Tampilkan postingan dengan label dogma kristologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dogma kristologi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Juli 2026

dogma kristologi


  Dogma Kristologi 

 FENOMENA YESUS 

Yesus yang a.l. diberi gelar dan nama ―Kristus‖ dan yang menjadi sasaran iman 

kepercayaan Kristen, diandaikan saja bahwa sungguh-sungguh seorang tokoh yang pernah tampil 

di panggung sejarah. Dikatakan kenyataan itu diandaikan saja oleh iman kepercayaan itu. Sebab 

apa yang paling penting ialah: Yesus Kristus yang pernah ada, tetap sampai sekarang dan hingga 

akhir zaman relevan dan bermakna. Bukan misalnya ―ajaran-Nya‖ melainkan orangnya. Dia 

itulah yang menjadi sasaran iman kepercayaan. Namun praandaian tersebut mahapenting. Sebab 

malah dicantumkan dalam syahadat resmi umat Kristen. Sebab salah satu butirnya berbunyi: 

“Yang menderita di masa pemerintahan Pontius Pilatus”. Pontius Pilatus, wali negara Roma 

di Palestina pada tahun 26 – 36, masuk ke dalam syahadat iman Kristen oleh karena dengan cara 

demikian umat Kristen mau menyatakan bahwa Yesus Kristus, sasaran kepercayaannya, memang 

seorang tokoh historis, yang tampil di panggung sejarah pada saat tertentu, di tempat tertentu 

dalam kerangka etno-politik tertentu juga. Secara negatif penegasan itu berarti bahwa sasaran 

iman kepercayaan Kristen bukan sebuah dongeng atau mitos, ciptaan manusia. Secara positif 

ditegaskan bahwa kepercayaan Kristen terikat pada saat tertentu dan pada tokoh tertentu dalam 

sejarah umat manusia. Dan semuanya itu demi isi real seluruh iman kepercayaan Kristen. 

Keselamatan umat manusia bergantung pada kejadian real di muka bumi ini dan bukanlah pada 

ajaran tertentu atau pada buah khayal dan pikiran manusia sendiri. 

Namun demikian hanya relatif sedikit dapat diketahui tentang tokoh historis itu secara 

terinci. Kesaksian tentang tokoh Yesus itu hampir saja secara eksklusif ditemukan dalam 

karangan-karangan umat yang percaya kepada-Nya. Karangan-karangan itu kemudian 

terkumpul dalam Perjanjian Baru. Di mana lingkup umat Kristen sendiri hampir saja tidak 

ada berita. Dan dengan demikian jelaslah tampilnya tokoh itu tidak terlalu menghebohkan dunia 

di masanya. Baiklah disadari bahwa tidak satupun dari karangan-karangan Kristen tersebut 

bermaksud memberi laporan tentang Yesus orang Nazaret. Semuanya memberi kesaksian 

tentang iman kepercayaan orang Kristen kepada Yesus Kristus. Tidak dilaporkan apa yang dapat 

diamati setiap orang yang hadir di zaman itu dan sempat bertemu dengan Yesus itu. Semua 

karangan itu berdasarkan keyakinan bahwa Yesus itu pernah ada, namun  tidak sengaja 

merepotkan diri dengan kenyataan itu. Karangan itu tidak memberitakan apa yang diamati, 

melainkan apa yang diimani orang Kristen dua-tiga generasi pertama, antara tahun ±40 — 100. 

Dengan mengumpulkan karangan-karangan itu menjadi Kitab Sucinya, umat Kristen mengakui 

kesaksian karangan-karangan itu sebagai kesaksian yang benar-benar mengenai sasaran iman 

kepercayaan umat, namun  bukan sebagai laporan mengenai Yesus orang Nazaret. Itu diandaikan 

saja, tak perlu ditegaskan, apalagi dibuktikan. 

Namun demikian melalui kesaksian iman Kristen itu orang toh masih dapat secara umum 

melihat sedikit Yesus yang bagaimana dapat diamati oleh orang sezamannya. Rekonstruksi 

berikut ini sebagian besar hipotesis. Nas-nas yang dikutip sukar dipastikan bobot historisnya. 

Maka gambaran Yesus yang disajikan di sini bukanlah suatu ―potret‖, tapi kurang tebih 

mendekati kenyataan sejarah. Orang Yahudi yang bernama Yesus itu berasal dari sebuah 

desa, bernama Nazaret (Kis 10:37), di daerah Palestina yang bernama Galilea (Mrk 1:9), 

suatu daerah Yahudi namun  dengan cukup banyak penghuni yang tidak berbangsa dan 

tidak beragama Yahudi (Mat 4:15). Di Nazaret itu Yesus rupanya menjadi tukang (kayu?) 

