Tampilkan postingan dengan label Perang salib 16. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perang salib 16. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Juli 2026

Perang salib 16

 


Mereka mengambil

beberapa  jalan pintas, sebab  mereka sadar tidak punya tukang-

tukang batu yang banyak untuk dipekerjakan, sekalipun biayanya

sangat mahal dan butuh waktu sangat lama untuk membuatnya.

Balok-balok batu besar digunakan untuk membangun dinding-

dinding bangunan yang berlapis tebal. Untuk melakukan tugas

ini diperlukan ahli-ahli pahat berbadan besar dan tentu saja

pasokan dana yang sangat besar dari Eropa barat.

Benteng-benteng kaum muslim, sebaliknya, cenderung tidak

bertahan lama sebab  hasil pekerjaan mereka kualitasnya lebih

buruk. Kaum muslim membangun benteng-benteng dengan bahan

batu bata atau reruntuhan bangunan, bukan dengan balok-balok

batu persegi besar yang dipasang dengan hati-hati. Benteng-benteng

mereka terlalu besar dan dibangun sangat terburu-buru serta

rancangannya tidak menarik. Ini bukan berarti arsitek-arsitek dan

ahli-ahli bangunan muslim tidak terampil dalam seni pertahanan.

Sebaliknya, mereka kadang-kadang mampu melampaui prestasi

Tentara Sdib. Namun, karya terbaik mereka ditemukan dalam

bentuk kubu-kubu pertahanan kota seperti Damaskus, atau

Diyirbakr; dinding-dindingnya yang terbuat dari batu basal hitam

dan dilengkapi menara-menara perrahanan dengan panjang bermil-

mil termasuk salah satu kubu pertahanan Abad Pertengahan yang

paling mengagumkan di seluruh dunia. Sebaliknya, tidak satu

pun kota berbenteng milik Tentara Salib yang masih bertahan.

Bila kaum muslim ingin meminjam keahlian Tentara Salib dalam

membangun benteng-benteng, maka mereka harus membangun

benteng yang sejenis. Benteng-benteng rumit dengan pertahanan

terpusat, terusan-terusan, pengawas sebelah dalam dan luar, parit-

parit yang mengarah ke atas, dan bentuk-bentuk pertahanan

lainnya tidak dibutuhkan bagi benteng-benteng kaum muslim.

Kaum muslim itu sendiri sering kali cukup puas dengan bentuk

yang sederhana. Benteng-benteng kaum muslim 5smx62rn lsu-

Syayzar, misalnya (gambar 7.50 dan 7.51)-sedikit unggul dari

kubu pertahanan dan tempat-tempat perlindungan sementara.

Benteng-benteng itu utamanya berfungsi sebagai kediaman bagi

pangeran muda setempat.

Benteng-Benteng dan Kubu Pertahanan l{aum Franh

Sangat banyak pengetahuan yang tersimpan di benteng-benteng

Tentara Salib.tta Pembahasan di sini akan difokuskan renrang cara

pandang kaum muslim Abad Pertengahan terhadap benteng-

benteng. Deretan benteng yang dibangun arau dibangun kembali

oleh Tentara Salib pada abad kedua belas dan ketiga belas di

Palestina dan Suriah menjadi pengingat paling jelas atas kehadiran

kaum Frank di wilayah kaum muslim di Timur Dekat. saat 

tiba di Suriah, kaum Frank melihat banyak benteng yang telah

berdiri. Mereka merebutnya dan memperkuatnya. Contohnya

seperti di wilayah Thipoli dan Antiokhia. Mereka juga membangun

jaringan benteng dan menara baru. Dengan masalah tenaga kerja

yang menjadi persoalan utama mereka, strategi kaum Frank dengan

membangun benteng-benteng dan menara-menara di sepanjang

rute utama mereka merupakan taktik yang tepat dan efektif untuk

mempertahankan diri mereka sendiri. Pringle menyatakan bahwa

jenis bangunan kota paling umum yang didirikan oleh kaum

Frank yaitu  menara, yang sekitar 80 di antaranya telah dicatat.rr5

Fungsi benteng atau menara, tentu saja, yaitu  memberikan

tempat perlindungan serta posisi penyerangan yang baik. Tempat

yang tinggi akan menguntungkan sebab  memberikan pandangan

yang lebih luas ke seluruh pinggiran kota (dan komunikasi dengan

benteng-benteng lain kemungkinan dilakukan dengan api atau

heliograf). Posisi yang tinggi juga akan menambah kecepatan dan

jangkauan anak panah serta rumbukan dan menghalangi jalan

masuk artileri Abad Pertengahan dan penggalian tanah oleh

musuh. Praktik membangun benteng-benteng yang dilakukan

kaum Frank di laut-Sidon (Chiteau de Mer), Maraqiyyah,

Ladziqiyyah dan Ayas, untuk menyebut beberapa contohnya-

yaitu  masalah tambahan bagi kaum muslim, sebab  ternyata

kaum muslim lemah dalam hal perang laut. Kaum Frank iuga

membentengi Pulau Arward, di barat laut tipoli.


Benteng-benteng kaum Frank tentu saja bukan hanya untuk

bangunan-bangunan pertahanan. Benteng-benteng ini  menjadi

pusat kekuatan dan simbol pendudukan di suatu kawasan. Benteng-

benteng juga menjadi pusat kediaman yang biasanya digunakan

untuk tempat menyimpan senjata, air, dan perbekalan. saat ,

misalnya, Saladin merebut benteng Sahyun pada 584 H./1188

M., dia menemukan sapi, hewan pembawa beban, perbekalan,

dan barang-barang lain.r16 Di benteng Syaqif (Beaufort), al-Maqrizi

mencatat bahwa Saladin membawa 20.000 ekor domba.rrT Thk

diragukan lagi, penuturan ini tampak telah dibesar-besarkan.

Pandangan Kaum Muslim terhad"ap Benteng-Benteng

dnn Kubu Pertaltanan l{aum Franh

Para penulis sejarah muslim sangat tahu tentang benteng-benteng

Frank dan sering menyebutkannya. Ibn al-FurXt, misalnya, mem-

berikan daftar lengkap kubu-kubu pertahanan dan kota-kota

benteng sebelum kemudian memberikan laporan tersendiri tentang

cara kubu-kubu pertahanan dan kota-kota benteng itu direbut

oleh kaum muslim.rrt

Kaum Frank ahli dalam membangun kubu-kubu pertahanan

baik di daratan maupun di pantai. Ibn Jubayr, misalnya, men-

ceritakan tentang pertahanan Tirus yang kuat:

Benteng itu hanya punya dua gerbang, satu menghadap ke

darat, dan satu lagi di laut, yang mengelilingi kota ini  di

satu sisi. Gerbang darat dijangkau hanya sesudah  melewati tiga atau

empat gerbang di dinding luar berbenteng kuat y^ng me-

ngelilinginya. Gerbang yang menghadap ke laut diapit oleh dua

menara yang kuat dan menuju ke pelabuhan yang letaknya sangat

unik di antara kota-kota maritim. Dinding-dinding kota itu me-

magarinya di tiga sisi, dan sisi yang keempat dibentengi dengan

sebuah dam yang dikuatkan dengan semen. Kapal-kapal masuk

lewat bawah dinding dan melepas sauh di sana. Di antara kedua

menara ini  terbentang rantai besar yang, bila dinaikkan, akan

dapat mencegah jalur masuk dan keluar, dan tidak ada kapal-kapal

yang bisa lewat dengan aman saat  rantai itu diturunkan.rre

Tak mengherankan bila pada beberapa kesempatan benteng

itu terbukti sukar direbut.

Penulis-penulis muslim juga mengetahui posisi strategis ben-

teng-benteng kaum Frank dan alasan benteng-benteng itu di-

tempatkan di lokasi-lokasi tertentu. Benteng Karak, misalnya yang

letaknya beberapa mil dari Laut Mati, dibangun oleh seorang

Tentara Salib, Pagan The Butler, pada 1142. lbn Syaddid men-

jelaskan tentang gangguan terhadap kaum muslim yang diakibat-

kan oleh benteng ini, yang menghambat rute ke Mesir, sehingga

karavan hanya bisa berangkat dengan dipandu oleh pasukan-pasukan

yang sangat besar.r2o Meski jalur ini  cukup Penting nilainya,

tapi sebab  di kawasan bagian Yordania ini sangat berbahaya, maka

jalur ini  jadi tak berarti. Dan Karak ditempatkan dengan

ideal oleh Tentara Salib untuk menghancurkan lalu lintas kaum

muslim di sepanjang rute itu dan mengancam jalur tradisional ke

Mekah bagi jamaah haji, seperti yang telah disebutkan.

