t semacam konsolidasi dari kelompok-kelompok yang
berbeda-beda. Para "Brethren", begitulah mereka dikenal, mencoba menanggalkan
semua perlengkapan yang bukan alkitabiah dari gereja mereka. Komuni diadakan setiap
Minggu, tidak ada seorang pendeta pun yang diteguhkan (setiap orang yaitu pendeta);
dan orang-orang dari se-gala denominasi disambut atas nama Kristus. Para Brethren
juga percaya pada perdamaian (dan musyawarah), dan tentunya pada pentingnya
nubuat.
Di Bristol, seorang imigran Jerman bernama George Mueller mendirikan sebuah panti
asuhan. Diilhami contoh A.N. Groves yang menjalankan misi dalam iman, dengan iman
Mueller bertekad menjalankan panti asuhannya. Ia tidak meminta uang, hanya percaya
bahwa Allah akan melengkapinya. Pelayanan Mueller menjadi legenda, suatu bukti
iman sederhana Plymouth Brethren yang bertumbuh.
Sementara itu, Darby melanjutkan perjalanannya, berbicara dan menulis. saat
mengadakan tur di Swiss pada tahun 1838, ia mendirikan sejumlah Gereja Brethren di
178
sana. Suatu revolusi politik pada tahun 1845 menimbulkan penyiksaan terhadap gereja-
gereja ini, dan Darby sendiri nyaris menjadi korban.
Pada waktu yang bersamaan, kontroversi muncul di antara Brethren, khususnya
mengenai anugerah spiritual, pembasuhan kaki, tugas penatua dan interpretasi nubuat.
Perpecahan besar terjadi antara Darby dan B.W. Newton, yang dapat dianggap sebagai
mitra pendiri gerakan. Akhirnya Newton mengundurkan diri dari gereja, dan lalu
konflik pun meningkat sehingga memisahkan Darby dan Mueller. Akibat
ketidaksepakatan mereka ialah perpecahan antara Brethren Eksklusif (yang tidak akan
berekanan dengan mereka yang berdoktrin kurang sehat) dan Brethren Terbuka.
Tentunya, eksklusivitas kelompok yang pertama tadi menimbulkan perpecahan-
perpecahan selanjutnya, mencerminkan ironi yang menyedihkan bahwa sukar
berpegang bersama-sama pada kesatuan gereja dan kemurnian doktrin.
Seperti Disciples of Chirst di Amerika Serikat, Plymouth Brethren menyuntikkan
perlunya tekanan kesederhanaan dalam kehidupan gereja di Inggris. Gereja ini
telah mendapatkan pengikut-pengikut yang cukup berarti di seluruh dunia, termasuk
figur-figur terkemuka seperti Samuel Tregelles dan pakar Perjanjian Baru modern F.F.
Bruce.
Akan namun , kemasyhuran utama Darby ialah eskatologinya. Pandangannya tentang
nubuat dikenal sebagai dispensasionalisme (dispensationalism). Itu menjadi tema utama
pada konferensi nubuat pada tahun 1800-an serta gerakan fundamentalis pada awal-awal
tahun 1900-an.
179
80) Tahun 1833 Khotbah John Keble tentang "Murtad Nasional"
Memicu Gerakan Oxford
Kardinal John Henry Newman (1801-1890), figur terpenting dalam Gerakan Oxford
Methodisme telah berupaya membawa kehidupan baru dalam Gereja Anglikan, namun
berakhir dengan membentuk denominasi baru. Menjelang akhir tahun 1820-an
kehadiran pengunjung di Gereja Inggris merosot secara drastis. Sementara Methodisme
bertumbuh sehat, gereja yang menetaskannya menjadi kering dan kosong.
Orang yang merasa peduli akan situasi Gereja Anglikan itu ialah rohaniwan Anglikan
didikan Oxford, seorang yang berhati baik. John Keble merasakan bahwa gerejanya
kehilangan kekuatannya sebab telah berpaling dari tradisi liturgi yang kaya dan tulisan-
tulisan para bapa Gereja. Jika Gereja Inggris tidak menyadari warisan penerusan
kerasulannya, Keble percaya bahwa gereja akan menjadi lemah sehingga memberi
peluang bagi para pembangkang Protestan dan Katolik, dan akhirnya akan lenyap.
Keble menerbitkan sekumpulan sajak devosional yang mencerminkan liturgi, dengan
harihari para santo dan pesta-pestanya. Sajak-sajak indah dalam The Christian Year's
menunjukkan kehangatan yang umumnya dihubungkan dengan Methodis dan para
pembangkang lainnya, namun karya itu tetap berada dalam tradisi Anglikan.
Pada tanggal 14 Juli 1833, Keble berkhotbah di Oriel College. Khotbahnya,
"Kemurtadan Nasional", menyerang parlemen sebab mengurangi jumlah para uskup di
gereja Irlandia dengan tuduhan bahwa hal ini yaitu bukti campur tangan negara
dalam urusan Gereja. Gereja yang asalnya ilahi tidak dapat diatur oleh perundang-
undangan duniawi.
180
Kata-kata Keble ini mengawali gerakan Oxford (atau Tractarianism), yang
mengupayakan pembaruan dalam Gereja Anglikan dengan mengembalikannya ke
berbagai kepercayaan dan praktik awal gereja. Di antara-para pendukung gerakan
Oxford terdapat murid-murid Keble, yaitu Richard Froude, John Henry Newman dan
Edward Pusey.
Newman mulai menerbitkan Tracts for the Times. Dia, Keble dan Froude menulis
sembilan puluh traktat antara tahun 1833 sampai 1841. Selebaran empat halaman itu,
yang dijual seharga satu penny selembar, tidak dibubuhi nama penulis, sementara
Newman berkeliling Oxordshire menjualnya kepada kaum rohaniwan.
Beberapa traktat telah mendorong Gereja Inggris kembali ke lingkungan Katolik.
Meskipun Gereja Anglikan tidak lagi begitu hidup, namun gereja ini takut kembali
ke Katolikisme, khususnya setelah pencabutan undang-undang tahun 1828, yang
menolak hak orang-orang Katolik menduduki jabatan pemerintahan – hak yang ditolak
bagi mereka sejak Test Act tahun 1673. Kritik-kritik tentang Traktarianisme memuncak
pada tahun 1841, saat Newman menulis traktat bahwa sakramen bukan hanya
baptisan dan komuni. Sebagai tambahan, is juga mengajukan kepercayaan akan
purgatory, kehadiran Kristus sesungguhnya dalam Ekaristi dan doa kepada para santo.
Uskup Oxford menanggapinya dengan perintah untuk mengakhiri serial traktat itu.
Beberapa rohaniwan Anglikan – Newman di antaranya – membelot ke Katolik, namun
sebagian bestir dari mereka yang bersimpati pada para penulis Traktat tetap bertahan di
Gereja Inggris. Meskipun mereka memuji tradisi-tradisi Gereja, termasuk pakaian
rohaniwan dalam kebaktian, kebiasaan berlutut, pengakuan dosa, komuni, wangi
kemenyan dan juga kebiaraan, namun banyak yang anti-Katolik. Mereka menginginkan
agama yang menyentuh kelima indra, namun terutama mereka tidak menginginkan
hubungan dengan paus ataupun hierarkinya yang tersebar di seluruh dunia.
Setelah Newman meninggalkan gerakan Oxford pada tahun 1845, gerakan itu berupaya
berpegang pada ritual, arsitektur dan musik yang terbaik, dengan menolak aspek-aspek
lain Katolikisme. Edward Pusey saat itu menjadi juru bicara paling fasih dari gerakan
ini .
Banyak anggota evangelikal menjadi gusar akan praktik-praktik Anglo-Katolik ini. Pada
tahun 1846 mereka membentuk Evangelical Alliance (Aliansi Evangelikal). Namun, apa
yang berawal sebagai gerakan anti-Traktarian menjadi pembuka jalan untuk menarik
para anggota evangelikal ke dalam rekanan nasional. Meskipun mereka menentang
ritualisme gerakan
Oxford, para evangelikal tidak dapat membantah bahwa hal itu berpengaruh positif
terhadap gereja Anglikan. dibandingkan memandang diri mereka sendiri sebagai pejabat-
pejabat Inggris, para rohaniwan Anglikan yang mendukung gerakan Oxford
memandang tradisi kerasulan dengan serius. dibandingkan hanya mengajarkan moral dalam
pelayanan kebaktian mereka, mereka mulai mengembangkan rasa hormat. Sebagai basil
perubahan persepsi ini, istilah la-ma high church muncul kembali. Banyak biarawan dan
biarawati mulai bekerja dengan si miskin di kota-kota yang industrinya meningkat.
