Tampilkan postingan dengan label Sejarah kristen 8. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah kristen 8. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Juli 2026

Sejarah kristen 8


 t semacam konsolidasi dari kelompok-kelompok yang 

berbeda-beda. Para "Brethren", begitulah mereka dikenal, mencoba menanggalkan 

semua perlengkapan yang bukan alkitabiah dari gereja mereka. Komuni diadakan setiap 

Minggu, tidak ada seorang pendeta pun yang diteguhkan (setiap orang yaitu  pendeta); 

dan orang-orang dari se-gala denominasi disambut atas nama Kristus. Para Brethren 

juga percaya pada perdamaian (dan musyawarah), dan tentunya pada pentingnya 

nubuat.  

Di Bristol, seorang imigran Jerman bernama George Mueller mendirikan sebuah panti 

asuhan. Diilhami contoh A.N. Groves yang menjalankan misi dalam iman, dengan iman 

Mueller bertekad menjalankan panti asuhannya. Ia tidak meminta uang, hanya percaya 

bahwa Allah akan melengkapinya. Pelayanan Mueller menjadi legenda, suatu bukti 

iman sederhana Plymouth Brethren yang bertumbuh.  

Sementara itu, Darby melanjutkan perjalanannya, berbicara dan menulis. saat  

mengadakan tur di Swiss pada tahun 1838, ia mendirikan sejumlah Gereja Brethren di 

 178

sana. Suatu revolusi politik pada tahun 1845 menimbulkan penyiksaan terhadap gereja-

gereja ini, dan Darby sendiri nyaris menjadi korban.  

Pada waktu yang bersamaan, kontroversi muncul di antara Brethren, khususnya 

mengenai anugerah spiritual, pembasuhan kaki, tugas penatua dan interpretasi nubuat. 

Perpecahan besar terjadi antara Darby dan B.W. Newton, yang dapat dianggap sebagai 

mitra pendiri gerakan. Akhirnya Newton mengundurkan diri dari gereja, dan lalu  

konflik pun meningkat sehingga memisahkan Darby dan Mueller. Akibat 

ketidaksepakatan mereka ialah perpecahan antara Brethren Eksklusif (yang tidak akan 

berekanan dengan mereka yang berdoktrin kurang sehat) dan Brethren Terbuka. 

Tentunya, eksklusivitas kelompok yang pertama tadi menimbulkan perpecahan-

perpecahan selanjutnya, mencerminkan ironi yang menyedihkan bahwa sukar 

berpegang bersama-sama pada kesatuan gereja dan kemurnian doktrin.  

Seperti Disciples of Chirst di Amerika Serikat, Plymouth Brethren menyuntikkan 

perlunya tekanan kesederhanaan dalam kehidupan gereja di Inggris. Gereja ini  

telah mendapatkan pengikut-pengikut yang cukup berarti di seluruh dunia, termasuk 

figur-figur terkemuka seperti Samuel Tregelles dan pakar Perjanjian Baru modern F.F. 

Bruce.  

Akan namun , kemasyhuran utama Darby ialah eskatologinya. Pandangannya tentang 

nubuat dikenal sebagai dispensasionalisme (dispensationalism). Itu menjadi tema utama 

pada konferensi nubuat pada tahun 1800-an serta gerakan fundamentalis pada awal-awal 

tahun 1900-an.  

 179

80) Tahun 1833 Khotbah John Keble tentang "Murtad Nasional" 

Memicu Gerakan Oxford  

 

Kardinal John Henry Newman (1801-1890), figur terpenting dalam Gerakan Oxford  

Methodisme telah berupaya membawa kehidupan baru dalam Gereja Anglikan, namun 

berakhir dengan membentuk denominasi baru. Menjelang akhir tahun 1820-an 

kehadiran pengunjung di Gereja Inggris merosot secara drastis. Sementara Methodisme 

bertumbuh sehat, gereja yang menetaskannya menjadi kering dan kosong.  

Orang yang merasa peduli akan situasi Gereja Anglikan itu ialah rohaniwan Anglikan 

didikan Oxford, seorang yang berhati baik. John Keble merasakan bahwa gerejanya 

kehilangan kekuatannya sebab  telah berpaling dari tradisi liturgi yang kaya dan tulisan-

tulisan para bapa Gereja. Jika Gereja Inggris tidak menyadari warisan penerusan 

kerasulannya, Keble percaya bahwa gereja akan menjadi lemah sehingga memberi 

peluang bagi para pembangkang Protestan dan Katolik, dan akhirnya akan lenyap.  

Keble menerbitkan sekumpulan sajak devosional yang mencerminkan liturgi, dengan 

harihari para santo dan pesta-pestanya. Sajak-sajak indah dalam The Christian Year's 

menunjukkan kehangatan yang umumnya dihubungkan dengan Methodis dan para 

pembangkang lainnya, namun karya itu tetap berada dalam tradisi Anglikan.  

Pada tanggal 14 Juli 1833, Keble berkhotbah di Oriel College. Khotbahnya, 

"Kemurtadan Nasional", menyerang parlemen sebab  mengurangi jumlah para uskup di 

gereja Irlandia dengan tuduhan bahwa hal ini  yaitu  bukti campur tangan negara 

dalam urusan Gereja. Gereja yang asalnya ilahi tidak dapat diatur oleh perundang-

undangan duniawi.  

 180

Kata-kata Keble ini mengawali gerakan Oxford (atau Tractarianism), yang 

mengupayakan pembaruan dalam Gereja Anglikan dengan mengembalikannya ke 

berbagai kepercayaan dan praktik awal gereja. Di antara-para pendukung gerakan 

Oxford terdapat murid-murid Keble, yaitu Richard Froude, John Henry Newman dan 

Edward Pusey.  

Newman mulai menerbitkan Tracts for the Times. Dia, Keble dan Froude menulis 

sembilan puluh traktat antara tahun 1833 sampai 1841. Selebaran empat halaman itu, 

yang dijual seharga satu penny selembar, tidak dibubuhi nama penulis, sementara 

Newman berkeliling Oxordshire menjualnya kepada kaum rohaniwan.  

Beberapa traktat telah mendorong Gereja Inggris kembali ke lingkungan Katolik. 

Meskipun Gereja Anglikan tidak lagi begitu hidup, namun gereja ini  takut kembali 

ke Katolikisme, khususnya setelah pencabutan undang-undang tahun 1828, yang 

menolak hak orang-orang Katolik menduduki jabatan pemerintahan – hak yang ditolak 

bagi mereka sejak Test Act tahun 1673. Kritik-kritik tentang Traktarianisme memuncak 

pada tahun 1841, saat  Newman menulis traktat bahwa sakramen bukan hanya 

baptisan dan komuni. Sebagai tambahan, is juga mengajukan kepercayaan akan 

purgatory, kehadiran Kristus sesungguhnya dalam Ekaristi dan doa kepada para santo. 

Uskup Oxford menanggapinya dengan perintah untuk mengakhiri serial traktat itu.  

Beberapa rohaniwan Anglikan – Newman di antaranya – membelot ke Katolik, namun  

sebagian bestir dari mereka yang bersimpati pada para penulis Traktat tetap bertahan di 

Gereja Inggris. Meskipun mereka memuji tradisi-tradisi Gereja, termasuk pakaian 

rohaniwan dalam kebaktian, kebiasaan berlutut, pengakuan dosa, komuni, wangi 

kemenyan dan juga kebiaraan, namun banyak yang anti-Katolik. Mereka menginginkan 

agama yang menyentuh kelima indra, namun  terutama mereka tidak menginginkan 

hubungan dengan paus ataupun hierarkinya yang tersebar di seluruh dunia.  

Setelah Newman meninggalkan gerakan Oxford pada tahun 1845, gerakan itu berupaya 

berpegang pada ritual, arsitektur dan musik yang terbaik, dengan menolak aspek-aspek 

lain Katolikisme. Edward Pusey saat  itu menjadi juru bicara paling fasih dari gerakan 

ini .  

