Tampilkan postingan dengan label teologi sistematik 8. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label teologi sistematik 8. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Juli 2026

teologi sistematik 8


 Saran tentang tindakan pelestarian ini dapat dibuktikan menurut 

akal maupun menurut Alkitab. Zat tidak memiliki apa-apa dalam 

dirinya yang menyebabkan keberadaannya. Di mana pun zat tidak 

Karya-Karya Allah: Pemerintahan-Nya yang Berdaulat 185

dapat berdiri sendiri, bergantung pada lingkungan, dan berubah- 

ubah; zat tidak ada dengan sendirinya dan tidak dapat memelihara 

diri sendiri. Tidak ada kekuatan yang ada dengan sendirinya atau 

dapat memperbaharui dirinya sendiri, karena di mana saja kekuatan 

menyatakan adanya suatu kehendak yang mengatur dan menopang­

nya. Lagi pula, Allah tidak akan merupakan kekuasaan tertinggi 

jika  ada sesuatu yang terjadi atau yang ada dalam alam semesta 

itu terlepas dari kehendak dan kuasa-Nya.

Alkitab mengajarkan bahwa sekalipun Allah beristirahat setelah 

menyelesaikan penciptaan dan menetapkan tatanan kekuatan-ke­

kuatan alam, Allah terus melanjutkan kegiatan-Nya untuk menegak­

kan alam semesta serta kuasa-kuasa yang ada di dalamnya. Kristus 

yaitu  perantara yang melaksanakan tindakan pelestarian ini, seba­

gaimana Ia yaitu  perantara yang melaksanakan penciptaan. Be­

berapa ayat Alkitab berbicara tentang tindakan pelestarian ini secara 

luas dan lengkap. Misalnya, "Hanya Engkau yaitu  Tuhan! Engkau 

telah menjadikan langit, ya langit segala langit dengan segala bala 

tentaranya, dan bumi dengan segala yang ada di atasnya, dan laut 

dengan segala yang ada di dalamnya. Engkau memberi hidup ke­

pada semuanya itu dan bala tentara langit sujud menyembah ke- 

pada-Mu" (Nehemia 9:6); "Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu 

dan segala sesuatu ada di dalam Dia" (Kolose 1:17); "Ia yaitu  

cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang 

segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan" (Ibrani 

1:3).

Ayat-ayat lainnya menyebutkan hal-hal tertentu yang dilestari- 

kan-Nya. Allah melestarikan ciptaan-Nya yang hidup maupun yang 

tidak hidup, "Manusia dan hewan Kauselamatkan, ya Tuhan" (Maz­

mur 36:7); "Ia mempertahankan jiwa kami di dalam hidup dan tidak 

membiarkan kaki kami goyah" (Mazmur 66:9); "jika  Engkau 

menyembunyikan wajah-Mu, mereka terkejut; jika  Engkau 

mengambil roh mereka, mereka mati binasa dan kembali menjadi 

debu" (Mazmur 104:29); dan "Sebab di dalam Dia kita hidup, kita 

bergerak, kita ada" (Kisah 17:28). Allah juga memelihara orang- 

orang kudus-Nya, "Sambil menjaga jalan keadilan, dan memelihara 

jalan orang-orang-Nya yang setia" (Amsal 2:8); "... Sebab Tuhan 

mencintai hukum, dan Ia tidak meninggalkan orang-orang yang di- 

kasihi-Nya. Sampai selama-lamanya mereka akan terpelihara, namun 

186 Teologi

anak-cucu orang-orang fasik akan dilenyapkan" (Mazmur 37:28); 

"Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka 

pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun 

tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku" (Yohanes 10:28).

C. CARA MELESTARIKAN CIPTAAN

Sekalipun semua penganut teisme mengakui bahwa Allah dengan 

satu dan lain cara telah melestarikan segala sesuatu yang telah dicip­

takan-Nya, namun tidak semua mereka sependapat tentang cara 

yang digunakan Allah untuk melaksanakannya. Sesungguhnya, dua 

teori yang telah dikemukakan sebenarnya menolak ajaran pelestari­

an.

1. Teori deistik. Deisme menjelaskan tindakan pelestarian alam 

semesta dari segi hukum alam. Teori ini menyatakan bahwa Allah 

menciptakan alam semesta lalu memberikan kepadanya kuasa yang 

cukup sehingga alam semesta dapat memelihara keberadaannya sen­

diri. Dengan demikian, alam semesta merupakan suatu mekanisme 

besar yang sanggup memelihara dirinya sendiri, dan Allah hanya 

melihat dunia dan cara kerjanya tanpa memakai  kemampuan- 

Nya secara langsung untuk memeliharanya. Akan namun , dugaan ini 

salah, karena di manakah ada mesin yang sanggup berjalan sendiri 

terus-menerus? Lagi pula, ada bukti-bukti yang menunjukkan bahwa 

Allah tidak meninggalkan alam semesta ciptaan-Nya. Orang Kristen 

percaya bahwa kita memiliki suatu penyataan yang khusus menge­

nai Allah di dalam Alkitab, bahwa Allah telah menjelma menjadi 

manusia di dalam Yesus Kristus melalui kelahiran yang ajaib, bah­

wa kelahiran baru merupakan suatu tindakan ilahi yang adikodrati 

di dalam hati manusia, bahwa Allah menjawab doa-doa kita, dan 

bahwa Allah kadang-kadang campur tangan secara ajaib dalam per­

kara-perkara dunia ini. Oleh karena itu, dari sudut pandang Kristen 

teori ini tidak memuaskan samasekali.

2. Teori penciptaan berkesinambungan. Teori ini membaurkan 

penciptaan dengan tindakan pelestarian. Pandangan deistik menya- 

takan bahwa segala sesuatu yang ada ditopang oleh hukum alam, 

dan bahwa dari saat ke saat Allah menciptakan alam semesta ber­

Karya-Karya Allah: Pemerintahan-Nya yang Berdaulat 187

sama segala sesuatu yang ada. Pandangan ini didasarkan pada 

pengertian bahwa segala kekuatan itu merupakan kehendak ilahi 

yang bekerja secara langsung serta tidak memberikan tempat sama­

sekali kepada kehendak manusia dan kegiatan yang tak langsung 

dari kuasa ilahi dalam bentuk hukum alam. Sebagai akibatnya, teori 

ini menuntun kita kepada panteisme. Kesalahan-kesalahan teori ini 

ialah: (1) bahwa kegiatan yang biasa dalam alam dijadikan peng­

ulangan kegiatan penciptaan, dan bukan kegiatan kuasa ilahi yang 

tidak langsung; (2) bahwa Allah dianggap sebagai pencipta dosa 

dengan menjadikan semua kehendak makhluk itu kehendak-Nya; 

(3) bahwa manusia tidak dianggap sebagai makhluk nyata yang ber­

moral yang dapat menentukan nasib sendiri; dan (4) bahwa semua 

pertanggungjawaban moral ditiadakan.

3. Teori persetujuan. Teori ini sifatnya alkitabiah. Teori ini ber­

anggapan bahwa Allah menyetujui segala kegiatan zat dan pikiran. 

Sekalipun kehendak Allah bukan satu-satunya kekuatan di alam se­

mesta ini, tidak ada kekuatan atau manusia mana pun yang sanggup 

ada dan bertindak tanpa persetujuan-Nya (Kisah 17:28; I Korintus 

12:6). Kuasa ilahi merembes ke dalam kuasa manusia tanpa mem­

binasakan atau menyerapnya. Manusia tetap memiliki kuasa dan 

kemampuan alamiahnya serta dapat memakai nya. Namun jelas­

lah bahwa, sekalipun Allah memelihara fungsi pikiran dan tubuh 

manusia, Ia menyetujui tindakan-tindakan jahat makhluk-makhluk 

ciptaan-Nya itu hanya sejauh tindakan-tindakan itu bersifat wajar 

dan bukan karena bersifat jahat. Dengan kata lain, Allah memberi­

kan kuasa alamiah kepada manusia, namun  manusialah yang ber­

tanggung jawab saat  kuasa itu ia pakai untuk berbuat jahat. Ke­

bencian Allah terhadap dosa membuktikan bahwa bukan Dia yang 

menyebabkan perbuatan jahat manusia, "Janganlah hendaknya 

kamu melakukan kejijikan yang Aku benci ini" (Yeremia 44:4); dan 

"jika  seorang dicobai, janganlah ia berkata, ’Pencobaan ini da­

tang dari Allah!’ Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, 

dan Ia sendiri tidak mencobai siapa pun. namun  tiap-tiap orang di­

cobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat oleh­

nya" (Yakobus 1:13-14, bandingkan dengan Habakuk 1:13).

188 Teologi

H. AJARAN ALKITAB TENTANG TINDAKAN 

PEMELIHARAAN

Pandangan Kristen menegaskan bahwa Allah bukan saja telah men­

ciptakan alam semesta ini dengan segenap sifat dan kekuatannya, 

dan bahwa Ia melestarikan segala sesuatu yang telah diciptakan-Nya 

itu, namun  bahwa sebagai Oknum yang kudus, mahamurah, bijaksana 

serta mahakuasa Ia juga menjalankan pengawasan yang berdaulat 

atas ciptaan-Nya. Pengawasan yang berdaulat ini disebut dengan 

istilah pemeliharaan.