Selain itu, sejumlah penulis-penulis himne (kidung) yang baik berkembang dari dalam
gerakan Oxford. Para penulis terdahulu datang dari jajaran pembangkang. Sekarang,
181
Keble, Frederick W. Faber dan John Mason Neale, penerjemah himne Yunani dan Latin
yang sudah lama hilang ke dalam syair Inggris, bergabung dengan mereka.
182
81) Tahun 1854 Hudson Taylor Tiba di China
Hudson Taylor (1832-1905)
Hudson Taylor 1905 (tengah)
Tak seorang pun tahu ia datang. Hudson Taylor turun dari kapal di Shanghai setelah
melalui perjalanan meletihkan, dan tak seorang pun menyambut dia. Karier misionernya
yang cemerlang baru dimulai, namun ia tidak memiliki tempat untuk menginap. Ia
tidak dapat berbahasa China dan orang-orang China yang dapat berbahasa Inggris
sangat sedikit. Di atas semuanya ini, perang saudara sedang berlangsung – tidak jauh
dari kota itu.
Taylor menanyakan tentang beberapa misionaris Barat yang ia ketahui di Konsulat
Inggris. Seorang telah meninggal, dan yang lainnya telah pulang. Akhirnya ia
menemukan Dr. Walter Medhurst, dari London Missionary Society, dan berencana
tinggal bersama dia. Hal ini bukanlah seperti yang diidamidamkan Taylor. Dibesarkan
dalam keluarga Methodis, ia telah mendengar cerita tentang negeri China dari ayahnya
yang yaitu seorang pengkhotbah. Ia belajar tentang Robert Morrison, seorang
Presbiterian Skotlandia yang memulai pelayanan di Guangzhou pada tahun 1807,
melakukan penerjemahan bagi para pedagang dan berkhotbah tentang Yesus. saat
Hudson muda menjadi Kristen, pada usianya yang ketujuh belas, hampir pada saat yang
183
sama ia mengalami panggilannya. Ia mempelajari kedokteran dan teologi, dan mencari
tahu tentang daratan China yang luas.
saat pemberontakan Taiping pecah pada tahun 1850, mula-mula hal itu tampaknya
merupakan kabar baik bagi para misionaris. Pemimpin pemberontak telah dipengaruhi
traktat Kristen. Ia bermaksud menghapus penyembahan berhala dan korupsi di China. Ia
menamakan gerakannya Taiping, "perdamaian besar". (la juga yakin bahwa ia yaitu
adik Yesus Kristus, namun keeksentrikan seperti itu pada awalnya tidak jelas.)
Seluruh Inggris menaruh perhatian baru pada China. Suatu badan misi baru, China
Evangelization Society (Perkumpulan Evangelisasi China), menerbitkan seruan bagi
Para pekerja. Taylor yang tidak disenangi London Missionary Society menawarkan
jasanya. Mereka menjemput dia dari sekolah. la berumur dua puluh dua tahun saat ia
mendarat di Shanghai.
Semangat telah mengalahkan kebijaksanaan, sekurang-kurangnya dalam badan misi itu.
Benar, mereka telah inenempatkan orangnya di lapangan, namun mereka tidak
memberi petunjuk, tidak memiliki falsafah misi, dan hampir tidak melakukan apa
pun untuk merintis jalannya. Mereka juga secara rutin kekurangan dana.
Taylor terpaksa membuat peraturannya sendiri. Salah satunya berkenaan dengan
berpakaian seperti orang China. Rekan-rekannya dari Inggris kaget, namun Taylor
memiliki alasan tersendiri. "Saya sangat puas bahwa pakaian adat ini merupakan
sarana mutlak bebas," tulisnya. "Menetap dengan tenteram di antara orang-orang itu,
mendapatkan komunikasi yang ramah dan tidak tegang dari mereka, menghilangkan
prasangka mereka, meraih penghargaan dan kepercayaan mereka, dan hidup sebagai
panutan bagi mereka tentang bagaimana seharusnya keberadaan seorang China Kristen,
semuanya perlu memakai bukan saja pakaian ini, namun juga kebiasaan mereka.
Kapelkapel yang tampak asing, dan sesungguhnya memberi iklim asing bagi semua
yang berkaitan dengan agama, telah menjadi penghalang besar bagi penyebaran
kebendran di antara orangorang China. namun mengapa agama Kristen harus diberi
aspek asing? Firman Allah tidak membutuhkan itu. Yang kita butuhkan bukan
pelepasan (adat) kebangsaan mereka, namun pengkristenan mereka."
Para misionaris datang ke negeri tertutup ini, membuntuti kesuksesan para pedagang
dan prajurit. Sejak Morrison menjadi penerjemah bagi East India Trading Company
(Perusahaan Dagang India Timur), hubungannya sudah dapat diterka. saat Inggris
Raya melancarkan perang candu yang memalukan — sesungguhnya berperang untuk
mempertahankan hak perdagangan candu bagi sutra China — perjanjianperjanjian
sepihak menyertakan juga ketetapan istimewa bagi para misionaris. Pesannya cukup
jelas: Peradaban kuno China telah dilecehkan oleh mesin-mesin perang modern Eropa
— dan orang Eropa membawa serta agama Kristen bersamanya. China justru sedang
dijadikan satu lagi koloni bagi kerajaan "Kristen" Inggris.
Taylor harus bergumul dengan sejarah ini. Walau bagaimanapun perjanjian-perjanjian
ter sebut memudahkan bagi seorang misionaris. Namun, perjanjian-perjanjian itu
mempersulit hubungan serius dengan warga setempat. Ia berharap dapat
mengakhiri mental kolonial dengan mengambil adat setempat.
Dalam tugas enam tahun pertamanya, Taylor bekerja di Shanghai, Swatow dan Ningpo,
dengan mempelajari bahasanya, menerjemahkan Alkitab, serta menjalankan sebuah
184
rumah sakit. saat itu, ia telah mengundurkan diri dari warga misi dan bekerja
secara independen.
Sekembalinya ke Inggris pada tahun 1860, ia mulai antusias dengan misi China. la
menulis sebuah buku tentang kebutuhan misi di sana dan dengan rajin mencari
misionaris-misionaris baru. Taylor mendirikan China Inland Mission (Misi Pedalaman
China) — dan ia bertekad tidak akan berbuat kesalahan-kesalahan seperti badan misi
terdahulu. CIM tidak akan mengadakan permohonan langsung untuk dana, tidak akan
menjamin gaji bagi pekerja-pekerjanya, namun akan membagi semua pendapatan secara
merata. C1M akan mempekerjakan orangorang dari berbagai negara dan dari
denominasi yang berbeda, dan juga memberi tugas-tugas misionaris penuh bagi wanita,
baik yang sudah bersuami atau belum. Pada waktu itu, hal seperti ini merupakan sesuatu
yang radikal. Taylor juga memaksakan agar misionaris CIM mengikuti praktiknya
dengan berpakaian China.
Enam bolas misionaris kembali ke Gina bersama-sama Taylor pada tahun 1866. Mereka
memulai pekerjaan di daerah-daerah baru, memberitakan Injil kepada mereka yang
belum pernah mendengarnya. Dalam waktu singkat, CIM menjadi badan misi
terkemuka di China. Menjelang wafatnya Taylor pada tahun 1905, terdapat 205
pangkalan misi, 849 misionaris dan kira-kira 125.000 orang Kristen China.
Hudson Taylor bukanlah misionaris pertama di China. namun penolakannya dengan
tenang untuk "menjalankan misi seperti biasa" telah membawa kesuksesan besar
baginya di anak benua itu.
