Tampilkan postingan dengan label teologi sistematik 16. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label teologi sistematik 16. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Juli 2026

teologi sistematik 16

 


31; Kisah 16:31; 

19:4; Roma 10:9; I Yohanes 3:23).

C. SARANA-SARANA PANGGILAN

Allah memakai berbagai cara untuk memanggil manusia. (1) Ia 

memanggil orang-orang melalui Firman Tuhan (Roma 10:16, 17; I 

Tesalonika 2:13; II Tesalonika 2:14). (2) Ia juga memanggil orang 

dengan perantaraan Roh-Nya (Yohanes 16:8; Ibrani 3:7, 8; band. 

Kejadian 6:3). Roh Kudus mendorong orang berdosa untuk datang 

dan menerima Kristus. (3) Allah memakai para hamba-Nya untuk 

memanggil orang (II Tawarikh 36:15; Yeremia 25:4; Matius 22:2-9; 

Roma 10:14, 15). Yunus merupakan contoh yang baik tentang 

bagaimana Allah memakai hamba-Nya untuk membawa sebuah 

408 Soteriologi

kota kepada pertobatan. Firman Allah harus diberitakan kepada 

orang-orang yang belum diselamatkan oleh mereka yang sudah di­

lahirkan kembali, yaitu orang-orang yang dapat bersaksi mengenai 

kuasa Firman dan Roh dalam kehidupan mereka pribadi (I Tesa­

lonika 1:5). Dan (4) Allah memanggil dengan tindakan-tindakan 

pemeliharaan. Kebaikan-Nya bertujuan untuk membawa orang ke­

pada pertobatan (Yeremia 31:3; Roma 2:4), namun  bila cara ini tidak 

berhasil, maka penghakiman-Nyalah yang akan melaksanakannya 

(Mazmur 107:6, 13; Yesaya 26:9).

XXIX

Pertobatan

Bagaimanakah urutan logis dalam pengalaman keselamatan? Tentu 

saja tidak ada urutan kronologis; pertobatan, pembenaran, pemba­

haruan, penyatuan dengan Kristus, dan adopsi atau pengangkatan 

sebagai anak, semuanya terjadi pada saat yang sama. Hanya pengu­

dusan yang merupakan baik sebuah tindakan maupun sebuah proses. 

Meskipun demikian, pengalaman keselamatan mempunyai urutan 

logis, dan kita akan mengikuti urutan yang ada  di atas. Hal 

ini kami lakukan karena Alkitab memanggil orang untuk berbalik 

kepada Allah (Amsal 1:23; Yesaya 31:6; 59:20; Yehezkiel 14:6; 

18:32; 33:9-11; Yoel 2:12, 13; Matius 18:3; Kisah 3:19; Ibrani 6:1). 

Pertobatan merupakan tindakan berbalik kepada Allah, dan tindakan 

ini  merupakan tanggapan manusia terhadap panggilan Allah. 

Tindakan itu sendiri terdiri atas dua unsur: pertobatan dan iman. 

Alkitab tidak pernah meminta orang untuk membenarkan dirinya 

sendiri, memperbaharui diri sendiri, atau untuk mengadopsi dirinya 

sendiri. Hanya Allah yang dapat melakukan hal-hal ini , namun  

dengan kuasa yang diberikan oleh-Nya manusia dapat berbalik 

kepada Allah. Gereja di Yerusalem mengakui, "Jadi kepada bangsa- 

bangsa lain juga Allah mengaruniakan pertobatan yang memimpin 

kepada hidup" (Kisah 11:18; band. II Timotius 2:25). Nampaknya 

jelas bahwa pertobatan dan iman menghasilkan pembenaran, dan 

pembenaran membawa kepada hidup, dan bukan sebaliknya (Roma 

5:17, 18). Sekarang kita akan meneliti kedua unsur yang ada  

dalam pertobatan.

409

410 Soteriologi

I. UNSUR PERTOBATAN

Sekalipun pertobatan dan iman berkaitan erat kita perlu mempelajari 

kedua unsur ini secara tersendiri.

A. PENTINGNYA PERTOBATAN

Pentingnya pertobatan tidak selalu diindahkan sebagaimana seharus­

nya. Ada orang yang mengajak orang yang belum diselamatkan 

untuk menerima Kristus dan percaya, tanpa pernah menunjukkan 

kepada orang berdosa itu bahwa ia tersesat dan membutuhkan se­

orang Juruselamat. Alkitab sangat mementingkan pemberitaan per­

tobatan. Pertobatan merupakan pesan yang disampaikan oleh para 

nabi Perjanjian Lama (Ulangan 30:10; II Raja-Raja 17:13; Yeremia 

8:6; Yehezkiel 14:6; 18:30). Pertobatan merupakan tema pemberi­

taan Yohanes Pembaptis (Matius 3:2; Markus 1:15), Kristus (Matius 

4:17; Lukas 13:3-5), kedua belas murid (Markus 6:12), dan secara 

khusus tema khotbah Petrus pada hari Pentakosta (Kisah 2:38; band. 

3:19). Pertobatan juga menjadi pokok khotbah Paulus (Kisah 20:21; 

26:20). Meskipun kita sekarang hidup dalam zaman anugerah, 

bukan berarti bahwa pertobatan tidak diperlukan lagi dewasa ini; 

pertobatan jelas diperintahkan kepada semua orang (Kisah 17:30). 

Inilah yang dikatakan Paulus di Atena, daerah yang secara budaya 

paling jauh dari pengaruh Yahudi. Pertobatan merupakan tindakan 

yang sangat menarik perhatian seisi surga (Lukas 15:7, 10; 24:46, 

47). Pertobatan yaitu  yang paling mendasar dari segala asas penga­

jaran (Matius 21:32; Ibrani 6:1), karena pertobatan merupakan sya­

rat mutlak untuk dapat diselamatkan (Lukas 13:2-5).

B. ARTI PERTOBATAN

Pada hakikatnya, pertobatan yaitu  perubahan pikiran, bila kita 

mengambil arti kata yang luas. Akan namun , pertobatan terdiri atas 

tiga aspek: yang menyangkut pikiran, perasaan hati, dan kehendak. 

Marilah kita melihat dan mempelajari masing-masing secara lebih 

terinci.

1. Unsur yang menyangkut pikiran. Aspek ini menunjukkan ter­

jadinya perubahan pandangan. Yaitu suatu perubahan pandangan 

Pertobatan 411

terhadap dosa, Allah, dan diri sendiri. Dosa kini diakui sebagai 

kesalahan pribadi, Allah diakui sebagai Dia yang secara sah menun­

tut kebenaran, dan diri sendiri sebagai sudah tercemar dan tidak 

berdaya. Alkitab menyebut aspek pertobatan ini sebagai pengenalan 

akan dosa (Roma 3:20; band. Ayub 42:5, 6; Mazmur 51:5; Lukas 

15:17, 18; Roma 1:32). Pertobatan juga meliputi perubahan pikiran 

tentang Kristus. Petrus mengajak orang-orang Yahudi untuk tidak 

melihat Kristus sebagai seorang manusia biasa, seorang penipu, atau 

penghujat, namun  sebagai Mesias dan Juruselamat yang dijanjikan 

(Kisah 2:14-40).

2. Unsur yang menyangkut perasaan hati. Aspek ini menunjuk­

kan suatu perubahan perasaan. Merasa sedih atas dosa dan men­

dambakan pengampunan merupakan unsur-unsur pertobatan. Ter­

dapat perasaan menyesal yang sangat dalam saat  Daud berdoa, 

"Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah 

pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar!" (Mazmur 51:3). 

Paulus menulis, "Sekarang aku bersukacita, bukan karena kamu 

telah berdukacita, melainkan karena dukacitamu membuat kamu 

bertobat. Sebab dukacitamu itu yaitu  menurut kehendak Allah, 

sehingga kamu sedikit pun tidak dirugikan oleh karena kami. Sebab 

dukacita menurut kehendak Allah menghasilkan pertobatan yang 

membawa keselamatan dan yang tidak akan disesalkan" (II Korintus 

7:9, 10). Ayat-ayat lain yang menunjukkan perasaan yang sangat 

dalam sebagai bagian dari pertobatan ialah Matius 21:32; 27:3 

(band. Mazmur 38:19).

3. Unsur yang menyangkut kehendak. Unsur ini menunjukkan 

suatu perubahan kehendak, kecenderungan hati, dan tujuan. Ini me­

rupakan tindakan batiniah untuk meninggalkan dosa. Terjadi peru­

bahan kecenderungan hati sehingga orang berusaha mendapatkan 

pengampunan dan penyucian. Petrus mengatakan, "Bertobatlah dan 

hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam 

nama Yesus Kristus untuk mengampunan dosamu" (Kisah 2:38), 

sedangkan Paulus menulis, "Maukah engkau menganggap sepi ke­

kayaan kemurahan-Nya, kesabaran-Nya, dan kelapangan hati-Nya? 

