Dengan kehendak-Nya.
Jika manusia berusaha dimuliakan maka itu berarti ia memen
tingkan diri sendiri, oleh sebab manusia itu berdosa dan tidak sem
purna. Berusaha mencari kemuliaan sendiri sama saja dengan ber
usaha memuliakan keadaan berdosa serta tidak sempurna. Namun
dalam hal Allah, kenyataan ini tidak berlaku samasekali. Allah
samasekali tidak berdosa dan Ia kudus secara sempurna. Oleh ka
rena itu, kalau la mencari kemuliaan-Nya sendiri berarti mencari
Ketetapan -Ketetapan Allah 159
kemuliaan dari kekudusan dan kemurnian yang sempurna. Tidak
ada yang lebih luhur untuk dimuliakan. Sesungguhnya, dalam segala
sesuatu Allah berusaha memuliakan Dia yang yaitu wujud segala
kebaikan, kebijaksanaan, kemurnian, dan kebenaran. Kita pun harus
berbuat demikian.
V. ISI DAN SUSUNAN KETETAPAN-KETETAPAN
ALLAH
Allah telah menetapkan segala sesuatu yang ada. Segala ketetapan
Allah ini dapat dibagi menjadi tiga kategori luas.
A. KETETAPAN DALAM DUNIA KEBENDAAN DAN FISIK
Allah telah menetapkan untuk menciptakan alam semesta ini serta
manusia (Kejadian 1:26; Mazmur 33:6-11; Amsal 8:22-31; Yesaya
45:18). Allah telah menetapkan untuk menegakkan bumi (Mazmur
119:90-91) serta mengatur musim-musim (Kejadian 8:22). Ia juga
telah menetapkan untuk tidak lagi menghancurkan penduduk bumi
lewat air bah seperti yang pernah dilakukan-Nya dulu (Kejadian
9:8-17). Selanjutnya, Allah telah menetapkan pembagian bangsa-
bangsa (Ulangan 32:8), menentukan musim-musim bagi setiap
bangsa itu dan juga batas-batas wilayah mereka (Kisah 17:26). Pau
lus menambahkan bahwa Allah melakukan hal ini "supaya mereka
mencari Dia dan mudah-mudahan menjamah dan menemukan Dia,
walaupun Ia tidak jauh dari kita masing-masing" (ayat 27). Allah
juga telah menetapkan usia manusia (Ayub 14:5) serta cara sese
orang meninggalkan dunia ini (Yohanes 21:19; I Korintus 15:51-52;
II Timotius 4:6-8). Semua peristiwa lain yang terjadi dalam dunia
kebendaan dan fisik juga telah ditetapkan oleh Allah sebelumnya
sehingga termasuk dalam rencana dan tujuan Allah (Mazmur
104:3-4, 14-23; 107:25, 29; Yesaya 14:26-27).
B. KETETAPAN DALAM DUNIA MORAL DAN ROHANI
Pada saat kita mengaitkan ketetapan-ketetapan Allah dengan dunia
moral dan rohani, kita diperhadapkan dengan dua masalah dasar:
adanya kejahatan di dalam dunia dan kebebasan manusia.
Bagaimana mungkin Allah yang kudus dapat membiarkan begitu
160 Teologi
saja kejahatan-kejahatan moral, dan bagaimana Allah yang berdau
lat dapat membiarkan manusia tetap bebas? Beberapa asumsi dan
praduga harus dibuat lebih dahulu: (1) Allah bukanlah pencipta
dosa, (2) Allah harus mengambil langkah pertama di dalam me
nyelamatkan umat manusia, (3) manusia bertanggung jawab atas
tindakan-tindakannya, dan (4) tindakan-tindakan Allah didasarkan
pada pertimbangan Allah yang bijaksana dan kudus.
Para pakar teologi berbeda pendapat mengenai urutan logis dari
ketetapan-ketetapan Allah dan tempat dari dosa dalam ketetapan
Allah yang permisif. Beberapa orang mengatakan bahwa urutan
yang logis yaitu sebagai berikut: Allah telah menetapkan (1) untuk
menyelamatkan sebagian orang serta menolak yang lain, (2) untuk
menciptakan kedua golongan orang itu, (3) untuk mengizinkan
kedua golongan ini jatuh dalam dosa, (4) mengutus Kristus untuk
menebus orang-orang yang telah dipilih untuk diselamatkan, dan
(5) mengutus Roh Kudus untuk menerapkan karya penebusan itu
pada orang-orang yang telah dipilih atau diselamatkan. Pandangan
ini disebut "supralapsarianisme".
Pandangan lain yang disebut "infralapsarianisme" atau "sublap-
sarianisme" beranggapan bahwa urutan ketetapan Allah yaitu se
bagai berikut: Allah menetapkan (1) untuk menciptakan manusia,
(2) untuk mengizinkan manusia jatuh dalam dosa, (3) untuk memilih
beberapa dari orang-orang yang telah jatuh dalam dosa untuk di
selamatkan lalu membiarkan yang lain sebagaimana adanya, (4) un
tuk menyediakan seorang penebus bagi orang-orang yang telah di-
pilih-Nya, dan (5) mengutus Roh Kudus untuk menerapkan pene
busan ini pada orang-orang yang telah dipilih. Pandangan ini meng
ajarkan pendamaian terbatas.
Sebuah variasi dari kedua pandangan di atas, yang mengajarkan
pendamaian tak terbatas, yaitu sebagai berikut: Allah telah me
netapkan (1) untuk menciptakan manusia, (2) untuk mengizinkan
manusia jatuh dalam dosa, (3) untuk menyediakan di dalam Kristus
penebusan yang cukup bagi seluruh umat manusia, (4) memilih be
berapa orang untuk diselamatkan dan membiarkan yang lain se
bagaimana adanya, dan (5) untuk mengutus Roh Kudus agar me
mastikan bahwa penebusan itu diterima oleh orang-orang yang telah
dipilih-Nya. Urutan yang terakhir nampaknya paling cocok dengan
Alkitab karena mengajarkan pemilihan orang-orang tertentu dan
Ketetapan-Ketetapan Allah 161
penebusan tak terbatas (I Timotius 2:6; 4:10; Titus 2:11; II Petrus
2:1; I Yohanes 2:2), serta pada saat yang sama mengakui ke
masyhuran khusus penebusan bagi orang-orang terpilih (Yohanes
17:9, 20, 24; Kisah 13:48; Roma 8:29-30; Efesus 1:4; II Timotius
1:9-10; I Petrus 1:1-2.
Sewaktu berusaha untuk lebih memahami tempat dosa serta pem
berian keselamatan bagi orang berdosa, ada empat hal yang perlu
diperhatikan.
1. Allah telah menentukan untuk mengizinkan dosa. Sekalipun
Allah bukan pencipta dosa (Yakobus 1:13-14), dan Allah juga tidak
mengharuskan adanya dosa itu, namun berlandaskan pertimbangan-
Nya yang bijaksana dan kudus, Ia telah menetapkan untuk meng
izinkan terjadinya kejatuhan dan dosa. Ketetapan ini dibuat-Nya ka
rena Ia mengetahui bagaimana sifat dosa itu, apa yang akan di
lakukan oleh dosa terhadap makhluk ciptaan-Nya, dan apa yang
hams dilakukan-Nya untuk menyelamatkan manusia. Allah bisa saja
mencegah masuknya dosa. Jikalau Ia telah memutuskan untuk men
jaga agar kehendak malaikat dan manusia tidak menyeleweng, maka
mereka itu akan tetap hidup dalam kekudusan. Akan namun , karena
alasan-alasan yang bijaksana dan kudus, yang nampaknya belum
sanggup kita pahami seluruhnya (Roma 11:33), Allah memutuskan
untuk mengizinkan dosa. Bahwa dosa itu diizinkan Allah, sekalipun
tidak diharuskan, nampak dari (1) semua ancaman hukuman atas
dosa (Kejadian 2:17); Keluaran 34:7; Pengkhotbah 11:9; Yehezkiel
18:20; II Tesalonika 1:7-8), (2) dari berbagai pernyataan pemazmur,
"Ia memberikan kepada mereka apa yang mereka inginkan" (Maz
mur 78:29), dan "Diberikan-Nya kepada mereka apa yang mereka
minta, dan didatangkan-Nya penyakit paru-paru di antara mereka
(Mazmur 106:15), dan (3) dari pernyataan Paulus; "Dalam zaman
yang lampau Allah membiarkan semua bangsa menuruti jalannya
masing-masing" (Kisah 14:16, bandingkan dengan 17:30).