(bdk. Mrk 6:3). Jadi Yesus berasal dari lapisan rendah masyarakat, namun  tidak dari kalangan 

proletariat. Boleh diandaikan bahwa Yesus menempuh pendidikan yang lazim bagi anak Yahudi 

pada lapisan masyarakat itu. Boleh dikatakan bahwa berkat pendidikan itu Yesus tahu membaca 

dan menulis (hal itu memang biasa di masa itu sehubungan dengan peranan penting yang 

dipegang Kitab Suci dalam agama Yahudi). Yesus pasti juga tahu sedikit banyak tentang isi 

Alkitab dan tradisi keagamaan Yahudi, meskipun Yesus bukan ―ahli kitab atau ahli tradisi‖ (bdk. 

Yoh 7:15). Boleh jadi Yesus juga tahu sedikit bahasa Yunani, sebab di masa itu bahasa Yunani 

menjadi bahasa kedua amat banyak orang, apa pula di Galilea tempat agak banyak penduduk 

berbahasa Yunani. 

Waktu berumur ± 30 tahun (Luk 3:23) Yesus tampil ke depan dengan 

meninggalkan tempat asal-Nya, famili dan mata pencaharian-Nya (Mrk 3:31-35.21; Luk 

4:23). Mungkin Yesus terpengaruh oleh seorang tokoh lain, bernama Yohanes dan 

bergelar Pembaptis, yang pada masa itu tampil di daerah Yudea (Yoh 4:1-3). Yohanes 

yakin bahwa penghakiman Tuhan  mendekat dan orang hanya bisa terluput dengan bertobat dan 

menjalani pembasuhan sebagai tandanya di sungai Yordan (bdk. Mrk 1:4-5; Mat 3:7-12). Mirip 

dengan Yohanes Yesus sambil berkeliling khususnya di Galilea, mulai memberitakan bahwa 

Kerajaan Tuhan  sudah dekat (Mrk 1:14-15). Gagasan ―Kerajaan Tuhan ‖ suatu gagasan yang 

tradisional pada bangsa Yahudi (bdk. Yes 52:7; Mi 2:12-13; 4:6-8; Zef 3:14-15; Za 14:9.16-17; 

Yes 24:23; Dan 4:34). Istilah itu berarti bahwa Tuhan  (di masa mendatang) akan membuat kuasa-

Nya menjadi nyata di bumi bagi umat-Nya dan itu menjadi keselamatan umat — asal menerima 

dan mengakui kuasa Tuhan  itu — (segi itu ditekankan Yesus) atau penghakiman, kebinasaan 

(segi itu ditekankan Yohanes). Penyataan kuasa Tuhan  itu diharapkan untuk masa mendatang dan, 

dalam aliran apokaliptis, pada akhir zaman. Baik Yohanes (Mat 3:2) maupun Yesus (Mat 4:17) 

memberitakan bahwa Kerajaan Tuhan  dan dengan demikian akhir zaman sudah dekat dan orang 

mesti siap mengakui dan menerimanya. Tidak akan ada lagi suatu penyataan lain lagi. Yang 

dekat itu sungguh yang terakhir (bdk. Mrk 9:1; Luk 10:9-11; 9:27). 

Sama seperti Yohanes Yesus pun tidak hanya yakin bahwa penyataan kuasa Tuhan , 

Kerajaan-Nya, sudah dekat, namun  juga mutlak perlu. Dua-duanya yakin bahwa situasi religius 

umat Israel, yang diakui sebagai umat pilihan Tuhan , buruk sekali (Luk 11:29; Luk 13:1-5; Mrk 

8:12; 7:6). Dari segi umat manusia, malah situasi itu tanpa harapan. Tentu saja diterima, sesuai 

dengan tradisi umat yang tercantum dalam Alkitab, bahwa Tuhan  dahulu sudah melimpahkan 

karunia dan belas kasih-Nya kepada umat (Mat 8:12; 15:24; 10:6), namun  ternyata bahwa itu tidak 

cukup. Kalau hanya itu umat hanya dapat jatuh binasa (Luk 21:23; Mai 23:33). Mesti terjadi 

sesuatu yang lain, suatu penyataan kuasa Tuhan  yang baru. Dan penyataan itu benar-benar yang 

terakhir dan kini sudah amat dekat. 

Dan memang demikian. Pada masa Yohanes dan Yesus situasi umat Israel amat jelek. 

Dari segi sosio-politis (yang tidak terpisah dari segi religius) bangsa Yahudi sudah lama menjadi 

daerah penjajahan Roma (sejak ih. 62 seb.Mas.) yang hanya berusaha menarik untung sebesar-

besarnya, kerap kali dengan pertolongan penguasa setempat, seperti di Palestina Raja Herodes 

Agung serta keturunannya dan pendukung-pendukungnya. Dan di masa Yohanes dan Yesus 

negeri terus dilanda kerusuhan sosio-poiltis yang dengan kekerasan ditumpas para penguasa (Kis 

5:36-37; 21:38). Dari segi religius pun situasi umat Israel tidak menggembirakan. Ada berbagai 

aliran keagamaan yang tidak hanya berbeda namun  juga berlawanan satu sama lain. Ada aliran 