Tidakkah engkau tahu bahwa maksud kemurahan Allah ialah me­

nuntun engkau kepada pertobatan?" (Roma 2:4). Unsur kehendak 

412 Soteriologi

dalam pertobatan terkandung dalam kedua ayat ini.

Pengakuan dosa (Mazmur 32:5; 51:5, 6; Lukas 15:21; 18:13; I 

Yohanes 1:9) dan penggantian rugi karena kesalahan yang dilaku­

kan terhadap orang lain (Lukas 19:8) merupakan buah pertobatan 

namun  bukanlah pertobatan itu sendiri. Kita tidak diselamatkan 

karena bertobat namun  jika  kita bertobat. Pertobatan bukanlah 

tindakan yang memenuhi tuntutan Allah, melainkan suatu keadaan 

hati yang diperlukan sebelum kita dapat percaya untuk menerima 

keselamatan. Lagi pula, pertobatan yang sungguh-sungguh tidak 

pernah terlepas dari iman. Maksudnya, seseorang tidak dapat ber­

balik meninggalkan dosa tanpa pada saat yang sama berbalik kepada 

Allah. Sebaliknya, kita dapat mengatakan bahwa iman yang sejati 

tidak pernah ada tanpa pertobatan. Keduanya tidak dapat dipisah­

kan.

C. SARANA-SARANA PERTOBATAN

Sepatah kata perlu diucapkan mengenai sarana-sarana pertobatan. 

Pada pihak Allah, pertobatan dikaruniakan oleh Allah. Paulus me­

nulis, "Sebab mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada 

mereka untuk bertobat dan memimpin mereka sehingga mereka me­

ngenal kebenaran" (II Timotius 2:25; band. Kisah 5:31; 11:18). Pada 

pihak manusia, pertobatan disebabkan oleh berbagai hal. Yesus 

mengajarkan bahwa mukjizat-mukjizat (Matius 11:20, 21), bahkan 

kebangkitan orang dari kematian (Lukas 16:30, 31), tidak cukup 

untuk menghasilkan pertobatan. Akan namun , Firman Allah (Lukas 

16:30, 31), pemberitaan Injil (Matius 12:41; Lukas 24:47; Kisah 

2:37, 38; II Timotius 2:25), kebaikan Allah kepada makhluk- 

makhluk ciptaan-Nya (Roma 2:4; II Petrus 3:9), ajaran dari Tuhan 

(Ibrani 12:10, 11; Wahyu 3:19), percaya akan kebenaran (Yunus 

3:5-10), dan suatu visi baru tentang Allah (Ayub 42:5, 6) merupakan 

sarana-sarana yang dipakai Allah untuk menghasilkan pertobatan.

II. UNSUR IMAN

Sebagaimana halnya dengan pertobatan, demikian pula halnya de­

ngan iman, kurang mendapatkan perhatian yang semestinya. Ke­

hidupan seseorang diatur oleh apa yang diyakini dan dipercayainya,

Pertobatan 413

serta agamanya ditentukan oleh tokoh yang dipercayainya. Evans 

mengatakan, "Wanita Siro-Fenisia [Matius 15] memiliki ketekunan; 

perwira Romawi [Matius 8] memiliki kerendahan hati; orang buta 

[Markus 10] memiliki kesungguhan. Akan namun , apa yang dilihat 

dan diganjari oleh Kristus dalam ketiga kasus ini yaitu  iman orang- 

orang itu."138 Hal ini benar, sehingga seharusnya kita terdorong 

untuk merenungkan peranan iman dalam kehidupan kita. Dalam 

kesempatan ini kita akan mengkajinya sebagai suatu unsur per­

tobatan.

138 Evans, The Great Doctrines of the Bible, hal, 144.

A. PENTINGNYA IMAN

Alkitab menyatakan bahwa kita diselamatkan oleh iman (Kisah 

16:31; Roma 5:1; 9:30-32; Efesus 2:8), dikaruniakan Roh Kudus 

oleh iman (Galatia 3:5, 14), disucikan oleh iman (Kisah 15:9; 

26:18), dipelihara karena iman (Roma 11:20; II Korintus 1:24; I 

Petrus 1:5; I Yohanes 5:4), diteguhkan oleh iman (Yesaya 7:9), dan 

disembuhkan oleh iman (Kisah 14:9; Yakobus 5:15). Kita hidup 

oleh iman (II Korintus 5:7) dan mengatasi kesulitan dengan iman 

(Markus 9:23; Roma 4:18-21; Ibrani 11:32-40). Allah menegaskan 

bahwa iman itu perlu agar dapat berkenan kepada-Nya (Ibrani 11:6) 

dan Ia menganggap ketidakpercayaan sebagai suatu dosa yang besar 

(Yohanes 16:9; Roma 14:23) dan sebagai membatasi penyataan 

kuasa-Nya (Markus 6:5, 6). Iman membuat kita terus-menerus men­

jadi berkat bagi orang lain (Yohanes 7:38); iman menuntun kita 

untuk berusaha melakukan sesuatu yang menguntungkan orang lain 

(Markus 2:3-5); iman menghasilkan ketekunan dalam melayani 

Tuhan (Matius 15:28); dan iman mendapatkan pertolongan untuk 

orang lain (Kisah 27:24, 25). Jelaslah, keuntungan-keuntungan 

menyatakan bahwa iman penting sekali.

B. ARTI IMAN

Marilah kita pertama-tama membedakan antara beberapa istilah 

yang kadang-kadang dibaurkan. Ada istilah-istilah seperti "per­

caya", "harapan", dan "iman". Istilah "percaya" sering kali dipakai 

dalam arti yang sama dengan "iman"; namun sering kali istilah "per­

414 Soteriologi

caya" hanya menunjukkan satu unsur saja dari iman, yaitu unsur 

intelektual. Maka dari itu kita harus hati-hati agar jangan memakai 

istilah itu secara tidak tepat. Kata "harapan" semata-mata dipakai 

berkaitan dengan masa depan, sedangkan iman berkaitan dengan 

masa lalu, masa kini, dan masa depan. Harapan telah ditetapkan 

sebagai keinginan ditambah pengharapan, namun pengharapan da­

lam pengertian alkitabiah juga memiliki unsur-unsur pengetahuan 

dan kepastian. Pengharapan alkitabiah bertumpu pada kebenaran 

yang telah dinyatakan dalam Alkitab. Iman juga bisa berarti semua 

ajaran Kristen yang ada  dalam Alkitab (Lukas 18:8; Kisah 6:7; 

I Timotius 4:1; 6:10; Yudas 3).

Kalau begitu apakah yang kita maksudkan dengan iman? Tidak­

lah mudah untuk membuat definisi yang sederhana namun  memadai. 

saat  seorang bertobat, iman menunjuk kepada jiwa manusia yang 

berbalik kepada Allah, sebagaimana bertobat berarti jiwa berbalik 

meninggalkan dosa. Namun kita perlu mengkaji dengan lebih teliti 

apa yang kita maksudkan dengan berbalik kepada Allah. Kita dapat 

mengatakan bahwa Alkitab menggambarkan iman sebagai tindakan 

hati manusia. Oleh karena itu, iman mencakup perubahan pikiran, 

perasaan hati, dan kehendak. Manusia percaya dengan hatinya agar 

ia diselamatkan (Roma 10:9, 10). Alkitab menekankan segi intelek­

tual (pikiran) dari iman dalam ayat-ayat seperti Mazmur 9:11; Yo­

hanes 2:23, 24; dan Roma 10:14. Nikodemus memiliki iman in­

telektual saat  ia datang kepada Yesus (Yohanes 3:2), dan diberi 

tahu bahwa setan-setan memiliki juga percaya karena mereka me­

ngetahui berbagai fakta mengenai Allah (Yakobus 2:19). Sudahlah 

pasti bahwa Simon Magus (Kisah 8:13) juga mempunyai iman se­

macam ini karena tidak ada petunjuk-petunjuk bahwa ia bertobat 

dan menerima Kristus. Oleh karena itu, kita menyimpulkan bahwa 

iman bukanlah sekadar persetujuan intelektual saja. Sekarang, 

marilah kita mempelajari ketiga unsur dari iman yang sejati.

