ak benar" (Matius 5:45, bandingkan dengan Kisah
14:17).
c. Belas kasihan Allah. Belas kasihan Allah merupakan kebaikan-
Nya yang dinyatakan kepada orang-orang yang berada di dalam
132 Teologi
penderitaan atau kesukaran. Rahmat, kasihan, dan kasih setia
merupakan istilah-istilah yang dipakai oleh Alkitab untuk menunjuk
kepada belas kasihan Allah. Belas kasihan merupakan sifat kekal
yang perlu di dalam diri Allah sebagai yang mahasempuma, namun
perwujudannya dalam kasus-kasus tertentu yaitu bebas pilih. Me
nolak kebebasan belas kasihan berarti meniadakannya, karena bila
belas kasihan menjadi utang, maka itu tidak bisa lagi dikatakan
sebagai belas kasihan. Allah disebut sebagai "kaya dengan rahmat"
(Efesus 2:4), "Tuhan maha penyayang dan penuh belas kasihan"
(Yakobus 5:11), dan memiliki "rahmat yang besar" (I Petrus 1:3).
Alkitab mengatakan bahwa Ia mengasihani Israel (Mazmur 102:14),
mengasihani orang bukan Yahudi (Roma 11:30-31), dan semua
orang yang takut akan Dia (Mazmur 103:17; Lukas 1:50) serta men
cari keselamatan pada-Nya (Yesaya 55:7). Istilah rahmat Allah
sering dipakai untuk salam pembukaan dan salam penutup (Galatia
6:16; I Timotius 1:2; II Timotius 1:2; II Yohanes 3; Yudas 2).
d. Anugerah Allah. Anugerah atau kasih karunia Allah merupa
kan kebaikan Allah yang ditujukan kepada orang-orang yang se
benarnya tidak layak menerima kebaikan itu. Anugerah berkaitan
dengan orang berdosa karena ia bersalah, sedangkan belas kasihan
berkaitan dengan orang berdosa karena ia dalam keadaan yang me
nyedihkan. Alkitab berbicara mengenai "kasih karunia-Nya yang
mulia" (Efesus 1:6), "kekayaan kasih karunia-Nya yang melimpah-
limpah" (Efesus 2:7), "kasih karunia yang benar-benar dari Allah"
(I Petrus 5:12).
Pelaksanaan anugerah atau kasih karunia, seperti halnya belas
kasihan, bergantung pada kerelaan Tuhan. Ia akan tetap kudus di
dalam segala tindakan-Nya. Apakah Ia akan atau tidak akan mem
perlihatkan anugerah-Nya kepada seorang berdosa yaitu hak
Allah. Alkitab menunjukkan bahwa anugerah Allah dinyatakan ke
pada orang duniawi dalam kesabaran-Nya dan dalam menunda
penghukuman atas dosa (Keluaran 34:6; Roma 2:4; 3:25; 9:22;
I Petrus 3:20; II Petrus 3:9, 15), pembagian berbagai karunia dan
talenta antara manusia, pencurahan berkat dan bukan penghukuman
secara langsung (Ibrani 6:7), penyediaan keselamatan (I Yohanes
2:2), Firman Allah (Hosea 8:12), karya Roh Kudus untuk meng
insafkan orang akan dosa (Yohanes 16:8-11), pengaruh umat Allah
Sifat-Dasar Allah: Hakikat dan Sifat 133
(Matius 5:13-16), serta anugerah pendahuluan atau anugerah umum-
(Titus 2:11).
Alkitab juga menunjukkan bahwa anugerah atau kasih karunia-
Nya dinyatakan secara khusus kepada orang-orang pilihan-Nya da
lam pemilihan dan penentuan dari semula (Efesus 1:4-6), penebusan
(Efesus 1:7-8), penyelamatan (Kisah 18:27; Efesus 2:7-8), pengu
dusan (Roma 5:21; Titus 2:11-12), ketekunan (II Korintus 12:9),
pelayanan (Roma 12:6; I Petrus 4:10-11), serta pemuliaan (I Petrus
1:13). Tindakan ini dikenal sebagai tindakan kasih karunia Allah
yang khusus. Seperti halnya belas kasihan atau rahmat, istilah kasih
karunia ini juga sering dipakai sebagai salam pembuka dan salam
penutup (I Korintus 1:3; 16:23; Efesus 1:2; Filemon 25; Wahyu
1:4; 22:21).
4. Kebenaran. Allah yaitu kebenaran. Pengetahuan, per
nyataan, serta gambaran dan lambang Allah secara kekal sesuai de
ngan realitas. Kebenaran Allah bukan sekadar landasan semua
agama, namun juga landasan semua pengetahuan. Allah yaitu
benar-benar Allah dalam arti Dia yaitu Allah yang sejati maupun
Allah yang selalu mengatakan hal yang sebenarnya. Dialah sumber
segala kebenaran. Keyakinan bahwa pancaindra kita tidak menipu,
bahwa kesadaran kita dapat dipercaya, bahwa keadaan berbagai hal
yaitu seperti penampakannya kepada kita, dan bahwa eksistensi
bukan sekadar impian, pada hakikatnya bergantung pada kebenaran
Allah. Dengan kata lain, kita hidup di dalam dunia yang benar-benar
ada. Banyak orang bertanya bersama dengan Pontius Pilatus, "Apa
itu kebenaran?" (Yohanes 18:38). Puncak kebenaran atau kenyataan
ialah Allah.
Watak manusia maupun Alkitab mengajarkan bahwa Allah ada
lah benar. Seseorang mau tidak mau harus mengakui bahwa hu
kum-hukum alam memiliki pencipta yang berkepribadian. Baik ke
teraturan hukum-hukum alam maupun ketegasannya yang nyata
membuktikan adanya pencipta yang cerdas dan bijaksana. Yesus
menegaskan bahwa Allah yaitu "satu-satunya Allah yang benar"
(Yohanes 17:3). Yohanes menulis bahwa "kita ada di dalam Yang
Benar" (I Yohanes 5:20, bandingkan dengan Yeremia 10:10;
Yohanes 3:33; Roma 3:4; I Tesalonika 1:9; Wahyu 3:7; 6:10). Da
lam hubungan-Nya dengan makhluk-makhluk ciptaan-Nya, kebe
134 Teologi
naran Allah dikenal sebagai kejujuran dan kesetiaan-Nya. Kejujuran
Allah berhubungan dengan apa yang Allah nyatakan tentang diri-
Nya sendiri dan apa yang disabdakan-Nya. Penyataan diri-Nya da
lam alam, kesadaran, dan Alkitab itu benar dan dapat dipercaya
(Mazmur 31:6; Ibrani 6:17, 18). Kesetiaan Allah membuat la me
nepati semua janji-Nya, baik yang telah diucapkan-Nya maupun
yang tersirat di dalam hukum-hukum yang Ia berikan kepada kita
(Ulangan 7:9; Yesaya 25:1). Allah itu setia kepada diri-Nya sendiri
(II Timotius 2:13), kepada Firman-Nya (Ibrani 11:11), dan kepada
umat-Nya (I Korintus 1:9; 10:13; I Tesalonika 5:24; II Tesalonika
3:3). Kenyataan ini selalu merupakan sumber kekuatan dan peng
hiburan bagi orang percaya. Di dalam kitab Yosua kita membaca
pernyataan luar biasa berikut ini, "Dari segala yang baik yang dijan
jikan Tuhan kepada kaum Israel, tidak ada yang tidak dipenuhi;
semuanya terpenuhi" (21:45).
Namun, sekarang bagaimana kejujuran Allah ini dapat diterima
bila kita melihat banyak sekali ancaman Allah yang tidak dilak
sanakan? Janji-janji dan ancaman-ancaman Allah yang bersifat mut
lak senantiasa benar-benar digenapi; akan namun , bila janji dan an
caman itu bersyarat, maka penggenapannya tergantung dari
ketaatan atau pertobatan orang yang bersangkutan. Syarat ini
bisa tersurat maupun tersirat, dan samasekali tidak ada pelanggaran
terhadap kesetiaan Allah bila, sebagai akibat ketidaktaatan dan
ketiadaan pertobatan atau ketaatan dan pertobatan dari pihak
manusia, Allah tidak memenuhi janji-Nya (Yunus 3, 4). Selanjut
nya, apakah tawaran dan dorongan untuk bertobat kepada orang-
orang berdosa, yang ternyata kemudian toh akan hilang, betul-betul
tulus? Undangan-undangan yang tulus masih saja tergantung dari
kemauan si penerima undangan ini , dan bila manusia tidak
mau menerima undangan Allah maka tidaklah dapat dikatakan bah
wa Tuhan tidak tulus saat memberikan undangan itu. Allah tahu
sebelumnya bahwa Israel akan menolak untuk masuk ke Kanaan
dari Kadesy-Barnea, namun pengetahuan ini tidak menahan
Allah untuk tetap menghimbau dengan sungguh-sungguh agar umat-
Nya memasuki Kanaan lewat Kadesy-Barnea (Ulangan 1:19-33).