Peran penting jaringan benteng kaum Frank bagi kelangsungan

hidup kaum Frank telah diakui sepenuhnya dalam strategi militer

kaum muslim melawan mereka, khususnya pada abad ketiga belas

di bawah pimpinan Baybars dan para penerusnya, yang operasi-

operasi militer utamanya diarahkan kepada mereka. Namun, pada

abad kedua belas kaum muslim belum memperoleh keunggulan

menentukan atas Tentara Salib di medan terbuka, dan sebab  itu

tidak punya kekuatan yang cukup untuk menggelar operasi militer

untuk menghancurkan benteng-benteng kaum Frank.

Benteng-Benteng Tentara Salib di Mata Kaum Muslim Sahyun

Benteng ini kini disebut Qal'at Shalah al-Din (Benteng Saladin)

dan oleh Tentara Salib dikenal sebagai Saone. Benteng ini terletak

di pegunungan timur laut Latakia, dan dibangun di atas bukit di

antara dua jurang yang dalam. T.E Lawrence dalam surat kepada

ibunya pada 1909 menggambarkannya sebagai "bangunan benteng

paling sensasional yang pernah saya lihat".r2r

Kaum muslim pada masa Perang Salib juga mengagumi

struktur dan posisi Sahyun. 'Imiduddin al-Ishfahini menegaskan,

seperti biasanya, lewat tulisan sastranya yang indah bahwa betapa

sulitnya mencapai benteng itu saat  Saladin menyerangnya pada

584 H.ll188-1189 M.: "Jalan menuju Sahyun melewati bukit-

bukit dan jalur pegunungan, tempat-tempat yang sulit, tanah datar

yang lembek dan daerah yang sukar ditempuh, dataran-dataran

tinggi dan dataran-dataran rendah."r22

Sambil menggambarkan tentang benteng itu sendiri, 'Imiduddin

menulis:

Benteng itu terletak di puncak sebuah gunung di antara dua

lembah dalam yang bertemu di benteng itu dan mengelilinginya.

Sisi pegunungan [dari benteng itu] terpisah oleh sebuah parit yang

besar dan dalam dan dinding kokoh yang tidak punya akses ke

sana kecuali lewat nasib dan takdir Tuhan. Benteng itu memiliki

lima dinding yang seakan-akan yaitu  lima bukit datar, yang dihuni

oleh serigala-serigala lapar dan singa-singa murka.r23

Ibn SyaddAd juga menulis dengan cukup lengkap tentang

Sahyun saat  Saladin merebutnya pada 584 H./1188-1189 M.

Ibn Syaddid menekankan keadaan benteng itu yang sangat ter-

pencil, terlindung, dan teliti konstruksinya. Kekagumannya yang

jelas pada pahatan benteng itu, tentu saja, menjadi pembuka

bagi tema utarna, kemenangan gemilang Saladin saat  merebutnya

dengan melalui penyerangan.r2a

Bagaimanapun juga, ada keraguan yang mengganggu apakah

'Imiduddin atau Ibn Syaddid benar-benar melihat benteng ini,

sebab  tidak satu pun dari mereka menyebutkan bentukny^ y^tg

paling spektakuler dan mengagumkan. Untuk memperkuat per-

tahanannya kaum Frank menggali jurang dalam di sisi timurnya

yang paling mudah diserang, yang dengan demikian memisahkanya

dari daratan utama yang merupakan lokasi aslinya. Untuk mem-

buat jurang itu mereka harus memindahkan sekitar 170.000 ton

batu keras untuk membuat ngarai selebar 50-90 kaki, dengan

panjang 450 kaki dan tinggi antara 60 dan 130 kaki. Untuk

membantu menahan jembatan jungkat yang menjadi jalan masuk

ke benteng, kaum Frank menyisakan tonggak batu yang tinggi di

tengah-tengah ngarai buatan ini. Yang menarik, sebagian dari

pekerjaan itu dilakukan oleh kaum muslim yang menjalani wajib

militer. Parit-parit yang membelah batuan seperri itu juga ditemu-

kan di Karak, Syayzar, Benteng al-Mayniqah milik Ismailiyah

dan Benteng Lampron di fumenia Cilicia.

Kiranya patut untuk dicatat bahwa sesudah  jatuh ke rangan

Saladin pada 1188, kaum muslim membangun sebuah masjid di

dalam benteng itu (dengan menara kubus yang tinggi, yang

kemungkinan yaitu  karya Qaliwirn pada 1280-an), sebuah istana

kecil, tempat mandi dan sumur yang kemungkinan berasal dari

akhir abad kedua belas atau ketiga belas.

Bayt al-Ahzhn (Oleh Tentara Salib Disebut Le Chastelet)

Benteng ini yaitu  benteng yang dibangun oleh para }Gatria

Kuil paling akhir sekitar tahun 1178, di dekat tepi barat Yordania.

Penulis sejarah muslim Ibn Abi Thayyi' menyebutkan pembangun-

annya menelan biaya yang sangat besar dan mencatat bahwa

Saladin dengan hati-hati berusaha menyogok Tentara Salib untuk

menghancurkannya.r2s Benteng itu dilengkapi dengan perbekalan

yang sangat banyak dan, seperti halnya Karak, terletak di tempat

yang pas untuk menghadang karavan-karavan kaum muslim.r26

Tidak mengherankan bila kaum muslim menyebutnya "Tempat

Penderitaan".

Pada Rabiulawal/Agustus-September ll79-hanya sekitar se-

tahun sesudah  benteng itu dibangun-Saladin merencanakan me-

rebut benteng itu dan menghancurkannya. Sepucuk surat dari al-

Qadhi al-Fidhil ke Baghdad memberikan gambaran lengkap

mengenai bangunan yang mengagumkan ini:

Lebar dindingnya lebih dari sepuluh cub.it. Dinding itu di-

potong dari lempengan batu berlapis yang sangat besar, yang

masing-masing bloknya kurang lebih tujuh cubit. Jumlahnya lebih


dari 20.000 baru. Setiap batu dipasang dengan kuat di remparnya

dan menelan biaya empat dinar atau lebih.'27

Batu kapur melapis batu ini  sehingga membuatnya ber-

tambah kuat dan kokoh, "lebih keras dari besiD.r28 Gambaran

semacam itu menunjukkan pandangan serta kekaguman yang jelas

terhadap teknik bangunan kaum Fran[-5611a terhadap para

panglima muslim yang berhasil merebut benteng semacam iru.

Kubu-Kubu Pertahanan l{aum Muslim

Cara pandang kaum muslim dalam hal pertahanan agak berbeda.

Kubu pertahanan-yang banyak di antaranya merupakan warisan

dari jaringan benteng perbatasan dalam konfrontasi Bizantium-

$2sxni2-1sntu saja akan selalu ada  di perbatasan-perbatasan

Islam, baik untuk pertahanan maupun untuk menampung prajurit-

prajurit yang digunakan dalam perluasan wilayah kaum muslim.

Namun di dalam 'STilayah Islam sendiri, kaum muslim lebih

memilih berlindung di balik kota-kota berdinding dan membangun

benteng-benteng yang kuat di dalam kota semacam itu. Penguasaan

benteng suatu kota menunjukkan kekuasaan atas kota itu. Aleppo,

Damaskus, Kairo dan Yerusalem (foto 7.6)-target utama kaum

Frank--dipasangi dinding dan memiliki benteng-benteng di dalam

dinding itu. Penduduk berlindung di sana dan mempertahankan

diri mereka dari dalam. Ahli geografi Suriah, Ibn Syaddid,

memberikan gambaran yang lengkap tentang salah satu benteng


ini jelas bukan sekadar kubu pertahanan namun juga nadi ke-

hidupan kota ini  dan wilayah sekelilingnya. Benteng-benteng

semacam itu di zemen itu termasuk Benteng Mardin yang berdiri

di atas batu-batu terjal, Kharput, dan Mayyafariqin. Ibn Syaddid

mencatat daftar benteng yang lebih banyak lagl2e

yaitu  penting bahwa pekerjaan kontruksi utama di benteng-

benteng Kairo (foto 7.7 dan 7.8), Damaskus dan Aleppo terjadi

pada periode Perang Salib. Seluruh kota ini, tentu saja, merupakan

target utama para Tentara Salib. Di masa pergolakan ini, kota-

kota di Timur Dekat sering kali merupakan pemerintahan sendiri

secara de facto, siapapun yang menjadi penguasa-penguasa kecilnya.

