Dilakukan oleh-
Nya, dan oleh hubungan-Nya dengan anggota-anggota lain dalam
Tritunggal itu. Kita mengetahui juga bahwa Roh Kudus yaitu satu
pribadi. Kata ganti yang menunjuk kepada pribadi dipakai untuk
Roh Kudus, nama-nama yang diberikan kepadanya yaitu nama
yang menunjuk kepribadian, serta sifat-sifat kepribadian ada pada
Roh Kudus. Ia melakukan tindakan-tindakan yang menunjukkan
kepribadian-Nya, Ia berhubungan secara pribadi dengan kedua
Oknum lain dalam Tritunggal, dan Ia dapat diperlakukan sebagai
satu pribadi. Setelah memikirkan ketuhanan dan kepribadian-Nya,
kini kita akan beralih kepada pekerjaan-Nya. Sekalipun tujuan
utama kita sekarang ini yaitu mempelajari pekerjaan Roh Kudus
yang berkaitan dengan keselamatan dan pengalaman hidup orang
Kristen, kita juga harus meneliti karya-Nya yang berkaitan dengan
dunia, Alkitab, dan Kristus.
I. HUBUNGAN ROH KUDUS DENGAN DUNIA
A. DALAM PENCIPTAAN DAN PEMELIHARAAN CIPTAAN
Menarik sekali untuk mengetahui bahwa menurut Alkitab pencip
taan dilakukan oleh ketiga Oknum Tritunggal: Bapa (Wahyu 4:11),
381
382 Soteriologi
Anak (Yohanes 1:3), dan Roh Kudus. Kejadian 1:2 menunjukkan
bahwa Roh Kudus terlibat secara aktif dalam penciptaan. Elihu ber
kata kepada Ayub, "Roh Allah telah membuat aku, dan napas Yang
Mahakuasa membuat aku hidup" (33:4), dan Ayub menjawab kepa
da Bildad, "Oleh napas-Nya langit menjadi cerah" (26:13). Pemaz
mur menunjukkan pekerjaan Roh Kudus dalam penciptaan, "Oleh
firman Tuhan langit telah dijadikan, oleh napas [Roh] dari mulut-
Nya segala tentara-Nya" (Mazmur 33:6). Roh Kudus tidak saja ter
libat dalam penciptaan, namun juga dalam pemeliharaannya. Kedua
karya Roh Kudus ini disebut dalam Mazmur 104:30, "jika Eng
kau mengirim Roh-Mu, mereka tercipta, dan Engkau membaharui
muka bumi." Yesaya 40:7 juga berbicara tentang keterlibatan Roh
yang aktif, "Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, jika
Tuhan menghembusnya dengan napas-Nya [Roh]." saat mem
bahas betapa agungnya kegiatan Allah dalam menciptakan dan
memelihara apa yang telah diciptakan-Nya, Yesaya bertanya, "Siapa
yang dapat mengatur Roh Tuhan atau memberi petunjuk kepada-
Nya sebagai penasihat?" (40:13). Nampaknya jelas bahwa istilah-
istilah seperti Roh-Nya (napas), Roh (napas) mulut-Nya, atau Roh
(napas) Tuhan, Roh Anak-Nya, dan Roh Yesus, semuanya menun
juk kepada Roh Kudus, Oknum ketiga dalam Tritunggal (Ayub
26:13; Mazmur 33:6; Yesaya 40:7; Galatia 4:6; Kisah 16:7).
B. KARYA ROH KUDUS DALAM KEHIDUPAN ORANG YANG
TIDAK PERCAYA
Di samping pengaturan-Nya yang memelihara ciptaan Allah, Roh
Kudus bekerja juga di dunia orang-orang yang tidak percaya pada
tiga bidang: Ia bekerja secara aktif melalui orang-orang untuk
melaksanakan berbagai tujuan-Nya, Ia menginsafkan dunia akan
dosa serta keperluan mereka akan keselamatan, dan Ia mengendali
kan serta mengawasi arah kejahatan. Koresy, raja kafir dari Persia,
diurapi Allah dengan Roh Kudus agar ia dapat melayani Allah,
sekalipun Koresy tidak mengenal Allah (Yesaya 44:28-45:6).
Kuyper menulis mengenai Raja Saul:
Tidak ada alasan untuk menganggap Saul sebagai salah satu orang pilihan
Allah. Setelah Saul diurapi menjadi raja, Roh Kudus turun ke atasnya,
tinggal di dalam dia, dan bekerja lewat dia hanya selama Saul menjadi raja
pilihan Allah atas umat-Nya. Akan namun , selekasnya Saul dengan keras
Karya Roh Kudus 383
kepala tidak mau taat, ia tidak lagi dipakai oleh Tuhan, Roh Kudus mening
galkan dia dan roh jahat yang dikirim Allah mengusik dia terus.131
131 Kuyper, The Work of the Holy Spirit, hal. 39.
Daud mengetahui betul apa yang telah terjadi pada Saul. Tidaklah
mengherankan bahwa Daud, setelah ia berbuat dosa, berseru dan
memohon kepada Tuhan, "Janganlah mengambil Roh-Mu yang
kudus daripadaku!" (Mazmur 51:13). Pekerjaan Roh Kudus dalam
kehidupan Koresy dan Saul merupakan kegiatan yang samasekali
berbeda dari kegiatan pembaharuan. Kita juga harus menyadari
bahwa Roh Kudus turun atas orang-orang percaya Perjanjian Lama
dalam cara seperti itu untuk mengurapi mereka bagi suatu pelayanan
khusus (misalnya Bezaleel, Keluaran 31:3, 4; Otniel, Hakim-Hakim
3:9, 10; Yefta, Hakim-Hakim 11:29).
Di samping pelayanan yang berdaulat ini di dalam kehidupan
orang yang tidak percaya maupun orang percaya, Alkitab menyebut
pekerjaan Roh Kudus di dalam hati orang yang tidak percaya untuk
membuatnya berbalik kepada Tuhan. Berbagai istilah dipakai untuk
mengungkapkan pelayanan ini. Roh Kudus disebut sebagai saksi.
Petrus dan para rasul berkata, "Dan kami yaitu saksi dari segala
sesuatu itu, kami dan Roh Kudus" (Kisah 5:32). Yesus mengatakan
tentang pelayanan-Nya sebagai saksi, "Roh Kebenaran . . . akan
bersaksi tentang Aku" (Yohanes 15:26). Nampaknya pekerjaan
menerangi di Yohanes 1:9 dan pekerjaan menarik orang dalam
Yohanes 6:44 dan 12:32 merujuk kepada pekerjaan yang dilakukan
oleh Bapa dan Anak dengan perantaraan Roh Kudus. Dan akhirnya,
Roh Kudus menginsafkan. Yesus berkata mengenai Roh itu, "Ia
akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman"
(Yohanes 16:8). jika seorang yang tidak percaya mengatakan
bahwa pekerjaan Roh Kudus ini merupakan pekerjaan Iblis maka
ia sedang menghujat Roh, suatu dosa yang tidak bisa diampuni
(Markus 3:29). Dosa yang dilakukan dengan keras kepala terhadap
kebenaran-kebenaran yang sudah diketahui berarti menghina Roh
kasih karunia (Ibrani 10:29). Setelah Roh Kudus tinggal (berusaha)
di dalam orang-orang jahat pada masa sebelum terjadi air bah, Allah
berfirman, "Roh-Ku tidak akan selama-lamanya tinggal [berusaha]
di dalam manusia" (Kejadian 6:3). Seratus dua puluh tahun
kemudian Allah membinasakan bumi dengan air bah. Melawan Roh
384 Soteriologi
yaitu dosa yang sangat buruk (Kisah 7:51; bandingkan dengan
Kisah 6:10).
Roh Kudus juga mengekang kejahatan. Pada umumnya sudah
diketahui bahwa hati nurani manusia, siang hari, dan pemerintahan
merupakan hal-hal yang mengekang kejahatan. Kehadiran orang-
orang saleh juga membatasi dan menekan kejahatan. Agaknya kuasa
yang menahan yang disebutkan dalam II Tesalonika 2:6-8 menunjuk
kepada Roh Kudus. Pada waktu kesengsaraan besar, pelayanan Roh
Kudus untuk mengekang kejahatan dan menghalangi si pendurhaka
akan ditarik. Pada waktu itu kejahatan akan dibiarkan merajalela.