Jadi, kejujuran dan kesetiaan Allah tetap tidak ternoda.
Sesungguhnya, Allah kita tidak terpahami! Paulus berseru,”0,
alangkah dalamnya kekayaan, hikmat, dan pengetahuan Allah!
Sifat-Dasar Allah: Hakikat dan Sifat 135
Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak
terselami jalan-jalan-Nya! ... Sebab segala sesuatu dari Dia, dan
oleh Dia, dan kepada Dia: bagi Dialah kemuliaan sampai selama-
lamanya!" (Roma 11:33, 36). Di hadapan Allah, anak Tuhan ter
sungkur dan menyembah Dia. Kemahatahuan tidak dungu; Allah
mengetahui. Kasih tidak acuh tak acuh; Allah memperhatikan dan
menolong. Kemahakuasaan bukanlah tidak berdaya; Allah bertin
dak.
IX
Sifat-Dasar Allah: Keesaan dan
Ketritunggalan
Keesaan dan ketritunggalan Allah juga berkaitan dengan sifat-dasar
atau watak Allah yang menuntut pembahasan tersendiri.
I. KEESAAN ALLAH
Keesaan Allah berarti bahwa hanya ada satu Allah saja dan bahwa
sifat-dasar atau watak Allah tidak dapat dipisah-pisahkan atau
dibagi. Bahwa Allah itu esa adanya merupakan kebenaran sejati
Perjanjian Lama (Ulangan 4:35, 39; I Raja-Raja 8:60; Yesaya 45:5-
6). Kebenaran yang sama juga sering diajarkan dalam Perjanjian
Baru (Markus 12:29-32; Yohanes 17:3; I Korintus 8:4-6; I Timotius
2:5). Akan namun , Allah itu bukan saja esa, Dia yaitu satu-satunya
Allah; oleh karena itu Allah unik adanya (Keluaran 15:11; Zakharia
14:9). Hanya ada satu saja oknum yang tak terbatas dan sempurna.
Memikirkan dua atau lebih oknum yang tidak terbatas tidaklah
masuk akal dan tidak dapat dibayangkan.
Bahwa sifat-dasar Allah tidak dapat dipisah-pisahkan atau dibagi
diberitahukan oleh Ulangan 6:4, "Dengarlah, hai orang Israel:
Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu esa!" (bandingkan dengan Markus
12:29; Yakobus 2:19). Allah tidak terdiri atas bagian-bagian tertentu
atau dapat diuraikan menjadi bagian-bagian tertentu. Allah itu
sederhana; menurut angka Ia hanya satu, bebas dari segala bentuk
paduan; manusia merupakan suatu paduan karena manusia memiliki
bagian yang jasmaniah dan bagian yang rohaniah. namun Allah itu
roh adanya sehingga tak dapat diurai seperti itu. Namun, keesaan
137
138 Teologi
ini tidak inkonsisten dengan konsep ketritunggalan, karena suatu
keesaan tidak sama dengan suatu satuan. Suatu satuan ditandai oleh
sifat tunggal. Keesaan Allah memberikan peluang bagi adanya per
bedaan-perbedaan pribadi di dalam sifat-dasar ilahi, sekalipun pada
saat yang sama tetap diakui bahwa sifat-dasar ilahi itu secara
matematis dan kekal tetap satu. Keesaan Allah menyatakan secara
tidak langsung bahwa ketiga oknum trinitas bukanlah hakikat-
hakikat yang terpisah di dalam hakikat ilahi itu. Banyak sekali sekte
dan bidat Kristen yang tidak lagi menganut iman Kristen yang lazim
karena mereka tidak menerima ajaran tiga oknum satu hakikat.
II. KETRITUNGGALAN ALLAH
Ajaran trinitas atau ketritunggalan Allah bukanlah suatu kebenaran
yang diperoleh melalui akal budi atau yang dikenal dengan istilah
teologi natural, namun suatu kebenaran yang dapat diketahui melalui
penyataan atau wahyu. Akal manusia mungkin dapat menunjukkan
kepada kita keesaan Allah, namun ajaran tentang trinitas langsung
berasal dari penyataan yang khusus. Sekalipun istilah "trinitas" tidak
ada dalam Alkitab, namun istilah ini dipakai sejak awal di dalam
gereja. Bentuk Yunaninya, trias, nampaknya pertama kali dipakai
oleh Teofilus dari Antiokhia (wafat tahun 181 M), sedangkan ben
tuk Latinnya, trinitas, pertama kali dipakai oleh Tertulianus (wafat
~ tahun 220 M). Dalam teologi Kristen, istilah "trinitas" atau
tritunggal berarti bahwa ada tiga oknum kekal dalam hakikat ilahi
yang satu itu, yang masing-masing dikenal sebagai Allah Bapa,
Allah Anak, dan Allah Roh Kudus. Tiga oknum ini dapat dikatakan
sebagai tiga kepribadian Allah. Kita menyembah Allah tritunggal.
Syahadat Athanasius mengungkapkan keyakinan akan tri
tunggal ini sebagai berikut, "Kita menyembah satu Allah dalam ke-
Tritunggalan, dan ke-Tritunggalan dalam keesaan; kita membeda
kan antara tiga pribadi, namun kita tidak memisahkan hakikatnya."
Syahadat ini selanjutnya mengatakan, "Ketiga pribadi ilahi ini sama
kekal dan sama kedudukan satu dengan yang lain, sehingga ... kita
memuja keesaan utuh dalam Trinitas dan Trinitas dalam keesaan."
Ajaran tentang tritunggal ini harus dibedakan dari pandangan
Triteisme dan Sabelianisme. Triteisme tidak dapat menerima
keesaan hakikat Allah dan beranggapan bahwa ada tiga Allah yang
Sifat-Dasar Allah: Keesaan dan Ketritunggalan 139
berbeda. Satu-satunya kesatuan antara ketiga Allah ini. Satu-satu
nya keesaan yang diakui oleh golongan ini ialah keesaan maksud
dan tujuan. Allah tritunggal merupakan suatu keesaan hakikat mau
pun keesaan maksud dan tujuan. Ketiga pribadi Allah Tritunggal
itu sehakikat. Sabelianisme mengakui ketritunggalan penyataan,
namun tidak menerima ketritunggalan sifat. Sabelianisme meng
ajarkan bahwa Allah, sebagai Bapa, yaitu pencipta dan pemberi
hukum; sebagai Anak, Allah yang sama itu menjelma untuk me
nunaikan tugas penebus; dan sebagai Roh Kudus, tetap Allah yang
sama namun yang kini mengerjakan pembaharuan dan pengudusan.
Dengan kata lain, Sabelianisme mengajarkan Tritunggal modalitas
yang berbeda dari Tritunggal ontologis. Modalisme yang dianut
oleh Sabelianisme ini mengajarkan adanya tiga aspek tabiat Allah,
sebagaimana halnya seseorang laki-laki bisa menjadi seorang se
niman, seorang guru, dan sekaligus seorang sahabat, atau ia bisa
menjadi seorang ayah, seorang putra, dan seorang saudara laki-laki.
Ajaran semacam ini sebenarnya merupakan penolakan terhadap
ajaran Tritunggal. Karena pandangan ini tidak mengakui adanya
tiga pribadi dalam satu hakikat, namun tiga pemeranan atau tiga
hubungan dalam satu pribadi.
Harus diakui, ajaran tentang tritunggal Allah yaitu suatu
rahasia yang besar sekali. Seakan-akan ajaran ini merupakan suatu
teka-teki intelektual yang sulit dipecahkan atau bahkan merupakan
suatu kontradiksi. Ajaran Kristen tentang tritunggal, betapapun
misteriusnya, bukanlah hasil pemikiran berspekulasi, namun hasil pe
nyataan Allah sendiri. Apa yang telah disingkapkan oleh Allah
tentang ajaran ini dalam Firman-Nya?
A. PETUNJUK-PETUNJUK AWAL DALAM PERJANJIAN LAMA
Sekalipun hal yang terutama ditekankan dalam Perjanjian Lama
yaitu keesaan Allah, namun tidak kurang isyarat mengenai adanya
berbagai pribadi dalam ke-Allahan, demikian juga tidak kurang
isyarat bahwa pribadi-pribadi ini merupakan satu ketritunggalan.
Menarik untuk dicatat bahwa Allah berkali-kali memakai kata
ganti jamak (Kejadian 1:26; 3:22; 11:7; Yesaya 6:8) serta kata kerja
jamak (Kejadian 1:26; 11:7) saat menunjuk kepada diri-Nya sen
diri. Nama Allah yang dipakai dalam ayat-ayat ini ialah Elohim
140 Teologi
yaitu sebuah istilah jamak yang mungkin saja menyiratkan perihal
jamak, sekalipun hal ini tidak dapat dikatakan dengan pasti. Bentuk
jamak ini barangkali dipakai untuk mengungkapkan kesungguhan
dan bukan mengungkapkan perihal jamak.
