Mereka mengambil
beberapa jalan pintas, sebab mereka sadar tidak punya tukang-
tukang batu yang banyak untuk dipekerjakan, sekalipun biayanya
sangat mahal dan butuh waktu sangat lama untuk membuatnya.
Balok-balok batu besar digunakan untuk membangun dinding-
dinding bangunan yang berlapis tebal. Untuk melakukan tugas
ini diperlukan ahli-ahli pahat berbadan besar dan tentu saja
pasokan dana yang sangat besar dari Eropa barat.
Benteng-benteng kaum muslim, sebaliknya, cenderung tidak
bertahan lama sebab hasil pekerjaan mereka kualitasnya lebih
buruk. Kaum muslim membangun benteng-benteng dengan bahan
batu bata atau reruntuhan bangunan, bukan dengan balok-balok
batu persegi besar yang dipasang dengan hati-hati. Benteng-benteng
mereka terlalu besar dan dibangun sangat terburu-buru serta
rancangannya tidak menarik. Ini bukan berarti arsitek-arsitek dan
ahli-ahli bangunan muslim tidak terampil dalam seni pertahanan.
Sebaliknya, mereka kadang-kadang mampu melampaui prestasi
Tentara Sdib. Namun, karya terbaik mereka ditemukan dalam
bentuk kubu-kubu pertahanan kota seperti Damaskus, atau
Diyirbakr; dinding-dindingnya yang terbuat dari batu basal hitam
dan dilengkapi menara-menara perrahanan dengan panjang bermil-
mil termasuk salah satu kubu pertahanan Abad Pertengahan yang
paling mengagumkan di seluruh dunia. Sebaliknya, tidak satu
pun kota berbenteng milik Tentara Salib yang masih bertahan.
Bila kaum muslim ingin meminjam keahlian Tentara Salib dalam
membangun benteng-benteng, maka mereka harus membangun
benteng yang sejenis. Benteng-benteng rumit dengan pertahanan
terpusat, terusan-terusan, pengawas sebelah dalam dan luar, parit-
parit yang mengarah ke atas, dan bentuk-bentuk pertahanan
lainnya tidak dibutuhkan bagi benteng-benteng kaum muslim.
Kaum muslim itu sendiri sering kali cukup puas dengan bentuk
yang sederhana. Benteng-benteng kaum muslim 5smx62rn lsu-
Syayzar, misalnya (gambar 7.50 dan 7.51)-sedikit unggul dari
kubu pertahanan dan tempat-tempat perlindungan sementara.
Benteng-benteng itu utamanya berfungsi sebagai kediaman bagi
pangeran muda setempat.
Benteng-Benteng dan Kubu Pertahanan l{aum Franh
Sangat banyak pengetahuan yang tersimpan di benteng-benteng
Tentara Salib.tta Pembahasan di sini akan difokuskan renrang cara
pandang kaum muslim Abad Pertengahan terhadap benteng-
benteng. Deretan benteng yang dibangun arau dibangun kembali
oleh Tentara Salib pada abad kedua belas dan ketiga belas di
Palestina dan Suriah menjadi pengingat paling jelas atas kehadiran
kaum Frank di wilayah kaum muslim di Timur Dekat. saat
tiba di Suriah, kaum Frank melihat banyak benteng yang telah
berdiri. Mereka merebutnya dan memperkuatnya. Contohnya
seperti di wilayah Thipoli dan Antiokhia. Mereka juga membangun
jaringan benteng dan menara baru. Dengan masalah tenaga kerja
yang menjadi persoalan utama mereka, strategi kaum Frank dengan
membangun benteng-benteng dan menara-menara di sepanjang
rute utama mereka merupakan taktik yang tepat dan efektif untuk
mempertahankan diri mereka sendiri. Pringle menyatakan bahwa
jenis bangunan kota paling umum yang didirikan oleh kaum
Frank yaitu menara, yang sekitar 80 di antaranya telah dicatat.rr5
Fungsi benteng atau menara, tentu saja, yaitu memberikan
tempat perlindungan serta posisi penyerangan yang baik. Tempat
yang tinggi akan menguntungkan sebab memberikan pandangan
yang lebih luas ke seluruh pinggiran kota (dan komunikasi dengan
benteng-benteng lain kemungkinan dilakukan dengan api atau
heliograf). Posisi yang tinggi juga akan menambah kecepatan dan
jangkauan anak panah serta rumbukan dan menghalangi jalan
masuk artileri Abad Pertengahan dan penggalian tanah oleh
musuh. Praktik membangun benteng-benteng yang dilakukan
kaum Frank di laut-Sidon (Chiteau de Mer), Maraqiyyah,
Ladziqiyyah dan Ayas, untuk menyebut beberapa contohnya-
yaitu masalah tambahan bagi kaum muslim, sebab ternyata
kaum muslim lemah dalam hal perang laut. Kaum Frank iuga
membentengi Pulau Arward, di barat laut tipoli.
Benteng-benteng kaum Frank tentu saja bukan hanya untuk
bangunan-bangunan pertahanan. Benteng-benteng ini menjadi
pusat kekuatan dan simbol pendudukan di suatu kawasan. Benteng-
benteng juga menjadi pusat kediaman yang biasanya digunakan
untuk tempat menyimpan senjata, air, dan perbekalan. saat ,
misalnya, Saladin merebut benteng Sahyun pada 584 H./1188
M., dia menemukan sapi, hewan pembawa beban, perbekalan,
dan barang-barang lain.r16 Di benteng Syaqif (Beaufort), al-Maqrizi
mencatat bahwa Saladin membawa 20.000 ekor domba.rrT Thk
diragukan lagi, penuturan ini tampak telah dibesar-besarkan.
Pandangan Kaum Muslim terhad"ap Benteng-Benteng
dnn Kubu Pertaltanan l{aum Franh
Para penulis sejarah muslim sangat tahu tentang benteng-benteng
Frank dan sering menyebutkannya. Ibn al-FurXt, misalnya, mem-
berikan daftar lengkap kubu-kubu pertahanan dan kota-kota
benteng sebelum kemudian memberikan laporan tersendiri tentang
cara kubu-kubu pertahanan dan kota-kota benteng itu direbut
oleh kaum muslim.rrt
Kaum Frank ahli dalam membangun kubu-kubu pertahanan
baik di daratan maupun di pantai. Ibn Jubayr, misalnya, men-
ceritakan tentang pertahanan Tirus yang kuat:
Benteng itu hanya punya dua gerbang, satu menghadap ke
darat, dan satu lagi di laut, yang mengelilingi kota ini di
satu sisi. Gerbang darat dijangkau hanya sesudah melewati tiga atau
empat gerbang di dinding luar berbenteng kuat y^ng me-
ngelilinginya. Gerbang yang menghadap ke laut diapit oleh dua
menara yang kuat dan menuju ke pelabuhan yang letaknya sangat
unik di antara kota-kota maritim. Dinding-dinding kota itu me-
magarinya di tiga sisi, dan sisi yang keempat dibentengi dengan
sebuah dam yang dikuatkan dengan semen. Kapal-kapal masuk
lewat bawah dinding dan melepas sauh di sana. Di antara kedua
menara ini terbentang rantai besar yang, bila dinaikkan, akan
dapat mencegah jalur masuk dan keluar, dan tidak ada kapal-kapal
yang bisa lewat dengan aman saat rantai itu diturunkan.rre
Tak mengherankan bila pada beberapa kesempatan benteng
itu terbukti sukar direbut.
Penulis-penulis muslim juga mengetahui posisi strategis ben-
teng-benteng kaum Frank dan alasan benteng-benteng itu di-
tempatkan di lokasi-lokasi tertentu. Benteng Karak, misalnya yang
letaknya beberapa mil dari Laut Mati, dibangun oleh seorang
Tentara Salib, Pagan The Butler, pada 1142. lbn Syaddid men-
jelaskan tentang gangguan terhadap kaum muslim yang diakibat-
kan oleh benteng ini, yang menghambat rute ke Mesir, sehingga
karavan hanya bisa berangkat dengan dipandu oleh pasukan-pasukan
yang sangat besar.r2o Meski jalur ini cukup Penting nilainya,
tapi sebab di kawasan bagian Yordania ini sangat berbahaya, maka
jalur ini jadi tak berarti. Dan Karak ditempatkan dengan
ideal oleh Tentara Salib untuk menghancurkan lalu lintas kaum
muslim di sepanjang rute itu dan mengancam jalur tradisional ke
Mekah bagi jamaah haji, seperti yang telah disebutkan.