II. HUBUNGAN ROH KUDUS DENGAN ALKITAB
DAN DENGAN KRISTUS
A. HUBUNGAN ROH KUDUS DENGAN ALKITAB
Roh Kudus yaitu pengarang dan penafsir Alkitab. Sebagaimana
dikatakan oleh Petrus, "Oleh dorongan Roh Kudus orang-orang ber
bicara atas nama Allah" (II Petrus 1:21). Pada akhir setiap surat
yang ditulis kepada ketujuh jemaat dalam kitab Wahyu, Yesus ber
firman, "Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang
dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat" (Wahyu 2:7, 11, dan seterus
nya). "Roh Kuduslah yang akan menuntun para rasul ke dalam
seluruh kebenaran, dan menunjukkan kepada mereka hal-hal yang
akan datang (Yohanes 16:13)."132 Pernyataan-pernyataan seperti,
"Tepatlah firman yang disampaikan Roh Kudus kepada nenek
moyang kita dengan perantaraan Nabi Yesaya" (Kisah 28:25) dan
"Nats Kitab Suci, yang disampaikan Roh Kudus dengan perantaraan
Daud tentang Yudas" (Kisah 1:16), menunjukkan dengan jelas
keyakinan para rasul bahwa Roh Kuduslah yang mengarang Alkitab
(bandingkan dengan Ibrani 3:7; 10:15). Roh Kudus jugalah yang
menjelaskan kepada para rasul dan nabi Perjanjian Baru hal-hal
yang tidak mungkin diketahui melalui filsafat manusia dan cara ber
nalar alam yang dilakukan oleh pikiran manusia (Efesus 3:5).
132 Evans, The Great Doctrines of the Bible, hal. 119.
Karya Roh Kudus 385
Roh Kudus bukan hanya menjadi pengarang Alkitab, namun juga
yaitu penafsirnya. Paulus berdoa agar Allah berkenan untuk
"memberikan kepadamu Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal
Dia dengan benar" (Efesus 1:17). Bahwa Roh hikmat di sini yaitu
Roh Kudus telah dikemukakan dalam Yesaya 11:2. Paulus juga
menulis bahwa Allah telah memberikan kepada kita "Roh yang
berasal dari Allah, supaya kita tahu apa yang dikaruniakan Allah
kepada kita" (I Korintus 2:12). Roh Kudus mengambil perkataan
Kristus dan menjelaskannya kepada orang-orang percaya (Yohanes
16:14). Roh Kudus mengajar kita untuk "menafsirkan hal-hal
rohani" (I Korintus 2:13). Yohanes mengingatkan para pembacanya
bahwa mereka semua telah memiliki "pengurapan dari Yang
Kudus" (I Yohanes 2:20), dan selanjutnya ia menulis "Sebab di
dalam diri kamu tetap ada pengurapan yang telah kamu terima
daripada-Nya. Karena itu tidak perlu kamu diajar oleh orang lain.
namun . . . pengurapan-Nya mengajar kamu tentang segala sesuatu"
(ayat 27). Jadi, Roh yang mengarang Alkitab, yaitu juga Roh yang
menafsirkan Alkitab ini .
B. HUBUNGAN ROH KUDUS DENGAN KRISTUS
Roh Kudus bekerja dengan giat dalam kehidupan Kristus. Beberapa
hal dapat diperhatikan berhubungan dengan pelayanan Kristus di
bumi. Oleh kuasa Roh Kudus, Maria mengandung Tuhan kita
(Lukas 1:35). Tuhan diurapi oleh Roh Kudus saat Ia dibaptis
(Matius 3:16; bandingkan dengan Yesaya 61:1; Lukas 4:18). Roh
Kudus, yang diberikan tanpa batas (Yohanes 3:34) memperlengkapi
Kristus untuk melayani sebagai Mesias, dan segera setelah diurapi
oleh Roh Kudus Yesus "memulai pekerjaan-Nya" (Lukas 3:23).
Segera setelah dibaptis, Yesus "yang penuh dengan Roh Kudus,
kembali dari Sungai Yordan, lalu dibawa oleh Roh Kudus ke
padang gurun. Di situ Ia tinggal empat puluh hari lamanya dan
dicobai Iblis" (Lukas 4:1,2; bandingkan dengan Matius 4:1; Markus
1:12). Petrus memberi tahu Kornelius "bagaimana Allah mengurapi
Dia dengan Roh Kudus dan kuat-kuasa" (Kisah 10:38). Oleh Roh
Kudus Yesus mengadakan mukjizat-mukjizat (Matius 12:28). Selan
jutnya, Roh Kudus turut aktif saat Yesus disalibkan dan
dibangkitkan (Ibrani 9:14; Roma 1:4; 8:11).
386 Soteriologi
saat Yesus naik ke sorga, Ia meminta kepada Bapa untuk
mengutus Roh Kudus (Yohanes 14:16, 26; 15:26). Roh Kudus akan
menjadi pengganti Yesus Kristus sehingga para rasul tidak akan
ditinggal sendirian seperti yatim piatu (Yohanes 14:18; 16:7-15).
Sebelum Yesus pergi, Ia mempersiapkan para murid untuk
menerima Roh Kudus (Lukas 24:49; Yohanes 20:22; Kisah 1:8).
Kuyper merangkumnya sebagai berikut:
Roh Kudus yang sama yang telah bekerja saat Tuhan kita dikandung,
yang mengawasi pertumbuhan Tuhan kita sebagai manusia yang normal,
yang menggiatkan setiap karunia dan kuasa di dalam diri Tuhan kita, yang
menahbiskan Dia untuk tugas-Nya sebagai Mesias, yang memberi kuasa
kepada-Nya untuk menghadapi setiap pertentangan dan pencobaan, yang
memungkinkan Dia mengusir setan, dan yang menopang Dia selama Ia dihi
na dan menderita serta mengalami kematian yang mengenaskan, yaitu Roh
Kudus yang bekerja saat Tuhan kita bangkit, sehingga Yesus dibenarkan
dalam Roh (I Timotius 3:16), dan yang kini tinggal di dalam sifat manusiawi
Sang Penebus yang telah dipermuliakan di Yerusalem di sorga.
III. HUBUNGAN ROH KUDUS DENGAN
ORANG PERCAYA
Pelayanan Roh Kudus dalam kehidupan orang percaya dapat
dikatakan secara singkat dengan beberapa istilah. Beberapa di antara
doktrin-doktrin ini akan kita teliti secara lebih mendalam
dalam bab-bab yang akan menyusul. Pertama-tama, kita akan
meneliti karya Roh Kudus yang berkaitan dengan keselamatan,
kemudian yang berkaitan dengan kehidupan orang Kristen.
A. KARYA ROH KUDUS saat MENYELAMATKAN
1. Roh Kudus memperbaharui. Manusia dilahirkan kembali lewat
pelayanan Roh Kudus (Yohanes 3:3-8), karena Roh Kuduslah yang
memberi hidup (Yohanes 6:63). Paulus berbicara tentang "pembaha
ruan yang dikerjakan oleh Roh Kudus" (Titus 3:5).
2. Roh Kudus tinggal di dalam diri orang percaya. Pelayanan
Roh Kudus untuk memperbaharui orang percaya berkaitan erat
133 Kuyper, The Work of the Holy Spirit, hal. 110.
Karya Roh Kudus 387
sekali dengan pelayanan-Nya untuk mendiami orang percaya.
Mengenai kedatangan Sang Penghibur itu Kristus berkata, "Kamu
mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam
kamu" (Yohanes 14:17). Perihal Roh Kudus mendiami orang per
caya yaitu begitu penting sehingga orang yang tidak didiami oleh
Roh Kudus dianggap belum menjadi milik Kristus (Roma 8:9).
Paulus berkata kepada gereja di Korintus yang pecah-belah karena
dosa yang ada di antara mereka, "... Roh Allah diam di dalam
kamu" (I Korintus 3:16; bandingkan dengan 6:19). Roh Kudus yang
tinggal di dalam diri orang percaya merupakan jaminan bahwa
orang ini akan dibangkitkan (Roma 8:11).
3. Roh Kudus membaptis. Kristus membaptis orang-orang per
caya dengan Roh Kudus ke dalam tubuh-Nya (Matius 3:11; Markus
1:8; Lukas 3:16; Yohanes 1:33; Kisah 1:5; 11:16). Paulus menulis,
"sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi maupun
orang Yunani, baik budak maupun orang merdeka, telah dibaptis
menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu
Roh" (I Korintus 12:13). Baptisan ini terjadi pada saat kita di
selamatkan. Upacara baptisan air melambangkan baptisan Roh
(Roma 6:3, 4; bandingkan dengan Efesus 4:5; Kolose 2:12).
