Tampilkan postingan dengan label teologi sistematik 9. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label teologi sistematik 9. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Juli 2026

teologi sistematik 9

 


r takhta Allah 

sebagaimana halnya para kerub dan Serafim.

64 Hoyt, An Exposition of the Book of Revelation, hal. 35.

5. Penghulu malaikat. Istilah "penghulu malaikat" muncul hanya 

dua kali dalam Alkitab (I Tesalonika 4:16; Yudas 9), namun ada 

beberapa rujukan lainnya kepada paling tidak satu penghulu 

malaikat, Mikhael. Mikhael ini merupakan satu-satunya malaikat 

yang disebut penghulu malaikat. Dikatakan bahwa Mikhael memi­

liki malaikat-malaikatnya sendiri (Wahyu 12:7) dan bahwa dia 

yaitu  pemimpin terkemuka bangsa Israel (Daniel 10:13, 21; 12:1). 

Kitab Apokrifa Henokh (pasal 20:1-7) menyebutkan adanya enam 

malaikat yang berkedudukan tinggi; Uriel, Rafael, Raguel, Mikhael, 

Zariel, dan Gabriel. Bacaan lain di pinggiran kitab itu menambahkan 

satu nama lagi yaitu Remiel. Tobit 12:15 berbunyi, "Aku ini Rafael, 

satu dari ketujuh malaikat yang melayani di hadapan Tuhan yang 

mulia." Walaupun kitab-kitab ini  di atas termasuk dalam Apo­

krifa namun kitab-kitab itu menunjukkan apa yang dipercayai oleh 

para leluhur mengenai hal itu. Nampaknya Gabriel memenuhi syarat 

sebagai penghulu malaikat yang kedua (Daniel 8:16; 9:21; Lukas 

1:19, 26).

Para penghulu malaikat nampaknya mempunyai tanggung jawab 

khusus untuk menjaga dan menjadikan Israel makmur (Daniel 

10:13, 21; 12:1), memberitakan kelahiran Sang Juruselamat (Lukas 

1:26-38), mengalahkan Iblis dengan pasukan malaikatnya dalam 

usaha membunuh perempuan itu dan Anak laki-lakinya (Wahyu 

12:3-12), serta mengumumkan kedatangan Kristus untuk menjem­

put umat-Nya (I Tesalonika 4:16-18).

6. Penjaga. Dalam Daniel 4:13 tercatat adanya seorang penjaga 

yang kudus; sedangkan dalam ayat 17 dari pasal yang sama ada  

istilah jamak "para penjaga". Para penjaga ini nampaknya yaitu  

Asal Mula, Sifat, Kejatuhan dan Penggolongan Malaikat 213

malaikat-malaikat yang diutus Allah untuk mengamati. Istilah pen­

jaga yang dipakai menunjukkan adanya kewaspadaan. Para penjaga 

juga terlibat dalam membawa amanat Allah kepada manusia. Apa­

kah mereka ini merupakan jenis malaikat yang khusus tidak dike­

tahui.

7. Anak-anak Allah. Istilah lain yang dipakai untuk malaikat da­

lam Alkitab ialah "anak-anak Allah." Istilah ini dipakai dalam Ayub 

1:6; 2:1; dan 38:7 untuk menunjuk kepada malaikat-malaikat, ter­

masuk Iblis. Mereka ini disebut anak-anak Allah karena mereka 

diciptakan oleh Allah. Sesungguhnya, istilah "allah" (elohim) di­

pakai untuk malaikat (Mazmur 8:6, bandingkan dengan Ibrani 2:7). 

Beberapa kalangan berpendapat bahwa anak-anak Allah yang di­

sebut dalam Kejadian 6:2 yaitu  malaikat-malaikat yang kawin de­

ngan wanita. Akan namun , bisa saja anak-anak Allah ini  me­

nunjuk kepada keturunan Set yang saleh.

ada  petunjuk-petunjuk bahwa malaikat-malaikat itu teror­

ganisasi. Dalam Kolose 1:16 Paulus berbicara tentang singgasana, 

kerajaan, pemerintah, dan penguasa, serta menambahkan bahwa se­

gala sesuatu itu "diciptakan oleh Dia dan untuk Dia." Hal ini nam­

paknya menunjukkan bahwa Paulus sedang berbicara tentang malai­

kat-malaikat yang baik. Dalam Efesus 1:21 Paulus rupa-rupanya 

menunjuk kepada malaikat yang baik dan yang jahat. Di tempat 

lain istilah ini dengan jelas menunjuk kepada para malaikat yang 

jahat (Roma 8:38; Efesus 6:12; Kolose 2:15).

Namun, tidaklah mungkin bahwa dalam Kolose 1:16 Paulus hen­

dak mengemukakan adanya suatu hierarki malaikat, dan pastilah 

Paulus tidak memiliki suatu sistem aeon-aeon untuk dipakai dalam 

teologi dan etika metafisik. Perjanjian Dua Belas Patriarkh, yaitu 

sebuah kitab yang ditulis menjelang akhir abad pertama, mengajar­

kan adanya tujuh sorga. Sorga yang pertama tidak ada penghuninya, 

namun semua sorga lain di atasnya dihuni oleh berbagai jenis malai­

kat atau roh. Akan namun , Paulus tidak mengajarkan adanya susunan 

tingkat malaikat yang sistematis seperti itu. Kita hanya dapat me­

ngatakan bahwa singgasana-singgasana itu mungkin menunjuk ke­

pada malaikat-malaikat yang berkedudukan dekat sekali dengan ke­

hadiran Allah. Malaikat-malaikat ini diberi kekuasaan untuk meme­

rintah, yang dilaksanakan di bawah pengawasan Allah. Kerajaan 

nampaknya berkedudukan setingkat di bawah singgasana. Pemerin- 

214 Ajaran Tentang Malaikat

tah nampaknya menunjuk kepada malaikat-malaikat yang ditugas­

kan untuk memerintah berbagai bangsa atau negara. Karena itu 

Mikhael disebut pemimpin Israel (Daniel 10:21; 12:1); kita juga 

membaca tentang adanya pemimpin orang Persia dan pemimpin 

Yunani (Daniel 10:20). Artinya, masing-masing menjadi pemimpin 

di atas salah satu kerajaan itu. Hal ini nampaknya juga berlaku bagi 

gereja, karena dalam kitab Wahyu disebut malaikat-malaikat yang 

mengawasi ketujuh jemaat (1:20). Para penguasa kemungkinan ada­

lah malaikat-malaikat yang kedudukannya di bawah salah satu ting­

kat malaikat.

Istilah "malaikat Tuhan" sering kali nampak di Perjanjian Lama, 

namun  jelas bahwa istilah ini tidak mengacu kepada malaikat yang 

biasa, namun  kepada Kristus yang belum menjelma; karena itu tidak 

akan dibahas sekarang.

B. MALAIKAT-MALAIKAT YANG JAHAT

Sebagaimana halnya dengan malaikat yang baik, juga di antara ma­

laikat-malaikat yang jahat ada berbagai perbedaan.

1. Malaikat-malaikat yang dipenjara. Malaikat-malaikat ini di­

sebutkan secara khusus dalam II Petrus 2:4 dan Yudas 6. Rupanya 

semua setuju bahwa Petrus dan Yudas sedang memikirkan malaikat- 

malaikat yang sama. Petrus hanya mengatakan bahwa mereka ber­

buat dosa sehingga Allah melemparkan mereka ke Tartarus 

(neraka), memasukkan mereka ke dalam gua-gua yang gelap serta 

mengurung mereka di situ hingga hari penghakiman. Namun Yudas 

mengemukakan bahwa dosa mereka ialah tidak mematuhi batas- 

batas kekuasaan mereka serta meninggalkan tempat tinggal mereka 

yang sebenarnya. Mungkin Yudas sedang memakai versi Septua­

ginta dari Ulangan 32:8 saat  menuliskan ayat-ayat ini. Menurut 

versi itu Allah telah membagi bangsa-bangsa "menurut jumlah 

malaikat-malaikat Allah" (dalam Alkitab Indonesia terjemahan baru 

LAI disebutkan "menurut bilangan anak-anak Israel"). Dianggap 

bahwa Allah menetapkan satu atau lebih malaikat di atas tiap-tiap 

bangsa. Kenyataan bahwa berbagai bangsa dengan demikian di­

perintah oleh malaikat-malaikat yang menjadi pemimpin kerajaan 

ini , jelas dalam Daniel (10:13, 20-21; 12:1). Tidak menaati 

Asal Mula, Sifat, Kejatuhan, dan Penggolongan Malaikat 215

batas-batas kekuasaan mereka sendiri dengan demikian dapat 

mengartikan bahwa malaikat-malaikat itu tidak setia lagi dalam 

melaksanakan tugas mereka, namun  bisa juga berarti bahwa mereka 

berusaha mendapat kekuatan yang lebih tinggi. Meninggalkan tem­

pat kediaman mereka dapat berarti bahwa malaikat-malaikat ter­

sebut meninggalkan tempat mereka di sorga dan turun ke bumi.