A. DEFINISI PEMELIHARAAN

Secara etimologis, kata "providence" (bahasa Inggris) yang diter­

jemahkan sebagai pemeliharaan artinya melihat/mengetahui sebe­

lumnya. Dari pemikiran dasar ini maka kata ini kemudian mendapat 

arti menyediakan untuk masa depan. Akan namun , dalam teologi kata 

"providence" mendapat arti yang lebih khusus lagi, yaitu kegiatan 

berkesinambungan Allah untuk menjadikan segenap peristiwa di bi­

dang fisik, mental, dan moral melaksanakan rencana yang telah dite- 

tapkan-Nya, yaitu rencana yang merupakan pola utama Allah dalam 

menciptakan alam semesta ini. Memang diakui bahwa kejahatan 

sudah memasuki dan mengotori alam semesta, namun kejahatan 

tidak dibiarkan menggagalkan tujuan mula-mula Allah, yakni tujuan 

yang bijaksana, penuh kebaikan, dan kudus.

B. BUKTI-BUKTI AJARAN TINDAKAN PEMELIHARAAN

1. Sifat Allah dan alam semesta. Karena Allah bukan sekadar 

Oknum yang berkepribadian, tidak terbatas kebijaksanaan, kemu­

rahan, dan kuasa-Nya, namun  Ia juga pencipta dan oleh karenanya 

pemilik alam semesta, maka dengan sendirinya dapat diharapkan 

bahwa Ia akan memerintah apa yang dimiliki-Nya itu. Sebagai Allah 

yang berkepribadian dan bijaksana, dapat diharapkan bahwa Ia akan 

bertindak secara rasional; sebagai Allah yang baik, dapat diharapkan 

bahwa Ia menaruh perhatian sungguh-sungguh terhadap kesejah­

teraan ciptaan-Nya; dan sebagai Allah yang mahakuasa, dapat diper­

cayai bahwa Ia mampu melaksanakan segala sesuatu yang diren- 

canakan-Nya. Paham orang Kristen tentang sifat Allah ini yang 

Karya-Karya Allah: Pemerintahan-Nya yang Berdaulat 189

menjadi dasar bagi kepercayaannya bahwa pada akhirnya kebenaran 

akan menang.

Sebagai bukti praktis dari kepercayaan bahwa Allah menjalankan 

pemerintahan yang berdaulat atas ciptaan-Nya, kita melihat bahwa 

di mana pun alam semesta menunjukkan adanya kecerdasan dan 

pengawasan, sekalipun kecerdasan itu tidak ada  di dalam zat 

itu sendiri. Sarana-sarana dipakai untuk mencapai tujuan yang di­

inginkan, baik di alam yang kelihatan maupun di alam yang tidak 

kelihatan. Kita melihat bahwa kerajaan yang satu disesuaikan de­

ngan kerajaan yang lain dan tata surya disesuaikan dengan bumi 

kita sebagai keseluruhan. Bukti adanya kecerdasan dan pengawasan 

ini juga dapat dilihat dalam keadaan jasmani manusia. Kesadaran 

akan ketergantungan kita mencakup pemikiran bahwa kita tidak 

hanya berasal dari Dia, namun  bahwa kelangsungan kehidupan kita 

juga bergantung pada-Nya. Ia memelihara jiwa kita sehingga terus 

hidup; pada saat Ia mengambil nyawa kita, maka matilah kita. Hal 

yang sama dapat dikatakan dari segi kesadaran kita akan tanggung 

jawab. Tersirat dalam rasa tanggung jawab itu bahwa Allah berhak 

menetapkan hukum-hukum perilaku moral, bahwa Ia mengetahui 

seluruh jalan kehidupan kita, dan bahwa Ia akan memberikan pahala 

kepada orang yang benar dan menghukum orang fasik. Dengan kata 

lain, alam semesta itu sendiri membuktikan pemerintahan Allah 

yang berdaulat atasnya.

2. Ajaran Alkitab. Alkitab lebih banyak berbicara tentang peker­

jaan Allah dalam memelihara ciptaan-Nya daripada tentang peker­

jaan Allah dalam penciptaan. Banyak ayat menunjukkan bahwa 

Allah menjalankan pemerintahan yang berdaulat atas segenap alam 

fisik, atas dunia margasatwa dan tanaman, atas bangsa-bangsa di 

bumi, dan atas setiap orang secara pribadi.

a. Allah berkuasa atas alam fisik. Alkitab menunjukkan bahwa 

Allah menguasai seluruh alam fisik. Sinar matahari (Matius 5:45), 

angin (Mazmur 147:18), kilat (Ayub 38:25, 35), hujan (Ayub 38:26; 

Matius 5:45), guntur (I Samuel 7:10), air (Mazmur 147:18), hujan 

es (Mazmur 148:8), es (Ayub 37:10), salju (Ayub 37:6; 38:22), 

serta embun beku (Mazmur 147:16) semuanya tunduk kepada perin- 

tah-Nya. Benda-benda angkasa, seperti matahari (Matius 5:45) dan 

bintang-bintang (Ayub 38:31-33), patuh kepada kehendak-Nya. Gu­

190 Teologi

nung-gunung dipindahkan (Ayub 9:5), bumi dilanda gempa (Ayub 

9:6), dan tanah menghasilkan panen (Kisah 14:17) atas perintah- 

Nya. Ia memakai unsur-unsur yang baik untuk menunjukkan ke­

baikan dan kasih-Nya, dan memakai unsur-unsur penghancur se­

bagai alat-alat untuk melaksanakan disiplin dan hukuman. Karena 

itu, manusia hendaknya merendahkan diri pada masa hukuman-Nya 

menimpa mereka dan berdoa kepada Dia yang berkuasa atas segala 

kekuatan alam.

b. Allah berkuasa atas tanaman dan hewan. Setiap ciptaan 

hidup berada dalam tangan Allah (Ayub 12:10). Allah memelihara 

dan mengawasi semua tanaman (Yunus 4:6; Matius 6:28:30), ung­

gas (Matius 6:26; 10:29), margasatwa (Mazmur 104:21, 27:28; 

147:9), dan ikan (Yunus 1:17; Matius 17:27).

c. Allah berkuasa atas bangsa-bangsa di muka bumi ini. Allah 

"yang memerintah atas bangsa-bangsa" (Mazmur 22:29). Ia yang 

membuat mereka berkembang dan membinasakan mereka (Ayub 

12:23), mengawasi dan menghakimi mereka (Mazmur 66:7; 75:8), 

menetapkan dan menurunkan para penguasa (Daniel 2:37-39; 4:25), 

menetapkan batas-batas negara (Kisah 17:26), dan memakai bangsa- 

bangsa dan penguasa mereka untuk melaksanakan apa yang dike- 

hendaki-Nya (Yesaya 7:20; 10:5-15; 45:1-4). "Tidak ada pemerintah 

yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, 

ditetapkan oleh Allah." (Roma 13:1).

d. Allah berkuasa atas seluruh hidup manusia. (1) Atas kelahir­

an, karier, dan kematian manusia. Allah dengan giat terlibat sebe­

lum seseorang dilahirkan (Mazmur 139:16; Yeremia 1:5) dan me­

laksanakan rencana-Nya dalam kehidupan seseorang (I Samuel 

16:1; Galatia 1:15-16). Kenyataannya memang demikian, entah hal 

itu disadari ataupun tidak disadari (Yesaya 45:5; Ester 4:14). Allah 

menyediakan semua kebutuhan manusia (Matius 5:45; 6:25-32; 

Kisah 14:17) dan menentukan saat dan cara seseorang meninggal 

dunia (Ulangan 32:49-50; Yohanes 21:19; II Timotius 4:6-8). (2) 

Atas keberhasilan dan kegagalan manusia. Tuhan meninggikan dan 

menurunkan manusia (Mazmur 75:8), menurunkan raja-raja dan 

meninggikan orang yang hina (Lukas 1:52), menjadikan kaya dan 

miskin (I Samuel 2:6-8). Allah terlibat dalam proses berpikir 

manusia (Amsal 21:1). (3) Atas keadaan-keadaan yang paling 

sepele. Allah memperhatikan burung pipit, apalagi rambut di kepala 

Karya-Karya Allah: Pemerintahan-Nya yang Berdaulat 191

kita (Matius 10:29-30). Allah menetapkan bagaimana hasil sebuah 

undian (Amsal 16:33). Allah bahkan mengatur apakah seseorang 

tidur atau tidak tidur (Ester 6:1). (4) Atas semua kebutuhan umat- 

Nya. Allah memelihara umat-Nya (I Petrus 5:7), menyediakan ke­

amanan (Mazmur 4:9); melindungi (Mazmur 121:3), menyediakan 

yang baik (Mazmur 5:12), menopang (Mazmur 63:9), menyediakan 

segala kebutuhan (Filipi 4:19), dan pada umumnya membuat segala 

sesuatu mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia 

(Roma 8:28). 'Tidak ada telinga yang mendengar, dan tidak ada 

mata yang melihat seorang allah yang bertindak bagi orang-orang 

yang menantikan dia; hanya Engkau yang berbuat demikian" 

