Kamis, 16 Juli 2026

teologi sistematik 7

 


Dengan kehendak-Nya.

Jika manusia berusaha dimuliakan maka itu berarti ia memen­

tingkan diri sendiri, oleh sebab manusia itu berdosa dan tidak sem­

purna. Berusaha mencari kemuliaan sendiri sama saja dengan ber­

usaha memuliakan keadaan berdosa serta tidak sempurna. Namun 

dalam hal Allah, kenyataan ini  tidak berlaku samasekali. Allah 

samasekali tidak berdosa dan Ia kudus secara sempurna. Oleh ka­

rena itu, kalau la mencari kemuliaan-Nya sendiri berarti mencari

Ketetapan -Ketetapan Allah 159

kemuliaan dari kekudusan dan kemurnian yang sempurna. Tidak 

ada yang lebih luhur untuk dimuliakan. Sesungguhnya, dalam segala 

sesuatu Allah berusaha memuliakan Dia yang yaitu  wujud segala 

kebaikan, kebijaksanaan, kemurnian, dan kebenaran. Kita pun harus 

berbuat demikian.

V. ISI DAN SUSUNAN KETETAPAN-KETETAPAN 

ALLAH

Allah telah menetapkan segala sesuatu yang ada. Segala ketetapan 

Allah ini dapat dibagi menjadi tiga kategori luas.

A. KETETAPAN DALAM DUNIA KEBENDAAN DAN FISIK

Allah telah menetapkan untuk menciptakan alam semesta ini serta 

manusia (Kejadian 1:26; Mazmur 33:6-11; Amsal 8:22-31; Yesaya 

45:18). Allah telah menetapkan untuk menegakkan bumi (Mazmur 

119:90-91) serta mengatur musim-musim (Kejadian 8:22). Ia juga 

telah menetapkan untuk tidak lagi menghancurkan penduduk bumi 

lewat air bah seperti yang pernah dilakukan-Nya dulu (Kejadian 

9:8-17). Selanjutnya, Allah telah menetapkan pembagian bangsa- 

bangsa (Ulangan 32:8), menentukan musim-musim bagi setiap 

bangsa itu dan juga batas-batas wilayah mereka (Kisah 17:26). Pau­

lus menambahkan bahwa Allah melakukan hal ini "supaya mereka 

mencari Dia dan mudah-mudahan menjamah dan menemukan Dia, 

walaupun Ia tidak jauh dari kita masing-masing" (ayat 27). Allah 

juga telah menetapkan usia manusia (Ayub 14:5) serta cara sese­

orang meninggalkan dunia ini (Yohanes 21:19; I Korintus 15:51-52; 

II Timotius 4:6-8). Semua peristiwa lain yang terjadi dalam dunia 

kebendaan dan fisik juga telah ditetapkan oleh Allah sebelumnya 

sehingga termasuk dalam rencana dan tujuan Allah (Mazmur 

104:3-4, 14-23; 107:25, 29; Yesaya 14:26-27).

B. KETETAPAN DALAM DUNIA MORAL DAN ROHANI

Pada saat kita mengaitkan ketetapan-ketetapan Allah dengan dunia 

moral dan rohani, kita diperhadapkan dengan dua masalah dasar: 

adanya kejahatan di dalam dunia dan kebebasan manusia. 

Bagaimana mungkin Allah yang kudus dapat membiarkan begitu 

160 Teologi

saja kejahatan-kejahatan moral, dan bagaimana Allah yang berdau­

lat dapat membiarkan manusia tetap bebas? Beberapa asumsi dan 

praduga harus dibuat lebih dahulu: (1) Allah bukanlah pencipta 

dosa, (2) Allah harus mengambil langkah pertama di dalam me­

nyelamatkan umat manusia, (3) manusia bertanggung jawab atas 

tindakan-tindakannya, dan (4) tindakan-tindakan Allah didasarkan 

pada pertimbangan Allah yang bijaksana dan kudus.

Para pakar teologi berbeda pendapat mengenai urutan logis dari 

ketetapan-ketetapan Allah dan tempat dari dosa dalam ketetapan 

Allah yang permisif. Beberapa orang mengatakan bahwa urutan 

yang logis yaitu  sebagai berikut: Allah telah menetapkan (1) untuk 

menyelamatkan sebagian orang serta menolak yang lain, (2) untuk 

menciptakan kedua golongan orang itu, (3) untuk mengizinkan 

kedua golongan ini jatuh dalam dosa, (4) mengutus Kristus untuk 

menebus orang-orang yang telah dipilih untuk diselamatkan, dan 

(5) mengutus Roh Kudus untuk menerapkan karya penebusan itu 

pada orang-orang yang telah dipilih atau diselamatkan. Pandangan 

ini disebut "supralapsarianisme".

Pandangan lain yang disebut "infralapsarianisme" atau "sublap- 

sarianisme" beranggapan bahwa urutan ketetapan Allah yaitu  se­

bagai berikut: Allah menetapkan (1) untuk menciptakan manusia, 

(2) untuk mengizinkan manusia jatuh dalam dosa, (3) untuk memilih 

beberapa dari orang-orang yang telah jatuh dalam dosa untuk di­

selamatkan lalu membiarkan yang lain sebagaimana adanya, (4) un­

tuk menyediakan seorang penebus bagi orang-orang yang telah di- 

pilih-Nya, dan (5) mengutus Roh Kudus untuk menerapkan pene­

busan ini pada orang-orang yang telah dipilih. Pandangan ini meng­

ajarkan pendamaian terbatas.

Sebuah variasi dari kedua pandangan di atas, yang mengajarkan 

pendamaian tak terbatas, yaitu  sebagai berikut: Allah telah me­

netapkan (1) untuk menciptakan manusia, (2) untuk mengizinkan 

manusia jatuh dalam dosa, (3) untuk menyediakan di dalam Kristus 

penebusan yang cukup bagi seluruh umat manusia, (4) memilih be­

berapa orang untuk diselamatkan dan membiarkan yang lain se­

bagaimana adanya, dan (5) untuk mengutus Roh Kudus agar me­

mastikan bahwa penebusan itu diterima oleh orang-orang yang telah 

dipilih-Nya. Urutan yang terakhir nampaknya paling cocok dengan 

Alkitab karena mengajarkan pemilihan orang-orang tertentu dan 

Ketetapan-Ketetapan Allah 161

penebusan tak terbatas (I Timotius 2:6; 4:10; Titus 2:11; II Petrus 

2:1; I Yohanes 2:2), serta pada saat yang sama mengakui ke­

masyhuran khusus penebusan bagi orang-orang terpilih (Yohanes 

17:9, 20, 24; Kisah 13:48; Roma 8:29-30; Efesus 1:4; II Timotius 

1:9-10; I Petrus 1:1-2.

Sewaktu berusaha untuk lebih memahami tempat dosa serta pem­

berian keselamatan bagi orang berdosa, ada empat hal yang perlu 

diperhatikan.

1. Allah telah menentukan untuk mengizinkan dosa. Sekalipun 

Allah bukan pencipta dosa (Yakobus 1:13-14), dan Allah juga tidak 

mengharuskan adanya dosa itu, namun berlandaskan pertimbangan- 

Nya yang bijaksana dan kudus, Ia telah menetapkan untuk meng­

izinkan terjadinya kejatuhan dan dosa. Ketetapan ini dibuat-Nya ka­

rena Ia mengetahui bagaimana sifat dosa itu, apa yang akan di­

lakukan oleh dosa terhadap makhluk ciptaan-Nya, dan apa yang 

hams dilakukan-Nya untuk menyelamatkan manusia. Allah bisa saja 

mencegah masuknya dosa. Jikalau Ia telah memutuskan untuk men­

jaga agar kehendak malaikat dan manusia tidak menyeleweng, maka 

mereka itu akan tetap hidup dalam kekudusan. Akan namun , karena 

alasan-alasan yang bijaksana dan kudus, yang nampaknya belum 

sanggup kita pahami seluruhnya (Roma 11:33), Allah memutuskan 

untuk mengizinkan dosa. Bahwa dosa itu diizinkan Allah, sekalipun 

tidak diharuskan, nampak dari (1) semua ancaman hukuman atas 

dosa (Kejadian 2:17); Keluaran 34:7; Pengkhotbah 11:9; Yehezkiel 

18:20; II Tesalonika 1:7-8), (2) dari berbagai pernyataan pemazmur, 

"Ia memberikan kepada mereka apa yang mereka inginkan" (Maz­

mur 78:29), dan "Diberikan-Nya kepada mereka apa yang mereka 

minta, dan didatangkan-Nya penyakit paru-paru di antara mereka 

(Mazmur 106:15), dan (3) dari pernyataan Paulus; "Dalam zaman 

yang lampau Allah membiarkan semua bangsa menuruti jalannya 

masing-masing" (Kisah 14:16, bandingkan dengan 17:30).

