah berbagai bangsa atau negara. Karena itu
Mikhael disebut pemimpin Israel (Daniel 10:21; 12:1); kita juga
membaca tentang adanya pemimpin orang Persia dan pemimpin
Yunani (Daniel 10:20). Artinya, masing-masing menjadi pemimpin
di atas salah satu kerajaan itu. Hal ini nampaknya juga berlaku bagi
gereja, karena dalam kitab Wahyu disebut malaikat-malaikat yang
mengawasi ketujuh jemaat (1:20). Para penguasa kemungkinan ada
lah malaikat-malaikat yang kedudukannya di bawah salah satu ting
kat malaikat.
Istilah "malaikat Tuhan" sering kali nampak di Perjanjian Lama,
namun jelas bahwa istilah ini tidak mengacu kepada malaikat yang
biasa, namun kepada Kristus yang belum menjelma; karena itu tidak
akan dibahas sekarang.
B. MALAIKAT-MALAIKAT YANG JAHAT
Sebagaimana halnya dengan malaikat yang baik, juga di antara ma
laikat-malaikat yang jahat ada berbagai perbedaan.
1. Malaikat-malaikat yang dipenjara. Malaikat-malaikat ini di
sebutkan secara khusus dalam II Petrus 2:4 dan Yudas 6. Rupanya
semua setuju bahwa Petrus dan Yudas sedang memikirkan malaikat-
malaikat yang sama. Petrus hanya mengatakan bahwa mereka ber
buat dosa sehingga Allah melemparkan mereka ke Tartarus
(neraka), memasukkan mereka ke dalam gua-gua yang gelap serta
mengurung mereka di situ hingga hari penghakiman. Namun Yudas
mengemukakan bahwa dosa mereka ialah tidak mematuhi batas-
batas kekuasaan mereka serta meninggalkan tempat tinggal mereka
yang sebenarnya. Mungkin Yudas sedang memakai versi Septua
ginta dari Ulangan 32:8 saat menuliskan ayat-ayat ini. Menurut
versi itu Allah telah membagi bangsa-bangsa "menurut jumlah
malaikat-malaikat Allah" (dalam Alkitab Indonesia terjemahan baru
LAI disebutkan "menurut bilangan anak-anak Israel"). Dianggap
bahwa Allah menetapkan satu atau lebih malaikat di atas tiap-tiap
bangsa. Kenyataan bahwa berbagai bangsa dengan demikian di
perintah oleh malaikat-malaikat yang menjadi pemimpin kerajaan
ini , jelas dalam Daniel (10:13, 20-21; 12:1). Tidak menaati
Asal Mula, Sifat, Kejatuhan, dan Penggolongan Malaikat 215
batas-batas kekuasaan mereka sendiri dengan demikian dapat
mengartikan bahwa malaikat-malaikat itu tidak setia lagi dalam
melaksanakan tugas mereka, namun bisa juga berarti bahwa mereka
berusaha mendapat kekuatan yang lebih tinggi. Meninggalkan tem
pat kediaman mereka dapat berarti bahwa malaikat-malaikat ter
sebut meninggalkan tempat mereka di sorga dan turun ke bumi.
Suatu penafsiran yang lain juga telah dikemukakan. Dalam
Yudas 7, dosa Sodom dan Gomora nampaknya disamakan dengan
dosa malaikat-malaikat yang terbelenggu itu. Penafsiran ini bisa
berarti bahwa dosa malaikat-malaikat itu pelanggaran susila yang
mencolok. Beberapa ahli telah menganjurkan bahwa dosa yang di
sebut di Kejadian 6:2 yaitu persetubuhan yang dilakukan oleh
malaikat-malaikat dengan wanita-wanita. Sebagai hukuman atas
dosa mereka, Allah mencampakkan mereka ke Tartarus. Dalam
Perjanjian Baru istilah 'Tartarus" ("neraka" dalam Alkitab Indo
nesia) hanya dipakai satu kali yaitu dalam II Petrus 2:4, walaupun
istilah ini dipakai tiga kali dalam Septuaginta. Dalam karya sastera
karangan Homer, Tartarus merupakan tempat yang suram di bawah
Hades. Bila orang-orang fasik turun ke Hades, maka tidaklah mus
tahil untuk membayangkan bahwa Tartarus sebagai tempat pem
buangan malaikat yang berdosa itu terletak lebih jauh ke bawah.
Sebagai hukuman malaikat-malaikat ini dikurung dalam gua-gua
yang gelap dan dibelenggu dengan rantai-rantai yang kekal, disim
pan di situ hingga tiba hari penghakiman.
2. Malaikat-malaikat jahat yang bebas. Mereka ini sering di
sebutkan dalam kaitan dengan Iblis, pemimpin mereka (Matius
25:41; Wahyu 12:7-9). Di ayat-ayat lain mereka disebutkan secara
terpisah (Mazmur 78:49; Roma 8:38; I Korintus 6:3; Wahyu 9:14).
Mereka termasuk dalam daftar "pemerintah dan penguasa dan
kekuasaan dan kerajaan" dalam Efesus 1:21 dan disebutkan secara
tegas dalam Efesus 6:12 dan Kolose 2:15. Pekerjaan utama mereka
nampaknya terdiri atas mendukung Iblis dalam peperangannya me
lawan malaikat-malaikat yang baik dan umat Allah dengan segenap
rencana mereka.
3. Setan-setan. Setan-setan sering kali disebutkan dalam Alkitab,
khususnya dalam kitab-kitab Injil. Setan-setan ini merupakan
216 Ajaran Tentang Malaikat
makhluk-makhluk halus (Matius 8:16), yang sering disebut sebagai
"roh jahat" (Markus 9:25). Mereka yaitu anak buah Iblis (Lukas
11:15-19), walaupun pada akhirnya mereka harus tunduk kepada
Allah (Matius 8:29). Setan-setan dapat mengakibatkan kebisuan
(Matius 9:32-33), kebutaan (Matius 12:22), luka dan cedera
(Markus 9:18) serta cacat dan penyakit jasmani lainnya (Lukas
13:11-17). Mereka melawan pekerjaan Allah dengan cara merusak
ajaran yang benar (I Timotius 4:1-3), kebijaksanaan ilahi (Yakobus
3:15), serta persekutuan Kristen (I Korintus 10:20-21).
Apakah setan-setan itu berbeda dari atau sama dengan malaikat-
malaikat jahat yang bebas? Ada yang mengatakan bahwa setan-
setan itu yaitu roh-roh tak bertubuh dari suatu bangsa yang hidup
sebelum Adam. Mungkin lebih aman untuk menganggap bahwa
mereka termasuk malaikat-malaikat jahat yang masih bebas. Mereka
merasuki orang-orang tertentu sebagai bagian dari usaha mereka
yang tidak henti-hentinya untuk menggagalkan rencana Allah, dan
bukan hanya merupakan keinginan untuk memiliki tubuh manu
siawi. Di bawah pimpinan Iblis, mereka semua memusuhi Allah
dan kerajaan-Nya. Unger menulis,
Iblis menguasai semua roh jahat, yaitu malaikat-malaikat yang menyetujui
pemberontakannya. Sudah pasti bahwa kekuasaan Iblis yaitu kekuasaan
yang telah dipegangnya sejak ia diciptakan. Roh-roh jahat ini telah meng
ambil keputusan yang tak dapat ditarik kembali untuk mengikut Iblis dan
bukannya tetap setia kepada Allah, Pencipta mereka. Mereka telah bersikeras
dalam kejahatan dan telah membiarkan diri dikuasai khayalan. Jadi, setan-
setan ini sangat setuju dengan pemimpin mereka serta melayani dia dengan
sukarela dalam berbagai tingkat dan kedudukan mereka dalam kerajaan keja
hatan yang terorganisasi dengan rapi (Matius 12:26).65
65 Unger, Biblical Demonology, hal. 73.
4. Iblis. Makhluk yang melebihi manusia biasa ini dengan jelas
disebut dalam Perjanjian Lama, namun hanya dalam Kejadian 3:1-15;
I Tawarikh 21:1; Ayub 1:6-12; 2:1-7; dan Zakharia 3:1-2. Boleh
jadi Iblis juga disebutkan dalam kaitan dengan kambing korban
penghapus dosa yang ada dalam Imamat 16:8, yaitu seekor dari
dua ekor kambing jantan yang dipersembahkan pada Hari Raya Pen
damaian. Dalam Perjanjian Baru Iblis sering kali disebut (Matius
4:1-11; Lukas 10:18-19; Yohanes 13:2, 27; I Petrus 5:8-9; Wahyu
12; 20:1-3, 7-10).
