Saran tentang tindakan pelestarian ini dapat dibuktikan menurut
akal maupun menurut Alkitab. Zat tidak memiliki apa-apa dalam
dirinya yang menyebabkan keberadaannya. Di mana pun zat tidak
Karya-Karya Allah: Pemerintahan-Nya yang Berdaulat 185
dapat berdiri sendiri, bergantung pada lingkungan, dan berubah-
ubah; zat tidak ada dengan sendirinya dan tidak dapat memelihara
diri sendiri. Tidak ada kekuatan yang ada dengan sendirinya atau
dapat memperbaharui dirinya sendiri, karena di mana saja kekuatan
menyatakan adanya suatu kehendak yang mengatur dan menopang
nya. Lagi pula, Allah tidak akan merupakan kekuasaan tertinggi
jika ada sesuatu yang terjadi atau yang ada dalam alam semesta
itu terlepas dari kehendak dan kuasa-Nya.
Alkitab mengajarkan bahwa sekalipun Allah beristirahat setelah
menyelesaikan penciptaan dan menetapkan tatanan kekuatan-ke
kuatan alam, Allah terus melanjutkan kegiatan-Nya untuk menegak
kan alam semesta serta kuasa-kuasa yang ada di dalamnya. Kristus
yaitu perantara yang melaksanakan tindakan pelestarian ini, seba
gaimana Ia yaitu perantara yang melaksanakan penciptaan. Be
berapa ayat Alkitab berbicara tentang tindakan pelestarian ini secara
luas dan lengkap. Misalnya, "Hanya Engkau yaitu Tuhan! Engkau
telah menjadikan langit, ya langit segala langit dengan segala bala
tentaranya, dan bumi dengan segala yang ada di atasnya, dan laut
dengan segala yang ada di dalamnya. Engkau memberi hidup ke
pada semuanya itu dan bala tentara langit sujud menyembah ke-
pada-Mu" (Nehemia 9:6); "Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu
dan segala sesuatu ada di dalam Dia" (Kolose 1:17); "Ia yaitu
cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang
segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan" (Ibrani
1:3).
Ayat-ayat lainnya menyebutkan hal-hal tertentu yang dilestari-
kan-Nya. Allah melestarikan ciptaan-Nya yang hidup maupun yang
tidak hidup, "Manusia dan hewan Kauselamatkan, ya Tuhan" (Maz
mur 36:7); "Ia mempertahankan jiwa kami di dalam hidup dan tidak
membiarkan kaki kami goyah" (Mazmur 66:9); "jika Engkau
menyembunyikan wajah-Mu, mereka terkejut; jika Engkau
mengambil roh mereka, mereka mati binasa dan kembali menjadi
debu" (Mazmur 104:29); dan "Sebab di dalam Dia kita hidup, kita
bergerak, kita ada" (Kisah 17:28). Allah juga memelihara orang-
orang kudus-Nya, "Sambil menjaga jalan keadilan, dan memelihara
jalan orang-orang-Nya yang setia" (Amsal 2:8); "... Sebab Tuhan
mencintai hukum, dan Ia tidak meninggalkan orang-orang yang di-
kasihi-Nya. Sampai selama-lamanya mereka akan terpelihara, namun
186 Teologi
anak-cucu orang-orang fasik akan dilenyapkan" (Mazmur 37:28);
"Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka
pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun
tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku" (Yohanes 10:28).
C. CARA MELESTARIKAN CIPTAAN
Sekalipun semua penganut teisme mengakui bahwa Allah dengan
satu dan lain cara telah melestarikan segala sesuatu yang telah dicip
takan-Nya, namun tidak semua mereka sependapat tentang cara
yang digunakan Allah untuk melaksanakannya. Sesungguhnya, dua
teori yang telah dikemukakan sebenarnya menolak ajaran pelestari
an.
1. Teori deistik. Deisme menjelaskan tindakan pelestarian alam
semesta dari segi hukum alam. Teori ini menyatakan bahwa Allah
menciptakan alam semesta lalu memberikan kepadanya kuasa yang
cukup sehingga alam semesta dapat memelihara keberadaannya sen
diri. Dengan demikian, alam semesta merupakan suatu mekanisme
besar yang sanggup memelihara dirinya sendiri, dan Allah hanya
melihat dunia dan cara kerjanya tanpa memakai kemampuan-
Nya secara langsung untuk memeliharanya. Akan namun , dugaan ini
salah, karena di manakah ada mesin yang sanggup berjalan sendiri
terus-menerus? Lagi pula, ada bukti-bukti yang menunjukkan bahwa
Allah tidak meninggalkan alam semesta ciptaan-Nya. Orang Kristen
percaya bahwa kita memiliki suatu penyataan yang khusus menge
nai Allah di dalam Alkitab, bahwa Allah telah menjelma menjadi
manusia di dalam Yesus Kristus melalui kelahiran yang ajaib, bah
wa kelahiran baru merupakan suatu tindakan ilahi yang adikodrati
di dalam hati manusia, bahwa Allah menjawab doa-doa kita, dan
bahwa Allah kadang-kadang campur tangan secara ajaib dalam per
kara-perkara dunia ini. Oleh karena itu, dari sudut pandang Kristen
teori ini tidak memuaskan samasekali.
2. Teori penciptaan berkesinambungan. Teori ini membaurkan
penciptaan dengan tindakan pelestarian. Pandangan deistik menya-
takan bahwa segala sesuatu yang ada ditopang oleh hukum alam,
dan bahwa dari saat ke saat Allah menciptakan alam semesta ber
Karya-Karya Allah: Pemerintahan-Nya yang Berdaulat 187
sama segala sesuatu yang ada. Pandangan ini didasarkan pada
pengertian bahwa segala kekuatan itu merupakan kehendak ilahi
yang bekerja secara langsung serta tidak memberikan tempat sama
sekali kepada kehendak manusia dan kegiatan yang tak langsung
dari kuasa ilahi dalam bentuk hukum alam. Sebagai akibatnya, teori
ini menuntun kita kepada panteisme. Kesalahan-kesalahan teori ini
ialah: (1) bahwa kegiatan yang biasa dalam alam dijadikan peng
ulangan kegiatan penciptaan, dan bukan kegiatan kuasa ilahi yang
tidak langsung; (2) bahwa Allah dianggap sebagai pencipta dosa
dengan menjadikan semua kehendak makhluk itu kehendak-Nya;
(3) bahwa manusia tidak dianggap sebagai makhluk nyata yang ber
moral yang dapat menentukan nasib sendiri; dan (4) bahwa semua
pertanggungjawaban moral ditiadakan.
3. Teori persetujuan. Teori ini sifatnya alkitabiah. Teori ini ber
anggapan bahwa Allah menyetujui segala kegiatan zat dan pikiran.
Sekalipun kehendak Allah bukan satu-satunya kekuatan di alam se
mesta ini, tidak ada kekuatan atau manusia mana pun yang sanggup
ada dan bertindak tanpa persetujuan-Nya (Kisah 17:28; I Korintus
12:6). Kuasa ilahi merembes ke dalam kuasa manusia tanpa mem
binasakan atau menyerapnya. Manusia tetap memiliki kuasa dan
kemampuan alamiahnya serta dapat memakai nya. Namun jelas
lah bahwa, sekalipun Allah memelihara fungsi pikiran dan tubuh
manusia, Ia menyetujui tindakan-tindakan jahat makhluk-makhluk
ciptaan-Nya itu hanya sejauh tindakan-tindakan itu bersifat wajar
dan bukan karena bersifat jahat. Dengan kata lain, Allah memberi
kan kuasa alamiah kepada manusia, namun manusialah yang ber
tanggung jawab saat kuasa itu ia pakai untuk berbuat jahat. Ke
bencian Allah terhadap dosa membuktikan bahwa bukan Dia yang
menyebabkan perbuatan jahat manusia, "Janganlah hendaknya
kamu melakukan kejijikan yang Aku benci ini" (Yeremia 44:4); dan
"jika seorang dicobai, janganlah ia berkata, ’Pencobaan ini da
tang dari Allah!’ Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat,
dan Ia sendiri tidak mencobai siapa pun. namun tiap-tiap orang di
cobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat oleh
nya" (Yakobus 1:13-14, bandingkan dengan Habakuk 1:13).
188 Teologi
H. AJARAN ALKITAB TENTANG TINDAKAN
PEMELIHARAAN
Pandangan Kristen menegaskan bahwa Allah bukan saja telah men
ciptakan alam semesta ini dengan segenap sifat dan kekuatannya,
dan bahwa Ia melestarikan segala sesuatu yang telah diciptakan-Nya
itu, namun bahwa sebagai Oknum yang kudus, mahamurah, bijaksana
serta mahakuasa Ia juga menjalankan pengawasan yang berdaulat
atas ciptaan-Nya. Pengawasan yang berdaulat ini disebut dengan
istilah pemeliharaan.