Peran penting jaringan benteng kaum Frank bagi kelangsungan
hidup kaum Frank telah diakui sepenuhnya dalam strategi militer
kaum muslim melawan mereka, khususnya pada abad ketiga belas
di bawah pimpinan Baybars dan para penerusnya, yang operasi-
operasi militer utamanya diarahkan kepada mereka. Namun, pada
abad kedua belas kaum muslim belum memperoleh keunggulan
menentukan atas Tentara Salib di medan terbuka, dan sebab itu
tidak punya kekuatan yang cukup untuk menggelar operasi militer
untuk menghancurkan benteng-benteng kaum Frank.
Benteng-Benteng Tentara Salib di Mata Kaum Muslim Sahyun
Benteng ini kini disebut Qal'at Shalah al-Din (Benteng Saladin)
dan oleh Tentara Salib dikenal sebagai Saone. Benteng ini terletak
di pegunungan timur laut Latakia, dan dibangun di atas bukit di
antara dua jurang yang dalam. T.E Lawrence dalam surat kepada
ibunya pada 1909 menggambarkannya sebagai "bangunan benteng
paling sensasional yang pernah saya lihat".r2r
Kaum muslim pada masa Perang Salib juga mengagumi
struktur dan posisi Sahyun. 'Imiduddin al-Ishfahini menegaskan,
seperti biasanya, lewat tulisan sastranya yang indah bahwa betapa
sulitnya mencapai benteng itu saat Saladin menyerangnya pada
584 H.ll188-1189 M.: "Jalan menuju Sahyun melewati bukit-
bukit dan jalur pegunungan, tempat-tempat yang sulit, tanah datar
yang lembek dan daerah yang sukar ditempuh, dataran-dataran
tinggi dan dataran-dataran rendah."r22
Sambil menggambarkan tentang benteng itu sendiri, 'Imiduddin
menulis:
Benteng itu terletak di puncak sebuah gunung di antara dua
lembah dalam yang bertemu di benteng itu dan mengelilinginya.
Sisi pegunungan [dari benteng itu] terpisah oleh sebuah parit yang
besar dan dalam dan dinding kokoh yang tidak punya akses ke
sana kecuali lewat nasib dan takdir Tuhan. Benteng itu memiliki
lima dinding yang seakan-akan yaitu lima bukit datar, yang dihuni
oleh serigala-serigala lapar dan singa-singa murka.r23
Ibn SyaddAd juga menulis dengan cukup lengkap tentang
Sahyun saat Saladin merebutnya pada 584 H./1188-1189 M.
Ibn Syaddid menekankan keadaan benteng itu yang sangat ter-
pencil, terlindung, dan teliti konstruksinya. Kekagumannya yang
jelas pada pahatan benteng itu, tentu saja, menjadi pembuka
bagi tema utarna, kemenangan gemilang Saladin saat merebutnya
dengan melalui penyerangan.r2a
Bagaimanapun juga, ada keraguan yang mengganggu apakah
'Imiduddin atau Ibn Syaddid benar-benar melihat benteng ini,
sebab tidak satu pun dari mereka menyebutkan bentukny^ y^tg
paling spektakuler dan mengagumkan. Untuk memperkuat per-
tahanannya kaum Frank menggali jurang dalam di sisi timurnya
yang paling mudah diserang, yang dengan demikian memisahkanya
dari daratan utama yang merupakan lokasi aslinya. Untuk mem-
buat jurang itu mereka harus memindahkan sekitar 170.000 ton
batu keras untuk membuat ngarai selebar 50-90 kaki, dengan
panjang 450 kaki dan tinggi antara 60 dan 130 kaki. Untuk
membantu menahan jembatan jungkat yang menjadi jalan masuk
ke benteng, kaum Frank menyisakan tonggak batu yang tinggi di
tengah-tengah ngarai buatan ini. Yang menarik, sebagian dari
pekerjaan itu dilakukan oleh kaum muslim yang menjalani wajib
militer. Parit-parit yang membelah batuan seperri itu juga ditemu-
kan di Karak, Syayzar, Benteng al-Mayniqah milik Ismailiyah
dan Benteng Lampron di fumenia Cilicia.
Kiranya patut untuk dicatat bahwa sesudah jatuh ke rangan
Saladin pada 1188, kaum muslim membangun sebuah masjid di
dalam benteng itu (dengan menara kubus yang tinggi, yang
kemungkinan yaitu karya Qaliwirn pada 1280-an), sebuah istana
kecil, tempat mandi dan sumur yang kemungkinan berasal dari
akhir abad kedua belas atau ketiga belas.
Bayt al-Ahzhn (Oleh Tentara Salib Disebut Le Chastelet)
Benteng ini yaitu benteng yang dibangun oleh para }Gatria
Kuil paling akhir sekitar tahun 1178, di dekat tepi barat Yordania.
Penulis sejarah muslim Ibn Abi Thayyi' menyebutkan pembangun-
annya menelan biaya yang sangat besar dan mencatat bahwa
Saladin dengan hati-hati berusaha menyogok Tentara Salib untuk
menghancurkannya.r2s Benteng itu dilengkapi dengan perbekalan
yang sangat banyak dan, seperti halnya Karak, terletak di tempat
yang pas untuk menghadang karavan-karavan kaum muslim.r26
Tidak mengherankan bila kaum muslim menyebutnya "Tempat
Penderitaan".
Pada Rabiulawal/Agustus-September ll79-hanya sekitar se-
tahun sesudah benteng itu dibangun-Saladin merencanakan me-
rebut benteng itu dan menghancurkannya. Sepucuk surat dari al-
Qadhi al-Fidhil ke Baghdad memberikan gambaran lengkap
mengenai bangunan yang mengagumkan ini:
Lebar dindingnya lebih dari sepuluh cub.it. Dinding itu di-
potong dari lempengan batu berlapis yang sangat besar, yang
masing-masing bloknya kurang lebih tujuh cubit. Jumlahnya lebih
dari 20.000 baru. Setiap batu dipasang dengan kuat di remparnya
dan menelan biaya empat dinar atau lebih.'27
Batu kapur melapis batu ini sehingga membuatnya ber-
tambah kuat dan kokoh, "lebih keras dari besiD.r28 Gambaran
semacam itu menunjukkan pandangan serta kekaguman yang jelas
terhadap teknik bangunan kaum Fran[-5611a terhadap para
panglima muslim yang berhasil merebut benteng semacam iru.
Kubu-Kubu Pertahanan l{aum Muslim
Cara pandang kaum muslim dalam hal pertahanan agak berbeda.
Kubu pertahanan-yang banyak di antaranya merupakan warisan
dari jaringan benteng perbatasan dalam konfrontasi Bizantium-
$2sxni2-1sntu saja akan selalu ada di perbatasan-perbatasan
Islam, baik untuk pertahanan maupun untuk menampung prajurit-
prajurit yang digunakan dalam perluasan wilayah kaum muslim.
Namun di dalam 'STilayah Islam sendiri, kaum muslim lebih
memilih berlindung di balik kota-kota berdinding dan membangun
benteng-benteng yang kuat di dalam kota semacam itu. Penguasaan
benteng suatu kota menunjukkan kekuasaan atas kota itu. Aleppo,
Damaskus, Kairo dan Yerusalem (foto 7.6)-target utama kaum
Frank--dipasangi dinding dan memiliki benteng-benteng di dalam
dinding itu. Penduduk berlindung di sana dan mempertahankan
diri mereka dari dalam. Ahli geografi Suriah, Ibn Syaddid,
memberikan gambaran yang lengkap tentang salah satu benteng
ini jelas bukan sekadar kubu pertahanan namun juga nadi ke-
hidupan kota ini dan wilayah sekelilingnya. Benteng-benteng
semacam itu di zemen itu termasuk Benteng Mardin yang berdiri
di atas batu-batu terjal, Kharput, dan Mayyafariqin. Ibn Syaddid
mencatat daftar benteng yang lebih banyak lagl2e
yaitu penting bahwa pekerjaan kontruksi utama di benteng-
benteng Kairo (foto 7.7 dan 7.8), Damaskus dan Aleppo terjadi
pada periode Perang Salib. Seluruh kota ini, tentu saja, merupakan
target utama para Tentara Salib. Di masa pergolakan ini, kota-
kota di Timur Dekat sering kali merupakan pemerintahan sendiri
secara de facto, siapapun yang menjadi penguasa-penguasa kecilnya.