2. Allah menetapkan untuk mengatasi dosa demi kebaikan. Ke
tetapan ini tidak dapat dipisahkan dari ketetapan untuk meng
izinkan dosa. Tuhan bukan saja mengizinkan dosa, namun juga
mengatasinya demi kebaikan. Beberapa hal dapat dikemukakan un
tuk membuktikan kenyataan ini. Yusuf berkata kepada saudara-
162 Teologi
saudaranya, "Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat ter
hadap aku, namun Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan,
dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni
memelihara hidup suatu bangsa yang besar" (Kejadian 50:20). Pe
mazmur mengatakan, "Tuhan menggagalkan rencana bangsa-
bangsa; Ia meniadakan rancangan suku-suku bangsa; namun rencana
Tuhan tetap selama-lamanya, rancangan hati-Nya turun-temurun"
(Mazmur 33:10-11) dan "Sesungguhnya panas hati manusia akan
menjadi syukur bagi-Mu, dan sisa panas hati itu akan Kauperikat-
pinggangkan" (Mazmur 76:11). Percobaan Nebukadnezar untuk
membinasakan ketiga orang pemuda Ibrani dalam perapian yang
menyala-nyala mengakibatkan pengakuan Allah orang Ibrani oleh
raja serta kenaikan pangkat tiga pemuda itu (Daniel 3:19-30). Paulus
mengungkapkan keyakinannya bahwa berbagai pengalaman di pen
jara Roma akan berakhir dengan pembebasannya (Filipi 1:19-20).
Semua ini dapat terjadi karena Allah itu berdaulat, kudus, dan bijak
sana.
Nampaknya jelas bahwa Dia yang sebenarnya sanggup mencegah
dosa memasuki kehidupan manusia, Ia dapat juga mengatur dan
menguasai penyataan dosa itu. Allah memiliki hak dan kuasa untuk
memerintah ciptaan-Nya sendiri. Lagi pula, Allah membenci dosa
(Yeremia 44:4; Amos 5:21-24; Zakharia 8:17; Wahyu 2:6); Allah
tidak mengizinkan dosa merintangi tujuan-tujuan-Nya untuk keku
dusan; dosa hams dikalahkan demi kebaikan. Paulus membenci fit
nahan yang berbunyi, "Marilah kita berbuat yang jahat, supaya yang
baik timbul daripadanya" (Roma 3:8, bandingkan dengan 6:1). Allah
tidak mengizinkan dosa memasuki alam semesta agar dapat meng
hasilkan yang baik; lebih tepat kalau dikatakan bahwa Allah meng
izinkan dosa masuk karena alasan lain, lalu Ia menentukan untuk
mengatasi dosa demi kebaikan. Akhirnya, Allah memiliki penge
tahuan dan pengertian untuk mengatasi dosa demi kebaikan. Ia
mengetahui betul sampai sejauh mana Ia dapat mengizinkan dosa,
mana yang harus dicegahnya, dan bagaimana memakainya sehingga
semuanya dapat membantu melaksanakan maksud-maksud-Nya
yang kudus.
3. Allah menetapkan untuk menyelamatkan dari dosa. Di
sinilah inti permasalahannya. Semua orang Kristen setuju bahwa
Ketetapan-Ketetapan Allah 163
Allah telah memutuskan untuk menyelamatkan manusia, namun
tidak semuanya sependapat tentang bagaimana caranya Allah me
lakukan hal ini. Dalam kaitan ini kita harus terutama mengingat (1)
bahwa Allah yang harus memprakarsai keselamatan, (2) bahwa bah
kan dalam keadaannya yang tak berdaya sekarang ini, manusialah
yang sebenarnya bertanggung jawab, dan (3) bahwa ketetapan-
ketetapan Allah tidaklah didasarkan pada pikiran yang aneh-aneh
atau pada kehendak yang sewenang-wenang, namun pada pertim
bangan Allah yang bijaksana dan kudus.
Karena mengakui ketiga praduga di atas, golongan injili menaf
sirkan kenyataan ini menurut salah satu dari dua cara: beberapa
pihak melihat pemilihan sebagai sesuatu yang bergantung pada pe
ngetahuan Allah dari semula (prapengetahuan), sedangkan pihak
lainnya melihat pemilihan dan prapengetahuan, sejauh keduanya
berkaitan dengan iman, sebagai hal-hal yang samasekali tidak ter
pisahkan. Kedua pandangan ini membutuhkan analisis, a. Dalam
pandangan pertama, pemilihan dilihat sebagai tindakan kemurahan
Allah yang melaluinya Ia di dalam Kristus memilih untuk
menyelamatkan semua orang yang telah diketahui-Nya dari semula
akan memberi tanggapan positif terhadap kasih karunia pendahu
luan (yakni kasih karunia yang mempengaruhi kehendak seseorang
sebelum ia berbalik kepada Allah). Kenyataan ini dapat dikaji
sebagai berikut. Pada mulanya manusia memiliki kebebasan dalam
dua arti: kebebasan untuk melaksanakan hal-hal yang sesuai dengan
kodratnya dan kebebasan untuk bertindak bertolak belakang dengan
kodratnya. Manusia memiliki kemampuan untuk berbuat dosa dan
kemampuan untuk tidak berbuat dosa; kemampuan manusia untuk
berdosa kini menjadi ketidakmampuan untuk tidak berbuat dosa
(Kejadian 6:5; Ayub 14:14; Yeremia 13:23; 17:9; Roma 3:10-18;
8:5-8). Kini manusia hanya bebas dalam arti mampu melakukan
apa saja yang dianjurkan oleh kodratnya yang telah rusak itu.
Karena manusia kini tidak mampu dan tidak berkeinginan untuk
berubah, Allah turun tangan melalui kasih karunia pendahuluan.
Kasih karunia ini (yang sering dianggap sebagai bagian dari kasih
karunia umum atau universal) mengembalikan kepada orang ber
dosa kemampuan untuk menanggapi Allah secara positif (Roma 2:4;
Titus 2:11). Kenyataan ini tersirat dalam cara Allah menghadapi
Adam dan Hawa setelah keduanya jatuh dalam dosa (Kejadian 3:8-
164 Teologi
10) dan dalam banyak himbauan ilahi kepada orang berdosa untuk
berbalik kepada Allah (Amsal 1:23; Yesaya 31:6; Yehezkiel 14:6;
18:32; Yoel 2:13-14; Matius 18:3; Kisah 3:19), untuk bertobat
(I Raja-Raja 8:47; Matius 3:2; Lukas 13:3, 5; Kisah 2:38; 17:30),
serta untuk percaya (II Tawarikh 20:20; Yesaya 43:10; Yohanes
6:29; 14:1; Kisah 16:31; Filipi 1:29; I Yohanes 3:23).
Akibat adanya kasih karunia pendahuluan ini manusia mampu
memberikan suatu tanggapan awal terhadap Allah, dan Allah ke
mudian akan memberikan kepadanya pertobatan dan iman (Yeremia
31:18; Kisah 5:31; 11:18; Roma 12:3; II Timotius 2:25; II Petrus
1:1). Allah dalam prapengetahuan-Nya mengetahui apa yang akan
dilakukan manusia sebagai tanggapan terhadap kasih karunia pen
dahuluan itu, yaitu apakah mereka "akan membuat menjadi sia-sia
kasih karunia Allah" (II Korintus 6:1) atau tidak. Jadi, prapenge
tahuan Allah itu sendiri tidaklah merupakan penyebab. Ada hal-hal
yang diketahui Allah dari semula karena Ia telah memutuskan untuk
membiarkan hal itu terjadi, dan ada hal-hal lain juga yang Allah
tahu dari semula karena Ia telah melihat dari semula apa yang akan
dilakukan oleh manusia tanpa memaksa mereka berbuat demikian.
Allah sudah mengetahui dari semula bagaimana manusia akan me
nanggapi kasih karunia pendahuluan itu, dan Ia memilih mereka
yang menurut prapengetahuan-Nya akan memberi tanggapan positif.