A. DEFINISI PEMELIHARAAN
Secara etimologis, kata "providence" (bahasa Inggris) yang diter
jemahkan sebagai pemeliharaan artinya melihat/mengetahui sebe
lumnya. Dari pemikiran dasar ini maka kata ini kemudian mendapat
arti menyediakan untuk masa depan. Akan namun , dalam teologi kata
"providence" mendapat arti yang lebih khusus lagi, yaitu kegiatan
berkesinambungan Allah untuk menjadikan segenap peristiwa di bi
dang fisik, mental, dan moral melaksanakan rencana yang telah dite-
tapkan-Nya, yaitu rencana yang merupakan pola utama Allah dalam
menciptakan alam semesta ini. Memang diakui bahwa kejahatan
sudah memasuki dan mengotori alam semesta, namun kejahatan
tidak dibiarkan menggagalkan tujuan mula-mula Allah, yakni tujuan
yang bijaksana, penuh kebaikan, dan kudus.
B. BUKTI-BUKTI AJARAN TINDAKAN PEMELIHARAAN
1. Sifat Allah dan alam semesta. Karena Allah bukan sekadar
Oknum yang berkepribadian, tidak terbatas kebijaksanaan, kemu
rahan, dan kuasa-Nya, namun Ia juga pencipta dan oleh karenanya
pemilik alam semesta, maka dengan sendirinya dapat diharapkan
bahwa Ia akan memerintah apa yang dimiliki-Nya itu. Sebagai Allah
yang berkepribadian dan bijaksana, dapat diharapkan bahwa Ia akan
bertindak secara rasional; sebagai Allah yang baik, dapat diharapkan
bahwa Ia menaruh perhatian sungguh-sungguh terhadap kesejah
teraan ciptaan-Nya; dan sebagai Allah yang mahakuasa, dapat diper
cayai bahwa Ia mampu melaksanakan segala sesuatu yang diren-
canakan-Nya. Paham orang Kristen tentang sifat Allah ini yang
Karya-Karya Allah: Pemerintahan-Nya yang Berdaulat 189
menjadi dasar bagi kepercayaannya bahwa pada akhirnya kebenaran
akan menang.
Sebagai bukti praktis dari kepercayaan bahwa Allah menjalankan
pemerintahan yang berdaulat atas ciptaan-Nya, kita melihat bahwa
di mana pun alam semesta menunjukkan adanya kecerdasan dan
pengawasan, sekalipun kecerdasan itu tidak ada di dalam zat
itu sendiri. Sarana-sarana dipakai untuk mencapai tujuan yang di
inginkan, baik di alam yang kelihatan maupun di alam yang tidak
kelihatan. Kita melihat bahwa kerajaan yang satu disesuaikan de
ngan kerajaan yang lain dan tata surya disesuaikan dengan bumi
kita sebagai keseluruhan. Bukti adanya kecerdasan dan pengawasan
ini juga dapat dilihat dalam keadaan jasmani manusia. Kesadaran
akan ketergantungan kita mencakup pemikiran bahwa kita tidak
hanya berasal dari Dia, namun bahwa kelangsungan kehidupan kita
juga bergantung pada-Nya. Ia memelihara jiwa kita sehingga terus
hidup; pada saat Ia mengambil nyawa kita, maka matilah kita. Hal
yang sama dapat dikatakan dari segi kesadaran kita akan tanggung
jawab. Tersirat dalam rasa tanggung jawab itu bahwa Allah berhak
menetapkan hukum-hukum perilaku moral, bahwa Ia mengetahui
seluruh jalan kehidupan kita, dan bahwa Ia akan memberikan pahala
kepada orang yang benar dan menghukum orang fasik. Dengan kata
lain, alam semesta itu sendiri membuktikan pemerintahan Allah
yang berdaulat atasnya.
2. Ajaran Alkitab. Alkitab lebih banyak berbicara tentang peker
jaan Allah dalam memelihara ciptaan-Nya daripada tentang peker
jaan Allah dalam penciptaan. Banyak ayat menunjukkan bahwa
Allah menjalankan pemerintahan yang berdaulat atas segenap alam
fisik, atas dunia margasatwa dan tanaman, atas bangsa-bangsa di
bumi, dan atas setiap orang secara pribadi.
a. Allah berkuasa atas alam fisik. Alkitab menunjukkan bahwa
Allah menguasai seluruh alam fisik. Sinar matahari (Matius 5:45),
angin (Mazmur 147:18), kilat (Ayub 38:25, 35), hujan (Ayub 38:26;
Matius 5:45), guntur (I Samuel 7:10), air (Mazmur 147:18), hujan
es (Mazmur 148:8), es (Ayub 37:10), salju (Ayub 37:6; 38:22),
serta embun beku (Mazmur 147:16) semuanya tunduk kepada perin-
tah-Nya. Benda-benda angkasa, seperti matahari (Matius 5:45) dan
bintang-bintang (Ayub 38:31-33), patuh kepada kehendak-Nya. Gu
190 Teologi
nung-gunung dipindahkan (Ayub 9:5), bumi dilanda gempa (Ayub
9:6), dan tanah menghasilkan panen (Kisah 14:17) atas perintah-
Nya. Ia memakai unsur-unsur yang baik untuk menunjukkan ke
baikan dan kasih-Nya, dan memakai unsur-unsur penghancur se
bagai alat-alat untuk melaksanakan disiplin dan hukuman. Karena
itu, manusia hendaknya merendahkan diri pada masa hukuman-Nya
menimpa mereka dan berdoa kepada Dia yang berkuasa atas segala
kekuatan alam.
b. Allah berkuasa atas tanaman dan hewan. Setiap ciptaan
hidup berada dalam tangan Allah (Ayub 12:10). Allah memelihara
dan mengawasi semua tanaman (Yunus 4:6; Matius 6:28:30), ung
gas (Matius 6:26; 10:29), margasatwa (Mazmur 104:21, 27:28;
147:9), dan ikan (Yunus 1:17; Matius 17:27).
c. Allah berkuasa atas bangsa-bangsa di muka bumi ini. Allah
"yang memerintah atas bangsa-bangsa" (Mazmur 22:29). Ia yang
membuat mereka berkembang dan membinasakan mereka (Ayub
12:23), mengawasi dan menghakimi mereka (Mazmur 66:7; 75:8),
menetapkan dan menurunkan para penguasa (Daniel 2:37-39; 4:25),
menetapkan batas-batas negara (Kisah 17:26), dan memakai bangsa-
bangsa dan penguasa mereka untuk melaksanakan apa yang dike-
hendaki-Nya (Yesaya 7:20; 10:5-15; 45:1-4). "Tidak ada pemerintah
yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada,
ditetapkan oleh Allah." (Roma 13:1).
d. Allah berkuasa atas seluruh hidup manusia. (1) Atas kelahir
an, karier, dan kematian manusia. Allah dengan giat terlibat sebe
lum seseorang dilahirkan (Mazmur 139:16; Yeremia 1:5) dan me
laksanakan rencana-Nya dalam kehidupan seseorang (I Samuel
16:1; Galatia 1:15-16). Kenyataannya memang demikian, entah hal
itu disadari ataupun tidak disadari (Yesaya 45:5; Ester 4:14). Allah
menyediakan semua kebutuhan manusia (Matius 5:45; 6:25-32;
Kisah 14:17) dan menentukan saat dan cara seseorang meninggal
dunia (Ulangan 32:49-50; Yohanes 21:19; II Timotius 4:6-8). (2)
Atas keberhasilan dan kegagalan manusia. Tuhan meninggikan dan
menurunkan manusia (Mazmur 75:8), menurunkan raja-raja dan
meninggikan orang yang hina (Lukas 1:52), menjadikan kaya dan
miskin (I Samuel 2:6-8). Allah terlibat dalam proses berpikir
manusia (Amsal 21:1). (3) Atas keadaan-keadaan yang paling
sepele. Allah memperhatikan burung pipit, apalagi rambut di kepala
Karya-Karya Allah: Pemerintahan-Nya yang Berdaulat 191
kita (Matius 10:29-30). Allah menetapkan bagaimana hasil sebuah
undian (Amsal 16:33). Allah bahkan mengatur apakah seseorang
tidur atau tidak tidur (Ester 6:1). (4) Atas semua kebutuhan umat-
Nya. Allah memelihara umat-Nya (I Petrus 5:7), menyediakan ke
amanan (Mazmur 4:9); melindungi (Mazmur 121:3), menyediakan
yang baik (Mazmur 5:12), menopang (Mazmur 63:9), menyediakan
segala kebutuhan (Filipi 4:19), dan pada umumnya membuat segala
sesuatu mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia
(Roma 8:28). 'Tidak ada telinga yang mendengar, dan tidak ada
mata yang melihat seorang allah yang bertindak bagi orang-orang
yang menantikan dia; hanya Engkau yang berbuat demikian"
(Yesaya 64:4). (5) Allah berkuasa atas nasib orang-orang yang di
selamatkan dan yang tidak diselamatkan. Ia akan menuntun orang
percaya sepanjang hidupnya hingga mencapai kemuliaan (Mazmur
73:24), dan, sekalipun ia jatuh, Tuhan akan menopang dia (Mazmur
37:23-24), namun hukuman dari Tuhan akan menimpa orang yang
tidak percaya (Mazmur 11:6). (6) Allah berkuasa atas tindakan-tin
dakan bebas manusia. Ia bekerja di dalam hati bangsa Mesir untuk
melaksanakan kehendak-Nya (Keluaran 12:36), dan demikian pula
di dalam hati Daud (I Samuel 24:18), Artahsasta (Ezra 7:27), orang
percaya (Filipi 2:13), raja (Amsal 21:1), bahkan semua orang
(Yeremia 10:23). "Manusia dapat menimbang-nimbang dalam hati,
namun jawaban lidah berasal daripada Tuhan" (Amsal 16:1).