Asal Mula, Sifat, Kejatuhan, dan Penggolongan Malaikat 217
Alkitab sering sekali mengungkapkan kepribadian Iblis. Untuk
nya dipakai kata ganti orang (Ayub 1:8, 12; Zakharia 3:2; Matius
4:10; Yohanes. 8:44); sifat-sifat kepribadian dihubungkan dengan
dirinya (kehendak, Yesaya 14:13-14, bandingkan dengan I Timotius
3:6; dan pengetahuan, Ayub 1:9-10); dan tindakan-tindakan pribadi
dilakukan olehnya (Ayub 1:9-11; Matius 4:1-11; Yohanes 8:44;
I Yohanes 3:8; Yudas 9; Wahyu 12:7-10).
Dalam Alkitab makhluk yang dahsyat ini disebut dengan ber
bagai nama. (1) Iblis (Satan, Alkitab Inggris) (I Tawarikh 21:1;
Ayub 1:6; Zakharia 3:1; Matius 4:10; II Korintus 2:11; I Timotius
1:20). Istilah ini artinya "musuh"; dia yaitu musuh Allah dan
manusia (I Petrus 5:8). (2) Iblis (Devil, Alkitab Inggris) (Matius
13:39; Yohanes 13:2; Efesus 6:11; Yakobus 4:7). Istilah devil hanya
dipakai dalam Perjanjian Baru dengan arti pemfitnah dan pendakwa
(Wahyu 12:10). Ia memfitnah Allah pada manusia (Kejadian 3:1-7),
dan memfitnah manusia pada Allah (Ayub 1:9; 2:4). (3) Naga
(Wahyu 12:3, 7; 13:2; 20:2, bandingkan dengan Yesaya 51:9). Kata
"naga" nampaknya secara harfiah berarti ular besar atau binatang
laut yang dahsyat. Naga dianggap sebagai lambang Iblis,
sebagaimana halnya Firaun dalam Yehezkiel 29:3 dan 32:2. Naga
sebagai binatang laut dengan tepat menunjukkan kegiatan Iblis
dalam samudera dunia. (4) Ular (Kejadian 3:1; Wahyu 12:9; 20:2,
bandingkan dengan Yesaya 27:1). Dengan istilah ini maka sege
nap kelicikan dan ketidakjujuran Iblis ditonjolkan (II Korintus
11:3). (5) Beelzebub atau Beelzebul (Matius 10:25; 12:24-27; Mar
kus 3:22; Lukas 11:15-19). Arti yang jelas dari istilah ini tidak
diketahui. Dalam bahasa Siria istilah ini artinya "penguasa kotoran
hewan." Ada pula yang mengusulkan bahwa artinya ialah "penguasa
rumah". (6) Belial atau Beliar (II Korintus 6:15). Istilah ini dipakai
dalam Perjanjian Lama dalam arti "ketidaklayakan" (II Samuel
23:6). Dengan demikian kita membaca tentang "orang-orang dur-
sila" atau "orang-orang yang tidak layak" (secara harfiah "anak-anak
Belial/Beliar", Hakim-Hakim 20:12, bandingkan dengan I Samuel
10:27; 30:22; I Raja-Raja 21:13). (7) Lusifer (Yesaya 14:12). Istilah
ini artinya bintang pagi, sebuah nama untuk planet Venus.
Secara harfiah Lusifer artinya "pembawa terang", yang nampaknya
mengacu kepada Iblis. Sebagai Lusifer, Iblis dilihat sebagai ma
laikat terang (II Korintus 11:14).
218 Ajaran Tentang Malaikat
Iblis juga mendapatkan beberapa nama lain yang agak berbeda
sifatnya. Ia juga mendapat beberapa julukan dan sebutan yang
menggambarkan sifatnya. (8) Si jahat (Matius 13:19, 38; Efesus
6:16; I Yohanes 2:13-14; 5:19). Sebutan ini menggambarkan watak
dan pekerjaan si Iblis. Dia itu jahat, culas, kejam, dan sangat lalim
terhadap segala sesuatu yang dikuasainya, dan dia itu senantiasa
melakukan kejahatan bila ada kesempatan. (9) Si pencoba/penggoda
(Matius 4:3; I Tesalonika 3:5). Nama ini menunjukkan bahwa Iblis
senantiasa berniat dan berusaha untuk menghasut manusia agar ber
buat dosa. Ia mengetengahkan alasan-alasan yang sangat masuk akal
serta menyarankan keuntungan-keuntungan yang sangat menarik
bila berbuat dosa. (10) Ilah zaman (II Korintus 4:4). Sebagai ilah
zaman, Iblis memiliki pelayan-pelayan (II Korintus 11:15), ajaran-
ajaran (I Timotius 4:1), upacara korban sendiri (I Korintus 10:20),
serta jemaah-jemaah sendiri (Wahyu 2:9). Ia mensponsori usaha-
usaha keagamaan manusia duniawi, dan, sudah pasti, menyokong
semua bidat serta ajaran yang membuat gereja yang benar menderita
sepanjang zaman. (11) Penguasa kerajaan angkasa (Efesus 2:2). Se
bagai penguasa kerajaan angkasa, Iblis merupakan pemimpin
malaikat-malaikat yang jahat (Matius 12:24; 25:41; Wahyu 12:7;
16:13-14). Ia mempunyai banyak sekali anak buah yang melak
sanakan kehendaknya, dan ia memimpin dengan lalim. (12) Pe
nguasa dunia ini (Yohanes 12:31; 14:30; 16:11). Julukan ini nam
paknya menunjuk kepada pengaruhnya atas pemerintah-pemerintah
dalam dunia ini. Yesus tidak membantah tuntutan Iblis bahwa ia
berkuasa atas planet ini (Matius 4:8-9); namun Allah telah menetap
kan batas-batas kekuasaannya itu, dan bila saatnya tiba kelak, Iblis
akan diganti oleh kekuasaan Tuhan Yesus, yaitu Dia yang berhak
memerintah alam semesta.
Bala tentara kejahatan itu diatur dengan baik, dan Iblislah
pemimpinnya. Pemerintah-pemerintah yang disebut dalam Roma
8:38 merupakan daerah-daerah kekuasaan penguasa yang jahat
(bandingkan dengan Daniel 10:13, 20). Nampaknya, baik para ma
laikat yang benar maupun para malaikat yang jahat termasuk dalam
pemerintah, penguasa, dan kekuasaan kerajaan kegelapan di Efesus
1:21. Dalam Efesus 6:12 para pemerintah, penguasa, penghulu
dunia yang gelap, dan roh-roh jahat di udara menunjuk kepada or
ganisasi kekuatan-kekuatan jahat, sebagaimana halnya pemerintah
Asal Mula, Sifat, Kejatuhan, dan Penggolongan Malaikat 219
dan penguasa dalam Kolose 2:15. Bagaimana kekuatan-kekuatan
jahat ini berhubungan dengan Iblis dan satu sama lain tidak dijelas
kan dalam Alkitab.
XIV
Pekerjaan dan Nasib Para
Malaikat
L PEKERJAAN PARA MALAIKAT
Pembahasan ini dapat dibagi menjadi tiga bagian: pekerjaan para
malaikat yang baik, pekerjaan para malaikat yang jahat, dan peker
jaan Iblis.
