an sampah Fusrar, yang dulunya ibukota Mesir sebelum
Kairo dibangun,r2o dan kemungkinan berasal dari kurun waktu
antara 1150 dan 1180 (foto warna 13). Lukisan warna ini
menunjukkan pada kita ilustrasi langsung renrang senjata-senjata
yang digunakan pada abad kedua belas (gambar 8.16). Secara
khusus, lukisan itu memperlihatkan perisai berbentuk layangJayang
yang telah dikenal di Mesir, setidaknya sejak didirikannya Blb
al-Nashr (Gerbang Kemenangan) di Kairo, dan gerbang itu di-
gambarkan dalam bentuk monumen. Lukisan itu juga meng-
gambarkan sebuah perisai bulat.
Sulit untuk menemukan peristiwa historis yang sebenarnya
yang diperingati dalam lukisan ini-bila itu memang ada. Seperti
yang telah disebutkan, kaum Frank berperang melawan Fatimiyah
di banyak tempat pada abad kedua belas, dan termasuk juga
pertempuran yang dilancarkan al-Afdhal di masa-masa awal ke-
datangan kaum Frank dan keterlibatan kaum Frank dalam masalah
Mesir sepanjang 1160-an. sebab itu, lukisan ini kemungkinan
658 \ _______________
i
menggambarkan pertempuran militer sesungguhnya antara Fatimiyah
dan kaum Frank, bahkan termasuk pertempuran yang melibatkan
pasukan Suriah yang dikirimkan oleh Ntruddin. Thhun penting
yang harus diingat di sini yaitu 1168, yaitu saat wazir Fatimiyah
ini menghancurkan Fustat. Lukisan ini kemungkinan berasal
sebelum tahun ini , sebab lukisan itu ditemukan di antara
reruntuhan di sana.
Lukisan ini menggambarkan beberapa pertempuran militer
yang tengah berlangsung tepat di bawah dinding-dinding kota
atau tempat yang dibentengi. Tirj"h prajurit yang ada, dalam
lukisan semuanya membawa perisai dan paling tidak empat di
antaranya mengenakan baju besi. Tirtup kepala prajurit digambar-
kan dengan teliti: satu mengenakan helm Norman berbentuk
kerucut dengan bentuk hidung pendek, sementara prajurit lainnya
tampak seperti mengenakan surban di kepala mereka. Sedang
dua prajurit berkuda mengenakan baju besi panjang. Salah seorang
pasukan infantri mengenakan pantalon longgar sebatas selutut.
Baptistbre St. Louis
Baptistbre St. Louis diakui sebagai karya besar dalam hal keahlian
logam Islam. Karya ini menjadi bahan penelitian mengagumkan
oleh Storm Rice yang disertai dengan beberapa gambar-gambar
dan foto-foto cantik (bandingkan gambar 8.17-8.18, 6.44, I.7,
9.24, 1.20, l.g, 9.2, 3.15, 1.8, 8.14, 3.16, 6.72, l.16 dan foto
warna 9).t2t Baskom perunggu ini, yang kini disimpan di Louvre,
dibubuhi tanda tangan seniman muslim, Muhammad lbn el-Zayn,
dan berbagai pendapat ilmiah bersepakat menyatakan bahwa karya
Gambar 8.20
suosono Pertempuron,
boskom kuningan hios yong
diken ol seb ogoi'Boptistdre
de St. [ouis', sekitor tohun
1300 otou lebih owol,
Suriah.
Jalannya Peperangrn I 659
Gambar 8.21
Suosono pertempuran,
boskom kuningon hias yong
dikenal sebogoi'Eoptistdre
de St. Louis', sektor tahun
1300 otau lebih owo!,
Surioh.
itu berasal dari periode r29o-r3r0, meskipun juga dinyatakan
kemungkinan bahwa karya ini berasal dari tahun-,"h,rn yang lain.
Seluruh permukaan baskom iru ditutupi dengan desain_desain
ukiran berlapis perak dan emas, dan sebab sebagian besar desain-
desain itu berisi suasana figural, desain-desain itu menjadi dokumen
sejarah visual yang mengagumkan. LukisanJukisan itu meng-
gambarkan pengadilan Mamluk, pertempuran-pertempuran dan
ekspedisi-ekspedisi perburuan. Gambar-gambar tentang pakaian
yang dikenakan juga sangat menarik. Seorang amir bersenjata
lengkap,r22 membawa sebilah pedang, tombak, dan busur. Dua
lainnya bersenjatakan kapak.r23
Suasana pertempuran yang digambarkan pada BaptistEre sangat
menarik (gambar 8.21). Pada satu kejadian, rokoh yang di tengah
mengenakan pelindung belat yang dikenakan pada baju kulit.r2a
Dia digambarkan baru saja menembakkan anak panah dari busur-
nIa, dan anak panah itu bersarang di leher musuhnya.r25 Adegan
pertempuran kedua (gambar 8.20) menggambarkan tiga penung_
gang kuda yang dilengkapi dengan tombak, busur dan pedang.r26
Potongan-potongan tubuh para serdadu musuh berserakan di kaki
kuda-kuda mereka. Seniman rersebut dengan sangar kuar meng-
gambarkan bahaya dan keganasan medan rempur tersebur. Baskom,
yang diperkirakan menjadi bagian dari jamuan makan bangsawan
tinggi Mamluk, menghidupkan instruksi-instruksi manual militer
yang kering dan kurang menarik.r2z Baskom itu memperkuat
informasi mereka dan banyak menambahkan keteran gan yang
hidup tentang baskom itu sendiri. Di sini, kita juga punya bukti-
bukti langsung tenrang obsesi Mamluk dengan penambahan simbol
(tanda jabatan) pada berbagai objek yang digunakan untuk pe-
layanan terhadap amir, seperti pakaian dan senjata. Baskom itu
menggambarkan berbagai jenis senjata-kapak, tombak, belati-
dengan lengkap. Baskom itu juga menjadi sumber yang sangat
bagus tentang kostum militer di zaman itu, dari tutup kepala
hingga sepatu boot, dan keterangan tentang pelana kuda dan
perlengkapan prajurit.
Manghuh Saljuh
Sebuah mangkuk Saljuk mini'i berwarna yang berasal dari awal
abad ketiga belas yang kini tersimpan di Freer Gallery di'Washington
merupakan bukti unik tentang jalannya perang pada periode
Perang Salib (foto warna l2).t" Meskipun mangkuk itu berasal
dari Iran dan bukan dari wilayah yang diserang kaum Frank,
mangkuk itu sangat berhubungan dengan Perang Salib sebab
menggambarkan prajurit-prajurit Tirrki tengah menyerang sebuah
benteng. Seperti telah disebutkan, bahwa di dalam pasukan Zengi,
N0ruddin, Saladin, dan panglima-panglima berikutnya dipenuhi
oleh pasukan Marnluk Tirki dan para prajurit kaum Turki nomaden.
Kemungkinan tidak ada perbedaan yang besar dalam praktik
militer antara bangsa Tirrki yang berada di Iran dan yang berada
di Suriah. sebab itu, mangkuk itu jelas sangat berkaitan dengan
lingkungan militer ini . Meskipun beberapa panglima yang
digambarkan di sini namanya tercantum di dalam mangkuk
ini -sebagian besar memakai nama-nama Tirrki-pe-
ristiwa sebenarnya yang diabadikan di dalam mangkuk itu tidak
ada di dalam bentuk tulisan. Gambar itu kemungkinan
menceritakan para prajurit Turki yang tengah menyerang sebuah
Benteng Hasyasyin di wilayah barat Iran. Para penyerang tengah
beraksi. Pertempuran itu belum dimenangkan. Gambar itu bukan
pengepungan yang lambat dan berhati-hati, namun sebuah se-
rangan kavaleri yang ganas terhadap benteng ini . Barangkali
gambar itu menceritakan puncak pertempuran ini , bila tokoh
yang jatuh dari menara benteng itu yaitu pemimpin pasukan
yang mempertahankan benteng ini .
Penyerang-penyerang berkuda maju menyerang benteng itu
dalam barisan sejajar. Para pemimpin mereka mengenakan pakaian
warna ungu keabu-abuan, sementara pasukan yang berada di
belakangnya mengenakan pakaian warna hijau. Barangkali ini
menunjukkan bahwa hanya para pemimpin yang memakai
baju baja, yang, seperti telah disebutkan, sangar mahal. yang
pasti, tokoh penyerang di pusat pertempuran iru, yang dikenali
berdasarkan tulisan di atas kepalanya sebagai Khudavand Muzaffar
al-Dawlah wal-Din, seperrinya memakai jaket baja dari jenis lain.
