at blank. Demikianlah, Allah berkehendak
menyambung silaturrahim hamba-hamba-Nya yang terputus oleh
kesibukan yang luar biasa justru melalui sakit.
c . Menjadi pelajaran berharga
Bagi orang yang sakit, keadaan yang dia alami sekarang menjadi
pelajaran berharga betapa sehat itu sangat mahal. Sehat itu juga
sangat indah. Tapi sayangnya kita sering mengabaikan, sehingga
kita seenaknya saja memperlakukan sehat. Begitu juga bagi orang
yang menjenguk orang sakit, pemandangan yang dilihatnya
menimbulkan kesadaran betapa sakit itu tidak menyenangkan. Dia
akan sangat merasa bersyukur sebab Allah melindunginya dari
sakit dan penyakit. Mereka berharap terus dalam keadaan sehat.
Bagi yang sakit ataupun yang menjenguk orang sakit akan timbul
rasa tawadhu’nya di hadapan Allah Azza wa Jalla, Tuhan alam
semesta. Allah dapat berbuat apa saja sekehendak-Nya. Orang
yang segar bugar dalam sekejap bisa dibuat-Nya terbaring di
tempat tidur tanpa daya. Betapa Maha Perkasanya Allah. Tidak
ada satu kekuatan pun yang bisa dan sangggup menghalangi bila
Dia berkehendak membuat hamba-Nya sakit. Tapi orang-orang
yang telah “divonis mati” oleh dokter, bisa Dia sembuhkan sehingga
keadaannya kembali seperti sedia kala.
d . Doa orang sakit mustajabah
Doa orang sakit sangat mustajabah. sebab kondisi spiritual orang
yang sakit berada pada titik kepasrahan yang paling tinggi,
sedangkan kondisi psikologisnya berada pada level paling rendah.
Dia tidak punya harapan kecuali harapan kepada Allah Azza wa
Jalla. Sandarannya yang hakiki hanya pada Allah.
Nabi Muhammad Saw bersabda: “Jika kamu datang menjenguk
orang sakit, maka mintalah dia berdoa untukmu, sebab doanya
seper ti doa malaikat.” (HR. Ibnu Majah dari Umar ra). Doa orang
sakit disamakan dengan doa para malaikat, artinya kemungkinan
dikabulkan Allah sangat besar. Tentu kita mafhum, bahwa malaikat
yaitu makhluk Allah yang sangat patuh dan tidak pernah berbuat
durhaka kepada Allah, maka wajar saja kalau mereka berdoa
langsung Allah kabulkan. Begitu juga orang yang sedang sakit, dia
benar-benar memposisikan diri serendah-rendahnya di hadapan
Allah Azza wa Jalla. Doa yang diajarkan Nabi Muhammad Saw
dipanjatkan oleh orang sakit yaitu : “Ya Allah, sembuhkanlah
badanku, Ya Allah, sembuhkanlah pendengaranku, Ya Allah,
sembuhkanlah penglihatanku. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu
dari kekafiran dan kefakiran. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu
dari siksa kubur, tiada Tuhan selain Engkau.” (HR. Abu Daud).
e . Orang yang sakit dekat dengan Allah
Pada saat sakit, ego kita terkalahkan oleh rasa tak berdaya di
hadapan Kemahakuasaan Allah. Allah begitu dekat dengan kita dan
kitapun merasa dekat dengan Allah. Padahal Allah memang sangat
dekat kita, bahkan lebih dekat daripada urat leher kita sendiri.
“Dan Aku lebih dekat daripada urat lehernya” (QS. Qaf {50}: 16).
Rasa dekat dengan Allah ini jarang timbul saat kita sedang dalam
keadaan sehat. Kita merasa sebagai pemilik tunggal tubuh kita
yang secara otomatis memiliki hak penuh untuk meng-
gunakannya. Kita lupa kalau pemilik tubuh - dan bahkan hidup -
kita yang sebenarnya yaitu Allah Azza wa Jalla. Tubuh kita tunduk
dan patuh pada hukum “alam” yang telah ditetapkan Allah.
Kesadaran bahwa Allah-lah sebenarnya Pemilik tubuh kita biasanya
muncul saat kita terbaring sakit. Saat inilah kita “mendekat” kepada
Allah. Kita pasrah. Kepasarahan itulah yang membuat kita merasa
Allah itu begitu dekat.
f. Menghapuskan dosa-dosa
Dalam aktivitas keseharian kita, apa saja bisa jadi sumber
kemaksiatan yang berpotensi mendatangkan dosa. Hal itu sudah
disinyalisasi oleh Rasululllah Saw: “Tiada suatu gerakan urat nadi
maupun mata seseorang, melainkan memungkinkan untuk
menimbulkan dosa….” (Al-Hadits).
Bahkan dalam hadits lain Rasulullah Saw menyatakan bahwa
penyakit yang menimpa kaum Muslimin bisa menanggalkan
kejahatan-kejahatannya sebagaimana pohon menanggalkan
daunnya. Allah juga menghapuskan dosa-dosa si Muslim melalui
penyakit yang dideritanya. Dan seorang Muslim pastilah lebih memilih
siksa dunia lewat penyakit ketimbang siksa akhirat yang tidak
terbayangkan oleh imajinasi pedih dan dahsyatnya.
Adab Menjenguk Orang Sakit
Islam mengatur sedemikian rupa segala aspek kehidupan manusia,
sehingga hampir tidak ada sudut kehidupan ini yang ditinggalkannya.
Misalnya dalam masalah penyakit dan orang sakit. Ternyata sakit yang
oleh sebagian orang dianggap sebagai musibah, bisa saja sebenarnya
merupakan rahmat Allah. Hanya saja “bungkus luarnya” tampak tidak
menyenangkan. Hadits Rasulullah Saw menjelaskan hal itu:
“Sesungguhnya ada orang yang mendapat kedudukan di sisi Allah, akan
tetapi tidak ada satu amal pun darinya yang bisa mengantarkannya
untuk mencapai kedudukan itu. Oleh sebab itu, Allah Ta’ala mencobanya
dengan suatu hal yang tidak dia sukai, sehingga dengan hal itu dia
mendapatkan kedudukan tersebut.” (HR. Ibnu Hibban).
Sama seperti pil atau jamu yang pahit. Sungguh tidak enak di mulut,
tapi dia bisa menyehatkan badan. Begitu juga musibah atau sakit. Sakit
memang tidak menyenangkan, tapi siapa yang tahu kalau sebenarnya
Allah sedang mengangkat derajat kita?
Dalam menjenguk orang sakit, Islam juga memberikan tuntunan.
Di antaranya yaitu :
1. Berdoa bagi keselamatan diri
Sebelum menjenguk orang sakit, sebaiknya kita berdoa lebih dahulu,
memohon perlindungan dari segala macam penyakit atau dari
kemungkinan tertular penyakit. Doa ini seolah-olah menjadi upaya
preventif yang paling awal. Bahkan Rasulullah Saw mengajarkan
kita doa: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari penyakit celup,
penyakit gila, penyakit kusta, dan penyakit-penyakit buruk lainnya.”
Doa ini baik dibaca kapan saja, lebih baik lagi dibaca saat akan
menjenguk orang sakit agar kita terlindung dari kemungkinan
tertular penyakit orang yang akan kita kunjungi, kalau penyakitnya
menular.
2. Mendoakan si sakit
Di samping berdoa mohon perlindungan bagi diri sendiri, kita juga
dianjurkan mendoakan orang sakit yang kita kunjungi agar lekas
sembuh. Doa yang diajarkan oleh Rasulullah Saw yaitu : “Ya Allah,
Tuhan segala manusia, jauhkanlah kesukaran (penyakit) itu dan
sembuhkanlah dia, Engkaulah yang menyembuhkan, tidak ada obat
selain obat-Mu, obat yang tidak meninggalkan sakit lagi. Hilangkah
penyakit itu, wahai Tuhan Pengurus manusia.” Doa yang kita
panjatkan bagi saudara kita yang sedang terbaring sakit diharapkan
menguatkan jiwanya sehingga dia tabah menghadapi cobaan yang
sedang menimpanya.
