Tampilkan postingan dengan label injil menurut musyafir 1. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label injil menurut musyafir 1. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Juli 2026

injil menurut musyafir 1

 




Kitab suci merupakan kebutuhan pokok tiap-tiap umat beragama dan 

sudah menjadi kepastian bahwa setiap agama mempunyai kitab suci yang 

diyakini oleh penganutnya bahwa dalam kitab suci tersebut terkandung 

wahyu sebagai ajaran dari Tuhan yang tidak ada keraguan di dalamnya.1

Umat Islam menyakini keempat kitab suci yang telah Allah wahyukan 

kepada utusan-Nya yaitu Taurat, Zabur, Injil dan al-Qur‟an. 

Al-Qur‟an sebagai kitab yang rahmah li al-‟Alamin, selain memuat 

sesuatu yang berkaitan dengan sifat dan perilaku manusia seperti sabar, 

taqwa, amanah maupun sesuatu yang yang menjadi kebutuhan akan 

keberlangsungan hidup umat manusia seperti harta dan lain sebagainya, al￾Qur‟an juga memuat intisari kitab-kitab suci terdahulu yang telah Allah 

turunkan kepada nabi dan utusan sebelum Muhammad saw seperti kitab 

Taurat, Zabur dan Injil. 

Dalam konteks Islam, kitab yang diturunkan belakangan menjadi 

penyempurna bagi kitab yang diturunkan lebih dulu. Beberapa ayat al￾Qur‟an menjelaskan tentang penyempurnaannya terhadap kitab 

sebelumnya di antaranya yaitu QS. Āli „Imrān [3]: 3-4, QS. al-Mā‟idah 

[5]: 48, QS. Yūnus [10]: 37, QS. al-An‟ām [6]: 92 dan QS. al-Bayyinah 

[98]: 1-5.2

Kitab-kitab yang disempurnakan al-Qur‟an yaitu Taurat, Zabur dan 

Injil. Al-Qur‟an menyebut kitab sebelumnya, adakalanya menggunakannama kitabnya secara langsung (misal; taurat, zabur, injil) dan adakalanya 

pula tidak menyebutkan nama kitabnya secara langsung akan tetapi, 

menggunakan sebutan lainnya seperti kata al-Kitab (yang maknanya tidak 

hanya untuk satu kitab saja akan tetapi maknanya mencakup kitab Taurat, 

Zabur, Injil dan al-Qur‟an). Firman Allah swt QS. Maryam [19]: 30: 

َ َال

ََق

ّن ِ

ِ

ََإ

 

د

ْ

ب

َ

ََع

َ ََاّللِ

َ

ِان

َ

ابََآت

َ َ

ت

ِن ِ

ََالْك لَ

َ

ع

َ

َج

ًّاَو

ي

ِ

ب

َ

ن

“Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al kitab (Injil) dan 

Dia menjadikan aku seorang Nabi”.

3

Kata 

َ

ِن

ٰ

ى

َ

ت

َ

ا ٱلْ

َ

تَٰب

ِك pada ayat di atas, maknanya bukan Isa diberi al-Kitab 

sebelum diciptakan atau ketika masih dalam kandungan ibunya melainkan 

Allah telah menetapkan bahwa Isa akan diberi al-Kitab.4 Riwayat dari 

Ikrimah menjelaskan bahwa maksud kata 

َ

ِن

ٰ

ى

َ

ت

َ

ا ٱلْ

َ

تَٰب

ِك adalah ketetapan 

Allah. Konteks ayat di atas, menunjukkan bahwa al-Kitab yang dimaksud 

adalah Injil,5

sesuai dengan ketetapan Allah sejak azal dan juga yang 

mengajarkan kepada Isa tentang kitab-kitab sebelumnya seperti Taurat.6

Kata injil berasal dari bahasa Yunani yaitu euangelion yang berarti 

“kabar gembira”. Kemudian kata tersebut lewat bahasa Ethiopia 

disebutkan wāngel, lalu masuk ke dalam bahasa Arab yaitu injil.7

 Umat 

Islam menyakini bahwa Injil adalah kitab suci yang Allah turunkan kepada 

Nabi Isa as. Pengikut nabi Isa dalam al-Qur‟an disebut sebagai umat Nasrani.8

 Dalam keyakinan umat Nasrani, kitab suci yang mereka gunakan 

sebagai pedoman menimbulkan perbedaan menyangkut kesucian kitab 

sucinya, misal tentang nama yaitu; Alkitab, Injil dan Bibel.9

Selain sebagai sumber ajaran dan pedoman umat Nasrani, oleh umat 

Islam Injil juga digunakan sebagai salah satu sumber penafsiran terhadap 

ayat- ayat al-Qur‟an. Sejak zaman nabi, tidak sedikit dari para sahabat 

yang menggunakan kisah-kisah israiliyyat untuk menafsirkan ayat-ayat al￾Qur‟an, terlebih mengenai ayat-ayat tentang kisah-kisah umat terdahulu. 

Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, pertama adanya kesesuaian 

antara al-Qur‟an dengan Taurat dan Injil di dalam beberapa permasalahan 

seperti dalam penjelasan kisah-kisah Nabi dan umat terdahulu. Kedua, 

metode yang digunakan al-Qur‟an dalam mengemukakan kisah di 

dalamnya secara global dan ringkas, sedangkan Taurat dan Injil 

mengemukakannya secara terperinci, sehingga para sahabat menganggap 

perlu untuk bertanya kepada para ahl al- Kitab.10

Penggunaan Injil sebagai salah satu sumber penafsiran tidak hanya 

terdapat dalam kitab-kitab tafsir klasik saja, seperti kitab tafsirnya Ibnu 

Kaṡir, kitab tafsirnya al-Bagawi, kitab tafsirnya al-Qurṭubi dan lain 

sebagainya. Namun, dalam kitab tafsir modern juga ada yang 

menggunakan Injil sebagai salah satu sumber penafsiran. Husni 

Fithriyawan dalam skripsinya memaparkan bahwa di dalam Kitāb Tafsir 

al-Jawahir fi Tafsir al-Qur‟an karya Tantawi Jawhari dan Kitab Tafsir al￾Manar Karya Muhammad Rasyid, terdapat ayat-ayat al-Qur‟an yang ditafsirkan dengan mengutip kata atau pasal dari Injil baik secara literal 

maupun maknawi.11

Selain sebagai salah satu sumber penafsiran, Injil juga sebagai kitab 

yang membenarkan kitab sebelumnya yaitu Taurat. Salah satu ayat yang 

menjelaskannya yaitu aṣ-Ṣaff [61]: 6. Al-Qurṭubi dalam tafsirnya 

memaparkan bahwa nabi Isa as. adalah hamba Allah yang diutus kepada 

Bani Israil dengan membawa Injil dan membenarkan kitab yang 

diturunkan sebelumnya.12

Dari pemaparan di atas penulis tertarik untuk menguraikan Injil dalam 

pandangan al-Qur‟an, bagaimana al-Qur‟an mengemukakan kitab suci 

lainnya (Injil) dan hal apa saja yang dibahas al-Qur‟an terkait dengan Injil. 

Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode tematik 

ayat. 

B. Rumusan Masalah 

Berdasarkan latar belakang di atas, maka fokus permasalahan dan 

penelitian yang akan dikaji lebih lanjut adalah sebagai berikut: 

1. Apa saja yang dibahas mufasir tentang Injil? 

2. Bagaimana konsep Injil menurut mufasir? 

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian 

Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah yang telah 

dipaparkan di atas, maka tujuan dari penelitian yang hendak dicapai 

adalah sebagai berikut: 

1. Mengetahui hal-hal apa saja yang disinggung mufasir tentang Injil. 2. Mengetahui konsep Injil menurut mufasir. 

Adapun kegunaan dari penelitian ini sebagai berikut: 

1. Penelitian ini diharapkan mampu memberikan pemahaman secara 

totalitas dan komprehensif terhadap al-Qur‟an menyangkut tema Injil, bagi 

peneliti khususnya dan khalayak pada umumnya. 

2. Penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan konstribusi dan 

memperkaya khazanah keilmuan studi pemikiran islam, khususnya studi 

Ilmu al-Qur‟an dan Tafsir tentang Injil. 

D. Kajian Pustaka 

Kajian terhadap Injil bukanlah hal yang baru dan sudah banyak 

dilakukan oleh banyak orang, baik berupa skripsi maupun buku-buku yang 

telah diterbitkan. Melalui kajian pustaka ini, peneliti ingin mengemukakan 

beberapa hasil penelitian sebelumnya terkait dengan Injil dalam al-Qur‟an. 