A. PEKERJAAN PARA MALAIKAT YANG BAIK
Untuk memudahkan pembahasannya, bagian ini dipecah kembali
menjadi dua bagian: pertama, pekerjaan para malaikat berhubungan
dengan kehidupan dan pelayanan Kristus, dan kedua, pekerjaan para
malaikat yang baik pada umumnya.
1. Pekerjaan para malaikat berhubungan dengan kehidupan dan
pelayanan Kristus. Suatu fakta yang mencolok ialah bahwa Tuhan
kita samasekali tidak menolak kepercayaan akan malaikat, namun
banyak kali menerima pertolongan mereka. Maria diberi tahu oleh
malaikat Gabriel bahwa ia akan menjadi ibu kandung Sang Juru
selamat (Lukas 1:26-38). Yusuf diyakinkan oleh seorang malaikat
bahwa "anak yang di dalam kandungannya [Maria] yaitu dari Roh
Kudus" (Matius 1:20). Para malaikat memberitahukan para gembala
di padang bahwa Kristus telah lahir di Betlehem (Lukas 2:8-15).
Para malaikat turun dan melayani Yesus setelah Ia dicobai oleh
Iblis di padang gurun (Matius 4:11). Yesus mengatakan kepada
Natanael bahwa ia akan melihat malaikat-malaikat Allah turun-naik
221
222 Ajaran Tentang Malaikat
kepada Anak Manusia (Yohanes 1:51). Seorang malaikat dari sorga
datang dan menguatkan Tuhan Yesus saat Ia berdoa di taman
Getsemani (Lukas 22:43). Tuhan mengatakan bahwa Ia dapat me
minta Bapa-Nya di sorga mengirim dua belas pasukan malaikat un
tuk membantu-Nya, bila itu memang diperlukan (Matius 26:53).
Seorang malaikatlah yang menggelindingkan batu kubur Yesus serta
berbicara kepada ketiga orang wanita yang datang ke situ (Matius
28:2-7). Para malaikat mendampingi Kristus saat naik ke surga
(Kisah 1:10-11). Para malaikat akan menyertai Dia saat datang
kembali untuk kedua kalinya (Matius 16:27; 25:31). Dikatakan bah
wa malaikat-malaikat ingin sekali mengetahui rencana keselamatan
yang dikerjakan oleh Kristus (I Petrus 1:12). Jelas sekali, semua
data ini menunjukkan adanya suatu hubungan yang erat sekali an
tara Kristus dengan para malaikat.
2. Pekerjaan para malaikat yang baik pada umumnya. Pertama-
tama, ada pelayanan para malaikat yang terus-menerus dan
tetap. (1) Mereka berdiri di hadapan Allah dan menyembah Dia
(Mazmur 148:2; Matius 18:10; Ibrani 1:6; Wahyu 5:11). (2) Mereka
melindungi dan membebaskan umat Allah (Kejadian 19:11; I Raja-
Raja 19:5; Daniel 3:28; 6:22; Kisah 5:19; 12:10-11). Alkitab men
janjikan kepada orang percaya, "Malaikat-malaikat-Nya akan dipe-
rintahkan-Nya kepadamu untuk menjaga engkau di segala jalanmu"
(Mazmur 91:11, bandingkan dengan Matius 4:6). Malaikat-malaikat
ialah "roh-roh yang melayani, yang diutus untuk melayani mereka
yang harus memperoleh keselamatan" (Ibrani 1:14). Mikhael yaitu
malaikat pelindung Israel (Daniel 10:13, 21; 12:1). Tidaklah mus
tahil bahwa ketujuh malaikat' dari ketujuh jemaat di Asia merupakan
malaikat pelindung untuk setiap gereja itu (Wahyu 1:20). Yesus
mengingatkan orang-orang yang kurang menyenangi anak-anak ke
cil sebagai berikut, "Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang
dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada ma
laikat mereka di sorga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku di
sorga" (Matius 18:10). (3) Mereka menuntun dan memberikan se
mangat kepada hamba-hamba Allah (Matius 28:5-7; Kisah 8:26;
27:23-24). (4) Mereka menerangkan kehendak Allah bagi manusia
(Ayub 33:23). Hal ini jelas sekali dalam pengalaman Daniel (Daniel
7:16; 10:5, 11), Zakharia (1:9, 19), dan Yohanes (Wahyu 1:1). (5)
Mereka merupakan pelaksana hukuman atas orang-orang dan
Pekerjaan dan Nasib Para Malaikat 223
bangsa-bangsa, seperti Sodom dan Gomora (Kejadian 19:12-13),
Yerusalem (II Samuel 24:16; Yehezkiel 9:1), dan Herodes (Kisah
12:23), serta juga terhadap bumi (Wahyu 16). (6) Mereka membawa
orang-orang yang sudah diselamatkan pulang ke sorga setelah
orang-orang ini meninggal dunia (Lukas 16:22).
Di samping pelayanan yang tetap itu, para malaikat yang baik
ini di kemudian hari akan terlibat secara aktif sekali. (1) Kedatangan
Tuhan yang kedua kalinya akan disertai dengan seman penghulu
malaikat (I Tesalonika 4:16). (2) Mereka akan bekerja dengan giat
sebagai pelaksana hukuman Allah selama masa kesengsaraan (Wah
yu 7:2; 16:1). (3) saat Yesus datang kembali untuk menghakimi,
Ia akan disertai oleh "malaikat-malaikat-Nya dalam kuasa-
Nya" (II Tesalonika 1:7, bandingkan dengan Yudas 14). (4) Para
malaikat akan mengumpulkan orang-orang Israel yang terpilih pada
saat kedatangan kembali Kristus (Matius 24:31). (5) Pada masa
penuaian pada akhir zaman para malaikat akan ikut terlibat dalam
memisahkan yang palsu dari yang benar, dan yang jahat dari yang
baik (Matius 13:39, 49-50). (6) Mereka akan berdiri di pintu-pintu
gerbang Yerusalem Baru, agaknya untuk bertugas sebagai pasukan
kehormatan yang mengawal, seakan-akan untuk memastikan bahwa
tidak ada sesuatu apa pun yang najis atau tercemar memasuki kota
itu (Wahyu 21:12).
B, PEKERJAAN PARA MALAIKAT YANG JAHAT
Beberapa kalangan memisahkan antara malaikat yang jahat dengan
setan-setan, namun agaknya kemungkinan lebih besar bahwa ma
laikat yang jahat itu yaitu setan. Mereka sangat aktif dalam segala
usaha untuk melawan Allah serta pelaksanaan rencana-Nya. (1) Me
reka berusaha untuk memisahkan orang percaya dari Kristus (Roma
8:38). (2) Mereka melawan kegiatan para malaikat yang baik (Da
niel 10:12-13). (3) Mereka bekerja sama dengan Iblis dalam pelak
sanaan maksud dan rencananya (Matius 25:41; Efesus 6:12; Wahyu
12:7-12). (4) Mereka menyebabkan kekacauan mental dan penyakit
jasmani (Matius 9:33; 12:22; Markus 5:1-16; Lukas 9:37-42). (5)
Istilah "roh jahat" menunjukkan bahwa mereka menuntun manusia
untuk melakukan kenajisan moral (Matius 10:1; Kisah 5:16). (6)
Mereka menyebarkan ajaran-ajaran sesat (II Tesalonika 2:2; I Timo
tius 4:1). (7) Mereka menghambat anak-anak Tuhan dalam kema
224 Ajaran Tentang Malaikat
juan kerohanian mereka (Efesus 6:12). (8) Mereka kadang-kadang
merasuki manusia dan bahkan binatang (Matius 4:24; Markus 5:8-
14; Lukas 8:2; Kisah 8:7; 16:16). Akan namun , perlu diketahui ada
nya perbedaan antara dipengaruhi setan dengan dikuasai setan atau
dirasuki setan; dipengaruhi setan merupakan pekerjaan setan yang
sementara dari luar seseorang, sedangkan dirasuki setan artinya pe
kerjaan setan di dalam diri seseorang yang lebih permanen. (9) Me
reka kadang-kadang dipakai oleh Allah untuk melaksanakan mak-
sud-Nya (Hakim-Hakim 9:23; I Raja-Raja 22:21-23; Mazmur
78:49). Nampaknya, Tuhan akan memakai mereka secara khusus
selama masa kesengsaraan (Wahyu 9:1-12; 16:13-16). Jelas bahwa
setan-setan ini akan diberi kekuatan yang ajaib untuk sementara
waktu (II Tesalonika 2:9; Wahyu 16:14).
