Tampilkan postingan dengan label teori gereja 10. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label teori gereja 10. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Juli 2026

teori gereja 10

 


nats  dalam  Alkitab

sehubungan dengan konsep   ―pendamaian‖.   Beberapa   nats   dalam   Perjanjian

Lama.   Misalnya   dalam Imamat 16:6, Harun diminta untuk mempersembahkan

lembu jantan yang akan menjadi korban penghapus dosa baginya sendiri dan dengan

demikian  mengadakan pendamaian bagi dirinya dan bagi keluarganya. Yes. 53:5

menubuatkan tentang penderitaan Tuhan Yesus yang akan mencurahkan darahNya

untuk menjadi pendamaian antara manusia berdosa dengan Bapa dan yang sekaligus

mendatangkan keselamatan bagi mereka yang beriman kepada kematian Yesus itu.

Dalam Perjanjian Baru,  misalnya 2  Kor.  5:19 mengatakan:  Sebab Allah

mendamaikan dunia dengan diriNya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan

pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami.

Nats-nats lain yang berbicara tentang pendamaian juga dapat dilihat dalam Ef. 2:16;

Kol. 1:20 dan Ibr. 2:17.

Istilah  ―Pendamaian‖  diterjemahkan dari kata  benda  bahasa  Yunani ―katallage‖

(kb)  dan   sebagai   kata   kerjanya   ialah   ―katallaso‖.   Sebagai   kata   benda

(noun)   arti harafiahnya  ialah  ―sesuatu  penukaran  dengan  Allah yang sama dari

sesuatu itu‖ atau juga    berarti    ―pembuangan    perseteruan‖.    Istilah    Alkitabiah

mengenai    istilah

―perseteruan‖  yaitu    satu   hal   yang   sangat   serius  sebab    Allah   sangat

menentang  segala  jenis  dosa  dan  kejahatan.95  Itu  sebabnya  Alkitab  mengatakan

18

bahwa orang berdosa yaitu  seteru Allah. Roma 5:10 mengatakan:

19

Sebab jikalau kita, saat  masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian

AnakNya, lebih-lebih kita yang sekarang sudah diperdamaikan, pasti akan

diselamatkan oleh hidupNya.

Arti teologisnya ialah bahwa permusuhan antara manusia dengan Allah telah

dihancurkan. Kristus mati untuk menyelesaikan segala dosa yang menjadi pemicu 

perseteruan itu. Pembaruan hubungan orang berdosa dengan Allah berlaku sebab 

mereka telah bertobat dan mempercayakan diri kepada kematian Tuhan Yesus

Kristus sebagai alat pendamaian (Rom. 5:11; 2 Kor. 5:18-19). Pembaharuan terjadi

kepada manusia lantaran imannya kepada karya penebusan Yesus Kristus yang

memicu  dia terangkat ke tingkat di mana ia bisa disesuaikan dengan karakter

Allah (Rom. 5:10-11).

Konsep ―Pendamaian‖ ini  memiliki   dua segi:

a. Segi yang sifatnya aktif  dan obyektif,  dimana kematian Kristus memindahkan

permusuhan yang ada antara Allah  dan manusia. Permusuhan ini  telah

menjadi dinding pemisah bagi persekutuan kedua pihak (Ef. 2:16; Kol. 1:20).

Keadaan permusuhan itu dapat dilihat dalam ayat-ayat seperti Ef. 2: 15; Rom.

8:7; Yak. 4:4. Tidak diingat oleh Allah lagi dosa-dosa manusia yang telah

diperdamaikan.

b. Segi yang sifatnya positif dan subyektif terjadi sebab  adanya perubahan sikap

manusia terhadap Allah yang terjadi di dalam hatinya sebab  salib Kristus.

Perubahan  dari  sikap  permusuhan  kepada  sikap  persahabatan  (2.  Kor.  5:20).

Perubahan sikap ini tidak terjadi kepada Allah. Manusialah yang harus

disesuaikan dengan Allah.

Perdamaian sebab  karya Kristus di kayu salib disediakan bagi seluruh dunia (1

Yoh.  2:1-2).  Dengan demikian  dalam kegiatan  pendamaian  terdapat  pemindahan

akibat dosa, adanya pembaruan sikap terjadi pada manusia, bukan pada Allah.

Pendamaian ini  menimbulkan rasa damai dan hasilnya ialah pembenaran dan

pengangkatan. Pendamaian ini  melahirkan hubungan baru antara Allah dengan

orang percaya. Tujuan atau sasaran akhir pendamaian yaitu  bagi seisi dunia (Kol.

1:20) sebab  semua manusia sudah menjadi hamba dosa yang bermusuhan kepada

Allah.

3. Kesimpulan

a. Kristus telah mendamaikan manusia berdosa dengan Allah. Dia telah

dikorbankan untuk menghapus tembok pemisah antara Allah dan manusia, yaitu

dosa.

b. sebab  pendamaian ini  manusia kembali menjadi satu dengan Allah.

Derajat manusia diangkat kepada harkat semula sehingga manusia dapat bergaul

langsung dengan Allah melalui Tuhan Yesus Kristus.

c. sebab  pendamaian itu manusia beriman tidak akan dihukum lagi sebab  segala

dosa telah dihapus dan diselesaikan oleh Tuhan Yesus di kayu salib

M.Pembenaran

1. Pengertian Istilah

Istilah   ―pembenaran‖  diterjemahkan   di   dalam   bahasa   Inggris  dengan

―justification‖.  Istilah ini yaitu  istilah dalam pengadilan dimana seorang hakim

menangani masalah  atau  kasus.  Istilah  ini  berasal  dari  kata  ―just‖  (ks)  artinya

―benar‖  (Ingg.:

―righteous‖)   dan   kata   ―justify‖   (kk)   artinya   ―membenarkan‖.   Istilah   yang

dipakai dalam  bahasa  Ibrani  ialah  ―hitsdik‖  artinya  ―to  justify‖: ―menyatakan

secara  hukum bahwa keadaan seseorang sesuai dengan tuntutan hukum‖.

19

Dalam   bahasa   Yunani   kata    yang   dipakai   ialah   ―dikaio-o‖   artinya

―menyatakan seseorang  benar‖,  Ingg.  ―to  justify‖  (Mat.  12:37;  Luk.  7:29)  dan

―dikaiosis‖  (kb)  diterjemahkan   dengan   ―justification‖  atau   ―pembenaran‖

misalnya   dalam   Rom.   4:25  dan  Rom.  5:18.  Dalam  Kitab  Ulangan  25:1-2

dikatakan: jika  ada perselisihan di antara beberapa orang, lalu mereka pergi ke

pengadilan,  dan mereka diadili  dengan dinyatakannya siapa yang benar dan siapa

yang salah, maka jikalau orang yang bersalah itu layak dipukul .

Dalam Perjanjian Baru, Roma 8:33 dikatakan bahwa Kristus yaitu  Pembela bagi

orang-orang percaya. Kristus mengatakan orang beriman yaitu  orang benar sebab 

Ia sendiri sudah menyelesaikan segala hutang dosanya di bukit Golgota. Sehingga

kalau iblis mendakwa atau menuduh orang beriman di hadapan Allah Bapa maka

Kristus  yang akan membela  bahwa orang beriman tidak bersalah.  Paulus berkata

kepada jemaat di Roma:

Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah? Allah yang

membenarkan mereka? Siapakah yang akan menghukum mereka? Kristus  Yesus

yang telah mati? Bahkan lebih lagi: yang telah bangkit, dan juga duduk di sebelah

kanan Allah, yang telah menjadi Pembela bagi kita? (Roma 8: 33-34)

2. Pengertian Istilah ― Pembenaran‖ Secara Teologis

Pembenaran  yaitu   merupakan  salah  satu  anugerah  Allah  yang diberikan  kepada

orang yang percaya  kepada pengorbanan Tuhan Yesus  Kristus.  Dalam Perjanjian

Baru   kata   ―membenarkan‖  (to justify)   dipakai sebanyak  39 kali dan   29 kali

terdapat dalam  tuliasan  Rasul  Paulus.  Dia  juga  memakai  kata  ―pembenaran‖

(justification)  sebanyak  2 kali  yang  terdapat  dalam  Rom.  4:25  dan  Rom.  5:18.

Dalam  perikop kedua  ini  Paulus  mengatakan:  Sebab  itu,  sama  seperti  oleh  satu

pelanggaran semua orang beroleh penghukuman, demikian pula oleh satu perbuatan

kebenaran semua orang beroleh  ―pembenaran‖ untuk hidup.

