percaya pada pernyataan Allah mengenai korban-korban. maka ia
mempersembahkan korban domba yang bertentangan dengan persembahan Kain
yang tak berdarah. Oleh sebab itu Habel merupakan tipe dari Kristus dalam
hidupnya sebagai gembala, dalam persembahannya, dan dalam kematiannya.
64
c. Adam, Salah satu tipe penting yang diakui oleh Kitab Suci ialah Adam. Adam
yaitu kepala ciptaan lama. Kristus yaitu kepala dari ciptaan baru. Ini jelas
dikatakan dalam Roma 5:14, "Sungguhpun demikian maut telah berkuasa dari
zaman Adam sampai kepada zaman Musa juga atas mereka, yang tidak berbuat
dosa dengan cara yang sama seperti yang telah dibuat oleh Adam, yang yaitu
gambaran Dia yang akan datang." Baik Adam maupun Kristus masuk ke dalam
dunia ini melalui tindakan istimewa dari Allah. Keduanya masuk ke dunia tanpa
dosa. Kedua-duanya mewakili suatu kaum. Dosa Adam dipertentangkan dengan
ketaatan Kristus. Pembicaraan Kitab Suci mengenai pokok ini tidak menimbulkan
keraguraguan sedikitpun atas unsur-unsur utama dari tipe ini (Roma 5:12-21). Kata
"Adam yang pertama" dan" Adam yang terakhir" dan perkataan-perkataan yang
serupa yaitu dikenakan kepada masing-masing Adam dan Kristus (1 Korintus
15:45-47), Adam sebagai suami Hawa juga merupakan tipe Mempelai laki-laki
dalam hubungan dengan gereja sebagai mempelai perempuan (Efesus 5:22-33).
d. Daud, hubungan sejarah dan nubuat di antara Daud dan Kristus sudah umum
dikenal, namun hubungan secara typologis dari Daud sering diabaikan. Daud yaitu
tipe tentang Kristus sebagai seorang yang mula-mula gembala, kemudian menjadi
raja. Daud mengalami panggilan Allah, penolakan oleh saudara-saudaranya,
senantiasa mengalami bahaya dalam hidupnya sebab ia diurapi sebagai raja, dan
selama tahun-tahun penolakannya ia mengambil isteri dari bangsa kafir, yang
merupakan gambaran gereja. Kemudian ia memerintah atas Israel dengan kuasa
dan kedaulatan penuh. Arti typologis dari peristiwa-peristiwa ini, maupun berbagai
kejadian kecil dalam hidupnya, yaitu bayang-bayang tentang Kristus.
e. Melkisedek, dalam Kejadian 14 Melkisedek sebagai raja Salem mempersembahkan
roti dan anggur sebagai imam Allah yang maha tinggi dan memberkati Abraham
sesudah Abraham kembali dari mengalahkan raja-raja. Kitab Suci mencatat bahwa
Abraham memberikan kepada Melkisedek sepersepuluh dari semuanya. Kemudian
di dalam Mazmur 110:4 dinubuatkan bahwa Kristus akan menjadi Imam selama-
lamanya menurut Melkisedek. Kedua bagian kitab ini dibicarakan lagi di dalam
Ibrani 5-7 di mana Kristus dinyatakan sebagai Imam sesuai dengan nubuat mazmur
itu. Dengan menggabungkan berbagai unsur yang ditampilkan dalam bagian-
bagian itu, jelas bahwa Kitab Suci menjamin Melkisedek sebagai gambar tentang
Kristus. Nama Melkisedek yaitu gabungan dari dua kata yang berarti "raja" dan
"kebenaran", yang digabung dengan kata Salem yang berarti "damai," dan nama ini
menyatakan Kristus sebagai imam-rajani yang benar, yang yaitu raja Salem, yang
memiliki arti bahwa Kristus yaitu Raja Damai. Sebagai orang yang
mempersembahkan roti dan anggur, diusulkan artinya sebagai terutama menunjuk
kepada Kristus yang bangkit. Dalam Perjanjian Baru Melkisedek diartikan sebagai
membuktikan kekekalan keimaman Kristus dan keunggulannya atas keimaman
Lewi, didasarkan pada alasan bahwa Lewi membayar perpuluhan kepada
Melkisedek melalui Abraham nenek moyangnya (bd. Ibrani 5:6,10; 6:20; 7:17,21).
f. Musa, sebagai salah satu nabi dan pemimpin terbesar di Perjanjian Lama, tidak
mengherankan bila Musa juga menggambarkan Kristus. Musa meramaikan kepada
umat Israel -- atas dasar wahyu yang diberikan kepadanya oleh TUHAN -- bahwa
seorang Nabi akan datang yang sama seperti dirinya, kepada Siapa mereka harus
mendengarkannya (Ulangan 18: 15 -19). Typologi Musa yaitu didasarkan
terutama atas pentingnya peristiwa-peristiwa dalam hidupnya, yang
membayangkan kedatangan Kristus. Seperti Kristus, Musa di waktu kanak-kanak
berada dalam bahaya dibunuh, sebab ia dilahirkan semasa Israel di bawah
65
penindasan Mesir. Oleh pemilihan Allah menurut kehendakNya sendiri, keduanya
dipilih menjadi juruselamat dan pelepas (Keluaran 3:7-10; Kisah Para Rasul 7:25).
Keduanya ditolak oleh saudara-saudaranya (Keluaran 2:11-15; Yohanes 1:11;
Kisah Para Rasul 7:23-28; 18:5-6). Semasa penolakan itu keduanya melayani
orang kafir dan memperoleh mempelai dari orang kafir, yang menggambarkan
gereja (Keluaran 2: 16-21; 2 Korintus 11: 2; Efesus 5: 25-32). Musa, sesudah
periode perpisahan dengan saudara-saudaranya selesai, kembali untuk melepaskan
Israel, dan Kristuspun diramalkan akan kembali untuk membebaskan Israel. Pada
kedatangannya yang kedua kali, keduanya diterima oleh Israel (Keluaran 4:19-31;
Roma 11:24-26; Kisah Para Rasul 15:14,17). Seperti Kristus, Musa yaitu nabi
(Bilangan 34: 1 -2; Yohanes 12: 29; Matius 13: 57; 21: 11; Kisah Para Rasul 3:
22-
23); imam pengantara (Keluaran 32: 31-35; 1 Yohanes 2: 1-2) dan sebagai
pengantara (Keluaran 17:1-6; Ibrani 7:25); dan raja atau pemimpin (Ulangan 33:4-
5; Yohanes 1.49). Seperti Kristus, Musa harus mati sebelum umat Israel dapat
masuk ke tanah perjanjian, yang menggambar kan milik orang Kristen.
Sebagaimana Ishak dan Yusuf, Musa yaitu contoh yang menyolok dari kebenaran
typologis yang berharga dalam membayangkan kehidupan dan pelayanan Kristus.
Selain dari orang-orang ini , masih ada beberapa orang lagi yang digambarkan
sebagai typology Kristus, yaitu Benyamin, Ishak, Yosua, Yusuf, juga istilah yang
disebut sebagai ―Saudara Penebus‖. Jika diambil keseluruhannya, typologi
dari orang-orang ini menyatakan bahwa Perjanjian Lama berpusatkan Kristus , dan
memiliki maksud utama dalam membayangkan pribadi dan pekerjaan Kristus.
Ini yaitu sumber renungan studi yang berlimpah-limpah, namun sayang sangat
diabaikan. Juga gambaran typology Kristus bukan hanya orang-orang namun ada
begitu banyak peristiwa-peristiwa dalam Perjanjian Lama yang merupakan
typology, termasuk lembaga-lembaga dan upacara-upacara yang menggambarkan
Kristus.
G. Ketidakberdosaan Kristus
Di dalam dunia ini, siapakah yang berani mengatakan dirinya tidak berdosa? Semua
orang yang dianggap waras atau suci pun mengakui diri mereka berdosa. namun Yesus
berani berkata bahwa Ia tidak berdosa, dalam Yohanes 8:46 Yesus berkata:
―Siapakah di antaramu yang membuktikan bahwa Aku berbuat dosa? jika Aku
mengatakan kebenaran, mengapakah kamu tidak percaya kepada-Ku‖. Memang kalau
berbicara tentang ketidakberdosaan Kristus, biasanya selalu menunjuk kepada
kemanusiaaNya, tidaklah penting untuk berbicara tentang ketidak berdosaan dari keilahian
Kristus sebab sebagai yang ilahi, Ia tidak dapat berdosa dan tidak melakukan dosa.49
Ketidakberdosaan Tuhan kita berarti bahwa Ia tidak pernah melakukan apa pun yang tidak
menyenangkan Allah atau melanggar Hukum Taurat yang harus ditaati semasa hidup-Nya
di bumi atau gagal menampakkan kemuliaan Allah dalam masa hidup-Nya (Yoh. 8:29). Itu
termasuk keterbatasan kehidupan-Nya yang tanpa dosa yang mengiringi kemanusiaan-Nya;
contohnya, Ia merasa letih (Yoh. 4:6); Ia merasa lapar (Mat. 4:2; 21:8); Ia merasa haus
(Yos. 19:28); Ia tidur (Mat. 8:24). namun dalam setiap tahapan hidup-Nya, masa bayi, masa
kanak-kanak, masa remaja, masa dewasa, Ia suci dan tanpa dosa.