Kota-kota ini dikendalikan, kemungkinan dari benteng ini ,

oleh keluarga-keluarga bangsawan setempat yang umumnya telah

berkuasa sejak beberapa generasi. Elite militer yang memimpin

benteng harus bekerja sama erat dengan keluarga-keluarga ini 

untuk mempermudah pengumpulan p4^k, untuk mengerahkan

pasukan setempat dan memastikan keiancaran pemerintahan kota

ini . Di provinsi-provinsi, kepemilikan sebuah benteng, betapa-

pun kecilnya, yaitu  penting bagi penguasa kecil dan pangeran

muda saat itu. Benteng menjadi tempat kediam4n mereka, tempat

mereka menyembunyikan kekayaan, benteng pertahanan mereka,

dan simbol kedaulatan mereka.


N0ruddin melakukan beberapa  perbaikan pada dinding-din-

ding kota dan benteng-benteng, khususnya sesudah  terjadi gempa

bumi pada ll57 dan 1170. Dia membangun kembali kubu-

kubu pertahanan Damaskus, Aleppo, Homs, Hama, Manbij, dan

Baalbek, sehingga kubu-kubu pertahanan itu mampu bertahan

menghadapi bentuk-bentuk serangan baru dalam pertempuran.r3o

Para pembuat bangunannya memperkenalkan berbagai perubahan,

termasuk menara-menara bulat di sudut-sudut tembok, dan gerbang

pertahanan (basyurah). Dia juga merenoyasi benteng-benteng di

beberapa kota Suriah-Damaskus, Aleppo, Hims dan Hama-

dan membentengi dua benteng berikutnya, Qal'at Najm dan Qal'at

Ja'bar, di Eufrat (foo 7.20J.22), dan benteng-benteng peftahanan

lain yang ditempatkan secara strategis.r3r Ada pertanyaan penting

yang muncul mengenai hal ini: apakah yang memotivasi aktivitas

pembangunan kubu-kubu pertahanan ini yang dibangun secara

tiba-tiba? Kecenderungan seperti ini sebelumnya tidak pernah

terlihat pada sejarah kubu pertahanan kaum muslim di kawasan

Mediterania timur sebelum dan sesudah  Perang Salib. sebab  itu,

kaum muslim kelihatannya menyadari bahwa mereka terperangkap

dalam suatu jenis persaingan senjata, dan aktivitas pembangunan

militer yang dba-tiba pada abad kedua belas merupakan reaksi

sangat kuat yang dipicu oleh pembangunan benteng-benteng

Tentara Salib yang cepat dan mengganggu. Hal ini mengubah

pemandangan di kawasan Mediterania timur selama-lamanya dan

terus menjadi pengingat yang jelas atas kehadiran Tentara Salib,

sekalipun saat  mereka telah lama terusir. Yang ironis, sesudah 


Perang Salib Pertama, saat  tenaga dan moral Tentara Salib

sedang tinggi-tingginya, kaum Frank jarang menyerang kota-kota

daratan besar di pedalaman (kecuali penyerangan Damaskus Pada

Perang Salib Kedua). Pasukan mereka sangat terbatas. Penyerangan

besar-besaran yang terjadi pada abad kedua belas termasuk serang-

an lewat laut, dan pasukan mereka lumayan mencukuPi. Di saat

yang sama, kaum muslim melakukan perbaikan yang mahal, jug

perluasan kota-kota dan benteng-benteng di pedalaman. sesudah 

Perang Salib Ketiga, kubu-kubu pertahanan kaum muslim terus

dibangun dengan cepat, sama banyaknya seperti sebelumnya-

atau bahkan lebih-untuk menahan serangan dari pasukan muslim

yang menjadi seteru, dan dari ancaman nyata atau bayangan

ancaman kelompok Ismailiyah, seperti dari Tentara Salib. Namun

Tentara Saliblah yang menjadi pemicu awal.

586 \ _______________

sesudah  menaklukkan Yerusalem, Saladin mulai membentengi-

nya. Dia mengawasi sendiri kota ini . Bagian-bagian dinding

yang lengkap dibangun kembali dan diperkuat dengan menara-

menara. Saladin sendiri turun tangan dalam pembangunan itu.132

Al-'Umari mencatat bahwa pada 587 H.11191 M., Saladin be-

rangkat ke Yerusalem: "Dia mulai membangun kembali dan mem-

bentengi Yerusalem dan memerintahkan pasukan untuk mengangkut

batu. Sultan sendiri mengangkut batu dengan kudanya untuk

memberi contoh kepada pasukan."r3: Pada 588 H.llt92 M., Saladin

kembali ke Yerusalem: "Dia memerilsa kondisinya dan memerintah-

kan agar dinding-dinding kota itu diperkuat."t34 Dia khawatir

terhadap serangan kaum Frank berikutnya ke Yerusalem. Dan dia

memperkerjakan para tahanan kaum Frank untuk menggali parit

yang dalam dan membangun dinding dan menara.r35


Benteng-Benteng Unik Kaum Muslim Benteng Kairo

Benteng Kairo dibangun atas perintah Saladin sesudah  secara resmi

dia menghancurkan kekhalifahan Fatimiyah (foto 7.9).'36 Seperti

halnya kebiasaan pendiri dinasti baru dan penegak Islam Sunni

di Mesir, Saladin tidak ingin tinggal di istana-istanayang dibangun

oleh khalifah Fatimiyah yang "sesat". Dia malah memiliir meng-

hancurkan bangunan-bangunan mereka dan membangun benteng

baru, baik sebagai pertahanan bagi kota itu serta sebagai kediarnan

bagi sultan,t" y^rg dilengkapi dengan akomodasi bagi elite militer

dan pasukannya.

Saladin mulai mengerjakan benteng ini  pada 1176.

Tirjuannya yaitu  membangun dinding-dinding pertahanan yang

akan mengelilingi al-Qahirah, ibu kota Fatimiyah, dan al-Fustat,

pusat ekonominya, di dalam sebuah dinding. Ibn Jubayr meng-

gambarkan pekerjaan pembangun^n yang berlangsung di benteng

di Kairo ini -pemotongan marmer dengan gergaji, Pemotong-

an batu-batu besar dan penggalian parit-parit-dan mengatakan

bahwa Saladin mempertimbangkan untuk memasukkan penduduk

ke dalamnya.l38 Penulis sejarah al-Nuwayri memberikan penjelasan

,88 \ _______________

-!

yang lengkap tentang pembangunan benteng tSrsebut dan termasuk

data-datanya. l3e

Sebuah inskripsi mengenai Bhb al-Mudarraj, yang bertanggal

579 H.l11B3-1184 M., banyak mengungkapkan tentang tujuan

pendirinya, yang "telah memerintahkan pembangunan benteng

yang mengagumkan ini, di dekat kota Kairo yang dilindungi

Allah, di atas bukit yang kokoh, yang (benteng itu) meng-

gabungkan kegunaan dan dekorasi, kenyamanan dan perisai".r40

Benteng ini  dibangun di atas semenanjung setinggi 75

meter yang memanjang ke arah barat dari lereng Bukit Muqatram

menuju Nil, hampir di tengah-tengah antara al-Qahirah dan al-

Fustat. Saladin memilih sendiri tempat itu, terutama sebab 

letaknya yang strategis.l4l Keamanan menjadi pertimbangan utama

bagi Saladin, begitu juga keinginan membangun sebuah bangunan

yang sesuai dengan reputasinya. Di dalam benteng itu juga

ada  sebuah perpustakaan yang bagus, yang sebagian diwariskan


dari khalifah Fatimiyah dan diperbesar oleh penulis-penulis pen-

dukung Saladin sendiri.

Pekerjaan pembangunan kubu pertahanan yang dimulai oleh

Saladin itu diselesaikan oleh adiknya, al-Malik al-'Adil (1218-

1238). Saladin tblah membangun dua menara, namun al-'Adil

melengkapinya dengan menara-menara bulat yang lebih besar.

Aktivitas semacarn itu dengan jelas menunjukkan betapa penting-

nya memelihara dan memperbaiki peftahanan-pertahanan kota

secara teratur.l42 Dua sultan Mamluk, Baybars dan al-Nishir

Muhammad (w. 1341), menambahkan istana-istana dan bangunan-

bangunan lain. Benteng ini, yang disebut Benteng Gunung (Qal'at

aQabal) yaitu  satu-satunya benteng kota di Mesir. Pada masanya

benteng itu menjadi pusat perhatian dan lambang kekuasaan

Aynrbiyah dan Mamluk.


