Tampilkan postingan dengan label Allah sang tabib 4. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Allah sang tabib 4. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Juli 2026

Allah sang tabib 4


 at blank. Demikianlah, Allah berkehendak

menyambung silaturrahim hamba-hamba-Nya yang terputus oleh

kesibukan yang luar biasa justru melalui sakit.

c . Menjadi pelajaran berharga

Bagi orang yang sakit, keadaan yang dia alami sekarang menjadi

pelajaran berharga betapa sehat itu sangat mahal. Sehat itu juga

sangat indah. Tapi sayangnya kita sering mengabaikan, sehingga

kita seenaknya saja memperlakukan sehat. Begitu juga bagi orang

yang menjenguk orang sakit, pemandangan yang dilihatnya

menimbulkan kesadaran betapa sakit itu tidak menyenangkan. Dia

akan sangat merasa bersyukur sebab  Allah melindunginya dari

sakit dan penyakit. Mereka berharap terus dalam keadaan sehat.

Bagi yang sakit ataupun yang menjenguk orang sakit akan timbul

rasa tawadhu’nya di hadapan Allah Azza wa Jalla, Tuhan alam

semesta. Allah dapat berbuat apa saja sekehendak-Nya. Orang

yang segar bugar dalam sekejap bisa dibuat-Nya terbaring di

tempat tidur tanpa daya. Betapa Maha Perkasanya Allah. Tidak

ada satu kekuatan pun yang bisa dan sangggup menghalangi bila

Dia berkehendak membuat hamba-Nya sakit. Tapi orang-orang



yang telah “divonis mati” oleh dokter, bisa Dia sembuhkan sehingga

keadaannya kembali seperti sedia kala.

d . Doa orang sakit mustajabah

Doa orang sakit sangat mustajabah. sebab  kondisi spiritual orang

yang sakit berada pada titik kepasrahan yang paling tinggi,

sedangkan kondisi psikologisnya berada pada level paling rendah.

Dia tidak punya harapan kecuali harapan kepada Allah Azza wa

Jalla. Sandarannya yang hakiki hanya pada Allah.

Nabi Muhammad Saw bersabda: “Jika kamu datang menjenguk

orang sakit, maka mintalah dia berdoa untukmu, sebab  doanya

seper ti doa malaikat.” (HR. Ibnu Majah dari Umar ra). Doa orang

sakit disamakan dengan doa para malaikat, artinya kemungkinan

dikabulkan Allah sangat besar. Tentu kita mafhum, bahwa malaikat

yaitu  makhluk Allah yang sangat patuh dan tidak pernah berbuat

durhaka kepada Allah, maka wajar saja kalau mereka berdoa

langsung Allah kabulkan. Begitu juga orang yang sedang sakit, dia

benar-benar memposisikan diri serendah-rendahnya di hadapan

Allah Azza wa Jalla. Doa yang diajarkan Nabi Muhammad Saw

dipanjatkan oleh orang sakit yaitu : “Ya Allah, sembuhkanlah

badanku, Ya Allah, sembuhkanlah pendengaranku, Ya Allah,

sembuhkanlah penglihatanku. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu

dari kekafiran dan kefakiran. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu

dari siksa kubur, tiada Tuhan selain Engkau.” (HR. Abu Daud).

e . Orang yang sakit dekat dengan Allah

Pada saat sakit, ego kita terkalahkan oleh rasa tak berdaya di

hadapan Kemahakuasaan Allah. Allah begitu dekat dengan kita dan

kitapun merasa dekat dengan Allah. Padahal Allah memang sangat

dekat kita, bahkan lebih dekat daripada urat leher kita sendiri.

“Dan Aku lebih dekat daripada urat lehernya” (QS. Qaf  {50}: 16).

Rasa dekat dengan Allah ini jarang timbul saat  kita sedang dalam

keadaan sehat. Kita merasa sebagai pemilik tunggal tubuh kita

yang secara otomatis memiliki  hak penuh untuk meng-

gunakannya. Kita lupa kalau pemilik tubuh - dan bahkan hidup -



kita  yang sebenarnya yaitu  Allah Azza wa Jalla. Tubuh kita tunduk

dan patuh pada hukum “alam” yang telah ditetapkan Allah.

Kesadaran bahwa Allah-lah sebenarnya Pemilik tubuh kita biasanya

muncul saat kita terbaring sakit. Saat inilah kita “mendekat” kepada

Allah. Kita pasrah.  Kepasarahan itulah yang membuat kita merasa

Allah itu begitu dekat.

f. Menghapuskan dosa-dosa

Dalam aktivitas keseharian kita, apa saja bisa jadi sumber

kemaksiatan yang berpotensi mendatangkan dosa. Hal itu sudah

disinyalisasi oleh Rasululllah Saw: “Tiada suatu gerakan urat nadi

maupun mata seseorang, melainkan memungkinkan untuk

menimbulkan dosa….” (Al-Hadits).

Bahkan dalam hadits lain Rasulullah Saw menyatakan bahwa

penyakit yang menimpa kaum Muslimin bisa menanggalkan

kejahatan-kejahatannya sebagaimana pohon menanggalkan

daunnya. Allah juga menghapuskan dosa-dosa si Muslim melalui

penyakit yang dideritanya. Dan seorang Muslim pastilah lebih memilih

siksa dunia lewat penyakit ketimbang siksa akhirat yang tidak

terbayangkan oleh imajinasi pedih dan dahsyatnya.

Adab Menjenguk Orang Sakit

Islam mengatur sedemikian rupa segala aspek kehidupan manusia,

sehingga hampir tidak ada sudut kehidupan ini yang ditinggalkannya.

Misalnya dalam masalah penyakit dan orang sakit. Ternyata sakit yang

oleh sebagian orang dianggap sebagai musibah, bisa saja sebenarnya

merupakan rahmat Allah. Hanya saja “bungkus luarnya” tampak tidak

menyenangkan. Hadits Rasulullah Saw menjelaskan hal itu:

“Sesungguhnya ada orang yang mendapat kedudukan di sisi Allah, akan

tetapi tidak ada satu amal pun darinya yang bisa mengantarkannya

untuk mencapai kedudukan itu. Oleh sebab  itu, Allah Ta’ala mencobanya

dengan suatu hal yang tidak dia sukai, sehingga dengan hal itu dia

mendapatkan kedudukan tersebut.” (HR. Ibnu Hibban).



Sama seperti pil atau jamu yang pahit. Sungguh tidak enak di mulut,

tapi dia bisa menyehatkan badan. Begitu juga musibah atau sakit. Sakit

memang tidak menyenangkan, tapi siapa yang tahu kalau sebenarnya

Allah sedang mengangkat derajat kita?

Dalam menjenguk orang sakit, Islam juga memberikan tuntunan.

Di antaranya yaitu :

1. Berdoa bagi keselamatan diri

Sebelum menjenguk orang sakit, sebaiknya kita berdoa lebih dahulu,

memohon perlindungan dari segala macam penyakit atau dari

kemungkinan tertular penyakit. Doa ini seolah-olah menjadi upaya

preventif  yang paling awal. Bahkan Rasulullah Saw mengajarkan

kita doa: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari penyakit celup,

penyakit gila, penyakit kusta, dan penyakit-penyakit buruk lainnya.”

Doa ini baik dibaca kapan saja, lebih baik lagi dibaca saat  akan

menjenguk orang sakit agar kita terlindung dari kemungkinan

tertular penyakit orang yang akan kita kunjungi, kalau penyakitnya

menular.

2. Mendoakan si sakit

Di samping berdoa mohon perlindungan bagi diri sendiri, kita juga

dianjurkan mendoakan orang sakit yang kita kunjungi agar lekas

sembuh. Doa yang diajarkan oleh Rasulullah Saw yaitu : “Ya Allah,

Tuhan segala manusia, jauhkanlah kesukaran (penyakit) itu dan

sembuhkanlah dia, Engkaulah yang menyembuhkan, tidak ada obat

selain obat-Mu, obat yang tidak meninggalkan sakit lagi. Hilangkah

penyakit itu, wahai Tuhan Pengurus manusia.” Doa yang kita

panjatkan bagi saudara kita yang sedang terbaring sakit diharapkan

menguatkan jiwanya sehingga dia tabah menghadapi cobaan yang

sedang menimpanya.