Dengan demikian pemilihan menyusul prapengetahuan. Di dalam
pemilihan Allah menetapkan (a) untuk menyelamatkan mereka yang
menurut prapengetahuan-Nya akan memberikan tanggapan positif
(I Petrus 1:1-2), (b) untuk memberi hidup kepada mereka (Kisah
13:48), (c) untuk memberi kepada mereka kedudukan sebagai anak-
anak Allah (Galatia 4:5-6; Efesus 1:5), dan (d) untuk mengubah
mereka menjadi serupa dengan Kristus (Roma 8:29-30). Secara
singkat, menurut pandangan ini, Allah melalui kasih karunia pen
dahuluan memberikan kepada semua orang kemampuan untuk me
nanggapi tawaran-Nya bila mereka mau. Allah yang sudah menge
tahui dari semula siapa saja yang akan memberi tanggapan positif,
telah memilih untuk menyelamatkan mereka.
b. Pemilihan dan prapengetahuan tidak terpisahkan dan pada ha
kikatnya sama. Menurut pendekatan ini, pemilihan ditafsirkan se
cara berbeda dengan pemilihan menurut pendekatan yang telah kita
bahas di atas. Menurut pandangan ini pemilihan dapat diartikan
sebagai tindakan Allah yang memilih dari antara orang-orang ber
Ketetapan-Ketetapan Allah 165
dosa beberapa orang untuk diselamatkan atas dasar kasih karunia
semata dan bukan atas dasar sesuatu kebaikan atau jasa manusia
yang telah diketahui-Nya dari semula. Pandangan ini tidak meng
anggap kasih karunia pendahuluan sebagai bagian dari kasih karunia
umum, juga tidak menganggap pengetahuan dari semula sebagai
kemampuan terus-pandang semata. Diakui bahwa kasih karunia
umum itu diberikan kepada semua orang (Kisah 14:17), karena
Allah menginginkan agar jangan seorang pun binasa (II Petrus 3:9),
pendamaian itu tidak terbatas (I Yohanes 2:2), dan panggilan kese
lamatan itu sifatnya universal (Roma 10:13); sekalipun demikian,
Alkitab dengan sangat jelas menyatakan bahwa hanya mereka yang
terpilih yang selamat. Bahwa pandangan ini masuk akal juga dapat
dibuktikan dengan berbagai cara. Allah dapat menunjukkan kasih
karunia-Nya kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya (Matius
20:12-15; Yohanes 15:16; Roma 9:20-21). Allah memang memilih
orang-orang tertentu untuk diselamatkan (Kisah 13:48; Efesus 1:4;
II Tesalonika 2:13). Pengetahuan dari semula bukanlah sekadar
pengetahuan tentang sesuatu yang belum terjadi, namun meliputi
juga suatu pemilihan dan hubungan yang murah hati (Roma 8:27-
30; I Petrus 1:1-2, bandingkan dengan istilah "mengetahui", "me
ngenal", dan sebagainya dalam Alkitab: Keluaran 2:25; Mazmur
1:6; Matius 7:23; Galatia 4:9; I Tesalonika 5:12; I Petrus 1:20;
I Yohanes 2:3, 13). Lagi pula, pemilihan sudah dilakukan di masa
lampau yang abadi (Efesus 1:4; II Timotius 1:9); Allah memberikan
orang-orang terpilih itu kepada Anak-Nya (Yohanes 6:37; 17:2, 6,
9; I Petrus 2:9), keselamatan yaitu atas kehendak Allah dan bukan
kehendak manusia (Yohanes 1:13; I Yohanes 4:10); dan, akhirnya,
pertobatan, iman, dan kekudusan yaitu karunia Allah (Yohanes
6:65; Kisah 5:31; I Korintus 12:3; Efesus 2:8-9; II Timotius 2:25).
Penyanggahan yang menolak pandangan ini perlu memperoleh
perhatian tersendiri. Dapat saja dikatakan bahwa pandangan ini
tidak adil bagi orang-orang yang tidak dipilih Allah. Namun harus
dicamkan bahwa tidak ada yang tidak adil dalam penghakiman
Allah; keselamatan itu semata-mata kasih karunia saja. Allah patut
dipuji karena menyelamatkan beberapa orang, dan bukan dituduh
karena menghukum massa (Mazmur 44:3; Lukas 4:25-27; I Korin
tus 4:7). Juga telah diajukan keberatan bahwa pandangan ini mem
perlihatkan Allah sebagai bertindak sewenang-wenang. Akan
166 Teologi
namun , pilihan Allah tidak pernah dilakukan dengan sewenang-
wenang; pemilihan Allah merupakan pilihan bebas dari Allah yang
bijaksana, kudus, dan penuh kasih. Allah hanya membiarkan orang
berdosa meneruskan pemberontakan yang dipilihnya sendiri, yang
mengakibatkan hukuman abadi (Hosea 4:17; Roma 9:22-23; I Petrus
2:8).
Ajaran tentang pemilihan, bila dipahami dengan benar, akan
membuat orang percaya kagum (Ulangan 32:4), menghormati Allah
(Yeremia 10:7), rendah hati (Roma 11:33), patuh (Daniel 4:35), dan
menyembah Dia (Roma 11:33-36).
4. Allah menetapkan untuk memberi pahala kepada hamba-
hamba-Nya serta menghukum orang-orang yang tidak taat. Dalam
kemurahan-Nya Allah bukan sekadar menetapkan untuk menyela
matkan beberapa orang, namun juga untuk memberi pahala kepada
mereka yang melayani Dia (Yesaya 62:11; Matius 6:4, 19-20;
10:41-42; I Korintus 3:8; 1 Timotius 5:18). Pada dasarnya, ketetapan
ini bersumber pada kasih karunia Allah. Manusia tidak dapat
melakukan lebih daripada apa yang ditugaskan kepadanya. Yesus
mengatakan, "Demikian jugalah kamu. jika kamu telah
melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah
kamu berkata: Kami yaitu hamba-hamba yang tidak berguna; kami
hanya melakukan apa yang kami harus lakukan" (Lukas 17:10).
Dengan kata lain, Allah berhak menuntut ketaatan mutlak dalam
segala sesuatu dan pada segala waktu, dan Allah samasekali tidak
berkewajiban untuk memberi upah kepada seseorang yang paling
taat sekalipun. Namun di dalam kemurahan-Nya yang luar biasa
Allah telah menetapkan untuk memberi pahala kepada anak-anak-
Nya yang melayani Dia dengan setia. Beberapa orang menyebutkan
kenyataan ini sebagai keadilan Allah yang mengupahi, sebagai per
bandingan terhadap keadilan Allah yang menghukum, namun pada
dasarnya ketetapan untuk memberi pahala ini bersumber pada ke
murahan Allah dan bukan pada keadilan-Nya.
Sebaliknya, karena sifat-Nya yang semata-mata adil dan kudus,
Allah telah menetapkan untuk menghukum orang-orang yang fasik
dan yang tidak taat. Kenyataan ini berlaku juga untuk Iblis beserta
pasukannya (Kejadian 3:15; Matius 25:41; Roma 16:20; Wahyu
20:1-3, 10) dan untuk manusia (Mazmur 37:20; Yehezkiel 18:4;
Ketetapan -Ketetapan Allah 167
Nahum 1:3). Sampai tingkat tertentu hukuman itu dibagikan kepada
orang-orang jahat sementara mereka hidup di dalam dunia (Bilang
an 16:26; Mazmur 11:6; 37:28; Yesaya 5:20-21; Yeremia 25:31),
namun hukuman yang sebenarnya masih tertunda hingga hari peng
hakiman terakhir (Mazmur 9:18; Yesaya 3:11; Matius 13:49-50;
25:46; II Tesalonika 1:8-9; Wahyu 20:11-15).
C. KETETAPAN DALAM DUNIA SOSIAL DAN POLITIK
1. Keluarga dan pemerintahan manusia. Ketetapan fundamental,
di bidang ini, ialah keluarga dan rumah tangga. Pada mulanya Tu
han mengatakan, "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja.
Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia"
(Kejadian 2:18). Kenyataan bahwa Allah pada mulanya mencip
takan seorang laki-laki dan seorang perempuan saja dengan jelas
menunjukkan bahwa Allah memaksudkan agar pernikahan bersifat
monogami dan tidak dapat diceraikan (Matius 19:3-9). Sepanjang
Alkitab kekudusan pernikahan diakui (II Samuel 12:1-15; Matius
14:3-4; Yohanes 2:1-2; Efesus 5:22-33; Ibrani 13:4). Ketetapan per
nikahan menyangkut ketetapan untuk berkembang biak (Kejadian
1:27-28; 9:1, 7; Mazmur 127:3-5) serta membangun rumah tangga
(Ulangan 24:5; Yohanes 19:27; I Timotius 5:4; Titus 2:5).
Yang berkaitan erat sekali dengan ketetapan ini ialah ketetapan
pemerintahan manusia (Kejadian 9:5-6). Melalui ketetapan yang
khusus Allah telah menentukan tempat, musim-musim, serta batas-
batas wilayah setiap bangsa di dunia ini (Ulangan 32:8; Kisah
17:26). Ia juga telah menetapkan pemerintah atas bangsa-bangsa
itu (Daniel 4:34-35; Roma 13:1-2). Semua pemerintah harus menga
kui kedaulatan pimpinan Allah serta berusaha untuk mengetahui
dan menaati kehendak-Nya (Mazmur 2:10-12). Bila seorang
penguasa tidak berbuat demikian, dan tuntutan pemerintahannya
bertolak belakang dengan perintah-perintah Tuhan, maka rakyatnya
harus lebih taat kepada Tuhan daripada kepada manusia (Kisah
4:19-20; 5:29).