ada tiga macam perbuatan kuasa setan yang secara khusus
perlu disebut di sini. Yang pertama ialah meramal. Pada tingkatan
terendah, meramal bisa merupakan sekadar rekaan manusiawi, pe
nipuan yang disengaja, atau takhyul mumi. Pada zaman Alkitab,
ada suatu bentuk meramal dengan memakai tanda-tanda alami
ah, misalnya terbangnya burung atau susunan isi perut binatang
(Yehezkiel 21:21), ada pula yang memakai hidromansi atau cara
meramal dengan melihat permukaan air yang dituang ke dalam
cangkir atau melihat riak dari benda-benda yang dijatuhkan ke da
lam air (Kejadian 44:5), dan astrologi atau meramal dengan menen
tukan pengaruh bintang-bintang atas kehidupan seseorang (Yesaya
47:13). Semua perbuatan ini merupakan semacam ajaran setan yang
dilakukan oleh manusia. Kapan saja seseorang berusaha meramal
masa depan dengan semacam pengilhaman tertentu maka sebenar
nya ia melakukannya dengan bantuan setan.
Bentuk yang kedua ialah pemujaan setan yang terang-terangan.
Israel yang murtad mempersembahkan korban kepada setan (Ulang
an 32:17; Mazmur 106:37). Makanan yang dipersembahkan kepada
berhala dalam Perjanjian Baru sebenarnya dipersembahkan kepada
setan (I Korintus 10:19-20). Selama masa kesengsaraan besar akan
ada kembali kegiatan setan-setan serta juga pemujaan yang
terang-terangan kepada naga (Wahyu 13:4; 16:13-14).
Bentuk yang ketiga ialah praktik yang dikenal sebagai spi
ritualisme atau spiritisme. Spiritisme merupakan kepercayaan bah
wa orang-orang yang hidup dapat berkomunikasi dengan orang-
Pekerjaan dan Nasib Para Malaikat 225
orang mati dan bahwa roh orang mati dapat menyatakan kehadiran
nya kepada orang yang masih hidup. Praktik semacam ini disebut
nekromansi dan biasanya dilakukan dengan perantaraan seseorang
yang disebut medium. Sekalipun Israel dahulu tidak selalu memper
hatikan, namun mereka sudah secara tegas sekali diingatkan untuk
tidak meminta petunjuk kepada orang yang menyatakan dapat
berkomunikasi dengan orang mati (Imamat 19:31; 20:6, 27; Ulang
an 18:11; II Raja-Raja 21:6; 23:24; I Tawarikh 10:13; II Tawarikh
33:6; Yesaya 8:19; 19:3; 29:4). Dukun dari Endor (I Samuel 28:3-
14), Simon si tukang sihir (Kisah 8:9-24), Elimas si tukang sihir
(Kisah 13:6-12), serta gadis dengan roh tenung (Kisah 16:16-18)
merupakan contoh-contoh di Alkitab dari bentuk praktik setan ini.
Alkitab sering kali berbicara tentang kegiatan ini sebagai sihir (Ke
luaran 7:11; Yeremia 27:9; Daniel 2:2; Mikha 5:11; Nahum 3:4;
Wahyu 9:21).
Mengenai masalah praktik-praktik ini, Alkitab menganjurkan kita
untuk menguji roh-roh itu, untuk mengetahui apakah mereka itu
dari Allah atau bukan (I Yohanes 4:1, bandingkan dengan I Korintus
12:10), untuk tidak bersahabat dengan orang-orang yang bersekutu
dengan setan (Imamat 19:31; I Korintus 10:20), apalagi meminta
petunjuk dari roh-roh jahat (Ulangan 18:10-14; Yesaya 8:19), untuk
memakai seluruh perlengkapan senjata Allah dalam melawan roh-
roh jahat ini (Efesus 6:12-13), serta senantiasa memanjatkan doa
dan permohonan pada setiap waktu dan dengan tekun (Efesus 6:18).
C. PEKERJAAN IBLIS
ada petunjuk-petunjuk dari pekerjaan Iblis dalam berba
gai nama yang diberikan kepadanya, karena setiap nama itu meng
ungkapkan suatu sifat, atau suatu cara bertindak, atau keduanya.
Sebagai Satan, dia melawan; sebagai Iblis, dia memfitnah dan me
nuduh; dan sebagai penggoda, dia berusaha menggoda orang untuk
berbuat dosa.
Lagi pula, Alkitab secara langsung menyatakan sifat pekerjaan
nya. Secara umum, tujuan Iblis ialah menduduki takhta
Allah. Sekalipun Alkitab tidak mendukung pandangan bahwa
neraka merupakan suatu kerajaan yang diperintah oleh Iblis, Firman
Allah menggambarkan dia sebagai memiliki kekuasaan, takhta, dan
wibawa yang besar (Matius 4:8-9; Wahyu 13:2). Agar dapat men-
226 Ajaran Tentang Malaikat
capai tujuannya, ia berusaha membunuh bayi Yesus (Matius 2:16;
Wahyu 12:4), lalu saat usaha ini gagal, ia berusaha mem
bujuk Yesus untuk menyembah dirinya (Lukas 4:6-7). Seandainya
Kristus gagal saat itu, maka Iblis berhasil memperoleh bagian
pertama dari tujuannya untuk menguasai bumi.
Iblis memakai berbagai cara untuk mendapatkan apa yang di
inginkannya. Karena ia tidak mungkin menyerang Allah secara
langsung, maka ia menyerang karya besar Allah, yaitu manusia.
Alkitab menyebutkan cara-cara berikut yang dipakai Iblis: berdusta
(Yohanes 8:44; II Korintus 11:3), mencobai (Matius 4:1), merampas
(Matius 13:19), mengganggu (II Korintus 12:7), menghalangi (I Te
salonika 2:18), menampi (Lukas 22:31), meniru (Matius
13:25; II Korintus 11:14-15), menuduh (Wahyu 12:10), membawa
penyakit (Lukas 13:16, bandingkan dengan I Korintus 5:5), mengua
sai atau merasuki (Yohanes 13:27), membunuh dan menelan
(Yohanes 8:44; I Petrus 5:8). Orang percaya tidak boleh mem
biarkan Iblis mempunyai kesempatan untuk menguasai dirinya,
karena tidak mengetahui akan siasat-siasatnya (II Korintus 2:11),
namun ia harus senantiasa bijaksana dan berjaga-jaga serta melawan
dia (Efesus 4:27; Yakobus 4:7; I Petrus 5:8, 9). Iblis tidak boleh
dianggap enteng (Yudas 8-9, bandingkan dengan II Petrus 2:10),
namun semua orang percaya harus memakai perlengkapan senjata
Allah serta menentang dia (Efesus 6:11). Kristus memang sudah
mengalahkannya di kayu salib (Ibrani 2:14), dan orang percaya
harus hidup dengan iman serta mengingat kemenangan itu.
Sebagaimana dikatakan oleh Pentecost, "Dengan kematian dan
kebangkitan-Nya, Yesus telah menjatuhkan hukuman terhadap
musuh Allah itu."66
66 Pentecost, Your Adversary the Devil, hal. 184.
II. NASIB PARA MALAIKAT
A. NASIB MALAIKAT YANG BAIK
Sungguh beralasan untuk percaya bahwa malaikat yang baik akan
melanjutkan pelayanan mereka kepada Allah sampai kekal selama-
lamanya. Dalam penglihatan Yohanes tentang Yerusalem Baru,
Pekerjaan dan Nasib Para Malaikat 227
yang pastilah akan terjadi pada masa depan dan jelas sekali diren
canakan berlangsung selama-lamanya bersamaan dengan langit dan
bumi baru (Wahyu 21:1-2), ia melihat malaikat-malaikat berdiri di
kedua belas pintu gerbang kota itu (Wahyu 21:12). Bila ada ma
laikat yang bertugas waktu itu, maka tidak ada alasan untuk tidak
percaya bahwa semua malaikat yang baik akan tetap melanjutkan
tugas-tugas mereka.
