Kamis, 16 Juli 2026

Perang salib 15


 r tentang cara memerintah, dan karya-karya ini sering

kali berisi bab-bab mengenai masalah militer. Sekali lagi, yaitu 

bijaksana untuk mengingat kembali bahwa kerya-karya ini lebih

mencerminkan model daripada praktik yang sebenarnya, dan lebih

538 \ _______________

sebagai nasihat daripada informasi. Karya-karya itu juga memiliki

akar pada periode pra-Islam, khususnya pada masa Sasania di lran.

Siyasatnama karya Nizhim al-Mulk2r

Nizhim al-Mulk (w. 485 H.ll092 M.) menulis karya ini untuk

sultan Saljuk, Maliksyah. Di dalamnya ada  bab-bab mengenai

mata-mata, kurir, komposisi etnik dalam pasukan, sandera, per-

siapan senjata, dan peralatan untuk berperang.

Wisdom of Royal Glory karya Yfrsuf KhAshsh Hajib

Ditulis pada 1069 di Kashgar Asia Tengah di bawah Dinasti

Karakhany oleh Yusuf Khass Hijib, 'Wisdom of Royal Ghry (Ke-

bijaksanaan dari Kemegahan yang Agung) yaitu  monumen literatur

Islam tertua yang masih ada dalam bahasa Turki. Karya ini

termasuk genre "Literatur Istana" dan mengajarkan cara me-

merintah kepada para penguasa. Terlepas dari bahasa yang di-

gunakan, karya ini, sekalipun asalnya sangat jauh, sangat mirip

dengan karya-karya sejenis lainnya yang ditulis dalam bahasa fuab

atau Persia. Kedua contoh "Literatur Istand' ini telah dipilih

sebagai bahan sumber yang berguna untuk bab ini sebab  kedua-

nya membahas tentang pasukan Saljuk (yang tidak hanya ber-

operasi di Iran, namun  juga di Irak dan Suriah) dan tradisi militer

Tirrki (dan tentu saja bangsa Tirrki menyediakan sumber daya

manusia yang sangat banyak bagi pasukan muslim di kawasan

Mediterania timur).24

KOMPOSISI PASUKAN MUSLIM PADA MASA PEMNG SALIB

Pendahuluan

Komposisi sebagian besar pasukan muslim Abad Pertengahan

terdiri dari berbagai kelompok--dan ini telah berlangsung lama-

yang di dalamnya termasuk gabungan dari ksatria suku, wajib

militer, sukarelawan tak tetap, serta prajurit bayaran profesional

yang biasanya yaitu  para budak. Dari pertengahan abad ke-

sembilan, para penguasa muslim cenderung semakin mengandalkan

jasa para prajurit profesional daripada kontingen-kontingen suku,

Badui, Berber atau kaum Tirrki nomaden, sebab  bila memanfaat-


kan kelompok yang kedua ini, sering kali keterlibatan mereka ini

dapat mengantarkan mereka menuju ke kekuasaan, dan kemudian

mereka segera ingin menjauh dari tugas-tugas keprajuritan mereka.

Para prajurit profesional ini tidak berasal dari satu wilayah atau

kelompok etnik dlan berasal dari budak-budak militer (mamlilh).

Pasukan-pasukan budak seperri ini dibeli di pasar-pasar Asia

Tengah, atau berasal dari tawanan perang, atau sebagai hadiah

dari raja-ri1a lain. Mereka itu berasal dari luar dunia muslim

(Dnr al-Harb). Mereka dibawa ke istana ruan-tuan mereka yang

baru, menempati barak-barak di sekitarnya, dan diberi latihan

militer plus ajaran agama Islam. Para penguasa yakin bahwa

pasukan semacarn ini, ranpa bias kesukuan atau afiliasi sebelumnya

dalam dunia Islam, akan memberikan kesetiaan total kepada ruan-

tuan mereka. lGatria-ksatria Tirrki sangat terkenal sebagai pemanah

berkuda dan merupakan bagian penring bagi kelompok-kelompok

pasukan profesional yang digunakan oleh Dinasti Abbasiyah dari

abad kesembilan dan seterusnya.25

Smail dengan tepat menekankan pada berbagai macam karakter

pasukan muslim ini  yang disatukan untuk melakukan operasi-

operasi militer berskala besar, dan ini dengan jelas diungkapkan

dalam tulisan-tulisan sejarah Islam. Seorang sulran atau panglima

akan memanggil para gubenur wilayah bersama dengan kontingen

mereka dan pasukan asing lainnya, termasuk pasukan milisi urban

dan kaum Tirrki nomaden serta kontingen-konringen suku Kurdi.26

Untuk pertempuran yang lebih kecil, biasanya cukup memakai 

pasukan rctap ('ashar). Sebelum munculnya panglima-panglima

militer besar di abad kedua belas-Zengi, Niuuddin, dan Saladin-

pasukan muslim tidak memiliki pola kepemimpinan yang efektif

untuk melawan kaum Frank. Mereka mudah terpecah dan ber-

selisih. Mereka tidak memiliki ketahanan dan saling bertengkar

memperebutkan hasil rampasan perang. Contoh yang terkenal

yaitu  kelakuan Il-Ghizi, penguasa Artuqid dari Mardin (dan

Aleppo, dalam waktu yang singkat), yang merayakan kemenangan-

nya atas Roger dari Antiokhia di Balith prda 513 H./1119 M.

dengan mengadakan lomba minum secara berlebihan.2T Bukannya

melanjutkan kemenangannya dengan segera menyerang Antiokhia,

Il-GhAzi malah mengizinkan pasukannya untuk bubar dengan

membawa hasil rampasan perang.28


Warisan Turhi: Pasuhan Saljuk

Meski telah jelas, sebagaimana yang telah kita lihat di bab dua,

bahwa sultan-sultan Saljuk di dunia Islam Timur sangat kecil

upayanya dalam memerangi kaum Frank, pengaruh kekaisaran

Saljuk dan Tirrki secara umum pada warisan militer kawasan

Mediterania timur pada abad kedua belas dan ketiga belas sangat

kuat. Nfrruddin dan Saladin memiliki tradisi militer yang kuat

yang berasal dari dunia Islam Timur.

Peranan Kaum Turhi Nomaden

Sejak serangan mereka ke dalam dunia Islam pada paruh pertama

abad kesebelas, kaum Tirrki nomaden telah terbukti sebagai ke-

lompok yang tidak hati-hati dan tak dapat ditebak. Mereka yaitu 

kenyataan yang tak tertolak. Mereka tidak bisa diusir dan, semen-

tara waktu terus berlalu, mereka terus bergerak masuk dan me-

lintasi dunia Islam dari perbatasan sebelah timur ke wilayah-

wilayah paling barat di daerah Asia Kecil. Mereka semakin jelas

terlihat berada di dunia Islam untuk selama-lamanya. Hubungan

mereka dengan sultan-sultan dan panglima-panglima militer Saljuk

cukup rumit dan sering kali sangat buruk. Dalam konteks Perang

Salib mereka sering kali menjadi unsur pefiting dalam mesin

militer kaum muslim.


Di Iran, pada abad kesebelas, kaum Tirrki nomaden telah

membuka jalan bagi dikuasainya wilayah Islam di Timur melalui

para penguasa Saljuk, yang memang berasal dari kelompok mereka.

Namun, tak lama kemudian timbul perpecahan di antara kaum

Tirrki nomaden-yang terus mempertahankan tradisi hidup mereka

yang nomaden--dan para penguasa mereka dari Saljuk, yang

mencoba menganut konsep kekuasaan dan pemerintahan yang

asing bagi tradisi padang rumput. Kehadiran kelompok-kelompok

besar yang sedikit terislamisasi dan bahkan suku-suku pengembara

perampok sering kali menjadi ancaman bagi keamanan kota dan

wilayah pinggiran, dan sultan-sultan Saljuk mendukung kaum

Turki nomaden untuk bergerak ke arah perbatasan wilayah Saljuk,

ke arah Kaukasus dan fuia Kecil dan menjauh dari pusat-pusat

kekuasaan Saljuk di lran. Di sana, di perbatasan dunia Islam,

mereka menjadi, menurut sumber-sumber muslim, pejuang-pejuang

iman (ghlzA. Di dalam sumber-sumber ini  mereka sering

kali disebutkan sering diminta untuk menyediakan pasukan bila

kaum muslim bermaksud untuk melakukan serangan bersama

terhadap kaum Frank.