Petunjuk-petunjuk yang lebih tegas bahwa keadaan jamak ini me
rupakan suatu trinitas dapat ditemukan dalam kenyataan-kenyataan
berikut: (1) Tuhan dibeda-bedakan dari Tuhan (Allah). Kejadian
19:24 berbunyi, "Kemudian Tuhan menurunkan hujan belerang dan
api atas Sodom dan Gomora, berasal dari Tuhan [Allah], dari la
ngit," sedangkan Hosea 1:7 menyatakan, "Aku akan menyayangi
kaum Yehuda dan menyelamatkan mereka demi Tuhan, Allah
mereka" (bandingkan dengan Zakharia 3:2; II Timotius 1:18). (2)
Allah Anak dibeda-bedakan dari Allah Bapa. Allah Anak yang
berbicara dengan perantaraan Nabi Yesaya mengatakan, 'Tu
han Allah mengutus aku dengan Roh-Nya" (Yesaya 48:16, ban
dingkan dengan Mazmur 45:7-8; Yesaya 63:9-10). Mazmur 2:7 ber
bunyi, "Anak-Ku engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari
ini." Yesus tidak saja disebut Anak Allah (Roma 1:4), namun juga
Anak Tunggal Allah (Yohanes 3:16,18) dan Anak-Nya yang sulung
(Ibrani 1:6). Kristus tidak menjadi Anak Allah yang kekal pada saat
penjelmaan-Nya; Dia yaitu Anak Allah sebelum Ia diberikan
(Yesaya 9:5). "... Yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak
dahulu kala" (Mikha 5: Ib). (3) Roh jelas juga dibedakan dari Allah
Bapa. Kejadian 1:1 berbunyi, "Pada mulanya Allah menciptakan
langit dan bumi." Lalu ayat 2 berbunyi, "... dan Roh Allah me
layang-layang di atas permukaan air." Perhatikan juga ayat berikut,
"Berfirmanlah Tuhan, ’Roh-Ku tidak akan selama-lamanya tinggal
di dalam manusia’" (Kejadian 6:3, bandingkan juga Bilangan 27:18;
Mazmur 51:13; Yesaya 40:13; Hagai 2:4-5). (4) Disebutnya "Ku
dus" sebanyak tiga kali dalam Yesaya 6:3 dapat dianggap sebagai
isyarat mengenai tritunggal (bandingkan Wahyu 4:8) sebagaimana
pula berkat lipat tiga dalam Bilangan 6:24-26.
Istilah yang sering dipakai, yaitu "malaikat Tuhan", di seluruh
Perjanjian Lama, merupakan petunjuk khusus kepada pribadi kedua
dalam ke-Allahan sebelum penjelmaan-Nya. Penampilan-Nya da
lam Perjanjian Lama ini merupakan pertanda dari kedatangan-Nya
sebagai manusia di kemudian hari. Malaikat Tuhan ini disamakan
dengan Tuhan, namun berbeda dengan Tuhan. Ia menampakkan diri
Sifat-Dasar Allah: Keesaan dan Ketritunggalan 141
kepada Hagar (Kejadian 16:7-14), Abraham (Kejadian 22:11-18),
Yakub (Kejadian 31:11-13), Musa (Keluaran 3:2-5), Israel
(Keluaran 14:19), Bileam (Bilangan 22:22-35), Gideon (Hakim-
Hakim 6:11-23), Manoah (Hakim-Hakim 13:2-25), Elia (I Raja-
Raja 19:5-7), dan Daud (I Tawarikh 21:15-17). Malaikat Tuhan ini
membunuh 185.000 orang Asyur (II Raja-Raja 19:35), berdiri di
antara pohon-pohon murad dalam penglihatan Zakharia (1:11),
membela Yosua, imam besar, terhadap dakwaan Iblis (Zakharia 3:1-
2), dan merupakan satu dari tiga tamu Abraham (Kejadian 18).
Berdasarkan isyarat-isyarat di atas tentang trinitas dalam Perjan
jian Lama, kami menyimpulkan bersama Berkhof, 'Perjanjian Lama
dengan jelas mengantisipasi datangnya penyataan yang lebih leng
kap tentang Trinitas dalam Perjanjian Baru."42
42 Berkhof, Systematic Theology, hal. 86.
B. AJARAN PERJANJIAN BARU
Ajaran tentang trinitas, diuraikan dengan lebih jelas dalam
Perjanjian Baru daripada dalam Perjanjian Lama. Kenyataan ini
dapat dibuktikan dengan dua cara: melalui pernyataan-pernyataan
dan kiasan-kiasan umum dan dengan menunjukkan bahwa ada tiga
pribadi ke-Allahan yang diakui sebagai Allah.
1. Pernyataan-pernyataan dan kiasan-kiasan umum. Beberapa
kali ketiga pribadi tritunggal ditampilkan bersama dan nampaknya
setaraf satu dengan yang lain. Pada saat Yesus dibaptis, Roh turun
ke atas-Nya dan suara Allah terdengar dari sorga serta menyatakan
Yesus sebagai Anak yang dikasihi-Nya (Matius 3:16-17). Yesus
berdoa agar Bapa mengutus seorang Penolong yang lain (Yohanes
14:16). Para murid ditugaskan untuk membaptis orang dalam nama
Bapa, Anak, dan Roh Kudus (Matius 28:19). Ketiga pribadi dalam
tritunggal itu bergabung bersama-sama dalam melaksanakan peker
jaan Mereka (I Korintus 12:4-6; Efesus 1:3-14; I Petrus 1:2; 3:18;
dan Wahyu 1:4-5). Lagi pula, doa berkat rasuli mempersatukan ke
tiga oknum tritunggal ini (II Korintus 13:13).
2. Bapa dikenal sebagai Allah. Membaca Perjanjian Baru sepin
tas kilas akan menunjukkan bahwa Allah Bapa banyak kali dikenal
sebagai Allah (Yohanes 6:27; Roma 1:7; Galatia 1:1).
142 Teologi
3. Anak dikenal sebagai Allah. Ajaran tentang keilahian Kristus
sangat penting bagi iman Kristen. "Apakah pendapatmu tentang
Kristus?" merupakan pertanyaan utama dalam kehidupan setiap
orang Kristen (Matius 16:15; 22:42). Memang Yesus yaitu manu
sia yang paling luhur, namun Ia jelas jauh lebih besar daripada
manusia biasa. Perjanjian Baru menunjukkan bahwa Dia yaitu
Allah dengan berbagai cara.
a. Sifat-sifat ilahi. Kristus memiliki lima sifat yang secara khas
dan jelas yaitu ilahi: kekal, mahahadir, mahatahu, mahakuasa, dan
tidak berubah. (1) Yesus itu kekal. Ia sudah ada bukan saja sebelum
Yohanes Pembaptis (Yohanes 1:15), sebelum Abraham (Yohanes
8:58), dan bahkan sebelum dunia dijadikan (Yohanes 17:5, 24),
melainkan Dialah "... yang sulung, lebih utama dari segala yang
diciptakan ..." (Kolose 1:15), yang sudah ada "pada mulanya"
(Yohanes 1:1, bandingkan dengan I Yohanes 1:1); dan, sebenarnya,
"sejak dahulu kala" (Mikha 5:1). Dan mengenai masa depan, Ia
tetap ada (Yesaya 9:5-6; Ibrani 1:11-12; 13:8). Hidup yang diberi
kan Bapa kepada-Nya merupakan suatu proses yang kekal (Yohanes
5:26, bandingkan Yohanes 1:4). (2) Yesus itu mahahadir. Ia berada
di sorga sekalipun sedang berada di bumi (Yohanes 3:13) dan ber
ada di bumi saat Ia di sorga (Matius 18:20; 28:20). Ia memenuhi
segala sesuatu (Efesus 1:23). (3) Yesus itu mahatahu. Yesus tahu
segala sesuatu (Yohanes 16:30; 21:17). Sesungguhnya, di dalam Dia
"tersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuan" (Kolose 2:3).
Beberapa contoh tentang kemahatahuan-Nya diuraikan dalam kitab-
kitab Injil. Ia mengetahui apa yang ada di dalam hati manusia (Yo
hanes 2:24-25), Ia mengetahui riwayat hidup wanita Samaria itu
(Yohanes 4:29), pikiran manusia (Lukas 6:8; 11:17), waktu dan
cara-Nya meninggalkan dunia ini (Matius 16:21; Yohanes 12:33;
13:1), Ia juga mengetahui siapa yang akan mengkhianati-Nya (Yo
hanes 6:70-71), serta keadaan dan akhirnya zaman ini (Matius 24,
25). Ia mengenal Bapa dengan sangat akrab dan tak seorang pun
yang dapat mengenal Bapa seperti itu (Matius 11:27).