Tidak satu pun dari mereka memakai helm atau pelindung kepala
lainnya. Harus dikatakan bahwa keuntungan militer dari serangan
kavaleri yang cepat terhadap benteng dengan pertahanan yang
sangat kuat sama sekali tidak jelas, namun tidak ada alasan untuk
meragukan bila pelukis ini telah menunjukkan suatu jenis
serangan yang dilakukan prajurit-prajurit kuda seperti itu terhadap
musuh di medan tempur.
Pasukan yang bertahan di dalam benreng, yang bagian bawah-
nya dilapisi ubin berhias, menembakkan anak-anak panah melalui
lubangJubang di benteng ini . Mereka juga memakai
sebuah katapul yang diletakkan di tempat paling tinggi di benteng
ini dan menembakkan batu-batu ke arah para penyerang.
Sementara di bagian paling depan, beberapa pasukan yang mem-
pertahankan benteng keluar dari benreng dengan berjalan kaki,
sambil membawa pedang mereka, tombak arau panah untuk
menyerang balik. Thpi upaya pasukan ini kelihatannya mengalami
kegagalan, mengingat banyak mayat yang bergelimpangan, dengan
baju dan baju baja yang telah terlepas, di tanah. Beberapa aspek
penggambaran benteng ini tetap agak membingungkan-
barangkali baju-baju baja kosong dan senjata-senjata yang ber-
serakan di sepanjang benteng itu dimaksudkan unruk membuat
para penyerang mengira pasukan yang bertahan di dalam benteng
itu lebih banyak dibandingkan dengan yang sebenarnya ada, atau
barangkali bagian ini menggambarkan sebuah gudang senjata.
sekalipun mangkuk itu menggabungkan banyak unsur simbolis
dan gaya, mangkuk itu menunjukkan suasana perrempuran yang
sebenarnya dan berusaha menggambarkan panasnya pertempuran,
kerusuhan berdarah, suasana panik, perasaan bingung dan teror.
Prajurit-prajurit penyerang ditampilkan hingga ke sisi mangkuk
dan menunjukkan masih banyaknya ancarnan tak terlihat yang
masih akan muncul.
ASPEK.ASPEK I.AINNYA DAI,{M PEPEMNGAN
Serangan dan Penyergapan
Pertempuran antara kaum muslim dan kaum Frank kebanyakan
terjadi tidak atas perencanaan tertentu dan biasa saja, bukannya
pertempuran reratur dan begitu hebat, dengan pertumpahan darah
dan korban yang berjatuhan. Sebuah serangan memiliki tujuan-
tujuan terbatas, seperti untuk merebut karavan dan isinya, atau
membantu merebut benteng. Serangan semacam itu merupakan
bagian dari serangan yang lebih besar. Kadang-kadang sebuah
serangan dilancarkan sebagai rindakan pembalasan dan untuk
menunjukkan kekuatan. Di dalam buku Marshall digambarkan
secara lengkap pentingnya serangan-serangan dalam pertempuran
militer antara Tentara salib dan kaum muslim.r2e rerkadang sulit
dibedakan di dalam sumber-sumber Islam anrara pertempuran
besar-besaran dan pertempuran berskala kecil, sekalipun kebanyak-
an pertempuran mungkin termasuk dalam kategori yang kedua.
Contoh penempuran skala kecil yaitu seperti yang disebut
"pertempuran" al-Quhwana (al-Uqhuwana) di wilayah pantai
Danau Tiberias pada Muharam 507 H.{uni 1l13 M. Kelompok
pengembara Tirrki dari gabungan pasukan Mawd0d dari Mosul
dan Tirghtegin dari Damaskus yang bergerak maju berkemah di
al-Quhwana hanya untuk menemukan kaum Frank yang dipimpin
Baldwin dan Roger dari Antiokhia telah menancapkan tenda-
tenda mereka di sana:
pertempuran pecah di antara mereka ranpa persiapan untuk ber-
tempur, memasang kemah-kemah, menetap di kamp-kamp, atau
serangan-serangan awal. Kedua pihak terlibat dalam pertempuran
664 \ _______________
jarak dekat, dan Allah yang Mahakaya, terpujilah Dia, memberikan
kemenangan kepada kaum muslim, sesudah tiga serangan.r30
Contoh khusus pertempuran kecil yaitu serangan Saladin
terhadap kontingen kaum Frank di dekat Ramla pada 1192.
Untuk penyerangan ini, Saladin memakai pasukan-pasukan
Badui Arabr3r yang bertempur dengan memakai tombak dari
bambu. Mereka dipilih sebab kecepatan dan ketangkasan mereka.
Banyak kavaleri kaum Frank dijatuhkan oleh prajurit Badui dalam
serangan itu. Kemudian, beberapa pasukan Tirrki bergabung dan
melemparkan lembing ke arah ksatria-ksatria kaum Frank sehingga
membuat mereka mengalami luka-luka serius. Hasil yang paling
menguntungkan dari pertempuran ini, bisa dipastikan, yaitu
direbutnya kuda-kuda musuh.
Serangan-serangan memiliki banyak keuntungan lainnya, yaitu
bisa melemahkan musuh dan meruntuhkan moral mereka.r32
Serangan-seranBan itu diarahkan ke desa-desa, gereja-gereja, masjid-
masjid, dan kerapkali menghancurkan lahan pertanian. Manual
al-Aqsari'i berisi sebuah bagian menarik tentang serangan-serangan
dan penyergapan-penyergapan mengejutkan. Thntum menyim-
pulkan bahwa di sini pengarang menceritakan hal sebenarnya y^ng
terjadi saat itu. Nilai penyergapan-penyergapan itu dengan jelas
ditegaskan: "Penyergapan yaitu penting bagi pasukan dan per-
tahanannya ... orang-orang menilai serangan lewat efektivitasnya.
Penyergapan-penyergapan itu merupakan suatu prinsip yang di-
tetapkan bagi pasukan sebagai sumber kekuatan yang sangat
besar.'133
Al-Aqsari'i menjelaskan, meski tidak dengan panjang lebar,
cara melakukan suatu penyergapan:
Kini lebih baik bila pihak penyerang dibagi menjadi dua kelompok
sebab bila musuh melihat jumlah penyerang sedikit, mereka
mungkin akan segera menyerangnya. saat pasukan muslim ber-
gerak mundur, kelompok kedua akan menghancurkan mereka.'34
Al-Aqsari'i menegaskan pentingnya memilih tempat yang baik
di dekat air untuk melakukan penyergapan, bila kaum muslim
harus menunggu untuk melakukan serangan dan agar tidak me-
nimbulkan suara saat bersembunyi.
Selama berlangsungnya Perang Salib, cara paling sederhana unruk
mengirimkan pesan-pesan militer yang penting yaitu dengan
mengirimkan kurir dengan mengendarai kuda arau unra yang
cepat. namun api juga digunakan unruk menyampaikan kabar dari
satu tempat tinggi ke tempat lain yang jaraknya sangat jauh.tr:
Bahkan para perenang ditugaskan unruk mengirimkan pesan-pesan
penting. Seorang perenang memberi kabar kepada Saladin rentang
situasi di Acre pada 586 H./1190-1191 M.'36 Layanan pos Mesir
(yang memiliki cabang intelijen) memakai bagal dan unta
yang cepat.r37 Baybars mengatur kembali jaringan posnya, yang
kemudian meluas hingga ke pantai Suriah dan benteng-benteng
Taurus, dan mendirikan pos-pos khusus di rute-rute ini
sebagai tempat bagi para kurir itu untuk mengganti kuda mereka
sekaligus untuk temPat beristirahat bagi mereka.r3s
Burung merpati juga digunakan untuk mengirimkan Pesan
(gambar 8.27). Dalam manual militernya, al-Anshiri mengatakan:
,.Telah jelas bahwa burung merpati rermasuk alat komunikasi
paling cepat, sebab mereka bisa menjangkau jarak yang bila
dilakukan dengan jalan kaki akan membutuhkan waktu d* prrl.rh
hari, maka dengan merpati hanya butuh waktu kurang dari
sehari."r3e Menurut al-Anshiri, Mesir punya jaringan menara merpati
yang luas.ra, sedangkan mengenai Suriah, Ibn al-Atsir memberikan
laporan lengkap rentang cara N0ruddin membangun suatu sistem
pos merpati di dalam wilayah-wilayahnya di sana:
Pada 567 (1171-1172) al-Malik al-.Aail Nrjruddin memerin_
tahkan agar memakai merpati kurir. Mereka yaitu burung-
burung pengirim pesan yang kembali ke sangkar mereka dari
tempar-rempat yang jauh. Merpad-merpati itu menjangkau semua
wilayahnya.