Farisi (dengan berbagai cabang) yang dengan sistem peraturan yang semakin teliti berusaha, 

supaya Hukum Taurat tetap dilaksanakan dalam hidup sehari-hari. Ada golongan imam, 

khususnya dari kalangan atas (Saduki) yang meletakkan tekanan pada ibadat, upacara korban 

dalam Bait Tuhan  di Yerusalem, yang dengan meriah diselenggarakan. Ada aliran apokaliptis 

(dengan berbagai varian), yang tidak punya harapan lagi sehubungan dengan keadaan nyata, dan 

bermimpi tentang akhir zaman yang pasti membawa keselamatan bagi para pengikut mereka, 

padahal bagi yang lain hanya tersedia kebinasaan. Dan ada lagi kelompok-kelompok dan aliran 

yang berdasarkan keyakinan religius dengan kekerasan senjata berusaha menumbangkan sistem 

sosio-politis yang ada. Tentu saja masih ada banyak orang yang sungguh takwa dan saleh, namun  

pada umumnya iman kepercayaan lama (yang terungkap dalam Alkitab, khususnya para nabi) 

sudah merosot menjadi suatu sistem keagamaan (hukum Taurat dan ibadat) yang dianggap dapat 

menjamin keselamatan manusia dengan dilaksanakan secara saksama. Baik Yohanes maupun 

Yesus menilai situasi itu serba salah (Mat 3:9; 5:20). Tuhan  sendiri sajalah yang masih dapat 

menjadi andalan (Luk 7:29), satu-satunya yang masih mampu mengubah situasi itu. Dan oleh 

karena yakin tentang kesetiaan Tuhan , maka Yohanes dan Yesus yakin pula bahwa tidak lama 

lagi Tuhan  akan menyatakan kuasa-Nya untuk kali terakhir. 

Meskipun mirip satu sama lain, namun Yohanes Pembaptis dan Yesus dalam pemberitaan 

mereka tentang Kerajaan Tuhan  toh berbeda sedikit juga. 

Yohanes memberitakan bahwa penghakiman Tuhan  dekat dan sungguh menjadi ancaman 

bagi seluruh umat (Mat 3:7-10,12; Luk 3:7-9). Tentu saja orang masih dapat luput dari 

penghakiman itu dan sesudah itu turut serta dalam keselamatan yang dikerjakan Tuhan . namun  

mutlak perlu orang bertobat dahulu dan segera bertobat. Bertobat berarti berubah haluan hidup, 

seluruh cara berpikir dan menilai, tentang dirinya dan situasinya. Nyatanya bertobat berarti: tidak 

percaya pada apa saja, kecuali pada Tuhan  semata-mata, sebab dari segi umat tidak ada dasar apa 

saja untuk mengharapkan keselamatan dari Tuhan . Agama seadanya tidak memberi harapan, 

sejarah penyelamatan dahulu tidak memberi harapan, kepilihan Israel tidak memberi harapan. 

Hanya Tuhan  saja yang masih dapat menyelamatkan orang yang mengakui situasi tanpa harapan 

itu (Luk 3:17;Mat 3:12). Tentu saja orang hanya dapat bertobat atlas dasar belas kasihan Tuhan  

semata-mata. Tobat itu diperagakan dengan pembasuhan dalam sungai Yordan, yang 

melambangkan penghakiman Tuhan . Dan mereka yang bertobat dengan cara demikian akan 

terluput dari murka Tuhan  dan ikut serta dalam keselamatan terakhir, Kerajaan Tuhan . Kerajaan 

itu kini belum ada tapi nanti menyusul penghakiman.Yesus di lain pihak tidak hanya 

memberitakan bahwa Kerajaan Tuhan , penyataan kuasa Tuhan  Penyelamat, sudah dekat. 

Sebaliknya: Kerajaan Tuhan  itu sedang terjadi, sudah mulai menyatakan diri, menembus ke dalam 

situasi tanpa harapan (Mat 12:28; Lpk 11:20; 10:21; Mat 13:16-17; Luk 10:23-24). Tuhan  tidak 

menunggu sampai orang bertobat, namun  sebaliknya sudah merangkul orang berdosa, umat dalam 

situasi buruknya. Bila dalam pemberitaan Yohanes penghakiman mendahului Kerajaan Tuhan , 

pada Yesus Kerajaan Tuhan  mendahului penghakiman. Tentu saja Yesus pun memberitakan 

penghakiman (Mat 11:22-24; 12:41-42; 10:15). 

namun  penghakiman ilu menyusul penyataan Kerajaan Tuhan  yang sudah dimulai. Dalam 

pendekatan Yohanes halnya dipikirkan sebagai berikut: Kini ada zaman yang serba buruk. 

Segera Tuhan  melaksanakan penghakiman-Nya, lalu Kerajaan penyelamatan menjadi nyata. 