Adanya kajian pustaka, diharapkan peneliti mampu mengemukakan 

perbedaan penelitian yang akan dilakukan dengan hasil penelitian 

sebelumnya terkait tema Injil dalam al-Qur‟an. 

Di antara tema yang membahas Injil yaitu, buku Jibril dalam Tiga 

Kitab Suci (Taurat-Injil-al-Qur‟an) karya Manshur Abdul hakim. Buku ini 

menguraikan tentang profil malaikat yang mulia secara umum dan 

difokuskan pada malaikat Jibril. Dalam memaparkan, penulis buku ini 

menggunakan tiga kitab yaitu Taurat, Injil dan al-Qur‟an. Adapun langkah 

yang digunakan yaitu menelusuri dalil-dalil yang terdapat dalam al￾Qur‟an, hadis-hadis shahih dan akidah ahl al-sunnah wa al-jama‟ah. Selain 

itu, juga menelusuri dalil-dalil yang terdapat dalam kitab-kitab salaf 

(terdahulu) dan juga kitab ahl al-Kitab yaitu Taurat dan Injil sebagai 

perbandingan. Penelitian dalam buku ini belum menekankan pada Injilnya akan tetapi lebih menekankan pada term malaikat yakni malaikat 

Jibril.13 Sedangkan skripsi ini lebih fokus pada Injil berdasarkan ayat-ayat 

al-Qur‟an. 

Buku Injilku yang Ternoda karya Yusuf Ismail Alhadid.14 Buku ini 

berisi kritik dan komentar beliau terhadap Injilnya umat Nasrani. Beliau 

memberikan kritik bahwa Injil yang ada di tangan umat Nasrani sekarang 

telah mengalami banyak perubahan. Buku ini berusaha membandingkan 

isi Injil dengan teologi-teologi Nasrani dan beberapa pernyataan tokoh 

serta ilmuan Nasrani. Buku ini sama sekali tidak membahas ayat-ayat al￾Qur‟an melainkan hanya terfokus pada Injilnya orang Nasrani.15

Buku Nabi Isa dalam al-Qur’an: Sebuah Interpretasi Outsider atas al￾Qur’an karya Karel Steenbrink. Penulis berusaha mengungkapkan 

berbagai aspek tentang nabi Isa as melalui ayat-ayat al-Qur‟an yang 

terbagi ke dalam 18 surat. Cara pemaparannya berdasarkan urutan surat 

dalam mushaf al-Qur‟an. Meskipun penulis menafsirkan ayat al-Qur‟an 

dengan ayat-ayat lain yang relevan, akan tetapi masih sedikit tafsirannya 

tentang Injil yang diturunkan kepada nabi Isa as.16

Husni Fithriyawan menulis skripsi dengan judul Injil dalam Kitab 

Tafsir al-Qur’an Moderen (Studi Komparatif Kitāb Tafsīr al-Jawāhir fi 

Tafsīr al-Qur’ān karya Tantawi Jawhari dan al-Manar Karya Muhammad 

Rasyid Rida). Skripsi tersebut memaparkan injil sebagai salah satu sumber 

penafsiran yang digunakan dalam kitab tafsir al-Jawahir fi Tafsir al￾Qur’an karya Tantawi Jawhari dan kitab tafsir al-Manar Karya Muhammad Rasyid Rida, baik pengutipan secara literal maupun maknawi 

sebagai alternatif karena dianggap sesuai dengan al-Qur‟an.17 Skripsi 

tersebut belum memaparkan Injil dalam pandangan al-Qur‟an. 

Tafsir al-Misbah Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’an karya M. 

Quraish Shihab. Kitab tafsir ini merupakan kategori tafsir tahlili yakni 

menafsirkan semua ayat-ayat al-Qur‟an dari awal surat hingga akhir surat. 

Adapun pembahasan mengenai Injil, dalam kitab ini belum terfokus pada 

pembahasan Injil saja, akan tetapi masih mencakup keseluruhan poin-poin 

yang termuat dalam ayat yang sedang ditafsirkannya meski terkadang juga 

menampilkan ayat lain yang sesuai dengan ayat sedang ditafsirkan.18

Tafsir al-Qurṭubi karya Imam al-Qurṭubi. Kitab tafsir ini merupakan 

kategori tafsir bi ra‟yi dengan corak fiqih. Ketika memaparkan 

penjelasannya, beliau menggunakan beberapa contoh serta pandangan 

imam madzhab fiqih, terutama ketika sedang menafsirkan ayat-ayat 

hukum. Adapun pembahasan injil dalam kitab tafsir ini masih bersifat 

global.19

Tafsir al-Ṭabarī karya Abu Ja‟far Muhammad bin Jarīr al-Ṭabarī. 

Dalam menafsirkan ayat beliau menggunakan riwayat atau hadis-hadis 

yang sesuai dengan ayat. Ketika menafsirkan ayat-ayat tentang Injil, 

beliau belum menafsirkan secara khusus pembahasan injil dalam al￾Qur‟an melainkan memaparkan hadis-hadis yang berkaitan dengan isi ayat 

secara keseluruhan.Tafsir al-Wasiṭ karya Wahbah al-Zuhaili. Meskipun dalam menafsirkan 

ayat-ayat al-Qur‟an sudah dikelompokkan berdasarkan tema-tema yang 

terkandung dalam sebuah surat al-Qur‟an, namun beliau belum 

menafsirkan ayat-ayat tentang Injil secara khusus dan terperinci. Misalnya 

ketika menafsirkan QS. Āli „Imrān [3]: 48, beliau mengelompokkannya 

dengan ayat-ayat sebelum dan sesudahnya dalam tema kisah Isa as. 

Sedangkan pembahasannya tentang Injil hanya sebatas penjelasan bahwa 

Injil adalah kitab yang Allah wahyukan kepada Isa as. 

Berdasarkan uraian di atas, penulis belum menemukan karya ataupun 

penelitian yang secara khusus membahas injil dalam al-Qur‟an secara 

tematik. Dalam penelitian ini, peneliti akan mencoba memaparkan injil 

dalam pandangan al-Qur‟an dengan menggunakan metode tematik. 

Sehingga penelitian ini lebih fokus dan mampu mengupas aspek-aspek al￾Qur‟an tentang Injil melalui ayat-ayatnya. Sumber data dalam penelitian ini ada dua yaitu sumber data primer dan 

sumber data sekunder. Sumber primer dalam penelitian ini yaitu al-Qur‟an 

dan terjemahnya serta tafsirnya, terkhusus pada ayat- ayat yang membahas 

Injil. Adapun kitab tafsir yang akan digunakan dalam penelitian ini yaitu 

Tafsir Al-Misbah, Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur‟an karya M. 

Quraish Shihab, Tafsīr Al-Qur‟an al- „Aẓim karya Ibnu Kaṣir, Tafsīr al￾Ṭabari Jamiʻ al-Bayan fī Ta‟wīl al- Qur‟ān karya Ibnu Jarir al-Ṭabari dan 

Tafsīr fī Ẓilāl al-Qur‟ān karya Sayyid Quṭb, Tafsir al-Azhar karya Hamka, 

Tafsir al-Qur‟an al-Aisar karya Abu Bakar Jabir al-Jazairi, Tafsir al-Wasiṭ

karya Wahbah al- Zuhaili, Tafsir al-Muyassar karya Hikmat Basyir. 

Sedangkan sumber sekunder yang digunakan dalam penelitian ini yaitu 

karya tulis lain seperti; buku, kitab, skripsi, majalah, artikel yang sesuai 

dan mendukung penelitian ini. Sumber sekunder yang digunakan dalam 

penelitian ini di antaranya yaitu buku Isa di dalam al-Qur‟an karya Karel 

Steenbrink, kitab Al-Muʻjam al- Mufaḥras li Alfāẓ al-Qur‟ān al-Karīm 

karya Muhammad Fu‟ad Abd al-Baqiy, kitab Asbab al-Nuzul al-Qur‟an 

karya Imam Abi Hasan „Ali bin Ahmad al-Wahidi dan sebab Turunnya 

Ayat al-Qur‟an karya Jalaluddin al-Syuyuṭi, juga Lubabun Nuqul fi Asbab 

al-Nuzul karya Jalaluddin al-Syuyuṭi serta beberapa literatur lainnya yang 

mendukung penelitian ini. Selain itu, penulis juga menggunakan 

Perjanjian Baru yang membicarakan nabi Isa as sebagai sumber 

pendukung dalam penelitian ini. 