Kota-kota ini dikendalikan, kemungkinan dari benteng ini ,
oleh keluarga-keluarga bangsawan setempat yang umumnya telah
berkuasa sejak beberapa generasi. Elite militer yang memimpin
benteng harus bekerja sama erat dengan keluarga-keluarga ini
untuk mempermudah pengumpulan p4^k, untuk mengerahkan
pasukan setempat dan memastikan keiancaran pemerintahan kota
ini . Di provinsi-provinsi, kepemilikan sebuah benteng, betapa-
pun kecilnya, yaitu penting bagi penguasa kecil dan pangeran
muda saat itu. Benteng menjadi tempat kediam4n mereka, tempat
mereka menyembunyikan kekayaan, benteng pertahanan mereka,
dan simbol kedaulatan mereka.
N0ruddin melakukan beberapa perbaikan pada dinding-din-
ding kota dan benteng-benteng, khususnya sesudah terjadi gempa
bumi pada ll57 dan 1170. Dia membangun kembali kubu-
kubu pertahanan Damaskus, Aleppo, Homs, Hama, Manbij, dan
Baalbek, sehingga kubu-kubu pertahanan itu mampu bertahan
menghadapi bentuk-bentuk serangan baru dalam pertempuran.r3o
Para pembuat bangunannya memperkenalkan berbagai perubahan,
termasuk menara-menara bulat di sudut-sudut tembok, dan gerbang
pertahanan (basyurah). Dia juga merenoyasi benteng-benteng di
beberapa kota Suriah-Damaskus, Aleppo, Hims dan Hama-
dan membentengi dua benteng berikutnya, Qal'at Najm dan Qal'at
Ja'bar, di Eufrat (foo 7.20J.22), dan benteng-benteng peftahanan
lain yang ditempatkan secara strategis.r3r Ada pertanyaan penting
yang muncul mengenai hal ini: apakah yang memotivasi aktivitas
pembangunan kubu-kubu pertahanan ini yang dibangun secara
tiba-tiba? Kecenderungan seperti ini sebelumnya tidak pernah
terlihat pada sejarah kubu pertahanan kaum muslim di kawasan
Mediterania timur sebelum dan sesudah Perang Salib. sebab itu,
kaum muslim kelihatannya menyadari bahwa mereka terperangkap
dalam suatu jenis persaingan senjata, dan aktivitas pembangunan
militer yang dba-tiba pada abad kedua belas merupakan reaksi
sangat kuat yang dipicu oleh pembangunan benteng-benteng
Tentara Salib yang cepat dan mengganggu. Hal ini mengubah
pemandangan di kawasan Mediterania timur selama-lamanya dan
terus menjadi pengingat yang jelas atas kehadiran Tentara Salib,
sekalipun saat mereka telah lama terusir. Yang ironis, sesudah
Perang Salib Pertama, saat tenaga dan moral Tentara Salib
sedang tinggi-tingginya, kaum Frank jarang menyerang kota-kota
daratan besar di pedalaman (kecuali penyerangan Damaskus Pada
Perang Salib Kedua). Pasukan mereka sangat terbatas. Penyerangan
besar-besaran yang terjadi pada abad kedua belas termasuk serang-
an lewat laut, dan pasukan mereka lumayan mencukuPi. Di saat
yang sama, kaum muslim melakukan perbaikan yang mahal, jug
perluasan kota-kota dan benteng-benteng di pedalaman. sesudah
Perang Salib Ketiga, kubu-kubu pertahanan kaum muslim terus
dibangun dengan cepat, sama banyaknya seperti sebelumnya-
atau bahkan lebih-untuk menahan serangan dari pasukan muslim
yang menjadi seteru, dan dari ancaman nyata atau bayangan
ancaman kelompok Ismailiyah, seperti dari Tentara Salib. Namun
Tentara Saliblah yang menjadi pemicu awal.
586 \ _______________
sesudah menaklukkan Yerusalem, Saladin mulai membentengi-
nya. Dia mengawasi sendiri kota ini . Bagian-bagian dinding
yang lengkap dibangun kembali dan diperkuat dengan menara-
menara. Saladin sendiri turun tangan dalam pembangunan itu.132
Al-'Umari mencatat bahwa pada 587 H.11191 M., Saladin be-
rangkat ke Yerusalem: "Dia mulai membangun kembali dan mem-
bentengi Yerusalem dan memerintahkan pasukan untuk mengangkut
batu. Sultan sendiri mengangkut batu dengan kudanya untuk
memberi contoh kepada pasukan."r3: Pada 588 H.llt92 M., Saladin
kembali ke Yerusalem: "Dia memerilsa kondisinya dan memerintah-
kan agar dinding-dinding kota itu diperkuat."t34 Dia khawatir
terhadap serangan kaum Frank berikutnya ke Yerusalem. Dan dia
memperkerjakan para tahanan kaum Frank untuk menggali parit
yang dalam dan membangun dinding dan menara.r35
Benteng-Benteng Unik Kaum Muslim Benteng Kairo
Benteng Kairo dibangun atas perintah Saladin sesudah secara resmi
dia menghancurkan kekhalifahan Fatimiyah (foto 7.9).'36 Seperti
halnya kebiasaan pendiri dinasti baru dan penegak Islam Sunni
di Mesir, Saladin tidak ingin tinggal di istana-istanayang dibangun
oleh khalifah Fatimiyah yang "sesat". Dia malah memiliir meng-
hancurkan bangunan-bangunan mereka dan membangun benteng
baru, baik sebagai pertahanan bagi kota itu serta sebagai kediarnan
bagi sultan,t" y^rg dilengkapi dengan akomodasi bagi elite militer
dan pasukannya.
Saladin mulai mengerjakan benteng ini pada 1176.
Tirjuannya yaitu membangun dinding-dinding pertahanan yang
akan mengelilingi al-Qahirah, ibu kota Fatimiyah, dan al-Fustat,
pusat ekonominya, di dalam sebuah dinding. Ibn Jubayr meng-
gambarkan pekerjaan pembangun^n yang berlangsung di benteng
di Kairo ini -pemotongan marmer dengan gergaji, Pemotong-
an batu-batu besar dan penggalian parit-parit-dan mengatakan
bahwa Saladin mempertimbangkan untuk memasukkan penduduk
ke dalamnya.l38 Penulis sejarah al-Nuwayri memberikan penjelasan
,88 \ _______________
-!
yang lengkap tentang pembangunan benteng tSrsebut dan termasuk
data-datanya. l3e
Sebuah inskripsi mengenai Bhb al-Mudarraj, yang bertanggal
579 H.l11B3-1184 M., banyak mengungkapkan tentang tujuan
pendirinya, yang "telah memerintahkan pembangunan benteng
yang mengagumkan ini, di dekat kota Kairo yang dilindungi
Allah, di atas bukit yang kokoh, yang (benteng itu) meng-
gabungkan kegunaan dan dekorasi, kenyamanan dan perisai".r40
Benteng ini dibangun di atas semenanjung setinggi 75
meter yang memanjang ke arah barat dari lereng Bukit Muqatram
menuju Nil, hampir di tengah-tengah antara al-Qahirah dan al-
Fustat. Saladin memilih sendiri tempat itu, terutama sebab
letaknya yang strategis.l4l Keamanan menjadi pertimbangan utama
bagi Saladin, begitu juga keinginan membangun sebuah bangunan
yang sesuai dengan reputasinya. Di dalam benteng itu juga
ada sebuah perpustakaan yang bagus, yang sebagian diwariskan
dari khalifah Fatimiyah dan diperbesar oleh penulis-penulis pen-
dukung Saladin sendiri.
Pekerjaan pembangunan kubu pertahanan yang dimulai oleh
Saladin itu diselesaikan oleh adiknya, al-Malik al-'Adil (1218-
1238). Saladin tblah membangun dua menara, namun al-'Adil
melengkapinya dengan menara-menara bulat yang lebih besar.
Aktivitas semacarn itu dengan jelas menunjukkan betapa penting-
nya memelihara dan memperbaiki peftahanan-pertahanan kota
secara teratur.l42 Dua sultan Mamluk, Baybars dan al-Nishir
Muhammad (w. 1341), menambahkan istana-istana dan bangunan-
bangunan lain. Benteng ini, yang disebut Benteng Gunung (Qal'at
aQabal) yaitu satu-satunya benteng kota di Mesir. Pada masanya
benteng itu menjadi pusat perhatian dan lambang kekuasaan
Aynrbiyah dan Mamluk.