Yesus melihat halnya secara lain. Tuhan  dalam zaman yang buruk itu sudah menyatakan Kerajaan 

penyelamatan-Nya (Luk 19:42; Mrk2:18-22; Mat 16:3). Atas dasar itu orang dapat dan harus 

bertobat dan tetap menjadi peserta dalam Kerajaan Tuhan  itu, mengalami keselamatan-Nya (Mrk 

9:43-47; Mat 22:11-13). namun  apa yang kini sudah mulai di dalam dunia yang buruk ini nanti 

akan diselesaikan (Mat 24:32-35; Luk 21:29-31). Dan penyelesaian itu akan didahului 

penghakiman terakhir (Mat 7:24-27). Dengan demikian Tuhan  yang diberitakan Yesus 

berbeda sedikit dengan Tuhan  yang diberitakan Yohanes. Yohanes melihat Tuhan  penyelamat 

terutama sebagai hakim. Melalui penghakiman Tuhan  menyelamatkan orang yang bertobat. 

Sebaliknya, Yesus melihat Tuhan  sebagai Tuhan  yang kini sebagai Bapa (Mat 7:11; 6:8, 26-32; 

Luk 12:32) mendekati orang malang untuk menyelamatkan mereka tanpa memasang syarat apa 

saja. Hanya bagi orang yang setelah mengalami Tuhan  sebagai Bapa yang merangkulnya tanpa 

syarat toh menolak-Nya, Tuhan  menjadi hakim yang menolak mereka yang menolak-Nya (Mrk 

12:1-9; Mat 22:1-7). Bila dalam pendekatan Yohanes Tuhan  Hakim menjadi Bapa bagi mereka 

yang bertobat, maka dalam pendekatan Yesus Tuhan  Bapa menjadi Hakim bagi mereka yang 

tidak bertobat. 

Dan Yesus bertindak seolah-olah kuasa penyelamatan Tuhan , Kerajaan-Nya, sebenarnya 

sudah menjadi nyata melalui Yesus sendiri, melalui perbuatan dan pemberitaan-Nya. 

Secara demonstratif Yesus menyatakan banwa perwujudan Kerajaan Tuhan  tidak bergantung 

pada pelaksanaan hukum agama yang berlaku (Mat 11:12-13). Atas dasar keyakinan itu Yesus 

tidak segan melanggar hukum agama, bila itu perlu untuk mendekati orang yang malang. Yesus 

tidak segan menyingkirkan hukum Sabat (Mrk 2:27; 3:4; Mat 12:11-12) yang dengan keras 

melarang orang ―bekerja‖, kecuali dalam keadaan darurat seperti ditetapkan oleh ahli Taurat. 

Yesus tidak begitu saja melanggar hukum Sabat itu, namun  Ia sendiri menentukan kapan itu tidak 

berlaku lagi dan selalu demi kepentingan orang lain. Yesus tidak segan menyingkirkan hukum 

agama mengenai najis dan tahir, halal dan haram, oleh karena hati orang jauh lebih penting 

daripada aturan lahiriah (Mrk 7:15; Luk 11:38). Dan Yesus tidak segan ―memperbaiki‖ hukum 

lama (Mat 5:21-22, 27-28, 31-32, 33-37) dengan mendasarkan diri pada tata penciptaan (Mat 

5:43-45; 19:4-6) yang mendahului hukum Musa. 

namun  dengan berlaku demikian Yesus bertindak seolah-olah lebih berwewenang daripada Musa 

(Mat 12:8), yang dalam tradisi Yahudi paling berwewenang, utusan dan kuasa Tuhan  sendiri. 

Yesus berlaku seolah-olah melalui diri-Nya Tuhan  memulai sesuatu yang baru, yang lain dari 

yang sudah-sudah (Mrk 1:27; 2:21-22). 

Yesus pun secara menyolok bergaul dan berkerabat, makan bersama dengan orang yang 

menurut agama justru terkucil dari umat Tuhan , dari ibadat dan dengan demikian terkucil dari 

keselamatan Tuhan  (Mrk 2:15; Luk 7:34). Yesus berkerabat dengan ―orang berdosa‖, pemungut 

cukai dan pelacur, mereka yang tidak ambil pusing tentang hukum agama, hukum Tuhan  (Mat 

11:19; Luk 15:2; 5:30; 19:1-2). Yesus tidak menunggu dan tidak menuntut mereka ―bertobat‖ 

dahulu, kembali ke jalan lurus sesuai dengan hukum (Luk 19:7; 7:36-40.49-50). Begitu saja Ia 

mendekati mereka. Kelakuan itu semacam ―perumpamaan‖. Dengan tindakan-Nya Yesus 

sebenarnya menyatakan tindakan Tuhan , Kerajaan-Nya yang mendatangi orang malang, orang 

berdosa, tanpa prasyarat apa pun. Yesus juga mendekati orang malang pada umumnya, mereka 

yang cacat, sakit, dianggap kerasukan roh najis (Mat 4:23; 8:16; 9:35; 15:30; 21:14), Dan Ia 

terutama mendekati rakyat jelata, mereka yang secara sosio-ekonomis dan politis tidak berdaya 

