Perintah sultan.28
Penulis biografinya yang paling baru, seorang ilmuwan Jerman,
Thorau, menyatakan bahwa Baybars terus menunjukkan dirinya
sebagai seorang panglima militer.2e
namun seorang jenderal terbaik pun tidak bisa mencapai
banyak hal tanpa pasukan dan persenjataan yang baik. Seperti
wazir Persia, Nizhim al-Mulk, orang Tirrki Asia Tengah, Y0suf
KhAshsh Hajib, yang menulis di Chaghatay, tertarik dalam strategi
militer. Dia menegaskan bahwa jumlah pasukan bukanlah yang
paling penting. Yang paling penting yaitu kualitas pasukan dan
persenjataan:
Jangan mengandalkan jumlah pasukanmu
namun yang penting prajurit yang dipilih dan senjata.
Sedikit dan disiplin yaitu yang terbaik:
Sering pasukan yang besar tidak mampu bertahan.so
Jalannya Peperangan I 625
PERGEMKAN PASUKAN MUSLIM
Selama periode Perang Salib, medan utama PePerangan yaitu
Suriah. Pola-pola tertentu yang bisa diduga bisa dilihat dalam
upaya peperangan kaum muslim melawan kaum Frank. Serangan-
serangan selalu dilakukan pada musim semi. Persiapan untuk
menggelar serangan-serangan yang Penting butuh waktu lama dan
rumit. Pasukan yang menempuh jarak yang jauh dan kadang-
kadang membutuhkan waktu berbulan-bulan memerlukan per-
bekalan, perlengkapan, dan pembantu pasukan yang sangat besar
jumlahnya. Thk mengherankan bila hanya sedikit upaya untuk
menyembunyikan laju suatu pasukan ekspedisi yang besar.
Ketaatan pada agama Islam merupakan aspek penting dalam
kehidupan pasukan yang sedang bergerak, bukan hanya untuk
tujuan ideologi serta moral, namun juga untuk memperkuat disiplin
bersama. Hal ini khususnya telah terjadi sejak masa N0ruddin
hingga selanjutnya, dan betul-betul merupakan bagian penting
dari kehidupan militer Mamluk. Salat mungkin dilakukan di ruang
terbuka oleh pasukan yang melakukan operasi militer, sekalipun
menarik untuk dicatat bahwa pada 661 H.ll252-1263 M. Baybars
memerintahkan pembangunan sebuah masjid tenda (jlmi' hham).
Masjid ini memiliki sebuah mihrab dan maqshurah dan didirikan
di sebelah kanan tenda raja.3r Namun tidak jelas apakah pem-
bangunan masjid ini berkaitan dengan tradisi padang rumput
ataukah memiliki rujukan lain.
Di dalam rombongan pasukan Mamluk ini ada para
dokter, termasuk ahli bedah dan farmasi, serta orang-orang yang
menyediakan kebutuhan spiritual pasukan, seperti para pembaca
Alquran, penceramah, ahli-ahli agama, syeikh-syeikh sufi. 'Wanita
sering juga ikut bersama rombongan ini . Ekspedisi militer
ini juga akan disertai dengan kereta barang besar yang dibawa
dengan kereta-kereta yeng ditarik oleh lembu jantan atau hewan-
hewan pengangkut barang lainnya. Makanan dan senjata dikirim-
kan bersama pasukan. Pada masa Mamluk, unta digunakan bila
memungkinkan. Masing-masing bagian dari pasukan bisa dikenali
lewat lambang mereka (raya) (foto 8.1 dan 8.2; bandingkan
dengan gambar 8.6). Panglima tertinggi pasukan membawa panji
khusus (liuta). Pasukan juga akan diiringi oleh para penabuh
genderang (lihat gambar 8.7 dan 8.9) dan para peniup terompet.
Usimah menceritakan rentang suatu kejadian saat para peniup
terompet digunakan untuk memberikan perintah dan disiplin
kepada pasukan selama berlangsung parade yang berbahaya melalui
wilayah musuh.32
PERTEMPURAN
Pendzhuluan
Meskipun kedua belah pihak dalam konflik ini sebenarnya
enggan terlibat dalam perang terbuka, dengan faktor risikonya
yang tinggi, banyak pertempuran penring benar-benar ter;'adi dan
pertempuran-pertempuran itu dicatat di dalam sumber-sumber
Islam. Nilai propaganda dari pertempuran rersebur, bila kaum
muslim menang, yaitu sangat besar. Namun, laporan yang masih
bertahan tentang pertempuran ini jelas tidak berguna untuk
orang yang tengah mencari ringkasan umum tentang strategi
perang kaum muslim atau tengah mencari penyebab kemenangan
masing-masing pihak. Penting dicatat bahwa selama hampir dua
abad pendudukan Tentara Salib, yang mengejutkan, hanya sedikit
terjadi pertempuran. Dan pertempuran-pertempuran tidak men-
dapat perhatian yang memadai di dalam laporanJaporan tentang
Perang Salib.
Formasi Tbmpur Pasukan Muslim
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di
jalan-Nya dalam barisan yanB teratur seakan-akan mereka seperti
sebuah bangunan yang tersusun kukuh.33
Dengan adanya perintah Alquran ini, tidaklah mengejutkan
bila orang-orang yang beriman percaya pada keampuhan dan
pentingnya bertempur di medan perang dalam barisan yang rapi
dan sangat rapat, seperti barisan orang-orang yang tengah salat.
Manual-manual militer kaum muslim, juga, membahas tentang
pengaturan pasukan. Memang, al-Tharsfrsi membahas secara khusus
di dalam manualnya tentang pengaturan (tartib) pasukan muslim.3a
Penjelasan-penjelasan yang diberikannya berhubungan dengan
referensi-referensi mengenai formasi tempur dalam tulisan-tulisan
sejarah Islam, meski kemungkinan ada beberapa variasi antara
pasukan-pasukan yang berada di periode dan wilayah yang berbeda
selama Perang Sdib. Dia menulis bahwa: "Di antara prinsip dalam
formasi tempur yaitu pasukan harus memiliki sebuah pusat,
sayap kanan, dan sayap kiri."35 Susunan pasukan dalam bertempur
yaitu sebagai berikut:
Prajurit pejalan kaki ditempatkan di depan ksatria hingga
seakan-akan menjadi benteng baginya. Pagar atau baju baja atau
dinding penghalang harus dipasang di depan masing-masing prajurit
pejalan kaki untuk melindungi mereka dari para penyerang yang
akan menyerbu dengan pedang, tombak, atau panah penusuk. Di
antara setiap dua orang ini ... harus ditempatkan seorang pemanah
sehingga dia bisa menembak bila mendapat kesempatan.36
Tindakan pendahuluan ini dirancang unruk melindungi kavaleri
ini dan memilih saat yang tepat untuk menyerang. Sebagai-
mana dijelaskan oleh al-Tharsfrsi: "Kavaleri dan para pendukung
di belakang mereka harus menyingkir dari bahaya dan kemudian
para pemanah ini melindungi mereka." Pada akhirnya, "terbukalah
pintu" bagi mereka untuk melancarkan serangan.3T
Al-Thars0si kelihatannya sangat memahami taktik musuh:
saat merencanakan medan pertempuran, yaitu penting
untuk mengatur kontingen (ajnad), satu persatu, dan untuk meng-
atur kavaleri bendera per bendera, b"gtm (khamis) per bagian,
sebab musuh biasanya menyerang secara bersama-sama ... seperti
yang dilakukan kaum Frank terkutuk dan tetangga-tetangga yang
seperti mereka.38
Thnpa menyebutkan pertempuran-pertempuran khusus, al-
Anshiri membahas secara panjang lebar tentang cere bertempur
yang harus dilakukan pasukan.3e Pasukan harus memunggungi
gunung, sungai, atau bukit. Kemungkinan lainnya, panglima
pasukan harus membuat parit perlindungan atau melakukan pe-
nyergapan.ao Matahari dan angin harus berada di belakang pung-
gung pasukannya, agar mata musuh silau dan debu bertiup ke
arah mereka.ar Dia menjelaskan secara garis besar tentang cara
menyusun perangkap.a2 Pada saat dalam formasi tempur, pasukan
harus punya sebuah pusat, sayap kiri dan kanan (gambar 7.10
dan 8.8). Infantri harus ditempatkan di depan kaveleri.a3 Masing-
masing bagian pasukan harus berusaha mempertahankan posisi
mereka.