Banyak anggota evangelikal menjadi gusar akan praktik-praktik Anglo-Katolik ini. Pada 

tahun 1846 mereka membentuk Evangelical Alliance (Aliansi Evangelikal). Namun, apa 

yang berawal sebagai gerakan anti-Traktarian menjadi pembuka jalan untuk menarik 

para anggota evangelikal ke dalam rekanan nasional. Meskipun mereka menentang 

ritualisme gerakan  

Oxford, para evangelikal tidak dapat membantah bahwa hal itu berpengaruh positif 

terhadap gereja Anglikan. dibandingkan  memandang diri mereka sendiri sebagai pejabat-

pejabat Inggris, para rohaniwan Anglikan yang mendukung gerakan Oxford 

memandang tradisi kerasulan dengan serius. dibandingkan  hanya mengajarkan moral dalam 

pelayanan kebaktian mereka, mereka mulai mengembangkan rasa hormat. Sebagai basil 

perubahan persepsi ini, istilah la-ma high church muncul kembali. Banyak biarawan dan 

biarawati mulai bekerja dengan si miskin di kota-kota yang industrinya meningkat.  

Selain itu, sejumlah penulis-penulis himne (kidung) yang baik berkembang dari dalam 

gerakan Oxford. Para penulis terdahulu datang dari jajaran pembangkang. Sekarang, 

 181

Keble, Frederick W. Faber dan John Mason Neale, penerjemah himne Yunani dan Latin 

yang sudah lama hilang ke dalam syair Inggris, bergabung dengan mereka.  

 182

81) Tahun 1854 Hudson Taylor Tiba di China  

 

Hudson Taylor (1832-1905)  

 

Hudson Taylor 1905 (tengah)  

Tak seorang pun tahu ia datang. Hudson Taylor turun dari kapal di Shanghai setelah 

melalui perjalanan meletihkan, dan tak seorang pun menyambut dia. Karier misionernya 

yang cemerlang baru dimulai, namun ia tidak memiliki  tempat untuk menginap. Ia 

tidak dapat berbahasa China dan orang-orang China yang dapat berbahasa Inggris 

sangat sedikit. Di atas semuanya ini, perang saudara sedang berlangsung – tidak jauh 

dari kota itu.  

Taylor menanyakan tentang beberapa misionaris Barat yang ia ketahui di Konsulat 

Inggris. Seorang telah meninggal, dan yang lainnya telah pulang. Akhirnya ia 

menemukan Dr. Walter Medhurst, dari London Missionary Society, dan berencana 

tinggal bersama dia. Hal ini bukanlah seperti yang diidamidamkan Taylor. Dibesarkan 

dalam keluarga Methodis, ia telah mendengar cerita tentang negeri China dari ayahnya 

yang yaitu  seorang pengkhotbah. Ia belajar tentang Robert Morrison, seorang 

Presbiterian Skotlandia yang memulai pelayanan di Guangzhou pada tahun 1807, 

melakukan penerjemahan bagi para pedagang dan berkhotbah tentang Yesus. saat  

Hudson muda menjadi Kristen, pada usianya yang ketujuh belas, hampir pada saat yang 

 183

sama ia mengalami panggilannya. Ia mempelajari kedokteran dan teologi, dan mencari 

tahu tentang daratan China yang luas.  

saat  pemberontakan Taiping pecah pada tahun 1850, mula-mula hal itu tampaknya 

merupakan kabar baik bagi para misionaris. Pemimpin pemberontak telah dipengaruhi 

traktat Kristen. Ia bermaksud menghapus penyembahan berhala dan korupsi di China. Ia 

menamakan gerakannya Taiping, "perdamaian besar". (la juga yakin bahwa ia yaitu  

adik Yesus Kristus, namun keeksentrikan seperti itu pada awalnya tidak jelas.)  

Seluruh Inggris menaruh perhatian baru pada China. Suatu badan misi baru, China 

Evangelization Society (Perkumpulan Evangelisasi China), menerbitkan seruan bagi 

Para pekerja. Taylor yang tidak disenangi London Missionary Society menawarkan 

jasanya. Mereka menjemput dia dari sekolah. la berumur dua puluh dua tahun saat  ia 

mendarat di Shanghai.  

Semangat telah mengalahkan kebijaksanaan, sekurang-kurangnya dalam badan misi itu. 

Benar, mereka telah inenempatkan orangnya di lapangan, namun mereka tidak 

memberi  petunjuk, tidak memiliki falsafah misi, dan hampir tidak melakukan apa 

pun untuk merintis jalannya. Mereka juga secara rutin kekurangan dana.  

Taylor terpaksa membuat peraturannya sendiri. Salah satunya berkenaan dengan 

berpakaian seperti orang China. Rekan-rekannya dari Inggris kaget, namun Taylor 

memiliki  alasan tersendiri. "Saya sangat puas bahwa pakaian adat ini merupakan 

sarana mutlak bebas," tulisnya. "Menetap dengan tenteram di antara orang-orang itu, 

mendapatkan komunikasi yang ramah dan tidak tegang dari mereka, menghilangkan 

prasangka mereka, meraih penghargaan dan kepercayaan mereka, dan hidup sebagai 

panutan bagi mereka tentang bagaimana seharusnya keberadaan seorang China Kristen, 

semuanya perlu memakai  bukan saja pakaian ini, namun  juga kebiasaan mereka. 

Kapelkapel yang tampak asing, dan sesungguhnya memberi iklim asing bagi semua 

yang berkaitan dengan agama, telah menjadi penghalang besar bagi penyebaran 

kebendran di antara orangorang China. namun  mengapa agama Kristen harus diberi 

aspek asing? Firman Allah tidak membutuhkan itu. Yang kita butuhkan bukan 

pelepasan (adat) kebangsaan mereka, namun  pengkristenan mereka."  

Para misionaris datang ke negeri tertutup ini, membuntuti kesuksesan para pedagang 

dan prajurit. Sejak Morrison menjadi penerjemah bagi East India Trading Company 

(Perusahaan Dagang India Timur), hubungannya sudah dapat diterka. saat  Inggris 

Raya melancarkan perang candu yang memalukan — sesungguhnya berperang untuk 

mempertahankan hak perdagangan candu bagi sutra China — perjanjianperjanjian 

sepihak menyertakan juga ketetapan istimewa bagi para misionaris. Pesannya cukup 

jelas: Peradaban kuno China telah dilecehkan oleh mesin-mesin perang modern Eropa 

— dan orang Eropa membawa serta agama Kristen bersamanya. China justru sedang 

dijadikan satu lagi koloni bagi kerajaan "Kristen" Inggris.  

Taylor harus bergumul dengan sejarah ini. Walau bagaimanapun perjanjian-perjanjian 

ter sebut memudahkan bagi seorang misionaris. Namun, perjanjian-perjanjian itu 

mempersulit hubungan serius dengan warga  setempat. Ia berharap dapat 

mengakhiri mental kolonial dengan mengambil adat setempat.  

Dalam tugas enam tahun pertamanya, Taylor bekerja di Shanghai, Swatow dan Ningpo, 

dengan mempelajari bahasanya, menerjemahkan Alkitab, serta menjalankan sebuah 

 184

rumah sakit. saat  itu, ia telah mengundurkan diri dari warga  misi dan bekerja 

secara independen.  

Sekembalinya ke Inggris pada tahun 1860, ia mulai antusias dengan misi China. la 

menulis sebuah buku tentang kebutuhan misi di sana dan dengan rajin mencari 

misionaris-misionaris baru. Taylor mendirikan China Inland Mission (Misi Pedalaman 

China) — dan ia bertekad tidak akan berbuat kesalahan-kesalahan seperti badan misi 

terdahulu. CIM tidak akan mengadakan permohonan langsung untuk dana, tidak akan 

menjamin gaji bagi pekerja-pekerjanya, namun akan membagi semua pendapatan secara 

merata. C1M akan mempekerjakan orangorang dari berbagai negara dan dari 

denominasi yang berbeda, dan juga memberi tugas-tugas misionaris penuh bagi wanita, 

baik yang sudah bersuami atau belum. Pada waktu itu, hal seperti ini merupakan sesuatu 

yang radikal. Taylor juga memaksakan agar misionaris CIM mengikuti praktiknya 

dengan berpakaian China.  

Enam bolas misionaris kembali ke Gina bersama-sama Taylor pada tahun 1866. Mereka 

memulai pekerjaan di daerah-daerah baru, memberitakan Injil kepada mereka yang 

belum pernah mendengarnya. Dalam waktu singkat, CIM menjadi badan misi 

terkemuka di China. Menjelang wafatnya Taylor pada tahun 1905, terdapat 205 

pangkalan misi, 849 misionaris dan kira-kira 125.000 orang Kristen China.  

Hudson Taylor bukanlah misionaris pertama di China. namun  penolakannya dengan 

tenang untuk "menjalankan misi seperti biasa" telah membawa kesuksesan besar 

baginya di anak benua itu.  

