Kamis, 16 Juli 2026

teori gereja 5

 


ing   (Gal.   5:19-21);   dipenuhi   oleh   Roh   Kudus   menghasilkan

87

―kasih,

88

sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan,

kelemahlembutan, penguasaan diri‖ (ay. 22-23).

X. Antropologi: Pengajaran Tentang Manusia

A. Defenisi

Antropologi  berasal  dari  kata  Yunani anthropos, yang berarti ―manusia, dan logos,

yang berarti  ―kata‖  atau  ―pembicaraan‖,  jadi,  antropologi  yaitu   pembicaraan  tentang

manusia. Istilah antropologi dapat disebut juga sebagai studi tentang manusia dari sudut

pandang Alkitab  atau  dapat  ditunjukan  pada  studi  tentang  manusia  dalam  lingkungan

kulturalnya. (Paul Enss: The Moody Handbook of Theology, 2003). Jadi antropologi yaitu 

bagian  ilmu pengetahuan  teologia  yang  membicarakan  manusia,  sifatnya,  hubungan-

hubungannya,  dan sebagainya.  Antropologi  sendiri  dibedakan  dalam  dua  bagian  yaitu

antropologi  scientify yaitu  ilmu yang mempelajari  manusia  secara psikis  dan fisik yang

dikembangkan melalui sejarah turunan bangsa-bangsa, psikologi dan sosiologi. Yang kedua

yaitu  Antropologi teologi  yaitu  cabang ilmu teologi  yang membicarakan manusia  baik

asal-usulnya  maupun kejatuhannya, yaitu memberi penjelasan tentang penciptaan

kehidupan waktu itu, pencobaan, kesesatan, asal dosa dan pelanggaran manusia

(Encyclopedy of Biblical, Theologia  and  Ecclestical  Literatur).  Dengan  demikian

antropologi Kristen dapat dikatakan berfokus kepada upaya dalam memahami manusia dari

sudut pandang rencana Allah di dalam esensi, eksistensi, dan tujuan keberadaan manusia di

dalam dunia. Manusia tidak pernah ada dari dirinya sendiri, tidak pernah memahami dirinya

sendiri, dan tidak pernah mengetahui tujuan keberadaannya dari dirinya sendiri. sebab  itu

dalam mempelajari antropologi Kristen tidak dapat dipisahkan dari Allah sebagai Sumber

dari keberadaan manusia. Mengapa perlu mempelajari antropologi? Ini mempengaruhi kita

bagaimana kita mengenal diri kita dan mengenal Allah, dan bagaimana kita melayani Allah,

juga sebab  krisis yang melanda manusia saat ini.

B. Manusia dan Penciptaan

Pertanyaan   tentang   ―Siapakah   Manusia?‖  telah   didengungkan   berabad-abad

lamanya. Ada banyak upaya yang dilakukan untuk menjawab pertanyaan yang krusial ini.

Namun, jika jawaban yang dimiliki tidak kembali kepada Sumber jawaban yang pasti, maka

dapat dipastikan semua itu merupakan upaya yang sia-sia sebab  tidak menyentuh esensi

asli manusia.  Paling  tidak  secara  umum  jawabannya  dapat  diperkirakan,  yaitu  melihat

manusia lebih  tinggi  atau  lebih  rendah  daripada  yang  seharusnya.  Manusia  dapat  saja

melihat diri lebih tinggi sehingga menekankan kemandirian dan tidak memerlukan aspek

kebergantungan pada Allah. Hal ini dinyatakan dengan cara mengagungkan dan

mengutamakan aspek-aspek tertentu  di dalam diri  manusia  yang menjadi  sandaran bagi

semua harapan manusia itu sendiri, misalnya segala upaya untuk mengaktifkan semua

potensi diri yang dijiwai oleh semangat gerakan zaman baru (New Age Movement) yang

mengatakan bahwa manusia memiliki  potensi yang harus dilatih dan dikembangkan dan

pada waktunya nanti  akan menjadi  sama seperti  Allah.  Selain  itu  jika  manusia  melihat

dirinya terlalu rendah, hal ini akan memicu  mereka menghina keberadaan diri dan

menganggapnya tidak berguna dan tidak memiliki nilai apapun yang harus diperjuangkan.

Tidak mengherankan kalau penilaian seperti ini kemudian melihat hidup tidak berguna.

Setiap zaman selalu berusaha memberikan jawaban dengan kepentingan yang berbeda,

mulai dari menekankan aspek esensi sampai kepada eksistensi manusia. Saat ini pertanyaan

tentang manusia tidak lagi begitu tertarik untuk mempertanyakan realitas-realitas ultimat

atau ontologi, hal ini disebabkan oleh bangkitnya eksistensialisme sebagai suatu cara

berpikir dalam filsafat, teologi, dan sastra yang memperikan penekanan baru, yaitu

eksistensi sesorang lebih penting dari esensinya. (Anthony A. Hoekema, Manusia: Ciptaan

89

Menurut Gambar Allah, 2003. ) Namun perlu ditegaskan bahwa semua upaya memahami

manusia harus kembali kepada Sumber asli manusia, yaitu diri Allah sendiri, oleh sebab 

Alkitab mengatakan bahwa manusia merupakan karya agung Allah yang diciptakan

menurut gambar-rupa-Nya. Di sinilah manusia akan meperoleh pengertian sejati  tentang

siapakah dia, mengapa dia ada dan apakah tujuan keberadaanya.

Alkitab menjelaskan bahwa manusia  bukan saja  mahkota  dari  seluruh ciptaan  Allah,

namun  juga objek khusus pemeliharaan Allah. Dan wahyu Allah dalam Alkitab bukan saja

wahyu yang diberikan kepada manusia,  namun  juga wahyu dimana manusia diperhatikan

secara khusus. Wahyu ini bukanlah wahyu yang abstrak, namun  wahyu Allah dalam

hubungannya dengan manusia, catatan tentang hubungan Allah dengan umat manusia dan

terutama merupakan satu wahyu tentang penyelamatan yang telah dipersiapkan Allah, dan

kini Ia juga bermaksud mempersiapkan manusia. Kenyataan ini membuktikan bahwa

manusia menempati  kedudukan yang amat penting dalam Alkitab dan dalam pandangan

Allah.

Bagaimana Kehidupan dimulai di atas dunia?

Salah satu topik yang hangat diperdebatkan pada zaman modern ini ialah pertanyaan

bagaimana kehidupan ada di atas dunia ini. Ada dua pilihan dasar: (1) Melalui proses yang

lambat dan alamiah (teori evolusi) atau (2) Melalui perintah Penciptaan versi Alkitab

(doktrin penciptaan). Pertanyaan utamanya: berapa lama kehidupan ada di atas planet ini

dan siapakah pemicu  utamanya? Pertanyaan-pertanyaan itu mengajak kita untuk

memahami sejauh mana paradigma iptek modern berhadapan dengan paradigma teologi.

Bagaimanakah sepatutnya kita menilai dan menempatkan teori evolusi ilmiah saat 

diperhadapkan dengan doktrin penciptaan Alkitabiah?

Asal usul manusia, alam, dan isinya telah menjadi bahan perdebatan di segala jaman.

Alkitab menjelaskan bahwa manusia dan dunia ini diciptakan oleh Allah. Berbagai tulisan

kuno Babilonia dan Mesir juga menegaskan hal yang sama, meskipun cara penciptaan yang

ditulis sedikit bervariasi. Isu ini menjadi semakin populer bagi orang modern seiring

dengan berkembangnya teori evolusi, yang dipelopori oleh Charles Darwin lewat bukunya

Origin of the Species pada tahun 1859. Pemegang teori ini memang memiliki pandangan

yang sedikit beragam, namun secara umum teori evolusi bisa dipahami sebagai pandangan

yang menyatakan bahwa manusia atau alam semesta berasal dari suatu proses evolusi ya ng

panjang, dimulai dari zat yang paling sederhana sampai terbentuknya makhluk yang sangat

kompleks  yang   disebut   ―manusia‖.   Keberadaan   zat   hidup   pertama   ini   biasanya

dipahami sebagai hasil dari sebuah peristiwa alam yang kebetulan dan tiba-tiba. Proses

yang diperlukan untuk evolusi ini bisa memakan waktu berjuta-juta tahun.

Bagaimana kita sebagai orang Kristen meresponi hal ini? Benarkah bumi sudah berusia

jutaan  tahun? Benarkah manusia  merupakan hasil  evolusi  yang panjang? Banyak orang

secara sadar atau tidak sadar cenderung bersikap berat sebelah pada waktu membandingkan

Alkitab dengan ilmu pengetahuan. Mereka seringkali  melihat kebenaran Alkitab sebagai

sebuah kebenaran yang subjektif dan sulit dibuktikan, sedangkan penemuan ilmu

pengetahuan sifatnya objektif, tanpa prasangka dan bisa dibuktikan.

