Tampilkan postingan dengan label Perang salib 11. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perang salib 11. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Juli 2026

Perang salib 11

 


agama antara Islam dan lftisten. Seperti disebut-

kan sebelumnya, Islam bagi mereka yaitu  wahyu terakhir, yang

mencakup dan menyempurnakan semua Pesan-Pesan keesaan Tuhan

yang sebelumnya.

Pada awalnya, kaum muslim sangat bingung mengetahui kaum

Frank tiba melalui rute yang sebelumnya digunakan oleh para

penyerbu Bizantium ke Suriah utara. Selain itu, tampak jelas

bahwa telah ada kesenjangan waktu sebelum kaum muslim me-

nyadari bahwa mereka tengah berhadapan dengan musuh kaum

Kristen yang berbeda. Namun, sekalipun pengetahuan mereka

tentang kaum Frank semakin mendalam, kaum muslim masih

tetap terikat pada sikap-sikap perdebatan lama mereka tentang

agama Kristen. Para penulis muslim iarang sekali memanfaatkan

kesempatan untuk membuat perbandingan antara dua agama

ini . Praktik-praktik dan model-model tertentu diterima apa

adanya. Praktik-praktik dan model-model itu tidak dimanfaatkan

untuk meningkatkan nilai-nilai propaganda atau bahkan sekadar

semangat keingintahuan mengenai agama "pihak lain'. Usimah,

misalnya, membahas sambil lalu tentang kaum Frank yang datang

berziarah ke kawasan Mediterania timur dan dia memakai 

kata 'haji' @ojJ),t'u namun dia kemudian tidak membandingkan

dan menunjukkan perbedaan ritual ziarah antara umat Kristen

dan kaum muslim. Terlebih lagi, sekalipun tahu bahwa kaum

Frank berperang atas nama Salib, tampaknya para penulis muslim

tidak menunjukkan keseragaman mengenai konsep jihad.

Islam menetapkan warga  muslim, suatu komunitas, yang

sebagaimana dengan tepat dikatakan oleh Hodgson, "boleh jadi

telah betul-betul berhasil membangun bagi dirinya sendiri suatu

warga  menyeluruh, yang dipisahkan dengan tegas dari semua

budaya sebelumnya dan melampaui batas-batasnya".r87

Bab ini telah menunjukkan bahwa kedatangan kaum Frank

ke dunia muslim dan kemudian hidup berdampingan dengan

kaum muslim tidak mengubah stereotiP etnik mengenai kaum

Frank yang telah terbentuk sejak lama dan tertanam dalam-dalam

di kesadaran warga  muslim. Begitu juga, dengan melihat

langsung kaum Frank dalam mempraktikkan agama mereka, ini

tidak mengubah pandangan kaum muslim tentang Kristen' Se-

baliknya, argumen-argumen dogma anti-lkisten semakin meningkat.

Kita telah melihat sulit untuk mengerahui bagaimana persepsi

paling awal kaum muslim terhadap kaum lftisten Frank' Akan


namun  tidak mungkin para penulis muslim generasi berikutnya

masih tertarik untuk membuat perbandingan atau perbedaan yang

tegas mengenai dogma atau perilaku kaum Fftisten Frank, agama

"l(risten fi6g1"-yang selama berabad-abad telah hidup ber-

dampingan dengan mslgkx-a1au musuh lftisten yang tak asing

lagi bagi kaum muslim, yaitu, Bizantum.[]


Perdamaian, bagaimanapun juga, idak menjadi pohoh bahasan ltng disuhai

para s Q arawan- mus lim-tida h j uga mungh in s emua s ej arawan.t (Gabrieli)

PENDAHULUAN

Pada periode sebelum tahun 1100, ada dua wilayah perbatasan

utama yang memungkinkan kaum muslim dan umat lGisten dapat

d".r r"ii.rfmenyebarkan pengaruh mereka masing-masing kepada

*"ry"r"krt di sana, yaitu perbatasan antara kaum muslim Andalus

dan kerajaan lftisten Spanyol utara, dan perbatasan antara kaum

muslim Sisilia dan kaum lGisten Italia. Selain itu, sebuah wilayah

perbatasan lainnya menjadi menarik untuk dicermati perkembang-

annya, yaitu pembatasan antara kaum muslim Anatolia dan kaum

Kristen Bizantium. Di wilayah perbatasan ini berkembang suatu

bentuk aturan kesopanan tertentu. Bentuknya, kedua belah pihak

sering kali saling menghormati kelompok yang lainnya selama

periode peperangan berlarut-larut yang terjadi di antara keduanya.

Situasi Perang Salib berbeda. Meskipun terhubung dengan

Eropa oleh lautan, negara-negara Tentara Salib didirikan di tengah-

tengah dunia muslim yang jumlah penduduknya jauh lebih banyak

dari mereka. Para Tentara Salib dari Eropa yang dba di Suriah

dan Palestina pada 1099 mewakili sebuah fenomena baru. Mereka

membawa serta suatu model peperangan yang sama sekali berbeda

dari peperangan-peperangan konvensional di perbatasan-perbatasan

Islam yang telah lama terbentuk di Spanyol, Anatolia Timur, dan

Italia Selatan. Perang Salib pertama pecah di jantung utama Islam,

dan sebab  itu, berdirinya empat negaxa Salib di kawasan Mediterania

timur memberikan kesempatan kepada para sejarawan untuk

mempelajari proses interaksi sosial-budaya antara kaum muslim

dan "kaum barbar" dari Eropa yang berlangsung selama dua abad.

Bagaimana "koloni-koloni paling awal" kaum Kristen dari Eropa

ini akan hidup berdampingan dengan kaum muslim yang hampir

benar-benar mengelilingi mereka? Bagaimana mereka melawan

orang-orang ini, sementara jumlah pasukan mereka sangat kecil?

Dan bagaimana kaum muslim, "korban mereka", memandang

mereka dari dekat, berbeda dengan saat  kaum muslim itu

dahulu memandang mereka dengan konsepsi awal tentang Peng-

huni-penghuni wilayah utara yang barbar dan membeku?

Perang Salib telah membuat kehidupan kaum muslim Timur

Tengah berdekatan dan diatur oleh kaum Frank dari Eropa. sebab 

itu, bisa diperkirakan bahwa situasi-situasi baru ini telah memberikan

informasi yang lebih akurat dan lengkap kepada kaum muslim

tentang musuh mereka.2 Bab ini juga akan membahas hal ini secara

lengkap. Kita telah membahas pandangan klise kaum muslim

tentang kaum Frank pada bab lima. Namun, meskipun pandangan

klise ini telah meluas, kaum Frank sebagai fenomena sosial, baik

sebagai individu maupun kelompok, Patut untuk dianalisis, sehingga


bisa diketahui apakah kaum muslim secara bertahap mengem-

bangkan pandangan yang lebih berbeda tentang mereka.

HAI- YANG TAMPAK DATAM PENDUDUKAN KAUM FRANK

Sumber-sumber Islam pada umumnya tidak menielaskan tentang

dampak yang terlihat yang timbul akibat kehadiran kaum Frank

di Timur Dekat. Namun tidak terlalu sulit untuk merekonstruksi

reaksi kaum muslim, sekalipun hanya spekulasi. Secara mengejut-

kan juga, tak banyak disebutkan tentang bentuk fisik kaum Frank,

warna kulit, dan rambut mereka, pakaian aneh yang mereka

kenakan, sebelum beberapa dari mereka setidaknya mengadopsi

pakaian Islam, dan ciri-ciri fisik lainnya yang segera membedakan

mereka dari kaum muslim atau bahkan kelompok kaum Kristen

asli di Timur Dekat. 'warna rambur dan warna kulit kaum Frank

yang berbeda di kawasan Mediterania timur hampir tidak disebut-

kan di dalam sumber-sumber Islam. Kadang-kadang warna mata

mereka menarik perhatian, seperri disebutkan di dalam tulisan-

tulisan sebelumnya (lihat, bab lima). 'Imiduddin, misalnya, me-

nyebut kaum Frank sebagai "musuh bermata biru"'3 Seperti di-

sebutkan sebelumnya, kisah-kisah rakyat kaum muslim mem-

bicarakan rentang wajah-wajah kaum Frank yang dicukur bersih.a

Semua jenis ciri yang terlihat itu menjadi pengingat yang

melekat dalam kesadaran kaum muslim yang tinggal di wilayah

pendudukan dan kekuasaan kaum Frank itu, meskipun sumber-

sumber itu hanya sedikit membahas mengenai hal itu. Termasuk

di antara ciri-ciri itu yaitu rambu-rambu di jalan-jalan yang oleh

para penulis sejarah disebut sebagai "tulisan Frank" dan di depan-

depan toko yang ditulis dengan kata-kata asing serupa' Arsitektur

keagamaan kaum Frank, seperti Katedral Tartus (lihat, gambar

6.43) dan Gereja St. Anne di Yerusalem, juga terlihat benar-

benar mengganggu pemandangan kota-sebab  di sana juga telah

berdiri gereja sederhana kaum lGisten Timur. Juga pada arsitektur

sekuler kedatangan kaum Frank sangat mengejutkan'