3. Menyentuh bagian yang sakit
Rasulullah Saw. menganjurkan agar kita menyentuh, dengan lembut
dan penuh kasih sayang, bagian tubuh yang sakit dari orang sakit
yang kita kunjungi. Tentu saja sepanjang bagian tubuh yang sakit
itu boleh atau bisa disentuh. Ini dimaksudkan agar si sakit merasa
diperhatikan, sehingga dadanya menjadi lapang. Harapannya
tumbuh dan daya sugestinya untuk sembuh meningkat. Si sakit
disentuh sambil mengucapkan doa: “Dengan nama Allah Yang Maha
Pengasih lagi Maha Penyayang. Aku berlindung dengan Keperkasaan
Allah dan Kekuasaan-Nya dari kejahatan apa yang kuperoleh dan
yang kutakuti,” (HR. Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’i).
4. Menghibur dan memberi motivasi
Orang yang terbaring sakit, tak ubahnya seperti bayi yang tidak
berdaya. Dalam film The God Father, digambarkan Michael Corleon
(diperankan dengan baik oleh Alpacino) yang begitu berkuasa, ganas
dan sangat ditakuti, teronggok seperti selimut basah saat sakit.
Ini hanya gambaran saja, bahwa betapapun berkuasanya seseorang,
saat penyakit menyerang tubuhnya, dia tidak berdaya. Dalam
keadaan sakit biasanya jiwa menjadi rapuh. Fantasi-fantasi buruk
menghantui dan berlintasan di dalam benak. Takut tidak akan
sembuh, cacat seumur hidup, biaya besar yang harus dikeluarkan,
hingga tibanya malaikat maut yang siap mencabut nyawa,
membayang di pelupuk mata. Maka menghibur dan memberikan
motivasi kepada orang yang sedang sakit menjadi kebutuhan sangat
penting, sebagai bagian dari upaya penyembuhan. Hiburan dan
motivasi yang paling berarti yaitu yang mengarahkan si pasien
mendekat kepada Sang Khaliq. Agar dia menyadari bahwa Allah
sekarang sedang mencurahkan rahmat dan kasih sayang-Nya, dan
Dia ingin hamba-Nya mendekat kepada-Nya. Jadi, sakit bukanlah
sebuah kehinaan, tapi boleh jadi anugerah besar yang
mengembalikan seorang hamba pada fitrah kehambaannya.
5. Tidak membicarakan penyakit kepada si sakit
Kebanyakan orang, bahkan mungkin kita sendiri, setiap menjenguk
kerabat atau teman yang sakit bertanya: “Sakit apa? Bagian mana
yang sakit?” Kadang kita malah “menjelaskan” dan menganalisis
penyakit orang yang kita jenguk dengan fasihnya, lebih fasih daripada
dokter sendiri. “Memang sih penyakit anda sampai sekarang belum
ada obatnya…, tapi sabar aja deh. Kita kan tetap ikhtiar. Hasilnya
kita serahkan kepada Allah. Walaupun sebenarnya banyak orang
yang akhirnya lewat. Nggak bisa tertolong…. Sabar aja ya, mudah-
mudahan aja ada mukjizat.” Selintas kalimat-kalimat itu terlihat
wajar dan tidak ada yang salah. Tapi cobalah anda perhatikan raut
wajah orang sakit yang kita jenguk, saat dia mendengar anda
mengucapkan kalimat itu. Sesungguhnya tanpa kita sadari, secara
tidak langsung anda telah memberikan sugesti negatif kepada si
pasien. Bahwa dia memang sakit. Percuma saja kita memintanya
bersabar sementara kita membuat hatinya kecil dan jiwanya
semakin rapuh. Sebaiknya saat menjenguk orang sakit, kita
mengajaknya bicara soal penyakit sekedarnya saja, kemudian carilah
topik lain yang lebih menarik dan menggembirakan hati si pasien.
Atau kalau ingin bertanya soal penyakit pasien, bertanyalah pada
keluarga atau kerabat yang menjaganya.
6. Membantu meringankan biaya
Penyakit datang menimpa siapa saja. Tidak peduli orang kaya atau
orang miskin. Jika yang sakit orang berpunya, mungkin dari segi
biaya tidak menjadi masalah. Cerita menjadi lain jika yang sakit
yaitu orang yang hidupnya pas-pasan, bahkan mungkin serba
kekurangan. Apalagi kalau harus di rawat di rumah sakit. Terbaring
di rumah sakit bisa semakin memperparah penderitaannya. Yang
diingat bukan bagaimana dia bisa segera sembuh, tapi berapa
besar tagihan yang akan disodorkan kasir kepadanya. Bayangan
tingginya “rekening” tagihan rumah sakit membuat pasien tidak
tenang. Hal ini lazim terjadi di tengah masyarakat kita. Sekarang
kita bayangkan, seandainya itu terjadi pada diri kita. Tergolek di
bangsal rumah sakit tanpa persediaan uang. Berhutang tidak
mungkin lagi, sebab pinjaman menumpuk, ada di sana-sini. Sedang
di rumah tidak ada sesuatu yang berharga yang bisa dijual. Pastilah
uluran tangan dermawan yang menjadi pengharapan terakhir,
selain uluran “Tangan” Allah, tentunya. Kita bersyukur hidup di
tengah masyarakat yang masih menjunjung tinggi kekerabatan,
terutama di daerah-daerah pinggiran. Seseorang yang terbaring
di rumah sakit, seakan tidak pernah kehabisan pembesuk. Ada
saja yang datang, kadang membawa buah tangan berupa buah-
buahan, kue, masakan lezat, dan lain sebagainya. Sayangnya
kadang si pasien tidak bisa menikmati semua buah tangan itu,
sebab dia biasanya tidak enak makan. Nah, yang paling tepat
dijadikan buah tangan saat menjenguk orang sakit - apalagi orang
miskin - yaitu uang. sebab selain biaya rumah sakit, juga banyak
biaya lain yang dibutuhkan. Misalnya untuk membeli sesuatu yang
tidak tersedia di rumah sakit, biaya transpor tasi penunggu dan
lain sebagainya.
Kisah Hikmah
Bu Yani sangat sedih, sebab suami yang menjadi tulang punggung
keluarganya sedang tergolek tak berdaya di rumah sakit. Bu Yani ingin
Suaminya segera sembuh, dan kembali beraktivitas dan mencari nafkah
seperti biasa. Di samping itu, dia khawatir kalau Suaminya terlalu lama
dirawat di rumah sakit, maka biaya pengobatannya sangat besar.
Suatu hari, seorang kerabatnya yang psikolog dan motivator
menjenguk Suaminya. Kepadanya Bu Yani meminta saran, bagaimana
caranya agar Suaminya cepat sembuh. Oleh kerabatnya disarankan
agar Bu Yani menahan di luar dahulu setiap orang yang mau menjenguk
Suaminya. Para penjenguk itu kemudian di-briefing. Mereka diminta
tidak ber tanya soal penyakit Suaminya, melainkan bicara soal lain.
Misalnya soal cucu, atau cerita-cerita lucu dan menyenangkan lainnya.
Saran kerabatnya itu dijalankan oleh Bu Yani. Semua penjenguk
Suaminya selalu membawa cerita dan kisah yang menarik dan membuat
Suami tertawa. Ada yang cerita soal hobi, atau bernostalgia waktu muda
dahulu, soal burung piaraan dan sebagainya. Hasilnya luar biasa….
Prediksi dokter, Suami Bu Yani dirawat kurang lebih 2 pekan. Tapi kurang
dari sepekan ternyata Suami Bu Yani sudah diperbolehkan pulang.
Rupanya kegembiraan yang dibawa oleh para penjenguk menulari
si pasien sehingga hatinya menjadi gembira. Tawa riang membuat dia
lupa pada penyakitnya. Tiba-tiba harapan untuk sembuh tumbuh dan
menggelora di dadanya. Dia jalankan semua instruksi dokter dengan
riang. Bukan sebagai orang yang sedang sakit, tapi sebagai orang yang
sudah siap sehat! Begitulah pikiran dan perasaan sangat memegang
peranan dalam proses penyembuhan.
Tidak ada sama sekali yang menimpa urat seorang Mukmin kecuali
Allah hapus untuknya dengan cobaan itu kesalahannya
dan Allah tetapkan baginya kebaikan dan Allah angkat derajatnya
(HR. At-Thabrani).