B. NASIB MALAIKAT YANG JAHAT
Para malaikat yang jahat akan memperoleh bagian mereka dalam
lautan api (Matius 25:41). Saat ini ada malaikat-malaikat jahat yang
sedang dirantai dan berada dalam kegelapan sampai pada hari peng
hakiman terakhir mereka (II Petrus 2:4; Yudas 6), sedangkan yang
lain masih bebas berkeliaran. Pada saat kedatangan Kristus yang
kedua kalinya, semua orang percaya akan ikut menghakimi ma
laikat-malaikat yang jahat (I Korintus 6:3), dan malaikat-malaikat
ini akan dicampakkan dalam lautan api bersama dengan Iblis.
C. NASIB IBLIS
Sejarah kehidupan Iblis dapat dirunut secara singkat. Mula-mula ia
ditemukan di sorga (Yehezkiel 28:14; Lukas 10:18). Tidak diketahui
berapa lama ia hidup berkenan kepada Allah, namun pada suatu
saat ia bersama-sama dengan sejumlah malaikat jatuh. Berikut
nya, ia ditemukan di taman Eden dalam rupa seekor ular (Kejadian
3:1; Yehezkiel 28:13). Di situlah ia menyebabkan kejatuhan ma
nusia. Kemudian ia ditemukan di udara, serta dapat memasuki sor
ga dan bumi (Ayub 1:6-7; 2:1-2; Efesus 2:2; 6:12). Rupanya ang
kasa merupakan markas besarnya sejak kejatuhan manusia. Di masa
depan ia akan dicampakkan ke bumi (Wahyu 12:9-13). Peristiwa
ini rupanya akan terjadi pada masa kesengsaraan besar. saat Kris
tus datang kembali ke bumi dalam kekuasaan dan kemuliaan-Nya
untuk mendirikan kerajaan-Nya, Iblis akan dimasukkan ke dalam
jurang maut yang tidak terduga dalamnya (Wahyu 20:1-3). Ia akan
diikat dan dikurung di situ selama seribu tahun. Kemudian ia akan
dilepaskan untuk sedikit waktu lamanya dan saat itu ia akan
berusaha menggagalkan rencana Allah ke bumi (Wahyu 20:3, 7-9).
Namun semua rencananya akan gagal. Api akan turun dari sorga
serta membinasakan segala pasukan yang telah disiagakannya, dan
228 Ajaran Tentang Malaikat
ia sendiri akan dicampakkan ke dalam lautan api (Wahyu 20:7-10),
yaitu tempat tujuannya yang terakhir, di mana ia dan para pengikut
nya akan disiksa selama-lamanya.
BAGIAN V
ANTROPOLOGI
(AJARAN TENTANG MANUSIA)
Antropologi yaitu ajaran tentang manusia, namun dewasa ini
istilah ini memiliki arti yang teologis dan yang ilmiah.
Antropologi teologis membahas manusia dalam hubungannya de
ngan Allah, sedangkan antropologi ilmiah menguraikan organisme
psikofisik serta sejarah alamiah manusia. Sekalipun demikian, ter
dapat bermacam-macam variasi dalam antropologi ilmiah tergan
tung pokok-pokok yang dibahas oleh penulis-penulis antropologi
ilmiah. Misalnya, golongan naturalis mencakup juga aspek sejarah
alamiah umat manusia, sedangkan para filsuf meluaskan istilah
antropologi ini untuk meliputi psikologi, sosiologi, dan etika, ber
samaan dengan anatomi dan fisiologi. Harus dicatat bahwa per
bedaan-perbedaan ini hanya berlaku untuk pokok-pokok bahasan,
dan bukan untuk cara-cara pembahasan. Hal ini perlu dikatakan
karena antropologi ilmiah tidaklah lebih ilmiah daripada antropologi
teologis, namun hanya membahas aspek-aspek yang berbeda dari
ajaran tentang manusia.
Subjek antropologi dalam penelaahan ini meliputi pokok-pokok
bahasan seperti asal usul manusia, kesatuan umat manusia,
kejatuhan manusia, serta akibat-akibat kejatuhannya itu.
229
XV
Asal Usul dan Watak Semula
Manusia
I. ASAL USUL MANUSIA
Setiap orang yang berpikir dengan sungguh-sungguh sudah pasti
pernah menghadapi masalah asal mula umat manusia. Sewaktu ia
menoleh ke sejarah masa lampau, ia melihat bahwa manusia yang
ada sekarang ini telah lahir dari manusia lain lewat proses keturunan
alamiah selama ribuan tahun. Dalam meneliti asal usul manusia,
seorang yang percaya berhadapan dengan persoalan dasar: Adakah
Allah menciptakan manusia secara tidak langsung ataukah
langsung, adakah manusia dibentuk oleh tangan Allah sendiri
ataukah manusia itu berkembang melalui proses-proses alamiah?
Orang Kristen harus mengakui keterlibatan Allah, namun apakah
Ia terlibat langsung atau tidak langsung? Golongan evolusionis yang
berhaluan teistis mengajarkan bahwa manusia itu merupakan hasil
proses evolusi alamiah dari suatu bentuk kehidupan yang lebih
sederhana. Golongan evolusi ambang dan golongan kreasionisme
beranggapan bahwa manusia diciptakan langsung oleh Allah. Car-
nell, seorang sarjana berhaluan evolusi ambang, menulis, "Manusia
diciptakan dari debu dengan suatu tindakan, ab extra, ilahi yang
khusus, dengan tubuh yang secara struktural mirip dengan golongan
vertebrata (hewan yang bertulang belakang), dan dengan jiwa yang
dibentuk menurut gambar dan rupa Allah."67 Seorang sarjana lain
yang berhaluan sama mengatakan, 'Tidak bolehkah kita berang-
67 Carnell, An Introduction to Christian Apologetics, hal. 238.
231
232 Antropologi
gapan bahwa ... pada masa lampau Allah campur tangan, sekalipun
di tengah-tengah suatu proses evolusi yang panjang, dan mencipta
kan manusia sebagai suatu faktor yang baru samasekali?"68
Beberapa pihak yang berhaluan evolusionis mengusulkan bahwa
tubuh manusia berkembang melalui suatu proses evolusi yang pan
jang, namun pada suatu saat Allah campur tangan dan secara lang
sung menciptakan jiwa, sehingga jadilah manusia. Paus Pius XII
dalam ensikliknya berjudul Humani Generis (1950) mengatakan,
"Ajaran Gereja membiarkan ajaran evolusi sebagai suatu masalah
yang terbuka, selama ajaran ini membatasi teori-teorinya pada
perkembangan tubuh manusia yang dijadikan dari zat hidup lainnya
yang sudah ada. (Bahwa jiwa diciptakan langsung oleh Allah
merupakan pandangan yang dipaksakan iman Katolik atas kita)."69
Pihak lainnya lagi mengusulkan bahwa Adam merupakan satu
pribadi di antara sekian banyak orang lainnya dan bahwa Allah
memberikan gambar dan rupa-Nya baik kepada Adam maupun
kepada manusia-manusia semasanya; jadi, kepemimpinan Adam
meliput juga kepemimpinan atas orang-orang semasanya dan
keturunannya.70 Sebagaimana dapat dilihat, usaha memadukan ilmu
pengetahuan sekular dengan catatan Alkitab dapat mengambil aneka
bentuk. Argumen-argumen yang mendukung pandangan evolusi
perlu disebutkan dan baru kemudian jawaban Alkitab disajikan.