Di dalam sumber-sumber Islam, aktivitas kaum Tirrki no-

maden biasanya digambarkan sebagai jihad. Namun, sebutan yang

terdengar tinggi itu tidak boleh diterima begitu saja. Bahkan

masih bisa diperdebatkan, apakah pada titik ini mereka memeluk

agama Islam hanya pada level luaran saja. Keterlibatan mereka

dalam perebutan wilayah orang-orang kafir yang berlangsung

sedikit demi sedikit namun  terus menerus lebih terlihat sebagai

kelanjutan deri cara-cara bertahan hidup yang mereka praktikkan

dalam waktu yang lama, yaitu sebagai sebentuk serangan oportunis.

Mereka menjdani kehidupan yang sulit dan keras dan cenderung

selalu tergoda pada hasil rampasan perang. Motif inilah yang

membuat mereka sering kali menerima panggilan dari Para Pe-

mimpin kaum muslim untuk bergabung dalam Perang Salib

sebagai bagian dari kontingen-kontingen Islam dalam PertemPuran

melawan para Tentara Salib. Namun yang Pasti, sebab  tidak

adanya komitmen agama yang mendalam, atau kesetiaan yang

mengatasi sekat kesukuan, di awal-awal pertemPuran militer kaum

muslim melawan kaum Frank, mereka itu tidak dapat diandalkan.


Sekalipun gaya hidup mereka sangat berbeda, suku-suku Ttrrki

nomaden dikagumi oleh para penulis muslim Abad Pertengahan

sebab  keberanian mereka dan daya tahan mereka. Syaraf al.-Zaman

Tahir Marvazi, yang menulis pada 1120-an, menyatakan: "Mereka

(bangsa Tirrki) yang tinggal di padang-padang pasir dan stepPa

dan menjalani kehidupan nomaden di musim dingin dan panas

merupakan orang-orang terkuat dan paling bertahan dalam per-

tempuran dan pepera ngan."ze

Sebagaimana disebutkan di dalam bab dua, kaum Tirrki

nomaden di Anatolia barat menjadi penghadang serius bagi laju

Perang Salib Pertama dan mereka terus menghalangi kaum Frank

dari Barat yang berniat memakai  rute darat dari Konstantinapel

menuju Thnah Suci. Kaum Turki nomaden iuga menetap di

kerajaan-kerajaan kecil, yang memiliki ikatan kuat atau lebih lemah

dengan kerajaan Saljuk di Iran, di timur Anatolia dan utara Suriah

selama periode Perang Salib. futinya, mereka ditempatkan dengan

baik agar segera merespons panggilan dari pemimpin-pemimpin

Suriah yang meminta bantuan untuk melawan kaum Frank'

Pada paruh pertama abad kedua belas, pasukan kaum Ttrrki

nomaden yang ditempatkan di kota-kota Suriah dan Jazira jelas

menjadi berkah yang bermacam-macam, baik bagi penguasa-

penguasa muslim yang ingin mengerahkan keahlian militer mereka

maupun bagi penduduk setempat. Zengi, misalnya, menunjuk

kaum Tirrki nomaden di Aleppo. Di kota itu mereka diberi markas

khusus unruk mereka sendiri. Mereka menjadi tulang Punggung

bagi pasukan penguasa. Pada mulanya mereka berkemah di luar

kota di dalam tenda-tenda, dan mereka berada dalam perlindungan

benteng hanya bila terjadi serangan. 'Wanita-wanita mereka me-

netap di dalam benteng tersebur.3o Kemudian, serelah situasi

setempat sedikit membaik, kaum Tirrki nomaden diizinkan mem-

bangun rumah-rumah bagi mereka sendiri, yang bisa dipastikan

menimbulkan ketegangan dengan penduduk setempat.

Sejak awal kekuasaan mereka, para penguasa Saljuk telah

melihat bahaya bila mereka hanya mengandalkan pada pasukan

kaum Ttrrki nomaden. Mereka mungkin telah mendapat peringatan

dari Nizhim al-Mulk, yang sebagai menteri utama negara men-

dominasi pemerintahan Saljuk selama lebih dari tiga puluh tahun.

Dalam karyanya yang berjudul Siyasamama, kaum Tirrki nomaden

ddak lagi disebutkan sebagai pendukung sultan. Nizhim al-Mulk

telah belajar dari pengalaman pahit bahwa lebih baik mengandalkan

pasukan yang berasal dari berbagai latar belakang dan etnik "saat 

pasukan seluruhnya dari satu ras, bahaya akan muncul: mereka

tidak memiliki semangat dan mereka mudah terpecah. sebab  itu

pasukan harus berasal dari ras-ras yang berbeda."3r

Kecenderungan untuk tidak menggantungkan diri hanya pada

pasukan kaum Tirrki nomaden, seperti yang pernah dilakukan

para pemimpin Saljuk terdahulu, berlanjut hingga abad kedua

belas dan berlanjut hingga ke para penguasa negara-negara penerus

Saljuk di Suriah dan Palestina. Ini bukan berarti pasukan kaum

Tirrki nomaden tidak digunakan. Sebaliknya, mereka terus di-

undang untuk turut serta dalam operasi militer melawan kaum

Frank, sekalipun kehadiran mereka cenderung menimbulkan ma-

salah-masalah tertentu. Pada sekitar awal tahun 1090, Nizhim al-

Mulk mengeluarkan pernyataan atas dasar keterangan dari birokrat

terlatih bahwa "kaum Tirrki nomaden telah terlihat semakin

menjengkelkai' .32


Untuk menilai lewat bukti-bukti dari sumber-sumber abad

kesebelas dan kedua belas, kejengkelan ini memiliki berbagai aspek:

pembangkangan, bahwa mereka tidak bisa diandalkan, pem-

berontakan yang meluas, nafsu menjarah, dan-yang lebih umum-

ketegangan-ketegangan yang disebabkan oleh bentrokan gaya hidup

nomaden dalam diri mereka dengan penduduk yang menetap di

negara dan kota ini .

Pasuhan-Pasukan Budzh

Selanjutnya, sultan-sultan Saljuk merasa bahwa bila mereka hanya

mengandalkan pasukan kaum Tirrki nomaden, itu tidaklah meng-

untungkan. Mereka kemudian menggantinya dengan pemanah-

pemanah berkuda profesional dari Ti-rrki. Memang, sultan-sultan

Saljuk segera membentuk pasukan tetap, yang termasuk di dalam-

nya, selain parjurit-prajurit budak Turli (maml'trh), pasukan budak

dari emik lain. Pasukan Saljuk juga memakai  pasukan bayaran

Kurdi. Mereka ini yaitu  pasukan kavaleri terlatih yang bertempur

dengan memakai  pedang dan tombak.

Menurut Nizhim al-Mulk, menggaji pasukan secara teratur

yaitu  penting bagi moral mereka. Bila raja bisa membayar mereka

sendiri, itu jauh lebih baik, "sehingga mereka akan lebih gigih dan

sabar dalam melakukan tugas mereka di medan perang dan dalam

suasana damai".33 Pasukan tetap Saljuk dengan demikian yaitu 

pasukan bayaran dengan kesetiaan yang sangat kuat kepada Sultan.

Mengenai jumlah pasukan ini, tidak salah bila dikatakan

bahwa jumlah ideal yang diusulkan oleh NizhAm al-Mulk dalam

Siyasatnama sebagian besar bersumber pada praktik yang sebenar-

nya. Al-Mulk menganjurkan agar penguasa memiliki pengawal

sebanyak dua ratus orang yang harus menjaganya di rumah dan di

Iuar.Y Pengawal-pengawal ini  berupa pasukan berkuda. Me-

nurut Nizhim al-Mulk, selain kavaleri, "nama-nama empat ribu

pasukan tak berkuda dari semua ras harus selalu ada dalam daftar".

Dari semua pasukan ini, seribu di antaranya khusus digunakan

untuk sultan dan tiga ribu lainnya untuk rombongan para gubernur

dan panglima "supaya siap bila terjadi keadaan darurat."35

Penting untuk diingat bahwa banyak panglima militer Tirrki

di Suriah dan Palestina pada awal abad kedua belas-orang-orang

seperti ll-Ghazi, Tirghtegin dan 7-,eng-meraih kemasyhuran dengan


pengabdian militer yang mereka lakukan untuk Para sultan Saljuk.

Demikian pula, mereka pasti telah menyebarkan berbagai bentuk

sistem militer Saljuk kepada para penguasa independen di kawasan

Mediterania timur. Maka cetak biru Nizhim al-Mulk mungkin

telah diterapkan di sana dengan baik, paling tidak sampai pada

tingkat tertentu.