Begitu seringnya Rasul Paulus memakai istilah ini di dalam tulisan-tulisannya

sehingga banyak komentator yang tertarik untuk memnyelidikinya. Salah satu

diantaranya  ialah  J.I.Packer.  Ia  memberi  penjelasan  tentang  konsep Rasul  Paulus

tentang pembenaran sebagai berikut: God‖s act of remitting the sins of guilty men ,

and accounting them righteous, freely, by His grace, through faith in Christ, on the

ground, not of their own works, but of the representative law-keeping and

redemptive blood-shedding of the Lord Jesus on their behalf.

Jadi menurut Morris, Paulus memahami bahwa pembenaran itu yaitu  tindakan

Allah. Tidakan pembenaran itu dilakukan Allah di dalam anugerahNya dengan cara

menghapus dosa-dosa manusia  sebab  iman  kepada Kristus yang  telah  menebus

manusia dengan mencurahkan darahNya demi manusia berdosa. Bagaimanakah

manusia itu dibenarkan ?

Jawaban yang diberikan kepada pertanyaan ini  biasanya berbeda-beda.  Ada yang

mengatakan bahwa pembenaran yaitu  anugerah semata-mata. Yang lain

menganggap bahwa pembenaran itu yaitu  perbuatan manusia seperti faham agama

Islam. Faham berikutnya beranggapan bahwa pembenaran itu merupakan kerjasama

di antara anugerah Allah dan perbuatan baik manusia. Yang manakah yang benar?

Dalam hal  ini  Rasul  Paulus  menegaskan  bahwa itu  yaitu   anugerah  Allah  yang

diterima  orang  percaya sebab   iman  kepada  Tuhan  Yesus  Kristus.  Darah  Tuhan

Yesus menghapus dosa manusia sehingga Allah melihat manusia berdosa itu benar.

Jadi Allah mengangkat dosa manusia melalui pembasuhan dengan darah Tuhan

Yesus.

19

Pembicaraan tentang konsep pembenaran menjadi penting dan sentral sebab  doktrin

ini sendiri sangat bertautan erat dengan doktrin yang lain, misalnya doktrin

―pendamaian‖  atau   ―reconsiliation‖.   Selain   itu   dalam   hubungannya   dengan

doktrin-  doktrin yang lain doktrin-doktrin ini  sangat dipengaruhi oleh

kesimpulan terakhir tentang doktrin pembenaran ini, yaitu tentang bagaimana Allah

menerima kita sebagai orang yang sudah dibenarkan oleh Allah. Pertemuan menusia

dengan Allah  yaitu   sesuatu  yang  tidak  mungkin  sebab   manusia  tidak  dapat

membenarkan dirinya  sendiri  (Rom.  3:9-18,23).  Dengan  dibenarkanNya  manusia

maka  manusia  itu diperdamaikan kembali dengan Allah. Oleh pendamaian itu

manusia diterima menjadi  anak-anak  Allah.  Harus  diakui  bahwa banyak  definisi

tentang pembenaran yang sifatnya negatif. Yang diberikan disini tentang definisi

pembenaran ialah

―tindakan   judisial   Allah   di-mana   sebab    adanya   Yesus  Kristus  orang-orang

berdosa  dibenarkan  oleh  sebab   iman  kepada  Yesus  Kristus.  Allah  mengatakan

orang-orang berdosa itu  benar dan bebas  dari  hukuman Taurat,  dan diperbaharui.

Allah dulu menghukum mereka. Allah kini menyatakan mereka tidak bersalah, tanpa

dosa. Pembenaran ini ada hubungannya dengan posisi (kedudukan) seseorang secara

legal di hadapan Allah. Sifatnya subyektif‖.

berdasar  definisi di atas disimpulkan bahwa ada beberapa unsur yang

berhubungan dengan pembenaran:

a. Pengampunan dosa dan pemindahan ( pengangkatan ) kesalahan (rasa bersalah)

dan penghukuman sebab  dosa. Allah membebaskan orang-orang berdosa yang

beriman atau mempercayakan dirinya kepada Kristus dan menyatakan

(menfonnis) mereka sebagai orang benar (Rom. 5: 1, 16). Ayat 1 mengatakan:

Sebab itu, kita yang dibenarkan sebab  iman, kita hidup dalam damai sejahtera

dengan Allah oleh sebab  Tuhan kita Yesus Kristus. Kutuk Tauratpun tidak lagi

berlaku atas orang  ini  sebagaimana dikatakan dalam (Rom. 7: 6) yang

berbunyi: namun  kita sekarang telah dibebaskan dari hukum Taurat, sebab kita

telah  mati  bagi  dia, yang  mengurung  kita,  sehingga kita sekarang  melayani

dalam keadaan  baru  menurut  Roh dan bukan dalam keadaan  lama menurut

huruf hukum Taurat.

b. Adanya penuangan/penempatan/pencangkokan akan kebenaran illahi dan

penempatan kepada posisi/kedudukan yang menyenangkan hati Allah dan

pengankatan sebagai anak sebagaimana yang dikatakan dalam Rom. 8: 15 yang

berbunyi:  Sebab kamu tidak menerima  roh perbudakan yang membuat  kamu

takut lagi, namun  kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah.

Oleh Roh itu kita berseru: ‖ya Abba, ya Bapa.‖

Jadi yang memicu  seseorang terlihat di dalam kedudukan sebagai orang

benar ialah adanya pengakuan dari pihak Allah tentang diberikanNya

pembebasan dan pengampunan dari dosa (Yoh. 8:36; Rom.6:18). Adanya

pengakuan  sebagai  anak dan pengangkatan  remisi  dan  pemindahan hukuman

sebab  dosa. Adanya restorasi atau pembaruan hubungan dengan Allah. Lukisan

yang paling tepat ialah Zakaria 3:4 yang menjelaskan bagaimana Yosua

disucikan dari dosa-dosanya.

c. Adanya pembebasan dari kutuk Taurat (Rom. 8:3-4) sebagaimana sudah disebut

di atas (Rom. 7:6). Hal ini terjadi bukan sebab  orang yang bersangkutan sudah

melakukan semua hukum Taurat tanpa salah, melainkan pernyataan Allah

sebab  iman kepada pengorbanan Kristus.

d. Pembenaran yaitu  permulaan dari perubahan moral sebagaimana dikatakan

19

dalam Roma 8:14: Semua orang yang dipimpin Roh Allah yaitu  anak Allah.

19

Namun pembenaran selalu didahului oleh kelahiran baru (regenerasi) dan

persekutuan di dalam Kristus.

e. Dan yang mengikutinya kemudian ialah proses penyucian (sanctification) sebab 

Roh Kudus akan memimpin anak Allah dalam segala kebenaran sebagaimana

dikatakan dalam Yoh. 16:13 yang berbunyi:

namun  jika  Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam

seluruh kebenaran, sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diriNya sendiri, namun 

segala sesuatu yang didengarNya itulah yang akan dikatakanNya dan Ia akan

memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang.

Perkataan Tuhan Yesus ini  masih merupakan nubuatan.  namun   Roh Kudus sudah

diberikan kepada setiap anak Tuhan sehingga sekarang setiap orang percaya

dipimpin oleh Roh Kudus untuk mengetahui kebenaran agar setiap anak Tuhan

terhindar dari  melaksanakan dosa namun   sebaliknya memiliki  hidup yang semakin

suci.

3. Kesimpulan

Ada tiga hasil sebagai akibat Pembenaran:

a. Adanya pembebasan dari hukuman (Rom. 8:1,33,34). Tidak ada satu

tuduhanpun yang patut ditimpakan kepada orang yang sudah dibenarkan. Tak

satupun hukuman yang patut diterimanya sebab  pembenaran Kristus telah

memenuhi semua tuntutan Allah secara sempurna.

b. Pembebasan dari  murka Allah yang menimpa manusia  beriman sebaga akibat

dosanya (1 Petr. 2:24). Pengadilan orang beriman masih tetap ada (2 Kor. 5:10).

Dalam pengadilan orang-orang percaya itu pahala akan diberikan kepada

mereka yang berlayak, sedangkan mereka yang perbuatannya tidak patut

menerima pahala perbuatan ini  akan dihanguskan oleh api dan orangnya

seperti ditarik dari dalam api ( 1 Kor. 3:11-15).

c. Adanya pemuliaan yang akan terjadi dikala orang-orang beriman dibangkitkan

untuk menyongsong kedatangan Yesus Kristus menjemput mempelaiNya (Rom.

8:30).

N. Pengangkatan Sebagai Anak

1. Pengertian Istilah

Kamus  bahasa  Indonesia  memberi  kata  ―adopsi‖  untuk  kata  ―pengangkatan‖

yang  artinya:   ―pengambilan   atau   pengangkatan anak orang lain menjadi anak

sendiri yang disahkan menurut hukum yang berlaku‖. Kamus Bahasa Inggris

memakai kata

―adoption‖   yang   artinya   ―a   taking   as   one‖s   own‖.   Kelihatannya   Drs.

