Kamis, 16 Juli 2026

teologi sistematik 15

 


Dilakukan oleh- 

Nya, dan oleh hubungan-Nya dengan anggota-anggota lain dalam 

Tritunggal itu. Kita mengetahui juga bahwa Roh Kudus yaitu  satu 

pribadi. Kata ganti yang menunjuk kepada pribadi dipakai untuk 

Roh Kudus, nama-nama yang diberikan kepadanya yaitu  nama 

yang menunjuk kepribadian, serta sifat-sifat kepribadian ada pada 

Roh Kudus. Ia melakukan tindakan-tindakan yang menunjukkan 

kepribadian-Nya, Ia berhubungan secara pribadi dengan kedua 

Oknum lain dalam Tritunggal, dan Ia dapat diperlakukan sebagai 

satu pribadi. Setelah memikirkan ketuhanan dan kepribadian-Nya, 

kini kita akan beralih kepada pekerjaan-Nya. Sekalipun tujuan 

utama kita sekarang ini yaitu  mempelajari pekerjaan Roh Kudus 

yang berkaitan dengan keselamatan dan pengalaman hidup orang 

Kristen, kita juga harus meneliti karya-Nya yang berkaitan dengan 

dunia, Alkitab, dan Kristus.

I. HUBUNGAN ROH KUDUS DENGAN DUNIA

A. DALAM PENCIPTAAN DAN PEMELIHARAAN CIPTAAN

Menarik sekali untuk mengetahui bahwa menurut Alkitab pencip­

taan dilakukan oleh ketiga Oknum Tritunggal: Bapa (Wahyu 4:11), 

381

382 Soteriologi

Anak (Yohanes 1:3), dan Roh Kudus. Kejadian 1:2 menunjukkan 

bahwa Roh Kudus terlibat secara aktif dalam penciptaan. Elihu ber­

kata kepada Ayub, "Roh Allah telah membuat aku, dan napas Yang 

Mahakuasa membuat aku hidup" (33:4), dan Ayub menjawab kepa­

da Bildad, "Oleh napas-Nya langit menjadi cerah" (26:13). Pemaz­

mur menunjukkan pekerjaan Roh Kudus dalam penciptaan, "Oleh 

firman Tuhan langit telah dijadikan, oleh napas [Roh] dari mulut- 

Nya segala tentara-Nya" (Mazmur 33:6). Roh Kudus tidak saja ter­

libat dalam penciptaan, namun  juga dalam pemeliharaannya. Kedua 

karya Roh Kudus ini disebut dalam Mazmur 104:30, "jika  Eng­

kau mengirim Roh-Mu, mereka tercipta, dan Engkau membaharui 

muka bumi." Yesaya 40:7 juga berbicara tentang keterlibatan Roh 

yang aktif, "Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, jika  

Tuhan menghembusnya dengan napas-Nya [Roh]." saat  mem­

bahas betapa agungnya kegiatan Allah dalam menciptakan dan 

memelihara apa yang telah diciptakan-Nya, Yesaya bertanya, "Siapa 

yang dapat mengatur Roh Tuhan atau memberi petunjuk kepada- 

Nya sebagai penasihat?" (40:13). Nampaknya jelas bahwa istilah- 

istilah seperti Roh-Nya (napas), Roh (napas) mulut-Nya, atau Roh 

(napas) Tuhan, Roh Anak-Nya, dan Roh Yesus, semuanya menun­

juk kepada Roh Kudus, Oknum ketiga dalam Tritunggal (Ayub 

26:13; Mazmur 33:6; Yesaya 40:7; Galatia 4:6; Kisah 16:7).

B. KARYA ROH KUDUS DALAM KEHIDUPAN ORANG YANG 

TIDAK PERCAYA

Di samping pengaturan-Nya yang memelihara ciptaan Allah, Roh 

Kudus bekerja juga di dunia orang-orang yang tidak percaya pada 

tiga bidang: Ia bekerja secara aktif melalui orang-orang untuk 

melaksanakan berbagai tujuan-Nya, Ia menginsafkan dunia akan 

dosa serta keperluan mereka akan keselamatan, dan Ia mengendali­

kan serta mengawasi arah kejahatan. Koresy, raja kafir dari Persia, 

diurapi Allah dengan Roh Kudus agar ia dapat melayani Allah, 

sekalipun Koresy tidak mengenal Allah (Yesaya 44:28-45:6). 

Kuyper menulis mengenai Raja Saul:

Tidak ada alasan untuk menganggap Saul sebagai salah satu orang pilihan 

Allah. Setelah Saul diurapi menjadi raja, Roh Kudus turun ke atasnya, 

tinggal di dalam dia, dan bekerja lewat dia hanya selama Saul menjadi raja 

pilihan Allah atas umat-Nya. Akan namun , selekasnya Saul dengan keras

Karya Roh Kudus 383

kepala tidak mau taat, ia tidak lagi dipakai oleh Tuhan, Roh Kudus mening­

galkan dia dan roh jahat yang dikirim Allah mengusik dia terus.131

131 Kuyper, The Work of the Holy Spirit, hal. 39.

Daud mengetahui betul apa yang telah terjadi pada Saul. Tidaklah 

mengherankan bahwa Daud, setelah ia berbuat dosa, berseru dan 

memohon kepada Tuhan, "Janganlah mengambil Roh-Mu yang 

kudus daripadaku!" (Mazmur 51:13). Pekerjaan Roh Kudus dalam 

kehidupan Koresy dan Saul merupakan kegiatan yang samasekali 

berbeda dari kegiatan pembaharuan. Kita juga harus menyadari 

bahwa Roh Kudus turun atas orang-orang percaya Perjanjian Lama 

dalam cara seperti itu untuk mengurapi mereka bagi suatu pelayanan 

khusus (misalnya Bezaleel, Keluaran 31:3, 4; Otniel, Hakim-Hakim 

3:9, 10; Yefta, Hakim-Hakim 11:29).

Di samping pelayanan yang berdaulat ini di dalam kehidupan 

orang yang tidak percaya maupun orang percaya, Alkitab menyebut 

pekerjaan Roh Kudus di dalam hati orang yang tidak percaya untuk 

membuatnya berbalik kepada Tuhan. Berbagai istilah dipakai untuk 

mengungkapkan pelayanan ini. Roh Kudus disebut sebagai saksi. 

Petrus dan para rasul berkata, "Dan kami yaitu  saksi dari segala 

sesuatu itu, kami dan Roh Kudus" (Kisah 5:32). Yesus mengatakan 

tentang pelayanan-Nya sebagai saksi, "Roh Kebenaran . . . akan 

bersaksi tentang Aku" (Yohanes 15:26). Nampaknya pekerjaan 

menerangi di Yohanes 1:9 dan pekerjaan menarik orang dalam 

Yohanes 6:44 dan 12:32 merujuk kepada pekerjaan yang dilakukan 

oleh Bapa dan Anak dengan perantaraan Roh Kudus. Dan akhirnya, 

Roh Kudus menginsafkan. Yesus berkata mengenai Roh itu, "Ia 

akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman" 

(Yohanes 16:8). jika  seorang yang tidak percaya mengatakan 

bahwa pekerjaan Roh Kudus ini merupakan pekerjaan Iblis maka 

ia sedang menghujat Roh, suatu dosa yang tidak bisa diampuni 

(Markus 3:29). Dosa yang dilakukan dengan keras kepala terhadap 

kebenaran-kebenaran yang sudah diketahui berarti menghina Roh 

kasih karunia (Ibrani 10:29). Setelah Roh Kudus tinggal (berusaha) 

di dalam orang-orang jahat pada masa sebelum terjadi air bah, Allah 

berfirman, "Roh-Ku tidak akan selama-lamanya tinggal [berusaha] 

di dalam manusia" (Kejadian 6:3). Seratus dua puluh tahun 

kemudian Allah membinasakan bumi dengan air bah. Melawan Roh 

384 Soteriologi

yaitu  dosa yang sangat buruk (Kisah 7:51; bandingkan dengan 

Kisah 6:10).

Roh Kudus juga mengekang kejahatan. Pada umumnya sudah 

diketahui bahwa hati nurani manusia, siang hari, dan pemerintahan 

merupakan hal-hal yang mengekang kejahatan. Kehadiran orang- 

orang saleh juga membatasi dan menekan kejahatan. Agaknya kuasa 

yang menahan yang disebutkan dalam II Tesalonika 2:6-8 menunjuk 

kepada Roh Kudus. Pada waktu kesengsaraan besar, pelayanan Roh 

Kudus untuk mengekang kejahatan dan menghalangi si pendurhaka 

akan ditarik. Pada waktu itu kejahatan akan dibiarkan merajalela.