Pasukan Fatimiyah

Pasukan Fatimiyah terdiri dari berbagai unsur. Sebagaimana Saljuk

yang meraih kekuasaan dengan mengandalkan pada dukungan

militer kaum Tirrki nomaden dan kemudian kelompok prajurit

yang dryaji tetap, begitu juga sultan-sultan Fatimiyah. Pada awalnya

mereka mengandalkan kekuatan militer Suku Berber. Namun

mereka segera menyadari bahwa akan cukup menguntungkan bila

komposisi pasukan mereka beragam. Berbagai kelompok etnik

disebutkan menjadi bagian dari pasukan Fatimiyah, termasuk di

dalamnya Berber, Armenia, Sudan dan Turki, serta Badui Arab

(bandingkan foto warna 3).

Fatimiyah memakai  pasukan yang berasal dari berbagai

muasal: orang-orang timur (masyhriqah) yang berasal dari negara-

negara timur Mesir, orang-orang barat (maghiribah) dari Afrika

(Jtara, dan orang-orang hitam (orang Sudan) dari sub-sahara

Afrika. Dengan keragaman ini, pengaruh dominan suatu kelompok

di dalam pasukan dapat dihindari. Akan namun , pada saat kondisi

politik melemah, bisa saja terjadi pertikaian antar-faksi. Pasukan

Fatimiyah terdiri dari para prajurit profesional dan milisi tak

tetap yang berasal dari suku Badui dari Mesir dan wilayah selatan

Palestina, serta Tirrki, dan prajurit-prajurit lainnya.r6

Hamblin menggambarkan bahwa pasukan Fatimiyah dalam

tiga pertempuran Ramla (1101-1115) sebagai "mesin Perang

berukuran sedang namun disusun dengan sangat baik, yang terdiri

dari berbagai unit etnik dan senjata". Pasukan itu tidak memiliki

kepemimpinan dan motivasi.3T Pasukan Fatimiyah di medan temPur,

seperti dikatakan Hamblin dan Brett dengan berdasarkan pada

sumber-sumber berbahasa Arab, berjumlah antara lima hingga

sepuluh ribu orang.


Pasuhan Sakdin dan Penerusnya (Dinasti Ayyubiyah)

Seperti pasukan pendahulunya, Zengi dan Nfrruddin, pasukan

Saladin sebagai besar terdiri dari gabungan pasukan tempur

profesional Kurdi dan Tirrki. Saladin juga memiliki sebuah korps

elite yang terdiri dari prajurit-prajurit budak (mamlfih). Selain

mengandalkan pengawal pribadi yang terikat padanya lewat ikatan

kesetiaan pribadi, Saladin juga mengandalkan dukungan militer

dari putra-putranya, sepupunya, saudaranya, kemenakannya, dan

kerabat-kerabat lain yang telah dibentuknya di pos-pos provinsi

di seluruh wilayah. Sementara di wilayah lainnya, Saladin berharap

pada kepatuhan kelompok aliansi yang seperti biasanya dibentuk

lewat kekerasan dan bujuk rayu.

Sesekali Saladin juga memakai  jasa legiun berbagai etnik

asli serta pasukan-pasukan suku, yaitu kaum Tirrki nomaden atau

Badui fuab. Sekalipun Saladin dan keturunqrrnya berasal dari

suku Kurdi, pasukan mereka lebih banyak terdiri dari orang-

orang Tirrki dibanding orang-orang Kurdi.38 Pada pertempuran


Hattin di dalam pasukan Saladin juga ada  pejuang-pejuang

jihad sukarelawan (mutathawwi'ah) yang digambarkan sebagai

orang-orang yang menjauhkan diri dari dunia (asketik) dan ke-

lompok sufi. Masing-masing mereka meminta izin dari Saladin

untuk mengeksekuii salah seorang IGatria Kuil dan anggota Ordo

Hospitaler yang ditangkap dalam pertempuran ini .3e

Pasuhan Mamluh

Sumber-sumber kaum muslim sangat banyak memuat informasi

mengenai pasukan Mamluk dibandingkan informasi tentang pa-

sukan dari periode sebelumnya. Penelitian yang luas telah di-

lakukan mengenai hal ini, terutama oleh Ayalon. Salah satu ciri

dari pasukan Mamluk yaitu  bahwa mereka memiliki ikatan dan

persatuan yang sangat kuat. Sebagaimana di pusat kekuasaan

sebelumnya, di Kairo, yang menjadi pusat perhatian semua mata

sultan Mamluk, struktur resmi pasukan Mamluk terulang di

tingkat provinsi-provinsi-dan inilah yang menjadi faktor utama

yang mendukung kelangsungan dinasti ini . Sultan-sultan dan

gubernur-gubernur boleh datang dan pergi, kadang-kadang sangat

cepat, namun fondasi kokoh yang dimiliki negara politik yang

hebat ini yaitu  organisasi militernya dan kesetiaan di kalangan

elite militernya. Baybars mengandalkan pada kasta para panglima,

yang seperti dirinya juga, yaitu  Mamluk. Para panglima ini

memperoleh pendapatan dari sebidang lahan atau sumbangan-

sumbangan lain (iqthfi, yang bagiannya didistribusikan kepada

para pangli ma mamlfih itu sendiri. Setiap orang di dalam elite

militer ini  memiliki peran bagi kelangsungan stabilitas yang

terbentuk. Pasukan Mamluk terdiri dari tiga unit utama: mamlil.k

(budak-budak) sultan, mamlilh para panglima, dan pasukan haQah,

yang merupakan korps kavaleri bebas. Sultan-sultan Mamluk bisa

menambah pasokan pasukan mereka dengan mengimpor budak-

budak Turki baru dari Kaukasus dan Asia Tengah di sepanjang

rute perdagangan melalui Anatolia. Negara Mamluk bisa mengum-

pulkan pasukan yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan

yang bisa dilakukan kaum Frank. Selain itu, saat  tiba saatnya

untuk mulai menghancurkan benteng-benteng, Pemukiman, dan

pelabuhan-pelabuhan kaum Frank di Suriah, dengan cara yeng

sistematis, Mamluk bisa mengumpulkan puluhan ribu pasukan


bantuan-Tirrki, Kurdi dan Mongol-untuk membantu melaksana-

kan rugas ini.

Pendidihan Militer dan Latihan Menunggang Kuda

pada Periode Mamluk

Sangat banyak karya ilmiah tentang pendidikan militer Mamluk

yang telah ditulis.ao saat  mamlrth tiba sebagai seorang anak

muda dari padang-padang rumput di selatan Rusia dan Kaukasus,

dia tinggal di barak-barak di Kairo dan mendapat pendidikan

yang keras. Kurikulumnya termasuk pelajaran Alquran dan hadis.

Namun, yang tidak mengejutkan, penekanan juga diberikan pada

seni perang, dan khususnya keahlian menunggang kuda. Meski

demikian, dimensi religius dalam pendidikan militer mamlfih

yaitu  penting. Pengenalan dengan agama barunya, Islam, me-

lengkapi keahliannya yang hebat dalam seni perang.ar

Dari periode Umayyah dan selanjutnya, balapan kuda merupakan

olahraga populer di kalangan elite muslim, dan salah satunya

juga diikuti oleh khalifah.a2 Di ibukota kekhalifahan Abbasiyah

Samarra masih ada  sebuah lintasan balapan berbentuk daun

semanggi. Tirlisan-tulisan sejarah menyatakan bahwa Peranan arena

balapan (mafian) sangat penting pada masa N0ruddin. Dia

mendukung pembangunan arena di Aleppo, misalnya, sehingga

pasukannya bisa dilatih di sana. Di markas baru di kota itu yang

dikenal sebagai "markas kaum Tirrki nomaden", pasukan kaum

Tirrki nomaden melakukan latihan di sekitar maydan.as

Kebiasaan melatih pasukan di maydan dikembangkan oleh

penguasa-penguasa Mamluk Mesir sebagai olahraga tontonan yang

utama. Mereka melatih pasukan mereka dengan sangat serius.

