norma yang telah Allah tulis dalam hati manusia (Roma 2:14-16). Oleh sebab itu,
akibat dari dosa yaitu pemisahan dari Allah.
e. Dosa mencakup kesalahan dan pencemaran. Kesalahan Adam telah mencemari
seluruh manusia. Hal itu tidak dapat disingkirkan lagi sebab tindakan ini
terkait dengan status Adam sebagai orang yang berdosa. Oleh sebab itu, semua
umat manusia yang dilahirkan dari Adam sudah membawa natur yang telah
tercemar/rusak. Selain itu, pencemaran dosa juga melekat pada dosa perbuatan.
Perbuatan dosa sering menghasilkan kebiasaan dosa, kebiasaan dosa selanjutnya
memicu bentuk kehidupan yang penuh dosa.
f. Dosa menempati kedudukan dalam hati. Dosa mengendap di hati manusia, sebab
hati yaitu sumber/pusat dari segala sesuatu yang terjadi dalam hidup manusia. Oleh
sebab itu, dari hati dosa menyebar ke seluruh pikiran, kehendak, perasaan dan ke
seluruh tubuh manusia. Beberapa ayat Alkitab yang menunjukkan hati sebagai pusat
yaitu : Amsal 4:23 ; Yeremia 17:9 ; Matius 15:19 ; Lukas 6:45b.
g. Dosa tidak hanya mencakup tindakan namun juga pikiran Dalam hal ini dosa berawal
dari pikiran, lalu menimbulkan keinginan (hati), selanjutnya dinyatakan lewat
tindakan. Hukum Allah sendiri mengatakan bahwa dosa bisa mencakup pikiran
sebagaimana juga ucapan atau perbuatan, sebagaimana tercantum dalam Hukum
Taurat yang ke sepuluh (Keluaran 20:17). Lalu pernyataan ini diulangi Yesus
dalam Perjanjian Baru (Matius 5:28), juga Paulus dalam Galatia 5:16,17; 24, yang
disebut sebagai "keinginan daging".
h. Dosa berakar dari kesombongan Akar dosa yaitu kesombongan. Berawal dari
kejatuhan malaikat yang kemudian menjadi setan, setan pun menggoda Hawa
supaya memiliki kesombongan yang sama dengannya (Kejadian 3:5). Kesombongan
merupakan dosa yang mendasari semua dosa lain sebab pada dasarnya dosa berarti
keinginan untuk mandiri dan menolak untuk mengakui ketergantungan total kepada
Allah.
i. Dosa biasanya berkedok Manusia yaitu makhluk yang rasional sehingga dalam
hidupnya, manusia selalu mencoba merasionalkan segala tindakan yang berdosa,
agar dapat dilanggar dengan tanpa perasaan bersalah.
Dosa selalu dilakukan untuk suatu alasan yang "baik".
Kesulitan manusia untuk mengenali dosa sendiri, sebab manusia lebih mudah
melihat dosa orang lain daripada dosanya sendiri (Matius 7:3).
12
Cenderung ditutup-tutupi.
3. Sifat Universalitas Dosa
Baik orang Kristen maupun bukan Kristen menyadari bahwa dosa memiliki sifat yang
universal. Sebab, setiap orang baik secara sadar atau tidak sadar mengakui kenyataan
bahwa manusia selalu bergumul dengan kejahatan moral di dalam dirinya. Bagi orang
Kristen, sifat universalitas dosa ini sangat jelas sebab Alkitab menyatakan hal itu
berkali-kali. Ada empat relasi universalitas dosa yang dapat dijelaskan, yaitu relasi
dengan diri sendiri, orang lain, setan, dan dengan Allah.
a. Relasi dengan diri sendiri.
Dosa sebagai kuasa yang membelenggu. Sejak jatuh dalam dosa, di dalam diri
manusia ada kuasa yang mengikat (Bondage of the will) yang mendorong manusia
untuk melawan Allah. Disebut sebagai kuasa sebab sering kali manusia tidak
memiliki kekuatan untuk melawannya sehingga kebebasan manusia menjadi
terganggu.
b. Relasi dengan orang lain.
Dosa yaitu kelakuan yang merugikan. Dosa yang dilakukan di dalam tindakan
menjadi perbuatan yang merugikan orang lain, baik secara sadar atau tidak sadar.
c. Relasi dengan setan.
Dosa sebagai alat pemersatu dengan setan. Selain dimengerti sebagai suatu kuasa
dan kelakuan, dosa juga sebagai alat yang dipakai untuk mempersatukan manusia
dengan setan.
d. Relasi dengan Allah.
Dosa sebagai sikap melawan Allah. sebab dosa, relasi manusia dengan Allah
menjadi rusak. Bahkan lebih dari sekadar rusak, sebab manusia menjadi berani
melawan Allah. Namun, justru terhadap setan manusia menjadi begitu lemah.
4. Macam-macam Dosa
"Tujuh dosa maut" menurut Billy Graham berdasar klasifikasi kuno.
a. Kesombongan
b. Ketamakan
c. Nafsu yang terlarang dan tak terkendali
d. Iri hati
e. Kerakusan
f. Kemarahan
g. Kemalasan
Dosa dalam Perjanjian Baru
a. Menajiskan tempat Kudus (Markus 11:15-18).
b. Kemunafikan (Matius 23:1-36).
c. Ketamakan (Lukas 12:15).
d. Menghujat (Matius 12:22-37).
e. Melanggar Hukum (Matius 15:3-6).
f. Kesombongan (Matius 20:20-28; Lukas 7:14).
g. Menjadi batu sandungan (Matius 18:6).
h. Ketidaksetiaan (Matius 8:19-22).
i. Ketidaksopanan dan pelanggaran susila (Matius 5:27-32).
j. Tidak berbuah (Yohanes 15:16).
k. Amarah (Matius 5:22).
l. Ucapan yang berdosa (Matius 5:33; 12:36).
m. Pamer diri (Matius 6:1-18).
n. Kurang beriman (Matius 6:25; Roma 13).
12
o. Sikap tidak bertanggung jawab dalam pelayanan (Matius 25:14-30; Lukas 19:11-
27).
p. Kurang berdoa (Lukas 18:1-8).
q. Bebal (Amsal 24:9).
r. Kecongkakan (Amsal 21:4).
s. Tidak benar dan tidak adil (1 Yohanes 5:17).
t. Tahu yang baik namun tidak menjalankan (Yakobus 4:17).
u. Melanggar atau melampaui tuntutan Taurat (1 Yohanes
3:4). Dosa menurut pembedaannnya.
a. Pembedaan antara dosa-dosa roh dan dosa-dosa daging.
b. Pembedaan dosa berdasar derajat pengetahuan yang berbeda.
c. Pembedaan dosa yang disengaja dan tidak disengaja.
d. Pembedaan dosa berdasar sejauh mana seseorang menyerah kepada dosa.
e. Pembedaan antara dosa yang dapat diampuni dan yang tidak dapat diampuni.
f. Pembedaan antara dosa yang membawa maut dan yang tidak membawa maut.
g. Pembedaan antara dosa kecil dan dosa besar/lebih besar.
F. Akibat Dosa
Dosa Adam dan Hawa bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri tanpa kaitan. Akibat-
akibatnya terhadap mereka, terhadap keturunannya dan terhadap dunia segera kelihatan.
1. Sikap manusia terhadap Allah
Perubahan sikap Adam dan Hawa terhadap Allah menunjukkan pemberontakan yang
terjadi dalam hati mereka. 'Bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN
Allah di antara pohon-pohonan dalam taman' (Kej 3:8), dan 'ditutupilah dirinya dengan
cawat' (Kej 3:7). Padahal manusia diciptakan untuk hidup di hadapan Allah dan dalam
persekutuan dengan Dia. Tapi sekarang -- setelah mereka jatuh ke dalam dosa -- mereka
gentar berjumpa dengan Allah (bnd Yoh 3:20). Rasa malu dan ketakutan yang sekarang
merajai hati mereka (bnd Kej 2:25; 3:7,10) menunjukkan bahwa perpecahan sudah
terjadi.