II. HUBUNGAN ROH KUDUS DENGAN ALKITAB 

DAN DENGAN KRISTUS

A. HUBUNGAN ROH KUDUS DENGAN ALKITAB

Roh Kudus yaitu  pengarang dan penafsir Alkitab. Sebagaimana 

dikatakan oleh Petrus, "Oleh dorongan Roh Kudus orang-orang ber­

bicara atas nama Allah" (II Petrus 1:21). Pada akhir setiap surat 

yang ditulis kepada ketujuh jemaat dalam kitab Wahyu, Yesus ber­

firman, "Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang 

dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat" (Wahyu 2:7, 11, dan seterus­

nya). "Roh Kuduslah yang akan menuntun para rasul ke dalam 

seluruh kebenaran, dan menunjukkan kepada mereka hal-hal yang 

akan datang (Yohanes 16:13)."132 Pernyataan-pernyataan seperti, 

"Tepatlah firman yang disampaikan Roh Kudus kepada nenek 

moyang kita dengan perantaraan Nabi Yesaya" (Kisah 28:25) dan 

"Nats Kitab Suci, yang disampaikan Roh Kudus dengan perantaraan 

Daud tentang Yudas" (Kisah 1:16), menunjukkan dengan jelas 

keyakinan para rasul bahwa Roh Kuduslah yang mengarang Alkitab 

(bandingkan dengan Ibrani 3:7; 10:15). Roh Kudus jugalah yang 

menjelaskan kepada para rasul dan nabi Perjanjian Baru hal-hal 

yang tidak mungkin diketahui melalui filsafat manusia dan cara ber­

nalar alam yang dilakukan oleh pikiran manusia (Efesus 3:5).

132 Evans, The Great Doctrines of the Bible, hal. 119.

Karya Roh Kudus 385

Roh Kudus bukan hanya menjadi pengarang Alkitab, namun  juga 

yaitu  penafsirnya. Paulus berdoa agar Allah berkenan untuk 

"memberikan kepadamu Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal 

Dia dengan benar" (Efesus 1:17). Bahwa Roh hikmat di sini yaitu  

Roh Kudus telah dikemukakan dalam Yesaya 11:2. Paulus juga 

menulis bahwa Allah telah memberikan kepada kita "Roh yang 

berasal dari Allah, supaya kita tahu apa yang dikaruniakan Allah 

kepada kita" (I Korintus 2:12). Roh Kudus mengambil perkataan 

Kristus dan menjelaskannya kepada orang-orang percaya (Yohanes 

16:14). Roh Kudus mengajar kita untuk "menafsirkan hal-hal 

rohani" (I Korintus 2:13). Yohanes mengingatkan para pembacanya 

bahwa mereka semua telah memiliki "pengurapan dari Yang 

Kudus" (I Yohanes 2:20), dan selanjutnya ia menulis "Sebab di 

dalam diri kamu tetap ada pengurapan yang telah kamu terima 

daripada-Nya. Karena itu tidak perlu kamu diajar oleh orang lain. 

namun . . . pengurapan-Nya mengajar kamu tentang segala sesuatu" 

(ayat 27). Jadi, Roh yang mengarang Alkitab, yaitu  juga Roh yang 

menafsirkan Alkitab ini .

B. HUBUNGAN ROH KUDUS DENGAN KRISTUS

Roh Kudus bekerja dengan giat dalam kehidupan Kristus. Beberapa 

hal dapat diperhatikan berhubungan dengan pelayanan Kristus di 

bumi. Oleh kuasa Roh Kudus, Maria mengandung Tuhan kita 

(Lukas 1:35). Tuhan diurapi oleh Roh Kudus saat  Ia dibaptis 

(Matius 3:16; bandingkan dengan Yesaya 61:1; Lukas 4:18). Roh 

Kudus, yang diberikan tanpa batas (Yohanes 3:34) memperlengkapi 

Kristus untuk melayani sebagai Mesias, dan segera setelah diurapi 

oleh Roh Kudus Yesus "memulai pekerjaan-Nya" (Lukas 3:23). 

Segera setelah dibaptis, Yesus "yang penuh dengan Roh Kudus, 

kembali dari Sungai Yordan, lalu dibawa oleh Roh Kudus ke 

padang gurun. Di situ Ia tinggal empat puluh hari lamanya dan 

dicobai Iblis" (Lukas 4:1,2; bandingkan dengan Matius 4:1; Markus 

1:12). Petrus memberi tahu Kornelius "bagaimana Allah mengurapi 

Dia dengan Roh Kudus dan kuat-kuasa" (Kisah 10:38). Oleh Roh 

Kudus Yesus mengadakan mukjizat-mukjizat (Matius 12:28). Selan­

jutnya, Roh Kudus turut aktif saat  Yesus disalibkan dan 

dibangkitkan (Ibrani 9:14; Roma 1:4; 8:11).

386 Soteriologi

saat  Yesus naik ke sorga, Ia meminta kepada Bapa untuk 

mengutus Roh Kudus (Yohanes 14:16, 26; 15:26). Roh Kudus akan 

menjadi pengganti Yesus Kristus sehingga para rasul tidak akan 

ditinggal sendirian seperti yatim piatu (Yohanes 14:18; 16:7-15). 

Sebelum Yesus pergi, Ia mempersiapkan para murid untuk 

menerima Roh Kudus (Lukas 24:49; Yohanes 20:22; Kisah 1:8). 

Kuyper merangkumnya sebagai berikut:

Roh Kudus yang sama yang telah bekerja saat  Tuhan kita dikandung, 

yang mengawasi pertumbuhan Tuhan kita sebagai manusia yang normal, 

yang menggiatkan setiap karunia dan kuasa di dalam diri Tuhan kita, yang 

menahbiskan Dia untuk tugas-Nya sebagai Mesias, yang memberi kuasa 

kepada-Nya untuk menghadapi setiap pertentangan dan pencobaan, yang 

memungkinkan Dia mengusir setan, dan yang menopang Dia selama Ia dihi­

na dan menderita serta mengalami kematian yang mengenaskan, yaitu  Roh 

Kudus yang bekerja saat  Tuhan kita bangkit, sehingga Yesus dibenarkan 

dalam Roh (I Timotius 3:16), dan yang kini tinggal di dalam sifat manusiawi 

Sang Penebus yang telah dipermuliakan di Yerusalem di sorga.

III. HUBUNGAN ROH KUDUS DENGAN 

ORANG PERCAYA

Pelayanan Roh Kudus dalam kehidupan orang percaya dapat 

dikatakan secara singkat dengan beberapa istilah. Beberapa di antara 

doktrin-doktrin ini  akan kita teliti secara lebih mendalam 

dalam bab-bab yang akan menyusul. Pertama-tama, kita akan 

meneliti karya Roh Kudus yang berkaitan dengan keselamatan, 

kemudian yang berkaitan dengan kehidupan orang Kristen.

A. KARYA ROH KUDUS saat  MENYELAMATKAN

1. Roh Kudus memperbaharui. Manusia dilahirkan kembali lewat 

pelayanan Roh Kudus (Yohanes 3:3-8), karena Roh Kuduslah yang 

memberi hidup (Yohanes 6:63). Paulus berbicara tentang "pembaha­

ruan yang dikerjakan oleh Roh Kudus" (Titus 3:5).

2. Roh Kudus tinggal di dalam diri orang percaya. Pelayanan 

Roh Kudus untuk memperbaharui orang percaya berkaitan erat

133 Kuyper, The Work of the Holy Spirit, hal. 110. 

Karya Roh Kudus 387

sekali dengan pelayanan-Nya untuk mendiami orang percaya. 

Mengenai kedatangan Sang Penghibur itu Kristus berkata, "Kamu 

mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam 

kamu" (Yohanes 14:17). Perihal Roh Kudus mendiami orang per­

caya yaitu  begitu penting sehingga orang yang tidak didiami oleh 

Roh Kudus dianggap belum menjadi milik Kristus (Roma 8:9). 

Paulus berkata kepada gereja di Korintus yang pecah-belah karena 

dosa yang ada di antara mereka, "... Roh Allah diam di dalam 

kamu" (I Korintus 3:16; bandingkan dengan 6:19). Roh Kudus yang 

tinggal di dalam diri orang percaya merupakan jaminan bahwa 

orang ini  akan dibangkitkan (Roma 8:11).

3. Roh Kudus membaptis. Kristus membaptis orang-orang per­

caya dengan Roh Kudus ke dalam tubuh-Nya (Matius 3:11; Markus 

1:8; Lukas 3:16; Yohanes 1:33; Kisah 1:5; 11:16). Paulus menulis, 

"sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi maupun 

orang Yunani, baik budak maupun orang merdeka, telah dibaptis 

menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu 

Roh" (I Korintus 12:13). Baptisan ini terjadi pada saat kita di­

selamatkan. Upacara baptisan air melambangkan baptisan Roh 

(Roma 6:3, 4; bandingkan dengan Efesus 4:5; Kolose 2:12).