Suatu penafsiran yang lain juga telah dikemukakan. Dalam 

Yudas 7, dosa Sodom dan Gomora nampaknya disamakan dengan 

dosa malaikat-malaikat yang terbelenggu itu. Penafsiran ini bisa 

berarti bahwa dosa malaikat-malaikat itu pelanggaran susila yang 

mencolok. Beberapa ahli telah menganjurkan bahwa dosa yang di­

sebut di Kejadian 6:2 yaitu  persetubuhan yang dilakukan oleh 

malaikat-malaikat dengan wanita-wanita. Sebagai hukuman atas 

dosa mereka, Allah mencampakkan mereka ke Tartarus. Dalam 

Perjanjian Baru istilah 'Tartarus" ("neraka" dalam Alkitab Indo­

nesia) hanya dipakai satu kali yaitu dalam II Petrus 2:4, walaupun 

istilah ini dipakai tiga kali dalam Septuaginta. Dalam karya sastera 

karangan Homer, Tartarus merupakan tempat yang suram di bawah 

Hades. Bila orang-orang fasik turun ke Hades, maka tidaklah mus­

tahil untuk membayangkan bahwa Tartarus sebagai tempat pem­

buangan malaikat yang berdosa itu terletak lebih jauh ke bawah. 

Sebagai hukuman malaikat-malaikat ini dikurung dalam gua-gua 

yang gelap dan dibelenggu dengan rantai-rantai yang kekal, disim­

pan di situ hingga tiba hari penghakiman.

2. Malaikat-malaikat jahat yang bebas. Mereka ini sering di­

sebutkan dalam kaitan dengan Iblis, pemimpin mereka (Matius 

25:41; Wahyu 12:7-9). Di ayat-ayat lain mereka disebutkan secara 

terpisah (Mazmur 78:49; Roma 8:38; I Korintus 6:3; Wahyu 9:14). 

Mereka termasuk dalam daftar "pemerintah dan penguasa dan 

kekuasaan dan kerajaan" dalam Efesus 1:21 dan disebutkan secara 

tegas dalam Efesus 6:12 dan Kolose 2:15. Pekerjaan utama mereka 

nampaknya terdiri atas mendukung Iblis dalam peperangannya me­

lawan malaikat-malaikat yang baik dan umat Allah dengan segenap 

rencana mereka.

3. Setan-setan. Setan-setan sering kali disebutkan dalam Alkitab, 

khususnya dalam kitab-kitab Injil. Setan-setan ini merupakan 

216 Ajaran Tentang Malaikat

makhluk-makhluk halus (Matius 8:16), yang sering disebut sebagai 

"roh jahat" (Markus 9:25). Mereka yaitu  anak buah Iblis (Lukas 

11:15-19), walaupun pada akhirnya mereka harus tunduk kepada 

Allah (Matius 8:29). Setan-setan dapat mengakibatkan kebisuan 

(Matius 9:32-33), kebutaan (Matius 12:22), luka dan cedera 

(Markus 9:18) serta cacat dan penyakit jasmani lainnya (Lukas 

13:11-17). Mereka melawan pekerjaan Allah dengan cara merusak 

ajaran yang benar (I Timotius 4:1-3), kebijaksanaan ilahi (Yakobus 

3:15), serta persekutuan Kristen (I Korintus 10:20-21).

Apakah setan-setan itu berbeda dari atau sama dengan malaikat- 

malaikat jahat yang bebas? Ada yang mengatakan bahwa setan- 

setan itu yaitu  roh-roh tak bertubuh dari suatu bangsa yang hidup 

sebelum Adam. Mungkin lebih aman untuk menganggap bahwa 

mereka termasuk malaikat-malaikat jahat yang masih bebas. Mereka 

merasuki orang-orang tertentu sebagai bagian dari usaha mereka 

yang tidak henti-hentinya untuk menggagalkan rencana Allah, dan 

bukan hanya merupakan keinginan untuk memiliki tubuh manu­

siawi. Di bawah pimpinan Iblis, mereka semua memusuhi Allah 

dan kerajaan-Nya. Unger menulis,

Iblis menguasai semua roh jahat, yaitu malaikat-malaikat yang menyetujui 

pemberontakannya. Sudah pasti bahwa kekuasaan Iblis yaitu  kekuasaan 

yang telah dipegangnya sejak ia diciptakan. Roh-roh jahat ini telah meng­

ambil keputusan yang tak dapat ditarik kembali untuk mengikut Iblis dan 

bukannya tetap setia kepada Allah, Pencipta mereka. Mereka telah bersikeras 

dalam kejahatan dan telah membiarkan diri dikuasai khayalan. Jadi, setan- 

setan ini sangat setuju dengan pemimpin mereka serta melayani dia dengan 

sukarela dalam berbagai tingkat dan kedudukan mereka dalam kerajaan keja­

hatan yang terorganisasi dengan rapi (Matius 12:26).65

65 Unger, Biblical Demonology, hal. 73.

4. Iblis. Makhluk yang melebihi manusia biasa ini dengan jelas 

disebut dalam Perjanjian Lama, namun  hanya dalam Kejadian 3:1-15; 

I Tawarikh 21:1; Ayub 1:6-12; 2:1-7; dan Zakharia 3:1-2. Boleh 

jadi Iblis juga disebutkan dalam kaitan dengan kambing korban 

penghapus dosa yang ada  dalam Imamat 16:8, yaitu seekor dari 

dua ekor kambing jantan yang dipersembahkan pada Hari Raya Pen­

damaian. Dalam Perjanjian Baru Iblis sering kali disebut (Matius 

4:1-11; Lukas 10:18-19; Yohanes 13:2, 27; I Petrus 5:8-9; Wahyu 

12; 20:1-3, 7-10).

Asal Mula, Sifat, Kejatuhan, dan Penggolongan Malaikat 217

Alkitab sering sekali mengungkapkan kepribadian Iblis. Untuk­

nya dipakai kata ganti orang (Ayub 1:8, 12; Zakharia 3:2; Matius 

4:10; Yohanes. 8:44); sifat-sifat kepribadian dihubungkan dengan 

dirinya (kehendak, Yesaya 14:13-14, bandingkan dengan I Timotius 

3:6; dan pengetahuan, Ayub 1:9-10); dan tindakan-tindakan pribadi 

dilakukan olehnya (Ayub 1:9-11; Matius 4:1-11; Yohanes 8:44; 

I Yohanes 3:8; Yudas 9; Wahyu 12:7-10).

Dalam Alkitab makhluk yang dahsyat ini disebut dengan ber­

bagai nama. (1) Iblis (Satan, Alkitab Inggris) (I Tawarikh 21:1; 

Ayub 1:6; Zakharia 3:1; Matius 4:10; II Korintus 2:11; I Timotius 

1:20). Istilah ini artinya "musuh"; dia yaitu  musuh Allah dan 

manusia (I Petrus 5:8). (2) Iblis (Devil, Alkitab Inggris) (Matius 

13:39; Yohanes 13:2; Efesus 6:11; Yakobus 4:7). Istilah devil hanya 

dipakai dalam Perjanjian Baru dengan arti pemfitnah dan pendakwa 

(Wahyu 12:10). Ia memfitnah Allah pada manusia (Kejadian 3:1-7), 

dan memfitnah manusia pada Allah (Ayub 1:9; 2:4). (3) Naga 

(Wahyu 12:3, 7; 13:2; 20:2, bandingkan dengan Yesaya 51:9). Kata 

"naga" nampaknya secara harfiah berarti ular besar atau binatang 

laut yang dahsyat. Naga dianggap sebagai lambang Iblis, 

sebagaimana halnya Firaun dalam Yehezkiel 29:3 dan 32:2. Naga 

sebagai binatang laut dengan tepat menunjukkan kegiatan Iblis 

dalam samudera dunia. (4) Ular (Kejadian 3:1; Wahyu 12:9; 20:2, 

bandingkan dengan Yesaya 27:1). Dengan istilah ini maka sege­

nap kelicikan dan ketidakjujuran Iblis ditonjolkan (II Korintus 

11:3). (5) Beelzebub atau Beelzebul (Matius 10:25; 12:24-27; Mar­

kus 3:22; Lukas 11:15-19). Arti yang jelas dari istilah ini tidak 

diketahui. Dalam bahasa Siria istilah ini artinya "penguasa kotoran 

hewan." Ada pula yang mengusulkan bahwa artinya ialah "penguasa 

rumah". (6) Belial atau Beliar (II Korintus 6:15). Istilah ini dipakai 

dalam Perjanjian Lama dalam arti "ketidaklayakan" (II Samuel 

23:6). Dengan demikian kita membaca tentang "orang-orang dur- 

sila" atau "orang-orang yang tidak layak" (secara harfiah "anak-anak 

Belial/Beliar", Hakim-Hakim 20:12, bandingkan dengan I Samuel 

10:27; 30:22; I Raja-Raja 21:13). (7) Lusifer (Yesaya 14:12). Istilah 

ini artinya bintang pagi, sebuah nama untuk planet Venus. 