Yandianto  memberi pengertian yang lebih komprehensif sebab  dalam

pengangkatan anak harus dilakukan berdasar  undang-undang yang berlaku kalau

anak itu akan sah menjadi anak yang mengangkat. Kemudian dalam pengangkatan

anak ada dua pihak yang terlibat yaitu orang yang memiliki anak dan orang yang

ingin untuk mengadopsi   anak    ini .    R.P.    Martin    mengatakan    bahwa

arti   istilah

―pengangkatan‖    ialah    ―the    process    of   becoming   sons    of    God‖.100

Martin menghubungkan pengertian ini dengan konsep Alkitab.

2. Pengertian Istilah ―Pengangkatan‖ Secara Teologis

Istilah   ―Pengangkatan   atau   ―adopsi‖   (Ingg.:   ―adoption)‖   terdapat   5   kali

dalam Perjanjian Baru dan semuanya terdapat dalam tulisan Paulus (Rom. 8:15, 23;

Rom. 9:4; Gal. 4:5; Ef. 1:5). Dalam perikop terakhir ini Paulus mengatakan: Dalam

19

kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-

anakNya, sesuai dengan kerelaan kehendakNya.

19

Untuk memahami maknanya dengan jelas latar belakang pemakaian  istilah ini 

harus  diselidiki.   Ada   2   istilah   yang   dipakai   untuk   ―pengankatan‖  dalam

Perjanjian Baru:  Istilah   ini    ialah   ―teknon‖   yang   menyatakan  seorang

bayi   yang   lahir  kepada   satu   keluarga   melalui   kelahiran   biasa.  Istilah   yang

kedua   ialah   ―huio‖  yang menjelaskan tentang anak yang sama yang pada suatu

waktu tertentu  secara  legal, menurut  hukum dinyatakan sebagai  anak yang resmi

yang berhak berada  dalam lingkungan bapanya. Istilah yang kedua inilah yang

dimaksud Alkitab dengan kata

―pengangkatan‖    atau    ―adopsi‖.    Istilah    ―adopsi‖    menunjukkan   pada

peristiwa  pengangkatan  melalui  suatu  upacara  resmi  di  mana  seorang  anak

dinyatakan resmi sebagai anak melalui hukum yang berlaku.

Arti  teologisnya  ialah  ―orang  percaya  menjadi  anak  dalam  keluarga  Allah  

waktu terjadi kelahiran baru. Orang beriman resmi diangkat menjadi anak melalui 

adopsi rohani (Luk. 15:7,10). R.P. Martin mengatakan prinsip yang sama. Ia 

mengatakan: Sonship as a term in later theology is best viewed as an aspect of 

regeneration. As God brings new life to those who formerly were dead in sins (Eph. 

2:1), so he is described as their Father who regards them as adopted children in 

the family of grace.

Jadi menurut beliau kalau kelahiran baru belum menjadi pengalaman seseorang tidak

mungkin ia mengalami pengangkatan menjadi anak oleh Allah. namun  dengan

pengangkatan seorang pemercaya akan dilayakkan menyebut Allah sebagai Bapa.

Dengan demikian dilihat dari sudut pandang manusia bahwa sebagai anak ora ng

beriman memiliki nama keluaraga (Ef. 3:14,15; Wah. 2:17; 3:12).  Sebagai anak

orang beriman juga memiliki persamaan-persamaan dalam keluarga (Kol. 3:10;

Rom. 8:29). Selain itu sebagai anak orang beriman juga menerima kasih keluarga ( 1

Yoh.  2:9-11;  3:13-18;  4:7-8).  Yang terakhir  sebagai  seorang anak orang beriman

memiliki sifat orang tuanya (2 Petr. 1:4; Yoh. 1:12).

Dari  sudut pandang Allah sebagai anak orang beriman menjadi  obyek kasihNya

yang istimewa (Yoh. 17:22-23; 16:17). Selain itu sebagai anak orang berimanpun

berhak menerima pemeliharaan bapanya (Mat. 6:32; 8:32). Disamping itu kitapun

sebagai anak berhak menerima penghiburanNya ( 2 Kor. 1: 4). Selanjutnya sebagai

anak orang beriman berhak menerima disiplin ke Bapa-anNya (Ibr. 12:6-11). Yang

sangat menarik yaitu  sebagai anak orang beriman yaitu  pewaris harta warisanNya

( 1 Petr. 1:3-5; Rom. 8:17).

3. Akibat dari adopsi ini  ada 3 jenis hasil yang terjadi:

a. Berdiamnya Roh Kudus di dalam diri orang percaya (Gal. 4: 6). Buah Roh yang

disebut  dalam Gal.  5:  22-23 yang dinyatakan di  dalam hidup orang beriman

yaitu  merupakan bukti berdiamnya Roh Kudus dalam orang ini .

b. Orang beriman dilepaskan dari ketakutan (Rom. 8:15).

1) Berdiamnya  Roh  Kudus  sebab   pengangkatan  sebagai  anak  menimbulkan

kesadaran akan kasih Allah.

2) Kasih itu menghilangkan ketakutan (1 Yoh. 4:18). Penerimaan akan Allah

juga  menyadarkan orang beriman  bahwa Allah lebih  berkuasa  dari  segala

kuasa dan sebab  itu tidak ada suatu kuasa apapun yang dapat memisahkan

orang percaya  dari  tangan Allah  dalam Kristus  Yesus  (Yoh.  10:  8;  Rom.

8:37-39).

3) Keyakinan akan kebangkitan Tuhan Yesus Kristus membuktikan kekalahan

kuasa iblis dan kuasa dunia yang tertinggi sekalipun. sebab  itu orang

beriman tidak takut lagi menghadapi cobaan yang datang dari iblis (1 Kor.

19

15:55-57) sebab  ia tahu bahwa di dalam Kristus ia pasti menang.

19

c. Dijadikan menjadi ahli waris Allah dan menjadi pewaris bersama-sama dengan

Yesus Kristus (Rom. 8:17). Hal inilah yang merupakan salah satu bukti bahwa

hidup kekal di surga yaitu  merupakan sesuatu yang pasti yang akan dimiliki

orang percaya sebab  ia yaitu  ahli waris kerajaan Allah. Pemeliharaan Allah

akan orang percaya di bumi yaitu  juga merupakan bukti akan warisan

keanakan yang dimiliki orang beriman.

4. Kesimpulan

Salah satu anugerah terbesar yang diberikan Allah kepada orang percaya ialah

―pengangkatan  menjadi anak‖.  Hal ini berarti bahwa orang percaya  yaitu  ahli

waris  Allah.  Sebagai anak Allah dan ahli  waris ia pasti  bersama dengan Bapa di

surga setelah ia meninggalkan dunia ini. Allah juga yang bertanggung jawab untuk

segala sesuatu yang diperlukan dalam hidup ini. Sebagai anak, ia berada dalam

pemeliharaan Allah. Ia tidak akan pernah ditinggalkan atau dilupakan Bapa.

Sebagai anak, Bapa juga memberi tanggung jawab dan menyerahkan segala sesuatu

untuk dikelola, dipelihara dan dikuasai. Anak Tuhan melakukan segala sesuatu

dengan motivasi yang benar, melakukannya seperti untuk Tuhan dan bukan untuk

manusia. Ia juga diberikan kuasa untuk mendiamkan setan yang selalu mau merusak

pekerjaan Tuhan. Sebagai anak ia bangga memiliki Allah sebagai Bapa. Kebanggaan

itu mempengaruhi  seantero hidupnya sehingga ia selalu menceriterakan kebaikan,

kasih dan kemahakuasaan Bapa itu. Titik tolak untuk memandang dunia tidak lagi

tertumpu kepada dirinya namun  berangkat dari sudut pandang Allah. Hal ini

memicu  dia memiliki penilaian baru akan dunia dan isinya, memandang

manusia  sebagai  obyek kasih Allah sehingga ia  berusaha agar setiap orang dapat

mengenal Bapa yang baik itu dan diselamatkan.

O. Penyucian

1. Pengertian Istilah

Istilah   ―penyucian‖  (Ingg.: ―sanctification‖)   berasal dari kata   ―suci‖.   Drs.

Yandianto memberi arti: bersih dalam arti keagamaan, tidak berdosa, murni tentang

hati  atau batin.102 Beliau menekankan mengenai kualitas moral. Nave

mengatakan bahwa

―sanctification‖  artinya  ialah ―the  state of being set apart from the sacular and 

sinful, unto a sacret purpose. It si not only of people, but of days, places and 

things.‖103 Nave menghubungkan pengertian istilah ini dengan apa yang dikatakan 

dalam Alkitab,  yaitu mengenai posisi  ―keterpisahan‖.