Suatu insiden menggambarkan ketulusan hati dan pandangan ke depan yang
dikemukakan Taylor pada perkumpulan misinya. CIM, seperti halnya misi-misi lain,
kehilangan orang-orang dan hartanya dalam pemberontakan Boxer tahun 1900. Pasukan
Inggris terjun lagi, menyelesaikan krisis dan mengenakan denda besar terhadap
pemerintah China. Uang ini dipakai untuk mengganti harta misi yang hilang. namun
CIM menolak menerima penggantian uang – orang-orang China sendiri telah
kehilangan banyak.
Pada tahun-tahun berikutnya, misionaris CIM menemukan bahwa pengabdian mereka
untuk berada bersama-sama orang-orang China itu telah berbuat lebih banyak dalam
membuka hati mereka pada Kristus dibandingkan perjanjian diplomatik apa pun yang
mungkin dicapai. Hudson Taylor telah mengetahui semuanya.
185
82) Tahun 1854 Soren Kierkegaard Menerbitkan Serangan terhadap
Kekristenan
Patung Soren Kierkegaard (1813-1855) di Copenhagen, Denmark
Teologi abad kedua puluh mungkin berbeda sekali jika bukan sebab seorang wanita
muda bernama Regina Olsen. Dia yaitu calon mempelai seorang Denmark yang
cerdas, Soren Kierkegaard. Pertunangan dan putusnya mereka membuat Soren tergila-
gila dengan penulisan falsafah. Karya-karya yang dihasilkannya telah membuat banyak
perubahan dalam bentuk pemikiran modern.
Kierkegaard lahir dalam keluarga berada pada tahun 1831. Ayahnya seorang usahawan
sukses, dan telah pensiun lebih awal. Sekarang ia gemar mengundang para profesor
untuk makan malam dan bertukar pikiran. Soren, yang termuda, yaitu "sang Yusuf' di
keluarganya. Ayahnya sangat menyenanginya serta mengagumi ketangkasan
berpikirnya. Pada usia tujuh belas, Soren dikirim ke Universitas Kopenhagen. Ayahnya
ingin ia menjadi pendeta, namun Soren menolaknya. Ini yaitu salah satu sebab
pertengkarannya dengan sang ayah yang melanjutkan pembiayaan pendidikan Soren
dan gaya hidupnya yang boros. Kierkegaard muda menjadi semacam mahasiswa abadi.
Ia mencoba memperbaiki hubungan dengan ayahnya, tidak berapa lama sebelum
Kierkegaard tua meninggal. Setelah itu Soren melanjutkan pendidikan teologi,
meskipun ia tidak pernah ditahbiskan.
lalu Regina Olsen menarik perhatiannya. Ia baru berumur belasan tahun, namun
Soren memutuskan untuk mendapatkannya. Masalahnya Regina sedang mengincar
orang lain. Soren mulai memikat Regina dan keluarganya secara ofensif, yang
memicu Regina putus dengan pacarnya, dan akhirnya meminta Regina jadi
pasangan hidupnya.
Namun, sekarang Soren tidak menginginkannya lagi. Atau ia memandang dirinya tak
berharga bagi Regina. Tampaknya ia memiliki rahasia yang dalam dan gelap yang
memicu ia tidak dapat menikmati keintimannya dengan Regina. Apa yang harus
186
dilakukannya? Jika ia putuskan pertunangannya, hal itu akan mempermalukan Regina.
Itu kurang adil. namun jika Regina memutuskannya, yaitu lebih baik. Maka Soren
berupaya agar Regina terdorong untuk memutuskannya. Ia menjadi pemarah dan tidak
ramah. Regina bertahan cukup lama, namun akhirnya ia tidak dapat bertahan lagi.
Seluruh episode ini menjadi beban berat dalam hati Kierkegaard yang memang sudah
suram. Ia merupakan penjahat dan korban dari kejahatannya sendiri. Ia mulai
menggores serangkaian tulisan filsafat, mempertanyakan anggapan pada masanya.
Semuanya diterbitkan dengan nama samaran. lalu ia menerbitkan buku dengan
namanya sendiri, yang merupakan jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan ini .
Salah satu dari yang pertama – Either/Or – dipuji oleh The Corsair, sebuah jurnal
sindiran yang jarang memuji apa pun. Kierkegaard merasa malu dengan sindiran itu dan
meminta jurnal itu menariknya. The Corsair hanya mengejek dia dan terus
mempermalukan Kierkegaard di muka umum.
Hal ini tambah mengasingkan filsuf yang sudah kesepian itu. Kegagalan dengan Regina
Olsen telah menodai namanya di warga , dan sekarang The Corsair
menjelekkannya di muka umum.
Namun, ia melanjutkan tulisannya dengan mengalihkan perhatiannya ke tema-tema
keagamaan. Bagaimana seseorang dapat menjadi Kristen sejati dalam dunia yang telah
terpuruk ini? Jawabannya tidak menunjukkan harapan. Ia tidak menaruh harapan pada
sistem-sistem ataupun lembaga-lembaga pada zamannya. Hanya mujizat Tuhan yang
dapat menyelamatkan kita, tegasnya.
Ia belum berupaya menyerang gereja yang teroganisasi, namun dalam benaknya ia
sudah mengarah ke sana. Gereja Denmark pada waktu itu cukup mewah dan teratur,
serta merupakan pemelihara upacara dan teologi Lutheran yang baik. Namun,
Kierkegaard tidak melihat kehidupan di dalamnya. Mungkin sebab takut ke mana
tulisannya akan mengarah, Kierkegaard berhenti menulis pada tahun 1850.
Kematian temannya J. P. Mynster, uskup Zealand, menggerakkan dia kembali menulis.
Mynster, dengan caranya sendiri, telah berupaya mendorong Gereja Denmark dengan
hasil yang terbatas. Kierkegaard mengambil kesempatan untuk mengkritik gereja habis-
habisan sebab mengabaikan ajaran Kristus yang benar,
sebab perhatiannya pada bentuk dan sistem filsafatnya, dan sebab pemujaan terhadap
uang serta kekuasaan. Antara Desember 1854 sampai Mei 1855, ia menerbitkan 21
karangan dalam harian The Fatherland dan lalu dalam jurnalnya sendiri.
Pada bulan Oktober 1855, Kierkegaard diserang stroke dan meninggal sebulan
lalu .
Tulisan-tulisannya mempengaruhi beberapa pemikir ulung abad kesembilan belas,
namun pengaruh terbesarnya belum muncul hingga waktu yang lama di lalu hari.
Kierkegaard telah dielu-elukan sebagai Bapak "Eksistensialisme", yang meraih
ketenarannya pada abad kedua puluh. Para ahli filsafat dan teolog mengembangkan
pemikirannya dengan berbagai cara, ada yang mungkin membuat Kierkegaard marah
dan yang lain mungkin ia setujui.
187
Kierkegaard berjasa bagi banyak unsur subjektivitas dalam pemikiran teologi modern,
namun subjektivitas itu datang dari kerendahan hati. Ia berkesimpulan bahwa Allah
bukanlah Benda yang secara ilmiah dapat dibedah dan dianalisis. Ia yaitu Keberadaan
(Being) yang hidup dan bertindak, yang berhadapan dengan kita untuk menyelamatkan
kita.
Bukan hanya kita sebagai manusia seperti kepingan-kepingan teka-teki, kita juga yaitu
keberadaan, seru Kierkegaard, dengan kemauan, harapan dan kesedihan. Kierkegaard
memerangi sistem yang abstrak — apakah itu filsafat ataupun keagamaan — yang
mencari semacam Kebenaran yang abstrak. la menegaskan bahwa agama harus
mengajar bagaimana kita harus hidup.
Pemikir Denmark ini putus asa dengan tidak sanggupnya kita sebagai manusia
menghampiri Allah dengan akal. Akal kita hanya membawa kita jauh dan lalu kita
melompat ke dalam kegelapan, dengan keyakinan bahwa Allah akan menemui kita di
sana. Lompatan ini membutuhkan komitmen penuh, penolakan terhadap nilai-nilai
duniawi dan kadang-kadang terhadap nilai-nilai gereja.