Yfrsuf Khishsh Hijib memberikan nasihat berikut ini di dalam
bukunya:
Tempat orang-orang yang tepercaya di barisan depan dan
belakang, beberapa orang juga di sayap, baik kanan maupun kiri.
Lalu, pada saat mereka mendekati pasukan musuh, biarkan mereka
saling berhadap-hadapan dan berteriaklah. Mereka harus melepaskan
anak-anak panah mereka saat masih berada di jarak yang agak
jauh. Saat mereka telah lebih dekat, seranglah dengan tombak-
tombak. Saat terlibat dalam pertempuran, gunakan pedang dan
kapak temput pegang erat tali kekang, dan bertempurlah dengan
gagah berani.aa
Maka, telah kita lihat, setidaknya ada tiga tahap pertemPuran:
kavaleri dengan anak panah, pertempuran jarak dekat dengan
tombak, dan kemudian pertempuran satu lawan satu yang sengit.
Model instruksi seperti ini kelihatannya sejalan dengan formasi
tempur yang sebenarnya. saat kaum Frank datang ke kawasan
Mediterania timur, mereka membawa serta tradisi militer yang
sangat mengandalkan pada serangan kavaleri secara frontal. Serang-
an semacam itu memiliki dampak sangat besar. Namun mereka
hanya menuju ke satu arah dan sangat sulit bagi mereka untuk
berbalik arah begitu mereka telah memulainya. Kavaleri kaum
Frank sendiri biasanya sangat efektif saat melawan pasukan Fatimiyah.
Namun, mereka kesulitan saat menghadapi kavaleri yang gesit
dari kelompok kaum muslim Tirrki.
Dalam pertempuran, kaum Frank terkenal dengan serangan
tombak dari kavaleri mereka. Serangan itu tidak dilancarkan secara
bersamaan, namun dilakukan oleh unit-unit terpilih dengan sasaran
yang terpilih juga.a5 Banyak contoh serangan kavaleri kaum Frank
disebutkan di dalam sumber-sumber muslim. Serangan-serangan
seperti itu sangat efektif bila dilancarkan di saat yang tePat dan
di tempat yang sesuai. Kavaleri kaum Frank sangat besar dan
mampu menghancurkan musuh mereka yang tidak berkuda dan
terpecah-belah.
Yang jelas, kaum muslim harus mengembangkan strategi untuk
menghadapi kavaleri kaum Frank yang mulanya sangat mengagum-
kan. Bila kaum muslim ingin terlepas dari serangan kavaleri
ini , maka kaum muslim harus menghambat laju kuda-kuda
mereka, dan memerangi mereka dalam formasi tidak teratur dan
statis, sehingga kaum Frank tidak lagi akan memiliki keunggulan.
Agar bisa menang, kaum muslim harus mencegah penombak-
penombak kaum Frank-yang tidak diragukan lagi yaitu musuh
yang kuat namun kaku-memakai keunggulan mereka dalam
melancarkan serangan kavaleri. Pemanah-pemanah berkuda kaum
muslim, yang disusun dalam kelompok-kelompok kecil, akan
mencoba mengepung musuh dari sayap atau belakang. yaitu
berbahaya bila kaum Frank dibiarkan melancarkan serangan kavaleri.a6
Di wilayah yang terbuka, tugas utama pemanah-pemanah berkuda
yaitu menghancurkan serangan musuh dengan menembaki mereka
dari kejauhan. Formasi tempur pada hampir semua pertempuran
penting dalam periode Mamluk yaitu dalam bentuk serangan
tiga arah yang telah umum, yaitu pusat (qalb), sayap kanan
(maymanah) dan sayap ktri (maysarah). Pasukan perusak ditempat-
kan di tengah-tengah. Mereka bertempur langsung di bawah
komando sultan dan bendera kerajaannya. Pasukan sayap biasanya
akan kalah lebih dahulu, sementara pasukan pusat akan bertahan
lebih lama. Tidak jarang pasukan sayap terpisah dari pasukan
pusat dan tetap terpisah sepanjang pertempuran berlangsung. Selain
itu, tidak aneh bila pasukan sayap dari pihak yang pada akhirnya
kalah dalam suatu pertempuran memperoleh kemenangan di
bagian awal pertempuran ini dalam menghancurkan pasukan
sayap pihak lawan.aT
Mengenai momen penting beberapa saat sebelum merebut
benteng yang tengah diserang, biasanya di awal perrempuran
dibuat suasana yang sangat riuh untuk menakuti musuh, dengan
memakai terompet, genderang (gambar 8.7 dan 8.9) dan
simbal.as Panglima akan memberikan perintah menyerang dan bisa
juga terjun ke dalam pertarungan yang sengit untuk memanggil
pasukan agar berkumpul kembali.ae
PENGEPI.JNGAN
Pendahuluan
Peran penting pengepungan dalam konflik antara Tentara Salib
dan kaum muslim tidak bisa terlalu ditekankan. Perang teratur,
bagaimana juga, seperti yang telah dikatakan, jarang terjadi.
Penelitian-penelitian ilmiah yang dilakukan belakangan telah me-
negaskan fakta bahwa serangan yang terencana dengan baik men-
jadi kunci kemenangan kaum muslim. Interpretasi ini diperkuat
oleh bukti-bukti tulisan sejarah Islam, yang banyak memuat
laporan tentang serangan-serangan individu, dan ditegaskan oleh
manual-manual militer Islam tentang peran penting yang melekat
pada serangan berkepanjangan. Tentu saja, tidak ada analisis atau
refleksi menyeluruh dalam tulisan-tulisan sejarah yang menjelaskan
mengapa serangan-serangan kaum muslim bisa sangat berhasil.
Namun, para sejarawan Abad Pertengahan dengan sangat bangga
mencatat-dengan pemahaman tentang betapa Pentingnya kejadian
itu-berbagai serangan yang dilancarkan oleh Ntruddin dan
Saladin dan gelombang serangan gemilang yang dilancarkan dinasti
Mamluk antara 1260 dan 1291. Sumber-sumber muslim ini
sangat paham sulitnya merebut benteng-benteng pertahanan Ten-
tara Salib. Dalam sumber-sumber itu pula sangat ditekankan
ukuran dan letak benteng-benteng pertahanan rersebut yang ter-
lindung.so
Kaum Frank sangat menghindari pertempuran reratur dan
ingin mempertahankan sumber daya mereka. Mengingat bentuk
pemukiman kaum Frank di kawasan Mediterania timur dan
sumber daya manusia mereka yang terkonsentrasi di tempat-tempat
yang terbentengi, cara yan1 pasti bagi kaum muslim untuk
mengusir mereka yaitu dengan menyerang benteng mereka dan
merebutnya, satu persatu. Sering kali kaum muslim kemudian
mengancurkan benteng itu hingga rata dengan tanah. Bahkan
sekalipun sumber daya yang ada tidak cukup untuk melancarkan
serangan total pada suatu benteng, strategi lainnya bisa digunakan,
misalnya menutup jalan masuk ke benteng itu, sehingga pasokan
makanan dan air untuk pasukan menjadi terhambat, dan dengan
demikian memaksa mereka menyerah. Pembahasan sumber-sumber
muslim tentang pengepungan jauh lebih cermat dibandingkan
laporan mereka tentang pertempuran. Ini hampir tidak mengejut-
kan, barangkali, sebab keterangan rentang tahap-tahap penge-
634 \ Ca,role Hillenbrand
pungan yang berturut-turut bisa diperoleh dan dipahami dengan
lebih mudah dibandingkan PertemPuran, yang sebab bentuknya
sangat sering berubah, tidak jelas, dan yang tidak mungkin diikuti
di setiap sudut medan temPur. Bahkan seorang sakti mata ke-
mungkinan hanya bisa memahami sebagian dari seluruh aksi
PertemPuran.
Senj ata- Senj ata Mortir
Kedua pihak dalam konflik ini banyak memakai mesin
dan peralatan dasar yang sama untuk bertahan dan menyerang
dalam pengepungan.sr Beberapa senjata mortir dikirimkan dalam
bentuk siap pakai, sementara yang lainnya dirakit di tempat.
Senjata-senj^ta yang digunakan untuk menyerang Safad pada 1266
dibuat di wilayah Acre dan Damaskus dan kemudian diangkut
dengan unta ke Safad. Senjata-senjata ini sangat berat se-
hingga orang-orang harus membantu membawanya.5z Nat'alat
pelontar peluru ini memakai metode penggerak yang berbeda.