Kecenderungan ini tentu saja tidak bisa dibiarkan begitu saja. Dalam hidup ini banyak

hal  yang kita  terima begitu saja  sebagai  sebuah kebenaran tanpa kita  perlu mengujinya

terlebih    dahulu.    Coba    pikirkan    pertanyaan    ini:    ―Mengapa    kita    berani

menyetir  mobil/sepeda motor  di  jalanan tanpa kuatir  kita  akan mengalami  kecelakaan?‖

Bukankah keberanian ini  disebabkan keyakinan kita  bahwa pengendara lain yaitu 

orang yang tidak terganggu kejiwaannya, memiliki kemampuan mengendarai dengan baik

dan memahami peraturan lalu lintas? Semua keyakinan ini tidak pernah kita buktikan

sebelumnya, namun  kita menerimanya begitu saja. Begitu pula dengan dunia ilmu

90

pengetahuan dan teologi. Ilmu pengetahuan mengasumsikan adanya keteraturan gejala

alam. Sama seperti teologi, ilmu pengetahuan juga memiliki ruang tertentu yang menuntut

kepercayaan atau iman dari orang yang menerima kebenaran ini .

Pernyataan yang pertama dari Alkitab yaitu  "Pada mulanya Allah menciptakan langit

dan bumi." Teks ini merupakan dasar bagi semua pemikiran Kristen. Ini merupakan suatu

pernyataan religius, namun  secara rasional merupakan suatu konsep yang harus demikian.

1. Segala sesuatu yang berada di dalam ruang dan waktu ada permulaannya.

2. Sesuatu tidak dapat dihasilkan dari yang tidak ada. Yang tidak ada tidak dapat 

melakukan apa-apa.

3. jika  tidak pernah ada apa-apa, maka sekarang tidak akan ada apa- apa.

4. Sesuatu ada sekarang; oleh sebab  itu sesuatu harus ada dan sesuatu itu tidak ada

permulaannya.

5. Sesuatu tidak dapat menciptakan dirinya sendiri, oleh sebab  ia harus ada terlebih 

dahulu sebelum dia sendiri ada.

6. jika  ada "sebagian" dari alam semesta ini yang tidak diciptakan, maka yang tidak

diciptakan itu merupakan keberadaan yang melebihi yang lain atau melampaui semua

bagian yang ada permulaannya.

7. Keberadaan yang tidak  diciptakan  merupakan keberadaan  tertinggi  (lebih  tinggi  dari

keberadaan yang diciptakan), tidak peduli dia tinggal dimana.

8. Transenden menunjuk kepada derajat dari suatu keberadaan, bukan pada geografisnya.

Kejadian 1:1 megidentifikasikan Elohim sebagai sang Pencipta. Elohim yaitu  istilah 

umum untuk keallahan yang juga merupakan sebutan bagi Allah yang Sejati. Kata ini berarti 

Yang Kuat, Pemimpin Yang Perkasa, Kealaahan Yang Tertinggi. Bentuk jamaknya bermakna

kuasa dan keagungan-Nya yang luar biasa. Identitas Elohim sebagai Pencipta sekaligus 

menangkis beberapa ajaran yang sifatnya bidat, misalnya: Ateisme, Politeisme, dan Panteisme.

Creatio ex Nihilo

1. Kejadian 1:1 dan Ibr. 11:3 menunjukan bahwa Allah (Elohim) menciptakan segala sesuatu

dari yang tidak ada menjadi ada. Kalaupun Ibr. 11:3 memakai frasa „yang tidak kelihatan‟

bukan berarti  yang tidak dapat dideteksi  dengan mata jasmani,  misalnya:  angin,  gas dll

namun  maksudnya sama dengan penekanan dari Kej. 1: 1.

2. Nats-nats ini menunjukan bahwa sebelum penciptaan tidak ada fenomena keberadaan

apapun yang sudah ada.

3. Hal ini juga menyatakan bahwa materi tidak bersifat kekal namun  yaitu  ciptaan yang

memiliki  awal.

4. Untuk aktifitas Allah mencipta ada 3 istilah yang dipakai:

a. Bara‟ artinya mencipta : Kej. 1: 1, 21, 27

b. Asa‟ artinya melakukan, membuat (Kej. 1: 25; Kel. 20: 11; Neh. 9: 6).

c. Yatsar‟ artinya membentuk (Kej. 2: 7)

5. Di dalam kekekalan Allah (Elohim) memang sudah memiliki  rencana tentang apa yang

akan dicipta (Ef. 1: 3-5) namun  hal ini bukan berarti bahwa Allah sudah menyediakan materi

yang menjadi bahan awal yang akan dipakai untuk mencipta segala yang ada.

Saat Penciptaan : Pada mulanya Allah (Elohim) menciptakan langit dan bumi (Kej. 1: 1):

a. Ayat ini menunjukan bahwa kalimat ini yaitu  kalimat pernyataan (statement).

b. Ayat ini menunjukkan bahwa Allah yang aktif dan karyaNya ialah „mencipta‟.

c. In the beginning‟ (Ingg.), „pada mulanya‟ yaitu  merupakan keterangan waktu yang

berarti adanya satu titik awal. Berbeda dengan Yoh. 1:1 Pada mulanya yaitu  Firman,

yang berarti „dalam kekekalan‟.

d. Tidak ada penanggalan diberikan namun  frasa ini berarti keterangan mengenai „waktu‟.

Kaum evolusi mengatakan 4.500.000.000 SM.

91

e. Langit dan bumi‟ (Ingg. „heavens and earth) yaitu  objek yang dicipta. Kata „langit‟

yaitu  dalam bentuk jamak (plural) yang berarti ruang angkasa, dan kata „bumi‟ yaitu 

„planet yang didiami manusia‟.

6. Beberapa pandangan mengenai „Penciptaan‟ yang kurang tepat yang namanya disebut

„Konsep Rentangan‟:

a. Sebahagian pakar, terutama mereka yang memegang faham Alkitab mengatakan bahwa

penciptaan bumi dan segala isinya termasuk manusia terjadi pada waktu yang sama.

b. Teori Celah (Gap Theory) mengatakan bahwa ada rentangan waktu yang sangat panjang

antara  penciptaan  bumi dari  penciptaan  manusia.  Manusia  yaitu   merupakan ciptaan

yang terakhir. Mereka mengetikkan kata „hari‖ sebagai „rentangan waktu yang sangat

panjang‟.

c. Adam bukan manusia pertama. Teori ini mengatakan bahwa fosil-fosil yang ditemukan

menyatakan bahwa sudah ada manusia di bumi sebelum Adam ada. namun  semua punah

dan Adam yaitu  merupakan ciptaan yang kemudian.

d. Ada yang berpendapat bahwa Adam yaitu  salah satu mata rantai dari rentangan proses

evolusi dan ia merupakan bentuk rendah dari manusia.

e. Kaum evolusi theistis mengatakan bahwa manusia yaitu  mahluk purba dan merupakan

hasil proses evolusi dimana mahluk pra manusia dan manusia tingkat rendah kemudian

menghasilkan manusia.

f. Ada sebahagian yang beranggapan bahwa sebelum Kej. 1: 1 sudah ada penciptaan

manusia dan itulah yang creatio ex nihilo. namun  sebab  bumi terhukum sebab  dosa

maka Allah membumi hanguskan semua ciptaan. Penciptaan bumi pada Kej. 1: 1 yaitu 

merupakan persiapan permulaan untuk menuju tatanan penciptaan yang baru termasuk

manusia Adam.

Konsep ini  disebut  juga  sebagai  konsep „rentangan‟  atau  „teori  penataan  ulang dari

kehancuran‟ atau „teori  pemulihan‟ Menurut konsep yang terakhir ini bumi yang dicatat

pada Kejadian 1: 1 yaitu  bumi yang sempurna yang dihuni segala jenis hewan dan tumbuh-

tumbuhan. Sebahagian juga berpendapat bahwa pada saat ini sudah ada manusia pra-Adam

menghuni dunia. namun  pada rentangan waktu antara ayat 1 dan 2 Iblis memberontak

kepada Alah sehingga Allah memaparkan iblis ke bumi dan menjadi cikal bakal hadirnya

dosa di bumi. Sebab itu Allah menghukum bumi dengan jalan mendatangkan banjir besar

yang sifatnya global dan yang diikuti oleh kegelapan dan zaman Es. Akibatnya semua jenis

tumbuh-tumbuhan dan mahluk hidup menjadi punah sebagai hukuman Allah atas mahluk

hidup dan setan. Akibat penghukuman ini langit menjadi gelap gulita dan tidak berbentuk

(kej. 1: 2). Fosil-fosil yang kemudian ditemukan oleh ahli geologi dan antropologi yaitu 

berasal dari mahluk hidup yang dipunahkan Allah pada zaman ini. Kemudian Allah

menciptakan Adam sebagai penciptaan ulang sebab  Alah mengadakan restorasi pada bumi

ini.