2. Allah menetapkan untuk mengatasi dosa demi kebaikan. Ke­

tetapan ini tidak dapat dipisahkan dari ketetapan untuk meng­

izinkan dosa. Tuhan bukan saja mengizinkan dosa, namun juga 

mengatasinya demi kebaikan. Beberapa hal dapat dikemukakan un­

tuk membuktikan kenyataan ini. Yusuf berkata kepada saudara-

162 Teologi

saudaranya, "Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat ter­

hadap aku, namun  Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, 

dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni 

memelihara hidup suatu bangsa yang besar" (Kejadian 50:20). Pe­

mazmur mengatakan, "Tuhan menggagalkan rencana bangsa- 

bangsa; Ia meniadakan rancangan suku-suku bangsa; namun  rencana 

Tuhan tetap selama-lamanya, rancangan hati-Nya turun-temurun" 

(Mazmur 33:10-11) dan "Sesungguhnya panas hati manusia akan 

menjadi syukur bagi-Mu, dan sisa panas hati itu akan Kauperikat- 

pinggangkan" (Mazmur 76:11). Percobaan Nebukadnezar untuk 

membinasakan ketiga orang pemuda Ibrani dalam perapian yang 

menyala-nyala mengakibatkan pengakuan Allah orang Ibrani oleh 

raja serta kenaikan pangkat tiga pemuda itu (Daniel 3:19-30). Paulus 

mengungkapkan keyakinannya bahwa berbagai pengalaman di pen­

jara Roma akan berakhir dengan pembebasannya (Filipi 1:19-20). 

Semua ini dapat terjadi karena Allah itu berdaulat, kudus, dan bijak­

sana.

Nampaknya jelas bahwa Dia yang sebenarnya sanggup mencegah 

dosa memasuki kehidupan manusia, Ia dapat juga mengatur dan 

menguasai penyataan dosa itu. Allah memiliki hak dan kuasa untuk 

memerintah ciptaan-Nya sendiri. Lagi pula, Allah membenci dosa 

(Yeremia 44:4; Amos 5:21-24; Zakharia 8:17; Wahyu 2:6); Allah 

tidak mengizinkan dosa merintangi tujuan-tujuan-Nya untuk keku­

dusan; dosa hams dikalahkan demi kebaikan. Paulus membenci fit­

nahan yang berbunyi, "Marilah kita berbuat yang jahat, supaya yang 

baik timbul daripadanya" (Roma 3:8, bandingkan dengan 6:1). Allah 

tidak mengizinkan dosa memasuki alam semesta agar dapat meng­

hasilkan yang baik; lebih tepat kalau dikatakan bahwa Allah meng­

izinkan dosa masuk karena alasan lain, lalu Ia menentukan untuk 

mengatasi dosa demi kebaikan. Akhirnya, Allah memiliki penge­

tahuan dan pengertian untuk mengatasi dosa demi kebaikan. Ia 

mengetahui betul sampai sejauh mana Ia dapat mengizinkan dosa, 

mana yang harus dicegahnya, dan bagaimana memakainya sehingga 

semuanya dapat membantu melaksanakan maksud-maksud-Nya 

yang kudus.

3. Allah menetapkan untuk menyelamatkan dari dosa. Di 

sinilah inti permasalahannya. Semua orang Kristen setuju bahwa

Ketetapan-Ketetapan Allah 163

Allah telah memutuskan untuk menyelamatkan manusia, namun 

tidak semuanya sependapat tentang bagaimana caranya Allah me­

lakukan hal ini. Dalam kaitan ini kita harus terutama mengingat (1) 

bahwa Allah yang harus memprakarsai keselamatan, (2) bahwa bah­

kan dalam keadaannya yang tak berdaya sekarang ini, manusialah 

yang sebenarnya bertanggung jawab, dan (3) bahwa ketetapan- 

ketetapan Allah tidaklah didasarkan pada pikiran yang aneh-aneh 

atau pada kehendak yang sewenang-wenang, namun  pada pertim­

bangan Allah yang bijaksana dan kudus.

Karena mengakui ketiga praduga di atas, golongan injili menaf­

sirkan kenyataan ini menurut salah satu dari dua cara: beberapa 

pihak melihat pemilihan sebagai sesuatu yang bergantung pada pe­

ngetahuan Allah dari semula (prapengetahuan), sedangkan pihak 

lainnya melihat pemilihan dan prapengetahuan, sejauh keduanya 

berkaitan dengan iman, sebagai hal-hal yang samasekali tidak ter­

pisahkan. Kedua pandangan ini membutuhkan analisis, a. Dalam 

pandangan pertama, pemilihan dilihat sebagai tindakan kemurahan 

Allah yang melaluinya Ia di dalam Kristus memilih untuk 

menyelamatkan semua orang yang telah diketahui-Nya dari semula 

akan memberi tanggapan positif terhadap kasih karunia pendahu­

luan (yakni kasih karunia yang mempengaruhi kehendak seseorang 

sebelum ia berbalik kepada Allah). Kenyataan ini dapat dikaji 

sebagai berikut. Pada mulanya manusia memiliki kebebasan dalam 

dua arti: kebebasan untuk melaksanakan hal-hal yang sesuai dengan 

kodratnya dan kebebasan untuk bertindak bertolak belakang dengan 

kodratnya. Manusia memiliki kemampuan untuk berbuat dosa dan 

kemampuan untuk tidak berbuat dosa; kemampuan manusia untuk 

berdosa kini menjadi ketidakmampuan untuk tidak berbuat dosa 

(Kejadian 6:5; Ayub 14:14; Yeremia 13:23; 17:9; Roma 3:10-18; 

8:5-8). Kini manusia hanya bebas dalam arti mampu melakukan 

apa saja yang dianjurkan oleh kodratnya yang telah rusak itu. 

Karena manusia kini tidak mampu dan tidak berkeinginan untuk 

berubah, Allah turun tangan melalui kasih karunia pendahuluan. 

Kasih karunia ini (yang sering dianggap sebagai bagian dari kasih 

karunia umum atau universal) mengembalikan kepada orang ber­

dosa kemampuan untuk menanggapi Allah secara positif (Roma 2:4; 

Titus 2:11). Kenyataan ini tersirat dalam cara Allah menghadapi 

Adam dan Hawa setelah keduanya jatuh dalam dosa (Kejadian 3:8- 

164 Teologi

10) dan dalam banyak himbauan ilahi kepada orang berdosa untuk 

berbalik kepada Allah (Amsal 1:23; Yesaya 31:6; Yehezkiel 14:6; 

18:32; Yoel 2:13-14; Matius 18:3; Kisah 3:19), untuk bertobat 

(I Raja-Raja 8:47; Matius 3:2; Lukas 13:3, 5; Kisah 2:38; 17:30), 

serta untuk percaya (II Tawarikh 20:20; Yesaya 43:10; Yohanes 

6:29; 14:1; Kisah 16:31; Filipi 1:29; I Yohanes 3:23).

Akibat adanya kasih karunia pendahuluan ini manusia mampu 

memberikan suatu tanggapan awal terhadap Allah, dan Allah ke­

mudian akan memberikan kepadanya pertobatan dan iman (Yeremia 

31:18; Kisah 5:31; 11:18; Roma 12:3; II Timotius 2:25; II Petrus 

1:1). Allah dalam prapengetahuan-Nya mengetahui apa yang akan 

dilakukan manusia sebagai tanggapan terhadap kasih karunia pen­

dahuluan itu, yaitu apakah mereka "akan membuat menjadi sia-sia 

kasih karunia Allah" (II Korintus 6:1) atau tidak. Jadi, prapenge­

tahuan Allah itu sendiri tidaklah merupakan penyebab. Ada hal-hal 

yang diketahui Allah dari semula karena Ia telah memutuskan untuk 

membiarkan hal itu terjadi, dan ada hal-hal lain juga yang Allah 

tahu dari semula karena Ia telah melihat dari semula apa yang akan 

dilakukan oleh manusia tanpa memaksa mereka berbuat demikian. 

Allah sudah mengetahui dari semula bagaimana manusia akan me­

nanggapi kasih karunia pendahuluan itu, dan Ia memilih mereka 

yang menurut prapengetahuan-Nya akan memberi tanggapan positif. 