Mangonel (Manjaniq)
Mesin penyerang yang dalam bahasa fuab dikenal sebagai manjaniq
yaitu mesin balok pelontar. Mesin ini melontarkan batu-batu
atau proyektil-proyektil lain dengan mengayunkan lengan raksasa.
Mangonel telah lama digunakan di dunia Islam. Sampai pada
abad kedua belas, untuk menarik turun ujung balok yang pendek,
digunakan tenaga manusia, namun yang Pasti Pada masa Saladin
telah diperkenalkan mesin balok pelontar baru yang memakai
pengimbang berat. Mesin-mesin sePerti ini digambarkan oleh al-
Tharstrsi, yang menggolongkannya menjadi tiga jenis mangonel-
Arab, Turki, dan kaum Frank.53 Menurut sumber yang sama'
jangkauan maksimum mesin-mesin ini sekitar 120 meter,
namun bisa juga lebih jauh.5a Sementara amunisinya bisa berupa
batu bulat khusus (batu-batu ini telah ditemukan di berbagai
benteng Tentara Salib di kawasan Mediterania timur) atau api
Yunani ("ofi).
Usimah menuturkan tentang orang-orang Bizantium yang
mengunakan mangonel pada 532 H./l 138 M. Mangonel-mangonel
itu mampu melontarkan "batu dengan jarak lebih jauh dari jarak
yang bisa dijangkau oleh anak panah; batu-batu mangonel itu
beratnya antara 20 hingga 2J Tasl'ss (yaitu, sekitar 64-80 kilo).56
Pada abad ketiga belas, ada mesin-mesin yang mampu melontarkan
misil yang jauh lebih berat lagi (bandingkan gambar 8.15 dan
8.1 8).
Mangonel pengimbang digunakan dalam penyerangan Hims
pada 646 H.ll248-1249 M. Mangonel itu bisa melontarkan batu
yang beratnya 740 ratl Suriah (sekitar 448 ktlol.st Mangonel juga
digunakan oleh Baybars di Ars0e Safad, Beaufort, Krak des
Chevaliers, dan Gibelacar. Baybars mampu mengawasi penggunaan
mangonel-mangonel itu, dan dia punya sumber daya untuk
membuatnya dengan cepat di tempat dan mengoperasikannya
dengan efektif.ss Peralatan-peralatan ini tidak digunakan dengan
frekuensi yang seragam di sepanjang periode pendudukan kaum
Frank. Mangonel tetap menjadi mesin urama untuk melontarkan
misil-misil berat dalam serangan-serangan yang dilakukan pada
abad kedua belas dan ketiga belas. Namun, sebagai senjata perang,
peran mangonel memudar seiring terusirnya kaum Frank dari
Timur Dekat.te Hal ini mungkin sangar berkaitan dengan kualitas
benteng-benteng pertahanan kaum muslim yang sangat rendah
(foto 8.5 dan 8.6). sebab itu, benteng-benteng kaum muslim
bisa dihancurkan dengan memakai alat yang lebih sederhana
dan cepat.
Ayalon dan yang lainnya telah menegaskan sangar pentingnya
pengepungan Mamluk. Memang, pengepungan sangat menen-
tukan, hampir menjadi satu-satunya faktor yang membuar kaum
Frank akhirnya terusir dari wilayah kaum muslim. Pengepungan-
pengepungan yang dilancarkan pada masa Mamluk jauh lebih
banyak dibandingkan yang dilakukan penerusnya, Ayyubiyah.
Keseriusan mereka bisa dilihat dengan banyaknya jumlah mangonel
yang mereka buat. Ayalon telah membuat perbandingan yang
jelas antara jumlah mangonel yang digunakan oleh sultan-sultan
Ayyubiyah, termasuk Saladin (yang paling banyak memakai
sepuluh mangonel dan sering kali kurang dari itu), dan jumlah
mangonel yang dikerahkan Mamluk saat melancarkan serangan.60
Bahkan dengan agak dilebih-lebihkan, pengepungan Acre me-
mecahkan semua rekor penggunaan mangonel. Beberapa sumber
mengatakan jumlah mangonel yang digunakan mencapai 92 buah,
sementara yang lainnya mengatakan 72 buah. Dengan demikian,
terlihat dengan jelas bahwa kaum muslim sangat ingin mem-
bersihkan Timur Dekat dari kaum Frank sehingga pada pe-
ngepungan ini-biasanya dianggap sebagai serangan menentukan
besar-besaran yang terakhir terhadap kaum Frank di kawasan
Mediterania timur-al-Asyraf Khalil memakai mangonel dalam
jumlah yang sangat banyak. Ini yaitu kesaksian penulis sejarah
Abu l-Fida, yang hadir dalam Penyerangan itu.6r Sebuah mangonel
raksasa yang dijuluki al-Manshfrrt (kemungkinan mengambil nama
Baybars sendiri) digunakan. Mangonel itu harus dipreteli dahulu
sebelum diangkut, yang membutuhkan gerbong sangat banyak.62
Jenis-jenis mangonel di Acre, seperri mangonel lainnya dalam
pengepungan-pengepungan sebelumnya memiliki sebutan: si Frank
(ifanjil, si jahat (syaythani), si sapi hitam (qarabugha), dan si
luc;t (la'ib).63
Balista ('arrAda)
Balista ('an,idt-senjata peluncur) digunakan untuk proyektil yang
lebih ringan. Alat ini punya efek yang sama seperti mangonel,
yaitu dengan memurar tali. Membedakan antara mangonel dan
638 \ _______________
ru
balista di dalam sumber-sumber itu tidak selalu bisa dilakukan.
Sepertinya, balista lebih ringan dan relatif lebih mudah dibawa
ke mana-mana, sementara mangonel bila telah dirakit akan sangat
sulit untuk dibawa.
Panah Putar
Mesin ketiga yaitu panah putar (qaus al-ziyar). Penggunaan alat
ini sama seperti panah biasa, namun butuh beberapa orang.
Gambar alat ini dari periode Perang Salib masih ada, namun
sumber-sumber ini tampaknya tidak membahas detail jenis
senjata ini, menyangkut misil yang digunakan, jangkauannya, dan
kekuatan penetrasinya.
Menara Serang dnn Bangunan Beratap
Di wilayah yang datar, para penyerbu dari pihak kaum Frank
dan kaum muslim memakai menara (bur) atau bangunan
beratap atau tempat berlindung (dzbbaba) yang dipasang di atas
roda dan didorong ke dasar kubu pertahanan. Bila telah dekat
dengan dinding kubu pertahanan, para penyerang atau yang
menggali di bawah dinding akan terlindungi oleh alat ini.
Istilah dabbaba yaitu istilah khusus: asal katanya dalam
bahasa Arab, dabba, punya banyak arti, termasuk merangkak
(seperti serangga atau repdl) dan bergerak perlahan. Ini segera
mengingatkan pada testudo (alat pelindung kuat yang mudah
dipindah) Romawi. Sekarang ini kata dnbbaba berarti tank lapis
baja. Pada masa Perang Salib, kata ini menunjuk pada suatu
jenis menara yang menampung para prajurit yang bertugas me-
nyerang dinding-dinding suatu benteng atau kota. Kadang-kadang
dabbaba memiliki empat tingkat, satu dari kayu, satu dari timah,
satu dari besi, dan satu lagi dari tembaga.e Dari alat semacam
ini para penyerang bisa memerangi orang-orang yang bertahan di
dinding ini dan kemudian lompat menyeberanginya untuk
meneruskan pertempuran.
Ibn Syaddid menceritakan sebuah menara khusus kaum Frank
(bur) yang dibuat di laut di atas sebuah "kapal yang seram"
(butsa):
Jalannya Peperengrn I 639
Di dalamnya [kapal itu] mereka membangun sebuah menara
(bur) dengan batang kayu. Bila mereka ingin memakai nya
dengan melerakkannya ke dinding, menara itu digerakkan dengan
menakjubkan dan akan membentuk jalan ke arah ia dihadapkan:
di atasnya [jalan itu] para ksatria akan berjalan.6s
Jadi alat tersebur kelihatannya merupakan sejenis tangga yang
besar atau jembatan buka tutup.
Aht Pendobrak
saat kaum Frank yang melakukan penyerangan telah dekat
dengan dinding-dinding tempar yang dibentengi, alat pendobrak,
yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai habsy atau sinndwr
(kucing), akan digunakan untuk menyerang penghadang.
