Tampilkan postingan dengan label teologi sistematik 6. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label teologi sistematik 6. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Juli 2026

teologi sistematik 6

 


ak benar" (Matius 5:45, bandingkan dengan Kisah 

14:17).

c. Belas kasihan Allah. Belas kasihan Allah merupakan kebaikan- 

Nya yang dinyatakan kepada orang-orang yang berada di dalam 

132 Teologi

penderitaan atau kesukaran. Rahmat, kasihan, dan kasih setia 

merupakan istilah-istilah yang dipakai oleh Alkitab untuk menunjuk 

kepada belas kasihan Allah. Belas kasihan merupakan sifat kekal 

yang perlu di dalam diri Allah sebagai yang mahasempuma, namun 

perwujudannya dalam kasus-kasus tertentu yaitu  bebas pilih. Me­

nolak kebebasan belas kasihan berarti meniadakannya, karena bila 

belas kasihan menjadi utang, maka itu tidak bisa lagi dikatakan 

sebagai belas kasihan. Allah disebut sebagai "kaya dengan rahmat" 

(Efesus 2:4), "Tuhan maha penyayang dan penuh belas kasihan" 

(Yakobus 5:11), dan memiliki "rahmat yang besar" (I Petrus 1:3). 

Alkitab mengatakan bahwa Ia mengasihani Israel (Mazmur 102:14), 

mengasihani orang bukan Yahudi (Roma 11:30-31), dan semua 

orang yang takut akan Dia (Mazmur 103:17; Lukas 1:50) serta men­

cari keselamatan pada-Nya (Yesaya 55:7). Istilah rahmat Allah 

sering dipakai untuk salam pembukaan dan salam penutup (Galatia 

6:16; I Timotius 1:2; II Timotius 1:2; II Yohanes 3; Yudas 2).

d. Anugerah Allah. Anugerah atau kasih karunia Allah merupa­

kan kebaikan Allah yang ditujukan kepada orang-orang yang se­

benarnya tidak layak menerima kebaikan itu. Anugerah berkaitan 

dengan orang berdosa karena ia bersalah, sedangkan belas kasihan 

berkaitan dengan orang berdosa karena ia dalam keadaan yang me­

nyedihkan. Alkitab berbicara mengenai "kasih karunia-Nya yang 

mulia" (Efesus 1:6), "kekayaan kasih karunia-Nya yang melimpah- 

limpah" (Efesus 2:7), "kasih karunia yang benar-benar dari Allah" 

(I Petrus 5:12).

Pelaksanaan anugerah atau kasih karunia, seperti halnya belas 

kasihan, bergantung pada kerelaan Tuhan. Ia akan tetap kudus di 

dalam segala tindakan-Nya. Apakah Ia akan atau tidak akan mem­

perlihatkan anugerah-Nya kepada seorang berdosa yaitu  hak 

Allah. Alkitab menunjukkan bahwa anugerah Allah dinyatakan ke­

pada orang duniawi dalam kesabaran-Nya dan dalam menunda 

penghukuman atas dosa (Keluaran 34:6; Roma 2:4; 3:25; 9:22; 

I Petrus 3:20; II Petrus 3:9, 15), pembagian berbagai karunia dan 

talenta antara manusia, pencurahan berkat dan bukan penghukuman 

secara langsung (Ibrani 6:7), penyediaan keselamatan (I Yohanes 

2:2), Firman Allah (Hosea 8:12), karya Roh Kudus untuk meng­

insafkan orang akan dosa (Yohanes 16:8-11), pengaruh umat Allah 

Sifat-Dasar Allah: Hakikat dan Sifat 133

(Matius 5:13-16), serta anugerah pendahuluan atau anugerah umum- 

(Titus 2:11).

Alkitab juga menunjukkan bahwa anugerah atau kasih karunia- 

Nya dinyatakan secara khusus kepada orang-orang pilihan-Nya da­

lam pemilihan dan penentuan dari semula (Efesus 1:4-6), penebusan 

(Efesus 1:7-8), penyelamatan (Kisah 18:27; Efesus 2:7-8), pengu­

dusan (Roma 5:21; Titus 2:11-12), ketekunan (II Korintus 12:9), 

pelayanan (Roma 12:6; I Petrus 4:10-11), serta pemuliaan (I Petrus 

1:13). Tindakan ini dikenal sebagai tindakan kasih karunia Allah 

yang khusus. Seperti halnya belas kasihan atau rahmat, istilah kasih 

karunia ini juga sering dipakai sebagai salam pembuka dan salam 

penutup (I Korintus 1:3; 16:23; Efesus 1:2; Filemon 25; Wahyu 

1:4; 22:21).

4. Kebenaran. Allah yaitu  kebenaran. Pengetahuan, per­

nyataan, serta gambaran dan lambang Allah secara kekal sesuai de­

ngan realitas. Kebenaran Allah bukan sekadar landasan semua 

agama, namun  juga landasan semua pengetahuan. Allah yaitu  

benar-benar Allah dalam arti Dia yaitu  Allah yang sejati maupun 

Allah yang selalu mengatakan hal yang sebenarnya. Dialah sumber 

segala kebenaran. Keyakinan bahwa pancaindra kita tidak menipu, 

bahwa kesadaran kita dapat dipercaya, bahwa keadaan berbagai hal 

yaitu  seperti penampakannya kepada kita, dan bahwa eksistensi 

bukan sekadar impian, pada hakikatnya bergantung pada kebenaran 

Allah. Dengan kata lain, kita hidup di dalam dunia yang benar-benar 

ada. Banyak orang bertanya bersama dengan Pontius Pilatus, "Apa 

itu kebenaran?" (Yohanes 18:38). Puncak kebenaran atau kenyataan 

ialah Allah.

Watak manusia maupun Alkitab mengajarkan bahwa Allah ada­

lah benar. Seseorang mau tidak mau harus mengakui bahwa hu­

kum-hukum alam memiliki pencipta yang berkepribadian. Baik ke­

teraturan hukum-hukum alam maupun ketegasannya yang nyata 

membuktikan adanya pencipta yang cerdas dan bijaksana. Yesus 

menegaskan bahwa Allah yaitu  "satu-satunya Allah yang benar" 

(Yohanes 17:3). Yohanes menulis bahwa "kita ada di dalam Yang 

Benar" (I Yohanes 5:20, bandingkan dengan Yeremia 10:10; 

Yohanes 3:33; Roma 3:4; I Tesalonika 1:9; Wahyu 3:7; 6:10). Da­

lam hubungan-Nya dengan makhluk-makhluk ciptaan-Nya, kebe­

134 Teologi

naran Allah dikenal sebagai kejujuran dan kesetiaan-Nya. Kejujuran 

Allah berhubungan dengan apa yang Allah nyatakan tentang diri- 

Nya sendiri dan apa yang disabdakan-Nya. Penyataan diri-Nya da­

lam alam, kesadaran, dan Alkitab itu benar dan dapat dipercaya 

(Mazmur 31:6; Ibrani 6:17, 18). Kesetiaan Allah membuat la me­

nepati semua janji-Nya, baik yang telah diucapkan-Nya maupun 

yang tersirat di dalam hukum-hukum yang Ia berikan kepada kita 

(Ulangan 7:9; Yesaya 25:1). Allah itu setia kepada diri-Nya sendiri 

(II Timotius 2:13), kepada Firman-Nya (Ibrani 11:11), dan kepada 

umat-Nya (I Korintus 1:9; 10:13; I Tesalonika 5:24; II Tesalonika 

3:3). Kenyataan ini selalu merupakan sumber kekuatan dan peng­

hiburan bagi orang percaya. Di dalam kitab Yosua kita membaca 

pernyataan luar biasa berikut ini, "Dari segala yang baik yang dijan­

jikan Tuhan kepada kaum Israel, tidak ada yang tidak dipenuhi; 

semuanya terpenuhi" (21:45).

Namun, sekarang bagaimana kejujuran Allah ini dapat diterima 

bila kita melihat banyak sekali ancaman Allah yang tidak dilak­

sanakan? Janji-janji dan ancaman-ancaman Allah yang bersifat mut­

lak senantiasa benar-benar digenapi; akan namun , bila janji dan an­

caman itu bersyarat, maka penggenapannya tergantung dari 

ketaatan atau pertobatan orang yang bersangkutan. Syarat ini  

bisa tersurat maupun tersirat, dan samasekali tidak ada pelanggaran 

terhadap kesetiaan Allah bila, sebagai akibat ketidaktaatan dan 

ketiadaan pertobatan atau ketaatan dan pertobatan dari pihak 

manusia, Allah tidak memenuhi janji-Nya (Yunus 3, 4). Selanjut­

nya, apakah tawaran dan dorongan untuk bertobat kepada orang- 

orang berdosa, yang ternyata kemudian toh akan hilang, betul-betul 

tulus? Undangan-undangan yang tulus masih saja tergantung dari 

kemauan si penerima undangan ini , dan bila manusia tidak 

mau menerima undangan Allah maka tidaklah dapat dikatakan bah­

wa Tuhan tidak tulus saat  memberikan undangan itu. Allah tahu 

sebelumnya bahwa Israel akan menolak untuk masuk ke Kanaan 

dari Kadesy-Barnea, namun pengetahuan ini  tidak menahan 

Allah untuk tetap menghimbau dengan sungguh-sungguh agar umat- 

Nya memasuki Kanaan lewat Kadesy-Barnea (Ulangan 1:19-33). 