(Yesaya 64:4). (5) Allah berkuasa atas nasib orang-orang yang di­

selamatkan dan yang tidak diselamatkan. Ia akan menuntun orang 

percaya sepanjang hidupnya hingga mencapai kemuliaan (Mazmur 

73:24), dan, sekalipun ia jatuh, Tuhan akan menopang dia (Mazmur 

37:23-24), namun  hukuman dari Tuhan akan menimpa orang yang 

tidak percaya (Mazmur 11:6). (6) Allah berkuasa atas tindakan-tin­

dakan bebas manusia. Ia bekerja di dalam hati bangsa Mesir untuk 

melaksanakan kehendak-Nya (Keluaran 12:36), dan demikian pula 

di dalam hati Daud (I Samuel 24:18), Artahsasta (Ezra 7:27), orang 

percaya (Filipi 2:13), raja (Amsal 21:1), bahkan semua orang 

(Yeremia 10:23). "Manusia dapat menimbang-nimbang dalam hati, 

namun  jawaban lidah berasal daripada Tuhan" (Amsal 16:1).

Kalau demikian, bagaimana perbuatan berdosa manusia dapat 

cocok dengan program Allah yang berdaulat? Adakah Allah meng­

haruskan orang berbuat dosa? Beberapa peristiwa dalam Alkitab 

nampaknya menunjukkan hal demikian. Allah mengeraskan hati 

Firaun (Keluaran 10:27); yaitu  dosa bagi Daud untuk menghitung 

orang Israel, namun Allah yang menggerakkan hati Daud untuk 

melakukan hal itu (II Samuel 24:1; I Tawarikh 21:1); Allah 

menyerahkan orang-orang berdosa untuk berbuat dosa lebih banyak 

(Roma 1:24, 26, 28); Allah mengurung semua orang dalam ketidak­

taatan (Roma 11:32); dan selama masa kesengsaraan besar Allah 

akan mendatangkan pengaruh yang menyesatkan sehingga orang- 

orang yang tidak percaya kepada Allah akan percaya kepada dusta 

(II Tesalonika 2:11). Jikalau Allah tidak menyebabkan dosa 

(Habakuk 1:13; Yakobus 1:13; I Yohanes 1:5; 2:16), bagaimana 

kita dapat menerangkan peristiwa-peristiwa ini ? Apakah 

hubungan Allah dengan dosa manusia? Soal ini dapat dijawab de­

192 Teologi

ngan empat cara. (1) Sering kali Allah menahan manusia untuk 

melakukan dosa yang ingin dilakukannya. Tindakan ini disebut 

"pemeliharaan yang mencegah". Allah berkata kepada Abimelekh, 

"Aku pun telah mencegah engkau untuk berbuat dosa terhadap Aku; 

sebab itu Aku tidak membiarkan engkau menjamah dia" (Kejadian 

20:6). Daud berdoa, "Jauhkanlah aku dari dosa yang disengaja, ja­

ngan biarkan aku dikuasai olehnya" (Mazmur 19:13, BIS, banding­

kan dengan Matius 6:13). Allah telah berjanji bahwa orang percaya 

tidak akan dicobai melampaui kekuatannya (I Korintus 10:13). (2) 

Allah kadang-kadang tidak secara aktif menahan orang untuk ber­

buat dosa, namun  membiarkan dosa itu terjadi. Tindakan ini disebut 

"pemeliharaan yang mengizinkan". Dalam Hosea 4:17 Allah berfir­

man, "Efraim bersekutu dengan berhala-berhala, biarkanlah dia." 

Allah "membiarkan semua bangsa menuruti jalannya masing- 

masing" (Kisah 14:16, bandingkan dengan II Tawarikh 32:31; Maz­

mur 81:13; Roma 1:24, 26, 28). (3) Selanjutnya, Allah memakai 

pemeliharaan yang mengarahkan. Allah membiarkan kejahatan ter­

jadi, namun  Ia mengarahkannya. Yesus mengatakan kepada Yudas, 

"Apa yang hendak kau perbuat, perbuatlah dengan segera" (Yo­

hanes 13:27). Orang-orang yang terlibat dalam penyaliban Kristus 

melakukan apa yang dari semula telah ditetapkan oleh Allah untuk 

terjadi (Kisah 2:23; 4:27-28). Maksud manusia dalam menyalibkan 

Yesus Kristus itu jahat, namun  Allah memakai maksud jahat ini  

untuk melakukan kehendak-Nya. Allah memakai kemarahan ma­

nusia untuk memuji Dia (Mazmur 76:10, bandingkan dengan Ye­

saya 10:5-15). (4) Akhirnya, Allah dengan memakai pemeliharaan 

yang membatasi, menetapkan batas-batas yang tidak dapat dilam­

paui oleh kejahatan dan akibat-akibatnya. Allah berfirman kepada 

Iblis, "Nah, segala yang dipunyainya ada dalam kuasamu; hanya 

janganlah engkau mengulurkan tanganmu terhadap dirinya" (Ayub 

1:12, bandingkan dengan Ayub 2:6; I Korintus 10:13; II Tesalonika 

2:7; Wahyu 20:2-3).

Dari pertimbangan-pertimbangan ini  jelaslah bahwa semua 

tindakan jahat yang dilakukan oleh manusia berada di bawah peng­

awasan Allah yang berdaulat. Perbuatan-perbuatan jahat itu hanya 

dapat terjadi melalui izin Tuhan, dan hanya sejauh batas peluang 

yang diberikan Allah. Sekalipun perbuatan-perbuatan itu jahat, 

Allah dapat memakainya demi kebaikan. Dengan demikian perilaku 

Karya-Karya Allah: Pemerintahan-Nya yang Berdaulat 193

jahat kakak-kakak Yusuf, sifat keras kepala Firaun, nafsu penak­

lukan bangsa-bangsa kafir yang menyerbu Tanah Suci dan akhirnya 

menawan bangsa Israel, penolakan dan penyaliban Kristus, penga­

niayaan gereja, serta peperangan dan revolusi di antara bangsa- 

bangsa, semuanya telah dipakai oleh Allah untuk kemuliaan dan 

terwujudnya rencana-Nya. Kenyataan bahwa Allah telah mengubah 

kejahatan menjadi kebaikan seharusnya mendorong umat-Nya agar 

percaya bahwa Ia akan melakukan hal yang sama terhadap keja­

hatan yang dilakukan generasi dewasa ini.

C. TUJUAN TINDAKAN PEMELIHARAAN

Allah memerintah dunia dengan maksud untuk membahagiakan 

makhluk ciptaan-Nya. saat  menggoda Hawa, Iblis mengatakan 

secara tak langsung bahwa Allah hendak menahan sesuatu yang 

baik dari Hawa dan Adam (Kejadian 3:4-5), dan Iblis memang dari 

dulu sudah mencoba untuk meyakinkan manusia bahwa Allah me­

nahan hal yang baik dari mereka. Sebaliknya Paulus mengatakan, 

"Namun Ia bukan tidak menyatakan diri-Nya dengan berbagai-bagai 

kebajikan, yaitu dengan menurunkan hujan dari langit dan dengan 

memberikan musim-musim subur bagi kamu. Ia memuaskan hatimu 

dengan makanan dan kegembiraan" (Kisah 14:17). Yesus menga­

takan, Allah "menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang 

yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang 

yang tidak benar" (Matius 5:45). Kebaikan Allah mempunyai tujuan 

yang penting, yaitu menuntun orang kepada pertobatan (Roma 2:4)-. 

Secara khusus Allah mengusahakan kesejahteraan anak-anak-Nya, 

karena pemazmur mengatakan, "Ia tidak menahan kebaikan dari 

orang yang hidup tidak bercela" (Mazmur 84:12). Paulus menga­

takan, "Kita tahu sekarang bahwa Allah turut bekerja dalam segala 

sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi 

Dia" (Roma 8:28).

Allah juga memerintah dunia dengan tujuan untuk pengembangan 

mental dan moral umat manusia. Memang pendidikan umat manusia 

itu ada, namun pendidikan ini  tidaklah mengganti keselamatan. 