3. Menyentuh bagian yang sakit

Rasulullah Saw. menganjurkan agar kita menyentuh, dengan lembut

dan penuh kasih sayang, bagian tubuh yang sakit dari orang sakit

yang kita kunjungi. Tentu saja sepanjang bagian tubuh yang sakit

itu boleh atau bisa disentuh. Ini dimaksudkan agar si sakit merasa



diperhatikan, sehingga dadanya menjadi lapang. Harapannya

tumbuh dan daya sugestinya untuk sembuh meningkat. Si sakit

disentuh sambil mengucapkan doa: “Dengan nama Allah Yang Maha

Pengasih lagi Maha Penyayang. Aku berlindung dengan Keperkasaan

Allah dan Kekuasaan-Nya dari kejahatan apa yang kuperoleh dan

yang kutakuti,” (HR. Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’i).

4. Menghibur dan memberi motivasi

Orang yang terbaring sakit, tak ubahnya seperti bayi yang tidak

berdaya. Dalam film The God Father, digambarkan Michael Corleon

(diperankan dengan baik oleh Alpacino) yang begitu berkuasa, ganas

dan sangat ditakuti, teronggok seperti selimut basah saat  sakit.

Ini hanya gambaran saja, bahwa betapapun berkuasanya seseorang,

saat  penyakit menyerang tubuhnya, dia tidak berdaya. Dalam

keadaan sakit  biasanya jiwa menjadi rapuh. Fantasi-fantasi buruk

menghantui dan berlintasan di dalam benak. Takut tidak akan

sembuh, cacat seumur hidup, biaya besar yang harus dikeluarkan,

hingga tibanya malaikat maut yang siap mencabut nyawa,

membayang di pelupuk mata. Maka menghibur dan memberikan

motivasi kepada orang yang sedang sakit menjadi kebutuhan sangat

penting, sebagai bagian dari upaya penyembuhan. Hiburan dan

motivasi yang paling berarti yaitu  yang mengarahkan si pasien

mendekat kepada Sang Khaliq. Agar dia menyadari bahwa Allah

sekarang sedang mencurahkan rahmat dan kasih sayang-Nya, dan

Dia ingin hamba-Nya mendekat kepada-Nya. Jadi, sakit bukanlah

sebuah kehinaan, tapi boleh jadi anugerah besar yang

mengembalikan seorang hamba pada fitrah kehambaannya.

5. Tidak membicarakan penyakit kepada si sakit

Kebanyakan orang, bahkan mungkin kita sendiri, setiap menjenguk

kerabat atau teman yang sakit bertanya: “Sakit apa? Bagian mana

yang sakit?” Kadang kita malah “menjelaskan” dan menganalisis

penyakit orang yang kita jenguk dengan fasihnya, lebih fasih daripada

dokter sendiri. “Memang sih penyakit anda sampai sekarang belum

ada obatnya…, tapi sabar aja deh. Kita kan tetap ikhtiar. Hasilnya



kita serahkan kepada Allah. Walaupun sebenarnya banyak orang

yang akhirnya lewat. Nggak bisa tertolong…. Sabar aja ya, mudah-

mudahan aja ada mukjizat.”  Selintas kalimat-kalimat itu terlihat

wajar dan tidak ada yang salah. Tapi cobalah anda perhatikan raut

wajah orang sakit yang kita jenguk, saat  dia mendengar anda

mengucapkan kalimat itu. Sesungguhnya tanpa kita sadari, secara

tidak langsung  anda telah memberikan sugesti negatif  kepada si

pasien.  Bahwa dia memang sakit. Percuma saja kita memintanya

bersabar sementara kita membuat hatinya kecil dan jiwanya

semakin rapuh. Sebaiknya saat  menjenguk orang sakit, kita

mengajaknya bicara soal penyakit sekedarnya saja, kemudian carilah

topik lain yang lebih menarik dan menggembirakan hati si pasien.

Atau kalau ingin bertanya soal penyakit pasien, bertanyalah pada

keluarga atau kerabat yang menjaganya.

6. Membantu meringankan biaya

Penyakit datang menimpa siapa saja. Tidak peduli orang kaya atau

orang miskin. Jika yang sakit orang berpunya, mungkin dari segi

biaya tidak menjadi masalah. Cerita menjadi lain jika yang sakit

yaitu  orang yang hidupnya pas-pasan, bahkan mungkin serba

kekurangan. Apalagi kalau harus di rawat di rumah sakit. Terbaring

di rumah sakit bisa semakin memperparah penderitaannya. Yang

diingat bukan bagaimana dia bisa segera sembuh, tapi berapa

besar tagihan yang akan disodorkan kasir kepadanya. Bayangan

tingginya “rekening” tagihan rumah sakit membuat pasien tidak

tenang. Hal ini lazim terjadi di tengah masyarakat kita. Sekarang

kita bayangkan, seandainya itu terjadi pada diri kita. Tergolek di

bangsal rumah sakit tanpa persediaan uang. Berhutang tidak

mungkin lagi, sebab  pinjaman  menumpuk, ada di sana-sini. Sedang

di rumah tidak ada sesuatu yang berharga yang bisa dijual. Pastilah

uluran tangan dermawan yang menjadi pengharapan terakhir,

selain uluran “Tangan” Allah, tentunya. Kita bersyukur hidup di

tengah masyarakat yang masih menjunjung tinggi kekerabatan,

terutama di daerah-daerah pinggiran. Seseorang yang terbaring



di rumah sakit, seakan tidak pernah kehabisan pembesuk. Ada

saja yang datang, kadang membawa buah tangan berupa buah-

buahan, kue, masakan lezat, dan lain sebagainya. Sayangnya

kadang si pasien tidak bisa menikmati semua buah tangan itu,

sebab  dia biasanya tidak enak makan. Nah, yang paling tepat

dijadikan buah tangan saat  menjenguk orang sakit - apalagi orang

miskin - yaitu  uang. sebab  selain biaya rumah sakit, juga banyak

biaya lain yang dibutuhkan. Misalnya untuk membeli sesuatu yang

tidak tersedia di rumah sakit, biaya transpor tasi penunggu dan

lain sebagainya.

Kisah Hikmah

Bu Yani sangat sedih, sebab  suami yang menjadi tulang punggung

keluarganya sedang tergolek tak berdaya di rumah sakit. Bu Yani ingin

Suaminya segera sembuh, dan kembali beraktivitas dan mencari nafkah

seperti biasa. Di samping itu, dia khawatir kalau Suaminya terlalu lama

dirawat di rumah sakit, maka biaya pengobatannya sangat besar.

Suatu hari, seorang kerabatnya yang psikolog dan motivator

menjenguk Suaminya. Kepadanya Bu Yani meminta saran, bagaimana

caranya agar Suaminya cepat sembuh. Oleh kerabatnya disarankan

agar Bu Yani menahan di luar dahulu setiap orang yang mau menjenguk

Suaminya. Para penjenguk itu kemudian di-briefing. Mereka diminta

tidak ber tanya soal penyakit Suaminya, melainkan bicara soal lain.

Misalnya soal cucu, atau cerita-cerita lucu dan menyenangkan lainnya.

Saran kerabatnya itu dijalankan oleh Bu Yani. Semua penjenguk

Suaminya selalu membawa cerita dan kisah yang menarik dan membuat

Suami tertawa. Ada yang cerita soal hobi, atau bernostalgia waktu muda

dahulu, soal burung piaraan dan sebagainya.  Hasilnya luar biasa….

Prediksi dokter, Suami Bu Yani dirawat kurang lebih 2 pekan. Tapi kurang

dari sepekan ternyata Suami Bu Yani sudah diperbolehkan pulang.



Rupanya kegembiraan yang dibawa oleh para penjenguk menulari

si pasien sehingga hatinya menjadi gembira. Tawa riang membuat dia

lupa pada penyakitnya. Tiba-tiba harapan untuk sembuh tumbuh dan

menggelora di dadanya. Dia jalankan semua instruksi dokter dengan

riang. Bukan sebagai orang yang sedang sakit, tapi sebagai orang yang

sudah siap sehat! Begitulah pikiran dan perasaan sangat memegang

peranan dalam proses penyembuhan.

Tidak ada sama sekali yang menimpa urat seorang Mukmin kecuali

Allah hapus untuknya dengan cobaan itu kesalahannya

dan Allah tetapkan baginya kebaikan dan Allah angkat derajatnya

(HR. At-Thabrani).