"Raja Jerman' (Frederick dari Swabia) membuat beberapa alat
yang sangat hebat pada 586 H.ll190 M. Ibn SyaddXd menulis:
Dia memakai senjaa yang sangar hebat dan peralatan-
peralatan aneh yang menakutkan orang yang melihatnya. Penduduk
kota ketakutan oleh senjata-senjata itu dan merasa ngeri. Di antara
senjata-senjara yang mereka ciptakan ada sebuah mesin perang
sangat besar yang di bawahnya bisa diisi dengan pasukan yang
sangat banyak. Alat iu dilapisi dengan pelat-pelat besi. Di bawah
alat itu ada kereta uncuk menyerer alat ini . Alat itu
punya kepala besar untuk mendobrak dinding. Alat itu disebut
pendobrak (habs) yang digunakan untuk mendobrak dinding
dengan sangat kuat sebab didorong oleh banyak orang dan mem-
buat [dinding itu] runruh akibat dorongan yang berulang-ulang.66
Ibn Syaddid juga menyebutkan rentang sebuah alat yang
disebut sebagai sinnaur (kucing). "[Ada] alat lain yang berupa
ruangan besi (qabu) yang di bawahnya ada banyak pasukan.
Namun kepala alat itu dibuat runcing [hingga] berbentuk seperri
mata bajak."
Dalam memberikan gambaran perbandingan tentang habsy
dan sinnaua Ibn Syaddid menyimpulkan bahwa habsy meng-
hancurkan dengan beratnya saja sementura s;nnaxur juga untuk
menghancurkan namun melalui ketajaman dan bobotnya.6T
sesudah menuturkan alat-alat penyerang yang digunakan Baybars,
para penulis sejarah muslim ddak memberikan penjelasan tentang
penggunaan alat-alat ini dan sekalipun penulis ensiklopedis
al-'Umari (w.749 H.11349 M.) dan al-Qalqasyandi (w. 821 H.l
1418 M.) menuliskan beberapa bab tentang alat-alat penyerang,
alat-alat itu tidak merujuk pada burj ataupun dabbaba.6s
Api Yunani (Naft)
Istilah nafi digunakan di dalam sumber-sumber Islam Abad
Pertengahan untuk menunjukkan sebuah alat pembakar, yang
mampu membakar dengan sesaat .6e Alat pembakar ini telah
digunakan sejak zaman kuno, namun bangsa Bizantium telah
memanfaatkannya dengan sangat baik untuk melawan bangsa Arab
pada periode awal Islam dengan versi pengembangan api Yunani
yang lebih baik yang diduga ditemukan oleh seorang pria dari
Suriah yang bernama Kallinikos pada 673.
Kapal-kapal dilengkapi dengan katapul (pelontar batu), yang
selain berisi batu-batu dan anak-anak panah juga diisi dengan
kendi tanah liat berisi nafi. Saat berbenturan, kendi ini pecah
berkeping-keping menjadi beberapa bagian dan isinya akan me-
nyala. Kapal-kapal juga membawa roket-roket pembakar serta alat
peluncurnya.To Pada pertengahan abad ketu.iuh, kaum muslim juga
memakai api Yunani.
namun , pertempuran laut jarang terjadi; beberapa memang
ada, merentang di antara pertempuran Actium pada 3l SM dan
Lepanto pada 1571. Tidak ada pertempuran militer besar-besaran
di laut yang pecah pada periode Perang Salib. namun api Yunani
biasanya digunakan oleh kaum muslim di darat dengan hasil
yang luar biasa, baik untuk menyerang dan mempertahankalr
benteng-benteng dan kota-kota berdinding." Nart dilemparkan
dalam botol-botol dengan memakai katapel di menara-menara
dan menara serang yang beroperasi di tanah.
Al-Thars0si menceritakan berbagai "resep" untuk membuat
Api Yunani.72 Salah satu "resep" y".g diberikan oleh al-Thars0si
yaitu sebagai berikut:
Cara membuar nart terbaik yang akan dilemparkan dengan
mangonel
Ambil 10 pon aspal, 3 pon damar' masing-masing 7Yz pon
sandarac (damar yang agak kekuning-kuningan dan berbau yang
berasal dari pohon-pohon di Afrika dan Spanyol-pery) dan lac
(bahan seperri damar yang diambil dari serangga-penej.), 3 pon
belerang murni dan berkualitas baik, bersih dari unsur tanah, 5
pon lemak lumbalumba yang relah dilelehkan, 5 pon lemak dari
ginjal domba yang telah dimurnikan dan dicairkan. Larutkan aspal,
tambahkan lemak, lalu masukkan damar sesudah melarutkannya
secara terpisah. Lalu giling bahan-bahan yang lain, sendiri-sendiri
dan terpisah, masukan ke dalam campuran ini , nyalakan api
di bawahnya, dan dimasak sampai bercampur secara menyeluruh.
Bila ingin memakai nya pada saar perang, ambil satu bagian,
tambahkan sekitar sepersepuluh bagian mineral belerang yang
disebut nafi, yang berwarna kehijau-hijauan dan seperri minyak
yang telah lama, temparkan seluruhnya di sebuah wajan dan rebus
sampai hampir terbakar. Ambil sebuah pot, yang harus terbuat
dari tembikar, dan sepotong laken. Lalu lemparkan pot itu dengan
memakai mangonel ke arah apa saja yang ingin dibakar. Bahan
itu tidak akan padam.73
Di Kafartab, salah seorang prajurit muslim, seorang Tirrki,
mendekati sebuah menara dan melemparkan sebotol nafi ke arah
kaum Frank yang berada di puncak menara itu: "Naf itu menyala
seperti meteor yang jatuh di atas batu-batu cadas ini , se-
mentara orang-orang yang berada di sana bertiarap sebab takut
terbakar. "74
Pembuatan nafi sebagai salah satu aspek penting senjata perang
kelihatannya telah menjadi jawaban yang repat bagi kaum muslim
terhadap kesulitan menghadapi senjata-senjata perang kaum Frank,
yaitu burj dan dabbaba. Nofi terbukti efektif untuk melawan
senjata perang kayu milik kaum Frank, terapi sedikit manfaatnya
untuk melawan benteng-benteng dan kubu-kubu pertahanan kaum
Frank yang umumnya terbuat dari batu. Patut untuk menyebutkan
contoh penggunaan nafi oleh kaum muslim pada 587 H.ll|9l-
ll92 M. saat melawan dabbaba kaum Frank, sebagaimana di-
ceritakan oleh Ibn Syaddid:
Musuh telah membuat sebuah dabbaba yang besar dan me-
nakutkan yang memiliki empat tingkat. Tingkat pertama terbuat
dari kayu, yang kedua dari timah, yang ketiga dari besi, dan yang
keempat dari tembaga. Dabbaba iru lebih tinggi dari dinding kota
dan para pasukan berada di dalamnya. Para penduduk kota sangar
takut padanya dan memohon kepada musuh agar diperlakukan
dengan baik. Mereka [kaum Frank] telah membawa dabbaba itu
mendekati dinding sehingga sekilas .iarak antara dabbaba dan
dinding itu hanya lima cubit. Orang-orang mulai melemparkan
nafi ke dabbaba itu tanpa henti siang dan malam sampai Allah
Yang Mahakuasa memutuskan dabbala itu harus terbakar.T5
Ahsi Penyerangan
Persiapan Penyerangan
Baik kaum Frank maupun kaum muslim melakukan persiapan
yang panjang dan teliti sebelum memulai serangan. Mereka meng-
gunakan senjata dasar yang sama untuk menyerang dan bertahan,T6
namun , seperti dikatakan oleh Marshall, hanya kaum muslim yang
kelihatannya memakai naft dan pelontar batu genggam untuk
melontarkan batu.77
Baybars dilaporkan pada beberapa kesempatan, seperti di Arsfrf
pada 663 H.ll265 M., memeriksa langsung mangonel-mangonel
pasukannya.Ts Persiapan-persiapan yang teliti juga dilakukan se-
belum menyerang Acre pada 1291. Selama berhari-hari kaum
muslim mempersiapkan pagar-pagar runcing dan parit-parit per-
lindungan dan menempatkan senjata-senjata mereka di sekililing
dinding-dinding ini .Te
Strategi Merebut Benteng
Banyak strategi yang digunakan untuk merebut benteng, menara,
atau kota berdinding. Kadang kubu-kubu pertahanan itu bisa
didobrak dengan cara dihancurkan sehingga para penyerang bisa
memasukinya. Cara lain yaitu dengan melakukan perundingan,
sesudah melalui serangan tiada henti, dan tempat yang dibentengi
itu menyerah dengan syarat-syarat yar.g disepakati. Beberapa
Jalannya Peperangrn I 643
f
lL/benteng yang terlindung di kawasan Mediterania timur berpindah
tangan lewat kelicikan, pengkhianatan, dan penyuapan. Pendekatan
seperti ini, tentu saja, lebih disukai, sebab bisa mengurangi
pengeluaran biaya tambahan untuk membangun kembali benteng-
benteng ini sesudah benteng itu direbut-bila, memang, itu
harus dilakukan.