Ikhtiar Dalam Pandangan Islam
Ikhtiar atau berusaha yaitu upaya untuk menuju ke satu keadaan
yang baik atau lebih baik dari keadaan sebelumnya. Ikhtiar juga berarti
usaha maksimal seorang hamba keluar dari takdir Allah yang satu menuju
ke takdir Allah yang lain agar bisa hidup lebih baik. Sesungguhnya tabiat
asli manusia yaitu bergerak. Dia tidak mungkin diam saja di satu
tempat tanpa melakukan aktivitas. Gerak yaitu bagian dari ikhtiar
manusia agar tidak stagnan. Bisa dibayangkan kalau hidup tanda gerak,
tentu akan sangat membosankan. Struktur tubuh manusia pun memang
didesain oleh Allah untuk memudahkan mereka bergerak. Lihat saja
tulang-tulang kita yang memiliki sendi. Bagi umat Islam, ikhtiar wajib
hukumnya. “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum
sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka
sendiri.” (QS. Ar-Ra’d {13}: 11).
Ya, memang… keadaan kita tidak mungkin berubah kalau kita
sendiri tidak mau mengubahnya. Orang mukmin yang sedang sakit akan
terus dalam kondisi sakit bila dia tidak berusaha mencari penyembuhnya
lewat ikhtiar berobat. Padahal berobat itu tidak bertentangan dengan
tawakal. Penger tian tawakal yang paling sederhana yaitu
bersandarnya hati kepada Allah, sesudah semua upaya dilakukan.
Membiarkan penyakit bersarang di tubuh berarti mengingkari hakekat
tawakal dan menjadikan kelemahan sebagai alasan ber tawakal.
Rasulullah Saw bersabda: “Obat, bacaan doa, dan ketakwaan yaitu
sebagian dari takdir Allah. Tidak ada sesuatu yang keluar dari kekuasaan
Allah, akan tetapi takdir itu ditolak dengan takdir-Nya (pula).” Dalam
hadits lain, beliau juga bersabda: “Setiap penyakit ada obatnya. Jika
ada obat yang cocok untuk suatu penyakit, maka atas ijin Allah penyakit
itu akan sembuh”. Atau, “Allah tidak menurunkan suatu penyakit
melainkan Dia juga menurunkan penyembuhnya (obatnya).”
Dua hadits di atas bisa menjadi motivasi bagi orang yang sakit
maupun bagi dokter yang akan membantu menangani orang sakit. Jadi,
wajarlah bila Nabi Muhammad Saw mengacungi jempol dan memuji
akhlak orang-orang beriman, sebab memang akhlak mereka sangat
mulia. Mereka selalu bersabar dan senantiasa bersyukur.
Ikhtiar yaitu Bagian
Dari Usaha Memilih Takdir Allah
Di atas telah dikatakan bahwa ikhtiar yaitu bagian dari usaha memilih
takdir Allah. Di hadapan kita terhampar pilihan-pilihan, tinggal kita yang
memilih mana pilihan yang paling baik buat kita. Tentu saja yang
menggerakkan hati kita untuk memilih yaitu Allah, kalau pilihan itu
baik. Kalau pilihan itu buruk maka nafsu kita yang dominan menguasai
hati kita.
Memang sulit sekali menjelaskan takdir dalam uraian yang singkat
dan sederhana. Tapi ilustrasi berikut ini mungkin bisa sedikit membantu
menjelaskan…. Suatu hari, Khalifah Umar bin Khathab ra. pergi
mengunjungi satu daerah. Sebagaimana yang kita baca dalam buku-
buku sejarah, Khalifah Umar bin Khathab ra. yaitu kepala negara yang
rajin turba, turun ke bawah menemui rakyatnya. Itu beliau lakukan bukan
dalam rangka tebar pesona atau ingin mendapat simpati rakyat sebab
ada agenda politik jangka pendek, seperti yang selama ini dilakukan
oleh para “pemimpin” di negeri kita. Melainkan sebab rasa tanggung
jawabnya yang demikian besar terhadap amanah yang dibebankan di
pundaknya. Oleh sebab nya, hampir setiap malam beliau keliling kota,
memeriksa kalau-kalau ada rakyatnya butuh bantuan.
Sebelum Khalifah Umar bin Khathab ra. dan staf-stafnya sampai ke
daerah yang menjadi tujuan per jalanan dinasnya, seseorang
melaporkan bahwa daerah yang akan dikunjunginya itu sedang dijangkiti
wabah penyakit menular. Maka Khalifah Umar bin Khathab ra. segera
memutar untanya, berbalik ke arah lain. Melihat itu, salah seorang stafnya
ber tanya: “Wahai Amirul Mukminin, mengapa anda melarikan diri dari
takdir Allah?” Mendengar per tanyaan cerdas itu, Khalifah Umar bin
Khathab ra. tersenyum lalu menjawab, “Ya, aku melarikan diri dari takdir
Allah yang satu menuju ke takdir Allah yang lain.”
Begitulah…. Khalifah Umar bin Khathab ra. berusaha keluar dari
takdir buruk yang mungkin saja menimpa beliau sekiranya beliau
meneruskan perjalanan ke daerah yang sedang diserang wabah penyakit
menular. Beliau menghindari takdir buruk menuju takdir yang baik. Ini
ar tinya Khalifah Umar bin Khathab ra. berikhtiar agar tidak ter tular
penyakit yang sedang berjangkit.
Bisa saja orang yang sedang sakit ditakdirkan oleh Allah akan
berujung pada kematian. Tapi siapa tahu Allah juga “menawarkan” takdir
yang lain berupa kesembuhan kalau si sakit berikhtiar dengan sungguh-
sungguh mengobati penyakitnya. Kita memiliki kehendak, Allah juga
memiliki kehendak dan yang terjadi yaitu kehendak Allah. Tapi
kenyataan ini tidak menggugurkan kewajiban kita berikhtiar, sebab kita
tidak tahu berapa banyak pilihan takdir yang Allah sediakan bagi kita.
Kalau akhirnya, sesudah habis-habisan berusaha, penyakit seseorang
tidak sembuh juga dan bahkan dia meninggalkan dunia, maka sikap
yang paling elok yaitu menerima keputusan Allah itu dengan lapang
dada. sebab itulah memang yang paling baik bagi si sakit dan
keluarganya.
Ikhtiar yaitu Bagian Dari Keharusan Berusaha
Dalam Al-Qur’an, Allah telah menegaskan, bahwa Dia tidak akan
mengubah keadaan suatu masyarakat kalau masyarakat itu tidak mau
mengubahnya sendiri. Ini juga berlaku bagi individu. Nasib seseorang
juga tidak akan berubah bila dia tidak mau mengubahnya sendiri. Di
sisi lain, Allah memang sangat berkuasa atas segala sesuatu. Di sisi
lainnya, manusia tetap diwajibkan berusaha atau berikhtiar mengubah
nasibnya ke arah yang lebih baik. Secara sepintas, ini tampaknya sangat
kontradiktif. Tapi kalau kita mau berpikir jernih, maka akan terasa betapa
Maha Besarnya Allah. Allah memuliakan manusia justru dengan usaha
manusia itu sendiri. Ini artinya manusia tidak dibiarkan manja, dibuai
oleh fasilitas hidup yang telah Allah anugerahkan.
Misalnya, Allah telah menganugerahkan bahan dasar untuk bahan
bakar di dalam perut bumi, manusia mengambilnya, mengolah dan
menjadikannya bahan bakar berupa minyak tanah, solar, bensin, avtur,
gas, dan sebagainya. Semua bahan bakar itu digunakan oleh manusia
untuk mempermudah aktivitasnya, membantu ser ta meringankan
pekerjaannya dan sebagainya. Bahan dasar untuk bahan bakar itu akan
terus mengendap di dalam perut bumi kalau manusia tidak
mengeksplorasi dan memanfaatkannya untuk kepentingan hidupnya.
Mengeluarkan bahan dasar untuk bahan bakar dari perut bumi itulah
ikhtiar manusia. Kemudian mengolah dan memanfaatkannya juga bagian
dari ikhtiar.
Begitu juga kalau seseorang menderita suatu penyakit yang parah.
Dia akan terus dalam kondisi seperti itu selama dia tidak mau mengubah
keadaannya. Dia sesungguhnya sedang berhadapan dengan takdir sakit,
takdir sembuh kalau berobat, takdir sehat kalau sudah sembuh nanti,
dan takdir mati kalau tidak berbuat apa-apa bagi penyakitnya. Atau
mungkin juga ada takdir Allah lainnya, yang hanya Allah sendiri yang
tahu. Tinggal dia, mau memilih atau tidak. Kalau dia memilih berobat
dan pilihannya itu ternyata tepat ser ta Allah ridha, maka dia akan
sembuh. Kalau pilihannya tidak tepat, maka dia harus berusaha lagi
dan tidak boleh putus asa. Berobat itu yaitu bagian dari keharusan
berikhtiar.