Teknik Pengumpulan Data 

Dalam mengumpulkan ayat-ayat tentang Injil, peneliti membatasi pada 

ayat-ayat yang memuat kata injīl. Kata yang dijadikan term pokok dalam 

penelitian ini yaitu kata injīl. Sedangkan kata al-kitab maupun hal-hal lain 

yang berkaitan dengan Injil penulis jadikan sebagai term pendukung 

dalam skripsi ini. Kitab yang digunakan untuk menelusuri kata tersebut 

adalah kitab al-Muʻjam al-Mufaḥras li Alfāẓ al-Qur’ān al-Karīm karya 

Muhammad Fuad Abdu al-Baqiy.23 Melalui kitab tersebut, penulis 

mendapatkan data mengenai penggunaan dan pengulangan kata Injīl 

dalam al-Qur‟an. 

3. Analisis Data 

Setelah pengumpulan data dilakukan, maka selanjutnya adalah 

mengolah data tersebut sehingga penelitian dapat terlaksana secara 

rasional, sistematis dan terarah. Metode yang digunakan untuk 

menganalisis data dalam penelitian ini adalah deskriptif-analitik. Metode 

ini digunakan untuk mendiskripsikan Injil dalam al-Qur‟an, kemudian 

mengklarifikasikan secara objektif dan menganalisanya secara teratur 

seluruh bahasan Injil. 

Untuk memudahkan penulis dalam menganalisis data, maka penulis 

menggunakan metode tematik yang ditawarkan oleh Al- Farmawi yaitu 

pertama menetapkan masalah yang akan dibahas, kedua menghimpun 

ayat-ayat yang berkaitan dengan masalah tersebut, ketiga menyusun ayat 

sesuai dengan masa turunnya disertai pengetahuan tentang asbab al-Nuzul￾nya, keempat memahami korelasi ayat-ayat tersebut dalam suratnya 

masing-masing, kelima menyusun pembahasan dalam kerangka yang 

sempurna (out line), keenam melengkapi pembahasan dalam hadis-hadis

yang relevan dengan pokok bahasan, terakhir mempelajari ayat-ayat 

tersebut secara keseluruhan dengan jalan menghimpun ayat-ayat yang 

mempunyai pengertian yang sama atau mengkompromikan antara yang 

„am dan yang khas, mutlaq dan muqayyad atau yang lahirnya 

bertentangan, sehingga semuanya bertemu dalam satu muara, tanpa ada 

perbedaan atau paksaan.24


Kitab dalam pandangan islam 

Dalam islam Iman kepada kitab Allah SWT adalah masuk dalam rukun 

yang ketiga. Yang dimaksud dengan iman kepada kitab-kitab Allah SWT. 

Yaitu meyakini dengan sepenuh hati bahwa Allah SWT telah menurunkan 

kitab-kitab-Nya kepada para Nabi dan Rasul yang berisi wahyu Allah SWT 

berupa perintah dan larangan untuk disampaikan kepada umat manusia agar 

digunakan sebagai pedoman hidup di dunia.

Allah SWT. berfiman pada Q.S al-Baqarah 4 :

ُ َون

ن

ِ

وق

ُ

 ي

ۡ

م

ُ

ةِ ه

َ

ر

ٓخِ

ۡ

بِٱۡل

َ

َك و

ِ

ل

ۡ

ب

َ

ِن ق 

آ أُ ِ نزَل م

َ

م

َ

َك و

ۡ

لَي

ِ

آ أُ ِ نزَل إ

َ

ِ

ُ َون ِب

ن

ِ

م

ۡ

ؤ

ُ

 ي 

َ

ين

ِ

ٱلَّذ

َ

و

“Dan mereka yang beriman kepada Kitab (al-Qur’an) yang telah diturunkan 

kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka 

yakin akan adanya (kehidupan) akhirat”. (QS. al-Baqarah [2]: 4).

Ada dua jenis kitab suci:

1. Kitab suci samawi, yakni kitab suci yang bersumber dari wahyu 

Allah SWT. dan biasa disebut Kitabullah (Kitab Allah SWT.). Ada yang 

berwujud Kitab dan ada yang berwujud Shahifah atau Shuhuf.

2. Kitab suci ardhi, yakni kitab suci yang tidak bersumber dari wahyu 

Allah SWT. melainkan bersumber dari hasil perenungan dan budi daya akal 

manusia sendiri.

Adapun pengertian Kitabullah adalah kalam atau firman Allah SWT.

yang diwahyukan melalui malaikat Jibril kepada Nabi dan Rasul-Nya yang 

mengandung perintah dan larangan sebagai pedoman hidup bagi ummat 

manusia dan jumlah kitabullah ada 144 kitab,dan yang wajib diimani ada 4.

Kitab-kitab yang wajib diimani ada empat (4) yaitu :

a. Kitab Zabur, diturunkan pada Nabi Daud. Juga ada yang menyebut 

Mazmur maupun Paska. Diturunkan kepada Nabi Dawud AS (=David) pada 

abad ke 10 SM untuk Bani Israil dan berbahasa Qibthi.

َّّن

ِ

إ

ِ

إ

َ

 و

َ

يم

ِ

اه

َ

ر

ْ

ِب 

ََٰل إ

ِ

ا إ

َ

ن

ْ

ي 

َ

ْح

أَو

َ

ِ ۚ و

ه

ِ

ْد

ع

َ

 ب 

ْ

ن

ِ

َني م

ِ

 

ي

ِ

النَّب

َ

ٍوح و

ُ

ََٰل ن

ِ

ا إ

َ

ن

ْ

ي 

َ

ْح

ا أَو

َ

ْ َك َ كم

لَي

ِ

ا إ

َ

ن

ْ

ي 

َ

ْح

 أَو

َ

اعِيل

َ

ْْس

َ

ود

ُ

او

َ

ا د

َ

ن

ْ

ي 

َ

آت 

َ

ان ۚ و

َ

َ

م

ْ

لَي

ُ

س

َ

َون و

ُ

ار

َ

ه

َ

 و

َ

ُس

ون

ُ

ي

َ

وب و

َ

ُّ

أَي

َ

 و

ٰ

ى

َ

يس

عِ

َ

ِ اط و

َ

ب

ْ

ْاۡلَس

َ

وب و

َ

ُ

ق

ْ

ع

َ

ي 

َ

اق و

َ

َ

ْح

ِس

إ

َ

و

ُ

ب

َ

ز ا

ً

ور

“Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana 

Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang 

kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, 

Ismail, Ishak, Ya’kub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan 

Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud.” (QS. al-Nisā’ [4]: 163).

َ

ين

ِ

لَى الَّذ

َ

ع

َ

 ۚ و

َ

ر

َ

ََّّيمٍ أُخ

 أَ

ْ

ن

ِ

َّدةٌ م

ِ

َع

ٍر ف

َ

ف

َ

 س

ٰ

لَى

َ

 ع

ْ

يضا أَو

ً

ِر

َ

 م

ْ

ْ ُكم

ن

ِ

ان م

َ ك َ

ْ

ن

َ

َم

ٍ ات ۚ ف

َ

ُود

ْد

ع

َ

ا م

ً

ََّّيم

أَ

ْ

ن

َ

َم

ٍني ۖ ف

كِ

ْ

س

ِ

 م

ُ

ام

َ

ٌ طَع

ة

َ

ْدي

ِ

 ف

ُ

َه

ُون

طِيق

ُ

ْن ي

ِ

 ۖ إ

ْ

 لَ ُكم

ٌ

ر

ْ

ي 

َ

وا خ

ُ

وم

ُ

َص

ْن ت

أَ

َ

 ۚ و

ُ

 لَه

ٌ

ر

ْ

ي 

َ

 خ

َ

و

ُ

َه

ا ف 

ً

ر

ْ

ي 

َ

 خ

َ

َطََّوع

ت

َون

ُ

لَم

ْ

َع

 ت 

ْ

ُم

ت

ْ

ُكن 

“Jika mereka mendustakan kamu,maka sesungguhnya rasul-rasul sebelum 

kamupun telah didustakan, mereka membawa mukjizat-mukjizat yang 

nyata, Zabur dan kitab yang memberi penjelasan yang sempurna.(QS. al￾Baqarah [2]: 184).

َون

ُ

َّ الصاِلِ

َ

ِي

اد

َ

ب

ا عِ

َ

ِرث ُه

َ

ْ َض ي

ْكِر أَ َّن ْ اۡلَر

ِ

 الذ

ِ

ْد

ع

َ

 ب 

ْ

ن

ِ

ِور م

ُ

ِ ا ِف َّ الزب

َ

ن

ْ

ب 

َ

َ ْد َ كت 

لَق

َ

و

“Dan sungguh telah Kami tulis didalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) 

Laut Mahfuz, bahwasanya bumi dipusakai hamba-hambaKu yang saleh. 