7. Unsur yang menyangkut pikiran. Unsur ini meliputi percaya 

kepada penyataan Allah dalam alam, pada fakta-fakta sejarah yang 

ada  di Alkitab, dan pada doktrin-doktrin yang diajarkan dalam 

Alkitab yang berkaitan dengan keadaan manusia yang penuh dosa, 

penebusan yang disediakan dalam Kristus, syarat-syarat untuk mem­

peroleh keselamatan dan menerima semua berkat yang dijanjikan 

Pertobatan 415

kepada anak-anak Tuhan. Sekalipun unsur iman ini sekarang sangat 

diremehkan, unsur ini menjadi dasar bagi unsur-unsur pokok yang 

lain dari iman. Paulus mengatakan, "Jadi, iman timbul dari pende­

ngaran, dan pendengaran akan firman Kristus" (Roma 10:17). Kita 

mengetahui bahwa Allah itu ada; oleh karena itu, kita percaya 

bahwa Dia ada (Roma 1:19, 20); kita perlu mengetahui Injil agar 

dapat percaya kepada Kristus (Roma 10:14). Oleh karena itu, iman 

yang alkitabiah bukanlah hal menerima suatu hipotesis yang 

dirumuskan untuk agama, melainkan merupakan kepercayaan yang 

berlandaskan bukti-bukti yang terbaik. Pemazmur menulis, "Orang 

yang mengenal nama-Mu, percaya kepada-Mu, sebab tidak 

Kautinggalkan orang yang mencari Engkau, ya Tuhan" (Mazmur 

9:11).

2. Unsur yang menyangkut perasaan hati. Unsur ini ditekankan 

dalam ayat-ayat seperti Mazmur 106:12, 13, "saat  itu percayalah 

mereka kepada segala firman-Nya, mereka menyanyikan puji-pujian 

kepada-Nya. namun  segera mereka melupakan perbuatan-perbuatan- 

Nya dan tidak menantikan nasihat-Nya"; Matius 13:20, 21, "Benih 

yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu ialah orang yang men­

dengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira. namun  

ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. jika  datang penindasan 

atau penganiayaan karena firman itu, orang itu pun segera murtad"; 

dan Yohanes 8:30, 31 di mana Yohanes membedakan antara orang 

banyak yang percaya kepada Yesus dan orang-orang lain yang 

sekadar mempercayai Dia. Bandingkanlah juga sikap ahli Taurat 

yang menyetujui pernyataan Yesus tentang hukum yang terutama, 

namun  yang tidak menerima Dia sebagai Juruselamat (Markus 12:32- 

34); dan Yohanes 5:35, "Ia yaitu  pelita yang menyala dan yang 

bercahaya dan kamu hanya mau menikmati sesaat  saja cahayanya 

itu." Semua ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang itu hanya 

sementara saja menerima sebagian kebenaran Allah, berbeda de­

ngan mereka yang sepenuhnya menerima pesan Firman Allah dan 

Kristus yang diberitakannya.

Kita dapat memperjelas unsur emosional dari iman sebagai jiwa 

yang mulai menyadari kebutuhan-kebutuhan pribadinya serta ke­

mungkinan diterapkannya penebusan yang tersedia di dalam Kristus 

pada dirinya sendiri, dan pada saat yang sama menerima kebenaran- 

416 Soteriologi

kebenaran itu. Akan namun , ia tidak boleh berhenti di situ saja, sebab 

sekalipun unsur emosional harus diperhitungkan juga sebagai suatu 

unsur penting dari iman sejati, namun unsur ini tidak boleh dianggap 

sebagai satu-satunya unsur iman.

3. Unsur yang menyangkut kehendak. Unsur iman ini merupakan 

akibat logis dari unsur yang menyangkut pikiran dan perasaan hati. 

jika  seseorang menerima sebagai benar penyataan Allah dan 

keselamatan yang ditawarkan-Nya serta menyetujui bahwa 

semuanya itu bermanfaat bagi dirinya, maka logislah jika orang ter­

sebut akan mengambil, keselamatan itu bagi dirinya sendiri. Setiap 

istilah yang dibahas sebelumnya akan membawa kepada istilah yang 

berikutnya; seseorang belum diselamatkan jika ketiga unsur ini tidak 

ada  dalam imannya. Sekalipun demikian, unsur yang 

menyangkut kehendak ini begitu luas sehingga mencakup kedua 

unsur lainnya. Pastilah, tidak ada orang yang diselamatkan jikalau 

ia tidak ingin menerima Kristus, dan tidak ada orang yang akan 

memperoleh jawaban atas doa jika ia tidak dengan sepenuh hati 

percaya janji-janji Allah.

Unsur yang menyangkut kehendak ini meliputi juga penyerahan 

hati kepada Allah dan penerimaan Kristus sebagai Juruselamat. 

Penyerahan hati kepada Allah ditunjukkan dalam ayat-ayat seperti 

"Hai anak-Ku, berikanlah hatimu kepada-Ku, biarlah matamu 

senang dengan jalan-jalan-Ku" (Amsal 23:26); "Marilah kepada-Ku, 

semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi 

kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah 

pada-Ku" (Matius 11:28, 29); dan "Jikalau seorang datang kepada- 

Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, istrinya, anak-anaknya, 

saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya 

sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku" (Lukas 14:26). Istilah 

Yunani pisteuo (percaya atau mempercayai) dipakai juga dalam arti 

penyerahan dan pengabdian. Hal ini dapat dilihat dalam pernyataan- 

pernyataan seperti berikut, 'namun  Yesus sendiri tidak mempercaya­

kan diri-Nya [pisteuo] kepada mereka, karena Ia mengenal mereka 

semua" (Yohanes 2:24); "Kepada merekalah dipercayakan firman 

Allah" (Roma 3:2); dan "Kepadaku telah dipercayakan pemberitaan 

Injil" (Galatia 2:7). Alkitab sering kali menekankan bahwa sese­

orang harus menghitung dulu harganya sebelum memutuskan untuk

Pertobatan 417

ikut Yesus (Matius 8:19-22; Lukas 14:26-33). Gagasan penyerahan 

juga tersirat dalam perintah untuk menerima Yesus sebagai Tuhan. 

Perintahnya ialah 'Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus" (Kisah 

16:31), dan kita harus mengaku "bahwa Yesus yaitu  Tuhan" 

(Roma 10:9) sebelum dapat menerima keselamatan. Percaya kepada 

Yesus sebagai Tuhan berarti mengakui Dia sebagai Tuhan, dan kita 

tidak dapat mengakui Dia sebagai Tuhan jikalau kita belum 

menyerahkan kepada-Nya pimpinan atas kehidupan kita. Unsur 

iman ini sering kali diabaikan atau bahkan dihubungkan dengan 

waktu yang datang kemudian dalam pengalaman penyerahan kepada 

Tuhan, namun  Alkitab dengan jelas sekali menghubungkannya de­

ngan pengalaman keselamatan yang mula-mula.

Perlunya menerima Kristus sebagai Juruselamat untuk diri kita 

sendiri diajarkan dalam banyak ayat Alkitab, 'namun  semua orang 

yang menerima-Nya, diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak 

Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya" (Yohanes 1:12; 

"Barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak 

akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Ku­

berikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang 

terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal" 

(Yohanes 4:14); "Jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia 

dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam 

dirimu. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia 

mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia 

pada akhir zaman" (Yohanes 6:53, 54); dan "Lihatlah, Aku berdiri 

di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar 

suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkan­

nya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama- 

sama dengan Aku" (Wahyu 3:20).

C. SUMBER IMAN

Sebagaimana halnya pertobatan, demikian pula iman memiliki sisi 

ilahi dan sisi manusiawi.

7. Sisi ilahi. Penulis surat Ibrani mengatakan tentang Yesus 

sebagai yang "memimpin kita dalam iman dan yang membawa iman 

kita itu kepada kesempurnaan" (Ibrani 12:2). Jelaslah, iman yaitu  

pemberian dari Allah (Roma 12:3, II Petrus 1:1), yang diberikan 

418 Soteriologi

oleh Roh Kudus menurut kehendak-Nya (I Korintus 12:9; band. 

Galatia 5:22). Paulus berbicara tentang seluruh keselamatan sebagai 

suatu pemberian Allah (Efesus 2:8), dan pastilah itu mencakup juga 

iman.

2. Sisi manusiawi. Sabda Allah yang diucapkan dan yang tertulis 

menghasilkan iman. Alkitab mengatakan, "Iman timbul dari pen­

dengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus" (Roma 10:17), dan 

"Di antara orang yang mendengar ajaran itu banyak yang menjadi 

percaya" (Kisah 4:4). Bukan saja Firman Tuhan yang menjadi 

sarana iman, namun  doa juga (Markus 9:24; Lukas 22:32). Para 

murid minta kepada Tuhan, 'Tambahkanlah iman kami" (Lukas 

17:5). Selanjutnya, hal memakai  iman yang kita miliki akan 

merupakan suatu sarana yang membantu pertumbuhan iman kita 

(Matius 25:29; band. Hakim-Hakim 6:14).