Dengan demikian pemilihan menyusul prapengetahuan. Di dalam 

pemilihan Allah menetapkan (a) untuk menyelamatkan mereka yang 

menurut prapengetahuan-Nya akan memberikan tanggapan positif 

(I Petrus 1:1-2), (b) untuk memberi hidup kepada mereka (Kisah 

13:48), (c) untuk memberi kepada mereka kedudukan sebagai anak- 

anak Allah (Galatia 4:5-6; Efesus 1:5), dan (d) untuk mengubah 

mereka menjadi serupa dengan Kristus (Roma 8:29-30). Secara 

singkat, menurut pandangan ini, Allah melalui kasih karunia pen­

dahuluan memberikan kepada semua orang kemampuan untuk me­

nanggapi tawaran-Nya bila mereka mau. Allah yang sudah menge­

tahui dari semula siapa saja yang akan memberi tanggapan positif, 

telah memilih untuk menyelamatkan mereka.

b. Pemilihan dan prapengetahuan tidak terpisahkan dan pada ha­

kikatnya sama. Menurut pendekatan ini, pemilihan ditafsirkan se­

cara berbeda dengan pemilihan menurut pendekatan yang telah kita 

bahas di atas. Menurut pandangan ini pemilihan dapat diartikan 

sebagai tindakan Allah yang memilih dari antara orang-orang ber­

Ketetapan-Ketetapan Allah 165

dosa beberapa orang untuk diselamatkan atas dasar kasih karunia 

semata dan bukan atas dasar sesuatu kebaikan atau jasa manusia 

yang telah diketahui-Nya dari semula. Pandangan ini tidak meng­

anggap kasih karunia pendahuluan sebagai bagian dari kasih karunia 

umum, juga tidak menganggap pengetahuan dari semula sebagai 

kemampuan terus-pandang semata. Diakui bahwa kasih karunia 

umum itu diberikan kepada semua orang (Kisah 14:17), karena 

Allah menginginkan agar jangan seorang pun binasa (II Petrus 3:9), 

pendamaian itu tidak terbatas (I Yohanes 2:2), dan panggilan kese­

lamatan itu sifatnya universal (Roma 10:13); sekalipun demikian, 

Alkitab dengan sangat jelas menyatakan bahwa hanya mereka yang 

terpilih yang selamat. Bahwa pandangan ini masuk akal juga dapat 

dibuktikan dengan berbagai cara. Allah dapat menunjukkan kasih 

karunia-Nya kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya (Matius 

20:12-15; Yohanes 15:16; Roma 9:20-21). Allah memang memilih 

orang-orang tertentu untuk diselamatkan (Kisah 13:48; Efesus 1:4; 

II Tesalonika 2:13). Pengetahuan dari semula bukanlah sekadar 

pengetahuan tentang sesuatu yang belum terjadi, namun meliputi 

juga suatu pemilihan dan hubungan yang murah hati (Roma 8:27- 

30; I Petrus 1:1-2, bandingkan dengan istilah "mengetahui", "me­

ngenal", dan sebagainya dalam Alkitab: Keluaran 2:25; Mazmur 

1:6; Matius 7:23; Galatia 4:9; I Tesalonika 5:12; I Petrus 1:20; 

I Yohanes 2:3, 13). Lagi pula, pemilihan sudah dilakukan di masa 

lampau yang abadi (Efesus 1:4; II Timotius 1:9); Allah memberikan 

orang-orang terpilih itu kepada Anak-Nya (Yohanes 6:37; 17:2, 6, 

9; I Petrus 2:9), keselamatan yaitu  atas kehendak Allah dan bukan 

kehendak manusia (Yohanes 1:13; I Yohanes 4:10); dan, akhirnya, 

pertobatan, iman, dan kekudusan yaitu  karunia Allah (Yohanes 

6:65; Kisah 5:31; I Korintus 12:3; Efesus 2:8-9; II Timotius 2:25).

Penyanggahan yang menolak pandangan ini perlu memperoleh 

perhatian tersendiri. Dapat saja dikatakan bahwa pandangan ini 

tidak adil bagi orang-orang yang tidak dipilih Allah. Namun harus 

dicamkan bahwa tidak ada yang tidak adil dalam penghakiman 

Allah; keselamatan itu semata-mata kasih karunia saja. Allah patut 

dipuji karena menyelamatkan beberapa orang, dan bukan dituduh 

karena menghukum massa (Mazmur 44:3; Lukas 4:25-27; I Korin­

tus 4:7). Juga telah diajukan keberatan bahwa pandangan ini mem­

perlihatkan Allah sebagai bertindak sewenang-wenang. Akan 

166 Teologi

namun , pilihan Allah tidak pernah dilakukan dengan sewenang- 

wenang; pemilihan Allah merupakan pilihan bebas dari Allah yang 

bijaksana, kudus, dan penuh kasih. Allah hanya membiarkan orang 

berdosa meneruskan pemberontakan yang dipilihnya sendiri, yang 

mengakibatkan hukuman abadi (Hosea 4:17; Roma 9:22-23; I Petrus 

2:8).

Ajaran tentang pemilihan, bila dipahami dengan benar, akan 

membuat orang percaya kagum (Ulangan 32:4), menghormati Allah 

(Yeremia 10:7), rendah hati (Roma 11:33), patuh (Daniel 4:35), dan 

menyembah Dia (Roma 11:33-36).

4. Allah menetapkan untuk memberi pahala kepada hamba- 

hamba-Nya serta menghukum orang-orang yang tidak taat. Dalam 

kemurahan-Nya Allah bukan sekadar menetapkan untuk menyela­

matkan beberapa orang, namun  juga untuk memberi pahala kepada 

mereka yang melayani Dia (Yesaya 62:11; Matius 6:4, 19-20; 

10:41-42; I Korintus 3:8; 1 Timotius 5:18). Pada dasarnya, ketetapan 

ini bersumber pada kasih karunia Allah. Manusia tidak dapat 

melakukan lebih daripada apa yang ditugaskan kepadanya. Yesus 

mengatakan, "Demikian jugalah kamu. jika  kamu telah 

melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah 

kamu berkata: Kami yaitu  hamba-hamba yang tidak berguna; kami 

hanya melakukan apa yang kami harus lakukan" (Lukas 17:10). 

Dengan kata lain, Allah berhak menuntut ketaatan mutlak dalam 

segala sesuatu dan pada segala waktu, dan Allah samasekali tidak 

berkewajiban untuk memberi upah kepada seseorang yang paling 

taat sekalipun. Namun di dalam kemurahan-Nya yang luar biasa 

Allah telah menetapkan untuk memberi pahala kepada anak-anak- 

Nya yang melayani Dia dengan setia. Beberapa orang menyebutkan 

kenyataan ini sebagai keadilan Allah yang mengupahi, sebagai per­

bandingan terhadap keadilan Allah yang menghukum, namun pada 

dasarnya ketetapan untuk memberi pahala ini bersumber pada ke­

murahan Allah dan bukan pada keadilan-Nya.

Sebaliknya, karena sifat-Nya yang semata-mata adil dan kudus, 

Allah telah menetapkan untuk menghukum orang-orang yang fasik 

dan yang tidak taat. Kenyataan ini berlaku juga untuk Iblis beserta 

pasukannya (Kejadian 3:15; Matius 25:41; Roma 16:20; Wahyu 

20:1-3, 10) dan untuk manusia (Mazmur 37:20; Yehezkiel 18:4;

Ketetapan -Ketetapan Allah 167

Nahum 1:3). Sampai tingkat tertentu hukuman itu dibagikan kepada 

orang-orang jahat sementara mereka hidup di dalam dunia (Bilang­

an 16:26; Mazmur 11:6; 37:28; Yesaya 5:20-21; Yeremia 25:31), 

namun  hukuman yang sebenarnya masih tertunda hingga hari peng­

hakiman terakhir (Mazmur 9:18; Yesaya 3:11; Matius 13:49-50; 

25:46; II Tesalonika 1:8-9; Wahyu 20:11-15).

C. KETETAPAN DALAM DUNIA SOSIAL DAN POLITIK

1. Keluarga dan pemerintahan manusia. Ketetapan fundamental, 

di bidang ini, ialah keluarga dan rumah tangga. Pada mulanya Tu­

han mengatakan, "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. 

Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia" 

(Kejadian 2:18). Kenyataan bahwa Allah pada mulanya mencip­

takan seorang laki-laki dan seorang perempuan saja dengan jelas 

menunjukkan bahwa Allah memaksudkan agar pernikahan bersifat 

monogami dan tidak dapat diceraikan (Matius 19:3-9). Sepanjang 

Alkitab kekudusan pernikahan diakui (II Samuel 12:1-15; Matius 

14:3-4; Yohanes 2:1-2; Efesus 5:22-33; Ibrani 13:4). Ketetapan per­

nikahan menyangkut ketetapan untuk berkembang biak (Kejadian 

1:27-28; 9:1, 7; Mazmur 127:3-5) serta membangun rumah tangga 

(Ulangan 24:5; Yohanes 19:27; I Timotius 5:4; Titus 2:5).