Istilah Ibrani yang dipakai dalam Perjanjian lama untuk kata ‖penyucian‖ ialah

―qadas‖  (kk)  dan  ―qodesh‖  (kb)  dan  ―qadosh‖  (ks).  Sebagai  kata  kerja  artinya

―bercahaya‖  yang ada hubungannya dengan kata ―suci‖. Pengertian yang kedua ialah

―memotong  atau  memisah‖  (Ingg.:  ―to  cut‖).  Jadi  dalam  bahasa  Ibrani  istilah  ini 

memiliki  makna yang sifatnya moral dan juga posisi keterpisahan.

Dalam  Perjanjian  Baru  ialah  ―hagiazein‖  yang  berarti  ―dipisahkan  dari‖,  

misalnya dari hal-hal yang sifatnya kurang. Bersih.

2. Pengertian Istilah ― Penyucian‖ Secara Teologis

Berkhof  mengatakan  bahwa  istilah  ―penyucian‖,  terutama  dalam  Perjanjian  Baru 

dipakai untuk menyatakan 4 hal:104

a. arti mental seseorang atau sesuatu. Jadi seseorang atau sesuatu dianggap suci,

misalnya: nama Tuhan suci (Mat.6:9), Kristus yang kudus (1 Petr. 3:15); hari

perhentian Allah (Kej. 2:3); anak sulung yang dikuduskan (Kel. 13:2).

b. dipakai dalam pengertian ritual: memisahkan sesuatu atau seseorang untuk

19

tujuan yang suci: Mat. 23:17,19; Yoh. 10:36; 2 Tim. 2:21

20

c. pekerjaan Roh Kudus yang beroperasi dalam hidup seseorang untuk

mengadakan peningkatan mental (Yoh. 17:17; KPR 20:32; 1 Tes. 5:23).

d. sesuatu yang akan memuaskan hati Allah (Ibr. 9:13; 10:10,29; 13:12).

Dalam    Perjanjian    Lama.    istilah    ―pengudusan‖    misalnya    dihubungkan

dengan  pemilihan   para   imam,   nabi   dan   bait    Allah.    Dalam   hal   ini

―dikuduskan‖  berarti

―mereka   dipisahkan  dari  masyarakat  umum  atau  tempat  lain  untuk  dipakai

dalam pelayanan  Allah.‖   Secara   implisit  pengertian  ―penyerahan  diri‖   juga

termasuk   di  dalamnya. Hal  inilah yang  memicu   setiap  imam  atau  nabi

diurapi,  korban yang akan dipersembahkan dan bait Allah diurapi untuk tanda

penyucian.

Di dalam hubungannya   dengan   kehidupan   dan   pengalaman   orang   Kristen

―penyucian  atau sanctification‖  meliputi  3 aspek:

a. Posisional/Status Sanctification. Hal ini bermakna bahwa setelah seseorang

dilahirkan baru menjadi anggota keluarga Allah maka orang percaya itu telah

dipisahkan   dari   dunia   ini.   Ia   disebut   sebagai   ―orang   kudus‖  sebab 

kedudukan/  posisinya  atau  statusnya sebagai  anggota  keluarga  Allah.  Hal  ini

memicu  Paulus  selalu  menyebut  jemaat  sebagai  orang-orang kudus  (1

Kor.  1:2;  Ef.  1:1; Fil.  1:1).  Mereka dipisahkan dari  dunia untuk memperoleh

kedudukan sebagai anggota kerajaan Allah. Mereka ini masih hidup sebagai

manusia dunia (1 Kor. 6: 11) yang kadang kala masih memiliki kelemahan dan

dosa. Namun mereka disebut  ―orang kudus‖ (Rom. 1:7;  1 Kor. 1:2).

b. Jenis  kekudusan   atau   kesucian   yang   kedua    ialah   ―experiential

sanctification‖,  atau  penyucian  lewat  pengalaman  hidup.  Kadangkala  istilah

yang dipakai untuk jenis   ini   ialah   ―progressive   sanctification‖   (1   Petr.

1:16).   Pengudusan  dalam pengalaman ini terjadi terus menerus selama orang

percaya masih  hidup  di dunia  ini.  Alkitab  juga  mengatakan  bahwa hal  ini

yaitu  merupakan proses untuk mematikan manusia lama, yaitu tubuh berdosa,

sebab  tubuh berdosa itu sudah turut disalibkan bersama dengan Kristus (Rom.

6:6). Kepada jemaat Galatia ia mengatakan bahwa manusia milik Kristus telah

menyalibkan daging dengan segala keinginannya (Gal. 5:24) Proses pengudusan

ini mempengaruhi semua aspek hidup manusia, tubuh, jiwa, intelek, perhatian

dan  kemauan.  Hal ini  terjadi  sebab   proses  penyucian  itu  terjadi  dalam

kehidupan manusia batiniah seseorang. Kalau manusia batiniah seseorang telah

dibaharui maka seluruh aspek kehidupannya juga akan mengalami pengaruh

pembaharuan (1 Tes. 5:23; 2 Kor. 5:17)

Jenis penyucian yang kedua inilah yang membedakan kedewasaan orang

Kristen orang per orang. Seorang yang membiarkan Roh Kudus menguasai

hidupnya akan lebih cepat dewasa dari mereka yang masih dikuasai oleh

keinginan daging. Kadang  kala kita menjadi bingung saat  melihat bahwa

orang yang sudah lahir baru masih hidup secara duniawi. Hal ini terjadi sebab 

free will orang percaya tidak ditundukkan kepada wibawa dan pimpinan Roh

Kudus  yang sudah diam di  dalam dia.  Tubuh  jasmaniahnya  masih  direlakan

untuk memiliki kecenderungan untuk tunduk kepada nafsu daging.

Dalam   jenis   ―progressive   sanctification‖   tidak   ada   ―instant   holiness‖

dalam pengertian bahwa seseorang dalam sesaat  menjadi orang yang tidak

akan pernah memiliki kecenderungan untuk dipengaruhi oleh nafsu daging.

Agar orang percaya terus-menerus mengalami pengudusan maka dari pihak

Allah, Ia memakai:

20

a. Roh Kudus (Yoh. 14:26; 16:8). Roh Kududs menyadarkan manusia akan

dosa dan kebenaran sehingga orang percaya semakin mengerti apa yang

dikehendaki Tuhan untuk dilakukan dalam hidup.

b. Firman Tuhan (2 Tim. 3:16-17). Orang percaya saat  membaca firman

Tuhan  ditolong  Roh  Kudus  untuk  mengerti  sehingga  ia  akan  memiliki

hidup yang dikuduskan sebab  menaati firman itu.

c. Persekutuan orang percaya (Gal. 5:19-21). Dalam persekutuan orang

percaya dikuatkan oleh saudara-saudaranya saat  ia lemah dan

mengalami pergumulan hidup. Ia ditegur ataui diingatkan saat  ia lalai

atau melakukan kesalahan. Ia didoakan oleh saudara satu iman agar tetap

setia berjalan mengikut Tuhan.

d. Pengalaman hidup orang percaya. Tuhan mengizinkan seseorang masuk

ke dalam pengalaman tertentu untuk melihat apakah ia memuliakan Tuhan

dengan pengalaman itu. Tuhan mengizinkan Maria dan Marta mengalami

kematian saudara untuk melihat apakah mereka memiliki iman yang benar

bahwa Yesus dapat membangkitkan orang mati (Yoh. 11:1-45). Ia

meredakan angin ribut untuk menolong para murid untuk lebih beriman

kepadaNya (Mat. 8:23-27). Ia membiarkan Daud untuk menjalani proses

hidupnya untuk melihat  apakah benar ia menjaga kasih dan kekudusan.

Ternyata ia  jatuh misalnya,  saat  ia  dengan licik mengambil  Bersheba

menjadi isterinya (2 Sam. 11:1-27).

Dari pihak manusia dibutuhkan penyerahan diri dan kerelaan untuk menaati

Tuhan  dan  firmanNya.  Yakobus  mengatakan:  namun   barang  siapa  meneliti

hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia

bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya

namun  sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh

perbuatannya.  (Yak.  1:25).  Kadang-kadang Tuhan melakukan  pukulan  atau

cemeti (dalam proses penyiangan): Dalam Yoh. 15: 1-3 dikatakan bahwa

ranting yang berbuah dibersihkan supaya lebih lebat daunnya. Orang percaya

juga mengalami  proses  peneguran untuk menguji  imannya apakah sungguh

murni.  Petrus mengatakan:  Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan

kemurnian imanmu – yang jauh lebih tinggi nilainya dari  emas yang fana,

yang diuji kemurniannya dengan api – sehingga kamu memperoleh puji-

pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan

diriNya. (1 Petr. 1:7).

Di samping  itu  perlu mengembangkan pengetahuan akan Kristus (2 Petr.