Memang harus diakui bahwa ada beberapa pernyataan Yesus
yang seakan-akan menunjukkan bahwa Ia tidak mahatahu. Yesus
tidak mengetahui saat Ia akan datang untuk kedua kalinya (Markus
13:32); Ia merasa heran atas ketidakpercayaan orang Israel (Markus
6:6), dan tercatat pula bahwa Ia mendekati sebatang pohon ara de-
Sifat-Dasar Allah: Keesaan dan Ketritunggalan 143
ngan harapan untuk mendapatkan buah ara pada pohon itu (Markus
11:13). Sekalipun demikian, haruslah diingat bahwa pada masa Ia
merendahkan diri-Nya, Yesus tidak memakai sifat-sifat ilahi-Nya
sekehendak hati-Nya. Allah Bapa tidak mengizinkan-Nya memakai
kemahatahuan-Nya dalam kasus-kasus ini . Pastilah, sekarang
Yesus tahu saat kedatangan-Nya untuk kedua kalinya.
(4) Yesus itu mahakuasa (Yohanes 5:19). Dialah Allah yang per
kasa (Yesaya 9:5, bandingkan juga dengan Wahyu 1:8), Ia "me
nopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan"
(Ibrani 1:3), dan juga segala kuasa telah diserahkan kepada-Nya
(Matius 28:18). Ia berkuasa atas setan-setan (Markus 5:11-15), pe
nyakit (Lukas 4:38-41), kematian (Matius 9:18-25; Lukas 7: 12-16;
Yohanes 11:38-44), unsur-unsur alamiah (Matius 21:19; Yohanes
2:3-11), ya, segala sesuatu (Matius 28:18). Selama melayani di
bumi, Kristus tunduk kepada kehendak Allah, dan sekalipun di
lakukan dengan kuasa Roh, namun mukjizat-mukjizat-Nya itu
dianggap sebagai bukti-bukti keilahian-Nya (Yohanes 5:36; 10:25,
38; 20:30-31). Yesus sendiri mengatakan, "Aku berkata kepadamu,
sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya
sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa
yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak" (Yohanes
5:19). (5) Yesus tidak berubah (Ibrani 1:12; 13:8). Hal ini berlaku
bagi semua rencana, janji, serta diri-Nya sendiri. Namun, kenyataan
ini tidak mencegah kemungkinan bahwa Ia dapat memberikan bebe
rapa manifestasi lainnya, ataupun membatasi beberapa perintah dan
tujuan-Nya kepada masa dan orang tertentu saja.
b. Jabatan-jabatan ilahi. Yesus yaitu pencipta (Yohanes 1:3;
Kolose 1:16; Ibrani 1:10) serta penopang segala sesuatu yang ada
(Kolose 1:17; Ibrani 1:3). Tidak ada hal yang kebetulan ataupun
hukum alam yang menciptakan alam semesta atau menopang alam
semesta. Pekerjaan ini yaitu pekerjaan ilahi (II Petrus 3:5-7).
c. Hak-hak istimewa Allah. Kristus mengampuni dosa (Matius
9:2, 6; Lukas 7:47-48). Tidak ada satu orang murid pun yang berani
mengatakan bahwa ia memiliki wewenang ini (bandingkan Matius
16:19; 18:18; dan Yohanes 20:23 dengan Kisah 8:20-22 dan I Yo
hanes 1:9). Ia akan membangkitkan orang mati pada hari Kebang
kitan (Yohanes 5:25-29; 6:39-40, 54; 11:25). Kebangkitan ini akan
144 Teologi
berbeda sifatnya dengan kebangkitan tiga orang mati yang di-
lakukan-Nya saat Ia di bumi (Lukas 7:12-16; Markus 5:35-43;
Yohanes 11:38-44). Di masa yang akan datang, semua orang kudus-
Nya akan dibangkitkan; mereka akan dibangkitkan dari tubuh yang
busuk dan dari kematian; mereka akan bangkit dan takkan mati lagi;
dan mereka akan dibangkitkan oleh kuasa yang ada di dalam Kristus
dan bukan oleh kuasa Roh Kudus. Dan, akhirnya, Ia akan meng
hakimi (Yohanes 5:22) orang-orang percaya (Roma 14:10; II Korin
tus 5:10), binatang itu beserta para pengikutnya (Wahyu 19:15, 19-
20) dan bangsa-bangsa (Matius 25:31-32; Kisah 17:31), Iblis
(Kejadian 3:15), dan orang fasik yang sudah mati (Kisah 10:42;
II Timotius 4:1; I Petrus 4:5).
d. Ia disamakan dengan Yehova dari Perjanjian Lama. Apa yang
dalam Perjanjian Lama dikatakan mengenai Yehova juga dikatakan
mengenai Kristus dalam Perjanjian Baru. Ia yaitu pencipta (Maz
mur 102:26-28; Ibrani 1:10-12), dilihat oleh Yesaya (Yesaya 6:1-4;
Yohanes 12:41), akan didahului oleh seorang pelopor (Yesaya 40:3;
Matius 3:3), mendisiplinkan umat-Nya (Bilangan 21:6-7; I Korintus
10:9), harus dipandang sebagai Yang Kudus (Yesaya 8:13; I Petrus
3:15), menguasai tawanan (Mazmur 68:19; Efesus 4:8), dan menjadi
sasaran iman (Yoel 2:32; Roma 10:9, 13).
e. Nama-nama Yesus yang menyatakan keilahian. (1) Yesus me
makai beberapa kiasan yang menyiratkan sifat adikodrati. Misalnya,
Yesus mengatakan, "Akulah roti yang telah turun dari sorga" (Yo
hanes 6:41, 50); "Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia
akan selamat" (Yohanes 10:9); "Akulah jalan dan kebenaran dan
hidup, tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak
melalui Aku" (Yohanes 14:6); "Akulah pokok anggur dan kamulah
ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di
dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat
berbuat apa-apa" (Yohanes 15:5). Ia juga memakai beberapa nama
bagi diri-Nya yang menyiratkan keilahian, misalnya, "Alfa dan
Omega, Yang Pertama dan Yang Terkemudian, Yang Awal dan
Yang Akhir" (Wahyu 22:13), "kebangkitan dan hidup" (Yohanes
11:25), dan "Amin, Saksi yang setia dan benar, permulaan dari cip
taan Allah" (Wahyu 3:14). Lagi pula, Yesus mengatakan, "Sebelum
Abraham jadi, Aku telah ADA" (Yohanes 8:58, bandingkan Ke
luaran 3:14).
Sifat-Dasar Allah: Keesaan dan Ketritunggalan 145
(2) Ia disebut Imanuel. Matius secara jelas sekali menerapkan
Yesaya 7:14 kepada Yesus (Matius 1:22-23). Ia lahir dari seorang
perawan dan diberi nama Imanuel, yang artinya Allah menyertai
kita. Di Perjanjian Baru nama ini hanya muncul sekali dalam Ma
tius, walaupun konsep Allah menyertai kita itu ada juga dalam kitab
lain (Yohanes 1:14; Wahyu 21:3). (3) Istilah "Firman" (Logos) di
pakai untuk menekankan keilahian-Nya (Yohanes 1:1-14; Wahyu
19:13). Sekalipun istilah ini agaknya pertama kali dipakai oleh
Heraklitus dengan arti akal manusia, dan kemudian diambil alih
oleh Plato dan kaum Stoa, serta akhirnya diterima dalam teologi
Yahudi oleh Philo, jelas bahwa Yohanes samasekali tidak mengacu
ke sumber-sumber ini saat memakai istilah logos. Pasti, ia meng
ambilnya dari Perjanjian Lama dari personifikasi kebijaksanaan dan
istilah Ibrani memra, lalu mengisinya dengan konsep Kristen ten
tang keilahian.43
43 Untuk pembahasan yang lebih lengkap lihat Kittel, "Lego, Logos, ect." dalam
Theological Dictionary of the New Testament, IV, hal. 130-136
44 Untuk pembahasan yang lebih lengkap tentang "Anak Manusia" lihat Ridderbos,
The Coining of the Kingdom, hal. 31-36.