68 Barnhouse, “Adam and Modem Science," Eternity Magazine, Mei 1960, hal. 8.
69 Clarkson, et al., eds., The Church Teaches, hal. 154.
70 Kidner, Genesis, hal. 29.
A. ARGUMEN-ARGUMEN PENDUKUNG HIPOTESIS
EVOLUSIONER
7. Anatomi perbandingan. ada kesamaan-kesamaan men
colok antara anatomi manusia dengan anatomi hewan bertulang
belakang dari golongan yang lebih tinggi. Dikatakan, hal ini men
dukung pandangan bahwa manusia berasal dari hewan. Akan namun ,
jikalau manusia dan hewan memakan makanan yang sama, meng
hirup udara yang sama, dan hidup dalam lingkungan yang sama
pula, tidakkah seharusnya paru-paru, sistem pencernaan, kulit, mata,
dan sebagainya sama juga? Selanjutnya, kesamaan dalam anatomi
menunjukkan bahwa pencipta yang sama yang telah menciptakan
Asal Usul dan Watak Semula Manusia 233
manusia dan hewan, bukan bahwa makhluk yang satu telah terbit
dari makhluk yang lain. Dapat diharapkan bahwa dua simfoni yang
digubah oleh seorang penggubah akan mempunyai kesamaan-
kesamaan yang mencolok.
2. Organ-organ yang tertinggal. Di dalam tubuh kita ditemukan
organ-organ, misalnya amandel, usus buntu, serta kelenjar timus,
yang menurut golongan evolusionis diperlukan saat nenek
moyang manusia modem masih dalam tahap-tahap evolusi yang ter
dahulu, namun sekarang secara fungsional tidak ada gunanya lagi.
Bertentangan dengan pandangan ini, dapat dikatakan bahwa seiring
dengan bertambahnya pengetahuan, sains mulai mengetahui lebih
banyak tentang dan mengakui kegunaan organ-organ tubuh yang
konon tidak berguna lagi. Sebagaimana dikatakan Culp, "Hanya
karena kita belum memahami sepenuhnya kegunaan berbagai organ
tubuh ini, tidaklah berarti bahwa kita berhak mempertanyakan
kebijaksanaan Sang Pencipta yang menempatkannya di dalam tubuh
kita."71
3. Embriologi. Para evolusionis mengatakan bahwa janin
manusia berkembang melalui aneka tahap yang sejajar dengan
proses yang dianggap evolusioner, yaitu dari organisme bersel satu
sampai menjadi spesies yang dewasa. Akan namun , suatu penelitian
yang cermat terhadap janin manusia menunjukkan adanya terlalu
banyak ketidaksamaan dengan tahap-tahap yang disangka serupa
dalam perkembangan cacing, ikan, ekor, dan rambut. Selanjutnya,
perkembangan-perkembangan yang terjadi sering kali kebalikan
dari apa yang diduga sebelumnya. Cacing tanah itu memiliki
sirkulasi darah namun tidak mempunyai jantung, dan karena itu
dikemukakan bahwa peredaran darah pasti telah mendahului adanya
jantung. Namun, dalam janin manusia, jantung terjadi lebih dulu
dan kemudian baru ada peredaran darah. Apa yang dikenal dengan
celah-insang pernah dianggap sebagai insang-insang yang belum
sempurna, namun dari penelitian yang lebih mutakhir ternyata itu
hanya sekadar suatu lekuk antara dua pembuluh darah yang
sejajar.72
71 Culp, Remember Thy Creator, hal. 66.
72 Untuk pembuktian kesalahan selanjutnya, lihat Davidheiser, Evolution and
Christian Faith, hal. 240-254.
234 Antropologi
4. Biokimia. Semua organisme hidup mempunyai kesamaan
dalam tatanan biokimianya. Hal ini tidak perlu merisaukan karena
aneka sistem kehidupan yang ada semuanya bergantung pada zat-zat
asam, protein, dan zat-zat lainnya yang sama.
5. Paleontologi. Penelitian terhadap fosil-fosil umumnya dipakai
untuk mendukung ajaran evolusi. Bukti-bukti tentang berbagai jenis
makhluk hidup ditemukan dalam berbagai lapisan sedimen sejak
zaman prakambrium dan seterusnya. Para evolusionis berusaha
mencari bukti adanya kesinambungan antara, misalnya, manusia
dengan hewan, ikan dengan unggas, dan binatang melata dengan
ikan. Akan namun , dalam penelitian fosil ada banyak bukti baik
yang mendukung kesinambungan maupun yang mendukung
ketidaksinambungan. Tidak pernah ditemukan adanya hubungan an
tara manusia dengan kera. Alkitab mengatakan bahwa ada daging
manusia dan ada daging binatang (I Korintus 15:39). Orang
evolusionis tidak dapat menunjukkan hubungan antara manusia dan
kera sedangkan Alkitab tidak mengizinkan adanya hubungan seperti
itu.
6. Genetika. Genetika merupakan studi tentang faktor-faktor ke
turunan serta aneka variasi di antara organisme-organisme yang ber
hubungan. Mengapa tidak ada dua sidik jari yang sama? Tidakkah
ini menunjukkan bahwa spesies manusia berubah? Dan bukankah
kenyataan ini mendukung pandangan evolusi? Ada tiga hal yang
harus diperhatikan. Pertama, memang diakui bahwa mutasi-mutasi
(pembahan material genetis) terjadi, namun mutasi-mutasi ini begitu
kecil, sehingga akan diperlukan sangat banyak mutasi untuk meng
akibatkan efek yang penting. Lagi pula, perubahan-perubahan
itu cenderung membuat organisme yang mengalaminya menjadi
kurang cocok dengan lingkungannya, sehingga kelangsungan hidup
nya justru terancam. Akhirnya, setelah meneliti banyak generasi
lalat buah, tidaklah terjadi transmutasi, yaitu perubahan suatu
spesies ke spesies yang lain. Belum pernah ada, dan tidak akan
pernah ada, persilangan "jenis-jenis makhluk hidup" yang disebut
di Kejadian 1. Manusia yaitu spesies khusus, ia tidak berasal dari
hewan.
Asal Usul dan Watak Semula Manusia 235
B. ARGUMEN-ARGUMEN ALKITAB YANG MENDUKUNG PEN
CIPTAAN LANGSUNG MANUSIA
1. Ajaran harfiah Alkitab. Sekalipun golongan evolusionis yang
ateistis menolak ajaran Alkitab, golongan evolusionis teistis
mungkin akan meragukan watak Allah saat mereka berusaha
untuk menjelaskan kisah penciptaan secara simbolis. Bila Alkitab
ditafsirkan secara harfiah, maka terbitlah suatu penjelasan yang
masuk akal tentang asal usul manusia. Sekalipun golongan evolusi
dapat membuktikan ajaran mereka bahwa yang paling kuat akan
bertahan hidup, namun ajaran mereka tidak dapat menjelaskan
hadirnya jenis makhluk hidup yang pertama. Alkitab menjelaskan
kepada kita bahwa Allah "menciptakan" manusia (Kejadian 1:27;
5:1; Ulangan 4:32; Mazmur 104:30; Yesaya 45:12; I Korintus 11:9)
dan bahwa Allah "menjadikan" dan "membentuk" manusia
(Kejadian 1:26; 2:22; 6:6-7; Mazmur 100:3; 103:14; I Timotius
2:13). Mengenai tubuhnya, manusia diciptakan dari debu tanah; dan
mengenai jiwanya, manusia diciptakan dengan napas Allah
(Kejadian 2:7; Ayub 33:4; dan Pengkhotbah 12:7 mencantumkan
kedua aspek penciptaan manusia ini dalam satu kalimat. Gambaran
tentang asal usul manusia yang diambil secara harfiah dari Alkitab
memberikan kepada manusia suatu martabat dan kedudukan penuh
tanggung jawab yang tidak diberikan oleh teori lain, serta meletak
kan dasar bagi pembentukan suatu sistem etika dan penebusan yang
bijaksana.