2. Sikap Allah terhadap manusia
Perubahan tidak hanya terjadi pada sikap manusia terhadap Allah, tapi juga pada sikap
Allah terhadap manusia. Hajaran, hukuman, kutukan dan pengusiran dari Taman Eden,
semuanya ini menandakan perubahan itu. Dosa timbul pada satu pihak, tapi akibat-
akibatnya melibatkan kedua pihak. Dosa menimbulkan amarah dan kegusaran Allah,
dan memang harus demikian sebab dosa bertentangan mutlak dengan hakikat Allah.
Mustahil Allah masa bodoh terhadap dosa, sebab mustahil pula Allah menyangkali
diriNya sendiri.
3. Akibat-akibatnya terhadap umat manusia
Sejarah umat manusia berikutnya melengkapi daftar kejahatan (Kej 4:8, 19, 23, 24; 6:2,
3, 5). Dan timbunan kejahatan yang merajalela itu mencapai kesudahannya dalam
pemusnahan umat manusia, kecuali 8 orang (Kej 6:7,13; 7:21-24). Kejatuhan ke dalam
dosa berakibat tetap dan menyeluruh, tidak hanya menimpa Adam dan Hawa, tapi juga
menimpa segenap keturunan mereka; dalam ihwal dosa dan kejahatan terkandung
solidaritas insani, yakni sama-sama langsung terhisab dalam perbuatan dosa itu dan
menanggung segala akibatnya.
4. Akibat-akibatnya terhadap alam semesta
Akibat-akibat dari kejatuhan ke dalam dosa meluas sampai ke alam semesta.
'Terkutuklah tanah ini sebab engkau' (Kej 3:17; bnd Rm 8:20). Manusia yaitu
mahkota seluruh ciptaan, dijadikan menurut gambar Allah, dan sebab itu merupakan
12
wakil Allah (Kej 1:26). Bencana kejatuhan manusia ke dalam dosa mendatangkan
bencana laknat atas alam semesta, yang tadinya atasnya manusia telah dikaruniai kuasa.
Dosa yaitu peristiwa dalam kawasan rohani manusia, tapi akibatnya menimpa seluruh
alam semesta.
5. Munculnya maut
Maut yaitu rangkuman dari hukuman atas dosa. Inilah peringatan yang bertalian
dengan larangan di Taman Eden (Kej 2:17), dan merupakan pengejawantahan langsung
kutuk ilahi atas orang berdosa (Kej 3:19). Maut sebagai gejala alamiah, ialah
porandanya unsur-unsur kedirian manusia yang pada asalinya yaitu utuh dan padu
sejalin. Keporandaan ini melukiskan hakikat maut, yaitu keterpisahan, dan hal ini
terungkap sejelas-jelasnya dalam terpisahnya manusia dari Allah, yang nyata pada
pengusiran manusia dari Taman Eden. Oleh sebab dosa, manusia gentar menghadapi
kematian (Luk 12:5; Ibr 2:15).
6. Ketidakmampuan
Ketidakmampuan manusia melakukan yang baik yaitu akibat ketiadaan kapasitasnya,
yang menjadi tiada sebab kodrat hatinya yang busuk. sebab kebusukan hati itu
menyeluruh, maka menyeluruh pula ketidakmampuan manusia untuk melakukan yang
baik dan membuat hati Allah senang.
Kita tidak akan mampu mengubah watak kita atau berperilaku lain dari itu. Dalam hal
pengertian, manusia duniawi tak akan dapat memahami hal-hal yang berasal dari Roh
Allah, sebab hal-hal itu hanya dapat dilihat dengan mata rohani (1 Kor 2:14). Mengenai
ketaatan kepada hukum Taurat Allah, manusia duniawi bukan hanya tidak tunduk
kepada hukum Taurat Allah, tapi bahkan tidak bisa (Rm 8:7). Mereka yang hidup
menurut daging tak dapat menyenangkan hati Allah. Pohon yang tidak baik tak mungkin
menghasilkan buah yang baik (Mat 7:18). Ketidakmungkinan pada kedua kasus itu tak
dapat disangkal. Tuhan Yesus sendiri mengatakan, bahwa iman kepada-Nya sekalipun
yaitu tak mungkin tanpa karunia dan tarikan Allah Bapak (Yoh 6:44, 45, 65).
Kesaksian ini sama maknanya dengan ucapan-Nya yang tegas, bahwa seorang pun tak
akan dapat mengerti Kerajaan Allah atau masuk ke dalamnya, sebelum ia dilahirkan
kembali dari air dan Roh (Yoh 3:3, 5-6, 8; bnd Yoh 1:13; 1 Yoh 2:29; 3:9; 4:7; 5:1, 4,
18).
Mutlaknya dan pentingnya perubahan radikal seperti penciptaan baru itu, membuktikan
betapa gawatnya kedosaan manusia yang tanpa asa. Seluruh kesaksian Alkitab yang
bertalian tentang manusia diperbudak dosa, menyimpulkan bahwa manusia duniawi --
baik secara psikologis, susila maupun rohani -- mustahil menerima hal-hal yang berasal
dari Roh Allah, mustahil mengasihi Allah dan melakukan sesuatu yang menyenangkan
Allah, dan mustahil percaya kepada Kristus demi keselamatan jiwanya. Perbudakan
dosa inilah yang menjadi pradalil Injil, dan kemuliaan Injil yaitu justru menyediakan
kelepasan dari belenggu perhambaan dosa. Injil ialah Kabar Baik tentang kasih karunia
dan kuasa bagi segenap umat manusia yang pada dirinya tidak berdaya sama sekali.
G. Sifat Universalitas Dosa
Baik orang Kristen maupun bukan Kristen menyadari bahwa dosa memiliki sifat
yang universal, sebab setiap orang sadar atau tidak sadar mengakui kenyataan bahwa
manusia selalu bergumul dengan kejahatan moral di dalam dirinya. Bagi orang Kristen sifat
universalitas dosa ini sangat jelas sebab Alkitab menyatakan hal itu berkali-kali. Ada 4
relasi universalitas dosa yang dapat dijelaskan, yaitu relasi dengan diri sendiri, dengan
orang lain, dengan setan dan dengan Allah:
12
1. Dosa sebagai kuasa yang membelenggu. Sejak kejatuhan dalam dosa, di dalam diri
manusia ada kuasa yang mengikat (‟bondage of the will)‟ yang mendorong manusia
untuk melawan Allah. Disebut sebagai „kuasa‟ sebab seringkali manusia tidak
memiliki kekuatan untuk melawannya sehingga kebebasan manusia menjadi terganggu.
2. Dosa sebagai kelakuan yang merugikan. Dosa yang dilakukan didalam tindakan menjadi
perbuatan yang merugikan orang lain, baik sadar atau tidak sadar.
3. Dosa sebagai alat pemersatu dengan setan. Selain dimengerti sebagai suatu kuasa dan
kelakuan, dosa juga sebagai alat yang dipakai untuk mempersatukan manusia dengan
setan.
4. Dosa sebagai sikap melawan Allah. sebab dosa relasi manusia dengan Allah menjadi
rusak. Bahkan lebih dari pada hanya rusak sebab manusia menjadi berani melawan
Allah, sebaliknya terhadap setan manusia menjadi begitu lemah.
H. Dosa Imputasi
1. Dosa imputasi yaitu dosa yang
menyifatkan Tiga Azas Imputasi
a. Imputasi dosa Adam kepada keturunannya/ umat manusia (Roma 5:12-21)
b. Imputasi dosa umat manusia kepada Kristus (2 Kor.5:19; 1 Ptr. 2:24)
c. Imputasi kebenaran Kristus kepada orang-orang beriman (2 Kor. 5:21)
2. Transmisi Dosa Imputasi : Dosa imputasi dipindahkan secara langsung dari Adam
kepada setiap orang dalam setiap generasi. Sedangkan dosa warisan melalui
perantara dalam setiap generasi (dosa warisan datang kepada saya melalui orang tua
saya)
3. Pinalti Terhadap Dosa Imputasi : Kematian secara fisik merupakan penalty terhadap
dosa Imputasi (Roma 5:13-14), sedangkan pinalti terhadap dosa warisan yaitu
kematian secara rohani.
4. Penyelesaian Dosa Imputasi : Obatnya yaitu imputasi kebenaran Kristus kepada
manusia. Pada saat seseorang menaruh imannya kepada Kristus, pada saat itu
kebenaran Kristus diimputasikan kepada orang tsb. Sama seperti ―semua di
dalam Adam‖, demikian juga ―semua orang beriman di dalam Kristus‖. Berada
di dalam Kristus memiliki arti bahwa kebenaranNya yaitu kebenaran kita.
