ing (Gal. 5:19-21); dipenuhi oleh Roh Kudus menghasilkan
87
―kasih,
88
sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan,
kelemahlembutan, penguasaan diri‖ (ay. 22-23).
X. Antropologi: Pengajaran Tentang Manusia
A. Defenisi
Antropologi berasal dari kata Yunani anthropos, yang berarti ―manusia, dan logos,
yang berarti ―kata‖ atau ―pembicaraan‖, jadi, antropologi yaitu pembicaraan tentang
manusia. Istilah antropologi dapat disebut juga sebagai studi tentang manusia dari sudut
pandang Alkitab atau dapat ditunjukan pada studi tentang manusia dalam lingkungan
kulturalnya. (Paul Enss: The Moody Handbook of Theology, 2003). Jadi antropologi yaitu
bagian ilmu pengetahuan teologia yang membicarakan manusia, sifatnya, hubungan-
hubungannya, dan sebagainya. Antropologi sendiri dibedakan dalam dua bagian yaitu
antropologi scientify yaitu ilmu yang mempelajari manusia secara psikis dan fisik yang
dikembangkan melalui sejarah turunan bangsa-bangsa, psikologi dan sosiologi. Yang kedua
yaitu Antropologi teologi yaitu cabang ilmu teologi yang membicarakan manusia baik
asal-usulnya maupun kejatuhannya, yaitu memberi penjelasan tentang penciptaan
kehidupan waktu itu, pencobaan, kesesatan, asal dosa dan pelanggaran manusia
(Encyclopedy of Biblical, Theologia and Ecclestical Literatur). Dengan demikian
antropologi Kristen dapat dikatakan berfokus kepada upaya dalam memahami manusia dari
sudut pandang rencana Allah di dalam esensi, eksistensi, dan tujuan keberadaan manusia di
dalam dunia. Manusia tidak pernah ada dari dirinya sendiri, tidak pernah memahami dirinya
sendiri, dan tidak pernah mengetahui tujuan keberadaannya dari dirinya sendiri. sebab itu
dalam mempelajari antropologi Kristen tidak dapat dipisahkan dari Allah sebagai Sumber
dari keberadaan manusia. Mengapa perlu mempelajari antropologi? Ini mempengaruhi kita
bagaimana kita mengenal diri kita dan mengenal Allah, dan bagaimana kita melayani Allah,
juga sebab krisis yang melanda manusia saat ini.
B. Manusia dan Penciptaan
Pertanyaan tentang ―Siapakah Manusia?‖ telah didengungkan berabad-abad
lamanya. Ada banyak upaya yang dilakukan untuk menjawab pertanyaan yang krusial ini.
Namun, jika jawaban yang dimiliki tidak kembali kepada Sumber jawaban yang pasti, maka
dapat dipastikan semua itu merupakan upaya yang sia-sia sebab tidak menyentuh esensi
asli manusia. Paling tidak secara umum jawabannya dapat diperkirakan, yaitu melihat
manusia lebih tinggi atau lebih rendah daripada yang seharusnya. Manusia dapat saja
melihat diri lebih tinggi sehingga menekankan kemandirian dan tidak memerlukan aspek
kebergantungan pada Allah. Hal ini dinyatakan dengan cara mengagungkan dan
mengutamakan aspek-aspek tertentu di dalam diri manusia yang menjadi sandaran bagi
semua harapan manusia itu sendiri, misalnya segala upaya untuk mengaktifkan semua
potensi diri yang dijiwai oleh semangat gerakan zaman baru (New Age Movement) yang
mengatakan bahwa manusia memiliki potensi yang harus dilatih dan dikembangkan dan
pada waktunya nanti akan menjadi sama seperti Allah. Selain itu jika manusia melihat
dirinya terlalu rendah, hal ini akan memicu mereka menghina keberadaan diri dan
menganggapnya tidak berguna dan tidak memiliki nilai apapun yang harus diperjuangkan.
Tidak mengherankan kalau penilaian seperti ini kemudian melihat hidup tidak berguna.
Setiap zaman selalu berusaha memberikan jawaban dengan kepentingan yang berbeda,
mulai dari menekankan aspek esensi sampai kepada eksistensi manusia. Saat ini pertanyaan
tentang manusia tidak lagi begitu tertarik untuk mempertanyakan realitas-realitas ultimat
atau ontologi, hal ini disebabkan oleh bangkitnya eksistensialisme sebagai suatu cara
berpikir dalam filsafat, teologi, dan sastra yang memperikan penekanan baru, yaitu
eksistensi sesorang lebih penting dari esensinya. (Anthony A. Hoekema, Manusia: Ciptaan
89
Menurut Gambar Allah, 2003. ) Namun perlu ditegaskan bahwa semua upaya memahami
manusia harus kembali kepada Sumber asli manusia, yaitu diri Allah sendiri, oleh sebab
Alkitab mengatakan bahwa manusia merupakan karya agung Allah yang diciptakan
menurut gambar-rupa-Nya. Di sinilah manusia akan meperoleh pengertian sejati tentang
siapakah dia, mengapa dia ada dan apakah tujuan keberadaanya.
Alkitab menjelaskan bahwa manusia bukan saja mahkota dari seluruh ciptaan Allah,
namun juga objek khusus pemeliharaan Allah. Dan wahyu Allah dalam Alkitab bukan saja
wahyu yang diberikan kepada manusia, namun juga wahyu dimana manusia diperhatikan
secara khusus. Wahyu ini bukanlah wahyu yang abstrak, namun wahyu Allah dalam
hubungannya dengan manusia, catatan tentang hubungan Allah dengan umat manusia dan
terutama merupakan satu wahyu tentang penyelamatan yang telah dipersiapkan Allah, dan
kini Ia juga bermaksud mempersiapkan manusia. Kenyataan ini membuktikan bahwa
manusia menempati kedudukan yang amat penting dalam Alkitab dan dalam pandangan
Allah.
Bagaimana Kehidupan dimulai di atas dunia?
Salah satu topik yang hangat diperdebatkan pada zaman modern ini ialah pertanyaan
bagaimana kehidupan ada di atas dunia ini. Ada dua pilihan dasar: (1) Melalui proses yang
lambat dan alamiah (teori evolusi) atau (2) Melalui perintah Penciptaan versi Alkitab
(doktrin penciptaan). Pertanyaan utamanya: berapa lama kehidupan ada di atas planet ini
dan siapakah pemicu utamanya? Pertanyaan-pertanyaan itu mengajak kita untuk
memahami sejauh mana paradigma iptek modern berhadapan dengan paradigma teologi.
Bagaimanakah sepatutnya kita menilai dan menempatkan teori evolusi ilmiah saat
diperhadapkan dengan doktrin penciptaan Alkitabiah?
Asal usul manusia, alam, dan isinya telah menjadi bahan perdebatan di segala jaman.
Alkitab menjelaskan bahwa manusia dan dunia ini diciptakan oleh Allah. Berbagai tulisan
kuno Babilonia dan Mesir juga menegaskan hal yang sama, meskipun cara penciptaan yang
ditulis sedikit bervariasi. Isu ini menjadi semakin populer bagi orang modern seiring
dengan berkembangnya teori evolusi, yang dipelopori oleh Charles Darwin lewat bukunya
Origin of the Species pada tahun 1859. Pemegang teori ini memang memiliki pandangan
yang sedikit beragam, namun secara umum teori evolusi bisa dipahami sebagai pandangan
yang menyatakan bahwa manusia atau alam semesta berasal dari suatu proses evolusi ya ng
panjang, dimulai dari zat yang paling sederhana sampai terbentuknya makhluk yang sangat
kompleks yang disebut ―manusia‖. Keberadaan zat hidup pertama ini biasanya
dipahami sebagai hasil dari sebuah peristiwa alam yang kebetulan dan tiba-tiba. Proses
yang diperlukan untuk evolusi ini bisa memakan waktu berjuta-juta tahun.
Bagaimana kita sebagai orang Kristen meresponi hal ini? Benarkah bumi sudah berusia
jutaan tahun? Benarkah manusia merupakan hasil evolusi yang panjang? Banyak orang
secara sadar atau tidak sadar cenderung bersikap berat sebelah pada waktu membandingkan
Alkitab dengan ilmu pengetahuan. Mereka seringkali melihat kebenaran Alkitab sebagai
sebuah kebenaran yang subjektif dan sulit dibuktikan, sedangkan penemuan ilmu
pengetahuan sifatnya objektif, tanpa prasangka dan bisa dibuktikan.