Keseluruhan sistem Imamat Lewi sifatnya mendidik, mempersiap­

kan jalan bagi kedatangan Anak Domba Allah yang sejati yang 

menghapus dosa dunia (Galatia 3:24). Pengembangan mental dan 

194 Teologi

moral ini dapat dilihat dalam berbagai cara sepanjang sejarah gereja 

Kristen. Pengembangan ini  dapat dilihat dalam meninggikan 

derajat wanita, pendirian berbagai rumah sakit, perkenalan berbagai 

sistem pendidikan, penghapusan perbudakan, pemberian kebebasan 

beragama, perkembangan teknologi dalam bidang-bidang seperti 

komunikasi dan pengangkutan, dan lain-lain. Semua ini merupakan 

perkembangan yang berperikemanusiaan, namun akhirnya kita harus 

merunutnya kembali kepada pemerintahan Allah yang memelihara 

bumi ini. Sekalipun perkembangan-perkembangan ini hanya bersifat 

sementara, semua itu dapat dipakai untuk menyebarkan Injil.

Allah memerintah dunia dengan tujuan untuk menyelamatkan dan 

mempersiapkan suatu umat milik-Nya sendiri. Ia memilih Israel 

agar mereka menjadi umat-Nya (Keluaran 19:5-6), dan Ia juga telah 

memanggil gereja dengan tujuan yang sama (Titus 2:14; I Petrus 

2:9). Penjelmaan Allah di dalam Kristus, kematian Kristus yang 

mendamaikan, karunia dan kedatangan Roh Kudus, penulisan dan 

pemeliharaan Kitab Suci, serta pendirian gereja dengan pelayanan­

nya, semuanya itu dimaksudkan untuk menyelamatkan dan memper­

siapkan suatu umat kepunyaan-Nya sendiri. Dalam arti yang 

sesungguhnya, tindakan pemeliharaan diarahkan untuk menjadikan 

dan memelihara orang-orang kudus (Efesus 3:9-10; 5:25-27). Jelas­

lah bahwa Allah juga memberkati orang yang belum diselamatkan 

karena kehadiran umat-Nya di tengah-tengah mereka (Kejadian 

18:22-33; II Raja-Raja 3:13-14; Matius 5:13-16).

Tujuan utama pemerintahan Allah ialah kemuliaan-Nya sendiri. 

Ia memerintah dengan tujuan menunjukkan kesempurnaan-kesem- 

purnaan-Nya: kesucian-Nya dan keadilan-Nya, kuasa-Nya, hikmat- 

Nya, kasih-Nya, dan kebenaran-Nya. Tindakan pemeliharaan di­

arahkan untuk menyatakan sifat-sifat ini. Kekudusan dan keadilan- 

Nya ditunjukkan dalam kebencian-Nya dan perlawanan-Nya terha­

dap dosa; kuasa-Nya nampak dalam karya penciptaan, pelestarian, 

pemeliharaan, dan penebusan-Nya; hikmat-Nya diperlihatkan dalam 

menetapkan berbagai cara dan sarana untuk mencapai apa yang di- 

rencanakan-Nya; kasih-Nya nampak dalam penyediaan kebutuhan 

ciptaan-Nya, khususnya saat  Ia menyediakan keselamatan dengan 

jalan mengaruniakan Putra-Nya; dan kebenaran-Nya dinyatakan da­

lam menetapkan hukum-hukum alam dan pikiran, dan dalam ke- 

setiaan-Nya untuk memenuhi semua janji-Nya. Jadi, tujuan utama 

Karya-Karya Allah: Pemerintahan-Nya yang Berdaulat 195

pemerintahan-Nya yang berdaulat ialah penyataan kemuliaan-Nya. 

Sebagaimana telah dikatakan-Nya sendiri, "Aku akan melakukan­

nya oleh karena Aku, ya oleh karena Aku sendiri, sebab masakan 

nama-Ku akan dinajiskan? Aku tidak akan memberikan kemuliaan- 

Ku kepada yang lain" (Yesaya 48:11).

D. SARANA-SARANA YANG DIPAKAI DALAM PELAKSANAAN 

PEMELIHARAAN

Dalam perkara-perkara lahiriah, Allah memakai hukum-hukum 

alam. Melalui hukum-hukum ini Allah telah menetapkan musim- 

musim dan memberi kepastian tentang adanya makanan bagi peng­

hidupan kita (Kejadian 8:22). Lewat hukum-hukum ini juga, Ia 

telah memberikan manusia naluri penyelamatan diri sendiri dan rasa 

tanggung jawab moral (Roma 1:26; 2:15). Kadang-kadang Ia me­

nambah pada hukum-hukum alam ini dengan mengadakan mukjizat. 

Demikianlah Ia membebaskan dan mempersiapkan Israel dengan 

memakai mukjizat (Keluaran 14:21-31), Ia memberikan kelegaan 

pada masa perang (II Raja-Raja 3:16-17), Ia membebaskan hamba- 

Nya Elisa (II Raja-Raja 6:18), dan Ia membebaskan Petrus untuk 

pelayanan selanjutnya (Kisah 12:1-19). Kadang-kadang Ia menga­

dakan sesuatu dengan mengucapkan firman-Nya yang berkuasa. 

Bila Ia bersabda, terjadilah apa yang dikehendaki-Nya; bila Ia me­

merintah, semuanya berdiri tegak (Mazmur 33:9); bila Ia memang­

gil serangga-serangga perusak, datanglah mereka (Mazmur 105:31, 

34); bila Ia mengutarakan firman yang menyembuhkan, maka pe­

nyakit menghilang (Matius 8:8, 13); dan bila si jahat akan datang 

untuk memerintah dunia sebentar, maka Kristus akan tampil untuk 

menghancurkan dia dengan firman-Nya yang berkuasa (II Tesalo­

nika 2:8, bandingkan juga Wahyu 19:20-21).

Dalam perkara-perkara batiniah Allah memakai berbagai sarana. 

(1) Ia memakai firman-Nya. Manusia sering kali disuruh membaca 

Alkitab untuk memperoleh tuntunan dan petunjuk (Yosua 1:7-8; 

Yesaya 8:20; Kolose 3:16). Raja maupun rakyat harus tunduk 

kepada Firman Tuhan ini (Ulangan 17:18-20). (2) Allah menghim­

bau kepada akal manusia dalam hal menyelesaikan persoalan-per­

soalan mereka (Kisah 6:2). Jalan-jalan Allah tidak dapat dipahami 

dengan akal manusia, namun jalan-jalan itu tidak bertentangan de­

196 Teologi

ngan akal sehat. (3) Allah memakai himbauan. Ia telah menetapkan 

pelayanan hamba-hamba-Nya untuk mengajar dan mengajak umat- 

Nya untuk mempercayai kebenaran (Yeremia 7:13; 44:4; Zakharia 

7:7; Kisah 17:30). Melalui hamba-hamba-Nya Allah menghimbau 

agar manusia mau berdamai kembali dengan-Nya (II Korintus 5:20). 

(4) Allah memakai perasaan batin yang mengekang dan menahan. 

Paulus sangat peka terhadap petunjuk-petunjuk batin ini yang me­

nyatakan kehendak Allah (Kisah 16:6-7). (5) Allah memakai ke­

adaan-keadaan yang nampak. Allah menuntun dengan pintu yang 

terbuka dan dengan pintu yang tertutup (I Korintus 16:9; Galatia 

4:20). Tentu saja, selalu ada kemungkinan bahwa keadaan-keadaan 

yang tidak menguntungkan merupakan ujian untuk iman kita dan 

bukan suatu halangan dari Tuhan terhadap perbuatan tertentu. 

Hanya doa serta penelaahan Alkitab yang cermat dapat menentukan 

yang mana yang sedang kita alami, ujian iman atau pengekangan 

dari Tuhan. (6) Allah mencondongkan hati manusia ke satu arah 

tertentu dan bukan ke arah yang lainnya (I Raja-Raja 8:58; Mazmur 

119:36; Amsal 21:1; II Korintus 8:16). Ia bahkan mencondongkan 

hati orang yang jahat untuk melakukan kehendak-Nya (II Raja-Raja 

19:28; Yesaya 45:1-6; Wahyu 17:17). (7) Allah kadang-kadang me­

nuntun manusia dengan memakai mimpi dan penglihatan. Yusuf 

(Matius 2:13,19,22) dan Paulus (Kisah 16:9-10; 22:17-18) dituntun 

dengan cara ini.

Dalam beberapa tindakan pemeliharaan, Allah memakai wakil- 

wakil khusus. Wakil-wakil khusus ini ialah para malaikat dan Roh 

Kudus. Nampaknya para malaikat dipakai dalam pelaksanaan pe­

merintahan-Nya yang lahiriah (II Raja-Raja 19:35; Daniel 6:22; 

10:5-21; 12:1; Matius 28:2; Kisah 8:26; 12:7-10), sedangkan Roh 

Kudus dalam bagian pemerintahan yang batiniah dan rohaniah 

(Lukas 4:1; Yohanes 16:7-15; Kisah 8:29; 10:19-20; 16:6-7; Roma 

8:14, 26). Tentu saja, malaikat-malaikat tidaklah mahakuasa, mes­

kipun mempunyai kuasa besar; namun  Roh Kudus yang Allah adanya 

itu mahatahu dan mahakuasa.