Mengikuti saat-saat Pencerahan, keputusasaan Kierkegaard sungguh mengejutkan bagi
orang pada masanya. Namun, pemikiran Kierkegaard mengantisipasi Revolusi Industri
yang tidak manusiawi serta kebangkitan dan kejatuhan Modernisme. Orang Denmark
yang agung ini telah mendahului satu abad dari zamannya.
188
83) Tahun 1854 Charles Haddon Spurgeon Menjadi Imam di London
Charles Haddon Spurgeon (1834 - 1892)
"Tentunya itu suatu kekeliruan."
Itulah yang dipikirkan Charles Spurgeon saat dia diminta berkhotbah di Kapel New
Park Street, di London. Tempat itu yaitu gereja yang bergengsi, dengan bangunan tua
yang indah, dan Spurgeon saat itu baru berumur Sembilan belas tahun.
Namun, sama sekali tidak ada kekeliruan, sebab setelah Spurgeon bicara, ia diundang
untuk menjadi pendeta gereja ini . Ia memegang jabatan itu selama hampir empat
dekade.
Spurgeon hampir bukan merupakan tipe orang yang menyadari kelasnya dalam
warga London. la dilahirkan di kalangan Huguenot, di suatu pedesaan di Essex. Ia
tinggal dengan kakek dan neneknya saat ia masih kecil, sebab orangtuanya terlalu
miskin untuk merawat dia. Nenek dan ayahnya yaitu pendeta Kongregasionalis, namun
Charles masuk ke sekolah pertanian – meskipun hanya untuk beberapa bulan.
Bergumul dengan kebutuhan jiwanya, Spurgeon bertekad pergi ke gereja pada hari
Minggu pertama tahun 1850. Topan salju menghambat kepergiannya ke gereja sesuai
rencananya, namun ia berhenti di sebuah kapel Methodic Primitif terdekat.
Pembicaranya bodoh, seperti yang diingat Spurgeon, namun hal itu merupakan tantangan
bagi Charles muda ini. Akibatnya, Charles Spurgeon menjadi Kristen dalam usia enam
belas tahun.
Tidak lama lalu , Spurgeon menyadari bahwa ia memiliki bakat berbicara. Pada
tahun 1852 ia menjadi gembala sebuah gereja Baptis kecil di Waterbeach. Daerah itu
sungguh rawan dan orang-orangnya terkenal pemabuk. Spurgeon mengembangkan gaya
langsung. Para pendengarnya tidak akan betah dengan keterangan-keterangan teologi
yang memakai kata-kata indah, oleh sebab itu ia memberitakan kepada mereka apa
yang dikatakan dalam Alkitab. Berita tentang "pengkhotbah muda" ini telah tersebar di
189
Waterbeach. Itulah waktunya saat sidang Kapel New Park Street memutuskan
memberi dia kesempatan.
Gereja itu pernah memiliki sejarah yang dapat dibanggakan, namun jatuh pada masa-
masa kesukaran. Gedung yang indah itu dapat menampung lebih dari seribu orang,
namun akhirakhir itu untuk mengumpulkan seratus orang saja sudah sulit bagi sidang di
sana. Delapan puluh orang menghadiri pelayanan pembukaan Spurgeon. Mungkin
pengkhotbah muda ini dapat melakukan sesuatu.
Ia melakukannya. Gaya langsungnya membuat para warga London mengakui kata-
katanya. Pengunjung kebaktian pun menjamur. Tidak lama lalu gedung kuno itu
penuh sesak. Gereja ini terpaksa harus menyewa gedung pertemuan Exeter Hall
yang menampung 4.500 orang.
Pertumbuhan cepat seperti ini menarik perhatian pers London, yang pemberitaannya
ten-tang pengkhotbah baru itu tidak selalu menyenangkan. "Semua pidatonya berbau
busuk dan vulgar," tulis sebuah harian. Harian lain menyebut "Gaya seperti itu berasal
dari bahasa pasaran yang vulgar, diselingi gaya yang kasar.... Semua misteri khidmat
agama kita yang suci olehnya diperlakukan dengan kasar. Inilah khotbah yang didengar
5.000 orang".
Jumlah itu menjadi 10.000 – dan lebih. Dalam waktu singkat gedung pertemuan itu
sudah tidak sanggup menampung para pendengar Spurgeon. Gereja menyewa gedung
Surrey Music Hall yang berkapasitas 12.000 tempat duduk dan penuh juga, sementara
10.000 orang lagi menunggu di luar. Malangnya, upacara pembukaan di sana membawa
bencana. Beberapa perusuh berteriak "kebakaran"! Dalam kepanikan, tujuh orang
meninggal dunia dan 27 orang luka parah. Dengan insiden ini pun keberadaan Spurgeon
belum disukai pers London.
Akan namun pada tahun 1860-an, kegairahan baru akan evangelikal bangkit di Inggris,
dan Spurgeon berada di tengah-tengahnya. Para ahli sejarah menyebutnya Kebangkitan
Evangelikal Kedua. Para pengkhotbah lain, seperti Alexander Maclaren di Manchester
dan John Clifford di London, juga menarik massa. Menjelang 1861, Kapel New Park
Street telah membangun fasilitas baru, Metropolitan Tabernacle, yang memuat 6.000
pengunjung. Pelayanan Spurgeon baru berawal. Ia menerbitkan khotbah-khotbahnya
serta ulasan-ulasan dan buku-buku renungan – seluruhnya 140 buah buku, semasa
hidupnya. Ia mendirikan sekolah pendeta dan panti asuhan Stockwell yang mengasuh
500 anak. Ia menjadi presiden perkumpulan pembagi Alkitab. Ia berkhotbah di mana
saja dan kapan saja.
Gaya Spurgeon mungkin sederhana dan langsung, namun ia bukanlah seorang teolog. Ia
yaitu seorang Baptis Calvinistik. Bagaimanapun, perpaduan tradisi ini telah membantu
membawa struktur Calvinisme ke agama kelas bawah dan menyajikan iman Baptis pada
gereja-gereja kelas atas.
Bakatnya yaitu berkomunikasi. Dengan membaca karya-karyanya sekarang, kita
menemukan kekuatan modern di dalamnya. Ingatlah bahwa ia hidup pada zaman
bergaya: Apa yang Anda katakan tidaklah selalu begitu penting dibandingkan bagaimana
Anda menyampaikannya. Namun Spurgeon tidak memiliki waktu untuk berbasa-basi
dengan sopan. Ia memakai gambaran kuat dan pilihan kata-kata untuk
menyampaikan maksudnya secara langsung. Dalam melakukan hal itu, ia telah
190
memberi contoh bagi para pengkhotbah yang akan datang. Karya-karya tulis
"pangeran pengkhotbah ini" sampai hari ini terjual luas.
191
84) Tahun 1855 Pertobatan Dwight L. Moody
Dwight L. Moody (1837-1899)
saat berumur tujuh belas tahun, ia berupaya ke kota besar, Boston. Setelah
menjelajahi kota itu berminggu-minggu lamanya, ia menemukan pekerjaan sebagai
penjual sepatu di toko pamannya. Ia tinggal di lantai atas. "Saya mendapat kamar di
lantai tiga," tulisnya, "saya dapat membuka jendela serta ada tiga buah bangunan yang
penuh dengan gadis-gadis tercantik di kota ini – mereka mengoceh seperti burung kakak
tua."
Satu dari sembilan orang anak yang dibesarkan oleh seorang janda di pedalaman
Northfield, Massachusetts, Dwight L. Moody, tidak pernah mendapatkan pendidikan
tinggi, namun ia memiliki cita-cita dan tekad. Namun, Boston tidak ramah kepadanya.
"Jika seseorang ingin merasakan bahwa ia seorang diri di dunia ini," tulis Moody, "ia
tidak perlu pergi ke hutan tempat ia akan mendapati dirinya sendiri sebagai teman,
namun biarlah ia pergi ke salah satu kota-kota besar ini, dan biarlah dia melewati jalanan
yang ada dan ia akan bertemu ribuan orang dan tidak satu pun yang tabu atau mengenal
dia." "Saya ingat saat saya pergi ke kota itu dan mencari pekerjaan, lalu gagal.
Tampaknya seperti ada tempat bagi orang lain di dunia ini namun tidak untuk saya.