2. Panggilan dan lugas Israel. Allah memilih Abraham untuk
menjadi kepala suatu umat yang istimewa (Kejadian 12:1-3). Garis
keturunan itu dibatasi kepada Ishak (Kejadian 17:21), Yakub
(Kejadian 25:23; 27:27-29), serta kedua belas anak Yakub
168 Teologi
(Kejadian 49). Allah memilih Israel untuk menjadi umat-Nya, untuk
menjadikan mereka imamat yang rajani, suatu bangsa yang kudus
(Keluaran 19:4-6). Ketetapan ini bukanlah terutama suatu ketetapan
untuk memperoleh keselamatan, namun suatu ketetapan untuk mem
peroleh kedudukan dan kehormatan lahiriah. Sekalipun demikian,
kedudukan dan kehormatan lahiriah ini, lewat hukum Taurat yang
kudus serta pranata ilahi, akan menuntun kepada keselamatan serta
ibadat yang berkenan kepada Allah. Di dalam ibadat yang berkenan
kepada Allah ini ada suatu tanggung jawab penting, yaitu men
jadi berkat rohani bagi bangsa-bangsa lainnya (Kejadian 12:2).
Akan namun , Israel tak berhasil samasekali. Allah menginginkan
buah anggur yang baik, namun bangsa itu hanya menghasilkan buah
anggur yang asam (Yesaya 5:1-7). Bahkan mereka telah menga
niaya serta membunuh utusan-utusan Allah yang menuntut buah
rohani dari bangsa itu. Sebagai akibatnya, kerajaan Allah untuk
sementara waktu akan diambil dari mereka sebagai suatu bangsa
(Matius 21:33-43). Carang-carang yang asli telah dipatahkan dan
orang-orang bukan Yahudi, yaitu carang-carang pohon zaitun yang
liar, telah dicangkokkan ke dalam batangnya (Roma 11:11 -22). Pada
suatu hari Allah akan mencangkokkan kembali carang-carang yang
asli itu (Roma 11:23-27, bandingkan dengan Yehezkiel 37:1-23;
Hosea 2:14-22). Dalam pada itu, sekarang ini pun masih ada suatu
sisa menurut pilihan kasih karunia (Roma 11:1-10). Semua perin
cian ini terangkum dalam ketetapan Allah yang mula-mula.
3. Pendirian dan tugas gereja. Sejak kekekalan Allah telah
menetapkan pendirian dan pembangunan gereja, sekalipun fakta ini
baru diungkapkan sepenuhnya pada zaman Kristus dan para rasul.
Kenyataan bahwa Yesus mengatakan akan membangun gereja-Nya
(Matius 16:18) menunjukkan bahwa gereja waktu itu belum ada.
Paulus menyatakan bahwa sekalipun gereja sudah ada dalam ren
cana abadi Allah, sifatnya baru jelas pada zaman Paulus sendiri
(Efesus 3:1-13). Dengan demikian, gereja bukanlah Yudaisme yang
diperbaiki (Matius 9:14-17), namun suatu ciptaan yang samasekali
baru. Dalam gereja, Allah mempersatukan orang Yahudi dan orang
bukan Yahudi menjadi satu manusia baru (Efesus 2:11-15). Tujuan
Allah sekarang ini ialah memanggil suatu umat bagi nama-Nya dari
antara bangsa-bangsa bukan Yahudi serta sisa umat Yahudi yang
masih setia, menurut pilihan kasih karunia-Nya (Kisah 15:13-18;
Ketetapan-Ketetapan Allah 169
Roma 11:1, 30-31). Roh Kudus dan gereja merupakan dua sarana
yang dipakai oleh Allah untuk mencapai tujuan-Nya (Matius 28:19-
20; Kisah 1:8). Setelah rencana ini terlaksana, maka Kristus akan
datang kembali, menjemput umat-Nya (Yohanes 14:3; Roma 11:25;
I Tesalonika 4:16-18), menempatkan gereja di hadapan diri-Nya
(Efesus 5:25-27), serta memberkati dan menyelamatkan Israel (Za
kharia 12:10-13:1; Roma 11:25-27).
4. Kemenangan terakhir bagi Tuhan. Allah telah memutuskan
untuk menyerahkan semua kerajaan dunia kepada Kristus (Mazmur
2:6-9; Daniel 7:13-14; Lukas 1:31-33; Wahyu 11:15-17; 19:11-
20:6). Dalam kaitan pengambilalihan kerajaan-kerajaan ini, akan
terjadi "pembaharuan" alam semesta (Matius 19:27-30; Roma 8:19-
22, bandingkan dengan Yesaya 35:1-10). Pemerintahan-Nya akan
bercirikan damai sejahtera dan keadilan (Mazmur 2:8-9; 72:1-19;
Yesaya 9:5-6). Tahap pertama dalam kemenangan Allah atas bumi
ini akan berlangsung selama seribu tahun (Wahyu 20:1-6). Setelah
pemberontakan terakhir Iblis serta penghakiman di hadapan takhta
putih (Wahyu 20:7-15), akan datang langit yang baru, dunia yang
baru, dan Yerusalem baru (Wahyu 21:1-22:5). Kemudian Kristus
akan menyerahkan Kerajaan kepada Allah Bapa; dan kemudian
Allah tritunggal: Bapa, Anak, dan Roh Kudus akan memerintah
sampai selama-lamanya (I Korintus 15:23-28). Semuanya ini sudah
ditetapkan Allah dan pastilah suatu saat akan tergenapi.
XI
Karya-Karya Allah: Penciptaan
L DEFINISI PENCIPTAAN
Istilah "menciptakan" dipakai dalam dua arti di dalam Alkitab: da
lam arti penciptaan langsung dan dalam arti penciptaan tidak lang
sung. Penciptaan langsung merupakan tindakan bebas Allah tri
tunggal. Melalui tindakan ini Allah pada mulanya menciptakan se
gala sesuatu yang nampak dan yang tidak nampak untuk kemuliaan-
Nya sendiri tanpa memakai bahan yang sudah ada sebelum dunia
diciptakan atau tanpa sebab-sebab sekunder. Jadi, penciptaan lang
sung merupakan tindakan bebas Allah. Pandangan ini berbeda de
ngan semua gagasan panteistis yang menganggap bahwa ciptaan ini
terjadi karena sebab-sebab sekunder dan bukan karena kehendak
Allah yang bebas. Ketiga Oknum Tritunggal Ilahi, yaitu Bapa,
Anak, dan Roh Kudus, sama-sama mengambil bagian dalam tin
dakan penciptaan langsung ini. Inilah tindakan tambahan pertama
yang dilakukan oleh Allah demi kemuliaan-Nya. Penciptaan lang
sung ini tidak merupakan pembentukan ulang bahan-bahan yang
sudah ada sebelumnya atau merupakan akibat dari sebab-sebab se
kunder, namun merupakan tindakan langsung Allah yang juga lang
sung menampakkan hasil. Penciptaan langsung oleh Allah ini men
cakup segala sesuatu, tidak hanya meliputi semua hal yang berupa
benda, namun juga semua hal yang tidak berupa benda.
Penciptaan tidak langsung, sebaliknya, merupakan tindakan-tin
dakan Allah yang juga disebut "penciptaan", namun yang tidak ber
mula dari ketiadaan atau ex nihilo. Melalui tindakan-tindakan ini
Allah membentuk, menyesuaikan, menggabungkan, atau mengubah
bahan-bahan yang sudah ada. Allah sendiri dapat membentuk, me
nyesuaikan, menggabungkan, atau mengubah bahan-bahan yang
171
172 Teologi
sudah ada, atau Ia juga dapat melakukan hal ini secara tidak lang
sung melalui sebab-sebab sekunder. Hodge mengatakan, saat
membandingkan penciptaan langsung dengan penciptaan tidak lang
sung, "Penciptaan langsung terjadi sesaat , penciptaan tidak lang
sung terjadi secara bertahap. Penciptaan langsung menutup kemung
kinan adanya bahan yang sudah ada sebelumnya dan kerja sama
antara dua bahan atau lebih, penciptaan tidak langsung mengakui
dan membutuhkan keduanya. Jelas ada dasar yang kuat bagi pe
misahan semacam ini dalam kisah penciptaan yang dikisahkan oleh
Musa."48 Istilah "penciptaan langsung" boleh jadi harus dibatasi
pada Kejadian 1:1 dan ayat-ayat lainnya yang menunjuk kepada
peristiwa yang sama.