Benteng Damaskus yaitu salah satu benteng paling baik dari
benteng-benteng besar Suriah dari periode Perang Salib yang masih
ada hingga kini.ra3 Benteng ini unik sebab letaknya di tempat
yang datar, sejajar dengan bagian kota lainnya, dan bukan di-
tempatkan di atas puncak bukit, seperti hampir seluruh benteng
militer Abad Pertengahan yang ada di Suriah. Informasi me-
ngenai benteng itu pada abad kedua belas tidak lengkap, namun
benteng itu punya peranan penting dalam kehidupan di kota itu
dan para penguasanya. Tirghtegin dan para keturunannya tinggal
di dalam benteng itu dan mungkin juga NCrruddin. Ada sebuah
inskripsi yang berasal dari zaman Saladin yang menceritakan tentang
perbaikan sebuah menara benteng ini pada 574 H.l117B-
ll79 M. Saladin sangat lekat dengan benteng itu. Maka, sekalipun
keinginannya untuk menaklukkan Yerusalem sangat membara, dia
dimakamkan di taman yangada di Benteng Damaskus.laa
Pada periode Ayyrbiyah benteng ini dikembangkan lebih
jauh sebagai tempat pertahanan yang terbaik. Benteng itu di-
bangun kembali secara besar-besaran pada masa penguasa Agmbiyah,
al-Malik al-'Adil, adik Saladin, yang punya alasan tepat untuk
lebih takut pada serangan dari keluarganya sendiri dibandingkan
serangan dari kaum Frank. Bangunan itu seluruhnya memiliki
sepuluh menara yang bisa menampung pasukan unruk melindungi
keamanan penguasa ini , dan sebagaimana dijelaskan oleh
Sauvaget, benteng Ayyubiyah "rancangannya sangat seragam".r45
Sejarah benteng itu bisa ditelusuri lewat inskripsi yang di-
milikinya. Dari inskripsi-inskripsi itu terlihat jelas bahwa pada
periode Mamluk benteng ini terus memainkan peranan
penting dalam pertahanan kota itu. Baybars, yang ketakutan
bangsa Mongol akan datang kembali, memperkuat benteng itu
dari kemungkinan serangan. Namanya diabadikan pada sebuah
inskripsi yang ada di menara utara. QaliwCrn juga melakukan
perbaikan pada benteng ini , dan delapan inskripsi men-
cantumkan namanya.146
Benteng Aleppo
Benteng Aleppo (dalam bahasa Arab dikenal sebagai al-Syahba',
yang artinya "berwarna abu-abu')ta7 yaitu contoh sangat baik
tentang arsitektur militer muslim pada masa Perang Salib (
7.14-7.17) dan menjadi pusat penelitian mendalam oleh ilmuwan
besar Prancis, Sauvaget.ras Benteng itu juga digambarkan dengan
sangat elegan oleh Rogers.rae Benteng itu berdiri di puncak bukit
yang sangat curam, yang berdiri di atas kota itu dari ketinggian
lima puluh meter, dan ditutup oleh dinding yang mengelilingi-
ny".'5'Benteng Aleppo berperan penting dalam kehidupan politik
dan militer abad kedua belas dan ketiga belas. Dinding benteng
itu dibangun kembali oleh Nirruddin sendiri, yang membangun
"istana emasnya" di sana.l5l Sebagaimana dikatakan Sauvaget,
benteng ini , yang jtga ada gudang senjata dan kekayaan
di dalamnya, kemudian memiliki fasilitas yang diperlukan untuk
memerintah dan menggelar perayaan-perayaan umum.152 Saat Ibn
Jubayr melewati Suriah, dia menceritakan pemandangan benteng
itu yang sangat luar biasa:
Bentengnya tekenal dengan keamanannya dan, terlihat dari
kejauhan sebab sangat tinggi, tidak ada benteng lain yang me-
nyerupai arau menyamainya... Benteng itu merupakan gundukan
yang sangar besar, seperti meja bulat yang keluar dari dalam tanah,
dengan sisi-sisi dari batu berukir dan dibangun dengan sangar
seimbang dan simetris. Terpujilah Dia yang membuat rancangan
dan susunannya, dan menciptakan bentuk dan kerangkany^.r5,
Sepeninggal Ntruddin benteng Aleppo sangar berkaitan dengan
keluarga Saladin. Adiknya, al-Malik al-'4dil, tinggal di sana selama
beberapa waktu. Pekerjaan kontruksi besar-besaran dilakukan oleh
keturunan Saladin, penguasa Ayyubiyah, al-Zhthir Ghizi, yang,
sekalipun N0ruddin telah memperbaharui benteng ini baru
40 tahun sebelumnya, merasa harus lebih menyesuaikannya dengan
kebutuhan istananya, serta memperbaiki pertahanannya. Sebagai
langkah pertahanan, al-Zhihir membangun jembatan raksasa, parit,
bukit dan bendungan.t5a N0ruddin membangun sebuah gerbang
tunggal baru, "barangkali yang paling mengagumkan dari semua
kubu pertahanan kaum muslim",r55 untuk menggantikan dua pintu
gerbang benteng yang lama, yang dilindungi oleh dua menara
pelindung yang kuat (gambar 7.60). Semua pihak yang akan
menyerang harus berhadapan dengan jalan melandai dengan ti-
kungan siku-siku yang jumlahnya tidak kurang dari lima, yang
masing-masing dilengkapi dengan celah-celah untuk menembakkan
anak panah. Untuk mengambil air bagi mereka yang ada di dalam
benteng ini digunakan suatu cara yang teliti: sebuah sumur
yang sangat dalam dibangun pada 1209 dan juga ada banyak
tangki air, sehingga membantu pada saat benteng iru dikepung.
Bagian atas benten1 iWa dilengkapi dengan lubangJubang anak
panah, y^ng cara penyusunannya berbeda dari lubang-lubang yang
berada di jembatan sehingga jangkauan anak panah yang di-
tembakkan dari situ dapat sangat jauh. Di dasar bukit digali
sebuah parit yang dilewati oleh sebuah jembatan, dan ditutup
dengan gerbang besi. Jalan melandai, yang Permukaannya ditutup
dengan dinding dari batu persegi, membentang dari parit ke dasar
kubu pertahanan, sehingga dipastikan tidak akan ada peluang
untuk menggali benteng ini atau memanjatnya. Benteng itu
memiliki dua jalan rahasia, "pintu rahasia" dan "pintu gunung",
sehingga memungkinkan untuk berkomunikasi dengan orang-orang
di luar kota itu.
Hal lain yang dilakukan al-Zhihir Ghizi bertujuan untuk
mengubah benteng itu menjadi kediaman rap. Dia membangun
lebih banyak istana, sebuah pemandian, dan sebuah taman dengan
pohon-pohon dan bunga-bunga di dalamnya. Dia membangun
"Rumah Keadilan' (Dnr al-Adt) dan menyatukannya dengan
benteng lewat sebuah jalan yang khusus bagi penguasa itu sendiri.
Dia membangun sebuah Masjid Agung yang juga berfungsi sebagai
tempat pemantauan. Di masjid inilah sultan melakukan ibadah
salat, dan bukan di masjid kota itu, yang biasa digunakan untuk
salat Jumat, yang tentu saja dimaksudkan demi keamanan. Ke-
nangan mengenai pangeran ini diabadikan lewat tiga pintu berlapis
besi bertatah paku yang disusun dalam bentuk kisi-kisi persegi
panjang, yang berisi motif-motif dan inskripsi-inskripsi yang
memuat namanya. Pada 1212, saat al-Zhihir GhXzi menikahi
D"t'" Khatum, gudang senjata dan istana terbakar. Dan salah
seorang penerusnya, al-Malik al-'Aziz, membangunnya kembali,
gudang senjata pada 1228, dan istana tiga tahun kemudian
(gambar 7.62 dan 7.63). Laporan yang diberikan oleh Sauvaget
tentang perluasan dan perubahan yang dilakukan pada Benteng
Aleppo berasal dari gambaran-gambaran lengkap yang diberikan
dua penulis saat itu, Ibn Syihnah dan Ibn Syadded, yang sangat
terkesan oleh keberhasilan penguasa Ayyubiyah ini. Benteng itu
di masa Ayyubiyah pasti menjadi pemandangan yang sangat
mengagumkan sebab benteng itu menjulang tinggi seperti patung
raksasa di atas kota ini , disertai inskripsi mengesankan tentang
pendiriannya yang dipahat dalam huruf-huruf tebal dan besar
dari batu basal di tengah-tengah lekukan batu kapur putih.t'6
Pada masa Mamluk benteng ini menjadi kediaman gubernur
dan pejabat-pejabat negara.