Secara harfiah Lusifer artinya "pembawa terang", yang nampaknya 

mengacu kepada Iblis. Sebagai Lusifer, Iblis dilihat sebagai ma­

laikat terang (II Korintus 11:14).

218 Ajaran Tentang Malaikat

Iblis juga mendapatkan beberapa nama lain yang agak berbeda 

sifatnya. Ia juga mendapat beberapa julukan dan sebutan yang 

menggambarkan sifatnya. (8) Si jahat (Matius 13:19, 38; Efesus 

6:16; I Yohanes 2:13-14; 5:19). Sebutan ini menggambarkan watak 

dan pekerjaan si Iblis. Dia itu jahat, culas, kejam, dan sangat lalim 

terhadap segala sesuatu yang dikuasainya, dan dia itu senantiasa 

melakukan kejahatan bila ada kesempatan. (9) Si pencoba/penggoda 

(Matius 4:3; I Tesalonika 3:5). Nama ini menunjukkan bahwa Iblis 

senantiasa berniat dan berusaha untuk menghasut manusia agar ber­

buat dosa. Ia mengetengahkan alasan-alasan yang sangat masuk akal 

serta menyarankan keuntungan-keuntungan yang sangat menarik 

bila berbuat dosa. (10) Ilah zaman (II Korintus 4:4). Sebagai ilah 

zaman, Iblis memiliki pelayan-pelayan (II Korintus 11:15), ajaran- 

ajaran (I Timotius 4:1), upacara korban sendiri (I Korintus 10:20), 

serta jemaah-jemaah sendiri (Wahyu 2:9). Ia mensponsori usaha- 

usaha keagamaan manusia duniawi, dan, sudah pasti, menyokong 

semua bidat serta ajaran yang membuat gereja yang benar menderita 

sepanjang zaman. (11) Penguasa kerajaan angkasa (Efesus 2:2). Se­

bagai penguasa kerajaan angkasa, Iblis merupakan pemimpin 

malaikat-malaikat yang jahat (Matius 12:24; 25:41; Wahyu 12:7; 

16:13-14). Ia mempunyai banyak sekali anak buah yang melak­

sanakan kehendaknya, dan ia memimpin dengan lalim. (12) Pe­

nguasa dunia ini (Yohanes 12:31; 14:30; 16:11). Julukan ini nam­

paknya menunjuk kepada pengaruhnya atas pemerintah-pemerintah 

dalam dunia ini. Yesus tidak membantah tuntutan Iblis bahwa ia 

berkuasa atas planet ini (Matius 4:8-9); namun Allah telah menetap­

kan batas-batas kekuasaannya itu, dan bila saatnya tiba kelak, Iblis 

akan diganti oleh kekuasaan Tuhan Yesus, yaitu Dia yang berhak 

memerintah alam semesta.

Bala tentara kejahatan itu diatur dengan baik, dan Iblislah 

pemimpinnya. Pemerintah-pemerintah yang disebut dalam Roma 

8:38 merupakan daerah-daerah kekuasaan penguasa yang jahat 

(bandingkan dengan Daniel 10:13, 20). Nampaknya, baik para ma­

laikat yang benar maupun para malaikat yang jahat termasuk dalam 

pemerintah, penguasa, dan kekuasaan kerajaan kegelapan di Efesus 

1:21. Dalam Efesus 6:12 para pemerintah, penguasa, penghulu 

dunia yang gelap, dan roh-roh jahat di udara menunjuk kepada or­

ganisasi kekuatan-kekuatan jahat, sebagaimana halnya pemerintah

Asal Mula, Sifat, Kejatuhan, dan Penggolongan Malaikat 219 

dan penguasa dalam Kolose 2:15. Bagaimana kekuatan-kekuatan 

jahat ini berhubungan dengan Iblis dan satu sama lain tidak dijelas­

kan dalam Alkitab.


XIV 

Pekerjaan dan Nasib Para 

Malaikat

L PEKERJAAN PARA MALAIKAT

Pembahasan ini dapat dibagi menjadi tiga bagian: pekerjaan para 

malaikat yang baik, pekerjaan para malaikat yang jahat, dan peker­

jaan Iblis.

A. PEKERJAAN PARA MALAIKAT YANG BAIK

Untuk memudahkan pembahasannya, bagian ini dipecah kembali 

menjadi dua bagian: pertama, pekerjaan para malaikat berhubungan 

dengan kehidupan dan pelayanan Kristus, dan kedua, pekerjaan para 

malaikat yang baik pada umumnya.

1. Pekerjaan para malaikat berhubungan dengan kehidupan dan 

pelayanan Kristus. Suatu fakta yang mencolok ialah bahwa Tuhan 

kita samasekali tidak menolak kepercayaan akan malaikat, namun  

banyak kali menerima pertolongan mereka. Maria diberi tahu oleh 

malaikat Gabriel bahwa ia akan menjadi ibu kandung Sang Juru­

selamat (Lukas 1:26-38). Yusuf diyakinkan oleh seorang malaikat 

bahwa "anak yang di dalam kandungannya [Maria] yaitu  dari Roh 

Kudus" (Matius 1:20). Para malaikat memberitahukan para gembala 

di padang bahwa Kristus telah lahir di Betlehem (Lukas 2:8-15). 

Para malaikat turun dan melayani Yesus setelah Ia dicobai oleh 

Iblis di padang gurun (Matius 4:11). Yesus mengatakan kepada 

Natanael bahwa ia akan melihat malaikat-malaikat Allah turun-naik

221

222 Ajaran Tentang Malaikat

kepada Anak Manusia (Yohanes 1:51). Seorang malaikat dari sorga 

datang dan menguatkan Tuhan Yesus saat  Ia berdoa di taman 

Getsemani (Lukas 22:43). Tuhan mengatakan bahwa Ia dapat me­

minta Bapa-Nya di sorga mengirim dua belas pasukan malaikat un­

tuk membantu-Nya, bila itu memang diperlukan (Matius 26:53). 

Seorang malaikatlah yang menggelindingkan batu kubur Yesus serta 

berbicara kepada ketiga orang wanita yang datang ke situ (Matius 

28:2-7). Para malaikat mendampingi Kristus saat  naik ke surga 

(Kisah 1:10-11). Para malaikat akan menyertai Dia saat  datang 

kembali untuk kedua kalinya (Matius 16:27; 25:31). Dikatakan bah­

wa malaikat-malaikat ingin sekali mengetahui rencana keselamatan 

yang dikerjakan oleh Kristus (I Petrus 1:12). Jelas sekali, semua 

data ini menunjukkan adanya suatu hubungan yang erat sekali an­

tara Kristus dengan para malaikat.

2. Pekerjaan para malaikat yang baik pada umumnya. Pertama- 

tama, ada  pelayanan para malaikat yang terus-menerus dan 

tetap. (1) Mereka berdiri di hadapan Allah dan menyembah Dia 

(Mazmur 148:2; Matius 18:10; Ibrani 1:6; Wahyu 5:11). (2) Mereka 

melindungi dan membebaskan umat Allah (Kejadian 19:11; I Raja- 

Raja 19:5; Daniel 3:28; 6:22; Kisah 5:19; 12:10-11). Alkitab men­

janjikan kepada orang percaya, "Malaikat-malaikat-Nya akan dipe- 

rintahkan-Nya kepadamu untuk menjaga engkau di segala jalanmu" 

(Mazmur 91:11, bandingkan dengan Matius 4:6). Malaikat-malaikat 

ialah "roh-roh yang melayani, yang diutus untuk melayani mereka 

yang harus memperoleh keselamatan" (Ibrani 1:14). Mikhael yaitu  

malaikat pelindung Israel (Daniel 10:13, 21; 12:1). Tidaklah mus­

tahil bahwa ketujuh malaikat' dari ketujuh jemaat di Asia merupakan 

malaikat pelindung untuk setiap gereja itu (Wahyu 1:20). Yesus 

mengingatkan orang-orang yang kurang menyenangi anak-anak ke­

cil sebagai berikut, "Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang 

dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada ma­

laikat mereka di sorga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku di 

sorga" (Matius 18:10). (3) Mereka menuntun dan memberikan se­

mangat kepada hamba-hamba Allah (Matius 28:5-7; Kisah 8:26; 

27:23-24). (4) Mereka menerangkan kehendak Allah bagi manusia 

(Ayub 33:23). Hal ini jelas sekali dalam pengalaman Daniel (Daniel 

7:16; 10:5, 11), Zakharia (1:9, 19), dan Yohanes (Wahyu 1:1). (5) 

Mereka merupakan pelaksana hukuman atas orang-orang dan 

Pekerjaan dan Nasib Para Malaikat 223

bangsa-bangsa, seperti Sodom dan Gomora (Kejadian 19:12-13), 

Yerusalem (II Samuel 24:16; Yehezkiel 9:1), dan Herodes (Kisah 

12:23), serta juga terhadap bumi (Wahyu 16). (6) Mereka membawa 

orang-orang yang sudah diselamatkan pulang ke sorga setelah 

orang-orang ini  meninggal dunia (Lukas 16:22).