I. Transmisi Dan Hukuman Dosa
Penyebaran Dosa
Dengan cara bagaimanakah keberdosaan dan kesalahan Adam diturunkan
kepada kita? Dosa Adam tidak diturunkan kepada keturunannya sebab proses peniruan.
Adam yaitu kepala umat manusia sekaligus menjadi wakil manusia. saat ia berdosa,
maka semua manusia tercakup di dalam kesalahan akibat dosa dan di dalam
penghukuman akibat dosa (imputasi). Oleh sebab itu semua orang yang lahir kemudian
yaitu dalam keadaan rusak. Kerusakan itu diturunkan kepada manusia melalui
orangtuanya. Namun demikian Alkitab tidak memberikan penjelasan yang gamblang
tentang bagaimana hal itu terjadi, tapi satu hal kita tahu bahwa dosa Adam yaitu dosa
kita.
Dosa yang berasal dari Adam ini membuka kesempatan bagi iblis untuk bekerja
secara leluasa sebab keadaan natur manusia yang sudah rusak/tercemar. Kecemaran
dalam diri manusia bagaikan pancaran mata air yang kotor bagi seluruh dosa perbuatan
yang dilakukan manusia. Dosa perbuatan ini yaitu dosa-dosa pribadi, yang bersifat
jamak, yang dilakukan manusia baik yang berupa tindakan maupun yang ada dalam
pemikiran manusia, sedangkan dosa asal yaitu bersifat tunggal. Dosa asal memberi
12
kekuatan yang fatal yang memicu manusia secara terus menerus melakukan
tindakan/ perbuatan yang memberontak kepada Allah, yang membawa pada
penghukuman.
J. Orang Kristen dan Dosa
Menjadi seorang Kristen tidak berarti langsung bebas dari berbuat dosa maupun dari
ketaatan terhadap ajaran Kristus. Sering terdapat kesalahpahaman mengenai relasi orang
Kristen dengan dosa. Yaitu, pertama soal kesempurnaan yang palsu dan kedua soal
keadaan tidak berhukum (antinomianisme). Ada sementara pihak yang mengajarkan bahwa
orang percaya tidak lagi mungkin berbuat dosa. Pandangan seperti ini disebut
kesempurnaan (perfeksionisme) yang tidak berdasar Alkitab. Orang percaya dianggap
telah tercabut dari akar dosa. Padahal tidak ada seorang Kristen pun yang dapat mengalami
kesempurnaan yang sama sekali bebas dari pengaruh dosa di masa hidup ini sebelum tiba
masa kebangkitan. Ada pula ajaran yang sedikit dimodifikasi yang menyatakan bahwa
hidup sempurna tanpa dosa hanyalah dalam arti bahwa orang Kristen dapat hidup tanpa
melakukan dosa selama jangka waktu tertentu. namun tidak melakukan dosa juga berarti
hidup menjadi serupa dengan kehendak Allah. Kesempurnaan tanpa dosa berarti lebih
daripada soal ketiadaan dosa. Kenyataannya, pengajaran Alkitab tentang kesempurnaan
berarti kematangan, kedewasaan, kepenuhan dan kelengkapan. Kesempurnaan menurut
Alkitab tidak bertentangan terhadap keadaan berdosa melainkan terhadap ketidakdewasaan
dan merupakan sesuatu yang diharapkan dari orang-orang percaya di dunia ini
(Pembahasan yang bagus mengenai dia ini ditulis oleh W.H. Griffith Thomas, "The
Biblical Teaching Concerning Perfection," The Sunday School Times, July 22, 1944, hal.
515-516).
Antinomianisme mengajarkan bahwa orang Kristen tidak lagi terikat oleh hukum
Taurat. Pandangan antinomianisme mengenai kemerdekaan dari hukum seringkali menuju
kepada kebebasan. Antinomianisme kadang-kadang diartikan sama dengan kebebasan
Kristen dan sudah tentu penyamaan ini keliru. Lawan dari kebebasan yaitu perhambaan
dan orang percaya telah dibawa dari perhambaan terhadap dosa menuju suatu kedudukan
yang merdeka dari perhambaan itu di dalam Kristus. Lawan dari antinomianisme yaitu
ketaatan kepada hukum. Pertanyaannya yaitu hukum yang mana. Sebab ada beberapa
hukum di sepanjang sejarah menurut Alkitab. Bagi orang percaya sekarang tentu ya ng
dimaksudkan yaitu hukum Kristus (Gal. 6:2).
Apakah standar yang Alkitabiah bagi orang Kristen? Yang jelas bukanlah
kesempurnaan tanpa dosa ataupun antinomianisme. Standar itu yaitu hidup di dalam
terang (1 Yoh. 1:7). Allah itu terang atau kudus. Standar absolut ini selalu ada di hadapan
orang percaya. Namun tidak ada orang percaya yang hidup tanpa dosa seperti Allah, dalam
kehidupan ini. Apakah Allah lalu merendahkan kita? Sama sekali tidak. Sebaliknya, Ia
menyesuaikan persyaratan-Nya untuk kita masing-masing agar kita dapat mengalami
pertumbuhan rohani. Caranya yaitu dengan hidup di dalam terang kekudusan-Nya. Jika
kita berkata bahwa kita tidak memiliki prinsip dosa (seperti yang ditekankan oleh para
penganut kesempurnaan) kita berdusta (ayat 8). Begitu juga, jika kita berkata bahwa kita
tidak berbuat dosa di sepanjang waktu tertentu (seperti yang diajarkan oleh penganut
kesempurnaan yang dimodifikasi) kita menjadikan Allah sebagai pendusta (ayat 10). Jika
kita hidup di dalam terang, kita tidak akan terperosok ke dalam kesalahan dari ajaran
antinomianisme, sebab kita melakukan perintah-perintah-Nya (1 Yoh. 2:4,6; 3:24).
Setiap orang percaya dapat memenuhi persyaratan untuk hidup di dalam terang.
Banyaknya terang yang dimiliki setiap orang itu berbeda-beda, namun respon yang harus
diberikan oleh semua orang percaya terhadap hal itu sama. Sementara kita bertumbuh,
12
lingkaran terang itu akan bertambah luas. Semakin kita memberikan respon terhadap terang
itu, semakin kita menerima terang yang lebih besar dan begitu seterusnya. namun untuk tiap
tingkat pertumbuhan tuntutannya yaitu sama, yaitu hidup di dalam terang.
Ringkasnya, standar kehidupan Kristen yaitu kesucian Allah. Tuntutan yang harus
kita penuhi yaitu hidup di dalam terang. Pengalaman kita haruslah senantiasa bertumbuh
menjadi dewasa. Inilah kesempurnaan yang sesungguhnya menurut Alkitab.
Pergumulan orang Kristen dan dosa (1 Yoh. 2:16) terdapat dalam tiga bidang berikut
ini:
a. dunia (Yun. kosmos) – yaitu keinginan mata, keinginan daging, dan keangkuhan
hidup; dunia ini di bawah penguasaan Setan (1 Yoh. 5:19), penuh dengan
kebodohan (1 Kor. 3:19), tidak bermoral (1 Kor. 5:10), dan bersifat menentang
Allah (Yak. 4:4). Setiap orang Kristen harus tersalib bagi dunia (Gal. 6:14).
b. daging (Yun; sarx) – yaitu sarana kehendak dosa (Roma 7:17-20), penuh dengan
hawa nafsu dan mengendalikan pikiran (Efs. 2:3); harus dilawan dengan kuasa
Roh Kudus (Roma 8:2 dst.), dan pembaharuan akal budi (Roma 12:1) yang
memicu daging itu tersalib (Roma 6:6).
c. Iblis – yaitu musuh setiap manusia sejak mulanya. Ia harus dilawan dengan iman
yang teguh (1 Pet. 5:8; Yak. 4:7); setiap orang percaya harus mengenakan
selengkap senjata Allah agar dapat mematahkan setiap serangan Iblis (Efs. 6:10-
17).