48 Hodge, Systematic Theology, I, hal. 556.
II. BUKTI ADANYA PENCIPTAAN
Sejak zaman dahulu manusia telah berusaha memecahkan "teka-
teki" alam semesta ini. Manusia selalu bertanya, "Apakah alam se
mesta ini ada senantiasa ataukah alam semesta ini ada permulaan
nya? Bila ada permulaannya, bagaimanakah dan kapan alam semes
ta itu mulai terjadi?" Ilmu pengetahuan ataupun akal manusia saja
tidak sanggup memecahkan masalah ini. Ilmu pengetahuan memang
berusaha untuk menjawab masalah sekitar asal mula alam semesta
ini, namun karena ilmu pengetahuan bergerak dalam wawasan pe
ngetahuan empiris saja, maka penelitian terhadap asal mula alam
semesta dan sebab-sebab pertama dengan sendirinya sudah berada
di luar bidangnya. Filsafat pun tidak dapat memberikan pemecahan
yang memuaskan karena menyangkal samasekali konsepsi pencip
taan atau menjelaskannya sedemikian rupa sehingga sebenarnya
mengingkari penciptaan itu. Pemecahan terhadap teka-teki asal
mula alam semesta ini harus datang dari Alkitab dan hams diterima
dengan iman (Ibrani 11:3). Alkitab menyatakan bagaimana dan
mengapa terjadi keberadaan jasmaniah dan rohaniah.
A. KISAH PENCIPTAAN YANG DICERITAKAN MUSA
Kisah penciptaan yang diceritakan Musa ada dalam Kejadian
1 dan 2. Ayat-ayat dalam kedua pasal ini mencatat penciptaan lang
sung dan penciptaan tidak langsung alam semesta dan manusia.
Karya-Karya Allah: Penciptaan 173
1. Penciptaan langsung alam semesta. Kalimat pembukaan di
Alkitab menyatakan bahwa "pada mulanya Allah menciptakan la
ngit dan bumi" (Kejadian 1:1). Menurut kata-kata ini , alam
semesta tidak kekal, juga tidak -dibentuk dari bahan yang sudah ada
sebelumnya, atau terjadi karena prinsip penyebab yang universal,
namun karena tindakan penciptaan langsung dari Allah. Alam semes
ta diciptakan secara ex nihilo yang artinya diciptakan tanpa me
makai bahan yang sudah ada sebelumnya.
Ajaran tentang penciptaan ex nihilo ini tidak berlandaskan pe
makaian kata Ibrani bara' atau kata Yunani ktizein; karena kedua
kata ini kadang-kadang dipakai secara bertukar-tukar dengan
kata asah dan poiein. Jadi, dikatakan dalam Alkitab bahwa Allah
telah "menciptakan" dan "menjadikan" bumi (Kejadian 1:1;
Nehemia 9:6; Kolose 1:16-17). Namun jelaslah bahwa kata men
ciptakan dalam Kejadian 1:1 dan 2:3-4, memang berarti mencip
takan tanpa memakai bahan-bahan yang sudah ada sebelumnya.
Davis menjelaskannya sebagai berikut:
Kata kerja bara ("menciptakan") mengungkapkan secara lebih jelas daripada
kata kerja lainnya konsep penciptaan mutlak atau penciptaan ex nihilo. Akar
kata qal dari kata kerja ini dalam Perjanjian Lama hanya dipakai untuk
menunjuk kepada kegiatan Allah; tidak pernah manusia dipakai sebagai
subjek untuk kata kerja ini. Dikatakan bahwa Allah telah menciptakan
"angin" (Amos 4:13), "hati yang tahir" (Mazmur 51:12), serta "langit baru
dan bumi baru" (Yesaya 65:17). Kejadian 1 menekankan tiga permulaan
yang besar, yang semuanya diprakarsai oleh Tuhan (bandingkan ayat 1, 21,
27).... Oleh sebab itu tindakan Allah yang kreatif, yang tercermin dalam
ayat 1, tidak melibatkan pemakaian bahan yang sudah ada sebelumnya;
Allah yang berdaulat dan mahakuasa telah menciptakan langit dan bumi
dari kenihilan.49
49 Davis, Paradise to Prison, hal. 40-41.
2. Penciptaan tidak langsung alam semesta masa kini. Entah itu
disebabkan oleh ketidaklengkapan yang disengaja pada tindakan
penciptaan yang semula, entah disebabkan oleh suatu bencana alam
yang menimpa ciptaan yang semula, kita menemukan dalam Keja
dian 1:2 bahwa bumi "belum berbentuk dan kosong; gelap gulita
menutupi samudera raya." Kemudian terjadilah pembentukan
tatanan semesta sebagaimana yang kita kenal sekarang ini. Oleh
karena itu, timbullah beberapa masalah.
174 Teologi
a. Apakah penciptaan kali ini bersifat langsung, tidak langsung,
ataukah merupakan kombinasi dari keduanya? Beberapa sarjana
membatasi penciptaan langsung pada tindakan yang disebut dalam
ayat 1 saja dan menganggap kisah penciptaan selanjutnya sebagai
penciptaan tidak langsung. Beberapa sarjana lainnya melihat kom
binasi antara penciptaan langsung dengan penciptaan tidak langsung
sepanjang pasal 1 ini. Matahari mungkin saja telah diciptakan sejak
mula pertama dan terang itu (ayat 3-5) mungkin berasal dari mata
hari. Akan namun , Allah nampaknya menciptakan terang terlepas
dari matahari. Bibit-bibit kehidupan tanaman mungkin saja masih
bertahan dari suatu keadaan yang primitif, sehingga Allah hanya
tinggal memerintahkan bumi untuk "menumbuhkan tunas-tunas
muda, tumbuh-tumbuhan yang berbiji, segala jenis pohon buah-
buahan yang menghasilkan buah yang berbiji" (ayat 11). Namun,
nampaknya lebih mungkin bahwa tanaman diciptakan langsung oleh
Allah. Dalam Kejadian 2:19 kita membaca, "Lalu Tuhan Allah
membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di
udara." Nampaknya ayat ini mengajarkan bahwa semua binatang,
ikan, burung, binatang melata, dan lain-lain telah diciptakan secara
tidak langsung (1:20-25), walaupun tentu saja kehidupan
margasatwa itu sendiri diciptakan langsung oleh Allah. Dan kita
diberi tahu secara jelas bahwa 'Tuhan Allah membentuk manusia
itu dari debu tanah dan menghembuskan napas hidup ke dalam
hidungnya" (2:7). Ayat ini juga menunjukkan bahwa manusia dicip
takan secara tidak langsung, paling tidak sejauh itu berkaitan dengan
tubuhnya. Sekalipun manusia dan binatang diciptakan dari debu dan
akan kembali kepada debu, jiwa manusia pasti diciptakan langsung
oleh Allah.
b. Apa yang termasuk dalam penciptaan yang langsung? Pastilah
bukan hanya langit, namun juga malaikat-malaikat yang menghuni
sorga (Ayub 38:7; Nehemia 9:6); dan pastilah juga bukan hanya
bumi, namun juga semua air dan udara (Yesaya 42:5; Kolose 1:16;
Wahyu 4:11). Beberapa sarjana mengetengahkan bahwa mungkin
beberapa dari malaikat-malaikat itu, di bawah pimpinan makhluk
yang kemudian dikenal dengan nama Iblis, ditugaskan menguasai
bumi (lihat Lukas 4:5-8). Pendapat ini mungkin juga masuk akal,
namun tidak ada dukungan ayat Alkitab yang pasti, kecuali bila di
anggap bahwa dukungan ini didapatkan dari Yehezkiel 28:12-
19 (lihat juga Yesaya 14:9-14).