namun , ada faktor-faktor lain yang berperan bagi keberhasilan
suatu penyerangan; terutama sekali, sangat tergantung pada moral
pasukan yang berada di dalam kota. Seperti dengan tePat di-
katakan oleh Smail, "pasukan, bukan dinding, yang membangun
kota".8o Misalnya, pada periode tidak lama sesudah kemenangan
besar Saladin di Hattin, Prestisenya sangat tinggi sehingga benteng-
benteng yang diserangnya akan menyerah hanya dalam waktu
tiga hari dan Acre hanya sehari. Namun, dua tahun kemudian,
pasukan di Acre bertahan dari serangan kaum Frank yang akan
merebutnya selama hampir dua tahun, sebagian sebab setidaknya
mereka tahu pasukan Saladin berada di lapangan tengah mem-
bantu mereka.
Prosedur Penyerangan
Ada beberapa prosedur umum tertentu yang biasanya diikuti
dalam suatu penyerangan dan telah dijelaskan dengan lengkap
oleh Cahen dan Ayalon.8t Setengah bagian parit diisi, sehingga
+
para penyerang menyeberanginya. Di malam hari, akan dicoba
menyeberangi dinding dengan memakai tangga dan tali dan
membuka salah satu pintu gerbang (bandingkan foto 4.24) untuk
para penyerbu.
Aspek penting lainnya pada sebagian besar penyerangan yaitu
menerobos barikade dan dinding. Bila berhasil, cara ini akan
menghasilkan bukaan di dinding atau, yang masih lebih baik,
membuat dinding itu runtuh. Penerobosan dilakukan membuat
terowongan atau dengan memakai alat-alat pendobrak. Para
penggali tanah akan menggali terowongan dan menopangnya
dengan tiang-tiang kayu. Mereka kemudian akan memperluas
galian yang mereka buat secara bertahap sampai kemudian berakhir
di bawah dinding atau kubu. Di bagian itu mereka akan mem-
bakar kayu di dalam terowongan itu sehingga akan membuat
tanah dan bangunan di atasnya ambruk. Saat penggalian te-
rowongan (naqb) tengah dilakukan, aksi itu tidak boleh terlihat
oleh lawan, sebab bila mereka tahu akan adanya penggalian
terowongan, mereka akan berusaha menghancurkannya dengan
membuat terowongan baru untuk menghadangnya. Terowongan
tandingan itu dibuat dengan menggali ke arah terowongan yang
dibuat penyerang, membunuh penggalinya-atau mengasapi mereka
agar keluar-dan kemudian menghancurkan terowongan ini .
Seni penggalian dalam dunia muslim mencapai puncaknya
pada abad kedua belas dan ketiga belas, yang tak diragukan lagi
merupakan akibat dari desakan untuk menerapkan dan mem-
perbaharuinya melawan musuh baru, yaitu kaum Frank, yang
sebab keahliannya dalam membangun benteng dan menara mem-
buat kaum muslim harus mencari teknik yang mampu untuk
menghancurkannya. Yang pasti, menggali terowongan lebih di-
inginkan bila memang memungkinkan sebab para penggali akan
bekerja di bawah tanah di luar jangkauan tembakan anak-anak
panah.
Penyerang-penyerang muslim pada periode Mamluk butuh
waktu yang lebih singkat untuk bisa merebut benteng kaum Frank
sebab kaum muslim semakin ahli dalam memakai artileri.
Seperti dikemukakan oleh Kennedy, "benteng-benteng akan jatuh
dalam waktu beberapa minggu atau tidak sama sekali".82 beberapa
benteng Tentara Salib yang diserang Mamluk pada paruh kedua
abad ketiga Sslas-lslrnasuk Ars0f (1266), Krak des Chevaliers
(1271), Margat (1285) dan Acre (1291)-masing-masing hanya
memerlukan waktu enam minggu untuk direbut.s3
Seperti yang telah disebutkan, Pada saat mangonel masih
menjadi senjata penyerang yang Penting, alat-alat serang lainnya-
menara, menara serang, dan api {gnaqi-6enjadi kurang Penting
pada periode Mamluk dibandingkan Pada periode Pertempuran-
pertempuran melawan kaum Frank sebelumnya. Namun, seperti
yang telah disebutkan, teknik menggali kubu-kubu pertahanan
tetap dipergunakan.
Pengalian
Penggalian yaitu teknik yang lebih banyak digunakan oleh kaum
muslim dibandingkan kaum Frank.8a Contoh-contoh efektif peng-
galian dicatat dari periode paling awal kehadiran Tentara Salib'
Namun, teknik ini berbahaya dan memakan waktu, serta mem-
butuhkan keahlian yang tinggi.8t
Pada 509 H./1115-1116 M. Bursuq ditugaskan oleh Sultan
\z{r,hammad untuk memimpin sebuah ekspedisi melawan kaum
Frank. Usimah dan ayahnya bergabung dengannya. Mereka ber-
kemah di luar Kafartab, yang saat itu dikuasai kaum Frank. Kaum
muslim membuat sebuah terowongan bawah tanah yang diperiksa
oleh Usimah. Dia menggambarkan terowongan itu dengan cukup
lengkap:
Saya kagum dengan keahlian pembuatan terowongan itu'
Terowongan itu digali dari parit menuju kubu pertahanan (basyura)'
Di kedua sisi terowongan itu dipasang dua tiang, yang di antara
keduanya dipasangi sebuah papan melintang untuk menahan tanah
di atasnya agar tidak runtuh. Seluruh rerowongan ini memiliki
kerangka kayu yang memanjang hingga ke fondasi kubu pertahanan'
Lalu para penyerang menggali di bawah dinding kubu pertahanan
itu, menyangganya, dan berlanjut sampai pada fondasi menara itu "'
Para penggali akan mengisi terowongan itu dengan kayu-
kayu kering, dan kemudian membakarnya. Lapisan adukan semen
di antara batu-batu dinding ini mulai runtuh, retakan ber-
Usimah menyatakan dalam laporannya bahwa para penggali
ini berasal dari tempat yang sangat jauh di Khurasan (di
timur laut Iran). Kemungkinan, seperti dikatakan oleh Kennedy,8T
ini bisa menunjukkan bahwa teknologi yang diceritakan di sini
yaitu baru dan diperkenalkan menjelang penaklukan-penaklukan
yang dilakukan oleh Saljuk.
Penggalian semakin sering digunakan pada periode Mamluk
saat kaum muslim semakin mengencangkan upaya untuk me-
naklukkan benteng-benteng terakhir Tentara Salib.88 Seperti dengan
tepat dikatakan oleh Ayalon, satu faktor keberhasilan operasi
penggalian oleh Mamluk dalam menyerang benteng-benteng kaum
Frank di pesisir yaitu bahwa mereka bisa melakukannya tanpa
menemui banyak rintangan dibanding biasanya, sebab tujuan
penggalian itu yaitu meruntuhkan benteng-benteng itu hingga
rata dengan tanah dan meninggalkan wilayah ini . Dengan
memakai strategi penggalian, biasanya sudah cukup untuk
memaksa suatu benteng menyerah, namun kadang-kadang strategi
ini didukung dengan serangan-serangan frontal ke dinding-dinding
kota,8e contohnya seperti di Kaisarea pada 1265.