Tentu saja, kaum muslim telah sangat terbiasa melihat menara,

benteng-benteng, dan kubu-kubu pertahanan. Namun, begitu

kaum Frank menaklukkan wilayah kaum muslim, mereka begitu

cepat mendirikan bangunan-bangunan semacam itu' Sebagai ke-

lompok minoritas yang berjuang untuk menegaskan kehadiran

mereka di sebuah lingkungan asing, kaum Frank mengambil alih

bangunan-bangunan yang telah ada serta membangun banyak

benteng baru--di wilayah pinggiran, di rute-rute strategis, di dekat

atau bahkan kadang-kadang di laut. Langkah semacam ini diambil

sebagai upaya untuk mempertahankan diri mereka. Banyaknya

bangunan-bangunan pertahanan kaum Frank, yang dibangun

dengan model Eropa di seluruh wilayah mereka, terus meng-

ingatkan kaum muslim tentang kehadiran mereka. Bangunan-

bangunan ini tampaknya-paling tidak pada awalnya, sampai

kaum muslim kemudian lebih terbiasa dengan kaum Frank-

tumbuh menjadi benda-benda asing yang tidak diterima dalam

lingkungan kaum muslim-simbol-simbol nyata akan adanya

pendudukan bangsa asing dan kaum kafir.

HAMBATAN BAHASA

Sumber-sumber Islam menyebutkan bahwa sangat sedikit kaum

muslim yang peduli untuk belajar bahasa-bahasa yang digunakan

para Tentara Salib. Sebenarnya, sekalipun sejarawan muslim tahu

bahwa para Tentara Salib itu berasal dari beragam etnik-Inggris

(Inkitar), Prancis (Faransil, Jerman (Almtn), Venesia (Banadiqa),

dan lainlain-sepertinya tidak terlihat pandangan bahwa "bahasa

kaum Frank" itu lebih dari satu. Seperti jelas terlihat dalam tulisan

Usimah: "Orang-orang ini hanya berbicara dengan bahasa kaum

Frank; kami tidak mengerti apa yang mereka katakan."t Pada

kesempatan yang lain dia mengatakan: "seorang wanita kaum

Frank memegang saya erat-erat, mengoceh cepat dalam bahasa

mereka, dan saya tidak mengerti aPa yang dikatakannya."6

Namun, para penulis sejarah muslim berusaha membuatkan

nama untuk para pemimpin Tentara Salib: St. Louis, misalnya,

dikenal sebagai "Raidafrans". Menurut al-Maqrizi, kata ini yaitu 

"istilah dalam bahasa kaum Frank yang berarti 'R4a kaum Frank'."7

Meski bisa dimengerti bahwa kaum muslim tidak akan mau

berbicara memakai  bahasa "kaum Frank yang terkutuli', yang

tak kalah penting tampaknya tidak banyak laporan bahwa para

ksatria fuab belajar bahasa Tirrki, bahasa para panglima militer

mereka. Begitu juga sebaliknya, tidak ada laporan bahwa orang-


orang Tirrki belajar bahasa fuab. Usimah terus terang mengakui

bahwa dia tidak paham bahasa kaum Frank maupun Tirrki.s

Dengan kenyataan ini, ddak terlalu mengherankan bila percakapan-

percakapan yang dicatat oleh sumber-sumber Islam bisa saja tidak

tepat. Dialog-dialog dalam bahasa Arab yang terdengar mengesan-

kan yang sebenarnya mungkin tidak pernah terjadi diucapkan

oleh para sultan dan panglima Tirrki'

Sementara di pihak Tentara Salib, sumber-sumber Islam sering

kali menyebutkan adanya para pemimpin kaum Frank yang


berusaha keras belajar bahasa Arab. Pengetahuan bahasa seperti

itu terbukti sangat berguna, seperti dalam kisah Richard si Hati

Singa yang diselamatkan oleh salah seorang rekannya, \Tilliam de

Pratelles, saat  mereka diserang kaum muslim. '$Tilliam berteriak

bahwa dia yaitu  ra,1a (malih). Dia kemudian ditahan, sedangkan

Richard dibiarkan pergi.e Namun, tidak ada penjelasan apakah

kaum Frank mengerti tingkatan bahasa kelompok-kelompok militer

kaum muslim yang berhubungan dengan mereka, yang sering

memakai  bahasa Tirrki dan Kurdi, dan bukan bahasa Arab.

tmpaknya kaum Frank memakai  pemandu atau pe-

nerjemah setempat untuk pertemuan-pertemuan resmi tingkat

tinggi dengan para pangeran atau jenderal kaum muslim. Pe-

mandu-pemandu ini biasanya berasal dari kaum Kristen Timur

yang menguasai beberapa  bahasa. Menurut sebuah laporan, Baybars

memakai  seorang penerjemah yang "bisa menulis dalam

tulisan kaum Frank".ro "Orang Tir" dari Gunung", pemimpin

Hasyasyin Suriah, mengajarkan cara berbicara dalam bahasa kaum

Frank kepada dua orang pengikutnya.rr

Kaum Frank harus bisa berbahasa fuab untuk memasdkan

kelangsungan hidup mereka maupun untuk mendukung usaha-

usaha mereka dalam dunia perdagangan. Para pemimpin kaum

Frank harus mengetahui pergerakan musuh, sementara para pe-

dagang kaum Frank ingin mengetahui peluang-peluang dan syarat-

syarat perdagangan yang ada di sana. sebab  itu, tidak meng-

herankan bila petugas-petugas pabean berbicara dan menulis dalam

bahasa fuab.l2 Bukan hanya perang dan perdagangan yang menjadi

pendorong untuk menguasai bahasa fuab. Penahanan juga mem-

beri kesempatan pada kaum Frank untuk mempelajari bahasa

fuab. Raymond dari Thipoli, misalnya cukup lama mendekam di

dalam penjara kaum muslim, dan di sana ia belajar bahasa Arab.

Dan sebab  jarang ditemukan keterangan tentang terjadinya per-

kawinan campuran, maka sedikit diragukan bahwa hal ini ter-

masuk faktor pendorong bagi beberapa  kaum Frank, paling tidak,

untuk menjadi cakap berbahasa Arab. Dengan sedikitnya ke-

terangan mengenai masalah-masalah seperti itu di dalam sumber-

sumber ini , juga dapat diperkirakan bahwa para sejarawan

muslim tidak melihatnya sebagai sesuatu yang penting bila kaum

Frank mampu berkomunikasi dalam bahasa Arab dengan sangat


baik. Semua ini hanya menegaskan sikap kuat kaum muslim yang

memandang kaum Frank sebagai "yang lain".

PERBEDAAN ANTAM KAUM FMNK PENDATANG

DAN KAUM FMNK I.J.MA

Tidaklah realistis mengharapkan Para penulis sejarah Islam Abad

Pertengahan memberikan kita gambaran yang lengkap tentang

tiap kelompok warga  kaum Frank yang ada- Bahkan, pen-

.ielasan mereka mengenai kaum muslim cukup klise. Namun,

menarik untuk dicatat, sumber-sumber Islam mulai menggambar-

kan perbedaan antara kaum Frank yang telah ditinggal cukup

lama di kawasan Mediterania timur dan kaum Frank yang baru

tiba dari Eropa.

Usimah menggambarkan perbedaan antara kaum Frank Timur

dan Barat dalam sebuah bagian yang banyak dikutip di dalam

karyanya yang berjudul Memoirs: "Semua orang yang baru tiba

dari negeri kaum Frank lebih kasar dibanding mereka yang telah

menyesuaikan diri dan telah lama berhubungan dengan kaum

muslim."l3

Pernyataan ini menarik sebab  dengan jelas menunjukkan

bahwa kaum Frank yang telah tinggal satu atau dua generasi di

dunia muslim telah terpengaruh dan khususnya menjadi semakin

baik akibat lingkungan dan hubungan mereka dengan kaum

muslim. Dalam kisah yang selanjutnya disajikan Usimah untuk

menunjukkan kebenaran Pernyataannya itu, kaum Frank yang baru

tiba dari Eropa mengingatkan UsAmah agar tidak salat menghadap

ke timur dan memaksa memutar wajah Usimah menghadap ke

arah umat Kristen beribadah. Sampai kemudian para FGatria Kuil,

yang telah lama mengenal cara-cara ibadah kaum muslim dan

disebut Usimah sebagai temannya, buru-buru menarik orang yang

menyerang Usimah itu agar menjauhinya. Dia kemudian meminta

maaf dan mengatakan pria itu yaitu  "orang asing yang baru

tiba beberapa hari sebelumnya dari negeri kaum Frank."r4

Pengetahuan kaum muslim tentang perbedaan di antara kaum

Frank ini berperan Penting dalam peristiwa Perang Salib Kedua,

saat -untuk pertama kalinya sejak Yerusalem direbut kaum

muslim-pasukan kaum Frank secara besar-besaran berdatangan

dari Eropa ke Timur Dekat. Mereka memang sempat melakukan

pembantaian dan peniarahan di Damaskus itu sendiri pada 543

H.lll49 M. sebelum kaum muslim mengusir mereka. Pada

peristiwa ini, dan sering sesudahnya, ditunjukkan dua perbedaan

di antara kaum Frank: "Frank pesisir" (al'faranj al-snfuih.yy,ttn)

dan "Frank barat" (affiranj al-ghurabl).