(4) Nama yang disenangi oleh Yesus sendiri yaitu Anak Manu
sia. Dalam setiap hal, kecuali satu (Kisah 7:56), Yesus sendiri yang
memakai istilah ini untuk menyebut diri-Nya di Perjanjian
Baru. Istilah ini tidak selalu menunjuk kepada keilahian seperti da
lam Matius 8:20; 11:18-19; 17:12; dan Lukas 9:44, namun sering
kali istilah ini menunjuk kepada keilahian. Misalnya, sebagai Anak
Manusialah Ia berkuasa di bumi mengampuni dosa (Matius 9:6),
menafsirkan hukum Sabat (Matius 12:8), dan menghakimi (Yohanes
5:27). Sebagai Anak Manusia Ia menyerahkan nyawa-Nya sebagai
tebusan untuk banyak orang (Matius 20:28), mengutus malaikat-
malaikat-Nya mengumpulkan lalang (Matius 13:41), akan duduk di
takhta kemuliaan (Matius 19:28; 25:31), dan sebagai Anak Manusia
Ia akan datang lagi (Matius 24:44; 26:64). saat Yesus menyata
kan bahwa Ia yaitu Anak Manusia yang disebut dalam kitab Da
niel, yang akan datang dengan kuasa yang besar, imam besar me
nuduhnya sebagai penghujat (Matius 26:63-64; Daniel 7:13).44
(5) Kristus disebut Tuhan. Dalam Perjanjian Baru istilah bahasa
Yunani untuk Tuhan dipakai dengan empat cara. Istilah itu dipakai
untuk menunjuk kepada Allah Bapa (Matius 4:7; 11:25; Lukas 2:29;
146 Teologi
Kisah 17:24; Roma 4:8; II Korintus 6:17-18; Wahyu 4:8), untuk
menunjukkan rasa hormat (Matius 13:27; 21:29; 27:63; Lukas 13:8;
Yohanes 12:21), sebagai nama untuk seorang majikan atau pemilik
(Matius 20:8; Lukas 12:46; Yohanes 15:15; Kolose 4:1), dan se
bagai sebutan bagi Kristus (Matius 7:22; 8:2; 14:28; Markus 7:28).
Belum tentu bahwa semua yang menyebut Yesus "Tuhan" itu ber
pikir tentang Dia sebagai Allah, namun ada cukup banyak kejadian
di mana mereka benar-benar menganggap Dia demikian (Matius
7:21-22; Lukas 1:43; 2:11; Yohanes 20:28; Kisah 16:31; I Korintus
12:3; Filipi 2:11). Gelar 'Tuhan" yang sering dipakai untuk Yesus
merupakan terjemahan dari nama Ibrani Yehova. Jadi, Kristus di
samakan dengan Yehova dari Perjanjian Lama (Yohanes 12:40-41;
Roma 10:9, 13; dan I Petrus 3:15 dibandingkan secara berurutan
dengan Yesaya 6:1-2; Yoel 2:32; dan Yesaya 8:13).
(6) Kristus dinamakan Anak Allah. Gelar ini secara penuh tidak
pernah dipakai oleh Yesus untuk diri-Nya dalam Injil-Injil Sinoptis,
namun dalam Injil Yohanes satu kali hal itu dilakukan-Nya (Yohanes
10:36, bandingkan dengan 10:33). Bagaimanapun juga, istilah ini
dipakai untuk Yesus Kristus oleh orang lain, dan Ia menerima se
demikian sehingga menegaskan bahwa Ia benar-benar Anak Allah.
Walaupun istilah ini dipakai juga untuk menunjuk malaikat-malaikat
(Ayub 2:1), Adam (Lukas 3:38), bangsa Ibrani (Keluaran 4:22;
Hosea 11:1), raja Israel (II Samuel 7:14), dan semua orang kudus
(Galatia 4:6), namun dalam Yohanes 5:18; 10:33, 36 pernyataan
Yesus bahwa Ia Anak Allah jelas dimaksudkan untuk menunjuk
kepada keilahian. Hal ini tersirat di dalam istilah "Anak-Nya yang
tunggal" (Yohanes 3:16, 18). saat Yesus mengakui diri-Nya se
bagai Anak Allah, Ia dituduh telah menghujat Allah (Matius 26:63-
65, bandingkan dengan Yohanes 5:18; 10:36). Sebagai Anak Allah,
dikatakan bahwa Ia akan melaksanakan penghakiman (Yohanes
5:22), memiliki hidup dalam diri-Nya dan menghidupkan siapa saja
yang dikehendaki-Nya (Yohanes 5:21, 26) serta memberikan hidup
kekal (Yohanes 10:10). yaitu kehendak Bapa bahwa semua me
muliakan Sang Anak sebagaimana semua memuliakan Sang Bapa
(Yohanes 5:23). Yesus juga disebut sebagai Anak Allah dalam arti
Mesias, yang diurapi oleh Tuhan (Yohanes 1:49; 11:27). Melalui
pengalaman penjelmaan, Yesus juga dinamakan Anak (Lukas 1:32,
35; Yohanes 1:14).
Sifat-Dasar Allah: Keesaan dan Ketritunggalan 147
(7) Yesus disebut Allah sebanyak beberapa kali dalam Perjanjian
Baru. Dalam Yohanes 1:1 penekanannya sangat kuat dalam bahasa
Yunani. Ayat itu berbunyi, "Dan Firman itu yaitu Allah." Ke
tiadaan kata sandang sebelum istilah theos menunjukkan bahwa
Allah dalam kalimat ini berfungsi sebagai predikat. Yang diper
tanyakan dalam ayat itu bukan siapa Allah itu, namun siapa Logos.
Ia bukan saja Anak yang tunggal, namun juga Allah yang tunggal
(Yohanes 1:18). Tomas menyebut Kristus, "Tuhanku dan Allahku"
(Yohanes 20:28). Titus 2:13 merujuk kepada "Allah yang Maha
besar dan Juruselamat kita Yesus Kristus." Allah berkata kepada
Anak-Nya, 'Takhta-Mu, ya Allah, tetap untuk seterusnya dan se
lamanya, dan tongkat kerajaan-Mu yaitu tongkat kebenaran"
(Ibrani 1:8). Petrus menulis soal "Allah dan Juruselamat kita Yesus
Kristus" (II Petrus 1:1). I Yohanes 5:20 berbunyi "di dalam Anak-
Nya Yesus Kristus. Ia yaitu Allah yang benar dan hidup yang
kekal" (bandingkan dengan Roma 9:5).
f. Beberapa hubungan membuktikan keilahian Yesus Kristus.
Bapa dan Anak disejajarkan satu sama lain dan dengan Roh Kudus
dalam formula baptisan (Matius 28:19, bandingkan dengan Kisah
2:38; Roma 6:3) dan juga dalam doa berkat rasuli (II Korintus
13:13, bandingkan dengan I Korintus 1:3). Ia merupakan cahaya
kemuliaan (Ibrani 1:3) serta gambar Allah (Kolose 1:15, bandingkan
2:9). Dia yaitu satu dengan Bapa (Yohanes 10:30; kata "satu" itu
netral dalam tata bahasa bukan maskulin; satu substansi, bukan satu
pribadi, bandingkan Yohanes 14:9; 17:11). Yesus dan Allah Bapa
bertindak bersama-sama Yohanes 14:23; I Tesalonika 3:11; II Tesa
lonika 2:16-17). Apa pun yang dimiliki oleh Bapa juga dimiliki
oleh Kristus (Yohanes 16:15; 17:10). Orang Kristen memiliki hu
bungan yang sama terhadap Allah Bapa dan terhadap Allah Anak
(Efesus 5:5; Wahyu 20:6).
g. Penyembahan yang dinyatakan kepada dan diterima oleh Ye
sus Kristus (Matius 14:33; 28:9; Lukas 5:8; I Korintus 1:2). Karena
Perjanjian Lama (Keluaran 34:14) dan Kristus sendiri (Matius 4:10)
menyatakan bahwa hanya Allah saja yang patut disembah, dan
karena manusia biasa dan malaikat tidak bersedia disembah (Kisah
10:25-26; Wahyu 19:10; 22:8-9), jadi bilamana Kristus menerima
penyembahan jika Dia bukan Allah maka itu berarti Ia menghujat.
148 Teologi
Apalagi Alkitab tidak saja memberi tahu bahwa Yesus disembah,
namun bahkan menyuruh kita menyembah Dia (Yohanes 5:23; Ibrani
1:6). Jika Kristus bukan Allah, Dia yaitu seorang penipu atau se
orang yang menipu dirinya sendiri, dan bila benar bahwa Ia bukan
Allah maka Ia seorang yang tidak baik.
h. Kesadaran dan tuntutan Kristus sendiri merupakan bukti
bahwa Ia yaitu Allah. saat berusia dua belas tahun Yesus sudah
menyadari tuntutan-tuntutan khusus Bapa-Nya atas diri-Nya (Lukas
2:49). Pada saat dibaptis kedudukan-Nya sebagai Anak diteguhkan
(Matius 3:17). saat berkhotbah di bukit Yesus mengemukakan
pendirian yang menentang sikap nenek moyang orang Yahudi
(Matius 5:21-28, 33-36). saat mengutus para murid Ia memberi
mereka kuasa untuk mengadakan mukjizat (Matius 10:1, 8; Lukas
10:9, 19). Yesus menegaskan bahwa Ia sudah ada sejak dahulu kala
(Yohanes 8:58; 17:5) serta menuntut agar doa dipanjatkan dalam
nama-Nya (Yohanes 16:23-24). Ia menyatakan bahwa diri-Nya satu
dengan Bapa (Yohanes 10:30; 14:9; 17:11), dan Ia juga menyatakan
bahwa Ia yaitu Anak Allah (Yohanes 10:36). Logika nampaknya
menuntut bahwa Yesus yaitu sebagaimana yang Ia katakan tentang
diri-Nya sendiri yaitu Allah, atau Dia yaitu orang yang tidak perlu
diperhatikan.