Alasan memakai merpati ini yaitu sebab wilayah-wilayah
N0ruddin sangar luas dan kerajaannya sangat besar sehingga men-
cakup perbatasan Nubia hingga gerbang Hamadan, dan gangguan
satu-sarunya hanyalah wilayah kaum Frank. Mereka [kaum Frank],
semoga
, Allah mengutuk mereka, kadang-kadang menyerang be-
berapa wilayah perbatasan. Namun saat kabar serangan itu sampai
pada N0ruddin, dan dia telah siap unruk menyerang, mereka telah
mencapai sebagian dari tujuan mereka. sebab itu, N0ruddin
mengeluarkan perintah berkaitan dengan masalah ini dan mengirim-
kan kabar secara tertulis ke seluruh wilayahnya. Dia memberi
ransum untuk merpati-merpati ini dan untuk para pemelihara-
nya, yang telah membuarnya merasa sangar puas. Dengan cara ini,
berita sampai kepadanya dalam waktu singkat. Di setiap perbatasan
dia telah menyiagakan orang-orangnya bersama dengan merpati-
merpati dari kota rerangga. Kedka mereka mendengar atau melihat
sesuatu, mereka segera menuliskannya, mengikatkannya ke merpati
ini , dan segera mengirimkannya ke kota asal burung itu. Di
sana pesan itu dipindahkan ke burung lain, yang datang dari kota
tetangganya yang rerus menuju ke Nfiruddin, dan begitu sererusnya
sampai laporan itu diterima N0ruddin. Dengan cara inilah per-
batasan-perbatasan dilindungi. saat kaum Frank menyerang salah
satu wilayah perbatasan ini , berita tentang itu sampai pada
Nfiruddin di hari itu juga. Kemudian dia menyurati pasukan yang
terdekat dengan perbatasan itu, dan memerintahkan mereka ber-
kumpul dan bergerak cepat dan menyerang musuh dengan tiba-
tiba. Mereka melakukannya, dan menang, semenrara kaum Frank
terlena sebab yakin N0ruddin jauh dari mereka. Semoga Allah
668 \ _______________
,,'ffi
memberikan rahmat kepada N0ruddin dan mencintainya. Sungguh
besar perhatiannya kepada rakyat dan kerajaannyalral
Pada saat penyerangan Aleksandria pada 570 H.lll74-1175
M. berita itu sampai ke perkemahan kaum muslim lewat merpati
("di sayap burung ini ").ra2
Mata-Mata
Jaringan mata-mata bisa ada di kedua belah pihak. Mereka
memberikan informasi mengenai keadaan setempat. Jaringan se-
macarn itu di antaranya berasal dari para bekas tahanan, mereka
yang berpindah ke agama pihak lain, yang, sebab dihadapkan
pada pilihan kejam mati atau pindah agama, lebih memilih
memeluk agama baru dan tetap hidup.
NizhAm al-Mulk menyebutkan pentingnya mara-mata dalam
karyanya Booh of Gauermmen.ra3 Mara-mata harus terus keluar
hingga ke perbatasan kerajaan dengan menyamar sebagai saudagar,
musafir, sufi, pedagang keliling, dan pengemis, dan melaporkan
kembali semua yang mereka dengar, sehingga tidak ada satu pun
masalah yang luput dari perhatian mereka. Nizhim al-Mulk
mencurigai para duta besar resmi dan menyatakan sering kali ada
tujuan rahasia di balik kunjungan mereka: "Sebenarnya mereka
ingin mengetahui keadaan jalan-jalan, jalur-jalur pegunungan dan
sungai-sungai, untuk mengetahui apakah pasukan bisa lewat atau
tidak." Dia kemudian menyebutkan berbagai jenis informasi lainya
yang ingin diperoleh seorang duta besar selain maksud kunjung-
annya itu.raa
Al-Anshiri juga membahas dengan panjang lebar di dalam
manual militernya tentang mata-mata, kurir, dan informan.la5
Mata-mata, menurut pandangannya, harus bisa dipercaya, punya
pandangan sangat baik dan penilaian tajam, cerdik dan ahli,
mengenal medan dan memahami bahasa musuh dengan baik.ta6
Contoh khusus orang yang mungkin merupakan mata-mata
yaitu \Tilliam the Frank, seorang pedagang Genoa, yang muncul
di Kairo pada 607 H.ll2l0-1211 M., dengan membawa hadiah
untuk al-'Adil. Sultan memintanya untuk tinggal dalam rom-
bongannya, dan menyertainya ke Suriah. Dalam kenyataannya,
kata al-Maqrizi, dia yaitu mata-mata kaum Frank. Sekalipun
Jalannya Peperangan I 669
begitu, saat al-'Adil menerap di Kairo empat tahun kemudian,
Villiam diminta untuk tinggal bersamanya.raT
Perhkuan hepada Para Thhanan l{aum Muslim yang ditahan
I{aum Franh
Tak diragukan lagi, kaum muslim yang berada di penjara-penjara
kaum Frank sangat menderita. Jumlah mereka tidak bisa di-
perkirakan. Pernyataan Ibn Syaddid bahwa sebanyak 3.000 muslim
telah ditahan di Yerusalem pada 1187 kurang dapat dipertanggung-
jawabkan.ras Bahkan pandangan yang terlalu dibesar-besarkan
disampaikan oleh penulis biografi Saladin, 'ImAduddin, bahwa
Saladin telah membebaskan 20.000 muslim yang ditawan kaum
Frank saat dia melakukan operasi penaklukan.rae
Sekalipun mungkin tidak akurat, tampak jelas bahwa kaum
muslim yang ditahan Tentara Salib jumlahnya sangat besar, khusus-
nya saat keberhasilan militer Tentara Salib dan wilayah-wilayah-
nya tengah memuncak. Kedar berpendapat bahwa tahanan-tahanan
muslim memberikan kontribusi penting bagi ekonomi kaum
Frank.r5o Menurut Ibn al-FurAt, ribuan tahanan muslim terlibat
dalam pembangunan Safad.tsr Program pembangunan benteng
yang dada henti dan menguras energi kaum Frank secara besar-
besaran sepanjang abad kedua belas itu membutuhkan tenaga
kerja yang sangat banyak-untuk menggali batu, mengirimkan
bahan-bahan, membangun jalan dan menggali parit. Thhanan-
tahanan muslim merupakan unsur penting dalam pekerjaan yang
ambisius dan tiada hentinya ini.
Pada 661 H.11263 M. Sultan Baybars menghukum Tentara
Salib yang telah melanggar ketentuan-ketentuan dalam perjanjian
dan terus mempekerjakan tahanan muslim sebagai pekerja paksa
daripada menukarnya dengan rekan mereka yang tengah ditahan
di dalam penjara kaum muslim:
Kami telah mengirimkan para tahanan ke Nablus dan ke-
mudian ke Damaskus; Anda tidak mengirimkan seorang pun ...
Anda tidak punya belas kasihan kepada rekan Anda yang seagama
(millah) dengan Anda dan yang telah mengetuk pintu rumah Anda.
Semua ini yaitu agar pekerjaan Anda yang dilakukan oleh tahanan
muslim tidak terhenti.r'2
Usimah mengakui sering mengunjungi rap Frank (Fulk V)
pada masa gencatan senjata. Dia menulis bahwa ayah sang ratu,
Raja Baldwin, "punya kewajiban terhadap ayah saya". Selama
kunjungan ini kaum Frank mengizinkan Usimah untuk
menebus kaum muslim yang ditahan kaum Frank.tr3 Usimah
juga membicarakan tentang "seorang kaum Frank jahat yang
bernama \Tilliam Jiba" yang telah menangkap sekitar 400 jamaah
haji dari Maghribi. Beberapa tahanan itu dibawa ke Usimah
oleh para pemiliknya dan dia membeli tahanan-tahanan yang
mampu dibelinya.tta Kemudian, Usimah melaporkan bahwa be-
berapa tahanan ini sebenarnya melarikan diri dan disembunyikan
oleh para penduduk Desa'Akka: "sebab semuanya muslim, begitu
ada seorang tahanan datang kepada mereka, mereka akan me-
nyembunyikannya dan memastikan tahanan itu masuk ke wilayah
muslim."l5t
Referensi pengalaman yang terpisah, seperti kesaksian Ibn
Jubyar, harus dilihat dengan hati-hati. Keterangannya tidak bisa
dianggap sebagai generalisasi luas tentang cara-cara Tentara Salib
memperlakukan tahanan-tahanan muslim. Yang jelas, baik kaum
muslim maupun Tentara Salib memperlakukan tahanan mereka
dengan berbagai tingkat kekejaman, sesuai dengan keadaan-keadaan
tertentu. Ibn Jubyar menjadi sangat emosi saat menceritakan
nasib buruk kaum muslim yang ditahan kaum Frank:
Di antara kemalangan-kemalangan yang akan dilihat oleh orang
yang mengunjungi wilayah mereka yaitu tahanan muslim berjalan
dengan dibelenggu dan dipalsa bekerja sangar keras seperti budak.