Sekali lagi, Kemahakuasaan Allah Azza wa Jalla tidak serta merta
menghapuskan atau menghilangkan kewajiban kita berikhtiar. sebab
ikhtiar yaitu sunnatullah. Kalau anda lapar, maka ikhtiar yang masuk
akal yaitu mencari makanan yang bisa dimakan. Kalau anda
mengantuk, maka ikhtiar yang tepat yaitu tidur. Begitu seterusnya.
Ikhtiar yaitu Bentuk Syukur
Untuk Memaksimalkan Potensi dan Kemampuan
Ummul Mukminin Aisyah ra., pernah sangat sedih melihat Rasulullah
Saw, Suaminya, yang kakinya pecah-pecah dan bengkak sebab terlalu
lama berdiri dalam shalat sunnah di rumah mereka yang sederhana.
sebab tak tahan menanggung sedih, suatu hari beliau bertanya: “Wahai
Rasulullah, Tuan telah dijamin masuk surga oleh Allah Azza wa Jalla,
tapi mengapa Tuan masih juga beribadah seper ti itu, sehingga kaki
Tuan bengkak-bengkak?” Rasulullah Saw tersenyum maklum. Beliau
menatap Bunda Aisyah ra. dengan penuh kasih sayang, lalu dengan
sabar beliau bersabda: “Ya Khumaira, tidak bolehkah aku menjadi
hamba yang pandai bersyukur atas apa-apa yang telah Allah
anugerahkan kepadaku?”
Jadi, ibadah Rasulullah Saw yang luar biasa itu semata-mata dalam
rangka mensyukuri nikmat yang telah Allah anugerahkan kepada beliau.
Rasulullah Saw berusaha memaksimalkan rasa syukurnya kepada Allah
dengan beribadah sedemikian rupa. Hasilnya yaitu , potensi ruhani
Rasulullah Saw semakin melangit, membuncah-buncah sehingga
membuat penduduk langit rindu ingin segera bertemu beliau. Dan beliau
juga rindu ingin bertemu mereka.
Orang yang berikhtiar untuk kebaikan dan perbaikan hidupnya,
sesungguhnya yaitu orang yang sedang mensyukuri nikmat Allah. Dia
bersyukur sebab diberi kesempatan untuk berubah, memperbaiki segala
kekurangan yang ada pada dirinya. Dengan begitu, dia bisa
memaksimalkan seluruh potensi baik dan kemampuannya.
Jika anda tergolek di ranjang sebab suatu penyakit, tapi anda
tidak putus harapan dan terus berikhtiar untuk sembuh dengan berobat
kepada ahlinya, maka itulah bentuk rasa syukur anda. Anda terus
berusaha dengan mengerahkan segenap kemampuan dan daya agar
bisa sembuh dari penyakit yang anda derita, maka usaha itu yaitu
bentuk syukur anda yang paling nyata. Bersyukur kepada Allah tidaklah
cukup hanya dengan menyebut-nyebut, “Alhamdulillah…” berulang-
ulang. Dia harus aplikatif. Bentuk syukur seorang dokter yaitu saat
dia berikhtiar menolong atau membantu menyembuhkan pasien. Bentuk
syukur pasien yaitu berobat agar bisa sembuh tanpa putus asa.
Seringkali seseorang yang sakit “menemukan” potensi-potensi yang
dahsyat dari dirinya yang selama ini tidak diketahuinya justru saat dia
berusaha sembuh. Itulah sebabnya Rasulullah Saw memerintahkan agar
para sahabat beliau berobat saat sakit. Tidak membiarkan penyakit
lama-lama bersarang di dalam tubuh, sebagaimana yang beliau
contohkan. )Khumaira ar tinya wanita yang pipinya merah merona. Itu
yaitu panggilan sayang Rasulullah Saw kepada Bunda Aisyah ra.).
Ikhtiar yaitu
Pengakuan Akan Kelemahan Makhluk
Manusia yaitu makhluk atau ciptaan Allah. Dalam dirinya ada
banyak kelemahan, walaupun dia yaitu makhluk yang paling sempurna
dibanding makhluk Allah yang lain. Di mata Allah, manusia tiada artinya.
Dia baru memiliki nilai kalau telah memakai seluruh potensi
ruhiyah dan insaniyahnya untuk berbuat kebajikan dan mencari
kebenaran. Dan kebenaran mutlak hanya milik Allah. Kendati demikian
manusia tetaplah makhluk yang dhaif di hadapan Allah.
Tanda kelemahan manusia sangat terasa saat dia sedang sakit.
Tidak ada yang bisa dilakukannya kecuali berusaha, berikhtiar
menyembuhkan dirinya dari penyakit. saat seseorang berikhtiar,
sesungguhnya dia telah mengakui bahwa dirinya lemah. Hanya Allah
Yang Maha Perkasa, Pemilik Kerajaan langit dan bumi. “… dan manusia
dijadikan bersifat lemah.” (An-Nisaa’ {4}: 28).
Dia lemah, makanya dia perlu berikhtiar, agar lepas dari beban
penyakit. Hanya orang sombong saja yang merasa dirinya kuat di
hadapan Allah. Bukan berarti kita tidak boleh menimbulkan sugesti dalam
diri kita. Boleh saja. Tapi sugesti itu juga harus berlandaskan akal sehat
dan memper timbangkan kenyataan. Bukan asal sugesti, sekedar
memberi semangat kepada diri sendiri supaya cepat sembuh. Padahal
itu sugesti palsu yang hanya pura-pura.
Ikhtiar yaitu
Bagian Dari Tawakal Kepada Allah
Sekali lagi tawakal pada hakekatnya yaitu penyerahan segala hasil
usaha manusia kepada Allah. Seseorang yang sakit sangat tercela kalau
dia tidak melakukan apa-apa dengan alasan tawakal kepada Allah.
Padahal tawakal harus didahului oleh upaya-upaya maksimal. Mungkin
anda masih ingat kisah berikut ini:
Suatu hari, saat Rasulullah Saw sedang mengajar di Masjid Nabawi,
masuk seorang badui dengan agak tergesa. Melihat orang itu, Rasulullah
Saw bertanya: “Apakah sudah kau ikat untamu, wahai Saudaraku?” “Saya
bertawakal kepada Allah, ya Rasul….” Jawab si badui. Rasulullah Saw
tersenyum mendengar keluguan orang itu. Beliau lalu bersabda: “Ikat
dulu untamu, Saudaraku…, baru sesudah itu kau tawakal kepada Allah!”
Tawakal yang tidak didahului oleh upaya maksimal sesungguhnya
belum bisa disebut tawakal. Itu tawakal yang pura-pura. Kelemahan
yang dibungkus dengan kepasrahan. Tawakal merupakan salah satu
sebab yang bisa mendatangkan keberhasilan bagi mereka yang mencari
penyembuhan saat sakit. Jadi, per tama-tama kesembuhannya harus
dicari, atau diupayakan. Bersamaan dengan itu, dia harus yakin bahwa
Allah bersama dia. Allah akan memberikan yang terbaik kepadanya.
Keyakinan ini sangat diperlukan, untuk sampai pada tawakal yang
sebenarnya.
Apalagi di jaman seper ti sekarang ini, sarana-sarana yang
memungkinkan orang yang sakit mendapatkan kesembuhan dari
penyakitnya, begitu banyak tersedia (ini di luar pembicaraan mahalnya
biaya berobat). Di samping itu, orang yang sakit juga berkewajiban
mencari cara penyembuhan yang mudah dan bermanfaat bagi
ketenangan jiwanya serta memunculkan daya sugesti yang kuat, misalnya
dengan berdoa, berzikir, shalat, mengeluarkan sedekah, dan sebagainya.
Upaya yang belakangan ini bisa dilakukan secara berbarengan dengan
upaya-upaya medis. “Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu
bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS. Al-Maaidah
{5}: 23).
Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum,
sampai kaum itu sendiri yang mengubahnya.
(QS. Ar-Ra’d {13}: 11).
Kisah Hikmah
Bumi bagaikan runtuh saat Darso menerima vonis dokter bahwa dia
menderita kanker hati stadium 4. Bukan itu saja, dokter juga memprediksi
berapa lama “usia” Darso. Dokter menganjurkan agar dia dioperasi,
walaupun itu hanya menghambat saja, bukan menyembuhkan atau
menghilangkan kankernya. Tapi biaya operasi terlalu besar, belum lagi
perawatan pasca operasi, sedangkan dia hanya karyawan biasa dengan
gaji yang tidak terlalu besar.