Jadi, kejujuran dan kesetiaan Allah tetap tidak ternoda.

Sesungguhnya, Allah kita tidak terpahami! Paulus berseru,”0, 

alangkah dalamnya kekayaan, hikmat, dan pengetahuan Allah! 

Sifat-Dasar Allah: Hakikat dan Sifat 135

Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak 

terselami jalan-jalan-Nya! ... Sebab segala sesuatu dari Dia, dan 

oleh Dia, dan kepada Dia: bagi Dialah kemuliaan sampai selama- 

lamanya!" (Roma 11:33, 36). Di hadapan Allah, anak Tuhan ter­

sungkur dan menyembah Dia. Kemahatahuan tidak dungu; Allah 

mengetahui. Kasih tidak acuh tak acuh; Allah memperhatikan dan 

menolong. Kemahakuasaan bukanlah tidak berdaya; Allah bertin­

dak.


IX 

Sifat-Dasar Allah: Keesaan dan 

Ketritunggalan

Keesaan dan ketritunggalan Allah juga berkaitan dengan sifat-dasar 

atau watak Allah yang menuntut pembahasan tersendiri.

I. KEESAAN ALLAH

Keesaan Allah berarti bahwa hanya ada satu Allah saja dan bahwa 

sifat-dasar atau watak Allah tidak dapat dipisah-pisahkan atau 

dibagi. Bahwa Allah itu esa adanya merupakan kebenaran sejati 

Perjanjian Lama (Ulangan 4:35, 39; I Raja-Raja 8:60; Yesaya 45:5- 

6). Kebenaran yang sama juga sering diajarkan dalam Perjanjian 

Baru (Markus 12:29-32; Yohanes 17:3; I Korintus 8:4-6; I Timotius 

2:5). Akan namun , Allah itu bukan saja esa, Dia yaitu  satu-satunya 

Allah; oleh karena itu Allah unik adanya (Keluaran 15:11; Zakharia 

14:9). Hanya ada satu saja oknum yang tak terbatas dan sempurna. 

Memikirkan dua atau lebih oknum yang tidak terbatas tidaklah 

masuk akal dan tidak dapat dibayangkan.

Bahwa sifat-dasar Allah tidak dapat dipisah-pisahkan atau dibagi 

diberitahukan oleh Ulangan 6:4, "Dengarlah, hai orang Israel: 

Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu esa!" (bandingkan dengan Markus 

12:29; Yakobus 2:19). Allah tidak terdiri atas bagian-bagian tertentu 

atau dapat diuraikan menjadi bagian-bagian tertentu. Allah itu 

sederhana; menurut angka Ia hanya satu, bebas dari segala bentuk 

paduan; manusia merupakan suatu paduan karena manusia memiliki 

bagian yang jasmaniah dan bagian yang rohaniah. namun  Allah itu 

roh adanya sehingga tak dapat diurai seperti itu. Namun, keesaan 

137

138 Teologi

ini tidak inkonsisten dengan konsep ketritunggalan, karena suatu 

keesaan tidak sama dengan suatu satuan. Suatu satuan ditandai oleh 

sifat tunggal. Keesaan Allah memberikan peluang bagi adanya per­

bedaan-perbedaan pribadi di dalam sifat-dasar ilahi, sekalipun pada 

saat yang sama tetap diakui bahwa sifat-dasar ilahi itu secara 

matematis dan kekal tetap satu. Keesaan Allah menyatakan secara 

tidak langsung bahwa ketiga oknum trinitas bukanlah hakikat- 

hakikat yang terpisah di dalam hakikat ilahi itu. Banyak sekali sekte 

dan bidat Kristen yang tidak lagi menganut iman Kristen yang lazim 

karena mereka tidak menerima ajaran tiga oknum satu hakikat.

II. KETRITUNGGALAN ALLAH

Ajaran trinitas atau ketritunggalan Allah bukanlah suatu kebenaran 

yang diperoleh melalui akal budi atau yang dikenal dengan istilah 

teologi natural, namun  suatu kebenaran yang dapat diketahui melalui 

penyataan atau wahyu. Akal manusia mungkin dapat menunjukkan 

kepada kita keesaan Allah, namun  ajaran tentang trinitas langsung 

berasal dari penyataan yang khusus. Sekalipun istilah "trinitas" tidak 

ada dalam Alkitab, namun  istilah ini dipakai sejak awal di dalam 

gereja. Bentuk Yunaninya, trias, nampaknya pertama kali dipakai 

oleh Teofilus dari Antiokhia (wafat tahun 181 M), sedangkan ben­

tuk Latinnya, trinitas, pertama kali dipakai oleh Tertulianus (wafat 

~ tahun 220 M). Dalam teologi Kristen, istilah "trinitas" atau 

tritunggal berarti bahwa ada tiga oknum kekal dalam hakikat ilahi 

yang satu itu, yang masing-masing dikenal sebagai Allah Bapa, 

Allah Anak, dan Allah Roh Kudus. Tiga oknum ini dapat dikatakan 

sebagai tiga kepribadian Allah. Kita menyembah Allah tritunggal. 

Syahadat Athanasius mengungkapkan keyakinan akan tri­

tunggal ini sebagai berikut, "Kita menyembah satu Allah dalam ke- 

Tritunggalan, dan ke-Tritunggalan dalam keesaan; kita membeda­

kan antara tiga pribadi, namun  kita tidak memisahkan hakikatnya." 

Syahadat ini selanjutnya mengatakan, "Ketiga pribadi ilahi ini sama 

kekal dan sama kedudukan satu dengan yang lain, sehingga ... kita 

memuja keesaan utuh dalam Trinitas dan Trinitas dalam keesaan."

Ajaran tentang tritunggal ini harus dibedakan dari pandangan 

Triteisme dan Sabelianisme. Triteisme tidak dapat menerima 

keesaan hakikat Allah dan beranggapan bahwa ada tiga Allah yang 

Sifat-Dasar Allah: Keesaan dan Ketritunggalan 139

berbeda. Satu-satunya kesatuan antara ketiga Allah ini. Satu-satu­

nya keesaan yang diakui oleh golongan ini ialah keesaan maksud 

dan tujuan. Allah tritunggal merupakan suatu keesaan hakikat mau­

pun keesaan maksud dan tujuan. Ketiga pribadi Allah Tritunggal 

itu sehakikat. Sabelianisme mengakui ketritunggalan penyataan, 

namun tidak menerima ketritunggalan sifat. Sabelianisme meng­

ajarkan bahwa Allah, sebagai Bapa, yaitu  pencipta dan pemberi 

hukum; sebagai Anak, Allah yang sama itu menjelma untuk me­

nunaikan tugas penebus; dan sebagai Roh Kudus, tetap Allah yang 

sama namun yang kini mengerjakan pembaharuan dan pengudusan. 

Dengan kata lain, Sabelianisme mengajarkan Tritunggal modalitas 

yang berbeda dari Tritunggal ontologis. Modalisme yang dianut 

oleh Sabelianisme ini mengajarkan adanya tiga aspek tabiat Allah, 

sebagaimana halnya seseorang laki-laki bisa menjadi seorang se­

niman, seorang guru, dan sekaligus seorang sahabat, atau ia bisa 

menjadi seorang ayah, seorang putra, dan seorang saudara laki-laki. 

Ajaran semacam ini sebenarnya merupakan penolakan terhadap 

ajaran Tritunggal. Karena pandangan ini tidak mengakui adanya 

tiga pribadi dalam satu hakikat, namun  tiga pemeranan atau tiga 

hubungan dalam satu pribadi.

Harus diakui, ajaran tentang tritunggal Allah yaitu  suatu 

rahasia yang besar sekali. Seakan-akan ajaran ini merupakan suatu 

teka-teki intelektual yang sulit dipecahkan atau bahkan merupakan 

suatu kontradiksi. Ajaran Kristen tentang tritunggal, betapapun 

misteriusnya, bukanlah hasil pemikiran berspekulasi, namun  hasil pe­

nyataan Allah sendiri. Apa yang telah disingkapkan oleh Allah 

tentang ajaran ini dalam Firman-Nya?

A. PETUNJUK-PETUNJUK AWAL DALAM PERJANJIAN LAMA

Sekalipun hal yang terutama ditekankan dalam Perjanjian Lama 

yaitu  keesaan Allah, namun tidak kurang isyarat mengenai adanya 

berbagai pribadi dalam ke-Allahan, demikian juga tidak kurang 

isyarat bahwa pribadi-pribadi ini merupakan satu ketritunggalan.

Menarik untuk dicatat bahwa Allah berkali-kali memakai kata 

ganti jamak (Kejadian 1:26; 3:22; 11:7; Yesaya 6:8) serta kata kerja 

jamak (Kejadian 1:26; 11:7) saat  menunjuk kepada diri-Nya sen­

diri. Nama Allah yang dipakai dalam ayat-ayat ini ialah Elohim 

140 Teologi

yaitu sebuah istilah jamak yang mungkin saja menyiratkan perihal 

jamak, sekalipun hal ini tidak dapat dikatakan dengan pasti. Bentuk 

jamak ini barangkali dipakai untuk mengungkapkan kesungguhan 

dan bukan mengungkapkan perihal jamak.