Kalau demikian, bagaimana perbuatan berdosa manusia dapat
cocok dengan program Allah yang berdaulat? Adakah Allah meng
haruskan orang berbuat dosa? Beberapa peristiwa dalam Alkitab
nampaknya menunjukkan hal demikian. Allah mengeraskan hati
Firaun (Keluaran 10:27); yaitu dosa bagi Daud untuk menghitung
orang Israel, namun Allah yang menggerakkan hati Daud untuk
melakukan hal itu (II Samuel 24:1; I Tawarikh 21:1); Allah
menyerahkan orang-orang berdosa untuk berbuat dosa lebih banyak
(Roma 1:24, 26, 28); Allah mengurung semua orang dalam ketidak
taatan (Roma 11:32); dan selama masa kesengsaraan besar Allah
akan mendatangkan pengaruh yang menyesatkan sehingga orang-
orang yang tidak percaya kepada Allah akan percaya kepada dusta
(II Tesalonika 2:11). Jikalau Allah tidak menyebabkan dosa
(Habakuk 1:13; Yakobus 1:13; I Yohanes 1:5; 2:16), bagaimana
kita dapat menerangkan peristiwa-peristiwa ini ? Apakah
hubungan Allah dengan dosa manusia? Soal ini dapat dijawab de
192 Teologi
ngan empat cara. (1) Sering kali Allah menahan manusia untuk
melakukan dosa yang ingin dilakukannya. Tindakan ini disebut
"pemeliharaan yang mencegah". Allah berkata kepada Abimelekh,
"Aku pun telah mencegah engkau untuk berbuat dosa terhadap Aku;
sebab itu Aku tidak membiarkan engkau menjamah dia" (Kejadian
20:6). Daud berdoa, "Jauhkanlah aku dari dosa yang disengaja, ja
ngan biarkan aku dikuasai olehnya" (Mazmur 19:13, BIS, banding
kan dengan Matius 6:13). Allah telah berjanji bahwa orang percaya
tidak akan dicobai melampaui kekuatannya (I Korintus 10:13). (2)
Allah kadang-kadang tidak secara aktif menahan orang untuk ber
buat dosa, namun membiarkan dosa itu terjadi. Tindakan ini disebut
"pemeliharaan yang mengizinkan". Dalam Hosea 4:17 Allah berfir
man, "Efraim bersekutu dengan berhala-berhala, biarkanlah dia."
Allah "membiarkan semua bangsa menuruti jalannya masing-
masing" (Kisah 14:16, bandingkan dengan II Tawarikh 32:31; Maz
mur 81:13; Roma 1:24, 26, 28). (3) Selanjutnya, Allah memakai
pemeliharaan yang mengarahkan. Allah membiarkan kejahatan ter
jadi, namun Ia mengarahkannya. Yesus mengatakan kepada Yudas,
"Apa yang hendak kau perbuat, perbuatlah dengan segera" (Yo
hanes 13:27). Orang-orang yang terlibat dalam penyaliban Kristus
melakukan apa yang dari semula telah ditetapkan oleh Allah untuk
terjadi (Kisah 2:23; 4:27-28). Maksud manusia dalam menyalibkan
Yesus Kristus itu jahat, namun Allah memakai maksud jahat ini
untuk melakukan kehendak-Nya. Allah memakai kemarahan ma
nusia untuk memuji Dia (Mazmur 76:10, bandingkan dengan Ye
saya 10:5-15). (4) Akhirnya, Allah dengan memakai pemeliharaan
yang membatasi, menetapkan batas-batas yang tidak dapat dilam
paui oleh kejahatan dan akibat-akibatnya. Allah berfirman kepada
Iblis, "Nah, segala yang dipunyainya ada dalam kuasamu; hanya
janganlah engkau mengulurkan tanganmu terhadap dirinya" (Ayub
1:12, bandingkan dengan Ayub 2:6; I Korintus 10:13; II Tesalonika
2:7; Wahyu 20:2-3).
Dari pertimbangan-pertimbangan ini jelaslah bahwa semua
tindakan jahat yang dilakukan oleh manusia berada di bawah peng
awasan Allah yang berdaulat. Perbuatan-perbuatan jahat itu hanya
dapat terjadi melalui izin Tuhan, dan hanya sejauh batas peluang
yang diberikan Allah. Sekalipun perbuatan-perbuatan itu jahat,
Allah dapat memakainya demi kebaikan. Dengan demikian perilaku
Karya-Karya Allah: Pemerintahan-Nya yang Berdaulat 193
jahat kakak-kakak Yusuf, sifat keras kepala Firaun, nafsu penak
lukan bangsa-bangsa kafir yang menyerbu Tanah Suci dan akhirnya
menawan bangsa Israel, penolakan dan penyaliban Kristus, penga
niayaan gereja, serta peperangan dan revolusi di antara bangsa-
bangsa, semuanya telah dipakai oleh Allah untuk kemuliaan dan
terwujudnya rencana-Nya. Kenyataan bahwa Allah telah mengubah
kejahatan menjadi kebaikan seharusnya mendorong umat-Nya agar
percaya bahwa Ia akan melakukan hal yang sama terhadap keja
hatan yang dilakukan generasi dewasa ini.
C. TUJUAN TINDAKAN PEMELIHARAAN
Allah memerintah dunia dengan maksud untuk membahagiakan
makhluk ciptaan-Nya. saat menggoda Hawa, Iblis mengatakan
secara tak langsung bahwa Allah hendak menahan sesuatu yang
baik dari Hawa dan Adam (Kejadian 3:4-5), dan Iblis memang dari
dulu sudah mencoba untuk meyakinkan manusia bahwa Allah me
nahan hal yang baik dari mereka. Sebaliknya Paulus mengatakan,
"Namun Ia bukan tidak menyatakan diri-Nya dengan berbagai-bagai
kebajikan, yaitu dengan menurunkan hujan dari langit dan dengan
memberikan musim-musim subur bagi kamu. Ia memuaskan hatimu
dengan makanan dan kegembiraan" (Kisah 14:17). Yesus menga
takan, Allah "menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang
yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang
yang tidak benar" (Matius 5:45). Kebaikan Allah mempunyai tujuan
yang penting, yaitu menuntun orang kepada pertobatan (Roma 2:4)-.
Secara khusus Allah mengusahakan kesejahteraan anak-anak-Nya,
karena pemazmur mengatakan, "Ia tidak menahan kebaikan dari
orang yang hidup tidak bercela" (Mazmur 84:12). Paulus menga
takan, "Kita tahu sekarang bahwa Allah turut bekerja dalam segala
sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi
Dia" (Roma 8:28).
Allah juga memerintah dunia dengan tujuan untuk pengembangan
mental dan moral umat manusia. Memang pendidikan umat manusia
itu ada, namun pendidikan ini tidaklah mengganti keselamatan.
Keseluruhan sistem Imamat Lewi sifatnya mendidik, mempersiap
kan jalan bagi kedatangan Anak Domba Allah yang sejati yang
menghapus dosa dunia (Galatia 3:24). Pengembangan mental dan
194 Teologi
moral ini dapat dilihat dalam berbagai cara sepanjang sejarah gereja
Kristen. Pengembangan ini dapat dilihat dalam meninggikan
derajat wanita, pendirian berbagai rumah sakit, perkenalan berbagai
sistem pendidikan, penghapusan perbudakan, pemberian kebebasan
beragama, perkembangan teknologi dalam bidang-bidang seperti
komunikasi dan pengangkutan, dan lain-lain. Semua ini merupakan
perkembangan yang berperikemanusiaan, namun akhirnya kita harus
merunutnya kembali kepada pemerintahan Allah yang memelihara
bumi ini. Sekalipun perkembangan-perkembangan ini hanya bersifat
sementara, semua itu dapat dipakai untuk menyebarkan Injil.