Ikhtiar Dalam Pandangan Islam

Ikhtiar atau berusaha yaitu  upaya untuk menuju ke satu keadaan

yang baik atau lebih baik dari keadaan sebelumnya. Ikhtiar juga berarti

usaha maksimal seorang hamba keluar dari takdir Allah yang satu menuju

ke takdir Allah yang lain agar bisa hidup lebih baik. Sesungguhnya tabiat

asli manusia yaitu  bergerak. Dia tidak mungkin diam saja di satu

tempat tanpa melakukan aktivitas. Gerak yaitu  bagian dari ikhtiar

manusia agar tidak stagnan. Bisa dibayangkan kalau hidup tanda gerak,

tentu akan sangat membosankan. Struktur tubuh manusia pun memang

didesain oleh Allah untuk memudahkan mereka bergerak. Lihat saja

tulang-tulang kita yang memiliki  sendi. Bagi umat Islam, ikhtiar wajib

hukumnya.  “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum

sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka

sendiri.” (QS. Ar-Ra’d  {13}: 11).

Ya, memang… keadaan kita tidak mungkin berubah kalau kita

sendiri tidak mau mengubahnya. Orang mukmin yang sedang sakit akan

terus dalam kondisi sakit bila dia tidak berusaha mencari penyembuhnya

lewat ikhtiar berobat. Padahal berobat itu tidak bertentangan dengan



tawakal. Penger tian tawakal yang paling sederhana yaitu 

bersandarnya hati kepada Allah, sesudah  semua upaya dilakukan.

Membiarkan penyakit bersarang di tubuh berarti mengingkari hakekat

tawakal dan menjadikan kelemahan sebagai alasan ber tawakal.

Rasulullah Saw bersabda: “Obat, bacaan doa, dan ketakwaan yaitu 

sebagian dari  takdir Allah. Tidak ada sesuatu yang keluar dari kekuasaan

Allah, akan tetapi takdir itu ditolak dengan takdir-Nya (pula).” Dalam

hadits lain, beliau juga bersabda: “Setiap penyakit ada obatnya. Jika

ada obat yang cocok untuk suatu penyakit, maka atas ijin Allah penyakit

itu akan sembuh”. Atau, “Allah tidak menurunkan suatu penyakit

melainkan Dia juga menurunkan penyembuhnya (obatnya).”

Dua hadits di atas bisa menjadi motivasi bagi orang yang sakit

maupun bagi dokter yang akan membantu menangani orang sakit.  Jadi,

wajarlah bila Nabi Muhammad Saw mengacungi jempol dan memuji

akhlak orang-orang beriman, sebab  memang akhlak mereka sangat

mulia. Mereka selalu bersabar dan senantiasa bersyukur.

Ikhtiar yaitu  Bagian

Dari Usaha Memilih Takdir Allah

Di atas telah dikatakan bahwa ikhtiar yaitu  bagian dari usaha memilih

takdir Allah. Di hadapan kita terhampar pilihan-pilihan, tinggal kita yang

memilih mana pilihan yang paling baik buat kita. Tentu saja yang

menggerakkan hati kita untuk memilih yaitu  Allah, kalau pilihan itu

baik. Kalau pilihan itu buruk maka nafsu kita yang dominan menguasai

hati kita.

Memang sulit sekali menjelaskan takdir dalam uraian yang singkat

dan sederhana. Tapi ilustrasi berikut ini mungkin bisa sedikit membantu

menjelaskan…. Suatu hari, Khalifah Umar bin Khathab ra. pergi

mengunjungi satu daerah. Sebagaimana yang kita baca dalam buku-

buku sejarah, Khalifah Umar bin Khathab ra. yaitu  kepala negara yang

rajin turba, turun ke bawah menemui rakyatnya. Itu beliau lakukan bukan



dalam rangka tebar pesona atau ingin mendapat simpati rakyat sebab 

ada agenda politik jangka pendek, seperti yang selama ini dilakukan

oleh para “pemimpin” di negeri kita. Melainkan sebab  rasa tanggung

jawabnya yang demikian besar terhadap amanah yang dibebankan di

pundaknya. Oleh sebab nya, hampir setiap malam beliau keliling kota,

memeriksa kalau-kalau ada rakyatnya butuh bantuan.

Sebelum Khalifah Umar bin Khathab ra. dan staf-stafnya sampai ke

daerah yang menjadi tujuan per jalanan dinasnya, seseorang

melaporkan bahwa daerah yang akan dikunjunginya itu sedang dijangkiti

wabah penyakit menular. Maka Khalifah Umar bin Khathab ra. segera

memutar untanya, berbalik ke arah lain. Melihat itu, salah seorang stafnya

ber tanya: “Wahai Amirul Mukminin, mengapa anda melarikan diri dari

takdir Allah?” Mendengar per tanyaan cerdas itu, Khalifah Umar bin

Khathab ra. tersenyum lalu menjawab, “Ya, aku melarikan diri dari takdir

Allah yang satu menuju ke takdir Allah yang lain.”

Begitulah…. Khalifah Umar bin Khathab ra. berusaha keluar dari

takdir buruk yang mungkin saja menimpa beliau sekiranya beliau

meneruskan perjalanan ke daerah yang sedang diserang wabah penyakit

menular. Beliau menghindari takdir buruk menuju takdir yang baik. Ini

ar tinya Khalifah Umar bin Khathab ra. berikhtiar agar tidak ter tular

penyakit yang sedang berjangkit.

Bisa saja orang yang sedang sakit ditakdirkan oleh Allah akan

berujung pada kematian. Tapi siapa tahu Allah juga “menawarkan” takdir

yang lain berupa kesembuhan kalau si sakit berikhtiar dengan sungguh-

sungguh mengobati penyakitnya. Kita memiliki  kehendak, Allah juga

memiliki  kehendak dan yang terjadi yaitu  kehendak Allah. Tapi

kenyataan ini tidak menggugurkan kewajiban kita berikhtiar, sebab  kita

tidak tahu berapa banyak pilihan takdir yang Allah sediakan bagi kita.

Kalau akhirnya, sesudah  habis-habisan berusaha, penyakit seseorang

tidak sembuh juga dan bahkan dia meninggalkan dunia, maka sikap

yang paling elok yaitu  menerima keputusan Allah itu dengan lapang

dada. sebab  itulah memang yang paling baik bagi si sakit dan

keluarganya.



Ikhtiar yaitu  Bagian Dari Keharusan Berusaha

Dalam Al-Qur’an, Allah telah menegaskan, bahwa Dia tidak akan

mengubah keadaan suatu masyarakat kalau masyarakat itu tidak mau

mengubahnya sendiri. Ini juga berlaku bagi individu. Nasib seseorang

juga tidak akan berubah bila dia tidak mau mengubahnya sendiri. Di

sisi lain, Allah memang sangat berkuasa atas segala sesuatu. Di sisi

lainnya, manusia tetap diwajibkan berusaha atau berikhtiar mengubah

nasibnya ke arah yang lebih baik. Secara sepintas, ini tampaknya sangat

kontradiktif. Tapi kalau kita mau berpikir jernih, maka akan terasa betapa

Maha Besarnya Allah. Allah memuliakan manusia justru dengan usaha

manusia itu sendiri. Ini artinya manusia tidak dibiarkan manja, dibuai

oleh fasilitas hidup yang telah Allah anugerahkan.

Misalnya, Allah telah menganugerahkan bahan dasar untuk bahan

bakar di dalam perut bumi, manusia mengambilnya, mengolah dan

menjadikannya bahan bakar berupa minyak tanah, solar, bensin, avtur,

gas, dan sebagainya. Semua bahan bakar itu digunakan oleh manusia

untuk mempermudah aktivitasnya, membantu ser ta meringankan

pekerjaannya dan sebagainya. Bahan dasar untuk bahan bakar itu akan

terus mengendap di dalam perut bumi kalau manusia tidak

mengeksplorasi dan memanfaatkannya untuk kepentingan hidupnya.

Mengeluarkan bahan dasar untuk bahan bakar dari perut bumi itulah

ikhtiar manusia. Kemudian mengolah dan memanfaatkannya juga bagian

dari ikhtiar.

Begitu juga kalau seseorang menderita suatu penyakit yang parah.

Dia akan terus dalam kondisi seperti itu selama dia tidak mau mengubah

keadaannya. Dia sesungguhnya sedang berhadapan dengan takdir sakit,

takdir sembuh kalau berobat, takdir sehat kalau sudah sembuh nanti,

dan takdir mati kalau tidak berbuat apa-apa bagi penyakitnya. Atau

mungkin juga ada takdir Allah lainnya, yang hanya Allah sendiri yang

tahu. Tinggal dia, mau memilih atau tidak. Kalau dia memilih berobat

dan pilihannya itu ternyata tepat ser ta Allah ridha, maka dia akan

sembuh. Kalau pilihannya tidak tepat, maka dia harus berusaha lagi



dan tidak boleh putus asa. Berobat itu yaitu  bagian dari keharusan

berikhtiar.