Kendati begitu, Darso tidak putus harapan. Dia yakin akan ada
jalan keluar yang terbaik asalkan dia mau mendekatkan diri kepada
Allah. Bukankah setiap Allah menurunkan penyakit selalu diser tai
obatnya? Berbekal keyakinan itulah Darso menghabiskan malam dengan
shalat Tahajjud dan tidak pernah melupakan shalat Dhuha serta puasa
sunnah Senin-Kamis…. Setiap hari diisinya dengan keceriaan dan selalu
yakin Allah akan memberinya yang terbaik.
Suatu pagi, di saat libur kerja, Darso keluar rumah. Tidak jelas
mau ke mana dan mau apa. Pokoknya dia jalan saja. Sampailah dia di
lapak yang menjual Koran dan majalah. Tanpa berpikir, seper ti ada
yang bimbing, Darso membeli majalah khusus tetumbuhan tanpa melihat
isinya. sesudah itu dia pulang. Sesampainya di rumah, Darso membaca
sebuah artikel tentang tanaman yang bisa menghilang racun di dalam
tubuh. Entah bagaimana prosesnya, tiba-tiba timbul keinginan di hati
Darso untuk membeli tanaman itu dan menjadikannya sebagai
minuman.
Maha Besar Allah…. sesudah beberapa bulan minum ramuan yang
dibuatnya sendiri, Darso mengecek kembali penyakit kanker yang
dideritanya. Hasilnya luar biasa, kankernya hilang sama sekali! Dokter
yang biasa menangani heran dan bertanya, bagaimana bisa penderita
kanker hati stadium 4 sembuh total dalam waktu yang relatif singkat.
Darso dengan mantap menjawab, “Allah yang menyembuhkan, Dok!”
Sekarang Darso bahkan banyak menerima “pasien” di rumahnya….
Dia telah berikhtiar, dan Allah ridha dengan ikhtiarnya untuk sembuh,
sehingga Dia berkenan menyembuhkan penyakitnya.
Kedua kaki seseorang tidak akan bergerak sebelum ditanya tentang
umurnya, untuk apa dia dihabiskan; tentang ilmunya, untuk apa dia
dipergunakan; tentang hartanya, dari mana dia diperoleh dan untuk
apa dia dibelanjakan; dan tentang badannya untuk apa dia
dirusakkan.
(HR. Tirmidzi).
Sumber rujukan utama umat Islam yaitu Al-Qur’an dan sunnah
Rasulullah Saw. Kalau suatu masalah tidak ditemukan nash-nashnya
(dalil-dalilnya) di dalam Al-Qur’an, maka kita bisa mencarinya di dalam
sunnah Rasulullah Saw, yakni melalui hadits-hadits beliau. Begitu juga
dalam masalah kesehatan. Banyak hadits Nabi Muhammad Saw yang
berbicara tentang pentingnya kesehatan. Dan Nabi Muhammad Saw
yaitu orang yang sangat memperhatikan kesehatan diri dan
lingkungannya. Misalnya beliau selalu bersiwak, membersihkan gigi dan
mulut sebelum menunaikan shalat. Beliau selalu berwudhu sebelum
tidur. Beliau selalu mengunyah makanan sampai 33 kali sehingga
makanan itu halus dan mudah diserap pencernaan. Beliau selalu berdoa
sebelum dan sesudah makan ataupun saat mau minum dan lain
sebagainya.
Al-Qur’an sebagai pedoman hidup umat Islam
Dalam Al-Qur’an juga ada beberapa ayat yang, walaupun tidak
menyebut secara langsung, berkaitan dengan pentingnya menjaga
kesehatan. Misalnya: “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang
ber taubat dan mencintai orang-orang yang membersihkan diri.” (QS.
Al-Baqarah {2}: 222).
Ayat ini bicara tentang kesehatan dalam dimensi yang lebih dalam
dan luas. Allah mengisyaratkan bahwa siapa saja hamba yang ingin
dicintai-Nya, maka yang per tama harus dilakukan si hamba yaitu
membersihkan jiwa dan ruhaninya dengan jalan bertaubat. Ber taubat
makna sederhananya, kembali ke jalan Allah dengan sepenuh hati
seraya ber tekad tidak akan mengulangi lagi perbuatan dosa dan
maksiat yang berpotensi mengundang murka Allah, diikuti dengan
melaksanakan dengan ikhlas semua yang diperintah Allah dan menjauhi
sekuat tekad apa saja yang dilarang-Nya. Orang yang bertaubat yaitu
orang yang sehat secara psikologis dan spiritual. Jiwanya akan tenang
dan emosinya stabil, tidak mudah stres, selalu optimis menghadapi
hidup dan riang dalam berbagai kesempatan, selalu ingin berbagi
kebaikan dengan sesama, dan tidak pernah disusahkan oleh persoalan
duniawi. Terakhir dia selalu menyandarkan harapan hanya kepada Allah.
sesudah itu, Allah menyatakan bahwa Dia juga senang dan cinta
pada hamba-hamba yang senantiasa member sihkan diri.
“Membersihkan diri” maknanya bersih badan, pakaian, dan lingkungan.
Badannya bersih dari makanan yang haram atau yang berpeluang
membawa penyakit, juga bersih dari kotoran yang melekat di kulit.
Pakaiannya bersih, sebab dia dituntut untuk selalu melaksanakan shalat
lima kali sehari. Begitu juga lingkungannya, harus selalu terbebas dari
najis. Atau dari apa saja yang bisa membuat hidup tidak nyaman sebab
Allah tidak menurunkan berkah di sana. Dan mereka dituntut untuk
selalu dalam kondisi baik seperti itu terus-menerus.
Jadi, Islam memandang kesehatan lebih dari sekedar terhindarnya
seseorang dari penyakit. Bukan sekedar tubuh sehat lalu selesailah
sudah persoalan. Tidak demikian. sebab Islam yaitu ad-din, jalan
dan tata hidup yang menyeluruh, maka saat dia berbicara tentang
kesehatan pun sangat luas, mencakup semua aspek kehidupan.
saat Rasulullah, Muhammad Saw, diperintah untuk menyebarkan
Al-Islam secara terang-terangan, Allah berfirman: “Hai orang yang
berselimut, bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan Tuhanmu
agungkanlah! Dan pakaianmu bersihkanlah!” (QS. Al-Muddatsir {74}: 1-
4).
(Kalau dalam komentar Abdullah Yusuf Ali, dalam Qur’an,
Terjemahan dan Tafsirnya yang diterjemahkan oleh Ali Audah, kalimat
“Dan pakaianmu bersihkanlah!” diterjemahkan menjadi, “Dan jagalah
kebersihan pakaianmu!”).
Rasulullah diperintahkan untuk meninggalkan kesenangan dunia
(yakni tidur sambil berselimut), bangkit dan segera memberikan
peringatan kepada seluruh manusia dan mengagungkan Allah. Di
samping itu, beliau juga diperintah untuk membersihkan pakaiannya.
Sebab beliau akan menjadi “model” yang akan dicontoh dan diteladani
oleh seluruh manusia di sepanjang jaman, sampai jauh melampaui
masa hidup beliau, sehingga beliau harus tampil bersih. Kalau seseorang
disuruh membersihkan pakaiannya, tidak mungkin tubuhnya kotor atau
tidak bersih. Orang yang berakal sehat tidak mungkin memakai pakaian
bersih kalau tubuhnya kotor.
Dari satu ayat itu saja kita bisa menarik kesimpulan, betapa soal
kebersihan ini mendapat tempat utama dalam Islam. Islam yaitu
agama yang bersih sebab turun dari Yang Maha Bersih yang mencintai
orang-orang yang senantiasa membersihkan diri, Allah Azza wa Jalla.
Wajar saja kalau dalam Musyawarah Nasional Ulama tahun 1983, Majelis
Ulama Indonesia (MUI) memberikan definisi kesehatan sebagai “…
ketahanan jasmaniah, ruhaniah dan sosial yang dimiliki manusia, sebagai
karunia Allah yang wajib disyukuri dengan mengamalkan (tuntunan-
Nya), dan memelihara ser ta mengembangkannya.”