Di samping pelayanan yang tetap itu, para malaikat yang baik 

ini di kemudian hari akan terlibat secara aktif sekali. (1) Kedatangan 

Tuhan yang kedua kalinya akan disertai dengan seman penghulu 

malaikat (I Tesalonika 4:16). (2) Mereka akan bekerja dengan giat 

sebagai pelaksana hukuman Allah selama masa kesengsaraan (Wah­

yu 7:2; 16:1). (3) saat  Yesus datang kembali untuk menghakimi, 

Ia akan disertai oleh "malaikat-malaikat-Nya dalam kuasa- 

Nya" (II Tesalonika 1:7, bandingkan dengan Yudas 14). (4) Para 

malaikat akan mengumpulkan orang-orang Israel yang terpilih pada 

saat kedatangan kembali Kristus (Matius 24:31). (5) Pada masa 

penuaian pada akhir zaman para malaikat akan ikut terlibat dalam 

memisahkan yang palsu dari yang benar, dan yang jahat dari yang 

baik (Matius 13:39, 49-50). (6) Mereka akan berdiri di pintu-pintu 

gerbang Yerusalem Baru, agaknya untuk bertugas sebagai pasukan 

kehormatan yang mengawal, seakan-akan untuk memastikan bahwa 

tidak ada sesuatu apa pun yang najis atau tercemar memasuki kota 

itu (Wahyu 21:12).

B, PEKERJAAN PARA MALAIKAT YANG JAHAT

Beberapa kalangan memisahkan antara malaikat yang jahat dengan 

setan-setan, namun agaknya kemungkinan lebih besar bahwa ma­

laikat yang jahat itu yaitu  setan. Mereka sangat aktif dalam segala 

usaha untuk melawan Allah serta pelaksanaan rencana-Nya. (1) Me­

reka berusaha untuk memisahkan orang percaya dari Kristus (Roma 

8:38). (2) Mereka melawan kegiatan para malaikat yang baik (Da­

niel 10:12-13). (3) Mereka bekerja sama dengan Iblis dalam pelak­

sanaan maksud dan rencananya (Matius 25:41; Efesus 6:12; Wahyu 

12:7-12). (4) Mereka menyebabkan kekacauan mental dan penyakit 

jasmani (Matius 9:33; 12:22; Markus 5:1-16; Lukas 9:37-42). (5) 

Istilah "roh jahat" menunjukkan bahwa mereka menuntun manusia 

untuk melakukan kenajisan moral (Matius 10:1; Kisah 5:16). (6) 

Mereka menyebarkan ajaran-ajaran sesat (II Tesalonika 2:2; I Timo­

tius 4:1). (7) Mereka menghambat anak-anak Tuhan dalam kema­

224 Ajaran Tentang Malaikat

juan kerohanian mereka (Efesus 6:12). (8) Mereka kadang-kadang 

merasuki manusia dan bahkan binatang (Matius 4:24; Markus 5:8- 

14; Lukas 8:2; Kisah 8:7; 16:16). Akan namun , perlu diketahui ada­

nya perbedaan antara dipengaruhi setan dengan dikuasai setan atau 

dirasuki setan; dipengaruhi setan merupakan pekerjaan setan yang 

sementara dari luar seseorang, sedangkan dirasuki setan artinya pe­

kerjaan setan di dalam diri seseorang yang lebih permanen. (9) Me­

reka kadang-kadang dipakai oleh Allah untuk melaksanakan mak- 

sud-Nya (Hakim-Hakim 9:23; I Raja-Raja 22:21-23; Mazmur 

78:49). Nampaknya, Tuhan akan memakai mereka secara khusus 

selama masa kesengsaraan (Wahyu 9:1-12; 16:13-16). Jelas bahwa 

setan-setan ini akan diberi kekuatan yang ajaib untuk sementara 

waktu (II Tesalonika 2:9; Wahyu 16:14).

ada  tiga macam perbuatan kuasa setan yang secara khusus 

perlu disebut di sini. Yang pertama ialah meramal. Pada tingkatan 

terendah, meramal bisa merupakan sekadar rekaan manusiawi, pe­

nipuan yang disengaja, atau takhyul mumi. Pada zaman Alkitab, 

ada  suatu bentuk meramal dengan memakai tanda-tanda alami­

ah, misalnya terbangnya burung atau susunan isi perut binatang 

(Yehezkiel 21:21), ada pula yang memakai hidromansi atau cara 

meramal dengan melihat permukaan air yang dituang ke dalam 

cangkir atau melihat riak dari benda-benda yang dijatuhkan ke da­

lam air (Kejadian 44:5), dan astrologi atau meramal dengan menen­

tukan pengaruh bintang-bintang atas kehidupan seseorang (Yesaya 

47:13). Semua perbuatan ini merupakan semacam ajaran setan yang 

dilakukan oleh manusia. Kapan saja seseorang berusaha meramal 

masa depan dengan semacam pengilhaman tertentu maka sebenar­

nya ia melakukannya dengan bantuan setan.

Bentuk yang kedua ialah pemujaan setan yang terang-terangan. 

Israel yang murtad mempersembahkan korban kepada setan (Ulang­

an 32:17; Mazmur 106:37). Makanan yang dipersembahkan kepada 

berhala dalam Perjanjian Baru sebenarnya dipersembahkan kepada 

setan (I Korintus 10:19-20). Selama masa kesengsaraan besar akan 

ada  kembali kegiatan setan-setan serta juga pemujaan yang 

terang-terangan kepada naga (Wahyu 13:4; 16:13-14).

Bentuk yang ketiga ialah praktik yang dikenal sebagai spi­

ritualisme atau spiritisme. Spiritisme merupakan kepercayaan bah­

wa orang-orang yang hidup dapat berkomunikasi dengan orang- 

Pekerjaan dan Nasib Para Malaikat 225

orang mati dan bahwa roh orang mati dapat menyatakan kehadiran­

nya kepada orang yang masih hidup. Praktik semacam ini disebut 

nekromansi dan biasanya dilakukan dengan perantaraan seseorang 

yang disebut medium. Sekalipun Israel dahulu tidak selalu memper­

hatikan, namun mereka sudah secara tegas sekali diingatkan untuk 

tidak meminta petunjuk kepada orang yang menyatakan dapat 

berkomunikasi dengan orang mati (Imamat 19:31; 20:6, 27; Ulang­

an 18:11; II Raja-Raja 21:6; 23:24; I Tawarikh 10:13; II Tawarikh 

33:6; Yesaya 8:19; 19:3; 29:4). Dukun dari Endor (I Samuel 28:3- 

14), Simon si tukang sihir (Kisah 8:9-24), Elimas si tukang sihir 

(Kisah 13:6-12), serta gadis dengan roh tenung (Kisah 16:16-18) 

merupakan contoh-contoh di Alkitab dari bentuk praktik setan ini. 

Alkitab sering kali berbicara tentang kegiatan ini sebagai sihir (Ke­

luaran 7:11; Yeremia 27:9; Daniel 2:2; Mikha 5:11; Nahum 3:4; 

Wahyu 9:21).

Mengenai masalah praktik-praktik ini, Alkitab menganjurkan kita 

untuk menguji roh-roh itu, untuk mengetahui apakah mereka itu 

dari Allah atau bukan (I Yohanes 4:1, bandingkan dengan I Korintus 

12:10), untuk tidak bersahabat dengan orang-orang yang bersekutu 

dengan setan (Imamat 19:31; I Korintus 10:20), apalagi meminta 

petunjuk dari roh-roh jahat (Ulangan 18:10-14; Yesaya 8:19), untuk 

memakai seluruh perlengkapan senjata Allah dalam melawan roh- 

roh jahat ini (Efesus 6:12-13), serta senantiasa memanjatkan doa 

dan permohonan pada setiap waktu dan dengan tekun (Efesus 6:18).

C. PEKERJAAN IBLIS

ada  petunjuk-petunjuk dari pekerjaan Iblis dalam berba­

gai nama yang diberikan kepadanya, karena setiap nama itu meng­

ungkapkan suatu sifat, atau suatu cara bertindak, atau keduanya. 

Sebagai Satan, dia melawan; sebagai Iblis, dia memfitnah dan me­

nuduh; dan sebagai penggoda, dia berusaha menggoda orang untuk 

berbuat dosa.