Gubernur Damaskus, Mu'inuddin lJnur, disebutkan telah

membujuk "kaum Frank Suriah" agar menghentikan PengePungan

terhadap Damaskus. Laporan ini dengan jelas menunjukkan bahwa

dia tahu cara memecah belah kaum Frank Timur dan kaum

Frank Barat. Salah satu alasan utama kegagalan Perang Salib Kedua

telah disebutkan, yaitu sebab  terjadi perbedaan pandangan dan

tujuan di antara kedua kelompok kaum Frank itu.r5 Dan sekalipun

sumber-sumber muslim tidak memberikan penjelasan lengkap

mengenai Perang Salib Kedua, kaum muslim jelas memahami

perbedaan kelompok-kelompok kaum Frank ini.t6

Seluruh kisah ini  dicatat dengan cukup lengkap oleh

Ibn al-Atsir, yang menulis sebagai berikut:

Mu'inuddin menghubungi kaum Frank Barat dan berkata

kepada mereka: "Pangeran Timur [malsudnya Sayfuddin Ghizi,

putra Zergi] telah datang. Bila Anda mundur [sangat bagus dan

baik]. Bila tidak, saya akan menyerahkan kota padanya, dan

kemudian Anda akan meratapi hari ini." Dia [juga] menghubungi

kaum Frank Suriah dan berkata kepada mereka: "Mengapa Anda

membantu orang-orang ini [maksudnya kaum Frank Barat] melawan

kami, sementara Anda tahu bahwa bila mereka merebut Damaskus,

mereka juga akan mengambil wilayah-wilayah pantai dari tangan

Anda..." Kaum Frank pesisir menemui Raja Jerman [Almin] dan

membuatnya takut terhadap Sayfuddin dengan jumlah pasukannya

yang sangat besar, dan pasukan bantuannya yang datang tiada

henti... Mereka [kaum Frank Suriah] terus melakukan hal itu

sampai dia [Conrad] mundur dari kota ini .rT

Bisa diperkirakan bahwa kaum muslim mungkin cenderung

merasa lebih cocok berhubungan, atau setidaknya menunjukkan

lebih suka bernegosiasi dan bersekutu, dengan kaum Frank Timur

yang lebih mereka kenal. Kebijakan sePerti itu kadangkala diguna-

kan baik untuk memperkuat kelompok-kelompok muslim yang

saling berseteru maupun untuk memecah belah kaum Frank.


Perbedaan seperti itu di kalangan kaum Frank terus dipelihara

hingga periode Ayyubiyah. "Kaum Frank Barat" kadang-kadang

terlihat meneraPkan kebijakan-kebijakan yang berbeda dengan

kebijakan ,,kaum Frank Timur". Menurut Ibn Nazhif al-Hamawi,

"kaum Frank Barat" memakai  kembali pelabuhan Sidon pada

625 HJl227-1228 M. tanpa sePengetahuan "kaum Frank pesisir"'r8

PANDANGAN KAUM MUSLIM TENTANG GOLONGAN RELIGIUS

TENTARA SALIB

Sumber-sumber muslim menyorori ordo Hospitd,er (Isbithriy\ahte)

dan para IGatria Ktil (Dhwiyallo) dalam kelompok kaum Frank'

Golongan-golongan militer lainnya yang dibentuk di kawasan

Mediterania timur berlalu tanpa keterangan' Tidak .ielas kapan

kaum muslim pertama kali memilah ordo Hospitaler dan para

lGatria Kuil sebagai dua kelompok terpisah di dalam pasukan

kaum Frank. Usimah menyebutkan tentang para Ksatria Kuil

yang tinggal di dalam Masjid Aqshi,21 namun dia tidak men-

."rrt.rrnk"n tanggal Pastinya. Ibn al-Q-al6nisi mencatat pada 557

HJll57 M. bahwa satu skuadron kaum Frank yang dikirimkan

ke Banyas terdiri dari "tujuh ratus pasukan berkuda paling berani

dari Ordo Hospitaler, Para Petugas inspeksi, dan para }Gatria

Kuil".22 Namun Ibn al-Qalinisi tidak menjelaskan siapa mereka

dan berapa lama mereka berada di Suriah' Tidak adanya ke-

terangan khusus mengenai hal ini bisa jadi menunjukkan suatu

pandangan bahwa pembacanya telah sangat terbiasa melihat go-

io.g", ksatria ini (Ordo Hospitaler misalnya, telah dibentuk di

frrk d", Chevaliers pada 539 H.tll44 M'), atau' sePerti biasanya'

sebagai akibat keengganan kaum muslim untuk mengetahui per-

bedaan-perbedaan di kalangan bangsa Frank penyerbu'

Saladin memperlakukan para BGatria Kuil dan Ordo Hospitaler

khususnya dengan sangat buruk usai pertempuran Hattin pada

583 H.lll87 M.23 Memang, selama Saladin berkuasa, mereka

jauh lebih sering disebutkan di dalam sumber-sumber Islam.

Dalam laporannya tentang pembantaian para tahanan ini ,

Ibn al-Atsir menyatakan: "Mereka dipilih untuk dibunuh hanya

sebab  mereka bertarung lebih ganas dibandingkan dengan semua

kaum Frank [ainnya]." Pada kesempatan yang lain, Ibn al-Atsir

menjuluki mereka sebagai "penghasut" (jumrat) kaum Frank".2a

'Imiduddin, teman dekat Saladin, bertutur dengan sangat

detail tentang bagaimana perayaan berkepanjangan terjadi seusai

kemenangan di Hattin. Di antara berbagai gambaran tentang mayat-

mayat kaum Frank yang terpotong-potong, 'Imiduddin menyatakan:

"'Wa.jah-wajah para lGatria Kuil menatap tajam dan kepala-kepala

mereka ada di bawah tapak-tapak kaki kami."25 Saladin sendiri

berkata tentang Ordo Hospitaler dan para lGatria Kuil:

AI<u akan membersihkan dunia dari dua ras (jins) kotor ini.

sebab  adat mereka tidak berguna, dan mereka pasti tidak akan

berhenti melakukan agresi, dan mereka tidak akan berguna dalam

tahanan. Mereka yaitu  yang paling jahat di antara semua orang

kafir.26

Pada periode Apmbiyah, Ibn \Tishil mengungkapkan pe-

ngetahuan tentang Orde Hospitaler sebagai sebuah golongan yang

berbeda, dengan membahas tentang "Rumah Hospitaler"'7 (bayt

al-isbitili dan "saudari'28 (al-ihhtaab). Sebagaimana dikatakan oleh

Humphreys, pernyataan semacam itu menunjukkan adanya "ke-

majuan dan pengetahuan yang meningkat" tentang kaum Frank

di antara kaum muslim.2e Kedua golongan ini sesekali masih

disebutkan pada periode Mamluk sampai kejatuhan Acre.

PANDANGAN KAUM MUSLIM TENTANG KEPEMIMPINAN

KAUM FRANK

Sumber-sumber sejarah Islam Abad Pertengahan-6ll52n-1,rlit"r,

sejarah serta kamus-kamus biografi-umumnya menampilkan tokoh-

tokoh muslim terkemuka dengan c{a yang sangat klise, seakan-

akan mereka yaitu  pahlawan-pahlawan dalam kisah-kisah imajinasi

dan bukan orang-orang dengan karakteristik tersendiri. sebab 

itu tidak mengherankan bila saat  para pemimpin Tentara Salib

disebutkan secara khusus di dalam sumber-sumber muslim. Mereka

bahkan ditampilkan sebagai tokoh yang sangat dungu' Meskipun

begitu, beberapa di antara mereka dibahas, dan layak untuk

dianalisis secara lebih mendalam.