Selama dua hari saya dihinggapi perasaan mengerikan bahwa saya tidak diingini oleh
siapa pun."
Moody mendengarkan pidato para abolisionis di Faneuil Hall yang letaknya tidak jauh.
Ia bergabung dengan YMCA, sebuah organisasi yang baru saja diimpor dari Inggris,
dan ia mulai mengunjungi Mt. Vernon Congregational Church (Gereja Kongregasional
Mt. Vernon) untuk mendengarkan khotbah Edward Norris Kirk yang terkenal itu.
Ia menemukan khotbahnya berbobot dan meluap-luap; begitu meluap-luapnya sehingga
kadang-kadang ia tertidur. "Seorang mahasiswa muda dari Harvard menyikut saya, dan
saya bangun sambil mengusap-usap mata. Saya menatap sang gembala, yang melihat
dan memperhatikan. Saya pikir ia sedang berkhotbah langsung kepada saya. Saya
berkata kepada diri sendiri, siapa yang mengatakan tentang saya pada Dr. Kirk? ... Pada
penutupannya ... saya tank kerah jas saya dan keluar secepat mungkin."
192
Guru sekolah Minggunya, Edward Kimball, mengamati jejak Moody, dan mendesak dia
kembali ke gereja apabila ia mangkir. Ia juga menantang Moody membaca Alkitab
secara teratur; Moody mencoba membaca namun tidak dapat mengerti. "Tidak banyak
orang yang pernah saya lihat yang benaknya secara spiritual lebih gelap dibandingkan benak
dia saat dia masuk ke kelas saya," tulis Kimball di lalu hari.
Pada tanggal 21 April 1855, Kimball merasakan bahwa sudah waktunya menganjurkan
Moody berjanji kepada Kristus. Ia menuju ke toko sepatu, berubah pikiran, dan jalan
melewati toko itu, lalu kembali terburu-buru, serta masuk ke toko itu. Ia
menemukan Moody sedang membungkus dan menyemir sepatu. Orang muda itu sudah
siap mendengarkannya. Pada hari itu juga D.L. Moody menjadi Kristen.
Moody membutuhkan waktu untuk mengerti implikasi dari iman kepercayaannya itu.
Sesungguhnya ia ditolak menjadi anggota gereja sebab ia gagal dalam ujian masuk – ia
tidak dapat menjelaskan apa yang telah dilakukan Kristus baginya. namun hatinya
berubah. Ia tidak malu menjadi orang Kristen dan terus-menerus mempelajari
keyakinannya.
Tidak lama lalu ia merasa jenuh dengan Boston dan memboyong cita-citanya ke
barat, ke Chicago. Sikap lantangnya lebih diterima di sana, dan ia berhasil dalam
penjualan sepatunya. Ia juga terlibat dalam berbagai upaya penginjilan. Suatu saat ia
mengembara dalam suatu misi di North Wells Street dan bertanya apakah ia dapat
diterima mengajar sekolah Minggu. Jawaban yang diterima yaitu bahwa misi di situ
punya cukup banyak guru, namun murid-muridnya tidak ada. Jika ia dapat
mengumpulkan murid-murid, maka ia dapat mengajar mereka. Hal ini bukanlah
masalah bagi Moody yang memiliki keterampilan penjualan. Tidak lama lalu ia
mengajar sejumlah anak jalanan.
Memasuki tahun 1861 ia sudah bekerja penuh waktu dalam pelayanan, baik di sekolah
Minggunya maupun YMCA. la mendapat dukungan dari pengusaha setempat seperti
John Farwell dan Cyrus McCormick. Pada tahun 1864, misinya menjadi sebuah gereja.
Menjelang tahun 1871 pelayanan Moody di Chicago sudah nyaman, aman, dan
bertumbuh. Ia pernah berpikir mengadakan perjalanan sebagai penginjil, namun mengapa
harus meninggalkan keadaan yang sehat seperti itu? Bagaimanapun kebakaran besar di
Chicago telah mengubah pikirannya. Gereja, rumah dan YMCA semuanya telah
menjadi abu, sama nasibnya dengan usaha-usaha para pendukung terbaiknya. sebab
sukar mengumpulkan dana dari kota-kota lain untuk membangun kembali pelayanan
Chicago itu, Moody pun mulai berkelana.
Pada tahun 1873 ia berangkat ke Inggris. Pertemuan-pertemuan penginjilannya
bagaikan badai bagi Kepulauan Britania. Setelah dua tahun ia kembali ke Amerika
Serikat sebagai seorang selebriti bertaraf internasional. Ia diundang berkhotbah di
banyak kota di Amerika.
Sambil membangun tradisi revivalis yang didirikan Charles Finney, Moody membawa
penginjilan ke zaman industri. la mengkhotbahkan Injil yang sederhana, bebas dari
bermacammacam denominasi. Hal itu memperbesar daya tarik serta dukungannya. Ia
bersekutu dengan para pengusaha. Merekalah para pemimpin generasi baru, bukan para
pengkhotbah. Ia menekankan supaya mereka memakai harta mereka untuk hal-hal
baik seperti peduli kepada orang-orang miskin perkotaan. Moody menerapkan teknik
193
usahanya pada perencanaan penginjilannya. Musik, konseling dan follow-upnya yaitu
bagian-bagian dari pendekatan terorganisasi untuk mengambil hati orang.
Pada tahun 1879, Moody mengalihkan perhatiannya kepada pendidikan dengan
mendirikan Northfield Seminary bagi para gadis, dan lalu Mount Hermon School
bagi anakanak lelaki. Ia memulai konferensi-konferensi Alkitab musim panas dan
sebuah institut Alkitab yang sekarang memakai namanya. Pada awalnya, ia takut
bersaing dengan seminariseminari yang ada, namun ia melihat kebutuhan yang lebih
besar untuk latihan-latihan praktik dalam pelayanan. Bukannya tren liberal di seminari
Amerika yang menjadi masalah baginya, namun pengasingan seminari-seminari itu dari
orang banyak. la bermaksud melatih para komunikator yang akan membawa firman
Allah yang sederhana kepada mereka yang membutuhkannya.
Cara-cara praktis ini telah berlanjut dalam lingkungan yang menyandang namanya.
Moody Bible Institute, umpamanya, terus melatih para pendeta, misionaris dan pekerja
gereja lainnya. Namun pengaruh Moody telah melampaui halhal itu. Ia merupakan
pendahulu bagi para penginjil seperti Billy Sunday dan Billy Graham. Aspek sosial
penginjilannya juga telah mengilhami komitmen yang dalam pada pelayanan sosial di
kalangan evangelikal.
194
85) Tahun 1857 David Livingstone Menerbitkan Missionary Travels
David Livingstone (1813-1873)
From the September, 1896, Century Magazine
Sepanjang hidupnya David Livingstone berupaya mendamaikan pengetahuan ilmiah
dengan kekristenan. Sebagai seorang pemuda berusia belasan tahun, ia menolak
membaca buku-buku Kristen yang diberikan ayahnya, dan lebih menyukai karya
tentang ilmu pengetahuan dan perjalanan. Buku yang akhirnya membawa pertobatan
baginya ialah buku yang mencoba menggabungkan iman dengan ilmu pengetahuan.
Pada tahun berikutnya, Livingstone membaca lembaran yang mengajak para dokter
misionaris ke China. Ia tahu apa yang harus dilakukannya. Ia mendaftarkan diri di
sebuah Sekolah Kedokteran di Glasgow dan akhirnya melamar ke London Missionary
Society (LMS). sebab surat referensi teologisnya kurang, maka pada awalnya LMS
195
tidak menerimanya secara penuh. Sampai waktu ia diterima, perang candu pun telah
pecah di China, dan rasanya kurang bijaksana mengirim misionaris ke sana.
Meskipun hal itu tampaknya sungguh buruk sekali pada waktu itu, perubahan keadaan
ini telah menentukan nasib Livingstone, ia mengubah masa depannya dengan pergi ke
benua Afrika. Tidak lama lalu Livingstone bertemu dengan Robert Moffat, yang
pernah memelopori tugas misioner di Afrika Selatan. Livingstone memutuskan pergi ke
benua itu dan bergabung dengan tim Moffat pada tahun 1841.