Lagi pula, Alkitab secara langsung menyatakan sifat pekerjaan­

nya. Secara umum, tujuan Iblis ialah menduduki takhta 

Allah. Sekalipun Alkitab tidak mendukung pandangan bahwa 

neraka merupakan suatu kerajaan yang diperintah oleh Iblis, Firman 

Allah menggambarkan dia sebagai memiliki kekuasaan, takhta, dan 

wibawa yang besar (Matius 4:8-9; Wahyu 13:2). Agar dapat men- 

226 Ajaran Tentang Malaikat

capai tujuannya, ia berusaha membunuh bayi Yesus (Matius 2:16; 

Wahyu 12:4), lalu saat  usaha ini  gagal, ia berusaha mem­

bujuk Yesus untuk menyembah dirinya (Lukas 4:6-7). Seandainya 

Kristus gagal saat  itu, maka Iblis berhasil memperoleh bagian 

pertama dari tujuannya untuk menguasai bumi.

Iblis memakai berbagai cara untuk mendapatkan apa yang di­

inginkannya. Karena ia tidak mungkin menyerang Allah secara 

langsung, maka ia menyerang karya besar Allah, yaitu manusia. 

Alkitab menyebutkan cara-cara berikut yang dipakai Iblis: berdusta 

(Yohanes 8:44; II Korintus 11:3), mencobai (Matius 4:1), merampas 

(Matius 13:19), mengganggu (II Korintus 12:7), menghalangi (I Te­

salonika 2:18), menampi (Lukas 22:31), meniru (Matius 

13:25; II Korintus 11:14-15), menuduh (Wahyu 12:10), membawa 

penyakit (Lukas 13:16, bandingkan dengan I Korintus 5:5), mengua­

sai atau merasuki (Yohanes 13:27), membunuh dan menelan 

(Yohanes 8:44; I Petrus 5:8). Orang percaya tidak boleh mem­

biarkan Iblis mempunyai kesempatan untuk menguasai dirinya, 

karena tidak mengetahui akan siasat-siasatnya (II Korintus 2:11), 

namun  ia harus senantiasa bijaksana dan berjaga-jaga serta melawan 

dia (Efesus 4:27; Yakobus 4:7; I Petrus 5:8, 9). Iblis tidak boleh 

dianggap enteng (Yudas 8-9, bandingkan dengan II Petrus 2:10), 

namun  semua orang percaya harus memakai perlengkapan senjata 

Allah serta menentang dia (Efesus 6:11). Kristus memang sudah 

mengalahkannya di kayu salib (Ibrani 2:14), dan orang percaya 

harus hidup dengan iman serta mengingat kemenangan itu. 

Sebagaimana dikatakan oleh Pentecost, "Dengan kematian dan 

kebangkitan-Nya, Yesus telah menjatuhkan hukuman terhadap 

musuh Allah itu."66

66 Pentecost, Your Adversary the Devil, hal. 184.

II. NASIB PARA MALAIKAT

A. NASIB MALAIKAT YANG BAIK

Sungguh beralasan untuk percaya bahwa malaikat yang baik akan 

melanjutkan pelayanan mereka kepada Allah sampai kekal selama- 

lamanya. Dalam penglihatan Yohanes tentang Yerusalem Baru, 

Pekerjaan dan Nasib Para Malaikat 227

yang pastilah akan terjadi pada masa depan dan jelas sekali diren­

canakan berlangsung selama-lamanya bersamaan dengan langit dan 

bumi baru (Wahyu 21:1-2), ia melihat malaikat-malaikat berdiri di 

kedua belas pintu gerbang kota itu (Wahyu 21:12). Bila ada ma­

laikat yang bertugas waktu itu, maka tidak ada alasan untuk tidak 

percaya bahwa semua malaikat yang baik akan tetap melanjutkan 

tugas-tugas mereka.

B. NASIB MALAIKAT YANG JAHAT

Para malaikat yang jahat akan memperoleh bagian mereka dalam 

lautan api (Matius 25:41). Saat ini ada malaikat-malaikat jahat yang 

sedang dirantai dan berada dalam kegelapan sampai pada hari peng­

hakiman terakhir mereka (II Petrus 2:4; Yudas 6), sedangkan yang 

lain masih bebas berkeliaran. Pada saat kedatangan Kristus yang 

kedua kalinya, semua orang percaya akan ikut menghakimi ma­

laikat-malaikat yang jahat (I Korintus 6:3), dan malaikat-malaikat 

ini akan dicampakkan dalam lautan api bersama dengan Iblis.

C. NASIB IBLIS

Sejarah kehidupan Iblis dapat dirunut secara singkat. Mula-mula ia 

ditemukan di sorga (Yehezkiel 28:14; Lukas 10:18). Tidak diketahui 

berapa lama ia hidup berkenan kepada Allah, namun  pada suatu 

saat  ia bersama-sama dengan sejumlah malaikat jatuh. Berikut­

nya, ia ditemukan di taman Eden dalam rupa seekor ular (Kejadian 

3:1; Yehezkiel 28:13). Di situlah ia menyebabkan kejatuhan ma­

nusia. Kemudian ia ditemukan di udara, serta dapat memasuki sor­

ga dan bumi (Ayub 1:6-7; 2:1-2; Efesus 2:2; 6:12). Rupanya ang­

kasa merupakan markas besarnya sejak kejatuhan manusia. Di masa 

depan ia akan dicampakkan ke bumi (Wahyu 12:9-13). Peristiwa 

ini rupanya akan terjadi pada masa kesengsaraan besar. saat  Kris­

tus datang kembali ke bumi dalam kekuasaan dan kemuliaan-Nya 

untuk mendirikan kerajaan-Nya, Iblis akan dimasukkan ke dalam 

jurang maut yang tidak terduga dalamnya (Wahyu 20:1-3). Ia akan 

diikat dan dikurung di situ selama seribu tahun. Kemudian ia akan 

dilepaskan untuk sedikit waktu lamanya dan saat  itu ia akan 

berusaha menggagalkan rencana Allah ke bumi (Wahyu 20:3, 7-9). 

Namun semua rencananya akan gagal. Api akan turun dari sorga 

serta membinasakan segala pasukan yang telah disiagakannya, dan 

228 Ajaran Tentang Malaikat

ia sendiri akan dicampakkan ke dalam lautan api (Wahyu 20:7-10), 

yaitu tempat tujuannya yang terakhir, di mana ia dan para pengikut­

nya akan disiksa selama-lamanya.

BAGIAN V 

ANTROPOLOGI

(AJARAN TENTANG MANUSIA)

Antropologi yaitu  ajaran tentang manusia, namun dewasa ini 

istilah ini  memiliki arti yang teologis dan yang ilmiah. 

Antropologi teologis membahas manusia dalam hubungannya de­

ngan Allah, sedangkan antropologi ilmiah menguraikan organisme 

psikofisik serta sejarah alamiah manusia. Sekalipun demikian, ter­

dapat bermacam-macam variasi dalam antropologi ilmiah tergan­

tung pokok-pokok yang dibahas oleh penulis-penulis antropologi 

ilmiah. Misalnya, golongan naturalis mencakup juga aspek sejarah 

alamiah umat manusia, sedangkan para filsuf meluaskan istilah 

antropologi ini untuk meliputi psikologi, sosiologi, dan etika, ber­

samaan dengan anatomi dan fisiologi. Harus dicatat bahwa per­

bedaan-perbedaan ini hanya berlaku untuk pokok-pokok bahasan, 

dan bukan untuk cara-cara pembahasan. Hal ini perlu dikatakan 

karena antropologi ilmiah tidaklah lebih ilmiah daripada antropologi 

teologis, namun  hanya membahas aspek-aspek yang berbeda dari 

ajaran tentang manusia.

Subjek antropologi dalam penelaahan ini meliputi pokok-pokok 

bahasan seperti asal usul manusia, kesatuan umat manusia, 

kejatuhan manusia, serta akibat-akibat kejatuhannya itu.

229


XV 

Asal Usul dan Watak Semula 

Manusia

I. ASAL USUL MANUSIA

Setiap orang yang berpikir dengan sungguh-sungguh sudah pasti 

pernah menghadapi masalah asal mula umat manusia. Sewaktu ia 

menoleh ke sejarah masa lampau, ia melihat bahwa manusia yang 

ada sekarang ini telah lahir dari manusia lain lewat proses keturunan 

alamiah selama ribuan tahun. Dalam meneliti asal usul manusia, 

seorang yang percaya berhadapan dengan persoalan dasar: Adakah 

Allah menciptakan manusia secara tidak langsung ataukah 

langsung, adakah manusia dibentuk oleh tangan Allah sendiri 

ataukah manusia itu berkembang melalui proses-proses alamiah? 