Karya-Karya Allah: Penciptaan 175
c. Adakah Kejadian 1:2 melukiskan keadaan asli bumi ini atau
suatu keadaan akibat terjadinya suatu bencana yang dahsyat? Per
tanyaan ini dijawab dengan tiga cara: (1) Teori-pemulihan atau
teori-selang waktu mengemukakan bahwa setelah penciptaan yang
mula-mula (ayat 1), Iblis jatuh sehingga mengakibatkan hukuman
ilahi menimpa bumi ini (ayat 2). Ayat-ayat berikutnya menggam
barkan penciptaan ulang bumi selama enam hari. Menurut pandang
an ini kata-kata "belum berbentuk" sebaiknya diterjemahkan sebagai
"menjadi tidak berbentuk". Selanjutnya dikemukakan bahwa gam
baran tiada bentuk, kosong, dan gelap gulita itu (ayat 2) terutama
menggambarkan hukuman ilahi, karena mustahil Allah menciptakan
bumi dengan keadaan demikian (Yesaya 34:11; 45:18; Yeremia
4:23; I Yohanes 1:5). Selanjutnya, teori ini menyediakan sebuah
kerangka waktu untuk peristiwa kejatuhan Iblis (Yesaya 14:9-14;
Yehezkiel 28:12-19).50
50 Untuk Uraian yang ilmiah, lihat Custance, Without Form and Void.
51 Uraian yang baik mengenai pandangan ini ada di Waltke, Creation and Chaos.
(2) Suatu pandangan lain menganggap bahwa selang-waktu itu
terjadi sebelum ayat 1, sehingga ayat 1 dan seterusnya menerangkan
peristiwa penciptaan ulang. Menurut pandangan ini ayat 1
merupakan pernyataan perangkum dari hal-hal yang terjadi selan
jutnya, sebagaimana 2:1 merupakan pernyataan perangkum dari hal-
hal yang terjadi sebelumnya. Ayat 2 menunjukkan hukuman yang
ditetapkan Allah, namun bagaimana dan mengapa terjadi hukuman
ini tetap merupakan rahasia. Nampaknya, mungkin sekali kejatuhan
Iblis merupakan penyebab. Menurut pandangan ini Musa mengisah
kan urutan terjadinya ciptaan yang sekarang ini, sedangkan ia tidak
menaruh perhatian pada penciptaan yang mula-mula atau pada hal-
hal yang menyebabkan hukuman Allah menimpa bumi.51
(3) Pandangan yang nampaknya paling banyak penganutnya me
nafsirkan ayat 2 sebagai menggambarkan alam semesta dalam ke
adaan yang belum lengkap. Setelah mengisahkan bahwa bumi be
lum lengkap, Musa kemudian mengisahkan bagaimana Allah men
jadikannya suatu tempat yang dapat didiami oleh manusia. Gam
baran tentang keadaan yang tidak berbentuk, kosong, serta gelap
gulita tidak perlu menggambarkan hukuman, namun menggambarkan
keadaan kurang lengkap. Bumi ciptaan Allah dimaksudkan untuk
didiami (Yesaya 45:18). Pandangan ini tidak menerima adanya
176 Teologi
selang-waktu antara ayat 1 dan ayat 2, juga tidak menerima adanya
penciptaan sebelum ayat 1. Kisah penciptaan ini samasekali tidak
menaruh perhatian pada peristiwa kejatuhan Iblis; sekalipun
demikian, pastilah kejatuhan Iblis terjadi sebelum Kejadian 3.52
d. Adakah enam hari penciptaan itu harus dianggap sebagai
enam hari yang berkenaan dengan penyataan, masa-masa yang
lama, ataukah enam hari yang terdiri atas dua puluh empat jam?
(1) Beberapa sarjana beranggapan bahwa Musa menerima penya
taan tentang penciptaan itu selama waktu enam hari. Menurut pan
dangan ini enam hari itu merupakan enam hari dalam kehidupan
Musa, dan bukan enam hari penciptaan. 'Penciptaan disingkapkan
dalam enam hari, dan bukan dilaksanakan selama enam hari."
Pandangan ini bertentangan dengan Keluaran 20:11, "Sebab enam
hari lamanya Tuhan menjadikan langit dan bumi, laut dan segala
isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh."
5253
52 Lihat Leupold, Exposition of Genesis, I, hal. 42-47, dan Morris, The Genesis
Record, hal. 46-52.
53 Ramm, The Christian View of Science and Scripture, hal. 222.
54 Carnell, An Introduction to Christian Apologetics, hal. 238.
(2) Beberapa sarjana lainnya berpendapat bahwa enam hari di
sini menunjuk kepada enam periode geologis yang sangat panjang.
Pandangan ini disebut sebagai teori hari-zaman. ada berbagai
variasi dalam pandangan ini, walaupun intinya sama saja yaitu bah
wa Allah telah menciptakan alam fisik ini beserta kehidupan di atas
nya, lalu kemudian menuntun proses evolusi sepanjang berabad-
abad. Pandangan ini, yang sering kali disebut sebagai pandangan
evolusi yang teistis, menerima masa-masa geologis, proses-proses
evolusi, serta keterlibatan aktif dari Allah Sang Pencipta. Beberapa
sarjana lain lagi memperbaiki teori ini menjadi teori yang dikenal
sebagai evolusi ambang, yaitu pandangan yang beranggapan bahwa
Allah memasuki proses evolusi pada saat-saat penting tertentu untuk
menciptakan sesuatu yang baru. Pandangan ini menolak pandangan
evolusi-makro, namun menerima pandangan evolusi-mikro, mak
sudnya, mungkin saja ada "perubahan-perubahan yang luas dan sa
ngat bervariasi di dalam setiap ’jenis’ yang pada mulanya diciptakan
oleh Allah."54 Manusia sendiri dianggap sebagai tindakan pencip
taan yang istimewa oleh Allah.
Pendekatan yang mirip dengan pendekatan evolusi ambang ini,
sekalipun mungkin tidak setuju sepenuhnya dengan konsep hari-
Karya-Karya Allah: Penciptaan 177
zaman, yaitu pandangan penciptaan yang terjadi secara bertahap.
Dengan firman-Nya Allah menciptakan zat yang belum berbentuk,
dan kemudian, lewat keterlibatan Roh-Nya, Allah membentuk dan
mengarahkan penciptaan secara bertahap-tahap menurut rencana
yang telah ditetapkan-Nya dari semula. Allah mengambil bahan
mentah yang baru saja diciptakan-Nya itu serta membentuk ciptaan
yang utuh. Hal ini melibatkan beberapa tindakan penciptaan yang
dilakukan dengan firman-Nya dan pemakaian hukum-hukum alam
yang telah ditetapkan-Nya sendiri.55
Akhirnya, (3) banyak yang menafsirkan keenam hari penciptaan
itu sebagai enam hari yang dua puluh empat jam lamanya. Namun
apa arti kata "hari" menurut Alkitab? Kata ini dipakai di Alkitab
dengan berbagai arti: siang yang berbeda dengan malam (Kejadian
1:5, 16, 18), siang (terang) dan malam (gelap) bersamaan (1:5),
keenam hari penciptaan (2:4), serta periode-periode yang tidak tentu
batas waktunya, seperti "hari bencana" (Ulangan 32:35), "hari per
tempuran" (I Samuel 13:22), "hari murka" (Ayub 21:30), "hari pe
nyelamatan" (II Korintus 6:2) dan "hari Tuhan" (Amos 5:18). Ka
dang-kadang kata Ibrani yang diterjemahkan sebagai "hari" juga
diterjemahkan sebagai "beberapa lama" (Kejadian 26:8; 38:12). Bila
Kejadian pasal 1 dibaca sepintas lalu kita mendapat kesan yang
dimaksudkan yaitu hari dalam arti satuan dua puluh empat jam.
Beberapa alasan dapat dikemukakan: pemakaian istilah pagi dan
petang, pernyataan dalam Keluaran 20:11, munculnya matahari dan
bulan untuk menerangi siang dan malam, saling bergantungnya
unsur-unsur alam semesta ini (Dapatkah rumput hijau bertahan hi
dup selama waktu yang lama tanpa sinar matahari?), serta pema
kaian angka setelah kata "hari". Periode-periode geologis yang nam
paknya amat panjang menjadi masalah untuk pandangan ketiga ini.
Beberapa gagasan penyelesaian telah dikemukakan: air bah pada
zaman Nuh telah mengubah topografi bumi; ada selang-waktu da
lam daftar silsilah awal yang ada dalam kitab Kejadian, dan
oleh karena itu kita harus menganggap bahwa penciptaan terjadi
jauh sebelum tahun 4000 SM; dan karena jelas Allah menciptakan
manusia yang sudah dewasa, tidaklah mustahil bumi juga diciptakan
langsung dengan keadaan "dewasa atau cukup umur", dalam arti *
55 Untuk penjelasan yang lebih lengkap tentang pandangan ini, lihat Ramm, The
Christian View of Science and Scripture, hal. 112-113, 271-173.
