Tampilkan postingan dengan label teologi sistematik 18. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label teologi sistematik 18. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Juli 2026

teologi sistematik 18

 


tkan (Lukas 23:34; Kisah 7:60), orang-orang yang 

baru bertobat (II Tesalonika 1:11), semua orang kudus (Efesus 6:18; 

I Timotius 2:1; Yakobus 5:16), orang-orang yang telah mundur dari 

imannya (I Yohanes 5:16), para pekerja gereja (Efesus 6:19, 

20; I Tesalonika 5:25), serta orang-orang yang memusuhi kita 

(Matius 5:44).

466 Soteriologi

B. HUBUNGAN ANTARA DOA DENGAN PEMELIHARAAN 

ALLAH

Kita menegaskan bahwa doa mengubah keadaan, namun bagaimana 

pernyataan semacam itu dapat diselaraskan dengan rencana dan 

tujuan Allah yang berdaulat. Adakah doa mengubah pikiran Allah, 

dan bila demikian, tidakkah itu berarti bahwa ’rencana yang dibuat 

Allah bergantung pada permintaan manusia? Bagaimana Allah da­

pat menjawab doa terus-menerus mengingat ketatnya hukum-hukum 

alam? Bila dipandang dari segi negatif, maka beberapa hal perlu 

diperhatikan. (1) Dampak yang tidak diduga terhadap seseorang 

yang berdoa bukanlah satu-satunya akibat doa. Beberapa orang 

beranggapan bahwa doa hanya mempunyai nilai subjektif: sese­

orang mempunyai persoalan, dan saat  ia mengucapkan persoalan 

itu kepada Tuhan, ia merasa lebih tenang. Namun doa mempunyai 

nilai subjektif ini hanya bila orang yang berdoa percaya bahwa 

Allah mendengar dan akan menjawab doanya. (2) Kita juga tidak 

boleh beranggapan bahwa doa menangguhkan berlakunya hukum- 

hukum alam. Allah tidak akan menangguhkan bekerjanya hukum- 

hukum alam bila Ia mengabulkan doa sama halnya dengan sebuah 

pesawat terbang yang naik ke angkasa tidak menangguhkan beker­

janya hukum-hukum alam. Dan selanjutnya, (3) jangan berpikir 

bahwa doa langsung mempengaruhi alam seakan-akan doa merupa­

kan suatu kekuatan fisik. Doa mempengaruhi Allah untuk bertindak 

terhadap alam; kalau tidak demikian tidak akan terjadi perbedaan 

dalam jawaban-jawaban terhadap doa. Tak satu pun dari pandang­

an-pandangan yang negatif ini menjelaskan pemahaman yang 

benar tentang hubungan antara doa dengan jawaban terhadap doa 

ini .

Jawaban yang positif terhadap soal ini meliput pandangan yang 

benar tentang pengetahuan dan penentuan Allah dari semula. 

Marilah kita ingat kembali bahwa Allah telah menetapkan batas- 

batas umum tertentu dan alam semesta ciptaan-Nya itu bekerja da­

lam lingkup batas-batas ini . Ia telah memberi kebebasan ke­

pada manusia untuk bertindak dalam batas-batas ini. Misalnya, 

orang percaya memiliki kuasa Roh dalam hidupnya sehingga ia da­

pat bekerja sama secara luas ataupun sedikit dengan Roh dalam 

melaksanakan karya Allah. Allah sudah tahu dari semula apa yang 

Sarana-Sarana Kasih Karunia 467

akan dilakukan oleh setiap orang mengenai doa dan pengetahuan 

itu telah termasuk penentuan-Nya dari semula. Jadi, saat  sese­

orang berdoa, ia hanya melaksanakan apa yang menurut pengeta­

huan Allah akan dilakukannya dan apa yang telah ditetapkan oleh 

Allah untuk dilakukan oleh orang itu. Bila manusia tidak bekerja 

sama dengan Allah di dalam batas-batas kehendak-Nya yang sudah 

ditentukan dari semula, maka Allah bekerja menurut kedaulatan- 

Nya terlepas dari doa. Akan namun , dengan mengambil tindakan 

semacam itu, Allah tidak mengesampingkan hukum alam yang 

mana pun juga, namun  malah menetralkan hukum alam itu dengan 

hukum yang lebih tinggi dan lebih kuat. Kehendak-Nya merupakan 

hukum alam, dan bila kehendak-Nya berubah dalam suatu kejadian 

tertentu maka hukum alam yang tersangkut itu dikalahkan oleh 

hukum-Nya yaitu kehendak-Nya.

C. METODE DAN CARA BERDOA

Jelas bahwa tidak semua yang disebut doa oleh manusia itu yaitu  

doa yang sesungguhnya. Bahkan para murid menyadari kekurangan 

mereka dalam hal itu sehingga mereka meminta kepada Yesus untuk 

mengajar mereka berdoa (Lukas 11:1). Tuhan Yesus memenuhi per­

mintaan mereka dan dengan demikian menunjukkan bahwa 

keyakinan para murid itu benar. Paulus mengungkap perasaan yang 

sama saat  menyatakan bahwa "kita tidak tahu, bagaimana sebe­

narnya harus berdoa," dan kemudian melanjutkan dengan menga­

takan "namun  Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan 

keluhan-keluhan yang tidak terucapkan" (Roma 8:26). Bagaimana­

kah metode dan cara berdoa yang alkitabiah?

J. Kepada siapa doa itu ditujukan. Alkitab mengajarkan bahwa 

kita harus berdoa kepada Bapa (Nehemia 4:9; Yohanes 16:23; Kisah 

12:5; I Tesalonika 5:23), dan kepada Anak (Kisah 7:59; I Korintus 

1:2; II Korintus 12:8, 9; II Timotius 2:22), namun  tidak ada petunjuk 

yang jelas dalam Alkitab yang menyuruh kita berdoa kepada Roh 

Kudus. Sekalipun tidak ada ayat yang menyuruh kita berdoa kepada 

Roh Kudus, namun juga tidak ada larangan. Karena Roh Kudus 

juga Allah, maka Ia dapat disembah juga sebagai Allah, dan doa 

yaitu  salah satu bentuk penyembahan. Alkitab berbicara mengenai 

468 Soteriologi

"persekutuan Roh Kudus" (II Korintus 13:13); persekutuan yang 

disebutkan di sini dapat berarti doa. Namun peranan Roh Kudus 

yang terutama dalam doa kita ialah berdoa di dalam kita (Roma 

8:26; Yudas 20) dan bukan menerima doa kita. Nampaknya cara 

yang normal untuk berdoa ialah berdoa kepada Bapa, berdasarkan 

jasa-jasa Anak-Nya di dalam atau melalui Roh Kudus.

2. Sikap tubuh di dalam doa. Alkitab tidak memberi tahu sikap 

tubuh yang tertentu, namun  menggambarkan dan mengajarkan ba­

nyak sikap. Ada yang berdiri (Markus 11:25; Lukas 18:13; Yohanes 

17:1), berlutut (I Raja-Raja 8:54; Lukas 22:41; Kisah 20:36; Efesus 

3:14), sujud di lantai (Matius 26:39), berbaring di tempat tidur 

(Mazmur 63:7), sambil berjalan di atas air (Matius 14:30), sambil 

duduk (I Raja-Raja 18:42), dan tergantung di salib (Lukas 23:43). 

Semua ini menunjukkan bahwa yang penting bukan sikap tubuh 

saat  berdoa, melainkan sikap hati. Akan namun , ada  petunjuk 

yang lebih banyak bahwa orang yang berdoa dalam Alkitab pada 

umumnya berdiri atau berlutut dan bukan memperlihatkan sikap 

tubuh yang lain saat  berdoa.

3. Saat berdoa. Alkitab mengajarkan bahwa kita harus senantiasa 

berdoa (Lukas 18:1; Efesus 6:18), namun Alkitab juga mengajarkan 

bahwa kita harus menyediakan waktu-waktu tertentu untuk berdoa 

(Mazmur 55:18; Daniel 6:11; Kisah 3:1). Sekalipun semua ini me­

rupakan contoh-contoh dari kebiasaan orang lain dan bukan perin­

tah, namun setidak-tidaknya ayat-ayat ini  menunjukkan bahwa 

keteraturan dalam berdoa sangatlah baik. Di samping itu, Alkitab 

mengajarkan kita untuk berdoa sebelum makan (Matius 14:19; 

Kisah 27:35; I Timotius 4:4, 5), dan Alkitab mengajarkan bahwa 

peristiwa khusus seharusnya mendorong kita untuk memanjatkan 

doa yang khusus pula (Lukas 6:12, 13; 22:39-46; Yohanes 6:15). 

Alkitab menasihati, "Sebab itu marilah kita dengan penuh kebe­

ranian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima 

rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan 

kita pada waktunya" (Ibrani 4:16). Demikianlah, Tuhan bersedia 

pada waktu apa pun siang atau malam untuk menerima doa anak- 

anak-Nya.