Benteng Damaskus yaitu  salah satu benteng paling baik dari

benteng-benteng besar Suriah dari periode Perang Salib yang masih

ada hingga kini.ra3 Benteng ini unik sebab  letaknya di tempat

yang datar, sejajar dengan bagian kota lainnya, dan bukan di-

tempatkan di atas puncak bukit, seperti hampir seluruh benteng

militer Abad Pertengahan yang ada  di Suriah. Informasi me-

ngenai benteng itu pada abad kedua belas tidak lengkap, namun

benteng itu punya peranan penting dalam kehidupan di kota itu

dan para penguasanya. Tirghtegin dan para keturunannya tinggal

di dalam benteng itu dan mungkin juga NCrruddin. Ada sebuah

inskripsi yang berasal dari zaman Saladin yang menceritakan tentang

perbaikan sebuah menara benteng ini  pada 574 H.l117B-

ll79 M. Saladin sangat lekat dengan benteng itu. Maka, sekalipun

keinginannya untuk menaklukkan Yerusalem sangat membara, dia

dimakamkan di taman yangada di Benteng Damaskus.laa

Pada periode Ayyrbiyah benteng ini  dikembangkan lebih

jauh sebagai tempat pertahanan yang terbaik. Benteng itu di-

bangun kembali secara besar-besaran pada masa penguasa Agmbiyah,

al-Malik al-'Adil, adik Saladin, yang punya alasan tepat untuk

lebih takut pada serangan dari keluarganya sendiri dibandingkan

serangan dari kaum Frank. Bangunan itu seluruhnya memiliki

sepuluh menara yang bisa menampung pasukan unruk melindungi

keamanan penguasa ini , dan sebagaimana dijelaskan oleh

Sauvaget, benteng Ayyubiyah "rancangannya sangat seragam".r45

Sejarah benteng itu bisa ditelusuri lewat inskripsi yang di-

milikinya. Dari inskripsi-inskripsi itu terlihat jelas bahwa pada

periode Mamluk benteng ini  terus memainkan peranan

penting dalam pertahanan kota itu. Baybars, yang ketakutan

bangsa Mongol akan datang kembali, memperkuat benteng itu

dari kemungkinan serangan. Namanya diabadikan pada sebuah

inskripsi yang ada  di menara utara. QaliwCrn juga melakukan

perbaikan pada benteng ini , dan delapan inskripsi men-

cantumkan namanya.146

Benteng Aleppo

Benteng Aleppo (dalam bahasa Arab dikenal sebagai al-Syahba',

yang artinya "berwarna abu-abu')ta7 yaitu  contoh sangat baik

tentang arsitektur militer muslim pada masa Perang Salib (

7.14-7.17) dan menjadi pusat penelitian mendalam oleh ilmuwan

besar Prancis, Sauvaget.ras Benteng itu juga digambarkan dengan

sangat elegan oleh Rogers.rae Benteng itu berdiri di puncak bukit

yang sangat curam, yang berdiri di atas kota itu dari ketinggian

lima puluh meter, dan ditutup oleh dinding yang mengelilingi-

ny".'5'Benteng Aleppo berperan penting dalam kehidupan politik

dan militer abad kedua belas dan ketiga belas. Dinding benteng

itu dibangun kembali oleh Nirruddin sendiri, yang membangun

"istana emasnya" di sana.l5l Sebagaimana dikatakan Sauvaget,

benteng ini , yang jtga ada  gudang senjata dan kekayaan

di dalamnya, kemudian memiliki fasilitas yang diperlukan untuk

memerintah dan menggelar perayaan-perayaan umum.152 Saat Ibn

Jubayr melewati Suriah, dia menceritakan pemandangan benteng

itu yang sangat luar biasa:

Bentengnya tekenal dengan keamanannya dan, terlihat dari

kejauhan sebab  sangat tinggi, tidak ada benteng lain yang me-


nyerupai arau menyamainya... Benteng itu merupakan gundukan

yang sangar besar, seperti meja bulat yang keluar dari dalam tanah,

dengan sisi-sisi dari batu berukir dan dibangun dengan sangar

seimbang dan simetris. Terpujilah Dia yang membuat rancangan

dan susunannya, dan menciptakan bentuk dan kerangkany^.r5,

Sepeninggal Ntruddin benteng Aleppo sangar berkaitan dengan

keluarga Saladin. Adiknya, al-Malik al-'4dil, tinggal di sana selama

beberapa waktu. Pekerjaan kontruksi besar-besaran dilakukan oleh

keturunan Saladin, penguasa Ayyubiyah, al-Zhthir Ghizi, yang,

sekalipun N0ruddin telah memperbaharui benteng ini  baru

40 tahun sebelumnya, merasa harus lebih menyesuaikannya dengan

kebutuhan istananya, serta memperbaiki pertahanannya. Sebagai

langkah pertahanan, al-Zhihir membangun jembatan raksasa, parit,

bukit dan bendungan.t5a N0ruddin membangun sebuah gerbang

tunggal baru, "barangkali yang paling mengagumkan dari semua


kubu pertahanan kaum muslim",r55 untuk menggantikan dua pintu

gerbang benteng yang lama, yang dilindungi oleh dua menara

pelindung yang kuat (gambar 7.60). Semua pihak yang akan

menyerang harus berhadapan dengan jalan melandai dengan ti-

kungan siku-siku yang jumlahnya tidak kurang dari lima, yang

masing-masing dilengkapi dengan celah-celah untuk menembakkan

anak panah. Untuk mengambil air bagi mereka yang ada di dalam

benteng ini  digunakan suatu cara yang teliti: sebuah sumur

yang sangat dalam dibangun pada 1209 dan juga ada  banyak

tangki air, sehingga membantu pada saat benteng iru dikepung.

Bagian atas benten1 iWa dilengkapi dengan lubangJubang anak

panah, y^ng cara penyusunannya berbeda dari lubang-lubang yang

berada di jembatan sehingga jangkauan anak panah yang di-

tembakkan dari situ dapat sangat jauh. Di dasar bukit digali

sebuah parit yang dilewati oleh sebuah jembatan, dan ditutup

dengan gerbang besi. Jalan melandai, yang Permukaannya ditutup

dengan dinding dari batu persegi, membentang dari parit ke dasar

kubu pertahanan, sehingga dipastikan tidak akan ada peluang


untuk menggali benteng ini  atau memanjatnya. Benteng itu

memiliki dua jalan rahasia, "pintu rahasia" dan "pintu gunung",

sehingga memungkinkan untuk berkomunikasi dengan orang-orang

di luar kota itu.

Hal lain yang dilakukan al-Zhihir Ghizi bertujuan untuk

mengubah benteng itu menjadi kediaman rap. Dia membangun

lebih banyak istana, sebuah pemandian, dan sebuah taman dengan

pohon-pohon dan bunga-bunga di dalamnya. Dia membangun

"Rumah Keadilan' (Dnr al-Adt) dan menyatukannya dengan

benteng lewat sebuah jalan yang khusus bagi penguasa itu sendiri.

Dia membangun sebuah Masjid Agung yang juga berfungsi sebagai

tempat pemantauan. Di masjid inilah sultan melakukan ibadah

salat, dan bukan di masjid kota itu, yang biasa digunakan untuk

salat Jumat, yang tentu saja dimaksudkan demi keamanan. Ke-

nangan mengenai pangeran ini diabadikan lewat tiga pintu berlapis

besi bertatah paku yang disusun dalam bentuk kisi-kisi persegi

panjang, yang berisi motif-motif dan inskripsi-inskripsi yang

memuat namanya. Pada 1212, saat  al-Zhihir GhXzi menikahi

D"t'" Khatum, gudang senjata dan istana terbakar. Dan salah

seorang penerusnya, al-Malik al-'Aziz, membangunnya kembali,

gudang senjata pada 1228, dan istana tiga tahun kemudian

(gambar 7.62 dan 7.63). Laporan yang diberikan oleh Sauvaget

tentang perluasan dan perubahan yang dilakukan pada Benteng

Aleppo berasal dari gambaran-gambaran lengkap yang diberikan

dua penulis saat itu, Ibn Syihnah dan Ibn Syadded, yang sangat

terkesan oleh keberhasilan penguasa Ayyubiyah ini. Benteng itu

di masa Ayyubiyah pasti menjadi pemandangan yang sangat

mengagumkan sebab  benteng itu menjulang tinggi seperti patung

raksasa di atas kota ini , disertai inskripsi mengesankan tentang

pendiriannya yang dipahat dalam huruf-huruf tebal dan besar

dari batu basal di tengah-tengah lekukan batu kapur putih.t'6

Pada masa Mamluk benteng ini  menjadi kediaman gubernur

dan pejabat-pejabat negara.