Para ahli theologia ortodoks pada umumnya setuju bahwa Yesus Kristus tak pernah
melakukan dosa apapun juga. Agaknya ini yaitu kesimpulan wajar bagi keilahianNya dan
syarat mutlak bagi pekerjaanNya untuk menggantikan orang berdosa di atas kayu salib.
Suatu pertanyaan yang dilontarkan oleh ahli-ahli theologia ortodoks ialah, apakah
66
ketidakberdosaan Kristus ini yaitu sama dengan ketidak-berdosaan Adam sebelum
67
kejatuhan, atau apakah memiliki suatu ciri khas sebab adanva tabiat ilahi. Dengan satu
kalimat, dapatkah Anak Allah dicobai seperti Adam dicobai dan dapatkah Ia berbuat dosa
seperti Adam berbuat dosa? Sedangkan kebanyakan ahli theologia Ortodoks setuju bahwa
Kristus dapat dicobai sebab adanya tabiat manusiawi, suatu perselisihan terjadi tentang
pertanyaan apakah dengan dicobai Ia dapat berbuat dosa.
Kesulitan mengenai ketidakberdoasaan Kristus ini sebenarnya dapat ditemukan didalam
kitab Ibrani 4:15 : ―Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang
tidak dapat turut mersakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia
telah dicobai hanya tidak berbuat dosa.‖ jika Kristus dicobai sebagaimana halnya
dengan kita, bagaimana Dia tetap tidak berdosa? Masalahnya menjadi lebih besar pada
waktu kita membaca Yakobus 1:14-15: ―namun tiap-tiap orang dicobai oleh
keinginanya sendiri, sebab ia diseret dan dipikat olehnya. Dan jika keinginan itu telah
dibuahi, ia melahirkan dosa, dan jika dosa itu matang, ia melahirkan maut. Dalam hal
ini apa yang disampaikan Yakobus dapat berarti bahwa sama seperti manusia biasa Yesus
juga memiliki keinginan-keinginan namun seperti apa yang dijelaskan oleh kitab Ibrani
sekalipun punya banyak keinginan Yesus tidak memiliki keinginan untuk berbuat dosa.
Meskipun kaum konservatif setuju bahwa Kristus tanpa dosa, mereka tidak setuju
dengan pertanyaan apakah Ia dapat atau tidak dapat berbuat dosa. Bahwa Ia tidak berbuat
dosa telah diyakinkan; apakah Ia dapat berbuat dosa, masih diperdebatkan. Konsep bahwa
Ia tidak mungkin berbuat dosa disebut ―tanpa dosa‖ (non posse peccare). Konsep bahwa
ia mungkin dapat, apakah ia melakukannya atau tidak, yaitu ―tak bercela‖
(posse non peccare). Tentu saja kaum Liberal berpendapat bahwa tidak saja Ia dapat
berbuat dosa namun Ia juga melakukannya. Yaitu posse non peccare dikombinasikan
dengan keberdosaan. Konsep posse non peccare tidak perlu memasukkan keberdosaan dan
kaum konservatif tidak memasukkannya. Ketidakberdosaan Kristus bukan hanya sebuah
teladan bagi umat manusia, namun merupakan suatu hal yang fundamental dan keharusan
bagi keselamatan kita. Dengan pengertian bahwa jika Kristus yang menebus dosa
seluruh umat manusia bukanlah domba yang tidak bercacat cela, maka bukan saja Ia tidak
dapat menjamin keselamatan seluruh umat manusia melainkan Ia sendiri pun membutuhkan
juruselamat sebab ia memiliki cela. Dosa yang begitu banyak dan besar yang ditanggung
oleh Yesus Kristus di atas kayu salib menuntut suatu pengorbanan yang sempurna.
Pengorbanan itu harus dilakukan oleh seseorang yang tidak berdosa. Dan sebab Kristus
memang tidak berdosa maka Ia memang yaitu juruselamat manusia yang sejati yang telah
menebus dosa umat manusia. Keterangan yang disusun di atas memperlihatkan keyakinan
dalam hampir seluruh Kitab Perjanjian Baru bahwa Yesus tidak berdosa. Luasnya bukti
tentang keyakinan ini meniadakan pendapat bahwa kepercayaan akan ketidakberdosaan
Yesus merupakan sesuatu yang bertumbuh pada kemudian hari. Keyakinan ini sama sekali
tidak akan bertumbuh jika tidak benar-benar berakar dalam bukti sejarah. Sangat
mengesankan bahwa tidak ada laporan yang bertentangan dengan keyakinan bahwa Yesus
tidak berdosa; hal ini harus diperhitungkan bila menilai pentingnya ajaran ini. Pentingnya
ketidakberdosaan Yesus terletak pada hubungannya dengan inkarnasi. Jika Yesus menjadi
manusia dalam bentuk yang bersih dan bebas dari semua kecenderungan untuk berbuat
dosa, dapatkah Dia dikatakan menjadi manusia seperti manusia-manusia lain? Jawabannya
sebagian terletak dalam pengertian akan karya penyelamatan Kristus. Dalam Perjanjian
Baru tidak dinyatakan bahwa Kristus harus menjadi sama persis dengan manusia dalam
kejatuhannya. Setiap kali Ia disamakan dengan manusia berdosa selalu ditambahkan bahwa
Ia tanpa dosa. Pandangan Perjanjian Baru ialah bahwa Yesus harus menjadi manusia untuk
menyelamatkan manusia, namun itu tidak berarti bahwa Ia harus terlibat dalam dosa
manusia. Sebagai kesimpulan, kita dapat mencatat bahwa dalam Kitab Suci tidak ada suatu
68
pembahasan mengenai apakah ketidakberdosaan Yesus berarti bahwa Ia tidak dapat
berdosa atau bahwa Ia dapat tidak berdosa. Pertanyaan itu bersifat spekulatif.
Ketidakberdosaan itu lebih tepat dikatakan bahwa kehendak Allah yang sempurna begitu
sama dengan kehendak Yesus yang sempurna sehingga perbuatan atau bahkan keinginan
yang tidak cocok dengan kehedak sempurna itu tak terpikirkan oleh Yesus.
H. Karya Kristus
1. Kelahiran Kristus
Doktrin kelahiran Kristus dari anak dara menyatakan bahwa kelahiran Kristus yaitu
akibat dari suatu mujizat pada waktu dikandung oleh Maria. Anak dara Maria
mengandung seorang bayi dengan kuasa Roh Kudus, tanpa peran serta dari seorang
bapa. Mujizat kelahiran Kristus menjelaskan kepada kita mengenai natur yang
dimilikiNya. kelahiranNya dari seorang perempuan menunjukkan bahwa Dia yaitu
benar-benar manusia dan menjadi sama dengan kita. Kemanusiaan Kristus tidaklah
sama dengan kita, sebab kita lahir dengan dosa asal kita, sedangkan Kristus tidaklah
demikian.
Allah telah menciptakan Adam tanpa melalui pria ataupun wanita; kemudia Allah
menciptakan hawa hanya melalui pria (tulang rusku Adam-Kej.2:21); lalu Allah
membuat semua manusia lainnya hadir di dunia ini melalui pria dan wanita; terakhir,
kelahiran Yesus dilakukan oleh Allah melalui wanita.
Kristus memang memiliki hari lahir, namun sungguh hari yang luar biasa sehingga
para malaikat dari surga turun ke dunia untuk memuliakan Allah! (Luk. 2:13-15).
2. Kematian Kristus
Yesus Kristus disalibkan bukan sebab ketidak berdayaannya menghadapi orang
yang menangkapnya. Ia mati disalibkan yaitu atas dasar kerelaan dan inisiatif-Nya
menyerahkan diri. Sebab Ia sendiri tahu bahwa tujuan kedatangan Kristus ke dunia
yaitu untuk mati di kayu salib. Dan tujuan kematian-Nya yaitu untuk menebus
seluruh dosa manusia yang percaya kepada-Nya.
Kristus bukanlah kematian yang biasa yang dialami oleh manusia pada umumnya.