(Luk 4:18-19; 6:20-26; 7:22-23). Meskipun semua ceritera terinci yang tercantum dalam 

keempat Injil tidak boleh dinilai sebagai ―laporan‖ tentang kejadian nyata, namun dalam ceritera-

ceritera itu terungkap sebuah kesan umum yang ditinggalkan Yesus pada orang sekitar-Nya. Dan 

justru semua orang tak berdaya itu dengan satu dan lain cara juga secara religius dinilai kurang 

memadai, kurang diberkati oleh Tuhan . Orang cacat, sakit, kerasukan roh jahat dianggap tidak 

mengambil bagian dalam berkat Tuhan  perjanjian, Tuhan  umat Israel (Im 21:18-20; Ul 23:1-2; Im 

20:27; 13:45-46). Meskipun dalam tradisi Israel, seperti tercantum dalam Perjanjian Lama (Yes 

56:3-7; Mzm 146; Keb 3:13-14; 4:7), sudah ada pandangan lain, pandangan itu tidak berhasil 

menjadi suatu pandangan umum. Dan bagaimanapun juga selalu toh mesti ada ―takwa‖, 

kesalehan, ketaatan kepada Tuhan  dan hukum-Nya. Dan semuanya itu oleh Yesus seolah-olah 

tidak diperhitungkan. 

Seluruh kelakuan Yesus tersebut yang menyimpang dari yang lazim dalam rangka 

masyarakat dan agama Yahudi di zamannya sebenarnya semacam perumpamaan. Yesus 

memperagakan dan begitu memperlihatkan dan mewujudkan kelakuan Tuhan  seperti Ia 

memahami-Nya, yang mendekati orang malang, orang berdosa dan orang yang di segala bidang 

tidak berdaya sama sekali. Begitu diperlihatkan bahwa Kerajaan Tuhan  yang diberitakan Yesus 

sebenarnya sudah mulai mewujudkan diri. Bila Yesus mengutamakan orang miskin, rakyat 

jelata, orang cacat dan sakit serta yang dianggap kerasukan roh jahat yang bermusuhan dengan 

Tuhan , maka mereka tidak diutamakan justru oleh karena miskin, sakit, berdosa dan sebagainya, 

namun  oleh karena pada merekalah paling nyata dan paling tampak betapa parah keadaan seluruh 

umat di hadapan Tuhan . Bila tindakan Yesus boleh disebut semacam ―perumpamaan‖ tindakan 

dan sikap Tuhan , maka orang malang itu merupakan semacam ―perumpamaan‖ situasi umat, 

situasi dunia, manusia yang nyata. 

Kelakuan dan tindakan Yesus didukung oleh pewartaan-Nya. Dalam cara mengajar 

Yesus sudah berbeda dengan ―guru-guru agama‖ lain di zaman-Nya (Mat 7:29; Mrk 1:27). Yesus 

tidak mendasarkan diri dan ajaran-Nya pada tradisi, pada Alkitab Yahudi dan tafsirannya. 

Begitulah cara para ―ahli agama‖ Yahudi mengajar. Mereka tidak mau ―mengajar sesuatu yang 

baru‖. Selalu mesti ada dukungan dari Alkitab atau tradisi ―nenek moyang‖ (Mat 15:2; Mrk 7:3-

5) dahulu. Bahkan kalau sebenarnya ada sesuatu yang baru, maka dengan macam-macam cara 

toh dicari dasarnya dalam Alkitab dan tafsirannya. Sebaliknya Yesus mengajar seolah-olah 

mempunyai wewenang khusus (Mat 15:17-20), melebihi wewenang Musa dan wewenang 

Alkitab (Yoh 5:45-46; Mat 19:7), sehingga nampaknya menghaki wewenang Tuhan  sendiri (Mat 

19:17-21). Dan itulah sebabnya Yesus malah memberanikan diri mencabut hukum agama yang 

tercantum dalam Alkitab (Mat 5:33-34). Secara baru Yesus menyatakan kehendak Tuhan  sendiri 

(Mat 6:33.20), kehendak Tuhan  semula dan murni, kehendak Tuhan  yang belum ―diperlunak‖ 

demi ―kekerasan hati manusia‖ (Mrk 10:5). Dengan wewenang-Nya sendiri Yesus menentukan 

mana intipati hukum Tuhan  (Mrk 12:28-31). Dalam mewartakan Kerajaan Tuhan  dan kehendak 

Tuhan  Yesus menggunakan pelbagai cara, seperti tradisional di lingkungan-Nya. Ia memakai 

―pepatah‖, ―teka-teki‖, ―petuah‖, wejangan dan sebagainya. namun  Ia terutama menggunakan 

jenis sastra yang disebut ―perumpamaan‖. Di satu pihak dalam hal itu Yesus berdekatan dengan 

para ahli kitab yang juga gemar akan perumpamaan. 