4. Roh Kudus memeteraikan. Allah memeteraikan orang-orang 

percaya dengan Roh Kudus (Efesus 1:13, 14; 4:30). Paulus menulis 

bahwa Allah "memeteraikan tanda milik-Nya atas kita dan yang 

memberikan Roh Kudus di dalam hati kita sebagai jaminan dari 

semua yang telah disediakan untuk kita" (II Korintus 1:22). 

Memeteraikan berarti beberapa hal: jaminan, hak milik, dan 

keamanan. Roh Kudus yaitu  Roh yang mengangkat kita sebagai 

anak dan yang "bersaksi bersama-sama dengan roh kita bahwa kita 

yaitu  anak-anak Allah" (Roma 8:16; bandingkan dengan Galatia 

4:6). Keempat karya Roh Kudus ini terjadi serempak dan saat  

seseorang memiliki iman yang menyelamatkan.

B. KARYA ROH KUDUS SELANJUTNYA DI DALAM ORANG 

PERCAYA

Setelah pertobatan, Roh Kudus melanjutkan pelayanan yang aktif 

di dalam kehidupan orang percaya. Beberapa hal yang perlu diper­

hatikan mengenai hal ini:

388 Soteriologi

1. Ia memenuhi. Orang-orang percaya diharuskan "penuh dengan 

Roh" (Efesus 5:18). saat  bertobat seorang percaya didiami oleh 

Roh Kudus; sepanjang hidupnya ia perlu dikuasai dan dipimpin oleh 

Roh yang sama. Orang-orang, seperti halnya tujuh diaken yang 

dipilih oleh gereja Yerusalem yang mula-mula (Kisah 6:3) dan juga 

Barnabas (11:24), penuh dengan Roh. Agaknya pada hari Pentakos­

ta hal didiami dan dipenuhi oleh Roh Kudus merupakan dua peris­

tiwa yang terjadi pada saat bersamaan (Kisah 2:4; bandingkan 

pengalaman Paulus, Kisah 9:17), dengan pertobatan merupakan 

suatu pengalaman sekali untuk selamanya sedangkan pengalaman 

yang kedua merupakan gaya hidup di bawah pengawasan Roh 

Kudus. Pelayanan Roh Kudus yang memenuhi kehidupan orang per­

caya dapat dipisahkan menjadi pelayanan memenuhi yang umum, 

yang berkaitan dengan penguasaan dan pertumbuhan serta kede­

wasaan rohani, dan kepada pemenuhan yang khusus, yang berhu­

bungan dengan pekerjaan Roh yang khusus. Petrus dipenuhi oleh 

Roh Kudus saat  ia berkhotbah (Kisah 4:8; bandingkan dengan 

4:31; 13:9), namun pastilah sebelum itu Petrus sudah penuh dengan 

Roh. Kita dapat beranggapan bahwa kehidupan Petrus dipenuhi oleh 

Roh sekalipun pada saat-saat yang kritis ia dipenuhi Roh dengan 

cara yang unik dan khusus.

2. Ia membimbing. Orang percaya diperintahkan untuk hidup dan 

dipimpin oleh Roh (Galatia 5:16, 25). Di satu pihak, hal ini akan 

memungkinkan orang percaya untuk tidak menuruti keinginan 

daging, dan di pihak lain, menjaga agar ia tidak terperangkap oleh 

ajaran yang mengharapkan keselamatan dengan cara melakukan 

perbuatan baik (Galatia 5:16-18; lihat juga Roma 8:14). Gereja yang 

Mula-Mula dipimpin oleh Roh kudus; Roh Kudus melaksanakan 

tindakan disiplin (Kisah 5:9), memberi pengarahan (8:29), menugas­

kan (13:2), mengambil keputusan (15:28), serta melarang (16:6, 7).

3. Ia memberi kuasa. Orang percaya terlibat dalam peperangan: 

daging melawan Roh, dan Roh melawan daging. Roh Kudus harus 

tinggal di dalam diri orang percaya agar ia memperoleh kemenang­

an (Roma 8:13; Galatia 5:17). Roh Kudus merupakan kunci untuk 

memperoleh kemenangan. Hal ini juga berlaku pada zaman Perjan­

jian Lama karena Zakharia 4:6 berbunyi, "Bukan dengan keperka­

saan dan bukan dengan kekuatan melainkan dengan Roh-Ku, firman 

Karya Roh Kudus 389

Tuhan semesta alam." Roh Kuduslah yang menghasilkan buah Roh 

di dalam diri kita (Galatia 5:22, 23; bandingkan dengan Efesus 5:9; 

Filipi 1:11).

4. Ia mengajar. Yesus menjanjikan bahwa Roh yang akan datang 

akan menuntun mereka ke dalam seluruh kebenaran (Yohanes 

14:26; 16:13). Setiap orang percaya memiliki Roh Kudus dan oleh 

karena itu, ia tidak lagi memerlukan penyataan khusus atau 

wawasan mistik yang lain (I Yohanes 2:20,27). Ia yang telah meng­

ilhami Alkitab, Ia juga sanggup untuk menerangi pikiran orang- 

orang rohani untuk mengerti Alkitab (I Korintus 2:13).

Selain dari semua pelayanan ini  di atas, Roh Kudus juga 

memberikan karunia-karunia rohani kepada orang-orang percaya 

seperti yang dikehendaki-Nya (I Korintus 12:4, 7-11; bandingkan 

dengan Roma 12:6-8; Efesus 4:11; I Petrus 4:10, 11). Ia juga men­

doakan orang-orang percaya di hadapan Allah Bapa (Roma 8:26). 

Roh Allah melakukan pekerjaan yang baik sekali di dalam kehi­

dupan setiap orang percaya, sehingga orang-orang percaya diingat­

kan untuk tidak mendukakan Roh dengan berbuat dosa semaunya 

(Efesus 4:30), jangan mencobai Roh dengan berbohong (Kisah 5:9), 

jangan memadamkan Roh dengan membatasi pelayanan-Nya (I Te­

salonika 5:19), jangan menghina Roh Kudus dengan meremehkan 

karya pendamaian yang tersedia dalam darah Yesus Kristus (Ibrani 

10:29), dan jangan melawan Roh Kudus dengan menolak untuk 

menaati arahan-Nya (Kisah 7:51).


XXVIII

Pemilihan dan Panggilan Allah

saat  membahas pemilihan dan panggilan Allah sebagai penerapan 

penebusan Kristus, kita secara tidak langsung mengatakan bahwa 

dalam ketetapan Allah, kedua hal itu secara logis menyusul setelah 

ketetapan untuk mengerjakan penebusan. Sebagaimana telah di­

katakan sebelumnya, supralapsarianisme menganjurkan urutan 

ketetapan-ketetapan Allah sebagai berikut: (1) ketetapan untuk 

menyelamatkan orang-orang tertentu dan menolak orang-orang 

yang lain; (2) ketetapan untuk menciptakan kedua macam orang 

itu; (3) ketetapan untuk mengizinkan keduanya jatuh ke dalam dosa;

(4) ketetapan untuk menyediakan penebusan di dalam Kristus bagi 

orang-orang yang terpilih; (5) dan ketetapan untuk mengutus Roh 

Kudus guna melaksanakan penebusan di dalam kehidupan orang- 

orang yang terpilih. Beberapa teolog menyatukan ketetapan (4) dan

(5) . Kita jelas tidak menerima supralapsarianisme, karena tidak 

mungkin Tuhan menetapkan untuk menyelamatkan orang-orang ter­

tentu dan menolak orang-orang lain sebelum Ia menetapkan untuk 

menciptakan manusia. Sekali lagi, sebagaimana telah dikatakan 

sebelumnya, lebih baik kita memahami urutan ketetapan-ketetapan 

Allah sebagai berikut: (1) ketetapan untuk menciptakan manusia; 

(2) ketetapan untuk mengizinkan manusia jatuh dalam dosa; (3) 

ketetapan untuk memilih beberapa orang yang sudah jatuh untuk 

diselamatkan; (4) ketetapan untuk menyediakan penebusan bagi 

mereka yang terpilih; dan (5) ketetapan untuk mengutus Roh Kudus 

menerapkan penebusan itu di dalam kehidupan orang-orang yang 

terpilih. Namun, pandangan ini pun, yang dikenal dengan nama sub- 

lapsarianisme, memiliki satu kekurangan dasar karena tidak mem­

beri tempat bagi pendamaian yang tidak terbatas. yaitu  paling

391

392 Soteriologi

baik untuk memperluas ketetapan itu (4) agar berbunyi: ketetapan 

untuk menyediakan penebusan yang memadai bagi semua orang, 

dan kemudian mengubah urutan (3) dan (4) sehingga ketetapan 

untuk menyediakan penebusan datang sebelum ketetapan untuk 

memilih. Dengan demikian, kita menerima urutan ketetapan Allah 

sebagai berikut: Allah menetapkan (1) untuk menciptakan manusia; 

(2) untuk mengizinkan manusia jatuh dalam dosa; (3) menyediakan 

di dalam Kristus penebusan yang memadai untuk semua orang; 

(4) memilih beberapa orang untuk diselamatkan; dan (5) mengutus 

Roh Kudus untuk menjamin penerimaan penebusan oleh orang- 

orang yang telah dipilih sebelumnya.