4. Tempat berdoa. Yang berhubungan dekat sekali dengan saat 

Sarana-Sarana Kasih Karunia 469

berdoa yaitu  tempat berdoa. Alkitab menganjurkan kita mencari 

tempat yang rahasia, kamar yang tertutup, terpisah dari semua hal 

yang mengganggu di sekitar kita (Daniel 6:10; Matius 6:6). Melalui 

teladan-Nya, Yesus mengajar kita untuk mencari tempat yang sunyi, 

yaitu di tempat yang sepi (Markus 1:35) atau di puncak bukit 

(Matius 14:23). Alkitab juga menganjurkan doa bersama, yaitu per­

sekutuan doa dengan orang-orang yang seiman dengan kita (Matius 

18:19, 20; Kisah 1:14; 12:5; 20:36). Ada juga contoh-contoh doa 

di hadapan orang yang belum percaya. Paulus dan Barnabas pernah 

berdoa di hadapan orang-orang hukuman lain yang ada di penjara 

bersama mereka (Kisah 16:25). Paulus pernah berdoa di depan para 

penumpang kapal pada pelayaran yang amat penting ke Roma 

(Kisah 27:35). Sesungguhnya tidak ada tempat di mana kita tidak 

boleh berdoa, karena Paulus mendorong kita untuk berdoa di mana- 

mana (I Timotius 2:8).

5. Kesopanan saat  berdoa. Pokok kesopanan dalam berdoa 

sering kali tidak diperhatikan, namun Yesus menyebutnya. Yesus 

mengajarkan bahwa orang-orang yang berdoa janganlah menam­

pilkan wajah yang susah atau muram bahkan saat  mereka ber­

puasa (Matius 6:16-18). Maksudnya, Yesus berkeberatan terhadap 

segala kepura-puraan. Demikian pula, Ia meminta kita jangan "ber­

tele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Me­

reka menyangka karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabul­

kan. Jadi, janganlah kamu seperti mereka" (Matius 6:7, 8). Keso­

panan juga menuntut sikap yang tertib dalam kebaktian jemaat. Pau­

lus menasihati, 'namun  segala sesuatu harus berlangsung dengan 

sopan dan teratur" (I Korintus 14:40). Nasihat ini berlaku bagi 

penggunaan bahasa roh (I Korintus 14:27), dan pasti juga berlaku 

untuk doa. Ketertiban dalam persekutuan doa yang tercatat dalam 

Kisah Para Rasul dinyatakan secara tak langsung (Kisah 1:24-26; 

4:24-31; 12:5, 12; 13:1-3).

6. Keadaan hati. Soal yang paling penting dalam cara berdoa 

ialah keadaan hati orang yang berdoa. "Jikalau kamu tinggal di 

dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu" (Yohanes 15:7) 

merupakah syarat yang mutlak diperlukan agar doa kita dijawab. 

Apa artinya ayat ini ? Tinggal di dalam Dia menyiratkan bahwa 

470 Soteriologi

kita bebas dari dosa yang disadari (Mazmur 66:18; Amsal 28:9; 

Yesaya 59:1, 2), kita tidak mementingkan diri dalam permohonan 

doa kita (Yakobus 4:2, 3), meminta sesuai dengan kehendak-Nya 

(I Yohanes 5:14), pengampunan bagi mereka yang telah bersalah 

kepada kita (Matius 6:12; Markus 11:25), meminta dalam nama 

Yesus (Yohanes 14:13, 14; 15:16; 16:23, 24), berdoa di dalam Roh 

(Efesus 6:18; Yudas 20), meminta dengan iman (Matius 21:22; 

Yakobus 1:6, 7), serta kesungguhan dan ketekunan dalam meman­

jatkan permohonan kita (Lukas 18:1-8; Kolose 4:12; Yakobus 5:16).

BAGIAN VII 

EKLESIOLOGI

(AJARAN TENTANG GEREJA)

Tidak ada bukti-bukti yang menunjukkan adanya kehidupan ber­

agama yang sudah teratur dalam kisah-kisah awal yang tercatat 

dalam Alkitab. Bentuk yang paling mendekati bentuk kehidupan 

beragama yang sudah teratur ialah keluarga. Sang ayah bertindak 

sebagai imam dan memimpin ibadah kepada Allah. Nampaknya hal 

inilah yang terjadi pada zaman Adam (Kejadian 4:24, 25), Nuh 

(Kejadian 6:18), Ayub (Ayub 1:5), Abraham (Kejadian 12:1-3), 

Ishak (Kejadian 26:2-5), dan Yakub (Kejadian 28:13-15).

Setelah suku-suku Israel diatur menjadi suatu bangsa di bawah 

pimpinan Musa, terjadilah perubahan dalam kehidupan beragama 

Israel. Kedua belas suku Israel ditata menjadi satu bangsa ber­

negara, yaitu umat Allah (Keluaran 19:6). Teokrasi ini meliputi 

seluruh kehidupan umat ini  di bidang politik, sosial, dan 

agama. Allah merupakan pimpinan tertinggi; para imam, raja, dan 

nabi hanya merupakan pelaksana kehendak Allah. Ikatan perseku­

tuan ini yaitu  sunat, hukum taurat, kemah suci, dan bait Allah 

sebagai tempat ibadah.

saat  Kristus datang dan ditolak oleh bangsa Israel, Allah me­

ngesampingkan Israel selama zaman ini dan membangun gereja Ye­

sus Kristus sebagai gantinya. Pasal-pasal yang berikut akan mem­

bahas pendirian, pengorganisasian, peraturan-peraturan, dan misi 

atau tugas gereja.

471


XXXV 

Definisi dan Pendirian Gereja

ada  banyak keterangan dalam Perjanjian Baru yang menun­

jukkan pentingnya ajaran tentang gereja. Sebagai contoh, Kristus 

mengasihi gereja dan menyerahkan diri-Nya untuk gereja (Efesus 

5:25); rencana utama Allah untuk masa kini ialah membangun 

gereja (Matius 16:18; Kisah 15:14); penganiayaan gereja dianggap 

oleh Paulus sebagai dosanya yang terbesar (I Korintus 15:9; Galatia 

1:13,23; I Timotius 1:13); dan Rasul Paulus telah menderita banyak 

hal demi gereja (Kolose 1:24). Sudahlah sewajarnya setelah mem­

bahas ajaran tentang keselamatan, sebuah studi tentang bentuk 

kehidupan terorganisasi yang direncanakan Allah bagi orang-orang 

yang diselamatkan-Nya menjadi pusat perhatian kita selanjutnya.

I. DEFINISI GEREJA

Sangat diperlukan suatu pemahaman yang jelas tentang konsep 

gereja dalam Perjanjian Baru. Dalam rangka itu, kita harus melihat 

dahulu apa yang tidak dianggap gereja oleh Perjanjian Baru untuk 

baru kemudian mempelajari apa yang dianggap gereja oleh Perjan­

jian Baru.

A. GEREJA BUKAN KELANJUTAN TATANAN LAMA

Sekalipun ada hubungan di antara orang-orang yang diselamatkan 

sepanjang zaman (Yohanes 10:16; Roma 11:16, 24; I Petrus 2:9), 

dan ada sekelompok orang di dalam sejarah sepanjang berbagai 

473

474 Eklesiologi

zaman yang merupakan umat Allah, kekristenan bukanlah 

merupakan anggur baru yang dituangkan ke dalam kantong-kantong 

anggur yang sudah tua. Lebih tepat kalau dikatakan bahwa kekris­

tenan merupakan anggur baru yang dituangkan ke dalam kantong 

anggur yang baru juga (Matius 9:17). Bahwa gereja bukan kelan­

jutan sistem yang sudah kuno dapat dilihat dari berbagai penjelasan. 

Pertama, Israel dan gereja dalam Alkitab tidak merupakan istilah 

yang searti. Paulus membedakan antara orang Yahudi, orang 

Yunani, dan jemaat atau gereja (I Korintus 10:32). Selanjutnya, 

Paulus berbicara tentang gereja sebagai manusia yang baru (Efesus 

2:15; band. Kolose 3:11), yang terdiri atas orang-orang Yahudi dan 

orang-orang bukan Yahudi yang percaya. Dan akhirnya, Allah 

masih menyediakan masa depan bagi Israel. Paulus, dalam Roma 

11, membentangkan urutan tindakan-tindakan Allah bagi Israel di 

masa depan. Israel merupakan ranting pohon zaitun yang sekarang 

telah dipatahkan sedangkan ranting zaitun yang liar telah 

dicangkokkan ke dalam batang zaitun itu. Sepanjang zaman ranting 

zaitun liar itu, gereja yaitu  alat Tuhan di bumi ini. Bahwa kerajaan 

yang dinantikan orang Israel tidak datang pada zaman Yesus Kristus 

terbukti dari pertanyaan para murid, "Tuhan, maukah Engkau pada 

masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?" (Kisah 1:6). Nasihat 

Yakobus dalam sidang di Yerusalem (Kisah 15:13-21) menyiratkan 

bahwa gereja mula-mula menganggap dirinya sebagai suatu 

kesatuan yang berbeda samasekali dan bukan kelanjutan dari Israel.