178 Teologi
tidak memerlukan periode-periode geologis ini .
e. Berapakah usia bumi? Ada berbagai pandangan: (1) Berbagai
teori telah dikemukakan oleh para sarjana non-Kristen. Beberapa di
antara mereka melihat awal mula alam semesta ini sebagai ledakan
besar atom zaman purba sehingga menjadi alam semesta yang se
karang ini; sarjana lainnya lagi berhipotesis bahwa alam semesta
ini terus-menerus berada dalam keadaan kemajuan dan kemunduran
yang dibatasi. Di dalam alam semesta ini bumi terbentuk dari suatu
gumpalan debu dan gas sekitar sepuluh milyar tahun yang lalu. Me
nentukan usia bumi berdasarkan metode-metode ilmiah sekular sa
ngatlah tidak tepat. Seorang sarjana kenamaan mengatakan, "Rata-
rata, usia bumi ini berlipat ganda setiap 15 tahun selama tiga abad
terakhir ini; taraf kecepatan ini nampaknya meningkat selama abad
terakhir ini."56
56 Whipple, "The History of the Solar System," dalam Adventures in Earth History,
hal. 101.
Standard Geological Column, yang dipakai oleh para ahli geologi
untuk menentukan usia lapisan tanah, telah dikembangkan dari suatu
penelitian tentang fosil-fosil (paleontologi) yang ada dalam ber
bagai batuan endapan dan lapisan tanah. Standard Geological
Column itu menentukan tanggal pembentukan bumi menurut
beberapa era: era Pra-Kambrium (dari 3.500 juta tahun yang lalu
atau lebih), era Paleozoik (dari 600 juta sampai 225 juta tahun yang
lalu), era Mesozoik (dari 225 juta sampai 65 juta tahun yang lalu),
dan era Senozoik (dari 65 juta tahun yang lalu hingga kini). Ben
tuk-bentuk kehidupan yang paling dini ditemukan dalam era Pra-
Kambrium. (Data ini disesuaikan dengan keterangan dari Ensiklo
pedi Nasional Indonesia, jilid 3, hal. 537-540.)
Berbagai cara penentuan tanggal telah dipakai. Salah satu cara,
dengan mengukur pertambahan kadar sodium per tahun dalam
samudera raya, dapat ditentukan bahwa samudra baru berumur
sekitar 100 juta tahun. Metode lainnya mengukur waktu geologis
dengan meneliti laju kemerosotan unsur-unsur radioaktif, seperti
uranium, potasium, dan rubidium. Menurut metode ini ada beberapa
meteorit yang sudah berumur 4.700 juta tahun. Beberapa mineral
bumi berumur 3.500 juta tahun. Metode lainnya lagi memakai cara
penentuan tanggal dengan radiokarbon:
Karya-Karya Allah: Penciptaan 179
Teori penentuan tanggal dengan radiokarbon yaitu sebagai berikut: per
bandingan isotop-isotop karbon di dalam kebanyakan benda hidup identik
dengan perbandingan isotop-isotop dalam karbon-dioksida di udara. Pada
saat suatu organisme mati, ia berhenti menyerap radiokarbon dari udara
sehingga perbandingan radiokarbon dengan isotop-isotop yang stabil,
C12 dan C13, yang ada dalam sel-sel tubuh organisme itu mulai
menurun. Jadi, hasil perbandingan kadar radiokarbon dengan isotop-isotop
stabil di dalam suatu organisme yang sudah mati dengan kadar radio
karbon di atmosfer merupakan ukuran waktu yang sudah lewat sejak
kematian organisme ini .57
57 Gilluly, et.al, Principles of Geology, hal. 116.
58 Sistematisasi yang ilmiah diusahakan oleh Davis A. Young, Creation and the
Flood.
59 Morris, The Genesis Record, hal. 45.
60 Davis, Paradise to Prison, hal. 31.
Semua sistem penentuan tanggal ini tidak tepat karena menerima
adanya geologi uniformitarian, yaitu adanya keadaan-keadaan yang
hanya ada dalam sebuah laboratorium ilmiah. Prinsip-prinsip
uniformitarianisme itu mensyaratkan tidak adanya Allah yang ber
kepribadian atau setidak-tidaknya mengabaikan kehadiran Allah
yang bertindak dalam ciptaan-Nya.
(2) Pandangan evolusi yang teistis, sebagaimana sudah dikatakan
tadi, beranggapan bahwa Allah mengarahkan dan menguasai
proses evolusi sejak awal mula hingga penciptaan manusia. Metode-
metode penentuan tanggal tidak berbeda dengan metode-metode
geologis nonteistik yang telah disebut di atas. Teori hari-zaman
atau pendekatan-pendekatan lain yang serupa itu juga berusaha un
tuk menyelaraskan periode-periode geologis dengan kisah pencip
taan dalam Kejadian l.58
Dan akhirnya, (3) beberapa sarjana lainnya lagi beranggapan bah
wa penciptaan terjadi pada sekitar 6.000 tahun hingga 20.000 tahun
atau 30.000 tahun yang lalu. Setelah mengadakan analisis yang
teliti, Uskup Ussher (1581-1656) menyimpulkan bahwa Allah men
ciptakan dunia pada tahun 4004 SM; sedangkan sarjana-sarjana
lainnya lagi mengusulkan bahwa "Alkitab tidak mendukung suatu
tanggal bagi penciptaan manusia yang lebih awal daripada tahun
10000 SM."59 Agaknya ada bukti-bukti tentang kebudayaan yang
primitif sebelum tahun 10000 SM;60 sehingga, dengan demikian,
air bah dapat diperkirakan sebagai terjadi sebelum tahun 12000 SM.
Teori bahwa penciptaan terjadi sekitar 10000 atau 20000 tahun yang
180 Teologi
lalu nampaknya lebih dapat diterima dan lebih cocok dengan metode
penafsiran gramatikal-historikal dibandingkan dengan penafsiran
adanya berjuta-juta tahun sejak penciptaan hingga kini.
Pertimbangan lainnya lagi ialah teori selang-waktu. Bila memang
terjadi, sebagaimana dikemukakan banyak ahli, yaitu bahwa
Kejadian 1:2 dan seterusnya merupakan penciptaan ulang, maka
tanggal penciptaan yang mula-mula bisa baru terjadi bisa pula sudah
lama. Kurun waktu antara penciptaan dengan penciptaan ulang
tidak diketahui. Beberapa ahli mengusulkan kurun waktu yang sa
ngat panjang, sedangkan ahli lainnya lagi kurun waktu yang pendek.
Bila penciptaan (ataupun penciptaan ulang) itu baru saja terjadi, dan
suatu penafsiran harfiah terhadap nas Alkitab mendukung pandang
an ini, maka penafsiran akan adanya selang waktu geologis yang
panjang maupun masukan dari Standard Geological Column harus
dipertanyakan. Bagaimanakah kita hams menyelesaikan persoalan
kurun waktu yang luar biasa panjangnya yang diperlukan untuk
membentuk bumi? Sebagaimana telah diusulkan tadi, penyelesaian
nya dapat ditemukan dalam pandangan penciptaan yang sudah
matang, geologi air bah, dan/atau ketidaklengkapan kisah pencip
taan dalam kitab Kejadian.
Kenyataan bahwa Adam diciptakan dengan keadaan sudah de
wasa nampaknya jelas dari Kejadian 2. Dengan demikian, paling
tidak dalam penciptaan Adam, kita melihat ciptaan yang sudah ber
umur. Tidakkah mungkin bahwa Allah menciptakan alam semesta
juga dalam bentuk seperti itu, sehingga kelihatan sudah berumur,
bahkan dengan fosil-fosil? Lagi pula, Alkitab mengajarkan terjadi
nya suatu air bah yang meliputi seluruh dunia. Malapetaka yang
begitu dahsyat sudah pasti mempunyai dampak yang luas atas ke
adaan muka bumi. Selain itu, suatu penelitian terhadap berbagai
silsilah di Alkitab menunjukkan bahwa daftar keturunan itu tidak
lengkap dan banyak nama tidak dicantumkan. Bila mengakui ketiga
kenyataan ini berarti kita diizinkan untuk menganjurkan bahwa pen
ciptaan terjadi lebih dahulu dari tahun 4000 SM, walaupun pada
saat yang sama tidak menuntut adanya selang-waktu jutaan tahun.
Ajaran penciptaan yaitu ajaran iman (Ibrani 11:3). Dengan
demikian, kisah yang tercantum di Alkitab harus diterima sebagai
otoritas terakhir.