Sebagaimana diungkapkan dengan sangat menarik oleh
Sauvaget: "Rancangannya pasti merupakan kubu pertahanan yang
paling mengagumkan yang diwariskan kepada kita dari arsitektur
militer Abad Perterigahan."r5T Sekalipun begitu, karya besar teknik
militer kaum muslim ini tidaklah sepenuhnya cukup kuat sebagai
tempat bertahan. Penulis sejarah Qirtay al:Izzi al-Khaznadari (w.
734 H.11333 M.) menceritakan laporan kesaksian yang sangat
menarik tentang pengepungan Aleppo oleh penguasa Mongol
Hiilegti. beberapa lubang digali. Htilegti memerintahkan agar salah
satu lubang itu, yang mampu menampung 6.000 orang, diperbesar
agar menampung 10.000,158dan benteng ini akhirnya direbut,
sesudah dikepung hanya beberapa hari, pada 27 Januari 1260.t5e
Benteng Hims
Benteng Hims pada abad ketiga belas terlihat sangat mirip dengan
Benteng Aleppo, khususnya pada lereng di bawah benteng ini
yang diperkuat dengan susunan blok-blok batu. Dengan dibangun
di puncak sebuah bukit kuno yang terletak di tengah-tengah
kota-seperti Benteng Hama yang agak kurang terpelihara dengan
baik-benteng ini memiliki tanggul raksasa yang dibangun
oleh Baybars. Dinding-dinding benteng membentuk sebuah kubu
pertahanan tunggal yang menyambung seperti benteng di Kairo,
Damaskus, Aleppo, dan Hama. Sayangnya, monumen penting
ini diledakkan oleh Ibrahim Pasha pada 1830-an. Meski demikian,
banyak dinding-dinding sekelilingnya dengan inskripsi-inskripsi
bertanggal yang berasal dari sebelum tahun 1239 yang masih
tersisa (forc 7.18-7. 19).'60
Benteng-Benteng l{aum Muslim
Ajlil.n
Benteng kaum muslim ini dibangun pada 580 H./1184-1185
M. oleh 'lzzuddin Usimah, salah seorang panglima Saladin, di
atas puncak bukit di seberang benteng Tentara Salib Belvoir,
dengan menghadap ke arah Lembah Yordania (gambar 7.64).161
Benteng ini berbentuk persegi empat dengan empat menara persegi
di pojoknya. Johns, yang mempublikasikan tempat ini, menyim-
pulkan bahwa beberapa bentuk seperti yang biasa digunakan kaum
Frank yang ada di benteng itu merupakan akibat dari tradisi
setempat dan hal yang biasa terjadi.r62 Untuk memperkuat per-
tahanan benteng itu, yang disesuaikan dengan lereng tempat
benteng itu berdiri yang agak terlalu lunak, kaum muslim-
barangkali mengikuti contoh Benteng Sahyun milik kaum Frank-
memperdalam kanal batu yang mengelilinginya, sehingga menyisa-
kan sebuah tonggak batu besar bagi jembataan jungkat. Selain
itu, benteng ini terkenal sebab ukurannya yang kecil dan menara-
menara yang berjejalan di dalamnya.
Sekitar tiga puluh tahun kemudian, Aybak, sahabat dekat
sultan Ayyubiyah al-'Adil, memperbesar pertahanan luar Ajltn.
Menurut al-'LJmari, Ajlirn merupakan sebuah sambungan dari
jaringan menara dan stasiun pemberi kabar yang akan mengi-
rimkan tanda bahaya kepada sultan di Kairo.r63 Ajlirn berfungsi
sebagai gudang senjata dan menampung suplai makanan bagi
pereburan kembali Damietta.r6a
Qal'at Najm yang letaknya tepat di tepi kanan Sungai Eufrat di
dekat Manbij "yaitu benteng Arab luar biasa dari abad ketiga
belas".165 Sisa-sisa benteng itu cukup banyak, termasuk dengan
bagian-bagian yang dibangun kembali, yang menunjukkan teknik-
teknik pertahanan kaum muslim secara lebih jelas dibandingkan
dengan sisa reruntuhan dari benteng-benteng Damaskus, Kairo,
dan Aleppo (foto 7.20). Nfrruddin telah membangun kembali
benteng yang ada yang kemudian dibangun kembali oleh al-
Malik al-Zhbhir Ghizi dari 1208 hingga 1215. Benteng ini
berada di atas sungai dan dilapisi dengan susunan batu-batu yang
berfungsi sebagai tanggul yang efektif, ditambah dengan dua
menara yang membentengi pintu gerbang masuk.r66
Ibn Jubayr menggolongkan Qal'at Najm di Eufrat sebagai
benteng yang baru dibangun.r6T
Benteng ini, yang bagian bawahnya di bangun dari reruntuhan,
sementara bagian atasnya dari bata bakar, mengikuti pola standar
pertahanan Arab Suriah Abad Pertengahan, yaitu dibangun di
tempat tinggi (dalam hal ini bukit yang menghadap Sungai Eufrat)
yang dikelilingi dengan sebuah dinding pertahanan dan parit,
dan diperkuat oleh menara-menara, dengan sebuah pintu gerbang
masuk dan jalan melandai. Qal'at Ja'bar mulanya dibangun oleh
Banu Numayr, suku Arab setempat, dan kemudian diubah secara
besar-besaran-5s16lxh pengusiran Tentara Salib-oleh NCrruddin
dari 1168 dan selanjutnya (foto 7.211.22), dan di dalamnya
ada sebuah masjid dengan menara dan istana.168
Qal'at Subaybah
Benteng ini, yang berasal dari 1228-1230, berdiri di lereng selatan
Gunung Hermon (timur laut Banyas) dan merupakan benteng
Abad Pertengahan terbesar dan yang rerawar paling baik di
Palestina.r6e Benteng ini dibangun oleh salah seorang putra al-
'Adil,
"l-'Ariz
'lJtsmXn (w. 630 H.ll232 M.;tzo dengan sangar
tergesa-gesa menjelang Perang Salib yang dilancarkan Frederick
II.t7t Terletak di rute perdagangan utama antara Lembah Huleh
dan Damaskus, benteng itu dimaksudkan menjadi penghalang
bagi semua orang dari wilayah kaum Frank yang akan mendekati
kota ini .lT2
Q_al'at Subaybah dibangun dengan biaya murah dan cepat-
kubah benteng itu sederhana, hampir tidak ada ornamennya, dan
belum semua batu disusun dengan sempurna.l73 sesudah Frederick
II meninggalkan Tanah Suci, il.-'Aziz 'lJtsmXn berjuang keras
untuk menyelesaikan bentengnya itu. saat Baybars mengambil
alih benteng itu, dia memutuskan untuk memperkuatnya (dan
bukan menghancurkannya). Dia membangun enam menara baru
dan membuat perbaikan-perbaikan lain yang lebih modern.rT4
beberapa inskripsi mencatat benteng ini.
Thmbahan-Tambahan yang Dikkuhan IAum Muslim
pada Benteng-Bentmg Tentara Salib
Kemenangan dalam perang terkadang membuat kaum muslim
bisa menguasai benteng-benteng kaum Frank dan membuat tam-
bahan-tambahan penting pada benteng itu. Contohnya telah
disebutkan, seperti masjid, menara, istana dan tempat pemandian,
yang dibangun oleh kaum muslim di Sahyun antara 1188 dan
1290. Benteng kaum Frank di Bira sebagian besar dibangun
kembali oleh al-Zhihir GhAzi.176 Menara barat daya di Beaufort
menunjukkan perbedaan jenis ornamen yang berkaitan dengan
al-Malik al-'<Adil.l77 Di Karak, al-'Adil menambahkan menara besar
di bagian selatan.178 Bahkan, di Krak des Chevaliers, banyak hal
yang menunjukkan keterampilan bangsa Arab di benteng bagian
selatan,rTe sementara menara persegi di tengah-tengahnya berisi
panter milik Baybars dan sebuah inskripsi QaliwCrn yang ber-
tanggal 1285.180 Ismailiyah juga mengambil alih benteng-benteng
yang ada, baik yang didirikan oleh Bizantium, Fatimiyah, ataupun
bangsa Arab setempat.