Sehat Jasmani
Sehat memang sebuah pilihan. Kalau seseorang mau tubuh atau
jasmaninya sehat, maka dia harus memilih jalan yang bisa
mengantarkannya pada kesehatan itu. Jalan utama yang wajar
ditempuhnya yaitu menghindari penyakit dengan cara menerapkan
pola hidup sehat. Sehat bisa didapatkan lewat makanan, minuman, dan
aktivitas fisik yang proporsional dan tidak berlebihan. Menu makanan
selayaknya memenuhi gizi yang standar. Menu 4 sehat 5 sempurna,
cukup kalori, vitamin, mineral, karbohidrat, kalsium, lemak, dan
sebagainya.
Tentu saja menu seper ti di atas hanya mungkin dinikmati oleh
mereka yang berpunya (kaum aghniya), sedangkan saudara-saudara
kita yang miskin, tidak pernah memikirkan “menu”, tapi “apa” yang
bisa dimakan hari ini. Tidak heran saat beberapa waktu lalu kita
dikejutkan oleh berita tentang “makanan sampah”. Yaitu makanan sisa-
sisa restoran dan hotel yang telah dibuang ke tempat sampah, kemudian
dikumpulkan dan diolah lagi, lalu dijual dengan harga murah di pasar-
pasar tradisional. Masalah itu belum hilang benar dari ingatan kita,
timbul lagi makanan kadaluwarsa yang dijual di pasar-pasar rakyat
dengan hanya mengganti kemasannya saja.
Hati kita miris mendengar berita tersebut. Sesungguhnya saudara-
saudara kita yang miskin itu tidak mau makan makanan sampah atau
kadaluwarsa, tapi kondisi ekonomi yang serba kekurangan memaksa
mereka melakukan itu demi tercukupinya gizi keluarga. Akhirnya terpaksa
mereka membeli makanan sampah dan kadaluwarsa yang
sesungguhnya tak layak konsumsi itu. Mereka tidak hiraukan bahayanya,
dan saat mereka sakit akibat makanan itu, mungkin biaya untuk
berobatnya lebih mahal daripada kalau mereka membeli makanan
higienis.
Kemudian, aktivitas fisik yang proporsional maksudnya yaitu fisik
diberikan hak untuk beristirahat, tidak dipaksa bergerak terus-menerus,
tapi juga tidak dibiarkan diam tidak melakukan gerak yang berar ti.
Berolah raga yaitu pilihan terbaik untuk menjaga kesehatan dan
kebugaran jasmani. Bagi anda yang bekerja di depan komputer atau
duduk di belakang meja sekian jam sehari, masih bisa melakukan gerak-
gerakan ringan 5-10 menit untuk relaksasi. Tidak perlu ke luar kantor
atau keluar ruangan, cukup di tempat saja. Biar bagaimanapun tubuh
kita bukanlah mesin yang bisa bekerja seharian tanpa istirahat. Mesin
juga kalau dipaksa bekerja terus-menerus bisa rusak. Demikian juga
tubuh kita. Sabda Nabi Muhammad Saw: “Dan untuk setiap badanmu,
ada haknya bagimu.”
Allah Azza wa Jalla, melalui Rasulullah Saw, meminta kita agar
memperhatikan hak-hak tubuh kita, yaitu memberikan makanan yang
bergizi, tidak merusak dengan narkoba dan sejenisnya, berolah raga
dan istirahat. Dalam sebuah hadits, bahkan Rasulullah Saw
menganjurkan setiap orangtua agar mengajari anak-anaknya berenang,
menunggang kuda, dan memanah. Ini yaitu hak tubuh bukan hanya
untuk sehat, tapi untuk relaksasi dan mencari kesenangan.
Orang yang sehat secara jasmani akan mudah dalam beraktivitas.
Artinya fisiknya sangat menunjang dan tidak jadi penghalang aktivitasnya.
Nabi Muhammad Saw bersabda: “Barangsiapa bangun di pagi hari
dengan badan sehat dan jiwa sehat pula, maka dia seperti orang yang
memiliki dunia seluruhnya.” (HR. Tirmidzi).
Nabi Muhammad Saw memberi isyarat, bahwa sehat itu memang
mahal harganya. Bahkan beliau mengandaikan orang yang sehat badan
dan jiwanya laksana pemilik seluruh dunia beserta isinya. Dan memang,
seseorang yang sedang sakit rela “menukar” sakit yang dideritanya
dengan apa saja yang dia miliki, asalkan dia bisa sembuh dari sakit dan
kembali sehat. Pernah suatu hari seorang Sahabat, Abu Darda’ ra.,
bertanya kepada Rasulullah Saw: “Ya Rasulullah, jika saya sembuh dari
sakit lalu saya bersyukur, apakah itu lebih baik daripada saya sakit dan
menanggungnya dengan sabar?” “Sesungguhnya Rasul mencintai
kesehatan sama seperti engkau juga mencintainya.” Jawab Rasulullah
Saw.
Jadi, Rasulullah Saw menghendaki umatnya selalu dalam keadaan
sehat agar bisa tampil prima di lapangan kehidupan. Al-Hadiqah
mengatakan: “Apabila Rasulullah Saw bangun dari tidur, beliau
membersihkan mulutnya dengan sepotong ranting kayu gaharu.” (HR.
Bukhari). Pola hidup Rasulullah Saw yaitu pola hidup yang sangat
wajar tapi sehat.
Konon Nabi Daud as. pernah mengatakan bahwa kesehatan yaitu
har ta karun yang tidak terlihat, tersembunyi. Disebut “harta karun”
sebab kita baru tahu mahalnya sehat saat sedang sakit dan harus
menjalani perawatan di rumah sakit. Cobalah anda datang sesekali ke
rumah sakit dalam keadaan sehat. Anda akan melihat, betapa untuk
mencapai kesehatan seseorang harus berjuang bersusah payah dengan
selang infus, jarum suntik, tabung oksigen, obat, dan lain-lain. Pastilah
banyak biaya yang harus dikeluarkannya.
Sehat Jiwa (Mental)
Dalam filsafat, agama maupun dalam kehidupan sehari-hari, kata “jiwa”
memang tidak memiliki definisi yang jelas. sebab memang dia
bagian yang integral dari tubuh dan ruhani manusia, tidak bisa dibelah-
belah atau dipisahkan satu sama lain. Eksistensi manusia bukan hanya
tubuhnya, tapi juga jiwa dan ruhaninya. Menyamakan jiwa dengan mental
juga rasanya kurang tepat. (Ilmu kedokteran memiliki istilah yang
menarik: psychiatry/kedokteran jiwa, dan mental health/kesehatan jiwa)
Ungkapan yang seringkali kita dengar yaitu sehat jasmani dan ruhani,
atau sehat mental dan spiritual. Teks atau nash agama (Islam) biasa
menyebut jiwa dengan kata nafs.
Dulu kita sering mendengar ungkapan “Dalam badan yang sehat,
ada jiwa yang sehat”. Tapi sekarang, ungkapan itu tampaknya harus
direvisi seiring dengan kemajuan di bidang ilmu kesehatan, kesehatan
jiwa khususnya. Apakah benar kalau badan seseorang sehat secara
otomatis jiwanya juga sehat? Jawabnya bisa “Tidak”. sebab banyak
orang yang badannya sehat, tapi jiwanya sakit. Ada juga orang badannya
tidak sehat, tapi ternyata jiwanya sehat.
Dalam Al-Qur’an, Allah Azza wa Jalla berfirman: “Dan (demi) jiwa
ser ta penyempurnaannya. Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu
(jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang
yang mensucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang
mengotorinya.” (QS. Asy-Syams {91}: 7-10).
Allah dengan jelas menyatakan bahwa orang yang mensucikan atau
membersihkan jiwa yaitu orang yang beruntung, sebab jiwa yang
suci-bersih yaitu jiwa yang sehat. Kalau jiwa seseorang sehat, dia
akan terhindar dari penyakit-penyakit hati, seper ti iri, dengki, ujub
(bangga diri), riya (pamer), sombong, dan sebagainya. Penyakit-penyakit
hati (psikis) itu sangat perpotensi mengundang datangnya penyakit
jasmani, penyakit fisik. Itulah sebabnya, Allah katakan sangat merugi
orang-orang yang mengotori dan merusak jiwa, yang indikasi luarnya
yaitu melakukan aktivitas yang dilarang agama.
Orang yang jiwanya tidak sehat, kemungkinan besar menderita
dua kerugian. Per tama, ibadahnya mungkin saja ter tolak sebab di
dalam hatinya menyimpan berbagai syak wasangka kepada Allah dan
kepada manusia. Kedua, daya tahan tubuhnya bisa menurun sebab
tekanan dari dalam jiwanya. Kondisi kejiwaan seper ti ini berpeluang
mengakibatkan stres, depresi bahkan skizofrenia (schizophrenia).