Para Pemimpin Kaum Frank Tang Dipuji Para Penulis Muslim

Abad Pertengahan

Baldwin si Kecil

Kematian "Baldwin si Kecil, Raja kaum Frank dan penguasa

yerusalem,, dilaporkan oleh Ibn al-Qalinisi pada 526 H./1131-

ll32 M. Laporan itu sangat simpatik dan benar-benar me-

nunjukkan penghormatan atas kemampuan Baldwin:

Dia seorang pria tua yang telah dimakan usia dengan berbagai

kesukaran yang ia hadapi' Dia juga telah mengalami banyak nasib

yang sulit, bencana yang silih berganti' Dia sering kali jatuh ke

tangan kaum muslim sebagai tahanan, baik dalam Perang mauPun

dalam damai, namun dia selalu melepaskan diri dari mereka lewat

muslihatnya yang terkenal dan tipu dayanya' yang dicatat sejarah'

Sepeninggal Baldwin, tidak seorang pun di antara mereka memiliki

kemampuan membuat penilaian dan kemampuan untuk memerin-

tah.3o

Richard si Hati Singa

Pujian hangat banyak dilayangkan Pengarang-Pengarang muslim

kepada Ri.hard si Hati Singa. Pada 587, Ibn al-Atsir menulis:

,,Dia yaitu  orang di zamanny^ yang memiliki keberanian, ke-

cerdasan, kemhanan, dan kesadaran' sebab  dialah kaum muslim

benar-benar diuji dengan bencana yang ddak terduga"'3r

Dengan demikian, Richard digambarkan sebagai musuh yang

tak perlu disangsikan dan musuh yang sepadan untuk orang sePerti

Sal"din. Penghargaan yang sama terhadap Richard iuga ditunjuk-

kan oleh Ibn Syaddid, yang menjelaskan tentangnya sebagai

berikut: "Dia memiliki kemamPuan membuat keputusan' Pe-

ngalaman, keberanian' dan kecerdikan' Kedatangannya menimbul-

k"n ket"k,rtan dan kecemasan di dalam hati kaum muslim'"32

St. Louis

Raja Louis IX dari Prancis (Raidafrans-roi de France),33 St. Louis,

yang digambarkan Ibn \Tishil sebagai "salah seorang pangeran

terbesar Barat" dan 'penganut agama lftisten yang paling taat" ,34

mendapat banyak pujian di dalam sumber-sumber Islam. Ia secara

khusus dipuji atas tindakannya saat  ditahan pada 648 H.ll250-

1251 M. sebab  dia memilih tetap bersama-sama para pasukannya

meski dia bisa kabur.35 Sa'duddin Juwayni dalam fragmen memoar

kesaksiannya, menulis. "Bila orang Prancis itu ll-ouis] berniat

kabur, dia bisa saja melakukannya, namun dia tetap hadir di

tengah pertempuran untuk melindungi para tentarany^."u6

Menurut Juwayni, Louis menolak untuk mengenakan jubah

kehormatan yang ditawarkan kepadanya oleh rqa yang kekuasaan-

nya lebih rendah dan lebih kecil darinya. Dan dia .iuga menolak

menghadiri jamuan yang akan menjadi tempat dia dijadikan bahan

olok-olok.37 Juwayni mengatakan Louis diberkahi dengan "kemam-

puan membuat keputusan, keteguhan, dan agama dalam pe-

ngertian kaum Frank [tentang istilah ini ]; mereka [kaum

Frank] sangat memercayainya, dan dia [memiliki] penampilan fisik

yang bagus."38

Penilaian bagus tentang kaum Frank juga disampaikan Ibn

al-Furit yang menggambarkan Louis sebagai "seorang pria yang

sangat pintar, peka, dan waspada".3e

Ilmuwan Prancis, Anne-Marie Eddd menggambarkan dengan

lengkap bagaimana St. Louis dihadirkan di dalam sumber-sumber

Islam. Dia yaitu  seorang raja sangat kuat dan berani, dengan

keyakinan yang mendalam pada agama lftisten: "Orang Prancis

ini yaitu  pangeran Barat yang paling kuat; semangat agama

menyertainya." Demikianlah, Frederick II dikatakan menjelaskan

tentang St. Louis kepada Sultan al-Shilih untuk memperingat-

kannya tentang kedatangan Perang Salib ketujuh.ao

Frederick II

Para penguasa Sisilia dipuji dan dikagumi para penulis sejarah

muslim.ar Yang terutama di antara mereka yaitu  Frederick II

dari Hohenstaufen, Kaisar Romawi Suci, Raja Yerusalem, seorang

penguasa Tentara Salib yang memesona dan misterius, yang nama-

nya banyak ditulis dan sangat dikenal di dalam sumber-sumber

Islam. Besar di Sisilia, Frederick lI memiliki tampang sangat

kosmopolitan, dan terang-terangan tertarik dengan bahasa Arab

d". Isl"*, sehingga membuat dia dituduh pro-muslim'

Ibn .$fAshil, yang menjadi utusan Mamluk untuk Putra

Frederick, Manfred d""i Si'ilia' dan bangga akan pengetahuan

dan pengalamannya tentang Eropa' memberikan banyak kesan

langsung tentang p",,d"t'g* kaum muslim terhadap Frederick

saat  dia tiba di Acre pada Syawal 625 H'tseptember 1228 M'

Ibn \Wishil menulis sebagai berikut:

Di antara rala'ra1a Frank' sang Kaisar yaitu  yang terkemuka'

Dia mencin,"i kt"'if"t', logika' dan kedokteran' memiliki ke-

cenderungan terhadap ktum muslim' sebab  dia berasal dan dibesar-

kan di tanah Sisilia' Di", 

"y"h"ya' 

dan kakeknya' yaitu  rqa-r{a

Sisilia dan mayoritas penduduk pulau itu yaitu  kaum muslim'42

Ibn lVishil memuji kemampuan intelektual Frederick dan

hubungannya dengan Sultan Ayyubiyah al-Malik al-Kimil' Dia

menceritakan bahwa Frederick mengirimkan soal-soal matematika

kepada al-Malik al-Klmil yang harus mengerahkan seluruh tim

ilmuwan muslim untuk memecahkannya'

Antara keduanya sering terlibat dialog mengenai berbagai topik'

Pada kesempatan itu sang Kaisar mengirimkan soal-soal 

filsafat'

geometri, dan matematik"- y""g rumit kepada al-Malik al-Kimil'

untuk menguji kemampuan orang-orang terpelajar yang dimilikinya

[al-Malik al-KAmil]. Al-Malik al-Kamil menunjukkan soal-soal

matematika yang diterimanya itu kepada Syeikh ['Alam al-Din]

Qaysar ibn Abi'l-Qisim, yang memang menguasainya dengan baik,

dan menunjukkan sisanya kepada sekelompok orang terpelajar dan

mereka menjawab semuanya.l3

Kiranya dari sini kita bisa menduga bahwa Frederick sendiri

mampu menjawab soal-soal sulit yang dikirimkannya. Memang,

al-Maqrizi juga menegaskan kemampuan intelektual sang kaisar

dalam bidang khusus ini: "Raja ini sangat intelekual, sangat

berminat pada ilmu pengetahuan geometri, aritmatika, dan mate-


matika."44 Ibn \(Xshil ,iuga menegaskan bahwa Frederick anehnya

juga tertarik dengan Islam. Ibn al-Furit melaporkan tentang

perselisihan antara Frederick dengan Paus (Innocentius IV) dan

tentang percobaan pembunuhan terhadap Frederick yang diduga

diperintahkan oleh Paus sebab  "sang Kaisar telah meninggalkan

Kristen dan mendukung kaum muslim".a5

Kenyataan bahwa Frederick dibesarkan di Sisilia tentu saja

memengaruhi pandangan kaum muslim terhadap dirinya pada

tingkat peradaban yang lebih tinggi dibandingkan para pemimpin

kaum Frank lainnya. Sumber-sumber muslim sangat banyak mem-

berikan perhatian padanya, sebab  dialah pemimpin kaum Frank

yang sangat dalam menyelami budaya Islam, seorang "Mozarab",

begitulah julukannya, orang yang nyaris sama baiknya dengan

kaum muslim sendiri. Memang, Ibn al-Furit menyatakan bahwa

Frederick disebut-sebut yaitu  seorang "muslim rahasia"'46 Ke-

celakaan geografi (yaitu bahwa ia dibesarkan di Sisilia) membuat-

nya memperoleh beberapa  karakteristik "iklirn' y^ng lebih meng-

untungkan,4T sama halnya dengan generasi kaum Frank "Timur"

kedua dan ketiga yang disebut oleh Usimah "lebih baik' diban-

dingkan dengan kaum Frank yang baru tiba dari Eropa.as

Manfed

Manfred dari Hohenstaufen, putra haram dan penerus Frederick

II, mewarisi banyak sifat ayahnya, termasuk juga kecerdasan

intelektualnya, dan dia tetap melakukan kontak persahabatan

dengan Mesir. Pada Ramadan 659 H./Agustus 126l M., Baybars

mengirimkan Ibn \(Ashil kepada Manfred. Ibn \TXshil menunjuk-

kan minat yang besar pada persoalan-persoalan di Sisilia dan

hubungan antara para Penguasa Sisilia yang aneh dengan Paus:

"Mereka semua [penguasa Sisilia] dibenci oleh Paus, pemimpin

kaum Frank, penguasa Roma, sebab  hubungan istimewa mereka

dengan kaum muslim."4e Ibn \Tishil menuliskan kunjungannya

itu sebagai berikut: "Saya tinggal dengannya [Manfred] dan

diperlakukan dengan hormat. Saya menemuinya beberapa kali'

Saya kira dia memang berbeda. Dia menyenangi ilmu-ilmu rasional,

menghafal sepuluh artikel dari buku Euclides tentang geometri'"5o


Ibn \TAshil terkesan sesudah  Manfred mulai membangun

"rumah pengetahuan" untuk digunakan mempelajari ilmu-ilmu

pasti.tr Barangkali Ibn \Tishil menghubungkan upaya Manfred

ini dengan kisah "Rumah Kebijaksanaan" (Dnr al-Hihmah) yang

didirikan oleh Khalifah Abbasiyah di Baghdad.

Yang menarik di sini yaitu  prestasi luar biasa Manfred serta

ayahnya, menurut Ibn \fishil, kelihatannya secara tidak disadari

memiliki beberapa  hubungan dengan kecenderungan alami mereka

terhadap Islam dan kontak mereka dengan kaum muslim. Di

saat yang sama, dia menyatakan bahwa banyak peserta Pertemuan

Manfred itu yaitu  kaum muslim dan panggilan salat maupun

salat itu sendiri berlangsung secara terang-terangan di iaiaran

pasukan Manfred sendiri.52

Para Pemimpin Kaum Franh yang Oleh Para Penulis Muslim

Diposisihan Netral ataa Tidah Jehs

Bal&tin I

Al-Maqrizi, dalam karya biografinya yang berjilid-jilid, Kittb al'

Muqffi', sebenarnya menyediakan sebuah entri tentang Baldwin,

si Raja Yerusalem. Namun entri itu tidak memuat penilaian

tentang karakter atau prestasi pemimpin kaum Frank yang penting

ini. Obituari tentang Baldwin itu diduga dimasukkan oleh al-

Maqrizi sebab  Baldwin berperang melawan Fatimiyah dan se-

benarnya tewas di wilayah Mesir. Secara khusus, al-Maqrizi men-

ceritakan dua kisah terkenal mengenai prestasi Baldwin. Yang

pertama tentang pertempurannya melawan pasukan Fatimiyah pada

495 H./1101 M. Dalam PertemPuran itu dia mengalami ke-

kalahan besar-besaran. Yang kedua, saat ia melarikan diri ke semak

belukar untuk menyembunyikan dirinya dan kemudian kabur,

meskipun kaum muslim membakar semak-semak ini  sehingga

ia terkena luka bakar. Dengan demikian, Baldwin ditampilkan

sebagai musuh yang mengagumkan. Kemudian, pada 512 H.l

1118 M., Baldwin kembali menyerang Mesir, nalnun dia menemui

ajal saat dalam perjalanan pulang. Isi perutnya, dan kisah Baldwin

tentang isi perutnya itu, tetap hidup dalam kisah rakyat Mesir

lama sesudah  kejadian itu:

Kaum Frank takut mengumumkan kematian Baldwin dan

sebab  itu mereka menutupinya. Mereka membawanya [ke Palestina]

sesudah  mereka merobek perutnya dan mengisinya dengan jerami.

Mereka mengubur isi perutnya di sebuah rawa... Orang-orang biasa

menyebutnya rawa Baldwin dan tempat makamnya ditandai dengan

batu.'3

Bohemond W

Informasi lain mengenai para pemimpin Tentara Salib yang tidak

memuaskan, tidak jelas, dan tampak disampaikan dengan sepintas

lalu-yang memang menjadi ciri khas karya para penulis muslim

Abad Pertengahan-yaitu  dua obituari yang disusun oleh penulis

sejarah al-YCrnini (w. 1326). Karya pertama mengenai Bohemond

M, pangeran Antiokhia dan pangeran Tlipoli. Menurut al-Yfinini,

Bohemond meninggal pada sepuluh hari pertama bulan Ramadan

673 H.lFebruari-Maret 1275 M. dan dimakamkan di dalam gereja

di tipoli. Al-YCrnini melanjutkan: "Dia berwajah menarik dan

penampilannya menyenangkan. Saya sendiri melihatnya di Ba'albak

pada 658 H.ll260 M."54

Barangkali dimasukkannya informasi ini yaitu  sebab  pe-

ngarang benar-benar telah melihat Bohemond secara pribadi, dan

sebab  itu dia bangga menceritakannya. Al-Yirnini pasti telah siap

memberikan komentar yang menyenangkan tentang penampilan

Bohemond. Al-Y0nini kemudian menambahkan bahwa saat 

Sultan Mamluk, Qaliw0n, merebut Tiipoli pada 688 H.11289

M., tulang-tulang Bohemond digali dan disebarkan di jalan-jalan

kota itu.55

Guy II

Al-Ytnini juga menulis obituari Guy II, Penguasa J"b"yl (w. 681

H.ll282 M.). Keterangan yang ia sajikan tidak memberikan

banyak penjelasan tentang kepribadian tokoh ini . Kata-

katanya biasa saja dalam memberikan keterangan, dan sangat

sedikit: "Dia yaitu  salah seorang ksatria terkenal di antara kaum

Frank, yang dicintai sebab  keberanian dan kemurahannya. Dia

yaitu  salah seorang ksatria yang dihormati di tipoli."56

Laporan seperti ini tidak jelas dan tidak hidup. Namun, di

baliknya penjelasannya yang hanya sekilas itu, tidak ada 

ekspresi permusuhan mauPun pu,iian kepada sosok elite dalam

kelompok ksatria musuh itu.

Raymond dzri TiiPoli

Kaum Frank Timur sering kali dicap sebagai pengkhianat oleh

kedua pihak. Salah satu contohnya yaitu  Raymond dari Tiipoli

(w. 1137) yang digambarkan oleh Ibn Syaddid sebagai seorang

yang pandai dan tajam pikirannya.5T Menurut'Imiduddin' Raymond

turut mengungsi pada 580 H./1184-1185 M' bersama dengan

Saladin. Pada kesempatan itu Raymond menawarkan bantuan

kepada Saladin untuk melawan orang-orang seagamanya (millah)

dan menjadi salah seorang pengikut saladin. 'Imxduddin selanjut-

nya menambahkan: "Niatnya yang tulus pada kaum muslim

semakin menguat sampai sedemikian iauh sehingga seakan-akan

dia tidak takut pada rekan-rekan seagamanya bila dia menjadi

seorang muslim."'8

Ib., Jubay. memuji kecakapan Raymond dalam memerintah'

Dia menyatakan bahwa Baldwin IV yang menderita lepra, hidup

dalam pengasingan, sesudah  menyerahkan pengelolaan pemerin-

tahannya kepada Pamannya, Pangeran (Raymond) yang "meng-

awasi semuanya dengan tegas dan berkuasd''5e Ibn Jubayr selan,iut-

nya menceritakan secara ringkas karakter Raymond sebagai berikut:

Yang paling penting di antara kaum Frank terkutuk yaitu 

sang Pangeran terkutuk, penguasa Tiipoli dan Tiberias. Dia memiliki

otoritas dan kedudukan di antara mereka. Dia Punya kualitas

menjadi seorang raja, dan memang dia calon untuk posisi itu. Ia

digambarkan sebagai orang yang pintar dan ahli.60

Ini merupakan suatu pujian yang sangat tinggi untuk seorang

kafir. Namun al-Qidhi al-Fedhil mengutuk habis-habisan Raymond

dalam peristiwa Hattin: "Dia melarikan diri [dari pertemPuran

Hattin] sebab  takut diserang dengan tombak dan pedang. Lalu

Allah mengambilnya dan membunuhnya sesuai dengan janji-Nya

dan mengirimnya kepada kerajaan kematian di neraka."6r

ReynaU dnri Sidon

Reynald dari Sidon, penguasa Syaqif, disebutkan di dalam sumber-

sumber Islam sebagai seorang Tentara Salib yang mau bersusah

payah mempelajari budaya tempat dia tinggal. Pada 585 H.l

1189-1190 M. Abt Syimah menyebutkan bahwa Reynald dari

Sidon menemui Saladin secara pribadi untuk berdamai dengannya

sehingga dia memiliki waktu untuk membangun kembali per-

tahanan bentengnya. Untuk mensukseskan pembangunan benteng-

nya itu, dia kemudian berusaha membuat Saladin dan rombongan-

nya terkesan. Sekalipun kaum muslim sering menemukan motif

tak jujur dari pria ini saat mengunjungi Saladin, Ab0 Syimah

masih memberikan pujian yang tinggi tentang kemampuan Reynald:

Dia termasuk orang besar dan yang paling pintar di antara

kaum Frank. Dia mengetahui bahasa Arab dan dia mempelajari

sejarah dan tradisi. Dia punya seorang muslim yang biasa mem-

bacakan untuknya dan menjelaskan padanya. Dia orang yang sabar.