Kecenderungan ini tentu saja tidak bisa dibiarkan begitu saja. Dalam hidup ini banyak
hal yang kita terima begitu saja sebagai sebuah kebenaran tanpa kita perlu mengujinya
terlebih dahulu. Coba pikirkan pertanyaan ini: ―Mengapa kita berani
menyetir mobil/sepeda motor di jalanan tanpa kuatir kita akan mengalami kecelakaan?‖
Bukankah keberanian ini disebabkan keyakinan kita bahwa pengendara lain yaitu
orang yang tidak terganggu kejiwaannya, memiliki kemampuan mengendarai dengan baik
dan memahami peraturan lalu lintas? Semua keyakinan ini tidak pernah kita buktikan
sebelumnya, namun kita menerimanya begitu saja. Begitu pula dengan dunia ilmu
90
pengetahuan dan teologi. Ilmu pengetahuan mengasumsikan adanya keteraturan gejala
alam. Sama seperti teologi, ilmu pengetahuan juga memiliki ruang tertentu yang menuntut
kepercayaan atau iman dari orang yang menerima kebenaran ini .
Pernyataan yang pertama dari Alkitab yaitu "Pada mulanya Allah menciptakan langit
dan bumi." Teks ini merupakan dasar bagi semua pemikiran Kristen. Ini merupakan suatu
pernyataan religius, namun secara rasional merupakan suatu konsep yang harus demikian.
1. Segala sesuatu yang berada di dalam ruang dan waktu ada permulaannya.
2. Sesuatu tidak dapat dihasilkan dari yang tidak ada. Yang tidak ada tidak dapat
melakukan apa-apa.
3. jika tidak pernah ada apa-apa, maka sekarang tidak akan ada apa- apa.
4. Sesuatu ada sekarang; oleh sebab itu sesuatu harus ada dan sesuatu itu tidak ada
permulaannya.
5. Sesuatu tidak dapat menciptakan dirinya sendiri, oleh sebab ia harus ada terlebih
dahulu sebelum dia sendiri ada.
6. jika ada "sebagian" dari alam semesta ini yang tidak diciptakan, maka yang tidak
diciptakan itu merupakan keberadaan yang melebihi yang lain atau melampaui semua
bagian yang ada permulaannya.
7. Keberadaan yang tidak diciptakan merupakan keberadaan tertinggi (lebih tinggi dari
keberadaan yang diciptakan), tidak peduli dia tinggal dimana.
8. Transenden menunjuk kepada derajat dari suatu keberadaan, bukan pada geografisnya.
Kejadian 1:1 megidentifikasikan Elohim sebagai sang Pencipta. Elohim yaitu istilah
umum untuk keallahan yang juga merupakan sebutan bagi Allah yang Sejati. Kata ini berarti
Yang Kuat, Pemimpin Yang Perkasa, Kealaahan Yang Tertinggi. Bentuk jamaknya bermakna
kuasa dan keagungan-Nya yang luar biasa. Identitas Elohim sebagai Pencipta sekaligus
menangkis beberapa ajaran yang sifatnya bidat, misalnya: Ateisme, Politeisme, dan Panteisme.
Creatio ex Nihilo
1. Kejadian 1:1 dan Ibr. 11:3 menunjukan bahwa Allah (Elohim) menciptakan segala sesuatu
dari yang tidak ada menjadi ada. Kalaupun Ibr. 11:3 memakai frasa „yang tidak kelihatan‟
bukan berarti yang tidak dapat dideteksi dengan mata jasmani, misalnya: angin, gas dll
namun maksudnya sama dengan penekanan dari Kej. 1: 1.
2. Nats-nats ini menunjukan bahwa sebelum penciptaan tidak ada fenomena keberadaan
apapun yang sudah ada.
3. Hal ini juga menyatakan bahwa materi tidak bersifat kekal namun yaitu ciptaan yang
memiliki awal.
4. Untuk aktifitas Allah mencipta ada 3 istilah yang dipakai:
a. Bara‟ artinya mencipta : Kej. 1: 1, 21, 27
b. Asa‟ artinya melakukan, membuat (Kej. 1: 25; Kel. 20: 11; Neh. 9: 6).
c. Yatsar‟ artinya membentuk (Kej. 2: 7)
5. Di dalam kekekalan Allah (Elohim) memang sudah memiliki rencana tentang apa yang
akan dicipta (Ef. 1: 3-5) namun hal ini bukan berarti bahwa Allah sudah menyediakan materi
yang menjadi bahan awal yang akan dipakai untuk mencipta segala yang ada.
Saat Penciptaan : Pada mulanya Allah (Elohim) menciptakan langit dan bumi (Kej. 1: 1):
a. Ayat ini menunjukan bahwa kalimat ini yaitu kalimat pernyataan (statement).
b. Ayat ini menunjukkan bahwa Allah yang aktif dan karyaNya ialah „mencipta‟.
c. In the beginning‟ (Ingg.), „pada mulanya‟ yaitu merupakan keterangan waktu yang
berarti adanya satu titik awal. Berbeda dengan Yoh. 1:1 Pada mulanya yaitu Firman,
yang berarti „dalam kekekalan‟.
d. Tidak ada penanggalan diberikan namun frasa ini berarti keterangan mengenai „waktu‟.
Kaum evolusi mengatakan 4.500.000.000 SM.
91
e. Langit dan bumi‟ (Ingg. „heavens and earth) yaitu objek yang dicipta. Kata „langit‟
yaitu dalam bentuk jamak (plural) yang berarti ruang angkasa, dan kata „bumi‟ yaitu
„planet yang didiami manusia‟.
6. Beberapa pandangan mengenai „Penciptaan‟ yang kurang tepat yang namanya disebut
„Konsep Rentangan‟:
a. Sebahagian pakar, terutama mereka yang memegang faham Alkitab mengatakan bahwa
penciptaan bumi dan segala isinya termasuk manusia terjadi pada waktu yang sama.
b. Teori Celah (Gap Theory) mengatakan bahwa ada rentangan waktu yang sangat panjang
antara penciptaan bumi dari penciptaan manusia. Manusia yaitu merupakan ciptaan
yang terakhir. Mereka mengetikkan kata „hari‖ sebagai „rentangan waktu yang sangat
panjang‟.
c. Adam bukan manusia pertama. Teori ini mengatakan bahwa fosil-fosil yang ditemukan
menyatakan bahwa sudah ada manusia di bumi sebelum Adam ada. namun semua punah
dan Adam yaitu merupakan ciptaan yang kemudian.
d. Ada yang berpendapat bahwa Adam yaitu salah satu mata rantai dari rentangan proses
evolusi dan ia merupakan bentuk rendah dari manusia.
e. Kaum evolusi theistis mengatakan bahwa manusia yaitu mahluk purba dan merupakan
hasil proses evolusi dimana mahluk pra manusia dan manusia tingkat rendah kemudian
menghasilkan manusia.
f. Ada sebahagian yang beranggapan bahwa sebelum Kej. 1: 1 sudah ada penciptaan
manusia dan itulah yang creatio ex nihilo. namun sebab bumi terhukum sebab dosa
maka Allah membumi hanguskan semua ciptaan. Penciptaan bumi pada Kej. 1: 1 yaitu
merupakan persiapan permulaan untuk menuju tatanan penciptaan yang baru termasuk
manusia Adam.
Konsep ini disebut juga sebagai konsep „rentangan‟ atau „teori penataan ulang dari
kehancuran‟ atau „teori pemulihan‟ Menurut konsep yang terakhir ini bumi yang dicatat
pada Kejadian 1: 1 yaitu bumi yang sempurna yang dihuni segala jenis hewan dan tumbuh-
tumbuhan. Sebahagian juga berpendapat bahwa pada saat ini sudah ada manusia pra-Adam
menghuni dunia. namun pada rentangan waktu antara ayat 1 dan 2 Iblis memberontak
kepada Alah sehingga Allah memaparkan iblis ke bumi dan menjadi cikal bakal hadirnya
dosa di bumi. Sebab itu Allah menghukum bumi dengan jalan mendatangkan banjir besar
yang sifatnya global dan yang diikuti oleh kegelapan dan zaman Es. Akibatnya semua jenis
tumbuh-tumbuhan dan mahluk hidup menjadi punah sebagai hukuman Allah atas mahluk
hidup dan setan. Akibat penghukuman ini langit menjadi gelap gulita dan tidak berbentuk
(kej. 1: 2). Fosil-fosil yang kemudian ditemukan oleh ahli geologi dan antropologi yaitu
berasal dari mahluk hidup yang dipunahkan Allah pada zaman ini. Kemudian Allah
menciptakan Adam sebagai penciptaan ulang sebab Alah mengadakan restorasi pada bumi
ini.