Sekali lagi, Kemahakuasaan Allah Azza wa Jalla tidak serta merta

menghapuskan atau menghilangkan kewajiban kita berikhtiar. sebab 

ikhtiar yaitu  sunnatullah. Kalau anda lapar, maka ikhtiar yang masuk

akal yaitu  mencari makanan yang bisa dimakan. Kalau anda

mengantuk, maka ikhtiar yang tepat yaitu  tidur. Begitu seterusnya.

Ikhtiar yaitu  Bentuk Syukur

Untuk Memaksimalkan Potensi dan Kemampuan

Ummul Mukminin Aisyah ra., pernah sangat sedih melihat Rasulullah

Saw, Suaminya, yang kakinya pecah-pecah dan bengkak sebab  terlalu

lama berdiri dalam shalat sunnah di rumah mereka yang sederhana.

sebab  tak tahan menanggung sedih, suatu hari beliau bertanya: “Wahai

Rasulullah, Tuan telah dijamin masuk surga oleh Allah Azza wa Jalla,

tapi mengapa Tuan masih juga beribadah seper ti itu, sehingga kaki

Tuan bengkak-bengkak?” Rasulullah Saw tersenyum maklum. Beliau

menatap Bunda Aisyah ra. dengan penuh kasih sayang, lalu dengan

sabar beliau bersabda: “Ya Khumaira, tidak bolehkah aku menjadi

hamba yang pandai bersyukur atas apa-apa yang telah Allah

anugerahkan kepadaku?”

Jadi, ibadah Rasulullah Saw yang luar biasa itu semata-mata dalam

rangka mensyukuri nikmat yang telah Allah anugerahkan kepada beliau.

Rasulullah Saw berusaha memaksimalkan rasa syukurnya kepada Allah

dengan beribadah sedemikian rupa. Hasilnya yaitu , potensi ruhani

Rasulullah Saw semakin melangit, membuncah-buncah sehingga

membuat penduduk langit rindu ingin segera bertemu beliau. Dan beliau

juga rindu ingin bertemu mereka.

Orang yang berikhtiar untuk kebaikan dan perbaikan hidupnya,

sesungguhnya yaitu  orang yang sedang mensyukuri nikmat Allah. Dia

bersyukur sebab  diberi kesempatan untuk berubah, memperbaiki segala



kekurangan yang ada pada dirinya.  Dengan begitu, dia bisa

memaksimalkan seluruh potensi baik dan kemampuannya.

Jika anda tergolek di ranjang sebab  suatu penyakit, tapi anda

tidak putus harapan dan terus berikhtiar untuk sembuh dengan berobat

kepada ahlinya, maka itulah bentuk rasa syukur anda. Anda terus

berusaha dengan mengerahkan segenap kemampuan dan daya agar

bisa sembuh dari penyakit yang anda derita, maka usaha itu yaitu 

bentuk syukur anda yang paling nyata. Bersyukur kepada Allah tidaklah

cukup hanya dengan menyebut-nyebut, “Alhamdulillah…” berulang-

ulang. Dia harus aplikatif. Bentuk syukur seorang dokter yaitu  saat 

dia berikhtiar menolong atau membantu menyembuhkan pasien. Bentuk

syukur pasien yaitu  berobat agar bisa sembuh tanpa putus asa.

Seringkali seseorang yang sakit “menemukan” potensi-potensi yang

dahsyat dari dirinya yang selama ini tidak diketahuinya justru saat  dia

berusaha sembuh. Itulah sebabnya Rasulullah Saw memerintahkan agar

para sahabat beliau berobat saat  sakit. Tidak membiarkan penyakit

lama-lama bersarang di dalam tubuh, sebagaimana yang beliau

contohkan. )Khumaira ar tinya wanita yang pipinya merah merona. Itu

yaitu  panggilan sayang Rasulullah Saw kepada Bunda Aisyah ra.).

Ikhtiar yaitu 

Pengakuan Akan Kelemahan Makhluk

Manusia yaitu  makhluk atau ciptaan Allah. Dalam dirinya ada 

banyak kelemahan, walaupun dia yaitu  makhluk yang paling sempurna

dibanding makhluk Allah yang lain. Di mata Allah, manusia tiada artinya.

Dia baru memiliki  nilai kalau telah memakai  seluruh potensi

ruhiyah dan insaniyahnya untuk berbuat kebajikan dan mencari

kebenaran. Dan kebenaran mutlak hanya milik Allah. Kendati demikian

manusia tetaplah makhluk yang dhaif di hadapan Allah.

Tanda kelemahan manusia sangat terasa saat  dia sedang sakit.

Tidak ada yang bisa dilakukannya kecuali berusaha, berikhtiar



menyembuhkan dirinya dari penyakit. saat  seseorang berikhtiar,

sesungguhnya dia telah mengakui bahwa dirinya lemah. Hanya Allah

Yang Maha Perkasa, Pemilik Kerajaan langit dan bumi. “… dan manusia

dijadikan bersifat lemah.” (An-Nisaa’ {4}: 28).

Dia lemah, makanya dia perlu berikhtiar, agar lepas dari beban

penyakit. Hanya orang sombong saja yang merasa dirinya kuat di

hadapan Allah. Bukan berarti kita tidak boleh menimbulkan sugesti dalam

diri kita. Boleh saja. Tapi sugesti itu juga harus berlandaskan akal sehat

dan memper timbangkan kenyataan. Bukan asal sugesti, sekedar

memberi semangat kepada diri sendiri supaya cepat sembuh. Padahal

itu sugesti palsu yang hanya pura-pura.

Ikhtiar yaitu 

Bagian Dari Tawakal Kepada Allah

Sekali lagi tawakal pada hakekatnya yaitu  penyerahan segala hasil

usaha manusia kepada Allah. Seseorang yang sakit sangat tercela kalau

dia tidak melakukan apa-apa dengan alasan tawakal kepada Allah.

Padahal tawakal harus didahului oleh upaya-upaya maksimal. Mungkin

anda masih ingat kisah berikut ini:

Suatu hari, saat  Rasulullah Saw sedang mengajar di Masjid Nabawi,

masuk seorang badui dengan agak tergesa. Melihat orang itu, Rasulullah

Saw bertanya: “Apakah sudah kau ikat untamu, wahai Saudaraku?” “Saya

bertawakal kepada Allah, ya Rasul….” Jawab si badui. Rasulullah Saw

tersenyum mendengar keluguan orang itu. Beliau lalu bersabda: “Ikat

dulu untamu, Saudaraku…, baru sesudah  itu kau tawakal kepada Allah!”

Tawakal yang tidak didahului oleh upaya maksimal sesungguhnya

belum bisa disebut tawakal. Itu tawakal yang pura-pura. Kelemahan

yang dibungkus dengan kepasrahan. Tawakal merupakan salah satu

sebab yang bisa mendatangkan keberhasilan bagi mereka yang mencari

penyembuhan saat  sakit. Jadi, per tama-tama kesembuhannya harus

dicari, atau diupayakan. Bersamaan dengan itu, dia harus yakin bahwa



Allah bersama dia. Allah akan memberikan yang terbaik kepadanya.

Keyakinan ini sangat diperlukan, untuk sampai pada tawakal yang

sebenarnya.

Apalagi di jaman seper ti sekarang ini, sarana-sarana yang

memungkinkan orang yang sakit  mendapatkan kesembuhan dari

penyakitnya,  begitu banyak tersedia (ini di luar pembicaraan mahalnya

biaya berobat). Di samping itu, orang yang sakit juga berkewajiban

mencari cara penyembuhan yang mudah dan bermanfaat bagi

ketenangan jiwanya serta memunculkan daya sugesti yang kuat, misalnya

dengan berdoa, berzikir, shalat, mengeluarkan sedekah, dan sebagainya.

Upaya yang belakangan ini bisa dilakukan secara berbarengan dengan

upaya-upaya medis. “Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu

bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS. Al-Maaidah

{5}: 23).

Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum,

sampai kaum itu sendiri yang mengubahnya.

(QS. Ar-Ra’d {13}: 11).

Kisah Hikmah

Bumi bagaikan runtuh saat  Darso menerima vonis dokter bahwa dia

menderita kanker hati stadium 4. Bukan itu saja, dokter juga memprediksi

berapa lama “usia” Darso. Dokter menganjurkan agar dia dioperasi,

walaupun itu hanya menghambat saja, bukan menyembuhkan atau

menghilangkan kankernya. Tapi biaya operasi terlalu besar, belum lagi

perawatan pasca operasi, sedangkan dia hanya karyawan biasa dengan

gaji yang tidak terlalu besar.