Penyediaan
Dalam bergumul melawan dosa, Allah menyertai dan memberikan pertolongan
kepada setiap orang percaya, agar selalu mengalami kemenangan. Inilah yang
Allah sediakan:
a. Firman Allah – memiliki manfaat yang sangat besar (2 Tim. 3:16-17), yang
mampu mencegah kita berbuat dosa (Mzm. 119:9-16); Firman Allah
membersihkan (Efs. 5:26), dan menyucikan (Yoh. 17:17), serta jaminan
jawaban doa (Yoh. 15:7).
b. Pengantaraan atau Syafaat Kristus – yang siap mengampuni kita jika kita
mengaku dosa kita (1 Yoh. 2:1); Ia terus berdoa agar semua orang percaya aman
(Yoh. 17:11), tetap bersukacita (Yoh. 17:13), perlindungan dari Setan (Yoh.
17:15), dan tetap tinggal di dalam Kristus (Yoh. 17:25).
c. Roh Kudus yang tinggal di dalam kita – Ia diam di dalam kita (Roma 8:9),
mengurapi (1 Yoh. 2:20; 4:4), memeteraikan (Efs. 1:13; 4:30), memberi kuasa
(Kisah 1:8), memenuhi (Efs. 5:18), dan memampukan orang percaya untuk
tetap hidup oleh Roh (Gal. 5:16).
K. Penanggulangan Dosa
Pada dasarnya dosa merupakan pelanggaran terhadap ALLAH. Oleh sebab itu hanya
ALLAH yang dapat menyelesaikan dan membuang pelanggaran itu. Oleh diri sendiri, kita
tidak memiliki kekuatan untuk mengubah atau membuat sesuatu menjadi benar dalam
hubungan dengan ALLAH. Alkitab berkata, manusia tidak ada kekuatan. Semua usaha
manusia akan sia-sia, walaupun apa yang terbaik di lakukan, tidaklah cukup, kebenaran
manusia sangat kotor dan menjijikan. (Yes.64:6). Dan sebab semua manusia telah berdosa
dan kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23), maka manusia tidak akan pernah dapat
menyelamatkan dirinya sendiri. Manusia membutuhkan seorang Juruselamat. Allah yang
menciptakan manusia dan memandangnya begitu berharga dan mulia, telah menyediakan
jalan keselamatan bagi manusia dari dosa-dosa mereka, baik dosa yang diwarisi dari Adam
maupun hasil dosanya sendiri.
12
Tidak ada jalan lain selain Allah menolong orang yang jatuh dalam dosa. ―sebab
waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu
yang ditentukan Allah. Akan namun Allah menunujukan kasihNya kepada kita, oleh sebab
Kristus telah mati untuk kita; saat kita masih berdosa‖ (Rom.5:6, 8). Allah telah
mengutus Anak-Nya yang Tunggal, yaitu Yesus Kristus, menjadi Juruselamat bagi seluruh
umat manusia. Bagi mereka yang percaya akan memperoleh kehidupan kekal, namun
mereka yang tidak percaya akan binasa (Yoh. 3:16-18). Inilah jalan keluar Allah bagi
manusia berdosa.
L. Dosa Yang Tidak Dapat Diampuni
Penjelasan Alkitab berkenaan dengan adanya suatu dosa yang tidak dapat diampuni
telah menimbulkan keresahan didalam hati orang-orang yang berpikir mereka mungkin
telah melakukan dosa itu. Meskipun injil menawarkan pengampunan yang berdasar
kasih karunia bagi mereka yang bertobat dari dosa-dosanya, namun rupanya ada batasan
untuk kejahatan yang satu ini.
Dosa yang tidak dapat diampuni, yang diperingatkan oleh Tuhan Yesus berkenaan
dengan penghujatan terhadap Roh Kudus. Yesus menyatakan bahwa dosa semacam ini
tidak dapat diampuni baik pada masa ini, maupun pada masa yang akan datang:
Matius 12:31-32 "Sebab itu Aku berkata kepadamu: Segala dosa dan hujat manusia
akan diampuni, namun hujat terhadap Roh Kudus tidak akan diampuni. jika seorang
mengucapkan sesuatu menentang Anak Manusia, ia akan diampuni, namun jika ia
menentang Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, di dunia ini tidak, dan di dunia yang akan
datangpun tidak."
Berbagai macam usaha telah dilakukan untuk mengidentifikasi kejahatan khusus yang
bagaimanakah, yang tidak dapat diampuni ini. Ada yang mengatakan bahwa dosa itu
yaitu dosa pebunuhan atau perzinahan. Namun meskipun dosa-dosa itu yaitu dosa yang
sangat keji pada pandangan Allah, Firman Tuhan tetap menyatakan secara jelas, bahwa
dosa-dosa itu dapat diampuni jika pertobatan yang tulus dilakukan.
Daud dapat diambil sebagai contoh, dia bersalah atas kedua macam dosa di atas, dan dia
telah dipulihkan kembali berdasar anugerah. Seringkali dosa yang tidak dapat diampuni
dikaitkan dengan ketidak percayaan seseorang pada Kristus secara terus menerus sampai
pada akhirnya. Kematian merupakan batas kesempatan bagi manusia untuk bertobat dari
dosa dan menerima Kristus, oleh sebab itu, jika seseorang tetap tidak bertobat dan
tidak menerima Kristus sampai kepada akhir hidupnya, maka pengharapan untuk
pengampunannya telah berakhir. Penjelasan diatas tetap tidak cukup untuk menjelaskan
penjelasan Tuhan Yesus berkenaan dengan peringatan-Nya untuk tidak menghujat Roh
Kudus.
Penghujatan dapat dilakukan oleh seseorang baik secara lisan maupun tulisan. Dengan
kata lain, penghujatan selalu melibatkan kata-kata. Meskipun segala bentuk penghujatan
merupakan serangan yang serius terhadap karakter Allah, namun biasanya dapat diampuni.
Pada waktu Yesus memperingatakan tentang dosa yang tidak dapat diampuni, konteksnya
yaitu orang yang menuduh Dia bekerjasama dengan Setan.
Peringatan-Nya merupakan peringatan yang serius dena sangat menakutkan. namun pada
kenyataanya Yesus diatas kayu salib berdoa mohon pengampunan untuk orang-orang yang
telah menghujat-Nya atas dasar ketidaktuhuan mereka:"Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab
mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." (Lukas 23:34).
Pada saat seseorang telah diterangi oleh Roh Kudus sampai tahap dia dapat mengetahui
Yesus sebagai benar-benar Kristus, dan kemudian orang itu menuduh Kristus berasal dari
Setan, maka orang itu telah melakukan dosa yang tidak dapat diampuni. jika orang
13
Kristen mengandalkan kekuatannya sendiri, maka ia dapat melakukan dosa yang tidak
dapat diampuni ini, namun kita yakin bahwa Allah dengan pemeliharaan yang berdasar
kasih karunia-Nya tetap akan menjaga orang-orang kudus untuk tidak jatuh pada dosa yang
semacam itu.
Orang Kristen yang tulus dan merasa takut telah melakukan dosa yang semacam itu,
menunjukkan bahwa dia sebenarnya tidak melakukan dosa itu. Orang yang telah
melakukan dosa yang semacam itu, hatinya sangat keras dan tetap tinggal dalam dosa
mereka dan tidak merasa bersalah pada waktu melakukannya.
Sebenarnya, di dalam kebudayaan dimana orang-orang tidak mau mengakui kedaulatan
Allah di dalam hidup, orang-orang tetap enggan untuk terlalu jauh atau keterlaluan pada
waktu mereka menghujat Allah dan Kristus. Meskipun Nama Kristus telah dipakai
seenaknya dan injil dilecehkan dengan humor-humor dan komentar-komentar yang tidak
pantas, orang-orang tetap tidak berani untuk mengaitkan Yesus dengan Setan.
Meskipun okultisme dan setanisme memberikan kemungkinan yang berbahaya bagi
seseorang untuk melakukan dosa yang tidak dapat diampuni itu, pada kasus seseorang
menghujat Roh Kudus oleh sebab ketidaktahuannya dan dia belum diterangi oleh Roh
Kudus, maka dosa itu masih dapat diampuni. (R.C. Sproul, Kebenaran-Kebenaran Dasar
Iman Kristen 1999: 203-205).
13
XII. SOTERIOLOGI : Pengajaran Tentang Keselamatan
A. Berbagai Teori Tentang Keselamatan
Untuk memperjelas konsep di atas berikut ini diberikan beberapa pertanyaan yang
sering timbul dalam benak manusia saat berpikir mengenai keselamatan dan hidup kekal.