D. HASIL-HASIL IMAN

Ada beberapa hasil iman.

1. Keselamatan. Seluruh keselamatan kita bergantung pada iman. 

Dari awal sampai akhir kita diselamatkan oleh iman, apakah itu 

pembenaran (Roma 5:1), pengangkatan sebagai anak atau adopsi 

(Galatia 3:5, 14; 4:5, 6), atau pengudusan (Kisah 26:18). Petrus 

memberi tahu bahwa kita "dipelihara dalam kekuatan Allah karena 

iman" (I Petrus 1:5).

2. Kepastian. Memang benar bahwa kepastian keselamatan 

datangnya dari kesaksian Roh Kudus (Roma 8:16; I Yohanes 3:24; 

4:13), namun Allah menunjukkan janji-janji dalam Firman Tuhan 

kepada jiwa kita, dan kepastian datang pada saat kita percaya pada 

janji-janji itu. Yang berkaitan erat sekali dengan kepastian ialah 

damai sejahtera (Yesaya 26:3; Roma 5:1), dan perhentian (Ibrani 

4:3), beserta dengan sukacita yang dihasilkannya (I Petrus 1:8).

3. Perbuatan baik. Iman dengan sendirinya menghasilkan per­

buatan baik. Kita memang telah diselamatkan terlepas dari per­

buatan baik (Roma 3:20; Efesus 2:9), namun kita telah diselamatkan 

"untuk melakukan pekerjaan baik" (Efesus 2:10). Yesus menga-

Pertobatan 419

takan, "Hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya 

mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu 

yang di sorga" (Matius 5:16). Yakobus menekankan bahwa iman 

diwujudkan dalam "perbuatan" (Yakobus 2:17-26). Paulus me­

nekankan bahwa melakukan hukum Taurat saja tidaklah cukup 

(Galatia 2:16; 3:10); namun ia juga menekankan bahwa "perbuatan" 

yaitu  hasil dari iman (Titus 1:16; 2:14; 3:14; 3:8). Perbuatan baik 

ini yaitu  buah Roh (Galatia 5:22, 23; Efesus 5:9).


XXX

Pembenaran dan Pembaharuan

Doktrin-doktrin yang akan kita pertimbangkan selanjutnya ialah 

pembenaran dan pembaharuan

I. DOKTRIN PEMBENARAN

Pertobatan diikuti oleh pembenaran. Sekalipun Alkitab sangat me­

nekankan doktrin pembenaran ini, dalam kurun sejarah gereja 

doktrin ini telah diputarbalikkan dan hampir dibuang. Reformasi 

Protestan sangat berjasa karena telah mengembalikannya pada tem­

patnya yang layak. Kita sedikit banyak kecewa bila mencari 

masukan-masukan tentang doktrin-doktrin pembaharuan dan pengu­

dusan dalam karya-karya para Reformator; doktrin-doktrin ini 

belumlah menerima perhatian yang semestinya sampai zaman 

Kebangkitan Rohani golongan Wesleyan. Akan namun , kita dapat 

bersukacita karena gerakan Reformasi telah mengembalikan doktrin 

pembenaran kepada gereja. Beberapa aspek dari doktrin ini perlu 

dibicarakan.

A. DEFINISI PEMBENARAN

Dari pembawaannya, setiap orang bukan saja merupakan anak si 

jahat, namun  juga seorang yang melakukan pelanggaran dan 

kejahatan (Roma 3:23; 5:6-10; Efesus 2:1-3; Kolose 1:21; Titus 

3:3). saat  dilahirkan kembali maka seseorang menerima hidup 

dan perangai yang baru; saat  mengalami pembenaran, ia 

menerima kedudukan yang baru. Pembenaran dapat dijelaskan 

sebagai tindakan Allah yang menyatakan sebagai benar orang yang 

percaya kepada Kristus. Ladd menganjurkan, 'Pokok gagasan pem-

421

422 Soteriologi

benaran ialah pernyataan Allah, hakim yang adil, bahwa orang yang 

percaya kepada Kristus, sekalipun penuh dengan dosa, dinyatakan 

benar-dipandang sebagai benar, karena di dalam Kristus orang ter­

sebut telah memasuki suatu hubungan yang benar dengan Allah."139

139 Ladd, A Theology of the New Testament, hal. 437.

140 Ladd, A Theology of the New Testament, hal. 437.

Pembenaran merupakan suatu tindakan deklaratif. Pembenaran 

bukanlah sesuatu yang dikerjakan di dalam manusia, namun  sesuatu 

yang dinyatakan tentang manusia. Pembenaran tidak menjadikan 

seseorang benar, namun  hanya menyatakan dia benar. Beberapa hal 

tercakup di dalamnya.

1. Penghapusan hukuman. Upah dosa ialah kematian: kematian 

rohani, kematian fisik, dan kematian abadi (Kejadian 2:17; Roma 

5:12-14; 6:23). Bila seseorang akan diselamatkan, maka hukuman 

atas dosa itu harus ditiadakan terlebih dahulu. Hukuman ini  

telah ditiadakan oleh dan di dalam kematian Kristus, yang 

menanggung hukuman dosa-dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu 

salib (Yesaya 53:5, 6; I Petrus 2:24). Karena Kristus telah me­

nanggung segala hukuman dosa manusia, maka kini Allah telah 

menghapus hukuman itu dalam hal orang yang percaya kepada Kris­

tus (Kisah 13:38, 39; Roma 8:1, 33, 34; II Korintus 5:21). Inilah 

yang dinamakan pengampunan dosa (Roma 4:7; Efesus 1:7; 4:32; 

Kolose 2:13).

Kematian Kristus telah memungkinkan pengampunan dosa, namun  

tidak mewajibkannya, karena Kristus mati secara sukarela dan 

bukan karena terpaksa. Allah tetap berhak untuk menentukan atas 

syarat-syarat apakah manusia boleh menerima pengampunan dosa. 

Hal itu telah dilakukan-Nya dengan menyatakan bahwa Ia mengam­

puni orang yang bertobat dan percaya kepada Anak-Nya. Daud 

mengatakan, "Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, 

yang dosanya ditutupi! Berbahagialah manusia yang kesalahannya 

tidak diperhitungkan Tuhan!" (Mazmur 32:1, 2). "Doktrin pem­

benaran berarti bahwa sekarang ini Allah telah menyatakan pem­

bebasan orang beriman dari penghukuman pada akhir zaman, bah­

kan sebelum penghukuman akhir itu terjadi."140

2. Pemulihan hubungan baik. Orang berdosa bukan saja telah 

mendatangkan hukuman atas dirinya, namun  Allah juga tidak lagi 

Pembenaran dan Pembaharuan 423

berkenan kepadanya (Yohanes 3:36; Roma 1:18; 5:9; Galatia 2:16, 

17). Pembenaran bukan sekadar pembebasan dari hukuman; peng­

hapusan hukuman yaitu  berbeda dengan dikembalikan kepada 

hubungan baik dengan Allah. Orang yang telah dibenarkan kini 

menjadi sahabat Allah (II Tawarikh 20:7; Yakobus 2:23). Ia 

dijadikan pewaris Allah dan pewaris bersama-sama dengan Kristus 

(Roma 8:16, 17; Galatia 3:26; Ibrani 2:11).

3. Penghitungan kebenaran. Karena pembenaran yaitu  

menempatkan seseorang sebagai benar di depan hukum yang ber­

laku, maka orang berdosa tidak hanya harus menerima pengam­

punan atas dosa-dosa yang telah lalu, namun  ia juga harus diberikan 

kebenaran yang positif sebelum ia dapat bersekutu dengan Allah. 

Kebutuhan ini disediakan dalam penghitungan kebenaran Kristus 

pada orang yang percaya. Dihitung artinya dianggap sebagai atau 

dimasukkan dalam bilangan. Paulus meminta agar Filemon 

menanggungkan utang Onesimus kepadanya (Filemon 18). Daud 

mengatakan seseorang berbahagia jika  "kesalahannya tidak 

diperhitungkan Tuhan" (Mazmur 32:2). Paulus berkata tentang per­

nyataan ini bahwa Daud "menyebut berbahagia orang yang 

dibenarkan Allah bukan berdasarkan perbuatannya" (Roma 4:6). 