4. Roh Kudus dikenal sebagai Allah. a. Roh Kudus berkepri
badian. Sebelum dapat ditunjukkan bahwa Roh Kudus itu Allah,
hams ditetapkan dulu bahwa Ia berkepribadian dan bukan sekadar
pengaruh atau kuasa ilahi. Penetapan ini dilaksanakan seperti
berikut: (1) Kata ganti orang dipakai untuk menunjuk kepada Dia.
Sekalipun istilah Yunani untuk roh itu netral, dalam Yohanes 14:26
dan 16:13-14 Yesus memakai kata ganti orang demonstratif "Dia"
dalam bentuk maskulin untuk Roh Kudus. (2) Roh Kudus dinama
kan Penolong (Penghibur). Istilah ini dipakai baik untuk Roh Kudus
(Yohanes 14:16, 26; 15:26; 16:7) maupun untuk Kristus (Yohanes
14:16; I Yohanes 2:1), dan karena istilah ini mengungkapkan ke
pribadian bila digunakan untuk Kristus maka hal yang sama berlaku
untuk Roh Kudus. (3) Beberapa ciri khas kepribadian dikaitkan de
ngan Roh Kudus. Ia memiliki tiga unsur utama kepribadian: akal
(I Korintus 2:11), perasaan (Roma 8:27; 15:30), dan kehen
dak (I Korintus 12:11).
Sifat-Dasar Allah: Keesaan dan Ketritunggalan 149
(4) Roh Kudus melakukan tindakan-tindakan yang menunjukkan
bahwa Ia berkepribadian. Ia mengadakan kelahiran kembali
(Yohanes 3:5), mengajar (Yohanes 14:26), bersaksi (Yohanes
15:26), menginsafkan akan dosa (Yohanes 16:8-11), menuntun ke
dalam kebenaran (Yohanes 16:13), memuliakan Kristus (Yohanes
16:14), memanggil orang ke dalam pelayanan (Kisah 13:2), ber
bicara (Kisah 13:2; Wahyu 2:7), mengarahkan pelayanan seseorang
(Kisah 16:6), memanjatkan doa syafaat (Roma 8:26), menyelidiki
segala sesuatu (I Korintus 2:10), dan berkarya (I Korintus 12:11).
(5) Roh Kudus berhubungan dengan Allah Bapa dan Allah Anak
sebagai pribadi. Hal ini terlihat dari formula baptisan (Matius
28:19), dalam berkat rasuli (II Korintus 13:13), dan dalam tugas-
Nya sebagai pembina gereja (I Korintus 12:4-6, bandingkan dengan
I Petrus 1:1-2; Yudas 20, 21).
(6) Roh Kudus sensitif terhadap perlakuan pribadi. Ia dapat di
cobai (Kisah 5:9), didustai (Kisah 5:3), didukakan (Efesus 4:30;
Yesaya 63:10), ditentang (Kisah 7:51), dihina (Ibrani 10:29), dan
dihujat (Matius 12:31-32). (7) Diri-Nya dibedakan dari kuasa-Nya
(Kisah 10:38; Roma 15:13; I Korintus 2:4). Semua ini membuktikan
bahwa Roh Kudus itu berkepribadian dan bukan sekadar pengaruh.
b. Dia itu Allah. Namun Dia bukan sekadar berkepribadian. Ia
juga Allah. Kenyataan ini dapat ditunjukkan dalam beberapa cara:
(1) Sifat-sifat Allah juga dimiliki-Nya. Dia itu kekal (Ibrani 9:14),
mahatahu (I Korintus 2:10-11; Yohanes 14:26; 16:12-13), maha
kuasa (Lukas 1:35), mahahadir (Mazmur 139:7-10). (2) Pekerjaan-
pekerjaan ilahi dilakukan oleh-Nya, misalnya penciptaan (Kejadian
1:2; Ayub 33:4; Mazmur 104:30), kelahiran kembali (Yohanes 3:5),
pengilhaman Alkitab (II Petrus 1:21, bandingkan dengan Kisah
1:16; 28:25), dan pembangkitan orang mati (Roma 8:11). (3) Hu-
bungan-Nya dengan Allah Bapa dan Allah Anak bukan saja mem
buktikan bahwa Dia berkepribadian namun juga keilahan-Nya,
seperti halnya dalam formula baptisan, berkat rasuli, dan pembinaan
gereja.
(4) Sabda dan karya Roh dianggap sebagai sabda dan karya Allah
(lihat dalam Yesaya 6:9-10, dan bandingkan dengan Yohanes 12:39-
41 dan Kisah 28:25-27; Keluaran 16:7 dengan Mazmur 95:8-11;
Yesaya 63:9-10 dengan Ibrani 3:7-9; Kejadian 1:27 dengan Ayub
33:4). (5) Akhirnya, Roh Kudus sendiri secara tegas disebut Allah
150 Teologi
(Kisah 5:3-4; II Korintus 3:17-18). Beberapa nama ilahi juga di
berikan kepada-Nya (bandingkan Keluaran 17:7 dengan Ibrani 3:7-
9; dan II Timotius 3:16 dengan II Petrus 1:21). Semua ayat ini
menunjukkan bahwa Roh Kudus itu setara dengan Allah Bapa dan
dengan Allah Anak, dan bahwa Ia yaitu Allah. Dalam sejarah
gereja telah timbul keberatan-keberatan tertentu terhadap ajaran
bahwa Roh Kudus itu Allah adanya. Arius dan para pengikutnya
berpendapat bahwa Roh Kudus diciptakan oleh Allah Anak; Make
donia, Uskup Konstantinopel, tahun 341-360, dan para pengikut
nya berpendapat bahwa Roh Kudus merupakan makhluk yang lebih
rendah dari Allah Anak; dan kemudian hari, Socinus mengungkap
kan pendapat bahwa Roh Kudus merupakan wujud kekal dari kuasa
Allah.
Kekristenan ortodoks senantiasa berkeyakinan bahwa Roh Kudus
yaitu Allah. Konsili Konstantinopel (tahun 381) mengesahkan
ajaran ini, sebagaimana halnya Konsili Nicea (tahun 325) menjelas
kan ajaran tentang keilahan Kristus. Kedua konsili ini dianggap se
bagai dua sidang utama gereja yang paling awal.
Sebagaimana Yesus Kristus itu Anak Allah, demikian pula Roh
Kudus ialah Roh Allah. Pada awal sejarah gereja terjadi perdebatan
tentang asal mula Roh Kudus ini. Apakah Roh Kudus itu berasal
dari Bapa saja ataukah dari Bapa dan Anak? Konsili Teledo (tahun
589) mengakui bahwa Roh Kudus berasal dari Bapa dan dari Anak.
Ajaran ini ditetapkan lewat dua kenyataan: Yesus menyatakan bah
wa Ia akan mengutus Roh Kudus (Yohanes 15:26), dan Roh Kudus
dinamakan Roh Kristus (Roma 8:9), Roh Yesus (Kisah 16:7), dan
Roh Anak (Galatia 4:6).
C. BEBERAPA PENGAMATAN DAN KESIMPULAN YANG
DIDASARKAN PADA PENELITIAN TENTANG TRINITAS
1. Ajaran ini tidak bertentangan dengan ajaran mengenai ke
esaan Allah. Ada tiga pribadi atau oknum di dalam satu hakikat.
Sekalipun tidak ada persamaan di dalam pengalaman manusia untuk
menjelaskan atau mengilustrasikan ajaran trinitas, namun analogi
akal manusia memberikan sedikit petunjuk. Akal manusia sanggup
berdialog dengan dirinya sendiri dan pada saat yang sama mampu
memberi putusan terhadap apa yang telah dipertimbangkannya. Tri
nitas kira-kira dapat disamakan dengan itu.
Sifat-Dasar Allah: Keesaan dan Ketritunggalan 151
2. Perbedaan-perbedaan ini sifatnya kekal. Hal ini jelas dari
ayat-ayat yang menyatakan bahwa Yesus sudah ada bersama dengan
Bapa sejak dahulu kala (Yohanes 1:1-2; 17:5, 24; Filipi 2:6) dan
dari ayat-ayat yang menandaskan keabadian Roh Kudus (Kejadian
1:2; Ibrani 9:14). Sifat hubungan kekal antara Bapa dengan Anak
biasanya disebut "generation" (sifat diperanakkan), sedangkan hu
bungan antara Bapa dan Anak, di satu pihak, dengan Roh Kudus,
di pihak lain, disebut "procession” (hal berasal dari). Yang dimak
sud dengan hubungan yang pertama ialah "pancaran atau emanasi
kekal". Allah berfirman, "Anak-Ku engkau! Engkau telah Kuper-
anakkan pada hari ini" (Mazmur 2:7b). Istilah "hari ini" dalam ayat
di atas menunjukkan masa kini yang kekal. saat Yesus berkata,
"Sebab sama seperti Bapa mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri,
demikian juga diberikan-Nya Anak mempunyai hidup di dalam diri-
Nya sendiri" (Yohanes 5:26), maka yang dimaksudkan Yesus ialah
suatu pemberian hidup secara kekal dari Bapa kepada Anak. Istilah
"hal berasal dari", seperti yang digunakan untuk Roh Kudus artinya
kurang lebih sama dengan istilah "sifat diperanakkan" dalam hu
bungan dengan Sang Putra, kecuali bahwa Roh Kudus "keluar" atau
berasal dari baik Bapa maupun Anak (Yohanes 14:26; 15:26; Kisah
2:33; Ibrani 9:14).