E. TEORI-TEORI YANG MENENTANG AJARAN TINDAKAN 

PEMELIHARAAN

Sekalipun ajaran yang sedang kita pelajari ini merupakan salah satu 

ajaran yang paling dihargai oleh seorang anak Tuhan, namun ajaran 

Karya-Karya Allah: Pemerintahan-Nya yang Berdaulat 197

ini ditolak oleh orang-orang yang tidak percaya kepada Allah yang 

benar. Tiga teori yang menentang ajaran ini akan kita bahas sejenak.

1. Naturalisme. Naturalisme menganggap bahwa alam ini me­

rupakan seluruh realitas yang ada. Segala sesuatu yang terjadi di 

alam semesta ini yaitu  hasil kerjanya hukum-hukum alam. Ke­

bahagiaan manusia serta kesempatannya untuk berhasil dalam hidup 

ini bergantung pada pengetahuannya serta kerja samanya dengan 

hukum-hukum ini. Sekalipun Alkitab mengakui adanya hukum- 

hukum alam ini, Alkitab tidak mengajarkan bahwa hukum-hukum 

alam ini  bekerja secara terpisah. Alkitab menggambarkan 

hukum-hukum alam sebagai tidak mampu mengatur dirinya sendiri 

dan tidak mampu memelihara dirinya sendiri. Allah menyetujui se­

mua pelaksanaan hukum-hukum alam ini, baik hukum-hukum yang 

berkaitan dengan zat maupun hukum-hukum yang berkaitan dengan 

akal. Kadang-kadang juga Allah bertindak terlepas dari hukum- 

hukum ini  samasekali. Dengan demikian, maka mukjizat pen­

jelmaan serta kebangkitan Kristus dapat diterangkan.

2. Fatalisme. Fatalisme hendaknya dibedakan dari determinisme. 

Fatalisme menganggap bahwa semua peristiwa ditentukan oleh 

nasib, dan bukan oleh sebab-sebab alamiah, dan bahwa manusia 

tidak mampu mengubah jalannya peristiwa-peristiwa yang sudah 

ditetapkan nasib ini. Determinisme menganggap bahwa peristiwa- 

peristiwa memang harus terjadi namun  peristiwa-peristiwa itu terjadi 

sebagai akibat dari peristiwa-peristiwa sebelumnya. Kaum fatalis 

dapat berbicara mengenai kuasa yang menentukan nasib itu sebagai 

Allah, namun Allah yang dimaksudkan itu pastilah bukan Allah 

Alkitab. Fatalisme mengakui bahwa naturalisme tidak mampu men­

jelaskan segala sesuatu yang terjadi dan menyatakan bahwa peris­

tiwa-peristiwa yang tidak dapat diterangkan dengan hukum alam 

itu telah ditetapkan oleh nasib. Keberatan utama terhadap fatalisme 

ialah bahwa paham ini menjadikan penyebab utama segala sesuatu 

itu bersifat sewenang-wenang dan tidak bermoral, bahkan umumnya 

juga tidak berkepribadian.

3. Panteisme. Karena semua teori panteistis menyatakan bahwa 

kehendak itu tidak bebas dan segala sesuatu yang ada tanpa kecuali 

mempunyai sebab, maka panteisme tidak memiliki ajaran tentang 

pemeliharaan. Karena teori-teori itu harus menjadikan penyebab 

198 Teologi

yang menentukan itu juga sebagai yang menyebabkan dan mencip­

takan dosa, maka panteisme menghancurkan semua kemungkinan 

adanya moralitas yang sejati. Karena manusia merupakan bagian 

dari allah yang panteistis ini, maka mau tak mau ia harus berbuat 

dosa. Lagi pula, teori-teori panteistis ini tidak dapat menjelaskan 

mukjizat. Teori-teori ini berbicara soal "mutasi" (perubahan bentuk 

dan sifat) dan "hasil evolusi yang baru yang tak dapat diramalkan", 

namun gagasan-gagasan ini tidak dapat menjelaskan mukjizat pen­

jelmaan dan kebangkitan Kristus, dan mukjizat-mukjizat lain yang 

tercatat di Alkitab pun tidak. Teori-teori panteistis ini juga 

menyangkal kebebasan manusia. Sebagai bagian dari sistem dunia 

ini, maka manusia juga bertindak karena mutlak perlu. Sekalipun 

demikian, manusia menyadari dalam arti yang sangat nyata bahwa 

"ia dapat memprakarsai perbuatan dan bahwa ia juga bertanggung 

jawab atas kelakuannya. Ia tidak akan mengorbankan kebebasannya 

kepada suatu proses logis atau suatu mekanisme unggul karena ia 

dianggap sebagai bagian dari mekanisme itu.

F. HUBUNGAN ANTARA TINDAKAN PEMELIHARAAN DE­

NGAN BEBERAPA MASALAH KHUSUS

Sangatlah sulit untuk menahan diri agar tidak menerima satu dari 

dua pandangan ekstrem ini: bahwa Allah merupakan pelaku tunggal 

dalam alam semesta atau bahwa manusialah pelaku tunggal itu. Ke­

benarannya terletak di antara kedua pandangan ekstrem ini . 

Kenyataan ini harus diingat selalu dalam kaitan dengan paham kita 

tentang kebebasan manusia dan doa. Perhatikanlah hubungan- 

hubungan ini sejenak:

1. Hubungan antara tindakan pemeliharaan dengan kebebasan 

manusia. Sebagaimana sudah dikatakan tadi, Allah kadang-kadang 

mengizinkan manusia untuk melakukan apa yang dikehendakinya; 

maksudnya, Ia tidak mengekang saat  manusia melaksanakan ke­

inginannya yang jahat. Demikian pula, Allah kadang-kadang me­

ngekang seseorang sehingga ia tidak melakukan apa yang akan di­

lakukannya dalam kebebasannya. Allah memakai berbagai keadaan, 

pengaruh sahabat-sahabat, serta pengekangan batiniah untuk men­

capai maksud ini. Kadang-kadang Allah mengendalikan dosa de­

ngan cara membiarkan pengaruhnya bekerja sampai tingkatan ter­

Karya-Karya Allah: Pemerintahan-Nya yang Berdaulat 199

tentu lalu dihentikan-Nya. Akhirnya, Allah senantiasa memakai 

apa yang dilakukan manusia untuk melaksanakan apa yang diren- 

canakan-Nya. Bahkan kemurkaan manusia dipakai-Nya untuk me­

muji nama-Nya.

2. Hubungan antara tindakan pemeliharaan dengan doa. Ada 

orang yang beranggapan bahwa doa sebenarnya tidak dapat mem­

pengaruhi Allah karena Ia sudah menetapkan apa yang akan 

dilakukan-Nya dalam setiap hal. Akan namun , pandangan ini  

yaitu  ekstrem. "Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu 

tidak berdoa" (Yakobus 4:2) tidak boleh diabaikan. Allah melaku­

kan hal-hal tertentu hanya sebagai jawaban atas doa; Ia melakukan 

hal lain tanpa ada yang berdoa; dan Ia melakukan beberapa hal 

berlawanan dengan apa yang didoakan. Dalam kemahatahuan-Nya 

semua ini sudah dipertimbangkan, dan dalam pemeliharaan-Nya Ia 

melaksanakan semua hal menurut rencana dan tujuan-Nya sendiri. 

Bila kita tidak berdoa untuk memperoleh apa yang dapat kita per­

oleh dengan doa, maka kita juga tidak akan mendapatnya. Bila Ia 

ingin melakukan sesuatu yang tidak didoakan oleh siapa pun, maka 

hal itu akan dilakukan-Nya tanpa ada yang berdoa. Bila kita berdoa 

untuk sesuatu yang bertentangan dengan kehendak-Nya, maka Ia 

menolak untuk mengabulkan doa kita. Jadi, ada  keselarasan 

sempurna antara maksud-Nya dengan tindakan pemeliharaan-Nya 

dan dengan kebebasan manusia.


BAGIAN IV

AJARAN TENTANG MALAIKAT

Ajaran tentang malaikat-malaikat dengan sendirinya mengikuti ajar­

an tentang Allah, karena para malaikat terutama merupakan hamba- 

hamba yang menjalankan pemeliharaan ciptaan Allah. Sekalipun 

Alkitab mengatakan banyak tentang malaikat, dewasa ini pada 

umumnya orang mengabaikan ajaran ini, malahan sering menolak­

nya. Berbagai hal telah mengakibatkan sikap ini. Pertama-tama ter­

dapat pemujaan kaum Gnostik terhadap malaikat (Kolose 2:18); 

selain itu, ada  berbagai spekulasi konyol dari golongan Skolas­

tik Abad Pertengahan; lalu ada  kepercayaan yang berlebihan 

terhadap ilmu sihir dalam waktu-waktu belakangan ini; dan akhir­

nya, bangkitnya pemujaan setan dan Iblis dewasa ini. Sekalipun 

demikian ada  banyak alasan untuk percaya akan adanya 

malaikat-malaikat.