Bagaimana Allah dapat melakukan hal itu? Dengan memper­

hitungkan kebenaran Kristus pada orang percaya. "Dia yang tidak 

mengenal dosa, telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya 

dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah" (II Korintus 5:21). Kristus 

"yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan 

dan menguduskan dan menebus kita" (I Korintus 1:30). Kebenaran 

Allah ini dinyatakan dalam Injil, serta bertolak dari iman dan 

memimpin kepada iman (Roma 1:17). Kita harus memperhatikan 

bahwa yang dimaksudkan di sini bukanlah kebenaran sebagai sifat 

Allah, karena kebenaran itu tidak ada hubungannya dengan iman 

kita, namun  yang diperhitungkan ialah kebenaran yang telah disedia­

kan Allah bagi mereka yang percaya kepada Kristus. Demikianlah, 

Allah memulihkan hubungan baik dengan kita dengan memperhi­

tungkan kebenaran Kristus kepada kita. Inilah pakaian perkawinan 

yang dipersiapkan bagi setiap orang yang menerima undangan ke 

pesta itu (Matius 22:11, 12; band. Lukas 15:22-24).

Oleh karena itu, orang yang telah dibenarkan itu telah diampuni 

424 Soteriologi

dosanya dan telah dihapus hukumannya; ia juga telah memperoleh 

kembali hubungan baik dengan Allah melalui penghitungan 

kebenaran Kristus. Dirinya sendiri belum benar, sekalipun kata sifat 

dikaios kadang-kadang dipakai untuk menunjuk kepada kelakuan 

yang benar, namun  orang ini  yaitu  benar dalam arti forensik, 

yaitu secara hukum. Gereja Roma Katolik menjelaskan pembenaran 

sebagai penghapusan dosa serta pemasukan sifat-sifat anugerah 

yang baru. Berdasarkan pandangan ini, pembenaran diperlakukan 

sebagai suatu pengalaman yang subjektif dan bukan suatu hubungan 

yang objektif. Ajaran inilah yang dilawan oleh kaum Reformasi. 

Mereka dengan gigih mengatakan bahwa pembenaran itu berbeda 

dari pengudusan, bahwa pembenaran merupakan suatu tindakan 

deklaratif, yaitu menguraikan hubungan seorang berdosa dengan 

hukum dan keadilan Allah, sedangkan pengudusan merupakan tin­

dakan efisien yang mengubah perangai batiniah orang berdosa. Ini­

lah pandangan yang tepat sebagaimana jelas dari banyak bagian 

Alkitab.

B. METODE PEMBENARAN

Bahkan pada zaman purbakala, yaitu pada zaman Ayub, sudah ada 

orang yang bertanya, "Bagaimana manusia benar di hadapan Allah, 

dan bagaimana orang yang dilahirkan perempuan itu bersih?" (Ayub 

25:4). Pemazmur memohon kepada Tuhan dengan sungguh-sung­

guh sambil berkata, "Janganlah beperkara dengan hamba-Mu ini, 

sebab di antara yang hidup tidak seorang pun yang benar di 

hadapan-Nya" (Mazmur 143:2). Untunglah, orang-orang yang men­

cari Allah pada zaman Perjanjian Lama tidak perlu menunggu sam­

pai Paulus lahir untuk menemukan jawaban atas pertanyaan mereka. 

Paulus mengingatkan kita bahwa Abraham dibenarkan oleh iman 

empat belas tahun sebelum ia disunat (Roma 4:1-5, 9-12; band. 

Kejadian 15:6; 16:15, 16; 17:23-26) dan bahwa Daud bersukacita 

atas kenyataan kebenaran yang diperhitungkan (Roma 4:6-8). 

Ajaran Perjanjian Baru tentang pembenaran bukanlah suatu 

penemuan baru; kebenaran ini telah diketahui pada zaman Perjan­

jian Lama, dan pada waktu itu kebenaran diperoleh dengan cara 

yang sama seperti pada zaman Perjanjian Baru. Jadi, apakah metode 

pembenaran yang dipakai oleh Tuhan?

Pembenaran dan Pembaharuan 425

1. Kita dibenarkan bukan dengan melakukan hukum Taurat. 

Secara negatif, pembenaran bukanlah diperoleh karena melakukan 

hukum Taurat. Memang benar bahwa Yesus menyuruh pemuda 

yang kaya itu untuk taat kepada hukum Taurat saat  ia bertanya 

apa yang harus dilakukannya untuk memperoleh hidup yang kekal 

(Markus 10:17-22), namun jelaslah bahwa Kristus melakukan hal 

ini sekadar untuk menunjukkan kepada pemuda kaya itu bahwa 

keselamatan tidak mungkin diperoleh berdasarkan hal itu. Orang 

yang ingin dibenarkan oleh pekerjaan hukum Taurat harus terus- 

menerus melakukan segala sesuatu yang tertulis dalam hukum 

(Galatia 3:10; Yakobus 2:10). Tak seorang pun yang bisa 

melakukannya. Paulus mengatakan bahwa dengan melakukan 

hukum Taurat tidak seorang pun dibenarkan di hadapan Allah 

(Roma 3:20; Galatia 2:16). Hukum Taurat hanya sekadar bertugas 

untuk menyatakan dosa (Roma 3:20; 7:7) dan mendorong orang 

yang sudah insaf untuk lari kepada Kristus (Galatia 3:24). Yesus 

sendiri pada suatu kesempatan lain, pernah mengajarkan bahwa 

"pekerjaan yang dikehendaki Allah" ialah "percaya kepada Dia yang 

telah diutus Allah" (Yohanes 6:29). Manusia tidak diselamatkan 

dengan cara berusaha sekuat tenaga untuk melakukan perbuatan 

baik, selain perbuatan itu ialah percaya kepada Tuhan Yesus.

2. Kita dibenarkan oleh kasih karunia Allah. Dua ayat Alkitab 

dapat dikutip untuk menerangkan kebenaran ini, "Oleh kasih 

karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan 

dalam Kristus Yesus" (Roma 3:24) dan "Sebagai orang yang 

dibenarkan oleh kasih karunia-Nya, berhak menerima hidup yang 

kekal, sesuai dengan pengharapan kita" (Titus 3:7). Kedua ayat ini 

menunjukkan sumber pembenaran kita. Kita diselamatkan bukanlah 

oleh perbuatan-perbuatan baik yang telah kita lakukan, namun  oleh 

kemurahan-Nya (Titus 3:5; band. Efesus 2:4, 5, 8). Dengan demi­

kian, pembenaran itu bermula dalam hati Allah sendiri. Karena 

menyadari bahwa kita bukan hanya tidak mempunyai kebenaran, 

namun  juga tidak mampu untuk memperolehnya, maka dengan 

murah hati Allah memutuskan untuk memberikan kebenaran itu 

kepada kita. Kemurahan Allah itulah yang mendorong Dia untuk 

menganugerahkan kebenaran itu kepada kita; Ia tidak berkewajiban 

untuk memberikannya. Dalam kasih karunia-Nya Ia memperhatikan 

426 Soteriologi

kesalahan kita, dan dalam kemurahan-Nya Ia memperhatikan pen­

deritaan kita.

3. Kita dibenarkan oleh darah Kristus. Orang percaya itu tidak 

saja dibenarkan oleh kasih karunia Allah, namun  ia juga dibenarkan 

oleh darah Kristus. Paulus menulis, "Lebih-lebih, karena kita se­

karang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan diselamat­

kan dari murka Allah" (Roma 5:9). Alkitab selanjutnya menga­

takan, "Dan hampir segala sesuatu disucikan menurut hukum Taurat 

dengan darah, dan tanpa pertumpahan darah tidak ada pengam­

punan" (Ibrani 9:22). Ayat-ayat ini memberi tahu landasan pem­

benaran kita. Karena Kristus telah menanggung hukuman untuk 

dosa-dosa kita, maka Allah kini dapat menghapuskan hukuman itu 

serta mempunyai hubungan yang baik kembali dengan kita. Dalam 

pembenaran, dosa-dosa kita tidak dimaafkan, namun  dihukum di 

dalam diri Yesus Kristus, yang menjadi pengganti kita. Kebangkitan 

Kristus merupakan bukti bahwa kematian-Nya di kayu salib telah 

memenuhi semua tuntutan Allah terhadap diri kita (Roma 

4:25; I Yohanes 2:2). Pemberian Roh Kudus merupakan suatu 

bukti yang lain. "Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita 

bahwa kita yaitu  anak-anak Allah" (Roma 8:16; band. Galatia 4:5, 

6).

4. Kita dibenarkan karena iman. Alkitab mengatakan, "Sebab 

itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai 

sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus" 

(Roma 5:1), dan "Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, 

dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan" (Roma 10:10). 