Para pendukung teori ini menyimpulkan:
a. Frasa „bumi tanpa bentuk dan kosong‟ (Kej. 1: 2) yaitu musibah yang terjadi sebab
hukuman Alah terhadap Iblis. „Tanpa bentuk‟ menunjukan bahwa keadaan bumi yang
semula bukanlah tanpa bentuk. namun :
Frasa ini tidak berarti adanya hukuman Allah terhadap bumi. Frasa ini menunjukan
bahwa pada tahap pertama Alah membentuk bumi, bumi belum ditumbuhi dengan
vegetasi dan belum dihuni oleh mahluk hidup, binatang dan manusia. Buktinya,
Allah kemudian menciptakan benda-benda dan mahluk hidup ini untuk
memenuhi bumi agar tidak kosong.
Tanpa bentuk‟ bukan berarti bahwa sebelumnya sudah ada dunia yang memiliki
bentuk yang sempurna. Frasa ini menunjukan bahwa bentuk bumi pada hari pertama
92
penciptaan belum seperti yang sekarang sebab Allah belum mengumpulkan air
dengan air, memisahkan angkasa dari bumi agar terlihat bentuk seperti keadaan
bumi yang sekarang.
Tidak ada dalam Alkitab bukti yang mengatakan bahwa bumi ini dihukum oleh
Allah sebab dosa dan kejahatan Iblis. Hukuman atas dunia ini terjadi yaitu oleh
sebab dosa Adam (Kej. 3: 17-19).
b. Menurut mereka frasa ini juga memiliki arti „kondisi yang jahat‟ dan hal ini tidak
termasuk ke dalam ciptaan Allah. Allah tidak mencipta dunia tanpa bentuk.
(Bandingkan Yes. 45: 18). namun , sebagaimana disebut di atas bahwa keadaan bumi
yang demikian yaitu gambaran keadaan bumi pada tahap pertama penciptaan sebab
Allah belum mengisinya dengan ciptaan yang lain. Hal ini juga tidak menunjukkan
adanya kehadiran Iblis yang kemudian dihukum oleh Allah pada bumi yang
sebelumnya yang memicu keadaan bumi menjadi kosong dan tidak berbentuk.
c. Menurut kelompok ini „kegelapan‟ yaitu keberadaan yang tidak baik dan Kej. 1: 2
bukan melukiskan ciptaan Alah yang semula. Memang, sering kata „kegelapan‟
diartikan dengan „kejahatan‟ atau keadaan tidak baik. Misalnya kalau dikatakan
„Manusia tinggal dalam kegelapan‟ artinya „Manusia tinggal dalam kejahatan‟. Namun
dalam Kej. 1: 4 kata „kegelapan‟ bukan berarti „kejahatan‟ atau „tidak baik‟. Bagi
Allah kegelapan sama baiknya dengan terang dan bagi Dia tidak ada kegelapan (Maz.
104: 19-24). Bumi dalam keadaan gelap artinya bumi tanpa benda-benda penerang
sebab Allah belum mencipta matahari, bulan dan bintang-bintang yang kemudian
menjadi sumber terang bagi bumi.
d. Kej. 1: 28 (mandat kultural) menandakan bahwa sebelum Adam bumi sudah pernah
didiami dan dikelola. Jadi Adam hanya disuruh untuk memenuhi ulang. namun , kata
„memenuhi‟ dalam bahasa Ibrani bukan berarti „mengisi ulang‟, seakan-akan tadinya
bumi sudah dipenuhi oleh manusia.
e. Kata „bara (ay. 1) menandakan sebuah penciptaan yang lain dari apa yang terjadi
selanjutnya. namun , dalam bahasa Ibrani kata „bara‟ tidak menunjukan indikasi akan
pengertian „mencipta sesuatu dari apa yang sudah ada‟.
Kesimpulan: Konsep „Rentangan‟ tidaklah benar sebab tidak didasarkan pada konsep
eksegesis firman Tuhan yang benar.
7. Konsep Hari atau Kurun Waktu
Ada 4 pendapat yang berbeda mengenai konsep waktu ini:
a. Hari‟ pada setiap hari penciptaan yaitu 24 jam berdasar perputaran bumi mengitari
matahari sebagaimana hari-hari biasa.
Istilah „hari‟ berulang kali dipakai dalam kitab kejadian (Kej. 1: 5, 8, 13, 19, 23, 31).
Dalam kitab Pentateuch kalau istilah ini dipakai sebagai kata benda dan diikuti dengan
kata bilangan selalu artinya 24 jam.
Pada ayat 5, 14, 18 hari selalu dipertautkan dengan kata „siang‟ dan „malam‟, Jadi
artinya 24 jam.
Frasa „Petang dan pagi‟ yang dicantumkan pada hari penciptaan mendukung konsep ini
bahwa hari yang dimaksud yaitu 24 jam. Dalam PL frasa ini muncul lebih dari 100 kali
dan selalu memiliki makna yang sama, yaitu 24 jam, mis. Dan. 8: 26.
Kel. 20: 11 dan 31: 17 mengatakan bahwa Allah menciptakan segala sesuatu dalam 6
hari.
b. Hari‟ sama artinya dengan satu kurun waktu yang sangat panjang seperti pandangan
para evolusionist. Memang dalam PL kata „hari‟ kadangkala diterjemahkan sebagai
„waktu‟ yang berarti „seluruh periode penciptaan‟ mis. pada Kej. 2: 4 dan bentuk jamak
diterjemahkan dengan „zaman‟ (Kej. 26: 18). namun pada pasal 1 pemakaian istilah
93
„hari‟ memiliki arti 24 jam, dan bumi dan segala isinya dicipta dalam 6 hari sebelum
hari perhentian Tuhan, maka jadi tidak mungkin dalam pemakaian kata „yom‟ pada Kej.
2: 4 diartikan lagi sebagai „hari‟ sebab ayat itu berbicara mengenai bumi dan isinya
secara keseluruhan. Jadi istilah „yom‟ dalam ayat ini artinya „waktu‟, „saat‟, atau
„saat ‟.
c. Hari‟ artinya 24 jam seperti pada no. 1 namun ada rentangan yang panjang diantara hari-
hari ini . Memang benda-benda penerang diciptakan Allah baru pada hari keempat
(Kej. 1: 9-14). namun apakah hal ini berarti bahwa istilah „hari pertama, kedua, ketiga‟
merupakan rentangan waktu yang panjang yang berbeda dengan „hari keempat, kelima
dan keenam‟? Perlu diperhatikan bahwa Alah sudah menciptakan „terang‟ pada hari
pertama yang dilihatnya baik dan namanya disebut „siang‟ untuk membedakannya
dengan gelap yang disebut „malam (3-5). Berarti walaupun matahari, bulan dan bintang-
bintang belum ada pada hari 1-3 namun Alah sudah menciptakan cahaya terang pada hari
1.
d. Teori hari Pewahyuan. Tidak ada hubungan hari-hari ini dengan karya penciptaan.
Allah hanya mengatakan hal ini kepada Musa. Misalnya „Ia beristirahat pada hari
ke-7‟. Apakah benar bahwa Alah berhenti selama 24 jam? Petrus juga mengatakan
bahwa satu hari bagi Alah sama artinya dengan 1000 tahun bagi manusia ( 2 Petr. 3: 8).
namun : Pada hari ke-7 tidak dikatakan Alah berhenti berkarya, sebab sepanjang zaman
Allah terus berkarya. Yang dikatakan ialah bahwa Allah „beristirahat‟. Umat Israel dan
umat Kristen mengartikan bahwa hari ketujuh itu yaitu hari peristirahatan dari bekerja
dengan tujuan supaya umat Tuhan dapat menikmati secara khusus persekutuan dengan
Allah. Dengan demikian mereka akan disegarkan baik secara rohani dan jasmani untuk
kemudian kuat melakukan tugas mereka pada hari-hari dari minggu berikutnya. namun
hari ke- itu panjangnya tetap sama dengan hari -1 dan hari-hari berikutnya. (Bernard
Ramm, The Christian View of Science and Scripture (Grand Rapid : Eerdmans, 1954,
hal. 214).