(1) Adanya serta pelayanan malaikat diajarkan secara cukup jelas 

dalam Alkitab. Yesus banyak menyebutkan malaikat, dan kita tidak 

dapat begitu saja menolak ajaran-Nya dengan berdalih bahwa kita 

mengetahui lebih banyak. (2) Bukti-bukti dari orang-orang yang di­

rasuki dan ditindas oleh setan serta pemujaan setan menunjuk ke­

pada adanya malaikat. Paulus menganggap pemujaan berhala se­

bagai pemujaan setan (I Korintus 10:20-21). Pada akhir zaman pe­

mujaan setan dan berhala ini akan meningkat dengan cepat (Wahyu 

9:20-21). (3) Meningkatnya gerakan spiritualisme menandakan ada­

nya keperluan untuk memahami ajaran ini. Alkitab mengutuk pelak­

sanaan nekromansi atau mengadakan hubungan dengan arwah 

orang mati (Ulangan 18:10-12; Yesaya 8:19-20). Gejala ini juga 

akan meningkat pada akhir zaman (I Timotius 4:1). Dan (4) karya 

201

202 Ajaran Tentang Malaikat

Iblis serta roh-roh jahat dalam mencegah berkembangnya kasih ka­

runia dalam hati kita serta pekerjaan Allah di dunia harus dipahami 

sehingga kita bisa mengetahui apa yang dapat diharapkan pada ke­

mudian hari dalam perang melawan Iblis ini serta yakin bahwa Iblis 

akan segera dikalahkan (Kejadian 3:15; Roma 16:20; Wahyu 12:7- 

9; 20:1-10).

Ajaran tentang malaikat-malaikat ini akan dibagi menjadi dua 

bagian: (1) asal mula, sifat, kejatuhan, dan penggolongan malaikat- 

malaikat, dan (2) pekerjaan serta nasib para malaikat.

XIII

Asal Mula, Sifat, Kejatuhan, dan 

Penggolongan Malaikat

L ASAL MULA MALAIKAT

Seluruh Alkitab beranggapan bahwa malaikat itu ada, yaitu baik 

malaikat yang baik maupun malaikat yang jahat. Mazmur 148:2-5 

mendaftarkan malaikat bersama dengan matahari, bulan, dan bin­

tang-bintang sebagai sebagian dari ciptaan Allah. Yohanes 1:3 me­

nyatakan bahwa Yesus menciptakan segala sesuatu. Termasuk 

dalam "segala sesuatu" itu ialah segala sesuatu "yang ada di sorga 

dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, 

baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun pe­

nguasa" (Kolose 1:16, bandingkan dengan Efesus 6:12). Karena 

hanya Allah sendiri yang hidup selama-lamanya (I Timotius 6:16) 

maka ini menunjukkan bahwa malaikat telah diciptakan oleh Allah 

dan bahwa kelangsungan kehidupan mereka bergantung pada ban­

tuan Allah yang terus-menerus. Saat penciptaan malaikat tidak di­

sebutkan dengan jelas dalam Alkitab, namun sangatlah mungkin 

bahwa malaikat diciptakan sebelum langit dan bumi diciptakan 

(Kejadian 1:1), karena menurut Ayub 38:4-7, "semua anak Allah 

bersorak-sorai" saat  Allah meletakkan dasar bumi. Yang jelas, 

malaikat sudah ada pada waktu Kejadian 3:1 yaitu saat  Iblis, 

makhluk malaikat, menampakkan diri. Sekalipun Alkitab tidak 

memberi tahu jumlah yang pasti, kita diberi tahu bahwa jumlah 

mereka banyak sekali (Daniel 7:10; Matius 26:53; Ibrani 12:22; 

Wahyu 5:11).

203

204 Ajaran Tentang Malaikat

H. SIFAT MALAIKAT

A. MALAIKAT BUKAN MANUSIA YANG DIMULIAKAN

Manusia dan malaikat dibedakan. Dalam Matius 22:30 dikatakan 

bahwa orang-orang percaya suatu saat akan menjadi seperti ma­

laikat, namun  tidak dikatakan bahwa mereka akan menjadi malaikat. 

"Beribu-ribu malaikat" dibedakan dari "roh-roh orang-orang benar 

yang telah menjadi sempurna" (Ibrani 12:22-23). Berdasarkan kitab 

Perjanjian Lama dalam bahasa Yunani (Septuaginta) dikatakan bah­

wa manusia telah diciptakan lebih rendah daripada malaikat, namun  

kemudian akan menjadi lebih tinggi daripada malaikat (Mazmur 8:6, 

bandingkan dengan Ibrani 2:7). Orang-orang percaya suatu saat 

akan menghakimi malaikat (I Korintus 6:3).

B. MALAIKAT TIDAK BERBADAN

Para malaikat disebut "angin" atau "roh" (Ibrani 1:7, bandingkan 

dengan Mazmur 104:4). Ibrani 1:14 berbunyi sebagai berikut, "Bu­

kankah mereka semua yaitu  roh-roh yang melayani, yang diutus 

untuk melayani mereka yang harus memperoleh keselamatan?" Bah­

wa mereka tidak bertubuh juga jelas nampak dari Efesus 6:12 saat  

Paulus mengatakan bahwa "perjuangan kita bukanlah melawan da­

rah dan daging, namun  melawan pemerintah-pemerintah, melawan 

penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap 

ini, melawan roh-roh jahat di udara."

Malaikat sudah sering menampakkan diri dengan memakai tubuh 

(Kejadian 18, 19; Lukas 1:26; Yohanes 20:12; Ibrani 13:2), namun 

kenyataan ini tidak berarti bahwa mereka mempunyai tubuh jas­

maniah sebagai bagian yang perlu dari kehidupan mereka.

C. MALAIKAT MERUPAKAN SUATU KELOMPOK, BUKAN 

SUATU BANGSA

Dalam Alkitab malaikat disebut sebagai bala tentara, dan bukan 

sebagai bangsa (Mazmur 148:2). Malaikat tidak pernah menikah 

atau dinikahkan, juga tidak pernah mati (Lukas 20:34-36). 

Mereka disebut sebagai "anak-anak Allah" dalam Perjanjian Lama 

(Ayub 1:6; 2:1; 38:7, bandingkan dengan Kejadian 6:2, 4), namun

Asal Mula, Sifat, Kejatuhan, dan Penggolongan Malaikat 205 

tidak pernah Alkitab menyebutkan tentang adanya anak-anak ma­

laikat. Kata "malaikat" dalam Alkitab dipakai dalam bentuk mas­

kulin. Sekalipun pemakaian bentuk maskulin ini tidak berarti bah­

wa mereka itu berkelamin laki-laki, malaikat di kubur Yesus dilihat 

sebagai dua orang laki-laki (Lukas 24:4, Alkitab bahasa Inggris). 

Seorang laki-laki muda sedang duduk di dalam kubur itu (Markus 

16:5). Karena para malaikat merupakan suatu kelompok dan bukan 

suatu bangsa, maka mereka berbuat dosa secara perorangan. Mung­

kin karena hal ini Tuhan tidak menyediakan keselamatan untuk ma­

laikat-malaikat yang telah jatuh. Alkitab mengatakan, "bukan ma­

laikat-malaikat yang Ia kasihani, namun  keturunan Abraham yang Ia 

kasihani" (Ibrani 2:16).

D. PENGETAHUAN MALAIKAT LEBIH TINGGI DARIPADA 

PENGETAHUAN MANUSIA, WALAUPUN MEREKA TIDAK 

MAHATAHU

Kebijaksanaan seorang malaikat dianggap sebagai kebijaksanaan 

yang tinggi (II Samuel 14:20). Yesus mengatakan, "namun  tentang 

hari dan saat itu tidak seorang pun yang tahu, malaikat-malaikat di 

sorga tidak" (Matius 24:36). Para malaikat dipanggil sebagai saksi 

oleh Rasul Paulus, "Di hadapan Allah dan Kristus Yesus dan ma­

laikat-malaikat pilihan-Nya" (I Timotius 5:21). Malaikat-malaikat 

yang telah jatuh pun memiliki kebijaksanaan yang melebihi kebijak­

sanaan biasa. Pernah seorang malaikat yang jatuh berkata kepada 

Yesus Kristus, "Hai Engkau, Yesus orang Nazaret, apa urusan-Mu 

dengan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah" 

(Lukas 4:34). Para malaikat ingin meneliti dan mengetahui keajaib­

an-keajaiban karya penyelamatan (I Petrus 1:11-12).62

E. MALAIKAT LEBIH KUAT DARIPADA MANUSIA, 

WALAUPUN MEREKA TIDAK MAHAKUASA

Malaikat dikatakan lebih perkasa dan berkuasa daripada manusia 

(II Petrus 2:11, bandingkan dengan "pahlawan-pahlawan perkasa" 

dari Mazmur 103:20). Paulus menyebutkan mereka sebagai "ma­

laikat-malaikat-Nya yang perkasa" (II Tesalonika 1:7, BIS). Con-

62 Dickason, Angels: Elect and Devil, hal. 27.

206 Ajaran Tentang Malaikat

toh-contoh kekuasaan malaikat ini ada  saat  malaikat melepas­

kan para rasul dari penjara (Kisah 5:19; 12:7) serta menggulingkan 

batu kuburan Yesus yang disegel itu (Matius 28:2). Kekuatan para 

malaikat itu terbatas seperti yang terlihat dalam pertempuran antara 

malaikat yang jahat dengan malaikat yang baik (Wahyu 12:7). Ma­

laikat yang datang mengunjungi Daniel memerlukan bantuan Mi­

khael dalam perjuangannya melawan penguasa Persia (Daniel 

10:13). Baik Mikhael, penghulu malaikat (Yudas 9), maupun Iblis 

(Ayub 1:12; 2:6) memiliki kekuatan yang terbatas.