Para pendukung teori ini menyimpulkan:

a. Frasa „bumi tanpa bentuk dan kosong‟ (Kej. 1: 2) yaitu  musibah yang terjadi sebab 

hukuman Alah terhadap Iblis. „Tanpa bentuk‟ menunjukan bahwa keadaan bumi yang

semula bukanlah tanpa bentuk. namun :

   Frasa ini tidak berarti adanya hukuman Allah terhadap bumi. Frasa ini menunjukan

bahwa pada tahap pertama Alah membentuk bumi, bumi belum ditumbuhi dengan

vegetasi  dan belum dihuni oleh mahluk hidup, binatang dan manusia. Buktinya,

Allah kemudian menciptakan benda-benda dan mahluk hidup ini  untuk

memenuhi bumi agar tidak kosong.

   Tanpa bentuk‟ bukan berarti bahwa sebelumnya sudah ada dunia yang memiliki 

bentuk yang sempurna. Frasa ini menunjukan bahwa bentuk bumi pada hari pertama

92

penciptaan belum seperti yang  sekarang  sebab  Allah  belum mengumpulkan air

dengan air,  memisahkan angkasa dari  bumi agar terlihat  bentuk seperti  keadaan

bumi yang sekarang.

   Tidak ada dalam Alkitab bukti  yang mengatakan bahwa bumi ini  dihukum oleh

Allah sebab  dosa dan kejahatan Iblis. Hukuman atas dunia ini terjadi yaitu  oleh

sebab  dosa Adam (Kej. 3: 17-19).

b. Menurut mereka frasa ini juga memiliki  arti „kondisi yang jahat‟ dan hal ini tidak

termasuk ke dalam ciptaan Allah. Allah tidak mencipta dunia tanpa bentuk.

(Bandingkan Yes. 45: 18). namun , sebagaimana disebut di atas bahwa keadaan bumi

yang demikian yaitu  gambaran keadaan bumi pada tahap pertama penciptaan sebab 

Allah belum mengisinya  dengan ciptaan  yang lain.  Hal  ini  juga  tidak  menunjukkan

adanya kehadiran Iblis yang kemudian dihukum oleh Allah pada bumi yang

sebelumnya yang memicu  keadaan bumi menjadi kosong dan tidak berbentuk.

c. Menurut kelompok ini „kegelapan‟ yaitu  keberadaan yang tidak baik dan Kej. 1: 2

bukan melukiskan ciptaan Alah yang semula. Memang, sering kata „kegelapan‟

diartikan dengan „kejahatan‟ atau keadaan tidak baik. Misalnya kalau dikatakan

„Manusia tinggal dalam kegelapan‟ artinya „Manusia tinggal dalam kejahatan‟. Namun

dalam Kej.  1:  4 kata „kegelapan‟ bukan berarti  „kejahatan‟  atau „tidak baik‟.  Bagi

Allah kegelapan sama baiknya dengan terang dan bagi Dia tidak ada kegelapan (Maz.

104:  19-24).  Bumi  dalam keadaan gelap  artinya  bumi  tanpa  benda-benda  penerang

sebab  Allah belum mencipta matahari, bulan dan bintang-bintang yang kemudian

menjadi sumber terang bagi bumi.

d. Kej.  1:  28 (mandat  kultural)  menandakan bahwa sebelum Adam bumi sudah pernah

didiami dan dikelola. Jadi Adam hanya disuruh untuk memenuhi ulang. namun , kata

„memenuhi‟ dalam bahasa Ibrani bukan berarti „mengisi ulang‟, seakan-akan tadinya

bumi sudah dipenuhi oleh manusia.

e. Kata „bara (ay. 1) menandakan sebuah penciptaan yang lain dari apa yang terjadi

selanjutnya. namun , dalam bahasa Ibrani kata „bara‟ tidak menunjukan indikasi akan

pengertian „mencipta sesuatu dari apa yang sudah ada‟.

Kesimpulan: Konsep „Rentangan‟ tidaklah benar sebab  tidak didasarkan pada konsep

eksegesis firman Tuhan yang benar.

7. Konsep Hari atau Kurun Waktu

Ada 4 pendapat yang berbeda mengenai konsep waktu ini:

a. Hari‟ pada setiap hari penciptaan yaitu  24 jam berdasar  perputaran bumi mengitari

matahari sebagaimana hari-hari biasa.

   Istilah „hari‟ berulang kali dipakai dalam kitab kejadian (Kej. 1: 5, 8, 13, 19, 23, 31).

Dalam kitab Pentateuch kalau istilah ini dipakai sebagai kata benda dan diikuti dengan

kata bilangan selalu artinya 24 jam.

   Pada ayat  5,  14,  18 hari  selalu dipertautkan dengan kata „siang‟ dan „malam‟,  Jadi

artinya 24 jam.

   Frasa „Petang dan pagi‟ yang dicantumkan pada hari penciptaan mendukung konsep ini

bahwa hari yang dimaksud yaitu  24 jam. Dalam PL frasa ini muncul lebih dari 100 kali

dan selalu memiliki  makna yang sama, yaitu 24 jam, mis. Dan. 8: 26.

   Kel. 20: 11 dan 31: 17 mengatakan bahwa Allah menciptakan segala sesuatu dalam 6

hari.

b. Hari‟ sama artinya dengan satu kurun waktu yang sangat panjang seperti pandangan

para evolusionist. Memang dalam PL kata „hari‟ kadangkala diterjemahkan sebagai

„waktu‟ yang berarti „seluruh periode penciptaan‟ mis. pada Kej. 2: 4 dan bentuk jamak

diterjemahkan dengan „zaman‟ (Kej. 26: 18). namun  pada pasal 1 pemakaian istilah

93

„hari‟ memiliki  arti 24 jam, dan bumi dan segala isinya dicipta dalam 6 hari sebelum

hari perhentian Tuhan, maka jadi tidak mungkin dalam pemakaian kata „yom‟ pada Kej.

2: 4 diartikan lagi sebagai „hari‟ sebab  ayat itu berbicara mengenai bumi dan isinya

secara keseluruhan. Jadi istilah „yom‟ dalam ayat ini artinya „waktu‟, „saat‟, atau

„saat ‟.

c. Hari‟ artinya 24 jam seperti pada no. 1 namun  ada rentangan yang panjang diantara hari-

hari ini . Memang benda-benda penerang diciptakan Allah baru pada hari keempat

(Kej. 1: 9-14). namun  apakah hal ini berarti bahwa istilah „hari pertama, kedua, ketiga‟

merupakan rentangan waktu yang panjang yang berbeda dengan „hari keempat, kelima

dan keenam‟? Perlu diperhatikan bahwa Alah sudah menciptakan „terang‟ pada hari

pertama yang dilihatnya baik dan namanya disebut „siang‟ untuk membedakannya

dengan gelap yang disebut „malam (3-5). Berarti walaupun matahari, bulan dan bintang-

bintang belum ada pada hari 1-3 namun  Alah sudah menciptakan cahaya terang pada hari

1.

d. Teori hari Pewahyuan. Tidak ada hubungan hari-hari ini  dengan karya penciptaan.

Allah hanya mengatakan hal ini  kepada Musa. Misalnya „Ia beristirahat pada hari

ke-7‟.  Apakah  benar  bahwa  Alah  berhenti  selama  24  jam? Petrus  juga  mengatakan

bahwa satu hari bagi Alah sama artinya dengan 1000 tahun bagi manusia ( 2 Petr. 3: 8).

namun : Pada hari ke-7 tidak dikatakan Alah berhenti berkarya, sebab  sepanjang zaman

Allah terus berkarya. Yang dikatakan ialah bahwa Allah „beristirahat‟. Umat Israel dan

umat Kristen mengartikan bahwa hari ketujuh itu yaitu  hari peristirahatan dari bekerja

dengan tujuan supaya umat Tuhan dapat menikmati secara khusus persekutuan dengan

Allah. Dengan demikian mereka akan disegarkan baik secara rohani dan jasmani untuk

kemudian kuat melakukan tugas mereka pada hari-hari dari minggu berikutnya. namun 

hari ke- itu panjangnya tetap sama dengan hari -1 dan hari-hari  berikutnya. (Bernard

Ramm, The Christian View of Science and Scripture (Grand Rapid : Eerdmans, 1954,

hal. 214).