Orang-Orang yang Mempertahanhan Benteng
Orang-orang yang mempertahankan benteng atau kota berdinding
bisa memakai banyak strategi untuk menghadapi para penye-
rang mereka.eo Kaum Frank akan menyerang kaum muslim dengan
tiba-tiba, melontarkan anak-anak panah ke arah mereka, atau
menggali terowongan tandingan. Kaum Frank khususnya berhasil
di Arsfif pada 663 H.ll265 M., di sana mereka menggali te-
rowongan di bawah parit-parit kaum muslim. Ibn al-FurAt me-
nuliskan:
Kaum Frank dengan cerdik menggali terowongan dari dalam
benteng sampai mereka tiba pada suatu tempat di bawah blokade.
Mereka kemudian menggali tanah sampai menemui kayu itu.
Mereka membuat drum-drum yang penuh dengan pelumas dan
lemak, dan membakarnya, sesudah membuat penghembus di te-
rowongan itu. Pasukan muslim tidak mengetahui muslihat ini
sampai api membesar. Peristiwa ini terjadi pada malam hari dan
Sultan sendiri datang dalam kegelapan. Orang-orang berlarian
berusaha untuk memadamkannya, dan air dituangkan dari tong-
tong, namun sia-sia. Semua kayu di dalam parit telah menyala dan
hancur menjadi abu dan muslihat kaum Frank berhasil.et
Kaum muslim yang memPertahankan suatu benteng atau kota
menghujani prajurit-prajurit yang mengoperasikan alat-alat pen-
dobrak, yang dilindungi oleh perisai besar, dengan anak-anak
panah. Mereka juga berusaha membakar alat-alat pendobrak ter-
sebut dengan melemparkan nafi ke arah mereka. Tidak terlalu
sulit untuk mengenai sasaran yang sangat besar seperti itu. Namun,
sebagai tindakan pengamanan, menara-menara dan alat-alat serang
biasanya dilapisi dengan kulit yang direndam dengan cuka sehingga
tidak dapat terbakar api.
Aspeh-Aspeh Lain dari Aht Penyerang
Dalam melancarkan suaru penyerangan biasanya disertai dengan
suara yang bising untuk menakuti musuh. saat melancarkan
serangan akhir pada suatu kota, pasukan Mamluk memukul
banyak genderang (kusat) yang dibawa di atas Punggung "tiga
ratus" unta, sehingga menimbulkan suara sangat keras sePerti
halilintar yang "membalikkan' bumi.'2 Gambaran tentang Pe-
nyerangan yang ada di dalam manuskrip bergambar Jtmi'
al-Thwhrikh karya Rasyid al-Din yang berasal dari awal abad
keempat belas memperlihatkan gambar-gambar genderang yang
sangat besar yang tengah dipukul. (gambar 8.7)." Genderang-
genderang itu diikat dengan tali, yang masing-masing dipegang
oleh seorang pria sedemikian rupa sehingga genderang itu meng-
gantung dan memastikan tegangannya maksimum, sementara
pemukul genderang memukuli genderang itu dengan sebuah stik.
Genderang itu bukan satu-satunya alat perang psikologis' Baybars
juga membuat surat untuk meruntuhkan moral musuh'
Uai Penyerangan
sesudah penyerangan dan penaklukan suatu benteng atau kota
berdinding, pihak penakluk harus membuat keputusan penting,
apakah akan menghancurkan benteng ini atau membentengi-
nya kembali.
sesudah menaklukkan Benteng al-Atsirib pada 524 H./1130
M., Zengi, dengan kekejamannya yeng terkenal, menghancurkan
benteng itu dan membuatnya rata dengan tanah. Penulis sejarah
Ibn al-Furit mengatakan hingga zamannya benteng itu masih
tetap dalam bentuk puing-puing.ea
Baybars bisa menunjukkan kekejaman serupa. Jaffa ditakluk-
kannya pada 20 Jumadilakhir 666 H.l7 Marer 1268 M. Kubu-
kubu pertahanan benteng ini telah dipercanggih oleh Louis IX,
namun Baybars menghancurkan bangunan itu. Sementara kayu dan
marmernya dibawa ke kapal dan digunakan untuk membangun
masjid sultan di Kairo. Pemakaian puing-puing ini tidak diragukan
lagi memiliki unsur psikologis dan propaganda dan menjadikan
puing-puing itu sebagai sebuah masjid simbol kemenangan.
Pada 668 H.ll270 M. Baybars menghancurkan kubu-kubu
pertahanan di fucalon dan membuat pelabuhan itu tidak bisa
digunakan lagi dengan memasukkan batang-batang kayu dan batu-
batu di dalamnya.e5
Namun, saat Baybars merebut Benteng Safad yang hebat
pada Syawal 664 H.fuli 1266 M, dia tidak lagi melanjutkan
kebiasaannya pada benteng-benteng yang direbutnya dan meng-
hancurkannya. Baybars malah menjadikannya sebagai Benteng
Mamluk.e6
Lr{.POMN-LAPOMN KAUM MUSLIM TENTANG MASING-MASING
SERANGAN
Sejarawan militer Marshall berhati-hati untuk memandang laporan
berbagai serangan dalam pertempuran sebagai sesuatu yang bernilai
penting, sebab format laporan semacam itu biasanya bersifat
klise dan tidak spesifik.eT Pandangan ini tidak sepenuhnya salah.
Memang benar bahwa dalam laporanJaporan kaum muslim ten-
tang peperangan itu terkadang ditemukan cara-cara pandang yang
tak terduga, khususnya bila menyangkut perspektif para saksi mata.
Meskipun para saksi mata semacam itu tak pelak lagi menyimpan
prasangka, potongan-potongan informasi tertentu dan diangkatnya
kembali suasana pertempuran dapat terhimpun untuk kemudian
memperlihatkan aspek-aspek baru mengenai fenomena penyerangan
pada periode Perang Salib.
Banyak tulisan sejarah memberikan penjelasan tentang serang-
an-serangan yang berlangsung selama pendudukan Timur Dekat
oleh kaum Frank. Tirlisan-tulisan yang berhubungan dengan Saladin
sangat lengkap. Dua penulis biografinya yang urama, Ibn Syaddid
dan 'Imiduddin, sangar terrarik untuk menceritakan dengan
lengkap penyerangan-penyerangan yang melibatkan pahlawan me-
reka. Dari beberapa contoh berikut, kita bisa merasakan bagaimana
laporan-laporan itu bertutur.
Penyerangan Alehsandria oleh Armada Sisilia
di Alehsandria pada 570 H./1174-1175 M.
'Imiduddin mengutip sepucuk surat dari Saladin yang men-
ceritakan tentang kedatangan armada Sisilia di Aleksandria pada
57O H.l1l74-1175 M. Enam kapal "membawa senjata-senjata
perang dan pendobrak yang terbuat dari kayu besar dan benda-
benda lain".e8 Kapal-kapal lain mengangkut para pembuat kapal,
menara-menara "merangkak",ee dabbaba dan mangonel. Serangan
dimulai pagi-pagi sesudah armada itu tiba:
Pagi hari mereka maju, menyerang, dan mengepung. Mereka
membangun tiga dabbaba dengan pelantak-pelantaknya dan tiga
mangonel berukuran besar yang melontarkan batu-batu hitam yang
mereka bawa dari Sisilia. Rekan-rekan kami kagum akan kerasnya
benturan yang diakibatkannya dan kagum akan ukuran batu-
batunya. Sementara mengenai dabbaba, alat ini seperti menara yang
dipenuhi dengan bongkahan-bongkahan kayu, ketinggiannya, jumlah
prajuritnya, dan jangkauannya [api]. Mereka maju dengan alat-alat
itu sampai senjata-senjata itu dekat dengan dinding. Mereka [bangsa
Sisilia] terus bertempur di sepanjang hari yang disebutkan di atas.roo
Sekalipun penampilan mengagumkan dari mesin-mesin perang
musuh yang sangat luar biasa ini, surat ini menyatakan bahwa
Allah akhirnya memberikan kemenangan kepada kaum muslim.
Mereka bertempur dengan gagah berani dan menumbangkan
dabbaba yang dipasang di dinding.
Penyerangan l{arah pdda 580 H./1184-1185 M.
Sumber-sumber muslim dengan jelas menyatakan kesulitan me-
rebut Benteng Karak pada 580 H./1184-1185 M. 'Imiduddin
al-Ishfahini memberikan laporan penyerangan ini sebagai berikut:
Dia [Saladin] berkemah di bukit Karak dan membuat tiga
mangonel menghadap [benteng itu] secara berbaris di depan gerbang
ini . Mangonel-mangonel itu menghancurkan dinding yang
menghadap mereka. Satu-satunya penghalang yang tersisa yaitu
parit yang lebar dan dalam. Parit itu berupa jurang yang menakut-
kan, jurang penghadang, dan tempat rendah yang berbahaya. Hanya
ada satu dndakan: menimbunnya, menutupnya dengan apa saja,
dan menimbunnya dengan tanah-ini bagian yang paling sulit.