namun  ada perbedaan yang cukup menyolok. Para ahli Taurat Yahudi menggunakan 

perumpamaan untuk menjelaskan dan menafsirkan Alkitab dan hukum Musa. namun  Yesus tidak 

menjelaskan dan menafsirkan Alkitab dan hukum Taurat. Yesus memberitakan Kerajaan Tuhan  

yang sudah dekat dan mulai menembus ke dalam dunia ini (Mat 13:5-9). Melalui perumpamaan 

Yesus justru menggambarkan Kerajaan Tuhan  yang mendekat dan sedang terjadi. Bagaimana 

jadinya dengan manusia yang menerima pewartaan Yesus dan terangkul oleh Tuhan  yang 

berdaulat itu (Mat 13:44-46). Diperlihatkan bagaimana Kerajaan Tuhan , kasih Tuhan  yang dialami 

mengubah diri manusia dan kehidupannya. Dan juga dalam pewartaan Yesus itu Kerajaan Tuhan  

dengan daya kekuatan-Nya mendekati dan mengubah manusia serta kehidupannya (Mat 13:33; 

Luk 16:1-8). Dalam pewartaan-Nya pun Yesus ―penuh kuasa‖. Dan kalau Kerajaan Tuhan  yang 

melalui pemberitaan Yesus mendekati manusia ditolak, maka Kerajaan penyelamatan itu 

berubah menjadi penghakiman (Mat 22:1-13). Hanya sedangkan Kerajaan itu sekarang sudah 

terjadi, penghakiman nanti baru akan menyusul, meskipun rupanya Yesus yakin bahwa tidak 

lama lagi penghakiman itu akan berlangsung bertepatan dengan penyelesaian Kerajaan Tuhan  dan 

kedatangan Anak manusia sebagai hakim (Mat 10:23; Mrk 13:29). 

Seluruh pewartaan Yesus serta kelakuan-Nya yang sesuai berdasarkan suatu pengalaman 

pribadi. Bekas pengalaman itu kiranya terdapat dalam Luk 10:18. Di sana Yesus menegaskan 

bahwa la pernah melihat ―Iblis jatuh seperti kilat dari langit‖. Dalam alam pikiran apokaliptis 

dunia seadanya memang dalam genggaman Iblis (Mat 4:9; Yoh 12:31). namun  Yesus ―melihat‖ 

tahta ―raja dunia ini‖ sudah tertumbang. Iblis sudah dikalahkan dan dicabut kekuasaannya (Mrk 

3:27). Dan hanya Tuhan  dapat menumbangkan Iblis itu. Maka Tuhan  sudah mulai ―meraja‖, 

mengganti Iblis. Pengalaman itulah yang membuat Yesus memberitakan Kerajaan Tuhan  sebagai 

sesuatu yang sedang terjadi. Dan Yesus sendiri menjadi utusan Tuhan  yang mewujudkannya di 

bumi ini (Luk 10:23-24; Mat 11:5-6; Luk 11:29-32) sebagai awal penyelesaiannya nanti. 

Melalui karangan Perjanjian Baru, khususnya keempat Injil, yang tidak mau ―melapor‖ 

apa yang sesungguhnya terjadi, orang masih juga dapat merasakan betapa tampilnya Yesus, 

pewartaan dan kelakuan-Nya menggegerkan mereka yang menyaksikannya. Umumnya Yesus 

menjadi teka-teki bagi mereka. Tercetuslah pertanyaan: Siapa gerangan orang ini? (Mat 8:27; 

21:23; Mrk 6:2). Ia tidak memadai tokoh-tokoh yang dikenal tradisi Yahudi. Ia dapat dinilai 

sebagai seorang nabi (Mat 16:14; Luk 7:16; Mat 21:11) atau pun dicurigai sebagai tukang sihir 

dan nabi gadungan (Mrk 3:22; 14:65). Kadang-kadang orang berkesan Yesus punya ambisi 

menjadi ―mesias‖ yang tampilnya diharapkan sementara orang Yahudi (Yon 6:15; Mrk 11:9-10). 

Oleh karena sering ―mengajar‖ Yesus mirip seorang rabi (Luk 12:13), namun  baik cara mengajar 

maupun ajaran-Nya toh berbeda juga. Bahkan bagi mereka yang mendukung-Nya dan menaruh 

harapan pada Yesus Ia menjadi teka-teki yang sukar dipahami sepenuhnya (Mrk 8:18; 9:32). 

Sudah pasti Yesus mendapat sejumlah pendukung yang secara khusus dibimbing-Nya, yang 

menjadi teman dan pembantu-Nya. Dalam hal ini Yesus juga mirip dengan rabi-rabi pada bangsa 

Yahudi. namun  Yesus toh tidak sama juga. Guru-guru Yahudi mengumpulkan sejumlah murid 

yang menghafalkan ajaran sang rabi. Lalu mereka sendiri dapat menjadi guru dan rabi pada 

gilirannya. namun  Yesus mengumpulkan sejumlah orang dan mengikat mereka pada diri-Nya. 