Sebaliknya, tntara Salib sendiri kadang-kadang membangun
dan memperluas pertahanan kaum muslim yang ada, seperti di
Marqab.rsr Dan kaum muslim sendiri kadang-kadang mengadaptasi
bangunan-bangunan pra-Islam untuk kubu pertahanan mereka
sendiri. Al-Malik al-'Adil membuat tearer Roma di Busra sebagai
pusat bagi benteng kota itu, dengan menambahkan dinding-
dinding konsentris antara tahun 1202 dan 1218.182
Benteng Hasyasyin
Benteng Hasyasyin yaitu perkecualian khusus bagi keinginan kuat
kaum muslim yang umumnya mencoba melindungi dan mem-
bentengi diri mereka di dalam kota-kota berdinding daripada di
kubu-kubu pertahanan dan benteng-benteng terisolasi. tmpat
benteng ini khusus dipilih sebab lokasinya yang terpencil dan
posisinya yang terlindung. Kelompok Ismailiyah yang sangat
ditakuti ini terkenal dengan pertahananny^ yeng tidak tertembus
dan terlindung di Iran pada awal 1100-an.r83 Mereka juga mem-
peroleh dan membangun rangkaian benteng di Suriah pada periode
Perang Salib,rsa di sana mereka memakai cara yang sama,
dengan memilih kawasan pegunungan yang tidak bisa dimasuki.
Benteng-benteng Suriah ini dicatat banyak penulis sejarah muslim,
termasuk Ibn Muyassar.r85 Dia menceritakan bahwa pada saat
kematian pemimpin Hasyasyin pertama, Hasan-i ShabbAh, pada
518 H./11.24M., kelompok ini-yang, menurut Muyassar, disebut
Hasyisyiyyah ("penyantap hasyisy'') di Suriah-telah merebut
banyak benteng pegunungan di Suriah, biasanya dengan tipu
muslihat dan sogokan , yen1 delapan di antaranya berhasil mereka
pertahankan sampai Baybars merebutnya pada 1270-1273.186
Mereka dengan hati-hati memilih kawasan di mana mereka bisa
mengajak para penduduk setempat yang bisa menerima bentuk
Islam Ismailiyah.
Benteng Hasyasyin Suriah yang paling terkenal kemungkinan
yaitu Mr"l,"[ yang memiliki dinding pertahanan konsentris ganda
(gambar 7.66 dm 7.67).Benteng itu dengan hati-hati diposisikan
ke barat Hama di Jabal Anshariyyah, tempat di mana jalan
ini berbelok ke utara menuju Lembah Orontes.
Al-Dimisyqi menggambarkan Masyaf sebagai "pusat benteng
perbatasan yang dibangun Hasyasyin untuk menyebarkan misi
mereka (da raah) dan untuk menampung para utusan 'untuk
membunuh para raja dan bangsawan'D.!87 Boase membantahnya
(dan benteng-benteng Hrrl.*nt lainnya di Suriah) sebagai benteng
yang "dibangun dengan kasar, umumnya di fondasi sebelumnya"
dan memiliki "sedikit minat arsitektur".rs8 Yang paling mencolok
dari benteng-benteng Hasyasyin ini yaitu lokasinya yang sangat
khusus.r8e Seperti halnya Tentara Salib, Ismailiyah juga merupakan
kelompok minoritas yang diperangi di kawxan Mediterania timur.
Dan seperti juga Tentara Salib, mereka berusaha mengatasi ke-
lemahan mereka, yaitu jumlah mereka yang sedikit, dengan mem-
bangun benteng-benteng di tempat-tempat strategis, benteng-
benteng yang sering kali saling berdiri sendiri dan saling terlihat.
Tidak seperti benteng-benteng Tentara Salib, benteng-benteng
Ismailiyah menampung seluruh komunitas di dalam perlindungan
dinding-dinding mereka. Namun, benteng ini tidak memiliki
pasukan pengganti yang disiplin dan terlatih yang siap untuk
bertindak dengan cepat. Perbedaan Penting lainnya yaitu bila
benteng-benteng Tentara Salib jelas berfungsi untuk menyerang-
misalnya Karak-benteng-benteng Ismailiyah pada dasarnya di-
anggap untuk tempat pertahanan.reo
Persamaan Arsitehrur l{aum Muslim dan Tentara Salib
Barangkali tidaklah mengejutkan, mengingat adarlya saling kedekat-
an dan kadang-kadang memakai pekerja yang sama, bila
ada banyak kesamaan yang kadang-kadang bisa mempersulit
jika berpatokan pada model untuk membedakan benteng Tentara
Salib dari benteng kaum muslim-msnxla-menara besar, balkon
menjorok di bagian atas benreng yang rancangannya hampir
identik di Krak des Chevaliers, Aleppo dan Damaskus, dan
bentuk-bentuk arsitektur lainnya, seperti kubah-kubah dan leng-
kungan-lengkungan yang lancip. J.rg" sangar sulit menentukan
siapa memengaruhi siapa.rer Namun mungkin kaum Frank me-
rupakan pihak yang dominan di sini, bukan saja sebab mereka
tiba di kawasan Mediterania timur dengan memiliki teknologi
-'
tarsitektur militer yang nyat^-nyata lebih unggul, namun juga sebab
situasi mereka yang terancam di wilayah musuh membuat mereka
lebih berdaya cipta. Apalagi ada kemungkinan kaum Frank telah
mengadopsi teknik-teknik tertentu sesudah mereka melihat struktur-
struktur pertahanan Islam dan Bizantium.re2 Meski demikian,
sampai sejauh mana ini terjadi masih menjadi masalah dalam
perdebatan ilmiah yang terus berlangsung.
Ihrya Tbrhini tentang Benteng-Benteng l{aum Muslim
Beberapa dekade terakhir telah terjadi peningkatan luar biasa dalam
penyelidikan dan penggalian benteng-benteng kaum muslim Abad
Pertengahan di kawasan Mediterania timur. Meski beberapa dari
bangunan ini telah menarik publikasi sangar luas, seperti benteng
Aynrbiyah, Qal'at al-Tirr, yang digali di Gunung tbor,re3 dan
benten g Damaskus-khususnya menara-menara Aynrbiy ah,t ea y ang
modul dan unit pengukurannya menunjukkan karya ahli-ahli
bangunan Armeniares-mayoritas bangunan-bangunan ini harus
diteliti dengan terencana.re6 lJrut-urutannya dimulai dari benteng-
benteng pertahanan kecil di pesisir yang dibangun pada masa
Abbasiyah, seperti Kefor Lam, Ashdod Yam dan menara di
Mikhmoret. Benteng-benteng ini kemungkinan melengkapi sejum-
lah kubu pertahanan utama seperti di pelabuhan-pelabuhan se-
macam Kaisarea, Acre, Jaffa, Ascalon, dan Gaza. Di antara kubu-
kubu pertahanan di pedalamaan yang muncul sebelum Perang
Salib, Baysan dengan dinding-dindingnya yang rapuh dan gerbang
tunggal jelas-jelas bukan dibangun untuk menahan serangan yang
berlangsung terus menerus. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa
telah terjadi kesalahan. Beberapa benteng dikaitkan kepada Tentara
Salib, seperti Qaqun (terutama Mamluk), Jazirat Fir'aun di Teluk
Aqabah dan Banyas di utara Danau Hula (keduanya bangunan
Aynrbiyah dengan beberapa penambahan dari masa Mamluk),
Qal'at Safuriyah dan Afula (keduanya di Galilee). Benteng muslim
Abul Hasan di dekat Sidon bertanggal awal tahun 1128. Bentuk
benteng ini memiliki kesamaan dengan Benteng Qashr Zuwayrah
di ujung selatan Laut Mati. Qal'at ibn Ma'an atau Qal'at Shalah
al-Din di Galilee, sebuah benteng yang sangat terlindung yang
terletak di sebuah tebing yang curam dan tinggi dengan banyak
gua di belakangnya, memakai bangunan batu dengan dua
g ya yang berasal dari era Mamluk. Benteng-benteng muslim
lainnya yang membelah batuan yaitu benteng al-Vu ayrah di
Petra, yang direbut Tentara Salib pada 1107. Benteng al-Habis,
benteng lainnya di Petra yang membelah batuan, mungkin juga
milik kaum muslim. Benteng-benteng berikumya yang kemungkin-
an dari masa Mamluk termasuk benteng JizalZiza dan Qashr
Syabib di Zirka, keduanya di Yordania. Lebanon juga memiliki
benteng-benteng membelah batuan yang punya bukti-bukti kuat
untuk dianggap sebagai benteng kaum muslim, seperti Magharat
Fakhruddin dan Qal'at al-Dubba. Bangunan yang berkaitan yaitu
Khirbat al-Sila di dekat Tafila di Yordania. Sudah tiba saatnya
semua bangunan ini diteliti secara tertata dan mendalam. []
Pada masa lalu, para ahli sejarah militer membahas jumlah dan
kekuatan pasukan Fatimiyah yang sangat besar.2 Secara khusus,
Smail menyatakan bahwa kegagalan Fatimiyah pada awal periode
Perang Salib yaitu sebab pasukan mereka ketinggalan zaman.