Dengan demikian saudara yang terlibat dengan salah satu pertanyaan berikut bisa melihat
dengan lebih jelas tentang keunikan dan kekhususan pengajaran Alkitab yang sangat
berbeda dengan pengajaran agama-agama lain.
1. Perbuatan Baik
Banyak orang termasuk orang Kristen berpikir bahwa keselamatan yaitu hasil
perbuatan baik. Jika seorang berbuat baik maka ia memiliki modal untuk memperoleh
keselamatan. Namun jika mereka ditanya: ‖Apakah yang dimaksud dengan perbuatan yang
baik dan benar?‖ Banyak orang tidak dapat menjawab. Sebagian memberi jawaban yang
berorientasi kepada etika umum, misalnya tidak mencuri, tidak membunuh, tidak berzinah,
dll. Menurut mereka semua kepercayaan melarang hal-hal ini . Namun jika diteliti
lebih dalam, jawaban ini juga tidak benar. Ada kepercayaan yang mengizinkan terjadinya
pembunuhan demi mempertahankan agama. Itu sebabnya ada agama yang menghalalkan
hukuman mati bagi orang yang melakukan kesalahan yang dianggap bertentangan dengan
kebenaran agama mereka.
Sebagian lagi memberi jawaban yang berorientasi kepada adat kebiasaan. Tapi jika
diperhatikan dengan baik, kebenaran yang demikian hanya berlaku untuk kelompok-
kelompok tertentu. Misalnya, hal yang baik menurut adat dan budaya Batak belum tentu
dapat diterima oleh suku-suku lain sebagai sesuatu yang baik. Demikian juga dengan
sebaliknya.
Ada juga yang disebut dengan etika pribadi. Yang baik dan benar bagi satu orang belum
tentu dapat diterima oleh orang lain. Perbedaan inilah yang sering memicu adanya
friksi atau pergesekan antar pribadi. Misalnya perbedaan pendapat di antara suami isteri
mengenai cara mendidik anak.
Dalam Alkitab pertanyaan tentang perbuatan baik inilah yang menjadi akar
permasalahan yang membuat seorang kaya yang datang kepada Yesus menjadi kecewa
saat ia mendengar jawaban Yesus. Ia bertanya:
‖Guru yang baik, apakah yang akan saya per-buat supaya saya memperoleh hidup
kekal?‖ (Mark. 10:17)
Ia datang kepada Yesus sebab diketahuinya bahwa Yesus telah melakukan begitu
banyak kebaikan dalam hidupNya dan berpikir bahwa dengan perbuatan baiklah seseorang
masuk ke dalam kerajaan surga atau hidup kekal. namun dalam pembicaraan berikutnya
orang kaya ini, yang sejak masa kecil sudah berusaha melakukan semua hukum Taurat,
pulang meninggalkan Yesus dengan kecewa setelah Yesus memberi jawaban yang
bertentangan dengan konsepnya. Paulus juga mengutip beberapa sumber dari Perjanjian
Lama dalam surat kirimannya kepada jemaat di Roma untuk menyatakan bahwa tidak ada
seorang manusiapun yang benar sebab perbuatan baik (Rom. 3:10-18). Kemudian ia
menyimpulkan dengan mengatakan: sebab semua orang telah berbuat dosa dan telah
kehilangan kemuliaan Allah, (Rom. 3:23)
Yang dimaksud oleh Paulus dengan perkataan ‖semua orang‖ yaitu semua keturunan
Adam atau semua manusia yang dilahirkan dengan benih laki-laki. Jadi yang menjadi
pertanyaan yaitu : ‖Bagaimana mungkin hal yang baik dan benar keluar dari sumber yang
tidak baik dan benar?‖ Tidak mungkin seseorang memberikan sesuatu yang tidak dimiliki-
nya.
Pertanyaan berikut yang perlu direnungkan yaitu : ‖Berapa banyak perbuatan baik yang
harus dilakukan sese-orang agar dia sampai kepada kehidupan kekal?‖ Sama seperti
13
seorang yang membangun jembatan untuk meng-hubungkan dua sisi samudera. Dapatkah
seseorang menge-tahui di seberang mana hidup kekal ini berada untuk dapat
mengarahkan jembatan perbuatan baik itu? Tuhan Yesus mengatakan: Tidak ada yang
sudah naik ke surga selain dari Dia yang telah turun dari surga, yaitu Anak Manusia. (Yoh.
3:13)
Melalui perkataan ini, Yesus sebenarnya sudah dengan gamblang mengatakan bahwa
hanya Dialah satu-satunya yang mengetahui jalan ke surga sebab Ia sendiri berasal dari
sana. Itulah sebabnya Ia mengatakan bahwa hanya Dialah jalan. Di pihak lain saat murid-
muridnya datang kepadaNya dan bertanya: ‖Apakah yang harus kami perbuat supaya kami
mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?‖ (Yoh. 6:28) Dan Yesus menjawab:
‖Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang
telah di utus oleh Allah.‖ (Yoh. 6: 29)
Jadi kesimpulannya yaitu : seorang akan memperoleh hidup kekal bukan sebab
perbuatannya, melainkan sebab ia percaya kepada Yesus Kristus yang telah diutus oleh
Allah.
2. Jawaban Yang Tidak Pasti
Jika survey dilakukan kepada orang Kristen yang seharusnya sudah dapat memberi
jawaban yang benar maka salah satu jawaban berikut kemungkinan sekali menjadi pilihan
mereka:
a. ―Tidak tahu.‖
b. ―Mudah-mudahan.‖
c. ―Hanya Yesus yang tahu.‖
d. ―Hanya belas kasihan Yesus.‖
e. ―Nanti kalau saya sempat perjamuan kudus sebelum mati atau kuseru nama
Yesus sebelum menghembuskan nafas terakhir maka saya diterima.‖
Jika jawaban-jawaban seperti ini yang diberikan oleh banyak orang Kristen, bagaimana
kira-kira jawaban yang akan diberi oleh mereka yang bukan Kristen? Jika jawaban mereka
yaitu ―tidak tahu‖ bukankah Alkitab mengatakan dengan gamblang: sebab begitu
besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Ia mengaruniakan AnakNya yang Tunggal,
supaya barang siapa yang percaya kepadaNya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang
kekal. (Yoh. 3:16) atau Sesungguhnya barang siapa mendengar per-kataanKu dan percaya
kepada Dia yang me-ngutus Aku, ia memiliki hidup yang kekal dan tidak turut dihukum
sebab ia telah pindah dari dalam maut ke dalam hidup. (Yoh. 5:24) dan lagi Dan inilah
kesaksian itu: Allah telah menga-runiakan hidup yang kekal kepada kita dan hidup itu ada
di dalam AnakNya. Barangsiapa memiliki Anak, ia memiliki hidup; barangsiapa tidak
memiliki Anak, ia tidak memiliki hidup. (1 Yoh. 5:1-12) Jikalau jawabannya
ialah ―mudah- mudahan‖, bukankah Alkitab selalu memberikan jawaban yang pasti? Tidak
ada jawaban yang meragukan. 2 Kor. 1:19-20 mengatakan: ......, namun sebaliknya di dalam
Dia hanya ada ‖ya‖. Sebab Kristus yaitu ‖ya‖― bagi semua janji Allah. Itulah
sebabnya oleh Dia kita mengatakan ‖Amin‖ untuk memuliakan Allah.
Jika orang Kristen mengatakan bahwa hanya Yesus yang mengetahui siapa yang masuk
ke dalam kehidupan kekal, jawaban itu merupakan jawaban yang fatal! sebab Tuhan
Yesus sudah memberitahukan berulang-ulang tentang hidup kekal agar orang percaya
kepadaNya. Ia memang menga-takan bahwa hanya Dialah ‖Jalan‖ dan hanya melalui Dia
seseorang dapat masuk ke dalam hidup kekal. Ia berkata: Akulah jalan dan kebenaran dan
hidup. Tidak seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. (Yoh. 14:6)
namun sebelumnya Yesus juga sudah mengatakan bahwa Ia mendahului orang percaya
untuk pergi ke rumah Bapa untuk menyediakan tempat agar dimana Dia ada maka orang
percaya juga akan ada di sana. Ia mengatakan: Di rumah BapaKu banyak tempat tinggal.