I. DOKTRIN PEMILIHAN

Dengan menerima urutan ketetapan yang terakhir, kita masih mem­

punyai berbagai pandangan tentang definisi pemilihan. Adakah 

pemilihan itu merupakan suatu tindakan Allah yang berdaulat penuh 

yang memilih beberapa orang untuk diselamatkan semata-mata atas 

dasar kasih karunia yang berdaulat penuh saja tanpa mempertim­

bangkan jasa-jasa atau perbuatan-perbuatan orang yang terpilih, 

ataukah pemilihan ini merupakan tindakan Allah yang berdaulat 

penuh yang dengannya Allah memilih orang-orang yang dari semula 

sudah diketahui-Nya akan menanggapi secara positif ajakan-Nya 

untuk menerima keselamatan? Apakah yang merupakan definisi 

yang praktis mengenai pemilihan?

A. DEFINISI PEMILIHAN

Pemilihan yang kita sedang bicarakan menyangkut pemilihan 

menurut aspek penebusannya. Alkitab berbicara tentang pemilihan 

suatu bangsa (Roma 9:4; 11:28); pemilihan yang berkaitan dengan 

jabatan tertentu (jabatan Musa dan Harun, Mazmur 105:26; Daud, 

I Samuel 16:12; 20:30; Salomo, I Tawarikh 28:5; para rasul, Lukas 

6:13-16, Yohanes 6:70, Kisah 1:2 dan 24, 9:15, 22:14); dan 

pemilihan yang berkaitan dengan malaikat-malaikat yang tidak jatuh 

(I Timotius 5:21). Menurut aspek penebusan, maka yang dimaksud­

kan dengan pemilihan ialah tindakan Allah yang berdaulat yang 

dengan penuh kemurahan telah memilih di dalam Kristus untuk 

Pemilihan dan Panggilan Allah 393

menyelamatkan semua orang yang dari semula sudah diketahui 

oleh-Nya.

Pemilihan merupakan tindakan Allah yang berdaulat penuh; 

Allah samasekali tidak berkewajiban untuk memilih siapa pun, 

karena semua orang telah kehilangan kedudukannya di hadapan 

Allah. Bahkan setelah kematian Kristus, Allah masih tidak 

berkewajiban untuk melaksanakan penyelamatan, kecuali karena Ia 

harus menepati persetujuan yang telah dibuat-Nya dengan Kristus 

berhubungan dengan keselamatan manusia. Jadi, pemilihan Allah 

merupakan suatu tindakan yang berdaulat penuh karena tidak ada 

paksaan dari siapa pun. Pemilihan ini merupakan suatu tindakan 

kasih karunia karena Allah memilih orang-orang yang samasekali 

tidak layak untuk diselamatkan. Sebenarnya, manusia harus 

menerima yang sebaliknya, namun  dalam kasih karunia-Nya Allah 

telah memilih untuk menyelamatkan beberapa orang. Ia memilih 

mereka "di dalam Dia [Kristus]" (Efesus 1:4). Ia tidak dapat 

memilih mereka dalam diri mereka sendiri karena mereka seharus­

nya dihukum, maka Ia memilih mereka berdasarkan jasa-jasa orang 

lain. Lagi pula, Ia memilih mereka yang dari semula telah diketahui- 

Nya akan menerima tawaran keselamatan yang ditawarkan-Nya. 

Akan namun , apa hubungan antara pengetahuan dari semula dan 

penentuan dari semula dengan pemilihan?

Sampai di sini kita memasuki salah satu rahasia yang besar dari 

iman Kristen. Gereja Kristen tidak seluruhnya sependapat mengenai 

makna ajaran ini, khususnya yang berkaitan dengan kedaulatan 

Allah dan tanggung jawab manusia yang dirangkaikan dengan 

kebenaran dan kekudusan Allah serta keadaan manusia yang penuh 

dosa. Alkitab menunjukkan bahwa pemilihan dilandaskan pada pe­

ngetahuan dari semula (I Petrus 1:1, 2; bandingkan dengan Roma 

8:29), namun arti sesungguhnya pengetahuan dari semula ini masih 

diperdebatkan. Adakah pengetahuan dari semula itu hanya merupa­

kan kemampuan untuk mengetahui kebutuhan pada waktu yang 

akan datang, ataukah lebih dekat hubungannya dengan pilihan yang 

sesungguhnya? Apakah dalam pengetahuan-Nya sejak semula ini 

Allah sudah tahu bagaimana tanggapan setiap orang terhadap pang- 

gilan-Nya dan kemudian memilih orang itu untuk diselamatkan se­

suai dengan pengetahuan-Nya? Ataukah pengetahuan sejak semula 

ini berarti bahwa Allah, sejak kekekalan yang lampau, telah ber­

kenan kepada orang-orang tertentu dan kemudian memilih mereka 

394 Soteriologi

untuk diselamatkan? Kedua pandangan ini haruslah diuraikan de­

ngan pembuktian yang mendukung ataupun yang menentang.

B. PEMILIHAN BERDASARKAN PRA PENGETAHUAN

Pendapat ini134 beranggapan bahwa dalam pengetahuan-Nya sejak 

semula Allah sudah melihat sebelumnya siapa saja yang akan 

menanggapi tawaran keselamatan-Nya secara positif, lalu secara 

aktif Ia memilih mereka untuk diselamatkan. Pemilihan ini ialah 

tindakan Allah yang berdaulat penuh dalam kasih karunia. Dengan 

tindakan ini maka di dalam Kristus Ia memilih untuk menyelamat­

kan semua orang yang sudah sejak semula diketahui-Nya akan 

menerima Kristus sebagai Juruselamat. Sekalipun kita tidak diberi 

tahu hal apa di dalam pengetahuan Allah sejak semula ini yang 

menetapkan pilihan-Nya, berkali-kali Alkitab mengajarkan bahwa 

manusia bertanggung jawab atas penerimaan atau penolakan 

tawaran keselamatan ini sehingga nampaknya bahwa tanggapan 

manusia terhadap penyataan Allah tentang diri-Nya itulah yang 

merupakan landasan pilihan-Nya. Umat yang terpilih ialah mereka 

yang sudah sejak semula diketahui Allah akan menerima Injil di 

dalam hidupnya.

134 Pendapat ini dianut oleh Thiessen.

Berkaitan erat dengan pemilihan Allah ini ialah predestinasi atau 

penentuan sejak semula. Kata kerjanya dalam bahasa Yunani ter­

dapat beberapa kali dalam Perjanjian Baru (Kisah 4:28; Roma 8:29, 

30; I Korintus 2:7; Efesus 1:5, 11). Kata kerja ini mengandung ide 

menandai atau mengangkat sebelumnya. Sekalipun pemilihan dan 

predestinasi serupa dalam arti, keduanya mungkin dapat dibedakan 

sebagai berikut: dalam pemilihan Allah telah memutuskan untuk 

menyelamatkan orang-orang yang menerima Anak-Nya dan 

keselamatan yang ditawarkan; sedangkan dalam penentuan dari 

semula atau predestinasi Allah telah memutuskan untuk melaksana­

kan tujuan itu secara efektif. Oleh karena itu Paulus menulis, "Sebab 

semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan- 

Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak- 

Nya" (Roma 8:29), dan "Ia telah menentukan kita dari semula oleh 

Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya" (Efesus 1:5; lihat juga 

ayat 11).