Alkitab selanjutnya mengatakan bahwa "tidak seorang pun yang 

dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, namun  hanya oleh 

karena iman dalam Kristus Yesus" (Galatia 2:16; band. Kisah 13:38, 

39; Roma 3:28; Galatia 3:8,24). Inilah syarat bagi pembenaran kita, 

bukan landasannya. "Bila iman merupakan landasan bagi pem­

benaran kita, maka iman harus dianggap sebagai perbuatan baik 

manusia."  Rasul Paulus terus-menerus menentang pandangan 

bahwa manusia dapat dibenarkan oleh karena perbuatan baik (Roma 

3:27, 28; Galatia 2:16). Bukan karena memiliki iman kita 

141

141 Berkhof, Systematic Theology, hal. 521.

Pembenaran dan Pembaharuan 427

dibenarkan, namun  oleh iman. Iman bukanlah harga pembenaran, 

melainkan merupakan sarana untuk memperoleh pembenaran. Jelas­

lah bahwa baik orang saleh zaman Perjanjian Lama maupun orang 

saleh zaman Perjanjian Baru (Kisah 13:38, 39; Roma 4:5-12; 

Galatia 3:8) dibenarkan.

C. HASIL-HASIL PEMBENARAN

Hasil-hasil pembenaran dapat diringkaskan sebagai berikut. (1) 

Hukuman dihapus (Roma 4:7, 8; II Korintus 5:19). Penghukuman 

telah ditiadakan (Roma 8:1, 33, 34), dan kini kita berdamai dengan 

Tuhan (Roma 5:1; Efesus 2:14-17). (2) Kita mempunyai hubungan 

yang baik kembali dengan Allah (Roma 4:6; I Korintus 1:30; II 

Korintus 5:21). (3) Kebenaran Kristus diperhitungkan pada kita 

(Roma 4:5). Orang percaya kini memakai kebenaran yang bukan 

kebenarannya sendiri, namun  yang diberikan kepadanya oleh Kristus, 

dan karena itu ia kini dapat bersekutu dengan Allah. (4) Orang 

percaya menjadi ahli waris. Paulus mengatakan, "Supaya kita, 

sebagai orang yang dibenarkan oleh kasih karunia-Nya, berhak 

menerima hidup yang kekal, sesuai dengan pengharapan kita" (Titus 

3:7). (5) Juga ada akibat langsung dalam kehidupan praktis. Pem­

benaran menghasilkan kehidupan yang benar. Alkitab mengatakan 

bahwa kini kita "penuh dengan buah kebenaran yang dikerjakan 

oleh Yesus Kristus untuk memuliakan dan memuji Allah" (Filipi 

1:11). Yohanes menulis, "Anak-anakku, janganlah membiarkan se­

orang pun menyesatkan kamu. Barangsiapa yang berbuat 

kebenaran yaitu  benar, sama seperti Kristus yaitu  benar" (I 

Yohanes 3:7). Hal inilah yang ditekankan oleh Yakobus; ia ingin 

sekali agar orang percaya memiliki iman yang akan menghasilkan 

perbuatan-perbuatan yang nyata, yaitu iman yang hidup (Yakobus 

2:14-26). (6) Orang yang dibenarkan memiliki kepastian bahwa ia 

akan selamat dari murka Allah yang akan datang (Roma 5:9; I Tesa­

lonika 1:10). Dan (7) ia memiliki keyakinan bahwa suatu saat ia 

akan dipermuliakan (Matius 13:43; Roma 8:30; Galatia 5:5). Se­

muanya ini secara langsung berhubungan dengan pembenaran.

II. DOKTRIN PEMBAHARUAN

Secara logis doktrin pembaharuan mengikuti doktrin pembenaran.

428 Soteriologi

A. ARTI PEMBAHARUAN

Pembenaran diberikan agar orang percaya dapat memerintah dalam 

hidup ini dan dalam Alkitab hal ini disebutkan sebagai "pembenaran 

untuk hidup" (Roma 5:18). Dari sisi ilahi, pembahan hati itu disebut 

pembaharuan, kelahiran kembali; dari sisi manusia, itu dinamakan 

pertobatan. Dalam pembaharuan, jiwa itu pasif; dalam pertobatan, 

jiwa itu aktif. Pembaharuan dapat diperjelas sebagai pemberian 

hidup ilahi kepada jiwa (Yohanes 3:5; 10:10, 28; I Yohanes 5:11, 

12), sebagai pemberian sifat yang baru (II Petrus 1:4) atau hati yang 

baru (Yeremia 24:7; Yehezkiel 11:19; 36:26), serta menghasilkan 

ciptaan yang baru (II Korintus 5:17; Efesus 2:10; 4:24). Hidup 

rohani yang baru ini mempengaruhi kemampuan berpikir (I Korin­

tus 2:14; Efesus 1:18; Kolose 3:10), kemauan (Filipi 2:13; II Tesa­

lonika 3:5; Ibrani 13:21), perasaan orang percaya (Matius 5:4; 

I Petrus 1:8).

B. PERLUNYA PEMBAHARUAN

Alkitab berkali-kali menyatakan bahwa seseorang hams diperba­

harui atau dilahirkan kembali sebelum ia dapat melihat Allah. Tun­

tutan-tuntutan Firman Allah ini didukung oleh akal dan hati nurani 

manusia.

Kesucian merupakan syarat mutlak yang hams dipenuhi sebelum 

seseorang dapat diterima dalam persekutuan dengan Allah. Alkitab 

memerintahkan, "Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan 

kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan 

melihat Tuhan" (Ibrani 12:14). Akan namun , seluruh umat manusia 

pada dasarnya telah rusak akhlaknya, dan bila secara moral ia mulai 

menyadari keadaannya, maka ia menjadi bersalah karena telah 

melanggar hukum Allah. Oleh karena keadaan ini yang menjadi 

sifat dasarnya, maka manusia tidak dapat bersekutu dengan Allah. 

Perubahan moral di dalam manusia ini hanya dapat terjadi oleh 

suatu tindakan Roh Allah. Roh Kudus memperbaharui hati manusia 

serta memberinya kepadanya hidup dan sifat Allah. Alkitab me­

nyebut pengalaman ini sebagai kelahiran kembali, yang menyebab­

kan seseorang menjadi anak Allah. Yesus mengatakan, "Aku ber­

kata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kem­

bali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah" (Yohanes 3:3; band. 

Pembenaran dan Pembaharuan 429

1:12; I Yohanes 3:1). Pada dasarnya semua orang yaitu  "orang- 

orang durhaka" (Efesus 2:2), "orang-orang yang harus dimurkai" 

(Efesus 2:3), "anak-anak dunia ini" (Lukas 16:8), dan "anak-anak 

Iblis" (I Yohanes 3:10; band. Matius 13:38; 23:15; Kisah 13:10). 

Istilah "anak-anak Iblis" secara khusus dipakai di Yohanes 8:44 

untuk orang-orang yang menolak Kristus. Hanya kelahiran baru 

dapat menghasilkan perangai yang kudus di dalam diri orang-orang 

berdosa yang memungkinkan mereka bersekutu dengan Allah.

C. SARANA-SARANA PEMBAHARUAN

Alkitab mengatakan bahwa pembaharuan merupakan perbuatan 

Allah. Namun ada berbagai sarana dan perantara yang ikut terlibat 

dalam mewujudkan pengalaman ini.

1. Kehendak Allah. Kita dilahirkan kembali berdasarkan kehen­

dak Allah (Yohanes 1:13). Yakobus menulis, "Atas kehendak-Nya 

sendiri Ia telah menjadikan kita oleh firman kebenaran" (Yakobus 

1:18).

2. Kematian dan kebangkitan Kristus. Kelahiran baru itu di­

berikan dengan syarat bahwa kita beriman kepada Kristus yang ter­

salib (Yohanes 3:14-16). Kebangkitan Kristus juga terlibat dalam 

pembaharuan kita (I Petrus 1:3).

3. Firman Allah. Yakobus mengajarkan bahwa kita dijadikan 

"oleh firman kebenaran" (1:18; band. I Petrus 1:23). Paulus pernah 

berbicara tentang hal "memandikan dengan air dan firman" (Efesus 

5:26; band. Titus 3:5). Beberapa orang menganggap baptisan air 

sebagai suatu syarat yang perlu untuk menerima pembaharuan, 

namun  pendapat ini menjadikan pembaharuan bergantung pada  per­

buatan. Nyatalah, Kornelius telah lahir baru sebelum ia dibaptis 

(Kisah 10:27). Kisah 2:38 hendaknya diartikan bahwa orang dibap­

tis karena dosa-dosanya telah diampuni, dan bukan supaya dosa- 

dosa itu akan diampuni; sama seperti Yohanes membaptis orang 

karena mereka telah bertobat, dan bukan supaya orang yang dibaptis 

itu akan bertobat (Matius 3:11).