B. GEREJA BUKAN KELANJUTAN SINAGOGE

Memang diakui bahwa antara gereja dengan sinagoge ada  

banyak persamaan yang mencolok, namun  perbedaan antara 

keduanya juga tidak kalah mencolok. Yesus mengatakan, "Aku akan 

mendirikan jemaat (gereja)-Ku" (Matius 16:18). Pernyataan ini tidak 

mungkin merujuk kepada sinagoge karena sinagoge sudah ada pada 

waktu itu. saat  para rasul berkhotbah di dalam sinagoge, pesan 

yang mereka sampaikan itu bersifat penginjilan serta mengajak 

orang untuk bertobat dan percaya kepada Yesus Kristus. Menurut 

bukti-bukti yang ada  dalam Perjanjian Baru, sekelompok 

anggota sinagoge yang bertobat membentuk sebuah jemaat lokal 

yang terlepas dari sinagoge. Selanjutnya, saat  gereja mulai berdiri,

Definisi dan Pendirian Gereja 475

orang-orang beriman mula-mula berkumpul di kawasan bait Allah 

dan bukan di sinagoge.

C. GEREJA TIDAK BERBATASAN DENGAN INTERREGNUM 

(MASA PERALIHAN)

Interregnum bermula dan berakhir pada titik-titik sejarah yang ber­

beda dengan awal gereja dan keangkatannya untuk berjumpa de­

ngan Kristus saat  Ia datang di antara orang-orang. Interregnum 

mulai saat  Tuhan Yesus ditolak oleh umat-Nya sendiri, dan pada 

saat Ia mulai menyatakan maksud dan rencana Allah bagi masa 

yang akan datang. Ini terjadi sekitar saat Yesus mulai menyam­

paikan berbagai perumpamaan tentang rahasia-rahasia Kerajaan 

Allah (Matius 13). Masa interregnum akan berakhir dengan 

kedatangan Tuhan Yesus dalam kemuliaan untuk mendirikan kera- 

jaan-Nya di atas bumi ini (Wahyu 19), yaitu saat  lalang sudah 

dikumpulkan dan kemudian dibakar, dan anak-anak kerajaan yang 

sejati akan menikmati berkat-berkat Kerajaan Seribu Tahun (Matius 

13:24-30; 36-43). Akan namun , gereja mulai pada hari Pentakosta, 

yaitu beberapa waktu setelah masa interregnum sudah mulai, dan 

Keangkatan Gereja akan terjadi sebelum masa kesengsaraan besar 

dan pemerintahan Kristus dalam Kerajaan Seribu Tahun. Dengan 

demikian kami berkesimpulan bahwa sekalipun gereja merupakan 

bagian dari Kerajaan Allah, gereja tidak dapat disamakan dengan 

Kerajaan Allah. Gereja bahkan tidak dapat dianggap sama persis 

dengan bentuk rahasia Kerajaan Allah, karena Kerajaan Allah juga 

mempunyai kawasan yang lebih luas.

D. GEREJA BUKAN SUATU DENOMINASI

Kita sering berbicara mengenai bermacam-macam denominasi yang 

ada itu sebagai gereja-gereja, namun  pemakaian istilah "gereja" 

seperti itu tidak ada dalam Alkitab. Beberapa denominasi menegas­

kan bahwa merekalah satu-satunya gereja yang benar, namun  kita 

harus selalu mengingat bahwa Finnan Allah tidak merestui per­

pecahan semacam itu (I Korintus 1:11-17). Memang ada banyak 

denominasi, namun  hanya ada satu gereja sejati yang sifatnya univer­

sal. Semua orang yang telah tertebus pada zaman ini yaitu  

anggota dari tubuh rohani yang satu ini.

476 Eklesiologi

E. GEREJA DIPAHAMI DENGAN DUA ARTI

Jadi, kita dapat mengatakan secara positif apa gereja itu sebenarnya. 

Istilah "gereja" dipakai dengan dua macam arti: arti yang universal 

dan arti yang lokal.

1. Gereja yang universal. Dalam arti universal gereja terdiri atas 

semua orang, yang pada zaman ini, telah dilahirkan kembali oleh 

Roh Allah dan oleh Roh yang sama itu telah dibaptiskan menjadi 

anggota tubuh Kristus (I Korintus 12:13; I Petrus 1:3, 22-25). Jelas 

terlihat bahwa istilah gereja dipakai dalam arti universal ini karena 

Kristus berbicara mengenai membangun jemaat (gereja)-Nya dan 

bukan membangun jemaat-jemaat atau gereja-gereja (Matius 16:18); 

Paulus sangat bersedih karena dahulu ia sudah menganiaya gereja 

atau Jemaat Allah (I Korintus 15:9; Galatia 1:13; Filipi 3:6); 

dikatakan bahwa Kristus sangat mengasihi gereja sehingga rela 

menyerahkan diri baginya (Efesus 5:25); Tuhan kita sedang memur­

nikan dan menguduskan gereja (Efesus 5:26, 27); Dialah kepala 

gereja (Efesus 1:22; 5:23; Kolose 1:18); Kristus telah menempatkan 

orang-orang yang dilengkapi dengan karunia-karunia dalam gereja 

(I Korintus 12:28); gereja memberitahukan pelbagai ragam hikmat 

Allah kepada para pemerintah dan penguasa di sorga (Efesus 3:10); 

dan seluruh rombongan orang-orang percaya zaman ini disebut 

sebagai gereja (jemaat) anak-anak sulung yang namanya terdaftar 

di sorga (Ibrani 12:23). Dalam semua ayat ini dipakai istilah Yunani 

ekklesia. Istilah ini sendiri hanya berarti sekelompok orang yang 

terpanggil, sebagai suatu majelis warganegara dari suatu negara 

yang mandiri; namun  Perjanjian Baru telah memberinya suatu makna 

rohani sehingga ekklesia menjadi berarti sekelompok orang yang 

telah dipanggil keluar dari dunia dan dari hal-hal yang berdosa. 

Sekalipun istilah ini muncul lebih dari seratus kali dalam Alkitab, 

istilah ekklesia hanya dipakai untuk menunjuk kepada kelompok 

yang sekular dalam Kisah 19:32, 39, 40, dan untuk menunjuk 

kepada jemaat orang-orang Israel dalam Kisah 7:38 dan Ibrani 2:12. 

Menarik untuk dicatat bahwa istilah church dalam bahasa Inggris 

sebenarnya berasal dari istilah Yunani kuriakos yang artinya "men­

jadi milik Allah." Kata sifat ini hanya muncul dua kali dalam Per­

janjian Baru; pertama dipakai untuk Perjamuan Kudus (I Korintus 

11:20) dan kedua untuk Hari Tuhan (Wahyu 1:10). Dengan 

Definisi dan Pendirian Gereja 477

demikian, kita dapat memberikan definisi tambahan tentang istilah 

"gereja" sebagai berikut: sekelompok orang yang telah dipanggil 

keluar dari dunia dan yang menjadi milik Allah. Sekalipun demi 

kian, definisi yang pertama dengan lebih jelas mengakui kenyataan 

kelahiran kembali sebagai suatu syarat mutlak untuk menjadi ang 

gota gereja yang benar. Bagaimanapun juga, keanggotaan dalam 

gereja tidak ditentukan oleh faktor-faktor keturunan atau oleh pak­

saan, namun  oleh suatu keputusan pribadi berlandaskan iman kepada 

Kristus.

Pemahaman tentang gereja yang bersifat universal ini dapat 

dilihat dalam gambaran-gambaran yang dipakai untuk menerangkan 

gereja ini . Gereja disebut sebagai bangunan Allah (I Korintus 

3:9, 16, 17; II Korintus 6:16; Efesus 2:20-22; I Timotius 3:15). 

Kristus merupakan batu penjuru bangunan ini (Matius 16:18; I Ko­

rintus 3:11; I Petrus 2:6, 7) dan oleh Roh-Nya Kristus tinggal di 

dalamnya (I Korintus 3:16; 6:19). Orang yang sudah percaya kepada 

Kristus melaksanakan pelayanan sebagai iman dalam bait suci ini 

(Ibrani 13:15, 16; I Petrus 2:9; Wahyu 1:6). Gereja juga disebut 

sebagai tubuh Kristus (Roma 12:4; I Korintus 12:12-27; Efesus 

1:22, 23; 3:6; 4:4, 12, 16; 5:23, 30; Kolose 1:18, 24; 2:19; 3:15). 