3. Ketiga oknum trinitas sederajat. Sekalipun demikian, kenya
taan di atas tidak meniadakan penetapan urutan bahwa Allah Bapa
yaitu yang pertama, Allah Anak yang kedua, dan Allah Roh Kudus
yang ketiga. Urutan ini bukanlah perbedaan dalam kemuliaan,
kuasa, atau usia, namun sekadar urutan. Roh dan Anak yaitu sede
rajat dengan Bapa sekalipun Mereka tunduk kepada Bapa. Sikap
tunduk ini yaitu sikap sukarela dan bukan terpaksa karena
keadaan (Filipi 2:5-7).
4. Ajaran ini memiliki nilai praktis yang tinggi, a. Ajaran ini
membuka pintu bagi kasih abadi. Kasih sudah ada sebelum alam
diciptakan, namun kasih memerlukan objek. Kasih senantiasa meng
alir di antara ketiga oknum trinitas.
b. Hanya Allah yang dapat menyatakan keadaan Allah. Dengan
cara Allah Bapa mengutus Allah Anak maka Allah dapat dinyata
kan.
152 Teologi
c. Hanya Allah yang dapat mengadakan pendamaian karena dosa.
Hal ini dilakukan-Nya melalui penjelmaan Allah Anak.
d. Sulit memikirkan adanya kepribadian tanpa masyarakat.
Oknum-oknum ke-Allahan berhubungan satu dengan yang lain da
lam keselarasan yang sempurna, suatu masyarakat yang sempurna.
"Jika tidak ada trinitas maka takkan ada penjelmaan, tidak ada pene
busan yang objektif, dan karena itu tidak ada penyelamatan; karena
takkan ada oknum yang mampu bertindak sebagai Pengantara antara
Allah dan manusia."
45 Boetlner, Studies in Theology, hal. 135.
X
Ketetapan-Ketetapan Allah
jika Allah menyelenggarakan segala sesuatu menurut keputusan
kehendak-Nya (Efesus 1:11), maka sudah pada tempatnya kalau
karya-karya Allah diuraikan setelah pribadi Allah dibicarakan. Akan
namun , sebelum hal ini dapat dilakukan, kita terlebih dahulu harus
menganalisis ketetapan-ketetapan Allah.
I. DEFINISI KETETAPAN-KETETAPAN ALLAH
Ketetapan-ketetapan Allah dapat didefinisikan sebagai rencana atau
rencana-rencana abadi Allah yang dilandaskan pada pertimbangan
ilahi yang paling bijaksana dan kudus. Dengan jalan ini maka Allah
secara bebas dan tidak berubah, demi kemuliaan-Nya sendiri, telah
menetapkan baik secara efektif maupun secara permisif segala se
suatu yang akan terjadi. Definisi ini mencakup beberapa hal: (1)
Ketetapan-ketetapan itu merupakan rencana abadi Allah. Ia tidak
membuat rencana-Nya atau mengubah rencana yang sudah ada me
nurut perkembangan sejarah manusia. Ia membuat rencana-rencana
itu di dalam kekekalan, dan karena Ia tidak berubah maka semua
rencana ini tidak pernah berubah (Mazmur 33:11; Yakobus
1:17). (2) Ketetapan-ketetapan ini didasarkan pada pertim
bangan Allah yang paling bijaksana dan kudus. Allah mahatahu dan
oleh karena itu mengetahui apa yang terbaik. Allah juga semata-
mata kudus sehingga Ia tidak mungkin merencanakan sesuatu yang
salah (Yesaya 48:11). (3) Ketetapan-ketetapan Allah bersumber
pada kebebasan Allah (Mazmur 135:6; Efesus 1:11). Allah tidak
berkewajiban untuk merencanakan sesuatu, segala rencana-Nya di
buat tanpa ada unsur paksaan atau kewajiban samasekali. Satu-
153
154 Teologi
satunya hal yang mendesak yang berkaitan dengan ini ialah yang
terbit dari sifat-sifat-Nya sendiri sebagai Allah yang bijaksana dan
kudus. Oleh karena itu, hanya melalui penyataan khusus dari Allah
saja kita dapat mengetahui apakah Ia telah merencanakan sesuatu,
dan kalau demikian, apakah rencana ini . (4) Ia mahakuasa se
hingga sanggup melakukan segala sesuatu yang dikehendaki-Nya
(Daniel 4:35). (5) Tujuan akhir dari semua ketetapan ilahi ialah
kemuliaan Allah. Ketetapan-ketetapan itu tidak pertama-tama di
arahkan untuk mendatangkan kebahagiaan bagi makhluk ciptaan-
Nya, atau untuk penyempurnaan orang kudus, sekalipun kedua hal
ini termasuk dalam tujuan-Nya, namun semua ketetapan ini dimak-
sudkan untuk kemuliaan Dia yang mahasempuma (Bilangan l4:21;
Yesaya 6:3). (6) Ada dua jenis ketetapan Allah: yang efektif dan
yang permisif. Ada hal-hal yang direncanakan Allah dan yang di-
tetapkan-Nya harus terjadi secara efektif; dan ada hal-hal lainnya
yang sekadar diizinkan Allah untuk terjadi (Roma 8:28). Akan te
tapi, dalam hal ketetapan-ketetapan yang permisif itu pun, Allah
mengarahkan semuanya bagi kemuliaan nama-Nya (Matius 18:7;
Kisah 2:23). (7) Akhirnya, ketetapan-ketetapan Allah meliputi se
gala sesuatu yang terjadi dan ada. Ketetapan-ketetapan itu pun me
liputi segala sesuatu di masa lampau, masa kini, dan masa depan;
ketetapan-ketetapan itu meliputi juga hal-hal yang diadakan-Nya se
cara efektif dan hal-hal yang sekadar diizinkan-Nya (Yesaya 46:10-
11). "Dengan kata lain, dengan kuasa dan kebijaksanaan yang tidak
terbatas, sejak segenap kekekalan yang silam, Allah telah memutus
kan dan memilih serta menentukan jalannya semua peristiwa tanpa
kecuali bagi segenap kekekalan yang akan datang."
II. BUKTI ADANYA KETETAPAN-KETETAPAN
ALLAH
Bahwa peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam semesta ini bukan
sekadar peristiwa kebetulan yang mengejutkan atau mengecewakan
Allah, juga tidak diakibatkan oleh kehendak Allah yang sewenang-
wenang, namun merupakan pelaksanaan maksud dan rencana Allah
yang nyata dan terarah, telah diajarkan oleh Alkitab:
46 Buswcll, A Systematic Theology of the Christian Religion, I, hal. 163.
Ketetapan-Ketetapan Allah 155
Tuhan semesta alam telah bersumpah, firman-Nya, "Sesungguhnya seperti
yang Kumaksud, demikianlah akan terjadi, dan seperti yang Kurancang,
demikianlah akan terlaksana .... Itulah rancangan yang telah dibuat me
ngenai seluruh bumi, dan itulah tangan yang teracung terhadap segala bang
sa. Tuhan semesta alam telah merancang, siapakah yang dapat menggagal
kannya? Tangan-Nya yang telah teracung, siapakah yang dapat membuatnya
ditarik kembali? (Yesaya 14:24, 26-27).
Sebab Ia telah menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada kita, sesuai de
ngan rencana kerelaan-Nya, yaitu rencana kerelaan yang dari semula telah
ditetapkan-Nya di dalam Kristus ... di dalam Dialah kami mendapat bagian
yang dijanjikan—kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian
itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja
menurut keputusan kehendak-Nya (Efesus 1:9-11).
Ketetapan-ketetapan itu sering kali diketengahkan sebagai satu
ketetapan saja: "terpanggil sesuai dengan rencana Allah" (Roma
8:28, bandingkan dengan Efesus 1:11). Sekalipun ketetapan-kete
tapan itu nampaknya terdiri atas banyak maksud, bagi Allah sebe
narnya ada satu maksud saja, yaitu satu maksud besar yang meliputi
semuanya.