3:18), mengembangkan potensi melayani dan membina hubungan yang

semakin mesra dengan Tuhan Yesus melalui doa (1 Tes. 3:12; 4:1,10).

Berjalanlah di dalam Roh (Gal. 5:16), jangan mendukakan Roh Kudus (Ef.

3:30) dan jangan memadamkan Roh (1 Tes. 5:19).

c. Glorifying Sanctification. Jenis penyucian ini terjadi di surga setelah kita

bertemu dengan Tuhan Yesus pada tahta pengadilanNya. Semua yang

dikerjakan orang percaya akan diuji  oleh Tuhan dan yang tidak merupakan

emas dan perak murni akan dibakar habis. Yang tinggal hanyalah ibadah yang

dilakukan  dengan  motivasi yang  benar. Paulus mengatakan  kepada  jemaat

Korintus: sebab  tidak ada seorangpun yang dapat meletakkan dasar lain dari

pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus. Entahlah orang

membangun di atas dasar ini dengan emas, perak, batu permata, kayu, rumput

kering atau jerami, sekali kelak pekerjaan orang akan nampak. sebab  hari

20

Tuhan akan menyatakannya, sebab ia akan nampak dengan api, dan

bagaimana pekerjaan  masing-masing orang akan diuji  oleh api  itu.  (1 Kor.

3:11-13) Pengujian akan perbuatan orang percaya terjadi dalam hubungannya

dengan pemberian mahkota atau pahala pada akhir zaman. Pahala akan

diberikan Allah kepada setiap orang percaya berdasar  kualitas perbuatan

mereka. Kualitas ini  ditentukan oleh kemurnian motivasi seserorang di

dalam hidupnya melayani Tuhan. Kemurnian motivasi ini menunjukkan

kesungguhan seseorang mengasihi Tuhan dan melakukan kehendakNya.

3. Kesimpulan

Salah satu karakter Allah yang sangat menonjol  ialah kekudusan. Sebagai Allah

yang maha kudus segala sesuatu tidak dapat mendekat kepadaNya tanpa kekudusan.

Itulah sebabnya segala sesuatu harus dikuduskan lebih dahulu untuk dapat dipakai

oleh Tuhan. Kesucian atau kekudusan Allah mengharuskan manusia berdosa harus

disucikan.  Salah satu tujuan Allah  mengutus  Yesus  Kristus  ke  dunia ialah  untuk

mengampuni manusia dari segala dosa dan menyucikan mereka dari segala

kejahatan (1 Yoh. 1:9). Dengan demikian setiap orang beriman kepada Yesus

Kristus dan karyaNya yaitu  orang kudus. sebab  itu orang percaya harus

menyadari  bahwa mereka  tidak sama lagi  dengan manusia  yang lain yang masih

bergelimang dosa.   Paulus  mengatakan   bahwa  ―barang siapa   yang   ada dalam

Kristus yaitu  ciptaan baru. Yang lama sudah berlalu dan sesungguhnya yang baru

sudah datang.‖

Orang percaya juga harus sadar bahwa ia sudah dipisahkan oleh Allah dari dunia ini

untuk  dipakai  oleh  Allah  sebagai  alatNya. Dengan kata lain bahwa Allah  tidak

pernah mengharapkan untuk memakai orang yng belum disucikanNya sebagai

alatNya untuk menerangi dan menggarami dunia. Tanggung jawab besar dan mulia

ini hanya dikhususkan untuk dilakukan orang beriman.

Penyucian akan mengalami proses yang berkelanjutan dalam hidup orang percaya.

Sifat  manusia  lama yaitu  keinginan  daging  dan daya tarik  dunia  ini  masih  mau

mempengaruhi  hidup orang beriman.  Tapi  syukur, sebab  Roh Kudus dan firman

Tuhan mengingatkan orang percaya agar tidak jatuh dalam dosa. Kadang kala Tuhan

juga memakai saudara satu iman untuk mendoakan dan memperingatkan kita agar

proses pengudusan itu tetap berlangsung dalam hidup orang percaya. Kadang kala

Tuhan memakai peristiwa-peristiwa dalam kehidupan orang beriman untuk

mengingatkan dia agar sadar bahwa Tuhan menghendaki kekudusan hidup itu tetap

terjaga.

P. Jaminan Keselamatan

1. Pengantar

Orang-orang Kristen yang baru percaya maupun yang telah lama percaya

memerlukan  kepastian mengenai  hidup  baru yang  mereka telah  terima  di  dalam

Kristus. Akibat munculnya berbagai angin pengajaran,  orang-orang Kristen sering

dilanda  keraguan  dan  kekuatiran mengenai  keputusan yang mereka telah  ambil

untuk percaya kepada Kristus. Mereka sering mempertanyakan apa sebenarnya

makna keputusan untuk percaya kepada Kristus di dalam kehidupan mereka. Apakah

pengaruh dan akibat-akibatnya? Dapatkah keselamatan itu hilang atau menjadi

batal? jika  saya berbuat sesuatu dosa, apakah itu berarti bahwa saya belum

selamat?

Ada  dua  pandangan yang  berbeda tentang  Jaminan  Kekal  orang  percaya. Kaum

Arminian berkata bahwa manusia telah menerima keselamatannya sebagai tindakan

20

dari kehendaknya dan ia bisa memandang keselamatannya sebagai karya kehendak

atau melalui dosa-dosa khusus. Kaum Calvinis berkata bahwa orang percaya yang

sejati  akan  tekun  pada  imannya.  Doktrin  ini  juga  disebut  ―Ketekunan  Orang-

orang  Kudus‖, yang bukan merupakan tema yang seharusnya, sebab  menekankan

ketekunan dari pada kemampuan Allah melindungi orang percaya. Tema yang lebih

baik yaitu  ―Ketekunan Tuhan‖.

2. Ketekunan Orang-Orang Kudus

Sekali diselamatkan, selamanya diselamatkan. Ini merupakan penjelasan yang paling

sederhana dan singkat mengenai ketekunan orang kudus.105 Ketekunan orang kudus

yaitu  pekerjaan Roh Kudus di dalam diri orang percaya, yang oleh anugerah Allah

bekerja di dalam hati orang percaya sejak awal dan terus menerus bekerja sampai

proses keselamatan selesai dengan sempurna.106 Dengan demikian, seseorang yang

telah mendapatkan anugerah keselamatan tidak akan pernah kehilangan

keselamatannya. Sebab Roh Kuduslah yang bekerja sejak awalnya, dan terus

menerus bekerja memelihara hatinya hingga keselamatannya sempurna.

Pengajaran      mengenai     kenyataan      ―sekali     diselamatkan,     tetap

diselamatkan‖  merupakan salah satu pengajaran Alkitab yang paling agung.

Pengajaran ini memberi sukacita sebab  kita mengetahui bahwa kita diselamatkan

untuk selama- lamanya.

Namun doktrin ketekunan orang kudus jangan disalah mengerti bahwa setiap orang

yang mengaku beriman di dalam Kristus dan menerima-Nya sebagai orang percaya

di dalam persekutuan orang kudus, dijamin di dalam kekekalan mendapatkan

jaminan keselamatan yang kekal. Sebab Alkitab sendiri telah memberikan

peringatan   akan   bahaya   kemurtadan.   ―Sebab   mereka   yang pernah   diterangi

hatinya, yang pernah mengecap karunia sorgawi, dan yang pernah mendapat bagian

dalam Roh Kudus, dan yang mengecap firman yang baik dari Allah dan karunia-

karunia dunia yang akan datang, namun yang murtad lagi, tidak mungkin dibaharui

sekali lagi sedemikian, hingga mereka bertobat, sebab mereka menyalibkan lagi

Anak Allah  bagi  diri  mereka  dan menghina-Nya di  muka  umum.‖  (Ibrani  6:4-6)

Mereka dapat dipersamakan seperti perumpamaan benih yang jatuh di tanah yang

berbatu- batu, yaitu orang yang menerima firman dengan sukacita dan masih terus

bersukacita untuk waktu tertentu. Namun sesungguhnya imannya tidak pernah

berakar di dalam Kristus. Imannya hanya sampai pada taraf persetujuan pemikiran.

Ia setuju pada fakta bahwa Yesus yaitu  Tuhan dan Juruselamat, namun imannya

tidak sampai bersandar sepenuhnya kepada Kristus.

Doktrin ini tidak mengatakan bahwa orang percaya tidak akan pernah murtad atau

berdosa. Namun maksudnya, yaitu  bahwa saat  seseorang percaya kepada Kristus

secara asali  sebagai Juruselamatnya dari dosa, ia sepenuhnya dijamin oleh Allah

oleh kekuatan pemeliharaan-Nya.