Orang Kristen harus mengakui keterlibatan Allah, namun apakah 

Ia terlibat langsung atau tidak langsung? Golongan evolusionis yang 

berhaluan teistis mengajarkan bahwa manusia itu merupakan hasil 

proses evolusi alamiah dari suatu bentuk kehidupan yang lebih 

sederhana. Golongan evolusi ambang dan golongan kreasionisme 

beranggapan bahwa manusia diciptakan langsung oleh Allah. Car- 

nell, seorang sarjana berhaluan evolusi ambang, menulis, "Manusia 

diciptakan dari debu dengan suatu tindakan, ab extra, ilahi yang 

khusus, dengan tubuh yang secara struktural mirip dengan golongan 

vertebrata (hewan yang bertulang belakang), dan dengan jiwa yang 

dibentuk menurut gambar dan rupa Allah."67 Seorang sarjana lain 

yang berhaluan sama mengatakan, 'Tidak bolehkah kita berang-

67 Carnell, An Introduction to Christian Apologetics, hal. 238.

231

232 Antropologi

gapan bahwa ... pada masa lampau Allah campur tangan, sekalipun 

di tengah-tengah suatu proses evolusi yang panjang, dan mencipta­

kan manusia sebagai suatu faktor yang baru samasekali?"68 

Beberapa pihak yang berhaluan evolusionis mengusulkan bahwa 

tubuh manusia berkembang melalui suatu proses evolusi yang pan­

jang, namun  pada suatu saat  Allah campur tangan dan secara lang­

sung menciptakan jiwa, sehingga jadilah manusia. Paus Pius XII 

dalam ensikliknya berjudul Humani Generis (1950) mengatakan, 

"Ajaran Gereja membiarkan ajaran evolusi sebagai suatu masalah 

yang terbuka, selama ajaran ini membatasi teori-teorinya pada 

perkembangan tubuh manusia yang dijadikan dari zat hidup lainnya 

yang sudah ada. (Bahwa jiwa diciptakan langsung oleh Allah 

merupakan pandangan yang dipaksakan iman Katolik atas kita)."69 

Pihak lainnya lagi mengusulkan bahwa Adam merupakan satu 

pribadi di antara sekian banyak orang lainnya dan bahwa Allah 

memberikan gambar dan rupa-Nya baik kepada Adam maupun 

kepada manusia-manusia semasanya; jadi, kepemimpinan Adam 

meliput juga kepemimpinan atas orang-orang semasanya dan 

keturunannya.70 Sebagaimana dapat dilihat, usaha memadukan ilmu 

pengetahuan sekular dengan catatan Alkitab dapat mengambil aneka 

bentuk. Argumen-argumen yang mendukung pandangan evolusi 

perlu disebutkan dan baru kemudian jawaban Alkitab disajikan.

68 Barnhouse, “Adam and Modem Science," Eternity Magazine, Mei 1960, hal. 8.

69 Clarkson, et al., eds., The Church Teaches, hal. 154.

70 Kidner, Genesis, hal. 29.

A. ARGUMEN-ARGUMEN PENDUKUNG HIPOTESIS 

EVOLUSIONER

7. Anatomi perbandingan. ada  kesamaan-kesamaan men­

colok antara anatomi manusia dengan anatomi hewan bertulang 

belakang dari golongan yang lebih tinggi. Dikatakan, hal ini men­

dukung pandangan bahwa manusia berasal dari hewan. Akan namun , 

jikalau manusia dan hewan memakan makanan yang sama, meng­

hirup udara yang sama, dan hidup dalam lingkungan yang sama 

pula, tidakkah seharusnya paru-paru, sistem pencernaan, kulit, mata, 

dan sebagainya sama juga? Selanjutnya, kesamaan dalam anatomi 

menunjukkan bahwa pencipta yang sama yang telah menciptakan 

Asal Usul dan Watak Semula Manusia 233

manusia dan hewan, bukan bahwa makhluk yang satu telah terbit 

dari makhluk yang lain. Dapat diharapkan bahwa dua simfoni yang 

digubah oleh seorang penggubah akan mempunyai kesamaan- 

kesamaan yang mencolok.

2. Organ-organ yang tertinggal. Di dalam tubuh kita ditemukan 

organ-organ, misalnya amandel, usus buntu, serta kelenjar timus, 

yang menurut golongan evolusionis diperlukan saat  nenek 

moyang manusia modem masih dalam tahap-tahap evolusi yang ter­

dahulu, namun sekarang secara fungsional tidak ada gunanya lagi. 

Bertentangan dengan pandangan ini, dapat dikatakan bahwa seiring 

dengan bertambahnya pengetahuan, sains mulai mengetahui lebih 

banyak tentang dan mengakui kegunaan organ-organ tubuh yang 

konon tidak berguna lagi. Sebagaimana dikatakan Culp, "Hanya 

karena kita belum memahami sepenuhnya kegunaan berbagai organ 

tubuh ini, tidaklah berarti bahwa kita berhak mempertanyakan 

kebijaksanaan Sang Pencipta yang menempatkannya di dalam tubuh 

kita."71

3. Embriologi. Para evolusionis mengatakan bahwa janin 

manusia berkembang melalui aneka tahap yang sejajar dengan 

proses yang dianggap evolusioner, yaitu dari organisme bersel satu 

sampai menjadi spesies yang dewasa. Akan namun , suatu penelitian 

yang cermat terhadap janin manusia menunjukkan adanya terlalu 

banyak ketidaksamaan dengan tahap-tahap yang disangka serupa 

dalam perkembangan cacing, ikan, ekor, dan rambut. Selanjutnya, 

perkembangan-perkembangan yang terjadi sering kali kebalikan 

dari apa yang diduga sebelumnya. Cacing tanah itu memiliki 

sirkulasi darah namun tidak mempunyai jantung, dan karena itu 

dikemukakan bahwa peredaran darah pasti telah mendahului adanya 

jantung. Namun, dalam janin manusia, jantung terjadi lebih dulu 

dan kemudian baru ada peredaran darah. Apa yang dikenal dengan 

celah-insang pernah dianggap sebagai insang-insang yang belum 

sempurna, namun dari penelitian yang lebih mutakhir ternyata itu 

hanya sekadar suatu lekuk antara dua pembuluh darah yang 

sejajar.72

71 Culp, Remember Thy Creator, hal. 66.

72 Untuk pembuktian kesalahan selanjutnya, lihat Davidheiser, Evolution and 

Christian Faith, hal. 240-254.

234 Antropologi

4. Biokimia. Semua organisme hidup mempunyai kesamaan 

dalam tatanan biokimianya. Hal ini tidak perlu merisaukan karena 

aneka sistem kehidupan yang ada semuanya bergantung pada zat-zat 

asam, protein, dan zat-zat lainnya yang sama.

5. Paleontologi. Penelitian terhadap fosil-fosil umumnya dipakai 

untuk mendukung ajaran evolusi. Bukti-bukti tentang berbagai jenis 

makhluk hidup ditemukan dalam berbagai lapisan sedimen sejak 

zaman prakambrium dan seterusnya. Para evolusionis berusaha 

mencari bukti adanya kesinambungan antara, misalnya, manusia 

dengan hewan, ikan dengan unggas, dan binatang melata dengan 

ikan. Akan namun , dalam penelitian fosil ada  banyak bukti baik 

yang mendukung kesinambungan maupun yang mendukung 

ketidaksinambungan. Tidak pernah ditemukan adanya hubungan an­

tara manusia dengan kera. Alkitab mengatakan bahwa ada daging 

manusia dan ada daging binatang (I Korintus 15:39). Orang 

evolusionis tidak dapat menunjukkan hubungan antara manusia dan 

kera sedangkan Alkitab tidak mengizinkan adanya hubungan seperti 

itu.

6. Genetika. Genetika merupakan studi tentang faktor-faktor ke­

turunan serta aneka variasi di antara organisme-organisme yang ber­

hubungan. Mengapa tidak ada dua sidik jari yang sama? Tidakkah 

ini menunjukkan bahwa spesies manusia berubah? Dan bukankah 

kenyataan ini mendukung pandangan evolusi? Ada tiga hal yang 

harus diperhatikan. Pertama, memang diakui bahwa mutasi-mutasi 

(pembahan material genetis) terjadi, namun mutasi-mutasi ini begitu 

kecil, sehingga akan diperlukan sangat banyak mutasi untuk meng­

akibatkan efek yang penting. Lagi pula, perubahan-perubahan 

itu cenderung membuat organisme yang mengalaminya menjadi 

kurang cocok dengan lingkungannya, sehingga kelangsungan hidup­

nya justru terancam. Akhirnya, setelah meneliti banyak generasi 

lalat buah, tidaklah terjadi transmutasi, yaitu perubahan suatu 

spesies ke spesies yang lain. Belum pernah ada, dan tidak akan 

pernah ada, persilangan "jenis-jenis makhluk hidup" yang disebut 

di Kejadian 1. Manusia yaitu  spesies khusus, ia tidak berasal dari 

hewan.