Menurut gambaran ini, gereja dianggap sebagai sebuah organisme, 

yang memiliki hubungan yang sangat penting dengan Kristus; gereja 

berada di bawah pengawasan Kristus, serta merupakan sebuah ke­

satuan, sekalipun terdiri atas orang-orang Yahudi dan orang-orang 

bukan Yahudi, dan memiliki aneka ragam karunia di antara 

anggota-anggotanya, dan dalam teori bekerja sama dalam melak­

sanakan satu tugas bersama. Selain itu, gereja juga disebut sebagai 

mempelai perempuan Kristus (II Korintus 11:2, 3; Efesus 5:24, 25, 

32). Sebagai mempelai perempuan Kristus, gereja berkedudukan 

sebagai pasangan Kristus, dan dengan demikian diharapkan gereja 

senantiasa setia kepada Dia (Yakobus 4:4), harus bersiap-siap untuk 

upacara pernikahan (Wahyu 19:7, 8), untuk kelak dinikahkan 

kepada Kristus (Yohanes 3:29), dan memerintah bersama dengan 

Dia (Wahyu 19:6-20:6). Gambaran lain yang dipakai untuk me­

nerangkan gereja ialah pokok anggur dengan carang-carangnya 

(Yohanes 15:1-8) dan kawanan domba yang digembalakan oleh- 

Nya (Yohanes 10:1-18; Ibrani 13:20; I Petrus 2:25).

478 Eklesiologi

2. Gereja yang lokal. Dalam arti yang lokal istilah "gereja" 

dipakai untuk menunjuk kepada sekelompok orang-orang percaya 

yang terkumpul di satu tempat. Dengan demikian kita membaca 

dalam Alkitab tentang adanya gereja di Yerusalem (Kisah 8:1; 

11:22), Efesus (Kisah 20:17), Kengkrea (Roma 16:1), Korin­

tus (I Korintus 1:2 dan II Korintus 1:1). Kita membaca dalam 

Alkitab tentang gereja atau jemaat orang-orang Laodikia (Kolose 

4:16) dan jemaat orang-orang Tesalonika (I Tesalonika 1:T, II 

Tesalonika 1:1). Kadang-kadang istilah gereja lokal ini ditulis da­

lam bentuk jamak, misalnya jemaat-jemaat atau gereja-gereja di 

Galatia (Galatia 1:2), jemaat-jemaat di Yudea (I Tesalonika 2:14), 

dan di Asia (Wahyu 1:4). Semua gereja lokal ini bersama-sama 

hams merupakan replika yang tepat dari gereja yang universal.

Menarik sekali untuk dicatat bahwa gambaran-gambaran yang 

dipakai untuk menerangkan gereja juga dipakai untuk menerangkan 

orang percaya secara individual, gereja lokal dan gereja yang uni­

versal. Gambaran-gambaran berupa mempelai perempuan, tubuh, 

bangunan, dan kawanan domba dipakai untuk gereja universal 

(Efesus 5:25; 1:23; II Korintus 6:16; Ibrani 13:20), gereja lokal 

(II Korintus 11:2; I Korintus 12:12-27; I Korintus 3:16; Kisah 

20:28), dan juga untuk masing-masing orang percaya (Roma 7:4; 

6:12; I Korintus 6:19; Lukas 15:4-10).

II. PENDIRIAN GEREJA

Karena saat pendirian gereja universal dan gereja lokal terjadi ber­

tepatan, maka saat pendirian keduanya akan dibahas secara ber­

samaan dalam bagian ini. Hal-hal yang khas dan unik dari masing- 

masing akan dibahas dalam hubungannya yang semestinya. Kon­

sepsi alkitabiah tentang sifat gereja ada hubungannya dengan waktu 

serta cara gereja itu didirikan. Kita hams memiliki pengertian yang 

jelas mengenai kedua unsur kebenaran ini agar dapat memiliki pan­

dangan alkitabiah yang benar terhadap gereja. Mari kita memperha­

tikan beberapa hal yang berkaitan dengan pokok-pokok ini .

A. SAAT PENDIRIAN GEREJA

ada  sedikit kebingungan dalam menetapkan saat pendirian 

Definisi dan Pendirian Gereja 479

gereja ini. Mereka yang beranggapan bahwa gereja hanya merupa­

kan Israel rohani dari Perjanjian Baru, dengan kata lain, gereja 

yaitu  kelanjutan dari Israel Perjanjian Lama, mau tidak mau per­

caya bahwa gereja sudah didirikan dalam zaman Perjanjian Lama. 

Pihak lain beranggapan bahwa gereja mulai didirikan pada saat 

Kristus mulai berkhotbah. Namun, pandangan-pandangan ini ter­

nyata tidak alkitabiah berdasarkan pernyataan Kristus sendiri. Kris­

tus menyatakan di Kaisarea Filipi bahwa pada saat itu gereja masih 

belum berdiri, karena Ia mengatakan, "Di atas batu karang ini Aku 

akan membangun jemaat-Ku" (Matius 16:18). Orang-orang yang 

menganggap bahwa Petrus yaitu  batu karang ini  mau tidak 

mau harus mengakui bahwa gereja belum ada pada zaman Perjan­

jian Lama, dan demikian pula mereka yang menganggap batu 

karang ini  yaitu  pengakuan Petrus bahwa Yesus itu Kristus, 

Anak Allah yang hidup. Nampaknya sulit untuk percaya bahwa 

Yesus hanya bermaksud mengatakan akan mengadakan awal baru 

dalam perkembangan gereja, karena yang dibicarakan-Nya yaitu  

mendirikan gereja dan bukan membangunnya kembali. Ada pihak 

lain lagi yang beranggapan bahwa ada gereja untuk zaman Kisah 

Para Rasul yang bukan gereja dewasa ini. Beberapa tokoh dalam 

aliran ini menganjurkan bahwa gereja Kristen dewasa ini dimulai 

pada waktu kitab Kisah Para Rasul berakhir, dan beberapa tokoh 

lainnya mengajarkan bahwa gereja mulai pada saat Paulus berkata 

di Antiokhia Pisidia, "Kami berpaling kepada bangsa-bangsa lain" 

(Kisah 13:46). namun  apa yang sebenarnya diajarkan oleh Alkitab?

Bahwa gereja, baik yang universal maupun yang lokal, mulai 

pada hari Pentakosta (Kisah 2) sudah jelas berdasarkan beberapa 

hal. Kita hams kembali kepada pernyataan mengenai cara gereja 

didirikan. Paulus dengan singkat mengungkapkannya saat  ia 

menulis, "Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, 

maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah 

dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu 

Roh" (I Korintus 12:13). Yang dimaksud dengan istilah tubuh oleh 

Paulus ialah gereja (lihat ayat 28, dan Efesus 1:22, 23). Baptisan 

Roh ini menempatkan orang percaya di dalam gereja, yaitu tubuh 

Kristus. Baptisan Roh ini disebutkan dalam keempat kitab Injil dan 

juga dalam Kisah Para Rasul. Keempat ayat dalam kitab-kitab Injil 

(Matius 3:11; Markus 1:8; Lukas 3:16; Yohanes 1:33) secara praktis 

480 Eklesiologi

artinya sama, yaitu janji mengenai baptisan yang akan datang. 

Dalam Kisah 1:5 Yesus mengulang janji ini  serta menambah­

kan bahwa dalam beberapa hari lagi janji itu akan digenapi; dan 

dalam Kisah 11:15-17 Petrus merujuk kembali kepada hari Pen­

takosta sebagai penggenapan janji itu. Pertama Korintus 12:13 

merujuk kepada peristiwa baptisan Roh sebagai peristiwa yang 

sudah lampau. Jadi, jelaslah bahwa baptisan Roh itu terjadi pada 

hari Pentakosta dan bahwa gereja didirikan pada hari ini . Ke­

simpulan ini makin diperkuat oleh kenyataan bahwa gereja tidak 

mungkin didirikan sebelum kenaikan dan pemuliaan Kristus (Efesus 

1:19-23).

Gereja lokal didirikan pada saat yang sama. Kita membaca dalam 

Alkitab bahwa ada seratus dua puluh orang yang sedang menantikan 

Roh yang dijanjikan saat  hari Pentakosta tiba. Seratus dua puluh 

orang inilah yang pertama-tama dibaptis oleh Roh, dan mereka 

merupakan anggota-anggota inti dari gereja di Yerusalem. Sebagai 

tanggapan terhadap khotbah Petrus dan rasul-rasul lainnya, 3.000 

orang menerima perkataan mereka, dibaptiskan, dan ditambahkan 

sebagai anggota gereja (Kisah 2:14, 41). Tidak beberapa lama 

kemudian gereja lokal ini telah bertumbuh dan beranggotakan 5.000 

orang (Kisah 4:4). Jelaslah, orang-orang percaya itu bertindak 

selaku sebuah kesatuan. Mereka mempunyai pedoman doktrin yang 

tegas yaitu ajaran para rasul; mereka bersekutu satu dengan yang 

lain sebagai orang-orang percaya; mereka melaksanakan sakramen 

baptisan dan Perjanjian Kudus; mereka berkumpul untuk beribadah 

bersama; dan mereka memberikan sumbangan untuk membantu 

penghidupan orang-orang yang kekurangan (Kisah 2:42-47). Je­

laslah, semua ini merupakan tanda-tanda sebuah gereja lokal yang 

sudah terorganisasi, sekalipun organisasinya belum begitu ketat.