Pangkalan misi ini letaknya 600 mil di pedalaman, dan Livingstone mulai gelisah.
Ada begitu banyak daerah di benua itu yang harus dicapai; ia tidak gembira sebagai
seorang misionaris meths saja di sebuah kelompok kecil yang statis. Ia ingin menjelajah.
Ia bergabung dengan misionaris lain untuk mendirikan pangkalan Baru, dan lalu
melanjutkan perjalanan jauhnya ke pedalaman.
Pelayanan ini luar biasa sulitnya. Living-stone bekerja keras selama sepuluh tahun di
antara orang-orang Tswana dan hanya satu orang yang bertobat. Pada suatu saat , ia
diserang seekor singa dan ia terluka parah. Putri Moffat, Mary, merawat Livingstone
hingga kesehatannya pulih. Pada tahun 1845 Livingstone menikahinya. Secara
keseluruhan, pernikahan itu tidak langgeng. Mary menemukan sifat petualangan David
yang tak kunjung padam.
Livingstone membuang kebijakan misi "konservatif' LMS. Polanya ialah: pergi ke satu
daerah, memenangkan jiwa-jiwa, membangun gereja di sana, dan mengolahnya, serta
melanjutkan perjalanan hanya apabila gereja ini telah berjalan dengan baik. Proses
itu sangat lamban. Livingstone melihat bahwa keadaan di Afrika sangat buruk untuk
penginjilan. Ketidaktahuan kebudayaan Afrika, ditambah dengan pengalaman pahit
orang-orang Afrika dengan para pedagang budak kulit putih dapat menimbulkan
perlawanan kuat. Mengapa tidak menyusup ke dalam dengan cara positif, membantu
orangorang Afrika mengembangkan usaha mereka sendiri dan belajar tentang cara-cara
mereka? Cara ini tidak akan membangun gereja dalam waktu singkat, namun akan
mewujudkan kondisi yang akan sangat menolong penginjilan pada generasi yang akan
datang.
Pada akhir tahun 1852, keluarganya dengan selamat dikirim ke Inggris. Livingstone
berangkat dalam suatu ekspedisi cross-country. Ia menemukan Sungai Zambezi. Sungai
itu tentunya mengalir dari sumber tertentu. Mungkin ia dapat menemukan rute sungai di
pedalaman yang melintasi benua itu dari Samudra Hindia hingga ke Atlantik. Hal ini
akan membuka kesempatan berdagang bagi orang-orang setempat dan proses ini pun
akan menjadi pukulan bagi para pedagang budak.
Perjalanan ke barat sungguh menyulitkan, penuh penyakit, gersang dan serangan
binatang liar serta suku-suku yang tidak ramah. Akhirnya, ia tiba di Atlantik pada tahun
1854 dan dari sana, ia sebenarnya dapat saja berlayar ke Inggris. namun banyak lagi
yang harus dijelajahinya. Dapatkah Zambezi diikuti sampai ke Samudra Hindia? Ia
memberanikan diri menempuh arah timur, dan sampai di pantainya pada tahun 1856.
Dari sana ia berlayar ke Inggris dan tiba untuk menerima sambutan kepahlawanan.
Penjelajahan daerah-daerah yang belum dijangkau mendapat sambutan hebat pada
zaman itu. Seorang penjelajah seperti Livingstone dieluelukan seperti kita menghormati
astronot pertama yang mendarat di Mars. Livingstone bekerja keras bukan saja untuk
196
menghasilkan geografi baru, namun juga berbuat banyak hal mulia seperti tugas-tugas
penginjilan, perdagangan dan penghapusan perbudakan. Laporan perjalanannya,
Missionary Travels (Perjalanan Penginjilan) yang ditulis pada tahun 1857, menjadi best-
seller.
Pada tahun berikutnya, Livingstone kembali ke Afrika, namun, tidak dengan London
Missionary Society. Meskipun ia mengaku bahwa ia masih merupakan seorang
misionaris, ia pergi sebagai agen pemerintah Inggris. Namun ekspedisi ini membawa
petaka. Tampaknya jeram Sungai Zambezi itu tidak dapat diarungi kapal. Rute-rute
alternatif tidak ditemukan. Harapan untuk pelayaran melalui daerah pedalaman
melintasi Afrika telah sirna. Sementara itu keadaan Mary Livingstone sungguh
memalukan. Ketenaran David dan perasaannya yang tidak aman telah membuat Mary
menjadi seorang pemabuk. saat David pergi ke Afrika meninggalkannya, dia tidak
mendapat perlakuan baik. sebab kecemasannya, seperti orang mengamuk ia berlayar
untuk menemuinya, namun meninggal dunia tidak lama setelah pertemuan mereka.
Oleh sebab ekspedisinya ditarik kembali, Livingstone kembali ke Inggris pada tahun
1864. Kali ini ia hanya menjadi berita yang gagal, berita basi yang hanya diberikan
penghormatan sopan ibarat pada sebuah relikwi. Ia berangkat atas kemauan sendiri,
untuk terakhir kalinya, ke benua tercintanya. Kali ini ia mencari sumber Sungai Nil.
Dalam proses itu ia menemukan beberapa danau di pedalaman.
Tahun berganti tahun berlalu tanpa berita apa pun darinya. Beberapa ekspedisi
berangkat untuk mencarinya. Yang paling terkenal dari semuanya itu yaitu ekspedisi
yang melibatkan Henry M. Stanley, wartawan Herald New York, pada tahun 1871.
Akhirnya mereka menemukan Livingstone di Ujiji, di danau Tanganyika. Ia
mengucapkan kalimat yang bermakna besar itu, "Dr. Livingstone, saya kira." Namun ia
tak dapat meyakinkannya untuk pulang (Stanley sendiri lalu menjadi misionaris di
Afrika).
Livingstone wafat pada tahun 1873. Ia ditemukan berlutut di sebuah gubuk primitif.
Hatinya dikubur di negara angkatnya, dan jasadnya dikembalikan ke Inggris. Di sana
misionaris besar ini mendapat penghormatan dengan dikebumikan di Westminster
Abbey. Seperti banyak penggerak utama dalam sejarah kekristenan, David Livingstone
yaitu seorang yang berpandangan independen. Ia menantang ide-ide misi yang ada
pada masanya, yang selalu mendorong ke luar. Ia memiliki visi bagi kesejahteraan
ekonomis-spiritual terpadu untuk orang-orang Afrika, namun tampaknya ia menolak
mentalitas kolonial orang-orang sezamannya. Faktanya ialah bahwa karya Livingstone
mewujudkan syarat-syarat bagi pertumbuhan kekristenan. Satu abad setelah
kematiannya, gereja Afrika meluas dengan pesat.
197
86) Tahun 1865 William Booth Mendirikan Bala Keselamatan
William Booth (April 10, 1829 – August 20, 1912)
Sementara industri bertumbuh, perlakuan semena-mena terhadap kelas-kelas pekerja
pun meningkat.
Inggris sedang bergerak dari kehidupan pertanian ke kehidupan yang berorientasi
pabrik, dan daerah-daerah kumuh di London pun bertumbuh. Ribuan orang dari dusun
membanjiri London, mencari pekerjaan, dan sexing kali mereka tinggal serta bekerja
dalam kondisi-kondisi yang amat buruk.
Gereja seharusnya menjadi pelopor pertama meringankan penderitaan, namun Gereja
sendiri dalam keadaan kekurangan. Seperti di seluruh Inggris, London telah terbagi-bagi
dalam jemaat-jemaat, garis-garis yang tidak pernah berubah berabad-abad lamanya.
Meskipun penduduk kota kian bertambah, namun Gereja Inggris tidak memiliki
cukup persediaan untuk menambah kaum rohaniwan bagi gereja. Untuk membangun
jemaat baru dibutuhkan undang-undang parlemen, yang prosesnya lamban dan panjang.
Methodisme, yang telah menjadi agama kelas menengah khususnya, juga tidak dapat
dengan efektif mencapai kelas pekerja. Methodis telah berupaya mencapai orang-orang
yang telah berpindah ke Gereja Inggris, namun orang-orang miskin baru yang
bermukim di lorong-lorong masih belum tersentuh Injil.