Banyak maydan yang disebutkan di dalam tulisan-tulisan sejarah

dibangun pada masa Mamluk, dan Sultan Baybars, khususnya,

sangat antusias membangun maydan dan menghadiri pertunjukan-

pertuniukan kavaleri dengan penuh semangat. Latihan-latihan

khusus menunggang kuda disusun agar menghasilkan pasukan

kavaleri yang paling baik. Maydan menjadi fokus untuk me-

langsungkan latihanlatihan ini serta untuk permainan olahraga

seperti polo atau qabaq-suatu permainan yang berasal dari

padang rumput fuia Tengah, yaitu permainan dengan menembak-

kan anak panah dari kuda yang sedang berlari ke arah labu yang

diletakkan di puncak tiang yang tinggi-dan birjas-yaitu Per-

mainan melempar yang dilakukan oleh para prajurit berkuda ke

arah tiang-tiang kurma. Permainan lain dilakukan dengan meng-

gunakan tongkat dan tombak. Peran penting maydzn dan peranan

sentralnya sebagai pertunjukan kepada warga  umum tentang

kekuatan militer dan kesenian dibuktikan dengan seringnya sultan

dan para pembantunya hadir di paviliun-paviliun yang dibangun

khusus di sekitar maydan ini .aa Dari paviliun-paviliun ini

sultan bisa menyaksikan hiburan ini . Sultan juga bisa mem-

bawa bangsawan-bangsawan asing yang ingin dipengaruhinya dan

diintimidasinya ke paviliun ini . Kemudian, dia bisa mem-

pertontonkan kuda-kudanya, miliknya yang paling prestisius, di

istal-istal yang ada di sekitar maydan.

Keahlian Militer Mamluh

Pasukan Mamluk dilatih memakai  dua pedang-satu pedang

di masing-masing tangan.as Tingkat keahlian mereka dalam meng-

gunakan pedang sangat tinggi. IGatria Mamluk dilatih agar me-

ngetahui dengan pasti seberapa berbahaya serangan yang dilancar-

kannya kepada si musuh yang dihadapinya. Kehebatan yang luar

biasa dalam hal gerakan dan keahlian yang dicapai oleh pasukan

Mamluk ditunjukkan dalam beberapa manuskrip ilustrasi abad

ketiga belas karya al-Aqsari'i (lihat gambar 7.18-7.19, 7.22-

730).46 Lukisanlukisan yang menyertai manual-manual ini me-

nunjukkan berbagai keahlian menunggang kuda dan militer. Satu

ilustrasi menggambarkan dua penunggang kuda tengah memegang

tombak dalam latihan perang memakai  tombak, yang melintas

dengan sangat cepat. Ilusuasi lainnya menggambarkan latihan

menunggang kuda secara lengkap. Empat penunggang kuda berlari

mengitari kolam maydan searah jarum jam yang bentuknya meng-


tingatkan pada latihan renang serempak sePerti yang kita lihat di

era sekarang (gambar 7.24). Gambar lainnya menuniukkan Para

penunggang kuda ini  berlari berlawanan arah jarum jam

mengitari sebuah kolam di maydan. Jarak antara Penunggang kuda

dan kuda-kuda mereka, dan bahkan pada bunga-bunga dan riak-

riak air, sangat teratur. Ilustrasi ini  menunjukkan Para Pe-

nunggang kuda tengah berlatih memakai  senjata, dengan di

atas punggung kuda, dengan berlari atau mencangklong.

Mereka membawa berbagai macam senjata-pedang, tombak,

busur, dan anak-anak panah dan yang paling sering lembing,

sering kali dengan bagian kepala berbentuk kubus sePerti gada.

Setidaknya ditunjukkan dua jenis perisar-daraqah, yang terbuat

dari kulit, dan tur yang terbuat dari kayu atau logam. Kuda-

kuda mereka pendek gemuk, dengan kaki-kaki agak pendek, tubuh

yang kuat dan gempal, leher dan kepala yang cukup panjang.

Sadel dan kekang dicat, biasanya dengan warna dengan emas-

ini mungkin sebentuk kecongkakan artisdk, sebab  emas sangat

mahal harganya. Salah satu gambar memperlihatkan helm besi.aT

552 \ _______________

Helm itu dipasang di atas kepala dan tidak menutupi telinga,

hidung, wajah atau leher. Gambaran tentang helm ini masih bisa

diperdebatkan sampai sejauh mana kebenarannya. Terlepas dari

gambar helm ini, para penunggang kuda umumnya memiliki tutup

kepala yang serupa; sebuah helm, biasanya berwarna kuning atau

cokelat, dengan turban putih yang membelitnya. Rambut mereka

yang hitam panjang menggantung ke punggung dan dikuncir

ekor kuda.

Gambar-gambar ini, tentu saja, utamanya yaitu  karya-karya

seni, dan bukan menggambarkan praktik yang sebenarnya. Namun,

tujuan gambar-gambar itu yaitu  untuk menggambarkan manual

peperangan, sehingga tujuan praktisnya ddak diragukan. Terlebih

lagi gambar-gambar itu benar-benar menunjukkan kepada kita

kuda-kuda dan perlengkapan kavaleri Mamluk dan pakaian yang

mereka kenakan serta barang yang mereka bawa. Dari ilustrasi

ini tampak jelas bahwa Mamluk yaitu  para penunggang kuda

yang sangat terlatih, yang mahir memegang beberapa senjata

sekaligus pada waktu yang bersamaan, sambil tetap berada di


atas kuda dan tetap selamat dari huru-hara PertemPuran' Aktivitas

yang dilakukan di maydan pada era kekaisaran Mamluk menunjuk

prd"^ ,,rr,r, warga  yang memiliki elite militer yang sangat

t..p.r,g"l"-an yang selalu siap untuk berperang' Permainan

p.rr.rg,-y"tg dengan sangat antusias ditonton oleh seluruh lapisan

'-"ry""ri".,"-.r,iprk,n -tontonan 

waktu senggang yang disukai

para elite ini.

SENJATA DAN BAJU BESI KAUM MUSLIM

Seperti disebutkan di atas, artefak-artefak terkait yang masih ada

dari Palestina dan bahkan Suriah abad kedua belas dan ketiga

belas relatif jarang. Namun demikian' artefak-artefak itu mem-

berikan keterangan yang ddak ditemukan di dalam sumber-sumber

tertulis. sebab  it.r, ,""g"t penting bagi para ilmuwan untuk

membandingkan inform"'i y'"g ada  di dalam sumber-sumber

sejarah Abad Pertengahan'dt"g"" bukti-bukti yang ada  di

prhr,"rr, koin, karya1og"t, dan ke-ramik' Cukup banyak Penung-

g".,g krd, y"ng dig"tibarkan pada benda-benda ini' yang bisa

ir.iU.ri beberapa  g.-S"t'" mengenai persenjataan mereka' IGatria-

ksatria Abad Pertengahan d"ti kedua pihak yang terlibat konflik

menggunak"r, b.r*lt"m-macam seniata-dan kini sudah saatnya

t'r.ra,rk membahas masalah ini'48

Tbmbah

Tombak yang terbuat dari besi' atau kayu dengan ujung dari besi

lancip,ae 

'-.i,rprk"n 

alat penusuk, yang menjadi sen)ata. utama

seorang kavaleri p"da Abad Pertengahan' Dengan tombak ini

kavaleri ini  bisa menyerang sasaran saat dia berada dalam

jarak beberapa yard. Dalam laporan Usimah telah jelas bahwa

tombak mendapat tempat khusus di antara persenjataan bangsa

fuab, dan banyak referensi dan kisah-kisah di dalam bukunya

yang berkaitan dengan tombak.5o Instrumen ini  juga berperan

dalam peralatan tempur infantri Arab.

Tombak juga sangat terkenal di kalangan bangsa Tirrki. Me-

nurut al-Jahiz, yang menulis di abad kesembilan, tombak mereka

pendek dan berlubang di badian tengahnya. Lebih jauh d.-Jahiz

mengatakan: "Senjata-senjata yang pendek dan berongga memiliki

efek lebih mematikan dan lebih ringan dibawa."sr

Peranan penting tombak tidak perlu diperdebatkan lagi.