"Kelompok pemanah pejalan kaki mereka, dan pasukan berkuda
yang menunggu serangan' menjadi sasaran empuk senjata kaum
Frank yang sangal [sx1-"5srangan ksatria-ksatria berbaju besi
dan berkuda".3 Smail mengatakan, pemanah-pemanah berkuda
pasukan Tirrki merupakan musuh yang jauh lebih berbahaya bagi
Tentara Salib. Namun, penelitian yang paling baru telah mengubah
pandangan ini. Brett dengan tegas mengatakan bahwa kavaleri
Badui Arab kemungkinan telah memainkan peran yang lebih
penting dalam pasukan Fatimiyah daripada yang diperkirakan
sebelumnya.a
Lev menyerang pandangan agak sederhana yang menyatakan
bahwa pasukan Fatimiyah terdiri dari para prajurit berkualitas
rendah yang jumlahnya sangat besar. Sekalipun sering diduga
bahwa pasukan kaum Frank memiliki persenjataan yang jauh lebih
lengkap dibandingkan prajurit-prajurit muslim, Bretr menegaskan
bahwa pada akhir abad kesepuluh kavaleri Fatimiyah mengenakan
baju baja dalam pertempuran.5 sebab itu, persenjaraan mereka
sama lengkapnya dengan kaum Frank. Juga harus diingat bahwa
efektivitas kavaleri kaum Frank bukan hanya terletak pada jumlah
lapisan baja yang dikenakan oleh kuda dan penunggangnya, terapi
juga pada kekuatan dan ukuran (tidak termasuk kecepatan) kuda-
kuda kaum Frank. Sedangkan mengenai infantri Fatimiyah, mereka
terdiri dari pasukan yang bersenjatakan tombak, gada, lembing
dan panah.6 Singkatnya, pasukan ini juga yaitu pasukan tempur
yang sangat lengkap.
Susunan pasukan Fatimiyah di medan pertempuran telah
ditentukan dengan jelas, dan masing-masing unit memiliki tang-
gung jawab untuk disiplin dengan takrik yang telah ditetapkan.
Seperti dikatakan oleh Lev, pasukan infantri ini diatur dalam
susunan yang sangat rapat. Infantri yang bersenjatakan tombak
Iengkap berada di barisan depan, dan didukung pasukan panah
di belakangnya.T Kavaleri memiliki beragam tugas-menyerang,
mengintai, menyerbu, mengejar, dan tugas lainnya. Lev juga
menekankan bahwa Fatimiyah memiliki keahlian menyerang tingkat
tinggi. Atas dasar semua ini, mengapa Fatimiyah mengalami
kekalahan besar melawan Tentara Salib? Kegagalan pasukan Fatimiyah
di Palestina lebih sebab masalah kepemimpinan dan keuangan,
bukannya kelemahan militer dalam pasukan ini .8 Yang juga
tidak boleh dilupakan yaitu bahwa Fatimiyah menghadapi musuh
yang belum pernah dihadapi sebelumnya dalam peperangan di
kawasan Mediterania timur, musuh yang terbiasa memakai
gaya pertempuran yang tidak siap dihadapi oleh Fatimiyah dan
didorong oleh keyakinan agama militan yang membangkitkan
moral seluruh Tentara Salib.
Peranan Pasuhan Berhuda TLrhi
Patut diingat bahwa yaitu Asia Tengah-titik awal invasi Turki
ke dunia Islam-yang menjadi sumber bagi kuda-kuda "sempurna"
dan "sangat kuat" sangat dihormati di Cina, dari abad kedua SM
dan seterusnya.e Seperti dikatakan oleh al-Jahiz (w. 255 H./868-
869 M.) jauh sebelum kedatangan kaum Frank, bangsa Tirrki
telah terbiasa berperang dari atas punggung kuda. namun , invasi
bangsa nomaden itu pada abad kesebelas yang telah mengantarkan
pemanah-pemanah berkuda bangsa Tirrki meraih ketenaran dan
keberhasilan mereka yang mengagumkan itu, seperti dikatakan
oleh Boudot-Lamotte, disebabkan oleh "kesatuan kuda dan panah".ro
Mobilitas mereka yang luar biasa sangat berbeda dengan ksatria-
ksatria Eropa barat yang berbaju baja dan bersenjata berat.
Bangsa Tirrki terkenal dengan cara mereka menembak yang
disebut "gaya Skitia", atau disebut juga "gaya Partia" (gambar
8.3)," yang berasal dari zaman kuno. Mereka datang menyerang
dengan sangat cepat ke arah musuh dan secara tiba-tiba berbalik
dan mundur sambil menembak. Menurut al-TharsCrsi, orang-orang
Tirrki "seluruhnya menarik anak panah hingga tangannya mencapai
dada mereka".t2 Thktik seperti ini ideal untuk membingungkan
kavaleri kaum Frank. Hal terakhir yang siap dilakukan orang-
orang Ttrrki yaitu "berdiri dan bertempur". Yang penting untuk
dicatat yaitu pasukan berkuda Tirrki seperti ini sangat penting
di dalam pasukan N0ruddin, Saladin, dan penerus-penerus mereka.
Reputasi kaum Tirrki nomaden dan pasukan TLrki lainnya
sebagai pemanah berkuda telah menjadi legenda. Selama berabad-
abad, bangsa Tirrki dalam lingkungan mereka yang nomaden telah
belajar kecepatan dan mobilitas dengan menunggang kuda. Ini
telah menjadi karakteristik perang bangsa Turki, bahkan sebelum
adanya sanggurdi.r3 Mereka akan muncul dan menghilang, me-
nyerang, mengganggu musuh-musuh mereka, memilih sendiri
waktu dan lokasi pertempuran, dan kemudian menjauh bila musuh
telah siap untuk bereaksi. Menurut al-Jahiz dalam tulisannya yang
terkenal tentang keunggulan-keunggulan bangsa Turki, kemampuan
mereka memakai busur dan panah sangar luar biasa:
Bila ribuan pasukan berkuda Tirrki menyerang dan melepaskan
ribuan anak panah bersamaan, mereka akan mengalahkan ribuan
orang; dan tidak ada pasukan lain yang bisa menyerang sedemikian
baiknya ... Anak-anak panah mereka akan menghujam ke sasaran
sama banyaknya saat mereka mundur dan saat mereka maju.ra
Bahkan saat akurasi tembakan busur mereka berkurang,
mereka masih bisa menembak dan melukai kuda-kuda dari jarak
jauh.
yaitu keliru bila menganggap bangsa Tirrki hanyalah pe-
manah berkuda. Dalam konteks pertempuran sengit, dan bukan
melakukan gangguan pada iring-iringan musuh, kaum Tirrki no-
maden bisa dan akan terlibat dalam pertempuran jarak dekat
dengan tombak atau pedang, sesudah menggantungkan busur
mereka di bahu sehingga meringankan beban mereka. Sekalipun
bangsa Tirrki memelihara berbagai jenis hewan selain kuda, narnun
hanya kuda yang mereka gunakan dalam penyerangan dan per-
tempuran militer lainnya. Sumber itu menyebutkan bahwa kaum
Tirrki nomaden sering memiliki beberapa ekor kuda-bukan hanya
seekor. Dengan demikian, mereka bisa terus melakukan gangguan
dalam suatu serangan dengan berpindah ke kuda-kuda lainnya
bila dibutuhkan.
Pernyataan al-Jahiz itu, sekalipun dibuat pada abad kesembilan
dengan secara khusus menyebutkan pasukan Tirrki yang digunakan
oleh khalifah-khalifah Abbasiyah sebagai pengawal dan pasukan
elite mereka, |uga berlaku bagi pasukan Tirrki abad kedua belas,
baik di lingkungan mereka yang nomaden maupun sebagai prajurit-
prajurit budak penguasa muslim Abad Pertengahan. Al-Jahiz segera
mengatakan keahlian menunggang kuda yang dimiliki bangsa
Turki, daya tahan mereka dan tekad mereka yang kuat dalam
menghadapi kesulitan:
Kesabarannya untuk terus berada di sadel dan bergerak tiada
henti dan melakukan perjalanan semalam penuh dan menyeberangi
sebuah negara yaitu luar biasa ... dan seandainya pada akhir
hidup seorang T"rki dihitung harinya, akan terlihat bahwa selama
hidupnya dia lebih banyak duduk di atas kuda daripada di tanah.rs
Pasukan Tirrki punya kemampuan besar untuk menghancurkan
musuh mereka dengan cara mengelompok, mengelompok kembali
dan kembali berkali-kali ke pertempuran. Berbeda dengan susunan
musuh mereka yang cenderung lebih formal, seperti pasukan
penguasa muslim yang mapan, pasukan Tirrki tidak diatur menjadi
tiga divisi utama, sisi kiri dan kanan dan tengah. Sebaliknya,
mereka tersusun dalam kelompok-kelompok kecil yang berusaha
mengepung musuh. Meskipun kelompok-kelompok ini terpisah,
mereka bisa saling memperkuat bila diperlukan dan melancarkan
tekanan tiada henti pada musuh.