Ia biasa berdebat dengan kami mengenai kebenaran agamanya dan

kami akan memperdebatkan kesalahannya. Dia baik untuk menjadi

teman, dan cakap dalam berbicara'62

Di sini dia ditampilkan sebagai seorang Frank yang telah

berhasil mahir berbahasa Arab.

Gambar 6.17

Pongeran bersilo, boskom

kuningon hios yong ditondo

tongoni oleh lbn ol-Zoyn,

sekitor tohun 1300, Surioh.

Gambar 6.18

lambong bbro, cermin

Momluk, logom hios, obod

keempot belos, Surioh (?).

Sisi-Sisi Kehidupan ... I 425

Gambar 6.19

StemPel yong dibuot dori

tonoh liot dicomPur Posir

untuk roti, obod kesebelos

hingga ketigo belos, Mesir.

Para Pemimpin Tbntara Salib yang Dicaci

di dahm Sumber-Sumber Ishm

Conrad dari Montfenat

Conrad dari Montferrat, Penguasa T'irus, dikenal sebagai " Marquis"

dan di dalam sumber-sumber Islam secara khusus dikecam dan

dicaci. Pada 583 H./1187-1188 M., Ibn al-Atsir menulis lengkap

tentang keberhasilan Conrad dalam menggerakkan kaum Frank

untuk melawan Saladin: "Dia [conrad] telah memerintah mereka

[rakyat Tirus] dengan baik dan bertindak di luar batas kewajaran

dengan membentengi kota ini . Dia seorang bajingan, yang

cakap dalam pemerintahan dan pertahanan, dan punya keberanian

Iuar biasa."63

Keterangan yang sama juga diberikan oleh Ibn Syaddid, yang

menyebutnya sebagai "orang yang paling berani dan paling kuat

di antara mereka [kaum Frank] dalam Perang dan paling ahli di

antara mereka dalam pemerintahan."6a

Sebaliknya, Ab0 Syimah mengecam keras Conrad, terutama

sekali sebab  dialah yang menyelamatkan Tirus dari serangan

Saladin dan menyebabkan kaum muslim mengalami kekalahan

telak. Dengan retorika yang meledakledak dan sengit dia menulis:

Tirus bertukar [penguasanya] dari Pangeran menjadi marquis,

seperti menukar Iblis dengan Setan .. ' Marquis yaitu  seorang

kafir yang paling lihai dan setan yang paling menggoda, penjahat

paling tamak, penjahat paling keji, serigala-serigala yang paling

buas. Dia perlambang tirani yang lihai. yaitu  untuknya dan orang-

orang sepertinya neraka diciptakan.6s

Reynald dari Chatilhn

Kemarahan dan kebencian yang paling besar jelas sekali ditujukan

kepada penjahat besar dari kelas penguasa Perang Salib, Reynald

dari Chatillon, yang di dalam sumber-sumber berbahasa Arab

dikenal sebagai Arnat. Reynald, penguasa Karak dan al-Shawbak,

sangat terkenal dan memiliki reputasi jelek yang abadi di pandang-

an kaum muslim sebab  tidak memiliki nilai-nilai kesopanan yang

diakui kedua pihak, dan terutama sekali sebab  aktivitasnya di

Laut Merah-di sana dia mengancam Pusat dunia Islam, dua

Kota Suci, yaitu Mekah dan Madinah.


Penulis biografi Saladin, Ibn Syaddid, menggambarkan Reynald

sebagai "orang kafir yang sangat tirani, sangat kuat, dan kejam",66

sementara Ibn al-Atsir, yang biasanya terkendali dalam memberikan

penilaiannya, menjuluki Reynald sebagai "salah seorang iblis dan

pemberontak di antara kaum Frank dan yang paling memusuhi

kaum muslim".67 Salah satu dari dua peristiwa yang dicatat para

penulis sejarah muslim dengan terguncang dan ketakutan yaitu 

saat  Reynald merebut sebuah karavan dari Mesir saar rengah

berlangsung perjanjian perdamaian antara Tentara Salib dan kaum

muslim. Menurut Ibn Syaddid, saat  Reynald menangkapi orang-

orang yang melakukan perjalanan dengan karavan, Ibn SyaddAd

menulis:

"Dia [Reynald] menganiaya, menyiksa mereka, dan memasuk-

kan mereka ke gudang bawah tanah dan sel penjara yang sempir.

Mereka menyebut tentang perjanjian perdamaian kepadanya dan

dia berkata: "Beritahu Muhammad agar membebaskanmu." saat 

hal [berita] itu sampai kepadanya [Saladin], dia bersumpah bila

Allah yang Mahakuasa memberinya kemenangan atasnya [Reynald],

dia akan membunuhnya sendiri.68

Maka dosa-dosa Reynald yang telah melanggar perjanjian

gencatan senjata dan menyiksa para tahanan semakin berlipat

dalam historiografi kaum muslim sebab  dia dianggap telah

menghina Islam dan Nabinya. Apalagi sumpah Saladin kepada

Allah telah mengikat komitmennya untuk kejatuhan dan kematian

Reynald.

Yang lebih keji lagi Reynald berencana untuk mengancam

Kota Suci itu sendiri. Pada 578 H./1182-1183 M. Reynald

membangun sebuah armada di Karak dan membawa kapal-kapal

ini  dalam beberapa kelompok yang terpisah ke pantai Laut

Merah. Di sana kelompok-kelompok itu diatur dengan cepat dan

kemudian dikirimkan.6e Ibn al-Atsir menggambarkan tujuan kam-

panye ini sebagai berikut: "Mereka bertekad memasuki Hijaz, Mekah

dan Madinah, semoga Allah Yang Mahakuasa melindungi mereka,

untuk membawa para peziarah ini  dan mencegah mereka

[memasuki] Thnah Haram dan sesudah  itu menuju ke Yaman."7o

Thk mengherankan bila para sejarawan muslim memberikan

julukan yang paling penuh kebencian pada Reynald. Serangan


bergelombang yang dilancarkan Reynald ke Laut Merah dihalau

muslim di bawah pimpinan Husimuddin Lulu '

Reynald berhasil kabur, namun beberapa  tentaranya tertangkap'

Hukuman terhadap mereka sangat kejam: "HusXmuddin Lulu

mengirimkan beberapa dari mereka ke Mina [di dekat Mekah]

.r.rr.rt dipancung ,.brgri hukuman bagi orang-orang yang telah

mengancam temPat yang disucikan Allah Yang Mahakuasa'"7r

T.t"f,i, Reynald, penyulut aksi yang mengancam temPat suci Islam

ini, terhindar dari hukuman ini '

Kisah termasyhur tentang penangkapan Para petinggi Tentara

Salib oleh Saladin dalam PertemPuran Hattin pada 583 H'lll97

M. sangat terkenal di dalam sumber-sumber Islam' Dalam berbagai

laporan" banyak disebutkan bahwa Saladin dengan sangat jelas

membedakan perlakuan yang biasa dia berikan pada para Penguasa

Tentara Salib yang tertangkap dan hukuman yang diputuskannya

secara pribadi untuk Reynald dari Chatillon' yang telah melanggar

semua perjanjian Penting. Saladin menyuguhkan minuman dingin

kepada raja kaum Frank (yaitu, Guy) yang kemudian mem-

b.rikrnny, kepada Reynald. Ibn al-Atsir melaniutkan laporannya:

Reynald juga minum air dingin yang disuguhkan Saladin' maka

Saladin berkata: "Orang terkutuk ini minum tanpa seizin saya dan

sebab  itu tidak t.,*"'uk dalam perlindungan saya'" Lalu' dia

berbicara kepada Pangeran ini  [Reynald]' mengutuknya atas

dosa-dosanya d". -.t'ytbutkan tindakan-tindakannya yang jahat

Dia sendiri kemudian bangkit ke hadapannya dan mengeksekusi-

nyL7',

sesudah  Saladin membunuh Reynald' tanPa ampun lagi tubuh-

nyadiseretditanahdandikeluarkandaritendaSaladin.Tidak

dir"g,rkrn lagi, ini baru sebuah awal' sebelum kelak dia akan

diselt d.ngrn keadaan terikat menuju api neraka' Laporan AbCr

Syimah -.ng.rr"i peristiwa ini  mengingatkan pada ejekan

Reynald sebelumnya kepada kaum muslim yang ditawannya:

Dia [Saladin] memanggil Pangeran Reynald dan mengingatkan-

nya tentang kata-kata y"ti ptt"'h diucapkannya' [Lalu] dia berkata

p*d".ry", ;Soy, ,,^ng y""g "k"' melakukan pembalasan untuk

Muhammad p^d^-*ul: '-" All"h -t-bawa rohnya dengan cepat ke

api neraka.