Kendati begitu, Darso tidak putus harapan. Dia yakin akan ada

jalan keluar yang terbaik asalkan dia mau mendekatkan diri kepada

Allah. Bukankah setiap Allah menurunkan penyakit selalu diser tai

obatnya? Berbekal keyakinan itulah Darso menghabiskan malam dengan



shalat Tahajjud dan tidak pernah melupakan shalat Dhuha serta puasa

sunnah Senin-Kamis…. Setiap hari diisinya dengan keceriaan dan selalu

yakin Allah akan memberinya yang terbaik.

Suatu pagi, di saat libur kerja, Darso keluar rumah. Tidak jelas

mau ke mana dan mau apa. Pokoknya dia jalan saja. Sampailah dia di

lapak yang menjual Koran dan majalah. Tanpa berpikir, seper ti ada

yang bimbing, Darso membeli majalah khusus tetumbuhan tanpa melihat

isinya. sesudah  itu dia pulang. Sesampainya di rumah, Darso membaca

sebuah artikel tentang tanaman yang bisa menghilang racun di dalam

tubuh. Entah bagaimana prosesnya, tiba-tiba timbul keinginan di hati

Darso untuk membeli tanaman itu dan menjadikannya sebagai

minuman.

Maha Besar Allah…. sesudah  beberapa bulan minum ramuan yang

dibuatnya sendiri, Darso mengecek kembali penyakit kanker yang

dideritanya. Hasilnya luar biasa, kankernya hilang sama sekali! Dokter

yang biasa menangani heran dan bertanya, bagaimana bisa penderita

kanker hati stadium 4 sembuh total dalam waktu yang relatif singkat.

Darso dengan mantap menjawab,  “Allah yang menyembuhkan, Dok!”

Sekarang Darso bahkan banyak menerima “pasien” di rumahnya….

Dia telah berikhtiar, dan Allah ridha dengan ikhtiarnya untuk sembuh,

sehingga Dia berkenan menyembuhkan penyakitnya.

Kedua kaki seseorang tidak akan bergerak sebelum ditanya tentang

umurnya, untuk apa dia dihabiskan; tentang ilmunya, untuk apa dia

dipergunakan; tentang hartanya, dari mana dia diperoleh dan untuk

apa dia dibelanjakan; dan tentang badannya untuk apa dia

dirusakkan.

(HR. Tirmidzi).



Sumber rujukan utama umat Islam yaitu  Al-Qur’an dan sunnah

Rasulullah Saw. Kalau suatu masalah tidak ditemukan nash-nashnya

(dalil-dalilnya) di dalam Al-Qur’an, maka kita bisa mencarinya di dalam

sunnah Rasulullah Saw, yakni melalui hadits-hadits beliau. Begitu juga

dalam masalah kesehatan. Banyak hadits Nabi Muhammad Saw yang

berbicara tentang pentingnya kesehatan. Dan Nabi Muhammad Saw

yaitu  orang yang sangat memperhatikan kesehatan diri dan

lingkungannya. Misalnya beliau selalu bersiwak, membersihkan gigi dan

mulut sebelum menunaikan shalat. Beliau selalu berwudhu sebelum

tidur. Beliau selalu mengunyah makanan sampai 33 kali sehingga

makanan itu halus dan mudah diserap pencernaan. Beliau selalu berdoa

sebelum dan sesudah makan ataupun saat  mau minum dan lain

sebagainya.

Al-Qur’an sebagai pedoman hidup umat Islam

Dalam Al-Qur’an juga ada beberapa ayat yang, walaupun tidak

menyebut secara langsung, berkaitan dengan pentingnya menjaga



kesehatan. Misalnya: “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang

ber taubat dan mencintai orang-orang yang membersihkan diri.” (QS.

Al-Baqarah {2}: 222).

Ayat ini bicara tentang kesehatan dalam dimensi yang lebih dalam

dan luas. Allah mengisyaratkan bahwa siapa saja hamba yang ingin

dicintai-Nya, maka yang per tama harus dilakukan si hamba yaitu 

membersihkan jiwa dan ruhaninya dengan jalan bertaubat. Ber taubat

makna sederhananya, kembali ke jalan Allah dengan sepenuh hati

seraya ber tekad tidak akan mengulangi lagi perbuatan dosa dan

maksiat yang berpotensi mengundang murka Allah, diikuti dengan

melaksanakan dengan ikhlas semua yang diperintah Allah dan menjauhi

sekuat tekad apa saja yang dilarang-Nya. Orang yang bertaubat yaitu 

orang yang sehat secara psikologis dan spiritual. Jiwanya akan tenang

dan emosinya stabil, tidak mudah stres, selalu optimis menghadapi

hidup dan riang dalam berbagai kesempatan, selalu ingin berbagi

kebaikan dengan sesama, dan tidak pernah disusahkan oleh persoalan

duniawi. Terakhir dia selalu menyandarkan harapan hanya kepada Allah.

sesudah  itu, Allah menyatakan bahwa Dia juga senang dan cinta

pada hamba-hamba yang senantiasa member sihkan diri.

“Membersihkan diri” maknanya bersih badan, pakaian, dan lingkungan.

Badannya bersih dari makanan yang haram atau yang berpeluang

membawa penyakit, juga bersih dari kotoran yang melekat di kulit.

Pakaiannya bersih, sebab  dia dituntut untuk selalu melaksanakan shalat

lima kali sehari. Begitu juga lingkungannya, harus selalu terbebas dari

najis. Atau dari apa saja yang bisa membuat hidup tidak nyaman sebab 

Allah tidak menurunkan berkah di sana. Dan mereka dituntut untuk

selalu dalam kondisi baik seperti itu terus-menerus.

Jadi, Islam memandang kesehatan lebih dari sekedar terhindarnya

seseorang dari penyakit. Bukan sekedar tubuh sehat lalu selesailah

sudah persoalan. Tidak demikian. sebab  Islam yaitu  ad-din, jalan

dan tata hidup yang menyeluruh, maka saat  dia berbicara tentang

kesehatan pun sangat luas, mencakup semua aspek kehidupan.



saat  Rasulullah, Muhammad Saw, diperintah untuk menyebarkan

Al-Islam secara terang-terangan, Allah berfirman: “Hai orang yang

berselimut, bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan Tuhanmu

agungkanlah! Dan pakaianmu bersihkanlah!” (QS. Al-Muddatsir {74}: 1-

4).

(Kalau dalam komentar Abdullah Yusuf  Ali, dalam Qur’an,

Terjemahan dan Tafsirnya  yang diterjemahkan oleh Ali Audah, kalimat

“Dan pakaianmu bersihkanlah!” diterjemahkan menjadi, “Dan jagalah

kebersihan pakaianmu!”).

Rasulullah diperintahkan untuk meninggalkan kesenangan dunia

(yakni tidur sambil berselimut), bangkit dan segera memberikan

peringatan kepada seluruh manusia dan mengagungkan Allah. Di

samping itu, beliau juga diperintah untuk membersihkan pakaiannya.

Sebab beliau akan menjadi “model” yang akan dicontoh dan diteladani

oleh seluruh manusia di sepanjang jaman, sampai jauh melampaui

masa hidup beliau, sehingga beliau harus tampil bersih. Kalau seseorang

disuruh membersihkan pakaiannya, tidak mungkin tubuhnya kotor atau

tidak bersih. Orang yang berakal sehat tidak mungkin memakai pakaian

bersih kalau tubuhnya kotor.

Dari satu ayat itu saja kita bisa menarik kesimpulan, betapa soal

kebersihan ini mendapat tempat utama dalam Islam.  Islam yaitu 

agama yang bersih sebab  turun dari Yang Maha Bersih yang mencintai

orang-orang yang senantiasa membersihkan diri, Allah Azza wa Jalla.

Wajar saja kalau dalam Musyawarah Nasional Ulama tahun 1983, Majelis

Ulama Indonesia (MUI) memberikan definisi kesehatan sebagai  “…

ketahanan jasmaniah, ruhaniah dan sosial yang dimiliki manusia, sebagai

karunia Allah yang wajib disyukuri dengan mengamalkan (tuntunan-

Nya), dan memelihara ser ta mengembangkannya.”