Yang berkaitan erat sekali dengan ketetapan ini ialah ketetapan 

pemerintahan manusia (Kejadian 9:5-6). Melalui ketetapan yang 

khusus Allah telah menentukan tempat, musim-musim, serta batas- 

batas wilayah setiap bangsa di dunia ini (Ulangan 32:8; Kisah 

17:26). Ia juga telah menetapkan pemerintah atas bangsa-bangsa 

itu (Daniel 4:34-35; Roma 13:1-2). Semua pemerintah harus menga­

kui kedaulatan pimpinan Allah serta berusaha untuk mengetahui 

dan menaati kehendak-Nya (Mazmur 2:10-12). Bila seorang 

penguasa tidak berbuat demikian, dan tuntutan pemerintahannya 

bertolak belakang dengan perintah-perintah Tuhan, maka rakyatnya 

harus lebih taat kepada Tuhan daripada kepada manusia (Kisah 

4:19-20; 5:29).

2. Panggilan dan lugas Israel. Allah memilih Abraham untuk 

menjadi kepala suatu umat yang istimewa (Kejadian 12:1-3). Garis 

keturunan itu dibatasi kepada Ishak (Kejadian 17:21), Yakub 

(Kejadian 25:23; 27:27-29), serta kedua belas anak Yakub

168 Teologi

(Kejadian 49). Allah memilih Israel untuk menjadi umat-Nya, untuk 

menjadikan mereka imamat yang rajani, suatu bangsa yang kudus 

(Keluaran 19:4-6). Ketetapan ini bukanlah terutama suatu ketetapan 

untuk memperoleh keselamatan, namun  suatu ketetapan untuk mem­

peroleh kedudukan dan kehormatan lahiriah. Sekalipun demikian, 

kedudukan dan kehormatan lahiriah ini, lewat hukum Taurat yang 

kudus serta pranata ilahi, akan menuntun kepada keselamatan serta 

ibadat yang berkenan kepada Allah. Di dalam ibadat yang berkenan 

kepada Allah ini ada  suatu tanggung jawab penting, yaitu men­

jadi berkat rohani bagi bangsa-bangsa lainnya (Kejadian 12:2).

Akan namun , Israel tak berhasil samasekali. Allah menginginkan 

buah anggur yang baik, namun bangsa itu hanya menghasilkan buah 

anggur yang asam (Yesaya 5:1-7). Bahkan mereka telah menga­

niaya serta membunuh utusan-utusan Allah yang menuntut buah 

rohani dari bangsa itu. Sebagai akibatnya, kerajaan Allah untuk 

sementara waktu akan diambil dari mereka sebagai suatu bangsa 

(Matius 21:33-43). Carang-carang yang asli telah dipatahkan dan 

orang-orang bukan Yahudi, yaitu carang-carang pohon zaitun yang 

liar, telah dicangkokkan ke dalam batangnya (Roma 11:11 -22). Pada 

suatu hari Allah akan mencangkokkan kembali carang-carang yang 

asli itu (Roma 11:23-27, bandingkan dengan Yehezkiel 37:1-23; 

Hosea 2:14-22). Dalam pada itu, sekarang ini pun masih ada suatu 

sisa menurut pilihan kasih karunia (Roma 11:1-10). Semua perin­

cian ini terangkum dalam ketetapan Allah yang mula-mula.

3. Pendirian dan tugas gereja. Sejak kekekalan Allah telah 

menetapkan pendirian dan pembangunan gereja, sekalipun fakta ini 

baru diungkapkan sepenuhnya pada zaman Kristus dan para rasul. 

Kenyataan bahwa Yesus mengatakan akan membangun gereja-Nya 

(Matius 16:18) menunjukkan bahwa gereja waktu itu belum ada. 

Paulus menyatakan bahwa sekalipun gereja sudah ada dalam ren­

cana abadi Allah, sifatnya baru jelas pada zaman Paulus sendiri 

(Efesus 3:1-13). Dengan demikian, gereja bukanlah Yudaisme yang 

diperbaiki (Matius 9:14-17), namun  suatu ciptaan yang samasekali 

baru. Dalam gereja, Allah mempersatukan orang Yahudi dan orang 

bukan Yahudi menjadi satu manusia baru (Efesus 2:11-15). Tujuan 

Allah sekarang ini ialah memanggil suatu umat bagi nama-Nya dari 

antara bangsa-bangsa bukan Yahudi serta sisa umat Yahudi yang 

masih setia, menurut pilihan kasih karunia-Nya (Kisah 15:13-18;

Ketetapan-Ketetapan Allah 169

Roma 11:1, 30-31). Roh Kudus dan gereja merupakan dua sarana 

yang dipakai oleh Allah untuk mencapai tujuan-Nya (Matius 28:19- 

20; Kisah 1:8). Setelah rencana ini terlaksana, maka Kristus akan 

datang kembali, menjemput umat-Nya (Yohanes 14:3; Roma 11:25; 

I Tesalonika 4:16-18), menempatkan gereja di hadapan diri-Nya 

(Efesus 5:25-27), serta memberkati dan menyelamatkan Israel (Za­

kharia 12:10-13:1; Roma 11:25-27).

4. Kemenangan terakhir bagi Tuhan. Allah telah memutuskan 

untuk menyerahkan semua kerajaan dunia kepada Kristus (Mazmur 

2:6-9; Daniel 7:13-14; Lukas 1:31-33; Wahyu 11:15-17; 19:11- 

20:6). Dalam kaitan pengambilalihan kerajaan-kerajaan ini, akan 

terjadi "pembaharuan" alam semesta (Matius 19:27-30; Roma 8:19- 

22, bandingkan dengan Yesaya 35:1-10). Pemerintahan-Nya akan 

bercirikan damai sejahtera dan keadilan (Mazmur 2:8-9; 72:1-19; 

Yesaya 9:5-6). Tahap pertama dalam kemenangan Allah atas bumi 

ini akan berlangsung selama seribu tahun (Wahyu 20:1-6). Setelah 

pemberontakan terakhir Iblis serta penghakiman di hadapan takhta 

putih (Wahyu 20:7-15), akan datang langit yang baru, dunia yang 

baru, dan Yerusalem baru (Wahyu 21:1-22:5). Kemudian Kristus 

akan menyerahkan Kerajaan kepada Allah Bapa; dan kemudian 

Allah tritunggal: Bapa, Anak, dan Roh Kudus akan memerintah 

sampai selama-lamanya (I Korintus 15:23-28). Semuanya ini sudah 

ditetapkan Allah dan pastilah suatu saat akan tergenapi.


XI 

Karya-Karya Allah: Penciptaan

L DEFINISI PENCIPTAAN

Istilah "menciptakan" dipakai dalam dua arti di dalam Alkitab: da­

lam arti penciptaan langsung dan dalam arti penciptaan tidak lang­

sung. Penciptaan langsung merupakan tindakan bebas Allah tri­

tunggal. Melalui tindakan ini Allah pada mulanya menciptakan se­

gala sesuatu yang nampak dan yang tidak nampak untuk kemuliaan- 

Nya sendiri tanpa memakai bahan yang sudah ada sebelum dunia 

diciptakan atau tanpa sebab-sebab sekunder. Jadi, penciptaan lang­

sung merupakan tindakan bebas Allah. Pandangan ini berbeda de­

ngan semua gagasan panteistis yang menganggap bahwa ciptaan ini 

terjadi karena sebab-sebab sekunder dan bukan karena kehendak 

Allah yang bebas. Ketiga Oknum Tritunggal Ilahi, yaitu Bapa, 

Anak, dan Roh Kudus, sama-sama mengambil bagian dalam tin­

dakan penciptaan langsung ini. Inilah tindakan tambahan pertama 

yang dilakukan oleh Allah demi kemuliaan-Nya. Penciptaan lang­

sung ini tidak merupakan pembentukan ulang bahan-bahan yang 

sudah ada sebelumnya atau merupakan akibat dari sebab-sebab se­

kunder, namun  merupakan tindakan langsung Allah yang juga lang­

sung menampakkan hasil. Penciptaan langsung oleh Allah ini men­

cakup segala sesuatu, tidak hanya meliputi semua hal yang berupa 

benda, namun  juga semua hal yang tidak berupa benda.

Penciptaan tidak langsung, sebaliknya, merupakan tindakan-tin­

dakan Allah yang juga disebut "penciptaan", namun yang tidak ber­

mula dari ketiadaan atau ex nihilo. Melalui tindakan-tindakan ini 

Allah membentuk, menyesuaikan, menggabungkan, atau mengubah 

bahan-bahan yang sudah ada. Allah sendiri dapat membentuk, me­

nyesuaikan, menggabungkan, atau mengubah bahan-bahan yang

171

172 Teologi

sudah ada, atau Ia juga dapat melakukan hal ini secara tidak lang­

sung melalui sebab-sebab sekunder. Hodge mengatakan, saat  

membandingkan penciptaan langsung dengan penciptaan tidak lang­

sung, "Penciptaan langsung terjadi sesaat , penciptaan tidak lang­

sung terjadi secara bertahap. Penciptaan langsung menutup kemung­

kinan adanya bahan yang sudah ada sebelumnya dan kerja sama 

antara dua bahan atau lebih, penciptaan tidak langsung mengakui 

dan membutuhkan keduanya. Jelas ada dasar yang kuat bagi pe­

misahan semacam ini dalam kisah penciptaan yang dikisahkan oleh 

Musa."48 Istilah "penciptaan langsung" boleh jadi harus dibatasi 

pada Kejadian 1:1 dan ayat-ayat lainnya yang menunjuk kepada 

peristiwa yang sama.