Pemilihan dan Panggilan Allah 395

1. Pembuktian yang mendukung pandangan ini. Pandangan ini 

dapat dikemukakan melalui beberapa alur pemikiran.

a. Alkitab mengajarkan bahwa kasih karunia Allah yang 

menyelamatkan telah nampak kepada semua orang, dan bukan se­

kadar orang-orang yang terpilih (Titus 2:11). Sekalipun manusia 

sudah mati karena dosa dan pelanggaran yang dilakukannya 

sehingga tidak dapat berbuat apa-apa untuk memperoleh 

keselamatan, melalui kasih karunia yang bekerja di dalam diri kita, 

Allah telah mengembalikan di dalam diri setiap orang kemampuan 

yang memadai untuk menentukan pilihan apakah akan tunduk 

kepada Allah atau tidak. Kasih karunia ini bekerja dalam kehendak 

seseorang sebelum ia berbalik kepada Allah. Melalui kasih karunia 

yang umum itu, Allah telah memberikan kepada umat manusia ba­

nyak berkat dalam kehidupan ini, yaitu kesehatan, sahabat, musim 

panen yang berkelimpahan, kemakmuran, penundaan penghukum­

an, kehadiran dan pengaruh Alkitab, Roh Kudus, dan gereja. Selain 

dari semua hal ini  Allah telah memulihkan kemampuan orang 

berdosa untuk menanggapi Allah secara positif. Jadi, melalui kasih 

karunia-Nya, Allah telah memberi kesempatan kepada semua orang 

untuk diselamatkan. Jasa-jasa manusia tidak diperhitungkan dalam 

hal ini; semuanya berasal dari Allah.

b. Dengan jelas dan tegas Alkitab mengajarkan bahwa Kristus 

telah mati untuk semua orang (I Timotius 2:6; 4:10; Ibrani 2:9; II 

Petrus 2:1; I Yohanes 2:2; 4:14). Allah menghendaki "supaya ja­

ngan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan 

bertobat" (II Petrus 3:9; bandingkan dengan Yehezkiel 18:32). Ke­

selamatan ini ditawarkan kepada semua orang, kepada 

"barangsiapa" (Yohanes 3:15, 16; 4:13, 14; 11:26; 12:46; Kisah 

2:21; 10:43). Sulit sekali untuk membayangkan tawaran yang uni­

versal yang hanya mampu ditanggapi secara positif oleh beberapa 

orang.

c. ada  banyak nasihat untuk berbalik kepada Allah (Yesaya 

31:6; Yoel 2:13, 14; Matius 18:3; Kisah 3:19), untuk bertobat 

(Matius 3:2; Lukas 13:3, 5; Kisah 2:38; 17:30), dan untuk percaya 

kepada Tuhan (Yohanes 6:29; Kisah 16:31; I Yohanes 3:23). Paulus 

menulis, "Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua 

manusia sudah nyata" (Titus 2:11). Sebagai akibatnya, kehendak 

manusia dibebaskan sehingga ia dapat menentukan pilihannya me- 

396 Soteriologi

ngenai keselamatan. Dengan demikian manusia dapat memberikan 

tanggapan yang positif kepada Allah yang akan mengakibatkan 

Allah memberikan kepadanya pertobatan dan iman. Bila manusia 

bersedia untuk berbalik kepada Allah berlandaskan kasih karunia 

yang bekerja dalam kehendaknya, maka Allah akan berbalik juga 

kepadanya (Yeremia 31:18-20) dan memberikan kepadanya per­

tobatan (Kisah 5:31; 11:18; II Timotius 2:25) dan iman (Roma 12:3; 

II Petrus 1:1).

d. Alkitab melandaskan pemilihan pada pengetahuan dari semula 

(Roma 8:28-30; I Petrus 1:1, 2). Bila kita mengatakan bahwa Allah 

sejak semula sudah mengetahui segala sesuatu karena Ia dengan 

sewenang-wenang telah menentukan segala sesuatu maka kita 

mengabaikan perbedaan yang ada antara ketetapan Allah yang tepat- 

guna dengan ketetapan Allah yang lunak. Allah mengetahui sejak 

semula bahwa dosa akan memasuki alam semesta, namun itu bukan 

ketetapan-Nya. Pastilah Ia juga mampu mengetahui dari semula 

bagaimana manusia akan bertindak tanpa menetapkan tindakan ter­

sebut. Allah mengetahui bagaimana manusia akan menanggapi 

ajakan Injil untuk menerima keselamatan namun  Ia tidak dengan 

sewenang-wenang mengharuskan mereka memberi tanggapan itu.

e. Keadilan Allah perlu juga dipertimbangkan dalam pembahasan 

ini. Kita mengakui bahwa Allah tidak berkewajiban untuk 

menyediakan keselamatan bagi siapa pun juga, karena manusia sen­

dirilah yang menyebabkan keadaannya yang terhilang. Selanjutnya, 

Allah tidak berkewajiban menyelamatkan siapa pun juga walaupun 

Kristus telah menyediakan keselamatan yang cukup untuk semua 

orang. Akan namun , tidakkah sulit untuk menerima pandangan 

bahwa Allah dapat memilih beberapa orang dari antara sekian 

banyak orang yang bersalah dan terhukum, menyediakan 

keselamatan untuk mereka dan secara tepat-guna menjamin 

keselamatan mereka, namun tidak berbuat apa-apa untuk menolong 

semua yang lain? Allah tidak pilih kasih jika  Ia membiarkan 

semua orang tanpa kecuali mengalami kehancuran yang sudah 

sepantasnya mereka terima; namun  bukankah Allah bersikap pilih 

kasih jika  Ia memilih beberapa di antara begitu banyak orang 

untuk diselamatkan sedangkan yang lain tidak diselamatkan-Nya, 

padahal tidak ada perbedaan apa pun antara orang-orang yang ter­

pilih dan yang tidak terpilih? Kasih karunia yang umum telah 

Pemilihan dan Panggilan Allah 397

diberikan kepada semua orang, dan kemampuan semua orang telah 

dipulihkan untuk "mau melakukan kehendak-Nya" (Yohanes 7:17). 

Keselamatan yang merupakan kasih karunia Allah sudah nyata bagi 

semua orang; namun ada yang menerima kasih karunia Allah itu 

dengan sia-sia. Hanya bila Allah menyediakan kesempatan dan per­

tolongan yang sama bagi semua orang dapatlah Ia benar-benar ber­

tindak dengan adil.

f. Menerima pandangan ini dengan sendirinya akan menghasilkan 

kegiatan pekabaran Injil yang luas. Kristus telah mengutus para 

murid-Nya ke seluruh dunia, dan Ia telah menyuruh mereka mem­

beritakan Injil kepada segala makhluk. Bila pemilihan itu berarti 

bahwa semua orang yang dengan sewenang-wenang telah dipilih 

oleh Allah sudah pasti akan diselamatkan dan bahwa semua orang 

yang tidak dipilih-Nya tidak akan selamat, mengapa pula orang 

Kristen harus begitu memikirkan penginjilan kepada segala 

makhluk? Namun pengetahuan bahwa keselamatan tersedia bagi 

semua orang merangsang dan mendorong kegiatan pekabaran Injil.

2. Berbagai keberatan terhadap pandangan ini. Beberapa 

keberatan telah diajukan terhadap pandangan ini tentang pemilihan 

Allah. Keberatan-keberatan ini  harus kita pertimbangkan.

a. Ada pernyataan-pernyataan yang jelas dalam Alkitab bahwa 

Allah Bapa memberikan orang-orang tertentu kepada Kristus 

(Yohanes 6:47; 17:2, 6, 9). Tindakan ini dianggap sebagai tindakan 

Allah yang sewenang-wenang yang membuat orang-orang lain yang 

tidak terpilih diserahkan kepada kebinasaan. Mungkin sekali hal ini 

dilakukan oleh Allah karena Ia telah mengetahui dari semula apa 

yang akan dilakukan oleh orang-orang itu, dan bukan sekadar untuk 

memakai  kekuasaan yang berdaulat.

b. Kristus mengatakan, 'Tidak ada seorang pun yang dapat da­

tang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus 

Aku" (Yohanes 6:44). Akan namun , ayat ini harus dibaca dengan 

mengingat suatu pernyataan lain yang dibuat oleh Kristus, "Dan 

Aku, jika  Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua 

orang datang kepada-Ku" (Yohanes 12:32). Salib Kristus meman­

carkan kuasa yang menjangkau semua orang, meskipun ada banyak 

yang terus melawan kuasa itu.

c. Paulus menulis bahwa Allah bekerja di dalam diri kita 

398 Soteriologi

sehingga kita mau dan sanggup melakukan apa yang menyenangkan 

hati-Nya (Filipi 2:13). Ada anggapan bahwa orang berdosa tak dapat 

berbuat apa-apa sebelum Allah melakukan sesuatu di dalam dirinya. 