B. PENDIRIAN GEREJA-GEREJA LOKAL LAINNYA

Jelaslah bahwa gereja-gereja lokal semacam itu kemudian bermun­

culan di Yudea (Galatia 1:22; I Tesalonika 2:14), sekalipun tidak 

disebutkan secara khusus dalam kitab Kisah Para Rasul. Sebuah 

gereja lokal juga terbentuk di kota Samaria (Kisah 8:1-24), dan 

mungkin sekali di banyak kampung di daerah Samaria (Kisah 8:25). 

Tidak lama kemudian sebuah jemaat dimulai di Antiokhia Siria

Definisi dan Pendirian Gereja 481

(Kisah 11:20-30; 13:1). Gereja ini kemudian menjadi pangkalan Rasul Paulus saat  mengadakan perjalanan pengabaran Injilnya 

(Kisah 13:1-3; 14:26-28; 15:36-41; 18:22, 23). Sejumlah nabi dan 

guru ada di gereja ini, namun mereka mengakui perlunya berembuk 

dengan gereja di Yerusalem tentang syarat-syarat penerimaan 

orang-orang bukan Yahudi dalam persekutuan gereja (Kisah 15:1- 

35). Akhirnya, sebagai akibat perjalanan penginjilan Rasul Paulus 

dan rasul-rasul lainnya, serta juga orang-orang Kristen yang mula- 

mula pada umumnya, gereja-gereja lokal bermunculan di Asia 

Kecil, Makedonia, Yunani, Italia, Spanyol serta daerah-daerah lain 

di sekitar Laut Tengah. Nampaknya gereja yang mula-mula itu telah 

berhasil menginjili generasi mereka.


XXXVI 

Dasar Gereja, Cara Pendirian 

Gereja, dan Pengaturan Gereja

Beberapa pokok akan dibahas dalam pasal ini yaitu dasar gereja, 

cara pendirian gereja, dan pengaturan gereja-gereja Perjanjian Baru.

L DASAR GEREJA

Dalam bagian ini kita akan membahas pendirian gereja yang univer­

sal dan yang lokal.

A. GEREJA UNIVERSAL

Yesus berkata kepada Petrus, "Dan Aku pun berkata kepadamu: 

Engkau yaitu  Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan men­

dirikan jemaat-Ku" (Matius 16:18). Jelaslah dari ayat ini bahwa 

gereja yaitu  milik Tuhan, karena Ia menyebutnya "jemaat (gereja)- 

Ku". Inilah "jemaat Allah yang diperoleh-Nya dengan darah Anak- 

Nya sendiri" (Kisah 20:28). Gereja disebut gereja Yesus Kristus, 

dan Ia merupakan kepalanya (Efesus 5:23; Kolose 1:18). Dalam 

kitab Wahyu, Kristus digambarkan sebagai Tuhan atas gereja- 

gereja, sedang berjalan di antara ketujuh kaki dian emas (Wahyu 

1:12-20), dengan kuasa untuk menyingkirkan gereja lokal (2:5), atau 

menghukum orang-orang yang ada di dalamnya (2:16). Jelaslah, 

"gereja sebagai ciptaan baru Allah bertumpu pada pribadi dan karya 

Kristus Yesus."1 7 Kristus berkata bahwa la akan membangun 

gereja-Nya di atas batu karang "ini". Pendapat para ahli berbeda 

483

484 Eklesiologi

mengenai apa atau siapa batu karang ini. Kemungkinan-kemung­

kinan berikut telah dianjurkan: (1) Istilah "batu karang" menunjuk 

kepada Petrus. Kristus merupakan dasar dan pendiri utama gereja, 

namun  Petrus merupakan tokoh yang ditugaskan Kristus untuk men­

dirikan gereja itu. (2) Sarjana yang lain menganjurkan bahwa istilah 

"batu karang" menunjuk kepada para rasul yang diwakili oleh 

Petrus. (3) Sarjana lainnya lagi merasa bahwa mengingat ayat-ayat 

seperti Roma 9:33; I Korintus 10:4; dan I Petrus 2:8 istilah ini 

hanya dapat menunjuk kepada Yesus Kristus sendiri sebagai batu 

karang itu (lihat juga Matius 7:24-27). (4) Kemudian ada yang ber­

anggapan bahwa istilah batu karang itu menunjuk kepada penga­

kuan Petrus akan keallahan Yesus Kristus. Jadi, menurut pendapat 

ini gereja Perjanjian Baru dibangun atas pengakuan bahwa Yesus 

yaitu  Kristus.

Pendapat yang mengatakan bahwa batu karang itu menunjuk ke­

pada Petrus nampaknya mendapatkan dukungan yang terkuat. 

Beberapa alasan dapat dikemukakan. (1) Nama "Petrus" itu sendiri 

berarti "batu karang". Tuhan Yesus sendiri memberikan julukan 

"Kefas" (bahasa Aram) kepada Petrus yang juga berarti "batu 

karang", sedangkan bahasa Yunaninya ialah "Petrus". Mengatakan 

bahwa ada ayat-ayat lain di Alkitab yang menyebut Kristus batu 

karang dan karena itu istilah "batu karang" dalam Matius 16:18 

pasti menunjuk kepada Kristus, berarti mengesampingkan kemung­

kinan bahwa istilah "batu karang" dapat dipakai untuk menunjuk 

kepada bermacam-macam orang, sebagaimana istilah "terang" 

dipakai untuk orang-orang percaya (Matius 5:14) dan juga untuk 

Kristus (Yohanes 9:5). (2) Sejarah gereja menunjukkan bahwa Pe­

trus dipakai oleh Tuhan untuk mendirikan gereja. Petrus membuka 

pintu Injil bagi orang-orang Yahudi (Kisah 2:14-41), bagi orang- 

orang Samaria (Kisah 8:14-17), bagi orang-orang bukan Yahudi 

(Kisah 10:24-48). (3) Kristus memakai bentuk maskulin saat  me­

nyebut Petrus "batu karang”, dan bentuk feminin saat  berbicara 

mengenai dasar gereja. Kenyataan ini telah membuat beberapa ahli 

beranggapan bahwa batu karang yang merupakan dasar gereja dan 

Petrus tidak mungkin sama. Namun, dari segi ilmu bahasa hal ini 

perlu dilakukan karena bentuk feminin dari batu karang menunjuk 

kepada lapisan tanah yang keras atau batu yang besar; sedangkan 

147 Saucy, The Church in God’s Program, hal. 60.

Dasar Gereja, Cara Pendirian Gereja, dan ... 485

saat  memberi nama kepada seorang laki-laki Kristus mau tidak 

mau harus memakai bentuk maskulin. Dan akhirnya, (4) para rasul 

disebut sebagai dasar gereja (Efesus 2:20), dengan Yesus sendiri 

sebagai batu penjurunya. Berdasarkan keempat alasan ini kami me­

nyimpulkan bahwa "’batu karang’ yang di atasnya Kristus akan 

membangun jemaat-Nya menunjuk kepada Petrus sebagai pemim­

pin dan wakil para rasul."148 Dengan beranggapan bahwa Petrus 

yaitu  batu karang tidaklah berarti bahwa kita mengabaikan Kristus 

sebagai dasar yang hakiki dan akhir, dasar yang paling utama. Ba­

gaimanapun juga, Kristus memakai orang-orang untuk mendirikan 

gereja. Selanjutnya, kami tidak mengabaikan pentingnya penga­

kuan sebagaimana yang diungkapkan oleh Petrus. Orang yang 

tidak mempunyai pengakuan ini tidak mungkin menjadi anggota 

tubuh Kristus. Setiap orang yang ingin menjadi batu yang hidup 

(I Petrus 2:5) di dalam rumah rohani yang hidup ini haruslah meng­

akui keallahan Kristus sebagaimana yang dilakukan oleh Petrus.

Bagaimanapun pendapat yang dianut tentang masalah arti batu 

karang ini, tiga hal sudah sangat jelas: Kristus sedang mendirikan 

gereja-Nya, Ia memakai orang-orang dalam melaksanakan hal ter­

sebut, dan orang-orang yang dipakai ini harus mengakui keallahan 

Yesus Kristus. Wewenang untuk mengikat dan melepaskan tidak 

diberikan kepada Petrus saja, namun  juga kepada rasul-rasul lainnya 

(Matius 16:19; 18:18; Yohanes 20:23). Rupanya kekuasaan itu de­

klaratif seperti yang diberikan Tuhan kepada Yeremia (Yeremia 

1:10).