Kondisi serupa juga dialami wanita-wanita muslim yang ditahan.
Kaki mereka diikat dengan gelang-gelang besi. Hati mereka koyak.
Tak ada lagi rasa simpati dalam diri mereka.'56
Sebaliknya, Richard si Hati Singa yang dikenal dengan sikap-
nya yang ksatria, kadang-kadang bersikap sangat kejam kepada
para tahanan. Pada 587 H.lll9l M., menurut al-'LJmari, Richard
si Hati Singa membuat banyak tahanan muslim di Acre ter-
bunuh.r57 Ibn Syaddid bertutur dengan terus terang mengenai
peristiwa itu:r58
Mereka berada dalam tawanannya dan dia bersikap sangat
kejam terhadap mereka. Mereka kemudian memanggil di antara
para tahanan muslim 1s1sg[u1-rnereka yang hari syuhadanya telah
dituliskan Allah pada hari itu. Jumlah mereka sekitar 3.000 orang.
Semuanya masih dalam keadaan terikar. Mereka [kaum Frank]
menyerang mereka, ke seorang rahanan, dan dengan dingin mem-
bunuh mereka semua dengan memakai pedang dan tombak.rte
Memang mungkin telah terjadi tindakan kekerasan yang
dilakukan kaum Frank terhadap kaum muslim yang mereka rawan.
Aksi itu terjadi pasti akibat sepucuk surar yang ditulis oleh Ibn
tymiyyah kepada seorang "raja" di Siprus sekitar tahun 703 H.t
1304 M. Ibn Taymiyyah meminta agar r{a rersebut memperlaku-
kan beberapa tahanan muslim dengan baik dan dia memintanya
agar membebaskan mereka. Mereka kemungkinan korban serangan
perompak-perompak kaum Frank di lepas pantai kawasan
Mediterania timur dan tipis harapannya akan mendapatkan uang
tebusan. Di akhir surat, Ibn Thymiyyah meminta raja Frank
ini agar jangan menyuruh para rahanan itu untuk pindah
agama: "Saya akan mengakhiri surat ini dengan meminra (kepada
raja itu) agar memperlakukan orang-orang Islam ini dengan
terhormat ... dan menahan diri agar tidak menyuruh pindah
aBama, satu pun dari mereka."l6o
Dokumen dari era iru yang cukup relevan yaitu sebuah
inskripsi berbahasa Arab yang ada di sebongkah batu basal
l
l
d
672 \ Ca.tole Hillenbrand
yang tersimpan di Masjid Dayr al-Muslimin (atau Dayr al-Muslim)
di Busra, wilayah selatan Suriah. Dokumen iru mencatat sum-
bangan sebuah tungku dan penggilingan dari atabeg Mu'inuddin
lJnur, dan menyatakan bahwa uang dari tungku dan penggilingan
itu akan digunakan untuk "membebaskan kaum muslim yang
ditahan di penjara-penjara orang-orang kafir", dan khususnya
"kaum muslim yang tidak punya keluarga dan tidak bisa mem-
bebaskan diri mereka sendiri. Mereka yang dibebaskan tersebur
harus Sunni, tidak menjauhkan diri mereka dari warga , dan
hafal Alquran'. Selain tentang sumbangan tersebur, inskripsi itu
juga menyebutkan seorang Surkhak rertenru yang menyisihkan
seperenam dari penghasilan sebuah desa kecil yang bernama Marj
Harasa untuk maksud yang sama. Inskripsi itu, yang berdasarkan
bukti-bukti historis dipastikan berasal dari tahun wafamya LJnur,
yaitu pada 544 H.lll49 M.,t6t dihiasi dengan kutipan-kutipan
dari Alquran (surah al-Baqarah ayat 177, 229, dan 231), dan
gelar-gelar yang menegaskan kesalehan lJnur.162 Inskripsi-inskripsi
itu menyajikan pandangan-pandangan berharga tentang tata cera
dan persyaratan-persyaratan untuk menebus para tahanan muslim.
Inskripsi lain (kini tidak ada lagi) dari Busra juga membahas
tentang penebusan tahanan.r53 Kebiasaan ini menyebar luas pada
masa itu,r64 dan terus berlanjut hingga ke periode Mamluk. Pada
masa kekuasaan Baybars, seorang gubernur Damaskus mendirikan
sebuah yayasan khusus untuk pembebasan tahanan,r6s dan pada
akhir abad keempat belas kaum muslim menebus para rekan-
rekannya yang ditahan kaum Frank Siprus.t66 Akhirnya, penring
untuk disebutkan bahwa, sebagaimana dijelaskan Usimah dalam
karyanya, Memoirs, Usimah dan rekannya, lJnur, berlombaJomba
untuk melakukan tugas suci, yakni membebaskan para jamaah
haji yang ditangkap oleh kaum Frank.r67
I{aum Franh lang Ditauan l(aum Muslim
Jumlah kaum Frank y*g ditawan kaum muslim kemungkinan
jauh lebih sedikit mengingat kaum Frank selalu merupakan ke-
lompok minoritas di kawasan Mediterania rimur. Terlebih lagi,
kaum muslim memerlukan lebih sedikit pekerja paksa dibanding
kaum Frank, yang membangun secara besar-besaran dan men-
desak-meski benteng di Kairo dibangun dengan memakai
sangat banyak tahanan perang dari kaum Frank.
Sumber-sumber Islam sangat banyak memuat kisah tentang
nasib Tentara Salib terkenal yang ditawan kaum muslim. Kisah-
kisah ini terkadang menjadi bukti tentang kekejaman dan kadang-
kadang keksatriaan. Penguasa Damaskus abad kedua belas dari
Tirrki, Tirghtegin, yang terlibat dalam perlawanan militer Islam
pertama terhadap Tentara Salib, memperlakukan tahanan Tentara
Salib penting yang bernasib malang ditahan kaum muslim dengan
keras dan tanpa kompromi.
Pada 502 H./1108-1109 M., Tirghtegin menahan keponakan
Baldwin dari Yerusalem. Seperti diceritakan oleh Ibn al-Atsir:
Tughtegin menawarinya masuk Islam, tapi dia menolak. Se-
baliknya, dia malah menawarkan uang tebusan untuk dirinya
sebanyak tiga puluh ribu dinar dan pembebasan lima ratus tahanan
lainnya. Namun Tughtegin tidak puas dengan rawaran itu, bila
tidak dengan masuk Islam. sebab 'dia tidak menanggapi rawaran-
nya, Tughtegin membunuhnya dengan rangannya sendiri dan dia
mengirimkan para rahanan lainnya kepada khalifah dan sultan.168
Kisah itu dapat diartikan bahwa Baldwin menawarkan pem-
bebasan 500 tahanan muslim yang ditawan kaum Frank, namun
yang lebih terlihat kemungkinan keponakan Baldwin meminta
kepada Tirghtegin bahwa bukan hanya dirinya sendiri yang harus
dibebaskan, namun juga 500 tahanan kaum Frank, dengan imbalan
seluruhnya 30.000 dinar.
Kisah ini menimbulkan akibat yang lebih luas dari sekadar
soal perlakuan terhadap tawanan. Kisah ini menunjukkan bahwa,
demi alasan politik ataupun agama, Tirghtegin berusaha membuat
keponakan Raja Frank Yerusalem ini keluar dari agamanya.
Dan untuk mencapai tujuan ini, Tirghtegin rela melupakan tebusan
senilai 30.000 koin emas. Tentu saja, mungkin demi alasan militer,
Tirghtegin tidak siap untuk membebaskan 500 tawanan kaum
Frank. namun peristiwa itu bisa saja menunjukkan kuatnya aspek
kesalehan pada kedua pihak di masa ini .