Sebab kematian Kristus yaitu suatu korban. Istilah ini (Korban) bukan berarti
―mangsa‖ dan bukan dalam arti ―merelakan‖, namun korban Kristus
melalui kematianNya di atas kayu salib dihubungkan dengan penebusan dosa.
Istilah ―peri kematian‖ (sebab dosa) dalam Roma 8:3, merupakan istilah yang
dipakai untuk
―korban dosa‖.
Apa yang dilakukan oleh Yesus Kristus yaitu semata-mata oleh sebab kasihNya
kepada manusia yang berdosa dan bukan sebab dosaNya, Perjanjian Baru
menekankan fakta bahwa Kristus tidak berdosa. Untuk hal ini, Paulus mengatakan
bahwa ―Dia yang tidak mengenal dosa, telah dibuatNya menjadi dosa sebab kita‖
(2 Kor 5:21).
Secara simultan Kristus sebagai kurban dan Imam. Sebagai Imam Ia menjadi
perantara antara Allah dan manusia, namun Ia juga mengorbankan diriNya sebagai
kurban. Sebagai kurban, Yesus Kristus yaitu kurban yang tidak bercacat cela,
dimana Ia telah menyerahkan diriNya sebagai persembahan dan kurban yang harum
bagi Tuhan demi manusia yang berdosa ―...telah menyerahkan diriNya untuk
kita sebagai korban dan persembahan yang harum bagi Tuhan‖ (Ef 5:2).
Ada sejumlah teori tentang pentingnya kematian Kristus. PB menekankan, bahwa
Kristus mati sebagai kematian subtitusi demi pendosa-pendosa. Kematian-Nya juga
disebut vicarious, berarti: ―satu sebagai pengganti yang lain‖. Kata ganti
69
benda dalam Yesaya menekankan sifat substitusi dari kematian Kristus: ―namun Ia
tertikam
70
oleh sebab pemberontakan kita. Ia diremukkan oleh sebab kejahatan kita; ganjaran
yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepada-Nya, dan oleh bilur-
bilur-Nya kita menjadi sembuh.‖ Tujuan dari 1 Pet. 2:24 serupa: ―Ia sendiri
telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang
telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran; Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah
sembuh.‖ Penting sebab keadilan Allah yang kudus, dipenuhi seluruhnya melalui
penebusan dosa-dosa oleh Kristus. berdasar ini, Allah
menyatakan orang berdosa digantikan. Dua kata depan Yunani mengajarkan aspek
substitusi dari kematian Kristus.
a. Kata depan ανηι - anti, diterjemahkan ―untuk‖, berarti ―sebagai
gantinya‖ mengajarkan substitusi
Mat. 20:28 mengatakan: ―Sama seperti Anak Manusia datang bukan
untuk dilayani melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya
(anti) menjadi tebusan bagi banyak orang‖ (Mrk. 10:45). pemakaian kata anti
dalam Luk. 11:11 menandakan bahwa ―sebagai gantinya‖ (substitusi) yaitu
arti dasar dari kata depan ini.
b. Kata depan kedua, ςπεπ - huper, berarti ―di tempatnya‖ juga
menekankan substitusi
1 Tim. 2:6 menyatakan bahwa Kristus ―yang telah menyerahkan diri-
Nya sebagai tebusan bagi (huper) semua manusia.‖ Gal. 3:13 juga mengajarkan
kebenaran ini, ―Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat
dengan jalan menjadi kutuk sebab (huper) kita.‖ Dengan mati di kayu salib,
Kristus menyerahkan nyawa-Nya sebagai substitusi seluruh umat manusia (2
Kor. 5:21; 1 Pet. 3:18). Semua dosa-dosa orang yang percaya dibebankan
kepada Kristus, yang menebus melalui kematian-Nya.
3. Kebangkitan Kristus
Kebangkitan menentukan sahnya iman Kristiani – Paulus berseru, ―Dan jika
Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masib
hidup dalam dosamu‖ (1 Kor. 15:17).
a. Bukti Kebangkitan Kristus
1) Kubur kosong
Jika Kristus tidak bangkit, maka tubuh-Nya telah dicuri seseorang. Jika
musuh-musuh mengambil tubuh, mengapa tidak ada setelah itu? Murid-
murid tidak mungkin mencuri-Nya sebab tentara Romawi sedang menjaga
kubur dan telah memberikan meterai atas kubur. Kubur yang kosong yaitu
bukti nyata dari kebangkitan-Nya.
2) Kebangkitannya disaksikan oleh banyak orang. Selama 40 hari sejak
kebangkitan sampai pada kenaikkan-Nya ke surga Tuhan Yesus
menampakkan diri-Nya kepada beberapa orang (Kis 1:3). Orang-orang
ini antara lain:
Kepada dua orang yang dalam perjalanan ke Emaus (Luk 24:13-35)
Murid-murid-Nya (tidak termasuk Thomas) di dalam sebuah ruangan
tertutup di Yerusalem (Yoh 20:19-20)
Murid-murid-Nya (termasuk Thomas) di tempat yang sama (Yoh 20:26-
28)
Tujuh orang murid-Nya di pantai danau Tiberias (Yoh 21:1-2)
Kepada lebih dari lima ratus orang sekaligus (1 Kor 15:6), yakni pada
saat kenaikan-Nya ke surga.
Maria Magdalena (Yoh 20:11-18)
71
3) Para murid diubahkan dan menjadi berani dan giat memberitakan Injil.
b. Makna kebangkitan kristus:
1) Kebangkitan Kristus menyatakan kemenangan-Nya menghadapi kuasa maut
(kematian). Kematian yaitu musuh manusia yang terbesar. Namun musuh
yang terbesar ini terlah ditaklukkan oleh Tuhan Yesus. Dengan demikian
kebangkitan Kristus memberikan perngharapan kepada orang yang percaya
kepada-Nya, sebab Ia berkuasa membangkitkan umat-Nya. Tuhan Yesus
berkata, ―Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-
Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan
yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah
engkau akan hal ini?" (Yoh 11:25-26).
2) Kematian seharusnya tidak lagi menjadi sesuatu yang menakutkan bagi orang
yang percaya kepada-Nya. Sebab selain Kristus menyertai kita di dalam
kehidupan ini, ia juga menyertai kita di dalam kematian. Dan pada akhirnya
Ia juga yang membangkitkan kita dari kematian. Seandainya Kristus tidak
dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan Injil dan sia-sialah juga
kepercayaan kita (1Kor 15:14).
3) sebab kita bersekutu dengan Kristus yang telah bangkit maka segala jerih
payah kita melayani-Nya tidak sia-sia (1 Kor 15:58).
4. Kenaikan Kristus
Peristiwa kenaikan Kristus ke Surga terjadi pada hari yang ke-40 setelah
kebangkitan-Nya.
a. Bukti kenaikan Kristus
Peristiwa ini disaksikan oleh lebih dari 500 orang di bukit Zaitun (1 Kor 15:6).
Kenaikan Kristus dilukiskan dalam Mrk. 16:19, Luk. 24:51, dan Kis. 1:9. Ini
juga disebutkan dalam Kis. 2:33, di mana Petrus mengatakan bahwa bukti
kenaikan Kristus yaitu fakta bahwa Ia mengirim Roh Kudus, yang disaksikan
oleh begitu banyak orang pada hari Pentakosta. Petrus selanjutnya menekankan
bahwa kenaikan Kristus yaitu menggenapi Maz. 110:1 di mana Tuhan berkata,
―Duduklah di sebelah kanan-Ku.‖ Paulus memberi tekanan kepada
kebenaran yang sama dalam Efs. 4:8 di mana ia mengatakan bahwa
Kristus ―naik ke tempat tinggi … dan Ia memberikan pemberian-pemberian
kepada manusia.‖ Kitab Ibrani mendorong orang yang percaya untuk datang
mendekat ke tahta kasih karunia dengan percaya diri sebab ―kita
sekarang memiliki Imam Besar Agung, yang telah melintasi semua langit,
yaitu Yesus, Anak Allah‖ (Ibr. 4:14). Petrus mengatakan bahwa orang yang
percaya diselamatkan melalui permohonan kepada Tuhan yang sudah bangkit
dan naik ke sorga (I Pet. 3:22).
b. Pentingnya Kenaikan Kristus yaitu :
1) Kenaikan Kristus ke surga menjadi proklamasi pemerintahan Kristus. Ia
tidak hanya menjadi penguasa atas sekelompok orang (murid-murid-Nya),
namun Ia juga berkuasa atas seluruh alam semesta. ―Kepada-Ku
telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.‖ (Mat 28:18)
2) Kristus naik ke surga supaya Roh Kudus turun ke dunia. Roh kudus juga
disebut sebagai Roh Kristus (Rom 8:9). Di dalam wujud Roh maka
kehadirannya tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Melalui kehadiran-Nya
dalam wujud Roh, maka Ia dapat menyertai seluruh umat-Nya kapan saja dan
di mana saja. Setiap orang dapat berkomunikasi langsung kepada-Nya di
dalam doa setiap saat dan di segala tempat.