(QS. al-Anbiyā’[21]: 105)

ا

َ

ن

ْ

ي 

َ

آت 

َ

ٍض ۖ و

ْ

ع

َ

 ب 

ٰ

لَى

َ

َني ع

ِ

 

ي

ِ

ْ َض النَّب

ع

َ

ا ب 

َ

َ َّضْلن

َ ْد ف

لَق

َ

ِض ۗ و

ْ

ْاۡلَر

َ

ِ ات و

َ

او

َ

ِ ِف َّ السم

ْ

َن

ِ

 ِب

ُ

لَم

ْ

َك أَع

ُّ

ب

َ

ر

َ

و

ا

ً

ور

ُ

ب

َ

 ز

َ

ود

ُ

او

َ

د

“Dan Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang yang (ada) di langit dan di 

bumi. Dan sesungguhnya telah Kami lebihkan sebagian nabi-nabi itu atas 

(yang lain), dan Kami berikan Zabur kepada Daud.” (QS. al-Isrā’[17]: 55).

b. Kitab Taurat , diturunkan kepada Nabi Musa. Ada yang menyebutnya 

Thoret atau Thora. Diturunkan kepada Nabi Musa AS (=Moses) abad ke 15 

SM untuk Bani Israil dan berbahasa Ibrani.

ُ َون

َد

ت

ْ

َه

 ت 

ْ

ُكم

لَّ

َ

ان لَع

َ َ

ق

ْ

ُر

الْف

َ

اب و

َ َ

ت

َى الْكِ

وس

ُ

ا م

َ

ن

ْ

ي 

َ

ْذ آت 

ِ

إ

َ

و

“Dan (ingatlah) ketika kami berikan kepada Musa Al-Kitab (Taurat) dan 

keterangan yang membedakan antara yang benar dan yang salah, agar kamu 

mendapat petunjuk.” (QS. al-Baqarah [2]: 53).

َ

ِيل

ْاْلِْنْ

َ

َ و

اة

َ

ر

ْ

َل َّ الت و

َ

ْز

أَن 

َ

ِ و

ه

ْ

ي

َ

د

َ

َْ َني ي

ا ب 

َ

م

ِ

ا ل

ً

ق

ِ

َ د

ُص

ِ م

 

ق

َ

اب ِ ِب ِْل

َ َ

ت

ْ َك الْكِ

لَي

َ

ََّزَل ع

ن 

“Dia menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepadamu dengan sebenarnya; 

membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan 

Taurat dan Injil,” (QS. Ali ‘Imrān [3]: 3).

ُّ َون

ي

ِ

ا النَّب

َ

 ِبِ

ُ

ُكم

ْ

َ ۚ َي

ٌ

ُور

ن

َ

ًى و

د

ُ

ا ه

َ

ِيه

َ ف

اة

َ

ر

ْ

َّ ا الت و

َ

لْن

َ

ْز

َّّن أَن 

ِ

ُّ َون إ

ي

ِ

ََِّّبن

الر

َ

ُوا و

اد

َ

 ه

َ

ين

ِ

لَّذ

ِ

وا ل

ُ

لَم

ْ

 أَس

َ

ين

ِ

الَّذ

نِ

ْ

ْ َشو

اخ

َ

 و

َ

ا النَّاس

ُ

َََل َ َتْ َشو

 ۚ ف

َ

اء

َ

د

َ

 شه

ُ

ِ

ه

ْ

لَي

َ

ُوا ع

َكان

َ

ِ اب َّ اَّللِ و

َ

ت

 كِ

ْ

ن

ِ

ظُوا م

ِ

ف

ْ

ُح

ت

ْ

ا اس

َ

ِ

 ِب

ُ

ار

َ

ب

ْ

ْاۡلَح

َ

و

َ

ِ

 ِب

ْ

ُكم

ْ

َ َي

ْ

َ َل

ْ

ن

َ

م

َ

ًيَل ۚ و

ِ

ل

َ

ا ق

ً

ِِت َ َثَن

َ

ِ وا ِبَّي

ُ

َر

َ ْشت 

ََل ت

َ

و َون

ُ

ر

ِ

 الْ َكاف

ُ

م

ُ

َك ه

ِ

ئ

ٰ

أُولَ

َ

 ف

ُ

َل َّ اَّلل

َ

ْز

ا أَن 

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) 

petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan 

perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada

Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, 

disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka 

menjadi saksi terhadapnya.Karena itu janganlah kamu takut kepada 

manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat￾ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan 

menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang 

yang kafir.” (QS. al-Mā’idah [5]: 44).

ِ

َ د

ُص

 م

ََ

َي

ْ

ر

َ

ِن م

ْ

ى اب

َ

يس

ِ

ع

ِ

 ب

ْ

م

ِ

ٰ َ آَثِره

لَى

َ

ا ع

َ

ن

ْ

َّفي 

َ

ق 

َ

و

َ

ِيل

ْ اْلِْنْ

ُ

اه

َ

ن

ْ

ي 

َ

آت 

َ

ِ ۖ و

اة

َ

ر

ْ

َّ الت و

َ

ن

ِ

ِ م

ه

ْ

ي

َ

د

َ

َْ َني ي

ا ب 

َ

م

ِ

ا ل

ً

ق

َني

ِ

تَّق

ُ

ْلم

ِ

 ل

ً

ظَة

عِ

ْ

و

َ

م

َ

ًى و

د

ُ

ه

َ

ِ و

اة

َ

ر

ْ

َّ الت و

َ

ن

ِ

ِ م

ه

ْ

ي

َ

د

َ

َْ َني ي

ا ب 

َ

م

ِ

ا ل

ً

ق

ِ

َ د

ُص

م

َ

 و

ٌ

ُور

ن

َ

ًى و

د

ُ

ِ ه

ِيه

ف

“Dan Kami iringkan jejak mereka (nabi nabi Bani Israil) dengan Isa putera 

Maryam, membenarkan Kitab yang sebelumnya, yaitu: Taurat. Dan Kami 

telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang didalamnya (ada) petunjuk 

dan dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang 

sebelumnya, yaitu Kitab Taurat. Dan menjadi petunjuk serta pengajaran 

untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. al-Mā’idah [5]: 46).

ل

ْاْلِْنْ

َ

َ و

اة

َ

ر

ْ

َّ الت و

َ

 و

َ

ة

َ

ْكم

ْ اِلِ

َ

اب و

َ َ

ت

 الْكِ

ُ

ه

ُ

م

ِ

ل 

َ

ع

ُ

ي 

َ

و

“Dan Allah akan mengajarkan kepadanya Al Kitab, Hikmah, Taurat dan 

Injil.” (QS. Ali ‘Imrān [3]: 48).

c. Kitab Injil, diturunkan kepada Nabi Isa. Ada yang menamakan Bibel 

maupun Alkitab. Diturunkan kepada Nabi Isa AS = Yesus Kristus pada awal 

abad ke 1 M untuk Bani Israil dan berbahasa Suryani.

ِ

ه

ْ

ي

َ

د

َ

َْ َني ي

ا ب 

َ

م

ِ

ا ل

ً

ق

ِ

َ د

ُص

ِ م

 

ق

َ

اب ِ ِب ِْل

َ َ

ت

ْ َك الْكِ

لَي

َ

ََّزَل ع

ن 

َ

ِيل

ْاْلِْنْ

َ

َ و

اة

َ

ر

ْ

َل َّ الت و

َ

ْز

أَن 

َ

و

“Dia menurunkan Al Kitab (al-Quran) kepadamu dengan sebenarnya; 

membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan 

Taurat dan Injil,” (QS. Ali ‘Imrān [3]: 3).