Robert, putra Fulk, penguasa Sahyun, yaitu seorang ksatria
pemberani dan mengikat perjanjian kepada Tirghtegin. Sekalipun
demikian, meski jalinan hubungan baik ini ataupun meski Robert
674 \ _______________
yaitu seorang penderita lepra (abra), ini tidak membuar Tirghtegin
memperlakukannya dengan baik. Robert terjatuh dari kudanya
dalam pertempuran pada 1ll9 dan ditahan oleh Ti-rghtegin. Dan
Tirghtegin mengeksekusinya sendiri. t6e
Tirghtegin menangkap Count Gervase dari Basoches, Penguasa
Tiberias, pada Syawal 501 H.ll4 Mei-ll Juni ll08 M.: "Dia
melobangi tengkoraknya hidup-hidup dan minum anggur dari
tengkorak itu dengan disalsikan sanB pangeran. Dia hidup selama
sejam dan kemudian tewas.'r7o
Kejadian mengerikan semacam itu, dan yang secara medis
cukup tidak masuk akal, sering kali dituduh dilakukan oleh para
panglima Tirrki pada abad kedua belas dan ketiga belas. Para
bangsawan Tirrki ini sering kali diceritakan suka mabuk-mabukan
dan kelakuan mereka dianggap tidak bisa diterima di mata para
sejarawan muslim, khususnya yang berasal dari kalangan Arab.
Para penulis ini menceritakan kisah-kisah para penguasa Tirrki
yang memenggal sebagian para tahanan dan menjatuhkan hukum-
an kejam kepada para tahanan. Tokoh yang sangat kejam salah
satunya yaitu Shalahuddin al-Yaghi-Si/ani. fuistokrat fuab, Usimah,
menggambarkan amir Tirrki ini yang tidak takut kepada Allah
maupun ZengS sebagai orang yang sangat kejam dan bengis.rTr
Ibn al-Azraq, penulis sejarah kota Mayyafariqin, mencatat bahwa
pada 528 H.lll33-1l34 M. al-Yaghi-Siyini menghukum seorang
pesuruhnya dengan mengikamya ke seekor anjing dan kemudian
memasukkan keduanya ke dalam karung. Pesuruh yang cerdik
itu kemudian berusaha menjepit leher anjing itu dengan kedua
pahanya di dalam karung, mencekik anjing itu, dan kabur.r72
Kisah seperti ini, yang sebagian besar kebenarannya diragukan,
merupakan cerminan kebencian mendalam bangsa Arab sebab
diperintah oleh bangsa Tirrki. Usimah berdoa agar Allah me-
maafkan perbuatan al-Yaghi-Siyini yang berlebihan ini. Usimah
juga mengatakan bahwa menceritakan kisah-kisah ini bisa "mem-
buat rambut bayi yang baru lahir langsung memutih".r73
Baybars kelihatannya telah menjatuhkan hukuman yang sangat
kejam, bahkan menurut standar saat itu. Dari seluruh penjaga
Benteng Safad, hanya dua yang tersisa, pada 564 H.ll266 M.,
dan sekitar 1.500 prajurit dipenggal di sebuah bukit di dekatnya.rTa
Para petinggi kaum Frank yang ditawan biasanya terus ditahan
sampai mereka bisa menebus kebebasan mereka. Usimah menulis:
"Allah memutuskan bahwa rahanan kaum Frank yang ditangkap
di Kafartab agar dibebaskan, karen a para amir membagi tahanan
ini di antara mereka sendiri, dan terus menahan mereka
sampai mereka mampu membeli kebebasan mereka sendiri."r75
Butuh waktu bertahun-tahun sebelum tebusan bisa dibayar.
Sepanjang masa itu, tahanan akan menderita dan kemungkinan
tewas di dalam penjara bawah tanah. Atau bisa juga, tahanan
yang posisinya tinggi dan-khususnya-tahanan dari kalangan
istana mendapat perlakuan khusus, sesuai dengan statusnya. Demi-
kianlah, pada 648 H.ll25O-1251 M., St. Louis, raja Prancis,
dibawa ke al-Mansura. Kakinya dibelenggu dan dikurung di rumah
bekas seorang pejabat tinggi pengadilan. Untuknya, disediakan
khusus seorang pelayan untuk menjaga dan membawakan makan
baginya. Namun, tahanan-tahanan kaum Frank biasa dibunuh
secara berkelompok setiap malam, dan mayat mereka dibuang ke
Sungai Nil.t76
Perundingan yang berlarut-larut dan rumir yang bisa berubah
menjadi tawar-menawar dapat terjadi di antara pihak penahan
dan tahanan. Contohnya yaitu peristiwa yang mengisahkan pengu-
asa muslim Mosul, Jawali, dan kaum Frank yang menjadi tahan-
annya, yang oleh Ibn al-Atsir disebut sebagai "pangeran Frank"
(Baldwin). Pada502 H./1108-1109 M., Ibn al-Atsir menulis:
saat dia [Jawali] mendatangi Maskin, dia membebaskan
pangeran kaum Frank rersebut, yang menjadi tahanan di Mosul.
Dia membawa pangeran kaum Frank itu. Namanya Baldwin, dan
dia penguasa Edessa, Saruj, dan rempat-tempat lain. Dia terus
ditahan. Dia juga telah mengeluarkan banyak uang, terapi belum
juga dibebaskan. Pada saat yang tepat, Jawali membebaskannya
dan mengenakannya pakaian upacara. Dia tinggal di penjara selama
hampir lima tahun. Jawali telah menetapkan bahwa dia harus
menebus dirinya dengan uang, harus membebaskan kaum muslim
yang dipenjarakannya, dan harus mendukung Jawali secara pribadi
beserta pasukannya, dan juga memberikan bantuan uang tiap kali
Jawali menginginkannya. r77
576 \ _______________
namun , ini bukan akhir kisah, sebab Baldwin kemudian
dikirimkan ke Qal'at Ja'bar dan tidak dibebaskan sampai Joscelin,
penguasa Tell Bashir, menggantikan Baldwin. Jawali kemudian
membebaskan Joscelin, dan menggantikannya dengan kakak ipar-
nya dan kakak ipar Baldwin.'78
Sandera merupakan brgr* dari kehidupan sehari-sehari. Mereka
ditawarkan sebagai suatu bentuk perjanjian yang serius dalam
suatu kesepakatan antara kaum Frank dan kaum muslim. Usamah
memberikan beberapa contoh tentang praktik ini. Di Syayzar,
pada satu kesempatan, Baldwin II telah mengirim para sandera-
ksatria kaum Frank dan Armenia-sebagai jaminan hutangnya
kepada penguasa muslim Artuqid dari Mardin, Timurtasy. Kedka
utangnya telah dibayar, sandera ini diperbolehkan pulang.rTe
Penting untuk disebutkan bahwa hal demikian ini berkait dengan
rasa kehormatan keluarga, sehingga ayah Usimah bersikeras me-
nyelamatkan tahanan kaum Frank yang sama saat mereka
ditangkap oleh kaum muslim dari Hama dalam perjalanan pulang.rso
Sumber-sumber Islam tidak menjelaskan penampilan aneh para
IGatria Kuil (yang memakai jubah hitam dan salib putih). Namun
kelompok-kelompok asing semacam itu muncul dengan mencolok
dan menyerang kaum muslim yang melihat mereka. Saladin, yang
menjadi legenda di Trmur dan Barat sebab keksatriaannya, memilih
kelompok militer ini untuk diperlakukan secara kasar, dengan
membunuh mereka yang ddak mau masuk Islam, sesudah per-
tempuran Hattin pada 1 187. Semangat yang melatari pembunuhan
ini yaitu sdah satu ungkapan kemenangan agama yang tinggi.
Para sukarelawan dari kelompok ksatria, ulama, kaum sufi, dan
pertapa, yang berada dalam rombongan Saladin, masing-masing
diminta untuk membunuh seorang tahanan: "Sultan duduk dengan
wajah gembira dan orang-orang kafir menatapnya dengan tajam."rsr
Tidak ada dasan yang diberikan bagi tindak kejam ini. Namun,
diduga kuat bahwa ksatria-ksatria yang sangat mudah dikenali ini
secara khusus melambangkan fanatisme Barat lftisten serta mem-
bangkitkan kebencian Islam terhadap trGisten. Demikianlah, ke-
bencian dan kemarahan mendalam yang disampaikan cerita itu.