Selanjutnya, ketetapan-ketetapan itu dianggap sebagai bersifat
kekal: "sesuai dengan maksud abadi yang telah dilaksanakan-Nya
dalam Kristus Yesus Tuhan kita" (Efesus 3:11); "telah dipilih se
belum dunia dijadikan" (I Petrus 1:20): "Allah telah memilih kita
sebelum dunia dijadikan" (Efesus 1:4); "berdasarkan maksud dan
kasih karunia-Nya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita
dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman" (II Timotius 1:9);
"berdasarkan pengharapan akan hidup yang kekal yang sebelum
permulaan zaman sudah dijanjikan oleh Allah yang tidak berdusta"
(Titus 1:2). Seperti yang dikatakan oleh Shedd, "Apa yang telah
ditetapkan Tuhan akan terjadi pada waktunya dan dalam urutan ter
tentu; namun semuanya itu merupakan satu sistem akbar yang se
bagai satu keseluruhan, dan satu kesatuan, telah termasuk dalam
satu rancangan Allah yang abadi."47
III. LANDASAN KETETAPAN-KETETAPAN ALLAH
Ajaran tentang ketetapan-ketetapan Allah menjadi cukup terang
jika kita secara jelas memahami landasan-landasan ajaran ter
47 Shedd, Dogmatic Theology, 1, hal. 395.
156 Teologi
sebut. Secara spontan kita bertanya, Mengapa Allah tidak merasa
puas untuk membatasi persekutuan dan kegiatan-Nya hanya di an
tara ketiga oknum tritunggal saja?
Harus ditekankan bahwa ketetapan-ketetapan Allah tidak bersum
ber pada keperluan. Allah tidak perlu menetapkan apa-apa. Allah
juga tidak dibatasi oleh apa pun di luar diri-Nya saat membuat
ketetapan. Apa yang ditetapkan Allah telah ditetapkan-Nya secara
bebas dan sukarela; semua ketetapan Allah dibuat tanpa ada paksaan
apa pun. Selanjutnya, ketetapan-ketetapan itu tidak disebabkan oleh
kehendak yang sewenang-wenang. Allah tidak bertindak berdasar
kan dorongan emosional saja; Ia senantiasa bertindak secara rasio
nal. Mungkin saja Allah kadang-kadang tidak menjelaskan alasan-
Nya saat menetapkan sesuatu, namun kita dapat yakin bahwa se
kalipun tidak dijelaskan semua ketetapan mempunyai alasan
(Ulangan 29:29). "Engkau akan mengertinya kelak" (Yohanes 13:7)
merupakan kata-kata yang membesarkan hati karena suatu saat ke
lak kita akan mengerti arti dari beberapa ayat Alkitab yang sekarang
ini sangat membingungkan dan rahasia dari beberapa tindakan Allah
yang memusingkan kita. Allah tidak pernah bertindak dengan se
wenang-wenang. Beberapa tokoh aliran determinisme yang ekstrem
telah beranggapan bahwa kehendak Allah itu mutlak adanya. Me
reka mengajarkan bahwa tidak ada tolok ukur nilai yang menen
tukan atau menilai kehendak Allah. Sesuatu yaitu benar karena
Allah menghendakinya. Bila ini benar, maka kematian Kristus juga
tidak ditentukan oleh suatu prinsip di dalam diri Allah, namun se
kadar oleh kehendak Allah, dan jika Allah telah ingin untuk
menyelamatkan manusia tanpa kematian Kristus maka hal ini
dapat dilaksanakan-Nya dan tindakan itu tetap benar.
Lebih tepat bila dikatakan bahwa semua ketetapan Allah dilan
daskan pada pertimbangan ilahi yang paling bijaksana dan kudus.
Karena Dia itu mahabijaksana, yang dari mulanya mengetahui hal
yang kemudian, yang mengetahui bahwa dosa akan datang (karena
Ia telah memutuskan untuk mengizinkan dosa datang), yang me
ngetahui sifat dosa serta cara untuk menghadapinya jika Ia hendak
menyelamatkan manusia maka Ia melandaskan segala rencana-Nya
atas segenap pengetahuan dan pengertian-Nya. Karena Ia maha-
kudus dan tidak mungkin bersikap pilih kasih atau tidak adil, Allah
dapat membuat semua rencana-Nya sesuai dengan apa yang
Ketetapan-Ketetapan Allah 157
sungguh-sungguh benar adanya. Ia dapat menyelamatkan seorang
berdosa, hanya bila dengan bertindak demikian Ia tetap adil (Roma
3:25). Dengan demikian, Allah bisa tetap penuh kasih dan pada saat
yang sama juga adil (Mazmur 85:10). Jadi, atas dasar kebijaksanaan
dan kekudusan-Nya Allah membuat segala ketetapan itu, baik yang
efektif maupun yang permisif.
IV. TUJUAN DARI KETETAPAN-KETETAPAN
ALLAH
Apakah yang merupakan alasan pokok bagi Allah untuk menetap
kan sesuatu? Adakah suatu tujuan, suatu sasaran di alam semesta
ini? Kalau ada apakah tujuan ini ?
Jelaslah bahwa tujuan itu bukanlah terutama kebahagiaan atau
pun kekudusan manusia ciptaan Allah. Allah memang menghendaki
kebahagiaan manusia ciptaan-Nya. Paulus berkata saat berada di
Listra, "Dalam zaman yang lampau Allah membiarkan semua bang
sa menuruti jalannya masing-masing, namun Ia bukan tidak me
nyatakan diri-Nya dengan berbagai-bagai kebajikan, yaitu dengan
menurunkan hujan dari langit dan dengan memberikan musim-
musim subur bagi kamu. Ia memuaskan hatimu dengan makanan
dan kegembiraan" (Kisah 14:16, 17). Dan dalam suratnya yang per
tama kepada Timotius Paulus mengatakan, "... Allah yang dalam
kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinik
mati" (I Timotius 6:17). Paulus menilai prinsip-prinsip asketis go
longan Gnostik yang mengatakan, "Jangan jamah ini, jangan kecap
itu, jangan sentuh ini" sebagai "perintah-perintah dan ajaran-
ajaran manusia . .. walaupun nampaknya penuh hikmat dengan iba
dah buatan sendiri, seperti merendahkan diri, menyiksa diri, tidak
ada gunanya selain untuk memuaskan hidup duniawi" (Kolose 2:21-
23). Allah memang berusaha untuk membahagiakan umat manusia,
bahkan memberikan kebahagiaan jasmaniah, namun kebahagiaan
ini yaitu tujuan yang sekunder, bukan tujuan primer.
Allah juga memperhatikan peningkatan kesucian manusia cip
taan-Nya. Untuk membuktikan kenyataan ini kita hanya perlu mem
perhatikan bahwa Ia menciptakan manusia "di dalam kebenaran dan
kekudusan yang sesungguhnya" (Efesus 4:24). Ia menghimbau ma-
158 Teologi
nusia untuk menjadi kudus sebagaimana Ia kudus adanya (Imamat
11:44; I Petrus 1:16), Ia memberikan hukum-Nya yang kudus se
bagai tolok ukur kehidupan (Roma 7:12), Kristus mati di salib su
paya dapat menguduskan umat-Nya (Efesus 5:25-27), dan Roh Ku
dus telah datang untuk membaharui dan menguduskan manusia (Yo
hanes 3:5; I Petrus 1:2). Sekalipun Tuhan berusaha meningkatkan
kekudusan umat-Nya, namun bukan itu yang merupakan tujuan-Nya
yang tertinggi.
Tujuan terakhir dan tertinggi dari semua ketetapan Allah ialah
kemuliaan-Nya. Ciptaan memuliakan Dia. Daud mengatakan, "La
ngit menceritakan kemuliaan Allah dan cakrawala memberitakan
pekerjaan tangan-Nya" (Mazmur 19:2). Allah menyatakan bahwa
Ia akan memurnikan Israel dalam perapian penderitaan, lalu ditam-
bahkan-Nya, "Aku akan melakukannya oleh karena Aku, ya oleh
karena Aku sendiri, sebab masakan nama-Ku akan dinajiskan? Aku
tidak akan memberikan kemuliaan-Ku kepada yang lain!" (Yesaya
48:11). Paulus menerangkan bahwa Allah menunda penghakiman
"justru untuk menyatakan kekayaan kemuliaan-Nya atas benda-
benda belas kasihan-Nya yang telah dipersiapkan-Nya untuk ke
muliaan" (Roma 9:23), dan bahwa dari semula Ia telah memilih
orang-orang percaya "supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mu
lia" (Efesus 1:6, bandingkan dengan 1:12, 14; 2:8-10). Dan kedua
puluh empat tua-tua melemparkan mahkota mereka di depan takhta
Allah sambil berkata, "Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak
menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah
menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena kehendak-Mu semua
nya itu ada dan diciptakan" (Wahyu 4:11). Jadi, tujuan akhir dari
segala sesuatu ialah kemuliaan Allah; dan hanya pada saat kita me
nerima kenyataan ini sebagai tujuan akhir kehidupan kita juga maka
barulah kita hidup pada tingkatan yang paling tinggi dan paling
selaras d