48 Hodge, Systematic Theology, I, hal. 556.

II. BUKTI ADANYA PENCIPTAAN

Sejak zaman dahulu manusia telah berusaha memecahkan "teka- 

teki" alam semesta ini. Manusia selalu bertanya, "Apakah alam se­

mesta ini ada senantiasa ataukah alam semesta ini ada permulaan­

nya? Bila ada permulaannya, bagaimanakah dan kapan alam semes­

ta itu mulai terjadi?" Ilmu pengetahuan ataupun akal manusia saja 

tidak sanggup memecahkan masalah ini. Ilmu pengetahuan memang 

berusaha untuk menjawab masalah sekitar asal mula alam semesta 

ini, namun karena ilmu pengetahuan bergerak dalam wawasan pe­

ngetahuan empiris saja, maka penelitian terhadap asal mula alam 

semesta dan sebab-sebab pertama dengan sendirinya sudah berada 

di luar bidangnya. Filsafat pun tidak dapat memberikan pemecahan 

yang memuaskan karena menyangkal samasekali konsepsi pencip­

taan atau menjelaskannya sedemikian rupa sehingga sebenarnya 

mengingkari penciptaan itu. Pemecahan terhadap teka-teki asal 

mula alam semesta ini harus datang dari Alkitab dan hams diterima 

dengan iman (Ibrani 11:3). Alkitab menyatakan bagaimana dan 

mengapa terjadi keberadaan jasmaniah dan rohaniah.

A. KISAH PENCIPTAAN YANG DICERITAKAN MUSA

Kisah penciptaan yang diceritakan Musa ada  dalam Kejadian 

1 dan 2. Ayat-ayat dalam kedua pasal ini mencatat penciptaan lang­

sung dan penciptaan tidak langsung alam semesta dan manusia.

Karya-Karya Allah: Penciptaan 173

1. Penciptaan langsung alam semesta. Kalimat pembukaan di 

Alkitab menyatakan bahwa "pada mulanya Allah menciptakan la­

ngit dan bumi" (Kejadian 1:1). Menurut kata-kata ini , alam 

semesta tidak kekal, juga tidak -dibentuk dari bahan yang sudah ada 

sebelumnya, atau terjadi karena prinsip penyebab yang universal, 

namun  karena tindakan penciptaan langsung dari Allah. Alam semes­

ta diciptakan secara ex nihilo yang artinya diciptakan tanpa me­

makai bahan yang sudah ada sebelumnya.

Ajaran tentang penciptaan ex nihilo ini tidak berlandaskan pe­

makaian kata Ibrani bara' atau kata Yunani ktizein; karena kedua 

kata ini  kadang-kadang dipakai secara bertukar-tukar dengan 

kata asah dan poiein. Jadi, dikatakan dalam Alkitab bahwa Allah 

telah "menciptakan" dan "menjadikan" bumi (Kejadian 1:1; 

Nehemia 9:6; Kolose 1:16-17). Namun jelaslah bahwa kata men­

ciptakan dalam Kejadian 1:1 dan 2:3-4, memang berarti mencip­

takan tanpa memakai bahan-bahan yang sudah ada sebelumnya. 

Davis menjelaskannya sebagai berikut:

Kata kerja bara ("menciptakan") mengungkapkan secara lebih jelas daripada 

kata kerja lainnya konsep penciptaan mutlak atau penciptaan ex nihilo. Akar 

kata qal dari kata kerja ini dalam Perjanjian Lama hanya dipakai untuk 

menunjuk kepada kegiatan Allah; tidak pernah manusia dipakai sebagai 

subjek untuk kata kerja ini. Dikatakan bahwa Allah telah menciptakan 

"angin" (Amos 4:13), "hati yang tahir" (Mazmur 51:12), serta "langit baru 

dan bumi baru" (Yesaya 65:17). Kejadian 1 menekankan tiga permulaan 

yang besar, yang semuanya diprakarsai oleh Tuhan (bandingkan ayat 1, 21, 

27).... Oleh sebab itu tindakan Allah yang kreatif, yang tercermin dalam 

ayat 1, tidak melibatkan pemakaian bahan yang sudah ada sebelumnya; 

Allah yang berdaulat dan mahakuasa telah menciptakan langit dan bumi 

dari kenihilan.49

49 Davis, Paradise to Prison, hal. 40-41.

2. Penciptaan tidak langsung alam semesta masa kini. Entah itu 

disebabkan oleh ketidaklengkapan yang disengaja pada tindakan 

penciptaan yang semula, entah disebabkan oleh suatu bencana alam 

yang menimpa ciptaan yang semula, kita menemukan dalam Keja­

dian 1:2 bahwa bumi "belum berbentuk dan kosong; gelap gulita 

menutupi samudera raya." Kemudian terjadilah pembentukan 

tatanan semesta sebagaimana yang kita kenal sekarang ini. Oleh 

karena itu, timbullah beberapa masalah.

174 Teologi

a. Apakah penciptaan kali ini bersifat langsung, tidak langsung, 

ataukah merupakan kombinasi dari keduanya? Beberapa sarjana 

membatasi penciptaan langsung pada tindakan yang disebut dalam 

ayat 1 saja dan menganggap kisah penciptaan selanjutnya sebagai 

penciptaan tidak langsung. Beberapa sarjana lainnya melihat kom­

binasi antara penciptaan langsung dengan penciptaan tidak langsung 

sepanjang pasal 1 ini. Matahari mungkin saja telah diciptakan sejak 

mula pertama dan terang itu (ayat 3-5) mungkin berasal dari mata­

hari. Akan namun , Allah nampaknya menciptakan terang terlepas 

dari matahari. Bibit-bibit kehidupan tanaman mungkin saja masih 

bertahan dari suatu keadaan yang primitif, sehingga Allah hanya 

tinggal memerintahkan bumi untuk "menumbuhkan tunas-tunas 

muda, tumbuh-tumbuhan yang berbiji, segala jenis pohon buah- 

buahan yang menghasilkan buah yang berbiji" (ayat 11). Namun, 

nampaknya lebih mungkin bahwa tanaman diciptakan langsung oleh 

Allah. Dalam Kejadian 2:19 kita membaca, "Lalu Tuhan Allah 

membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di 

udara." Nampaknya ayat ini mengajarkan bahwa semua binatang, 

ikan, burung, binatang melata, dan lain-lain telah diciptakan secara 

tidak langsung (1:20-25), walaupun tentu saja kehidupan 

margasatwa itu sendiri diciptakan langsung oleh Allah. Dan kita 

diberi tahu secara jelas bahwa 'Tuhan Allah membentuk manusia 

itu dari debu tanah dan menghembuskan napas hidup ke dalam 

hidungnya" (2:7). Ayat ini juga menunjukkan bahwa manusia dicip­

takan secara tidak langsung, paling tidak sejauh itu berkaitan dengan 

tubuhnya. Sekalipun manusia dan binatang diciptakan dari debu dan 

akan kembali kepada debu, jiwa manusia pasti diciptakan langsung 

oleh Allah.

b. Apa yang termasuk dalam penciptaan yang langsung? Pastilah 

bukan hanya langit, namun  juga malaikat-malaikat yang menghuni 

sorga (Ayub 38:7; Nehemia 9:6); dan pastilah juga bukan hanya 

bumi, namun  juga semua air dan udara (Yesaya 42:5; Kolose 1:16; 

Wahyu 4:11). Beberapa sarjana mengetengahkan bahwa mungkin 

beberapa dari malaikat-malaikat itu, di bawah pimpinan makhluk 

yang kemudian dikenal dengan nama Iblis, ditugaskan menguasai 

bumi (lihat Lukas 4:5-8). Pendapat ini mungkin juga masuk akal, 

namun  tidak ada dukungan ayat Alkitab yang pasti, kecuali bila di­

anggap bahwa dukungan ini  didapatkan dari Yehezkiel 28:12- 

19 (lihat juga Yesaya 14:9-14).