13
Jika tidak demikian tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk
menyediakan tempat bagimu. (Yoh. 14:2) Jika dikatakan bahwa jika nama Yesus diseru
saat mau menghembuskan nafas terakhir maka hal itu akan menghantarkannya ke surga,
apakah ia tahu kapan ia akan menghembuskan nafas yang terakhir? Bagaimana jika nama
itu disebut tanpa iman oleh orang yang bersangkutan?
Atau jika tidak ada yang membisikkan nama Yesus ke telinganya? Atau, jika ada
orang yang membisikkan nama itu ke telinganya sementara ia sudah dalam keadaan
sekarat, mungkinkah ia dapat menyebut nama itu dengan sepenuh hati dan pikiran?
Kesimpulannya yaitu : bahwa jika orang Kristen tidak dapat memberi jawaban yang pasti,
hal itu pastilah disebabkan sebab mereka memang tidak memiliki kepastian akan
keselamatan itu. Memang banyak orang yang dapat menghafal firman Tuhan seperti Yoh.
3:16 atau ayat-ayat yang relevan dengan itu. Namun jika hati mereka belum dicelikkan oleh
Roh Kudus dan iman yang sesungguhnya belum dimiliki, maka mereka tetap seperti orang
buta berjalan atau orang yang hampir buta berjalan terbata-bata.
Jawaban yang beraneka-ragam ini perlu mendapat penelitian yang cermat serta
dibandingkan dengan apa yang dikatakan Alkitab. Tujuannya supaya kita yakin betapa
kelirunya jawaban-jawaban ini . Hal ini merupakan gambaran betapa banyak orang
Kristen yang sesat dan perlu ditolong. Bagaimana mereka dapat menolong orang lain yang
belum percaya? Mereka sendiri belum memiliki keyakinan yang jelas akan keselamatan.
Bisakah orang buta menuntun orang buta?
3. Percaya Tanpa Landasan Doktrinal Yang Jelas
Di pihak lain ada yang mengatakan percaya kepada Tuhan Yesus dan meyakini bahwa
ia sudah diselamatkan. Namun ia tidak memiliki landasan doktrinal yang kokoh di atas apa
iman ini berdiri. Keyakinan yang demikian tidak kuat. Orang seperti ini akan cepat
goyah saat berhadapan dengan kondisi kehidupan yang penuh gelom-bang. Dalam situasi
demikian mereka memang berdoa kepada Yesus. namun saat tidak ada kelepasan atau
jalan keluar itu lambat datangnya maka mereka akan menjadi ragu atau kecewa. Atau
saat suatu saat orang yang bersangkutan melakukan dosa yang fatal maka ia akan
mempertanyakan keselamatan itu. Alkitab memberi contoh tentang Petrus. Ia memberi
jawaban yang gamblang kepada Yesus: ‖Engkau yaitu Mesias, Anak Allah yang hidup!‖
Kata Yesus kepadanya: ‖Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia
yang menyatakan itu kepadamu, melainkan BapaKu yang di surga. Dan Akupun berkata
kepadamu: Engkau yaitu Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan
jemaatKu dan alam maut tidak akan menguasainya. (Mat. 16:16-18) namun kemudian
dalam saat yang sangat genting, Simon menyangkal Tuhan Yesus, walaupun ia sudah
diperingatkan Yesus sebelumnya. Yesus berkata: ‖Aku berkata kepadamu, sesungguhnya
malam ini, sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.‖ (Mat. 26:34)
Nubuatan Tuhan Yesus ini digenapi dan penggenapannya ditulis oleh Matius dalam
pasal 26:69-75. Dalam kasus lain orang yang seperti ini akan mudah goyah jika ada
ajaran yang baru datang kepadanya. sebab ia belum menjadi orang Kristen yang dewasa
secara rohani ia mudah terombang-ambing. Jika ia bertemu dengan orang yang mengatakan
dirinya hamba Tuhan maka dengan mudah ia terpengaruh dan kemudian mengadopsi
ajaran sumbang yang diajarkan. Paulus dengan sedih hati menjumpai jenis iman yang sama
pada jemaat Galatia. Ia berkata: Aku heran, bahwa kamu begitu lekas berbalik dari pada
Dia, yang oleh kasih karunia Kristus telah memanggil kamu, dan mengikuti suatu injil lain,
yang sebenarnya bukan Injil. Hanya ada orang yang mengacaukan kamu dan yang
bermamsud untuk memutar balikkan Injil Kristus. namun sekalipun kami atau seorang
malaikat dari surga yang memberitahukan kepada kamu suatu Injil yang berbeda dengan
Injil yang telah kami beritakan padamu, terkutuklah dia. (Gal. 1:6-8)
13
4. Pengalaman Pribadi Dengan Tuhan
Ada juga orang Kristen yang melandasi konsep keselamatan pada pengalaman pribadi
dengan Tuhan. Misalnya ia mengalami mukjizat kesembuhan, dll. Namun dalam Alkitab
dicantumkan tentang banyak orang yang telah mengalami mukjizat seperti ini, kemudian
meninggalkan Tuhan. Bahkan di antara mereka yang menyalibkan Tuhan Yesus banyak
terdapat orang yang tadinya sudah menikmati pertolongan Tuhan. Hal inilah yang
memicu adanya pendapat yang mengatakan bahwa teologia berkat atau teologia
kemak-muran bukanlah landasan yang benar bahwa seorang sudah pasti diselamatkan.
B. Pengertian Istilah Keselamatan
1. Pengertian Leksikon
Menurut Drs. Yandianto istilah ―keselamatan‖ berasal dari kata dasar ―selamat‖
(kb) yang artinya: terhindar dari mara bahaya, aman sentosa, sejahtera, tidak
kekurangan suatu apa, sehat, tidak mendapat gangguan kesukaran, beruntung,
tercapai maksudnya. Jadi ―keselamatan‖ (kb) artinya perihal selamat,
kesejahteraan, kebahagiaan, dsb. Jadi menurut Yandianto ―keselamatan‖
mengandung arti yang ada hubungannya dengan kesejahteraan, yaitu tidak adanya
masalah baik ekonomi maupun mental, rasa nyaman sebab tidak mengalami
kekurangan dalam bidang apapun
Dalam bahasa Inggris istilah ―keselamatan‖ diterjemahkan dengan ―salvation‖
(kb) artinya:1. a saving or rescue especially from evil, danger, or sin (ind. Satu usaha
penyelamatan atau pelepasan terutama dari yang jahat, bahaya dan dosa). 2.
something that saves or rescues (ind. sesuatu yang menyelamatkan atau melepaskan)
; 3. a soul‖s acceptance by God and the receiving of a soul into heaven (ind.
penerimaan Allah akan jiwa untuk masuk ke surga).
Bahasa Inggris lebih banyak memberikan pengertian dengan hal yang ada
hubungannya dengan jiwa. Bahkan pengertian no. 3 lebih dekat hubungannya
dengan arti ―keselamatan‖ yang menjadi tujuan Penulisan ini. Di dalam
bahasa Yunani, kata ―keselamatan‖ berasal dari kata kerja ―sozo‖ artinya
―menjadi sehat‖,
―menyembuhkan‖, ―mengawetkan‖ dan dalam kaitannya dengan manusia artinya
―menyelamatkan dari kematian‖ atau ―mempertahankan hidup‖. Dalam PL kata
―yasa‖ berarti ―kemerdekaan dari larangan-larangan dan ikatan-ikatan,
melepaskan dari kehancuran moral dan memberi kemenangan‖. Kata ini dipakai 278
kali; Istilah lain yaitu ―syaloom‖ yang berarti ― damai‖ dan ―sehat ― dan
dipakai sebanyak 68 kali dan ―salem‖ yang berarti persembahan syukur bagi
kebebasan sesuai dengan
―perjuangan‖
2. Pribadi Allah dan Penyelamatan Manusia
Pribadi Allah menuntut penyelamatan manusia. Titik awal penyelamatan dimulai
dari pribadi Allah. Dia yang maha suci, maha besar dan maha adil, tidak memiliki
ruang dalam hadiratNya bagi perkara-perkara yang hina, sia-sia dan terkutuk. Itulah
sebabnya semua insan yang hendak menghampiri hadiratNya harus disucikan
terlebih dahulu. Itulah sebabnya dalam Perjanjian Lama, setiap kali orang Israel
memberi persembahan kepada Allah, mereka harus memilih yang terbaik: hasil bumi
yang terbaik, lembu yang tidak memiliki cacat (Im. 5:15). Harun dan anak-
anaknya harus dikuduskan sebelum pentahbisan mereka melayani Tuhan (Imm.