Namun ayat ini tidak ditujukan kepada orang-orang yang belum 

percaya, namun  kepada orang-orang yang sudah percaya. Dengan 

terus terang Yesus berkata kepada beberapa orang Yahudi, "Kamu 

tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu" 

(Yohanes 5:40). Dalam perkataan ini jelas tersirat bahwa mereka 

dapat datang kepada Dia jikalau mereka mau.

d. Di Roma 9:10-16 dikatakan bahwa Allah telah memilih Yakub 

dan bukan Esau, bahkan sebelum mereka lahir dan sebelum mereka 

berbuat yang baik atau yang jahat. Akan namun , dua hal harus diper­

hatikan. Sekalipun dikatakan bahwa mereka belum melakukan 

yang baik atau yang jahat, tidaklah dikatakan bahwa Allah tidak 

tahu siapa yang akan berbuat yang baik dan siapa yang akan berbuat 

yang jahat. Esau terus-menerus memilih hal-hal duniawi dalam 

kehidupan, sedangkan Yakub telah memilih hal-hal yang lebih 

rohani meskipun ia samasekali tetap dalam hal-hal Allah. Selan­

jutnya, pemilihan Yakub dan bukan Esau merupakan pilihan yang 

menyangkut hak istimewa nasional yang lahiriah, bukan pilihan 

yang secara langsung berkaitan dengan keselamatan. Alkitab me­

ngatakan bahwa tidak semua keturunan Israel (Yakub) yaitu  Israel, 

dan tidak semua anak Abraham yaitu  anak-anak perjanjian. Ke­

turunan Esau dapat saja diselamatkan oleh Tuhan semudah Ia me­

nyelamatkan keturunan Yakub.

e. Kisah 13:48 berbunyi, ". . . Dan semua orang yang ditentukan 

Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya." Ayat ini tidak 

mungkin berarti suatu ketetapan yang mutlak karena dalam ayat 46 

Paulus sudah menyatakan bahwa berdasarkan keputusan mereka 

sendiri orang-orang Yahudi telah menolak berita keselamatan. Jadi, 

Allah telah menetapkan untuk memperoleh keselamatan orang- 

orang yang sejak semula sudah diketahui-Nya akan percaya. Juga 

ada kemungkinan bahwa kata kerja "ditentukan" itu seharusnya 

dipahami sebagai berikut "dan semua orang yang telah menentukan 

diri untuk memilih hidup kekal, menjadi percaya."

f. Lagi, Efesus 1:5-8 dan 2:8-10 menyatakan bahwa keselamatan 

bersumber pada pilihan Allah dan seluruhnya berdasarkan kasih 

karunia. Namun ayat-ayat ini tidak melawan pandangan yang 

Pemilihan dan Panggilan Allah 399

sedang dibahas. Allah yang harus mengambil inisiatif, dan hal itu 

dilakukan-Nya dengan kasih karunia yang bekerja dalam kehendak 

seseorang. Bila kasih karunia-Nya tidak bekerja dalam hati orang 

berdosa, tidak ada orang yang dapat selamat. Akan namun , kasih 

karunia ini tidak menyelamatkan manusia, namun  hanya memung­

kinkan dia memilih kepada siapa ia akan beribadah.

g. Alkitab mengajarkan bahwa pertobatan dan iman yaitu  

karunia Allah (Kisah 5:31; 11:18; Roma 12:3; Efesus 2:8-10; II 

Timotius 2:25). Nampaknya aneh sekali kalau Allah memanggil 

semua orang untuk bertobat (Kisah 17:30; II Petrus 3:9) dan percaya 

(Markus 1:14, 15), padahal hanya beberapa orang tertentu yang 

menerima karunia pertobatan dan iman.

h. Akhirnya, beberapa orang menegaskan bahwa bila predestinasi 

itu tidak bersyarat dan tidak mutlak, maka seluruh rencana Allah 

itu tidak pasti dan besar kemungkinannya akan gagal. Akan namun , 

hal ini hanya bisa terjadi bila Allah tidak mengetahui dari semula 

apa yang akan terjadi dan tidak menerimanya sebagai rencana-Nya. 

Tuhan sudah mengetahui dari semula semua hal yang akan terjadi 

dan Ia telah mencakup semuanya itu dalam rencana-Nya. Rencana 

Allah itu pasti sekalipun tidak semua peristiwa yang tercakup di 

dalamnya harus terjadi demikian.

C. PEMILIHAN ITU BERDASARKAN PILIHAN

Pendekatan yang kedua terhadap pemilihan Allah ialah memahami 

pengetahuan sejak semula sebagai secara aktif menyenangi orang- 

orang tertentu dan kemudian memilih mereka untuk diselamatkan. 

Pemilihan yaitu  tindakan Allah yang berdaulat yang dengannya Ia 

memilih dari antara umat manusia yang berdosa beberapa orang 

untuk menerima kasih karunia-Nya yang khusus yang mengerjakan 

keselamatan. Tindakan ini diambil, semata-mata karena Allah yang 

mahatinggi senang melakukannya dan samasekali tidak disebabkan 

oleh sesuatu jasa dalam diri orang-orang yang terpilih. Berdasarkan 

pendekatan ini pengetahuan sejak semula itu bukanlah sekadar 

pengetahuan atas hal-hal yang belum terjadi, namun  lebih dekat 

kaitannya dengan tindakan memilih yang sesungguhnya. Bagi 

Allah, mengetahui dari semula sama saja dengan memilih. Penge­

tahuan-Nya sejak semula itu yaitu  sama dengan pilihan-Nya. 

400 Soteriologi

Selanjutnya, istilah "tahu" dengan kata-kata lain yang seasal sering 

kali mengandung pikiran "mengetahui atau mengenal dengan baik 

sekali", "mengenal dan menghargai", "mengenal dengan kasih 

sayang". Contoh-contoh-Nya ada  baik dalam Perjanjian Lama 

maupun Perjanjian Baru. Allah berfirman, "Hanya kamu yang 

Kukenal dari segala kaum di muka bumi" (Amos 3:2). Keil meng­

usulkan dipakainya istilah "diakui" dalam ayat ini. Beliau menulis, 

"Pengakuan pada pihak Allah bukan sekadar memperhatikan, namun  

merupakan sikap yang giat, merangkul batin manusia, merangkul 

dan merasuk seluruh diri manusia dengan kasih ilahi." Beliau me­

lanjutkan dengan mengatakan bahwa pengakuan ini "tidak hanya 

mencakup pikiran kasih dan pemeliharaan, seperti dalam Hosea 

13:5, namun  pada umumnya mengungkapkan persekutuan yang indah 

antara Tuhan dengan Israel, seperti dalam Kejadian 18:19, dan 

secara praktis istilah ini sama artinya dengan memilih, termasuk 

motif dan hasil pilihan itu."135 Anak-anak lelaki Eli "tidak mengin­

dahkan [mengetahui, Terj. Lama] Tuhan ataupun batas hak para 

imam terhadap bangsa itu" (I Samuel 2:12, 13). Ayat-ayat ini tidak 

berarti bahwa putra-putra Eli tidak mengenal Tuhan atau tidak me­

ngetahui peraturan-peraturan keimaman yang berlaku; lebih tepat 

untuk mengatakan bahwa mereka tidak mengakui atau kurang 

menghormati dan menghargai Allah dan peraturan-peraturan-Nya. 

Kata kerja "mengetahui" dipakai dengan arti yang kurang lebih 

sama dalam Perjanjian Baru. Paulus menulis tentang kewajiban kita 

untuk menghormati para pemimpin rohani kita (I Tesalonika 5:12). 

Yohanes menulis, "Dan inilah tandanya bahwa kita mengenal Allah, 

yaitu jikalau kita menuruti perintah-perintah-Nya" (I Yohanes 2:3). 

Jelas bahwa yang dimaksudkan bukan sekadar mengetahui adanya 

Allah, namun  lebih mengacu kepada hubungan yang penuh kasih 

dengan Allah, hubungan yang sepenuhnya mengakui Dia. Dengan 

mempertimbangkan hal ini, tidakkah kita dapat menafsirkan penge­

tahuan Allah sejak semula itu sebagai berarti bahwa Allah, dalam 

kekekalan yang lampau, telah berkenan kepada orang-orang tertentu 

dan kemudian memilih mereka untuk diselamatkan? Pengetahuan 

sejak semula harus mendahului pemilihan, dan keduanya merupakan 

tindakan Allah yang tegas; pengetahuan sejak semula itu bukanlah 

pengetahuan yang pasif, melainkan aktif.

135 Keil, The Twelve Minor Prophets, I, hal. 259.

Pemilihan dan Panggilan Allah 401

1. Pembuktian yang mendukung pandangan ini. Alasan-alasan 

yang menentukan pelaksanaan pemilihan berada di luar jangkauan 

pikiran manusia. Pada akhirnya pemahaman yang benar tentang 

doktrin ini kita serahkan kepada Allah yang bijaksana, berdaulat, 

dan penuh kasih. Kita menerima kata-kata dari Ulangan 29:29, 

"Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi Tuhan, Allah kita, namun  hal- 

hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan bagi anak-anak kita sampai 

selama-lamanya, supaya kita melakukan segala perkataan hukum 

Taurat ini." Namun ada beberapa bukti yang dapat dikemukakan 

untuk mendukung pandangan yang sedang kita bahas ini.

a. Di dalam Alkitab ada  beberapa pernyataan yang jelas se­

kali mendukung pemilihan. Kisah 13:18 berbunyi, "... Dan semua 

orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi per­

caya" (bandingkan dengan Roma 8:27-30; Galatia 4:9; Efesus 1:5, 

11; I Tesalonika 1:4; I Petrus 1:1, 2; 2:9).

b. Seluruh proses penyelamatan yaitu  pemberian dari Allah 

(Roma 12:3; Efesus 2:8-10). Tak dapat disangkal bahwa manusia 

harus menanggapi Injil yang diberitakan, namun  bahkan kemampu­

annya untuk memberi tanggapan itu pun dikaruniakan oleh Allah. 