ى 

َ

يس

ِ

ع

ِ

 ب

ْ

م

ِ

ٰ َ آَثِره

لَى

َ

ا ع

َ

ن

ْ

َّفي 

َ

ق 

َ

و

َ

ِيل

ْ اْلِْنْ

ُ

اه

َ

ن

ْ

ي 

َ

آت 

َ

ِ ۖ و

اة

َ

ر

ْ

َّ الت و

َ

ن

ِ

ِ م

ه

ْ

ي

َ

د

َ

َْ َني ي

ا ب 

َ

م

ِ

ا ل

ً

ق

ِ

َ د

ُص

 م

ََ

َي

ْ

ر

َ

ِن م

ْ

اب

َني

ِ

تَّق

ُ

ْلم

ِ

 ل

ً

ظَة

عِ

ْ

و

َ

م

َ

ًى و

د

ُ

ه

َ

ِ و

اة

َ

ر

ْ

َّ الت و

َ

ن

ِ

ِ م

ه

ْ

ي

َ

د

َ

َْ َني ي

ا ب 

َ

م

ِ

ا ل

ً

ق

ِ

َ د

ُص

م

َ

 و

ٌ

ُور

ن

َ

ًى و

د

ُ

ِ ه

ِيه

ف

“Dan Kami iringkan jejak mereka (nabi nabi Bani Israil) dengan Isa putera 

Maryam, membenarkan Kitab yang sebelumnya, yaitu: Taurat. Dan Kami 

telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang didalamnya (ada) petunjuk 

dan dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang 

sebelumnya, yaitu Kitab Taurat. Dan menjadi petunjuk serta pengajaran 

untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. al-Mā’idah [5]: 46).

ً

َّجد

ُ

ا س

ً

َّكع

ُ

 ر

ْ

م

ُ

اه

َ

َر

 ۖ ت 

ْ

م

ُ

َه

ن 

ْ

ي 

َ

 ب 

ُ

اء

ََحَ

ُ

لَى الْ ُكَّف ِار ر

َ

 ع

ُ

َّداء

 أَشِ

ُ

ه

َ

ع

َ

 م

َ

ين

ِ

الَّذ

َ

ُول َّ اَّللِ ۚ و

ُ

س

َ

َ ُ َون َّمٌد ر

ُُم

غ

َ

ت 

ْ

ب 

َ

ا ي 

َ

َّ اَّللِ و

َ

ن

ِ

َ ْضًَل م

ف ۚ 

ِ

اة

َ

ر

ْ

ِ ِف َّ الت و

ْ

م

ُ

لُه

َ

ث 

َ

َك م

ِ

ل

ٰ

ِ ۚ ذَ

ود

ُ

ُّ السج

ِر

 أَثَ

ْ

ن

ِ

 م

ْ

ِهم

ِ

وه

ُ

ُج

ِ ِف و

ْ

م

ُ

اه

َ

يم

 ۖ سِ

ً

اّن

َ

ْضو

ِر

ُّ الزَّر

ُ

ْجِب

ع

ُ

ِ ي 

ه

ِ

وق

ُ

 س

ٰ

لَى

َ

ٰى ع

َ

َو

ت 

ْ

اس

َ

لَ َظ ف

ْ

غ

َ

ت 

ْ

اس

َ

 ف

ُ

ه

َ

َر

َآز

 ف

ُ

 شطْأَه

َ

َ

َج

ر

ْ

ٍع أَخ

ْ

ر

َ

ِ يل َ كز

ِ

ِ ِف ْ اْلِْنْ

ْ

م

ُ

لُه

َ

ث 

َ

م

َ

و

َ

اع

 الْ ُكَّف

ُ

م

َ يظ ِبِِ

ِ

غ

َ

ي

ِ

ل ا

ً

يم

َظِ

ا ع

ً

ر

ْ

أَج

َ

ً و

ة

َ

ر

ِ

ْف

غ

َ

 م

ْ

م

ُ

ْه

ِن 

ِ ات م

َ

لُ َّ وا الصاِلِ

َمِ

ع

َ

ُوا و

ن

َ

 آم

َ

ين

ِ

 الَّذ

ُ

َ َّ اَّلل

َد

ع

َ

 ۗ و

َ

ار

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan 

dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama 

mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan 

keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas 

sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka 

dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas 

itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus 

di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya 

karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan 

kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang 

yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan 

dan pahala yang besar.” (QS. al-Fatḥ [48]: 29).

َ

ِيل

ْاْلِْنْ

َ

َ و

اة

َ

ر

ْ

َّ الت و

َ

 و

َ

ة

َ

ْكم

ْ اِلِ

َ

اب و

َ َ

ت

 الْكِ

ُ

ه

ُ

م

ِ

ل 

َ

ع

ُ

ي 

َ

و

“Dan Allah akan mengajarkan kepadanya Al-Kitab, Hikmah, Taurat, dan 

Injil”. (QS. Ali ‘Imrān [3]: 48).

d. Kitab al-Qur’an, diturunkan kepada Nabi Muhammad saw.

َني

ِ

تَّق

ُ

ْلم

ِ

ًى ل

د

ُ

ِ ۛ ه

ِيه

 ۛ ف

َ

ْب

ي

َ

اب َ َل ر

ُ َ

ت

َك الْكِ

ِ

ل

ٰ

ذَ

“Kitab (-l-Quran) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka 

yang bertaqwa”. (QS. al-Baqarah [2]: 2).

لُ َون

ِ

ق

ْ

َع

 ت 

ْ

ُكم

لَّ

َ

ًّا لَع

ي

بِ

َ

ر

َ

 ع

ً

آّن

ْ

ُر

 ق 

ُ

اه

َ

لْن

َ

ْز

َّّن أَن 

ِ

إ

“Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al-Quran dengan berbahasa 

Arab, agar kamu memahaminya” (QS. Yūsuf [12]: 2).

ََّزَل

ِي ن 

َك الَّذ

َ

ار

َ

ب

َ

ت ا

ً

ير

ِ

َذ

َني ن

الَمِ

َ

ْلع

ِ

ُك َون ل

َ

ي

ِ

ِ ل

ه

ِ

د

ْ

ب

َ

 ع

ٰ

لَى

َ

ان ع

َ َ

ق

ْ

ُر

الْف

“Maha suci Allahyang telah menurunkan Al Furqaan (Al Quran) kepada 

hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam”. 

(QS. al-Furqān [25]: 1).

و 

ُ

َر

َ كف

َ

ين

ِ

 الَّذ

ُ

َكاد

َ

ْن ي

ِ

إ

َ

ُ و ٌون

ن

ْ

َج

 لَم

ُ

نَّه

ِ

ُولُ َون إ

ق

َ

ي 

َ

 و

َ

ْكر

ِ

 وا الذ

ُ

ع

ا ْسِ

َ

 لََّم

ْ

م

ِ

ِاره

َ

ْص

َ َك ِ ِبَب

ُون

ق

ِ

ل

ْ

ز

ُ

ا لَي ا 

َ

م

َ

و

َني

الَمِ

َ

ْلع

ِ

 ل

ٌ

ْكر

ِ

ََِّل ذ

 إ

َ

و

ُ

ه

“Dan sesungguhnya orang-orang kafir itu benar-benar hampir 

menggelincirkan kamu dengan pandangan mereka, tatkala mereka 

mendengar al-Quran dan mereka berkata: “Sesungguhnya ia (Muhammad) 

benar-benar orang yang gila.” Dan al-Quran itu tidak lain hanyalah 

peringatan bagi seluruh umat.” (QS. al-Qalam [68]:51-52).

ِ

ٌد م

ِ

 شاه

َ ُ

لُوه

ْ

ت 

َ

ي 

َ

ِ و

ه

ِ

 

ب

َ

 ر

ْ

ن

ِ

ٍ م

ة

َ

ن

ِ

 

ي

َ

 ب 

ٰ

لَى

َ

ان ع

َ ك َ

ْ

ن

َ

َم

أَف ۚ 

ً

ة

َْحَ

َ

ر

َ

ا و

ً

ام

َ

م

ِ

 إ

ٰ

َى

وس

ُ

اب م

ُ َ

ت

ِ كِ

ه

ِ

ل

ْ

ب

َ

 ق 

ْ

ن

ِ

م

َ

 و

ُ

ْه

ن

ۚ 

ُ

ْه

ن

ِ

ٍ م

ة

َ

ي

ْ

ر

ِ

َ ُك ِ ِف م

َََل ت

 ۚ ف

ُ

ه

ُ

د

عِ

ْ

و

َ

 م

ُ

النَّار

َ

ِ اب ف

َ

ز

ْ

ْ اۡلَح

َ

ن

ِ

ِ م

ه

ِ

 ب

ْ

ُر

ْكف

َ

 ي

ْ

ن

َ

م

َ

ِ ۚ و

ه

ِ

ُ َون ب

ن

ِ

م

ْ

ؤ

ُ

َك ي 

ِ

ئ

ٰ

أُولَ

ُ

نَّه

ِ

إ

ُ

ن

ِ

م

ْ

ؤ

ُ

 النَّ ِ اس َ َل ي 

َ

َر

ْكث 

َّن أَ

كِ

ٰ

لَ

َ

َك و

ِ

 

ب

َ

 ر

ْ

ن

ِ

ق م

ُّ

َ

َون ْ اِل

“Apakah (orang-orang kafir itu sama dengan) orang-orang yang ada 

mempunyai bukti yang nyata (al Quran) dari Tuhannya, dan diikuti pula 

oleh seorang saksi (Muhammad) dari Allah dan sebelum al-Quran itu telah 

ada Kitab Musa yang menjadi pedoman dan rahmat? Mereka itu beriman 

kepada al-Quran. Dan barangsiapa di antara mereka (orang-orang Quraisy) 

dan sekutu-sekutunya yang kafir kepada al-Quran, maka nerakalah tempat 

yang diancamkan baginya, karena itu janganlah kamu ragu-ragu terhadap 

al-Quran itu. Sesungguhnya (al-Quran) itu benar-benar dari Tuhanmu, 

tetapi kebanyakan manusia tidak beriman.” (QS. Hūd [11]: 17).