F. MALAIKAT LEBIH LUHUR DARIPADA MANUSIA, 

WALAUPUN TIDAK MAHAHADIR

Malaikat tidak bisa berada di dua tempat sekaligus. Mereka me­

ngembara di atas muka bumi (Ayub 1:7; Zakharia 1:11; I Petrus 

5:8), berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya (Daniel 9:21-23). 

Kenyataan ini sering kali membutuhkan waktu dan juga adanya pe­

nundaan (Daniel 10:10-14). Bahkan dalam gagasan terbang tersirat 

bahwa para malaikat yaitu  "roh-roh yang melayani, yang diutus 

untuk melayani mereka yang harus memperoleh keselamatan" 

(Ibrani 1:14). Malaikat-malaikat yang telah jatuh merupakan hamba 

Iblis (II Korintus 11:15).

III. KEJATUHAN MALAIKAT

A. KENYATAAN KEJATUHAN MEREKA

Masalah asal mula kejahatan harus dipertimbangkan sekarang ini, 

karena kejahatan mula-mula terjadi di sorga dan bukan di bumi. 

Terkecuali beberapa filsuf Hindu yang menyebut kejahatan sebagai 

"maya" atau "khayalan", dan golongan Christian Science yang me­

nyebutnya sebagai "kesalahan pikiran manusia", semua orang 

mengakui kenyataan yang buruk dan serius mengenai adanya ke­

jahatan di alam semesta ini. Sesungguhnya, hadirnya kejahatan di 

dunia ini merupakan salah satu masalah yang paling memusingkan 

dalam filsafat dan teologi. Hal ini disebabkan oleh karena sulit se­

kali untuk menyelaraskan gagasan kejahatan dengan konsep me­

ngenai Allah yang murah hati, kudus, serta mahakuasa. Beberapa 

orang beranggapan bahwa kedua gagasan ini tidak dapat diperte­

Asal Mula, Sifat, Kejatuhan, dan Penggolongan Malaikat 207

mukan samasekali sehingga mengusulkan pandangan dualisme, 

yaitu bahwa kejahatan dan kebaikan sama-sama kekal. Karena itu, 

tidak pernah ada alam semesta yang sempurna, dan sebagai akibat­

nya, tidak ada pula yang namanya "kejatuhan". Inilah pandangan 

Zoroastrianisme dari Persia, Gnostisisme, dan Manikheisme. Bebe­

rapa sarjana teologi modem menganut pandangan yang mirip de­

ngan ini dan mengajarkan bahwa Allah itu terbatas dan sejak kekal 

telah menentang kejahatan. Semua teori ini diciptakan untuk mem­

bebaskan Allah dari tanggung jawab atas terjadinya kejahatan, na­

mun mereka berbuat demikian dengan menurunkan derajat-Nya se­

bagai Allah.

Namun ada cukup alasan untuk percaya bahwa malaikat telah 

diciptakan dalam keadaan sempurna. Dalam kisah penciptaan 

(Kejadian 1), kita diberi tahu sebanyak tujuh kali bahwa segala se­

suatu yang diciptakan Allah itu baik. Dalam Kejadian 1:31 kita 

membaca, "Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu sung­

guh amat baik." Pastilah, kalimat ini mencakup kesempurnaan para 

malaikat dalam kekudusan saat  mula-mula diciptakan. Jikalau 

Yehezkiel 28:15 menunjuk kepada Iblis, sebagaimana dianjurkan 

banyak pihak, maka dengan tegas dinyatakan bahwa Iblis itu dicip­

takan dengan sempurna. Akan namun , beberapa ayat Alkitab menun­

jukkan bahwa ada malaikat yang jahat (Mazmur 78:49; Matius 

25:41; Wahyu 9:11; 12:7-9). Ini terjadi karena malaikat-malaikat 

itu berbuat dosa, dengan cara meninggalkan batas-batas kekuasaan 

mereka dan tempat kediaman mereka (II Petrus 2:4; Yudas 6). Pasti­

lah, Iblis yang memimpin para malaikat yang murtad itu. Yehezkiel 

28:15-17 nampaknya mengisahkan kejatuhannya. Petunjuk lainnya 

yang mungkin menyinggung kejatuhan Iblis dapat ditemukan dalam 

Yesaya 14:12-15. Tidak dapat disangkal lagi bahwa memang ada 

malaikat-malaikat yang telah jatuh.

B. SAAT KEJATUHAN MEREKA

Alkitab tidak menyebut hal ini, namun  jelaslah bahwa kejatuhan ma­

laikat-malaikat itu terjadi sebelum kejatuhan manusia, karena Iblis 

memasuki taman Eden sebagai ular dan menggoda Hawa untuk ber­

buat dosa (Kejadian 3:1-5). Namun kita tidak tahu dengan pasti 

berapa lama malaikat-malaikat itu telah jatuh sebelum terjadi peris­

tiwa di taman Eden. Orang-orang yang beranggapan bahwa setiap 

208 Ajaran Tentang Malaikat

hari penciptaan itu merupakan periode yang lama pastilah berpikir 

bahwa kejatuhan itu terjadi beberapa waktu sebelum atau selama 

periode yang lama ini; mereka yang beranggapan bahwa Kejadian 

1:2 menggambarkan akibat suatu bencana besar biasanya akan 

menetapkan terjadinya kejatuhan malaikat-malaikat itu sebelum 1:1 

atau antara ayat 1 dengan ayat 2. Bagaimanapun juga, pastilah peris­

tiwa kejatuhan itu terjadi sebelum Kejadian 3:1.

C. PENYEBAB KEJATUHAN MEREKA

Hal ini merupakan salah satu rahasia besar di bidang teologi. Para 

malaikat diciptakan sebagai makhluk yang sempurna; semua pera­

saan kasih sayang dalam hati mereka ditujukan kepada Allah; ke­

hendak mereka cenderung kepada Allah. Masalahnya sekarang, 

bagaimana makhluk seperti itu bisa jatuh? Bagaimana keinginan 

tidak kudus yang pertama itu dapat timbul di dalam hati makhluk 

semacam itu dan bagaimana pula kehendaknya pertama kali merasa 

terdorong untuk berpaling dari Allah? Berbagai jawaban telah di­

usulkan. Beberapa di antaranya kita bahas berikut ini.

Beberapa kalangan tertentu mengatakan bahwa segala sesuatu 

yang ada itu berasal dari Allah; dengan demikian maka Allah juga 

yang mengadakan dosa. Terhadap pandangan ini kami mengatakan 

bahwa bila Allah dianggap sebagai penyebab adanya dosa dan ke­

mudian menghukum makhluk ciptaan-Nya karena berbuat dosa, 

maka kita tidak memiliki alam semesta yang bermoral. Pihak lain 

mengatakan bahwa kejahatan disebabkan oleh sifat dunia ini. Ada­

nya dunia merupakan kejahatan terbesar dan merupakan sumber 

segala kejahatan. Alam sendiri jahat. Namun, Alkitab berkali-kali 

mengatakan bahwa segala yang diciptakan Allah itu baik dan 

menolak anggapan bahwa alam ini sifatnya jahat (I Timotius 4:4). 

Dan akhirnya, ada pula kalangan yang mengusulkan bahwa keja­

hatan itu disebabkan karena watak makhluk yang diciptakan. Me­

reka menganggap bahwa dosa merupakan tahap yang perlu dalam 

pembinaan roh. Akan namun , Alkitab tidak pernah membicarakan 

perkembangan evolusioner semacam itu dan senantiasa memandang 

alam semesta ini beserta semua makhluk sebagai diciptakan dalam 

keadaan sempurna.

Berguna sekali bila mengingat bahwa makhluk ciptaan itu pada 

mulanya memiliki apa yang oleh para teolog Latin disebut sebagai

Asal Mula, Sifat, Kejatuhan, dan Penggolongan Malaikat 209 

kemampuan posse peccare et posse nonpeccare, yaitu kemampuan 

untuk berbuat dosa dan tidak berbuat dosa. Makhluk ciptaan itu 

ditempatkan dalam suatu posisi di mana ia dapat berbuat dosa atau 

tidak berbuat dosa tanpa dipaksa untuk berbuat salah satu perbuatan 

itu. Dengan kata lain, ia memiliki kehendak yang otonom yaitu me­

miliki hak dan kekuasaan menentukan arah tindakannya sendiri.