72
c. Karya Kristus Sesudah Kenaikan
73
1) Kristus membangun Gereja-Nya
Pembentukan Tubuh – 1 Kor. 12:13 mengatakan bahwa Roh Kudus
membentuk Gereja, Tubuh dari Kristus; namun, Kristus sebagai Kepala dari
Gereja membimbing dan mengawasinya. Kis. 2:47 mengatakan bahwa
Kristus yaitu yang membuahkan pertambahan dalam Gereja. Ini konsisten
dengan Kis. 1: 1 di mana Lukas mengatakan bahwa Injil yang ia karang
menggambarkan pekerjaan yang mulai dilakukan Kristus, dengan
pengandaian bahwa pekerjaan-Nya berlanjut hingga dewasa ini dalam
membangun Gereja.
Pengarahan Tubuh – Kristus tidak saja Kepala jemaat, namun juga memimpin
jemaat (Kol. 1:18) dengan memberikan bimbingan dan hukum tertinggi (Efs.
5:23-24). Bila kepala manusia membimbing seluruh tubuh fisik, maka
Kristus, sebagai Kepala jemaat, membimbing Gereja melalui firman Allah
(Efs. -5:26).
Pemeliharaan tubuh – Jika orang memelihara tubuh mereka, maka Yesus
Kristus yaitu sumber kehidupan bagi Gereja; Ia yaitu sarana untuk
merawatnya menjadi dewasa (Efs. 5:29-30). Kristus dalam pekerjaan-Nya
saat ini, membawa Tubuh menuju kedewasaan.
Penyucian tubuh – Kristus terlibat dalam penyucian Tubuh. Ia membuahkan
pengudusan bagi orang yang percaya (Efs. 5:25-27). Ini menunjukkan
pengudusan progresif di mana Kristus menyucikan jemaat.
Pemberian-pemberian kepada tubuh – Kristus yaitu sumber dari pemberian
spiritual; Roh Kudus mengaturnya (Efs. 4:8,11-13). Pemberian dikaruniakan
dengan tujuan seluruh jemaat dapat ditingkatkan dan diperbanyak dengan
cara ini. Efs.4:11-13 menunjukkan pemberian-pemberian yang diberikan
kepada manusia sehingga Tubuh Kristus, jemaat, dapat tumbuh dewasa.
2) Kristus Berdoa bagi Orang Percaya
Perantaraan Kristus menjamin keamanan penyelamatan kita – Orang yang
percaya, dapat kehilangan penyelamatannya hanya jika Kristus inefektif
dalam peran-Nya sebagai Perantara (Roma 8:34; Ibr. 7:25). Perantaraan
Kristus termasuk:
Kehadiran-Nya di hadapan Bapa.
Firman-Nya yang diucapkan (Luk. 22:32; Yoh. 17:6-26).
Perantaraan-Nya terus-menerus (perhatikan waktu sekarang dari kata
kerja yang dipakai).
Perantaraan Kristus mendamaikan kita dengan persekutuan dalam hal
persekutuan itu dipecahkan sebab dosa – Kristus disebut sebagai
―Pengantara‖ orang yang percaya (Yunani: παπακληηοζ, parakletos),
berarti ―Pengacara, Pembela‖ (1 Yoh. 2:1). ―Dalam literatur rabbi, kata ini
dapat berarti orang yang menawarkan bantuan hukum atau orang yang
bertindak sebagai penengah untuk kepentingan orang lain … kata ini tanpa
diragukan berarti ―pengantara‖ atau
―dewan pembela‖ dalam konteks hukum.‖
Kristus menyediakan tempat di sorga bagi kita (Yoh. 14:1-3) – Dalam
kemuliaan, Kristus menyediakan banyak tempat tinggal di rumah Bapa.
Gambarannya ialah seperti seorang ayah oriental yang kaya, yang menambah
ruangan tambahan ke rumahnya yang sudah besar agar dapat mengakomodasi
anak-anaknya yang sudah berkeluarga. Ada tempat bagi mereka semua.
Kristus menghasilkan buah dalam kehidupan orang yang percaya (Yoh.
74
15:1-7) – Seperti sebuah pokok anggur terikat kepada ranting-rantingnya dan
75
mengambil kehidupan dan perawatan dari ranting-ranting untuk
mempertahankan hidup dan menghasilkan buah, maka orang yang percaya diukir
ke dalam kesatuan spiritual dengan Kristus untuk mendapat perawatan spiritual
dari Kristus. Buah spiritual akan merupakan hasilnya.
d. Pekerjaan Kristus Yang Akan Datang
Pengharapan yang ada dalam Kitab Suci yaitu restorasi terakhir dari semua hal
di bawah Mesias. Dalam satu tahap kedatangan-Nya akan menggenapi
pengharapan mulia dari gereja, suatu peristiwa kebangkitan dan persatuan
kembali (1 Kor. 15:51-58; 1 Tes. 4:13-18; Tit. 2:13); dalam tahap yang lain
kedatangan-Nya akan menghakimi bangsa-bangsa yang tidak percaya dan setan
(Why. 19:11-21), dan akan menjadi pertolongan bagi bangsa-bangsa-Nya,
Israel, dan pengangkatan pemerintahan millenium (Mi. 5:4; Za. 9: 10).
e. Kedatangan Kristus Yang Kedua kali
Kedatang Kristus yang ke dua kali terjadi pada akhir jaman. Peristiwa ini
disebut sebagai hari kiamat. Pada kedatangan-Nya yang ke dua ini Ia datang
sebagai Hakim dan Raja. Sebagai Hakim, Ia mengadili setiap manusia. Ia
menghukum orang-orang yang berdosa. Dan Ia menyelamatkan orang yang
percaya kepada-Nya. Sebagai Raja, Ia memimpin, mengembalakan dan
menyelamatkan umat-Nya.
Firman Tuhan telah memperingatkan bahwa kedatang-Nya kedua kali seperti
kedatangan seorang pencuri. Artinya, tidak ada seorangpun yang tahu waktu
kedatangan-Nya. Kedatangan-Nya terjadi secara tiba-tiba, seperti kilat yang
datang tanpa di sangka-sangka. ―namun hari Tuhan akan tiba seperti
pencuri. Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan
unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi dan segala yang ada
di atasnya akan hilang lenyap‖ (2Pet 3:10). ―sebab itu ingatlah,
bagaimana engkau telah menerima dan mendengarnya; turutilah itu dan
bertobatlah! sebab jikalau engkau tidak berjaga-jaga, Aku akan datang seperti
pencuri dan engkau tidak tahu pada waktu manakah Aku tiba-tiba datang
kepadamu.‖ (Wahyu 3:3).
Pada saat kedatangan-Nya ke ke dua kali ini akan terjadi kegentaran besar pada
diri orang-orang berdosa sebab takut dan tidak tahan menghadapi penghakiman
dan murka Allah. ―Mereka berkata kepada gunung-gunung dan kepada
batu- batu karang itu: "Runtuhlah menimpa kami dan sembunyikanlah kami
terhadap Dia, yang duduk di atas takhta dan terhadap murka Anak Domba itu."
(Wahyu 6:16).
Dan dipihak lain, terjadi suka cita besar pada diri setiap orang yang percaya
kepada-Nya, sebab hari penyelamatannya telah tiba; segala penderitaan telah
berakhir, dan hidup penuh damai sejahtera dengan Allah selama-lamanya.
―Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan
ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab
segala sesuatu yang lama itu telah berlalu" (Wahyu 21:4).
76
IX. PNEUMATOLOGI : Pengajaran Tentang Roh Kudus
A. Personalitas Roh Kudus
Istilah ini diturunkan dari Yunani kata Pneuma (πνεῦμα), yang menunjukkan "nafas"
atau "Roh"dan secara metaforis menggambarkan makhluk atau pengaruh non-material.
Istilah bahasa Inggris pneumatologi berasal dari dua kata Yunani: πνεῦμα (pneuma,
semangat) dan λόγορ (logo, mengajar tentang). Pneumatologi mencakup studi tentang
pribadi Roh Kudus, dan pekerjaan Roh Kudus.