4. Roh Kudus memeteraikan. Allah memeteraikan orang-orang
percaya dengan Roh Kudus (Efesus 1:13, 14; 4:30). Paulus menulis
bahwa Allah "memeteraikan tanda milik-Nya atas kita dan yang
memberikan Roh Kudus di dalam hati kita sebagai jaminan dari
semua yang telah disediakan untuk kita" (II Korintus 1:22).
Memeteraikan berarti beberapa hal: jaminan, hak milik, dan
keamanan. Roh Kudus yaitu Roh yang mengangkat kita sebagai
anak dan yang "bersaksi bersama-sama dengan roh kita bahwa kita
yaitu anak-anak Allah" (Roma 8:16; bandingkan dengan Galatia
4:6). Keempat karya Roh Kudus ini terjadi serempak dan saat
seseorang memiliki iman yang menyelamatkan.
B. KARYA ROH KUDUS SELANJUTNYA DI DALAM ORANG
PERCAYA
Setelah pertobatan, Roh Kudus melanjutkan pelayanan yang aktif
di dalam kehidupan orang percaya. Beberapa hal yang perlu diper
hatikan mengenai hal ini:
388 Soteriologi
1. Ia memenuhi. Orang-orang percaya diharuskan "penuh dengan
Roh" (Efesus 5:18). saat bertobat seorang percaya didiami oleh
Roh Kudus; sepanjang hidupnya ia perlu dikuasai dan dipimpin oleh
Roh yang sama. Orang-orang, seperti halnya tujuh diaken yang
dipilih oleh gereja Yerusalem yang mula-mula (Kisah 6:3) dan juga
Barnabas (11:24), penuh dengan Roh. Agaknya pada hari Pentakos
ta hal didiami dan dipenuhi oleh Roh Kudus merupakan dua peris
tiwa yang terjadi pada saat bersamaan (Kisah 2:4; bandingkan
pengalaman Paulus, Kisah 9:17), dengan pertobatan merupakan
suatu pengalaman sekali untuk selamanya sedangkan pengalaman
yang kedua merupakan gaya hidup di bawah pengawasan Roh
Kudus. Pelayanan Roh Kudus yang memenuhi kehidupan orang per
caya dapat dipisahkan menjadi pelayanan memenuhi yang umum,
yang berkaitan dengan penguasaan dan pertumbuhan serta kede
wasaan rohani, dan kepada pemenuhan yang khusus, yang berhu
bungan dengan pekerjaan Roh yang khusus. Petrus dipenuhi oleh
Roh Kudus saat ia berkhotbah (Kisah 4:8; bandingkan dengan
4:31; 13:9), namun pastilah sebelum itu Petrus sudah penuh dengan
Roh. Kita dapat beranggapan bahwa kehidupan Petrus dipenuhi oleh
Roh sekalipun pada saat-saat yang kritis ia dipenuhi Roh dengan
cara yang unik dan khusus.
2. Ia membimbing. Orang percaya diperintahkan untuk hidup dan
dipimpin oleh Roh (Galatia 5:16, 25). Di satu pihak, hal ini akan
memungkinkan orang percaya untuk tidak menuruti keinginan
daging, dan di pihak lain, menjaga agar ia tidak terperangkap oleh
ajaran yang mengharapkan keselamatan dengan cara melakukan
perbuatan baik (Galatia 5:16-18; lihat juga Roma 8:14). Gereja yang
Mula-Mula dipimpin oleh Roh kudus; Roh Kudus melaksanakan
tindakan disiplin (Kisah 5:9), memberi pengarahan (8:29), menugas
kan (13:2), mengambil keputusan (15:28), serta melarang (16:6, 7).
3. Ia memberi kuasa. Orang percaya terlibat dalam peperangan:
daging melawan Roh, dan Roh melawan daging. Roh Kudus harus
tinggal di dalam diri orang percaya agar ia memperoleh kemenang
an (Roma 8:13; Galatia 5:17). Roh Kudus merupakan kunci untuk
memperoleh kemenangan. Hal ini juga berlaku pada zaman Perjan
jian Lama karena Zakharia 4:6 berbunyi, "Bukan dengan keperka
saan dan bukan dengan kekuatan melainkan dengan Roh-Ku, firman
Karya Roh Kudus 389
Tuhan semesta alam." Roh Kuduslah yang menghasilkan buah Roh
di dalam diri kita (Galatia 5:22, 23; bandingkan dengan Efesus 5:9;
Filipi 1:11).
4. Ia mengajar. Yesus menjanjikan bahwa Roh yang akan datang
akan menuntun mereka ke dalam seluruh kebenaran (Yohanes
14:26; 16:13). Setiap orang percaya memiliki Roh Kudus dan oleh
karena itu, ia tidak lagi memerlukan penyataan khusus atau
wawasan mistik yang lain (I Yohanes 2:20,27). Ia yang telah meng
ilhami Alkitab, Ia juga sanggup untuk menerangi pikiran orang-
orang rohani untuk mengerti Alkitab (I Korintus 2:13).
Selain dari semua pelayanan ini di atas, Roh Kudus juga
memberikan karunia-karunia rohani kepada orang-orang percaya
seperti yang dikehendaki-Nya (I Korintus 12:4, 7-11; bandingkan
dengan Roma 12:6-8; Efesus 4:11; I Petrus 4:10, 11). Ia juga men
doakan orang-orang percaya di hadapan Allah Bapa (Roma 8:26).
Roh Allah melakukan pekerjaan yang baik sekali di dalam kehi
dupan setiap orang percaya, sehingga orang-orang percaya diingat
kan untuk tidak mendukakan Roh dengan berbuat dosa semaunya
(Efesus 4:30), jangan mencobai Roh dengan berbohong (Kisah 5:9),
jangan memadamkan Roh dengan membatasi pelayanan-Nya (I Te
salonika 5:19), jangan menghina Roh Kudus dengan meremehkan
karya pendamaian yang tersedia dalam darah Yesus Kristus (Ibrani
10:29), dan jangan melawan Roh Kudus dengan menolak untuk
menaati arahan-Nya (Kisah 7:51).
XXVIII
Pemilihan dan Panggilan Allah
saat membahas pemilihan dan panggilan Allah sebagai penerapan
penebusan Kristus, kita secara tidak langsung mengatakan bahwa
dalam ketetapan Allah, kedua hal itu secara logis menyusul setelah
ketetapan untuk mengerjakan penebusan. Sebagaimana telah di
katakan sebelumnya, supralapsarianisme menganjurkan urutan
ketetapan-ketetapan Allah sebagai berikut: (1) ketetapan untuk
menyelamatkan orang-orang tertentu dan menolak orang-orang
yang lain; (2) ketetapan untuk menciptakan kedua macam orang
itu; (3) ketetapan untuk mengizinkan keduanya jatuh ke dalam dosa;
(4) ketetapan untuk menyediakan penebusan di dalam Kristus bagi
orang-orang yang terpilih; (5) dan ketetapan untuk mengutus Roh
Kudus guna melaksanakan penebusan di dalam kehidupan orang-
orang yang terpilih. Beberapa teolog menyatukan ketetapan (4) dan
(5) . Kita jelas tidak menerima supralapsarianisme, karena tidak
mungkin Tuhan menetapkan untuk menyelamatkan orang-orang ter
tentu dan menolak orang-orang lain sebelum Ia menetapkan untuk
menciptakan manusia. Sekali lagi, sebagaimana telah dikatakan
sebelumnya, lebih baik kita memahami urutan ketetapan-ketetapan
Allah sebagai berikut: (1) ketetapan untuk menciptakan manusia;
(2) ketetapan untuk mengizinkan manusia jatuh dalam dosa; (3)
ketetapan untuk memilih beberapa orang yang sudah jatuh untuk
diselamatkan; (4) ketetapan untuk menyediakan penebusan bagi
mereka yang terpilih; dan (5) ketetapan untuk mengutus Roh Kudus
menerapkan penebusan itu di dalam kehidupan orang-orang yang
terpilih. Namun, pandangan ini pun, yang dikenal dengan nama sub-
lapsarianisme, memiliki satu kekurangan dasar karena tidak mem
beri tempat bagi pendamaian yang tidak terbatas. yaitu paling
391
392 Soteriologi
baik untuk memperluas ketetapan itu (4) agar berbunyi: ketetapan
untuk menyediakan penebusan yang memadai bagi semua orang,
dan kemudian mengubah urutan (3) dan (4) sehingga ketetapan
untuk menyediakan penebusan datang sebelum ketetapan untuk
memilih. Dengan demikian, kita menerima urutan ketetapan Allah
sebagai berikut: Allah menetapkan (1) untuk menciptakan manusia;
(2) untuk mengizinkan manusia jatuh dalam dosa; (3) menyediakan
di dalam Kristus penebusan yang memadai untuk semua orang;
(4) memilih beberapa orang untuk diselamatkan; dan (5) mengutus
Roh Kudus untuk menjamin penerimaan penebusan oleh orang-
orang yang telah dipilih sebelumnya.