Sehat Jasmani

Sehat memang sebuah pilihan. Kalau seseorang mau tubuh atau

jasmaninya sehat, maka dia harus memilih jalan yang bisa

mengantarkannya pada kesehatan itu. Jalan utama yang wajar

ditempuhnya yaitu  menghindari penyakit dengan cara menerapkan

pola hidup sehat. Sehat bisa didapatkan lewat makanan, minuman, dan

aktivitas fisik yang proporsional dan tidak berlebihan. Menu makanan

selayaknya memenuhi gizi yang  standar. Menu 4 sehat 5 sempurna,

cukup kalori, vitamin, mineral, karbohidrat, kalsium, lemak, dan

sebagainya.

Tentu saja menu seper ti di atas hanya mungkin dinikmati oleh

mereka yang berpunya (kaum aghniya), sedangkan saudara-saudara

kita yang miskin, tidak pernah memikirkan “menu”, tapi “apa” yang

bisa dimakan hari ini. Tidak heran saat  beberapa waktu lalu kita

dikejutkan oleh berita tentang “makanan sampah”. Yaitu makanan sisa-

sisa restoran dan hotel yang telah dibuang ke tempat sampah, kemudian

dikumpulkan dan diolah lagi, lalu dijual dengan harga murah di pasar-

pasar tradisional. Masalah itu belum hilang benar dari ingatan kita,

timbul lagi makanan kadaluwarsa yang dijual di pasar-pasar rakyat

dengan hanya mengganti kemasannya saja.

Hati kita miris mendengar berita tersebut. Sesungguhnya saudara-

saudara kita yang miskin itu tidak mau makan makanan sampah atau

kadaluwarsa, tapi kondisi ekonomi yang serba kekurangan memaksa

mereka melakukan itu demi tercukupinya gizi keluarga. Akhirnya terpaksa

mereka membeli makanan sampah dan kadaluwarsa yang

sesungguhnya tak layak konsumsi itu. Mereka tidak hiraukan bahayanya,

dan saat  mereka sakit akibat makanan itu, mungkin biaya untuk

berobatnya lebih mahal daripada kalau mereka membeli makanan

higienis.

Kemudian, aktivitas fisik yang proporsional maksudnya yaitu  fisik

diberikan hak untuk beristirahat, tidak dipaksa bergerak terus-menerus,

tapi juga tidak dibiarkan diam tidak melakukan gerak yang berar ti.



Berolah raga yaitu  pilihan terbaik untuk menjaga kesehatan dan

kebugaran jasmani. Bagi anda yang bekerja di depan komputer atau

duduk di belakang meja sekian jam sehari, masih bisa melakukan gerak-

gerakan ringan 5-10 menit untuk relaksasi. Tidak perlu ke luar kantor

atau keluar ruangan, cukup di tempat saja. Biar bagaimanapun tubuh

kita bukanlah mesin yang bisa bekerja seharian tanpa istirahat. Mesin

juga kalau dipaksa bekerja terus-menerus bisa rusak. Demikian juga

tubuh kita. Sabda Nabi Muhammad Saw: “Dan untuk setiap badanmu,

ada haknya bagimu.”

Allah Azza wa Jalla, melalui Rasulullah Saw, meminta kita agar

memperhatikan hak-hak tubuh kita, yaitu memberikan makanan yang

bergizi, tidak merusak dengan narkoba dan sejenisnya, berolah raga

dan istirahat. Dalam sebuah hadits, bahkan Rasulullah Saw

menganjurkan setiap orangtua agar mengajari anak-anaknya berenang,

menunggang kuda, dan memanah. Ini yaitu  hak tubuh bukan hanya

untuk sehat, tapi untuk relaksasi dan mencari kesenangan.

Orang yang sehat secara jasmani akan mudah dalam beraktivitas.

Artinya fisiknya sangat menunjang dan tidak jadi penghalang aktivitasnya.

Nabi Muhammad Saw bersabda: “Barangsiapa bangun di pagi hari

dengan badan sehat dan jiwa sehat pula, maka dia seperti orang yang

memiliki dunia seluruhnya.” (HR. Tirmidzi).

Nabi Muhammad Saw memberi isyarat, bahwa sehat itu memang

mahal harganya. Bahkan beliau mengandaikan orang yang sehat badan

dan jiwanya laksana pemilik seluruh dunia beserta isinya. Dan memang,

seseorang yang sedang sakit rela “menukar” sakit yang dideritanya

dengan apa saja yang dia miliki, asalkan dia bisa sembuh dari sakit dan

kembali sehat. Pernah suatu hari seorang Sahabat, Abu Darda’ ra.,

bertanya kepada Rasulullah Saw: “Ya Rasulullah, jika saya sembuh dari

sakit lalu saya bersyukur, apakah itu lebih baik daripada saya sakit dan

menanggungnya dengan sabar?”  “Sesungguhnya Rasul mencintai

kesehatan sama seperti engkau juga mencintainya.” Jawab Rasulullah

Saw.



Jadi, Rasulullah Saw menghendaki umatnya selalu dalam keadaan

sehat agar bisa tampil prima di lapangan kehidupan. Al-Hadiqah

mengatakan: “Apabila Rasulullah Saw bangun dari tidur, beliau

membersihkan mulutnya dengan sepotong ranting kayu gaharu.” (HR.

Bukhari). Pola hidup Rasulullah Saw yaitu  pola hidup yang sangat

wajar tapi sehat.

Konon Nabi Daud as. pernah mengatakan bahwa kesehatan yaitu 

har ta karun yang tidak terlihat, tersembunyi. Disebut  “harta karun”

sebab  kita baru tahu mahalnya sehat saat  sedang sakit dan harus

menjalani perawatan di rumah sakit. Cobalah anda datang sesekali ke

rumah sakit dalam keadaan sehat. Anda akan melihat, betapa untuk

mencapai kesehatan seseorang harus berjuang bersusah payah dengan

selang infus, jarum suntik, tabung oksigen, obat, dan lain-lain. Pastilah

banyak biaya yang harus dikeluarkannya.

Sehat Jiwa (Mental)

Dalam filsafat, agama maupun dalam kehidupan sehari-hari, kata “jiwa”

memang tidak memiliki  definisi yang jelas. sebab  memang dia

bagian yang integral dari tubuh dan ruhani manusia, tidak bisa dibelah-

belah atau dipisahkan satu sama lain. Eksistensi manusia bukan hanya

tubuhnya, tapi juga jiwa dan ruhaninya. Menyamakan jiwa dengan mental

juga rasanya kurang tepat. (Ilmu kedokteran memiliki  istilah yang

menarik: psychiatry/kedokteran jiwa, dan mental health/kesehatan jiwa)

Ungkapan yang seringkali kita dengar yaitu  sehat jasmani dan ruhani,

atau sehat mental dan spiritual.  Teks atau nash agama (Islam) biasa

menyebut jiwa dengan kata nafs.

Dulu kita sering mendengar ungkapan “Dalam badan yang sehat,

ada  jiwa yang sehat”. Tapi sekarang, ungkapan itu tampaknya harus

direvisi seiring dengan kemajuan di bidang ilmu kesehatan, kesehatan

jiwa khususnya. Apakah benar kalau badan seseorang sehat secara

otomatis jiwanya juga sehat? Jawabnya bisa “Tidak”. sebab  banyak



orang yang badannya sehat, tapi jiwanya sakit. Ada juga orang badannya

tidak sehat, tapi ternyata jiwanya sehat.

Dalam Al-Qur’an, Allah Azza wa Jalla berfirman: “Dan (demi) jiwa

ser ta penyempurnaannya. Maka  Allah mengilhamkan kepada jiwa itu

(jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang

yang mensucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang

mengotorinya.” (QS. Asy-Syams {91}: 7-10).

Allah dengan jelas menyatakan bahwa orang yang mensucikan atau

membersihkan jiwa yaitu  orang yang beruntung, sebab  jiwa yang

suci-bersih yaitu  jiwa yang sehat. Kalau jiwa seseorang sehat, dia

akan terhindar dari penyakit-penyakit hati, seper ti iri, dengki, ujub

(bangga diri), riya (pamer), sombong, dan sebagainya. Penyakit-penyakit

hati (psikis) itu sangat perpotensi mengundang datangnya penyakit

jasmani, penyakit fisik. Itulah sebabnya, Allah katakan sangat merugi

orang-orang yang mengotori dan merusak jiwa, yang indikasi luarnya

yaitu  melakukan aktivitas yang dilarang agama.