Problem dalam pikirkan banyak orang yaitu personalitas dapat eksis hanya dalam diri
manusia, sebab personalitas hanya dapat direlasikan dengan keberadaan yang terbatas
bukan pada yang tidak terbatas. sebab manusia diciptakan berdasar gambar Allah,
maka masuk akal untuk mengharapkan karakteristik yang mirip antara Allah dan manusia.
sebab itu ―yaitu mungkin untuk membentuk suatu konsep personalitas Ilahi
melalui suatu studi tentang manusia, membentuk suatu konsep personalitas Ilahi melalui
suatu studi tentang manusia, sebab manusia menusia diciptakan dalam rupa Allah.
Personalitas secara sederhana dapat dijabarkan sebagai yang memiliki akal budi, emosi dan
kehendak; sebab itu, dengan mendemonstrasikan bahwa Roh Kudus memiliki akal budi,
emosi dan kehendak, maka dapat terlihat bahwa Ia yaitu suatu pribadi dan memiliki
personalitas. Roh kudus kadang-kadang disebut sebagai ―sesuatu‖ atau sekadar sebagai
suatu pengaruh namun suatu pribadi, yang memiliki karakteristik personalitas.
1. Atribut-Nya Mengonfirmasi Personalitas-Nya
Akal budi. Roh Kudus memiliki akal budi sebab dikatakan bahwa ―Roh
Kudus menyelidiki segala sesuatu‖ (1Kor. 2:10).
a. Pengetahuan. Tidak seorang manusia pun memiliki kesadaran dan pengatahuan
dari pikiran Allah, namun Roh Kudus memahami pikiran Allah (1Kor. 2:11).
b. Pikiran. Bahkan sebagaimana Roh Kudus mengenal Bapa, demikian pula Bapa
mengenal pikiran Roh Kudus (Rm. 8:27). Efesus 4:30 memerintahkan,
―jangan mendukakan Roh Kudus dari Allah.‖ Konteksnya menekankan bahwa Roh
Kudus didukacitakan pada waktu orang percaya berdosa dengan berdusta (ay.25),
merasa marah (ay.26), dengan mencuri atau bermalasan (ay.28) atau mengatakan
kata-kata yang tidak baik (ay.29).
c. Kehendak. Roh Kudus memiliki kehendak, mengindikasikan Ia memiliki kuasa
yang berdaulat dalam pemilihan dan keputusan
2. Karya-Nya Mengonfirmasi Personalitas-Nya
a. Roh Kudus mengajar (Yoh.14:16).
b. Roh Kudus bersaksi. (Yoh 15:26).
c. Roh Kudus membimbing (Yoh. 16:13).
d. Roh Kudus meyakinkan (Yohanes 16:8).
e. Roh Kudus menjadi pendoa syafaat (Rm. 8:26).
f. Roh Kudus memerintah. (Kisah Para Rasul 13:2).
3. Posisi-Nya Mengonfirmasi Personalitas-Nya
a. Roh Kudus dapat didukakan. Roh Kudus dapat didukakan pada waktu orang
percaya berdosa (Lih. Pembahasan sebelumnya; lih. Yes. 63:10).
b. Roh Kudus dapat dihujat. Penghujatan biasanya dipikirkan sebagai sesuatu
melawan Allah Bapa (Lih. Why. 13:6; 16:9).
c. Roh Kudus dapat ditolak.
d. Roh Kudus dapat didustai. (Kis. 5:3).
e. Roh Kudus dapat ditaati. (Kisah Para Rasul 10 )
77
4. SEBUTAN-NYA MENGONFIRMASINYA KEPRIBADIAN-NYA
Kata Yunani untuk Roh Kudus yaitu pneuma yang yaitu kata netral. Setiap kata
ganti yang digunakan untuk menggatikan pneuma sewajarnya yaitu netral juga.
Namun, para penulis Alkitab tidak mengikuti pola tata bahasa; melainkan, mereka
menggatikannya dengan kata ganti maskulin yang ditujukan pada Roh Kudus.
Pergantian tata bahasa yang memiliki tujuan ini menekankan kepribadian dari Roh
Kudus. Seharusnya tidak ada alasan untuk mengganti bentuk netral pada maskulin
kalau Roh Kudus tidak dipahami sebagai yang berkepribadian.
B. Keilahian Roh Kudus
Keillahian Roh Kudus tidak dapat dipisahkan dari doktrin Trinitas. Suatu penyangkalan
akan salah satu berarti penyangkalan pada yang lainnya, kepercayaan pada Trinitas
mengharuskan suatu kepercayaan pada keillahian Roh Kudus.
1. Sebutan Ilahi Untuk Roh Kudus
Sebutan Roh Allah membuktikan relasi-Nya dengan Bapa dan Putra dan Roh Kudus
dan juga meneguhkan keillahian-Nya. ―Pada saat Ia disebut ―Roh Allah‖ hal itu
berarti Ia yaitu pribadi Allah yang sejati. 1 Korintus 2:11 dengan jelas
memperlihatkan bahwa sebagaimana manusia dan rohnya yaitu satu dan merupakan
keberadaan yang sama, demikian pula Allah dan Roh-Nya yaitu esa ‖
2. Atribut Ilahi Roh Kudus
a. Hidup (Rm. 8:2). Hidup merupakan suatu atribut illahi (Yos. 3:10; Yoh. 1:4; 14:6;
1Tim. 3:15).
b. Mahatahu (1 Kor 2:10-12).
c. Mahakuasa (Ayub 33:4).
d. Mahahadir (Mzm. 139:7-10; Yoh. 14:17).
e. Kekal (Ibr. 9:14).
f. Kekudusan (Mat. 12:32).
g. Kasih (Gal. 5:22).
h. Kebenaran (Yoh. 14:17).
3. Karya Ilahi Dari Roh Kudus
a. Penciptaan (Kej. 1:2). Kejadian 1:2 menunjukkan bahwa Roh Allah turut
memikirkan tentang penciptaan, dan menjadikannya hidup.
b. Kelahiran Kristus (Mat. 1:20). Keterlibatan Roh Kudus dalam kehamilan Maria
memastikan ketidakberdosaan Kristus sebagai manusia. Kristus dalam keillahian-
Nya yaitu kekal, namun Roh Kudus melahirkan natur manusia Kristus yang tanpa
dosa.
c. Inspirasi Kitab Suci (2Ptr. 1:21). Ada suatu analogi antara Roh Kudus melahirkan
kemanusiaan Kristus dan Roh Kudus mensupervisi penulis Kitab Suci;
sebagaimana Roh Kudus terlihat dalam kehamilan Maria, dan menjamin
ketidakberdosaan kemanusiaan Kristus, demikian pula Roh Kudus mensupervisi
penulis manusia untuk menjamin ketidakbersalahan Kitab Suci.
d. Regenerasi (Tit. 3:5). Meregenerasikan berarti memberikan kehidupan.
e. Perantara (Rm. 8:26). Kristus yaitu perantara orang percaya, demikian pula Roh
Kudus.
f. Pengudusan (2Tes. 2:13).
g. Penolong orang-orang kudus (Yoh. 14:16).
4. Prosesi Ilahi Dari Roh Kudus
Relasi Roh Kudus dengan anggota lain di Trinitas diekspresikan dengan istilah prosesi,
menunjukkan Roh Kudus berasal dari Bapa dan Putra. Ada beberapa indikator yang
78
mengajukan doktrin prosesi dari Roh Kudus. Semua yang berbicara tentang
―Roh Allah‖ menegaskan prosesi Roh Kudus di mana Ia yaitu Roh yang berasal dari
Bapa dan Putra secara kekal.
C. Representasi Roh Kudus
1. Merpati
Merpati menggambarkan Roh Kudus turun atas Kristus pada saat awal pelayanan-
Nya di muka umum dan sebab itu menekankan kuasa dari Roh Kudus atas Kristus
dalam pekerjaan-Nya. Merpati itu juga melambangkan kemurnian (lihat. Mat. 10:16)
dan suatu reprentasi dari damai.
2. Jaminan
2 Korintus 1:22 Paulus mengatakan bahwa Allah ―memberikan Roh Kudus di
dalam hati kita sebagai sebuah jaminan.‖
3. Api
Pada hari Pentakosta ―lidah api‖ dibagikan dan tinggal di atas para Rasul (Kis.
2:3). Api ini juga melambangkan penghakiman Allah (Lih. Im. 10:2).
4. Minyak
Minyak yaitu tipologi Roh Kudus sebagaimana praktik di PL di mana pengurapan
para imam dan raja-raja merupakan tipologi dari pelayanan Roh Kudus.
5. Meterai
Roh Kudus dilihat sebagai meterai bagi orang percaya (2Kor. 1:22; Ef. 1:13; 4:30).
Sebuah meterai berarti memastikan atau mengeratkan suatu batu dengan meterai
sebagaimana di Matius 27:66 oleh otoritas Romawi.