Sebagaimana diungkapkan dengan sangat menarik oleh

Sauvaget: "Rancangannya pasti merupakan kubu pertahanan yang

paling mengagumkan yang diwariskan kepada kita dari arsitektur

militer Abad Perterigahan."r5T Sekalipun begitu, karya besar teknik

militer kaum muslim ini tidaklah sepenuhnya cukup kuat sebagai

tempat bertahan. Penulis sejarah Qirtay al:Izzi al-Khaznadari (w.

734 H.11333 M.) menceritakan laporan kesaksian yang sangat

menarik tentang pengepungan Aleppo oleh penguasa Mongol

Hiilegti. beberapa  lubang digali. Htilegti memerintahkan agar salah

satu lubang itu, yang mampu menampung 6.000 orang, diperbesar

agar menampung 10.000,158dan benteng ini  akhirnya direbut,

sesudah  dikepung hanya beberapa hari, pada 27 Januari 1260.t5e

Benteng Hims

Benteng Hims pada abad ketiga belas terlihat sangat mirip dengan

Benteng Aleppo, khususnya pada lereng di bawah benteng ini 

yang diperkuat dengan susunan blok-blok batu. Dengan dibangun

di puncak sebuah bukit kuno yang terletak di tengah-tengah

kota-seperti Benteng Hama yang agak kurang terpelihara dengan

baik-benteng ini  memiliki tanggul raksasa yang dibangun

oleh Baybars. Dinding-dinding benteng membentuk sebuah kubu

pertahanan tunggal yang menyambung seperti benteng di Kairo,

Damaskus, Aleppo, dan Hama. Sayangnya, monumen penting

ini diledakkan oleh Ibrahim Pasha pada 1830-an. Meski demikian,

banyak dinding-dinding sekelilingnya dengan inskripsi-inskripsi

bertanggal yang berasal dari sebelum tahun 1239 yang masih

tersisa (forc 7.18-7. 19).'60

Benteng-Benteng l{aum Muslim

Ajlil.n

Benteng kaum muslim ini dibangun pada 580 H./1184-1185

M. oleh 'lzzuddin Usimah, salah seorang panglima Saladin, di

atas puncak bukit di seberang benteng Tentara Salib Belvoir,

dengan menghadap ke arah Lembah Yordania (gambar 7.64).161

Benteng ini berbentuk persegi empat dengan empat menara persegi

di pojoknya. Johns, yang mempublikasikan tempat ini, menyim-

pulkan bahwa beberapa bentuk seperti yang biasa digunakan kaum

Frank yang ada  di benteng itu merupakan akibat dari tradisi

setempat dan hal yang biasa terjadi.r62 Untuk memperkuat per-

tahanan benteng itu, yang disesuaikan dengan lereng tempat

benteng itu berdiri yang agak terlalu lunak, kaum muslim-

barangkali mengikuti contoh Benteng Sahyun milik kaum Frank-

memperdalam kanal batu yang mengelilinginya, sehingga menyisa-

kan sebuah tonggak batu besar bagi jembataan jungkat. Selain

itu, benteng ini terkenal sebab  ukurannya yang kecil dan menara-

menara yang berjejalan di dalamnya.

Sekitar tiga puluh tahun kemudian, Aybak, sahabat dekat

sultan Ayyubiyah al-'Adil, memperbesar pertahanan luar Ajltn.

Menurut al-'LJmari, Ajlirn merupakan sebuah sambungan dari

jaringan menara dan stasiun pemberi kabar yang akan mengi-

rimkan tanda bahaya kepada sultan di Kairo.r63 Ajlirn berfungsi

sebagai gudang senjata dan menampung suplai makanan bagi

pereburan kembali Damietta.r6a


Qal'at Najm yang letaknya tepat di tepi kanan Sungai Eufrat di

dekat Manbij "yaitu  benteng Arab luar biasa dari abad ketiga

belas".165 Sisa-sisa benteng itu cukup banyak, termasuk dengan

bagian-bagian yang dibangun kembali, yang menunjukkan teknik-

teknik pertahanan kaum muslim secara lebih jelas dibandingkan

dengan sisa reruntuhan dari benteng-benteng Damaskus, Kairo,

dan Aleppo (foto 7.20). Nfrruddin telah membangun kembali

benteng yang ada yang kemudian dibangun kembali oleh al-

Malik al-Zhbhir Ghizi dari 1208 hingga 1215. Benteng ini 

berada di atas sungai dan dilapisi dengan susunan batu-batu yang

berfungsi sebagai tanggul yang efektif, ditambah dengan dua

menara yang membentengi pintu gerbang masuk.r66

Ibn Jubayr menggolongkan Qal'at Najm di Eufrat sebagai

benteng yang baru dibangun.r6T


Benteng ini, yang bagian bawahnya di bangun dari reruntuhan,

sementara bagian atasnya dari bata bakar, mengikuti pola standar

pertahanan Arab Suriah Abad Pertengahan, yaitu dibangun di

tempat tinggi (dalam hal ini bukit yang menghadap Sungai Eufrat)

yang dikelilingi dengan sebuah dinding pertahanan dan parit,

dan diperkuat oleh menara-menara, dengan sebuah pintu gerbang

masuk dan jalan melandai. Qal'at Ja'bar mulanya dibangun oleh

Banu Numayr, suku Arab setempat, dan kemudian diubah secara

besar-besaran-5s16lxh pengusiran Tentara Salib-oleh NCrruddin

dari 1168 dan selanjutnya (foto 7.211.22), dan di dalamnya

ada  sebuah masjid dengan menara dan istana.168

Qal'at Subaybah

Benteng ini, yang berasal dari 1228-1230, berdiri di lereng selatan

Gunung Hermon (timur laut Banyas) dan merupakan benteng


Abad Pertengahan terbesar dan yang rerawar paling baik di

Palestina.r6e Benteng ini dibangun oleh salah seorang putra al-

'Adil, 

"l-'Ariz 

'lJtsmXn (w. 630 H.ll232 M.;tzo dengan sangar

tergesa-gesa menjelang Perang Salib yang dilancarkan Frederick

II.t7t Terletak di rute perdagangan utama antara Lembah Huleh

dan Damaskus, benteng itu dimaksudkan menjadi penghalang

bagi semua orang dari wilayah kaum Frank yang akan mendekati

kota ini .lT2

Q_al'at Subaybah dibangun dengan biaya murah dan cepat-

kubah benteng itu sederhana, hampir tidak ada ornamennya, dan

belum semua batu disusun dengan sempurna.l73 sesudah  Frederick

II meninggalkan Tanah Suci, il.-'Aziz 'lJtsmXn berjuang keras

untuk menyelesaikan bentengnya itu. saat  Baybars mengambil

alih benteng itu, dia memutuskan untuk memperkuatnya (dan

bukan menghancurkannya). Dia membangun enam menara baru

dan membuat perbaikan-perbaikan lain yang lebih modern.rT4

beberapa  inskripsi mencatat benteng ini.

Thmbahan-Tambahan yang Dikkuhan IAum Muslim

pada Benteng-Bentmg Tentara Salib

Kemenangan dalam perang terkadang membuat kaum muslim

bisa menguasai benteng-benteng kaum Frank dan membuat tam-

bahan-tambahan penting pada benteng itu. Contohnya telah

disebutkan, seperti masjid, menara, istana dan tempat pemandian,

yang dibangun oleh kaum muslim di Sahyun antara 1188 dan

1290. Benteng kaum Frank di Bira sebagian besar dibangun

kembali oleh al-Zhihir GhAzi.176 Menara barat daya di Beaufort

menunjukkan perbedaan jenis ornamen yang berkaitan dengan

al-Malik al-'<Adil.l77 Di Karak, al-'Adil menambahkan menara besar

di bagian selatan.178 Bahkan, di Krak des Chevaliers, banyak hal

yang menunjukkan keterampilan bangsa Arab di benteng bagian

selatan,rTe sementara menara persegi di tengah-tengahnya berisi

panter milik Baybars dan sebuah inskripsi QaliwCrn yang ber-

tanggal 1285.180 Ismailiyah juga mengambil alih benteng-benteng


yang ada, baik yang didirikan oleh Bizantium, Fatimiyah, ataupun

bangsa Arab setempat.