َّ اَّللِ

ُونِ

 د

ْ

ن

ِ

ٰى م

َ

َر

ت 

ْ

ف

ُ

ْن ي 

ُ آن أَ

ْ

ُر

َذا الْق

ٰ

َ

ان ه

َ ا ك َ

َ

م

َ

َ و

د

َ

َْ َني ي

ِي ب 

 الَّذ

َ

ِيق

َ ْصد

 ت

ْ

ن

كِ

ٰ

لَ

َ

 و

َ

ِصيل

ْ

َف

ت 

َ

ِ و

ه

ْ

ي

َ

ْب

ي

َ

ِ اب َ َل ر

َ

ت

َني الْكِ

الَمِ

َ

َ بِ الْع

 ر

ْ

ن

ِ

ِ م

ِيه

ف

“Tidaklah mungkin al-Quran ini dibuat oleh selain Allah; akan tetapi (al￾Quran itu) membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan 

hukum-hukum yang telah ditetapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya, 

(diturunkan) dari Tuhan semesta alam.” (QS. Yūnus [10]: 37).

ََل

ْ

الُوا لَو

َ

ًّا لَق

ي

مِ

َ

ْج

 أَع

ً

آّن

ْ

ُر

 ق 

ُ

اه

َ

ْلن

َ

ع

َ

 ج

ْ

لَو

َ

و

ِبٌّ

َ

ر

َ

ع

َ

 و

ٌّ

ي

مِ

َ

ْج

 ۖ أَأَع

ُ

ُه

ت

َ

ْت آَّي

لَ

ِ

 

ُص

ف

َ

ين

ِ

لَّذ

ِ

 ل

َ

و

ُ

 ه

ْ

ُل

 ۗ ق

ُ َون ِ ِف

ن

ِ

م

ْ

ؤ

ُ

َ َل ي 

َ

ين

ِ

الَّذ

َ

 ۖ و

ٌ

اء

َ

ف

شِ

َ

ًى و

د

ُ

ُوا ه

ن

َ

آم آ

ُ

ه

َ

 و

ٌ

ْر

ق 

َ

 و

ْ

م

ذَاِنِِ

ً

َم

 ع

ْ

ِهم

ْ

لَي

َ

 ع

َ

و َن

ْ

َو

اد

َ

ن

ُ

َك ي 

ِ

ئ

ٰ

ى ۚ أُولَ

ٍ

ِيد

ع

َ

َكانٍ ب

َ

 م

ْ

ن

ِ

م

“Dan jikalau Kami jadikan al-Quran itu suatu bacaan dalam bahasa selain 

Arab, tentulah mereka mengatakan: “Mengapa tidak dijelaskan ayat￾ayatnya?” Apakah (patut al-Quran) dalam bahasa asing sedang (rasul adalah 

orang) Arab? Katakanlah: “al-Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi 

orang-orang mukmin. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga 

mereka ada sumbatan, sedang al-Quran itu suatu kegelapan bagi mereka. 

Mereka itu adalah (seperti) yang dipanggil dari tempat yang jauh.” (QS. 

Fussilat [41]: 44).

B. Diskursus Kitab Suci dalam al-Qur’an

Term kitab suci merupakan kalimat yang terdiri dari dua suku kata. 

Kedua kata tersebut penggabungan dua budaya, yaitu arab sangsekerta.

Kitab berasal dari bahasa arab: kitab dan kitab bersal dari bahasa 

sangsekerta: Suci.1 Dalam kamus bahasa Indonesia , entri kitab diartikan 

dengan: buku dan wahyu Tuhan yang dibukukan (kitab Suci).2 Sedangkan entri kitab suci adalah kata sifat (adjektif), yang memiliki empat makna,3

salah satunya adalah keramat. KBBI tidak mencantumkan satu entri pun 

yang langsung menyebut “kitab suci”. Penulis berasumsi hal itu dilakukan 

karena sudah terangkum dalam entri ‘kitab’.

Konsep kitab suci oleh orang Indonesia merupakan hasil terjemahan dari 

Holy Book dalam bahasa Inggris. Holy Book secara mendasar merupakan 

konsep barat tentang Bible (Alkitab). Dari hasil penelusuran sederhana 

penulis, buku yang merujuk pada pada kitab suci bahasa Indonesia adalah 

Alkitab, yang diberi judul kitab soetji, yang diterbitkan oleh uitgegeven 

door het nederlandsch Bijbelgenootschap di Amsterdam tahun 1891.4

Sementara dalam kajian agama-agama, terminologi yang digunakan untuk 

mengkaji ‘kitab suci’ adalah scripture, sebagaimana yang dicantumkan 

dalam KBBI sebagai wahyu yang tertulis.5

Dalam bahasa arab, term kitab suci/scripture diterjemahkan dengan al￾kitab al-muqaddas.6 Penelusuran penulis, atas sejumlah tafsir, ditemukan 

bahwa ada dua bentuk penggunaan istilah kitab suci, baik dalam bentuk 

tunggal yaitu: al-kitab al muqaddas maupun dalam bentuk jamak yaitu 

kutub al muqaddasah. Pertama istilah tersebut bermakna al-Qur’an 

sebagaimana yang dirtulis dalam kitab tafsir mafatih al ghayb7

atau 

menyandikan kitab suci lain sebagaimana al-Qur’an. Seperti yang ditulis oleh al-sabuni dalam safwa al-tafasir.8 Untuk menyebutkan kitab suci

agama nasrani dan kitab suci agama Yahudi, sebgaimana yang ditulis dalam 

tafsir Mahasin al-Ta’wil,9

dan al manar.10

Temuan yang menarik dari pelacakan diatas adalah sebaran penggunaan 

istilah suci dalam bahasa arab kebanyakan digunkan dalam karya-karya 

tafsir yang pengarangnya hidup di abad 14 hijriah hingga sekarang, seperti 

al qasimi (w. 1332h), rida (w. 1354 h), al shabuni (1. 1930 M).

C. Sejarah singkat kitab suci

Untuk menerangkan kitab suci, baik secara sosiologis dan antropologi 

banyak bersandar pada tulisanya Graham, ia menjelaskan bahwa kata 

scripture berasal dari bahasa latin scriptura yang artinya: tulisan. Dalam 

bahasa Indo-Eropa, kata tersebut ditulis: schrift dalam bahasa Jerman, 

scritura dalam bahasa Itali, dan écriture dalam bahasa Perancis, ke 

semuanya bermakna ‘a writing, something written.’ Bahasa Yunani 

memaknai kata scriptura dengan graphé. Kata ini memiliki korespondensi 

tehadap makna bahasa klasik dan helenis dari bahasa Hebrew, yaitu ketav 

bermakna tulisan. Bahkan istilah Bible juga berasal dari bahasa Latin 

blibion yang bentuk jamaknya biblia. Atau bahasa Yunaninya biblas, semuanya itu merujuk pada dokumen tertulis dalam bentuk apapun.11 Baik 

dokumen tertulis berbentuk buku atau naskah (lawan dari dokumen yang 

berbentuk gulungan).

Menurut Graham memahami kitab suci tidak bisa dipahami hanya dalam 

konteksnya secara etimologis, sebagai buku atau tulisan. Konsep kitab 

suci/’skripture’ harus dilihat dari sudut pandang Sejarah Keagamaan. 