Prihatin dengan keadaan orang-orang miskin, maka pada tahun 1865 William Booth dan
istrinya, Catherine, mendirikan misi bagi orang-orang miskin di East End London.
Diawali dari sebuah tenda sederhana muncullah pelayanan Bala Keselamatan.
Di sekeliling pasangan penginjil ini terdapat rumah-rumah yang penuh sesak dengan
kekerasan keluarga, mabuk-mabukan, prostitusi dan tuna karya. Kemakmuran yang
menjadi lam-bang teratas kelas menengah Victorian tidak meluas ke East End.
Upaya perundang-undangan tampaknya tidak memecahkan masalah ini, dan William
yakin bahwa hal itu akan berubah hanya bila hati berubah. Sekali orang-orang telah
mengenal Kristus, perilaku dan kondisi mereka dapat membaik.
198
Itu tidak berarti bahwa pasangan Booth tidak memperhatikan masalah-masalah di
sekeliling mereka. Mereka mendirikan kedai "Food for the Million" (Makanan untuk
jutaan orang), dengan menyajikan makanan murah. Jika perut seseorang terisi penuh, ia
cenderung mendengarkan berita mereka tentang keselamatan dari Kristus.
Meskipun banyak ide-ide organisasi Methodisme telah ditinggalkan Booth, namun ia
selangkah lebih maju dengan akhirnya menciptakan organisasi yang mengikuti garis-
garis militer. Seorang pengikutnya mengiklankan sebuah pertemuan sebagai "The
Hallejah Army Fighting for God" (Pasukan Halleluya Bertempur untuk 'I'uhan). Kontrol
Booth yang togas akan organisasinya membuat beberapa orang memanggilnya jenderal.
Menjelang tahun 1878, kelompok ini mengambil nama Bala Keselamatan, dan
jenderalnya sengaja telah mengorganisasikannya dengan pakaian seragam, perwira-
perwira, marching brass band dan majalah dengan nama The War Cry.
Ada orang-orang Kristen yang tersinggung dengan Bala Keselamatan. Sebenarnya,
marching band tidak memiliki kewibawaan musik Anglikan. Apakah Iblis sedang
memakai Bala Keselamatan untuk membuat kekristenan bahan tertawaan? Namun,
Bala Keselamatan meraih sukses. Band-bandnya dapat didengar di jalan-jalan kota, dan
mereka memainkan irama-irama populer dan sekuler dengan kata-kata Kristen.
"Mengapa iblis harus menguasai semua irama yang terbaik?" tanya Booth.
Selain itu, di bawah pengaruh Bala Keselamatan, kehidupan keluarga-keluarga
membaik. Mereka mulai memperhatikan masalah-masalah kelaparan dan tuna wisma,
serta Injil diberitakan kepada banyak orang yang bahkan belum pernah menginjakkan
kakinya di gereja.
Namun, sementara orang-orang Kristen menentang Bala Keselamatan, beberapa non-
Kristen menunjukkan reaksi yang lebih kelas lagi. saat kelas pekerja bertobat kepada
Kristus, mereka menganut kebijakan dengan berhenti minum. Hal ini merugikan
perusahaan bir, dan mereka menjadi marah kepada Bala Keselamatan. Pada dua dekade
terakhir abad kesembilan belas, perwira-perwira Bala Keselamatan diserang serta
bangunan mereka dihancurkan.
Namun, para pengejek itu harus mengakui bahwa Bala Keselamatan telah melakukan
tindakan yang baik di kala mereka mengubah pemabuk dan pemukul anak menjadi ayah
yang benar dan pekerja yang baik.
Catherine, istri William, dengan kebolehannya mendukung William dalam upaya-
upayanya, dan misi mereka ini diteruskan oleh anakanak asuh mereka yang berjumlah
besar. Bala Keselamatan tersebar bukan saja di Inggris, namun juga di setiap penjuru
dunia.
Dalam seluruh hidupnya, William telah mengadakan perjalanan sejauh lima juta mil,
mengkhotbahkan hampir 60.000 khotbah, dan menarik kira-kira 16.000 perwira untuk
bekerja dengan dia. Dalam buku terlarisnya In Darkest England and the Way Out, ia
menunjukkan kepada banyak orang zaman Victoria bahwa mereka tidak perlu bermisi
ke luar negeri untuk mencari "orang-orang miskin yang belum mengenal Allah" dan
yang membutuhkan Kristus. Booth mendirikan agen-agen yang peduli akan kebutuhan
fisik dan sosial orang-orang, serta memberitakan Injil. Melalui kariernya, ia telah
mengasah teknik-teknik komunikasi dengan orang banyak dan berbagi tentang Kristus.
saat ia wafat pada tahun 1912, 40.000 orang mengantar dia ke pemakaman.
199
saat Bala Keselamatan membawa berita kepada si miskin di Inggris, ia melakukan
pekerjaan yang sama seperti Dia yang melayani para nelayan, wanita-wanita tuna susila
dan para penderita penyakit kusta.
200
87) Tahun 1870 Paus Pius IX Memproklamasikan Doktrin Infalibilitas
Paus
Pope Pius IX (1846-1878)
Apakah Italia akan tampak sebagai suatu daerah di atas peta atau sebuah negara
kesatuan?
Siapa yang akan memerintah negara baru ini ?
Pada pertengahan abad kesembilan belas, inilah pertanyaan-pertanyaan yang menanti
jawaban. Eropa telah melihat banyak perubahan pada tahun 1848, saat gelombang
nasionalisme menyapu benua itu. Di Perancis, Italia dan selusin negara lain, warga
telah mulai menuntut hak mereka akan negara mereka sendiri, berdasarkan bahasa dan
letak geografis, dibandingkan diperintah negara-negara lain. Sisilia berupaya memerdekakan
diri dari kerajaan Bourbon, dan daerah-daerah bagian utara Italia berupaya mengakhiri
kungkungan pemerintahan Austria.
Paus yang baru, Pius IX, mendukung risorgimento ('kebangkitan") itu, yang hendak
menciptakan negara berbahasa Italia. saat ia memberi daerah-daerah kepausan
sebuah konstitusi, paus telah menyenangkan hati kaum liberal. Hal itu tidak bertahan
lama. saat kaum revolusioner membunuh perdana menteri yang baru, paus lari dari
daerah kepausan untuk sementara waktu. la kembali dengan bantuan tentara Perancis;
sekarang ia melihat ancaman kaum liberal dan ingin memberi dukungan bagi
pemerintahan absolut lama.
Pada tahun 1869, paus yang sedang terkepung mengadakan Konsili Vatikan I. Falsafah-
falsafah liberal serta rasa nasionalisme yang meningkat telah menjadi dorongan untuk
berpikir lebih bebas dalam gereja. Para imam dan uskup mulai mempertanyakan
kekuasaan paus. Dalam dunia yang tidak lagi merupakan Katolik semuanya, kepausan
telah kehilangan pengaruh politiknya juga. Gereja perlu memperhatikan tantangan-
tantangan pemikiran kaum liberal dan melemahnya kepentingan tradisi dalam gereja.
201
Pada tahun 1854, paus menyatakan bahwa Perawan Maria telah dikandung tanpa dosa –
doktrin Immaculate Conception. Meskipun banyak orang Katolik telah menerimanya
selama bertahun-tahun lamanya, dan sekarang hal itu telah menjadi doktrin gereja yang
baku.
Sembilan tahun lalu paus menyimpulkan hal itu dalam Syllabus of Errors (ikhtisar
Ajaran-ajaran Sesat). Dalam upayanya melawan arus liberalisme, ia membuat daftar
hal-hal yang tidak boleh dipercayai orang-orang Katolik, termasuk pemikiran modern:
seperti rasionalisme atau sosialisme, perkawinan di catatan sipil, dan banyak lagi
bentuk-bentuk toleransi agama.