Petunjuk-petunjuk yang lebih tegas bahwa keadaan jamak ini me­

rupakan suatu trinitas dapat ditemukan dalam kenyataan-kenyataan 

berikut: (1) Tuhan dibeda-bedakan dari Tuhan (Allah). Kejadian 

19:24 berbunyi, "Kemudian Tuhan menurunkan hujan belerang dan 

api atas Sodom dan Gomora, berasal dari Tuhan [Allah], dari la­

ngit," sedangkan Hosea 1:7 menyatakan, "Aku akan menyayangi 

kaum Yehuda dan menyelamatkan mereka demi Tuhan, Allah 

mereka" (bandingkan dengan Zakharia 3:2; II Timotius 1:18). (2) 

Allah Anak dibeda-bedakan dari Allah Bapa. Allah Anak yang 

berbicara dengan perantaraan Nabi Yesaya mengatakan, 'Tu­

han Allah mengutus aku dengan Roh-Nya" (Yesaya 48:16, ban­

dingkan dengan Mazmur 45:7-8; Yesaya 63:9-10). Mazmur 2:7 ber­

bunyi, "Anak-Ku engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari 

ini." Yesus tidak saja disebut Anak Allah (Roma 1:4), namun  juga 

Anak Tunggal Allah (Yohanes 3:16,18) dan Anak-Nya yang sulung 

(Ibrani 1:6). Kristus tidak menjadi Anak Allah yang kekal pada saat 

penjelmaan-Nya; Dia yaitu  Anak Allah sebelum Ia diberikan 

(Yesaya 9:5). "... Yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak 

dahulu kala" (Mikha 5: Ib). (3) Roh jelas juga dibedakan dari Allah 

Bapa. Kejadian 1:1 berbunyi, "Pada mulanya Allah menciptakan 

langit dan bumi." Lalu ayat 2 berbunyi, "... dan Roh Allah me­

layang-layang di atas permukaan air." Perhatikan juga ayat berikut, 

"Berfirmanlah Tuhan, ’Roh-Ku tidak akan selama-lamanya tinggal 

di dalam manusia’" (Kejadian 6:3, bandingkan juga Bilangan 27:18; 

Mazmur 51:13; Yesaya 40:13; Hagai 2:4-5). (4) Disebutnya "Ku­

dus" sebanyak tiga kali dalam Yesaya 6:3 dapat dianggap sebagai 

isyarat mengenai tritunggal (bandingkan Wahyu 4:8) sebagaimana 

pula berkat lipat tiga dalam Bilangan 6:24-26.

Istilah yang sering dipakai, yaitu "malaikat Tuhan", di seluruh 

Perjanjian Lama, merupakan petunjuk khusus kepada pribadi kedua 

dalam ke-Allahan sebelum penjelmaan-Nya. Penampilan-Nya da­

lam Perjanjian Lama ini merupakan pertanda dari kedatangan-Nya 

sebagai manusia di kemudian hari. Malaikat Tuhan ini disamakan 

dengan Tuhan, namun berbeda dengan Tuhan. Ia menampakkan diri

Sifat-Dasar Allah: Keesaan dan Ketritunggalan 141

kepada Hagar (Kejadian 16:7-14), Abraham (Kejadian 22:11-18), 

Yakub (Kejadian 31:11-13), Musa (Keluaran 3:2-5), Israel 

(Keluaran 14:19), Bileam (Bilangan 22:22-35), Gideon (Hakim- 

Hakim 6:11-23), Manoah (Hakim-Hakim 13:2-25), Elia (I Raja- 

Raja 19:5-7), dan Daud (I Tawarikh 21:15-17). Malaikat Tuhan ini 

membunuh 185.000 orang Asyur (II Raja-Raja 19:35), berdiri di 

antara pohon-pohon murad dalam penglihatan Zakharia (1:11), 

membela Yosua, imam besar, terhadap dakwaan Iblis (Zakharia 3:1- 

2), dan merupakan satu dari tiga tamu Abraham (Kejadian 18).

Berdasarkan isyarat-isyarat di atas tentang trinitas dalam Perjan­

jian Lama, kami menyimpulkan bersama Berkhof, 'Perjanjian Lama 

dengan jelas mengantisipasi datangnya penyataan yang lebih leng­

kap tentang Trinitas dalam Perjanjian Baru."42

42 Berkhof, Systematic Theology, hal. 86.

B. AJARAN PERJANJIAN BARU

Ajaran tentang trinitas, diuraikan dengan lebih jelas dalam 

Perjanjian Baru daripada dalam Perjanjian Lama. Kenyataan ini 

dapat dibuktikan dengan dua cara: melalui pernyataan-pernyataan 

dan kiasan-kiasan umum dan dengan menunjukkan bahwa ada tiga 

pribadi ke-Allahan yang diakui sebagai Allah.

1. Pernyataan-pernyataan dan kiasan-kiasan umum. Beberapa 

kali ketiga pribadi tritunggal ditampilkan bersama dan nampaknya 

setaraf satu dengan yang lain. Pada saat Yesus dibaptis, Roh turun 

ke atas-Nya dan suara Allah terdengar dari sorga serta menyatakan 

Yesus sebagai Anak yang dikasihi-Nya (Matius 3:16-17). Yesus 

berdoa agar Bapa mengutus seorang Penolong yang lain (Yohanes 

14:16). Para murid ditugaskan untuk membaptis orang dalam nama 

Bapa, Anak, dan Roh Kudus (Matius 28:19). Ketiga pribadi dalam 

tritunggal itu bergabung bersama-sama dalam melaksanakan peker­

jaan Mereka (I Korintus 12:4-6; Efesus 1:3-14; I Petrus 1:2; 3:18; 

dan Wahyu 1:4-5). Lagi pula, doa berkat rasuli mempersatukan ke­

tiga oknum tritunggal ini  (II Korintus 13:13).

2. Bapa dikenal sebagai Allah. Membaca Perjanjian Baru sepin­

tas kilas akan menunjukkan bahwa Allah Bapa banyak kali dikenal 

sebagai Allah (Yohanes 6:27; Roma 1:7; Galatia 1:1).

142 Teologi

3. Anak dikenal sebagai Allah. Ajaran tentang keilahian Kristus 

sangat penting bagi iman Kristen. "Apakah pendapatmu tentang 

Kristus?" merupakan pertanyaan utama dalam kehidupan setiap 

orang Kristen (Matius 16:15; 22:42). Memang Yesus yaitu  manu­

sia yang paling luhur, namun Ia jelas jauh lebih besar daripada 

manusia biasa. Perjanjian Baru menunjukkan bahwa Dia yaitu  

Allah dengan berbagai cara.

a. Sifat-sifat ilahi. Kristus memiliki lima sifat yang secara khas 

dan jelas yaitu  ilahi: kekal, mahahadir, mahatahu, mahakuasa, dan 

tidak berubah. (1) Yesus itu kekal. Ia sudah ada bukan saja sebelum 

Yohanes Pembaptis (Yohanes 1:15), sebelum Abraham (Yohanes 

8:58), dan bahkan sebelum dunia dijadikan (Yohanes 17:5, 24), 

melainkan Dialah "... yang sulung, lebih utama dari segala yang 

diciptakan ..." (Kolose 1:15), yang sudah ada "pada mulanya" 

(Yohanes 1:1, bandingkan dengan I Yohanes 1:1); dan, sebenarnya, 

"sejak dahulu kala" (Mikha 5:1). Dan mengenai masa depan, Ia 

tetap ada (Yesaya 9:5-6; Ibrani 1:11-12; 13:8). Hidup yang diberi­

kan Bapa kepada-Nya merupakan suatu proses yang kekal (Yohanes 

5:26, bandingkan Yohanes 1:4). (2) Yesus itu mahahadir. Ia berada 

di sorga sekalipun sedang berada di bumi (Yohanes 3:13) dan ber­

ada di bumi saat  Ia di sorga (Matius 18:20; 28:20). Ia memenuhi 

segala sesuatu (Efesus 1:23). (3) Yesus itu mahatahu. Yesus tahu 

segala sesuatu (Yohanes 16:30; 21:17). Sesungguhnya, di dalam Dia 

"tersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuan" (Kolose 2:3). 

Beberapa contoh tentang kemahatahuan-Nya diuraikan dalam kitab- 

kitab Injil. Ia mengetahui apa yang ada di dalam hati manusia (Yo­

hanes 2:24-25), Ia mengetahui riwayat hidup wanita Samaria itu 

(Yohanes 4:29), pikiran manusia (Lukas 6:8; 11:17), waktu dan 

cara-Nya meninggalkan dunia ini (Matius 16:21; Yohanes 12:33; 

13:1), Ia juga mengetahui siapa yang akan mengkhianati-Nya (Yo­

hanes 6:70-71), serta keadaan dan akhirnya zaman ini (Matius 24, 

25). Ia mengenal Bapa dengan sangat akrab dan tak seorang pun 

yang dapat mengenal Bapa seperti itu (Matius 11:27).