Sebaliknya, tntara Salib sendiri kadang-kadang membangun

dan memperluas pertahanan kaum muslim yang ada, seperti di

Marqab.rsr Dan kaum muslim sendiri kadang-kadang mengadaptasi

bangunan-bangunan pra-Islam untuk kubu pertahanan mereka

sendiri. Al-Malik al-'Adil membuat tearer Roma di Busra sebagai

pusat bagi benteng kota itu, dengan menambahkan dinding-

dinding konsentris antara tahun 1202 dan 1218.182

Benteng Hasyasyin

Benteng Hasyasyin yaitu  perkecualian khusus bagi keinginan kuat

kaum muslim yang umumnya mencoba melindungi dan mem-

bentengi diri mereka di dalam kota-kota berdinding daripada di

kubu-kubu pertahanan dan benteng-benteng terisolasi. tmpat

benteng ini khusus dipilih sebab  lokasinya yang terpencil dan

posisinya yang terlindung. Kelompok Ismailiyah yang sangat

ditakuti ini terkenal dengan pertahananny^ yeng tidak tertembus

dan terlindung di Iran pada awal 1100-an.r83 Mereka juga mem-

peroleh dan membangun rangkaian benteng di Suriah pada periode

Perang Salib,rsa di sana mereka memakai  cara yang sama,

dengan memilih kawasan pegunungan yang tidak bisa dimasuki.

Benteng-benteng Suriah ini dicatat banyak penulis sejarah muslim,

termasuk Ibn Muyassar.r85 Dia menceritakan bahwa pada saat

kematian pemimpin Hasyasyin pertama, Hasan-i ShabbAh, pada

518 H./11.24M., kelompok ini-yang, menurut Muyassar, disebut

Hasyisyiyyah ("penyantap hasyisy'') di Suriah-telah merebut

banyak benteng pegunungan di Suriah, biasanya dengan tipu

muslihat dan sogokan , yen1 delapan di antaranya berhasil mereka

pertahankan sampai Baybars merebutnya pada 1270-1273.186

Mereka dengan hati-hati memilih kawasan di mana mereka bisa

mengajak para penduduk setempat yang bisa menerima bentuk

Islam Ismailiyah.

Benteng Hasyasyin Suriah yang paling terkenal kemungkinan

yaitu  Mr"l,"[ yang memiliki dinding pertahanan konsentris ganda

(gambar 7.66 dm 7.67).Benteng itu dengan hati-hati diposisikan

ke barat Hama di Jabal Anshariyyah, tempat di mana jalan

ini  berbelok ke utara menuju Lembah Orontes.


Al-Dimisyqi menggambarkan Masyaf sebagai "pusat benteng

perbatasan yang dibangun Hasyasyin untuk menyebarkan misi

mereka (da raah) dan untuk menampung para utusan 'untuk

membunuh para raja dan bangsawan'D.!87 Boase membantahnya

(dan benteng-benteng Hrrl.*nt lainnya di Suriah) sebagai benteng

yang "dibangun dengan kasar, umumnya di fondasi sebelumnya"

dan memiliki "sedikit minat arsitektur".rs8 Yang paling mencolok

dari benteng-benteng Hasyasyin ini yaitu  lokasinya yang sangat

khusus.r8e Seperti halnya Tentara Salib, Ismailiyah juga merupakan

kelompok minoritas yang diperangi di kawxan Mediterania timur.

Dan seperti juga Tentara Salib, mereka berusaha mengatasi ke-

lemahan mereka, yaitu jumlah mereka yang sedikit, dengan mem-

bangun benteng-benteng di tempat-tempat strategis, benteng-

benteng yang sering kali saling berdiri sendiri dan saling terlihat.

Tidak seperti benteng-benteng Tentara Salib, benteng-benteng

Ismailiyah menampung seluruh komunitas di dalam perlindungan

dinding-dinding mereka. Namun, benteng ini tidak memiliki

pasukan pengganti yang disiplin dan terlatih yang siap untuk

bertindak dengan cepat. Perbedaan Penting lainnya yaitu  bila

benteng-benteng Tentara Salib jelas berfungsi untuk menyerang-

misalnya Karak-benteng-benteng Ismailiyah pada dasarnya di-

anggap untuk tempat pertahanan.reo


Persamaan Arsitehrur l{aum Muslim dan Tentara Salib

Barangkali tidaklah mengejutkan, mengingat adarlya saling kedekat-

an dan kadang-kadang memakai  pekerja yang sama, bila

ada  banyak kesamaan yang kadang-kadang bisa mempersulit

jika berpatokan pada model untuk membedakan benteng Tentara

Salib dari benteng kaum muslim-msnxla-menara besar, balkon

menjorok di bagian atas benreng yang rancangannya hampir

identik di Krak des Chevaliers, Aleppo dan Damaskus, dan

bentuk-bentuk arsitektur lainnya, seperti kubah-kubah dan leng-

kungan-lengkungan yang lancip. J.rg" sangar sulit menentukan

siapa memengaruhi siapa.rer Namun mungkin kaum Frank me-

rupakan pihak yang dominan di sini, bukan saja sebab  mereka

tiba di kawasan Mediterania timur dengan memiliki teknologi


-'

tarsitektur militer yang nyat^-nyata lebih unggul, namun  juga sebab 

situasi mereka yang terancam di wilayah musuh membuat mereka

lebih berdaya cipta. Apalagi ada kemungkinan kaum Frank telah

mengadopsi teknik-teknik tertentu sesudah  mereka melihat struktur-

struktur pertahanan Islam dan Bizantium.re2 Meski demikian,

sampai sejauh mana ini terjadi masih menjadi masalah dalam

perdebatan ilmiah yang terus berlangsung.

Ihrya Tbrhini tentang Benteng-Benteng l{aum Muslim

Beberapa dekade terakhir telah terjadi peningkatan luar biasa dalam

penyelidikan dan penggalian benteng-benteng kaum muslim Abad

Pertengahan di kawasan Mediterania timur. Meski beberapa dari

bangunan ini telah menarik publikasi sangar luas, seperti benteng

Aynrbiyah, Qal'at al-Tirr, yang digali di Gunung tbor,re3 dan

benten g Damaskus-khususnya menara-menara Aynrbiy ah,t ea y ang

modul dan unit pengukurannya menunjukkan karya ahli-ahli

bangunan Armeniares-mayoritas bangunan-bangunan ini harus

diteliti dengan terencana.re6 lJrut-urutannya dimulai dari benteng-

benteng pertahanan kecil di pesisir yang dibangun pada masa

Abbasiyah, seperti Kefor Lam, Ashdod Yam dan menara di

Mikhmoret. Benteng-benteng ini kemungkinan melengkapi sejum-

lah kubu pertahanan utama seperti di pelabuhan-pelabuhan se-

macam Kaisarea, Acre, Jaffa, Ascalon, dan Gaza. Di antara kubu-

kubu pertahanan di pedalamaan yang muncul sebelum Perang

Salib, Baysan dengan dinding-dindingnya yang rapuh dan gerbang

tunggal jelas-jelas bukan dibangun untuk menahan serangan yang

berlangsung terus menerus. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa

telah terjadi kesalahan. Beberapa benteng dikaitkan kepada Tentara

Salib, seperti Qaqun (terutama Mamluk), Jazirat Fir'aun di Teluk

Aqabah dan Banyas di utara Danau Hula (keduanya bangunan

Aynrbiyah dengan beberapa penambahan dari masa Mamluk),

Qal'at Safuriyah dan Afula (keduanya di Galilee). Benteng muslim

Abul Hasan di dekat Sidon bertanggal awal tahun 1128. Bentuk

benteng ini memiliki kesamaan dengan Benteng Qashr Zuwayrah

di ujung selatan Laut Mati. Qal'at ibn Ma'an atau Qal'at Shalah

al-Din di Galilee, sebuah benteng yang sangat terlindung yang

terletak di sebuah tebing yang curam dan tinggi dengan banyak

gua di belakangnya, memakai  bangunan batu dengan dua

g ya yang berasal dari era Mamluk. Benteng-benteng muslim

lainnya yang membelah batuan yaitu  benteng al-Vu ayrah di

Petra, yang direbut Tentara Salib pada 1107. Benteng al-Habis,

benteng lainnya di Petra yang membelah batuan, mungkin juga

milik kaum muslim. Benteng-benteng berikumya yang kemungkin-

an dari masa Mamluk termasuk benteng JizalZiza dan Qashr

Syabib di Zirka, keduanya di Yordania. Lebanon juga memiliki

benteng-benteng membelah batuan yang punya bukti-bukti kuat

untuk dianggap sebagai benteng kaum muslim, seperti Magharat

Fakhruddin dan Qal'at al-Dubba. Bangunan yang berkaitan yaitu 

Khirbat al-Sila di dekat Tafila di Yordania. Sudah tiba saatnya

semua bangunan ini diteliti secara tertata dan mendalam. []


Pada masa lalu, para ahli sejarah militer membahas jumlah dan

kekuatan pasukan Fatimiyah yang sangat besar.2 Secara khusus,

Smail menyatakan bahwa kegagalan Fatimiyah pada awal periode

Perang Salib yaitu  sebab  pasukan mereka ketinggalan zaman.