Allah memerintah dunia dengan tujuan untuk menyelamatkan dan
mempersiapkan suatu umat milik-Nya sendiri. Ia memilih Israel
agar mereka menjadi umat-Nya (Keluaran 19:5-6), dan Ia juga telah
memanggil gereja dengan tujuan yang sama (Titus 2:14; I Petrus
2:9). Penjelmaan Allah di dalam Kristus, kematian Kristus yang
mendamaikan, karunia dan kedatangan Roh Kudus, penulisan dan
pemeliharaan Kitab Suci, serta pendirian gereja dengan pelayanan
nya, semuanya itu dimaksudkan untuk menyelamatkan dan memper
siapkan suatu umat kepunyaan-Nya sendiri. Dalam arti yang
sesungguhnya, tindakan pemeliharaan diarahkan untuk menjadikan
dan memelihara orang-orang kudus (Efesus 3:9-10; 5:25-27). Jelas
lah bahwa Allah juga memberkati orang yang belum diselamatkan
karena kehadiran umat-Nya di tengah-tengah mereka (Kejadian
18:22-33; II Raja-Raja 3:13-14; Matius 5:13-16).
Tujuan utama pemerintahan Allah ialah kemuliaan-Nya sendiri.
Ia memerintah dengan tujuan menunjukkan kesempurnaan-kesem-
purnaan-Nya: kesucian-Nya dan keadilan-Nya, kuasa-Nya, hikmat-
Nya, kasih-Nya, dan kebenaran-Nya. Tindakan pemeliharaan di
arahkan untuk menyatakan sifat-sifat ini. Kekudusan dan keadilan-
Nya ditunjukkan dalam kebencian-Nya dan perlawanan-Nya terha
dap dosa; kuasa-Nya nampak dalam karya penciptaan, pelestarian,
pemeliharaan, dan penebusan-Nya; hikmat-Nya diperlihatkan dalam
menetapkan berbagai cara dan sarana untuk mencapai apa yang di-
rencanakan-Nya; kasih-Nya nampak dalam penyediaan kebutuhan
ciptaan-Nya, khususnya saat Ia menyediakan keselamatan dengan
jalan mengaruniakan Putra-Nya; dan kebenaran-Nya dinyatakan da
lam menetapkan hukum-hukum alam dan pikiran, dan dalam ke-
setiaan-Nya untuk memenuhi semua janji-Nya. Jadi, tujuan utama
Karya-Karya Allah: Pemerintahan-Nya yang Berdaulat 195
pemerintahan-Nya yang berdaulat ialah penyataan kemuliaan-Nya.
Sebagaimana telah dikatakan-Nya sendiri, "Aku akan melakukan
nya oleh karena Aku, ya oleh karena Aku sendiri, sebab masakan
nama-Ku akan dinajiskan? Aku tidak akan memberikan kemuliaan-
Ku kepada yang lain" (Yesaya 48:11).
D. SARANA-SARANA YANG DIPAKAI DALAM PELAKSANAAN
PEMELIHARAAN
Dalam perkara-perkara lahiriah, Allah memakai hukum-hukum
alam. Melalui hukum-hukum ini Allah telah menetapkan musim-
musim dan memberi kepastian tentang adanya makanan bagi peng
hidupan kita (Kejadian 8:22). Lewat hukum-hukum ini juga, Ia
telah memberikan manusia naluri penyelamatan diri sendiri dan rasa
tanggung jawab moral (Roma 1:26; 2:15). Kadang-kadang Ia me
nambah pada hukum-hukum alam ini dengan mengadakan mukjizat.
Demikianlah Ia membebaskan dan mempersiapkan Israel dengan
memakai mukjizat (Keluaran 14:21-31), Ia memberikan kelegaan
pada masa perang (II Raja-Raja 3:16-17), Ia membebaskan hamba-
Nya Elisa (II Raja-Raja 6:18), dan Ia membebaskan Petrus untuk
pelayanan selanjutnya (Kisah 12:1-19). Kadang-kadang Ia menga
dakan sesuatu dengan mengucapkan firman-Nya yang berkuasa.
Bila Ia bersabda, terjadilah apa yang dikehendaki-Nya; bila Ia me
merintah, semuanya berdiri tegak (Mazmur 33:9); bila Ia memang
gil serangga-serangga perusak, datanglah mereka (Mazmur 105:31,
34); bila Ia mengutarakan firman yang menyembuhkan, maka pe
nyakit menghilang (Matius 8:8, 13); dan bila si jahat akan datang
untuk memerintah dunia sebentar, maka Kristus akan tampil untuk
menghancurkan dia dengan firman-Nya yang berkuasa (II Tesalo
nika 2:8, bandingkan juga Wahyu 19:20-21).
Dalam perkara-perkara batiniah Allah memakai berbagai sarana.
(1) Ia memakai firman-Nya. Manusia sering kali disuruh membaca
Alkitab untuk memperoleh tuntunan dan petunjuk (Yosua 1:7-8;
Yesaya 8:20; Kolose 3:16). Raja maupun rakyat harus tunduk
kepada Firman Tuhan ini (Ulangan 17:18-20). (2) Allah menghim
bau kepada akal manusia dalam hal menyelesaikan persoalan-per
soalan mereka (Kisah 6:2). Jalan-jalan Allah tidak dapat dipahami
dengan akal manusia, namun jalan-jalan itu tidak bertentangan de
196 Teologi
ngan akal sehat. (3) Allah memakai himbauan. Ia telah menetapkan
pelayanan hamba-hamba-Nya untuk mengajar dan mengajak umat-
Nya untuk mempercayai kebenaran (Yeremia 7:13; 44:4; Zakharia
7:7; Kisah 17:30). Melalui hamba-hamba-Nya Allah menghimbau
agar manusia mau berdamai kembali dengan-Nya (II Korintus 5:20).
(4) Allah memakai perasaan batin yang mengekang dan menahan.
Paulus sangat peka terhadap petunjuk-petunjuk batin ini yang me
nyatakan kehendak Allah (Kisah 16:6-7). (5) Allah memakai ke
adaan-keadaan yang nampak. Allah menuntun dengan pintu yang
terbuka dan dengan pintu yang tertutup (I Korintus 16:9; Galatia
4:20). Tentu saja, selalu ada kemungkinan bahwa keadaan-keadaan
yang tidak menguntungkan merupakan ujian untuk iman kita dan
bukan suatu halangan dari Tuhan terhadap perbuatan tertentu.
Hanya doa serta penelaahan Alkitab yang cermat dapat menentukan
yang mana yang sedang kita alami, ujian iman atau pengekangan
dari Tuhan. (6) Allah mencondongkan hati manusia ke satu arah
tertentu dan bukan ke arah yang lainnya (I Raja-Raja 8:58; Mazmur
119:36; Amsal 21:1; II Korintus 8:16). Ia bahkan mencondongkan
hati orang yang jahat untuk melakukan kehendak-Nya (II Raja-Raja
19:28; Yesaya 45:1-6; Wahyu 17:17). (7) Allah kadang-kadang me
nuntun manusia dengan memakai mimpi dan penglihatan. Yusuf
(Matius 2:13,19,22) dan Paulus (Kisah 16:9-10; 22:17-18) dituntun
dengan cara ini.
Dalam beberapa tindakan pemeliharaan, Allah memakai wakil-
wakil khusus. Wakil-wakil khusus ini ialah para malaikat dan Roh
Kudus. Nampaknya para malaikat dipakai dalam pelaksanaan pe
merintahan-Nya yang lahiriah (II Raja-Raja 19:35; Daniel 6:22;
10:5-21; 12:1; Matius 28:2; Kisah 8:26; 12:7-10), sedangkan Roh
Kudus dalam bagian pemerintahan yang batiniah dan rohaniah
(Lukas 4:1; Yohanes 16:7-15; Kisah 8:29; 10:19-20; 16:6-7; Roma
8:14, 26). Tentu saja, malaikat-malaikat tidaklah mahakuasa, mes
kipun mempunyai kuasa besar; namun Roh Kudus yang Allah adanya
itu mahatahu dan mahakuasa.