2. Adam dan Hawa diciptakan sebagai laki-laki dan perempuan.
Jikalau Adam dan Hawa belum manusiawi sebelum Allah meng
hembuskan napas-Nya ke dalam mereka, pastilah mereka sudah
berupa makhluk jantan dan betina, namun Alkitab menyatakan bahwa
Allah yang menciptakan mereka sebagai laki-laki dan perempuan
(Kejadian 1:27; 2:7; Matius 19:4).
3. Hawa diciptakan langsung oleh Allah. Hawa diciptakan dari
rusuk Adam (Kejadian 2:21-22; I Korintus 11:8). Bahasa yang
dipakai dalam Kejadian pasal 2 tidak mengizinkan suatu penafsiran
yang lain, dan jika Hawa secara langsung dibentuk oleh Tuhan,
sangatlah masuk akal untuk beranggapan bahwa Adam juga
langsung diciptakan oleh Tuhan.
236 Antropologi
4. Manusia berasal dari debu dan kembali kepada debu. Bila
debu dalam Kejadian 2:7 ditafsirkan sebagai manusia telah berkem
bang dari binatang, maka istilah kembali menjadi tanah dalam
Kejadian 3:19 pastilah berarti bahwa manusia menjadi binatang lagi.
Jelas sekali bahwa pandangan semacam ini tidak dapat diterima.
5. Manusia menjadi makhluk yang hidup. saat manusia dicip
takan maka ia menjadi makhluk hidup, dan bukan sebelumnya.
Manusia bukan makhluk hidup yang berasal dari makhluk hidup
lainnya.
6. Alkitab membedakan antara daging manusia dengan daging
binatang. Paulus tidak mengizinkan terjadinya percampuran antara
daging binatang, daging ikan, daging unggas, atau daging manusia;
jenis-jenis daging itu harus senantiasa dibeda-bedakan (I Korintus
15:39).
II. WATAK SEMULA MANUSIA
Alkitab menggambarkan keadaan mula-mula manusia dengan
memakai ungkapan "menurut gambar dan rupa Allah" (Kejadian
1:26-27; 5:1; 9:6; I Korintus 11:7; Yakobus 3:9). Nampaknya tidak
ada perbedaan berarti di antara kata-kata Ibrani "gambar" dan
"rupa", sehingga kita tidak perlu mencari-cari perbedaan itu. Namun
perlu kiranya kita membahas apakah gambar dan rupa itu.
A. KESAMAAN ITU BUKAN KESAMAAN JASMANIAH
Allah yaitu Roh sehingga tidak memiliki anggota-anggota tubuh
seperti manusia. Beberapa kalangan menggambarkan Allah sebagai
manusia yang agung dan luhur, namun pandangan semacam ini
salah. Mazmur 17:15 mengatakan, "Pada waktu bangun aku akan
menjadi puas dengan rupa-Mu." Namun ayat ini tidak memaksud
kan keadaan jasmaniah; lebih tepat kalau dikatakan bahwa ayat ini
menurut konteksnya berbicara mengenai persamaan dalam
kebenaran (lihat I Yohanes 3:2-3). Musa telah melihat "rupa Tuhan"
(Bilangan 12:8), walaupun wajah Allah tidak dapat dilihat (Keluaran
Asal Usul dan Watak Semula Manusia 237
33:20). Sekalipun manusia tidak memiliki kesamaan jasmaniah de
ngan Allah karena Allah tidak memiliki tubuh jasmaniah, manusia
memang memiliki kesamaan tertentu karena manusia diciptakan
dalam keadaan sehat walafiat, tidak ada bibit-bibit penyakit apa pun
di dalam dirinya, dan tidak bisa mati. Nampaknya pada mulanya
Allah merencanakan supaya manusia makan dari tumbuh-tumbuhan
saja (Kejadian 1:29), namun kemudian la mengizinkan daging hewan
untuk dimakan (Kejadian 9:3). Menarik untuk diperhatikan bahwa
saat Allah mengizinkan manusia memakan daging, Allah
samasekali tidak memberikan peraturan mengenai hewan haram dan
hewan halal meskipun perbedaan antara yang haram dan yang halal
sudah diketahui (Kejadian 7:2). Peraturan itu diberi kemudian untuk
mengatur perilaku satu bangsa saja dan hanya berlaku untuk jangka
waktu tertentu (Imamat 11; Markus 7:19; Kisah 10:15; Roma
14:1-12; Kolose 2:16).
B. KESAMAAN ITU yaitu KESAMAAN MENTAL
Hodge mengatakan,
Allah yaitu Roh, jiwa manusia yaitu roh juga. Sifat-sifat hakiki dari roh
ialah akal budi, hati nurani, dan kehendak. Roh yaitu unsur yang mampu
bernalar, bersifat moral, dan oleh karena itu juga berkehendak bebas. saat
menciptakan manusia menurut gambar-Nya Allah menganugerahkan kepa
danya sifat-sifat yang dimiliki-Nya sendiri sebagai roh. Dengan demikian
manusia berbeda dari semua makhluk lain yang mendiami bumi ini, serta
berkedudukan jauh lebih tinggi daripada mereka. Manusia termasuk go
longan yang sama dengan Allah sendiri sehingga ia mampu berkomunikasi
dengan Penciptanya. Kesamaan sifat antara Allah dan manusia ini . . . juga
merupakan keadaan yang diperlukan untuk mengenal Allah dan karena itu
merupakan dasar dari kesalehan kita. Bila kita tidak diciptakan menurut
gambar Allah, kita tidak dapat mengenal Dia. Kita akan sama dengan
binatang-binatang yang akhirnya binasa.73
Pernyataan Hodge ini dikuatkan oleh Alkitab. Dalam pengudus:
an, manusia "terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh penge
tahuan yang benar menurut gambar Khaliknya" (Kolose 3:10).
Tentu saja, pembaharuan ini dimulai pada saat kelahiran baru ter
jadi, namun dilanjutkan dalam pengudusan. Bahwa manusia diberi
73 Hodge, Systematic Theology, II, hal. 96, 97.
238 Antropologi
kemampuan intelektual yang tinggi tersirat dalam perintah untuk
mengusahakan taman Eden serta memeliharanya (Kejadian 2:15),
juga perintah untuk menguasai bumi beserta segala isinya (Kejadian
1:26, 28), dan dalam pernyataan bahwa manusia memberi nama
kepada segala binatang di bumi (Kejadian 2:19-20). Kesamaan de
ngan Allah ini tidak dapat dihapus, dan karena kesamaan ini
memungkinkan manusia memperoleh penebusan, maka kehidupan
manusia yang belum dilahirkan baru juga berharga (Kejadian 9:6;
I Korintus 11:7; Yakobus 3:9). Betapa berbedanya gambaran ini
tentang keadaan mula-mula manusia dengan pandangan evolusi,
yang menganggap manusia yang pertama hanya sedikit di atas
binatang liar—yang tidak hanya bodoh, namun samasekali tanpa
kemampuan mental apa pun.