Memang harus diakui bahwa ada beberapa pernyataan Yesus 

yang seakan-akan menunjukkan bahwa Ia tidak mahatahu. Yesus 

tidak mengetahui saat Ia akan datang untuk kedua kalinya (Markus 

13:32); Ia merasa heran atas ketidakpercayaan orang Israel (Markus 

6:6), dan tercatat pula bahwa Ia mendekati sebatang pohon ara de- 

Sifat-Dasar Allah: Keesaan dan Ketritunggalan 143

ngan harapan untuk mendapatkan buah ara pada pohon itu (Markus 

11:13). Sekalipun demikian, haruslah diingat bahwa pada masa Ia 

merendahkan diri-Nya, Yesus tidak memakai sifat-sifat ilahi-Nya 

sekehendak hati-Nya. Allah Bapa tidak mengizinkan-Nya memakai 

kemahatahuan-Nya dalam kasus-kasus ini . Pastilah, sekarang 

Yesus tahu saat kedatangan-Nya untuk kedua kalinya.

(4) Yesus itu mahakuasa (Yohanes 5:19). Dialah Allah yang per­

kasa (Yesaya 9:5, bandingkan juga dengan Wahyu 1:8), Ia "me­

nopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan" 

(Ibrani 1:3), dan juga segala kuasa telah diserahkan kepada-Nya 

(Matius 28:18). Ia berkuasa atas setan-setan (Markus 5:11-15), pe­

nyakit (Lukas 4:38-41), kematian (Matius 9:18-25; Lukas 7: 12-16; 

Yohanes 11:38-44), unsur-unsur alamiah (Matius 21:19; Yohanes 

2:3-11), ya, segala sesuatu (Matius 28:18). Selama melayani di 

bumi, Kristus tunduk kepada kehendak Allah, dan sekalipun di­

lakukan dengan kuasa Roh, namun mukjizat-mukjizat-Nya itu 

dianggap sebagai bukti-bukti keilahian-Nya (Yohanes 5:36; 10:25, 

38; 20:30-31). Yesus sendiri mengatakan, "Aku berkata kepadamu, 

sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya 

sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa 

yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak" (Yohanes 

5:19). (5) Yesus tidak berubah (Ibrani 1:12; 13:8). Hal ini berlaku 

bagi semua rencana, janji, serta diri-Nya sendiri. Namun, kenyataan 

ini tidak mencegah kemungkinan bahwa Ia dapat memberikan bebe­

rapa manifestasi lainnya, ataupun membatasi beberapa perintah dan 

tujuan-Nya kepada masa dan orang tertentu saja.

b. Jabatan-jabatan ilahi. Yesus yaitu  pencipta (Yohanes 1:3; 

Kolose 1:16; Ibrani 1:10) serta penopang segala sesuatu yang ada 

(Kolose 1:17; Ibrani 1:3). Tidak ada hal yang kebetulan ataupun 

hukum alam yang menciptakan alam semesta atau menopang alam 

semesta. Pekerjaan ini  yaitu  pekerjaan ilahi (II Petrus 3:5-7).

c. Hak-hak istimewa Allah. Kristus mengampuni dosa (Matius 

9:2, 6; Lukas 7:47-48). Tidak ada satu orang murid pun yang berani 

mengatakan bahwa ia memiliki wewenang ini (bandingkan Matius 

16:19; 18:18; dan Yohanes 20:23 dengan Kisah 8:20-22 dan I Yo­

hanes 1:9). Ia akan membangkitkan orang mati pada hari Kebang­

kitan (Yohanes 5:25-29; 6:39-40, 54; 11:25). Kebangkitan ini akan 

144 Teologi

berbeda sifatnya dengan kebangkitan tiga orang mati yang di- 

lakukan-Nya saat  Ia di bumi (Lukas 7:12-16; Markus 5:35-43; 

Yohanes 11:38-44). Di masa yang akan datang, semua orang kudus- 

Nya akan dibangkitkan; mereka akan dibangkitkan dari tubuh yang 

busuk dan dari kematian; mereka akan bangkit dan takkan mati lagi; 

dan mereka akan dibangkitkan oleh kuasa yang ada di dalam Kristus 

dan bukan oleh kuasa Roh Kudus. Dan, akhirnya, Ia akan meng­

hakimi (Yohanes 5:22) orang-orang percaya (Roma 14:10; II Korin­

tus 5:10), binatang itu beserta para pengikutnya (Wahyu 19:15, 19- 

20) dan bangsa-bangsa (Matius 25:31-32; Kisah 17:31), Iblis 

(Kejadian 3:15), dan orang fasik yang sudah mati (Kisah 10:42; 

II Timotius 4:1; I Petrus 4:5).

d. Ia disamakan dengan Yehova dari Perjanjian Lama. Apa yang 

dalam Perjanjian Lama dikatakan mengenai Yehova juga dikatakan 

mengenai Kristus dalam Perjanjian Baru. Ia yaitu  pencipta (Maz­

mur 102:26-28; Ibrani 1:10-12), dilihat oleh Yesaya (Yesaya 6:1-4; 

Yohanes 12:41), akan didahului oleh seorang pelopor (Yesaya 40:3; 

Matius 3:3), mendisiplinkan umat-Nya (Bilangan 21:6-7; I Korintus 

10:9), harus dipandang sebagai Yang Kudus (Yesaya 8:13; I Petrus 

3:15), menguasai tawanan (Mazmur 68:19; Efesus 4:8), dan menjadi 

sasaran iman (Yoel 2:32; Roma 10:9, 13).

e. Nama-nama Yesus yang menyatakan keilahian. (1) Yesus me­

makai beberapa kiasan yang menyiratkan sifat adikodrati. Misalnya, 

Yesus mengatakan, "Akulah roti yang telah turun dari sorga" (Yo­

hanes 6:41, 50); "Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia 

akan selamat" (Yohanes 10:9); "Akulah jalan dan kebenaran dan 

hidup, tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak 

melalui Aku" (Yohanes 14:6); "Akulah pokok anggur dan kamulah 

ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di 

dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat 

berbuat apa-apa" (Yohanes 15:5). Ia juga memakai beberapa nama 

bagi diri-Nya yang menyiratkan keilahian, misalnya, "Alfa dan 

Omega, Yang Pertama dan Yang Terkemudian, Yang Awal dan 

Yang Akhir" (Wahyu 22:13), "kebangkitan dan hidup" (Yohanes 

11:25), dan "Amin, Saksi yang setia dan benar, permulaan dari cip­

taan Allah" (Wahyu 3:14). Lagi pula, Yesus mengatakan, "Sebelum 

Abraham jadi, Aku telah ADA" (Yohanes 8:58, bandingkan Ke­

luaran 3:14).

Sifat-Dasar Allah: Keesaan dan Ketritunggalan 145

(2) Ia disebut Imanuel. Matius secara jelas sekali menerapkan 

Yesaya 7:14 kepada Yesus (Matius 1:22-23). Ia lahir dari seorang 

perawan dan diberi nama Imanuel, yang artinya Allah menyertai 

kita. Di Perjanjian Baru nama ini hanya muncul sekali dalam Ma­

tius, walaupun konsep Allah menyertai kita itu ada juga dalam kitab 

lain (Yohanes 1:14; Wahyu 21:3). (3) Istilah "Firman" (Logos) di­

pakai untuk menekankan keilahian-Nya (Yohanes 1:1-14; Wahyu 

19:13). Sekalipun istilah ini agaknya pertama kali dipakai oleh 

Heraklitus dengan arti akal manusia, dan kemudian diambil alih 

oleh Plato dan kaum Stoa, serta akhirnya diterima dalam teologi 

Yahudi oleh Philo, jelas bahwa Yohanes samasekali tidak mengacu 

ke sumber-sumber ini saat  memakai istilah logos. Pasti, ia meng­

ambilnya dari Perjanjian Lama dari personifikasi kebijaksanaan dan 

istilah Ibrani memra, lalu mengisinya dengan konsep Kristen ten­

tang keilahian.43

43 Untuk pembahasan yang lebih lengkap lihat Kittel, "Lego, Logos, ect." dalam 

Theological Dictionary of the New Testament, IV, hal. 130-136

44 Untuk pembahasan yang lebih lengkap tentang "Anak Manusia" lihat Ridderbos, 

The Coining of the Kingdom, hal. 31-36.