E. TEORI-TEORI YANG MENENTANG AJARAN TINDAKAN
PEMELIHARAAN
Sekalipun ajaran yang sedang kita pelajari ini merupakan salah satu
ajaran yang paling dihargai oleh seorang anak Tuhan, namun ajaran
Karya-Karya Allah: Pemerintahan-Nya yang Berdaulat 197
ini ditolak oleh orang-orang yang tidak percaya kepada Allah yang
benar. Tiga teori yang menentang ajaran ini akan kita bahas sejenak.
1. Naturalisme. Naturalisme menganggap bahwa alam ini me
rupakan seluruh realitas yang ada. Segala sesuatu yang terjadi di
alam semesta ini yaitu hasil kerjanya hukum-hukum alam. Ke
bahagiaan manusia serta kesempatannya untuk berhasil dalam hidup
ini bergantung pada pengetahuannya serta kerja samanya dengan
hukum-hukum ini. Sekalipun Alkitab mengakui adanya hukum-
hukum alam ini, Alkitab tidak mengajarkan bahwa hukum-hukum
alam ini bekerja secara terpisah. Alkitab menggambarkan
hukum-hukum alam sebagai tidak mampu mengatur dirinya sendiri
dan tidak mampu memelihara dirinya sendiri. Allah menyetujui se
mua pelaksanaan hukum-hukum alam ini, baik hukum-hukum yang
berkaitan dengan zat maupun hukum-hukum yang berkaitan dengan
akal. Kadang-kadang juga Allah bertindak terlepas dari hukum-
hukum ini samasekali. Dengan demikian, maka mukjizat pen
jelmaan serta kebangkitan Kristus dapat diterangkan.
2. Fatalisme. Fatalisme hendaknya dibedakan dari determinisme.
Fatalisme menganggap bahwa semua peristiwa ditentukan oleh
nasib, dan bukan oleh sebab-sebab alamiah, dan bahwa manusia
tidak mampu mengubah jalannya peristiwa-peristiwa yang sudah
ditetapkan nasib ini. Determinisme menganggap bahwa peristiwa-
peristiwa memang harus terjadi namun peristiwa-peristiwa itu terjadi
sebagai akibat dari peristiwa-peristiwa sebelumnya. Kaum fatalis
dapat berbicara mengenai kuasa yang menentukan nasib itu sebagai
Allah, namun Allah yang dimaksudkan itu pastilah bukan Allah
Alkitab. Fatalisme mengakui bahwa naturalisme tidak mampu men
jelaskan segala sesuatu yang terjadi dan menyatakan bahwa peris
tiwa-peristiwa yang tidak dapat diterangkan dengan hukum alam
itu telah ditetapkan oleh nasib. Keberatan utama terhadap fatalisme
ialah bahwa paham ini menjadikan penyebab utama segala sesuatu
itu bersifat sewenang-wenang dan tidak bermoral, bahkan umumnya
juga tidak berkepribadian.
3. Panteisme. Karena semua teori panteistis menyatakan bahwa
kehendak itu tidak bebas dan segala sesuatu yang ada tanpa kecuali
mempunyai sebab, maka panteisme tidak memiliki ajaran tentang
pemeliharaan. Karena teori-teori itu harus menjadikan penyebab
198 Teologi
yang menentukan itu juga sebagai yang menyebabkan dan mencip
takan dosa, maka panteisme menghancurkan semua kemungkinan
adanya moralitas yang sejati. Karena manusia merupakan bagian
dari allah yang panteistis ini, maka mau tak mau ia harus berbuat
dosa. Lagi pula, teori-teori panteistis ini tidak dapat menjelaskan
mukjizat. Teori-teori ini berbicara soal "mutasi" (perubahan bentuk
dan sifat) dan "hasil evolusi yang baru yang tak dapat diramalkan",
namun gagasan-gagasan ini tidak dapat menjelaskan mukjizat pen
jelmaan dan kebangkitan Kristus, dan mukjizat-mukjizat lain yang
tercatat di Alkitab pun tidak. Teori-teori panteistis ini juga
menyangkal kebebasan manusia. Sebagai bagian dari sistem dunia
ini, maka manusia juga bertindak karena mutlak perlu. Sekalipun
demikian, manusia menyadari dalam arti yang sangat nyata bahwa
"ia dapat memprakarsai perbuatan dan bahwa ia juga bertanggung
jawab atas kelakuannya. Ia tidak akan mengorbankan kebebasannya
kepada suatu proses logis atau suatu mekanisme unggul karena ia
dianggap sebagai bagian dari mekanisme itu.
F. HUBUNGAN ANTARA TINDAKAN PEMELIHARAAN DE
NGAN BEBERAPA MASALAH KHUSUS
Sangatlah sulit untuk menahan diri agar tidak menerima satu dari
dua pandangan ekstrem ini: bahwa Allah merupakan pelaku tunggal
dalam alam semesta atau bahwa manusialah pelaku tunggal itu. Ke
benarannya terletak di antara kedua pandangan ekstrem ini .
Kenyataan ini harus diingat selalu dalam kaitan dengan paham kita
tentang kebebasan manusia dan doa. Perhatikanlah hubungan-
hubungan ini sejenak:
1. Hubungan antara tindakan pemeliharaan dengan kebebasan
manusia. Sebagaimana sudah dikatakan tadi, Allah kadang-kadang
mengizinkan manusia untuk melakukan apa yang dikehendakinya;
maksudnya, Ia tidak mengekang saat manusia melaksanakan ke
inginannya yang jahat. Demikian pula, Allah kadang-kadang me
ngekang seseorang sehingga ia tidak melakukan apa yang akan di
lakukannya dalam kebebasannya. Allah memakai berbagai keadaan,
pengaruh sahabat-sahabat, serta pengekangan batiniah untuk men
capai maksud ini. Kadang-kadang Allah mengendalikan dosa de
ngan cara membiarkan pengaruhnya bekerja sampai tingkatan ter
Karya-Karya Allah: Pemerintahan-Nya yang Berdaulat 199
tentu lalu dihentikan-Nya. Akhirnya, Allah senantiasa memakai
apa yang dilakukan manusia untuk melaksanakan apa yang diren-
canakan-Nya. Bahkan kemurkaan manusia dipakai-Nya untuk me
muji nama-Nya.
2. Hubungan antara tindakan pemeliharaan dengan doa. Ada
orang yang beranggapan bahwa doa sebenarnya tidak dapat mem
pengaruhi Allah karena Ia sudah menetapkan apa yang akan
dilakukan-Nya dalam setiap hal. Akan namun , pandangan ini
yaitu ekstrem. "Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu
tidak berdoa" (Yakobus 4:2) tidak boleh diabaikan. Allah melaku
kan hal-hal tertentu hanya sebagai jawaban atas doa; Ia melakukan
hal lain tanpa ada yang berdoa; dan Ia melakukan beberapa hal
berlawanan dengan apa yang didoakan. Dalam kemahatahuan-Nya
semua ini sudah dipertimbangkan, dan dalam pemeliharaan-Nya Ia
melaksanakan semua hal menurut rencana dan tujuan-Nya sendiri.
Bila kita tidak berdoa untuk memperoleh apa yang dapat kita per
oleh dengan doa, maka kita juga tidak akan mendapatnya. Bila Ia
ingin melakukan sesuatu yang tidak didoakan oleh siapa pun, maka
hal itu akan dilakukan-Nya tanpa ada yang berdoa. Bila kita berdoa
untuk sesuatu yang bertentangan dengan kehendak-Nya, maka Ia
menolak untuk mengabulkan doa kita. Jadi, ada keselarasan
sempurna antara maksud-Nya dengan tindakan pemeliharaan-Nya
dan dengan kebebasan manusia.
BAGIAN IV
AJARAN TENTANG MALAIKAT
Ajaran tentang malaikat-malaikat dengan sendirinya mengikuti ajar
an tentang Allah, karena para malaikat terutama merupakan hamba-
hamba yang menjalankan pemeliharaan ciptaan Allah. Sekalipun
Alkitab mengatakan banyak tentang malaikat, dewasa ini pada
umumnya orang mengabaikan ajaran ini, malahan sering menolak
nya. Berbagai hal telah mengakibatkan sikap ini. Pertama-tama ter
dapat pemujaan kaum Gnostik terhadap malaikat (Kolose 2:18);
selain itu, ada berbagai spekulasi konyol dari golongan Skolas
tik Abad Pertengahan; lalu ada kepercayaan yang berlebihan
terhadap ilmu sihir dalam waktu-waktu belakangan ini; dan akhir
nya, bangkitnya pemujaan setan dan Iblis dewasa ini. Sekalipun
demikian ada banyak alasan untuk percaya akan adanya
malaikat-malaikat.