Mungkin anda masih ingat kasus seorang calon bupati di sebuah
kabupaten di Jawa Timur. sesudah gagal jadi bupati, dia stres berat dan
menjadi gila. sebab harus melunasi hutang sekian milyar, menanggung
malu, ditambah lagi isterinya meninggalkannya….
Ibnu Sina juga berbicara tentang jiwa dalam bukunya, tapi dalam
bingkai filsafat, bukan dalam konteks kesehatan. Sehingga tidak relevan
kalau dikutip di sini. Nabi Muhammad Saw yaitu model sempurna
untuk dicontoh oleh seluruh manusia. Emosi dan tingkah laku beliau
selalu terkontrol dan terkendali. Sahabat Anas ra. bersaksi: “Aku
mengabdi kepada Rasulullah Saw selama sepuluh tahun, (dan selama
itu) beliau tidak pernah sekalipun memarahiku.”
Ini menunjukkan bahwa emosi Rasulullah Saw sangat stabil. Beliau
hanya marah bila berkaitan dengan agama saja, misalnya sebab aturan
atau larangan Allah dilanggar. Bahkan Abdullah bin Umar ra. pernah
mengatakan bahwa Rasulullah Saw tidak pernah bersikap tidak pantas
dan tidak pernah mengatakan yang tidak layak. Sebuah hadits yang
diriwayatkan oleh Abu Nua’im ra., Rasulullah bersabda: “Barangsiapa
banyak mengalami kecemasan (stres) dan kesedihan, maka tubuhnya
akan menjadi sakit.”
Adakah dokter di abad ketujuh Masehi yang berani memastikan,
bahwa kondisi kejiwaan seseorang akan berpengaruh terhadap fisiknya?
Itulah dia Rasulullah Saw, Utusan Allah Azza wa Jalla. Kapan saja para
sahabat menjumpai Rasulullah Saw, mereka selalu melihat wajah beliau
cerah, dan senyuman selalu tersungging di bibir beliau. Tak pernah
beliau tampak susah atau suntuk, kendati tugas berat sehari-hari
membebani pundak beliau. Beliau harus berdakwah, meng-
komunikasikan perintah dan larangan Allah kepada umat manusia,
mengurus keluarga, membina umat, menerima delegasi atau tamu-
tamu dari negara tetangga, dan bahkan berperang melawan kaum kafir.
Semua beliau jalani dengan lapang dada dan semata-mata hanya
mengharap belas kasih dan ridha Allah Azza wa Jalla. Makanya beliau
tidak pernah tampak gelisah, cemas apalagi stres.
Jiwa yang selalu ter tekan, gundah-gulana, selalu curiga, iri,
sombong, riya’, sedih, dan tidak gembira, bisa menurunkan daya tahan
tubuh, akibatnya tubuh akan mudah diserang penyakit. Makanya
Rasulullah Saw. menyuruh umatnya menjauhi kondisi kejiwaan yang bisa
mengundang penyakit. Cara yang paling baik yaitu dengan banyak-
banyak mengingat Allah. Sebab hanya dengan mengingat Allah hati
menjadi tentram (QS. Ar-Ra’d {13}: 28). Kesehatan yaitu “mahkota”
di kepala orang-orang yang sehat, yang hanya bisa dilihat oleh orang-
orang yang sedang sakit (Nabi Daud as.).
Sehat Ruhani
Sebagian umat Islam sangat meyakini bahwa manusia bisa hidup sebab
adanya ruh. Boleh dibilang, ruh yang bersemayam di dalam jasad kasar
manusia yaitu hidup itu sendiri. Tapi untuk tahu lebih jauh tentang
ruh ini, misalnya substansi atau hakekatnya, kita tidak bisa. Allah sudah
membatasi masalah ini dengan firman-Nya dalam Al-Qur’an: “Dan
mereka bertanya kepadamu (hai Muhammad) tentang ruh, katakanlah,
‘Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan
melainkan sedikit’….” (QS. Al-Israa {17}: 85).
Cukuplah firman Allah itu sebagai sandaran, bahwa mencari apa
hakekat ruh itu akan sangat sia-sia. Biarlah semua menjadi “urusan”
Allah. Sebab Nabi Muhammad Saw. sendiri juga diperintahkan oleh Allah
hanya menjawab pertanyaan seputar ruh seperti di atas itu. Tidak lebih
tidak kurang. Banyak sekali pertanyaan manusia seputar ruh, misalnya:
Apakah ruh bisa mati juga seperti jasad? Ke manakah “perginya” ruh
sesudah jasad dikubur? Dan sebagainya. Tapi biarlah per tanyaan itu
sampai di situ saja. sebab agama memang sangat membatasi masalah
ini.
Walaupun persoalan ruh begitu misterius dan menjadi urusan Allah,
tapi kita tetap wajib memberikan hak-hak ruhaniah kita. sebab dia
bersemayam di dalam jasad kasar tubuh kita. Di antara hak-hak ruh
yang harus kita penuhi yaitu memberinya “makanan” agar dia tetap
sehat. Ruh bersifat spiritual, maka makanannya juga bersifat spiritual.
sebab ruh berasal dari Allah, maka makanan ruh juga harus berasal
dari Allah. Asupan nutrisi dan gizi yang paling baik bagi ruhani yaitu
firman-firman Allah, yang diaplikasikan oleh akal dan tubuh dengan
menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Orang-orang
yang sehat ruhaninya yaitu mereka yang senantiasa menjaga
hubungan baiknya dengan Allah Azza wa Jalla.
Menegakkan shalat, berdzikir, berdoa, bersedekah, berzakat,
bersilaturrahim, mendengarkan ceramah agama, dan mengerjakan
perintah agama atau aktivitas ibadah lainnya, merupakan cara kita
memberi asupan nutrisi bagi ruhani. Betapapun jasmani, jiwa dan ruhani
harus mendapatkan hak-haknya secara proporsional. Tidaklah adil bila
kita menghiasi jasmani dan jiwa kita sebagus-bagusnya, tapi
mengabaikan hak-hak ruhani.
Berdoa, memberikan hak ruhani.
Bagaimanakah jadinya, kita hiasi rumah kita dengan dekorasi yang
indah, cat yang penuh warna, lampu yang terang benderang, tapi kita
biarkan pondasinya keropos dimakan rayap sebab hanya terbuat dari
papan yang mudah rapuh? Bukankah pondasi yaitu penyangga yang
membuat rumah kita tegak berdiri? Begitu juga aktivitas ibadah. Dia
yaitu penyangga hidup kita, yang dengannya kita berharap mendapat
kebahagiaan yang hakiki di dunia maupun di akhirat kelak.
Dahaga ruhani (spiritual hopeless) paling terasa di dunia Barat.
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi bukan hanya membawa
maslahat, tapi juga mudharat bagi kemanusiaan. Kemajuan yang dicapai
oleh manusia justru menjauhkan manusia dari fitrah sejatinya. Yakni
fitrah akan kebutuhan jiwanya terhadap Tuhan. Akhirnya jiwa mereka
menjadi kering dan tandus, tidak ada sentuhan spiritual di sana.
Semuanya serba mesin, angka, dan materi. Maka sejak awal tahun 1970,
terjadi kehebohan spiritual di Barat dengan bermunculannya pseudo
agama untuk menampung dahaga ruhani masyarakat modern. Gerakan
spiritual ini dikenal dengan nama New Religion Movement (NRM) yang
mendapat reaksi keras dari kaum agamawan “tradisional”.
Aktivitas NRM jalan terus dan makin banyak menarik minat kalangan
muda. Contoh sekte hasil NRM yaitu Children of God, Church of
Scientology, Unification Church, Hare Krisna, dan lain-lain. Pada tahun
1977, “Pendeta” James Jones mengajak jemaatnya bunuh diri massal.
Juga David Koresh melakukan hal yang sama bersama jemaatnya pada
1995. Betapa hebat dan mengerikannya dampak dari kekeringan ruhani
ini, sehingga seseorang akan melakukan apa saja untuk memuaskan
dahaga ruhaninya. Walaupun apa yang dilakukannya itu bertentangan
dengan akal sehat.
Beruntunglah kita, kaum Muslimin, yang oleh Allah, melalui Rasulullah
Saw, diajarkan untuk selalu mengingat-Nya. “… ingatlah kamu kepada-
Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku,
dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (QS. Al-Baqarah {2}:
152).