Dasar Jaminan Kekal keselamatan ini tidak terletak pada manusia, melainkan pada

Allah. Jaminan orang percaya didasarkan pada karya Bapa, Anak, dan Roh Kudus.

Karya Jaminan Bapa -  Orang-orang percaya  terjamin sebab   Bapa telah  memilih

mereka kepada keselamatan dari kekekalan masa lalu (Efs. 1:4). Bapa menetapkan

sejak semula orang-orang percaya untuk memiliki status ke-anak-an dalam Kristus

(Efs. 1:5). Bapa memiliki kuasa untuk menjaga orang percaya terjamin dalam

keselamatannya (Roma 8:28-30). Mereka yang dikenal Bapa, ditetapkan, dipanggil,

dan dibenarkan, yaitu  mereka yang sama yang Ia muliakan di masa depan. Tidak

satu pun hilang dalam proses ini.  Kasih Bapa bagi orang percaya juga menjamin

keamanan mereka (Roma 5:7-10).

20

Karya Jaminan Anak - Anak telah menebus orang percaya (Efs. 1:7), memindahkan

murka Allah dari orang percaya (Roma 3:25), membenarkan orang percaya (Roma

5:1),  memberikan pengampunan (Kol. 2:13),  dan menguduskan orang percaya (1

Kor. 1:2). Selanjutnya,  Kristus berdoa bagi orang percaya untuk tinggal bersama-

Nya (Yoh. 17:24); Ia. terus menjadi Pengantara mereka di sebelah kanan Bapa (1

Yoh. 2:1); dan Ia terus menaikkan doa syafaat sebagai Imam Besar orang percaya

(Ibr. 7:25). Jika seorang percaya dapat hilang itu berarti Kristus tidak efektif dalam.

karya-Nya sebagai Pengantara orang percaya.

Karya Jaminan Roh Kudus - Roh Kudus meregenerasi orang percaya, memberinya

kehidupan (Titus 3:5); Roh Kudus tinggal di dalam hati orang percaya selamanya

(Yoh. 14:17); Ia telah memeteraikan orang percaya pada hari penebusan (Efs. 4:30),

meterai  sebagai pembayaran awal, memberikan jaminan warisan masa depan kita;

orang  percaya  dibaptis ke  dalam.  kesatuan  dengan  Kristus  dan ke  dalam Tubuh

Kristus (1 Kor. 12:13).

Bagi orang percaya kehilangan keselamatan menuntut suatu pembalikan dan

pembatalan semua karya Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Hal kunci dalam pembahasan

jaminan orang percaya berkaitan dengan hal siapa yang menyelamatkan. Jika

seseorang bertanggung jawab untuk menjamin keselamatannya, maka ia bisa

terhilang;  jika  Allah  menjamin  keselamatan  orang  percaya,  maka orang itu  akan

selamanya terjamin.

Jaminan kekal orang percaya oleh anugerah Allah yaitu  rencana keselamatan Allah

yang lengkap dan penuh kemuliaan.

20

XIII. EKLESIOLOGI : Pengajaran Tentang Gereja

Gereja yaitu  suatu organisasi yang unik di dunia ini. Tidak ada satu organisasi pun di

dunia ini yang dapat dipersamakan dengan gereja.  Allah mengasihi gereja-Nya, dan bagi

gereja-Nya Dia melakukan banyak perkara sebagai bukti kasih dan perhatian-Nya.

Keunikan gereja  ini   disebabkan sebab   bentuk,  sifat  dan  tujuan gereja  yang sangat

berbeda dari organisasi lain yang pernah ada. Pada saat ini Allah berkenan kepada gereja

sebagai organisasi yang dijaga, dihidupkan dan diberkati oleh Tuhan. Dalam istilah teologi

pengajaran ini disebut Eklesiologi.

A. Arti Gereja

Kata ‗gereja‘ berhubungan dengan sebuah kelompok perhimpunan. Kata ini merupakan

suatu istilah teknis yang berhubungan dengan kata Yunani ‗ekklesia‘ dan kata Ibrani

‗qahal‘. Baik ‗qahal‘ maupun ‗ekklesia‘ kedua-duanya berarti suatu per- kumpulan atau

perhimpunan. Akan namun  kedua kata ini  tidak secara langsung mengacu kepada

gereja yang rohani, sebab  istilah perkumpulan itu dapat juga berupa perkumpulan politik,

atau perkumpulan lain yang bukan keagamaan. Dalam PL, kata qahal menunjuk kepada:

1. Perkumpulan, sejumlah orang yang berhimpun (Ul. 9:10, 10:4, 18:16).

2. Jemaah Israel (Kel. 12:3).

3. Jemaah (Mzm. 22:23).

4. Umat Israel (Yer. 16:14-16).

Dalam PB, ekklesia dimengerti sebagai berikut:

1. Sidang jemaah orang-orang Israel (Kis. 7:38; Ibr. 2:12).

2. Kumpulan orang-orang kafir (Kis. 19:32, 39, 41).

3. Sidang jemaat lokal (1Kor. 1:2).

4. Tubuh Kristus (1Kor. 12:28; Kol. 1:10, 24).

pemakaian  kata Yunani ‗ekklesia‘ dalam Perjanjian Baru, lebih kaya makna bila

dibandingkan dengan makna dasarnya yang sekular. Akan namun  kata yang digunakan dalam

Perjanjian Baru itu masih berkaitan erat dengan arti perhimpunan dan bukan dengan arti

teologis seperti yang diperkirakan (yang berdasar  pemecahan kata ini  menjadi dua

bagian,  yaitu ‗ek‘: keluar dan ‗kaleo‘: memanggil)  sebagai orang-orang ‗yang dipanggil

keluar‘. Gereja yaitu  persekutuan orang-orang yang dipanggil keluar dari kehidupan yang

gelap  dan  masuk  ke  dalam ―terang-Nya  yang ajaib‖  (1Ptr.  2:9).  Gereja  mula-mula

tidaklah menunjuk kepada gedung tempat ibadah, suatu organisasi, atau suatu aliran gereja,

melainkan kepada persekutuan orang yang percaya Yesus yaitu  Tuhan.

Selain berhubungan dengan kata ekklesia, istilah gereja (Inggris: church; Jerman:

kirche; Belanda: kerk; Portugis: igreya) berasal dari bahasa Yunani: kuriakos yang berarti

―milik Tuhan‖.  Kata  ini   hanya  digunakan  dua  kali dalam Perjanjian  Baru, yaitu

pada 1 Korintus 11:20 dan Wahyu 1:10. Istilah ini dipakai oleh orang-orang Kristen Yunani

untuk menunjuk pada tempat ibadah, atau tempat yang dikhususkan bagi Tuhan. Kata itu

kemudian mulai biasa digunakan untuk menunjukkan hal-hal lainnya seperti  tempat  atau

orang-orang atau denominasi atau tanah air yang bertalian dengan kelompok orang yang

menjadi milik Tuhan. Pada masa sekarang, istilah gereja umumnya mengacu pada:

1. Gereja lokal, yaitu perhimpunan orang percaya di suatu tempat;

2. Gereja universal;

3. Tempat ibadah orang Kristen atau ―rumah Tuhan‖;

4. Suatu badan, denominasi, atau organisasi Kristen yang memiliki  doktrin, organisasi

dan sejarah yang sama.

Secara teknis gereja didefinisikan sebagai perhimpunan orang-orang yang dipanggil oleh 

Allah keluar dari dosa dan masuk ke dalam wilayah anugerah.

20

B. Dasar Gereja

Gereja tidak sama dengan Israel. Gereja belum dimulai pada masa Per- janjian Lama,

Gereja baru dimulai pada masa Perjanjian Baru. Gereja dimulai dan ditetapkan pada Hari

Pentakosta, hal ini dapat dibuktikan:

1. Tuhan Yesus berkata: ―Aku akan mendirikan jemaat-Ku‖ (Mat. 16:18). Kata ‗Aku

akan‘ berarti sesuatu yang belum ada dan akan dilakukan oleh Tuhan Yesus. Dia akan

mendirikan Jemaat-Nya pada saat tertentu. Tuhan tidak mengatakan bahwa Ia akan terus

menambahkan pada sesuatu yang sudah ada, namun bahwa Ia akan melakukan sesuatu

yang belum pernah dimulai.

2. Gereja haruslah memiliki kepala. Kepala Gereja yaitu  Kristus. Gereja baru dapat

memiliki  Kepala yang berfungsi setelah kebangkitan Kristus. sebab  itu  gereja  tidak

mungkin ada sebelum Ia bangkit dari antara orang mati.

3. Gereja baru dapat sungguh-sungguh beroperasi  dengan berfungsinya karunia- karunia

rohani setelah kenaikan Kristus ke surga. Karunia diberikan kepada orang percaya mulai

Hari Pentakosta, yaitu pada saat pencurahan Roh Kudus kepada semua orang percaya

(Ef. 4:7-12).