Karya-Karya Allah: Penciptaan 175

c. Adakah Kejadian 1:2 melukiskan keadaan asli bumi ini atau 

suatu keadaan akibat terjadinya suatu bencana yang dahsyat? Per­

tanyaan ini dijawab dengan tiga cara: (1) Teori-pemulihan atau 

teori-selang waktu mengemukakan bahwa setelah penciptaan yang 

mula-mula (ayat 1), Iblis jatuh sehingga mengakibatkan hukuman 

ilahi menimpa bumi ini (ayat 2). Ayat-ayat berikutnya menggam­

barkan penciptaan ulang bumi selama enam hari. Menurut pandang­

an ini kata-kata "belum berbentuk" sebaiknya diterjemahkan sebagai 

"menjadi tidak berbentuk". Selanjutnya dikemukakan bahwa gam­

baran tiada bentuk, kosong, dan gelap gulita itu (ayat 2) terutama 

menggambarkan hukuman ilahi, karena mustahil Allah menciptakan 

bumi dengan keadaan demikian (Yesaya 34:11; 45:18; Yeremia 

4:23; I Yohanes 1:5). Selanjutnya, teori ini menyediakan sebuah 

kerangka waktu untuk peristiwa kejatuhan Iblis (Yesaya 14:9-14; 

Yehezkiel 28:12-19).50

50 Untuk Uraian yang ilmiah, lihat Custance, Without Form and Void.

51 Uraian yang baik mengenai pandangan ini ada di Waltke, Creation and Chaos.

(2) Suatu pandangan lain menganggap bahwa selang-waktu itu 

terjadi sebelum ayat 1, sehingga ayat 1 dan seterusnya menerangkan 

peristiwa penciptaan ulang. Menurut pandangan ini ayat 1 

merupakan pernyataan perangkum dari hal-hal yang terjadi selan­

jutnya, sebagaimana 2:1 merupakan pernyataan perangkum dari hal- 

hal yang terjadi sebelumnya. Ayat 2 menunjukkan hukuman yang 

ditetapkan Allah, namun  bagaimana dan mengapa terjadi hukuman 

ini tetap merupakan rahasia. Nampaknya, mungkin sekali kejatuhan 

Iblis merupakan penyebab. Menurut pandangan ini Musa mengisah­

kan urutan terjadinya ciptaan yang sekarang ini, sedangkan ia tidak 

menaruh perhatian pada penciptaan yang mula-mula atau pada hal- 

hal yang menyebabkan hukuman Allah menimpa bumi.51

(3) Pandangan yang nampaknya paling banyak penganutnya me­

nafsirkan ayat 2 sebagai menggambarkan alam semesta dalam ke­

adaan yang belum lengkap. Setelah mengisahkan bahwa bumi be­

lum lengkap, Musa kemudian mengisahkan bagaimana Allah men­

jadikannya suatu tempat yang dapat didiami oleh manusia. Gam­

baran tentang keadaan yang tidak berbentuk, kosong, serta gelap 

gulita tidak perlu menggambarkan hukuman, namun  menggambarkan 

keadaan kurang lengkap. Bumi ciptaan Allah dimaksudkan untuk 

didiami (Yesaya 45:18). Pandangan ini tidak menerima adanya 

176 Teologi

selang-waktu antara ayat 1 dan ayat 2, juga tidak menerima adanya 

penciptaan sebelum ayat 1. Kisah penciptaan ini samasekali tidak 

menaruh perhatian pada peristiwa kejatuhan Iblis; sekalipun 

demikian, pastilah kejatuhan Iblis terjadi sebelum Kejadian 3.52

d. Adakah enam hari penciptaan itu harus dianggap sebagai 

enam hari yang berkenaan dengan penyataan, masa-masa yang 

lama, ataukah enam hari yang terdiri atas dua puluh empat jam? 

(1) Beberapa sarjana beranggapan bahwa Musa menerima penya­

taan tentang penciptaan itu selama waktu enam hari. Menurut pan­

dangan ini enam hari itu merupakan enam hari dalam kehidupan 

Musa, dan bukan enam hari penciptaan. 'Penciptaan disingkapkan 

dalam enam hari, dan bukan dilaksanakan selama enam hari."   

Pandangan ini bertentangan dengan Keluaran 20:11, "Sebab enam 

hari lamanya Tuhan menjadikan langit dan bumi, laut dan segala 

isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh."

5253

52 Lihat Leupold, Exposition of Genesis, I, hal. 42-47, dan Morris, The Genesis 

Record, hal. 46-52.

53 Ramm, The Christian View of Science and Scripture, hal. 222.

54 Carnell, An Introduction to Christian Apologetics, hal. 238.

(2) Beberapa sarjana lainnya berpendapat bahwa enam hari di 

sini menunjuk kepada enam periode geologis yang sangat panjang. 

Pandangan ini disebut sebagai teori hari-zaman. ada  berbagai 

variasi dalam pandangan ini, walaupun intinya sama saja yaitu bah­

wa Allah telah menciptakan alam fisik ini beserta kehidupan di atas­

nya, lalu kemudian menuntun proses evolusi sepanjang berabad- 

abad. Pandangan ini, yang sering kali disebut sebagai pandangan 

evolusi yang teistis, menerima masa-masa geologis, proses-proses 

evolusi, serta keterlibatan aktif dari Allah Sang Pencipta. Beberapa 

sarjana lain lagi memperbaiki teori ini menjadi teori yang dikenal 

sebagai evolusi ambang, yaitu pandangan yang beranggapan bahwa 

Allah memasuki proses evolusi pada saat-saat penting tertentu untuk 

menciptakan sesuatu yang baru. Pandangan ini menolak pandangan 

evolusi-makro, namun menerima pandangan evolusi-mikro, mak­

sudnya, mungkin saja ada "perubahan-perubahan yang luas dan sa­

ngat bervariasi di dalam setiap ’jenis’ yang pada mulanya diciptakan 

oleh Allah."54 Manusia sendiri dianggap sebagai tindakan pencip­

taan yang istimewa oleh Allah.

Pendekatan yang mirip dengan pendekatan evolusi ambang ini, 

sekalipun mungkin tidak setuju sepenuhnya dengan konsep hari- 

Karya-Karya Allah: Penciptaan 177

zaman, yaitu  pandangan penciptaan yang terjadi secara bertahap. 

Dengan firman-Nya Allah menciptakan zat yang belum berbentuk, 

dan kemudian, lewat keterlibatan Roh-Nya, Allah membentuk dan 

mengarahkan penciptaan secara bertahap-tahap menurut rencana 

yang telah ditetapkan-Nya dari semula. Allah mengambil bahan 

mentah yang baru saja diciptakan-Nya itu serta membentuk ciptaan 

yang utuh. Hal ini melibatkan beberapa tindakan penciptaan yang 

dilakukan dengan firman-Nya dan pemakaian hukum-hukum alam 

yang telah ditetapkan-Nya sendiri.55

Akhirnya, (3) banyak yang menafsirkan keenam hari penciptaan 

itu sebagai enam hari yang dua puluh empat jam lamanya. Namun 

apa arti kata "hari" menurut Alkitab? Kata ini dipakai di Alkitab 

dengan berbagai arti: siang yang berbeda dengan malam (Kejadian 

1:5, 16, 18), siang (terang) dan malam (gelap) bersamaan (1:5), 

keenam hari penciptaan (2:4), serta periode-periode yang tidak tentu 

batas waktunya, seperti "hari bencana" (Ulangan 32:35), "hari per­

tempuran" (I Samuel 13:22), "hari murka" (Ayub 21:30), "hari pe­

nyelamatan" (II Korintus 6:2) dan "hari Tuhan" (Amos 5:18). Ka­

dang-kadang kata Ibrani yang diterjemahkan sebagai "hari" juga 

diterjemahkan sebagai "beberapa lama" (Kejadian 26:8; 38:12). Bila 

Kejadian pasal 1 dibaca sepintas lalu kita mendapat kesan yang 

dimaksudkan yaitu  hari dalam arti satuan dua puluh empat jam. 

Beberapa alasan dapat dikemukakan: pemakaian istilah pagi dan 

petang, pernyataan dalam Keluaran 20:11, munculnya matahari dan 

bulan untuk menerangi siang dan malam, saling bergantungnya 

unsur-unsur alam semesta ini (Dapatkah rumput hijau bertahan hi­

dup selama waktu yang lama tanpa sinar matahari?), serta pema­

kaian angka setelah kata "hari". Periode-periode geologis yang nam­

paknya amat panjang menjadi masalah untuk pandangan ketiga ini. 

Beberapa gagasan penyelesaian telah dikemukakan: air bah pada 

zaman Nuh telah mengubah topografi bumi; ada selang-waktu da­

lam daftar silsilah awal yang ada  dalam kitab Kejadian, dan 

oleh karena itu kita harus menganggap bahwa penciptaan terjadi 

jauh sebelum tahun 4000 SM; dan karena jelas Allah menciptakan 

manusia yang sudah dewasa, tidaklah mustahil bumi juga diciptakan 

langsung dengan keadaan "dewasa atau cukup umur", dalam arti * 

55 Untuk penjelasan yang lebih lengkap tentang pandangan ini, lihat Ramm, The 

Christian View of Science and Scripture, hal. 112-113, 271-173.