'Imiduddin al-Ishfahini, yang menulis di zaman Saladin, me-

nyebutkan berbagai jenis tombak-Yaman, India, Yazanite, dan

Rudayni.s2

Al-Thars0si mengatakan di dalam bukunya bahwa tombak

bila digunakan oleh prajurit berkuda akan menggabungkan ke-

kuatan kuda maupun pengendaranya.53 Salah satu cara meng-

gunakan tombak ini  yaitu  menusukkannya dengan kekuatan

tangan dengan keras. Cara lainnya, ksatria berkuda menjepit

tombak ini  dengan lengannya, sehingga memberikan kekuatan

pada tusukannya bersamaan dengan gerakan serangan yang di-

lakukannya. Usimah menceritakan bagaimana dia jatuh dari

kudanya akibat melakukan dorongan yang sangat kuat.5a Ini

menunjukkan bahwa Usamah tidak memakai  sanggurdi, sebab 

alat ini merupakan cara yang paling baik untuk memperkuat si

penunggang kuda saat terjadi mbrukan tiba-tiba. Memang sanggurdi

telah dikenal di awal dunia Islam, setidaknya sejak awal abad

kedelapan.5t Usimah menganjurkan cara yang paling baik agar

tidak terjatuh, yaitu dengan memakai  metode "menjepit"

tombak dengan lengan, seperti yang dilakukan oleh kaum Frank.56

Dalam pertempuran militernya yang pertama dengan kaum

Frank pada 513 H.llllg M., Usamah menyerang seorang kavaleri

kaum Frank yang menunggang seekor kuda hitam dengan tombak-

nya. Tombak itu menancap di tubuh ksatria ini  dan tembus

sekitar satu cubit (ukuran zamen kuno yang kini setara dengan

sekitar 18-22 inchi atau dari ujung jari tengah hingga siku-

penerj.) di bagian depan tubuhnya. Usimah mencabut kembali

tombak itu, sesudah  yakin bahwa ia telah membunuhnya. Ke-

mudian Usimah baru mengetahui bahwa Philip the Knight,

demikian nama ksatria itu, selamat dari tusukan itu sekalipun

tombak itu menembus dua lapisan penghubung di baju besinya.

Usimah menggambarkan peristiwa ini, dengan mengatakan:

Orang y".rg ,.r.rr.oba menyerang dengan tombaknya harus

menahan tombaknya sekuat mungkin dengan tangannya dan di

bawah lengannya, merapatkan ke sisinya, dan harus membiarkan

kudanya berlari dan memberikan tusukan yang dibutuhkan; sebab 

bila dia menggerakkan angannya sambil memegang tombak atau

mengulurkan tangannya dengan tombak ini , maka tusukannya

itu tidak akan berakibat apa-aPa dan tidak akan melukai't7

Usimah menceritakan sebuah insiden dramatis, tentang seekor

kuda yang tersandung tombak Penunggangnya, yang dibawa

dengan ceroboh. Tombak itu patah dan mengeluarkan suara yang

sangat keras. Kuda serta Penunggangnya sama-sama terjatuh ke

tanah.58 Pada kesempatan lain, Usimah secara khusus menceritakan

tentang sebilah tombak berat aneh yang digunakan oleh orang-

orang Hims. Tombak itu panjangnya sekitar 30 kaki, dan terbuat

dari gabungan dua tombak. "Mereka baru saja mulai memakai 

tombak gabungan, yang dibuat dengan merekatkan satu tombak

ke tombak lainnya sampai panjang keduanya itu menjadi 20

cubit atau 18 cubit."se

Sangat sulit untuk membayangkan bagaimana senjata semacam

itu bisa digunakan dengan efektif, dengan adanya Pengetahuan

rentang taktik militer kaum muslim pada abad kedua belas. Senjata

semacam itu pasti sangat berat dan tidak nyaman, dan butuh

orang yang kuat untuk memakai nya, kecuali bila kedua tombak

yang disatukan itu memang berlubang di bagian tengahnya-dan

tombak itu pasti sangat berat. Tombak yang sangat panjang di-

gunakan untuk memberikan efek yang baik di zaman kuno dan di

Abad Pertengahan, narnun ini menunjukkan korps penombak sangat

disiplin dan terlatih untuk menyerang secara serempak. saissa yang

digunakan oleh regu pasukan Macedonia di bawah pimpinan

Aleksander yang Agung yaitu  sdah satu contohnya.

Usimah tidak ragu untuk memuji cara kaum Frank meng-

gunakan tombak bila perlu:

Salah satu tusukan tombak mengerikan yang telah saya saksikan

yaitu  tusukan yang dilakukan oleh seorang l<satria kaum Frank

(semoga Allah membuat mereka [kaum Frank] ddak berdaya!) pada

salah satu anggota kavaleri kami, yang bernama Sabah ibn-Qunayb

dari suku Kilabi, yang menghancurkan tiga tulang iga kirinya, dan

bagian sisinya yang tajam menusuk sikunya, dan memotongnya

menjadi dua sebagaimana tukang daging memotong persendian.

Dia tewas di tempat.6o

Salah satu kisah paling menyedihkan yang diceritakan oleh Usi.mah

yaitu  tentang seorang ksatria muslim, seorang suku Kurdi ber-

nama Mayyah yang baru saja menikah dan harus berangkat

bertempur melawan kaum Frank:

dengan baju besi lengkap, namun dia mengenakan baju pe-

ngantin merahnya melapis baju besinya, sehingga membuatnya

tampak mencolok. Seorang l<satria kaum Frank menghantamnya

dengan tombak dan menewaskannya (semoga Allah memberinya

balasan surga).6r

Tombak, secara umum, tentu saja, tidak hanya digunakan

untuk melawan musuh. Usamah menyampaikan kisah yang me-

narik tentang bagaimana dia membunuh seekor singa dengan

menyerangnya dengan tombak.62

Pada periode Mamluk, penggunaan tombak kemungkinan

telah mengalami banyak perubahan, namun popularitasnya tidak

tertandingi,63 dan latihan memakai  tombak sangat penting.

Tombak tampil sangat jelas dalam manual al-Aqsari'i. Barangkali

popularitas tombak itu menjadi cerminan dari jalan dramatis

mengenai cara penggunaannya, statusnya sebagai senjata heroik dan

"jantan" serta tempatnya yang utama di dalam turnarnen-turnamen

dan latihan-ladhan menunggang kuda di maydan.u Dalam imajinasi

kebanyakan orang, ukuran tombak itu bisa menjadi besar sekali.

Dalam sebuah epik Abad Pertengahan, Fatimah Dzit al-Himmah

menceritakan bahwa tombak-tombak kaum Frank bisa "mengem-

bang menjadi ukuran raksasa, dengan senjata gabungan yang ter-

susun dari delapan belas pipa besi".65 Tombak itu mengingatkan

pada Goliath, dengan tombaknya yang sePerti. pinggul Penenun,

sekalipun interprestasi model Freud juga muncul.


Meskipun tombak dan busur mungkin meruPakan senjata yang

palinj efektif bagi seorang Praiurit, pedang Punya status tinggi

aar- dunia Islam. Di awal abad kesembilan, filsuf Islam al-

Kindi (w. sesudah  252 lH-t865 M.) menulis dua karya mengenai

pedang: satu berjudul Kinds of Swords and lron dan satunya lagi

That which Swords and lron Are Tieated so that the Edges Are not

Blunted and They Are Not Dulled.K Salinan pertama karya-karya

ini rupanya dimiliki oleh Saladin.6T

Sumber-sumber kaum muslim sering menyebutkan tentang

pedang 'AIi, kemenakan dan menantu Rasulullah, yang bernama

Dzu'l-Fiqlr. Pedang itu merupakan senjata yang sangat istimewa

yang dalam literatur penghormatan religius Islam diceritakan

dengan kiasan-gelar-gelar seperti "Pedang Agamd' (Sayf al-Din)

dan "Pedang Negara" (Sayf al-Daulah) diberikan oleh khalifah

kepada para pemimpin militer dan politik dan mendapat Peng-

hormatan sangat tinggi dari penerimanya. Tidaklah mengejutkan,

pedang merupakan milik prajurit muslim yang paling dibanggakan.

Biasanya, pedang yang digunakan para prajurit muslim pada

periode Perang Salib berbentuk lurus, terbuat dari besi atau besi

dengan sisi terbuat dari baja.68 Pedang-pedang dikenali dari tempat

asalnya, dan pedang yang memiliki mata pisau yang berasal dari

Cina dan India sangat dicari-cari. BaptistEre of Saint Louis yang

terkenal menggambarkan berbagai ienis pedang yang kesemuanya,

tampaknya, digunakan di Mesir Mamluk pada abad ketiga belas.

Sarung pedang juga sangat dihargai. Sarung pedang terbuat dari

kayu dan dilapis dengan macam-macam bahan sePerti beludru,

damas, logam atau kulit yang sangat halus. AbCr Syimah men-


ceritakan bahwa kaum muslim menaruh pedang di pinggang

mereka. namun  sesudah  N0ruddin mendengar bahwa Rasulullah

biasa menggantungkan pedangnya di punggung dengan sarungnya,

dia meniru cara ini untuk dirinya, dan untuk pasukannya.6e Cerita

ini mungkin merhpakan bagian dari keinginan para penulis sejarah

untuk menonjolkan kesalehan NCrruddin--dan rentu saja praktik

semacam ini tidak menyebar luas.