Berlandaskan kenyataan ini, kita harus menarik kesimpulan bah­

wa kejatuhan malaikat disebabkan karena mereka sendiri dengan 

sengaja telah menentukan untuk memberontak kepada Allah. Me­

reka memilih untuk mengutamakan diri dan kepentingan mereka 

sendiri daripada mengutamakan Allah dan kepentingan-Nya. Apa­

bila kita bertanya alasan khusus apakah yang menyebabkan pem­

berontakan ini, nampaknya Alkitab memberikan beberapa jawaban. 

Kemakmuran dan keelokan yang luar biasa mungkin merupakan 

petunjuk ke arah alasan yang sedang kita cari. Raja Tirus nam­

paknya melambangkan Iblis dalam Yehezkiel 28:11-19, dan dikata­

kan di sana bahwa ia jatuh karena kemakmuran dan keindahan (ban­

dingkan dengan I Timotius 3:6). Ambisi yang berkelebihan serta 

keinginan untuk melampaui Allah agaknya merupakan petunjuk 

lain. Raja Babilon dituduh memiliki ambisi seperti ini, dan ia juga 

mungkin melambangkan Iblis (Yesaya 14:13-14). Bagaimanapun 

juga, sifat mementingkan diri, ketidakpuasan dengan apa yang su­

dah dimiliki, serta mendambakan sesuatu yang menjadi milik orang 

lain itulah yang nampaknya menyebabkan kejatuhan. Tak sangsi 

lagi bahwa penyebab kejatuhan Iblis juga merupakan penyebab 

kejatuhan malaikat-malaikat jahat lainnya. Naga itu menyeret se­

pertiga dari bintang-bintang di langit dengan ekornya (Wahyu 12:4). 

Mungkin saja inilah petunjuk bahwa sepertiga dari malaikat-malai­

kat mengikut Iblis.

D. AKIBAT KEJATUHAN MEREKA 

Beberapa akibat kejatuhan malaikat-malaikat itu disebut oleh 

Alkitab. (1) Semua malaikat yang jatuh itu kehilangan kekudusan 

mula-mula mereka dan sifat serta perilaku mereka menjadi rusak 

(Matius 10:1; Efesus 6:11-12; Wahyu 12:9). (2) Beberapa di antara 

mereka dilemparkan ke neraka (Tartarus) dan masih ada di sana 

dirantai hingga hari penghakiman (II Petrus 2:4; Yudas 6). (3) 

Beberapa di antara mereka dibiarkan bebas dan secara langsung 

210 Ajaran Tentang Malaikat

ikut serta melawan pekerjaan para malaikat yang baik (Daniel 

10:12-13, 20-21; Yudas 9; Wahyu 12:7-9). (4) Mungkin juga peris­

tiwa kejatuhan itu meninggalkan dampak pada penciptaan yang 

mula-mula. Kita membaca bagaimana tanah terkutuk akibat dosa 

Adam (Kejadian 3:17-19) dan bahwa seluruh ciptaan mengerang 

oleh karena kejatuhan (Roma 8:19-22). Ada yang mengatakan 

bahwa dosa malaikat-malaikat itu telah menyebabkan kehancuran 

ciptaan yang mula-mula dalam Kejadian 1:2. (5) Pada suatu hari 

kelak semua malaikat yang jatuh akan dicampakkan ke bumi 

(Wahyu 12:8-9) dan setelah dihakimi (I Korintus 6:3), mereka akan 

dicampakkan ke dalam lautan api (Matius 25:41; II Petrus 2:4; 

Yudas 6). Iblis akan dilemparkan ke dalam jurang maut selama 

seribu tahun sebelum ia dicampakkan ke dalam lautan api (Wahyu 

20:1-3, 10).

IV. PENGGOLONGAN MALAIKAT-MALAIKAT

Para malaikat dapat dibagi dalam dua golongan besar: malaikat yang 

baik dan malaikat yang jahat. ada  berbagai bagian dalam kedua 

golongan besar ini.

A. MALAIKAT YANG BAIK

Ada beberapa jenis malaikat yang baik.

1. Para malaikat. Kata malaikat, dalam baik bahasa Ibrani 

maupun dalam bahasa Yunani, berarti "utusan". Murid-murid yang 

diutus oleh Yohanes Pembaptis kepada Yesus disebut aggeloi atau 

utusan (Lukas 7:24). Hanya konteksnya yang menjelaskan apakah 

kata malaikat itu menunjuk kepada utusan malaikat ataukah utusan 

manusia biasa. Jumlah malaikat itu berjuta-juta. Daniel mengatakan, 

"... Seribu kali beribu-ribu melayani Dia, dan selaksa kali berlak- 

sa-laksa berdiri di hadapan-Nya" (Daniel 7:10, bandingkan dengan 

Wahyu 5:11). Pemazmur mengatakan, "Kereta-kereta Allah puluhan 

ribu, bahkan beribu-ribu banyaknya" (68:18). Tuhan memberi tahu 

kepada Petrus bahwa Bapa-Nya akan mengirim lebih daripada dua 

belas pasukan malaikat bila Dia memintanya (Matius 26:53). Dalam 

kitab Ibrani kita membaca tentang "beribu-ribu" malaikat (12:22). 

Asal Mula, Sifat, Kejatuhan, dan Penggolongan Malaikat 211

Malaikat-malaikat ini mungkin muncul sendirian (Kisah 5:19), ber­

pasangan (Kisah 1:10) atau berkelompok (Lukas 2:13).

2. Kerub/Kerubim. Kerub disebutkan dalam Kejadian 3:24; II 

Raja-Raja 19:15; Yehezkiel 10:1-22; 28:14-16. Etimologi kata ini 

tidak diketahui dengan pasti, sekalipun ada yang mengusulkan bah­

wa kerub artinya "menutup" atau "menjaga". Ada kerub menjaga 

pintu masuk ke taman Eden (Kejadian 3:24). Dua kerub diukir di 

atas tutup Tabut Perjanjian yang ditempatkan di dalam kemah sem­

bahyang dan bait suci (Keluaran 25:19; I Raja-Raja 6:23-28). Kerub 

juga disulam pada tirai-tirai tabernakel (Keluaran 26:1, 31) dan 

diukir pada gerbang-gerbang Bait Allah (I Raja-Raja 6:32, 35). Dari 

kenyataan bahwa mereka menjaga jalan masuk ke taman Eden, dan 

bahwa mereka digambarkan sebagai menopang takhta Allah (Maz­

mur 18:11; 80:2; 99:1), dan bahwa mereka disulam pada tirai-tirai 

kemah sembahyang dan diukir pada pintu-pintu Bait Allah, kita 

menyimpulkan bahwa tugas utama para kerub ialah mengawal 

takhta Allah. Iblis sebelum jatuh mungkin juga termasuk golongan 

kerub (Yehezkiel 28:14-16).

3. Serafim. Nama Serafim disebutkan hanya dalam Yesaya 6:2,

6. Serafim nampaknya berbeda dengan kerub, karena dikatakan 

bahwa Allah duduk di atas para kerub (I Samuel 4:4; Mazmur 80:2; 

99:1), namun  para Serafim berdiri di sebelah atas-Nya (Yesaya 6:2). 

Tugas para Serafim juga berbeda dengan tugas para kerub. Para 

Serafim memimpin penghuni sorga dalam pemujaan kepada Allah 

yang Mahakuasa dan menyucikan hamba-hamba Allah sehingga pe­

mujaan dan pelayanan mereka berkenan kepada-Nya. Maksudnya, 

tugas para Serafim rupanya di bidang pemujaan dan kekudusan, 

dan bukan di bidang penghakiman dan kekuasaan. Dengan keren­

dahan hati yang mendalam dan penghormatan yang sungguh- 

sungguh, para Serafim melaksanakan pelayanan mereka. Sebalik­

nya, para kerub merupakan pengawal takhta Allah serta duta-duta 

luar biasa Allah. Jadi kerub dan Serafim berbeda kedudukan dan 

pelayanannya.

4. Makhluk-makhluk hidup. Beberapa sarjana mengatakan bahwa 

makhluk-makhluk hidup dalam Wahyu 4:6-9 yaitu  Serafim  dan 63

63 Ibid., hal. 67.

212 Ajaran Tentang Malaikat

ada pula yang mengatakan bahwa mereka itu yaitu  kerub.64 Ter­

dapat perbedaan yang sangat mencolok sekali di antara makhluk- 

makhluk itu, sehingga lebih baik rasanya untuk mengatakan bahwa 

makhluk-makhluk ini  merupakan jenis malaikat lainnya dan 

bukan termasuk kerub atau Serafim. Makhluk-makhluk itu memuja 

Allah, mengatur penghakiman Allah (Wahyu 6:1-3; 15:7), dan me­

nyaksikan penyembahan seratus empat puluh empat ribu orang da­

lam Wahyu 14:3. Makhluk-makhluk ini aktif di sekita