6. Air
Air yaitu suatu tanda dari Roh Kudus yang menunjuk pada hidup kekal (lih. 4:14;
7:37-39). Air menandai suatu penerimaan Roh Kudus (Yeh. 36:25-27; Yoh 7:39).
7. Angin
Angin merupakan presentasi yang paling alamiah dari Roh Kudus sebab kata Roh
(Yunani pneuma) yang diterjemahkan angin demikian pula roh. Yesus
membandingkan kelahiran oleh Roh Kudus dengan angin (Yoh. 3:8).
D. Roh Kudus Dalam Pewahyuan Dan Inspirasi
1. Defenisi
Wahyu, Dalam kebenarana biblikal wahyu berarti Allah menyatakan kepada
manusia sesuatu yang kalau tidak manusia tidak akan mengetahuinya (Lih. Yeh 2:2;
8:3). Inspirasi, Inspirasi biblikal dapat dijelaskan sebagai ―pimpinan Allah
atas penulis manusia, sehingga dengan memakai kepribadian mereka masing-
masing. Mereka menyusun dan mencatat tanpa salah wahyu-Nya kepada manusia
dalam kata-kata penulisan aslinya. Perbedaan wahyu dan inspirasi dapat dinyatakan
sebagai berikut, wahyu menunjukkan pada materi sedangkan inspirasi menunjuk
pada metode.
2. Penyalur Wahyu
Nabi-nabi Perjanjian Lama. Berita nabi PL tidak berasal dari dirinya sendiri. Ia
hanya alat di mana melaluinya Allah berbicara kepada orang-orang; ia dipimpin oleh
Roh Kudus untuk menyampaikan beritanya (Lih. Yer. 1:2, 4, 9, 11, 17).Roh Kudus.
Para nabi di PL biasanya yaitu alat Allah untuk menyatakan diri-Nya dan Roh
Kudus yang memimpin penulis Kitab Suci. 2 Petrus 1:21 mengindikasikan bahwa
Roh Kudus yang membimbing para nabi PL, menjaga kata-kata mereka dari
kesalahan.
79
3. Metode Pewahyuan
a. Secara lisan. Ada sejumlah contoh di mana Allah berbicara secara lisan kepada
mereka orang-orang di PL. Misalnya: Abraham (Kej. 18:13, 17); kepada Musa
(Kel. 19:9: 20:1 dst).
b. Mimpi. Pernyataan melalui mimpi-mimpi kelihatannya model wahyu yang
paling sedikit, misalnya: Allah berbicara melalui mimpi kepada Abimelekh
(Kej. 20:3); Yakub (Kej.31:10-13); Yusuf (Kej. 37:5-9); Nebukadnezar (Dan.
2).
c. Visi. Visi kelihatannya kategori yang lebih tinggi dari wahyu. Nabi seringkali
menerima visi. Contoh Abraham (Kej. 15:1); Natan (1Taw. 17:15); Yehezkiel
(Yeh. 1:1); Daniel (Dan. 8:1).
d. Theofani. Theofani berasal dari kata Yunani theos (Allah) dan phanein (tampil);
jadi, suatu theofani yaitu penampilan Allah. Contoh theofani di PL yaitu
kepada Abraham (Kej. 18); kepada Yosua (Yos. 5:14); kepada Gideon (Hak.
6:22); kepada Daniel (Dan. 6:22).
4. Insipirasi Di Perjanjian Lama
Roh Kudus sendiri yaitu alat dari semua inspirasi Alkitab. Penulis PL sadar bahwa
Roh Kudus membimbing penulisan mereka (2Sam. 23:2-3). Ditekankan sebanyak
empat kali dalam bagian ini bahwa Allah berbicara kepada Daud. Kristus
mengajarkan bahwa para penulis PL dibimbing oleh Roh Kudus (Mrk. 12:36).
Dalam mengutip Mazmur 110, Yesus menyerukan bahwa Daud berkata-kata
―dalam Roh Kudus‖. Yesus mendasari argumentasiNya atas kata-kata Daud sebagai
yang diinspirasikan oleh Roh Kudus. Para Rasul mengajarkan para penulis PL
dibimbing oleh Roh Kudus (Kis. 1:16; 4:24-25; 28:25).
5. Inspirasi Di Perjanjian Baru
Kristus menegaskan inspirasi PB. Kristus memprediksi para rasul akan dijaga
penulisannya, sehingga memampukan mereka untuk menulis tanpa salah, dan
mereka akan mengingat semua yang telah Ia katakan kepada mereka (Yoh. 14:26;
16:14). Roh Kudus membimbing para penulis PB dengan cara sebagai berikut: (1) Ia
menolong para penulis untuk mengingat fakta-fakta dari pengajaran Kristus. (2) Ia
memampukan mereka untuk mengerti secara teologis apa yang mereka tulis. (3) Ia
menjamin kepenuhan penyelesaian seluruh PB. Para penulis PB menyadari bahwa
mereka sedang menulis Kitab Suci. Di 1 Korintus Paulus menegor orang Korintus
atas sejumlah kesalahan ditengah jemaat dan memberikan kepada mereka koreksi
untuk kesalahan-kesalahan mereka. Ia menutup dengan mengingatkan Korintus
―bahwa apa yang ku katakan kepadamu telah diperintah Tuhan‖ (1Kor.
14:37). Paulus menyadari bahwa ia sedang menulis Firman Tuhan kepada orang
Korintus.
E. Pelayanan Roh Kudus
1. Regenerasi
Yohanes 3 Yesus menjelaskan kelahiran baru (yang melibatkan regenerasi) kepada
Nikodemus, mengingatkan dia bahwa hal-hal itu telah diajarkan di PL dan sebab itu
ia seharusnya telah mengetahuinya (Yoh. 3:10). Dalam semua itu Yesus
kelihatannya menunjuk pada Yehezkiel 36 sebab kedua bagian itu melibatkan suatu
diskusi dari air dan Roh. Di Yehezkiel 11:19 dan 36:25-27 menjanjikan Israel suatu
pengalaman regenerasi di Milenium. Allah akan memberikan mereka hati yang baru
dan roh yang baru – Ia akan menempatkan Roh-Nya di tengah mereka; Ia akan
meregenerasi mereka. Meskipun bagian Firman Tuhan ini berbicara tentang masa
80
yang akan datang, orang-orang percaya di PL juga akan mengalami regenerasi. Di
81
Yehezkiel 18:31 orang-orang itu diperintahkan untuk ―perbaharuilah hatimu
dan rohmu‖. Kedua frasa paralel yaitu Yehezkiel 36:25-27 demikian pula Yohanes
3:5 dan menunjukkan bahwa orang percaya di PL di regenerasi oleh Roh Kudus
(Lih. Maz. 51:12).
2. Roh Kudus Mendiami Manusia Secara Selektif
Yohanes 14:16-17 Yesus mengindikasikan bahwa setelah Pentakosta, Roh Kudus
akan memulai suatu pelayanan baru bagi orang-orang percaya yang tidak sama
dengan yang di PL. Penekanan dari bagian itu yaitu pelayan baru tentang didiami
(kontras dengan Roh Kudus sekadar bersama dengan mereka) dan bersifat
permanen. Janji yang diberikan di PB meliputi semua orang percaya dan sifatnya
permanen, sedangkan di PL sifatnya selektif dan sementara. (1) Roh Kudus
mendiami sebagian orang di PL. Roh Kudus mendiami Yosua (Bil. 27:18), dan
Daud (1Sam. 16:12-13). (2) Roh Kudus turun atas sebagian orang di PL.
3. Menahan Dosa
Kejadian 6:3 mengindikasikan pergumulan atau penahanan Roh Kudus atas dosa
terbatas, sebab manusia menolak untuk menaati pelayanan Roh Kudus dalam
meyakinkan orang. Dalam konteks ini, Allah menghakimi manusia dengan air bah
Nuh. Bagi mereka yang berpegang pada pengangkatan pratribulasi, suatu paralel
dapat dilihat di PL dan PB.
4. Kemampuan Untuk Melayani
Di PL, Roh Kudus diberikan pada waktu memilih seseorang untuk melaksanakan
tugas tertentu. Kemampuan yang diberikan termasuk: kemampuan untuk
mengerjakan pekerjaan artistik untuk Tabernakel dan Bait Suci, diberikan pada
Bezaleel (Kel. 31:2-5; 35:30-35) dan Hiram (1Raj. 7:14); kemampuan untuk
memimpin bangsa, diberikan kepada Yosua (Bil. 27:16-18), Saul (1 Sam 10:10), dan
Daud (1Sam16:13); kemampuan dalam peperangan, diberikan kepada Otniel (Hak.
3:10), Gideon (Hak. 6:34), dan Yefta (Hak. 11:29); dan kekuatan ekstra secara fisik,
diberikan kepada Simson (Hak. 14:19).