430 Soteriologi

4. Para pelayan Firman. Tuhan memakai orang-orang dalam 

proses penebusan. Akan namun , sumbangan tenaga manusia hanya­

lah terdiri atas pemberitaan kebenaran serta mengajak orang untuk 

menerima Kristus (Roma 10:14, 15; I Korintus 4:15; Filemon 10; 

band. Galatia 4:19).

5. Roh Kudus. Pelaksana pembaharuan yang betul-betul efisien 

ialah Roh Kudus (Yohanes 3:5, 6; Titus 3:5; band. Kisah 16:14; 

Roma 9:16; Filipi 2:13). Kebenaran sendiri tidaklah dapat mengu­

bah kehendak; di samping itu, sebelum Roh Kudus bekerja di dalam 

hati seseorang maka hatinya yang belum diperbaharui benci akan 

kebenaran.

D. AKIBAT-AKIBAT PEMBAHARUAN

Alkitab menyatakan adanya beberapa hal yang diakibatkan oleh 

pembaharuan. Akibat-akibat ini  sifatnya sedemikian rupa se­

hingga dapat dipakai untuk menguji apakah seseorang telah 

dilahirkan kembali atau belum. (1) Orang yang lahir dari Allah 

mengatasi pencobaan (I Yohanes 3:9; 5:4, 18). Semua kata kerja 

dalam ayat-ayat ini ditulis dalam bentuk waktu sekarang dan dengan 

demikian menunjukkan kehidupan yang terus-menerus penuh 

kemenangan. Karena itu, orang yang telah lahir kembali melakukan 

hal-hal yang benar. Akan namun , kami tidak bermaksud mengatakan 

bahwa kehidupan orang itu sudah sempurna tanpa dosa. (2) Sikap 

orang yang telah dibaharui berbeda. Ia membiasakan diri mengasihi 

saudara-saudara yang seiman (I Yohanes 5:1), Allah (I Yohanes 

4:19; 5:2), Firman Allah (Mazmur 119:97; I Petrus 2:2), musuh- 

musuhnya (Matius 5:44), serta jiwa-jiwa yang terhilang (II Korintus 

5:14). (3) Orang yang telah dibaharui juga menikmati beberapa hak 

istimewa sebagai seorang anak, seperti tersedianya semua 

kebutuhannya (Matius 7:11; band. Lukas 11:13), penyataan kehen­

dak Allah (I Korintus 2:10-12; Efesus 1:9), serta perlindungan 

Tuhan (I Yohanes 5:18). (4) Orang yang telah lahir dari Allah juga 

merupakan pewaris Allah dan pewaris bersama-sama dengan Yesus 

Kristus (Roma 8:17). Sekalipun warisan ini  baru dapat di­

terima sepenuhnya pada masa yang akan datang, anak Tuhan 

sekarang ini sudah memperoleh sebagian warisannya dalam wujud 

Pembenaran dan Pembaharuan 431

karunia Roh Kudus (Efesus 1:13, 14). Tentu saja, hasil-hasil pem­

baharuan ini tidaklah kelihatan pada dunia, namun hal-hal ini  

nyata sekali bagi orang yang telah lahir ke dalam keluarga Allah.


XXXI

Persatuan Dengan Kristus dan 

Pengangkatan Anak

Inilah pokok yang terakhir dalam membahas penerapan keselamatan 

pada awal mulanya. Persatuan orang percaya dengan Kristus dan 

kedudukannya karena diangkat menjadi anak Tuhan harus di­

uraikan.

L PERSATUAN ORANG PERCAYA DENGAN 

KRISTUS

Jiwa yang telah dilahirkan kembali kini memiliki persatuan yang 

hidup dengan Kristus. Kami tidak hendak menyangkal bahwa per­

tama-tama terjadi suatu persatuan yang representatif dengan Kristus. 

Melalui persatuan yang sah ini Kristus, sebagai Adam yang kedua 

(I Korintus 15:22), mengerjakan semua kewajiban yang tidak sang­

gup dilaksanakan oleh Adam yang pertama, dan menunaikan se­

muanya untuk kepentingan umat manusia. Hasil dari persatuan de­

ngan Kristus ini ialah bahwa dosa-dosa kita diperhitungkan kepada 

Kristus dan kebenaran Kristus diperhitungkan kepada kita, beserta 

dengan segala hak hukum yang ada  di dalamnya. Akan namun , 

sekarang ini, kita hanya akan membahas persatuan yang hidup dari 

orang percaya dengan Kristus.

A. SIFAT PERSATUAN INI

Alkitab menggambarkan persatuan orang percaya dengan Kristus 

dengan berbagai cara. Pertama-tama dipakai berbagai kias dari 

hubungan-hubungan duniawi. Misalnya, persatuan antara sebuah

433

434 Soteriologi

bangunan dengan dasarnya (Efesus 2:20-22; Kolose 2:7; I Petrus 

2:4, 5), persatuan antara suami dengan istri (Roma 7:4; Efesus 5:31, 

32; Wahyu 19:7-9), persatuan antara carang dengan pokok anggur 

(Yohanes 15:1-6), persatuan antara kepala dengan tubuh (I Korintus 

6:15, 19; 12:12; Efesus 1:22, 23; 4:15, 16), serta persatuan antara 

Adam dengan keturunannya (Roma 5:12, 21; I Korintus 15:22, 49; 

band, persatuan antara gembala dengan domba-dombanya, Yohanes 

10:1-18; Ibrani 13:20; I Petrus 2:25).

7. Berbagai pernyataan dalam Alkitab. Ada juga' banyak per­

nyataan langsung tentang persatuan orang percaya dengan Kristus. 

Sering kali dikatakan bahwa orang percaya ada "di dalam Kristus." 

Yesus berbicara tentang orang-orang percaya sebagai berada di 

dalam Dia (Yohanes 14:20), dan dalam Surat-Surat Kirimannya, 

Paulus berkali-kali berbicara soal orang-orang percaya yang berada 

di dalam Kristus (Roma 6:11; 8:1; II Korintus 5:17; Efesus 2:13; 

Kolose 2:11, 12). Pernyataan-pernyataan ini juga ada  dalam 

Surat-Surat Kiriman Yohanes (I Yohanes 2:6; 4:13; band. II Yo­

hanes 9). Sering kali juga dikatakan bahwa Kristus ada di dalam 

orang percaya (Yohanes 14:20; Roma 8:10; Galatia 2:20; Kolose 

1:27). Memang, Yesus sendiri mengatakan bahwa Bapa dan Dia 

tinggal di dalam diri orang percaya (Yohanes 14:23). Selanjutnya, 

dikatakan bahwa orang percaya itu mengambil bagian dalam Kristus 

(Yohanes 6:53, 56, 57; I Korintus 10:16, 17) dan dalam kodrat ilahi 

(II Petrus 1:4), serta menjadi satu roh dengan Tuhan (I Korintus 

6:17). Benih Allah tinggal di dalam dirinya (I Yohanes 3:9).

2. Sisi yang negatif. Kita harus membuang beberapa pengertian 

tertentu agar dapat memahami apa yang tidak termasuk dalam per­

satuan orang percaya dengan Kristus. Pertama, persatuan ini bukan­

lah merupakan persatuan mistik menurut pengertian kaum panteis. 

Alkitab tidak mengenal adanya persatuan antara Allah atau Kristus 

dengan orang yang belum dilahirkan kembali. Persatuan ini juga 

bukan persatuan moral, persatuan kasih dan simpati, seperti yang 

ada  antara dua sahabat. Jiwa Yonatan telah berpadu dengan 

jiwa Daud (I Samuel 18:1), namun persatuan orang percaya dengan 

Kristus jauh melebihi persatuan karena mempunyai kepentingan dan 

tujuan bersama. Persatuan orang percaya dengan Kristus juga bukan 

Persatuan Dengan Kristus dan Pengangkatan Anak 435

persatuan hakikat yang membuat kepribadian manusia hancur atau 

terserap samasekali ke dalam Kristus atau Allah. Pandangan ini 

telah dianut oleh beberapa golongan mistik, namun  Alkitab meng­

gambarkan hubungan antara Kristus dengan orang percaya sebagai 

hubungan "aku" dan "kamu" yang bahkan berlaku bagi orang per­

caya yang sudah sangat maju dalam kehidupan kristiani (Filipi 3:7- 

14). Akhirnya, persatuan itu bukan merupakan suatu persatuan fisik 

dan materiel, yang oleh kalangan tertentu dianggap dapat diperoleh 

dengan cara mengambil bagian dalam upacara-upacara gereja. Me­

nurut Alkitab, upacara-upacara gereja tidak menjamin terjadinya 

persatuan itu, sebaliknya upacara ini  dapat dilaksanakan 

karena sudah ada persatuan.