(4) Nama yang disenangi oleh Yesus sendiri yaitu  Anak Manu­

sia. Dalam setiap hal, kecuali satu (Kisah 7:56), Yesus sendiri yang 

memakai  istilah ini untuk menyebut diri-Nya di Perjanjian 

Baru. Istilah ini tidak selalu menunjuk kepada keilahian seperti da­

lam Matius 8:20; 11:18-19; 17:12; dan Lukas 9:44, namun sering 

kali istilah ini menunjuk kepada keilahian. Misalnya, sebagai Anak 

Manusialah Ia berkuasa di bumi mengampuni dosa (Matius 9:6), 

menafsirkan hukum Sabat (Matius 12:8), dan menghakimi (Yohanes 

5:27). Sebagai Anak Manusia Ia menyerahkan nyawa-Nya sebagai 

tebusan untuk banyak orang (Matius 20:28), mengutus malaikat- 

malaikat-Nya mengumpulkan lalang (Matius 13:41), akan duduk di 

takhta kemuliaan (Matius 19:28; 25:31), dan sebagai Anak Manusia 

Ia akan datang lagi (Matius 24:44; 26:64). saat  Yesus menyata­

kan bahwa Ia yaitu  Anak Manusia yang disebut dalam kitab Da­

niel, yang akan datang dengan kuasa yang besar, imam besar me­

nuduhnya sebagai penghujat (Matius 26:63-64; Daniel 7:13).44

(5) Kristus disebut Tuhan. Dalam Perjanjian Baru istilah bahasa 

Yunani untuk Tuhan dipakai dengan empat cara. Istilah itu dipakai 

untuk menunjuk kepada Allah Bapa (Matius 4:7; 11:25; Lukas 2:29; 

146 Teologi

Kisah 17:24; Roma 4:8; II Korintus 6:17-18; Wahyu 4:8), untuk 

menunjukkan rasa hormat (Matius 13:27; 21:29; 27:63; Lukas 13:8; 

Yohanes 12:21), sebagai nama untuk seorang majikan atau pemilik 

(Matius 20:8; Lukas 12:46; Yohanes 15:15; Kolose 4:1), dan se­

bagai sebutan bagi Kristus (Matius 7:22; 8:2; 14:28; Markus 7:28). 

Belum tentu bahwa semua yang menyebut Yesus "Tuhan" itu ber­

pikir tentang Dia sebagai Allah, namun ada cukup banyak kejadian 

di mana mereka benar-benar menganggap Dia demikian (Matius 

7:21-22; Lukas 1:43; 2:11; Yohanes 20:28; Kisah 16:31; I Korintus 

12:3; Filipi 2:11). Gelar 'Tuhan" yang sering dipakai untuk Yesus 

merupakan terjemahan dari nama Ibrani Yehova. Jadi, Kristus di­

samakan dengan Yehova dari Perjanjian Lama (Yohanes 12:40-41; 

Roma 10:9, 13; dan I Petrus 3:15 dibandingkan secara berurutan 

dengan Yesaya 6:1-2; Yoel 2:32; dan Yesaya 8:13).

(6) Kristus dinamakan Anak Allah. Gelar ini secara penuh tidak 

pernah dipakai oleh Yesus untuk diri-Nya dalam Injil-Injil Sinoptis, 

namun  dalam Injil Yohanes satu kali hal itu dilakukan-Nya (Yohanes 

10:36, bandingkan dengan 10:33). Bagaimanapun juga, istilah ini 

dipakai untuk Yesus Kristus oleh orang lain, dan Ia menerima se­

demikian sehingga menegaskan bahwa Ia benar-benar Anak Allah. 

Walaupun istilah ini dipakai juga untuk menunjuk malaikat-malaikat 

(Ayub 2:1), Adam (Lukas 3:38), bangsa Ibrani (Keluaran 4:22; 

Hosea 11:1), raja Israel (II Samuel 7:14), dan semua orang kudus 

(Galatia 4:6), namun dalam Yohanes 5:18; 10:33, 36 pernyataan 

Yesus bahwa Ia Anak Allah jelas dimaksudkan untuk menunjuk 

kepada keilahian. Hal ini tersirat di dalam istilah "Anak-Nya yang 

tunggal" (Yohanes 3:16, 18). saat  Yesus mengakui diri-Nya se­

bagai Anak Allah, Ia dituduh telah menghujat Allah (Matius 26:63- 

65, bandingkan dengan Yohanes 5:18; 10:36). Sebagai Anak Allah, 

dikatakan bahwa Ia akan melaksanakan penghakiman (Yohanes 

5:22), memiliki hidup dalam diri-Nya dan menghidupkan siapa saja 

yang dikehendaki-Nya (Yohanes 5:21, 26) serta memberikan hidup 

kekal (Yohanes 10:10). yaitu  kehendak Bapa bahwa semua me­

muliakan Sang Anak sebagaimana semua memuliakan Sang Bapa 

(Yohanes 5:23). Yesus juga disebut sebagai Anak Allah dalam arti 

Mesias, yang diurapi oleh Tuhan (Yohanes 1:49; 11:27). Melalui 

pengalaman penjelmaan, Yesus juga dinamakan Anak (Lukas 1:32, 

35; Yohanes 1:14).

Sifat-Dasar Allah: Keesaan dan Ketritunggalan 147

(7) Yesus disebut Allah sebanyak beberapa kali dalam Perjanjian 

Baru. Dalam Yohanes 1:1 penekanannya sangat kuat dalam bahasa 

Yunani. Ayat itu berbunyi, "Dan Firman itu yaitu  Allah." Ke­

tiadaan kata sandang sebelum istilah theos menunjukkan bahwa 

Allah dalam kalimat ini berfungsi sebagai predikat. Yang diper­

tanyakan dalam ayat itu bukan siapa Allah itu, namun  siapa Logos. 

Ia bukan saja Anak yang tunggal, namun  juga Allah yang tunggal 

(Yohanes 1:18). Tomas menyebut Kristus, "Tuhanku dan Allahku" 

(Yohanes 20:28). Titus 2:13 merujuk kepada "Allah yang Maha­

besar dan Juruselamat kita Yesus Kristus." Allah berkata kepada 

Anak-Nya, 'Takhta-Mu, ya Allah, tetap untuk seterusnya dan se­

lamanya, dan tongkat kerajaan-Mu yaitu  tongkat kebenaran" 

(Ibrani 1:8). Petrus menulis soal "Allah dan Juruselamat kita Yesus 

Kristus" (II Petrus 1:1). I Yohanes 5:20 berbunyi "di dalam Anak- 

Nya Yesus Kristus. Ia yaitu  Allah yang benar dan hidup yang 

kekal" (bandingkan dengan Roma 9:5).

f. Beberapa hubungan membuktikan keilahian Yesus Kristus. 

Bapa dan Anak disejajarkan satu sama lain dan dengan Roh Kudus 

dalam formula baptisan (Matius 28:19, bandingkan dengan Kisah 

2:38; Roma 6:3) dan juga dalam doa berkat rasuli (II Korintus 

13:13, bandingkan dengan I Korintus 1:3). Ia merupakan cahaya 

kemuliaan (Ibrani 1:3) serta gambar Allah (Kolose 1:15, bandingkan 

2:9). Dia yaitu  satu dengan Bapa (Yohanes 10:30; kata "satu" itu 

netral dalam tata bahasa bukan maskulin; satu substansi, bukan satu 

pribadi, bandingkan Yohanes 14:9; 17:11). Yesus dan Allah Bapa 

bertindak bersama-sama Yohanes 14:23; I Tesalonika 3:11; II Tesa­

lonika 2:16-17). Apa pun yang dimiliki oleh Bapa juga dimiliki 

oleh Kristus (Yohanes 16:15; 17:10). Orang Kristen memiliki hu­

bungan yang sama terhadap Allah Bapa dan terhadap Allah Anak 

(Efesus 5:5; Wahyu 20:6).

g. Penyembahan yang dinyatakan kepada dan diterima oleh Ye­

sus Kristus (Matius 14:33; 28:9; Lukas 5:8; I Korintus 1:2). Karena 

Perjanjian Lama (Keluaran 34:14) dan Kristus sendiri (Matius 4:10) 

menyatakan bahwa hanya Allah saja yang patut disembah, dan 

karena manusia biasa dan malaikat tidak bersedia disembah (Kisah 

10:25-26; Wahyu 19:10; 22:8-9), jadi bilamana Kristus menerima 

penyembahan jika Dia bukan Allah maka itu berarti Ia menghujat. 

148 Teologi

Apalagi Alkitab tidak saja memberi tahu bahwa Yesus disembah, 

namun  bahkan menyuruh kita menyembah Dia (Yohanes 5:23; Ibrani 

1:6). Jika Kristus bukan Allah, Dia yaitu  seorang penipu atau se­

orang yang menipu dirinya sendiri, dan bila benar bahwa Ia bukan 

Allah maka Ia seorang yang tidak baik.

h. Kesadaran dan tuntutan Kristus sendiri merupakan bukti 

bahwa Ia yaitu  Allah. saat  berusia dua belas tahun Yesus sudah 

menyadari tuntutan-tuntutan khusus Bapa-Nya atas diri-Nya (Lukas 

2:49). Pada saat dibaptis kedudukan-Nya sebagai Anak diteguhkan 

(Matius 3:17). saat  berkhotbah di bukit Yesus mengemukakan 

pendirian yang menentang sikap nenek moyang orang Yahudi 

(Matius 5:21-28, 33-36). saat  mengutus para murid Ia memberi 

mereka kuasa untuk mengadakan mukjizat (Matius 10:1, 8; Lukas 

10:9, 19). Yesus menegaskan bahwa Ia sudah ada sejak dahulu kala 

(Yohanes 8:58; 17:5) serta menuntut agar doa dipanjatkan dalam 

nama-Nya (Yohanes 16:23-24). Ia menyatakan bahwa diri-Nya satu 

dengan Bapa (Yohanes 10:30; 14:9; 17:11), dan Ia juga menyatakan 

bahwa Ia yaitu  Anak Allah (Yohanes 10:36). Logika nampaknya 

menuntut bahwa Yesus yaitu  sebagaimana yang Ia katakan tentang 

diri-Nya sendiri yaitu Allah, atau Dia yaitu  orang yang tidak perlu 

diperhatikan.