Asal Usul dan Watak Semula Manusia 235

B. ARGUMEN-ARGUMEN ALKITAB YANG MENDUKUNG PEN­

CIPTAAN LANGSUNG MANUSIA

1. Ajaran harfiah Alkitab. Sekalipun golongan evolusionis yang 

ateistis menolak ajaran Alkitab, golongan evolusionis teistis 

mungkin akan meragukan watak Allah saat  mereka berusaha 

untuk menjelaskan kisah penciptaan secara simbolis. Bila Alkitab 

ditafsirkan secara harfiah, maka terbitlah suatu penjelasan yang 

masuk akal tentang asal usul manusia. Sekalipun golongan evolusi 

dapat membuktikan ajaran mereka bahwa yang paling kuat akan 

bertahan hidup, namun ajaran mereka tidak dapat menjelaskan 

hadirnya jenis makhluk hidup yang pertama. Alkitab menjelaskan 

kepada kita bahwa Allah "menciptakan" manusia (Kejadian 1:27; 

5:1; Ulangan 4:32; Mazmur 104:30; Yesaya 45:12; I Korintus 11:9) 

dan bahwa Allah "menjadikan" dan "membentuk" manusia 

(Kejadian 1:26; 2:22; 6:6-7; Mazmur 100:3; 103:14; I Timotius 

2:13). Mengenai tubuhnya, manusia diciptakan dari debu tanah; dan 

mengenai jiwanya, manusia diciptakan dengan napas Allah 

(Kejadian 2:7; Ayub 33:4; dan Pengkhotbah 12:7 mencantumkan 

kedua aspek penciptaan manusia ini dalam satu kalimat. Gambaran 

tentang asal usul manusia yang diambil secara harfiah dari Alkitab 

memberikan kepada manusia suatu martabat dan kedudukan penuh 

tanggung jawab yang tidak diberikan oleh teori lain, serta meletak­

kan dasar bagi pembentukan suatu sistem etika dan penebusan yang 

bijaksana.

2. Adam dan Hawa diciptakan sebagai laki-laki dan perempuan. 

Jikalau Adam dan Hawa belum manusiawi sebelum Allah meng­

hembuskan napas-Nya ke dalam mereka, pastilah mereka sudah 

berupa makhluk jantan dan betina, namun  Alkitab menyatakan bahwa 

Allah yang menciptakan mereka sebagai laki-laki dan perempuan 

(Kejadian 1:27; 2:7; Matius 19:4).

3. Hawa diciptakan langsung oleh Allah. Hawa diciptakan dari 

rusuk Adam (Kejadian 2:21-22; I Korintus 11:8). Bahasa yang 

dipakai dalam Kejadian pasal 2 tidak mengizinkan suatu penafsiran 

yang lain, dan jika Hawa secara langsung dibentuk oleh Tuhan, 

sangatlah masuk akal untuk beranggapan bahwa Adam juga 

langsung diciptakan oleh Tuhan.

236 Antropologi

4. Manusia berasal dari debu dan kembali kepada debu. Bila 

debu dalam Kejadian 2:7 ditafsirkan sebagai manusia telah berkem­

bang dari binatang, maka istilah kembali menjadi tanah dalam 

Kejadian 3:19 pastilah berarti bahwa manusia menjadi binatang lagi. 

Jelas sekali bahwa pandangan semacam ini tidak dapat diterima.

5. Manusia menjadi makhluk yang hidup. saat  manusia dicip­

takan maka ia menjadi makhluk hidup, dan bukan sebelumnya. 

Manusia bukan makhluk hidup yang berasal dari makhluk hidup 

lainnya.

6. Alkitab membedakan antara daging manusia dengan daging 

binatang. Paulus tidak mengizinkan terjadinya percampuran antara 

daging binatang, daging ikan, daging unggas, atau daging manusia; 

jenis-jenis daging itu harus senantiasa dibeda-bedakan (I Korintus 

15:39).

II. WATAK SEMULA MANUSIA

Alkitab menggambarkan keadaan mula-mula manusia dengan 

memakai ungkapan "menurut gambar dan rupa Allah" (Kejadian 

1:26-27; 5:1; 9:6; I Korintus 11:7; Yakobus 3:9). Nampaknya tidak 

ada perbedaan berarti di antara kata-kata Ibrani "gambar" dan 

"rupa", sehingga kita tidak perlu mencari-cari perbedaan itu. Namun 

perlu kiranya kita membahas apakah gambar dan rupa itu.

A. KESAMAAN ITU BUKAN KESAMAAN JASMANIAH

Allah yaitu  Roh sehingga tidak memiliki anggota-anggota tubuh 

seperti manusia. Beberapa kalangan menggambarkan Allah sebagai 

manusia yang agung dan luhur, namun pandangan semacam ini 

salah. Mazmur 17:15 mengatakan, "Pada waktu bangun aku akan 

menjadi puas dengan rupa-Mu." Namun ayat ini tidak memaksud­

kan keadaan jasmaniah; lebih tepat kalau dikatakan bahwa ayat ini 

menurut konteksnya berbicara mengenai persamaan dalam 

kebenaran (lihat I Yohanes 3:2-3). Musa telah melihat "rupa Tuhan" 

(Bilangan 12:8), walaupun wajah Allah tidak dapat dilihat (Keluaran 

Asal Usul dan Watak Semula Manusia 237

33:20). Sekalipun manusia tidak memiliki kesamaan jasmaniah de­

ngan Allah karena Allah tidak memiliki tubuh jasmaniah, manusia 

memang memiliki kesamaan tertentu karena manusia diciptakan 

dalam keadaan sehat walafiat, tidak ada bibit-bibit penyakit apa pun 

di dalam dirinya, dan tidak bisa mati. Nampaknya pada mulanya 

Allah merencanakan supaya manusia makan dari tumbuh-tumbuhan 

saja (Kejadian 1:29), namun  kemudian la mengizinkan daging hewan 

untuk dimakan (Kejadian 9:3). Menarik untuk diperhatikan bahwa 

saat  Allah mengizinkan manusia memakan daging, Allah 

samasekali tidak memberikan peraturan mengenai hewan haram dan 

hewan halal meskipun perbedaan antara yang haram dan yang halal 

sudah diketahui (Kejadian 7:2). Peraturan itu diberi kemudian untuk 

mengatur perilaku satu bangsa saja dan hanya berlaku untuk jangka 

waktu tertentu (Imamat 11; Markus 7:19; Kisah 10:15; Roma 

14:1-12; Kolose 2:16).

B. KESAMAAN ITU yaitu  KESAMAAN MENTAL

Hodge mengatakan,

Allah yaitu  Roh, jiwa manusia yaitu  roh juga. Sifat-sifat hakiki dari roh 

ialah akal budi, hati nurani, dan kehendak. Roh yaitu  unsur yang mampu 

bernalar, bersifat moral, dan oleh karena itu juga berkehendak bebas. saat  

menciptakan manusia menurut gambar-Nya Allah menganugerahkan kepa­

danya sifat-sifat yang dimiliki-Nya sendiri sebagai roh. Dengan demikian 

manusia berbeda dari semua makhluk lain yang mendiami bumi ini, serta 

berkedudukan jauh lebih tinggi daripada mereka. Manusia termasuk go­

longan yang sama dengan Allah sendiri sehingga ia mampu berkomunikasi 

dengan Penciptanya. Kesamaan sifat antara Allah dan manusia ini . . . juga 

merupakan keadaan yang diperlukan untuk mengenal Allah dan karena itu 

merupakan dasar dari kesalehan kita. Bila kita tidak diciptakan menurut 

gambar Allah, kita tidak dapat mengenal Dia. Kita akan sama dengan 

binatang-binatang yang akhirnya binasa.73

Pernyataan Hodge ini dikuatkan oleh Alkitab. Dalam pengudus: 

an, manusia "terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh penge­

tahuan yang benar menurut gambar Khaliknya" (Kolose 3:10). 

Tentu saja, pembaharuan ini dimulai pada saat kelahiran baru ter­

jadi, namun  dilanjutkan dalam pengudusan. Bahwa manusia diberi 

73 Hodge, Systematic Theology, II, hal. 96, 97.

238 Antropologi

kemampuan intelektual yang tinggi tersirat dalam perintah untuk 

mengusahakan taman Eden serta memeliharanya (Kejadian 2:15), 

juga perintah untuk menguasai bumi beserta segala isinya (Kejadian 

1:26, 28), dan dalam pernyataan bahwa manusia memberi nama 

kepada segala binatang di bumi (Kejadian 2:19-20). Kesamaan de­

ngan Allah ini tidak dapat dihapus, dan karena kesamaan ini  

memungkinkan manusia memperoleh penebusan, maka kehidupan 

manusia yang belum dilahirkan baru juga berharga (Kejadian 9:6; 

I Korintus 11:7; Yakobus 3:9). Betapa berbedanya gambaran ini 

tentang keadaan mula-mula manusia dengan pandangan evolusi, 

yang menganggap manusia yang pertama hanya sedikit di atas 

binatang liar—yang tidak hanya bodoh, namun  samasekali tanpa 

kemampuan mental apa pun.