Suatu insiden menggambarkan ketulusan hati dan pandangan ke depan yang 

dikemukakan Taylor pada perkumpulan misinya. CIM, seperti halnya misi-misi lain, 

kehilangan orang-orang dan hartanya dalam pemberontakan Boxer tahun 1900. Pasukan 

Inggris terjun lagi, menyelesaikan krisis dan mengenakan denda besar terhadap 

pemerintah China. Uang ini dipakai untuk mengganti harta misi yang hilang. namun  

CIM menolak menerima penggantian uang – orang-orang China sendiri telah 

kehilangan banyak.  

Pada tahun-tahun berikutnya, misionaris CIM menemukan bahwa pengabdian mereka 

untuk berada bersama-sama orang-orang China itu telah berbuat lebih banyak dalam 

membuka hati mereka pada Kristus dibandingkan  perjanjian diplomatik apa pun yang 

mungkin dicapai. Hudson Taylor telah mengetahui semuanya.  

 185

82) Tahun 1854 Soren Kierkegaard Menerbitkan Serangan terhadap 

Kekristenan  

 

Patung Soren Kierkegaard (1813-1855) di Copenhagen, Denmark  

Teologi abad kedua puluh mungkin berbeda sekali jika bukan sebab  seorang wanita 

muda bernama Regina Olsen. Dia yaitu  calon mempelai seorang Denmark yang 

cerdas, Soren Kierkegaard. Pertunangan dan putusnya mereka membuat Soren tergila-

gila dengan penulisan falsafah. Karya-karya yang dihasilkannya telah membuat banyak 

perubahan dalam bentuk pemikiran modern.  

Kierkegaard lahir dalam keluarga berada pada tahun 1831. Ayahnya seorang usahawan 

sukses, dan telah pensiun lebih awal. Sekarang ia gemar mengundang para profesor 

untuk makan malam dan bertukar pikiran. Soren, yang termuda, yaitu  "sang Yusuf' di 

keluarganya. Ayahnya sangat menyenanginya serta mengagumi ketangkasan 

berpikirnya. Pada usia tujuh belas, Soren dikirim ke Universitas Kopenhagen. Ayahnya 

ingin ia menjadi pendeta, namun  Soren menolaknya. Ini yaitu  salah satu sebab 

pertengkarannya dengan sang ayah yang melanjutkan pembiayaan pendidikan Soren 

dan gaya hidupnya yang boros. Kierkegaard muda menjadi semacam mahasiswa abadi. 

Ia mencoba memperbaiki hubungan dengan ayahnya, tidak berapa lama sebelum 

Kierkegaard tua meninggal. Setelah itu Soren melanjutkan pendidikan teologi, 

meskipun ia tidak pernah ditahbiskan.  

lalu  Regina Olsen menarik perhatiannya. Ia baru berumur belasan tahun, namun 

Soren memutuskan untuk mendapatkannya. Masalahnya Regina sedang mengincar 

orang lain. Soren mulai memikat Regina dan keluarganya secara ofensif, yang 

memicu  Regina putus dengan pacarnya, dan akhirnya meminta Regina jadi 

pasangan hidupnya.  

Namun, sekarang Soren tidak menginginkannya lagi. Atau ia memandang dirinya tak 

berharga bagi Regina. Tampaknya ia memiliki  rahasia yang dalam dan gelap yang 

memicu  ia tidak dapat menikmati keintimannya dengan Regina. Apa yang harus 

 186

dilakukannya? Jika ia putuskan pertunangannya, hal itu akan mempermalukan Regina. 

Itu kurang adil. namun  jika Regina memutuskannya, yaitu  lebih baik. Maka Soren 

berupaya agar Regina terdorong untuk memutuskannya. Ia menjadi pemarah dan tidak 

ramah. Regina bertahan cukup lama, namun akhirnya ia tidak dapat bertahan lagi.  

Seluruh episode ini menjadi beban berat dalam hati Kierkegaard yang memang sudah 

suram. Ia merupakan penjahat dan korban dari kejahatannya sendiri. Ia mulai 

menggores serangkaian tulisan filsafat, mempertanyakan anggapan pada masanya. 

Semuanya diterbitkan dengan nama samaran. lalu  ia menerbitkan buku dengan 

namanya sendiri, yang merupakan jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan ini .  

Salah satu dari yang pertama – Either/Or – dipuji oleh The Corsair, sebuah jurnal 

sindiran yang jarang memuji apa pun. Kierkegaard merasa malu dengan sindiran itu dan 

meminta jurnal itu menariknya. The Corsair hanya mengejek dia dan terus 

mempermalukan Kierkegaard di muka umum.  

Hal ini tambah mengasingkan filsuf yang sudah kesepian itu. Kegagalan dengan Regina 

Olsen telah menodai namanya di warga , dan sekarang The Corsair 

menjelekkannya di muka umum.  

Namun, ia melanjutkan tulisannya dengan mengalihkan perhatiannya ke tema-tema 

keagamaan. Bagaimana seseorang dapat menjadi Kristen sejati dalam dunia yang telah 

terpuruk ini? Jawabannya tidak menunjukkan harapan. Ia tidak menaruh harapan pada 

sistem-sistem ataupun lembaga-lembaga pada zamannya. Hanya mujizat Tuhan yang 

dapat menyelamatkan kita, tegasnya.  

Ia belum berupaya menyerang gereja yang teroganisasi, namun dalam benaknya ia 

sudah mengarah ke sana. Gereja Denmark pada waktu itu cukup mewah dan teratur, 

serta merupakan pemelihara upacara dan teologi Lutheran yang baik. Namun, 

Kierkegaard tidak melihat kehidupan di dalamnya. Mungkin sebab  takut ke mana 

tulisannya akan mengarah, Kierkegaard berhenti menulis pada tahun 1850.  

Kematian temannya J. P. Mynster, uskup Zealand, menggerakkan dia kembali menulis. 

Mynster, dengan caranya sendiri, telah berupaya mendorong Gereja Denmark dengan 

hasil yang terbatas. Kierkegaard mengambil kesempatan untuk mengkritik gereja habis-

habisan sebab  mengabaikan ajaran Kristus yang benar,  

sebab  perhatiannya pada bentuk dan sistem filsafatnya, dan sebab  pemujaan terhadap 

uang serta kekuasaan. Antara Desember 1854 sampai Mei 1855, ia menerbitkan 21 

karangan dalam harian The Fatherland dan lalu  dalam jurnalnya sendiri.  

Pada bulan Oktober 1855, Kierkegaard diserang stroke dan meninggal sebulan 

lalu .  

Tulisan-tulisannya mempengaruhi beberapa pemikir ulung abad kesembilan belas, 

namun pengaruh terbesarnya belum muncul hingga waktu yang lama di lalu  hari. 

Kierkegaard telah dielu-elukan sebagai Bapak "Eksistensialisme", yang meraih 

ketenarannya pada abad kedua puluh. Para ahli filsafat dan teolog mengembangkan 

pemikirannya dengan berbagai cara, ada yang mungkin membuat Kierkegaard marah 

dan yang lain mungkin ia setujui.  

 187

Kierkegaard berjasa bagi banyak unsur subjektivitas dalam pemikiran teologi modern, 

namun  subjektivitas itu datang dari kerendahan hati. Ia berkesimpulan bahwa Allah 

bukanlah Benda yang secara ilmiah dapat dibedah dan dianalisis. Ia yaitu  Keberadaan 

(Being) yang hidup dan bertindak, yang berhadapan dengan kita untuk menyelamatkan 

kita.  

Bukan hanya kita sebagai manusia seperti kepingan-kepingan teka-teki, kita juga yaitu  

keberadaan, seru Kierkegaard, dengan kemauan, harapan dan kesedihan. Kierkegaard 

memerangi sistem yang abstrak — apakah itu filsafat ataupun keagamaan — yang 

mencari semacam Kebenaran yang abstrak. la menegaskan bahwa agama harus 

mengajar bagaimana kita harus hidup.  

Pemikir Denmark ini putus asa dengan tidak sanggupnya kita sebagai manusia 

menghampiri Allah dengan akal. Akal kita hanya membawa kita jauh dan lalu  kita 

melompat ke dalam kegelapan, dengan keyakinan bahwa Allah akan menemui kita di 

sana. Lompatan ini membutuhkan komitmen penuh, penolakan terhadap nilai-nilai 

duniawi dan kadang-kadang terhadap nilai-nilai gereja.  