Sehat Prilaku
Orang-orang yang sehat jasmani, jiwa dan ruhaninya, tentulah akan
sehat juga prilakunya. Semua perbuatannya sangat terukur, wajar dan
dilakukan dengan kesadaran penuh. Mereka juga selalu tampil segar
dan cerah, gembira dan tidak suntuk, dengan emosi yang stabil dan
terkendali. Seorang Sahabat Nabi, Abdullah bin Harits ra berkata: “Aku
tidak pernah melihat seseorang yang banyak tersenyum melebihi
Rasulullah Saw.”
Bagi umat Islam, tidak bisa tidak harus selalu merujuk kepada
Rasulullah Saw, sebab beliau memang diutus oleh Allah untuk menjadi
model sempurna bagi prilaku manusia. Banyak orang yang tampilan
luarnya sangat tenang, tapi sesungguhnya menyimpan kejahatan yang
luar biasa di dalam hatinya. Dia bisa saja tampil penuh pesona, padahal
sesungguhnya dia penjahat kemanusiaan yang kejam.
Tentu kita masih ingat dengan peristiwa pembunuhan sadis dan
berantai yang dilakukan oleh seorang gay asal Jombang, Jawa Timur.
Peristiwa sadis dan mengerikan itu sangat mengguncang akal sehat
kita, bagaimana seseorang yang tampak cool bisa melakukan
kekejaman yang luar biasa. Membunuh belasan orang tanpa rasa
bersalah. Ini menunjukkan bahwa, sehat jasmani tidak menjamin
sehatnya jiwa. Kalau jiwa seseorang tidak sehat, maka jangan harap
prilakunya akan sehat. sebab sesungguhnya, jiwa inilah salah satu
motor penggerak hidup kita. Jasad hanya wadah kasar tempat jiwa
bersemayam, yang bergerak sebab mengikuti kemauan jiwa. Dan fungsi
ruh? Dialah hidup itu sendiri, selebihnya hanya Allah Yang Maha
Mengetahui.
Kita juga dikejutkan oleh berita yang tidak elok, yang membuat kita
marah, sakit hati, kecewa, merasa dikibuli dan kehilangan kepercayaan
saat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menciduk beberapa
anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang terhormat dan menetapkan
mereka sebagai tersangka kasus korupsi. Para Wakil Rakyat korupsi
secara “berjamaah” di tengah krisis yang sedang membelit kehidupan
rakyat yang diwakilinya. Padahal mereka sudah “disejahterakan” dengan
gaji besar dan segala fasilitas oleh Negara yang anggarannya sebagian
diambil dari pajak yang dibayarkan rakyat. Ini satu lagi bukti, bahwa
sehat jasmani atau fisik tidaklah menjadi tanda sehat jiwa yang
bersemayam di dalamnya.
Memperkenalkan nilai-nilai agama dan budi peker ti sejak dini
kepada anak-anak kita yaitu cara terbaik untuk mendapatkan generasi
yang sehat lahir batin dan sehat prilakunya. Apalagi kita hidup di jaman
yang serba permisif, di mana nilai-nilai hidup yang dulu sangat kita
agungkan semakin tidak diindahkan –untuk tidak mengatakan
“ditinggalkan”. Orang-orang saat ini hidup cenderung individualistik.
Kalaupun ada kebersamaan itu hanya bersifat primordial saja, sebab
kesamaan suku, agama, par tai, dan sebagainya. Padahal Nabi
Muhammad Saw, teladan utama kita, mengajarkan bahwa orang-orang
Islam yaitu bersaudara dan bahwa manusia yang baik yaitu yang
banyak manfaatnya bagi orang lain.
Sehat prilaku harus dimulai dari individu-individu yang kemudian
ditularkan kepada lingkungan paling dekat, yakni keluarga. sebab
keluarga yaitu elemen paling penting sebuah masyarakat. Kalau
kemudian seluruh anggota masyarakat juga sehat prilakunya, maka itu
akan menjadi asset besar bagi negara. Negara yang masyarakatnya
sehat prilakunya yaitu negara yang kuat, yang dengan itu keadilan
bisa ditegakkan dan kesejahteraan bisa disebarluaskan.
Sehat Lingkungan
Islam memandang, masalah kesehatan secara komprehensif,
menyeluruh. Bukan hanya fisik, psikis dan ruhani yang perlu sehat, tapi
juga lingkungan. sebab lingkungan yaitu tempat sebuah komunitas
manusia berdiam, beraktivitas dan bersosialisasi, yang harus dijaga
kebersihan dan kenyamanannya. Allah Azza wa Jalla, melalui ayat suci
Al-Qur’an banyak bicara tentang lingkungan. Misalnya tentang lingkungan
yang tercemar: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan
sebab perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada
mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali
(ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Ruum {30}: 41).
Allah mengatakan bahwa kerusakan ekosistem yaitu akibat
kerakusan dan ketamakan manusia yang memperlakukan alam dan
lingkungan semaunya saja, tanpa menghiraukan dampaknya. Kerusakan
ekosistem membuat lingkungan menjadi tidak sehat dan tidak nyaman
untuk dihuni manusia. Dalam lingkup yang lebih besar, kerusakan
lingkungan mengakibatkan perubahan suhu bumi, terganggunya musim
dan sering terjadi bencana alam. Belum lama ini, di Bali diadakan sebuah
berhelatan besar tentang Global Warming. Pakar-pakar lingkungan hidup
hampir dari seluruh dunia berkumpul dan berdiskusi tentang lingkungan
hidup. Mereka membahas perlunya menyelamatkan bumi, tempat tinggal
kita, dari kerusakan ekosistem yang semakin parah. Mereka semua
prihatin terhadap kerusakan alam yang ter jadi merata hampir di
seluruh penjuru bumi akibat ulah tangan-tangan rakus manusia.
Sekali lagi, terpaksa saya mengutip syair lagu penyanyi balada
legendaris kita, Iwan Fals.
Raung bulldozer gemuruh pohon tumbang
Berpadu dengan jerit isi rimba raya
Tawa kelakar badut-badut serakah
Tanpa HPH berbuat semaunya
Lestarikan alam hanya celoteh belaka
Lestarikan alam mengapa tidak dari dulu
Oh mengapa
Oh oh jelas kami kecewa
Menatap rimba yang dulu perkasa
Kini tinggal cerita
Pengantar lelap si buyung
Bencana erosi selalu datang menghampiri
Tanah kering kerontang banjir datang itu pasti
Isi rimba tak ada tempat berpijak lagi
Punah dengan sendirinya akibat rakus manusia
Lestarikan hutan hanya celoteh belaka
Lestarikan hutan mengapa tidak dari dulu saja
Oh oh jelas kami kecewa
Mendengar gergaji tak pernah berhenti
Demi kantong pribadi
Tak ingat rezeki generasi nanti
Lagu berjudul “Jeritan Rimba” ini dilantunkan Iwan Fals tahun 1980-
an, dan isinya akan terus relevan selama tangan-tangan rakus masih
mengeksploitasi kekayaan alam kita secara tidak bertanggung jawab.
Para pelaku kejahatan lingkungan tidak akan jera kalau mereka masih
mudah membereskan urusan hukum “di belakang meja”.
Allah Azza wa Jalla, hampir 1500 tahun yang lalu telah mewanti-
wanti, agar manusia menjaga lingkungannya. Tentu saja saat ayat yang
saya kutip di atas diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw lingkungan
hidup belum rusak parah seper ti sekarang ini. Tapi mengapa Allah
mengatakan bahwa “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut akibat
tangan manusia?” Bukankah saat itu belum ada eksplorasi sumber
daya alam secara besar-besaran?
Memang demikianlah bahasa Al-Qur’an, sangat khas. Al-Qur’an
melukiskan sesuatu yang belum terjadi dengan kata-kata “telah tampak”.
Ini seharusnya menjadi peringatan dini bagi manusia, bahwa apabila
mereka rakus dan tamak, seenaknya saja menguras sumber daya alam,
tidak bertanggung jawab terhadap lingkungan, maka mereka akan hidup
dalam lingkungan yang rusak dan tidak sehat. Allah telah mewariskan
bumi ini kepada manusia agar dikelola dengan baik untuk kepentingan
bersama. Jangan sampai kekayaan alam diekplorasi habis-habisan
sehingga tak menyisakan sed