C. Mujizat dan Penampilan Sejarah
Konsep „Creatio ex Nihilo‟ yaitu mujizat atau keajaiban Sejarah sebab Allah
melakukannya dari yang tidak ada menjadi ada. namun sama dengan mujizat yang lain
dalam PL maupun PB, setiap mujizat selalu diikuti dengan „bukti sejarah‟. Setiap hari
Allah melakukan pekerjaan penciptaan maka bukti sejarahnya ada. Misalnya, hari pertama,
langit dan bumi, terang (siang) dan gelap (malam). Hari kedua, darat, laut dan langit, dan
seterusnya. Dalam PB peristiwa mujizat pada perkawinan di Kana, air menjadi anggur,
dll.Hal ini membuktikan bahwa kalaupun Alah melakukan karyaNya tidak berdasar
ilmu pengetahuan, namun sifatnya mujizat, namun Allah selalu memberikan bukti akan
kebenaran tindakanNya ini dalam bentuk benda yang dapat dideteksi dengan indera
manusia. Dan semua mujizat itu dilakukan Tuhan untuk kemuliaan namaNya (Yoh. 2: 11).
D. Pandangan-Pandangan Mengenai Penciptaan Manusia
1. Pandangan Atheistik
Kaum atheis yang tidak percaya akan adanya Tuhan melihat bahwa dunia, termasuk
manusia, terjadi sebab „kebetulan‟, dan bukan sebab diciptakan oleh Tuhan.
Secara sederhana dapat dijelaskan bahwa kehidupan di bumi dimulai dari kehidupan
di air yang dalam kurun waktu yang sangat lama terjadi rentetan reaksi dan
kombinasi yang sangat kompleks sehingga menghasilkan protoplasma yang menjadi
awal dari suatu „kehidupan‟. Dan dengan berjalannya waktu yang sangat lama
„kehidupan‟ itu terus menerus mengalami modifikasi dan akhirnya menjadi
94
bermacam-macam mahluk hidup yang ada. Pandangan ini lebih dikenal dengan
pandangan evolusi. Teori Evolusi, sebagai teori asal usul manusia menjadi populer
setelah terbitnya karya tulis yang menggemparkan The Origin of Species oleh
Charles Darwin. Istilah ‟ evolusi‟dahulu biasa digunakan dalam ilmu biologi untuk
menjelaskan tentang perkembangan dari suatu embrio. Konteks pemakaian istilah
ini bukan ditujukan untuk perkembangan sesuatu yang baru dari sesuatu yang lama,
tapi proses kelanjutan dari yang sudah ada. Namun dalam dunia modern, ‟evolusi‟
telah diartikan secara lebih luas, yaitu mencakup kemungkinan akan munculnya
sesuatu yang baru sama sekali sebab suatu kondisi tertentu, bahkan dalam proses
tertentu dapat terjadi pergerakan dari yang inorganik menjadi organik. Oleh sebab
itu Evolusi didefinisikan sebagai „asal usul spesies dari spesies yang sudah ada
sebelumnya melalui proses penurunan dengan modifikasi". Ada beberapa cara
membagi macam-macam teori Evolusi:
a. Teori Atheis vs Theis
Berpendapat bahwa manusia berasal dari binatang yang lebih rendah. Namun
sebab proses alamiah yang sempurna dan kompleks dan terus menerus, maka
akhirnya menjadi manusia seperti yang ada sekarang ini. Teori ini percaya akan
prinsip kesinambungan (kontinuitas) langsung antara dunia hewan dan dunia
manusia.
b. Teori Evolusi Theistik
Teori ini lebih banyak diterima (khususnya oleh kaum Roma Katolik) sebab
keterlibatan Allah masih dapat dilihat, yaitu bahwa Allah menciptakan mahluk
yang lebih rendah namun kemudian Allah memakai tubuh mahluk ini untuk
diberikan jiwa yang rasional, sehingga menjadi ciptaan baru, yaitu manusia.
c. Teori Evolusionisme vs Kreationisme
Teori Evolusionisme yaitu pandangan yang mengganggap bahwa segala
sesuatu terjadi secara kebetulan dan tidak ada campur tangan Allah Pencipta.
Evolusi Teistik memandang bahwa Allah memang Pencipta dunia dan segala
mahluk hidup, namun demikian pembentukan manusia merupakan tingkatan
penciptaan lebih tinggi dari yang dilakukan Allah dari mahluk yang sudah ada.
Kreationisme langsung Percaya bahwa Allahlah yang menciptakan segala
sesuatu sebagaimana pernyataan dalam Kej 2:7-8. Hal ini dijelaskan sebagai
Kreationisme progresif, dimana karya penciptaan Allah diterima sebagaimana
dalam Kej 1:27, namun demikian manusia yang diciptakan pertama mengalami
proses evolusi sehingga manusia yang diciptakan pertama tsb. tidak lagi sama
dengan manusia sekarang.
Keberatan Terhadap Teori Evolusi :
Alkitab dengan jelas berkata bahwa manusia diciptakan secara langsung oleh
Allah dengan hikmat dan ketetapan-Nya, (Kej 1:26,27 2:7) tidak secara
kebetulan. mengatakan dengan jelas bahwa tubuh manusia tidak berasal dari
binatang, (Kej 3:19 1Kor 15:39) sebab daging binatang tidak sama dengan
manusia, demikian pula darah manusia dan darah binatang. Alkitab mengatakan
bahwa roh manusia berasal langsung dari Allah, (Kej 2:7 Ayub 33:4) bukan
berasal dari perkembangan alamiah dari substansi yang sudah ada.
Alkitab berkata bahwa manusia tidak dapat dibandingkan dengan binatang, baik
secara intelektual, moral atau mental. (Kej 1:26,27 2:15,19,20; Maz 8:5-8).
Dalam hal kedudukan Teori Evolusi yaitu kebalikan dari Alkitab. Alkitab
berkata bahwa manusia pada awalnya yaitu manusia yang paling mulia, namun
sebab dosa manusia menjadi rendah. Teori Evolusi berkata bahwa manusia
95
berasal dari mahluk lebih rendah namun kemudian perlahan-lahan menjadi lebih
tinggi dari segala mahluk yang ada.
Juga teori Evolusi tidak memiliki bukti ilmiah yang memastikan bahwa mahluk
hidup dapat keluar dari spesiesnya, yang dapat terjadi yaitu lahirnya varietas
baru, bukan spesies baru. Asal mula spesies masih menjadi misteri dalam dunia
ilmu pengetahuan. Kemudian kesamaan hubungan antara manusia dan hewan
dalam pembuktian Teori Evolusi merupakan kesamaan dalam struktur tubuh
tapi tidak ada hubungan secara genetis.
2. Pandangan Theistik
Orang-orang non-atheis percaya akan keterlibatan Allah dalam penciptaan, termasuk
penciptaan manusia, namun demikian tidak ada kesepakatan pendapat bahwa Allah
menciptakan manusia secara langsung dan bukan setelah melalui proses-proses
alamiah yang panjang. Atau dengan kata lain, ada kelompok orang-orang theis yang
percaya bahwa Allah mungkin tidak menciptakan manusia dari yang tidak ada
menjadi ada, tapi dari mahluk ciptaan lain yang sudah ada dan Allah menciptakan
jiwa untuk ditambahkan sehingga menjadi manusia sekarang.