"Kelompok pemanah pejalan kaki mereka, dan pasukan berkuda

yang menunggu serangan' menjadi sasaran empuk senjata kaum

Frank yang sangal [sx1-"5srangan ksatria-ksatria berbaju besi

dan berkuda".3 Smail mengatakan, pemanah-pemanah berkuda

pasukan Tirrki merupakan musuh yang jauh lebih berbahaya bagi

Tentara Salib. Namun, penelitian yang paling baru telah mengubah

pandangan ini. Brett dengan tegas mengatakan bahwa kavaleri

Badui Arab kemungkinan telah memainkan peran yang lebih

penting dalam pasukan Fatimiyah daripada yang diperkirakan

sebelumnya.a

Lev menyerang pandangan agak sederhana yang menyatakan

bahwa pasukan Fatimiyah terdiri dari para prajurit berkualitas

rendah yang jumlahnya sangat besar. Sekalipun sering diduga

bahwa pasukan kaum Frank memiliki persenjataan yang jauh lebih

lengkap dibandingkan prajurit-prajurit muslim, Bretr menegaskan

bahwa pada akhir abad kesepuluh kavaleri Fatimiyah mengenakan

baju baja dalam pertempuran.5 sebab  itu, persenjaraan mereka

sama lengkapnya dengan kaum Frank. Juga harus diingat bahwa

efektivitas kavaleri kaum Frank bukan hanya terletak pada jumlah

lapisan baja yang dikenakan oleh kuda dan penunggangnya, terapi

juga pada kekuatan dan ukuran (tidak termasuk kecepatan) kuda-

kuda kaum Frank. Sedangkan mengenai infantri Fatimiyah, mereka

terdiri dari pasukan yang bersenjatakan tombak, gada, lembing

dan panah.6 Singkatnya, pasukan ini juga yaitu  pasukan tempur

yang sangat lengkap.

Susunan pasukan Fatimiyah di medan pertempuran telah

ditentukan dengan jelas, dan masing-masing unit memiliki tang-

gung jawab untuk disiplin dengan takrik yang telah ditetapkan.

Seperti dikatakan oleh Lev, pasukan infantri ini  diatur dalam

susunan yang sangat rapat. Infantri yang bersenjatakan tombak

Iengkap berada di barisan depan, dan didukung pasukan panah

di belakangnya.T Kavaleri memiliki beragam tugas-menyerang,

mengintai, menyerbu, mengejar, dan tugas lainnya. Lev juga

menekankan bahwa Fatimiyah memiliki keahlian menyerang tingkat

tinggi. Atas dasar semua ini, mengapa Fatimiyah mengalami

kekalahan besar melawan Tentara Salib? Kegagalan pasukan Fatimiyah

di Palestina lebih sebab  masalah kepemimpinan dan keuangan,

bukannya kelemahan militer dalam pasukan ini .8 Yang juga

tidak boleh dilupakan yaitu  bahwa Fatimiyah menghadapi musuh

yang belum pernah dihadapi sebelumnya dalam peperangan di

kawasan Mediterania timur, musuh yang terbiasa memakai 

gaya pertempuran yang tidak siap dihadapi oleh Fatimiyah dan

didorong oleh keyakinan agama militan yang membangkitkan

moral seluruh Tentara Salib.

Peranan Pasuhan Berhuda TLrhi

Patut diingat bahwa yaitu  Asia Tengah-titik awal invasi Turki

ke dunia Islam-yang menjadi sumber bagi kuda-kuda "sempurna"


dan "sangat kuat" sangat dihormati di Cina, dari abad kedua SM

dan seterusnya.e Seperti dikatakan oleh al-Jahiz (w. 255 H./868-

869 M.) jauh sebelum kedatangan kaum Frank, bangsa Tirrki

telah terbiasa berperang dari atas punggung kuda. namun , invasi

bangsa nomaden itu pada abad kesebelas yang telah mengantarkan

pemanah-pemanah berkuda bangsa Tirrki meraih ketenaran dan

keberhasilan mereka yang mengagumkan itu, seperti dikatakan

oleh Boudot-Lamotte, disebabkan oleh "kesatuan kuda dan panah".ro

Mobilitas mereka yang luar biasa sangat berbeda dengan ksatria-

ksatria Eropa barat yang berbaju baja dan bersenjata berat.

Bangsa Tirrki terkenal dengan cara mereka menembak yang

disebut "gaya Skitia", atau disebut juga "gaya Partia" (gambar

8.3)," yang berasal dari zaman kuno. Mereka datang menyerang

dengan sangat cepat ke arah musuh dan secara tiba-tiba berbalik

dan mundur sambil menembak. Menurut al-TharsCrsi, orang-orang

Tirrki "seluruhnya menarik anak panah hingga tangannya mencapai

dada mereka".t2 Thktik seperti ini ideal untuk membingungkan

kavaleri kaum Frank. Hal terakhir yang siap dilakukan orang-

orang Ttrrki yaitu  "berdiri dan bertempur". Yang penting untuk

dicatat yaitu  pasukan berkuda Tirrki seperti ini sangat penting

di dalam pasukan N0ruddin, Saladin, dan penerus-penerus mereka.

Reputasi kaum Tirrki nomaden dan pasukan TLrki lainnya

sebagai pemanah berkuda telah menjadi legenda. Selama berabad-

abad, bangsa Tirrki dalam lingkungan mereka yang nomaden telah

belajar kecepatan dan mobilitas dengan menunggang kuda. Ini

telah menjadi karakteristik perang bangsa Turki, bahkan sebelum

adanya sanggurdi.r3 Mereka akan muncul dan menghilang, me-

nyerang, mengganggu musuh-musuh mereka, memilih sendiri


waktu dan lokasi pertempuran, dan kemudian menjauh bila musuh

telah siap untuk bereaksi. Menurut al-Jahiz dalam tulisannya yang

terkenal tentang keunggulan-keunggulan bangsa Turki, kemampuan

mereka memakai  busur dan panah sangar luar biasa:

Bila ribuan pasukan berkuda Tirrki menyerang dan melepaskan

ribuan anak panah bersamaan, mereka akan mengalahkan ribuan

orang; dan tidak ada pasukan lain yang bisa menyerang sedemikian

baiknya ... Anak-anak panah mereka akan menghujam ke sasaran

sama banyaknya saat mereka mundur dan saat mereka maju.ra

Bahkan saat  akurasi tembakan busur mereka berkurang,

mereka masih bisa menembak dan melukai kuda-kuda dari jarak

jauh.

yaitu  keliru bila menganggap bangsa Tirrki hanyalah pe-

manah berkuda. Dalam konteks pertempuran sengit, dan bukan

melakukan gangguan pada iring-iringan musuh, kaum Tirrki no-

maden bisa dan akan terlibat dalam pertempuran jarak dekat

dengan tombak atau pedang, sesudah  menggantungkan busur

mereka di bahu sehingga meringankan beban mereka. Sekalipun

bangsa Tirrki memelihara berbagai jenis hewan selain kuda, narnun

hanya kuda yang mereka gunakan dalam penyerangan dan per-

tempuran militer lainnya. Sumber itu menyebutkan bahwa kaum

Tirrki nomaden sering memiliki beberapa ekor kuda-bukan hanya

seekor. Dengan demikian, mereka bisa terus melakukan gangguan

dalam suatu serangan dengan berpindah ke kuda-kuda lainnya

bila dibutuhkan.

Pernyataan al-Jahiz itu, sekalipun dibuat pada abad kesembilan

dengan secara khusus menyebutkan pasukan Tirrki yang digunakan

oleh khalifah-khalifah Abbasiyah sebagai pengawal dan pasukan

elite mereka, |uga berlaku bagi pasukan Tirrki abad kedua belas,

baik di lingkungan mereka yang nomaden maupun sebagai prajurit-

prajurit budak penguasa muslim Abad Pertengahan. Al-Jahiz segera

mengatakan keahlian menunggang kuda yang dimiliki bangsa

Turki, daya tahan mereka dan tekad mereka yang kuat dalam

menghadapi kesulitan:

Kesabarannya untuk terus berada di sadel dan bergerak tiada

henti dan melakukan perjalanan semalam penuh dan menyeberangi

sebuah negara yaitu  luar biasa ... dan seandainya pada akhir


hidup seorang T"rki dihitung harinya, akan terlihat bahwa selama

hidupnya dia lebih banyak duduk di atas kuda daripada di tanah.rs

Pasukan Tirrki punya kemampuan besar untuk menghancurkan

musuh mereka dengan cara mengelompok, mengelompok kembali

dan kembali berkali-kali ke pertempuran. Berbeda dengan susunan

musuh mereka yang cenderung lebih formal, seperti pasukan

penguasa muslim yang mapan, pasukan Tirrki tidak diatur menjadi

tiga divisi utama, sisi kiri dan kanan dan tengah. Sebaliknya,

mereka tersusun dalam kelompok-kelompok kecil yang berusaha

mengepung musuh. Meskipun kelompok-kelompok ini terpisah,

mereka bisa saling memperkuat bila diperlukan dan melancarkan

tekanan tiada henti pada musuh.