Menggali rerowongan tidak bisa dilakukan sebab tanahnya berbatu
dan keras. Maka Sultan memerintahkan untuk membuat bata,
mengumpulkan batang-batang kayu, dan membangun dinding-
dinding, mulai dari pinggiran hingga ke parit rersebur, dan dinding-
dinding ini harus diberi atap dan pagar, dan batang-batang
kayu ini harus disatukan dan digabungkan secara merata.
Begitu perisai besar untuk menahan api musuh dari dinding-
dinding benteng ini telah dibangun, maka penimbunan parit
bisa dimulai dengan aman. Pasukan Saladin kemudian berkumpul
dengan membawa apa saja yang mereka temukan untuk me-
nimbunnya. Cara ini juga dipermudah oleh dabbaba dan
terowongan. sebab persiapan yang cermat ini, orang-orang tidak
lagi terancam bahaya, menurut para penulis sejarah:
Orang-orang menemukan jalan yang lebar menuju ke parit
dan mereka berkumpul [di sana], aman dari serangan, dan bekerja
dengan bersemangat. Orang-orang yang ada di bawah benteng di
tepi parit ini tidak merasa harus bertindak hati-hati ataupun
takut terkena panah atau bau. Parit telah ditimbun [hingga penuh]
sehingga seorang tahanan yang terbelenggu bisa menjatuhkan dirinya
ke parit itu dan menyelamatkan diri sesudah dilempari batu-batu
oleh kaum Frank.rol
Di balik prasangka yang jelas dan tingginya emosi dalam
laporan ini, pengarang bagaimanapun juga memberikan kete-
rangan-keterangan berharga mengenai praktik melancarkan serang-
an pada tahap awal. Laporan seperti ini menunjukkan bagaimana
penggalian di wilayah-wilayah tertentu dilakukan. Bila berhasil
dilakukan, penggalian bisa membawa para penyerang segera tiba
di kubu pertahanan, sementara orang-orang yang terkepung masih
belum mengetahui letak terowongan itu dengan tepat.
Penyerangan Sahyun padn 584 H./1188 M.
Penyerangan Benteng Sayhun oleh Saladin pada 584 H./1188 M.
terbukti sangat sulit. Semua keterangan geografis Abad Pertengrh"n
tentang benteng itu menegaskan keamanan benteng itu.r02 yaitu
penting untuk mengutip laporan tentang penyerangan benteng
itu oleh Saladin, seperti disampaikan oleh Ibn al-Atsir, sebab
keterangannya mengungkapkan masalah-masalah umum yang meng-
hadang para penyerang benteng-benteng kaum Frank di kawasan
Mediterania timur:
Kemudian Saladin meninggalkan Ladziqiyyah pada 27
Jumadilakhir (584 H.124 Juli 1188 M.) dan dia bergerak ke arah
Benteng Sayhun yang merupakan benteng dengan pertahanan sangat
baik yang menjulang ke udara, sulit untuk dipanjat, terletak di
bagian yang menonjol di atas bukit, dikelilingi oleh lembah yang
curam, dan beberapa bagiannya cukup sempit sehingga batu-batu
yang dilempar dengan mangonel tidak bisa mencapai benteng dari
tempat penyerangannya. Bukit ini menyatu dengannya [ben-
teng itu] dari sisi utara. Mereka [kaum Frank] telah membangunkan
untuk [benteng ini ] sebuah parit yang dalam, yang dasarnya
tidak terlihat, dan lima dinding dengan kubu pertahanan yang
kuat. Saladin berkemah di bukit sebelahnya. Mangonel dibangun
dan dia meluncurkan [proyektil] dengannya. Dia memerintahkan
putranya, al-Zhihir, penguasa Aleppo, dan dia turun ke bagian
sempir bukit itu dan juga memasang mangonel di sana. Dia
melontarkan proyektil ke benteng itu dari sana. Bersamanya banyak
ada infantri Aleppo yang keberaniannya telah melegenda.
Akhirnya, kaum muslim menemukan titik lemah untuk masuk
ke dinding benteng. "Mereka memasang tanggaro3 ke bagian me-
nonjol bukit ini yang tidak dibentengi oleh kaum Frank
dan mereka mendaki dari tempat itu di antara bebatuan sampai
mereka mencapai dinding pertama."ro4
Yang menarik untuk dicatat yaitu bahwa laporan ini tidak
menyebutkan ciri utama Benteng Sahyun dan keunikannya di
seluruh kawasan Timur Tengah dalam hal ukuran dan tujuan
pembuatannya (meski kemudian konsep yang sama juga dikenal
di hjltn dan Syayzar)-jurang yang ditembus oleh kaum Frank
melalui batuan untuk memisahkan semenanjung benteng itu dari
bukit lainnya, sehingga hanya menyisakan .;'arum batuan menjulang
di tengah-tengahnya unruk tempar memasang jembatan jungkat.
Orang-orang cenderung akan menyimpulkan bahwa Ibn al-Atsir
(atau sumbernya) tidak benar-benar berada di Sahyun.
Pengepungan Acre pada 586 H./1190-1191 M.
Ada dua laporan muslim yang sangat berpengaruh tentang penge-
pungan ini yang ditulis oleh Ibn Syaddid dan 'Imiduddin.
Laporan 'Imiduddin menceritakan tentang persiapan kaum Frank
untuk mengepung Acre pada 586 H./1190-1191 M. sebagai
berikut:
Mereka [kaum Frank] mulai membangun menara yang sangat
ringgj (abra). Mereka telah mengirimkan mesin-mesin dan kayu-
kayu yang besar serta balok-balok besi mereka lewat laut. Mereka
membangun tigi menara yang tinggi di tiga tempat di sekitar
kota ini . Mereka bekerja tujuh bulan [untuk membangun]
menara ini dan belum selesai hingga Rabiulawal [April-Mei].
Jalannya Peperangan I 653
Menara-menara itu dibuat seakan-akan tiga gunung yang menjulang.
Tingkat-tingkatnya diisi dengan peralatan dan pasukan.
Di sedap sudutnya, masing-masing menara itu memiliki empat
tiang yang tinggi, tebal, dan kuat. panjang masing-masing tiang
itu 50 cubit sehingga bisa melebihi dnggi dinding-dinding kota.
Mereka menyebarkan menara-menara itu di atas kereta beroda.
Lalu mereka menutupinya, sesudah melapisinya dengan besi dan
tali yang kuat, dengan kulit sapi dan kulit [binatang]. Setiap hari,
mereka membawanya mendekat, bahkan meski [hanya] sekitar satu
cubit, sebisa mungkin, dan mereka akan menuangkan cuka dan
anggur ke menara itu.ros
Kota iru berada di ambang keruntuhan, saat kemudian
tiba-tiba muncul gelombang, dan menara serang itu terbakar dan
runtuh sebagai "pertanda kekuatan Alla[i'. Seorang pemuda dari
Damaskus yang bernama 'Ali, putra seorang pandai besi, maju
dan menawarkan diri untuk membuat sebuah mangonel yang
akan membakar menara itu. Menurut Ibn Syadd1d:
Dia mengatakan punya keahlian untuk membakarnya [menara-
menara itu] dan bahwa, seandainya dia bisa memasuki Acre dan
memperoleh bahan-bahan yang diketahuinya, dia bisa membakar
menara itu. Semua bahan yang dibutuhkan disediakan untuknya
dan dia memasuki Acre, memasak bahan-bahan itu dengan nafi
dan memasukkannya ke dalam pot-pot rembaga sampai seluruh
[campuran] itu menjadi seperti batu bara menyala.106
Campuran itu terbukti efektif untuk melawan serangan-
serangan kaum Frank: "Dia menghantam satu menara dengan
sebuah pot dan menara itu segera menyala dan menjadi seperti
gunung api yang sangat luas.'ro7 Hal yang sama terjadi pada
menara kedua dan ketiga.