Sesuai dengan gaya hidup mereka yang telah berlangsung
lama, pasukan Tirrki berperang untuk barang rampasan, dan ini
sering dikritik oleh para penulis Abad Pertengahan yang memiliki
latar belakang kehidupan menetap:
Pasukan Tirrki tidak berperang untuk agama, interpretasi Kitab
Injil, kedaulatan, pajak, patriotisme ataupun kemarahan ... bukan
juga untuk mempertahankan negara maupun kekayaan, namun hanya
demi barang rampasan.r6
Al-Thars0si memberikan sedikit pandangan tentang taktik
pemanah-pemanah berkuda muslim Abad Pertengahan di dalam
pasukan Saladin. Bila posisi musuh sangat jauh namun dalam
jarak tembak anak panah, al-Tharsfisi menganjurkan para pemanah
untuk menyebar dan menembak mereka secara terpisah. Dia
memerintahkan para pemanah berkumpul bila musuh datang
mendekat. Bila musuh telah turun dari kudanya, al-Tharsfisi
memerintahkan untuk seBera menempatkan diri mereka sedemikian
rupa sehingga musuh berada di antara air dan tanah rawa. Bila
ini tidak memungkinkan, dia menyimpulkan: "Percepatlah dirimu
dari mereka, dengan menembak hewan tunggangan mereka, dan
tembak lagi dan lagi, sebab akan membuat mereka kalah."r7
Pada pertempuran Balith pada 513 H./1119 M., efek hujan
anak panah yang dilancarkan oleh orang-orang Tirrki digambarkan
dengan jelas oleh penulis sejarah Aleppo, Ibn al-Adim. Dengan
mengingat bahwa semua bangsa Tirrki menyerang secara bersamaan
dari segala arah, dia mengatakan: "Anak-anak panah ini mirip
serangga sebab sangat banyaknya anak-anak panah yang mengenai
kuda dan prajurit ... "r8
Dalam penjelasannya tentang pertempuran Balith, Ibn al-
Qalinisi juga menegaskan peran penting para pemanah untuk
mencapai kemenangan ini: "Mereka [para saksi mata] melihat
beberapa kuda ini tergeletak di tanah seperti landak sebab
sangat banyaknya anak panah yang menembus tubuh kuda-kuda
ini . " le
Faktor utama kekuatan militer Tirrki terletak pada kuda-kuda
mereka. Selama berabad-abad, mereka sangat terkenal dalam
kekhalifahan dan pasukan muslim lainnya, sebab kemampuan
mereka memanah sambil berada di atas punggung kuda. Namun
peranan kuda-kuda mereka itu cenderung tidak jelas. Ikatan antara
penunggang dan kudanya pasri sangar kuat, namun kita tidak
mengetahui, misalnya, bagaimana bangsa Tirrki nomaden merawat
kuda-kuda mereka atau bagaimana mereka mengerahkannya dalam
penyerangan dan pertempuran. Kuda-kuda yang lamban dan
gemuk digunakan untuk mengangkut senjata dan perbekalan. Saat
tiba di dekat medan tempur, kuda-kuda ini akan diserang dan
kuda-kuda yang lebih ringan dan cepat akan digunakan untuk
pertempuran di medan yang sesungguhnya.
Menghindari Pertempuran dan Mengunakan Muslihat
Manual-manual militer kaum muslim banyak memuat penjelasan
tentang strategi perang, sekalipun instrulai yang diberikannya agak
tidak spesifik dan tidak jelas.
Sumber-sumber itu sangat menekankan pentingnya meme-
lihara pasukan dan memakai strategi untuk menghindari
pertempuran. Al-AnshAri mengatakan dengan tidak jelas: "Ke-
menangan yang diperoleh lewat keunggulan strategi dan gaya
sederhana, dengan upaya menyelamatkan diri dan agar pasukan
tak berkurang tanpa mengeluarkan tenaga, yaitu yang terbaik."2o
Pertempuran melawan musuh benar-benar merupakan uparya yang
terakhir, yang hanya dilakukan bila strategi lainnya gagal. Se-
bagaimana diungkapkan oleh al-Anshiri:
Secara umum, orang yang mencoba bertempur melawan musuh
tidak boleh maju melibatkan dirinya, namun harus menerima ke-
selamatan dan perdamaian selama keselamatan dan perdamaian itu
dianugerahkan kepada orang ... Orang tidak mencari kemenangan
dengan melibatkan dirinya begitu lama sebab kemenangan bisa
diraih lewat strategi.2r
Dalam karyanya yang termasuk dalam genre "Literatur Istana",
Y0suf KhAshsh Haiib juga menyatakan pentingnya memakai
tipu muslihat dan kecerdikan yang "bisa membuat musuh ke-
takutan".22
Bukti-bukti dalam berbagai tulisan sejarah muslim menegaskan
bahwa nasihat teladan di dalam manual-manual militer dipraktik-
kan oleh para penguasa dan panglima. Al-Maqrizi mengatakan
dalam obituarinya tentang sultan Ayyrrbiyah, al-'Adil (w. 615 H.l
1218 M.), adik Saladin: "Al-'Adil berpendapat bahwa melawan
musuh secara terbuka itu tindakan yang tidak bijaksana. Dia
lebih suka membuat strategi untuk memakai tiPu muslihat
dan kecerdikan."2s
Arti Pening Kepernimpinan yang Baih
Nasib jenderal suatu pasukan yaitu sangat penting bagi hasil
akhir pertempuran. Bila sang jenderal tewas, moral seluruh pasu-
kan akan terpengaruh. Inilah yang terjadi dalam Pertempuran
Marj al-suffar pada 520 H.ll127 M. saat Tirghtegin jatuh dari
kudanya dan, sebab mengira dia telah tewas, pasukannya me-
larikan diri.2a
Peristiwa itu menielaskan mengaPa manual-manual militer
kaum muslim menekankan betapa Pentingnya kepemimpinan yang
baik dalam pasukan. Al-Anshiri, misalnya, menulis:
Jenderal suatu pasukan harus benar-benar cerdik, berhati kuat,
sangat berani, sangat awas, sangat hati-hati, sangat tegas; cePat
mengerti peraturan PeranB ... awas dari tipu muslihat ... paham
tentang pengaturan pasukan &n pengelolaan pasukan ... pintar
memelihara moral prajuritnya; segan melakukan pertempuran dan
mengupayakan tipu muslihat bila saja memungkinkan ...'5
Arti penting kepemimpinan yang karismatik juga ditekankan
oleh para penulis sejarah. Kehadiran Saladin bisa tiba-tiba meng-
hasilkan kemenangan meski pasukan muslim telah berada di
ambang kekalahan. Seperti dicatat oleh Ibn Syaddid:
Pada hari pertempuran besar di wilayah Acre, pusat pasukan
muslim berantakan, genderang dan bendera jatuh ke tanah, namun
dia tetap tegak bersama beberapa pasukannya sampai dia berhasil
menarik mundur seluruh pasukannya ke bukit dan selanjutnya
membawa mereka kembali ke medan tempur, sehingga membuat
mereha malu untuk kabur dan kemudian bertempur.26
Akhirnya Allah memberikan kemenangan kepada umat Islam.27
Tanpa perlu diperdebatkan lagi, dalam sumber-sumber itu,
Baybars tampil sebagai seorang jenderal hebat, yang menjulang
melebihi Nfrruddin dan Saladin dalam melakukan praktik perang.
Baybars memerintah wilayahnya dengan tangan besi dan me-
ngontrol pasukannya dengan ketegasan dan disiplin yang sama
kerasnya. Menurut Ibn Syaddid, Baybars melarang semua per-
temuan, semua orang diawasi oleh mata-mata. Bahkan di rumah,
orang-orang takut bila dinding punya telinga. Mereka yang me-
langgar larangan-larangannya akan digantung, ditenggelamkan,
disalib, dipenjara, dibuang, dan dibuat buta atas p