Mengikuti saat-saat Pencerahan, keputusasaan Kierkegaard sungguh mengejutkan bagi 

orang pada masanya. Namun, pemikiran Kierkegaard mengantisipasi Revolusi Industri 

yang tidak manusiawi serta kebangkitan dan kejatuhan Modernisme. Orang Denmark 

yang agung ini telah mendahului satu abad dari zamannya.  

 188

83) Tahun 1854 Charles Haddon Spurgeon Menjadi Imam di London  

 

Charles Haddon Spurgeon (1834 - 1892)  

"Tentunya itu suatu kekeliruan."  

Itulah yang dipikirkan Charles Spurgeon saat  dia diminta berkhotbah di Kapel New 

Park Street, di London. Tempat itu yaitu  gereja yang bergengsi, dengan bangunan tua 

yang indah, dan Spurgeon saat itu baru berumur Sembilan belas tahun.  

Namun, sama sekali tidak ada kekeliruan, sebab  setelah Spurgeon bicara, ia diundang 

untuk menjadi pendeta gereja ini . Ia memegang jabatan itu selama hampir empat 

dekade.  

Spurgeon hampir bukan merupakan tipe orang yang menyadari kelasnya dalam 

warga  London. la dilahirkan di kalangan Huguenot, di suatu pedesaan di Essex. Ia 

tinggal dengan kakek dan neneknya saat  ia masih kecil, sebab  orangtuanya terlalu 

miskin untuk merawat dia. Nenek dan ayahnya yaitu  pendeta Kongregasionalis, namun  

Charles masuk ke sekolah pertanian – meskipun hanya untuk beberapa bulan.  

Bergumul dengan kebutuhan jiwanya, Spurgeon bertekad pergi ke gereja pada hari 

Minggu pertama tahun 1850. Topan salju menghambat kepergiannya ke gereja sesuai 

rencananya, namun ia berhenti di sebuah kapel Methodic Primitif terdekat. 

Pembicaranya bodoh, seperti yang diingat Spurgeon, namun  hal itu merupakan tantangan 

bagi Charles muda ini. Akibatnya, Charles Spurgeon menjadi Kristen dalam usia enam 

belas tahun.  

Tidak lama lalu , Spurgeon menyadari bahwa ia memiliki  bakat berbicara. Pada 

tahun 1852 ia menjadi gembala sebuah gereja Baptis kecil di Waterbeach. Daerah itu 

sungguh rawan dan orang-orangnya terkenal pemabuk. Spurgeon mengembangkan gaya 

langsung. Para pendengarnya tidak akan betah dengan keterangan-keterangan teologi 

yang memakai  kata-kata indah, oleh sebab itu ia memberitakan kepada mereka apa 

yang dikatakan dalam Alkitab. Berita tentang "pengkhotbah muda" ini telah tersebar di 

 189

Waterbeach. Itulah waktunya saat  sidang Kapel New Park Street memutuskan 

memberi dia kesempatan.  

Gereja itu pernah memiliki  sejarah yang dapat dibanggakan, namun  jatuh pada masa-

masa kesukaran. Gedung yang indah itu dapat menampung lebih dari seribu orang, 

namun akhirakhir itu untuk mengumpulkan seratus orang saja sudah sulit bagi sidang di 

sana. Delapan puluh orang menghadiri pelayanan pembukaan Spurgeon. Mungkin 

pengkhotbah muda ini dapat melakukan sesuatu.  

Ia melakukannya. Gaya langsungnya membuat para warga London mengakui kata-

katanya. Pengunjung kebaktian pun menjamur. Tidak lama lalu  gedung kuno itu 

penuh sesak. Gereja ini  terpaksa harus menyewa gedung pertemuan Exeter Hall 

yang menampung 4.500 orang.  

Pertumbuhan cepat seperti ini menarik perhatian pers London, yang pemberitaannya 

ten-tang pengkhotbah baru itu tidak selalu menyenangkan. "Semua pidatonya berbau 

busuk dan vulgar," tulis sebuah harian. Harian lain menyebut "Gaya seperti itu berasal 

dari bahasa pasaran yang vulgar, diselingi gaya yang kasar.... Semua misteri khidmat 

agama kita yang suci olehnya diperlakukan dengan kasar. Inilah khotbah yang didengar 

5.000 orang".  

Jumlah itu menjadi 10.000 – dan lebih. Dalam waktu singkat gedung pertemuan itu 

sudah tidak sanggup menampung para pendengar Spurgeon. Gereja menyewa gedung 

Surrey Music Hall yang berkapasitas 12.000 tempat duduk dan penuh juga, sementara 

10.000 orang lagi menunggu di luar. Malangnya, upacara pembukaan di sana membawa 

bencana. Beberapa perusuh berteriak "kebakaran"! Dalam kepanikan, tujuh orang 

meninggal dunia dan 27 orang luka parah. Dengan insiden ini pun keberadaan Spurgeon 

belum disukai pers London.  

Akan namun  pada tahun 1860-an, kegairahan baru akan evangelikal bangkit di Inggris, 

dan Spurgeon berada di tengah-tengahnya. Para ahli sejarah menyebutnya Kebangkitan 

Evangelikal Kedua. Para pengkhotbah lain, seperti Alexander Maclaren di Manchester 

dan John Clifford di London, juga menarik massa. Menjelang 1861, Kapel New Park 

Street telah membangun fasilitas baru, Metropolitan Tabernacle, yang memuat 6.000 

pengunjung. Pelayanan Spurgeon baru berawal. Ia menerbitkan khotbah-khotbahnya 

serta ulasan-ulasan dan buku-buku renungan – seluruhnya 140 buah buku, semasa 

hidupnya. Ia mendirikan sekolah pendeta dan panti asuhan Stockwell yang mengasuh 

500 anak. Ia menjadi presiden perkumpulan pembagi Alkitab. Ia berkhotbah di mana 

saja dan kapan saja.  

Gaya Spurgeon mungkin sederhana dan langsung, namun ia bukanlah seorang teolog. Ia 

yaitu  seorang Baptis Calvinistik. Bagaimanapun, perpaduan tradisi ini telah membantu 

membawa struktur Calvinisme ke agama kelas bawah dan menyajikan iman Baptis pada 

gereja-gereja kelas atas.  

Bakatnya yaitu  berkomunikasi. Dengan membaca karya-karyanya sekarang, kita 

menemukan kekuatan modern di dalamnya. Ingatlah bahwa ia hidup pada zaman 

bergaya: Apa yang Anda katakan tidaklah selalu begitu penting dibandingkan  bagaimana 

Anda menyampaikannya. Namun Spurgeon tidak memiliki  waktu untuk berbasa-basi 

dengan sopan. Ia memakai  gambaran kuat dan pilihan kata-kata untuk 

menyampaikan maksudnya secara langsung. Dalam melakukan hal itu, ia telah 

 190

memberi  contoh bagi para pengkhotbah yang akan datang. Karya-karya tulis 

"pangeran pengkhotbah ini" sampai hari ini terjual luas.  

 191

84) Tahun 1855 Pertobatan Dwight L. Moody  

 

Dwight L. Moody (1837-1899)  

saat  berumur tujuh belas tahun, ia berupaya ke kota besar, Boston. Setelah 

menjelajahi kota itu berminggu-minggu lamanya, ia menemukan pekerjaan sebagai 

penjual sepatu di toko pamannya. Ia tinggal di lantai atas. "Saya mendapat kamar di 

lantai tiga," tulisnya, "saya dapat membuka jendela serta ada tiga buah bangunan yang 

penuh dengan gadis-gadis tercantik di kota ini – mereka mengoceh seperti burung kakak 

tua."  

Satu dari sembilan orang anak yang dibesarkan oleh seorang janda di pedalaman 

Northfield, Massachusetts, Dwight L. Moody, tidak pernah mendapatkan pendidikan 

tinggi, namun  ia memiliki  cita-cita dan tekad. Namun, Boston tidak ramah kepadanya. 

"Jika seseorang ingin merasakan bahwa ia seorang diri di dunia ini," tulis Moody, "ia 

tidak perlu pergi ke hutan tempat ia akan mendapati dirinya sendiri sebagai teman, 

namun  biarlah ia pergi ke salah satu kota-kota besar ini, dan biarlah dia melewati jalanan 

yang ada dan ia akan bertemu ribuan orang dan tidak satu pun yang tabu atau mengenal 

dia." "Saya ingat saat  saya pergi ke kota itu dan mencari pekerjaan, lalu gagal. 