Pada kesempatan sebelumnya, pada 575 H.lll79 M., Saladin
memeriksa satu kelompok besar tahanan, "yang semuanya di-
rantai".r82 Di antara para tahanan itu ada Baldwin II dari
Jalannya Peperangan I 677
Ibelin yang ditebus sesudah setahun. Al-Maqrizi juga mencarat
bahwa Odo, Penguasa Tertinggi para tGatria Kuil, menjadi salah
satu tahanan. Thpi dia menemui ajal di dalam tahanan.r83
trkadang tahanan bisa kabur dari penjara, dengan cara
menyuap, akal bulus, atau tipu muslihat. 'Wazir al-Afdhal Ridhwin
al-\Talakhsyi dipenjara di sebuah bangunan di salah saru sisi istana
di Kairo. Dia berhasil melarikan diri dengan menggali lubang
sepanjang empat belas cubit dengan memakai paku besi.rsa
Penulis sejarah al-'Azhimi mencatar bahwa pangeran Artuqid Balak
menahan Raja Baldwin dari Antiokhia pada 517 H.fi123-1124
M. dan melemparkannya ke lubang bawah anah (jubb) di Kharpert
bersama Joscelin. Joscelin berusaha kabur dari sana dengan me-
nyamar.rs5 sebab Khartpert (kini Harput) berada di wilayah timur
Tirrki, tidak jauh dari Hishn Kryfi, dia jauh dari wilayah Tentara
Salib. sebab itu, cukup sulit baginya untuk pulang kembali.
Bagaimana para tahanan diperlakukan? Seperti disebutkan di
atas, para tahanan muslim yang menggugah belas kasihan Ibn
Jubayr dirantai, dan untuk para wanita memakai gelang kaki.
Menurut Usamah, pada suatu peristiwa-pada penaklukan Kafartab
pada 509 H./1115 M.-dua orang tahanan Tentara Salib dirantai
ke satu orang penahannya:
Kami mengeluarkan para tahanan, setiap dua orang dirantai
ke seorang pria dari Syayzar. Beberapa di antara tahanan itu separuh
tubuhnya terbakar dan kaki mereka masih tersisa. yang lainnya
tewas rerbakar. Saya melihat bahan pelajaran yang sangat bagus
dari apa yang menimpa mereka.rs6
Orang-orang y^ng berada di dalam penjara-penjara muslim,
baik Tentara Salib tahanan perang araupun kaum muslim---rcrang-
orang murtad, atau amir dan pejabat-pejabat tinggi yang di-
putuskan bersalah oleh masing-masing penguasa-sering kali men-
dapat siksaan yang kejam. Ibn \Tishil menceritakan tentang orang
yang bernasib buruk seperti itu, yaitu seorang panglima militer
muslim yang dilemparkan ke dalam lubang bawah :anah (jubb)
di Ba'lbakk: "Di situ gelap-tak ada bedanya siang dengan malam.
Setiap hari para tahanan diberi sedikit roti dan salad.'r87
Pemikir besar dan reformis muslim, Ibn Taymiyyah, yang
sering menjadi duri bagi elite penguasa Mamluk, bersama dua
orang adiknya dimasukkan ke ddam penjara terburuk di benteng
Kairo, jubb (bak air raksasa atau lubang di bawah tanah), penjara
bawah tanah yang bau dan penuh dengan kelelawar. Ibn tymiyyah
menuliskan perasaannya dalam salah satu suratnya yang bertanggal
706 H.11307 M. Dia membandingkan nasibnya dengan nasib
tahanan FGisten: "Kaum lGisten berada dalam penjara yang bagus
... Seandainya sqa penjara kami sama bagusnya dengan penjara
untuk orang-orang Kri51gn."t88
Orang-orang lftisten ini mungkin Tentara Salib, sebab sangar
ddak mungkin kalau orang-orang Koptik biasa atau Kristen Timur
lainnya diperlakukan sangat baik di dalam penjara Kairo. Banyak
orang IGisten yang dipenjarakan di Kairo sesudah kejatuhan Acre
pada 1291. Dan agar mereka ditebus, bisa dipahami bila kaum
muslim harus memperlakukan mereka lebih baik daripada orang-
orang yang disebut pemberontak dan "pembuat onar" seperti Ibn
Thymiyyah yang dipersalahkan sendiri oleh rezim Mamluk.
Ada bukti menarik renrang perlakuan terhadap tahanan Frank
pada periode Mamluk. Bukti itu dimuat di dalam dokumen
hukum yang disusun pada 679 H.11280 M. oleh Ibn al-Mukarrarn
selama pemerintahan Sultan Qaliwfrn. Dokumen itu memberikan
petunjuk praktis mengenai berbagai masalah hukum dan me-
nyeftakan bagian tenrang penjara berikut ini: "Tahanan harus
dijaga dan dilindungi sepanjang siang dan malam. Janggut semua
tahanan perang-kaum Frank dan Antiokhia, arau yang lainnya-
harus dicukur. Pastikan mereka melakukannya seriap kali janggut
itu tumbuh kembali.Drse Di balik tindakan ini kemungkinan
tersembunyi keinginan untuk bisa membedakan dengan jelas antara
tahanan muslim yang berjanggur dan tahanan nonmuslim yang
tidak berjanggut.
Dalam nasihat-nasihat Ibn al-Mukarram yang bernada agak
keras, ada anggapan bahwa perlakuan kaum muslim terhadap
tahanan Frank sebelumnya longgar. Memang, al-Mukarram me-
nyatakan bahwa beberapa tahanan dulunya mendapat keistimewaan
tertentu, yang kini tidak berlaku lagi: "thanan-rahanan perang
yang dipekerjakan (dalam pekerjaan umum) tidak boleh berada
di luar penjara pada malam hari. Mereka tidak boleh pergi ke
rumah pemandian, ke gereja atau perrunjukan."tqo
Jalannya Peperangan I 679
Gambar 8.33
Kopol meloyori louton, ol-
Horiri, al-Maqimit, sekitor
tohun 1230, kemungkinon
Bog|tdod, lrok.
Selanjutnya Ibn al-Mukarrarn menekankan agar belenggu para
tahanan selalu diperiksa dan dikencangkan. Dia juga menegaskan
agar petugas keamanan di sekeliling dan di dalam penjara rempat
kaum Frank ditahan harus digandakan pada malam hari. Secara
khusus, al-Mukarram menyebutkan tentang sebuah penjara yang
dikenal sebagai hhizanat al-bunud yang digunakan untuk menahan
pangeran-pangeran Frank dan keluarga mereka.rer
Seperti telah disebutkan, dari sumber-sumber itu jelas terlihat
bahwa tahanan-tahanan kaum Frank dijadikan pekerja paksa,
khususnya dalam proyek-proyek pembangunan. Pekerjaan raksasa
pembangunan benteng Kairo tidak mungkin dilakukan tanpa
tenaga kerja yang terdiri dari tahanan-tahanan kaum Frank yang
sangat besar jumlahnya. Menurut al-Maqrizi, dengan mengutip
pernyataan Ibn Abd al-Zh?hir, sebanyak 50.000 tahanan kaum
Frank dipekerjakan untuk membangun benteng Kairo.re2 Jumlah
ini, tentu saja, hitungan kasar. Sekalipun demikian, angka itu
menunjukkan bahwa tahanan kaum Frank yang digunakan sangat-
lah banyak. Informasi itu diperkuat oleh Ibn Jubayr yang me-
nyaksikan benteng itu tengah dibangun pada 1163.tr
Saladin kembali memakai tahanan saat membangun
kembali Benteng Acre pada 1187, "dengan membawa serta per-
alatan, hewan, dan tahanannyi'.te4 Najmuddin Ayyirb memper-
kerjakan tahanan-tahanan kaum Frank untuk membangun benteng-
nya yang baru di Pulau Rawda. Sultan Apnrbiyah al-Malik al-
Shalih, dalam wasiatnya kepada putranya menjelang wafat me-
nyatakan bahwa memperkuat pertahanan Damietta harus dilakukan
oleh tahanan-tahanan kaum Frank.re5
DIMENSI KEIAUTAN
Dimensi kelautan merupakan bidang yang nyaris terabaikan dalam
aspek militer konflik antara Tentara Salib dan kaum muslim.
Kebanyakan penelitian ilmiah jarang memerhatikan masalah ini,
sekalipun kelemahan kaum muslim kawasan Mediterania timur
di bidang kelautan pada masa Perang Salib jelas merupakan faktor
utarna yang membuat kekuasaan kaum Frank di kawasan itu
terus berlangsung. Memang benar, pada awal 1848 Reinaud
mengungkapkan bahwa kaum muslim lemah dalam masalah ke-
lautan. Namun pernyataannya yan1 penting itu tidak diperhatikan
680 \ _______________
para ilmuwan sampai pada tahun 1970-an, saat penelitian-
penelitian oleh Ayalonre6 darl EhrenkreutzteT menegaskan kebenaran
pernyataan Reinaud ini .