4. Roh Kudus dikenal sebagai Allah. a. Roh Kudus berkepri­

badian. Sebelum dapat ditunjukkan bahwa Roh Kudus itu Allah, 

hams ditetapkan dulu bahwa Ia berkepribadian dan bukan sekadar 

pengaruh atau kuasa ilahi. Penetapan ini dilaksanakan seperti 

berikut: (1) Kata ganti orang dipakai untuk menunjuk kepada Dia. 

Sekalipun istilah Yunani untuk roh itu netral, dalam Yohanes 14:26 

dan 16:13-14 Yesus memakai kata ganti orang demonstratif "Dia" 

dalam bentuk maskulin untuk Roh Kudus. (2) Roh Kudus dinama­

kan Penolong (Penghibur). Istilah ini dipakai baik untuk Roh Kudus 

(Yohanes 14:16, 26; 15:26; 16:7) maupun untuk Kristus (Yohanes 

14:16; I Yohanes 2:1), dan karena istilah ini mengungkapkan ke­

pribadian bila digunakan untuk Kristus maka hal yang sama berlaku 

untuk Roh Kudus. (3) Beberapa ciri khas kepribadian dikaitkan de­

ngan Roh Kudus. Ia memiliki tiga unsur utama kepribadian: akal 

(I Korintus 2:11), perasaan (Roma 8:27; 15:30), dan kehen­

dak (I Korintus 12:11).

Sifat-Dasar Allah: Keesaan dan Ketritunggalan 149

(4) Roh Kudus melakukan tindakan-tindakan yang menunjukkan 

bahwa Ia berkepribadian. Ia mengadakan kelahiran kembali 

(Yohanes 3:5), mengajar (Yohanes 14:26), bersaksi (Yohanes 

15:26), menginsafkan akan dosa (Yohanes 16:8-11), menuntun ke 

dalam kebenaran (Yohanes 16:13), memuliakan Kristus (Yohanes 

16:14), memanggil orang ke dalam pelayanan (Kisah 13:2), ber­

bicara (Kisah 13:2; Wahyu 2:7), mengarahkan pelayanan seseorang 

(Kisah 16:6), memanjatkan doa syafaat (Roma 8:26), menyelidiki 

segala sesuatu (I Korintus 2:10), dan berkarya (I Korintus 12:11).

(5) Roh Kudus berhubungan dengan Allah Bapa dan Allah Anak 

sebagai pribadi. Hal ini terlihat dari formula baptisan (Matius 

28:19), dalam berkat rasuli (II Korintus 13:13), dan dalam tugas- 

Nya sebagai pembina gereja (I Korintus 12:4-6, bandingkan dengan 

I Petrus 1:1-2; Yudas 20, 21).

(6) Roh Kudus sensitif terhadap perlakuan pribadi. Ia dapat di­

cobai (Kisah 5:9), didustai (Kisah 5:3), didukakan (Efesus 4:30; 

Yesaya 63:10), ditentang (Kisah 7:51), dihina (Ibrani 10:29), dan 

dihujat (Matius 12:31-32). (7) Diri-Nya dibedakan dari kuasa-Nya 

(Kisah 10:38; Roma 15:13; I Korintus 2:4). Semua ini membuktikan 

bahwa Roh Kudus itu berkepribadian dan bukan sekadar pengaruh.

b. Dia itu Allah. Namun Dia bukan sekadar berkepribadian. Ia 

juga Allah. Kenyataan ini dapat ditunjukkan dalam beberapa cara: 

(1) Sifat-sifat Allah juga dimiliki-Nya. Dia itu kekal (Ibrani 9:14), 

mahatahu (I Korintus 2:10-11; Yohanes 14:26; 16:12-13), maha­

kuasa (Lukas 1:35), mahahadir (Mazmur 139:7-10). (2) Pekerjaan- 

pekerjaan ilahi dilakukan oleh-Nya, misalnya penciptaan (Kejadian 

1:2; Ayub 33:4; Mazmur 104:30), kelahiran kembali (Yohanes 3:5), 

pengilhaman Alkitab (II Petrus 1:21, bandingkan dengan Kisah 

1:16; 28:25), dan pembangkitan orang mati (Roma 8:11). (3) Hu- 

bungan-Nya dengan Allah Bapa dan Allah Anak bukan saja mem­

buktikan bahwa Dia berkepribadian namun  juga keilahan-Nya, 

seperti halnya dalam formula baptisan, berkat rasuli, dan pembinaan 

gereja.

(4) Sabda dan karya Roh dianggap sebagai sabda dan karya Allah 

(lihat dalam Yesaya 6:9-10, dan bandingkan dengan Yohanes 12:39- 

41 dan Kisah 28:25-27; Keluaran 16:7 dengan Mazmur 95:8-11; 

Yesaya 63:9-10 dengan Ibrani 3:7-9; Kejadian 1:27 dengan Ayub 

33:4). (5) Akhirnya, Roh Kudus sendiri secara tegas disebut Allah 

150 Teologi

(Kisah 5:3-4; II Korintus 3:17-18). Beberapa nama ilahi juga di­

berikan kepada-Nya (bandingkan Keluaran 17:7 dengan Ibrani 3:7- 

9; dan II Timotius 3:16 dengan II Petrus 1:21). Semua ayat ini 

menunjukkan bahwa Roh Kudus itu setara dengan Allah Bapa dan 

dengan Allah Anak, dan bahwa Ia yaitu  Allah. Dalam sejarah 

gereja telah timbul keberatan-keberatan tertentu terhadap ajaran 

bahwa Roh Kudus itu Allah adanya. Arius dan para pengikutnya 

berpendapat bahwa Roh Kudus diciptakan oleh Allah Anak; Make­

donia, Uskup Konstantinopel, tahun 341-360, dan para pengikut­

nya berpendapat bahwa Roh Kudus merupakan makhluk yang lebih 

rendah dari Allah Anak; dan kemudian hari, Socinus mengungkap­

kan pendapat bahwa Roh Kudus merupakan wujud kekal dari kuasa 

Allah.

Kekristenan ortodoks senantiasa berkeyakinan bahwa Roh Kudus 

yaitu  Allah. Konsili Konstantinopel (tahun 381) mengesahkan 

ajaran ini, sebagaimana halnya Konsili Nicea (tahun 325) menjelas­

kan ajaran tentang keilahan Kristus. Kedua konsili ini dianggap se­

bagai dua sidang utama gereja yang paling awal.

Sebagaimana Yesus Kristus itu Anak Allah, demikian pula Roh 

Kudus ialah Roh Allah. Pada awal sejarah gereja terjadi perdebatan 

tentang asal mula Roh Kudus ini. Apakah Roh Kudus itu berasal 

dari Bapa saja ataukah dari Bapa dan Anak? Konsili Teledo (tahun 

589) mengakui bahwa Roh Kudus berasal dari Bapa dan dari Anak. 

Ajaran ini ditetapkan lewat dua kenyataan: Yesus menyatakan bah­

wa Ia akan mengutus Roh Kudus (Yohanes 15:26), dan Roh Kudus 

dinamakan Roh Kristus (Roma 8:9), Roh Yesus (Kisah 16:7), dan 

Roh Anak (Galatia 4:6).

C. BEBERAPA PENGAMATAN DAN KESIMPULAN YANG 

DIDASARKAN PADA PENELITIAN TENTANG TRINITAS

1. Ajaran ini tidak bertentangan dengan ajaran mengenai ke­

esaan Allah. Ada tiga pribadi atau oknum di dalam satu hakikat. 

Sekalipun tidak ada persamaan di dalam pengalaman manusia untuk 

menjelaskan atau mengilustrasikan ajaran trinitas, namun analogi 

akal manusia memberikan sedikit petunjuk. Akal manusia sanggup 

berdialog dengan dirinya sendiri dan pada saat yang sama mampu 

memberi putusan terhadap apa yang telah dipertimbangkannya. Tri­

nitas kira-kira dapat disamakan dengan itu.

Sifat-Dasar Allah: Keesaan dan Ketritunggalan 151

2. Perbedaan-perbedaan ini sifatnya kekal. Hal ini jelas dari 

ayat-ayat yang menyatakan bahwa Yesus sudah ada bersama dengan 

Bapa sejak dahulu kala (Yohanes 1:1-2; 17:5, 24; Filipi 2:6) dan 

dari ayat-ayat yang menandaskan keabadian Roh Kudus (Kejadian 

1:2; Ibrani 9:14). Sifat hubungan kekal antara Bapa dengan Anak 

biasanya disebut "generation" (sifat diperanakkan), sedangkan hu­

bungan antara Bapa dan Anak, di satu pihak, dengan Roh Kudus, 

di pihak lain, disebut "procession” (hal berasal dari). Yang dimak­

sud dengan hubungan yang pertama ialah "pancaran atau emanasi 

kekal". Allah berfirman, "Anak-Ku engkau! Engkau telah Kuper- 

anakkan pada hari ini" (Mazmur 2:7b). Istilah "hari ini" dalam ayat 

di atas menunjukkan masa kini yang kekal. saat  Yesus berkata, 

"Sebab sama seperti Bapa mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri, 

demikian juga diberikan-Nya Anak mempunyai hidup di dalam diri- 

Nya sendiri" (Yohanes 5:26), maka yang dimaksudkan Yesus ialah 

suatu pemberian hidup secara kekal dari Bapa kepada Anak. Istilah 

"hal berasal dari", seperti yang digunakan untuk Roh Kudus artinya 

kurang lebih sama dengan istilah "sifat diperanakkan" dalam hu­

bungan dengan Sang Putra, kecuali bahwa Roh Kudus "keluar" atau 

berasal dari baik Bapa maupun Anak (Yohanes 14:26; 15:26; Kisah 

2:33; Ibrani 9:14).