C. Mujizat dan Penampilan Sejarah

Konsep „Creatio ex Nihilo‟ yaitu  mujizat atau keajaiban Sejarah sebab  Allah

melakukannya dari  yang tidak  ada menjadi  ada.  namun   sama dengan mujizat  yang lain

dalam PL maupun PB, setiap mujizat selalu diikuti  dengan „bukti  sejarah‟.  Setiap hari

Allah melakukan pekerjaan penciptaan maka bukti sejarahnya ada. Misalnya, hari pertama,

langit dan bumi, terang (siang) dan gelap (malam). Hari kedua, darat, laut dan langit, dan

seterusnya.  Dalam PB peristiwa mujizat  pada perkawinan di  Kana,  air  menjadi  anggur,

dll.Hal  ini  membuktikan bahwa kalaupun Alah melakukan karyaNya tidak  berdasar 

ilmu pengetahuan, namun  sifatnya mujizat, namun  Allah selalu memberikan bukti akan

kebenaran tindakanNya ini  dalam bentuk benda yang dapat dideteksi dengan indera

manusia. Dan semua mujizat itu dilakukan Tuhan untuk kemuliaan namaNya (Yoh. 2: 11).

D. Pandangan-Pandangan Mengenai Penciptaan Manusia

1. Pandangan Atheistik

Kaum atheis yang tidak percaya akan adanya Tuhan melihat bahwa dunia, termasuk

manusia, terjadi sebab  „kebetulan‟, dan bukan sebab  diciptakan oleh Tuhan.

Secara sederhana dapat dijelaskan bahwa kehidupan di bumi dimulai dari kehidupan

di air yang dalam kurun waktu yang sangat lama terjadi rentetan reaksi dan

kombinasi yang sangat kompleks sehingga menghasilkan protoplasma yang menjadi

awal dari suatu „kehidupan‟. Dan dengan berjalannya waktu yang sangat lama

„kehidupan‟   itu terus   menerus   mengalami modifikasi dan akhirnya menjadi

94

bermacam-macam mahluk hidup yang ada. Pandangan ini lebih dikenal dengan

pandangan evolusi. Teori Evolusi, sebagai teori asal usul manusia menjadi populer

setelah terbitnya karya tulis yang menggemparkan The Origin of Species oleh

Charles Darwin. Istilah ‟ evolusi‟dahulu biasa digunakan dalam ilmu biologi untuk

menjelaskan tentang perkembangan dari suatu embrio. Konteks pemakaian  istilah

ini bukan ditujukan untuk perkembangan sesuatu yang baru dari sesuatu yang lama,

tapi proses kelanjutan dari yang sudah ada. Namun dalam dunia modern, ‟evolusi‟

telah  diartikan secara  lebih luas, yaitu  mencakup  kemungkinan  akan  munculnya

sesuatu yang baru sama sekali sebab  suatu kondisi tertentu, bahkan dalam proses

tertentu dapat terjadi pergerakan dari yang inorganik menjadi organik. Oleh sebab 

itu  Evolusi  didefinisikan  sebagai  „asal  usul  spesies dari  spesies yang  sudah ada

sebelumnya melalui proses penurunan dengan modifikasi". Ada beberapa cara

membagi macam-macam teori Evolusi:

a. Teori Atheis vs Theis

Berpendapat bahwa manusia berasal dari binatang yang lebih rendah. Namun

sebab  proses alamiah yang sempurna dan kompleks dan terus menerus, maka

akhirnya menjadi manusia seperti yang ada sekarang ini. Teori ini percaya akan

prinsip  kesinambungan  (kontinuitas)  langsung antara  dunia  hewan dan dunia

manusia.

b. Teori Evolusi Theistik

Teori ini lebih banyak diterima (khususnya oleh kaum Roma Katolik) sebab 

keterlibatan Allah masih dapat dilihat, yaitu bahwa Allah menciptakan mahluk

yang lebih  rendah namun kemudian  Allah  memakai  tubuh mahluk  ini  untuk

diberikan jiwa yang rasional, sehingga menjadi ciptaan baru, yaitu manusia.

c. Teori Evolusionisme vs Kreationisme

Teori Evolusionisme yaitu  pandangan yang mengganggap bahwa segala

sesuatu terjadi secara kebetulan dan tidak ada campur tangan Allah Pencipta.

Evolusi  Teistik  memandang bahwa Allah memang Pencipta  dunia dan segala

mahluk hidup, namun demikian pembentukan manusia merupakan tingkatan

penciptaan lebih tinggi dari yang dilakukan Allah dari mahluk yang sudah ada.

Kreationisme langsung Percaya bahwa Allahlah yang menciptakan segala

sesuatu  sebagaimana  pernyataan  dalam Kej  2:7-8.  Hal  ini  dijelaskan  sebagai

Kreationisme progresif,  dimana karya penciptaan Allah diterima sebagaimana

dalam Kej 1:27, namun demikian manusia yang diciptakan pertama mengalami

proses evolusi sehingga manusia yang diciptakan pertama tsb. tidak lagi sama

dengan manusia sekarang.

Keberatan Terhadap Teori Evolusi :

Alkitab dengan jelas  berkata  bahwa manusia  diciptakan secara langsung oleh

Allah dengan hikmat dan ketetapan-Nya, (Kej 1:26,27 2:7) tidak secara

kebetulan.  mengatakan  dengan  jelas  bahwa tubuh manusia  tidak  berasal  dari

binatang,  (Kej  3:19  1Kor  15:39)  sebab   daging  binatang  tidak  sama  dengan

manusia, demikian pula darah manusia dan darah binatang. Alkitab mengatakan

bahwa roh manusia  berasal  langsung dari  Allah,  (Kej  2:7 Ayub 33:4)  bukan

berasal dari perkembangan alamiah dari substansi yang sudah ada.

Alkitab berkata bahwa manusia tidak dapat dibandingkan dengan binatang, baik

secara intelektual, moral atau mental. (Kej 1:26,27 2:15,19,20; Maz 8:5-8).

Dalam hal kedudukan Teori Evolusi yaitu  kebalikan dari Alkitab. Alkitab

berkata bahwa manusia pada awalnya yaitu  manusia yang paling mulia, namun

sebab  dosa manusia menjadi rendah. Teori Evolusi berkata bahwa manusia

95

berasal dari mahluk lebih rendah namun kemudian perlahan-lahan menjadi lebih

tinggi dari segala mahluk yang ada.

Juga teori Evolusi tidak memiliki bukti ilmiah yang memastikan bahwa mahluk

hidup dapat keluar dari spesiesnya, yang dapat terjadi yaitu  lahirnya varietas

baru, bukan spesies baru. Asal mula spesies masih menjadi misteri dalam dunia

ilmu pengetahuan.  Kemudian kesamaan hubungan antara manusia dan hewan

dalam pembuktian Teori  Evolusi merupakan kesamaan dalam struktur tubuh

tapi tidak ada hubungan secara genetis.

2. Pandangan Theistik

Orang-orang non-atheis percaya akan keterlibatan Allah dalam penciptaan, termasuk

penciptaan manusia, namun demikian tidak ada kesepakatan pendapat bahwa Allah

menciptakan manusia secara langsung dan bukan setelah melalui proses-proses

alamiah yang panjang. Atau dengan kata lain, ada kelompok orang-orang theis yang

percaya bahwa Allah mungkin tidak menciptakan manusia dari yang tidak ada

menjadi ada, tapi dari mahluk ciptaan lain yang sudah ada dan Allah menciptakan

jiwa untuk ditambahkan sehingga menjadi manusia sekarang.