4. Sifat rahasia dari satu tubuh belum dikenal dalam masa Perjanjian Lama (Ef. 3:5-6; Kol.

1:26).  Dalam bahasa  Yunani  digunakan  kata  ‗mysterion‘,  yang berarti  sesuatu  yang

tersembunyi atau rahasia. Rahasianya yaitu  orang-orang bukan Yahudi akan menjadi

teman pewaris kasih karunia, sesama anggota dari satu tubuh, sesama penerima janji di

dalam Kristus yang diberitakan oleh Injil.

Gereja Kristen mulai terbentuk pada hari Pentakosta, saat  Roh Kudus turun ke atas

120 orang percaya di kamar loteng Yerusalem (Kis. 2:1-4). Pada peristiwa itu setelah Petrus

berkhotbah, ―Orang-orang  yang menerima  perkataan itu memberi diri dibaptis  dan pada

hari  itu  jumlah  mereka  bertambah  kira-kira  tiga  ribu  jiwa.  Mereka  bertekun  dalam

pengajaran rasul-rasul dan dalampersekutuan. Dan mereka berkumpul untuk memecahkan

roti dan berdoa… dan tiap-tiap hari Tuhan menambahkan jumlah mereka dengan orang yang

diselamatkan‖ (Kis. 2:41-42, 47).

Pada  mulanya  jemaat terdiri  dari  orang-orang  Yahudi  yang  mengaku  Yesus  Kristus

sebagai Mesias. namun  kemudian terbentuk jemaat yang anggotanya merupakan campuran

antara orang Yahudi dan orang bukan Yahudi (Kis. 13:11). Di kota Anthiokia-lah orang-

orang   percaya   ini    untuk   pertama   lalinya   disebut   Kristen   atau   ―orang-orang

Kristus‖ (Kis. 11:26).

Yesus Kristus yaitu  pendiri, batu penjuru dan dasar gereja (Mat. 16:16; 1Kor. 3:10-11;

Ef.  2:20). Gereja dibangun bukan atas  dasar  ajaran manusia,  namun   Kristus  (1Ptr.  2:6).

Tanpa Kristus sunguh-sungguh dimuliakan sebagai Anak Allah, maka gereja berubah

menjadi hanya perkumpulan manusia.

Dalam  Mat.  16:18,  Yesus  berkata,  ―Engkau  yaitu   Petrus  dan  di  atas  batu karang

ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.‖ Apa yang

dimaksud dengan batu karang yang menjadi dasar gereja? Ada tiga pendapat:

1. Petrus (Diyakini oleh Gereja Katolik Roma)

Namun Yesus memakai  kata Yunani petra dalam bentuk feminin, yang artinya

batu karang yang amat besar dan teguh; bukan kata petros (Petrus artinya: batu) dalam

bentuk maskulin.

2. Kristus

3. Pengakuan tentang Kristus sebagai Anak Allah (Mat. 16:16).

Sebaiknya kita memandang bahwa Kristus yaitu  dasar/ fondasi gereja, namun Ia telah

memilih  para  rasul  (termasuk Petrus)  dan nabi  untuk memberikan pengajaran  dasar

tentang berbagai hubungan dalam gereja. Dibangun atas dasar Kristus yaitu jika 

20

gereja sepenuhnya berdiri atas dasar firman Tuhan, yaitu 66 kitab dalam PL dan PB

(Gal. 1:8-9, 12; 2Tim. 3:15-16; Why. 22:6, 18-19).

C. Wujud Gereja

Gereja dapat dipahami dengan dua macam arti: arti universal dan arti lokal.

Pemahaman ini juga berkaitan dengan dua wujud gereja.

1. Gereja Universal

Dalam arti universal gereja terdiri  atas semua orang, yang pada zaman ini, telah

dilahirkan kembali oleh Roh Allah dan oleh Roh yang sama itu telah dibaptiskan

menjadi anggota tubuh Kristus (1Kor. 12:13; 1Ptr. 1:3, 22-25). Jemaat ini bersifat

universal dalam arti bahwa anggotanya yaitu  semua orang percaya, yang benar di

segala  tempat,  baik  mereka  yang sudah meninggal  maupun mereka  yang masih

hidup (Mat. 16:18; Ef. 5:24-25; Ibr. 12:23). Ini yaitu  jemaat yang universal yang

tidak kelihatan (invisible church), disebut gereja yang tidak kelihatan sebab  tidak

nampak jelas berkelompok di suatu tempat tertentu pada waktu yang tertentu pula.

Dalam Matius 16:18 jelas terlihat bahwa istilah gereja dipakai dalam arti universal

sebab  Kristus  berbicara  mengenai  membangun  jemaat  (gereja)-Nya  dan  bukan

membangun jemaat-jemaat atau gereja-gereja. Pemahaman tentang gereja yang

bersifat  universal  ini  dapat  dilihat  dari  gambaran-gambaran  yang  dipakai  untuk

menerangkan gereja tesebut. Gereja disebut sebagai bangunan Allah (1Kor. 3:9),

Kristus merupakan batu penjuru bangunan itu (1Kor. 3:11) dan oleh RohNya

Kristus tinggal di dalamnya (1Kor. 3:16; 6:19). Menurut gambaran ini gereja

dianggap sebagai suatu organisme, yang memiliki hubungan yang sangat penting

dengan Kristus; gereja berada di bawah penguasaan Kristus, serta merupakan suatu

kesatuan, sekalipun terdiri atas orang-orang Yahudi dan orang-orang bukan Yahudi

dan memiliki aneka ragam karunia diantara anggota-anggotanya dan dalam teori

bekerja sama dalam melaksanakan suatu tugas bersama. yaitu  sangat penting

bagi kita untuk megetahui adanya suatu gereja sedunia (universal) yang tidak

kelihatan, yakni:

a. Supaya kita mengetahui adanya hubungan kita dengan orang-orang percaya

dari  segala   zaman   ―yang   telah   berlari  sebelum   kita,   yang   menunggu

kita menyelesaikan  perlombaan‖  (Ibr.  12:1-21;  11:39-40).  Mereka  yaitu 

―gereja yang  menang‖,  sedangkan  kita   yang  masih  ada  di   sini   yaitu 

―gereja  yang berjuang/ militan‖.

b. Supaya kita mengetahui bahwa semua orang percaya yaitu  benar-benar satu

dalam Kristus; jikalau satu menderita semua menderita, namun  jika satu

bersukacita semua bersukacita (Kis. 11:27-30; 1Kor. 12:26).

c. Supaya kita mengetahui bahwa Allah mengerjakan pekerjaan yang besar

bukan hanya pada satu gereja lokal, denominasi, sekte, namun  meliputi setiap

bangsa, suku, kaum, bahasa dan generasi (2Ptr. 3:9; Why. 5:9-10; 14:6-7).

2. Gereja Lokal

Dalam arti yang lokal istilah gereja dipakai untuk menunjuk kepada sekelompok

orang-orang percaya yang terkumpul di suatu tempat. Dengan demikian kita

membaca dalam Alkitab tentang adanya gereja di Yerusalem (Kis. 8:1; 11:22), di

Efesus (Kis. 20:17), di Kengkrea (Rm. 16:1), di Korintus (1Kor. 1:2) dan lain-lain.

Gereja lokal yaitu  gereja yang kelihatan (visible church), yaitu kelompok yang

terdiri atas orang-orang percaya di satu lokasi atau tempat yang sama. Gereja lokal

(setempat) dapat didefinisikan sebagai kelompok yang lebih kecil yang terdiri atas

orang-orang yang sudah dilahirkan kembali, yang berkumpul bersama-sama sesuai

20

dengan hukum Kristus. Gereja lokal yaitu  satu unit tersendiri yang komplit, namun 

memiliki  persekutuan dengan gereja lokal lainnya (Kis. 13:1-5; 1Kor. 1:2).

Gereja lokal itu merupakan replika dari gereja universal. Ciri Gereja lokal antara

lain: memiliki  pengakuan iman yang sama, tunduk pada otoritas Tubuh Kristus,

melakukan  sakramen  Baptisan  Air dan Perjamuan  Kudus,  memiliki  karunia-

karunia pelayanan dari Yesus Kristus, memiliki kehidupan rohani yang disiplin dan

tertib.  yaitu  sangat  penting bagi  kita  untuk mengetahui  tentang adanya gereja

lokal yang nyata sebab :

a. Di dalam gereja lokal kita dapat mempraktikkan ikatan perjanjian kita, dengan 

cara menjadi anggota jemaat yang bertanggung jawab (Mat. 18:15-20).

b. Di dalam gereja lokal fungsi pelayanan kita ketahui dan dipraktikkan (Rm.