Paulus menulis kepada jemaat di Filipi, "Allahlah yang mengerjakan 

di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan- 

Nya" (2:13).

c. Di dalam Alkitab ada ayat-ayat yang menyebutkan orang- 

orang yang telah diberikan kepada Kristus (Yohanes 6:37; 17:2) 

dan bagaimana Allah Bapa menarik orang-orang datang kepada 

Kristus (Yohanes 6:44).

d. Di dalam Alkitab ada  contoh-contoh tentang panggilan 

Allah yang berdaulat atas orang-orang, seperti Paulus (Galatia 1:15) 

dan Yeremia (Yeremia 1:5; band. Mazmur 139:13-16).

e. Berdasarkan pemilihan inilah maka orang-orang percaya di­

himbau untuk hidup saleh (Kolose 3:12; II Tesalonika 2:13; I Petrus 

2:9).

f. Pemilihan digambarkan sebagai sesuatu yang telah direncana­

kan sejak kekal. Allahlah "yang menyelamatkan kita dan memanggil 

kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, 

melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri, yang 

telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum per­

mulaan zaman" (II Timotius 1:9).

402 Soteriologi

Dua hal, yang keduanya berasal dari pengalaman manusia, harus 

ditambahkan. Orang-orang Kristen di mana saja bersyukur kepada 

Tuhan atas keselamatan mereka, bukan kepada diri mereka sendiri. 

Dan selanjutnya, mengapa berdoa kepada Tuhan untuk keselamatan 

orang lain, bila kita tidak mengharapkan Allah akan bekerja dengan 

kuasa-Nya di dalam kehidupan mereka sehingga mereka me­

nanggapi Injil dengan positif? Jadi, dengan mendoakan penyela­

matan orang lain dan dengan mengucapkan terima kasih atas kese­

lamatan, orang-orang Kristen di mana-mana mengakui dan menya­

dari kedaulatan Allah dalam penyelamatan diri mereka. Dalam 

semuanya ini, kita mengakui adanya rahasia dalam cara kerja Allah 

yang berdaulat di dalam kehendak bebas manusia.

2. Keberatan-keberatan terhadap pandangan ini. Beberapa 

keberatan telah diajukan terhadap pandangan ini tentang doktrin 

pemilihan.

a. Doktrin ini menjadikan pengetahuan sejak semula dan 

pemilihan benar-benar sama. Ada orang yang menegaskan bahwa 

melihat sesuatu yang belum terjadi hanya berarti mengetahui bahwa 

sesuatu akan terjadi sebelum peristiwa ini  terjadi sesungguh­

nya. Allah sudah tahu sebelumnya bahwa dosa akan memasuki 

dunia, namun  bukan Allah yang menyebabkan dosa masuk, Ia hanya 

mengizinkannya. Ada yang menegaskan bahwa demikian pula Allah 

sejak semula sudah tahu bagaimana tanggapan seseorang bila meng­

hadapi tuntutan Kristus atas hidupnya, dan kemudian Ia memilih 

orang-orang yang sudah diketahui akan menanggapi tuntutan ter­

sebut secara positif. Bagaimanapun juga, telah ditunjukkan bahwa 

sering kali mengenal seseorang bagi Tuhan bukan sekadar menge­

tahui tentang orang ini . Lebih tepat kalau dikatakan bahwa 

mengenal seseorang bagi Allah artinya memiliki hubungan yang 

pribadi dengan orang ini . Jadi, pengetahuan sejak semula ber­

dasarkan pengertian ini sifatnya aktif, tidak pasif. Selanjutnya, 

doktrin pemilihan ini tetap mempertahankan kedaulatan Allah. Ia 

dapat menentukan untuk menyelamatkan siapa saja yang Ia kehen­

daki. Lukas melaporkan tanggapan orang-orang di Antiokhia di 

Pisidia terhadap Injil, "... Dan semua orang yang ditentukan Allah 

untuk menerima hidup yang kekal, menjadi percaya" (Kisah 13:48).

Pemilihan dan Panggilan Allah 403

b. Dikatakan bahwa bila pemilihan dibatasi oleh Allah, maka 

pendamaian harus juga dibatasi. Akan namun , pandangan ini ber­

tolak belakang dengan banyak ayat Alkitab yang mengajarkan 

bahwa pendamaian tidak terbatas (Yohanes 1:29; 3:16); I Timotius 

2:6; Ibrani 2:9; I Yohanes 2:2). Manusia tetap bertanggung jawab 

bila menolak pendamaian. Pendamaian tersedia bagi semua orang, 

namun manusia dengan sikap keras kepala tidak mau menerimanya. 

Bahwa beberapa orang menolak pendamaian itu membatasi keefek­

tifannya, namun  tidak membatasi tersedianya pendamaian itu. Kita 

dapat memakai sebagai contoh orang-orang yang menyalibkan 

Tuhan. Allah telah menetapkan bahwa Kristus akan disalib, namun 

orang-orang yang benar-benar menyalibkan Yesus tetap harus 

bertanggung jawab atas tindakan mereka itu (Kisah 2:23; 4:27, 

28). Yesus mengatakan, ". . . Memang penyesatan harus ada, te­

tapi celakalah orang yang mengadakannya!" (Matius 18:7). Ryrie 

menasihatkan,

Keseimbangan sangat dibutuhkan dalam membicarakan ajaran ini. Sekalipun 

kita tidak boleh mengabaikan kenyataan tanggung jawab, tanggung jawab 

ini  tidak boleh mengaburkan makna kasih karunia. Kasih karunia 

berkaitan dengan asal usul tawaran keselamatan, tanggung jawab berkaitan 

dengan tanggapan terhadap tawaran itu. Allah memulai rencana keselamatan 

serta melandaskannya samasekali pada kasih karunia (manusia berdosa tidak 

mungkin menyenangkan hati-Nya); namun manusia bertanggung jawab se­

penuhnya bila ia menerima atau menolak kasih karunia Allah ini.

Keselamatan tersedia bagi semua orang, itu tidak terbatas. Namun 

keselamatan ini  secara efektif dibatasi oleh penolakan 

manusia.

c. Pandangan ini menjadikan Allah bertanggung jawab atas 

penolakan orang-orang yang tidak diselamatkan. Mengapa Allah 

tidak memilih orang-orang tertentu untuk diselamatkan merupakan 

suatu rahasia besar. Akan namun , sebaiknya kita mengingat bahwa 

pemilihan Allah tidaklah berkaitan dengan orang-orang yang tidak 

berdosa, namun  dengan orang-orang yang penuh dosa, yang bersalah, 

yang najis, serta terhukum. Bahwa ada orang yang diselamatkan 

merupakan soal kasih karunia semata-mata (Efesus 2:8). Mereka 

yang tidak terpilih hanya mendapat ganjaran yang patut mereka

136 Ryrie, The Grace of God, hal. 85. 

Soteriologi404

terima. Seharusnya kita memuji Allah karena Ia mau menyelamat­

kan beberapa orang, dan bukannya menuduh bahwa Ia tidak adil 

atau pilih kasih saat  menyelamatkan beberapa orang saja. Allah 

tidak senang akan kematian orang fasik (Yehezkiel 33:11), dan Ia 

juga tidak mau seorang pun binasa (II Petrus 3:9), namun  kejahatan 

manusialah yang memisahkan dia dari Allah (Yesaya 59:2). 