Karena tidak ada kitab suci satu pun yang menjadi otoritatif dan sakral 

dengan dirinya sendiri. Sehingga akan ada orang-orang atau penaganut 

agama yang menjadikannya begitu sakral, bernilai, bermakna, memiliki 

kekuatan dan lainya. Teks keagamaan hanya akan menjadi teks biasa, tanpa 

itu semua.12

Pada posisi sebagai buku teks keagamaan, kitab suci memiliki fungsi 

baik dari sisi material kitabnya, tulisanya, maupun bacaanya. Berikuta 

adalah kategorisasinya: pertama, Fungsi Material Kitab Suci: dalam 

sejumlah institusi keagamaan kitab suci digunakan sebagai berikut: 1) 

sebagai medium ritual keagamaan di muka publik, baik itu pada Qur’an bagi 

kaum Muslim, Mantras bagi pemeluk Vedic, Gāthās bagi pemeluk 

Zoroaster, Norito bagi pemeluk Shinto, dll.; 2) medium untuk memberikan 

kesembuhan, menghilangkan sisi buruk dunia atau mendapatkan 

keberkahan. Contohnya menjadikan kitab suci sebagai tasliman/jimat. Juga, 

penggunaan kitab suci untuk praktek mencari jawaban atas masalah 

Bibliomancy ataupun Bibliotry; 3) medium pengejawantahan yang Kuasa, 

ini terlihat pada penggunaan KItab Suci sebagai alat untuk bersumpah baik 

pada tradisi Kristen maupun Islam.Kedua, Fungsi tulisan Kitab Suci: Graham menyebutnya 1) sebagai holy 

write (tulisan yang Suci). Cenderung terjadi dalam budaya Judeo-Kristiani, 

sehingga pengutipanya disampaikan dengan cara “Sebagaimana yang 

tertulis dalam..” Berbeda dengan tradisi Islam pengutipan atas kitab suci 

disampaikan cenderung menggunakan kalimat “sebagaimana Firman 

Allah” atau “Allah berfirman.” Begitu pula terjadi perbedaan dalam 

pengutipan Sruti dengan pengutipan “Sebagaimana yang saya dengar.” 2) 

magical dan spiritual. Sebagian agama menggunakan tulisan dari kitab suci 

sebagai bagian dari mantra, dengan demikian objek yang ada tulisanya 

menjadi lebih memiliki kekuatan/ kuasa.14

Ketiga, Fungsi Bacaan Kitab Suci, antara lain sebagai berikut: 1) Spoken 

Word. Kebiasaan untuk melafalkan dengan suara nyaring teks kitab suci 

merupakan praktik umum yang dilakukan sejumlah penganut agama, 

seperti yang dilakukan kaum Muslim, Indonesia, maupun Sikh. 

Kemampuan semacam menjadikan strata sosial tertentu dalam masyarakat 

keagamaan. Contoh dalam Islam kelompok penghafal yang mendapat gelar 

al-ḥāfiẓ, yaitu mereka yang mampu melafalkan seluruh isi al-Qur’an. 2) 

devotional dan spiritual life. Bacaan dari kitab suci menjadi medium 

seseorang penganut agama lebih dekat dengan yang Kuasa dengan cara 

meditasi, focus, mindfulness membacanya dengan penuh kesadaran dan 

kehati-hatian, atau menjadikanya sebagai alat berzikir dalam Islam. 

Sehingga ada tata car khusus dalam melanggamkan, menyanyikan kitab 

suci dalam sejumlah agama. Sebagaimana dalam Islam melafalkan bagian 

dari Qur’an dalam shalat merupakan salah satu rukun yang harus dilakukan 

dalam shalat.


Bila ditanyakan apa yang memungkinkan fungsi-fungsi kitab suci di atas 

bisa dipraktikkan dalam tradisi keagaamaan dan kepercayaan? Jawaban itu 

dapat dilihat dari atribut yang menempel pada kitab suci itu sendiri. Graham 

menyebutkan, ada empat atribut kitab suci, yaitu: kuasa (power), Otoritatif 

dan sakral, kebersatuan (unicity), dan inspirational and enternaliti/ 

antiquity. Dan atribut yang dimiliki paling banyak adalah Otoritas dan 

Sakralitas Kitab Suci. Hal ini muncul karena penganut agama mempercayai 

bahwa dalam kitab suci terdapat Kuasa/Power yang berasal dari atau 

dihasilkan MahaKuasa.16

Voorst mengungkapkan:“Scipture is writing that is accepted and used 

in a religious community as especially sacred and authoritative.17 Seabagai

bagian dari pandangan yang dijelaskan Graham, bahwa atribut yang 

melekat pada kitab suci adalah sakralitas dan otoritatif. 

Voorts menjelaskan sejarah singkat bagaimana kajian atas kitab suci 

dilakukan selama lebih dari 150 tahun. Ia membaginya 3 tahapan kajiaj 

akaademik dalam term kitab suci. Pertama: para sarjana Eropa memulai 

untuk menerjemahkan bagian kecil dari kitab suci, seperti yang dianggapa 

sakral di Asia, Islam dan Zoroaster. Penerjemahan dilakukan untuk 

menggali data tentang doktrin dan sejarah pada agama-agama tersebut. 

Adapun terkait bagaimana fungsi kitab suci dalam masyarkat agamanya 

belum banyak diperhatikan. Hal ini terjadi pada pertengahan abad 19. 

Kedua: Saat bermunculan “mazhab Sejarah agama-agama,” pada masa ini, 

seakan-akan kajian mengenai kitab suci diabaikan. Mereka yang bergelut di 

mazhab ini, lebih fokus pada telaah ritual, mitos, symbol, dan elemen lain 

non teks dari agama. Jaorchin Wach dan Mircea Eliade, adalah dua di antara 

yang mengkaji permasalahan ini. Telaah lain atas agama pada tahap ini 

adalah mulai maraknya penggunaan metodologi ilmu-ilmu sosial untuk 

mengkaji agama.18 Ketiga adalah masa di mana para pengkaji pada periode 

ini memandang apa yang telah dilakukan pada tahap sebelumnya atas 

pengabaian kajian kitab suci harus dikoreksi. Kitab Suci harus dimaknai dan 

dikaji tidak hanya sebagai teks saja, akan tetapi dilihat juga dari bagaimana 

teks tersebut muncul dan hidup dalam totalitas masyarakat agama.19

Pada uraian entri “scripture and Qur’an “ karya Graham. Secara generic 

mengenai pembahasan kitab suci dari sisi sejarah dan fenomenologi, baru 

dimulai beberapa dekade belakang, anatara lain: Wilfred C. Smith, William 

A Graham, Levering, Leipoldt anad Morend. Bagi Graham, yang menjadi 

pembahasan saat ini adalah bagaimana ‘scripture’ yang awalnya 

disandarkan pada Agama Kristen dan Yahudi, menjadi dokumen yang 

sakral yang ada pada setiap komunitas keagamaan.


A. Biografi Singkat Beberapa Mufasir dan Tafsirnya

1. Muḥammad bin Jarīr al-Ṭabarī (225 H-310 H/839 M-923 M)

Nama lengkap ia adalah Abū Ja’far Muḥammad bin Jarīr bin Yazīd bin 

Kaṡīr bin Khālid al-Ṭabarī, ada pula yang mengatakan Abū Ja’far 

Muḥammad bin Jarīr bin Yazīd bin Kaṡīr bin Ghalīb al-Ṭabarī.1

Ia 

dilahirkan di Amil, Ibu kota Tabaristan 224 H.2

Ia merupakan salah seorang 

ilmuwan yang sangat mengagumkan dalam kemampuannya mencapai 

tingkat tertinggi dalam berbagai disiplin ilmu, antara lain fiqh (hukum 

Islam) sehingga pendapat-pendapatnya yang terhimpun dinamai Mażhab al￾Jarīriyah.3 Hidup di lingkungan yang mendukung penuh karir intelektual al￾Ṭabarī, tidak heran jika di waktu usia 7 tahun sudah hafal al-Qur’an. Hal 

tersebut pernah diungkapkan oleh al-Ṭabarī ‘Aku telah menghafal al￾Qur’an ketika berusia tujuh tahun dan menjadi imm shalat ketika aku 

berusia delapan tahun serta mulai menulis hadis-hadis nabi pada usia 

sembilan tahun’.