I. DOKTRIN PEMILIHAN
Dengan menerima urutan ketetapan yang terakhir, kita masih mem
punyai berbagai pandangan tentang definisi pemilihan. Adakah
pemilihan itu merupakan suatu tindakan Allah yang berdaulat penuh
yang memilih beberapa orang untuk diselamatkan semata-mata atas
dasar kasih karunia yang berdaulat penuh saja tanpa mempertim
bangkan jasa-jasa atau perbuatan-perbuatan orang yang terpilih,
ataukah pemilihan ini merupakan tindakan Allah yang berdaulat
penuh yang dengannya Allah memilih orang-orang yang dari semula
sudah diketahui-Nya akan menanggapi secara positif ajakan-Nya
untuk menerima keselamatan? Apakah yang merupakan definisi
yang praktis mengenai pemilihan?
A. DEFINISI PEMILIHAN
Pemilihan yang kita sedang bicarakan menyangkut pemilihan
menurut aspek penebusannya. Alkitab berbicara tentang pemilihan
suatu bangsa (Roma 9:4; 11:28); pemilihan yang berkaitan dengan
jabatan tertentu (jabatan Musa dan Harun, Mazmur 105:26; Daud,
I Samuel 16:12; 20:30; Salomo, I Tawarikh 28:5; para rasul, Lukas
6:13-16, Yohanes 6:70, Kisah 1:2 dan 24, 9:15, 22:14); dan
pemilihan yang berkaitan dengan malaikat-malaikat yang tidak jatuh
(I Timotius 5:21). Menurut aspek penebusan, maka yang dimaksud
kan dengan pemilihan ialah tindakan Allah yang berdaulat yang
dengan penuh kemurahan telah memilih di dalam Kristus untuk
Pemilihan dan Panggilan Allah 393
menyelamatkan semua orang yang dari semula sudah diketahui
oleh-Nya.
Pemilihan merupakan tindakan Allah yang berdaulat penuh;
Allah samasekali tidak berkewajiban untuk memilih siapa pun,
karena semua orang telah kehilangan kedudukannya di hadapan
Allah. Bahkan setelah kematian Kristus, Allah masih tidak
berkewajiban untuk melaksanakan penyelamatan, kecuali karena Ia
harus menepati persetujuan yang telah dibuat-Nya dengan Kristus
berhubungan dengan keselamatan manusia. Jadi, pemilihan Allah
merupakan suatu tindakan yang berdaulat penuh karena tidak ada
paksaan dari siapa pun. Pemilihan ini merupakan suatu tindakan
kasih karunia karena Allah memilih orang-orang yang samasekali
tidak layak untuk diselamatkan. Sebenarnya, manusia harus
menerima yang sebaliknya, namun dalam kasih karunia-Nya Allah
telah memilih untuk menyelamatkan beberapa orang. Ia memilih
mereka "di dalam Dia [Kristus]" (Efesus 1:4). Ia tidak dapat
memilih mereka dalam diri mereka sendiri karena mereka seharus
nya dihukum, maka Ia memilih mereka berdasarkan jasa-jasa orang
lain. Lagi pula, Ia memilih mereka yang dari semula telah diketahui-
Nya akan menerima tawaran keselamatan yang ditawarkan-Nya.
Akan namun , apa hubungan antara pengetahuan dari semula dan
penentuan dari semula dengan pemilihan?
Sampai di sini kita memasuki salah satu rahasia yang besar dari
iman Kristen. Gereja Kristen tidak seluruhnya sependapat mengenai
makna ajaran ini, khususnya yang berkaitan dengan kedaulatan
Allah dan tanggung jawab manusia yang dirangkaikan dengan
kebenaran dan kekudusan Allah serta keadaan manusia yang penuh
dosa. Alkitab menunjukkan bahwa pemilihan dilandaskan pada pe
ngetahuan dari semula (I Petrus 1:1, 2; bandingkan dengan Roma
8:29), namun arti sesungguhnya pengetahuan dari semula ini masih
diperdebatkan. Adakah pengetahuan dari semula itu hanya merupa
kan kemampuan untuk mengetahui kebutuhan pada waktu yang
akan datang, ataukah lebih dekat hubungannya dengan pilihan yang
sesungguhnya? Apakah dalam pengetahuan-Nya sejak semula ini
Allah sudah tahu bagaimana tanggapan setiap orang terhadap pang-
gilan-Nya dan kemudian memilih orang itu untuk diselamatkan se
suai dengan pengetahuan-Nya? Ataukah pengetahuan sejak semula
ini berarti bahwa Allah, sejak kekekalan yang lampau, telah ber
kenan kepada orang-orang tertentu dan kemudian memilih mereka
394 Soteriologi
untuk diselamatkan? Kedua pandangan ini haruslah diuraikan de
ngan pembuktian yang mendukung ataupun yang menentang.
B. PEMILIHAN BERDASARKAN PRA PENGETAHUAN
Pendapat ini134 beranggapan bahwa dalam pengetahuan-Nya sejak
semula Allah sudah melihat sebelumnya siapa saja yang akan
menanggapi tawaran keselamatan-Nya secara positif, lalu secara
aktif Ia memilih mereka untuk diselamatkan. Pemilihan ini ialah
tindakan Allah yang berdaulat penuh dalam kasih karunia. Dengan
tindakan ini maka di dalam Kristus Ia memilih untuk menyelamat
kan semua orang yang sudah sejak semula diketahui-Nya akan
menerima Kristus sebagai Juruselamat. Sekalipun kita tidak diberi
tahu hal apa di dalam pengetahuan Allah sejak semula ini yang
menetapkan pilihan-Nya, berkali-kali Alkitab mengajarkan bahwa
manusia bertanggung jawab atas penerimaan atau penolakan
tawaran keselamatan ini sehingga nampaknya bahwa tanggapan
manusia terhadap penyataan Allah tentang diri-Nya itulah yang
merupakan landasan pilihan-Nya. Umat yang terpilih ialah mereka
yang sudah sejak semula diketahui Allah akan menerima Injil di
dalam hidupnya.
134 Pendapat ini dianut oleh Thiessen.
Berkaitan erat dengan pemilihan Allah ini ialah predestinasi atau
penentuan sejak semula. Kata kerjanya dalam bahasa Yunani ter
dapat beberapa kali dalam Perjanjian Baru (Kisah 4:28; Roma 8:29,
30; I Korintus 2:7; Efesus 1:5, 11). Kata kerja ini mengandung ide
menandai atau mengangkat sebelumnya. Sekalipun pemilihan dan
predestinasi serupa dalam arti, keduanya mungkin dapat dibedakan
sebagai berikut: dalam pemilihan Allah telah memutuskan untuk
menyelamatkan orang-orang yang menerima Anak-Nya dan
keselamatan yang ditawarkan; sedangkan dalam penentuan dari
semula atau predestinasi Allah telah memutuskan untuk melaksana
kan tujuan itu secara efektif. Oleh karena itu Paulus menulis, "Sebab
semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-
Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-
Nya" (Roma 8:29), dan "Ia telah menentukan kita dari semula oleh
Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya" (Efesus 1:5; lihat juga
ayat 11).