12:3- 8; 1Kor. 12:18-28).

c. Di dalam gereja lokal kita mendapat perlindungan rohani dari ajaran-ajaran 

yang meyesatkan (Kis. 20:28-30; Ef. 4:14).

D. Beda Gereja Dengan Kerajaan Allah

Gereja yaitu  kelompok yang memiliki keunikan tertentu yang membedakannya dengan

yang lain. Pertama, walaupun memiliki hubungan erat dengan kerajaan Allah, gereja

memiliki otoritas mutlak di muka bumi kini. Kerajaan yaitu  suatu komunitas yang

terorganisasi secara politis. Dalam kerajaan pasti ada penguasa, yang diperintah, dan

wilayah kerajaan.

Gagasan  tentang  kerajaan  Allah  sebetulnya  sudah  ada  sejak  Perjanjian  Lama.  Allah

yaitu  Allah yang berdaulat atas segala sesuatu (Kel. 15:8; Mzm. 93). namun  pemerintahan

Allah ditolak dan tidak diindahkan oleh dunia. Bahkan bangsa Israel pun menolak,

meskipun  Allah  telah  memilih  mereka  sebagai  ―wilayah   kekuasaan-   Nya‖  (Mzm.

114:2),  kehendak-Nya ditentang. namun  orang-orang yang menerima dan mengikuti

Kristus, mereka  masuk  Kerajaan  Allah  (Luk.  17:20-21;  18:28-30),  namun  klimaks

penggenapan Kerajaan Allah ialah pada akhir sejarah (Luk. 21; 22:29-30). Jadi Kerajaan

Allah sudah tiba, namun masih akan datang. Meskipun salah menyamakan gereja dengan

Kerajaan Allah,  namun  gereja  menjadi  alat  pemerintahan  Allah  kalau  benar-benar

menyerahkan  diri kepada Kristus dengan mematuhi firman-Nya. Ada beberapa macam

konsep tentang kerajaan dalam Alkitab:

1. Kerajaan Universal (Kerajaan dari kekal sampai kekal)

Allah yaitu  penguasa atas seluruh dunia (1Taw. 29:11; Mzm. 145:13), Ia berkuasa

atas segala sesuatu (termasuk atas malaikat-malaikat); dan kekuasaan Allah ada dalam

segala waktu dan kekekalan. Gereja termasuk dalam kerajaan ini.

2. Kerajaan Mesianik (Kerajaan Daud)

Menurut  penganut  paham premilenium,  kerajaan  ini  akan  berlangsung selama 1000

tahun, saat  Kristus (Mesias) datang kembali  untuk menjadi  raja  atas seluruh bumi

sesuai dengan perjanjian Allah kepada Daud (2Sam. 7:12-16). Gereja akan diangkat

terlebih dahulu sebelum nantinya akan memerintah  bersama Kristus dalam Kerajaan

1000 tahun.

3. Kerajaan Misteri

Inilah yang dimaksud Yesus sebagai rahasia Kerajaan Allah, menunjuk kepada zaman

ini (Mat. 13:11, 39-40). Penguasanya ialah Allah. Yang diperintah ialah seluruh

manusia di bumi baik yang percaya Yesus maupun tidak.  Waktunya yaitu  masa di

antara  kedatangan Kristus yang  pertama dan yang  kedua  kalinya.  Gereja  termasuk

dalam kerajaan ini. Waktunya dimulai saat  Yesus Kristus ditolak.

20

4. Kerajaan Rohani

Penguasanya ialah Kristus. Yang diperintah yaitu  orang percaya yang telah lahir baru.

Kerajaan rohani sama dengan gereja atau tubuh Kristus (Kol. 1:13). Waktunya dimulai

sejak Pentakosta sampai pengangkatan gereja.

E. Beda Gereja Dengan Israel

Kita haruslah membedakan antara Israel dan Gereja,  walaupun kedua- duanya yaitu 

umat Allah akan namun  secara prinsip keduanya menunjukkan perbedaan. Dalam Perjanjian

Baru, dengan jelas dibedakan antara gereja dan Israel (1Kor. 10:32), juga bangsa Israel dan

bukan  Israel  dibedakan  setelah  gereja  ditetapkan  (Kis.  3:12;  4:8,  10).  Gereja  bukanlah

kelanjutan ataupun pembangunan kembali  Israel.  Memang Kitab Perjanjian Lama sudah

menyatakan bahwa orang-orang bukan Israel akan ikut menerima bagian dalam rencana

karya penebusan Allah (Kej. 12:3; Yes. 42:6-7), namun  Perjanjian Baru menyatakan bahwa

akan ada suatu penggabungan di dalam satu tubuh, di mana orang-orang Yahudi dan orang-

orang bukan Yahudi  akan bersama-sama menjadi  teman  pewaris  kasih karunia,  sesama

anggota dari satu tubuh. Sesama penerima janji di dalam Kristus yang diberitakan oleh Injil

(Ef. 2:15-16).

Umat pilihan Allah, yakni bangsa Israel gagal dalam ujian ‗siapa Aku‘ (Mat. 12:22-

37), malah mereka menentang Yesus dengan mengatakan bahwa Ia menyembuhkan orang

dengan  kuasa  Belzebul  (penghulu  setan).  Kemudian  Yesus  Kristus  berbicara  mengenai

perumpamaan-perumpamaan, tentang rahasia-rahasia Kerajaan Allah (Mat. 13 dst). Gereja

lulus dalam ujian tentang ‗siapa Aku‘; Gereja (dalam hal ini diwakili oleh Petrus)

mengakui bahwa Yesus yaitu  Mesias, Anak Allah yang hidup (Mat. 16:13-20).

Gereja bukan merupakan kelanjutan dari Israel, sekalipun ada hubungan di antara

orang-orang yang diselamatkan sepanjang zaman (Yoh. 10:16; Rm. 11:16, 24; 1Ptr. 2:3),

dan ada sekelompok orang di dalam sejarah sepanjang zaman yang merupakan umat Allah.

Kekristenan bukanlah merupakan anggur baru yang dituangkan ke dalam kantong-kantong

anggur yang sudah tua (Mat. 9:17). Gereja bukanlah kelanjutan dari sistem kuno Israel. Hal

ini dapat dibuktikan: Israel dan Gereja dalam Alkitab tidak merupakan istilah yang searti.

Paulus  membedakan antara  orang Yahudi,  orang Yunani  dan jemaat  atau gereja  (1Kor.

10:32). Selanjutnya, Paulus berbicara tentang gereja sebagai manusia baru (Ef. 2:15), yang

terdiri atas orang-orang Yahudi dan orang-orang bukan Yahudi yang percaya. Pada

akhirnya Allah masih menyediakan masa depan bagi Israel. Paulus dalam Roma 11

membentangkan urutan tindakan Allah bagi Israel di masa depan.

F. Ciri Gereja Yang Sejati

Diakui bahwa tidak ada organisasi gereja yang sempurna di dunia ini, akan namun  sifat-

sifat gereja sejati di bawah ini merupakan ciri mendasar bagi suatu gereja yang sejati.

1. Esa (Unity)

Keesaan gereja tercipta sebab  didasarkan pada satu Allah atau keesaan Allah (Ef.

4:1-6). Semua orang yang benar-benar termasuk dalam gereja merupakan satu umat

dan sebab  itu gereja yang benar nyata dari kesatuannya. Namun keesaan ini tidak

perlu berarti keseragaman total. Terdapat keseragaman di dalam hal keyakinan-

keyakinan teologi  yang mendasar  (1Kor.  15:11;  Yud.  1:3),  namun keyakinan itu

memberi penekanan berbeda-beda menurut masalah yang dihadapi para Rasul (Rm.

3:20; Yak. 2:24; Flp. 2:5-7).

Ada pula perbedaan pandangan mengenai hal-hal yang kurang prinsip (Rm. 14:1-

15:13),  sebab   keesaan  tidak  perlu  berarti  keragaman  secara  total.  Dalam gereja

Perjanjian Baru terdapat berbagai macam pelayanan (1Kor. 12:4-6). Ada juga

21

keanekaragaman  dalam bentuk  ibadah. Bentuk  ibadah  di  Korintus (1Kor.  14:26)

mungkin sekali tidak biasa di gereja-gereja Palestina yang memiliki  bentuk

ibadah yang berkembang menurut pola dari sinagoge. Ada juga variasi dalam bentuk

kepengurusan gereja.

Kesatuan sejati dalam Roh Kudus dari semua orang yang lahir kembali yaitu 

kenyataan, sekalipun ada perbedaan denominasi yang lahiriah. Perjanjian Baru

menunjukkan ajaran mengenai kesatuan kepada kelompok-kelompok Kristen

tertentu dengan dampak langsung terhadap hubungan nyata mereka (Ef. 2:15; 4:4;

Kol. 3:15).