3. Sisi yang positif. Kalau begitu apakah sebenarnya persatuan 

orang percaya dengan Kristus? (1) Secara positif dapat dikatakan 

bahwa persatuan ini bersifat rohani. 'namun  siapa yang mengikatkan 

dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia" (I Korintus 6:17; 

band. 12:13; Roma 8:9, 10; Efesus 3:16, 17). Roh Kuduslah yang 

mengadakan persatuan ini. (2) Persatuan ini hidup. Paulus menulis, 

"Aku hidup, namun  bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan 

Kristus yang hidup di dalam aku" (Galatia 2:20), dan "Sebab kamu 

telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di 

dalam Allah. jika  Kristus, yang yaitu  hidup kita, menyatakan 

diri kelak, maka kamu pun akan menyatakan diri bersama dengan 

Dia dalam kemuliaan" (Kolose 3:3, 4). Kehidupan Kristus yaitu  

kehidupan orang percaya. (3) Persatuan ini utuh. Kembali Paulus 

menulis, "Kamu semua yaitu  tubuh Kristus, dan kamu masing- 

masing yaitu  anggotanya" (I Korintus 12:27), dan "Karena kita 

yaitu  anggota tubuh-Nya" (Efesus 5:30; band. I Korintus 6:15). 

Setiap bagian dari tubuh merupakan sarana dan tujuan. Tangan itu 

ada untuk mata dan mata itu ada untuk tangan. Setiap bagian ada 

untuk kepala dan kepala ada untuk setiap bagian. (4) Persatuan ini 

tidak dapat dipahami sepenuhnya. Alkitab mengatakan, "Rahasia ini 

besar, namun  yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan 

jemaat" (Efesus 5:32), dan "Betapa kaya dan mulianya rahasia itu 

di antara bangsa-bangsa lain, yaitu: Kristus ada di tengah-tengah 

kamu, Kristus yang yaitu  pengharapan akan kemuliaan" (Kolose 

1:27). Bahwa orang-orang bukan Yahudi diterima dan dijadikan 

436 Soteriologi

anggota dalam Tubuh Kristus merupakan sebuah rahasia yang besar. 

(5) Dan akhirnya, persatuan ini tidak dapat dibatalkan. Yesus 

berkata, "Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan 

mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang 

pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku" (Yohanes 10:28). 

Paulus bertanya, "Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih 

Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau 

kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang?"; lalu ia 

sendiri menjawab, 'namun  dalam semuanya itu kita lebih daripada 

orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita" 

(Roma 8:35, 37; band. ayat 38, 39). Kristus memberikan hidup yang 

kekal kepada kita, yang berarti bahwa kita tidak akan pernah binasa; 

lagi pula, kita berada di dalam tangan-Nya, dan kenyataan inilah 

yang meyakinkan kita bahwa tidak ada yang dapat merampas kita 

dari tangan-Nya.

B. METODE PERSATUAN INI

Bagaimana persatuan antara Kristus dengan orang Kristen ini 

diadakan? Alkitab tidak mengatakannya dengan terus terang. Se­

kalipun demikian ada beberapa hal yang dapat kita lihat. Persatuan 

ini bersumber dalam tujuan dan rencana Allah. Alkitab mengatakan, 

"Di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan" 

(Efesus 1:4), dan "Sama seperti Engkau telah memberikan kepada- 

Nya kuasa atas segala yang hidup, demikian pula Ia akan mem­

berikan hidup yang kekal kepada semua yang telah Engkau berikan 

kepada-Nya" (Yohanes 17:2). Persatuan ini dimulai pada saat se­

orang Kristen dihidupkan bersama-sama dengan Kristus (Efesus 

2:5). Paulus pernah mengatakan bahwa kita "menjadi satu dengan 

apa yang sama dengan kematian-Nya" (Roma 6:5). Dan I Korintus 

12:13 menyatakan bahwa kita dibaptis menjadi satu tubuh oleh Roh 

Kudus. Pertama Korintus 6:17 menunjuk kepada kenyataan bahwa 

kita telah diikatkan dan menjadi satu dengan Tuhan, namun ayat 

ini tidak menerangkan bagaimana kita dipersatukan. Pastilah, hanya 

Allah yang dapat mengambil seorang dan menanamnya di dalam 

Kristus. Sebagai orang-orang yang telah dihidupkan, kita dapat 

mengambil bagian dalam persatuan hidup ini dengan Kristus.

Persatuan Dengan Kristus dan Pengangkatan Anak 437

C. AKIBAT-AKIBAT PERSATUAN INI

Ada empat akibat dari persatuan orang percaya dengan Kristus. (1) 

Persatuan dengan Kristus berarti memiliki jaminan yang kekal 

(Yohanes 10:28-30). Tidak ada yang dapat memisahkan orang per­

caya dari kasih Allah yang ada  dalam Kristus Yesus, Tuhan 

kita (Roma 8:38, 39). saat  Yesus berbicara tentang pemotongan 

carang yang tidak tinggal di dalam Dia, pastilah yang dimaksud 

ialah orang yang hanya ikut Dia secara nama saja (Yohanes 15:6), 

karena "jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan 

kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama 

dengan kebangkitan-Nya" (Roma 6:5). (2) Persatuan dengan Kristus 

juga berarti berbuah lebat (Yohanes 15:5). Inilah buah Roh (Galatia 

5:22, 23; band. Roma 6:22; 7:4; Efesus 5:9). Memangkas ranting- 

ranting yang tidak berguna merupakan salah satu cara yang dipakai 

oleh Tuhan untuk meningkatkan kesuburan carang yang tinggal di 

dalam Dia (Yohanes 15:1, 2). (3) Persatuan dengan Kristus berarti 

dibekali untuk melayani. Orang-orang percaya yaitu  anggota tubuh 

Kristus, dan sebagai anggota, mereka mempunyai berbagai jabatan 

dan bakat (I Korintus 12:4-30). Kepala yang menentukan pelayanan 

anggota-anggotanya. Persatuan dengan Kristus secara logis mem­

bawa kerja sama antara anggota-anggotanya. Keadaan ini mengha­

silkan persatuan dalam tubuh Kristus di tengah-tengah keanekara­

gaman. (4) Yang terakhir, persatuan dengan Kristus berarti berse­

kutu dengan Kristus. Ini berarti bahwa Kristus mempercayai kita 

dan memberi tahu maksud dan rencana-Nya kepada kita (Efesus 

1:8, 9).

II. PENGANGKATAN ORANG PERCAYA MENJADI 

ANAK TUHAN

Doktrin pengangkatan anak diajarkan semata-mata oleh Paulus, dan 

ajaran ini  kita bahas terakhir. Para penulis yang lain di Per­

janjian Baru menghubungkan berkat-berkat tertentu dengan doktrin 

pembaharuan dan pembenaran, padahal berkat-berkat yang sama itu 

dikaitkan oleh Paulus dengan pengangkatan anak. Kata Yunani yang 

diterjemahkan sebagai "pengangkatan anak" muncul lima kali saja 

dalam Alkitab, dan semuanya dalam surat-surat Paulus (Roma 8:15, 

438 Soteriologi

23; 9:4; Galatia 4:5; Efesus 1:5). Satu kali istilah ini digunakan oleh 

Paulus untuk Israel sebagai suatu bangsa (Roma 9:4); satu kali ia 

menunjuk bahwa perwujudan pengangkatan anak ini baru sepenuh­

nya terlaksana saat  Kristus datang kembali (Roma 8:23); dan tiga 

kali kata ini dipakai untuk menerangkan bahwa pengangkatan anak 

ini merupakan sebuah fakta dalam kehidupan orang Kristen saat ini.

A. DEFINISI PENGANGKATAN ANAK

Sebagaimana ditunjukkan oleh kata Yunani, pengangkatan anak 

secara harfiah berarti "ditempatkan sebagai anak sendiri". Evans 

telah menyimpulkannya dengan tepat, 'Pembaharuan berkaitan de­

ngan perubahan sifat kita; pembenaran berkaitan dengan perubahan 

status; pengudusan berkaitan dengan perubahan watak; sedangkan 

pengangkatan sebagai anak berkaitan dengan kedudukan."142 Istilah 

ini dipakai untuk orang-orang percaya dalam hal-hal yang menyang­

kut hak, kedudukan, dan hak istimewa. Yohanes menekankan hu­

bungan orang percaya sebagai anak-anak Tuhan; kita dilahirkan dari 

Allah dan b