5. Relasi Roh Kudus Dengan Kristus
Yesaya bernubuat bahwa Roh Kudus akan tinggal pada Mesias (42:1), dan
memberikan hikmat, kekuatan dan pengatahuan kepada-Nya dalam pelayanan-Nya.
(11:2-3). Narasi Injil terus menerus mencerminkan kuasa dari Roh Kudus atas
Kristus dalam pelayananNya untuk menggenapi nubuat Yesaya. Hal itu berarti
bahwa Kristus tidak memiliki kuasa pada diri-Nya sendiri; Ia juga memiliki kuasa
(Yoh. 10:18). Fakta bahwa Ia melayani dengan kuasa Roh Kudus menekankan
kesatuan dari Trinitas (Lih. Juga Yoh. 5:31-33; 6:29; 8:18; 10:37-38, dll).
6. Kelahiran Dari Anak Dara
a. pemicu . Matius dan Lukas menekankan pelayanan Roh Kudus yang
memicu kehamilan Maria. Pernyataan itu menekankan asal mula. Asal
mula kelahiran Yesus bukan melalui Yusuf melainkan melalui Roh Kudus. Luk.
1:35, memakai istilah ―turun atas‖ dan ―menaungi‖ untuk
menjelaskan pelayanan dari Roh Kudus dalam kaitannya dengan kehamilan
Maria. Istilah yang sama ―turun atas‖ (Yunani eperchomai) digunakan juga
pada waktu Roh Kudus turun atas para rasul di hari Pentakosta (Kis.1:8).
b. Akibat-akibatnya
1) Kristus memiliki natur manusia.
Kristus sebagai Pribadi sudah ada sejak kekekalan dalam keillahian-Nya;
namun demikian, natur manusia, natur manusia Kristus berawal dalam
kandungan Maria.
82
2) Natur manusia Kristus tanpa dosa.
Meskipun Kristus memiliki natur manusia yang seutuhnya, namun Ia tanpa
noda dosa. Meskipun Ia lahir dari seorang ibu manusia, kehamilan oleh Roh
Kudus menjamin ketidakberdosaan dari Kristus.
3) Natur manusia Kristus memicu keterbatasan manusiawi.
Meskipun Kristus tanpa dosa, kelahiran dari anak dara memicu Ia
memiliki natur manusia yang sesungguhnya. Kristus lelah (Yoh. 4:6); Ia
tidur (Mat.8:24); Ia menangis (Yoh. 11:35).
7. Kehidupan Dan Pelayanan Kristus
a. Roh Kudus mengurapi Kristus.
Lukas 4:18 mengindikasikan Kristus diurapi oleh Roh Kudus, yang
kemungkinan besar terjadi pada saat pembaptisan-Nya saat itu Roh Kudus
terlihat turun atas Kristus.
b. Roh Kudus memenuhi Kristus.
Lukas mengindikasikan Yohanes Pembaptis, pembuka jalan, dipenuhi oleh Roh
Kudus pada waktu ia masih dalam kandungan ibunya. Mesias tentu saja
dipenuhi oleh Roh Kudus paling tidak sama dengan apa yang terjadi pada
pembuka jalan dari Mesias. Di Lukas 4:1 dikatakan, ―Yesus, yang penuh
dengan Roh Kudus .... lalu dibawa oleh Roh Kudus.‖
8. Kematian Kristus
Bukan hanya Roh Kudus yang berperan dalam pemberadaan kemanusiaan Kristus
serta pemberian kuasa pada Kristus dalam pelayanan-Nya di dunia, namun Roh
Kudus juga berperan dalam kematian Kristus (Ibr. 9:14). Catatan Alkitab
mengindikasikan‖ setiap pribadi Trinitas memiliki bagian dalam tindakan
kebangkitan yang akbar itu. Kristus dibangkitkan oleh kuasa Allah Bapa (Ef. 1:19-
20; Mzm. 16:10), namun demikian Kristus juga memiliki kuasa untuk
membangkitkan diri-Nya sendiri (Yoh. 10:18). Roh Kudus juga terlibat dalam
mengefektifkan kebangkitan Kristus.
F. Dosa Melawan Roh Kudus
1. Latar Belakang Sejarah
Meskipun Kitab Suci berbicara tentang dosa melawan Roh Kudus sebagai
memadamkan (1Tes. 5:19) dan mendukakan (Ef. 4:30), namun menghujat Roh
Kudus yang biasanya ada dalam pikiran kita pada waktu ―dosa‖ melawan
Roh Kudus disebut. Dalam membahas dosa melawan Roh Kudus (Mat. 12:31-32)
yaitu penting untuk mempertimbangkan latar belakang sejarah tentang dosa yang
dilakukan. Yesus telah menyatakan diri-Nya sendiri pada bangsa Israel melalui
pengajaran-Nya (Mat. 5-7) dan mukjizat-mukjizat-Nya (Mat.8-10). Dalam konteks
ini Yesus mendeklarasikan penghujatan melawan Roh Kudus tidak akan pernah
diampuni.
2. Penjelasan
Dosa melawan Kristus. Dosa melawan Roh Kudus melibatkan juga dosa melawan
Kristus. Inti persoalannya dinyatakan di Matius 12:24. Para pemimpin agama telah
mendengar Kristus mengajar dan telah melihat mukjizat-mukjizat-Nya, namun
evaluasi mereka tentang Kristus yaitu bahwa Ia melakukan mukjizat dengan kuasa
setan. Itu yaitu dosa mereka melawan Kristus. Dosa melawan Roh Kudus. Orang
yang telah ditaruh Roh-Nya oleh Allah (12:18) telah disebut bekerja melalui kuasa
Setan oleh orang Farisi.
83
G. Baptisan Sebagai Karya Roh Kudus
Defenisi, Baptisan Roh Kudus dapat dijabarkan sebagai pekerjaan di mana Roh Kudus
menempatkan orang percaya ke dalam persekutuan dengan Kristus dan ke dalam
persekutuan dengan orang percaya lain dalam tubuh Kristus (1Kor. 12:13).
1. Baptisan Roh Kudus yaitu unik bagi zaman gereja.
2. Baptisan Roh Kudus mencakup semua orang percaya pada masa itu.
3. Baptisan Roh Kudus membawa orang percaya ke dalam persekutuan dengan orang
percaya yang lain dalam Tubuh Kristus.
4. Baptisan Roh Kudus membawa ornag percaya ke dalam persekutuan dengan Kristus.
5. Baptisan Roh Kudus bukan suatu pengalaman.
6. Baptisan Roh Kudus dilakukan oleh Roh Kudus.
H. Penyertaan Roh Kudus
1. Fakta Penyertaan
a. Roh Kudus yaitu suatu karunia.
b. Roh Kudus diberikan pada waktu keselamatan.
c. Orang yang tidak memiliki Roh Kudus yaitu orang yang tidak percaya.
d. Roh Kudus tinggal dalam ornag percaya yang hidup dalam kedagingan.
e. Roh Kudus tinggal pada diri orang percaya secara permanen.
2. Masalah Berkaitan Dengan Penyertaan/Didiami Oleh Roh Kudus
a. Ada sejumlah teks Alkitab yang membangkitkan masalah dengan pengajaran di
PB tentang pendiaman secara permanen oleh Roh Kudus. Beberapa di antaranya
perlu mendapatkan perhatian khusus.
b. Kisah Para Rasul 5:32. Petrus tidak mengajarkan sebagai suatu kondisi untuk
pendiaman Roh Kudus, namun Petrus memakai ―taat‖ sebagai suatu
sinonim untuk percaya.
c. Kisah Para Rasul 8:14-17. Ini yaitu suatu situasi yang unik selama transisi dari
Hukum Taurat ke anugerah dan dari Israel ke gereja. Harus ada bukti yang
terang bahwa orang Samaria juga menerima Roh Kudus sama halnya dengan
orang Yahudi.
I. Pemeteraian Oleh Roh Kudus
1. Defenisi, Pemeteraian oleh Roh Kudus yaitu salah satu dari banyak karya Allah
yang ditujukan pada orang percaya untuk menjamin keselamatannya (Lih. 2Kor.
1:22; Ef. 1:13; 4:30). 2 Korintus 1:22 mengatakan Allah ―memeteraikan tanda
milik- Nya atas kita dan memberikan Roh Kudus di dalam hati kita sebagai jaminan
dari semua yang telah disediakan untuk kita‖.
2. Penjelasan, Ide prinsipil dari meterai yaitu kepemilikan. Orang percaya
dimeteraikan oleh Roh Kudus untuk menyatakan bahwa orang percaya yaitu milik
Allah. pemeteraian itu sifatnya permanen, dengan memandang pada glorifikasi
terakhir pada orang percaya (Ef. 4:30). Jadi, pemeteraian itu bukan hanya
menekankan kepemilikan melainkan juga jaminan. Roh Kudus mengabsahkan
bahwa orang percaya secara permanen yaitu milik Allah.