Pemilihan dan Panggilan Allah 395
1. Pembuktian yang mendukung pandangan ini. Pandangan ini
dapat dikemukakan melalui beberapa alur pemikiran.
a. Alkitab mengajarkan bahwa kasih karunia Allah yang
menyelamatkan telah nampak kepada semua orang, dan bukan se
kadar orang-orang yang terpilih (Titus 2:11). Sekalipun manusia
sudah mati karena dosa dan pelanggaran yang dilakukannya
sehingga tidak dapat berbuat apa-apa untuk memperoleh
keselamatan, melalui kasih karunia yang bekerja di dalam diri kita,
Allah telah mengembalikan di dalam diri setiap orang kemampuan
yang memadai untuk menentukan pilihan apakah akan tunduk
kepada Allah atau tidak. Kasih karunia ini bekerja dalam kehendak
seseorang sebelum ia berbalik kepada Allah. Melalui kasih karunia
yang umum itu, Allah telah memberikan kepada umat manusia ba
nyak berkat dalam kehidupan ini, yaitu kesehatan, sahabat, musim
panen yang berkelimpahan, kemakmuran, penundaan penghukum
an, kehadiran dan pengaruh Alkitab, Roh Kudus, dan gereja. Selain
dari semua hal ini Allah telah memulihkan kemampuan orang
berdosa untuk menanggapi Allah secara positif. Jadi, melalui kasih
karunia-Nya, Allah telah memberi kesempatan kepada semua orang
untuk diselamatkan. Jasa-jasa manusia tidak diperhitungkan dalam
hal ini; semuanya berasal dari Allah.
b. Dengan jelas dan tegas Alkitab mengajarkan bahwa Kristus
telah mati untuk semua orang (I Timotius 2:6; 4:10; Ibrani 2:9; II
Petrus 2:1; I Yohanes 2:2; 4:14). Allah menghendaki "supaya ja
ngan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan
bertobat" (II Petrus 3:9; bandingkan dengan Yehezkiel 18:32). Ke
selamatan ini ditawarkan kepada semua orang, kepada
"barangsiapa" (Yohanes 3:15, 16; 4:13, 14; 11:26; 12:46; Kisah
2:21; 10:43). Sulit sekali untuk membayangkan tawaran yang uni
versal yang hanya mampu ditanggapi secara positif oleh beberapa
orang.
c. ada banyak nasihat untuk berbalik kepada Allah (Yesaya
31:6; Yoel 2:13, 14; Matius 18:3; Kisah 3:19), untuk bertobat
(Matius 3:2; Lukas 13:3, 5; Kisah 2:38; 17:30), dan untuk percaya
kepada Tuhan (Yohanes 6:29; Kisah 16:31; I Yohanes 3:23). Paulus
menulis, "Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua
manusia sudah nyata" (Titus 2:11). Sebagai akibatnya, kehendak
manusia dibebaskan sehingga ia dapat menentukan pilihannya me-
396 Soteriologi
ngenai keselamatan. Dengan demikian manusia dapat memberikan
tanggapan yang positif kepada Allah yang akan mengakibatkan
Allah memberikan kepadanya pertobatan dan iman. Bila manusia
bersedia untuk berbalik kepada Allah berlandaskan kasih karunia
yang bekerja dalam kehendaknya, maka Allah akan berbalik juga
kepadanya (Yeremia 31:18-20) dan memberikan kepadanya per
tobatan (Kisah 5:31; 11:18; II Timotius 2:25) dan iman (Roma 12:3;
II Petrus 1:1).
d. Alkitab melandaskan pemilihan pada pengetahuan dari semula
(Roma 8:28-30; I Petrus 1:1, 2). Bila kita mengatakan bahwa Allah
sejak semula sudah mengetahui segala sesuatu karena Ia dengan
sewenang-wenang telah menentukan segala sesuatu maka kita
mengabaikan perbedaan yang ada antara ketetapan Allah yang tepat-
guna dengan ketetapan Allah yang lunak. Allah mengetahui sejak
semula bahwa dosa akan memasuki alam semesta, namun itu bukan
ketetapan-Nya. Pastilah Ia juga mampu mengetahui dari semula
bagaimana manusia akan bertindak tanpa menetapkan tindakan ter
sebut. Allah mengetahui bagaimana manusia akan menanggapi
ajakan Injil untuk menerima keselamatan namun Ia tidak dengan
sewenang-wenang mengharuskan mereka memberi tanggapan itu.
e. Keadilan Allah perlu juga dipertimbangkan dalam pembahasan
ini. Kita mengakui bahwa Allah tidak berkewajiban untuk
menyediakan keselamatan bagi siapa pun juga, karena manusia sen
dirilah yang menyebabkan keadaannya yang terhilang. Selanjutnya,
Allah tidak berkewajiban menyelamatkan siapa pun juga walaupun
Kristus telah menyediakan keselamatan yang cukup untuk semua
orang. Akan namun , tidakkah sulit untuk menerima pandangan
bahwa Allah dapat memilih beberapa orang dari antara sekian
banyak orang yang bersalah dan terhukum, menyediakan
keselamatan untuk mereka dan secara tepat-guna menjamin
keselamatan mereka, namun tidak berbuat apa-apa untuk menolong
semua yang lain? Allah tidak pilih kasih jika Ia membiarkan
semua orang tanpa kecuali mengalami kehancuran yang sudah
sepantasnya mereka terima; namun bukankah Allah bersikap pilih
kasih jika Ia memilih beberapa di antara begitu banyak orang
untuk diselamatkan sedangkan yang lain tidak diselamatkan-Nya,
padahal tidak ada perbedaan apa pun antara orang-orang yang ter
pilih dan yang tidak terpilih? Kasih karunia yang umum telah
Pemilihan dan Panggilan Allah 397
diberikan kepada semua orang, dan kemampuan semua orang telah
dipulihkan untuk "mau melakukan kehendak-Nya" (Yohanes 7:17).
Keselamatan yang merupakan kasih karunia Allah sudah nyata bagi
semua orang; namun ada yang menerima kasih karunia Allah itu
dengan sia-sia. Hanya bila Allah menyediakan kesempatan dan per
tolongan yang sama bagi semua orang dapatlah Ia benar-benar ber
tindak dengan adil.
f. Menerima pandangan ini dengan sendirinya akan menghasilkan
kegiatan pekabaran Injil yang luas. Kristus telah mengutus para
murid-Nya ke seluruh dunia, dan Ia telah menyuruh mereka mem
beritakan Injil kepada segala makhluk. Bila pemilihan itu berarti
bahwa semua orang yang dengan sewenang-wenang telah dipilih
oleh Allah sudah pasti akan diselamatkan dan bahwa semua orang
yang tidak dipilih-Nya tidak akan selamat, mengapa pula orang
Kristen harus begitu memikirkan penginjilan kepada segala
makhluk? Namun pengetahuan bahwa keselamatan tersedia bagi
semua orang merangsang dan mendorong kegiatan pekabaran Injil.
2. Berbagai keberatan terhadap pandangan ini. Beberapa
keberatan telah diajukan terhadap pandangan ini tentang pemilihan
Allah. Keberatan-keberatan ini harus kita pertimbangkan.
a. Ada pernyataan-pernyataan yang jelas dalam Alkitab bahwa
Allah Bapa memberikan orang-orang tertentu kepada Kristus
(Yohanes 6:47; 17:2, 6, 9). Tindakan ini dianggap sebagai tindakan
Allah yang sewenang-wenang yang membuat orang-orang lain yang
tidak terpilih diserahkan kepada kebinasaan. Mungkin sekali hal ini
dilakukan oleh Allah karena Ia telah mengetahui dari semula apa
yang akan dilakukan oleh orang-orang itu, dan bukan sekadar untuk
memakai kekuasaan yang berdaulat.
b. Kristus mengatakan, 'Tidak ada seorang pun yang dapat da
tang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus
Aku" (Yohanes 6:44). Akan namun , ayat ini harus dibaca dengan
mengingat suatu pernyataan lain yang dibuat oleh Kristus, "Dan
Aku, jika Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua
orang datang kepada-Ku" (Yohanes 12:32). Salib Kristus meman
carkan kuasa yang menjangkau semua orang, meskipun ada banyak
yang terus melawan kuasa itu.
c. Paulus menulis bahwa Allah bekerja di dalam diri kita
398 Soteriologi
sehingga kita mau dan sanggup melakukan apa yang menyenangkan
hati-Nya (Filipi 2:13). Ada anggapan bahwa orang berdosa tak dapat
berbuat apa-apa sebelum Allah melakukan sesuatu di dalam dirinya.