Sesuai dengan gaya hidup mereka yang telah berlangsung

lama, pasukan Tirrki berperang untuk barang rampasan, dan ini

sering dikritik oleh para penulis Abad Pertengahan yang memiliki

latar belakang kehidupan menetap:

Pasukan Tirrki tidak berperang untuk agama, interpretasi Kitab

Injil, kedaulatan, pajak, patriotisme ataupun kemarahan ... bukan

juga untuk mempertahankan negara maupun kekayaan, namun  hanya

demi barang rampasan.r6

Al-Thars0si memberikan sedikit pandangan tentang taktik

pemanah-pemanah berkuda muslim Abad Pertengahan di dalam

pasukan Saladin. Bila posisi musuh sangat jauh namun dalam

jarak tembak anak panah, al-Tharsfisi menganjurkan para pemanah

untuk menyebar dan menembak mereka secara terpisah. Dia

memerintahkan para pemanah berkumpul bila musuh datang

mendekat. Bila musuh telah turun dari kudanya, al-Tharsfisi

memerintahkan untuk seBera menempatkan diri mereka sedemikian

rupa sehingga musuh berada di antara air dan tanah rawa. Bila

ini tidak memungkinkan, dia menyimpulkan: "Percepatlah dirimu

dari mereka, dengan menembak hewan tunggangan mereka, dan

tembak lagi dan lagi, sebab  akan membuat mereka kalah."r7

Pada pertempuran Balith pada 513 H./1119 M., efek hujan

anak panah yang dilancarkan oleh orang-orang Tirrki digambarkan

dengan jelas oleh penulis sejarah Aleppo, Ibn al-Adim. Dengan

mengingat bahwa semua bangsa Tirrki menyerang secara bersamaan

dari segala arah, dia mengatakan: "Anak-anak panah ini  mirip

serangga sebab  sangat banyaknya anak-anak panah yang mengenai

kuda dan prajurit ... "r8

Dalam penjelasannya tentang pertempuran Balith, Ibn al-

Qalinisi juga menegaskan peran penting para pemanah untuk

mencapai kemenangan ini: "Mereka [para saksi mata] melihat

beberapa kuda ini  tergeletak di tanah seperti landak sebab 

sangat banyaknya anak panah yang menembus tubuh kuda-kuda

ini . " le

Faktor utama kekuatan militer Tirrki terletak pada kuda-kuda

mereka. Selama berabad-abad, mereka sangat terkenal dalam

kekhalifahan dan pasukan muslim lainnya, sebab  kemampuan

mereka memanah sambil berada di atas punggung kuda. Namun

peranan kuda-kuda mereka itu cenderung tidak jelas. Ikatan antara

penunggang dan kudanya pasri sangar kuat, namun kita tidak

mengetahui, misalnya, bagaimana bangsa Tirrki nomaden merawat

kuda-kuda mereka atau bagaimana mereka mengerahkannya dalam

penyerangan dan pertempuran. Kuda-kuda yang lamban dan

gemuk digunakan untuk mengangkut senjata dan perbekalan. Saat

tiba di dekat medan tempur, kuda-kuda ini akan diserang dan

kuda-kuda yang lebih ringan dan cepat akan digunakan untuk

pertempuran di medan yang sesungguhnya.

Menghindari Pertempuran dan Mengunakan Muslihat

Manual-manual militer kaum muslim banyak memuat penjelasan

tentang strategi perang, sekalipun instrulai yang diberikannya agak

tidak spesifik dan tidak jelas.

Sumber-sumber itu sangat menekankan pentingnya meme-

lihara pasukan dan memakai  strategi untuk menghindari

pertempuran. Al-AnshAri mengatakan dengan tidak jelas: "Ke-

menangan yang diperoleh lewat keunggulan strategi dan gaya

sederhana, dengan upaya menyelamatkan diri dan agar pasukan

tak berkurang tanpa mengeluarkan tenaga, yaitu  yang terbaik."2o

Pertempuran melawan musuh benar-benar merupakan uparya yang

terakhir, yang hanya dilakukan bila strategi lainnya gagal. Se-

bagaimana diungkapkan oleh al-Anshiri:


Secara umum, orang yang mencoba bertempur melawan musuh

tidak boleh maju melibatkan dirinya, namun  harus menerima ke-

selamatan dan perdamaian selama keselamatan dan perdamaian itu

dianugerahkan kepada orang ... Orang tidak mencari kemenangan

dengan melibatkan dirinya begitu lama sebab  kemenangan bisa

diraih lewat strategi.2r

Dalam karyanya yang termasuk dalam genre "Literatur Istana",

Y0suf KhAshsh Haiib juga menyatakan pentingnya memakai 

tipu muslihat dan kecerdikan yang "bisa membuat musuh ke-

takutan".22

Bukti-bukti dalam berbagai tulisan sejarah muslim menegaskan

bahwa nasihat teladan di dalam manual-manual militer dipraktik-

kan oleh para penguasa dan panglima. Al-Maqrizi mengatakan

dalam obituarinya tentang sultan Ayyrrbiyah, al-'Adil (w. 615 H.l

1218 M.), adik Saladin: "Al-'Adil berpendapat bahwa melawan

musuh secara terbuka itu tindakan yang tidak bijaksana. Dia

lebih suka membuat strategi untuk memakai  tiPu muslihat

dan kecerdikan."2s

Arti Pening Kepernimpinan yang Baih

Nasib jenderal suatu pasukan yaitu  sangat penting bagi hasil

akhir pertempuran. Bila sang jenderal tewas, moral seluruh pasu-

kan akan terpengaruh. Inilah yang terjadi dalam Pertempuran

Marj al-suffar pada 520 H.ll127 M. saat  Tirghtegin jatuh dari

kudanya dan, sebab  mengira dia telah tewas, pasukannya me-

larikan diri.2a

Peristiwa itu menielaskan mengaPa manual-manual militer

kaum muslim menekankan betapa Pentingnya kepemimpinan yang

baik dalam pasukan. Al-Anshiri, misalnya, menulis:

Jenderal suatu pasukan harus benar-benar cerdik, berhati kuat,

sangat berani, sangat awas, sangat hati-hati, sangat tegas; cePat

mengerti peraturan PeranB ... awas dari tipu muslihat ... paham

tentang pengaturan pasukan &n pengelolaan pasukan ... pintar

memelihara moral prajuritnya; segan melakukan pertempuran dan

mengupayakan tipu muslihat bila saja memungkinkan ...'5

Arti penting kepemimpinan yang karismatik juga ditekankan

oleh para penulis sejarah. Kehadiran Saladin bisa tiba-tiba meng-

hasilkan kemenangan meski pasukan muslim telah berada di

ambang kekalahan. Seperti dicatat oleh Ibn Syaddid:

Pada hari pertempuran besar di wilayah Acre, pusat pasukan

muslim berantakan, genderang dan bendera jatuh ke tanah, namun

dia tetap tegak bersama beberapa pasukannya sampai dia berhasil

menarik mundur seluruh pasukannya ke bukit dan selanjutnya

membawa mereka kembali ke medan tempur, sehingga membuat

mereha malu untuk kabur dan kemudian bertempur.26

Akhirnya Allah memberikan kemenangan kepada umat Islam.27

Tanpa perlu diperdebatkan lagi, dalam sumber-sumber itu,

Baybars tampil sebagai seorang jenderal hebat, yang menjulang

melebihi Nfrruddin dan Saladin dalam melakukan praktik perang.

Baybars memerintah wilayahnya dengan tangan besi dan me-

ngontrol pasukannya dengan ketegasan dan disiplin yang sama

kerasnya. Menurut Ibn Syaddid, Baybars melarang semua per-

temuan, semua orang diawasi oleh mata-mata. Bahkan di rumah,

orang-orang takut bila dinding punya telinga. Mereka yang me-

langgar larangan-larangannya akan digantung, ditenggelamkan,

disalib, dipenjara, dibuang, dan dibuat buta atas p