Usimah memberikan banyak contoh tusukan yang dilakukan

dengan pedang dan belati-belati tajam. Kisah yang sangat aneh

yaitu  kisah yang mengenai ayah Usimah yang dalam keadaan

marah menusuk pembantunya dengan pedang yang masih berada

di dalam sarungnya: "Pedang itu menembus pakaiannya, sandal

perak, mantel dan selendang wol yang dikenakan pria itu, dan

kemudian memotong tulang sikunya. Seluruh lengan bawahnya

putus."70

Namun al-Qazwini, memuji pedang-pedang kaum Frank yang

dibuat di Eropa: "Mereka membuat pedang yang sangat tajam di

sana, dan pedang-pedang dari tanah kaum Frank lebih tajam

dari pedang-pedang India."7r

Palu, Kapah, dan Akt Berat Penyerang Lainnya

Ada banyak macam dat berat yang dirancang untuk menyerang

musuh dalam pertarungan jarak dekat. Sebagaimana diungkapkan

dengan jelas oleh al-Tharsirsi, senjata-senjata itu bisa digunakan

dengan berbagai cara yang "dapat mengakibatkan kematian dan

dapat membuat cedera".72 Selanjutnya al-Thars0si mengatakan

bahwa beberapa alat berat semacarn itu dibuat khusus dari besi,

yang lainnya memiliki kepala besi dengan gagang kayu, sementara

ada juga yang memiliki kepala bulat yang dilapis dengan gigi

besi besar atau kecil.73 Ada dua istilah yang biasa digunakan untuk

menunjukkan lembing: dabbfrs dan 'amird. Menurut al-Thars0si

dabbfis seluruhnya terbuat dari besi-"Ini akan segera meremukkan

badan orang yang dikenainya, yang tentu saja dapat mengantarkan

pada kema1l2n"7a-5srnentara 'amfid memiliki kepala besi dan

gagang kayu. Dalam pertempuran Mansura pade l25O,Ibn \TXshil

melaporkan bahwa "kaum Frank dibantai seluruhnya dengan

pedang dan gadi'.75

Senjata yang dikenal sebagai tabar yaitu  kapak besar yang

memiliki mata pisau setengah lingkaran dengan gag^ng kayu atau

logam. Pada masa Mamluk senjata ini dibawa oleh pasukan

khusus, tabardariyyah (foro 7.2). Belati (hhanjar) juga digunakan

dalam pertarungan jarak dekat.


Al-Thars0si menjelaskan terminologi untuk berbagai jenis busur

secara terperinci dan dia juga memberikan penjelasan tentang

cara membuat busur yang benar.76 Al-TharsCrsi menyebutkan busur

kaki (qauts al-rijt) yang merupakan alat terkecil dan bisa dibebani

dengan dipasang pada busur. Busur besar lainnya yang bisa dibawa

yaitu  'aqqar. Jenis ketiga dikenal sebagai belalang (husban). Nar

ini memiliki rongga sebagai tempat untuk menembakkan anak

panah pendek, batu dan botol-botol, atau kapsul-kapsul yang

bisa pecah (yang sebenarnya "telur-telur") yang berisi api Yunani

@ort). "Botol ini  mendarat seperti sebuah anak panah dengan

kekuatan tenaga pendorong dan mencapai sasarannya. Benturannya

dengan benda dapat menghancurkan dan membakar apa saia yang

terkena olehnya."77

Ada juga busur silang otomatis, qdws al-zilar, yang dipasang

pada penyangga dan digunakan dalam penyerangan. Menurut al-

Thars0si, ziyar "butth banyak orang untuk menarik talinya...

ziyar itu dipasang menghadap ke arah menara dan tidak ada satu

pun penghalang maupun orang yang bisa menahannya".T8

Al-Tharsfrsi memberikan gambaran yang jelas tentang kesulitan

membawa beberapa senjata pada saat bersamaan, dan khususnya

di atas punggung kuda. Dia mengatakan pemanah harus membawa

serta dua buah busur.Te

Busur gabungan, yang tersusun dari tiga hingga lima bagian

yang fleksibel dan kaku serta dapat diganti, dengan kerangka

ganda lengkung yang kuat, mencapai bentuknya yang paling maju

bersama orang-orang Tirrki dan Mongol pada Abad Pertengahan.8o

Busur-busur semacarn itu memiliki jangkauan maksimum lebih

dari 800 yard, meski kelihatannya busur-busur itu baru benar-

benar efektif pada jarak sekitar 300 yard atau kurang. Sekdipun

anak-anak panah yang ditembakkan dari busur ini bisa men-

jangkau jarak yang demikian jauh, anak-anak panah itu baru

benar-benar menembus dalam jarak yang lebih dekat. Pasukan

yang mempertahankan benteng atau kota akan menembakkan

anak-anak panah ke arah para penyerang dari busur silang besar

yang dipasang di benteng.

Sekalipun pada masa Perang Salib para pemanah berkuda

paling terkenal dan sangat ditakuti serta dikagumi oleh kaum

Frank, tradisi lama para pemanah infantri dalam dunia Islam

tidak boleh dilupakan. Pasukan Fatimiyah terdiri dari pemanah-

pemanah infantri Sudan,sr dan UsAmah menceritakan "tentang

sekitar dua puluh pasukan Armenia pejalan kaki yang merupakan

pemanah-pemanah ulung".82

Perisai

Al-Tharsffsi menyebutkan tentang berbagai jenis perisai. "Setiap

bangsa punya teknik sendiri untuk membuatnya."83

Perisai bulat disebut tars dan terbuat dari kayu, logam atau

kulit.sa Perisai berbentuk layangJayang ini , yang dalam dunia

Islam dikenal sebagai taiqah, menurut al-Tharstsi, digunakan

oleh pasukan kaum Frank dan Bizantium. "Itu yaitu  perisai

panjang yang dibuat dengan bentuk sedemikian rupa sehingga dapat

melindungi ksatria dan prajurit pejalan kaki. Perisai itu berbentuk


bulat di b"gr* atas dan semakin ke bawah semakin lancip."a:

Perisai jenis ketiga yaitu  januuiyyah yang mirip dengan taiqah,

namun dibuat agar bisa dipegang di tanah. Perisai jenis ini di-

gunakan oleh prajurit pejalan kaki dan "bila dibariskan, perisai ini

bisa membentuk benteng y{tg menahan para pemanalt''.e

Bhb al-Nashr (Gerbang Kemenangan) di Kairo dibangun pada

1087 oleh wazir Fatimiyah, Badr al-Jamili.87 Salah satu bentuk

paling mencolok dari gerbang ini yaitu  perisai-perisai yang

menghiasinya (foto 7.3--7.4). Shalem dengan yakin mengatakan

bahwa perisai-perisai itu merupakan simbol penting hegemoni

Fatimiyah.s8 Gerbang Kemenangan menggambarkan perisai-perisai

berbentuk layang-layang dan bundar, yang dengan demikian

menunjukkan bahwa kedua jenis itu, dikenal dan kemungkinan

digunakan oleh Fatimiyah.

Meskipun fungsi utama perisai itu yaitu  melindungi bagian

tubuh semaksimal mungkin, perisai itu juga menjadi objek per-

tunjukan, suatu tradisi kawasan Mediterania timur yang telah

berumur seribu tahun. Perisai bisa dibuat dari berbagai bahan,

termasuk kayu yang digosok, kayu berlapis kulit, kulit yang belum

disamak, kulit kuda, keledai, unta atau jerapah atau kulit pernis

atau bercat.

Implikasi kisah Usimah tentang Thncred yang mencongkel

mata kanan seorang prajurit muslim, HasanCrn, yaitu  bahwa

perisai itu dipegang dengan agak tinggi dan tombak dipegang

dengan tangan kanan. Sebagaimana dikatakan Tancred dengan

tegas: "Lebih baik mencongkel keluar mata kanannya, sehingga

bila dia membawa perisainya, mata kirinya akan tertutup, dan

dia tidak akan bisa lagi melihat apa pun."8e

566 \ _______________

Baju Besi

Baju besi jelas tidak untuk semua orang. Menurut Usimah, yang

bukti-buktinya kira-kira didukung oleh karya seni yang berasal

dari zaman itu, prajurit pejalan kaki biasa umumnya maju tanpa

baju besi. Baju besi masih menjadi hak prerogatif sekelompok

kecil elite dan orang kaya, bahkan di maqyarakat Mesir Mamluk

yang sangat suka berperang. Kuda-kuda prajurit mereka juga punya

baju pelindung. Bahkan saat  baju besi itu digunakan, baju itu

tidak akan dipakai hingga saat  ,pertempuran menjadi semakin

keras-kemungkinan sebab  sangat tidak nyaman mengenakannya

di kawasan Mediterania timur yang sangat panas.