3. Pandangan Alkitab
Alkitab menjelaskan bahwa Allah menciptakan manusia (Kej. 1:27 ; 5:1; Ula. 4:32;
Maz 100:3; 13:14; 1 Tim. 2:13). Manusia diciptakan dari debu tanah; dan dihembusi
nafas Allah (Kej. 2:7; Ayub 33:4; Pengk. 12:7) dua aspek materi dan non materi
penciptaan manusia di tulis dalam satu kalimat. Hawa diciptakan langsung oleh
Allah dari tulang rusuk Adam (Kej. 2:21-22; 1 Kor. 11:8). Sebagian penafsir
mengharuskan mengakui penciptaan Hawa oleh Allah, sebab Hawa secara langsung
dibentuk oleh Allah dari tulang rusuk Adam. H.C. Leupold menjelaskan,
―membentuk berarti menata struktur penting yang membutuhkan upaya
konstruktif‖ (Ryrie: 1991. Hal. 256). Alkitab mencatat peristiwa penciptaan manusia
dalam Kej 1:16-27 dan Kej 2:7,21-23. Dari kedua bagian Alkitab ini dapat
disimpulkan bahwa:
a. Tidak seperti ciptaan yang lain, Allah menciptakan manusia dengan rencana,
pertimbangan dan ketetapan, sebab dikatakan „Baiklah Kita menjadikan
manusia menurut gambar dan rupa Kita.‟. (Kej 1:26)
b. Manusia diciptakan langsung oleh Allah. Kalimat, „maka Allah menciptakan
manusia‟, (Kej 1:26) dipakai kata kerja „bara‟ artinya mencipta, membuat
sesuatu dari yang tidak ada sebelumnya (creatio ex nihilo).
c. Manusia diciptakan berbeda dengan mahluk lain. Alkitab LAI tidak
menyebutkan tapi dalambahasa asli dan bahasa Inggrisnya dikatakan bahwa
Allah menciptakan semua binatang „according to their kinds‟, „according to its
kind‟ =„ menurut jenisnya‟. (Kej 1:21) Sedangkan saat menciptakan manusia
Allah berkata, „Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa
Kita.‟. (Kej 1:26)
d. Manusia diciptakan dari dua elemen yang dibedakan, yaitu tubuh dan jiwa.
Tubuh dibentuk dari debu dan tanah liat, yaitu materi yang sudah ada. Tapi
dikatakan bahwa tubuh itu belum hidup sampai Allah „menghembuskan nafas
hidup‟, (Kej 2:7) di sini jelas bahwa jiwa manusia diciptakan oleh Allah sendiri
terpisah dari tubuh.
e. Pada waktu diciptakan manusia yaitu sempurna, tidak berdosa. (Kej 1:31)
Namun demikian manusia diciptakan dengan kemampuan untuk dapat berbuat
dosa.
f. Manusia yaitu puncak dari segala ciptaan Allah. Manusia diciptakan terakhir
dan diberi mandat (tanggung jawab) untuk menguasai dan memelihara semua
96
ciptaan yang lain. „taklukkanlah, … berkuasalah … ‟, ‟ … mengusahakan dan
memelihara..‟. (Kej 1:28,2:15)
g. Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar
Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan, diciptakan-Nya mereka.‟.
(Kej 1:28) Kedua-duanya diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, hal ini
menunjukkan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki nilai yang sederajat di
hadapan Allah.
h. Terdapat kesatuan umat manusia, bahwa semua manusia berasal dari satu pasang
manusia. Setelah menciptakan Adam dan Hawa, Allah berkata: „Beranak-
cuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi … .‟. (Kej 1:28) Kis 17:26,
„Dari satu orang saja Ia telah menjadikan semua bangsa dan umat manusia
untuk mendiami seluruh muka bumi … ‟
E. Mengapa Allah Menciptakan Manusia
Pertanyaan mengapa Allah menciptakan manusia merupakan salah satu pertanyaan yang
sering ditanyakan oleh manusia. Maksud dari pertanyaan ini berhubungan dengan dua hal
yakni adakah sesuatu yang memicu atau memaksa Allah untuk melakukan tindakan
penciptaan manusia? Ataukah adakah suatu kebutuhan dalam diri Allah yang tak akan
terpenuhi sebelum Ia menciptakan manusia? Perlu disadari bahwa sebenarnya tidak ada
keharusan bagi Allah untuk menciptakan manusia ataupun alam semesta. Allah
menciptakan manusia bukan sebab Ia merasa kesepian sebab Allah memiliki persekutuan
yang sempurna dengan Allah Tritunggal. Lalu untuk apa Allah menciptakan manusia?
Hanya ada satu tujuan mengapa Allah menciptakan manusia, yaitu untuk memuliakan-Nya
( Yes 43:7 dst., Efe 1:11-12, 1Kor 10:31. „Keinginan besar Tuhan Allah dalam
menciptakan alam ini yaitu semata-mata untuk diri-Nya sendiri, dan untuk kemuliaan-
Nya sendiri, dan untuk menyatakan dalam makhluk-Nya kesempurnaan diri-Nya sendiri‟.
(John Wesley Brill. Dasar Yang Teguh; 1998: 67-68). Jika demikian maka jelas bahwa
tujuan manusia hidup di dunia yaitu untuk memuliakan-Nya. Kenyataan ini membuktikan
bahwa hidup manusia itu penting, sebab manusia ada yaitu untuk Allah sendiri. Oleh
sebab itu hanya di dalam persekutuan dengan Allahlah maka manusia akan menemukan
sukacita dan kebahagiaan yang sejati.
1. ‟Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita
berlimpah-limpah, di tangan kakan-Mu ada nikmat senantiasa.‟ (Maz 16:11)
2. ‟Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang
kuingini di bumi.‟ (Maz 73:25)
Hal ini juga ditandaskan oleh Calvin yang berkata bahwa, „Manusia tidak akan pernah
mencapai pengetahuan jelas akan dirinya kecuali jika ia sebelumnya melihat wajah Tuhan,
kemudian beranjak dari memandang Dia dan mulai meneliti dirinya sendiri.‟ Dengan kata
lain, manusia tidak akan menemukan jati dirinya jika ia terpisah dari Penciptanya. Hanya di
dalam persekutuan dengan Penciptanya lah manusia menemukan arti dan tujuan hidupnya.
namun kita perlu sadar bahwa jika Allah maha mulia maka saat manusia tidak
memuliakan Allah, itu tidak akan mengurangi sedikit pun kemuliaan-Nya dan walaupun
manusia memuliakan Allah, itu tidak menambah apa-apa pada kemuliaan-Nya. Jadi Allah
tidak bertambah mulia jika manusia memuliakan-Nya atau kurang mulia sebab manusia
tidak memuliakan-Nya. Allah tidak bertambah tinggi sebab manusia meninggikan-Nya
atau menjadi kurang tinggi sebab manusia tidak meninggikan-Nya. Semuanya ini
berhubungan dengan konsep kesempurnaan Allah di mana Ia tidak mungkin menjadi lebih
dan menjadi kurang. Ia tidak dapat menjadi lebih besar atau menjadi kurang besar. Ia tidak
dapat menjadi lebih baik atau menjadi kurang baik. Ia tidak dapat menjadi lebih setia atau
97
menjadi kurang setia. ―Oleh sebab Ia yaitu Allah yang di atas segala sesuatu,
maka Ia tidak dapat ditinggikan lagi. Tidak ada sesuatu pun yang lebih tinggi daripada
Allah, dan tidak ada sesuatu yang di luar jangkauan-Nya.... Oleh sebab tidak ada seorang
pun yang dapat lebih meninggikan Dia, maka tidak ada seorang pun yang dapat
merendahkan Dia. Di dalam Alkitab dituliskan bahwa Ia menopang segala yang ada dengan
firman-Nya yang penuh kekuasaan (Ibrani 1 :3). Bagaimana mungkin Ia ditinggikan atau
didukung oleh sesuatu yang ditopang-Nya ?‖ (A.W. Tozer, Mengenal Yang Maha Kudus :
51). Jadi semua sifat Allah itu „permanen‟. Demikian juga dengan kemuliaan Allah. Allah
tidak dapat menjadi bertambah mulia atau menjadi kurang mulia. Kemuliaan-Nya itu
bersifat
―permanen‖. Dengan demikian untuk menemukan alasan penciptaan manusia oleh
Allah "haruslah dihindari bayangan bahwa Allah yaitu semacam pribadi yang haus pujian,
penghormatan dan pemujaan‖.... ―dari ajaran mengenai kesempurnaan Allah
sendiri, dapatlah dikatakan bahwa Allah dengan mencipta sama sekali tidak mungkin
mencari kebaikan-Nya sendiri, baik untuk mendapatkannya maupun untuk menjaga dan
menambahkannya.‖(Louis Leahy; Filsafat Ketuhanan Kontemporer; 1993 : 233).