8:2,5), dll. Allah mengambil inisiatif untuk mengadakan jalan keselamatan itu
sebagaimana yang telah Ia janjikan dalam Kej. 3:15. Janji ini dikatakanNya setelah
manusia jatuh ke dalam dosa.
13
Juga di dalam hakekatNya sebagai Kasih (1 Yoh. 4:8+16; Yoh. 3:16) tidak
menghendaki kebinasaan manusia. Sebagai Terang (1 Yoh. 1:5) Ia menghendaki
agar manusia berjalan di dalam terangNya dan hidup benar di hadapanNya. Sebagai
Roh (1 Yoh. 4:24) Ia ingin memimpin dan menyertai manusia dalam segala sesuatu.
Sesuai dengan hakekat-hakekeat ini Allah memiliki sifat kepribadian yang
mengembang, menyerap, mempengaruhi dan menghendaki persekutuan dengan
manusia yang diciptakanNya. Hal itu merupakan kehendakNya sebab Ia
menginginkan agar manusia hidup dalam kebahagiaan.
Hakekat Allah yang lain dan yang sangat menonjol ialah ―anugerah‖ dan
―kasih karunia‖. Hal inilah juga yang menjadi inti kepercayaan Kristen kalau
berbicara tentang penyelamatan (atonement). Konsep ini juga yang membuat
kepercayaan Kristen berbeda dengan ajaran agama-agama lain. Keselamatan yaitu
anugerah Allah dan Yesus Kristus yaitu perwujudan tertinggi dari anugerah
ini (Yoh. 1:17). Dengan anugerah ini orang Kristen yang sudah memilikinya
dimampukan untuk memulai kehidupan baru yang sinkron dengan kehendak Tuhan
dan firmanNya. Dengan anugerah ini manusia dimampukan untuk mengalami
penebusan dari perbudakan dosa, menikmati pengampunan, perdamaian dengan
Allah, dosanya ditutupi dan tidak diperhitungkan Allah lagi, pengangkatan menjadi
anak, pemuliaan sebagai anak Allah dan pewaris kehidupan kekal dan yang
dimampukan menjadi alat pilihan Tuhan untuk memberitakan Injil dan memuliakan
namaNya di dunia.
Alkitab memberi pengertian yang jauh lebih luas dan komprehensif tentang
pengertian ―keselamatan‖. Berikut ini yaitu beberapa kutipan dari Alkitab
yang diberikan untuk memberi pengertian ini :
a. Kelepasan dari dosa, sehingga dosa tidak memperhamba orang beriman lagi Ia
akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, sebab
Dialah yang akan menyelamatkan umatNya dari dosa mereka. (Mat. 1:21) Dan
kamu tahu bahwa Ia telah menyatakan diriNya supaya Ia menghapus segala
dosa dan di dalam Dia tidak ada dosa. (1 Yoh. 3:5)
b. Dari kenajisan, dengan jalan memberi pengampunan atau penyician. Aku akan
melepaskan kamu dari segala dosa kenajisanmu dan Aku akan menumbuhkan
gandum serta memperbanyaknya, dan Aku tidak lagi mendatangkan kelaparan
atasmu. (Yehez. 36:29)
c. Dari Iblis, sebab kuasa iblis telah dilucuti dengan kuasa kebangkitanNya Ia
telah melucuti pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa dan menjadikan
mereka tontonan umum dalam kemenanganNya atas mereka. (Kol. 2:15) sebab
anak-anak itu yaitu anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi
sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh
kematianNya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut, dan
supaya dengan jalan demikian Ia membebaskan mereka yang seumur hidupnya
berada dalam perhambaan oleh sebab takutnya kepada maut. (Ibr. 2: 14-15)
d. Dari murka Allah, sebab segala hutang dosa telah dibayar dengan darah Yesus.
Lebih-lebih sebab kita sekarang telah dibenarkan oleh darahNya, kita pasti
akan diselamatkan dari murka Allah. (Rom. 5:9).........dan untuk menantikan
kedatangan AnakNya dari surga yang telah dibangkitkanNya dari antara orang
mati, yaitu Yesus Kristus, yang akan menyelamatkan kita dari murka yang akan
datang. (1 Tes. 1: 10)
e. Dari dunia jahat ini, sehingga bagaimanapun dunia berusaha untuk merenggut
orang beriman namun ia tidak dapat dipisahkan dari Tuhan Yesus..............yang
13
telah menyerahkan diriNya sebab dosa-dosa kita, untuk melepaskan kita dari
13
dunia jahat yang sekarang ini, menurut kehendak Allah dan Bapa kita. (Gal. 1:
4)
f. Dari musuh-musuh, sebab musuh sudah dikalahkan Yesus untuk
melepaskan kita dari musush-musuh kita, dan dari tangan semua orang yang
membenci kita. .......supaya kita, terlepas dari tangan musuh‖, dapat beribadah
kepadaNYa tanpa takut. (Luk. 1: 71,74)
g. Dan dari kebinasaan kekal, sehingga orang beriman tidak usah takut lagi sebab
kebinasaan dan kematian kekal tidak lagi menimpa dia. sebab begitu besar
kasih Allah akan dunia ini sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang
tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa melainkan
beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus AnakNya ke dalam dunia
bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.
(Yoh. 3: 16-17)
Selanjutnya Alkitab mengatakan bahwa keselamatan itu:
a. Berasal dari Allah dan berdasar maksud Allah: Dari Tuhan datang
pertolongan, berkatMu atas umatMu. (Maz. 3:9) Orang-orang benar
diselamatkan oleh Tuhan; Ia yaitu tempat perlindungan mereka pada waktu
kesesakan. (Maz. 37:39) Sesungguhnya bukit-bukit pengorbanan yaitu tipu
daya, yakni keramaian di atas bukit-bukit itu! Sesungguhnya hanya pada Allah,
Tuhan kita ada keselamatan Israel. (Yer. 3:23) Dialah yang telah
menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan
berdasar perbuatan kita, melainkan berdasar maksud dan kasih
karuniaNya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita di dalam Kristus Yesus
sebelum permulaan zaman. (2 Tim. 1:9).
b. yaitu ketetapan Allah dan Ia berkehendak untuk memberinya: sebab Allah
tidak menetapkan kita untuk ditimpa murka, namun untuk beroleh keselamatan
oleh Yesus Kristus Tuhan kita. (1 Tes. 5: 9).........yang menghendaki supaya
semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran. (1
Tim. 2: 4)
c. Diberi Allah hanya melalui Kristus saja: sebab suami yaitu kepala isteri sama
seperti Kristus yaitu kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. (Ef. 5:
23) Baca juga Yes. 63:9; 45:21-22; 59:16; Kis. 4:12. Ef. 5:23.
d. Dinubuatkan untuk orang kafir dan orang Israel: Dengan jalan demikian seluruh
Israel akan diselamatkan seperti ada tertulis, Dari Sion akan datang Penebus, Ia
akan menyingkirkan segala kefasikan dari pada Yakub. (Rom. 11: 26) Baca juga
Yes. 35:4; 45:17,22; 49:6; 52:10; Zak. 9:16.
e. Dinyatakan dalam Injil: Di dalam Dia, kamu juga, sebab kamu telah
mendengarkan firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu – di dalam Dia
kamu juga, saat kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus yang
dijanjikanNya itu. (Ef. 1:13). dan yang sekarang dinyatakan oleh kedatangan
Juruselamat kita, yaitu Yesus Kristus, yang oleh Injil telah mematahkan kuasa
maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa. (2 Tim. 1:10)
f. Diterima melalui iman kepada Tuhan Yesus Kristus dan kelahiran baru: sebab
dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku
dan diselamatkan. (Rom. 10:10) Yesus menjawab kataNya: ‖Aku berkata
kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat
melihat kerajaan Allah.‖ (Yoh. 3:3)
g. Sempurna dan selama-lamanya:.... dan setelah Ia mencapai kesempurnaanNya,
Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat
13
kepadaNya. (Ibr. 5:9). yang tidak seperti imam-imam besar lain, yang setiap
hari harus mempersembahkan korban untuk dosanya sendiri dan sesudah itu
barulah untuk dosa umatnya, sebab hal itu telah dilakukanNya satu kali untuk
selama-lamanya, saat Ia mempersembahkan diriNya sendiri sebagai korban.