B. GEREJA LOKAL

Tidak dapat disangkal bahwa pada hari Pentakosta baik gereja uni­

versal maupun gereja lokal di Yerusalem didirikan, dan pada waktu 

itu gereja universal dan gereja lokal merupakan satu kesatuan. Pada 

waktu para rasul bergerak ke daerah-daerah lain di sekitarnya, 

mulailah didirikan gereja-gereja lokal yang lain. Waktu orang-orang 

bertobat dan berbalik kepada Tuhan di berbagai daerah, mereka 

berkumpul dan membentuk jemaat-jemaat lokal. Gereja-gereja lokal 

itu dimulai oleh orang-orang percaya yang mengabarkan Injil, dan 

didirikan atas dasar Kristus. Paulus menulis kepada jemaat di

148 Saucy, The Church in God's Program, hal. 63.

486 Eklesiologi

Korintus sebagai berikut, "Sesuai dengan kasih karunia Allah, yang 

dianugerahkan kepadaku, aku sebagai seorang ahli bangunan yang 

cakap telah meletakkan dasar, dan orang lain membangun terus di 

atasnya. namun  tiap-tiap orang harus memperhatikan, bagaimana ia 

harus membangun di atasnya. Karena tidak ada seorang pun yang 

dapat meletakkan dasar lain daripada dasar yang telah diletakkan, 

yaitu Yesus Kristus" (I Korintus 3:10-11). Dengan demikian Paulus 

menegaskan bahwa dasar yang diletakkannya yaitu  Yesus Kristus. 

Yesus Kristus harus menjadi dasar gereja, Firman Allah harus men­

jadi tolok ukur iman dan kegiatan gereja, serta Roh Allah harus 

menjadi pelaksana. Hanya mereka yang secara terang-terangan 

mengakui bahwa Yesus yaitu  Kristus berhak menjadi anggota 

jemaat setempat. Hanya mereka yang jelas menunjukkan bahwa me­

reka anggota jemaat universal yang boleh diterima dalam sebuah 

jemaat lokal.

II. CARA BERDIRINYA GEREJA

Gereja yang universal atau yang sejati bukanlah merupakan hasil 

usaha manusia semata. Gereja bukanlah hasil suatu pengaturan 

manusia, gereja lahir. Dalam Ibrani 12:23 gereja disebut sebagai 

"jemaat anak-anak sulung". Maksudnya, kelahiran baru merupakan 

syarat pertama dalam mendirikan gereja ini. Syarat yang kedua ialah 

baptisan Roh. Alkitab mengatakan, "Sebab dalam satu Roh kita 

semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, 

maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita 

semua diberi minum dari satu Roh" (I Korintus 12:13). Pada 

mulanya baptisan Roh ini terjadi pada hari Pentakosta (Kisah 1:4, 

5; 2:1-4; 11:15-17). Hanya Tuhan yang dapat membaptis dengan 

Roh Kudus (Markus 1:8), dan hanya Ia yang dapat menambah jum­

lah anggota gereja (Kisah 2:47; bandingkan dengan 5:14; 11:24). 

Kristus mengatakan bahwa Ia akan membangun gereja-Nya (Matius 

16:18). Semua orang percaya pada zaman ini dibaptiskan menjadi 

anggota gereja, yaitu tubuh Kristus.

Gereja lokal muncul secara sangat sederhana. Pada mulanya tidak 

ada organisasi, namun  hanya ada ikatan kasih, persekutuan, ajaran, 

Dasar Gereja, Cara Pendirian Gereja, dan ... 487

dan kerja sama dalam bentuk yang sederhana. Akan namun , lambat- 

laun pengaturan yang longgar oleh pimpinan para rasul digantikan 

organisasi yang lebih ketat. Karena anggota-anggotanya sudah 

merupakan anggota gereja yang sejati, maka mereka merasa ter­

dorong untuk mengorganisasi jemaat-jemaat lokal agar perubahan- 

perubahan batin yang terjadi sebagai akibat iman kepada Kristus 

dapat diwujudkan untuk kepentingan bersama dan penyelamatan se­

tiap orang yang belum percaya.

Pada mulanya hanya ada satu jemaat lokal yaitu gereja di Yeru­

salem. Nampaknya pertemuan-pertemuan diadakan di berbagai 

rumah tangga, namun  tetap ada satu gereja lokal saja di Yerusalem. 

Keanggotaannya bertumbuh menjadi tiga ribu orang dan terus ber­

tambah sampai mencapai lima ribu orang; sementara itu tiap-tiap 

hari Tuhan menambah jumlah mereka (Kisah 2:41, 47; 4:4; 5:14). 

Para rasul sendirilah yang memimpin jemaat lokal di Yerusalem.

Beberapa waktu kemudian, gereja-gereja lokal lainnya mulai ber­

munculan di tempat-tempat yang baru pada waktu Injil diberitakan 

dan dipercayai, seperti yang terjadi di Yudea dan Samaria (Kisah 

pasal 8), yang bentuk organisasinya pasti mencontoh gereja lokal 

di Yerusalem. Cara gereja-gereja lokal baru ini berdiri tidak dirinci. 

Paulus memberikan pengarahan kepada Titus untuk "menetapkan 

penatua-penatua di setiap kita" (Titus 1:5). Hal ini nampaknya me­

nunjukkan bahwa di mana sudah terbentuk sekelompok orang-orang 

percaya, di situ pula penatua-penatua diangkat sebagai pemimpin 

(lihat Kisah 14:23). Dalam gereja yang mula-mula, bila seseorang 

menanggapi Injil Yesus Kristus, orang ini  langsung diterima 

sebagai anggota gereja. Tidak diragukan lagi apakah ia boleh atau 

tidak boleh menjadi anggota jemaat lokal, hal itu sudah dianggap 

semestinya begitu.

III. PENGATURAN GEREJA-GEREJA

Sedikit sekali yang dikatakan dalam Alkitab tentang pengaturan hu­

bungan antara gereja-gereja, namun ada cukup banyak keterangan 

tentang pengaturan gereja lokal.

488 Eklesiologi

A. PENGATURAN GEREJA MERUPAKAN FAKTA

Ada tanda-tanda bahwa sudah sejak awal di gereja Yerusalem ter­

dapat pengaturan yang sangat lunak dalam pelaksanaannya, dan ada 

cukup banyak bukti yang meyakinkan bahwa tidak lama kemudian 

gereja-gereja lokal yang terbentuk memiliki sistem pengaturan yang 

jelas. Adanya suatu sistem pengaturan di gereja di Yerusalem, mes­

kipun sederhana, dapat dilihat dari beberapa hal. Orang-orang per­

caya memegang teguh suatu standar doktrin yang pasti (Kisah 2:42), 

berkumpul untuk mengadakan persekutuan rohani, bersatu dalam 

doa, melakukan sakramen baptisan, melaksanakan sakramen Per­

jamuan Kudus, mencatat anggota-anggota mereka, berhimpun untuk 

mengadakan kebaktian umum, serta menyediakan bantuan materiel 

bagi saudara-saudara seiman yang membutuhkannya (Kisah 2:41- 

46). Para rasul merupakan pemimpin-pemimpin dalam gereja ini, 

namun tidak lama kemudian mereka menambahkan tujuh orang 

untuk melayani orang-orang yang miskin (Kisah 6:1-7). Pada hari 

Pentakosta mereka berkumpul di ruang atas (Kisah 1:13; 2:1), entah 

di mana lokasi ruang atas ini . Namun lebih sering lagi mereka 

berkumpul di rumah seorang Kristen (Kisah 2:46; 12:12), sekalipun 

untuk kebaktian-kebaktian tertentu mereka masih pergi ke bait suci 

(Kisah 2:46; 3:1). Semua faktor ini menunjukkan awal pengaturan 

dalam gereja di Yerusalem.