Kehormatan telah ditegakkan. Sedangkan Saladin dilaporkan

telah menuliskan sepucuk surat yang dicatat oleh 'ImAduddin:

"Penting untuk diingat bahwa kami telah bersumpah untuk

membunuh pangeran ini , penguasa Karak, seorang peng-

khianat, orang kafir di antara orang-orang kafn."74

Penjeksan Umum tentang Pandangan l{aum Muslint

atas Kepemimpinan Kaum Frank

Bukti-bukti ini tentu saja dengan sangat jelas menunjukkan bahwa

para penulis sejarah muslim Abad Pertengahan tidak tertarik

dengan sumber-sumber motivasi dari perilaku kaum Frank. Bagi

mereka, takdir yang tak terduga--dan kutukan-telah mengirim-

kan orang-orang asing itu kepada mereka, dan sudah tugas mereka

sebagai kaum muslim yang saleh untuk mempertahankan wilayah

Islam dan mengusir mereka. Mereka tidak berminat untuk meng-

gali motivasi keagamaan atau ekonomi y*g dimiliki musuh-musuh

mereka.

Sumber-sumber Islam ini  sering kali menyebutkan bahwa

saat  kaum Frank menunjukkan tanda-tanda ketertarikan pada

Islam, ketertarikan yang sama juga muncul terhadap mereka,

sekalipun kecenderungan-kecenderungan intelektual kaum Frank,

khususnya saat  mengganggu hal atau segi tertentu dalam Islam,

akan menjadi batas dari keingintahuan mereka itu. Sebaliknya,

penghinaan paling keji dijatuhkan pada kaum Frank sebab  dia

berniat menyerang kota-kota Suci ini .

Dengan melihat kembali beberapa  keterangan yang disajikan

di sini, penjelasan yang serampangan atau bahkan terkadang

terkesan menyepelekan tentang para pemimpin Tentara Salib yang

dibuat oleh para penulis Islam tidak bisa dihindari. Pendapat

umum kaum muslim tertentu tentang kaum Frank bisa saja

dipisahkan. Selain sifat-sifat yang muncul langsung dari mereka

sebagai "bangsa barbar" dan "kaum kafir" Eropa barat, kaum

Frank, sebagai sebuah kelompok warga , di mata kaum muslim

memiliki karakteristik tertentu. Mereka sering kali dicap suka

bertengkar dan tidak bisa dipercaya, namun mereka juga kadang-

kadang mampu mengundang rasa hormat kaum muslim. Pada

587 H.lll91-1192 M., Ibn Syaddid menyatakan tentang kaum

Frank "Lihatlah kesabaran (shabr) orang-orang ini dalam meng-


hadapi tugas-tugas yang sulit."75 Keberanian kaum Frank dalam

pertempuran tidak diragukan. Bagi N0ruddin sendiri, ditunjukkan

dengan pernyataan berikut, yang tamPaknya merefleksikan PersePsi

kaum muslim pada umumnya: "Saya telah bertempur hanya

dengan orang-orang yang paling berani, kaum Frank."76 Namun

komentar-komentar sePerti itu hanya sedikit menjelaskan kepada

kita tentang kepribadian kaum Frank atau tentang alasan yang

membawa mereka ke kawasan Mediterania timur. Para penulis

sejarah muslim juga terlalu terpaku pada budaya meraka sendiri

untuk mengembangkan horizon yang lebih luas ini. Tak satu Pun

penulis muslim yang benar-benar tertarik atau cukup mendapat

informasi untuk membuat suatu kesimpulan umum tentang ke-

pemimpinan Tentara Salib sebagai sebuah kelompok. Hanya ada

sedikit bukti bahwa mereka mencari pengetahuan arau informasi

tambahan dari umat trGisten lain tentang hal yang mungkin di

dalam istilah Barat disebut sebagai "fenomena" Tentara Salib'

WANITA-\TANITA KAUM FRANK

Vanita-Vanita Muda l{aum Frank

Tidaklah terlalu mengejutkan bila di dalam warga  yang telah

lama memuja warna kulit yang lebih terang dari budak-budak

wanira Kaukasia, penampilan fisik wanira-wanita Tentara Salib,

yang sangat jarang terlihat di kawasan Mediterania timur sebelum

kedatangan Perang Salib pertama, pasti telah membuat banyak

pria dan wanita muslim berpaling dan menatap mereka di jalanan.

Penyair muslim Ibn al-Qaysarini, yang melarikan diri dari pantai

Suriah sesudah  kedatangan Perang Salib pertama dan yang dengan

sangat memilukan meratapi kehancuran yang disebabkan oleh para

pendatang baru dari Eropa, memuji kecantikan wanita-wanita

kaum Frank yang ditemuinya di Antiokhia pada 540 H.llL4S-

1146 M. Penulis dan penyusun biografi Saladin, 'Imiduddin,

yang mengumpulkan kutipan-kutipan pilihan dari karya penyair-

penyair muslim abad kedua belas, menyatakan bahwa Ibn al-

QaysarAni sangat terpana oleh kecantikan seorang wanita kaum

Frank yang bermata biru. Dan dia selanjutnya mengutip baris-

baris puisi Ibn al-Qaysarini seperti berikut: 77

Seorang wanita kaum Frank telah menawan saya

Hembusan wewangian senantiasa melekat padanya

Di bajunya ada  cabang yang halus

Dan di mahkotanya ada  bulan yang bersinar terang.78

Kita telah melihat kisah di tempat pemandian Usimah tentang

wanita-wanita kaum Frank yang dianggap longgar dalam hal moral

seksual. Pada 585 H./1189-1190 M., AbCr Syimah dengan mengutip

'Imiduddin melanjutkan tema ini: dia menceritakan kedatangan

"tiga ratus wanita kaum Frank yang cantik-cantik dari pulau-

pulau ini " lewat laut. Dalam prosanya yang bersajak dan

berbunga-bunga, Ab0 Syimah'melanjutkan dengan kutukan sangat

keras terhadap kebebasan seksual yang mereka perbuat, dengan

menyatakan bahwa mereka datang untuk menawarkan kesenangan

kepada semua kaum Frank yang menginginkan pelayanan mereka,

dan para pendeta mereka sendiri mengizinkan perilaku ini .Te

Kisah terkenal dan panjang lainnya dari Usimah juga men-

ceritakan tidak adanya rasa cemburu (ghayrah) di kalangan pria

kaum Frank dan kejalangan wanita-wanita kaum Frank. Usimah

menceritakan sebagai berikut:

Kaum Frank tidak memiliki rasa penghargaan dan cemburu.

Bila salah seorang di antara mereka berjalan-jalan bersama dengan

istrinya dan bertemu dengan temannya, pria ini akan menarik

tangan wanita ini  dan membimbingnya ke sisinya untuk

berbincang, sementara suaminya menunggu sampai pembicaraan

selesai. Bila pembicaraannya berlangsung lama, dia akan meninggal-

kan istrinya itu dengan pria ini  dan melanjutkan perjalanannya.

Generalisasi tak jelas seperti ini diberikan kepada kaum Frank

sebagai sebuah kelompok. Namun usimah kemudian melanjutkan

penjelasannya dengan menceritakan suatu kejadian tak senonoh

yang katanya berasal dari pengalamannya sendiri:

saat  saya berada di Nablus, saya tinggal bersama seorang

pria yang bernama Mu'izz yang rumahnya di.iadikan sebagai temPat

penginapan untuk para musafir muslim. Jendelanya menghadap ke

jalan. Di seberang jalan itu tinggal seorang kaum Frank yang

menjual anggur kepada para pedagang.