3. Pandangan Alkitab

Alkitab menjelaskan bahwa Allah menciptakan manusia (Kej. 1:27 ; 5:1; Ula. 4:32;

Maz 100:3; 13:14; 1 Tim. 2:13). Manusia diciptakan dari debu tanah; dan dihembusi

nafas Allah (Kej. 2:7; Ayub 33:4; Pengk. 12:7) dua aspek materi  dan non materi

penciptaan  manusia  di  tulis  dalam satu  kalimat.  Hawa diciptakan  langsung oleh

Allah dari tulang rusuk Adam (Kej. 2:21-22; 1 Kor. 11:8). Sebagian penafsir

mengharuskan mengakui penciptaan Hawa oleh Allah, sebab Hawa secara langsung

dibentuk oleh Allah dari tulang rusuk Adam. H.C. Leupold menjelaskan,

―membentuk   berarti   menata   struktur   penting   yang   membutuhkan   upaya

konstruktif‖ (Ryrie: 1991. Hal. 256). Alkitab mencatat peristiwa penciptaan manusia

dalam  Kej 1:16-27 dan Kej 2:7,21-23. Dari kedua bagian Alkitab ini dapat

disimpulkan bahwa:

a. Tidak seperti  ciptaan  yang lain,  Allah  menciptakan  manusia  dengan rencana,

pertimbangan dan ketetapan, sebab  dikatakan „Baiklah Kita menjadikan

manusia menurut gambar dan rupa Kita.‟. (Kej 1:26)

b. Manusia  diciptakan  langsung oleh  Allah. Kalimat,  „maka  Allah  menciptakan

manusia‟, (Kej 1:26) dipakai kata kerja „bara‟ artinya mencipta, membuat

sesuatu dari yang tidak ada sebelumnya (creatio ex nihilo).

c. Manusia diciptakan berbeda dengan mahluk lain. Alkitab LAI tidak

menyebutkan tapi dalambahasa asli dan bahasa Inggrisnya dikatakan bahwa

Allah menciptakan semua binatang „according to their kinds‟, „according to its

kind‟ =„ menurut jenisnya‟. (Kej 1:21) Sedangkan saat  menciptakan manusia

Allah  berkata,  „Baiklah  Kita  menjadikan  manusia  menurut  gambar  dan  rupa

Kita.‟. (Kej 1:26)

d. Manusia  diciptakan  dari dua  elemen yang  dibedakan, yaitu  tubuh  dan  jiwa.

Tubuh dibentuk dari  debu dan tanah liat,  yaitu  materi  yang sudah ada.  Tapi

dikatakan bahwa tubuh itu belum hidup sampai Allah „menghembuskan nafas

hidup‟, (Kej 2:7) di sini jelas bahwa jiwa manusia diciptakan oleh Allah sendiri

terpisah dari tubuh.

e. Pada waktu diciptakan manusia yaitu  sempurna, tidak berdosa. (Kej 1:31)

Namun demikian manusia diciptakan dengan kemampuan untuk dapat berbuat

dosa.

f. Manusia yaitu  puncak dari segala ciptaan Allah. Manusia diciptakan terakhir

dan diberi mandat (tanggung jawab) untuk menguasai dan memelihara semua

96

ciptaan yang lain. „taklukkanlah, … berkuasalah … ‟, ‟ … mengusahakan dan

memelihara..‟. (Kej 1:28,2:15)

g. Maka Allah  menciptakan  manusia  itu  menurut  gambar-Nya,  menurut  gambar

Allah diciptakan-Nya dia;  laki-laki  dan perempuan,  diciptakan-Nya mereka.‟.

(Kej  1:28) Kedua-duanya diciptakan menurut  gambar dan rupa Allah,  hal  ini

menunjukkan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki nilai yang sederajat di

hadapan Allah.

h. Terdapat kesatuan umat manusia, bahwa semua manusia berasal dari satu pasang

manusia. Setelah menciptakan Adam dan Hawa, Allah berkata: „Beranak-

cuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi … .‟. (Kej 1:28) Kis 17:26,

„Dari  satu orang saja  Ia  telah  menjadikan  semua bangsa dan umat manusia

untuk mendiami seluruh muka bumi … ‟

E. Mengapa Allah Menciptakan Manusia

Pertanyaan mengapa Allah menciptakan manusia merupakan salah satu pertanyaan yang

sering ditanyakan oleh manusia. Maksud dari pertanyaan ini berhubungan dengan dua hal

yakni adakah sesuatu yang memicu  atau memaksa Allah untuk melakukan tindakan

penciptaan  manusia?  Ataukah  adakah  suatu  kebutuhan  dalam diri  Allah  yang  tak  akan

terpenuhi  sebelum Ia menciptakan manusia? Perlu disadari  bahwa sebenarnya tidak ada

keharusan bagi Allah untuk menciptakan manusia ataupun alam semesta. Allah

menciptakan manusia bukan sebab  Ia merasa kesepian sebab  Allah memiliki persekutuan

yang  sempurna  dengan  Allah  Tritunggal. Lalu untuk  apa Allah  menciptakan  manusia?

Hanya ada satu tujuan mengapa Allah menciptakan manusia, yaitu untuk memuliakan-Nya

( Yes 43:7 dst., Efe 1:11-12, 1Kor 10:31. „Keinginan besar Tuhan Allah dalam

menciptakan alam ini yaitu  semata-mata untuk diri-Nya sendiri, dan untuk kemuliaan-

Nya sendiri, dan untuk menyatakan dalam makhluk-Nya kesempurnaan diri-Nya sendiri‟.

(John Wesley Brill.  Dasar Yang Teguh; 1998: 67-68).  Jika demikian maka jelas bahwa

tujuan manusia hidup di dunia yaitu  untuk memuliakan-Nya. Kenyataan ini membuktikan

bahwa hidup manusia itu penting,  sebab  manusia ada yaitu  untuk Allah sendiri.  Oleh

sebab  itu hanya di dalam persekutuan dengan Allahlah maka manusia akan menemukan

sukacita dan kebahagiaan yang sejati.

1. ‟Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita

berlimpah-limpah, di tangan kakan-Mu ada nikmat senantiasa.‟ (Maz 16:11)

2. ‟Siapa gerangan ada padaku di  sorga selain Engkau? Selain  Engkau tidak ada yang

kuingini di bumi.‟ (Maz 73:25)

Hal ini juga ditandaskan oleh Calvin yang berkata bahwa, „Manusia tidak akan pernah

mencapai pengetahuan jelas akan dirinya kecuali jika ia sebelumnya melihat wajah Tuhan,

kemudian beranjak dari memandang Dia dan mulai meneliti dirinya sendiri.‟ Dengan kata

lain, manusia tidak akan menemukan jati dirinya jika ia terpisah dari Penciptanya. Hanya di

dalam persekutuan dengan Penciptanya lah manusia menemukan arti dan tujuan hidupnya.

namun  kita perlu sadar bahwa jika Allah maha mulia maka saat  manusia tidak

memuliakan Allah, itu tidak akan mengurangi sedikit  pun kemuliaan-Nya dan walaupun

manusia memuliakan Allah, itu tidak menambah apa-apa pada kemuliaan-Nya. Jadi Allah

tidak bertambah mulia jika manusia memuliakan-Nya atau kurang mulia sebab  manusia

tidak memuliakan-Nya. Allah tidak bertambah tinggi  sebab  manusia  meninggikan-Nya

atau menjadi kurang tinggi sebab  manusia tidak meninggikan-Nya. Semuanya ini

berhubungan dengan konsep kesempurnaan Allah di mana Ia tidak mungkin menjadi lebih

dan menjadi kurang. Ia tidak dapat menjadi lebih besar atau menjadi kurang besar. Ia tidak

dapat menjadi lebih baik atau menjadi kurang baik. Ia tidak dapat menjadi lebih setia atau

97

menjadi   kurang  setia.   ―Oleh   sebab    Ia   yaitu    Allah   yang di atas  segala   sesuatu,

maka   Ia tidak dapat ditinggikan lagi. Tidak ada sesuatu pun yang lebih tinggi daripada

Allah, dan tidak ada sesuatu yang di luar jangkauan-Nya.... Oleh sebab  tidak ada seorang

pun  yang dapat  lebih  meninggikan  Dia,  maka  tidak  ada  seorang  pun  yang  dapat

merendahkan Dia. Di dalam Alkitab dituliskan bahwa Ia menopang segala yang ada dengan

firman-Nya yang penuh kekuasaan (Ibrani 1 :3). Bagaimana mungkin Ia ditinggikan atau

didukung oleh sesuatu yang ditopang-Nya ?‖ (A.W. Tozer, Mengenal Yang Maha Kudus :

51). Jadi semua sifat Allah itu „permanen‟. Demikian juga dengan kemuliaan Allah. Allah

tidak dapat menjadi bertambah mulia atau menjadi kurang mulia. Kemuliaan-Nya itu

bersifat

―permanen‖.   Dengan  demikian  untuk  menemukan  alasan  penciptaan  manusia   oleh

Allah "haruslah dihindari bayangan bahwa Allah yaitu  semacam pribadi yang haus pujian,

penghormatan   dan   pemujaan‖....   ―dari   ajaran   mengenai   kesempurnaan   Allah

sendiri,  dapatlah dikatakan bahwa Allah dengan mencipta sama sekali tidak mungkin

mencari kebaikan-Nya sendiri, baik untuk mendapatkannya maupun untuk menjaga dan

menambahkannya.‖(Louis Leahy; Filsafat Ketuhanan Kontemporer; 1993 : 233).