1. Mereka memiliki pejabat-pejabat gereja. Di samping teladan 

gereja yang mula-mula di Yerusalem, ada  banyak petunjuk lain 

bahwa Alkitab mengajarkan bahwa mengorganisasi kelompok- 

kelompok orang percaya setempat menjadi gereja yaitu  tindakan 

yang tepat dan perlu. Paulus dan Barnabas, dalam perjalanan kem­

bali dari Derbe, "di tiap-tiap jemaat. . . menetapkan penatua-pena- 

tua bagi jemaat itu" (Kisah 14:23). Naskah aslinya menyiratkan 

bahwa hal ini dilakukan di bawah pimpinan rasul-rasul yang menga­

rahkan anggota-anggota jemaat untuk memberi suara dengan meng­

acungkan tangan. Titus ditugaskan untuk menetapkan penatua- 

penatua jemaat (Titus 1:5). Selanjutnya, gereja Yerusalem menugas­

kan tujuh orang pengurus untuk menyediakan kebutuhan anggota- 

anggota yang miskin (Kisah 6:1-7). Pastilah para pemimpin gereja 

di Yerusalem saat  itu memiliki cara tertentu untuk mengetahui 

dengan pasti perasaan jemaat dan ada peraturan yang menetapkan 

Dasar Gereja, Cara Pendirian Gereja, dan ... 489

siapa yang berwenang memberikan suara dalam hal menyelesaikan 

masalah tertentu. Di gereja Efesus ada  penatua-penatua (Kisah 

20:17), di gereja Antiokhia ada guru-guru dan nabi-nabi (Kisah 

13:1), dan di gereja Filipi ada  para penilik jemaat dan diaken 

(Filipi 1:1). Beberapa waktu kemudian, gereja Efesus juga memiliki 

penilik jemaat dan diaken (I Timotius 3:1, 8).

2. Saat-saat pertemuan mereka telah ditetapkan. Para rasul 

berkumpul pada hari pertama setiap minggu tidak lama sesudah 

peristiwa kebangkitan Yesus Kristus (Yohanes 20:19, 26). Dalam 

suratnya yang pertama kepada jemaat di Korintus, Paulus mem­

beritahukan mereka untuk menyisihkan sesuatu sesuai dengan apa 

yang mereka peroleh, dan menyimpannya di rumah, pada hari per­

tama dari tiap-tiap minggu (I Korintus 16:2), maksudnya, pada hari 

pertama tiap-tiap minggu itu akan dipungut kolekte atau persem­

bahan. Dalam perjalanan terakhir ke Yerusalem, Paulus berhenti di 

Troas serta berkumpul dengan para murid di sana pada hari pertama 

dalam minggu itu (Kisah 20:7). Dan dalam kitab Wahyu, Yohanes 

menyatakan bahwa ia dikuasai oleh Roh pada hari Tuhan (Wahyu 

1:10).

3. Mereka mengatur sopan santun dalam kebaktian gereja. 

Mereka mengatur sopan santun dalam kebaktian gereja (I Korintus 

14:26-40) serta menjalankan disiplin gereja. Yesus telah memerin­

tahkan bahwa jika  seorang percaya tidak mau tunduk dan 

menaati nasihat secara pribadi maka masalah itu harus diserahkan 

kepada gereja untuk didisiplin (Matius 18:17). Paulus secara tegas 

sekali meminta agar jemaat di Korintus menjalankan disiplin gereja 

(I Korintus 5:13). Petunjuk-petunjuk yang sama diberikannya juga 

kepada gereja di Roma (Roma 16:17; lihat juga II Tesalonika 3:6- 

15). Dalam III Yohanes 9, 10 dikatakan bahwa Diotrefes bertindak 

sewenang-wenang dalam melaksanakan disiplin gereja. Kembali 

nampak di sini ada  petunjuk-petunjuk tentang adanya sistem 

pengaturan karena di dalam perkara-perkara seperti itu perlu sekali 

diberi batas antara orang-orang yang berhak memberi suara dan 

mereka yang tidak berhak. Nampaknya bahwa suara mayoritas yang 

memutuskan masalah-masalah disiplin (II Korintus 2:6).

490 Eklesiologi

4. Mereka mengumpulkan uang untuk pekerjaan Tuhan. saat  

menulis kepada jemaat di Korintus dari Efesus, Paulus mengatakan 

bahwa ia sudah memberi petunjuk kepada jemaat-jemaat lokal di 

daerah Galatia tentang pengumpulan uang bagi orang-orang kudus. 

Lalu ia memberikan petunjuk yang sama juga kepada jemaat di 

Korintus (I Korintus 16:1, 2). Mereka harus memberi secara teratur, 

sesuai dengan kemampuan, dan dengan tujuan yang jelas. Uang 

bagi orang yang kudus itu harus mereka berikan pada hari pertama 

dari setiap minggu, sesuai dengan pendapatan mereka. Dalam surat 

II Korintus Paulus mendorong jemaat untuk memberi dengan rela 

dan ikhlas (II Korintus 8:7-9; 9:6) dan dengan penuh sukacita (II 

Korintus 9:7). Di II Korintus 8:1-5 Paulus memuji jemaat-jemaat 

di Makedonia karena mereka memberi dengan sangat murah hati, 

dan mendorong jemaat di Korintus untuk mengikuti teladan mereka 

(II Korintus 8:6-9:5). Dalam surat kepada jemaat di Roma Paulus 

berbicara mengenai bantuan uang yang diantarkannya ke Yerusalem 

(Roma 15:25-28). Di hadapan Feliks Paulus menyebut bantuan uang 

ini (Kisah 24:17). Jadi, jemaat-jemaat di Galatia, Makedonia, dan 

Akhaya, mengadakan usaha yang terarah untuk mengumpulkan 

dana bagi saudara-saudara seiman yang miskin di Yudea.

5. Mereka mengirim surat rekomendasi kepada gereja-gereja 

lain. Hal ini dilakukan saat  Apolos meninggalkan Efesus untuk 

pergi ke Korintus (Kisah 18:24-28). Hal semacam ini juga tersirat 

dalam pertanyaan Paulus yang tajam kepada jemaat di Korintus (II 

Korintus 3:1). Roma 16:1 mungkin merupakan contoh surat se­

macam itu mengenai Febe. Sejauh kebiasaan ini berkembang, sudah 

pasti kemudian dirasa perlu untuk menetapkan siapa yang layak 

memperoleh surat semacam itu. Jelas bahwa prosedur demikian 

mensyaratkan adanya suatu sistem pengaturan. Musyawarah di 

Yerusalem mengeluarkan sebuah ketetapan tentang syarat-syarat 

yang harus dipenuhi oleh orang-orang bukan Yahudi sebelum dapat 

diterima di dalam persekutuan Kristen dan ketetapan itu dituangkan 

dalam sebuah surat (Kisah 15:22-29). Peristiwa ini juga mensyarat­

kan adanya suatu sistem pengaturan.

B. PEJABAT-PEJABAT GEREJA

Suatu organisasi memerlukan pejabat-pejabat. Pada mulanya segala 

Dasar Gereja, Cara Pendirian Gereja, dan ... 491

sesuatu diatur dengan sangat sederhana, namun sudah ada dua atau 

tiga jabatan yang berbeda dalam gereja-gereja saat  itu. Bukti ten­

tang hal ini kita terima sebagian dari keterangan yang menyebut 

pejabat-pejabat gereja itu dan sebagian lagi melalui ajaran tentang 

pengangkatan dan kewajiban para pejabat gereja.

1. Gembala, penatua, penilik jemaat. Ketiga istilah ini menunjuk 

kepada satu jabatan dalam Perjanjian Baru. Dalam Kisah 20:17, 28 

dikatakan bahwa para penatua gereja di Efesus telah dijadikan 

penilik atas kawanan itu, dengan tujuan agar mereka memberi 

makan atau menggembalakan jemaat Allah di Efesus. Di sini kita 

menemukan istilah penatua, penilik jemaat, dan gembala dipakai 

untuk menunjuk orang-orang yang sama. Dalam I Petrus 5:1, 2, 

tugas-tugas seorang gembala diberikan kepada "para penatua di an­

tara kamu". Maksudnya, penatua dan gembala saat  itu orang 

yang sama. Dalam II Yohanes 1, III Yohanes 1, dan I Petrus 5:1, 

baik Yohanes maupun Petrus yang yaitu  rasul menyebut diri 

mereka sendiri sebagai penatua. Sudah pasti, jabatan penatua ini 

bukanlah sebuah jabatan yang lebih rendah daripada gembala atau 

penilik jemaat. Dalam Titus 1:5-9 istilah "penatua" dan "penilik 

jemaat" kerap dipertukartempatkan. Istilah Yunani untuk "gembala" 

muncul beberapa kali dalam Perjanjian Baru, namun  hanya dalam 

Efesus 4:11 istilah ini diterjemahkan sebagai "gembala" 

sidang. Arti yang sebenarnya yaitu  gembala domba (lihat Matius 

9:36; 26:31; Lukas 2:8; Yohanes 10:2; Ibrani 13:20; dan I Petrus 

2:25). Sebagaimana sudah dikatakan di atas, para penatua dan para 

penilik jemaat di gereja Efesus telah diberi tugas untuk menggem­

balakan kawanan domba Allah, maksudnya, mereka telah dijadikan 

gembala sidang dalam gereja di Efesus. saat  Paulus membuka 

salam dalam suratnya kepada jemaat di Filipi, ia menulis, " . . . 

kepada semua orang kudus dalam Kristus Yesus di Filipi, dengan 

para penilik jemaat dan diaken" (Filipi 1:1). Bila saat  itu para 

penatua dan para gembala sidang mempunyai tugas yang berbeda 

dengan para penilik jemaat, pastilah Paulus tidak hanya menyebut­

kan penilik dan diaken saja.