Jika Allah menciptakan manusia maka itu harus dipahami semata-mata sebab tindakan
bebas-Nya atau dengan kata lain sebab Ia mau mencipta. Penciptaan manusia yaitu
tindakan bebas dari Allah dan bukan tindakan penting dari Allah. ―Allah tidak
menjalankan fungsi-Nya sebab suatu keharusan‖.....―Allah berhubungan dengan segala
sesuatu sebab kerelaan-Nya, Ia tidak wajib berhubungan dengan apa pun. Dengan kata
lain, Allah berkontak dengan ciptaan-Nya sebab Ia menghendakinya, dan bukan sebab Ia
membutuhkan-Nya‖. (Tony Evans, Teologi Allah: Allah Kita Maha Agung; 1999 : 72,73).
A.W. Tozer juga berkomentar : ―Allah memiliki suatu hubungan sukarela dengan
segala sesuatu yang dijadikan-Nya, namun Ia tidak membutuhkan hubungan apa pun dengan
sesuatu di luar diri-Nya sendiri. Minat-Nya terhadap makhluk ciptaan-Nya timbul dari
kesenangan-Nya yang agung dan bukan sebab suatu kebutuhan yang dapat dipenuhi oleh
makhluk-makhluk itu dan juga bukan supaya makhluk-makhluk itu menyempurnakan diri-
Nya, sebab diri-Nya sendiri sudah sempurna‖. (A.W. Tozer : 50). Tozer melanjutkan :
―Bahwa kita ini ada itu sama sekali merupakan keputusan Allah yang ditentukan
atas kemauan-Nya sendiri, sama sekali bukan sebab kita layak atau sebab Allah
membutuhkan kita‖. (A.W. Tozer: 52).
Dalam kaitannya dengan masalah kemuliaan yang telah disinggung di atas, sebenarnya
penciptaan manusia oleh Allah bukanlah dimaksudkan untuk memperoleh kemuliaan,
melainkan sebaliknya yaitu untuk menyatakan kemuliaan-Nya kepada manusia. Berkhof
kembali berkata : „Allah menciptakan bukanlah pertama-tama untuk memperoleh
kemuliaan, namun untuk menyatakan keluar segala kemuliaan-Nya‟... „Tujuan paling utama
yang dilihat-Nya bukanlah untuk memperoleh kemuliaan, namun untuk memanifestasikan
kemuliaan-Nya dalam buah pekerjaan-Nya (Berkhof : 253, 256). Dari sini kita dapat
melihat bahwa manusia diciptakan oleh Allah supaya manusia dapat bersekutu dengan
Allah dan mencerminkan kemuliaan Allah di dalam dunia ciptaan‟. Henry C. Thiessen
mempertajam pernyataan ini dengan berkata „Pertama dan terutama, Ia menciptakan alam
semesta ini untuk mempertunjukkan kemuliaan-Nya.‟ (Henry C. Thiessen. Teologi
Sistematika ; 2000 : 181). Dengan kata lain penciptaan itu merupakan tindakan Allah
merealisasikan dan mengkomunikasikan kemuliaan-Nya. ―Kemuliaan Allah terletak
dalam komunikasi kebaikan-Nya kepada ciptaan-ciptaan-Nya itu sendiri. Kemuliaan Allah
yaitu manusia yang hidup‖. (Leahy : 234). Leahy juga membagi kemuliaan Allah menjadi
dua bagian yaitu (1) Kemuliaan Allah obyektif yakni kemuliaan Allah yang
―permanen‖ dan sempurna dalam diri-Nya (seperti yang telah dijelaskan di atas) dan (2)
98
Kemuliaan Allah formal yang berisi pengakuan komunikasi itu oleh pihak manusia. ‖.
(Leahy : 234).
99
Sebagaimana kata Berkhof : ―…pujian kepada sang pencipta tidaklah menambahkan
apa- apa kepada kesempurnaan keberadaan-Nya, namun hanyalah mengakui kebesaran-Nya
dan memberikan kepada-Nya kemuliaan bagi-Nya‖. (Berkhof : 257). Dengan pengertian
semacam ini maka sesungguhnya saat manusia ―memuliakan‖ dan
mengagungkan Tuhan, itu bukan berarti manusia memberikan tambahan kemuliaan
kepada-Nya, melainkan manusia mengakui kemuliaan-Nya yang telah dinyatakan dan
dikomunikasikan kepada, melalui dan di dalam manusia itu. Inilah kemuliaan Allah formal,
dan di sini pula terletak arti dari penciptaan manusia. Berkhof berkata : „Tujuan tertinggi
Allah dalam penciptaan, manifestasi kemuliaan-Nya, mencakup juga kebahagiaan dan
keselamatan bagi makhluk-Nya, dan penerimaan pujian dari hati yang bersyukur dan mau
menyembah‟ (Louis Berkhof : 253) dan Stephen Tong menulis : ―Prinsip memuji
Tuhan yaitu manusia mengembalikan kemuliaan kepada Allah dalam statusnya sebagai
manusia‖. (Roh Kudus, Doa dan Kebangunan; 1995:62). Thiessen merangkum kedua
kemuliaan ini (kemuliaan Allah obyektif dan kemuliaan Allah formal) dengan berkata :
„Alam semesta merupakan hasil karya Allah yang diciptakan dengan tujuan untuk
memperlihatkan kemuliaan-Nya. Oleh sebab itu, patutlah kita mempelajarinya agar dapat
menyaksikan kemuliaan Allah. Selain itu, yaitu wajar bagi kita untuk berusaha sekuat-
kuatnya untuk memuliakan Dia‟. (Thiessen : 182).
Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa alasan atau tujuan Allah menciptakan
manusia bukanlah untuk mencari keuntungan atau kemuliaan bagi diri-Nya sendiri.
Tindakan penciptaan itu bebas dari dorongan internal maupun tekanan eksternal. Ia
menciptakan alam semesta termasuk manusia di dalamnya semata-mata sebab Ia mau
mencipta dan Ia berkehendak untuk merefleksikan, merealisasikan, menyatakan dan
mengkomunikasikan kasih dan kemuliaan-Nya kepada, melalui dan di dalam manusia.
A.W. Tozer menulis : „Persoalan mengapa Allah menciptakan alam semesta ini masih
merupakan persoalan para ahli pikir ; namun jika kita tidak dapat mengetahui mengapa,
paling sedikit kita mengetahui bahwa Ia tidak menjadikan dunia ini untuk memenuhi
kebutuhan diri-Nya sendiri, seperti seorang yang membangun sebuah rumah untuk
melindungi dirinya dari hujan dan panas atau menanam jagung di ladang untuk
memperoleh makanan. Bagi Allah kata „perlu‟ itu sama sekali asing‟. (Tozer : 51).
F. Pentingnya Doktrin Manusia
Antropologi dalam teologi sistematika sangatlah penting sebab manusia yaitu objek
utama dari rencana keselamatan oleh Allah. Oleh sebab itu manusia menempati
kedudukan yang penting dalam Alkitab, selain Allah sendiri. Dengan demikian tidak heran
jika di dalam Teologia Sistematika, Antropologi akan menjadi bahasan langsung setelah
Doktrin Allah.
Mulai dari zaman dulu sampai saat ini, hal yang paling sering menjadi pertanyaan bagi
manusia yaitu : ―Siapakah manusia?‖ manusia senantiasa berusaha mengerti
siapakah dirinya, apa tujuan kehidupannya, dari mana sumber kehidupannya, dan
bagaimana harus memandang dirinya atau konsep dirinya. Di dalam salah satu dialognya,
Plato menggambarkan gurunya, Socrates, sebagai seorang yang dalam pencariannya akan
hikmat begitu terobsesi pada satu tujuan sentral, yaitu untuk mengenali dirinya sendiri.