Konsili Vatikan itu mengemukakan peranan paus yang berlangsung di gereja. Paus
berupaya mengukuhkan dua hal: bahwa paus, bergelar Vicar of Christ (Wakil Kristus),
memiliki kuasa penuh dan langsung terhadap seluruh gereja dan hierarkinya; dan bila
ia bicara ex cathedra ("dari kursinya", dalam kapasitasnya sebagai paus), ia tidak dapat
sesat (infallible). Meskipun ada liberalisme dalam gereja namun paus menang pada
Konsili Vatikan I itu. Keduanya dijadikan doktrin gereja.
Meskipun kaum liberal tidak menyetujuinya, bagi banyak orang, absolutisme seperti itu
yaitu sesuatu yang patut disambut. Mereka hidup dalam zaman yang rancu; banyak hal
telah berubah secara politik maupun filosofis. Banyak orang Katolik menghendaki
kepastian bahwa beberapa hal – seperti paus dan ajaran-ajaran gereja — akan tetap
kokoh.
Paus tidak memegang otoritas politiknya, sebab kira-kira dua bulan setelah Konsili
Vatikan I, Victor Immanuel menduduki Roma, dan penduduknya memilih pembentukan
kerajaan Italia. Meskipun paus kehilangan kuasa sementara, namun ia telah meraih
keefektifan spiritual. Dari Vatikan ia menjalankan lebih banyak otoritas dibandingkan
pejabat tinggi gereja yang paling berkuasa pada Abad Pertengahan.
Gereja Katolik tidak berubah hingga Konsili Vatikan II.
202
88) Tahun 1886 Gerakan Relawan Mahasiswa Dimulai
Dwight L. Moody
Pada salah satu konferensi musim panas yang diadakan Dwight L. Moody, revivalis
agung ini mengundang para mahasiswa perguruan tinggi ke konferensi Mt. Hermon, di
Northfield, Massachusetts, untuk pemahaman Alkitab dan persekutuan selama sebulan.
Konferensi yang diadakan pada bulan Juli 1886 itu dihadiri 151 mahasiswa.
Pada dua minggu pertama, konferensi itu berjalan biasa. Tidak membicarakan misi
sama sekali. Pemahaman Alkitab yaitu acara setiap harinya. Namun seorang
mahasiswa dari Princeton berdoa tentang kebutuhan dunia. Ia merasakan bahwa Allah
akan memakai persekutuan ini untuk memicu gerakan pekabaran Injil. Mahasiswa
ini benar.
Ia mengumpulkan dua puluh satu orang yang berpikiran sama untuk berdoa bersama-
sama. Mereka berdoa agar semangat misi dapat mengisi konferensi itu. Pada tanggal 16
Juli, pembicara A.T. Pierson menyampaikan pidato yang membangkitkan tantangan
penginjilan: "Semua harus pergi dan pergi untuk semua." Semangat itu menjadi lebih
marak pada tanggal 24 Juli, dengan "pertemuan sepuluh negara". Wakil dari sepuluh
negara dan kebangsaan berbicara secara singkat, melaporkan kebutuhan di negara
mereka. Pada minggu-minggu terakhir konferensi itu, banyak mahasiswa memutuskan
mengabdikan hidup mereka bagi pelayanan misi. Menjelang akhir konferensi, seratus
dari antara mereka telah membuat komitmen yang sama.
Pada hari terakhir konferensi itu, para mahasiswa memikirkan cara untuk memelihara
semangat ini dan menyebarkannya. Mereka menunjuk Robert P. Wilder untuk
mendatangi berbagai perguruan tinggi sepanjang tahun itu, memberitakan apa yang
terjadi di Mt. Hermon. Ia mulai mengumpulkan mahasiswa yang bertekad mengabarkan
Injil. Pada tahun berikutnya, Wilder dan seorang rekannya mengunjungi 167 perguruan
tinggi, dan 2.200 mahasiswa berikrar untuk bekerja di ladang misi.
Akan namun , menjelang 1888 semangat itu mulai menurun. Gerakan ini
membutuhkan kepemimpinan dan organisasi. Pada pertemuan di Mt. Hermon, suatu
kelompok inti terdiri dari lima puluh orang memutuskan menunjuk tiga pimpinan
203
dewan: Wilder mewakili Inter-Seminary Missionary Alliance (Aliansi Misionaris Antar-
Seminari); Nettie Dunn dari YWCA; dan John R. Mott dari YMCA. Mott akan berperan
sebagai tokoh sentral dengan menjadikan gerakan mahasiswa ini sebagai lembaga
kegiatan penginjilan dan oikumene seluruh dunia.
Mott baru lulus dari Universitas Cornell, tempat ia aktif dalam kepemimpinan YMCA.
Ia berkemauan keras memenangkan jiwa-jiwa, maka ia mengambil peranannya dalam
Gerakan Relawan Mahasiswa (Student Volunteer Movement – SVM) yang baru
dibentuk dengan sangat serius. Komunikasi, publisitas dan organisasi – Mott unggul
dalam bidang-bidang ini. Ia memastikan kelompok misi lain agar tahu bahwa SVM
bukan untuk menyaingi mereka, namun mendukung mereka. Para mahasiswa yang
berjiwa misi dari berbagai perguruan tinggi dikumpulkan dan dibagi dalam "kelompok",
bertemu secara teratur untuk berdoa Berta membangkitkan semangat. Konvensi-
konvensi mahasiswa relawan diadakan setiap empat tahun sekali. Mott dan para
pemimpin lainnya mengadakan perjalanan jauh dalam upaya mereka mencari, melatih
dan mengirim misionaris-misionaris baru.
Motto yang tersiar luas dengan jelas yaitu : "Penginjilan dunia dalam generasi ini".
Mott menulis sebuah buku dengan judul ini . Menjelang 1914, SVM telah berjasa
mengirim sebanyak 5.000 misionaris ke ladang misi.
Akan namun di balik jumlah ini , gerakan itu berjasa bagi kegairahan penginjilan
baru se-Dunia. Organisasi-organisasi lain mendapat keuntungan dari itu. Pada tahun
1895, Mott ikut membentuk Federasi Mahasiswa Kristen Sedunia dan menjadi
sekjennya yang pertama. Gerakan penginjilan orang awam lahir pada konferensi SVM
tahun 1906, dengan mengadakan kampanye mencari dukungan orang-orang awam
untuk misi. Mott juga merupakan figur utama pada Konferensi Pekabaran Injil
Internasional di Edinburgh pada tahun 1910. Hal ini lalu mengarah pada
pembentukan World Council of Churches (Dewan Gereja-gereja se-Dunia).
Mott telah terkenal luas dan telah memberi pengaruh besar. Presiden Wilson
menawarinya menjadi duta besar di China; namun ia menolak. Princeton berpikir
menjadakan dia presiden perguruan ini , juga ia tolak. Mott mendapat kesempatan
menjadi menteri luar negeri, ia menolak. la yaitu orang yang menyatu dengan misi,
dan misi yaitu misi.
Semangat misi di Amerika Serikat mati setelah Perang Dunia I. Namun, misionaris-
misionaris yang diilhami SVM melayani bertahun-tahun lamanya. Gerakan Relawan
Mahasiswa telah melakukan apa yang telah dilakukan William Carey satu abad
sebelumnya, membangkitkan keinginan bermisi pada waktu-waktu kritis.
204
89) Tahun 1906 Kebangunan Rohani Azusa Street Memunculkan
Aliran Pentekostalisme
Apostolic Faith Mission on Azusa Street in downtown Los Angeles, in a photo from
1906, was the site of a religious revival that lasted three years. The revival is said to
have started modern-day Pentecostal and charismatic movements.
"Dengan mengembuskan ucapan-ucapan asing dan mengomat-ngamitkan pengakuan
iman, yang tampaknya tidak dapat dimengerti orang lain, sekte. agama paling baru
muncul di Los Angeles."
Itulah yang diberitakan oleh harian Los Angeles Times, hari Rabu tanggal 18 April
1906. "Pertemuan diadakan di sebuah pondok yang hampir rubuh di Azusa Street, dan
para pengikut doktrin-doktrin yang mengerikan ini mempraktikkan upacara-upacara
paling fanatik, mengkhotbahkan teori-teori liar, dan memaksakan mereka sendiri dalam
keadaan kegembiraan yang tidak waras dengan semangat mereka sendiri."
Publisitas nega