Namun ayat ini tidak ditujukan kepada orang-orang yang belum
percaya, namun kepada orang-orang yang sudah percaya. Dengan
terus terang Yesus berkata kepada beberapa orang Yahudi, "Kamu
tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu"
(Yohanes 5:40). Dalam perkataan ini jelas tersirat bahwa mereka
dapat datang kepada Dia jikalau mereka mau.
d. Di Roma 9:10-16 dikatakan bahwa Allah telah memilih Yakub
dan bukan Esau, bahkan sebelum mereka lahir dan sebelum mereka
berbuat yang baik atau yang jahat. Akan namun , dua hal harus diper
hatikan. Sekalipun dikatakan bahwa mereka belum melakukan
yang baik atau yang jahat, tidaklah dikatakan bahwa Allah tidak
tahu siapa yang akan berbuat yang baik dan siapa yang akan berbuat
yang jahat. Esau terus-menerus memilih hal-hal duniawi dalam
kehidupan, sedangkan Yakub telah memilih hal-hal yang lebih
rohani meskipun ia samasekali tetap dalam hal-hal Allah. Selan
jutnya, pemilihan Yakub dan bukan Esau merupakan pilihan yang
menyangkut hak istimewa nasional yang lahiriah, bukan pilihan
yang secara langsung berkaitan dengan keselamatan. Alkitab me
ngatakan bahwa tidak semua keturunan Israel (Yakub) yaitu Israel,
dan tidak semua anak Abraham yaitu anak-anak perjanjian. Ke
turunan Esau dapat saja diselamatkan oleh Tuhan semudah Ia me
nyelamatkan keturunan Yakub.
e. Kisah 13:48 berbunyi, ". . . Dan semua orang yang ditentukan
Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya." Ayat ini tidak
mungkin berarti suatu ketetapan yang mutlak karena dalam ayat 46
Paulus sudah menyatakan bahwa berdasarkan keputusan mereka
sendiri orang-orang Yahudi telah menolak berita keselamatan. Jadi,
Allah telah menetapkan untuk memperoleh keselamatan orang-
orang yang sejak semula sudah diketahui-Nya akan percaya. Juga
ada kemungkinan bahwa kata kerja "ditentukan" itu seharusnya
dipahami sebagai berikut "dan semua orang yang telah menentukan
diri untuk memilih hidup kekal, menjadi percaya."
f. Lagi, Efesus 1:5-8 dan 2:8-10 menyatakan bahwa keselamatan
bersumber pada pilihan Allah dan seluruhnya berdasarkan kasih
karunia. Namun ayat-ayat ini tidak melawan pandangan yang
Pemilihan dan Panggilan Allah 399
sedang dibahas. Allah yang harus mengambil inisiatif, dan hal itu
dilakukan-Nya dengan kasih karunia yang bekerja dalam kehendak
seseorang. Bila kasih karunia-Nya tidak bekerja dalam hati orang
berdosa, tidak ada orang yang dapat selamat. Akan namun , kasih
karunia ini tidak menyelamatkan manusia, namun hanya memung
kinkan dia memilih kepada siapa ia akan beribadah.
g. Alkitab mengajarkan bahwa pertobatan dan iman yaitu
karunia Allah (Kisah 5:31; 11:18; Roma 12:3; Efesus 2:8-10; II
Timotius 2:25). Nampaknya aneh sekali kalau Allah memanggil
semua orang untuk bertobat (Kisah 17:30; II Petrus 3:9) dan percaya
(Markus 1:14, 15), padahal hanya beberapa orang tertentu yang
menerima karunia pertobatan dan iman.
h. Akhirnya, beberapa orang menegaskan bahwa bila predestinasi
itu tidak bersyarat dan tidak mutlak, maka seluruh rencana Allah
itu tidak pasti dan besar kemungkinannya akan gagal. Akan namun ,
hal ini hanya bisa terjadi bila Allah tidak mengetahui dari semula
apa yang akan terjadi dan tidak menerimanya sebagai rencana-Nya.
Tuhan sudah mengetahui dari semula semua hal yang akan terjadi
dan Ia telah mencakup semuanya itu dalam rencana-Nya. Rencana
Allah itu pasti sekalipun tidak semua peristiwa yang tercakup di
dalamnya harus terjadi demikian.
C. PEMILIHAN ITU BERDASARKAN PILIHAN
Pendekatan yang kedua terhadap pemilihan Allah ialah memahami
pengetahuan sejak semula sebagai secara aktif menyenangi orang-
orang tertentu dan kemudian memilih mereka untuk diselamatkan.
Pemilihan yaitu tindakan Allah yang berdaulat yang dengannya Ia
memilih dari antara umat manusia yang berdosa beberapa orang
untuk menerima kasih karunia-Nya yang khusus yang mengerjakan
keselamatan. Tindakan ini diambil, semata-mata karena Allah yang
mahatinggi senang melakukannya dan samasekali tidak disebabkan
oleh sesuatu jasa dalam diri orang-orang yang terpilih. Berdasarkan
pendekatan ini pengetahuan sejak semula itu bukanlah sekadar
pengetahuan atas hal-hal yang belum terjadi, namun lebih dekat
kaitannya dengan tindakan memilih yang sesungguhnya. Bagi
Allah, mengetahui dari semula sama saja dengan memilih. Penge
tahuan-Nya sejak semula itu yaitu sama dengan pilihan-Nya.
400 Soteriologi
Selanjutnya, istilah "tahu" dengan kata-kata lain yang seasal sering
kali mengandung pikiran "mengetahui atau mengenal dengan baik
sekali", "mengenal dan menghargai", "mengenal dengan kasih
sayang". Contoh-contoh-Nya ada baik dalam Perjanjian Lama
maupun Perjanjian Baru. Allah berfirman, "Hanya kamu yang
Kukenal dari segala kaum di muka bumi" (Amos 3:2). Keil meng
usulkan dipakainya istilah "diakui" dalam ayat ini. Beliau menulis,
"Pengakuan pada pihak Allah bukan sekadar memperhatikan, namun
merupakan sikap yang giat, merangkul batin manusia, merangkul
dan merasuk seluruh diri manusia dengan kasih ilahi." Beliau me
lanjutkan dengan mengatakan bahwa pengakuan ini "tidak hanya
mencakup pikiran kasih dan pemeliharaan, seperti dalam Hosea
13:5, namun pada umumnya mengungkapkan persekutuan yang indah
antara Tuhan dengan Israel, seperti dalam Kejadian 18:19, dan
secara praktis istilah ini sama artinya dengan memilih, termasuk
motif dan hasil pilihan itu."135 Anak-anak lelaki Eli "tidak mengin
dahkan [mengetahui, Terj. Lama] Tuhan ataupun batas hak para
imam terhadap bangsa itu" (I Samuel 2:12, 13). Ayat-ayat ini tidak
berarti bahwa putra-putra Eli tidak mengenal Tuhan atau tidak me
ngetahui peraturan-peraturan keimaman yang berlaku; lebih tepat
untuk mengatakan bahwa mereka tidak mengakui atau kurang
menghormati dan menghargai Allah dan peraturan-peraturan-Nya.
Kata kerja "mengetahui" dipakai dengan arti yang kurang lebih
sama dalam Perjanjian Baru. Paulus menulis tentang kewajiban kita
untuk menghormati para pemimpin rohani kita (I Tesalonika 5:12).
Yohanes menulis, "Dan inilah tandanya bahwa kita mengenal Allah,
yaitu jikalau kita menuruti perintah-perintah-Nya" (I Yohanes 2:3).
Jelas bahwa yang dimaksudkan bukan sekadar mengetahui adanya
Allah, namun lebih mengacu kepada hubungan yang penuh kasih
dengan Allah, hubungan yang sepenuhnya mengakui Dia. Dengan
mempertimbangkan hal ini, tidakkah kita dapat menafsirkan penge
tahuan Allah sejak semula itu sebagai berarti bahwa Allah, dalam
kekekalan yang lampau, telah berkenan kepada orang-orang tertentu
dan kemudian memilih mereka untuk diselamatkan? Pengetahuan
sejak semula harus mendahului pemilihan, dan keduanya merupakan
tindakan Allah yang tegas; pengetahuan sejak semula itu bukanlah
pengetahuan yang pasif, melainkan aktif.
135 Keil, The Twelve Minor Prophets, I, hal. 259.
Pemilihan dan Panggilan Allah 401
1. Pembuktian yang mendukung pandangan ini. Alasan-alasan
yang menentukan pelaksanaan pemilihan berada di luar jangkauan
pikiran manusia. Pada akhirnya pemahaman yang benar tentang
doktrin ini kita serahkan kepada Allah yang bijaksana, berdaulat,
dan penuh kasih. Kita menerima kata-kata dari Ulangan 29:29,
"Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi Tuhan, Allah kita, namun hal-
hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan bagi anak-anak kita sampai
selama-lamanya, supaya kita melakukan segala perkataan hukum
Taurat ini." Namun ada beberapa bukti yang dapat dikemukakan
untuk mendukung pandangan yang sedang kita bahas ini.
a. Di dalam Alkitab ada beberapa pernyataan yang jelas se
kali mendukung pemilihan. Kisah 13:18 berbunyi, "... Dan semua
orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi per
caya" (bandingkan dengan Roma 8:27-30; Galatia 4:9; Efesus 1:5,
11; I Tesalonika 1:4; I Petrus 1:1, 2; 2:9).
b. Seluruh proses penyelamatan yaitu pemberian dari Allah
(Roma 12:3; Efesus 2:8-10). Tak dapat disangkal bahwa manusia
harus menanggapi Injil yang diberitakan, namun bahkan kemampu
annya untuk memberi tanggapan itu pun dikaruniakan oleh Allah.