Jika Allah menciptakan manusia maka itu harus dipahami semata-mata sebab  tindakan

bebas-Nya atau  dengan kata lain  sebab  Ia mau  mencipta. Penciptaan  manusia yaitu 

tindakan   bebas  dari Allah dan bukan tindakan penting dari Allah.   ―Allah   tidak

menjalankan fungsi-Nya  sebab   suatu  keharusan‖.....―Allah  berhubungan  dengan  segala

sesuatu   sebab  kerelaan-Nya, Ia tidak wajib berhubungan dengan apa pun. Dengan kata

lain, Allah berkontak dengan ciptaan-Nya sebab  Ia menghendakinya, dan bukan sebab  Ia

membutuhkan-Nya‖. (Tony Evans, Teologi Allah: Allah Kita Maha Agung; 1999 : 72,73).

A.W.  Tozer  juga  berkomentar  :   ―Allah  memiliki  suatu  hubungan  sukarela  dengan

segala sesuatu yang dijadikan-Nya, namun  Ia tidak membutuhkan hubungan apa pun dengan

sesuatu  di luar  diri-Nya  sendiri. Minat-Nya terhadap  makhluk ciptaan-Nya  timbul  dari

kesenangan-Nya yang agung dan bukan sebab  suatu kebutuhan yang dapat dipenuhi oleh

makhluk-makhluk itu dan juga bukan supaya makhluk-makhluk itu menyempurnakan diri-

Nya, sebab  diri-Nya sendiri sudah sempurna‖. (A.W. Tozer : 50). Tozer melanjutkan :

―Bahwa   kita   ini  ada   itu  sama   sekali  merupakan  keputusan  Allah  yang  ditentukan

atas  kemauan-Nya sendiri, sama sekali bukan sebab  kita layak atau sebab  Allah

membutuhkan kita‖. (A.W. Tozer: 52).

Dalam kaitannya dengan masalah kemuliaan yang telah disinggung di atas, sebenarnya

penciptaan manusia oleh Allah bukanlah dimaksudkan untuk memperoleh kemuliaan,

melainkan sebaliknya yaitu  untuk menyatakan kemuliaan-Nya kepada manusia.  Berkhof

kembali berkata : „Allah menciptakan bukanlah pertama-tama untuk memperoleh

kemuliaan, namun  untuk menyatakan keluar segala kemuliaan-Nya‟... „Tujuan paling utama

yang dilihat-Nya bukanlah untuk memperoleh kemuliaan,  namun  untuk memanifestasikan

kemuliaan-Nya dalam buah pekerjaan-Nya (Berkhof : 253, 256). Dari sini kita dapat

melihat  bahwa manusia  diciptakan  oleh  Allah  supaya manusia dapat  bersekutu  dengan

Allah  dan mencerminkan kemuliaan  Allah di  dalam dunia  ciptaan‟.  Henry C.  Thiessen

mempertajam pernyataan ini dengan berkata „Pertama dan terutama, Ia menciptakan alam

semesta ini untuk mempertunjukkan kemuliaan-Nya.‟ (Henry C. Thiessen. Teologi

Sistematika  ;  2000  :  181).  Dengan  kata  lain  penciptaan  itu  merupakan  tindakan  Allah

merealisasikan   dan   mengkomunikasikan   kemuliaan-Nya.   ―Kemuliaan   Allah   terletak

dalam komunikasi kebaikan-Nya kepada ciptaan-ciptaan-Nya itu sendiri. Kemuliaan Allah

yaitu  manusia yang hidup‖. (Leahy : 234). Leahy juga membagi kemuliaan Allah menjadi

dua bagian   yaitu   (1)   Kemuliaan   Allah   obyektif   yakni   kemuliaan   Allah   yang

―permanen‖  dan sempurna dalam diri-Nya (seperti yang telah dijelaskan di atas) dan (2)

98

Kemuliaan  Allah formal yang berisi pengakuan komunikasi itu oleh pihak manusia. ‖.

(Leahy : 234).

99

Sebagaimana  kata  Berkhof  :  ―…pujian  kepada  sang  pencipta  tidaklah menambahkan

apa- apa kepada kesempurnaan keberadaan-Nya, namun  hanyalah mengakui kebesaran-Nya

dan memberikan kepada-Nya kemuliaan bagi-Nya‖. (Berkhof : 257). Dengan pengertian

semacam    ini    maka    sesungguhnya    saat     manusia    ―memuliakan‖   dan

mengagungkan  Tuhan, itu bukan berarti manusia memberikan tambahan kemuliaan

kepada-Nya, melainkan  manusia  mengakui  kemuliaan-Nya  yang  telah  dinyatakan  dan

dikomunikasikan kepada, melalui dan di dalam manusia itu. Inilah kemuliaan Allah formal,

dan di sini pula terletak arti dari penciptaan manusia. Berkhof berkata : „Tujuan tertinggi

Allah  dalam penciptaan,  manifestasi  kemuliaan-Nya,  mencakup  juga  kebahagiaan  dan

keselamatan bagi makhluk-Nya, dan penerimaan pujian dari hati yang bersyukur dan mau

menyembah‟ (Louis  Berkhof   :   253)   dan Stephen   Tong menulis  : ―Prinsip memuji

Tuhan  yaitu   manusia mengembalikan kemuliaan kepada Allah dalam statusnya sebagai

manusia‖.  (Roh  Kudus, Doa  dan  Kebangunan;  1995:62).  Thiessen  merangkum  kedua

kemuliaan ini  (kemuliaan Allah obyektif  dan kemuliaan Allah formal) dengan berkata  :

„Alam  semesta  merupakan hasil  karya  Allah  yang  diciptakan  dengan  tujuan  untuk

memperlihatkan kemuliaan-Nya. Oleh sebab  itu, patutlah kita mempelajarinya agar dapat

menyaksikan kemuliaan Allah. Selain itu, yaitu  wajar bagi kita untuk berusaha sekuat-

kuatnya untuk memuliakan Dia‟. (Thiessen : 182).

Dengan demikian  dapat  kita  simpulkan bahwa alasan  atau tujuan Allah menciptakan

manusia bukanlah untuk mencari keuntungan atau kemuliaan bagi diri-Nya sendiri.

Tindakan penciptaan itu bebas dari dorongan internal maupun tekanan eksternal. Ia

menciptakan  alam semesta  termasuk  manusia  di  dalamnya  semata-mata  sebab  Ia  mau

mencipta dan Ia berkehendak untuk merefleksikan, merealisasikan, menyatakan dan

mengkomunikasikan kasih dan kemuliaan-Nya kepada, melalui dan di dalam manusia.

A.W.  Tozer  menulis  :  „Persoalan  mengapa  Allah  menciptakan  alam semesta  ini  masih

merupakan persoalan para ahli  pikir  ;  namun   jika kita  tidak  dapat  mengetahui  mengapa,

paling sedikit kita mengetahui bahwa Ia tidak menjadikan dunia ini untuk memenuhi

kebutuhan diri-Nya sendiri, seperti seorang yang membangun sebuah rumah untuk

melindungi dirinya dari hujan dan panas atau menanam jagung di ladang untuk

memperoleh makanan. Bagi Allah kata „perlu‟ itu sama sekali asing‟. (Tozer : 51).

F. Pentingnya Doktrin Manusia

Antropologi dalam teologi sistematika sangatlah penting sebab  manusia yaitu  objek

utama dari rencana keselamatan oleh Allah. Oleh sebab  itu manusia menempati

kedudukan yang penting dalam Alkitab, selain Allah sendiri. Dengan demikian tidak heran

jika di dalam Teologia Sistematika,  Antropologi akan menjadi bahasan langsung setelah

Doktrin Allah.

Mulai dari zaman dulu sampai saat ini, hal yang paling sering menjadi pertanyaan bagi

manusia   yaitu :   ―Siapakah   manusia?‖   manusia   senantiasa   berusaha   mengerti

siapakah  dirinya,  apa  tujuan  kehidupannya,  dari  mana  sumber  kehidupannya,  dan

bagaimana harus memandang dirinya atau konsep dirinya. Di dalam salah satu dialognya,

Plato menggambarkan gurunya, Socrates, sebagai seorang yang dalam pencariannya akan

hikmat begitu  terobsesi  pada satu tujuan sentral,  yaitu  untuk mengenali  dirinya  sendiri.