Tampaknya seperti ada tempat bagi orang lain di dunia ini namun  tidak untuk saya. 

Selama dua hari saya dihinggapi perasaan mengerikan bahwa saya tidak diingini oleh 

siapa pun."  

Moody mendengarkan pidato para abolisionis di Faneuil Hall yang letaknya tidak jauh. 

Ia bergabung dengan YMCA, sebuah organisasi yang baru saja diimpor dari Inggris, 

dan ia mulai mengunjungi Mt. Vernon Congregational Church (Gereja Kongregasional 

Mt. Vernon) untuk mendengarkan khotbah Edward Norris Kirk yang terkenal itu.  

Ia menemukan khotbahnya berbobot dan meluap-luap; begitu meluap-luapnya sehingga 

kadang-kadang ia tertidur. "Seorang mahasiswa muda dari Harvard menyikut saya, dan 

saya bangun sambil mengusap-usap mata. Saya menatap sang gembala, yang melihat 

dan memperhatikan. Saya pikir ia sedang berkhotbah langsung kepada saya. Saya 

berkata kepada diri sendiri, siapa yang mengatakan tentang saya pada Dr. Kirk? ... Pada 

penutupannya ... saya tank kerah jas saya dan keluar secepat mungkin."  

 192

Guru sekolah Minggunya, Edward Kimball, mengamati jejak Moody, dan mendesak dia 

kembali ke gereja apabila ia mangkir. Ia juga menantang Moody membaca Alkitab 

secara teratur; Moody mencoba membaca namun  tidak dapat mengerti. "Tidak banyak 

orang yang pernah saya lihat yang benaknya secara spiritual lebih gelap dibandingkan  benak 

dia saat  dia masuk ke kelas saya," tulis Kimball di lalu  hari.  

Pada tanggal 21 April 1855, Kimball merasakan bahwa sudah waktunya menganjurkan 

Moody berjanji kepada Kristus. Ia menuju ke toko sepatu, berubah pikiran, dan jalan 

melewati toko itu, lalu  kembali terburu-buru, serta masuk ke toko itu. Ia 

menemukan Moody sedang membungkus dan menyemir sepatu. Orang muda itu sudah 

siap mendengarkannya. Pada hari itu juga D.L. Moody menjadi Kristen.  

Moody membutuhkan waktu untuk mengerti implikasi dari iman kepercayaannya itu. 

Sesungguhnya ia ditolak menjadi anggota gereja sebab  ia gagal dalam ujian masuk – ia 

tidak dapat menjelaskan apa yang telah dilakukan Kristus baginya. namun  hatinya 

berubah. Ia tidak malu menjadi orang Kristen dan terus-menerus mempelajari 

keyakinannya.  

Tidak lama lalu  ia merasa jenuh dengan Boston dan memboyong cita-citanya ke 

barat, ke Chicago. Sikap lantangnya lebih diterima di sana, dan ia berhasil dalam 

penjualan sepatunya. Ia juga terlibat dalam berbagai upaya penginjilan. Suatu saat  ia 

mengembara dalam suatu misi di North Wells Street dan bertanya apakah ia dapat 

diterima mengajar sekolah Minggu. Jawaban yang diterima yaitu  bahwa misi di situ 

punya cukup banyak guru, namun murid-muridnya tidak ada. Jika ia dapat 

mengumpulkan murid-murid, maka ia dapat mengajar mereka. Hal ini bukanlah 

masalah bagi Moody yang memiliki keterampilan penjualan. Tidak lama lalu  ia 

mengajar sejumlah anak jalanan.  

Memasuki tahun 1861 ia sudah bekerja penuh waktu dalam pelayanan, baik di sekolah 

Minggunya maupun YMCA. la mendapat dukungan dari pengusaha setempat seperti 

John Farwell dan Cyrus McCormick. Pada tahun 1864, misinya menjadi sebuah gereja.  

Menjelang tahun 1871 pelayanan Moody di Chicago sudah nyaman, aman, dan 

bertumbuh. Ia pernah berpikir mengadakan perjalanan sebagai penginjil, namun  mengapa 

harus meninggalkan keadaan yang sehat seperti itu? Bagaimanapun kebakaran besar di 

Chicago telah mengubah pikirannya. Gereja, rumah dan YMCA semuanya telah 

menjadi abu, sama nasibnya dengan usaha-usaha para pendukung terbaiknya. sebab  

sukar mengumpulkan dana dari kota-kota lain untuk membangun kembali pelayanan 

Chicago itu, Moody pun mulai berkelana.  

Pada tahun 1873 ia berangkat ke Inggris. Pertemuan-pertemuan penginjilannya 

bagaikan badai bagi Kepulauan Britania. Setelah dua tahun ia kembali ke Amerika 

Serikat sebagai seorang selebriti bertaraf internasional. Ia diundang berkhotbah di 

banyak kota di Amerika.  

Sambil membangun tradisi revivalis yang didirikan Charles Finney, Moody membawa 

penginjilan ke zaman industri. la mengkhotbahkan Injil yang sederhana, bebas dari 

bermacammacam denominasi. Hal itu memperbesar daya tarik serta dukungannya. Ia 

bersekutu dengan para pengusaha. Merekalah para pemimpin generasi baru, bukan para 

pengkhotbah. Ia menekankan supaya mereka memakai  harta mereka untuk hal-hal 

baik seperti peduli kepada orang-orang miskin perkotaan. Moody menerapkan teknik 

 193

usahanya pada perencanaan penginjilannya. Musik, konseling dan follow-upnya yaitu  

bagian-bagian dari pendekatan terorganisasi untuk mengambil hati orang.  

Pada tahun 1879, Moody mengalihkan perhatiannya kepada pendidikan dengan 

mendirikan Northfield Seminary bagi para gadis, dan lalu  Mount Hermon School 

bagi anakanak lelaki. Ia memulai konferensi-konferensi Alkitab musim panas dan 

sebuah institut Alkitab yang sekarang memakai namanya. Pada awalnya, ia takut 

bersaing dengan seminariseminari yang ada, namun  ia melihat kebutuhan yang lebih 

besar untuk latihan-latihan praktik dalam pelayanan. Bukannya tren liberal di seminari 

Amerika yang menjadi masalah baginya, namun  pengasingan seminari-seminari itu dari 

orang banyak. la bermaksud melatih para komunikator yang akan membawa firman 

Allah yang sederhana kepada mereka yang membutuhkannya.  

Cara-cara praktis ini telah berlanjut dalam lingkungan yang menyandang namanya. 

Moody Bible Institute, umpamanya, terus melatih para pendeta, misionaris dan pekerja 

gereja lainnya. Namun pengaruh Moody telah melampaui halhal itu. Ia merupakan 

pendahulu bagi para penginjil seperti Billy Sunday dan Billy Graham. Aspek sosial 

penginjilannya juga telah mengilhami komitmen yang dalam pada pelayanan sosial di 

kalangan evangelikal.  

 194

85) Tahun 1857 David Livingstone Menerbitkan Missionary Travels  

 

David Livingstone (1813-1873)  

 

From the September, 1896, Century Magazine  

Sepanjang hidupnya David Livingstone berupaya mendamaikan pengetahuan ilmiah 

dengan kekristenan. Sebagai seorang pemuda berusia belasan tahun, ia menolak 

membaca buku-buku Kristen yang diberikan ayahnya, dan lebih menyukai karya 

tentang ilmu pengetahuan dan perjalanan. Buku yang akhirnya membawa pertobatan 

baginya ialah buku yang mencoba menggabungkan iman dengan ilmu pengetahuan.  

Pada tahun berikutnya, Livingstone membaca lembaran yang mengajak para dokter 

misionaris ke China. Ia tahu apa yang harus dilakukannya. Ia mendaftarkan diri di 

sebuah Sekolah Kedokteran di Glasgow dan akhirnya melamar ke London Missionary 

Society (LMS). sebab  surat referensi teologisnya kurang, maka pada awalnya LMS 

 195

tidak menerimanya secara penuh. Sampai waktu ia diterima, perang candu pun telah 

pecah di China, dan rasanya kurang bijaksana mengirim misionaris ke sana.  

Meskipun hal itu tampaknya sungguh buruk sekali pada waktu itu, perubahan keadaan 

ini telah menentukan nasib Livingstone, ia mengubah masa depannya dengan pergi ke 

benua Afrika. Tidak lama lalu  Livingstone bertemu dengan Robert Moffat, yang 

pernah memelopori tugas misioner di Afrika Selatan. Livingstone memutuskan pergi ke 

benua itu dan bergabung dengan tim Moffat pada tahun 1841.  