Ada pernyataan pembenaran dari Nabi Muhammad sendiri:
"Sebuah operasi militer lewat laut sama dengan sepuluh operasi
militer lewat daratan.'re8 Dan yang pasti, orang-orang Arab yang
bukan pelaut-mereka yang tinggal di gurun pasir atau kota-kota
atau yang sangat jauh dari pantai-kelihatannya takut pada laut.
Menurut tradisi kaum muslim, ada dugaan kebencian bangsa Arab
pada laut yang terjadi sejak masa khalifah kedua Islam, 'lJmar
(w. 644), dan permintaannya kepada jenderal besarnya, 'Amr ibn
al-'Ash, penakluk Mesir, agar menggambarkan laut kepadanya.
'Amr menjawab demikian:
Laut yaitu permukaan tanpa batas, yang di atasnya kapal-
kapal besar terlihat seperti bintik-bintik kecil. Tidak ada apa-apa
kecuali surga di arasnya dan air di bawahnya. Saat renang hati,
para pelaut berduka. saat bergelombang, perasaan mereka ber-
gelora. Jangan terlalu percaya padanya, sangar takutlah padanya.
Seseorang di laut bagai seekor serangga di atas serpihan, yang kini
tenggelam, yang kini takut pada kematian.ree
sebab itu tidak mengeju*an bila'Umar segera menganjurkan
kaum muslim agar menghindari berlayar. Bila mereka nekad
menuju ke laut, mereka pergi tanpa sepengetahuan 'lJmar, dan
mereka akan dihukum sebab hal itu. Dari manakah dugaan
ketakutan pada laut ini berasal? Tentu saja, pada satu rahap,
ketakutan itu bisa dilihat sebagai cermin kebencian mendalam
orang-orang gurun yang lebih terbiasa bergaul dengan daratan
luas daripada bahaya di lautan yang ddak mereka kenal. Peribahasa
fuab yang menyatakan bahwa "lebih baik mendengar kentur unta
daripada doa ikan" menunjukkan prasangka ini.2m Terlebih lagi,
sebagian besar wilayah dunia Islam timur ddak punya akses
menuju jalur laut utama serta juga tidak terbiasa dengan pelayaran
dan pertempuran militer di laut. Maka, kisah 'Umar itu me-
nunjukkan betapa kaum muslim awal sangat kurang pengalaman
dalam bidang kelautan.
namun hipotesis yang mengatakan bahwa navigasi yaitu dunia
asing bagi dunia Islam jelas merupakan pandangan yang simplistik.
Orang-orang semenaniung Arab sendiri yang tinggal di pesisir
telah lama mengenal laut, bukan hanya dengan menangkap ikan
di wilayah setempat, namun iuga perdagangan maritim ke tempat-
tempat yang sangat jauh. Sungguh mereka merupakan kekuatan
dagang yang mendominasi perairan antara India dan Teluk Persia
sejak milenium ketiga SM hingga seterusnya. Mereka juga sungguh
telah mengenal rahasia angin musim.2orPada awal abad kedelapan,
pemukiman-pemukiman pedagang Arab telah terbentuk di timur
jauh, seperti di Canton. Terlebih lagi, saat para penakluk dari
Arab merebut Mesir, Suriah, dan Palestina, mereka mewarisi tradisi
maritim Mediterania yang telah berlangsung lama sejak zaman
Phoenicia, dan mereka mulai menantang Bizantium di lautan.2o2
Lebih jauh ke timur, para penguasa muslim juga mewarisi keahlian
negara-negara pesisir yang baru mereka taklukkan, dengan jalur
perdagangan laut mereka di sepanjang jalur laut tradisional di
Laut Merah, Teluk Persia dan, seperti disebutkan di atas, lebih
jauh lagi. Dengan demikian, Dinasti Abbasiyah membangun di
atas fondasi yang kokoh ini, dan Baghdad, sebuah pelabuhan
pedalaman yang cukup beruntung sebab Tigris dan Eufrat dilewati
oleh banyak kapal, menghadap ke horison yang sangat luas-
Mediterania, Afrika, India, Indonesia, dan Cina.
Tladisi maritim Mediterania yang telah berlangsung lama tidak
tamat dengan kebangkitan kekuasaan kaum muslim. Banyak
galangan kapal di Aleksandria, al-Fustat, Damietta, dan pelabuhan-
pelabuhan Mesir lainnya, dan Pulau IGeta dan Sisilia, ditaklukkan
untuk Islam dengan memakai kapal-kapal yang dibuat
Mesir. Kekuatan laut kaum muslim berkembang pesat di awal
Dinasti Fatimiyah, dan Aleksandria, Damietra, dan Fustat, rrl€-
rupakan pusat-pusat pembangunan kapal sesudah Dinasti Fatimiyah
pindah ke Mesir dari Afrika Utara pada 969. Alelaandria merupa-
kan pangkalan laur ideal, dengan pelabuhannya yang bagus,
galangan kapal yang besar, dan tukang-tukang bangunan dari
Koptik.2o3 Kapal-kapal sungai dan laut dibuat. Satu-satunya bahan
yang tidak ada di Mesir yaitu kayu yang baik, sehingga harus
diimpor. Luasnya perdagangan kayu pada periode awal Islam bisa
diketahui dari mimbar yang ada di Masjid Agung di eayrawan
di Tunisia, yang dibangun pada 862. Mimbar ini dibuat dari
kayu jati Burma.
Ibn Khald0n yang meski terpengaruh oleh retorikanya sendiri
dalam menilai supremasi kaum muslim di lauran pada masa
kegemilangan Dinasti Fatimiyah Mesir dan Umayah Spanyol, tetap
menunjuk tradisi laut kaum muslim yang kuat di wilayah-wilayah
Mediterania dan pada kemampuan kaum muslim bertarung di
laut dan menggelar operasi militer penaklukan lewat laut ke pulau-
pulau yang ada di Mediterania:
Pada masa dinasti muslim, umat Islam menguasai seluruh
Mediterania. Kekuatan dan dominasi mereka di kawasan itu sangar
luas. Negeri-negeri lGisten tidak bisa berbuat ep^-apa melawan
armada-armada kaum muslim, di seluruh rempar di Mediterania
... Mereka [kaum muslim] menguasai sebagian besar permukaan
Mediterania dengan peralatan dan jumlah mereka dan melalui jalur
ini untuk misi damai maupun perang. Thk satu pun kapal-
kapal Kristen yang berlayar di sana.2oa
Pandzngan l{num Muslim tentang Laut pada Periodz Perang Salib
Kaum muslim banyak yang takut kepada laut. Perjalanan di laut
yaitu peristiwa yang berbahaya dan menakutkan semua orang,
kecuali yang paling berani-apalagi melangsungkan perrempuran.
Pengiriman pasukan dan kuda-kuda juga berbahaya dan cukup
mahal. Kesaksian yang jarang dikenal ihwal melakukan perjalanan
lewat laut yaitu laporan Ibn al-'Arabi pada 1090-an. Dia dan
ayahnya bernasib sial sebab kapd mereka kandas di lepas pantai
Afrika utara. Ibn al-'Arabi mencatatnya sebagai berikut: "Kami
Jalannya Peperangan / 683
muncul dari laut seperti mayat yang bangkit dari kubur ... Kami
kelaparan akibat kecelakaan itu dan dalam keadaan telanjang.
Laut ini (bahkan) menghancurkan wadah-wadah yang berisi
minyak."zor
Selain masalah cuaca, kapal-kapal yang penuh sesak ini sering
mengalami kerusakan, seperti dikatakan oleh Ibn Jubayr: "Kadang-
kadang lambung kapal menghantam batu karang saar lewat di
antara batu-batu tersebur, dan kami mendengar suara benda
hancur yang membuat kami purus asa. Terkadang kami tidak
tahu apakah kami akan hidup atau mari."206
Pengalaman perjalanan Ibn Jubayr ke timur mengungkap
ketakutan yang biasa dialami para pelancong abad kedua belas.