178 Teologi

tidak memerlukan periode-periode geologis ini .

e. Berapakah usia bumi? Ada berbagai pandangan: (1) Berbagai 

teori telah dikemukakan oleh para sarjana non-Kristen. Beberapa di 

antara mereka melihat awal mula alam semesta ini sebagai ledakan 

besar atom zaman purba sehingga menjadi alam semesta yang se­

karang ini; sarjana lainnya lagi berhipotesis bahwa alam semesta 

ini terus-menerus berada dalam keadaan kemajuan dan kemunduran 

yang dibatasi. Di dalam alam semesta ini bumi terbentuk dari suatu 

gumpalan debu dan gas sekitar sepuluh milyar tahun yang lalu. Me­

nentukan usia bumi berdasarkan metode-metode ilmiah sekular sa­

ngatlah tidak tepat. Seorang sarjana kenamaan mengatakan, "Rata- 

rata, usia bumi ini berlipat ganda setiap 15 tahun selama tiga abad 

terakhir ini; taraf kecepatan ini nampaknya meningkat selama abad 

terakhir ini."56

56 Whipple, "The History of the Solar System," dalam Adventures in Earth History, 

hal. 101.

Standard Geological Column, yang dipakai oleh para ahli geologi 

untuk menentukan usia lapisan tanah, telah dikembangkan dari suatu 

penelitian tentang fosil-fosil (paleontologi) yang ada  dalam ber­

bagai batuan endapan dan lapisan tanah. Standard Geological 

Column itu menentukan tanggal pembentukan bumi menurut 

beberapa era: era Pra-Kambrium (dari 3.500 juta tahun yang lalu 

atau lebih), era Paleozoik (dari 600 juta sampai 225 juta tahun yang 

lalu), era Mesozoik (dari 225 juta sampai 65 juta tahun yang lalu), 

dan era Senozoik (dari 65 juta tahun yang lalu hingga kini). Ben­

tuk-bentuk kehidupan yang paling dini ditemukan dalam era Pra- 

Kambrium. (Data ini disesuaikan dengan keterangan dari Ensiklo­

pedi Nasional Indonesia, jilid 3, hal. 537-540.)

Berbagai cara penentuan tanggal telah dipakai. Salah satu cara, 

dengan mengukur pertambahan kadar sodium per tahun dalam 

samudera raya, dapat ditentukan bahwa samudra baru berumur 

sekitar 100 juta tahun. Metode lainnya mengukur waktu geologis 

dengan meneliti laju kemerosotan unsur-unsur radioaktif, seperti 

uranium, potasium, dan rubidium. Menurut metode ini ada beberapa 

meteorit yang sudah berumur 4.700 juta tahun. Beberapa mineral 

bumi berumur 3.500 juta tahun. Metode lainnya lagi memakai cara 

penentuan tanggal dengan radiokarbon:

Karya-Karya Allah: Penciptaan 179

Teori penentuan tanggal dengan radiokarbon yaitu  sebagai berikut: per­

bandingan isotop-isotop karbon di dalam kebanyakan benda hidup identik 

dengan perbandingan isotop-isotop dalam karbon-dioksida di udara. Pada 

saat suatu organisme mati, ia berhenti menyerap radiokarbon dari udara 

sehingga perbandingan radiokarbon dengan isotop-isotop yang stabil, 

C12 dan C13, yang ada  dalam sel-sel tubuh organisme itu mulai 

menurun. Jadi, hasil perbandingan kadar radiokarbon dengan isotop-isotop 

stabil di dalam suatu organisme yang sudah mati dengan kadar radio­

karbon di atmosfer merupakan ukuran waktu yang sudah lewat sejak 

kematian organisme ini .57

57 Gilluly, et.al, Principles of Geology, hal. 116.

58 Sistematisasi yang ilmiah diusahakan oleh Davis A. Young, Creation and the 

Flood.

59 Morris, The Genesis Record, hal. 45.

60 Davis, Paradise to Prison, hal. 31.

Semua sistem penentuan tanggal ini tidak tepat karena menerima 

adanya geologi uniformitarian, yaitu adanya keadaan-keadaan yang 

hanya ada  dalam sebuah laboratorium ilmiah. Prinsip-prinsip 

uniformitarianisme itu mensyaratkan tidak adanya Allah yang ber­

kepribadian atau setidak-tidaknya mengabaikan kehadiran Allah 

yang bertindak dalam ciptaan-Nya.

(2) Pandangan evolusi yang teistis, sebagaimana sudah dikatakan 

tadi, beranggapan bahwa Allah mengarahkan dan menguasai 

proses evolusi sejak awal mula hingga penciptaan manusia. Metode- 

metode penentuan tanggal tidak berbeda dengan metode-metode 

geologis nonteistik yang telah disebut di atas. Teori hari-zaman 

atau pendekatan-pendekatan lain yang serupa itu juga berusaha un­

tuk menyelaraskan periode-periode geologis dengan kisah pencip­

taan dalam Kejadian l.58

Dan akhirnya, (3) beberapa sarjana lainnya lagi beranggapan bah­

wa penciptaan terjadi pada sekitar 6.000 tahun hingga 20.000 tahun 

atau 30.000 tahun yang lalu. Setelah mengadakan analisis yang 

teliti, Uskup Ussher (1581-1656) menyimpulkan bahwa Allah men­

ciptakan dunia pada tahun 4004 SM; sedangkan sarjana-sarjana 

lainnya lagi mengusulkan bahwa "Alkitab tidak mendukung suatu 

tanggal bagi penciptaan manusia yang lebih awal daripada tahun 

10000 SM."59 Agaknya ada bukti-bukti tentang kebudayaan yang 

primitif sebelum tahun 10000 SM;60 sehingga, dengan demikian, 

air bah dapat diperkirakan sebagai terjadi sebelum tahun 12000 SM. 

Teori bahwa penciptaan terjadi sekitar 10000 atau 20000 tahun yang 

180 Teologi

lalu nampaknya lebih dapat diterima dan lebih cocok dengan metode 

penafsiran gramatikal-historikal dibandingkan dengan penafsiran 

adanya berjuta-juta tahun sejak penciptaan hingga kini.

Pertimbangan lainnya lagi ialah teori selang-waktu. Bila memang 

terjadi, sebagaimana dikemukakan banyak ahli, yaitu bahwa 

Kejadian 1:2 dan seterusnya merupakan penciptaan ulang, maka 

tanggal penciptaan yang mula-mula bisa baru terjadi bisa pula sudah 

lama. Kurun waktu antara penciptaan dengan penciptaan ulang 

tidak diketahui. Beberapa ahli mengusulkan kurun waktu yang sa­

ngat panjang, sedangkan ahli lainnya lagi kurun waktu yang pendek. 

Bila penciptaan (ataupun penciptaan ulang) itu baru saja terjadi, dan 

suatu penafsiran harfiah terhadap nas Alkitab mendukung pandang­

an ini, maka penafsiran akan adanya selang waktu geologis yang 

panjang maupun masukan dari Standard Geological Column harus 

dipertanyakan. Bagaimanakah kita hams menyelesaikan persoalan 

kurun waktu yang luar biasa panjangnya yang diperlukan untuk 

membentuk bumi? Sebagaimana telah diusulkan tadi, penyelesaian­

nya dapat ditemukan dalam pandangan penciptaan yang sudah 

matang, geologi air bah, dan/atau ketidaklengkapan kisah pencip­

taan dalam kitab Kejadian.

Kenyataan bahwa Adam diciptakan dengan keadaan sudah de­

wasa nampaknya jelas dari Kejadian 2. Dengan demikian, paling 

tidak dalam penciptaan Adam, kita melihat ciptaan yang sudah ber­

umur. Tidakkah mungkin bahwa Allah menciptakan alam semesta 

juga dalam bentuk seperti itu, sehingga kelihatan sudah berumur, 

bahkan dengan fosil-fosil? Lagi pula, Alkitab mengajarkan terjadi­

nya suatu air bah yang meliputi seluruh dunia. Malapetaka yang 

begitu dahsyat sudah pasti mempunyai dampak yang luas atas ke­

adaan muka bumi. Selain itu, suatu penelitian terhadap berbagai 

silsilah di Alkitab menunjukkan bahwa daftar keturunan itu tidak 

lengkap dan banyak nama tidak dicantumkan. Bila mengakui ketiga 

kenyataan ini berarti kita diizinkan untuk menganjurkan bahwa pen­

ciptaan terjadi lebih dahulu dari tahun 4000 SM, walaupun pada 

saat yang sama tidak menuntut adanya selang-waktu jutaan tahun. 

Ajaran penciptaan yaitu  ajaran iman (Ibrani 11:3). Dengan 

demikian, kisah yang tercantum di Alkitab harus diterima sebagai 

otoritas terakhir.