C. KESAMAAN ITU yaitu KESAMAAN MORAL
Beberapa pihak telah membuat kekeliruan karena menganggap
bahwa gambar dan rupa Allah yang menjadi karakter asli manusia
saat diciptakan itu hanya ada dalam sifat rasionalnya;
sedangkan yang lain membatasi kesamaan itu pada kekuasaan
manusia saja. Yang lebih tepat ialah bahwa kesamaan itu ada
dalam sifat rasional manusia dan dalam persesuaian moralnya de
ngan Allah. Hodge mengatakan,
Manusia yaitu gambar Allah, sehingga membawa dan mencerminkan
kesamaan ilahi di antara penghuni-penghuni lain di bumi, karena manusia
itu roh, unsur yang cerdas dan berkehendak bebas; dan oleh karena itu sudah
sepantasnya manusia ditetapkan untuk menguasai bumi. Inilah yang bia
sanya disebut oleh para teolog Reformasi sebagai gambar Allah yang hakiki
dan bukan yang insidental.74
Bahwa manusia memiliki kesamaan semacam itu dengan Allah
sudah jelas dalam Alkitab. Bila dalam pembaharuan manusia baru
itu "diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan
kekudusan yang sesungguhnya" (Efesus 4:24), maka pastilah tepat
untuk menyimpulkan bahwa pada mulanya manusia memiliki baik
kebenaran maupun kekudusan. Konteks Kejadian 1 dan 2 membuk
tikan hal ini. Hanya atas dasar inilah manusia dapat bersekutu de-
74 Hodge, Systematic Theology, II, hal. 99.
Asal Usul dan Watak Semula Manusia 239
ngan Allah, yang tidak dapat memandang kelaliman (Habakuk
1:13). Pengkhotbah 7:29 mendukung pendapat ini. Di situ tercatat
bahwa Allah telah menciptakan "manusia yang jujur". Kenyataan
ini dapat juga kita simpulkan dari Kejadian 1:31 yang mengatakan
bahwa "Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat
baik." Kata "segala" mencakup juga manusia sehingga pernyataan
itu tidaklah benar jika manusia diciptakan dengan keadaan moral
yang tidak sempurna.
Apakah yang dimaksudkan dengan kebenaran dan kesucian
mula-mula? Yang jelas, kebenaran dan kesucian mula-mula bukan
lah hakikat manusia, karena dengan demikian watak manusia pasti
sudah tidak ada lagi saat ia berbuat dosa. Kekudusan dan
kebenaran mula-mula ini juga bukan pemberian dari luar, yaitu
sesuatu yang ditambahkan kepada manusia setelah ia diciptakan,
karena dikatakan bahwa manusia memiliki gambar ilahi itu saat
diciptakan, dan bukan karena dikaruniakan kepadanya setelah dicip
takan. Shedd menerangkannya sebagai berikut,
Kekudusan bukanlah sekadar keadaan tidak berdosa. Tidaklah memadai
untuk mengatakan bahwa manusia diciptakan dalam keadaan tidak berdosa.
Hal ini dapat dikatakan jika manusia samasekali tidak memiliki watak
yang moral entah itu benar atau salah. Manusia diciptakan tidak hanya seba
gai makhluk yang tidak berdosa secara negatif, namun juga sebagai makhluk
kudus secara positif. Keadaan manusia yang diperbaharui yaitu pemulihan
keadaannya yang semula; dan kebenaran manusia yang telah diperbaharui
disebut dalam Alkitab sebagai kata theon, Efesus 4:21, dan sebagai
"kekudusan yang sesungguhnya", Efesus 4:24. Ini merupakan watak yang
positif, dan bukan sekadar keadaan tidak berdosa saja.75
75 Shedd, Dogmatic Theology, II, hal. 96.
Kadang-kadang hal ini disebut sebagai kekudusan yang "dicip
takan bersama", sebagai berlawanan dengan kekudusan yang
menurut beberapa orang telah dianugerahkan oleh Allah kepada
manusia setelah ia diciptakan. Kekudusan mula-mula ini dapat diar
tikan sebagai kecenderungan kasih sayang dan kemauan manusia,
sekalipun disertai kekuatan pilihan yang jahat, ke arah pengenalan
yang rohani akan Allah serta hal-hal rohani lainnya. Kekudusan
mula-mula ini berbeda dengan kekudusan yang disempurnakan dari
orang-orang saleh, sebagaimana kasih sayang yang naluriah dan
keadaan tidak berdosa yang kekanak-kanakan yaitu berbeda dari
kekudusan yang telah dimatangkan dan diperkuat oleh pencobaan.
240 Antropologi
D. KESAMAAN ITU yaitu KESAMAAN SOSIAL
Sifat Allah yang sosial itu didasarkan pada kasih sayang-Nya. Yang
menjadi sasaran kasih sayang-Nya yaitu Oknum-Oknum lain di
dalam ketritunggalan-Nya. Karena Allah memiliki sifat sosial, maka
Ia menganugerahkan kepada manusia sifat sosial. Akibatnya, manu
sia senantiasa mencari sahabat untuk bersekutu dengannya. Per
tama-tama, manusia menemukan persahabatan ini dengan Allah sen
diri. Manusia "mendengar bunyi langkah Tuhan Allah yang ber
jalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk" (Kejadian 3:8).
Hal ini menyatakan secara tak langsung bahwa manusia berkomu
nikasi dengan Allah Penciptanya. Allah telah menciptakan manusia
untuk diri-Nya sendiri, dan manusia menemukan kepuasan tertinggi
dalam persekutuan dengan Tuhannya. Akan namun , di samping itu
Allah juga menganugerahkan persahabatan manusiawi. Ia mencip
takan wanita, karena, sebagaimana dikatakan-Nya sendiri, "Tidak
baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan
penolong baginya, yang sepadan dengan dia" (Kejadian 2:18). Agar
persekutuan ini menjadi sangat mesra, Ia menciptakan perempuan
dari tulang rusuk laki-laki. Adam mengakui bahwa Hawa yaitu
tulang dari tulangnya dan daging dari dagingnya, maka dinamakan
nya "perempuan". Dan oleh sebab hubungan yang begitu intim di
antara keduanya, "seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan
ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu
daging" (Kejadian 2:24). Jelaslah bahwa manusia diciptakan dengan
sifat sosial, sebagaimana Allah mempunyai sifat sosial. Kasih dan
perhatian sosial manusia bersumber langsung dari unsur ini dalam
watak manusia.
XVI
Kesatuan dan Struktur Permanen
Manusia
I. KESATUAN MANUSIA
A. AJARAN ALKITAB
Alkitab secara jelas mengajarkan bahwa seluruh umat manusia ada
lah keturunan satu pasangan tunggal (Kejadian 1:27, 28; 2:7, 22;
3:20; 9:19). Semua manusia merupakan keturunan dari orang tua
yang sama dan memiliki watak yang sama. Paulus menganggap
kenyataan ini sebagai sesuatu yang tidak perlu dipersoalkan lagi
saat mengajarkan kesatuan organik umat manusia saat melaku
kan tindakan pelanggaran yang pertama kali dan tentang penyediaan
keselamatan bagi orang-orang yang di dalam Kristus (Roma 5:12,
19; I Korintus 15:21, 22; Ibrani 2:16). Kebenaran ini juga
merupakan landasan tanggung jawab manusia terhadap sesamanya
(Kejadian 4:9; Kisah 17:26). Kini perlu diperhatikan kenyataan
kesatuan umat manusia dalam arti yang berbeda. Dalam Kejadian
1:26 Allah berfirman, "Baiklah kita menjadikan manusia," dan di
ayat berikutnya kita membaca "laki-laki dan perempuan diciptakan-
Nya mereka." Shedd mengatakan, "Ini menunjukkan secara tak
langsung bahwa manusia itu sebenarnya tidak lengkap, bila laki-laki
atau perempuan itu dipandang sendiri-sendiri, yaitu terpisah satu
dari lainnya. Keduanya bersama-sama merupakan spesies manusia.
Perempuan yang sendirian atau laki-laki yang sendirian bukanlah
spesies manusia, tidak pula meliputi spesies itu dan tidak pula
241
244 Antropologi
A. SUSUNAN KEJIWAAN MANUSIA
Semua pihak setuju bahwa manusia memiliki sifat yang badaniah
maupun yang tidak badaniah. Sifat badaniah manusia ialah tubuh
nya; sedangkan sifat tidak badaniahnya ialah jiwa dan rohnya.
Masalahnya kini ialah, apakah manusia itu makhluk rangkap dua
ataukah rangkap tiga? Apakah jiwa dan roh itu sama ataukah
hakikat yang berbeda? Mereka yang beranggapan bahwa jiwa dan
roh itu sama atau satu hakikat disebut golongan dikhotomis;
sedangkan mereka yang beranggapan bahwa jiwa dan roh itu tidak
sama disebut golongan trikhotomis. Gereja Barat umumnya
menerima pandangan dikhotomi