Pangkalan misi ini  letaknya 600 mil di pedalaman, dan Livingstone mulai gelisah. 

Ada begitu banyak daerah di benua itu yang harus dicapai; ia tidak gembira sebagai 

seorang misionaris meths saja di sebuah kelompok kecil yang statis. Ia ingin menjelajah. 

Ia bergabung dengan misionaris lain untuk mendirikan pangkalan Baru, dan lalu  

melanjutkan perjalanan jauhnya ke pedalaman.  

Pelayanan ini luar biasa sulitnya. Living-stone bekerja keras selama sepuluh tahun di 

antara orang-orang Tswana dan hanya satu orang yang bertobat. Pada suatu saat , ia 

diserang seekor singa dan ia terluka parah. Putri Moffat, Mary, merawat Livingstone 

hingga kesehatannya pulih. Pada tahun 1845 Livingstone menikahinya. Secara 

keseluruhan, pernikahan itu tidak langgeng. Mary menemukan sifat petualangan David 

yang tak kunjung padam.  

Livingstone membuang kebijakan misi "konservatif' LMS. Polanya ialah: pergi ke satu 

daerah, memenangkan jiwa-jiwa, membangun gereja di sana, dan mengolahnya, serta 

melanjutkan perjalanan hanya apabila gereja ini  telah berjalan dengan baik. Proses 

itu sangat lamban. Livingstone melihat bahwa keadaan di Afrika sangat buruk untuk 

penginjilan. Ketidaktahuan kebudayaan Afrika, ditambah dengan pengalaman pahit 

orang-orang Afrika dengan para pedagang budak kulit putih dapat menimbulkan 

perlawanan kuat. Mengapa tidak menyusup ke dalam dengan cara positif, membantu 

orangorang Afrika mengembangkan usaha mereka sendiri dan belajar tentang cara-cara 

mereka? Cara ini tidak akan membangun gereja dalam waktu singkat, namun  akan 

mewujudkan kondisi yang akan sangat menolong penginjilan pada generasi yang akan 

datang.  

Pada akhir tahun 1852, keluarganya dengan selamat dikirim ke Inggris. Livingstone 

berangkat dalam suatu ekspedisi cross-country. Ia menemukan Sungai Zambezi. Sungai 

itu tentunya mengalir dari sumber tertentu. Mungkin ia dapat menemukan rute sungai di 

pedalaman yang melintasi benua itu dari Samudra Hindia hingga ke Atlantik. Hal ini 

akan membuka kesempatan berdagang bagi orang-orang setempat dan proses ini pun 

akan menjadi pukulan bagi para pedagang budak.  

Perjalanan ke barat sungguh menyulitkan, penuh penyakit, gersang dan serangan 

binatang liar serta suku-suku yang tidak ramah. Akhirnya, ia tiba di Atlantik pada tahun 

1854 dan dari sana, ia sebenarnya dapat saja berlayar ke Inggris. namun  banyak lagi 

yang harus dijelajahinya. Dapatkah Zambezi diikuti sampai ke Samudra Hindia? Ia 

memberanikan diri menempuh arah timur, dan sampai di pantainya pada tahun 1856.  

Dari sana ia berlayar ke Inggris dan tiba untuk menerima sambutan kepahlawanan. 

Penjelajahan daerah-daerah yang belum dijangkau mendapat sambutan hebat pada 

zaman itu. Seorang penjelajah seperti Livingstone dieluelukan seperti kita menghormati 

astronot pertama yang mendarat di Mars. Livingstone bekerja keras bukan saja untuk 

 196

menghasilkan geografi baru, namun  juga berbuat banyak hal mulia seperti tugas-tugas 

penginjilan, perdagangan dan penghapusan perbudakan. Laporan perjalanannya, 

Missionary Travels (Perjalanan Penginjilan) yang ditulis pada tahun 1857, menjadi best-

seller.  

Pada tahun berikutnya, Livingstone kembali ke Afrika, namun, tidak dengan London 

Missionary Society. Meskipun ia mengaku bahwa ia masih merupakan seorang 

misionaris, ia pergi sebagai agen pemerintah Inggris. Namun ekspedisi ini membawa 

petaka. Tampaknya jeram Sungai Zambezi itu tidak dapat diarungi kapal. Rute-rute 

alternatif tidak ditemukan. Harapan untuk pelayaran melalui daerah pedalaman 

melintasi Afrika telah sirna. Sementara itu keadaan Mary Livingstone sungguh 

memalukan. Ketenaran David dan perasaannya yang tidak aman telah membuat Mary 

menjadi seorang pemabuk. saat  David pergi ke Afrika meninggalkannya, dia tidak 

mendapat perlakuan baik. sebab  kecemasannya, seperti orang mengamuk ia berlayar 

untuk menemuinya, namun meninggal dunia tidak lama setelah pertemuan mereka.  

Oleh sebab  ekspedisinya ditarik kembali, Livingstone kembali ke Inggris pada tahun 

1864. Kali ini ia hanya menjadi berita yang gagal, berita basi yang hanya diberikan 

penghormatan sopan ibarat pada sebuah relikwi. Ia berangkat atas kemauan sendiri, 

untuk terakhir kalinya, ke benua tercintanya. Kali ini ia mencari sumber Sungai Nil. 

Dalam proses itu ia menemukan beberapa danau di pedalaman.  

Tahun berganti tahun berlalu tanpa berita apa pun darinya. Beberapa ekspedisi 

berangkat untuk mencarinya. Yang paling terkenal dari semuanya itu yaitu  ekspedisi 

yang melibatkan Henry M. Stanley, wartawan Herald New York, pada tahun 1871. 

Akhirnya mereka menemukan Livingstone di Ujiji, di danau Tanganyika. Ia 

mengucapkan kalimat yang bermakna besar itu, "Dr. Livingstone, saya kira." Namun ia 

tak dapat meyakinkannya untuk pulang (Stanley sendiri lalu  menjadi misionaris di 

Afrika).  

Livingstone wafat pada tahun 1873. Ia ditemukan berlutut di sebuah gubuk primitif. 

Hatinya dikubur di negara angkatnya, dan jasadnya dikembalikan ke Inggris. Di sana 

misionaris besar ini mendapat penghormatan dengan dikebumikan di Westminster 

Abbey. Seperti banyak penggerak utama dalam sejarah kekristenan, David Livingstone 

yaitu  seorang yang berpandangan independen. Ia menantang ide-ide misi yang ada 

pada masanya, yang selalu mendorong ke luar. Ia memiliki  visi bagi kesejahteraan 

ekonomis-spiritual terpadu untuk orang-orang Afrika, namun tampaknya ia menolak 

mentalitas kolonial orang-orang sezamannya. Faktanya ialah bahwa karya Livingstone 

mewujudkan syarat-syarat bagi pertumbuhan kekristenan. Satu abad setelah 

kematiannya, gereja Afrika meluas dengan pesat.  

 197

86) Tahun 1865 William Booth Mendirikan Bala Keselamatan  

 

William Booth (April 10, 1829 – August 20, 1912)  

Sementara industri bertumbuh, perlakuan semena-mena terhadap kelas-kelas pekerja 

pun meningkat.  

Inggris sedang bergerak dari kehidupan pertanian ke kehidupan yang berorientasi 

pabrik, dan daerah-daerah kumuh di London pun bertumbuh. Ribuan orang dari dusun 

membanjiri London, mencari pekerjaan, dan sexing kali mereka tinggal serta bekerja 

dalam kondisi-kondisi yang amat buruk.  

Gereja seharusnya menjadi pelopor pertama meringankan penderitaan, namun Gereja 

sendiri dalam keadaan kekurangan. Seperti di seluruh Inggris, London telah terbagi-bagi 

dalam jemaat-jemaat, garis-garis yang tidak pernah berubah berabad-abad lamanya. 

Meskipun penduduk kota kian bertambah, namun Gereja Inggris tidak memiliki  

cukup persediaan untuk menambah kaum rohaniwan bagi gereja. Untuk membangun 

jemaat baru dibutuhkan undang-undang parlemen, yang prosesnya lamban dan panjang.  