(1) Adanya serta pelayanan malaikat diajarkan secara cukup jelas
dalam Alkitab. Yesus banyak menyebutkan malaikat, dan kita tidak
dapat begitu saja menolak ajaran-Nya dengan berdalih bahwa kita
mengetahui lebih banyak. (2) Bukti-bukti dari orang-orang yang di
rasuki dan ditindas oleh setan serta pemujaan setan menunjuk ke
pada adanya malaikat. Paulus menganggap pemujaan berhala se
bagai pemujaan setan (I Korintus 10:20-21). Pada akhir zaman pe
mujaan setan dan berhala ini akan meningkat dengan cepat (Wahyu
9:20-21). (3) Meningkatnya gerakan spiritualisme menandakan ada
nya keperluan untuk memahami ajaran ini. Alkitab mengutuk pelak
sanaan nekromansi atau mengadakan hubungan dengan arwah
orang mati (Ulangan 18:10-12; Yesaya 8:19-20). Gejala ini juga
akan meningkat pada akhir zaman (I Timotius 4:1). Dan (4) karya
201
202 Ajaran Tentang Malaikat
Iblis serta roh-roh jahat dalam mencegah berkembangnya kasih ka
runia dalam hati kita serta pekerjaan Allah di dunia harus dipahami
sehingga kita bisa mengetahui apa yang dapat diharapkan pada ke
mudian hari dalam perang melawan Iblis ini serta yakin bahwa Iblis
akan segera dikalahkan (Kejadian 3:15; Roma 16:20; Wahyu 12:7-
9; 20:1-10).
Ajaran tentang malaikat-malaikat ini akan dibagi menjadi dua
bagian: (1) asal mula, sifat, kejatuhan, dan penggolongan malaikat-
malaikat, dan (2) pekerjaan serta nasib para malaikat.
XIII
Asal Mula, Sifat, Kejatuhan, dan
Penggolongan Malaikat
L ASAL MULA MALAIKAT
Seluruh Alkitab beranggapan bahwa malaikat itu ada, yaitu baik
malaikat yang baik maupun malaikat yang jahat. Mazmur 148:2-5
mendaftarkan malaikat bersama dengan matahari, bulan, dan bin
tang-bintang sebagai sebagian dari ciptaan Allah. Yohanes 1:3 me
nyatakan bahwa Yesus menciptakan segala sesuatu. Termasuk
dalam "segala sesuatu" itu ialah segala sesuatu "yang ada di sorga
dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan,
baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun pe
nguasa" (Kolose 1:16, bandingkan dengan Efesus 6:12). Karena
hanya Allah sendiri yang hidup selama-lamanya (I Timotius 6:16)
maka ini menunjukkan bahwa malaikat telah diciptakan oleh Allah
dan bahwa kelangsungan kehidupan mereka bergantung pada ban
tuan Allah yang terus-menerus. Saat penciptaan malaikat tidak di
sebutkan dengan jelas dalam Alkitab, namun sangatlah mungkin
bahwa malaikat diciptakan sebelum langit dan bumi diciptakan
(Kejadian 1:1), karena menurut Ayub 38:4-7, "semua anak Allah
bersorak-sorai" saat Allah meletakkan dasar bumi. Yang jelas,
malaikat sudah ada pada waktu Kejadian 3:1 yaitu saat Iblis,
makhluk malaikat, menampakkan diri. Sekalipun Alkitab tidak
memberi tahu jumlah yang pasti, kita diberi tahu bahwa jumlah
mereka banyak sekali (Daniel 7:10; Matius 26:53; Ibrani 12:22;
Wahyu 5:11).
203
204 Ajaran Tentang Malaikat
H. SIFAT MALAIKAT
A. MALAIKAT BUKAN MANUSIA YANG DIMULIAKAN
Manusia dan malaikat dibedakan. Dalam Matius 22:30 dikatakan
bahwa orang-orang percaya suatu saat akan menjadi seperti ma
laikat, namun tidak dikatakan bahwa mereka akan menjadi malaikat.
"Beribu-ribu malaikat" dibedakan dari "roh-roh orang-orang benar
yang telah menjadi sempurna" (Ibrani 12:22-23). Berdasarkan kitab
Perjanjian Lama dalam bahasa Yunani (Septuaginta) dikatakan bah
wa manusia telah diciptakan lebih rendah daripada malaikat, namun
kemudian akan menjadi lebih tinggi daripada malaikat (Mazmur 8:6,
bandingkan dengan Ibrani 2:7). Orang-orang percaya suatu saat
akan menghakimi malaikat (I Korintus 6:3).
B. MALAIKAT TIDAK BERBADAN
Para malaikat disebut "angin" atau "roh" (Ibrani 1:7, bandingkan
dengan Mazmur 104:4). Ibrani 1:14 berbunyi sebagai berikut, "Bu
kankah mereka semua yaitu roh-roh yang melayani, yang diutus
untuk melayani mereka yang harus memperoleh keselamatan?" Bah
wa mereka tidak bertubuh juga jelas nampak dari Efesus 6:12 saat
Paulus mengatakan bahwa "perjuangan kita bukanlah melawan da
rah dan daging, namun melawan pemerintah-pemerintah, melawan
penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap
ini, melawan roh-roh jahat di udara."
Malaikat sudah sering menampakkan diri dengan memakai tubuh
(Kejadian 18, 19; Lukas 1:26; Yohanes 20:12; Ibrani 13:2), namun
kenyataan ini tidak berarti bahwa mereka mempunyai tubuh jas
maniah sebagai bagian yang perlu dari kehidupan mereka.
C. MALAIKAT MERUPAKAN SUATU KELOMPOK, BUKAN
SUATU BANGSA
Dalam Alkitab malaikat disebut sebagai bala tentara, dan bukan
sebagai bangsa (Mazmur 148:2). Malaikat tidak pernah menikah
atau dinikahkan, juga tidak pernah mati (Lukas 20:34-36).
Mereka disebut sebagai "anak-anak Allah" dalam Perjanjian Lama
(Ayub 1:6; 2:1; 38:7, bandingkan dengan Kejadian 6:2, 4), namun
Asal Mula, Sifat, Kejatuhan, dan Penggolongan Malaikat 205
tidak pernah Alkitab menyebutkan tentang adanya anak-anak ma
laikat. Kata "malaikat" dalam Alkitab dipakai dalam bentuk mas
kulin. Sekalipun pemakaian bentuk maskulin ini tidak berarti bah
wa mereka itu berkelamin laki-laki, malaikat di kubur Yesus dilihat
sebagai dua orang laki-laki (Lukas 24:4, Alkitab bahasa Inggris).
Seorang laki-laki muda sedang duduk di dalam kubur itu (Markus
16:5). Karena para malaikat merupakan suatu kelompok dan bukan
suatu bangsa, maka mereka berbuat dosa secara perorangan. Mung
kin karena hal ini Tuhan tidak menyediakan keselamatan untuk ma
laikat-malaikat yang telah jatuh. Alkitab mengatakan, "bukan ma
laikat-malaikat yang Ia kasihani, namun keturunan Abraham yang Ia
kasihani" (Ibrani 2:16).
D. PENGETAHUAN MALAIKAT LEBIH TINGGI DARIPADA
PENGETAHUAN MANUSIA, WALAUPUN MEREKA TIDAK
MAHATAHU
Kebijaksanaan seorang malaikat dianggap sebagai kebijaksanaan
yang tinggi (II Samuel 14:20). Yesus mengatakan, "namun tentang
hari dan saat itu tidak seorang pun yang tahu, malaikat-malaikat di
sorga tidak" (Matius 24:36). Para malaikat dipanggil sebagai saksi
oleh Rasul Paulus, "Di hadapan Allah dan Kristus Yesus dan ma
laikat-malaikat pilihan-Nya" (I Timotius 5:21). Malaikat-malaikat
yang telah jatuh pun memiliki kebijaksanaan yang melebihi kebijak
sanaan biasa. Pernah seorang malaikat yang jatuh berkata kepada
Yesus Kristus, "Hai Engkau, Yesus orang Nazaret, apa urusan-Mu
dengan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah"
(Lukas 4:34). Para malaikat ingin meneliti dan mengetahui keajaib
an-keajaiban karya penyelamatan (I Petrus 1:11-12).62
E. MALAIKAT LEBIH KUAT DARIPADA MANUSIA,
WALAUPUN MEREKA TIDAK MAHAKUASA
Malaikat dikatakan lebih perkasa dan berkuasa daripada manusia
(II Petrus 2:11, bandingkan dengan "pahlawan-pahlawan perkasa"
dari Mazmur 103:20). Paulus menyebutkan mereka sebagai "ma
laikat-malaikat-Nya yang perkasa" (II Tesalonika 1:7, BIS). Con-
62 Dickason, Angels: Elect and Devil, hal. 27.
206 Ajaran Tentang Malaikat
toh-contoh kekuasaan malaikat ini ada saat malaikat melepas
kan para rasul dari penjara (Kisah 5:19; 12:7) serta menggulingkan
batu kuburan Yesus yang disegel itu (Matius 28:2). Kekuatan para
malaikat itu terbatas seperti yang terlihat dalam pertempuran antara
malaikat yang jahat dengan malaikat yang baik (Wahyu 12:7). Ma
laikat yang datang mengunjungi Daniel memerlukan bantuan Mi
khael dalam perjuangannya melawan penguasa Persia (Daniel
10:13). Baik Mikhael, penghulu malaikat (Yudas 9), maupun Iblis
(Ayub 1:12; 2:6) memiliki kekuatan yang terbatas.