Mereka menjadi senasib dengan Yesus, tidak datang untuk menghafalkan ajaran-Nya. Dan 

mereka tidak pernah ―tamat‖. Dan apa yang dituntut Yesus dari mereka yang mau bergabung 

dengan diri-Nya atas panggilan Yesus amat radikal dan jauh melebihi tuntutan pribadi yang bisa 

dibebankan seorang rabi Yahudi (Mrk 10:21.28-30; Mat 10:37-38; Luk 9:57-62). Ikatan pribadi 

macam itu tidaklah lazim. Maka Yesus dengan kelompok-Nya tidak bisa dimasukkan ke dalam 

salah satu aliran atau mazhab yang ada pada bangsa Yahudi di zamannya. Kadang-kadang Yesus 

tampaknya mirip dengan kalangan Farisi (Mat 23:2-3), lain kali dengan kalangan para 

apokaliptik (Luk 17:22-37), seperti misalnya yang bermukim di Qumram, dan apa yang 

dikatakan Yesus kadang-kadang mirip dengan apa yang dikatakan golongan orang yang mencita-

citakan dan memperjuangkan pembebasan dari kuasa Roma dan antek-anteknya (Mat 10:34; Luk 

22:36-38). Hanya dengan para imam kalangan atas (Saduki) tidak ada kemiripan. Dan selalu di 

samping kemiripan ada kelainan. Yesus terasa sebagai sesuatu yang baru, meskipun masih juga 

dalam tradisi bangsa Yahudi. Dan akhirnya Yesus selalu tinggal sebuah teka-teki untuk 

lingkungan-Nya.Yesus tidak hanya menggegerkan masyarakat Yahudi dan menjadi teka-teki 

besar, namun  Ia juga memancing perlawanan. Perlawanan itu tidak datang pertama-tama dari 

pihak penguasa politik (Roma, Herodes, keturunan dan pendukungnya), namun  dari pihak 

pemimpin religius bangsa Yahudi (Mrk 3:6,22; 8:11; 12:12, 13; 14:1). Baiklah diingat bahwa di 

masa itu ―agama‖ dan ―negara‖ belum terpisah. Segala gerakan religius mempunyai dimensi 

politik dan gerakan politik mempunyai dimensi religius (Luk 9:7-9; 13:31). 

Yesus ternyata mengakui bahwa umat Israel memang umat Tuhan  yang terpilih. Seluruh 

kegiatan-Nya secara eksklusif tertuju kepada umat itu (bdk. Mat 10:6; 15:24). Hampir pasti 

bahwa Yesus tidak pernah mengarahkan pewartaan-Nya dan perbuatan-Nya kepada orang bukan 

Yahudi, meski penduduk Galilea sekali pun. Hanya menurut keyakinan Yesus umat Tuhan  

seadanya tidak menjadi sasaran berkat Tuhan  melainkan sasaran kemurkaan-Nya (Luk 21:23; 

Mrk 11:13-14). Seluruh sistem agama yang dianggap berasal dari Musa dan bahkan dari Tuhan  

oleh Yesus dinilai sebagai sesuatu yang kini dan seadanya tidak berguna untuk keselamatan umat 

(Mat 15:9,13). Nyatanya Yesus menyingkirkan pelaksanaan hukum Taurat sebagai jalan 

penyelamatan (Mrk 7:5,8), seperti diyakini para pemimpin Yahudi. Bait Tuhan  (Mrk 13:2) serta 

ibadatnya pun oleh Yesus dinilai tidak berguna (bdk. Mat 9:13; 15:8-9; Mrk 12:33; 14:58), 

padahal khususnya para imam (Yoh 11:48) menilai ibadat itu sebagai sarana penyelamatan, yang 

diberikan oleh Tuhan  sendiri. Yesus tidak hanya memberitakan bahwa akhir zaman dan Kerajaan 

Tuhan  sudah dekat, namun  juga bahwa Kerajaan Tuhan  kini sudah terjadi dan tidak hanya 

merangkul orang benar, namun  justru orang berdosa. Dan dengan demikian Yesus tidak sesuai 

dengan keyakinan para apokaliptisi di zaman-Nya. Yesus menegaskan bahwa semua umat mesti 

―bertobat‖ setelah dirangkul kuasa penyelamatan Tuhan . Dan setelah umat bertobat dan menjadi 

peserta dalam keselamatan bangsa-bangsa lain pun akan turut serta dalam keselamatan (Mat 

8:11), seperti dikatakan sementara nabi dahulu namun  oleh banyak orang Yahudi di zaman Yesus 

tidak dapat diterima. Semua bangsa kafir hanya sasaran kemurkaan Tuhan , begitu keyakinan 

populer. 