3. Ketiga oknum trinitas sederajat. Sekalipun demikian, kenya­

taan di atas tidak meniadakan penetapan urutan bahwa Allah Bapa 

yaitu  yang pertama, Allah Anak yang kedua, dan Allah Roh Kudus 

yang ketiga. Urutan ini bukanlah perbedaan dalam kemuliaan, 

kuasa, atau usia, namun  sekadar urutan. Roh dan Anak yaitu  sede­

rajat dengan Bapa sekalipun Mereka tunduk kepada Bapa. Sikap 

tunduk ini yaitu  sikap sukarela dan bukan terpaksa karena 

keadaan (Filipi 2:5-7).

4. Ajaran ini memiliki nilai praktis yang tinggi, a. Ajaran ini 

membuka pintu bagi kasih abadi. Kasih sudah ada sebelum alam 

diciptakan, namun kasih memerlukan objek. Kasih senantiasa meng­

alir di antara ketiga oknum trinitas.

b. Hanya Allah yang dapat menyatakan keadaan Allah. Dengan 

cara Allah Bapa mengutus Allah Anak maka Allah dapat dinyata­

kan.

152 Teologi

c. Hanya Allah yang dapat mengadakan pendamaian karena dosa. 

Hal ini dilakukan-Nya melalui penjelmaan Allah Anak.

d. Sulit memikirkan adanya kepribadian tanpa masyarakat. 

Oknum-oknum ke-Allahan berhubungan satu dengan yang lain da­

lam keselarasan yang sempurna, suatu masyarakat yang sempurna. 

"Jika tidak ada trinitas maka takkan ada penjelmaan, tidak ada pene­

busan yang objektif, dan karena itu tidak ada penyelamatan; karena 

takkan ada oknum yang mampu bertindak sebagai Pengantara antara 

Allah dan manusia."

45 Boetlner, Studies in Theology, hal. 135.

X

Ketetapan-Ketetapan Allah

jika  Allah menyelenggarakan segala sesuatu menurut keputusan 

kehendak-Nya (Efesus 1:11), maka sudah pada tempatnya kalau 

karya-karya Allah diuraikan setelah pribadi Allah dibicarakan. Akan 

namun , sebelum hal ini dapat dilakukan, kita terlebih dahulu harus 

menganalisis ketetapan-ketetapan Allah.

I. DEFINISI KETETAPAN-KETETAPAN ALLAH

Ketetapan-ketetapan Allah dapat didefinisikan sebagai rencana atau 

rencana-rencana abadi Allah yang dilandaskan pada pertimbangan 

ilahi yang paling bijaksana dan kudus. Dengan jalan ini maka Allah 

secara bebas dan tidak berubah, demi kemuliaan-Nya sendiri, telah 

menetapkan baik secara efektif maupun secara permisif segala se­

suatu yang akan terjadi. Definisi ini mencakup beberapa hal: (1) 

Ketetapan-ketetapan itu merupakan rencana abadi Allah. Ia tidak 

membuat rencana-Nya atau mengubah rencana yang sudah ada me­

nurut perkembangan sejarah manusia. Ia membuat rencana-rencana 

itu di dalam kekekalan, dan karena Ia tidak berubah maka semua 

rencana ini  tidak pernah berubah (Mazmur 33:11; Yakobus 

1:17). (2) Ketetapan-ketetapan ini  didasarkan pada pertim­

bangan Allah yang paling bijaksana dan kudus. Allah mahatahu dan 

oleh karena itu mengetahui apa yang terbaik. Allah juga semata- 

mata kudus sehingga Ia tidak mungkin merencanakan sesuatu yang 

salah (Yesaya 48:11). (3) Ketetapan-ketetapan Allah bersumber 

pada kebebasan Allah (Mazmur 135:6; Efesus 1:11). Allah tidak 

berkewajiban untuk merencanakan sesuatu, segala rencana-Nya di­

buat tanpa ada unsur paksaan atau kewajiban samasekali. Satu-

153

154 Teologi

satunya hal yang mendesak yang berkaitan dengan ini ialah yang 

terbit dari sifat-sifat-Nya sendiri sebagai Allah yang bijaksana dan 

kudus. Oleh karena itu, hanya melalui penyataan khusus dari Allah 

saja kita dapat mengetahui apakah Ia telah merencanakan sesuatu, 

dan kalau demikian, apakah rencana ini . (4) Ia mahakuasa se­

hingga sanggup melakukan segala sesuatu yang dikehendaki-Nya 

(Daniel 4:35). (5) Tujuan akhir dari semua ketetapan ilahi ialah 

kemuliaan Allah. Ketetapan-ketetapan itu tidak pertama-tama di­

arahkan untuk mendatangkan kebahagiaan bagi makhluk ciptaan- 

Nya, atau untuk penyempurnaan orang kudus, sekalipun kedua hal 

ini termasuk dalam tujuan-Nya, namun  semua ketetapan ini dimak-  

sudkan untuk kemuliaan Dia yang mahasempuma (Bilangan l4:21; 

Yesaya 6:3). (6) Ada dua jenis ketetapan Allah: yang efektif dan 

yang permisif. Ada hal-hal yang direncanakan Allah dan yang di- 

tetapkan-Nya harus terjadi secara efektif; dan ada hal-hal lainnya 

yang sekadar diizinkan Allah untuk terjadi (Roma 8:28). Akan te­

tapi, dalam hal ketetapan-ketetapan yang permisif itu pun, Allah 

mengarahkan semuanya bagi kemuliaan nama-Nya (Matius 18:7; 

Kisah 2:23). (7) Akhirnya, ketetapan-ketetapan Allah meliputi se­

gala sesuatu yang terjadi dan ada. Ketetapan-ketetapan itu pun me­

liputi segala sesuatu di masa lampau, masa kini, dan masa depan; 

ketetapan-ketetapan itu meliputi juga hal-hal yang diadakan-Nya se­

cara efektif dan hal-hal yang sekadar diizinkan-Nya (Yesaya 46:10- 

11). "Dengan kata lain, dengan kuasa dan kebijaksanaan yang tidak 

terbatas, sejak segenap kekekalan yang silam, Allah telah memutus­

kan dan memilih serta menentukan jalannya semua peristiwa tanpa 

kecuali bagi segenap kekekalan yang akan datang."

II. BUKTI ADANYA KETETAPAN-KETETAPAN 

ALLAH

Bahwa peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam semesta ini bukan 

sekadar peristiwa kebetulan yang mengejutkan atau mengecewakan 

Allah, juga tidak diakibatkan oleh kehendak Allah yang sewenang- 

wenang, namun  merupakan pelaksanaan maksud dan rencana Allah 

yang nyata dan terarah, telah diajarkan oleh Alkitab:

46 Buswcll, A Systematic Theology of the Christian Religion, I, hal. 163.

Ketetapan-Ketetapan Allah 155

Tuhan semesta alam telah bersumpah, firman-Nya, "Sesungguhnya seperti 

yang Kumaksud, demikianlah akan terjadi, dan seperti yang Kurancang, 

demikianlah akan terlaksana .... Itulah rancangan yang telah dibuat me­

ngenai seluruh bumi, dan itulah tangan yang teracung terhadap segala bang­

sa. Tuhan semesta alam telah merancang, siapakah yang dapat menggagal­

kannya? Tangan-Nya yang telah teracung, siapakah yang dapat membuatnya 

ditarik kembali? (Yesaya 14:24, 26-27).

Sebab Ia telah menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada kita, sesuai de­

ngan rencana kerelaan-Nya, yaitu rencana kerelaan yang dari semula telah 

ditetapkan-Nya di dalam Kristus ... di dalam Dialah kami mendapat bagian 

yang dijanjikan—kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian 

itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja 

menurut keputusan kehendak-Nya (Efesus 1:9-11).

Ketetapan-ketetapan itu sering kali diketengahkan sebagai satu 

ketetapan saja: "terpanggil sesuai dengan rencana Allah" (Roma 

8:28, bandingkan dengan Efesus 1:11). Sekalipun ketetapan-kete­

tapan itu nampaknya terdiri atas banyak maksud, bagi Allah sebe­

narnya ada satu maksud saja, yaitu satu maksud besar yang meliputi 

semuanya.