C. KESAMAAN ITU yaitu  KESAMAAN MORAL

Beberapa pihak telah membuat kekeliruan karena menganggap 

bahwa gambar dan rupa Allah yang menjadi karakter asli manusia 

saat  diciptakan itu hanya ada  dalam sifat rasionalnya; 

sedangkan yang lain membatasi kesamaan itu pada kekuasaan 

manusia saja. Yang lebih tepat ialah bahwa kesamaan itu ada  

dalam sifat rasional manusia dan dalam persesuaian moralnya de­

ngan Allah. Hodge mengatakan,

Manusia yaitu  gambar Allah, sehingga membawa dan mencerminkan 

kesamaan ilahi di antara penghuni-penghuni lain di bumi, karena manusia 

itu roh, unsur yang cerdas dan berkehendak bebas; dan oleh karena itu sudah 

sepantasnya manusia ditetapkan untuk menguasai bumi. Inilah yang bia­

sanya disebut oleh para teolog Reformasi sebagai gambar Allah yang hakiki 

dan bukan yang insidental.74

Bahwa manusia memiliki kesamaan semacam itu dengan Allah 

sudah jelas dalam Alkitab. Bila dalam pembaharuan manusia baru 

itu "diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan 

kekudusan yang sesungguhnya" (Efesus 4:24), maka pastilah tepat 

untuk menyimpulkan bahwa pada mulanya manusia memiliki baik 

kebenaran maupun kekudusan. Konteks Kejadian 1 dan 2 membuk­

tikan hal ini. Hanya atas dasar inilah manusia dapat bersekutu de-

74 Hodge, Systematic Theology, II, hal. 99.

Asal Usul dan Watak Semula Manusia 239

ngan Allah, yang tidak dapat memandang kelaliman (Habakuk 

1:13). Pengkhotbah 7:29 mendukung pendapat ini. Di situ tercatat 

bahwa Allah telah menciptakan "manusia yang jujur". Kenyataan 

ini dapat juga kita simpulkan dari Kejadian 1:31 yang mengatakan 

bahwa "Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat 

baik." Kata "segala" mencakup juga manusia sehingga pernyataan 

itu tidaklah benar jika  manusia diciptakan dengan keadaan moral 

yang tidak sempurna.

Apakah yang dimaksudkan dengan kebenaran dan kesucian 

mula-mula? Yang jelas, kebenaran dan kesucian mula-mula bukan­

lah hakikat manusia, karena dengan demikian watak manusia pasti 

sudah tidak ada lagi saat  ia berbuat dosa. Kekudusan dan 

kebenaran mula-mula ini  juga bukan pemberian dari luar, yaitu 

sesuatu yang ditambahkan kepada manusia setelah ia diciptakan, 

karena dikatakan bahwa manusia memiliki gambar ilahi itu saat  

diciptakan, dan bukan karena dikaruniakan kepadanya setelah dicip­

takan. Shedd menerangkannya sebagai berikut,

Kekudusan bukanlah sekadar keadaan tidak berdosa. Tidaklah memadai 

untuk mengatakan bahwa manusia diciptakan dalam keadaan tidak berdosa. 

Hal ini dapat dikatakan jika  manusia samasekali tidak memiliki watak 

yang moral entah itu benar atau salah. Manusia diciptakan tidak hanya seba­

gai makhluk yang tidak berdosa secara negatif, namun  juga sebagai makhluk 

kudus secara positif. Keadaan manusia yang diperbaharui yaitu  pemulihan 

keadaannya yang semula; dan kebenaran manusia yang telah diperbaharui 

disebut dalam Alkitab sebagai kata theon, Efesus 4:21, dan sebagai 

"kekudusan yang sesungguhnya", Efesus 4:24. Ini merupakan watak yang 

positif, dan bukan sekadar keadaan tidak berdosa saja.75

75 Shedd, Dogmatic Theology, II, hal. 96.

Kadang-kadang hal ini disebut sebagai kekudusan yang "dicip­

takan bersama", sebagai berlawanan dengan kekudusan yang 

menurut beberapa orang telah dianugerahkan oleh Allah kepada 

manusia setelah ia diciptakan. Kekudusan mula-mula ini dapat diar­

tikan sebagai kecenderungan kasih sayang dan kemauan manusia, 

sekalipun disertai kekuatan pilihan yang jahat, ke arah pengenalan 

yang rohani akan Allah serta hal-hal rohani lainnya. Kekudusan 

mula-mula ini berbeda dengan kekudusan yang disempurnakan dari 

orang-orang saleh, sebagaimana kasih sayang yang naluriah dan 

keadaan tidak berdosa yang kekanak-kanakan yaitu  berbeda dari 

kekudusan yang telah dimatangkan dan diperkuat oleh pencobaan.

240 Antropologi

D. KESAMAAN ITU yaitu  KESAMAAN SOSIAL

Sifat Allah yang sosial itu didasarkan pada kasih sayang-Nya. Yang 

menjadi sasaran kasih sayang-Nya yaitu  Oknum-Oknum lain di 

dalam ketritunggalan-Nya. Karena Allah memiliki sifat sosial, maka 

Ia menganugerahkan kepada manusia sifat sosial. Akibatnya, manu­

sia senantiasa mencari sahabat untuk bersekutu dengannya. Per­

tama-tama, manusia menemukan persahabatan ini dengan Allah sen­

diri. Manusia "mendengar bunyi langkah Tuhan Allah yang ber­

jalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk" (Kejadian 3:8). 

Hal ini menyatakan secara tak langsung bahwa manusia berkomu­

nikasi dengan Allah Penciptanya. Allah telah menciptakan manusia 

untuk diri-Nya sendiri, dan manusia menemukan kepuasan tertinggi 

dalam persekutuan dengan Tuhannya. Akan namun , di samping itu 

Allah juga menganugerahkan persahabatan manusiawi. Ia mencip­

takan wanita, karena, sebagaimana dikatakan-Nya sendiri, "Tidak 

baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan 

penolong baginya, yang sepadan dengan dia" (Kejadian 2:18). Agar 

persekutuan ini menjadi sangat mesra, Ia menciptakan perempuan 

dari tulang rusuk laki-laki. Adam mengakui bahwa Hawa yaitu  

tulang dari tulangnya dan daging dari dagingnya, maka dinamakan­

nya "perempuan". Dan oleh sebab hubungan yang begitu intim di 

antara keduanya, "seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan 

ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu 

daging" (Kejadian 2:24). Jelaslah bahwa manusia diciptakan dengan 

sifat sosial, sebagaimana Allah mempunyai sifat sosial. Kasih dan 

perhatian sosial manusia bersumber langsung dari unsur ini dalam 

watak manusia.

XVI

Kesatuan dan Struktur Permanen 

Manusia

I. KESATUAN MANUSIA

A. AJARAN ALKITAB

Alkitab secara jelas mengajarkan bahwa seluruh umat manusia ada­

lah keturunan satu pasangan tunggal (Kejadian 1:27, 28; 2:7, 22; 

3:20; 9:19). Semua manusia merupakan keturunan dari orang tua 

yang sama dan memiliki watak yang sama. Paulus menganggap 

kenyataan ini sebagai sesuatu yang tidak perlu dipersoalkan lagi 

saat  mengajarkan kesatuan organik umat manusia saat  melaku­

kan tindakan pelanggaran yang pertama kali dan tentang penyediaan 

keselamatan bagi orang-orang yang di dalam Kristus (Roma 5:12, 

19; I Korintus 15:21, 22; Ibrani 2:16). Kebenaran ini juga 

merupakan landasan tanggung jawab manusia terhadap sesamanya 

(Kejadian 4:9; Kisah 17:26). Kini perlu diperhatikan kenyataan 

kesatuan umat manusia dalam arti yang berbeda. Dalam Kejadian 

1:26 Allah berfirman, "Baiklah kita menjadikan manusia," dan di 

ayat berikutnya kita membaca "laki-laki dan perempuan diciptakan- 

Nya mereka." Shedd mengatakan, "Ini menunjukkan secara tak 

langsung bahwa manusia itu sebenarnya tidak lengkap, bila laki-laki 

atau perempuan itu dipandang sendiri-sendiri, yaitu terpisah satu 

dari lainnya. Keduanya bersama-sama merupakan spesies manusia. 

Perempuan yang sendirian atau laki-laki yang sendirian bukanlah 

spesies manusia, tidak pula meliputi spesies itu dan tidak pula

241

244 Antropologi

A. SUSUNAN KEJIWAAN MANUSIA

Semua pihak setuju bahwa manusia memiliki sifat yang badaniah 

maupun yang tidak badaniah. Sifat badaniah manusia ialah tubuh­

nya; sedangkan sifat tidak badaniahnya ialah jiwa dan rohnya. 

Masalahnya kini ialah, apakah manusia itu makhluk rangkap dua 

ataukah rangkap tiga? Apakah jiwa dan roh itu sama ataukah 

hakikat yang berbeda? Mereka yang beranggapan bahwa jiwa dan 

roh itu sama atau satu hakikat disebut golongan dikhotomis; 

sedangkan mereka yang beranggapan bahwa jiwa dan roh itu tidak 

sama disebut golongan trikhotomis. Gereja Barat umumnya 

menerima pandangan dikhotomi