Banyak pemikir   telah   memberikan   beragam   jawaban   bagi   pertanyaan   ―Apakah

manusia   itu?‖, dan  masing-masing  memiliki  implikasi  yang  luas  bagi  pemikiran  dan

kehidupan. (Hoekema: 2003)

Dengan pengamatan, pengalaman dan pengetahuan yang dimilikinya, manusia mencoba

menyusun sendiri konsep tentang manusia. Para pemikir dan filsuf dari berbagai perspektif

(cara pandang) dan dari berbagai zaman yang berbeda telah melahirkan banyak konsep

10

tentang manusia. Mereka mengarahkan segenap pengetahuan mereka untuk menjelasakan

manusia. Max Scheler (1874-1928) seorang filsuf Jerman menyatakan, ― Soal ini

merupakan persoalan yang paling penting dalam seluruh ilmu filsafat…Dan memang

antropologi-filosofis itu telah dipikirkan dalam sejarah ilmu filsafat,  baik Filsafat  Timur

maupun Filsafat Barat. Semua persoalan filosofis seakan-akan berkonsentrasi dalam

persoalan ini.‖

Pentingnya Doktrin manusia yaitu  untuk mengetahui eksistensi atau keberadaan

manusia dalam arti sebagai mahluk yang ada atau hadir dimuka bumi ini.

Bahwa untuk memahami manusia dalam multi aspek yang cenderung unik dan mandiri,

berbeda satu dengan lainnya meskipun masing-masing dianggap memiliki satu sifat dasar

atau nilai yang sama yaitu kabaikan. Namun digerogoti oleh pemahaman yang melunturkan

sifat personalitas, yang mana pemahaman yang menggerogoti sifat dasar manusia ini

dapatlah   diantaranya  disebutkan  sebagai   ―faktor-faktor   berikut:   supremasi   teknologi

yang terus meningkat, tumbuhnya birokrasi, meningkatnya metode-metode produksi masal,

dampak media masa yang semakin besar‖, dan berbagai aktivitas yang cenderung

manipulatif seperti untuk menggantikan penerusan generasi yang lazim dalam perkawinan

namun sebab  ketidak mampuan berproduksi secara alami, maka dilakukan inseminasi

buatan, atau bayi tabung, sehingga mempengaruhi pola pikir tentang martabat manusia.

Meskipun telah melibatkan para filsuf, sosiolog, psikolog, psikiater, pakar etika, aktivis

sosial, yang masing-masing mencoba dengan keahliannya ingin mengungkapkan

keberadaan manusia namun kenyataan yang didapat belumlah memadai memuaskan hasrat

yang senyatanya dalam .menjawab apakah manusia itu.

―Siapakah dan  apakah manusia   itu‖  menjadi soal yang urgent dan sangat   penting

sebab  ada banyak faktor yang mengancam kehidupan manusia diantaranya yaitu  :

1. Teknologi terus meningkat, membuat manusia tersingkir dan menjadi sebagian dari

teknologi;  manusia menjadi  ―alat‖

2. Tumbuhnya birokrasi dan produksi massal, serta media massa, membuat manusia

menjadi  ―anonim‖  dan semakin menyendiri.  Hidup komunitas  semakin 

merosot.

3. ―Sexual  Revolution‖  atau  kebebasan  dalam  seks  membuat  manusia  tidak  berbeda  

lagi dari hewan.

4. Globalisasi mempengaruhi identitas manusia: manusia global, nasional, atau suku?

Kebudayaan asing menjadi lebih menentukan.

5. Perkembangan  di  bidang-bidang  ilmu  pengetahuan juga  mencetuskan hal ―Siapakah

dan apakah manusia‖:

a. Biologi, psikologi, sosiologi, dlsb.,mencari cara-cara untuk memanipulasi kehidupan

manusia: perasaan dan perilaku.

b. Teknik Genetic atau genetic engineering; psikoterapi; social engineering.

Dari penjelasan diatas menunjukkan betapa pentingnya doktrin manusia untuk

dipahami,  dan Alkitab menjelaskan pemahaman mengenai manusia lebih dari  seluruh

hasil   pemikiran   manusia,   Alkitab   memberi   jawab   terhadap   pertanyaan:

―Siapakah manusia?‖ Konsep Alkitab tentang manusia begitu agung, dan mulia. Konsep

Alkitab tentang manusia jauh melampaui semua konsep yang pernah dihasilkan manusia.

Mengapa? sebab , konsep manusia dalam Alkitab bukanlah hasil pemikiran manusia,

tapi konsep Allah tentang manusia.

G. Manusia Sebagai Gambar - Rupa Allah

Manusia diciptakan Allah sebagai ciptaan yang termulia, mahkota dari seluruh ciptaan 

Allah. Ia berbeda dari makhluk yang lain sebab ia diciptakan sesuai dengan atau menurut

10

―gambar‖   dan   ―rupa‖   Allah.   (Kejadian   1:26).   Ungkapan   ―gambar‖   dan   ―rupa‖   

Allah

10

(Inggris: The Image of God; Yunani: Morphe Tou Theon; Latin: Imago dan Similitudo

Dei; Ibrani: Tselem dan Demuth) ini muncul tiga kali dalam Perjanjian Lama yaitu dalam

Kejadian 1:26-27; 5:1-3; 9:5-6. Pemahaman teologi tentang gambar Allah agak kompleks

sebab  banyak pandangan baru yang didukung oleh teolog-teolog abad ke-20, yaitu

pandangan-pandangan yang  berusaha  menolak  pandangan  ortodoks yang  dianut  selama

berabad-abad oleh para pemikir-pemikir Kristen. (Sung Wook Chung, Belajar Teologi

Sistematika Dengan Mudah, 2011).

1. Gambar dan Rupa Allah dalam Sejarah

Salah satu perdebatan panjang mengenai  arti  gambar dan rupa dalam kitab Kejadian

1:26-27 yang berbunyi Berfirmanlah  Allah:  "Baiklah Kita  menjadikan manusia menurut

gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di

udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap

di  bumi."  Maka Allah  menciptakan manusia  itu  menurut  gambar-Nya,  menurut  gambar

Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Sekalipun

banyak perdebatan tentang istilah gambar dan rupa ini, namun ini yaitu  ciri yang paling

khas dari pemahaman alkitabiah tentang manusia.

Pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam perdebatan ini yaitu  dalam kapasitas dan

batasan apa   manusia   diciptakan menurut   gambar   dan rupa   Allah?   Apakah istilah

―gambar‖  berbeda   dengan   ―rupa‖?   Apakah   keunikan   manusia   yang   diciptakan

menurut   gambar   dan rupa Allah ini  bisa hilang saat  manusia jatuh ke dalam dosa?

saat   kita  memahami esensi  dari  pertanyaan-pertanyaan  yang  diajukan  kita  dapat

mengatasi dengan pandangan menyeluruh yang dikemukakan oleh Firman Tuhan.

Dalam sejarah mengenai pandangan gambar dan rupa Allah para bapa gereja memilki

pendapat  yang beragam tentang pengertian  gambar dan rupa Allah dalam diri  manusia.

Irenius   dan   Tertulianus   membedakan   keduanya   dengan   mengatakan   bahwa

―gambar‖ merujuk   pada   tubuh   manusia   sedangkan  ―rupa‖   merujuk  pada   natur

spiritual  manusia. Clement dari Aleksandria dan Origen (bersamaaan dengan Athanasius,

Hilary,  Ambrosius, Agustinus   dan   John   dari   Damaskus)   menafsirkan   ―gambar‖

sebagai  ciri  khas  (hakekat) manusia  sedangkan  ―rupa‖  merujuk  pada  kualitas  yang

tidak   esensial   bagi   manusia   yang  dapat  dikembangkan  atau  hilang.  Agustinus

menganggap akal dan kehendak bebas sebagai gambar Allah di dalam diri manusia yang

membedakannya dari binatang-binatang. Pelagius  dan  para  pengikutnya  menafsirkan

gambar dan sebagai keadaan manusia yang diberkati dengan pikirannya itu manusia dapat

mengenal  Allah.  Dengan  pikirannya,  yaitu melalui  kehendak  bebasnya,  manusia  dapat

memilih  dan  melakukan  kebaikan  dan  dengan kekuatannya manusia dapat memerintah

ciptaan lainnya. (Louis Berkhof, Teologi Sistematika: Doktrin Manusia, 2009).

Pada periode selanjutnya, para teolog Skolastik semakin mempertajam perbedaan antara

―gambar‖   dan  ―rupa‖.   ―Gambar‖   merujuk  pada   kekuatan  intelektual  untuk  berpikir

dan bebas,   sedangkan   ―rupa‖   merupakan   kebenaran   asali.   Para   reformator   juga

beradu argumentasi  tentang hal ini.  Menurut Luther,  gambar dan rupa Allah tidak akan

didapatkan melalui penampilan fisik manusia (kekuatan rasional atau moral), melainkan

melalui kebenaran   asali.   Calvin   menyatakan   bahwa   ―gambar   dan   rupa‖  Allah

mencakup   segala  bentuk natur manusia yang mengatasi segala natur binatang. (Louis

Berkhof, Teologi Sistematika, Doktrin Manusia: 2009). Luther dan Calvin menambahkan

bahwa karakteristik-karakteristik moral seperti kebijaksanaan, kebenaran dan kekudusan

juga merupakan refleksi dari gambar Allah, yang mengacu pada pengajaran dari Efesus

4:24 dan  Kolose  3:10.  (Sung Wook Chung:  2011).  Pandangan-pandangan diatas  dalam

teologi dikenal sebagai pandangan substantif.