Banyak pemikir telah memberikan beragam jawaban bagi pertanyaan ―Apakah
manusia itu?‖, dan masing-masing memiliki implikasi yang luas bagi pemikiran dan
kehidupan. (Hoekema: 2003)
Dengan pengamatan, pengalaman dan pengetahuan yang dimilikinya, manusia mencoba
menyusun sendiri konsep tentang manusia. Para pemikir dan filsuf dari berbagai perspektif
(cara pandang) dan dari berbagai zaman yang berbeda telah melahirkan banyak konsep
10
tentang manusia. Mereka mengarahkan segenap pengetahuan mereka untuk menjelasakan
manusia. Max Scheler (1874-1928) seorang filsuf Jerman menyatakan, ― Soal ini
merupakan persoalan yang paling penting dalam seluruh ilmu filsafat…Dan memang
antropologi-filosofis itu telah dipikirkan dalam sejarah ilmu filsafat, baik Filsafat Timur
maupun Filsafat Barat. Semua persoalan filosofis seakan-akan berkonsentrasi dalam
persoalan ini.‖
Pentingnya Doktrin manusia yaitu untuk mengetahui eksistensi atau keberadaan
manusia dalam arti sebagai mahluk yang ada atau hadir dimuka bumi ini.
Bahwa untuk memahami manusia dalam multi aspek yang cenderung unik dan mandiri,
berbeda satu dengan lainnya meskipun masing-masing dianggap memiliki satu sifat dasar
atau nilai yang sama yaitu kabaikan. Namun digerogoti oleh pemahaman yang melunturkan
sifat personalitas, yang mana pemahaman yang menggerogoti sifat dasar manusia ini
dapatlah diantaranya disebutkan sebagai ―faktor-faktor berikut: supremasi teknologi
yang terus meningkat, tumbuhnya birokrasi, meningkatnya metode-metode produksi masal,
dampak media masa yang semakin besar‖, dan berbagai aktivitas yang cenderung
manipulatif seperti untuk menggantikan penerusan generasi yang lazim dalam perkawinan
namun sebab ketidak mampuan berproduksi secara alami, maka dilakukan inseminasi
buatan, atau bayi tabung, sehingga mempengaruhi pola pikir tentang martabat manusia.
Meskipun telah melibatkan para filsuf, sosiolog, psikolog, psikiater, pakar etika, aktivis
sosial, yang masing-masing mencoba dengan keahliannya ingin mengungkapkan
keberadaan manusia namun kenyataan yang didapat belumlah memadai memuaskan hasrat
yang senyatanya dalam .menjawab apakah manusia itu.
―Siapakah dan apakah manusia itu‖ menjadi soal yang urgent dan sangat penting
sebab ada banyak faktor yang mengancam kehidupan manusia diantaranya yaitu :
1. Teknologi terus meningkat, membuat manusia tersingkir dan menjadi sebagian dari
teknologi; manusia menjadi ―alat‖
2. Tumbuhnya birokrasi dan produksi massal, serta media massa, membuat manusia
menjadi ―anonim‖ dan semakin menyendiri. Hidup komunitas semakin
merosot.
3. ―Sexual Revolution‖ atau kebebasan dalam seks membuat manusia tidak berbeda
lagi dari hewan.
4. Globalisasi mempengaruhi identitas manusia: manusia global, nasional, atau suku?
Kebudayaan asing menjadi lebih menentukan.
5. Perkembangan di bidang-bidang ilmu pengetahuan juga mencetuskan hal ―Siapakah
dan apakah manusia‖:
a. Biologi, psikologi, sosiologi, dlsb.,mencari cara-cara untuk memanipulasi kehidupan
manusia: perasaan dan perilaku.
b. Teknik Genetic atau genetic engineering; psikoterapi; social engineering.
Dari penjelasan diatas menunjukkan betapa pentingnya doktrin manusia untuk
dipahami, dan Alkitab menjelaskan pemahaman mengenai manusia lebih dari seluruh
hasil pemikiran manusia, Alkitab memberi jawab terhadap pertanyaan:
―Siapakah manusia?‖ Konsep Alkitab tentang manusia begitu agung, dan mulia. Konsep
Alkitab tentang manusia jauh melampaui semua konsep yang pernah dihasilkan manusia.
Mengapa? sebab , konsep manusia dalam Alkitab bukanlah hasil pemikiran manusia,
tapi konsep Allah tentang manusia.
G. Manusia Sebagai Gambar - Rupa Allah
Manusia diciptakan Allah sebagai ciptaan yang termulia, mahkota dari seluruh ciptaan
Allah. Ia berbeda dari makhluk yang lain sebab ia diciptakan sesuai dengan atau menurut
10
―gambar‖ dan ―rupa‖ Allah. (Kejadian 1:26). Ungkapan ―gambar‖ dan ―rupa‖
Allah
10
(Inggris: The Image of God; Yunani: Morphe Tou Theon; Latin: Imago dan Similitudo
Dei; Ibrani: Tselem dan Demuth) ini muncul tiga kali dalam Perjanjian Lama yaitu dalam
Kejadian 1:26-27; 5:1-3; 9:5-6. Pemahaman teologi tentang gambar Allah agak kompleks
sebab banyak pandangan baru yang didukung oleh teolog-teolog abad ke-20, yaitu
pandangan-pandangan yang berusaha menolak pandangan ortodoks yang dianut selama
berabad-abad oleh para pemikir-pemikir Kristen. (Sung Wook Chung, Belajar Teologi
Sistematika Dengan Mudah, 2011).
1. Gambar dan Rupa Allah dalam Sejarah
Salah satu perdebatan panjang mengenai arti gambar dan rupa dalam kitab Kejadian
1:26-27 yang berbunyi Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut
gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di
udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap
di bumi." Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar
Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Sekalipun
banyak perdebatan tentang istilah gambar dan rupa ini, namun ini yaitu ciri yang paling
khas dari pemahaman alkitabiah tentang manusia.
Pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam perdebatan ini yaitu dalam kapasitas dan
batasan apa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah? Apakah istilah
―gambar‖ berbeda dengan ―rupa‖? Apakah keunikan manusia yang diciptakan
menurut gambar dan rupa Allah ini bisa hilang saat manusia jatuh ke dalam dosa?
saat kita memahami esensi dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kita dapat
mengatasi dengan pandangan menyeluruh yang dikemukakan oleh Firman Tuhan.
Dalam sejarah mengenai pandangan gambar dan rupa Allah para bapa gereja memilki
pendapat yang beragam tentang pengertian gambar dan rupa Allah dalam diri manusia.
Irenius dan Tertulianus membedakan keduanya dengan mengatakan bahwa
―gambar‖ merujuk pada tubuh manusia sedangkan ―rupa‖ merujuk pada natur
spiritual manusia. Clement dari Aleksandria dan Origen (bersamaaan dengan Athanasius,
Hilary, Ambrosius, Agustinus dan John dari Damaskus) menafsirkan ―gambar‖
sebagai ciri khas (hakekat) manusia sedangkan ―rupa‖ merujuk pada kualitas yang
tidak esensial bagi manusia yang dapat dikembangkan atau hilang. Agustinus
menganggap akal dan kehendak bebas sebagai gambar Allah di dalam diri manusia yang
membedakannya dari binatang-binatang. Pelagius dan para pengikutnya menafsirkan
gambar dan sebagai keadaan manusia yang diberkati dengan pikirannya itu manusia dapat
mengenal Allah. Dengan pikirannya, yaitu melalui kehendak bebasnya, manusia dapat
memilih dan melakukan kebaikan dan dengan kekuatannya manusia dapat memerintah
ciptaan lainnya. (Louis Berkhof, Teologi Sistematika: Doktrin Manusia, 2009).
Pada periode selanjutnya, para teolog Skolastik semakin mempertajam perbedaan antara
―gambar‖ dan ―rupa‖. ―Gambar‖ merujuk pada kekuatan intelektual untuk berpikir
dan bebas, sedangkan ―rupa‖ merupakan kebenaran asali. Para reformator juga
beradu argumentasi tentang hal ini. Menurut Luther, gambar dan rupa Allah tidak akan
didapatkan melalui penampilan fisik manusia (kekuatan rasional atau moral), melainkan
melalui kebenaran asali. Calvin menyatakan bahwa ―gambar dan rupa‖ Allah
mencakup segala bentuk natur manusia yang mengatasi segala natur binatang. (Louis
Berkhof, Teologi Sistematika, Doktrin Manusia: 2009). Luther dan Calvin menambahkan
bahwa karakteristik-karakteristik moral seperti kebijaksanaan, kebenaran dan kekudusan
juga merupakan refleksi dari gambar Allah, yang mengacu pada pengajaran dari Efesus
4:24 dan Kolose 3:10. (Sung Wook Chung: 2011). Pandangan-pandangan diatas dalam
teologi dikenal sebagai pandangan substantif.