Ketetapan untuk menolak beberapa orang, jika memang dapat 

dikatakan demikian, merupakan suatu ketetapan untuk tidak 

melakukan apa-apa, suatu ketetapan untuk membiarkan orang ber­

dosa mengatur hidupnya sendiri, menyerahkan dia kepada kekerasan 

hatinya yang mengakibatkan pembinasaan dirinya. Tidaklah benar 

untuk mengatakan bahwa Allah memilih orang-orang tertentu untuk 

masuk neraka. saat  Petrus menulis, "Mereka tersandung padanya, 

karena mereka tidak taat kepada Firman Allah, dan untuk itu mereka 

juga telah disediakan" (I Petrus 2:8), maka yang diajarkannya ialah 

bahwa orang-orang itu disediakan, bukan untuk tidak taat, 

melainkan untuk tersandung karena mereka tidak taat. Dengan cara 

yang sama pula kita harus memahami kesimpulan Rasul Paulus, 

"Jadi Ia menaruh belas kasihan kepada siapa yang dikehendaki-Nya 

dan Ia menegarkan hati siapa yang dikehendaki-Nya" (Roma 9:18), 

Allah menyerahkan manusia kepada cara hidupnya yang bersifat 

keras hati dan merusak, dan dalam arti itulah Ia menegarkan hati 

manusia.

d. Selanjutnya, pemilihan Allah yang dipahami seperti itu 

melemahkan usaha penginjilan. Ada yang bertanya, bila hanya 

orang terpilih yang akan selamat, mengapa harus memberitakan 

Injil? Mereka yang telah dipilih untuk diselamatkan toh akan 

selamat; sedangkan mereka yang tidak terpilih tidak akan selamat; 

maka dari itu buat apa ada penginjilan? Beberapa hal perlu diper­

hatikan. (1) Perintah terakhir dari Kristus ialah untuk mem­

beritakan Injil ke seluruh bumi (Kisah 1:8). Perintah ini merupakan 

amanat kita semua. Allah telah memilih penginjilan sebagai cara 

untuk melaksanakan pemilihan-Nya (Kisah 13:48; 18:10). (2) 

Ajaran ini memberikan semangat kepada orang Kristen saat  ia 

menyampaikan imannya. Paulus menulis, "Karena itu aku sabar 

menanggung semuanya itu bagi orang-orang pilihan Allah, supaya 

mereka juga mendapat keselamatan dalam Kristus Yesus dengan 

kemuliaan yang kekal" (II Timotius 2:10). (3) Anak Tuhan yang 

Pemilihan dan Panggilan Allah 405

mulai memahami betapa besarnya kasih Allah kepada dirinya saat  

Ia memilihnya untuk diselamatkan, kini mempunyai motivasi yang 

baru untuk menyampaikan kebenaran keselamatan yang begitu 

besar dengan orang lain. Paulus menyatakan, "Sebab kasih Kristus 

yang menguasai kami" (II Korintus 5:14) dan beberapa ayat 

kemudian ia melanjutkan, "Jadi kami ini yaitu  utusan-utusan Kris­

tus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; 

dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu di­

damaikan dengan Allah" (II Korintus 5:20)137

e. Pandangan ini menggambarkan Allah bertindak dengan pilih 

kasih dan semau-maunya. Sepintas lalu mungkin kelihatan seperti 

keberatan ini kuat, namun ada dua hal yang perlu diperhatikan. Per­

tama, tindakan ini samasekali tidak ada hubungannya dengan pilih 

kasih, karena tidak ada apa-apa di dalam diri manusia yang dapat 

dibanggakan di hadapan Tuhan. Kedua, mengatakan bahwa pe­

milihan itu dilakukan dengan sewenang-wenang, berarti secara 

tidak langsung mengatakan bahwa Allah itu tidak bijaksana, tidak 

bebas, dan tidak ada kasih. Pemilihan dilakukan oleh Allah yang 

bijaksana dan penuh kasih.

f. Akhirnya, pandangan ini bisa menimbulkan kesombongan di 

dalam hati orang yang terpilih. Jelas keberatan ini tidak dapat di­

terima karena tidak sesuai dengan kenyataan. Karya dan usaha 

manusia bisa menghasilkan kesombongan (Lukas 18:11, 12; Roma 

4:2; Efesus 2:9); kasih karunia Allah yang berdaulat mengakibatkan 

ibadah.

Pandangan mana pun dari kedua pandangan ini yang kita anggap 

lebih pantas dan lebih alkitabiah, tanggapan kita pribadi terhadap 

pemilihan Allah seharusnya sama dengan tanggapan Rasul Paulus, 

"O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat, dan pengetahuan Allah! 

Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak 

terselami jalan-jalan-Nya!" (Roma 11:33). Kita mengakhiri pem­

bicaraan ini bersama dengan Paulus, "Bagi Dialah kemuliaan sam­

pai selama-lamanya. Amin!" (ayat 36; lihat juga Yesaya 55:8, 9).

137 Untuk mendapat pembahasan yang lebih lengkap mengenai hal ini, lihat Packer, 

Evangelism and the Sovereignty of God.

406 Soteriologi

II. DOKTRIN PANGGILAN ALLAH

Kini kita akan mempelajari bersama doktrin panggilan Allah. Kasih 

karunia Allah dimuliakan bukan saja dalam penyediaan kesela­

matan, namun  juga dalam menawarkan keselamatan kepada orang- 

orang yang tidak layak menerimanya. Kita dapat mendefinisikan 

panggilan Allah sebagai tindakan kasih karunia yang mengundang 

manusia untuk menerima dengan iman keselamatan yang telah di­

sediakan oleh Kristus.

A. ORANG-ORANG YANG DIPANGGIL

Alkitab menunjukkan bahwa keselamatan ditawarkan kepada semua 

orang. Keselamatan ditawarkan kepada mereka yang "ditentukan" 

(Roma 8:30), kepada "semua yang letih lesu dan berbeban berat" 

(Matius 11:28), kepada "setiap orang yang percaya kepada-Nya" 

(Yohanes 3:16; band. 3:15; 4:14; 11:26; Wahyu 22:17), kepada 

"ujung-ujung bumi" (Yesaya 45:22; band. Yehezkiel 33:11; Matius 

28:19; Markus 16:15; Yohanes 12:32; I Timotius 2:4; II Petrus 3:9), 

dan kepada "setiap orang yang kamu jumpai" (Matius 22:9).

Di sini muncullah dua pertanyaan: (1) Jikalau beberapa orang 

termasuk kaum terpilih, sedangkan yang lainnya tidak termasuk, 

adakah panggilan Allah itu sungguh-sungguh bagi semua orang? 

jika  panggilan Allah itu sungguh-sungguh bagi semua orang, 

adakah itu sesuai dengan ajaran bahwa karena pembawaannya orang 

berdosa tidak mampu menaati panggilan ini ? Harus diingat 

bahwa ketidakmampuan itu ialah ketidakmampuan moral, bukan 

ketidakmampuan fisik. Ketidakmampuan manusia ini disebabkan 

oleh kehendaknya yang sudah dicemarkan, dan ia sendiri yang men­

jadi penyebab keadaan ini. Selanjutnya ditanya, bagaimana mung­

kin ajaran tentang panggilan Allah ini cocok dengan ajaran tentang 

pilihan Allah? Bagaimanapun juga masalahnya tetap sama apakah 

kita mengatakan bahwa Allah membiarkan orang-orang ter­

tentu menolak panggilan itu atau apakah kita mengatakan bahwa 

Allah sudah tahu sejak semula bahwa ada orang-orang yang akan 

menolak panggilan itu. (2) Pertanyaan yang kedua berkaitan dengan 

kemanjuran panggilan Allah. Apakah panggilan Allah ini begitu 

menarik sehingga tidak dapat ditolak? Pertanyaan ini dapat mem­

Pemilihan dan Panggilan Allah 407

berikan kesan yang salah seakan-akan Allah memakai tekanan dari 

luar terhadap pikiran manusia. Bagaimanapun juga, kita mengakui 

bahwa Allah bekerja di dalam manusia sehingga manusia melak­

sanakan kehendak-Nya (Filipi 2:13). Allah dapat bekerja secara ber­

daulat di dalam hati manusia sehingga mengakibatkan manusia 

menanggapi secara pribadi dan sukarela panggilan Allah kepada 

keselamatan. Perpaduan antara kedaulatan Allah dan kehendak 

bebas manusia berkaitan dengan panggilan Allah ditunjukkan secara 

menakjubkan oleh Yohanes, "Ia datang kepada milik kepunyaan- 

Nya, namun  orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya. 

namun  semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya 

menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama- 

Nya; orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari 

daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, 

melainkan dari Allah" (Yohanes 1:11-13).

B. TUJUAN PANGGILAN ALLAH

Secara ringkas, Allah tidak memanggil manusia untuk memperba­

harui hidup mereka, untuk melakukan kebajikan, untuk dibaptis, 

untuk melibatkan diri dalam kegiatan-kegiatan gereja, dan lain-lain. 

Semuanya itu merupakan hal-hal yang baik, namun semua itu 

hanyalah merupakan buah yang pasti dari apa yang menjadi tujuan 

panggilan Allah. Allah memanggil manusia kepada pertobatan 

(Matius 3:2; 4:17; Markus 1:14, 15; Kisah 2:38; 17:30; II Petrus 

3:9) dan iman (Markus 1:15; Yohanes 6:29; 20:30,