Paulus menulis kepada jemaat di Filipi, "Allahlah yang mengerjakan
di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-
Nya" (2:13).
c. Di dalam Alkitab ada ayat-ayat yang menyebutkan orang-
orang yang telah diberikan kepada Kristus (Yohanes 6:37; 17:2)
dan bagaimana Allah Bapa menarik orang-orang datang kepada
Kristus (Yohanes 6:44).
d. Di dalam Alkitab ada contoh-contoh tentang panggilan
Allah yang berdaulat atas orang-orang, seperti Paulus (Galatia 1:15)
dan Yeremia (Yeremia 1:5; band. Mazmur 139:13-16).
e. Berdasarkan pemilihan inilah maka orang-orang percaya di
himbau untuk hidup saleh (Kolose 3:12; II Tesalonika 2:13; I Petrus
2:9).
f. Pemilihan digambarkan sebagai sesuatu yang telah direncana
kan sejak kekal. Allahlah "yang menyelamatkan kita dan memanggil
kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita,
melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri, yang
telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum per
mulaan zaman" (II Timotius 1:9).
402 Soteriologi
Dua hal, yang keduanya berasal dari pengalaman manusia, harus
ditambahkan. Orang-orang Kristen di mana saja bersyukur kepada
Tuhan atas keselamatan mereka, bukan kepada diri mereka sendiri.
Dan selanjutnya, mengapa berdoa kepada Tuhan untuk keselamatan
orang lain, bila kita tidak mengharapkan Allah akan bekerja dengan
kuasa-Nya di dalam kehidupan mereka sehingga mereka me
nanggapi Injil dengan positif? Jadi, dengan mendoakan penyela
matan orang lain dan dengan mengucapkan terima kasih atas kese
lamatan, orang-orang Kristen di mana-mana mengakui dan menya
dari kedaulatan Allah dalam penyelamatan diri mereka. Dalam
semuanya ini, kita mengakui adanya rahasia dalam cara kerja Allah
yang berdaulat di dalam kehendak bebas manusia.
2. Keberatan-keberatan terhadap pandangan ini. Beberapa
keberatan telah diajukan terhadap pandangan ini tentang doktrin
pemilihan.
a. Doktrin ini menjadikan pengetahuan sejak semula dan
pemilihan benar-benar sama. Ada orang yang menegaskan bahwa
melihat sesuatu yang belum terjadi hanya berarti mengetahui bahwa
sesuatu akan terjadi sebelum peristiwa ini terjadi sesungguh
nya. Allah sudah tahu sebelumnya bahwa dosa akan memasuki
dunia, namun bukan Allah yang menyebabkan dosa masuk, Ia hanya
mengizinkannya. Ada yang menegaskan bahwa demikian pula Allah
sejak semula sudah tahu bagaimana tanggapan seseorang bila meng
hadapi tuntutan Kristus atas hidupnya, dan kemudian Ia memilih
orang-orang yang sudah diketahui akan menanggapi tuntutan ter
sebut secara positif. Bagaimanapun juga, telah ditunjukkan bahwa
sering kali mengenal seseorang bagi Tuhan bukan sekadar menge
tahui tentang orang ini . Lebih tepat kalau dikatakan bahwa
mengenal seseorang bagi Allah artinya memiliki hubungan yang
pribadi dengan orang ini . Jadi, pengetahuan sejak semula ber
dasarkan pengertian ini sifatnya aktif, tidak pasif. Selanjutnya,
doktrin pemilihan ini tetap mempertahankan kedaulatan Allah. Ia
dapat menentukan untuk menyelamatkan siapa saja yang Ia kehen
daki. Lukas melaporkan tanggapan orang-orang di Antiokhia di
Pisidia terhadap Injil, "... Dan semua orang yang ditentukan Allah
untuk menerima hidup yang kekal, menjadi percaya" (Kisah 13:48).
Pemilihan dan Panggilan Allah 403
b. Dikatakan bahwa bila pemilihan dibatasi oleh Allah, maka
pendamaian harus juga dibatasi. Akan namun , pandangan ini ber
tolak belakang dengan banyak ayat Alkitab yang mengajarkan
bahwa pendamaian tidak terbatas (Yohanes 1:29; 3:16); I Timotius
2:6; Ibrani 2:9; I Yohanes 2:2). Manusia tetap bertanggung jawab
bila menolak pendamaian. Pendamaian tersedia bagi semua orang,
namun manusia dengan sikap keras kepala tidak mau menerimanya.
Bahwa beberapa orang menolak pendamaian itu membatasi keefek
tifannya, namun tidak membatasi tersedianya pendamaian itu. Kita
dapat memakai sebagai contoh orang-orang yang menyalibkan
Tuhan. Allah telah menetapkan bahwa Kristus akan disalib, namun
orang-orang yang benar-benar menyalibkan Yesus tetap harus
bertanggung jawab atas tindakan mereka itu (Kisah 2:23; 4:27,
28). Yesus mengatakan, ". . . Memang penyesatan harus ada, te
tapi celakalah orang yang mengadakannya!" (Matius 18:7). Ryrie
menasihatkan,
Keseimbangan sangat dibutuhkan dalam membicarakan ajaran ini. Sekalipun
kita tidak boleh mengabaikan kenyataan tanggung jawab, tanggung jawab
ini tidak boleh mengaburkan makna kasih karunia. Kasih karunia
berkaitan dengan asal usul tawaran keselamatan, tanggung jawab berkaitan
dengan tanggapan terhadap tawaran itu. Allah memulai rencana keselamatan
serta melandaskannya samasekali pada kasih karunia (manusia berdosa tidak
mungkin menyenangkan hati-Nya); namun manusia bertanggung jawab se
penuhnya bila ia menerima atau menolak kasih karunia Allah ini.
Keselamatan tersedia bagi semua orang, itu tidak terbatas. Namun
keselamatan ini secara efektif dibatasi oleh penolakan
manusia.
c. Pandangan ini menjadikan Allah bertanggung jawab atas
penolakan orang-orang yang tidak diselamatkan. Mengapa Allah
tidak memilih orang-orang tertentu untuk diselamatkan merupakan
suatu rahasia besar. Akan namun , sebaiknya kita mengingat bahwa
pemilihan Allah tidaklah berkaitan dengan orang-orang yang tidak
berdosa, namun dengan orang-orang yang penuh dosa, yang bersalah,
yang najis, serta terhukum. Bahwa ada orang yang diselamatkan
merupakan soal kasih karunia semata-mata (Efesus 2:8). Mereka
yang tidak terpilih hanya mendapat ganjaran yang patut mereka
136 Ryrie, The Grace of God, hal. 85.
Soteriologi404
terima. Seharusnya kita memuji Allah karena Ia mau menyelamat
kan beberapa orang, dan bukannya menuduh bahwa Ia tidak adil
atau pilih kasih saat menyelamatkan beberapa orang saja. Allah
tidak senang akan kematian orang fasik (Yehezkiel 33:11), dan Ia
juga tidak mau seorang pun binasa (II Petrus 3:9), namun kejahatan
manusialah yang memisahkan dia dari Allah (Yesaya 59:2).