10
Thomas Aquinas; dalam magnum opus-nya, Summa Theologica, menyatakan bahwa
manusia yang memiliki karakter serupa/segambar dengan Allah, letaknya ada di dalam
kecerdasan atau rasio manusia, sehingga gambar Allah ini hanya dapat ditemukan di alam
pikiran manusia, sebagai kecerdasan manusia yang merupakan kualitas manusia yang
paling menyerupai Allah; lebih lanjut dia mempersepsikan gambar Allah yang ada dalam
diri manusia dalam tiga tahap, yaitu:
a. Manusia berpotensi untuk memahami dan mengasihi Allah secara alami.
b. Manusia secara aktual atau kebiasaan dapat mengenal dan mengasihi Allah, namun
belum secara sempurna, dalam pengertian pada taraf manusia menjadi benar.
c. Manusia secara aktual mengenal dan mengasihi Allah secara sempurna, yang ia
definisikan sebagai manusia yang terberkati.
Selain pandangan substantif diatas, ada dua pandangan lain yang berkaitan dengan
makna gambar Allah di dalam manusia, yaitu pandangan relasional dan pandangan
fungsional. Pandangan relasional mengatakan bahwa gambar Allah bukanlah suatu unsur
yang dilimpahkan kepada seorang manusia, melainkan kemapuan mansuai untuk menjaga
relasi dengan Allah dan orang-orang lain. Dengan kata lain hubungan relasional manusia
yaitu perwujudan gambar Allah. Pandangan ini dianut oleh teolog Neo-Orthodoks yakni
Emil Burner dan Karl Barth. (Sung Wook Chung: 2011). Karl Barth; menyatakan bahwa
gambar Allah yang ada pada diri manusia, tidak tedapat pada jiwa atau strukturnya,
wataknya dll, namun sebab pada mulanya Allah dianggap membentuk/ menciptakan
bahwa manusia terdiri dari laki-laki dan perempuan, maka anggapannya tentang gambar
Allah yang terdapat pada manusia itu yaitu nampak pada perjumpaan manusia laki-laki
dan perempuan, dimana pada satu alternatif laki-laki bisa menjadi perempuan dan
sebaliknya, sehingga perjumpaan ini dianggap sebagai mencitrakan akan gambar Allah
yang ada pada diri manusia. Lebih lanjut Barth mengatakan bahwa manusia-manusia
mampu untuk bereksistensi di dalam relasi dengan Allah dan orang-orang lain, khususnya
sebab mereka diciptakan di dalam gambar dari Allah Tritunggal yang bersifat relasional.
Sama halnya kualitas-kualitas internal Allah yang telah diberikan kepada manusia,
kemampuan manusia-manusia untuk terlibat dalam relasi-relasi juga terdapat gambar ilahi.
Berkouwer; menganggap manusia memiliki gambar Allah terletak dalam posisinya
jika manusia dapat meninggalkan kehidupan lamanya untuk menjadi manusia baru,
pandangannya ini diarahkan pada persepsi yang menunjuk kepada diri Yesus Kristus, yang
dinyatakan sebagai mencerminkan secara total akan gambar yang sempurna daripada Allah
dengan titik fokus atau sentral pandang yaitu dalam kasih yang ditunjukkan Kristus pada
manusia, kasih-Nya yang ajaib.
Pada zaman modern para sarjana tetap belum mencapai konsensus. Sebagian
menganggap ―gambar‖ dan ―rupa‖ sebagai dua hal yang berbeda, sementara yang
lain menganggap keduanya sinonim maupun ungkapan yang menunjukkan kesatuan arti.
Bagi yang membedakan kedua istilah itu, ―gambar‖ biasanya dipahami dalam arti
natur alamiah manusia, sedangkan ―rupa‖ berhubungan dengan natur rohani
manusia. Bagi yang menganggap keduanya sinonim, keunikan ini bisa merujuk pada
status manusia sebagai wakil Allah di bumi. Pendapat ini didasarkan pada kebiasaan
bangsa-bangsa kuno yang menganggap raja sebagai gambar allah (wakil allah). Namun
pada umumnya teolog modern banyak yang menganut pandangan yang ketiga yaitu
pandangan fungsional yang mengatakan bahwa, gambar Allah bukanlah karakteristik dasar
ataupun kemapuan umat manusia untuk membangun relasi-relasi.
Mereka yang menganut fungsional berpendapat bahwa gambar Allah diwujud nyatakan
di dalam tujuan dan fungsi manusia. Yaitu berfungsi sebagai pencipta dan memakai
10
sarana-sarana untuk menampilkan karya-karya ilahi dan sebagai pengawas atau penguasa
atas ciptaan Allah.
2. Ajaran Alkitab Mengenai Gambar dan Rupa Allah
a. Dalam Perjanjian Lama
Dalam Alkitab Perjanjian Lama hanya ada tiga catatan mengenai gambar dan rupa
Allah, semuanya ada dalam kitab Kejadian yaitu, Kej. 1:26-28; 5:1-3; dan 9:6. Kata
untuk 'manusia' dalam bahasa Ibrani 'adam‟ yaitu dalam bentuk generik yaitu
manusia sebagai makhluk yang bereksistensi dan dimaksudkan untuk memberikan
perbedaan dengan ciptaan lain. Kata ini juga menunjuk kepada seluruh umat
manusia.
Istilah "gambar" dari bahasa Ibrani tselem dan istilah 'rupa' berasal dari kata demut.
Dalam teks aslinya sebenarnya tidak ditemukan kata sambung „dan‟ dalam Kej.
1:26 keduanya dipakai, dalam Kej. 1:27 gambar, Kej. 5:1 rupa, Kej. 5:3 keduanya
dalam urutan yang beda, Kej. 9:6 gambar. Kata tselem diturunkan dari akar kata
yang berarti 'mengukir' 'memotong'- dan saat dipakai dalam kaitan dengan Allah
maka kata ini menunjukkan bahwa manusia yaitu penyandang gambar Allah,
representasi Allah. Kata demut dari akar kata yang berarti "menjadi seperti", kedua
kata ini memiliki arti bahwa manusia yaitu wakil Allah.
b. Dalam Perjanjian Baru
Yak 3:9 mencatat manusia yaitu ciptaan menurut gambar-rupa Allah. Ada
kesamaan konsep degan Perjanjian Lama. Catatan Perjanjian Baru dalam konteks
setelah kejatuhan manusia dalam dosa, jadi aspek gambar-rupa tidak hilang sama
sekali, melainkan dalam kondisi rusak.
3. Arti kata ―gambar dan rupa Allah‖
a. Arti Etimologis
Kata Ibrani צלם „tselem‟. Kata „gambar‟ dalam bahasa Inggris yaitu „image‟
sedangkan dalam bahasa Ibrani yaitu tselem, dalam bahasa Yunani „morphe‟ artinya
suatu peta atau gambar yang ada bentuk atau patronya (dihias) yang sering dihubungkan
dengan bentuk fisik atau materi.
Kata Ibrani דמות „demuth‟. Kata „rupa‟ dalam bahasa Inggris yaitu „likeness‟
sedangkan dalam bahasa Ibrani yaitu demuth, dalam bahasa Yunani dipakai kata
„skema‟ yang berarti suatu bentuk yang bersesuaian dengan bentuk pertamanya artinya
suatu kesamaan dalam model atau bentuk yang pertama, tapi lebih bersifat abstrak atau
ideal (standard).
Kata penghubung „dan‟ antara gambar dan rupa dalam bahasa Ibrani sebenarnya
tidak ada. Dalam teks Ibrani hanya berbunyi: ―marilah Kita menjadikan
manusia menurut gambar rupa Kita.‖ namun dalam Alkitab Vulgata dan Septuaginta
memasukkan kata dan, sehingga memberi kesan bahwa ―gambar‖ dan ―rupa‖
mengacu kepada dua hal yang berbeda. namun teks Ibrani memperjelas bahawa tak ada
perbedaan yang esensial diantara keduaanya. (Hoekema; 2003: 17-18). Jadi kedua kata
gambar atau rupa sebenarnya tidak perlu dibedakan tapi sebaliknya