J. Karunia-Karunia Roh Kudus
Ada dua kata Yunani yang secara umum digunakan untuk menjabarkan karunia-karunia
rohani. Pertama yaitu pneumatikos, artinya ―hal-hal rohani‖ atau ―sesuatu
yang dikaitkan dengan Roh Kudus‖. Kata ini menekankan natur rohani dan asal-usul
dari karunia Roh; mereka bukan bakat alamiah namun berasal dari Roh Kudus.
84
Mereka
85
secara supranatural diberikan kepada orang percaya oleh Roh Kudus (1Kor. 12:11).
Kata lain yang sering digunakan untuk mengidentifikasi karunia rohani yaitu charisma
artinya ―pemberikan berdasar anugerah‖. Kata charisma menekankan bahwa
satu karunia rohani yaitu pemberian berdasar anugerah Allah; hal itu bukan
perkembangan kemampuan secara alamiah melainkan suatu pemberian yang
dilimpahkan kepada orang percaya (1Kor. 12:4).
1. Penjelasan Dari Karunia-Karunia
Dua konsep tercakup dalam karunia-karunia rohani. Pertama, karunia rohani pada
seseorang yaitu perlengkapan dari Allah bagi pelayanan rohani secara individu
(1Kor. 12:11). Kedua, suatu karunia rohani bagi gereja yaitu di mana secara unik
seseorang diperlengkapi bagi pendidikan dan pendewasaan gereja (Ef. 4:11-13).
2. Deskripsi Karunia-Karunia Rohani
a. Rasul (Ef. 4:11). Kata rasul berasal dari apo yang berarti ―dari‖, dan
stello yang berarti ―mengutus‖. Jadi, seorang rasul yaitu seseorang yang
―diutus dari‖.
b. Nabi (Roma 12:6). Karunia bernubuat disebutkan di Roma 12:6, 1 Korintus
12:10 dan Efesus 4:11. Seorang rasul menerima informasinya melalui wahyu
secara langsung dari Allah, Seorang nabi menerima wahyu secara langsung
dari Allah mengajar ornag-orang untuk mendidik, menasehati, dan menghibur
mereka (1Kor. 14:3).
c. Mukjizat (1Kor. 12:10). Karunia mukjizat (1Kor.12:10, 28) yaitu karunia
yang lebih luas dari karunia menyembuhkan. Kata mukjizat berarti
―kuasa‖ atau ―suatu karya dari kuasa‖.
d. Kesembuhan (1Kor. 12:9). Kata yang digunakan yaitu bentuk jamak (Yunani
iamaton, ―kesembuhan-kesembuhan‖) dalam 1 Korintus 12:9.
Karunia kesembuhan melibatkan kemampuan seseorang untuk menyembuhkan
orang lain dari segala bentuk penyakit.
e. Karunia bahasa lidah (1Kor. 12:28). Bahasa lidah merupakan bagian dari masa
mukjizat Kristus dan para rasul dan itu dibutuhkan, bersamaan dengan karunia
mukjizat, sebagai tanda keotentikan dari rasul-rasul (2Kor. 12:12).
f.Penafsiran bahasa lidah (1Kor. 12:10). Karunia menafsirkan bahasa lidah
meliputi kemampuan supranatural dari seseorang dalam jemaat untuk
menafsirkan bahasa asing yang dikatakan oleh seseorang yang memiliki
karunia bahasa lidah. Bahasa itu akan diterjemahkan ke dalam bahasa yang
dimengerti oleh orang-orang yang hadir.
g. Penginjilan (Ef. 4:11). Kata euanggelistas ditulis dalam bahasa Inggris sebagai
evangelists, yang berarti ―seseorang yang memproklamasikan kabar baik‖.
h. Pendeta-Pengajar (Ef. 4:11). Pernyataan di Efesus 4:11 memaksudkan satu
karunia, bukan dua karunia. Kata pendeta (Yunani poinenas) secara harafiah
berarti ―gembala‖ dan digunakan hanya di sini sebagai satu karunia.
i. Pengajar (Rm. 12:7; 1Kor. 12:28). Seorang pendeta juga yaitu seorang
pengajar, namun seorang pengajar tidak harus seorang pendeta.
j. Melayani (Rm 12:7). Kata Melayani (Yunani diakonia) yaitu kata umum untuk
melayani orang lain.
k. Menolong (1Kor. 12:28). Kata Menolong (Yunani antilempsis) menunjuk pada
―perbuatan yang berguna, membantu. Arti dasar kata itu yaitu
melakukan sesuatu bagi orang lain‖.
l. Iman (1Kor. 12:9). Sementara semua orang percaya memiliki iman yang
menyelamatkan (Ef. 2:8) dan harus memperlihatkan iman itu untuk membuat
86
mereka tetap dalam perjalanan spiritual mereka (Ibr. 11), karunia iman
dimiliki hanya oleh sebagian orang percaya.
m. Menasihati (Rm 12:8). Kata Menasihati (Yunani paraklon) berarti
―dipanggil untuk berjalan disamping seseorang untuk menolong‖. Bentuk kata
benda ini digunakan Roh Kudus sebagai penolong orang percaya (Yoh. 14:16,
26).
n. Membedakan Roh (1Kor. 12:10). Mereka yang memiliki karunia ini diberikan
kemampuan supranatural untuk menentukan apakah wahyu itu berasal dari
Allah atau wahyu itu palsu.
o. Murah hati (Rm. 12:8). Memperlihatkan kemurahan (Yunani eleon) berarti
―merasa iba, memperlihatkan belas kasihan‖. Karunia itu
memperlihatkan kemurahan yang berkaitan dengan memperlihatkan belas
kasihan dan menolong orang miskin, sakit, susah dan menderita.
p. Memberi (Rm. 12:8). Kata memberi (Yunani metadidous) berarti
―berbagi dengan seseorang‖, jadi karunia memberi yaitu kemampuan yang
tidakbiasa dan kerelaan untuk berbagi materi dengan orang lain.
q. Memimpin (Rm. 12:8; 1Kor. 12:28). Kata ini dari kata Yunani kata
prohistimi, yang berarti ―berdiri atas‖, jadi, memimpin, memerintah
atau membimbing. Kata itu digunakan bagi seorang penatua di 1 Tesalonika
5:12 dan 1 Timotius 5:17.
r.Hikmat (1Kor. 12:8). Karunia hikmat ―merupakan seluruh sistem
kebenaran yang dinyatakan. Seseorang yang memiliki karunia hikmat
memiliki kapasitas untuk kebenaran yang dinyatakan oleh Allah dan
menyajikan pada jemaat Allah. sebab karunia ini berkaitan dengan
penerimaan dan pemberian wahyu langsung dari Allah, maka karunia itu telah
berhenti bersamaan dengan selesainya kanon Kitab Suci.
s.Pengetahuan (1Kor. 12:8). Karunia pengetahuan muncul berkaitan erat dengan
karunia hikmat dan menunjuk pada kemampuan secara tepat untuk mengerti
kebenaran-kebenaran yang dinyatakan kepada para rasul dan nabi. Karunia ini
berhubungan dengan karunia dasar dari bernubuat dan mengajar, yang
berkaitan dengan mengkomunikasikan wahyu langsung Allah kepada para
rasul dan nabi (lihat 1Kor. 12:28).
K. Pemenuhan Oleh Roh Kudus
1. Defenisi, Arti dari ―dipenuhi‖ (Yunani plerousthe) yaitu ―penguasaan‖.
Roh Allah yang menyertai yaitu Pribadi yang harus secara terus menerus
mengontrol dan mendominasi kehidupan orang percaya.
2. Penjelasan, Pemenuhan oleh Roh Kudus harus terjadi sebab dua alasan.
a. Esensial untuk kedewasaan orang percaya (1Kor. 3:1-3).
b. Essensial untuk pelayanan orang percaya (Kis. 4:31; 9:17, 20).
3. Kondisi-Kondisi\
Ada beberapa perintah yang berhubungan dengan pemenuhan orang percaya oleh
Roh Kudus.
a. Jangan mendukakan Roh Kudus (Ef. 4:30).
b. Jangan memadamkan Roh Kudus (1Tes. 5:19).
c. Berjalan dalam Roh (Gal. 5:16).
Hasilnya
Akibat dari dipenuhi oleh Roh Kudus akan menghasilkan buah-buah Roh. Sebagai
kontras dengan perbuatan-perbuatan daging yang dihasilkan berdasar berjalan
dalam dag