2. Diaken. Istilah "diaken" berasal dari istilah Yunani diakonos 

(Filipi 1:1; I Timotius 3:8). Istilah ini umumnya dipakai dengan 

492 Eklesiologi

arti seorang pelayan (Markus 10:43; Yohanes 2:5; 12:26). Bentuk 

kata kerjanya diterjemahkan sebagai "melayani" atau "mengantar­

kan bantuan" (Matius 4:11; 20:28; Roma 15:25). Istilah ini juga 

dipakai secara tidak teknis untuk menunjuk kepada semua pelayan 

Injil (I Korintus 3:5; II Korintus 6:4; Efesus 6:21; Kolose 1:7; 

I Timotius 4:6). Namun istilah ini juga dipakai secara teknis dan 

biasanya dalam Alkitab bahasa Indonesia padanannya ialah 

"diaken". Arti yang khusus ini ditemukan dalam Filipi 1:1; I Timo­

tius 3:8-13; dan kemungkinan dalam Roma 16:1. Mungkin ketujuh 

orang yang dipilih untuk mengawasi bantuan bagi janda-janda mis­

kin dari gereja mula-mula di Yerusalem (Kisah 6:1-6) dapat 

dianggap sebagai diaken-diaken yang pertama, namun  hal ini tidak 

pasti. Penting untuk dicamkan bahwa para diaken harus memenuhi 

syarat-syarat rohani yang sama tingginya dengan para penilik jemaat 

(I Timotius 3:8-13). Karena itu, nampaknya para diaken ikut mem­

bantu baik dalam pelayanan rohani di gereja maupun dalam pela­

yanan materiel yang ditugaskan kepada mereka.

Fungsi jabatan diaken dalam Alkitab tidak jelas, namun  rupanya 

pelayanan mereka berkaitan dengan penyaluran dana bantuan. Para 

penatua bertanggung jawab bagi kebutuhan rohani masyarakat 

orang beriman sedangkan para diaken terutama mengurus 

kebutuhan-kebutuhan jasmani mereka. Syarat-syarat bagi diaken 

sama dengan syarat-syarat bagi penatua, kecuali syarat mengenai 

kemampuan mengajar dan memberi tumpangan tidak dituntut dari 

seorang diaken walaupun diharuskan bagi seorang penatua. Kenya­

taan ini nampaknya menunjukkan bahwa kedua hal ini tidak ter­

masuk tanggung jawab seorang diaken. Syarat "jangan serakah" 

rupanya menunjukkan bahwa diaken terlibat dalam urusan keuangan 

gereja. Tidaklah salah bila kita mengatakan bahwa syarat-syarat 

untuk diaken sangat cocok bagi orang-orang yang bertugas meng­

urus kebutuhan materiel dan keuangan gereja.

3. Diaken wanita. Rupanya jelas bahwa ada beberapa orang 

wanita yang menyandang jabatan dalam gereja yang mula-mula. 

Febe disebut sebagai seorang pelayan, maksudnya seorang diaken 

wanita (Roma 16:1), dan saat  Paulus membahas soal pejabat- 

pejabat gereja (I Timotius 3:1-13) Paulus juga menyebut wanita 

(ayat 11). Agaknya memang patut bila ada beberapa wanita yang 

Dasar Gereja, Cara Pendirian Gereja, dan ... 493

secara khusus merawat orang-orang yang sakit, mengatur jamuan 

bersama, membantu penyaluran hasil pengumpulan derma, dan 

secara umum, membantu melaksanakan tugas-tugas yang paling 

baik dapat dilaksanakan oleh wanita.

Tafsiran kata "wanita" dalam I Timotius 3:11 telah menghasilkan 

berbagai pendapat. Ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud 

dengan istilah ini  yaitu  istri para diaken. Bila memang 

demikian, rasanya aneh bahwa istri para penatua tidak disebutkan. 

Karena istilah ini muncul saat  Paulus membahas tentang diaken, 

tidaklah mustahil untuk mengatakan bahwa istilah ini  menun­

juk kepada suatu bagian kecil dalam kelompok diaken. Selanjutnya 

menarik untuk dicatat bahwa Paulus memakai istilah "demikian 

pula" seperti yang dilakukannya saat  mulai berbicara tentang para 

diaken (ayat 8; lihat juga ayat 2), yang menunjukkan bahwa wanita- 

wanita ini (Alkitab Indonesia, "istri-istri") mempunyai kedudukan 

istimewa dalam gereja. Selain itu, syarat-syarat jabatannya hampir 

serupa dengan syarat-syarat untuk diaken.

Oleh karena itu kami berkesimpulan bahwa para diaken terutama 

bertanggung jawab untuk mengurusi kebutuhan materiel dan ke­

uangan dari gereja, dan bahwa beberapa orang wanita yang disebut 

diaken wanita bekerja sama dengan para diaken, khususnya dalam 

bidang-bidang di mana mereka dapat berfungsi secara lebih baik 

daripada kaum lelaki. Karena dewan diaken bukan sebuah badan 

yang menentukan haluan gereja maka para wanita dapat menjadi 

anggota dewan ini .

C. PEMERINTAHAN GEREJA

Ada tiga bentuk pemerintahan gereja: episkopal, presbiterial, dan 

cara kongregasional. Bentuk pemerintahan yang episkopal ialah 

pemerintahan gereja yang dipimpin oleh para uskup atau penilik 

jemaat yang dalam kenyataannya terdiri atas tiga golongan hamba 

Tuhan: uskup atau penilik jemaat, para imam, dan para diaken. 

Pemerintahan yang presbiterial yaitu  pemerintahan gereja yang di­

pimpin oleh para presbiter atau penatua. Umumnya cara pemerin­

tahan presbiterial ini memiliki empat dewan: himpunan jemaat, 

dewan majelis, dewan klasis, dan dewan sinode. Dalam sistem pres­

biterial ini ada  satu golongan saja dalam kependetaan

494 Eklesiologi

yaitu para pendeta, penatua yang memerintah atau penatua dan 

diaken. Baik pendeta/gembala sidang maupun penatua yang 

memerintah berperan serta mengambil bagian dalam pertemuan-per­

temuan presbiteri, klasis, dan sinode. Cara pemerintahan yang 

kongregasional memberikan semua wewenang legislatif kepada 

gereja lokal. Badan pemerintahan di daerah atau di pusat hanya 

berfungsi sebagai penasihat dan hanya bertugas mengoordinasikan 

pelayanan penginjilan bersama, pendidikan, dan hal-hal lainnya se­

macam itu.

Setiap bentuk pemerintahan gereja ini berusaha memperoleh 

dukungan dari Alkitab sendiri. Bentuk episkopal memperoleh 

dukungan dalam ayat-ayat yang membahas kekuasaan para rasul 

serta utusan mereka (Kisah 14:23; 20:17,28; Titus 1:5). Akan namun , 

dewasa ini tidak ada rasul lagi ataupun utusan yang mereka tetap­

kan. Yang masih ada sampai sekarang ialah petunjuk-petunjuk 

mereka tentang pemerintahan gereja seperti yang tercantum dalam 

Alkitab. Bentuk presbiterial menemukan dukungan dalam hal-hal 

seperti pengaturan musyawarah di Yerusalem (Kisah 15:6) dan pen­

tahbisan Timotius (I Timotius 4:14). Namun dalam kasus-kasus ini 

pun, ada  petunjuk akan keterlibatan jemaat. Pemerintahan ge­

reja yang mula-mula merupakan perpaduan bentuk pemerintahan 

presbiterial dan kongregasional. Jemaat memilih pemimpin-pemim­

pin mereka, dan para pemimpin yang terpilih itu melaksanakan 

ketetapan jemaat. Kisah 6 memberikan keterangan tentang pemi­

lihan pejabat-pejabat gereja (ayat 1-6). Istilah yang diterjemahkan 

dengan "menetapkan" dalam Kisah 14:23 berarti "mengangkat ta­

ngan". Jelas bahwa Paulus dan Barnabas sedang mengadakan se­

macam pemungutan suara di antara jemaat saat  hendak memilih 

penatua-penatua. Bahkan saat  berlangsung musyawarah di 

Yerusalem, para rasul, penatua, dan jemaat semuanya terlibat dalam 

proses pengambilan keputusan. Beberapa hal dapat disebut yang 

menunjuk pemerintahan kongregasional dalam gereja yang mula- 

mula. (1) Setiap gereja memilih pejabat-pejabat dan utusan-utusan- 

nya sendiri (Kisah 6:1-6; 15:2-3). (2) Setiap gereja memiliki 

wewenang untuk menjalankan disiplin gerejanya sendiri (Matius 

18:17-18; I Korintus 5:13; II Kor