Methodisme, yang telah menjadi agama kelas menengah khususnya, juga tidak dapat 

dengan efektif mencapai kelas pekerja. Methodis telah berupaya mencapai orang-orang 

yang telah berpindah ke Gereja Inggris, namun orang-orang miskin baru yang 

bermukim di lorong-lorong masih belum tersentuh Injil.  

Prihatin dengan keadaan orang-orang miskin, maka pada tahun 1865 William Booth dan 

istrinya, Catherine, mendirikan misi bagi orang-orang miskin di East End London. 

Diawali dari sebuah tenda sederhana muncullah pelayanan Bala Keselamatan.  

Di sekeliling pasangan penginjil ini terdapat rumah-rumah yang penuh sesak dengan 

kekerasan keluarga, mabuk-mabukan, prostitusi dan tuna karya. Kemakmuran yang 

menjadi lam-bang teratas kelas menengah Victorian tidak meluas ke East End.  

Upaya perundang-undangan tampaknya tidak memecahkan masalah ini, dan William 

yakin bahwa hal itu akan berubah hanya bila hati berubah. Sekali orang-orang telah 

mengenal Kristus, perilaku dan kondisi mereka dapat membaik.  

 198

Itu tidak berarti bahwa pasangan Booth tidak memperhatikan masalah-masalah di 

sekeliling mereka. Mereka mendirikan kedai "Food for the Million" (Makanan untuk 

jutaan orang), dengan menyajikan makanan murah. Jika perut seseorang terisi penuh, ia 

cenderung mendengarkan berita mereka tentang keselamatan dari Kristus.  

Meskipun banyak ide-ide organisasi Methodisme telah ditinggalkan Booth, namun ia 

selangkah lebih maju dengan akhirnya menciptakan organisasi yang mengikuti garis-

garis militer. Seorang pengikutnya mengiklankan sebuah pertemuan sebagai "The 

Hallejah Army Fighting for God" (Pasukan Halleluya Bertempur untuk 'I'uhan). Kontrol 

Booth yang togas akan organisasinya membuat beberapa orang memanggilnya jenderal. 

Menjelang tahun 1878, kelompok ini mengambil nama Bala Keselamatan, dan 

jenderalnya sengaja telah mengorganisasikannya dengan pakaian seragam, perwira-

perwira, marching brass band dan majalah dengan nama The War Cry.  

Ada orang-orang Kristen yang tersinggung dengan Bala Keselamatan. Sebenarnya, 

marching band tidak memiliki kewibawaan musik Anglikan. Apakah Iblis sedang 

memakai  Bala Keselamatan untuk membuat kekristenan bahan tertawaan? Namun, 

Bala Keselamatan meraih sukses. Band-bandnya dapat didengar di jalan-jalan kota, dan 

mereka memainkan irama-irama populer dan sekuler dengan kata-kata Kristen. 

"Mengapa iblis harus menguasai semua irama yang terbaik?" tanya Booth.  

Selain itu, di bawah pengaruh Bala Keselamatan, kehidupan keluarga-keluarga 

membaik. Mereka mulai memperhatikan masalah-masalah kelaparan dan tuna wisma, 

serta Injil diberitakan kepada banyak orang yang bahkan belum pernah menginjakkan 

kakinya di gereja.  

Namun, sementara orang-orang Kristen menentang Bala Keselamatan, beberapa non-

Kristen menunjukkan reaksi yang lebih kelas lagi. saat  kelas pekerja bertobat kepada 

Kristus, mereka menganut kebijakan dengan berhenti minum. Hal ini merugikan 

perusahaan bir, dan mereka menjadi marah kepada Bala Keselamatan. Pada dua dekade 

terakhir abad kesembilan belas, perwira-perwira Bala Keselamatan diserang serta 

bangunan mereka dihancurkan.  

Namun, para pengejek itu harus mengakui bahwa Bala Keselamatan telah melakukan 

tindakan yang baik di kala mereka mengubah pemabuk dan pemukul anak menjadi ayah 

yang benar dan pekerja yang baik.  

Catherine, istri William, dengan kebolehannya mendukung William dalam upaya-

upayanya, dan misi mereka ini diteruskan oleh anakanak asuh mereka yang berjumlah 

besar. Bala Keselamatan tersebar bukan saja di Inggris, namun  juga di setiap penjuru 

dunia.  

Dalam seluruh hidupnya, William telah mengadakan perjalanan sejauh lima juta mil, 

mengkhotbahkan hampir 60.000 khotbah, dan menarik kira-kira 16.000 perwira untuk 

bekerja dengan dia. Dalam buku terlarisnya In Darkest England and the Way Out, ia 

menunjukkan kepada banyak orang zaman Victoria bahwa mereka tidak perlu bermisi 

ke luar negeri untuk mencari "orang-orang miskin yang belum mengenal Allah" dan 

yang membutuhkan Kristus. Booth mendirikan agen-agen yang peduli akan kebutuhan 

fisik dan sosial orang-orang, serta memberitakan Injil. Melalui kariernya, ia telah 

mengasah teknik-teknik komunikasi dengan orang banyak dan berbagi tentang Kristus. 

saat  ia wafat pada tahun 1912, 40.000 orang mengantar dia ke pemakaman.  

 199

saat  Bala Keselamatan membawa berita kepada si miskin di Inggris, ia melakukan 

pekerjaan yang sama seperti Dia yang melayani para nelayan, wanita-wanita tuna susila 

dan para penderita penyakit kusta.  

 200

87) Tahun 1870 Paus Pius IX Memproklamasikan Doktrin Infalibilitas 

Paus  

 

Pope Pius IX (1846-1878)  

Apakah Italia akan tampak sebagai suatu daerah di atas peta atau sebuah negara 

kesatuan?  

Siapa yang akan memerintah negara baru ini ?  

Pada pertengahan abad kesembilan belas, inilah pertanyaan-pertanyaan yang menanti 

jawaban. Eropa telah melihat banyak perubahan pada tahun 1848, saat  gelombang 

nasionalisme menyapu benua itu. Di Perancis, Italia dan selusin negara lain, warga  

telah mulai menuntut hak mereka akan negara mereka sendiri, berdasarkan bahasa dan 

letak geografis, dibandingkan  diperintah negara-negara lain. Sisilia berupaya memerdekakan 

diri dari kerajaan Bourbon, dan daerah-daerah bagian utara Italia berupaya mengakhiri 

kungkungan pemerintahan Austria.  

Paus yang baru, Pius IX, mendukung risorgimento ('kebangkitan") itu, yang hendak 

menciptakan negara berbahasa Italia. saat  ia memberi  daerah-daerah kepausan 

sebuah konstitusi, paus telah menyenangkan hati kaum liberal. Hal itu tidak bertahan 

lama. saat  kaum revolusioner membunuh perdana menteri yang baru, paus lari dari 

daerah kepausan untuk sementara waktu. la kembali dengan bantuan tentara Perancis; 

sekarang ia melihat ancaman kaum liberal dan ingin memberi dukungan bagi 

pemerintahan absolut lama.  

Pada tahun 1869, paus yang sedang terkepung mengadakan Konsili Vatikan I. Falsafah-

falsafah liberal serta rasa nasionalisme yang meningkat telah menjadi dorongan untuk 

berpikir lebih bebas dalam gereja. Para imam dan uskup mulai mempertanyakan 

kekuasaan paus. Dalam dunia yang tidak lagi merupakan Katolik semuanya, kepausan 

telah kehilangan pengaruh politiknya juga. Gereja perlu memperhatikan tantangan-

tantangan pemikiran kaum liberal dan melemahnya kepentingan tradisi dalam gereja.  

 201

Pada tahun 1854, paus menyatakan bahwa Perawan Maria telah dikandung tanpa dosa – 

doktrin Immaculate Conception. Meskipun banyak orang Katolik telah menerimanya 

selama bertahun-tahun lamanya, dan sekarang hal itu telah menjadi doktrin gereja yang 

baku.  

Sembilan tahun lalu  paus menyimpulkan hal itu dalam Syllabus of Errors (ikhtisar 

Ajaran-ajaran Sesat). Dalam upayanya melawan arus liberalisme, ia membuat daftar 

hal-hal yang tidak boleh dipercayai orang-orang Katolik, termasuk pemikiran modern: 

seperti rasionalisme atau sosialisme, perkawinan di catatan sipil, dan banyak lagi 

bentuk-bentuk toleransi agama.  