Laporan Usimah menyebutkan tentang berbagai jenis baju

besi. Dia menceritakan satu kejadian saat  rompi kainnya atau

baju besinya (hazaghand) "dilengkapi dengan dua lapisan pelat

besi, yang saling menindih".eo

Selanjutnya, dia menceritakan tentang baju besi pelindung

ini dengan lebih lengkap:

Rompi ini  menurupi baju besi kaum Frank yang me-

manjang hingga ke bawahnya, dengan baju besi lain di atasnya

memanjang hingga ke tengah. Keduanya dilengkapi dengan lapisan

yang baik, bantalan lakan, sutera kasar dan bulu kelinci.e'

Namun tidak jelas apakah "baju besi kaum Frank" itu yaitu 

peralatan yang diperoleh Usimah dari rampasan perang, atau

hadiah dari salah seorang kawannya yang merupakan kaum Frank.

Kemungkinan lainnya yaitu  kaum muslim menyebut suatu jenis

khusus baju besi dengan baju besi "kaum Frank", sama halnya

seperti saat  mereka menamai-dan sering digunakan-"mangonel

kaum Frank".


Baju besi dikenakan dengan dibalut pakaian lain. Usimah

menyebutkan contoh seorang prajurit berkuda kaum Frank yang

mengenakan jubah sutera hijau dan kuning. Dia menyerang

prajurit itu dengan tombaknya. Namun sebab  prajurit itu me-

makai lapisan b'esi di balik jubahnya, tombak Usimah tidak

melukainya.e2 Pada kesempatan lain, Usimah bercerita rentang

ayahnya yang terluka oleh sebilah tombak sebab  pelayannya ddak

mengikatkan pengait di sisi besinya yang panjang.e3

Dengan dibesar-besarkan, Usi.mah mengatakan bahwa lapisan

besi sangat kuat menahan tusukan tombak. Usimah menceritakan

tentang sepupunya dari pihak ayah, Khitam, yang menyerang

kaum Frank sendirian. Kaum Frank membiarkannya masuk ke

tengah-tengah mereka dan menyerangnya dengan tombak-tombak

mereka, merobohkannya dan menyerang kudanya. "Dengan mem-

balikkan tombak-tombak mereka, kaum Frank kemudian mulai

menusukinya dengan tombak-tombak mereka. Namun sebab 

Khitam mengenakan lapisan besi, yang rantainya sangat kuat,

tombak-tombak mereka tidak berpengaruh apa-apa."e4

Menurut Usimah, kaum Frank juga mengenakan baju besi

yang sangat efektif. Dia bercerita tentang kisah seorang kaum

Frank "y^ng mengenakan lapisan besi ganda yang terhubung dan

membawa sebilah tombak di tangannya, namun tidak dilengkapi

dengan perisai". Sekalipun mendapat banyak tusukan oleh seorang

Tirrki dengan pedangnya, dia lolos tanpa luka sedikit pun-

kemungkinan sebab  keampuhan baju bajanya.e5

Namun, peristiwa yang paling jelas mungkin yaitu  tentang

Saladin sendiri, dan salah satu perjuangannya untuk menyelamat-

kan nyawanya pada 571 H.l1l75 M. Ibn al-Atsir memberikan

keterangan yang sangat penting:

Seorang pembunuh menyerangnya dan menusuk kepalanya dengan

pisau dan melukainya. Kalau saja bukan sebab  ia memakai penutup

kepala rantai (al-rnighfar al-zaral) di bawah tutup kepala lancip

(qalansuutab), pembunuh itu telah membunuhnya. Saladin me-

nangkap pembunuh itu dengan tangannya sendiri. Sekalipun dia

tidak bisa menghentikan serangan itu seluruhnya, serangan si

pembunuh itu tidak cukup berarti. Dia terus menyerang lehernya

dengan pisau. Dia mengenakan rompi kain (hazaghand)e6 dan

serangannya mengenai kerah rompi ini  dan memotongnya dan

568 \ _______________

lapisan besi mencegah (tusukan-tusukan itu) mengenai lehernya-

Saladin berlari ke tendanya, seperti seorang yang ketakutan, hampir

tidak percaya dia bisa menyelamatkan diri.eT

Selanjutnya, berikut ini digambarkan tentang perlindungan

yang bisa diberikan baju besi dan helm pelindung. Baju besi dan

pakaian yang dikenakan di baliknya sering kali dilapisi dengan

tulisan-tulisan Alquran yang memang diyakini bisa memberikan

kekuatan perlindungan.es

Peranan penting helm yang efektif ditekankan. saat  mem-

bahas tentang seorang ksatria yang bernama ftafi' al-Kilabi, Usimah

menulis:

Dia mengenakan helm yang tidak memiliki lapisan besi di

kepalanya. Dia menoleh ke belakang untuk melihat apakah ada

kesempatan baginya untuk menghentikan dan menyerang para

penge.iarnya. saat  dia berbalik, sebuah anak panah bergerigi

mengenainya dan menembus tenggorokannya, dan menewaskannya.ee

Gtapi UsXmah juga menceritakan bahwa ayahnya mengenakan

sebuah helm yang dilengkapi dengan pelindung hidung. saat 

sebilah tombak menghantam pelindung hidung ini , hidung-

nya berdarah namun dia tidak terluka.roo Sebuah manual militer

Mamluk abad keempat belas yang ditulis oleh Ibn Mangli berisi

petunjuk tentang cara memakai helm:

Kancing penutup tengkorak helm ini  yang berada di sisi

dalam lapisan helm dimasukkan melalui simpul sehingga helm tidak

terlepas dari penutupnya... Lapisan bagian dalam helm ini 

harus terbuat dari lubang-lubang halus yang memberikan per-

lindungan dari tumbukan akibat tusukan yang kuat pada helm

itu... Dan bagian penting dari alat itu yaitu  bahwa lubang-

lubang itu akan membuat kekuatan benturan itu tidak terfokus di

satu ritik.ror


Penting untuk dicatat bahwa saat  seseorang mengenakan

baju besi, ia akan sulit untuk dikenali. Akibatnya sering rerungkap

hal-hal yang tak terduga. Menurut Usimah, banyak wanita yang

ikut bertempur (bandingkan foto warna 8) saat terjadi penyerangan

yang dilakukan hmailiyah ke benteng negerinya, Syayzar. namun 

sebab  mereka mengenakan baju besi yang lengkap, prajurit-

prajurit ini tidak diketahui jenis kelaminnya sampai pertempuran

berakhir.ro2 Dalam artikelnya yang penting tenrang senjata dan

baju besi kaum muslim, Mayer membuat ringkasan sebagai berikut

tentang tipikal pakaian yang dikenakan panglima muslim pada

periode Aynrbiyah: sebagai baju besi, helm, baju pelapis, pembalut

kaki dan boot yang bertaji; dan sebagai senjata, pedang, belati

atau pisau, tombak, lembing, dan perisai.ro3

Peran Seremonial Senjata dan Baju Besi

Menurut Nizhtm al-Mulh

Nizhim al-Mulk sangat paham dengan peran penring seremonial

senjata dan baju besi serta peranannya ddam kehidupan istana

dan di medan perang. Dia menganjurkan agar pengawal rap

harus memiliki dua ratus senjata yang selalu siap digunakan oleh

mereka, yang di antaranya: "Dua puluh sabuk pedang dan dua

puluh perisai harus (dihiasi) dengan emas, dan serarus delapan

puluh sabuk dan perisai berlapis perak, bersama dengan tangkai

lembing."roa

Mereka ini, tentu saja, yaitu  pra.y'urit-prajurit yang punya

peran penting dalam kejadian-kejadian khusus. Senjata-senjata

mengundang pesona dan kekaguman, khususnya senjata-senjata

yang dihias, "yang ditatah dengan emas, Permata dan ornamen-

ornamen lain", dan senjata-senjata itu dipertontonkan pada upa-

cara-upacara kenegaraan untuk memberi kesan kepada para pe-

tinggi yang datang.ro5

Paling sedikit lima puluh pasukan gada harus terus menerus

berada di istana, dua puluh dengan gada emas, dua puluh dengan

gada perak dan sepuluh dengan gada besar. Peralatan dan seragam

penjaga harus yang terbaik dan penjaga ini  harus memiliki

penampilan yang semegah mungkin.106

Beberapa gambaran yang samar-samar dari jenis Pertunjukan

megah ini masih tersisa dalam bentuk lukisanlukisan fragmen

yang ditemukan di ruanB singgasana raja di temPat Penguasa

Dinasti Ghaznawi, lasykar-i Bazar, di wilayah barat daya Afghanistan,

yang menunjuk pada sekitar tahun 1020 (gambar 7-47).to7Tema

sejenis ada , kali ini dalam pahatan, di sekitar istana di

Ghaznah, di selatan Afghanistan.ro8 Seni pertunjukan dengan gam-

bar (ikonografi) ini juga dikenal di wilayah-wilayah yang ber-

batasan dengan dunia Islam. Sejarawan Armenia, Thomas Artsruni,

menceritakan lukisan-lukisan pengawal raja Gagik dari Vaspurakan

yang menghiasi ruang singgasananya di istana kerajaan di Aght'amar

di Anatolia timur di awal abad kesepuluh.toe

Peran Sosial Senjata dan Baju Besi

Senjata dan baju besi sangat dihargai dalam sebuah warga 

militer seperri di negara-negara muslim kawasarl Mediterania timur

di abad kedua belas dan ketiga belas. Senjata dan baju besi

menjadi incaran utama saat terjadi penjarahan usai PertemPuran'

Benda-benda itu juga merupakan brg* dari barang-barang mewah

berharga yang ditawarkan dan diterima oleh para Penguasa dan

panglima dan digunakan untuk menunjukkan prestise. Pada 610

H.l12l4 M. raja Apmbiyah al-Zhitfir merayakan kelahiran putra

dan penerusnya. Di antara hadiah yang diberikan kepada anaknya

itu ada  dua baju besi, dua helm dan sabuk hias, yang

kesemuanya berlapis batu-batu permata, dan tombak-tombak

dengan hiasan serupa.rro Pelana sering kali sangat penuh hiasan

dan ditawarkan sebagai hadiah. Usimah menceritakan tentang

pelana yang sangat cantik yang dibuat di Ghazza: "Pelana ini

saya bawa dari Suriah di salah satu kuda tambahan yang dituntun

di sisi saya. Pelana itu terbuat dari kain, memiliki garis-garis

hitam, dan tampak sangat indah.Drrr

Pada saat perayaan, pasukan terlihat sangat banyak. Pada masa

Aynrbiyah dan Mamluk pasukan akan mengenakan pakaian terbaik

mereka dan berparade di arena (maydan) kota. Permainan polo,

pertarungan tombak dan pertempuran-pertempuran simulasi akan

diselenggarakan di kota-kota Ayyubiyah Suriah dan di Mamluk

Kairo, sebagai bagian dari perayaan ini .rr2

BENTENG-BENTENG DI KAWASAN MEDITEMNI,A TIMUR PADA ABAD

KEDUA BELAS DAN KETIGA BETAS

Pengantar Umum

Sejak awal perlu ditegaskan bahwa ada perbedaan penting antara

kubu-kubu pertahanan kota dan benteng-benteng pada periode

Islam Abad Pertengahan. Dalam hal kota-kota, kubu-kubu per-

tahanan itu terdiri dari dinding-dinding panjang yang mengelilingi

wilayah pemukiman. Dinding ini  dibuat setinggi dan setebal

mungkin sesuai dengan bahan-bahan yang tersedia, dan fungsinya

benar-benar untuk pertahanan. Teknologi utama dinding kota

ada  pada gerbangnya: misalnya di jalan menuju gerbang itu

(kadang-kadang lewat jembatan yang bisa dinaikkan dan diturun-

kan seperti di Aleppo), dan digunakannya gerbang tambahan

berurutan, pintu-pintu masuk melengkung atau balkon menjorok

di bagian atas benten g yeng digunakan untuk menyerang musuh

yang hendak menyerbu masuk.

Sedangkan mengenai benteng, fungsinya bisa untuk bertahan

dan menyerang, dan jenis ini khususnya terddpat pada benteng-

benteng Tentara Salib yang dibangun dengan posisi agar dapat


memberikan gangguan sangat berarti bagi kaum muslim, mencegah

mereka memasuki tempat-tempat penting (benteng-benteng itu

biasanya dibangun di puncak bukit), sehingga membuat kaum

muslim tidak bisa bergerak dengan bebas dan mengancam jalur

komunikasi merekh. Namun, benteng-benteng Tentara Salib sangat

sedikit penjaganya-Tentara Salib, bagaimanapun juga, yaitu 

kelompok minoritas yang terkepung-dan, untuk mengatasi hal

ini, pertahanan benteng-benteng mereka harus jauh lebih tertutup

dan berlapis-lapis dibandingkan dengan pertahanan pada benteng

kota.

Benteng-benteng kaum muslim umumnya tidak memiliki

fungsi seperti iru, kecuali pada benteng-benteng kelompok minoritas

lain, kelompok Hasyasyin, yang terkonsentrasi di Suriah utara.

Namun, penduduk asli Armenia Kristen, yang juga minoritas,

menghadapi masalah yang sama. Mereka menumpukkan kekuatan

mereka di benteng-benteng. Bangunan-bangunan di Cilicia seperti

di Sis dan Gokveliolu dibangun untuk fungsi pertahanan, dan

ahli-ahli ukir Armenia sering dipekerjakan oleh kaum muslim

untuk membangun benteng-benteng kota, seperti di Kairo. Benteng

kota Edessa, yan1 di dalamnya ada  banyak penduduk dari

Armenia, memuat banyak inskripsi-inskripsi Armenia Abad Per-

tengahan,rr3 yang memiliki kualitas dan keunggulan teknologi yang

sangat baik dibandingkan sebagian besar benteng kaum muslim

di Suriah.

Hampir semua benteng Tentara Salib dibangun untuk me-

nahan serangan. Namun tidak demikian dengan benteng-benteng

kaum muslim-jumlah Tentara Salib biasanya sangat sedikit untuk

bisa menimbulkan gangguan yang berarti pada mereka. Banyak

penduduk yang harus bekerja untuk pihak Tentara Salib, sementara

jumlah penduduk muslim selalu berlimpah. Mengingat perbedaan

mendasar pendekatan dan fungsi antara benteng-benteng Tentara

Salib dan kaum muslim, yaitu  tidak mungkin bila kaum muslim

merasa harus meminjam seni pertahanan benteng dari Tentara

Salib, sekalipun benteng-benteng Tentara Salib sangat unggul dalam

rancangan dan penampilannya.

Sultan Mamluk, Baybars, membumihanguskan banyak benteng

Tentara Salib sesudah  dengan susah payah dia mengetahui bahwa

beberapa  kecil orang yang ada di dalam benteng-benteng semacam

574 \ Ca.role Hillenbrand

itu bisa menyebabkan kehancuran besar-besaran di pihak muslim.

Fenomena benteng Tentara Salib di kawasan Mediterania timur

berkaitan dengan keadaan-keadaan sangat khusus yang tidak ber-

ulang-minoritas penakluk yang berusaha memaksimalkan sumber

dayanya dan memanfaatkan keunggulan keahlian teknologinya

dalam membangun benteng-benteng--dan fenomena ini meng-

hasilkan penemuan-penemuan dan peralatan yang disesuaikan

dengan situasi ini .

Sementara bagi kaum muslim, mereka pasti telah belajar cara

mengepung benteng Tentara Salib. Namun saat  Tentara Salib

ini  telah terusir dari kawasan Mediterania timur, kaum

muslim tidak membangun benteng-benteng seperti ini. Tak ada

perlunya. Terlepas dari kondisi-kondisi yang sangat khusus dan

latar belakang Eropa yang khusus dari benteng-benteng Tentara

Salib itu, pembangunan benteng-benteng ini  sangat mahal.

Memang pembangunan benteng-benteng itu hanya bisa terjadi

sebab  adanya pemasukan ekonomi yang sangat besar dari Eropa

barat dan sebab  kebutuhan yang sangat mendesak. Tentara Salib

membangun dan terus membangun kembali selama masa pen-

dudukan mereka, hingga begitu banyak, bila dibandingkan dengan

pekerja dan sumber daya yang mereka punya.

Benteng-benteng Tentara Salib masih terus bertahan sebab 

teknik pembangunannya yang istimewa. Benteng-benteng kaum

muslim tidak sebaik itu. Tentara Salib tidak membangun benteng-

benteng di atas fondasi yang telah ada yang buruk kualitasnya.

Mereka lebih suka membangun yang baru. Me