Karya-Karya Allah: Penciptaan 181

B. BUKTI-BUKTI LAIN DI ALKITAB TENTANG PENCIPTAAN

ada  banyak ayat Alkitab lainnya yang juga mengajarkan dok­

trin penciptaan. Beberapa ayat berbicara mengenai penciptaan langit 

dan bumi yang mula-mula (Yesaya 40:26; 45:18). Sebagian besar 

ayat berbicara soal penciptaan seluruh umat manusia oleh Allah 

(Mazmur 102:19; 139:13-16; Yesaya 43:1, 7; 54:16; Yehezkiel 

21:30). Banyak sekali ayat yang menerangkan bahwa Allah yaitu  

pencipta langit dan bumi beserta segala isinya (Yesaya 45:12; Kisah 

17:24; Roma 11:36; Efesus 3:9; Wahyu 4:11). Seperti dalam Keja­

dian 1, diterangkan juga bahwa Allah mencipta dengan perantaraan 

Roh-Nya (Mazmur 104:30), Anak-Nya (Yohanes 1:3; Kolose 1:16), 

serta Firman-Nya (Mazmur 148:5).

Banyak aliran filsafat menolak ajaran penciptaan serta mengan­

jurkan berbagai gagasan lain tentang asal-usul alam semesta ini. 

Ateisme, yang menolak adanya Allah, terpaksa harus membuat zat 

bersifat kekal atau mencari satu penyebab alamiah lainnya. Dua­

lisme mengakui adanya dua prinsip kekal, yang satu baik dan yang 

lain jahat, atau dua oknum yang kekal, Allah dan Iblis atau Allah 

dan zat. Panteisme menjadikan alam semesta sebagian dari Allah. 

Agnostisisme mengatakan bahwa tidak ada seorang pun yang dapat 

tahu tentang Allah atau hasil ciptaan-Nya. Kekristenan mengakui 

bahwa penciptaan dilaksanakan melalui kehendak yang berdaulat 

serta hasil karya Allah yang mahatinggi, yang sekalipun Dia hadir 

di dalam ciptaan-Nya namun juga melebihi ciptaan-Nya itu.

III. TUJUAN ALLAH DALAM PENCIPTAAN

Alasan yang sama yang menyebabkan Allah merumuskan tujuan- 

tujuan dan ketetapan-ketetapan-Nya juga telah mendorong-Nya un­

tuk melaksanakan ketetapan-ketetapan itu. Maksudnya, Ia mencip­

takan segala sesuatu untuk kemuliaan-Nya sendiri. Pertama dan 

terutama, Ia menciptakan alam semesta ini untuk mempertunjukkan 

kemuliaan-Nya. Alkitab menyatakan, "Ya Tuhan, Tuhan kami, be­

tapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi! Keagungan-Mu yang 

mengatasi langit dinyanyikan" (Mazmur 8:2); "Langit menceritakan 

kemuliaan Allah" (Mazmur 19:2); dan "maka kemuliaan Tuhan 

akan dinyatakan dan seluruh umat manusia akan melihatnya ber­

182 Teologi

sama-sama" (Yesaya 40:5; lihat juga Yehezkiel 1:28; Lukas 2:9; 

Kisah 7:2; II Korintus 4:6).

Yang kedua, Allah menciptakan alam semesta untuk menerima 

kemuliaan. Alkitab memerintahkan, "Berilah kepada Tuhan ke­

muliaan nama-Nya" (I Tawarikh 16:29); "Kepada Tuhan, hai peng­

huni sorgawi, kepada Tuhan sajalah kemuliaan dan kekuatan! Beri­

lah kepada Tuhan kemuliaan nama-Nya, sujudlah kepada Tuhan 

dengan berhiaskan kekudusan!" (Mazmur 29:1-2); dan "Permulia- 

kanlah Tuhan, Allahmu" (Yeremia 13:16). Tanggung jawab gereja 

ialah memuliakan Allah (Roma 15:6, 9; I Korintus 6:20; II Korintus 

1:20; I Petrus 4:16).

Alam semesta merupakan hasil karya Allah yang diciptakan de­

ngan tujuan untuk memperlihatkan kemuliaan-Nya. Oleh karena 

itu, patutlah kita mempelajarinya agar dapat menyaksikan kemu­

liaan Allah. Selain itu, yaitu  wajar bagi kita untuk berusaha se­

kuat-kuatnya untuk memuliakan Dia. Jawaban terhadap doa-doa 

kita dengan sendirinya akan membuat kita memuliakan Tuhan; 

demikian pula kita harus memuliakan Dia setelah menyelidiki janji- 

janji dan persediaan Allah menuntun kita memuliakan Dia. Sesung­

guhnya, seperti yang dinasihatkan oleh Paulus, "Jika engkau makan 

atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang 

lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah" (I Korintus 

10:31).

XII

Karya-Karya Allah: Pemerintahan- 

Nya yang Berdaulat

Setelah menunjukkan bahwa segala sesuatu bersumber pada ke­

tetapan atau maksud Allah, dan bahwa Allah telah menciptakan 

seluruh alam semesta, baik yang berupa benda maupun yang tidak 

berupa benda, berikutnya kita akan mempelajari bersama bagaimana 

Allah memerintah alam semesta ciptaan-Nya itu.

Allah, sebagai pencipta segala sesuatu yang nampak dan yang 

tidak nampak, serta yang memiliki segala sesuatu, berhak mutlak 

untuk memerintah alam semesta ini (Matius 20:15; Roma 9:20-21), 

dan Ia memang menjalankan kekuasaan ini dalam alam semesta 

(Efesus 1:11). Hodge menulis:

Bila Allah itu Roh, dan oleh karena itu yaitu  Oknum yang mahakuasa, 

kekal, tidak berubah, dan sempurna, Pencipta dan Pemelihara alam semesta, 

maka dengan sendirinya Allah berhak menjadi rajanya yang mahakuasa 

.... Kedaulatan Allah ini merupakan landasan damai sejahtera dan keper­

cayaan bagi seluruh umat Allah. Mereka bersukacita karena Tuhan Allah 

kita, yang mahakuasa memerintah; bukan kebutuhan atau hal-hal yang kebe­

tulan, atau kebodohan manusia, atau bahkan kebencian Iblis yang menguasai 

urutan peristiwa-peristiwa dan persoalan.61

61 Hodge, Systematic Theology, I, hal. 440-441.

Alkitab dengan jelas dan tegas mengatakan bahwa Allah itu Yang 

Mahatinggi di alam semesta ini. "Ya Tuhan, punya-Mulah kebe­

saran dan kejayaan, kehormatan, kemasyhuran, dan keagungan, ya, 

segala-galanya yang ada di langit dan yang ada di bumi! Ya Tuhan, 

punya-Mulah kerajaan dan Engkau yang tertinggi itu melebihi

183

184 Teologi

segala-galanya sebagai kepala!" (I Tawarikh 29:11); "Allah kita di 

sorga; Ia melakukan apa yang dikehendaki-Nya" (Mazmur 115:3); 

"Celakalah orang yang berbantah dengan Pembentuk-Nya; dia tidak 

lain dari beling periuk saja! Adakah tanah liat berkata kepada pem­

bentuknya, ’Apakah yang kaubuat?’ atau yang telah dibuatnya, 

’Engkau tidak punya tangan!’?" (Yesaya 45:9); "Sungguh, semua 

jiwa Aku punya! Baik jiwa ayah maupun jiwa anak Aku punya! 

Dan orang yang berbuat dosa itu yang harus mati" (Yehezkiel 18:4); 

"Semua penduduk bumi dianggap remeh; Ia berbuat menurut kehen­

dak-Nya terhadap bala tentara langit dan penduduk bumi; dan tidak 

ada seorang pun yang dapat menolak tangan-Nya dengan berkata 

kepada-Nya, ’Apa yang Kaubuat?’" (Daniel 4:35); dan 'Tidakkah 

aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku?" 

(Matius 20:15, bandingkan Roma 9:14-21; 11:36; Efesus 1:11; 

I Timotius 6:15-16; Wahyu 4:11). Kedaulatan Allah meliputi tin­

dakan pelestarian dan tindakan pemeliharaan.

I. AJARAN ALKITAB TENTANG TINDAKAN 

PELESTARIAN

A. DEFINISI TINDAKAN PELESTARIAN

Yang kami maksudkan dengan tindakan pelestarian ialah bahwa 

Allah secara berdaulat, dan secara terus-menerus, melestarikan se­

gala sesuatu yang telah diciptakan-Nya, lengkap dengan segala sifat 

dan kemampuan masing-masing. Definisi ini menyatakan secara tak 

langsung bahwa tindakan pelestarian harus dipisahkan dari tindakan 

penciptaan, karena hanya sesuatu yang sudah ada yang dapat diles­

tarikan; bahwa penciptaan objektif bukanlah ada dengan sendirinya 

dan tidak memelihara diri sendiri; dan bahwa pelestarian bukanlah 

tindakan yang sekadar menjaga agar apa yang telah diciptakan itu 

tidak hancur, namun  bahwa Allah bekerja sehingga apa yang telah 

diciptakan-Nya tidak akan punah.

B. BUKTI AJARAN TINDAKAN PELESTARIAN

Aj