Karya-Karya Allah: Penciptaan 181
B. BUKTI-BUKTI LAIN DI ALKITAB TENTANG PENCIPTAAN
ada banyak ayat Alkitab lainnya yang juga mengajarkan dok
trin penciptaan. Beberapa ayat berbicara mengenai penciptaan langit
dan bumi yang mula-mula (Yesaya 40:26; 45:18). Sebagian besar
ayat berbicara soal penciptaan seluruh umat manusia oleh Allah
(Mazmur 102:19; 139:13-16; Yesaya 43:1, 7; 54:16; Yehezkiel
21:30). Banyak sekali ayat yang menerangkan bahwa Allah yaitu
pencipta langit dan bumi beserta segala isinya (Yesaya 45:12; Kisah
17:24; Roma 11:36; Efesus 3:9; Wahyu 4:11). Seperti dalam Keja
dian 1, diterangkan juga bahwa Allah mencipta dengan perantaraan
Roh-Nya (Mazmur 104:30), Anak-Nya (Yohanes 1:3; Kolose 1:16),
serta Firman-Nya (Mazmur 148:5).
Banyak aliran filsafat menolak ajaran penciptaan serta mengan
jurkan berbagai gagasan lain tentang asal-usul alam semesta ini.
Ateisme, yang menolak adanya Allah, terpaksa harus membuat zat
bersifat kekal atau mencari satu penyebab alamiah lainnya. Dua
lisme mengakui adanya dua prinsip kekal, yang satu baik dan yang
lain jahat, atau dua oknum yang kekal, Allah dan Iblis atau Allah
dan zat. Panteisme menjadikan alam semesta sebagian dari Allah.
Agnostisisme mengatakan bahwa tidak ada seorang pun yang dapat
tahu tentang Allah atau hasil ciptaan-Nya. Kekristenan mengakui
bahwa penciptaan dilaksanakan melalui kehendak yang berdaulat
serta hasil karya Allah yang mahatinggi, yang sekalipun Dia hadir
di dalam ciptaan-Nya namun juga melebihi ciptaan-Nya itu.
III. TUJUAN ALLAH DALAM PENCIPTAAN
Alasan yang sama yang menyebabkan Allah merumuskan tujuan-
tujuan dan ketetapan-ketetapan-Nya juga telah mendorong-Nya un
tuk melaksanakan ketetapan-ketetapan itu. Maksudnya, Ia mencip
takan segala sesuatu untuk kemuliaan-Nya sendiri. Pertama dan
terutama, Ia menciptakan alam semesta ini untuk mempertunjukkan
kemuliaan-Nya. Alkitab menyatakan, "Ya Tuhan, Tuhan kami, be
tapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi! Keagungan-Mu yang
mengatasi langit dinyanyikan" (Mazmur 8:2); "Langit menceritakan
kemuliaan Allah" (Mazmur 19:2); dan "maka kemuliaan Tuhan
akan dinyatakan dan seluruh umat manusia akan melihatnya ber
182 Teologi
sama-sama" (Yesaya 40:5; lihat juga Yehezkiel 1:28; Lukas 2:9;
Kisah 7:2; II Korintus 4:6).
Yang kedua, Allah menciptakan alam semesta untuk menerima
kemuliaan. Alkitab memerintahkan, "Berilah kepada Tuhan ke
muliaan nama-Nya" (I Tawarikh 16:29); "Kepada Tuhan, hai peng
huni sorgawi, kepada Tuhan sajalah kemuliaan dan kekuatan! Beri
lah kepada Tuhan kemuliaan nama-Nya, sujudlah kepada Tuhan
dengan berhiaskan kekudusan!" (Mazmur 29:1-2); dan "Permulia-
kanlah Tuhan, Allahmu" (Yeremia 13:16). Tanggung jawab gereja
ialah memuliakan Allah (Roma 15:6, 9; I Korintus 6:20; II Korintus
1:20; I Petrus 4:16).
Alam semesta merupakan hasil karya Allah yang diciptakan de
ngan tujuan untuk memperlihatkan kemuliaan-Nya. Oleh karena
itu, patutlah kita mempelajarinya agar dapat menyaksikan kemu
liaan Allah. Selain itu, yaitu wajar bagi kita untuk berusaha se
kuat-kuatnya untuk memuliakan Dia. Jawaban terhadap doa-doa
kita dengan sendirinya akan membuat kita memuliakan Tuhan;
demikian pula kita harus memuliakan Dia setelah menyelidiki janji-
janji dan persediaan Allah menuntun kita memuliakan Dia. Sesung
guhnya, seperti yang dinasihatkan oleh Paulus, "Jika engkau makan
atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang
lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah" (I Korintus
10:31).
XII
Karya-Karya Allah: Pemerintahan-
Nya yang Berdaulat
Setelah menunjukkan bahwa segala sesuatu bersumber pada ke
tetapan atau maksud Allah, dan bahwa Allah telah menciptakan
seluruh alam semesta, baik yang berupa benda maupun yang tidak
berupa benda, berikutnya kita akan mempelajari bersama bagaimana
Allah memerintah alam semesta ciptaan-Nya itu.
Allah, sebagai pencipta segala sesuatu yang nampak dan yang
tidak nampak, serta yang memiliki segala sesuatu, berhak mutlak
untuk memerintah alam semesta ini (Matius 20:15; Roma 9:20-21),
dan Ia memang menjalankan kekuasaan ini dalam alam semesta
(Efesus 1:11). Hodge menulis:
Bila Allah itu Roh, dan oleh karena itu yaitu Oknum yang mahakuasa,
kekal, tidak berubah, dan sempurna, Pencipta dan Pemelihara alam semesta,
maka dengan sendirinya Allah berhak menjadi rajanya yang mahakuasa
.... Kedaulatan Allah ini merupakan landasan damai sejahtera dan keper
cayaan bagi seluruh umat Allah. Mereka bersukacita karena Tuhan Allah
kita, yang mahakuasa memerintah; bukan kebutuhan atau hal-hal yang kebe
tulan, atau kebodohan manusia, atau bahkan kebencian Iblis yang menguasai
urutan peristiwa-peristiwa dan persoalan.61
61 Hodge, Systematic Theology, I, hal. 440-441.
Alkitab dengan jelas dan tegas mengatakan bahwa Allah itu Yang
Mahatinggi di alam semesta ini. "Ya Tuhan, punya-Mulah kebe
saran dan kejayaan, kehormatan, kemasyhuran, dan keagungan, ya,
segala-galanya yang ada di langit dan yang ada di bumi! Ya Tuhan,
punya-Mulah kerajaan dan Engkau yang tertinggi itu melebihi
183
184 Teologi
segala-galanya sebagai kepala!" (I Tawarikh 29:11); "Allah kita di
sorga; Ia melakukan apa yang dikehendaki-Nya" (Mazmur 115:3);
"Celakalah orang yang berbantah dengan Pembentuk-Nya; dia tidak
lain dari beling periuk saja! Adakah tanah liat berkata kepada pem
bentuknya, ’Apakah yang kaubuat?’ atau yang telah dibuatnya,
’Engkau tidak punya tangan!’?" (Yesaya 45:9); "Sungguh, semua
jiwa Aku punya! Baik jiwa ayah maupun jiwa anak Aku punya!
Dan orang yang berbuat dosa itu yang harus mati" (Yehezkiel 18:4);
"Semua penduduk bumi dianggap remeh; Ia berbuat menurut kehen
dak-Nya terhadap bala tentara langit dan penduduk bumi; dan tidak
ada seorang pun yang dapat menolak tangan-Nya dengan berkata
kepada-Nya, ’Apa yang Kaubuat?’" (Daniel 4:35); dan 'Tidakkah
aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku?"
(Matius 20:15, bandingkan Roma 9:14-21; 11:36; Efesus 1:11;
I Timotius 6:15-16; Wahyu 4:11). Kedaulatan Allah meliputi tin
dakan pelestarian dan tindakan pemeliharaan.
I. AJARAN ALKITAB TENTANG TINDAKAN
PELESTARIAN
A. DEFINISI TINDAKAN PELESTARIAN
Yang kami maksudkan dengan tindakan pelestarian ialah bahwa
Allah secara berdaulat, dan secara terus-menerus, melestarikan se
gala sesuatu yang telah diciptakan-Nya, lengkap dengan segala sifat
dan kemampuan masing-masing. Definisi ini menyatakan secara tak
langsung bahwa tindakan pelestarian harus dipisahkan dari tindakan
penciptaan, karena hanya sesuatu yang sudah ada yang dapat diles
tarikan; bahwa penciptaan objektif bukanlah ada dengan sendirinya
dan tidak memelihara diri sendiri; dan bahwa pelestarian bukanlah
tindakan yang sekadar menjaga agar apa yang telah diciptakan itu
tidak hancur, namun bahwa Allah bekerja sehingga apa yang telah
diciptakan-Nya tidak akan punah.
B. BUKTI AJARAN TINDAKAN PELESTARIAN
Aj