Ketetapan untuk menolak beberapa orang, jika memang dapat
dikatakan demikian, merupakan suatu ketetapan untuk tidak
melakukan apa-apa, suatu ketetapan untuk membiarkan orang ber
dosa mengatur hidupnya sendiri, menyerahkan dia kepada kekerasan
hatinya yang mengakibatkan pembinasaan dirinya. Tidaklah benar
untuk mengatakan bahwa Allah memilih orang-orang tertentu untuk
masuk neraka. saat Petrus menulis, "Mereka tersandung padanya,
karena mereka tidak taat kepada Firman Allah, dan untuk itu mereka
juga telah disediakan" (I Petrus 2:8), maka yang diajarkannya ialah
bahwa orang-orang itu disediakan, bukan untuk tidak taat,
melainkan untuk tersandung karena mereka tidak taat. Dengan cara
yang sama pula kita harus memahami kesimpulan Rasul Paulus,
"Jadi Ia menaruh belas kasihan kepada siapa yang dikehendaki-Nya
dan Ia menegarkan hati siapa yang dikehendaki-Nya" (Roma 9:18),
Allah menyerahkan manusia kepada cara hidupnya yang bersifat
keras hati dan merusak, dan dalam arti itulah Ia menegarkan hati
manusia.
d. Selanjutnya, pemilihan Allah yang dipahami seperti itu
melemahkan usaha penginjilan. Ada yang bertanya, bila hanya
orang terpilih yang akan selamat, mengapa harus memberitakan
Injil? Mereka yang telah dipilih untuk diselamatkan toh akan
selamat; sedangkan mereka yang tidak terpilih tidak akan selamat;
maka dari itu buat apa ada penginjilan? Beberapa hal perlu diper
hatikan. (1) Perintah terakhir dari Kristus ialah untuk mem
beritakan Injil ke seluruh bumi (Kisah 1:8). Perintah ini merupakan
amanat kita semua. Allah telah memilih penginjilan sebagai cara
untuk melaksanakan pemilihan-Nya (Kisah 13:48; 18:10). (2)
Ajaran ini memberikan semangat kepada orang Kristen saat ia
menyampaikan imannya. Paulus menulis, "Karena itu aku sabar
menanggung semuanya itu bagi orang-orang pilihan Allah, supaya
mereka juga mendapat keselamatan dalam Kristus Yesus dengan
kemuliaan yang kekal" (II Timotius 2:10). (3) Anak Tuhan yang
Pemilihan dan Panggilan Allah 405
mulai memahami betapa besarnya kasih Allah kepada dirinya saat
Ia memilihnya untuk diselamatkan, kini mempunyai motivasi yang
baru untuk menyampaikan kebenaran keselamatan yang begitu
besar dengan orang lain. Paulus menyatakan, "Sebab kasih Kristus
yang menguasai kami" (II Korintus 5:14) dan beberapa ayat
kemudian ia melanjutkan, "Jadi kami ini yaitu utusan-utusan Kris
tus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami;
dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu di
damaikan dengan Allah" (II Korintus 5:20)137
e. Pandangan ini menggambarkan Allah bertindak dengan pilih
kasih dan semau-maunya. Sepintas lalu mungkin kelihatan seperti
keberatan ini kuat, namun ada dua hal yang perlu diperhatikan. Per
tama, tindakan ini samasekali tidak ada hubungannya dengan pilih
kasih, karena tidak ada apa-apa di dalam diri manusia yang dapat
dibanggakan di hadapan Tuhan. Kedua, mengatakan bahwa pe
milihan itu dilakukan dengan sewenang-wenang, berarti secara
tidak langsung mengatakan bahwa Allah itu tidak bijaksana, tidak
bebas, dan tidak ada kasih. Pemilihan dilakukan oleh Allah yang
bijaksana dan penuh kasih.
f. Akhirnya, pandangan ini bisa menimbulkan kesombongan di
dalam hati orang yang terpilih. Jelas keberatan ini tidak dapat di
terima karena tidak sesuai dengan kenyataan. Karya dan usaha
manusia bisa menghasilkan kesombongan (Lukas 18:11, 12; Roma
4:2; Efesus 2:9); kasih karunia Allah yang berdaulat mengakibatkan
ibadah.
Pandangan mana pun dari kedua pandangan ini yang kita anggap
lebih pantas dan lebih alkitabiah, tanggapan kita pribadi terhadap
pemilihan Allah seharusnya sama dengan tanggapan Rasul Paulus,
"O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat, dan pengetahuan Allah!
Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak
terselami jalan-jalan-Nya!" (Roma 11:33). Kita mengakhiri pem
bicaraan ini bersama dengan Paulus, "Bagi Dialah kemuliaan sam
pai selama-lamanya. Amin!" (ayat 36; lihat juga Yesaya 55:8, 9).
137 Untuk mendapat pembahasan yang lebih lengkap mengenai hal ini, lihat Packer,
Evangelism and the Sovereignty of God.
406 Soteriologi
II. DOKTRIN PANGGILAN ALLAH
Kini kita akan mempelajari bersama doktrin panggilan Allah. Kasih
karunia Allah dimuliakan bukan saja dalam penyediaan kesela
matan, namun juga dalam menawarkan keselamatan kepada orang-
orang yang tidak layak menerimanya. Kita dapat mendefinisikan
panggilan Allah sebagai tindakan kasih karunia yang mengundang
manusia untuk menerima dengan iman keselamatan yang telah di
sediakan oleh Kristus.
A. ORANG-ORANG YANG DIPANGGIL
Alkitab menunjukkan bahwa keselamatan ditawarkan kepada semua
orang. Keselamatan ditawarkan kepada mereka yang "ditentukan"
(Roma 8:30), kepada "semua yang letih lesu dan berbeban berat"
(Matius 11:28), kepada "setiap orang yang percaya kepada-Nya"
(Yohanes 3:16; band. 3:15; 4:14; 11:26; Wahyu 22:17), kepada
"ujung-ujung bumi" (Yesaya 45:22; band. Yehezkiel 33:11; Matius
28:19; Markus 16:15; Yohanes 12:32; I Timotius 2:4; II Petrus 3:9),
dan kepada "setiap orang yang kamu jumpai" (Matius 22:9).
Di sini muncullah dua pertanyaan: (1) Jikalau beberapa orang
termasuk kaum terpilih, sedangkan yang lainnya tidak termasuk,
adakah panggilan Allah itu sungguh-sungguh bagi semua orang?
jika panggilan Allah itu sungguh-sungguh bagi semua orang,
adakah itu sesuai dengan ajaran bahwa karena pembawaannya orang
berdosa tidak mampu menaati panggilan ini ? Harus diingat
bahwa ketidakmampuan itu ialah ketidakmampuan moral, bukan
ketidakmampuan fisik. Ketidakmampuan manusia ini disebabkan
oleh kehendaknya yang sudah dicemarkan, dan ia sendiri yang men
jadi penyebab keadaan ini. Selanjutnya ditanya, bagaimana mung
kin ajaran tentang panggilan Allah ini cocok dengan ajaran tentang
pilihan Allah? Bagaimanapun juga masalahnya tetap sama apakah
kita mengatakan bahwa Allah membiarkan orang-orang ter
tentu menolak panggilan itu atau apakah kita mengatakan bahwa
Allah sudah tahu sejak semula bahwa ada orang-orang yang akan
menolak panggilan itu. (2) Pertanyaan yang kedua berkaitan dengan
kemanjuran panggilan Allah. Apakah panggilan Allah ini begitu
menarik sehingga tidak dapat ditolak? Pertanyaan ini dapat mem
Pemilihan dan Panggilan Allah 407
berikan kesan yang salah seakan-akan Allah memakai tekanan dari
luar terhadap pikiran manusia. Bagaimanapun juga, kita mengakui
bahwa Allah bekerja di dalam manusia sehingga manusia melak
sanakan kehendak-Nya (Filipi 2:13). Allah dapat bekerja secara ber
daulat di dalam hati manusia sehingga mengakibatkan manusia
menanggapi secara pribadi dan sukarela panggilan Allah kepada
keselamatan. Perpaduan antara kedaulatan Allah dan kehendak
bebas manusia berkaitan dengan panggilan Allah ditunjukkan secara
menakjubkan oleh Yohanes, "Ia datang kepada milik kepunyaan-
Nya, namun orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya.
namun semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya
menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-
Nya; orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari
daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki,
melainkan dari Allah" (Yohanes 1:11-13).
B. TUJUAN PANGGILAN ALLAH
Secara ringkas, Allah tidak memanggil manusia untuk memperba
harui hidup mereka, untuk melakukan kebajikan, untuk dibaptis,
untuk melibatkan diri dalam kegiatan-kegiatan gereja, dan lain-lain.
Semuanya itu merupakan hal-hal yang baik, namun semua itu
hanyalah merupakan buah yang pasti dari apa yang menjadi tujuan
panggilan Allah. Allah memanggil manusia kepada pertobatan
(Matius 3:2; 4:17; Markus 1:14, 15; Kisah 2:38; 17:30; II Petrus
3:9) dan iman (Markus 1:15; Yohanes 6:29; 20:30,