Orang yang jiwanya tidak sehat, kemungkinan besar menderita

dua kerugian. Per tama, ibadahnya mungkin saja ter tolak sebab  di

dalam hatinya menyimpan berbagai syak wasangka kepada Allah dan

kepada manusia. Kedua, daya tahan tubuhnya bisa menurun sebab 

tekanan dari dalam jiwanya. Kondisi kejiwaan seper ti ini berpeluang

mengakibatkan stres, depresi bahkan skizofrenia (schizophrenia).

Mungkin anda masih ingat kasus seorang calon bupati di sebuah

kabupaten di Jawa Timur. sesudah  gagal jadi bupati, dia stres berat dan

menjadi gila. sebab  harus melunasi hutang sekian milyar, menanggung

malu, ditambah lagi isterinya meninggalkannya….

Ibnu Sina juga berbicara tentang jiwa dalam bukunya, tapi dalam

bingkai filsafat, bukan dalam konteks kesehatan. Sehingga tidak relevan

kalau dikutip di sini. Nabi Muhammad Saw yaitu  model sempurna

untuk dicontoh oleh seluruh manusia. Emosi dan tingkah laku beliau

selalu terkontrol dan terkendali. Sahabat Anas ra. bersaksi: “Aku

mengabdi kepada Rasulullah Saw selama sepuluh tahun, (dan selama

itu) beliau tidak pernah sekalipun memarahiku.”



Ini menunjukkan bahwa emosi Rasulullah Saw sangat stabil. Beliau

hanya marah bila berkaitan dengan agama saja, misalnya sebab  aturan

atau larangan Allah dilanggar. Bahkan Abdullah bin Umar ra. pernah

mengatakan bahwa Rasulullah Saw tidak pernah bersikap tidak pantas

dan tidak pernah mengatakan yang tidak layak. Sebuah hadits yang

diriwayatkan oleh Abu Nua’im ra., Rasulullah bersabda: “Barangsiapa

banyak mengalami kecemasan (stres) dan kesedihan, maka tubuhnya

akan menjadi sakit.”

Adakah dokter di abad ketujuh Masehi yang berani memastikan,

bahwa kondisi kejiwaan seseorang akan berpengaruh terhadap fisiknya?

Itulah dia Rasulullah Saw, Utusan Allah Azza wa Jalla. Kapan saja para

sahabat menjumpai Rasulullah Saw, mereka selalu melihat wajah beliau

cerah, dan senyuman selalu tersungging di bibir beliau. Tak pernah

beliau tampak susah atau suntuk, kendati tugas berat sehari-hari

membebani pundak beliau. Beliau harus berdakwah, meng-

komunikasikan perintah dan larangan Allah kepada umat manusia,

mengurus keluarga, membina umat, menerima delegasi atau tamu-

tamu dari negara tetangga, dan bahkan berperang melawan kaum kafir.

Semua beliau jalani dengan lapang dada dan semata-mata hanya

mengharap belas kasih dan ridha Allah Azza wa Jalla. Makanya beliau

tidak pernah tampak gelisah, cemas apalagi stres.

 Jiwa yang selalu ter tekan, gundah-gulana, selalu curiga, iri,

sombong, riya’, sedih, dan tidak gembira, bisa menurunkan daya tahan

tubuh, akibatnya tubuh akan mudah diserang penyakit. Makanya

Rasulullah Saw. menyuruh umatnya menjauhi kondisi kejiwaan yang bisa

mengundang penyakit. Cara yang paling baik yaitu  dengan banyak-

banyak mengingat Allah. Sebab hanya dengan mengingat Allah hati

menjadi tentram (QS. Ar-Ra’d {13}: 28). Kesehatan yaitu  “mahkota”

di kepala orang-orang yang sehat, yang hanya bisa dilihat oleh orang-

orang yang sedang sakit (Nabi Daud as.).



Sehat Ruhani

Sebagian umat Islam sangat meyakini bahwa manusia bisa hidup sebab 

adanya ruh. Boleh dibilang, ruh yang bersemayam di dalam jasad kasar

manusia yaitu  hidup itu sendiri. Tapi untuk tahu lebih jauh tentang

ruh ini, misalnya substansi atau hakekatnya, kita tidak bisa. Allah sudah

membatasi masalah ini dengan firman-Nya dalam Al-Qur’an: “Dan

mereka bertanya kepadamu (hai Muhammad) tentang ruh, katakanlah,

‘Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan

melainkan sedikit’….” (QS. Al-Israa {17}: 85).

Cukuplah firman Allah itu sebagai sandaran, bahwa mencari apa

hakekat  ruh itu akan sangat sia-sia. Biarlah semua menjadi “urusan”

Allah. Sebab Nabi Muhammad Saw. sendiri juga diperintahkan oleh Allah

hanya menjawab pertanyaan seputar ruh seperti di atas itu. Tidak lebih

tidak kurang. Banyak sekali pertanyaan manusia seputar ruh, misalnya:

Apakah ruh bisa mati juga seperti jasad? Ke manakah “perginya” ruh

sesudah  jasad dikubur? Dan sebagainya. Tapi biarlah per tanyaan itu

sampai di situ saja. sebab  agama memang sangat membatasi masalah

ini.

Walaupun persoalan ruh begitu misterius dan menjadi urusan Allah,

tapi kita tetap wajib memberikan hak-hak ruhaniah kita. sebab  dia

bersemayam di dalam jasad kasar tubuh kita. Di antara hak-hak ruh

yang harus kita penuhi yaitu  memberinya “makanan” agar dia tetap

sehat. Ruh bersifat spiritual, maka makanannya juga bersifat  spiritual.

sebab  ruh berasal dari Allah, maka makanan ruh juga harus berasal

dari Allah. Asupan nutrisi dan gizi yang paling baik bagi ruhani yaitu 

firman-firman Allah, yang diaplikasikan oleh akal dan tubuh dengan

menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Orang-orang

yang sehat ruhaninya yaitu  mereka yang senantiasa menjaga

hubungan baiknya dengan Allah Azza wa Jalla.

Menegakkan shalat, berdzikir, berdoa, bersedekah, berzakat,

bersilaturrahim, mendengarkan ceramah agama, dan mengerjakan

perintah agama atau aktivitas ibadah lainnya, merupakan cara kita



memberi asupan nutrisi bagi ruhani. Betapapun jasmani, jiwa dan ruhani

harus mendapatkan hak-haknya secara proporsional. Tidaklah adil bila

kita menghiasi jasmani dan jiwa kita sebagus-bagusnya, tapi

mengabaikan hak-hak ruhani.

Berdoa, memberikan hak ruhani.

Bagaimanakah jadinya, kita hiasi rumah kita dengan dekorasi yang

indah, cat yang penuh warna, lampu yang terang benderang, tapi kita

biarkan pondasinya keropos dimakan rayap sebab  hanya terbuat dari

papan yang mudah rapuh? Bukankah pondasi yaitu  penyangga yang

membuat rumah kita tegak berdiri? Begitu juga aktivitas ibadah. Dia

yaitu  penyangga hidup kita, yang dengannya kita berharap mendapat

kebahagiaan yang hakiki di dunia maupun di akhirat kelak.



Dahaga ruhani (spiritual hopeless) paling terasa di dunia Barat.

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi bukan hanya membawa

maslahat, tapi juga mudharat bagi kemanusiaan. Kemajuan yang dicapai

oleh manusia justru menjauhkan manusia dari fitrah sejatinya. Yakni

fitrah akan kebutuhan jiwanya terhadap Tuhan. Akhirnya jiwa mereka

menjadi kering dan tandus, tidak ada sentuhan spiritual di sana.

Semuanya serba mesin, angka, dan materi. Maka sejak awal tahun 1970,

terjadi kehebohan spiritual di Barat dengan bermunculannya pseudo

agama untuk menampung dahaga ruhani masyarakat modern. Gerakan

spiritual ini dikenal dengan nama New Religion Movement (NRM) yang

mendapat reaksi keras dari kaum agamawan “tradisional”.

Aktivitas NRM jalan terus dan makin banyak menarik minat kalangan

muda. Contoh sekte hasil NRM yaitu  Children of God, Church of

Scientology, Unification Church, Hare Krisna, dan lain-lain. Pada tahun

1977, “Pendeta” James Jones mengajak jemaatnya bunuh diri massal.

Juga David Koresh melakukan hal yang sama bersama jemaatnya pada

1995.  Betapa hebat dan mengerikannya dampak dari kekeringan ruhani

ini, sehingga seseorang akan melakukan apa saja untuk memuaskan

dahaga ruhaninya. Walaupun apa yang dilakukannya itu bertentangan

dengan akal sehat.