F. MALAIKAT LEBIH LUHUR DARIPADA MANUSIA,
WALAUPUN TIDAK MAHAHADIR
Malaikat tidak bisa berada di dua tempat sekaligus. Mereka me
ngembara di atas muka bumi (Ayub 1:7; Zakharia 1:11; I Petrus
5:8), berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya (Daniel 9:21-23).
Kenyataan ini sering kali membutuhkan waktu dan juga adanya pe
nundaan (Daniel 10:10-14). Bahkan dalam gagasan terbang tersirat
bahwa para malaikat yaitu "roh-roh yang melayani, yang diutus
untuk melayani mereka yang harus memperoleh keselamatan"
(Ibrani 1:14). Malaikat-malaikat yang telah jatuh merupakan hamba
Iblis (II Korintus 11:15).
III. KEJATUHAN MALAIKAT
A. KENYATAAN KEJATUHAN MEREKA
Masalah asal mula kejahatan harus dipertimbangkan sekarang ini,
karena kejahatan mula-mula terjadi di sorga dan bukan di bumi.
Terkecuali beberapa filsuf Hindu yang menyebut kejahatan sebagai
"maya" atau "khayalan", dan golongan Christian Science yang me
nyebutnya sebagai "kesalahan pikiran manusia", semua orang
mengakui kenyataan yang buruk dan serius mengenai adanya ke
jahatan di alam semesta ini. Sesungguhnya, hadirnya kejahatan di
dunia ini merupakan salah satu masalah yang paling memusingkan
dalam filsafat dan teologi. Hal ini disebabkan oleh karena sulit se
kali untuk menyelaraskan gagasan kejahatan dengan konsep me
ngenai Allah yang murah hati, kudus, serta mahakuasa. Beberapa
orang beranggapan bahwa kedua gagasan ini tidak dapat diperte
Asal Mula, Sifat, Kejatuhan, dan Penggolongan Malaikat 207
mukan samasekali sehingga mengusulkan pandangan dualisme,
yaitu bahwa kejahatan dan kebaikan sama-sama kekal. Karena itu,
tidak pernah ada alam semesta yang sempurna, dan sebagai akibat
nya, tidak ada pula yang namanya "kejatuhan". Inilah pandangan
Zoroastrianisme dari Persia, Gnostisisme, dan Manikheisme. Bebe
rapa sarjana teologi modem menganut pandangan yang mirip de
ngan ini dan mengajarkan bahwa Allah itu terbatas dan sejak kekal
telah menentang kejahatan. Semua teori ini diciptakan untuk mem
bebaskan Allah dari tanggung jawab atas terjadinya kejahatan, na
mun mereka berbuat demikian dengan menurunkan derajat-Nya se
bagai Allah.
Namun ada cukup alasan untuk percaya bahwa malaikat telah
diciptakan dalam keadaan sempurna. Dalam kisah penciptaan
(Kejadian 1), kita diberi tahu sebanyak tujuh kali bahwa segala se
suatu yang diciptakan Allah itu baik. Dalam Kejadian 1:31 kita
membaca, "Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu sung
guh amat baik." Pastilah, kalimat ini mencakup kesempurnaan para
malaikat dalam kekudusan saat mula-mula diciptakan. Jikalau
Yehezkiel 28:15 menunjuk kepada Iblis, sebagaimana dianjurkan
banyak pihak, maka dengan tegas dinyatakan bahwa Iblis itu dicip
takan dengan sempurna. Akan namun , beberapa ayat Alkitab menun
jukkan bahwa ada malaikat yang jahat (Mazmur 78:49; Matius
25:41; Wahyu 9:11; 12:7-9). Ini terjadi karena malaikat-malaikat
itu berbuat dosa, dengan cara meninggalkan batas-batas kekuasaan
mereka dan tempat kediaman mereka (II Petrus 2:4; Yudas 6). Pasti
lah, Iblis yang memimpin para malaikat yang murtad itu. Yehezkiel
28:15-17 nampaknya mengisahkan kejatuhannya. Petunjuk lainnya
yang mungkin menyinggung kejatuhan Iblis dapat ditemukan dalam
Yesaya 14:12-15. Tidak dapat disangkal lagi bahwa memang ada
malaikat-malaikat yang telah jatuh.
B. SAAT KEJATUHAN MEREKA
Alkitab tidak menyebut hal ini, namun jelaslah bahwa kejatuhan ma
laikat-malaikat itu terjadi sebelum kejatuhan manusia, karena Iblis
memasuki taman Eden sebagai ular dan menggoda Hawa untuk ber
buat dosa (Kejadian 3:1-5). Namun kita tidak tahu dengan pasti
berapa lama malaikat-malaikat itu telah jatuh sebelum terjadi peris
tiwa di taman Eden. Orang-orang yang beranggapan bahwa setiap
208 Ajaran Tentang Malaikat
hari penciptaan itu merupakan periode yang lama pastilah berpikir
bahwa kejatuhan itu terjadi beberapa waktu sebelum atau selama
periode yang lama ini; mereka yang beranggapan bahwa Kejadian
1:2 menggambarkan akibat suatu bencana besar biasanya akan
menetapkan terjadinya kejatuhan malaikat-malaikat itu sebelum 1:1
atau antara ayat 1 dengan ayat 2. Bagaimanapun juga, pastilah peris
tiwa kejatuhan itu terjadi sebelum Kejadian 3:1.
C. PENYEBAB KEJATUHAN MEREKA
Hal ini merupakan salah satu rahasia besar di bidang teologi. Para
malaikat diciptakan sebagai makhluk yang sempurna; semua pera
saan kasih sayang dalam hati mereka ditujukan kepada Allah; ke
hendak mereka cenderung kepada Allah. Masalahnya sekarang,
bagaimana makhluk seperti itu bisa jatuh? Bagaimana keinginan
tidak kudus yang pertama itu dapat timbul di dalam hati makhluk
semacam itu dan bagaimana pula kehendaknya pertama kali merasa
terdorong untuk berpaling dari Allah? Berbagai jawaban telah di
usulkan. Beberapa di antaranya kita bahas berikut ini.
Beberapa kalangan tertentu mengatakan bahwa segala sesuatu
yang ada itu berasal dari Allah; dengan demikian maka Allah juga
yang mengadakan dosa. Terhadap pandangan ini kami mengatakan
bahwa bila Allah dianggap sebagai penyebab adanya dosa dan ke
mudian menghukum makhluk ciptaan-Nya karena berbuat dosa,
maka kita tidak memiliki alam semesta yang bermoral. Pihak lain
mengatakan bahwa kejahatan disebabkan oleh sifat dunia ini. Ada
nya dunia merupakan kejahatan terbesar dan merupakan sumber
segala kejahatan. Alam sendiri jahat. Namun, Alkitab berkali-kali
mengatakan bahwa segala yang diciptakan Allah itu baik dan
menolak anggapan bahwa alam ini sifatnya jahat (I Timotius 4:4).
Dan akhirnya, ada pula kalangan yang mengusulkan bahwa keja
hatan itu disebabkan karena watak makhluk yang diciptakan. Me
reka menganggap bahwa dosa merupakan tahap yang perlu dalam
pembinaan roh. Akan namun , Alkitab tidak pernah membicarakan
perkembangan evolusioner semacam itu dan senantiasa memandang
alam semesta ini beserta semua makhluk sebagai diciptakan dalam
keadaan sempurna.
Berguna sekali bila mengingat bahwa makhluk ciptaan itu pada
mulanya memiliki apa yang oleh para teolog Latin disebut sebagai
Asal Mula, Sifat, Kejatuhan, dan Penggolongan Malaikat 209
kemampuan posse peccare et posse nonpeccare, yaitu kemampuan
untuk berbuat dosa dan tidak berbuat dosa. Makhluk ciptaan itu
ditempatkan dalam suatu posisi di mana ia dapat berbuat dosa atau
tidak berbuat dosa tanpa dipaksa untuk berbuat salah satu perbuatan
itu. Dengan kata lain, ia memiliki kehendak yang otonom yaitu me
miliki hak dan kekuasaan menentukan arah tindakannya sendiri.