Yang bahkan lebih penting yaitu perjalanan-perjalanan yang
dilakukan untuk operasi militer denpn kapal-kapal yang membawa
senjata-senjata berharga, mesin-mesin perang dan prajurit. Pada
1189 Saladin menuju ke Acre dengan menyisir pantai. Ibn Syaddid
mencatat ketakutan terpendam yang dirasakan dirinya terhadap
laut:
Saat itu musim dingin yang paling buruk, dan laut sangar
bergelora "dengan gelombang-gelombang seperti gunung" seperti
yang dikatakan Allah di dalam Alquran. Saya tidak punya banyak
pengalaman di laut sehingga peristiwa itu sangat berkesan bagi
saya. Sebenarnya, saya kira, kalau saja ada yang memberitahu saya
bahwa bila saya berlayar seharian di laut maka dia akan menjadikan
saya sebagai pimpinan seluruh dunia, saya tidak akan bisa me-
lakukannya. Saya kira orang-orang yang mencari nafkah di laut
pasti sudah gila ... Semua pikiran ini muncul sebab saya melihat
laut yang menggelora.2oT
Pandangan yang serupa tentang laut seperti hal di atas ter-
ungkap seabad kemudian dalam sebuah percakapan, yang di-
laporkan Ibn \7ishil, diperkirakan antara raja kaum Frank yang
tengah ditawan, St. Louis, dan pemimpin kaum muslim,
Husimuddin, ymg ditugaskan menjaganya. Husim berkata kepada
tahanannya yang seorang raja itu:208
Bagaimana bisa orang secerdas dan bijaksana seperti raja punya
pikiran untuk memercayakan dirinya pada laut di atas sepotong
kayu rapuh, untuk mengantarkan (dirinya sendiri) menuju negeri
684 \ _______________
muslim yang dijaga oleh pasukan yang sanBar banyak dan membawa
dirinya dan pasukannya ke gerbang kematian? Sang raja hanya
tersenyum dan tidak menyahut sedikit pun. Kemudian pemimpin
kaum muslim itu melanjutkan sebagai berikut:
"Salah seorang pemuka agama kami menyatakan bahwa sedap
orang yang membawa dirinya serta barang-barangnya ke laur dua
kali harus dianggap telah gila dan kesalaiannya tidak bisa lagi
diterima dalam hukum." Kemudian Raja itu tersenyum kembali
dan berkata: "Mereka yang berkata seperri itu benar."20e
Sekalipun mungkin klise dan diragukan kebenarannya, per-
cakapan itu sekali lagi menjadi bukti kebencian kaum muslim
terhadap laut.
Pengetahuan kita tentang jenis-jenis kapal kaum muslim Abad
Pertengahan sebagian berasal dari karya-karya seni (foto 8.7),
terutama lukisan buku abad ketiga belas. Selain itu juga dari
berbagai referensi berbeda dalam literatur perjalanan dan geografi
Islam serta tulisan-tulisan sejarah. Teks-teks sastra ini merupakan
sumber informasi utama perihal kapal-kapal sebelum abad ketiga
belas. Namun, masalah utamanya yaitu banyak penulis yang
sering menganggap para pembaca mereka paham arti istilah-istilah
tertentu dan tidak menjelaskan kepada mereka tentang bagaimana
membedakan kapal-kapal perang dengan kapal-kapal dagang, atau
kapal-kapal laut dengan kapal-kapal sungai.
Ahli geografi muslim abad kesepuluh, al-Muqaddasi (w. 378
H./988-989 M.) mencatat ada 36 jenis kapal yang menurut
kesaksiannya ada di sepanjang hidupnya.2to Dari 36 jenis ini, 10
di antaranya disebutkan di dalam konteks Mediterania.
Seperti ditunjukkan oleh Agius,'r' pada masa al-Muqaddasi,
ada dua golongan besar kapal: jenis dijahit (hhaythiyyah), yang
"disatukan dengan tali sabut kelapa dengan metode kerangka yang
dibuat terlebih dahulu (yaitu, lambung dahulu, baru kemudian
gading-gading kapal dimasukkan)", dan jenis paku, di mana kapal
"dipaku lebih dulu bagian gading-gadingnya dan kemudian papan-
papan dipasang ke kapal ini " (yang disebut metode rangka).
Kapal-kapal kecil dayung dibuat dengan metode kedua, yang jauh
lebih mahal. Lambung yang dijahit, menurut Ibn Jubayr dan Ibn
Battuta, fleksibel dan lebih tahan terhadap gelombang tinggi dan
bahaya pecah.2r2 Goitein menemukan bukd di dalam dokumen-
dokumen Geniza bahwa kapal-kapal kaum muslim yang membawa
sampai 500 penumpang tidak biasa di Kairo pada akhir abad
kesebelas. Para pelancong dan barang dagangan dibawa dalam
kapal-kapal Qhurab) yang dijalankan dengan dayung. Dalam
tulisannya pada 1190, Ibn Mammati menyebutkan bahwa sebuah
ghurab memiliki 140 dayung.2'3
Peranan Penting Armada-Armada l{aum Frank
pada Periode Aual Perang Salib dan Diabaihannya Aspeh
Kelautan oleh l{aum Muslim
Seperti telah disebutkan, perpecahan dan kelemahan kaum muslim
membuat mereka tidak berdaya unruk mencegah Tentara Salib
merebut pelabuhan-pelabuhan kawasan Mediterania timur pada
dekade awal abad kedua belas. Keberhasilan Tentara Salib yaitu
sebab dukungan armada-armada Italia dalam jumlah yang besar.2ra
Negara-negara kota seperti Venesia, Genoa, dan pisa, sejak awal
turut serra dalam serangan laut yang dilancarkan dari Eropa.
Para awak kapal Genoa membanru mengepung Antiokhia dan
Yerusalem, dan pada 1099 sebuah armada besar dari pisa tiba di
laut lepas pantai Suriah, dan di tahun berikutnya didukung oleh
armada dari venesia. Kapal-kapal dari kota-kota maritim Italia
digunakan uncuk memasok pasukan, menyelamatkan pasukan yang
terperangkap, dan menjaga komunikasi dengan Eropa barat. pe-
ngerahan armada-armada Italia ini setidaknya sebagian didorong
sebab ingin mendapatkan keuntungan dagang. namun , pada
akhirnya, mereka sangat berguna dalam pembentukan negara-
negara kaum Frank di kawasan Mediterania timur sejak tahun
1100. Mereka juga sangat membanru selama periode tersebur
dalam merebut pelabuhan-pelabuhan lainnya.2rs Al-Sulami telah
memperingatkan rekan-rekannya sesarna muslim tentang bahaya
nyata ini dalam buku ramalannya, Kiilb al-Jihnl. Sebenarnya,
sekalipun ada peringaran serius dari al-Sulami tentang akibat
mengerikan bila kaum muslim sampai kehilangan pelabuhan-
pelabuhan Suriah, Tentara Salib merebut hampir seluruh pelabuhan
ini dalam waktu singkat.
kbih jauh lagi, bahkan gelombang pendatang-pendatang baru
yang terus berdatangan dari Eropa barat lewat laut tidak memicu
reaksi kaum muslim di daratan atau di lautan. Dan Tentara Salib,
sesudah merebut pelabuhan-pelabuhan kawasan Mediterania timur,
mereka kemudian membentenginya, sekaligus melindungi mereka
dari kaum muslim dan menyediakan pangkalan untuk mereka
sebagai tempat kedatangan bantuan pasukan, seniata, dan per-
bekalan dari Eropa tanpa halangan. Tentara Salib belajar dari
pengalaman Perang Salib Pertame y^ng pahit dan menakutkan
bahwa rute darat ke kawasan Mediterania timur bukanlah cara
terbaik untuk ditempuh. Sesudah itu mereka sebagian besar datang
lewat laut. saat mereka melancarkan Perang Salib berikutnya,
pasukan dari Eropa memakai jalur laut ke Suriah dan Palestina.
Arus kedatangan kaum Frank, baik prajurit yang akan berjuang
demi agama maupun peziarah,'yang terus berdatangan ke kawasan
Mediterania timur pada periode Perang Salib juga tiba lewat jalur
laut. Akses ke pantai sangat penting bagi kelangsungan keberadaan
Tentara Salib berikutnya. Dengan bentuk pantai Suriah yang luar
biasa-salah satu yang paling lurus di dunia, dan memiliki
beberapa pelabuhan alami-maka menguasai pelabuhan yang ada,
seperti Tirus, Sidon, Beirut, dan lainJainnya, yaitu jauh lebih
bernilai (foto warna 5).
Dengan melihat fungsi strategis aspek kelautan dari berbagai
kejadian sebelumnya, sungguh mengherankan bahwa kemudian
tidak satu pun pemimpin muslim sebelum Saladin melihat nilai
penting mendahulukan pelabuhan-pelabuhan ini sebagai target
operasi daripada kota-kota di pedalaman seperti Damaskus, Aleppo,
dan Yerusalem. Akhirnya, balabantuan pasukan, senjata, dan
perbekalan terus berdatangan lewat pelabuhan-pelabuhan ini .
Kaum muslim tidak mampu berbuat
^pa-ape
terhadap aksi itu
sejak masa-masa awal. Semestinya, serangan bersama-sama lewat
laut dan daratan merupakan cara yang paling baik. Seandainya
saja mereka memprioritask