(Ibr. 7:25) Baca juga Yes. 45:17; 51:6.
C. Anugerah
Istilah kedua yang perlu mendapat penelaahan akan artinya ialah ―anugerah‖.
Istilah anugerah yaitu kata yang memiliki nuansa rohani. Untuk kata ini Drs. Yandianto
memberi arti ―pemberian dari pihak yang sangat dihormati‖.61 Misalnya: ―Ia
mendapat anugerah satya lencana dari Presiden Republik Indonesia‖, atau ―Tuhan
menganugerahkan seorang anak laki-laki kepada keluarganya.‖ Dalam bahasa Inggris
Holt memberi kata
―grace‖ untuk kata ―anugerah‖ yang artinya ―divine help or favor‖ (Ind. Pertolongan
Allah) Misalnya: Allah menganugerahkan keselamatan kepadanya.
1. Arti Anugerah dalam Perjanjian Lama
Perjanjian Lama memakai beberapa istilah untuk menjelaskan konsep
―anugerah‖. Namun pengertian dari istilah-istilah ini berkaitan satu dengan yang
lain dan juga sekaligus memberi latar belakang pengertian dalam Perjanjian Baru. New
Dictionary of Theology mengartikannya dengan: ―An objective relation of
undeserved favour by a superior to the inferior, which, in the case og divine grace
towards mankind, accompanies the ideas of covenant and election.‖ Dalam Alkitab
Perjanjian Lama beberapa istilah dipakai untuk kata ―anugerah‖.
a. ―Khen‖
Istilah ini memiliki kata kerja ―khanan‖ yang berarti ―membongkok‖ dan
―merendahkan diri‖. Istilah ini juga memiliki pengertian ―menurunkan
perhatian atau kasih‖. Sama seperti yang dikatakan oleh New Dictionary of
Theology. The New Bible Dictionary mengatakan bahwa: Secara implisit ada dua
oknum yang terlibat dalam pelaksanaan ―anugerah‖ yaitu seorang yang
memiliki kedudukan yang tinggi dan seorang yang memiliki kedudukan yang
rendah. Jadi seorang yang memberi anugerah ialah seorang yang berada dalam
posisi yang sangat tinggi dan harus merendahkan hati, membongkok untuk dapat
menurunkan perhatian atau kasih kepada seorang yang rendah posisinya.
Pengertian ini sangat cocok dengan pengertian Alkitab. Allah merendahkan diriNya
untuk memberi anugerahNya kepada manusia (Bil. 14:8; Rom. 8:32). Akar katanya
juga dapat dilihat dalam nama orang seperti: Hannah, Hanan, Hanami, Hananiah.
Istilah ini muncull 225 kali dalam PL.
Istilah ―khen‖ digunakan dalam beberapa bagian Alkitab untuk
menggambarkan keagungan kasih setia Allah kepada manusia. Beberapa contoh,
misalnya:
1) Kel. 33:13: Musa memohon anugerah Illahi bagi bangsa Israel yang
memberontak kepada Allah setelah hukum Taurat diberikan.
2) Kel. 34:6-8: Allah memperpanjang anugerahNya dengan memberikan Taurat
untuk yang kedua kalinya. Hal ini merupakan pemberian tanpa pamrih dari
Dia yang Superior kepada yang inferior, yaitu manusia.
3) Yer. 31:2: Allah menunjukkan anugerahNya dengan cara mengingatkan
bangsa Israel akan banyaknya ujian hidup yang mereka alami dalam
perjalanan keluar dari Mesir menuju tanah perjanjian, Kanaan.
4) Zak. 12:10: Nubuatan tentang pertobatan dan pembaharuan Israel sebagai
13
masa pencurahan anugerah Allah kepada mereka.
14
5) Ayub 33:24; Maz. 26:12b dan Kel. 33:19 yaitu merupakan ayat-ayat penting
yang pengertiannya sangat erat dengan penebusan dari perbudakan dosa.
Banyak ayat-ayat lain dalam Alkitab yang menunjukkan indikasi yang sama.
Kata ―khen‖ mengandung beberapa pengertian.
1) Pemberian cuma-cuma dari yang superior kepada yang inferior, yaitu sesuatu
yang tidak disangka-sangka sebab yang inferior tidak memiliki kelayakan
untuk menerimanya.
2) Membicarakan pembebasan dari kesulitan hidup sehari-hari. Dalam hal ini
pemakaian istilah ―khen‖ berkenaan dengan kehidupan jasmani.(Kel. 2:23-
25).
3) Penebusan dari dosa kepada hidup yang kekal. Dalam hal ini pemakaian kata
ini dipertautkan dengan hal-hal rohani.( Rom. 6:9).
b. ―Khesed‖
Istilah ini muncul kira-kira 250 kali dalam Perjanjian Lama dan merupakan istilah
yang paling erat hubungannya dengan kata ―kharis‖ yang dipakai dalam
Perjanjian Baru yang artinya ―anugerah‖. Menurut C.H. Dodd kata ―khesed‖
memiliki hubungan erat dengan pemakaian kata ―kharis‖ dalam bahasa
Yunani sehari-hari. Ryrie dalam bukunya The Grace of God (C.C. Ryrie, The
Grace of God, Chicago Moody Press, 1970, hal. 16) menyimpulkan bahwa dalam
pemakaian istilah ini:
1) Terlibat perasaan yang terdalam. Kasih illahi terlibat di dalamnya.
2) Melibatkan hubungan ynag intim antara Allah dan manusia dalam bentuk
perseorangan maupun kelompok sebab adanya perjanjian unilateral.
Perjanjian Allah kepada Abraham dan keturunannya yaitu perjanjian
unilateral sebab menyangkut keselamatan semua orang percaya (Kej. 12:1-3;
Roma 11:1-36).
3) jika kedua pengertian di atas digabung maka istilah ini akan bermakna
bahwa anugerah Allah itu kokoh, teguh dan tahan uji.66
Beberapa ajaran lain yang melibatkan istilah ―khesed‖ ialah:
1) Dalam Perjanjian Lama persekutuan dengan Allah dimungkinkan sebab kasih
setia Allah itu kekal dan tahan uji (Maz. 5:6-8, 36:8, 48:9-10).
Dari segi manusia diharapkan agar manusia memelihara kesaksian-kesaksian, upacara-
upacara dan hukum-hukum Tuhan dengan kasih dan takut akan Tuhan (Maz. 103: 18;
Ul. 7: 12; Neh. 1: 5). Ibadah dipelihara sebab kasih dan takut akan Tuhan bukan
sesuatu yang dilakukan secara rutinitas.
Penarikan kata ―khesed‖ sebab ketidak taatan manusia akan berarti ―pengadilan
dan murka Allah dinyatakan‖. (Yer. 16: 5; Bil. 14: 20-38); masa diam (silent period)
selama
400 tahun yaitu merupakan contoh signifikan dimana Allah tidak lagi
memperdengarkan suaraNya melalui para nabi di kalangan orang Israel.
2) Istilah ―khesed‖ sangat berhubungan erat dengan Perjanjian Daud
dan Perjanjian Musa. Mengenai Daud dan keturunannya Allah berkata: namun
kasih setiaKu tidak akan hilang dari padanya, seperti yang Kuhilangkan dari
raja Saul yang telah Kujauhkan dari hadapanmu. (2 Sam. 7:15) Kepada Musa
Allah berfirman: namun Aku akan menjukkan kasih setia kepada beribu-ribu
orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-
perintahKu. (Kel. 20:6)
3) Pembebasan yang diberikan Allah berakar pada kata ―khesed‖,
yaitu pembebasan dari musuh (Maz. 62:6-9), keresahan sebab penuduh-
14
penuduh (Maz. 54:3-5), pengembaraan (Maz. 57:2-6), air yang dalam, dan
bahkan dari Sheol. Semuanya sebab kasih karunia Allah.
14
4) Kebangunan rohani umat selalu dikaitkan dengan ―khesed‖ (Maz.
85:7-9). Ayat 7 berbicara tentang kebangunan rohani secara nasional