Beruntunglah kita, kaum Muslimin, yang oleh Allah, melalui Rasulullah

Saw, diajarkan untuk selalu mengingat-Nya. “… ingatlah kamu kepada-

Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku,

dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (QS. Al-Baqarah {2}:

152).

Sehat Prilaku

Orang-orang yang sehat jasmani, jiwa dan ruhaninya, tentulah akan

sehat juga prilakunya. Semua perbuatannya sangat terukur, wajar dan

dilakukan dengan kesadaran penuh. Mereka juga selalu tampil segar

dan cerah, gembira dan tidak suntuk, dengan emosi yang stabil dan


terkendali. Seorang Sahabat Nabi, Abdullah bin Harits ra berkata: “Aku

tidak pernah melihat seseorang yang banyak tersenyum melebihi

Rasulullah Saw.”

Bagi umat Islam, tidak bisa tidak harus selalu merujuk kepada

Rasulullah Saw, sebab  beliau memang diutus oleh Allah untuk menjadi

model sempurna bagi prilaku manusia. Banyak orang yang tampilan

luarnya sangat tenang, tapi sesungguhnya menyimpan kejahatan yang

luar biasa di dalam hatinya. Dia bisa saja tampil penuh pesona, padahal

sesungguhnya dia penjahat kemanusiaan yang kejam.

Tentu kita masih ingat dengan peristiwa pembunuhan sadis dan

berantai yang dilakukan oleh seorang gay asal Jombang, Jawa Timur.

Peristiwa sadis dan mengerikan itu sangat mengguncang akal sehat

kita,  bagaimana seseorang yang tampak cool  bisa melakukan

kekejaman yang luar biasa. Membunuh belasan orang tanpa rasa

bersalah. Ini menunjukkan bahwa, sehat jasmani tidak menjamin

sehatnya jiwa. Kalau jiwa seseorang tidak sehat, maka jangan harap

prilakunya akan sehat. sebab  sesungguhnya, jiwa inilah salah satu

motor penggerak hidup kita. Jasad hanya wadah kasar tempat jiwa

bersemayam, yang bergerak sebab  mengikuti kemauan jiwa. Dan fungsi

ruh? Dialah hidup itu sendiri, selebihnya hanya Allah Yang Maha

Mengetahui.

Kita juga dikejutkan oleh berita yang tidak elok, yang membuat kita

marah, sakit hati, kecewa, merasa dikibuli dan kehilangan kepercayaan

saat  Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menciduk beberapa

anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang terhormat dan menetapkan

mereka sebagai tersangka kasus korupsi. Para Wakil Rakyat korupsi

secara “berjamaah” di tengah krisis yang sedang membelit kehidupan

rakyat yang diwakilinya. Padahal mereka sudah “disejahterakan” dengan

gaji besar dan segala fasilitas oleh Negara yang anggarannya sebagian

diambil dari pajak yang dibayarkan rakyat. Ini satu lagi bukti, bahwa

sehat jasmani atau fisik tidaklah menjadi tanda sehat jiwa yang

bersemayam di dalamnya.


Memperkenalkan nilai-nilai agama dan budi peker ti sejak dini

kepada anak-anak kita yaitu  cara terbaik untuk mendapatkan generasi

yang sehat lahir batin dan sehat prilakunya. Apalagi kita hidup di jaman

yang serba permisif, di mana nilai-nilai hidup yang dulu sangat kita

agungkan semakin tidak diindahkan –untuk tidak mengatakan

“ditinggalkan”. Orang-orang saat ini hidup cenderung individualistik.

Kalaupun ada kebersamaan itu hanya bersifat primordial saja, sebab 

kesamaan suku, agama, par tai, dan sebagainya. Padahal Nabi

Muhammad Saw, teladan utama kita, mengajarkan bahwa orang-orang

Islam yaitu  bersaudara dan bahwa manusia yang baik yaitu  yang

banyak manfaatnya bagi orang lain.

Sehat prilaku harus dimulai dari individu-individu yang kemudian

ditularkan kepada lingkungan paling dekat, yakni keluarga. sebab 

keluarga yaitu  elemen paling penting sebuah masyarakat. Kalau

kemudian seluruh anggota masyarakat juga sehat prilakunya, maka itu

akan menjadi asset besar bagi negara. Negara yang masyarakatnya

sehat prilakunya yaitu  negara yang kuat, yang dengan itu keadilan

bisa ditegakkan dan kesejahteraan bisa disebarluaskan.

Sehat Lingkungan

Islam memandang, masalah kesehatan secara komprehensif,

menyeluruh. Bukan hanya fisik, psikis dan ruhani yang perlu sehat, tapi

juga lingkungan. sebab  lingkungan yaitu  tempat sebuah komunitas

manusia berdiam, beraktivitas dan bersosialisasi, yang harus dijaga

kebersihan dan kenyamanannya. Allah Azza wa Jalla, melalui ayat suci

Al-Qur’an banyak bicara tentang lingkungan. Misalnya tentang lingkungan

yang tercemar: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan

sebab  perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada

mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali

(ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Ruum {30}: 41).



Allah mengatakan bahwa kerusakan ekosistem yaitu  akibat

kerakusan dan ketamakan manusia yang memperlakukan alam dan

lingkungan semaunya saja, tanpa menghiraukan dampaknya. Kerusakan

ekosistem membuat lingkungan menjadi tidak sehat dan tidak nyaman

untuk dihuni manusia. Dalam lingkup yang lebih besar, kerusakan

lingkungan mengakibatkan perubahan suhu bumi, terganggunya musim

dan sering terjadi bencana alam. Belum lama ini, di Bali diadakan sebuah

berhelatan besar tentang Global Warming. Pakar-pakar lingkungan hidup

hampir dari seluruh dunia berkumpul dan berdiskusi tentang lingkungan

hidup. Mereka membahas perlunya menyelamatkan bumi, tempat tinggal

kita, dari kerusakan ekosistem yang semakin parah. Mereka semua

prihatin terhadap kerusakan alam yang ter jadi merata hampir di

seluruh penjuru bumi akibat ulah tangan-tangan rakus manusia.

Sekali lagi, terpaksa saya mengutip syair lagu penyanyi balada

legendaris kita, Iwan Fals.

Raung bulldozer gemuruh pohon tumbang

Berpadu dengan jerit isi rimba raya

Tawa kelakar badut-badut serakah

Tanpa HPH berbuat semaunya

Lestarikan alam hanya celoteh belaka

Lestarikan alam mengapa tidak dari dulu

Oh mengapa

Oh oh jelas kami kecewa

Menatap rimba yang dulu perkasa

Kini tinggal cerita

Pengantar lelap si buyung

Bencana erosi selalu datang menghampiri

Tanah kering kerontang banjir datang itu pasti

Isi rimba tak ada tempat berpijak lagi

Punah dengan sendirinya akibat rakus manusia

Lestarikan hutan hanya celoteh belaka

Lestarikan hutan mengapa tidak dari dulu saja



Oh oh jelas kami kecewa

Mendengar gergaji tak pernah berhenti

Demi kantong pribadi

Tak ingat rezeki generasi nanti

Lagu berjudul “Jeritan Rimba” ini dilantunkan Iwan Fals tahun 1980-

an, dan isinya akan terus relevan selama tangan-tangan rakus masih

mengeksploitasi kekayaan alam kita secara tidak bertanggung jawab.

Para pelaku kejahatan lingkungan tidak akan jera kalau mereka masih

mudah membereskan urusan hukum “di belakang meja”.

Allah Azza wa Jalla, hampir 1500 tahun yang lalu telah mewanti-

wanti, agar manusia menjaga lingkungannya. Tentu saja saat ayat yang

saya kutip di atas  diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw lingkungan

hidup belum rusak parah seper ti sekarang ini. Tapi mengapa Allah

mengatakan bahwa “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut akibat

tangan manusia?” Bukankah saat itu belum ada eksplorasi sumber

daya alam secara besar-besaran?

Memang demikianlah bahasa Al-Qur’an, sangat khas. Al-Qur’an

melukiskan sesuatu yang belum terjadi dengan kata-kata “telah tampak”.

Ini seharusnya menjadi peringatan dini bagi manusia, bahwa apabila

mereka rakus dan tamak, seenaknya saja menguras sumber daya alam,

tidak bertanggung jawab terhadap lingkungan, maka mereka akan hidup

dalam lingkungan yang rusak dan tidak sehat. Allah telah mewariskan

bumi ini kepada manusia agar dikelola dengan baik untuk kepentingan

bersama. Jangan sampai kekayaan alam diekplorasi habis-habisan

sehingga tak menyisakan sed