Informasi penting mengenai hal yang terjadi seusai pem-
bakaran mesin-mesin itu jr'rg" diberikan dalam keterangan
'Imiduddin. Dia melaporkan bahwa 70 ksatria dengan senjata
dan barang-barang habis terbakar di menara pertama. Besi-besi
dan baju-baju besi (zardiyfi) bermunculan dari tumpukan abu.ro8
Bahkan, seperti biasanya, dengan berlebihan dan prasangka
dari kedua pengarang ini, di sini digambarkan secara hidup
tentang strategi-strategi serangan dan pertahanan yang diterapkan
dalam penyerangan yang penting.
Pengepungan l(aisarea pada 663 H./1265 M.
Pada 663 H.ll264-1265 M., Baybars mulai melancarkan serangan
besar-besaran yang pertama terhadap pertahanan kaum Frank di
Suriah. Selama operasi militer ini, dia merebut kekuasaan kaum
Frank atas Kaisarea. Benteng ini sangat sulit untuk diserang, seperti
digambarkan oleh al-Maqrizi:
Kaum Frank telah membawa ke sana balok-balok batu granit
yang mereka pasang secara sejajar dengan dinding, yang dipasang
sedemikian rupa sehingga mereka tidak takut terhadap penggalian,
dan sehingga [dinding-dindingJ itu tidak akan runtuh bila digali.
Serangan-serangan ini terjadi tiada henti. Benteng itu terus
menerus digempur dengan benturan mesin, balista, dan hujan anak
panah.roe
Baybars memiliki lima katapul (pelontar batu) buatan Maghribi.
Peralatan menyerang lainnya, tukang-tukang batu, dan tukang-
tukang kayu, didatangkan dari benteng-benteng di sekitarnya, dan
para prajurit siap membuat tangga.rro Pada 9 Jumadilawal 663
H.126-27 Februari 1265 M., Baybars mengepung dan menyerang
Kaisarea. Perjuangan merebut benteng itu kemudian dimulai.
Benteng icu terletak di semenanjung yang, dengan bantuan armada
laut, bisa diserang dari kota ini , namun hanya dari satu sisi.
Louis IX telah melindunginya dengan sangat baik. Dia telah
memperkuat dinding-dindingnya dengan tiang-tiang granit klasik
yang dipasang saling bersilangan. Benteng itu tidak bisa digali,
seperti dikatakan penulis sejarah Arab itu sendiri. Benteng itu
menjadi sasaran batu-batu dan api Yunani yang dilontarkan dari
katapul-katapul, dan pasukan yang memPertahankan benteng itu
dihujani dengan anak-anak panah yang tiada henti dari menara
gereja di dekatnya. saat sebuah menara serang berhasil di-
dekatkan ke dinding, Baybars terjun langsung dalam PertemPuran
itu. Pada 15 Jumadilawall5 Maret, pasukan yang memPertahankan
benteng menyerahkan benteng ini dan meninggalkan Acre.
Baybars memerinrahkan agar kota dan benteng tersebur dihan-
curkan, barangkali agar Kaisarea ddak lagi digunakan sebagai
pangkalan terdepan Tentara Salib untuk selama-lamanya.,,,
Pengepungan Krah fus Cheualiers pada 669 H./1270_1271 M.
sumber-sumber muslim memberikan banyak keterangan tenrang
pengepungan IGak des chevaliers @ishn al-Ahrad))t2 pada Safar
669 H./September-Oktober |ZTO M., Baybars, yang tidak lagi
merasa terancam oleh serangan kaum Frank yang dilancarkan
dari seberang lautan, sesudah mendengar kabar tentang kematian
St. Louis, memimpin pasukan yang sangat besar ke Suriah dan
mengepung lGak. Sumber-sumber itu mencarat bahwa penge_
pungan itu berlangsung melalui beberapa tahap. perrama, pada
19 Rajab 669 H.l3 Maret l27l M., Baybars merebut perrahanan
depan dan menggempur pertahanan dalam. Dua hari kemudian,
dia merebut kubu perrahanan pertama (basyura). pada r Syakban/
15 Maret dia merebut kubu pertahanan kedua, yang berada di
luar jalan masuk. Akhirnya, pada 15 Syakban/29 Maret dia
menyerbu masuk ke bagian tengah dan pasukan yang mem-
pertahankan benteng itu melarikan diri ke pusat pertahanan.
Baybars melancarkan serangan susulan dengan balista dan pada
25 Syakban (8 April) pusat pertahanan itu takluk padanya.
Pasukan-pasukan di dalamnya mendapat jaminan keselamatan
untuk pergi mengungsi ke Thipoli. Benteng ini jelas sekali menjadi
kubu pertahanan yang penring bagi kaum muslim untuk bertahan.
Baybars mengawasi langsung pekerjaan perbaikan benteng yang
diperlukan untuk mengembalikan keadaannya seperti sedia kala,
sebelum kemudian meninggalkan benteng itu pada 15 Ramadan/
27 Aprrl. Perbaikan untuk benteng itu berlangsung singkat-ini
jelas menunjukkan bahwa tidak banyak kerusakan yang diderita
benteng itu. Namun demikian, benteng itu telah menjadi wilayah
pertahanan yang paling utama.
Pengepungan Marqab pada 683 H./1285 M.
Ibn Abd al-Zhihir memberikan laporan yang lengkap rentang
pengepungan Marqab oleh sultan Mamluk Qaliw0n pada 683
H.l 1285 M.rr3 Laporannya menunjukkan bahwa sebelum serangan
dilancarkan telah dilakukan persiapan yang matang. N-Zhihir
memulai laporannya dengan menekankan sulimya merebut benteng
ini : "Benteng itu sangat berbahaya yang terus diperintahkan
dan diupayakan untuk direbut dengan gigih oleh penguasa kami,
Sultan al-Malik al-Manshfrr-semoga Allah memberinya keme-
nangan."
Namun upaya merebut benteng itu tak pernah berhasil di-
lakukan, meskipun dia mencobanya lebih dari sekali. Pasukan
dari Ordo Hospitaler di dalamnya semakin sombong dan sangat
kuat dan telah menguasai benteng-benteng di sekitarnya. Memang,
kaum Frank yakin bahwa Marqab tidak akan pernah bisa di-
rebut.l l4
Qaliwirn menyertakan mangonel dari Damaskus: "Senjata-
senjata besi dan nafi, yang serupa dengannya dan hanya bisa
ditemukan di dalam gudang-gudang dan gudang senjatanya, telah
disiapkan."
Persiapan ini dilakukan terlebih dahulu, dan keahlian orang-
orang yang tahu tentang pengepungan itu dimanfaatkan: "Mangonel-
mangonel dan senjata-senjata ini dibawa bersamaan.'rrr5 (xssq
muslim memakai dga mangonel yang disebut "si Frank",
tiga mangonel "si banteng hitam" dan empat mangonel "si jahal".tte
sesudah merebut benteng itu dan mempertimbangkan apakah
akan menghancurkannya atau tidak, QaliwCrn memutuskan untuk
mempertahankannya dan memperkuatnya. Di dalamnya, dia me-
nempatkan para prajurit, 400 tukang batu, mangonel, senjata,
batangan kayu, kayu bakar, api Yunani, dan alat-alat Penyerang
lainnya.rrT
PERNYATAAN- PERNYATMN UM UM
Dari sumber-sumber Islam iru tampak jelas bahwa bentuk paling
umum dari konfrontasi antara Tentara Salib dan kaum muslim
yaitu pengepungan. Sumber-sumber ini memperkuat kesimpulan
Marshall yang menyatakan bahwa pengepungan menenrukan nasib
Tentara salib dan "aktivitas-aktivitas militer lainnya sebagian besar
berlangsung secara insidental".r18 Yang tidak dijelaskan oleh sum-
ber-sumber Islam-barangkali sebab sangar jelas bagi mereka atau
sebab kebenaran semacam itu akan mencoreng semarak ke-
menangan yang mereka raih-yaitu fakta yang mengejutkan
bahwa jumlah kaum muslim jauh lebih besar dari kaum Frank.rre
TIGA BUKTI DARI KARYA SENI ISI.iTM
Luhisan Fustat
Abad kedua belas nyaris sama sekali tidak meninggalkan karya
seni lukisan Islam yang dibuat di atas kertas. Sekalipun begitu,
masih ada satu bukti artistik dari abad kedua belas yang sebab
kelangkaannya menjadi sangat bernilai. Karya itu yaitu lukisan
Fatimiyah yang kondisinya sangat rusak. Lukisan itu ditemukan
di timbun