Konsili Vatikan itu mengemukakan peranan paus yang berlangsung di gereja. Paus 

berupaya mengukuhkan dua hal: bahwa paus, bergelar Vicar of Christ (Wakil Kristus), 

memiliki  kuasa penuh dan langsung terhadap seluruh gereja dan hierarkinya; dan bila 

ia bicara ex cathedra ("dari kursinya", dalam kapasitasnya sebagai paus), ia tidak dapat 

sesat (infallible). Meskipun ada liberalisme dalam gereja namun paus menang pada 

Konsili Vatikan I itu. Keduanya dijadikan doktrin gereja.  

Meskipun kaum liberal tidak menyetujuinya, bagi banyak orang, absolutisme seperti itu 

yaitu  sesuatu yang patut disambut. Mereka hidup dalam zaman yang rancu; banyak hal 

telah berubah secara politik maupun filosofis. Banyak orang Katolik menghendaki 

kepastian bahwa beberapa hal – seperti paus dan ajaran-ajaran gereja — akan tetap 

kokoh.  

Paus tidak memegang otoritas politiknya, sebab  kira-kira dua bulan setelah Konsili 

Vatikan I, Victor Immanuel menduduki Roma, dan penduduknya memilih pembentukan 

kerajaan Italia. Meskipun paus kehilangan kuasa sementara, namun ia telah meraih 

keefektifan spiritual. Dari Vatikan ia menjalankan lebih banyak otoritas dibandingkan  

pejabat tinggi gereja yang paling berkuasa pada Abad Pertengahan.  

Gereja Katolik tidak berubah hingga Konsili Vatikan II.  

 202

88) Tahun 1886 Gerakan Relawan Mahasiswa Dimulai  

  

Dwight L. Moody 

Pada salah satu konferensi musim panas yang diadakan Dwight L. Moody, revivalis 

agung ini mengundang para mahasiswa perguruan tinggi ke konferensi Mt. Hermon, di 

Northfield, Massachusetts, untuk pemahaman Alkitab dan persekutuan selama sebulan. 

Konferensi yang diadakan pada bulan Juli 1886 itu dihadiri 151 mahasiswa.  

Pada dua minggu pertama, konferensi itu berjalan biasa. Tidak membicarakan misi 

sama sekali. Pemahaman Alkitab yaitu  acara setiap harinya. Namun seorang 

mahasiswa dari Princeton berdoa tentang kebutuhan dunia. Ia merasakan bahwa Allah 

akan memakai persekutuan ini untuk memicu gerakan pekabaran Injil. Mahasiswa 

ini  benar.  

Ia mengumpulkan dua puluh satu orang yang berpikiran sama untuk berdoa bersama-

sama. Mereka berdoa agar semangat misi dapat mengisi konferensi itu. Pada tanggal 16 

Juli, pembicara A.T. Pierson menyampaikan pidato yang membangkitkan tantangan 

penginjilan: "Semua harus pergi dan pergi untuk semua." Semangat itu menjadi lebih 

marak pada tanggal 24 Juli, dengan "pertemuan sepuluh negara". Wakil dari sepuluh 

negara dan kebangsaan berbicara secara singkat, melaporkan kebutuhan di negara 

mereka. Pada minggu-minggu terakhir konferensi itu, banyak mahasiswa memutuskan 

mengabdikan hidup mereka bagi pelayanan misi. Menjelang akhir konferensi, seratus 

dari antara mereka telah membuat komitmen yang sama.  

Pada hari terakhir konferensi itu, para mahasiswa memikirkan cara untuk memelihara 

semangat ini  dan menyebarkannya. Mereka menunjuk Robert P. Wilder untuk 

mendatangi berbagai perguruan tinggi sepanjang tahun itu, memberitakan apa yang 

terjadi di Mt. Hermon. Ia mulai mengumpulkan mahasiswa yang bertekad mengabarkan 

Injil. Pada tahun berikutnya, Wilder dan seorang rekannya mengunjungi 167 perguruan 

tinggi, dan 2.200 mahasiswa berikrar untuk bekerja di ladang misi.  

Akan namun , menjelang 1888 semangat itu mulai menurun. Gerakan ini  

membutuhkan kepemimpinan dan organisasi. Pada pertemuan di Mt. Hermon, suatu 

kelompok inti terdiri dari lima puluh orang memutuskan menunjuk tiga pimpinan 

 203

dewan: Wilder mewakili Inter-Seminary Missionary Alliance (Aliansi Misionaris Antar-

Seminari); Nettie Dunn dari YWCA; dan John R. Mott dari YMCA. Mott akan berperan 

sebagai tokoh sentral dengan menjadikan gerakan mahasiswa ini sebagai lembaga 

kegiatan penginjilan dan oikumene seluruh dunia.  

Mott baru lulus dari Universitas Cornell, tempat ia aktif dalam kepemimpinan YMCA. 

Ia berkemauan keras memenangkan jiwa-jiwa, maka ia mengambil peranannya dalam 

Gerakan Relawan Mahasiswa (Student Volunteer Movement – SVM) yang baru 

dibentuk dengan sangat serius. Komunikasi, publisitas dan organisasi – Mott unggul 

dalam bidang-bidang ini. Ia memastikan kelompok misi lain agar tahu bahwa SVM 

bukan untuk menyaingi mereka, namun  mendukung mereka. Para mahasiswa yang 

berjiwa misi dari berbagai perguruan tinggi dikumpulkan dan dibagi dalam "kelompok", 

bertemu secara teratur untuk berdoa Berta membangkitkan semangat. Konvensi-

konvensi mahasiswa relawan diadakan setiap empat tahun sekali. Mott dan para 

pemimpin lainnya mengadakan perjalanan jauh dalam upaya mereka mencari, melatih 

dan mengirim misionaris-misionaris baru.  

Motto yang tersiar luas dengan jelas yaitu : "Penginjilan dunia dalam generasi ini". 

Mott menulis sebuah buku dengan judul ini . Menjelang 1914, SVM telah berjasa 

mengirim sebanyak 5.000 misionaris ke ladang misi.  

Akan namun  di balik jumlah ini , gerakan itu berjasa bagi kegairahan penginjilan 

baru se-Dunia. Organisasi-organisasi lain mendapat keuntungan dari itu. Pada tahun 

1895, Mott ikut membentuk Federasi Mahasiswa Kristen Sedunia dan menjadi 

sekjennya yang pertama. Gerakan penginjilan orang awam lahir pada konferensi SVM 

tahun 1906, dengan mengadakan kampanye mencari dukungan orang-orang awam 

untuk misi. Mott juga merupakan figur utama pada Konferensi Pekabaran Injil 

Internasional di Edinburgh pada tahun 1910. Hal ini lalu  mengarah pada 

pembentukan World Council of Churches (Dewan Gereja-gereja se-Dunia).  

Mott telah terkenal luas dan telah memberi  pengaruh besar. Presiden Wilson 

menawarinya menjadi duta besar di China; namun  ia menolak. Princeton berpikir 

menjadakan dia presiden perguruan ini , juga ia tolak. Mott mendapat kesempatan 

menjadi menteri luar negeri, ia menolak. la yaitu  orang yang menyatu dengan misi, 

dan misi yaitu  misi.  

Semangat misi di Amerika Serikat mati setelah Perang Dunia I. Namun, misionaris-

misionaris yang diilhami SVM melayani bertahun-tahun lamanya. Gerakan Relawan 

Mahasiswa telah melakukan apa yang telah dilakukan William Carey satu abad 

sebelumnya, membangkitkan keinginan bermisi pada waktu-waktu kritis.  

 204

89) Tahun 1906 Kebangunan Rohani Azusa Street Memunculkan 

Aliran Pentekostalisme  

 

Apostolic Faith Mission on Azusa Street in downtown Los Angeles, in a photo from 

1906, was the site of a religious revival that lasted three years. The revival is said to 

have started modern-day Pentecostal and charismatic movements.  

"Dengan mengembuskan ucapan-ucapan asing dan mengomat-ngamitkan pengakuan 

iman, yang tampaknya tidak dapat dimengerti orang lain, sekte. agama paling baru 

muncul di Los Angeles."  

Itulah yang diberitakan oleh harian Los Angeles Times, hari Rabu tanggal 18 April 

1906. "Pertemuan diadakan di sebuah pondok yang hampir rubuh di Azusa Street, dan 

para pengikut doktrin-doktrin yang mengerikan ini mempraktikkan upacara-upacara 

paling fanatik, mengkhotbahkan teori-teori liar, dan memaksakan mereka sendiri dalam 

keadaan kegembiraan yang tidak waras dengan semangat mereka sendiri."  

Publisitas nega