Berlandaskan kenyataan ini, kita harus menarik kesimpulan bah
wa kejatuhan malaikat disebabkan karena mereka sendiri dengan
sengaja telah menentukan untuk memberontak kepada Allah. Me
reka memilih untuk mengutamakan diri dan kepentingan mereka
sendiri daripada mengutamakan Allah dan kepentingan-Nya. Apa
bila kita bertanya alasan khusus apakah yang menyebabkan pem
berontakan ini, nampaknya Alkitab memberikan beberapa jawaban.
Kemakmuran dan keelokan yang luar biasa mungkin merupakan
petunjuk ke arah alasan yang sedang kita cari. Raja Tirus nam
paknya melambangkan Iblis dalam Yehezkiel 28:11-19, dan dikata
kan di sana bahwa ia jatuh karena kemakmuran dan keindahan (ban
dingkan dengan I Timotius 3:6). Ambisi yang berkelebihan serta
keinginan untuk melampaui Allah agaknya merupakan petunjuk
lain. Raja Babilon dituduh memiliki ambisi seperti ini, dan ia juga
mungkin melambangkan Iblis (Yesaya 14:13-14). Bagaimanapun
juga, sifat mementingkan diri, ketidakpuasan dengan apa yang su
dah dimiliki, serta mendambakan sesuatu yang menjadi milik orang
lain itulah yang nampaknya menyebabkan kejatuhan. Tak sangsi
lagi bahwa penyebab kejatuhan Iblis juga merupakan penyebab
kejatuhan malaikat-malaikat jahat lainnya. Naga itu menyeret se
pertiga dari bintang-bintang di langit dengan ekornya (Wahyu 12:4).
Mungkin saja inilah petunjuk bahwa sepertiga dari malaikat-malai
kat mengikut Iblis.
D. AKIBAT KEJATUHAN MEREKA
Beberapa akibat kejatuhan malaikat-malaikat itu disebut oleh
Alkitab. (1) Semua malaikat yang jatuh itu kehilangan kekudusan
mula-mula mereka dan sifat serta perilaku mereka menjadi rusak
(Matius 10:1; Efesus 6:11-12; Wahyu 12:9). (2) Beberapa di antara
mereka dilemparkan ke neraka (Tartarus) dan masih ada di sana
dirantai hingga hari penghakiman (II Petrus 2:4; Yudas 6). (3)
Beberapa di antara mereka dibiarkan bebas dan secara langsung
210 Ajaran Tentang Malaikat
ikut serta melawan pekerjaan para malaikat yang baik (Daniel
10:12-13, 20-21; Yudas 9; Wahyu 12:7-9). (4) Mungkin juga peris
tiwa kejatuhan itu meninggalkan dampak pada penciptaan yang
mula-mula. Kita membaca bagaimana tanah terkutuk akibat dosa
Adam (Kejadian 3:17-19) dan bahwa seluruh ciptaan mengerang
oleh karena kejatuhan (Roma 8:19-22). Ada yang mengatakan
bahwa dosa malaikat-malaikat itu telah menyebabkan kehancuran
ciptaan yang mula-mula dalam Kejadian 1:2. (5) Pada suatu hari
kelak semua malaikat yang jatuh akan dicampakkan ke bumi
(Wahyu 12:8-9) dan setelah dihakimi (I Korintus 6:3), mereka akan
dicampakkan ke dalam lautan api (Matius 25:41; II Petrus 2:4;
Yudas 6). Iblis akan dilemparkan ke dalam jurang maut selama
seribu tahun sebelum ia dicampakkan ke dalam lautan api (Wahyu
20:1-3, 10).
IV. PENGGOLONGAN MALAIKAT-MALAIKAT
Para malaikat dapat dibagi dalam dua golongan besar: malaikat yang
baik dan malaikat yang jahat. ada berbagai bagian dalam kedua
golongan besar ini.
A. MALAIKAT YANG BAIK
Ada beberapa jenis malaikat yang baik.
1. Para malaikat. Kata malaikat, dalam baik bahasa Ibrani
maupun dalam bahasa Yunani, berarti "utusan". Murid-murid yang
diutus oleh Yohanes Pembaptis kepada Yesus disebut aggeloi atau
utusan (Lukas 7:24). Hanya konteksnya yang menjelaskan apakah
kata malaikat itu menunjuk kepada utusan malaikat ataukah utusan
manusia biasa. Jumlah malaikat itu berjuta-juta. Daniel mengatakan,
"... Seribu kali beribu-ribu melayani Dia, dan selaksa kali berlak-
sa-laksa berdiri di hadapan-Nya" (Daniel 7:10, bandingkan dengan
Wahyu 5:11). Pemazmur mengatakan, "Kereta-kereta Allah puluhan
ribu, bahkan beribu-ribu banyaknya" (68:18). Tuhan memberi tahu
kepada Petrus bahwa Bapa-Nya akan mengirim lebih daripada dua
belas pasukan malaikat bila Dia memintanya (Matius 26:53). Dalam
kitab Ibrani kita membaca tentang "beribu-ribu" malaikat (12:22).
Asal Mula, Sifat, Kejatuhan, dan Penggolongan Malaikat 211
Malaikat-malaikat ini mungkin muncul sendirian (Kisah 5:19), ber
pasangan (Kisah 1:10) atau berkelompok (Lukas 2:13).
2. Kerub/Kerubim. Kerub disebutkan dalam Kejadian 3:24; II
Raja-Raja 19:15; Yehezkiel 10:1-22; 28:14-16. Etimologi kata ini
tidak diketahui dengan pasti, sekalipun ada yang mengusulkan bah
wa kerub artinya "menutup" atau "menjaga". Ada kerub menjaga
pintu masuk ke taman Eden (Kejadian 3:24). Dua kerub diukir di
atas tutup Tabut Perjanjian yang ditempatkan di dalam kemah sem
bahyang dan bait suci (Keluaran 25:19; I Raja-Raja 6:23-28). Kerub
juga disulam pada tirai-tirai tabernakel (Keluaran 26:1, 31) dan
diukir pada gerbang-gerbang Bait Allah (I Raja-Raja 6:32, 35). Dari
kenyataan bahwa mereka menjaga jalan masuk ke taman Eden, dan
bahwa mereka digambarkan sebagai menopang takhta Allah (Maz
mur 18:11; 80:2; 99:1), dan bahwa mereka disulam pada tirai-tirai
kemah sembahyang dan diukir pada pintu-pintu Bait Allah, kita
menyimpulkan bahwa tugas utama para kerub ialah mengawal
takhta Allah. Iblis sebelum jatuh mungkin juga termasuk golongan
kerub (Yehezkiel 28:14-16).
3. Serafim. Nama Serafim disebutkan hanya dalam Yesaya 6:2,
6. Serafim nampaknya berbeda dengan kerub, karena dikatakan
bahwa Allah duduk di atas para kerub (I Samuel 4:4; Mazmur 80:2;
99:1), namun para Serafim berdiri di sebelah atas-Nya (Yesaya 6:2).
Tugas para Serafim juga berbeda dengan tugas para kerub. Para
Serafim memimpin penghuni sorga dalam pemujaan kepada Allah
yang Mahakuasa dan menyucikan hamba-hamba Allah sehingga pe
mujaan dan pelayanan mereka berkenan kepada-Nya. Maksudnya,
tugas para Serafim rupanya di bidang pemujaan dan kekudusan,
dan bukan di bidang penghakiman dan kekuasaan. Dengan keren
dahan hati yang mendalam dan penghormatan yang sungguh-
sungguh, para Serafim melaksanakan pelayanan mereka. Sebalik
nya, para kerub merupakan pengawal takhta Allah serta duta-duta
luar biasa Allah. Jadi kerub dan Serafim berbeda kedudukan dan
pelayanannya.
4. Makhluk-makhluk hidup. Beberapa sarjana mengatakan bahwa
makhluk-makhluk hidup dalam Wahyu 4:6-9 yaitu Serafim dan 63
63 Ibid., hal. 67.
212 Ajaran Tentang Malaikat
ada pula yang mengatakan bahwa mereka itu yaitu kerub.64 Ter
dapat perbedaan yang sangat mencolok sekali di antara makhluk-
makhluk itu, sehingga lebih baik rasanya untuk mengatakan bahwa
makhluk-makhluk ini merupakan jenis malaikat lainnya dan
bukan termasuk kerub atau Serafim. Makhluk-makhluk itu memuja
Allah, mengatur penghakiman Allah (Wahyu 6:1-3; 15:7), dan me
nyaksikan penyembahan seratus empat puluh empat ribu orang da
lam Wahyu 14:3. Makhluk-makhluk ini aktif di sekita