Maka oleh seluruh pimpinan religius-politik bangsa Yahudi di masa itu Yesus mesti 

dirasakan sebagai suatu ancaman terhadap seluruh sistem sosio-religius yang mereka pimpin, 

pertahankan dan bela (Yoh 11:48). Dan ketegangan yang semakin hebat antara Yesus dan para 

pemimpin bangsa Yahudi akhirnya mengakibatkan kematian Yesus. Oleh pimpinan Yahudi, 

entahlah siapa persis, Yesus akhirnya diserahkan kepada kuasa politik Roma. Di masa itu kuasa, 

yang dipegang oleh wali negeri Pontius Pilatus dan Raja Herodes di Galilea itu, sangat peka 

terhadap segala macam kerusuhan dalam masyarakat (Luk 23:2,5), Dan dalam situasi nyata juga 

suatu gerakan religius, seperti berkembang sekitar Yohanes Pembaptis dan Yesus, selalu 

mempunyai dimensi politik dan sosial. Maka langsung atau tak langsung menjadi ancaman 

terhadap kuasa politik Roma. Maka kuasa politik Roma itu akhirnya bertindak. Yesus dinilai dan 

dieksekusi sebagai pengacau, perusuh dan pemberontak (Mrk 15:26). 

Menjelang akhir hidup-Nya Yesus sendiri pun hampir pasti memfirasatkan bahwa jalan hidup-

Nya akan berakhir dalam celaka (Luk 9:44; Mrk 9:31a; Mat 23:37a). Dan oleh karena mau setia 

kepada tugas-Nya, maka Yesus rela menempuh nasib malang, kalau menjadi suatu kenyataan. Itu 

dapat dinilai-Nya sebagai konsekuensi terakhir dari keyakinan-Nya dan akibat kesetiaan-Nya 

kepada Tuhan  (Luk 13:32-33). Dan karena tidak dapat ragu-ragu tentang kesetiaan Tuhan  dan 

kekuasaan-Nya Yesus dapat yakin bahwa Tuhan  Penyelamat yang diberitakan-Nya toh akan 

menyatakan kuasa-Nya baik sebagai Penyelamat maupun sebagai Hakim umat-Nya. Kematian 

Yesus sendiri pasti tidak bisa menghalangi Tuhan  untuk menyelesaikan apa yang sudah dimulai-

Nya dengan Yesus sendiri, yaitu mewujudkan Kerajaan-Nya secara definitif (Mrk 14:25). Dan 

dengan demikian Yesus dapat menilai kematian-Nya, kalau terjadi, sebagai termasuk ke dalam 

tugas-Nya dan sesuai dengan kehendak Tuhan , Penyelamat dan Hakim sekaligus. Dan kematian-

Nya malah dapat dinilai Yesus sebagai awal dari penghakiman Tuhan  menjelang akhir zaman 

(Luk 12:50), yang membawa keselamatan terakhir bagi mereka yang setia kepada Tuhan . Tidak 

dapat diragukan bahwa Yesus yakin bahwa Ia sendiri menjadi peserta dalam keselamatan 

terakhir itu (bdk. Luk 22:29-30). 

Tidak dapat tidak nasib malang Yesus di salib membingungkan para pengikut-Nya 

dahulu. Tampaknya kehidupan Yesus berakhir dalam kegagalan belaka. Apakah Yesus keliru 

dalam pewartaan dan kelakuan-Nya? Kalau Yesus dahulu sudah menjadi suatu teka-teki yang 

tidak bisa ditebak secara tuntas, apa pula sekarang. Nasib malang Yesus hanya memperbesar 

teka-teki itu. Kalau Yesus menjelang akhir hidup-Nya dapat memahami nasib-Nya dan 

barangkali menjelaskannya kepada pengikut-pengikut-Nya, tidakkah dalam hal itu pun Yesus 

keliru? Apakah semuanya yang dahulu terjadi masih dapat dinilai sebagai tanda dan awal 

Kerajaan Tuhan ? Benarkah dalam kehidupan Yesus kuasa Tuhan  Penyelamat terakhir menjadi 

nyata? Yesus malah tidak dapat dinilai sebagai ―pahlawan nasional‖, sebab oleh pemimpin 

bangsa-Nya sendiri Ia ditolak dan diserahkan kepada kuasa Roma. Kebingungan para pengikut 

Yesus, yang dapat diduga, masih ada bekasnya dalam Injil Lukas (24:19-21). Yesus dahulu 

dinilai sebagai nabi dari Tuhan  dan bakal pembebas umat Israel, namun  kepercayaan itu kini 

diragu-ragukan dan pengharapan dahulu padam sama sekali. Tidak dapat diketahui persis apa 

yang dibuat pengikut-pengikut Yesus dahulu. namun  rupanya mereka pulang saja ke tempat 

asalnya, ke Galilea. Mungkin akhir Injil Matius (28:16) dan akhir Injil Yohanes (21:1-3) masih 

memelihara ingatan akan hal itu setelah Mrk 14:50 menegaskan bahwa semua murid Yesus lari, 

entah kemana.