4

Abū Ja’far al-Ṭabarī (Sebutan Abū Ja’far) adalah panggilan kehormatan 

bagi al-Ṭabarī karena kebesaran dan kemuliaannya. Kota Baghdad, menjadi 

persinggahan terakhir al-Ṭabarī, sejumlah karya telah berhasil ia salurkan 

dan akhirnya wafat pada Senin, 27 Syawwal 310 H bertepatan dengan 

Februari 923M.5

Ia wafat pada usia 86 tahun.6 Kitab tafsir karya al-Ṭabarī 

adalah Jamī’ al-Bayān fī Tafsīr al-Qurān adalah nama yang lebih masyhur, 

sedangkan nama yang diberikan oleh al-Ṭabarī adalah Jamī’ al-Bayān ‘an￾Ta’wīl ay al-Qurān, ditulis pada akhir kurun yang ketiga dan mulai 

mengajarkan kitab karangannya ini kepada para muridnya dari tahun 283 

H-290 H.7 Kitab Tafsir ini tidak ada tandingannya, seperti yang telah 

dikatakan oleh al-Nawāwī dalam Tahżībnya.8

Tafsir ini terdiri dari 30 juz yang masing-masing berjilid tebal dan besar, 

Kitab karya al-Ṭabarī ini kemudian dicetak untuk pertama kalinya ketika ia 

berusia 60 tahun (284 H/899 M).9 Dengan terbitnya tafsir al-Ṭabarī ini 

terbukalah khazanah ilmu tafsir.10 Syekh al-Islām Taqiy al-Dīn Ahmad bin 

Taimiyah pernah ditanya tentang tafsir yang manakah yang lebih dekat 

dengan al-Qur’an dan Sunnah? Ia menjawab bahwa di antara semua tafsir 

yang ada pada kita, tafsir yang paling otentik adalah Jamī’ al-Bayān fī Tafsīr 

al-Qurān karya Muḥammad bin Jarīr al-Ṭabarī.11

Tafsir al-Ṭabarī dikenal sebagai tafsir bil ma’tsur, yang mendasarkan 

penafsirannya pada riwayat-riwayat yang bersumber dari Nabi saw, para 

sahabatnya, tabi’in, dan tabi’ al-tabi’in. Ia juga mengemukakan berbagai 

pendapat dan mentarjihkan sebagian atas yang lain.12 Adapun metode yang 

dipakai oleh al-Ṭabarī untuk menyusun tafsirnya adalah dengan metode 

tahlili.13 Al-Ṭabarī tidak menunjukkan sikap fanatisme mazhab atau 

alirannya.14 Dari sisi linguistik (lugah), Ibn Jarīr al-Ṭabarī sangat 

memperhatikan penggunaan bahasa Arab sebagai pegangan dengan 

bertumpu pada syair-syair Arab kuno dalam menjelaskan makna kosa kata, 

acuh terhadap aliran-aliran ilmu gramatika bahasa nahwu, dan penggunaan 

Bahasa Arab yang telah dikenal secara luas di kalangan masyarakat.15

2. Ismā‘īl Ibn Kaṡīr (700 H-774 H/1300 M-1373 M)

Nama lengkap Ibn Kaṡīr adalah al-Dīn Abū al-Fida Ismā‘īl Ibn Amar Ibn 

Kaṡīr Ibn Zara’ al-Buṣrā al-Dimasqī.16 Ia lahir di Desa Mijdal dalam 

wilayah Bushra (Basrah) pada tahun 700 H/1301 M. Oleh karena itu, ia 

mendapat predikat al-Buṣrawi (orang Basrah).17 Ibn Kaṡīr adalah anak dari 

Shihāb al-Dīn Abū Hafṣ Amar Ibn Kaṡīr Ibn Dhaw Ibn Zara’ al-Quraisyī, 

yang merupakan seorang ulama terkemuka pada masanya. Ayahnya 

bermazhab Syafi’i dan pernah mendalami mazhab Hanafi.18 Menginjak

masa kanak- kanak, ayahnya sudah meninggal dunia. Kemudian Ibn Kaṡīr 

tinggal bersama kakaknya (Kamal al-Dīn Abd Wahhāb) dari desanya ke 

Damaskus. Di kota inilah Ibn Kaṡīr tinggal hingga akhir hayatnya.19

Mannā’ khalīl al-Qaṭṭān dalam Mabāhiṡ fī ‘Ulūm al-Qurān, berpendapat 

tentang Ibn Kaṡīr sebagai berikut: “Ibn Kaṡīr merupakan pakar fiqh yang 

dapat dipercaya, pakar hadis yang cerdas, sejarawan ulung, dan pakar tafsir 

yang paripurna”.20 Setelah menjalani kehidupan yang panjang, Ibn Hajar al￾Aṡqalānī berkata: “Ia kehilangan penglihatan di akhir hayatnya dan wafat 

di Damaskus Suriah pada tanggal 26 Sya’ban 774 H bertepatan dengan 

bulan Februari 1373 M pada hari Kamis.21

Kitab ia dalam bidang Tafsir yaitu Tafsīr al-Qurān al-‘Aẓīm menjadi 

kitab tafsir terbesar dan tershahih hingga saat ini. Dalam tafsir Ibn Kaṡīr 

terdapat beberapa corak tafsir. Hal ini dipengaruhi dari beberapa bidang 

kedisiplinan ilmu yang dimilikinya. Adapun corak-corak tafsir yang 

ditemukan dalam tafsir Ibn Kaṡīr yaitu (1) corak fiqh, (2) corak ra’y, (3) 

corak qira’at.22

Tafsir al-Qurān al-Aẓīm, atau yang lebih dikenal dengan nama Tafsir Ibn 

Kaṡīr. Diterbitkan pertama kali dalam 10 Jilid, pada tahun 1342 H/1923 M 

di Kairo.23 Tafsir ini di tulis dalam gaya yang sama dengan tafsir Ibn Jarīr 

al-Ṭabarī. Tafsir Ibn Kaṡīr ini termasuk tafsir bil ma’tsur, dan juga 

merupakan sebaik- baiknya tafsir bil ma’tsur yang menghimpun al-Qur’an dengan al-Qur’an, hadis dengan hadis yang ada kodifikasi beserta 

sanadnya.24

Sistematika yang ditempuh Ibn Kaṡīr dalam tafsirnya menafsirkan 

seluruh ayat-ayat al-Qur’an sesuai susunannya dalam mushaf al-Qur’an, 

ayat demi ayat dan surah demi surah, dimulai dengan surah al-Fātiḥah 

diakhiri dengan surah al- Nās, maka secara sistematika tafsir ini menempuh 

tartib mushaf.25 Ibn Kaṡīr menggunakan metode tahlili. Dalam tafsir Ibn 

Kaṡīr aspek kosakata dan penjelasan arti global, tidak selalu dijelaskan. 

Tetapi, kedua aspek tersebut dijelaskan dianggap perlu. kadang pada suatu 

ayat, suatu lafal dijelaskan arti kosakata, serta lafal yang lain dijelaskan 

secara terperinci dengan memperlihatkan penggunaan istilah itu pada ayat￾ayat lainnya.26

3. Jamaluddin al-Qasimi

Nama lengkap beliau adalah Jamal ad-Din bin asy-Syaikh Muhammad 

Sa’id ad-Dimasyqi bin asy-Syaikh Muhammad Qasim al-Hallaq asy-Syafi’i 

al- Atsari1. Ada juga menyebutnya dengan Jamal ad-Din bin Muhammad 

Sa’id bin Qasimi al-Hallaq al-Qasimi.2 Jamaluddin al-Qasimi lahir pada 

waktu dhuha, hari senin 8 jumadal ula tahun 1283H /1866 M disebuah desa 

kecil, Qasimi, Syam(Suriah).3 Beliau meninggal pada sore hari sabtu 

jumadil ula tahun 1332 H/18 april 1914 M dalam usia 48 tahun. Al-Qasimi 

dilahirkan dan wafat di Damaskus.27

4. Muhammad Abduh

Lahir dengan nama lengkap Muhammad Ibnu Abduh Ibn Hasan 

Khairullah, yang lebih dikenal dengan sapaan Muhammad Abduh. Lahir di 

desa Mahallah Nash provinsi al-Buhairoh, Mesir tahun 1849.28 Terlahir 

dengan situasi dan kondisi sosial, politik, dan budaya yang sangat 

memprihatinkan , tidak hanya di Mesir tapi hampir seluruh negara Arab. 

Kemajuan ilmu dan pengetahuan dan teknologi di Barat mendorong mereka 

menjajah dan menduduki negara-negara Arab, sehingga pada akhir abad 19 

sampai awal abad ke 20 atau setelah perang Dunia ke II, Kamal al-Tatruk 

menghapus ke khalifahan Usmani dan hampir semua Negara Arab berstatus 

sebagai negara jajahan.29 Di sisi lain muncul berbagai aliran yang 

nasionalisme, sosialisme kapitalisme dan sebagainya yang menjauhkan 

kaum muslimin dari ajaran agama mereka.

Sementara di lain pihak, politik pemerintahan dalam sector pertanian 

memberlakukan sistem iqtha’ yaitu sistem kepemilikan tanah yang dikuasai 

kerajaan memeluk Usmani, para penguasa menjadi tuan tanah, sedangkan 

rakyat hanya menjadi penggarap semata. Hal ini tentu