Usimah, dengan demikian, berhad-hati mengungkapkan tu-

duhan terhadap suami yang istrinya serong dengan dari awal

menyatakan bahwa dia yaitu  seorang penjual anggur'

Suatu hari pria ini  pulang dan menemukan seorang pria

di tempat tidur bersama istrinya' 'hpa yang sedang kamu lakukan

di sini bersama istriku?" tanyanya' "Saya lelah," jawab pria ini '

,,sebab  itu saya masuk untuk beristirahat." "Dan bagaimana kamu

bisa di temPat tidur saya?" "Saya menemukan tempat tidur ini

telah rapi, dan saya berbaring dan tidur." "Dan saya kira wanita

ini tidur bersama'mu?" "Tempat tidur ini," jawab pria itu' "yaitu 

miliknya. Bagaimana mungkin saya mencegah dia datang ke tempat

tidurnya sendiri?" "Saya bersumpah bila kamu melakukannya sekali

lagi, saya akan membawamu ke pengadilan!'i-dan hanya seperti

itulah realsinya, ledakan rasa cemburunya yang paling besar!8o

Ini yaitu  kisah buatan yang disusun dengan cerdas yang

tanpa rasa malu memainkan prasangka para pembaca karya Usimah'

Seperti telah disebutkan, Baybars meneraPkan disiplin yang

ketat, moralitas dan sikap religius ortodoks dalam keraiaannya'

Dia melarang semua kedai minuman dan Perasan anggur' dan

menanam dan mengonsumsi ganja, sekalipun negara ini 

kehilangan banyak penghasilan sebab nya.sr Sementara di Aleksandria

pad^ 6Zt H.tl262 M. dia memerintahkan agar kota itu dibersih-

Lan d"ri wanita kaum Frank yang menjadi pelacur'82 Secara

kebetulan, pada Jumadilakhir 567 H.lEebruai 1269 M. Baybars

432 \ _______________

melarang pelacuran di Kairo dan di seluruh kerajaannya dan

menetapkan para pelacur harus menikah dan dipen.iara.83

Katria-IGatria Wanita l{aum Frank

'ImXduddin menganggap fenomena ksatria-ksatria wanita kaum

Frank cukup menarik untuk dibahas secara panjang lebar:

Di antara kaum Frank ada  laatria-ksatria wanita lfatairis):

Mereka memiliki baju besi dan helm. Mereka mengenakan pakaian

pria dan tampak menonjol di tengah-tengah pertempuran. Mereka

bertindak seperti perilaku orang yang diberkahi kecerdasan [yaitu

pria] meskipun mereka yaitu  wanita.sa

Dalam pertempuran mereka sama sekali tidak bisa dibedakan

dengan pria:

Pada hari pertempuran beberapa orang di antara mereka maju

layaknya ksatria-ksatria [pria]. Di balik kelembutan yang mereka

miliki, ada  kekerasan (qaswah) di dalamnya. Mereka tidak

punya pakaian (hiswah) selain baju besi. Mereka tidak bisa dikenali

[sebagai wanita] sampai mereka dilucuti dan dibaringkan tanpa

pakaian. Banyak di antara mereka dijadikan budak dan dijual.85

'Wanita-wanita kaum Frank semacam itu pasti memiliki ke-

ahlian militer. Ibn al-Atsir menceritakan bahwa saat  Saladin

mengepung Burzay pada 584 H./1188 M. ada "seorang wanita

yang menembaki mereka dari benteng ini  dengan meng-

gunakan mangonel [senjata militer abad pertengahan yang di-

gunakan untuk melemparkan batu ke arah musuh-prny). Wanita

itu juga yang telah merusak mangonel kaum muslim".86

Ibn SyaddAd mencatat kesaksian seorang pria tua yang turut

serta saat kaum muslim mengepung Acre pada 587 H./1191 M.:

Di dalam dinding-dinding mereka ada seorang wanita yang

mengenakan mantel ht1au (milwata). Dia terus menembaki kami

dengan busur kayu, begitu banyak, sehingga kami banyak yang

terluka. Kami menyergap wanita iru dan membunuhnya. Lalu kami

mengambil busur itu dan membawanya kepada Sultan. Sultan

sangat senang menerimanya.8T

'Imiduddin menceritakan sebuah kisah moral pada saat dia

melihat mayat-mayat kaum Frank di medan pertempuran di dekat

Acre pada 586 H.ll190 M.: "Kami melihat seorang wanita

terbunuh sebab  dia menjadi prajurit."88

Vanita-'Wanita Kaum Franh yng BePerg,an Sendirian

sesudah  mengutuk moral 300 pelacur kaum Frank, 'Imiduddin

kemudian membahas model lain wanita-wanita kaum Frank. Pada

tahun yang sama, 585 H./1189-1190 M', 'Imiduddin men-

ceritakan bahwa seorang wanita bangsawan kaum Frank yang kaya

raya riba lewat laut, dengan disertai 500 prajurit berkuda beserta

kuda-kuda dan rombongannya. \vanita itu menyediakan semua

kebutuhan mereka dan membiayai kapal ini . Maksud ke-

datangan wanita bangsawan kaum Frank ini ke kawasan Mediterania

timur tidak disebutkan. Mungkin dia ingin mengikuti suaminya

yang telah datang terlebih dahulu di sana-hanya pejabat kaum

Frank paling tinggi yang mamPu membiayai perjalanan sePerti

itu dari Eropa. Kemungkinan lain, dia yaitu  seorang wanita

ksatria kaum Frank, salah satu golongan yang kemudian di-

ceritakan oleh'Imiduddin.

Dalam konteks Islam, tidak pernah terjadi seorang wanita

bangsawan yang melakukan perjalanan tanPa ditemani oleh kerabat

pria mereka (bandingkan gambar 6'36)' Namun, bagi wanita-

wanita dari kaum Turki nomaden yang mungkin telah lebih

terbiasa dengan gaya hidup mandiri, hal semacam itu kadang

terjadi dan kelihatannya telah biasa mereka lakukan. Ibn Jubayr

m.nyebutkan beberapa contoh wanita sePerti itu' termasuk putri

S,.rltrn Saliuk Konya, Qilij fuslin II,8e yang aktivitasnya oleh Ibn

Jubayr dikatakan "termasuk hubungan-hubungan aneh yang di-

perbincangkan dan didengarkan oleh para pria"'eo

rVanita-Vanita Tua di l{ahngan l{aum Franh

'\W'anita-wanita tua di kalangan kaum Frank disinggung secara

khusus oleh 'Imiduddin. Dalam budaya Islam Abad Pertengahan,

golongan umur seperti itu sering dipandang terhormat dan bijaksana.

Contohnya yaitu  seorang budak wanita tua yang bernama Burayka,

yang diceritakan oleh Usimah, dan khususnya lagr yaitu  nenek

Usimah yang tercinta.erlmiduddin menceritakan tentang beberapa

rekan kaum Frank mereka sebagai berikut: "Mengenai wanita-

wanita tua ('aji'iz), pos-pos militer penuh dengan mereka. Kadang

kadang mereka kasar dan terkadang lembut. Mereka menghasut

dan memanasi [para ksatria ini ]."e2

Usimah menceritakan tentang kisah suatu perayaan kaum

Frank yang lucu dan kejam yang disaksikannya sendiri di Tiberias:

Pasukan-pasukan berkuda keluar untuk berlatih tombak. Di

saat bersamaan, keluar juga dua wanita tua dan jompo. Mereka

menempatkan kedua wanita itu di salah satu sudut arena. Di

ujung lainnya, mereka menaruh seekor babi yang telah mereka

bakar dan diletakkan di atas sebuah batu. Kemudian mereka

menyuruh kedua wanita tua itu berlari di arena dan masing-masing

wanita itu diiringi oleh sepasukan berkuda yang menghela mereka.

Setiap kali melangkah, kedua wanita ini  terjatuh dan bangkit

kembali, sementara para penonton tertawa. Akhirnya salah seorang

lebih unggul dan memenangkan babi ini  sebagai hadiah.e3

Sekali lagi, kisah ini  yaitu  sebuah sindiran. Penggunaan

dua wanita tua dan seekor babi menimbulkan gelak tawa pembaca

dari kalangan kaum muslim.

Perhauinan

Pasukan kaum Frank yang datang dalam rangka Perang Salib dan

tinggal di kawasan Mediterania timur kemungkinan besar telah

melakukan perkawinan, terutama dengan wanita-wanita Kristen

Timur. Namun, banyak juga kaum Frank yang mengawini wanita-

wanita muslim atau menjadikan mereka sebagai gundik. Sayangnya

keterangan tentang hal ini sulit ditemukan di dalam sumber-

sumber karya kaum muslim. Perkawinan antara seorang Tentara

Salib dan Kristen Timur tidak terlalu berguna untuk dituturkan

di dalam sumber-sumber Islam. Namun, sejurnlah kecil keterangan-


ini tidaklah menge.iutkan, mengingat wanita-wanita Tentara Salib

yang darang ke kaw