10

Thomas  Aquinas;  dalam magnum opus-nya,  Summa Theologica,  menyatakan  bahwa

manusia  yang memiliki  karakter  serupa/segambar  dengan Allah,  letaknya ada  di  dalam

kecerdasan atau rasio manusia, sehingga gambar Allah ini hanya dapat ditemukan di alam

pikiran manusia, sebagai kecerdasan manusia yang merupakan kualitas manusia yang

paling menyerupai Allah; lebih lanjut dia mempersepsikan gambar Allah yang ada dalam

diri manusia dalam tiga tahap, yaitu:

a. Manusia berpotensi untuk memahami dan mengasihi Allah secara alami.

b. Manusia  secara  aktual  atau  kebiasaan  dapat  mengenal  dan  mengasihi  Allah,  namun

belum secara sempurna, dalam pengertian pada taraf manusia menjadi benar.

c. Manusia secara aktual mengenal dan mengasihi Allah secara sempurna, yang ia

definisikan sebagai manusia yang terberkati.

Selain pandangan substantif diatas, ada dua pandangan lain yang  berkaitan dengan

makna gambar Allah di dalam manusia, yaitu pandangan relasional dan pandangan

fungsional. Pandangan relasional mengatakan bahwa gambar Allah bukanlah suatu unsur

yang dilimpahkan kepada seorang manusia, melainkan kemapuan mansuai untuk menjaga

relasi dengan Allah dan orang-orang lain. Dengan kata lain hubungan relasional manusia

yaitu  perwujudan gambar Allah. Pandangan ini dianut oleh teolog Neo-Orthodoks yakni

Emil Burner dan Karl Barth. (Sung Wook Chung: 2011). Karl Barth; menyatakan bahwa

gambar Allah yang ada pada diri manusia, tidak tedapat pada jiwa atau strukturnya,

wataknya dll, namun sebab  pada mulanya Allah dianggap membentuk/ menciptakan

bahwa manusia terdiri  dari laki-laki dan perempuan, maka anggapannya tentang gambar

Allah yang terdapat pada manusia itu yaitu  nampak pada perjumpaan manusia laki-laki

dan perempuan, dimana pada satu alternatif laki-laki bisa menjadi perempuan dan

sebaliknya,  sehingga perjumpaan ini  dianggap sebagai  mencitrakan  akan gambar  Allah

yang ada pada diri manusia. Lebih lanjut Barth mengatakan bahwa manusia-manusia

mampu untuk bereksistensi di dalam relasi dengan Allah dan orang-orang lain, khususnya

sebab  mereka diciptakan di dalam gambar dari Allah Tritunggal yang bersifat relasional.

Sama halnya kualitas-kualitas internal Allah yang telah diberikan kepada manusia,

kemampuan manusia-manusia untuk terlibat dalam relasi-relasi juga terdapat gambar ilahi.

Berkouwer; menganggap manusia memiliki gambar Allah terletak dalam posisinya

jika   manusia  dapat meninggalkan  kehidupan  lamanya untuk  menjadi  manusia  baru,

pandangannya ini diarahkan pada persepsi yang menunjuk kepada diri Yesus Kristus, yang

dinyatakan sebagai mencerminkan secara total akan gambar yang sempurna daripada Allah

dengan titik fokus atau sentral pandang yaitu  dalam kasih yang ditunjukkan Kristus pada

manusia, kasih-Nya yang ajaib.

Pada zaman modern para sarjana tetap belum mencapai konsensus. Sebagian

menganggap  ―gambar‖   dan  ―rupa‖  sebagai  dua  hal  yang  berbeda,  sementara  yang

lain menganggap keduanya sinonim maupun ungkapan yang menunjukkan kesatuan arti.

Bagi yang   membedakan   kedua   istilah   itu,   ―gambar‖  biasanya   dipahami dalam arti

natur   alamiah  manusia,   sedangkan   ―rupa‖   berhubungan   dengan   natur   rohani

manusia.   Bagi   yang menganggap keduanya sinonim, keunikan ini bisa merujuk pada

status  manusia  sebagai wakil  Allah  di  bumi.  Pendapat  ini  didasarkan  pada  kebiasaan

bangsa-bangsa kuno yang menganggap raja sebagai gambar allah (wakil allah). Namun

pada umumnya teolog modern  banyak  yang  menganut  pandangan  yang  ketiga  yaitu

pandangan fungsional yang mengatakan bahwa, gambar Allah bukanlah karakteristik dasar

ataupun kemapuan umat manusia untuk membangun relasi-relasi.

Mereka yang menganut fungsional berpendapat bahwa gambar Allah diwujud nyatakan

di dalam tujuan dan fungsi manusia. Yaitu berfungsi sebagai pencipta dan memakai 

10

sarana-sarana untuk menampilkan karya-karya ilahi dan sebagai pengawas atau penguasa

atas ciptaan Allah.

2. Ajaran Alkitab Mengenai Gambar dan Rupa Allah

a. Dalam Perjanjian Lama

Dalam Alkitab Perjanjian Lama hanya ada tiga catatan mengenai gambar dan rupa

Allah, semuanya ada dalam kitab Kejadian yaitu, Kej. 1:26-28; 5:1-3; dan 9:6. Kata

untuk 'manusia' dalam bahasa Ibrani 'adam‟ yaitu  dalam bentuk generik yaitu

manusia sebagai makhluk yang bereksistensi dan dimaksudkan untuk memberikan

perbedaan dengan ciptaan lain. Kata ini juga menunjuk kepada seluruh umat

manusia.

Istilah "gambar" dari bahasa Ibrani tselem dan istilah 'rupa' berasal dari kata demut.

Dalam teks aslinya sebenarnya tidak ditemukan kata sambung „dan‟ dalam Kej.

1:26 keduanya dipakai, dalam Kej. 1:27 gambar, Kej. 5:1 rupa, Kej. 5:3 keduanya

dalam urutan yang beda, Kej. 9:6 gambar. Kata tselem diturunkan dari akar kata

yang berarti 'mengukir' 'memotong'- dan saat  dipakai dalam kaitan dengan Allah

maka kata ini menunjukkan bahwa manusia yaitu  penyandang gambar Allah,

representasi Allah. Kata demut dari akar kata yang berarti "menjadi seperti", kedua

kata ini memiliki arti bahwa manusia yaitu  wakil Allah.

b. Dalam Perjanjian Baru

Yak 3:9 mencatat manusia yaitu  ciptaan menurut gambar-rupa Allah. Ada

kesamaan konsep degan Perjanjian Lama. Catatan Perjanjian Baru dalam konteks

setelah kejatuhan manusia dalam dosa, jadi aspek gambar-rupa tidak hilang sama

sekali, melainkan dalam kondisi rusak.

3. Arti kata ―gambar dan rupa Allah‖

a. Arti Etimologis

Kata Ibrani צלם „tselem‟. Kata „gambar‟ dalam bahasa Inggris yaitu  „image‟

sedangkan dalam bahasa Ibrani yaitu  tselem, dalam bahasa Yunani „morphe‟ artinya

suatu peta atau gambar yang ada bentuk atau patronya (dihias) yang sering dihubungkan

dengan bentuk fisik atau materi.

Kata Ibrani דמות „demuth‟. Kata „rupa‟ dalam bahasa Inggris yaitu  „likeness‟

sedangkan dalam bahasa Ibrani yaitu  demuth, dalam bahasa Yunani dipakai kata

„skema‟ yang berarti suatu bentuk yang bersesuaian dengan bentuk pertamanya artinya

suatu kesamaan dalam model atau bentuk yang pertama, tapi lebih bersifat abstrak atau

ideal (standard).

Kata penghubung „dan‟ antara gambar dan rupa dalam bahasa Ibrani sebenarnya

tidak   ada.   Dalam   teks   Ibrani   hanya   berbunyi:   ―marilah   Kita   menjadikan

manusia menurut gambar rupa Kita.‖ namun  dalam Alkitab Vulgata dan Septuaginta

memasukkan   kata   dan, sehingga   memberi kesan   bahwa   ―gambar‖  dan   ―rupa‖

mengacu kepada dua hal yang berbeda. namun  teks Ibrani memperjelas bahawa tak ada

perbedaan yang esensial diantara keduaanya. (Hoekema; 2003: 17-18). Jadi kedua kata

gambar atau rupa sebenarnya tidak perlu dibedakan tapi sebaliknya