Selanjutnya, ketetapan-ketetapan itu dianggap sebagai bersifat 

kekal: "sesuai dengan maksud abadi yang telah dilaksanakan-Nya 

dalam Kristus Yesus Tuhan kita" (Efesus 3:11); "telah dipilih se­

belum dunia dijadikan" (I Petrus 1:20): "Allah telah memilih kita 

sebelum dunia dijadikan" (Efesus 1:4); "berdasarkan maksud dan 

kasih karunia-Nya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita 

dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman" (II Timotius 1:9); 

"berdasarkan pengharapan akan hidup yang kekal yang sebelum 

permulaan zaman sudah dijanjikan oleh Allah yang tidak berdusta" 

(Titus 1:2). Seperti yang dikatakan oleh Shedd, "Apa yang telah 

ditetapkan Tuhan akan terjadi pada waktunya dan dalam urutan ter­

tentu; namun semuanya itu merupakan satu sistem akbar yang se­

bagai satu keseluruhan, dan satu kesatuan, telah termasuk dalam 

satu rancangan Allah yang abadi."47

III. LANDASAN KETETAPAN-KETETAPAN ALLAH

Ajaran tentang ketetapan-ketetapan Allah menjadi cukup terang 

jika  kita secara jelas memahami landasan-landasan ajaran ter­

47 Shedd, Dogmatic Theology, 1, hal. 395.

156 Teologi

sebut. Secara spontan kita bertanya, Mengapa Allah tidak merasa 

puas untuk membatasi persekutuan dan kegiatan-Nya hanya di an­

tara ketiga oknum tritunggal saja?

Harus ditekankan bahwa ketetapan-ketetapan Allah tidak bersum­

ber pada keperluan. Allah tidak perlu menetapkan apa-apa. Allah 

juga tidak dibatasi oleh apa pun di luar diri-Nya saat  membuat 

ketetapan. Apa yang ditetapkan Allah telah ditetapkan-Nya secara 

bebas dan sukarela; semua ketetapan Allah dibuat tanpa ada paksaan 

apa pun. Selanjutnya, ketetapan-ketetapan itu tidak disebabkan oleh 

kehendak yang sewenang-wenang. Allah tidak bertindak berdasar­

kan dorongan emosional saja; Ia senantiasa bertindak secara rasio­

nal. Mungkin saja Allah kadang-kadang tidak menjelaskan alasan- 

Nya saat  menetapkan sesuatu, namun kita dapat yakin bahwa se­

kalipun tidak dijelaskan semua ketetapan mempunyai alasan 

(Ulangan 29:29). "Engkau akan mengertinya kelak" (Yohanes 13:7) 

merupakan kata-kata yang membesarkan hati karena suatu saat ke­

lak kita akan mengerti arti dari beberapa ayat Alkitab yang sekarang 

ini sangat membingungkan dan rahasia dari beberapa tindakan Allah 

yang memusingkan kita. Allah tidak pernah bertindak dengan se­

wenang-wenang. Beberapa tokoh aliran determinisme yang ekstrem 

telah beranggapan bahwa kehendak Allah itu mutlak adanya. Me­

reka mengajarkan bahwa tidak ada tolok ukur nilai yang menen­

tukan atau menilai kehendak Allah. Sesuatu yaitu  benar karena 

Allah menghendakinya. Bila ini benar, maka kematian Kristus juga 

tidak ditentukan oleh suatu prinsip di dalam diri Allah, namun  se­

kadar oleh kehendak Allah, dan jika  Allah telah ingin untuk 

menyelamatkan manusia tanpa kematian Kristus maka hal ini  

dapat dilaksanakan-Nya dan tindakan itu tetap benar.

Lebih tepat bila dikatakan bahwa semua ketetapan Allah dilan­

daskan pada pertimbangan ilahi yang paling bijaksana dan kudus. 

Karena Dia itu mahabijaksana, yang dari mulanya mengetahui hal 

yang kemudian, yang mengetahui bahwa dosa akan datang (karena 

Ia telah memutuskan untuk mengizinkan dosa datang), yang me­

ngetahui sifat dosa serta cara untuk menghadapinya jika Ia hendak 

menyelamatkan manusia maka Ia melandaskan segala rencana-Nya 

atas segenap pengetahuan dan pengertian-Nya. Karena Ia maha- 

kudus dan tidak mungkin bersikap pilih kasih atau tidak adil, Allah 

dapat membuat semua rencana-Nya sesuai dengan apa yang 

Ketetapan-Ketetapan Allah 157

sungguh-sungguh benar adanya. Ia dapat menyelamatkan seorang 

berdosa, hanya bila dengan bertindak demikian Ia tetap adil (Roma 

3:25). Dengan demikian, Allah bisa tetap penuh kasih dan pada saat 

yang sama juga adil (Mazmur 85:10). Jadi, atas dasar kebijaksanaan 

dan kekudusan-Nya Allah membuat segala ketetapan itu, baik yang 

efektif maupun yang permisif.

IV. TUJUAN DARI KETETAPAN-KETETAPAN 

ALLAH

Apakah yang merupakan alasan pokok bagi Allah untuk menetap­

kan sesuatu? Adakah suatu tujuan, suatu sasaran di alam semesta 

ini? Kalau ada apakah tujuan ini ?

Jelaslah bahwa tujuan itu bukanlah terutama kebahagiaan atau­

pun kekudusan manusia ciptaan Allah. Allah memang menghendaki 

kebahagiaan manusia ciptaan-Nya. Paulus berkata saat  berada di 

Listra, "Dalam zaman yang lampau Allah membiarkan semua bang­

sa menuruti jalannya masing-masing, namun Ia bukan tidak me­

nyatakan diri-Nya dengan berbagai-bagai kebajikan, yaitu dengan 

menurunkan hujan dari langit dan dengan memberikan musim- 

musim subur bagi kamu. Ia memuaskan hatimu dengan makanan 

dan kegembiraan" (Kisah 14:16, 17). Dan dalam suratnya yang per­

tama kepada Timotius Paulus mengatakan, "... Allah yang dalam 

kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinik­

mati" (I Timotius 6:17). Paulus menilai prinsip-prinsip asketis go­

longan Gnostik yang mengatakan, "Jangan jamah ini, jangan kecap 

itu, jangan sentuh ini" sebagai "perintah-perintah dan ajaran- 

ajaran manusia . .. walaupun nampaknya penuh hikmat dengan iba­

dah buatan sendiri, seperti merendahkan diri, menyiksa diri, tidak 

ada gunanya selain untuk memuaskan hidup duniawi" (Kolose 2:21- 

23). Allah memang berusaha untuk membahagiakan umat manusia, 

bahkan memberikan kebahagiaan jasmaniah, namun kebahagiaan 

ini  yaitu  tujuan yang sekunder, bukan tujuan primer.

Allah juga memperhatikan peningkatan kesucian manusia cip­

taan-Nya. Untuk membuktikan kenyataan ini kita hanya perlu mem­

perhatikan bahwa Ia menciptakan manusia "di dalam kebenaran dan 

kekudusan yang sesungguhnya" (Efesus 4:24). Ia menghimbau ma-

158 Teologi

nusia untuk menjadi kudus sebagaimana Ia kudus adanya (Imamat 

11:44; I Petrus 1:16), Ia memberikan hukum-Nya yang kudus se­

bagai tolok ukur kehidupan (Roma 7:12), Kristus mati di salib su­

paya dapat menguduskan umat-Nya (Efesus 5:25-27), dan Roh Ku­

dus telah datang untuk membaharui dan menguduskan manusia (Yo­

hanes 3:5; I Petrus 1:2). Sekalipun Tuhan berusaha meningkatkan 

kekudusan umat-Nya, namun bukan itu yang merupakan tujuan-Nya 

yang tertinggi.

Tujuan terakhir dan tertinggi dari semua ketetapan Allah ialah 

kemuliaan-Nya. Ciptaan memuliakan Dia. Daud mengatakan, "La­

ngit menceritakan kemuliaan Allah dan cakrawala memberitakan 

pekerjaan tangan-Nya" (Mazmur 19:2). Allah menyatakan bahwa 

Ia akan memurnikan Israel dalam perapian penderitaan, lalu ditam- 

bahkan-Nya, "Aku akan melakukannya oleh karena Aku, ya oleh 

karena Aku sendiri, sebab masakan nama-Ku akan dinajiskan? Aku 

tidak akan memberikan kemuliaan-Ku kepada yang lain!" (Yesaya 

48:11). Paulus menerangkan bahwa Allah menunda penghakiman 

"justru untuk menyatakan kekayaan kemuliaan-Nya atas benda- 

benda belas kasihan-Nya yang telah dipersiapkan-Nya untuk ke­

muliaan" (Roma 9:23), dan bahwa dari semula Ia telah memilih 

orang-orang percaya "supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mu­

lia" (Efesus 1:6, bandingkan dengan 1:12, 14; 2:8-10). Dan kedua 

puluh empat tua-tua melemparkan mahkota mereka di depan takhta 

Allah sambil berkata, "Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak 

menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah 

menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena kehendak-Mu semua­

nya itu ada dan diciptakan" (Wahyu 4:11). Jadi, tujuan akhir dari 

segala sesuatu ialah kemuliaan Allah; dan hanya pada saat kita me­

nerima kenyataan ini sebagai tujuan akhir kehidupan kita juga maka 

barulah kita hidup pada tingkatan yang paling tinggi dan paling 

selaras d